
 "Pulang? Kenapa begitu buru-buru?"

  

 "Jalan pulang akan lebih sulit terasa."

  

 "Kita baru sebentar di sini."

  

 "Sebentar? Hampir sejam sudah."

  

 "Sejam? Ah, kok cepat sekali waktu berjalan."

  

 Murtini mengangkat tasnya. "Eh, ya, hampir lupa," katanya seraya mengeluarkan bungkusan dari tasnya. Isinya lemper.

  

 Lelaki di balik semak itu berkali-kali menepuk nyamuk yang mengganggunya sedari tadi. Sejuta kutuk tak berkeputusan berloncatan di dadanya. Di sana, bajingan dari kota itu enak-enakan makan lemper. Berduaan lagi. Terkutuk! Tertawa-tawa! Terkutuk!

  

 Dan, agas yang beterbangan di dekat telinga semakin menyebalkan hati Maryoto yang pepat. Dia mengusir serangga-serangga halus yang mengganggunya itu. Di sana, lelaki itu enak-enakan makan. Bah, dikupaskan oleh Murtini pula. Bajingan terkutuk! Bajingan! Bajingan! Bajingan! Terkutuk! Terkutuk! Disambar geledek dia!

  

 ***

  

 Sikap beherapa orang desa hari-hari belakangan ini agak mengherankan Tody. Termasuk Pak Hermanu, ayah Widuri. Lelaki itu tidak mau lagi bercerita-cerita seperti waktu yang lalu.

  

 Apakah yang terjadi? Pemuda di desa itu pun ada yang tak lagi antusias mendengarkan uraian-uraian dari Tody. Hanya Pak Lurah dan Partono yang tidak menunjukkan perubahan sikap. Juga Murtini serta anak-anak kecil. Anak-anak kecil masih bergerombol di halaman jika Tody memanggil mereka.

  

 Maka ketika bertemu dengan Pak Hermanu, Tody sengaja menjejeri langkah lelaki tua itu. Dia bisa merasakan bahwa lelaki tua itu seakan tidak mau didekati. Tak lagi ditemukan oleh Tody mata Pak Hermanu yang bersinar ramah. Yang ada hanya dinginnya sambutan.

  

 "Kapan berakhir BIMAS-nya?" tanya Pak Hermanu datar.

  

 "Ya? Tiga bulan lagi," tanya Tody. Dia melirik, menaksir-naksir bahwa di balik pertanyaan lelaki tua itu tersimpan makna: kenapa belum juga meninggalkan desa ini?

  

 "Kalau kembali ke Yogya, akan menyelesaikan studi?"

  

 "Ya," kata Tody.

  

 "Lalu?"

  

 "Lalu, bagaimana ya? Maksud Bapak?"

  

 "Selesai studi, tentunya berumah tangga. Iya toh?"

  

 "Oh, itu belum saya rencanakan."

  

 "Masak?"

  

 Jidat Tody berkerut.

  

 "Di kota tentunya sudah ada calon," kata lelaki tua itu.

  

 Tody tak menimpali. Dia melangkah diam-diam. Seperti elang, Pak Hermanu melirik. Berusaha menangkap kesan di wajah lelaki muda itu. Tetapi, wajah Tody tetap beku.

  

 Mereka melewati sawah. Padi baru setinggi lutut anak kecil. Sawah itu salah satunya yang mendapat BIMAS. Tody merasa bungah melihat padi yang subur itu. Tetapi, kegembiraan itu cepat hilang manakala menyadari langkah-langkah yang menjejerinya. Dia kembali ingat sikap orang-orang di desa itu terhadap dirinya. Terutama sikap lelaki tua ini. Dulu dia sangat antusias membantu. Dengan wibawa yang dipunyainya, dia begitu gampang mempengaruhi orang-orang desa agar mengikuti nasihat-nasihat Tody. Tetapi, sekarang sikapnya sedingin pemilik restoran yang mencurigai tamunya bakal nganglap.

  

 "Kalau Widuri, kira-kira berapa lama lagi kuliahnya ya?" tanya Pak Hermanu tiba-tiba.

  

 "Dia? Kalau tidak salah, kira-kira dua atau tiga tahun lagi. Biasanya agak lambat waktu membuat skripsi."

  

 "Kalian sering ketemu di sana?"

  

 "Ya, sering. Kami sama-sama pengurus Dewan Mahasiswa."

  

 "Sering juga omong-omong dengan dia?"

  

 "Sering juga. Tapi, biasanya soal urusan universitas."

  

 Untuk beberapa saat keduanya diam. Sandal lelaki tua itu terdepak-depak. Sepatu Tody berkeresek di pasir. Kemudian Pak Hermanu berkata lambat, "Sebenarnya anak perempuan tak perlu sekolah terlalu tinggi. Toh akhirnya dia harus jadi istri. Tapi, apa mau dibilang? Dia ingin meneruskan sekolah. Bagaimana melarangnya, sedangkan orang yang kehidupannya lebih sederhana saja mau menyekolahkan anaknya. Dan, saya cukup mampu. Cuma, sayangnya dia anak satu-satunya. Perempuan lagi. Kalau dia lelaki, tak perlu dirusuhkan."

  

 Tody diam-diam menyimak. Lelaki tua itu menatap daun-daun padi yang gemerisik.

  

 "Saya merasa diri saya tambah tua. Padahal dia belum menampakkan tanda-tanda mau kembali. Apa sesungguhnya yang dicarinya di kota itu, saya tak bisa paham. Titel? Ah, buat apa? Dia ingin jadi orang berpangkat? Ah, buat apa? Bagaimanapun, kebahagiaan yang patut untuknya adalah menjadi seorang istri. Sebagai ibu anak-anaknya. Saya lebih senang melihat dia jadi ibu rumah tangga yang bahagia daripada jadi pejabat tinggi."

  

 "Ya," kata Tody.

  

 Lelaki tua itu menghentikan langkahnya, dan menatap Tody lekat-lekat.

  

 "Apakah nampak tanda-tanda dia akan kawin?" tanyanya mendadak.

  

 Tody terperangah.

  

 "Itu.... itu...."

  

 "Apakah dia sudah punya teman lelaki yang akrab?"

  

 Ludah mengumpul di kerongkongan Tody.

  

 Dengan susah-payah dia menjawab, "Itu.... saya kurang tahu."

  

 Pak Hermanu menunduk. Kemudian kembali melangkah. Tody meredakan debur-debur jantungnya. Dia ngeri menerima tatapan mata lelaki tua itu. Tatapan yang menikam.

  

 Hingga mereka berpisah, Tody masih merasakan sisa deburan di dadanya. Adapun lelaki tua itu melangkah dengan kepala menekuri tanah. Makin jauh, makin jauh.

  

 Tody merasa makin lepas dari hunjaman yang menikam. Dia memandangi punggung lelaki tua itu hingga lenyap di balik pepohonan. Dia membiarkan kesenyapan tempat itu menyungkupnya. Itu jauh lebih menyenangkan.

  

 Ah, Widuri! Gadis yang berkulit sawo, bermata teduh, dan berapi-api jika mengikuti rapat Dewan Mahasiswa. Tetapi, selalu tersipu di luar sidang. Gadis yang selalu serius, yang anggun, yang segan jika lelaki menggurauinya. Itulah dia, Widuri. Widuri! Widuri!

  

 Tody tersentak. Sentuhan di bahunya mengagetkannya. Partono tersenyum.

  

 "Ngapain?" katanya.

  

 Tody hanya menggeleng.

  

 "Nampak-nampaknya memang lebih subur dari padi jenis biasa," kata Partono sembari mengedarkan pandang matanya ke sawah di samping mereka.

  

 "Yah," kata Tody.

  

 "Kalau seluruh sawah bisa di-BIMAS-kan, alangkah baiknya."

  

 "Ya," kata Tody lagi.

  

 "Berapa bagian lagi yang harus di-BIMAS-kan?"

  

 "Kira-kira empat puluh persen lagi."

  

 "Bisa mencapai target?"

  

 "Mudah-mudahan saja bisa."

  

 Partono diam. Mereka berdiri menatap sawah hijau yang terbentang.

  

 "Selesai BIMAS, kau akan kembali ke Yogya?" tanya Partono.

  

 Tody diam.

  

 "Dan, melupakan desa ini," lanjut Partono.

  

 "Ah, masak dilupakan."

  

 "Ya, biasanya begitu. Kau akan jadi sarjana, jadi orang berpangkat, kawin, dan sibuk di kota."

  

 "Ah, masak begitu," kata Tody diiringi tawa kecil.

  

 "Kau sudah punya rencana kawin?"

  

 Tody cuma menggeleng.

  

 "Calon tentunya sudah ada?"

  

 Bah, kenapa pembicaraan hari ini hanya mengenai kawin melulu! Tetapi, bayangan Irawati menyelinap diam-diam di pelupuk mata Tody. Bisakah gadis itu kujadikan calon istri? Ah!

  

 Keberdiaman Tody membuat Partono melangkah maju dan berdiri di pinggir jurang. Dia menatap kedalaman jurang yang gelap. Dasar jurang itu tak bisa terduga berapa meter. Dia melemparkan batu ke dalam jurang, tetapi tak terdengar suara batu itu menyentuh dasar jurang.

  

 "Kau merasa adanya perubahan di desa ini?" tanya Partono.

  

 "Ya!" sahut Tody cepat. "Apa yang terjadi?"

  

 "Bagaimana kau bisa merasakan perubahan itu?"

  

 "Ada beberapa penduduk desa ini yang seperti membenciku."

  

 "Yah, begitulah tinggal di daerah kecil. Orang-orang gampang sekali berubah sikap. Aku sendiri sebenarnya tak suka tinggal di desa ini. Tapi, orang tuaku meminta agar aku mengusahakan tanah kami. Lagi pula, aku sudah beristri, punya anak, dan harus bekerja. Apa yang sudah kudapat dari sekolah, sebenarnya tak ada manfaatnya di sini. Aku menyesal terlalu buru-buru meninggalkan sekolah dan kawin." Sesaat Partono diam. Dia ingin menanamkan ucapannya lebih dalam. "Kau merasa ada orang yang tidak menyukaimu. Ya, memang. Kenyatatan itu akan menimpamu. Desa ini sebenarnya terbagi dua. Sebagian di bawah pengaruh Ayah, sebagian lain di bawah pengaruh Pak Tarmiji. Tetapi, dalam pemilihan lurah, ayahku menang. Hanya saja, bekasnya masih ada sampai sekarang. Oleh karena kau tinggal di rumah Ayah, otomatis kelompok Pak Tarmiji menganggap kau masuk golongan Ayah."

  

 "Tapi, mula-mula mereka tidak memusuhiku," kata Tody.

  

 "Yah. Cuma, belakangan ini, Maryoto.... kaukenal dia? Dia anak Pak Tarmiji, mulai menghasut penduduk desa. Dia bahkan berhasil menarik Pak Hermanu ke pihaknya. Padahal selama ini orang tua itu tak pernah berpihak. Entah kenapa dia mau dipengaruhi Maryoto."

  

 "Kenapa Maryoto memusuhiku?" tanya Tody.

  

 Partono mengangkat bahu.

  

 "Aku tidak pernah menyakiti hatinya," kata Tody perlahan.

  

 "Tak pernah menyakiti hatinya?" ulang Partono sepatah-sepatah. Dia melekatkan tatapan ke mata Tody.

  

 "Apa alasannya memusuhiku?"

  

 "Kau akan mengetahuinya nantinya."

  

 "Kenapa? Kenapa? Kenapa?"

  

 Partono cuma menggeleng, lalu kembali menatap kejauhan.

  

 "Aku datang ke sini untuk kebaikan penduduk desa ini," kata Tody.

  

 "Ya, begitulah memang. Tapi, tidak selamanya kebaikan akan menghadapi kebaikan. Tapi, percayalah bahwa tidak seluruh penduduk desa ini membencimu. Hanya sebagian kecil saja. Jadi, tak perlu terlalu kaupikirkan."

  

  

 ***

  

 Dari celah ventilasi, sinar matahari memanjang lurus ke lantai. Matahari pagi. Tody masih berbaring-baring di divannya. Dia menyimak nyanyian yang didendangkan Murtini dari dapur. Belakangan ini gadis itu sangat penggembira. Sesebentar dia menyanyi. Dan, dia juga sudah berani menyapa, "Hai, Mas Tody! Mandi dong!" Atau, "Nanti Mas Tody mau ke kecamatan? Saya ikut ya?" Senyumnya yang semula selalu tersipu, kini telah mekar dalam lekukan yang lebih kentara. Begitu pula matanya. Mata yang dulu tak pernah berani bertatapan lebih dari dua sekon, kini berani lekat-lekat menatap. Bahkan sampai membuat Tody harus menelan ludah berkali-kali. Tatapan gadis itu seakan mengandung sejuta misteri.

  

 Tody menghitung hari-hari yang telah dilaluinya di desa itu. Telah banyak perubahan. Bibit unggul yang di-BIMAS-kan telah mulai tumbuh. Tetapi, suasana lain ikut pula tumbuh. Kebencian yang tersekap, dan cinta yang tersekap pula. Segalanya serba tersekap di desa ini.

  

 KAU tak akan tahu seseorang membencimu, kecuali dari intuisimu yang menangkapnya lewat pancaran matanya. Dan, kau tak akan tahu seseorang mencintaimu, kecuali intuisimu pula yang memberitahu.

  

 Begitulah Tody mencatat dalam buku hariannya.

  

 Tiga bulan lebih aku di desa ini. Kemarin aku bertemu dengan Maryoto, dan aku melihat keculasan di mata lelaki itu. Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di universitas itu, jauh lebih berbahaya dari bajingan desa yang biasa. Ayahnya kaya, dan dia merasa menjadi separo raja di desa ini. Apa yang kurang? Dia tampan. Jauh lebih pintar dari pemuda desa yang lainnya. Andainya merayu, dia tentu lebih pintar dari bintang-bintang film Indonesia atau India. Pastilah gadis-gadis di desa ini dan sekitarnya akan bertekuk lutut. Bahkan istri-istri yang tak kuat iman pun bisa dibujuknya. Ini menurut cerita Partono.

  

 Padahal yang kulihat, tulis Tody dalam buku hariannya, tak lebih dari tatapan ular berbisa yang menyimpan sejuta dendam. Apa penyebabnya, aku tak bisa mengetahuinya. Sebab, bibir lelaki itu selamanya terkunci rapat. Atau barangkali dia menganggap aku merebut popularitasnya di desa ini? Tapi, itu jelas tak beralasan. Aku selamanya diam-diam saja di rumah. Kalau keluar pun, selamanya untuk urusan para petani. Tak pernah dengan gadis-gadis. Aku selamanya menghormati dia seperti halnya aku menghormati penduduk terhormat lainnya.

  

 Ah, peduli setan dengan lelaki itu. Biar dia membenciku. Peduli apa? Aku hanya menjalankan tugasku. Ya, dia lebih baik dipersetankan saja. Biar dia tertimbun kebenciannya yang melingkar-lingkar itu.

  

 Cuma, soal mata Murtini yang makin lain maknanya. Tiap hari ketemu, kian sering pancaran itu menelan masuk ke dalam kemisterian. Mata yang hitam jernih itu bersorot lunak, dan kelunakan itu tambah merusuhkan hatiku. Bibirnya yang mungil, adalah pesona yang diam-diam melilit.

  

 Berjalan di bawah matahari desa yang terik. Disungkup angin sepoi. Di atas tanah yang bergeronjalan. Dan, berbicara, gadis itu kian dekat jua. Kalau tak salah, gadis itu telah melepaskan jarum-jarum cinta lewat matanya. Di desa ini, segalanya dimulai dari mata. Sebelum bibir terkuak bicara, mata telah lebih dulu menyampaikan pesan. Bibir bisa saja mengatakan, ‘Pak Polan sudah panen’. Tetapi, matanya ternyata menyimpan cinta. Atau bibir mengucapkan, ‘Gadis anu yang dilamar pemuda anu’. Padahal matanya menyorotkan harapan, ‘Aku pun ingin kaulamar!’ Ah, ah, ah!

  

 Lalu Tody menutup buku hariannya dan menyimpannya ke dalam kopor.

  

  

 ***

  

  

 Sekarang mereka pulang dari kecamatan. Di depan mereka tadi ada orang, tetapi orang itu telah jauh melampaui mereka sebab mereka berjalan pelan-pelan. Jalanan lengang. Batu-batu bergeletak ditimpa panas matahari. Pohon petai cina berjejeran di sepanjang jalan.

  

 Tody malas berbicara. Sungkupan terik menyebabkan bibirnya kering. Sementara itu, Murtini menenteng tasnya, juga tak berbicara. Butir-butir keringat menyembul di ujung hidungnya.

  

 Tody menatap langit seraya berkata, "Kita harus buru-buru."

  

 Mendung begitu cepat meredam panas matahari. Murtini ikut memandang ke atas. Maka mereka bergegas melangkah. Angin menerbangkan debu-debu jalanan. Murtini terbatuk. Cepat sekali keterikan itu: digantikan angin yang giris. Angin yang membawa uap air.

  

 Tody mengedarkan pandangan berkeliling. Lengang. Hanya pohon petai cina dan jambu mete yang terlihat. Jika hujan turun, ke mana harus berlindung? Ah, tetes-tetesnya mulai terasa.

  

 Mereka semakin bergegas sehingga napas Murtini terengah. Tetesan hujan semakin kerap. Dan, akhirnya merupakan rintik-rintik.

  

 "Eh, wah, gawat!" kata Tody.

  

 "Ya, gawat," kata Murtini, tetapi tangannya memegang Tody agar tidak berlari.

  

 "Ayo," kata Tody seraya menarik tangan Murtini.

  

 "Percuma. Toh kita akan basah juga."

  

 Hujan tumpah dari langit. Pakaian gadis itu lekat ke badannya. Rambut basah. Lalu dia mengambil saputangan yang tadi menutupi kepalanya. Sembari tertawa dia meremas saputangan itu.

  

 "Mandi," katanya. Suaranya yang penuh kegembiraan itu menjengkelkan Tody. Lelaki itu merasa risi sebab air hujan masuk ke dalam sepatunya. Akan halnya Murtini, tenang-tenang saja bergayut di lengannya. Gadis ini melangkah bagaikan menuju ke pesta. Tak ada lagi bagian pakaian maupun badan yang kering. Seperti sengaja mandi di pancuran.

  

 "Waktu kecil saya pernah mandi di bawah teritisan atap kalau hujan," kata gadis itu. "Tapi, kalau ketahuan Ayah, saya dimarahi. ‘Anak perempuan tak boleh begitu,’ katanya. Padahal saya kepingin sekali mandi waktu hujan."

  

 Tody tak menimpali. Dia mendan tetesan hujan mengalir di bibirnya. Terasa asin. Mungkin bercampur dengan keringat dari wajahnya tadi. Namun, rasa haus toh lenyap pula.

  

 "Waktu kecil, di kampung, Mas Tody sering mandi hujan?"

  

 "Sering."

  

 "Enak ya?"

  

 "Ya."

  

 "Mandi di teritisan juga?"

  

 "Tidak. Di tengah padang."

  

 "Wah, apa tak bahaya? Orang bilang, mandi hujan di tengah lapangan terbuka sangat berbahaya. Bisa disambir petir."

  

 "Ya. Tapi, kami tahu kapan saat-saat harus tiarap kalau kilat menyambar. Walaupun memang ada juga yang tersambar kilat dan mati terbakar."

  

 Kilat menyambar.

  

 Murtini lebih bergayut lagi. Ketika petir menggelegar, gadis itu semakin rapat ke tubuh Tody.

  

 "Kenapa harus ke padang?" tanya gadis itu meneruskan.

  

 "Di situ lebih menyenangkan. Kerbau dan kuda-kuda ada di situ."

  

 "Tapi, berbahaya. Seharusnya waktu hujan jangan ke padang."

  

 "Seharusnya. Tapi, siapa yang takut hidup di tengah padang? Sama saja dengan nelayan. Orang menganggap lautan berbahaya. Tapi, nelayan mana takut turun ke laut?"

  

 Kilat menyambar lagi. Pemandangan terhalang oleh tirai hujan. Tody berusaha menatap berkeliling.

  

 "Ayo, kita ke sana!" Dia menyeret gadis itu ke pondok di tengah tegalan. Mereka melalui tanah yang becek. Semakin jauh dari jalan desa, tanah semakin beriumpur. Mereka masuk ke pondok itu.

  

 Murtini bersedekap sambil mengedarkan pandangan ke seputar tempat di bawah atap. Tody mengeluarkan rokok dari kantongnya. Namun, seluruhnya kuyup. Tak mungkin bisa disulut.

  

 Di luar, hujan masih menderu. Atap ilalang pondok itu melindungi mereka, tetapi rasa dingin tetap merayap-rayap.

  

 Baju Murtini yang lengket ke tubuhnya menyebabkan bayangan lekukan tubuhnya semakin kentara. Dia berdiri canggung. Terus-menerus menggigil kedinginan. Tody mencoba menyalakan geretan gasnya. Berhasil. Di situ ada jerami dan ranting kering. Maka dia membuat perapian. Kehangatan merambat perlahan.

  

 "Ke sini, Tini."

  

 Gadis itu melangkah hati-hati.

  

 Tody mencangkung di dekat api, memanasi telapak tangannya. Di dekatnya, Murtini pun memanasi telapak tangannya. Tody kepingin merokok. Maka dia melirik rokoknya yang basah. Gadis itu tetap menggigil. Pakaiannya yang basah menghalangi kehangatan yang diberikan oleh api. Bibir yang menggigil itu telah berwarna kebiruan. Air menetes dari rambut gadis itu.

  

 "Siang yang brengsek!" ujar Tody.

  

 Gadis itu mengangkat kepalanya sekejap. Dia merasa BH-nya yang basah lebih sempit dari biasanya. Giginya gemeletuk. Rasa iba merayapi hati Tody.

  

 "Dingin?" tanyanya sambil menyentuh bahu gadis itu. Dia tahu bahwa pertanyaan itu sebenarnya tak perlu dilontarkan. Cuma, pertanyaan itu membuat Murtini menatapnya. O, wajah yang pucat, bibir yang kebiruan, dan gigi yang gemeletuk. Kesemuanya membuat gadis itu seperti bayi yang meminta perlindungan. Dan, matanya, matanya yang meminta perlindungan itu kian merasukkan iba ke lekuk hati Tody.

  

 Maka bahu Murtini dipeluknya. Kepala gadis itu dekat sekali dengan kepala Tody. Wajah yang tengadah itu telah rapat ke wajah Tody. Keinginan untuk merokok membuat bibir Tody gatal. Lalu, dia mencium gadis itu. Dia mengulum bibir yang menggigil itu.

  

 Gadis itu merasakan kehangatan diperolehnya dari badan lelaki itu. Maka dia memeluknya kuat-kuat sehingga mereka terguling ke atas jerami kering. Air menetes dari baju mereka. Tetapi, mana mereka menyadari?

  

 Murtini menyerudukkan wajahnya serapat-rapatnya ke muka lelaki itu. Rambutnya yang basah melilit leher Tody. Dan, gadis itu tergial manakala lehernya diseruduk ciuman Tody.

  

 Air yang jatuh dari atap bagaikan tirai. Di luar pohon jambu mete hanya tinggal bayangan kabur. Murtini tak kedinginan lagi. Mereka masih berguling di jerami kering. Badan mereka telah menghangat.

  

 Api gemeratak membakar ranting kering. Sepercik api melayang, hinggap di badan Tody. Nyeri. Dia tersadar dan mencoba melepaskan pelukan. Murtini tak mau melepaskan pelukannya. Matanya terpejam sehingga dia tak tahu api telah membakar jerami tempat mereka berguling. Mendengar detas-detas jerami terkabar, Tody mendorong tubuh gadis itu dan bangkit buru-buru.

  

 Murtini merasa sesuatu lepas dari dirinya. Bagaikan terbangun dari mimpi mendapatkan barang berharga, dia membuka matanya untuk siap mengeluh. Maka dia melihat Tody yang sibuk mematikan api yang menjalar di jerami. Lalu dia pun ikut mematikan api. Api di jerami mati. Ranting-ranting tetap menyala.

  

 Tody duduk. Murtini mendekatinya, dan ingin memeluknya lagi. Tetapi, lelaki itu berkata, "Wah, pakaianmu jadi kotor."

  

 "Biarlah." Tatapan mata gadis itu mengatakan bahwa dia masih ingin dicium, atau mencium lagi.

  

 Maka Tody terombang-ambing perasaannya. Di pondok yang sepi ini, ada seorang gadis yang punya bibir mengulum basah, punya mata yang meminta. Lalu, apa lagi yang dicari?

  

 Tody merasakan debur-debur di dadanya. Jika itu terjadi, jjka ajakan mata yang meminta itu dituruti, bagaimana? Dan, Tody menarik napas sepenuh dada, untuk meredakan debur-debur yang tak menentu itu.

  

 Murtini, setelah menunggu sekian lama dan pelukan tak kunjung terjadi, meraih tangan lelaki itu, memegang jari-jari lelaki itu. Lalu dia mengaitkan jari-jari lelaki itu pada jari-jari tangannya sendiri. Kemudian dia memuntirnya sambil matanya menatap lekat-lekat.

  

 Debur-debur jantung Tody kembali bergolak. Dia seorang gadis yang punya sinar cinta di matanya. Tetapi, aku tidak mencintainya. Jika itu kulakukan, ya, apa sulitnya membuka pakaian gadis ini? Itu namanya keisengan. Itu noda. Suatu waktu aku akan meninggalkannya. Jika keisengan semacam ini menimpa adikku, bisakah aku menerima? Jika anakku kelak mengalaminya, bisakah aku mengutuk lelaki yang melakukannya?

  

 "Aku tidak mencintamu, Tini," kata Tody dalam hati. "Karena itu aku tak berniat menjadikan kau istriku. Karena itu aku tak mau menodaimu. Andainya aku mencintaimu, akan lain lagi soalnya. Walaupun ujudnya serupa: persetubuhan, tapi bagiku maknanya sangat berbeda. Jika aku melakukannya pada dirimu, itu namanya penodaan. Tapi, jika kulakukan pada orang yang kucintai, ya, bagiku itu baru percintaan. Cuma, bagaimana membedakannya? Kau tak akan tahu. Orang lain tak akan tahu. Yang tahu hanya aku. Sebab, aku merasakan cinta itu dalam denyut-denyut darahku. Aku bisa membedakan mana keisengan, mana cinta."

  

 Jari-jari gadis itu masih meremas-remas jari-jari Tody. Hujan tinggal rintik-rintik.

  

 "Ayo, kita pulang," kata Tody.

  

 Murtini tersentak.

  

 "Pulang?" Dia menatap ke luar. "Tapi, masih hujan."

  

 "Tak apa-apa. Kita jalani saja."

  

 "Mas Tody...," keluh gadis itu.

  

 Tody tak menjawab. Dia bangkit, tetapi Murtini menahan tangannya. Lalu memeluknya, dan menciumnya. Tody membalas sesaat. Menggigit pelahan bibir gadis itu. Kemudian mendorong tubuh gadis itu pelahan pula.

  

 "Sudah pengalaman kau rupanya," kata Tody disertai tawa.

  

 Murtini tersentak. Kemudian terpana. Pelahan wajahnya yang bergairah berubah menjadi layu.

  

 Tody tak memperhatikan hal itu. Dia nekat berdiri, dan Murtini bangkit mengikutinya. Wajah gadis itu menekuri tanah. Dia mengiggit bibirnya. Hatinya rusuh.

  

 "Sudah pengalaman kau rupanya." Ucapan ini menghujam berkali-kali ke telinganya. Dia melirik lelaki itu. Tetapi, Tody asyik memilih tanah yang akan dipijaknya.

  

 Sudah pengalaman kau rupanya. Kalimat ini berputaran tak henti-hentinya, mengguncang-guncang seluruh lekuk hati Murtini.

  

 ***

  

 Sisa hujan kemarin masih nampak di tanah. Becek. Dan, jalanan ke dukuh di bukit adalah tanah liat licin. Tetapi, Tody tak membatalkan niatnya ke dukuh itu.

  

 Baru beberapa tanjakan dilaluinya. Masih jauh. Tanah merah menempel di sol sepatunya. Berat untuk melangkah. Dia lepas dari jalan menurun yang satu, dan di depannya tegak Maryoto.

  

 "Selamat pagi," sapa Tody.

  

 Maryoto cuma berguman.

  

 "Mau ke dukuh sana?" tanya Tody.

  

 Maryoto tak menjawab. Matanya menyelidik-nyelidik.

  

 "Ada apa?" tanya Tody curiga.

  

 "Ada yang mau saya bicarakan," kata Maryoto sepatah-sepatah.

  

 "Ya? Ah, kebetulan sekali. Saya juga kepingin sekali bicara dengan Bung."

  

 Kening Maryoto berkerut. Dia melirik gerumbul semak di sampingnya. Terdengar suara berkeresek di semak itu.

  

 "Saya dengar Bung melarang petani-petani menerima bibit unggul. Bahkan sawah Bung sendiri tidak boleh di-BIMAS-kan."

  

 "Oh, ya?" kata Maryoto dingin.

  

 "Saya ingin tahu alasan Bung."

  

 "O, itu urusan saya sendiri. Itu sawah saya. Hak saya."

  

 "Ya. Tapi, pemerintah mengharapkan sawah-sawah di sini di-BIMAS-kan."

  

 "Tanpa BIMAS hasilnya sudah berlebih untuk kami sekeluarga."

  

 "Peningkatan produksi bukan hanya untuk kepentingan pemilik sawah saja. Ini menyangkut program pemerintah. Untuk kepentingan bersama."

  

 "Hm," guman lelaki itu. "Saya tidak peduli segala macam program. Yang saya tahu, sawah-sawah itu milik keluarga kami. Kami berhak sepenuhnya. Mau ditanami, mau dibiarkan saja, itu hak kami. Tak ada yang bisa mengganggu gugat."

  

 Tody terdiam.

  

 "Sekarang saya mau bicara, tidak menyangkut BIMAS segala macam. Saya tidak peduli produksi naik atau merosot."

  

 "Ya?"

  

 "Ini urusan pribadi. Pribadi saya dan pribadi Bung."

  

 "Maksudmu?"

  

 "Saya harap Bung meninggalkan desa ini."

  

 "Bah! Tugas saya masih lama di sini!"

  

 "Saya tak suka melihat Bung di sini."

  

 "Bah." Tody tertawa kecil. "Kenapa?"

  

 Maryoto diam sesaat. Sikapnya sudah seperti koboi yang siap duel. Maka Tody menghentikan tawanya.

  

 "Saya tidak suka melihatmu, karena kau merayu Murtini!"

  

 Jantung Tody berdetak lebih kencang.

  

 "Saya lama hidup di kota. Karena itu saya tahu bagaimana kehidupan di kota. Saya tahu bagaimana orang-orang di sana diperbudak nafsu. Pikiran orang-orang kota cuma seks! Saya tahu betul itu. Empat tahun saya di universitas. Walaupun tidak mendapatkan apa-apa, tapi saya tahu bagaimana kehidupan mahasiswa-mahasiswanya. Pacaran, lalu ditinggalkan. Setiap lelaki ingin menyetubuhi pacarnya!"

  

 "Hm, kau menyamaratakan dengan pengalaman sendiri," kata Tody datar.

  

 "Begitulah kehidupan di kota. Karena itu, aku tidak ingin kau mempermainkan Murtini!"

  

 Tody mengejek.

  

 "Apa urusanmu? Ayah dan saudaranya tidak bilang apa-apa."

  

 Kemarahan membakar wajah Maryoto pula.

  

 "Karena mereka tidak tahu kebajingananmu!"

  

 Tody melekukkan senyuman sinis. Dia mendengus. Dia muak melihat cara tegak lelaki di depannya. Mirip bintang film Indonesia. Overacting.

  

 "Bung, apa yang kauketahui tentang hubungan kami?" tanya Tody tawar.

  

 "Kau merayunya!"

  

 "Begitu? Nah, di sini kubilang bahwa aku tak pernah merayunya!" Lalu Tody membalik dan melangkah.

  

 "Tunggu!" bentak Maryoto.

  

 Pelan-pelan. Tody membalik badan.

  

 "Merayu atau tidak, kau tidak boleh mencintainya!"

  

 Tody tertawa kecil. Ini menyakitkan telinga Maryoto.

  

 "Mencintai atau tidak, itu bukan urusan Bung!"

  

 Maryoto menahan gelepar kebencian di dadanya.

  

 "Aku tidak ingin bermusuhan dengan kau," kata Tody, "tapi sikapmu selalu menantang. Apa sebenarnya maksudmu?"

  

 Maryoto mengigit-gigit bibir.

  

 "Atau kau mencintai gadis itu?" kata Tody.

  

 Darah Maryoto bergemuruh. Lebih-lebih melihat mata yang mengejeknya itu. Dia menaksir-naksir tubuh langsing yang tegak di depannya.

  

 "Kau tak boleh mencintainya!" kata Maryoto dengan suara gemetar.

  

 Tody kembali tertawa. Lalu melangkah lagi.

  

 "Kau harus meninggalkan desa ini!"

  

 Tody hanya menjawab dengan tawa kecil, dan terus melangkah.

  

 Maryoto memburu dan mencengkeram bahunya hingga Tody berhenti. Tody menatap tangan yang mencengkeram bahunya.

  

 "Aku tidak suka kekerasan," katanya lunak.

  

 "Persetan! Kau perlu dihajar!" Dan, pukulan Maryoto hinggap di dagu Tody. Tody terbanting ke tanah. Lalu bangkit pelan-pelan sembari mengusap dagunya. Maryoto tegak di depannya dengan kaki terpentang.

  

 "Kalau kau mencintai gadis itu, caranya bukan dengan memusuhiku," kata Tody.

  

 Wajah Maryoto tambah menyala. Manakala bergabung dengan warna kulitnya yang sawo, jadilah warna padam dan gelap. Dia menghunjamkan tinju. Tody mengelak.

  

 "Jangan," kata Tody sembari mundur, tetapi, Maryoto tambah kalap. Dia menerjang, dan tanpa diketahui bagaimana kejadiannya, tiba-tiba dia merasa tubuhnya terbanting ke tanah.

  

 Sesaat dia terheran-heran. Tody tegak di depannya sambil berkata pelan, "Sudah kubilang, jangan...."

  

 "Terkutuk!" teriak Maryoto. Dia bangkit dan kembali menerjang. Hanya sedikit kelitan, lalu pukulan Tody hinggap di rusuk lelaki itu. Maryoto tersedak. Kenyerian yang amat sangat dia rasakan ketika dia jatuh lagi ke tanah.

  

 Dia berdiri pelan-pelan, lalu maju dengan hati-hati. Dia bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mungkin kepalan yang tak begitu besar itu bisa menjatuhkannya. Kemudian dia maklum ketika melihat sikap kaki dan pertahanan Tody dalam kuda-kuda kempo.

  

 Lalu Maryoto berteriak, "Kalian kemari!"

  

 Semak-semak tersibak. Muncul dua orang pemuda desa. Tody mengawasi bahu mereka yang kukuh serta tangan mereka yang tegap. Tody menghela napas dalam-dalam. Tak terelakkan, pikirnya.

  

 Ketiga orang itu serentak menyerang. Tody mengelak dan kakinya masuk ke perut salah seorang, dan kepalan tangannya menimpa wajah Maryoto. Kedua orang itu terbanting. Tinggal seorang lagi berdiri melongong-longong. Yang tadi terkena terjangan di perut masih mengerang-ngerang. Maryoto mengusap wajahnya. Sakit. Tetapi, lebih sakit lagi hatinya. Maka dia menerjang lagi. Tanpa perhitungan. Tody berkelit, tetapi yang seorang lagi memukulkan pentungan ke bahunya. Tody terjajar di tanah. Maryoto mau menerkam, tetapi dengan telak tumit Tody masuk ke perutnya. Maryoto terbanting ke tanah. Pemuda yang satu lagi menerjang dengan pentungan. Beberapa pukulan tiba di tubuh Tody yang masih menggeletak di tanah. Namun, akhirnya Tody berhasil merebut pentungan itu dan langsung menerjang pemiliknya.

  

 Tody bangkit sembari memijit-mijit bahunya. Linu. Untuk beberapa saat dia memperhatikan ketiga orang yang mengerang-ngerang di tanah itu. Lalu dia meninggalkan tempat itu. Tak jadi dia ke dukuh di bukit itu. Pakaiannya berlepotan tanah, dan bahunya terasa sakit.

  

 Dia kembali ke tempatnya tinggal.

  

 Murtini sedang menjemur padi ketika Tody tiba.

  

 "Kenapa? Kenapa, Mas Tody?" tanyanya resah.

  

 "Jatuh," kata Tody. Dia membasuh lengannya yang kotor dengan air dari gentong. Setelah menanggalkan sepatunya, dia langsung masuk ke kamarnya.

  

 Murtini mengikutinya.

  

 "Jatuh di mana, Mas Tody?"

  

 "Di bukit."

  

 "Jalan licin. Ngapain ke sana?"

  

 Tody tak menjawab.

  

 Murtini berdiri di mulut pintu. Tody canggung menghadapinya. Sebab, sebetulnya dia mau membuka bajunya.

  

 "Ada luka?" tanya gadis itu.

  

 Tody menggeleng. Dia cuma berharap, cepat-cepatlah gadis itu berlalu dari pintu itu. Tetapi, gadis itu malah masuk.

  

 Terpaksa Tody berkata, "Aku mau ganti pakaian, Tini. Keluarlah sebentar."

  

 "Ah, tak apa-apa. Ganti saja."

  

 Gadis itu duduk di kursi, dan membuka-buka buku di meja.

  

 "Sudah?" tanya gadis itu kemudian.

  

 "Ya," jawab Tody.

  

 Gadis itu berdiri, lalu mendekat dan merapikan baju Tody.

  

 Tubuh mereka berhadapan rapat. Tinggi gadis itu hanya sebahu Tody. Murtini berharap lelaki itu akan merangkulnya. Lalu, juga menghimpitnya dalam ciuman. Tetapi, Tody tetap beku. Malahan menjauhi gadis itu.

  

 Murtini menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan.

  

 "Mas Tody," desah gadis itu.

  

 Tody tak bereaksi. Dia tetap melangkah dan keluar dari kamar itu. Masih juga memijit-mijit bahunya yang pegal.

  

 Dan, Murtini pun keluar.

  

 Gadis itu melihat Tody berdiri di depan rumah. Ingin sekali dia memanggilnya. Rumah kebetulan sedang sepi. Dia ingin sekali mendesahkan kepada lelaki itu kata-kata, "Aku mencintai kau, Mas Tody."

  

 Tetapi, lelaki itu begitu dingin. Dia tak mencintaiku. Aku sama sekali tak masuk hitungan dalam hatinya. Ah! Murtini mengeluh tanpa suara, dan tegak diam-diam di sudut ruangan tengah. Sementara itu, jam dinding berdetik-detik di tengah ruangan yang hening.

  

 ***

  

 Semakin berbahaya. Semakin dekat ke pinggir jurang. Binar-binar di mata gadis itu, bagaimana menanggulanginya? Tody kian hari kian tersudut dalam kemelut. Hatinya rapuh sebab orang-orang di rumah itu teramat baik terhadapnya. Bahkan seperti membukakan kesempatan baginya untuk mencintai gadis itu. Peluang-peluang telah terbuka. Tetapi, Tody tidak berani meraih dan masuk ke dalam peluang itu.

  

 Tiap kali muncul keinginannya merangkul Murtini, bayangan Irawati melintas. Gadis mungil bermata sayu itu! Senyumnya seolah memperolok dunia. Bibir yang pernah dikulumnya di atas rerumputan dan di bawah kerindangan pohon-pohon pinus di Kaliurang itu senantiasa menghambat pikiran Tody. Pikiran untuk memasukkan gadis lain ke dalam hatinya.

  

 Maka dia menjadi rusuh manakala Pak Kasmat dan Partono mengajaknya omong-omong. Pembicaraan itu serius sebab keadaan di desa itu juga sedang serius.

  

 "Orang-orang mulai memusuhimu," kata Pak Kasmat. "Ini kenyataan yang buruk. Memang bukan seluruh penduduk desa membencimu. Tapi, ini bisa menghambat kelancaran tugas-tugasmu."

  

 "Pokok pangkalnya dari Maryoto," kata Partono menimpali.

  

 "Yah," desah Pak Kasmat. Keduanya lalu menatap Tody dalam-dalam. Maka Tody canggung dibuatnya. Dia mengisap rokoknya kuat-kuat, memenuhi paru-parunya dengan asap, dan dia hampir batuk.

  

 Keadaan memang semrawut. Absurd. Tody sendiri sudah tak betah tinggal di desa itu. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan desa itu. Meninggalkan segala kemelut.

  

 "Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan," kata Partono. "Mereka sering membuat pertemuan di rumah Maryoto."

  

 "Di sini, sudah bercampur antara dendam lama dengan kebencian baru," kata Pak Kasmat.

  

 "Tapi, kenapa Pak Hermanu bisa mereka pengaruhi? Orang tua itu selama ini cukup bijaksana dalam menilai persoalan," kata Partono.

  

 Tody tetap membisu. Lurah dan anaknya itu menatapnya lagi.

  

 "Tentunya ini membingungkan kau," kata Partono. "Baiklah, kujelaskan. Di desa ini ada tiga orang yang dihormati penduduk. Pak Tarmiji, Pak Hermanu, dan Ayah sendiri. Antara Ayah dan Pak Tarmiji pernah timbul persaingan waktu pemilihan lurah. Waktu itu Pak Hermanu berpihak pada Ayah. Pak Hermanu seorang yang berpengalaman. Dia pernah jadi polisi di zaman Belanda. Dia pernah tinggal di banyak negeri. Ketika dia kembali ke desa ini, tujuan dia memang mencari hidup yang tenteram. Itu sejak istrinya meninggal. Selamanya dia sangat bijaksana. Penduduk desa yang mengalami kesulitan, selalu datang padanya untuk meminta nasihat. Andainya dia ikut pemilihan lurah tempo hari, bukan mustahil dia yang menang. Tapi, dia tak tertarlk. Dia hanya mau mendukung Ayah. Cuma, sekarang, entah kenapa berpihak pada Maryoto. Maryoto sendiri sudah jelas, dia anak Pak Tarmiji. Dan, dia memang punya ganjalan pribadi dengan keluarga kami." Partono menatap keluar lewat pintu. Di luar, kelam membatasi pemandangan. Suara jengkerik berderik-derik. Terdengar pula suara kodok dari selokan.

  

 Tody memperhatikan wajah Partono. Profil yang manis, dengan kulit warna sawo serta mata lunak. Sebagai pemuda desa, dia terlalu halus. Andainya terus kuliah, pikir Tody, dia akan jadi sarjana yang jujur. Pikiran itu terputus oleh suara Partono, "Sejak Murtini pulang dari Magelang, Maryoto menginginkan jadi istrinya. Tapi, Murtini tak mengacuhkannya."

  

 Dada Tody berdebaran. Dia ingat perkelahian di atas bukit. Mungkinkah orang-orang ini mengetahui hal itu?

  

 "Dan, sejak kau tinggal di rumah ini, Maryoto tentunya tambah panik. Tak diacuhkan Murtini saja membuat dia blingsatan, apalagi melihat Murtini pergi berduaan dengan kau."

  

 Tody memainkan geretannya untuk mengurangi kecanggungan yang menghimpit. Lampu gas berdesah di atas mereka. Tentunya Murtini sedang berbaring di kamarnya. Mungkin dia tahu pembicaraan ini. Tody mengeluh dalam dada.

  

 "Nah, itulah soalnya," kata Partono.

  

 Pak Kasmat menggulung rokok, lalu pelan-pelan membakarnya. Dan, pelan-pelan pula mengisapnya. Segalanya berjalan pelan-pelan. Cuma, mata orang tua itu tak lepas dari wajah Tody.

  

 "Apakah kau sudah ada rencana untuk kawin?" tanya lelaki tua itu.

  

 Tody gelagapan. Napasnya sesak.

  

 "Maaf, Tody," kata Partono. "Kami akan berterus terang saja. Ini memang tidak sesuai dengan adat kami, tapi keadaan mendesak. Kami ingin mengetahui, apakah kau mencintai Murtini?"

  

 Segumpal napas menyekat tenggorokan Tody. Dadanya bagai disesaki oleh tekanan yang keras. Kedua lelaki di depannya memperhatikan kerisauan di wajahnya.

  

 Lalu Partono berkata lagi, "Apakah kau sudah mencintai seseorang di Yogya?"

  

 Jantung Tody terperangah. Seandainya dia ikan, tentu sudah menggelepar.

  

 "Ya," desahnya.

  

 Partono dan ayahnya saling menatap, lalu keduanya menunduk. Mereka melepaskan keluhan pula.

  

 Ruangan itu sepi. Detak-detak jam terdengar dari sudut ruangan. Suara kentongan dari luar berirama memecah kesenyapan.

  

 "Kalau begitu, kami terlalu gegabah menduga," kata Partono pelahan.

  

 Tody tetap membisu.

  

 "Tapi, waktu kutanya apakah kau sudah punya calon, kau membisu. Kenapa?"

  

 "Ah," keluh Tody. Matanya menghunjam ke lantai. Di lantai itu bayangan Murtini membias. Rambutnya yang diekor kuda, kuduknya yang bersih, serta lehernya yang jenjang. Leher yang telah dicium Tody, di pondok waktu hujan turun dengan derasnya. Mungkinkah dia mengira aku mencintainya? Berulang-ulang Tody berpikir.

  

 Aku tak pernah merayunya. Aku bukan termasuk tipe perayu. Aku bukan semacam Anton, Udin, atau teman-teman yang lihai berpacaran. Tetapi, kenapa aku dihadapkan pada kenyataan yang seabsurd ini?

  

 "Yah, kami terlalu gegabah menganggap kau mencintai Murtini," kata Partono lesu.

  

 "Aku.... aku.... aku...." Namun, Tody tak mampu mengucapkan apa-apa. Dan, memang tak ada perkataan yang siap dibukanya. Dia bingung.

  

 "Kalau begitu, hanya kesalahpahaman. Maryoto mengira kau merebut Murtini," kata Pak Kasmat. "Kalau dia tahu bahwa kau tidak mencintai Murtini, dia tidak akan memusuhimu lagi."

  

 "Iya kalau Murtini mencintai dia. Kalau malah mencintai Tody?" keluh Partono.

  

 Tody mengikuti tatapan mata Partono ke arah kelamnya malam. Partono lebih mengetahui isi hati adiknya sebab gadis itu berkali-kali menanyakan keadaan Tody. Dan, Partono ikut menghancurkan hati adiknya sebab mengatakan bahwa ada peluang untuk cinta. Maka Murtini membakar dirinya dengan api cinta.

  

 Sekarang dia akan terbakar hangus. Ah, Murtini. Partono mengeluh diam-diam. Mereka dibesarkan berdua di rumah itu. Baru kemarin rasanya Partono melihat gadis itu berangkat sekolah ke kota. Masih tampil sebagai gadis tanggung. Lalu, setiap pulang dari kota, dia telah begitu cepat menjadi gadis dewasa.

  

 Ah, ternyata lelaki itu tak mencintainya. Bahkan sudah punya calon di kota. Ah! Partono termangu-mangu. Dia tak mendengar ketika ayahnya berkata, "Andainya kau belum punya seseorang yang kaucintai, kami senang sekali menerimamu di rumah ini sebagai bagian dari kami, Nak Tody."

  

 Ludah menyekat kerongkongan Tody.

  

 "Tapi, begitupun janganlah berubah. Tetap jalankan tugasmu. Kami akan tetapi membantumu."

  

  

 ***

  

 Burung berkicau di pohon dekat jendela. Tody merasa ludahnya getir. Terlalu banyak merokok tadi malam. Matahari mengirimkan sinarnya lewat celah jendela. Tidak seperti biasanya, Tody malas bangun. Tubuhnya lunglai. Dia malas untuk melakukan apa pun. Dia ingin tiduran saja - kalau bisa - seharian di kamar yang tertutup itu. Tetapi, itu tak mungkin dilakukannya. Dia tetap harus bangkit.

  

 Cahaya pagi menyergap pupil matanya. Silau. Ternyata dia terlambat bangun. Rumah sudah sepi. Dia tak lagi berlari ke pancuran.

  

 Dia tak ingin berkeliling. Dia tak ingin melihat-lihat sawah hasil BIMAS. Persetan BIMAS. Tubuhnya letih. Dia berbaring-baring di kamar. Matahari bergeser di langit. Bayangan-bayangan benda kian memendek.

  

 Berbagai wajah memintas dalam kepala Tody. Irawati, Widuri, Murtini, ibu Irawati, ibu Murtini, ibunya sendiri di Flores sana. Lalu Partono, Margriet, Maryoto, Pak Kasmat, Pak Hermanu, Widuri, Irawati, Irawati, Irawati.

  

 Pintu depan berderit. Murtini pulang dari mengajar. Tody tak ingin bertemu dengan gadis itu. Terdengar suara langkah di ruang tengah. Lalu pintu kamar Tody tersibak sedikit, dan terdengar suara pelahan, "Mas Tody?"

  

 Tody pura-pura tidur. Tetapi, Murtini menguakkan pintu dan masuk.

  

 "Mas Tody," kata gadis itu lagi.

  

 "Ya?" Tody bangkit.

  

 Murtini tegak di depannya dengan matanya yang murung bagai mata kucing sakit. Maka kemelut kembali melilit hati Tody.

  

 "Saya sudah mengetahui pembicaraan Mas Tody dengan Ayah dan Mas Tono tadi malam."

  

 Tody duduk di pinggiran divan. Gadis itu menjejerinya.

  

 "Saya pun sadar bahwa saya terlalu berani mencintaimu," kata Murtini dalam suara tersekap.

  

 Tody masik juga diam.

  

 "Tapi, bagaimanapun saya tidak akan melupakanmu, sekalipun saya sadari bahwa saya tidak cukup berharga untuk mendampingimu." Gadis itu gemetar menahan isak.

  

 Tody luluh mendengar suara yang murung itu.

  

 "Saya memang tak berhak mendapatkan cintamu," kata gadis itu. Lalu dia menengadah memandang wajah Tody. "Tapi, saya tetap akan mencintaimu walau saya tak berharga sama sekali."

  

 "Ah, jangan begitu, Tini," kata Tody cepat-cepat untuk mengatasi gemuruh di dadanya.

  

 "Ya, saya tak berharga sama sekali. Sebab, sebab..." Gadis itu menangis.

  

 Tody memegang bahu gadis itu. Maka gadis itu tambah terisak.

  

 "Sebab, di kota.... saya.... telah.... telah kehilangan kesucian saya....," kata gadis itu tersendat. Lalu dia bangkit dan meninggalkan tempat itu. Hampir berlari dia berlalu.

  

 Tody terpaku. Pintu masih terbentang, tetapi dia menatap kekosongan. Di luar, anak-anak ramai memanjati pohon sawo. Tetapi, yang terdengar oleh telinga Tody hanyalah isak tertahan seorang gadis.

  

 ***

  

  

 Yang Terhempas

  

 POHON asam jawa di sepanjang jalan di depan Perpustakaan Universitas Gadjah Mada meluruhkan daun-daun majemuknya. Ada yang melayang-layang sebelum tiba di tanah. Terkadang buah asam yang sudah tua mengelotok menimbulkan detasan yang agak keras. Biji-biji asam bertebaran, disusul oleh kulit asam jawa yang coklat.

  

 Lalu angin yang ditimbulkan oleh knalpot motor dan mobil menerbangkan daun-daun halus dan kulit asam itu. Lebih bertebaran lagi. Lebih tersingkir dari jalan aspal. Kemudian tercampak ke rerumputan di pinggir jalan.

 Sepasang kaki menapaki rerumputan itu. Pemilik kaki itu berjalan dengan menekap buku-bukunya di dada. Membisu. Menekuri kehijauan. Tiba di gerbang perpustakaan, dia membelok. Masih menunduk. Menatap buku-buku di dadanya. Menekankan agak kuat buku-buku itu ke atas tonjolan di dada, dan berpikir, sesungguhnya sudah sepantasnya ini digumuli mulut seorang bayi.

  

 Widuri masuk ke perpustakaan. Di dalam, hening dan sejuk. Beberapa mahasiswa duduk tanpa suara di kursi-kursi yang berderet.

  

 Di kampus, tak ada lagi kegiatan setelah Mapram berakhir. Yang ada tinggal kuliah-kuliah. Dan, Widuri ingin mengejar ketinggalannya dalam studi. Tiap hari dia membenamkan diri di perpustakaan itu. Dia bertekat, harus bisa menyelesaikan sarjana mudanya tahun ini. Setelah itu, ke doktoral! Lalu, dotoranda! Lalu apa? Menjadi pegawai di salah satu perusahaan. Lalu? Lalu? Lalu?

  

 Dan, dia menghela napas dalam-dalam, merasakan kesepian yang mencekik. Inikah hidup yang harus dilaluinya? Karir? Kembali dalam kesendirian yang menerkam-nerkam.

  

 Widuri membuka-buka halaman bukunya tanpa semangat. Deretan huruf dan gambar grafik di situ tambah meruwetkan pikiran. Di kamar asrama, buku ini pun menimbulkan kejengkelan. Di sini juga. Sebaris kalimat pertama hanya merupakan kata-kata bahasa Inggris cetak. Otak Widuri malas untuk mengolahnya menjadi sebuah makna. Dia benci pada buku itu. Benci! Benci!

  

 Tetapi, ujian ulangan tinggal dekat hari. Dia tak ingin jatuh dalam ujian nanti. Harus lulus. Ya, lulus. Tapi, setelah itu, apa? Buat apa cepat-cepat lulus? Setelah lulus toh tak punya lagi kegiatan-kegiatan di kampus. Yang ada cuma pekerjaan. Lalu, kesepian yang pasti melilit. Lebih-lebih lagi penilaian masyarakat: ah, perawan tua itu!

  

 Jika kegiatan di kampus berakhir, maka mulailah himpitan ini. Ah, jika saja Faraitody berada di kota ini. Dari Asrama Syantikara ke Asrama Realino taklah jauh. Akan kudekati dia. Takkan kubiarkan kesepian ini menikam lebih lama lagi. Takkan kubiarkan malam-malam penuh keseganan yang tak berujung pangkal ini. Akan kuhilangkan malu-malu yang menimbulkan kesepian ini. Akan kumulai agresivitas yang pasti akan mengagetkannya.

  

 Tapi, mungkinkah? Mungkinkah? Mungkinkah aku dapat mendekatinya? Sanggupkah aku, padahal aku telah tahu bahwa dia bercintaan dengan gadis lain? Sanggupkah aku jadi perusak cinta milik dua orang yang berkasihan? Oh, alangkah terkutuknya perbuatan itu! Aku tidak sanggup. Biarlah dia dengan gadis yang dicintainya bahagia.

  

 Dan, Widuri tersentak lantaran suara di dekatnya, "Hai, jangan melamun, Mbak!"

  

 Dia mengangkat kepala. Oh, Irawati tegak di situ. Tersenyum-senyum. Matanya yang hitam seperti menertawakannya.

  

 "Kok melamun sih? Ayo, kita jalan-jalan."

  

 "Duh, aku mau ujian, Dik Ira."

  

 "Alaaa, tinggalkan sesekali buku-buku itu."

  

 Mereka bertatapan. Widuri memperhatikan pakaian mini gadis itu, yang membalut tubuh yang mungil. Maka Widuri menarik napas dalam-dalam.

  

 "Ayolah, Mbak. Aku lihat Mbak tadi masuk ke sini. Aku panggil-panggil nggak nyahut. Sewaktu berjalan pun Mbak melamun. Mikirin apa sih?"

  

 "Tidak, tidak ada," kata Widuri cepat-cepat.

  

 "Kalau begitu, ayolah jalan-jalan."

  

 "Ke mana?"

  

 "Ke mana saja. Nonton kek, lihat-lihat ke Malioboro kek."

  

 "Ah, dengan membawa buku-buku begini?"

  

 "Apa salahnya?" Lalu Irawati merapikan buku-buku Widuri, dan sekalian memasukkan ke dalam tas. Kemudian menarik tangan Widuri dan menyodorkan tas itu.

  

 "Ah, aku mau ujian, Dik Ira," kata Widuri separo mengeluh. Tetapi, Irawati tetap menarik tangannya sehingga gadis itu terpaksa berdiri.

  

 "Nah, gitu dong."

  

 Mereka keluar dari perpustakaan. Sampai keluar dari halaman, belum ada yang memulai bicara. Irawati berjalan dengan langkah berayun. Rambutnya tergerai hingga bahu. Sepatunya berwarna putih, tinggi hingga betis. Widuri melangkah seperti biasa: pelahan dan menunduk.

  

 Kini mereka di kerindangan pohon asam jawa.

  

 "Lama juga Mas Tody pergi," kata Irawati. Dan, dia melihat ketersentakan wajah Widuri.

  

 Irawati tersenyum.

  

 "Panas ya, Mbak Wid?" tanyanya kemudian.

  

 "Ya, panas," jawab Widuri dalam desah.

  

 "Di desa, Mas Tody tentunya kepanasan juga," kata Irawati.

  

 Sebongkah duri mengganjal di lekuk hati Widuri sehingga dia sukar bernapas. Apa sebenarnya yang dimaui gadis ini? Kenapa dia menyindir-nyindir begini?

  

 "Mbak sudah lama mengenal Mas Tody ya?"

  

 "Yah."

  

 "Bagaimana sebenarnya dia?"

  

 "Aku tak tahu."

  

 "Tabiatnya, bagaimana sebenarnya?"

  

 "Aku tak tahu."

  

 "Selama bergaul dengan dia, tentunya Mbak tahu, apakah dia pemarah, gampang tersinggung, penggembira, atau bagaimana."

  

 "Aku tak terlalu akrab dengan dia. Aku tak tahu tabiatnya."

  

 "Ah, masak iya?" kata Irawati diiringi tawa renyah.

  

 Widuri diam. Matanya terhunjam ke tanah, ke sampah yang bertebaran di tanah. Di sampingnya, Irawati tertawa-tawa. Oh, orang macam apakah sebenarnya gadis ini? Widuri mengeluh. Belum pernah dalam pergaulannya dia bertemu dengan gadis macam Irawati ini.

  

 "Mas Tody itu kelihatannya diam, tapi sebenarnya ganas. Nafsunya, wah!"

  

 Jantung Widuri terperangah. Oh, gadis macam apakah dia ini?

  

 Irawati meliriknya. Dia tersenyum melihat kekecutan wajah Widuri. Langkah mereka masih tetap beraturan.

  

 "Kami pernah ke Kaliurang," kata Irawati. "Di situ baru kelihatan belangnya. Selama ini dia kelihatan soleh sekali. Padahal, wah!"

  

 Widuri menelan ludah yang menggumpal di tenggorokannya.

  

 "Tapi, aku mencintainya," kata Irawati. Lalu dia mengintai lagi reaksi Widuri. Namun, yang terlihat hanya kebekuan di matanya dan di bibirnya yang bertaut dingin. Padahal yang sedang bergolak di dalam adalah kekacaubalauan. Nyeri segenap relung hatinya.

  

 Irawati mencari-cari kata-kata yang lebih efektif.

  

 "Dia tidak sama dengan lelaki yang pernah kukenal," katanya kemudian.

  

 Sama atau tidak, apa peduliku? Tetapi, ucapan itu hanya ada dalam dada Widuri yang bergelora.

  

 "Mbak tahu bagaimana aku menaklukkannya?"

  

 Widuri tetap diam.

  

 "Agak lama prosesnya. Dia kerap lewat di depan rumahku. Pura-pura bertamu di rumah tetanggaku. Tetapi, matanya selalu terarah padaku jika kebetulan aku duduk di teras. Waktu Mapram itu, aku tidak menyangka dia jadi ketua panitia. Kebetulan sekali aku pingsan. Kemudian, setelah itu dia menyuruhku datang ke kantor. ‘Kau tak usah ikut Mapram,’ katanya.

  

 ‘Tapi, saya kepingin dapat ijasah,’ kataku.

  

 ‘Ah, ijasah soal gampang,’ katanya.

  

 Begitulah makanya terpaksa aku menemaninya di kantor panitia. Waktu pulang, sebenarnya aku sudah punya pengawal. Tapi, dia bilang, ‘Aku yang mengantarmu.’

  

 ‘Ah,’ kataku. ‘Nanti pengawal saya marah.’

  

 ‘Akan kuhadapi,’ katanya.

  

 Aku masih keberatan, tapi dia bilang, ‘Kau butuh ijasah tidak?’ Ya, terpaksa aku mengalah."

  

 Widuri membisu,

  

 Irawati tersenyum-senyum.

  

 "Lalu, ketika tiba di rumah, ketika aku memijit bel, dia memegang tanganku. Kemudian memutar badanku hingga menghadapnya. Kemudian, kemudian, dia menciumku."

  

 Benci, muak, dongkol berbauran jadi satu di dada Widuri. Tetapi, dia tetap diam. Tidak mungkin Mas Tody akan berlaku seperti itu! Aku mengenalnya bertahun-tahun. Dia tak pernah sebiadab itu! Widuri membantah dalam hati. Tak tersuarakan.

  

 "Aku marah-marah. Tapi, katanya, ‘Sorry, soalnya aku tak tahan. Lama sekali aku menunggu kesempatan seperti ini. Lama sekali aku memendam rasa. Sejak lama aku mencintaimu, Ira.’ itu katanya. Dan, hatiku pun jadi lemah. Kalau dia memang sudah sejak lama mencintaiku, kenyataan itu memang tak terelakkan. Dan, sejak saat itu, aku pun ingin mengenalnya lebih dalam."

  

 Widuri membisu sekalipun di dadanya bertimbun sejuta kata. Dia ingin membantah cerita itu. Itu semua bohong! Bohong! Bohong!

  

 "Boleh nggak ya, datang ke desa tempat tugas Mas Tody?"

  

 Widuri tak menjawab.

  

 "Boleh nggak ya?" ulang Irawati.

  

 "Kenapa tidak?" kata Widuri tanpa mengangkat kepala.

  

 "Aku kepingin menemuinya. Aku rindu."

  

 Widuri menatap langit. Biru dan bersih. Matahari di timur semakin merambati kaki langit.

  

 "Aaah, panas sekali," kata Widuri. "Kepalaku Pusing. Aku mau pulang saja, Dik Ira."

  

 "Eeeh, kok pulang?"

  

 "Pusing. Padahal aku harus ujian,"

  

 Tanpa menunggu jawaban Widuri membelok ke kiri. Ini tidak sopan. Sangat tidak sopan, pikirnya. Tapi, persetan dengan kesopanan! Gadis itu membuat kepalaku pening. Bukan hanya pening. Bahkan nyeri! Nyeri! Nyeri! Widuri melangkah cepat-cepat.

  

 Irawati kepingin tertawa. Dia berhenti melangkah untuk mengawasi tubuh dengan blus hijau muda itu semakin menjauh. Ternyata betul yang kuduga, pikirnya. Dia mencintai Mas Tody. Ah-ha, ternyata betul. Dia marah mendengar ceritaku. Cerita bohong. Ah-ha! Lalu Irawati berjalan pelan-pelan dengan mengayun-ayunkan tasnya.

  

 ***

  

 Kenapa dia selembut itu? Tentunya dia masih suci. Tentunya dia diinginkan banyak lelaki. Tentunya Faraitody pun menyukainya. Wajahnya yang melankolis itu, wajah yang keibuan itu, tentunya menimbulkan simpati di hati banyak lelaki. Cuma, dia pura-pura tak menyadari. Tetapi, dengan sikapnya itu, dia tambah anggun. Bagai dewi-dewi yang memandang kesibukan manusia. Dengan matanya yang jernih, dia menatap manusia-manusia.

  

 Itulah dia: Widuri. Dan, Irawati berusaha mengusir bayangan gadis itu. Tetapi, tatapan mata gadis itu terus melekat dalam pikirannya. Tatapan yang seakan berkata, "Aku selamanya bersikap baik padamu. Aku selamanya melindungimu waktu Mapram. Kenapa kau membalas dengan tuba? Sikapmu, Dik Ira, membuat aku menelan racun yang kausodorkan. Hatiku sakit, Dik Ira. Sakit sekali!"

  

 Irawati mengedikkan kepala, mengembalikan jurai-jurai rambutnya yang jatuh di kening. Ya, dia baik sekali. Tapi, kenapa begitu baik? Apa maksudnya? Karena dia berwajah melankolis? Karena dia punya senyum sentimentil? Karena tiap mahasiswa respek padanya? Itukah penyebabnya? Ya, itulah. Dia ingin memperlihatkan kelebihannya dan keistimewaannya. Dia ingin menunjukkan bahwa dia seorang gadis yang sempurna. Dan, aku hanyalah gadis liar. Murah.

  

 Nah, itulah. Dia ingin menyodorkan susu sebab khawatir menerima tuba dalam kehidupannya. Dia baik padaku karena khawatir aku merebut pacarnya. Tapi, tunggu dulu! Dia baik padaku sebelum aku mengenal Tody. Ya, sebelum aku kenal Mas Tody, dia sudah melindungiku dari gojlogan para senioren.

  

 Kalau begitu, kebaikan-kebaikannya adalah untuk menyempurnakan image dirinya sebagai gadis yang lembut, suci, dan berhati mulus. Lantas aku ini apa? Seorang gadis liar. Berhati culas. Bernoda. Jahat. Kejam. Dibandingkan dengan dia, apalah artinya aku! Masuk Gadjah Mada dengan sogok. Baca buku bahasa Inggris tak becus. Bergaul dengan anak-anak yang kebanyakan bukan mahasiswa, kebanyakan jebolan sekolah. Padahal, dia aktivis kampus. Mulai rektor sampai dengan profesor, juga mahasiswa-mahasiswa mengenalnya. Apakah aku ini dibanding dia?

  

 Irawati menatap bunga-bunga yang bermekaran di halaman rumahnya. Pilar teras tegak diam-diam menyangga atap. Di pilar itu, melilit jalaran anggur. Di tengah halaman, tumbuh seonggokan perdu mawar. Bunganya menyala. Bunga melati menghiasi teritisan. Putih. Lalu, bunga anyelir yang bergoyang-goyang ditiup angin. Tangkainya yang panjang meliuk-liuk.

  

 Gadis itu meneliti kukunya. Warna jambonnya masih menyala. Dan, dia ingat kuku-kuku Widuri yang tidak berwarna, tetapi menarik. Segala perujudan gadis itu mencerminkan kehalusan jiwa, pikir Irawati. Kenapa dia bisa begitu? Kenapa dia bisa menjaga kesucian? Orang semacam itu, tentulah akan mendapatkan jodoh orang yang suci pula. Seorang lelaki yang berhati tulus. Lelaki semacam.... ya, Faraitodylah. Lelaki yang mencintainya tanpa cabang di hatinya. Dan, ya, tentunya Faraitody pun mencari perempuan yang keibuan.

  

 Faraitody akan mengabaikan aku kalau dia lebih mengenal diriku. Dan, tentunya dia akan berpaling pada Widuri kembali. Setinggi-tinggi burung, dia akan mencari tempat bertengger yang dirasa paling sesuai. Burung merpati tidak alan bertengger di rumpun bambu yang meliuk-liuk ditiup angin. Maka Irawati menghembuskan napas panjang-panjang, lalu memandang kamarnya lewat jendela yang terpentang. Terlihat sebagian wajah Mick Jagger yang melekat di dinding. Wajah lusuh tetapi menyimpan pesona.

  

 Irawati bangkit. Dia ingat telah berjanji dengan teman-temannya. Kemudian dia tersenyum-senyum. Sewaktu berjalan ke kamarnya, tiba-tiba muncul ide yang cemerlang. Dia ingin membuat surprise untuk teman-temannya. Bukankah surprise jika dia bisa datang dengan seorang gadis baik-baik, seorang mahasiswa hampir doktoral, dan diduga keras masih perawan?

  

 Maka Irawati menggelinding ke kamarnya dan berganti pakaian. Tak lama kemudian dia telah meluncur dengan skuternya di jalan raya. Angin menerpa wajahnya dan mengibar-ngibarkan rambutnya. Dia merengut ketika seorang pemuda memacu Yamahanya dan menjejerinya. Dan, dia mencibir ketika pemuda itu menyapanya, "Hai."

  

 Siang seperti ini, tentunya Widuri berada di perpustakaan lagi. Ke sana tujuan Irawati. Dan, memang gadis itu sedang melamun menghadapi bukunya.

  

 Dari pintu Irawati telah memasang senyumnya.

  

 Widuri mengeluh dalam dada. Irawati duduk mendampinginya.

  

 "Ayo, jalan-jalan, Mbak," kata Irawati.

  

 "Aku harus belajar, Dik Ita."

  

 "Alaaa, tiap kali aku ajak jalan-jalan, Mbak nggak mau. Kenapa sih?"

  

 Widuri tak menjawab.

  

 "Ayolah kita jalan-jalan. Berdua saja."

  

 Widuri tetap diam.

  

 "Mbak Wid kenapa sih kok kayak memusuhi aku?"

  

 "Kapan aku memusuhimu?" kata Widuri gugup.

  

 "Ya, buktinya tak pernah mau bergaul dengan aku."

  

 Widuri mengeluh.

  

 "Apa sih salahku?" tanya Irawati.

  

 Widuri menyusut-nyusut halaman bukunya.

  

 "Mbak kayak mendendam padaku," kata Irawati.

  

 Napas Widuri terasa sesak. Mereka berbicara dengan suara berbisik. Tetapi, ucapan-ucapan gadis itu menghunjam sekuat-kuatnya ke hati Widuri. Irawati memegang pergelangan tangan Widuri, dan memijitnya.

  

 "Ayo, dong."

  

 "Lusa aku ujian, Dik Ira."

  

 "Malah kebetulan. Hitung-hitung rekreasi, biar pikiran jadi tenang, Mbak."

  

 Widuri menimbang-nimbang.

  

 "Ayo, dong, Mbak. Biar orang melihat bahwa sebenarnya kita ini akur."

  

 "Akur?"

  

 "Ya, soalnya banyak orang mengira kita ini bersaing."

  

 Dada Widuri kembali sesak. Bahkan lebih terhimpit.

  

 "Ada yang bilang, aku merebut pacar Mbak."

  

 "Ah," keluh Widuri dengan napas serabutan.

  

 "Padahal aku tidak merasa begitu. Atau, apakah memang benar, Mbak Wid?" Mata Irawati menghunjam pada wajah Widuri, membuat gadis ini merasa giris. "Betul, Mbak Wid?" ulang Irawati.

  

 Widuri mencoba tertawa, tapi sumbang. Lalu katanya, "Ah, siapa bilang?"

  

 "Ada. Hatiku sakit. Orang-orang menuduhku menyakiti hati Mbak Wid. Padahal aku sama sekali tak merasa begitu. Aku tak pernah mengetahui bahwa Mas Tody pacar Mbak Wid. Kalau itu betul, aku bersedia mundur. Aku akan menarik diri."

  

 "Ah," keluh Widuri lagi. Lebih tersendat.

  

 "Apakah yang dibilang orang-orang itu benar, Mbak Wid?"

  

 Widuri menggeleng.

  

 "Tidak," katanya.

  

 Irawati melepaskan napas lega.

  

 "Ah, syukurlah," katanya.

  

 Widuri pun melepaskan napas, tetapi bukan napas lega. Napas murung.

  

 "Kalau begitu, ayolah jalan-jalan, Mbak. Biar orang melihat bahwa di antara kita sebenarnya tidak pernah ada permusuhan."

  

 "Jalan-jalan ke mana?" tanya Widuri tanpa semangat.

  

 Irawati tersenyum.

  

 "Kita ke Kaliurang. Aku punya bungalow di sana. Kita omong-omong. Kalau Mbak Wid tidak mau omong, ya belaiar di situ. Aku juga mau membaca."

  

 Widuri menyusun buku-bukunya pelan-pelan, dan memasukkan ke dalam tasnya. Seulas senyum tak pernah lepas dari bibir Irawati. Lalu dia menggandeng lengan Widuri dan menariknya cepat-cepat meninggalkan perpustakaan.

  

 Mereka melaju di jalan menanjak. Sepanjang jalan dinaungi pohon-pohon mahoni. Pepohonan berlari ke belakang, berlawanaan dengan arah mereka.

  

 Musik keras yang hingar-bingar terdengar dari bungalow itu.

  

 "Lho, kok ramai?" kata Widuri.

  

 "Wah, rupanya teman-temanku ke sini. Kok mereka nggak bilang ya?" Wajah Irawati keruh, "Bagaimana cara mengusir mereka?"

  

 "Kenapa diusir?"

  

 "Mereka akan mengganggu ketenangan kita."

  

 "Kita duduk di luar saja."

  

 Lalu mereka berdua melangkah pelan-pelan. Telinga Widuri sakit mendengar lagu-lagu yang hingar dari tape stereo.

  

 "Kita masuk sebentar ya, Mbak? Biar jangan dianggap sombong," kata Irawati.

  

 Widuri mengangguk.

  

 "Hai, Ira!" Seorang pemuda jangkung berambut gondrong bangun dari duduknya.

  

 "Hai, Yan!"

  

 Widuri mengedarkan pandang ke seputar ruangan. Anak-anak muda, lelaki dan perempuan, duduk seenak mereka. Malah ada yang tiduran di lantai.

  

 "Lama kami menunggu. Eh, ini siapa?"

  

 "Oh, ya. Ini Mbak Wid. Perkenalkan, Mbak, ini Yanuar."

  

 Widuri cuma bergumam sementara tangannya diremas seorang pemuda. Kemudian dia mengangguk kepada yang lain. Dia duduk di kursi. Kepalanya pening mendengar jreng-jreng musik di ruangan itu. Orang-orang muda di situ, terkontak, mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai.

  

 Alangkah bebasnya anak-anak ini, pikir Widuri. Lelaki-perempuan tak canggung-canggung saling merangkul. Malahan ada yang bercanda di lantai, bergumulan sambil tertawa-tawa. Kayak anak kucing. Bising!

  

 Widuri berkali-kali melirik Irawati. Dia berharap, gadis itu mengajaknya keluar dari tempat itu. Tetapi, Irawati sudah terlibat pembicaraan gembira dengan teman-temannya. Tak mungkin menariknya keluar dari kegembiraan itu.

  

 Udara di gunung itu sesungguhnya sejuk. Tetapi, karena anak-anak muda itu menutup seluruh jendela, musik menerjang-nerjang gendang telinga, dan hidung harus mengisap udara penuh asap rokok, maka kesejukan udara gunung hilang. Bau udara langu. Aneh, pikir Widuri. Dia ingin keluar, tetapi Yanuar mengajaknya bicara terus.

  

 Irawati entah di sudut mana. Yanuar melihat keresahan di wajah Widuri. Wajah yang halus dan takut-takut itu menggairahkan sekali. Maka lelaki yang separo kelopak matanya tertutup itu tersenyum-senyum tak henti-hentinya. Asap rokoknya terus berkepulan.

  

 Widuri merasa kerongkongannya getir. Haus. Lalu, seorang gadis menyodorkan minuman. Dia langsung meminumnya. Anak-anak muda di situ mengegol-ngegolkan pinggulnya mengikuti irama musik yang hangat. Segalanya centang-perentang di ruangan itu. Tingkah anak-anak muda, musik, dan suara-suara gila, segalanya membuat kepala Widuri pening. Urat-urat di pelipisnya tegang. Dia ingin keluar, ingin melepaskan diri dari libatan yang tak keruan itu. Perasaannya sangat tidak keruan pula sekarang. Suatu perasaan yang betul-betul belum pernah dialaminya. Pening, runyam, dan sebagainya. Kelopak mata berat. Layu segenap jaringan di tubuhnya.

  

 Dan, tubuh Widuri layu.

  

 ***

  

 Bungalow telah sepi. Lampu-lampu menyala menerangi tempat Widuri berbaring. Widuri menyalangkan mata. Sesaat dia terpana. Di mana aku berada? Yang menjawab hanya kesepian. Juga tubuhnya yang lunglai. Seluruh persendian copot rasanya. Lalu dia ingat, dia ingat, dan dia ingin menjerit. Tetapi, kerongkongannya tersumbat. Maka dia pun terkulai dalam isak. Menangisi siang yang paling hitam dalam hidupnya.

  

 Dia ingat, tubuhnya tadi lemah sekali. Lalu anak-anak muda itu, entah siap saja namanya, bergantian... oh! Siapa yang duluan? Siapa? Siapa? Siapa? Siapa yang mengangkatnya ke ranjang ini? Oh!

  

 Widuri membenamkan wajahnya ke bantal. Menyekap mulut dan hidungnya agar tidak bisa bernapas. Dia ingin mati dengan jalan tak bisa bernapas. Tetapi, paru-parunya melenting sehingga peluang bernapas tetap ada. Dan, dia menangis berkepanjangan.

  

 Oh, Irawati! Gadis itu pangkal bencana! Dia membawaku ke sarang binatang-binatang buas! Di mana? Di mana dia sekarang?

  

 Widuri bangkit terkapai-kapai. Memungut pakaian yang tergeletak diam-diam di lantai, dan mengenakan pada tubuhnya yang layu. Dia melangkah bagai menyeret tubuh yang bukan miliknya lagi.

  

 Irawati duduk di ruangan tengah. Matanya tak berkedip memandang sosok yang keluar dari kamar itu. Sejuta kutuk boleh tersekap dalam mata Widuri, namun yang nampak oleh Irawati hanya mata yang sarat air mata.

  

 "Irawati, kenapa kau sekejam ini?" Tersendat-sendat suara Widuri.

  

 Irawati tak bereaksi. Dia mengisap rokoknya dalam-dalam.

  

 "Apa salahku padamu?"

  

 Tak juga menjawab Irawati.

  

 Widuri memandang wajah gadis itu. Wajah gadis itu juga kusut. Rambutnya belum lagi dirapikan. Orang semacam apakah sebenarnya yang duduk di depanku ini? Serigala berkulit gadis cantik, pikir Widuri. Ya, di dalam matanya yang sayu itu ternyata tersimpan kebinatangan seekor serigala.

  

 Widuri bersandar di dinding. Dia mengawasi gadis yang duduk tak acuh di depannya.

  

 "Apa salahku padamu, Irawati?" desah Widuri.

  

 Irawati membersihkan kuku-kuku kakinya.

  

 Di luar, senja telah menyungkup pegunungan. Matahari telah lenyap di balik punggung gunung.

  

 "Katakaniah, Ira, kenapa kau begini kejam."

  

 Irawati mengangkat kepalanya, sekejap.

  

 "Pernahkan aku menyakiti hatimu?"

  

 Irawati tak menjawab.

  

 "Jawablah, Ira."

  

 "Tidak," kata Irawati datar.

  

 "Lalu, kenapa kau menjerumuskan aku seperti sekarang ini?"

  

 "Karena kau terlalu baik!" Irawati melirik.

  

 Jantung Widuri menggelepar. "Karena kau terlalu baik!" Tidak salahkan yang kudengar ini?

  

 "Karena kau terlalu sempurna sebagai seorang gadis."

  

 Widuri terpana.

  

 "Karena kau memiliki segala yang baik, yang diinginkan setiap lelaki."

  

 "Apa maksudmu?" Widuri terbata-bata berkata.

  

 "Ya, karena kau terlalu sempurna, suci, dan mulia. Kau harus mengalami kejadian tadi. Ya, agar kau tidak menyombongkan kesucianmu."

  

 "Kapan aku menyombongkan diriku?"

  

 Irawati tak menjawab. Widuri dilibat tanda tanya yang tak henti-hentinya mengalir di benaknya. Orang macam apakah yang kuhadapi ini? Orang macam apakah ini? Dan, Widuri menjadi ketakutan.

  

 "Antarkan aku pulang," katanya kemudian. Terbata-bata.

  

 Tanpa suara, Irawati bangkit. Mereka meninggalkan bungalow itu. Sesaat Widuri menatap bangunan yang tegak membisu itu. Rumah yang bagus, rumah milik orang yang tak kekurangan apa pun, tapi isinya kebinatangan seekor serigala.

  

 Bunga-bunga di halaman tak lagi punya arti. Segala isi rumah itu adalah perlengkapan berlumur dosa. Maka risau dan rusuh bergalauan di hati Widuri.

  

 ***

  

 Menangis di kamar yang tertutup, menghujani bantal dengan air mata, menangisi kemelut yang menggapai-gapai, menangisi tubuh yang lunglai, layu, kering, keropos, lungkrah, dan segalanya terkumpul dalam tubuh Widuri. Dia merasa tubuhnya tinggal sisa sekarang.

  

 Di kamar mandi, penghuni Asrama Syantikara bernyanyi-nyanyi. Lagu Tetty Kadi atau siapa, Widuri tak sempat memikirkan. Dia sibuk meratapi nasib dirinya.

  

 Karma apakah yang kualami ini? Kejahatan apa yang pernah kulakukan? Keterkutukan apa yang telah diperbuat orang tuaku? Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini? Kehilangan kesucian yang kujaga bertahun-tahun! Kesucian yang ingin kuberikan kepada lelaki yang kucintai. Ya, lelaki yang kucintai! Ah, siapa? Siapa?

  

 Gadis macam apakah gadis yang dicintai Mas Tody itu? Gadis perokok, bergulung-gulung dengan anak-anak muda liar, berpelukan dengan lawan jenisnya, dan lelaki itu bukanlah Tody. Atau, salahkah penglihatanku? Kenyataankah yang kulihat tadi? Aku melihat Irawati bergumul dengan seseorang sambil tertawa-tawa. Pemandangan menjijikkan bertirai kepulan asap rokok yang memengapkan. Realitakah itu? Atau, pemandanganku yang salah?

  

 Kenyataan atau bukan, tidak jadi soal. Yang jelas, gadis itu telah menjerumuskanku ke jurang paling berduri. Kenapa dia sekejam itu? Oh, gadis yang dicintai lelaki yang kucintai. Oh! Dia telah menghancurkan seluruh kebanggaan yang kupertahankan selama bertahun-tahun. Dia menjerumuskan diriku ke tempat kuku-kuku serigala. Serigala yang tentunya pernah memamahnya pula.

  

 Bagaimana harus menghindari tatapan sejuk mata suster pengawas itu? Suster tua berkerudung dan berpakaian putih itu punya mata yang bisa menembus hingga lekuk hati gadis-gadis asrama itu. Senyumnya yang selamanya menyayang itu bagaimana mungkin mengelakinya, jika dia bertanya, "Apa yang kautangisi, Widuri?"

  

 Pertanyaan suster itu tidak akan serupa dengan pertanyaan teman sekamar. Teman sekamarnya terus pergi begitu tak berhasil mengorek keterangan dari Widuri. Karena dia kehilangan akal untuk mengorek lebih lanjut. Tetapi, Suster Maria tidak akan berlalu sebelum mendapatkan jawaban dari orang yang ditanya.

  

 Maka Widuri menghentikan isaknya. Dia mengusap wajahnya. Matanya perih. Segumpal tangis masih tersekap di dalam dada. Namun, dia menutup mulut rapat-rapat, menggigit bibirnya hingga terasa sakit.

  

 Sentuhan halus di bahu membuat Widuri tersentak. Lalu terdengar suara lunak, "Widuri."

  

 Gadis itu bangun tergesa. Suster Maria duduk di pinggiran tempat tidur.

  

 "Waktu makan malam tiba, Widuri," kata suster itu.

  

 "Saya tidak lapar. Tidak makan."

  

 "Kau sakit?" Tatapan mata Suster Maria bening.

  

 Widuri mengangguk.

  

 "Kalau begitu, kau harus pergi ke dokter,"

  

 "Oh, tidak, tidak, tidak!" Widuri hampir menjerit.

  

 "Kenapa tidak? Kalau kau sakit, kita pergi ke dokter. Ayo," kata Suster Maria.

  

 "Tidak. Tak perlu ke dokter." Terengah Widuri berkata.

  

 "Tentunya sakitmu parah. Matamu bengkak. Badanmu panas," kata Suster sambil mengelus dahi Widuri. "Kau tak mau makan dan tidak juga shalat. Kalau sakit, mari ke dokter."

  

 "Saya tidak sakit, saya tidak sakit. Oh..."

  

 "Lalu?"

  

 Lalu Widuri kembali menangis. Suster itu mengelus-elus rambut Widuri.

  

 "Ada yang kausedihkan?"

  

 Widuri mengangguk.

  

 "Kabar dari rumah?"

  

 Widuri menggeleng.

  

 "Lalu, apa?"

  

 Widuri hanya menangis.

  

 "Dikhianati pacarmu?"

  

 Widuri menggeleng, dan semakin parah menangis.

  

 "Katakanlah, Widuri, apa yang menyusahkanmu. Katakanlah biar saya ikut memikirkannya. Biar saya ikut memecahkannya."

  

 Elusan di rambut itu tidak meredakan tangis Widuri. Malahan dia ingat ibunya, perempuan yang telah tiada sejak dia masih kecil. Ya, perempuan yang senantiasa dirindukan perujudan kasih sayangnya.

  

 Widuri, seorang gadis kecil yang ditinggal ibunya. Gadis kecil yang dibiarkan merangkak dewasa. Sementara gadis-gadis lain berbincang tentang pakaian dengan ibu mereka, Widuri harus memikirkan sendiri pakaian yang harus dikenakannya. Sementara gadis lain bisa menanyakan kepada ibunya tentang bagaimana lelaki yang baik itu, Widuri harus memikirkannya sendiri. Gadis lain bisa menceritakan kepada ibunya tentang lelaki yang dicintainya, maka Widuri harus menyimpannya buat dirinya sendiri. Widuri, gadis yang sendiri mengemban hidupnya yang sepi. Seorang ayah, apalah artinya bagi kecamuk hati seorang gadis.

  

 Suster Maria masih mengelus-elus bahu Widuri. Matanya yang bening menatap nanap dan tembus ke lekuk hati gadis yang sedang menangis itu. Maka Widuri menjatuhkan wajahnya ke dada suster itu. Dia benamkan tangisnya di situ, membasahi pakaian yang putih itu.

  

 "Apa yang menyusahkanmu, Widuri?"

  

 "Saya.... saya.... kehilangan...."

  

 "Kehilangan....?"

  

 "Kehormatan saya, kesucian saya, perawan saya!" jerit Widuri tersekap dada Suster.

  

 "Oh!" Suster Maria terperangah.

  

 Dia memeluk gadis itu.

  

 "Kenapa sampai terjadi? Kenapa sampai.... ?" Ah, dia sulit mempercayainya. Gadis yang begitu taat shalat, pendiam, lebih suka membaca buku-buku pelajaran katimbang pesta, bagaimana bisa mengalami ini? Gadis yang disayanginya - walau berlainan anutan, namun disayanginya seperti anak sendiri - bagaimana bisa mengalami ini? Gadis muslim yang diam-diam sering duduk di sudut mendengarkan nyanyian kebaktian sore dari Kapel, bagaimana bisa mengalami ini? Gadis yang termangu-mangu mendengarkan suara orgel yang lamat-lamat diantarkan angin, gadis yang duduk tekun selama misa Natal berjalan, bagaimana mengalami ini? Ah, tak mungkin! Tak mungkin! Tetapi, air matanya yang menembus pakaian ini jelas suatu pengakuan yang jujur.

  

 "Kenapa sampai terjadi, Widuri?" ulang suster tua itu dalam keluh.

  

 Tangisan menggelombang dari dada Widuri. Lalu, dengan suara tersendat dia menceritakan kejadian seluruhnya. Setitik air mata memercik dari mata Suster Maria. Maka dia memeluk Widuri erat-erat. Belasan tahun sudah dia mengabdikan kasih untuk manusia, dan inilah manusia yang harus paling dikasihinya. Inilah, gadis yang lembut dalam pelukan, yang menangis berkepanjangan, yang menangisi kesucian, yang merasa bahwa kesucian adalah segala-galanya.

  

 Tangis Widuri menggigit-gigit relung hati Suster Maria.

  

 "Kalau begitu, mari ke polisi. Orang-orang itu perlu ditindak," kata Suster Maria dengan suara serak. Bibirnya menggigil.

  

 "Tidak, tidak, tidak!" isak Widuri.

  

 "Kenapa tidak? Hukum harus ditegakkan. Walaupun mereka anak-anak orang berpangkat, tak peduli! Saya akan menuntutnya!"

  

 "Tidak. Oh, tidak, tidak, tidak. Oh, Ibu, tidak...," kata Widuri sembari membenamkan wajahnya lebih dalam lagi ke dada suster tua itu.

  

 Oh, nyes! Dada suster itu sejuk. Gadis itu menyebutnya ‘Ibu’. Oh, anakku, anakku yang malang.

  

 Dan, Suster Maria menangis.

  

 "Mereka harus menerima hukuman," katanya gemetar.

  

 "Tuhan akan membalasnya," isak Widuri.

  

 "Ya, Tuhan akan membalas perbuatan yang buruk. Tetapi, selain itu masih ada hukum, Anakku. Biar kita tegakkan hukum manusia lebih dulu."

  

 "Tidak, tidak...."

  

 "Kalau tidak dihukum, mereka akan mengganggu gadis-gadis lain."

  

 Widuri membisu.

  

 "Apakah kau rela kejadian ini akan terulang lagi?"

  

 "Oh, tidak. Jangan, jangan lagi, jangan lagi...."

  

 "Karena itu, marilah ke polisi."

  

 Widuri gemetar.

  

 "Tidak!" Dia menggeleng kuat-kuat.

  

 "Kenapa?"

  

 "Orang-orang akan tahu, orang-orang akan tahu, semua akan tahu.... oh!"

  

 Jantung Suster Maria menggelepar. Dia melepaskan napas berat. Lalu dia menunduk.

  

 "Yah," katanya, "kita hidup di negeri yang penilaian orang banyak sangat mempengaruhi hidup kita."

  

 Kamar itu sepi. Asrama Syantikara itu senyap. Penghuninya sedang belajar di ruang baca.

  

 "Tapi, serigala-serigala itu masih berkeliaran," kata Suster Maria pelahan. Matanya yang tua dan bening berkaca-kaca. "Berapa banyak lagi korban?"

  

 Widuri tak menjawab. Air matanya telah kering. Matanya perih sebab kehabisan air mata.

  

 "Dan kalau Tuhan menjadikannya.... oh, siapa yang harus jadi bapanya?" keluh Suster Maria.

  

 Dia memeluk gadis itu erat-erat, membenamkan kasih sayangnya ke wajah yang berlindung padanya.

  

  

 ***

  

  

 Yang Terkandas

  

 CEMARA di Kampus Gadjah Mada masih seperti dulu jua. Ditinggalkan selama tiga bulan, tak ada perubahan. Justru Faraitody yang berubah. Hatinya dilanda risau berkepanjangan. Dia tidak berani bertatapan dengan siapa pun di kampus. Dia merasa setiap orang mengejeknya, menghinanya. Belum habis masa BIMAS-nya di desa, tetapi dia sudah menerima panggilan dari universitas. BIMAS tidak diselesaikan. Sisanya, tiga bulan lagi, akan ditekel rekannya dari desa berdekatan.

  

 Tak ada yang lebih memerihkan hati kecuali kegagalan. Dia dianggap gagal sebab dia tidak disenangi penduduk desa. Pemuda-pemuda desa telah membuat resolusi, menuntut agar dia ditarik dari desa itu. Hanya dua puluh lima tanda tangan, tetapi tanda tangan milik generasi muda di desa itu. Mereka menolak kehadiran Tody di desa mereka. Adakah yang lebih menyakitkan lagi?

  

 Faraitody merasa telah mengabdikan diri buat kepentingan desa itu, tetapi begitulah peneriman orang-orang setempat. Ya, mereka justru mengusirnya. Mereka mem-persona-nongrata-kannya, menurut istilah anak-anak sospol.

  

 Lalu, bagaimana bisa menghadapi orang banyak? Ke mana pun dia berjalan, orang akan mencibir dan mengatakan, "Hm, si intelektuil yang gagal, yang tak bisa turun ke masyarakat, apa lagi yang mau diomongkan?"

  

 Maka Tody murung sepanjang hari. Pukulan itu teramat berat. tetapi, kenapa tidak berusaha mencari peluang yang lebih segar? Berkutat di kampus cuma akan mengingatkan pada pengalaman pahit, pikir Tody.

  

 Dan, setelah senja dilihatnya cerah, dia keluar dari gerbang Asrama Realino. Dia menuju rumah yang halamannya ditumbuhi bunga bermekaran. Rumah yang pilar terasnya dirambati jalaran anggur. Rumah yang menyimpan senyum syahdu seorang gadis. Ya, ke sana dia melangkah. Ke rumah Irawati.

  

 Baru saja Tody menekan bel, pintu terkuak. Irawati muncul. Kelopak mata gadis itu terangkat. Dia terkejut.

  

 "Hai, Mas Tody! Bilangnya enam bulan?"

  

 Tody tak menjawab. Dia mengamati pakaian gadis itu serta tas di tangan gadis itu. Lalu katanya, "Kau mau pergi?"

  

 "Ya. Eh, tidak, tidak! Ayo, masuk, Mas Tody."

  

 "Lebih enak di teras ini saja."

  

 Langkah gadis itu melenggang mendahului Tody berjalan menuju kursi di teras.

  

 "Kok mendadak sekali pulangnya, Mas Tody?"

  

 Tody tak menjawab.

  

 "Senang di desa?"

  

 "Ya, senang."

  

 "Tentu saja senang. Di sana pasti banyak cewek. Mas Tody pasti populer di sana."

  

 Wajah Tody kembali disaputi mendung. Tetapi, gadis itu tak memperhatikannya. Sebab, sesebentar gadis itu mengawasi jalan raya.

  

 "Kau menunggu seseorang?" tanya Tody.

  

 "Ah, tidak!" kata Irawati cepat-cepat.

  

 "Kalau kau ada janji, biar aku pulang," kata Tody.

  

 "Ah, tidak."

  

 Sesaat mereka diam. Kumbang menggeremet di daun anggur.

  

 "Masih akan kembali ke desa lagi, Mas Tody?"

  

 "Tidak."

  

 "Saya kira Mas Tody sudah kawin dengan cewek sana."

  

 "Ah, kawin bukan soal gampang."

  

 "Ah, siapa bilang? Banyak mahasiswa yang ke desa terus kawin dengan orang sana."

  

 "Hm," gumam Tody.

  

 Irawati tertawa-tawa kecil.

  

 "Bagaimana kuliah-kuliahnya, Dik Ira?" tanya Tody tiba-tiba.

  

 "Uh, sulit. Dosen-dosennya banyak yang omong Inggris melulu."

  

 "Risikonya milih jurusan Inggris."

  

 "Saya jadi malas kuliah."

  

 "Nanti tak naik tingkat."

  

 "Biarin saja. Saya tak kepingin jadi sarjana. Bikin botak kepala."

  

 "Lalu, kau mau jadi apa?"

  

 "Ya, apa saja."

  

 "Lantas, untuk apa masuk universitas?"

  

 "Iseng-iseng," kata Irawati seraya tertawa.

  

 "Menunggu kawin?"

  

 "Yah, kalau ada yang mau."

  

 "Bah!" Tody menggeleng-geleng.

  

 "Bah!" Irawati menendang kaki Tody.

  

 Dan, Tody tertawa. Deru sepeda motor di jalan raya membuat Irawati cepat-cepat menoleh. Lalu motor itu melaju melintasi rumah Irawati. Irawati bernapas lega.

  

 "Ah, sebenarnya kau mau pergi, ‘kan?" kata Tody.

  

 Gadis itu gelagapan.

  

 "Biar lain kali saja aku datang." Lalu Tody berdiri.

  

 "Jangan. Di sini saja, Mas Tody. Nggak apa-apa. Saya nggak mau pergi kok."

  

 Tetapi, Tody telah berdiri. Gadis itu pun berdiri dan menahan lengan Tody.

  

 Tody berpikir, andainya benar gadis ini mau pergi, aku harus mengantarnya. Tapi, dia bilang tak mau pergi, dan dia seperti menanti seseorang. Apakah dia bermaksud mengkonfrontasikan aku dengan pemuda lain? Bah!

  

 Maka Tody melangkah.

  

 "Jangan pergi, Mas Tody!"

  

 Tody menepiskan tangan gadis itu. Maka tas yang sedari tadi dipegang Irawati terjatuh. Isinya tumpah ke lantai. Gadis itu buru-buru memungutinya.

  

 Tody merasa menyesal. Lalu dia membantu memunguti benda-benda yang berserakan. Dan, dia tertarik pada beberapa benda. Seperti obat-obatan. Ada cairan dalam ampul. Dan, ini tablet bersampul kertas timah, bertuliskan Valium 10.

  

 Tody terpaku. Irawati berusaha merampas tablet itu dari tangan Tody. Tody menggenggamnya, tak mau menyerahkan.

  

 "Kembalikan!" Suara gadis itu terengah.

  

 Tody mengawasi wajahnya yang keruh.

  

 "Sebentar," katanya, lalu dia merebut tas gadis itu. Gadis itu berusaha merampas kembali tasnya, tetapi Tody menepiskan tangannya. Dia tuangkan isi tas itu ke meja. Bungkusan kertas jatuh dan serbuk-serbuk daun semak berhamburan.

  

 "Kembalikan!" jerit gadis itu.

  

 Tody melemparkan tas itu ke lantai.

  

 Irawati dengan gugup mengumpulkan benda-benda itu di meja. Dan, tergesa-gesa memasukkan ke tasnya. Napasnya terengah. Dia mendekap tasnya erat-erat.

  

 "Hm, morfinis," kata Tody pelahan.

  

 Gadis itu mengedikkan bahu, lalu melangkah ke arah pintu masuk.

  

 "Tunggu!" Tody menyemba bahu gadis itu.

  

 Irawati menatapnya.

  

 "Untuk apa barang-barang itu?" tanya Tody dingin.

  

 "Itu bukan urusanmu!" Suara Irawati ketus.

  

 "Katakan! Dari mana kauperoleh barang-barang itu!"

  

 "Bukan urusanmu!" jerit gadis itu.

  

 Tody mencengkeram bahu gadis itu kuat-kuat.

  

 "Katakan! Di mana sumber barang-barang terkutuk itu!"

  

 "Itu urusanku!"

  

 "Aku harus mengetahui siapa sumbernya. Sumber yang merusak orang-orang muda di kota ini. Katakan, di mana!"

  

 "Saya tak akan mengatakannya!"

  

 "Ayo, katakan!" Tody memencet bahu gadis itu.

  

 "Terkutuk! Lepaskan! Aduh, lepaskan!" Irawati menggeliat-geliat menahan rasa sakit di bahunya.

  

 "Ayo, dari mana kauperoleh ganja, morfin, dan valium itu! Aku harus tahu. Aku harus memberi tahu polisi!"

  

 Tiba-tiba gadis itu memutar kepalanya dan menggigit tangan Tody. Terpaksa Tody melepaskan cekalan tangannya. Irawati berlari masuk rumah, dan menghempaskan daun pintu.

  

 Tody terpaku sembari mengusap-usap tangannya yang tergigit.

  

 Gadis semacam inilah ternyata yang kupergauli selama belakangan ini? Kalau begitu, dia berkali-kali pingsan waktu Mapram dulu, oleh sebab biasa menggunakan narkotika. Mungkin lantaran masa pemakaian narkotiknya terlewati maka dia pingsan.

  

 Bah!

  

 Tody berjalan cepat-cepat. Gadis yang punya mata sendu, ternyata mata mengantuk yang di-tayang ganja. Bibir yang menggigil itu, ternyata bukan karena takut menghadapi senioren, melainkan karena ketagihan narkotik. Bah!

  

 Gadis yang begitu cantik, punya orang tua kaya dan menyayanginya, kenapa sampai terlibat dalam kebiasaan terkutuk itu? Apa sebenarnya yang merusuhi hatinya? Seseorang bisa terlibat narkotik biasanya lantaran hantaman-hantaman hidup yang menggoncangkan dirinya. Nah, gadis itu? Frustasi macam apa yang mau singgah kepadanya? Ah!

  

  

 ***

  

 Berkurung di kamar Asrama Realino. Itu yagg bisa diperbuat Tody masa ini. Dia tak punya gairah menjenguk gedung fakultasnya. Dia membenam diri dengan membaca novel-novel. Mulai dari cerita silat sampai poketbook Amerika dan Inggris. Lemari perpustakaan asrama yang selama ini diabaikannya, ternyata sekarang merupakan tempat yang paling menyenangkan. Untuk sementara, selamat tinggal, textbook yang memusingkan kepala di perpustakaan universitas.

  

 Tak ada yang mengganggunya. Cuma, sore itu, ketika matahari sangat bagus merahnya di langit barat, pintu kamar Tody tiba-tiba terbuka dengan kasar. Terkutuk! Tak ada yang berani kurang ajar di asrama ini. Selamanya, penghuni-penghuni lain akan mengetuk pintu terlebih dahulu.

  

 Anton cengar-cengir di ambang pintu. Tody melepaskan napas panjang.

  

 "Well?" tegur Anton.

  

 Tody cuma menggeser kursi untuk tempatnya duduk.

  

 "Bagaimana perkembangan cintamu?"

  

 Tody mengangkat bahu.

  

 "Down lagi?"

  

 Tody tak menjawab. Dia kembali membaca. Anton menyentakkan buku itu.

  

 "Kalau Tuan Besar lagi ngomong, jangan membaca dulu!" katanya. Dia mengamati muka Tody yang murung. "Frustrasimu lipat ganda rupanya."

  

 Tody tertawa pahit.

  

 "Kalau begitu, yuk, kita nonton."

  

 "Ah, malas."

  

 "Ke rumah cewek-ku?"

  

 "Malas."

  

 "Aku traktir di Restoran Singapura?"

  

 "Ah."

  

 "Ke gereja?"

  

 "Ah, jangan ganggu aku," kata Tody lemah.

  

 "Wah, gawat ini."

  

 Keduanya diam. Anton menjenguk keluar lewat jendela. Dan, dia berteriak mengejek pukulan mis pemain badminton di halaman. Kemudian dia kembali mengawasi wajah Tody.

  

 Tanpa mengangkat kepala, Tody bertanya, "Kau tahu banyak anak muda di Yogya ini yang terlibat narkotik?"

  

 "Yah. Ada kutahu. Tapi, tunggu dulu. Banyak yang kaumaksud itu, berapa orang? Setahuku cuma segelintir saja."

  

 "Kau tahu di antaranya ada mahasiswa?"

  

 "Yah. Ada yang sudah konsultasi ke biro kami. Sudah sembuh."

  

 "Sebaiknya kauselidiki di mana mereka memperoleh barang-barang itu."

  

 "Kenapa aku? Itu urusan polisi."

  

 "Apa salahnya membantu polisi?"

  

 "Tugasku menyembuhkan gangguan jiwa orang. Bukan intel."

  

 "Di mana tanggung jawab sosialmu?"

  

 "Alaaa, sok tanggung jawab sosial segala. Kalau aku berbuat sebaik-baikya dalam tugasku, itu sudah bertanggung jawab sosial namanya. Tanggung jawab sosial bukan berarti harus jadi intel polisi. Aku memang tahu sejak lama ada beberapa orang yang suka pakai morfin. Tugasku menyembuhkan gangguan kejiwaan mereka, bukan menangkap mereka, atau menyerahkannya pada polisi.

  

 "Tapi, selama sumber barang-barang itu belum diberantas, masih akan banyak orang-orang muda yang rusak," kata Tody.

  

 "Tugas polisi atau Kopkamtib memberantasnya."

  

 "Mereka mungkin belum tahu."

  

 "Itu gunanya intel, informan, atau segala macam yang serem-serem itu. Tugasnya mencari itu, bukan cuma nunjukin gagang pistol di balik bajunya. Bukan nakut-nakutin rakyat kecil."

  

 "Karena itu kita terpanggil untuk membantu polisi."

  

 "Wah, wah, wah. Kayak seruan penyebar Al-kitab saja. ‘Kan sudah ada pembagian kerja? Kenapa harus sibuk di luar bidang kita?"

  

 "Ini untuk keselamatan masyarakat," kata Tody.

  

 Anton memegang bahu Tody dan berkata, "Kau seorang modernis Tody?"

  

 "Kuharap begitu."

  

 "Nah, kau tahu ciri masyarakat modern?"

  

 "GNP tinggi...."

  

 "Huh! Apa GNP? Oh, ya, kau anak ekonomi. Kalau orang sospol akan bilang begini: modern, kalau dalam sistem masyarakat kita, ada sistem-sistem dengan spesialisasi yang tegas, dan masing-masing bergerak dengan karakteristiknya sendiri sehingga tercipta mekanisme untuk hidup lebih baik bagi individu-individu dalam masyarakat. Semakin modern, semakin tegas pula masing-masing spesialisasi itu. Hm, agak ilmiah juga. Jadi, kalau polisi, dia harus berlaku sesuai dengan sistem spesialisasinya. Kalau pejabat ya jangan memborong. Atau, jenderal jangan jadi pengusaha. Itulah konkritnya!"

  

 Tody diam.

  

 "Bukan aku tak mau membantu polisi. Tapi, bantuanku adalah dengan sistem yang ada dalam spesialisasiku. Kalau dibilang harus membantu pembangunan, misalnya, ‘kan bukan berarti wartawan harus ikut menguruk semen. Dia bekerja di bidangnya, sesuai dengan sistem spesialisasinya. Begitu juga spesialisasi lainnya."

  

 Tody membisu.

  

 Anton tertawa kecil.

  

 "Kayak kuliah ya?"

  

 Beberapa saat mereka diam. Di luar, penghuni asrama berteriak-teriak menyemangati permainan badminton yang terus berlangsung.

  

 "Tapi, omong-omong, kenapa kau tertarik soal itu?"

  

 "Yah," kata Tody menunduk. "Sebab, baru-baru ini aku tahu ada sorang mahasiswi juga terlibat."

  

 "Eh, itu hebat. Siapa?"

  

 "Irawati," kata Tody hambar. Ludahnya terasa pahit.

  

 "Bah!" Anton menggaruk-garuk kepalanya. "Bagaimana bisa?" katanya kemudian.

  

 Tody cuma mengangkat bahu.

  

 "Dia dari keluarga yang pecah?" tanya Anton lagi.

  

 "Setahuku tidak. Ibunya sangat lembut. Baik sekali."

  

 "Dari seorang ibu yang baik, bagaimana bisa ada gadis sebrengsek itu?"

  

 Tody termangu-mangu.

  

 "Ah, sudahlah! Lupakan dia. Biar orang tuanya atau polisi yang mengurusnya."

  

 Tody tak jua keluar dari ketermenungannya.

  

 "Atau, kau masih mencintainya?" tanya Anton.

  

 Tody mengeluh halus.

  

 "Apa cinta itu sebenarnya, Anton?" Dan, bayangan Murtini yang menangis di depannya berkelebat di kepala Tody. Pun, rumah desa yang dinaungi pohon sawo itu.

  

 Anton tertawa-tawa kecil.

  

 "Sudah berkali-kali kubilang, jangan sentimentil!" katanya. "Ayo, kita jalan-jalan. Sesekali begadang apa salahnya?" Lalu dia menyeret Tody. "Banyak melamun akan berakibat dua kemungkinan. Kalau tidak jadi pengarang, ya jadilah orang gila, Karena kau tak punya bakat menulis, maka kau bisa senewen. Ayo!"

  

 Kemudian mereka menyusuri jalan ke arah selatan. Anton menepuk-nepuk kantong celananya.

  

 "Kebetulan aku baru terima honor dari risetku. Nah, kita bisa minum-minun bir dan makan panggang ayam, sambil membicarakan keadilan sosial buat rakyat yang makan gaplek. Sesekali menikmati ironi kayak pejabat-pejabat penting ‘kan lumayan?" katanya.

  

 Mereka tak mempedulikan serombongan orang muda yang mendatangi mereka dari arah depan. Tepat lima langkah di depan mereka, orang-orang muda ini berhenti.

  

 "Nah, ini dia!" kata seorang pemuda gondrong.

  

 "Hantam saja, Yan!" kata temannya.

  

 "Tunggu. Kita tanyai dulu," kata Yanuar seraya mengibaskan gondrongnya.

  

 Lalu dia mendekati Tody.

  

 "Kamu yang mengancam Irawati?" tanyanya.

  

 Darah Tody berdesir.

  

 "Kamu yang mau melaporkan Irawati pada polisi?"

  

 Tody menggigit-gigit bibir. Anton mengamati kelima anak muda itu.

  

 "Nah, memang dia. Lihat saja, dia gugup," kata Yanuar,

  

 "Sikat saja!" kata temannya.

  

 Cepat sekali kelima anak muda itu menerjang. Pukulan sisi tangan Yanuar hinggap di mulut Tody. Kaki seseorang masuk ke perut Anton.

  

 "BaJingan!" sungut Anton sembari bangun dari kejatuhannya.

  

 Tody mundur sambil mengusap bibirnya yang berdarah. Lalu, terjangan berikutnya disambut oleh keduanya dengan jurus karate dan kempo. Perkelahian tak bisa dielakkan. Dua melawan lima. Tetapi, kelima anak muda itu dalam beberapa jurus sudah tersengal-sengal napas mereka sehingga Anton dan Tody dapat bolak-balik mengirimkan pukulan dan tendangan. Kelima pemuda itu bergelimpangan.

  

 Tody meludahkan darah dari bibirnya yang perih.

  

 "Edan!" katanya. Lalu dia menyusul langkah Anton. Seperti tak terjadi apa-apa, Anton berjalan.

  

 Anton tertawa begitu Tody menjejerinya.

  

 "Tody, aktivis kampus, bertarung dengan brandal-brandal kota. Kalau difilmkan, wah, hebat!" katanya.

  

 Tody menggumamkan gerutuan.

  

 "Sempat juga yokogeri bangsat itu ke perutku. Bajingan!" sungut Anton.

  

 Tody menepis-nepis debu dari celananya.

  

 "Gara-gara cewek," kata Anton.

  

 "Bikin malu," kata Tody.

  

 "Tapi, kempomu masih tangguh. Digabungkan dengan karateku, kita bisa jadi pendekar dalam film silat," kata Anton.

  

 "Ah, taik film!" gerutu Tody.

  

 "Bisa sakit dada si Gondrong yang kena chudantsuki yang kuberikan."

  

 "Sudahlah. Kita jadi minum bir nggak?" kata Tody.

  

 "Tentu saja. Bahkan cari tukang pijit halus pun aku siap."

  

 Mereka berjalan lebih bergegas.

  

 ***

  

 Betapapun kepinginnya Tody bertemu dengan Widuri, itu sudah tidak mungkin lagi. Sayang keinginan itu terlampau terlambat datangnya. Setelah gerombolan teman Irawati memukul mulutnya, setelah menenggak bir dan menerima advis Anton, barulah keinginan itu timbul. Tetapi, Widuri tidak lagi berada di Yogya. Dia telah kembali ke desanya. Kepahitan beruntun datang pada gadis itu. Empedu paling amis yang disodorkan realita, berkali-kali harus dia telan. Tak terelakkan. Dia menangis tanpa suara selama berhari-hari. Satu-satunya kata yang terus berputar hanyalah: karma, karma, karma! Karma apakah yang kualami ini? Karma apakah yang menimpaku ini? Dia tak mampu melihat jahatnya realita. Dia hanya bisa mencari kejahatan pada dirinya. Maka dia tak menemukannya hingga dia menerima surat dari ayahnya. Dia harus pulang ke desanya.

  

 Itulah rumput semak yang meranggas dalam hidup Widuri. Sekarang tak ada lagi kecerahan. Segalanya berbaur dalam bayangan kelabu. Segalanya. Kecuali mata Suster Maria yang bening. Suster Maria yang tua, yang mencium pipinya sebagai ucapan selamat berpisah di stanplat bus. Suster Maria yang mengantarkannya hingga bus lenyap dari pandang matanya. Tak akan lenyap mata perempuan tua berkerudung dan pakaian putih itu, mata yang berlinang itu, dari ingatan Widuri.

  

 Dan, sekarang Tody layak melagukan nyanyian murung sepanjang hari. Di matamu kujenguk jendela yang baur. Karena mataku kabur. Kubiarkan sinar kasihmu terbenam pilu. Karena hatiku beku. Pangganglah aku dengan kesengsaraan, pangganglah aku dengan penyesalan. Biar diriku terlantar!

  

 Memang, Tody akan telantar. Dia harus menghadapi hidup yang me-rumpun-semak-meranggas pula. Daun-daun hidupnya kering, maka yang tinggal hanyalah ranting-ranting runcing mencuat menahan teriknya matahari.

  

 Ah, apakah hidup ini memang rentetan nasib demi nasib? Tody mengeluh sembari melipat surat dari ayahnya. Harga ternak sedang naik di Jawa maka ayahnya mempertaruhkan ternak-ternak mereka yang terbaik untuk dikirim ke Surabaya. Tetapi, badai telah menelan ternak-ternak itu. Sederhana sekali memang. Siapa yang bisa menghalangi badai Lautan Hindia yang menerkam laut di sepanjang Nusa Tenggara? Siapa pun tak akan bisa. Satu-satunya yang bisa diperbuat, sebenarnya, adalah tidak mengirim ternak itu dengan kapal yang kecil. Tetapi, semuanya telah terjadi. Yang tinggal sekarang hanyalah ternak-ternak kerdil yang membuat setiap peternak berpengalaman murung.

  

 "Tody, apa boleh buat. Kau terpaksa berhenti sekolah. Ayah tidak bisa lagi mengirimkan biaya. Weta-mu Margriet pun sudah Ayah panggil pulang. Kita miskin sekarang. Lebih miskin dari kerabat kita yang kaukenal hidupnya susah selama ini." Itu kata ayahnya dalam surat.

  

 Tody menelan empedu pahit itu. Weta-nya (adik), Margriet, sudah dipanggil pulang. Tetapi, dia toh hanya adik perempuan. Aku, seorang lelaki. Apakah aku harus kembali ke kampung karena ketiadaan biaya sekolah? Apakah harus ditinggalkan waktu enam bulan lagi ini? Harus meninggalkan skripsi yang terbengkalai ini?

  

 Lelaki muda itu menghembuskan napas getir. Lalu, dia menceritakan kesulitannya kepada dekan fakultasnya. Dekan sekaligus kosultannya dalam riset untuk skripsi.

  

 "Kenapa kau tak kerja saja?" kata dekan itu.

  

 "Saya sudah coba melamar ke beberapa perusahaan, tapi sia-sia. Malahan mental saya jadi rapuh lantaran seringnya menghadapi tulisan TIDAK ADA LOWONGAN di tiap kantor. Tulisan itu seperti mengejek ke mana pun saya pergi. Lebih-lebih jika menghadapi ucapan-ucapan bagian personalia yang saya datangi."

  

 "Ke perusahaan mana saja kau sudah melamar?"

  

 Tody menyebutkan satu per satu nama perusahaan itu.

  

 "Semua menolak?"

  

 "Ya."

  

 "Apa alasannya?"

  

 "Karena saya tidak punya pengalaman kerja."

  

 "Apakah ijasah sarjana mudamu tidak mereka hargai sama sekali?"

  

 "Ah," keluh Tody. Dia menunduk murung. Lelaki tua itu mengamatinya lekat-lekat.

  

 "Kau betul-betul mau kerja?"

  

 "Yah," desah Tody.

  

 Dekan itu berpikir-pikir. Kemudian katanya. "Aku punya teman baik. Perusahaannya ada beberapa buah di berbagai kota. Kau bisa mencoba ke situ. Bawalah rekomendasiku."

  

 Jantung Tody gemetaran saking girang. Gedebur-gedebur di dadanya tak henti-henti sementara menunggu dekan itu menulis katabelece.

  

 Jika musim hujan tiba, rumput semak yang meranggas akan hijau kembali. Selembar katabelece telah mengubah kehidupan.

  

 Apakah bedanya diriku yang sekarang dengan diriku yang dulu? Apakah beda otakku yang sekarang dengan otakku yang dulu? Masih yang dulu jua. Tetapi, begitu berubah sikap pegawai perusahaan itu, pikir Tody. Lebih-lebih bagian personalia itu. Tiap kali menatap muka orang itu, Tody langsung ingat senyuman sinis waktu pertama kali Tody memijak kantor itu. Dan, sekarang muka itu begitu gugup begitu melihat Tody keluar dari kamar direksi dan menyodorkan perintah penempatannya di kantor itu. Langsung perintah dari presiden direktur! Tak perlu lagi liku-liku yang menyakitkan hati. Dengan selembar katabelece, itulah segala-galanya teraih!

  

 Mungkin karena rekomendasi dekan itu maka Tody dipercaya oleh presdirnya. Presdir itu jarang datang ke kantor. Dia harus membagi waktunya untuk perusahaan-perusahaan yang lain di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

  

 Bulan ketiga Tody di kantor itu, dia merasa telah terangkat ke atas dengan mendadak. Sebab, presdirnya memintanya melaporkan perkembangan perusahaan itu selama presdirnya itu tak ada.

  

 Tody menyukai lelaki gemuk yang tak pernah lepas dengan cerutu di tangannya itu. Presdir itu bagai seorang ayah layaknya. Suaranya yang berat, matanya yang selalu seperti bercanda, dan yang gampang memekarkan senyuman itu, adalah bayangan ayahnya bagi Tody. Ah, andai saja lelaki yang duduk di kursi menghadap meja jati besar, berbaju putih dengan dasi rapi itu ayahnya!

  

 Tetapi, dia bukan ayahnya. Ayahnya adalah lelaki yang suka berpakaian warna gelap, merokok lintingan, dan kalau sore hari selamanya berada di rumah. Akan halnya presdir ini, adalah tipe bisnismen tulen. Sibuk sepanjang hari. Bepergian tak henti-hentinya. Hanya sebentar duduk di kantor, itu pun untuk menginterlokal perusahaannya yang di kota lain. Melompat dari kesibukan yang satu ke kesibukan yang lain.

  

 Lelaki semacam itu jelas bukan ayah yang ideal. Sebagai boss, memang boleh. Tody patut menyerap vitalitas lelaki tua itu. Cuma, kini presdir itu dihadapkan pada kericuhan dalam rumah tangganya. Kericuhan yang datang dari anak gadisnya. Kemelut menjaring keluarganya. Dia sedang menghadapi air mata istrinya, serta tangisan anak-gadisnya yang tak henti-hentinya. Kini dia menyadari bahwa kesibukannya membuat istrinya harus memikul beban yang berat selama ini. Istrinya kesepian di rumah yang besar. Seharusnya, di hari tua ini dia setia menemani istrinya di rumah. Seharusnya dia menikmati mekarnya bunga-bunga yang dirawat istrinya, dan melihat bunga yang tumbuh di dalam rumahnya, yakni anak-gadisnya yang kian dewasa.

  

 Apakah yang kucari selama ini dengan kesibukan yang mendera? Bekerja tak berkeputusan. Untuk apa? Uang? Untuk kebahagiaan keluarga? Uang telah terkumpul selama ini. Anak-anak lelaki sudah disekolahkan semuanya. Sekolah ke Amerika, Jerman, atau ke mana saja. Semuanya telah hidup memuaskan, menimbulkan rasa iri keluarga-keluarga Yang lain. Betapa bahagianya keluarga itu. Punya anak-anak lelaki yang semuanya sukses karir. Itu kata orang. Tapi, kenapa aku sendiri tak pernah puas? Kenapa aku tak jua berhenti bekerja? Presdir itu diam-diam berdesah di kamar kerjanya.

  

 Presdir itu termangu. Tody mengira, dia sedang memikirkan perusahaan lain miliknya. Dan, lelaki tua berambut putih itu tetap menyudutkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Kenapa aku tak memulai kehidupanku yang tua dengan tenang di rumah? Kenapa? Oh, karena aku takut menjadi tua! Aku takut mati sebagai kakek-kakek pikun. Karena itu maka aku harus memelihara diriku sebagai lelaki perkasa, penuh vitalitas. Sekali aku berhenti bekerja, aku tak ubahnya kakek-kakek pensiunan. Alangkah mengerikan. Aku takut menjadi tua. Ya, itulah soalnya!

  

 Tapi, bagaimana dengan istriku? Dia menjadi tua begitu cepatnya. Lebih-lebih masa belakangan ini. Kerut-kerut di pinggir matanya sangat kentara. Seperti sentakan saja ketuaan itu nampak di wajahnya. Sedang aku....?

  

 Lelaki tua itu mengusap mukanya yang bulat.

  

 Ah, aku egois! Aku membiarkan istriku menjadi tua seorang diri. Seharusnya kami menjadi tua bersama-sama. Kami, seharusnya sudah menjadi kakek-nenek yang menatap cucu-cucu bermain-main.

  

 Kapankah aku memperhatikan anak-anakku? Kalau anak-anak lelakiku sukses, aku akan memetik kebanggaan. Inilah anak-anak bisnismen tulen yang bisa mengendalikan perusahaan raksasanya dan pula bisa mendidik anak-anaknya. Aku akan merasa diriku sebagai Kennedy Tua yang mendidik Kennedy-Kennedy Muda jadi orang besar semua. Aku pun mencibiri pengusaha-pengusaha dan pejabat-pejabat tinggi yang keluarganya mengalami dekaden. Toh keluarga mereka mengalami kehancuran, dan keluargaku tidak. Cuma, berkat pendidikankukah itu?

  

 Lelaki tua itu mengeluh. Dia mengusap-usap telinganya. Istriku! Dialah yang mendidik anak-anakku selama ini. Aku hanya menyediakan materi. Adapun jiwa mereka, istrikulah yang mengisi. Dan, dia telah berhasil. Dia telah melahirkan dan mendidik anak-anak lelaki yang kini dikagumi orang banyak. Cuma, kenapa sekarang dia gagal mendidik si bungsu yang paling disayanginya? Kepada sibiran tulang yang dimanja itu, kenapa didikannya gagal?

  

 Apakah memang benar bahwa anak-anak lelaki harus dididik ibu, sedang anak-anak perempuan harus diperhatikan oleh ayah? Kalau benar, berarti aku telah lalai. Siapa pun tidak kudidik dengan baik. Bahkan satu-satunya anak perempuan juga tidak.

  

 Aku hanya membebani perempuan yang kucintai sejak gadis hingga menjadi nenek-nenek itu dengan kemelut rumah tangga, keluh lelaki tua itu tersekap.

  

 Tak pernah diketahui oleh Tody bahwa bossnya sedang mengalami kegalauan pikiran. Sebab, dia tidak tahu bahwa lelaki tua yang gemuk itu punya anak perempuan bernama IRAWATI!

  

  

 ***

  

  

 Tody gugup menerima panggilan dan presdirnya. Lelaki tua itu tidak masuk kantor. Tody harus datang ke rumahnya.

  

 Was-was berkecamuk di dada Tody. Bukan hanya alamat rumah itu yang merusuhkan hatinya, melainkan juga persoalan yang sedang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Persoalan kepercayaan.

  

 Padahal - inilah yang mengganggu tidurnya selama beberapa hari ini - dia tak bisa memelihara kepercayaan itu.

  

 Dia sendiri tidak tahu bagaimana segampang itu dia menduduki jabatan yang sangat meriskir kepercayaan itu. Jalan untuk menuju kedudukan itu seperti jalan yang baru saja diresmikan menteri PU layaknya: mulus. Dan, kemudian Tody mengambil uang dari situ juga seperti menciduk air di dalam saja.

  

 Uang itu memang bukan untuk pribadi. Tetapi, apa bedanya? Yang jelas, kas telah berkurang. Dengan apa lagi keburukan itu harus dibandingkan? Tody mengeluh berkepanjangan. Nanti sore dia harus ke rumah presdir.

  

 Tody kemudian ingat wajah Sartono yang beriba-iba, dan setumpuk uang di dalam tasnya.

  

 "Tolonglah, Mas Tody. Tolonglah."

  

 "Aku tak bisa. Sungguh! Bagaimana aku menolongmu?"

  

 "Cuma tiga hari saja. Aku sedang menawarkan motorku. Kalau laku, ditambah dengan bantuan orang tuaku, aku akan mengganti uang itu."

  

 Tody lama terdiam.

  

 "Ini menyangkut reputasi, Mas Tody," kata Sartono.

  

 Tody membisu.

  

 Sartono telah memakai dana Dewan Mahasiswa yang ada di bawah tanggung jawabnya. Tim peneliti keuangan yang dibentuk rektor akan memeriksa dana-dana yang diberikan kepada Dewan Mahasiswa itu. Di sinilah kenapa Sartono panik.

  

 "Kau tahu sendiri, aku bukan orang kaya," kata Tody pelahan.

  

 "Kan bisa, kau usahakan dari kantor?" desak Sartono.

  

 "Mana bisa ngebon sebanyak itu?"

  

 "Ambil saja uang kantormu."

  

 "Bah! Korupsi?" kata Tody keras.

  

 "Bukan korupsi. Kita cuma memakai sementara. Dalam tiga hari sudah kukembalikan. Takkan ada yang tahu."

  

 "Aku tak berani," kata Tody.

  

 "Aduh, Mas, kau tak mau menolong? Aku bisa dipecat dari universitas. Aku tidak skripsi, Mas. Harapan orang tuaku satu-satunya cuma padaku."

  

 Tody menatap mata yang berlinangan.

  

 "Tolonglah aku, Mas Tody. Kumohon, Mas...."

  

 Tody membisu.

  

 Sartono mengeluh-ngeluh.

  

 "Kalau tiba-tiba kasku diperiksa, aku bisa kiamat," kata Tody kamudian.

  

 "Takkan ketahuan. Pada hari apa diperiksa?"

  

 "Memang belum diperiksa."

  

 "Ah, kalau begitu, tak ada risikonya. Tolonglah aku, Mas, tolonglah. Aku masih ingin menyelesaikan kuliahku."

  

 Tody tak bersuara.

  

 "Orang tuaku akan mengganti uang itu," kata Sartono.

  

 "Kenapa bisa habis dana dewan itu?"

  

 "Ah, entahlah. Sedikit demi sedikit aku tak sadar memakainya. Kesalahan universitas juga. Kenapa selama pengurus dewan yang lama tak pernah diadakan pemeriksaan? Kenapa setelah rektor baru sekarang harus diperiksa?"

  

 "Karena rektor yang sekarang lebih tegas. Dan, barangkali pengurus dewan yang lama memang tak terlalu banyak main."

  

 "Ah, siapa bilang? Semua pengurus dewan korup!" kata Sartono.

  

 "Kenapa kau memakai uang dewan?" tanya Tody jengkel.

  

 "Oh, kecuali kau. Kecuali kau," kata Sartono cepat-cepat.

  

 Untuk sesaat mereka membisu. Ruangan itu senyap. Tody menatap buku-bukunya di meja. Dia membaca, tetapi wajah Sartono terus mengganggu dengan beriba-ibanya.

  

 "Kau tak mempercayai aku, Mas?"

  

 "Bukan soal percaya atau tidak, Ton. Aku tak berani memakai uang kantor."

  

 "Cuma tiga hari. Takkan seorang pun tahu. Kau bisa mengembalikan uang itu diam-diam tanpa seorang pun tahu."

  

 Tanpa seorang pun tahu. Tak seorang pun tahu. Tetapi, muka Sartono yang memelas itu tak muncul-muncul setelah lewat tiga hari. Dia telah lenyap dari Yogya. Kegelisahan menggelepar di dada Tody. Dia mencari Sartono ke kampus, ke tempat mondoknya, tetapi Sartono telah lenyap.

  

 Bagaimana mengganti uang itu? Setengah juta! Angka yang mendirikan bulu kuduk kalau harus menggantinya. Berhari-hari Tody gelisah. Namun, dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya dari siapa pun. Di mana Sartono? Lelaki yang matanya bisa berlinangan itu lenyap bagai ditelan bumi. Terkutuk!

  

 Hanya tiga hari. Tak seorang pun tahu. Sekarang, sudah lewat dari tiga hari. Bahkan sudah seminggu. Dan, Tody dipanggil presdirnya. Oh, bagaimana mempertahankan nama baik? Bagaimana memelihara nama baik dekannya yang telah merekomendasikan dia sebagai mahasiswa pinter, jujur, dan bertanggung jawab?

  

 Tody mengeluh. Namun, dia harus tetap melangkah mencari nomor rumah presdirnya. Dan, jantungnya hampir copot sebab rumah yang harus dimasukinya, rumah bertaman indah itu, rumah Irawati!

  

 Risau dan rusuh bercampur dalam adonan yang pekat di dada Tody. Sebelum bel dibunyikan, pintu telah terbuka.

  

 "Tuan dan Nyonya menunggu di ruang dalam," kata pelayan menyebutnya.

  

 Tody bensaha meredakan jantungnya yang tak beraturan lagi denyutnya. Dia melintas di atas permadani yang menyekap suara sepatunya. Terus melangkah mendikuti langkah pelayan. Maka Tody tak mampu meredakan debur-debur di dadanya.

  

 Ibu Irawati tersenyum murung. Presdir itu mengisap cerutunya sebelum bertanya, "Bagaimana keadaan kantor, Tody?

  

 "Baik-baik saja, Pak."

  

 "Hm." Lelaki tua itu menaksir-naksir.

  

 Tody sempat melirik ibu Irawati yang mengusap matanya.

  

 "Kau sudah ada rencana kawin, Tody?" tanya lelaki tua itu.

  

 Tody gelagapan.

  

 "Belum," katanya kemudian.

  

 "Kalau tak salah; kau teman Irawati ya?"

  

 "Ya," desah Tody.

  

 "Kenapa tak pernah lagi datang ke sini?"

  

 "Oh," keluh Tody.

  

 "Selama ini kau tahu kalau aku ayah Ira?"

  

 "Tidak."

  

 "Hm." Lelaki tua itu menaksir-naksir lagi.

  

 "Rupa-rupanya Nak Tody bertengkar dengan Irawati?" Tiba-tiba ibu Irawati menyeling.

  

 "Oh, tidak, tidak, tidak," kata Tody gugup.

  

 "Lalu, kenapa mendadak tak muncul-muncul kemari?"

  

 "Saya... saya... saya..." Tody merasa napasnya menghimpit.

  

 "Ah, sudahlah," kata ayah Irawati. "Itu urusan dulu. Aku mau membicarakan urusan sekarang. Urusan kantor."

  

 Napas Tody sesak. Paru-parunya memberontak.

  

 "Begini, Tody," kata lelaki tua itu pelan-pelan. "Beberapa hari yang lalu, ada pegawai yang mengabarkan bahwa uang setengah juta di bawah tanggung jawabmu tidak ada di kas."

  

 Tody menggigil.

  

 "Uang itu tidak banyak sebenarnya," kata lelaki tua itu meneruskan.

  

 Tody mengulum ludah yang terasa pahit. Getir.

  

 "Betulkah uang itu kauambil?"

  

 Seluruh jaringan tubuh Tody menggeletar.

  

 "Ya," desahnya. Matanya terhunjam ke lantai. Keringat merembes dari sejumlah pori-pori kulitnya.

  

 "Ah," keluh lelaki tua itu.

  

 Ibu Irawati mengusap matanya lagi.

  

 "Saya akan menggantinya," kata Tody. Bibirnya garing.

  

 "Ya? Kapan?"

  

 Tody terhimpit.

  

 Ibu Irawati pindah duduk ke samping Tody.

  

 "Begini, Nak Tody," katanya lunak. "Kami menyukai kau. Sejak lama saya menyukaimu. Saya akan senang kalau kau jadi anak saya."

  

 Tody menatapnya nanap. Lalu berpindah ke tangan perempuan tua itu yang memegang bahunya.

  

 "Kami mengetahui bahwa kau seorang yang jujur."

  

 Tody terengah.

  

 "Karena itu saya senang waktu kau bergaul dengan Irawati dulu. Walaupun kemudian putus, tetapi saya masih tetap berharap kau jadi bagian keluarga kami."

  

 Lelaki tua itu menangkap kegelisahan di mata Tody. Maka katanya, "Langsung saja. Begini, Tody. Kami punya anak perempuan. Sudah dewasa. Kami ingin kau menjadikannya istrimu."

  

 Jantung Tody telah berkali-kali terperanjat. Tetapi, sekarang lebih-lebih kadar kagetnya.

  

 "Sebenarnya.... sebenarnya... sebenarnya... apa maksud Bapak dan Ibu?" katanya terbata-bata.

  

 "Itulah. Kau jadi suami Irawati," kata lelaki tua itu datar.

  

 "Saya belum berniat kawin masa sekarang ini," kata Tody pelahan.

  

 "Tapi, kami memohon dengan teramat sangat."

  

 Tody terpaku. Apa-apaan ini?

  

 "Kenapa?"

  

 Ibu Irawati mengusap matanya yang dirembesi air.

  

 "Aku telah berbuat baik kepadamu selama ini," kata lelaki tua itu. "Dan, sekarang aku memohon kepada kau."

  

 Tody mengahhkan matanya ke arah ibu Irawati. Perempuan tua itu menatapnya nanap dengan mata yang bersimbahan air.

  

 "Dan, soal setengah juta uang kantor itu bisa kita lupakan saja," kata lelaki tua itu.

  

 Tody membisu.

  

 "Kenapa saya harus mengawini dia?" tanya Tody terputus-putus.

  

 "Karena... karena..." Perempuan tua itu semakin terisak.

  

 "Langsung saja," kata ayah Irawati. "Karena dia hamil," lanjutnya datar.

  

 Bah! Sejuta petir boleh berdegar, tetapi tidak sekaget ini Tody mendengarnya.

  

  

 ***

  

  

 Hari-hari Berempedu

  

 O, NAMA BAIK, alangkah pahitnya kau! Hargaku setengah juta rupiah. Aku harus menjadi suami perempuan yang tak kucintai, dan sudah menyimpan benih akibat keliarannya! Setelah terbanting-banting mempertahankan idealisme, setelah tersaruk-saruk merindukan cinta, maka inilah hasilnya: seonggok sisa!

  

 Jika uanglah yang menjadi ukuran kebahagiaan, maka hanya seorang yang bahagia dalam peristiwa ini, yaitu Sartono. Dia mendapat setengah juta dan tak perlu dikembalikan. Kemudian masih mendapat tambahan lagi sesuai dengan janji ayah Irawati. Lelaki tua itu sungguh-sungguh bisnismen. Dia mampu menggunakan otaknya dan tenaga orang untuk kepentingannya.

  

 Tody seorang yang harus meratapi rumpun semak hidupnya. Semaknya kembali meranggas. Dari kekeringan menuju kekeringan yang lain, itulah yang dialaminya. Untuk setengah juta rupiah, dia harus menjual dirinya. Oh, malangnya lelaki miskin, malangnya si idealis yang ingin bernama bersih.

  

 Dia takut nama baiknya sebagai pejuang mahasiswa menjadi rusak. Dia khawatir dekannya yang mengharapkannya jadi intelektuil mengetahui lenyapnya uang kas yang harus dipertanggung-jawabkannya. Dia tak mau orang menilainya sebagai koruptor. Dia tak ingin ada orang yang mencibir, "Hm, si intelektuil yang ikut gerakan antikorupsi itu tak lebih dari anjing rakus juga. Bah!"

  

 Tak akan ada yang percaya kendatipun dia berteriak setinggi langit bahwa setengah juta itu sama sekali bukan dia yang menggunakan. Dia ditipu Sartono. Tak akan ada yang mau mempercayainya. Itu semua sudah dalam perhitungan ayah Irawati. Maka, yang mengenyam kebahagiaan dari kemelut ini adalah Sartono yang tetirah ke Bali.

  

 Akan halnya Tody? Dialah seorang suami yang murung. Sejak perkawinannya, tak satu pun sentuhan diberikannya kepada Irawati. Bahkan matanya pun berusaha untuk tidak menatap perempuan itu. Mereka tinggal di bawah atap yang sama, namun hati tak pernah berdekatan satu sama lain. Itulah yang dirasakan Tody. Entahlah yang dirasakan Irawati. Matanya selalu ingin bertemu dengan mata lelaki itu, tetapi tak pernah kesampaian. Dan, Irawati menghela napas yang berat.

  

 Dia ingat akan upacara perkawinan mereka. Tanpa senyuman Tody memasukkan cincin ke jarinya. Malahan matanya berlinangan. Jelas bukan gembira. Dia seperti anak kecil yang dipaksa orang tuanya agar berbaikan dengan musuh yang telah menjewer telinganya di depan teman-temannya. Murung. Pahit. Getir.

  

 Dan, di kamar mereka, Tody membuka sepatu tanpa memandang Irawati. Mengganti baju tanpa suara. Lalu, membaringkan dirinya tanpa menyentuh Irawati sedikit pun.

  

 Hari-hari adalah pantang senyum. Makan pagi dengan menekuri piringnya, makan siang jarang di rumah, dan makan malam tanpa suara. Rumah mereka sepi. Tody lebih suka berada di luar rumah, di kantornya, atau di perpustakaan universitas.

  

 Tiap kali memandang punggung perempuan yang menjadi istrinya itu, Tody merasa memandang seonggok dosa. Inilah iblis yang memakai kulit perempuan cantik. Iblis yang menyeringai siap menerkam. Tody merasa berada dalam cengkeraman kuku-kuku iblis. Maka akan tersiksalah selamanya.

  

 Ah, perkawinan adalah sesuatu yang suci. Tak boleh dua kali dalam hidup. Hanya kematian yang boleh memisahkan. Begitu ujar kitab suci. Lalu, sampai mati harus bersama seseorang yang akan menyiksa dirinya? Harus bersama perempuan yang telah memerangkap dirinya dan menusuknya dengan belung berkarat? Ah!

  

 Cuma, malam itu Tody mengira istrinya sudah tidur. Maka dia masuk kamar dengan langkah bersijingkat. Baru saja dia membaringkan diri, perempuan itu membalik badan, menelentang menatap langit-langit dan berkata pelahan, "Mas Tody."

  

 Tody diam.

  

 "Aku tahu kau membenciku," kata Irawati.

  

 Tody cuma menghembuskan napas kuat-kuat.

  

 "Tapi, bagaimanapun kita telah menjadi suami istri. Aku istrimu, dan kau suamiku. Untuk selama-lamanya kita akan bersama."

  

 Tody tak bereaksi.

  

 "Anak yang kukandung ini tak kuketahui siapa ayahnya. Aku penuh noda untuk didampingkan dengan kau. Aku sama sekali tak berharga."

  

 "Hargamu setengah juta!" kata Tody dingin.

  

 Irawati merasakan tusukan nyeri di dadanya.

  

 "Waktu Papa dan Mama bertengkar, baru aku sadar bahwa yang kulakukan selama ini telah berakibat jauh. Papa dan Mama tak pernah kulihat bertengkar. Kali ini, karena diriku maka mereka berselisih hebat. Sampai-sampai Papa menempeleng Mama. Ah, Mama yang kusayangi ditempeleng Papa. Papa bilang, Mama tak bisa mendidik anak. Mama menangis. Menangis terus. Lalu Papa menyuruh menggugurkan kandunganku. Dia mau mengirimku ke Jerman. Tapi, Mama melarang. Papa bilang, ‘Kau mau arang tercoreng di kening kita dan semua orang melihatnya? Anak kita yang lain akan malu!’

  

 Mama tetap tak setuju.

  

 ‘Dosa anak kita adalah dosa kita, sudah sebegitu mengerikannya. Masih harus ditambah dosa yang lain. Bagaimana pertanggungjawaban kita pada Tuhan?’ kata Mama. Papa terdiam. Mama tak henti-hentinya menangis. Kemudian... itulah, kita dikawinkan," kata Irawati.

  

 Suara itu lunak, tetapi bagi telinga Tody menyakitkan.

  

 Dia membelakangi Irawati, dan memulai kebiasaannya belakangan ini, menjelang tidur: mengenangkan mata Widuri, bibir Murtini, Widuri, Murtini, Widuri, Murtini.

  

 "Satu tempo anak ini akan lahir," kata Irawati tersendat. "Dan, dia mengira Mas Todylah ayahnya."

  

 Tody merasa perutnya mual. Dan, dia jengkel lamunannya terputus.

  

 "Dan, dia mengira dia berhak memasang fam keluargamu di belakang namanya. Kau mungkin membencinya. Bahkan melarangnya menggunakan fam keluargamu. Dia akan terheran-heran."

  

 "Bisa diam enggak? Aku mau tidur!" kata Tody tawar.

  

 Irawati menutup rapat mulutnya. Dari pinggir matanya, mengalir air bening. Hangat menimpa pipinya. Dia menatap langit-langit kamar, tetapi pemandangan berbaur dengan air mata.

  

 Tody mengatur jalan pernapasannya untuk mempercepat proses tidurnya. Dia memejamkan mata. Irawati hanya menatap punggungnya. Lalu, perempuan itu berkata pelahan, "Aku akan berusaha jadi orang baik, Mas Tody."

  

 "Jadi baik atau jadi lonte, itu bukan urusanku!" kata Tody tanpa nada.


 Sore itu, di Bioskop Royal, Tody bertemu Anton.

  

 "Hai, ini sang manajer! Traktir dulu, ah!"

  

 Tody tersenyum pahit.

  

 "Kudengar kau sudah lulus. Di perusahaan mertuamu, kau sudah jadi direktur utama. Bukan main, bukan main! Segalanya sudah kau raih. Ijasah sarjana, bini, dan kedudukan bagus."

  

 Tody mengeluh tanpa suara. Mereka duduk di dekat gambar-gambar poster film.

  

 "Kebetulan sekali ketemu," kata Anton. "Ada suster mau ketemu kau."

  

 "Ngapain?"

  

 "Mana aku tahu? Aku takut mengusut-usut suster. Takut kualat."

  

 "Suster di mana?"

  

 "Ayo, kuantar. Aku memang kepingin bertamu ke situ."

  

 Mereka berjalan ke utara. Banyak mahasiswa Universitas Islam bergerombol di dekat pagar yang mereka lintasi. Tanpa antusias, Tody membaca spanduk di dinding kampus itu. Kemudian dia menatap ke utara, ke bekas kampusnya: Gadjah Mada. Pohon cemara bergoyang-goyang, dan kerinduan melilit relung hati Tody. Dia merindukan kehidupan kampus kembali. Kehidupan yang penuh gairah.

  

 Jalan yang mereka lalui membentang dari Kampus UII menuju Kampus Gadjah Mada. Sekarang mereka melintasi Rumah Sakit Panti Rapih.

  

 "Waktu aku bertamu ke Asrama Syantikara, seorang suster pengawas di situ bertanya apa aku kenal kau. Kenal sekali, kataku. Lalu, aku dimintainya memanggil kau kalau sempat."

  

 Tody canggung berdiri dalam tatapan mata Suster Maria yang bening.

  

 "Saudara Tody?" kata Suster Maria.

  

 Tody mengangguk.

  

 "Saya ada keperluan sedikit," kata suster itu seraya menatap Anton.

  

 Anton tertawa.

  

 "Oh, saya pergi dulu. Boleh saya menemui salah seorang penghuni asrama ini?" katanya.

  

 Suster Maria mengangguk.

  

 "Begini, Tody. Kau ingat Widuri?"

  

 Tody merasakan debaran di dadanya. Dia mengangguk cepat.

  

 "Sebenarnya lama sekali saya ingin membicarakan ini dengan kau. Tapi, saya pikir, setelah dia kawin toh tidak ada gunanya lagi."

  

 "Dia sudah kawin?"

  

 "Yah."

  

 Tody menghembuskan napas dalam satu keluhan.

  

 "Tapi, katanya dia tidak bahagia. Sebab, perkawinan mereka karena terpaksa. Hampir sebulan sekali datang surat darinya. Dia meminta nasihat saya. Tapi, apa yang bisa saya nasihatkan? Saya tak mungkin mengubah jalan hidupnya. Nasihat saya apalah artinya." Suster Maria menatap Tody.

  

 "Dia kawin sudah hamil."

  

 "Bah?"

  

 "Waktu masih di Yogya sini, dia diperkosa oleh sekelompok anak muda."

  

 "Siapa? Siapa? Siapa?" tanya Tody dengan napas memburu.

  

 "Itu sudah berlalu. Widuri sendiri tak ingin peristiwa itu diketahui orang banyak."

  

 Tody tersandar di kursinya.

  

 "Lalu, ayahnya mengalami petaka. Pabrik penggilingan padi mereka musnah terbakar. Widuri dipanggil pulang. Tak mungkin lagi melanjutkan kuliah. Dan, dia tahu dirinya hamil setelah pulang ke desa. Lalu, tak lama kemudian dia kawin dengan seorang lelaki bernama Maryoto."

  

 Tody merasa dadanya ditindih seonggok batu. Sesak.

  

 "Belakangan lelaki itu tahu bahwa anak yang dikandung Widuri bukan anaknya. Perlakuannya sangat kejam terhadap Widuri. Lebih-lebih setelah anak itu lahir. Maka Widuri sakit-sakitan sekarang. Dia pernah menceritakan tentang kau. Katanya kau seorang yang baik. Jika dia mati, dia ingin kau merawat anak itu. ‘Saya yakin, Ibu,’ begitu katanya dalam surat, ‘Mas Tody mau memenuhi permintaan saya ini.’ Ah, lebih baik kau membacanya sendiri," kata suster tua itu sembari mengeluarkan surat dari balik bajunya yang putih.

  

 Tangan Tody gemetar.

  

 Widuri, gadis yang membisu bagai pohon cemara di tengah padang, ternyata menyimpan sejuta cinta. Kesepiannya ia tangguhkan seorang diri, kesengsaraannya adalah kerikil yang terpecah di terik matahari. Hancur dalam kepingan.

  

 Dia kawin dengan seorang lelaki yang hanya ingin menaklukkan perempuan. Bukan karena mencintainya. Dan, memang Widuri tak berani mengharapkan cinta dari lelaki itu. Dia cuma membutuhkan seorang suami, agar sewaktu melahirkan dia bisa menulis namanya dengan sebutan ‘nyonya’. Sebab, itu penting sekali. Sementara itu, setelah mengetahui keadaan Widuri, Maryoto merasa ditipu.

  

 Inilah karma, pikir Pak Hermanu, ayah Widuri yang menahan gelombang pada usia tua. Lalu, orang tua ini bolak-balik menggali dosa, mencocokkan dengan kenyataan pahit yang harus ditanggungkan anaknya dan dirinya sendiri.

  

 Anaknya mencintai seorang pemuda, sedang pemuda itu tak membalas cinta gadis itu. Lalu dia membenci pemuda itu, dan menghancurkan perasaan serta harapan-harapan pemuda itu. Maka pemuda itu meninggalkan desa tanpa harga diri lagi.

  

 Inilah balasan untuk setiap dengki dan keculasan, pikir lelaki tua itu. Dan, dia mengeluh.

  

 ***

  

 Semakin berat kandungan Irawati, kian menyeringai ejekan. Tody tak tahan. Makin tak tahan disiksa batinnya yang menghimpit. Dia yang selamanya berusaha hidup puritan, murni, dan jujur, bagaimana bisa mengawini perempuan yang telah mengandung benih lelaki lain?

  

 Pada belahan lain perasaannya, dia kadang-kadang iba melihat perempuan kurus itu. Dengan pakaian hamilnya yang longgar, dia mondar-mandir di seputar rumah dengan mengemban beban berat di perutnya. Sangat berubah dia. Dia yang dulunya begitu ceria, gadis yang lincah dan senang bercanda, kini membisu sepanjang hari. Jika Tody berada di rumah, Irawati seperti kucing yang didatangi tuannya dengan sebatang lidi di tangan, siap untuk mengusirnya. Matanya selalu ketakutan.

  

 Tetapi, belahan lain dari perasaannya, Tody merasa dihimpit oleh ejekan. Ha, lelaki yang menjual dirinya! Lelaki yang mau menampung barang sisa! Lelaki yang hidup di bawah atap rumah yang dibelikan oleh mertua! Air yang diminum adalah karena perempuan itu. Nasi yang ditelan adalah berkat perempuan itu, perempuan yang dibencinya.

  

 Akhirnya Tody tak tahan. Ketika sebuah perusahaan asing membutuhkan kepala proyek untuk ditempatkan di daerah terpencil di Cilacap, dia melamar. Dan, diterima lamarannya. Tak ada kebahagiaan yang bisa menandinginya. Dia berangkat tanpa pesan kepada istrinya. Dengan bekal sebuah kopor, dia ingin segalanya tertinggal!

  

 Usaha yang dihirupnya terasa nyaman. Kilauan atap seng perumahan pegawai proyek yang dipimpinnya terasa indah. Dan, deruman mesin buldoser yang menguruk tanah terasa empuk di telinga. Segalanya indah. Segalanya kemilau.

  

 Tody menganggap hidupnya harus diawali di proyek itu. Andainya dia harus memperingati hari penting dalam hidupnya, hanya ada dua: hari kelahirannya dan hari pertama dia menjadi kepala proyek itu.

  

 Kontak hanya berlangsung dengan Anton. Dia sering menulis surat buat Anton. Suatu hari dia menulis surat begini:

  

 Tak ada yang menandingi daerah ini, Anton. Ada sebuah sungai kecil yang airnya sangat jernih. Di waktu istirahat, aku sering mancing di situ. Ikan-ikan sangat senang padaku.

  

 Kau pernah bilang, bahwa aku potensiil jadi senewen. Dengan bangga kukabarkan pada kau bahwa kemungkinan itu sangat jauh dariku sekarang. Memang ada di antara karyawan yang tak tahan kesepian. Ada yang ingat bini, pacar, dan sebagainya. Mereka agak terganggu jiwanya. Aku sedang pikir-pikir, apakah proyek ini memerlukan psikolog. Andainya diperlukan, aku akan mengusahakan agar kaulah orangnya. Ingat, pasienmu bukan aku. Aku sangat sehat, dan otakku sangat baik sekarang.

  

 Soal cewek, seperti yang kautanyakan dalam suratmu yang lalu, bukan masalah yang sulit. Dengan jip, dalam tiga jam bisa ke kota peristirahatan. Di situ ada kolam renang, hotel yang bagus (sudah diup-grade untuk menyongsongPATA ), dan adanite-club tak resmi. Hostesnya, yaaa, lumayan! Kapan-kapan akan kuceritakan lebih mendetil bagalmana kehidupan di situ. Bagaimana pula aku mengenal seorang gadis yang nampak-nampaknya kesepian. Katanya dia dikecewakan seorang lelaki. Mungkin juga dia cuma membohongiku. Kata salah seorang stafku di kantor, biasa gadis-gadis penghibur mengarang cerita-cerita yang sedih. Mereka menghibur lelaki dengan kesedihan hidup mereka. Tapi, aku tak peduli.

  

 Nah, kalau kau ingin mengikuti kisah-kisahku selengkapnya di sorga ini, balaslah surat ini. Dan, jangan lupa, jangan kau menyampaikan kabar-kabar buruk. Jangan sama sekali. Biar kehidupan sorgawi ini tidak rusak.

  

 Perubahan yang drastis telah terjadi pada diri Tody. Dia bukan lagi lelaki murung dan termangu-mangu untuk menilai setiap langkahnya. Dia melakukan apa saja yang paling baik untuk menyenangkan dirinya.

  

 Lampu-lampu berwarna biru redup dan merah samar. Kursi-kursi terisi penuh. Salah seorang stafnya baru saja melambaikan tangan dan keluar menggandeng perempuan. Tody tersenyum-senyum. Untuk beberapa saat dia menunggu. Lalu, seorang gadis telah tegak di depannya. Senyum gadis itu mekar.

  

 "Sorry ya. Agak lama menunggu," kata gadis itu sembari duduk.

  

 "Banyak tamu rupanya?" kata Tody.

  

 "Ah, enggak."

  

 Lalu percakapan selanjutnya hanya basa-basi. Apa pun yang dipercakapkan, toh nanti akan berakhir dengan gandengan tangan dan meninggalkan ruangan itu.

  

 Eyeshadowmenyebabkan mata gadis itu kelihatan redup. Dan, hidungnya yang mirip hidung Gina Lollo selamanya menimbulkan keinginan Tody untuk mengusapnya. Bibirnya merekah menandakan dia siap dicium kapan saja, di mana saja.

  

 "Kata Mas Tody mau mengantar saya ke tempat orang tua saya di Surabaya?" kata gadis itu.

  

 "Ya. Tunggu senggang dulu dong."

  

 "Lima bulan saya tak pulang."

  

 "Ngumpulin duit terus?"

  

 "Ih!" Gadis itu mencubit Tody.

  

 "Orang tuamu tahu kau di sini?"

  

 "Tentu saja tidak. Mereka kira saya masih sekolah."

  

 "Kenapa sekolahnya ditinggal?"

  

 "Buat apa sekolah?"

  

 "Ya, betul. Lebih enak jadi ratu kecantikan atau ratu pariwisata. Kau pernah ikut pemilihan?"

  

 "Ah, malu dong. Mana mungkin menang."

  

 "Kenapa tidak? Kau cantik,...."

  

 "Ih!" Gadis itu mencubit Tody hingga Tody tergial. Pasangan-pasangan mulai berdansa. Musik pelahan mengiringi. Lampu-lampu hidup-mati-hidup-mati.

  

 Terima kasih untuk suratmu, Anton. Aku kepingin menceritakan cewek yang sangat mengagumkan. Namanya Elsye. Aku tak tahu apa itu nama palsu atau asli.

  

 Aku tak peduli. Biar palsu, tapi bagian lain dari dirinya tak ada yang palsu. Bulu matanya lentik tapi bukan bulu palsu. Ya, mempesona. Dan, dadanya, pinggulnya, wah! Baru sekarang aku sadar kenapa kau dulu tekun sekali memandangi dada dan pinggul gadis-gadis. Komposisi bagian tubuh itu memang sangat menentukan untuk ujud keindahan.

  

 Anton, nampak-nampaknya ada perkembangan baru dalam hubungan kami. Kaubayangkan, dia sering datang ke rumahku. Ini keajaiban. Kata stafku, gadis itu akan memporot uangku. Tapi, kenyataannya? Wah, dia menangis waktu kukasih duit sebagaimana lazimnya dalam bisnis semacam itu. Dia menangis sedih. Katanya, dia ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan barang dagangan. Bayangkah, Anton. Dia tak mau hubungan komersil. Aku mengajuknya, ‘Kalau begitu, kau tak boleh melayani lelaki lain.’ Nah, gawat! Sebab, dia betul-betul tak mau lagi ke nite-club itu. Dia tinggal di rumahku. Aku jadi pusing tujuh keliling.

  

 Dia sudah mulai bicara soal cinta. Tapi, aku selamanya ingat advis kau. Bercinta dengan reserve. Dia agresif, Anton. Sampai aku agak gugup. Dia bertingkah kayak biniku saja. Dia merapikan buku-bukuku. Merapikan meja kerjaku, Cuma, satu hal yang menimbulkan kejengkelanku. Dia mulai berani mengatur aku memilih-milih pakaian. Kalau mau bepergian, dia memaksaku agar aku berpakalan yang mode serta warnanya serasi dengan warna pakaiannya. Itu membikin aku panik. Bagaimana kalau betul-betul jadi istriku? Mungkin dia akan mengatur lebih mendetil lagi. Mungkin dia akan mengatur jam berapa aku harus membaca, jam berapa aku harus berak. Bah!

  

 Berurusan dengan perempuan memang rumit, Anton. Bercinta memang menyenangkan. Tapi, kalau harus lebih serius, yah, minta ampun. Terlalu banyak tetak-bengek yang memusingkan kepala. Sekarang memang belum nampak tanda-tanda dia menuntut ini-itu. Mungkin karena belum banyak perbandingan, soalnya di sini tidak begitu ramai. Bagaimana kalau kami tinggal di tempat yang punya lingkungan beraneka macam? Apakah dia tidak akan mendesakku agar aku memenuhi tuntutan-tuntutannya yang sesuai dengan kodrat perempuan, yang selamanya punya "rising demand", tuntutan yang selalu meningkat? Aku ingat bagaimana merajalelanya korupsi di negeri ini. Konon karena ulah para istri yang tak pernah merasa berkecukupan. Kaum istri suka membandingkan kekayaan-kekayaan materiil dengan lingkungannya.

  

 Anton yang baik, andainya kau ada di sini, aku ingin kau menyelidiki gadis itu. Tipe bagaimana sebenarnya dia. Nampak-nampaknya dia sangat mengagumi diriku. Baginya, aku seperti pahlawan saja. Sementara itu, dia sangat memaksaku agar aku berpakaian kayak Rahadian Yamin. Itu, peragawan yang gambarnya sering di majalah. Aku merasa dia mengagumi kepintaranku, dan ingin menyempurnakan diriku dalam ujud yang paling sesuai dengan angan-angannya. Orang macam apakah itu, Anton?

  

 Begitulah, Anton, kabar dariku. Oh, ya, soal istriku yang kausinggung-singgung dalam suratmu, kuharap tak perlu kau mengabarinya padaku. Dia boleh-boleh saja konsultasi jiwa ke biro kalian. Sebagai sahabat, kuharap kau mau memahamiku. Aku sangat ingin hidup sendiri. Dan, bagaimana dengan dirimu? Tentunya, setelah lulus sarjana kau mau mengurangi kebinalanmu. Aku menunggu kau mengabariku kapan kau kawin? Itu penting.

  

 Tody baru saja menerima laporan dari kawannya. Kemudian dia kembali mengenangkan wajah Anton. Rambutnya yang gondrong, senyumnya yang seperti bercanda, dan nasihat-nasihatnya. Hanya kepada Anton dia menceritakan rencananya untuk bekerja di proyek ini. Walaupun Anton menasihatinya agar dia tetap di Yogya, Tody tetap berkeras untuk meninggalkan segalanya. Dia cuma berkata, "Tidak enak bernaung di bawah ketiak mertua."

  

  

 ***

  

  

 Sementara itu, di rumah Tody, Elsye bernyanyi-nyanyi sembari menyapu ruang depan, dan membersihkan kursi-kursi dengan kelud. Keningnya berkemyit ketika sebuah Mercedez 350 berhenti di depan rumah. Karena perjalanan jauh, tubuh mobil itu berselimut debu.

  

 Eisye mengamati penumpang mobil itu. Seorang sopir tua, lalu seorang perempuan muda. Siapa mereka?

  

 Perempuan muda itu bertanya kepada tukang kebun di halaman. Tukang kebun menjawab anggukan. Lalu mobil masuk ke halaman.

  

 Perempuan muda itu turun dari mobil. Elsye mengawasi tubuh yang dibalut pakaian hamil. Dan, perempuan hamil itu berkernyit keningnya menatap Elsye. Lalu dia bertanya, "Di sini tinggal Faraitody?"

  

 Elsye mengangguk.

  

 Perempuan hamil itu melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Dia meletakkan tubuhnya yang letih. Dia mengedarkan pandang berkeliling.

  

 "Adik siapa?" tanyanya.

  

 "Nyonya siapa?" tanya Elsye.

  

 "Saya Irawati, Istri Faraitody."

  

 Jantung Elsye menggelepar. Dia mengawasi mata yang sayu lantaran capek itu. Lalu, mengawasi perut yang membusung. Irawati mengusap-usap rambutnya.

  

 "Adik siapa?" tanya Irawati lagi.

  

 "Saya.... saya.... saya....."

  

 Nah, aku menang angin, pikir Irawati. Padahal, sejak awal tadi dadanya sudah berdebaran tak menentu begitu melihat wanita di rumah itu. Dia merasakan gigilan yang hampir tak tertahankan merambati sekujur tubuhnya.

  

 Kecanggungan gadis yang duduk di depannya merupakan peluang bagi Irawati untuk menguasai medan.

  

 "Adik di sini juga, tinggal?" tanyanya.

  

 Elsye gelagapan. Sekejap dia menatap Irawati. Namun, sebelum dihunjani oleh Irawati dengan pandangan dia kembali menunduk.

  

 Sebenarnya usia mereka sebaya. Tetapi, kehamilan perempuan itu membuat Elsye merasa lebih muda dan gugup.

  

 "Sudah lama Adik mengenal Mas Tody?"

  

 "Tiga bulan ini," kata Elsye terputus-putus.

  

 "Hm," gumam Irawati.

  

 Udara sangat panas. Kemarau di daerah itu telah berjalan lama. Tanah-tanah telah kering kerontang. Kendaraan yang lewat menerbangkan debu yang mengawan rendah. Membuat orang gampang terbatuk-batuk.

  

 Tody menghadapkan fan ke arahnya. Angin buatan itu meniup seluruh pori-pori tubuhnya, mengalahkan panas yang diantarkan atap seng. Dari kamar kerjanya, dia memandang pekerja-pekerja hilir-mudik di halaman. Dan, tiba-tiba pintu terbuka menyentak. Wajah stafnya nongol. Wajah yang gugup.

  

 Tody mengangkat alis.

  

 "Gawat, Pak," kata staf itu terengah.

  

 "Ya?"

  

 "Istri Bapak datang."

  

 Sesaat saja Tody mengangkat kepala. Kemudian bahunya terangkat sebelah. Tak peduli.

  

 "Dia ketemu Elsye di rumah Bapak."

  

 Tody cuma bergumam.

  

 "Sopir istri Bapak menunggu di luar."

  

 Tody tetap tak peduli.

  

 "Dia menunggu Bapak."

  

 "Suruh kembali saja. Aku pulang sendiri nanti sore."

  

 Stafnya keluar. Masih dililit tanda tanya dia. Jika aku bisa setenang itu menghadapi istriku, alangkah baiknya, pikirnya. Aku akan menaklukkan istriku. Bukan kayak sekarang. Melihat bekas lipstik di bajuku saja, dia melabrakku sampai aku blingsatan dibuatnya. Boss itu, tenang-tenang saja walau istrinya menemukan gundiknya di rumahnya. Bukan main, bukan main.

  

 Di sini pegawai staf itu terbengong-bengong. Di sana, Elsye tergugup-gugup. Irawati mengambil peranan menyerang.

  

 "Aku istrinya," katanya. "Lihatlah, aku sedang hamil. Beratus kilometer mengadakan perjalanan, untuk menemuinya. Andainya kau mengalami seperti yang kualami ini, apakah yang akan kaulakukan?"

  

 Elsye tak menjawab.

  

 "Boleh jadi dia bilang tak bahagia dalam rumah tangganya. Ada dia bilang begitu?"

  

 Elsye menggeleng.

  

 "Dia tak pernah menceritakan rumah tangganya?"

  

 Elsye tetap menggeleng.

  

 "Dia tak pernah mengatakan bahwa dia punya istri?"

  

 Menggeleng lagi Elsye.

  

 "Tak pernah kautanyakan?"

  

 Elsye menggeleng.

  

 Irawati menghembuskan napas panjang. Entah keluhan, entah kepanasan, tak bisa diduga.

  

 "Apakah kau tak pernah meneliti lelaki yang kaugauli, apakah dia beristri atau belum?"

  

 Elsye menggeleng lagi. Udara yang dihirupnya terasa pengap.

  

  

 ***

  

  

 Tak ada mobil di halaman. Rumah pun sepi. Jika dua orang perempuan di bawah satu atap, seharusnya terdengar suara kicau mereka. Mungkin membicarakan diri sendiri, atau merasani perempuan lain. Tetapi, cuma kesenyapan yang ada. Nah, tentunya Irawati sudah pergi.

  

 Tody lega.

  

 Tody masuk ke rumah. Makanan masih tertutup di meja. Dia mengedarkan pandangan. Segalanya rapi. Tak ada tanda-tanda perselisihan. Di mana Elsye?

  

 Tody membuka pintu kamarnya. Sesosok tubuh berbaring di tempat tidur. Kamar itu gelap sebab jendela tertutup. Fan mendengung di sudut ruangan. Tody bersijingkat ke tempat tidur.

  

 "Hello, Elsye Sayang." Dan, dia mencium pipi perempuan itu. Tetapi, pipi itu dirasanya basah.

  

 Dia mengelus pipi perempuan itu.

  

 "Kenapa, Sayang?"

  

 Sepasang tangan memeluknya, dan tangisan meledak.

  

 Eh, bau parfum ini bukan milik Elsye. Dan, isak ini.... ah!

  

 Tody meneliti tubuh perempuan itu dalam keremangan kamar. Dia tersentak. Lalu merenggutkan badannya dan cepat-cepat menyalakan lampu. Cahaya menyergap menyinari Irawati yang duduk di pinggiran tempat tidur.

  

 Tody terpana.

  

 Irawati masih terisak.

  

 "Kenapa kau kemari?" tanya Tody dingin.

  

 Irawati hanya menatapnya dengan bersimbah air mata.

  

 "Mana Elsye?" Lebih dingin suara Tody.

  

 "Sudah pergi," kata Irawati.

  

 "Kenapa dia pergi?"

  

 "Dia pergi, dia pergi...."

  

 "Apa yang kaubilang pada dia?"

  

 "Tak apa-apa. Tak ada."

  

 "Jadi, kenapa dia pergi?" Suara Tody sengit.

  

 Irawati menekap mukanya. Air matanya merembes dari celah jarinya.

  

 "Kauusir?"

  

 "Tidak, tidak, tidak...."

  

 "Dia jauh lebih baik dari kau. Tahu?"

  

 "Ya," desah Irawati.

  

 "Dia leblh berhak di rumah ini!"

  

 Irawati tak menjawab.

  

 "Aku mencintainya!" kata Tody keras.

  

 "Ya, aku tahu."

  

 "Jadi, kenapa kau masih di sini?" kata Tody ketus.

  

 "Karena aku mencintaimu."

  

 "Taik cinta!"

  

 "Karena aku istrimu, aku istrimu...."

  

 "Jangan sebut-sebut itu!"

  

 "Istrimu! Disaksikan orang tuaku! Disaksikan pastor!"

  

 "Siapa yang menyaksikan persetubuhanmu dengan ayah anakmu itu?"

  

 Isak Irawati kembali berdesakan.

  

 "Tak usah menangis. Memuakkan! Aku harus mencari Elsye. Ke mana dia?"

  

 "Kembali ke tempatnya. Ke tempat peristirahatan itu. Di Bandungan."

  

 Tody menggeram.

  

 "Jadi, kau tahu siapa dia?"

  

 "Ya, aku tahu," kata Irawati tanpa mengangkat kepala.

  

 "Dari siapa kau tahu?"

  

 "Anton."

  

 Tody menggumamkan makian dalam bahasa Flores.

  

 "Kau mencintai pelacur!" kata Irawati.

  

 "Bah! Pelacur? Lalu, kau sendiri apa? Anak seorang kaya, terhormat, berpendidikan, apa lagi? Apa lagi? Tapi, yang kaukerjakan apa? Tak lebih dari lonte! Bahkan lebih kotor lagi. Sampai tak tahu sumber benih dalam perutmu! Fuih!"

  

 Irawati terdiam.

  

 "Kaupikir kau lebih baik dari dia? Aku mencintainya. Itu di atas segala-galanya. Tak peduli siapa dia, dan bagaimana dia!" Tody gemetar. "Sekarang aku bebas dari kekuasaan ayahmu. Tak ada lagi kekuasaannya untuk memaksa aku memperistrimu. Aku bebas untuk mencintai siapa saja yang kuinginkan. Dan, jelas bukan kau! Kau sama sekali tak punya arti, tak punya harga! Tahu?"

  

 "Ya," desah Irawati.

  

 "Nah, kalau sudah jelas, tinggalkan rumah ini. Ini rumahku. Kedudukan yang kuperoleh sekarang berkat pribadiku, bukan hadiah dari ayahmu!"

  

 "Ya," desah perempuan itu lebih pelahan.

  

 Tody mondar-mandir.

  

 "Mana mobilmu? Aku ingin kau pergi sekarang!"

  

 "Masih mengantar Elsye."

  

 "Hm." Tody mondar-mandir lagi.

  

 Irawati mengangkat kepala, menatap ujung kaki Tody.

  

 "Kenapa aku tak boleh memulai hidup lebih baik?" katanya terbata-bata.

  

 "Karena kau tak berhak. Kau kotor! Hina!"

  

 "Kenapa seorang pelacur boleh?"

  

 Tody terdiam.

  

 "Kalau aku memang serupa dengan lonte, kenapa dia boleh dan aku tidak?" Suara perempuan itu murung.

  

 Sesaat Tody tercenung, tetapi kemudian berkata tajam, "Karena aku mencintai dia. Kau tak punya arti apa-apa buatku. Habis!"

  

 Irawati menelan air matanya.

  

 Tody keluar dari kamar itu.

  

 "Kau harus meninggalkan rumah ini. Segera!" katanya keras.

  

 Irawati mengusap air matanya. Lalu, katanya pelahan, "Izinkanlah aku numpang istirahat sesore ini. Nanti malam aku kembali ke Yogya."

  

 Tody tak menjawab. Dia melangkah keluar.

  

 Irawati kembali membaringkan diri. Punggungnya terasa nyeri. Sekujur tulang-tulangnya serasa ditusuk ribuan jarum.

  

 Dia mengeluh tanpa suara.

  

  

 ***

  

  

 Semak Kering Meranggas

  

 TODY melarikan jipnya kencang-kencang di jalan berdebu. Senja telah remang-remang, tetapi dia kenal betul akan jalan yang menuju tempat peristirahatan itu. Langsung ke hotel dia.

  

 Tak ada tanda-tanda bersedih tertinggal di mata Elsye. Perempuan ini tersenyum-senyum menyambut kedatangan Tody.

  

 "Habis dilabrak istrimu, Mas Tody?" katanya.

  

 Tody tak menjawab.

  

 "Saya akan meninggalkan tempat ini," lanjut Elsye.

  

 "Ah! Kenapa?"

  

 "Yah, mau apa lagi?"

  

 "Kita kawin," kata Tody.

  

 Elsye tertawa nyaring.

  

 "Istrimu galak. Saya takut."

  

 "Dia tak punya arti apa-apa."

  

 "Siapa mau percaya?"

  

 "Dia sudah kusuruh pergi."

  

 Elsye menatap Tody dalam-dalam.

  

 "Bagaimana kau bisa berbuat begitu pada istrimu yang sedang hamil?"

  

 "Ah, peduli amat!"

  

 Elsye tercengang.

  

 "Aku tak mencintainya," kata Tody.

  

 "Tapi, dia sudah hamil."

  

 "Ah!" Mulut Tody nyaris terbuka untuk mengatakan bahwa anak yang dikandung istrinya itu bukan benih darinya. Tetapi, kemudian mukanya padam. Bagaimana harus menerangkan kebusukan yang mau tak mau akan merembet pada kelemahan dirinya nanti? Ya, kenapa dirinya mengawini perempuan itu? Bukankah itu hanya menepuk air di dulang?

  

 "Selama ini saya sangat mengagumi Mas Tody. Bagi saya, kau adalah lelaki yang sempurna. Tapi, dengan perlakuan Mas Tody terhadap istri seperti itu, saya kehilangan kekaguman saya. Makanya saya sungguh-sungguh tak menyesal menerima persyaratan dari istrimu itu."

  

 "Syarat-syarat apa?"

  

 "Dia memberi saya uang." Lalu Elsye mengeluarkan seberkas uang dari tasnya, dan selembar cek. "Ini cukup untuk membuka butik yang saya inginkan selama ini, di Surabaya. Saya sama sekali tidak menyesal kehilangan Mas Tody." Dan, Elsye tertawa lagi.

  

 Tody termangu-mangu. Elsye kembali melipat-lipat pakaiannya, memasukkan ke dalam kopor.

  

 "Kau sungguh-sungguh, Elsye?"

  

 "Tentu saja sungguh-sungguh. Terus terang, akupun takut mengalami nasib seperti istrimu kalau saya hamil nanti. Siapa tahu kau masih akan ketemu sama perempuan lain?"

  

 Tody terdiam.

  

 "Sebelum saya mengetahui kau sudah beristri, saya mengira kau adalah orang yang sering datang dalam mimpi-mimpi saya selama ini. Ya, saya memang pemimpi. Itu sebabnya saya datang kemari. Saya bosan sekolah. Di sekolah, belum tentu saya akan ketemu lelaki yang tampan, punya kedudukan bagus, dan bergaji gede. Di tempat ini, saya berharap dapat menemukan orang yang saya impikan. Di sini lebih mungkin ketemu dengan orang-orang yang saya impikan. Sebab, hanya orang-orang yang berduit saja bisa datang ke sini. Siapa tahu ada yang mencintai saya?"

  

 Tody menelan ludahnya.

  

 "Andainya kau belum beristri, saya akan bahagia sekali. Kau orang yang saya cari-cari selama ini. Tapi, sekarang lain sekali soalnya. Saya hanya ingin jadifirst lady !"

  

 Tody merasa lidahnya getir.

  

  

 ***

  

  

 Yang tinggal sekarang hanya sisa-sisa bau parfum dan keringat Irawati di bantal, dan di bantal yang satu lagi bau keringat serta parfum Elsye. Segalanya tinggal bekas. Malam yang berlalu adalah kecamuk gelisah. Siang yang datang adalah kemarau garing. Perempuan-perempuan di tempat peristirahatan Bandungan itu tak ada pesonanya lagi.

  

 Dan, Tody lebih sering membuka botol sampanye, bols, martini, dan semacamnya. Diam-diam dia mereguk minuman-minuman itu di rumah. Dan, diam-diam pula dia menanti rambatan gelombang yang datang dari kepalanya, yang akan mengantarnya tidur.

  

 Hanya seorang yang dekat kepadanya, Anton. Tetapi, dia sedang jengkel kepada lelaki itu. Memberi tahu Irawati alamat di tempat terpencil ini, sungguh-sungguh tak bisa dimaafkan. Antonlah penyebab kericuhan yang ada sekarang. Dialah penyebab kerisauan yang bergalauan sekarang ini.

  

 Tetapi, surat Anton masih datang.

  

 Aku tahu kau marah padaku, Tody. Kuharap, kemarahanmu itu tidak menjadikan persahabatan kita rusak. Aku tak bisa merahasiakan keadaanmu pada istrimu. Tak bisa. Seorang perempuan hamil, duduk di depanku, dan bersimbah air mata. Apa yang bisa kulakukan lagi? Dia bukan hanya sebagai pasien biro konsultan kami. Dia adalah istri sahabat baikku.

  

 Dia sudah lama menjadi pasien biro kami. Dia mengalami stres yang parah. Dia dihimpit penyesalan yang tak henti-hentinya. Walaupun dia sudah berhasil menghentikan kecanduannya terhadap narkotik tanpa obat-obatan pembantu dari dokter (itu ketangguhan yang tidak setiap morfinis sanggup melakukannya), dia takkan bisa keluar dari tekanan batinnya tanpa bantuan kau.

  

 Itu sebabnya aku memberi tahu alamatmu. Maafkanlah kelancanganku. Aku tak punya pilihan lain. Soalnya, aku tadinya tak mengetahui masalah kalian mendasar. Kukira hanya seperti yang kaubilang, "Tak enak bernaung di bawah ketiak mertua." Aku kira kau hanya ingin menunjukkan eksistensimu sebagai lelaki yang tangguh, yang menegakkan kepala menghadapi realita. Maafkanlah, belakangan aku mengetahui persoalan kalian. Semua telah diceritakan istrimu padaku. Jika begitu keadaannya, kau membutuhkan seorang psikolog yang sekaligus pastor sebagai penasihatmu. Semacam Brouwer dari Bandung itu barangkali. Bukan semacam aku. Aku masih terlalu muda untuk memberikan pandangan-pandangan.

  

 Mungkin ini tak menggugah perasaanmu. Sejak pulang dari tempatmu, istrimu sakit-sakitan terus. Memang, sejak semula badannya lemah. Ini tentunya disebabkan faktor psikisnya yang kacau.

  

 Tody hampir mencampakkan surat itu, tetapi bagian akhirnya surat itu menarik perhatiannya. Matanya tertancap pada sebuah nama dengan hurup "W" mengawali nama. Cepat-cepat dia menelusuri alinea itu.

  

 Widuri baru-baru ini datang ke Yogya untuk berobat. Dia sudah punya anak, tetapi katanya dia tak bahagia. Kulihat, dia memang kurus sekali. Matanya rawan, jiwanya letih seperti halnya tubuhnya. Dia bilang, dia ingin menitipkan anaknya padamu dan istrimu.

  

 Ah, Tody, maafkanlah kalau aku terlalu berani mengatakan ini. Hidupmu sangat unik. Kau yang begitu puritan, pendiam, dan jujur, tapi bisa mengalami kejadian begitu rumit dalam persoalan cintamu. Dua perempuan mencintaimu, dan keduanya tak bahagia. Seorang istrimu, dan seorang lagi istri orang lain.

  

 Kau ingat pembicaraan kita di kampus tempo hari? Di bawah cemara yang derainya takkan bisa kita lupakan. Aku waktu itu bilang, ‘Widuri mencintaimu.’ Ya, cinta yang unik. Kukira karena dia dididik oleh lingkungan kulturil yang mewajibkan orang harus menyekap perasaan. Itulah yang menyebabkan dia menyembunyikan cintanya. Kuituril Jawa hanya menghargai orang yang bisa menahan dan menyembunyikan gejolak perasaan. Marah tak boleh kelihatan, sedih dalam kematian tak perlu ditunjukkan, benci yang nampak hanya ciri seorang yang kasar. Begitu juga cinta. Sayang, dulu-dulu kau tak dapat menangkap yang tersirat di balik yang nampak itu. Barangkali di sinilah esensi filsafat hidup Jawa, ‘tepo seliro’ yang terkenal itu. Kita harus berusaha bisa menangkap apa yang tersirat da]am perasaan orang lewat ‘sasmito’, lewat intuisi saja."

  

 Tody melipat surat itu pelan-pelan. Oh, Widuri yang sengsara, Widuri yang kadang-kadang menatap dengan nanap sewaktu rapat-rapat Dewan Mahasiswa di Kampus Gadjah Mada.

  

 Apakah sebenarnya pangkal dari seluruh kemelut ini? Keragu-raguan, ketidakberanian mengekspresikan perasaan, lingkungan yang ketat menyorot dengan kultur yang penuh kepura-puraan? Itukah? Itukah? Itukah? Kenapa harus disekap perasaan kalau memang tidak ada dosanya untuk mengekspresikan? Dan, inilah sekarang akibatnya. Rumpun semak meluruhkan daun-daunnya yang kering. Daun yang menggumpal jadi satu, dan namanya: kemelut.

  

 Tody meremas kemelut yang menggumpal pada dirinya.

  

  

 ***

  

  

 Dia datang ke Yogya. Jipnya meraung membelok ke rumah Anton. Anton terperanjat menyambutnya.

  

 "Aku mau ke desa Widuri," kata Tody datar. "Bagaimana pendapatmu?"

  

 "Pendapatku? Ngapain ke sana?" kata Anton terbata-bata.

  

 "Menyuruhnya bercerai dari suaminya!"

  

 "Ah, gila kau!"

  

 "Aku kenal betul suaminya. Bajingan itu!"

  

 "Bajingan atau budiman, itu suaminya."

  

 "Dia harus bercerai. Aku akan mengawininya."

  

 "Jangan gila-gilaan, Tody. Kita hidup dalam masyarakat yang punya norma-norma. Apa penilaian orang terhadap perbuatan semacam itu?"

  

 "Persetan penilaian orang! Bertahun-tahun aku dilibat penilaian orang, dan aku menerima akibatnya. Kesengsaraan!"

  

 "Ah, kita pikirkan dulu pelan-pelan. Dia hanya ingin agar kau dan Irawati merawat anaknya. Aku tak tahu kenapa," kata Anton.

  

 Tody menyandarkan diri ke sandaran kursi. Tubuhnya letih.

  

 "Sendiri aku tersiksa, di sana dia tersiksa pula. Padahal kami akan bahagia kalau bersama-sama. Kenapa harus menundanya lebih lama? Aku akan paksa suaminya menceraikan dia. Persetan! Aku akan mengawininya di pencatatan sipil. Biar dia diberkati pastor!" kata Tody.

  

 "Ah, janganlah."

  

 "Kau selamanya memahamiku, Anton. Berilah aku dorongan spirit." Suara Tody melemah.

  

 Anton terdiam. Mata Tody resah. Di halaman, jip Tody masih gemetar oleh sisa mesinnya yang masih panas. Debu menyelimuti tubuh mobil itu.

  

 Secara materiil, apa lagi yang kurang bagimu, Tody? Anton berpikir diam-diam. Kedudukan punya kans yang cemerlang, gaji besar, tapi matamu tak beda dengan remaja-remaja yang kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Alangkah berbeda dengan masa kita ketika masih menghirup udara nyaman kampus.

  

 ***

  

 Tuhan Allah, inikah Widuri yang kukenal dulu? Tody terpaku di pendopo rumah Pak Hermanu. Mesin jipnya masih berdetik-detik karena kepanasan, dan masih dirubungi anak-anak. Inikah Widuri yang bermata jernih tempo hari?

  

 Oh, dia bukan lagi pohon cemara berdaun hijau teduh. Dia tinggal sebatang pohon yang telah kering, mencuat menahan kemarau. Oh, derita apa yang ditimpakan suamimu? Sengsara apa yang kautelan bulan-bulan ini, Widuri?

  

 Tody ingin merangkul perempuan yang berdiri mematung di depannya. Sedikit saja perempuan itu bergerak maju. Tody akan menerkamnya, membenamkan dalam pelukannya. Tetapi, Widuri seperti arca tua. Dan, Pak Hermanu tertegak bagai batu gunung yang keropos di samping anak-gadisnya.

  

 "Widuri," desah Tody.

  

 Bibir gadis itu, yang pucat, terkuak.

  

 "Mas Tody...."

  

 "Aku datang, Widuri," kata Tody terengah.

  

 "Kenapa kau datang? Untuk apa?"

  

 Tody terpaku. Setumpuk kata yang siap dikeluarkannya menggumpal di dadanya, membuat napasnya sesak.

  

 "Aku akan membawamu pergi. Kita memulai hidup baru. Jauh, jauh dari sini."

  

 Senyuman Widuri samar.

  

 "Ah," keluhnya.

  

 "Duduklah dulu, Nak Tody," kata Pak Hermanu. "Wiwik, duduklah. Maaf, Nak Tody, Widuri sedang sakit."

  

 Tody merasa kakinya melayang mencapai kursi.

  

 "Tidak, Mas Tody," kata Widuri hampir tak terdengar. "Saya akan tetap di sini. Selama-lamanya akan di sini. Dan, saya kira takkan lama lagi."

  

 "Wiwik!" kata Pak Hermanu tersekap.

  

 Widuri menatap ayahnya, dan dia tersenyum pias.

  

 Tody merasa sejuta kunang-kunang mengerjap-ngerjap. Enam jam sendirian terbanting-banting di dalam jip yang berlari dalam kecepatan tinggi. Tubuhnya lunglai.

  

 "Saya sudah tahu kau kawin dengan Irawati," kata Widuri. Suaranya mengambang di telinga Tody. "Satu keinginan saya, Mas Tody, barangkali Ayah tidak setuju, tapi ini keinginan saya, kau dan Irawati memelihara anak saya kalau saya mati."

  

 "Bah!" Jantung Tody menyentak. "Kenapa kematian segampang itu kaukira?" katanya dalam napas memburu.

  

 Widuri tersenyum pahit.

  

 "Anak saya laki-laki, Mas Tody. Istrimu akan mau memeliharanya. Saya yakin. Katakan saja anak itu bukan dari benih suami saya. Istrimu akan memahaminya. Dia akan kasihan pada anak itu."

  

 Tody menggigil. Gemetaran sekujur jaringan tubuh Pak Hermanu.

  

 "Umurmu masih panjang, Widuri. Masih panjang. Kau harus meninggalkan ketakbahagiaan di sini. Memulai kebahagiaan dengan aku di tempat lain." kata Tody.

  

 Widuri menggeleng-geleng.

  

 "Tinggalkan suamimu! Tinggalkan desa terkutuk ini!" Mata Tody menyala-nyala melintasi dari wajah Widuri ke wajah Pak Hermanu. Lelaki tua itu tertunduk.

  

 "Saya tidak akan meninggalkan desa ini untuk selama-lamanya," kata Widuri pelan.

  

 "Ah!" Tody meremas jari-jari tangannya sendiri hingga tulang-tulangnya berbunyi gemeratak.

  

 "Kematian itu tak bisa diduga datangnya, Mas Tody. Dan, terasa menyenangkan kalau memang kita tunggu dan harapkan."

  

 "Bah! Kau harus hidup! Harus! Harus! Harus! Sakitmu bisa sembuh!" Suara Tody meninggi.

  

 Widuri hanya mengangkat bahu. Matanya berkaca-kaca. Mata yang buram. Kaca-kacanya pun suram.

  

 "Jadi, kau menolak cintaku?" kata Tody.

  

 "Sebelum kau mengetahui isi hati saya, saya sudah mencintaimu, Mas Tody. Tetapi, nasib saya seperti rumput-rumput yang menunggu hujan di musim kemarau."

  

 "Sekarang belum terlambat."

  

 "Kalau kau memang mencintai saya, peliharalah anak saya kalau saya mati nanti."

  

 "Bah!" Tody menghembuskan napas yang menggelora. Namun, badai di dadanya tetap tak mau reda.

  

 Widuri mengusap lelehan air matanya.

  

 "Saya lebih suka mati dalam keadaan bersih dari cibiran orang, Mas Tody, daripada hidup menahan nista. Seorang istri tak boleh meninggalkan suaminya untuk ikut lelaki lain betapapun suaminya iblis laknat. Itulah nasib yang harus dijalani dalam karmanya."

  

 "Bah! Apa itu karma!" Tody melarikan jipnya kencang-kencang. Jalan yang menghubungkan desa itu dengan Yogya membanting-banting tubuh mobil itu. tetapi, Tody tak peduli. Badannya terlonjak-lonjak, tetapi persetan!

  

 Dia menginjak gas lebih dalam lagi. Tiga puluh, empat puluh, lima puluh, enam puluh, spedometer menanjak terus. Ban mencicit-cicit manakala mobil menginjak jalan beraspal. Kecepatan bertambah lagi. Tody mengejar senja yang hampir pergi. Malam sudah mulai menggeser-geser. Jip itu meraung. Spedometer bergerak melampaui kulminasi. Meraung. Melayang. Dan, terbanting. Dan, ringsek. Dan, penduduk panik. Dan, ambulan PDR meraung-raung ke Yogya.

  

  

 ***

  

 Perawat-perawat berpakaian putih bersih berseliweran di Rumah Sakit Panti Rapih.

  

 "Mama, Papa, mana Mas Tody?" keluh Irawati.

  

 Ibunya menggenggam telapak tangan Irawati.

  

 "Sebentar lagi dia datang, sebentar lagi," kata perempuan tua itu.

  

 Irawati kembali memejamkan mata. Dokter memeriksa nadinya.

  

 Kamar bercat putih itu sejuk. Bau formalin mengambang. Irawati menanti saat kelahiran anaknya. Tubuhnya terlalu lemah akibat krisis.

  

 "Bagaimana keadaannya?" bisik ayah Irawati kepada istrinya.

  

 Perempuan itu menatap nanap.

  

 "Krisis. Baru saja keluar dari kamar operasi," katanya dalam bisik pula.

  

 "O, mudah-mudahan selamat." Lelaki tua itu menatap anaknya. Wajah Irawati yang terpejam pias mengingatkannya ketika anak ini masih kecil, ketika masih dalam bobongannya. Anak perempuan satu-satunya yang disayangi seluruh kduarga.

  

 "Bagaimana kalau dia tidak mau menemui Ira?" katanya.

  

 "Oh, janganlah, janganlah," keluh istrinya.

  

 Kemudian ruangan itu sepi. Suara napas Irawati berat. Dokter belum memastikan apakah operasi caesar dijalankan atau tidak. Irawati tetap memanggil-manggil suaminya.

  

 Di bawah atap yang sama, Tody terbaring lemah. Dia telah siuman. Dia mengamati langit-langit kamar yang kabur. Dia menyadari bahwa sekarang seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan. Dia melihat balutan dan balutan. Oh, apakah yang terjadi? Di manakah aku? Denyutan pertanyaan merambat di kepalanya.

  

 Seorang perawat yang sejak tadi duduk di sampingnya, berdiri dan keluar memanggil dokter. Dokter kemudian memeriksa keadaan Tody. Lalu dia mengangguk-angguk.

  

 "Panggillah Nyonya itu," katanya.

  

 Hampir berlari perawat itu keluar.

  

 "Nyonya bisa bicara, tapi jangan lama-lama. Dia perlu istirahat," kata dokter itu. Lalu dia keluar diiringkan perawat.

  

 Perempuan tua itu duduk hati-hati. Bagai memegang gelas yang rapuh, dia memegang telapak tangan kiri Tody yang tidak terbalut.

  

 "Nak Tody," katanya hampir berbisik.

  

 Kelopak mata Tody bergerak.

  

 "Bagaimana perasaanmu?"

  

 Tody cuma bergumam.

  

 "Ira juga dirawat di sini," kata perempuan tua itu tersendat.

  

 Kelopak mata Tody bergerak lagi.

  

 "Dia akan melahirkan."

  

 Cuma gumaman jawaban Tody.

  

 "Dia menyebut-nyebut namamu terus."

  

 Kelopak mata Tody terpejam.

  

 "Dia mengalami krisis." Tangan perempuan tua itu mengelus kulit tangan Tody yang sudah mati rasa. "Dia ingin ketemu dengan Nak Tody."

  

 Kelopak mata Tody terangkat sekejap, tetapi kemudian mengatup kembali.

  

 Persis ketika perempuan tua itu berkata, "Kau mau menemuinya, bukan?"

  

 Ibu Irawati resah.

  

 "Dia belum mengetahui kecelakaanmu. Dia mengira kau masih di tempatmu bertugas."

  

 Riak menggumpal di tenggorokan Tody.

  

 "Kata dokter, dia akan lebih kuat kalau bisa bertemu dengan Nak Tody."

  

 Tody bergumam.

  

 Ibu Irawati mendekatkan telinganya, tetapi tetap tak bisa menangkap kata-kata yang digumamkan Tody.

  

 "Oh, kau tentunya membencinya. Oh, janganlah, janganlah, Nak Tody. Kalau mau membenci, kutuklah saya. Sebab sayalah yang tak bisa membimbingnya. Sayalah yang menyebabkan dia liar." Perempuan tua itu terisak. "Kau bisa membayangkan bagaimana seorang ibu mengetahui bahwa anak yang dikasihinya ternyata pendek umur. Itulah yang saya alami sekarang ini, Nak Tody. Itulah yang menyiksa saya dari tahun ke tahun."

  

 Tody membisu dalam balutan perbannya.

  

 "Waktu dia kecil, iseng-iseng saya membawanya ke worang peramal. Ahli kebatinan. Wajah peramal itu murung setelah melihat muka dan rajah tangan Ira. Dia tak mau memberitahukan ramalannya. Dia cuma menasihatkan agar saya berlaku sebaik-baiknya kepada Ira. Nasihat yang aneh. Ira anak perempuan saya satu-satunya. Tanpa nasihat itu pun saya tentu menyayanginya lebih dari anak-anak yang lain. Oh, kau mendengar cerita ini, Nak Tody?"

  

 Gumaman hanya berhenti di tenggorokan Tody.

  

 "Kemudian seorang ahli kebatinan lain menafsirkan nasihat itu. Katanya, ‘Nasib manusia tak terelakkan. Ira tidak panjang umur.’ Bisa kaubayangkan perasaan saya, Nak Tody? Anak yang paling saya sayangi, akan hilang. Akan hilang. Saya memanjakannya. Saya tak pernah menghalangi keinginannya. Bagaimana mungkin menghalanginya sedangkan saya tahu dia akan meninggalkan saya dalam waktu yang singkat? Itulah, Nak Tody, itulah. Ramalan itu telah menghancurkan diri saya. Dan, itu pula yang menghancurkan diri Ira. Tiap kali memandangnya, saya teringat ramalan hidupnya. Hati saya rusuh berkepanjangan. Tak pernah tenang." Air mata perempuan itu membasahi seluruh wajahnya. Bahkan ada yang menetes ke ranjang Tody.

  

 Akan tetapi, Tody tak merasakan apa-apa.

  

 "Saya berusaha membantah ramalan itu. Dan, sekarang dokter-dokter terpandai di Panti Rapih ini akan membantah ramalan terkutuk itu. Tapi, bantulah mereka, Nak Tody. Bantulah saya. Bantulah Ira. Dia ingin bertemu dengan kau. Ingin melihat bahwa kau tidak membencinya. Kalau bisa melihat kau mencintainya. Oh, itu terlalu mahal. Kau tidak membencinya, itu sudah cukup baginya."

  

 Tody merasakan rambatan nyeri di perutnya.

  

 Perempuan tua itu lebih erat mendekap tangan Tody.

  

 "Mengangguklah, Nak Tody, tanda kau mau ketemu Ira tanpa rasa benci."

  

 Tody tak bereaksi.

  

 "Tolonglah saya, Nak Tody. Hanya kau yang bisa menolong." Perempuan tua itu berberai air mata.

  

 Tody menatap wajah yang pilu. Mata yang hitam berkedip-kedip menatapnya penuh harap. Mata seorang ibu. Maka Tody ingat kepada ibunya di pulau yang jauh di sana. Lalu terbayang pula kerabat-kerabatnya, ayahnya, adiknya, dan ibunya lagi. Lalu dia mengangguk.

  

 Ibu Irawati melepaskan napas lega. Tetapi, kemudian kembali gugup melihat Tody terbatuk-batuk.

  

 Rasa nyeri menikam dada Tody. Makin kabur pandangan matanya. Bayangan ibunya, ayahnya, Margriet, padang-padang penggembalaan, rumput-rumput setinggi pinggang, ibunya, ayahnya, Margriet, beputaran dalam bayangan yang kabur dan kelabu.

  

 Dia terbatuk dan muntah. Darah!

  

 Ibu Irawati panik. Dia memijit bel panjang-panjang. Perawat dan dokter datang berlari-larian.

  

  

 ***

  

  

 Di ruangan lain, Irawati membuka matanya. Tertatap wajah ayahnya.

  

 "Mas Tody belum datang, Pa?" tanyanya dalam desah.

  

 "Sedang dijemput Mama. Sebentar lagi, sebentar lagi."

  

 Rambatan nyeri di perutnya membuat Irawati terengah dan mengerang. Ayahnya memijit bel panjang-panjang. Perawat dan dokter datang berlari-lari.

  

 "Segera dioperasi," kata dokter itu.

  

 Ayah Irawati menatap brankar yang didorong perawat-perawat. Lantai rumah sakit mengkilat, dan brankar meluncur tanpa suara.

  

 Di mana Tody? Ah, apakah dia tak mau bertemu dengan Ira? Ayah Irawati menghela napas berat berkali-kali. Dia menatap kesibukan para perawat yang tidak menimbulkan suara.

  

 Di bawah atap yang sama, mereka berbaring. Tetapi, mereka tak saling menatap. Masing-masing dihimpit oleh kesengsaraan. Keduanya ingin saling bertemu. Sejak tadi Irawati memanggil-manggil Tody. Tody pun ingin bertemu dengan gadis itu. Ingin sekali. Ingin sekali.

  

 Burung gereja mencicit di teritisan rumah sakit. Perawat-perawat melangkah dengan sepatu yang berdesir-desir. Topi dan pakaian mereka yang putih bergerak-gerak dari gang ke gang. Wajah mereka tulus menatap orang-orang yang berbaring.

  

 Rumah sakit itu hening. Rumput dan bunga di halaman kadang-kadang bergoyang tertiup angin. Dan, di ruang operasi rengekan bayi menyibukkan dokter-dokter bermasker. Burung gereja menangisi siang yang terik, bersama tangis bayi yang baru lahir.

  

 Ayah Irawati melihat istrinya mendatanginya dengan kepala tertunduk. Oh, wajah tua yang pias, wajah yang kuyu, tubuh yang lunglai. Oh, jangan menyampaikan kabar sedih. Jangan mengatakan bahwa Tody masih membenci Ira yang malang.

  

 Ya, tak ada yang akan disampaikan. Ucapan tak ada lagi tersisa.


 Burung gereja masih juga mencicit di ranting-ranting pohon. Sayapnya yang kecil menerjang-nerjang dedaunan dan ranting. Bising dalam keheningan tempat itu.

  

 Anton termangu-mangu. Tak sadar matahari di kulminasi membakar ubun-ubunnya. Dari matanya merembes kesedihan. Merembes ke arah dua gundukan tanah di depannya. Gundukan yang berdampingan, dengan nama Faraitody Wangge (3 Juli 1946 - 12 Mei 1973) dan Nyonya Irawati Faraitody Wangge (13 November 1953 - 12 Mei 1973).

  

 Selamat siang, Orang Muda, Selamat siang, Kesedihan!

Dapatkan koleksi ebook lain di:
http://jowo.jw.lt



