Pendekar Elang Salju jbookmaker by: http://jowo.jw.lt Sang Pewaris ditulis oleh : Gilang Craakhh!!   Kilatan bunga api langit meloncat memanjang, seolah-olah ingin menunjukkan sejauh mana ia bisa meloncat.Kilat bertebaran di langit yang tidak mendung. Sungguh aneh! Di dunia yang serba aneh ini, ternyata masih ada juga keanehan yang sulit diterka manusia. Kuasa Hyang Widhi memang tanpa dapat diduga atau pun ditebak oleh manusia. Tidak juga oleh laki-laki setengah baya yang berdiri tegak di bawah pohon sawo kecik itu. Tubuh tinggi kekar itu memandang kilatan-kilatan bunga api di langit dengan tatapan kosong. Raut mukanya menyiratkan kesedihan. Guratan duka di wajahnya semakin nyata dengan banyaknya kerutan diwajahnya yang bersih. Kedua tangan bersedekap seperti orang kedinginan. Laki-laki itu berbaju hitam lengan panjang dengan celana putih diikat yang diikat sabuk kain warna hijau, tampak berkibar-kibar ditiup angin. Dada bidang penuh dengan urat-urat bertonjolan, pertanda laki-laki parobaya itu bukan sosok manusia biasa, setidaknya pernah belajar olah kanuragan. Sorot matanya tampak tajam. Tarikan nafas yang pelan dan teratur seolah ingin menikmati segarnya udara siang yang tidak begitu panas. Craakhh!! Craakhh!! GLAARRR!! Kembali kilatan bunga api disertai suara guntur menggelegar dengan keras. Laki-laki paraboya itu kembali mendongakkan kepalanya. “Pertanda apa ini? Di siang hari bolong tanpa mendung ada kilat?!” batin laki-laki tersebut dengan dahi berkerut. Tiba-tiba ia teringat sesuatu saat guntur memperdengarkan suara di kejauhan. Mimpi! Ya, mimpi yang selalu mengganggu tidurnya. Mimpi yang berhubungan dengan anak yang dikandung istrinya. Anak pertama! Aneh memang, dengan usia yang sudah hampir empat puluhan tahun itu, dia belum memiliki seorang anak pun, meski sudah berumah tangga lebih dari belasan tahun lamanya. Sedangkan tetangga yang usianya sepantaran dengannya sudah memiliki empat hingga enam orang anak, bahkan ada yang sudah menimang cucu! Sungguh iri hatinya jika mendapat undangan untuk menghadiri tetangga atau pun warga desa yang istrinya melahirkan seorang bayi. Tentu saja sebagai seorang tetangga yang baik dan pula sebagai seorang kepala desa yang bijak, malu jika menampik niat baik orang yang sudah bersusah payah mengundangnya. Di saat istrinya hamil untuk pertama kali, hatinya begitu bersuka cita. Saat kandungan sang istri yang bernama Nyi Salindri berumur satu dua bulan, para tetangga kiri kanan sudah mengetahuinya, bahkan seluruh desa Watu Belah. Kemana pun dia pergi meninjau sawah dan ladang, seulas senyum sumringah tak pernah lepas dari bibir. Hatinya begitu bahagia karena apa yang sudah ditunggu puluhan tahun akhirnya terkabul juga. Doa siang malam agar dikarunia seorang momongan akhirnya didengar oleh Yang Kuasa. Tak peduli memiliki anak perempuan atau laki-laki, yang penting punya anak yang sehat dan montok. Tentu saja orang-orang desa itu senang karena Ki Ragil Kuniran, yang juga kepala desa Watu Belah, akan segera memiliki calon penerus keluarga Ragil Kuniran. Saat usia kandungan Nyi Salindri menginjak sembilan bulan, Ki Ragil Kuniran sudah mempersiapkan segalanya. Bahkan dukun bayi desa itu sudah diwanti-wanti agar datang ke rumahnya untuk mengetahui kapan kira-kira bayi itu akan lahir. Saat itu, Nyi Cendani memeriksa kandungan Nyi Salindri dengan seksama. Wajahnya berkerut-merut tak karuan. Tangan keriputnya bergerak lincah kesana-kemari persis tangan maling. Pencet sana pencet sini. Urut sana urut sini. Pijat sana pijat sini. Ki Ragil Kuniran memandang dengan mata ikut jelalatan kesana kemari mengikuti gerak tangan lincah Nyi Cendani, si dukun bayi. “Bagaimana Nyi? Kapan keluar? Apakah sehat-sehat saja? Anaknya laki-laki apa perempuan?” cerocos Ki Ragil Kuniran tidak sabar. “Emmm ... sebentar Ki Ragil ... sebentar ... ” Nyi Cendani kembali menggerayangi perut buncit Nyi Salindri. Tangan keriputan itu kembali bergerak lincah menelusuri bagian demi bagian dari perut buncit itu. Terakhir Nyi Cendani menekan pusar Nyi Salindri dengan pelan. Sreep! Tiba-tiba saja, perut Nyi Salindri menggelinjang lembut. Nyi Salindri yang sedari tadi menahan rasa geli, karena tangan keriput itu terus ‘bergerilya’ di atas perutnya. “Hi-hi-hi-hi ... anakmu menendang Ki, mungkin sudah pingin keluar ... ” Nyi Salindri tertawa lirih karena rasa geli itu sudah tak tertahankan lagi. Perut itu menggelinjang kembali. Wajah Nyi Cendani kelihatan puas. Mata tua itu berbinar-binar persis senthir diisi minyak kelapa. “Wah ... selamat Ki Ragil! Laki-laki! Anakmu laki-laki! Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah! Sekali lagi selamat, Ki!” kata Nyi Cendani dengan suara cempreng. Nyi Cendani, dukun bayi dari desa Watu Belah berusia mendekati seratusan tahun yang sudah amat terkenal, baik di desa Watu Belah sendiri, sampai di desa-desa tetangga. Kelincahan tangan dan tata cara serta ilmu pengobatan yang dimiliki terutama tentang seluk-beluk bayi sudah mendarah daging. Bahkan cara membantu persalinan bayi pun juga berbeda dari dukun bayi pada umumnya. Biasanya dukun bayi memotong pusar dengan bantuan welat, semacam sayatan bambu yang diiris melintang sepanjang jari kelingking, lalu itu welat dicuci dengan air hangat atau air panas, setelah itu baru digunakan untuk memotong pusar mau pun memisahkan ari-ari sang jabang bayi. Tapi Nyi Cendani melakukan dengan cara yang berbeda, bisa dikata amat aneh atau malah tidak lumrah. Setelah bayi lahir, tangan kirinya melakukan gerakan-gerakan melingkar di seputar perut ibu yang baru saja melahirkan. Gerakan-gerakan itu berputar dengan teratur layaknya pusaran air. Pada saat bersamaan, ibu yang baru saja melahirkan merasakan sebuah sentuhan tangan yang nyaman, menimbulkan hawa sejuk yang lambat laun menyebar ke sekujur badan. Setelah masa itu selesai, rasa lelah dan rasa sakit akibat melahirkan, baik sekitar perut dan rasa pegal-pegal di pinggang maupun di pinggul akan hilang dalam sekejap. Dan setelah itu tali pusar bayi di potong putus dengan dua jari tangan layaknya pisau tajam. Hal itulah yang membuat nama Nyi Cendani sebagai dukun bayi menjadi tersohor, bahkan sampai keluar desa Watu Belah. Puluhan bahkan ratusan orang telah ditolong lewat tangannya. Bahkan untuk mengobati orang sakit, Nyi Cendani juga mampu melakukannya. Di rumahnya yang berada persis di sisi sebelah timur desa Watu Belah, terdapat banyak empon-empon, seperti jahe merah, kunir putih dan bahan ramuan rempah-rempah lainnya. Ilmu pengobatannya juga sangat hebat, segala macam sakit akan lenyap jika sudah ditangani oleh Nyi Cendani. Kadang anak-anak desa sering bermain di rumahnya, diajari bagaimana cara meramu dan mengolah obat dari akar-akaran, daun-daunan bahkan dari getah pohon, sehingga banyak anak-anak mau pun pemuda desa yang menimba ilmu pengobatan dari nenek tua itu. Meski begitu, tidak semua orang mengetahui siapa sebenarnya nenek tua itu. Mereka hanya tahu bahwa nenek tua itu hidup sendiri, hanya ditemani oleh rempah-rempah atau empon-empon yang ada di rumahnya. Saat masih muda, Nyi Cendani yang bernama asli Dewi Cendani pernah mengangkat nama besar di dunia persilatan dengan gelaran Dewi Obat Tangan Delapan, seorang pendekar wanita mumpuni, tangguh dan memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi dan menempatkan diri di jajaran tokoh-tokoh golongan putih, dimana sepak terjangnya selalu menentang segala macam kejahatan. Sebagai seorang murid tokoh sakti aliran sesat yang berjuluk Iblis Botak, Dewi Cendani cukup menggegerkan dunia persilatan. Bagaimana tidak, seorang tokoh hitam kelas tinggi, jika memiliki murid atau pewaris ilmu yang dimilikinya, biasanya bisa dipastikan menjadi tokoh hitam pula. Namun hal itu tidak terjadi pada Dewi Cendani yang saat itu baru berumur sepuluh tahun. Rupanya telah terjadi perubahan yang sangat mencolok pada diri Iblis Botak. Saat ia melihat gadis kecil itu, tiba-tiba kenangan indah bersama istrinya seakan terulang kembali. Kenangan yang manis, dan bocah itu seakan membawanya kembali ke masa-masa bahagia bersama istrinya. Itulah sebabnya mengapa Iblis Botak berubah haluan, yang semula menjadi dedengkot aliran sesat menjadi berbalik arah menjadi seorang tokoh yang welas asih, penyabar dan menjadi seorang yang baik serta bijak. Seluruh ilmu kesaktian diturunkan kepada murid tunggalnya, Dewi Cendani. *** “Laki-laki ... ? Betul laki-laki? Nyi Cendani tidak main-main?” tanya ulang Ki Ragil Kuniran dengan mata berbinar. “I ya ... laki-laki, aku yakin itu,” tandas Nyi Cendani dengan mengangguk-angguk kepalanya. “Ha-ha-ha-ha ... ” “Kenapa Ki? Kok malah ketawa?” Nyi Salindri bertanya sambil berusaha duduk di pembaringan. Nyi Cendani segera membantu Nyi Salindri membenahi baju luar perempuan istri kepala desa itu. Ki Ragil Kuniran tidak menyahut, malah tertawanya makin keras, sampai air matanya keluar. Laki-laki parobaya itu tetap tertawa sambil melangkah keluar kamar dan terus menuju pendopo rumahnya. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. Diambilnya napas dalam-dalam, dan dengan lantang, Ki Ragil Kuniran berteriak dengan keras, “Hooooiiii!! Seluruh warga desa Watu Belah, ketahuilah bahwa aku, Ki Ragil Kuniran akan segera mempunyai anak laki-laki, ya ... anak laki-laki ... !!” Suara itu menggema sampai ke pelosok desa Watu Belah. Orang-orang yang sedang bekerja di sawah atau ladang, kontan terkaget-kaget dan menghentikan sesaat pekerjaannya. Kaget, karena tidak biasanya mendengar suara sekeras dan segembira itu. Tapi setelah mendengar dengan seksama dan mengetahui siapa pemilik suara itu, mereka hanya geleng-geleng kepala. “Ki Ragil itu ada-ada saja.” “Ya tidak apa apa tho kang. Ki Ragil sekarangkan sedang bungah, berbahagia, kukira wajar kalau orang gembira meluapkan rasa gembira di hatinya itu,” sahut istrinya sambil terus memilah-milah kacang tanah ditangannya. “Lha iya, tapi mbok ya jangan teriak-teriak begitu, sudah tua kok pencilakan kayak anakmu saja.” “Terserah kakang lah ... ” sahut istrinya menyerah. -o0o- Sepuluh hari kemudian ... Ki Ragil Kuniran datang dengan si dukun bayi, Nyi Cendani. Tubuh kekar itu nampak berkeringat. Peluh membanjiri wajah dan tubuhnya ditambah dengan perasaan campur aduk tak karuan antara bahagia, tegang, senang dan bingung ‘tumplek blek’ menjadi satu. Ilmu lari cepatnya langsung dikerahkan semaksimal mungkin saat mendengar Nyi Salindri, sang istri merintih-rintih perutnya sakit dan terasa mulas. Dengan sigap dipondongnya Nyi Salindri, dan masuk ke dalam kamar, lalu diletakkan pelan ke atas pembaringan. “Aduh, Ki ... perutku ... sakit se ... kali ... “ Nyi Salindri berkata sambil terengah-engah. Perutnya terasa mulas sekali, mata membeliak-beliak seperti orang kesurupan setan. Ki Ragil hanya berdiri termangu-mangu. Tiba-tiba sebuah nama melintas dibenaknya. Nyi Cendani! “Tenang Nyi, sabar sebentar ... aku panggilkan Nyi Cendani ... ” “Cepat Ki ... aku sudah tidak tahan ... ” rintih Nyi Salindri sambil terus memegangi perutnya yang besar itu. Ki Ragil Kuniran segera menemui Mbok Inah, sang pelayan rumahnya. “Mbok, tunggui bendoro putrimu sebentar, aku mau menjemput Nyi Cendani!” Tanpa menunggu jawaban, Ki Ragil Kuniran langsung mblirit seperti orang dikejar setan. Gerakan langkah kakinya teratur dan mengikuti aturan-aturan tertentu. Larinya begitu ringan, laksana kapas tertiup angin. Rumah-rumah penduduk dilewati dengan cepat. Yang terlihat hanyalah sesosok bayangan hitam yang berkelebat dengan cepat. Dua penduduk desa yang dilewati seperti tersapu angin, matanya merem melek karena banyak debu yang mampir dimatanya. “Apa itu tadi?” tanya seorang penduduk dengan muka pucat. Tangan kirinya mengucal-ucal matanya yang kemasukan debu. “Entahlah ... ” “Apa mungkin setan ya ... ? Ataukah malah danyang desa ini?” tanya si muka pucat, matanya menjadi kemerah-merahan karena terlalu banyak debu yang masuk ke dalamnya. “Mana mungkin!! Setan tak mungkin keluyuran siang-siang begini, paling-paling cuman setan gundul, ha ... ha ... ha ... ” bantah temannya. Sementara itu, Ki Ragil Kuniran sudah sampai di depan rumah Nyi Cendani. Nyi Cendani yang yang sedang tidur-tidur ayam sambil menikmati sepoinya angin, tentu saja kaget. Tanpa permisi, tanpa kata dan tanpa suara, tangan kanan Ki Ragil Kuniran langsung saya menyambar tubuh nenek kerempeng itu. Wutt ... !! Plaakk ... !! Tangan kekar itu ditepiskan dengan sebuah tepisan ringan, seperti mengibas lalat. Tangan tua itu sudah terlatih dengan gerakan–gerakan ilmu silat, tentu saja secara otomatis telah memunculkan tenaga tak kasat mata dari dalam tubuhnya yang langsung bereaksi jika ada serangan mendekat. Tubuh kekar itu terhuyung ke belakang. Tangannya seperti beradu keras dengan besi baja. Terasa ngilu dan linu sekali. “Dasar tua bangka cabul! Istri sudah bunting besar, masih coba-coba main gila dengan perempuan tua macam aku! Kurang ajar!” semprot Nyi Cendani dengan sengit. Air liur kemerah-merahan muncrat ke mana-mana, karena sambil tidur-tidur ayam tadi, nenek tua itu sedang mengunyah-ngunyah susur. Matanya melotot besar, dengan kedua tangan berkacak pinggang. “Maaf ... maaf Nyi ... buk ... bukkkaaan ... aku ... ” Ki Ragil Kuniran berkata sambil tergagap-gagap. Napasnya memburu karena cemas, tegang, bingung dan kaget campur aduk menjadi satu. Cemas karena memikirkan rintihan Nyi Salindri yang perutnya terasa mulas. Tegang dan kaget karena dukun bayi itu bisa dengan mudah mengibaskan tangannya dan bisa membuatnya terhuyung-huyung beberapa langkah. Suatu hal yang aneh dan sukar diterima dengan akal. “Bukan apa? Sudah jelas kau ... ” “Tunggu dulu Nyi! Sabar ... sabar ... biar kujelas ... kan ... !” “Sabar gundulmu itu!” Nyi Cendani masih terus saja bertolak pinggang, tentu saja mulutnya masih ‘bergulat’ dengan susur yang saat itu masih betah di dalam rongga mulut yang peot itu. “Istriku mau melahirkan ... ” “Apaaa ... ?!?!?!” Nyi Cendani berteriak dengan keras. Suara cempreng itu bagai menusuk-nusuk telinga Ki Ragil Kuniran. Kepala berdenyut-denyut, telinga berdenging, karena suara cempreng itu hanya berjarak sejengkal dari telinganya. “Kenapa tidak kau bilang dari tadi?Dasar suami edan!” “He-he-he ... ” “Ditanya malah cengengesan,” sentak Nyi Cendani dengan mata melotot. Tubuh keriput itu langsung masuk ke dalam rumah, dan tak lama kemudian sudah keluar sambil membawa buntalan kain kuning kusam. Meski sudah tua, langkah nenek itu tidak terhuyung-huyung layaknya orang yang sudah uzur. “Ayo berangkat!” “Kemana Nyi?” tanya Ki Ragil Kuniran, seakan lupa dengan tujuan semula datang ke gubuk dukun bayi itu. “Ke Akhirat! Goblok! Tentu saja ke rumahmu, bukankah kau datang ke sini karena istrimu mau melahirkan!?” bentak Nyi Cendani. “Oh ... iya ... aduh, aku lupa!” -o0o- Nyi Cendani datang bersamaan dengan Ki Ragil Kuniran, langsung menuju ke kamar dimana Nyi Salindri sedang mengerang-erang kesakitan. Perut istri lurah itu sudah membuncit besar dan kedua tangan itu terus saja memegangi perut besar berisi calon anaknya. Nyi Cendani segera memegang perut Nyi Salindri yang terasa mulas. Saat menyentuh perut besar itu, serangkum hawa sejuk menerpa perut dan pelan-pelan rasa mulas dan sakit semakin berkurang, beberapa saat kemudian hilang berganti rasa nyaman dan sejuk. Nyi Salindri sudah tidak merintih-rintih lagi. Ki Ragil Kuniran mendekati istrinya dan membelai rambut panjang yang terurai itu. “Bagaimana Nyi, apakah masih sakit perutmu?” “Tidak Kang. Perutku sudah agak baikan,” kata Nyi Salindri lirih. Ki Ragil Kuniran memegang telapak tangan kanan istrinya dengan lembut. Di bibirnya seulas senyum bahagia terpampang jelas. Sementara itu, Nyi Cendani sibuk mempersiapkan proses persalinan. Tangannya bergerak-gerak aneh seperti orang mengaduk. Jari telunjuk kiri dan kanan saling bertemu di depan dada. Matanya terpejam rapat, mulutnya komat-kamit seperti membaca mantera. Dengan gerakan pelan namun bertenaga, telunjuk yang saling merapat itu menyentuh pusar Nyi Salindri. Sebuah totokan pelan telah dilakukan. Srepp!! Tiba-tiba perut Nyi Salindri menggelinjang sendiri, seolah-olah di dalamnya ada sesuatu yang sedang menggeliat, kemudian diam tak bergerak. Nyi Cendani mengerutkan keningnya. Diulangi lagi totokan tadi, dan hasilnya seperti yang sudah-sudah. Biasanya jika sudah ditotok, perut menggelinjang keras dan tegang seperti orang mengejan, setelah itu proses persalinan akan berjalan dengan lancar sebagaimana biasa yang ia jalani. “Aneh ... ” gumam Nyi Cendani. Pening kepala dukun bayi itu. Sebuah kejadian langka. Belum pernah selama ‘bertugas’ sebagai dukun bayi gagal membantu persalinan alias selalu tokcer. “Edan!” umpat Nyi Cendani, karena lagi-lagi usahanya gagal. “Edan? Siapa yang edan, Nyi?” tanya Ki Ragil Kuniran, heran. Nyi Salindri pun tertegun, pandangan matanya lincah mencari-cari sumber umpatan nenek itu. Tak ditemukan seorang pun di dalam kamar itu, kecuali mereka bertiga. “Anakmu! Anakmu itu ternyata masih betah berada di dalam perut ibunya,” terang Nyi Cendani. Mulut yang mengunyah susur itu makin lincah saja gerakannya. Mata tua itu jelalatan memandangi perut buncit Nyi lurah, seakan-akan sedang menaksir-naksir kapan isi dalam perut itu akan keluar. “Yang benar, Nyi? Nyi Cendani jangan main-main! Aku tidak suka itu!” kata Ki Ragil Kuniran agak meninggi. “Sudah jelas istriku mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari, dan hari ini sudah saatnya melahirkan. Tapi Nyi Cendani mengatakan bahwa anakku belum mau lahir. Kenapa bisa begitu Nyi!?” Suara Ki Ragil Kuniran mulai meninggi dan matanya melotot besar. Nyi Salindri segera memegang tangan suaminya, karena dia tahu betul jika suaminya sudah berkata dengan nada meninggi dan mata mencereng begitu, ujung-ujungnya pintu regol itu bakal jebol ditendangnya. Kalau segera tidak ditenangkan, tidak hanya pintu regol, mungkin rumah pun bisa rubuh dalam sekejap mata! “Sudahlah Kang! Mungkin belum saatnya ... ” “Belum saatnya ... belum saatnya. Lha wong perut sudah gedhe begitu kok belum saatnya,” kata Ki Ragil Kuniran bersungut-sungut. “Ki Lurah, kita tunggu sampai besok ... “ kata Nyi Cendani, dengan suara tidak enak hati. Tentu saja sebagai dukun bayi kelas kakap, gagal membantu persalinan akan mencoreng nama baik yang selama ini diukirnya. “Baiklah, kita tunggu sampai besok pagi. Silahkan Nyi Cendani istirahat di kamar depan, biar Mbok Inah yang mengatur ruangnya,” kata Nyi Salindri, dengan halus. “Kang Ragil, temani aku disini,” pinta Nyi Salindri pada suaminya. “Baiklah, aku juga sudah capek.” Hari demi hari, minggu berganti minggu, Nyi Salindri tidak juga melahirkan. Hal itu membuat Ki Lurah Watu Belah menjadi pusing tujuh keliling. Bayi biasanya akan lahir jika sudah berumur sembilan sepuluh hari, tapi bayi Nyi Salindri sampai bulan kedua belas, belum juga nongol dari perut sang ibu. Kabar tentang keanehan kandungan Nyi lurah sudah menyebar ke pelosok desa, bahkan sampai desa sekitarnya. Bahkan kepala desa Cluwak Bodas, Ki Sampar Angin, sahabat karib Ki Ragil Kuniran, seringkali bertandang ke rumah sahabatnya itu. Ki Sampar Angin datang bersama istri dan dua anak gadisnya yang sudah menginjak remaja, untuk menjenguk sahabat sekaligus memastikan kabar angin yang santer terdengar.   “Apa maunya anak itu ngendon begitu lama di perut ibunya? Menyusahkan orang tua saja,” gerutu Ki Ragil Kuniran, teringat kehamilan istrinya yang sudah menginjak bulan ke tiga belas. Craakhh! Glarrr! Kilatan bunga api di langit menyadarkan kembali lamunannya. Matanya kembali menerawang ke atas, seakan-akan ingin menjenguk isi langit yang paling atas. Pandangan mata itu beralih ke arah timur, entah mengapa rasanya ia ingin berlama-lama memandang ke timur. Dari kejauhan terlihat setitik sinar putih terang, melayang ke arah barat dengan cepat. Makin lama makin kelihatan jelas bentuknya. Bayangan putih yang dilihat Ki Ragil Kuniran ternyata seekor burung elang dengan bulu putih keperakan. Besarnya dua kali elang biasa. “Elang?! Sejak kapan di Desa Watu Belah ada burung sebesar itu?!” tanya laki-laki itu dalam hati. Kepakan sayap elang itu begitu tenang dan berirama, seolah-olah sedang menunggang angin. Matanya yang tajam berputar-putar seakan sedang mencari mangsa untuk mengisi perutnya. Awwkkk! Awwkkk! Suara serak terdengar beberapa kali tiap elang itu mengepakkan sayapnya. Seluruh bulu elang berwarna putih keperakan dengan mata kemerahan bulat besar. Mata laki-laki parobaya itu berkunang-kunang karena bulu putih itu begitu menyilaukan karena memantulkan sinar matahari. Awwkkk! Awwkkk! Suara serak terdengar lagi. Elang itu berputaran tepat di atas kepala Ki Ragil Kuniran sejarak enam tombak, jarak yang cukup dekat bagi elang itu untuk melakukan sambaran terhadap mangsanya. Setelah melakukan beberapa putaran, tiba-tiba berputar balik setengah lingkaran seperti orang bersalto, lalu melesat ke arah Ki Ragil Kuniran dengan cepat. Wuss! Wutt! “Elang gila!” Ki Ragil Kuniran menghindar dengan membungkukkan badan, sambil tangan kanannya melakukan gerakan untuk menangkis serangan paruh tajam si burung elang. Wutt ... ! Elang itu mengelak dengan memiringkan tubuhnya. Elang itu bergerak cepat menyelinap ke bawah ketiak kanan Ki Ragil Kuniran terus ke punggung, lalu dilanjutkan melesat ke atas melewati kepala sambil kakinya menyambar benda hijau kecil yang bergelayutan di ranting kecil tepat diatas kepala Ki Ragil Kuniran. Wess! Tap! Burung elang itu kembali melesat terbang ke atas dengan cepat. Kaki kekar itu mencengkeram makhluk kecil panjang kehijauan yang menggeliat-geliat ingin lepas. Elang itu melesat dengan cepat kearah barat sambil membawa buruannya. Aaawwkkk! Ki Ragil Kuniran terperangah. Bukan pada gerakan menyerang elang barusan, tapi benda bulat panjang kehijauan yang dicengkeramnya, ternyata adalah seekor ular berbisa! “Bukankah itu Ular Hijau Lumut yang beracun ganas? Sejak kapan pohon sawo kecik ini menjadi sarang ular?!” tanya Lurah Watu Belah dalam hati, sambil memutar badan melihat pada pohon sawo kecik di belakangnya yang cukup rimbun dan kebetulan sedang berbuah lebat. Tadinya ia mengira yang diserang elang adalah dirinya, sehingga dengan cepat menggerakkan tangan kanan untuk menangkis serangan elang. Akan tetapi begitu mengetahui serangan itu hanya untuk menyelamatkan dirinya dari patukan ular kehijauan itu, dia tidak jadi memaki burung elang tadi. Matanya yang tajam melihat kelebatan beberapa ular berwarna hijau diantara ranting dan daun pohon sawo kecik, meluncur dengan cepat. Gerakan ular itu begitu gesit bersembunyi, sebab melihat adanya bahaya dari burung elang yang menyambar kawannya barusan. “Hmmm, ular ini harus disingkirkan! Bahaya kalau sampai anak-anak bermain-main disini lalu dipatuk ular, bisa-bisa Nyi Cendani repot menyembuhkannya. Lebih baik kubunuh saja ular-ular itu,” gumam laki-laki itu sambil matanya memandang ke arah ular-ular itu. Ia lalu memandang berkeliling, mencari kerikil untuk menimpuk ular-ular yang hampir saja mencelakakan dirinya. Setelah menemukan kerikil-kerikil kecil, ia mulai menyentilkan jari tangan yang terisi kerikil ke arah ular yang ada di pohon sawo kecik itu. Ctik! Ctik! Blugh! Blugh! Dua ular terjatuh dengan kepala pecah, menggelepar-gelepar sebentar lalu mati. Ki Ragil Kuniran terus saja melakukan aksi ‘pembunuhan massal’ pada ular yang ada di pohon sawo kecik itu dengan kerikil. Sudah puluhan ekor ular jatuh ke tanah dan mati, akan tetapi ular-ular itu belum habis juga, bahkan makin lama banyak jumlahnya. “Gila! Betul-betul sarang ular pohon sawo ini, kalau begini terus bisa sampai semalaman! Kalau ada warga desa, pasti cepat beres. Tapi kalau kutinggal, jangan-jangan ular-ular itu malah pergi dan menyerang Desa Watu Belah. Wah, bisa hancur desaku! Pasti disini ada ratu atau raja ularnya. Kalau rajanya tertangkap, yang lainnya gampang diusir, lebih baik kucari saja rajanya!” gumam Ki Ragil Kuniran. Laki-laki berbaju hitam itu mengelilingi pohon sawo kecik itu dengan mata jelalatan mencari ‘pimpinan’ kawanan ular itu. Tangan kirinya masih memegang kerikil yang siap mengantar nyawa ular-ular itu ke alam kematian. Rupanya apa yang dikhawatirkan Ki Ragil Kuniran menjadi kenyataan. Di dahan yang paling besar, bertengger seekor ular hijau lumut seukuran lengan orang dewasa dengan panjang hampir mencapai tiga tombak, sedang melingkar. Matanya mencorong dengan lidah kemerahan yang selalu menjulur-julur keluar, sisiknya berwarna belang hijau kekuningan. Dikepalanya ada daging tumbuh layaknya makhota seorang raja. Ular-ular hijau lumut itu seakan menunggu titah dari ‘sang raja’ untuk menyerang lawan. Lidah raja ular kembali menjulur-julur, seakan memberi perintah dengan suara desisan yang keras. Sssshhhh!!! Seperti dikomando, ular-ular itu merayap ke bawah, bahkan yang agak besar langsung menjatuhkan diri ke tanah. Mereka berdesak-desakan keluar dan turun dari pohon sawo kecik itu. Pohon itu seakan bukan pohon sawo kecik lagi, tapi lebih mirip pohon ular hidup. Jumlah ular itu ratusan banyaknya, bahkan mungkin mencapai ribuan ekor, besar kecil saling berlomba mengejar sasaran yang sama, yaitu orang yang telah membunuh teman atau pun saudara mereka! Ki Ragil Kuniran yang tidak menyangka akan diserang ular-ular hijau lumut itu, kaget bukan kepalang. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu sudah terkepung ratusan ular yang jumlah ribuan ekor, termasuk raja ular itu juga turun dari atas dahan. “Gila! Apa-apa’an ini?” Sssshhhh!!! Sssshhhh!!! Suara mendesis ribuan ular hijau lumut seakan sebagai tanda protes atau kecaman bagi Ki Ragil Kuniran, dan mungkin juga jawaban dari pertanyaan Ki Ragil. Bersamaan dengan itu, ular-ular itu langsung menerjang maju. Ada yang langsung berusaha mematuk kaki, yang agak besar mengincar mata dan ada juga yang membokong dari belakang! Sssshhhh!!! Laki-laki baju hitam itu tidak mau dirinya menjadi santapan ular. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia bertarung dengan ular yang jumlahnya mencapai ribuan ekor, sehingga keringat dingin membanjiri tubuhnya. Tubuh kekar itu berkelebat. Ilmu silat dan ilmu ringan tubuh dikerahkan untuk menghindari serangan ular, bahkan hawa tenaga dalam digunakan mencapai sepuluh bagian. Akibatnya sungguh dahsyat. Setiap sapuan kaki atau tamparan tangan bahkan kepalan tinjunya selalu membawa maut. Wutt! Plakk!! Ular-ular yang kena tendangan, tamparan bahkan kepalan pasti mati. Kalau tidak kepalanya pecah, pasti perutnya jebol atau terbelah menjadi dua! Sungguh mengerikan pertarungan antara dua makhluk yang berbeda jenis itu. Satu manusia melawan ribuan ular beracun! “Heeaaaa ... !!” Teriakan mengguntur menambah semangatnya dalam menghadapi serbuan ular-ular beracun. Tubuh kekar itu semakin cepat berkelebat. Plakk ... ! Bukk ... ! Prak ... !! Sepuluh ekor ular yang cukup besar, mati dalam sekali kibas, tiga dengan kepala pecah, dua dengan perut jebol dan lainnya dengan tubuh terbelah dua. Tiba-tiba, sekelebat bayangan hijau panjang menerjang dengan gerakan kilat. Gerakan itu diketahui Ki Ragil Kuniran dengan sudut matanya. Dengan cepat bersalto ke belakang, sambil tangan kirinya yang penuh dengan kekuatan tenaga dalam bergerak menampar, akan tetapi bayangan hijau itu meliuk ke bawah, sambil mengibaskan ekornya ke arah kepala lawan. Melihat bayangan itu mengincar kepalanya dalam keadaan berjungkir balik seperti itu membuat Ki Ragil Kuniran gugup. Kepalanya mengegos ke kanan, tapi serangan itu masih sempat menyerempet pipi kanannya. Prattt!! “Ukh!” Laki-laki itu mengeluh. Pipinya terasa panas dan pedas, diikuti dengan rasa gatal kemudian pipinya terasa menebal. Tubuhnya melayang ke kiri akibat sampokan bayangan hijau tadi. Melihat jatuhnya tepat pada kumpulan ular yang seakan sudah menyambutnya, laki-laki parobaya itu masih dalam keadaan melayang, menggerakkan ke dua tangannya menyilang lalu menghentakkannya ke depan. Blarr ... !! Serangkum hawa panas berwarna putih pekat yang bersumber dari hawa tenaga sakti itu, mengeluarkan suara keras saat mengenai kerumunan ular yang siap menyambut tubuhnya. Tanah tempat ular-ular tadi membentuk cekungan lebar yang dalam akibat terkena serangan tenaga dalam putih pekat tadi. Tubuh ular-ular itu hancur dedel duwel berserakan di tanah dan tercium bau hangus yang amis. Jleg! Tubuh kekar itu berdiri tegak, tepat di mana ia tadi membuka jalan bagi dirinya dengan melancarkan pukulan mematikan. “Ular keparat!” maki Ki Ragil Kuniran saat ia meraba pipi kanannya yang kini gembung bengkak karena racun yang ada di ekor raja Ular Hijau Lumut. Kepalanya senut-senut, gigi kiut-kiut karena saking linu dan kerasnya racun. “Racunnya cepat sekali menjalar, harus segera diatasi,” batinnya. Ia cepat mengalirkan tenaga dalam ke jalan darah di sekitar leher dan otak belakang, agar racun itu tidak menjalar kemana-mana, lalu merogoh saku baju dan mengambil sebutir pil berwarna hitam dan langsung menelannya. Rasanya pahit dan baunya sengat seperti kotoran kambing. Rupanya bayangan hijau tadi adalah ular bermahkota yang marah karena melihat ‘pasukan’-nya tidak berdaya melawan musuh. Sssshhhh!!! Kembali terdengar desisan keras, untuk kesekian kali dari ular bermahkota. Sebenarnya bisa saja Ki Ragil Kuniran keluar dari pertarungan aneh itu, tapi melihat banyaknya jumlah dan ganasnya racun ular, ia tidak ingin warga desa menjadi korban dari gigitan ular hijau lumut ini, apabila ular-ular itu menyerang desa Watu Belah, lebih baik dihadapi sendiri meski dengan taruhan nyawa. Tiba-tiba dari arah barat, terdengar suara serak yang membahana. Suara yang sudah dikenal Ki Ragil Kuniran, suara burung elang! Awwkkk! Awwkkk! Rupanya elang putih keperakan yang tadi terbang sambil membawa seekor ular hijau lumut kembali lagi. Tapi kini tidak hanya sendirian, tapi dengan puluhan bahkan ribuan kawanan elang lainnya, ada yang berwarna hitam, coklat, bahkan burung pemangsa bangkai pun ikut bergabung. Diantaranya ada seekor elang hitam berkepala botak, namun besarnya lebih kecil dari elang putih keperakan. Ular adalah musuh bebuyutan elang dan sekaligus santapan lezat bagi jenis burung pemangsa ini. Rupanya saat mengitari Ki Ragil Kuniran, elang putih keperakan melihat bahwa di pohon sawo kecik terdapat sarang ular yang jumlah ribuan ekor banyaknya. Ular bermahkota mendesis-desis. Lidah merahnya yang bercabang dua bergetar dengan hebat, melihat kawanan elang yang terbang makin mendekat. Tak ada waktu baginya untuk meloloskan diri, kecuali bertarung mati-matian! Sssshhhh!!! Ular-ular yang lain menyahut dengan mengeluarkan desisan sama. Kepala menegak dengan mulut menganga lebar, lidah menjulur-julur sambil menetes-neteskan cairan racun berwarna putih bening. Siap menerima tantangan kawanan elang! Ki Ragil Kuniran masih terpaku di tempatnya melihat kejadian itu. Sungguh menakjubkan! Awwkkk! Kembali suara serak elang putih keperakan membelah angkasa, kali ini lebih keras dari yang tadi. Kawanan elang yang di belakangnya sontak mengikuti dengan suara serak yang bersahutan, seakan menerima perintah dari atasannya. Kaakh! Kaakh! Kaakh! Awwkk! Hampir bersamaan, kawanan elang itu meluncur ke bawah, mengincar kawanan ular-ular yang mengurung Ki Ragil Kuniran. Wutt! Wutt! Crakk!! Crokk! Pletak ... ! Perang campuh pun terjadi. Perang yang sungguh aneh dan mungkin paling langka di dunia pun terjadi. Pertarungan antara kawanan elang dengan kawanan ular! Saling mematuk, belitan ular yang sanggup meremukkan tulang, kelebatan cakar dan kepakan sayap elang, campur baur menjadi satu dengan suara desisan ular dan pekikan elang. Ular mengandalkan racun dan belitan yang kuat, sedang elang mengandalkan ketajaman paruh dan cakar tajam serta kegesitan terbang dalam menghindari semprotan racun. “Sungguh menakjubkan! Mungkin di dunia ini hanya aku yang melihat keganjilan seperti ini. Perang tanding yang aneh,” kata Ki Ragil Kuniran, pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Lebih baik, kubantu kawanan elang itu,” katanya lagi. Kepalanya mendongak ke atas, melihat burung elang putih keperakan yang masih melayang-layang di angkasa. Mata tajam itu sedang mencari-cari sesuatu di antara kawanan ular itu. “Sobat di atas, terima kasih atas bantuannya! Biar kubantu kawan-kawanmu! Kau hadapi saja raja ular itu, kulihat dia berada di sisi kirimu,” teriak Ki Ragil Kuniran dengan keras. Tangannya menuding ke arah timur, tempat dimana ular bermahkota kini berada. Awwkkk! Awwkkk! Suara elang putih keperakan terdengar kembali, kali ini lebih pelan mungkin sebagai jawaban darinya. Elang itu segera berkelebat ke arah timur. Elang putih keperakan merangsek dari atas. Paruh setajam pedang siap di hunjamkan ke kepala lawan. Ular bermahkota tidak mau mandah begitu saja, segera menggelung tubuh dengan cepat, menyembunyikan tubuhnya yang panjang dari terjangan lawan yang menyerang dari atas. Hanya kepalanya yang menyembul keluar, sambil mendesis-desis keras diiringi dengan goyangan kepala ke kiri kanan untuk mengecoh musuh. Crass! Cakar elang putih keperakan menyerempet bagian tengkuk meninggalkan bekas sayatan memanjang. Ular itu kembali mendesis marah. Sssshhhh!!! Kepala ular bergerak menyambar kaki elang dari bawah. Sratt!! Elang putih keperakan mengelak ke kiri sambil mengepakkan sayap dengan keras ke arah mata lawan. Plakk! Kepala ular terpelanting ke kanan. Badan yang tergelung itu ikut terbawa karena kerasnya sampokan. Pertarungan antara dua makhluk berlainan jenis dan bentuk itu terus berlangsung seru. Mencakar dan mematuk silih berganti, suara desisan dan pekikan elang terdengar di arena pertarungan. Bulu-bulu elang dan bangkai ratusan ular berserakan dimana-mana. Sementara itu, Ki Ragil Kuniran yang ‘dibantu’ kawanan elang, menerjang gerombolan ular hijau lumut. Laki-laki itu tidak sesibuk sebelumnya, walau pun setiap tendangan maupun pukulan selalu membawa maut. Prak! Bugh! Empat ular berkelojotan, lalu mati dengan kepala pecah. Menjelang sore, seluruh kawanan ular telah tumpas tapis tanpa tersisa sedikit pun. Bau amis menyengat hidung Ki Ragil Kuniran. Perutnya serasa diaduk-aduk mau muntah. Pada saat yang sama, elang putih keperakan melesat ke atas beberapa tombak, lalu menukik ke bawah dengan paruh siap dihunjamkan ke arah kepala lawan. Wuss! Ular bermahkota mengelak dengan merendahkan kepala sejajar tanah, diiringi suara mendesis-desis keras. Sssshhhh!!! Serangan elang putih meleset. Elang putih keperakan langsung berbalik ke kanan dengan cepat. Ular bermahkota tidak menduga kalau lawan bisa memutar diri dengan gerakan aneh dan langsung mengincar kepala bagian belakang! Crokk! Paruh elang menancap kuat, bahkan sampai tembus ke depan. Ular bermahkota berkelejotan meregang nyawa diiringi desisan kematian. Sssshhhh!!! Tubuhnya menggulung badan elang putih keperakan dengan cepat. Elang putih itu diam saja, sambil paruhnya digerak-gerakkan ke atas ke bawah seakan mengambil sesuatu. Plasss! Elang putih keperakan mencabut paruhnya dari kepala lawan yang meregang nyawa. Diparuhnya terdapat benda bulat putih kekuning-kuningan, langsung ditelan dengan cepat. Bersamaan dengan itu, ular bermahkota juga tergeletak tak bernyawa. Mati! Kemenangan sang pemimpin, disambut dengan teriakan membahana dari kawanan elang. Awwkkk! Kragh! Kaakkhh ... ! Elang putih keperakan kembali terbang ke atas dan melayang berputaran di udara, merayakan kemenangan ditingkahi suara serak yang menggelegar. Kawanan elang mengeluarkan pekikan-peikikan nyaring, sehingga suasan di sekitar di tempat itu riuh rendah tak karuan. Tiba-tiba ... Wutt! Elang putih keperakan berputar cepat dan menukik ke bawah, ke arah bangkai ular bermahkota. Ki Ragil Kuniran yang merasakan angin sambaran yang kuat menerpa dirinya, segera membuang diri ke belakang. Elang putih keperakan itu menyambar bangkai ular dengan sepasang cakarnya yang tajam, lalu melesat terbang ke arah matahari terbit dengan pekikan tinggi melengking. Kawanan elang yang lain, mengikuti perbuatan sang pemimpin, menyambar bangkai-bangkai ular yang berserakan di tanah, sehingga sekitar pohon sawo kecik yang pada mulanya sebagai ajang pertarungan antara kawanan elang dengan kawanan ular, kini sebagian besar telah bersih dari bangkai ular. Sisanya masih berserakan tak karuan disana-sini. “Sobat, terima kasih atas bantuannya,” teriak Ki Ragil Kuniran, yang sesaat terpana melihat pangeram-eram yang dibuat oleh kawanan elang. “Pasti elang putih keperakan itu memiliki majikan atau suatu tempat tinggal yang setidaknya berdekatan dengan manusia. Tidak mungkin seekor burung bisa paham perkataan manusia kalau tidak ada yang mengajarinya atau setidaknya burung elang itu akrab dengan manusia. Kalau aku bertemu dengan pemilik elang itu, mungkin aku tidak bisa membalas kebaikannya,” gumam laki-laki parobaya itu. “Lebih baik kubersihkan tempat ini, perutku mual memcium bau amis yang menyengat. Kubuat saja lubang yang besar disini.” Dari arah selatan, seorang bocah kecil berumur kurang lebih sepuluh tahun berlari dengan cepat. Napasnya terengah-engah. Berbadan ceking dengan keringat bercucuran membasahi muka dan dadanya yang telanjang. Celananya hitam komprang, agak kedodoran. Dilehernya tergantung sebentuk ketapel atau blandring dari kayu jati. “Ki Ragil ... Ki Ragiiil ... Ragiiil ... ” Laki-laki yang dipanggil, segera menoleh. Ki Ragil Kuniran kenal betul dengan suara itu, matanya memandang ke arah selatan dengan dahi berkerut. “Ada apa Gineng memanggilku? Apa kawanan ular juga nglurug ke desa?” batin Ki Ragil Kuniran, lalu melompat keluar dari lubang galian. Ia menghentikan pekerjaannya membuat sebuah yang cukup lebar dan dalam. Meski hanya menggunakan tangan, namun kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya ikut ambil bagian, sehingga setiap kedukan atau songkelan tangan ibarat cangkul dan linggis. Bocah kecil yang disebut Gineng melihat orang yang dicarinya berada di bawah pohon sawo kecik, wajahnya langsung sumringah, langsung berlari mendekat ke arah orang dicarinya. “Ada apa Gineng? Kenapa kamu berteriak-teriak seperti orang kesurupan? Apa kamu disuruh simbokmu?” tanya Ki Ragil Kuniran. “Betul, Ki! Saya disu ... ruh sim ... bok untuk mencari Ki ... lurah,” kata Gineng sambil ngos-ngosan. “Kamu disuruh apa sama simbokmu?” tanya Ki Ragil Kuniran, sambil bersandar pada pohon sawo kecik. Mukanya licin berkilat-kilat karena mandi keringat sedangkan pipi yang terkena sabetan ekor ular sudah sembuh berkat obat anti racun yang ditelannya, meski tampak sedikit lebam. “Anu ... itu ... Ki ... Hehh ... ” “Anumu kenapa? Bicara yang jelas!” “Istri Ki Ragil mau melahirkan!” kata Gineng setelah menghela napas dalam-dalam. “Istriku mau melahirkan? Kamu jangan main-main, Gin! Apa Nyi Cendani juga ada?” tanya Ki Ragil Kuniran. Sudah seringkali dia oleh dikabari Gineng kalau istrinya mau melahirkan, tapi kenyataannya ketika sampai di rumah, istrinya tidak melahirkan, malah sedang enak-enakan ngobrol sama dukun beranak itu! “Betul, Ki! Nyi Cendani juga bilang begitu! Katanya hari ini pasti melahirkan, karena ... karena ... air ketubannya sudah pecah. Begitu kata Nyi Cendani yang saya dengar,” ucap Gineng nyerocos begitu saja. “Air ketubannya sudah pecah!?” gumam laki-laki parobaya itu. Tiba-tiba kepala desa Watu Belah itu teringat sesuatu. “Baiklah! Aku akan ke rumah. Semoga saja hari ini anakku benar-benar lahir! Tolong kau lanjutkan pekerjaanku, nanti upahnya seperti yang kemarin, aku ajari kau jurus silat yang baru,” kata Ki Ragil Kuniran, sambil menepuk-nepuk pundak Gineng, lalu berkelebat ke arah selatan, ke arah desa Watu Belah! Wuss! “Baik, Ki! Pokoknya beres!” seru Gineng, tanpa bertanya ‘pekerjaan’ apa yang harus dilanjutkannya. Setelah bayangan Ki Ragil Kuniran lenyap di tikungan jalan, Gineng segera berjalan mendekati lobang galian yang dibuat Ki Ragil Kuniran. “Walaah ... buat apa Ki lurah membuat lubang begini besar? Apa untuk mengubur gajah, ya? “ gumam Gineng. Matanya yang besar jelalatan mencari cangkul atau linggis.Namun yang ditemukan bukan linggis atau pun cangkul, tapi ratusan bangkai ular yang berserakan tak tentu arah! “Kok disini banyak bangkai ular? Pasti ini perbuatan Ki lurah! Mungkin ini pekerjaan yang harus kulanjutkan tadi. Hemmm, baiklah!” gumamnya lagi. Ketika membungkuk, tiba-tiba perut kecilnya berbunyi. Krucukkk! Kriiyukk! “Wah, perutku minta diisi nih! Tadi aku tidak sempat makan, sudah disuruh simbok mencari Ki Ragil! Lebih baik, aku makan saja buah sawo itu, lumayan untuk mengganjal perut, baru mengurus bangkai ular itu!” katanya.   “Bagaimana Nyi? Sudah mau keluar?!” tanya seorang laki-laki berpakaian hitam bercelana hitam komprang dengan ikat pinggang merah menyala, saat melihat seorang wanita tua keluar dari biliknya. Laki-laki berwajah bersih berbadan kekar itu tak lain adalah Ki Ragil Kuniran, kepala desa Watu Belah. “Entahlah Ki! Aku sendiri juga dibuat bingung oleh anakmu! Seharusnya sudah keluar dari tadi, tapi sampai menjelang tengah malam begini, tidak keluar-keluar juga. Padahal air ketuban istrimu sudah pecah dari tadi. Aku takut terjadi apa pada bayimu. Ilmu pengobatan yang kumiliki juga tidak ada gunanya,” keluh Nyi Cendani. Semua orang yang berada di ruangan itu terdiam, dengan pikiran berkecamuk. Ki Ragil Kuniran kembali duduk di kursi tempat biasanya ia bersantai. Matanya menerawang jauh, entah apa yang dipikirnya. “Pasti ada hubungannya dengan mimpi itu,” gumamnya lirih. Walaupun lirih, telinga semua orang yang berada di situ, mendengar jelas gumaman laki-laki nomor satu di desa Watu Belah. Seorang laki-laki berbaju lurik dengan blangkon bertengger di kepala, mendekat dengan kening berkerut. Dialah yang bernama Ki Sampar Angin, kepala desa Cluwak Bodas. “Mimpi apa, Adi Kuniran?” tanya Ki Sampar Angin, sambil duduk di depan kursi sahabatnya. “Cuma mimpi biasa saja, Kakang Sampar Angin,” kata Ki Ragil Kuniran, pendek. “Kalau Adi Kuniran tidak keberatan, apa boleh saya tahu mimpi apa yang Adi Kuniran temui,” ucap Ki Sampar Angin, meyakinkan, “mungkin saja itu bukan mimpi biasa.” Semua orang yang ada disitu memandang laki-laki berbaju hitam itu dengan pandangan memohon. “Baiklah,” kata Ki Ragil Kuniran setelah menimbang-nimbang beberapa saat. “Akhir-akhir ini, aku sering mimpi aneh, Kakang Sampar Angin! Dalam mimpiku, aku ditemui seorang kakek yang sudah sangat tua sekali, berjubah putih berbulu, seperti bulu burung berwarna putih keperakan. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keperakan, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Kakek itu mengatakan sesuatu padaku, seperti sebuah syair atau sebuah pesan, tapi aku sendiri tidak begitu paham artinya.” “Apa isi dari sesuatu yang Adi sebut sebagai ‘syair’ itu tadi?” Setelah termenung beberapa saat, Ki Ragil Kuniran menjawab pertanyaan itu. “Isi seperti ini : ‘Cucuku, aku adalah Sang Angin! Aku memilih anakmu sebagai Pewaris Tahta Angin, yang akan membersihkan seluruh duri di muka bumi. Angin kecil-lah yang akan mewarisi kekuatan Sang Angin. Penunggang Angin akan menjadi pertanda kelahiran Pewaris Tahta Angin di dunia pada bulan ke tiga belas purnama sidhi. Jagalah dia baik-baik. Aku hanya bisa memberikan Telapak Tangan Bangsawan sebagai rasa terima kasihku padamu, yang akan kuberikan bersamaan dengan munculnya si angin kecil dan Penunggang Angin’. Itulah yang dikatakan kakek itu dalam mimpiku,” kata Ki Ragil Kuniran, lalu lanjutnya, “Setelah itu, kakek berjubah bulu burung itu seperti melemparkan cahaya putih keperakan dari tangan kanannya ke arah perut istriku, diiringi dengan suara deru angin membadai dan suara gelegar petir, mirip dengan deru badai yang pernah kita lihat di Pantai Selatan. Mimpi itu selalu datang padaku berturut-turut. Itulah mimpi yang kualami, Kakang Sampar Angin! Pada mulanya aku berpikir itu cuma kembang tidur saja, tapi setelah kejadian tadi siang, aku mulai memikirkan kebenaran dari mimpiku itu.” “Kejadian? Kejadian apa Adi?” desak Ki Sampar Angin. “Perkelahian antara kawanan burung dengan kawanan ular.” “Burung apa? Ular apa? Jelaskan yang benar, Ki lurah,” Nyi Cendani kini yang bertanya. “Pertarungan ganjil antara elang putih keperakan dengan ular hijau lumut.” jawab Ki Ragil Kuniran. Semua orang yang mendengar cerita tentang mimpi itu terkesima, seolah terhipnotis. Sungguh aneh dan sulit dimengerti apa arti dari mimpi Ki Ragil Kuniran itu. Semua tercenung memikirkan arti mimpi itu. Gineng yang sedari tadi duduk di pojok ruangan sambil mendengarkan cerita Ki Ragil Kuniran, manggut-manggut. Tahulah ia bahwa bulu-bulu yang ditemuinya berserakan itu adalah bulu elang, sedangkan bangkai ular yang telah dikuburkan tadi adalah bangkai ular hijau lumut! “Oh ... bulu burung elang to. Kukira tadi bulu ayam, he-he-he ... ” gumam Gineng. “Apa ada to, Gin, kok ndremimil kayak begitu,” ucap simboknya, lirih. Yang ditanya hanya tertawa cengengesan saja. Nyi Cendani mendengar disebutnya Ular Hijau Lumut, melengak kaget! Ular Hijau Lumut adalah ular yang selalu hidup berkelompok, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu dalam satu kelompok. Setiap kelompok akan memiliki seekor ular bermahkota dengan panjang kurang lebih empat hingga lima tombak. Seluruh tubuh ular itu beracun ganas dan mematikan. Satu tetes racun ular hijau lumut bisa membunuh orang dalam waktu sekian detik. Apabila ular itu berada di sungai atau danau, bisa dipastikan hewan-hewan air akan mati keracunan! Untunglah gurunya, si Iblis Botak, telah membuat semacam obat pemunah untuk mengatasi ganasnya racun Ular Hijau Lumut, yang bahan utamanya dari Empedu Beruang Salju yang dikeringkan. Bahkan mustika ular yang ada di kepala ular bermahkota itu, menurut gurunya bisa menaklukkan ular dari jenis apa pun. “Apa Ki Ragil selalu membawa obat pemunah racun yang saya berikan tempo hari?” tanya Nyi Cendani, dengan mimik serius. “I ... ya, Nyi! Bahkan aku telah menelannya dua butir saat bertarung dengan ular yang bermahkota,” kata Ki Ragil Kuniran. “Ular bermahkota juga ada? Dimana sekarang? Apa masih hidup?” seru Nyi Cendani, dengan wajah berbinar-binar. “Sudah mati.” “Bangkainya dimana?” kejar Nyi Cendani, seraya melangkah mendekat. “Sebagian besar dari bangkai ular sudah dibawa pergi oleh elang-elang itu, termasuk juga ular bermahkota itu,” kata Ki Ragil Kuniran. “Uh ... sayang sekali!” keluh Nyi Cendani. Nenek itu terdiam. Suasana di ruangan itu kembali lengang, yang terdengar hanyalah helaan napas dalam-dalam. Ki Ragil Kuniran kembali tenggelam dalam lamunan, demikian juga dengan Ki Sampar Angin, pikirannya mengembara mencari tahu siapa gerangan kakek berjubah putih berbulu burung yang diceritakan oleh sahabat karibnya itu. “Rasa-rasanya, aku pernah mendengar ciri-ciri itu. Kakek berjubah putih berbulu burung, dengan tubuh memancarkan cahaya keperakan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki!? Aku yakin pernah mendengarnya. Tapi kapan dan dimana? Andaikata guruku atau ayahku masih hidup, tentu tahu siapa tokoh yang memancarkan cahaya keperakan itu. Áh ... pusing aku!” pikirnya. Di saat semua orang sedang berkecamuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba dari luar terdengar desau angin yang ganjil. Malam itu sedang bulan bulat penuh, yang semula sunyi sepi hanya terdengar suara jengkrik dan serangga lain, kini berubah suara dengan lirih dan akhirnya berhenti sama sekali. Angin malam semakin lama semakin meningkatkan alirannya. Suara desir yang tidak seperti biasanya, menggugah Ki Ragil Kuniran dari lamunan panjang. “Angin ini ... sama persis dengan suara angin yang kurasakan dalam mimpiku,” desisnya lirih. Semua orang tercenung mendengar desisan lirih itu. Tiba-tiba saja, terdengar pekikan nyaring dari atas wuwungan rumah ... Awwkkk! Awwkkk! “Pekikan elang!” gumam Ki Sampar Angin, mengenali suara nyaring melengking yang meningkahi desiran angin yang semakin meningkat tajam. Ki Ragil Kuniran segera bergegas keluar, diikuti dengan yang lain, kecuali Gineng yang sudah terlelap tidur di atas dipan. Lurah desa Watu Belah itu sampai di halaman, lalu memandang ke atas wuwungan rumah. Semua orang melihat sebentuk makhluk yang memancarkan cahaya putih keperakan karena tertimpa cahaya bulan purnama, yaitu satwa penguasa angkasa, burung elang yang berbulu putih keperakan! “Itulah elang yang kuceritakan tadi, Kakang Sampar Angin,” kata Ki Ragil Kuniran. “Elang putih keperakan yang bertarung dengan ular bermahkota tadi siang.” Elang berbulu putih keperakan itu bertengger di atas wuwungan rumah dengan gagah. Tidak seperti tadi siang yang memimpin kawanan elang saat bertarung dengan gerombolan ular, sekarang elang itu datang sendirian. Bulu putih berkilauan terkena pantulan cahaya bulan purnama. Angin yang semula meningkat tajam, sontak hilang dan berganti dengan hawa dingin menusuk tulang. hawa ini terlalu dingin untuk ukuran desa yang letaknya memang berada di kaki gunung. “Kenapa hawa jadi dingin membeku begini,” gumam kepala desa Cluwak Bodas, Ki Sampar Angin. Tanpa diperintah, seluruh hawa tenaga dalam yang dmilikinya perlahan mengaliri seluruh tubuh, mendesak hawa dingin yang semakin pekat. Sedikit demi sedikit hawa dingin membeku dapat ditekan seminimal mungkin. Tindakan Ki Sampar Angin diikuti semua khalayak yang hadir disitu. Nyi Cendani, Ki Ragil Kuniran dan dua orang Jagabaya melakukan hal yang sama. Hanya dua orang Jagabaya yang tenaga dalamnya agak rendah. Tubuh mereka berdua langsung menggigil kedinginan. Gigi berkerotokan, seluruh tulang rasanya menciut, wajahnya pias memucat. Nyi Cendani beringsut ke belakang dua Jagabaya, lalu menempelkan dua tapak tangannya ke punggung dan mengalirkan hawa panas ke dalam tubuh mereka berdua. Tak berapa lama, dua orang itu sudah bisa mengatasi hawa dingin membeku. “Terima kasih, Nyi Cendani,” ucap salah seorang diantara Jagabaya yang bertubuh gempal. Nenek dukun bayi itu hanya mengangguk pelan. Mata tuanya memandang burung elang berbulu putih itu dengan seksama, termasuk juga orang-orang yang ada di pelataran rumah. Ki Sampar Angin manggut-manggut, sambil mengelus-elus jenggot kelabunya yang panjang. “Menurutku, mungkin burung itu yang dimaksud dengan ‘Penunggang Angin’, Adi Kuniran,” kata Ki Sampar Angin tanpa menoleh ke arah Ki Ragil Kuniran yang berdiri di sampingnya. “Betul Kakang. Aku juga berpikir sama! Aku yakin bahwa yang dimaksud dengan Penunggang Angin adalah elang putih keperakan itu,” sahut Ki Ragil Kuniran. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara tanpa wujud yang menggema di tempat itu. Suara seorang kakek! “Cucuku, Ragil Kuniran! Sudah tiba saatnya anakmu lahir ke dunia! Aku telah memilihnya sebagai pewaris Tahta Angin. Sebagai seorang pewaris, maka seluruh apa yang kumiliki akan menjadi milik anakmu. Aku minta kepadamu, jagalah pewarisku dengan sebaik-baiknya. Selain kau dan istrimu, Si Perak juga akan menjaga dan mengasuh anakmu! Dan aku minta, berilah nama anakmu Paksi Jaladara.” Suara itu menggema di seantero tempat itu. Ki ragil kuniran yang selama ini diliputi dengan rasa penasaran terhadap mimpinya, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. “Maaf, jika boleh saya tahu, siapa Andika ini sebenarnya? Dan mengapa memilih anakku sebagai pewaris?” tanya Ki Ragil Kuniran, dengan rasa ingin tahu yang menyala-nyala. “Ha-ha-ha-ha ... ! Sebenarnya aku malu mengatakan siapa diriku. Baiklah, karena kau yang meminta, kau boleh menyebutku Si Elang Berjubah Perak! Perkara aku memilih anakmu sebagai pewaris, hanya Hyang Widhi yang tahu! Biarlah nanti waktu yang akan menjawabnya! Sudahlah, waktuku tidak banyak! Sebagaimana janjiku padamu, terimalah ‘Telapak Tangan Bangsawan’ sebagai rasa terima kasihku. Selamat tinggal ... !” Suara tanpa rupa, yang menyebut dirinya Si Elang Berjubah Perak, menghilang. Seolah tertelan kegelapan malam dan terangnya rembulan. Suasana kembali menjadi sunyi. Udara kembali normal, tidak dingin membeku seperti sebelumnya. “Si Elang Berjubah Perak,” gumam Nyi Cendani. “Rasa-rasanya aku pernah mendengar nama tokoh itu dari guruku, tapi siapa dia? Tapi aku yakin, dia adalah tokoh golongan putih. Ki Ragil, apa kau tahu siapa dia?” Yang ditanya hanya diam saja. Matanya terpejam dengan kepala tertunduk. Telapak tangannya menegang kencang terselimuti cahaya tipis kuning keemasan. Semua yang hadir di situ menjauhi Ki Ragil Kuniran sambil memandang heran. “Apa ini yang namanya ‘Telapak Tangan Bangsawan’?” gumam Nyi Cendani, lirih. Semua orang juga bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang dialami oleh Ki Ragil Kuniran saat ini? Dalam pada itu, Ki Ragil Kuniran merasakan hawa panas menyengat menjalar melalui telapak kakinya. Seolah-olah di bawahnya adalah tungku pembakaran yang panas membara. Tangan terkepal mengencang keras, dimana cahaya tipis kuning keemasan semakin lama semakin menebal hingga menjalar sampai pergelangan tangan dan naik sampai siku. Di dalam daya nalarnya, terngiang sebuah suara yang bernada memerintah, suara Si Elang Berjubah Perak. Rupanya Si Elang Berrjubah Perak tidak benar-benar pergi dari tempat itu, dan suaranya cuma Ki Ragil Kuniran saja yang mendengar! “Cucuku, serap hawa ‘Gaib Inti Panas Bumi’ itu dan alirkan menuju telapak tanganmu. Satukan dengan hawa sakti yang ada di pusar. Tarik terus ke atas hingga semua berkumpul di telapak tanganmu! Bagus, bagus! Ya, seperti itu!” Ki Ragil Kuniran mengikuti perintah Si Elang Berjubah Perak. Kekuatan gaib ‘Inti Panas Bumi’ terus menjalar dari pusar terus ke sekujur tubuh dan akhirnya mengalir ke telapak tangan, sehingga cahaya kuning keemasan tampak semakin jelas terlihat. “Bagus! Geser kaki kiri ke belakang dan tarik kedua tangan sampai di samping pinggang. Sekarang ... hentakkan kaki kanan ke bumi dan dorong kedua telapak tanganmu ke arah pohon yang ada di depanmu!” Ki Ragil Kuniran segera saja menggeser kaki kiri ke belakang, kedua tangan di tarik ke samping pinggang. Lalu didorongkan ke depan dengan mantap, diikuti dengan hentakan kaki kanan ke bumi. Wuushh! Srakk! Srakkk ... !!! Terlihat bayangan sepasang telapak tangan raksasa berwarna kuning keemasan menebarkan hawa panas membara melesat cepat bagai kilat dan menghantam pohon yang besarnya sepelukan orang dewasa hingga hancur lebur berkeping-keping. Tanah yang dilewati bayangan itu seolah diaduk dengan bajak yang ditarik sepuluh ekor kerbau! Blarrrr ... !! Suara benturan itu mengguncangkan seluruh penjuru desa, guncangan itu begitu keras, seakan-akan sekitar tempat itu terkena gempa bumi yang dahsyat. Ki Ragil Kuniran terpana melihat hasil pukulannya, lalu melihat kedua telapak tangannya berganti-ganti yang masih menyisakan cahaya tipis kuning keemasan. Beberapa saat kemudian, cahaya kuning keemasan itu lenyap dari tangannya dan berganti menjadi semacam gambar atau rajah berbentuk telapak tangan berwarna kuning emas di masing-masing telapak tangan! Tiba-tiba, telinganya mendengar suara Si Elang Berjubah Perak. “He-he-he-he! Bagus, cucuku! Nah, jika kau ingin menggunakannya, gosoklah kedua telapak tanganmu tiga kali untuk menarik hawa ‘Gaib Inti Panas Bumi’, lalu alirkan hawa ‘Gaib Inti Panas Bumi’ ke telapak tanganmu.Satukan dengan hawa sakti yang ada di pusar. Tarik terus ke atas hingga semua berkumpul di telapak tanganmu! Kau pun kuijinkan mewariskan ilmu ‘Telapak Tangan Bangsawan’ pada anakmu, atau pada siapa saja dengan syarat harus digunakan untuk membela kebenaran dan keadilan! Nah, cucuku, selamat tinggal!” Semua khalayak yang hadir memandang takjub. Tontonan yang mungkin pertama kali mereka saksikan, yang biasanya hanya mendengar saja tentang kehebatan tokoh-tokoh legendaris rimba persilatan atau mungkin hanya cerita mambang tentang kesaktian para dewa. Kini, mereka berempat seolah sebagai saksi tentang munculnya sebuah ilmu pukulan yang dahsyat luar biasa sekaligus menakutkan, pukulan ‘Telapak Tangan Bangsawan’! Ki Sampar Angin dan Nyi Cendani, bergidik ngeri dan membayangkan bagaimana jadinya jika pukulan maut berbentuk bayangan telapak tangan raksasa itu mengenai tubuh manusia, pastilah tubuh hancur lebur menjadi bubur daging. Sedangkan dua Jagabaya sampai gemetar saking kaget dan takut. Tubuh mereka menggigil seperti orang kedinginan, saat menyaksikan tumpahan ilmu olah kanuragan yang baru pertama kali mereka lihat. Akhirnya mereka berdua jatuh pingsan karena ketakutan yang mendera batin. Beberapa saat kemudian, dari atas langit melesat cahaya terang berwarna putih keperakan. Weessshh! Cahaya putih keperakan itu langsung menabrak burung elang putih keperakan yang sejak tadi bertengger di atas wuwungan dan melihat setiap kejadian di pelataran dengan matanya yang merah saga, dibalut bulatan coklat ditengahnya. Blasssh! Aneh, cahaya itu seakan-akan menembus tubuh elang dan langsung masuk ke dalam rumah. Tepatnya di bilik, dimana Nyi Salindri dan Mbok Inah berada. “Istriku!” seru Ki Ragil Kuniran, saat teringat bahwa di dalam bilik itu istrinya yang hamil tua berada. Blasss! Tubuh laki-laki berbaju hitam itu berkelebat cepat, diikuti dengan yang lain. Ada yang lain dari kelebatan laki-laki itu, lebih cepat dan lebih ringan dari pada biasanya. Namun karena semua diliputi ketegangan yang semakin memuncak, mereka semua tidak ambil dengan perubahan diri Ki Ragil Kuniran. Zlapp! Ketika sampai di depan pintu bilik kamar tidurnya, terdengar suara nyaring yang selama ini sangat dirindukan Ki Ragil Kuniran, suara tangis bayi! “Ooeeekhh! Ooeeekhh ... !” Mendengar tangis bayi, Nyi Cendani bergegas masuk ke dalam bilik. “Laki-laki tidak boleh masuk,” katanya dengan suara cempreng, lalu menutup pintu bilik. Nyi Cendani membalikkan badan, dan saat itu matanya melotot melihat pemandangan di depannya. Sebuah kejadian ganjil kembali disaksikan untuk kedua kalinya, sedangkan Mbok Inah berdiri menggigil ketakutan, karena Nyi lurah melahirkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki! Sebenarnya, bukan itu saja yang membuat Mbok Inah ketakutan, bukan karena Nyi Salindri yang melahirkan tanpa bantuan seorang dukun bayi, tetapi karena keanehan yang terjadi pada bayi merah itu. Bayi montok berkulit putih bersih itu ternyata yang sudah bisa duduk, seperti bayi berumur lima enam bulan! Dan lebih anehnya lagi, tali pusarnya sudah hilang entah kemana dan tidak ada noda darah sedikitpun di sekujur badannya. Betul-betul keajaiban yang sulit di nalar dengan akal sehat. Anak Ki Ragil Kuniran memiliki mata bening, sebagaimana layaknya mata seorang bayi, namun pandangan mata bocah itu sangat tajam seperti mata orang dewasa atau setidaknya orang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Sedangkan kondisi Nyi Salindri pun bukan seperti wanita yang habis melahirkan, yang tergolek lemah kehabisan tenaga sehabis melahirkan. Wajah Nyi lurah berbinar-binar penuh kegembiraan. Kemudian tangan kanannya melambai ke arah sang anak. “Sini, sayang ... dekat sama Ibu ... ” Bayi montok itu merangkak ke arah ibunya, dan akhirnya sampai di pelukan sang ibu. Nyi Salindri mencium anaknya dengan gemas. Nyi Cendani hanya terlongong bengong seperti sapi ompong. Peristiwa yang dialaminya hari ini, betul-betul mengejutkan. Nyi Cendani mendekati ranjang Nyi Salindri. “Nyi lurah, bagaimana keadaanmu?” tanya Nyi Cendani. “Entahlah, Nyi Cendani, aku sendiri juga bingung dengan kejadian yang baru saja kualami,” kata Nyi Salindri masih memeluk bocah itu. Nyi Cendani hanya manggut-manggut saja. Tiba-tiba saja, daun pintu diketuk dari luar. Tok! Tok! Tok! “Nyi Cendani, bagaimana keadaan istri dan anakku? Apa baik-baik saja? Tolong buka pintunya, aku ingin masuk.” Nyi Cendani bergegas membuka pintu, dan tampaklah Ki Ragil Kuniran dengan wajah harap-harap cemas. Laki-laki itu masuk diiringi Ki Sampar Angin. “Silahkan masuk, Ki Ragil! Istri dan anakmu tidak apa-apa,” kata Nyi Cendani, sambil menunjuk ke arah Nyi Salindri. “Nyi, bagaimana kea ... ” Suara Ki Ragil tercekat di tenggorokan melihat pemandangan yang terpampang di depan mata, melihat istrinya sedang menyusui anaknya yang baru saja lahir ke dunia. Matanya di kucal-kucal untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan mimpi. Ki Sampar Angin juga mengkerutkan kening, dengan pandangan tidak percaya. “Apa benar yang kulihat ini,” pikirnya. Ki Ragil Kuniran menoleh ke arah Nyi Cendani dengan pandangan mata bertanya. “Jangan tanya aku, Ki! Aku sendiri juga bingung dan heran melihat kelahiran anakmu! Anak baru saja lahir sudah bisa merangkak. Ini sudah diluar nalarku sebagai manusia!” kata Nyi Cendani, menjawab pandangan mata laki-laki itu. Sementara itu, Mbok Inah sudah mulai bisa menenangkan diri. Dirinya tidak ketakutan seperti sebelumnya. Bibi tua itu segera mendekati majikannya, dengan takut-takut. “Maaf ... Ki lurah, saya ... saya ... ” “Tidak apa-apa Mbok! Terima kasih simbok telah menjaga istriku dengan baik. Oh ya ... Mbok, mungkin Mbok Inah bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya,” tanya Ki Ragil Kuniran. Laki-laki itu duduk di sebelah kiri ranjang dan mulai mengelus-elus kepala anaknya. Bocah kecil itu hanya menoleh sekilas, sambil tertawa riang memamerkan mulutnya yang bergigi dua. Ki Ragil Kuniran membalas dengan senyuman. “Begini Ki Lurah, waktu itu saya dan Nyi Lurah sedang ngobrol. Tiba-tiba terdengar ledakan keras seperti suara petir yang menggelegar. Entah suara apa saya tidak tahu. Terus rumah ini seperti dilanda gempa bumi, seperti mau kiamat. Setelah guncangan itu reda, tiba-tiba melesat cahaya putih dari atas. Cahaya itu berputar-putar di dalam bilik ini. Lama-kelamaan seperti membentuk bayangan burung, entah burung apa saya tidak tahu. Lalu bayangan itu melesat masuk ke dalam perut Nyi lurah yang sedang tiduran di ranjang. Nyi lurah tidak bisa menghindar karena gerakan cahaya itu cepat sekali. Setelah cahaya itu masuk, tiba-tiba Nyi lurah merasakan perutnya mules, mungkin karena kemasukan cahaya itu. Baru saja saya akan menyentuh perutnya, tiba-tiba ... tiba-tiba ... “ “Tiba-tiba apa Mbok?” potong Nyi Cendani dengan cepat. “Tiba-tiba bayi itu ... keluar sen ... diri, Ki Lurah,” ucap Mbok Inah dengan terbata-bata. “Hahhh!?” kali ini Ki Sampar Angin yang kaget. “Ngomong yang benar, Mbok!” Mbok Inah sampai terlonjak kaget! “Be ... benar, Ki Sampar Angin, saya tidak bohong. Tanya saja Nyi lurah, kalau tidak percaya,” kata Mbok Inah, sambil mengelus dada karena dibentak Ki Sampar Angin. Semua mata memandang ke arah Nyi Salindri. Bayi ajaib itu kini tertidur pulas di pelukan ibunya setelah kenyang. “Betul kata Mbok Inah,” sahut Nyi Salindri, pendek. “Mbok, lebih baik simbok istirahat saja di kamar.” “Tapi, Nyi ... ” “Nggak apa-apa, saya sudah baikan,” kata Nyi Salindri dengan halus. Mbok Inah hanya mengangguk pelan, lalu keluar dari bilik Nyi Salindri. Sementara itu, Ki Ragil Kuniran masih mengelus-elus kepala anaknya dengan rasa sayang sebagai seorang ayah. Kepalanya manggut-manggut mendengar cerita Mbok Inah. “Persis dengan apa yang kulihat dalam mimpiku,” pikirnya. Memang Ki Ragil Kuniran sengaja tidak menceritakan mimpinya secara lengkap, takut jika mimpi itu hanya kembang tidur saja atau malah takut perkataan dianggap cerita bohong. Sekarang mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan yang memang harus diterimanya dengan ikhlas. Kini lengkap sudah kebahagiaan yang selama ini diimpikan. Meski kebahagiaan itu diikuti dengan beban berat yang belum terjawab dengan kelahiran anak laki-lakinya itu. Tiba-tiba tangan yang mengelus itu menyentuh sesuatu yang aneh di bagian dahi. “Apa ini?” Ki Ragil Kuniran menyibak rambut anaknya dengan pelan, supaya bocah itu tidak terjaga dari tidurnya. Matanya yang tajam mengamati sebentuk gambar yang tertera di dahi anaknya. “Rajah kepala elang,” gumamnya. Nyi Cendani dan Ki Sampar Angin beranjak dari tempatnya semula, mendekati Ki Ragil Kuniran dari sisi kiri. Nyi Salindri juga melihat gambar yang diraba oleh suaminya. “Ada apa, Adi?” tanya Ki Sampar Angin. “Coba Kakang Sampar Angin lihat, apa ini benar rajah bergambar kepala elang atau tanda lahir anakku?” kata Ki Ragil Kuniran. Nyi Cendani dan Ki Sampar Angin mengamati gambar itu dengan seksama. “Itu rajah, bukan tanda lahir,” kata Nyi Cendani dengan yakin. “Apa Nyi Cendani yakin?” “Yakin sekali! Kalau tanda lahir biasanya berwarna hijau keabu-abuan atau coklat, sedangkan yang dimiliki anakmu berwarna putih. Itu hal yang tidak lazim sebagai tanda lahir. Dan saya yakin bahwa tanda itu memilki arti tertentu,” terang Nyi Cendani. Semua khalayak mengangguk-anggukkan kepala. Mereka bertiga keluar dari ruangan itu, dan duduk di kursi yang ada di pendapa, sedangkan Nyi Salindri sudah memeluk anaknya dengan kasih sayang seorang ibu. “Hemmm, pusing kepalaku,” desah Ki Sampar Angin, sambil meletakkan pantatnya di kursi. Laki-laki parobaya yang usianya sepantaran dengan Ki Ragil Kuniran itu melepas blangkon, kemudian mengusap-usap kepalanya untuk mengurangi rasa pening. “Pusing kenapa, Ki Sampar Angin?’ tanya dukun bayi itu, heran. “Bagaimana tidak pusing, semua kejadian malam ini sungguh di luar dugaanku! Luar biasa! Saat aku diberitahu Gineng bahwa istri sahabatku ini mau melahirkan, aku tidak berpikir bahwa peristiwanya akan menjadi seperti ini. Munculnya suara gaib si Elang Berjubah Perak, lalu Adi Ragil yang kinayungan pukulan ‘Telapak Tangan Bangsawan’, sampai cerita si kecil keluar sendiri dari rahim ibunya. Lalu rajah putih berbentuk kepala elang di dahi. Semua itu tidak bisa diterima oleh otakku yang sudah karatan ini,” cerocos Ki Sampar Angin, sambil geleng-geleng kepala. “Hi-hi-hi-hik, kau kira hanya kau yang pusing! Aku pun juga mumet! Masa’ bayi yang seharusnya kutangani kelahirannya, malah keluar dengan sendirinya,” ucap Nyi Cendani dengan terkekeh-kekeh. “Ha-ha-ha-ha!” Tawa Ki Ragil Kuniran dan Ki Sampar Angin hampir bersamaan. “Yahhh, memang begitulah kalau Yang Di Atas sudah berkehendak, kita sebagai manusia hanya bisa menerima saja, bukankah begitu, Kang?” ucap Ki Ragil Kuniran menimpali. “Betul ... betul sekali, Adi! Aku setuju dengan pendapatmu!” Nyi Salindri berjalan mendekat tiga orang yang sedang ngobrol sambil menggendong bayinya, lalu duduk di sebelah suaminya. Ki Ragil Kuniran menggeser duduknya ke kanan. Nyi Salindri mengulurkan tangan yang menggendong bayi ke arah suaminya. Ki Ragil Kuniran menerima lalu menimang-nimang bocah yang lahir dengan segudang keanehan itu. “Tapi, ngomong-ngomong, anak laki-lakimu ini kau beri nama siapa, Kakang?” tanya Nyi Salindri, setelah duduk di samping suaminya. Ki Ragil Kuniran menoleh ke arah istrinya, lalu menoleh pada Ki Sampar Angin dan Nyi Cendani. Kedua orang itu hanya mengangguk saja. “Nyi Cendani dan Kakang Sampar Angin, biarlah kalian berdua sebagai saksinya. Mulai hari ini, saat ini juga, anakku ini aku beri nama ... Paksi Jaladara!” kata Ki Ragil Kuniran. Sekejab setelah kata-kata Ki Ragil Kuniran selesai, dari dahi bayi mungil yang kini bernama Paksi Jaladara itu memancarkan cahaya putih terang keperakan, seperti pertanda bahwa dirinya menerima nama yang kini disandangnya. Paksi Jaladara! Yang melihat hanya berdecak kagum melihat keanehan pada diri putra Ki Ragil Kuniran. Bersamaan itu pula, elang putih keperakan yang sedari tadi bertengger di atas wuwungan, terbang berputaran di atas rumah dengan suara melengking nyaring. Aawwwkkk! Aawwwkkk! Semua khalayak yang ada disitu hanya memandang burung elang yang berputaran itu. “Elang siapa itu, kakang?” tanya Nyi Salindri, heran. “ ... setahuku, di desa kita tidak ada burung elang, sarangnya pun juga tidak ada.” “Oooh ... itu miliknya Paksi, anakmu,” sahutnya Ki Ragil Kuniran, pendek. Tangannya masih menimang-nimang Paksi Jaladara dengan pelan, sementara bocah mungil itu tertidur lelap dalam buaian sang ayah. Dahi Paksi Jaladara sudah tidak lagi memancarkan cahaya terang. Bocah itu tertidur pulas ditimang-timang oleh ayahnya. “Milik Paksi?” “Iya ... milik Paksi!” “Kok bisa? Kapan kakang memeliharanya?” Kemudian, Ki Ragil Kuniran menceritakan seluruh rentetan peristiwa yang terjadi hari ini, dari awal pertarungannya dengan ular hijau lumut sampai terjadinya guncangan hebat akibat pukulan yang dilontarkannya, yang diterimanya langsung dari si Elang Berjubah Perak secara gaib. Bahkan sampai mimpi yang dialaminya, semua diceritakan dengan lengkap, tidak ada yang tercecer sedikitpun. Sebagian mimpi yang pernah didengar Ki Sampar Angin dan Nyi Cendani, dilengkapi oleh Ki Ragil Kuniran sampai sedetail-detailnya. Semua yang mendengar uraian mengangguk-angguk pelan. Sekarang pahamlah mereka tentang segala rentetan peristiwa yang terjadi. “Bukan main, aku yakin putramu kelak akan menjadi seorang tokoh besar, Adi.” ucap Ki Sampar Angin, sembari menoleh pada Paksi Jaladara yang kini tertidur. “Dengan patokan serentetan kejadian yang kalian alami, aku bisa menyimpulkan bahwa anakmu mengemban tugas khusus. Tugas yang mulia. Entah tugas seperti apa yang dibebankan pada Paksi Jaladara oleh kakek berjubah yang mengaku si Elang Berjubah Perak itu.” Semua khalayak tercenung mendengar uraian Ki Sampar Angin, orang nomor satu dari desa Cluwak Bodas. Memang laki-laki yang selalu memakai blangkon itu patut diacungi jempol, otak encernya dalam menganalisa setiap masalah, selalu memberikan pikiran atau ide-ide cemerlang dan sukar dibantah kebenarannya. “Kakang Ragil, bagaimana kalau kita bertanya pada ayah atau Kakang Jalu? Mungkin beliau tahu siapa adanya si Elang Berjubah Perak itu,” usul Nyi Salindri, menimpali. “Iya ... betul! Kenapa aku sampai lupa pada ayah?!” seru Ki Ragil Kuniran sambil menepak jidat dengan keras. “Iya ... ya, kenapa kita tidak berpikir ke sana! Mungkin Ki Ageng Singaranu mengetahui siapa tokoh misterius yang bernama si Elang Berjubah Perak itu,” kata Nyi Cendani manggut-manggut. “Baiklah, aku akan bertanya pada ayah,” kata Ki Ragil Kuniran, memutuskan. “Kira-kira kapan kakang akan berangkat?’ “Yahhh ... mungkin kalau umur Paksi sudah cukup, sekalian saja diajak. Hitung-hitung ... biar Paksi tahu kakeknya,” kata Ki Ragil Kuniran sambil menimang-nimang anaknya itu. Paksi Jaladara menggeliat lucu. Tangannya diangkat tinggi-tinggi sambil menguap. Semua mata memandang bocah ajaib ini dengan pandangan penuh misteri. Pandangan yang menorehkan harapan besar pada bocah yang memiliki rajah kepala elang!   Lima tahun kemudian ... Seorang bocah berusia lima tahun lebih sedang bermain-main di pelataran yang cukup luas dan asri, karena banyak pepohonan tumbuh dengan subur. Bocah itu memakai ikat kepala merah dengan baju dan celana biru muda yang diikat sehelai sabuk kain yang juga berwarna merah. Wajahnya yang bersih tampak kemerah-merahan tertimpa sinar matahari pagi. Meski masih bocah, namun tampak gurat ketampanan yang tersirat di wajahnya. Mata bening kecoklatan dengan alis menukik seperti sayap elang. Bibir mungilnya selalu tersenyum-senyum riang. Badan dan tulangnya kokoh dengan kulit putih bersih. Kaki-kakinya yang kecil pendek melompat-lompat mengejar burung putih keperakan yang terbang rendah. Burung itu hanya terbang berputaran di sekitar halaman itu, dialah kawan main si bocah berikat kepala merah. Tangannya berusaha menangkap burung itu, sambil tertawa-tawa riang. “Ha-ha-ha-ha, Perak! Sini ... sini ... kutangkap kau ... ” Sabuk merahnya berkibaran saat melompat ke atas. Walau pun lompatannya tidak terlalu tinggi, nampak bahwa itu bukan lompatan seorang bocah biasa, tapi bocah yang sudah terbiasa dengan ilmu silat atau setidaknya terlatih menggunakan ilmu meringankan tubuh. Burung putih keperakan yang tak lain adalah burung elang, yang dulu pernah bertarung dengan ular hijau lumut lima tahun silam. Sedangkan bocah kecil berikat kepala merah itu tak lain adalah Paksi Jaladara. Gerakan Paksi Jaladara kadang melompat, menyambar bahkan menubruk Si Perak yang selalu bisa berkelit setiap kali Paksi berusaha menangkapnya. Aaawwwkk! Si perak berteriak nyaring, memberi semangat pada Paksi Jaladara. “Wah, kamu susah sekali ditangkap,” ucapnya sambil tersenyum-senyum. Kali ini gerakan bocah kecil itu sedikit lebih cepat dari sebelumnya, bahkan kini meniru-niru gerakan Si Perak, sehingga nampak Paksi seolah-olah sedang berlatih silat dengan meniru gerakan elang! Jika elang itu bergerak ke kiri dengan sayap dimiringkan, Paksi mengikuti dengan memutar badan ke kiri dengan tangan kiri melambai seperti sayap elang. Gerakan elang perak semakin lama semakin cepat, dan Paksi pun semakin lama semakin cepat pula menggerakan tangan dan kakinya, hingga Si Perak melenting tinggi seperti bersalto dan hinggap di atas palang kayu tempat mengikatkan kuda. Awwwkkk! “Hoi ... kok berhenti? Main lagi dong!” seru Paksi Jaladara, sambil mengikuti gerakan melenting dan berdiri diatas palang kayu! Tap! Awwkkk! Awwkkk! Elang putih keperakan itu berteriak serak sambil menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan kenan, sembari mengepakkan sayap. “Oh ... kau ingin aku mengulangi gerakanku tadi?” tanya bocah kecil itu. Putra tunggal Ki Ragil Kuniran itu jongkok sambil mengelus-elus kepala Si Perak. Elang putih keperakan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sungguh aneh, kalau bocah sekecil itu sudah bisa paham bahasa isyarat, apalagi bahasa satwa pemakan daging itu. Si Perak menggerakkan sayap kanan berkali-kali, menyuruh Paksi mengulangi gerakan yang ditirunya. “Baiklah,” ucap Paksi. Paksi Jaladara melenting ke atas sambil berjungkir balik tiga kali. Saat menyentuh tanah, tubuhnya sudah bergerak cepat ke kiri dan ke kanan, dengan kaki bergeser menyamping. Bocah cerdas itu terus menggerakkan tubuh meliuk-liuk. Kedua tangan bergerak gemulai bagai sayap elang, kadang lembut kadang keras, sedangkan kakinya menendang-nendang udara kosong. Kedua tangan kadang membentuk cakar, mencengkeram dengan kokoh. Sepenanakan nasi kemudian, Paksi telah selesai mengulang semua gerakan Si Perak dengan tuntas. Napasnya keluar dengan teratur, tidak terengah-engah seperti layaknya orang yang berlatih silat. Tubuhnya lalu melenting tinggi dan kembali berdiri tegak di atas palang kayu! “Perak, bagaimana? Sudah betul belum?” tanya bocah itu sambil berjongkok dengan satu kali. Kerrkk! Kerrk! “Oh ... begitu! Jadi gerakan kakiku kurang cepat ya? Tenagaku juga perlu ditambah? Baiklah, kulangi sekali lagi!” ucap Paksi Jaladara. “Heaaa ... ” Diiringi teriakan keras, tubuh Paksi melenting tinggi, lebih tinggi dari sebelumnya, lalu berjungkir balik beberapa kali. Gerakannya persis seperti sebelumnya, hanya kali ini lebih cepat dan lebih bertenaga. Setiap tendangan, sampokan tangan dan cakaran menimbulkan desiran angin tajam. Di pelataran rumah yang cukup luas itu seperti dilanda angin ribut kecil, karena gerakan Paksi dilambari dengan kekuatan tak kasat mata yang keluar tanpa disadari oleh bocah itu. “Heyyaaa ... ” Saat akan mengakhiri gerakannya, Paksi melenting tinggi ke atas, berbalik membelakangi sambil kaki kiri dijulurkan dengan hentakan keras. Wessshh! Dharr! Terdengar ledakan kecil saat kaki pendek itu menghantam tanah, sehingga yang membentuk cekungan sedalam seperempat tombak dalamnya. Lalu tubuh kecil itu melenting ke atas dan berdiri tegak di atas palang kayu, tempat dimana Si Perak bertengger! Paksi Jaladara tertegun melihat cekungan dalam di tanah akibat tendangannya tadi. “Wah ... bisa seperti itu ya?” gumamnya. Awwkk! Kwwaak! Burung elang berteriak nyaring sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. “Gerakanku sudah betul? Tapi tenaganya perlu ditambah lagi?!” jawab si bocah sambil manggut-manggut. Paksi tidak tahu, bahwa gerakan yang dikiranya main-main dan hanya meniru gerakan Si Perak adalah salah satu rangkaian ilmu silat yang dinamakan jurus ‘Kelebat Ekor Elang’, sebuah jurus yang mengandalkan gabungan kecepatan serangan dan ilmu meringankan tubuh. Setiap serangan kaki yang dilambari dengan hawa tenaga dalam yang tinggi bisa menghancurkan tebing. Belum lagi dengan desiran angin tajam yang timbul akibat kecepatan serangan yang menggesek udara kosong bisa merobek kulit. Semua kejadian itu tidak lepas dari pandangan mata seorang laki-laki yang sejak tadi mengamati si bocah tampan dari teras rumah. Laki-laki dengan kumis tipis menghias bibir, berbaju hitam lengan panjang dengan celana putih diikat dengan sabuk kain warna hijau. Dialah Ki Ragil Kuniran, kepala desa Watu Belah! “Bukan main! Anak yang cerdas! Hanya dengan sekali lihat, bisa menyerap gerakan elang dan hapal di luar kepala. Tanpa seorang guru pun dia bisa belajar ilmu silat, bahkan sudah paham ilmu ringan tubuh dan mencerna hawa tenaga dalam. Untuk bocah seukuran dia, Paksi cukup hebat. Untunglah jiwanya bukan jiwa perusak. Semoga saja kelak dia menjadi orang berguna, seperti yang dikatakan si Elang Berjubah Perak dulu,” pikir Ki Ragil Kuniran. Kemudian, laki-laki berbaju hitam lengan panjang itu mengambil sebuah buntalan kain kuning dan berjalan ke halaman depan, melewati palang kayu dimana Paksi dan elang kesayangan ‘sedang ngobrol’, sebab memang dialah seorang yang paham bahasa Si Perak. Di sana telah menanti kereta kuda dengan dua ekor kuda penariknya, memasukkan buntalan kain kuning ke dalam kereta kuda. Beberapa saat kemudian, keluar seorang wanita berparas cantik mengenakan pakaian ringkas merah muda, seperti pakaian seorang pesilat. Dibelakangnya, mengiringi seorang pemuda remaja berkulit sawo matang dengan baju buntung warna coklat dengan celana pangsi berwarna putih sambil menenteng buntalan yang cukup besar, lalu buntalan itu dimasukkan di belakang kereta kuda. Di pinggang sebelah kiri terselip sebilah pisau panjang dengan sarung dari kayu dewandaru. Yang paling belakang, seorang perempuan tua dengan kemben lurik berjalan dengan santai, karena tidak membawa barang sedikit pun, juga menuju ke arah kereta kuda. “Simbok benar tidak mau ikut?” tanya Ki Ragil Kuniran pada perempuan tua itu. “Benar Ki Lurah! Biar saya saja yang menunggu di rumah. Saya cuma titip si Gineng ini,” kata perempuan tua, yang tak lain Mbok Inah. Pemuda remaja berusia lima belas tahun berbaju buntung coklat itu tak lain adalah Gineng, telah menjadi seorang pemuda berbadan tinggi besar dan kekar. “Ya sudah! Biar Gineng ikut kami. Hitung-hitung cari pengalaman di luar. Siapa tahu, waktu pulang malah bawa mantu buat simbok,” kata wanita berpakaian ringkas merah muda, yang tak lain Nyi Salindri. “Nyi lurah ada-ada saja,” jawab Gineng, pendek. “Ha-ha-ha-ha! Betul, Nyi ... betul! Bukankah di padepokan ayah juga banyak murid-murid gadisnya yang cantik-cantik? Atau malah si Gineng ini sudah kecantol sama Sariti, putrinya Kakang Sampar Angin?” seloroh Ki Ragil Kuniran. Gineng semakin tersipu malu. “Ha-ha-ha-ha ... !” Semuanya tertawa melihat tingkah polah pemuda itu yang kikuk. Nyi Salindri segera naik ke dalam kereta kuda diikuti dengan Ki Ragil Kuniran. Sedangkan Gineng mendekati simboknya, lalu meraih tangan dan mencium tangan Mbok Inah dengan takzim. “Gineng, hati-hati di jalan, yo le! Jaga bendoromu dengan baik,” ucap Mbok Inah. “Inggih, Mbok.” Gineng balik badan dan berjalan ke arah bagian depan, lalu dengan sigap duduk di depan bangku pendek, meraih tali kekang kuda, karena dia ditugasi kusir kereta. Ki Ragil Kuniran melongok keluar lewat jendela, lalu berkata, “Paksi, kamu ikut ke rumah kakek tidak?” “Ayah, Paksi ikut ke rumah kakek! Si Perak boleh diajak?” “Ajak saja, biar tidak kesepian kalau ditinggal di rumah!” ucap Nyi Salindri. “Ayo, Perak! Ikut ke rumah kakek,” kata Paksi Jaladara. Wutt!! Bocah berikat kepala merah itu melenting ke atas sambil jungkir balik ke arah kereta. “Paksi! Awaass!” Nyi Salindri berteriak kaget melihat gerakan jungkir balik itu, sedangkan suaminya hanya tenang-tenang saja melihat gerakan Paksi. “Tenang saja, Nyi! Tidak apa-apa!” kata laki-laki itu sambil menenangkan istrinya. Hampir saja istrinya berlari menyongsong Paksi, jika saja tangannya tidak dipegangi oleh suaminya. Jleg! Setelah melayang beberapa saat di udara dengan tangan terkembang, kaki kiri Paksi terlebih dulu menyentuh bangku kosong di dekat Gineng, sedangkan Si Perak sudah terbang berputar-putar di atas kereta kuda, sambil berteriak nyaring. Aawwwkk! “Ilmu ringan tubuh yang bagus,” pikir Gineng, saat melirik majikan kecilnya duduk di bangku sebelah kirinya. “Ayah, Paksi di depan saja, menemani Kakang Gineng,” kata Paksi sambil melongok ke dalam kereta. Saat melongok tadi, ibunya melotot besar. Yang dipelototi hanya tersenyum-senyum sambil mengedip-ngedipkan matanya. “Boleh! Gineng, jalankan kereta!” “Baik, Ki!” Gineng segera menghela kereta kuda. “Heeaaa! Heeeaaa ... ” Kereta kuda melaju dengan kencang, bagai anak panah lepas dari busurnya, meninggalkan rumah kediaman Ki Ragil Kuniran. Kuda dihela dengan tenang dan pelan, namun sudah melaju dengan kencang. Sementara itu di dalam kereta, Nyi Salindri masih kaget saat menyaksikan Paksi jungkir balik di udara. Wanita cantik itu lalu menoleh ke arah suaminya dengan pandangan bertanya. “Bukan aku yang mengajarinya,” jawab Ki Ragil Kuniran, dengan kepala menggeleng-geleng, seolah sudah tahu pertanyaan lewat pandangan mata itu. “Lalu siapa?” “Si Perak!” “Si Perak? Mana mungkin seekor burung bisa mengajari ilmu silat pada anak manusia, masih bocah lagi. Kakang Ragil jangan bohong!” “Siapa yang bohong?” Ki Ragil Kuniran menceritakan apa yang dilihatnya pagi tadi, saat Paksi Jaladara bermain dengan elang kesayangannya, semua diceritakan kepada istrinya dengan panjang lebar. “Aku yakin, Si Perak pasti mengajari sesuatu pada Paksi tanpa sepengetahuan kita berdua ... ” kata Ki Ragil Kuniran. “ ... apalagi dengan adanya tanda lahir di kening berbentuk rajah kepala elang putih dan proses kelahirannya yang aneh itu, aku yakin anak itu memiliki keistimewaan terpendam yang lain, yang belum kita ketahui. Sementara ini yang kita tahu secara pasti adalah bahwa Paksi bisa bercakap-cakap dengan segala macam bangsa burung.” Nyi Salindri mengangguk-anggukkan kepala. Sedang bocah yang dibicarakan kedua orang tuanya, sedang asyik ngobrol ngalor ngidul dengan Gineng, yang berada di depan sebagai kusir. Bocah berikat kepala merah berbaju biru yang selalu riang dan tertawa-tawa, seperti layaknya bocah pada umumnya. “Gerakan Den Paksi tadi hebat, lho ... ” “Masak cuma jungkir balik saja sudah hebat? Pasti lebih hebat Kakang Gineng, karena Kakang diajari langsung sama Ayah. Sedangkan aku hanya meniru gerakan Si Perak saja,” ucap bocah itu sambil memperhatikan cara Gineng mengendalikan kereta. “Oh ... begitu! Lalu sama Si Perak, Den Paksi meniru gerakan apa saja? Yang paling hebat aja dech ... ” tanya Gineng, ingin tahu lebih dalam. Bocah itu terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang jawaban yang ingin diberikan. “Emmm, tapi jangan bilang sama ayah, ya? Janji?” kata si bocah sambil mengajukan jari manis sebelah kanan ke atas. Seperti orang mau janjian saja. Gineng hanya tertawa saja, lalu mengajukan jari manis kirinya, terus kedua jari berbeda ukuran itu saling bertaut, sambil berkata, “Aku berjanji sama Den Paksi.” Kemudian Paksi beringsut mendekati telinga kiri Gineng, dan membisikkan sesuatu. Gineng hanya mengkerutkan alis, lalu Paksi kembali duduk ke bangku kembali. “Den Paksi tidak berbohong?” tanya Gineng, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Paksi hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Yakin bisa melakukannya?” ulang Gineng bertanya. Paksi menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Ha ... ha ... heh ... ” Gineng tertawa lebar sambil memandang majikan muda untuk mencari kepastian. Di mata bocah itu, yang terlihat sebuah kepastian bahwa dirinya bisa melakukan hal itu. “Bisa terbang? Mana ada manusia yang bisa terbang? Punya sayap pun tidak,” kata hatinya dengan ragu. “Tapi, kalau melihat tatapan matanya, Den Paksi tidak berbohong. Ahhh ... entahlah. Namanya juga bocah, pasti khayalannya kemana-mana.” Kereta kuda melaju dengan kencang ke arah matahari terbit, sementara elang putih keperakan mengikuti laju kereta dari atas. Setelah melewati dua bukit yang dipisah oleh aliran sungai yang cukup lebar, mereka beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah. Gineng melepaskan kuda dari kereta, dan membiarkan kuda itu merumput di tepi sungai. Nyi Salindri membuka perbekalan, sedangkan Paksi ngobrol dengan ayahnya dan juga Gineng. Sementara Si Perak, elang putih keperakan itu bertengger di atas sebuah batu, sambil menikmati daging asap yang diberikan Nyi Salndri. Mereka berlima, termasuk Si Perak, makan minum dengan nikmat. Ki Ragil Kuniran dan Nyi Salindri sangat senang melihat kerukunan antara Paksi Jaladara dengan Si Perak dan juga Gineng, yang oleh suami-istri itu sudah dianggap sebagai anak sendiri! Setelah cukup beristirahat, dan kuda-kuda itu kenyang merumput, perjalanan dilanjutkan kembali. Perjalanan mereka tidak banyak mengalami hambatan, bisa dikatakan berjalan mulus. Saat memasuki padukuhan Selo Gilang, hari sudah menjelang malam. Ki Ragil Kuniran mencari sebuah penginapan dan mereka berlima menginap di padukuhan Selo Gilang. Keesokan harinya, setelah mandi sehingga badan segar dan mengisi perut, rombongan keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan ke Padepokan Singa Lodaya yang berada di kaki Gunung Singa Putih, yang jaraknya tinggal beberapa ratus tombak saja dari padukuhan Selo Gilang. Memang, pada awalnya Nyi Salindri ingin langsung saja menuju ke padepokan, tapi Ki Ragil Kuniran menyarankan bahwa tidak baik bertamu terlalu malam. Akhirnya Nyi Salindri hanya pasrah saja dengan keputusan suaminya. Padepokan Singa Lodaya, adalah sebuah perguruan ilmu joyo kawijayan guno kasantikan (olah kanuragan) yang dipimpin oleh Ki Ageng Singaranu, seorang tokoh sakti yang pada masa itu jarang memiliki tandingan. Seorang dedengkot golongan putih yang usianya mendekati sembilan puluh tahun, seluruh rambut di kepala dan jenggot sebagaian besar sudah memutih. Kakek itu gemar sekali mengenakan baju abu-abu dipadu dengan celana biru tua. Sepak terjangnya di rimba persilatan dalam memerangi kebatilan dan membela kebenaran benar-benar menggegerkan. Kawan maupun lawan segan padanya. Ilmu Silat ‘Singa Gunung’ itulah yang membuatnya dijuluki sebagai Dewa Singa Tangan Maut. Belum lagi dengan ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’ dan pukulan ‘Telapak Singa Murka’ yang pernah menggegerkan rimba persilatan puluhan tahun yang silam. Bahkan seluruh murid-murid Ki Ageng Singaranu diharuskan bisa menguasai ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’ sebagai tahap awal, karena ilmu kebal ini merupakan dasar-dasar dalam mempelajari Ilmu Silat ‘Singa Gunung’. Bisa dikatakan bahwa seluruh murid Padepokan Singa Lodaya memiliki ilmu kebal, meski pun berbeda tingkatannya antara satu murid dengan murid yang lain. Semakin tinggi kekuatan tenaga dalam yang dikuasai, maka semakin hebat pula ilmu kebal yang dimiliki. Ki Ageng Singaranu memiliki dua orang anak, yaitu Jalu Lampang dan Salindri. Jalu Lampang sendiri lebih suka berkelana di rimba persilatan daripada berdiam diri di Padepokan Singa Lodaya. Sedangkan Salindri, setelah menikah dengan pendekar muda yang bernama Ragil Kuniran, diboyong oleh suaminya ke desa asalnya, Desa Watu Belah. Jarak antara Desa Watu Belah dengan Padepokan Singa Lodaya dapat ditempuh dengan kereta kuda selama sehari semalam. Kereta kuda yang dikusiri oleh Gineng dengan ditemani putra majikannya, Paksi Jaladara, memasuki pintu gerbang padepokan. Diatas pintu tertulis sebuah papan besar berwarna hitam dengan tulisan putih : PADEPOKAN SINGA LODAYA. Di kiri kanan pintu gerbang, terdapat dua patung singa raksasa dari batu hitam dengan posisi siap menyerang. Dua orang murid penjaga bergegas berdiri saat melihat sebuah kereta kuda yang cukup mewah mendekat. “Hooopppss!” Gineng menarik tali kekang kuda dengan sentakan ringan. Meski kelihatan ringan, tenaga tarikan itu sudah cukup membuat kaki kuda terangkat ke atas, dan berhenti tepat di depan pintu gerbang. Seorang dari penjaga berbaju hitam-hitam menghampiri Gineng. Di dada kirinya tersulam gambar kepala singa mengaum. Wajahnya kelihatan dibuat sangar dengan cambang melintang. Di pinggang terselip sebilah golok berwarna hitam legam. “Maaf kisanak, boleh saya tahu kisanak hendak kemana? Dan siapa kisanak ini?” tanya si cambang, dengan suara sedikit serak. Tangan kirinya mengelus-elus golok, sedang kawannya yang bertubuh gempal memegang tombak, hanya melirik-lirik dengan waspada seperti mata maling. Matanya yang tajam memandang Gineng dan Paksi bergantian. Menyelidik. Gineng tidak menjawab, malah balik bertanya, “Apakah ini Padepokan Singa Lodaya?” “Betul! Kisanak ada perlu apa?” ulang si cambang, dengan nada meninggi. Agak meradang juga saat pertanyaannya tidak digubris, malah yang ditanya balik bertanya. Gineng menggangguk-anggukkan kepala. Pemuda remaja itu melongok ke dalam kereta, sambil berkata, “Bagaimana Nyi? Kita sudah sampai, apa mau turun disini?” Yang di tanya hanya menggangguk, lalu berkata, “Kita turun disini saja.” Nyi Salindri keluar dari kereta diikuti dengan suaminya, Ki Ragil Kuniran. Pasangan suami-istri itu melangkah berdampingan. Melihat Nyi Salindri dan Ki Ragil Kuniran, dengan tergopoh-gopoh kedua penjaga itu mendekat dan menyambut dengan wajah dan suara berbeda saat berbicara dengan Gineng. Lebih halus dan lebih sopan. “Oh ... maaf ... maaf ... rupanya Den Ayu Salindri dan Den Ragil yang datang. Saya kira siapa?” kata si cambang dan si gempal sambil membungkukkan badan. “Huh, dasar manusia bermuka kadaì,” pikir Gineng. “Apa Ayah ada?” tanya Nyi Salindri, pelan. “Ada ... ada ... silahkan masuk ... Den Jalu juga ada.” “Kakang Jalu juga disini?” timpal Ki Ragil Kuniran. “Betul, Den! Den Jalu sudah berada di padepokan satu purnama lebih,” sahut si gempal yang membawa tombak. Wajah pasangan suami-istri itu cerah, keduanya saling pandang sambil mengangguk pelan. “Mungkin Kakang Jalu sudah bosan berkelana, kakang,” kata Nyi Salindri. Ki Ragil Kuniran hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa. “Gineng, masukkan kereta, letakkan saja di istal, itu ... samping kiri gerbang ini!” kata Ki Ragil Kuniran, setelah menepuk-nepuk pundak penjaga berbaju hitam itu. “Baik, Ki!” Kemudian pasangan suami-istri itu bergegas masuk melewati pintu gerbang. Si gempal berjalan di depan sebagai penunjuk jalan, sedangkan si cambang membuka pintu gerbang lebih lebar, untuk memberi jalan Gineng memasukkan kereta. Paksi Jaladara membantu Gineng memasukkan kereta kuda ke istal kuda yang terletak sisi kiri pintu gerbang, sedangkan Si Perak yang sedari tadi terbang rendah kini hinggap di atas wuwungan yang ada di atas pintu gerbang, tepat di atas papan nama padepokan. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, mereka berdua menyusul masuk ke dalam. Paksi berjalan sambil melambaikan tangan ke arah elang kesayangannya. Elang itu segera melesat terbang ke arah Paksi dan langsung menerobos masuk ke dalam dan hinggap di palang kayu yang ada di pendapa padepokan. Mereka melewati tanah lapang yang luas dan asri, tempat di mana biasanya para murid padepokan berlatih silat. Sedangkan di kiri kanan terdapat pondok-pondok kecil, tempat tinggal murid Padepokan Singa Lodaya. Di bagian ujung tanah lapang itu ditanami dengan sayur-mayur dan buah-buahan. Beberapa orang murid yang sedang berkebun dan mencangkul tanah, menghentikan pekerjaannya sementara, di saat melihat si gempal mengiring masuk pasangan suami-istri dan dua orang laki-laki beda usia. Seorang kakek berbaju abu-abu menyambut di depan pintu sambil tertawa lebar, diikuti seorang laki-laki kekar bertubuh tinggi menjulai yang juga tersenyum ramah. Laki-laki itu mengenakan sepasang gelang akar bahar yang melingkar di kedua pergelangan tangan. Matanya tajam mencorong seperti mata kucing dalam gelap. Baju buntung tanpa lengan berwarna putih itu sangat kontras dengan kulitnya yang sawo matang dipadu dengan celana putih komprang yang diikat dengan sabuk putih pula. “Ayah!” “Ha-ha-ha-ha! Rupanya kalian yang datang! Pantas saja burung prenjak sejak tadi berkicau terus tanpa henti! Ada tamu istimewa rupanya,” kata si kakek yang ternyata Ki Ageng Singaranu, ayah kandung Nyi Salindri. Seperti gadis kecil saja, Nyi Salindri berlari-lari kecil dan langsung memeluk ayahnya dengan suka cita. Rasa rindu dan kangen tumplek-blek menjadi satu. Sang ayah memeluk putrinya yang sudah lama tidak dijumpai dengan wajah cerah, secerah matahari yang bersinar di pagi itu. Jalu Lampang membiarkan adik dan ayahnya saling berpelukan melepas rindu, lalu menghampiri adik iparnya dan saling berjabat tangan erat. “Bagaimana kabarnya, Dimas Ragil? Baik-baik saja!?” ucap Jalu Lampang. “Kami sekeluarga baik-baik saja, bagaimana dengan kakang sendiri? Sehat-sehat, bukan?” “Ha-ha-ha-ha, seperti yang kau lihat ... !” “Saya dengar kabar slentingan dari jauh kalau kakang Jalu sudah beristri. Apa benar?” seloroh Ki Ragil Kuniran. “Ha-ha-ha, bujang lapuk seperti aku ini mana laku di mata para gadis! Paling-paling juga nenek-nenek!?” canda Jalu Lampang. “Ha-ha-ha-ha-ha!” Tawa dua orang itu berderai sampai terkial-kial. Mereka berempat duduk memutari meja bundar yang ada di pendapa. Meja dari kayu jati alas yang sudah sangat tua, namun sangat kokoh. Konon, meja itu usianya hampir sama tuanya dengan usia Ki Ageng Singaranu, karena meja jati itu dibuat bersamaan dengan lahirnya Ki Ageng Singaranu. Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang perempuan berkebaya sambil membawa baki berisi makanan kecil dan minuman. Nyi Salindri mengkerutkan alis melihat perempuan berkebaya itu, namun dia diam saja. “Srinilam, duduk sini,” kata Jalu Lampang dengan mesra. “Kakang Jalu, siapa dia? Kok aku baru tahu?” tanya Nyi Salindri. “Ohh ... aku lupa, ini istriku! Maaf, aku lupa mengenalkannya pada kalian,” jawab Jalu Lampang. “Srinilam, kenalkan, ini Salindri, adikku yang paling bawel dan laki-laki ganteng itu adalah suaminya, Ragil Kuniran.” “Ooohhh, jadi ini mbakyuku tho?” sahut Salindri, sambil menjabat erat tangan Srinilam. Ki Ragil Kuniran beringsut mendekati Jalu Lampang, yang berada di sisi kirinya, sambil berbisik-bisik, “Jadi ini ‘nenek-nenek’ itu? Cantik amat?!” “Ha-ha-ha-ha-ha!” Kembali Jalu Lampang dan Ki Ragil Kuniran tertawa berderai, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Jalu Lampang malah sampai mengeluarkan air mata. “Kalian ini, kalau ketemu pasti kumat urakannya, seperti anak kecil saja,” gerutu Ki Ageng Singaranu. Walau dalam mulut menggerutu, namun dalam hatinya sangat gembira dan bahagia karena antara mantu dengan anaknya sangat rukun satu sama lain. “Maaf, saya mau ke belakang,” kata Srinilam, sambil beringsut berdiri. “Mbakyu, boleh saya temani?” Srinilam hanya menganggukkan kepala. Dua perempuan itu berjalan beriringan menuju ke dalam, tepatnya menuju ke dapur. Nyi Salindri sangat senang melihat kakak iparnya yang manis itu, tapi lebih senang lagi karena kakaknya Jalu Lampang telah beristri seorang wanita cantik dan menarik hati. “Hebat juga pilihan Kakang Jalu,” puji Nyi Salindri dalam hati. Srinilam yang mulanya agak rikuh dengan adik iparnya, tapi rasa rikuh sirna setelah melihat keceriaan Salindri. Keduanya terus ngobrol ngalor ngidul tak karuan juntrungannya. Setelah dua orang wanita itu berlalu, seorang bocah berikat kepala merah berlari-lari kecil dari arah halaman menuju ke pendapa. Bocah yang tak lain Paksi Jaladara itu langsung menghampiri ayahnya dengan senyum tersungging di bibirnya yang kecil. “Ayah, Paksi boleh main sama Si Perak? Habis ... Kakang Gineng malah ngobrol dengan dua paman di depan itu,” kata Paksi sambil memegang tangan kanan Ki Ragil Kuniran. “Boleh, tapi beri salam dulu sama kakek dan pamanmu,” kata Ki Ragil Kuniran, sambil mengelur-elus kepala anak laki-lakinya, sambil menoleh ke arah Jalu Lampang dan Ki Ageng Singaranu. Paksi menghampiri dua orang itu dengan sikap tenang dan langkah kaki yang ringan, lalu meraih tangan kanan kakeknya dan menciumnya. “Ha-ha-ha, jadi ini cucuku? Sini cah bagus, sini ... kakek pengin menggendongmu.” Ki Ageng Singaranu langsung meraih Paksi dalam pelukannya. Paksi pun juga merangkul leher orang tua itu dengan kedua tangan kecilnya. Sudah lama Paksi mendengar tentang sang kakek dari ibunya. Senang sekali Ki Ageng Singaranu dapat menimang cucu di usianya yang sudah senja itu. “Cah bagus, namamu siapa?” tanya Ki Ageng Singaranu. “Nama saya Paksi, Kek.” “Oh ... nama yang bagus! Sebagus orangnya,” puji Ki Ageng Singaranu. Kemudian kakek berpakaian abu-abu itu melepaskan pelukannya. Paksi menghampiri Jalu Lampang, lalu meraih tangan kanan laki-laki itu dan menciumnya, seperti yang dilakukan pada kakeknya. Jalu Lampang tersenyum sambil mengelus-elus kepala Paksi. “Ha-ha-ha-ha, ternyata keponakanku sudah sebesar ini! Oh ya, kau boleh panggil Paman Jalu saja,” kata Jalu Lampang, sambil tersenyum. Bocah itu hanya memandang muka pamannya dengan seksama, lalu tersenyum penuh arti. Setelah itu, Paksi kembali ke depan ayahnya, sambil berkata, ”Ayah, Paksi mau main sama Si Perak, di halaman saja.” Bocah itu menuding halaman yang luas, tempat dimana biasanya para murid berlatih silat. “Boleh, tapi jangan jauh-jauh.” “Ya, Ayah.” Bocah itu berlari keluar pendapa. Langkah kakinya ringan dan teratur, diikuti dengan suitan nyaring. Suitt!! Suitt!! Dari arah barat, melesat sesosok bayangan putih keperakan menghampiri Paksi. Bocah itu tertawa-tawa riang, lalu duduk bersandar di sebatang pohon. Dua makluk beda jenis itu asyik berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami oleh mereka berdua.   Ki Ageng Singaranu memandang bocah itu dengan kepala manggut-manggut. Mata tuanya melihat bakat luar biasa pada diri Paksi Jaladara. Saat memeluknya tadi, tangan tuanya bisa merasakan kekokohan susunan tulang, di tambah lagi dengan melihat cara berjalan dan berlari bocah itu, sudah bisa menebak seberapa bagus susunan tulang tubuh Paksi Jaladara. Apa yang dipikirkan Ki Ageng Singaranu sama dengan apa yang ada di otak Jalu Lampang. “Bakat yang luar biasa,” gumam Jalu Lampang. “Hemm, susunan tulangnya sangat bagus! Ragil, apa kau yang mengajari anakmu ilmu silat dan ringan tubuh?” tanya Ki Ageng Singaranu, menebak. Ki Ragil Kuniran sudah menduga apa yang akan dilontarkan oleh ayah mertuanya begitu melihat Paksi. Itulah yang menjadi sebab kedatangannya ke Padepokan Singa Lodaya, tentang keanehan yang disandang putra tunggalnya, Paksi Jaladara! “Bukan, ayah! Saya belum mengajari Paksi apa pun,” jawab Ki Ragil Kuniran, pendek. “Bukan kau?” kali ini Jalu Lampang bertanya. “Lalu siapa? Apa Salindri yang mengajarinya?” Lagi-lagi yang ditanya hanya menggelengkan kepala. “Lalu siapa?” tanya Ki Ageng Singaranu, penasaran sekali. Baru kali ini tebakannya meleset. “Ayah, apakah ayah mengenal tokoh sakti atau seorang pendekar yang bergelar Si Elang Berjubah Perak?” balik tanya Ki Ragil Kuniran. Ki Ageng Singaranu menjungkitkan alis. Nama yang disebut itu sangat mengagetkan dirinya, meski tidak diperlihatkan secara nyata. Tapi pandangan mata Ki Ragil Kuniran tidak bisa ditipu, meski hanya sekilas dapat melihat kekagetan ayah mertuanya. Jalu Lampang pun terlengak kaget mendengar pertanyaan adik iparnya. “Untuk apa Dimas Ragil menanyakan tokoh golongan putih itu?” pikir Jalu Lampang. “Si Elang Berjubah Perak? Untuk apa kau bertanya tentang tokoh itu?” kata Ki Ageng Singaranu, menyelidik. “Ayah, tokoh atau orang yang bergelar Si Elang Berjubah Perak sangat erat hubungannya dengan pertanyaan yang ayah ajukan pada saya ... ” jawab Ki lurah Desa Watu Belah. “ ... Saya sangat membutuhkan keterangan tentang siapa adanya tokoh sakti itu, Ayah.” “Ada hubungannya dengan pertanyaanku tadi? Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?” ganti balik bertanya Ki Ageng Singaranu. “Dimas Ragil, darimana Dimas mengetahui nama si Elang Berjubah Perak?” kali ini Jalu Lampang yang bertanya, menyusul pertanyaan ayahnya. Ki Ragil Kuniran menceritakan serangkaian kejadian yang dialaminya tentang proses kelahiran Paksi Jaladara yang aneh dan unik, juga tentang segala kejadian yang berhubungan dengan mimpi yang pernah diterimanya, yang dianggap sebagai sasmita. “Saya hanya mendengar suaranya saja, sedangkan wujudnya tidak kelihatan. Dia mengaku berjuluk si Elang Berjubah Perak dan memilih anakku sebagai pewaris Tahta Angin dan mengaku pula bahwa dirinya adalah Sang Angin! Kemudian tokoh gaib itu juga mengatakan bahwa Penunggang Angin akan menjadi pertanda kelahiran anakku tepat di bulan ke tiga belas. Kemunculan diiringi dengan suara deru angin membadai dan gelegar petir. Nama anakku pun, beliau pula yang memberi, bukan saya sebagai ayahnya.” “Apakah dalam mimpimu, dia berjubah bulu burung keperakan?” tanya Ki Ageng Singaranu, menegaskan. “Betul, Ayah.” “Siapa si Penunggang Angin itu? Apa Dimas sudah mengetahuinya?” tanya Jalu Lampang. “Sudah, Kakang! Bahkan sekarang pun ada disini. Ternyata yang dimaksud si Penunggang Angin adalah burung elang itu,” jawab Ki Ragil Kuniran, sembari telunjuk kanannya menuding ke arah Paksi dan elang kesayangannya bermain. Ayah dan anak itu memandang ke jurusan barat. Pada awalnya Ki Ageng Singaranu hanya menganggap sebagai elang biasa, hewan peliharaan menantunya dan juga teman bermain anaknya supaya tidak nakal. Mata tua itu memandang tajam ke arah Si Perak, seakan sedang menerka-nerka. Sedang yang diperhatikan, masih asyik dengan si majikan muda. Sambil bermain berkejar-kejaran, Paksi menirukan gerakan-gerakan elang putih itu. Ki Ageng Singaranu kaget melihatnya. “Mustahil!” ucap Ki Ageng Singaranu. “Bagaimana mungkin bocah sekecil itu bisa menirukan gerakan hewan sehingga nyaris sama dengan gerakan hewan itu sendiri?” “Itulah sebabnya saya berkunjung ke sini untuk mencari keterangan siapa adanya si Elang Berjubah Perak.” kata anak mantunya. Sejenak Ki Ageng Singaranu terdiam, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Keningnya berkerut. Jalu Lampang dan Ki Ragil Kuniran memperhatikan Ketua Padepokan Singa Lodaya dengan raut muka sedikit tegang, terutama Ki Ragil Kuniran, karena dirinyalah yang bersangkutan dengan masalah ini. Lalu, Ki Ageng Singaranu berkata, “Kalau mengetahui betul, aku juga tidak yakin. Dari cerita mendiang Guru yang pernah kudengar, ratusan tahun silam muncul seorang pendekar yang berjuluk Si Elang Berjubah Perak. Dia seorang pendekar pilih tanding di rimba persilatan. Tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya. Dia seperti orang kabur kanginan, tidak diketahui siapa orang tuanya, gurunya, semua serba misterius. Waktu itu guruku baru berumur lima belasan tahun. Yang mengetahui secara pasti hanyalah Eyang Guru. Guru pernah berjumpa dengan si Elang Berjubah Perak beberapa kali. Terakhir kali yang kudengar, Eyang Guru bertemu di Gunung Tambak Petir. Saat itu guruku sudah berusia hampir tiga puluh tahun ketika bertemu dengan si Elang Berjubah Perak ... “ “Gunung Tambak Petir? Dimana letak gunung itu?” gumam Jalu Lampang, seolah-olah memotong pembicaraan. “Ya, Gunung Tambak Petir! Aku sendiri juga tidak tahu dimana letak gunung itu. Ketika akan berpisah, laki-laki berjubah bulu burung itu menepuk punggung Guru sekali, dan mengatakan dirinya menitipkan sesuatu untuk diberikan ke seseorang. Entah siapa, Guru juga tidak mengatakannya. Bahkan bentuk titipannya seperti apa, Guru juga tidak tahu. Mungkin hanya Eyang Guru yang tahu, tapi Eyang Guru juga tidak mengatakan sesuatu pada muridnya,” kata Ki Ageng Singaranu lebih lanjut. “Aneh, yang dititipi juga tidak tahu apa bentuknya dan kepada siapa titipan itu akan diberikan,” kata Ki Ragil Kuniran, dengan pelan. “Lalu, lanjutnya bagaimana, Ayah?” Setelah berhenti sejenak dan meminum air jahe yang ada di cawan tanah itu, Ki Ageng Singaranu melanjutkan ceritanya. “Sampai Guru menjelang ajal, beliau pun juga menepuk punggungku sekali, dan mengatakan bahwa diriku sebagai pengemban titipan itu dan harus memberikan titipan itu pada orang yang berhak. Aku pun bingung, pada siapa titipan itu harus kuberikan, sedangkan bentuk titipan itu pun aku tidak tahu. Bahkan saat almarhum adik seperguruanku ingin melihat bentuk titipan itu di punggungku, tidak terlihat apa-apa dan dia tidak menemukan apa-apa di punggungku. Aneh, bukan?” jelas Ki Ageng Singaranu. “Jadi, almarhum paman Gagak Sempana juga tidak melihat apa-apa di punggung Ayah? Hemmm, betul-betul membingungkan,” kata Jalu Lampang sambil menghela napas. “Apa paman Rangga Jembangan juga tidak mengetahui, Ayah?” “Tidak ... Rangga Jembangan bahkan menggunakan ilmu ‘Netra Benggala’ untuk menembusnya, juga tidak melihat apa-apa. Gagal total.” Ki Ragil Kuniran terdiam. Semua keterangan yang didengarnya masih samar-samar. Lalu berkata, “Apa Ayah juga tahu tujuan pertemuan antara Eyang Guru dengan si Elang Berjubah Perak? Mungkin pernah menyinggung nama tempat? Atau tokoh-tokoh tertentu?” Ki Ageng Singaranu terdiam sejenak, alisnya berkerut-kerut seakan mengingat sesuatu. Laki-laki tua itu memeras otaknya. Keringat sampai bercucuran dalam mengingat sebuah tempat yang sudah puluhan tahun dilupakannya. “Kalau tidak salah, beliau pernah membicarakan tentang sebuah perkumpulan pendekar aliran putih yang berpusat di Istana Elang. Ya ... Istana Elang!” kata Ki Ageng Singaranu dengan yakin. “Istana Elang?” Ki Ragil Kuniran bergumam. “Dimana letak Istana Elang itu, ayah?” tanya Jalu Lampang, yang sedari tadi diam sambil mendengarkan keterangan ayahnya. Semua perkataan ayahnya dicerna dengan sebaik-baiknya. Namun, selama melanglang buana di rimba persilatan belum pernah mendengar tentang si Elang Berjubah Perak dan Istana Elang. “Entahlah, aku juga tidak tahu. Hanya itu yang kudengar dari mendiang guruku,” katanya. Lagi-lagi mereka menemui jalan buntu! Ki Ragil Kuniran mencerna keterangan itu dengan seksama. Ada dua tempat penting dalam keterangan ayah mertuanya, yaitu sebuah gunung yang bernama Gunung Tambak Petir dan Istana Elang! “Bagaimana dengan Kakang Jalu? Bukankah selama ini Kakang telah malang melintang di rimba persilatan, mungkin saja pernah mendengar slentingan tentang tokoh misterius itu?” tanya Ki lurah desa Watu Belah. “Entahlah ... aku sendiri tidak tahu, Dimas Ragil,” jawab Jalu Lampang, dengan nafas terhmbus pelan, “ ... Andaikata sahabatku ada disini, mungkin bisa mendapatkan keterangan yang lain dari dirinya tentang Istana Elang dan si Elang Berjubah Perak itu.” “Siapakah nama sahabat Kakang itu?” “Orang persilatan sering menyebutnya si Kutu Buku Berbambu Ungu,” jawab Jalu Lampang. “Hemm, si Kutu Buku Berbambu Ungu? Aku pernah mendengar tentangnya. Kabar yang berhasil kusirap, si Kutu Buku Berbambu Ungu memiliki ilmu yang dinamakan ‘Terawang Gaib Masa Lalu’, ilmu yang bisa melihat kejadian-kejadian yang telah terjadi di masa lampau, bahkan kudengar bisa mengetahui kejadian yang akan terjadi di masa datang. Apa benar begitu, Kakang Jalu?” “Benar, Dimas Ragil. Ilmu itulah yang dimilikinya.” “Lalu, apakah Kakang Jalu juga tahu dimana adanya orang itu sekarang?” tanya Ki Ragil Kuniran pada kakak iparnya. “Kabar terakhir yang kudengar, di sedang berada di Perguruan Gerbang Bumi, atas undangan Ketua lama Perguruan Gerbang Bumi untuk menyaksikan pemilihan sekaligus pengangkatan ketua baru untuk menggantikan kedudukan Ketua lama. Tapi, sekarang apa masih ada di Perguruan Gerbang Bumi ataukah sudah pergi melanglang buana mengikuti langkah kakinya, aku pun tidak tahu dimana dia berada,” jawab Jalu Lampang. Tiga orang itu kembali terdiam. Ki Ragil Kuniran kembali duduk tercenung menganalisa keterangan ayahnya, sedangkan Jalu Lampang juga tidak berbeda dengan adik iparnya. Otaknya memilah-milah hal-hal yang mungkin saja terlewat untuk diceritakan, namun sampai kepalanya pening, tidak ada yang bisa dibicarakan lagi. Beberapa saat kemudian, Ki Ageng Singaranu menghela napas sambil berkata, ”Sudahlah, mungkin suatu saat rahasia itu akan terkuak, siapa tahu malah Paksi sendiri yang bisa memecahkan misteri yang menyangkut dirinya itu.” Kemudian kakek tua Ketua Padepokan Singa Lodaya itu bangkit berdiri dan masuk ke ruang dalam, sehingga tinggal Jalu Lampang dan Ki Ragil Kuniran yang berada di pendapa. Mereka pun berbicara panjang lebar sampai hari menjelang senja. Tentu saja pembicaraan yang sifatnya ringan dan sedikit menyerempet-nyerempet rimba persilatan saat ini. Ketika senja telah berganti dengan malam, dan bulan sabit telah keluar dari peraduan, dibuncahi malam cerah penuh bintang, mereka sekeluarga berbincang-bincang di ruang dalam. Semua duduk melingkari meja besar yang di tengahnya tertata rapi makanan dan buah-buahan segar. Ki Ragil Kuniran duduk bersebelahan dengan Jalu Lampang, sedangkan Salindri berdampingan dengan Srinilam, istri Jalu Lampang. Paksi Jaladara malah enak-enakan duduk di pangkuan kakeknya sambil menggerogoti jambu biji. Sesekali terdengar suara tawa saat mendengar celoteh bocah kecil itu. Tentu saja Ki Ageng Singaranu yang paling senang, bisa melihat cucu satu-satunya dan bahkan sedang duduk di pangkuan. Sedangkan Gineng, duduk di tangga pendapa, sambil melihat-lihat ratusan murid padepokan yang sedang berlatih silat di tanah lapang yang cukup luas. Pemuda remaja itu masih mengenakan baju buntung tanpa lengan kesukaannya dan sebilah pisau panjang terselip di pinggang. Semua murid memakai baju biru, hijau, dan ungu, kecuali dua orang yang berbaju hitam, sedang mengawasi mereka yang sedang berlatih. Ada yang bertangan kosong, memainkan jurus-jurus golok, tombak, pedang dan juga trisula berpasangan. Dua orang yang berbaju hitam itu adalah murid padepokan yang paling lama menimba ilmu di padepokan, sehingga oleh Ki Ageng Singaranu dipercaya melatih Ilmu Silat ‘Singa Gunung’, ilmu khas Padepokan Singa Lodaya. Tataran ilmu mereka berdua hanya terpaut dua tiga tingkat saja dari Jalu Lampang, sehingga bisa dikatakan cukup mumpuni dalam hal olah kanuragan dan jaya kawijayan. “Heeeaaa ... Haaattt ... Ciatttt ... ” Murid-murid yang berlatih itu memiliki gerakan mantap dan teratur. Pergeseran kaki, liukan tubuh, kelebatan tangan dan tendangan serta sorot mata tajam mereka, mengingatkan Gineng pada seekor singa jantan yang sedang mengintai dan siap mencabik-cabik mangsa. “Jurus yang hebat, aku yakin jika dilambari tenaga dalam yang tinggi, pasti akan menghasilkan daya hancur yang dahsyat. Apa ini yang dinamakan Ilmu Silat ‘Singa Gunung’ yang pernah dikatakan oleh Ki lurah padaku,” bathin Gineng, sambil matanya memandang jurus-jurus silat yang sedang dilatih para murid Padepokan Singa Lodaya. Gineng kemudian memperhatikan jurus silat yang menggunakan pedang, karena jurus itu mengingatkan pada dirinya pada jurus pisau yang dimilikinya. Hampir sama persis dengan apa yang pernah dipelajarinya dari Ki Ragil Kuniran. “Jurus pedang itu mirip sekali dengan jurus pisauku,” gumamnya. Namun, malam yang cerah itu, tiba-tiba dibuncah suara ledakan keras. Brakk! Dhuuarrr ... !! Pintu gerbang padepokan yang terbuat dari kayu jati tebal itu, hancur berantakan diiringi suara benturan keras memekakan telinga. Benturan keras itu menimbulkan kepulan asap pekat dan bau hangus terbakar. Seluruh murid padepokan terlonjak kaget, bahkan ada yang terjerembab saking kagetnya. Mereka cepat berlarian menyingkir dan ada yang sebagian berdiri di belakang dua murid utama itu. Dua murid utama juga kaget, namun segera menguasai diri dengan baik. “Siapa kalian? Berani sekali membuat onar di Padepokan Singa Lodaya!?” bentak salah seorang murid berbaju hitam yang kanan. Murid berbaju hitam yang sebelah kiri memutar tubuh, kemudian tangan kanannya mengibas ke depan dengan cepat. Selarik cahaya hijau terang melesat cepat dan menerjang kepulan asap yang masih mengepul. Dari balik kepulan asap, selarik cahaya merah pekat memapaki sinar hijau dan bertemu di udara kosong. Bhummm! Terdengar ledakan keras, bumi serasa diguncang gempa kecil. Murid yang melontarkan pukulan tenaga dalam warna hijau terang sampai terjajar beberapa langkah, dan akhirnya jatuh terduduk. Brugh! Dari sudut bibirnya menetaskan darah segar. Dadanya sedikit terguncang karena akibat dari lontaran tenaga dalam yang dilepaskannya membentur seleret pukulan tenaga dalam warna merah pekat yang dilepaskan dari balik kepulan asap. “Pulanggeni, kau tidak apa-apa?” tanya kawannya, sambil membantu laki-laki yang bernama Pulanggeni, berusaha bangkit berdiri. “Aku tidak apa-apa, Galang Seta! Uuhh, hebat juga mereka! Dadaku sampai terguncang begini,” kata laki-laki yang bernama Pulanggeni. Laki-laki yang bernama Galang Seta itu membantu Pulanggeni berdiri, dengan mata tetap menatap ke arah pintu gerbang padepokan yang hancur. Semua mata memandang ke arah kepulan asap. Sedikit demi sedikit asap menipis dan akhirnya, tampaklah beberapa sosok bayangan yang membentuk sosok manusia! Terlihat tiga sosok bermuka bengis, pertanda bahwa diri mereka bertiga bukan orang baik-baik atau setidaknya datang dengan tujuan yang tidak baik. Dibelakangnya berdiri puluhan orang bertampang sangar dengan berbagai macam golok, pedang, trisula dan segala macam senjata berada di tangan. Bisa dipastikan mereka gerombolan brandal kecu yang kejam, berteriak-teriak keras sambil mengeluarkan kata-kata kotor! Orang pertama adalah laki-laki berbadan gempal, bahkan cenderung gemuk dengan tinggi badan sedang. Seluruh tubuhnya penuh bulu-bulu lebat, muka lebar berminyak dengan satu biji mata yang selalu melotot liar. Badannya tidak berbaju, sehingga kekekaran otot nampak terpampang jelas, menandakan memiliki ilmu silat yang cukup tinggi atau setidaknya akrab dengan kekerasan. ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’-nya sudah cukup tinggi, terutama di antara dua saudaranya yang lain. Dialah Ketua Serigala Iblis, yang oleh kalangan sesat dijuluki Serigala Hitam Bermata Tunggal! Yang kedua adalah seorang laki-laki bermuka lancip seperti tikus mengenakan baju besar kedodoran yang tidak dikancingkan, sehingga tampak tulang dadanya yang menonjol seperti penggilasan padi. Di pundak kiri kanannya terselip semacam pisau-pisau panjang berjajar masing-masing berjumlah tiga dengan panjang hampir mencapai satu tombak, Cakar Serigala namanya. Sekilas memang tampak seperti bentuk clurit panjang berwarna hitam kemerah-merahan, mengeluarkan bau busuk menyengat. ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’ yang dimilikinya hanya terpaut satu tingkat saja dari Serigala Hitam Bermata Tunggal. Laki-laki bermuka tikus itu sering dipanggil dengan nama Cakar Iblis Taring Serigala. Yang paling akhir adalah seorang laki-laki berbadan kurus seperti cecak kering. Tubuh yang tinggi menjulai dibalut kain hijau tua. Tubuhnya lebih kurus dari Cakar Iblis Taring Serigala, dengan tinggi badannya mencapai dua tombak lebih. Bicaranya selalu gagap, sehingga selalu dicemooh oleh ke dua saudaranya. Diantara mereka bertiga, dialah yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling tinggi, karena ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’ yang dikuasainya selalu dipusatkan pada sepasang kakinya yang panjang, sehingga ilmu ringan tubuhnya melampaui dua saudara tertuanya. Meski ilmu silatnya biasa-biasa saja, namun dia pulalah yang paling jago dalam melempar senjata rahasia. Tangan Kilat Kaki Bayangan itulah julukan yang pas untuknya! Murid-murid Padepokan Singa Lodaya segera bersikap waspada melihat kedatangan tamu-tamu tidak diundang itu. Beberapa orang berlarian ke dalam barak senjata, kemudian beberapa saat kemudian sudah kembali dengan senjata terhunus. Sementara itu, di saat mendengar ledakan keras membahana, Ki Ageng Singaranu, Jalu Lampang dan Ki Ragil Kuniran segera bergegas keluar dari dalam pondok menuju ke arah suara berasal, sedangkan Nyi Salindri dan Srinilam menyusul di belakangnya. Paksi pun berlari-lari kecil mengikuti sang bunda. Pada mulanya ibu muda itu menyuruh Paksi sembunyi di dalam kamar, tapi karena rasa ingin tahu seorang bocah, membuat Paksi mengikuti dengan sembunyi-sembunyi. “Siapa kalian? Untuk apa berbuat onar di tempat kami?” bentak Galang Seta, matanya memancarkan kemarahan karena sahabatnya terluka meski pun tidak begitu parah. “Ha-ha-ha ... kau mau tahu siapa kami? Apa kalian pernah mendengar nama Gerombolan Serigala Iblis?! Kalau kalian belum pernah mendengarnya, sekarang kalian bisa melihatnya disini,” jawab laki-laki bermata satu itu dengan pongah. “Apa tujuan kisanak datang kemari?” kali ini Ki Ragil Kuniran yang bertanya. “Hemm, tujuanku kemari adalah ... Kau!” Laki-laki tak berbaju dengan celana hitam kelam itu menuding ke arah Ki Ageng Singaranu! Sedangkan yang dituding melengak kaget. “Aku!? Untuk apa kisanak mencariku?” tanya Ki Ageng Singaranu, heran. “Singaranu! Yang kubutuhkan bukan tua rongsokan seperti kau, tapi sebuah benda pusaka yang diberikan oleh gurumu, si Ki Dirgatama yang berjuluk Singa Putih Berhati Iblis kepadamu!” sambung laki-laki bermata satu itu. “Serahkan benda pusaka itu padaku atau padepokanmu ini akan kujadikan karang abang, kuratakan dengan tanah!” “Benda pusaka apa? Guruku tidak pernah memberikan benda pusaka apapun padaku!” jawab Ketua Padepokan Singa Lodaya, dengan tegas. “Bohong!” bentak laki-laki bertampang lancip seperti tikus. “Aku yakin kau memiliki benda pusaka yang diinginkan kakangku! Lekas serahkan pada kami!” “Kak ... ka ... kang ... buub ... buuattt ... appp ... appa ban ... banyak omm ... oomong ... sikk ... sikaatt ... saj ... ja ... ” kata orang ketiga yang sejak tadi hanya diam. “Diam! Kalau tidak bisa ngomong, jangan banyak ngomong!” bentak Serigala Hitam Bermata Tunggal. Si cecak kering itu langsung terdiam dengan kepalanya ditundukkan. “Singaranu, apa kau memang menginginkan padepokanmu ini aku ratakan dengan tanah?! Baik, kalau itu maumu!” bentak Cakar Iblis Taring Serigala, dengan mata melotot beringas. Terdengar suara gigi gemeletuk mengisyaratkan kemarahan. Sifatnya memang mudah marah dan tanpa banyak pikir panjang. “Huh, kalian kira kami takut dengan gertak sambal kalian?” bentak Jalu Lampang. “Begundal-begundal tengik seperti kalian memang seharusnya dienyahkan dari muka bumi!” “Bangsat! Anak-anak, seraaang ... !” Tanpa diberi aba-aba untuk kedua kalinya, pengikut Gerombolan Serigala Iblis langsung menerjang maju. Mereka berteriak-teriak seperti kesetanan dengan senjata-senjata telanjang yang saling beradu cepat mencari mangsa. “Hyyyaaa ... Ciatttt ... ” Murid Padepokan Singa Lodaya juga langsung masuk ke gelanggang pertarungan yang setiap saat bisa merenggut nyawa. Namun, dengan mengandalkan ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’ yang mereka kuasai, tanpa kenal takut memapaki serbuan pengikut Gerombolan Serigala Iblis dengan berani. Dalam waktu singkat, halaman padepokan yang biasanya tenang itu berubah drastis menjadi ajang pertarungan hidup mati antara murid Padepokan Singa Lodaya dengan para pengikut Gerombolan Serigala Iblis yang beringas. “Lebih baik Ayah menonton saja di beranda! Biar saya dan Dimas Ragil yang menangani. Tolong jaga Srinilam dan Salindri,” kata anaknya, Jalu Lampang. “Hemmm, ya sudah, tapi hati-hati dengan laki-laki tinggi besar itu.” “Baik, Ayah!” Jalu Lampang segera berkelebat cepat dengan ilmu meringankan tubuh yang langsung dikerahkan dengan lambaran hawa tenaga dalam yang kuat. Dan langsung menuju ke satu sasaran, yaitu Serigala Hitam Bermata Tunggal! Dari atas, tubuh kekar itu langsung menghantam dengan pukulan jarak jauh ke arah lawan! Debb! Debb!! Weess!! Serangkum cahaya hijau pupus yang berasal dari hawa tenaga dalam itu melesat cepat ke arah laki-laki bermata satu itu. Laki-laki itu mendengus keras, lalu tubuhnya bergeser setengah tombak ke kiri, diikuti dengan berputarnya tubuh besar itu sambil tangan kanannya di dorong ke depan. Serangkum cahaya hitam kelam membentuk bayangan kepala serigala dengan mulut terbuka lebar, memapaki serangan tenaga dalam berwarna hijau pupus milik Jalu Lampang. Blaaammm!! Ledakan keras mengiringi bertemunya dua tenaga dalam yang beda warna sehingga di sekitar tempat itu bagai diguncang prahara kecil. Jalu Lampang terpental ke belakang, namun masih bisa berjumpalitan dan jatuh ke tanah dengan kaki terlebih dahulu, sedangkan Serigala Hitam Bermata Tunggal juga terpental ke belakang dan lalu mendarat dengan kaki terlebih dahulu. Jleg! Dua lawan saling bertemu pandang, saling menilai seberapa kuat lawan yang dihadapinya, saling mencari letak kelemahan dan kelengahan masing-masing. Beberapa saat kemudian, seolah dikomando, keduanya langsung serang dan saling terjang. Perkelahian pun berlangsung dengan sengit. Jalu Lampang mengerahkan kekuatan hawa tenaga dalam yang memancarkan cahaya hijau pupus dan seolah-olah membentuk bayangan singa raksasa. Semakin lama, seluruh tubuh memancarkan cahaya hijau pupus menyilaukan, di samping juga memainkan Ilmu Silat ‘Singa Gunung’, sehingga gerakannya mirip seekor singa jantan yang cukat trengginas berusaha menggencet lawan. “Heaaa ... ! Hiaaa ... !” Serigala Hitam Bermata Tunggal juga tidak mau kalah mengerahkan hawa ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’. Perlahan namun pasti, tenaga dalam itu membentuk bayangan khayal serigala yang seolah-olah membayangi gerak Serigala Hitam Bermata Tunggal. Mereka bertarung dengan gerak cepat, laksana seekor singa dan serigala yang saling berebut mangsa. Pertarungan itu makin seru karena masing-masing telah mengeluarkan ilmu andalannya. Akan halnya Ki Ragil Kuniran sudah menghadapi si Cakar Iblis Taring Serigala yang sudah siap dengan senjata andalannya, Cakar Serigala. Cakar besi itu terus menerus mengeluarkan bau busuk karena mengandung racun ganas, kini telah terselip di kedua tangan, bagaikan sepasang taring-taring hewan pemangsa itu. Tubuh kurusnya mengimbangi gerakan lawan dengan kecepatan kilat. Ketika jarak tinggal dua tiga tombak, Si Cakar Iblis Taring Serigala menerjang maju dengan mengibaskan ke dua tangan bersilangan dengan cepat, mengerahkan jurus ‘Cakar Maut Membelah Angin’ sehingga membentuk kibasan rapat membelah udara berwarna abu-abu memanjang, melaju cepat ke arah Ki Ragil Kuniran. Ki Ragil Kuniran tetap tenang. Tangan kana kiri yang bersenjatakan sepasang pisau panjang bergerak mengibas ke depan dengan bersilangan sambil tubuh berputar ke kiri, mengerahkan jurus ‘Kelebat Guntur Menari’. Seleret udara mampat berbentuk kilatan bunga api berloncatan bergerak cepat, menyongsong serangan lawan. Dhaarr! Dharr!   Terdengar letusan keras saat jurus ‘Kelebat Guntur Menari’-nya Ki Ragil Kuniran beradu dengan jurus ‘Cakar Maut Membelah Angin’-nya Si Cakar Iblis Taring Serigala. Keduanya terjajar beberapa langkah ke belakang, kemudian diam terpaku beberapa saat untuk menenangkan guncangan yang mendera di dalam dada. “Bangsat!” Cakar Iblis Taring Serigala memaki keras, karena baru kali ini ada orang yang bisa menahan jurus ‘Cakar Maut Membelah Angin’ miliknya. “Baru kali ini ada orang yang menahan jurus ‘Cakar Maut Membelah Angin’-ku, biasanya meski ditahan dengan cara apapun, jurus ini akan tetap bisa menerjang lawan, bahkan mencacah-cacah seperti daging cincang. Benar-benar keparat orang itu. Aku harus lebih berhati-hati padanya,” pikirnya. Sedangkan Ki Ragil Kuniran hanya tersenyum mengejek lawan, “Huh, cuma jurus picisan saja, sudah besar mulut!” “Setan! Kalau aku tidak bisa menghabisi nyawa busukmu itu, jangan sebut namaku Cakar Iblis Taring Serigala!” bentaknya. “He-he-he-he, kau memang lebih pantas disebut Si Cakar Tikus,” ucap Ki Ragil Kuniran berusaha memancing kemarahan lawan. Laki-laki itu menggertakkan gigi sebagai tanda kemarahan, kemudian laki-laki bermuka lancip seperti tikus itu menerjang maju. “Heaaa ... !” Gerakannya lebih cepat berbahaya daripada sebelumnya, lebih cepat dan lebih banyak tipu-tipu silatnya. Akan halnya Ki Ragil Kuniran sudah pula menerjang lawan, dengan mengandalkan sepasang pisau panjang di tangan dan menerapkan jurus ‘Pisau Lidah Naga’ dipadu dengan Ilmu Silat ‘Tangan Seribu Depa’ yang dimilikinya. Di lain tempat, Galang Seta dan Pulanggeni berdua menghadapi si cecak kering Tangan Kilat Kaki Bayangan yang tak kalah serunya. Kedua murid utama Padepokan Singa Lodaya ini memiliki kepandaian yang setingkat satu sama lain. Dengan mengandalkan ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’, mereka berdua merangsek maju. “Heeeaa ... ” Keduanya bahu membahu dalam menghadapi lawan.Galang Seta menyerang bagian bawah sedang Pulanggeni menyerang bagian atas. Dua saudara seperguruan itu selalu mengisi kekosongan, sehingga bisa menekan lawan setangguh apa pun. Dari pendapa padepokan, Ki Ageng Singaranu mengangguk-anggukkan kepala melihat kerjasama dua murid utamanya. Tidak menyangka, bahwa Ilmu Silat ‘Singa Gunung’ bisa dimainkan dengan cara berpasangan. “Bagus sekali! Galang Seta dan Pulanggeni memang hebat dalam memadukan Ilmu Silat ‘Singa Gunung’ menjadi jurus silat berpasangan. Saling mengisi kekosongan dan menutupi kelemahan. Hemm, mereka berdua patut diacungi jempol. Mungkin sudah saatnya aku menurunkan pukulan ‘Telapak Singa Murka’ pada mereka berdua,” pikir Ki Ageng Singaranu. Meski dikeroyok dua orang, Tangan Kilat Kaki Bayangan tidak pantang menyerah. Puluhan paku-paku beracun yang dilontarkan ke arah lawan, selalu tepat pada sasaran. Seett! Sett! Wirr!! Wirr! Crapp! Crapp! Crap! Pikirnya, dengan senjata paku beracunnya bisa membereskan dua orang lawan tangguh itu dengan cepat. Namun dia kecele. Bukannya lawan yang mati, tapi justru anak buahnya yang banyak berkelojotan meregang nyawa, karena saat paku-paku beracun itu mengenai tubuh lawan, langsung terpental balik dan mengenai orang-orang yang berada di sekitar mereka, karena sebenarnya dua pemuda berbaju hitam itu telah melindungi diri dengan ilmu kebal. Semakin keras tenaga serangan yang mengenai pemilik ajian ‘Kulit Singa’ maka semakin keras pula tenaga pantul yang dihasilkan. “Kurr ... kurang ... ajjj ... jarr!” Tangan Kilat Kaki Bayangan menghentikan serangan paku beracun, lalu beralih dengan mengerahkan Ilmu Silat ‘Serigala Iblis’. Gerakannya berubah semakin cepat dan ganas, terutama sekali jurus tendangan yang secepat kilat. Gerakan tendangan itu digabung dengan ilmu meringankan tubuh, membuat tubuhnya berkelebat cepat kesana kemari dalam menyerang lawan. Werrs! Galang Seta dan Pulanggeni pun melenting mundur, lalu mengubah cara bertarung. “Galang Seta, kita gunakan jurus ‘Sepasang Singa Membantai Iblis’!” ucap Pulanggeni. “Baik!” Keduanya pun berkelebat cepat ke kanan dan ke kiri hingga membuat Tangan Kilat Kaki Bayangan terkepung di tengah-tengah. Kembali pertarungan pecah antara dua murid Ki Ageng Singaranu dengan salah seorang pemimpin dari Gerombolan Serigala Iblis, yaitu Tangan Kilat Kaki Bayangan. Mereka bertiga kembali berkutatan untuk berusaha saling menjatuhkan lawan. “Hyahh!” Sementara itu, Gineng pun tidak mau tinggal diam sudah terlibat dalam kancah pertarungan. Pemuda remaja itu berkelebat cepat ke arah lawan dengan sepasang pisau panjangnya. Ilmu silat yang dipelajari dari Ki Ragil Kuniran yaitu Ilmu Silat ‘Tangan Seribu Depa’ sangat membantunya dalam pertarungan yang baru pertama kali dialami pemuda tanggung itu. Meski belum menguasai sepenuhnya jurus ‘Pisau Lidah Naga’, namun Ilmu Silat ‘Tangan Seribu Depa’ yang merupakan dasarnya sudah sangat dikuasai dengan baik. Wutt! Wushh! Dua orang anggota gerombolan menyerang pemuda remaja itu dengan gada berduri dan tombak bercagak dari arah depan. Gineng pun melenting ke atas sambil mengibaskan sepasang pisau panjangnya ke arah lawan. Crass! Cratt! “Aaakhh! Uuggh!” Dua orang itu terpental dengan dada terbelah. Satu terbelah menyilang dari kiri ke kanan dan satunya terbelah memanjang sampai ke perut. Keduanya ambruk berkelojotan meregang nyawa beberapa saat, lalu mati. Gineng tercenung, bergantian memandang kedua tangan dan orang yang telah dibunuhnya. Rasa menyesal, bersalah dan bingung campur aduk menjadi satu karena memang baru pertama kali dalam hidupnya dia membunuh orang dalam suatu pertarungan. Namun, rasa penyesalan itu harus dibayar dengan mahal. Salah seorang anggota perampok berperut buncit sambil berjalan mengendap-indap di belakangnya, berusaha untuk membokong. Setelah berada dalam jarak jangkauan, tangan kekar sebesar kayu jati itu merangkul Gineng dari belakang dengan gerakan cepat. Krapp! “Hegh!” Gineng merasakan dadanya terasa nyeri, lalu diikuti dengan napas tersengal-sengal. Rangkulan itu begitu kuat, bagaikan rangkulan seekor kera hutan. Beberapa injakan dan sepakan kaki yang dilakukan oleh Gineng pun tiada artinya, seolah-olah membentur tumpukan kapas. “Mampus kau! Heh-heh-heh, akan kuremukkan tulang belulangmu!” Pelukan laki-laki buncit itu makin kencang, sehingga Gineng semakin sulit bernapas, bahkan napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya mulai melemah dengan sendirinya, hingga sepasang pisau panjangnya terjatuh ke tanah. Klontang! Pemuda remaja itu merasakan tubuhnya seperti dijepit batu karang. Tulang-tulangnya berkerotokan, seakan mau patah. Pada saat kesadarannya sudah hampir hilang, dan bayangan kematian sudah tepat berada di pelupuk mata, sesosok bayangan berkelebat. “Kakang Gineng, merunduk!” Bayangan itu bergerak cepat, diikuti sekelebatan bayangan putih keperakan di belakangnya. Bayangan itu lalu melenting ke atas sambil berjungkir balik, lalu kaki kanannya menjulur ke bawah dengan hentakan keras, mengarah ke arah muka si perut buncit! Wessshh! Duugghh! Tubuh buncit itu terjengkang ke belakang karena terkena hantaman keras di bagian wajah. Kepalanya pusing dan dunia serasa berputar. Saat berusaha berdiri, jalannya menggeloyor seperti orang mabuk. Setelah menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali, rasa pusing itu sedikit berkurang. Pandangan mata belok melotot ke arah sosok tubuh kecil berikat kepala merah! “Bangsat kecil!? Perlu apa kau turut campur?” bentak si perut buncit. Lalu tubuh kecil itu melenting ke atas dan berdiri tegak di samping Gineng. Bayangan itu tak lain adalah Paksi Jaladara, sedangkan bayangan putih keperakan yang mengiringinya adalah elang kesayangannya, Si Perak! Jurus ‘Kelebat Ekor Elang’ yang dilancarkan Paksi Jaladara seharusnya bisa membuat kepala pecah atau paling tidak retak parah, namun ternyata hanya membuat kepala si perut buncit menjadi pusing dan pandangan berkunang-kunang, itu dikarenakan kepala laki-laki bertubuh boros itu terlindungi hawa tenaga dalam yang cukup kuat sehingga bisa menahan serangan lawan. “Kakang, kau tidak apa-apa?” tanya Paksi, tanpa menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Tatapan mata bocah itu setajam elang, tepat menghunjam ke arah bola mata lawan. Laki-laki berperut buncit itu tergetar hatinya, hingga tanpa disadarinya mundur beberapa tindak ke belakang. Gineng hanya menganggukkan kepala, lalu tanpa bersuara meraih sepasang pisau panjang yang ada di tanah diteruskan berguling satu kali ke depan, lalu menerjang laki-laki berperut buncit yang hampir saja membunuhnya. Weess! Anggota Gerombolan Serigala Iblis itu menghindar ke samping, sambil kaki kanannya menendang ke depan dengan bertumpu pada kaki kirinya yang kokoh. Wukk! Sambaran angin keras mengiringi tendangan itu ke arah pinggang. Gineng mengegos badan ke kiri menghindari tendangan, sambil tubuhnya menyelinap diantara tendangan lawan dengan cepat. Weett! Laki-laki itu tersentak kaget, tidak ada waktu bagi dirinya untuk menghindari serangan lawan. Pisau panjang di tangan pemuda berbaju coklat itu berkelebat cepat dengan mengerahkan jurus ‘Ular Sawah Menelan Kodok’ dan sasarannya adalah tepat di jantung! Crapp! “Hekhh!” Mata melotot dengan mulut ternganga lebar.Darah segar muncrat saat pisau panjang itu dicabut oleh Gineng. Brugh! Tubuh itu berdebam ke tanah, sambil berkelojotan meregang nyawa, lalu diam tak bergerak. Mati! Pemuda itu membalikkan badan, seperti seorang senopati perang yang telah selesai menjalankan tugas menumpas musuh. “Terima kasih, Den Paksi! Lebih baik Den Paksi kembali ke pendapa saja, biar saya yang membantu disini,” tutur Gineng, dengan nada rendah. “Baiklah, tapi Kakang Gineng hati-hati.” “Jangan khawatir, tidak akan terulang untuk kedua kalinya,” kata Gineng meyakinkan sang majikan muda. Semua kejadian itu tidak lepas dari mata tua Ki Ageng Singaranu! Sedangkan Nyi Salindri sudah kebat-kebit melihat anaknya malah ikut-ikutan berkelahi. Mulanya Ki Ageng Singaranu akan membantu Gineng dengan melontarkan pukulan jarak jauh, namun keburu didahului Paksi Jaladara yang turun tangan sedangkan Nyi Salindri juga berniat untuk menolong anaknya. Namun dicegah oleh Ki Ageng Singaranu. “Tidak usah cemas, aku yakin anakmu tidak apa-apa.” ucap Ki Ageng Singaranu, berusaha menenangkan putrinya. Meski begitu, ibu muda itu masih tetap gelisah, sampai akhirnya pertarungan dimenangkan oleh Gineng, dan anaknya sudah jalan lenggang kangkung ke arah pendapa. “Paksi, kemari! Jangan berbuat yang macam-macam,” seru sang ibu. Bocah berikat kepala merah itu malah cengar-cengir, sambil bergegas menghampiri sang ibu, sedangkan Si Perak sudah terlebih dahulu terbang dan kini hinggap di atas palang kayu, tempat biasanya di mana kuda ditambatkan di depan pendapa padepokan. Sementara itu, pertarungan semakin memanas. Teriakan dan pekikan kesakitan terdengar dimana-mana. Pelataran yang semula adem ayem itu berubah menjadi ajang pembantaian. Saling bunuh, saling terjang, saling tendang, bahkan ada yang menyabung nyawa sambil memaki-maki, korban berjatuhan di kedua belah pihak. Murid-murid Padepokan Singa Lodaya yang masih rendah ilmu kebal dan kekuatan tenaga dalam yang dikuasai belum memadai, banyak mengalami luka di sekujur tubuhnya. Namun, semangat tarung yang dimilikinya tetap berkobar-kobar laksana api ketemu minyak. Para murid Padepokan Singa Lodaya yang menguasai ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’ lumayan tinggi, melindungi saudara seperguruan mereka yang masih lemah. Sehingga tampak kerja sama yang kompak. Saling bahu membahu dan tolong menolong serta saling menutupi kelemahan kawannya. Pengikut Gerombolan Serigala Iblis juga tidak kalah ganasnya. Mereka yang terbiasa berkutat dengan darah dan kematian, menyerang membabi buta. Lawan mendekat, sikat! Akan tetapi di dalam hati mereka, tersimpan rasa gentar menghadapi lawan yang sebagian besar menguasai ilmu kebal itu. Pedang, golok, tombak dan setiap senjata yang kena sasaran di tubuh lawan, selalu terpental dan bahkan nyaris mengenai dirinya sendiri¡ “Heeaa! Hyahh!” Crass! Crakk! Crook!! Sedikit demi sedikit, jumlah penyerang makin berkurang. Banyak diantara mereka yang tewas atau sekarat, menunggu ajal menjemput. Melihat jumlah penyerang makin berkurang, semangat tarung para murid padepokan makin meninggi. Di sudut pelataran, Jalu Lampang masih berkutat seru dengan Serigala Hitam Bermata Tunggal. ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’ makin menebal, demikian juga ‘Tenaga Sakti Singa Gunung’-nya Jalu Lampang, semakin memancarkan cahaya terang, seolah berusaha menerangi malam. “Hyaaa ... !” Si mata satu menyerang dengan kepalan tangan kanan lurus menyerang ke arah jantung, sambil tubuhnya melesat ke depan. Tangan kirinya menyusul dengan gerakan tangan membabat ke arah leher. Disusul dengan dengan tendangan tajam ke arah kemaluan. Si mata satu itu menamakan jurus ‘Tiga Jalan Darah Kematian’. Praktis, Jalu Lampang diserang dari tiga arah yang mematikan. Jantung, leher dan kemaluan! Sebagai seorang pendekar yang sudah malang melintang di rimba persilatan, pernah mencicipi asam garamnya pertarungan dan sakitnya luka, tidak membuat Jalu Lampang gugup menghadapi serangan mematikan itu. Plaakk! Kepalan tangan kanan ditepiskan ke arah luar, sedangkan tendangan ke arah kemaluan dihadang dengan kaki di tekuk di depan. Terdengar suara keras, seperti besi diadu dengan besi. Draakk! Susulan tangan kiri lawan di tahan dengan siku kanan untuk melindungi jantungnya yang terancam, namun serangan tangan kiri itu agak melenceng ke kiri, dan tepat mengenai dada Jalu Lampang yang tidak terlindungi. Bukk! Dhess!! Kedua jagoan itu terpental ke belakang sehabis beradu jurus dan juga beradu tenaga. Jalu Lampang merasakan dadanya terasa sesak dengan napas tersengal-sengal. Darah merah merembes keluar dari sudut bibirnya. Setelah mengalirkan hawa penyembuh luka serta mengatur napas beberapa saat, dadanya sudah agak longgar. “Untung ada ajian ‘Kulit Singa’, kalau tidak mungkin dadaku sudah hancur berantakan saat kepalan si mata satu itu mengenai dadaku! Uh ... aku harus lebih hati-hati menghadapinya,” kata hati Jalu Lampang, sambil mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. “Setan alas! Kuntilanak bunting! Kadal bengkak! Bocah itu cukup hebat! Tangan dan kakiku seperti tersengat bara panas dan rasa ngilu menusuk tulang. Ilmu apa yang dipakai bocah itu? Seharusnya dadanya jebol terkena ‘Tiga Jalan Darah Kematian’! Kadal bengkak,” gumam Serigala Hitam Bermata Tunggal, sedang matanya mencorong tajam, seperti mata serigala yang ingin menelan mangsa mentah-mentah. “Bocah, kuakui kau cukup hebat! Jarang ada manusia yang bisa menahan ‘Tiga Jalan Darah Kematian’-ku dengan selamat! Aku yakin si tua bangka itu sudah menurunkan seluruh ilmunya padamu,” kata Serigala Hitam Bermata Tunggal. “Hem, kau pun juga hebat, orang tua!” sahut Jalu Lampang. “Ilmu yang kau pakai barusan mengingatkanku pada seorang tokoh kosen golongan hitam yang bergelar Ratu Sesat Tanpa Bayangan. Ada hubungan apa kau dengannya?” “Ha-ha-ha-ha, tidak percuma kau mengangkat nama sebagai Singa Jantan Bertangan Lihai. Otakmu memang seencer bubur, anak muda! Benar, aku dan dua saudaraku adalah murid si Ratu Sesat Tanpa Bayangan! Beliau pula pemimpin tertinggi Gerombolan Serigala Iblis. Dan, guruku pula yang menyuruhku kemari untuk menagih harta pusaka yang dibawa ayahmu. Aku yakin, kau sebagai anaknya pasti juga telah menerima warisan pusaka itu. Nah, serahkan benda itu padaku daripada kau mati sia-sia, anak muda,” jawab Serigala Hitam Bermata Tunggal. “Huh, lagi-lagi harta pusaka! Melihat bentuknya pun belum pernah, apalagi kau malah menuduh aku yang memilikinya. Andaikata harta pusaka itu ada padaku, tak mungkin kuserahkan pada manusia sesat macam kalian,” sentak Jalu Lampang, yang ternyata di rimba persilatan digelari Singa Jantan Bertangan Lihai. “Keparat busuk! Babi bunting! Makan tinju mautku ini!” Setelah memaki keras, Serigala Hitam Bermata Tunggal menghentakkan kaki ke tanah, lalu tubuh tinggi besar itu mencelat ke atas. Dari atas, kedua belah tangannya yang mengepal saling dibenturkan satu sama lain, sehingga terdengar benturan keras beberapa kali, lalu kedua tangan mengepal itu berubah menjadi merah membara seperti bara api yang menyala-nyala. Saat itu pula, Serigala Hitam Bermata Tunggal sudah mengerahkan ilmu tertingginya yang bernama ‘Tinju Serigala Meraung’! Dhuarr! Dhuarr! Dhuarr! Terdengar suara ledakan keras berkali-kali mengiringi meluncurnya tubuh Serigala Hitam Bermata Tunggal. Setelah itu, tampak sepasang tinju itu didorongkan ke depan saling bergantian susul-susul diikuti dengan tubuh besarnya menerjang ke arah Singa Jantan Bertangan Lihai. Mulutnya meraung keras seperti suara serigala lapar. “Auunnggg!” Jalu Lampang atau si Singa Jantan Bertangan Lihai tidak mau mati konyol begitu saja. Tubuhnya sedikit merendah dengan kedua kaki membentuk kuda-kuda kokoh, seperti singa yang sedang mendekam menanti mangsa. Kemudian tangan kiri dan kanan saling bergesekan sehingga menimbulkan suara menyayat yang berkepanjangan. Sreett! Srett! Setelah itu kedua belah tangan itu memendarkan cahaya hijau pupus, yang makin lama makin menebal diikuti hawa dingin yang menyengat. Lalu kedua tangan itu diputar sedemikian rupa membentuk gumpalan bola cahaya hijau pupus yang makin lama makin membesar. Itulah ilmu sakti khas Padepokan Singa Lodaya. Ilmu ‘Telapak Singa Murka’! Saat itu, ‘Tinju Serigala Meraung’ yang dilancarkan Serigala Hitam Bermata Tunggal hanya berjarak satu setengah tombak dari Jalu Lampang, namun hawa panasnya terasa menyengat kulit dan memedihkan mata. Jalu Lampang segera menghentakkan kedua belah tangannya ke atas, ke arah serangan yang membersitkan hawa panas tersebut berasal. Bola cahaya hijau pupus itu terlontar ke atas. Plakk! Plakk! Bhlarr ... ! Bhlarr ... ! Dharr ... !!! Sekitar tempat itu bagai diguncang prahara disertai luapan hawa panas dan dingin silih berganti di saat ‘Tinju Serigala Meraung’ bertemu dengan ‘Telapak Singa Murka’. Semua orang yang berada di tempat itu terpelanting sambil merasakan sengatan hawa panas dan dingin yang silih berganti karena pengaruh dari benturan keras itu. Debu beterbangan menutupi pandangan mata hingga pertarungan berhenti untuk sesaat lamanya. Mereka semua merasakan tanah tempat berpijak berguncang keras seperti terkena gempa dahsyat. Ki Ageng Singaranu melesat ke luar sambil menyambar Salindri dan Srinilam karena pendapa tempatnya menonton pertarungan, berderak-derak keras dan kemudian runtuh. Drakk! Drakk! Drakk! Brroolll! Brumm ... !!! Saat Ki Ageng Singaranu berhenti di tempat yang aman, barulah Salindri teringat sesuatu. Matanya mencari-cari sesuatu, namun yang dicari tidak ada. Yaitu anaknya, Paksi Jaladara! “Paksi?! Paksi dimana, Ayah? Dimana Paksi?!” “Aduuuhh, aku sampai lupa! Dia masih di pendapa!” kata Ki Ageng Singaranu, sambil menepak jidatnya keras-keras. Kakek itu segera melesat kembali ke pendapa, lalu tangan kurusnya bergerak lincah membongkar reruntuhan pendapa sambil mulutnya berteriak-teriak memanggil cucunya. Rasa panik terpancar jelas di wajahnya. “Paksi, kau dimana Nak? Jawab! Ini kakek!” Tiba-tiba terdengar suara dari atas ... “Kek, Paksi disini! Disini! Lihat ke atas!” Ki Ageng Singaranu segera menghentikan kegiatannya. Kepala mendongak ke atas, mencari tempat dimana suara itu berasal. Matanya melotot melihat kejadian yang menurutnya sangat tidak masuk akal! “Jagat Dewa Bathara!” Paksi tampak menggerakkan tangan ke atas ke bawah, seperti sayap burung! Tubuh kecilnya tampak mengambang di angkasa, lalu berputar-putar kesana kemari sambil tertawa terkekeh-kekeh. Di sampingnya tampak elang putih keperakan terbang mengiringi sang majikan muda. Bocah berikat kepala merah itu melayang-layang seperti layaknya seekor elang! “Mustahil! Tidak mungkin ini terjadi!” Kakek itu mengucal-ucal mata tuanya, namun yang dilihat tetap sama. Saat itu pula, Gineng juga menoleh, di saat mendengar Nyi Salindri memanggil-manggil nama si bocah. Matanya jelalatan mencari sosok bocah berikat kepala merah. Setelah ketemu, matanya terpana melihat kejadian ganjil yang terpampang di depan mata. “Den Paksi ternyata tidak bohong! Dia ternyata bisa melayang dia udara, seperti yang dikatakannya tempo hari,” gumam Gineng, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Paksi Jaladara lalu berputaran di udara beberapa kali, dan mendarat di tanah dengan selamat! Pada saat itu pula, setelah guncangan dahsyat itu berhenti, tampak dari kepulan debu yang mulai menipis, dua sosok tubuh manusia berdiri tegak. Pertarungan antara Singa Jantan Bertangan Lihai dengan Serigala Hitam Bermata Tunggal sudah mendekati detik-detik terakhir. Benturan keras tadi secara langsung menerpa mereka berdua, karena dari merekalah asal ledakan keras itu terjadi. Keduanya masih berdiri tegak dengan sikap saling serang. Kepalan tangan Serigala Hitam Bermata Tunggal yang tadi melancarkan ‘Tinju Serigala Meraung’ memberikan jejak luka biru lebam kehitaman di dada Singa Jantan Bertangan Lihai, membentuk lekukan yang cukup dalam. Dari sudut bibir Jalu Lampang menetaskan darah kental kehitaman, pertanda luka dalam yang cukup parah. Tubuhnya gemetar menahan rasa sakit yang mendera. “Hoekkh!” Darah kental berwarna hitam akhirnya termuntahkan keluar dari dalam mulut. Beberapa saat kemudian, tubuhnya limbung dan ... Brughh! Tubuh kekar itu akhirnya jatuh pingsan akibat jejak luka yang dibuat lawan. Darah masih terus menetes keluar diiringi dengan sentakan-sentakan kecil tubuhnya, meskipun laki-laki itu dalam keadaan pingsan. Sementara itu, keadaan Serigala Hitam Bermata Tunggal tidak kalah parahnya dengan Jalu Lampang. Di dada sebelah kiri, terlihat jejak luka merah kehitaman akibat terkena pukulan ‘Telapak Singa Murka’ yang dilancarkan oleh Singa Jantan Bertangan Lihai. Luka itu membentuk lekukan telapak tangan yang cukup dalam di dada kiri. Langkah kakinya sempoyongan mendekati tubuh pingsan sang lawan. Darah pun menetas dari sudut bibirnya. “He-he-he, aku men ... me ... nang!Kau kalah ... an ... nak mud ... da ... ” Tubuh si mata satu itu akhirnya juga limbung dan akhirnya ... Bruugh! Serigala Hitam Bermata Tunggal juga akhirnya menyusul ambruk, berseberangan dengan Singa Jantan Bertangan Lihai. Dari lima lobang di wajahnya, darah memancar keluar seperti air mengalir. Tubuh kekar itu berkelojotan meregang nyawa. Beberapa saat kemudian, diam tak bergerak sama sekali. Mati! Rupanya pukulan ‘Telapak Singa Murka’ tepat bersarang di bagian jantung, membuat jantung hancur dari dalam tanpa disadari yang bersangkutan. Sedangkan Jalu Lampang masih bernapas, walau satu-satu dan agak tersengal-sengal. Darah kental menetes terus dari sudut bibirnya. Semua mata memandang dua sosok tubuh yang tergeletak itu dengan terpana. Bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Dua sosok manusia yang semula saling cakar-cakaran dan berusaha saling menjatuhkan, kini diam tak bergerak. Suasana kembali lengang disebabkan pertarungan berhenti, namun tidak berhenti sepenuhnya. Beberapa murid Padepokan Singa Lodaya mendekati Singa Jantan Bertangan Lihai, lalu mengangkat tubuh pingsan itu ke samping beranda, di mana ketua Padepokan Singa Lodaya, Salindri dan Srinilam berada. Setelah sampai, laki-laki tua itu segera menyambut tubuh anaknya, menotok jalan darah untuk menghentikan pendarahan dan melakukan proses pengobatan untuk memulihkan kondisi Jalu Lampang atau yang dikenal sebagai Singa Jantan Bertangan Lihai. Di lain tempat, kancah sabung nyawa terpecah menjadi dua bagian. Yaitu pertarungan sengit antara Tangan Kilat Kaki Bayangan dengan dua murid utama Padepokan Singa Lodaya, sedangkan di sisi lain, Ki Ragil Kuniran masih berkutat seru dengan Cakar Iblis Taring Serigala. Seperti di komando, dua golongan yang pada mulanya berseteru, kini menepi ke sisi yang berlainan. Sisa pengikut Gerombolan Serigala Iblis yang kini berjumlah puluhan orang tampak menepi ke arah pintu gerbang, seakan siap mengambil langkah seribu jika keadaan sudah tidak memungkinkan untuk bertahan atau pun melawan. Tidak ada sorak sorai seperti ketika tadi mereka datang dengan menjebol pintu gerbang. Ada yang terluka parah, ada pula yang luka ringan, tapi jumlah yang tewas lebih banyak lagi. Mereka yang biasanya selalu mengantongi kemenangan jika berkelahi atau menyerang padepokan atau perguruan silat lainnya, sekarang ketemu batunya. Jika biasanya lawan sekali tebas langsung tewas, tapi kini dengan sekali tebas, lawan bukannya tewas atau terluka, tapi balik balas menebas dengan beringas, karena para murid itu rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan dan juga mengandalkan ilmu kebal. Sementara itu, pertarungan di sisi lain ternyata masih kedot. Pulanggeni menyerang bagian bawah dengan cakar terkembang diikuti dengan sepakan kaki bertenaga kuat, sedangkan Galang Seta menyerang bagian atas tinju tergenggam diiringi dengan tendangan berputar yang saling susul-susul menggempur lawan. Pertarungan pamungkas akan segera terjadi karena ke dua belah pihak telah mengeluarkan jurus atau ilmu andalan mereka. Jdhar! Dharr! Dharr ... ! Terdengar ledakan keras berturut-turut yang menggetarkan jantung, ketika Tangan Kilat Kaki Bayangan yang menggelar ‘Tendangan Berantai Serigala Meraung’ bertemu langsung jurus ‘Sepasang Singa Menggencet Tebing’ salah bagian Ilmu Silat ‘Singa Gunung’ yang dikembangkan secara berpasangan oleh dua murid utama Padepokan Singa Lodaya yang digunakan untuk menyerang dari atas dan bawah. “Aaahhh ... !” Tangan Kilat Kaki Bayangan terpental dengan jerit kesakitan yang menyayat. Tubuh kurus menjulai itu terlempar dan membentur tembok dengan keras. Drugghh! Brugghh! Tubuh kurus itu tersandar di tembok dengan napas tersengal-sengal. Darah kental menetes dari sudut bibir dan akhirnya mengalir membasahi baju hijau tua di bagian dada. Kaki kanannya tampak gembung merah kebiruan, karena tersambar jurus lawan. ‘Tendangan Serigala Meraung’ yang dikerahkan serta dilambari dengan ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’ kalah telak! Pulanggeni yang menyerang bagian bawah lawan dengan cakar terkembang, juga ikut terpental karena daya ledak yang begitu keras menyambar tubuhnya. Tubuh pemuda berbaju hitam itu terbanting ke tanah dengan keras sambil bergulingan beberapa tombak jauhnya dan langsung memuntahkan darah segar. “Hoekhh ... “ Kedua tangannya bengkak kebiruan, karena ‘Tendangan Serigala Meraung’ yang dilepaskan lawan, memang berbenturan langsung dengan tangannya saat jurus ‘Sepasang Singa Menggencet Tebing’ dikerahkan dengan pengerahan hawa ‘Tenaga Sakti Singa Gunung’ secara maksimal. Akan halnya Galang Seta, dia hanya terpental ke belakang, namun masih bisa menguasai diri dengan cara jungkir balik beberapa kali dan bisa berdiri dengan tegak di tanah. Tangan kirinya sedikit bengkak kehitaman, karena berbenturan keras dengan tulang kaki lawan yang dilambari ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’. Galang Seta langsung memburu kawannya yang terkapar sambil muntah darah.   “Pulanggeni, bagaimana keadaanmu?” tanya Galang Seta, dengan khawatir. Tangannya segera menyangga kepala Pulanggeni, lalu jari-jari tangannya dengan lincah menotok beberapa jalan darah di dada dan beberapa bagian tubuh Pulanggeni. Beberapa saat kemudian, Pulanggeni membuka mata, lalu berkedip-kedip. Galang Seta hanya tertawa melihat tingkah sahabat karibnya. “Aku tidak apa-apa, sobat! Cuma sedikit terluka,” gurau Pulanggeni, untuk menenangkan hati Galang Seta. “Tidak apa-apa kepalamu soak! Terkapar begini dibilang tidak apa-apa ... ” maki Galang Seta. Sementara itu, keadaan lawan pun lebih parah dari mereka berdua, karena darah terus saja mengalir seperti anak sungai. “Kurang ajar! Kalian berdua telah mempermalukan si Tangan Kilat Kaki Bayangan! Rasakan pembalasanku!” pikir si cecak kering. Sebuah pikiran licik melintas di benaknya, cara yang biasa dimiliki orang-orang golongan sesat saat dalam keadaan terdesak. Tangan Kilat Kaki Bayangan meraba pinggang, dimana terselip dua bilah pisau terbang yang sengaja disembunyikan jika dalam keadaan terdesak oleh lawan. Matanya yang cekung memandang lawan dengan beringas, untuk melihat kelengahan lawan. Perbuatan curang Tangan Kilat Kaki Bayangan yang ingin membokong, tidak lepas dari penglihatan Gineng. Mata pemuda remaja berbaju buntung itu melihat gerak-gerik orang ketiga dari Gerombolan Serigala Iblis yang mencurigakan. Matanya bergantian memandang tokoh sesat itu dengan dua murid utama Padepokan Singa Lodaya. “Pasti dia mau melakukan sesuatu yang licik. Lebih baik, aku awasi saja dia!” pikir Gineng. Ketika tangan kanan yang memegang dua bilah pisau terbang itu terangkat ke atas siap disambitkan ke arah Galang Seta dan Pulanggeni, Gineng pun melakukan gerakan yang sama. Pemuda remaja itu juga menyambitkan pisau panjangnya, dengan jurus ‘Pisau Lepas Dari Tangan’ ke arah Tangan Kilat Kaki Bayangan, diiringi bentakan keras, “Dasar manusia licik!” Wuttt!! Syutt! Pisau panjang itu melesat membelah udara, mengeluarkan desingan keras yang membuncah karena dilandasi dengan kekuatan tenaga dalam pemuda remaja itu. Terlambat! Bersamaan dengan itu, pisau terbang di tangan orang ketiga dari Gerombolan Serigala Iblis itu juga telah melesat, ke arah Galang Seta dan Pulanggeni dengan kecepatan kilat! Wushh! Weessh!! Crapp! Trakk! Trakk ... ! “Ugh!” Terdengar lenguhan pendek, bukan dari mulut Galang Seta atau Pulanggeni, tapi dari mulut si Tangan Kilat Kaki Bayangan! Di bagian leher laki-laki kurus itu, tertancap pisau panjang yang dilemparkan Gineng, hingga amblas sampai ke gagangnya. Bahkan saking kerasnya tenaga sambitan jurus ‘Pisau Lepas Dari Tangan’, membuat tubuh Tangan Kilat Kaki Bayangan ikut terseret beberapa tombak, lalu menancap di balok kayu tempat dimana biasanya mengikatkan kuda. “Khu ... khu ... eghhh ... ” Tangan kurus itu berusaha mencabut pisau panjang yang menembus leher, hingga terdengar seperti suara orang mengorok keras. Beberapa saat kemudian, diam tanpa bergerak sedikit pun dengan mata melotot liar! Si Tangan Kilat Kaki Bayangan rupanya melupakan salah satu kelebihan murid-murid Padepokan Singa Lodaya, yaitu ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’, yang juga dikuasai oleh Galang Seta dan Pulanggeni. Ajian ‘Kulit Singa’ adalah ilmu kebal dari segala macam senjata tajam mau pun tumpul, juga bisa memantulkan hawa tenaga dalam lawan. Selama lawan memiliki tenaga dalam lebih rendah dari pemilik ajian ‘Kulit Singa’ atau setidaknya setara dengan lawan, ajian ‘Kulit Singa’ akan tetap berfungsi dan selama lawan tidak menggunakan senjata pusaka, maka ajian ‘Kulit Singa’ akan bisa melindungi sang pemilik. Karena Tangan Kilat Kaki Bayangan tidak menggunakan senjata pusaka, meski hawa tenaga dalam yang dmilikinya setara dengan yang dimiliki dua lawannya, namun lemparan pisau terbang itu terpental, seperti membentur tembok tebal saat mengenai punggung dan pinggang dua pemuda lawannya. Apalagi sudah dalam keadaan terluka dalam yang parah, membuat tenaga lemparan pisau terbangnya tidak sekuat kalau dalam keadaan sehat. “Terima kasih, kawan!” “Sama-sama!” sahut Gineng dari kejauhan. Pemuda remaja itu melentingkan tubuh berjumpalitan di udara beberapa kali mendekati mayat si Tangan Kilat Kaki Bayangan. Jleg! “Heh, orang jahat sepertimu sudah sepantasnya di kirim ke neraka!” ucap Gineng. Tangan kanannya terulur menangkap gagang pisaunya, lalu ditarik dengan satu sentakan cepat. Sett! Brugh! Saat pisau panjang itu tercabut dari leher, bersamaan itu pula tubuh Tangan Kilat Kaki Bayangan terperosot jatuh ke tanah. Mata orang ke tiga dari Gerombolan Serigala Iblis itu melotot besar, seakan tidak terima dengan kematian yang dihadapi. Kemudian Gineng membersihkan pisau panjangnya dan menyelipkan di pinggang kiri sambil melangkah menghampiri Galang Seta dan Pulanggeni. Galang Seta dan Gineng lalu memapah Pulanggeni ke tepi kancah pertarungan, dimana Ki Ageng Singaranu sedang mengobati Singa Jantan Bertangan Lihai yang juga terluka parah akibat bertempur dengan Serigala Hitam Bermata Tunggal. Praktis, hanya pertarungan Ki Ragil Kuniran dengan si Cakar Iblis Taring Serigala yang tersisa. Kedua orang itu masih ingkel-ingkelan dengan alot. Tendangan dan pukulan datang silih berganti. Cakar Iblis Taring Serigala menerjang cepat dengan senjata Cakar Serigala diiringi dengan teriakan keras memekakkan telinga. “Hyaaa ... heyyyaa ... !” Trang! Tring! Crangg! Terdengar dentingan besi beradu saat sepasang pisau panjang di tangan lurah desa Watu Belah itu menahan serangan kilat lawan. Kaki kiri Ki Ragil Kuniran berputar ke depan dan ... Buuukk! Sebuah tendangan berputar tepat mengenai pelipis kanan Cakar Iblis Taring Serigala, yang langsung terjajar ke samping. Di saat tubuhnya terpelanting, Cakar Iblis Taring Serigala masih sempat mengibaskan senjata Cakar Serigala di tangan kanannya ke arah lengan lawan. Cratt! Darah kental kehitaman mengucur dari bekas sambaran senjata berbentuk cakar itu. Laki-laki itu mengernyitkan alis, menahan rasa ngilu yang tiba-tiba menjalar lewat jalan darah di bekas luka cakaran, terus menjalar naik sampai bagian bahu. “Racun ganas ... ” gumamnya. “ ... cepat sekali menjalarnya ... ” Ki Ragil Kuniran segera meloncat mundur, lalu menotok jalan darah di lengan dan bahunya untuk menghentikan jalannya racun menuju jantung. Cakar Iblis Taring Serigala sempat melirik ke arah samping. Pandang matanya melihat Serigala Hitam Bermata Tunggal tergeletak diam entah hidup entah mati dan Tangan Kilat Kaki Bayangan yang terbujur kaku dengan jejak luka berdarah di bagian leher. “Kurang ajar! Dua saudaraku telah tewas, sedangkan anak buahku pun kocar kacir tak karuan! Keadaan ini tidak menguntungkan bagiku. Kalau aku tetap di sini, kemungkinan tewas lebih besar. Lebih baik aku mundur dulu. Padepokan Singa Lodaya benar-benar kuat. Kalian harus membayar penghinaan ini suatu saat nanti!” bathin laki-laki kurus bermuka tikus itu. “Guru yang katanya akan ikut membantu, sampai sekarang tidak kelihatan batang hidungnya. Brengsek! Lebih baik aku lari saja dari sini. Persetan dengan mereka semua!” Dua bola mata laki-laki itu bergerak lincah persis mata pencuri yang tertangkap basah. Lirik sana lirik sini, berusaha mencari celah yang bisa diterobos keluar. Belum sempat murid ke dua si Ratu Sesat Tanpa Bayangan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba terdengar suara keras menggelegar laksana petir di siang hari yang memecah kesunyian. “Singaranu! Berani sekali kau mengusik murid-muridku! Siapa pun yang berani mengusik tiga murid kesayanganku, harus berhadapan dengan Ratu Sesat Tanpa Bayangan!” Entah dari mana datangnya, sesosok perempuan tua bertubuh bongkok berbaju batik kembang-kembang sudah berdiri di atas genting. Rambut putih riap-riapan berkibar-kibar tertiup angin. Di tangan kiri tergenggam tongkat hitam melengkung dari bangkai ular kobra, yang panjangnya sama tinggi dengan tubuh nenek bongkok itu. Tubuhnya kurus kering, seakan hanya tulang terbalut kulit saja, sedang daging yang ada hanya ala kadarnya saja. Matanya bersinar-sinar menyorotkan kekejaman tiada tara. Nenek bongkok bertongkat ular itu dulunya seorang perempuan jelita meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, juga merupakan salah datuk hitam berilmu tinggi dari Pulau Nusa Kambangan. Kehebatan ilmunya bisa disejajarkan dengan Ki Ki Dirgatama, seorang tokoh golongan putih yang juga sekaligus guru dari Ki Ageng Singaranu. Pada masa itu, wanita yang bergelar Ratu Sesat Tanpa Bayangan merupakan momok menakutkan bagi dunia persilatan. Hanya dengan menyebut namanya saja, sama artinya dengan mengantar nyawa. Belum lagi dengan Serikat Ular Iblisnya, yang sering berbuat kejahatan dimana-mana, bahkan kejahatan dan kekejiannya sampai terdengar menyeberang ke Pulau Andalas mau pun ke Pulau Borneo yang letaknya di seberang lautan. Membunuh, merampok, bahkan melakukan hal-hal biadab sudah merupakan kebiasaan yang menyenangkan bagi Serikat Ular Iblis dan juga Ratu Sesat Tanpa Bayangan. Selain terkenal dengan kekejamannya, nenek itu juga memiliki ilmu awet muda sehingga tubuhnya tetap singset dan menggiurkan bagi setiap laki-laki yang memandangnya. Jika ditanya, dukun teluh terhebat di rimba persilatan, maka akan menunjuk tokoh ini sebagai ahlinya. Dengan ilmu ‘Teluh Ireng’ yang sangat diandalkannya, jarang ada tokoh persilatan yang bisa hidup jika sudah terserang ilmu teluh itu, belum lagi dengan ilmu ‘Tongkat Selaksa Maut Selaksa Siksa’ dan ‘Tinju Serigala Meraung Tanpa Bayangan’ juga merupakan salah satu ilmu sakti di rimba persilatan, dimana setiap kibasan mau pun sambaran anginnya yang mengeluarkan racun maut bisa mendatangkan maut bagi siapa saja, apalagi kalau terkena telak, pasti nyawa akan merat saat itu juga. ‘Tinju Serigala Meraung Tanpa Bayangan’ dilatih dengan merendam diri dalam gentong besi yang didalamnya penuh berisi ribuan racun tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan berbisa. Tak jarang pula beberapa binatang langka yang berbisa digunakan untuk berlatih ilmu ini. Bisa dikatakan bahwa ilmu ‘Tinju Serigala Meraung Tanpa Bayangan’ adalah rajanya pukulan beracun. Apalagi ditambah hawa ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’ yang dimilikinya juga sudah mencapai tataran tak tertandingi oleh siapa pun di dunia persilatan saat itu. Itulah yang menjadikannya menggelari diri sebagai Ratu Sesat Tanpa Bayangan. Sehingga kepongahan dan kesombongan semakin menjadi-jadi. Namun, setinggi-tingginya ilmu seseorang, masih ada yang bisa melebihinya. Seperti kata pepatah ‘diatas langit masih ada langit’, Ratu Sesat Tanpa Bayangan akhirnya kena batunya juga. Saat dia berjumpa dengan tokoh sakti yang berjuluk si Elang Berjubah Perak yang waktu itu sedang berjalan bersama sahabatnya Ki Dirgatama yang menyandang gelar Singa Putih Berhati Iblis, berada di sebelah utara pulau Nusa Kambangan, setelah mengunjungi salah satu tokoh golongan putih dari pulau Nusa Laut. Merasa dirinya hebat dan tanpa tanding di kolong langit, wanita iblis itu menantang dua tokoh golongan putih itu dan akhirnya terjadi perkelahian yang berlangsung ratusan jurus dan berakhir dengan kekalahan Ratu Sesat Tanpa Bayangan di tangan si Elang Berjubah Perak. Seluruh ilmu silat, ilmu sihir dan juga hawa ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’-nya dikeluarkan sampai tahap terakhir, tetap tidak bisa menggoyahkan posisi lawan. Bahkan Singa Putih Berhati Iblis dengan berani mendatangi seorang diri sarang Serikat Ular Iblis di Nusa Kambangan saat terjadi duel antara si Elang Berjubah Perak dan Ratu Sesat Tanpa Bayangan, akhirnya perserikatan pembawa bencana itu tumpas tapis tanpa sisa di tangan Singa Putih Berhati Iblis yang saat itu masih senang-senangnya menambah pengalaman pertarungan dan tentu saja karena masih berjiwa muda. Setengah harian dia membantai orang-orang Serikat Ular Iblis, saat dia kembali ke pertarungan si Elang Berjubah Perak dan Ratu Sesat Tanpa Bayangan, nampak olehnya tokoh sesat itu mengiba-iba minta dibiarkan hidup! Oleh si Elang Berjubah Perak, Ratu Sesat Tanpa Bayangan diampuni asal mau bertobat dan tidak mau mengulangi perbuatan jahatnya lagi. Namun, hal itu ditentang oleh Ki Dirgatama yang selalu berpedoman bahwa mencabut rumput harus sampai ke akar-akarnya. Pemuda itu berkeyakinan, bahwa setiap tokoh hitam pasti lain di mulut lain pula di hatinya. Setelah berpikir sejenak, si Elang Berjubah Perak berketetapan bahwa dia tetap ingin mengampuni Ratu Sesat Tanpa Bayangan, namun seluruh ilmu yang dimilikinya harus dimusnahkan agar tidak disalahgunakan lagi. Mendengar hal itu, Ratu Sesat kaget bukan alang kepalang! Mati dalam pertarungan bagi seorang pendekar bukan suatu masalah, tapi terlunta-lunta di dunia persilatan tanpa ilmu yang disandangnya, merupakan aib dan momok menakutkan bagi para pendekar. Wanita cantik itu melolong-lolong minta dibunuh daripada jadi orang cacat tanpa ilmu. Namun apa yang diucapkan Elang Berjubah Perak pantang ditarik kembali. Seluruh ilmu Ratu Sesat itu akhirnya dimusnahkan semua dan berubahlah ia menjadi orang biasa tanpa ilmu. Namun itu tidak memuaskan Ki Dirgatama, masih ditambahi dengan dipotongnya daun telinga kiri dan ruas tulang leher bagian belakang Ratu Sesat ditarik satu jengkal ke atas sehingga tubuhnya menjadi bongkok, sehingga mirip orang lanjut usia. Kecantikan yang dibangga-banggakan, luntur seiring dengan berjalannya waktu. Hinaan dan cercaan setiap orang diterimanya dengan hati penuh dendam. Hingga sampai di tempat tinggalnya, di pulau Nusa Kambangan. Ia melihat seluruh anak buahnya mati bergelimpangan di dalam sarangnya, tak satu pun yang masih bernapas sama sekali. Hatinya makin pedih dan membuatnya berteriak-teriak seperti orang gila, dendamnya pun semakin menjulang tinggi, kalau perlu sampai tembus ke langit! Ratu Sesat Tanpa Bayangan yang kini telah cacat dan berubah menjadi nenek tua renta, dendam setengah mati pada Elang Berjubah Perak dan terutama sekali pada Ki Dirgatama yang telah membuatnya cacat seumur hidup, menjadi manusia bongkok untuk selamanya. Dia bersumpah akan membalas sakit hatinya suatu saat nanti. Dendamnya sedalam lautan setinggi gunung dan memuncak sampai ke ubun-ubun. Nenek bongkok itu pun kembali menggembleng diri, meski dengan susah payah karena setiap melatih ilmunya yang sudah musnah, tulang punggungnya terasa nyeri sekali. Tanpa terasa, empat puluh tahun telah berlalu tanpa terasa. Ilmu sakti yang dulu musnah, kini dimilikinya kembali meski hanya separo saja. Namun itu sudah cukup menggegerkan dunia persilatan karena seluruh sepak terjangnya yang ngedap-edapi dilandasi dengan dendam membara. Dan ia kembali membentuk perkumpulan baru yang lebih jahat dari Serikat Ular Iblis, disebutnya sebagai Gerombolan Serigala Iblis. Kini, tokoh hitam pada masa puluhan tahun silam itu hadir di Padepokan Singa Lodaya. Pesona maut menebar kemana-mana, siap mengantar siapa saja menuju ke neraka. Matanya jelalatan mencari-cari sesuatu. Pandang mata liar itu bersirobok dengan dua orang yang tergeletak agak berjauhan letaknya. “Guru!” seru Cakar Iblis Taring Serigala, saat melihat perempuan tua itu adanya. “Murid goblok! Menghadapi singa ompong saja sudah keok! Cepat urus kedua saudaramu!” “Baik, Guru!” Cakar Iblis Taring Serigala segera beringsut ke arah Tangan Kilat Kaki Bayangan dan mengangkat lalu meletakkan di pundak kiri, seperti meletakkan seonggok karung beras. Setelah itu berjalan ke arah Serigala Hitam Bermata Tunggal dan dengan cara yang sama, tapi diletakkan ke pundak kanan. Kemudian laki-laki itu berjalan keluar, diikuti para anak buah yang kini tinggal beberapa puluh orang saja. “Ratu Sesat Tanpa Bayangan,” gumam Ki Ageng Singaranu, saat mengetahui siapa adanya nenek rambut putih riap-riapan itu. Orang pertama dari Padepokan Singa Lodaya itu beringsut maju ke depan, sedangkan Salindri dan Srinilam dibantu beberapa orang murid, menggotong tubuh Jalu Lampang atau yang berjuluk Singa Jantan Bertangan Lihai menyingkir dari situ. Meski sudah lolos dari maut, namun tenaga sakti laki-laki kekar itu sudah terkuras habis saat bertarung dengan Serigala Hitam Bermata Tunggal. Ki Ragil Kuniran yang sebelumnya terkena racun, kini sudah mempersiapkan diri di belakang Ki Ageng Singaranu. Kepala Desa Watu Belah itu berjaga-jaga jika Ratu Sesat Tanpa Bayangan tidak hanya datang sendirian, tapi membawa bala bantuan yang mungkin saat ini bersembunyi entah dimana. Matanya tajam mengitari sekitarnya. “Ratu Sesat ... aku tidak mengusik muridmu, tapi merekalah yang memulai terlebih dahulu. Aku dan murid-muridku hanya membela diri ... ” “Aaaahh ... sama saja! Siapa yang memulai, aku tidak peduli! Tua bangka macam kau ini memang harus dihajar agar tahu adat, bicara dengan orang yang lebih tua harus lebih sopan!” potong nenek berambut putih riap-riapan dengan cepat itu. “Nenek rambut putih, yang tidak sopan itu siapa? Kau atau ayahku? Berbicara dengan orang harus duduk sama rendah berdiri sama tinggi! Tidak seperti kau! Petantang-petenteng seperti orang gila!” bentak Ki Ragil Kuniran. “Bangsat kudisan! Siapa kau, hah ... ? Berani sekali menasehati aku!?! Memangnya aku ini siapamu? Aku ini apamu!?” balas bentak Ratu Sesat Tanpa Bayangan. Sambil berkata, tangan kanannya bergerak pelan melambai ke depan. Dalam pada itu, serangkum angin tanpa wujud melesat cepat ke arah Ki Ragil Kuniran. Ketajaman rasa Ki Ageng Singaranu merasakan datangnya desiran angin tajam yang mendekat cepat, lalu segera mengibaskan telapak tangan ke depan dengan cepat. Deb! Deb! Bluuub! Terdengar suara letupan saat dua serangan tanpa wujud bertemu di udara. Meski letupan itu tidak begitu keras, namun telinga semua yang ada di situ terasa seperti ditusuk-tusuk jarum, bahkan beberapa orang sampai berdiri tergontai-gontai menjaga keseimbangan tubuhnya. Ketua Padepokan Singa Lodaya hanya bergeser setengah tindak dari tempatnya berdiri. “Hi-hi-hi-hik ... tua bangka! Ternyata kau masih kedot juga. Coba terima seranganku berikut ini ... ” Selesai berkata, nenek itu memutar-mutar tongkat ular kobra di atas kepala, sehingga menimbulkan suara dengungan yang semakin lama semakin keras. Putaran tongkat itu mengakibatkan udara di sekitar tempat menjadi mampat dan terasa semakin panas, seperti adanya himpitan kekuatan raksasa. Beberapa saat kemudian, secara perlahan namun pasti, udara seolah-olah semakin menipis, membuat orang-orang yang sejarak delapan tombak dari tempat Ratu Sesat Tanpa Bayangan berdiri, kesulitan bernapas. Andai ilmu yang dimiliki nenek sakti itu setara empat puluh tahun silam, kemungkinan jarak jangkauan udara mampat dan panas bisa mencapai puluhan tombak jauhnya dan hawa panas yang ditebarkan bisa puluhan kali lebih panas. “Nilam, singkirkan suamimu dari sini! Salindri, suruh anak-anak mundur sejauh mungkin ... ” Ki Ageng Singaranu segera mempersiapkan diri mengetahui lawan langsung mengerahkan ilmu kesaktian tingkat tinggi. Ke dua belah tangannya terentang lurus ke kanan kiri tubuhnya. Kemudian diputar bersilangan satu sama lain, hingga membentuk semacam gerakan memutar bola di depan dada. Kedua belah tangan itu saling berkutatan seakan-akan sedang memutar-mutar sesuatu. hawa tenaga dalam bernuansa dingin membeku tercipta bersamaan dengan munculnya cahaya putih kebiru-biruan membentuk gumpalan bola padat yang semakin lama semakin membesar. hawa panas pun saling tindih dengan hawa dingin. Gumpalan bola itu ditarik ke samping ke kanan, lalu dengan diiringi hentakan kaki kiri serta teriakan membahana, si Dewa Singa Tangan Maut melontarkan gumpalan bola putih kebiru-biruan itu ke arah nenek yang sedang memutar-mutar tongkat ular kobra. Weeeshh! Weeeshh ... ! “Jurus ‘Salju Menggulung Badai’!” seru nenek iblis itu. Nenek sakti yang berjuluk Ratu Sesat Tanpa Bayangan sangat mengenali jurus yang dikeluarkan oleh lawan. Karena jurus ‘Salju Menggulung Badai’ adalah salah satu jurus andalan Ki Dirgatama, musuh besarnya. Dengan ilmu itu pulalah, seluruh anggota Serikat Ular Iblis tewas mengenaskan dengan tubuh beku terbungkus serbuk-serbuk putih akibat lontaran jurus ‘Salju Menggulung Badai’-nya Singa Putih Berhati Iblis. Kini, jurus itu kembali digelar di hadapannya, kali ini oleh salah satu murid si Singa Putih Berhati Iblis. Ratu Sesat Tanpa Bayangan semakin gencar meningkatkan tenaga dalamnya. Saat gumpalan putih kebiru-biruan itu semakin mendekat, tongkat ular kobra itu segera memutar dengan cepat, mengerahkan jurus ‘Ular Kobra Menyergap Mangsa’, salah satu bagian dari ‘Tongkat Selaksa Maut Selaksa Siksa’! Crett!! Cratt!! Dari kepala tongkat, keluar cahaya merah berkelok-kelok seperti ular merayap memapaki serangan Ki Ageng Singaranu. Breesshh! Bushh ... ! Terdengar suara letupan seperti bertemunya air dan api. Masing-masing pihak merasakan betapa dahsyatnya serangan lawan. Sengatan hawa panas dan dingin saling menerpa satu sama lain. Ki Ageng Singaranu merasakan hawa panas menyengat di sekujur tubuh hingga dari luar tampak merah membara, sedangkan Ratu Sesat Tanpa Bayangan dikungkung hawa sedingin salju hingga di sekujur tubuhnya tampak tertutup serbuk-serbuk putih. “Heeeaaaa ... ” Ki Ageng Singaranu yang tidak ingin mati terpanggang, segera mengalirkan kembali tenaga dalam yang didasarkan pada jurus ‘Salju Menggulung Badai’ untuk mengenyahkan rasa panas yang seperti membakar tubuh. Kepulan asap putih tampak keluar dari atas kepalanya, kemudian lenyap diterpa angin. Beberapa saat kemudian, tubuh laki-laki renta berpakaian abu-abu itu sudah kembali seperti sedia kala. Dalam pada itu, nenek bongkok yang masih bertengger di atas pintu gerbang, melakukan hal yang sama, karen tidak ingin mati membeku seperti ratusan anak buahnya puluhan tahun yang silam, segera mengerahkan hawa ‘Ilmu Sakti Api Iblis Membara’ untuk mengenyahkan hawa membeku yang membungkus tubuh. “Kurang ajar! Bangsat busuk! Murid dan guru sama saja!” umpat Ratu Sesat Tanpa Bayangan, “ ... Singaranu! Hari ini kau beruntung, karena aku sedang malas mencabut nyawa busukmu! Suatu saat nanti, kau harus menerima pembalasan dariku atas perlakuanmu terhadap dua orang muridku, hi-hi-hi-hik ... ” Setelah tertawa terkekeh-kekeh, Ratu Sesat segera balik badan dan ngeblas ke arah utara, diiringi suara tawa menyeramkan. Blasss! Tubuh renta itu berkelebat cepat, secepat gerakan burung srikatan. “Setan alas, jurus itu ternyata masih hebat juga, meski tidak sehebat puluhan tahun yang lalu. Singa Putih Berhati Iblis benar-benar keparat, rupanya dia sudah bisa memperkirakan bahwa kelak aku akan menuntut balas atas perbuatannya padaku, hingga menurunkan ilmu setan itu pada muridnya. Uhhh, bagian dalam tubuhku terasa diselimuti hawa dingin membeku. Jika tidak segera kuenyahkan, mungkin nyawaku akan segera merat ke akhirat! Singaranu keparat, tunggu pembalasanku,” batin Ratu Sesat sambil tangan kiri yang dialiri hawa ‘Ilmu Sakti Api Iblis Membara’ menekan dada agar hawa dingin itu tidak menjalar ke mana-mana. Rupanya, akibat dari pukulan berhawa sedingin salju dari jurus ‘Salju Menggulung Badai’ masih bersarang di dalam tubuh nenek sakti dari Nusa Kambangan itu. Dalam pertarungan sesaat adu ilmu dengan ketua Padepokan Singa Lodaya tadi, nenek itu mengalami luka dalam yang cukup membahayakan jiwanya. Melihat ketua mereka kabur, seluruh anggota Gerombolan Serigala Iblis pun langsung angkat kaki dari situ. Mereka lari salang tunjang, menabrak-nabrak pepohonan yang ada di sekitar padepokan. Galang Seta dan Pulanggeni berniat mengejar, namun sebentuk suara berwibawa mencegah langkah mereka. “Jangan dikejar, biarkan mereka pergi!” “Tapi, Guru ... ” “Tenaga kalian masih dibutuhkan disini! Bantu teman-teman kalian yang terluka!” potong laki-laki tua itu. “Baik, Guru!” sahut Galang Seta dan Pulanggeni bersamaan. Ki Ageng Singaranu hanya menganggukkan kepala. Bersamaan dengan anggukan kepala itu, dari sudut bibir kakek renta itu meneteskan darah kental kehitam-hitaman, lalu tubuh itu limbung ke kiri dan ambruk ke tanah. Brughh! “Guru!” Galang Seta dan Pulanggeni yang baru akan beranjak dari tempat itu, membatalkan langkah dan dengan sigap menolong sang guru, sedang Ki Ragil Kuniran dengan cermat segera mengurut bagian simpul-simpul syaraf tertentu di dada dan punggung dan menotoknya, lalu mendudukkannya dalam posisi bersila. “Ayah ... Ayah terluka? Parahkah?” “Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan diriku. Cepat kalian bantu teman-teman kalian. Biar Ragil saja yang membantuku disini ... ” ucap Ki Ageng Singaranu dengan lirih. Dua murid utama Padepokan Singa Lodaya itu saling pandang. Lalu sorot pandang mata mereka mengarah ke arah Ki Ragil Kuniran, seakan meminta persetujuan. Kepala Desa Watu Belah itu menganggukkan kepala mengiyakan. “Baiklah, Guru! Kakang Ragil, jika butuh bantuan, panggil saja kami berdua.” “Tentu, jangan khawatir,” jawab Ki Ragil Kuniran. Dua bersaudara seperguruan itu segera beranjak dari situ. Mereka segera bergabung dengan teman-temannya yang sedang mengobati luka-luka akibat serbuan Gerombolan Serigala Iblis. “Ragil, papah aku ke pendapa. Aku ingin mengobati lukaku di sana.” “Baik, Ayah.” Di sisi kanan padepokan yang rindang, Gineng dan Paksi sibuk hilir mudik membantu murid-murid padepokan yang terluka, ada yang patah tulang, namun ada juga yang hanya tergores parang atau pedang lawan. Dalam serbuan mendadak ini, tidak ada murid yang tewas. Paksi Jaladara mondar mandir membawa tempayan berisi ramu-ramuan obat yang dibuat ibunya dan juga Srinilam. Bocah berikat kepala merah itu dengan enteng menggotong tempayan yang lumayan besar. Untuk bocah sepantarannya, membawa tempayan sepelukan orang dewasa merupakan pekerjaan yang berat. Tapi bagi Paksi, membawa tempayan itu seperti orang mengangkat kendil tanah liat saja. Sementara si Perak juga tidak mau tinggal diam. Melihat tuan mudanya ikut menyingsingkan lengan baju, entah dari mana datangnya, elang putih keperakan itu terbang rendah dan kedua kaki kiri kanan mencengkeram beberapa benda bulat, lalu menjatuhkan ke dalam tempayan obat yang dibawa kemana-mana oleh Paksi. Plunng! Paksi melongokkan kepalanya sebentar ke dalam tempayan, lalu bibir mungil itu menyunggingkan senyuman. “Terima kasih, Perak! Ambil dari tempat kakek tabib, ya?” Krakk! Krreekk! “Oh, begitu!” kata Paksi, setelah mendengar ‘penjelasan’ dari sahabatnya. Tidak ada yang memperhatikan percakapan ‘aneh’ antara bocah berikat kepala merah itu dengan elangnya karena semua sibuk mengobati luka-luka, kecuali mata seorang pemuda tanggung berbaju buntung warna coklat, yaitu Gineng! “Apa yang dimasukkan elang itu ke dalam tempayan obat? Sepertinya bulatan berwarna putih bercahaya. Anak itu selalu saja diliputi keanehan. Hmmm, lebih baik aku tanya saja padanya,” bathin Gineng, seraya beranjak mendekati Paksi. Dalam pada itu, Singa Jantan Bertangan Lihai siuman dari pingsannya. Seluruh tubuh dan sendi-sendi tulang masih terasa nyeri dan kaku. Tatapan matanya sedikit buram, karena rasa pusing yang mendera akibat banyak darah yang keluar dari dalam tubuh. Luka biru lebam kehitaman akibat terkena serangan ‘Tinju Serigala Meraung’ masih terlihat jelas di dada Singa Jantan Bertangan Lihai. Luka itulah yang membuat seluruh jalan darah di sekujur tubuhnya berserabutan tak tentu arah, bahkan ada sebentuk tenaga liar yang berusaha keluar dengan bebas dari dalam tubuh Singa Jantan Bertangan Lihai. “Hoekkh ... ” Kembali darah kental kehitaman tersembur keluar. Srinilam segera menghambur ke arah sang suami. Dipeluknya laki-laki yang kini menjadi belahan jiwa dengan segenap perasaan. “Kakang Jalu, bagaimana lukamu? Sakitkah?” “Uhh, seluruh tubuhku rasanya tidak karuan, Nyi. Jalan darahku seperti berbalik. tenaga dalamku rasanya berdesak-desakan ini ingin tumpah keluar. Sesak sekali. Uhhh ... !” keluh Jalu Lampang. Mukanya mengkernyit menahan sakit yang kembali mendera. Srinilam kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong suaminya. Yang bisa dilakukan hanya memeluk tubuh kekar itu sambil menahan tangis yang menggumpal di dada. Air mata akhirnya tumpah ruah membasahi dada kekar yang terbaring tak berdaya. Jalu Lampang atau si Singa Jantan Bertangan Lihai ingin sekali menyentuh istrinya, tapi tangan itu tak mau bergerak sedikit, yang tinggal hanyalah rasa gamang dan keinginan yang menggumpal di dalam hati. Sebentuk tangan kecil menyentuh pundak wanita itu yang langsung menoleh dan melihat seraut wajah bocah tampan berikat kepala merah. Bocah yang kesana-kemari membawa tempayan obat itu hanya tersenyum kecil, “Bibi Nilam ... ” Wanita itu menyusut air mata yang meleleh di kanan kiri pipinya. Mata sembab memerah karena tangis, “Ada apa, Paksi?” Paksi trenyuh sekali melihat keadaan sang paman. “Bibi Nilam, jangan khawatir, Paman Jalu pasti sembuh,” hibur bocah itu. Srinilam hanya tersenyum getir, “Ya, semoga saja pamanmu lekas sembuh. Doakan ya, Nak.” Paksi menganggukkan kepala, lalu tangan kanan merogoh ke dalam tempayan, dan mengambil sebuah benda bulat sebesar kelereng yang memendarkan cahaya putih. Bentuknya hampir mirip buah kelengkeng tapi bukan buah kelengkeng pada umumnya yang sering dijumpai atau dijual di pasar-pasar, jika sedikit ditekan akan mengeluarkan cairan berbau harum semerbak menyegarkan dan cairan itu terasa lengket seperti gula aren, tapi sedikit lebih kental. Ditimang-timangnya sebentar benda bulat itu, lalu diangsurkan ke arah Srinilam, sambil berkata, “Bibi Nilam, tolong bibi berikan pada Paman Jalu.” “Apa ini?” tanya Srinilam, sembari menerimanya dari tangan Paksi. Paksi hanya tersenyum kecil. Matanya berkedip-kedip lucu, “Pokoknya berikan saja pada Paman Jalu, nanti bibi akan tahu sendiri. Sudah dulu Bi, saya mau membantu paman-paman yang lain.” “Baiklah, terima kasih, Paksi.” “Sama-sama.” Lalu Paksi Jaladara pergi ke tempat dimana para murid Padepokan Singa Lodaya sedang dirawat. Kali ini yang diberikan Paksi adalah air obat rendaman dari benda bulat putih, yang lagi-lagi digunakan oleh bocah berikat kepala merah itu. Karena yang memberikan obat adalah cucu guru mereka, tidak ada yang bertanya atau pun memprotes tindakan Paksi yang menurut mereka aneh, karena yakin tidak mungkin seorang bocah kecil, apalagi cucu dari guru mereka berniat mencelakai orang yang sedang terluka. Bahkan mereka berterima kasih karena bocah itu dengan sukarela membantu kerepotan mereka, tidak manja atau rewel seperti bocah pada umumnya. Paksi kemudian menuju ke tempat dimana ayah dan kakeknya juga sedang menyembuhkan diri karena luka masing-masing. Setelah memberikan benda bulat putih kepada ayah dan kakeknya, benda bulat yang sama dengan yang diberikan pada Srinilam untuk mengobati Jalu Lampang, bukan hasil rendaman dari benda bulat putih itu. Entah apa maksudnya, hanya Paksi Jaladara yang tahu! Beberapa saat kemudian, luka-luka yang diderita, baik luka dalam maupun luka ringan sembuh dan hilang tanpa meninggal bekas sama sekali. Bahkan tubuh terasa lebih segar dari sebelumnya. Bahkan rasa lelah akibat perkelahian dengan anak buah Gerombolan Serigala Iblis juga ikut lenyap. Termasuk tenaga dalam juga dirasakan semakin lancar mengalir dan terasa semakin besar dari sebelumnya. “Galang Seta, kau merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Pulanggeni, pada kawannya. “Aneh ... ? Aneh bagaimana maksudmu?” “Apa kau tidak merasa aneh pada dirimu? Pada lukamu? Coba teliti seluruh tubuhmu,” tanya Pulanggeni lagi. Galang Seta memeriksa seluruh tubuhnya. Dilihatnya luka memar akibat serangan lawan yang semula bengkak biru lebam, kini hilang tak berbekas, seolah tidak pernah mengalami luka sebelumnya. Bahkan saat disentuh, tidak terasa nyeri atau pun pedih. “Betul kawan! Seluruh luka di badan kulenyap tak berbekas. Bahkan rasa sakitnya juga hilang sama sekali. Aneh sekali.” “Coba alirkan tenaga dalammu.” Galang Seta cepat tanggap, lalu disalurkannya hawa tenaga dalam ke arah tangan kiri dan tangan kanan, sehingga terasa aliran energi menjalar cepat ke arah tangan terus berkumpul di telapak tangan. Semua tidak ada masalah, tidak ada hambatan pada umumnya orang yang sedang terluka dalam, mengalir dengan lancar, malah lebih lancar dari sebelumnya. “Aliran tenaga dalamku juga tidak terhambat, bahkan ... terasa lebih lancar dari biasanya.” “Aku merasakan hal yang sama seperti dirimu. Entah apa yang diberikan cucu guru kepada kita. Semua kawan-kawan juga mengalami hal yang sama, tidak berbeda jauh dengan kita.” Setelah semua pulih kembali seperti sediakala, Galang Seta dan Pulanggeni beserta murid-murid yang lain berkumpul di pendapa padepokan sisi kiri, karena pendapa utama sudah hancur akibat terjadinya pertarungan malam itu. Galang Seta melihat bahwa semua yang terluka telah pulih kembali, baik yang terluka dalam mau pun luka luar. Pemuda murid utama Padepokan Singa Lodaya itu memberikan instruksi untuk sebagian murid untuk menguburkan mayat-mayat di pemakaman belakang padepokan. Setelah selesai memakamkan mayat-mayat itu, seluruh murid diminta untuk kembali ke barak masing-masing, tapi besoknya diminta berkumpul kembali di pendapa sisi kiri. Dengan patuh mereka segera membubarkan diri, ada yang langsung menuju ke barak, ada yang langsung rebahan beralaskan rumput tebal, dan ada pula yang langsung menuju pancuran sekedar untuk mencuci muka. Pembicaraan pun tak jauh-jauh dari pertempuran yang baru saja mereka alami. Bahkan murid-murid yang mendapat tugas untuk menguburkan mayat-mayat anggota Gerombolan Serigala Iblis, saat kembali juga ikut nimbrung dengan kawan-kawannya. Malam hari berikutnya ... Jalu Lampang telah sehat kembali, sembuh total dari luka dalam yang nyaris merenggut nyawanya, seluruh luka hilang lenyap tak berbekas. Ki Ageng Singaranu yang juga terluka akibat terkena hempasan jurus ‘Ular Kobra Menyergap Mangsa’ yang mengandung ‘Ilmu Sakti Api Iblis Membara’ juga telah sehat wal afiat. Benda bulat berpendar cahaya putih pemberian Paksi Jaladara-lah yang membantu menetralisir hawa panas menyengat dalam tubuh bahkan membantu meningkatkan hawa sakti yang dimilikinya. Semua anggota keluarga Ketua Padepokan Singa Lodaya berkumpul di ruang tengah. Mereka semua duduk melingkari sebuah meja berbentuk bundar dari kayu jati alas dan diatasnya tersedia beberapa jenis sayur lengkap dengan buah-buahan. Dari kiri ke kanan duduk berturut Ki Ageng Singaranu, Jalu Lampang duduk bersebelahan dengan Srinilam, Salindri dengan Ki Ragil Kuniran duduk berdekatan sedangkan Paksi Jaladara duduk bersebelahan dengan kakeknya sambil asyik menggerogoti apel merah yang ada di hadapannya. Si Perak, burung elang kesayangan Paksi, pergi entah kemana, hanya majikan mudanya saja yang tahu kemana burung elang itu pergi. Sementara Gineng malah asyik ngobrol kesana kemari dengan Galang Seta dan Pulanggeni. Terdengar derai tawa riuh rendah mereka di pintu gerbang sebelah selatan. Gerbang itu masih terbengkalai rusak karena pertarungan waktu itu. Hanya sebuah kursi panjang dan sebuah meja berukuran kecil dengan kaki yang sedikit somplak terkena ayunan pedang, namun masih cukup kokoh di tempati beberapa piring pisang goreng lengkap dengan kopi gula aren serta sedikit jahe merah hangat. Di ruang tengah, mereka masih asyik membicarakan pertempuran kemarin malam. Pembicaraan hangat mengalir bagai air, tanpa sela dan tanpa hambatan. “Tapi Ayah, apa Ayah tahu benda bulat putih sebesar kelereng yang diberikan pada Paksi padaku?” tanya Jalu Lampang, beberapa saat kemudian. Ki Ageng Singaranu yang ditanya menggelengkan kepala, “Heh, aku tidak tahu! Baru pertama kali aku melihatnya. Dari sekian jenis ramuan obat yang pernah kutemui, belum pernah kujumpai obat semanjur itu daya kerjanya. Mungkin itu buah langka yang hanya berada di tempat-tempat tertentu di tanah Jawa ini. Aku yakin Paksi tidak mencari sendirinya. Bisa jadi ada orang sakti yang memberikan pada Paksi.” “Jika memang ada orang sakti atau setidaknya tokoh rimba persilatan, menurut Ayah ... siapakah kiranya yang bisa atau memiliki benda mujarab itu?” tanya Srinilam. “Entahlah ... cuma satu orang yang tahu!” jawab Ki Ageng Singaranu, diplomatis. “Siapa, Ayah?” “Dia!” Kakek berbaju abu-abu itu mengarahkan jari telunjuk ke satu arah, yaitu ke arah ... Paksi Jaladara! Ki Ragil Kuniran segera menggeser duduknya ke arah Paksi. Dielusnya kepala bocah berikat kepala merah dengan lembut. “Paksi, boleh Ayah bertanya?” “Ayah ingin bertanya apa pada Paksi?” “Darimana Paksi mendapatkan benda itu?” “Benda apa, Ayah? Apa yang Paksi berikan pada ayah dan kakek waktu itu?” “Betul, yang Paksi berikan waktu itu. Paksi dapat darimana?” tanya Ki Ragil Kuniran. Bocah yang didahinya terdapat rajah kepala elang dan tertutup ikat kepala merah itu diam sejenak. Matanya yang tajam mengawasi semua yang ada disitu, seakan untuk meyakinkan diri apakah harus memberitahu darimana benda itu berasal. Ki Ageng Singaranu berdesir saat beradu pandang dengan cucunya itu. Jantungnya pun berdegup kencang. “Tatapan mata anak itu seperti mengandung tenaga gaib. Heran, dari mana bocah sekecil ini bisa memiliki kekuatan sehebat ini. Pasti ada apa-apanya dengan cucuku ini,” kata hati laki-laki tua itu. “Kakek tabib yang memberikannya, ayah,” jawab Paksi dengan tenang. “Kakek tabib? Kakek tabib yang mana? Apa bukan Nyi Cendani, Paksi?” tanya Salindri yang sejak tadi hanya diam. “Bukan, Bunda. Bukan dari Nenek Cendani, malah Paksi memberikan sebutir padanya untuk campuran obat. Paksi cuma dipesan oleh kakek tabib, kalau buah itu hanya boleh diberikan pada orang baik dan juga berilmu tinggi. Kalau cuma orang berilmu biasa hanya boleh diberikan rendaman buahnya saja. Itu pesan kakek tabib pada saya,” sahut Paksi panjang lebar. “Kalau Paman Jalu boleh tahu, siapa nama kakek tabib itu?” Paksi hanya menggeleng-gelengkan kepala, “Paksi tidak tahu Paman, hanya Paksi sering memanggil kakek tabib saja.” “Darimana Paksi tahu, kalau kakek itu seorang tabib?” tanya ayahnya, Ki Ragil Kuniran. “Sebab kakek kemana-mana selalu membawa keranjang ramuan obat, Ayah.” “Lalu, apa Paksi tahu nama obat yang diberikan pada bibi tempo hari?” tanya Srinilam sambil tersenyum manis. “Eng ... anu ... ee ... namanya ... anu ... ” Ki Ageng Singaranu segera mengangkat cucunya dan di pondong di depan dada. “Coba katakan pada kakek, apa nama obat itu? Sebab kakek mau berterima kasih pada kakek tabib karena sekarang kakek sudah sembuh berkat obat pemberian kakek tabib?” tanya Ki Ageng Singaranu, membujuk Paksi Jaladara yang kini berada di pondongannya. Bocah itu hanya diam saja, seakan-akan ada sesuatu yang membebaninya. Keraguan itu dilihat dengan jelas dilihat oleh Ki Ragil Kuniran, Jalu Lampang dan Ki Ageng Singaranu. Sebagai seorang pendekar waskita, Ketua Padepokan Singa Lodaya tahu arti keraguan cucunya. Laki-laki tua bijaksana itu hanya tersenyum. “Anu ... kek ... eeee ... itu namanya ... emm ... ” “Buah Dewa Selaksa Embun Selaksa Luka ... ” Sebuah suara berwibawa menggema di seluruh ruangan, diikuti dengan melesatnya sesosok bayangan putih keperakan masuk ke dalam ruangan tengah. Setelah berputaran beberapa kali diiringi suara pekik nyaring, lalu sosok itu hinggap diatas langkan. Aawwwkk! Kraaggghh!! Bersamaan dengan itu, dari arah pintu melangkah masuk seorang kakek berjubah hijau muda dengan sebatang tongkat panjang dari akar kayu cendana di tangan kiri. Di punggung tersampir sekeranjang daun-daunan obat yang menguarkan bau semriwing menyegarkan. Seulas senyum ramah terpampang di bibir. Melihat kedatangan kakek itu, Paksi segera merosot dari pondongan kakeknya dan berlari-lari kecil menyambut kakek berjubah hijau itu. Bocah itu segera meraih tangan kanan kakek itu dan menciumnya dengan takzim. Sebuah penghormatan yang luar biasa dari seorang bocah yang belum genap berumur enam tahun. “Kakek tabib, tadi kakekku ingin bertemu dengan kakek ... ” “Oh, ya? Wah ... suatu kehormatan besar bagi kakek tabib kalau begitu ... ” ucap orang tua yang dipanggil kakek tabib dengan lembut. “Mari kek, saya antar ... ” Paksi meraih tangan kanan kakek itu, setengah menyeret ke arah Ki Ageng Singaranu berada. Ki Ageng Singaranu yang tidak mengetahui kedatangan kakek berjubah hijau itu ke tempat kediamannya, merasa yakin bahwa laki-laki berjubah hijau yang usianya mungkin sepantaran dengan bukanlah tokoh biasa, setidaknya tokoh persilatan yang memiliki nama besar. Langkah kakek berjenggot putih dan mengenakan jubah hijau itu begitu ringan seolah-olah mengambang tidak menyentuh lantai, bahkan suara langkah kaki pun tidak terdengar sama sekali. Ki Ragil Kuniran dan Jalu Lampang segera saja berdiri, untuk menyambut kedatangan orang yang dipanggil sebagai kakek tabib oleh Paksi Jaladara. Kepala Desa Watu Belah itu mengkernyitkan dahi dan berkata dalam hati, “Rasa-rasanya aku pernah melihat kakek berjubah hijau ini di desa Watu Belah, tapi kapan, ya?” “Mohon dimaafkan kelakuan cucu saya yang kurang sopan pada Kisanak.” “Justru saya yang harus meminta maaf karena sudah datang ke padepokan ini tanpa diundang,” sahut laki-laki tua berjubah hijau, “ ... dan sudah mengganggu ketenangan saudara-saudara sekalian. Sekali lagi maafkan saya.” “Tidak apa-apa, kami malah senang mendapat kunjungan istimewa ini, silahkan duduk, Kisanak.” “Terima kasih.” Ki Ageng Singaranu menyambut uluran tangan si jubah hijau, kemudian berturut-turut Ki Ragil Kuniran dan Jalu Lampang, sedangkan Paksi Jaladara masih menempel di sisi kanan kakek tabib itu. Akan halnya Salindri dan Srinilam, segera beringsut masuk ke dalam. “Jika diperkenankan, sudilah kiranya saya bisa mengetahui siapa nama dan gelar kakek di rimba persilatan, karena saya yakin kakek pasti memiliki nama besar,” tanya si Singa Jantan Bertangan Lihai, karena sedari tadi berusaha memeras otaknya, namun apa yang dicarinya tidak ketemu. “Orang-orang sering memanggil saya Jati Kluwih, dan tempat tinggal saya jauh di timur pulau Jawa ini, di sekitar Blambangan,” jawab kakek itu memperkenalkan diri bernama Jati Kluwih. “Jati Kluwih ... ” bathin Ki Ragil Kuniran, seraya mengelus-elus dagu, “Betul, waktu itu, saat Paksi berumur hampir satu tahun, kakek itu datang ke rumah dan meminta sedikit bekal untuk perjalanannya. I ya ... kenapa aku bisa lupa, ya?” Jalu Lampang yang manggut-manggut itu tanpa sengaja melihat tangan kiri kakek berjubah hijau itu dan langsung tersentak kaget, “Jadi ... kakek adalah Ki Gedhe Jati Kluwih, yang bergelar Tabib Sakti Berjari Sebelas dari Pulau Kayangan itu?” “Ha-ha-ha-ha, nama buruk begitu jangan dibesar-besarkan, aku kok jadi malu padamu, anak muda! Mana sanggup nama burukku menyaingi nama besarmu, si Singa Jantan Bertangan Lihai,” seloroh Ki Gedhe Jati Kluwih. “Ha-ha-ha-ha ... ” Jalu Lampang tertawa lebar. Sebagai sesama pesilat golongan lurus, berjumpa dengan orang yang lebih tua adalah suatu kehormatan yang tidak ternilai, apalagi bisa berada dalam satu meja dan satu ruangan pula. Kemudian tanpa diminta terlebih dahulu, Ki Gedhe Jati Kluwih menceritakan tentang ‘Buah Dewa Selaksa Embun Selaksa Luka’ yang diberikan kepada Paksi. Tabib Sakti Berjari Sebelas menceritakan panjang lebar segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Tanpa tedeng aling-aling, tidak ada yang disembunyikan atau pun ditambah, apalagi dikurangi. Dan memang, Ki Gedhe Jati Kluwih pernah singgah di desa Watu Belah, sesuai dengan dugaan Ki Ragil Kuniran. Namun, sebenarnya kedatangan laki-laki tua itu memiliki maksud lain, yaitu mengemban tugas dari tokoh persilatan golongan putih yang tersohor dengan budi pekertinya, untuk mencari penerus atau pewaris dari segala ilmu yang dimilikinya. Juga pewaris pembasmi keangkaramurkaan di rimba persilatan yang kini kembali merajalela. Bocah berikat kepala merah itu mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh kakek berjubah itu. Kepalanya sebentar-bentar mengangguk-angguk membenarkan ucapan Tabib Sakti Berjari Sebelas dari Pulau Kayangan. “Rupanya Paksi memang sangat mengenal siapa adanya tokoh tua ini. Beruntunglah anakku, andaikata Tabib Sakti Berjari Sebelas bersedia mengangkatnya menjadi murid,” kata hati Nyi Salindri, setelah meletakkan minuman jahe hangat dan kini duduk di samping suaminya. “Ooo ... begitu rupanya ... “ sahut Ki Ageng Singaranu, sambil mengelus-elus jenggot kelabunya. “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Ki Ragil Kuniran karena apa yang saya lakukan tanpa sepengetahuan Ki Ragil sebagai orang tua dari Nakmas Paksi. Saya memang sudah berpesan kepada Nakmas Paksi agar merahasiakan semua yang dia ketahui tentang diri saya, termasuk juga ramuan obat ‘Buah Dewa Selaksa Embun Selaksa Luka’ pun juga harus dirahasiakan keberadaannya,” urai Tabib Sakti Berjari Sebelas panjang lebar. “Jika boleh saya tahu, keperluan apa yang membuat Ki Gedhe sampai jauh-jauh keluar dari Pulau Kayangan datang ke gubuk saya yang reyot ini? Itu pun jika Ki Gedhe berkenan,” ucap Ki Ageng Singaranu, dengan nada bersahabat. “Baiklah! Sebenarnya kedatangan saya menemui Ki Ageng Singaranu adalah dengan mengemban amanat dari mendiang guru, yaitu Malaikat Sepuh Pulau Kayangan ... ” “Malaikat Sepuh Pulau Kayangan?” potong Jalu Lampang. “Benar, Nakmas Jalu. Beliau berpesan agar saya bisa mencari dan menemukan murid kinasih dari pendekar aliran lurus yang bergelar si Singa Putih Berhati Iblis. Saya sudah mencari ke seantero Jawadwipa, dan pada akhirnya saya bisa menemukan siapa adanya murid dari sahabat guru saya itu, yang ternyata adalah anda sendiri, Ki Ageng Singaranu,” terang Ki Gedhe Jati Kluwih, lalu sambungnya, “ ... dan karena amanat yang saya pegang ini berhubungan erat dengan rimba persilatan, mohon sudilah kiranya Ki Ageng Singaranu berkenan menerima amanat dari guru saya.” Ki Ageng Singaranu terhenyak dari duduknya, “Amanat apa yang harus saya terima, Ki Gedhe?” Ki Gedhe Jati Kluwih mengambil sesuatu dari balik jubah hijaunya, lalu mengangsurkan benda yang terbungkus dari kain kuning yang sudah lusuh kepada ketua Padepokan Singa Lodaya, Ki Ageng Singaranu. Kakek berambut abu-abu itu menerima bungkusan itu dengan hati bertanya-tanya, sebab hari ini sudah dua kejadian yang membuat dirinya terancam maut. Pertama adalah bencana yang dibawa oleh Ratu Sesat Tanpa Bayangan yang menuntut benda pusaka peninggalan Ketua Istana Elang yang entah apa bentuknya dan sekarang datang Ki Gedhe Jati Kluwih yang mendapat amanat dari Malaikat Sepuh Pulau Kayangan untuk menyampaikan sesuatu, yang kini berada didalam genggamannya. Dengan hati-hati dibukanya bungkusan itu. Hanya terdapat potongan kulit kambing dengan sederet tulisan yang cukup rapi diatasnya. Kakek itu membolak-balikkan kulit kambing itu, mencari-cari sesuatu yang mungkin masih tertinggal. Bahkan kain pembungkus itu pun tidak luput dari pencarian. Seolah kurang yakin, dia bertanya, “Hanya ini?” Ki Gedhe Jati Kluwih hanya menganggukan kepala. “Apakah aku boleh membacanya?” “Silahkan, Ki. Itu sudah menjadi hak Ki Ageng Singaranu sepenuhnya, aku pun juga tidak tahu isi dari bungkusan itu meski aku membawanya selama puluhan tahun. Jika diperkenankan aku pun ingin mengetahui apa isinya.” jawab kakek berjubah itu. Mata tua itu menatap semua yang hadir disitu, yang dikuti dengan anggukan mengiyakan. Laki-laki itu membaca dengan lirih, “Carilah pewaris tunggal Istana Elang dan berikan hak milik yang seharusnya dia terima.” Semua mendengarkan dengan kening berkernyit, tak terkecuali Ki Ragil Kuniran dan istrinya. “Lagi-lagi Istana Elang! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua yang datang ke sini selalu berhubungan dengan Istana Elang yang tidak kuketahui arah juntrungannya. Baru saja nenek kapiran itu datang kemari dan mbarang amuk di tempat ini. Ah ... pusing aku ... ” keluh Ki Ageng Singaranu sambil terhenyak di tempat duduk, “ ... dan siapa sebenarnya Si Pewaris itu? Apa yang harus kuserahkan, jika yang harus kuserahkan pun tidak aku ketahui bentuk dan asal usulnya? Apa aku harus berkelana seperti halnya dirimu, Ki Gedhe? Kesana kemari hanya untuk mencari satu orang yang tidak kuketahui?” Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan masalah yang datang silih berganti. Ki Gedhe Jati Kluwih maklum dengan keadaan tuan rumah. Sebagai orang yang sudah banyak malang melintang di rimba persilatan, dia tahu betapa pelik dan rumitnya masalah yang dihadapi ketua Padepokan Singa Lodaya itu, suatu masalah yang tidak diketahui ujung pangkalnya, dan apalagi yang dihadapi juga menyangkut nasib orang banyak. Dengan senyum arif bijaksana, Tabib Sakti Berjari Sebelas dari Pulau Kayangan berkata, ”Ki Ageng Singaranu tidak perlu khawatir, sambil berkelana aku juga mencari sisik melik siapa adanya pewaris itu. Dan akhirnya aku berhasil menemukan siapa adanya pewaris yang kau maksud itu.” “Benarkah?” tanya Ki Ageng Singaranu seraya bangkit dari duduknya, tapi mendadak kakek itu merasa curiga, ”Tunggu ... tunggu dulu! Tadi Ki Gedhe mengatakan bahwa Ki Gedhe belum pernah sedikit pun membuka atau pun melihat isi bungkusan ini. Tapi Ki Gedhe mengatakan bahwa telah menemukan siapa adanya pewaris itu? Jangan-jangan ... ” “Guruku yang memberi tahu saya, Ki Ageng. Beliau mengatakan ciri-ciri dari pewaris Istana Elang tersebut padaku. Saat itu bersamaan dengan aku menerima amanat yang harus kuberikan pada murid kinasih si Singa Putih Berhati Iblis yaitu bungkusan kuning yang kini telah Ki Ageng terima. Jadi, Ki Ageng tidak perlu curiga bahwa saya telah mencuri lihat isi dari amanat itu.” Ki Ageng Singaranu alias Dewa Singa Tangan Maut manggut-manggut. Malu hati dia. Sakit kepala yang menderanya, tiba-tiba lenyap mendadak. Aneh bukan? “Oh ... kalau begitu maafkan saya, Ki Gedhe. Saya sudah berpikir yang bukan-bukan.” Tabib Sakti Berjari Sebelas hanya menganggukkan kepalanya saja pertanda maklum. “Lalu, siapa pewaris itu, Ki Gedhe?” tanya Jalu Lampang dengan rasa ingin tahu yang membuncah. “Ciri khusus yang dimiliki oleh pewaris pilihan dari Istana Elang adalah dia memiliki tanda-tanda tertentu yang dimulai sejak dalam kandungan, yang misalnya tidak lahir seperti orang pada umumnya. Mungkin bisa sepuluh bulan, sebelas bulan atau bahkan lebih. Kudengar, mendiang Ketua Istana Elang juga lahir pada waktu yang tidak semestinya, beliau lahir pada bulan ke tujuh belas. Ciri lain yang pasti dimiliki sejak lahir adalah salah satu anggota tubuhnya memiliki semacam rajah berbentuk kepala elang yang memendarkan cahaya perak dan bisa menguasai bahasa segala jenis binatang terutama satwa yang menguasai angin di seluruh muka bumi ini tanpa terkecuali ... ” Ki Gedhe Jati Kluwih menghentikan sejenak ucapannya. Matanya berkeliling memandang semua yang ada di situ dengan tatapan meneduhkan namun menyiratkan ketajaman hati nan bijak. Semua mendengarkan dengan antusias dan ingin tahu kelanjutannya. Namun tidak demikian dengan Ki Ragil Kuniran dan Nyi Salindri. Keterangan dari Tabib Sakti Berjari Sebelas tadi tanpa sadar telah membuat jantung mereka berdegup kencang. Rajah kepala elang, itulah yang membuat jantung pasangan suami-istri itu berdegup, karena tanda khusus itu dimiliki oleh anak mereka, Paksi Jaladara yang juga lahir pada bulan yang tidak semestinya. Bulan ke tiga belas! Kemudian, Ki Gedhe Jati Kluwih melanjutkan keterangannya, “ ... sedang ciri yang lain adalah setiap calon pewaris Istana Elang akan dijemput oleh utusan yang akan menyertainya kemana saja ia pergi. Utusan ini bisa menjelma dalam berbagai bentuk, bisa berwujud binatang, benda-benda pusaka dan lain sebagainya. Bahkan bisa menjelma menjadi dua bentuk yang berbeda. Karena wujud asli dari utusan itu adalah roh suci yang berasal dari Nirwana Ke Sembilan. Mendiang ketua Istana Elang generasi ke 30 memiliki roh utusan berwujud seekor naga kecil bersisik putih keperakan dan sebuah pusaka berbentuk cambuk lentur, yang dinamakan Cambuk Naga Rembulan Perak. Jadi, setiap generasi Istana Elang memiliki utusan dan senjata pusaka yang berbeda-beda atau bahkan bisa sama dengan generasi sebelumnya ...” tutur Ki Gedhe Jati Kluwih. “Istana Elang memang penuh misteri dan teka-teki yang sulit dijawab ... ” “Begitulah kehidupan, Nakmas Jalu, tidak bisa ditebak kemana dan dari mana dia berasal. Termasuk juga tiap generasi ketua Istana Elang, tidak tahu kapan dan bagaimana cara memilih calon pewaris. Hanya Hyang Bathara Agung yang tahu semua jawabnya,” kata kakek berjubah hijau dengan bijak. “Jadi yang diburu oleh tokoh-tokoh persilatan adalah senjata pusaka yang bernama Cambuk Naga Rembulan Perak dari Istana Elang itu, Ki Gedhe?” tanya Ki Ageng Singaranu. Ki Gedhe Jati Kluwih hanya menganggukkan kepala, “Betul Ki Ageng. Tapi tepatnya adalah Pusaka Rembulan Perak.” Hati kakek berbaju abu-abu itu terasa lega mendengar kilas balik dari perkumpulan aliran putih yang bernama Istana Elang yang pernah berjaya ratusan tahun silam, dan kini berusaha dibangkitkan kembali melalui seorang pewaris Tahta Angin yang keberadaannya entah tidak diketahui siapa adanya. Lengkap sudah tanda tanya di hatinya, mengapa Ratu Sesat Tanpa Bayangan memburu dirinya dan memperebutkan benda yang tidak diketahuinya dengan pasti. “Nah, Ki Gedhe, kepada siapa benda pusaka itu harus aku serahkan? Dan bagaimana cara mengetahui bahwa pusaka itu ada pada diri saya? Bisakah Ki Gedhe memberikan petunjuk pada saya?” Ki Gedhe Jati Kluwih hanya tersenyum bijak. Mata tua itu memandang tajam ke arah Paksi Jaladara. Ki Ragil Kuniran yang sudah menduga sebelumnya, tetap berdebar-debar juga. “Ki Ageng tidak perlu bersusah payah lagi, karena pewaris itu sudah ada disini. Dia berada diantara kita.” “Sudah ada disini? Siapa dia?” potong Ki Ageng Singaranu dengan cepat, “Apa salah satu dari murid-muridku?!” “Bukan Ki Ageng, tapi dia adalah cucumu sendiri, Paksi Jaladara itulah orangnya. Bocah itu ketiban pulung sebagai pewaris Ketua Istana Elang generasi ke 33.” “Hahh!?” Ki Ageng Singaranu atau yang bergelar Dewa Singa Tangan Maut terlonjak kaget. Tatapan matanya langsung beralih ke arah Paksi Jaladara. Bocah berikat kepala merah itu malah kebingungan dipandangi oleh kakeknya seperti itu. Tengok sana tengok sini, bahkan matanya ikut menjelajahi tubuhnya, seolah mencari sesuatu yang salah pada dirinya. “Ada apa, kek? Kok kakek melihat Paksi seperti itu? Ada yang salah pada diri Paksi, kek?” tanya bocah berikat kepala merah itu, sambil clingak-clinguk. “Ha-ha-ha-ha ... ” Ki Gedhe Jati Kluwih terlonjak kaget, saat mendengar tawa berderai keras. Bukan dari mulut Dewa Singa Tangan Maut, tapi dari Ki Ragil Kuniran! “Kini terjawab sudah! Rupanya apa yang kucari selama ini terjawab disini! Teka-teki telah terpecahkan! Tak perlu lagi kiranya aku mencari jawaban atas keanehan yang dimiliki Paksi! Terima kasih Ki Gedhe, terima kasih ... ! Aku sangat bahagia sekali mendengar keterangan dari Tabib Sakti Berjari Sebelas ungkapkan.” Mendung di hati pasangan suami-istri itu seperti langit tersapu angin, berganti menjadi langit cerah, secerah sinar matahari yang bersinar di pagi hari. Nyi Salindri pun tidak kuasa meneteskan air mata. Kebahagiaan yang dialami seiring dengan tawa penuh gembira itu. Dipeluknya bocah itu dengan hangat. Meski ia tahu, di pundak anaknya kini terdapat tanggung jawab yang besar pada dunia kependekaran untuk menegakkan keadilan dan menghancurkan kebatilan yang ada di muka bumi. Di saat semua orang sedang serius memandangnya, Paksi Jaladara malah merem melek dipeluk ibunya. Benar-benar bocah aneh! “Ki Ragil, jika kau berkenan, aku ingin mengajak Paksi untuk mengembara, sekalian mengajarinya untuk hidup mandiri ... ” “Terserah Ki Gedhe bagaimana baiknya, saya hanya manut saja, bukankah begitu Nyi?” tanya Ki Ragil Kuniran. Nyi Salindri menganggukkan kepala pertanda setuju, meski dalam hati kecilnya ada rasa tidak rela kehilangan anak semata wayangnya. Namun ibu muda itu sadar betul, bahwa kepergian anaknya bukan untuk bermain, tetapi kepergian yang menyandang tugas mulia. “Betul, Ki Gedhe! Saya titip anak saya agar Ki Gedhe bisa nggulowentah Paksi. Kira-kira kapan Ki Gedhe dan paksi akan berangkat?” “Dua hari dari sekarang,” jawab laki-laki tua berjubah hijau dari Pulau Kayangan itu. -o0o- Pagi itu ... Setelah matahari naik setinggi tombak, dua orang beda usia berangkat dari Padepokan Singa Lodaya, diiringi seluruh anak murid padepokan, Ki Ageng Singaranu dan juga orang tua si bocah yang kini harus berpisah dari ke dua orang tuanya. Nun jauh diatas, seekor elang berbulu perak sedang terbang melayang dengan ringan, membayangi perjalanan dua anak manusia itu. Pagi itu, Paksi Jaladara masih mengenakan baju biru tanpa lengan dengan celana pangsi setinggi lutut. Ikat kepala merah masih mengikat di tempatnya. Selain berfungsi untuk merapikan rambut, juga untuk menyembunyikan rajah kepala elang, sebagai bentuk anugerah dari Yang Kuasa sejak ia lahir dan juga sebagai tetenger bahwa dialah ahli waris tunggal dari Istana Elang. Sedangkan Pusaka Rembulan Perak juga telah berpindah tangan, setelah sekian lama berada di dalam genggaman kakeknya tanpa diketahui bentuk atau pun wujudnya. Atas saran Ki Gedhe Jati Kluwih, untuk sementara waktu Pusaka Rembulan Perak harus diamankan dahulu, agar tidak menjadi incaran para tokoh rimba persilatan, apalagi ilmu olah kanuragan dan jaya kawijayan yang dimiliki Paksi belum cukup untuk menjaga benda pusaka tersebut. Pusaka Rembulan Perak kini berada di dalam tubuh elang berbulu putih keperakan, yang saat ini sedang melayang-layang di angkasa. Akan halnya bentuk Pusaka Rembulan Perak adalah sebentuk benda bulat yang memancarkan cahaya putih terang yang tersimpan secara gaib dalam tubuh elang itu, sama halnya saat disimpankan ke dalam tubuh Ki Dirgatama kemudian diturunkan ke Ki Singaranu. Muka Paksi bersemu kemerah-merahan terkena sinar matahari. Langkah kecilnya terlihat ringan seakan tanpa beban. Sedangkan Ki Gedhe Jati Kluwih masih mengenakan jubah hijau dengan beban keranjang obat berada di punggung. Ketika hari menginjak siang, mereka berdua duduk beristirahat di bawah pohon mangga hutan yang cukup rindang. Pohon mangga itu sedang berbuah dengan lebat dan tampak ranum, sehingga menerbitkan selera makan Paksi. Bocah itu hanya termangu-mangu memandang ke atas. Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman, kakek berjubah hijau itu mahfum dengan keinginan seorang bocah. “Paksi ingin makan mangga?” “He’eh, tapi biar Paksi ambil sendiri saja. Apa kakek juga mau?” “Emm, boleh ... boleh juga ... “ Paksi kembali mendongak ke atas. Setelah mengatur napas lalu mengedarkan segenap kekuatannya ke seluruh tubuh, kedua kaki kecil itu menjejak tanah dengan mantap. Tapp! Wuttt! Tubuh kecil itu melenting ke atas, lalu hinggap di dahan yang cukup besar, terus beringsut dari dahan ke dahan seperti kera. Bahkan kadang jungkir balik dengan kepala berada dibawah dengan kaki mengait dahan diatasnya. Tangannya dengan cekatan memetik buah mangga yang masih ranum. Tak lama kemudian didalam pondongannya sudah terdapat sekitar 8 butir buah mangga ranum dan ada juga yang sudah matang di pohon. Kemudian dengan tangkas, badan kecil itu meloncat ke bawah diikuti dengan salto beberapa kali dan turun ke bawah dengan indahnya. Plok! Plok! Plok! “Bagus ... bagus sekali ... !Ilmu ringan tubuhmu sudah lumayan, Paksi! Apa si Perak juga yang mengajarinya?” tanya Ki Gedhe Jati Kluwih, sambil menerima mangga dari Paksi. “Iya, kek,” jawab Paksi. Di tangan kanan si kakek sudah tergenggam sebilah belati kecil untuk mengupas mangga dan dengan cekatan, tangan tua itu mengupas mangga itu hingga terkupas bersih, lalu diserahkan pada Paksi. Bocah berikat kepala merah itu masih terpana dengan kecepatan tangan kakek tabib dalam mengupas mangga. “Kok kakek bisa cepat sekali mengupasnya? Ayah saja kalau mengupas mangga tidak secepat kakek.” “Nanti ... kalau Paksi sudah besar, juga bisa melakukan hal ini. Sudah ... sekarang Paksi makan mangganya dulu. Nah, ini juga sudah selesai.” Tanpa basa-basi, bocah itu langsung menggerogoti mangga ditangannya. Memang terasa cukup manis, karena masih tersisa sedikit rasa asam. “Kakek tabib ... kakek bisa menceritakan sedikit tentang Istana Elang itu?” Kakek berjubah hijau itu mengubah posisi duduknya. “Yang kakek tahu, sepak terjang Istana Elang memang sama umumnya dengan orang-orang golongan lurus. Yang kakek maksud golongan lurus adalah orang-orang yang rela berkorban dengan sepenuh hati tanpa mengharap imbalan atau pamrih dari siapapun, misalnya meski bisa disebut pendekar golongan putih atau lurus, ada kalanya mereka menginginkan sesuatu dari orang yang pernah ditolongnya. Misalnya berharap ilmu sakti tertentu, kitab-kitab pusaka bahkan senjata-senjata sakti milik orang lain. Namun ada juga orang-orang dari golongan hitam yang tidak semuanya kejam dan jahat, bahkan cenderung bersikap satria. Dari yang kakek ketahui, pendekar-pendekar dari Istana Elang termasuk orang-orang yang betul-betul berhati lurus dalam arti yang sesungguhnya. Tapi untuk mengetahui detailnya, mungkin kau harus bertanya pada si Kura-Kura Tua.” “Si Kura-Kura Tua? Siapa dia kek!?” “Kura-Kura Tua adalah salah satu dari Empat Pengawal Gerbang Utama dari Istana Elang. Dia adalah Sang Air, Pengawal Gerbang Selatan sedang julukannya adalah Si Kura-kura Dewa dari Selatan yang sangat menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan air, baik danau, rawa, sungai maupun lautan. Konon ... kabar yang berhembus di rimba persilatan, usianya sudah mencapai lebih dari tiga ratus tahun, karena si Kura-Kura Tua sudah ada sejak Ketua Istana Elang generasi ke 29. Saat ini, kurasa hanya dialah yang menjaga Istana Elang untuk sementara waktu, sampai orang yang ditunjuk oleh ketua lama muncul.” “Wah ... kalau begitu tua sekali, ya kek. Kok bisa ada orang yang bisa bertahan hidup sampai ratusan tahun? Terus apa yang dimaksud dengan ‘orang yang ditunjuk oleh ketua lama muncul’?” “Setiap generasi Aliran Istana Elang akan menentukan sendiri siapa yang akan menggantikannya jika kelak ia telah tiada ... “ “Jadi semacam titisan atau reinkarnasi, begitu ya kek?” potong Paksi. “Ya, bisa juga dikatakan begitu.” “Kek, biasanya setiap aliran atau perguruan memiliki urutan orang-orang yang berkuasa dari tingkat rendah sampai tingkat yang paling tinggi. Apakah Aliran Istana Elang juga mempunyai urutan-urutan jabatan seperti itu?” tanya Paksi sambil tangan kanannya memasukkan potongan mangga ke dalam mulut. “Hemm, cerdas juga anak ini,” batin kakek berjubah hijau itu. “Benar! Aliran Istana Elang juga memiliki seperti apa yang kau katakan itu. Istana Elang memiliki seorang Ketua dan Empat Pengawal Gerbang Utama yang ahli dalam bidangnya masing-masing.” “Siapa saja mereka itu, kek?” “Yang pertama, tentu saja Ketua Istana Elang dengan sebutan Sang Angin, yang saat ini menjadi gurumu secara gaib yaitu Elang Berjubah Perak. Kemudian Pengawal Gerbang Timur – Sang Api yang digelari Si Naga Bara Merah, lalu Pengawal Gerbang Selatan – Sang Air yang bergelar Si Kura-kura Dewa dari Selatan, Pengawal Gerbang Barat – Sang Bumi yang dijuluki Si Harimau Hitam Bermata Hijau dan Pengawal Gerbang Utara – Sang Batu dengan sebutan Si Kapak Batu Sembilan Langit.” “Apakah sekarang ini, beliau-beliau itu sudah meninggal terkecuali Sang Air, kek?” tanya Paksi. “Benar! Semua yang kakek ceritakan padamu memang sudah menghadap Yang Kuasa. Yang tertinggal dari mereka adalah ruh suci, yang kini sedang mencari titisan ilmu-ilmu yang mereka miliki. Setiap titisan akan memiliki ilmu dan kekuatan yang sama dengan pemilik aslinya kecuali Sang Angin, karena mendiang guruku mengatakan bahwa setiap titisan Sang Angin akan memiliki kelebihan dibanding pendahulunya dimana kelebihan itu bisa sama dan bisa juga berbeda dengan pendahulunya.” “Lalu, bagaimana caranya untuk membedakan tiap titisan itu, kek?” tanya Paksi kembali. “Pertanyaan yang bagus!” ucap Tabib Sakti Berjari Sebelas, lanjutnya, “ ... untuk membedakannya adalah hal mudah. Bedanya terletak pada rajah yang melekat pada tubuh mereka.” “Rajah?” “Benar! Rajah itulah yang membedakan mereka itu titisan siapa. Seperti halnya dirimu yang memiliki Rajah Elang Putih di kening, menandakan bahwa kau adalah titisan Sang Angin. Rajah itu bisa berada di mana saja. Bisa di tangan, di dada, di kening seperti yang kau miliki. Bahkan si Kura-Kura Tua itu memiliki ‘Rajah Kura-Kura Hijau’ yang letaknya di bagian punggung.” Seolah tanpa sadar, Paksi Jaladara meraba keningnya. Terasa sekali tanda rajah yang dimilikinya sejak lahir itu saat diraba. Rajah yang disembunyikan di balik kain merah yang melingkar di kepala. Seolah bisa membaca pikiran anak itu, Tabib Sakti Berjari Sebelas berucap, “Tidak hanya pada dirimu saja yang memiliki tanda seperti itu. Namun yang perlu kau waspadai adalah orang-orang yang memiliki tanda lahir dari Penerus Iblis ... ” “Tanda lahir Penerus Iblis?” “Benar, Nak! Sebenarnya saat ini sedang terjadi suatu pergolakan dari aliran sesat yang sedang membangkitkan kembali ajaran Tantrayana Kuno yang sudah punah ratusan tahun lalu ... ” “Ajaran Tantrayana Kuno? Apa itu kek?” tanya Paksi dengan rasa ingin tahu. Tabib Sakti Berjari Sebelas atau Ki Gedhe Jati Kluwih menggeser tempat duduknya, dan bersandar pada pohon mangga di belakangnya, diikuti oleh Paksi yang juga beringsut mendekat. Kepalanya sedikit mendongak ke atas, seolah sedang mengumpulkan ingatannya tentang aliran sesat itu. Ingatannya kembali pada pengalamannya saat berkelana ke negeri seberang, baik Negeri Tiongkok maupun Negeri Hindustan, dimana dia pernah melihat ajaran sesat yang kini sedang dibangkitkan oleh golongan hitam di tanah Jawadwipa ini. “Saat ini ... ajaran sesat itu masih terpusat di suatu tempat di wilayah bekas Kerajaan Kediri. Akan tetapi Kakek tidak tahu dimana tepatnya. Tapi tidak menutup kemungkinan ajaran itu akan meluas ke daerah lain. Ajaran ini oleh penganut tantra dinamakan sebagai ajaran Bhirawa Tantra,” kata Ki Gedhe Jati Kluwih. Bocah kecil itu mengangguk-anggukan kepala. Otak cerdasnya mencerna setiap keterangan yang keluar dari mulut kakek berjubah hijau itu. “Dalam ajaran ini, seseorang bisa meraih atau mempertahankan kekuasaan, kekuatan, dan kesaktian dengan tumbal darah para musuhnya. Jika dalam perang mereka unggul maka darah segar para lawannya akan segera diminum sebagai ritual yang wajib dilakukan. Lebih sadis, pada tataran yang lebih tinggi, penganut Bhirawa Tantra tidak hanya minum darah korban, tapi juga memakannya, baik sebagian atau pun seluruhnya.” “Gila! Keji sekali perbuatan mereka!” potong Paksi mengomentari ulasan itu. “Lalu ... lanjutnya bagaimana kek?” “Dalam cerita pewayangan pun dikisahkan, beberapa tokoh raksasa yang suka minum darah lawan yang sudah tewas atau pun langsung menghisapnya. Diantaranya adalah Raja Alengka, Prabu Dasamuka alias Rahwana. Meski seorang raja, ia tak segan untuk menggigit dan menghisap darah musuhnya di medan pertempuran. Juga Raja Purwacarita, Prabu Baka yang suka minum darah dan makan daging manusia ... ” “Tapi kek, saya pernah baca dalam kitab ‘Mahabharata’, minum darah juga dilakukan oleh Raden Bima alias Raden Werkudara. Dalam Perang Barathayuda ia minum darah Raden Dursasana yang telah tewas hanya untuk memenuhi sumpah dan janjinya, padahal ia seorang ksatria dan bukan golongan denawa atau raksasa,” kata Paksi kemudian. “Betul! Saat itu Raden Werkudara sedang memenuhi sumpahnya atas perbuatan Raden Dursasana yang menodai kesucian seorang istri dan juga Permaisuri Agung, yaitu Dewi Drupadi, istri dari Raja Amarta yang bernama Prabu Puntadewa,” jawab kakek berjubah hijau yang memiliki pengetahuan luas itu melanjutkan kembali ceritanya. Penganut ajaran Tantrayana aliran Bhirawa atau bisa disebut Bhirawa Tantra digambarkan lebih hebat kemampuan ilmu gaibnya karena dikenal sebagai pemuja Dewa Syiwa. Sesuai dengan pujaannya, penganut ajaran ini suka mengumbar hawa nafsu sebagai perwujudan kepercayaan untuk menguasai ilmu kekebalan, bahkan bisa ‘Mancala Putra Mancala Putri’ (berubah wujud). Tantrayana merupakan aliran yang berdasarkan ajaran Tantra. Dalam bahasa Sansekerta, Tantra berarti aturan ritual atau upacara. Ajaran-ajaran ini lahir dari ajaran yang beraliran magis (ilmu gaib) yang diperoleh dari Kitab Purana. Naskah-naskah Tantra itu berkembang dari ajaran yang konsep utamanya mengagungkan dan menyembah kekuatan Yoni. Sasaran penyembahan yang berciri kekuatan Yoni itu berasal dari personifikasi sebagai istri (Sakti) Vishnu (Wisnu) yaitu Radha. Pada sebagian aliran Tantra juga menyembah Devi, Sakti Siva (Syiwa). Sakti (istri) Dewa yang disembah itu dalam bentuk yang lembut dan anggun digambarkan sebagai Uma dan Gauri. Sedangkan dalam bentuk yang garang dan sadis digambarkan sebagai Durga atau Dewi Kali. Karena itu, tokoh dalam cerita Nyai Calon Arang atau Mahendradatta sebagai pemuja Durga, dewi kejahatan sering dimunculkan. Mahendradatta juga juga menganut ilmu gaib (sihir) aliran Tantrisme yang memuja Bhirawa Mahakali yang tak lain adalah Bathari Durga adanya. Terdapatnya hubungan antara ajaran tantra itu dengan sejarah Kerajaan Kediri. Sesungguhnya nama Kediri berasal dari bahasa Jawa Kuno (Kawi), Khadiri atau Dhaha, identik dengan nama Panjalu yang berarti tegak (mengacu pada makna negatif Lingga). Karena itu ajaran yang berkembang banyak menganut nilai-nilai budaya yang mengakar pada pemujaan kaum laki-laki dalam segala aspek, yang diperdangkal pada kekuasaan nafsu syahwatnya. Dimana laki-laki identik dengan kegagahan, kekerasan, keberanian, kemenangan, kebangsaan, kekuasaan, kekejian dan kebengisan. Lebih dangkal lagi, kejantanan dimitoskan sebagai kemampuan syahwat laki-laki. Adapun konsep ajaran yang menggegerkan dunia persilatan ini bersumber pada Kitab Tantrayana, Nilatantra, Sang Hyang Kamahanan Mantrayana dan juga Mahanirwanatantra. Dijelaskan bahwa para penganut Tantra akan mempunyai tubuh kebal dari senjata tajam bila telah berhasil melakukan upacara Panca Makara, yaitu laki-laki perempuan dalam keadaan tanpa busana secuilpun mengelilingi ‘Mukara’ (tumpeng selamatan) yang dipimpin seorang Cakra Iswara. Mukara ini berisi sesaji yang terdiri daging, ikan dan arak. Urutan upacara terdiri atas ‘Modsa’ (makan daging), ‘Modsia’ (makan ikan), ‘Modya’ (minum arak sampai mabuk), ‘Mautuna’ (bersenggama) dan ‘Mudra’ (bersemadi) setelah nafsu perut dan syahwat terpenuhi. “Begitulah ... inti ajaran Tantrayana yang pada puncaknya, orang yang menjadi penganutnya akan punya kedigdayaan atau kesaktian yang luar biasa. Diantaranya adalah kebal berbagai macam senjata tajam ... ” “Huh, perbuatan yang hina sekali, kek. Hanya karena ingin menjadi sakti harus melakukan hal-hal yang melanggar hukum alam. Semoga saja mereka di laknat oleh penguasa alam raya ini,” kata Paksi setelah mendengar uraian panjang lebar dari Tabib Sakti Berjari Sebelas. “Kek, bukankah minum darah hewan tidak bisa dibenarkan, apalagi darah manusia sebab ketika seseorang terbiasa minum darah, maka jiwanya akan seperti binatang buas sehingga jadi ganas dan buas?” “Benar! Manusia semacam ini bertentangan dengan fitrahnya sendiri. Fitrah manusia itu selalu menjaga keluhuran akhlaknya. Dan ... ini berbeda dengan binatang buas dan ganas. Jika manusia terbiasa minum darah sehingga ia menyerupai binatang, maka manusia yang seperti ini telah kehilangan sifat kemanusiaannya,” terang kakek berjubah hijau mengomentari perkataan bocah berikat kepala merah itu. “Kehilangan ... sifat kemanusiaan?” “Ya! Kalau ada manusia yang suka memakan atau meminum darah maka akan jadi buas seperti bintang. Segi ruhaninya yang luhur akan kalah. Sekali lagi, kalau orang suka minum darah yang banyak, berarti ia sudah terbiasa. Kebiasaan ini akan menyebabkan dia jadi buas. Dan setelah buas, maka hilanglah sifat kemanusiaannya.” Panjang lebar kakek berjubah hijau itu mengemukakan pendapat tentang segala hal yang berhubungan dengan aliran sesat Bhirawa Tantra. Dalam pada itu, waktu terus berjalan tanpa terasa. Terik matahari kini berubah redup seiring dengan hembusan angin yang sore yang segar. Setelah membersihkan diri di tepi sungai yang jernih airnya, dekat dimana mereka semula berhenti, di bawah pohon mangga. Melihat banyaknya ikan-ikan liar yang bebas lalu lalang di dalam air, membuat Paksi berkeinginan menangkap beberapa ekor untuk santap malam. Sambil tertawa-tawa, bocah itu berlarian kesana kemari menggiring ikan-ikan yang cukup gemuk. Dari sudut matanya, terlihar seekor ikan lele yang cukup besar dan gemuk. “Hemmm, lumayan untuk mengganjal perut,” batinnya. Dengan perlahan-lahan dia menggeser kaki sedikit merentang dengan badan sedikit doyong ke depan. Tangan kiri terkepal di pinggang, sedang tangan kanan membuka lurus. Ditariknya napas perlahan-lahan, lalu ... Byukk! Byarr!! Air didepannya dihantam, sehingga air muncrat ke atas membentuk pilar air dan terlihat beberapa ikan termasuk ikan lele yang gemuk ikut terperangkap didalamnya. “Kek, terima ini!” Bersamaan dengan selesainya ucapan, Paksi dengan cekatan meloncat ke udara, lalu melakukan tendangan samping ke arah pilar air, tepat di samping kiri pilar air mana beberapa ekor ikan lele itu berada. Byarr! Dalam waktu sepersekian detik, pilar air yang semula menjulang beberapa tombak, kini hancur bercerai berai terkena hantaman tendangan yang cukup kuat. Wutt! Ikan lele itu meluncur cepat, dan tepat ke arah si kakek tua berjubah hijau berada. Tap! Dengan masih duduk santai, tangan kanan kakek itu menangkap ikan dengan cekatan, dirasakannya getaran kuat pada ikan yang ditangkapnya. “Hebat! Tenaga dalam yang dimilikinya sudah sejajar dengan pendekar tingkat tiga. Tanganku masih bisa merasakan getaran tenaga dalamnya.” bathinnya. “Paksi, tangkap beberapa ekor lagi! Kalau ada, ikan bader juga boleh. Sebentar lagi si Perak pulang,” serunya. Paksi menganggukkan kepala sambil mengacungkan ibu jari kanannya.   Pada keesokan harinya ... Pagi itu, ketika matahari masih mengintip di ufuk timur, terdengar bentakan-bentakan nyaring dan pekikan suara burung yang silih berganti. Ternyata, Paksi sedang melatih jurus-jurus silat yang dikuasainya, ditemani oleh si Perak yang juga berkelebat kesana-kemari menyerangnya. Gerakan Paksi cukup lincah, cukat trengginas dalam menghadapi serangan. Latihan silat di pagi itu cukup membuat tubuh bocah berkeringat, sehingga tubuh yang telanjang dada itu tampak berkilauan terkena sinar matahari. Awwkk! Awwkk!! Polah tingkah dua makluk berbeda jenis itu, tidak luput dari pandangan mata kagum Tabib Sakti Berjari Sebelas, yang sedari tadi menonton latihan silat itu. Laki-laki tua berjubah hijau itu mengangguk-anggukkan kepala melihat jurus-jurus yang dikerahkan oleh Paksi. “Hmmm, meski gerak jurus yang digunakan masih terlalu mentah, namun sudah cukup bagus untuk anak seusianya. Daya tangkapnya betul-betul luar biasa. Hanya dengan melihat sekali saja gerakan si Perak, sudah bisa menterjemahkan dalam sebuah jurus silat. Ck, ck, ck ... bukan main! Pilihan si Elang Berjubah Perak memang tidak salah.” gumamnya. “Lebih baik, aku jajal saja anak itu. Yah ... hitung-hitung melemaskan otot tuaku ini.” Ki Gedhe Jati Kluwih yang juga bergelar sebagai Tabib Sakti Berjari Sebelas langsung menerjang ke arah Paksi, yang saat itu sedang menghindar dari sambaran cakar si Perak, saat mana Paksi menggulingkan badan ke bawah, lalu diikuti dengan sambaran tangan kanannya yang membentuk cakar kokoh ke arah dada si Perak, dengan jurus ‘Elang Pemburu Mencuri Hati’! Sett! Plakk!! Si Perak yang tahu bagian diserang, segera menangkis dengan sayap kiri diikuti dengan gerakan mematuk ke arah tenggorokan. Wett! Paksi yang tidak mau lehernya terkena patukan sang elang, segera membuang diri ke belakang dan bersamaan dengan itu pula, sekelebat bayangan hijau menerjang dengan pukulan ke arah lambung kirinya. Wutt ... !! Melihat datangnya serangan yang tidak diduganya sama sekali, membuat Paksi tidak panik atau pun gugup. Sambil bergulingan di tanah, ke dua tangan menepak tanah, lalu tubuh kecil itu melenting ke atas. Tapp! Wuss!! Kemudian dari atas, tubuhnya berputar seperti gasing dengan kaki kiri terjulur ke arah bayangan hijau yang baru saja menyerangnya. Bayangan hijau yang tak lain adalah Ki Gedhe Jati Kluwih, terkejut melihat serangan balik yang dilakukan Paksi. Sebagai seorang pendekar ternama yang sudah malang melintang di rimba hijau, serangan balik tidak membuatnya gentar. Kedua tangan segera disilangkan di atas kepala untuk menghadang datangnya serangan dari atas yang dilancarkan Paksi, sedang kedua kakinya membentuk kuda-kuda yang kokoh. Aliran ‘Tenaga Sakti Pulau Khayangan’ dikerahkan sepertiganya untuk menahan gempuran Paksi Jaladara. Dukk!! Deshh!! Terdengar benturan keras saat jurus ‘Tendangan Berpusar Menyapu Angin’ Paksi Jaladara bertemu dengan hadangan sepasang tangan bersilang dari jurus ‘Menahan Samudera Menepis Gelombang’ yang dilakukan Tabib Sakti Berjari Sebelas, yang merupakan salah satu jurus benteng pertahanan yang seringkali digunakan kakek itu bisa menghadapi serangan dari atas ataupun serangan dari segala penjuru. Duasshh ... ! Hasilnya, kakek tua itu terjajar beberapa langkah, sedangkan Paksi terpental balik! “Hebat, tendangannya mengandung hawa beku yang cukup menyengat. Kedua tanganku sampai terasa kebas. Betul-betul anak yang tangguh! Dari mana bocah itu mempelajari hawa tenaga dalam pembeku seperti ini? Apa mungkin ini merupakan tenaga bawaan yang dimilikinya sejak lahir!?” batin kakek berjubah hijau itu sambil mengalirkan tenaga dalamnya untuk menetralisir hawa beku itu. Di saat tubuhnya melayang di udara, Paksi segera menggerakkan ke dua tangan memeluk lutut lalu bersalto beberapa kali, dan dengan manis mendarat di tanah tanpa kurang suatu apa! Kemudian bocah itu membuat gerakan yang cukup aneh, badan Paksi Jaladara membungkuk dengan kedua tangan membentuk cakar terkembang sedikit bergeser ke belakang, kaki kanan sedikit menjulur ke depan sejajar kepala sedang kaki satunya menekuk ke dalam. Mata sedikit menyipit mengawasi dengan tatapan tajam, mirip gerakan seekor elang yang siap menyerang mangsa! Tenaga sakti berhawa dingin mulai dibangkitkan dari pusarnya. Dari pusar, tenaga itu merambat naik melewati nadi-nadi jalan darah, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Setelah tenaga itu tersalur semua, Paksi Jaladara menghentakkan kaki kiri ke tanah, lalu tubuhnya melesat cepat ke arah kakek didepannya. Kini, latih tanding pecah di pagi yang cerah itu! Paksi Jaladara menyerang dengan gerakan-gerakan mirip elang yang lincah dan tangkas, sedangkan Tabib Sakti Berjari Sebelas lebih banyak bertahan dari pada menyerang. Jurus ‘Menahan Samudera Menepis Gelombang’ kembali digunakan untuk menahan serangan Paksi yang datang bertubi-tubi. Kadangkala kakek itu menyerang dengan jurus-jurus silat tangan kosong yang dmilikinya, baik berupa pukulan mau pun tangkisan. Tak henti-hentinya dia mengagumi anak laki-laki Ki Ragil Kuniran itu. “Heaa ... heaa ... !!” Sementara itu, cakaran, tendangan bahkan patukan tangan Paksi Jaladara datang silih berganti menerjang ke arah Tabib Sakti Berjari Sebelas bagaikan ombak di laut yang menghantam batu karang. Selama ini, Paksi hanya latih tanding dengan si Perak dan baru kemarin ia merasakan pertarungan sesungguhnya saat Gerombolan Serigala Iblis yang dipimpin Ratu Sesat Tanpa Bayangan menyerang Padepokan Singa Lodaya. Sekarang, disaat sedang latih tanding dengan si Perak, Tabib Sakti Berjari Sebelas malah masuk ke gelanggang. Tentu saja Paksi Jaladara senang sekali, karena inilah kesempatan emas untuk mengeluarkan semua ilmu silat dan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya. Paksi Jaladara menyerang dengan sungguh-sungguh. Bahkan jurus ‘Kelebat Ekor Elang’, jurus yang terakhir kali dikuasainya, sudah siap-siap dikerahkan. Tubuh Paksi Jaladara melenting tinggi ke atas, kemudian badannya berbalik memunggungi, lalui turun ke bawah dengan kaki kiri dijulurkan terlebih dahulu. Terasa kesiuran angin dingin yang menyertai serangan kilat Paksi Jaladara. Tenaga dingin membeku mengiringi serangan jurus ‘Kelebat Ekor Elang’ ke arah kakek tabib itu. Whuss ...!! “Bagus! Jurus yang luar biasa!” seru Ki Gedhe Jati Kluwih. Kembali jurus ‘Menahan Samudera Menepis Gelombang’ yang dikerahkan dengan pengerahan tenaga dalam mendekati separuh tenaga dari yang dimilikinya. Terlihat cahaya putih samar-samar melingkupi sepasang tangan yang bersilangan untuk menghadang jurus ‘Kelebat Ekor Elang’! Dughh!! Desshh!! Dharr ... !! Terdengar benturan cukup nyaring saat dua serangan itu beradu. Paksi pun terpental ke belakang, namun masih bisa menguasai diri. Bocah berikat kepala merah itu berjumpalitan beberapa kali untuk mengurangi daya lontarannya, setelah beberapa kali jumpalitan, Paksi Jaladara berhenti dengan kaki tegap di tanah dengan senyum tersungging puas! Akan halnya Ki Gedhe Jati Kluwih, hanya terhuyung-huyung ke beberapa empat lima tindak ke belakang. Di seluruh tubuh terasa diselimuti hawa dingin membeku, terutama sekali pada sepasang tangannya yang tadi menahan benturan. Tabib Sakti Berjari Sebelas dari Pulau Khayangan segera saja mengalirkan tenaga dalam berhawa panas untuk menetralisir hawa dingin tersebut. Beberapa saat kemudian, kakek itu sudah terbebas dari kungkungan hawa dingin itu. “Cukup, Paksi! Cukup!” teriak kakek itu, saat Paksi siap-siap untuk menyerangnya, sedang dalam hati ia berkata, “Mmm ... bocah ini makin lama makin kuat saja.” Paksi langsung mengendurkan posisinya, lalu berjalan menghampiri kakek itu, lalu mencium tangan kanan si kakek. “Maaf ... kalau Paksi tadi menyerang kakek terlalu keras,” kata bocah itu. “Ha-ha-ha-ha ... kau ini ada-ada saja! Justru kakek sangat bangga padamu. Ilmu silat dan tenaga dalam yang kau miliki sudah cukup bagus. Kau perlu latihan yang lebih keras lagi, agar ilmu yang kau miliki semakin matang.” “Baik, kek! Nasehat kakek akan Paksi perhatikan!” “Oh ya, berapa jurus silat yang sudah kau kuasai sekarang ini, jurus silat yang kau pelajari dari si Perak itu?” tanya Tabib Sakti. “Emm ... sekitar delapan jurus kek, memangnya ada apa?” “Hemm, baru delapan jurus? Apa kau sudah menguasainya dengan sempurna?” tanya kakek itu lagi. “Entahlah kek, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, saya sudah merasa cocok dengan jurus-jurus silat tersebut,” tutur Paksi Jaladara. “Menurut kakek guru Elang Berjubah Perak, ilmu yang saya pelajari adalah Ilmu Silat ‘Elang Salju’.” “Dari mendiang guruku, jurus-jurus silat dari Istana Elang sangat beraneka ragam bentuk dan jenisnya. Baik berupa pukulan, tendangan, totokan maupun ilmu-ilmu sakti lainnya. Salah satunya adalah Ilmu Silat ‘Elang Salju’ yang saat ini sedang kau pelajari,” kata Ki Gedhe Jati Kluwih, sambil mengelus-elus jenggotnya, “ ... setahuku, Ilmu Silat ‘Elang Salju’ terakhir kali kudengar terdiri dari tujuh belas jurus. Jurus ini dulunya hanya delapan jurus inti saja. Hanya ilmu silat ini saja yang jurus serangan selalu bertambah dan berbeda-beda.” “Tujuh belas jurus yang selalu bertambah dan berbeda-beda?” “Benar, karena setiap generasi dari Ketua Istana Elang yang pernah menguasai ilmu silat ini, menambahkan satu jurus lagi sebagai jurus pamungkas. Sampai si Elang Berjubah Perak menambahkannya menjadi jurus ke enam belas dan jurus tujuh belas. Mungkin saja nanti kau akan menemukan jurus yang ke delapan belas atau mungkin malah lebih.” “Ooo, begitu.” Sambil berjalan ke arah batu besar, kakek itu menggandeng Paksi sambil memberikan tahu dimana letak kelemahan dari ilmu silat yang dimilikinya. Paksi pun mendengarkan dengan seksama, kadangkala bertanya jika ada hal-hal yang sulit dimengerti. Pagi itu pula, Tabib Sakti itu mengajarkan salah ilmu yang pernah dipelajarinya dari Kuil Shaolin dari Negeri Tiongkok, yaitu jurus silat ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’, yang merupakan pecahan dari Ilmu Silat ‘Sembilan Serangkai Elang Sakti’ aliran Kuil Shaolin. Jurus ini jarang sekali dipakai, karena pada intinya hampir sama dengan ilmu ringan tubuh, akan tapi digabung dengan penggunaan ketangkasan cakar tangan dan kaki sebagai bentuk jurus serangan berantai. Namun, karena kurang leluasa dalam menggunakan ilmu ini, kakek itu jarang sekali menggunakannya. Jurus ini didapatnya saat dia berkelana ke Negeri Tiongkok, waktu berusia sekitar tiga puluh lima tahunan, tanpa sengaja menolong seorang biksu tua yang sedang terluka karena dikeroyok perampok. Terjadilah pertarungan seru antara Jati Kluwih dengan para perampok tersebut, dan akhirnya para perampok itu bisa dipukul mundur. Oleh Jati Kluwih, biksu tua itu diantar ke Kuil Shaolin, dan sebagai tanda terima kasih, Jati Kluwih mendapatkan kehormatan untuk mengunjungi Gedung Pustaka Kuil Shaolin dan diijinkan membaca serta mempelajari kitab-kitab yang ada. Pada mulanya, Jati Kluwih menolak, karena tujuan menolongnya memang benar-benar tanpa pamrih. Tapi biksu tua itu, yang ternyata Biksu Kepala Gedung Pustaka tetap memaksanya. Akhirnya dengan diantar sendiri oleh Biksu Kepala Gedung Pustaka, yang tentu saja dengan seijin Ketua Biksu Kuil Shaolin, Jati Kluwih berkeliling Gedung Pustaka Kuil Shaolin. Di Gedung Pustaka Kuil Shaolin terdapat bermacam ilmu-ilmu dunia persilatan yang aneh dan langka, berbagai macam karya sastra dan segala macam pengetahuan seolah-olah tertumpuk di Gedung Pustaka Kuil Shaolin. Hingga sampailah Jati kluwih di ‘Ruang Dewa Obat’, di mana terdapat berbagai macam teknik pengobatan yang langka dan unik. Pemuda itu begitu antusias sekali melihat kitab-kitab pengobatan yang berjajar rapi di atas rak buku. Akhirnya, Jati Kluwih memohon diri ingin mempelajari ilmu pengobatan, karena dia sendiri sebenarnya juga seorang tabib yang tentu saja sangat tertarik dengan ilmu pengobatan yang sangat asing bagi dirinya. Ketua Biksu Kuil Shaolin bersedia meminjamkan ‘Ruang Dewa Obat’ selama 1 tahun untuk digunakan Jati Kluwih dalam mempelajari ilmu-ilmu pengobatan aliran Kuil Shaolin, bahkan Ketua Biksu sendiri berkenan mengajarkan salah satu ilmu unik, yaitu jurus silat ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’, yang merupakan salah satu rangkaian dari ilmu silat ‘Sembilan Serangkai Elang Sakti’ aliran Kuil Shaolin. Maka, Paksi Jaladara yang pada dasarnya sudah menguasai dasar-dasar silat ‘Elang Salju’, mulai mempelajari jurus itu. Atas petunjuk Tabib Sakti Berjari Sebelas, Paksi mengikuti langkah-langkah kaki dengan diimbangi peringan tubuh dan penggunaan tenaga dalam digabung dengan serangan berantai. Bocah berikat kepala merah itu dengan cepat bisa menangkap inti dari jurus silat yang dipelajarinya. Tak sampai siang, Paksi sudah lancar dan bisa dibilang menguasai secara sempurna jurus ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’ yang diajarkan kakek berjubah hijau itu, karena memang pada dasarnya bocah itu memang sangat berbakat dalam mempelajari ilmu silat. “Paksi ... coba ulangi jurusmu dan ingat, penggunaan tenaga dalam jangan terlalu dipusatkan pada kaki, tapi juga bagian tanganmu yang mencengkeram,” kata kakek itu saat Paksi sudah selesai dengan jurusnya. “Baik, kek!” Mulailah Paksi Jaladara memperagakan kembali jurus ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’ yang baru saja dikuasainya. Tubuhnya menyambar-nyambar ke kanan kiri dengan cepat, diikuti dengan sepasang tangannya yang yang menerbitkan suara cuitan tajam seolah mencengkeram udara dengan tak tentu arah, sedang ke dua kaki dengan ringan bergerak ke sana kemari mengikuti jalur angin yang berhembus. Tampak gerakan Paksi laksana elang muda yang menyambar-nyambar yang diiringi kesiuran angin berhawa dingin. Setiap sambaran tangannya menerbitkan angin tajam yang bisa merobek kulit. Pedih dan perih. Ki Gedhe Jati Kluwih juga merasakan perubahan itu. “Tak kukira jurus ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’ bisa sehebat ini! Pantas saja Ketua Biksu berpesan agar aku berhati-hati bila menggunakan jurus ini. Bocah itu benar-benar memiliki bakat yang luar biasa ... ” katanya lirih, lalu lanjutnya, “ ... namun sayang, guru berpesan aku hanya boleh mengajarkan ilmu-ilmu pengobatan padanya, tidak boleh mengajarkan Ilmu Silat ‘Aliran Pulau Khayangan’ pada pewaris Istana Elang ini. Sayang sekali! Tapi ... tak apalah, meski cuma satu jurus saja, aku sudah cukup puas.” Memang, Malaikat Sepuh Pulau Khayangan, guru dari Tabib Sakti Berjari Sebelas, berpesan tidak boleh menurunkan Ilmu Silat ‘Aliran Pulau Khayangan’ kepada orang-orang yang berhubungan dengan titisan ilmu Ketua Istana Elang, karena pada intinya ilmu mereka sangat bertolak belakang, andaikata nekad dipelajari, akan terjadi bentrokan tenaga di dalam tubuh, sehingga orang yang mempelajarinya bisa tewas seketika karena tubuhnya meledak hancur atau paling tidak bisa cacat seumur hidup. Hal ini pernah terjadi, di saat kakek gurunya Malaikat Sepuh Pulau Khayangan, mengajarkan salah satu Ilmu Sakti ‘Aliran Pulau Khayangan’ pada Ketua Istana Elang generasi ke 27, yang mengakibatkan sang ketua hilang ingatan dan akhirnya pada satu purnama kemudian, tubuhnya meledak tercerai-berai karena terjadi pertentangan tenaga dalam yang bertolak belakang. Semenjak peristiwa itu, seluruh pendekar-pendekar Aliran Pulau Khayangan dilarang keras untuk mengajarkan ilmu-ilmu asli Pulau Khayangan kepada ketua atau calon ketua Istana Elang, akan tetapi bila pada orang lain yang bukan ketua atau calon ketua Istana Elang dan atau pada anggota-anggota Istana Elang, tidak menjadi masalah. Andaikata memiliki ilmu silat atau ilmu-ilmu tertentu yang tidak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu Aliran Pulau Khayangan, juga tidak menjadi masalah, seperti yang diturunkan Malaikat Sepuh Pulau Khayangan sendiri pada si Elang Berjubah Perak, yang mengajarkan jurus silat ‘Tombak Pengacau Langit’, yang merupakan salah satu ilmu pamungkas dari Perguruan Tombak Halilintar. Seperti halnya Tabib Sakti Berjari Sebelas yang mengajarkan jurus ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’ dan berniat menurunkan pula ilmu pengobatan yang berasal dari Kuil Shaolin, sedang ilmu pengobatan Aliran Pulau Khayangan tidak diajarkan sama sekali. “Paksi, muntahkan tenaga dalammu ke sungai itu!” Paksi yang saat itu sedang mendekati babak akhir dari jurus silat ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’, mengarahkan sambaran cakarnya sambil memutar tubuh dengan cepat. Whirr ... ! Whirr ... !! Whuss ... !! Terdengar kesiuran angin dengan tajam, bahkan daun-daun kering ikut terbawa pusaran angin. Dhar!! Dharrr! Dhar!! Dharrr! Dhar ... !! Dharrr ... ! Terdengar rentetan ledakan berturut-turut saat cakar elang itu menerjang air sungai. Air sungai semburat tercerai berai saat terkena muntahan tenaga dalam dari jurus ‘Ribuan Li Selaksa Ombak’ yang dilancarkan bocah berikat kepala merah itu. Setelah melakukan lontaran tenaga tadi, Paksi melakukan gerakan jungkir balik dan mendaratkan kaki di tanah dengan mantap! Plok! Plok! Plok! “Bagaimana, kek?Apa ada yang salah dari jurus tadi?” “Bukan main, tak kukira hasilnya bisa seperti itu! Tidak ada yang salah. Bisa dibilang cukup sempurna. Sungguh luar biasa ... ” puji Tabib Sakti itu. “ ... lebih baik, kau segera berkemas, kita akan melanjutkan perjalanan.” “Baik, kek.” Paksi pun segera menuju ke tepi sungai, lalu mandi. Setelah selesai dan badan terasa segar kembali, kemudian menyantap ikan bakar yang lumayan besar, Ki Gedhe Jati Kluwih, Paksi Jaladara dan elang perak itu melanjutkan perjalanan kembali. Tanpa terasa perjalanan mereka berdua sudah memakan waktu hampir satu setengah tahun lebih dan tujuan mereka pun semakin dekat saja. Tujuan mereka adalah menuju ke Lembah Badai! Dapatkan koleksi ebook lain di: http://jowo.jw.lt