Perpustakaan Nasional Rl: Katalog Dalam Terbitan (KDT) 
Al-Qarni, Aidh 
La Tahzan, jangan bersedih / 'Aidh al-Qarni; penerjemah, Samson Rahman; 
penyunting, Syamsuddin TU dan Anis Maftukhin. -Jakarta: Qisthi Press, 2004. 
xxviii + 572 hal.; 15 x 24 cm. 
Judul Asli: La Tahzan 
ISBN 979-3715-05-7 
I. Hidup keagamaan (Islam). 
II. Rahman, Samson. 
IV. Maftukhin, Anis 
I. Judul. 
III. Syamsuddin TU. 
297.63 
Judul Asli: La Tahzan 
Penulis: DR. 'Aidh al-Qarni 
Edisi Indonesia: 
La Tahzan 
Jangan bersedih! 
Penerjemah: Samson Rahman 
Penyunting: Syamsuddin TU & Anis Maftukhin 
Penyelaras akhir: A. Kholis 
Tata Letak: Syamsuddin TU 
Desain Sampul: Tim Qisthi Press 
Penerbit: Qisthi Press 
Jl. Melur Blok Z No. 7 Duren Sawit-Jakarta Timur 13440 
Telp/Fax: (021) 8610159; E-mail: qisthipress@hotmail.com 
Cetakan: Pertama, September 2003 
Cetakan: Kedelapanbelas, Maret 2005 
Diterbitkan atas persetujuan Pemilik Sah hak buku La Tahzan dalam semua versi bahasa. 
Hak penerbitan edisi bahasa Indonesia baik yang diterjemahkan dari bahasa aslinya (Arab) atau 
dari bahasa apapun, ada pada Qisthi Press. 
Hak Terjemah Dilindungi Undang-undang. 
All Rights Reserved. 
eBook by MR. 
PENGANTAR PENERBIT 
Di mana saja, di zaman modern ini, permasalahan yang dihadapi oleh 
manusia sama saja. Manusia yang dibesarkan dalam latar belakang yang 
dibentuk oleh generasi pendahulunya, harus berhadapan dengan arus budaya 
global yang sama sekali baru, tapi harus disikapi, disinggung, diseleksi, bahkan 
diterima. Sehingga tak ada bedanya di mana pun kita hidup: Di Indonesia, di 
Eropa, di Amerika, di Saudi Arabia sampai pun di pedalaman Afrika. 
Dengan menjamurnya buku-buku ala Chicken Soup saat ini, 
menunjukkan bahwa arus budaya global itu tidak bisa dimungkiri lagi ada, 
dan punya kekuatan untuk mengakulturasi budaya lokal (yang bahkan bisabisa 
menyingkirkannya). Dan, buku ini adalah salah satunya. Dengan 
pertimbangan latar belakang sosial budaya yang merupakan tempat lahirnya 
Islam, buku ini menawarkan perspektif yang lain. Ketika membaca buku ini, 
penerbit mengajak pembaca untuk melihat dan memahami perspektif itu. Di 
sini, pembaca dituntut untuk menjadi seorang pemerhati sosial budaya Timur 
Tengah, baru kemudian memahami permasalahan modernisme di wilayah itu, 
dan dunia pada umumnya. Sebagai gambaran tentang bagaimana orang-orang 
Arab, khususnya Saudi Arabia, menghadapi arus budaya modern itu 
tampak dari pengalaman penulis buku ini. Adalah Aidh al-Qarni yang dalam 
usianya yang baru empat puluh tahun 3 tahun mendatang, ia sudah termasuk 
sosok yang sudah kenyang makan asam garam. Dengan tuduhan tidak berdalil, 
dia pernah dijebloskan ke dalam penjara. Dan ketika keluar, tulisan-tulisannya 
mendapat sambutan hangat oleh masyarakat Saudi Arabia pada umumnya, 
khususnya buku ini. Dan itu tergambar dalam aliran tulisan bab per bab dalam 
buku ini: pada bab-bab pertama memang terkesan kurang masuk ke 
permasalahan aktual dan lebih menyajikan uraian-uraian yang dogmatis; baru 
di bab-bab tiga perempat berikutnya benar-benar in. 
Alasan lain mengapa buku ini diterima luas adalah gaya bahasa dan 
penulisan yang mengalir dan lugas, yang seakan-akan lari dari pakem bukubuku 
Arab klasik meski membahas tema yang sama. Namun demikian, citra 
sastra yang banyak mewarnai budaya (baca: sistematika penulisan) Arab pada 
umumnya, dengan sentilan petikan-petikan dari kata-kata bijak, syair-syair 
La Tahzan vii 
Arab kuno maupun modern, hingga hadits dan al-Qur'an, sangat kental di 
sini. Bukan saja karena faktor budaya saja, tapi latar belakang akademis penulis 
sendiri yang memungkinkan ke arah itu. la telah menyelesaikan program 
Doktoral dalam bidang Hadits di Fakultas Ushuluddin pada Al-Imam Islamic 
University, Riyadh. la juga hafal al-Qur'an (yang merupakan syarat mutlak 
sebagai mahasiswa di Saudi Arabia, pada umumnya), hafal 5000 hadits, dan 
lebih dari 10000 bait syair Arab kuno hingga modern. 
Sejak pertama kali diterbitkan, 2001, (Dar Ibnu Hazm: Beirut), buku 
ini bertahan selama dua tahun sebagai buku terlaris. Untuk cetakan pertama, 
dalam kurang waktu sebulan sudah habis terjual. Antusiasme yang sama juga 
diberikan kepada cetakan kedua hingga kesembilan. Namun mulai cetakan 
ketiga, hak cetaknya diambil alih oleh sebuah pustaka besar di Riyadh, 
Alobeikan. 
Dan penting untuk diketahui, DR. Aidh al-Qarni adalah penulis paling 
produktif di Saudi Arabia saat ini. 
Jakarta, akhir Agustus 2003 
viii La Tahzan 
PENGANTAR PENERJEMAH 
Segala puji dan syukur bagi Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan 
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan dan tauladan kita, 
Muhammad Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Wa Ba'du. 
Jika kita membaca buku-buku self-help, buku-buku petunjuk cara hidup, 
nuansa yang akan kita dapatkan dalam buku-buku itu adalah bagaimana kita 
mencapai kesuksesan dunia, atau lebih tepatnya kesuksesan materiil. Hal ini 
banyak kita dapatkan dalam buku-buku yang ditulis oleh para penulis barat 
yang memang hanya berorientasi pada materi semata. 
Coba baca buku-buku yang dianggap sangat berpengaruh dan menjadi 
best seller semisal, The Magic of Thinking Big, karya David J. Schwart, How to 
Stop Worrying and Start Living, karya Dale Carnegie, Speech Can Change Your 
Life, karya Dorothy Sarnoff ataupun buku The Seven Habits of Highly Effective 
People, tulisan Steven R. Covey, Anda akan dapatkan petunjuk-petunjuk. 
praktis ke arah kebahagiaan yang lebih cenderung duniawi daripada ukhrawi. 
Allah dan akhirat tidak menjadi bagian paling penting dalam kajian-kajian 
mereka. Di sinilah, menurut orang-orang yang beriman, letak kekurangannya 
meski karya-karya mereka enak dibaca. Sisi kerohaniannya terasa begitu kering. 
Berbeda tatkala kita membaca buku La Tahzan yang ditulis oleh Dr. Aid 
al-Qarni. Buku ini sangat padat dengan nuansa rabbani tanpa 
mengesampingkan sisi-sisi duniawi. Kita seakan diajak untuk menatap dunia 
ini dengan pandangan yang seimbang: Kita diajak untuk menjadi idealis dengan 
tetap realistis, menjadi duniawi dan ukhrawi sekaligus, mempersiapkan 
kehidupan masa kini namun tak lupa masa depan, diajak bekerja dengan 
keras dan diajak pula beristirahat. 
Tulisan dalam buku ini merupakan resep-resep manjur, yang 
menunjukkan kepada kita bagaimana harus meniti jalan kehidupan dan 
membangun kehidupan yang bahagia dengan berpedoman pada satu kata: La 
Tahzan, jangan bersedih. Dengan kata kunci ini kita akan dapat menjalani 
kehidupan ini dengan penuh semangat. Kita tidak akan pernah dirisaukan 
oleh masa lalu yang telah lewat dan tidak pula dicemaskan oleh masa depan 
yang akan datang. Kita akan menjadi manusia masa kini yang bekerja pada 
La Tahzan i x 
hari ini dengan mencurahkan segenap kekuatan dan pikiran yang ada dengan 
keyakinan bahwa hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Dunia ini akan 
menjadi sangat indah jika kita menikmatinya dengan senyuman, bukan dengan 
muram durja serta kesedihan yang berlarut-larut. Ketika membaca buku ini 
dengan seksama kita akan merasa bahwa jiwa, kalbu, nurani, dan pikiran kita 
tercerahkan, dan pada saat yang bersamaan kita merasakan adanya 
peningkatakan kualitas kehidupan ini. Selanjutnya, akan lahir dari diri kita 
simpati dan empati kepada orang lain, rasa peduli kepada sesama dan, yang 
lebih penting, kedekatan dengan Sang Maha Pencipta. 
Ketika membaca buku ini kita seakan diingatkan kepada buku How to 
Stop Worrying and Start Living, karya Dale Carnegie dan buku Jaddid Hayataka 
karya Muhammad al-Ghazali. Namun berbeda dengan keduanya, La Tahzan 
lebih terfokus, sederhana dan praktis untuk kita jadikan panduan dalam 
kehidupan kita. 
Bahasan-bahasannya tidak terlalu panjang, penuh hikmah dan selalu 
memberi waqfah (rehat) untuk merenung sebelum kita membaca tulisan 
selanjutnya. Inilah kekhasan buku ini yang akan memberikan warna baru 
dalam khazanah keilmuan kita. Dan, yang sangat penting untuk tidak kita 
lewatkan adalah bagian akhir dari tulisan ini yang merupakan kesimpulan 
dari tulisan-tulisan sebelumnya. Pada bagian ini kita akan disegarkan dengan 
kata-kata dengan gaya bahasa nash yang menjadi saripati dari tulisan-tulisan 
sebelumnya. Kata-kata hikmah ini akan menjadi resep instan agar kita menjadi 
manusia paling bahagia di dunia dan akhirat. 
Tidak semua syair yang ada dalam buku ini saya terjemahkan. Ini sengaja 
saya lakukan jika dalam satu bahasan ada beberapa syair yang saya anggap 
telah cukup mewakili syair-syair yang lain, di samping pertimbangan bahwa 
syair yang saya terjemahkan adalah syair yang mungkin akan lebih indah 
penerjemahannya dari syair yang lain. Namun saya yakin bahwa tidak 
diterjemahkannya sebagian syair-syair itu sama sekali tidak akan mengurangi 
maksud, nilai dan bobot buku ini. 
Dalam penerjemahan ini saya sengaja mencantumkan surat dan nomor 
ayat—satu hal yang tidak diinginkan dan tidak dilakukan penulis—dengan 
harapan akan mempermudah pembaca dalam merujuk pada ayat-ayat yang 
ada di dalam al-Qur'an, terutama kalangan pembaca Indonesia. 
Saya merasa mendapat amanah dan kehormatan ketika Qisthi Press 
memberikan kepercayaan kepada saya untuk menerjemahkan buku yang sangat 
berharga dan mencerahkan ini. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari 
menerjemahkan buku ini. Banyak pelajaran yang saya petik dari kisah-kisah 
x La Tahzan 
penuh hikmah, resep-resep dan panduan hidup dalam buku ini. Semakin sering 
saya membaca buku ini semakin tinggi apresiasi saya terhadap makna hidup 
dan kehidupan ini. Saya yakin bahwa pengalaman yang sama juga akan dialami 
oleh pembaca buku ini, sebuah pengalaman yang dialami oleh penulis dan 
penerjemahnya. 
Ucapan terima kasih juga saya haturkan pada ayahanda H. Abdur 
Rahman dan ibunda Zakiya karena berkat dorongan dan doanya penerjemahan 
buku ini bisa selesai. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan pada isteri saya, 
Ita Maulidha, karena berkat bantuannya penerjemahan buku ini bisa rampung. 
Hasil terjemahan buku ini saya hadiahkan untuk adik saya, Farah Maisarah, 
dan anak saya, Fursan Ruhbani serta Fathiril Haq. 
Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan pada saudara 
Rusdi Mahdami, direktur Qisthi Press, yang telah memberi kepercayaan kepada 
saya untuk menerjemahkan buku yang sangat berharga ini. 
Saya berharap buku ini akan menjadi panduan singkat dan tepat dalam 
menyikapi hidup ini, dan demi meniti kesuksesan di akhirat nanti. 
Rangkasbitung, Juli 2003 
Samson Rahman 
La Tahzan xi 
PENGANTAR PENULIS 
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga 
tercurah ke haribaan Rasulullah s.a.w., keluarganya serta para shahabatnya. 
Wa Ba'du. 
Berikut ini buku La Tahzan. Semoga Anda senang membacanya dan 
dapat mengambil manfaat darinya. Namun sebelum membaca, telitilah dahulu 
buku ini dengan nalar yang sehat, logika yang jernih dan, di atas itu semua, 
dengan ayat-ayat Allah yang senantiasa terjaga dari kekeliruan. 
Tentu saja tak bijak menilai sesuatu secara terburu-buru sebelum pernah 
membayangkan, merasakan dan menciumnya sendiri. Dan adalah sebuah 
kejahatan terhadap ilmu ; memfatwakan sesuatu secara terburu-buru sebelum 
terlebih dahulu mengkaji akar permasalahannya, mendengar pernyataanpernyataan 
tentangnya, mencari argumen-argumen yang mendasarinya, dan 
membaca dalil-dalil yang berkaitan dengannya. 
Saya menulis buku ini untuk siapa saja yang senantiasa merasa hidup 
dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, atau orang yang 
selalu sulit tidur dikarenakan beban duka dan kegundahan yang semakin berat 
menerpa. Dan tentu saja, siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami 
semua itu? 
Dalam buku ini saya sengaja menukil ayat-ayat Allah, bait-bait syair, 
pengalaman dan 'ibrah, catatan peristiwa dan hikmah, serta pelbagai 
perumpamaan dan kisah-kisah. Dari semua itu, saya sengaja mengambil 
kesimpulan dari orang-orang shaleh sebagai penawar hati yang lara, penghibur 
jiwa tercabik, dan pelipur diri yang sedang dirundung duka cita. 
Buku ini akan mengatakan kepada Anda, "Bergembiralah dan 
berbahagialah!" atau "Optimislah dan tenanglah!" Bahkan, mungkin pula ia 
akan berkata, "Jalani hidup ini apa adanya dengan penuh ketulusan dan 
keriangan!" 
Buku ini berusaha meluruskan berbagai kesalahan yang terjadi akibat 
penyimpangan terhadap fitrah saat berinteraksi dengan sunnah-sunnah Allah, 
sesama manusia, benda, waktu dan tempat. 
xii La Tahzan 
Buku ini mencegah Anda agar tidak terus-menerus melawan arus 
kehidupan, menentang takdir, mendebat manhaj yang telah digariskan dan 
mengingkari bukti-bukti. Lebih dari itu, buku ini mengajak Anda dari yang 
suatu tempat yang sangat dekat sudut sudut jiwa dan ruh Anda agar senantiasa 
tenang menatap perjalanan masa depan. Buku ini mengajak Anda agar merasa 
yakin dengan semua potensi dalam diri diri Anda dan menyimpan semua 
energi positif yang ada. Buku ini menggiring Anda untuk melupakan tekanan 
hidup, sesaknya perjalanan usia dan beban perjalanan hidup. 
Ada beberapa hal penting dari buku ini yang perlu saya ingatkan sebelum 
kita melangkah lebih jauh. Diantaranya adalah: 
Pertama, buku ini ditulis untuk mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, 
kedamaian, kelapangan hati, membuka pintu optimisme dan menyingkirkan 
segala kesulitan demi meraih masa depan yang lebih indah. 
Buku ini merupakan pengetuk hati agar selalu ingat akan rahmat dan 
ampunan Allah, bertawakal dan berbaik sangka kepada-Nya, mengimani 
qadha' dan qadar-Nya, menjalani hidup sesuai apa adanya, melepaskan 
kegundahan tentang masa depan, dan mengingat nikmat Allah. 
Kedua, buku ini mencoba memberikan resep-resep bagaimana mengusir 
rasa duka, cemas, sedih, tertekan, dan putus asa. 
Ketiga, saya berusaha menyertakan dalil-dalil dari al-Qur'an dan hadits 
yang sesuai dengan tema setiap bahasan. Selain itu, tak jarang saya nukilkan 
pula pelbagai permisalan yang bagus, kisah yang penuh 'ibrah dan mengandung 
pelajaran berharga, serta bait-bait syair yang memiliki kekuatan. Dalam banyak 
tempat, para pembaca juga akan menjumpai kutipan-kutipan dari perkataan 
para bijak bestari, dokter dan sastrawan. Demikianlah, semua hal yang ada 
dalam buku ini hanya ingin mengajak Anda untuk senantiasa berbahagia. 
Keempat, buku ini bersifat umum, alias untuk siapa saja. Singkatnya, 
untuk kaum muslim maupun non-muslim. Pasalnya, pembicaraan dalam buku 
ini secara umum adalah berkaitan watak dan sifat naluriah dan persoalanpersoalan 
umum kejiwaan manusia. Namun begitu, buku ini tetap 
menempatkan Manhaj Rabbani sebagai penyuluh. Karena memang manhaj 
itulah yang menjadi agama fitrah kita. 
Kelima, dalam buku ini pembaca tidak akan hanya menjumpai kutipankutipan 
pernyataan dari orang-orang Timur, tetapi juga dari orang Barat. 
Namun demikian, saya berharap tidak ada tudingan negatif terhadap diri saya 
berkaitan dengan hal ini. Karena, bagaimanapun saya yakin bahwa hikmah 
itu adalah laksana barang yang hilang dari kaum muslim. Artinya, maka di 
mana pun barang itu ada masih berhak kita ambil kembali. 
La Tahzan xiii 
Keenam, saya sengaja tidak menggunakan catatan kaki dalam buku ini. 
Ini tak lebih hanya untuk meringankan dan memudahkan pembaca. Karena, 
dengan begitu paling tidak buku ini akan menjadi bacaan yang 
berkesinambungan dan memberikan pemahaman yang tidak terpotong-potong. 
Dan untuk itu, setiap referensi dari masing-masing kutipan selalu saya sebut 
langsung dalam setiap paragraph yang menyebutnya. 
Ketujuh, dalam mengutip, saya tidak mencatat nomor halaman dan volume 
sumbernya. Mengapa? Karena hal seperti itu sudah lazim dilakukan oleh 
orang-orang sebelum saya, dan saya mengikuti mereka. Saya kira ini lebih 
bermanfaat dan lebih memudahkan. Kadang kala saya menuliskannya sesuai 
dengan teks yang ada di dalam buku sumbernya, dan kadang kala ada sedikit 
penyuntingan atau penyesuaian dengan pemahaman saya terhadap buku 
ataupun artikel yang pernah saya baca. 
Kedelapan, saya tidak menyusun buku dalam sistematika bab-bab dan 
pasal-pasal yang banyak. Yang saya lakukan adalah menulis dengan gaya yang 
sangat variatif. Adakalanya saya membeberkan beberapa permasalahan dalam 
beberapa paragraf, kemudian saya berpindah dari satu permasalahan ke 
permasalahan lain, dan kembali lagi pada bahasan yang sama setelah beberapa 
halaman pembahasan yang berbeda. Ini saya tujukan agar lebih sedap dibaca, 
lebih enak dan tidak membosankan. 
Kesembilan, saya tidak memberi nomor surat dan ayat serta tidak pernah 
menyebutkan perawi hadits. Meski demikian, bila hadits yang sebutkan itu 
lemah, maka saya selalu mengingatkannya. Adapun bila hadits itu shahih, 
maka saya hanya akan menyebutnya hadits shahih dan kadangkala tak memberi 
catatan apapun.. Semua ini saya lakukan agar tulisan ini ringkas, terhindar 
dari banyaknya pengulangan, penjelasan yang bertele-tele, dan tidak 
menjemukan. "Orang yang berpura-pura puas dengan sesuatu yang tidak diberikan 
kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian palsu." 
Kesepuluh, mungkin pembaca melihat ada beberapa pengulangan pada 
sejumlah materi. Meski demikian, saya selalu berusaha mengemasnya dalam 
metode dan struktur pembahasan yang berbeda. Ini memang sengaja saya 
lakukan untuk semakin menguatkan pemahaman kita dengan cara 
menyajikannya lebih sering. 
Inilah sepuluh hal yang perlu saya sampaikan kepada pembaca terlebih 
dahulu. Saya berharap buku ini akan membawa kabar yang benar dan jujur, 
adil dalam memberi penilaian, obyektif dalam ungkapan, meyakinkan dalam 
materi-materi pengetahuan, lurus dalam sudut pandangan dan argumentasi, 
dan menjadi cahaya dalam hati. 
La xiv Tahzan 
Buku, La Tahzan, ini, setidaknya, saya tulis untuk konsumsi pribadi saya 
sendiri dan mereka yang bernasib sama dengan saya. Sayalah orang yang 
pertama kali mengambil manfaat dari buku ini. Setiap kali membaca ulang 
buku ini, selalu terasa seakan baru membacanya. 
Tidakkah kau tahu setiap kali kutemui Zainab 
Selalu kucium semerbak wanginya 
Setiap kali merasa tertekan, marah atau sedih, selalu saya katakan pada 
diri ini, "Bukankah Anda penulis buku La Tahzan?" Dan, sesaat setelah itu, 
api kemarahan pun meredup, dan hati saya kembali menjadi tenang. 
Demikianlah; dalam buku ini saya mencoba berbicara kepada dan untuk 
semua orang; bukan untuk segolongan orang, generasi, dan penduduk negeri 
tertentu. Buku ini adalah untuk semua orang, yakni siapa saja yang ingin 
hidup bahagia! 
Kutanamkan di dalamnya mutiara, hingga tiba saatnya ia dapat 
menyinari tanpa mentari dan berjalan di malam hari tanpa rembulan 
Karena kedua matanya ibarat sihir dan keningnya laksana pedang 
buatan India 
Milik Allah-lah setiap bulu mata, leher dan kulit yang indah mempesona 
'Aidh al-Qarni 
La Tahzan xv 
DAFTAR ISI 
PENGANTAR PENERBIT - vii 
PENGANTAR PENERJEMAH - ix 
PENGANTAR PENULIS - xii 
Ya Allah! - 1 
Pikirkan dan Syukurilah! - 3 
Yang Lalu Biar Berlalu - 4 
Hari Ini Milik Anda - 6 
Biarkan Masa Depan Datang Sendiri - 8 
Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas - 10 
Jangan Mengharap "Terima Kasih" dari Seseorang - 11 
Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada - 13 
Isi Waktu Luang dengan Berbuat! - 14 
Jangan Latah! - 15 
Qadha' dan Qadar - 17 
Bersama Kesulitan Ada Kemudahan - 18 
Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis! - 20 
Siapakah yang Memperkenankan Doa Orang yang Kesulitan Apabila la 
Berdoa? - 21 
Semoga Rumahmu Membuat Bahagia - 23 
Ganti Itu dari Allah - 24 
Iman Adalah Kehidupan - 26 
Ambil Madunya, Tapi Jangan Hancurkan Sarangnya! - 27 
"Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang." - 29 
"Ataukah mereka dengki pada manusia atas apa yang Allah karuniakan 
kepadanya?" - 30 
Hadapi Hidup Ini Apa Adanya! - 31 
Yakinilah Bahwa Anda Tetap Mulia Bersama Para Penerima Cobaan! - 32 
Shalat...Shalat... - 34 
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik 
pelindung." - 36 
La xvi Tahzan 
"Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi!'" - 37 
Sabar Itu Indah ... - 38 
Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala! - 39 
Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan Anda! - 41 
Terimalah Setiap Pemberian Allah Dengan Rela Hati, Niscaya Anda 
Menjadi Manusia Paling Kaya - 42 
Selalu Ingatlah Pada Surga yang Seluas Langit dan Bumi! - 44 
"Demikianlah, telah Kami jadikan kamu umat yang adil dan pilihan." - 46 
Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat - 48 
Rehat- 53 
Tersenyumlah! - 55 
Rehat- 62 
Nikmatnya Rasa Sakit - 63 
Nikmatnya Ilmu Pengetahuan - 66 
SeniBergembira-68 
Rehat-72 
Mengendalikan Emosi - 72 
Kebahagiaan Para Sahabat Bersama Rasulullah s.a.w. - 74 
Enyahkan Kejenuhan dari Hidupmu! - 77 
Buanglah Rasa Cemas! - 79 
Rehat- 82 
Jangan Bersedih, Karena Rabb Maha Pengampun Dosa dan Penerima 
Taubat! - 83 
Jangan Bersedih, Semua Hal Akan Terjadi Sesuai Qadha' dan Qadar! - 86 
Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar! - 88 
Rehat- 90 
Jangan Bersedih, Perbanyaklah Istighfar Karena Allah Maha 
Pengampun! - 90 
Jangan Bersedih, Ingatlah Allah Selalu! - 92 
Jangan Bersedih dan Putus Asa dari Rahmat Allah! - 93 
Jangan Bersedih Karena Gangguan Orang Lain, dan Maafkanlah Orang 
yang Berbuat Jahat Kepada Anda! - 93 
Jangan Bersedih Atas Kegagalan, Karena Anda Masih Memiliki Banyak 
Kenikmatan! - 94 
Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas Anda Sedihkan - 95 
Jangan Bersedih, Usirlah Setiap Kegalauan! - 97 
Jangan Bersedih Bila Kebaikan Anda Tak Dihargai Orang, Sebab yang 
Anda Cari Adalah Pahala dari Allah! - 97 
La Tahzan xvii 
Jangan Bersedih Atas Cercaan dan Hinaan Orang! - 98 
Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Sedikit, Sebab Padanya Terdapat 
Keselamatan! - 99 
Jangan Bersedih Atas Apa yang Masih Mungkin Akan Terjadi! - 100 
Jangan Bersedih Menghadapi Kritikan dan Hinaan! - 100 
Rehat - 103 
Jangan Bersedih! Pilihlah Apa yang Telah Dipilih Allah untuk Anda - 104 
Jangan Bersedih dan Mempedulikan Perilaku Orang - 104 
Jangan Bersedih dan Pahamilah Harga yang Anda Sedihkan! - 105 
Jangan Bersedih Selama Anda Masih Dapat Berbuat Baik Kepada Orang 
Lain - 106 
Jangan Bersedih Jika Mendengar Kata4cata Kasar, Karena Kedengkian Itu 
Sudan Ada Sejak Dulu - 109 
Rehat-111 
Jangan Bersedih! Sebab Bersabar Atas Sesuatu yang Tidak Anda Sukai 
Adalah Jalan Menuju Kemenangan - 111 
Jangan Bersedih Karena Perlakuan Orang Lain, Tapi Lihatlah Perlakuan 
Mereka Terhadap Sang Khaliq - 113 
Jangan Bersedih Karena Rezeki yang Sulit - 113 
Jangan Bersedih, Karena Masih Ada Sebab-sebab yang Membuat Musibah 
Terasa Ringan - 114 
Jangan Memakai Baju Kepribadian Orang Lain - 115 
'Uzlah dan Dampak Positifnya - 116 
Jangan Bersedih Karena Tertimpa Kesulitan! - 118 
Rehat -119 
Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia - 120 
Mengapa Harus Bersedih Jika Anda Memiliki Enam Resep? - 121 
Jangan Bersedih Jika Dianiaya, Dilecehkan, Dihina, Atau Dizalimi! - 122 
Jangan Bersedih, dan Simpanlah Pujian Orang dengan Tetap Melakukan 
Kebaikan Kepada Orang Lain - 122 
Jangan Bersedih Jika Dihadapkan Pada Kesulitan-kesulitan, Permasalahan, 
dan Halangan - 122 
Jangan Bersedih, Sebab Anda Masih Punya Saudara dan Orang yang 
Mencintai Anda - 123 
Jangan Bersedih Jika Ada Orang yang Merintangi dan Menyikapi Anda 
Dengan Wajah Masam - 124 
Rehat - 124 
Sebaik-baik Teman Duduk Adalah Buku - 125 
xviii La'Tahzan 
Keutamaan Buku - 127 
Faedah Membaca - 128 
Jangan Bersedih, Sebab Kebaikan Anda Akan Membuahkan Pujian!.- 129 
Rehat - 130 
Jangan Bersedih, Sebab di Sana Masih Ada Rencana, Kehidupan, dan 
Hari yang Lain! - 131 
Pernyataan Para Pemikir - 132 
Jangan Bersedih, Tanyakan Pada Diri Anda Tentang Hari Ini, Kemarin, 
dan Hari Esok - 133 
Jangan Bersedih Jika Sering Ditimpa Musibah! - 134 
Rehat-134 
Jangan Bersedih, Sebab Kesedihan AkanMenguras Potensi dan Energi! - 136 
Kesedihan Dapat Menyebabkan Abses - 136 
Dampak Lain dari Depresi - 136 
Dampak Kesedihan, Kegundahan, dan Kedengkian - 137 
Hadapi Semua Permasalahan Dengan Tenang - 137 
Berbaiksangkalah Kepada Rabb - 138 
Jika Pikiran Anda Bercabang - 138 
Jangan Gusar Dengan Kritik yang Membangun - 139 
Jangan Terlalu Lama Berpikir Atau Ragu, Tapi Berbuatlah dan Tinggalkan 
Kekosongan - 140 
Isu Itu Bohong - 141 
Kesantunan Akan Menjauhkan Anda dari Kesalahan - 141 
Yang Telah Lewat Tidak Akan Pernah Kembali - 142 
Carilah Kebahagiaan Dalam Diri Sendiri, Bukan di Sekitar dan di Luar 
Diri Anda - 142 
Hidup Ini Bukan untuk Ditangisi - 143 
Rehat - 144 
Jangan Bersedih Selama Anda Beriman Kepada Allah - 145 
Jangan Bersedih Karena Masalah yang Sepele, Sebab Dunia dan Segala 
Isinya Tidak Ada Artinya - 147 
Jangan Bersedih Jika Dimusuhi - 148 
Alam Diciptakan Memang Seperti Itu - 149 
Jangan Kagumi Orang Jahat, Tapi Kagumilah Orang Baik - 149 
Jangan Bersedih Selama Anda Masih Memiliki Sepotong Roti, Segelas Air 
dan Kain yang Menutupi Tubuh - 150 
Jangan Bersedih Dengan Ujian dan Cobaan Allah. Sebab, Bisa Jadi Itu 
La Tahzan xix 
Merupakan Karunia dan Ganjaran - 151 
Jangan Bersedih Karena Anda Berbeda dengan Orang Lain - 152 
Rehat - 153 
Yang Tampak Berbahaya Mungkin Bermanfaat - 154 
Iman: Obat Paling Mujarab - 156 
Jangan Bersedih, Karena Allah Mengabulkan Permohonan Seorang 
Musyrik. Apalagi terhadap Seorang Muslim yang Bertauhid? - 157 
Jangan Bersedih. Karena Sesungguhnya Kehidupan Lebih Pendek dari 
yang Anda Bayangkan - 158 
Jangan Bersedih, Jika Masih Punya Sesuatu yang Cukup - 160 
Keridhaan Hati Menghilangkan Kesedihan - 161 
Jika Anda Kehilangan Salah Satu Anggota Tubuh, Sesungguhnya Masih 
Ada Anggota Tubuh yang Lain - 163 
Hari-hari Akan Terus Berputar - 164 
Anda Harus Keluar di Bumi Allah yang Luas Ini - 165 
Rehat - 166 
Jangan Bersedih Pada Detik-detik Terakhir Kehidupan Anda - 167 
Jangan Bersedih Jika Kematian Menjemput - 168 
Jangan Bersedih Lantaran Bencana, Sebab Ada Rahasia di Balik Semua 
Itu - 169 
Jangan Bersedih, Karena Sesungguhnya Dunia Terlalu Hina untuk 
Membuat Anda Bersedih - 171 
Jangan Bersedih Lantaran Anda Beriman Kepada Allah - 171 
Rehat-172 
Jangan Bersedih Jika Anda Cacat. Karena Itu Bukan Halangan untuk 
Berprestasi - 173 
Jangan Bersedih Selama Anda Memahami Islam - 174 
Jangan Mengira Bahwa Kemuliaan Adalah Kurma yang Harus Anda 
Makan - 177 
Sumber-sumber Kebahagiaan - 178 
Sendi-sendi Kebahagiaan - 178 
Jangan Bersedih Karena Kematian Tidak Akan Datang Sebelum Waktu 
yang Ditentukan - 180 
Perbanyaklah Mengucapkan, "Ya dzal jalali wal ikram" - 181 
Rehat - 186 
Bagi yang Takut Terhadap Pendengki - 187 
Perbaikilah Perilaku Anda Terhadap Sesama - 188 
La xx Tahzan 
Jangan Cemas, Camkan Hal-hal Berikut! - 188 
Konsekuensi Kemaksiatan Adalah Kesusahan - 189 
Carilah Rezeki, Tapi Jangan Serakah - 191 
"Ihdinash shirathal mustaqim", Rahasia Hidayah - 192 
Sepuluh Bunga Hidup Bahagia - 193 
Rehat - 197 
Jangan Bersedih, Hadapilah Kenyataan - 197 
Jangan Bersedih. Karena yang Anda Sedihkan Itu Akan Berakhir - 202 
Rehat - 203 
Jauhi Depresi. Karena Depresi Merupakan Jalan Menuju Kesengsaraan - 204 
Depresi Adalah Gerbang Bunuh Diri - 204 
Istighfar Adalah Pembuka Jalan - 210 
Orang Lain yang Bergantung Kepada Anda, dan Bukan Anda yang 
Bergantung Kepada Mereka - 212 
Bersikaplah Bijaksana Terhadap Harta, Orang yang Hemat Tidak Akan 
Sengsara - 214 
Jangan Bergantung Kepada Selain Allah! - 215 
Sebab-sebab yang Membuat Hati Menjadi Lapang - 216 
Qadha' Itu Sudah Selesai - 218 
Kebebasan itu Nikmat Sekali - 218 
Bantal Tidur Sufyan ats-Tsauri Adalah Tanah - 219 
Jangan Memperhatikan Orang-orang yang Menyebarkan Berita Bohong - 219 
Caci Maki dan Cemoohan Itu Tidak Akan Membahayakan Diri Anda - 220 
Renungkanlah Keindahan Alam Semesta - 221 
"Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan?" - 222 
Ketamakan Tidak Akan Membahagiakan - 223 
Musibah itu Menghapuskan Dosa-dosa - 223 
"Hasbunalldh wa ni'tnal wakil" - 224 
Ramuan Kebahagiaan - 225 
Beban Berat Sebagai Konsekuensi Status - 226 
Mari Kita Menuju Shalat - 227 
Sedekah Membuat Hati Menjadi Lapang - 229 
Jangan Marah! - 231 
Wirid Pagi - 232 
Rehat - 236 
Al-Qur'an, Kitab yang Penuh Berkah - 236 
Jangan Berambisi Menjadi Terkenal! - 237 
La Tahzan xxi 
Kehidupan nan Indah - 238 
Cobaan Itu untuk Kebaikan - 239 
Ibadah yang Penuh dengan Kepasrahan Diri - 240 
Dari Penguasa Menjadi Tukang Kayu - 241 
Di Antara Sebab yang Mengeruhkan Kedamaian Adalah Bergaul Dengan 
Orang-orang Dungu - 242 
Kepada Mereka yang Ditimpa Musibah - 243 
Bukti-bukti Ketauhidan - 245 
Rehat - 249 
Perhatikan Lahir dan Batin - 249 
Bekerjalah Anda! - 252 
Berlindunglah Kepada Allah - 252 
Kepada-Nya Aku Bertawakal - 253 
Mereka Sepakat pada Tiga Hal - 254 
Serahkan Orang yang Menzalimi Anda Itu Kepada Allah - 255 
Kisra Persia dan Seorang Perempuan Tua - 255 
Kekurangan Bisa Saja Menjadi Kesempurnaan - 256 
Akhirnya Mereka Mengakui - 260 
Sejenak Bersama Orang-orang Bodoh - 261 
Iman: Jalan Menuju Keselamatan - 263 
Orang Kafir pun Berkelas-kelas - 265 
Tekad Baja - 267 
Fitrah [yang Diciptakan] Allah - 268 
Jangan Bersedih Karena Ditangguhkannya Rezeki - 269 
Libatkan Diri Anda Dalam Pekerjaan yang Bermanfaat - 270 
Dalam Hidup Anda Ada Detik-detik yang Berharga - 274 
Rehat - 278 
Pekerjaan yang Baik Adalah Jalan Menuju Kebahagiaan - 279 
Ilmu yang Bermanfaat dan yang Membahayakan - 280 
Perbanyak Membaca dan Merenung! - 282 
Mukasabahlah Diri Anda Sendiri - 283 
Tiga Kesalahan yang Selalu Berulang - 283 
Berhati-hatilah! - 284 
Raihlah Simpati Orang Lain - 285 
Mengembaralah dan Bacalah Ayat-ayat Kekuasaan Allah - 286 
Bertahajjudlah Bersama Orang-orang yang Bertahajjud - 287 
Rehat - 288 
xxii La Tahzan 
Nilai Diri Anda Adalah Surga - 289 
Cinta Sejati - 290 
Rehat - 291 
Jangan Bersedih, Karena Syariat itu Mudah dan Memudahkan - 292 
Dasar-dasar Ketenangan Jiwa - 293 
Hati-hati dengan Rindu - 294 
Hak-hak Bersaudara - 296 
Rahasia-rahasia di Balik Dosa - 297 
Carilah Rezeki, Tapi Jangan Tamak - 297 
Rehat - 298 
Syariat yang Dermawan - 299 
"Jangan takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)." - 300 
Hati-hati dengan Empat Hal - 301 
Carilah Ketenangan Bersama Rabb - 301 
Dua Kata Agung - 302 
Faedah dari Musibah - 303 
Ilmu Adalah Petunjuk Sekaligus Obat - 304 
Semoga Menjadi Kebaikan - 304 
Kebahagiaan Adalah Karunia Ilahi - 304 
Kenangan yang Indah Adalah Umur Panjang - 305 
Nyanyian Duka - 305 
Rehat - 307 
• 
Rabb yang Tak Pernah Zalim dan Aniaya - 308 
Tulis Sendiri Sejarah Anda! - 310 
Diamlah untuk Mendengarkan Firman Allah - 311 
Setiap Orang Mencari Kebahagiaan, Tapi ... - 315 
Rehat- 316 
Surga (Na'im) dan Neraka (Jahim) - 317 
''Bukankah kami telah melapangkan dadamu?" - 318 
Konsep Hidup yang Baik - 319 
Apakah Kebahagiaan Itu? - 322 
Kepada-Nya lah Kata-kata Indah Itu Terpanjat - 325 
"Dan, begitulah azab Rabb-mu, apabila Dia mengazab penduduk negerinegeri 
yang berbuat zalim" - 327 
Doa Orang-orang yang Dizalimi - 329 
Saya Katakan, "Sayalah yang di depan pintu itu." - 329 
Harus Ada Teman - 330 
La Tahzan xxiii 
Rasa Aman Adalah Keharusan Agama dan Rasio - 330 
Kemuliaan-kemuliaan yang Akan Sirna - 332 
Mencari Keutamaan Adalah Mahkota untuk Hidup Bahagia - 334 
Keabadian Itu Ada di Sana, Bukan di Sini - 336 
Musuh-musuh Manhaj Rabbani - 337 
Hakikat Kehidupan Dunia - 339 
Kunci Kebahagiaan - 341 
Rehat - 342 
Bagaimana Mereka Itu Hidup? - 342 
Pendapat Orang-orang Bijak Tentang Sabar - 344 
Berbaik Sangka Kepada Allah Tidak Akan Gagal - 346 
Orang yang Bersabar Akan Mendapatkan yang Terbaik - 347 
Pendapat-pendapat yang Menyatakan Bahwa Musibah Itu Ringan - 348 
Rehat - 349 
Jangan Bersedih Kalau Harta Anda Sedikit Atau Keadaan Anda 
Memprihatinkan, Sebab Nilai Diri Adalah Sesuatu yang Berbeda - 350 
Jangan Bersedih! Ketahuilah, Dengan Buku Anda Bisa Meningkatkan 
Potensi - 350 
Jangan Bersedih, Bacalah Keajaibamkeajaiban - 351 
Ciptaan Allah di Alam Semesta - 351 
Ya Allah ..., ya Allah - 357 
"Setiap hari Dia dalam kesibukan." - 358 
Jangan Bersedih, Karena Hari-hari Terus Berputar - 359 
"Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang 
bertengkar. Mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." - 359 
Jangan Bersedih, Karena Musuh Akan Ketakutan - 360 
Optimisme dan Pesimisme - 361 
Kepada Umat Manusia: Jangan Bersedih! - 363 
Rehat - 366 
Hiburlah Diri Anda Dengan Bencana yang Menimpa Orang Lain - 366 
Buah Ranum dari Keridhaan - 372 
Saling Meridhai - 373 
Orang yang Tidak Mau Menerima, Tidak Akan Pernah Diterima - 374 
Faedah dari Keridhaan - 374 
Jangan Melawan Rabb - 375 
Keputusan yang Telah Berlaku dan Ketentuan yang Adil - 376 
Tidak Menerima Itu Tidak Ada Faedahnya - 376 
La xxiv Tahzan 
Keselamatan Itu Ada Bersama Keridhaan - 377 
Tidak Menerima Adalah Pintu Keraguan - 377 
Keridhaan Adalah Kekayaan dan Rasa Aman - 378 
Buah dari Keridhaan Adalah Rasa Bersyukur - 379 
Buah dari Tidak Menerima Adalah Kekufuran - 379 
Tidak Menerima Adalah Jerat Setan - 380 
Keridhaan Akan Menyingkirkan Hawa Nafsu - 381 
Rehat - 381 
Memaafkan Kesalahan Teman - 382 
Memanfaatkan Waktu Luang dan Kesehatan untuk Taat Kepada Allah - 385 
Allah Adalah Pelindung Orang-orang yang Beriman - 385 
Petunjuk Itu Ada di Jalan Mereka yang Mencarinya - 388 
Kehormatan Adalah Cobaan - 389 
Harta Simpanan yang Abadi - 390 
Semangat yang Menembus Langit - 391 
Membaca Pikiran - 392 
"Dan, apabila aku sakit, Dia lah yang menyembuhkan aku." - 393 
Berhati-hatilah - 395 
Telitilah! -395 
Bulatkan Tekad Terlebih Dulu, Lalu Majulah! - 396 
Kehidupan Kita Bukan Hanya di Dunia Saja - 397 
Mundur dari Tantangan Adalah Solusi Sementara yang Akan Menyiratkan 
Jalan Keluar - 398 
Anda Sedang Berhubungan Dengan Yang Maha Pengasih - 400 
Tanda-tanda yang Menyeru untuk Selalu Optimistis - 401 
Kehidupan Itu Seluruhnya Susah Payah - 401 
Rehat - 402 
Kebersahajaan Itu Akan Menyelamatkan dari Kebinasaan - 403 
Orang Itu Dinilai dari Sifatnya yang Menonjol - 404 
Seperti Itulah Anda Diciptakan - 404 
Kecerdikan Itu Membutuhkan Kejujuran - 405 
Hiasilah Hati Anda, Niscaya Anda Akan Melihat Bahwa Alam Semesta ini 
SangatIndah - 407 
Bergembiralah Dengan Pertolongan yang Segera Datang - 408 
Anda Lebih Tinggi Daripada Sikap Dengki - 409 
Rehat - 410 
Ilmu Adalah Pintu Kemudahan - 411 
La Tahzan xxv 
Bukan ke Arah ini Unta Digiring -411 
Orang yang Paling Merasakan Kedamaian - 412 
Pelan-pelan! - 413 
Bagaimana Anda Mensyukuri yang Banyak, Jika yang Sedikit Saja Tak 
Mampu? - 414 
Tiga Papan - 415 
Rehat - 415 
Tenanglah! - 416 
Perbuatan yang Baik Adalah Tameng Diri dari Kejahatan - 417 
Beristirahat Akan Sangat Membantu Kelanjutan Perjalanan - 419 
Rehat - 422 
Panggung Tentang Kerajaan Alam - 423 
Langkah yang Tepat - 423 
Jangan Ceroboh! - 424 
Nilai Diri Adalah Keimanan dan Akhlak - 426 
Sungguh Bahagia Mereka! - 428 
Alangkah Sengsaranya Mereka! - 428 
Rehat - 429 
Bersikaplah Lembut Kepada Kaum Wanita - 430 
Senyuman di Awal - 431 
Kebiasaan Balas Dendam Adalah Racun Berbisa di Dalam Jiwa yang 
Bergejolak - 433 
Rehat - 434 
Jangan Tenggelam Dalam Kepribadian Orang Lain - 435 
Orang-orang yang Menderita Menunggu Kebijaksanaan Allah - 436 
Carilah Pekerjaan yang Menyenangkan - 437 
"Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan 
itu kami berikan bantuan." - 438 
Allah Akan Menunjuki Hati Orang yang Beriman Kepada-Nya - 439 
Manhaj Kesahajaan - 442 
Bukan yang Ini dan Bukan Pula yang Itu - 443 
Rehat - 443 
Siapa Para Wali Allah Itu Sebenarnya? - 444 
"Allah Maha Baik terhadap hamba-hamba-Nya." - 445 
Allah Memberi Rezeki dari Arah yang Tak Disangka-sangka - 447 
"Dan, Dialah yang menurunkan hujan." - 448 
Allah Akan Menggantikan yang Hilang Dengan yang Lebih Baik - 449 
La xxvi Tahzan 
Jika Anda Memohon, Memohonlah Kepada Allah - 450 
Detik-detik yang Sangat Berharga - 451 
Siapa di Antara Kita yang Memiliki Waktu Terbatas? - 453 
Kisah-kisah Kematian - 454 
"... yang tiada dapat kamu minta mundur daripadanya barang sesaat pun 
dan tidak (pula) kamu dapat meminta supaya diajukan." - 455 
Sesatlah Orang yang Menyeru Selain Kepada-Nya - 456 
Bisa Saja, Badan Jadi Sehat Karena Penyakit - 458 
Para Wali Itu Memiliki Karamah - 458 
Cukuplah Allah Sebagai Pelindung dan Saksi - 459 
Rehat - 461 
Perbaikilah Menu Makanan Anda, Pasti Doa Anda Terkabul - 461 
Segala Sesuatu Itu Bertasbih Memuji Rabb-Nya - 464 
Bersikaplah Ridha Kepada Allah - 467 
Suara Memanggil di Lembah Nakhlah - 472 
Hadiah untuk Generasi Pertama - 473 
Tetaplah Ridha Walaupun Harus Menggenggam Bara - 475 
Rehat - 476 
Pengambil Keputusan - 476 
Berpendirianlah Seteguh Gunung Uhud - 480 
Siapa Menanam, Dia akan Menuai - 482 
Rehat - 483 
Konsekuensi dari Berucap Menarik - 483 
Ketenangan Hati Hanya Ada di Surga - 484 
Rehat - 486 
Sikap Lemah Lembut Membantu Mencapai Tujuan - 486 
Rehat-489 
Tak Ada Gunanya Berduka - 490 
Ketenangan Ada Dalam Rasa Puas - 491 
Bayangkan Kemungkinan Terpahit - 492 
Jika Masih Sehat dan Bisa Makan, Maka Katakan Kepada Dunia: "Salam 
sejahtera" - 493 
Padamkan Api Dendam Sebelum Membakar Diri Anda - 495 
Jangan Merendahkan Kedudukan Seseorang - 497 
Siapa Menanam, Akan Mengetam - 502 
Jangan Remehkan Upaya Orang Lain - 503 
Singkirkan Kebiasaan Meniru yang Berlebihan - 504 
La'Tahzan xxvii 
Jika Tidak Sanggup Melakukan Sesuatu, Maka Tinggalkan - 505 
Jangan Ceroboh! - 506 
"Bermegah-megahan telah melalaikanmu." - 506 
Tips Menjadi Orang yang Paling Bahagia - 508 
PENUTUP - 570 
La xxviii Tahzan 


Ya Allah! 


{Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu 
Dia dalam kesibukan.} 

(QS. Ar-Rahman: 29) 

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup 
kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru: "Ya 
Allah!" 

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang 
jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, 
mereka akan menyeru: "Ya Allah!" 

Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, 
mereka yang tertimpa akan selalu berseru: "Ya Allah!" 
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir 
permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: "Ya Allah!" 

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa 
menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka 
pun menyeru: "Ya Allah!" 

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, 
dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, 
menyerulah:"Ya Allah!" 

Kuingat Engkau saat alam begitu gelap 
gulita, dan wajah zaman berlumuran debu hitam 
Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang, 
dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah 


Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang 
menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan 
hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-Nya. 

Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, 
julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arah-
Nya untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya 
untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-Nya. Dengan begitu, 
hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi menegang, dan iman 
kembali berkobar-kobar. Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-Nya, 
keyakinan akan semakin kokoh. Karena, 

{Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.} 

(QS. Asy-Syura: 19) 

eBook by MR. La Tahzan 


Allah: nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah, 
ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga. 

{Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut 
disembah)?} 

(QS. Maryam: 65) 

Allah: milik-Nya semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, 
kemuliaan, kemampuan, dan hikmah. 

{Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha 
Mengalahkan.} 

(QS. Ghafir: 16) 

Allah: dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan, 
cinta dan kebaikan. 

{Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lab. (datangnya).} 

(QS. An-Nahl: 53) 

Allah: pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan 
keperkasaan. 

Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, 

Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah 

Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna, 

akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku 

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan 
kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa 
tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan 
padamkan bara jiwa dengan air keimanan. 

Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa 
kantuk dari-Mu yang menentramkan. Tuangkan dalam jiwa yang bergolak 
ini kedamaian. Dan, ganjarlah dengan kemenangan yang nyata. Wahai Rabb, 
tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu. 
Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus. Dan 
tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-
Mu. 

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan 
memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah 
sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala 
tentara-Mu. 

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah 
kegundahan dari jiwa kami semua. 

La Tahzan 


Kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. 
Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami 
memohon, dan hanya dari-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau 
sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan 
Penolong. 


Pikirkan dan Syukurilah! 

Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. 
Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah 
kedua telapak kaki. 

{Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup 
menghitungnya.} 

(QS. Ibrahim: 34) 

Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, 
semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, Anda memiliki 
dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan, tetapi 
tak pernah mengetahuinya. 

{Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.} 

(QS. Luqman: 20) 

Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua 
kaki. 

{Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?} 

(QS. Ar-Rahman: 13) 

Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu 
yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan 
terus menerus tiada henti? Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di 
atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak 
kuat dan suatu ketika patah? 

Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika 
sanak saudara di sekitar Anda masih banyak yang tidak bisa tidur karena 
sakit yang mengganggunya? Pernahkah Anda merasa nista manakala dapat 
menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di 
sekitar Anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit? 

La Tahzan 


Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya 
Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali 
mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari 
penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak 
Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan. 

Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung 
Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah 
Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, 
hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan 
untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung? 

Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan 
kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa 
resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun Anda masih mempunyai nasi 
hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk 
tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat. 

Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda 
pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya 
karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih 
memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, 
karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan 
kemudian syukurilah! 

{Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan.} 

(QS. Adz-Dzariyat: 21) 

Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, 
pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling Anda. Dan 
janganlah termasuk golongan 

{Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.} 

(QS. An-Nahl: 83) 


Yang Lalu Biar Berlalu 

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa 
dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama 
artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur 
masa depan yang belum terjadi. 

La Tahzan 


Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak 
pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam 
'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan 
selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus 
cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan 
tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup 
memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya 
menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, 
karena ia memang sudah tidak ada. 

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah 
payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! 
Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke 
tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang 
ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda 
dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, 
keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda 
pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, 
dan sekaligus menakutkan. 

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa 
depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat 
berharga. Dalam al-Qur'an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum 
dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, "Itu 
adalah umat yang lalu." Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai 
pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman 
dan memutar kembali roda sejarah. 

Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang 
yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu. 

Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang 
meratapi masa lalunya demikian: "Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat 
itu dari kuburnya." Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, 
sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, "Mengapa 
engkau tidak menarik gerobak?" 

"Aku benci khayalan," jawab keledai. 
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan 
dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan 
kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puingpuing 
yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin 
bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya 

La Tahzan 


mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah 
mustahil pada asalnya. 

Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melibat dan sedikitpun 
menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air 
akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala 
sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah 
kehidupan! 


Hari Ini Milik Anda 

Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari 
inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan 
segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum 
tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya 
menyapa Anda inilah hari Anda. 

Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup 
Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dllahirkan hari ini dan akan 
mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik 
diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan 
bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan. 

Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh perhatian, 
kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, Anda harus bertekad 
mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu', bacaan al-Qur'an 
yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala 
hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, 
perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan 
raga, serta perbuatan baik terhadap sesama. 

Pada hari dimana Anda hidup saat inilah sebaiknya Anda membagi 
waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan 
setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyakbanyaknya 
pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah 
untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-
Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan 
nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah 
rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda 
hari dengan penuh keridhaan. 

La Tahzan 


{Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah 
kamu termasuk orang yang bersyukur.} 

(QS. Al-A'raf: 144) 

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian 
dan kebencian. 

Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu 
kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda): Harimu adalah 
hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum 
baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi 
hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda? 

Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa 
Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atau 
mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi? 

Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang 
kuat Anda, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada 
prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan 
diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan 
semua potensi, dan mensucikan setiap amalan. 

Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, "Hanya hari ini 
aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap 
kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik 
dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku 
berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan 
berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan 
memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur 
kata dan tindak tandukku." 

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat 
tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, 
membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada 
al-Qur'an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. 

Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam 
hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan 
berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya', dan 
buruk sangka. 

Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka 
aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada 
siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, 

La Tahzan 


menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang 
kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang 
dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka 
yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, 
dan berbakti kepada orang tua. 

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, "Wahai 
masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. 
Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah 
melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah 
meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi." 

"Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak 
akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah 
dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena 
esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum 
diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan." 

"Hari ini milik Anda", adalah ungkapan yang paling indah dalam 
"kamus kebahagiaan". Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan 
yang paling indah dan menyenangkan. 


Biarkan Masa Depan Datang Sendiri 

{Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar 
disegerakan (datang)nya.} 

(QS. An-Nahl: 1) 

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda 
mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dlkAhirkan, atau memetik 
buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata 
dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. 
Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, 
mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, 
memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan 
bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak 
tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari 
esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan? 

Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke 
bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum 

La Tahzan 


sampai di atasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau 
tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum 
sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa 
arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, 
kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya. 

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan 
masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam 
kecemasan-kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak 
dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu 
jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tak masuk akal, karena sama halnya 
dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan 
manusia di dunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan 
tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krmjekonomi yang 
kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari 
kurikulum yang diajarkan di "sekolah-sekolah setan". 

{Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh 
kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan 
daripada-Nya dan karunia.} 

(QS. Al-Baqarah: 268) 

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang 
menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama 
setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. 
Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di 'genggaman yang 
lain' tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. 
Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru 
menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud. 

Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah 
menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan 
petakanya. Sebab, hari ini Anda sudah sangat sibuk. 

Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang 
berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di 
dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah anganangan 
yang berlebihan. 


La Tahzan 


Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas 


Sang Pencipta dan Pemberi rezeki Yang Maha Mulia, acapkali 
mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang pandir yang tak berakal. 
Maka, apalagi saya, Anda dan kita sebagai manusia yang selalu terpeleset 
dan salah. Dalam hidup ini, terutama jika Anda seseorang yang selalu 
memberi, memperbaiki, mempengaruhi dan berusaha membangun, maka 
Anda akan selalu menjumpai kritikan-kritikan yang pedas dan pahit. 
Mungkin pula, sesekali Anda akan mendapat cemoohan dan hinaan dari 
orang lain. 

Dan mereka, tidak akan pernah diam mengkritik Anda sebelum 
Anda masuk ke dalam liang bumi, menaiki tangga ke langit, dan berpisah 
dengan mereka. Adapun bila Anda masih berada di tengah-tengah mereka, 
maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat Anda bersedih 
dan meneteskan air mata, atau membuat tempat tidur Anda selalu terasa 
gerah. 

Perlu diingat, orang yang duduk di atas tanah tak akan pernah jatuh, 
dan manusia tidak akan pernah menendang anjing yang sudah mati. Adapun 
mereka, marah dan kesal kepada Anda adalah karena mungkin Anda 
mengungguli mereka dalam hal kebaikan, keilmuan, tindak tanduk, atau 
harta. Jelasnya, Anda di mata mereka adalah orang berdosa yang tak 
terampuni sampai Anda melepaskan semua karunia dan nikmat Allah yang 
pada diri Anda, atau sampai Anda meninggalkan semua sifat terpuji dan 
nilai-nilai luhur yang selama ini Anda pegang teguh. Dan menjadi orang 
yang bodoh, pandir dan tolol adalah yang mereka inginkan dari diri Anda. 

Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan. 
Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan, cemoohan dan hinaan mereka. 
Bersikaplah laksana batu cadas; tetap kokoh berdiri meski diterpa butiranbutiran 
salju yang menderanya setiap saat, dan ia justru semakin kokoh 
karenanya. Artinya, jika Anda merasa terusik dan terpengaruh oleh kritikan 
atau cemoohan mereka, berarti Anda telah meluluskan keinginan mereka 
untuk mengotori dan mencemarkan kehidupan Anda. Padahal, yang terbaik 
adalah menjawab atau merespon kritikan mereka dengan menunjukkan 
akhlak yang baik. Acuhkan saja mereka, dan jangan pernah merasa tertekan 
oleh setiap upadaya mereka untuk menjatuhkan Anda. Sebab, kritikan 
mereka yang menyakitkan itu pada hakekatnya merupakan ungkapan 
penghormatan untuk Anda. Yakni, semakin tinggi derajat dan posisi yang 
Anda duduki, maka akan semakin pedas pula kritikan itu. 

La'Tahzan 


Betapapun, Anda akan kesulitan membungkam mulut mereka dan 
menahan gerakan lidah mereka. Yang Anda mampu adalah hanya mengubur 
dalam-dalam setiap kritikan mereka, mengabaikan solah polah mereka pada 
Anda, dan cukup mengomentari setiap perkataan mereka sebagaimana yang 
diperintahkan Allah, 

{Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu."} 

(QS. Ali 'Imran: 119) 

Bahkan, Anda juga dapat 'menyumpal' mulut mereka dengan 
'potongan-potongan daging' agar diam seribu bahasa dengan cara 
memperbanyak keutamaan, memperbaiki akhlak, dan meluruskan setiap 
kesalahan Anda. Dan bila Anda ingin diterima oleh semua pihak, dicintai 
semua orang, dan terhindar dari cela, berarti Anda telah menginginkan 
sesuatu yang mustahii terjadi dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh 
untuk diwujudkan. 


Jangan Mengharap "Terima Kasih" dari Seseorang 

Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan 
Dia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan-Nya agar 
mereka bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka justru banyak yang 
menyembah dan bersyukur kepada selain Dia. 

Tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan suatu 
kenikmatan adalah penyakit yang umum menimpa jiwa manusia. Karena 
itu, Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari 
kebaikan yang pernah Anda berikan, mencampakkan budi baik yang telah 
Anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan. 
Bahkan, tak usah resah bila mereka sampai memusuhi Anda dengan sangat 
keji dan membenci Anda sampai mendarah daging, sebab semua itu mereka 
lakukan adalah justru karena Anda telah berbuat baik kepada mereka. 

{Dan, mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan 
Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.} 

(QS. At-Taubah: 74) 

Coba Anda buka kembali catatan dunia tentang perjalanan hidup ini! 
Dalam salah satu babnya diceritakan: syahdan, seorang ayah telah memelihara 
anaknya dengan baik. la memberinya makan, pakaian dan minum, 
mendidikanya hingga menjadi orang pandai, rela tidak tidur demi anaknya, 

La Tahzan 


rela untuk tidak makan asal anaknya kenyang, dan bahkan, mau bersusah 
payah agar anaknya bahagia. Namun apa lacur, ketika sudah berkumis lebat 
dan kuat tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu 
menggonggong kepada orang tuanya. la tak hanya berani menghina, tetapi 
juga melecehkan, acuh tak acuh, congkak, dan durhaka terhadap orang 
tuanya. Dan semua itu, ia tunjukkan dengan perkataan dan juga tindakan. 

Karena itu, siapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan 
oleh orang-orang yang menyalahi fitrahnya, sudah seyogyanya menghadapi 
semua itu dengan kepala dingin. Dan, ketenangan seperti itu akan 
mendatangkan balasan pahala dari Dzat Yang perbendaharaan-Nya tidak 
pernah habis dan sirna. 

Ajakan ini bukan untuk menyuruh Anda meninggalkan kebaikan yang 
telah Anda lakukan selama ini, atau agar Anda sama sekali tidak berbuat 
baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin agar Anda tak goyah dan 
terpengaruh sedikitpun oleh kekejian dan pengingkaran mereka atas semua 
kebaikan yang telah Anda perbuat. Dan janganlah Anda pernah bersedih 
dengan apa saja yang mereka perbuat. 

Berbuatlah kebaikan hanya demi Allah semata, maka Anda akan 
menguasai keadaan, tak akan pernah terusik oleh kebencian mereka, dan 
tidak pernah merasa terancam oleh perlakuan keji mereka. Anda harus 
bersyukur kepada Allah karena dapat berbuat baik ketika orang-orang di 
sekitar Anda berbuat jahat. Dan, ketahuilah bahwa tangan di atas itu lebih 
baik dari tangan yang di bawah. 

{Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk 
mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu 
dan tidak pula (ucapan) terima kasih.} 

(QS. Al-Insan: 9) 

Masih banyak orang berakal yang sering hilang kendali dan menjadi 
kacau pikiranya saat menghadapi kritikan atau cercaan pedas dari orang-
orang sekitarnya. Terkesan, mereka seolah-olah belum pernah mendengar 
wahyu Ilahi yang menjelaskan dengan gamblang tentang perilaku golongan 
manusia yang selalu mengingkari Allah. Dalam wahyu itu dikatakan: 

{Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui 
(jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk 
(menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang 
melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.} 

(QS. Yunus: 12) 

La Tahzan 


Anda tak perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena 
kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk menulis cemoohan 
kepada Anda. Dan Anda tak usab kaget, bila orang yang Anda beri tongkat 
untuk menggiring domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke 
kepala Anda. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu mengingkari 
dan tak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung 
nan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang 
dan mengingkari, maka apalagi kepada saya dan Anda. 


Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, 
Melapangkan Dada 


Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan 
kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat 
merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. 
Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, 
dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, 
tenteram dan damai. 

Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah 
terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapatkan ketentraman 
dan kedamaian hati. Sedekahilah orang yang papa, tolonglah orang-orang 
yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang 
yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang 
terkena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua 
sisi kehidupan Anda! 

Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan 
manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. 
Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur 
yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih. 

Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" 
merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang 
berbunyi, "... meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." 

(Al-Hadits) 

Sedang kemuraman wajah merupakan tanda permusuhan sengit 
terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya oleh Sang Maha Gaib. 

La 'Tahzan 


Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang 
kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. 
Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha 
Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi 
Maha Terpuji. 

Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, 
kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, 
sibukkan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong, 
dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan 
mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna, dan juga 
hakekatnya. 

{Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus 
dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan 
Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.} 

(QS. Al-Lail: 19-21) 


Isi Waktu Luang Dengan Berbuat! 

Orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini, biasanya akan 
menjadi penebar isu dan desas desus yang tak bermanfaat. Itu karena akal 
pikiran mereka selalu melayangdayang tak tahu arah. Dan, 

{Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.} 

(QS. At-Taubah: 87) 

Saat paling berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya 
menganggur dan tak berbuat apa-apa. Orang seperti itu, ibarat mobil yang 
berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng ke kanan 
dan ke kiri. 

Bila pada suatu hari Anda mendapatkan diri Anda menganggur tanpa 
kegiatan, bersiaplah untuk bersedih, gundah, dan cemas! Sebab, dalam 
keadaan kosong itulah pikiran Anda akan menerawang ke mana-mana; 
mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, 
hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu Anda alami. 
Dan itu, membuat akal pikiran Anda tak terkendali dan mudah lepas kontrol. 
Maka dari itu, saya nasehatkan kepada Anda dan diriku sendiri bahwa 
mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat adalah lebih baik daripada 

La Tahzan 


terlarut dalam kekosongan yang membinasakan. Singkatnya, membiarkan 
diri dalam kekosongan itu sama halnya dengan bunuh diri dan merusak 
tubuh dengan narkoba. 

Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara Cina; 
meletakkan si narapidana di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan 
air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dan dalam masa 
penantian yang panjang itulah, biasanya seorang napi akan menjadi stres 
dan gila. 

Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah 
pencuri yang culas. Adapun akal Anda, tak lain merupakan mangsa empuk 
yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi; kelengahan 
dan si "pencuri". 

Karena itu bangkitlah sekarang juga. Kerjakan shalat, baca buku, 
bertasbih, mengkaji, menulis, merapikan meja kerja, merapikan kamar, atau 
berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain untuk mengusir 
kekosongan itu! Ini, karena aku ingin mengingatkan Anda agar tidak 
berhenti sejenak pun dari melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Bunuhlah setiap waktu kosong dengan 'pisau' kesibukan! Dengan 
cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa Anda telah 
mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan, dan para 
kuli bangunan! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti 
burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti Anda yang tidur di 
atas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata 
kesedihan. 


Jangan Latah! 

Yakni, jangan mudah mengenakan dan meniru-meniru ciri kepribadian 
umat lain. Karena, itu akan menjadi petaka yang tak mudah reda bagimu. 
Orang-orang yang lupa dengan dirinya sendiri, suaranya, gerakan tubuhnya, 
ucapannya, kemampuannya, dan kondisinya sendiri, kebanyakan akan 
meniru-niru budaya bangsa lain. Dan itulah yang disebut dengan latah, 
mengada-ada, berpura-pura, dan membunuh paksa bentuk dan wujud 
dirinya sendiri. 

Sejak zaman Nabi Adam hingga makhluk terakhir ciptaan Allah, tak 
pernah ada dua orang yang sama persis rupanya. Maka, mengapa masih ada 

La Tahzan 


orang-orang yang memaksa diri untuk menyamakan perilaku dan 
kepribadiannya dengan bangsa lain? 

Anda merupakan sesuatu yang lain daripada yang lain. Tak ada seorang 
pun yang menyerupai Anda dalam catatan sejarah kehidupan ini. Belum 
pernah ada seorang pun yang diciptakan sama dengan Anda, dan tidak 
akan pernah ada orang yang akan serupa dengan Anda di kemudian hari. 

Anda sama sekali berbeda dari Zaid dan Amr. Karenanya, jangan 
memaksakan diri untuk berbuat latah dan meniru-niru kepribadian orang 
lain! 

Tetaplah berpijak dan berjalan pada kondisi dan karakter Anda sendiri. 

{Sungguh, tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing).} 

(QS. Al-Baqarah: 60) 

{Dan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. 
Maka, berlomba-hmbalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.} 

(QS. Al-Baqarah: 148) 

Hiduplah sebagaimana Anda diciptakan; jangan mengubah suara, 
menganti intonasinya, dan jangan pula merubah cara berjalan Anda! 
Tuntunlah diri Anda dengan wahyu Ilahi, tetapi juga jangan melupakan 
kondisi Anda dan membunuh kemerdekaan Anda sendiri. 

Anda memiliki corak dan warna tersendiri. Dan kami menginginkan 
agar Anda tetap seperti itu; dengan corak dan warna Anda sendiri. Sebab 
Anda memang diciptakan demikian adanya. Kami mengenal Anda seperti 
itu, maka jangan pernah latah dengan meniru-niru orang lain. 

Umat manusia — dengan pelbagai macam tabiat dan wataknya — 
seperti alam tumbuhan: ada yang manis dan asam, dan ada yang panjang 
dan pendek. Dan seperti itulah seharusnya umat manusia. Jika Anda seperti 
pisang, Anda tak perlu mengubah diri menjadi jambu, sebab harga dan 
keindahan Anda akan tampak jika Anda menjadi pisang. 

Begitulah, sesungguhnya perbedaan warna kulit, bahasa, dan 
kemampuan kita masing-masing merupakan tanda-tanda kebesaran Sang 
Maha Pencipta. Karena itu, jangan sekali-kali mengingkari tanda-tanda 
kebesaran-Nya. 


La Tahzan 


Qadha' dan Qadar 


{Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, 
melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami 
menciptakannya.} 

(QS. Al-Hadid: 22) 

Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan 
telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. 
Maka, 

{Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah 
ditetapkan oleh Allah bagi kami."} 

(QS. At-Taubah: 51) 

Apa yang membuat Anda benar, maka tak akan membuat Anda salah. 
Sebaliknya, apa yang membuat Anda salah, maka tidak akan membuat Anda 
benar. 

Jika keyakinan tersebut tertanam kuat pada jiwa Anda dan kukuh 
bersemayam dalam hati Anda, maka setiap bencana akan menjadi karunia, 
setiap ujian menjadi anugerah, dan setiap peristiwa menjadi penghargaan 
dan pahala. 

"Barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji 
oleh-Nya." (Al Hadits) 

Karena itu, jangan pernah merasa gundah dan bersedih dikarenakan 
suatu penyakit, kematian yang semakin dekat, kerugian harta, atau rumah 
terbakar. Betapapun, sesungguhnya Sang Maha Pencipta telah menentukan 
segala sesuatunya dan takdir telah bicara. Usaha dan upaya dapat 
sedemikian rupa, tetapi hak untuk menentukan tetap mutlak milik Allah. 
Pahala telah tercapai, dan dosa sudah terhapus. Maka, berbahagialah 
orang-orang yang tertimpa musibah atas kesabaran dan kerelaan mereka 
terhadap Yang Maha Mengambil, Maha Pemberi, Maha Mengekang lagi 
Maha Lapang. 

{Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan 

ditanyai.} 

(QS. Al-Anbiya: 23) 

Syaraf-syaraf Anda akan tetap tegang, kegundahan jiwa Anda tak akan 
reda, dan kecemasan di dada Anda tak akan pernah sirna, sebelum Anda 
benar-benar beriman terhadap qadha' dan qadar. 

17 

La Tahzan 


Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan 
Anda temui. Maka, jangan biarkan diri Anda larut kesedihan. Jangan mengira 
diri Anda sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang 
akan runtuh, membendung air yang akan meluap, menahan angin agar tak 
bertiup, atau memelihara kaca agar tak pecah. Adalah tak benar bila semua 
itu dapat terjadi dengan paksaanku dan paksaanmu, karena apa yang telah 
digariskan akan terjadi. Setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan 
akan terlaksana. Demikianlah "orang bebas memilih; boleh percaya dan tidak" 

Anda harus menyerahkan semua hal kepada takdir agar tak ditindas 
oleh bala tentara kebencian, penyesalan dan kebinasaan. Dan, percayalah 
dengan kebenaran qadha' sebelum Anda dilanda banjir penyesalan! Dengan 
begitu, jiwa Anda akan tetap tenang menjalani segala daya upaya dan cara 
yang memang harus ditempuh. Dan bila kemudian terjadi hal-hal yang tidak 
Anda inginkan, maka itu pun merupakan bagian dari ketentuan yang memang 
harus terjadi. Jangan pula pernah berandai, "Seandainya saja aku melakukan 
seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya." Tapi katakanlah, "Allah telah 
menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan." (Al-Hadits) 


Bersama Kesulitan Ada Kemudahan 

Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, 
setelah begadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap 
yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam 
kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang. 

{Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) 
atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya.} 

(QS. Al-Maidah: 52) 

Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti 
datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. 
Kabarkan juga kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa, pertolongan 
akan datang secepat kelebatan cahaya-dan kedipan mata. Kabarkan juga 
kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan 
segera tiba. 

Saat Anda melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang 
tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebun yang 
rimbun penuh hijau dedaunan. 

La Tahzan 


Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa, 
tali itu akan segera putus. 
Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan 
berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian. 
Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu, 
karena pertolongan Ilahi membuka "jendela" seraya berkata: 

{Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.} 

(QS. Al-Anbiya': 69) 

Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). 
Itu, tak lain karena suara agung kala itu telah bertitah, 

{Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya, Rabb-ku besertaku, kelak Dia 
akan memberi petunjuk kepadaku.} 

(QS. Asy-Syu'ara:: 62) 

Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi 
Muhammad s.a.w. yang ma'shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa 
Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga, 
rasa aman, tenteram dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar. 

Mereka yang terpaku pada waktu yang terbatas dan pada kondisi yang 
(mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, 
kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka 
hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka. 
Padahal, mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang 
tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar 
rumahnya. 

Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun, karena 
setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti 
kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, 
tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang 
silih berganti. Meski demikian, yang gaib akan tetap tersembunyi, dan Sang 
Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah 
mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua. Tetapi 
sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan. 


La Tahzan 


Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis! 

Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. 
Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk 
dan berlipat ganda. 

Ketika Rasulullah s.a.w. diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk 
menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah 
negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah. 

Ahmad ibn Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi 
karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu 
Taimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak 
melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama 
bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku 
sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia 
berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan 
an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits. Demikian halnya 
dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu 
ia menguasai qiraah sab'ah. Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu 
penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang 
sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman 
Abbasiyah. Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati 
meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyiannyanyian 
puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap 
pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan 
saat mendengarnya kembali. 

Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang 
paling terang darinya. Ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, 
Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah 
seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian 
tubuhnya yang lain. Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa 
sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari 
bahaya bisa ular. 

Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi! 
Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan 
melati yang harum kepada kami. Dan, 

{Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.} 

(QS. Al-Baqarah: 216) 
Dapatkan koleksi ebook-ebook lain yang tak kalah menariknya
di EBOOK CENTER - AQUASIMSITE - http://jowo.jw.lt

