Golok Yanci Pedang Pelangi Bag. 1 By CloudRs jbookmaker by: http://jowo.jw.lt Setiap orang tentu pernah bermimpi. Mimpi memang sesuatu yang aneh. Banyak peristiwa yang tak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata sering kali dapat dialami dalam mimpi. Angan-angan yang sukar terwujud dalam kehidupan nyata dapat dialami dalam mimpi. Macam ragam pula orang bermimpi. Ada mimpi yang seram, mimpi yang sedih, mimpi gembira, yang menakutkan dan menggusarkan. Akan tetapi, siapapun pasti tidak pernah mengalami “mimpi aneh” yang akan kita ceritakan seperti berikut ini. ------------------------- Malam kelam, kabut tebal menyelimuti bumi. Berjalan di tengah kabut yang mengambang itu, Ho Leng-hong merasa bagaikan sedang berjalan di tengah awan, tubuh terasa enteng dan seakan-akan hendak melayang-layang sehingga dia kelihatan lebih cakap dan bergairah. Bila dalam sakunya waktu itu tidak diganduli dengan lima puluh tahil perak, bisa jadi dia akan benar-benar melayang-layang terbawa kabut. Orang kuno bilang: Kalau rejeki sudah nomplok, gunung pun tak dapat mengalanginya. Dan malam ini Ho Leng-hong benar-benar telah meresapi kebenaran pepatah tersebut. Ambil contoh seperti apa yang baru saja dialaminya di rumah perjudian keluarga Him sana, dia bermain Pay-kiu. Kartu yang dipegang selalu bagus dan mengherankan. Bila orang lain menjadi “Ceng” (bandar), kartu yang dipegangnya selalu mati dan pasti tombok. Sebaliknya jika giliran Ho Leng-hong yang menjadi bandar, maka kartu yang dipegangnya pasti bagus, andaikan tidak menang, paling sedikit juga seri. Bila pemain atau pemasang mendapat kartu “Te kiu”, maka dia mendapat kartu “Thian-kiu”. Jika pemain memegang kartu “Thian-tui” dan “Te tui”, dia mendapat kartu “Ci-cun” yang merupakan kartu yang tak terkalahkan. Maklum, Ci-cun sendiri berarti yang maha besar. Begitu bagus kartu yang dipegangnya sehingga membikin lawan-lawannya sama mendelik dan kheki setengah mati, berulang-ulang mengusap keringat dan susul menyusul merogoh saku ... akhirnya, semua isi saku lawan-lawannya berpindah tempat ke saku Ho Leng-hong. Rumah perjudian keluarga Him itu berformat kecil, tapi uang “tong” cukup besar. Bukanlah pekerjaan gampang jika ingin menang lima puluh tahil perak di sini. Demi merayakan “panen” yang baru saja terjadi, Ho Leng-hong tidak mau menyiksa dirinya sendiri, maka begitu meninggalkan rumah judi itu, segera ia masuk ke restoran Lau-muacu (si burik Lau) di penggaulan jalan sana. Keluar dari restoran Lau si burik, sedikitnya delapan bagian di terpengaruh oleh minuman keras. Tapi, biarpun mabuk, dia tak lupa daratan sama sekali, sedikitnya dia masih ingat ke mana dia harus “mendarat”. Dia masih ingat janjinya dengan Siau Cui yang lagi menunggu kedatangannya. Ia pun tidak lupa di mana letak “Go-tong-kang” (gang waru), maka ke arah gang itulah dia menuju. Waktu masuk ke lorong yang sudah apal baginya itu, tiba-tiba timbul semacam rangsangan yang sukar dijelaskan. “Uang adalah nyali”, atau uang sama dengan keberanian. 50 tahil perak memang bukan suatu jumlah yang terlalu besar, tapi kalau digunakan mengiming-iming di depan hidung kawanan budak germo itu, sedikitnya dapat membuat mata anjing mereka melotot. Maklum, biasanya Ho Leng-hong dianggap langganan “kurus”, bersaku kosong, sehingga kurang mendapat pelayanan yang layak. Sekarang sakunya berisi 50 tahil perak, ia ingin berlagak “Cukong” supaya kawanan budak itu tidak lagi menghinanya. Begitulah, sambil menepuk sakunya yang berisi itu, ia berdehem sekali, lalu membusungkan dada dengan lagak “dunia ini aku punya”, lalu dengan langkah berlenggang ia masuk ke rumah pelacuran “Hong-hong-wan” atau Villa burung Hong, di mana Siau Cui sedang menanti kedatangannya. Meski sudah jauh malam, namun pintu gerbang Hong-hong-wan masih terbuka lebar, seorang pesuruh rumah pelacuran itu menyambut kedatangan Ho Leng-hong dengan senyuman dikulum. “Ho-ya (tuan Ho), kau datang!” sapanya. “Kenapa? Aku dilarang datang?” Ho Leng-hong menengadah dengan gaya menantang. “Ai Ho-ya ini, masa aku bermaksud begitu? Sengaja mengundang Ho-ya saja belum tentu bisa....” “Ya, lantaran undak-undakan pintu Hong-hong-wan terlalu tinggi, jadi orang yang tak punya fulus tak dapat masuk.” Merasakan gelagat tak enak, cepat pesuruh berteriak, “Ho-ya datang, nona Siau Cui siap menerima tamu!” Teriakan itu secara beruntun disampaikan ke ruang dalam, sepanjang jalan pegawai itu menyingkapkan tirai dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam. Sebenarnya Ho Leng-hong ingin “mendamprat” lagi orang-orang itu, tapi lantas terpikir olehnya bahwa “tuan besar” yang banyak uang biasanya enggan ribut dengan orang bawahan, sebab hal ini hanya akan menurunkan derajat sendiri, maka ia lantas masuk saja dengan tertawa tak acuh. “Cepat benar berita yang diterima orang-orang ini,” demikian pikirnya sambil melangkah masuk, “mereka tentu sudah tahu aku berhasil menang besar di rumah perjudian keluarga Him, maka sikap mereka jadi lain daripada biasanya.” Baru masuk ke kamar, kontan Siau Cui menggerutu, “Kenapa sekarang baru muncul? Kau sudah berjanji mau datang sebelum tengah malam, bisa gila orang menunggu dirimu.” “Sejak tadi aku mau kemari,” sahut Ho Leng-hong dengan tertawa, “tapi apa mau dikatakan kalau dewa rejeki menahanku terus. Maka aku datang terlambat.” Sebuah bungkusan kecil yang berat dikeluarkan dan dijejalkan ke tangan Siau-Cui, lalu bisiknya dengan lembut. “Nih, ambillah!” “Apa ini?” “Buka saja, segera tahu.” “Uang?” tanya Siau Cui sambil menimang-nimang bobot bungkusan itu. “Benar, itulah yang kita butuhkan, lima puluh tahil, persis!” Ho Leng-hong tertawa bangga. Ia mengira Siau Cui pasti akan terkejut bercampur gembira dan tentu akan buru-buru membuka serta menghitungnya, atau mungkin saking girangnya dirinya akan dipeluk dan diberi hadiah kecupan hangat . . . . Siapa tahu, Siau Cui tidak kaget, atau melonjak kegirangan, iapun tidak membuka bungkusan itu serta menghitung jumlahnya, bungkusan kecil itu malah dibuang begitu saja ke meja. “tidak tahukah kau bahwa aku ada urusan penting hendak berunding denganmu?” katanya sedih, “ai, mengapa kau hanya tahu minum arah dan berjudi? Selain pekerjaan itu tak pernahkah kau memikirkan soal lain?” “Siau Cui, aku berbuat demikian demi kau, bukankah ibumu sakit dan membutuhkan uang?” “Sekalipun membutuhkan uang, bukan berarti harus mendapatkannya lewat berjudi, kukira uang demikian bisa dijagakan?” “Tentu saja, coba lihat! Aku berhasil menangkan uang itu seperti makan kacang goreng saja, coba kalau tidak kangen padamu, sampai fajar nanti dua-tiga ratus tahil perak pasti bisa kukeruk. Siau Cui, tahukah kau betapa anehnya kartu-kartu itu . . . .” “Ah, enggan kudengarkan soal kartu, aku ada urusan penting hendak kurundingkan denganmu.” “Soal penyakit ibumu?” Siau Cui menggeleng, “Penyakit ibu sudah agak baikan, yang hendak kurundingkan adalah urusan mengenai dirimu sendiri.” “Urusanku?” Ho Leng-hong melengak, “urusan apa?” Siau Cui tidak menjawab, ia menuju keluar dan celingukan ke sekeliling situ, lalu dengan hati-hati menutup pintu menguncinya dan menggandeng tangan Ho Leng-hong menuju ke pembaringan. Ho Leng-hong merasa tangannya begitu dingin, basah, sedikit gemetar, ini semua membuatnya tercengang. “Ada urusan apa sebenarnya? Jangan terlalu panik,” ia berbisik. “Leng-hong,” kata Siau Cui serius, “aku ingin menanyakan suatu persoalan, dan aku harap kau suka menjawab sejujurnya, bersedia bukan?” “Baik, katakanlah!” “Ai, sudah cukup lama kita berkenalan,” Siau Cui menghela napas. “dan selama ini tak pernah kauanggap diriku sebagai pelacur, akupun tidak menganggapmu sebagai lelaki iseng, hal ini penting artinya bagimu maupun bagiku, anggaplah sebagai permohonanku kepadamu jangan menganggap ucapku ini sebagai gurauan belaka . . . .” Terpaksa Ho Leng-hong menarik kembali senyumannya dan bersikap sungguh-sungguh. Ia tahu, semakin serius seorang perempuan berbicara, semakin besar pula kemungkinan persoalannya yang akan dikemukakan Cuma urusan sepele, dalam keadaan begitu, paling baik bagi seorang lelaki adalah banyak mendengar dan sedikit bicara, walau dalam hati meremehkan, tapi di luar harus menunjukkan sikap serius. Begitu lirih suara Siau Cui, bibirnya hampir menempel di tepi telinga Ho Leng-hong, ucapnya, “Leng-hong, kau masih muda dan lagi memiliki ilmu silat yang bagus, mengapa kau selalu bergaul dengan kaum penganggur? Tidak inginkah kau menciptakan suatu pekerjaan besar di dunia persilatan?” Ho Leng-hong membungkam meski diam-diam keheranan, “Aneh benar budak ini, obat apa yang dia makan hari ini? Kenapa tiba-tiba saja menyinggung soal tetek-bengek ini?” “Eh, dengar tidak apa yang kukatakan?” tiba-tiba Siau Cui menggoncangkan tubuhnya. “Sudah dengar!” “Kenapa diam saja kalau sudah dengar?” “Persoalan inikah yang kau maksudkan sebagai urusan serius?” tanya Ho Leng-hong setelah berpikir sebentar. “Benar, memangnya kauingin hidup luntang-lantung begini selamanya, tidak pernahkah memikirkan soal masa depanmu?” Ho Leng-hong tertawa “Lantas apa yang harus kulakukan? Mencuri? Merampok dengan mengandalkan ilmu silatku? Atau membunuh orang untuk mempopulerkan namaku di mata masyarakat?” “Tidak, aku tidak berharap kau berbuat begitu, tapi kau kan bisa mengemban tugas suci sebagai seorang pendekar untuk menolong yang lemah dan menumpas yang jahat, menegakkan keadilan dan kebenaran bagi kaum kecil . . . .” “O, itu bukan tugasku,” Ho Leng-hong mengangkat bahu, “hanya ada dua macam manusia di dunia ini yang melakukan hal-hal begitu, pertama adalah keturunan orang kaya yang ingin mencari nama, dan kedua adalah manusia miskin yang ingin menggunakan kesempatan itu untuk mencari popularitas dan memperbaiki keadaan sosial pribadinya. Hah, jelasnya yang dicari juga nama dan harta.” “Kalau begitu, apakah mereka yang mengemban tugas suci sebagai seorang pendekar juga manusia munafik?” “Aku tidak memaki mereka sebagai munafik, juga tidak mengakui mereka sebagai seorang Kuncu, sebab kalau mengemban tugas suci tanpa mencari nama, dari mana pula datangnya nama-nama besar para pendekar itu? Kalau bukan lantaran harta, semua Hiap-kek (pendekar) di dunia ini tentu sudah pada mampus kelaparan, memangnya mereka hanya makan nasi sendiri dan harus mengurusi persoalan orang lain?” “Bukan maksudku untuk mengajak kau berdebat persoalan ini, aku hanya ingin bertanya, sekalipun tidak kaupikirkan tentang dirimu, seharusnya kau berpikir untukku, apakah kau senang melihat aku bercokol terus di tempat semacam ini?” “Bukankah sudah kukatakan padamu, Siau Cui? Asal aku punya uang, pasti kau akan kutebus.” “Tapi aku harus menunggu sampai kapan?” “Ehm, kalau kulihat suasana malam ini, rasanya kau tak perlu menunggu terlalu lama . . . .” Ho Leng-hong tertawa. “Tidak! Aku tak dapat menunggu, seharipun tak sudi aku menunggu lagi. Leng-hong, kalau kau masih menginginkan diriku, bawalah aku pergi sekarang juga.” “Sekarang? Detik ini juga?” seru Ho Leng-hong tercengang. “Ya, detik ini juga kita harus pergi jauh dari sini, makin jauh makin baik, kita cari suatu tempat yang tak seorang pun kenal kita, sekalipun kehidupan kita lebih susah juga aku rela . . . .” “Siau Cui, kau sedang mengigau? Kau mabuk?” kata Ho Leng-hong meraba jidat si nona, “Sesungguhnya kau yang mabuk atau aku yang mabuk?” Tiba-tiba Siau Cui memeluk pemuda itu erat-erat, lalu berbisik dengan suara gemetar, “Kumohon kepadamu Leng-hong, semua perkataanku benar-benar timbul dari sanubariku, cepatlah bawa aku pergi, kalau terlambat mungkin tak sempat lagi . . . .” “Siau Cui, ada apa kau hari ini?” Ho Leng-hong berkerut kening, “hari kita masih panjang, siapa bilang tak sempat lagi . . . .” Sebelum perkataannya berlanjut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Bagaikan seekor kelinci yang ketakutan, Siau Cui mendorong tubuh Ho Leng-hong, lalu melompat bangun sambil menutupi mulutnya dengan rasa kaget dan takut luar biasa. “Siapa?” tegurnya kemudian. “Aku enso Go!” jawab orang di luar. “Buka pintu nona, aku mengantar kuah penghilang mabuk untuk Ho-ya.” Tiba-tiba air muka Siau Cui berubah menjadi pucat, dengan sedih ia melirik Ho Leng-hong sekejap, lalu sambil menarik napas panjang ia membuka palang pintu. Tahun ini Go So atau enso (kakak ipar) Go berusia tiga puluhan, dia adalah babu Hong-hong-wan yang khusus untuk pekerjaan kasar, tinggi besar seperti kuda teji, badannya berotot seperti kerbau, meski mukanya berbedak tebal dan bergincu, tampangnya dipandang dari sudut manapun tidak mirip seorang perempuan. Dengan tangan sebelah membawa baki dan tangan yang lain mendorong pintu, lebih dulu ia melongo ke dalam kamar, lalu katanya kepada Ho Leng-hong sambil tertawa, “Ho-ya, kau memang orang yang paling sibuk, bila malam ini kau tidak datang, sungguh nona Cui kita bisa terserang penyakit rindu.” Ho Leng hong enggan melayani perempuan macam banci ini, ia tidak menjawab. Go So melirik sekejap wajah Siau Cui, lalu tertawa lagi, “Mama kita mendengar Ho-ya lagi-lagi minum sampai mabuk, maka beliau menyuruh orang membuatkan semangkuk kuah penyadar mabuk untukmu, Ho-ya, minumlah cepat mumpung masih panas.” “Terima kasih, letakkan saja di meja!” “Kuah penyadar mabuk makin panas semakin manjur,” desak Go So lagi sambil mengangsurkan bakinya ke depan pemuda itu, “apalagi sudah larut malam, minum saja dulu kemudian baru beristirahat, kalau masih ada urusan besok kan masih ada waktu.” “Baik, letakkan dulu di situ, nanti akan kuminum sendiri,” kata Leng-hong. Tapi Go So mendesak terus, kepada Siau-Cui ia berkata, “Nona, jangan kauanggap aku cerewet, biasanya orang mabuk itu cepat lelah, kau harus mengajak Ho-ya beristirahat lebih dulu, jangan bicara yang bukan-bukan, berilah kesempatan kepada Ho-ya untuk menenangkan diri.” “Aku tahu,” bisik Siau-Cui. “Bagus kalau sudah tahu, nona muda memang harus lebih banyak belajar menghibur tuan sekalian, apalagi hari esok kan masih panjang, sekalipun masih ada persoalan segudang juga dapat diselesaikan . . . .” Ho Leng-hong berharap orang ini lekas pergi, maka dia ambil kuah tadi dan sekali tenggak menghabiskan isinya, lalu sambil mengulapkan tangan ia berkata, “Sudahlah Go So, kau harus beristirahat pula, kalau kau tidak pergi mana kami bisa beristirahat?” “O, rupanya tuan mengusir aku? Kuatir waktumu yang berharga hilang? Baiklah, aku akan pergi, aku segera pergi!” Di mulut ia berkata akan pergi, tapi badannya tak bergeser, ia malah memandang Ho Leng-hong sambil tertawa. Sikapnya seperti lagi menantikan sesuatu, tapi apa yang ditunggu? Atau mungkin sedang menunggu tip atau persen? Muak rasanya Ho Leng-hong menyaksikan tampang orang, dia ingin mengambil uang supaya orang lekas pergi, tapi empat anggota badannya tiba-tiba menjadi lemas tak bertenaga, kelopak matanya menjadi berat, rasa mengantuk yang sukar ditahan tahu-tahu menyerangnya. Ya, orang yang mabuk arak memang sangat lelah. Ho Leng-hong betul-betul lelah, saking lelahnya sampai badan lemas tak bertenaga, pikiranpun terasa kosong . . . . Hanya satu keinginannya waktu itu, yakni memejamkan mata dan tidur sepuasnya. Soal Go So sudah pergi atau tidak? Kuah penyadar mabuk kenapa tidak manjur? Ia malas untuk memikirkannya lagi. Dalam keadaan lamat-lamat ia pejamkan matanya, tidur lelap dan terbuai di alam mimpi . . . . ------------------------- Berapa lama ia tertidur? Ia tak tahu. Bahkan sekarang ia masih tidurkah? Atau sadarkah? Ia sendiripun tak tahu. Ia cuma tahu, sebelum matanya terbuka, terenduslah bau harum sayup-sayup. Bau harum itu seperti datang dari bawah bantal, seperti juga timbul dari seprei, sampai kelambu, pembaringan . . . . pokoknya seluruh kamar dipenuhi bau harum. Bau harum itu amat sedap dan juga asing baginya, sudah jelas bukan bau harum yang biasa terendus dari bada nona-nona penghuni Hong-hong-wan, bau harum itu jelas bau harum tingkat tinggi. Dia menggeliat lalu membuka matanya perlahan, pertama yang dilihatnya adalah seorang genduk cilik berbaju hijau berusia antara 13-14 tahun berdiri di depan pembaringan sambil mengulum senyum. Ia mengkucak-kucak matanya serta memandang sekeliling ruangan itu, ternyata ia sedang berbaring di sebuah villa yang dibangun di tengah kolam. Empat sisi ruang ada daun jendela, air nan hijau mengelilingi villa tersebut, di tepi kolam di depan sana kelihatan aneka warna bunga tumbuh dengan indahnya . . . rupanya bau harum yang terendus tadi berasal dari bau bunga yang tumbuh di sekeliling tempat itu. Hanya di surgaloka terdapat pemandangan seindah ini, atau mungkin ia sudah kesasar ke surgaloka seperti halnya dalam dongeng? Sementara ia tercengang, genduk berbaju hijau itu telah menyapa sambil tertawa, “Kau sudah sadar Tuanku?” Ho Leng-hong melenggong “Aku . . .” “Nyenyak benar tidur Tuanku ini, sudah dua kali nyonya menjenguk kemari tapi Tuan belum bangun juga, bir hamba segera memberitahu kepada Hujin (Nyonya). . . . .” “Eh . . . eh . . . tunggu sebentar, bolehkah kutanya, tempat manakah ini? Kenapa aku bisa tertidur di sini?” Seru Ho Leng-hong. Mula-mula genduk cilik itu tertegun, lalu sambil menutup mulutnya ia tertawa geli, dan berkata, “Toa-ya, tampaknya mabukmu belum hilang dan masih mengigau.” “Tidak! Aku tidak mabuk, aku segar bugar, aku benar-benar tidak tahu tempat manakah ini.” “O, Tuanku, jangan-jangan engkau sakit?” dayang itu tertawa cekikikan. “Masa rumah sendiri tidak kenal lagi?!” “Rumah? Rumahku sendiri?” “Tentu saja, siapa yang tidak tahu tempat ini adalah Thian-po-hu yang tersohor di kolong langit ini. Dan villa ini adalah Kiok-hiang-sia di belakang taman yang paling disukai Tuan?” “Thian-po-hu . . . Kiok-hiang-sia . . . .” gumam Ho Leng-hong, tiba-tiba ia berseru tertahan, “Hah, kaumaksudkan tempat ini adalah istana Thian-po-hu di Kiu-ci-shia (benteng liku sembilan)?” “Terima kasih kepada langit dan bumi, syukurlah Tuan sudah ingat kembali.” “Lantas, siapakah aku?” “Tuan, masa siapakah dirimu sendiri juga lupa?” Ho Leng-hong menggeleng, “Bukannya lupa, kutahu benar siapakah diriku, pada hakikatnya aku tak mempunyai hubungan apapun dengan Thian-po-hu, kenapa aku bisa tidur di sini?” Genduk cilik itu tak bisa tertawa lagi, matanya terbelalak lebar. “Tuan, apa yang kaukatakan?” ia berteriak. “Masa kau mengatakan dirimu tak ada hubungannya dengan Thian-po-hu?” “Ya, aku memang tak ada hubungan apa-apa dengan kalian, aku she Ho dan tinggal di Lok-yang, sekalipun sudah lama kudengar kebesaran nama Thian-po-hu, sayang selama ini tidak ada berhubungan.” “Apa? Kau she Ho?” kembali dayang cilik itu menjerit. “Ya, betul!” “Kau.... kau bilang tak pernah berhubungan Thian-po-hu...” “Benar!” “Kau.... kau..., siapakah dirimu sendiri juga tidak ingat lagi?” “Tidak, aku ingat dengan sangat jelas, aku Ho......” Dengan mata terbelalak dayang itu menyurut mundur beberapa langkah, tiba-tiba ia menjerit kaget, lalu angkat langkah seribu, seakan-akan mendadak ia lihat di atas kepala Ho Leng hong tumbuh sepasang tanduk..... Baru beberapa langkah ia lari keluar villa itu, hampir saja ia bertumbukan dengan dua orang yang muncul dari depan. Kedua orang itu adalah majikan dan pelayan, yang satu memakai baju berwarna kuning telur berdandan pelayan, sedang yang lain adalah seorang nyonya muda jelita, mereka sedang menyeberangi jembatan dan masuk ke villa air tersebut. Dengan suatu gerak cepat pelayan baju kuning itu menyambar lengan si genduk cilik tadi dan menegurnya, “He, Siau Lan, apa-apaan kau? Kenapa lari seperti diuber setan?” “O, nyonya, enci Bwe, kebetulan sekali kedatangan kalian,” seru Siau Lan dengan napas tersengal, “Cepat masuk dan tengoklah keadaan Tuan, dia . . . dia . . . .” “Tuan kenapa?” tanya nyonya cantik itu dengan kuatir. “Dia . . . entah sebab apa Tuan selalu mengatakan tidak kenal tempat ini . . . . dia mengaku she Ho, katanya tak ada hubungannya dengan Thian-po-hu . . . . . .” “Ah, masa begitu?” seru si nyonya terperanjat. “Hujin jangan percaya obrolannya,” hibur Bwe-ji cepat, “tentu Tuan sengaja menggodanya setelah sadar dari mabuknya, dan budak cilik ini menganggapnya sebagai kejadian serius.” “Tidak, Tuan tidak bergurau, semuanya adalah kejadian nyata, Tuan bicara dengan serius, tidak seperti bergurau, kalau tidak percaya masuklah dan periksa sendiri.” Nyonya cantik itu berkerut kening, ia tidak banyak bertanya lagi dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Tatkala dilihatnya Ho Leng-hong duduk di atas pembaringan dengan tenang, ia mengembus napas lega. “Huh, Siau Lan si budak ini memang harus digebuk, coba lihat, Tuan kan baik-baik saja, bikin kaget hatiku saja.” “Betul, Siau Lan suka gila-gilaan, mulutnya suka ngaco-belo,” Bwe-ji menimpali. “Tapi sungguh-sungguh aku tidak bohong, Tuan yang berkata begitu kepadaku,” kata Siau Lan dengan penasaran. “Huh, masih membantah? Coba lihat, Tuan segar bugar, masa ia mengucapkan kata-kata gila begitu....” omel Bwe-ji. “Eh nona, jangan kau salahkan dia, apa yang dikatakannya memang benar dan bukan kata-kata gila,” seru Ho Leng-hong tiba-tiba. “Aku memang she Ho dan tak pernah datang ke Thian-po-hu, mungkin terjadi kesalah-pahaman di antara kita.” “Kesalah-pahaman? Kesalahan-pahaman apa?” tanya Bwe-ji dengan melengak. “Kukira mungkin kalian telah salah menganggap diriku sebagai seorang lain.” Dengan bingung Bwe-ji memandang nyonya muda itu, sungguh ia tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan. Nyonya cantik itu kaget bercampur heran, sesudah tercengang sejenak barulah katanya dengan serius. “Jit-long, jangan bergurau macam begitu dengan para dayang, sekalipun mau bergurau, tahu diri sedikitlah. Gurauannya tidak apa-apa, kalau sampai tersiar keluar, bagaimana dengan nama baik Thian-po-hu?” “Aku tidak bergurau, aku bicara sesungguhnya!” kembali Ho Leng-hong menegas. Sekilas perasaan bingung dan ragu menghias wajah nyonya muda itu, “Jadi kauanggap dirimu she Ho?” “Bukan menganggap, sesungguhnya aku memang she Ho” “Kalau begitu, kenalkah kau siapa diriku?” “Maaf, sebelum perjumpaan ini tak pernah kita bertemu, tapi dari panggilan kedua nona cilik ini, agaknya nyonya inilah isteri Nyo-tayhiap dari Thian-po-hu yang tersohor itu, betul bukan?” Nyonya muda itu merasa geli dan juga mendongkol, ia menengok ke arah Bwe-ji dan bertanya, “Coba dengar, perkataan manusiakah itu? Masa siapa diriku tidak dikenalinya lagi.” “Ya, mungkin semalam tuan mabuk keras, sampai sekarang mabuknya belum hilang . . . . “ kata Bwe-ji. “Tidak, aku tidak mabuk, aku merasa segar,” kata Leng-hong cepat, “Setiap kalimat, setiap perkataanku semuanya kuucapkan dengan pikiran yang sehat.” Mata nyonya itu mulai berkaca-kaca karena sedih, katanya dengan mendongkol, “Semua ini gara-gara Lo-ya (tuan Lo) sekalian. Hmm, setiap kali mereka selalu mengantarmu pulang dalam keadaan mabuk. Coba lihat, sampai nama sendiri tak tahu lagi, sanak keluarga juga terlupakan semua.” “Hujin, bagaimana kalau kita undang Lo-ya kemari?” bisik Bwe-ji. Nyonya itu berpikir sebentar, lalu manggut-manggut. “Betul, aku haru minta pertanggung-jawab mereka . . . .” Ia berpaling sambil memberi pesan, “Siau Lan, kau saja yang ke sana dan sekalian beri kabar kepadanya, semua orang yang semalam ikut minum harap datang kemari, seorang pun tak boleh berkurang. Hm, Siapa berani tak datang, hati-hati kalau kulabrak ke rumahnya.” Siau Lan mengiakan dan buru-buru berlalu. Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Apakah Lo-ya yang hendak diundang Hujin itu ialah Kwan-lok-kiam-kek (jago pedang dari Kwan-lok) Lo Bun-pin yang tinggal di kota Lok-yang?” “Betul, mendingan kau masih ingat nama satu orang ini,” jawab si nyonya jelita. Ho Leng-hong menarik napas panjang, “Aku kenal orang ini, baik sekali kalau dia diundang kemari.” “Hm, semoga iapun kenal padamu, kuharap pula dia masih ingat siapakah dia.” Perkataan itu bernada marah, tapi Ho Leng-hong Cuma tertawa dan tidak membantah. Ia percaya, kalau Kwan-lok-kiam-kek Lo Bun-pin kenal padanya dan kenal juga Nyo Cu-wi, pemilik istana Thian-po-hu, jika ia sudah datang, maka duduknya perkara akan menjadi jelas. Tapi masih ada satu persoalan yang membuatnya tidak mengerti, ia masih ingat benar semalam dirinya tertidur di kamar Siau Cui di rumah pelacuran Hong-hong-wan, kenapa secara tiba-tiba bisa muncul di Thian-po-hu? Apa yang terjadi memang sungguh-sungguh ataukah dalam mimpi? Kalau dalam mimpi, tak bisa disangkal lagi impian ini adalah mimpi aneh yang tak masuk di akal . . . . ------------------------- Suara langkah kaki berkumandang di luar Kiok-hiang-sia, agaknya tak sedikit orang yang datang. Orang pertama yang masuk adalah Lo Bun-pin, sedang di belakangnya mengikut empat lima orang laki-laki berbaju perlente, mereka semua adalah jago-jago kenaman dari sekitar Kwan-liok, wajah mereka tampak kaget. Rupanya Lo Bun-pin sudah diberitahu garis besar peristiwa yang terjadi oleh Siau Lan, wajahnya tampak gelisah dan bingung. Begitu melangkah masuk ia lantas berteriak, “Saudara Cu-wi, kenapa kau?” Ho Leng-hong sedang duduk di kursi setelah berganti pakaian, ia melengak mendengar panggilan itu . . . . . Sebelum ia menjawab, Lo Bun-pin telah menjura kepada Nyo-hujin seraya bertanya, “Enso, apa gerangan yang terjadi? Bukankah saudara Cu-wi duduk segar di sini? Kenapa Siau Lan bilang ia gila?” “Hm, aku sendiri juga tak tahu ia sudah gila atau waras,” sahut Nyo-hujin, “pokoknya sebelum keluar rumah semalam ia masih segar bugar, tapi setelah sadar pagi ini, ia telah berubah menjadi seorang yang lain, tak kenal lagi akan diri sendiri, sanak keluarga sendiri juga tak dikenal, ia selalu mengatakan dirinya she Ho . . . . . “ “Ah, masa begitu?” Lo Bu-pin terkesiap, “tapi . . . . ketika pulang semalam, saudara Cu-wi tidak menunjukkan gejala apa-apa, semua sobat yang ikut minum semalam kini pun hadir di sini, semua orang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri!” “Ya, ya, aku tahu, kalian adalah sahabat karib, kenapa tidak kautanya sendiri padanya?” kata Nyo-hujin. Lo Bun-pin manggut-manggut sambil berpaling ke arah Ho Leng-hong, katanya, “Saudara Cu-wi permainan apa yang kaulakukan? Jangan bergurau dengan sobat lama, hah!” Betapa kesal Ho Leng-hong karena berulang dipanggil “Saudara Cu-wi”, setelah merenung sejenak lalu berkata, “Coba kau teliti lagi saudara Lo, benarkah aku ini Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu?” “Kenapa?” Lo Bun-pin tertawa. “Masa Nyo-heng tidak mengakui?” “Tak sedikit orang di dunia ini yang mirip wajahnya, mungkin mata Lo-heng kabur dan salah melihat orang.” “Hahaha . . . mana mungkin? Seandainya mataku sudah lamur, tak mungkin sobat-sobat lainnya juga lamur, kenapa Nyo-heng tidak tanya sendiri kepada mereka . . . .” “Betul, betul!” sahut semua orang, “sudah bertahun-tahun kita bergaul dengan Thian-po-hu, siapa yang tidak kenal Nyo-heng?” “Tapi kalian telah salah melihat orang!” “Ah, tak mungkin!” kembali semua orang menganggapi, “kita kan kenalan lama, mana mungkin salah lihat?” “Aku berani bertaruh kalian pasti salah lihat, sebab aku sendiri tahu siapakah diriku, hakikatnya aku bukan Nyo Cu-wi.” Semua orang sama melengak, siapapun bisa merasakan keseriusan Ho Leng-hong, mereka tahu orang ini tidak bergurau, tapi bicara sungguh-sungguh. “Aku ingin cari tahu kabar seseorang, entah saudara Lo masih ingat atau tidak?” kata Ho Leng-hong lagi. “Siapa?” tanya Lo Bun-pin. “Suatu hari, ketika saudara Lo sedang berburu di luar kota, pernahkah kau berebut seekor kelinci liar yang terluka dengan seorang laki-laki miskin? Akhirnya terjadi adu kepandaian dan dilanjutkan dengan persahabatan, kalian bersama-sama menyelenggarakan pesta daging kelinci panggang di bukit itu serta menamai santapan lezat nomor satu di dunia. . . .” “O, kaumaksudkan Ho Leng-hong yang hidup menganggur itu?” “Benar, masih ingatkah Lo-heng padanya?” “Tentu saja masih ingat, ilmu silatnya tidak berada di bawah kita, sayang ia lebih suka hidup konyol bersama kaum penganggur.” “Seandainya Ho Leng-hong duduk di sini sekarang, dapatkah Lo-heng mengenalinya?” “Pasti bisa, meski kami hanya berjumpa sekali saja, namun kesan yang diberikan kepadaku terlalu dalam, sampai kini aku masih ingat pada wajahnya . . . . . Ai! Sayang sepotong batu kemala yang tak pernah diasah harus terjerumus di pencomberan, sungguh bikin orang menyesal.” “Masih inginkah saudara Lo bertemu lagi dengannya?” “Sekalipun ingin, mau apa lagi?” Lo Bun-pin menggeleng, “sayang selamanya tak dapat bertemu lagi dengannya.” “Kenapa?” Kembali Lo Bun-pin menghela napas, “Sebab Ho Leng-hong itu sudah mati!” Ho Leng-hong melengak, cepat ia duduk tegak dan berseru, “Siapa yang bilang?” “Siau Thian yang membawa kabar ini barusan,” sahut Lo Bun-pin sambil menuding seorang di belakang. Siau Thian atau Thian cilik bukan lagi anak kecil, lengkapnya ia bernama Thian Pek-tat, tahun ini usianya sudah mencapai empat puluh tahun lebih, Cuma bila kau perhatikan kepalanya yang kecil dengan sepasang mata tikusnya dan kumisnya yang serupa kumis tikus, tak sulit bagimu untuk menghubungkan orang ini dengan kepandaian “kecil” yang pasti sudah mencapai puncak kesempurnaan. Sejak dilahirkan orang ini mempunyai wajah yang selalu tersenyum, dia pandai bicara dan pintar menyanjung, ia selalu bergaul dengan kalangan atas, mata-telinganya tajam, sebab itu orang menjulukinya sebagai Tiang-ni-siau-thian atau Thian kecil si telinga panjang. Kini Thian Pek-tat berdiri di belakang Lo Bun-pin, ia segera melangkah ke depan demi mendengar perkataan itu. “Benar!” demikian tukasnya, “baru pagi ini kudengar kabar tersebut.” Sungguh Ho Leng-hong ingin persen beberapa tempelengan untuk orang ini, tapi sedapatnya ia menahan emosinya. “Bagaimana kabarnya?” ia bertanya. “Konon Ho Leng-hong baru saja menang banyak di meja perjudian semalam, setelah minum arak ia main perempuan di gang Waru, siapa tahu keesokan harinya ia ditemukan tewas di kamar tidur Siau Cui, pelacur langganannya, ada orang bilang ia mampus karena perampokan, ada pula yang mengatakan dia kehabisan . . . . “ Ia melirik sekejap wajah Nyo-hujin, kemudian sambil menampar muka sendiri, katanya, “Aku memang pantas mampus dan harus digebuk, aku lupa Hujin berada di sini hingga telanjur bicara yang bukan-bukan.” Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hm, jadi kau sendiri juga Cuma mendengar dari orang lain dan bukan melihat dengan mata kepala sendiri.” “Tapi berita ini dapat dipercaya, semua orang di Lok-yang telah mengetahui kejadian ini, malah jenazahnya masih terbaring di rumah pelacuran Hong-hong-wan.” “Ya, Siaute pun ikut menyesal atas musibah yang menimpa Ho Leng-hong itu, maka telah kuutus orang untuk menyelidiki sebab kematiannya serta mengurusi juga layonnya. Eh, omong-omong kenapa saudara Cu-wi menyinggung orang ini? Kau pun kenal padanya?” tanya Lo Bun-pin. Ho Leng-hong tertawa, “Bukan cuma kenal, malah aku tahu kalau dia sampai saat ini masih hidup hakikatnya dia tidak mati.” “Dari mana kau tahu?” tanya lagi Lo Bun-pin “Sebab akulah Hong Leng-hong!” sahut pemuda itu sekata demi sekata. Tentu saja semua orang terkejut dan saling pandang dengan air muka berubah. Lo Bun-pin coba meraba jidat Ho Leng-hong kemudian mengamati wajahnya dengan saksama, lalu dengan penuh perhatian ia bertanya. “Saudara Cu-wi, kau tidak sakit bukan?” “Apakah aku mirip orang sakit,” jawab Ho Leng-hong. Lo Bun-pin menyengir, “Aku pernah melihat Ho Leng-hong, dia adalah dia dan kau adalah kau, mana bisa kalian dipersamakan menjadi satu?” “Akupun lagi keheranan, jelas-jelas aku ini Ho Leng-hong, kenapa kalian berkeras menganggap aku adalah Nyo Cu-wi? Aku jelas masih hidup, tapi kalian ngotot mengatakan aku sudah mati?” Lo Bun-pin terbelalak dengan mulut melongo dan tak tahu bagaimana harus menjawab. Nyo-hujin lantas menangis, dengan tersengguk dia berkata, “Coba lihat, semua ini gara-gara minum arak, kalianlah yang membuat dia menjadi begini, Ayo, apa yang hendak kaukatakan sekarang....” “Jangan panik dulu enso, tenanglah,” bujuk Lo Bun-pin, “Menurut pendapatku, mungkin saudara Cu-wi kemasukan roh jahat, mungkin diganggu setan...” “Roh dan setan jahat apa? Hm, justru kalian inilah setan-setan arak yang membuatnya jadi begini,” teriak Nyo-hujin, “coba kalau kalian tidak mengajaknya minum arak, masa dia jadi begini? Pokoknya kalian harus bertanggung-jawab kepada ku hari ini, kalau tidak, siapapun jangan harap dapat meninggalkan Thian-po-hu.” Malu sekali Lo Bun-pin menerima dampratan itu, ia menunduk dengan wajah merah, setelah termenung sebentar ia bertanya kepada Thian Pek-tat, “Siau Thian, dapat dipercaya tidak beritamu itu?” “Tanggung bisa dipercaya, aku berani tanggung dengan batok kepalaku,” jawab Thian Pek-tat. “Kalau begitu kita harus berusaha memperlihatkan bukti kepadanya, sekarang juga Siau Thian berangkat ke Lok-yang serta mengangkat jenazah Ho Leng-hong ke Kiu-cui-shia sini, biar dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri untuk membuyarkan khayalan dalam benaknya, otomatis sakitnya akan sembuh.” “Benar!” Sungguh gagasan yang bagus” seru semua orang sambil manggut-manggut. “Enso, terpaksa kita harus mengangkut jenazah itu kemari, tentunya kau tidak keberatan bukan?” kata Lo Bun-pin kemudian. “Manjur tidak?” tanya Nyo-hujin. “Kukira hanya dengan cara inilah kita akan membuyarkan khayalan dalam benaknya, supaya dia percaya bahwa dirinya bukan Ho Leng-hong.” Nyo-hujin menghela napas panjang. “Ai, baiklah, asal Jit-long bisa disadarkan, tentu saja aku setuju.” “Akupun setuju,” sambung Ho Leng-hong sambil tertawa, “bahkan aku berani bertaruh, batok kepala Thian kecil si telinga panjang perlu dicarikan cadangannya.” Lo Bu-pin tidak menggubris ocehannya, buru-buru ia perintahkan orang mengantar Thian Pek-tat ke Lok-yang. Semua orang yang mengelilingi tempat tidur hanya memandang Ho Leng-hong dengan perasaan kasihan, tidak ada yang mengajak bicara padanya. Dalam anggapan mereka, Ho Leng-hong sudah gila, penyakitnya betul-betul sudah gawat. Maklum, kalau identitas sendiripun sampai keliru, kalau bukan orang gila lantas apa namanya? Sebaliknya menurut pandangan Ho Leng-hong Lo Bun-pin dan lain-lain itulah yang goblok dan menggelikan sekali. Bagaimana tidak? Seorang yang masih hidup segar bugar mereka anggap sudah mati, Ho Leng-hong yang mereka hadapi dikatakan sebagai Nyo Cu-wi, terutama nyonya rumah Thian-po-hu ini, orang asing dianggap sebagai suami sendiri . . . . Kalau kejadian ini sampai tersiar ke luar bukankah akan bikin orang tertawa hingga copot giginya? Semakin dibayangkan Ho Leng-hong makin geli. Melihat dia tertawa sendiri tanpa sebab, orang semakin yakin ia sudah gila. Sebaliknya karena semua orang makin menganggapnya gila, Ho Leng-hong juga tambah gila. Maka suasana dalam Kiok-hiang-sia berubah menjadi kacau-balau, ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang berbisik-bisik, ada pula yang menggeleng kepala sambil menghela napas . . . . ------------------------- Thian Pek-tat telah kembali. Ia pulang bersama dua orang laki-laki yang menggotong sebuah pembaringan butut, di atas pembaringan membujur sesosok mayat yang dibungkus kain kafan. “Siau Thian, bikin repot dirimu!” kata Lo Bun-pin menyambut kedatangannya. “Repot sih tidak,” jawab Thian Pek-tat sambil membesut keringat, “Cuma sepanjang jalan kereta berjalan terlalu lambat, kalau bisa aku ingin membawanya terbang pulang kemari.” “Sudah kau selidiki sebab-sebab kematiannya? Apa yang dikatakan mak germo Hong-hong-wan?” “Sudah kutanyakan langsung kepada Siau-Cui. Konon waktu masuk ke sarang pelacuran semalam, Ho Leng-hong sudah dalam keadaan mabuk, begitu masuk kamar dia lantas tidur, semalaman tidurnya nyenyak sekali, pagi-pagi baru diketahui badannya sudah membujur kaku dan dingin.....” “Kalau begitu ia mati karena mabuk?” “Keadaan yang sesungguhnya belum bisa kukatakan, tapi yang pasti lima puluh tahil perak itu masih berada di kamar Siau Cui, setahilpun tidak berkurang, jadi tak mungkin mati lantaran perampasan harta.” Lo Bun-pin menghela napas panjang, “Ai, sayang benar! Seorang lelaki perkasa harus mati tanpa diketahui sebab musababnya . . . . .” Kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Nyo-heng kau berkeras mengatakan dirimu adalah Ho Leng-hong tapi kenyataan telah membuktikan Ho Leng-hong telah mati di kota Lok-yang, bahkan jenazahnya sekarang sudah diangkut kemari, tidak inginkah kau memeriksanya sendiri?” “Tentu saja harus kuperiksa,” Ho Leng-hong tertawa, “aku tidak percaya di dunia ini terdapat dua orang Ho Leng-hong yang mempunyai bentuk wajah yang sama.” “Baik. Tapi kurasa mukanya tentu sudah tak sedap dipandang, harap enso menyingkir dulu,” kata Lo Bun-pin. Nyo-hujin dan sekalian dayangnya lantas memutar badan dan menghadap ke arah lain, Lo Bun-pin segera menggapai kepada kedua laki-laki itu agar menggotong masuk mayat tersebut. Perlahan Thian Pek-tat membuka kain kafan yang menutupi wajah jenazah. Tiba-tiba senyuman Ho Leng-hong menjadi beku . . . siapa lagi yang berbaring itu kalau bukan Ho Leng-hong? “Sekarang kau sudah percaya bukan, saudara Nyo?” tanya Lo Bun-pin kemudian. Kecurigaan seketika menyelimuti benak Ho Leng-hong, tiba-tiba ia mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Thian Pek-tat, bentaknya “Dari mana kaudapat mayat palsu itu? Hayo lekas jawab!” “Tidak! Tidak ada mayat palsu . . . ini . . . ini jenazah Ho Leng-hong, jenazah asli bukan palsu....” jawab Thian Pek-tat dengan tergagap. “Tenang, tenang dulu saudara Nyo, jangan emosi . . . .” seru semua orang sambil maju melerai. “Ya, lepaskan dulu Siau Thian, kalau ada persoalan boleh kita bicarakan secara baik-baik.” “Betul! Lepaskan dulu, semua kan sahabat sendiri . . . . “ Ho Leng-hong coba meraba muka sendiri, tiba-tiba timbul perasaan merinding dari lubuk hatinya, sambil membentak ia menggentakkan Thian Pek-tat ke samping, lalu disambarnya pembaringan butut itu dan dilemparkan ke luar . . . . Kedua laki-laki itu tak dapat berdiri tegak dan terlempar keluar berikut pembaringan tersebut. Ho Leng-hong manfaatkan kesempatan itu untuk menerjang keluar villa itu, ia coba melongok ke luar pagar jembatan . . . . “Cepat alangi, dia mau melompat ke air bunuh diri.” “Tutuk dulu jalan darahnya, tangkap!” “Dia sudah gila, cepat cepat! . . .” Padahal Leng-hong tidak gila, iapun tidak bermaksud terjun ke air untuk bunuh diri, dia hanya ingin bersandar di tepi jembatan dan menggunakan air kolam untuk melihat raut wajahnya sendiri. Dan sekarang ia dapat melihat jelas, seketika ia melongo. Bukan wajah Ho Leng-hong yang muncul di permukaan air, tapi seraut wajah tampan seorang laki-laki setengah umur yang berkulit putih. Tak bisa disangsikan lagi, laki-laki setengah umur yang ganteng ini bukan lain adalah Nyo Cu-wi, pemilik istana Thian-po-hu. Ho Leng-hong belum pernah berjumpa dengan Nyo Cu-wi, tapi ia merasa seperti pernah kenal bayangan orang yang muncul di permukaan air itu. Ia menjadi bingung dan ragu-ragu . . . jangan-jangan dia memang sudah mati? Benarkah dirinya sudah berubah menjadi Nyo Cu-wi? Tak sempat ia berpikir lagi, tak sempat ia memandang lebih teliti, sebab Lo Bun-pin dan lain-lain sudah keburu maju merubungi, ada yang menarik tangannya, ada yang memegang kakinya, bahkan ada pula yang menutuk jalan darahnya, kemudian beramai-ramai mereka menggotongnya masuk kembali ke Kiok-hiang-sia . . . . ------------------------- Pepatah kuno berkata: Sekali masuk rumah bangsawan, dalamnya melebihi samudra. Artinya rumah kediaman orang besar tidak gampang dikunjungi atau ditinggalkan. Meskipun Thian-po-hu di Kiu-ci-shia bukan istana kaum bangsawan atau tempat orang berpangkat, tapi tempat ini merupakan tempat tinggal jago persilatan yang ternama, baik luasnya bangunan, kemewahan, dan kemegahan perabot maupun ketatnya penjagaan, tidak kalah dengan gedung orang berpangkat. Bila Ho Leng-hong ingin kabur dari Thian-po-hu, hal ini jauh lebih sukar daripada naik ke langit. Sekalipun demikian, setiap saat ia selalu berusaha melarikan diri dari sana. Hal ini tidak berarti ia meremehkan kenikmatan hidup yang di terimanya di Thian-po-hu, juga tidak berarti ia enggan tinggal dalam gedung yang megah melebihi istana ini, tapi dia harus mencari jawaban terlebih dahulu tentang siapakah dia yang sebenarnya? Sebab ia sendiripun mulai bingung. Semenjak melihat mayat “Ho Leng-hong”, sejak melihat tampang “Nyo Cu-wi” yang muncul di permukaan air, ia mulai ragu, ia mulai sangsi dan bingung. Jenazah itu tidak palsu, baik perawakan, panca indera, raut wajah, semuanya persis Ho Leng-hong, sedikitpun tiada tanda-tanda yang mencurigakan. Raut wajah Nyo Cu-wi juga tidak palsu, bukan saja semua orang menganggap demikian, bahkan Nyo-hujin sendiripun tidak curiga, bagaimanapun ia menggosok dan mencuci mukanya, semuanya membuktikan bahwa wajahnya bukan berubah lantaran dirias dengan obat-obatan. Tapi, ia masih ingat dengan jelas bahwa dia adalah Ho Leng-hong dari Lok-yang, kenapa secara tiba-tiba bisa berubah menjadi Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu di Kiu-ci-shia? Daya ingat serta cara berpikirnya dimiliki orang ini, sebaliknya raut wajahnya, bentuk lahiriah adalah milik orang yang lain, hal ini suatu kejadian yang cukup menyiksa batin. Maka dari itu, Ho Leng-hong ingin melarikan diri, bukan Cuma ingin menghindari penderitaan saja, tapi yang penting adalah ingin menemukan dirinya sendiri. Ia pikir, hanya seorang yang mungkin tahu duduk perkara yang sesungguhnya . . . . . Siapakah dia? --- Siau Cui. Karena ia telah kehilangan pribadinya di pembaringan Siau Cui, bahkan dia masih ingat, ketika terjadi “musibah” tersebut, Siau Cui pernah mohon kepadanya agar mengajaknya kabur sejauh-jauhnya, kabur ke suatu tempat yang tak seorangpun mengenali diri mereka . . . . Bila dibayangkan kembali sekarang, bukankah ucapan itu suatu pertanda bahwa segera akan terjadi sesuatu? Ho Leng-hong bertekad akan meninggalkan Thian-po-hu secara diam-diam dan satu-satunya jalan untuk mewujudkan cita-citanya adalah merebut kepercayaan Nyo-hujin dan Lo Bun-pin sekalian, bila sudah dipercaya, otomatis ia dapat bergerak bebas lagi. Dan untuk mendapatkan kepercayaan mereka, satu-satunya cara adalah mengakui dirinya adalah Nyo Cu-wi untuk sementara waktu. Padahal keadaan telah memaksanya mau-tak-mau harus mengakui kenyataan tersebut. Sudah tiga hari Ho Leng-hong dipaksa berbaring dalam Kit-hiang-sia, Lo Bun-pin sekalian secara bergilir mendapat tugas untuk menjaga siang dan malam, sekalipun alasan mereka untuk menemani, padahal yang benar adalah untuk mengawasinya, kuatir penyakit gilanya angot lagi. Enam-tujuh rombongan Hwesio dan Tosu siang malam secara bergilir membacakan kitab di luar villa air, mereka berdoa untuk mengusir setan dan menundukkan roh jahat, suara tetabuhan yang dibunyikan sangat berisik dan membuat orang tak bisa beristirahat dengan tenang. Suara gaduh dan ribut macam begini jangankan bisa mengusir setan atau roh jahat, sekalipun orang yang tidak gila, lama kelamaan malah akan menjadi gila sungguh-sungguh. Tapi ada satu kesulitan bagi Ho Leng-hong untuk mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi, sebab selama ini ia selalu berkeras mengatakan dirinya bukan Nyo Cu-wi. Untuk ini, sedikitnya dia harus mencari suatu “alasan” yang tepat. Tapi alasan apa yang dapat digunakannya? Ah, ada akal . . . . . Saat itu suatu rombongan Tosu sedang membunyikan alat tetabuhan, berdoa sambil mengelilingi villa itu. Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang Hoatsu (pendeta agama To) yang bertubuh kurus kering dengan kumis tikus, tampangnya rada mirip Siau Thian. Sejak semula Ho Leng-hong jemu melihat tampangnya, sebab Tosu kecil ini bukan saja suaranya tinggi melengking, caranya berdoa pun seperti jeritan setan, bahkan beberapa kali jeritannya menyadarkan dia dari tidurnya. Kini tiba kesempatan yang baik untuk memberi “hajaran” kepadanya. Begitulah, tatkala Hoatsu itu tiba di pintu villa dan siap menggoyangkan pedang kayunya sambil membaca mentera pengusir setan, mendadak Ho Leng-hong melompat bangun, lalu berteriak keras, “Ada setan! Hai, kalian cepat kemari, tangkap setan itu! Tangkap!” Kebetulan Lo Bun-pin yang mendapat giliran berjaga, buru-buru ia menghampirinya seraya bertanya, “Saudara Cu-wi, apa yang kau lihat?” “Setan! Setan bertubuh ceking, bertangan empat dan kaki tiga! Cepat! Cepat tangkap! . . . . . “ “Di mana?” tanya Lo Bun-pin dengan melenggong. Sambil menuding Hoatsu itu kembali Ho Leng-hong berteriak, “Itu dia! Di depan pintu kamar, itu yang memakai jubah Pat-kwa sambil membawa pedang kayu . . . . . dia itulah setan . . . . . dia setan! . . . . . .” “Keliru besar saudara Cu-wi, orang itu bukan setan, dia Ku-gwat Hoatsu dari Giok-siu-koan yang sengaja di undang untuk menangkap setan . . . . . “ “Tidak! Dialah setannya!” teriak Ho Leng-hong lagi, “dengan mata kepalaku sendiri kulihat ada setan menyusup ke tubuhnya, kalian cepat menangkapnya, cepat menangkapnya! . . . . . . Sementara itu Nyo-hujin yang beristirahat di balik ruangan serta para Busu (pesilat) yang berjaga di sekitar villa itu sama berdatangan karena mendengar suar ribut itu. “Jit-long, benarkah kau melihat setan?” tanya Nyo-hujin dengan penuh perhatian. “Siapa bilang tidak? Setan itulah yang selama tiga hari mencekik leherku, mengganggu ketenanganku sehingga tak bisa beristirahat dengan baik, cepat kalian tangkap setan itu!” Nyo-hujin memandang Lo Bun-pin, lalu bisiknya, “Apa yang terjadi?” “Kejadian ini memang agak aneh, sudah tiga hari ia membungkam, tapi begitu buka suara ia menganggap Ku-gwat Hoatsu sebagai setan . . . . .” “Hei, jangan biarkan dia kabur, cepat kalian tangkap setan itu,” terdengar Ho Leng-hong masih berteriak, “nyawaku telah tertelan ke perutnya, kalau dia kabur dari sini, habislah riwayatku.” “Kukira kejadian ini agak mencurigakan,” kata Nyo-hujin kemudian sambil berkerut kening, “lebih baik kita turuti permintaan Jit-long, tangkap dulu Tosu tersebut.” “Tapi . . . tapi . . . rasanya kurang baik . . . .” Lo Bun-pin ragu-ragu. “Tidak menjadi soal, kita utamakan si sakit daripada Tosu tersebut, sekalipun harus menyakitinya, paling-paling kita beri saja uang yang lebih banyak, dan urusan akan beres dengan sendirinya.” Sambil berkata nyonya Nyo lantas memberi tanda kepada para Busu. Begitu mendapat perintah, serentak para Busu itu menyerbu maju dan menangkap Ku-gwat Hoatsu. Tentu saja para Tosu yang sedang membaca mantra pengusir setan tidak mengerti apa yang terjadi, mereka menjadi panik saking kagetnya. Lebih-lebih Ku-gwat Hoatsu, ia tidak habis mengerti dengan kejadian yang menimpa dirinya, dengan gelagapan ia bertanya, “He, apa-apaan ini . . . aku datang untuk menangkap setan . . . . kenapa kalian malah menangkap diriku! . . . .” “Kaulah setannya, berani betul kau berpura-pura menangkap setan?” hardik Ho Leng-hong. “Aku . . . aku . . . .” Ku-gwat Hoatsu betul-betul jadi bingung, dan tak sanggup berbicara. “Mengaku sajalah, hayo cepat muntahkan keluar nyawaku, kalau tidak . . . jangan menyesal bila kuberi ganjaran yang setimpal,” teriak Leng-hong. Mulut Ku-gwat Hoatsu melongo lebar-lebar dan tak tahu apa yang mesti dikatakan. “Pengawal, lolohkan kotoran manusia ke dalam mulutnya, perintahkan kepadanya untuk memuntahkan nyawaku, cepat lakukan!” teriak Ho Leng-hong lagi. Karena Nyo-hujin tidak menunjukkan rasa keberatan, serta-merta para Busu itu mengerjakan apa yang diperintahkan, segentong kotoran manusia segera dipikul datang, lalu Ku-gwat Hoatsu ditelentangkan di tanah dan dicekoki kotoran itu. Kasihan Ku-gwat Hoatsu, mau menolak tak bisa, melawan juga tak kuat, tak menolak perutnya tak tahan . . . Akhirnya ia tumpah-tumpah hebat, isi perutnya nyaris ikut tertumpah keluar. Sesudah Tosu itu tumpah-tumpah, Ho Leng-hong menarik napas lega, ia memejamkan mata dan berbaring kembali di atas pembaringan . . . . Lo Bun-pin menyuruh para Busu membawa pergi Ku-gwat Hoatsu yang “setengah mati” sesudah diberi uang lebih banyak. Setelah kawanan Tosu dienyahkan, Ho Leng-hong lantas sadar kembali, kata pertama yang diucapkan setelah membuka matanya adalah, “Aku lapar, apakah ada makanan enak?” Kalau orang sakit sudah tahu lapar, itu berarti penyakitnya sudah sembuh. Saking gembiranya hampir saja Nyo-hujin melelehkan air mata, buru-buru ia titahkan orang untuk menyiapkan makanan, lalu tanyanya, “Jit-long, bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah mengerti bukan?” “Aku baik sekali! Apakah yang tidak mengerti?” “Sudah tahu siapa dirimu? Tempat apakah ini?” “Lucu, tempat ini kan Kiok-hiang-sia, terletak di taman belakan istana Thian-po-hu di Kiu-ci-sia, inilah rumahku sendiri, kenapa tidak tahu?” “Lalu siapa namamu . . . .” “Aku Nyo Cu-wi, memangnya kalian kira aku ini siapa?” Nyo-hujin menarik napas lega, “Terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya kau sadar kembali.” “Eh, apakah terjadi sesuatu?” tanya Leng-hong. “O, tidak . . . . tidak . . . . . .” buru-buru Lo Bun-pin menanggapi sambil tertawa, “terlalu banyak arak yang diminum Nyo-heng sewaktu ada di rumahku tempo hari hingga mabuk hebat, enso terus menerus mengomeli Siaute, untunglah sekarang sudah beres, dapatlah kumohon diri . . . . “ “Eh jangan pergi dulu, jangan pergi dulu, apa salahnya kalau mabuk bila sobat lama berkumpul. Kau kan tahu tabiat ensomu, masa masih marah padanya?” “Ah, mana berani,” kata Lo Bun-pin. “Nah, begitulah,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “kita harus berkumpul beberapa hari lagi, jangan pergi, kita boleh bercakap-cakap sepuasnya.” “Bercakap-cakap boleh saja, tapi ingat, jangan minum sampai mabuk lagi,” Nyo-hujin memperingatkan. “Kalau Cuma mabuk sedikit kan tidak apa, asal tidak kelewat takaran,” ujar Ho Leng-hong, “kenapa kau mesti menghilangkan kegembiraan orang banyak?” “Betul!” Thian Pek-tat menanggapi sambil tertawa, “Nyo-hujin, bukannya aku Siau Thian rakus dan ingin minum arak, tapi pada umumnya barang siapa baru sadar dari mabuk hebat dia harus minum beberapa cawan arak lagi, dengan begitu baru badan takkan terganggu, arak ini namanya Hoan-hun-ciu (arak pengembali sukma).” “Betul, memang begitu,” kata semua orang, “kalau tidak minum Hoan-hun-ciu, orang akan merasa pusing-pusing kepala selama beberapa hari, setiap peminum sama mempunyai pengalaman seperti ini.” “Hahaha! Siau Thian memang selalu menarik dalam soal-soal begini,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “rupanya Hoan-hun-ciu mau-tak-mau harus kuselenggarakan.” Di tengah gelak tertawa orang ramai, Nyo-hujin tak bisa menolak lagi, terpaksa ia menyuruh orang menyiapkan arak. Ho Leng-hong bukanlah seorang yang gemar minum arak, ia berbuat demikian hanya untuk mencari kesempatan agar lebih memahami keadaan Thian-po-hu. Terlampau sedikit yang diketahuinya tentang Thian-po-hu ini, bahkan siapa nama kecil Nyo-hujin pun tidak diketahui, kalau kurang lancar dalam soal panggil memanggil bisa mengakibatkan rahasianya ketahuan dan sulit lagi untuk mendapatkan kepercayaan orang. Betul juga, setelah “arak pengembali sukma” diselenggarakan, semua kesulitan yang dikuatirkan berhasil diatasi dengan mudah. Bukan saja ia mengetahui Nyo-hujin bernama Pang Wan-kun, bahkan mengetahui juga dia adalah adik kandung It-kiam-keng-thian (pedang sakti menuding langit) Pang Goan, pemilik istana Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia yang ilmu silatnya tidak di bawah Nyo Cu-wi. Thian-po-hu dari Kiu-ci-shia, Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia ditambah Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia di wilayah Leng-lam disebut orang sebagai Bu-lim-sam-hu (tiga istana dunia persilatan) mereka semua merupakan keluarga persilatan yang tersohor di dunia. Sebab itulah selain menaruh “hormat dan sayang”, Nyo Cu-wi juga merasa “jeri” terhadap istrinya yang cantik bak bidadari dari kahyangan ini. ------------------------- Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki yang takut bini, terpaksa Ho Leng-hong tak dapat terlampau menunjukkan kejantanannya. Karenanya ketika malam itu Pang Wan-kun minta ia pindah dari Kiok-hiang-sia ke kamar tidur mereka, ia tak berani membantah melainkan hanya menurut saja. Tapi sekarang muncul masalah baru. Apabila suami isteri tidur bersama dalam satu kamar, tentunya akan melakukan “tugas dan kewajiban”, hal inilah yang menyulitkan Ho Leng-hong. Sebenarnya soal “begituan” bukan hal baru bagi Ho Leng-hong, yang merisaukan dia adalah dalam bermesraan antara suami-isteri tentu ada sesuatu “rahasia” yang menyangkut diri pribadi, untuk ini jelas tak bisa “diwakilkan” kepada orang lain, karena bila rahasianya ketahuan, akibatnya pasti akan runyam. Sejak kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tidur, Ho Leng-hong merasa hatinya berdebar keras . . . . Ia tak dapat menolak untuk tidur sekamar, maka satu-satunya jalan untuk menghindari segala kemungkinan hanya main “mengulur waktu”, diambilnya sejilid buku, lalu duduk di tepi jendela sambil membaca. Apa isi buku itu tak sehuruf pun yang masuk dalam benaknya, ia hanya berharap Pang Wan-kun cepat-cepat tertidur, itulah sebabnya meski mata memandang buku, tapi telinganya memperhatikan suara gerak-gerik dalam kamar. Bwe-ji telah membereskan pembaringan, menutup pintu dan mengundurkan diri, apa mau dikata, Pang Wan-kun justru tidak mau tidur, seorang diri ia gemerasak dalam kamar, entah apa yang dilakukannya. Tak terlukiskan rasa gelisah Ho Leng-hong, terpaksa ia harus berpura-pura menaruh perhatian, katanya, “Wan-kun, tidurlah dulu, beberapa hari ini kau tentu kepayahan.” “Dan kau?” tanya Pang Wan-kun. “Aku belum ngantuk, biar kuselesaikan dulu beberapa halaman buku ini, tak usah tunggul lagi.” Langkah kaki tiba-tiba berkumandang makin dekat, dan Pang Wan-kun malah muncul dari dalam. “Hei, buku apa yang kaubaca?” tegurnya sambil tertawa, “tampaknya asyik benar, sampai lupa tidur?” Ah, buku . . . . . . .” tiba-tiba muka Ho Leng-hong menjadi merah dan urung bicara, buku itu cepat-cepat ditutup, kalau ada lubang ingin sekali buku itu segera disembunyikan. Sayang terlambat sebab Pang Wan-kun telah merampas buku itu. “Buku baik biar akupun ikut baca, kenapa disembunyikan . . . . .” ia mengomel. Tapi sebelum lanjut ucapannya, mendadak pipinya berubah merah jengak, sambil membanting buku itu, serunya, “Sialan! Buku beginian yang kaubaca!” Rupanya buku yang diambil Ho Leng-hong sekenanya dari rak buku itu bukan lain adalah buku porno. Adalah wajar bila di kamar tidur suami-isteri muda tersimpan buku macam begini, celakanya Ho Leng-hong mengeluarkan buku demikian dalam suasana seperti ini, hal ini ibaratnya api disiram minyak, tambah merangsang nafsu . . . . . Tampaknya sulit bila malam ini hendak dilewatkan dengan “aman dan tenteram”. Terpaksa Ho Leng-hong pura-pura bergelak untuk menutupi rasa jengahnya, ia berbangkit, katanya, “Baiklah, tidak membaca lagi, bagaimana kalau jalan-jalan di taman saja?” Wan-kun tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak, dia hanya menundukkan kepala sambil memainkan ujung bajunya. Ho Leng-hong membuka pintu yang menghubungkan villa itu dengan taman, lalu menarik napas panjang, katanya, “Betapa indahnya bulan purnama, sayang bila malam seindah ini dilewatkan begitu saja.” Pang Wan-kun masih belum bersuara, dengan lembut ia merangkul bahu pemuda itu dan bersandar mesra di dadanya yang bidang. Bulan purnama bersinar terang di angkasa, bau harum bunga semerbak, membuat orang terlena, kedua “suami isteri” berangkulan dengan mesra di tengah keheningan malam yang jernih, sungguh suasana yang romantis. Ho Leng-hong tak dapat meresapi keindahan alam dan suasana romantis itu, apa yang dirasakan hanya keresahan, pikirannya tak tenang, ia hanya berdoa semoga malam ini dapat dilewatkan dengan selamat. Di bawah sinar bulan purnama, kedua “suami isteri” itu berjalan-jalan di tengah taman yang sepi, rupanya Pang Wan-kun merasa dingin karena bajunya tipis, ia bersandar dalam pelukan Ho Leng-hong dengan manja. Ho Leng-hong bukan laki-laki yang alim, hampir saja ia tak sanggup mengendalikan diri, terpaksa mereka duduk di sebuah bangku batu. Begitu duduk, Pang Wan-kun lantas berbaring dalam pangkuan sang “suami” sambil menghela napas panjang, bisiknya lirih, “Jit-long, masih ingatkah kau pada musibah yang menimpamu tahun yang lalu?” Ho Leng-hong melenggong dan tak dapat menjawab. Untung Wan-kun tidak menanti jawabannya, ia bergumam sendiri, “Musim semi tahun yang lalu, keadaannya seperti juga sekarang, malam sunyi dengan bulan purnama yang indah sekali, waktu itu kitapun berdua, duduk di tepi telaga Siau-thian-ti di puncak Lu-san sambil menikmati keindahan rembulan....” Ah, kiranya begitulah kejadiannya! Buru-buru Ho Leng-hong tertawa, “Siapa bilang aku lupa? Pemandangan alam Lu-san memang lain daripada yang lain, sebab itulah dalam syair kuno tercantum kata-kata yang berbunyi: Sekalipun tidak kenal wajah Lu-san yang sebenarnya, berjodohlah bila berada di gunung tersebut....” “Bukan keindahan alam Lu-san yang kumaksudkan,” tukas Wan-kun cepat, “aku berbicara tentang kau digigit ulat beracun itu.” Sekali lagi Ho Leng-hong tertegun, ia tidak tahu Nyo Cu-wi pernah digigit ulat beracun, terpaksa sahutnya secara samar-samar, “Ya.... Lu-san memang tempat yang menarik sayang serangga beracunnya terlalu banyak, menjemukan....” “Salah siapa?” Wan-kun menutup mulutnya sambil cekikikan, “siapa suruh kau membayangkan hal yang bukan-bukan? Tanpa sebab tiba-tiba kau ingin menggaet rembulan dalam kolam? Itulah akibatnya, rembulan tak berhasil kaudapat, punggungmu malah disengat makhluk beracun, esoknya luka ini bengkak besar dan akhirnya terpaksa harus dioperasi dan meninggalkan bekas luka. Masih ingatkah kau akan kejadian itu?” “Masih ingat, masih ingat,” Ho Leng-hong tertawa getir, “Ai, waktu itu aku hanya ingin main-main, siapa tahu bisa jadi sial begitu.” Dengan lembut Wan-kun meraba pipi sang “suami”, dengan penuh menyesal ia berkata, “Padahal akulah yang menerbitkan gara-gara itu, akulah yang menyuruh kau mengambilkan rembulan itu di telaga segala. Ya, ketika itu kita memang sedikit agak mabuk.” “Ya, memang begitulah,” sambung Ho Leng-hong cepat, “kalau tidak mabuk, siapa yang akan melakukan perbuatan sebodoh itu.” “Padahal waktu itu aku cuma bergurau, siapa tahu kau menganggapnya sungguhkan?” “Mana aku berani tidak anggap sungguhkan perkataanmu? Sekalipun kau menginginkan bintang di langit juga akan kucarikan tangga untuk naik ke langit dan memetiknya bagimu.” “O, Jit-long, sungguhkah kau begitu menurut pada perkataanku?” bisik Wan-kun lembut. “Tentu saja,...” tapi begitu jawaban diucapkan, segera Leng-hong merasakan gelagat tak baik. Jelas apa yang diucapkan Pang Wan-kun ini hanya kata-kata “pengantar” belaka, sebab tangannya sudah mulai merosot dari pipi ke tengkuk Ho Leng-hong, bahkan terus turun ke bawah, meraba dadanya, pinggangnya . . . terus . . . . Tangan yang halus itu bagaikan seekor ular kecil yang merayap masuk ke balik bajunya. Kini Ho Leng-hong bersetatus sebagi “suami” tentu saja ia tak dapat menolak belaian cinta sang “isteri”, tapi ia sadar bila adegan panas yang merangsang ini berlangsung terus, “akibatnya”nya sukarlah dilukiskan. Terpaksa ia berpura-pura takut geli, sambil menggeliat ke sana kemari ia menangkap tangan itu dari luar baju. “Jangan begini Wan-kun,” bisiknya sambil tertawa, “kalau dilihat para pelayan, kita bisa ditertawakan . . . .” “Hm, semua pelayan sudah tidur, lepaskan bajumu Jit-long, biar kuraba bekas luka di tubuhmu itu, mau?” Sungguh gawat, sebab punggungnya hakikatnya tidak terdapat codet seperti apa yang dimaksudkan, kalau sampai diraba, bukankah urusan bisa runyam? “Ah, paling-paling Cuma sebuah codet belaka, apa enaknya diraba?” kata Leng-hong cepat. “Marilah Wan-kun, kita bicara soal lain saja . . . .” “Tidak, aku suka merabanya, selama ini kau selalu mengizinkan aku merabanya, kenapa sekarang kautolak permintaanku?” “Bukannya menolak, kukuati dilihat para pelayan yang kebetulan masuk kemari.” “Kan sudah kukatakan, semua pelayan sudah tidur, tak nanti ada orang yang masuk kemari.” “Sekalipun tak ada orang, siapa tahu kalau di sini ada ulat beracunnya? Kalau sampai kena disengat lagi, wah bisa celaka.” “Jit-long,” kata Wan-kun seraya merayu, “selamanya kau menuruti kehendakku, kenapa sekarang sikapmu berubah?” “Aku . . . aku . . . . “ Leng-hong gelagapan. “Pokoknya aku tak mau tahu, aku tetap akan merabanya.” Apa yang diucapkan segera dilaksanakan, ia merangkul leher Ho Leng-hong dengan tangan kiri, sedang tangan kanan dengan cepat merogoh ke balik bajunya, lewat di bawah ketiak dan meraba punggungnya . . . . Ho Leng-hong tak bisa menghindar lagi, peluh dingin sampai membasahi dahinya, dalam hati ia mengeluh, “Habis, tamatlah lelakonku kini, semua rahasiaku bakal terbongkar . . . .” Tapi apa yang terjadi? Ketika tangan Pang Wan-kun berhenti di punggungnya, ia tidak menunjukkan sesuatu reaksi yang “di luar dugaan”, malah dia merabanya dengan penuh kasih sayang. “O, codet yang menawan hati,” gumamnya dengan rasa puas, “Inilah kenangan yang kauberikan kepadaku akibat ingin mengambil rembulan di kolam, sepanjang hidup akan kubelai terus dengan kasih sayang, tak akan kubiarkan kenangan itu meninggalkan jari-jari tanganku untuk selamanya. . . .” Ho Leng-hong menjadi kaget tercampur bingung, seketika ia terkesima. Mimpipun ia tak menyangka di punggungnya terdapat codet, sebuah codet yang persis seperti codet yang dimiliki Nyo Cu-wi. Ia tak pernah menggaet rembulan di telaga Siau-thian-ti di Lu-san, iapun tak pernah disengat ulat beracun, tapi darimana datangnya codet? Apakah dirinya memang Nyo Cu-wi yang sesungguhnya? Jangan-jangan Ho Leng-hong benar-benar sudah mati? Atau mungkin . . . . . . Tidak! Tak mungkin, untuk membuktikan kejadian yang sesungguhnya, ia harus mencari Siau Cui? ------------------------- Siau Cui adalah pelacur yang terdaftar di rumah pelacuran Hong-hong-wan, pelacur resmi, siapapun boleh mencarinya. Tapi tidak berlaku bagi Ho Leng-hong. Sebab statusnya kini adalah pemilik Thian-po-hu yang tersohor dan terhormat di Kiu-ci-shia, tentu saja ia tak dapat sembarangan mengunjungi rumah pelacuran dan menemui seorang pelacur. Untuk menyembunyikan identitasnya, sengaja Ho Leng-hong mengenakan sebuah mantel hitam serta sebuah topi lebar, sebagian besar wajahnya hampir tertutup oleh tepian topi yang lebar itu. Ketika kentungan pertama baru lewat, dengan kepala tertunduk ia melangkah masuk ke dalam Hong-hong-wan. Melihat ada tamu datang, pesuruh rumah pelacuran segera berteriak lantang, “Ada tamu!” Baru sepatah kata meluncur keluar, tiba-tiba mulutnya tersumbat oleh sepotong benda keras. Sekeping uang perak yang berkilauan. “Jangan berteriak, jangan berisik,” desis Ho Leng-hong sambil merangkul leher pesuruh itu. “Beritahu kepadaku, Siau Cui ada atau tidak?” Mula-mula pegawai itu kaget, tapi setelah memuntahkan benda itu dari mulutnya dan mengetahui benda apakah itu, dengan kejut bercampur girang sahutnya cepat, “Ada! Ada! Ada!” “Dalam kamarnya ada tamu?” “Ada! Ada! Ada . . . .” mendadak ia merasakan perkataannya tidak tepat, cepat sambungnya lagi “Tuan, yang kautanyakan adalah . . . . .” “Nona Siau Cui yang tinggal di kamar serambi barat.” “O, rupanya engkau menanyakan Siau Cui?” pesuruh itu menyengir, “tidak ada, tidak ada tamu, nona Siau Cui sudah tidak menerima tamu lagi, sekarang iapun tidak tinggal di kamar sebelah barat.” “Oya? Kenapa?” “Tuan, besar kemungkinan engkau datang dari luar daerah, bukan? Masa engkau tidak tahu Siau Cui tertimpa musibah?” “Musibah apa?” “Sebenarnya urusan semacam ini tidak pantas kukatakan kepada Tuan,” ujar pelayan itu berlagak rahasia, “cuma lantaran hamba lihat Tuan adalah orang baik, hamba tidak tega untuk mengelabuimu. Tuan, menurut pendapat hamba, Hong-hong-wan kami masih banyak nona cantik yang lain, mau pilih yang macam apapun ada, yang lebih hebat dari Siau Cui pun ada, tapi jangan sekali-kali kau mencarinya lagi.” “Kalau mencarinya kenapa?” “Terus terang kuberitahu kepadamu, Tuan, belakangan ini Siau Cui lagi sial, seorang buaya she Ho yang mabuk kedapatan mati dalam kamar Siau Cui, sejak itulah siapapun tak berani masuk ke kamarnya, sebab itulah Mama menyuruh dia berhenti bekerja untuk sementara waktu, sekarang ia sudah pindah ke kamar bagian belakang . . . .” “Kenapa secara tiba-tiba orang she Ho itu mati?” “Siapa yang tahu? Pokoknya setiap hari bocah itu kerjanya Cuma keluyuran, ya minum arak, ya berjudi, jelas bukan manusia baik-baik. Menurut pendapatku, kalau bukan mampus karena luka akibat berkelahi, tentu mampus keracunan arak lantaran terlalu banyak minum, orang luar sih tidak peduli, mereka hanya tahu dia mampus di sini, yang celaka adalah Siau Cui, gara-gara kejadian ini ia nyaris diseret ke pengadilan.” “Ah, orang yang mengatakan begitu sungguh keterlaluan, sekalipun dia mati secara mendadak, itu kan bukan salah Siau Cui?” “Betul juga perkataanmu, tapi dia kan seorang nona penghibur, kalau sampai mengalami kejadian sial semacam ini, siapa lagi yang berani masuk ke kamarnya?” “Kalau begitu, jadi gara-gara orang she Ho itulah Siau Cui ikut tertimpa sial?” jengek Leng-hong. “Bukan Siau Cui saja yang tertimpa malang, usaha kampiun ikut terpengaruh. Ai, bocah she Ho itu sungguh bikin celaka orang saja.” Kalau bisa Leng-hong ingin memberi beberapa kali tempelengan pada pesuruh yang lancang mulut ini, tapi sedapatnya ia tahan perasaannya. “Siau Cui tinggal di halaman belakang sebelah mana?” tanyanya kemudian, “jangan kuatir, bawa saja diriku ke sana, dan uang perak itu untuk minum arak bagiku.” “Tuan, kau tidak takut?” tanya orang itu dengan suara parau. Ho Leng-hong menggeleng kepala sambil tertawa, “Jangan kuatir, jika akupun ikut mampus di halaman belakang, anggap saja aku yang mencari kematian sendiri, tak nanti kubikin susah kepadamu.” Pesuruh tersebut ingin mendapatkan hadiah, cepat dia celingukan ke sekeliling tempat itu, lalu bisiknya sambil memberi tanda, “Baik, ikutlah padaku.” Mereka berdua masuk lewat pintu samping lalu mengitari ruang dan halaman tengah terus masuk ke halaman belakang. Sambil menuding sebuah rumah papan di sudut pekarangan sana, bisik pesuruh itu, “Di sanalah nona Siau Cui berdiam, Tuan jangan berdiam terlalu lama di situ, kalau ketahuan Mama, hamba bisa celaka.” Ho Leng-hong menyuruh pergi orang itu, kemudian mengawasi rumah kayu itu dengan saksama. Rumah kayu itu jelek, sudah tua dan dekat dinding pekarangan, bagian sampingnya adalah tempat menyimpan barang-barang tak terpakai, tentu saja bedanya bagaikan langit dan bumi bila dibandingkan kamar Siau Cui di serambi barat sana. Meskipun Siau Cui hanya seorang pelacur yang hina dina, tapi terhadap Leng-hong dia memang jatuh cinta dengan tulus dan murni, Leng-hong menyesal karena tak dapat memenuhi harapan kekasihnya, apalagi setelah menyaksikan penderitaan yang dialaminya sekarang, ia menjadi malu hati. Tapi, sesungguhnya salah siapakah itu? Siapa yang telah “mencelakai” Ho Leng-hong? Siapa yang membuat Ho Leng-hong “berubah” menjadi Nyo Cu-wi? Apakah kejadian inilah yang disebut “roh masuk pada raga orang lain”? ------------------------- Ho Leng-hong jelas tidak mengakui dirinya telah “mati”, iapun tidak percaya setan iblis segala, apalagi tentang roh masuk ke tubuh orang lain. Oleh sebab itu ia harus tanya langsung persoalan ini kepada Siau Cui. Cahaya redup tampak bersinar di balik jendela rumah kayu itu, di dalam terdengar suara batuk seorang yang berat. Itulah suara batuk Siau Cui, paru-parunya memang lemah, sering kali dia terbatuk-batuk sebelum tidur, terutama bila ada persoalan yang mengganjal dalam hatinya, ia akan mengalami kesulitan untuk tidur. Tiba-tiba Ho Leng-hong merasa terharu, ia menghela napas perlahan lalu mengetuk pintu. “Siapa?” suara Siau Cui berkumandang dari dalam. “Aku! Buka pintu, Siau Cui!” “Siapa kau?” “Ho Leng-hong......” Celaka! Ketika nama itu disebutkan, Ho Leng-hong segera tahu urusan bakal runyam, tapi mau ditarik kembali sudah tak keburu lagi. Benarlah, dari balik ruangan berkumandang jeritan kaget, disusul suara pembaringan kayu yang bergetar keras.... Mungkin Siau Cui sedang berbaring ketika mendengar jawabannya, sebab itu saking kagetnya, ia melompat turun dari pembaringan. “Aku datang untuk persoalan yang menyangkut Ho Leng-hong,” cepat Leng-hong memberi penjelasan, “Bukalah pintu, Siau Cui, mau bukan?” “Krek!” pintu terbuka sedikit. Dengan suatu gerakan cepat Ho Leng-hong menyelinap masuk ke dalam, lalu menutup kembali pintu kamar. Suasana dalam rumah remang-remang, hanya sebuah lentera menerangi tempat itu, keadaannya sangat sederhana, hanya terdapat sebuah pembaringan dan sebuah meja kecil. Siau Cui meringkuk di pojok ruangan dengan muka pucat dan badan gemetar, wajahnya memancarkan perasaan takut. “Siapa.... siapa kau?” tegurnya dengan tergagap. Perlahan Ho Leng-hong menanggalkan topi lebarnya, lalu berkata, “Siau Cui, aku adalah Leng-hong, Sungguh! Meskipun mukaku telah berubah, tapi aku betul-betul adalah Ho Leng-hong, kau harus percaya kepadaku...” Mata Siau-Cui terbelalak, lalu menggeleng berulang, “Tidak! Tidak! Kumohon kepadamu, jangan menakuti diriku! Ho Leng-hong telah mati, siapa kau sebenarnya?” “Siau-Cui, tak perlu omong kosong, kau tahu jelas bahwa aku tidak mati.” Tidak, Ho Leng-hong benar-benar sudah mati, ia mati di kamar sebelah barat sana, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ia digotong keluar ....” “Aku tak peduli, siapa yang mereka gotong keluar, pokoknya aku benar-benar adalah Ho Leng-hong, sekarang aku masih hidup segar-bugar, Siau Cui, kau harus percaya kepadaku.” “Tidak, akut tidak percaya! Aku tidak percaya!” Siau Cui menggeleng kepala, “aku tidak kenal dirimu, aku hanya tahu Ho Leng-hong sudah mati.” Leng-hong sadar bila keadaan begini berlangsung terus, persoalan akan sukar selesai, maka ia berubah taktik, katanya, “Baiklah, kalau kau berkeras tak mau percaya kepadaku, akupun tak akan memaksa. Sekarang perhatikan diriku baik-baik, pernahkah kau melihat diriku sebelum ini?” Dengan seksama Siau Cui mengamati wajahnya, lalu menggeleng, “Belum pernah!” “Coba pikir lagi, pernahkah kenal denganku di suatu tempat?” desak Leng-hong pula. “Tidak pernah!” “Jadi kita baru pertama kali bertemu sekarang?” “Benar!” “Tapi aku tahu di sebelah kiri perutmu, di bawah pusar, terdapat setitik tahi lalat, di sebelah kanan belakang pinggangmu juga terdapat sebuah toh hitam, benar tidak?” kata Leng-hong sambil tertawa. Siau Cui melengak, sampai sekian lama ia melongo, lama sekali baru bertanya dengan tergegap, “Kau dengar dari siapa?” “Kulihat dengan mata kepalaku sendiri,” Leng-hong tertawa, “Seandainya kita tak pernah kenal sebelum ini dan baru bertemu untuk pertama kalinya, darimana kutahu akan tanda rahasia di atas tubuhmu?” Perlahan Siau Cui menghela napas panjang, “Kenapa heran? Kami orang-orang yang melakukan pekerjaan semacam ini sudah biasa buka pakaian di depan setiap pria yang berkunjung kemari, soal itu sudah bukan rahasia lagi.” “Baiklah, bila kau anggap tanda rahasia di tubuhmu sudah bukan rahasia lagi, kata-kata pribadimu dengan Ho Leng-hong tentu tak diketahui orang lain bukan? Sebagai contoh kata-kata yang kau bicarakan malam menjelang kejadian itu, bukankah kau minta kepada Ho Leng-hong untuk membawamu kabur sejauh-jauhnya dari sini . . . . “ Belum habis perkataan itu, air muka Siau Cui sudah berubah hebat, tukasnya, “Apa yang kau katakan? Sungguh aku tidak paham, aku tak pernah kenal padamu, akupun tak ada waktu untuk mengobrol denganmu, kuminta sekarang juga kau keluar dari sini, keluar! . . . .” Dengan tajam Ho Leng-hong mengawasinya tanpa berkedip, katanya perlahan, “Siau Cui, kau takut bukan? Waktu itu kau sudah tahu bakar terjadi sesuatu maka kau mohon kepadaku untuk membawamu pergi, kaupun tahu dalam kuah penyadar mabuk itu . . . .” Air muka Siau Cui semakin pucat, sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya ia sudah membentak, “Aku tidak mengerti akan perkataanmu, kuminta segera kau tinggalkan tempat ini, kalau tidak, segera aku akan memanggil orang.” “Kau tidak akan memanggil orang, Siau Cui, kutahu kau tak akan berbuat demikian karena kau tahu siapa diriku, kaupun tahu apa yang telah terjadi, hanya kau tak berani mengatakannya.” “Tidak tahu, aku tidak tahu . . . . apapun aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu apa-apa,” Seru Siau Cui sambil menggeleng kepala berulang kali dan menutup telinganya dengan tangan. “Siau Cui, apa yang kau takuti? Kau diancam siapa? Kenapa tidak berani bercerita?” Dengan suara yang hampir menangis Siau Cui berkata, “Kumohon padamu, janganlah mendesakku terus menerus, sungguh aku tidak tahu, kalian telah mencelakaiku hingga seperti ini, apakah masih belum cukup?” “Siapa yang mencelakaimu?” seru Leng-hong sambil menarik lengannya, “Siau Cui, beri tahukan padaku, siapa yang mencelakai . . . . “ Siau Cui tak bisa menjawab, dia hanya menangis tersedu-sedu. “Bicaralah Siau Cui, cepat katakan kepadaku,” pinta Leng-hong sambil mengguncang-guncangkan tubuh si nona, “aku adalah Leng-hong . . . .” “Blang!” tiba-tiba pintu kamar didobrak orang secara paksa. Dua sosok bayangan tubuh yang tinggi besar berdiri tegak di depan pintu, seorang pria berbaju serba hitam, bertubuh kekar dan berdandang sebagai tukang pukul, sedang yang lain adalah perempuan, dia lebih tegap daripada pria tersebut, ia bukan lain adalah Go So. Entah sejak kapan kedua orang itu tiba di luar kamar, ternyata Ho Leng-hong tidak mengetahui kehadiran mereka. Agaknya Go So tidak kenal lagi pada Ho Leng-hong, sambil menuding pemuda itu, bentaknya, “Keparat, apa yang kau lakukan? Berani betul menerbitkan keonaran dalam Hong-hong-wan? Hm. Tampaknya tulang-tulang badanmu sudah gatal dan minta digebuk!” “Hm, kalian membuka rumah pelacuran ini untuk mencari uang, asal Toaya punya uang, siapa yang berani melarang kedatanganku?” “Kalau bermain perempuan sepantasnya di ruang depan, apa maksudmu tarik menarik dengan nona yang beristirahat di ruang belakang? Mengapa kau datang kemari secara diam-diam? Keparat, tidak lekas lepas tangan, memangnya kau ingin digebuk?” Sambil berkata ia menggulung lengan bajunya dan siap berkelahi. “Tunggu sebentar!” tiba-tiba si baju hitam di sampingnya mencegah, “rasanya kukenal wajah tamu kita ini, seperti pernah bertemu di suatu tempat?” “Hm, kau kenal aku?” jengek Ho Leng-hong ketus. Laki-laki berbaju hitam itu tidak menjawab, ia mengamati lawannya dengan cermat, mendadak ia memberi hormat, “Ah, kukira siapa, rupanya Nyo-tayhiap dari Thian-po-hu yang berkunjung kemari. Maaf! Maaf!” “Kau ini . . . . .” melengak juga Leng-hong. “Hamba she Tan, anak buah Thian-toaya, orang menjuluki diriku sebagai Thi-tau-siau Tan (Tan kecil kepala baja).” “O, jadi Hong-hong-wan ini termasuk wilayah kekuasaan?” “Ah, tidak berani, tidak berani,” Thi-tau Tan menyengir, “hamba hanya menjalankan perintah Thian-ya, lantaran Ho Leng-hong kedapatan mati di sini, maka aku diperbantukan selama beberapa hari di sini, sungguh tak nyana Nyo-tayhiap bisa berkunjung kemari. Bila kami berbuat kesalahan karena tidak mengenal Nyo-tayhiap, harap suka dimaafkan . . . .” Kepada Go So segera ia membentak, “Kenapa tidak cepat-cepat berlutut dan minta ampun! Beliau inilah Nyo-tayhiap, pemilik Thian-po-hu yang tersohor, biar sengaja diundang juga belum tentu tamu agung kita ini mau datang kemari, kau si goblok ini benar-benar anjing betina yang buta . . . . . Dengan cepat Go So berubah sikap, dengan lemas ia bertekuk lutut. “Nyo-tayhiap,” demikian ujarnya, “maafkanlah aku si tua bangka yang punya mata tapi buta, engkau adalah orang besar, tentu tak akan ingat kesalahan orang kecil, anggap saja mulutku si tua bangka tadi hanya kentut busuk dan janganlah marah kepadaku” Tiba-tiba Ho Leng-hong teringat kembali pada kuah penyadar mabuk malam itu. Go So inilah yang mengatar kuah itu baginya, seandainya dalam kuah terdapat sesuatu yang mencurigakan berarti Go So juga mengetahui persoalan ini sebelumnya . . . . . . Sementara ia masih melamun, Go So merangkak bangun sambil berkata, “Tidak sepantasnya menyambut kedatangan tamu agung di tempat sejelek ini, nona Siau Cui, baik-baiklah melayani Nyo-tayhiap, segera akan kuberi tahukan hal ini kepada Mama . . . .” “Tidak usah,” seru Leng-hong, “sebentar saja aku akan pergi.” “Mana boleh jadi?” kata Go So, “Nyo-tayhiap tertarik oleh Siau Cui kami, hal ini merupakan rejeki besar baginya, sekalipun tidak menginap, paling sedikit harus minum arak lebih dulu agar ia menemani Nyo-tayhiap bercakap-cakap.” “Betul, biar hamba undang juga Thian-ya,” sambung Thi-tau Tan, “Lo-ya sekalian juga akan kuundang kemari, Wah suasana nanti pasti akan bertambah meriah . . . . .” Ho Leng-hong melirik Siau Cui sekejap, ia tahu tiada harapan baginya untuk mencari keterangan pada malam ini, ia menghela napas dan melepaskan tangannya. Diambilnya sekeping uang perak dan diserahkan kepada Thi-tau Tan, lalu pesannya, “Aku masih ada urusan dan harus segera berangkat. Nih, terimalah sebagai ongkos minum arak, tapi jangan sekali-kali kausiarkan kedatanganku ini di luaran, mengerti?” “Apakah terhadap Thian-ya sekalian juga . . . “ “Ya, terhadap mereka juga harus dirahasiakan, sebab aku tak ingin seorang pun mengetahui kejadian malam ini.” Berputar biji mata Thi-tau Tan, katanya dengan tertawa, “Ah, pahamlah hamba sekarang. Padahal Nyo-tayhiap tak usah kuatir, Thian-ya kan sahabat karib Nyo-tayhiap, tentang soal ini tak mungkin mereka akan . . . .” Ho Leng-hong tidak banyak bicara lagi, sambil mengulap tangan ia meninggalkan rumah kayu itu. Siau Cui hanya menunduk sambil menangis, ia membungkam seribu bahasa, tidak mendongak juga tidak mengantar. Tapi Go So mengantar sampai di luar pintu, katanya dengan nada minta maaf, “Nyo-tayhiap, tentunya kau tidak marah padaku bukan? Kalau malam ini tak ada waktu, kapan-kapan silakan datang lagi? Nyo-tayhiap . . . .” Ho Leng-hong berlalu dengan langkah lebar hakikatnya seperti orang lari, dia mengambil langkah seribu meninggalkan rumah hiburan itu . . . . Golok Yanci Pedang Pelangi jbookmaker by: http://jowo.jw.lt Bag 2 Kejadian baik tak nanti keluar pintu, kejadian “busuk” justru tersiar sampai ke mana-mana, pepatah ini memang terbukti. Sekeping uang perak yang dikorbankan Ho Leng-hong semalam tidak berhasil menutup mulut Thi-tau Tan, sebab keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si telinga panjang Siau Thian sudah mendapat kabar dan muncul di Thian-po-hu. Bagaimanapun Thian Pek-tat bersumpah bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia itu kepada orang lain, akhirnya toh peristiwa ini diketahui juga oleh Pang Wan-kun. Kalau menuruti adat Ho Leng-hong, bila ketahuan ya sudahlah, mau apa lagi. Yang sulit justru pada saat ini ia berstatus sebagai Nyo Cu-wi. Dan justru pula Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki takut bini. Jika Ho Leng-hong sudah mengakui dirinya ialah Nyo Cu-wi, mau-tak-mau dia harus mewarisi tabiat Nyo Cu-wi itu. Apa boleh buat, terpaksa ia harus tabahkan hati untuk menerima dampratan ....... ------------------ Air muka Pang Wan-kun tampak sedingin es, Cuma bagaimanapun juga dia adalah wanita yang berasal dari keluarga terhormat, jadi tak sampai terjadi pertengkaran sengit yang mengakibatkan piring terbang dan bakiak naik kepala. Ia hanya bertanya dengan suara dingin, “Kudengar semalam kau mencari kesenangan di luar hem, mau jadi pemuda romantis lagi?” Ho Leng-hong tak dapat mengatakan apa-apa ia hanya menyengir saja. Kembali Wan-kun berkata, “Kukira nona-nona di sana pasti pandai, menyenangkan hati kaum pria, kenapa tidak sekalian menginap saja? Nikmatilah surga dunia sepuasnya, buat apa pulang ke rumah?” “Wan-kun, dengarkan dulu penjelasanku . . . . .” pinta Hong Leng-hong sambil tertawa getir. “Apa lagi yang hendak kau jelaskan?” suara Pang Wan-kun lebih dingin daripada air mukanya, tapi nada bicaranya penuh rasa sedih seperti minta dikasihani. Ia berkata lagi, “Jangan kau artikan aku cemburu, kutahu setiap lelaki sekali tempo suka iseng, kejadian semacam itu sudah lumrah, tapi tidak sepantasnya kau pergi seorang diri, lebih-lebih tak pantas pergi secara sembunyi-sembunyi, bukankah caramu itu justru menunjukkan kau berbuat karena mempunyai maksud tertentu? Kalau sampai tersiar di dunia persilatan, tidaklah nama baik Thian-po-hu akan tercemar?” Leng-hong manggut-manggut, “Ya, aku tahu perkataanmu memang benar, tapi tahukah kau apa yang hendak kulakukan di sana?” “Huh, memangnya perbuatan apa yang kau lakukan di tempat rendah dan kotor semacam itu?” “Wan-kun, kau salah menuduhku, kudatang ke Hong-hong-wan bukan untuk mencari kepuasan, aku ke situ untuk mengenang seseorang, atau anggaplah sebagai suatu tanda simpatiku terhadap seseorang.” “Siapa orang itu?” tanya Wan-kun dengan melengak. “Kau masih ingat ketika sedang sakit tempo hari, bukankah aku mengaku she Ho?” “Ya, betul, kau terus menerus mengaku dirimu bukan she Nyo, tapi she Ho . . . Ho apa begitu!...” “Tepat sekali...Nah, kedatanganku ke Hong-hong-wan semalam justru demi orang she Ho itu.” “Bukankah orang she Ho itu sudah mati?” “Justru karena dia sudah mati, maka secara diam-diam aku datang ke sana untuk menyatakan belasungkawa atas kematiannya. Wan-kun, tahukah kau sewaktu aku tidak sadar tempo hari, aku telah mendapat impian yang aneh sekali . . . . .” “Impian aneh apa?” tanya Pang Wan-kun keheranan. “Belum pernah aku berkunjung ke tempat semacam Hong-hong-wan, tapi dalam impian tersebut seakan-akan aku telah berubah menjadi orang she Ho, bukan saja sering berkunjung ke sana, bahkan apal benar keadaan tempat itu, malah beberapa nama dari orang-orang yang ada di situ dapat kupanggil secara tepat, semua perabot, letak pintu dan sebagainya dapat kuingat semua dengan jelas. Maka setelah sadar, makin kupikir makin heran, akhirnya kuputuskan untuk secara diam-diam menyelidiki tempat itu.” “Dan bagaimana hasilnya?” “Setelah kusaksikan sendiri semalam, dan kubuktikan bahwa apa yang kulihat dalam impian itu persis kenyataannya, di mana ada pintu, di mana ada undak-undakan, semuanya tepat dan persis. Coba bayangkan aneh tidak?” “Ah, masa begitu?” saking terperanjatnya mata Pang Wan-kun sampai terbelalak lebar. “Tidak aneh kalau Cuma ingat saja pada keadaan dalam Hong-hong-wan, yang lebih mengherankan lagi adalah aku ternyata kenal semua orang di sana, aku dapat pula menyebutkan nama mereka satu persatu, Cuma tak seorang pun di antara mereka kenal pada diriku....” “Cukup, cukup, jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, bikin bulu kudukku berdiri saja,” teriak Wan-kun sambil menutup telinganya. Sesungguhnya aku Cuma ingin membuktikan impianku saja,” Leng-hong berusaha menakuti lagi, “siapa tahu setelah berada di Hong-hong-wan, mendadak kurasakan suasana yang mengerikan, seakan-akan di situ tersembunyi bahaya besar.” “Maksudmu di sana ada setannya?” “Bukan, kucurigai tempat itu dipakai sebagai tempat persembunyian orang-orang golongan hitam, akupun curiga mereka sedang menyusun suatu rencana jahat yang tidak menguntungkan Thian-po-hu.” “Hei, mengapa kau mempunyai jalan pikiran seaneh ini?” seru Pang Wan-kun terkejut. “Aku sendiri juga tak bisa mengatakan alasannya, yang pasti timbul firasat tak enak dalam hatiku, misalnya saja, dalam keadaan baik-baik kenapa aku bisa mendapat impian seaneh itu? Orang she Ho itu mati dalam keadaan tak jelas duduk persoalannya, mungkinkah lantaran dia penasaran, maka sukmanya menciptakan suatu impian kepadaku dengan maksud memberi peringatan....” Makin didengar Pang Wan-kun makin terperanjat, hawa amarahnya terbang entah ke mana, sebagai gantinya adalah rasa kaget dan ngeri. “Jit-long,” dia mengeluh, “kaupun percaya sukma bisa memberi impian segala?” “Kenapa tidak percaya? Manusia terdiri dari raga dan sukma, orang mati wajar sukmanya akan buyar mengikuti badan kasarnya yang musnah, sebaliknya bila orang mati itu penasaran, walaupun badan kasarnya membusuk, tapi sukmanya tidak akan buyar, dia akan gentayangan ke sana kemari mengikuti embusan angin, terkadang berkumpul dan membentuk menjadi roh jahat, bila penasarannya sudah hilang dan dendam terbalas, dia baru membuyar dan lenyap....” “Sudah, sudahlah, jangan kaulanjutkan ceritamu,” tukas Pang Wan-kun, “sekalipun roh jahat benar-benar ada, asal kita tak pernah melakukan perbuatan jahat, buat apa kita mempedulikannya?” “Jika urusannya menyangkut diri kita, mana boleh kita berdiam diri saja?” “Apa sangkut pautnya dengan kita?” “Sukma orang she Ho itu tidak mendatangi orang lain tapi justru memberi impian kepadaku, itu berarti urusan kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan kita.” “Jit-long, maksudmu . . . . .” “Aku tetap mencurigai kematian yang menimpa orang she Ho itu, sudah pasti di dalam rumah pelacuran Hong-hong-wan tersembunyi marabahaya besar, kita tak bisa berpeluk tangan menghadapi kejadian ini, kita harus menyelidikinya hingga duduk perkaranya menjadi jelas.” “Bukankah Thian Pek-tat sedang melakukan penyelidikan atas kematian orang she Ho itu!” “Siau Thian secara terang-terangan menaruh orangnya di Hong-hong-wan, mana mungkin bisa menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya? Kukira kita harus mengadakan penyelidikan secara diam-diam dengan begitu baru akan mendatangkan hasil.” “Kalau begitu, beri tahu saja kepadanya, agar Siau Thian ganti taktik dan melakukan penyelidikan secara diam-diam.” “Tidak, Wan-kun kita harus bekerja sendiri dan tak dapat minta bantuan orang lain, sebab kemungkinan besar persoalan ini ada pengaruhnya bagi Thian-po-hu kita.” “Apa yang hendak kaulakukan?” “Malam ini kita bersama-sama mengunjungi Hong-hong-wan serta melakukan penyelidikan.” “Apa? Kausuruh aku mengunjungi tempat kotor itu?” seru Wan-kun tidak senang. Ho Leng-hong tahu sang “istri” tak bakalan mau mengunjungi tempat semacam itu, maka ia berkata pula dengan sungguh-sungguh, “Wan-kun, kau harus pergi, bila kaukuati menjumpai sesuatu yang tak pantas, tunggu saja aku di luar, kita adalah suami-isteri yang saling mencintai, aku tak mau menimbulkan salah-pahammu terhadapku.” Tiba-tiba Wan-kun tertawa, katanya dengan gembira, “Rupanya kau mengajak aku ke situ hanya untuk menghindari tuduhan.” “Ya, daripada dicurigai orang kan lebih baik aku bersiap-siap lebih dulu, seperti kejadian semalam, seharusnya lebih dulu kuberitahukan rencanaku ini kepadamu, dengan demikian kan takkan terjadi kesalahpahaman seperti ini.” Wan-kun tersenyum, “Padahal, masakah aku benar-benar berprasangka padamu? Aku hanya ingin mengetahui apakah kau jujur atau tidak kepadaku, malam ini kau boleh pergi dengan hati tenang, dengan izinku ini kau bisa bekerja lebih leluasa....” Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Tetapi, sekembalinya dari sana harus kauceritakan kejadian yang sebenarnya kepadaku, sepatah katapun tak boleh ketinggalan, kalau berani merahasiakan sebagian saja dari kisahmu, hmm, jangan salahkan aku bila kutindak menurut hukum rumah tangga.” “Terima perintah!” sahut Ho Leng-hong sambil tertawa. “Jangan keburu senang dulu,” kata Wan-kun lagi, “bisa jadi kau di depan dan aku akan mengintil secara diam-diam dari belakang, sedikit kau menyeleweng, rasakan nanti!” Walaupun di mulut Ho Leng-hong mengatakan “tidak berani”, tapi secara diam-diam ia sangat gembira. Setelah mendapatkan “izin” tersebut, ia dapat mengunjungi Hong-hong-wan secara terang-terangan dan menanyai Siau Cui hingga jelas. Cuma, ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana secara diam-diam, sebab dari cara serta sikap Siau Cui waktu bicara, tampaknya ia mempunyai kesulitan untuk bercerita, bila ditanyai secara langsung jelas dia tak akan bicara sejujurnya. Selain itu masih ada lagi Go So, orang itu harus dihindari, sebab gerak-geriknya sangat mencurigakan, setiap kali bila keadaan genting, ia selalu muncul secara mendadak, tampaknya ia bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Siau Cui. Begitulah, setelah mengambil keputusan, malam itu ia berkunjung lagi ke Hong-hong-wan.... ---------------------- Tampaknya peristiwa “kematian” orang she Ho dalam Hong-hong-wan tidak mempengaruhi keramaian tempat itu, suasana masih diliputi kegembiraan, irama musik, suara nyanyian dan gelak tertawa masih bergema seperti biasa. Setelah pengalaman semalam, Ho Leng-hong tak berani masuk secara gegabah, ia minum arak lebih dulu di sebuah kedai arak dekat sarang pelacuran itu, lewat tengah malam, menurut perkiraannya tamu yang masih ada tentu sudah masuk kamar, yang tidak bermalam tentu sudah pulang, ia membayar rekening minum dan perlahan memasuki gang Waru. Mula-mula ia mengitari dulu lorong tersebut, ketika dilihatnya pintu sudah tertutup dan lampu telah padam, barulah ia mempercepat langkahnya menuju ke dinding perkarangan sebelah belakang. Untuk menghindari kepergok orang hingga statusnya sebagi pemilik Thian-po-hu diketahui orang, ia mengenakan sehelai kain yang menutupi sebagian besar wajahnya, kemudian tarik napas dan melompati tembok pekarangan itu. Di mana ia melayang turun hanya beberapa tombak jauhnya dari rumah kayu tersebut. Suasana dalam halaman itu sunyi senyap, rumah kayu itupun gelap gulita tak bercahaya, tampaknya Siau Cui sudah tidur. Dengan langkah hati-hati Ho Leng-hong mendekati pintu, mencoba dulu pintu tersebut, ternyata baik pintu maupun daun jendela dipalang dari dalam. Perlahan ia mengetuk pintu, namun tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap hening. Ho Leng-hong tak mau bersuara hingga mengejutkan orang lain, ia mencari sepotong kayu tipis, lalu dimasukkan lewat celah-celah pintu dan perlahan membuka pantekan palang pintu.... “Krek” pintu terbuka.... Ho Leng-hong menyusup ke dalam kamar sambil memanggil dengan suara tertahan, “Siau Cui, Siau.....” Tiba-tiba suaranya seperti tersumbat dalam tenggorokkan, hawa dingin ngeri membuat bulu romanya sama berdiri. Sesosok tubuh manusia tergantung mengapung di belandar, itulah Siau Cui. Menurut perkiraan, paling sedikit ia sudah putus nyawa pada satu jam berselang. Atau dengan perkataan lain, tatkala suasana di halaman depan sedang ramai-ramainya dikunjungi tamu, secara diam-diam Siau Cui telah menggantung diri di kamar belakang. Mengapa ia bunuh diri? Kenapa kejadian ini tidak dilakukan dulu-dulu atau nanti, tapi justru dilakukan setelah Ho Leng-hong mengunjunginya semalam? Untuk menghindari kesulitan? Atau dibunuh untuk menghilangkan saksi hidup.....? Saking kagetnya Ho Leng-hong sampai lupa bersedih, buru-buru ia menurunkan jenazah Siau Cui, lalu dibaringkan di atas dipan. Ia periksa dulu keadaan mayat, kemudian memeriksa pula keadaan dalam ruangan itu.... Tapi ia tidak berhasil menemukan apa-apa. Kecuali bekas jeratan pada leher jenazah, tidak ditemukan luka lain. Kamar itupun berada dalam keadaan teratur dan bersih, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kacau atau bekas pergulatan. Tampaknya Siau Cui memang betul-betul membunuh diri, cukup tenang dan teguh tekadnya untuk bunuh diri, sebab itulah sepatah kata pesanpun tidak ditinggalkannya. Tapi, mengapa dia harus bunuh diri? Hanya disebabkan seorang “Ho Leng-hong” yang lain kedapatan mati di atas pembaringannya? Atau karena isi hatinya di yang penuh rahasia tak dapat dilampiaskan keluar itu? Baik kematian lantaran yang pertama maupun yang kedua, jelas ia mati karena Ho Leng-hong, sayang cinta kasihnya ini hanya meninggalkan kebingungan, kecurigaan serta kecemasan bagi Ho Leng-hong. Bila ia mempunyai keberanian untuk mati, mengapa tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan rahasia dalam hatinya . . . . . . Kegelapan mencekam keadaan rumah kayu itu, tak ada lampu, tak ada suara, suasana seram, sepi! Ho Leng-hong berdiri kaku di depan pembaringan, dia mengawasi mayat yang membujur di pembaringan itu dengan termangu, tidak bergerak dan tidak bicara, seperti patung. Yang terlihat olehnya seolah-olah bukan sesosok mayat yang dingin dan kaku, melainkan kekasih yang mencintainya dan menyayanginya yang berada dalam pelukannya. Kenangan lama seperti terbayang kembali di depan mata. Tak mungkin lagi ia merasakan kehangatan dan kemesraan seperti dulu. Tiba-tiba pandangan Ho Leng-hong terasa kabur, pipi terasa gatal dan cairan hangat perlahan meleleh masuk ke ujung mulutnya. Selama ini belum pernah ia kenal kesedihan atau kemurungan, ia selalu hidup bebas tak terbelenggu, tapi sekarang, untuk pertama kalinya ia merasakan getirnya kehidupan . . . . “Tok! Tok! Tok!” Tiba-tiba berkumandang suara ketukan pintu. Dengan terkejut Ho Leng-hong memutar badannya dan membentak dengan suara tertahan, “Siapa?” “Aku!” dengus seorang perempuan, “Apa belum cukup masuk? Hayo pulang!” Ho Leng-hong kenal suara Pang Wan-kun, cepat ia membuka pintu seraya berkata, “Wan-kun, kebetulan sekali kedatanganmu, lekas masuk kemari...” Pang Wan-kun mengenakan baju ringkas warna hitam, dua pedang tersandang di punggungnya, ia tampak gagah dan menawan, jauh berbeda dengan dandanannya selama berada di Thian-po-hu. Cuma air mukanya sekarang kurang sedap dipandang, mukanya cemberut dan alis matanya berkernyit, dengan suara dingin ia berkata, “Leluasakah bagiku untuk masuk ke situ?” “Wan-kun, jangan salah paham di sini telah terjadi sesuatu.” “Ah? Terjadi apa?” “Masuk dulu kemari, kalau berdiri di depan pintu niscaya jejak kita akan ketahuan orang.” Baru sebelah kaki Wan-kun melangkah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ia ragu-ragu, cepat ia menarik kembali kakinya. “Pasang lampu dulu, aku tak suka masuk ke tempat gelap dan kotor begini . . . . .” Tapi sebelum selesai ucapannya, Ho Leng-hong telah menariknya masuk secara paksa dan cepat-cepat menutup pintu. “Nyonya besar,” demikian bisiknya, “turunkan sedikit gengsimu, dalam kamar ada mayat, mana boleh memasang lampu?” “Mayat? Siapa yang mati?” tanya Wan-kun terkesiap. “Nona Siau Cui, Hong Leng-hong yang memberi impian kepadaku itu mati di kamarnya.” “Kenapa dia mati? Jangan-jangan seperti juga orang she Ho itu, barusan kalian . . . .” “Jangan sembarangan menduga, mayat itu berada di pembaringan, periksalah sendiri.” Wan-kun mengawasi pembaringan tersebut, lalu dengan terkejut katanya, “He, gejalanya seperti mati tercekik. Jit-long, kau yang melakukan perbuatan keji ini?” Leng-hong tertawa getir, “Kenapa kau selalu menduga yang bukan-bukan, ia mati menggantung diri, sewaktu aku tiba di sini ia sudah lama putus nyawa.” “Kalau begitu, kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini daripada nanti dicurigai orang sebagai pembunuh, mau apa lagi kau bersembunyi di sini?” “Hendak kuperiksa sebab-sebab kematiannya.” “Apa lagi yang perlu diperiksa? Seorang nona rumah pelacuran bunuh diri kan bukan suatu peristiwa besar, bila pemilik Thian-po-hu yang tersohor kedapatan berada di kamar pelacur yang bunuh diri, inilah yang menggemparkan orang.” “Tapi kurasakan kematiannya sangat mencurigakan, siapa tahu kalau di balik peristiwa ini tersembunyi suatu rencana jahat yang berbahaya.....” “Itu kan urusannya, apa sangkut-pautnya dengan kita?” “Sebetulnya memang tiada sangkut-pautnya dengan kita, tapi berhubung orang she Ho itu sudah memberi mimpi kepadaku, dan lagi secara kebetulan kita telah melihat peristiwa ini, urusan yang menyangkut jiwa dua orang, apakah kita bisa berpeluk tangan belaka?” “Aduh Tuanku, kenapa kau sebodoh itu?” kata Wan-kun sambil menggentakkan kaki ke atas tanah, “sekalipun persoalan ini hendak kita selidiki, paling tidak tempat yang tidak menguntungkan kita ini harus ditinggalkan lebih dulu, besok kita bisa suruh Thian-ya sekalian melakukan penyelidikan secara terbuka. Bayangkan saja, bila jejak kita ketahuan orang sekarang, kalau mereka bertanya untuk apa di tengah malam buta kau menyusup ke sarang pelacuran? Nah, coba, cara bagaimana akan kaujawab?” “Soal ini.....” “Jangan lupa, meski kau tidak takut ditertawakan orang, aku masih membutuhkan muka untuk bertemu dengan sanak keluargaku. Hayo cepat pulang!” Ho Leng-hong segera ditariknya keluar dari situ secara paksa. Sebenarnya Ho Leng-hong enggan meninggalkan tempat itu, tapi sukar melawan Pang Wan-kun, demi menjaga kebiasaan “takut bini”, terpaksa ia mengikuti keinginan sang “isteri” dan kembali ke Thian-po-hu. Sementara fajar telah menyingsing, Ho Leng-hong tidak sabar menunggu lagi, ia segera menyuruh orang mengundang Thian Pek-tat. Thian si telinga panjang memang seorang yang pandai melayani kehendak orang, pada saat kau perlu bertemu dengan dia, ia selalu akan muncul di hadapanmu tepat pada waktunya. Sebelum orang yang disuruh mengundangnya berangkat, tahu-tahu Thian Pek-tat sudah muncul lebih dulu di Thian-po-hu. Begitu bertemu, tanpa menggunakan basa-basi lagi langsung mengemukakan maksud kedatangannya. “Saudara Nyo, sudah kaudengar berita di luar dugaan? Kembali ada orang kedapatan mati di rumah pelacuran Hong-hong-wan,” demikian tuturnya. Ho Leng-hong melengak, ia pura-pura bertanya dengan heran, “Apa? Siapa lagi yang mati?” Thian Pek-tat celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu bisiknya. “Dia bukan lain adalah Siau Cui yang pernah Nyo-heng temui dua malam yang lalu, entah kenapa tiba-tiba ia menggantung diri semalam.” “Hah? Tanpa sebab kenapa mendadak bunuh diri?” kembali Ho Leng-hong pura-pura kaget. “Ya, kalau dibicarakan, mungkin kejadian ini akan mempengaruhi pula nama baik Nyo-heng, sebab itulah begitu mendapat kabar segera kuberangkat kemari.” “Tapi apa sangkut-pautnya dengan diriku?” “Nyo-heng, maaf bila Siaute bicara agak kasar, semestinya kau tidak boleh secara diam-diam menemuinya di halaman belakang kemarin malam dengan jalan menyaru, mau ketemu dengan di boleh saja, tapi tidak semestinya diketahui oleh Go So, pelayan rumah pelacuran itu. Kini secara tiba-tiba Siau Cui diketahui mati menggantung diri, sedang Go So adalah perempuan berlidah panjang yang tak bisa menyimpan rahasia, bila ia menyiarkan kabar yang bukan-bukan di luaran, sedikit banyak urusan ini akan menyangkut diri Nyo-heng.” “Apa yang dia katakan?” “Hmm, perempuan kasar macam dia, mana bisa mengucapkan kata-kata yang baik? Tentu saja ngaco-belo ke sana sini dan dibumbu-bumbui, dia bilang antara Nyo-heng dengan Siau Cui ada hubungan gelap, lantaran orang she Ho kedapatan mati di kamarnya, Nyo-heng datang ke rumah pelacuran itu dan menanyai Siau Cui, karena kaudesak, akhirnya ia menggantung diri.” “Biarkan saja apa yang akan dikatakannya, masa orang akan percaya? Masa pemilik Thian-po-hu yang tersohor bisa mencintai seorang pelacur dan memaksanya sampai mati?” “Nyo-heng persoalannya tidak sesederhana itu,” kata Thian Pek-tat dengan serius, “Betapa kebesaran nama Thian-po-hu dalam dunia persilatan, masa kita biarkan dinodai orang seenaknya? Bila perkataan semacam itu sampai tersiar keluar, bagi nama baik Thian-po-hu hal ini tentu merupakan pukulan yang cukup berat.” “Siapa bersih dia selalu bersih, siapa kotor dia akan kelihatan kotor. Bila ia berani menyiarkan kabar bohong, memangnya aku tak bisa menjahit bibirnya dengan benang?” “Tak perlu Nyo-heng repot-repot, Siaute telah mengaturkan segala sesuatunya bagimu.” “Apa yang kau atur?” “Bawa masuk!” seru Thian Pek-tat tiba-tiba sambil memberi tanda keluar pintu. Bersama suatu sahutan dari luar, muncul Thi-tau Tan yang pernah dilihat Ho Leng-hong di rumah pelacuran kemarin dulu itu. Dia masuk sambil membawa sebuah kotak kayu panjang persegi, setelah memberi hormat, kotak kayu itu ditaruh di depan Ho Leng-hong. “Barang apakah ini?” tanya Leng-hong. “Silakan Nyo-heng periksa sendiri!” sambil berbisik Thian Pek-tat membuka tutup kotak tersebut. Dua buah batok kepala yang masih berpelepotan darah terletak berjajar dalam kotak itu. Yang sebuah adalah batok kepala Go So, sedang yang lain adalah batok kepala pesuruh rumah pelacuran yang bertugas menjaga pintu itu. Dengan perasaan bergetar dan wajah berubah Ho Leng-hong berkata, “Siau Thian, mana boleh kau lakukan perbuatan sekejam ini?” Thian Pek-tat tertawa licik, “Orang yang berjiwa kecil bukan seorang Kuncu, orang yang tidak kejam bukan lelaki sejati. Demi mempertahankan nama baik serta martabat Thian-po-hu di mata masyarakat, demi melenyapkan bibit bencana di kemudian hari, terpaksa harus bertindak cepat dan tegas . . . .” “Tapi sebelum bertindak seharusnya kaurundingkan dulu persoalan ini denganku.” “Waktu sudah tidak mengizinkan lagi, begitu Siaute mendapat kabar, Go So telah siap melaporkan Nyo-heng kepada mak germonya, untung dicegah Siau Tan, berbareng ia mengirim kabar kepadaku, jika harus kuminta izin dulu pada Nyo-heng, mungkin rahasia ini akan bocor, sebab itu segera kuperintahkan menyikat mereka. Tapi Nyo-heng tak usah kuatir, kedua sosok mayat itu sudah kutelanjangi dan diletakkan bersama di satu ranjang, orang tentu akan menduga mereka terbunuh karena berzina.” “Ai, Siau Thian, kau terlampau sembrono,” kata Ho Leng-hong sambil menghela napas panjang, “caramu membunuh orang untuk melenyapkan saksi bukan perbuatan yang terpuji bagi kaum kita.” Thian Pek-tat tertawa, “Dalam keadaan terdesak tak mungkin bagiku untuk berpikir panjang apa yang Siaute lakukan adalah demi kepentingan Nyo-heng, sebab kutahu nama baik Thian-po-hu ditegakkan dengan susah payah, mana boleh kebesaran nama ini dihancurkan oleh mulut seorang kecil?” “Sekalipun demikian, caramu ini terlalu berlebihan, hanya bikin orang merasa tak tenang saja,” kata Leng-hong sambil menggeleng kepala berulang kali. “Bila Nyo-heng merasa tidak tenang, beri saja sedikit uang agar penguburan mereka lebih meriah dan urusan kan beres.” Ho Leng-hong benar-benar tak bisa berbuat apa-apa melainkan gelang kepala dan menghela napas belaka. Sebenarnya dia ingin mohon bantuan Thian Pek-tat untuk menyelidiki sebab kematian Siau Cui, tapi dengan demikian terpaksa ia harus membatalkan maksudnya semula. Padahal, sekalipun ia tidak membatalkan maksudnya juga tak bakalan berhasil usahanya itu. Sebab setelah berturut-turut terjadi empat kali kematian dalam Hong-hong-wan, semuanya mati dalam keadaan tidak jelas, semakin berkurang tamu yang berkunjung ke situ, tak lama kemudian rumah “P” itupun terpaksa tutup pintu. Burung terbang berpencar, manusia pergi gedungnya kosong, rumah pelacuran Hong-hong-wan yang ramai itu berubah menjadi sebuah gedung kosong yang menyeramkan, sekalipun di balik kesepian tersimpan pelbagai rahasia, dari mana pula rahasia itu akan diselidiki? Dengan demikian, satu-satunya harapan Ho Leng-hong untuk mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya pun putus di tengah jalan, satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanya berdiam terus di Thian-po-hu, dan melanjutkan statusnya sebagai Nyo Cu-wi yang tersohor karena “takut bini”. Namun demikian tidak berarti ia sudah mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi. Ia mengerti, kemungkinan besar peristiwa ini hanya suatu rencana jahat, suatu intrik yang mengerikan. Ada orang mempergunakan dirinya untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi, dan orang itu pasti mempunyai maksud tujuan yang menakutkan. Tapi, maksud tujuan apakah itu? Dia sendiri tak tahu. Tapi dia percaya, pada suatu saat “tujuan”itu pasti akan terlihat, dan ia yakin hal ini tak akan terlampau lama. Maka dari itu di harus menanti, menanti dan menanti terus dengan sabar . . . . . ----------------- Menanti adalah suatu pekerjaan yang menjemukan, apalagi Ho Leng-hong harus mewakili seorang lain serta hidup di lingkungan yang sama sekali asing baginya. Setiap saat ia harus waspada, harus selalu berhati-hati agar rahasianya tidak diketahui orang, tapi iapun harus melakukan penyelidikan terus menerus, ia juga berusaha mengetahui peraturan dalam Thian-po-hu, kebiasaan hidup Nyo Cu-wi, bahkan nama serta panggilan para pelayannya. Untung segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Dalam waktu singkat sebulan sudah lewat, Ho Leng-hong sudah apal terhadap segala sesuatu yang ada dalam Thian-po-hu, yang lebih hebat lagi, kehidupan “suami-isteri” antara dia dengan Pang Wan-kun dapat pula berlangsung dengan “klop” tanpa kurang sesuatu. Pengawasan Pang Wan-kun terhadapnya tidak ketat, asal ia tidak meninggalkan gedung itu, tidak bergurau dengan pelayan muda, boleh dibilang kehidupannya dapat berlangsung dengan “bebas”. Lo Bun-pin serta Siau Thian sekalian sahabatnya boleh dibilang setiap hari selalu berkumpul dan bersenang-senang, kalau bukan minum arak tentu berjudi..... Hari demi hari dilewatkan dengan penuh kenikmatan, setiap hari kerjanya hanya makan, minum serta berjudi, suatu pekerjaan seriuspun tak pernah dilakukan. Selama satu bulan ini, Ho Leng-hong dapat meresapi benar kehidupan keluarga kaya dan terhormat itu, kerja mereka hanya makan, minum, berjudi dan tentu saja bermain perempuan, dalam anggapan mereka perbuatannya ini merupakan perbuatan romantis, padahal sebenarnya perbuatan yang memalukan. Yang disebut sebagai golongan “pendekar”tidak lebih hanya kulit manusia yang menutupi wajah masing-masing, yang dilakukan belum tentu perbuatan “manusia”. Sekalipun kadangkala melakukan perbuatan kebajikan, itupun demi nama baik sendiri, kuatir orang lain tak tahu bahwa mereka yang melakukannya, kuati orang lain tidak tahu namanya. Berbuat kebajikan supaya diketahui orang lain bukanlah kebajikan yang murni. Sekalipun Ho Leng-hong bukan seorang Kuncu, toh dia merasa muak menyaksikan tingkah laku orang-orang kalangan atas ini. Coba kalau tidak ada urusan penting, sungguh ia ingin mendepak pergi manusia-manusia munafik itu. Tentu saja ia tak dapat berbuat demikian. Sebab ia sedang menantikan sesuatu yang sukar diduga, lagi pula rumah ini juga bukan miliknya. Hari berganti hari, lama kelamaan Ho Leng-hong mulai merasa tak tahan dan habis sabarnya. Tengah hari itu tiba-tiba ia merasa kesal, pada kesempatan semua orang sedang berjudi di ruang depan, seorang diri ia kembali ke ruangan belakang. Hari itu udara panas dan hawa lembab, seperti akan hujan. Dari Bwe-ji diketahui bahwa Pang Wan-kun baru saja masuk tidur siang, untuk sementara jelas tak dapat membangunkannya, suasana di ruang belakang amat hening, para pelayan pada bersembunyi mencari tempat yang sejuk. Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, Leng-hong enggan kembali ke ruang depan, maka seorang diri ia berjalan-jalan di taman. Entah berapa lama ia berjalan, akhirnya tiba di depan Kiok-hiang-sia. Duduk di dalam villa air yang nyaman, apalagi menghadapi air nan hijau di bawah embusan angin yang sepoi-sepoi, lama kelamaan orang akan mengantuk. Ho Leng-hong mengantuk sekali, ia bersandar di atas kursi berbantal tangan. Di tengah tidur tak tidur, mendadak ia mendengar seperti ada orang sedang berkasak-kusuk. Yang sedang berbicara adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, suara mereka terbawa angin ke dalam rumah, sekalipun tidak terlalu jelas, namun lamat-lamat terdengar apa yang sedang dibicarakan. Mula-mula Ho Leng-hong mengira kaum hamba yang sedang melakukan pertemuan gelap, dia enggan memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia merasa apa yang mereka bicarakan semakin tak beres . . . . Terdengar yang pria berkata, “ . . . menurut berita yang bisa dipercaya, kemarin Ji-beng-kaucu (si monyet dua kuda) sudah tiba di Hong-leng-toh, dalam satu-dua hari ini pasti akan sampai di tempat tujuan, tiba waktunya nanti kau harus lebih berhati-hati, jangan sampai jejak kita ketahuan.” “Sungguh aku rada kuatir, konon si monyet dua kuda itu sangat cerdik, kalau sampai . . . .” “Jangan kau takut,” tukas si lelaki, “semuanya sudah kuatur dengan sempurna, hadapi saja dengan tabah, tapi harus ingat, bila tidak perlu, kurangi berbicara, dengan begitu tipis kemungkinan jejak kita akan ketahuan.” “Begitu barangnya kita dapatkan, kenapa tidak cepat-cepat kabur? Apa yang harus kita nantikan lagi?” "Tidak bisa, monyet itu sangat cerdik, siapa tahu secara diam-diam iapun mengadakan persiapan, kalau sampai ketahuan, pengejaran tentu segera dilakukan, bukankah hal ini akan merepotkan kita.” “Aku cuma kuatir malam yang terlampau panjang akan banyak menimbulkan impian buruk, bisa-bisa orang she Ho itu ketahuan rahasianya.” “Jangan kuatir, orang she Ho itu lebih teliti daripadamu, selama sebulan lebih ini tampaknya ia sudah cukup lumayan, tiba waktunya nanti dia pasti dapat menghadapi dengan prihatin, tak perlu kuatirkan dia...” Ho Leng-hong merasakan jantungnya berdebar keras... Orang she Ho? Kalau bukan aku Ho Leng-hong yang dimaksudkan, siapa lagi? Keparat, ternyata benar, ada suatu perangkap besar, mereka hendak memperalat aku orang she Ho untuk mendapatkan suatu “barang”. Tapi barang apakah itu? Siapa yang dimaksudkan sebagai Ji-be-kaucu (si monyet dua kuda)? Ho Leng-hong merasa semangatnya berkobar, rasa lelah dan mengantuk seketika lenyap, seketika itu juga dia ingin melompat bangun, memburu ke sana, serta mencari tahu siapa gerangan kedua orang itu . . . . . Tapi ia tidak berbuat demikian, ia tetap diam saja. Karena jarak dari villa itu menuju seberang sana cukup jauh, lagi pula medan terlalu terbuka, ditambah lagi laki-perempuan itu bersembunyi di balik pepohonan yang rindang, sulit baginya untuk menentukan arah mereka yang sebenarnya. Bila ia mengejar ke sana melalui jembatan penyeberangan, maka kemungkinan besar lebih dulu jejaknya akan ketahuan lawan. Jangan kira Ho Leng-hong sama sekali tak bergerak, kedua matanya seperti lampu sorot celingukan ke sana kemari, selain memperhitungkan tempat persembunyian kedua orang itu, diam-diam iapun mencari akal untuk menyeberangi kolam itu. Dalam pada itu, suara kasak-kusuk masih berkumandang terbawa angin, kedengaran si perempuan lagi berkata, “. . . . kulihat orang she Ho itu tidak goblok, sekalipun selama sebulan lebih ia menetap di sini sebagai Nyo Cu-wi dan sedikitpun tidak menyinggung soal-soal masa lampau, siapa tahu kalau secara diam-diam sedang menyusun suatu rencana keji?” “Keadaannya sekarang sudah tidak bebas, rencana busuk apa yang bisa ia lakukan? Sekalipun dia mengatakan yang sesungguhnya, tak nanti ada orang mau percaya lagi kepadanya.” “Apakah atasan telah memberi pesan cara bagaimana kita harus menghadapinya setelah benda itu kita dapatkan?” “Tidak ada. Sekalipun ada, itu kan tugas orang lain, tak ada sangkut pautnya dengan kita. Tugas kita hanya mendapatkan benda itu lain tidak.” Sesaat lamanya perempuan itu termenung, kemudian berkata lagi, “Baiklah, cepatlah kau keluar, jangan terlalu lama ngendon di sini, nanti mereka curiga.” “Baik! Aku pergi dulu, ingat tugas kita harus berhasil dan tak boleh gagal, harus berjuang dengan sepenuh tenaga....” Mendengar sampai di sini, Ho Leng-hong tahu bahwa ia tak dapat menunggu lebih lama, cepat ia melompat keluar. Ia tidak mengejar lewat jembatan penyeberang, tapi ke atas atap villa itu. Dari atas atap yang tinggi, pemandangan sekeliling taman dapat dilihatnya dengan jelas. Benar juga, di balik semak-semak sebelah barat daya sana menyusup keluar dua sosok bayangan orang, bayangan laki-laki dan yang lain perempuan. Yang lelaki mengenakan jubah panjang berwarna biru, yang perempuan memakai gaun berwarna hijau pupus, sayang jaraknya terlampau jauh sehingga raut wajah maupun potongan badan tak sempat terlihat jelas. Betapa gelisahnya Ho Leng-hong, tak terpikir lagi harus sembunyi atau tidak, sambil menarik napas panjang ia melayang lewat kolam dan langsung menubruk ke sana. Kedua orang itu kabur terpisah, yang lelaki menuju ke ruang depan, sedang yang perempuan menuju ke belakang, betapa terkejutnya mereka menyaksikan kemunculan Ho Leng-hong, serentak mereka menyusup lagi ke balik semak-semak....... “Sobat, kalian tak dapat bersembunyi lagi,” bentak Leng-hong. “Lebih baik menyerahkan diri saja!” Tiada jawaban, suasana di balik semak tetap hening tak terdengar suara apapun. Pelahan Ho Leng-hong mendekati semak-semak tersebut, lalu katanya lagi, “Membungkam juga percuma, sejak tadi sudah kuketahui siapakah kalian, tidak cepat-cepat menggelinding keluar, apakah perlu kupersilakan kalian keluar?” Tiada jawaban pula di balik semak-semak itu. Leng-hong mendengus, dengan suatu gerakan gesit ia menerjang ke balik semak . . . . . . . . Aneh, ternyata di balik semak itu kosong melompong, sesosok bayangan pun tidak kelihatan! Ho Leng-hong tertegun, andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir ia tak percaya kedua orang laki-perempuan itu memiliki gerakan secepat itu, di bawah sinar matahari yang terang benderang, bagaikan setan saja tahu-tahu lenyap tak berbekas! Dengan penasaran ia melakukan pencarian, namun hasilnya nihil, cepat Ho Leng-hong lari menuju ke gedung belakang. Ia tidak menuju ke ruang depan melainkan ke belakang, pertama ruang depan terlalu banyak orang, di antaranya ada beberapa orang mengenakan jubah panjang berwarna biru hingga sukar dibedakan, kedua gedung belakang lebih dekat letaknya, di sana Cuma ada beberapa orang dayang, untuk menemukan yang perempuan tadi rasanya tidak sulit. Ketika menerjang masuk ke sana, kebetulan Pang Wan-kun didampingi Bwe-ji sedang menuruni tangga loteng. Pang Wan-kun mengenakan baju warna kuning telur, rambutnya kusut dan tampaknya baru saja bangun tidur. Bwe-ji mengenakan baju pendek warna merah dengan gaun berwarna putih, masih dengan dandanan semula. “Jit-long, kenapa kau?” tegur Wan-kun keheranan melihat tingkah laku suaminya, “air mukamu kelihatan aneh, kenapa kau awasi kami seperti baru kenal?” “Kalian baru turun dari atas loteng?” tanya Leng-hong. “Benar,” sahut Bwe-ji, “nyonya baru saja bangun tidur siang. Ada sesuatu yang tidak beres?” Leng-hong tidak menjawab, kembali tanyanya, “Sewaktu kalian turun, apakah melihat seseorang lari ke atas loteng?” “Tidak! Kami tidak melihat apa-apa!” jawab Bwe-ji keheranan. “Jit-long, siapa yang kau cari?” tanya Wan-kun. “Seorang perempuan yang mengenakan gaun warna hijau pupus, dengan mata kepalaku sendiri kulihat ia kabur ke arah sini.” “Ada apa dengan perempuan itu? Kenapa kau kejar-kejar dia?” tanya Wan-kun pula. “Ia mengadakan pertemuan dengan seorang pria di taman, pertemuan itu kupergoki tanpa sengaja, dia lantas kabur kemari.” “Wah, celaka, Jit-long, kau berhasil melihat wajahnya?” tanya Wan-kun terkejut. “Sayang hanya sepintas lalu, tak sempat kulihat jelas.” Wan-kun menarik muka, katanya kepada Bwe-ji, “Sampaikan perintahku, segenap dayang yang ada di gedung belakang supaya berkumpul di sini, bagaimanapun juga hari ini dia harus ditemukan. Hm, di tengah hari bolong berani mengadakan pertemuan dengan kaum pria, betul-betul kurang ajar.” “Tapi Hujin . . . . dayang di gedung belakang puluhan orang banyaknya, apakah . . . .” “Semuanya dikumpulkan di sini, seorangpun tak boleh absen, perintahkan juga kepada mereka tak boleh berganti pakaian, semuanya segera kemari.” “Jangan, Wan-kun! Tindakan semacam ini hanya akan menggelisahkan semua orang,” cegah Leng-hong, “cukup kita titahkan orang untuk menutup jalan tembus ke ruang depan, jangan ribut untuk sementara, asal kita adakan pemeriksaan secara diam-diam, tak sulit untuk menemukan orang itu.” “Perkataan Toaya memang benar” cepat Bwe-ji menanggapi, “dayang yang bekerja di gedung belakang ada tiga-empat puluh orang, hampir semuanya mengenakan gaun berwarna hijau pupus, bila kita menyimak rambut mengejutkan ular hingga ia berganti pakaian lain, ke mana kita akan mencari biang keladinya?” Kemarahan Pang Wan-kun belum mereda, ia menggentakkan kakinya ke tanah seraya berkata, “Baiklah, perintahkan untuk menutup semua jalan tembus, siapapun dilarang masuk keluar, akan kuadakan pemeriksaan sendiri.” Bwe-ji segera melaksanakan perintah itu dengan menutup semua jalan tembus, pemeriksaan pun dilakukan. Pang Wan-kun memimpin sendiri pemeriksaan tersebut, setiap dayang yang mengenakan gaun hijau pupus segera digiring ke dalam taman untuk diperiksa oleh Ho Leng-hong. Tak lama kemudian sudah tujuh belas orang dayang yang digiring ke taman, mereka mengenakan warna baju yang sama, suara juga sama, namun dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tak seorangpun di antara mereka pernah masuk ke taman belakang. Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ho Leng-hong mengulapkan tangan untuk membubarkan sekalian dayang-dayang tersebut. Akhirnya setelah bekerja keras setengah hari, bukan saja orang yang dicurigai tak ditemukan, sebaliknya ia malah menerima gerutuan Pang Wan-kun dan ejekan para dayang secara diam-diam . . . . Walaupun Leng-hong merasa kecewa, namun tidak putus asa, paling sedikit ia sudah tahu bahwa dirinya berada di tengah suatu intrik keji mengerikan, dan dalam satu-dua hari mendatang tentu akan terjadi peristiwa penting. Tapi peristiwa apa yang bakal terjadi? Jawabannya akan segera ditemukan bila “si monyet dua kuda” telah tiba di situ. Peristiwa ini bukan Cuma suatu perangkap, bahakan juga suatu rencana besar yang mengerikan, suatu peristiwa aneh yang jarang dialami dalam kehidupan orang. Kini Ho Leng-hong sudah ikut terlibat dalam perangkap itu, mau-tak-mau dia harus menghadapinya dengan hati yang sabar, apabila dalam kejadian ini secara beruntun sudah empat nyawa melayang, andaikan tidak terlibat langsung juga ia tak mau berpeluk tangan belaka. Manusia hidup seratus tahun akhirnya mati juga. Daripada hidup tanpa suatu kegiatan, lebih baik hidup sehari secara gegap gempita, jika mati pun tidak gentar, apalagi yang ditakuti seorang? Sesudah mengambil keputusan nekat, hati Ho Leng-hong jadi lebih tenang. Ia tidak berminat untuk menyelidiki siapa lelaki berjubah biru dan perempuan berbaju hijau lagi, setiap hari kerjanya hanya makan minum, kalau bukan berjudi tentu minum sampai mabuk, seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya saja. Ia percaya, bagaimanapun juga orang lain tak akan mengubahnya menjadi Nyo Cu-wi secara Cuma-Cuma, bila “si monyet dua kuda” telah muncul duduknya persoalan tentu akan ketahuan. Sehari, dua hari lewat dengan cepatnya, tak ada kejadian apapun, “si monyet dua kuda” yang ditunggu-tunggu juga belum muncul. Tengah hari ketiga, sewaktu Ho Leng-hong sedang berjudi dengan Lo Bun-pin sekalian di ruang depan, tiba-tiba muncul seorang Busu memberi laporan, “Kuloya (tuan ipar) datang!” “Kuloya?” Ho Leng-hong tertegun, “Kuloya siapa?” “Nyo-heng,” Thian kecil si telinga panjang berbisik, “jangan-jangan Pang-loko dari Cian-sui-hu yang datang.” “Kau maksudkan Pang Goan? Jangan bergurau ia jauh berada di Liat-liu-shia, mas bisa datang ke Lok-yang?” “Tak salah, pasti dia yang datang, dia adalah kakak lenso, kalau bukan dia lantas siapa lagi?” Air muka Lo Bun-pin tiba-tiba saja berubah hebat, cepat katanya, “Kalau begitu kita harus cepat-cepat membereskan keadaan di sini, kutahu Pang-loko paling benci pada segala bentuk perjudian, kalau sampai ketahuan kita bakal dimaki habis-habisan.” “Apa yang mesti ditakuti? Kalian bermain saja dengan permainan kalian, aku akan keluar untuk menengoknya sebentar, kalau memang dia, langsung akan kubawa dia ke belakang . . . .” “Tidak usah,” tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara dingin, “aku sudah masuk sendiri.” Ho Leng-hong segera menengadah, tanpa rasa ia melengak. Seorang kakek udik telah berdiri di ambang pintu, usianya lima puluhan, badannya kurus dan pendek, bibirnya lancip dengan kening yang sempit, sepasang lengannya luar biasa panjangnya, bajunya berwarna hijau dan hampir putih karena terlalu sering dicuci, sepatu rumputnya penuh debu kotoran. Yang paling aneh ia menggendong sebuah bungkusan panjang, bungkusan itu diikat dengan rantai sebesar ibu jari, dan ujung rantai yang lain melilit pada lehernya. Beginikah tampang It-kiam-keng-thian (pedang sakti penunjang langit) Pang Goan yang tersohor dari Cian-sui-hu di Liat-liu-shia? Hakikatnya tidak lebih gagah daripada seorang petani desa. Meski begitu, tak seorangpun di antar hadirin dalam ruangan berani memandang hina orang ini. Jangan dikira bajunya kasar dan mukanya lucu, ia mempunyai mata yang lebih tajam daripada sembilu, sinar mata yang kemerah-merahan membuat jeri orang sehingga semua orang sama diam, bahkan bernapas saja tak berani keras. Dari sorot matanya semua orang tahu tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, bahkan yang dilatihnya adalah Tay-yang-sin-kang dari Khong-tong-pay yang paling sukar dilatih. Ho Leng-hong pernah mendengar nama besar Pang Goan, tapi belum pernah berjumpa dengan “kakak ipar” ini, terperanjat juga hatinya setelah berhadapan sekarang. Ia bukan kaget lantaran mata Pang Goan yang membetot sukma, ia terkesiap karena potongan badannya serta raut wajahnya yang luar biasa itu. Tubuhnya kurus kecil, kedua tangannya justru luar biasa panjangnya, bibir yang lancip dengan kening sempit, ditambah sepasang Kim-cing-hwe-gan (mata emas merah berapi) yang tajam.... Bentuknya tiada ubahnya seperti seekor monyet? Sekarang ia baru mengerti yang dimaksudkan “dua kuda” adalah tulisan “Pang”, atau dengan perkataan lain “monyet dua kuda” bukan lain adalah Pang Goan. Begitu menyadari persoalan tersebut Ho Leng-hong merasa bergidik, cepat ia bangun berdiri dan memberi hormat. “Sungguh tak kusangka kakak akan berkunjung kemari....” katanya. Pang Goan mendengus, “Hm, akupun tak menyangka Thian-po-hu yang tersohor telah menjadi rumah judi yang ramai.” “Lotoako jangan marah,” buru-buru Leng-hong berkata sambil tertawa, “mereka ini adalah sahabat-sahabat Siaute, lantaran iseng, tak ada pekerjaan, maka kami bermain judi untuk membuang waktu.....” “Hm, jadi kedatanganku tentunya mengganggu.....” “Ah, kenapa Lotoako berkata demikian? Sekalipun diundang saja belum tentu engkau mau datang.....” “Kalau begitu, kenapa tidak lekas enyahkan mereka dari sini!” “Baik, baik, mereka memang sudah mau bubaran, silakan duduk dulu Lotoako!” “Tak usah sungkan-sungkan,” dengan tajam Pan Goan menyapu pandang semua orang itu, lalu berkata pula, “kalian tidak tahu diri, apakah perlu aku orang she Pang melemparkan kalian satu persatu?” Mendengar ancaman tersebut, semua orang berseru, “Baik, kami segera pergi! Harap Pang-toako jangan marah!” Sungguh menggelikan, kawanan jago ternama dari Lok-yang ini ternyata diusir mentah-mentah oleh Pang Goan, bukan saja tak berani membantah, berdiam sedetik lebih lama pun tidak berani. Ho Leng-hong merasa geli, tapi wajahnya pura-pura mengunjuk sikap serba salah. “Jit-long,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “bukan maksudku ingin menasihatimu, tapi perbuatanmu memang kelewat batas, seorang muda kenapa tidak berusaha untuk maju, sebaliknya tiap hari kerjanya hanya minum dan berjudi melulu?” “Harap Toako jangan marah, “kata Leng-hong dengan tersipu-sipu, “kebetulan saja hari ini Siaute menyelenggarakan pertemuan semacam ini, padahal hari-hari biasa juga tidak demikian.” “Kebetulan saja? Tak kusangka kau masih berani berkata demikian, manusia hidup di dunia ini paling-paling Cuma puluhan tahun, waktu yang lewat tak mungkin ditemukan kembali, enak saja kau menerima warisan orang tua dan saudara-saudaramu, sekalipun tak pernah mengalami susah payahnya mendirikan keluarga jaya ini, sedikitnya kau memikirkan untuk mempertahankan nama baik keluarga, tapi kerjamu selama ini bukan saja malu terhadap leluhur dan kakak-kakakmu, malu juga terhadap anak isteri, bukan berjuang untuk kemajuan, kau masih iseng berbuat hal-hal yang kurang baik ini.” Ho Leng-hong tidak menyangka “kakak iparnya” adalah seorang yang alim dalam tata kehidupan, terpaksa ia tundukkan kepala rendah-rendah. “Terima kasih untuk nasihat Toako, selanjutnya Siaute tentu akan memperbaiki kelakuanku,” kata Leng-hong. “Memperbaiki diri? Hm, gampang saja kaubicara, tapi sudah sekian lama kau bergaul dengan teman-teman semacam itu, matamu sudah ternoda dan telingamu sudah kotor, kebiasaan jelek sudah meresap dalam tubuhmu, memangnya kau anggap mudah untuk memperbaikinya?” “Lain kali Siaute tak akan berhubungan lagi dengan mereka!” Leng-hong memberikan janjinya. “Soal ini memang bicara gampang tapi sukar untuk melaksanakannya, hubungan antara sesama Siaujin manis bagaikan madu, siapa dekat dengan gincu akan menjadi merah, siapa dekat tinta bak akan menjadi hitam, aku tidak percaya kaudapat putuskan hubungan dengan mereka.” Ho Leng-hong didamperat hingga tak bisa mendongakkan kepalanya, diapun tak bisa marah, terpaksa menjawab sambil tertawa getir, “Menurut perkataan Toako, bukankah Siaute tak bisa ditolong lagi?” Pang Goan menggeleng kepala berulang kali, “Dari penghemat menjadi pemboros lebih gampang, dari pemboros menjadi penghemat justru sukar, begitulah kebiasaan manusia. Ai, jika kau tak mau berjuang untuk kemajuan, aku tak ingin menyalahkan dirimu, aku hanya benci pada kebodohanku sendiri.” “Kau benci pada kebodohanmu sendiri?” “Kenapa tidak? Bila sejak semula kutahu kau ini manusia tak becus seperti ini, masa aku mau menjodohkan adikku kepadamu?” “Sudahlah, Lotoako, nasihat sudah kau berikan, makian juga sudah cukup, sekarang duduklah lebih dulu, akan kupanggilkan Wan-kun untuk menemani kau bercakap-cakap.” Begitulah, setelah minta maaf, mengaku salah, setengah membujuk dan memberi hormat, dengan susah payah akhirnya Pang Goan berhasil juga dibujuk untuk duduk, cepat Leng-hong menyuruh orang mengundang Pang Wan-kun di belakang. “Tak usah tergesa-gesa” cepat Pang Goan mencegah, “soal rumah tangga kapan saja bisa dibicarakan, sekarang justru aku ada urusan penting yang hendak kubicarakan empat mata denganmu.” “Ah, soal apa yang hendak Lotoako bicarakan? Silakan memberi petunjuk.” Pang Goan melirik sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya, “Tempat ini terlampau ramai, bukan tempat ideal untuk berbicara, adakah suatu tempat yang sepi?” “Kiok-hiang-sia di taman belakang adalah tempat yang baik.” “Baik! Mari kita ke sana.” Sambil membawa Pang Goan ke belakang, sepanjang jalan Ho Leng-hong berpikir, “Ya, akhirnya datang juga, yang mau dibicarakan pasti menyangkut buntalan di punggungnya itu, kalau ditinjau dari sikapnya yang serius, benda itu tentu amat berharga sekali . . . . . .” Dugaannya memang tidak keliru, baru saja duduk dalam villa itu, Pang Goan telah mengeluarkan sebuah anak kunci dari sakunya, lalu membuka rantai di tubuhnya dan melepaskan buntalan kain itu. Ho Leng-hong tak tahu benda apakah dalam bungkusan itu, tapi bila dilihat dari bentuk serta bobotnya yang berat, kemungkinan besar adalah sebangsa kotak logam. Pang Goan meletakkan bungkusan itu di meja, lalu katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, “Jit-long, kita masih saudara, aku yang menjadi kakakmu inipun suka berterus terang, ada sepatah kata hendak kutanyakan kepadamu, dan kuharap kau bersedia menjawab dengan sejujurnya pula.” “Silakan bertanya Lotoako, Siaute pasti akan menjawab dengan sejujurnya, aku tak akan membohongimu.” “Bagus! Terus terang akuilah berapa banyak yang berhasil kaukuasai dalam permainan golok sakti keluarga Nyo kalian?” “Tentang ini . . . .” “Tak usah mengibul, aku ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya.” Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu menjawab, “Bakat maupun kecerdasan Siaute sangat terbatas, mungkin hanya empat bagian yang berhasil kukuasai.” Ia agak jeri terhadap sinar mata Pang Goan yang lebih tajam dari sembilu itu, karenanya ia tak berani bicara terlalu banyak. “Aku sendiri kebetulan juga berlatih ilmu golok,” demikian ia berpikir, “sekalipun bukan golok sakti keluarga Nyo yang kupelajari, pada hakikatnya ilmu silat di dunia ini bersatu sumber, kalau kukatakan empat bagian mungkin bolehlah.” Siapa tahu Pang Goan segera menggeleng kepala berulang kali, “Bila menurut pengamatanku, mungkin empat bagian pun belum berhasil kaucapai.” “Oya!” “Bakat maupun kecerdasanmu tidak jelek, mestinya tak mungkin hanya mencapai empat bagian saja, tapi bila kulihat caramu bersenang-senang setiap hari dengan begundalmu itu, sudah pasti ilmu silatmu terbengkalai sama sekali, oleh sebab itulah aku hanya berani menilai bahwa kepandaianmu Cuma mencapai tiga bagian saja.” Ho Leng-hong tertunduk malu. “Jit-long, kita adalah famili dekat, bukannya aku yang menjadi kakak ingin mengomeli kau, tapi kalau keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, cepat atau lambat nama Thian-po-hu pasti akan rontok ditanganmu, sementara jangan kita singgung dulu makna yang sebenarnya dari ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu, coba kautanya kepada hati nuranimu sendiri, apakah kau dapat mempertanggung-jawabkan dirimu terhadap ayahmu yang membangun kejayaan keluarga ini dengan susah payah? Masih punya mukakah kau untuk bertemu dengan kakak-kakakmu yang telah mati secara perkasa dan ikhlas?” “Membangun kejayaan keluarga dengan susah payah” tak sulit diserap maknanya, tapi apa pula yang dimaksud “mati secara perkasa dan ikhlas?” Nama kecil Nyo Cu-wi adalah “Jit-long” atau si ketujuh, jadi di atasnya masih ada enam orang kakak, apakah keenam saudaranya telah mati semua secara perkasa dan ikhlas. Mengapa mereka mati secara perkasa dan ikhlas. Apa pula makna yang seberanya di balik ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu? Dengan sorot mata tajam Pang Goan mengawasi Ho Leng-hong sekian lama, tiba-tiba ia menghela napas dan membuka bungkusan kain di meja. Betul juga, isinya adalah sebuah kotak besi yang berwarna hitam mengkilap. Kotak besi itu digembok pula. Pang Goan tidak membuka kotak itu lagi, tapi berikut sebuah anak kunci benda-benda itu di dorong ke hadapan Ho Leng-hong. “Benda ini adalah milik keluarga Nyo kalian.” Demikian katanya, “batas janji selama dua tahun sudah penuh, dan sekarang aku membawanya sendiri kemari serta diserahkan kembali kepadamu, Cuma ada satu persoalan harus kuberitahukan kepadamu.” Ho Leng-hong ingin sekali mengetahui benda apa yang ada di dalam kotak besi itu, terpaksa ia bersabar untuk menunggu kelanjutan ucapannya.. Terdengar Pang Goan berkata pula, “Sepanjang perjalanan menuju ke timur sini, sudah empat kali kurasakan jejakku dibuntui orang, rupanya mereka hendak mencuri benda ini. Malah dua diantaranya sudah menyusup ke dalam kamarku, setelah beruntun kulukai dua orang diantaranya, benda ini berhasil kuantar sampai di sini dengan selamat.” “Siapakah orang-orang itu?” tanya Leng-hong sambil mendongak. “Masa perlu kautanyakan? Dua tahun belakangan ini, meski dunia persilatan tampaknya tenang dan tak pernah terjadi sesuatu apapun, bukan berarti orang lain telah mengendurkan pengawasannya terhadap kita.” “Hm . . .” Leng-hong mendengus. Ia tak tahu siapakah “orang” yang dimaksudkan itu, iapun tak tahu kenapa ada orang mengawasi Thian-po-hu dan Cian-sui-hu. Tapi dengusan tersebut menunjukkan bahwa ia marah sekali atas kejadian tersebut. Tapi ada juga satu hal yang diketahuinya, yakni ada orang mengincar barang dalam kotak besi ini dan berusaha mencurinya, bahkan orang-orang itu sudah menyelundup ke dalam Thian-po-hu. Cuma sayang ia tak dapat memberitahukan urusan ini kepada Pang Goan. Pang Goan memandangnya sambil tertawa hambar, lalu berkata, “Marah tak akan menolong dalam urusan ini, selama dua tahun benda ini berada di tanganku, sedikit banyak pihak lawan masih agak jeri padaku, tapi sekarang sesudah kuserahkan kembali kepadamu, yakinkah kau dapat melindunginya serta tidak akan jatuh ke tangan orang lain?” “Siaute akan berusaha dengan sepenuh tenaga.” “Dalam hal ini bukan soal berusaha dengan sepenuh tenaga atau tidak,” kata Pang Goan sambil menggeleng, “tapi yakinkah kau dapat melindunginya?” Ho Leng-hong termenung sejenak, lalu sahutnya, “Aku tak berani mengatakan punya keyakinan, tapi aku mempunyai akal bagus untuk menjamin keselamatannya.” “Oya?!” Pang Goan berkerut kening, jelas ia tak percaya. Ho Leng-hong menempelkan jari tangannya pada bibir, lalu menulis beberapa huruf di atas meja, begitu selesai dibaca tulisan itu cepat-cepat dihapus. “Bagaimana pendapat Lotoako akan siasat ini?” ia bertanya lirih. Pang Goan mengernyit alis, sekali ini jelas sebagai tanda memperingatkan agar waspada. Menyusul dengan suara rendah ia berbisik, “Menurut anggapanmu, mereka akan turun tangan di gedung ini?” “Dalam hal ini bukan soal mungkin atau tidak melainkan mereka pasti akan turun tangan dalam gedung ini,” jawab Ho Leng-hong menirukan nada orang. Pang Goan tertawa, ia tepuk bahu Ho Leng-hong seraya berkata, “Jit-long sungguh tak kusangka kau dapat berpikir secerdik ini, baik kita lakukan begitu saja.” Anak kunci segera diambil dan kotak besi pun dibuka. Dalam kotak besi terdapat pula sebuah kota yang terbuat dari kayu, di tengah kotak kayu dengan alas kain merah tersimpanlah sebilah golok dan sejilid kitab pusaka ilmu golok. Golok itu pakai sarung terbuat dari kulit ular, gagangnya disepuh emas dengan empat huruf yang terbuat dari batu permata, “Yan-ci-po-to” atau golok pusaka gincu merah. Kitab pelajaran ilmu golok hanya terdiri dari beberapa halaman, pada kulit buku itu tertera huruf yang berbunyi: Tay-sin-pat-to (delapan jurus golok malaikat sakti), itulah ilmu golok keluarga Nyo. Perlahan Ho Leng-hong mencabut golok itu, seluruh tubuh golok berkilat bagaikan cermin, lamat-lamat tampak pancaran sinar merah jambon. “Golok bagus!” pujinya dalam hati. Sebenarnya di ingin memeriksa juga kitab pusaka itu, tapi niatnya dapat ditahan. Sebab baik golok maupun kitab pusaka itu kan miliknya sendiri, adalah lucu kalau dia tertarik pada benda miliknya sendiri. Dari atas dinding ia menanggalkan sebilah golok biasa, lalu dimasukkan ke dalam kotak besi dan kemudian kotak itu dikunci kembali. Setelah itu ia membungkus golok dan kitab pusaka itu dengan secarik kain kumal, bungkusan itu dimasukkan ke dalam laci di bawah almari. “Aman tidak kalau disimpan di sini?” tanya Pang Goan dengan suara agak parau. “Semakin terbuka tempat seperti almari ini semakin aman, bila mereka hendak mencari golok pusaka, tak mungkin akan mereka perhatikan laci tempat barang rongsokkan semacam ini, sekalipun laci dibuka, merekapun tak akan menyangka golok pusaka dibungkus dalam secarik kain kumal.” Pelahan Pang Goan mengangguk, “Aku hanya ada waktu tiga atau lima hari, aku masih harus pergi ke Sengtoh, mudah-mudahan aku tidak tertahan terlalu lama di sini.” “Tiga sampai lima hari sudah lebih dari cukup, selama beberapa hari ini silakan Lotoako berdiam di sini, aku percaya mereka pasti akan lebih gelisah daripada kita.” Tengah bicara tiba-tiba terdengar suara gemerencing perhiasan orang perempuan, tampak Bwe-ji sedang menyeberangi jembatan. Cepat Ho Leng-hong memberi tanda kepada Pang Goan dengan kerlingan mata, lalu kotak besi itu buru-buru dibungkus dengan kain, dirantai dan dikunci kembali. Bwe-ji telah masuk ke dalam ruangan, ia memberi hormat lebih dulu kepada Pang Goan seraya berkata, “Ketika Hujin mendengar tentang kedatangan Kuloya, ia merasa gembira sekali. Perjamuan telah disiapkan, hamba perintahkan datang untuk minta petunjuk Loya, perjamuan akan diselenggarakan di ruang belakang ataukah diantar ke Kiok-hiang-sia sini?” Pang Goan masih mengusirkan golok pusaka, jawabnya setelah berpikir sebentar, “Tempat ini bagus sekali, mana nyaman dan tenang lagi.” “Begitupun boleh,” sambung Ho Leng-hong segera, “sesudah melakukan perjalanan jauh, Lotoako memang harus membersihkan badan dan beristirahat lebih dulu, biar Siaute mengantar benda ini ke dalam kamar, kemudian baru datang kemari lagi bersama Wan-kun.” Pang Goan tidak menghalangi, sambil mengulapkan tangan ia berkata, “Kita adalah orang sendiri, asal bisa bertemu dan bercakap-cakap, itu sudah cukup, kenapa musti sungkan-sungkan?” Sambil mengempit kotak besi itu Ho Leng-hong pun mohon diri dan berlalu, sedang Bwe-ji tetap tinggal di situ melayani Pang Goan membersihkan badan. Sekembali Leng-hong di belakang, Pang Wan-kun telah selesai berdandan dan sedang menantikannya, begitu berjumpa ia lantas bertanya, “Kudengar Koko begitu masuk pintu lantas marah-marah, apa gerangan yang terjadi? Dari tadi sampai sekarang kalian bercakap-cakap terus di Kiok-hiang-sia sampai pelayanpun tak boleh masuk, sebetulnya apa yang sedang kalian bicarakan?” Ho Leng-hong tertawa, katanya sambil menunjuk kotak besi itu, “Apa lagi kalau bukan lantaran benda ini, kakakmu sengaja mengantarnya pulang, begitu masuk pintu ia lihat mereka sedang bermain dadu, langsung saja aku di damperatnya habis-habisan.” “Ya, memang begitulah watak Koko, dia berangasan dan pemarah, seolah-olah hanya dia sendiri yang suci di dunia ini, Jit-long, kau tidak marah kepadanya bukan?” “Tentu saja tidak,” Ho Leng-hong tertawa, “kendatipun perkataannya kurang sedap didengar, tapi semuanya demi kebaikanku, apalagi kau hanya punya seorang kakak, kecuali menerima nasihatnya, apalagi yang dapat kita katakan?” Wan-kun menghela napas panjang, “Ai, tak kusangka kaudapat menyelami perasaannya, bicara sejujurnya, meski kami adalah saudara, tapi umur kami selisih separo lebih, jangankan kau, aku pun agak takut untuk bertemu dengannya.” “Mau menghindari juga percuma sekarang, lebih baik simpan dulu benda itu, perjamuan diselenggarakan di Kiok-hiang-sia, sebentar kita ke sana bersama.” Ketika menerima kotak besit itu, tiba-tiba air muka Wan-kun berubah serius, bisiknya, “Apa isi kotak ini....” “Kitab pusaka dan golok pusaka Yan-ci-po-to!” “Ah, jadi kita menikah sudah dua tahun lamanya?” kejut dan girang Wan-kun. “Siapa bilang tidak, kedatangan kakakmu ini justru khusus untuk mengantarkan golok mestika dan kitab pusaka ini.” Kotak besi itu dipeluk Wan-kun erat-erat, lalu setelah tarik napas panjang ia bergumam, “Waktu sungguh cepat berlalu, dua tahun telah lewat dalam sekejap mata, bila terkenang kembali ketika kaudatang ke Cian-sui-hu untuk melamarku dua tahun yang lalu, rasanya seperti kejadian kemarin saja.” “Padahal tidak terhitung lama, paling-paling cuma tujuh ratus hari saja,” sambung Ho Leng-hong sambil tertawa. “Jit-long, tak heran kalau Koko marah-marah, dua tahun belakangan ini kita benar-benar telah menelantarkan pelajaran silat kita, bukan saja kerjamu setiap hari hanya bersenang-senang main judi dan minum arak, akupun tak pernah memikul tanggung jawab dengan sesungguhnya, mulai hari ini . . . . . “ “Mulai hari ini aku pasti akan mawas diri baik-baik, berlatih ilmu golok secara tekun untuk mencapai kemajuan yang pesat, nah puas? O, isteriku yang bijaksana, jangan lupa kakakmu masih menunggu di Kiok-hiang-sia untuk bersantap malam, kalau kita sebagai tuan rumah tidak lekas ke sana, masa menyuruh sang tetamu menunggu dengan perut lapar?” “Hm, orang lagi bicara serius denganmu, kau malah cengar-cengir belaka,” omel Pang Wan-kun melotot sekejap ke arahnya. “Melayani kakak ipar juga terhitung urusan serius, Hujin, kita harus berangkat sekarang.” Pang Wan-kun segera berbangkit, mengambil kunci dan membuka almari pakaiannya. “Jangan kau simpan dalam lemari,” Leng-hong mencegah, “golok dan kitab itu adalah pusaka keluarga Nyo kita, sekali-kali tidak boleh hilang.” “Tempat ini kamar tidur kita, siapa yang berani melakukan pencurian dalam Thian-po-hu kita?” “Kukira lebih baik berhati-hati, sebab menurut penuturan kakakmu, sepanjang perjalanan katanya banyak orang yang menguntitnya dan berusaha mencuri golok pusaka ini.” “Ah, masa betul begitu?” Wan-kun tercengang. “Tentu saja betul, justru demi keamanannya, kakak telah menggunakan rantai dan menggembok kotak ini di lehernya.” “Lantas benda ini harus di simpan di mana baru aman?” tanya Wan-kun sambil celingukan ke sana kemari. “Lemari besi yang kau pakai untuk menyimpan perhiasan itu kuat sekali, akan lebih aman kalau kita simpan di sana saja. Nah, masukkan ke lemari besi itu untuk sementara waktu.” Wan-kun manggut-manggut, dia lantas membuka lemari besi di sudut kamar sana. Dinding lemari besi itu tebalnya empat-lima senti dengan berat ratusan kati, bukan saja ditanam di dinding sehingga hanya pintu lemari saja yang menongol di luar, dari dalam sampai luar pun ada tiga lapis kunci yang sangat kuat. Tempat sekuat ini hanya ada satu kekurangan, yakni ruang lemari tersebut terlampau sempit, apalagi di situ sudah tersimpan beberapa kotak perhiasan, boleh dibilang sudah tiada tempat lagi untuk menyimpan golok tersebut. Ho Leng-hong turun tangan sendiri untuk memindahkan kotak perhiasan ke lemari pakaian, kemudian setelah memasukan golok tersebut ke dalam lemari besi, lalu dikunci dan anak kunci itu dimasukkan ke dalam saku sendiri. “Jit-long, masa akupun tidak kaupercayai?” keluh Wan-kun setelah menyaksikan perbuatan suaminya. “Bukan begitu maksudku, bukankah perhiasanmu sudah dipindah semua ke almari pakaian? Kau kan sudah tidak membutuhkan anak kunci lagi. Lagipula kuperlukan melatih ilmu golok itu secara tekun, bila kuncinya kubawa, maka setiap saat bisa kulakukan latihan dengan lebih leluasa.” “Begitupun bolehlah,” Wan-kun tertawa, “golok pusaka itu telah kausimpan sendiri, anak kuncinya berada pula di sakumu, jadi seandainya hilang kan tak ada sangkut pautnya lagi denganku.” Leng-hong hanya tertawa dan tidak menanggapi. Begitulah bersama Pang Wan-kun berangkat mereka menuju ke Kiok-hiang-sia. ------------------------ Perjamuan diatur dengan sangat mentereng, hidangan pun amat banyak dan aneka ragam, sayang suasananya agak kaku. Mungkin hal ini disebabkan selisih umur yang terlampau banyak antara kedua bersaudara Pang, mungkin juga lantaran Wan-kun agak jeri terhadap kakaknya, kecuali dalam sopan santun, hampir boleh dibilang perempuan itu tundukkan kepala belaka. Pang Goan sendiri mungkin memang berwatak kurang suka bicara, mungkin juga lantaran kuatir golok Yan-ci-po-to, sikapnya amat kaku dan jarang berbicara. Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia kuatir banyak berbicara hanya akan membongkar rahasia sendiri, maka ia makin jarang bersuara. Pokoknya perjamuan ini berlangsung dalam keadaan kaku dan tidak meriah, setelah minum beberapa cawan arak dan paksakan diri bersantap sedikit, perjamuan pun diakhiri. Selesai bersantap, minuman teh dihidangkan. Inilah saat yang biasa dipakai untuk membicarakan soal-soal kecil tapi lantaran tiada soal “kecil” yang dibicarakan, maka sesudah duduk kaku sejenak, Ho Leng-hong dan Pang Wan-kun lantas mohon diri. Pang Goan tidak mengalangi mereka, katanya dengan hambar, “Aku akan berdiam beberapa hari lagi di Lok-yang, pada kesempatan ini kita harus berlatih sebaik-baiknya To-kiam-hap-ping-tin (perpaduan golok dan pedang), Siaumoay (adik) juga harus bersiap-siap.” “Toako suruh aku ikut pula dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin?” tanya Wan-kun. “Tentu saja, selama dua tahun ini hakikatnya kau tidak melaksanakan kewajiban untuk melakukan pengawasan, sekarang waktunya tidak banyak lagi, kau harus ikut serta dalam barisan ini untuk menutupi kekurangannya.” Wan-kun hanya mengangguk tanpa membantah. Setiba kembali di kamarnya, dengan sedih ia mengomel kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, coba pikirlah, selama beberapa tahun ini demi mendorong kemajuanmu, aku tak segan-segan menerima tuduhan orang sebagai perempuan judas dari Thian-po-hu, hari ini aku ditegur oleh kakak, bayangkan sendiri apakah aku tak pernah menasihatimu? Mulai hari ini kauharus menuruti perkataanku!” “Wan-kun, tak usah bersedih hati,” hibur Leng-hong sambil membelai sang isteri, “Toako tidak dapat memahami bagaimana kesenangan seseorang yang baru kawin, sebab itulah kau kena teguran.” “Kakak ibaratnya pengganti orang tua, aku tak akan murung lantaran didamprat olehnya, aku hanya benci pada diriku sendiri, benci akan nasibku yang jelek hingga suami sendiripun tidak percaya kepadaku . . . . .” “Eh, kapan aku tidak percaya kepadamu?” “Ai, tak usah disinggung lagi,” Wan-kun menggelengkan kepala berulang kali. “Tidak, kau harus mengatakan kepadaku, sebagai suami-isteri yang bahagia tak boleh ada rahasia yang disembunyikan dalam hati masing-masing, sebab hal ini sangat mempengaruhi saling percaya antara suami isteri.” “Ah, aku hanya berbicara seadanya saja, coba lihat, kau lantas menganggapnya serius.” Wan-kun tertawa. “Wan-kun, jangan bohongi aku, kupercaya ucapanmu muncul cari sanubarimu yang sesungguhnya, tak mungkin hanya bicara main-main belaka.” “Sungguh, aku tidak apa-apa, kau tak boleh menebak secara ngawur!” “Supaya aku tidak menebak secara ngawur, harus kaukatakan yang sesungguhnya kepadaku.” “Jit-long, kenapa kau hari ini? Hanya sepatah kataku yang tidak sengaja kenapa kaudesak terus untuk mengetahui sejelas-jelasnya?” “Sebab belum pernah kauucapkan kata-kata semacam ini, tentu ada suatu urusan yang tidak berkenan di hatimu sehingga tanpa terasa kau mengucapkan kata-kata seperti itu.” “Ah, itu hanya sentuhan hati kecil belaka, bukan urusan yang membuat aku tak senang, sudahlah, jangan kautanyakan lagi.” “Tidak, aku harus tahu, kalau tidak aku tak bisa tidur nyenyak malam nanti.” “Kau sungguh-sungguh ingin tahu?” “Tentu saja!” “Harus mengetahuinya?” “Ya, harus mengetahuinya.” Tiba-tiba Pang Wan-kun tertawa cekikikan, sambil mencolek jidat Leng-hong dengan jari ia berkata, “Tolol, coba lihat betapa kau cemas. Baiklah akan kuberitahukan kepadamu, aku hanya tak enak hati lantaran persoalan sore tadi, maka sengaja kugoda dirimu.” “Urusan sore tadi? Urusan apa?” Wan-kun mengerling sekejap dan berkata, “Apa lagi? Tentu saja soal menyimpan golok pusaka tadi, bukan saja lemari perhiasanku kaukangkangi, bahkan anak kuncinya ikut dibawa, bukankah ini sama artinya dengan tidak percaya lagi kepadaku?” “O, jadi bicara pulang pergi, rupanya kau tak senang hati lantaran persoalan itu.” “Kenapa?” Wan-kun mencibir, “kau tidak tahu sikapmu pada waktu itu, seolah-olah aku kauanggap sebagai pencuri yang setiap saat bisa melarikan golok rongsokanmu itu, tentu saja aku merasa tak senang hati.” Sambil berkata dengan muka masam dia bangkit dan duduk di ujung pembaringan sana. Cepat Leng-hong mendekatinya dan berkata, “Sudahlah, jangan marah, tak ada harganya untuk marah lantaran urusan sekecil itu, jangan menaruh curiga apa-apa. Aku mengambil anak kunci itu hanya supaya leluasa saja.” “Aku adalah isterimu, apakah kurang leluasa bila anak kunci itu aku yang menyimpan? Toako suruh aku ikut serta dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin, apakah aku tidak boleh ikut membaca isi kitab pusaka Nyo-keh-sin-to tersebut.” “Boleh, tentu saja boleh,” Leng-hong tertawa, “Nah, kuncinya ada di sini, sekarang kuminta maaf dan mengembalikan kunci ini kepadamu, tentunya amarahmu bisa mereda buka?” “Huh, sekarang baru dikembalikan kepadaku, siapa yang sudi?” omel Wan-kun seraya melengos. Leng-hong sisipkan anak kunci ke balik baju bagian dadanya, lalu tertawa lirih, “Kau tak sudi anak kunci ini, justru anak kunci ini sudi kepadamu, lantas bagaimana baiknya?” “He, kau cari mampus,” jerit Pang Wan-kun sambil melompat bangun. Tentu saja Leng-hong tak membiarkan dia kabur sebab anak kunci masih berada dalam baju dadanya, ia harus mengambilkan pula.... Gara-gara ingin mengambil anak kunci, kedua orang lantas bergumul di atas pembaringan. Maka terdengarlah suara tertawa cekakak dan cekikik, lalu suara napas yang tersengal-sengal, menyusul lampu lantas padam dan..... Malam begitu indah, begitu hangat, sekalipun hujan badai mungkin akan turun keesokan harinya, yang jelas malam ini hanya ada kemesraan dan kehangatan yang memabukkan. Dapatkan koleksi ebook lain di: http://jowo.jw.lt