Widuri menghembuskan napas kuat-kuat, lalu keluar dari mobil.   Mereka minum di sebuah kafe yang di depannya ditumbuhi rimbun bogenvil.   Apa saja yang dibicarakan Dimas, tak jelas ditangkap telinga Widuri.   Hujan menimpa rimbunan bunga. Tetes-tetesnya mengalir ke tanah. Dan, genangan air di tanah mengalir deras, membawa daun-daun kering menuju selokan.   Dan, ingatan gadis itu terhanyut seperti halnya daun-daun kering itu. Dia ingat bagaimana Joki berdiri canggung di dekatnya dalam bus kota yang meluncur dari Ke­bayoran Baru ketika hujan menerpa bus kota itu. Dia juga ingat hujan di Yogya. Di situ genangan air cepat mere­sap ke dalam tanah. Tanah di Yogya berpasir. Tak pernah puas mengisap tetesan air. Dia ingat pelosok Mage­lang. Pada sawah yang berdesau dalam hujan. Genangan air di tanah menutup lumpur merah. Dia ingat hujan di Kampus Gadjah Mada. Tetes-tetesnya di pohon flam­boyan. Ketika Mapram, cama-cami basah-kuyup, dan masih juga menerima bentakan dari para senior mere­ka. Dia ingat hujan di mana saja. Di mana saja, hujan adalah hujan. Hujan bisa membawa kesengsaraan atau kenangan indah. Tetapi, sekarang, ah, ah, ah!   Widuri menatap lelaki yang duduk di depannya. Sejak tadi Dimas mengawasi gadis itu. Kopi di gelas ting­gal separo. Hujan masih berderai. Widuri berkali-kali menatap ke jalan.   “Oke, kita pergi,” kata Dimas.   “Ya,” kata Widuri cepat-cepat berdiri. Pakaiannya agak lembab. Pakaian lelaki itu malahan basah-kuyup. Widuri tetap membisu di dalam mobil yang meluncur. Knalpot VW Kodok itu meledak berkali-kali, tetapi tetap menerjang hujan. Semakin jauh berjalan, sema­kin Widuri ingin tiba di rumah.     ***     Joki menghempaskan badannya di divan. Kakinya yang pegal, karena dibawa berjalan jauh, lima menit kemudian mulai mengendor. Darah kembali mengalir ke atas secara normal.   Sudah beberapa hari ini dia tidak menunggu Widuri. Enam hari atau lima hari, dia tidak ingat pasti. Dia memang tidak mau mengingat-ingat. Dia ingin agar ingatan terhadap gadis itu hanyalah sebuah mimpi yang gampang dilupakan.   Tetapi, ternyata tidak semudah itu. Dia tak mampu mengusir bayangan gadis itu. Semakin dia berusaha melupakan, semakin kuat keinginannya untuk bertemu dengan gadis itu.   Maka dia melarikan diri dengan jalan bergentayangan ke mana saja. Keluyuran di daerah-daerah pelacuran. Dia ingin bertemu dengan perempuan yang mirip Widuri. Tetapi, dia tak menemukan apa yang diharapkannya. Tak ada pelacur yang menyerupai gadis itu. Tak ada. Jika pun ada, itu dulu. Tetapi, Euis sekarang entah di mana. Barangkali benar dia telah kawin. Dia telah menjadi seorang istri. Mudah-mudahan saja dia senang di samping suaminya.   Joki memperhatikan sarang laba-laba di pojok kamar. Ada seekor laba-laba beringsut pelahan. Tentunya laba-laba itu sedang menunggu mangsa. Nanti, jika ada nyamuk yang meleng, pasti terperangkap. Biar meron­ta, takkan bisa lepas.   Aku pun bagai nyamuk yang terperangkap, pikir Joki. Semakin aku meronta untuk melepaskan diri, semakin jaring-jaring kenangan menjeratku.   Joki menyeka peluhnya. Di luar rumah, masih terdengar suara anak-anak bermain kejar-kejaran. Teve tetangga menyiarkan warta berita. PSSI kalah lagi. Gempa bumi di Argentina. Krisis kabinet Muangthai. Target akseptor KB di Kabupaten Jepara sudah tercapai. Menteri PUTL meresmikan jalan baru di Sumatera Barat. Si Penjol berhasil ditangkap teman-temannya. Sekarang dia yang harus mengejar teman-temannya. Si Penjol disoraki teman-temannya. Kata mereka, “Jol, Penjol, kepalanya penjol, nyak-nya gendut njendol, babe-nya seneng jengkol. Hai!”   Joki membalik badannya, menatap langit-langit. Kusamnya dinding menambah pengap ruangan itu. Lampu dua puluh lima watt bersinar redup.   Dia sangat ingin bertemu gadis itu. Matanya yang redup, ah, alangkah lunak. Bibirnya yang mungil, ah, alangkah lembut. Dan, Joki menghela napas berat. Dan, tiba-tiba pintu kamarnya terkuak. Dia kaget. Terasa mengejutkan sekali. Barangkali lantaran aku melamun, pikirnya.   Monang tegak di kusen pintu itu.   Joki bangkit tergesa.   “Ada apa, Monang?” tanyanya.   “Namboru menyuruh kau datang.”   “Oh, kupikir Mama sudah pulang ke Medan.”   “Belum. Namboru agak kurang sehat.”   “Oh, ya?”   “Ya,” kata Monang menegaskan. Matanya meng­hunjam dalam-dalam ke wajah Joki sebab dia menang­kap ketakacuhan lelaki itu. “Barangkali karena Namboru terlalu memikirkan kau,” lanjutnya.   “Ah, kenapa pula harus memikirkan aku?” kata Joki.   “Dia sangat ingin ketemu kau.”   “Masih lama ‘kan Mama di Jakarta ini?”   “Itu aku tak tahu. Katanya, kalau urusannya dengan kau sudah beres, dia akan pulang.”   “Urusan dengan aku? Urusan apa?”   “Entahlah.” Suara Monang mengambang. Matanya menyelidik-nyelidik.   Joki menyusut-nyusut rambutnya.   “Apa urusannya dengan aku?” tanyanya kepada dirinya sendiri.   “Nanti tentunya kau akan tahu. Ayolah, ke rumah.”    “Tulang ada di rumah?”   “Tidak.”   “Ke mana dia?”   “Tokyo.”   “Hm. Meinar?”   “Ada,” kata Monang. Matanya menyelidik-nyelidik lagi.   “Bagaimana hubungannya dengan Burwan? Sudah disetujui Tulang?”   “Itu aku tak tahu. Aku tak pernah mencampuri urusan-urusan Meinar.”   “Tapi, dia adikmu.”   “Dia cukup dewasa untuk mengurusi dirinya sendiri. Aku sendiri punya banyak persoalan.”   Joki merapikan abu rokok di asbak.   “Aku malas ketemu Mama,” katanya lambat-lambat.   “Aku disuruh menjemput kau. Apa nanti yang harus kubilang?”   “Bilang saja kau tak ketemu aku. Habis perkara.”   “Tapi, nyatanya aku ketemu kau.”   “Ah, bohong sedikit apa salahnya?”   “Tapi, mama kau sendiri yang mau ketemu.”   “Iyalah. Mama sendiri. Karena itu aku bebas untuk ketemu atau tidak.”   “Namboru sangat ingin ketemu dengan kau. Barangkali ada hal yang sangat penting. Dan lagi, dia agak kurang sehat sekarang.”   “Kapan-kapan aku datang. Besok atau lusa. Aku masih sibuk sekarang.”   “Kau ‘kan sedang tiduran sekarang?”   “Iya, tapi aku capek sekali.”   Monang menggeleng. Dia duduk di kursi. Kursi berkeriyut menahan badan Monang yang berat.   “Aku akan menunggu sampai kau mau sama-sama aku datang ke rumah. Aku mendapat perintah tadi dari Namboru, harus berhasil mencarimu.” Monang memperenak duduknya. Dia mengangkat kakinya ke meja.   “Aku akan datang, Monang. Tapi, tidak sekarang.”   “Bah! Aku mendapat perintah hari ini. Kau tahulah sendiri sifat Namboru. Tentunya kau lebih mengenalnya. Dia mama kau.”   Joki menghembuskan napas kuat-kuat.   Monang mengangkat bahu.   “Okelah,” kata Joki kemudian. Lalu dia berganti pakaian.   “Kau kurus sekarang,” kata Monang sembari memperhatikan kaki Joki.   Joki membisu. Dia cuma merentakkan ritsluiting celananya hingga terkancing.   “Apa yang mau dibicarakan Mama rupanya?” tanya Joki sambil mengunci pintu.   Monang mengangkat bahu.   “Perasaanku kok tak enak,” kata Joki.   Monang diam. Dia men-start mobilnya. Mesin mobil menderum.   “Sejak tadi pagi mataku yang kiri bergerak-gerak saja,” kata Joki.   Monang tetap membisu. Dia mengganti persneling.   “Mama sakit, kata kau tadi, Monang.”   “Hm-hm,” gumam Monang.   “Sakit apa?”   “Ah, mungkin masuk angin. Hari Minggu yang lalu Namboru ke Bogor dengan Mama. Barangkali karena terkena hujan.”   “Tapi, perasaanku tak enak. Apa sebenarnya yang mau dibicarakan?”   “Aku tak tahu. Kau ‘kan tahu sendiri aku kurang mengikuti perkembangan keadaan di rumah. Aku lebih sering di Bandung.”   Lalu keduanya membisu. Deru mesin mobil semakin tinggi. Angin di Bypass berkesiur tajam. Lampu-lampu mobil berderet panjang.   “Masak kau sama sekali tak mendengar apa maunya Mama?” kata Joki mengusik suasana diam yang menyungkup mereka berdua.   “Ah, entahlah.”   “Aku tak senang ketemu dengan Mama. Dia kelewat otoriter. Tiap kali berhadapan dengan dia, aku membayangkan akan mendapat marah. Seingatku, belum pernah dia bicara denganku tanpa diakhiri dengan kemarahan. Dia selamanya mau memaksakan kehendaknya pada kami, anak-anaknya. Aku tak tahu apakah karena kami semua berbakat pemberontak, atau memang karena sifat Mama yang keras.”   Monang cuma melirik selintasan. Lampu lalu lintas masih berwarna merah. Penjual koran mengusik mereka   “Tak satu pun di antara kami, anak-anaknya, mengikuti kemauan Mama. Abang Pungka diharapkan jadi dokter oleh Mama, tapi dia malah jadi pelaut. Abang Porman diharapkan jadi insinyur, tapi dia jadi pedagang. Aku sendiri, kau tahu diharapkan jadi apa?”   Monang menoleh ke arah Joki.   “Diharapkan jadi pegawai duane!” Dan, Joki tertawa pahit.   Lampu telah hijau. Kendaraan mulai bergerak kembali.   “Dan, Mama memang keras. Barangkali dia memang penganut Machiavelli. Itu tanpa dia sadari. Dia akan melakukan apa saja untuk yang diinginkannya. Dia memaksa abang-abangku agar masuk universitas walau untuk itu harus menyogok. Aku, sejak SMA selalu diiming-iming untuk masuk ke sekolah duane. Kalau perlu, main sogok. Karena kehidupan kami yang berubah saja maka Mama tak kuasa mendesakku lagi. Kalau tidak, aku takkan kuasa keluar dari kehendaknya.”   Monang tetap membisu. Sesekali dia mengisap rokoknya.   “Tidak enak menjadi anak seorang ibu yang mau menciptakanideal-type -nya pada anak-anaknya. Dia tak akan mempedulikan bakat dan kemampuan. Dia hanya terpaku pada bayangan indah ideal-type-nya itu.”   Dan, mereka tiba di tempat tujuan. Perasaan tak enak menyelinap lagi dalam dada Joki. Kalau bisa memilih, dia akan memilih pulang saja. Tetapi, mereka telah ber­diri di depan pintu.   Menunggu pintu terbuka, Joki bertanya lagi, “Soal apa yang mau dibicarakan Mama, Monang?”   “Barangkali soal Meinar.”   “Meinar?”   Monang tak menanggapi lagi. Pintu telah terbuka. Di situ tegak Meinar. Wajah gadis itu kelihatan letih. Matanya bersorotkan kegelisahan.   “Hai, Mei,” sapa Joki.   “Hai, Jok,” balas gadis itu. “Masuk. Namboru menunggumu.”   Joki melintasi ruangan tengah yang dihampari permadani Persia. Meinar melangkah tanpa suara. Berbeda dengan biasanya.   Joki menghentikan langkahnya. Dia telah tiba di hadapan ibunya. Dan, Joki ingin tertawa sebab tiba-tiba dia ingat sebuah film yang meriwayatkan maharani. Ibunya duduk dipeluk kursi besar. Karena sandaran kursi itu demikian tinggi, perempuan tua itu kelihatan sungguh-sungguh terbenam. Barangkali karena beberapa tahun terbanting ke dalam kehidupan yang pahit maka sekarang dia lebih bergaya sebagai orang besar. Bergaya angker. Bergaya khidmat. Tetapi, rasa geli malah menggeliat di hati Joki. Dia bukannya takut.   “Duduk, Joki,” kata ibunya.   Joki tak mengeluarkan suara. Dia duduk di hadapan ibunya. Kursinya lebih kecil dibanding kursi yang diduduki ibunya, dan berkaki rendah. Maka dia pun bagai menghadap maharani dari Kerajaan Antahberantah.   “Ada hal penting yang mau dibicarakan.”   Joki mengangguk.   “Pertama soal sikapmu terhadap tulang-mu. Sampai saat ini kau belum meminta maaf padanya.”   Joki mengangkat kepala. Dan, matanya bersamplokan dengan mata nantulang-nya. Istri tulang-nya itu cepat-cepat mengalihkan pandang.   “Soal kedua?” tanya Joki datar.   Ibunya menatap tajam.   “Soal kedua, kau semakin kurang ajar. Kau mengelak-elak untuk bertemu dengan Mama. Mama beberapa kali ke rumahmu, kau tak pernah ada.”   Joki tak menjawab. Dia kembali menatap nantulangnya. Perempuan tua itu pun terbenam dalam kursi yang didudukinya. Tubuhnya nampak lebih kecil dibanding tubuh ibu Joki.   “Kalau kau memang mau jadi anak durhaka, terserah,” kata ibunya.   Joki menelan ludah.   “Kau anakku yang keempat, tapi lebih durhaka dari saudara-saudaramu. Si Pungka memang sering melawan, tapi bagaimanapun dia masih menghargai orang tua. Atau si Pordam. Dia suka membantah, tapi belum pernah menyakiti hatiku seperti yang kaulakukan sekarang.”   Joki ingin keadaan itu cepat berakhir.   “Karena memikirkan kau maka jantungku jadi kumat.”   Joki sangat tak suka mendengar perihal penyakit. Maka ruangan yang sejuk itu tiba-tiba terasa pengap baginya.   Beberapa ketika tempat itu hening. Jam dinding berdetak-detak. Macan yang diawetkan menatap nanap dan pojok ruangan.   “Sekarang Mama ingin membicarakan tentang dirimu.”   Joki mengangkat kepala. Matanya memandang bergantian dari ibunya ke nantulang-nya. Kedua perempuan tua itu menghunjamkan tatapan lekat-lekat, membuat Joki gelisah.   “Mama sudah membicarakan dengan tulang dan nantulang-mu.”   Sesaat perempuan tua itu mencari reaksi dari wajah Joki. Tetapi Joki sedingin arca di candi-candi.   “Kami semua sudah setuju.”   Joki mengangkat alisnya hingga jidatnya berkerut.   “Kau dan Meinar akan dikawinkan.”   Jantung Joki menggelepar. Napasnya sesak.   “Bah, aha do na dihatai on (apa pula yang dibicarakan ini)?” katanya terengah.   Ibunya mengangkat alis.   “Ya, kami semua sudah setuju. Kau dan Meinar jadi suami-istri.”   “Mama! Ini terlalu. Kalian tak pernah mencek diri kami.”   “Ini untuk kebaikan kalian sendiri.”   “Kami tidak saling mencintai. Lebih-lebih lagi Meinar, dia sudah ada yang dicintai dan mencintainya. Kalian jangan sewenang-wenang.”   “Siapa yang sewenang-wenang? Ini untuk kebahagiaan kalian.”   “Tunggu dulu, Mama,” kata Joki gemetaran. “Usul siapa ide gila ini?”   “Ide gila? Maksud baik orang-orang tuamu kauanggap ide gila? Bah!”   “Usul siapa ini?” kata Joki lebih menggigil.   “Usul Mama sendiri, dan tulang-mu sangat setuju.”   Dada Joki gemuruh. Darah mengalir menyentak-nyentak. Telapak tangannya panas dan berkeringat. Telinganya panas. Pening.   “Mama, Meinar sudah mencintai seseorang. Aku sangat kenal lelaki itu. Dia sangat baik. Nantulang, Meinar sangat mencintai lelaki itu. Aku tahu betul. Jangan kecewakan mereka.”   Tetapi, kedua perempuan itu tak bereaksi.   “Aku tidak mencintai Meinar. Bagiku, dia tak lebih dari seorang adik.”   Kedua perempuan itu cuma menatapnya tajam. Dan, macan di pojok ruangan itu tetap menyeringai. Taringnya mengkilat.   “Aku tak mungkin kawin dengan Meinar. Aku tahu hatinya. Dia sangat mencintai lelaki itu.”   “Tak usah mewakili Meinar. Dia bisa bicara sendiri tentang dirinya. Sekarang Mama ingin tahu dirimu sendiri. Bagaimana jawabmu?”   “Sudah jelas, aku tak mungkin kawin dengan Meinar. Dia tak mencintaiku.”   “Lantas, kau sendiri?”   “Aku tak punya perasaan apa-apa kecuali perasaan terhadap adik.”   “Dia boru tulang-mu, Joki. Kau yang paling berhak mengawininya.”   “Itu adat kuno, Mama!”   “Kuno atau tidak, tapi itu masih berlaku. Bagaimana kalau Meinar sendiri tak keberatan untuk menjadi istri­mu?”   Jantung Joki menggelepar lagi. Napasnya terperangah.   “Itu tak mungkin. Itu tak mungkin. Itu tak mungkin,” katanya dalam napas yang memburu.   “Dia tak menolak ketika tulang dan nantulang-mu menanyakan.”   “Dia tak menolak?” ucap Joki terbata-bata. “Itu tak mungkin. Pasti ada paksaan. Aku tahu betul sifat Tulang. Pasti Meinar dipaksa. Pasti! Pasti! Pasti! Oh!” Joki me­ngepal tinju dan memukul lengan kursi. “Tak mungkin!” katanya hampir berteriak.   “Jadi, kau menolak?” Suara ibunya mengancam.   Joki menatap sengit ibunya.   “Ya!” katanya dalam volume tinggi. Lalu dia berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Sembari berjalan, dia berharap bertemu Meinar di koridor. Tetapi, gadis itu tak nampak. Maka Joki keluar dengan darah yang masih menjilam-jilam.   Angin malam membelainya. Namun, darah Joki masih saja panas. Kenapa jadi se-absurdini? Kenapa jadi sekacau ini? Langkahnya tambah bergegas. Rumah itu bagai neraka baginya.   Mungkinkah ini ide Tulang Sahala? Ya, barangkali dia mau memukulku dengan cara lain. Barangkali. Barangkali. Bangsat!   Joki melompat ke dalam bus.   Jika ini ide Tulang Sahala, berarti dia berhasil memberiku pukulan balasan. Tapi, apa mau dibuatnya jika aku menolak? Bah! Ingin kulihat apa yang bisa diperbuat olehnya. Dia memang bisa memaksa anaknya. Tapi aku? Lebih baik hancur! Hancur! Hancur! Hancur dan hancur!   Lantas, bagai diuber setan, Joki menuju rumah Wawan. Dari luar dia mendengar suara tawa lelaki itu. Ketawa-ketawa lu! Nanti baru tahu rasa!   Wawan berselonjor menonton teve. Film koboi. Di ruang tengah itu ada anak-anak kecil, kemenakan-kemenakan Wawan.   Alis Wawan terangkat manakala melihat keruhnya muka Joki.   “Sebentar,” kata Joki. “Ayo, ke kamarmu.”   “Serius?”   Joki cuma menggerundel.   Wawan mengikuti langkahnya.   “Ada apa, Jok?”   Joki duduk di pinggiran ranjang. Sesaat dia mengawasi Wawan.   “Jangan pasang!” bentak Joki ketika Wawan mau menstel kaset.   Wawan menyanghat bahu.   “Well?” katanya.   “Bagaimana hubunganmu dengan Mei?” tanya Joki tajam.   “Biasa saja.”   “Biasa saja bagaimana?”   “Lho, ada apa?”   “Aku ingin tahu, sudah sejauh mana hubungan kalian. Apakah kalian benar saling mencintai?”   “Kalau aku, jelas ya. Mei sendiri, menurut pengakuannya, juga ya. Tapi, bagaimana hatinya yang sesungguhnya, tentunya cuma dia yang tahu. Aku selamanya skeptis dalam bercinta.”   “Kau sudah pernah mengutarakan cinta kau?”   “Sudah.”   “Dia?”   “Jawaban dia, dia juga mencintaiku.”   “Lantas, kenapa terjadi ini?”   “Ini? Ini apa?”   Lalu Joki menceritakan kehendak ibunya.   Muka Wawan memucat, lalu memerah. Dia mempergosok telapak tangannya.   “Gila!” rutuknya.   “Memang gila,” tambah Joki.   Untuk beberapa saat keduanya diam. Wawan menyalakan rokok. Sembari menatap asap rokoknya, dia menggoyang-goyangkan ujung kakinya. Ini kebiasaan dia jika sedang gelisah.   “Dan, bagaimana sikap kau sendiri?” tanyanya kemudian.   “Jelas aku tidak bisa menyetujui itu! Cuma, yang kuherankan sikap Mei sendiri. Kenapa dia tidak menolak. Seharusnya dia membangkang. Atau kalau perlu lari kawin dengan kau.”   Wawan menghela napas berat. Terdengar sekali desahnya.   Joki membuka sepatunya agar bisa menaikkan kaki ke divan.   “Kenapa bisa sekacau ini?” Joki melontarkan kalimat yang sejak tadi berputaran di benaknya.   Wawan menggaruk-garuk dagu. Abu rokoknya tercecer ke celana.   “Kenapa kau menolak, Jok?”   “Aku? Bah, pertanyaan yang konyol!”   “Ya, kenapa kau tak mengawini Meinar?”   “Karena kalian saling mencintai!”   “Itu saja? Bagaimana kalau ternyata Meinar tidak mencintaiku sepenuh hati?”   “Bah! Toh aku tidak mencintainya. Bagaimana mungkin aku kawin dengan orang yang tidak kucintai?”   “Dulu ‘kan dia pernah kaupacari?” kata Wawan lambat-lambat.   “Ah!”   Mata mereka beradu. Joki lebih dulu meruntuhkan pandang, dan katanya, “Aku tak pernah mencintainya.”   Wawan tak bereaksi.   “Kau harus membawanya lari, Wan. Dalam adat kami ada kebiasaan untuk melarikan anak gadis orang, kalau ada problem yang menghalangi perkawinan biasa.”   Wawan tetap berdiam diri.   “Ambillah keputusan, Wan. Jangan ragu-ragu!”   Wawan mengangkat kepala dengan lesu.   “Bagaimana aku bisa mengambil keputusan? Sudah empat hari ini aku tak bisa bertemu dengan Mei. Dia tak pernah muncul di tempat kami biasa bertemu, dan juga tak pernah datang ke kampus.”   “Bah!” Joki memukul kasur. “Sampai begitu takutkah dia pada papanya?”   “Papanya memang keras. Foto-foto itu tak bisa menaklukkan si Tua itu.”   “Bangsat!” rutuk Joki tanpa tahu kepada siapa selayaknya ditujukan.   Wawan hanya mengalihkan pandang sekejap, kemudian kembali memperhatikan kepulan asap rokoknya. Gambar poster perempuan telanjang tersenyum kepada siapa saja yang memandang poster itu. Di dekat poster itu, melekat salib terbuat dari perak.   “Aku akan usahakan agar kau bisa bertemu dengan Mei.” kata Joki.   “Lantas?”   “Kau bicarakan kemungkinan untuk kawin dengan dia.”   Wawan mengeluh. Suaranya seperti orang terserang demam.   “Aku tak berani kawin masa-masa sekarang ini,” katanya.   “Bangsat!”   Wawan menoleh ke arah Joki sepersekian detik. “Aku belum kerja,” katanya kemudian.   “Toh kau bisa mencari uang secara insidentil.”   “Itu dengan memanfaatkan nama oomku.”   “Apa bedanya?”   “Kalau aku kawin dengan Mei, aku akan diusir oomku.”   “Bah! Kenapa?”   “Kupikir papa Meinar sudah menghasut oomku. Beberapa hari ini Oom sudah menanyai tentang hubungan­ku dengan Mei. Dari mana dia tahu kalau bukan dari papa Mei?”   “Barangkali dia tahu dari tante kau?”   “Ah, Tante tak pernah memusingkan siapa yang aku pacari. Tak akan terpikirkan olehnya untuk bercerita kepada suaminya.”   Dan, keduanya terdiam. Lama.   Strategi orang tua itu memang brilian, pikir Joki, Dia tak bisa dikalahkan. Dengan menarik Mama di pihaknya, aku tak bisa memakai foto-foto itu untuk menekannya. Dan, Wawan takkan berkutik jika oomnya ikut campur tangan. Dia masih terlalu tergantung pada oomnya itu. Dia biasa hidup mewah. Dia takkan berani hidup terlunta-lunta di Jakarta ini. Padahal, oomnya kolega Tulang Sahala. Habislah sudah harapan. Habis? Ya!   Tetapi, Joki masih bisa berkata, “Kalau kau sungguh-sungguh mencintai Meinar....”   “Aku mencintainya!” sambar Wawan. “Tapi, apa arti cinta di Jakarta ini? Jakarta ini kejam, Joki. Kejam sekali. Aku tak berani bertarung sendirian tanpa fasilitas yang membantuku.”   Joki menjengek. Dia menggigit ujung kreteknya dan meludahkan serpih tembakau yang menempel di lidah­nya.   “Kau boleh menghinaku. Aku memang lemah,” kata Wawan pelahan.   “Sia-sia darah Ambon mengalir dalam tubuhmu!” kata Joki sengit.   Wawan menggeleng.   “Di sini bukan soal darah Ambon. Cuma, aku tak suka berjudi.”   “Fuih!” Joki meludahkan serpih tembakau lagi.   “Kau mendesakku agar aku mengawini Mei. Tapi, apakah kau yakin Mei benar-benar mencintaiku?”   Joki terdiam.   Burwan Wattimena berdiri dan berjalan mondar-mandir.   Joki Tobing tetap duduk bagai patung.   “Kau mendesakku, sebenarnya agar kau bebas dari problem kau sendiri!” Suara Wawan sengit. “Kau egois!”   Joki menolehnya.   “Toh kalian saling mencinta?” Suaranya pelan.   “Bukan itu soalnya! Kau mau melepaskan diri. Kau hanya mementingkan diri sendiri. Teman macam apa kau ini?”   “Bah! Aku bermaksud baik untuk kau.”   “Mungkin benar bermaksud baik. Tapi, hasilnya menyulitkan aku.”   “Jadi, kau tidak sungguh-sungguh mencintai Mei? Lantas, bagaimana pertanggungjawaban kau selama hubungan kalian?”   “Apa yang kulakukan pada dia tidak beda dengan yang telah kau lakukan padanya. Tak lebih. Aku belum pernah melakukan hal yang di luar batas. Aku tak berrani memperlakukannya seperti aku memperlakukan cewek-cewek yang pernah kugauli.”   “Kau egois! Kau egois! Kau egois!” kata-kata Wawan ini berputaran terus di dalam kepala Joki selama di perjalanan. Dia ingin membayangkan wajah Meinar, tetapi yang melintas wajah Tulang Sahala. Juga wajah ibunya. Kedua orang tua itu menyusup-nyusup mengganggu ketenangan yang ingin diciptakannya.   Kenapa aku menolak Meinar? Ya, kenapa? Apa kekurangan gadis itu? Barangkali aku memang pernah mencintainya. Barangkali. Tetapi, bisakah itu dibandingkan dengan perlakuan papanya terhadapku? Dua kali aku terusir dari rumah itu, bagaimana sikap Meinar? Nampakkah dia mencintaiku? Ah, dia lebih takut kepada papanya. Dia hanya menatap kepergianku, menatap dengan pandangan yang wajar saja ketika aku pergi dari rumah itu seperti anjing kurap yang dipukul. Tak terduga!   Lantas, bisakah aku kawin dengan perempuan se­macam itu?     ***     Maka suatu pagi Joki datang ke rumah tulang-nya. Dia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa, kecuali Meinar. Dia langsung ke kamar Meinar. Pelayan mengatakan bahwa gadis itu sejak lama tinggal di paviliun.   Waiah gadis itu murung. Mendung yang menyaputi wajah itu tersibak ketika dia menyibak rambutnya yang terjurai ke dahi, setelah Joki berada di depannya.   Mereka duduk di teras paviliun itu. Bunga krisan sedang mekar di dekat jendela.   “Aku sudah ketemu Wawan,” kata Joki.   Meinar diam.   “Kenapa kau tidak mau menemuinya?” lanjut Joki.   “Buat apa?” Bibir Meinar terkuak malas.   “Buat apa?” ulang Joki. “Dalam keadaan seperti ini, seharusnya kalian lari saja!”   Meinar mengedikkan bahu.   “Pengecut!” ujar Joki dengan bibir terkatup dingin.   “Ya, aku memang pengecut.”   “Fuih!”   “Tapi, Wawan, aku tahu tak kalah pengecutnya. Dia takkan berani membawaku lari.”   “Asal kau mau....”   “Mungkinkah aku menyerahkan diri pada lelaki yang sangat tergantung pada papa dan oomnya?”   Sesaat Joki terdiam.   “Kalian saling mencintai, Mei?” Suara Joki melunak.   “Barangkali ya. Tapi, apa itu cinta, Jok?”   Joki terpana. Beginikah orang muda sekarang? Mereka tak lagi percaya pada kata ‘cinta’. Bahkan mereka tak tahu apa sebenarnya cinta itu. Lantas, hubungan mereka selama ini, apa namanya? Agaknya cinta hanya menjadi permainan mulut saja sebelum bibir saling mengecup. Agaknya cinta hanya pengantar penghilang kecanggungan sebelum badan bergelut.   Wawan bertanya, “Apa cinta itu, Jok?” Dan, Meinar pun bertanya.   Dan, Joki ingat Widuri. Di mana dia sekarang? Apakah aku mencintainya? Maka Joki mengeluh tanpa suara.   “Kalian harus berani mencoba, Mei,” kata Joki kemudian, pelahan. Seperti berkata unluk dirinya sendiri.   “Mencoba mempertaruhkan hidupku? Berspekulasi dengan lelaki yang tak punya kepercayaan pada dirinya sendiri?” Mata Meinar berbinar-binar.   Angin menggoyang bunga matahari. Beberapa helai rambut Meinar terjurai.   “Kenapa kalian saling tidak percaya?” ucap Joki hampir tak terdengar.   “Bisakah kepercayaan dipaksakan?” tukas Meinar.   Joki mengusap dagu. Rambutnya yang gondrong terasa gatal.   “Tapi, kenapa kau tidak menolak dikawinkan dengan aku?” tanyanya kemudian, hati-hati.   Meinar mengangkat kepala. Sesaat mereka bertatapan. Lalu gadis itu membuang pandang ke halaman. Bunga dahlia yang ungu digeremeti kumbang. Dan, kata Meinar hampir tak terdengar, “Sebab.... aku.... mencintaimu.”   Bah!   Jantung Joki menggelepar membuat napasnya sesak.   “Aku tak merasa dipaksa walau Papa barangkali merasa berhasil memaksaku.”   Bah!   Gadis itu tak berani menatap Joki.   Joki berusaha meredakan debur-debur dadanya. Pelipisnya berdenyutan. Pusing mulai merambati kepala.   “Aku mengagumimu. Aku sangat takut pada Papa. Papa sangat keras. Tapi, kau lebih keras lagi. Kami, anak-anaknya, selamanya tertekan. Sejak lama aku mencintaimu. Tapi, aku tak berani menentang Papa. Sekarang, inisiatif itu darang dari Papa. Nah, kenapa aku harus menolak?”   Joki terperangah.   Gadis itu menggigit-gigit bibirnya. Pelupuk matanya agak merah. Puncak hidungnya mengkilat. Di bagian tulang pipi, wajah yang kuning itu kini memerah. Angin meniup-niup membuat beberapa helai rambut gadis itu melambai-lambai. Sebutir jerawat menghiasi dagu gadis itu. Dan, Joki menghela napas dalam-dalam.   “Aku bingung,” desahnya.   Meinar hanya menolehnya sekilas, lalu menatap bunga-bunga di halaman.   “Aku pulang. Pening,” kata Joki separo berbisik.   Lalu dia meninggalkan tempat itu. Bunga-bunga di halaman ditimpa cahaya matahari yang mulai memanas.     ***     Sepimu, Widuri   Baru saja Widuri menghempaskan pintu mobil. Dia baru saja dari Pulogadung. Bersama Dimas, manajer perencanaan itu, untuk urusan kantor, dia menyertai dalam rapat perusahaan. Akan dilaksanakan perluasan usaha dengan jalan menggabungkan beberapa unit usaha yang selama ini terpisah-pisah manajemennya.   Widuri melangkah ke dalam kantor.   Dimas berjalan sembari mengedarkan pandang ke sekitar halaman. Juga ke arah pohon di pinggir jalan. Tempat itu sepi. Dimas tersenyum kecil. Dia telah empat kali mengantarkan gadis itu pulang dari kantor. Cukup sampai di mulut gang. Dan, selamanya, sebelum pulang mereka singgah minum di kafe. Memang ada perkembangan. Tetapi, tidak berarti harus buru-buru. Harus pelan-pelan.   Maka Dimas tetap tersenyum ketika masuk ke ruang kerjanya. Di dekat pintu, dia menoleh ke arah Widuri, dan tersenyum lagi.   Widuri telah menempati mejanya. Dari pojok ruangan, Linda meliriknya berkali-kali. Ingin tahu dia, apa yang telah diperbuat Don Juan itu terhadap Widuri. Tetapi, dia melihat rambut Widuri yang bergelombang hingga bahu itu tetap rapi. Barangkali sudah disisir tadi, pikirnya. Tetapi, wajah Widuri tidak ada perubahan. Tak ada tanda-tanda keletihan. O, barangkali memang belum. Barangkali si Don Juan itu belum berhasil. Linda menarik napas dalam-dalam. Lalu dia memeriksa kertas-kertas di hadapannya.   Pintu ruangan bagian personalia berderit. Widuri mengangkat kepala. Di pintu itu tegak seorang lelaki. Rasanya tak asing lagi bagi Widuri. Dan, jantung Widuri ber­debar. Rasanya asing lagi. Dan, darah Widuri gemuruh. Yogya. Kampus Gadjah Mada. Yogya. Oh! Debaran di dada gadis itu membuat napasnya tersengal. Telapak tangannya berkeringat.   Lelaki itu masih berbicara sembari tertawa-tawa dengan manajer di kantor itu, manajer personalia. Masih seperti dulu juga, pikir Widuri. Tawanya itu, oh, masih seperti dulu. Tawa yang ramah dan ceria.   Berbaju kuning gading, dengan dasi lebar, dan di tangannya menggantung tas president. Alangkah rapi. Ya, hanya itu yang membedakannya dengan penampilannya yang dulu. Dulu dia selalu pakai jean biru dan pakai sandal. Menghadap rektor pun dia tak pernah rapi.   Widuri menatapnya nanap.   Pembicaraan lelaki itu dengan manajer personalia berakhir. Lelaki itu melangkah diiringkan seseorang dari bagian personalia. Lelaki itu melintas di dekat meja Widuri. Bibir Widuri berdesah, “Anton?”   Lelaki itu menoleh. Lalu suaranya meledak, “Wiwik! Widuri! Widuri!” Dan, tangannya menyemba bahu Widuri.   “Anton,” desah Widuri. Matanya panas.   “Wiwik,” kata Anton. Matanya pun panas.   “Eh, sudah kenal?” Suara manajer personalia itu mengejutkan mereka berdua.   “Oh, ya. Ya, sudah kenal. Kenal baik sekali!” kata Anton. Pandang matanya tak lepas dari sosok Widuri. “Teman sekampus dulu,” lanjut Anton.   “Ooo, Pak Anton dari Gadjah Mada ya? Widuri, Drs. Anton Rorimpandey ini, kita minta tenaganya untuk mentes pegawai-pegawai baru dalam perluasan perusahaan kita.”   “Aku jadi staf biro konsultasi di Jakarta ini sekarang, Wik,” sambung Anton.   “Istrimu sudah di sini?” tanya Widuri.   “Ya.”   “Saya kepingin sekali ketemu. Saya kangen pada teman-teman.”   “Datanglah ke rumah. Oh, lebih baik kami yang datang lebih dulu ke rumahmu. Tentunya lebih gampang jika kami yang datang. Ya, ‘kan?”   “Tapi, rumah saya masuk gang kampung.”   “Ah, tak jadi soal.”   Anton mencatat alamat Widuri.   Lama Anton telah meninggalkan kantor itu, tetapi Widuri masih dilibat masa lampau yang menghimpit. Anton, sekarang dia sarjana psikologi. Keceriaannya masih seperti dulu jua.   Maka kemunculan lelaki itu semakin menghimpit Widuri pada kenangan di Kampus Gadjah Mada. Anton adalah teman dekat seorang lelaki yang sangat berarti bagi Widuri. Tak ada rahasia lagi di antara mereka bertiga: Anton, Widuri, dan lelaki masa lampau itu. Anton selamanya menampung kemelut temannya itu, dan temannya itu sangat berarti bagi Widuri. Kini lelaki teman Anton itu telah tiada. Tetapi, kenangan terhadapnya tak mungkin musnah dari benak Widuri. Di Kampus Gadjah Mada mereka bertiga meniti hari demi hari. Cuma, prahara telah memporakporandakan segalanya. Segalanya, segalanya, segalanya telah terbang. Hanya Anton yang tetap berdiri tegar. Apa pun yang terjadi, dia tetap ceria. Di sampingnya, ada seorang istri yang setia. Anton juga giat dalam studi. Apa yang kurang baginya?   Maka sesore itu Widuri ingin melamun. Tetapi, intercom di mejanya berdengung. Dimas memanggilnya.   “Aku baru saja mendapat panggilan dari Tuan Stephen,” kata Dimas.   Tuan Stephen adalah salah seorang direksi yang mewakili modal asing yang ditanam dalam perusahaan mereka. Seorang bule Amerika, berusia kurang-lebih 45 tahun, ramah dan tampan. Para pegawai senang kepada­nya.   “Dia mau mempelajari blue-print yang kita bawa dalam rapat tadi,” lanjut Dimas. “Siapkan. Dalam lima menit kita berangkat.”   Linda mengikuti langkah Widuri.   “Mau pergi lagi?” tanyanya. Suaranya bernada was-was.   Widuri hanya mengangguk. Dia merapikan file di mejanya.   Kemudian dia telah duduk di samping Dimas, dalam VW yang meluncur cepat meninggalkan halaman kantor. Ban mobil menjerit begitu tiba di jalan aspal.   “Eh, ke mana ini? Rumah Tuan Stephen ‘kan di Menteng?” tanya Widuri ketika mobil itu membelok ke Bypass.   “Dia tidak di rumah. Dia di Cibogo,” jawab Dimas.   Dada Widuri menyentak. Angin berdesau di dekat telinganya. Dia menekap file di dadanya. Menekankan benda itu kuat-kuat untuk meredakan kegelisahan yang menggeliat-geliat.   Mobil meluncur dalam kecepatan tinggi. Jarum spedometer melewati kulminasi. Ban menjerit-jerit pada setiap belokan. Pohon-pohon berlari dalam bentuk bayangan kabur.   Matahari telah berlindung di balik gunung. Sebentar lagi senja akan menyungkup daerah pegunungan itu. Dan, Widuri makin kuat menekankan file ke dadanya. Kaca jendela tertutup, tetapi tubuh Widuri masih juga dingin.   Jalanan berkelok-kelok. Widuri seketika ingat Kaliurang. Oh, telapak tangannya basah. Dia ingat Kaliurang. O, kepalanya pening. Di Kaliurang, di daerah yang dingin itu, dia pernah mengalami kegetiran yang paling hitam. Di Kaliurang, di sebuah bungalow, dia terhempas ke dalam pelukan nasib kelam.   Keringat dingin merembes lewat pori-pori gadis itu. Dia memejamkan mata. Maka dia tidak tahu bahwa mereka sudah tiba di tempat tujuan.   “Ayo, Widuri.” Suara Dimas mengejutkannya.   Widuri gelagapan. Dia keluar dari mobil. Matanya waswas memperhatikan bungalow yang akan mereka masuki. Pintu rumah itu bercat merah.   Oh, jantung Widuri hampir copot akibat sentakannya yang tidak beraturan. Keringat dingin membanjiri tubuhnya walau udara tempat itu dingin. Di bungalow seindah inilah dia pernah mengalami kegetiran yang menyebabkannya tercampak ke dalam kehidupan pahit. Di bungalow semacam inilah dia pernah ditipu seorang gadis, lalu menjadi korban kebinatangan sekelompok orang muda. Ya, di bungalow seindah ini, dia diantri oleh sekelompok serigala.   Maka langkah Widuri lunglai mengikuti langkah Dimas memasuki bungalow itu. Tuan Stephen sudah menunggu. Matanya yang biru, kendati ramah dan jenaka, tetap tak mampu mengusir kemelut yang menerpa-nerpa Widuri.   Widuri duduk diam-diam memegang gelas kopinya sementara Dimas asyik membicarakan blue-print dengan Tuan Stephen. Pembicaraan itu lama sekali. Senja cepat sekali berakhir di gunung itu. Langit mulai remang-remang. Widuri tetap membisu. Begitu pula ketika Dimas meluncurkan mobilnya mengikuti jalan menurun. Tanpa starter, Dimas mencoba menghidupkan mesin. Persneling dua, lalu kopling dilepas, tetapi tubuh mobil hanya menyentak. Mesin tak mau menderum. Dimas mengulangi, tetapi tubuh mobil hanya menyentak tanpa disertai suara mesin.   Dimas menghentikan mobilnya, lalu membuka kap mesin. Widuri memeluk file. Matanya nanap memandang ke luar mobil. Ke pohon-pohon pinus, ke batu-batu gunung.   Dimas masuk ke mobil lagi. Mulai lagi men-start, tetapi starter hanya merengek-rengek. Dimas gelisah. Bagaimana mungkin Widuri tahu apa yang ada di balik kegelisahan lelaki itu?   Berkali-kali Dimas mencoba men-start mobilnya, tetapi mobil hanya mau merengek. Keresahan berlompat­an di dada Widuri. Bagaimana dia tahu bahwa sebenarnya Dimas sengaja tidak menghidupkan mesin mobil itu? Dimas memang sengaja tidak memasang kontak ketika mobil menuruni jalan tadi. Lalu, sebelum menggunakan starter, dia lebih dulu telah melepaskan kabel koil. Apa sulitnya untuk tidak menghidupkan mesin mobil itu di depan seorang gadis yang tak pernah kenal mesin mobil.   Sementara itu, senja benar-benar telah temaram.   “Wah, sulit ini.” keluh Dimas. Lalu dia meluncurkan mobilnya. Dan, sampailah mereka di sebuah bungalow. “Barangkali ada yang bisa memperbaiki mesin di sini,” kata Dimas. Dia masuk ke bungalow itu. Tak lama ke­mudian muncul lagi. “Tak ada orang. Yang ada cuma pelayan.”   Tubuh Widuri menggigil. Bukan cuma lantaran dingin, melainkan juga lantaran kegelisahan merambati se­luruh jaringan tubuhnya.   “Saya harus pulang,” katanya terbata-bata.   “Tapi, mobil rusak,” kata Dimas.   “Saya cari kendaraan lain saja.”   “Kalau malam tak ada kendaraan. Apalagi sekarang bukan malam Senin. Kalau Minggu sore memang banyak kendaraan turun.”   “Bagaimana saya harus pulang?” tanya Widuri getas, tetapi tersekap.   “Bagaimana bisa? Sudahlah, Widuri, kita menginap saja di sini. Saya sudah bilang sama penunggu bungalow ini.”   “Tidak!” pekik Widuri. “Tidak, tidak, tidak!” sambungnya dalam desah.   “Tak ada pilihan lain.”   Widuri melangkah ke gerbang halaman, berharap ada kendaraan lewat.   “Besok pagi kita turun. Akan kuusahakan kendaraan.” Dimas berusaha membujuknya.   “Tolonglah, usahakan sekarang. Sekarang saya ingin pulang. Saya ingin pulang,” kata Widuri bercampur isak.   “Tak ada kendaraan kalau malam begini,” kata Dimas.   Bibir gadis itu bergerak-gerak. Dan, keinginan Dimas untuk mengulum bibir itu semakin menjadi-jadi.   “Saya harus pulang,” kata Widuri. Tubuhnya tambah menggigil. Udara bukan main dingin, dan dia tidak memakai jaket. Bahkan pakaiannya pun hanya cocok untuk ke kantor, bukan untuk daerah pegunungan yang sedingin itu.   Ada sinar lampu mobil datang dari atas. Widuri ber­lari ke pinggir jalan. Dua lampu itu semakin dekat. Ke­mudian terdengar derum mesin.   Widuri menstop. Mobil berhenti. Tetapi, badan Widuri tambah menggigil. Widuri membalik badan.   “Hai, Neng!”   “Eh, cakep meck!”   “Rezeki nih!”   Suara-suara orang muda dalam mobil itu terdengar bagai raung serigala di telinga Widuri. Dia kembali ke bungalow.   “Eh, kok lari?”   “Ayo, kejar!”   “Ssst! Apa lu nggak lihat ada batangnya tuh? Jangan cari gara-gara lagi, ah!”   “Eh, iya ya. Urusan yang di atas tadi saja hampir membuat kita kena tembak.”   “Ayo, let’s go!”   Orang-orang muda itu pergi. Ban mobil yang mereka tumpangi menjerit di belokan jalan.   Lampu di bungalow itu redup menimpa muka Widuri. Pipinya basah. Tubuhnya gemetaran. Giginya gemeletuk. Angin bertiup giris.   Dimas berpeluk tangan, dan katanya, “Jangan sembarangan menumpang mobil orang, Widuri. Bisa-bisa kau diperkosa. Banyak orang muda berandalan cari mangsa di sini.”   Widuri mengeluh.   “Saya harus pulang. Sekarang. Saya harus pulang,” katanya.   “Ya, kita akan pulang kalau ada kendaraan. Kita tunggu saja. Tapi, di sini dingin sekali. Ayo, ke dalam.”   “Tidak. Biar saya tunggu di sini.”   “Dalam beberapa jam belum tentu ada kendaraan. Ayolah, ke dalam. Di dalam ada pemanas.”   Jaringan di bawah kulit Widuri menggigil. Pelipisnya berdenyutan. Matanya perih. Dia bersedekap, tetapi dingin yang menusuk-nusuk tak bisa hilang.   Di dalam ada pemanas. Di dalam ada pemanas. Di sini dingin sekali. Tapi, ah! Widuri menoleh ke arah lelaki itu. Tubuhnya menggigil lagi. Bukan hanya dingin melainkan juga ngeri. Ngeri! Ngeri! Ngeri! Lelaki tampan itu bisa berubah menjadi srigala!   “Saya harus pulang.”   “Apa yang diburu di rumah, Widuri? Di sini ‘kan bisa istirahat. Kenapa kau takut? Takut padaku? Ah, itu menyinggung perasaan, Widuri.”   Saya harus pulang, saya harus pulang, saya harus pulang! Keluhan Widuri berberaian di dada. Seraut wajah mungil dan lucu melintas di benaknya. Seraut wajah yang disayanginya. Anak kecil yang tak berdosa. Anak kecil yang manis. Seperti gambar Jesus ketika kanak-kanak, yang menggelendot dalam pelukan Maria. Terdengar deruman mesin dari bawah. Widuri berlari ke pinggir jalan. Dan, suara raungan mesin tambah kuat di jalan menanjak itu. Dua cercah sinar telah nam­pak oleh Widuri.   Tuhan Allah, jangan kirim serigala lagi padaku. Jangan kirim lagi binatang buas padaku yang sengsara ini. Aku mencintaiMu, Tuhan. Jangan sengsarakan aku dengan serigala-serigala ciptaan-Mu. Aku mencintaiMu, Tu­han. Cintailah aku. Lindungilah aku. Aku hanya sendiri di dunia ini, Tuhan. Hanya Engkau yang mau melindungiku. Hanya Kau. Jika Kau masih juga mengirimkan serigala, oh!   Widuri menstop mobil yang datang dari arah depan. Mobil berhenti. Lalu terdengar suara lunak, “Ada apa, Nak?” Kepala seorang perempuan setengah baya men­jenguk lewat jendela depan.   “Siapa, Ma?” Suara anak kecil terdengar dari jok belakang.   “Saya.... saya mau menumpang,” kata Widuri. Suaranya bercampur sedu. Sedu merambat dalam dadanya.   Perempuan setengah baya itu cepat-cepat membu­ka pintu mobil.   “Masuk, masuk, masuk,” katanya.   Widuri duduk di samping perempuan itu. Pintu terhempas, dan mobil bergerak.   Dimas tertegak canggung di dekat mobilnya.   Di dalam mobil, terasa hangat. Lalu sedu yang merambat dalam dada Widuri pecah dan mengalir dalam ujud tangis. Dia menekap muka dan tersengal menahan gelombang isakan.   “Ada apa, Nak?” tanya perempuan di sampingnya.   “Tidak.... tidak apa-apa.... Maaf,” ujar Widuri tersendat.   “Kau mau ke mana?”   “Mau pulang.”   “Tinggal di Jakarta?”   “Ya.”   “Siapa lelaki tadi?”   “Teman sekantor.”   “Ooo,” angguk perempuan itu. Dia melirik suaminya yang memeyang stir. “Dia mengajakmu menginap?”   “Ya.”   “Tapi, kau tak mau?”   Widuri mengangguk kuat-kuat.   “Lantas, sekarang bagaimana? Kami besok sore baru turun.”   “Kalau boleh, saya sampai di atas nanti, turun di bungalow majikan saya.”   “Ooo, majikanmu ada di atas? Laki-laki?”   “Ya.”   “Dengan istrinya?”   “Tidak. Istrinya di Amerika.”   “Ow, orang asing?”   Widuri mengangguk. Dan, Widuri turun di halaman bungalow Tuan Stephen. Isaknya telah reda.   “Kenapa? Ada apa?” tanya Tuan Stephen kaget.   Tangis Widuri meledak lagi.   “Saya mau pulang,” katanya berulang-ulang.   “Di mana Dimas?”   “Mobilnya rusak.”   “Ow. Kemudian?”   “Dia mengajak menginap.”   “Ow.” Sesaat Tuan Stephen mengawasi Widuri, kemudian mengangguk maklum. “Kalau begitu, pulang bersama saya. Saya tidak jadi pulang besok pagi. Saya ganti pakaian. Duduklah. Silakan duduk. Jangan susah. Hmmm, Dimas memang masih muda ya?” Dan, Tuan Stephen masuk ke kamarnya.   Widuri mengedarkan pandang berkeliling. Ruangan ini hangat. Tidak sengeri tadi sore berada di ruangan ini. Malam ini, ruangan ini malah terasa nyaman. Di dinding ada lukisan Rusli dan Affandi.   Tuan Stephen mengantar hingga rumah Widuri. Mula-mula Widuri hanya ingin turun di mulut gang, tetapi Tuan Stephen mengatakan, “Sangat terlarang meng­antarkan wanita tidak sampai pintu rumah.”   Mereka tiba di depan pintu. Ketika pintu terbuka, seraut wajah mungil dalam gendongan seorang perempuan tua menyambut, “Ma, Ma....!”   “Ah, Tody.” Widuri mencium bibir anak kecil itu.   “Anak kecil siapa?” tanya Tuan Stephen.   “Ow, cantik.” Tangan Tuan Stephen yang berbulu menyemba dagu anak kecil itu. Tetapi, Tody menyembunyikan wajahnya di dada pemomongnya. “Di mana ayah dia?” tanya Tuan Stephen.   “Sudah cerai.”   “Oh, I’m sorry.”   Widuri mengusap kepala Tody.   “Berapa tua? Berapa umurnya?”   “Tiga tahun,” kata Widuri. Matanya menatap penuh kasih ke arah anak kecil itu.   “All right. Saya pulang.”   Ketika tubuh lelaki Amerika itu lenyap dalam kelam buru-buru Widuri menghempaskan diri ke pelukan kursi. Tubuhnya lunglai.   “Mama,” kata anak kecil itu dengan tangan melambai-lambai.   “Sini, Tody,” sambut Widuri. Anak kecil itu tertawa-tawa di pangkuan ibunya.   “Hari ini Tody tidak nakal, ‘kan? Iya, Mbok? Tody tidak nakal hari ini?” tanya Widuri sembari mengelus-elus rambut anaknya.   Tody melonjak-lonjak. Widuri merasa dadanya sejuk ketika pipi Tody yang halus menyentuh-nyentuh hidungnya.   Aku membenci peristiwa yang menyebabkan kelahiran anak kecil ini. Kukutuk manusia yang menyebabkan kelahiran anak ini. Tetapi, anak ini tidak berdosa. Dia sesuci domba kudus. Dia terlempar ke dunia ini tanpa keinginannya sendiri. Jika dia boleh memilih, maka dia akan memilih cara kelahiran semacam itu. Dan, dia juga tidak akan memilih punya ibu selemah aku. Nah, kalau bukan aku yang harus mencintainya, siapa lagi yang diharapkannya? Jika bukan dia yang kuharapkan untuk mencintaiku, siapa lagi yang bisa kuharap? Kami menjadi korban nafsu-nafsu hewani. Kami berdua. Kami yang sengsara.   Maka Widuri mencium mulut anaknya dalam-dalam. Dan, Tody melonjak-lonjak.     ***     Tempo-Tempo Tuan Stephen mengantarkan Widuri pulang dari kantor. Dan, sejak itulah Dimas tak berani lagi mengusik Widuri. Cuma, memang tidak setiap sore Tuan Stephen pulang tepat pada jam tutup kantor. Terkadang dia pulang lebih awal karena harus mengurus pekerjaan di tempat lain. Jika demikian yang terjadi, maka Widuri pulang naik taksi.   Bagi Widuri, Tuan Stephen sangat baik. Dia bagai seorang bapak dalam memberikan perhatian terhadap Widuri. Barangkali insting romantisme Barat yang menyebabkan Tuan Stephen dapat merasakan bahwa Widuri tidak serupa dengan gadis lain di perusahaannya.   Tetapi, tahukah Widuri bahwa para tetangga di kanan-kiri rumahnya mulai melontarkan pandangan berbisa kepadanya? Tahukah Widuri betapa sinis tatapan mata serta lekuk mulut tetangga yang kebetulan berpa­pasan dengannya di jalan atau di sepanjang gang? Tahukah Widuri bahwa namanya telah melekat di mulut perempuan-perempuan kampungnya yang selalu mengisi waktu luang dengan mencari kutu itu?   Tentu saja Widuri cepat dapat menangkap udara tak nyaman yang melingkupinya. Dia kelewat peka. Tata­pan mata orang yang paling pintar berpura-pura pun tak akan lolos dari perasaannya. Dia mempunyai kepekaan untuk menangkap apa yang tersirat. Dia seorang gadis Jawa yang paling murni. Dia sadar, betapa pahit kehidupan yang melingkunginya.   Cuma, mungkinkah dia menolak kedatangan seorang lelaki separo baya yang bersikap kebapakan itu? Mungkinkah dia menolak seorang lelaki yang teramat baik terhadap Tody? Mungkinkah dia menolak seorang lelaki dan sekaligus majikannya di kantor?   Widuri harus menanggung beban berkepanjangan. Dan, hanya Tody Kecil yang belum mengenal duka, menjadi penghiburnya setiap hari. Gelak-tawa anak kecil itu terasa membuat hari menjadi cerah. Apalagi jika bibirnya yang merah terkuak, matanya terpejam karena tawanya yang meriah, bukan main! Dengan bunga ma­nakah dia bisa dibandingkan keindahannya?   Dan, sore itu Widuri telah mengeringkan rambutnya. Tody mengembangkan lengannya ingin digendong.   “Sebentar, Sayang,” kata Widuri. Dia menyisir rambutnya. Baru saja dia selesai mandi.   Tody melangkah tertatih-tatih mendekat. Dia memeluk kaki ibunya.   Widuri tetap menggeraikan rambutnya dengan sisir. Tody menyelinap di celah kakinya. Widuri membiarkan­nya. Kepala anak kecil itu menggesek paha ibunya. Widuri merasakan rasa hangat menjalari dadanya. Ada jalaran halus datang dari kepala anak kecil itu. Dan, jalaran itu mengalir dari paha menuju ke tubuh bagian atas Widuri.   Anak kecil itu memeluk kaki ibunya. Tentu saja belum disertai kesadaran bahwa kaki itu bagai pualam ku­ning yang terpahat. Tody menarik-narik handuk yang melilit tubuh ibunya sebatas dada. Widuri merasakan pipi anaknya hangat menyentuh paha, dan.... sret, aih! Handuk terlepas dari tubuh Widuri. Dia menangkap bayangan tubuhnya yang polos di cermin. Bahunya yang mulus, dadanya yang diganduli bukit kenyal, pinggang yang genting, dan pinggul yang menonjol, semuanya masih serba menantang.   Widuri menarik napas dalam-dalam.   “Mama,” rengek Tody.   Aih, Widuri baru sadar akan keadaannya. Mata Tody yang bundar hitam menatapnya. Cepat-cepat Widuri memungut handuk dari lantai. Cepat-cepat pula dia membelitkan handuk itu kembali ke tubuhnya. Dan, buru-buru dia menyelesaikan sisirannya.   “Sebentar ya, Sayang, Mama pakaian dulu.”   Tody mengikuti setiap langkah ibunya. Dia tahu ibunya mau pergi. Baru saja pulang, tetapi akan pergi lagi. Barangkali rasa sepi mulai belajar menggeliat dalam hati anak kecil itu. Lidahnya masih pelo untuk berkata-kata, tetapi matanya yang sedih mengikuti setiap gerak ibu­nya yang sibuk berdandan. Barangkali sepi mulai ber­arti dalam diri anak kecil itu.   Widuri telah rapi berdandan. Tak mungkin lagi dia menggendong Tody. Pakaiannya akan kusut jika untuk menggendong. Maka dia hanya membawa anaknya ke ruang depan. Dia sendiri duduk di kursi.   “Tody jangan nakal ya? Nanti Mama bawa oleh-oleh.”   Apalah arti oleh-oleh bagi seorang anak yang sedang membutuhkan belaian ibunya? Maka Tody hanya memandangi ibunya.   Terdengar suara Tuan Stephen di pintu. Lelaki itu hendak mengusap kepala Tody, tetapi anak itu menghindar dan lari kepada pemomongnya.   Rumah itu pun lantas sepi. Tody menggelendot di pelukan pemomongnya. Perempuan asal dari Jawa itu mengusap-usap ubun-ubun Tody. Nalurinya bisa merasakan kesedihan yang membelit anak itu. Hatinya ikut trenyuh. Tody tidak menangis. Matanya memandang nanap ke arah pintu. Dan, ini yang membuat hati perempuan tua itu seperti diremet-remet tangan kasar. Lebih trenyuh lagi.   Sementara itu, Widuri merasakan lengan berbulu lelaki tinggi besar itu melindunginya. Angin di gang kecil itu tak terasa dingin lagi.   Mereka pergi ke TIM. Di sana ada pertunjukan musik dari Amerika Serikat yang disponsori oleh perusahaan mereka. Musik jazz Amerika itu membuat sepatu mengetuk-ngetuk lantai. Hentakan-hentakan kaki pemain dan kilauan instrumen menghanyutkan semua perasaan penonton. Semua. Dan, di situ ada Widuri. Telapak tangannya dalam genggaman tangan Tuan Stephen.   Musik telah berakhir, dan musik yang lain akan mulai.   “Kita minum dulu. Oke?”   Widuri mengangguk.   Kesiur angin tajam menerpa wajah Widuri. Sembari mengemudi, Tuan Stephen menutup jendela di samping Widuri. Tangannya menekan tubuh Widuri. Dan, Widuri merasa kekenyalan dadanya menggeliat dalam tindihan tangan lelaki itu. Pipinya bergesekan sejenak dengan dagu lelaki itu. Darah Widuri mengalir lebih cepat dari biasanya.   “Kita minum di rumah saja.”   Widuri tak menjawab. Lampu-lampu di pinggir jalan berlari ke arah belakang. Selintasan Widuri melirik lelaki di sampingnya. Profil lelaki itu mengingatkannya pada bintang film Kirk Douglas.   Di bar kecil yang terletak di sudut ruangan, Tuan Stephen menuang minuman ke dalam dua buah gelas. Warna merah kecoklatan berkilatan ditimpa cahaya lampu yang remang-remang.   Widuri menerima gelas yang disodorkan Tuan Stephen. Tuan Stephen memilih plat lalu memasangnya. Lalu, samar-samar terdengar nyanyian Nat King Cole. Tuan Stephen mengangkat gelasnya. Widuri mengikutinya.   “Untuk kesehatan Widuri,” kata Tuan Stephen lunak. “Pada hari ulang tahunnya, hari ini.”   Widuri terpana. Dadanya gemuruh. Dia meneguk minumannya.   “Saya lihat catatan hari kelahiran Widuri di kantor,” kata Tuan Stephen.   Dada Widuri gemuruh lagi. Dia meneguk minuman­nya lagi. Oh, dia sangat baik, pikirnya. Dia memperha­tikan hari lahirku yang aku sendiri melupakan. Widuri merasakan dadanya yang menghangat. Mata yang biru meratapnya lunak. Maka darah Widuri berdesiran.   Tuan Stephen meletakkan gelasnya di meja. Lalu dia mengeluarkan kotak kecil dari kantongnya.   “Saya ada hadiah kecil. Tidak ada harga. Untuk Widuri,” katanya sembari mendekati Widuri.   Mata Widuri tak berkedip menatap lelaki itu. Matanya yang biru itu, tenang bagai danau yang sejuk.   Tuan Stephen membuka kotak kecil itu, dan menguraikan kalung bepermata hijau. Dia mengalungkan kalung itu ke leher Widuri.   Widuri memejamkan mata. Dadanya berombak dan matanya panas. Tak bisa dicegah, air matanya mengalir membasahi pipi.   Selintasan Tuan Stephen mencium pipi Widuri, lalu dia mundur. Widuri membuka matanya. Kilau air mata itu bagai embun pagi hari.   “Terima kasih,” desah Widuri.   Lelaki itu hanya membalas dengan senyum. Dia menuangkan minuman lagi ke dalam gelasnya dan gelas Widuri.   “Silakan minum. Untuk kesehatan kita.”   Widuri meneguk minumannya. Jalaran hangat se­makin menguasai dadanya. Minuman merah kecoklatan itu membuat pipi Widuri berona merah.   “Bisa dansa?” tanya Tuan Stephen.   Widuri menggeleng.   “Musik bagus. Sayang kalau tidak dansa. Dansa itu perlu. Kita punya kantor, kapan bikin resepsi, semua dansa. Mari belajar.” Tuan Stephen menarik gelas dari tangan Widuri, dan meletakkannya di meja. Kemudian dia memeyang tangan Widuri.   Suara Nat King Cole empuk mengisi keheningar ruangan itu. Tubuh Widuri tenggelam dalam pelukan Tuan Stephen. Lengannya yang semula memeluk, kini mengikuti ketatnya lengan lelaki itu. Nyanyian Nat King Cole menyusup-nyusup ke telinga Widuri.   Tuan Stephen memiringkan kepala sehingga pipi mereka bergesekan. Sejak tadi desiran dalam jaringan tubuh Widuri bersumber pada segumpal rasa hangat di dadanya. Semakin ketat dia memeluk lelaki itu, semakir merata kehangatan menyebar. Nyaman. Apalagi gesekan di pipi itu semakin sering.   “I love you, Widuri,” desah lelaki itu di dekat telinga Widuri sehingga Widuri melenguh halus sembari membenamkan tubuhnya lebih dalam lagi ke pelukan lelaki itu.   Bibir lelaki itu menjalar di pinggir mulut Widuri. Terasa hangat oleh Widuri. Terasa manis. Berbau anggur berasa madu. Maka Widuri menerima bibir itu, mengulumnya, dan kemudian merintih halus.   Nat King Cole masih bernyanyi. Lampu di ruangar itu tiruan lampu gantung Arab klasik. Cahayanya temaram. Langkah mereka tidak lagi beraturan. Tubuh Widuri terpilin dalam pelukan lelaki itu. Ketika kemudian lelaki itu mendukungnya ke kamar tidur, Widuri hanya melenguh bagai sapi di padang, sambil menciumi mulut lelaki itu. Rambutnya berberaian menutupi sebagian wajahnya yang telah semerah tomat masak.   Maka, sejak malam itu, matahari dalam kehidupan Widuri lebih cerah. Dia merasa, rentangan hidup baru telah tersedia baginya. Maka ketika Anton dan istrinya datang mengunjunginya, Widuri terlompat dari duduknya dan menghambur ke pintu.   “Erika!” pekiknya. Dan, dia memeluk perempuan yang datang bersama Anton.   Anton hanya tersenyum kecil. Ada perubahan, pikirnya. Ini bukan Widuri yang biasanya. Bukan Widuri yang pemalu. Apakah Jakarta telah mengubahnya? Apa kiranya yang membuat Widuri jadi seekspresif ini?   “Kau tambah cantik,” kata Widuri sembari mengundurkan kepalanya.   Erika tersenyum-senyum.   “Mana anakmu?” tanya Anton.   “Ooo, dibawa Mbok, pemomongnya, ke luar sebentar.”   Erika memperhatikan pakaian Widuri. “Kau mau bepergian?” tanya Erika.   “Ah, nanti kok.”   “Ow, ada kemajuan nih?” kata Anton.   Widuri tersipu.   “Mau ke mana?” tanya Erika.   “Ah, enggak. Cuma menemani majikan saya.”   “Menemani siapa?” tanya Anton.   “Tuan Stephen.”   “Hm,” gumam Anton. “Aku pernah ketemu dia,” lanjut Anton seraya memandang istrinya. “Seorang yang tampan kayak bintang film.”   Widuri tersipu. Pipinya merona merah di bawah tatapan mata Anton.   “Dia sering kemari?” tanya Erika.   “Ya. Eh, kok berdiri terus? Ayo, duduk.” Pinggul Widuri bergoyang ketika dia mendahului berjalan menuju kursi.   Anton menelan ludah. Bukan Widuri yang dulu, kata hatinya.   Widuri merapikan rambutnya. Kepalanya mendengak hingga rambutnya yang mengkilat itu tergerai seluruhnya ke bahu.   “Mau nonton?” tanya Erika.   Widuri mengangguk.   “Ow, kami kemari tadi juga berniat mengajak kau nonton. Ada film bagus. Erika ingat kau. Sekalian dia kepingin ke rumah kau,” kata Anton.   “Kalau begitu, kita barengan saja,” kata Widuri.   “Ah, apa nggak mengganggu acaramu?” kata Erika.   “Ah, tidak, tidak,” ujar Widuri cepat.   Dan, di keremangan President Theatre, berkali-kali Anton menarik napas dalam-dalam. Desahnya didengar oleh istrinya. Maka Erika menggenggam jemari Anton dan bisiknya, “Ada apa?”   Anton menggeleng. Telapak tangan istrinya makin kuat menggenggam. Anton kembali menoleh ke tangan Tuan Stephen yang berbuat serupa dengan tangan Erika. Tentu saja terhadap Widuri.   Mereka berempat duduk berendengan. Ruangan itu sejuk. Kepala Widuri miring ke arah tuan Stephen hingga rambutnya mengelus-elus wajah lelaki itu.   Sean Connery menggeluti seorang wanita. Ranjang yang mereka tiduri telah kusut. Sehelai selimut terjuntai di lantai. Mata wanita itu terpejam menerima lumatan bibir Connery. Lalu, riiing! Pesawat telepon di dekat kepala mereka berdering. Sean dan wanita itu tak acuh. Telepon berdering lagi dan berdering lagi. Sean menatap semua orang. Ekspresi wajahnya menunjukkan kejengkelan. Dia menggerutu sebelum mengangkat han­del telepon, dan meletakkan begitu saja di atas meja. Ma­ka kamar itu sepi kembali. Dan, mereka melanjutkan ciuman yang tertunda. Wanita itu tergial-gial. Dan, fade out. Layar berangsur gelap.   Widuri menghela napas panjang. Barangkali sejak tadi dia menahan napas, sejak jari-jari Tuan Stephen mulai menyelusuri celah jarinya.   Pasti telah terjadi perkembangan dalam diri Widuri, pikir Anton. Dia bukan Widuri sebagaimana yang kukenal di Yogya dulu. Apakah perkembangan baik atau buruk, itu belum jelas. Cuma, yang pasti, dia tak secanggung dulu dalam menghadapi lelaki.   Erika juga sependapat dengan Anton. Maka dia mendesak suaminya agar mengunjungi Widuri.   “Buat apa?” tanya Anton.   “Aku khawatir melihat perubahan dia.”   “Ah, kenapa harus dipusingkan? Dia sudah dewasa. Dia bisa menjaga diri sendiri. Salah-salah dia malah tersinggung kalau kita terlalu mencampuri urusannya.”   “Bukan begitu, Mas,” kata Erika terus berdecak. “Dia terlalu baik, aku khawatir dia akan lebih menderita lagi.”   “Okelah.”   Dan, mereka ke rumah Widuri. Sore itu hujan masih tersisa di gang menuju rumah Widuri. Sepatu Erika bertambah tinggi. Tanah liat menempel di hak sepatu itu. “Kalau kampong-verbetering-nya Gubernur Ali Sadikin terlaksana seluruhnya, tak ada lagi jalan becek se­perti ini,” kata Anton sambil menuntun istrinya.   “Ya, asal rumah-rumah di sini tak kena gusur saja,” jawab Erika.   “Penggusuran ‘kan untuk kepentingan umum.”   “Ah, kau bagaimana sih, Mas? Kepentingan umum itu ‘kan bisa disalahgunakan. Tergantung interpretesi saja. Kalau yang kasih interpretesi pengusaha kayu, tentu saja dengan maksud membangun bangunan megah. Nah, kalau kau, bagaimana interpretesimu tentang kepenting­an umum yang sering disebut-sebut itu?”   “Tentunya untuk kepentingan rakyat kecil. Itu yang perlu diperhatikan pemerintah. Kalau pengusaha kaya, dia bisa mengurus kepentingannya lebih gampang.”   “Nah, begitu dong,” ujar Erika sambil memijit tangan suaminya.   “Dan, kau sendiri? Papamu ‘kan pengusaha?”   “Tak jadi soal. Pokoknya, asal kita sadar apa sebenarnya kepentingan rakyat kecil itu.”   Anton makin erat memegang tangan istrinya.   “Haiii, masuk saja. Waaah, kayak mau masuk mas­jid, buka sepatu segala. Ayo, langsung saja. Maklum rumah di kampung,” kata Widuri.   Dia tegak menggendong Tody.   “Ai, ini anakmu, Mbak Wik? Aduuuh, cakep-nya.” Erika merenggut Tody dari pelukan Widuri, dan menciuminya. “Sudah sebesar ini,” desah Erika.   Anton dan Widuri hanya saling menatap. Keduanya lalu tersenyum.   “Kalian, kapan lagi?” tanya Widuri.   Anton menggeleng, dan katanya, “Barangkali Ika mandul.”   “Mas! Brengsek!”   “Kalian ‘kan baru dua tahun kawin. Masih banyak waktu,” kata Widuri.   “Siapa namanya, Mbak Wik?” tanya Erika.   “Tody. Faraitody,” jawab Widuri lemah.   Enka mengangkat kepala dan menatap suaminya.   Anton menelan ludah.   “Aduuuh, cakep-nya. Wah, dia tertawa. Dia tahu kalau dia cakep jika tertawa. Ah, Tody Sayang, Tody Sayang.” Erika mencium anak kecil itu.   Anton duduk. Tenggorokannya masih seret.   Faraitody adalah seorang lelaki yang pernah mengisi hati Widuri hingga ke lekuk-lekuk yang paling dalam. Lelaki itu adalah dambaan yang tak kesampaian bagi Widuri. Sebab, keduanya hanya menyekap perasaan masing-masing.   Dan, sekarang anak kecil itu dinamakannya serupa dengan nama lelaki itu.   Tetapi, dia hanya terimbas oleh nama saja, nama seorang lelaki yang mati muda dalam puncak kemelut hidupnya. Dan, anak kecil itu berasal dari relung-relung nasib hitam Widuri.   Anton tahu betul bagaimana Widuri ditipu seorang gadis bernama Irawati, dibawa ke Kaliurang untuk dikorbankan ke hadapan sekelompok anak muda. Entah anak muda yang mana yang menjadi sumber langsung anak itu. Bukan hanya itu yang menjadikan kenyataan itu ter­amat getir bagai empedu. Widuri juga harus melihat perkawinan Faraitody dengan Irawati. Duri mana lagi yang lebih tajam? Widuri menjadi korban anak-anak muda liar dan harus mendengar kabar tentang perkawinan lelaki yang dicintainya diam-diam dengan gadis yang telah menghancurkan hidupnya.   Hari demi hari telah dilalui Widuri. Minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan semuanya bisa disebut sebagai masa kelam yang pahit. Orang-orang menistanya lantaran benih yang tumbuh di rahimnya. Ketika Faraitody sadar bahwa wanita yang mencintainya hidup sengsara, semuanya telah terlambat. Widuri telah kawin dengan lelaki di desanya yang sama sekali tidak dicintainya.   Anton tahu betul itu. Erika tahu betul. Karena itulah maka keduanya menelan ludah dan berkali-kali meredakan tenggorokan mereka yang tersekat.   Widuri menutupi kemurungannya dengan ucapan, “Minum, Anton. Ika, minum dong. Maaf ya, saya tak bisa menyuguhi yang lain. Maklum, saya belum jadi borjuis. Tinggal saja di kampung yang becek begini.”   “Tapi, pergaulanmu tingkat internasional sekarang,” kata Anton.   Widuri menoleh cepat, tetapi tetap tak berucap.   Erika mengawasi susunan perabot di ruangan itu. Rapi dan resik. Artistik. Menunjukkan bahwa penghuninya punya apresiasi estetis.   “Masih sering bepergian dengan Tuan Stephen?” tanya Anton.   “Ya.” Bibir Widuri mengelopak mawar dalam senyum.   “Nampak-nampaknya serius.”   “Ah, entahlah.”   “Kenapa, entahlah?”   “Saya bingung, Anton.” Widuri menatap mata lelaki itu. Dia menemukan mata yang serupa dengan tahun-tahun berselang. Mata seorang lelaki yang bersikap bersahabat. Seorang yang dipercaya bisa menampung rahasia-rahasia batinnya.   “Kenapa bingung, Wik?” Suara Anton lunak.   “Hubungan kami akrab sekali,” kata Widuri. Pandang matanya berpindah-pindah dari Anton ke Erika.   “Lantas?” kata suami-istri itu serempak.   “Belum pernah saya berhubungan seintens itu dengan lelaki selain dia.”   “Maksudkau, kau mencintai dia?” tanya Anton.   “Cinta? Entahlah. Tapi, yang lebih jauh dari itu, barangkali aku bukan ibu yang baik. Juga bukan janda yang baik. Barangkali aku memang binal.”   “Ah!” Erika mengeluh.   “Kalau kau tak yakin kau mencintainya, kenapa kau melakukan itu?” Anton bertanya seraya melirik istrinya.   “Dia sangat baik. Saya terharu pada kebaikannya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri saya sehingga saya tak kuasa menolaknya. Bahkan.... bahkan.... bahkan.... barangkali saya memang membutuhkan itu.”   “Tapi, kau tidak mencintainya,” kata Erika.   “Ah, apa itu cinta sebenarnya, Ika?” Widuri berkata murung.   Erika menatap suaminya, mencari pegangan.   “Saya pernah mencintai Tody beberapa tahun yang lalu. Tapi, perasaan serupa itu tidak saya alami dengan Stephen. Cuma saya merasa senang dan aman bersama dia. Karena itu saya siap menyerahkan diri saya sepenuh hati. Hal semacam itu tak pernah saya dapatkan ketika bersama Tody. Jika saja ketika bersama Tody dulu saya juga punya perasaan seperti perasaan saya bersama Stephen, barangkali itulah cinta sempurna yang dicari banyak orang.”   Erika menyusut-nyusut rambut Tody Kecil yang duduk di pangkuannya. Anak kecil ini rupanya senang berada dalam rangkulan perempuan bermata indah itu. Apalagi ciumannya yang tak beda dengan ciuman ibunya, membuatnya menggelendot mesra.   “Stephen tidak keberatan mengawini saya,” kata Widuri lambat-lambat.   Anton tersentak. Erika terpana.   “Dia mengajak kau kawin?” tanya Anton.   “Bukan dia. Saya.”   Anton terpana. Erika menoleh ke arah suaminya. Dan, dia menarik napas sepenuh dada.   “Bagaimana mungkin kau mengajak kawin orang yang kau sendiri tidak yakin mencintainya?” Suara An­ton terpatah-patah.   Widuri menatap lantai.   “Saya merasa aman berada di dekat dia,” ujarnya pelahan.   “Rasa aman saja belum jaminan, Wiwik. Keamanan hanyalah suasana yang sengaja diciptakan. Suasana itu ditimbulkan secara rasionil. Dengan pertimbangan. Malahan bukan mustahil dengan pretensi tertentu.”   Widuri diam. Matanya menghitung jubin di lantai.   Erika menekapkan pipi Tody ke mukanya. Mulut anak kecil itu menggeser-geser hidung Erika.   “Berbeda dengan rasa aman yang bertolak dari cinta,” lanjut Anton. “Itu irasionil sifatnya. Terciptanya pun bukan karena kesengajaan. Sedangkan rasa aman yang terjadi akibat pandainya seseorang menyentuh faktor-faktor yang mempengaruhi suasana keamanan itu, bisa lenyap begitu saja jika orang itu tidak lagi menyentuh faktor-faktor itu.” Anton meneliti penerimaan Widuri, te­tapi Widuri menyembunyikan ekspresi matanya dengan menekuri lantai. Tangannya menggurat-gurat lengan kur­si. Lalu lanjut Anton, “Aku tidak ingin mempengaruhi, Wik. Aku hanya memberikan pandangan. Sebab, pada akhirnya, kau sendirilah yang paling tahu apa yang paling sesuai untukmu.”   Widuri hanya mengangkat kepala sekejap.   “Ya,” desahnya. Bibirnya berat bergerak.   “Kalau kau memang tak lagi percaya pada cinta, barangkali tak ada pilihan lain. Kawinlah dengan lelaki itu. Terimalah apa adanya. Tentu saja setelah kau melihat ke seberang pintu yang terbuka oleh tanganmu sendiri.”   Widuri tak berucap.   “Tapi, kalau kau masih disentuh oleh pesona cinta, jangan kawin dengan lelaki itu. Lebih baik bercinta walau tidak kawin, katimbang kawin tanpa cinta. Bercinta tanpa kawin, sama halnya mengintai-ngintai ke dalam surga. Tapi, kawin tanpa cinta, itu serupa dengan hidup dalam neraka. Percayalah.”   “Cuma,” kata Widuri hampir dalam bisik, “bisakah cinta singgah lagi di hati saya?”   Suaranya yang murung itu bagai datang dari dasar sumur yang teramat dalam. Jauh sekali.   Pelupuk mata Erika panas, dan air hangat pelahan-lahan membasahi pipi Widuri.   “Kenapa tidak, Wiwik? Kenapa tidak?” kata Anton bersemangat.   Widuri menggeleng.   “Kau masih muda, sedangkan orang tua pun masih bisa disentuh oleh cinta. Nah, kenapa kau tidak?”   “Tapi, saya tak tahu perasaan macam apa yang saya alami agar saya yakin bahwa saya benar-benar jatuh cinta.”   Kini Anton yang terdiam. Erika meliriknya.   “Pengalaman cinta setiap orang berbeda-beda, Wiwik,” kata Anton kemudian. “Sangat subyektif sifatnya.”   “Bagaimana perasaanmu ketika mencintai Mas Tody dulu, Mbak Wiwik?” Tiba-tiba Erika bertanya dengar hati-hati.   Widuri terperangah. Dadanya berombak. Oh, tak tahu. Tak tahu! Barangkali aku memang mengalami perasaan semacam itu beberapa minggu yang lalu. Tapi lelaki itu telah menghilang. Telah lenyap.   Maka pipi Widuri kembali basah. Genangan air mata membuat matanya berkilauan.   “Mama,” panggil Tody Kecil.   Widuri cepat-cepat mengusap air mata yang membasahi pipinya. Dia berusaha tersenyum, tetapi giris.   “Memang, beberapa minggu yang lalu saya mengalami perasaan semacam itu,” katanya pelan-pelan.   “Oh, ya?” Serentak Anton dan Erika berkata.   “Tapi, rasanya saya tak berani melanjutkan perasaan itu,” lanjut Widuri. Matanya menelusuri wajah Tody.   “Kenapa, Mbak Wik? Kenapa?” Erika terengah.   “Tak mungkin. Saya hanya seorang janda dengan masa lampau yang hitam. Sampai dia tak muncul-muncul lagi. Dia tidak tahu keadaan saya. Saya tak berani membukakan seluruh kehidupan saya sebab.... sebab.... saya takut kehilangan dia.”   “Ah!” Setumpuk keluh pecah di hati Erika.   Anton membisu.   “Saya takut kehilangan dia kalau saya membuka selubung hidup saya. Tapi, nyatanya dia pergi karena dia menganggap saya tidak mempercayainya. Dia hilang karena saya menutupi keadaan saya.”   Anton menyalakan rokok.   “Dilemma yang pahit,” katanya pelahan.   “Ya, buah simalakama,” kata Erika.   “Tapi, apakah kau pasti bahwa dia akan meninggalkanmu jika dia tahu keadaanmu?” tanya Anton.   “Itu perasaan saya.”   “Perasaan wanita sering mengada-ada.”   Erika mendelik ke arah suaminya. Nyaris mulutnya mendebat sebagaimana kebiasaannya di rumah. Cuma, Erika cepat ingat kesedihan Widuri.   “Apalagi kalau perasaan sedang dilibat cinta. Sensitif sekali dan mudah sekali mereka-reka. Sewaktu jatuh cinta, orang bisa sangat optimis, tapi juga bisa sangat pe­simistis. Bisa sangat berani, tapi bisa juga minder. Ini ber­dasarkan psikologi, Wik.”   “Di mana sekarang lelaki itu, Mbak Wik?”   “Saya tak tahu,” ucap Widuri lemah.   “Ceritakanlah kepada kami, Wik. Ceritakan semuanya. Itu akan melegakan beban pikiranmu,” kata Anton lembut.   Sesaat Widuri menatap Anton, lalu pindah menatap Erika. Dia menemukan wajah Yogya yang dirindui­nya. Wajah masa lalu di Kampus Gadjah Mada. Maka dia pun menceritakan pertemuannya dengan Joki. Joki Tobing yang menatapnya takut-takut. Joki yang tertekan dalam kehidupan, tetapi tetap memberangsang lawan. Joki yang menyentuh tangannya di dalam oplet menuju kampung miskin di Cilincing. Joki yang menekap telapak tangannya di dalam sebuah kafe di Kebayoran. Joki yang menciumnya dalam kegelapan planetarium TIM. Joki yang diciumnya. Joki yang merupakan lelaki pertama yang dikulumnya dengan berani dan sepenuh hati.   Victor Jongki Lumban Tobing nama lengkapnya. Sekarang entah di mana.   Anton menarik napas panjang. Jakunnya naik-turun sebab dia memaksa tertelannya ludah yang menyekal tenggorokan.   Erika menekapkan muka Tody yang tertidur, ke pipinya.   Widuri menghitung-hitung ubin yang sebagian berwarna kuning dan sebagian lagi berwarna coklat.   Ruangan itu sepi.   Langgar di mulut yang menyuarakan adzan Magh­rib lewat loudspeaker yang lantang.   “Dia sudah lenyap,” kata Anton kepada dirinya sendiri.   “Barangkali suatu ketika akan bertemu lagi,” hibur Erika.   “Hm, Joki Tobing?” ucap Anton kepada diri sendiri lagi. “Kayak-nya pernah aku dengar nama itu. Seorang wartawan yang dipecat dari kantornya. Hm, pernah aku dengar teman-teman cerita tentang dia. Coba kapan-kapan aku tanyakan. Aku punya kenalan yang jadi wartawan di Majalah TEMPO. Dulu dia dari Yogya.”   “Ya, coba ditanyakan, Mas Anton. Tentunya Zulkifli tahu di mana dia sekarang. Biasanya wartawan ‘kan punya solidaritas.”   “Tak usah, tak usah, tak usah,” kata Widuri terengah.   “Bah, kenapa?” Suara Anton tak senang.   “Saya tak ingin ketemu lagi. Biarlah dia lenyap. Saya tak ingin dia tahu kenyataan diri saya yang sesungguh­nya. Biariah jadi kenangan saja.”   “Bah!” Anton melepaskan napas keras-keras. “Kenapa kau jadi rendah diri begitu?”   “Saya tak berani menghadapi kenyataan nantinya kalau dia benar-benar meninggalkan saya karena keadaan saya ini.”   “Tapi, sekarang dia meninggalkanmu.”   “Ya. Tapi, dengan kenangan indah tertinggal buat saya.”   “Lebih baik berlayar sampai tujuan. Kau akan lebih tahu dengan pasti lelaki macam mana dia. Jika dia meninggalkanmu hanya lantaran kehidupan pahit masa lalumu, itu lebih baik.”   “Tidak. Saya tak berani. Dia boleh pergi, tapi tidak lenyap dari hati saya. Seperti tidak lenyapnya Mas To­dy dari hati saya.”   Anton menggeleng-geleng, dan bahunya tertekuk.   “Baiklah. Kalau itu yang kauinginkan, itu adalah hak­mu. Aku dan Ika hanya punya kewajiban membantu­mu. Kau punya hak untuk menentukan kewajiban apa yang harus kami lakukan.”   “Terima kasih, Anton. Terima kasih, Ika. Terima kasih,” desah gadis itu. Matanya kembali meneteskan air bening bagai kaca.   Beberapa ketika mereka bertiga diam. Tody tersenyum-senyum dalam tidurnya di pelukan Erika.   “Dan, apakah kau masih berniat kawin dengan Stephen?” tanya Anton tiba-tiba.   Widuri tersentak.   “Ah, entahlah,” katanya.   “Cuma satu nasihatku. Sebelum mengambil keputusan, selidiki dulu dengan mendalam tentang diri Stephen. Dan, kalau kawin, usahakan agar mendapat pengesahan dari kedutaannya. Aku akan membantumu. Soalnya, kau perlu mengingat pengalaman-pengalaman kaum wanita di negara-negara berkembang lainnya. Banyak anak blasteran yang menjadi korban setelah para kontraktor asing pulang ke negara mereka.”   Widuri terdiam.   Lama dia terdiam walau Erika telah mengembalikan Tody ke pangkuannya. Lama dia terdiam, sedang malam telah turun sejak tadi.     ***   Segenap Langit Kota Metropolitan   Di sini pencakar langit menjangkau angkasa. Dan, aku menjadi pengemis, kata hati Joki.   Joki baru saja keluar dari salah sebuah kantor di gedung pencakar langit itu, dari kantor biro advertensi tempat salah seorang temannya menjadi manajer. Seorang bekas wartawan yang cepat beralih ke bisnis, untuk meng­imbangi perkembangan perusahaan-perusahaan asing di Jakarta.   Aku masih menjadi penganggur, pikir Joki sambil merambahi celah mobil yang diparkir di pelataran pencakar langit itu. Dia meraba-raba sakunya yang berisi lembar-lembar uang. Syukur, teman-teman masih mengingatku.   Sebenarnya Joki masih berhak mengambil cicilan pesangon dari bekas kantornya, tetapi dia muak memijak kantor itu. Dia muak melihat tampang pegawai bagian keuangan yang rupanya menganggap uang yang harus dibayarkannya itu miliknya pribadi. Bangsat! Joki jengkel. Sebab, selain pesangon enam bulan gaji itu tidak sekaligus diterimanya, dia juga melihat sikap pegawai bagian administrasi itu menambah kebenciannya.   Beberapa hari yang lalu, Joki mendapat sepuluh ribu dari teman lain yang baru saja menjual novelnya pada perusahaan film. Seminggu lagi bahkan seseorang akan memberinya uang kalau skenario filmnya terjual. Kurang apa lagi!   Cuma, apakah aku akan terus-menerus begini? Apakah aku akan terus-menerus berjalan dari teman yang satu ke teman yang lain, dari kantor yang satu ke kantor yang lain? Memang aku tidak akan terlunta-lunta seperti gelandangan Kota Jakarta. Tapi, apa bedanya kehidupan kami? Kehidupan yang sama-sama menadahkan tangan.   Maka Joki berdiri murung di dekat gerbang out pelataran gedung itu. Mobil-mobil antri keluar bagai siput yang beriringan. Maka Joki merasa dirinya kecil sekali. Seperti kodok. Apalagi dia melihat seorang gadis menyetir salah sebuah mobil. Joki merasa bagai ditindih sebongkah batu gunung. Dia merasa dirinya keciiil sekali. Merasa tak berarti berada di tengah-tengah kehidupan luks Kota Metropolitan ini.   Lantas dia menyusuri trotoar. Lalu naik ke jembatan dan menatap Jalan Thamrin yang sibuk. Lalu berjalan pelahan. Tangannya bersamplokan dengan tangan seorang pengemis, tetapi pengemis itu tidak menadahkan tangan ke arahnya. Barangkali karena melihat keruhnya muka Joki.   Joki turun di seberang jalan. Lalu menyusuri trotoar. Dia berusaha agar tidak bersenggolan dengan gadis-gadis yang berjalan bergerombol. Dia khawatir jika keringatnya mengotori pakaian mereka, pakaian bagus gadis-gadis itu.   Terus berjalan dengan tangan tersaku, dia ingat bah­wa kemarin dulu pernah membeli undian harapan. Siapa tahu bisa mendadak menjadi jutawan? Hm, tak usah yang enam puluh juta. Cukup lima belas juta saja. Itu sudah lumayan. Bisa beli rumah kecil, mobil, tapi.... mobil apa? Toyota! Ah, menguntungkan modal Jepang. Barangkali baik juga kalau beli Fiat. Tapi, ah, Mercy Sport saja. Ow, lima belas juta tak cukup. Beli mobil bekas saja. VW kek, Holden kek, atau apa saja deh. Pokoknya tidak terseok-seok berjalan kaki begini.   Dan, uf! Hampir saja Joki bertabrakan dengan tiang listrik yang diam. Lalu dia melupakan angan-angannya.   Dia tiba di depan Kartika Plaza. Dulu dia sering ke situ. Dia sering mengejar informasi dari tokoh-tokoh yang menginap di situ. Tetapi, sekarang, cukup memandang gedung itu dari jarak jauh saja.   Joki berdiri di balik terali pagar. Mobil-mobil mengkilap berjejer. Seperti pameran mobil.   Seorang lelaki Barat keluar dari gedung itu dengan seorang perempuan Timur. Mereka berjalan bergandengan menuju mobil. Inilah hasil politik “buka pintu” dalam hal modal asing, pikir Joki. Tapi, tunggu dulu! Jantung Joki menyentak. Itu Widuri. Jantung Joki menggelepar. Jaringan tubuhnya menggigil.   Alangkah gembira gadis itu. Alangkah ceria. Dalam gandengan lelaki Barat itu, alangkah gembira. Serasa terdengar dari sini kicau tawanya sebelum mereka masuk ke dalam mobil.   Mobil itu pergi. Sesuatu menghempas diri Joki sehingga dia merasa dirinya terbenam. Terbenam ditelan tanah. Cuma, dia masih tegak memegangi terali pagar. Tapi, lebih baik terbenam dalam tanah pasti sejuk. Dalam tanah yang sejuk, pastilah nyaman. Tidak seperti di bawah matahari begini: sengit dan pengap!   Joki melangkah meninggalkan tempat itu. Ah, kenapa aku harus melalui tempat ini? Kenapa aku tadi berhenti di tempat ini sehingga harus melihat gadis itu lagi? Lebih-lebih melihatnya begitu mesra bergandengan tangan dengan seorang lelaki. Dan, lelaki itu berasal dari jauh pula. Jika lelaki itu seorang lelaki Indonesia, masih bisa kumengerti. Tapi, ini, ah!   Nasionalisme Joki seketika bangkit. Bangsat! Kenapa harus bermesraan dengan lelaki Barat? Apakah lelaki Indonesia tidak ada lagi di negeri ini? Bah! Apakah Indonesia ini bukan tempat bercinta lelaki Indonesia dengan gadis Indonesia? Apakah Indonesia tidak menyediakan peluang bagi lelaki dan gadisnya untuk saling mencinta? Kenapa harus disela lelaki Barat? Kenapa? Bah! Bagaimana bisa menjawab ‘kenapa’ itu!   Maka Joki melompat ke dalam bus. Tak peduli dia akan ke mana. Yang jelas bus ini pasti berhenti di terminal. Lalu nanti di terminal sambung bus lagi. Bus apa, tak jadi soal. Pokoknya tukar bus untuk menyelusuri lin lain. Pokoknya dari bus yang satu ke bus yang lain. Sampai sore nanti. Sampai tubuh letih dan mata mengantuk. Lalu pulang.   Dan, ibunya menunggu Joki di rumah itu. Joki terdesak bagai kijang letih yang terperangkap. Dia menatap ibunya bagai kijang mengawasi pemburu yang siap membunuhnya.   “Mama tunggu-tunggu, kau tak datang,” kata ibunya.   “Hm,” gumam Joki.   Monang membuka-buka majalah.   “Urusan perkawinanmu dengan Meinar sudah kami atur.”   “Mama....!” Joki terengah. Napasnya sesak sebab dadanya bagai tertindih seonggok besi.   “Dalam beberapa hari ini Papa akan datang.”   “Jawabanku tetap seperti dulu!” sergah Joki.   Ibunya menghunjamkan pandangan.   “Tidak bisa begitu, Joki. Seluruh keluarga sudah diberi tahu. Persiapannya sudah hampir selesai.”   “Aku tidak mau kawin. Mama dengar itu? Aku tidak mau kawin!”   “Kau harus kawin dengan Meinar,” kata ibunya dingin.   “Aku tidak mencintainya. Aku tidak mau kawin dengan dia. Apa pun yang terjadi, biar dunia ini runtuh, aku tetap menolak!”   “Dunia tidak akan runtuh.” Ibunya tetap dingin. “Cuma, kalau kau membangkang, Mama dan Papa sepakat untuk tidak mengakui kau sebagai anak.”   Joki terdiam.   “Kau tahu resikonya? Kau tidak akan mendapat warisan. Sepeser pun tidak!” kata ibunya meneruskan.   Joki terloncat dari duduknya, bagai tersengat kala­jengking. Dia berdiri tegak dengan mata mengkilat dan bibir gemetar, lalu katanya, “Aku tidak butuh warisan! Aku tidak butuh warisan dari seorang koruptor! Mama dengar? Aku tidak butuh! Tidak butuh!” Suara Joki dalam teriakan. Napasnya terasa mau putus. Sebelum ibunya bereaksi, dia keluar dari ruangan itu.   Joki terus ke jalan, dan melompat ke dalam oplet.   Apakah hubungan anak dengan orang tua hanya karena warisan? Bah! Alangkah mudahnya. Itulah rupanya yang menjadi landasan pemikiran mereka selama ini.   Maka Joki mengepalkan tangan untuk menahan geram yang meronta-ronta dalam dadanya. Orang-orang berjejalan di dalam oplet.   Aku anak mereka, pikir Joki lagi. Karena itu aku memakai Marga Tobing. Begitu gampangkah mereka menghapus marga itu setelah aku lahir ke dunia ini? Aku lahir bukan atas kemauanku sendiri. Bukan kemauanku pula bahwa aku harus memakai Marga Tobing dan dilahirkan oleh Mama. Bukan kemauanku! Lantas, sekarang, apakah masih bisa ditolerir jika mereka memaksakan ke­hendak mereka pada diriku? Bah!   “Mama dan Papa sepakat untuk tidak mengakui kau sebagai anak.” Bah! Risikonya? “Tidak mendapat warisan.” Bah, bah, bah!   Apakah mereka pikir aku membutuhkan harta wa­risan itu? Bah! Apakah mereka pikir aku mau menggu­nakan harta hasil korupsi itu setelah aku sadar tentang nilai kehidupan yang sesungguhnya? Apakah mereka pi­kir aku mau menerima harta yang berasal dari cara-cara yang kotor itu? Fuih! Terlalu! Bahkan orang tua pun se­buruk itu sikapnya. Landasan pemikiran mereka sebe­jat penjahat yang paling busuk. Lantas, masih harus dipatuhikah orang tua semacam itu?   Joki menoleh lewat jendela oplet. Di depannya duduk seorang gadis. Sejak tadi gadis itu memperhatikan rahang Joki yang bergerak-gerak menahan geram. Gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandang matanya begitu pandang mata mereka bentrok.   Dan, Joki ingat Meinar. Gadis itu memang gadis yang baik. Dia hanya menjadi korban dari kekuasaan orang tuanya yang sewenang-wenang. Dia tak pernah berani membangkang. Akibatnya, sekarang dia harus mengalami hal yang paling pahit. Jika seluruh handai-keluarga tahu, padahal aku menghilang, bukankah itu menampar muka mereka sendiri?   Sakitnya memang tak seberapa. Tetapi, malunya itu! Siapa yang bisa menanggungnya? Seorang Batak siap menghadapi rasa sakit memang, tetapi rasa malu hanya bisa dicuci bersih dengan darah!   Ke mana arah oplet ini?   Sejak tadi Joki tak memperhatikan arah oplet yang ditumpanginya. Tetapi, karena dia melihat para penumpang seorang demi seorang turun, dia pun lantas turun di dekat rumah Wawan.   Wawan sedang tiduran. Dia tidak bangkit ketika Joki menyeruak masuk ke kamarnya. Cuma matanya yang bertanya-tanya.   “Tak ada acara?” tanya Joki.   Wawan menggeleng dengan kepala berbantalkan tangan.   “Aku bingung,” kata Joki.   Alis Wawan terangkat.   “Aku dipaksa lagi,” lanjut Joki.   “Meinar, bagaimana?”   “Aku tak pernah ketemu dia sejak hari yang kuceritakan dulu.”   “Aku juga tak pernah ketemu,” kata Wawan.   “Kok jadi kacau begini,” kata Joki sembari menggaruk-garuk kuduknya.   Wawan mengeluh sambil bangun.   “Orang tuaku tidak mau mengakui aku sebagai anak kalau aku menolak kehendak mereka,” kata Joki.   “Lantas?”   “Persetanlah!” Joki menyibak rambutnya.   Wawan berdiri. Dia merentangkan tangan untuk mengejangkan tubuh. Dia menggeliat beberapa kali.   Joki menarik-narik rambutnya. Matanya merah.   “Mau minum?” tanya Wawan.   Joki menggumam.   Wawan keluar mengambil Coca-cola.   Dan, mereka minum langsung dari botol.   “Cari lonte yuk?” kata Joki.   Wawan tersedak dan terbatuk-batuk. Minuman itu masuk ke saluran pernapasan. Dia menoleh ke pintu. Untung pintu sudah ditutup tadi.   “Gila kau!” katanya.   Joki menyeringai.   “Berpakaianlah,” katanya.   Wawan tak menjawab. Dia meletakkan botol minumannya di meja, lalu menyambar bajunya yang tergantung di kapstok.   Di dalam bus, Wawan bertanya, “Sampai saat ini aku belum jelas, apa sebenarnya yang menyebabkan kau tidak mau kawin dengan Meinar?”   “Aku tak mencintainya,” kata Joki dalam satu tarik­an napas.   “Ah, itu bukan alasan. Banyak perkawinan, apalagi kalau masih ada hubungan keluarga, tidak didasari cin­ta bisa bahagia.”   “Ya, barangkali. Tapi, aku tidak berpikiran begitu.”   “Toh Meinar cukup cantik. Malahan, dia punya pesona yang tidak dimiliki gadis lain. Ada semacam potensi tersembunyi dalam dirinya. Barangkali darah Batak yang menyebabkan. Dia menyimpan vitalitas yang kuat.”   “Hm, mungkin.”   “Lalu, kenapa kau tidak berusaha mercintainya?”   “Aku sudah pernah mencoba, dan ternyata aku tak bisa mencintainya.”   “Ah, masak? Apa tak ada alasan lain?” ujar Wawan.   Joki menoleh. Kemudian berpikir-pikir.   “Mungkin karena aku tak menyukai orang tuaku dan orang tuanya,” katanya pelahan. “Aku ingin menentang orang-orang tua itu.”   “Wah!”   Joki menatap bangunan-bangunan megah di luar bus. Mereka kemudian sampai di terminal. Lalu mereka ganti naik oplet ke jalan arah Bogor.   “Kasihan Meinar,” kata Wawan.   “Dan, kasihan kita,” kata Joki.   Wawan tertawa kecil.   “Orang-orang muda yang malang,” katanya.   “Dan, orang-orang tua yang otoriter,” kata Joki.   “Bertemu dalam adat yang kokoh.”   “Adat yang disalahgunakan.”   “Lantas?”   “Lantas, hidup bebas-lepas. Ingat kata Chairil: Pa­cu kuda yang paling liar, peluk-kecup perempuan, ting­galkan kalau merayu.”   “Waaah!” Dan, keduanya tertawa mengakak di dalam oplet yang penuh penumpang itu.   “Kalau tak begitu, kita bisa masuk rumah sakit jiwa ya?” kata Wawan.   “Atau, kalau tidak, jadi pemadat.”   “Jadi....?”   “Daripada jadi orang gila atau pemadat, lebih baik kayak kita ini.”   “Cari perempuan yang cantik dan ramah?”   “Di mana itu gampang dicari kalau bukan di tempat yang kita tuju sekarang ini?” Tawa mereka kembali meledak.   “Aku yang bayar makanan dan minuman nanti. Kau yang bayar itunya,” kata Wawan.   “Wow, berat kau. Aku mau minum sebanyak-banyaknya nanti.”   Dan, tertawa lagi mereka.   Di kompleks perumahan yang mereka masuki, mereka pun tertawa lagi. Tertawa. Tertawa. Tertawa!   Mereka tertawa, tetapi apa makna tertawa itu?     ***     “Jadi, kau akan menikah juga dengan lelaki itu?” Widuri mengangguk.   Anton menggaruk-garuk dagu.   Erika membisu.   “Sudah kau pikirkan risikonya? Soalnya, aku tak berhasil mendapatkan pensahan dari Kedutaan Amerika. Stephen sudah punya anak-istri di negerinya. Jadi, kedutaan tak mau memberikan izin perkawinannya di sini.”   Widuri diam. Erika memperhatikan kerut-kerut halus di pinggir mata perempuan itu.   “Apa yang kauharap dan perkawinan itu, Mbak Wik. sedangkan kau tahu kau tidak mencintainya?” Erika bertanya hati-hati.   “Saya butuh perlindungan, Ika.”   Anton menggeleng-geleng.   “Landasan perkawinan itu sangat tidak stabil,” katanya.   “Saya selamanya merasa lemah dan kecil. Lebih-lebih di Jakarta ini,” kata Widuri.   Anton mengangkat bahu.   “Setiap orang merasa dirinya lemah dan kecil di Jakarta ini. Hanya dengan bertarung maka kita menjadi kuat dan besar,” katanya kemudian.   Widuri menunduk.   “Dia tidak selamanya di Indonesia ini,” kata Erika.   “Suatu ketika, kalau kontraknya habis, tentu dia pulang ke negerinya.”   “Ya, saya tahu.”   “Dan, kau akan sendiri lagi.”   “Tapi, saya sempat punya suami.” Suara Widuri tersekap di tenggorokan.   Erika melepaskan napas berat.   “Saya mengerti,” katanya kemudian pelan-pelan. Lalu dia menatap suaminya.   “Ya, aku mengerti,” kata Anton pula. “Ada kalanya orang merasa tidak tahan sendiri. Sepi itu seperti hantu yang mengerikan. Di saat seperti itu, kita memang mem­butuhkan ada yang mendampingi kita.”   “Saya dikejar-kejar rasa bersalah selama masa belakangan ini. Saya tidur dengan lelaki yang bukan suami saya. Saya tidur dengan lelaki yang tidak diikat perkawinan dengan saya. Saya merasa diri saya tak ubahnya pelacur.”   Erika menekap mulut.   “Saya berbuat dosa beberapa waktu ini,” lanjut Widuri lambat-lambat. “Apa yang bisa mengakhirinya kecuali perkawinan? Kalau tidak, saya akan tetap diburu dosa saya. Saya takut. Saya takut.”   Anton menatap istrinya. Erika meremas-remas saputangannya.   “Saya menyesal. Saya sudah telanjur mengikuti dorongan nafsu. Jika anak saya tahu kenyataan ini, ah! Alangkah buruk ibunya!”   Suara Tody Kecii terdengar dari luar. Dia bermain-main dengan pemomongnya.   Tanah sepanjang yang telah kering. Matahari sesiang tadi memanggangnya. Cuma, debu gampang sekali be­terbangan.   “Kasihan Mbak Wiwik,” keluh Erika, di dalam mobil.   Anton cuma bergumam. Matanya awas mengikuti kendaraan di depannya. Dia telah memakai persneling tiga. Mobil yang dikendarainya, semakin menjauh dari gang di depan rumah Widuri.   “Mas Anton,” tegur Erika.   “Hm.” Anton tak mengalihkan pandang dari arah depan.   “Sebaiknya, Mas ke tempat Zul. Ajak dia mencari Joki.”   “Lantas?”   “Pertemukan dengan Mbak Wiwik.”   “Hm.” Anton bergumam sambil memikir-mikir.   “Entah kenapa, aku waswas kalau Mbak Wiwik kawin dengan lelaki Amerika itu. Aku khawatir Mbak Wiwik mengalami kepahitan lagi.”   “Aku juga,” kata Anton.   “Barangkali kalau ketemu dengan Joki, Mbak Wiwik akan mengurungkan niatnya.” Nada suara Erika mengambang.   Anton menambah kecepatan mobilnya, mendahului mobil di depannya.   “Tapi, aku belum tahu manusia macam apa laki-laki bernama Joki itu. Aku khawatir kalau perkiraan Widuri benar-benar terjadi. Dia meninggalkan Widuri begitu dia tahu bahwa Widuri seorang janda. Itu lebih memukul perasaan Widuri yang rapuh.”   “Ya,” kata Erika. “Tapi, dari cerita Mbak Widuri, aku menarik kesimpulan bahwa Joki seorang yang baik. Mirip Faraitody. Tentunya dia tidak akan berbuat kasar pada Mbak Widuri. Laki-laki macam Faraitody adalah seorang yang halus perasaannya.”   Anton melirik istrinya sekilas. Sinar lampu mobil dari depan menimpa wajahnya.   “Cuma, belum tentu dia mau menerima kenyataan Widuri nanti.”   “Lho, kok kau malah ragu-ragu sekarang, Mas Anton?”   “Yah.” Anton mengangkat bahu.   “Jadi, kenapa sekarang ragu-ragu pula?”   “Aku pikir, perkawinan Widuri itu ada benarnya. Tak banyak orang muda yang mau menerima janda. Kebanyakan hanya mau memanfaatkan kesepiannya saja.”   “Kita belum tahu apakah Joki mau mempermainkan Mbak Widuri.”   “Hm. Kemungkinan jadi dua. Dia meninggalkannya, atau dia mempermainkannya.”   “Astaga! Kok pesimis begitu? Kemungkinannya ada tiga. Tambah lagi yang dua tadi. Kemungkinan dia akan tetap, atau bahkan tambah mencintai Mbak Widuri.”   Anton menoleh istrinya, dan tersenyum.   “Sejak dulu kau optimistis,” katanya.   “Karena itu jadi kawin dengan kau, Mas Anton.”   Anton tertawa diikuti Erika.   “Baiklah. Aku akan mencari lelaki bernama Joki itu, di Kota Metropolitan ini.”   “Nah, gitu dong. Toh bukan kayak mencari sebuah kerikil di antara timbunan kerikil. Betul, ‘kan?”   Anton tak menjawab. Dia mengambil belokan tajam ke arah rumahnya.   Lantas, siang harinya Anton ke Jalan Senen Raya, ke kantor Majalah Tempo. Matahari mencorong di la­ngit, menimpa jalan lebar di depan kantor itu.   “Joki?” gumam Zul. “Ya, aku kenal. Aku tahu rumahnya.”   “Antar aku ke sana,” kata Anton.   “Hm, kau sudah kenal lama?”   “Belum kenal sama sekali.”   “Jadi, ngapain ke sana? Urusan obyekan?”   “Aku tak pernah ngobyek.”   “Oh, ya. Dia juga tak pernah. Jadi, urusan apa?”   “Nanti saja kuceritakan di jalan. Ayolah. Aku bawa mobil.”   “Ow, kaya kau sekarang.”   “Ah, ini inventaris kantor.”   Tetapi, Joki sedang tidak ada di rumahnya. Kata pemilik rumah, sudah empat atau lima hari tidak pulang. Ke mana? Tak tahu.   Zul mengangkat bahu. Anton mengeluh.   “Kita harus cari lagi?” tanya Zul.   “Ya. Di mana dia biasanya kalau siang begini?”   “Sejak berhenti jadi wartawan, dia tak pernah lagi muncul di tempat-tempat biasa.”   “Ke mana harus dicari ya?”   Mereka melaju lagi di jalan raya.   “Ow, aku tahu!” kata Zul.   “Ya?”   “Ada yang bilang, dia sering di TIM. Barangkali dia mau jadi seniman.”   “Barangkali seni memang lapangan yang cocok buat orang frustrasi.”   Daun-daun pohon asam berluruhan ke pelataran. Sepatu Anton berdetak-detak. Di bawah pohon, beberapa orang muda tiduran. Semuanya santai. Rumput hijau membuat mereka dapat melupakan teriknya matahari yang menimpa Kota Jakarta. Dan, bisa pula melupakan pengapnya bus kota.   “Nah, itu dia,” kata Zul. Lalu dia mempergegas lang­kahnya. “Joki!” tegurnya ke arah Joki.   Joki yang duduk melengut di bawah keteduhan pohon mengangkat kepala. Sejak tadi dia tak mempeduli­kan hingar suara anak-anak LPKJ di Warung Dewi Indah.   “Ini Anton. Dia mau bicara sama kau.”   Joki cuma mengangkat alis, lalu mengangguk ke arah Anton.   Anton menemukan mata yang tak berani bertatapan lebih dari satu detik. Di mata itu, ah, mata yang dihimpit oleh kemelut. Anton menghela napas.   “Baiklah, aku tinggalkan kalian di sini. Aku ada kerja di kantor,” kata Zul.   “Lho, mau naik apa kau?” Anton meraba kantong­nya.   “Ah, tak usah. Aku nompang Emanuel saja. Itu, dia. Oke? Ngomonglah sepuasnya.”   Anton menggumam. Dia kembali menatap Joki. Lelaki itu menaksir-naksir, tetapi kemudian menatap rum­put di tanah.   “Saya teman Widuri,” kata Anton.   Joki terpengaruh. Matanya mengkilat menatap Anton. Maka Anton merasa darahnya berdesir. Mata itu, tiba-tiba saja bagai mata harimau yang disakiti.   “Saya teman baiknya sejak di Yogya,” ujar Anton lebih lunak.   Kelopak mata Joki tak bergerak. Rahangnya menggeletar. Sehelai daun lebar jatuh menimpa bahunya. Le­laki itu hanya bereaksi sedikit.   “Widuri sudah menceritakan seluruhnya,” kata Anton. “Di antara kami, dia, saya, dan istri saya, boleh dikata tidak ada rahasia. Sejak lama, saya dan istri saya merasa bahwa dia adalah sebagian dari diri kami.”   Sinar dingin di mata Joki agak meredup.   “Saya kepingin bicara panjang dengan Anda,” kata Anton. “Di sini saja, atau sambil jalan-jalan?” Anton mengedarkan pandang keliling.   Joki tak menjawab. Dia hanya berdiri. Anton mengikutinya berdiri. Tinggi badan mereka berpadanan. Cuma, Joki lebih kurus. Bahunya agak tertekuk. Mukanya yang pucat agak kekuningan pucat. Tetapi, lebih hitam karena sapuan debu. Lusuh.   Kaki celana Joki yang lebar berdesah-desah ketika mereka mulai melangkah. Mereka berjalan menuju Gedung Utama TIM. Di bawah kerindangan pohon-pohon, Anton menceritakan keadaan Widuri sekarang.   Joki membisu, dan bibirnya bertaut dingin.   “Jadi, dia mau kawin dengan orang asing?” katanya kemudian. Suaranya mengambang, mengingatkan An­ton pada gaung di lembah sepi.   “Hm-hm.” Anton hanya bergumam.   “Hm.” Lebih dingin lagi tautan mulut Joki.   “Anda boleh membencinya jika dia memang melupakan Anda.”   Joki menoleh. Matanya menghunjam tajam menembus lekuk hati Anton yang paling dalam.   “Kenapa Anda begitu mencampuri urusannya?” Tiba-tiba Joki berkata dan membuat dada Anton menyenak.   Begitu dingin suara itu menyeruak. Suara seorang yang tidak bersahabat. Seperti sikap harimau terluka yang terperangkap, menatap benci kepada manusia yang mau menolongnya.   “Saya sangat bersimpati pada jalan hidupnya. Dia telah mengalami kehidupan yang sangat pahit,” kata Anton.   “Hm?” gumam Joki. Langkahnya tetap pelahan, berendengan dengan langkah Anton.   “Belum pernah saya bertemu dengan gadis sebaik dia. Kecuali istri saya tentunya.”   Joki menatap sepatunya yang terbenam di dalam rumput.   Ya, dia memang gadis yang baik. Aku juga belum pernah ketemu dengan gadis yang memiliki pesona seperti dia. Ketika aku mengelus helai-helai rambutnya yang terjurai, di Pantai Cilincing yang anginnya keras, tubuhnya yang lunak bagai tubuh anak kelinci. Di ruangan gelap di planetarium, tubuh itu tersandar ragu pada tubuhku. Dan, tubuh itu gemetaran ketika kucium di balik ge­rumbulan bunga itu. Joki menoleh rimbunan bunga yang selangkah dilewatinya.   Ah! Joki menarik napas dalam-dalam.   “Saya tidak ingin menceritakan riwayatnya,” kata Anton.   Tetapi, Joki sedang menatap langit yang cerah. Di sini memang cerah. Tetapi, di depan Kartika Plaza, bukan main teriknya. Di depan terali pagar, matahari menimpakan sinarnya ke tubuhku. Sengit panasnya. Lalu, dia keluar dari hotel itu dengan seorang lelaki asing. Dan, mesra sekali.   “Tapi, biarlah saya berikan sedikit gambaran. Bagaimana sikap Anda jika ada seorang gadis pemalu mencintai seorang pemuda pemalu juga?”   Joki gelagapan. Langkahnya terhenti.   “Ini terjadi beberapa tahun berselang. Dan, ada gadis lain yang karena iseng-iseng saja membawa gadis pemalu itu kepada kawan-kawannya. Di situ gadis itu dibius, dan diperkosa. Belakangan, pemuda yang dicinta gadis pemalu itu kawin dengan gadis yang menjerumuskannya tadi. Pada waktu itu, gadis pemalu tadi hamil akibat perkosaan teman-teman gadis yang kedua itu.” Sesaat Anton membiarkan ucapannya melayang.   “Dia mengalami itu?” tanya Joki terbata-bata.   Anton cuma mengangguk.   “Lantas?” Joki mendesak.   “Lantas, gadis pemalu itu kawin dengan orang di desanya. Dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Perkawinan itu hanya untuk menjaga nama baik. Tetapi, laki-laki itu kemudian merasa ditipu. Sebab, ternyata istrinya telah hamil lebih dulu.”   “Lantas?”   “Dia diceraikan suaminya ketika ayahnya meninggal.”   “Ah.” Joki menelan keluhan berat.   “Kemudian dia pindah ke Jakarta ini, dan Anda pun mengenalnya di dalam bus ketika hujan turun.”   Joki menelan ludah.   Anton menyodorkan rokok.   Joki menyulut sebatang.   “Bagaimana sikap Anda jika ditanya, ‘Apakah Anda dapat dan mau mencintai seorang janda yang sudah punya anak’?”   Jantung Joki terguncang.   “Dia punya anak?” katanya nyaris dalam bisikan.   “Ya, dia punya seorang anak. Itu yang membuatnya takut Anda datang ke rumahnya.”   Joki terdiam. Napasnya berat. Ada setumpuk batu menghimpit dadanya.   “Kebanyakan pemuda menolak perempuan yang tidak perawan lagi. Mereka menginginkan perempuan yang suci. Tapi, apakah kesucian itu identik dengan keperawanan saja? Apakah suci itu harus berarti tidak terjamah?”   Joki membisu. Tusukan-tusukan tajam menyusup ke relung dadanya. Nyeri.   Aku sendiri bukan seorang yang suci, kata hatinya. Lalu di kepalanya berkelebat bayangan Euis dan beberapa wajah pelacur.   “Dia takut kehilangan Anda, jika Anda tahu bahwa dia seorang janda.”   Joki merasa himpitan di dadanya bertambah berat.   “Dia merasa tidak layak berdampingan dengan diri Anda yang suci.”   Joki tersedak. Asap rokok masuk ke paru-parunya. Dia terbatuk-batuk.   Apakah aku suci? Apakah aku suci? Apa yang sudah kukerjakan selama ini? Ah, ah, ah! Joki menghela napas berat.   “Walaupun kata suci itu sering disalah-artikan, tapi dia sungguh-sungguh merasa dirinya terlalu hina untuk Anda cintai. Jangankan jadi janda, sewaktu gadisnya pun dia tak berani berterang-terangan mencintai seseorang. Cuma dorongan gaib yang agaknya membuat dia menjadi akrab dengan Anda beberapa lama ini.”   Joki menggaruk-garukkan ujung sepatunya ke rumput.   “Kata suci sering hanya diberlakukan bagi pihak perempuan. Laki-laki selamanya merasa dirinya bersih. Apa pun keliaran yang pernah dia lakukan, tapi kalau sudah dalam soal bercinta, dia selamanya menuntut sebagai orang pertama.” Anton menoleh ke arah Joki. “Barangkali Anda termasuk laki-laki puritan. Laki-laki yang ingin hidup bersih. Barangkali Anda menolak perempuan yang tidak lagi gadis.”   Joki menggigit bibir. Mukanya terasa panas.   Bersihkah hidupku? Lantas, bayangan seorang perempuan setengah baya, ibu kost-nya yang pernah mengajarinya beradegan ranjang, melintas dengan seringai ejekan. Lantas perempuan lain, perempuan simpanan ayahnya. Bah! Joki terperangah.   “Tapi, ketahuilah bahwa dia hanyalah seorang korban dari suatu keadaan yang sangat getir!” Anton menyentuh bahu Joki. “Sering sekali. soal suci atau tidak suci itu hanya dipersangkutkan dalam soal seks, Padahal, menurut hemat saya, bukan itu saja. Melainkan menyentuh hal yang lebih dalam lagi. Yaitu pada hati. Kesucian hati ini hanya bisa diukur dengan cinta. Hanya cinta! Hanya itu yang bisa membedakan suci atau tidak dalam kehidupan laki-laki dan perempuan.”   Joki tetap membisu.   Anton menariknya untuk kembali melangkah. Sekejap Joki gelagapan. Tetapi, kemudian dia berkata, “Ya.”   “Walaupun sekarang sudah tahu dia seorang janda?”   Joki menoleh. Beberapa ketika mata mereka bersabung. Resah berloncatan dari mata Joki, Anton tak berkedip. Dia sudah biasa menghadapi mata semacam itu, mata orang-orang yang menjadi obyek ilmu psikologinya.   Dan, di bawah sinar mata Anton, keresahan Joki berangsur-angsur mereda. Seperti permukaan danau yang berguncang-guncang dan kemudian tenang dan damai.   “Saya sendiri bukan orang yang suci.” Bibir Joki terkuak pelan-pelan. “Saya seorang yang kotor. Saya kira dia lebih suci dari saya.”   Anton melepaskan napas yang sejak tadi tertahan.   “Lantas, maukah Anda bertemu dia?”   Joki mengangguk kuat-kuat seperti samurai Jepang.   “Terima kasih,” desah Anton. Dia merangkul Joki dengan mata basah. “Terima kasih, Joki. Anda.... ah, lebih baik aku ‘berkau’ saja. Kau telah menyelamatkan hidup seorang yang sengsara.” Anton mengusap mata. “Ah, kadang-kadang aku jadi sentimentil. Darah Manadoku memang gampang menghanyutkan emosiku,” lanjut Anton seraya tertawa. “Laki-laki yang dicintai Widuri dulu adalah sahabatku. Aku ingin kau pun menjadi sahabatku.”   “Aku akan datang ke rumahnya,” kata Joki.   “Kau tahu rumahnya, ‘kan?”   “Gang rumahnya aku tahu. Aku akan mencarinya.”   “Cari saja rumah yang bergordin hijau, dan paling bersih.”   Aku akan datang. Aku akan datang. Dan, Joki melayangkan pandangannya ke botak planetarium yang mengkilap ditimpa sinar matahari. Lalu dia menatap gerumbul bunga di plaza. Hatinya berloncatan di sela bunga-bunga dan kendaraan yang terparkir di situ.   Matahari lebih cerah dari hari kemarin.   Dari kantornya, Anton menelepon Widuri, dan menceritakan jalannya missinya.   Di seberang, sesaat Widuri terpana. Telapak kakinya panas. Handel pesawat telepon yang dipegangnya menjadi licin oleh peluh. Telapak tangannya basah. Dia hanya bisa mendesahkan kata: ya, oh, ah, ya, oh, ya, pada setiap ujung kalimat Anton.   Andai saja Anton melihatnya, maka dia akan terharu. Sebab, Widuri tersandar di kursinya, dan samar-samar air matanya mengalir bening. Pipinya basah.   Dia akan datang. Kendati dia tahu keadaanku, dia akan datang. Tuhan, ternyata Kau tidak melupakan aku. Tuhan, ternyata hari-hari pahit yang Kau-berikan hanyalah permulaan buat hari cerah yang akan kuperoleh. Tuhan, kupercayai kekuasaan-Mu memberiku laki-laki yang baik di tengah-tengah kota yang kejam ini.   Maka Widuri inginkan sore hari cepat datang. Maka dia pamit pulang lebih awal dengan alasan sakit.   Akan halnya Joki? Dia memasuki gang di depan rumahnya dengan langkah pasti. Gang yang dalam beberapa hart ini tak pernah dipijaknya. Lama juga dia tak bersiul-siul. Maka siang itu dia ingin bernyanyi. Seorang anak kecil yang sedang bermain-main di mulut gang di­jentiknya dagunya. Hari pun bertambah cerah sebab anak kecil itu tertawa terkekeh-kekeh.   Tetapi, tawa yang semula menggeliat di dada Joki surut mendadak. Di ruang depan rumahnya ada tamu. Monang dan seorang lelaki yang selamanya membuat rasa tidak aman, telah menunggunya.   “Nah, akhirnya muncul juga,” kata ayahnya.   “Well. Kapan Papa datang?”   Lelaki tua itu menatap sirik.   “Hm, anak durhaka.” gumamnya sengit.   Joki mengangkat bahu. Dia mengedikkan leher ke arah Monang.   “Kau tidak ingin menengok mamamu di rumah sakit?”   “Ha?” Joki menatap ayahnya.   “Namboru sekarang di rumah sakit,” kata Monang.   “Sejak pulang dari sini tempo hari, jantungnya kumat.”   “Lantas sekarang, apa mau kaubilang?” Suara ayah Joki tajam.   “Apa yang mau aku bilang? Mudah-mudahan cepat sembuh.”   “Bangsat!” Ayahnya meloncat hendak memukul, tetapi Joki sigap menjauhkan diri. Ayahnya mengejar, tetapi Monang cepat-cepat merangkulnya.   “Sabar, Amangboru, sabar. Kita bicarakan baik-baik,” kata Monang.   Joki tak berani menatap ayahnya. Sementara itu, lelaki tua itu sedang berusaha menahan luapan dalam dadanya. Karena itulah matanya menyala dan dadanya berombak. Lelaki tinggi besar itu mengkeriut-keriutkan geraham. Rahangnya yang menonjol bergerak-gerak.   “Anak durhaka!” katanya kemudian dengan suara tersekap. Lalu dia pun duduk.   “Keadaan Namboru kritis sekali,” kata Monang.   Joki membisu. Dia bersandar ke dinding. Perasaan ngeri masih menyelinap-nyelinap dalam dadanya. Khawatir kalau ayahnya tiba-tiba melompat lagi dan menempelengnya.   Inilah lambang kekuasaan otoriter yang sewenang-wenang. Dia mengutukku sebagai anak durhaka lantaran Mama sakit. Tapi, pernahkah dia menilai dirinya sendiri? Dia bermain-main dengan perempuan lain, dan sekarang dia berlagak membela Mama. Fuih! Munafik!   Joki menyalakan rokoknya.     ***   Selamat Pagi, Lia   Kenapa Joki tak muncul? Widuri berkali-kali menatap keluar lewat pintu, tetapi cuma sepetak halaman sempit yang nampak. Sisa sabun mandi masih terasa se­gar di badan. Dan, harum parfum menyusup halus ke hidung. Kulitnya segar. Tetapi, apa arti semua ini? Wi­duri mengeluh tanpa terdengar.   Di mana Joki? Widuri menekap bimbang yang mengguit-guit hatinya. Betulkah yang dibilang Anton lewat te­lepon tadi siang? Benarkah Joki tidak akan mempersoal­kan keadaan diriku yang seperti ini? Widuri meneleng­kan kepala, mendengarkan suara Tody. Tetapi, anak ke­cil itu barangkali dibawa pemomongnya ke luar halaman.   Benarkah Joki mau datang?   Matahari semakin menggelincir di langit barat.   Benarkah dia mencintaiku apa pun adaku? Betulkah?   Sangsi kian berat menekan diri Widuri.   Dalam pada itu, Joki melangkah ragu-ragu di sepanjang gang Rumah Sakit St. Carolus. Bau formalin meng­ambang. Suasana sakit menekan perasaannya. Dia paling tidak senang menghadapi suasana sakit.   Langkah ayah Joki dan Monang berdetuk pelahan di kiri-kanan Joki. Mereka berpapasan dengan perawat berpakaian putih. Tetapi, wajah perawat yang teduh itu tak berhasil menenangkan galau yang berputaran di dada Joki.   Di pintu kamar, Joki bertemu pandang dengan ito-nya, adik perempuannya. Gadis remaja itu bersimbah air mata. Inilah adik yang sudah sekian tahun tak dilihat oleh Joki. Adik yang dulu masih berkepang dua, kini sudah menjadi seorang gadis yang cantik. Ah, alangkah cepat waktu berlalu. Alangkah baik alam sekarang, menjadikan gadis-gadis lebih cantik dibandingkan gadis-gadis pada masa lalu.   “Bang Joki,” sapa gadis itu.   “Lia,” gumam Joki.   Dan, Lia menerkam Joki serta membenamkan tangisnya di dada lelaki itu. Maka, nyes, sejuk dada Joki dibuatnya. Haru itu mengusap-usap hati Joki hingga lekuk-­lekuk yang paling tersembunyi selama ini. Inilah Lia yang selalu menghalangi ayah mereka menghajar Joki. Lia yang setia mengambilkan makanan ketika Joki tak mau masuk ke rumah dan makan bersama saudara yang lain. Inilah dia sekarang, seorang gadis cantik berambut ikal dan bermata seindah bintang.   Jangan menangis, Adikku, jangan menangis. Tetapi, Joki sendiri merasa matanya panas dan pipinya basah.   “Lia datang mau melihat perkawinan Abang. Tapi, ternyata Mama jatuh sakit. Ah!” Lia kembali membenam­kan tangisnya ke dada abangnya.   “Sudahlah,” kata Joki mengusahakan nada suaranya segagah mungkin. Padahal, hatinya bagai diremas-remas oleh tangan berduri.   Joki mendorong kepala adiknya menjauh dari dadanya. Dia menatap wajah Lia yang dibasahi air mata. Matanya bagai sumber air sejuk, tetapi sumber itu sepi. Sangat sepi. Inilah gadis yang dibesarkan oleh tekanan kesewenang-wenangan orang tua. Inilah gadis yang terhimpit di antara dua orang tua yang keras. Inilah gadis yang mengetahui bahwa ayahnya bukan lelaki yang baik. Inilah gadis yang harus menahan gunjingan teman-temannya yang membicarakan kejelekan ayahnya. Ini­lah gadis yang tahu siksaan batin ibunya. Inilah gadis yang harus menerima sikap keras ibunya sebagai kompensasi atas tingkah suaminya. Inilah dia.   Maka Joki mencium kening adiknya. Dan, Lia menangis lagi.   Mereka masuk ke ruang paviliun perawatan ibu mereka. Dan, jantung Joki menggelepar. Napasnya seketika sesak. Hampir saja dia berlari keluar. Untunglah Lia menahannya dengan rangkulan. Maka dikuatkannya hati untuk melangkah.   Ibunya terbaring dengan masker zat asam. Mata perempuan tua itu melirik sekejap. Mata yang letih. Oh, murungnya pandangan mata itu. Ini bukan lagi mata seorang ibu yang pemarah. Ini mata ibu yang sakit. Oh, mata ibu yang telah melahirkan anak-anaknya dengan susah-payah.   Dalam rangkuman masker pada hidung dan mulut­nya, perempuan tua itu bernapas satu-satu. Udara pun lantas menjadi berharga sekali.   Tak ada lagi sinar kemarahan di mata itu. Yang ada hanya sinar keletihan. Mata itu telah lunglai akibat per­jalanan hidupnya yang pahit.   Oh, inikah seorang ibu yang setiap hari marah-marah kepada anak-anaknya itu? Inikah perempuan Batak yang tidak berani menghujat suaminya kendati mengetahui tingkah tidak senonoh suaminya itu? Ya, inilah perempuan yang dari hari ke hari menahan gunjingan para tetangga tentang polah suaminya. Oh!   Maka Joki berjongkok dan mencium tangan ibunya yang terkulai lemah. Jari-jari tangan perempuan itu menggeliat pelahan. Kemudian telapak tangan perem­puan itu mengusap muka Joki. Tangis Joki tersekap. Ketika terasa air mata membasahi tangannya, perempuan itu menggeliatkan tangannya lagi. Lia berjongkok di samping abangnya, dan menangis pula. Maka Joki terguguk mendengar tangis adiknya ini.   Matahari telah lenyap. Langit yang kelam terlapisi cahaya merah. Sepotong bulan mengintai di balik atap-atap rumah di gang itu.   Widuri mengusap matanya yang perih. Sejak tadi dia menatap ke ujung gang. Di situ ramai, tetapi sepi bagi gadis itu. Sepotong bulan tergantung diam-diam di langit.   Ternyata dia tak datang. Anton berdusta. Ah, An­ton tidak berdusta. Dia orang baik, tak mungkin dia berdusta. Cuma, barangkali Joki mengubah pikirannya. Atau, barangkali dia hanya berbasa-basi di depan Anton. Barangkali dia segan membantah anjuran Anton. Barangkali hanya berpura-pura sanggup datang. Barangkali, ah, setumpuk barangkali mendera-dera Widuri.   Maka gadis itu merasakan beliung tajam nenghunjam ke lekuk dadanya. Luka, tapi tak berdarah. Perih dan getir yang dirasakannya.   Di halaman rumah, seonggok bunga dalam pot membisu. Bunga itu ada yang kering, tetapi tidak gugur. Apa bedanya? Telah hilang keindahan bunga itu. Bunga ke­ring dalam pot, apa artinya?   Widuri membawa tubuhnya ke tempat tidur. Dia membenamkan mukanya ke bantal.   Bulan di langit mengikuti perjalanan Joki. Di dalam mobil itu, Lia rapat ke tubuh abangnya. Tangan gadis itu tak lekang dari pergelangan tangan Joki. Padahal, menurut adat Batak ulah seperti ini sangat terlarang. Sebagai ito tak boleh memperlihatkan kemesraan seperti itu. Kakak beradik yang berlainan jenis tak boleh terlalu akrab. Tetapi, apa peduli mereka sekarang?   Joki adalah abang yang sangat baik hati bagi Lia, dan Lia adalah adik yang sangat menyenangkan bagi Joki. Di antara saudara-saudaranya, hanya Lia yang dekat dengan Joki. Hanya Lia yang bisa membujuk Joki agar mengerjakan PR dari sekolah. Adapun saudara-saudara yang lain? Freik! Dengan abangnya, Joki selalu bakuhantam. Dengan adiknya yang lelaki, Joki selalu ingin menjitak kepalanya sebab adiknya ini berani lancang memakai barang-barang milik Joki. Lia adalah adik yang ma­nis. Manisnya berbeda dengan kakak perempuan yang juga baik hati. Ya, Joki hanya mempunyai dua orang ito, satu orang kakak yang mau membagi uang dan, sa­tu lagi adik yang menyayanginya.   “Lia kepingin cerita-cerita sama Abang,” kata Lia memecah kesunyian.   Joki cuma bergumam. Rambut adiknya tercium harum olehnya. Mobil yang membawa mereka meluncur ke arah Menteng. Mereka telah melewati Bioskop Megaria. Angin bulan Juli melintas di Jakarta. Bulan diam-diam mengikuti setiap kendaraan. Joki dapat merasa­kan napas adiknya yang teratur setelah tadi puas me­nangis. Barangkali sejak beberapa hari ini dia memang kepingin menangis. Baru tadi dia mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menuangkan tekanan batin.   Mereka di rumah Tulang Sahala. Joki masih tetap tak suka mengadu pandang dengan tulangnya. Lelaki tua itu pun berusaha untuk tidak bentrok pandang dengan bere-nya.   Meinar hanya sebentar menemani Joki dan Lia. Dia tahu bahwa kakak-beradik itu membutuhkan waktu untuk bicara berdua. Itulah kenapa dia buru-buru mening­galkan mereka berdua di teras.   “Nah, kelas berapa kau sekarang?” tanya Joki.   “Kelas tiga.”   “Wah, kok cepat sekali?”   “Cepat? Lia baru kelas tiga SMP.”   “Ooo.” Joki menaksir-naksir adiknya. “Tapi, kau kelihatan sudah begini besar.”   Anak-anak zaman sekarang memang lebih cepat pertumbuhan badannya, pikir Joki.   “Lia sedih sekali, Bang Joki. Mama sakit, dan kelihatannya parah.”   “Ah, Mama akan sembuh,” hibur Joki.   “Tapi, belum pernah Mama mengalami begitu. Sampai pakai bantuan pernapasan.”   Joki tak menjawab. Sebenarnya dia juga ngeri memikirkan keadaan ibunya.   “Kenapa Abang tak mau kawin dengan Kak Mei?”   Joki terperangah.   Lia menatapnya nanap. Lalu, pelan-pelan Joki menjawab, “Sebab, Abang mencintai perempuan lain.”   “Tapi, Mama lantas jadi sakit. Lia takut kalau Mama sampai.... Ah, Lia takut. Lia takut....”   “Mama akan sembuh. Mama akan kembali sehat.”   “Tidak. Kalau Abang masih tetap menyakiti hatinya....”   “Abang tidak menyakiti hatinya.”   “Tapi, hati Mama sakit. Itu yang menyebabkan Mama sakit. Begitu kata dokter pada Papa.”   Joki terdiam.   “Kalau Mama sampai... ah! Lia tidak tahu apa yang terjadi.”   Joki mengurut-urut tenggorokannya yang tersekat.   Lia memutar-mutar asbak di meja. Joki membuang abu rokoknya di lantai. Jari-jari tangannya gemetaran. Berkali-kali dia menyerpihkan abu rokoknya.   “Kalau Mama nggak ada, Papa pasti akan kawin lagi. Ah, Lia takut.”   “Mama akan sembuh!” Suara Joki menyentak.   Kepala Lia terangkat. Matanya berkilauan.   “Ya, Mama akan sembuh,” ucapnya kepada diri sendiri. Kemudian dia menghunjamkan tatapan kepada abangnya. “Tapi, kalau hatinya masih sakit, dia akan tetap sakit.”   “Ah, Mama sakit jantung, bukan hati!” bentak Joki.   “Kalau hati Mama sakit, jantungnya juga akan sakit.”   “Ah, tahu apa kau soal penyakit?” Suara Joki tambah keras.   Bentakan itu membuat Lia tersentak. Matanya menyorotkan sinar ketakutan. Seperti merpati yang sudah dalam cengkeraman dan siap disembelih.   Maka Joki mengurangi tekanan suaranya, “Percayalah, Lia, Mama akan sembuh kembali.”   Berangsur ketakutan gadis remaja itu lenyap. Lalu matanya kembali berkilauan bagai bintang.   “Ya? Mama akan sembuh?” katanya.   Joki mengangguk menguatkan.   Lia tersenyum bagai bunga mawar mengorak di pagi hari.   “Kalau begitu, Bang Joki jangan pulang nanti. Abang harus di sini. Menemani Lia menunggu Mama di rumah sakit.”   “Kau menunggui Mama?”   Lia mengangguk.   “Setiap malam?”   “Setiap hari, setiap malam.” Lia tersenyum lagi.   Ah, jika ternyata gadis seremaja dia begitu memperhatikan Mama, lantas macam apa aku ini sebagai anak? Jika nyatanya gadis semuda ini memprihatinkan Mama, lantas lelaki macam apakah aku ini? Sebaris keluh berloncatan di dada Joki.   Keluh yang lain macamnya bergalauan di dada Widuri. Di depannya, tegak Tuan Stephen.   “Sakitmu parah, Widuri? Beberapa hari tidak masuk kantor,” kata lelaki Amerika itu. Suaranya yang berat berirama lunak.   Tak ada yang sakit sebenarnya. Hanya saja, Widuri memang malas ke kantor.   Tuan Stephen meletakkan oleh-oleh yang dibawanya. Widuri hanya sekejap melirik bungkusan di meja itu.   “Sudah ke dokter?” tanya Tuan Stephen.   Widuri menggeleng.   “Mengapa? Pergi ke dokter perusahaan.”   Widuri tak menjawab.   Dokter medis mana yang bisa memberikan diagnosa yang tepat bagi penyakit yang kuderita ini? Takkan seorang dokter pun bisa memberikan obat. Kerusakan bukan pada fisik, melainkan pada sudut-sudut perasaanku yang paling gelap. Ada jarum yang menggoret-goret di sana. Nyeri sekali. Barangkali hanya sayatan nadi pada leher yang bisa menandingi. Ah, alangkah nyaman jika darah menyembur dari leher. Segalanya akan berakhir. Segalanya. Ah, tapi tidak bagi Tody. Takkan berakhir buat Tody yang kecil dan lemah.   Demi Tody maka kehidupan ini harus kupertahan­kan. Cuma, kenapa aku harus mengalami kegetiran demi kegetiran? Apakah jalan nasibku memang berisi garis hitam belaka? Apakah kismetku tak pernah terang? Apakah bintang hidupku memang bintang yang pudar sinarnya?   Widuri menatap sekilas lelaki yang duduk di depannya. Tuan Stephen memandang lahap dengan pandangan mesra. Hangat. Tetapi, sungguhkah hangat? Dia mau mengawiniku. Tapi, itukah penyelesaian yang paling tepat? Perkawinankah penyelesai setiap kemelut? Anton dan Erika sudah berusaha mempertemukan aku dengan Joki. Anton bilang, Joki akan datang. Anton tak pernah mendustaiku. Biarpun nyatanya Joki tak muncul, toh Anton sudah berusaha mengatasi kemelutku. Akankah itu sia-sia adanya?   Tapi, ah, Stephen memang sangat baik. Senyumnya masih selunak dulu juga. Dia mau mengawiniku. Cuma, Anton dan Erika berusaha agar aku tidak dilibat persoalan panjang nantinya. Walau usaha mereka tidak ber­hasil membebaskan aku dari persoalan yang paling dalam, bukankah mereka sudah menunjukkan diri seba­gai sababat?   Mata Tuan Stephen yang biru menatap nanap.   Dan, peperangan bergolak dalam dada Widuri.   Di rumah Tulang Sahala, terjadi gencatan senjata. Perdamaian antara Joki, ayah, dan tulang-nya telah terjadi. Joki sibuk mondar-mandir dari Rumah Sakit St. Ca­rolus ke rumah Tulang Sahala. Kesehatan ibunya semakin pulih. Perdamaian rasanya sudah benar-benar menyungkup mereka. Lalu pembicaraan serius pun dimulai. Ibarat perang yang sudah berakhir, perundingan dilaksanakan untuk menyusun traktat.   Sementara orang-orang tua berunding untuk melaksanakan horja, yakni pesta adat besar-besaran, Joki termangu-mangu di teras dengan ditemani adiknya. Biarlah anak boru bersama-sama dengan dongan sabutuha beserta hula-hula merundingkan rencana horja[1]itu. Joki lebih senang menyelimuti dirinya dengan murung yang tak diketahui dari mana asalnya. Dia tidak lagi menolak perkawinannya dengan Meinar. Keputusan itu diambilnya setelah melihat ibunya merasa senang terhadapnya. Ada telusuran nyaman di hati melihat keramahan ibunya.   Sesekali memang masih melintas bayangan Widuri. Ah, biarlah dia menikah dengan lelaki asing itu. Barangkali dia memang menemukan kebahagiaan dengan lelaki itu. Jika aku tak datang padanya, tentunya dia akan meneruskan hubungannya dengan lelaki Barat itu.   Lantas, ingatan pada suatu siang di depan Kartika Plaza menyentuh perasaannya. Widuri bergandengan dengan lelaki Amerika itu. Takkan ada yang merasa kusakiti jika aku tak muncul di depan Widuri. Dia bisa meneruskan hubungannya yang akrab dengan lelaki berkulit putih itu. Barangkali dia memang mencintai lelaki itu. Biarlah. Aku sendiri pun tak tahu apa sebenarnya makna cinta itu. Aku tak tahu apakah aku mencintainya, atau aku tidak mencintai Meinar. Semuanya sama saja sekarang. Tak perlu lagi cinta dibicarakan. Cinta cukup dalam imajinasi saja. Dalam kenyataan, lebih baik me­nerima apa yang terpampang dan memilih mana yang paling sedikit membawa persoalan. Tak perlu lagi men­jadi pejuang yang gigih menantang kehidupan. Tak perlu lagi. Lebih baik memilih kehidupan yang paling sedikit tantangannya. Lebih baik memilih kehidupan yang di­senangi orang tua walau mematikan keinginan pribadi. Biarlah berjalan kehidupan yang adem-ayem-tentrem. Kehidupan tanpa tantangan!     ***     Persiapan perkawinan Joki dengan Meinar semakin kentara. Kesibukan orang-orang di rumah Tulang Sahala kian terasa. Tetapi, semuanya malah membuat Joki semakin tersudut dalam ketermangu-manguan. Kalau tidak termangu, dia melepaskan diri dari suasana rumah itu dengan jalan membawa Lia melihat-lihat beberapa tempat di Jakarta. Tak ada libatan emosionil dengan sua­sana menjelang perkawinan besar-besaran itu. Pada perasaan Joki hanya ada kemurungan, seperti kemurungan yang bertengger dalam hati seorang anak yang melihat persiapan pesta meriah di rumah tetangga. Dia memang akan mendapat jatah makanan dari pesta itu, tetapi di rumah sendiri tak pernah ada pesta semacam itu. Jadi, apa arti pesta itu?   Joki melarikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Lia tak henti-hentinya bertanya. Tangannya kerap mengganggu tangan Joki yang memegang kemudi.   “Jangan ngebut, Bang!” kata Lia.   Joki tertawa kecil. Dia tak mengurangi kecepatan mobilnya.   “Pelan-pelan saja, Bang Joki!” seru Lia. “Kak Mei jadi janda sebelum kawin kalau kita mati.”   Joki tak menjawab. Mobil mereka melintasi Bypass. Bannya menjerit-jerit. Kemudian mobil melaju ke arah Kebayoran Baru. Mereka turun di sebuah kafe kecil. Lia minum dengan lahap. Joki nanap menatap meja di sudut ruangan. Di meja itu dia pernah berdua dengan Widuri.   Bibir Lia berdecap-decap menjilat es krim sementara angin dari jendela mobil mengibar-ngibarkan rambut­nya.   “Sekarang kita ke TIM,” kata Joki.   “Ngapain? Apa ada pertunjukan siang hari?”   Joki tertawa kecil.   “Tidak,” katanya. “Abang cuma mau melihat satu tempat yang bagus sekali.”   Lantas mereka berjalan merambahi rumput di dekat Sanggar TIM.   “Apa bagusnya ini? Cuma semak,” kata Lia.   Joki tegak, dan katanya, “Di sini Abang pernah jalan-jalan dengan perempuan yang Abang cintai.”   “Siapa?”   Joki cuma mengangkat bahu. Lia berusaha menerjemahkan kemurungan di mata abangnya. Tetapi, Joki menyeretnya lagi meninggalkan tempat itu.   “Siapa yang Abang cintai?” tanya Lia.   Sekejap Joki menatap mata adiknya.   “Ah, tahu apa kau soal cinta,” katanya.   Lia cemberut.   “Lia juga sudah pernah jatuh cinta.”   “He! Kau jatuh cinta? Umurmu baru lima belas!” Joki menonjok kepala adiknya.   “Biar baru lima belas, tapi Lia pernah terima surat cinta.”   Joki tertawa mengakak.   “Dari teman sekelas?”   “Huuu!” Lia mencibir. “Buat apa teman sekelas! Masih pakai celana pendek. Nonton film tujuh belas tahun saja belum boleh.”   “Lantas?”   “Dari anak SMA.”   Joki tertawa lagi.   Lia cemberut sambil mencubit lengan abangnya.   “Waw, sakit!”   “Rasain!”   Mereka berjalan di sela-sela orang banyak di Taman Ria. Mereka lewat di dekat papan luncuran.    “Lia mau main luncuran?” Joki bertanya.   “Ih! Itu ‘kan untuk anak-anak?”   “Iya. Lia ‘kan juga anak kecil.”   “Ih!” Lia mencubit lengan abangnya lagi.   Lalu mereka menonton anak-anak meluncur-luncur dengan ditunggui orang tua masing-masing. Dan, tiba-tiba dada Joki berdebar. Di dekat pangkal peluncuran, Anton berdiri. Baru saja dia meluncurkan seorang anak kecil. Joki mendekatinya.   “Hei, Jok!” teriak Anton. “Ika, Ika! Ini Joki yang sering kita bicarakan.” Anton memanggil istrinya.   Erika hanya menatap Joki tanpa mengulurkan tangan. Tidak juga tersenyum. Dia melirik Lia. Lia juga meliriknya. Cantik sekali, pikir Lia. Maka mata gadis remaja itu bersinar. Dia kepingin secantik nyonya itu.   “Ini Erika, istriku, Joki,” kata Anton.   Joki mengangguk dan sedikit membungkuk ke arah Erika. Anton menatap Lia.   “Ini Lia, adikku,” kata Joki.   Anton tersenyum lebar, lalu menjentik dagu Lia. Lia tersenyum.   “Anak kalian?” tanya Joki sembari menatap anak kecil yang berpegangan pada tangan Erika.   “Bukan. Kami belum punya anak,” kata Anton. Matanya menghunjam pada Joki. “Anak Widuri,” lanjutnya.   Joki terpaku. Anak kecil itu menarik-narik tangan Erika.   “Ini anaknya?” tanya Joki terbata-bata.   Lia menggenggam jari abangnya. Dia merasakan betapa dingin telapak tangan abangnya. Maka Lia memijit jari Joki agak keras.   “Di mana dia? Dia sudah kawin dengan orang asing itu?” tanya Joki kemudian.   Anton menggeleng lamban. Erika menggigit bibir, lalu mengangkat Tody, mendukungnya, dan menciuminya. Anak kecil itu terkekeh-kekeh.   “Kenapa tak jadi?” tanya Joki.   “Kenapa?” ulang Anton. Dia mengeluh halus sebelum membuang pandang ke arah anak-anak yang berteriak-teriak di papan peluncuran.   Jari Joki menggigil. Telapak tangan Lia basah oleh keringat telapak tangan Joki. Lia ingin mengambil sebagian keresahan abangnya. Lewat telapak tangannya, dia ingin mengalirkan sebagian dirinya kepada Joki.   “Dia tak lagi kerja,” kata Anton.   “Oh! Kenapa?”   Anton mengedikkan bahu.   “Dia sakit,” kata Erika.   “Oh.”   Lia merapatkan badannya pada badan abangnya. Maka dia bisa merasakan gemetar badan lelaki itu.   “Begini, Joki,” kata Anton. “Aku sudah ceritakan pertemuan kita tempo hari. Dia sangat senang. Nah, barangkali rasa senang itulah yang membuatnya lebih tinggi tempat jatuhnya. Hatinya sangat rapuh.”   Joki menjilat bibirnya yang terasa kering. Anak-anak kecil lari sambil berteriak-teriak di sekitar mereka. Suara musik dari restoran terdengar hingar-bingar. Warna-warni pakaian melintas berseliweran. Tetapi, semuanya baur bagi Joki.   “Aku tidak tahu apa motif kau berjanji untuk datang ke rumahnya tempo hari,” kata Anton melanjutkan. “Maafkanlah. Selama ini aku sangat menyukai orang Batak atas sifat mereka yang suka berterus terang. Karena itu aku sangat percaya padakau. Aku percaya, kalau kau bilang tidak suka, itu sungguh-sungguh kau tidak suka. Kalau kau bilang cinta, itu berarti kau sungguh-sungguh cinta. Bukan lagi kepurapuraan untuk sopan-santun percakapan. Tidak menutup-nutupi keadaan untuk sopan-santun. Aku tahu betul sifat orang Batak umumnya. Kasar, tetapi mengungkapkan apa yang sesungguhnya dirasakan. Karena itu kritik orang Batak akan sangat pe­das. Mungkin akibatnya sering merugikan diri sendiri. Tapi, aku lebih senang sifat begitu. Sebagai orang Manado, aku merasa punya sifat yang sangat dekat dengan kalian. Tapi, dengan kenyataan yang aku hadapi pada diri kau, aku jadi agak ragu. Orang Batak macam apakah sebenarnya kau ini!”   Joki merasa jantungnya tersentak.   “Aku orang Manado. Karena itu aku kurang bisa menangkap apa yang tersirat. Aku cuma bisa mengartikan apa yang kudengar. Dan, aku percaya pada ucapan.”   Ludah tersekat pada tenggorokan Joki. Segumpal keluh menghalangi jalan pernapasan.   “Widuri sangat terpukul. Dia mengira kau sengaja menghinanya,” kata Anton.   “Aku tidak bermaksud begitu. Aku... aku...” Ucapan Joki tersendat.   “Kupikir juga kau tidak bermaksud menghinanya.” Anton menoleh kepada istrinya. Erika sedang menyimak wajah Joki. Perempuan itu kemudian menghela napas dalam-dalam. Selapis demi selapis kemelut menyelimuti muka Joki.   “Aku tidak bermaksud menghinanya,” kata Joki pelan. “Aku sendiri ada problem. Problem yang tak bisa kuatasi.”   “Asalkan bukan problem yang ada dalam dirimu sendiri karena tahu keadaan Widuri sekarang.”   “Bukan itu, bukan itu.” Joki terengah. Dia menoleh adiknya.   “Ada apa, Bang?” tanya gadis remaja itu lunak.   Muka Joki keruh.   “Di mana dia sekarang?” tanyanya kemudian.   Mata Erika bercahaya.   “Di rumahnya,” jawabnya cepat. Lalu dia menunggu reaksi Joki.   “Kau mau ke rumahnya?” tanya Anton.   Joki menoleh ke arah Lia. Gadis itu menatap penuh tanda tanya.   Kemudian Joki mengangguk.   Lia membisu mengikuti langkah abangnya.   “Ke mana kita, Bang?” tanya Lia setelah pintu mobil terhempas.   Joki pura-pura sibuk mencari uang receh untuk membayar ongkos parkir. Dan, mobil berjalan terlonjak sebab kopling mendadak terlepas. Keresahan menggelepar-gelepar dalam dada Joki.   Di depan, mobil Anton mendului melaju. Joki mengendalikan stir hanya mengandalkan pada lampu merah mobil Anton. Lia menyentuh lengan abangnya, tetapi tak dipedulikan oleh Joki. Pikiran Joki sarat oleh bayangan Widuri.   Joki memarkir mobilnya di belakang mobil Anton yang berhenti di mulut gang. Lalu dia keluar dari mobil   “Lia tunggu di mobil,” katanya.   Lia mengangkat kepala. Tangannya yang sudah memegang handel pintu terkulai layu.   “Abang mau ke mana?” Dia bertanya.   “Sebentar. Ada urusan.”   Lantas Joki mengejar Anton dan Erika yang berjalan menyusuri gang. Jantung Joki berdenting-denting. Tenggorokannya tersumpal sesuatu yang mengganjal lekuk hatinya. Maka hatinya rusuh, dan risau bergalauan.   Mereka tiba di halaman rumah Widuri yang sempit. Pintu depan terbuka sebagian. Joki membayangkan, Widuri sedang duduk di ruang depan itu dengan termangu-mangu. Entah bagaimana nanti sambutan atas kehadirannya. Wajahnya yang teduh, akankah tersipu? Matanya yang indah, bersinar cerahkah nanti? Dan, dada Joki semakin berdebur.   Anton berhenti di mulut pintu, sedang Erika terpaku di sampingnya. Dada Joki masih berdebaran ketika Anton menoleh ke arahnya.   Maka Joki terperangah. Mukanya mendadak panas. Tetapi, sesungguhnya muka itu pucat. Pucat dan merah-padam bergantian menghiasi muka Joki. Napas Joki tersengal.   Akan halnya Widuri? Sesaat lagi baru dia akan tahu bahwa di depan pintu rumahnya telah berdiri tiga orang. Kemudian dia cepat-cepat menjauhkan diri dari Tuan Stephen. Tapi kepalanya tersandar di dada lelaki itu, dan lelaki itu mengelus-elus rambutnya.   Wajah Widuri pias. Pandang matanya bertemu dengan tiga pasang mata yang tak berkedip.   “Oh,” keluh Erika sembari memegang tangan suaminya.   Anton melirik ke arah Joki.   Joki menggigit bibir. Gerahamnya berbunyi keriut-keriut. Dari kulit wajahnya yang pucat tiba-tiba terbersit kebencian teramat sangat. Darah Anton berdesir menerima hunjaman kebencian itu.   “Oh,” keluhnya gugup. “Aku... aku... aku...” Anton tergagap. Tatapan mata lelaki itu mengingatkan Anton pada harimau luka. Matanya yang hitam memeng­kilatkan pijar-pijar dendam. Maka dada Anton berdebar-debar dan telapak kakinya dingin.   “Maaf, Joki,” desah Erika.   Mata Joki beralih ke Erika.   “Maaf,” desah Erika lagi. Suaranya murung. Dari matanya yang jernih mengalir kesejukan. Mata yang teduh. Mata yang bersih. Maka kepala Joki tertunduk. Dia berbalik langkah, dan pergi. “Joki!” panggil Erika.   Tetapi, lelaki itu terus berjalan. Lia bertanya, “Kenapa, Bang? Kenapa, Bang Joki?”   Tetapi, Joki tak peduli. Mukanya yang keruh bertambah keruh. Langit pada malam itu sesungguhnya ter­amat cerah. Bulan muncul di langit yang bersih. Tetapi, apalah artinya bagi Joki yang sedang melarikan mobil­nya kencang-kencang.   Di rumah Widuri, Tuan Stephen segera menyadari suasana yang tidak nyaman melingkupi dirinya. Maka katanya, “Tadi Widuri sakit. Mau jatuh. Saya bawa duduk ke kursi ini.”   Erika membisu. Widuri masih terpana. Tody Kecil tertidur dalam rangkulan Erika. Pelan-pelan Erika melangkah ke kamar Widuri, dan membaringkan Tody di situ.   Widuri menyusul Erika ke kamar.   Ketika Erika berbalik, mereka pun berhadapan. Dia menemukan pandang mata yang bingung. Dia melihat Widuri meremas-remas jari-jari tangannya.   “Kami bertemu di Taman Ria. Dia kami ajak kemari,” kata Erika.   Widuri duduk di pinggir ranjang. Matanya tak berkedip, tetapi pandangannya kosong. Tak satu pun benda terlintas di matanya. Segalanya baur.   “Kami tidak menyangka Stephen ada di sini,” lanjut Erika.   “Dia baru saja datang,” kata Widuri pelan. Lidahnya kelu. Bibirnya berat. Dan, ludahnya pahit.   Erika mengangkat kepala.   “Waktu dia mengetuk pintu, saya berjalan ke depan. Tapi, di depan pintu kepala saya pening.”   Erika membisu.   Widuri memandang dengan permohonan mata yang sarat. Pandangan mata yang mengingatkan siapa saja kepada anak kecil miskin yang berdiri di depan etalase toko menjelang Lebaran.   Erika tetap membisu.   Widuri menekap mukanya.   “Oh, kenapa dia harus datang? Kenapa dia harus datang?” keluhnya.   Erika tetap hanya memandanginya. Dari celah-celah jari tangan yang menekap muka itu, mengalir air bening. “Saya berusaha melupakannya. Saya berusaha melupakannya,” kata Widuri lagi dengan suara tersekap.   Isak tangis mengguncang tubuh perempuan ini. Tubuh yang lebih kurus dari biasanya itu terlihat sengsara sekali menyekap kesedihan yang merayap-rayap di dalamnya. Kesedihan yang menggerogoti seluruh jaringan tubuh itu.   “Kenapa dia harus melihat itu,” keluh Widuri pada dirinya sendiri.   Maka Widuri yang sakit-sakitan itu tambah ketat dililit nestapa. Sejak kecil dia yang tak merasakan kasih sayang seorang ibu telah mengandung penyakit yang sangat ramah pada badannya yang rapuh. Dia ingat waktu masa perpeloncoan dulu di Kampus Gadjah Mada. Dia pingsan dan diejek oleh para senioren sebagail ayam kampung sakitan. Lantas sengsara jenis lain bergantian datang menyerbunya. Dan, sekarang, di saat tubuhnya sedang dihantam kesedihan, masih juga duka menyergapnya.   Beberapa saat yang lalu, dia berbaring di kamarnya. Kepalanya dirasa pening. Lantas terdengar ketukan di pintu. Dia bangun dan berjalan ke arah pintu. Di situ te­gak Tuan Stephen. Kepala Widuri yang pening bertambah kalut. Maka malam menjadi semakin kelam dalam pandangan mata Widuri. Malahan segalanya berputaran. Lalu, Widuri terjatuh. Rupanya Tuan Stephen kemudian membawanya ke kursi itu. Lalu, lalu, lalu.... ah! Kenapa Joki harus muncul?   Widuri menekan tangis yang meledak-ledak dari dalam dadanya. Di sampingnya, Tody terbaring pulas. Wajahnya yang mungil membisu dengan senyum samar. Bibirnya yang merah menggoretkan sisa-sisa keriangan sore tadi.   Erika menarik napas dalam-dalam.   Sementara, itu, di ruangan depan, Tuan Stephen berpamitan kepada Anton. Dia bisa merasakan kemelut yang ada di bawah atap rumah itu atas kehadirannya di situ. Maka dia hanya minta tolong agar salamnya disampai­kan kepada Widuri.   Lalu Anton termangu-mangu sendirian di ruangan itu.   “Kok jadi se-absurdini?” keluhnya berkali-kali.   Sayup-sayup dia mendengar isak tangis Widuri. Anton menggeleng sambil menghela napas. “Widuri yang selamanya menjadi korban situasi,” kata Anton kepada diri sendiri.   Erika duduk di samping Widuri. Dia mengelus-elus bahu perempuan malang itu. Widuri menjatuhkan kepalanya di bahu Erika, dan membasahi bahu itu dengan air mata. Maka mata Erika pun akhirnya berlinangan.   “Kenapa dia harus datang lagi?” kata Widuri tersendat-sendat.   “Dia tetap mencintaimu, Mbak Wik,” kata Erika lunak.   “Saya tak berharga untuk dicintainya,” ucap Widuri tersekap.   “Tapi, bagaimanapun dia mencintaimu. Itu sebabnya dia mau datang ke sini.”   “Dia melihat Stephen. Dia melihat Stephen. Ah!”   Dan, isak Widuri berderaian sehingga napasnya terse­ngal. “Saya sudah bilang pada Stephen agar dia tidak lagi datang kemari. Saya tidak lagi kerja di kantornya. Saya sudah berhenti kerja, tapi dia masih juga datang. Oh!”   Widuri menghempaskan badannya ke bantal, dan mencoba membenamkan tangisnya di situ. Tubuhnya terguncang-guncang bagai dihantam badai. Sesungguhnya, badailah yang sedang menggulung perempuan itu. Maka tubuhnya yang rapuh itu terhempas-hempas.   “Dia akan menganggap saya perempuan hina. Dia akan menganggap penolakan saya karena adanya orang asing itu. Oh, Joki... Joki... Joki...” Bibir Widuri gemetar.   Erika mengusap mata. Tody Kecil menggeliat. Cepat-cepat Erika menepuk-nepuk pantat anak kecil itu. Dan, Tody pun tak jadi bangun.   “Saya mencintainya,” kata Widuri hampir tak terdengar. “Tapi, kenapa harus mengalami begini? Kenapa dia melihat Stephen di sini? Kenapa dia tidak melihat saya menolak kedatangan Stephen? Kenapa dia tak tahu bahwa saya lebih suka hidup sendiri jika tanpa dia? Kenapa?” Setumpuk keluhan menggumpal dalam dada Wi­duri.   “Kenapa kau tak berusaha menemuinya, Mbak Wik?” tanya Erika lembut.   “Oh, dia akan menghinakan saya sebab saya hanya seorang janda, sebab saya miskin, sebab saya... Oh!” Widuri menekapkan mukanya dalam-dalam ke bantal un­tuk menyembunyikan tangisnya.   “Tapi, Mbak belum mencoba.”   “Saya tak berani. Saya tak berani.”   “Kalau Mbak Wik benar-benar mencintainya...”   Widuri tak menjawab.   “Temuilah dia, Mbak Wik. Jelaskan segalanya. Jelaskan padanya. Biar kita lihat apakah dia sungguh-sungguh mencintaimu, Mbak Wik. Cinta hanya bisa diukur dengan kepercayaan. Jika dia mempercayai Mbak Wik dan Mbak Wik mempercayai dia, di situ kita baru pasti apakah memang cinta ada dalam hubungan kalian.”   Widuri membisu. Kemudian pelan-pelan dia bangkit. Rambutnya berberaian.   “Saya takut, Ika. Saya takut terbanting lagi,” katanya kemudian.   “Kau tak pernah terbanting, Mbak Wik. Kau belum pernah terbanting. Sebab, kau belum pernah benar-benar bangkit berdiri.”   Widuri terpana.   “Kau tak pernah mengusahakan peluang bagi dirimu sendiri. Kau hanya meratapi nasib. Apakah kaupikir cinta akan datang begitu saja seperti jatuh dari langit? Kita harus mengusahakan peluang untuk tumbuhnya cinta itu, Mbak Wik. Seperti hubunganku dengan Mas Anton, mi­salnya. Apakah akan terjadi perkawinan kami kalau aku tidak berusaha menciptakan peluang?”   Widuri menatap lantai. Kemudian dia bertanya ragu-ragu, “Jadi, saya harus menemuinya?”   “Ya!” kata Erika getas. “Kau harus menjelaskan segalanya, Mbak Wik.”   “Di mana dia bisa saya jumpai?”   “Mas Anton akan mencari alamatnya. Kaupakai mobil kami. Besok akan kami suruh sopir mengantarmu. Ya?”   Widuri mengangkat kepala sebelum kemudian memeluk Erika. Kembali Widuri menangis. Erika menge­lus bahu perempuan itu.   “Kau harus mengusahakan peluang agar hidup yang kaupilih bisa menjadi kenyatan, Mbak Wik.”   Widuri mengangguk.     ***     Lia melipat selimut di tempat tidur abangnya. Joki masih di kamar mandi. Ketika Lia datang tadi, Joki masih tidur. Lia sengaja mengganggunya dengan mengkili-kili telinganya. Dan, Joki pun bangun.   Sinar matahari telah masuk lewat jendela kamar pondokan Joki. Sejak beberapa hari ini dia pulang ke rumah itu. Dia tidak kerasan kalau harus menginap di rumah tulang-nya. Rumah itu memang besar, tetapi keriuhan yang ada memusingkan kepala. Berbeda dengan rumah pondokan ini. Kendati tetangga-tetangga bising, namun Joki tidak merasa terganggu.   Di kamar mandi, Joki menyanyi. Dia senang Lia datang.   Lia merapikan sprei tempat tidur abangnya. Di rumah Tulang Sahala, pembantu yang mengerjakan tugas ini, pikir gadis remaja itu. Dan, dia menatap buku-buku yang berserakan di meja Joki. Meja itu kelewat sederhana. Terbuat dari papan kasar. Buku-buku itu pun perlu dirapikan nanti, pikir Lia. Lantas dia ingat kamar yang ditempatinya di rumah Tulang Sahala. Kamar yang sejuk. Ada toiletnya. Toilet vang bagus pula. Tetapi, bagi Lia, rumah itu sepi sejak Joki kembali ke rumah pondok­annya. Memang ada Kak Meinar. Dia pun baik sekali. Tetapi, bagaimanapun juga Meinar hanya seorang ga­dis, yang tidak bisa membawa Lia jalan-jalan ke mana saja. Lain dengan Joki. Bang Joki bisa membawa Lia ke mana saja. Lia ingin ke Ragunan, berangkat. Lia ingin melihat Oceanarium, pergi. Lia ingin bermain ke Ice Skating, Bang Joki pun senang mengantarnya. Nah, bukankah menyenangkan sekali punya abang sebaik Joki?   Maka Lia memikir-mikir hendak mengajak abangnya ke mana hari ini.   Pagi itu matahari sangat cerah. Tentunya siang nanti bukan main terik. Karena itu harus dicari tempat yang teduh. Pokoknya jalan-jalan sepuas mungkin. Nanti ka­lau pulang ke Medan biar bisa cerita sama teman-teman. Cerita bahwa Lia telah mengunjungi semua tempat yang bagus di Jakarta. Nah!   Lia tersenyum-senyum. Tetapi, senyum itu kemu­dian berangsur lenyap. Matanya terpaku ke luar jende­la. Di halaman, melangkah seorang perempuan. Lang­kahnya ragu-ragu. Lalu terdengar ketukan di pintu.   Lia berlari dan membuka pintu. Di depannya, tegak Widuri. Muka perempuan itu pucat. Dan, dada Lia berdebar. Mata perempuan itu, alangkah sedih.   “Saya ingin ketemu Joki,” kata Widuri.   “Dia sedang mandi,” kata Lia. “Silakan, silakan ma­suk.”   Widuri melangkah pelahan. Matanya mengingatkan Lia pada anak kecil yang ketakutan.   “Silakan duduk,” kata Lia. Pandang matanya tak lekang dari wajah Widuri. Dia memperhatikan kulit wajah Widuri yang halus, hidungnya yang bangir, bibirnya yang tipis tapi pucat. Tak pakai make-up, tetapi cantik sekali, pikir Lia.   Sekilas Widuri memperhatikan gadis remaja yang duduk di depannya. Dari profil mukanya, gadis ini bisa di­duga siapa. Karena itu Widuri cepat-cepat mengangguk ketika Lia berkata, “Saya adik Bang Joki. Nama saya Lia. Nurlia.”   “Saya Widuri,” kata Widuri pelahan.   Bibirnya bagus sekali, pikir Lia.   “Sebentar saya lihat, apa Bang Joki sudah selesai mandi.”   Joki sedang menyisir rambutnya di kamar. Alisnya terangkat ketika Lia masuk berjingkat-jingkat.   “Ada tamu,” bisik Lia.   Alis Joki terangkat lagi.   “Gadis cantik,” lanjut gadis itu.   “Hm?” Joki merapikan bajunya.   “Namanya Widuri.”   “Uf!” Joki mengangkat kepala cepat dan menoleh ke arah Lia.   Mata Lia mengerjap.   “Cantik,” katanya. “Hm, diam-diam Abang rupanya punya pacar cantik.”   Joki mematung di depan cermin.   “Ayolah,” kata Lia. “Dia menunggu.”   Joki membisu mengikuti langkah adiknya. Dan, di ruang depan itu napas Joki terhenti. Ada rambatan nyeri menyusup ke lekuk hatinya.   Widuri pun merasakan hal serupa. Malahan lebih getir lagi. Kenyerian menyeruak dengan ganas karena beradon pekat dengan resah.   Mereka bertatapan. Badan Widuri menggigil. O, alangkah dingin tatapan lelaki itu. Lalu Widuri menekuri lantai. Setumpuk kalimat yang disiapkan sejak dari rumah lenyap bagai embun pagi ditimpa sinar matahari.   Joki tetap membisu. Ruangan itu sepi. Lia mempelahan tarikan napasnya. Matanya tak lepas dari perempuan yang duduk tertunduk itu. Siapa dia? Bagaimana hubungannya dengan Bang Joki? Kenapa dia seperti ketakutan? Kenapa pula Bang Joki sekaku ini? Apa yang pernah terjadi di antara mereka?   Lalu sepi itu dipecah oleh suara Widuri, “Saya mau bicara. Saya ingin menjelaskan....”   Kelopak mata Joki berkedip sedikit.   “Saya.... saya.... saya....” Suara Widuri terputus-putus, dan bagai butiran kaca, air mata berderaian.   Maka rambatan nyeri terasa lagi di dada Joki. Melintaslah bayangan ketika perempuan itu bersandar ke bahunya di dalam planetarium. Atau, bayangan mata teduh di sebuah bus kota ketika hujan mengguyur Jakar­ta. Atau, kelembutan jarinya ketika menyusuri Pantai Cilincing. Atau ketika matahari bersinar cerah.... oh, bukan cerah. Terik! Terik! Terik! Sengit! Ketika perempuan ini keluar dari Kartika Plaza dengan orang asing. Dan, di dada lelaki asing itu pula perempuan ini kemarin ber­sandar. Bah!   Joki menghembuskan napas kuat-kuat.   Widuri mengangkat kepala sekejap, kemudian menunduk lagi.   “Ada perlu apa sebenarnya?” Joki bertanya dengan nada suara dingin.   Suara itu menghunjam ke relung hati Widuri. Giris.   “Tidak. Oh, maafkan saya, maafkan saya,” kata Widuri. Lalu dia berdiri dan menoleh ke arah Lia. “Maafkan saya,” katanya gemeteran. Dan, dia pun melangkah ke luar.   Lia terpana. Dia mengejar ke pintu, tetapi Widuri separo berlari menuju mobil yang menunggunya di mulut gang. Lalu Lia berbalik menghadap abangnya.   “Siapa dia?” tanyanya.   Joki cuma menghela napas berat sembari duduk. Dia menyusut-nyusut rambutnya. Pandangannya nanap ke luar pintu.   “Dia yang pernah Abang bilang Abang cintai?” tanya Lia lagi.   Joki mengeluh dalam dada.   “Kelihatannya dia sangat sedih,” kata Lia.   Joki membisu.   “Kenapa? Kenapa, Bang Joki?”   Joki tak bereaksi.   “Barangkali karena dia tahu kalau Abang mau kawin dengan Kak Mei?”   Joki menggeleng.   “Jadi, kenapa? Hati Lia sedih melihat matanya.”   Separo mengeluh Joki menjawab, “Di antara kami banyak persoalan, Lia.”   “Dia kelihatan sedih. Kelihatan sedang sakit.”   Joki memijit-mijit pelipis.   “Kenapa Abang kasar sekali terhadapnya?”   Joki tersentak.   Lia pindah duduk di samping abangnya.   “Lia merasa dia orang baik. Kasihan kalau hatinya disakiti, Bang.”   Joki menelan ludahnya yang terasa seret di kerongkongan. Matahari kian meninggi.   “Abang memang mencintainya,” kata Joki. “Tapi, banyak persoalan di antara kami.”   “Persoalan apa?”   “Lia tak perlu tahu.”   “Lia kepingin tahu.”   Joki mengedikkan bahu. “Tak usah memikirkan itu. Ayo, kita berangkat.”   “Ke mana?” Lia kehilangan semangat.   “Ancol.”   “Ah, kita sudah pernah ke sana.”   “Sekarang Abang yang kepingin ke sana.”   “Ngapain?”   “Melihat laut.”   Beberapa saat kemudian mereka telah berjalan di antara payung-payung peneduh. Warna-warni payung itu tidak lagi semarak bagi Lia. Pasir putih mulai terasa pa­nas di telapak kaki.   “Lia kok jadi teringat terus pada kakak yang datang tadi pagi,” kata Lia.   Joki berdecak.   “Ah, jangan mengingat-ingatkannya lagi.”   “Mukanya kelihatan sedih.”   Joki berdecak lebih keras.   Ujung sepatu Lia menyerpih-nyerpih pasir.   “Muka Mama juga sering begitu kalau Papa marah-marah di rumah,” kata Lia.   Joki menatap permukaan laut yang mengkilat. Angin yang kencang membawa uap air.   “Kalau Abang memang mencintainya, kenapa Abang kawin dengan Kak Mei?”   Joki tersentak. Kemudian pelan-pelan kepalanya tertunduk. Dia mengawasi pasir yang dipijaknya.   “‘Kan Mama yang menentukan,” katanya lemah.   Lia terdiam.   “Nah, sekarang kau tahu, Lia, kenapa Abang membantah kemauan Mama, dulu.”   “Tapi, Abang tak pernah bilang itu pada Mama.”   “Ya, sebab dulu Abang tak pasti apakah perempuan itu mencintai Abang.”   Lia memegang jari tangan abangnya. Angin menampar-nampar wajah gadis remaja itu, membuat rambutnya yang hitam itu berkibaran.   “Selain itu, masih ada penghalang yang lain. Mama pasti takkan setuju.”   “Kenapa? Mama ‘kan belum pernah ketemu dengan dia?”   “Ya,” jawab Joki. Lantas melintas wajah Widuri di matanya.     ***     Di rumahnya, Widuri membenamkan tangisnya ke bantal. Siang yang terik membuat kamarnya terasa pengap. Dari luar terdengar suara Tody yang gembira dicandai pemomongnya. Dan, tangis Widuri semakin tersekap.   Sempurnalah nestapa ini. Sempurnalah sudah. Widuri mengeluh diam-diam. Ibarat terjerumus ke dalam jurang, seperti itulah rasa sakit yang diderita Widuri. Se­telah disadarinya betapa jauhnya langit, disadarinyalah pula bahwa jurang itu teramat dalam. Lantas, terasa be­tapa sepi sendirian menanggung hempasan ke dalam jurang yang tak menyimpan harapan baik. Langit cerah begitu jauh sementara dasar jurang begitu tajam. Inilah kehidupan yang paling lengkap buatku, keluh Widuri tak henti-hentinya.   Jika nestapa inilah kelengkapan hidupku, lantas bagaimana lagi cara menghirup napas di sela-sela himpitan ini? Udara terasa pengap dan matahari lebih sengit dar matahari neraka mana pun. Aku terlontar ke dunia ini hanya untuk dilibat jaring-jaring nestapa. Lalu, untuk ini semuakah aku harus mempertahankan kehidupan yang getir ini? Untuk nestapa yang berkepanjangan maka aku harus hidup? Ah!   Widuri menatap pergelangan tangannya. Lengannya yang mungil dan lunglai itu gemetaran. Dia meraba-raba nadi pergelangan tangan itu, dan membayang-bayangkan wajah mendiang ayahnya. Dia ingin membayangkan wajah ibunya, tetapi tak berhasil menampilkan wajah yang jelas. Hanya bayangan baur yang ada. Dia tak bisa membayangkan wajah ibunya. Sebab, dia tak pernah mengenal wajah itu. Yang terbayang jelas justru seraut wajah seorang suster Katholik. Suster pengasuh di asrama ketika dia masih kuliah di Kampus Gadjah Mada. Lalu terbayang wajah-wajah yang lain. Semuanya cepat melintas, seperti wajah-wajah yang terpandang dari dalam kendaraan yang melaju cepat. Segalanya baur sebab air matanya membalut kornea mata.   Widuri mengelus pergelangan tangannya. Kulitnya yang halus terasa menggigil. Hanya dengan satu sayatan maka seluruh nestapa akan berakhir, pikirnya. Ya, seluruh nestapa akan berakhir. Seluruh n-e-s-t-a-p-a! Ya, akan berakhir dengan sayatan kecil di pergelangan tangan ini.   Maka Widuri melangkah ke meja riasnya. Dia ingat di situ ada silet. Tetapi, tawa Tody terdengar lagi. Tawa nyaring itu melayang hingga kamar Widuri. Maka langkah Widuri terhenti. Dan, dia terduduk di lantai.   Suara tawa itu terdengar lagi. Alangkah jelas dan murni. Tak ada nestapa terkandung dalam tawa itu. Anak yang lahir dalam kepahitan hidup orang tua! Tetapi, janganlah nestapa melilitnya.   Jika aku mati, anak itu harus berdiri sendiri. Di du­nia yang kejam ini dia akan hidup seorang diri. Aku yang pernah diasuh seorang ayah, merasa betapa kejam dunia ini. Apalagi dia tanpa asuhan ayah dan ibu. Sendiri menghirup udara dunia yang pengap dan apak ini?   Sejak kecil ahu tidak mengenal ibuku. Jika dia kutinggalkan pula, dia akan sendirian. Sendirian. Oh! Se­orang ayah pun tak bisa mengeluarkan aku dari kemelut yang menerpa diriku dari tahun ke tahun. Apalagi tanpa ayah dan ibu!   Lantas Widuri bangkit dan menatap mukanya di cermin. Hampir dia tak mengenali dirinya sendiri. Alang­kah asing. Wajah yang membalas menatapnya itu tanpa ekspresi sama sekali. Dingin.     ***     “Jadi, kau sudah ke rumahnya?” tanya Anton.   Widuri cuma mengangguk. Dia mengelus-elus kepala Tody.   “Apa dia bilang, Mbak Wik?” tanya Erika.   Widuri menggeleng-geleng.   “Lho, bagaimana sih?” kata Anton.   Widuri tak bereaksi.   “Sudah kau jelaskan semuanya, Mbak Wik?”   Widuri mengangkat kepala, menoleh kepada Erika.   Lantas dia menggeleng lagi.   “Kenapa tak dijelaskan?”   “Saya tak bisa.”   “Ah!” Erika dan Anton serempak mengeluh.   “Saya merasa dia tak mau mendengarkan penjelasan dari saya.”   “Ah! Bagaimana kau tahu?” kata Anton.   “Saya merasa. Saya rasa.”   “Jangan cuma pakai rasa saja, Wiwik.”   “Saya lebih percaya pada rasa saya.”   “Tapi, itu belum tentu benar.”   “Barangkali memang belum tentu benar. Cuma, saya merasa, rasa itu lebih kuat dari pertimbangan apa pun juga.”   Anton mengangkat bahu seraya menoleh kepada istrinya.   “Seharusnya kau menjelaskan itu, Mbak Wik,” kata Erika lembut.   “Saya ingin melupakannya. Saya ingin dia tak ada dalam hidup saya.”   “Tetapi, itu tak mungkin.”   “Saya akan berusaha agar itu menjadi mungkin.”   “Daripada berusaha melupakannya, lebih baik kau berusaha mendekatinya dan memberinya penjelasan.”   “Tidak!” kata Widuri keras. “Tidak, tidak, tidak,” lanjutnya dalam desah.   “Lebih sulit melupakan dari pada mengenangkan, Wiwik,” kata Anton.   Widuri tak menjawab.   “Lebih sulit mengikis kenangan daripada membuat kenangan.”   Widuri tetap diam.   “Mengusahakan tumbuhnya cinta lebih gampang daripada melupakan cinta.”   Tody menggeliat dari rangkulan ibunya, lalu turun ke lantai.   “Saya hanya akan hidup untuk anak ini,” kata Widuri. “Hidup saya hanya untuk dia. Saya tak ingin memikirkan apa-apa lagi tentang diri saya.”   Tody melangkah tertatih-tatih menuju pintu keluar.   “Andainya, Mbak Wik. Andainya Joki mau menerima penjelasanmu, mau mengerti, bagaimana sikapmu?” tanya Erika.   Sejenak Widuri mengangkat kepala. Mereka bertatapan. Erika menangkap kilasan sinar dalam mata Wi­duri. Tetapi, sinar itu cepat padam lagi. Dan, Widuri menggeleng.   “Saya tak punya sikap apa-apa lagi.”   Suara panci beradu terdengar dari dapur. Pembantu rumah tangga Widuri sedang menyiapkan masakan untuk makan malam. Widuri mengelus-elus lengan kursi. Cahaya matahari mencorong lewat ventilasi. Warnanya merah. Di luar, langit telah lembayung. Senja begitu ce­pat menyelinap.   “Sesuatu masih bisa diraih kalau diusahakan, Wiwik,” kata Anton.   Widuri diam.   Erika juga membisu.   Dan, tiba-tiba, suara jeritan Tody dari luar mengagetkan mereka. Ketiganya terlompat dari duduk mereka.   “Oh, Tody! Tody! Tody!” pekik Widuri. Ketiganya berlan ke halaman. Tody tak kelihatan. Oh, di mana dia?   Ketiganya ke luar halaman. Di gang, ada kerumunan orang. Sementara itu, suara derum mesin motor meninggi dan lenyap di mulut gang.   Kerumunan itu tersibak oleh tangan Anton. Maka jantung Anton menggelepar. Di tanah yang berdebu, terbaring Tody. Berlumuran darah. Ludah Anton terasa pahit.   “Tody!” jerit Widuri berbarengan dengan jerit Erika.   Lalu, entah berapa kali Widuri mendesahkan nama anaknya. Lalu dia pingsan. Beberapa orang yang mengerumun menolong Widuri, mendukung masuk ke rumah Widuri.   Anton mengangkat Tody. Tubuh Tody yang kecil itu terasa lunak. Dari kerumunan orang itu Anton menang­kap keterangan: Tadi ada pemuda naik motor dan tidak melihat Tody keluar dari halaman rumah. Tody terta­brak, dan pengemudi motor itu terus melarikan motornya.   “Seharusnya dilarang naik motor di gang ini,” gumam seorang bapak-bapak tua.   Anton membisu. Dia menggendong Tody ke mulut gang. Tanpa suara dia membuka pintu mobilnya. Beberapa orang mengikuti langkahnya sembari menceritakan apa yang telah mereka lihat, tetapi suara-suara itu melintas begitu saja di telinga Anton.   Anton men-start mobilnya. Tergesa-gesa dia memasukkan persneling. Tody terbaring di sampingnya. Darah masih terus menetes dari tubuh anak itu.   Tiga tonggak listrik, Anton menjumpai rumah seorang dokter, persis yang diceritakan orang-orang tadi. Maka cepat-cepat Anton melompat keluar sambil meng­gendong Tody yang pingsan.   Anton menggedor pintu rumah dokter itu. Pintu terbuka. Dokter tua yang membuka pintu itu dapat menang­kap kegalauan yang ada di mata Anton. Maka dia mem­buka pintu lebih lebar lagi.   “Masuk, masuk, masuk,” kata dokter tua itu.   Anton meletakkan Tody di divan pemeriksaan. Dokter itu memeriksa luka Tody di bahu. Dia hanya memberikan pertolongan darurat.   “Harus dibawa ke rumah sakit. Perlu dijahit,” kata­nya.   Anton memeluk Tody. Dia melarikan mobilnya bagai kesetanan. Tiba di rumah sakit pemerintah, napas Anton tersengal menghadapi cara kerja para perawat di situ. Kerja yang ayal-ayalan. Dokter juga belum datang. Anton mendesak perawat itu agar disegerakan, tetapi ma­sih juga perawat itu ayal-ayalan. Darah Anton mendidih. Tangannya yang menggigil tanpa disadarinya melayang ke wajah perawat itu sambil katanya, “Cuma pakaianmu yang putih bersih! Tapi, jiwamu kotor! Bangsat!”   Perawat itu menekap mukanya yang bengap.   Anton menunggu reaksi perawat lelaki yang ditamparnya itu. Tetapi, ternyata perawat itu diam saja. Maka Anton menggendong Tody lagi. Lalu dia melarikan mobilnya lagi menuju rumah sakit swasta.   Hatinya yang panik berangsur lega melihat atensi yang diberikan para perawat terhadap Tody. Tody langsung dibawa ke kamar operasi.   Anton menyadari bahwa pakaiannya berlumuran darah. Sepatunya berdetak-detak di samping pintu operasi itu.   “Cuma operasi kecil,” kata seorang perawat yang keluar dari kamar operasi. Senyum gadis berpakaian serba putih itu menyejukkan dada Anton. Lalu gadis berpakaian putih-putih itu melangkah tanpa suara di sepan­jang gang rumah sakit itu.   Anton tetap mondar-mandir. Kendati panik telah mulai surut, tetapi suasana rumah sakit berbau formalin itu membuatnya resah. Apalagi jika dia ingat wajah Tody yang dialiri darah dengan mata terpejam. Oh! Lalu Anton ingat Widuri yang pingsan. Siapa yang menolongnya? Erika tak pernah kuliah di kedokteran. Dia cuma kuliah di farmasi beberapa tahun.   Pintu kamar operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan senyum terkuak ramah.   “Anda orang tua anak yang terluka itu?” Dokter bertanya.   Tanpa berpikir panjang, Anton mengangguk.   “Apakah dia pernah disuntik antitetanus?”   “Oh, itu saya tak tahu,” kata Anton terbata-bata.   “Kalau sudah, itu baik sekali. Tapi, kalau belum, dia perlu mendapat suntikan untuk menjaga dari bahaya te­tanus.”   “Ya,” desah Anton.   “Anda tentunya tahu, bahwa serum antitetanus tidak boleh dobel penggunaannya selama masa berlakunya dalam tubuh.”   “Ya,” kata Anton dalam gumaman.   “Karena itu sebaiknya Anda mencek ke rumah, apakah anak itu sudah pernah mendapat ATS atau belum. Kami menunggu.”   Anton melangkah tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Dokter itu menggeleng-geleng. Pikirnya, masakan seorang ayah tidak tahu apakah anaknya sudah mendapat suntikan antitetanus atau belum. Ah, orang tua yang ceroboh!   Lalu-lintas seret bergerak di Salemba. Keringat mem­basahi kuduk dan punggung Anton.   Di rumahnya, Widuri telah sadar. Kini hanya isak yang membelitnya. Erika tak kuasa lagi menghiburnya.   Bagi Widuri, sinar lampu menjadi redup. Bahkan tembok putih pun menjadi kelabu. Sejuta keluh menyeruak-nyeruak dalam dadanya. Tak terucapkan lagi. Maka air matanya tak mau kering.   “Belum,” jawab Widuri tatkala Anton bertanya.   Anton bergumam, lalu melangkah ke pintu. Widuri mengikutinya.   “Kau istirahat di sini saja,” kata Anton.   Widuri menggeleng.   “Saya harus ikut,” katanya.   Erika bertatapan dengan suaminya.   Erika mengambil tasnya di meja, lalu menyusul langkah suaminya.   Napas Widuri terengah selama melangkah di yang Rumah Sakit St. Carolus. Erika melangkah dengan kepala tertunduk, dan tanpa suara. Rumah sakit itu hening. Mereka berpapasan dengan gadis-gadis bermata bening, berpakaian serba putih. Salah seorang gadis itu tadi membantu dokter yang merawat Tody. Dia tersenyum ke arah tiga orang yang dipapasinya. Dia mencoba menduga siapa ibu anak kecil yang terluka itu. Dia agak bingung sebab kedua perempuan itu sama-sama berwajah rusuh. Maka dia mengarahkan ucapannya kepada Anton, “Ada yang berdarah golongan O?”   Anton menggeleng.   “Saya golongan B,” katanya seraya menoleh ke arah dua perempuan di sampingnya.   Widuri dan Erika pun menggeleng.   “Anak Tuan perlu infus darah. Kami memang punya persediaan, tetapi terbatas. Akan lebih baik kalau Tuan menyediakan donor.”   “Parah keadaannya?” tanya Widuri terbata-bata.   Perawat itu tersenyum lunak.   “Dia perlu banyak tambahan darah,” katanya.   Erika meremas jarinya hingga berbunyi gemeretak. Widuri mengeluh dalam dada. Dia nampak sempoyongan berdiri. Perawat itu sigap memegangi tubuh Widuri dan membawanya ke ruang tunggu.   “Aku akan cari donor. Teman-teman tentunya ada yang golongan darahnya O. Kau temani Widuri, aku akan menelepon sebentar,” kata Anton kepada Erika.   Erika membisu.   Anton berjalan bergegas. Hampir bertabrakan dengan seorang perawat yang membawa botol obat. Anton menggumamkan kata maaf berulang-ulang. Dia menuju kantor rumah sakit itu.   Dia membelok di pojok koridor, dan bertabrakan dengan seorang lelaki. Gadis yang di samping lelaki itu menjerit kaget.   “Eh, Anton,” kata Joki sambil mengusap kepalanya yang terkantuk.   “Hei, kau!” kata Anton.   Lia menarik napas panjang sambil melirik kening abangnya. Anton sedang mengusap jidatnya.   “Kok terburu-buru? Ada apa?” tanya Joki.   “Ada yang sakit,” kata Anton.   “Siapa?”   Anton menatap lekat-lekat mata Joki. Kemudian katanya, “Kau menjenguk siapa?”   “Ibu. Sudah beberapa minggu dirawat di sini. Tapi, sekarang keadaannya sudah agak baik.”   Anton mengangguk.   “Mudah-mudahan cepat sembuh,” katanya. “Aku pergi dulu.”   “Mau ke mana?”   “Pinjam telepon. Cari donor.”   “Siapa yang sakit?” tanya Lia.   Anton menatap muka Lia seperti yang dilakukannya terhadap Joki.   “Darah apa yang dibutuhkan?” tanya Joki.   “O” kata Anton.   “Eh, aku golongan O!” kata Joki.   Anton tak menanggapi.   “Aku juga,” kata Lia.   “Pakai darahku saja,” ujar Joki bersemangat.   Anton menggosok-gosok dagu. Dia ragu. Tetapi, dia pun menimbang-nimbang. Untuk menelepon, memerlukan waktu. Apalagi orang yang ditelepon belum tentu bergolongan darah seperti yang diharapkan.   “Ayo, pakai darahku saja, Anton.”   “Kalau masih kurang, darahku juga,” kata Lia sambil memegang tangan abangnya.   Sesaat Anton mengawasi kedua orang di depannya itu. Kemudian dia mengangguk.   “Ayo,” katanya.   Joki menyeret adiknya berjalan bergegas mengikuti langkah Anton.   Joki menjalani tes darah. Tes berlangsung cepat. Lantas dia berbaring sementara jarum tranfusi menem­bus lengannya. Dia menatap langit-langit ruangan yang bersih. Lalu pindah ke wajah perawat yang berdiri di dekat kepalanya. Bibir gadis itu merah delima. Topinya yang putih bertengger rapi. Secantik bintang film, pikir Joki. Senyumnya yang ramah menyejukkan hati sehing­ga Joki lupa pada rasa pegal di lengannya yang terbalut.   Jarum telah dicabut. Joki melirik botol berisi darah­nya yang tengah dibawa seorang perawat lelaki keluar dari ruangan itu. Perawat cantik itu membantu Joki – yang menolak istirahat – bangun.   “Agak pening?” tanya perawat itu.   Telapak tangan gadis itu halus dan hangat. Maka Joki menggeleng sekalipun berdiri pun agak sempoyongan.   Sejenak dia membiasakan diri dari denyutan di kepalanya. Setelah denyutan itu reda, dia pun tersenyum ke arah gadis itu. Perawat itu pun tersenyum.   Di pintu, menunggu Anton dan Lia. Lia cepat-cepat memegang jari tangan abangnya.   Gadis remaja itu tersenyum. Joki tersenyum.   “Mari,” kata Anton mendahului berjalan.   Anton membuka pintu ruang tunggu. Dan, dada Joki berdebaran. Kepalanya berdenyut kembali. Telapak kakinya terasa dingin. Peluh mengalir di sekujur tubuh.   Di ruangan itu, duduk Widuri tersandar lemah di kursi. Di dekatnya, Erika mengipasinya dengan saputangan.   Kelopak mata Widuri terangkat. Oh, darahnya yang tadi malas mengalir mendadak menggejolak.   “Siapa yang sakit?” tanya Joki tersendat-sendat. Sejuta rasa bergulatan dalam dadanya manakala dia melihat betapa pucat wajah perempuan yang lunglai itu.   “Anak Widuri. Kecelakaan,” jawab Anton.   Mereka duduk di depan Widuri. Mata Erika tak lekang memandangi wajah Joki.   “Wiwik,” kata Anton, “Joki jadi donor untuk anakmu.”   “Oh.” Jantung Widuri meronta lagi. Matanya yang letih terbelalak. Pandang mata itu berpindah-pindah dari Joki ke Anton, lalu ke Erika, lalu ke Lia. Lalu pindah lagi ke Joki, Anton, Joki, dinding kosong, Joki, Joki, Joki, dan Widuri melarikan wajahnya ke bahu Erika. Dan, menangis sesenggukan di situ.   “Kenapa, kenapa begini?” keluhnya.   Erika mengusap rambut Widuri.   “Sudahlah, Mbak Wik. Tody akan selamat. Tody akan selamat,” kata Erika lunak.   “Kenapa harus dia? Kenapa harus dia?” Suara Widuri terbenam dalam bahu Erika.   Erika dan Anton saling menatap.   Joki bingung. O, alangkah sengsaranya perempuan ini. Tubuhnya yang menggeletar bagai tak tahan menerima hantaman yang diterimanya.   Joki tidak tahu harus bagaimana mengatur letak kakinya. Dia merasakan ada jalaran-jalaran halus di telapak kakinya. Dia bingung harus diapakan kaki itu.   Kebingungan itu tertolong oleh keluarnya seorang dokter dari ruang operasi.   “Siapa orang tua anak yang luka itu?” tanya dokter itu.   “Ya?” Anton bangkit.   Dokter itu memberikan isyarat agar Anton mengikuti­nya. Widuri hanya mengangkat kepala sedikit. Joki gugup sebab pandang matanya bersamplokan dengan pandang mata Widuri. Maka dia pun berdiri dan mengikuti langkah Anton.   Pintu tertutup pelahan. Lia memperhatikan perempuan yang berurai air mata di depannya. Gadis remaja itu gampang sekali tergugah perasaannya. Lebih-lebih menghadapi orang sakit. Baginya, perempuan yang bernama Widuri ini sedang menderita sakit. Muka perempuan itu pucat bagai kertas, bibirnya menggeletar, dan tubuhnya lunglai, menandakan dia sedang sakit. Tetapi, kenapa darah yang disumbangkan Bang Joki tadi bukan untuk dia?   “Anak Kakak yang sakit?” tanya Lia.   Widuri mengangkat kepala, lalu dia mengangguk.   Di koridor, langkah dokter itu beraturan dalam gerak, diikuti langkah Anton dan Joki yang ragu. Mereka bertiga semakin jauh dari ruang tunggu.   “Kami telah memberikan infus darah,” kata dokter itu.   Mereka berdiri di dekat kamar tempat Tody berbaring.   “Luka-lukanya telah kami rapatkan,” lanjut dokter itu. “Tetapi, dalam kecelakaan itu rupa-rupanya kepala anak itu terbanting ke benda keras.”   Anton dan Joki menahan napas.   “Kami sudah berusaha,” kata dokter itu lunak. “Cuma, sembilan dari sepuluh orang yang mengalami kondisi serupa kondisi anak itu belum dapat dibantu oleh ilmu kedokteran modern kita.”   Anton dan Joki saling tatap.   “Maksud Dokter?” keduanya bertanya hampir dalam satu napas.   “Perawat mengatakan, ibu anak itu agak lemah. Karena itu kita harus bijaksana untuk memberitahukan kenyataan ini padanya. Kami masih berusaha sebisa mungkin. Tapi, perlu diingat bahwa andaipun bisa diselamatkan, persentase yang cacat akibat kondisi semacam ini cukup tinggi. Maksud saya, cacat mental.”   “Oh...” Anton dan Joki terperangah.   “Jadi, ada baiknya Tuan harus memberikan penjelasan-penjelasan agar istri Tuan tidak terlalu shock menerima hasil rawatan kami.”   Anton tercenung. Dia tidak ingat lagi bahwa istrinya belum mempunyai anak. Dia lupa bahwa anak yang menderita itu anak Widuri. Tetapi, kasihnya kepada anak itu memang sedang tumbuh berbunga pada masa belakangan ini. Karena itu, dia lebih dulu mengalami pukulan batin sebelum kabar kelabu ini disampaikan kepada Widuri.   Joki termangu-manqu. Dokter telah meninggalkan mereka berdua. Koridor itu kembali sepi. Keduanya tertegak bagai tonggak lampu traffic. Di dekat mereka, ber­desir roda brankar yang didorong seorang perawat. Bran­kar itu kosong.   Anton menghela napas berat.   “Kau saja yang menyampaikan, Joki,” katanya.   “Oh, jangan aku. Jangan aku!” kata Joki gagap.   Keduanya terdiam lagi.   Joki menatap ke ujung koridor. Sepi. Perawat-perawat melangkah tanpa menimbulkan suara.   “Aku tak bisa,” kata Joki tersendat.   “Bagaimana cara menyampaikannya?” keluh Anton.   “Kaucobalah,” kata Joki.   “Aku tak sanggup,” kata Anton. Matanya yang biasanya bersinar kini kosong. “Cuma anak itu penahan terakhir untuk bertahan hidup di dunia ini dengan penderitaan yang dialaminya selama ini,” kata Anton kepada dirinya sendiri. “Cuma anak itu penghibur hidupnya,” lanjutnya.   Joki membisu.   “Kalau itu pun lenyap, apa jadinya dia?” keluh Anton.   Joki mematung. Bayangan Widuri memintas. Perempuan lemah yang meringkuk di dekat istri Anton itu, betapa hampa wajahnya. Tak menyimpan harapan yang paling secuil sekalipun.   Entah berapa lama Joki dan Anton termangu-mangu di depan pintu ruang tunggu itu.   “Aku tak berani masuk,” kata Anton dalam desah.   Suara langkah dari arah belakang mereka mendekat. Dokter mendekati mereka dengan muka muram.   “Sudah disampaikan?” tanyanya kepada Anton.   Anton menggeleng malu. Dia bertatapan dengan Joki.   “Biar saya saja yang menyampaikan. Kami telah gagal,” kata dokter itu dalam satu hembusan napas.   Joki merasakan darahnya dingin. Jaringan tubuhnya menggigil.   Dokter itu memberikan isyarat kepada Anton dan Joki agar mereka berdua masuk ruang tunggu terlebih dahulu.   Seperti kucing kedinginan, kedua lelaki itu memasuki ruang tunggu. Takut-takut mereka melangkah. Kendati Anton telah berusaha untuk mewajarkan ekspresi mukanya, tetapi langkahnya yang ragu-ragu membuat Erika mengawasinya dengan pandangan tajam.   Joki kembali duduk di dekat adiknya. Hanya tangan adiknya yang bisa dipakai untuk mengurangi resah yang melecut-lecut jantungnya. Dia menggenggam tangan Lia. Telapak tangan Lia basah oleh keringat abangnya.   Suara dokter itu lunak, tetapi petir bagi Widuri. Dia hanya bisa mengeluh, “Oh....”   Lantas gelap, kelam, dalam pingsannya.   Sejuta kutuk boleh berlontaran kini. Kutuk untuk pengendara sepeda motor di gang sempit. Kutuk kepada Jepang yang telah memproduksi motor-motor bersuara halus dan berlari kencang. Kutuk kepada lampu lalu-lintas yang lambat hijaunya. Kutuk kepada seorang perawat yang berlalai-lalai menjalankan tugasnya cuma lantaran menginginkan uang semir. Kutuk kepada siapa saja. Kutuk! Kutuk! Kutuk!   Maka Anton, Erika, Joki, dan Lia merenungi kursi yang tadi diduduki Widuri. Perempuan itu, Widuri, telah terbaring di salah satu ranjang di rumah sakit itu.   Sepanjang koridor Rumah Sakit St. Carolus hening adanya. Sementara itu, sepanjang Jalan Salemba hiruk-pikuk oleh lalu-lintas yang macet.     ***   Musuh-Musuh Kelahiran   Joki merenungi jalan yang membentang di depannya. Tatapan matanya kosong. Dan, tiba-tiba klakson mobil-mobil di belakang menjadi hingar-bingar.   Lia memukul bahu abangnya.   “Sudah ijo!” katanya mengingatkan.   Joki gelagapan memasukkan persneling satu. Mobil terlonjak maju.   “Perempuan tadi yang pernah datang ke rumah dulu, Bang Joki?” tanya Lia pelahan. Suaranya bernada hati-hati.   Joki menggumamkan keluhan dalam dada.   “Dia perempuan yang pernah Abang ceritakan?”   “Hm, hm,” jawab Joki.   “Dia sudah punya anak,” kata Lia bagai kepada diri sendiri.   “Ya. Dia sudah punya anak.”   “Kelihatannya dia susah sekali.”   “Ya, susah sekali.”   “Abang masih mencintainya?”   “Hm, hm,” gumam Joki.   “Dibanding dengan kak Meinar, siapa yang lebih Abang cintai?”   Joki menoleh adiknya.   “Ei, awas, Bang Joki!” pekik Lia.   Joki membanting stir untuk mengelakkan tabrakan. Lia menarik napas panjang.   “Abang tidak mencintai Meinar,” kata Joki.   “Tapi, kenapa Abang mau kawin sama dia?”   “Karena Mama.”   Lia terdiam.   Joki menyipitkan mata. Sinar lampu mobil yang memapasinya menyilaukan mata.   “Karena Abang takut Mama mati,” kata Joki datar.   “Sekarang Mama sudah sehat,” kata Lia pelan.   Joki menoleh sekejap sebelum kemudian meminggirkan mobil.   “Kita minum dulu,” katanya.   Lia tidak menjawab. Dia menutup jendela mobil, lantas keluar. Joki mengunci pintu mobil dan kemudian menarik tangan Lia masuk ke restoran.   “Jangan minum es krim lagi malam ini,” kata Joki. “Nanti Lia tambah gembrot. Pacarmu pasti tak suka kalau kau terlalu gemuk.”   “O, iya, Lia kepingin langsing kayak istri Abang yang ganteng tadi. Siapa namanya?”   “Erika.”   “Kalau Kakak yang satu lagi?”   “Widuri.”   “Oh, ya. Lia sudah ingat. Mereka cantik. Langsing.”   “Lia juga cantik, asal tak terlalu banyak makan coklat sama minum es krim.”   “Sekarang Lia mau minum sari tomat. Bagus, ‘kan?”   “Yah,” kata Joki seraya menjentik ujung hidung adiknya.   “Hidung Kak Widuri bagus sekali. Mancung, kecil. Harmonis dengan mulutnya. Kasihan sekali Lia melihat dia menangis. Menangisnya nggak bersuara. Kalau Lia nggak bisa nangis begitu. Mesti bersuara.”   Joki merenungi gelas minumannya.   “Dia cantik sekali,” kata Lia. “Tapi, mukanya sedih sekali. Cuma satu itu anaknya, Bang Joki?”   “Ya.”   “Suaminya di mana sekarang?”   “Entahlah, mungkin sudah mati.”   Lia menyedot sari tomatnya.   “Kenapa Abang harus kawin sama Kak Meinar kalau Abang lebih mencintai Kak Widuri?”   Joki tersentak.   “Lia rasa, Kak Widuri itu baiiik sekali,” kata gadis remaja itu. “Dia punya mama, Bang Joki?” lanjutnya.   Joki menggeleng.   “Saudara-saudaranya?”   Joki menggeleng lagi.   “Papanya?”   Joki tetap menggeleng.   “Ah, siapa yang membezuknya nanti?”   Joki mengangkat bahu dan mengeluh halus.   “Kasihan sekali,” ucap Lia tersendat.   Joki menghirup minumannya untuk meredakan gejolak dalam dadanya.   “Kita bezuk dia besok ya, Bang? Sambil bezuk Mama. Ya? Ya, Bang Joki?”   Joki menoleh. Mata Lia yang jernih menerkamkan pandangan ke mata abangnya. Bibirnya yang mungil menguakkan sari bunga mawar.   Maka Joki memegang jari-jari tangan adiknya dan kemudian mengangguk.   Maka suatu sore berwarna lembayung. Langit Kota Jakarta yang cerah menimpakan sisa-sisa panas matahari. Angin yang bertiup dari selatan membelai kulit orang-orang yang berlalu-lalang. Maka lembayung itu pun seindah warna laut dalam lukisan Rusli. Sejuk, namun menyimpan kehangatan.   Tetapi, Widuri memejamkan mata manakala wajah Joki tersembul di pintu.   Hati lelaki itu trenyuh. Rasanya, ada tangan berduri meremasnya. Ah, alangkah sengsaranya perempuan ini. Tubuhnya tak mampu lagi bangkit sebab kemauan untuk hidup telah padam. Bahkan pemakaman anaknya pun tak dapat disaksikannya. Tubuhnya yang lunglai hanya bisa terkapar di ranjang Rumah Sakit St. Carolus yang resik.   “Widuri,” sapa Joki pelahan.   Cuma bulu mata perempuan itu yang bergerak, sedikit. Beliung tajam menghunjam-hunjam ke lekuk dadanya yang paling rapuh. Matanya terasa panas. Lalu, mengalirlah air mata samar-samar.   Dia membuka mata, tetapi tatapannya hampa ke langit-langit kamar. Bahkan bingkai eternit pun sesungguhnya tak terlihat lagi olehnya. Kosong dan kosong. Hanya ada tetes air mata membasahi bantal.   Lia melangkah hati-hati tanpa menimbulkan suara, mendekati Widuri.   Widuri merasa ada tangan yang menggenggam telapak tangannya. Dia ingin merentakkan tangannya dari genggaman itu, tetapi jaringan tubuhnya telanjur tak mau lagi bergerak. Sesungguhnya, dia ingin meronta untuk melepaskan diri dari genggaman itu.   Tetapi, lambat-laun dia menyadari bahwa tangan yang menggenggam itu bukan milik seorang lelaki. Jari-jari tangan itu halus dan mungil.   Maka Widuri menoleh. Dalam bayangan kabut, dia melihat Lia. Bayangan yang bergoyang-goyang itu lambat-laun memperoleh bentuknya yang jelas. Wajah dengan mata yang menyorotkan simpati yang tulus. Maka kemudian Widuri membalas genggaman itu, membiarkan kehangatan tangan gadis remaja itu menyusup ke tangannya.   Dan, tak pernah lagi Widuri melintaskan pandangan pada Joki yang duduk di dekat kakinya. Matanya terus memandang bibir Lia yang berbicara lunak. Gadis remaja itu menceritakan perihal ibunya yang juga dirawat di rumah sakit itu. Juga bercerita tentang ibunya yang peramah sekaligus gampang pingsan. Lalu cerita tentang ayahnya yang pemarahnya bukan main. Tetapi, untung ayahnya itu jarang berada di rumah. Kemudian Lia bercerita tentang guru Aljabarnya yang kebetulan masih familinya sehingga Lia bisa memperoleh nilai bagus kendatipun dia bodoh dalam mata pelajaran Aljabar. Dan, bercerita tentang apa saja. Yang jelas, Lia berusaha memancing senyum Widuri sebanyak mungkin sore itu. Senyum yang paling samar pun jadilah.   Dan, senyum itu menguak ketika Lia berpamitan, setelah giring-giring tanda berakhirnya waktu bezuk terdengar.   Begitulah dari sore ke sore. Lia dan abangnya selalu mempersingkat kunjungan kepada ibu mereka, demi sisa waktu untuk kunjungan bagi Widuri. Tetapi, berhari-hari Joki tetap menjadi tunggul mati. Tidak digubris oleh Widuri. Bahkan sekadar lintasan mata pun tak pernah singgah ke sosok Joki. Lia selalu melibatkan abangnya dalam pembicaraan. Tetapi, jika pembicaraan menyangkut diri Joki, maka Widuri akan langsung membisu. Lalu pembicaraan pun menjadi dingin.   Sore itu kamar tempat Widuri dirawat lebih ramai dari biasanya. Lia, Joki, Anton, dan Erika datang bersamaan. Anton yang memang berpembawaan pandai bercanda berhasil membuat ruangan itu lebih meriah. Derai tawa Lia dan Erika bertebaran. Joki hanya dapat menyeringai diam-diam. Mata Widuri bersinar-sinar mengikuti canda Anton dan Lia yang tak berkeputusan. Tetapi, sinar mata itu cepat padam manakala pandangannya singgah pada Joki. Maka Joki merasa seharusnya dia tidak terlibat dalam canda-ria itu.   Erika cepat menyadari kenyataan itu. Maka, ketika mereka sudah meninggalkan ruangan itu, dia berkata kepada Joki, “Lama-lama dia akan lunak.”   Joki diam saja.   “Dia keras, tapi rapuh,” Anton menyambung ucapan istrinya.   “Sudah tujuh kali kami datang,” kata Joki datar.   “Tapi, dia senang pada Lia,” kata Erika.   Joki melirik adiknya. Lia mengerjapkan mata dan tersenyum. Joki mau menjentik hidungnya, tetapi Lia berlari menjauh dan berlindung di balik punggung Anton.   Mereka membelok di ujung koridor. Di dekat rimbunan bunga dalam pot besar, seorang dokter menghentikan langkah mereka.   “Sebentar. Anda-Anda baru saja mengunjungi Widuri?”   Keempat orang itu mengangguk serempak.   “Nama saya Darmanto. Saya dokter bagian psikiatri di sini.”   Joki mengawasi wajah dokter tua itu. Mata dokter itu mirip mata Anton. Mata yang suka berseloroh.   “Saya ingin bicara kalau Anda-Anda punya waktu,” lanjut Dokter Darmanto. Lalu dia mendahului melang­kah. “Begini,” kata dokter itu begitu sampai tempat yang dituju. “Penyakit Widuri sebenranya bukan pada fisiknya. Kelemahan fisiknya hanyalah merupakan akibat dari psikis, dari jiwanya. Dia tidak lagi memiliki kemauan untuk hidup, begitu ringkasnya. Akibatnya, fisiknya lemah.”   Joki mengetuk-ngetukkan pangkal rokoknya ke kotak korek api. Kamar kerja dokter itu sejuk karena AC bekerja dengan sempurna. Kursi tamu di ruangan itu empuk, tetapi tajam mata dokter tua itu mengawasi orang-orang yang duduk di depannya.   “Seperti kita ketahui bahwa kemauanlah merupakan motor dari kehidupan. Jika kemauan itu mati, walau­pun napas masih ada, sebenarnya kehidupan sudah tidak ada lagi.”   Sesaat dokter itu diam. Anton mengangguk-angguk. Dia studi di bidang psikologi. Karena itu hal tersebut tak asing lagi baginya.   “Dan, kemauan untuk hidup hanya akan ada jika di dalam diri seseorang ada perasaan bahwa dia masih dibutuhkan oleh lingkungannya. Artinya, dia merasa bahwa eksistensinya punya arti. Secara populer, kita dapat mengatakan bahwa perasaan semacam ini sensitif sekali jika disentuh oleh soal-soal cinta. Cinta, dapat meng­akibatkan secara positif menumbuhkan dan memperbesar kemauan untuk hidup, untuk eksistensiil. Tetapi, secara negatif, dapat mematikan kemauan itu. Jadi, cinta yang sering disebut-sebut itu punya potensi penting se­kali dalam kehidupan manusia. Anda mengerti?”   “Ya, saya mengerti,” kata Anton.   Mata Dokter Darmanto mengerjap.   “Bagus. Karena itu lebih gampang jika saya minta bantuan Anda-Anda semua. Secara medis, kami tak dapat menyembuhkan dia. Hanya dengan psikoterapi saja kiranya kita dapat mengeluarkan dia dan keadaan sekarang. Terapinya adalah cinta.”   “Jadi, Kak Widuri harus jatuh cinta?” tanya Lia polos.   Dokter Darmanto tertawa.   “Jatuh cinta, atau dicintai. Pokoknya asal dia merasa bahwa dirinya punya arti di dunia ini. Mencintai atau dicintai akan membuat manusia merasa punya arti. Merasa ada harga. Kalau itu terputus, atau buntu, atau gagal mencapai tujuan, atau secara populer dibilang patah hati, frustrated, dan dia tak mampu mengatasi problem kejiwaannya, di situlah matinya kemauan untuk hidup. Ika dia berani nekat, dia akan bunuh diri.”   “Ih!” Lia tersentak.   Dokter Darmanto menatap keempat orang di hadapannya.   “Kami sangat mengharap bantuan Anda-Anda,” katanya.   Sesaat dia diam. Cuma matanya yang memandang berpindah-pindah.   Joki gelisah, dan keringat mengalir di keningnya.   Penyejuk ruangan itu tak mampu meredakan badai yang bergolak dalam dirinya.   Dan, mata Dokter Darmanto menancapkan pandang kepada Joki. Hal ini membuat Joki menjadi risi.   “Bang Joki mencintainya,” kata Lia tiba-tiba.   Tawa Anton meledak.   “Oh, ya. Belum saya perkenalkan. Ini Saudara Joki,” kata Anton kepada Dokter Darmanto. “Dan, saya sendiri Anton.”   Dokter Darmanto mengangguk-angguk, dan kemudian berkata kepada Joki, “Kalau Anda dapat mengeluarkan dia dari keadaannya sekarang, kami akan sangat berterima kasih. Bagi kami, kebahagiaan tertinggi yang dapat kami rasakan adalah apabila pasien kami sembuh.”   “Kami juga menginginkan dia sembuh,” kata Joki terbata-bata.   “Saya tak dapat memberikan nasihat bagaimana cara menumbuhkan cinta. Saya hanya dapat mengulangi lagi, bahwa hanya cinta yang dapat membuat dia kuat. Sebab, ketiadaan cinta yang membuat dia lemah.”   Joki tertunduk. Kembali telapak tangan Lia menghangati perasaannya.   Lantas untuk hari berikutnya, sesuai dengan anjuran Anton, hanya Lia sendiri yang mengunjungi Widuri.   “Hai, Kak Wiwik!” sapa Lia di mulut pintu.   “Hai.” Bibir Widuri terkuak lemah.   Sepatu Lia berdetuk-detuk. Dia meletakkan buah segar di meja dekat kepala Widuri sembari bernyanyi-nyanyi.   “Suaramu bagus, Dik Lia. Kamu pintar nyanyi,” kata Widuri.   “Maklum, orang Batak,” kata Lia polos.   “Semua orang Batak pandai menyanyi?”   “Ah, enggak. Ada yang suaranya kayak gagak batuk.”   Widuri tersenyum. Tetapi, senyum itu hanya sekejap terkuak. Kemudian matanya menyimpan tanda tanya. Baru dia sadar bahwa Joki tidak ada di ruangan itu. Baru dia sadari bahwa Lia datang sendirian.   Lantas ada jalaran halus di dadanya. Jalaran itu menyusup ke relung hatinya. Inilah yang namanya sepi.   “Banyak yang suaranya jelek. Kayak Bang Joki misalnya,” kata Lia menyambung.   Jalaran di dada Widuri tiba-tiba terasa kacau-balau. Matanya tiba-tiba liar. Dia khawatir ada yang mengetahui bahwa dia sedang memikirkan lelaki itu.   Lia memegang jari-jari tangan Widuri.   “Lia kupaskan jeruk ya, Kak Wiwik?”   Widuri menggeleng.   “Kenapa orang Batak banyak yang pintar menyanyi, Dik Lia?”   “Barangkali karena di mana saja, kapan saja, mereka suka menyanyi. Terutama orang Kristen. Waktu sembahyang, menyanyi. Pesta perkawinan, menyanyi. Waktu berkabung kematian, juga ada upacara menyanyi. Ini yang namanya mengandung. Kalau di daerah pedalaman, orang yang bercintaan juga menyanyi-nyanyi untuk menyampaikan isi hati.”   “Kamu sudah punya pacar, Dik Lia?”   Lia tersenyum.   “Ada. Bang Joki!” katanya.   “Eh?” Mata Widuri terbelalak.   “Iya. Habis, di Jakarta ini Lia nggak punya pacar. Kalau di Medan, ada dua orang.”   “Wow, dua orang?”   “Ya. Keduanya bilang cinta sama Lia.”   “Lantas, Lia sendiri bagaimana?”   “Lumayan, ada teman nonton. Bisa ganti-ganti.” Widuri tergelak pelahan.   “Kalau Kakak?”   Widuri tersentak. Matanya kembali liar. Gelisah. Dia tidak berani menatap Lia. Dia hanya memandang langit-langit kamar.   “Bang Joki bilang, dia mencintai Kakak,” kata Lia tuntas.   Jantung Widuri terguncang. Matanya tambah liar. Tangannya kejang dan mencengkeram ranjang.   “Tidak, tidak, tidak!” katanya terengah.   “Iya!” kata Lia lebih tegas lagi. “Bang Joki mencintai Kakak.”   Napas Widuri tersengal.   Lia mengupas jeruk. Lalu dia meninggikan bantal di kepala Widuri sehingga perempuan itu separo duduk menyandar.   “Makan ini, Kak Wiwik,” kata Lia.   Widuri terpaksa mengangakan mulut sebab Lia menyodorkan seulas jeruk.   “Lia senang kalau Kakak sama Bang Joki,” kata Lia.   Widuri terbatuk. Air jeruk menggelitik tenggorokannya. Setelah batuknya reda, dia berkata, “Saya senang padamu, Dik Lia. Saya tak punya adik. Saya senang padamu, tapi jangan sebut-sebut soal tadi lagi ya?” Terengah napas Widuri.   “Kenapa tidak? Lia tahu semua rahasia Bang Joki. Dia ceritakan semuanya kepada Lia. Sejak Bang Joki bertemu dengan Kak Wiwik di bus kota waktu hujan sore-sore itu.”   “Jangan bicarakan itu!”   “Tapi, ini kenyataan. Masak Lia harus menyembunyikan? Bang Joki tak mungkin membohongi Lia.”   “Lia! Jangan!” Suara Widuri meninggi. Matanya menyala.   “Bang Joki mencintai Kakak. Apa karena dia tak gagah makanya Kakak tak suka?”   “Lia!” Suara Widuri hampir menyerupai jeritan. “Jangan sebut-sebut soal itu. Jangan bicarakan soal itu. Saya tak mau! Saya tak mau! Tak mau!”   “Tapi, Lia tak bisa menyimpan ini. Lia kasihan pada Bang Joki kalau ini tidak Lia sampaikan.”   “Keluar kamu, Lia! Keluar! Keluar!” jerit Widuri dengan mata menyala-nyala.   Lia ketakutan. Dia melangkah mundur seraya berdesis, “Maaf, maaf, maaf.”   Lia berlari keluar.   Widuri menelungkup, membenamkan tangisnya ke bantal.   Lia berlari terus. Berlari terus. Sepatunya berdetak-detak di sepanjang koridor Rumah Sakit St. Carolus. Dan, dia berhenti setelah sampai di mulut koridor. Di situ telah menanti Anton, Erika, Joki, dan Dokter Dar­manto.   “Bagaimana?” sambut Dokter Darmanto sembari merangkul bahu Lia.   “Wah, ngeri, Oom,” kata Lia.   “Dia marah?” tanya dokter tua itu antusias.   “Iya, marah sekali.”   “Good,” kata Dokter Darmanto seraya menghela napas panjang. “Terima kasih, Lia. Kamu banyak membantu,” lanjutnya.   Joki terheran-heran memandangi Anton. Maka Anton berkata, “Kemarahan menandakan ada sikap perlawanan. Dan, ini merupakan sumber yang baik bagi kemauan.”   “Lantas?” tanya Joki.   “Setapak-setapak kita akan mengeluarkan dia dari libatan putus asanya. Jalan akan semakin terang,” kata Dokter Darmanto.   Akan halnya Widuri? Dia menguras air matanya di bantal. Ketika sesenggukannya mereda, pelahan membayang wajah Lia di matanya. Wajah yang ketakutan ketika mundur-mundur mendekati pintu dengan suara gugup meminta maaf.   Maka kesadaran semakin mengelupas di kepala Widuri.   Ah, kenapa aku sekasar itu kepadanya? Dia sangat baik kepadaku. Kenapa aku sekasar itu? Kenapa aku marah seperti itu hanya lantaran Lia membicarakan Joki.   Maka bayangan Joki menggantikan bayangan Lia. Tak sulit menukarkan gambaran bayangan itu. Sebab wajah abang-adik itu mirip. Kenapa aku semarah itu hanya karena Lia mengatakan bahwa Joki mencintaiku? Kenapa aku marah hanya karena Joki mencintaiku? Hanya karena, hanya karena, hanya karena?   Widuri menelentang. Dia menatap langit-langit kamar. Dan, kesadarannya hinggap lagi.   Kenapa sekarang segampang ini aku membalikkan tubuh? Padahal, hari-hari yang lalu tubuhku terasa lunglai sekali.   Maka sepanjang sore dan malam harinya Widuri menekan-nekan pertanyaan demi pertanyaan yang meluap di kepalanya. Dia ingin hari cepat berganti. Ingin sore cepat datang. Dia berharap Lia muncul di ambang pintu. Seperti biasanya, gadis remaja itu akan mengucapkan ‘hai’ yang bebas lepas. Rambutnya yang terjurai akan bergoyangan.   Tetapi, sore berikutnya Lia tak muncul. Lia yang ceria tak muncul. Sore itu hanya Anton dan istrinya yang berkunjung. Ingin sekali Widuri menanyakan perihal Lia, kenapa gadis itu tidak mau datang lagi. Tetapi, dia khawatir pembicaraan akan merembet ke perihal Joki. Maka Widuri mengisi pembicaraan dengan mengungkap-ungkap pengalaman-pengalaman mereka ketika sama-sama kuliah di Kampus Gadjah Mada.   Cuma, sepi tetap meroyak dada Widuri. Lebih-lebih setelah Erika dan suaminya meninggalkannya seorang diri.   Esok harinya, mata Widuri menatap ke pintu. Tetapi, gadis berkulit kuning kemerahan di pipi itu tak kun­jung muncul. Mulut pintu tetap kosong dari sosok Lia. Kosong dan sepi.   Sepi dan lengang. Padahal hari ini Erika dan Anton sudah minta izin tidak datang. Mereka sudah bilang sedang ada urusan penting. Maka sepi bertambah lengang bagi Widuri.   Giring-giring tanda akhir bezuk sudah terdengar, tetapi itu merupakan tanda pasti bahwa Lia tidak datang.   Maka penyesalan menampar-nampar Widuri. Kenapa aku sekasar itu pada gadis sebaik dia? Tentunya dia punya perasaan yang peka. Sepeka perasaan abangnya yang gampang tersinggung. Pastilah dia tidak mau menemuiku lagi sampai kapan pun. Dia akan kembali ke kotanya, ke Medan yang jauh. Dia pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan. Oh, aku telah kehilangan seorang sahabat. Seorang adik. Aku kehilangan hal yang paling berharga untuk hidupku hanya karena aku menuruti kemarahan yang tak jelas dasarnya. Ya, apa sesungguhnya dasar kemarahanku pada gadis remaja yang baik hati itu? Karena dia mengatakan bahwa abangnya mencintaiku? Apa salahnya dia mengatakan itu? Sekalipun aku membenci Joki, apa hubungannya dengan Lia yang manis itu? Ah!   Sore itu gerimis. Dari jendela paviliunnya, Widuri bisa melihat tetes-tetes hujan membasahi halaman Rumah Sakit St. Carolus. Dia hanya menatap jendela sebab tak punya harapan lagi menunggu Lia di ambang pintu.   Tiba-tiba dia tersentak oleh suara pintu terbuka.   “Hello, Widuri.”   Suara itu berat, dan tidak jelas mengucapkan ‘r’. Di ambang pintu itu tegak Tuan Stephen. Matanya yang biru menatap tajam. Menghunjam ke dada Widuri dan membuat keresahan menggeliat di dada perempuan itu.   “Saya baru tahu kamu ada dirawat di sini,” kata Tuan Stephen sembari duduk di kursi di samping pembaringan Widuri.   Widuri membisu.   “Anton beri tahu saya,” lanjut lelaki itu.   Jantung Widuri tersentak. Oh, kenapa dia memberi tahu lelaki ini? Kenapa Anton jadi sebodoh itu? Ah!   “Menyesal saya baru tahu sekarang,” kata Tuan Stephen lagi.   Widuri tetap membisu. Resah di dadanya membuatnya sulit bernapas.   “Anton tidak sebut sakit kamu. Apa sakit kamu, Widuri?”   Widuri menggeleng-geleng lemah.   “Kasihan,” ujar lelaki itu sembari mengusap kening Widuri.   Pelan Widuri menolak tangan lelaki itu.   Gerimis masih turun dari langit sore hari. Gemerciknya menempias di kaca jendela.   Tuan Stephen berusaha meraba tangan Widuri, dan perempuan itu berusaha menggeliatkan tangannya. Tetapi, telapak tangan Tuan Stephen teramat lebar untuk dielakkan oleh tangan Widuri yang kurus kecil itu. Lebih-lebih lagi karena perempuan itu merasa badannya sa­ngat lelah. Maka dia terpaksa membiarkan telapak tangan lebar itu menindih tangannya. Tetapi, kali ini sa­ma sekali tak ada kehangatan dari tangan lelaki itu.   Sejak semula, Widuri merasa dirinya jatuh ke pelukan lelaki itu hanya sebagai akibat dari suatu pelarian. Tetapi, sekarang dia tidak ingin lari lagi. Lari dari apa dan karena apa, Widuri sendiri tidak jelas. Badan dan pikirannya terlalu letih. Dia tak ingin lari lagi. Tak ada pelarian lagi. Dia lumpuh, tak akan mempedulikan apa pun yang terjadi.   Cuma satu hal yang mengganjal di hati Widuri saat ini, yaitu kenapa dia tidak bisa bertemu Lia lagi. Entah di mana gadis itu sekarang. Ah, gadis remaja yang meledak-ledak dalam kegembiraan, gadis polos yang menatap dunia dan sorot mata simpati. Widuri ingin mempunyai adik semacam gadis itu. Adik yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan kekosongan hati. Tody Kecil telah hilang. Lalu, Lia yang lincah bagai kelinci pun telah lenyap. Tody yang mungil bagai kupu-kupu telah tiada, dan Lia yang grapyak bagai burung gereja sudah pergi. Murung menyungkup diri Widuri.   Tuan Stephen mengelus telapak tangan Widuri.   Widuri tak bereaksi.   “Sayang sekali kamu tiba-tiba sakit. Saya mau pergi ke Tokyo. Saya ingin ajak kamu beserta saya,” kata Tuan Stephen.   Widuri masih juga membisu.   “Kalau kita ke Tokyo, sekarang di sana musim dingin. Salju turun. Di atap rumah-rumah, salju seperti kapas. Putih. Senang lihat salju?”   Widuri menggeleng.   “Atau ke Manila? Saya juga singgah di Manila satu minggu. Yah, satu minggu bisa lihat banyak. Ya?”   Widuri tak menjawab.   Suara pintu terbuka. Widuri menoleh. Joki berdiri di situ. Darah Widuri berdesir. Beberapa saat Joki tegak membisu. Matanya nyalang mengedari seluruh ruangan.   Tuan Stephen menoleh. Widuri menggeliatkan tangannya hingga terlepas dari tindihan tangan lelaki itu.   Setapak demi setapak Joki memasuki kamar itu, lalu berdiri di samping pembaringan Widuri. Matanya menghunjam tajam ke wajah Widuri. Resah di dada perempuan itu menyusup ke segenap penjuru tubuhnya.   “Lia di mana?” tanya Widuri kemudian, terbata-bata.   “Di rumah,” jawab Joki tanpa nada.   “Jadi, masih di Jakarta ini? Kenapa dia tak pernah datang lagi? Suruhlah dia kemari.”   “Untuk apa?” Suara Joki dingin.   Widuri terbungkam. Pelan-pelan kelopak matanya terpejam. Hati Joki sesungguhnya teramat giris. Dia melirik Tuan Stephen.   Widuri terisak. Dari celah bulu matanya mengalir air hangat. Pipinya pun basah.   Joki bergerak mendekati Widuri.   “Maaf,” katanya kepada Tuan Stephen.   Pelan-pelan tangan Joki terangkat, dan mengusap pipi Widuri yang cekung. Jaringan tubuh Widuri kejang. Tangan yang mengusap itu lembut, tetapi jelas bukan tangan Tuan Stephen. Bukan tangan dia. Lantas, tangan siapa? Oh!   Widuri membuka mata. Wajah Joki begitu dekat dengan kepalanya.   “Maafkan aku, Wid,” kata Joki separo berbisik di dekat telinga perempuan itu.   Widuri menangkap tangan lelaki itu dan menciuminya, membasahinya dengan air mata yang tambah deras.   “Joki... Joki... Joki...” rintihnya. Dia menciumi telapak tangan Joki, melumuri jari-jari tangan lelaki itu dengan air matanya yang hangat.   “Maafkan aku, Widuri,” ulang Joki.   Widuri tetap terisak.   Joki menoleh kepada Tuan Stephen.   “Maafkan kami,” katanya. “Saya dan tunangan saya agak kurang sopan pada Anda,” lanjutnya.   “Saya dan tunangan saya?” desis Widuri. Lalu isak tangisnya pecah lagi. Dia merentak bangun, dan memeluk Joki erat-erat. Dia menciumi muka lelaki itu sehingga wajah Joki basah oleh air mata. Bibir Joki serta-merta menjilati air mata perempuan itu.   “Oh, saya yang harus minta maaf,” kata Tuan Stephen pelahan. Dia pun pelahan berdiri. “Sangat minta maaf. Saya pergi. Oh, ya, saya harap bahagia,” lanjutnya sembari menepuk bahu Joki.   Joki tak mempedulikannya. Tangis Widuri menyayat-nyayat kerinduannya selama ini.   “Saya tak tahu Widuri ada tunangan,” kata Tuan Stephen lagi.   Joki cuma melirik.   Tuan Stephen merasa bergidik menerima siriknya tatapan mata lelaki itu. Maka dia berbalik dan terburu-buru melangkah meninggalkan tempat itu. Saking tergesa-gesa, dia tidak melihat tukang sapu yang berjalan di depannya. Dia menabrak tukang sapu itu. Ember yang dibawa tukang sapu itu jatuh berkerontangan. Suaranya mengejutkan. Beberapa orang perawat menjulurkan kepalanya dari dalam kamar jaga. Tatapan mereka sengit.   “Jangan berisik, Pak Atmo!” kata seorang perawat.   “Tuan ini yang nabrak saya, Non,” kata tukang sapu itu ketakutan.   “I’m sorry,” kata Tuan Stephen berulang-ulang sambil meneruskan langkahnya yang lebih terburu-buru.   “Ayam sore! Ayam sore!” gerundel tukang sapu itu.   Gerimis telah reda. Bunga-bunga di halaman mekar dalam kesegaran yang nyaman.     ***   Penutup   Widuri telah keluar dari rumah sakit. Tubuhnya masih kurus. Tetapi, kebahagiaan yang menyungkupnya membuatnya lega menghirup udara. Kota Jakarta yang pengap dan sengit memberinya angin segar manakala tangan Joki ketat menggenggam jari-jarinya. Karena Widuri telah di rumah kembali, Joki tak pernah lagi pergi ke rumah sakit, sekalipun di sana masih dirawat ibunya. Seolah-olah ingin menebus kekurangan yang dialaminya pada masa lalu, maka Joki mengisi hari-harinya dengan keceriaan cinta bersama Widuri.   Siang itu Joki berada di rumah pondokannya. Nanti sore dia akan ke rumah Widuri. Joki mengepul-ngepulkan asap rokoknya sembari membayangkan wajah Widuri yang teduh dalam asap yang buyar itu.   “Bang Joki! Bang Joki!” Terdengar panggilan dari luar rumah.   Joki cuma bergumam. Dia tahu yang datang Lia. Seperti biasanya, gadis remaja itu menghambur ke dalam rumah dan meninju abangnya.   “Jangan, ah!” kata Joki. “Kau sudah gede, tetapi masih jugaaleman .”   “Alemanitu apa? Bahasa Jawa ya?”   “Alemanitu, ya kayak tingkah Lia.”   “Bagaimana tingkah Lia?”   “Aleman,” kata Joki.   “Ah, brengsek. Bang Joki brengsek!”   “Ya, brengsek. Tapi, abangmu, ‘kan?”   Lia tak menanggapi. Dia duduk di kursi, di hadapan abangnya. Sesaat wajahnya serius.   “Mama sudah keluar dari rumah sakit tadi pagi,” katanya.   “Oh.” Joki menarik napas berat.   “Persiapan perkawinan Abang sudah makin selesai.”   “Ah!” Joki mengeluh.   “Apa yang harus kita lakukan, Bang?”   Joki mengusap-usap dagunya.   “Bagaimana Kak Meinar? Bagaimana Kak Widuri?” kata gadis remaja itu.   Joki mengeluh bagai sapi di padang. Dia menaikkan kakinya ke atas meja.   “Aku akan bicara dengan Mama dan Papa,” katanya kemudian.   “Apa yang mau Abang bilang?”   “Aku tidak akan kawin dengan Meinar. Aku akan kawin dengan Widuri. Meinar harus kawin dengan pacarnya yang dulu, Burwan Wattimena.”   “Ya, bagus!” Lia bertepuk tangan.   Joki mengepalkan tinjunya, membuat bunyi gemeretak.   “Ayo, sekarang kita ke rumah Tulang Sahala,” kata Lia bersemangat. “Lia akan bantu Abang. Apa pun yang terjadi, Lia berdiri di pihak Abang dan Kak Widuri.” Lia melompat berdiri.   Joki bangun dari duduknya, lalu memeluk adiknya dan mencium kening gadis remaja itu.   “Terima kasih, Sayang,” katanya.   Dan, di rumah Tulang Sahala, mereka menemui orang tua mereka di ruang tamu. Lia duduk di tangan kursi yang diduduki abangnya. Di depan mereka, duduk ayah, ibu, tulang, dan nantulang mereka.   “Tidak mungkin!” sergah ibu Joki begitu selesai Joki mengutarakan maksudnya.   “Tidak mungkin untuk Mama, bukan berarti tertutup kemungkinan untukku,” kata Joki.   “Yang kubilang tempo hari masih berlaku sampai saat ini, Joki,” kata ibunya.   Joki menatap wajah ibunya. Selama dirawat di rumah sakit, rupanya kesehatan orang tua ini telah pulih kembali. Akibatnya, suara galaknya pun pulih kembali.   “Kalau begitu, tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kita batalkan pesta perkawinan, biar arang tercoreng di kening. Dan, jangan lagi pijak rumah orang tua dan saudara-saudaramu untuk selama-lamanya.”   Joki diam. Tetapi, wajahnya tak berubah. Tetap dingin.   “Jadi, betul-betul mau jadi anak durhaka?” Suara ayahnya tajam.   Joki tak bereaksi. Dia mengeluarkan rokok. Lia mengambil korek api dari tangan abangnya, lalu menyalakan rokok yang terselip di bibir abangnya. Joki tersenyum dan menjentik dagu adiknya.   “Lia sudah kenal calon istri Bang Joki. Orangnya baik,” kata Lia.   “Lia!” bentak ibunya.   Lia menoleh ke arah nantulang-nya, dan mengerjapkan mata kanannya. Perempuan tua itu terpaksa tersenyum.   “Lia ngomong soal kenyataan,” kata gadis remaja itu.   “Lia, jangan ikut campur urusan orang tua,” kata ayahnya lunak.   “Urusan orang tua?” jengek Lia.   “Pergi masuk ke kamar!” bentak ibunya.   Lia cuma menggaruk kepalanya, tetapi tak bergerak dari tempatnya.   “Ayo, masuk. Lia!” Tambah sengit suara ibunya.   “Bang Joki datang ke sini karena Lia ajak. Lia harus di sini!” kata gadis remaja itu tak kalah sengit.   Mata ibunya mendelik, tetapi tak diacuhkan oleh Lia. Maka perempuan tua itu kemudian menghela napas berat, dan menghembuskannya kuat-kuat.   Lia menjatuhkan tubuhnya ke bahu abangnya.   “Kau menolak dikawinkan dengan Meinar itu saja sudah tak bisa dimaafkan. Ditambah lagi mau kawin dengan janda. Bah, bah, bah!” Suara ibu Joki parau.   “Itu harus terjadi,” kata Joki.   “Dengar, Joki. Jangan bikin malu keluarga,” kata Tulang Sahala.   “Siapa yang bikin malu? Siapa yang membuat persoalan ini? Siapa pula yang memaksa aku kawin dengan Meinar?” ujar Joki.   Ruangan itu hening. Lia menggores-goreskan anak korek api ke sarangnva. Dan, dia terkaget ketika batang korek api itu tiba-tiba menyala.   “Begitu saja. Capek kita bicara,” kata ayah Joki.   Joki menatap lelaki tua itu.   “Lakukan apa yang ingin kaulakukan, dan jangan jumpai lagi kami sepanjang umurmu,” lanjut ayahnya.   Joki menggoreskan kesan pahit pada sudut mulutnya.   “Baik,” katanya. Lalu dia berdiri. Lia ikut tertegak.   “Pergilah,” kata lelaki tua itu dingin.   Joki mengawasi perut ayahnya yang gendut.   “Ya, aku akan pergi. Kita sudah hidup dengan cara yang salah selama ini. Kita dibebani pesan agar setiap anak mengabdi kepada orang tua. Anak harus berbakti kepada orang tua. Tapi, apa pernah dipertanyakan, apa yang diperbuat para orang tua terhadap anak-anaknya? Kenapa harus seorang anak yang diwajibkan berbakti padahal dia tak pernah menginginkan kelahirannya? Kalau boleh memilih, seseorang akan lebih suka untuk tidak dilahirkan ke dunia ini. Sebab, hidup di dunia ini pahit. Orang tua melontarkan anak-anaknya ke dunia ini agar menghirup udara yang getir.”   “Sudah,” kata ayahnya memutus.   “Biarkan aku bicara dulu. Barangkali ini kesempatan terakhir kita bicara berhadapan begini,” kata Joki. Sesaat dia mengawasi kedua orang tuanya. “Hubungan orang tua dan anak seperti yang kita kenal selama ini hanyalah hubungan pengabdian. Seorang anak laki-laki harus mengabdi kepada orang tuanya sebab dia memperoleh marga dari ayahnya. Orang-orang tua merasa dirinya layak diabdi karena secara iseng-iseng dia dapat menciptakan manusia lemah di muka bumi ini.”   Orang-orang tua yang ada di ruangan itu tersentak.   “Ya, orang tua harus diabdi anaknya. Jika anak ini pun dewasa, lalu membikin anak, maka sang anak ini pun akan mengabdi pada orang tua baru itu. Karena itu, setiap hubungan hanya merupakan pengabdian dari generasi yang lebih belakangan lahir kepada penyebab ke­lahiran generasi itu. Padahal, padahal, kalau boleh me­milih, seseorang akan lebih suka tidak dilahirkan ke dunia ini.”   “Sudah!” Ayahnya bangkit memberangsang.   “Tunggu dulu. Silakan tenang,” kata Joki dingin. “Aku ingin bertanya sekarang. Apa yang sudah Papa perbuat untuk kami, anak-anak Papa, selama ini? Apa yang Papa perbuat selain memberikan materi?”   Lelaki tua itu tegak dengan tinju terkepal. Wajahnya merah-padam.   “Apa asuhan Papa pada kami, anak Papa, selama ini? Papa cuma memberi kami materi, yang itu pun Papa peroleh dengan cara apa, kelakuan Papa sama sekali tidak mencerminkan seorang tua yang layak diabdi.”   “Diam!” Suara lelaki tua itu mengguntur. “Anak durhaka! Apa gunanya engkau lahir? Apa gunanya kau lahir? Oh!” Lelaki tua itu mengepal-ngepalkan tinjunya. Gerahamnya berkeriut-keriut.   “Ya, aku pun tak tahu kenapa aku lahir. Seharusnya Papa yang bisa menjawab: untuk apa sebenarnya anak-anak Papa dilahirkan.”   “Terkutuk! Lebih baik kau mati waktu kau kecil dulu! Lebih baik kau mati kena thypus waktu kau kecil!”   “Ya, kupikir itu paling baik sebenarnya. Tapi, sekarang, aku sudah terlanjur hidup. Dan, hidup yang tidak menyenangkan.”   “Ah, menyesal kau lahir ke dunia ini. Aku menyesal kau jadi anakku!”   “Aku pun menyesal jadi anak Papa. Sangat menyesal!” kata Joki penuh tekanan.   Rahang ayahnya bergerak-gerak. Ini kebiasaan jika dia marah memuncak. Waktu Joki masih kecil, itu pertanda bahwa ayahnya bakal memukulnya. Maka sekarang pun Joki bersiap untuk mengelak.   Tubuhnya menggigil. Tetapi, lelaki tua itu tidak memukulnya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian berkata, “Sekarang kau masih hidup. Kalau kau menyesal menjadi anakku, kenapa kau tidak mati saja sekarang? Sekarang! Sekarang!”   “Barangkali itu memang jalan yang paling tepat. Silakan Papa pilih bagaimana jalan kematianku, di depan kalian, Papa dan Mama yang telah menjadi penyebab kelahiran yang kusesali.”   “Baik!” Ayahnya melompat dan berlari ke kamar. Lalu, keluar laqi dengan napas terengah. Di tangannya tergenggam sepucuk Vickers. Dengan wajah merah-padam dia melemparkan pistol itu ke dekat kaki Joki. “Lakukan dengan baik. Aku pun akan melihat kematianmu dengan tenang.”   Joki sempoyongan berdiri. Tubuhnya menggigil. Darahnya terasa dingin. Semua orang di ruangan itu menahan napas.   Joki melirik pistol yang menggeletak di dekat kakinya. Matanya panas. Pistol itu sangat dikenalnya. Pistol yang pernah dikantonginya ketika hidup menggerombol dengan gengnya di Medan. Pistol yang pernah ditembakkannya ke arah orang-orang yang mengejar geng­nya. Pistol yang pernah diledak-ledakkan dari dalam mobil pada Malam Tahun Baru di Medan.   Kelopak mata Joki sebak. Dia menatap ayahnya dengan bibir menggigil. Lalu, pelan-pelan dia membungkukkan badan dan mengambil pistol itu.   Dengan cepat dia mengokang, dan pelan-pelan mengarahkan larasnya ke pelipisnya. Dia menoleh ke arah adiknya.   “Jangan!” jerit gadis remaja itu tinggi. Dan, ternyata bersamaan dengan pekik ibunya. Maka kedua perempuan itu menubruk Joki. Ibunya merenggut tangan Joki yang memegang pistol. Tubuh Joki sangat lemah sehingga dia mudah terjatuh ke dalam pelukan kedua perempuan itu.   Lia merebut pistol dari tangan abangnya, dan melemparkannya pada ayahnya. Tetapi, lemparan itu tidak mengenai sasaran. Pistol menghantam kaca lukisan. Kaca pecah berderai.   Lia menangis tersedu-sedu. Ibunya menangis meratap.   “Sejak kecil kau keras hati. Waktu kecil, biarpun kau sakit, kau tak pernah menangis,” ratap perempuan tua itu.   Tangis Joki pecah. Dia tersedu-sedu sembari melepaskan diri dari pelukan sang ibu dan sang adik.   “Kenapa kau sampai hati, Joki? Kenapa sampai hati?” keluh perempuan tua itu dengan tetap bergayut di lengan Joki.   Tulang Sahala dan istrinya masih terpana.   “Aku mau pergi. Aku mau pergi,” kata Joki lemah. Dia merentakkan tangannya dari pegangan ibu dan adiknya.   “Jangan,” kata kedua perempuan itu.   Tetapi, Joki dengan keras menyentakkan tangannya, kemudian melangkah sempoyongan ke pintu.   “Lia ikut Bang Joki,” kata Lia dalam sedannya.   “Lia!” bentak ayahnya.   Lia membalik langkah dan katanya, “Aku tak mau ikut kalian!”   “Lia!” sergah ibunya.   “Kalau aku pun mati, tak ada soal buat kalian!” kata gadis remaja itu sebelum berlari mengejar Joki yang sudah sampai di halaman.   Tulang Sahala terlepas dari keterpanaannya. Dia menghela napas panjang.   “Wah, hampir saja. Tidak kusangka si Joki begitu keras hati,” katanya dalam bahasa Batak.   “Aduuuh, bagaimana kalau sampai terjadi?” keluh istrinya.   Ayah Joki mengedikkan bahu sembari mengambil tempat duduk. Dia menatap kaca lukisan besar di din­ding yang pecah.   “Kenapa kau sampai hati begitu? Kenapa sampai hati begitu pada anak sendiri?” ratap ibu Joki ke arah suaminya. Mereka tetap berbicara dalam bahasa Batak.   “Siapa yang sampai hati?” kata ayah Joki lesu.   “Jadi?”   “Pistol itu kosong.”   “Bah!” Tulang Sahala menghembuskan napas kuat-kuat.   “Tak pernah pistol itu kuisi.”   “Tapi, siapa tahu ada tangan setan yang mengisinya. Oh,” ratap perempuan tua itu menyesali tindakan suaminya.   “Ya. Setiap alat pembunuh ada setannya.” Tulang Sahala menimpali. Dia beranjak mengambil pistol itu dan memeriksanya. Memang kosong. Tetapi, walau begitu dia tetap menggeleng-gelengkan kepala mengingat peristiwa yang baru saja berlalu. Kalau sampai peluru menembus kepala anak itu, bah! Tulang Sahala bergidik.   Ayah dan anak sama-sama keras bagai baja, pikirnya. Lalu dia ingat pada anaknya, Monang, yang lembek bagai agar-agar. Maka dia mengeluh tanpa suara. Dia tak suka anaknya memberontaknya, tetapi juga tak suka jika anaknya kelewat lemah, tak menunjukkan sikap perjuangan.   Di dalam bus kota, Lia masih juga memegangi lengan abangnya. Keduanya tak lagi menangis. Kini tinggal termangu-mangu. Manakala ingat pistol dalam genggamannya tadi, Joki menggemeretakkan gerahamnya. Masih terbayang popor pistol segi empat yang dingin di tangannya.   Sejak peristiwa itu, Lia tinggal di rumah pondokan Joki. Dari telepon umum, Lia menelepon Meinar agar menyiapkan pakaian-pakaiannya, dan menyuruh Monang mengantarkannya ke rumah Joki.   Dia merasa senang tinggal di rumah yang menjorok ke dalam gang becek itu. Pagi hari, dia masak atau mencuci. Pekerjaan yang sangat asing baginya pada mulanya. Tetapi, lama kelamaan dia menjadi biasa. Dalam kemarahannya terhadap orang tua, pekerjaan macam mana pun tak ada yang dirasa berat bagi gadis remaja. Yang penting, orang-orang tua harus tahu bahwa seorang anak bukan untuk ditindas. Itu pikiran Lia.   Joki menjalankan taksi yang kebetulan pemiliknya sedang pulang ke Medan. Siang dan malam dia menarik. Karena itulah maka ia jarang berada di rumah. Lia yang sering merasa kesepian memanfaatkan waktu untuk mengunjungi Widuri. Di rumah Widuri, kedua perempuan itu merasa saling membutuhkan.   Tetapi, suatu siang, ketika matahari persis di kulminasi langit, Lia tersentak bangun dari duduknya. Di pintu, tegak Tulang Sahala, Nantulang, diantar oleh Monang. Lia tegak tersipu-sipu.   “Ooo, Boru Tobing,” kata nantulang-nya sembari menciumi pipi Lia.   Lia semakin tersipu.   “Mana abangmu?” tanya Tulang Sahala.   “Kerja.”   Kening Tulang Sahala berkerut.   “Kerja apa?” tanyanya kemudian.   Sejenak Lia kebingungan, tetapi kemudian dia ingat ucapan Joki, “Jadi sopir bukan pekerjaan yang memalukan. Kalau dikerjakan dengan jujur, sama harganya dengan pekerjaan sebagai presiden, menteri, atau gubernur yang juga menjalankan pekerjaan dengan jujur!” Maka Lia berkata tegas, “Narik taksi!”   “Wah!” kata nantulang-nya.   “Taksi apa?”   “Morante.”   “Hm, hm,” gumam Tulang Sahala. Dia mengedarkan pandangan ke segenap penjuru ruangan tamu yang sederhana itu. “Sudah jadi kawin dia?” tanyanya kemudian.   “Belum. Bang Joki masih mau mengumpulkan uang. Kak Widuri juga. Nanti, kalau uang sudah cukup, baru mereka kawin.”   Nantulang-nya mengangguk-angguk. Dia kemudian tersenyum kepada Lia.   “Papa dan mamamu sekarang sudah tidak marah lagi.” katanya.   “Huuu!” Lia mencibir. “Marah atau tidak, apa urusan Lia?”   Nantulang-nya tergelak.   “Ooo, Boru Tobing,” katanya.   Lia menggoret-goret lengan kursi. Tulang Sahala menggaruk lengannya. Lia tertawa.   “Jangan duduk di situ. Tulang pindah saja ke kursi ini. Di situ banyak kepinding.”   Tulang Sahala bertatapan dengan istrinya. Lalu keduanya tergelak. Dan, Tulang Sahala pindah duduk di samping Lia.   “Agak kurus kau, Lia,” katanya sembari memijit hidung gadis itu.   “Lia senang kurus,” kata Lia.   “Yah, tambah cakep,” kata nantulang-nya.   Lia mencibir.   “Abangmu jam berapa biasanya pulang?”   “Kadang-kadang nggak pulang. Tapi, biasanya di atas jam dua.”   Tulang Sahala menggeleng-geleng.   “Papa dan mama kalian menyesal. Mama mengharap Lia pulang,” kata nantulang-nya.   “Tidak!” jawab Lia.   “Papamu rindu sekali sama kau.”   “Ah! Biarpun Lia mati, Papa tak akan peduli. Lia cuma anak perempuan, sedang sama anak lelaki saja dia sampai hati begitu.”   “Papamu cuma main-main. Pistol itu kosong,” kata Tulang Sahala.   Kepala Lia terangkat.   “Sungguh. Pistol itu kosong. Tulang sendiri memeriksanya.”   “Ah, masak,” kata Lia.   “Wah, masakan Tulang mau berbohong? Papamu cuma main gertak sambal.”   Lia termangu-mangu.   “Ayolah, Lia. Nurlia Boru Tobing, ayolah pulang. Papa dan mamamu sudah mau pulang ke Medan. Li­buranmu ‘kan sudah hampir habis?”   Lia menatap tulang-nya.   “Ah. enggak. Lia mau tanya dulu sama Bang Joki.”   “Abangmu pasti setuju. Kau kembali sekolah baik-baik.”   “Lia mau ikut Bang Joki. Kalau dia sudah kawin dengan Kak Widuri, baru hati Lia senang.”   “Nama perempuan itu Widuri?” tanya tulang-nya.   “Ya.”   “Di mana rumahnya?”   “Jauh dari sini,” jawab Lia tak acuh.   Tulang Sahala menatap istrinya.   “Lia bikin minum dulu,” kata Lia sembari bangkit. Tetapi, tulang-nya menekan bahunya.   “Tak usah,” katanya.   “Sebenarnya, Tulang dan Nantulang datang untuk bicara dengan abangmu,” kata nantulang-nya.   Lia menatap curiga.   “Tulang mau berunding dengan dia.”   “Soal apa?”   Tulang Sahala tergelak.   “Wah, galak benar ini anak?” katanya.   “Habis, kalian menyakiti hati Bang Joki!” kata Lia.   “Sekarang tidak,” kata nantulang-nya.   “Sungguh?”   “Iya. Masak orang tua berbohong.”   “Orang tua juga ada yang brengsek.”   “Husss!” sergah nantulang-nya. Tulang Sahala tertawa mengakak. Monang yang sejak tadi diam ikut tertawa. Lia menekap mulutnya.   “Bawa kami ke rumah calon istri abangmu itu, Lia,” kata Tulang Sahala.   “Nggak mau, nggak mau, nggak mau!” kata Lia cepat.   “Kenapa?”   “Kalian akan menyakiti hatinya nanti.”   “Tidak. Kami mau omong baik-baik.”   “Nggak mau, nggak mau, nggak mau,” kata Lia dalam satu napas.   “Tulang dan nantulang-mu mau membicarakan perkawinan mereka.”   “Tidak. Bang Joki sudah bilang, ‘Jangan satu orang pun famili kita ketemu dengan Kak Widuri. Orang Batak punya banyak cara untuk melaksanakan maksudnya’ Nah, kalian tentu akan mengakali Kak Widuri agar sakit hati dan meninggalkan Bang Joki. Itu pernah dibilang Bang Joki pada Lia.”   Tulang Sahala menghela napas dalam-dalam.   “Tidak. Tulang dan nantulang-mu tidak akan menyakiti hatinya. Sungguh. Ah, masakan Lia tak percaya pada Tulang dan Nantulang?”   Lia menatap bergantian tulang dan nantulang-nya. Lalu katanya, “Lia percaya.”   “Nah, begitu. Ayo, kita pergi ke rumahnya.”   “Sekarang?”   “Ya, sekarang.”   Lia menggeliat bangun.   “Let’s go!” katanya.   “Eh, apa-apaan itu?” kata nantulang-nya.   Monang tertawa mengakak. Lia tertawa tersipu.   Widuri tercengang-cengang menerima kedatangan mereka. Apa lagi melihat tampang Tulang Sahala yang berwibawa dan bertubuh tinggi besar. Dan, istrinya memakai perhiasan mahal.   “Ini Tulang dan Nantulang yang pernah Lia ceritakan,” kata Lia.   Widuri mempersilakan masuk tamunya dengan gugup. Dia meremas-remas jarinya.   “Maaf, kami mengganggu,” kata Tulang Sahala.   Mata Widuri tak berkedip mengawasi.   “Kami datang karena ingin berkenalan dengan Anak. Nak Widuri ya?”   Widuri mengangguk takzim.   Lia menjenquk ke ruang dalam. Nantulang-nya memalis pula ke situ. Sebab, dari ruang tamu itu terdengar semayup suara nyanyian Trio Fernando. Lagu Batak dari sebuah kaset.   Tulang Sahala mengedarkan pandangan berkeliling. Ruangan itu teratur rapi. Kendatipun perabotnya sederhana, suasananya resik.   “Nak Widuri masih punya orang tua?” tanya nantulang Lia.   Widuri menggeleng. Tanpa sengaja dia menoleh ke arah potret kedua orang tuanya di dinding. Potret ukuran besar yang dibuat belasan tahun yang lalu. Warnanya telah agak kekuning-kuningan. Wajah kedua orang tua Widuri itu masih nampak muda.   Tulang Sahala dan istrinya mengikuti arah pandangan Widuri.   “Itu orang tua Nak Widuri?” tanya nantulang Lia.   “Ya.” Suara Widuri dalam desah. “Keduanya telah meninggal.”   Kening Tulang Sahala berkerut ketika memperhatikan potret itu. Matanya menyipit sehingga wajahnya yang bulat seperti wajah Budha.   Kemudian dia berdiri mendekati potret itu, dan mengamatinya lebih teliti. Orang-orang di ruangan itu heran mengikuti tingkahnya. Cuma Lia orang yang tak pernah mau menyimpan keheranannya.   “Ada apa sih, Tulang? Kok kayak linglung?”   “Husss!” tegur Widuri.   Lia tergelak. Lalu dia pun ikut mendekati potret di dinding itu. Tetapi, dia tidak melihat keistimewaan po­tret itu.   Tulang Sahala tiba-tiba membalik badan. Wajahnya serius.   “Nak Widuri, kau masih menyimpan potret ayahmu yang lain?”   Walau terheran-heran, Widuri mengangguk, lalu bangkit.   “Sebentar saya ambil,” katanya sebelum masuk ke ruang dalam. Kemudian Widuri keluar lagi dengan membawa album yang kelihatannya sudah tua.   Tulang Sahala membuka-buka album itu. Matanya meneliti potret-potret di dalam album. Wajahnya semakin tegang. Lalu, pada satu halaman album, tangannya terhentak. Tulang Sahala meletakkan album itu dalam keadaan terbuka. Ada potret seseorang berpakaian tentara di halaman itu.   “Kapan potret ini dibikin?”   “Saya tidak tahu,” kata Widuri. “Tapi, menurut Ayah, itu foto sebelum tahun lima puluh.”   Lia memperhatikan foto itu melalui bahu tulang-nya. Tulang Sahala mengawasi wajah Widuri lekat-lekat sehingga Widuri merasa canggung.   “Ayahmu pernah cerita di mana dia bergerilya ketika perang kemerdekaan?” tanya Tulang Sahala. Napasnya nampak tersengal. Semakin terheran-heran orang-orang yang berada di ruangan itu. Lebih-lebih Widuri. Namun demikian, dia tetap menjawab, “Di Jawa Timur, di bawah pimpinan Letkol Samparlin atau Parlin Siregar.”   “Persis!” kata Tulang Sahala sambil memukul tangan kursi. “Siapa nama ayahmu? Siapa namanya?” Suara Tulang Sahala meninggi.   “Hermanu,” kata Widuri pelahan.   “Ya, Tuhan! Persis! Tepat sekali!” kata Tulang Sahala seraya menatap istrinya.   “Ada apa sih, Tulang?” tanya Lia tak sabar.   Tulang Sahala merangkul bahu Lia.   “Ayah Widuri ini teman sepasukan Tulang waktu perang kemerdekaan dulu,” katanya dengan napas terengah.   Monang mengangakan mulutnya.   “Dia pernah menyelamatkan nyawa Papa, Monang,” lanjut Tulang Sahala kepada anaknya. “Dia setingkat dengan Papa. Kalau dia tetap dalam angkatan, dia sudah jadi jenderal juga sekarang, seperti Papa.”   Lia menatap Widuri. Widuri cuma menunduk.   “Setelah keluar dari angkatan, di mana kalian ting­gal?”   “Di desa. Bapak jadi petani,” jawab Widuri pelahan.   “Ah,” kata Tulang Sahala terperangah. Matanya nanap menatap kembali potret di album. Kemudian beralih menatap wajah Widuri. Berkali-kali dia menarik napas.   “Kalau tak ada ayah Widuri ini, aku sudah terkubur di Jawa Timur sana,” katanya kepada istrinya.   Perempuan tua itu lantas menatap muka Widuri yang tetap menunduk. Dari pinggir mata Widuri mengalir air bening. Lia yang duduk di tangan kursi, memeluk bahu perempuan itu.   Tulang Sahala bertatapan lagi dengan istrinya. Kemudian perempuan tua itu berkata pelan, “Molo songoni, unang be ta arsak roha na (Kalau begitu jangan lagi kita rusuhi hatinya).”   “Dang holani (Bukan hanya itu),” kata Tulang Sahala “Hupingkir, ta pasahat ma ibana donot berentai (Ku­pikir, kita jadikan saja dia dengan kemenakan kita itu).”   “Bagus!” Lia bersorak sambil bertepuk tangan.   Nantulang-nya membelalak.   “Tapi, boa ma si Mei (Tapi, bagaimana dengan si Mei)?” kata Monang.   “Aaaakh, ta urus annon (Aaakh, kita urus kelak),” kata Tulang Sahala. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke Widuri dan katanya, “Nak Widuri, kami mendengar Joki sudah melamarmu.”   Widuri menunduk.   “Ya, betul.” kata Lia.   “Begini, Nak Widuri. Kami berniat meresmikan perkawinan kalian. Aku berjanji akan jadi walimu.”   “Kak Widuri akan diangkat ke dalam marga Tulang?” tanya Lia.   “Ya. Setelah peresmian di Jakarta ini, perkawinan kalian akan di-horja-kan di Tapanuli. Di situ nanti tua-tua marga akan meresmikan Widuri menjadi marga Tulang.”   “Siiip!” kata Lia.   “Bagaimana, Widuri? Setuju?”   “Saya... saya... saya...” Ucapan Widuri tersekat di tenggorokan.   Lia memeluknya kuat-kuat.   “Saya.... hanya seorang janda,” kata Widuri tersendat.   “Aaakh, itu tak jadi soal!” kata Tulang Sahala.   Maka air mata merembes hangat membasahi pipi Widuri. Tangis yang sesungguhnya, meletup-letup. Tetapi, sudah barang tentu tangis itu berlainan dengan tangis yang pernah melilitnya.   “Eh, Lia ingat, Tulang,” kata Lia.   “Apa lagi?” Tulang Sahala menimpali dengan senyum.   “Soal Kak Meinar. ‘Kan Bang Joki pernah mengusulkan supaya Kak Mei menikah dengan pacarnya?”   “Pacarnya?” tanya nantulang-nya.   “Iya, pacarnya,” kata Lia. “Burwan Wattimena.”   “Ooo.” Tulang Sahala menunduk.   “Lia pernah ketemu dia. Gagah.”   “Perkawinan bukan melihat kegagahan saja, Lia,” kata Nantulang-nya.   Lia menyeringai, dan katanya, “Setuju, Tulang? Nan­tulang?”   Suami-istri itu saling pandang. Dan, si suami lebih dulu tertawa.   “Boru Tobing brengsek!” katanya.   Bibir Lia pun menguakkan tawa ceria.   “Nah, sekarang urusan sudah beres,” kata Lia.   “Ah, sok tahu kau anak kecil!” kata Tulang Sahala.   Ketika tulang dan nantulang-nya beranjak mau pulang, Lia berkata bahwa dia masih ingin tinggal di rumah Widuri. Sebab, dia tahu, kalau Joki tidak menemukannya di rumah pondokan, tentu akan mencarinya di ru­mah Widuri. Gadis remaja itu kepingin tahu bagaimana Widuri menyampaikan kabar baik itu kepada Joki.   Aku akan diam-diam saja, pura-pura tidak tahu, pikirnya. Biar Kak Widuri sendiri yang menyampaikan kabar ini.   Kabar baik memang selamanya membuat hari menjadi lebih cerah. Maka Lia, Nurlia Tobing melirik Widuri yang betapapun sulit berusaha menahan resah yang menggelepar dalam dadanya. [1] Dalam Adat Batak, ada tiga pengkategorian, yaitu dongan sabutuba (kahanggi), hula-hula (mora), dan anak boru, yang masing-masing mem­punyai peranan dan tanggung jawab berbeda-beda. Joki Tobing misalnya, mempunyai dongan sabutuha seluruh orang bermarga Tobing, berhula-hula kepada setiap marga yang menyerahkan anak perempuannya, dan ber-anak boru pada setiap orang yang mengawini perempuan bermarga Tobing. Dapatkan koleksi ebook-ebook lain yang tak kalah menariknya di EBOOK CENTER - AQUASIMSITE - http://jowo.jw.lt