"Apa sukarnya? Kita meloncat ke atas pohon-pohon mati itu, mereka tidak akan mampu mengejar." "Sekarang kita bisa meloncat ke sana, Suhu." "Dasar bodoh! Kalau mereka kita biarkan datang sebelum bulan muncul dan kita menyelamatkan diri ke atas pohon mati, bagaimana kita akan dapat mengikuti ke mana mereka membawa pergi ayam yang kita umpankan itu?" Sekarang mengertilah Kwi Hong dan dia merasa tegang. Bicara tentang kelabang-kelabang itu, tidak ada nafsu makan lagi padanya sehingga sisa daging ayam panggang itu diganyang habis oleh Bu-tek Siauw-jin, bahkan agaknya dia masih belum puas karena terdengar suara keletak-keletuk bunyi tulang-tulang sayap dan kaki ayam pecah-pecah karena gigitannya, untuk diisap sungsumnya! "Suhu, bulan sudah muncul. Lihat!" Tiba-tiba Kwi Hong yang sejak tadi memandang ke arah timur, berteriak sambil menudingkan telunjuknya. "Biarkan dia naik agak tinggi sampai tempat ini terang betul," jawab guruya yang masih enak-enak saja menggerogoti tulang kaki ayam. Akhirnya bulan purnama sudah menyinarkan cahayanya yang cemerlang dan daging berikut tulang ayam panggang sudah habis dikunyah hancur oleh kakek sinting itu. Bu-tek Siauw-jin lalu melemparkan ayam gundul yang diikat kakinya ke atas tanah di samping isi perut ayam yang dipanggang tadi, kemudian memadamkan api dan mengajak muridnya meloncat ke atas dua batang pohon mati yang berdampingan. Dengan tergesa-gesa karena ngeri, Kwi Hong mendahului gurunya meloncat. Tubuhnya melayang ke atas dan hinggap di atas puncak batang pohon mati seperti seekor burung garuda sigapnya. Gurunya juga mencelat ke atas dan hinggap di pohon ke dua. Batang pohon yang tingginya lebih dari tiga meter itu cukup besar sehingga mereka dapat duduk di atasnya sambil memandang ke bawah. Dan tempat itu jelas kelihatan ayam gundul yang mereka pergunakan sebagai umpan karena cahaya bulan dengan lembutnya menyinari seluruh tempat itu. Kurang lebih dua jam mereka menanti, dua jam penuh ketegangan dan terasa seperti dua pekan bagi Kwi Hong. Beberapa kali dia menoleh ke arah gurunya dan melihat betapa gurunya itu duduk melenggut di atas puncak batang pohon, tidur-tidur ayam kekenyangan daging ayam. Beberapa kali tubuh kakek itu mendoyong ke sana-sini kelihatannya seperti akan jatuh, akan tetapi selalu dia tersentak kaget sebelum terguling dan melenggut lagi. Tentu saja hati Kwi Hong mendongkol sekali. Orang setengah mati karena tegang, gurunya enak-enak melenggut, bahkan kini terdengar dengkurnya perlahan. Tiba-tiba Kwi Hong mencium bau yang amat keras, bau yang amis dan memuakkan dan mendadak terdengar suara gurunya, "Awas, jangan berisik dan atur napasmu, lawan hawa beracun. Mereka sudah datang!" Kwi Hong cepat mengerahkan sin-kang, mengatur pernapasan dan melindungi paru-paru dengan hawa murni, matanya memandang ke bawah dengan terbelalak dan sama sekali tidak berani mengeluarkan suara. Dilihatnya ayam yang diikat itu masih bergerak-gerak, menggerakkan leher dan berusaha melepaskan diri. Bau makin keras dan dari sebelah kanan tampaklah kini olehnya benda yang berkilauan, bergerak-gerak mendekat Thian Tok Lama dan para panglima serta jagoan-jagoan Nepal sudah mem­buru ke bawah pohon, dan kini mereka itu mengurung pohon bahkan pasukan lalu dikerahkan untuk menjaga di sekeliling pohon agar gadis tawanan itu tidak sam­pai dapat meloloskan diri. “Milana, manisku, turunlah engkau!” Wan Keng In berkata halus dan dia belum mengenal siapa adanya laki-laki mu­da yang bercakap-cakap dengari dara itu. Akan tetapi baik Milana maupun pemuda di atas pohon itu tidak mempedulikannya, tidak mempedulikan mereka yang me­ngurung pohon karena mereka berdua itu sedang saling berbantah. Melihat sikap mereka itu, mau tidak mau Wan Keng In mendengarkan percakapan mereka dan ia merasa heran, dan marah bukan main! Pemuda yang berada di atas itu bu­kan lain adalah Gak Bun Beng! Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemu­da sakti ini meninggalkan markas pasukan istimewa pembantu para pemberon­tak di perbatasan utara, kemudian dia menuju ke kota raja. Tanpa disengaja, secara kebetulan sekali di dalam hutan itu dia melihat pasukan yang dipimpin Thian Tok Lama sedang diganggu oleh Wan Keng In. Tentu saja Bun Beng menjadi terkejut sekali dan girang melihat musuh-musuh besarnya, terutama sekali Thian Tok La­ma dan Bhe Ti Kong, dua orang di anta­ra mereka yang dahulu mengeroyok dan membunuh gurunya, Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai. Akan tetapi ia ter­cengang melihat Wan Keng In dan ia segera mengenal pemuda Pulau Neraka yang amat lihai itu. Timbul kemarahan­nya karena ia teringat betapa dia pernah dikalahkan dan dihina oleh pemuda iblis itu, bahkan pedang Lam-mo-kiam telah dirampas oleh pemuda Pulau Neraka yang semenjak kecil sudah amat jahat itu. Akan tetapi, yang membuat dia terkejut sekali adalah ketika ia melihat Milana duduk di atas punggung kuda sebagai seorang tawanan! Bertemu dengan semua ini, Bun Beng bersikap hati-hati. Tentu saja dia harus menolong Milana, dara jelita yang telah melepas budi banyak sekali kepadanya. Akan tetapi, dia mak­lum bahwa menolong Milana dari tangan pasukan yang kuat dan dipimpin orang-orang pandai itu, apalagi di situ terdapat pemuda Pulau Neraka, bukanlah hal yang mudah. Karena inilah, dia bersabar dan bersembunyi sambil mengintai dan men­dengarkan mereka. Mula-mula diapun merasa heran keti­ka mendengar percakapan antara Wan Keng In dan Thian Tok Lama, bahkan seperti juga Milana, diam-diam dia mengharapkan kedua pihak ini akan ber­tanding sehingga dia mendapat banyak kesempatan untuk menolong dara itu. Akan tetapi betapa kecewanya ketika akhirnya pemuda Pulau Neraka itu dapat terbujuk dan bahkan bersekutu, maka terpaksa dia siap untuk menggunakan kekerasan menyelamatkan Milana. Pada saat itulah Milana merenggut tali belenggunya dan berusaha mengaburkan kuda. Melihat Milana dikejar Wan Keng In, kudanya dirobohkan dan dara itu sendiri terlempar ke atas, Bun Beng cepat me­layang ke atas pohon besar dan menyam­bar lengan dara itu. Bagaikan dalam mimpi Milana melihat Bun Beng di de­pannya, di atas dahan pohon tinggi sehingga untuk beberapa lamanya dara ini hanya terbelalak memandang, kemudian perlahan-lahan kedua pipinya berubah merah sekali, jantungnya berdebar. “Kau....?” Hanya demikian dia dapat mengeluarkan suara. “Nona, syukur sekali secara kebetulan aku lewat di tempat ini. Serahkan mere­ka itu kepadaku, akan tetapi engkau harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Berbahaya sekali di sini.” Milana menggeleng kepala keras-keras. “Membiarkan engkau menghadapi mereka sendiri dan aku lari? Tidak! Aku akan membantumu melawan mereka!” “Aahhh, jumlah mereka terlalu banyak dan kulihat orang-orang pandai di antara mereka. Harap engkau suka menurut, Nona. Sungguh berbahaya sekali kalau memaksa diri melawan.” “Hemm, Gak-twako. Kau bilang ber­bahaya bagiku kalau melawan, habis engkau sendiri?” “Nona....” “Gak-twako, begini sombongkah eng­kau? Sejak dahulu?” Bun Beng gelagapan ditegur seperti itu dan dia memandang dengan mata terbelalak lebar. “Sombong! Aku....?” “Apa kau tidak suka bersahabat de­nganku?” “Tentu saja, aku....” “Sudah mengenal sejak dahulu, meng­apa engkau masih selalu sungkan dan menyebut aku nona? Namaku Milana dan engkau tahu ini, bukan?” “Habis.... habis....?” “Aku tidak mau kausebut nona! Nah, sebut namaku atau adik, atau.... sudah jangan mengenal aku lagi kalau kau be­gini angkuh!” “Eh...., ohh...., Nona.... eh, Adik Mila­na! Jangan main-main begini....!” Bun Beng menegur, terheran-heran mengapa dalam keadaan terancam seperti itu dara yang dahulu bersikap halus dan lemah lembut itu meributkan soal sebutan! “Gak-twako, tidak girangkah engkau bertemu denganku?” Bun Beng makin bingung dan meman­dang dengan alis berkerut. Celaka, pikir­nya. Jangan-jangan dara ini keracunan, atau sudah bingungkah pikirannya? Dia mengangguk. “Aku.... aku girang sekali, Twako tidak tahu engkau betapa girangku.... dan ahh.... kau.... kautolonglah aku, Twako....!” Tiba-tiba Milana terisak menangis dan ketika dengan kaget Bun Beng menyentuh lengannya, dara itu memeluknya dan menangis terisak-isak, menyembunyikan muka di dadanya! Tentu saja Bun Beng menjadi be­ngong! Dia tidak tahu bahwa sesungguh­nya Milana telah menderita guncangan batin yang cukup hebat, menderita te­kanan batin yang ditahan-tahannya se­menjak dia melihat Thian-liong-pang terbasmi, pembantu-pembantu ibunya gu­gur dan dia sendiri menjadi tawanan. Dara itu tentu saja berduka sekali meli­hat perkumpulan ibunya hancur, melihat Tang Wi Siang, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang dan yang lain-lain roboh dan tewas, dan kemudian dia sendiri men­jadi tawanan, bahkan kemudian ter­jatuh ke tangan Wan Keng In pemuda yang mengerikan, sedangkan dia belum tahu apa yang telah terjadi dengan ibu­nya. Dalam keadaan hampir putus asa itu, secara tiba-tiba, secara tidak ter­duga-duga, di atas pohon, muncul Gak Bun Beng, orang yang selama ini dirindu­kannya! Inilah sebabnya mengapa dara itu bersikap demikian aneh, seperti orang mabok atau seperti orang yang berubah ingatannya dan kini dia menangis terse­du-sedu, teringat akan semua kedukaan­nya dan hanya mengharapkan bantuan orang yang amat dipercayanya ini. Tentu saja Bun Beng salah sangka. Apakah dara ini telah berubah menjadi seorang yang amat penakut dan menangis menghadapi ancaman bahaya? Jantungnya berdebar tidak karuan. Dara yang mena­ngis di dadanya itu membuat dia merasa betapa dekatnya wajah jelita itu yang menempel di dadanya, terasa olehnya kehangatan air mata membasahi kulit dada dan tercium olehnya harum rambut Milana. “Nona.... eh, Moi-moi (Adik).... henti­kan tangismu. Jangan takut, aku akan melindungimu dari mereka itu, percaya­lah....” “Keparat, mampuslah engkau!” Tiba-tiba seorang panglima meloncat ke atas dan menggerakkan goloknya membacok Bun Beng. “Prakk...., bresss....!” Tubuh panglima itu terlempar dan terbanting roboh ke atas tanah oleh tangkisan Bun Beng. “Aku tidak takut.... ah, Twako.... kau tidak tahu.... mereka telah membasmi Thian-liong-pang.... Bibi Tang Wi Siang dan para paman.... mereka telah tewas....” Terkejutlah Bun Beng. Dia sudah tahu bahwa para pemberontak yang dipimpin Koksu memusuhi Thian-liong-pang, akan tetapi tidak disangkanya pasukan ini demikian mudah membasmi Thian-liong­-pang. “Mana mungkin? Di mana ibumu?” Dia tidak dapat percaya Thian Tok Lama dan kawan-kawannya itu dapat menan­dingi Ketua Thian-liong-pang yang demi­kian sakti. “Ibu tidak ada, mungkin di kota raja. Kami melawan mati-matian, akan tetapi percuma, dan aku tertawan....” Bun Beng mengangguk-angguk dan tiba-tiba dia melakukan gerakan menam­par ke bawah. “Desss....!” Dahan di mana Bun Beng berjongkok itu tergetar hebat, akan teta­pi tubuh Wan Keng In yang tadi melon­cat dan memukul, juga terdorong kemba­li ke bawah ketika pukulannya tertangkis oleh Bun Beng. Diam-diam Bun Beng terkejut. Pemuda Pulau Neraka itu be­nar-benar hebat sekali kepandaiannya! Di lain pihak Wan Keng In yang belum mengenal Bun Beng karena di dalam pohon sudah mulai gelap, lebih kaget lagi melihat ada orang yang mampu menangkis pukulannya bahkan membuat tubuhnya seperti dibanting ke bawah dengan kekuatan dahsyat! “Milana,” Bun Beng berbisik, tidak bersikap sungkan lagi. “Tidak banyak waktu sekarang. Mereka itu benar-benar lihai dan jumlah mereka banyak. Kalau kita berdua melawan, mungkin engkau akan tertangkap lagi atau terluka. Eng­kau harus lari lebih dulu. Tunggu setelah aku mengamuk di bawah, engkau me­lompat jauh dari tempat ini, melalui pohon-pohon dan menghilang dalam ge­lap. Bawa pedang ini....” “Tidak! Aku akan melawan, bertanding di sampingmu sampai mati....” Bun Beng merasa lehernya seperti di­cekik mendengar ini. “A.... apa....?” “Gak-twako, apa masih perlu kujelas­kan lagi? Tidak cukupkah ketika dahulu aku membela dan melindungimu ketika kau terluka?” Gemetar seluruh tubuh Bun Beng, ta­ngannya menggigil ketika ia memegang tangan Milana. “Tidak cukup....? Duhai.... terlalu cukup, terlalu banyak.... bahkan itulah yang menyiksa hatiku. Milana.... betapa aku berani menyatakan kekurang­ajaran ini? Akan tetapi...., ah, kata-kata­mu tadi.... Milana, orang yang paling kumuliakan di dunia ini karena baik budi­mu, yang paling kucinta di dunia ini.... maafkan aku.... akan tetapi aku cinta padamu.... dan.... dan kau bilang ingin bertanding di sampingku sampai mati....? Benarkah pendengaranku?” “Singg....! Krekkk.... plakkk! Aduhhh....!” Tubuh seorang jagoan Nepal yang tadi menyerang dengan tombaknya, terpelan­ting, tombaknya patah dan kepalanya pecah oleh pukulan Bun Beng yang me­nangkis dan memukul tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah Milana. Sepasang mata itu basah air mata, akan tetapi bibir yang gemetar terse­nyum. “Gak-twako, mengapa baru seka­rang kau menyatakan isi hatimu yang sejak dahulu tampak membayang dalam pandang matamu?” “Milana.... betapa aku berani.... kau.... seorang dara mulia, puteri Ketua Thian-liong-pang, puteri Pendekar Super Sakti yang kumuliakan, malah cucu kai­sar sendiri! Ya Tuhan, betapa beraniku menyatakan cinta! Kalau tidak mende­ngar ucapanmu tadi.... perasaan hatiku akan kusimpan sebagai rahasia sampai mati.”  “Terima kasih, Twako. Sekarang aku tidak ragu-ragu lagi! Aku puas, aku bahagia. Apapun yang akan terjadi, biar orang sedunia menentangnya, aku akan selalu berbahagia di sampingmu, hidup atau mati. Marilah, Twako. Mari kita menerjang ke bawah, kita lolos dan selamat berdua atau mati bersama!” “Tidak....! Seribu kali tidak! Setelah aku tahu bahwa harapan hidupku tidak sia-sia, setelah aku tahu bahwa engkau pun mencintaku, mana mungkin aku membiarkan engkau terancam bahaya? Tidak! Milana, dengarlah baik-baik. Lihat pedang ini. Ini adalah Hok-mo-kiam yang sudah dapat kurampas kembali. Bawalah pedang ini, cari ibumu di kota raja dan serahkan pedang ini kepada ayahmu, Pendekar Super Sakti. Dengan pedang ini engkau akan dapat melindungi dirimu. Aku akan hadapi mereka di bawah itu.... hemmm.... akan kuhajar cacing-cacing busuk yang telah berani menghina dewi pujaan hatiku!” “Tidak, Twako....” “Husshhh, demi cinta kita, taatilah aku sekali ini saja, sayang! Aku tidak akan dapat memaafkan engkau, memaaf­kan aku sendiri atau siapa juga kalau sampai engkau ikut turun dan menderita celaka. Nah, aku terjun, siaplah meloncat dan lari. Sampai jumpa, sayang!” Tanpa menanti jawaban, Bun Beng yang hampir bersorak saking gembira hatinya itu turun. Dia hanya mendengar suara Milana ter­isak, akan tetapi hatinya lega ketika dia mulai merobohkan beberapa orang pengawal dan memandang ke atas, pohon itu telah kosong dan bayangan Milana telah lenyap. “Thian Tok Lama pendeta palsu!” Dia membentak ketika melihat kakek itu membuat gerakan hendak melakukan pe­ngejaran kepada Milana. Sebuah pukulan kilat yangdilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang mengejutkan pendeta itu, apalagi ketika dia mengelak sambil me­nangkis, tetap saja hawa pukulan dari tangan Bun Beng membuatnya terpelan­ting. “Wan Keng In, tikus Pulau Neraka, hendak ke mana engkau?” Bun Beng su­dah meloncat ke depan, menerjang Wan Keng In yang kelihatan ragu-ragu dan agaknya mencari-cari Milana yang lenyap. Diterjang secara hebat oleh Bun Beng, Wan Keng In terpaksa melayaninya. De­ngan penasaran dan marah Keng In me­ngerahkan tenaganya, menyambut pukulan Bun Beng ke arah dadanya itu dengan dorongan telapak tangannya pula. “Dessss....!” Kalau tadi mereka saling mengadu lengan di atas pohon, kini mereka meng­adu kedua telapak tangan yang saling bertumbukan. Akibatnya, tubuh Wan Keng In terlempar ke belakang sampai lima meter lebih! Makin pucat wajah Wan Keng In dan biarpun dia tidak terluka, namun dia terkejut setengah mati dan barulah kini sepasang matanya meman­dang dengan sinar berkilat-kilat ke arah Bun Beng. Betapa hatinya tidak terkejut. Di dalam dunia ini, kiranya hanya ada dua orang, gurunya sendiri dan paman gurunya, dua kakek setan Pulau Neraka, yang dapat membuatnya terlempar seper­ti itu! Pekik melengking yang menyeramkan keluar dari dada pemuda Pulau Neraka itu ketika dia meloncat ke depan lalu membentak, “Jahanam! Siapa engkau?” “Plak-plak-dess-dess!” Empat orang anggauta pasukan terpelanting ke kanan kiri dan tak dapat bangkit kembali ter­kena hantaman kaki tangan Bun Beng yang merasa betapa tubuhnya ringan dan enak sekali, seringan dan seenak hatinya yang gembira bukan main. Pemuda ini mengerling ke kanan kiri, tertawa ketika melihat para pengawal tidak berani maju dan hanya mengurung dari jarak jauh. Dengan tenang dia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Wan Keng In, ter­senyum mengejek dan memandang dengan sinar mata berseri. Dunia seolah-olah berubah bagi hati Bun Beng dan biarpun dia berhadapan dengan musuh-musuh yang berbahaya, dia tetap gembira. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, tidak ada kekhawatiran dan semua orang keli­hatan menggembirakan. Agaknya wajah­nya yang berseri itu membuat semua orang terheran-heran dan curiga, sedang­kan Wan Keng In mulai mengingat-ingat siapa gerangan pemuda tampan berseri-seri yang wajahnya tertimpa cahaya obor yang dinyalakan oleh beberapa orang pengawal. Dia merasa seperti mengenal wajah itu, akan tetapi dia lupa lagi di mana dan kapan. Selain kebahagiaan karena cinta ka­sihnya terbalas oleh Milana, hal yang sa­ma sekali tidak pernah disangka-sangka­nya, atau diharapkannya itu membuat hatinya riang gembira, juga Bun Beng sengaja hendak memancing perhatian mereka agar Milana mendapat kesempat­an untuk melarikan diri jauh-jauh. Kalau Milana sudah selamat, dan pedang Hok­-mo-kiam sudah dapat dibawa pergi dara itu untuk diberikan kepada yang berhak, yaitu ayah dara itu, Pendekar Super Sak­ti, tidak ada apa-apa lagi di dunia ini yang menyusahkan hatinya! Dia sendiri akan menghadapi bahaya apapun juga dengan hati ringan. “Wan Keng In, engkau bocah setan ini makin jahat dan tersesat saja. Sekali ini aku tidak akan membiarkan kau ter­lepas sebelum memberi hajaran kepada­mu! Dan Thian Tok Lama agaknya masih melanjutkan kejahatan-kejahatannya. Su­dah lama aku menanti kesempatan ini, untuk bertemu denganmu dan membalas kematian Suhu Siauw Lam Hwesio.” Ucapan Bun Beng itu agaknya menya­darkan dua orang ini dan teringatlah mereka kini. Disebutnya nama Siauw Lam Hwesio sebagai guru mengingatkan Thian Tok Lama akan murid kakek tokoh Siauw-lim-pai itu, Gak Bun Beng yang pernah dan sempat dilihatnya pula ketika pemuda itu membantu Pulau Es pada waktu pasukan pemerintah membasmi pulau itu. Adapun Wan Keng In sekarang teringat akan pemuda yang telah mene­mukan Sepasang Pedang Iblis, pemuda bernama Gak Bun Beng yang tadinya dia pandang rendah akan tetapi yang seka­rang mampu membuatnya terlempar sampai lima meter! “Manusia she Gak keparat!” Wan Keng In memaki. “Gak Bun Beng, engkau anak haram dari Setan Botak Gak Liat yang kurang ajar itu....!” “Wuuuuttt.... plakkk!” Untuk kedua kalinya dalam waktu yang singkat itu tubuh Thian Tok Lama terpelanting keti­ka dia tergopoh-gopoh menangkis pukulan Bun Beng yang marah sekali mendengar makian dan penghinaan itu. Akan tetapi dia tidak dapat mendesak musuh besarnya itu karena Wan Keng In sudah menyerangnya dengan pukulan-pukulan maut. Pukulan pemuda Pulau Neraka ini dilaku­kan dengan jari-jari tangan terbuka se­perti cakar harimau, akan tetapi dari setiap ujung jari keluar hawa pukulan beracun yang amat dahsyat. Bun Beng maklum akan kelihaian Keng In, maka dia sudah cepat mencelat ke kiri menghindarkan serangan sambil menerima tusukan tombak dan golok dari dua orang Nepal, membetot dua buah senjata itu sambil menendang. Dua orang Nepal itu mengaduh dan tubuh mereka terjengkang. Dua orang pengawal yang menerjang maju, roboh oleh tombak dan golok yang dirampas Bun Beng dan di­sambitkan menyambut terjangan mereka. Terjadilah pertandingan yang amat hebat. Bun Beng mengamuk seperti se­ekor burung garuda, dikeroyok oleh pu­luhan orang anak buah pasukan. Tentu saja mereka itu merupakan lawan lunak bagi pemuda sakti ini dan dalam waktu beberapa menit saja sudah ada belasan orang tentara pengawal roboh termasuk beberapa orang Nepal dan panglima. Melihat sepak terjang Bun Beng yang demikian hebat, Thian Tok Lama dan Wan Keng In menjadi penasaran sekali. Pendeta Lama itu mengeluarkan senjata­nya, sebatang golok melengkung yang mengeluarkan sinar hijau, sedangkan Wan Keng In sudah mencabut Lam-mo-kiam. Mereka ini, dibantu oleh Bhe Ti Kong dan sisa para panglima serta jagoan Ne­pal lain, mengurung Bun Beng. Adapun anak buah pasukan yang juga membentuk pengepungan ketat di sebelah luar, siap pula dengan senjata di tangan sedangkan di empat penjuru, delapan orang meme­gang obor untuk menerangi tempat yang mulai terselimut malam gelap. “Kok-kok-kok heeeehhhh!” Perut gen­dut Thian Tok Lama mengeluarkan suara berkokok, kemudian disusul bentakannya dia menyerang maju, tangan kiri memu­kul, tangan kanan menggerakkan goloknya dengan cepat dan kuat sekali. “Singgg.... syet-syet-syettt....!” Sinar hijau menyambar-nyambar dan bergulung-gulung ke arah tubuh Bun Beng yang tidak berani memandang rendah. Cepat dia menggerakkan tubuhnya mencelat ke kanan kiri dan belakang. Betapapun cepat serangan Thian Tok Lama, gerakan Bun Beng lebih cepat lagi sehingga gulungan sinar golok berwarna kehijauan itu tak pernah dapat mendekati sasaran. “Hyaaattt.... singgg.... cing-cing....!”  “Hemmm....!” Bun Beng mengeluarkan suara kaget dan cepat dia melempar tubuhnya ke belakang dengan kecepatan kilat ketika dia melihat sinar kilat menyambar ganas dengan kecepatan seperti halilintar dan sinar itu mengandung hawa menyeramkan sekali sehingga dia sendiri merasa ngeri, tengkuknya terasa dingin. Melihat berkelebatnya sinar kilat yang menyilaukan mata, tahulah dia bahwa Wan Keng In telah turun tangan menye­rangnya dengan menggunakan pedang Lam-mo-kiam. Maka dia tidak berani berlaku lambat, begitu melempar tubuh ke belakang, dia berjungkir balik dan melanjutkan dengan meloncat jauh ke kanan. “Syuuuuutttt.... singggg!” Bun Beng menelan ludah. Bukan main hebatnya Lam-mo-kiam. Biarpun dia su­dah bergerak cepat sekali, masih saja dia tadi nyaris tergores punggungnya. Namun dia tidak sempat memikirkan hal itu karena begitu dia terhindar dari bahaya serangan Keng In, serentak dua orang panglima dan dua jagoan Nepal telah menyerangnya dengan berbareng. Dua orang Nepal yang bersorban itu me­nyerangnya dengan senjata mereka yang membuat mereka ditakuti, yaitu pisau belati yang kecil namun amat runcing dan tajam, dua buah banyaknya dipegang setengah bersembunyi di balik lengan ka­nan kiri. Serangan dari depan oleh dua orang Nepal itu amat cepat, gerakan mereka aneh dan kecepatan mereka men­jadi hebat karena lengan mereka panjang. Dalam sedetik itu, dua orang ini menye­rang secara berbareng dan empat buah pisau belati menyambar ke arah leher, ulu hati, perut dan lambung! Dalam setengah detik berikutnya, menyambar pula sebatang golok besar di tangan seorang panglima brewok, berlomba cepat dengan tombak gagang pendek di tangan Bhe Ti Kong yang menghujani ke arah punggung Bun Beng! “Heiiittt!” Bun Beng berseru keras sekali, tubuhnya membuat gerakan ber­pusing, demikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandang mata oleh lawan, akan tetapi tahu-tahu jari-jari tangannya seca­ra berturut-turut telah mengetuk terlepas sambungan siku kedua tangan orang Nepal, merampas golok besar dan me­nangkis tombak gagang pendek Bhe Ti Kong dengan golok itu setelah meroboh­kan pemilik golok dengan tendangan. “Tranggg....!” Bhe Ti Kong berseru kaget dan cepat menarik kembali tombaknya, memutar senjatanya untuk melindungi tubuh. Dua kali dia berhasil menangkis dan harus bergulingan dan jatuh bangun, terus di­kejar sinar golok rampasan Bun Beng yang mengenal panglima ini sebagai mu­suh besarnya dan yang mendesak untuk membunuhnya. “Singgg....!” Sinar kilat pedang Lam­-mo-kiam yang sudah menyambar lagi menyelamatkan nyawa Bhe Ti Kong. “Cringgg!” Bun Beng yang tadinya mendesak Bhe Ti Kong, terkejut melihat sinar kilat, terpaksa membuang diri sam­bil menangkis dengan golok rampasan, akan tetapi sekali bertemu dengan Lam­-mo-kiam, golok besar itu patah menjadi dua potong! “Trang-trang....!” Kembali Bun Beng yang baru meloncat bangun itu menang­kis dengan golok buntungnya, menangkis serangan golok Thian Tok Lama yang sudah membantu Keng In mengeroyoknya pula. Biar hanya mempergunakan golok buntung, namun tangkisan ini membuat Thian Tok Lama terhuyung. Bun Beng menyambitkan golok bun­tungnya kepada Wan Keng In ketika melihat pemuda itu sudah menerjang la­gi. Biarpun hanya disambitkan, namun golok buntung itu meluncur dengan ke­kuatan dahsyat sehingga Keng In tidak berani bersikap sembrono dan cepat menggerakkan Lam-mo-kiam untuk me­nangkis. Golok buntung itu runtuh dan patah-patah. Akan tetapi, ketika Keng In menangkis sambitan golok buntung, kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Beng untuk menerjang ke kiri, meroboh­kan empat orang panglima dan orang Nepal, dan merampas sebatang tombak lagi. Gerakannya kuat dan cepat sekali sehingga ketika Wan Keng In dan Thian Tok Lama menyerangnya lagi, dia sudah dapat menghadapi mereka dengan tombak di tangan! Namun, dengan adanya Keng In yang bersenjata Lam-mo-kiam, Bun Beng be­nar-benar kewalahan. Sekali bertemu, tombak rampasannya patah-patah lagi dan hampir saja dia termakan sinar pedang Lam-mo-kiam yang amat ampuh. Untung baginya bahwa jumlah pengeroyok amat banyak sehingga dia dapat menerjang dan menyelinap di antara para pengeroyok. ­Hal ini membuat Keng In merasa agak sukar untuk menekannya, dan pemuda Pulau Neraka itu dibantu dleh Thian Tok Lama selalu mengejar-ngejar Bun Beng yang mengamuk di antara para panglima, orang Nepal, dan pasukan pengawal. Betapapun dia mencobanya, Wan Keng In dan Thian Tok Lama tidak memberi kesempatan sedikitpun juga kepada Bun Beng untuk dapat melarikan diri. Pemuda itu dikepung ketat dan terpaksa dia me­ngamuk, merobohkan dan menewaskan banyak sekali anak buah pasukan, sedangkan keselamatannya selalu terancam dan berkali-kali nyaris saja terluka oleh Lam-mo-kiam dan golok di tangan Thian Tok Lama. Telah lebih dari dua puluh orang anak buah pasukan roboh, lebih setengah jumlah panglima dan jagoan Nepal tewas, dan pertandingan itu telah berjalan sam­pai hampir tengah malam! Bun Beng berhasil sebegitu jauh menyelamatkan diri dari ancaman Lam-mo-kiam, akan tetapi karena pengeroyokan ketat dan untuk menghindarkan luka senjata, ter­paksa dia menerima hantaman tangan kiri Thian Tok Lama sampai dua kali dan tamparan tangan kiri Wan Keng In satu kali. Tamparan pemuda Pulau Neraka itu hebat bukan main, membuat dada yang terkena tamparan terasa seperti akan pecah dan napas menjadi sesak, Bun Beng maklum bahwa isi dadanya terguncang dan bahwa pukulan Wan Keng In mengan­dung racun. Dia tidak takut akan pukulan beracun karena tubuhnya sudah kebal oleh jamur-jamur beracun, akan tetapi guncangan itu membuat tenaganya ber­kurang. Keadaannya amat berbahaya. Dia ti­dak takut mati, akan tetapi dia akan merasa kecewa kalau belum berhasil membalas kematian gurunya. Karena itu, dia mencurahkan perhatian dan kepandai­annya untuk memilih sasaran, yaitu Bhe Ti Kong dan Thian Tok Lama, dua di antara para pembunuh gurunya. “Thian Tok Lama, bersiaplah kau me­nyusul Thai Li Lama...!” Tiba-tiba dia berseru ketika melihat lowongan. Secepat kilat dia menubruk maju, menendang sebatang pedang yang menyambar dari samping, mengelak dari tusukan Lam-mo­-kiam, menggunakan tangan kanan mencengkeram golok Thian Tok Lama. Pen­deta itu terkejut sekali, bukan hanya karena tahu bahwa yang membunuh sau­daranya itu adalah pemuda ini, akan tetapi terutama sekali melihat betapa dengan tangan kosong pemuda lihai itu berani menangkap dan mencengkeram goloknya! Dia berusaha menarik golok untuk melukai tangan Bun Beng, akan tetapi tiba-tiba Bun Beng sudah mengge­rakkan tangan kiri menampar ke arah kepalanya! Hebat bukan main serangan ini dan kalau tamparan ini mengenai sasaran, tak dapat disangsikan lagi nyawa Thian Tok Lama tentu akan melayang. Akan tetapi pada saat itu, sebuah pukulan yang keras dari tangan kiri Wan Keng In me­ngenai tengkuk Bun Beng pada saat yang amat tepat. “Desss....!” Berbareng jatuhnya pukulan Keng In pada tengkuk Bun Beng dengan tamparan, tangan Bun Beng yang menyeleweng, tidak jadi mengenai kepala melainkan menghantam pundak Thian Tok Lama. Biarpun menyeleweng, namun cukup membuat pendeta itu terpelanting dan muntah darah! Akan tetapi, hantaman yang keras dari Keng In, itupun membuat Bun Beng terjengkang! Bhe Ti Kong menubruk dengan tombaknya, menusuk ke arah ulu hati Bun Beng dengan tombak gagang pendeknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Dia merasa yakin bahwa sekali ini dia tentu berhasil membunuh pemuda yang berbahaya ini, apalagi melihat pemuda itu telah terpukul dan mulutnya menyemburkan darah seperti yang di­alami Thian Tok Lama. Tombak itu meluncur tepat ke arah ulu hati Bun Beng. Pemuda ini tak dapat mengelak lagi, maka terpaksa dia mema­sang kedua telapak tangan ke depan dada dan begitu ujung tombak menyentuh tela­pak tangannya, dia membuat gerakan menyentak sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya. Pengerahan tenaga ini mem­buat dadanya terasa nyeri bukan main, pandang matanya berkunang dan darah makin banyak keluar dari mulutnya, akan tetapi tombak itu membalik secara tiba-tiba, menyambut dada Panglima Bhe Ti Kong yang terdorong ke depan. “Crappp..... auggghhh....!” Bun Beng menjadi gelap mata dan pingsan, tidak tahu bahwa tubuh Bhe Ti Kong menimpa tubuhnya dan betapa da­rah yang membanjir keluar muncrat-muncrat dari dada musuhnya itu menyi­ram tubuhnya. Panglima itu berkelojotan dan tewas dengan dada tertembus tom­baknya sendiri. “Tahan, Wan-sicu. Jangan bunuh dia....!” Thian Tok Lama mencegah ketika meli­hat Wan Keng In mengelebatkan Lam-mo-kiam untuk membunuh Bun Beng. Wan Keng In menoleh, menahan pe­dang dan mengerutkan alisnya. “Manusia macam dia perlu apa dibiarkan hidup? Dia membuat Milana hilang dan sudah mendatangkan banyak korban....!” Kembali Lam-mo-kiam bergerak. “Jangan, Wan-sicu! Dia adalah seorang tawanan penting sekali! Dialah yang te­lah merampas Hok-mo-kiam. Dia yang melepaskan puteri Ketua Thian-liong-pang! Terlalu enak bagi dia kalau dibunuh begitu saja, dan dia perlu diseret di de­pan Koksu untuk meringankan kesalahan kita....” “Hmm....” Wan Keng In menyimpan pedangnya, akan tetapi dia lalu mengayun tangan kanannya ke arah punggung tubuh Bun Beng yang rebah miring. “Desss!” Pukulan itu hebat sekali dan Wan Keng In mengomel. “Biarpun nyawanya rangkap, pukulanku ini akan mencabut nyawanya dalam waktu dua puluh empat jam.” Thian Tok Lama juga terluka di da­lam tubuh, akan tetapi tidak membaha­yakan nyawanya. Dia lalu turun tangan sendiri, menelikung dan membelit-belit tubuh Bun Beng dengan tali yang amat kuat, lalu mengikat tubuh pemuda yang masih pingsan itu di atas punggung kuda. “Dia sudah kuberi pukulan Toat-beng-tok-ci (Jari Beracun Pencabut Nyawa). Jangankan untuk melawan, dibiarkan pun dia akan mampus sebelum malam besok.” Wan Keng In mencela melihat betapa pendeta itu bersusah payah membelenggu tubuh yang dia tahu sudah takkan mampu melawan lagi itu. “Kita tidak boleh gagal lagi membawa dia ke kota raja, Wan-sicu.” Thian Tok Lama membantah dan Wan Keng In men­dengus, mengangkat pundak dan sikapnya menjadi murung karena dia marah-marah dan kecewa telah kehilangan Milana. Betapapun juga, dia harus ikut dan ber­temu dengan Koksu. Setelah dia menyak­sikan sendiri betapa lihainya Bun Beng, diam-diam pemuda ini merasa jerih juga. Bukan terhadap Bun Beng yang tinggal menanti maut itu, akan tetapi baru Bun Beng sudah demikian lihainya, apalagi ibu Milana Si Ketua Thian-liong-pang, belum lagi Pendekar Super Sakti! Maka dia harus bersikap cerdik dan harus da­pat mencari kawan, dan agaknya kedu­dukannya akan kuat sekali kalau dia dapat bersekutu dengan Koksu yang selain memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar, juga mempunyai banyak orang pandai itu. Dengan murung dan tergesa-gesa, membawa teman-teman yang terluka, pergi keluar dari hutan menuju ke kota raja. Kuda yang membawa tubuh Bun Beng yang kaki tangannya ditelikung dan diikat di atas punggung binatang itu, berada di tengah-tengah dan dikawal sendiri oleh Thian Tok Lama, Wan Keng In. Kini mereka siap dengan senjata di tangan memegang senjata masing-masing dan bersikap waspada. Baik Wan Keng In maupun Thian Tok Lama sudah meng­ambil keputusan untuk pertama-tama menggerakkan senjata membunuh Bun Beng apabila terjadi suatu gangguan di tengah perjalanan ini. Bun Beng membuka matanya. Ketika ia merasa betapa tubuhnya tergantung di atas punggung kuda, bergoyang-goyang dan kaki tangannya terbelenggu, dia ter­ingat semua dan tersenyum! Tubuhnya lemah dan tak bertenaga, sakit-sakit, akan tetapi hatinya riang! Teringat dia akan Milana dan rasa bahagia di hatinya masih mengatasi semua kesengsaraan yang diderita tubuhnya. Milana mencintanya! Puteri Pendekar Super Sakti cinta kepadanya! Bukan main! Cucu kaisar sen­diri! Dan dia hanyalah seorang anak haram, keturunan seorang tokoh sesat yang dikutuk dunia! Apalah artinya siksa dan mati setelah menghadapi kenyataan yang berbahagia itu? Dan dia telah ber­hasil menyelamatkan Milana. Dara itu telah bebas! Dia akan menyambut kema­tian atau apapun juga, dengan senyum bahagia! Ia mengerling ke kiri dan melihat Thian Tok Lama duduk di atas seekor kuda, memegang sebatang golok. Hemm, sayang. Dia belum berhasil membunuh pendeta ini, juga belum berhasil mem­balas Bhong-koksu atas kematian gurunya. Baru Thai Li Lama dan Panglima Bhe Ti Kong yang telah menebus kematian gurunya. Bun Beng mencoba mengerahkan sin­kangnya. Hawa panas di pusarnya segera menjawab pengerahannya, akan tetapi tiba-tiba dada dan punggungnya terasa nyeri bukan main, tak tertahankan! Tahu­lah dia bahwa dadanya terluka dan punggungnya menderita lebih hebat lagi! Darah mengalir dari dalam leher ke mulut­nya dan dia tahu bahwa dia telah menderita luka akibat pukulan yang mungkin membawa maut. Tentu perbuat­an Wan Keng In atau Thian Tok Lama. Agaknya lebih tepat kalau dia menduga pemuda Pulau Neraka itulah yang memu­kulnya. Luka di tulang punggung ini bukan pukulan biasa, dan kiranya hanya pemuda itulah yang dapat melakukan pukulan sekeji ini. Dia menghela napas panjang. Tidak ada harapan untuk meng­gunakan saat terakhir itu mencoba me­lepaskan diri dan membunuh Thian Tok Lama. Kalau dia melanjutkan pengerahan sin-kangnya tentu dia akan mati sebelum sempat bergerak! Dia tidak putus asa. Mereka telah menawannya, dan biarpun agaknya ketika dia pingsan dia menderita pukulan gelap yang amat membahayakan nyawanya, namun pada saat itu dia belum mati dan selama dia belum mati dia tidak akan kehabisan harapan. Mereka belum membunuhnya, berarti bahwa dia masih mempunyai harapan untuk dapat menyelamat­kan diri. Bun Beng tidak berusaha lagi untuk mengerahkan tenaga, bahkan dia lalu melemaskan tubuhnya agar dapat bergantung pada punggung kuda dengan enak. Rombongan itu melalui hutan terakhir yang penuh dengan pohon bambu. Daerah ini memang terkenal dengan pohon bambu yang bermacam warna dan bentuknya. Hati Thian Tok Lama terasa lega karena kota raja sudah dekat. Tembok kota raja yang tinggi sudah tampak dari tempat tinggi itu, merupakan bayangan hitam memanjang yang tertimpa sinar bintang-bintang di langit yang remang-remang. Angin malam mempermainkan daun-daun bambu, menimbulkan rasa berkelisik.. Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dan serta merta terjadilah kekacauan ketika rombongan itu diserang oleh daun-daun bambu yang datang bagaikan anak panah atau senjata rahasia piauw yang runcing. Tadinya mereka mengira bahwa daun-daun bambu itu rontok oleh angin besar, akan tetapi setelah daun-daun bambu ini menancap dan melukai kulit daging, ba­rulah mereka terkejut dan menjadi kacau! Kekacauan menjadi-jadi ketika sampai batang-batang bambu yang pan­jang tiba-tiba meliuk dan menyerang mereka, seolah-olah rumpun bambu itu menjadi hidup dan digerakkan oleh setan-setan menyerang rombongan itu. Terdengar suara berdebuk disusul roboh­nya orang susul-menyusul ketika tubuh-tubuh itu dihantam oleh batang bambu. Thian Tok Lama dan Wan Keng In cepat dapat menduga bahwa amukan pohon-pohon dan daun-daun bambu itu tentulah perbuatan musuh yang lihai. Akan tetapi pada saat mereka mengge­rakkan senjata hendak membunuh Bun Beng, tiba-tiba sebatang pohon bambu yang besar dan panjang terbang menye­rang mereka, berikut cabang-cabang dan daun-daunnya. Tentu saja keduanya men­jadi terhalang dan mereka menggerakkan senjata membabat runtuh batang bambu itu. Akan tetapi kuda yang membawa tubuh Bun Beng sudah meringkik keras, terlempar dan roboh dengan perut ter­tembus batang bambu, sedangkan Bun Beng sendiri yang tadinya menelungkup di atas punggung kuda, melintang, sudah lenyap! “Tawanan lenyap!” “Kejar....!” “Tangkap pengacau!” Teriakan-teriakan para panglima itu menambah kekacauan dan di antara suara hiruk-pikuk mereka terdengarlah suara terkekeh menyeramkan, suara yang terdengar makin menjauh dan akhirnya lenyap. “Tidak perlu dikejar, percuma saja karena dialah yang datang menolong Bun Beng,” kata Wan Keng In yang menjadi lemas tubuhnya ketika mendengar suara ketawa itu. Thian Tok Lama menahan kudanya. “Siapakah dia?” Wan Keng In menarik napas panjang. “Siapa lagi kalau bukan Bu-tek Siauw-jin? Kalau dia muncul dan ikut-ikut, kita takkan mampu menghadapinya. Dan sete­lah dia muncul, orang satu-satunya yang dapat melawannya hanyalah guruku. Karena itu, aku tidak akan ikut bersamamu ke kota raja, Thian Tok Lama. Aku harus mencari guruku, minta bantuannya untuk menghadapi tua bangka cebol itu. Sampai jumpa!” Tanpa menanti jawaban, Wan Keng In yang merasa jerih mende­ngar suara ketawa susioknya, Bu-tek Siauw-jin, berkelebat dan lenyap dari depan Thian Tok Lama. Pendeta Tibet ini menarik napas berulang-ulang, meng­geleng kepala dan dengan hati risau ter­paksa memimpin sisa pasukannya yang ketakutan itu ke kota raja. Memang dia telah berhasil membasmi Thian-liong-pang akan tetapi pasukannya pun rusak, ta­wanan lenyap dan banyak panglima te­was, termasuk pembantu kepercayaan Koksu, Panglima Bhe Ti Kong. Sementara itu, jauh dari situ, di da­lam hutan yang gelap, Bu-tek Siauw-jin berjalan seorang diri sambil memanggul sebatang bambu panjang dan di ujung bambu itu terpikul tubuh Bun Beng yang masih terbelenggu kaki tangannya! *** Sementara itu, di dalam istana kaisar sendiri terjadilah hal yang amat hebat dan penting. Kaisar sendiri yang sibuk dengan urusan pemerintahan, dalam usa­hanya untuk mendatangkan kemakmuran kepada rakyat agar pemerintahannya, pemerintah penjajah, mendapat kesan baik di hati rakyat, sama sekali tidak menduga bahwa di antara para pemban­tunya yang paling dipercaya sedang mengatur pemberontakan untuk menjatuh­kannya. Kaisar Kang Hsi memang seorang kaisar yang pandai. Akan tetapi, sebagai seorang manusia biasa yang tak terlepas daripada kekurangan, Kaisar yang menjadi pembangun dasar-dasar kekuatan peme­rintah Mancu ini mempunyai kelemahan terhadap wanita. Banyak sekali selirnya dan banyak pula anaknya. Karena terlalu banyak inilah maka terjadi perebutan dan iri hati, dan Pangeran Yauw Ki Ong ada­lah seorang di antara putera-puteranya dari selir yang demi cita-cita dan kemurkaannya tidak segan-segan melakukan pengkhianatan dan mengadakan persekutuan untuk memberontak dan mengguling­kan ayahnya sendiri! Selir yang ratusan orang jumlahnya masih belum memuaskan hati Kaisar yang selalu haus akan wanita muda yang baru. Kelemahan ini tentu saja tidak disia-sia­kan oleh mereka yang ingin menjilat dan mencari kedudukan lebih tinggi. Mereka selalu mengincar dara-dara muda yang cantik jelita untuk dipergunakan sebagai “persembahan”, tentu saja dengan harapan mendapatkan balas jasa. Kelemahan Kaisar ini menciptakan pembantu-pemban­tu yang palsu dan di samping ini, juga menimbulkan persaingan dan pertentangan di kalangan para selir itu sendiri. Mereka adalah wanita-wanita cantik yang masih muda. Dengan adanya terlalu banyak selir, mereka menderita dan tentu saja akibatnya memungkinkan terjadinya pe­langgaran dan ketidaksetiaan. Untuk mengatasi hal ini, para selir itu dikurung dan dijaga keras oleh pengawal-pengawal yang semua terdiri dari thaikam (manusia kebiri). Penjagaan dan pengawasan keras ini mendatangkan penderitaan lahir batin bagi wanita-wanita muda itu sehingga mereka merupakan segolongan orang yang mudah dihasut untuk membenci Kaisar yang mereka anggap sebagai orang yang menyiksa mereka dan membuat hidup merupakan kesunyian dan kesengsaraan bagi mereka. Malam hari itu, para selir yang se­perti biasanya melewatkan malam sunyi dengan celoteh, saling berbisik memper­cakapkan Kaisar dengan hati penuh iri, karena malam hari itu, semenjak sore hari, Kaisar telah mengeram dirinya di dalam kamar bersama seorang selir baru! Seorang dara yang kabarnya cantik sekali dan baru malam hari itu mendapat tugas kehormatan melayani Kaisar, seorang dara istimewa karena dara ini adalah persem­bahan dari Koksu sendiri! Menurut berita yang didengar sebagian para selir yang tidak melihat sendiri, mendengar penu­turan para thaikam penjaga, dara itu selain muda remaja, juga memiliki ke­cantikan yang luar biasa, bermata agak kebiruan, hidungnya mancung dan kulitnya putih kemerahan, seorana dara asing dari see-thian (dunia barat)! Dan sebagai persembahan dari Koksu sendiri, tentu saja dara itu mempunyai kedudukan istimewa. Para thaikam tidak berani bersikap kurang hormat karena takut kepada Koksu, bahkan para selir yang biasanya suka mengeluarkan perasa­an iri mereka terhadap selir lain dengan berani, sekarang hanya berani mempercakapkan selir baru ini dengan bisik-bisik. Semua orang di istana, bahkan para selir dan para pelayan sekalipun, tahu belaka akan kekuasaan Koksu yang ditakuti! Malam itu memang istimewa. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh para selir dan para thaikam yang bertugas jaga, melainkan terutama sekali oleh Kaisar sendiri. Semenjak Kaisar menerima gadis persembahan Koksu yang datang meng­hadap pagi hari itu, Kaisar merasakan sesuatu yang lain daripada biasa. Belum pernah dia melihat kecantikan seorang dara seperti dara peranakan Nepal ini. Kecantikan yang khas, dan yang sekaligus menjatuhkan rasa sayang dan membangkitkan gairah di hati Kaisar itu. Terang­sang oleh gairah ingin cepat-cepat ber­dua saja dengan Si Jelita ini, Kaisar menunda semua urusan, dan baru saja matahari mengundurkan diri Kaisar sudah memasuki kamar peraduannya yang isti­mewa dan memerintahkan Si Juita datang menghadap dan melayaninya. Kamar ini luas sekali, berbau harum dan dindingnya yang berwarna hijau muda dihias bunga-bunga dan lukisan-lukisan indah. Lantainya dari batu pualam yang jernih dan satu-satunya perabot kamar itu hanyalah kasur-kasur tebal yang me­menuhi bagian tengah, ditilami kain berbulu yang halus dan hangat, dengan bantal-bantal terhias sarung sutera ber­sulam indah. Kaisar telah duduk setengah rebah di atas kasur ketika Thaikam kepala membuka pintu kamar. Thaikam berlutut di luar pintu dan tampak seorang dara yang bertubuh tinggi ramping dengan langkah gontai dan lemah lembut. Setelah dara itu memasuki kamar, daun pintu tertutup lagi di belakangnya dan terdengar langkah-langkah halus Thaikam kepala meninggalkan depan pintu disusul sua­ranya berbisik-bisik mengatur penjagaan. Seperti biasa, setiap kali Kaisar berma­lam di kamar ini, di empat penjuru luar kamar selalu dijaga oleh pengawal-penga­wal thaikam yang berkepandaian tinggi, di samping pelayan-pelayan wanita yang berlutut di luar kamar, diam tak berge­rak seperti arca akan tetapi siap untuk memasuki kamar apabila tenaga dan pelayanan mereka dibutuhkan. Empat orang pelayan wanita yang muda dan masih gadis malam itu menjaga di luar kamar, tubuh mereka yang duduk bersim­puh itu tak bergerak, akan tetapi mata mereka kadang-kadang mengerling liar ke arah kamar dan jantung mereka ber­debar penuh ketegangan. Biarpun mata mereka tidak mungkin menembus dinding kamar untuk menyaksikan apa yang ter­jadi di dalam kamar, akan tetapi dinding itu terbuat dari papan kayu tipis halus sehingga telinga mereka dapat mendengar semua suara dari dalam kamar. Suara yang lirih sekalipun, seperti berkereseknya pakaian atau tarikan napas panjang, dapat terdengar jelas! Dara itu benar-benar cantik luar bia­sa. Kedua kakinya tidak bersepatu, telan­jang dan bersih, tampak putih kemerahan di balik pakaiannya yang terbuat dari sutera longgar, pakaian tidur yang khusus dibuat untuk selir-selir kaisar, hanya merupakan kain sutera tipis menyelimuti tubuh dan membayangkan bentuk tubuh yang padat menggairahkan, penuh lekuk lengkung yang menantang. Ketika dara itu tiba di depan pembaringan yang hanya kasur terletak di atas lantai, dia menjatuhkan diri berlutut, menelungkup se­hingga kedua lengannya rebah di atas lantai di depan kepalanya, pangkal kedua lengan menutupi muka, rambutnya terge­rai lepas di atas lantai. Kulit leher yang putih kemerahan dan halus membayang dari celah-celah rambut yang tersibak, dan sebagian lengan yang dilonjorkan keluar dari selimutan Sutera, tampak putih bersih dan halus bagaikan lilin di­raut! Kaisar terpesona. Tubuh yang muda dan sempurna, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, tidak terlalu tinggi atau pendek. Cuping hidungnya bergerak men­cium keharuman yang keluar dari rambut dan leher agak terbuka penutupnya itu, dan dengan suara agak gemetar Kaisar berkata halus, “Bangunlah....!” Tubuh yang berlutut setengah mene­lungkup di atas lantai batu pualam dan yang tadi tidak bergerak-gerak itu meng­gigil sedikit, lalu kedua lengan diangkat, dan tubuh itu bangkit duduk, wajahnya tampak cantik jelita dan segar kemerah­an kedua pipinya, mulut yang amat manis bentuknya membentuk senyum malu, senyum ditahan yang membuat bibir itu gemetar halus, kedua mata yang lebar setengah terpejam dengan pandangan menunduk sehingga bulu mata yang lentik panjang membentuk bayang-bayang di atas pipi, leher yang panjang itu tampak jelas, kepalanya agak dimiringkan. Kaisar makin terpesona, kini dia duduk dan mengembangkan kedua lengannya sehingga pakaian tidurnya terbuka memperlihatkan dada yang bidang dan perut yang mulai menggendut. “Juita sayang.... jangan takut dan malu, ke sinilah....” kembali Kaisar ber­bisik. Muka itu makin meriunduk, bibirnya merekah dan tampak deretan gigi seputih mutiara menggigit sebelah dalam bibir bawah, kemudian dara itu bergerak maju dengan menggunakan kedua lututnya, menghampiri Kaisar. Begitu tiba dekat, Kaisar sudah menerkamnya dengan peluk­an penuh gairah. Para thaikam yang menjaga di luar kamar itu mendengarkan suara di dalam kamar dengan wajah tidak berubah sama sekali. Mereka sudah terbiasa dan keada­an mereka sebagai orang kebiri telah melenyapkan pula perasaan halus mereka. Mereka berdiri berjaga dengan sikap sama sekali tidak mengacuhkan. Akan tetapi yang amat tersiksa adalah gadis-gadis pelayan yang terpaksa memejamkan mata dan menggigit bibir mendengarkan segala kemesraan yang berlangsung di dalam kamar Kaisar. Wajah mereka sebentar pucat sebentar merah. Kaisar seperti mabuk dalam nafsunya sehingga kehilangan kewaspadaan, tidak mendengar kegaduhan yang terjadi di luar kamarnya. Padahal, terdengar ben­takan tertahan sebelum para pengawal thaikam itu roboh tewas, dan seorang diantara para gadis pelayan sempat men­jerit kecil sebelum dia roboh pula seper­ti teman-temannya. Kaisar yang tergila-gila kepada dara bermata biru itu, yang mabok dalam buaian nafsunya sendiri, sama sekali tidak tahu bahwa di luar kamarnya darah berlepotan membanjiri lantai. Bukan hanya ini saja kelengahan­nya, bahkan dia juga tidak tahu betapa dara yang membuatnya seperti gila, yang sempat mengeluarkan rintihan merayu, dengan kedua lengan yang halus dan jari-jari tangan yang membalas belaian­nya, juga merupakan maut yang siap mencabut nyawanya! Tanpa terlihat oleh Kaisar, dua buah jari tangan yang halus meruncing dan indah itu kini telah men­jepit sebatang jarum dan jari-jari tangan yang mengandung tenaga kuat itu siap untuk menusukkan jarum ke dalam otak di kepala Kaisar melalui pusat di tengkuk! Tiba-tiba tampak sinar berkelebat dari arah pintu kamar. Dara dalam pe­lukan Kaisar itu tiba-tiba mengeluarkan suara menjerit nyaring lalu tubuhnya berkelojotan dalam sekarat! Tentu saja Kaisar menjadi terkejut sekali, serta-mer­ta meloncat, menyambar pakaiannya dan membalikkan tubuh memandang ke arah pintu. Pintu telah terbuka dan di tengah pintu tampak seorang wanita setengah tua yang cantik, gagah dan mengerikan karena mukanya yang cantik itu putih seperti kapur! Wanita itu segera menja­tuhkan diri berlutut ke arah Kaisar! Kaisar yang terkejut sekali itu dapat menguasai diri dan membentak marah, “Siapa engkau sungguh berani mati seka­li! Pengawal....!”  “Hendaknya Paduka ketahui bahwa semua pengawal dan pelayan telah ter­bunuh dan nyaris Paduka juga terancam maut di tangan perempuan itu.” Wanita bermuka putih itu berkata tanpa mengangkat muka dan dengan sikap hormat, akan tetapi juga dingin. Kaisar yang sudah bangkit berdiri itu membalik dan memandang ke arah dara yang tadi membuatnya mabok dan lupa segala. Tubuh yang mulus dan indah itu masih membujur telentang di atas kasur, dengan sikap menggairahkan, akan tetapi kini sudah tidak bergerak lagi, sudah tidak bernyawa dengan pelipis terluka mengeluarkan darah. Akan tetapi bukan tubuh itu dan bukan luka itu yang mem­buat Kaisar terbelalak, melainkan jari tangan yang menjepit sebatang jarum hitam! “Apa.... apa yang telah terjadi....?” Kaisar tergagap karena merasa heran dan tidak mengerti. “Harap Sri Baginda mengampunkan hamba yang lancang ini. Persekutuan pemberontak telah merencanakan ini semua, dipimpin oleh Koksu. Perempuan ini adalah seorang kaki tangan Koksu yang bertugas merayu dan membunuh Paduka dengan tusukan jarum beracun. Sedangkan para thaikam pengawal di bagian istana ini telah dibunuh oleh kaki tangan pemberontak. Karena tadi melihat betapa perempuan ini hampir saja mem­bunuh Paduka, terpaksa hamba tidak sempat memberi tahu dan turun tangan membunuhnya.” “Apa....? Pemberontak? Koksu? Heii, wanita, jangan engkau lancang bicara! Dosamu sungguh besar....!” Pada saat itu, muncul dua orang ber­sorban di belakang wanita itu. Mereka menggerakkan tangan dan dua batang pisau terbang melumur ke dalam kamar. Wanita itu berseru, tubuhnya mencelat ke depan dan sekali sambar dia telah berhasil menangkap dua batang pisau yang menyerang Kaisar, kemudian dengan kecepatan kilat dia telah menyambitkan pisau-pisau rampasan itu ke belakangnya. Dua orang Nepal itu memekik dan roboh terjengkang dengan dada tertusuk pisau mereka sendiri! Kini barulah Kaisar yakin akan kebe­naran kata-kata wanita aneh itu. “Aihhh.... lekas ceritakan dengan singkat, apa yang terjadi!” “Hamba bernama Lulu dan secara ke­betulan saja hamba tahu akan persekutu­an busuk ini. Pemberontakan direncana­kan oleh Pangeran Yauw Ki Ong dan dibantu oleh Koksu dan kaki tangan mereka, bahkan di perbatasan utara telah dipersiapkan tentara pemberontak ga­bungan, dibantu orang-orang Nepal, Mo­ngol dan Tibet. Hamba tidak tahu ba­nyak, akan tetapi untung hamba tidak terlambat ketika Paduka terancam....” “Hemm, jasamu cukup dan kami berterima kasih kepadamu. Lulu namamu? Engkau wanita Mancu? Seperti pernah aku mendengar nama ini. Lulu, sekarang kuperintahkan engkau untuk membasmi para pembunuh di istana puteri ini. Ku­beri kekuasaan kepadamu.” “Akan tetapi Paduka? Hamba harus menjaga Paduka....” “Aku akan kembali ke istana melalui jalan rahasia di dalam kamar ini. Jangan khawatir, sebentar lagi pengawal-penga­walku akan membantumu sehingga tidak seorang pun pembunuh akan lolos. Laku­kanlah perintahku!” Wanita itu yang bukan lain adalah Lulu atau bekas Ketua Pulau Neraka, memberi hormat lalu berkelebat keluar dari kamar itu. Kaisar memandang ke arah tubuh jelita yang kini telentang menjadi mayat, menghela napas panjang penuh penyesalan, lalu menghilang di balik sebuah pintu rahasia yang muncul ketika Kaisar menekan tombol di sudut kamar. Dengan gerakan ringan bagaikan se­ekor burung walet, Lulu meloncat keluar dari dalam kamar. Sambaran senjata ra­hasia membuat dia waspada, tubuhnya mengelak dan sekali meloncat dia telah naik ke atas sebuah meja. Dari belakang muncullah empat orang bersorban yang bersenjata golok melengkung. Golok me­reka itu berlepotan darah dan dengan ganas mereka menyerang Lulu. “Sing-sing.... crak-crakkkk!” Meja di mana Lulu tadi berdiri pecah-pecah ter­timpa senjata tajam, akan tetapi Lulu sendiri sudah lenyap dari situ dan tahu-tahu telah berada di belakang dua orang Nepal membalas serangan dengan tamparan-tamparan kedua tangannya. Dua orang Nepal itu bukanlah orang-orang biasa, melainkan jagoan-jagoan pilihan yang bertugas membantu dan mengawal wanita yang akan membunuh Kaisar. Mereka ini terdiri dari dua belas orang Nepal dan tiga orang Han dan semua thaikam yang menjaga di istana bagian puteri ini telah mereka bunuh. Tamparan Lulu dapat mereka elakkan, bahkan mereka memutar tubuh sambil menyerang lagi dengan golok. Akan tetapi yang mereka hadapi ada­lah Lulu, bekas Ketua Pulau Neraka yang memiliki kesaktian luar biasa. Biarpun tamparan-tamparannya luput, melihat dua orang Nepal itu balas menyerang dengan golok, Lulu sama sekali tidak mengelak bahkan mengembangkan kedua tangan menyambut golok-golok itu. “Trak-trakkkkkk!”Dapat dibayangkan betapa kaget hati kedua orang Nepal itu melihat golok mereka dapat dicengkeram dan patah-patah oleh jari-jari tangan yang kecil halus itu, akan tetapi sebelum mereka sempat melanjutkan rasa kaget, keduanya sudah roboh dengan urat-urat leher putus terkena “bacok” kedua tangan Lulu!  “Hati-hati, kepung dia....!” Tiba-tiba terdengar bentakan seorang Nepal yang berdiri di sudut. Orang ini, berbeda de­ngan yang lain, tidak membawa senjata, bahkan agaknya dia sedang asyik minum arak dari sebuah guci yang didapatnya di istana itu. Kemudian terdengar dia bicara dalam bahasa Nepal, dan orang-orang bersorban dibantu oleh tiga orang Han yang gerakannya ringan gesit kini mengurung Lulu dengan gerakan teratur. Agaknya kakek Nepal yang minum arak itu tahu akan kelihaian Lulu dan sudah mengatur anak buahnya untuk mengurung dan membentuk barisan! Lulu berdiri di tengah-tengah ruangan yang luas, diam tak bergerak, hanya ke­dua matanya saja yang bergerak mengerling ke kanan kiri mengikuti gerak-gerik para pengurungnya. Dia melihat betapa mereka itu membentuk garis pat-kwa dan mulai mengeluarkan suara seperti bernya­nyi atau berdoa! Mula-mula Lulu memandang rendah, sungguhpun dia bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa bergerak, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika suara nyanyian itu makin lama makin tidak enak sekali memasuki telinganya, seperti menusuk-nusuk dan dia mulai menjadi pening! Yang paling nyaring suaranya adalah orang Nepal yang tidak ikut mengurung, yaitu kakek Nepal yang masih memegang guci arak dan kini kakek itu berada di loteng, menonton ke bawah sambil ber­nyanyi-nyanyi memimpin anak buahnya! Lulu tidak tahu bahwa mereka itu mem­pergunakan ilmu hitam untuk menundukkannya. Tak tertahankan lagi kepeningan ke­palanya dan Lulu terpaksa memejamkan matanya. Pada saat itu, terdengar aba-aba dari atas loteng dan tiga di antara orang-orang Nepal menubruk maju dan menggerakkan senjata mereka. Seorang bersenjata golok, seorang menusuk dengan pisau-pisau belati di kedua tangan, dan orang ke tiga menghantamkan sebuah ruyung! Lulu merasa pening dan telinganya seperti ditusuk-tusuk, akan tetapi dia merasa akan datangnya serangan. Dengan kemarahan meluap-luap, wanita sakti ini mengeluarkan jerit melengking yang tidak lumrah suara manusia, seperti suara iblis saja. Dia tidak mengelak, melainkan langsung menubruk maju menyambut se­rangan-serangan itu dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan dengan jari-jari terbuka mencengkeram ke depan! Tanpa disengaja, Lulu telah mem­buyarkan pengaruh suara nyanyian yang mengandung ilmu hitam itu, yaitu ketika dia menjerit dengan pengerahan khi-kang saking marah tadi. Akibat dari terjangan­nya yang dahsysat, senjata-senjata tiga orang itu terpental ke belakang, seorang Nepal kena dicengkeram dadanya oleh tangan kiri Lulu sehingga jari-jari tangan wanita itu menancap masuk dan merobek dada, seorang lagi terlempar oleh tam­paran yang mengenai kepala, sedangkan orang ke tiga terhuyung-huyung mundur ketakutan! Lulu melemparkan orang yang dicengkeram dadanya, kemudian cepat meloncat ke belakang melampaui kepala para pengurungnya karena pada saat itu, sudah datang pula senjata-senjata para pengeroyok menyerangnya seperti hujan lebat! Loncatan Lulu yang amat gesit ini sama sekali tidak disangka-sangka oleh para pengurungnya, demikian cepat laksana kilat menyambar gerakan Lulu dan tahu-tahu wanita itu telah berada di atas sebuah meja! Orang-orang Nepal itu cepat mengu­rung lagi dan serentak maju menyerang, akan tetapi kini Lulu yang sudah marah mulai mengamuk dan wanita perkasa ini tidak pernah meninggalkan meja dan me­ja itu bergerak menerjang ke kanan kiri, melayang-layang menggantikan kaki wanita perkasa itu! Terjadilah pertempuran yang aneh dan hebat sekali. Karena dia selalu berada di atas meja tidak mudah bagi pengeroyok untuk menyerangnya tanpa terancam bahaya pukulan-pukulan me­ngandung hawa sin-kang yang dilancarkan Lulu dari atas meja, membuat mereka tak berani mendekat karena siapa yang terlalu dekat, kalau tidak terpelanting oleh pukulan jarak jauh, tentu roboh oleh sambaran jarum-jarum rahasia yang di­lepas oleh bekas Ketua Pulau Neraka itu. Betapapun juga, karena rata-rata orang-orang Nepal itu memiliki kepandai­an tinggi, Lulu juga tidak berani bersikap sembrono dan memandang rendah. Dia selalu membuat mejanya melayang ke luar dari kepungan setiap kali para pe­ngeroyoknya berusaha untuk mengepung­nya. Ketika dia berhasil merobohkan empat orang pula dan pihak pengeroyok mulai menggunakan pisau-pisau terbang, tiba-tiba meja itu melayang ke atas loteng! Kakek Nepal yang tadinya minum arak dan memandang rendah karena yakin bahwa kepungan anak buahnya tentu akan merobohkan wanita itu, menjadi kaget dan penasaran sekali. Ditenggaknya arak dari guci, kemudian dia bergerak melon­cat menyambut Lulu yang melayang ber­sama mejanya ke atas loteng, dan disem­burkanlah arak dari mulutnya ke arah Lulu. Wanita ini mengerti bahwa ada serangan dari belakang. Mejanya berputar dan ia menghadapi kakek Nepal itu. Melihat ada gumpalan seperti uap hitam kemerahan menyerangnya, Lulu cepat menggerakkan tangan mendorong sambil mengerahkan sin-kang. Uap arak itu membuyar, akan tetapi Lulu terkejut bukan main melihat betapa uap itu seo­lah-olah hidup, terpecah-pecah dan seper­ti serombongan ular terbang, terus menyerang ke arah mukanya! Dan pada saat itu, kakek Nepal sudah melontarkan guci yang kosong ke arah meja yang diinjaknya. “Desss!” Lulu lebih memperhatikan serangan uap aneh ke arah mukanya, maka dia meloncat ke atas meninggalkan mejanya yang pecah berantakan dihantam guci, kemudian di udara dia berjungkir balik, melayang ke arah kakek Nepal melampaui gumpalan uap tadi, langsung menghantam dengan Ilmu Pukulan Toat-beng Bian-kun! Kakek Nepal itu sesungguhnya hanya kuat ilmu hitamnya dan dia terlalu me­mandang rendah Lulu, tidak tahu bahwa wanita itu adalah bekas Ketua Pulau Neraka yang tersohor. Melihat wanita itu dapat menghindarkan serangan uap araknya dan kini melayang sambil memukulnya dengan dorongan telapak tangan yang membawa angin pukulan halus, dia terkekeh, lalu melonjorkan tangan me­nyambut pukulan tangan Lulu dengan niat menangkap tangan wanita itu! “Plakkk!” Telapak tangan kakek itu bertemu dengan telapak tangan Lulu, dan kakek itu terkekeh makin girang ketika merasa betapa telapak tangan itu halus, lunak dan hangat, sama sekali tidak mengandung tenaga sin-kang yang kuat. Akan tetapi, dia sama sekali tidak tahu bahwa Pukulan Toat-beng Bian-kun adalah semacam pukulan halus yang amat ber­bahaya. Lulu memperoleh ilmu pukulan mujijat ini dari Nenek Maya yang sakti, dan setelah dia tinggal di Pulau Neraka, pukulan ini diperhebat dengan hawa bera­cun. Jangankan baru kakek Nepal ini yang tidak berapa tinggi ilmunya, biar orang-orang terkuat di dunia kang-ouw jaranglah kiranya yang akan kuat menerima pukulan ini secara terbuka seperti itu. Suara ketawanya tiba-tiba berubah menjadi pekik mengerikan, tubuhnya se­ketika kaku seperti kemasukan api hali­lintar dan begitu tangan kiri Lulu me­nyusul dengan tamparan mengenai kepa­lanya, kedua telapak tangan yang saling menempel tadi terlepas, tubuh kakek Nepal terjengkang dan dia sudah tewas dengan muka berubah hitam! Gegerlah orang-orang Nepal melihat betapa pemimpin mereka tewas. Mereka tadinya berloncatan mengejar ke atas loteng dan kini Lulu mengamuk, mero­bohkan tiga orang lagi. Sementara itu di antara mereka ada yang sudah melihat wanita yang ditugaskan membunuh Kaisar menggeletak tanpa nyawa di dalam ka­mar peraduan, maka maklumlah mereka bahwa usaha mereka gagal sama sekali. Mulailah mereka menjadi panik dan ber­usaha untuk melarikan diri. Akan tetapi, Lulu yang telah meneri­ma perintah kaisar, tidak membiarkan mereka lolos. Dia selalu berkelebat me­nyerang dan merobohkan lawan yang hendak melarikan diri dan tidak lama kemudian, muncullah pasukan pengawal yang dipimpin oleh Kaisar sendiri dari pintu samping! Pasukan pembunuh menja­di makin kacau, mereka melawan mati-matian akan tetapi akhirnya mereka roboh semua seorang demi seorang! Pada saat itu telah menjelang fajar dan beberapa detik setelah orang ter­akhir pasukan pembunuh roboh, daun jendela ruangan itu pecah dan dua sosok tubuh melayang masuk ke ruangan itu. Lulu memandang kaget ketika mengenal bahwa yang baru masuk melalui jendela ini bukan lain adalah Ketua Thian-liong-pang si wanita berkerudung bersama dara jelita Milana. Kedua orang itu memegang pedang terhunus! “Tangkap Ketua Thian-liong-pang, se­kutu pemberontak!” Tiba-tiba kaisar membentak marah. Dia sudah mendengar akan kerja sama antara Koksu dan Thian-liong-pang yang tadinya dia setujui saja karena dia percaya kepada Koksu. Akan tetapi setelah kini ternyata Koksu memberontak, tentu saja Thian-liong-pang juga merupakan pemberontak, dan agak­nya Ketua Thian-liong-pang inilah yang memimpin pasukan pembunuh. Kaisar hanya menerima laporan Koksu tentang Ketua Thian-liong-pang yang katanya amat lihai dan seorang wanita berkeru­dung yang penuh rahasia. Mendengar bentakan kaisar ini, lima orang pengawal menerjang maju dengan senjata terhunus, mengurung dan hendak menyerang. “Jangan lancang!” Nirahai, wanita berkerudung itu membentak sambil meng­gerakkan tangan kiri dan lima orang pe­ngawal itu terpelanting ke kanan kiri! Melihat ini para pengawal terkejut dan Kaisar sendiri pun kaget sekali. “Biarkan hamba yang menghadapinya!” Lulu berkata lantang dan sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah melayang ke depan Nirahai. Untuk kedua kalinya, da­lam keadaan dan tempat yang jauh ber­lainan dari yang pertama, dua orang wa­nita sakti ini saling berhadapan! Bagaimanakah Nirahai, Ketua Thian-liong-pang itu dapat muncul secara tiba-tiba di situ bersama puterinya? Seperti kita ketahui, Nirahai bersama Bu-tek Siauw-jin menghadapi pengeroyokan Bhong-koksu dan Maharya yang dibantu oleh banyak sekali perwira dan pengawal yang kuat. Pertandingan hebat itu terjadi di dalam taman di istana Koksu dibantu oleh Maharya dan banyak tokoh Tibet dan Mongol yang lihai sekali, namun Ni­rahai dan Bu-tek Siauw-jin mengamuk dan merobohkan banyak orang dalam usaha mereka membobol keluar dari ke­pungan. Tadinya Nirahai berniat akan mengamuk terus sampai dia berhasil membunuh Bhong-koksu yang telah mem­berontak kepada Kaisar dan bersekutu untuk membunuhnya dan menghancurkan Thian-liong-pang, akan tetapi ketika mendengar betapa pada saat itu Koksu telah mengirim pasukan untuk menyerbu Thian-liong-pang, dia menjadi khawatir sekali dan bersama dengan Bu-tek Siauw-jin yang sudah bosan bertempur, dia membuka jalan darah untuk keluar dari kepungan. Kepandaian Ketua Thian-liong-pang ini, terutama dengan adanya Bu-tek Siauw-jin kakek aneh yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia, mem­buat kepungan Bhong-koksu dan kaki ta­ngannya kurang kuat dan akhirnya, sete­lah merobohkan banyak lawan, dua orang sakti itu berhasil membobol kepungan dan melarikan diri ke luar dari taman di belakang istana Koksu. Mereka lari berpencar. Nirahai lang­sung menuju keluar dari kota raja untuk pergi ke markasnya, sedangkan Bu-tek Siauw-jin keluar pula dari kota raja un­tuk mencari jejak muridnya. Baru saja Nirahai keluar dari tembok kota raja, dia bertemu dengan Milana yang berlari-lari. “Milana....!” dia memanggil dengan hati tidak enak. Puterinya bertugas men­jaga di markas dan kalau tidak terjadi sesuatu, tak mungkin Milana berani meninggalkan markas Thian-liong-pang. “Ibu....!” Melihat ibunya, Milana terus saja menangis sehingga hati Nirahai ma­kin tidak enak lagi. “Apa yang terjadi?” Nirahai bertanya sambil memeluk pundak puterinya yang menangis terisak-isak. Dengan suara terputus-putus Milana lalu menceritakan penyerbuan pasukan Koksu yang dipimpin Thian Tok Lama sehingga tokoh-tokoh Thian-liong-pang tewas semua, anak buah mereka pun sebagian besar tewas dan hanya sedikit saja yang kiranya dapat melarikan diri. Mendengar penuturan ini Nirahai marah bukan main. “Anjing pengkhianat Bhong Ji Kun....!” Dia memaki dan mengepal tinju. “Kita harus membalaskan kematian Bibi Wi Siang dan yang lain-lain, Ibu.” Milana berkata penuh sakit hati. “Bagaimana engkau dapat lolos?” Ti­ba-tiba Nirahai bertanya. Milana lalu meceritakan betapa dia dijadikan tawanan dan ditolong oleh Gak Bun Beng. “Dia memaksa aku melarikan diri dan memberikan pedang Hok-mo-kiam ini untuk diserahkan kepada Ayah.” “Hemmm...., anak itu memang baik sekali. Sungguh tidak tersangka. Milana, sekarang juga kita harus menghadap Kaisar. Agaknya sudah tiba saatnya aku kembali kepada kerajaan, membantu ke­rajaan dan membasmi Koksu pengkhianat itu dan kaki tangannya.” Demikianlah, ibu dan anak itu dengan cepat malam itu juga pergi ke istana dan tiba di istana menjelang pagi. Sebagai bekas puteri kaisar, tentu saja dengan mudah Nirahai dapat menyelundup ke istana dan langsung menuju ke bangunan istana bagian puteri karena di waktu larut malam seperti itu dia tidak berani mengganggu Kaisar. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia bersama Milana melihat keributan di istana bagian ini, melihat banyak thaikam menggeletak tewas dan banyak pula orang-orang ber­sorban tewas, bahkan di ruangan dalam masih terjadi pertempuran dan teriakan-teriakan para pengawal kaisar yang membantu Lulu membunuh orang-orang Nepal. Ketika mendengar bentakan Kaisar yang menganggapnya sebagai sekutu Kok­su dan perintah Kaisar untuk membunuh­nya, Nirahai berdiri tegak dan dia mendorong roboh lima orang pengawal yang menyerangnya. Kini Lulu berdiri di de­pannya dengan sikap menantang! “Hemm, sungguh tak kusangka kita akan saling bertemu lagi di sini, Thian-liong-pangcu! Lebih-lebih lagi tidak ku­sangka bahwa engkau begitu keji dan palsu, bersekutu dengan pemberontak untuk membunuh Kaisar! Setelah berada di depan Sri Baginda, engkau masih banyak berlagak. Orang lain boleh jadi takut kepadamu, akan tetapi aku tidak!” Lulu berkata, dan diam-diam dia merasa tidak suka kepada wanita berkerudung yang telah mengancam puteranya dan yang telah menolak pinangannya itu. “Kurung para pemberontak! Jangan biarkan mereka lolos!” Kaisar berseru lagi ketika dari pintu-pintu ruangan itu bermunculan pengawal-pengawal yang mendengar akan peristiwa di istana ba­gian puteri dan cepat memimpin pasukan untuk membantu. Kini tempat itu penuh dengan pasukan pengawal dan semua pintu dijaga ketat sehingga tidak ada jalan keluar Pagi bagi Nirahai dan Milana. “Pemberontak rendah, bersiaplah un­tuk mati!” Lulu membentak dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, menyerang Nirahai dengan pukulan-pukulan dahsyat. Karena dia maklum bahwa lawannya ini adalah seorang yang sakti, maka begitu menyerang, Lulu telah mainkan jurus dari Ilmu Silat Sakti Hong-in-bun-hoat dan tenaga pukulannya adalah Ilmu Toat-beng-bian-kun! “Plak! Plak! Heiiiittt!” Lulu melancat ke belakang setelah berseru nyaring, penuh keheranan karena Ketua Thian-liong-pang itu menangkis dan menghadapi serangannya dengan ilmu silat dan tenaga pukulan yang sama! “Aihh, ternyata betul kabar yang ter­siar bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah pencuri ilmu yang tak tahu malu!” bentak Lulu dengan penuh kemarahan. “Lulu, betapa bodohnya engkau!” Ti­ba-tiba suara di balik kerudung ini beru­bah halus dan Lulu tersentak kaget. “Kau.... kau.... siapakah....?” Pada saat itu, Milana sudah menja­tuhkan diri. berlutut menghadap kepada Kaisar sambil menangis dan berkata, “Mohon Sri Baginda sudi mengampun­kan hamba dan ibu hamba....! Thian-liong-pang sama sekali bukan pemberontak, bahkan sebaliknya. Thian-liong-pang selalu membantu kerajaan! Karena itulah, baru saja kemarin, Thian-liong-pang di­serbu dan dihancurkan oleh pasukan pemberontak Koksu pengkhianat, para pembantu Ibu tewas semua dan hamba sendiri pun nyaris tewas.... harap Paduka sudi mengampunkan ibu dan Ibu.... Ibu.... selamanya.... setia kepada Paduka....” Mi­lana tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia sudah menangis tersedu-sedu. Baru sekarang ini dia bertemu dengan Kaisar yang sebetulnya masih kakeknya sendiri! Dia menangis bukan karena takut melihat ancaman terhadap ibunya dan dia, melainkan merasa berduka dan ter­haru. Lulu juga mendengar ucapan ini. Dia ragu-ragu dan memandang wanita berke­rudung itu dengan bingung. Kini wanita berkerudung itupun menjatuhkan diri berlutut menghadap Kaisar dan terdengar suaranya lantang, “Sesungguhnyalah apa yang dikatakan oleh puteri hamba Milana itu. Semenjak dahulu, hamba adalah puteri Paduka yang setia....” Nirahai merenggut kerudung yang menutupi mukanya dan tampaklah wajah yang cantik agung dan diliputi penderita­an batin itu. “Suci (Kakak Seperguruan)....!” Lulu menjerit saking kagetnya karena sedikit pun tidak pernah diduganya bahwa Ketua Thian-liong-pang, ibu Milana, adalah Nirahai! “Nirahai....!” Kaisar juga berseru gi­rang, lalu melangkah maju. “Aihhh.... jadi engkaukah yang selama ini menjadi Ketua Thian-liong-pang? Dan gadis ini.... dia anakmu....?” Nirahai menggandeng tangan Milana, dibawa menghadap dah berlutut di depan Kaisar. “Harap Paduka sudi mengampun­kan hamba, Milana adalah anak hamba dan....” “....dan dia cucuku! Ahhhhh!” Kaisar menyentuh kepada Milana dengan ujung jari tangannya. “Nirahai, sukurlah bahwa engkau sudah kembali. Sekarang, kuserahkan seluruh pengawal. Seperti dahulu, pimpin mereka membersihkan pemberon­tak-pemberontak laknat itu! Tangkap Yauw Ki Ong dan Bhong Ji Kun, seret mereka ke pengadilan! Dan.... wanita ber­nama Lulu ini, siapakah dia? Sumoi-mu?”  “Dia adalah Lulu, Sumoi hamba dan.... dialah bekas Ketua Pulau Neraka yang telah dibasmi oleh pasukan kerajaan.” Nirahai berkata dan Lulu sudah menja­tuhkan diri berlutut. Kaisar mengelus jenggotnya dan me­narik napas panjang. “Hemm...., semua adalah gara-gara perbuatan Bhong Ji Kun yang khianat. Dialah yang melaporkan kepadaku bahwa Pulau Es dan Pu1au Ne­raka merupakan kekuatan-kekuatan ber­bahaya dan perlu dibasmi, dan aku selalu percaya kepadanya. Apalagi karena aku mengira bahwa engkau berada di Pulau Es.... ahh, benar-benar menyesal sekali aku, telah mendengar bujukan Si Palsu itu.” “Baik Thian-liong-pang, Pulau Es, dan Pulau Neraka tidak pernah memusuhi kerajaan!” Nirahai berkata dan Lulu ha­nya menundukkan mukanya karena dia benar-benar menjadi bingung sekali sete­lah mendapat kenyataan bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah Nirahai. Jadi puteranya, Wan Keng In, tergila-gila kepada anak Nirahai? Dan anak Nirahai berarti anak.... Han-koko, pikirnya terharu dan terkejut, karena bukankah sucinya itu pernah menjadi isteri Suma Han Si Pendekar Super Sakti? “Si keparat Bhong Ji Kun yang ber­dosa. Nirahai, dan engkau Lulu, aku menyerahkan tugas dan kekuasaan kepada kalian berdua untuk membasmi pembe­rontak. Setelah itu barulah kita bicara. Nah, terimalah pedangku sebagai lambang kekuasaan tertinggi!” Kaisar meloloskan pedang yang sarungnya bertahtakan naga dan burung Hong, menyerahkan pedang itu kepada Nirahai yang menerimanya sambil berlutut. Kemudian, dikawal oleh pengawal-pengawal pribadinya, Kaisar mengundurkan diri dan Nirahai lalu me­ngajak Lulu dan Milana untuk mengatur pasukan bersama para panglima istana yang kini menganggap Nirahai sebagai kepala mereka. Para panglima yang tua tentu saja masih mengenal Nirahai dan mereka girang sekali mendapatkan pim­pinan wanita sakti ini karena yang mere­ka lawan adalah Koksu yang dibantu oleh banyak orang lihai. Akan tetapi, ketika Nirahai yang di­bantu oleh Lulu mengerahkan pasukan untuk membikin pembersihan, ternyata bahwa Pangeran Yauw Ki Ong, Bhong-koksu dan semua pembantunya, diam-diam telah lolos dari kota raja dan me­larikan diri ke utara untuk bergabung dengan sekutu mereka dan membentuk barisan untuk menyerang kerajaan secara terbuka! Dengan penuh rasa penasaran, Nirahai lalu mengerahkan pasukan, me­lakukan pengejaran ke utara, tetap di­bantu oleh Lulu. Adapun Milana tidak ikut membantu ibunya karena dara ini bersikeras untuk mencari ayahnya, me­nyerahkan pedang Hok-mo-kiam dan juga diam-diam dara ini mengkhawatirkan keadaan Bun Beng yang sama sekali tidak dia ketahui bagaimana nasibnya. Berangkatlah pasukan besar yang di­pimpin oleh Puteri Nirahai, menuju ke perbatasan utara untuk mengejar para pemberontak. Semangat pasukan itu besar sekali karena mereka menaruh keperca­yaan penuh kepada Puteri Nirahai yang dahulu pun telah amat terkenal sebagai seorang pemimpin yang pandai dan gagah perkasa. Apalagi karena Puteri Nirahai adalah puteri kaisar sendiri! *** Tubuh Bun Beng terayun-ayun di ujung bambu yang dipikul Bu-tek Siauw-jin. Pemuda ini maklum bahwa dia tadi telah ditolong oleh kakek pendek yang luar biasa ini. Dia tidak tahu siapa kakek ini, dan di dalam gelap tadi dia tidak dapat memperhatikan wajahnya. Kini, bulan sepotong menimpakan cahaya yang cukup terang, akan tetapi dia tergantung di ujung bambu seperti seekor binatang buruan, seperti seekor kijang atau babi hutan yang tertangkap, kaki dan tangannya masih terbelenggu dan tergantung di belakang tubuhnya. Dari tempat ia bergantung, dia hanya dapat melihat punggung tubuh yang pendek dengan ram­but riap-riapan, langkah-langkah kedua kaki kecil pendek dengan gerak pinggul yang lucu, seperti menari-nari! “Heh-heh-heh, tentu akan terjadi pe­rang lagi. Tentu debu-debu jalanan akan mengebul kotor dilanda barisan bala ten­tara yang berbaris. Ramai! Ramai!” Kakek cebol itu lalu mengayun langkah pendek-pendek, berlenggang meniru ge­rakan pasukan berbaris. Bambu panjang yang dipanggulnya, bergerak naik turun dan dipegang seperti tentara memanggul tombak, mulutnya meniru aba-aba ko­mandan pasukan, “Tu-wa! Tu-wa! Tu-wa!” Diam-diam Bun Beng mendongkol sekali. Karena ayunan itu, tentu saja tubuhnya ikut terangguk-angguk di ujung bambu, membuat kepalanya makin pe­ning! Celaka, pikirnya, kakek cebol ini agaknya sudah terlalu tua dan pikun sehingga berubah seperti kanak-kanak, atau memang otaknya agak miring! Sukar diduga apa yang akan menimpa dirinya yang terjatuh ke dalam tangan seorang kakek gila yang sakti, sedangkan dia menderita luka dalam yang amat parah sehingga jangankan mempergunakan tena­ga dan kepandaiannya, bahkan melepaskan diri dari belenggu kaki tangannya saja dia tidak sanggup. Setiap pengerahan sin-kang akan mempercepat nyawanya melayang. Maka diapun tidak bergerak dan tidak bersuara, hanya menyerahkan nasibnya di tangan kakek cebol yang aneh itu. Memang kalau orang belum tiba saat­nya tewas, ada saja penolongnya seperti halnya Bun Beng. Dia sudah terancam maut di tangan Thian Tok Lama dan Wan Keng In, menjadi tawanan dan tiada ha­rapan lagi baginya untuk meloloskan diri. Sungguh kebetulan sekali, ketika dia me­nolong Milana, berhasil membebaskan dara itu dan dia sendiri mengamuk, ada sepasang mata yang menonton semua itu dengan penuh rasa kagum. Sepasang mata itu adalah mata Bu-tek Siauw-jin yang sedang mengikuti jejak Pendekar Super Sakti. Kalau saja Bu-tek Siauw-jin tidak menyaksikan semua peristiwa ketika Bun Beng menyelamatkan Milana di atas pohon, agaknya kakek ini tidak mau mencampuri urusan, apalagi menolong Gak Bun Beng yang sama sekali tidak dikenalnya. Bukan hanya sikap dan kata-kata Bun Beng yang menggerakkan hati kakek itu, menimbulkan kekaguman dan rasa suka, akan tetapi terutama sekali ketika ia menyaksikan dengan penuh keheranan betapa Gak Bun Beng mampu mengha­dapi Wan Keng In dan Thian Tok Lama, bahkan dengan bantuan pasukan yang mengeroyoknya. Dia menyaksikan betapa ilmu kepandaian pemuda itu luar biasa sekali, dan seandainya pemuda itu tidak menghadapi pedang Lam-mo-kiam di ta­ngan Wan Keng In, agaknya belum tentu pasukan itu dapat menawannya. Sebagai seorang sakti, Bu-tek Siauw-jin terheran-heran dan ingin sekali tahu dari mana pemuda itu memperoleh kepandaian yang demikian tinggi, maka ia mengambil keputusan untuk menculik Bun Beng. Bukan semata-mata karena dia tertarik dan kagum kepada Bun Beng, juga sebagian terdorong oleh rasa tidak sukanya kepada Wan Keng In, murid suhengnya itu! Setelah kini Bun Beng dapat diculik­nya, dia menjadi bingung sendiri, tidak tahu apa yang harus dia lakukan terhadap pemuda itu, maka dipanggulnya seperti seekor babi hutan yang tertangkap, diba­wa melanjutkan mengikuti jejak Pendekar Super Sakti. Apalagi ketika matanya yang tajam mendapat kenyataan bahwa pemuda yang ditolongnya itu menderita luka pu­kulan yang amat hebat, dan untuk me­nyembuhkannya bukan merupakan hal yang mudah. Biarlah kuserahkan dia ke pada Pendekar Super Sakti, pikir kakek itu. Ketika Bun Beng dan Milana berca­kap-cakap tentang cinta mereka di atas pohon, kakek ini mencuri dengar, maka dia tahu bahwa pemuda yang dipanggul­nya ini saling mencinta dengan puteri Pendekar Super Sakti. Calon mantu! Ten­tu pendekar itu akan girang kalau dia beri “hadiah” calon mantunya ini! Bu-tek Siauw-jin memang pandai sekali mengikuti jejak orang. Setelah tiba di balik bukit kecil di mana terdapat tumpukan batu-batu gunung tampaklah olehnya Pendekar Super Sakti berdiri tegak dengan kaki kanannya, tangan kiri memegangi tongkatnya dan wajahnya diangkat memandang ke arah bulan sepo­tong, diam tak bergerak seperti arca! Rambutnya yang panjang putih itu ter­timpa sinar bulan pucat, menjadi makin mengkilat putih seperti perak. Lengan kanannya menyilang depan dada, berpe­gang pada lengan kiri. Hanya ujung rambutnya yang putih panjang itu saja ber­gerak sedikit tertiup angin malam. “Brukkkk!” Bambu itu dilemparkan ke bawah oleh Bu-tek Siauw-jin dan tentu saja tubuh Bun Beng terbanting ke atas tanah, akan tetapi ternyata bantingan itu tidaklah keras benar dan tubuh Bun Beng terjatuh miring sehingga hanya pundak dan pangkal pahanya saja yang terbanting. Ia tetap miring dan dapat melihat kakek cebol itu berjalan meng­hampiri Pendekar Super Sakti yang sama sekali tidak bergerak seolah-olah suara kedatangan kakek itu tidak terdengar olehnya, atau kalau terdengar juga, tentu tidak dipedulikannya sama sekali. Sebetulnya kakek cebol itu girang sekali berhasil mencari Pendekar Super Sakti yang amat ia kagumi. Akan tetapi betapa kecewa hatinya ketika ia meng­hampiri pendekar kaki buntung itu, ia melihat Suma Han sama sekali tidak peduli kepadanya dan pendekar itu ter­nyata sedang termenung memandang bulan dengan air muka penuh duka! Bu-tek Siauw-jin menggeleng-geleng kepala, berjalan hilir-mudik di depan pendekar itu sambil menaruh kedua ta­ngan di punggungnya. Kadang-kadang dia berhenti di depan pendekar itu, menatap wajahnya dan melihat reaksi satu-satunya pendekar itu hanya berulang kali meng­hela napas panjang, kembali ia mengge­leng-geleng kepala dan berjalan hilir-mu­dik lagi. Biarpun dirinya menderita nyeri dan belum mampu membebaskan diri, Bun Beng yang rebah miring itu memandang dengan bengong. Kakek cebol itu agaknya benar-benar sinting! Akan tetapi mengapa Pendekar Super Sakti diam saja? Apakah mereka telah saling mengenal? Tadinya dia merasa tegang, tertarik sekali karena pasti akan ramai bukan main kalau sam­pai kakek cebol yang ia tahu amat sakti itu bertanding ilmu melawan Pendekar Siluman! Akan tetapi, sungguh sama se­kali tidak diduganya, kini kedua orang sakti itu bersikap luar biasa sekali. Pen­dekar kaki buntung itu tetap berdiri te­gak sedangkan kakek cebol itu berjalan hilir-mudik sambil menggeleng-geleng kepala. Hal ini berlangsung sampai sejam lebih! Benar-benar sinting mereka itu! Akhirnya terdengar kakek cebol itu bersenandung, suaranya serak parau tidak enak didengar, akan tetapi kata-katanya aneh dan jelas menyindir keadaan Suma Han. “Sekali hidupsiapa minta? segala macam peristiwa menimbulkan suka duka salah siapa?  Apapun yang terjadi tak mungkin dirobah tiada hubungan dengan suka duka mengapa susah?  Kakek bulan puntidak selalu sempurna mengapa kecewa?  Tuhan tidak mengharuskan setan tidak memaksa tawa atau tangis! Yang senang memang bodoh tapi yang berduka lebih tolol lagi!”  Kini tubuh Suma Han bergerak. Ter­dengar dia menghela napas panjang lalu menurunkan muka memandang kakek itu yang telah berdiri di depannya. “Hemm, Bu-tek Siauw-jin. Yang menonton me­mang berbeda dengan yang merasakan! Memang amat mudah mencela, semudah membalikkan telapak tangan, akan tetapi yang merasakannya sendiri barulah dapat menilai akan ringan beratnya.” Kakek itu tertawa. “Memang baru terasa ringan atau berat kalau dirasakan. Eh, Pendekar Siluman, engkau kelihatan berduka sekali, lebih muram dan pucat daripada bulan itu. Tentu engkau merasa betapa berat penanggungan derita hatimu setelah kaurasakan. Kalau begitu, me­ngapa dirasakan?” “Karena aku ada pikiran.” “Siapa menyuruh engkau memikirkan sampai engkau menderita susah?” “Tidak ada yang menyuruh.” “Nah, kalau begitu engkau tentu tahu betapa bodohnya engkau. Kita mempu­nyai pikiran, apakah tepat kalau pikiran itu kita pergunakan untuk memikirkan hal-hal yang menimbulkan duka? Daripada pikiran dipergunakan secara keliru seper­ti itu, jauh lebih baik dipergunakan untuk memikirkan mengapa kita sampai berdu­ka! Karena sesungguhnya, suka maupun duka bukan datang dari luar melainkan dari pikiran kita sendiri itulah!” “Bu-tek Siauw-jin, memang hidup ini isinya suka atau duka. Kita tidak dapat terlepas daripada pengaruh Im dan Yang, dan kedua unsur inilah yang membentuk hidup, memberi isi kepada hidup, tanpa mengenal duka, bagaimana kita dapat mengenal suka?” Suma Han menjawab setelah menghela napas panjang. “Ha-ha-ha, Suma-taihiap, Pendekar Super Sakti yang namanya tersohor di seluruh dunia, Pendekar Siluman Majikan Pulau Es yang membuat iblis sendiri menggigil ketakutan, kiranya hanyalah seorang manusia lemah yang tunduk kepada pengaruh Im dan Yang. Sungguh mengherankan sekali, engkau yang mem­buka hati dan pikiranku di dalam kamar tahanan, engkau yang menyalakan api di dalam diriku, ternyata engkau sendiri ti­dak tahu akan api itu dan masih tinggal terbuai di alam mimpi dalam tidur nye­nyak. Ternyata engkau yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, hanyalah seorang yang hidupnya tidak bebas, yang terikat oleh keadaan dari luar, yang ditentukan oleh segala filsafat, pelajaran, dan ke­nangan masa lampau. Sungguh kasihan!” Tentu saja Suma Han menjadi penasaran sekali. “Kau sombong, Bu-tek Siauw-jin!” dan pendekar ini menjatuhkan tu­buhnya duduk bersils di atas sebuah batu. “Aku hanya bicara tentang kenyataan, dan pendapatmu bahwa aku sombong kembali membuktikan kelemahanmu, eng­kau tidak mau membuka mata melihat keadaan diriku, tidak mau mengerti melainkan menurutkan isi pikiran sendiri yang selalu menyesatkan.” Kakek itupun menggerakkan tubuhnya dan “bruuk!” dia sudah duduk pula di atas sebongkah batu besar tak jauh di depan Suma Han. Sejenak keduanya berpandangan. Cuaca mulai gelap dan Bun Beng masih rebah miring, mendengarkan dengan penuh keheranan. Dia merasa tegang sekali dan juga ingin dia menyaksikan, bah­kan mengharapkan terjadinya perang tan­ding di antara dua orang yang memiliki kesaktian tinggi ini. Akan tetapi dia kece­wa! Ternyata kedua orang itu mulai ber­tanding suara, berbantahan dan berdebatan tentang hidup. Namun, makin dide­ngar, makin tertariklah hati Bun Beng karena yang dipercakapkan dua orang aneh itu adalah hal-hal mengenai rahasia hidup dan makin didengar, makin terbu­kalah mata batin pemuda ini sehingga dia merasa seolah-olah tubuhnya disiram air dingin yang membuatnya sadar. “Bu-tek Siauw-jin, bicaramu makin memanaskan perut dan ngawur!” Suma Han menyerang dengan suara mengejek. “Kau seolah-olah memandang rendah ke­pada pikiran yang kaukatakan selalu menyesatkan. Tanpa pikiran bagaimanakah manusia dapat hidup?” “Aku tidak mengatakan bahwa kita harus hidup tanpa pikiran. Akan tetapi engkau, juga aku selama ini, kita manu­sia selalu diperbudak oleh pikiran, segala gerak hidup dikemudikan oleh pikiran. Coba buka mata batinmu dan mari kita jenguk kita lihat keadaan kita ini, keadaan pikiran kita. Memang hidup mem­butuhkan tenaga pikiran untuk mengingat-ingat dan mengenal benda, untuk bekerja dan untuk menyelesaikan segala macam urusan lahiriah. Pikiran perlu pula untuk mempelajari hal-hal mengenai keperluan hidup, namun terbatas kepada urusan lahiriah. Sekali pikiran terjun ke dalam dan mengacau batin, hidup menja­di rusak karena kita menjadi boneka-boneka hidup yang dikemudikan oleh pikiran!” “Trakkk!” Ujung batu yang diduduki Suma Han cuwil oleh tangan Si Pendekar yang mencengkeramnya. “Siauw-jin, siapa sudi bicara main-main denganmu? Hati-hatilah engkau bicara, jangan mencoba mengusik hatiku yang sedang tidak se­nang. Aku tidak ingin kesalahan tangan membunuh seseorang yang telah bersikap baik kepada keponakanku!” “Nah, itulah contohnya kalau orang selalu dipengaruhi oleh pikiran sendiri, Suma-taihiap. Kalau sampai engkau turun tangan dan berhasil membunuhku, bukan­lah aku yang mengusik hatimu, melainkan pikiranmu sendiri. Pikiran memang men­jadi biang keladi segala peristiwa di dunia ini, pikiran amat licin dan cerdiknya menipu diri sendiri. Ha-ha-ha!” “Hemmm, engkau bicara seperti orang gila, seperti teka-teki. Apa maksudmu?” “Seperti kukatakan tadi, suka maupun duka bukan datang dari luar melainkan dari pikiran kita sendiri, karena itu, se­bagai seorang yang bijaksana dan sakti sepertimu ini, mengapa mau saja diper­budak oleh pikiran?” “Bu-tek Siauw-jin, ucapanmu aneh dan kacau-balau. Aku telah dikurniai pikiran, mengapa tidak akan kupergunakan?” “Ha-ha-ha, siapa yang mengurniaimu? Dan siapakah itu yang kausebut aku yang mempunyai pikiran? Pendekar Super Sak­ti, dengarlah baik-baik segala yang hen­dak kukemukakan, karena semua kesadar­an ini kudapat setelah mendengar petun­jukmu di dalam kamar tahanan. Dengarkanlah dengan hati kosong terbuka, tanpa penilaian, tanpa kesimpulan, dengarkan saja baik-baik. Aku bukan bermaksud memberi pelajaran kepadamu, bukan bermaksud menguliahi. Sama sekali tidak karena engkau jauh lebih pandai daripada aku. Maukah engkau mendengarkan?” “Bicaralah, kakek aneh.” “Pikiran adalah penampungan masa lalu, gudang dari semua hal yang dialami seratus tahun yang lalu atau kemarin. Pikiran adalah kenangan dari semua itu, mengenangkan hal yang menyenangkan dan hal yang tidak menyenangkan. De­ngan sendirinya pikiran menciptakan Si Aku yang tentu saja segera melakukan pemilihan, menghindarkan hal yang tidak menyenangkan dan rindu akan hal yang menyenangkan. Kalau sudah begini, bagaimana tidak akan timbul suka dan duka? Bagaimana tidak akan timbul iri, dendam, benci dan sengsara?” “Nanti dulu!” Suma Han berkata nya­ring dan untuk sejenak keduanya berdiam, menerima ucapan tadi yang meresap di dalam diri mereka. “Coba jelaskan lagi, bagaimana pikiran mula-mula mengemudi­kan dan menguasai kita.” “Kita melihat setangkai kembang yang indah dan harum. Tidak akan terjadi aki­bat sesuatu yang buruk dari kejadian ini. Akan tetapi pikiran masuk dan mengacaunya. Pikiran membayangkan hal-hal yang menyenangkan dari masa lalu mengenai kembang itu, dan karena pikir­an berputar dengan pusatnya Si Aku yang diciptakannya, maka timbullah nafsu keinginan untuk memetik kembang itu, untuk menciumnya, dan untuk mengambilnya sebagai miliknya pribadi! Nah, setelah demikian, mulailah kekacauan yang akan terus berekor dan berakibat. Kembang dipetik secara kasar dan marahlah Si Pemilik kembang, disusul percekcokan dan lain-lain.” “Aku dapat mengikuti dan mengerti uraianmu itu, Bu-tek Siauw-jin, dan memang agaknya tidak salah lagi bahwa nafsu keinginan timbul dari pikiran yang mengenangkan pengalaman masa lalu yang memisah-misahkan kesenangan dan penderitaan. Hal-hal yang menimbulkan kesenangan melekat dan ingin didapatkan terus, sedangkan hal yang sebaliknya ingin dihindarkan. Pendapat dibentuk dan ditentukan oleh pusat yaitu Si Aku, se­hingga yang menyenangkan Si Aku selalu dikejar, yang menyusahkan Si Aku dijauhi. Ini menimbulkan pertentangan-pertentang­an. Benar sekali! Akan tetapi, apa hu­bungannya dengan iri?” “Karena nafsu ingin memiliki yang menyenangkan sudah ditimbulkan pikiran, maka melihat yang menyenangkan dimi­liki orang lain, timbullah kecewa dan iri hati. Yang menimbulkan iri tentulah hanya yang menyenangkan saja.” “Bagaimana dengan dendam dan ben­ci?” “Dendam menimbulkan benci dan keduanya ini memang serupa. Dendam kebencian inipun ditimbulkan oleh pikiran yang mengenangkan masa lalu, menge­nangkan hal-hal tidak menyenangkan yang dilakukan orang lain kepadanya. Kebenci­an kepada seseorang akan melekat terus selama pikiran mengenangkan masa lalu yang tidak menyenangkan dirinya itu. Si Aku diganggu, dirugikan, dibikin tidak senang, pikiran berupa ingatan atau kenangan memperkuat ini dan menimbul­kan dendam kebencian. Semua ini tentu saja melahirkan pertentangan, permusuhan dan kesengsaraan.” Suma Han duduk bersila, diam tak bergerak seperti arca. Kata-kata yang keluar dari mulut kakek itu seolah-olah terasa olehnya mengalir dingin ke dalam tubuhnya, menyentuh kesadarannya, na­mun keadaan dirinya yang semenjak kecil sudah terisi oleh pengaruh Im dan Yang itu, membuyarkan kembali kekuatan pemersatu yang timbul dari pengertian itu, dan tubuhnya bergoyang-goyang kembali. “Apa hubungannya semua itu dengan kedukaanku, Bu-tek Siauw-jin?” “Kedukaan? Hemmmm.... kedukaan­mu?” Kakek itu diam sejenak. Pengertian yang tiba-tiba memastikan dirinya, se­olah-olah ada sesuatu yang membukanya semenjak dia bertemu dengan Pendekar Siluman di kamar tahanan itu, belum menyerap benar di sanubarinya sehingga dia harus membuka mata batin lebar-lebar dan menghilangkan segala pengha­lang yang menutupi dirinya sendiri sela­ma ini. Maka pertanyaan itupun mem­buatnya ragu-ragu. Akan tetapi kemudian dia menjawab lancar, “Sebelumnya maaf­kan kalau kata-kataku kau anggap tidak tepat. Akupun hanya seorang pencari yang baru saja mulai, Pendekar Siluman. Marilah kita cari bersama persoalan duka ini. Apakah sebenarnya duka di hati? Bagaimana timbulnya dan dari mana timbulnya? Saya berduka misalnya. Tentu berduka tentang sesuatu yang telah lalu. Sebuah pengalaman lalu yang amat tidak menyenangkan hati, berlawanan dengan keinginan hatiku dan apa yang kuinginkan tidak tercapai. Dari semua inilah timbul­nya duka, bukan? Dan bagaimana keduka­an timbul? Tentu saja kalau pikiran kita main-main lagi, mengenangkan hal yang lalu itu. Jadi, sebetulnya duka itu tidak ada, sahabatku. Yang ada hanyalah per­mainan pikiran yang menggali masa lalu, bayangan-bayangan masa lalu ini ditekan-tekankan sendiri dalam perasaan, maka datanglah duka. Sebetulnya yang ada itu bukan, karena yang ada itu diadakan oleh pikiran sendiri! Bukankah demikian, Suma-taihiap?” Bun Beng mendengarkan dengan penuh perhatian. Hatinya tertarik sekali. Cuaca sudah menjadi gelap dan dia tidak lagi dapat melihat wajah kedua orang itu. Akan tetapi telinganya dapat menangkap semua percakapan. Kini kedua orang itu berhenti bicara, sampai lama keadaan sunyi sekali. Kesunyian yang amat dalam, kesunyian yang amat suci dan bersih, kesunyian yang mencakup segala apa di dunia ini. Bun Beng merasa seolah-olah dia hidup di dunia yang baru. Sunyi melenggang kosong luas tak terukur, tak terjangkau oleh pikiran. Suara daun ge­merisik ditiup angin, suara jengkerik dan belalang yang mulai berdendang menyam­but malam, suara burung kemalaman yang terbang lewat mencicit bingung mencari sarang mereka, semua suara itu bukanlah lawan kesunyian, bukan pula merusak kesunyian melainkan menjadi bagian dari kesunyian itu sendiri. Dia rebah di atas tanah, dua orang sakti yang tidak tampak lagi duduk di atas batu, bau tanah yang sedap, rasa pegal di kedua lengannya dan kakinya yang terikat, rasa di kepalanya yang minta digaruk, semua ini menjadi bagian dari kesunyian yang luas itu. Kesunyian suci, tidak tersentuh oleh waktu, tidak ada kemarin dan esok, tidak ada bagaimana dan mengapa! Dua orang sakti itu masih terus ber­debat atau bertukar pikiran mengenai hidup, dan tentu saja dalam kesempatan ini, Suma Han membongkar semua penge­tahuan filsafat yang dimilikinya, untuk melawan ucapan kaken yang selalu me­ngemukakan fakta apa adanya, bukan sebagai pelajaran atau filsafat baru, melainkan sebagai hasil pandangan mata batin yang terbuka lebar, tidak lagi di­gelapkan atau dibikin suram oleh segala pendapat dan pelajaran hafalan yang te­lah lalu. Bun Beng hanya kadang-kadang saja mendengarkan karena dia merasa betapa dada dan lehernya nyeri bukan main. Teringatlah dia bahwa dia telah terkena pukulan beracun yang amat jahat dari Wan Keng In. Dia berusaha melepaskan ikatan tangan kakinya. Kalau menggunakan sin-kang, tentu sekali reng­gut saja akan putus ikatan kaki tangan­nya itu, akan tetapi bukan hanya ikatan itu yang akan putus, juga nyawanya mungkin akan putus pula! Luka di dalam tubuhnya akibat pukulan beracun itu tidak memungkinkan dia mengerahkan sin-kang. Bun Beng perlahan-lahan meng­gulingkan tubuhnya mendekati sebuah batu karang, kemudian dia mulai meng­gosok-gosokkan tali pengikat tangannya di belakang tubuh itu kepada pinggiran batu yang tajam. Karena tidak berani mengerahkan tenaga dalam, Bun Beng bekerja perlahan-lahan, hanya mengandal­kan tenaga luar. Tekun sekali dia me­ngerjakan semua ini sehingga hanya kalau dia berhenti mengaso saja dia da­pat mendengar percakapan dua orang itu sekarang. Baginya, lebih penting melepas­kan ikatan kaki tangannya yang kalau dibiarkan dapat membuat jalan darahnya terganggu sekali. Karena pekerjaan yang lambat dan makan waktu ini, maka sete­lah malam terganti pagi, barulah dia berhasil melepaskan ikatan kaki dan tangannya. Dia cepat duduk bersila dan mengatur pernapasan, memulihkan jalan darah pada pergelangan kaki tangan yang terlalu lama terikat itu. Terdengar pula olehnya kedua orang sakti itu masih berdebat! “Memang enak saja menjadi orang seperti engkau yang tidak dilanda pende­titaan batin seperti yang kualami semua, Bu-tek Siauw-jin. Enak saja untuk bicara tentang hidup karena memang agaknya hidupmu berjalan lancar tanpa gangguan! Akan tetapi, aku? Terhadap orang seper­ti engkau tidak perlu aku menyembunyikannya lagi. Kaudengarlah dan coba pertimbangkan, bagaimana aku tidak akan berduka selama hidupku?” Pendekar Super Sakti yang sedang tenggelam dalam ke­dukaan hebat itu lalu membuka semua rahasia hatinya kepada Bu-tek Siauw-jin. Tanpa disengaja, Bun Beng ikut pula mendengarkan, akan tetapi sebagian dari rahasia itu memang sudah diketahui oleh pemuda ini. Akan tetapi, mendengar penuturan semua itu, diapun terkejut, terheran dan merasa terharu sekali. Tidak disangkanya bahwa pendekar besar yang dikaguminya, yang dijunjungnya tinggi itu adalah seorang yang telah di­landa kepahitan hidup yang demikian hebatnya! “Tanpa kusadari aku saling mencinta dengan adik angkatku, dan karena aku buta, karena aku hendak mengingkari perasaan sendiri, aku setengah memaksa­nya untuk menikah dengan orang lain! Kemudian aku melibatkan diri dengan Puteri Nirahai yang mengorbankan kedu­dukannya sebagai puteri kaisar dan pa­nglima besar untuk menjadi isteriku. Namun, hanya sebulan kemudian dia telah meninggalkan aku karena kami tidak sepaham mengenai jalan hidup selanjutnya. Kami berpisah dan aku hidup merana, hatiku terobek oleh dua perasaan cinta kasih, terhadap adik angkatku dan ter­hadap isteriku. Aku berusaha mengubur semua kedukaan di Pulau Es, menjadi Majikan Pulau Es. Namun, nasib masih terus mempermainkan diriku, memaksaku berjumpa lagi dengan mereka berdua! Adik angkatku yang telah berputera seorang itu ternyata telah meninggalkan suaminya yang gugur dalam perang kare­na patah hati, dan ternyata adik angkat­ku itu pun menderita karena cintanya kepadaku. Dan engkau tentu tahu siapa dia karena dia menjadi Ketua Pulau Neraka. Adapun Puteri Nirahai, isteriku yang telah mempunyai seorang anak perempuan, anak kami berdua, kini malah menjadi Ketua Thian-liong-pang! Coba pikir, menghadapi semua ini, bagaimana aku dapat bertahan untuk tidak berduka?” Sejenak keadaan sunyi, yang terde­ngar hanya tarikan napas panjang dari kedua orang sakti itu. Setelah agak lama, Bu-tek Siauw-jin berkata, perlahan “Wahh, aku sendiri selamanya tidak bera­ni berurusan dengan wanita, Taihiap. Me­nurut dongeng, wanita adalah satu-satu­nya mahluk yang dapat menguasai pria, satu-satunya mahluk yang paling aneh dan sukar dimengerti. Katanya, hanya wanita yang sanggup menciptakan surga dunia maupun neraka dunia bagi seorang pria, dan jatuh bangunnya seorang pria banyak tergantung kepada seorang wanita. Memang sekarang kusadari bahwa segalanya tergantung kepada kita sendiri, kepada pikiran kita, akan tetapi aku ngeri kalau membayangkan betapa daya tarik seorang wanita, polah tingkahnya, wibawa dan pengaruhnya, akan dapat menghancurkan dan menjatuhkan segala pertahanan hati seorang pria. Sehingga kini seorang gagah perkasa seperti eng­kau pun roboh dan merana karena wanita, apalagi kalau engkau dikeroyok oleh dua orang wanita seperti itu! Hukkh, ngeri aku memikirkannya! Apakah.... apakah mereka itu masih mencintamu, Taihiap?” “Agaknya demikianlah.” “Dan engkau pun mencinta mereka?” “Sejak dahulu sampai saat ini.” “Huh, mengerikan! Cinta! Celaka, pikiranku buntu, Taihiap. Aku tidak bisa mempertimbangkannya, apalagi memberi nasihat aea yang harus kaulakukan!” Kembali sunyi senyap karena kedua orang sakti itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, memikirkan jalan apa yang terbaik menghadapi dua orang wani­ta yang menghancurkan hidup pendekar kaki satu itu. Tiba-tiba terdengar suara lantang dan nyaring, “Seorang isteri harus dalam keadaan apapun juga ikut dengan suaminya! Se­orang kekasih harus setia dan ikut ke mana juga kekasihnya pergi. Seorang laki-laki sejati harus tidak lari daripada pertanggungan jawabnya dan tidak meng­ingkari perasaan hatinya sendiri!” Dua orang sakti itu terkejut dan tampak dua sosok bayangan berkelebat cepat sekali, tahu-tahu Suma Han dan Bu-tek Siauw-jin telah berdiri di depan Bun Beng yang masih duduk bersila di atas tanah. “Ahhh, engkau bisa membebaskan diri dari ikatanmu?” Bu-tek Siauw-jin berta­nya heran dan agaknya baru kakek ini teringat kepada pemuda yang diculiknya. “Ah, engkau terluka hebat, nyawamu terancam maut!” Suma Han berseru kaget. Gak Bun Beng sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kedua orang itu. “Ha­rap Suma-taihiap sudi memaafkan saya yang mengganggu, dan terima kasih saya aturkan kepada Bu-tek Siauw-jin Locian­pwe yang telah menolong saya.” “Engkau.... Gak Bun Beng!” Kini Suma Han berseru setelah mengenal wajah pe­muda itu di bawah cuaca yang masih remang-remang. “Ha-ha-ha-ha, sudah tahu namaku Siauw-jin (Manusia Hina) masih menyebut locianpwe (orang tua gagah) pula. Engkau ini mengangkat atau membanting?” Bun Beng tak dapat membantah kata-kata kakek sinting itu, maka dia diam saja, dan kakek itu melanjutkan kata-katanya, kini ditujukan kepada Suma Han. “Tahukah engkau mengapa aku me­nolongnya, Pendekar Siluman? Setelah engkau ceritakan padaku bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah isterimu, maka aku menolong pemuda ini karena pemuda ini telah menyelamatkan puterimu. Tadi­nya aku tidak tahu bahwa dara itu puterimu. Hemm, sungguh kebetulan sekali.” “Milana? Mengapa dia?” Suma Han bertanya kepada Bun Beng. Bun Beng lalu menceritakan semua pengalamannya. Betapa di dalam hutan dia melihat Milana menjadi tawanan Wan Keng In dan Thian Tok Lama yang me­mimpin pasukan menghancurkan Thian-liong-pang. Betapa dia telah berhasil pula mengembalikan pedang Hok-mo-kiam kepada Milana untuk diserahkan kepada Pendekar Super Sakti.  “Sukur bahwa puteri Taihiap telah dapat saya bujuk supaya melarikan diri membawa Hok-mo-kiam. Saya menahan mereka agar tidak melakukan pengejaran. Akan tetapi mereka itu lihai sekali, terutama Wan Keng In dengan Lam-mo-kiam di tangannya, dan Thian Tok Lama. Akhirnya saya roboh dan sebelum terto­long oleh Locianpwe ini, Wan Keng In telah memukul saya dengan pukulan beracun.” “Heh-heh, agaknya dia memukulmu dengan Toat-beng-ci-tok, dan siapa yang menderita pukulan ini, dalam waktu dua puluh empat jam akan tewas. Bocah se­tan itu telah memiliki kepandaian tinggi dan tenaganya pun hebat. Nyawamu ter­ancam, Gak Bun Beng,” kata Bu-tek Siauw-jin setelah memeriksa sebentar. “Tidak, dia harus diobati sampai sembuh. Jasanya terhadap aku sudah ter­lampau besar sehingga aku rela mengor­bankan nyawaku untuknya. Dia telah menyelamatkan Milana, telah mengemba­likan Hok-mo-kiam, dan.... dan terutama sekali ucapannya tadi telah membuka mata batinku, telah mendatangkan kete­gasan dalam hatiku sehingga lenyaplah segala duka nestapa yang tolol selama ini. Bu-tek Siauw-jin, engkau harus mem­bantuku mengobati sampai sembuh, kalau tidak, aku akan menuntut engkau yang lancang berani mengambil keponakan dan muridku sebagai muridmu,” kata Suma Han. “Wah-wah, ini namanya pemerasan. Apa boleh buat, aku memang suka kepada anak ini. Dan kalau kuingat bisik-bisiknya dengan dara itu di atas pohon.” Bun Beng terbelalak dan seperti melotot kepada kakek itu yang tertawa dan sudah duduk bersila di depannya, menempelkan kedua tangan pada dada Bun Beng dan berkata, “Kaukerahkan Im-kang di punggungnya, Pendekar Siluman. Aku tahu cara mengobati pukulan Toat-beng-ci-tok dari suhengku yang amat keji ini.” Suma Han sudah bersila pula di belakang Bun Beng, menempelkan tangan kirinya dan mengerahkan Im-kang. Mula-mula keadaan Bun Beng tersiksa bukan main. Hawa yang amat dingin menyerangnya dari belakang, seolah-olah membuat seluruh darah di tubuhnya membeku dan hawa yang panas dan mengeluarkan bau amis menyerangnya dari depan. Kadang-kadang keadaan tubuhnya seperti separuh dibakar dan separuh direndam es, lalu kedua hawa itu berputar-putar di seluruh tubuhnya, membuat dia hampir pingsan. Akan tetapi lambat laun terjadi hal yang aneh, kedua hawa itu seolah-olah menghentikan pertandingan mereka, bersatu dan menimbulkan rasa hangat yang amat nyaman. Rasa nyaman ini mendesak rasa nyeri dari dada dan leher, dan tak dapat ditahannya lagi, Bun Beng memuntahkan darah hitam tiga kali. Baik­nya dia masih teringat untuk miringkan mukanya sehingga darah hitam yang keluar dari mulut tidak sampai mengenai tubuh kakek yang bersila di depannya. Ternyata pengobatan yang hanya di­lakukan kurang lebih dua jam itu telah berhasil baik. Kakek itu dan Suma Han melepaskan tangan dan keduanya duduk bersila untuk memulihkan tenaga masing-masing. Bun Beng maklum akan keadaan dirinya yang sudah tertolong, maka dia tetap berlutut di depan mereka, tanpa berani bergerak menanti sampai mereka menyelesaikan pemulihan tenaga mereka yang memakan waktu kurang lebih dua jam. Matahari telah naik tinggi ketika akhirnya kedua orang sakti itu membuka mata. Melihat betapa Bun Beng masih berlutut di depan mereka, Suma Han diam-diam kagum sekali. Tidak disangka­nya bahwa putera Si Datuk Sesat Gak Liat ini telah menjadi seorang yang benar-benar patut dipuji, seorang pemuda yang tampan, gagah, dan berbudi agung, juga seorang yang ingat akan budi orang. Dia teringat akan Kwi Hong dan memang ada niat di hatinya untuk menjodohkan keponakannya itu dengan pemuda ini. Akan tetapi dia teringat akan ucapan Bu-tek Siauw-jin tentang bisik-bisik anta­ra puterinya, Milana, dengan Bun Beng, maka hatinya menjadi bimbang. “Bangkitlah, Bun Beng. Engkau telah sembuh,” katanya perlahan. Bun Beng memberi hormat kepada mereka. “Pertolongan Ji-wi seolah-olah telah memberi nyawa baru kepada saya, tak tahu bagaimana saya harus membalas budi yang amat besar itu.” “Ha-ha-ha-ha, untuk membalas, eng­kau harus menerima dan mempelajari ilmu kami berdua sekarang juga. Kalau engkau tidak mau atau tidak bisa, kami terpaksa akan minta kembali nyawa yang kaubilang kami berikan kepadamu tadi.” Ucapan ini hanya merupakan kelakar saja dari Si Kakek Sinting, akan tetapi Bun Beng menerima dengan sungguh-­sungguh. “Teecu sanggup menerimanya dan memenuhi syaratnya.” Suma Han dan Bu-tek Siauw-jin saling pandang dan keduanya mengangguk. Me­reka berdua semalam suntuk telah berde­bat tentang kebatinan, mengemukakan pegangan masing-masing. Suma Han telah mengeluarkan ilmu-ilmunya yang berda­sarkan Im dan Yang, sedangkan Bu-tek Siauw-jin menandinginya dengan Ilmu Tunggal, yaitu yang mempersatukan dua tenaga bertentangan itu sehingga menjadi satu, tidak seperti Suma Han yang mem­pergunakan kedua-duanya. Kini, mereka telah merasakan sendiri betapa tenaga sin-kang mereka yang berdasarkan ilmu-ilmu itu, ketika dipergunakan untuk menyembuhkan Bun Beng, ternyata dapat digabungkan menjadi satu! Biarpun tidak saling mengutarakan isi hati dengan kata-kata, keduanya sudah maklum bahwa pemuda ini memiliki bakat yang luar biasa, memiliki tenaga sin-kang yang hebat dan agaknya hanya pemuda inilah yang sanggup menerima gabungan ilmu mereka! “Bun Beng, kami berdua telah berse­pakat untuk menurunkan inti tenaga ka­mi kepadamu. Tentu saja gabungan inti tenaga sakti kami itu baru akan dapat dipergunakan dengan berhasil baik dalam sebuah gerakan ilmu silat yang tinggi. Karena itu, coba kaumainkan ilmu silat tertinggi yang kaumiliki.” Bun Beng masih muda, akan tetapi dia telah mempelajari bermacam ilmu silat tinggi di samping ilmu-ilmu silat dari Siauw-lim-pai. Baginya, ilmu silat tertinggi yang pernah dipelajarinya adalah ilmu silat yang dia “curi” dari tempat persembunyian Ketua Thian-liong-pang, yaitu Ilmu Silat Lo-thian-kiam-sut. Ilmu itu adalah ilmu yang dicurinya dari Ke­tua Thian-liong-pang yang ternyata ada­lah isteri Pendekar Super Sakti ini. Kalau sampai diketahui oleh pendekar ini, apa­kah tidak berbahaya baginya? Tentu dia dianggap pencuri! Akan tetapi kalau tidak dimainkannya, berarti dia menyembunyi­kan sesuatu dan membohong kepada dua orang gurunya yang baru ini! Dia meng­ambil keputusan nekat. Dia tidak sengaja mencuri! Pula, Ilmu Lo-thian-kiam-sut itu mirip dengan Ilmu Sam-po-cin-keng yang ia temukan di dalam guha bersama Sepasang Pedang Iblis, dan ia mempela­jarinya tanpa sengaja mencuri! “Ilmu itu adalah ilmu pedang, akan tetapi teecu tidak mempunyai pedang,” jawabnya lirih. “Kau boleh memakai tongkatku ini!” kata Suma Han. Bun Beng menerima tongkat itu de­ngan jari-jari tangan gemetar. Betapa tidak akan terharu, bangga, dan gembira hatinya? Dia diperbolehkan menggunakan senjata Pendekar Super Sakti! Setelah menerima tongkat butut itu, dengan pe­nuh keharuan dia mencium tongkat itu, kemudian memberi hormat kepada kedua orang itu dan mulailah dia meloncat ba­ngun dan mainkan Ilmu Pedang Lo-thian-kiam-sut. Gerakannya gesit dan ringan bukan main sehingga bagi pandang mata biasa, tubuhnya lenyap terbungkus gu­lungan sinar yang dibentuk oleh tongkat itu. Angin yang berdesir menyambar dari gerakan tongkat membuktikan betapa sin-kang dari pemuda itu sudah amat kuat. Suma Han dan Bu-tek Siauw-jin me­mandang dan melongo. Kadang-kadang mereka saling pandang dan kadang-kadang menarik napas panjang dan menggeleng­kan kepala saking kagumnya. Bun Beng bersilat sebaik mungkin, dengan penuh ketekunan. Ketika selesai, dia meloncat turun dari jurus terakhir yang dihabiskan dengan gerak meloncat tinggi sambil memutar pedang yang diwakili tongkat itu, sebatang tongkat yang ternyata cocok Sekali dipergunakan sebagai pedang, kemudian dengan hormat menyerahkan tongkat kembali kepada pemiliknya. Napasnya biasa saja, hanya mukanya menjadi merah sekali karena pengerahan tenaga yang cukup melelahkan. “Ha-ha-ha, dan orang seperti engkau ini kuambil sebagai murid? Ha-ha-ha, aku benar-benar Siauw-jin yang tidak memandang orang! Bocah, ilmu kepandaianmu ini, ilmu pedang aneh yang baru kauperlihatkan, kiranya sudah cukup untuk membuat aku orang tua menjadi mati kutu!” Bun Beng menjura, “Harap Locianpwe memaafkan teecu, tidak menerta­wakan teecu yang bodoh dan teecu mohon petunjuk.” “Ah, aku tidak main-main. Ilmu pe­dangmu tadi hebat, kalau ditambah ga­bungan inti tenaga sakti kami.... wah.... agaknya suhengku Cui-beng Koai-ong sendiri harus tunduk kepadamu!” “Gak Bun Beng, dari mana kau mem­peroleh ilmu pedang tadi?” Tiba-tiba terdengar suara Suma Han, suaranya te­gas dan pandang matanya membuat Bun Beng mengkirik karena seolah-olah dia merasa betapa sinar mata pendekar itu menembus jantungnya!  “Maafkan, teecu mendapatkannya se­cara tidak sengaja, dari sebuah kitab dan ilmu ini bernama Lo-thian Kiam-sut, hampir sama dasarnya dengan Ilmu Sam-po-cin-keng yang pernah teecu dapatkan pula dalam sebuah guha. Akan tetapi, Ilmu Lo-thian Kiam-sut ini teecu pelajari secara sembunyi dan.... dan.... mencuri....” Bu-tek Siauw-jin tertawa bergelak, akan tetapi Suma Han kecewa sekali dan dia berkata, “Mencuri? Dari siapa?” “Dari Ketua Thian-liong-pang.” “Heh....?” Dua orang sakti itu ter­belalak dan bahkan Bu-tek Siauw-jin sendiri kaget karena tidak menyangka sama sekali. Bun Beng sudah menjatuhkan diri berlutut dan tanpa menyembunyikan sesuatu dia lalu menceritakan semua pengalamannya sampai dia mempelajari ilmu yang luar biasa, ilmu yang oleh Nirahai sendiri tidak dapat dimainkan itu. Mendengar ini, kembali Bu-tek Siauw-jin tertawa kagum, sedangkan Suma Han menghela napas panjang dan berkata, “Dia tersesat, mencuri ilmu-ilmu orang lain, sedangkan ilmu tertinggi tidak dapat dipelajarinya, bahkan terjatuh ke tangan orang lain. Ini namanya pemba­lasan! Gak Bun Beng, tahukah engkau, bahwa setelah engkau memiliki Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut ini, sebetulnya engkau terhitung sute-ku (adik sepergururuanku) sendiri? Melihat dasar gerakanmu aku yakin bahwa kitab itu adalah pening­galan Suhu Koai-lojin.” “Ahhhh....!” Bun Beng terbelalak penuh kaget dan kagum. “Teecu.... teecu.... mana berani....?” Suma Han tersenyum. Dia merasa makin suka kepada Bun Beng. Jelas bah­wa pemuda ini memiliki watak baik, dan ternyata memiliki kepandaian yang hebat pula, hal yang tidaklah mengherankan kalau wataknya demikian sederhana dan merendah. “Tidak mengapalah, Bun Beng. Tidak ada bedanya apakah engkau menjadi su­teku, ataukah muridku, ataukah hanya sahabat saja. Apa sih artinya segala sebutan kosong? Sekarang yang penting, engkau harus benar-benar mengerahkan seluruh ketekunan dan semangatmu, mencurahkan seluruh perhatian untuk menerima gabungan inti tenaga sakti dari kami berdua, hal yang tak mungkin di­temukan oleh orang lain di dunia ini.” Mulailah kedua orang sakti itu mela­tih Bun Beng. Pendekar Super Sakti menurunkan Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang, dua inti tenaga panas dan tenaga dingin, sedangkan Kakek Bu-tek Siauw-jin menurunkan sin-kang dari Pulau Neraka yang telah merubah warna muka semua tokoh Pulau Neraka! Karena pada diri Bun Beng sudah terdapat tenaga sin-kang yang mujijat dari jamur-jamur berwarna yang dimakannya ketika dia berada di dalam guha di bawah tanah tempat persembunyian Ketua Thian-liong-pang, maka Ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi yang mujijat dari Bu-tek Siauw-jin ini tidak mempengaruhi warna mukanya. Bun Beng yang amat tekun, cerdas dan memang berbakat luar biasa sekali itu, melatih diri siang malam tanpa pernah mengaso dan hanya membutuhkan waktu tiga hari saja untuk mewarisi ilmu gabungan dari dua orang manusia sakti itu! Melihat hasil ini, makin kagumlah Suma Han dan dia lalu memberi petunjuk kepada Bun Beng bagaimana untuk me­manfaatkan Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut itu sebagai ilmu tangan kosong atau dengan menggunakan senjata lain. Biarpun Suma Han sendiri tidak pernah mempe­lajari ilmu ini, namun karena dasarnya sama dengan ilmu-ilmu yang ia pelajari dari Pulau Es, peninggalan Koai-lojin, ditambah pengetahuannya yang luas akan ilmu silat, dia dapat memberi petunjuk yang amat berharga itu. Pada hari ke empat, ketika Bun Beng sedang tekun berlatih silat dengan tangan kosong, menggunakan tenaga sakti se­hingga terdengar suara bercuitan sebagai akibat menyambarnya hawa pukulannya yang mengerikan, Suma Han yang berdiri agak jauh bersama Bu-tek Siauw-jin, berkata, “Dia telah memperoleh kemajuan yang luar biasa.” “Ha-ha-ha, tak mungkin ada lawannya lagi!” Bu-tek Siauw-jin mengelus jenggot­nya, menyesal mengapa pemuda sehebat itu bukan menjadi murid tunggalnya. Dia pun telah mengajarkan Tenaga Sakti Inti Bumi kepada Kwi Hong, namun dara itu tidak dapat menggabungkannya dengan dua tenaga Im-yang dari pamannya, juga bakat dara itu kalah jauh kalau diban­dingkan dengan Bun Beng. “Bu-tek Siauw-jin, sekarang aku hen­dak pergi.” Kakek itu menoleh ke kiri, meman­dang wajah pendekar besar yang kini tidaklah keruh dan berduka lagi, bahkan dari sepasang mata yang tajam luar biasa membuat dia tidak berani lama-lama menentangnya itu keluar sinar yang pe­nuh harapan dan gairah hidup yang be­sar! “Ke mana kalau aku boleh bertanya? Siapa tahu, kita dapat saling berjumpa pula. Perkenalanku denganmu ini amat menyenangkan dan amat menguntungkan, dan mau rasanya aku menganggap kau sebagai guru karena engkaulah yang telah membuka mata batinku ketika menghadapi teka-teki Maharya, Suma-taihiap.” Suma Han menarik napas panjang. “Hanya kebetulan saja, dan ternyata sifatmu yang polos sederhana itu malah lebih mudah menerima penerangan kebe­naran sehingga aku tertinggal jauh. Telah kukatakan, ucapan pemuda yang menjadi murid kita itulah yang membuat aku berterima kasih sekali, yang membuka mataku, menyadarkan aku betapa tololnya selama belasan tahun ini aku telah me­nempuh hidup. Karena ucapannya itulah aku harus segera pergi menyusul mereka.” “Lulu dan Puteri Nirahai?” kakek itu bertanya. Suma Han mengangguk. “Persoalan yang rumit dan sukar takkan dapat di­pecahkan oleh pikiran yang penuh dengan pengetahuan lama, oleh pikiran yang ha­nya dapat melamun dan merasa diri terlalu pandai, terlalu bersih. Hanya pikiran yang sederhana, tidak melayang-layang di angkasa khayal, yang dapat menghadapi kenyataan saja yang akan dapat menyelami dan memecahkan serta mengatasi persoalan, seperti yang diucap­kan Bun Beng empat hari yang lalu itu. Aku hendak menyusul mereka sekarang juga. Harap kau orang tua yang baik suka mencari Kwi Hong dan suruh dia kembali ke Pulau Es yang akan kubangun kembali bersama mereka.” Bu-tek Siauw-jin mengangguk-angguk dan tertawa. “Engkau masih belum setua aku, Suma-taihiap, segalanya masih belum terlambat. Selamat berjuang dan sampai jumpa pula. Ingin aku bertemu kembali denganmu kelak, di Pulau Es, di samping mereka yang kaucinta.” Akan tetapi tubuh Suma Han telah berkelebat lenyap dari depan kakek itu yang masih tertawa-tawa dan mengang­guk-angguk. Sudah puluhan tahun kakek ini tidak pernah mempedulikan dunia ramai, hidup seperti orang sinting dan tidak sudi mempedulikan dirinya sendiri, apalagi orang lain. Kini bertemu dengan Suma Han, dia tertarik sekali, merasa suka sekali dan kagum sehingga perasaan ini membangkitkan gairah hidupnya kem­bali. Bun Beng berhenti berlatih, cepat menghampiri Bu-tek Siauw-jin dan ber­kata, “Ke manakah perginya Suma-taihiap tadi, Locianpwe?” Biarpun dia tadi ber­latih tekun, namun pendengarannya cukup tajam untuk mendengar suara berkelebat­nya tubuh pendekar itu. Dia tetap me­nyebut Locianpwe kepada Bu-tek Siauw-jin dan taihiap kepada Suma Han, karena kedua orang ini, yang hanya menurunkan tenaga inti mereka, tidak mau dianggap guru. “Dia sudah pergi menyusul kedua orang yang dicintanya. Ha-ha-ha, sungguh kasihan sekali dia, merana selama belas­an tahun. Dengan bekal pengertiannya yang baru tentang hidup dan pandangan hidup, tentu dia akan dapat berbahagia bersama mereka itu. Sekarang kita pun harus pergi, Bun Beng.” “Ke mana, Locianpwe?” “Kaubantu aku mencari Kwi Hong ke kota raja. Entah ke mana perginya bocah nakal itu!” Menurutkan kata hatinya, Bun Beng lebih ingin mencari Milana, akan tetapi karena dia pun tidak tahu ke mana per­ginya Milana, dan kemungkinan besar masih berada di kota raja, maka kebetulan sekali kalau kakek ini hendak me­ngajaknya ke kota raja. Tentu saja dia tidak berani menolak setelah mendengar penuturan kakek itu bahwa Kwi Hong adalah muridnya! Berangkatlah kakek dan pemuda itu dengan gerakan cepat sekali, menuju ke kota raja. Dengan bekal kepandaiannya yang hebat dengan mudah Bun Beng dapat mengimbangi gerakan kaki Bu-tek Siauw-jin yang amat cepat larinya. Akan tetapi, ketika Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin tiba di kota raja, kea­daan di sana sudah sepi. Para pimpinan pemberontak yang dipimpin oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Koksu yang mem­berontak itu, telah melarikan diri setelah komplotan yang hendak membunuh Kaisar digagalkan oleh Lulu dan Nirahai. Kini bahkan kedua orang wanita perkasa itu diserahi pimpinan barisan urtuk melaku­kan pengejaran dan membasmi pasukan-pasukan pemberontak yang sudah dikum­pulkan di perbatasan utara. Bu-tek Siauw-jin yang ugal-ugalan itu masih tidak mau terima. Dia menyelun­dup ke dalam istana mencari-cari, bahkan memasuki bekas istana Koksu, memeriksa bekas kamar tahanan kalau-kalau murid­nya masih “terselip” di situ, namun sia-sia belaka karena Kwi Hong tidak dapat ditemukan, bahkan tidak ada seorang pun yang tahu ke mana perginya gadis itu. Kesempatan itu dipergunakan pula oleh Bun Beng untuk mencari dan me­nyelidiki tentang Milana, dara yang dicintanya. Akan tetapi juga tidak ada orang yang dapat menerangkan ke mana adanya dara itu, bahkan tidak ada yang mengenalnya. Sebaliknya, hampir semua orang tahu bahwa kini Puteri Nirahai telah kembali ke istana, dan bahwa kini puteri perkasa itu memimpin pasukan besar untuk mengejar dan membasmi pemberontak. Mendengar ini, Bun Beng menduga bahwa tentu dara itu ikut ber­sama ibunya untuk membantu. Maka dia pun mengajak Bu-tek Siauw-jin untuk melakukan pengejaran ke utara. “Teecu tahu di mana berkumpulnya kaki tangan pemberontak Koksu itu. Siapa tahu Kwi Hong juga ikut ke sana untuk menonton keramaian membasmi pemberontak,” kata Bun Beng. Kakek itu menggeleng kepala. “Celaka tiga belas Si Koksu dan Si Maharya gila! Olah mereka mendatangkan perang dan bunuh-membunuh, saling menyembelih antara manusia itu kaukatakan tontonan? Benar-benar dunia sudah tua, ataukah manusianya yang tolol semua? Hayolah!” Mereka kembali meninggalkan kota raja menuju ke utara. Apakah yang telah terjadi dengan Milana? Dara itu, seperti telah dicerita­kan di bagian depan, tidak ikut bersama dengan ibunya untuk mengejar pemberon­tak ke utara, melainkan ditinggalkan di kota raja. Tadinya, Puteri Nirahai me­nyuruh puterinya itu mencari Pendekar Super Sakti untuk menyerahkan kembali Hok-mo-kiam, akan tetapi ketika dia menerima tugas berat dari Kaisar untuk membasmi pemberontak yang dia tahu dipimpin oleh banyak orang sakti, terpak­sa dia meminjam Hok-mo-kiam dari tangan anaknya. “Biarlah pedang ini kupinjam lebih dulu untuk menghadapi lawan-lawan tangguh itu,” pesannya kepada Milana. “Engkau tunggu saja di sini, kalau berte­mu dengan ayahmu, ceritakan semuanya dan minta bantuannya untuk menghadapi para pemberontak yang lihai. Juga, kalau engkau bertemu dengan Gak Bun Beng lagi, suruh dia membantu kami di utara. Kami membutuhkan bantuan banyak orang pandai untuk menghadapi para pimpinan pemberontak yang merupakan gabungan orang-orang sakti dari Mongol, Nepal, dan orang Han sendiri.” Setelah kini menjadi seorang panglima kembali, beru­bah sikap Nirahai. Yang terpenting bagi­nya pada saat itu adalah tugasnya, maka sama sekali terlupalah urusan pribadi, sehingga dia tidak malu-malu untuk memesan Milana minta bantuan Suma Han. Semua demi tugas kerajaan, dan memang beginilah sifat seorang panglima yang baik. Akan tetapi, nasib buruk menimpa diri Milana. Hati dara ini sudah diliputi kegembiraan besar, bukan hanya kegem­biraan kalau dia teringet kepada Gak Bun Beng, pemuda yang dicintanya dan yang juga mencintanya, akan tetapi juga kare­na adanya harapan yang timbul di hatinya tentang ayah dan bundanya. Kalau mereka itu dapat bersatu kembali, alang­kah bahagianya hidup ini, apalagi di sana ada.... Bun Beng! Dua hari Milana menanti di kota raja. Sebagai seorang cucu Sri Baginda Kaisar yang diakui, apalagi sebagai puteri dari Panglima Puteri Nirahai, dia amat dihormat dan mendapatkan sebuah kamar yang indah di lingkungan istana, bagian puteri. Namun, darah petualangannya sebagai seorang bekas puteri Ketua Thian-liong-pang, yang sudah biasa bebas merdeka di alam terbuka, tentu saja Milana tidak dapat tahan lama tinggal di lingkungan tertutup itu. Segera dia telah mengena­kan pakaian ringkasnya lagi sebagai se­orang pendekar, dan melayang keluar dari lingkungan istana bagian puteri itu untuk ke luar dan melakukan penyelidikan kalau-kalau dapat berjumpa dengan ayah­nya atau dengan Bun Beng. Akan tetapi, bukan Pendekar Super Sakti atau Gak Bun Beng yang dijumpai ketika pada sore hari itu dia menyelinap keluar dari istana, melainkan seorang yang amat dibenci dan ditakutinya. Wan Keng In! Baru saja Milana meloncat tu­run dari atas pagar tembok, tiba-tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu pemuda tampan itu berdiri dengan senyum mengejek di depannya, dan di sebelah pemuda itu berdiri seo­rang kakek yang amat mengerikan, kakek kurus kering seperti mayat hidup, yang matanya seperti mata boneka tidak ber­gerak sama sekali. Kakek ini bukan lain adalah Cui-beng Koai-ong! “Sayur di gunung garam di laut, kalau sudah jodoh pasti akan bertemu menjadi satu, menjadi masakan yang lezat! Ha-ha-ha, adik Milana yang manis, kekasihku yang cantik, calon isteriku yang tercinta. Dengan penuh rindu aku datang hendak menjemputmu di dalam istana, kiranya engkau telah tidak sabar lagi dan keluar menyambutku. Terima kasih!” “Manusia iblis! Hayo pergi dari sini! Kalau tidak, akan kukerahkan semua pengawal untuk membunuhmu!” Milana mengancam, namun jantungnya berdebar tegang dan penuh rasa ngeri. “Hemm, sudah kudengar berita bahwa ibumu, Ketua Thian-liong-pang itu, ter­nyata adalah Puteri Nirahai dan kini menjadi panglima. Kebetulan sekali, lebih cocok kau menjadi isteriku, engkau cucu Kaisar, dan aku.... calon raja di Pulau Neraka. Marilah manis.” Tangan Wan Keng In meraih hendak menangkap ping­gang ramping dara itu. Tentu saja Milana tidak sudi membiarkan tubuhnya dipeluk, dia mencelat ke kanan sambil mengge­rakkan tangan kiri yang tadi diam-diam sudah mempersiapkan segenggam Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi). Sinar merah menyambar ke arah dada dan pe­rut Wan Keng In dan agaknya pemuda ini tidak tahu bahwa dirinya diserang, karena dia tidak mengelak, tidak pula menangkis. Hal ini menggirangkan hati Milana karena dia merasa yakin bahwa tentu akan mengenai sasaran dan mero­bohkan lawannya. Kegirangannya menjadikan kelengahan. Dara ini menjerit ketika pemuda ini melanjutkan tubrukannya, tidak peduli sama sekali akan jarum-jarum yang menembus pakaian mengenai dada dan perutnya, tahu-tahu pinggang Milana telah dipeluknya dan di lain saat tubuh Milana telah menjadi lemas karena ditotoknya! Sambil tertawa, Wan Keng In menca­but jarum-jarum yang menancap di baju­nya, sama sekali tidak melukai kulitnya yang kebal, kemudian memondong tubuh Milana dan dibawanya lari bersama guru­nya yang sejak tadi diam saja tidak mengeluarkan suara. “Haiii! Berhenti....!” Dua orang penja­ga istana, pengawal yang menjaga di luar tembok, mendengar teriakan Milana datang berlari. Ketika mereka melihat siapa yang dipondong dan dibawa lari, mereka terkejut dan marah sekali. Ada penjahat menculik cucu Kaisar yang baru yang cantik, puteri dari Panglima Nira­hai! Mereka berdua melupakan keadaan bahwa orang yang dapat menculik puteri itu tentu memiliki ilmu kepandaian he­bat. Dengan tombak di tangan mereka berteriak dan mengejar. Wan Keng In dan gurunya belum lari jauh. Karena dua orang pengawal itu melihat Si Kakek lari di sebelah belakang, otomatis mereka mengerjakan tombak mereka, menusuk ke punggung kakek itu yang agaknya tidak mempedulikan sama sekali. “Crot! Crot!” Dua batang tombak itu menusuk ke punggung, agaknya menembus ke dalam, akan tetapi kakek itu tidak roboh, bahkan tiba-tiba tombak itu me­luncur ke belakang seperti anak panah, gagang tombak menembus dada dua orang pengawal itu yang roboh seketika, berkelojotan dengan sinar mata penuh ke­heranan dan kekagetan. Mereka mati dalam keadaan terheran-heran melihat orang yang telah mereka tusuk dan tembus punggungnya itu tidak apa-apa, malah mereka sendiri yang menjadi korban senjata masing-masing. “Jahanam, lepaskan aku!” Milana meronta-ronta, akan tetapi Keng In hanya tertawa-tawa saja, seolah-olah dia merasa senang sekali dara itu meronta dan menggeliat dalam pondongannya, membuat dia merasa betul bahwa yang dipondongnya adalah benar-benar dara yang dicintanya, yang membuatnya ter­gila-gila, dara yang hidupnya dan yang selamanya akan menjadi sisihannya, men­jadi permaisurinya di Pulau Neraka! Beberapa orang pengawal terkejut sekali menyaksikan peristiwa itu dari jauh. Mereka segera membunyikan tanda bahaya, sebagian melakukan pengejaran yang sia-sia, sebagian lagi segera melaporkan kepada panglima pengawal di dalam istana. Panglima itu terkejut, terpaksa dengan gemetar melaporkan penculikan atas diri Puteri Milana ini kepada Kaisar. Tentu saja Kaisar menjadi marah. Baru saja dia mendapatkan kembali pute­rinya bersama cucunya, dan kini selagi puterinya itu melaksanakan tugas berat membasmi pemberontak, cucunya diculik orang! Dengan suara keras Kaisar meme­rintahkan kepada panglimanya untuk mengerahkan pasukannya melakukan pengejaran dan membebaskan kembali cucunya. Akan tetapi sebagai Kaisar yang berpengalaman dia pun maklum bahwa penculik itu tentulah bukan orang biasa, dan sewaktu puterinya yang lihai, dan juga Lulu, pergi memimpin pasukan, kira­nya di istana tidak ada orang yang boleh diandalkan memiliki kepandaian tinggi menghadapi penculik itu. Maka segera ditambahkannya, “Cari Pendekar Super Sakti, To-cu Pulau Es. Kalau dia bisa mengembalikan cucu kami, akan kami ampunkan semua dosanya. Umumkan hari ini!” Panglima mundur dan sibuk melaksana­kan perintah Kaisar itu. Akan tetapi mana mungkin mengejar penculik-penculik yang berkepandaian setinggi yang dimiliki Wan Keng In dan gurunya. Sia-sia saja para pasukan pengawal mencari ke sana ke mari. Juga sia-sia saja mereka mencari Pendekar Super Sakti, karena ketika pendekar ini selesai melatih Bun Beng dan datang ke kota raja, dia mendengar akan tugas membasmi pemberotak yang dilakukan Nirahai dan Lulu, maka dia bergegas menyusul ke utara! Demikianlah, tentu saja sia-sia Bun Beng mencari Milana, dan peristiwa itu memang dirahasiakan oleh Kaisar yang diam-diam berusaha keras untuk dapat membebaskan cucunya kembali dari ta­ngan para penculiknya agar tidak sampai terdengar oleh Puteri Nirahai, puterinya yang keras hati ini. Kalau sampai ter­dengar oleh Puteri Nirahai, siapa tahu akan akibatnya. Mungkin saja puterinya itu akan meninggalkan tugasnya membas­mi pemberontak. Dan ke manakah perginya Giam Kwi Hong? Telah dituturkan di bagian depan, Kwi Hong berhasil keluar dari kamar tahanan bersama gurunya yang baru, Bu-tek Siauw-jin. Setelah mempelajari ilmu, terutama sekali setelah memperoleh tenaga sakti Inti Bumi ditambah dengan pedang Li-mo-kiam di tangannya, Kwi Hong sekarang menjadi seorang yang luar biasa lihainya. Namun sayang sekali, pe­ngaruh tenaga sakti liar dari Pulau Nera­ka itu mempengaruhi pula wataknya, dan agaknya pengaruh ini datang dari tenaga sakti itu dan dari pedang Li-mo-kiam di tangannya, karena memang pedang itu bukanlah pedang sembarangan, melainkan sebuah di antara Sepasang Pedang Iblis yang telah menghirup banyak darah ma­nusia tak berdosa, dan dibuatnya pun secara mujijat dan kejam! Setelah berhasil keluar dari kepungan para jagoan yang dipimpin oleh Koksu sendiri dan Maharya yang lihai, Kwi Hong menurut petunjuk suhunya, pergi hendak mencari pamannya, Pendekar Super Sakti. Namun usahanya tidak ber­hasil, bahkan dia mendengar akan keri­butan di istana dan betapa Koksu ber­hasil melarikan diri keluar dari kota raja. Kwi Hong yang masih merasa penasaran itu cepat mengejar pula keluar dari kota raja dan dia berhasil mendapatkan jejak Pangeran Yauw Ki Ong, pangeran Mancu yang berusaha memberontak dibantu Koksu. Pangeran ini sedang melarikan diri melalui pintu gerbang kota raja sebelah utara, dikawal oleh Koksu, Maharya dan beberapa orang panglima yang setia kepada mereka, termasuk beberapa orang tokoh Mongol dan Nepal. Hati dara ini tadi belum merasa puas. Tadinya ketika dia dikepung oleh Koksu, Maharya dan lain-lain bersama gurunya, dia mengamuk dan merobohkan banyak perwira penga­wal kaki tangan Koksu dengan pedang­nya. Dia merasa gembira sekali melihat darah muncrat setiap kali pedang berke­lebat, maka dia agak menyesal dan kece­wa ketika gurunya menyuruhnya melari­kan diri dari kepungan. Dia amat membenci Koksu dan Maharya, yang dianggap musuh-musuh besar pamannya. Kini, selagi dia sendirian, tidak ada gurunya yang melarangnya, kebetulan sekali dia dapat menyusul rombongan musuh ini, tentu saja dia tidak mau membuang kesempatan baik untuk me­muaskan hati dan pedangnya! Rombongan Pangeran Yauw Ki Ong melakukan perjalanan yang penuh kelesuan, sungguhpun dengan tergesa-gesa. Mereka telah mengalami pukulan hebat, dan hanya karena di situ ada Koksu yang pandai menghiburnya dengan janji-janji muluk bahwa pasukan mereka akan dikerahkan untuk langsung memerangi Kaisar, maka Pangeran Yauw tidak putus asa. Pangeran ini telah kehilangan segala kemewahan hidup dan kemuliaan, bahkan tidak sempat membawa pergi selir-selir­nya yang muda-muda, harta bendanya yang berlimpah, dan kini menjadi seorang pelarian yang harus melakukan perjalanan melarikan diri tanpa berhenti selama dua hari dua malam! Pada malam ketiganya, Pangeran Yauw setengah memaksa Koksu untuk menghentikan perjalanan. Dia sudah merasa terlalu lelah, bahkan isterinya sudah beberapa kali jatuh pingsan saking kelelahan. Juga roda-roda kereta perlu dibetulkan karena hampir copot. Melihat bahwa pengejaran tidak ada, atau mung­kin juga masih jauh, dan tempat penjaga­an pasukan-pasukan mereka yang pertama sudah dekat, Koksu tidak keberatan dan beristirahatlah mereka di sebuah dusun. Penduduk dusun yang belum tahu akan keributan yang terjadi di kota raja, menyambut rombongan ini penuh penghormatan. Terhibur juga hati Pangeran Yauw dan rombongannya karena dapat melepaskan lelah malam hari itu, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali perjalanan dilanjutkan dalam keadaan tubuh mereka lebih segar. Akan tetapi, baru saja rombongan keluar dari dusun dan tiba di pinggir sebuah hutan, tiba-tiba terdengar jerit-jerit mengerikan dan tiga orang penga­wal yang menunggang kuda paling depan, roboh dengan tubuh hampir putus menja­di dua potong terbabat kilatan pedang di tangan seorang dara yang cantik na­mun sepak terjangnya ganas bukan main. Koksu dan Maharya bersama para pangli­ma pembantu mereka cepat melarikan kuda ke depan dan di sana mereka me­lihat seorang gadis dengan sebatang pedang yang berkilat sinarnya menyilau­kan mata di tangan, berdiri dengan sikap gagah penuh tantangan. Dara itu bukan lain adalah Giam Kwi Hong! Melihat dara itu, terkejut hati Koksu dan Mahar­ya, karena mereka menyangka bahwa munculnya dara perkasa itu tentulah bersama kakek sinting yang mereka takuti, Bu-tek Siauw-jin! Tiba-tiba Maharya mengeluarkan suara melengking tertawa penuh ejekan yang sengaja dia keluarkan untuk memancing keluar Bu-tek Siauw-jin, “Siauw-jin ma­nusia rendah dan hina, tua bangka cebol mau mampus, keluarlah jangan bersembu­nyi di belakang celana muridmu perempuan!” Sepasang mata Kwi Hong mengeluar­kan sinar berapi karena marahnya men­dengar ucapan menghina yang ditujukan kepada gurunya itu. “Maharya pendeta iblis!” pedangnya menuding ke depan dan sinar berkilat menyilaukan mata keluar dari ujung pe­dang itu, membuat semua orang bergidik ngeri melihatnya. “Suhu tidak berada di sini, tidak perlu engkau membuka mulut mengeluarkan hawa busuk memaki Suhu! Aku datang sendiri untuk membunuh engkau yang menghina Suhu, dan mem­bunuh Koksu yang telah membasmi Pulau Es. Kalian berdua adalah manusia-manu­sia berakhlak bejat, dan aku mewakili pamanku untuk membasmi kalian!” Pangeran Yauw Ki Ong yang menje­nguk keluar dari keretanya melihat gadis itu. Jantungnya berdebar penuh ketegang­an, juga penuh gairah. Gadis itu luar biasa cantiknya! Dan dia telah kehilangan begitu banyak selir muda yang cantik. Kalau dia bisa mendapatkan gadis ini, terhiburlah dia oleh kehilangan semua selirnya itu. “Seng-jin, siapakah dia?” bisiknya kepada Koksu setelah dia turun dan mendekati. “Dia bernama Giam Kwi Hong, ke­ponakan Majikan Pulau Es dan kini agak­nya menjadi murid Bu-tek Siauw-jin, setan bangkotan Pulau Neraka. Dia lihai, terutama pedangnya, akan tetapi harap Ong-ya tidak khawatir. Tanpa gurunya, mudah bagi saya untuk menundukkan dan membunuhnya.” “Jangan dibunuh. Kalau kita dapat menariknya sebagai sekutu, bukankah baik sekali? Tentu membuka kemungkinan untuk menarik pamannya, Pendekar Si­luman Majikan Pulau Es, untuk membantu kita pula menghadapi Kaisar.” Sepasang mata Koksu itu bersinar-sinar dan sekaligus dia dapat memikirkan akal yang amat baik, sesuai dengan usul pangeran yang dianggapnya tepat sekali ini. Cepat dia mengeluarkan ucapan dalam bahasa India yang ditujukan kepada paman gurunya, Maharya. Pendeta itu mengangguk-angguk, tertawa dan melang­kah maju bersama Koksu menghampiri Kwi Hong.  “Bagus, majulah kalian berdua, agar mudah bagiku untuk membunuh kalian sekaligus dengan pedangku!” Kwi Hong membentak, siap dengan pedangnya. “Sabarlah, Nona. Kami hendak mem­bicarakan urusan penting dengan Nona. Bersabarlah karena sesungguhnya di antara kita tidak ada permusuhan sesua­tu.” Tiba-tiba Maharya mengeluarkan kata-kata dengan lambat namun jelas, keluarnya satu-satu dan setiap ucapan mengeluarkan getaran hebat dari ilmu hitamnya untuk mempengaruhi gadis itu. Gelombang getaran hebat menyambar ke arah Kwi Hong dan terasa benar oleh dara ini, membuatnya agak pening dan tubuhnya bergoyang-goyang, namun de­ngan pengerahan sin-kangnya dia dapat berdiri tegak kembali dan memandang dengan mata penuh kemarahan. Akan tetapi sebelum dia sempat menjawab, terdengar suara Koksu lemah lembut, “Nona, harap maafkan kalau kami pernah menyerangmu karena Nona berada bersama dengan Bu-tek Siauw-jin. Setelah kami mengetahui bahwa Nona bukan menyeberang kepada Pulau Neraka, me­lainkan masih keponakan Majikan Pulau Es, maka sadarlah kami bahwa Nona bukanlah musuh, melainkan teman senasib dan seperjuangan dengan kami.” “Tidak perlu mengeluarkan kata-kata membujuk yang kosong!” Kwi Hong masih dapat mempertahankan diri terhadap ge­taran yang terus dikerahkan oleh Ma­harya untuk mempengaruhi dirinya dan pikirannya. “Memang aku keponakan Majikan Pulau Es, dan aku tidak akan pernah lupa betapa kalian memimpin pasukan menghancurkan Pulau Es, mem­bunuh banyak orang kami, bahkan telah menawanku dengan akal jahat!”  “Aihhh, harap Nona jangan terburu nafsu. Pada waktu itu, kami hanyalah petugas-petugas saja dari Kaisar. Kaisar­ yang memusuhi Pulau Es. Kaisar membenci Pendekar Siluman pamanmu itu karena pamanmu pernah mencemarkan nama baik kerajaan. Kami hanya ditugas­kan untuk menyerang Pulau Es. Kalau mau bicara tentang biang keladinya, hanyalah Kaisar sendiri yang bertanggung jawab! Kami sudah merasa menyesal se­kali mengapa dahulu kami menurut saja akan perintah Kaisar lalim itu! Karena kelalimannya maka kami memberontak! Kita semua telah dibikin sakit hati oleh Kaisar lalim itu, Nona. Karena itu, apa perlunya antara kita bermusuhan sendiri, sedangkan kita semua dikejar-kejar oleh pasukan Kaisar yang dipimpin oleh Ma­jikan Pulau Neraka dan oleh Ketua Thian-liong-pang? Mereka menggunakan kesempatan ini untuk merangkul Kaisar, untuk menghancurkan kita, ya, kita, karena Pulau Es menjadi musuh besar mereka!” Kwt Hong mulai tergerak hatinya, sebagian karena ucapan-ucapan Koksu, namun terutama sekali oleh gelombang getaran ilmu hitam Maharya yang mujijat. Dia menjadi ragu-ragu sekali. “Hemmm.... begitukah? Paman memang tidak pernah mau dekat dengan kerajaan....” “Tentu saja. Pamanmu juga seorang pelarian, seperti kami. Daripada antara kita yang senasib ini terjadi permusuhan, bukanlah jauh lebih baik kalau kita ber­satu menghadapi Kaisar lalim dan mem­balas dendam kita bersama?” Pengaruh ilmu sihir yang dikerahkan oleh Maharya telah melumpuhkan semua daya tahan Kwi Hong, dan kini dia men­dengarkan ucapan Koksu dengan penuh perhatian, alisnya berkerut dan tangannya yang memegang pedang Li-mo-kiam tidak menegang lagi. Kemudian dia mengangguk-angguk dan berkata, masih agak meragu, “Mana mungkin kita melawan pasukan pemerintah?” “Ha-ha!” Maharya kini berkata dengan suaranya yang menggetar. “Jangan Nona ragu-ragu, karena kami telah membuat persiapan. Marilah Nona ikut bersama kami dan menyaksikan sendiri persiapan kami dengan pasukan kami yang amat kuat. Kalau Nona membantu kami, apalagi kalau kita bersama dapat bergabung dengan Majikan Pulau Es, apa sukarnya menghancurkan kekuasaan Kaisar lalim itu?” Kwi Hong teringat. Pamannya menja­di pelarian, bersembunyi dan mengasing­kan diri di Pulau Es, bahkan kemudian pulau itu dihancurkan oleh pemerintah. Memang harus dia akui bahwa pemerin­tah telah memusuhi pamannya dan telah melakukan hal-hal yang menyakitkan batin. “Baiklah,” dia menyarungkan pedang Li-mo-kiam. “Aku suka bekerja sama dengan kalian, untuk menghukum Kaisar lalim!” Pangeran Yauw Ki Ong segera maju dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada. “Kami me­rasa berterima kasih, bersyukur, dan bergirang hati sekali mendengar keputus­an Lihiap (Pendekar Wanita) yang bijak­sana. Selamat datang dan selamat berjuang bersama-sama, Lihiap. Percayalah, kami Pangeran Yauw Ki Ong yang tidak sudi menyaksikan kelaliman Paman Kaisar menindas rakyat, setelah kami berhasil menduduki singasana, tidak akan pernah dapat melupakan jasa Lihiap yang amat berharga ini!” Ucapan itu dikeluar­kan dengan sikap halus dan sopan, diser­tai pandang mata kagum dan senyum menggerakkan kumis tipis pangeran itu yang dimaksudkan untuk menundukkan hati perawan cantik perkasa itu. Namun, Kwi Hong hanya balas menghormat dan seujung rambut sekalipun tidak pernah merasa tertarik kepada aksi Si Pangeran ini. Seekor kuda yang terpilih disediakan untuk Kwi Hong dan tak lama kemudian, dara ini telah menunggang kuda di antara rombongan itu, menjadi sekutu mereka dan bersama-sama mereka lalu melanjut­kan perjalanan menujuu ke utara di mana terdapat gabungan pasukan anak buah Koksu, orang-orang Nepal dan orang-orang Mongol. Demikianlah, tentu saja sia-sia bagi Bu-tek Siauw-jin untuk mencari muridnya itu di kota raja. Dia dan Bun Beng hanya menduga bahwa karena di utara ada “keramaian” yaitu pengejaran yang dila­kukan pasukan-pasukan pemerintah di bawah pimpinan Puteri Nirahai terhadap para pemberontak, agaknya Kwi Hong pun tentu akan menonton keramaian ke sana. Dugaan ini membuat keduanya ti­dak betah tinggal terlalu lama di kota raja dan segera mereka pun melakukan perjalanan cepat menyusul ke utara. Di sepanjang perjalanan, tiada hentinya Bun Beng memperdalam ilmunya yang baru, terutama sekali permainan Ilmu Silat Pedang Lo-thian Kuam-sut yang dilakukan dengan tangan kosong dengan pengerahan tenaga gabungan yang dia latih dari Pendekar Super Sakti dan Kakek Bu-tek Siauw-jin. Rombongan yang diikuti Kwi Hong itu setelah tiba di Tembok Besar di se­belah utara Peking, lalu menyusuri se­panjang tembok yang besar dan panjang itu menuju ke timur. Kiranya pasukan gabungan para pemberontak itu bersem­bunyi di dekat gunung-gunung dan jurang-jurang yang amat curam. Memang tempat ini amat tersembunyi dan juga liar sehingga pasukan penjaga kerajaan pun hanya beberapa hari sekali saja meronda di bagian ini. Akan tetapi pada waktu itu, semua pasukan di sekitar daerah ini yang melakukan penjagaan di tapal batas Tembok Besar adalah pasukan anak buah Koksu yang memang sudah diatur sebe­lumnya. Karena ini pula maka mudah bagi orang-orang Nepal dan Mongol untuk menyelundup masuk melalui Tembok Besar di mana terjaga oleh kaki tangan Koksu sendiri. Di sekitar Tembok Besar di lembah Sungai Luan itu telah dibangun pondok-pondok darurat yang dijadikan markas oleh pasukan gabungan pemberontak ini. Bahkan para jagoan yang tadinya menan­ti di sebelah utara kota raja, di daerah sumber minyak di mana Bun Beng pernah mengamuk, setelah usaha mereka mem­bunuh Kaisar gagal, sisa para jagoan ini pun sudah melarikan diri dan berkumpul menjadi satu di lembah Sungai Luan ini, untuk memperkuat pasukan pemberontak. Kekuatan mereka terdiri dari kurang lebih lima ratus orang, dan merupakan gabungan pasukan Mongol Nepal dan pasukan pengawal Koksu yang rata-rata merupakan perajurit-perajurit pilihan. Pangeran Yauw Ki Ong yang tergila-gila oleh kecantikan Kwi Hong, bersikap amat manis terhadap nona ini. Pangeran yang sudah banyak penga­laman dengan usianya yang mendekati empat puluh tahun itu tidak mau mela­kukan tindakan yang tergesa-gesa dan sembrono terhadap Kwi Hong karena dia maklum bahwa nona ini bukan bukan seorang wanita sembarangan. Dia ingin menguasai tubuh Kwi Hong, akan tetapi bukan hanya tubuhnya yang menggairahkan dan wajahnya yang can­tik saja, juga terutama sekali ilmu kepandaiannya yang tinggi. Kalau dia dapat meraih dara ini menjadi selirnya yang tercinta, maka dia sekaligus men­dapatkan seorang penghibur yang cantik jelita dan seorang pengawal pribadi yang boleh diandalkan! Dia maklum bahwa dengan bantuan Koksu dan Maharya, setelah dara ini dapat dibujuk menggabung, dengan mudah dia dapat menggunakan kekerasan atau dengan pengaruh ilmu sihir Maharya, untuk menggagahi tubuh dara ini secara paksa. Namun hal ini sama sekali tidak dikehendakinya. Setelah tiba di markas mereka yang berada di lembah Sungai Luan, di atas puncak Pegunungan Merak Merah, rom­bongan ini beristirahat. Pada keesokan harinya mereka berkumpul, yaitu Pange­ran Yauw, Koksu, Maharya, Thian Tok Lama, Kwi Hong, dan para panglima tinggi, untuk mengatur siasat menghadapi pemerintah yang ingin mereka gulingkan. Akhirnya diambil keputusan untuk selain melakukan penjagaan ketat, juga untuk mengirim utusan mata-mata dan para penyelidik untuk mengetahui gerak-gerik musuh di selatan. Selesai berunding, Pangeran Yauw mengajak Kwi Hong untuk berburu di bawah puncak dengan pasukan pengawal. “Lihiap tentu belum mengenal daerah ini,” katanya manis. “Di sini banyak se­kali terdapat rusa kesturi yang mempunyai dedes yang amat harum baunya.” Kwi Hong tertarik sekali. “Pangeran, apakah dedes itu?” Sang Pangeran tersenyum penuh gaya. Sambil menggerak-gerakkan tangan untuk menimbulkan kesan lebih mendalam, dia menjawab, “Dedes adalah semacam peluh yang keluar dari tubuh belakang rusa kesturi, dan merupakan bahan wangi-wangian yang amat berharga dan sukar dicari bandingnya dalam hal keharuman­nya, dan tidak sembarang waktu seekor rusa kesturi mengeluarkan peluh dedes ini. Peluh ini hanya keluar di waktu se­ekor rusa kesturi datang berahinya dan keluarnya dedes yang menyiarkan bau harum itu adalah daya penarik untuk mengundang seorang lawan kelaminnya untuk.... hemmm.... untuk bermain cinta.” Biarpun pangeran itu sudah bicara dengan hati-hati sekali, namun tetap saja wajah Kwi Hong menjadi merah sekali mendengar penuturan itu. Sejenak Pange­ran Yauw terpesona. Betapa cantiknya ketika sepasang pipi Kwi Hong berubah merah seperti itu! Andaikata dia sendiri seekor rusa kesturi, di saat itu tentulah dia akan mengeluarkan peluh dedes yang tidak kepalang tanggung banyaknya! “Di samping rusa kesturi ini, juga terdapat rusa-rusa muda yang tanduknya merupakan bahan obat kuat yang amat mujarab. Obat lok-jiong (tanduk menja­ngan muda) amat mahal dan tanduk itu dapat membuat tubuh menjadi sehat segar dan usia menjadi panjang. Selain binatang-binatang itu kita manfaatkan tanduknya dan dedesnya, juga dagingnya sedap bukan main, lunak gurih dan menghangatkan tubuh. Di samping ini, masih terdapat binatang-binatang lain dan ta­nam-tanaman yang belum pernah Nona saksikan sebelumnya. Marilah kita berbu­ru, saya tanggung Nona akan merasa puas dan gembira sekali.” Dan pangeran itu memang tidak ber­bohong. Pemandangan alam di Pegunung­an Merak Merah itu benar-benar amat indah, dan banyak terdapat tumbuh-tumbuhan dengan bunga-bunga beraneka warna yang belum pernah dikenal Kwi Hong. Bermacam batang bambu yang aneh-aneh dan bagus sekali tumbuh di daerah ini. Setelah berburu selama sete­ngah hari, Kwi Hong dan Pangeran Yauw berhasil memanah roboh dua ekor rusa yang gemuk dan muda, dan kebetulan sekali dari dua ekor rusa ini terdapat dedesnya dan dari yang kedua terdapat tanduknya yang muda dan panjang. Sore hari itu, Pangeran Yauw meng­undang Kwi Hong untuk duduk di tepi Sungai Luan, di dalam taman alam yang amat sejuk dan indah, menghadapi meja penuh hidangan arak dan bermacam masakan daging rusa yang lezat! Dalam kegembiraannya, Kwi Hong yang meng­anggap bahwa pangeran itu adalah seo­rang bangsawan yang sopan dan ramah, sama sekali tidak menaruh curiga dan makan minum bersama pangeran itu, bahkan tertawa memuji ketika Sang Pangeran menuliskan beberapa baris sa­jak. Kiranya pangeran bangsa Mancu ini pandai pula dalam hal kesusastraan. Setelah mereka makan cukup kenyang dan minum arak yang cukup memanaskan tubuh, Pangeran Yauw memanggil pelayan pribadinya dan menyuruh mengambil arak simpanannya. Arak di dalam sebuah guci batu giok biru itu ditaruh di atas meja. “Giam-lihiap, ini adalah arak simpan­an yang saya dapatkan di selatan. Arak yang amat luar biasa, sudah tua sekali. Harap Lihiap sudi menerima penghor­matan kami dengan tiga cawan arak ini!” Sambil tersenyum Pangeran Yauw me­nuangkan secawan arak dari guci arak batu giok itu. Arak itu berwarna merah kekuningan, amat harum baunya dan ke­tika berada di dalam cawan, kelihatan seperti air emas. “Kami namakan arak ini arak emas. Silakan minum, Lihiap!” Kwi Hong merasa sudah terlalu ba­nyak minum akan tetapi dia merasa tidak enak untuk menolak. Diminumnya arak dari cawan itu bersama dengan pangeran yang juga mengangkat cawannya. Arak itu memang enak sekali, manis dan ha­rum, akan tetapi juga amat keras sehing­ga Kwi Hong merasa betapa hawa panas naik ke kepalanya, membuat ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut. “Masih dua cawan lagi, Lihiap,” kata Sang Pangeran gembira sambil menuang­kan lagi arak ke dalam cawan Kwi Hong yang kosong. “Maaf, Ong-ya. Saya sudah minum terlalu banyak. Tidak kuat lagi....” Kwi Hong menundukkan mukanya dan menga­tur napas untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya. “Aihhh, apakah penghormatan kami yang hanya tiga cawan tak dapat Lihiap terima?” Pangeran itu berkata dengan suara ringan, tanda bahwa dia pun agak mabok. “Bukan begitu, Ong-ya. Tentu saja saya tidak berani menolak kebaikan Ong-ya, akan tetapi saya benar-benar telah agak pening, maka dua cawan arak ini.... biarlah saya minum perlahan-la­han....” Pangeran itu tersenyum ramah lagi dan mengangguk-angguk. “Aku percaya seorang gagah seperti Lihiap tidak akan mengecewakan hatiku...., biarlah guci arak ini kutinggalkan saja di sini, harap Lihiap nanti suka menerima dua cawan arak kehormatan dariku lagi, bahkan boleh menghabiskan arak ini kalau suka. Sisa­nya berikut guci araknya boleh Lihiap kembalikan nanti, aku menanti di ka­mar.... aku mempunyai sebuah benda yang amat berharga, hendak kuserahkan kepada Lihiap sebagai hadiah.” Setelah berkata demikian, pangeran itu meninggalkan Kwi Hong dengan langkah kaki agak terhuyung-huyung, langkah seorang mabok. Kwi Hong menjadi lega hatinya. Ha­rus diakuinya bahwa pangeran itu bersi­kap amat baik kepadanya. Memang dia tidak bermaksud menolak minum dua cawan arak lagi, akan tetapi ia hanya takut kalau dua cawan itu diminumnya sekaligus, dia akan menjadi mabok betul-betul. Kalau dibiarkannya minum sendiri perlahan-lahan, kiranya tidak apa-apa. Dia mengangkat guci arak itu dan di­pandangnya di bawah sinar lampu merah yang dipasang di taman alam itu. Sebuah guci arak giok yang amat indah. Dia tersenyum, meletakkan guci ke atas me­ja, kemudian memandang cawan arak wangi. Cawan yang ke dua! Ketika tangannya bergerak ke arah cawan, hendak diangkat dan diminumnya arak itu sedi­kit demi sedikit, tiba-tiba dara itu me­naruh cawan araknya cepat ke atas meja dan gerakan cepat ini membuat arak sedikit tumpah, sedangkan tangan kirinya menyambar benda hitam yang meluncur ke arah dirinya. Melihat bahwa benda itu adalah sebuah batu hitam kecil dan ada sehelai kertas diikat pada batu, dia menjadi curiga dan sekali tubuhnya ber­gerak, dia telah meloncat ke arah da­tangnya batu tadi. Akan tetapi tidak ada siapa-siapa di sekitar tempat itu, dan ketika dia melanjutkan pencariannya keluar dari taman alam itu, dia hanya melihat lima orang tukang kuda sedang bekerja keras menyikat tubuh kuda-kuda tunggangan pangeran dan para pembesar lainnya. Tentu saja Kwi Hong tidak mau menanyakan sesuatu kepada mereka ini dan dia kembali ke dalam taman. Di bawah sinar lampu merah, dia melihat tulisan di atas kertas itu. Hanya bebera­pa huruf yang ditulis dengan tergesa-gesa agaknya. JANGAN DIMINUM ARAK PERANGSANG ITU! Kwi Hong mengerutkan alisnya, mere­mas hancur kertas itu dan membuangnya sambil memandang ke arah cawan arak dan guci yang masih terletak di atas meja. Dia merasa penasaran karena sungguh tidak mengerti. Apa artinya arak perangsang? Jelas bukan arak beracun, karena kalau beracun, tentu dia sudah roboh. Pula, mengapa pangeran akan meracuninya? Pangeran itu dan semua pembantunya merupakan sekutunya untuk menghadapi Kaisar! Tak mungkin mereka itu mempunyai niat buruk terhadap diri­nya. Akan tetapi, apa maksud Si Penulis surat aneh ini? Dan siapa orangnya? Diukur dari tenaga lemparan batu kecil tadi, orang itu memiliki kepandaian biasa saja! Biarpun Kwi Hong tidak mempeduli­kan isi tulisan itu dan dia pun tidak ta­kut kalau-kalau dia diracuni, namun kegembiraannya lenyap dan dia tidak mau lagi minum arak. Arak yang sudah berada di dalam cawan itu dia tuangkan kembali ke dalam guci, kemudian dia membawa guci batu giok itu menuju pondok besar tempat peristirahatan Pangeran Yauw Ki Ong. Setelah penjaga mempersilakan masuk seperti yang dikehendaki pangeran, Kwi Hong memasuki pondok. Alisnya berkerut dan hatinya tidak senang sekali ketika ia melihat pangeran itu dengan pakaian setengah telanjang roboh telen­tang di atas pembaringan dan dikeroyok oleh dua orang wanita cantik yang meng­gosok tubuhnya dengan minyak, sedangkan orang ke dua memijat tubuhnya. “Ha-ha, engkau telah datang menyu­sulku, Lihiap? Harap kautaruh saja guci itu di atas meja dan duduklah. Duduklah di kursi itu, atau di pinggir pembaringan ini, nanti akan kuambilkan sebuah hiasan rambut burung Hong dari batu giok yang amat indah, hendak kuhadiahkan untuk­mu.” Karena sikap pangeran ini masih ramah dan tidak menonjolkan kekurang­ajaran, maka Kwi Hong yang agak pening oleh arak itu masih tidak merasa. Dia masih terlalu jujur untuk dapat mengenal kegenitan seorang laki-laki yang hendak menjatuhkannya, maka setelah meletak­kan guci itu di atas meja dia menjura dan berkata, “Saya hendak mengaso, Pangeran, dan tidak berniat melanjutkan percakapan kita. Soal hadiah, saya tidak membutuh­kannya dan kalau Ong-ya hendak mem­berikan kepadaku, besok masih banyak waktu. Selamat malam dan maafkan saya.” Tanpa menanti jawaban dara itu membalikkan tubuh dan dengan langkah lebar meninggalkan pangeran itu yang menjadi kecewa sekali. Pangeran Yauw mendorong dua orang pelayannya dan meloncat turun, menyam­bar guci arak, membuka tutupnya dan mengintai isinya. Dia kecewa sekali dan maklum bahwa calon korbannya itu tidak minum lagi. Biarpun secawan dari arak emas ini sudah cukup untuk merobohkan seorang wanita yang bagaimana keras hati dan dingin sekalipun, namun agak­nya masih kurang kuat untuk menundukkan Kwi Hong! Obat perangsang itu belum cukup kuat untuk mempengaruhi Kwi Hong yang masih bersih, hanya membuat dara itu bingung saja! Pangeran Yauw maklum bahwa dia tidak boleh terburu nafsu, dan dia akan mencari ke­sempatan lain untuk melampiaskan niatnya. Dia tersenyum mengusir kekecewa­annya, kemudian merangkul dua orang pelayannya itu sebagai penghibur dan pengganti diri Kwi Hong yang tadinya ia harapkan malam itu akan terjatuh ke dalam pelukannya. Selagi Pangeran Yauw Ki Ong teng­gelam ke dalam hiburan kedua orang pelayan wanita muda itu, dan Kwi Hong ke dalam kenyenyakan tidur tanpa mimpi akibat hawa arak, dan Koksu bersama para pembantunya yang berilmu tinggi juga beristirahat dengan hati tenteram karena percaya akan ketatnya penjagaan anak buah mereka, tampaklah dua sosok bayangan tubuh orang yang berkelebat dan bergerak seperti setan di dekat markas para pemberontak ini. Di dalam kegelapan malam muda itu memang dua sosok bayangan yang ber­kelebatan di sekitar tempat itu amat mengerikan. Gerakan mereka cepat lak­sana gerakan iblis sendiri, meloncat ke sana-sini dan kadang-kadang terdengar suara ketawa menyeramkan. Karena bulan belum muncul, sukar untuk menentukan bentuk dua sosok bayangan itu. Akan tetapi setelah bulan yang lambat itu mulai muncul dan memuntahkan cahaya­nya yang pucat disaring awan-awan tipis sehingga menciptakan cahaya redup kehi­jauan di malam hari yang sunyi itu, bentuk dua sosok bayangan itu kelihatan agak jelas. Kiranya mereka adalah dua orang manusia, sungguhpun tidak mungkin manusia biasa melihat cara mereka bergerak secepat itu. Seorang di antara mereka bertubuh pendek sekali, rambut­nya panjang riap-riapan membuat kepala­nya yang besar itu kelihatan makin besar, dan Si Pendek inilah yang tertawa-tawa. Temannya tidaklah setua kakek pendek ini, melainkan seorang muda yang kepa­lanya dilindungi sebuah topi caping lebar dan di punggungnya tampak buntalan pakaiannya. Sebuah kuncir rambut besar kadang-kadang melambai di balik pundaknya ketika dia bersama kakek itu berlon­catan melalui jurang-jurang yang curam. Dilihat dari jauh, oleh mereka seperti dua ekor kijang bermain-main dan saling berkejaran di malam sunyi itu. Akan tetapi tak lama kemudian tam­paklah bayangan mereka. Kakek itu masih tertawa-tawa, akan tetapi mereka membawa sekumpulan senjata yang ba­nyak sekali. Susah payah mereka memba­wa senjata-senjata tajam yang malang-melintang itu sehingga ada yang tercecer di jalan. “Ha-ha-ha, betapa lucunya kalau mereka itu dikejutkan dan dalam kegu­gupan mencari-cari senjata mereka!” kata yang muda. Kakek pendek itu pun ter­tawa, akan tetapi dia lalu menengadah dan bernyanyi, “Senjata adalah benda sialandibenci oleh siapapun juga tidak dipergunakan para bijaksana, Bahkan dalam kemenangan sekalipun senjata tak sedap dipandang mata karena yang mengagungkannya hanyalah pembunuh-pembunuh kejam! Alat pembunuhan antar manusia menimbulkan kematian terpaksa mendatangkan duka dan air mata dan kemenangan dirayakan dengan upacara kematian!”   “Locianpwe, saya mengenal sebagian kalimat nyanyian Locianpwe adalah dari isi kitab To-tek-keng! Akan tetapi juga tidak sama....” Pemuda itu, Gak Bun Beng menegur heran. “Ha-ha-ha, perlu apa menghafal isi ujar-ujar kitab apapun juga seperti se­ekor burung? Yang penting adalah me­ngerti dan melaksanakan, karena pelaksa­naan yang berdasarkan pengertian bukanlah penjiplakan belaka namanya. Aku benci segala macam senjata, hayo kita buangkan semua senjata di dalam gudang itu!” Dua orang itu membawa senjata-senjata yang mereka panggul itu ke tepi jurang, lalu melemparkan senjata-senjata itu ke dalam jurang yang hitam, jurang yang tak dapat diukur dalamnya sehingga ketika senjata-senjata itu sampai ke dasar ujung, tidak terdengar apa-apa dari tempat mereka berdiri! Sambil tertawa-tawa, Bu-tek Siauw-jin dan Bun Beng segera berlarian lagi menghampiri gudang senjata milik para pemberontak untuk mengangkuti semua senjata yang terkum­pul di situ dan dibuang ke dalam jurang. Belasan orang penjaga gudang itu masih berdiri di tempat masing-masing, akan tetapi mereka ini berdiri seperti arca karena sudah tertotok, bahkan senjata di tangan dan di pinggang mereka pun sudah dilucuti oleh Bu-tek Siauw-jin dan ikut terbawa untuk dibuang ke dalam jurang itu. Karena jarak antara gudang senjata dan jurang tempat pembuangan itu cukup jauh, dan jumlah senjata dalam gudang amat banyak sedangkan betapa pun sak­tinya, kedua orang itu masing-masing hanya mempunyai sepasang tangan, sete­lah bekerja sampai pagi, belum ada setengah isi gudang berhasil mereka buang ke dalam jurang. Ketika untuk kesekian kalinya Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin kembali ke gudang, begitu mereka memasuki gudang, terdengar bentakan-bentakan dan ternyata gudang itu telah dikurung oleh puluhan orang perajurit! Mereka telah ketahuan, atau lebih tepat lagi, peronda telah melihat penjaga-penjaga yang tertotok kaku itu sehingga mereka segera mela­porkan kepada Koksu dan Koksu yang menduga bahwa tentu ada mata-mata musuh menyelundup sudah memasang perangkap sehingga ketika dua orang itu datang, mereka telah terkurung! Tentu saja kedua orang itu segera diserbu dan dikeroyok oleh puluhan orang perajurit. Apalagi setelah Koksu meneri­ma pelaporan bahwa yang mengacau di gudang senjata adalah Bu-tek Siauw-jin dan Gak Bun Beng, dia segera mengerah­kan para pembantunya untuk mengeroyok.  “Wah, repot nih, Bun Beng!” Bu-tek Siauw-jin berkata, sambil sibuk meloncat ke sana-sini di antara serbuan para pera­jurit. “Kita membuang senjata supaya jangan ada perang, malah diperangi!” “Mari kita keluar, Locianpwe!” Bun Beng berkata, khawatir juga karena dia tidak mungkin dapat menghadapi penge­royokan hebat itu dengan sikap berkela­kar dan tidak peduli seperti kakek yang agaknya tidak bisa melihat bahaya itu. Dengan gerakan kaki tangannya, Bun Beng berusaha membuka jalan keluar dari dalam gudang senjata, akan tetapi karena Bu-tek Siauw-jin enak-enak saja menendingi semua pengeroyoknya, kadang-kadang terkekeh girang kalau meli­hat beberapa orang terjengkang roboh sendiri setelah memukulnya, Bun Beng merasa bingung dan benar-benar men­dongkol sekali. Kakek itu agaknya malah girang dan gembira menghadapi pengero­yokan itu, seperti seorang kanak-kanak memperoleh sebuah permainan baru dan merasa sayang untuk meninggalkannya! Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras di luar gudang tempat pengeroyokan itu dan terjadilah kekacauan hebat. Menurut pendengarannya yang memperhatikan suara teriakan-teriakan itu, Bun Beng mendapat kenyataan bahwa tempat markas pemberontak itu telah diserbu oleh pasukan pemerintah! Keadaan menjadi kacau balau. Koksu dan para pem­bantunya segera lenyap dari situ mening­galkan Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin yang masih dikeroyok oleh para pasukan penjaga. Tentu saja bagi Koksu dan teman-temannya, berita penyerbuan pasu­kan pemerintah itu lebih penting, lebih hebat dan harus segera ditanggulangi daripada kekacauan yang disebabkan oleh perbuatan dua orang ini. Memang benarlah apa yang didengar oleh Bun Beng. Pasukan besar pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Nirahai dan Lulu telah datang menyerbu tempat itu secara mendadak. Terjadilah perang yang amat hebat, perang mati-matian karena para pemberontak membuat pertahanan yang terakhir. Mereka masih menanti datangnya bala bantuan dari barat dan utara, siapa mengira bahwa pagi hari itu mereka harus menghadapi penyerbuan pasukan pemerintah yang tidak mereka sangka-sangka akan demikian cepat da­tangnya. Tentu saja Koksu tidak me­nyangka bahwa Puteri Nirahai sendiri yang menjadi pemimpin penyerbuan ini, seorang puteri yang sudah banyak penga­lamannya dalam menghadapi pasukan pemberontak, seorang yang tidak saja ahli dalam hal ilmu silat, juga seorang ahli perang yang terkenal! Setelah Koksu dan para pembantunya meninggalkan gudang senjata di mana Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin terkepung, tentu saja dengan mudah kedua orang sakti ini mampu keluar dari kepungan. Apalagi karena para perajurit yang men­dengar akan penyerbuan tentara musuh sudah menjadi panik, bahkan akhirnya sisa mereka meninggalkan dua orang itu untuk membantu teman-teman mengha­dapi pasukan pemerintah. Gudang senjata telah mereka bobol dari belakang dan sisa senjata yang masih berada di dalam gudang telah mereka angkut keluar untuk dipergunakan para pasukan menghadapi musuh. “Wah, perang telah terjadi?” kata Bu-tek Siauw-jin setelah mereka berdua keluar dari dalam gudang senjata. Terde­ngar dari situ pekik sorak mereka yang berperang, dan suara senjata yang meng­gegap gempita. “Mudah-mudahan saja para pemberon­tak segera dapat dihancurkan,” kata Bun Beng sambil berdiri termenung. Yang terbayang di depan matanya adalah Mi­lana. Apakah dara itu ikut berperang membantu ibunya yang memimpin pasu­kan pemerintah itu? Teringat betapa fihak pemberontak terdapat orang-orang pandai seperti Maharya, Koksu, dan Thian Tok Lama, ia merasa khawatir juga akan kekasihnya itu. “Locianpwe, saya hendak menonton perang dan kalau perlu membantunya.” “Eh, kau mau membantu siapa?” “Membantu Puteri Nirahai dan puteri­nya.” “Mengapa? Apakah engkau sudah menjadi kaki tangan pemerintah pula?” “Bukan begitu, Locianpwe. Akan teta­pi, kita sudah melihat bahwa pemberon­tak dipimpin oleh orang-orang sesat macam Koksu, Maharya, dan yang lain-lain. Mereka itulah yang menimbulkan perang sehingga akan mengorbankan nyawa banyak orang, karena itu maka merekalah yang akan saya tentang.” Bu-tek Siauw-jin mengangguk-angguk. “Hemm, boleh kita menonton, akan teta­pi kalau tidak perlu sekali, untuk apa kita mengotorkan tangan ikut dalam perang yang hanya merupakan penyem­belihan antara manusia?” Bun Beng tidak mau banyak berbantah dengan kakek sinting ini, dan keduanya lalu menyelinap di antara pohon-pohon dan berloncatan melalui jurang-jurang menuju ke tempat di mana terjadi perang yang amat dahsyat. Akan tetapi ketika mereka tiba di bagian yang datar, tiba-tiba mereka melihat hal yang amat mengejutkan, Para pasukan pemberontak di bagian ini tiba-tiba mundur, akan tetapi ketika pasukan pemerintah mendesak, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan muncullah seekor gajah yang amat besar. Binatang raksasa inilah yang mengeluarkan suara melengking tadi dan pasukan pemerintah yang berada paling depan segera berha­dapan dengan gajah ini. Seorang tinggi kurus berkulit hitam yang menunggang gajah itu. Pendeta Maharya sendiri me­ngeluarkan aba-aba dan gajah itu menga­muk! Dengan belalainya yang besar, sekali sambar gajah itu menangkap dua orang perajurit musuh, membantingnya remuk dan dengan kedua kaki depannya yang besar binatang itu menginjak ke depan, membuat dua orang musuh lain lagi terinjak gepeng. Maharya yang ber­ada di atas gajah itu masih menggerak­kan senjatanya tombak bulan sabit, tam­pak sinar berkelebat dan empat orang perajurit pemerintah roboh. Maharya mengeluarkan pekik nyaring dan tiba-tiba cuaca di tempat itu menjadi gelap, debu mengepul tinggi dan di balik kegelapan ini menyerbulah pasukan Nepal yang di­pimpin oleh Maharya, menyerbu bagaikan pasukan setan ke depan! Pasukan pemerintah menjadi kacau balau dan pecah belah. Mereka menjadi bingung, apalagi ketika dua orang per­wira pemimpin mereka dengan mudah roboh binasa oleh amukan gajah dan me­lihat betapa cuaca menjadi gelap, debu mengebul tinggi, mereka makin panik. “Pasukan siluman....!” terdengar te­riakan. “Pasukan siluman.... laporkan ke induk pasukan!” Kiranya, pasukan itu adalah pasukan Nepal yang baru saja datang, pasukan yang dinanti-nanti oleh Koksu. Begitu pasukan ini tiba bersama lima ekor gajahnya, Maharya segera menyambutnya, menunggangi seekor gajah dan Maharya sendiri yang memimpin pasukan istimewa ini, menggunakan ilmu hitamnya, dibantu oleh pasukan istimewa ini yang menggu­nakan debu dan asap hitam untuk menga­cau musuh. Jumlah mereka sebetulnya hanya seratus orang, akan tetapi karena mereka itu terlatih dan mempunyai cara-cara berperang yang aneh, mereka mam­pu mendatangkan kekacauan dan banyak di antara pasukan pemerintah yang roboh menjadi korban, terutama sekali amukan lima ekor gajah, seekor di antaranya yang ditunggangi Maharya sendiri. “Locianpwe, kita harus membantu mereka menghadapi pasukan siluman itu!” Bun Beng berkata, kemarahannya timbul ­menyaksikan musuh besarnya, Maharya, dengan ganas membunuh pasukan peme­rintah dengan bantuan gajahnya dan tombak bulan sabitnya. “Ha-ha-ha! Maharya Si Dukun Lepus itu memang menyebalkan sekali. Ilmu setannya ini, siapa lagi kalau bukan aku yang dapat membuyarkannya?” Bu-tek Siauw-jin tertawa sambil menerjang ke depan menyambut debu dan uap yang mengebul itu. “Maharya, sejak dahulu engkau men­datangkan keributan saja!” Bun Beng membentak lalu meloncat ke depan, langsung menyerang pendeta kurus itu dengan pukulan tangan ke arah kepala. Melihat munculnya pemuda ini, Ma­harya memandang rendah. Biarpun pemu­da itu dia tahu cukup lihai seperti yang diperlihatkannya ketika pemuda itu mem­bela Pulau Es ketika pulau itu diserbu oleh pasukan Koksu dahulu, namun, bagi­nya, pemuda itu tidak ada artinya. Yang membuat dia khawatir hanya ketika melihat munculnya Bu-tek Siauw-jin tadi. Kakek pendek itulah yang perlu diperha­tikan, karena dia tahu bahwa dia sendiri takkan dapat menangkan kakek iblis Pulau Neraka itu. Akan tetapi, dia di­bantu oleh gajah-gajahnya, oleh pasukan siluman dari Nepal, apalagi Koksu, Thian Tok Lama, dan banyak tokoh pandai lain berada tidak jauh dari situ. Pemuda ini harus dibunuh lebih dulu. “Mampuslah!” Dia berteriak dengan suara nyaring. Tombak bulan sabit di tangannya bergerak, gagangnya menusuk dan menyambut tubuh Bun Beng yang meloncat ke atas tadi, menusuk ke arah pusar pemuda itu. Melihat gerakan Maharya ini amat kuat, Bun Beng tentu saja tidak mem­biarkan dirinya disate gagang tombak. “Haaiiittt....! Plak! Wiiirrr....!” Tangan Bun Beng menapgkis gagang tombak itu dengan meminjam tenaga tusukan gagang tombak ini, dia membuat tubuhnya mencelat ke atas dan membuat salto jungkir-balik, kemudian seperti seekor burung garuda terbang, dia menyerang ke arah ubun-ubun kepala Maharya! Dengan jari tangan kanan dia menusuk ke arah ubun-ubun ketika tubuhnya meluncur ke bawah. “Aehhhh!” Maharya berseru keras dan kaget bukan main, kakinya menekan te­linga gajah. Binatang itu mengeluarkan suara melengking dan mengangkat kedua kaki depannya. Gerakan ini tentu saja membuat tubuh Maharya terbawa ke be­lakang dan otomatis terbebas dari se­rangan Bun Beng yang tubuhnya meluncur ke bawah itu. Dengan geram Maharya menggerakkan tombak bulan sabitnya menyambut tubuh Bun Beng dan dibantu oleh gajahnya yang sudah menggerakkan belalainya untuk menangkap tubuh pemu­da itu! Bun Beng tidak merasa kaget meng­hadapi kegagalannya dan melihat serang­an berbahaya ini. Dia sudah cukup mengenal siapa kakek ini dan betapa lihainya kakek ini, maka cepat sekali kakinya bergerak ke depan, menyambut gagang tombak di bawah bulan sabit yang tajam itu, mengerahkan tenaga sehingga begitu kakinya menyentuh gagang tombak tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas, berputaran, kemudian ketika tubuhnya turun dan disambut lagi oleh belalai gajah, pemuda yang perkasa ini menyam­but belalai dengan tusukan dua buah jari tangannya! Sambaran tombak di tangan Maharya kembali dapat ia elakkan di tengah udara. “Plakkk!” Gajah itu mengeluarkan jerit menyayat hati, kedua kaki depannya diangkat, tubuhnya bergoyang-goyang penuh kemarahan karena kulit belalainya telah terobek oleh dua jari tangan kecil tadi, mencucurkan darah. Melihat dengan mata kecilnya betapa manusia bercaping yang menyakitinya itu telah meloncat ke atas tanah di depannya, gajah itu lalu menghempaskan kedua kakinya hen­dak menginjak tubuh itu sampai lumat. Namun, dengan sigap Bun Beng sudah meloncat ke samping, dan tiba-tiba dia sudah menyerang Maharya dari samping kanan. Gerakannya cepat bukan main dan dari tangan kanannya menyambar hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi ber­cuitan ke arah lambung Maharya. Kemudian ketika tubuhnya turun dan disambut lagi oleh belalai gajah, pemuda yang perkasa ini menyambut belalai dengan tusukan dua buah jari tangan! “Uuuh....!” Maharya terkejut sekali ketika dia menggerakkan tombak ke ka­nan untuk menyambut, tombaknya itu menyeleweng terdorong oleh hawa pukul­an dahsyat, dan pukulan tangan kanan pemuda itu masih terus melayang datang bersama tubuh pemuda itu yang melayang cepat. Biarpun dia merasa kaget sekali karena tombaknya menyeleweng terdorong hawa pukulan, namun Maharya tidak gugup dan dia sudah dapat menggunakan lengannya menangkis dattangnya tamparan tangan Bun Beng ke arah lambungnya itu “Dess....! Aihhh....!” Maharya kini ter­paksa mengeluarkan teriakan kaget sekali karena benturan lengannya dengan lengan pemuda itu membuat lengannya seperti lumpuh dan tubuhnya terlempar dari atas tubuh gajahnya! Dia tidak terbanting dan masih dapat menguasai dirinya, namun dia kini memandang kepada Bun Beng dengan mata terbelalak penuh keheranan, kekagetan dan penasaran. Pemuda itu dapat memaksakannya turun dari pung­gung gajah dan kini pemuda itu telah berdiri di depannya dengan wajah tenang dan topi caping lebar masih di atas kepa­lanya! “Hemm, orang muda, bukankah engkau Gak Bun Beng?” “Tidak salah dugaanmu, Maharya, dan sebagai seorang muda aku merasa ter­hormat sekali bahwa namaku dikenal oleh seorang seperti engkau!” Bun Beng men­jawab tanpa berani menentang pandang mata pendeta itu. Biarpun dia telah memiliki kekuatan sin-kang yang mujijat, namun dia maklum betapa hebat penga­ruh pandang mata kakek ahli sihir ini, yang dalam ilmu itu bahkan berani me­nentang dan mengadu sihir dengan Pen­dekar Super Sakti. Kalau sampai dia terpengaruh ilmu hitamnya yang mujijat, dia bisa celaka! “Gak Bun Beng, mengapa berkali-kali engkau memusuhi aku seorang tua yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan dirimu? Mengapa?” Suara pendeta itu terdengar halus menimbulkan rasa malu dan iba. Namun Bun Beng sudah menekan perasaannya dengan tenaga dalam, dan dia menjawab, suaranya lantang, “Sejak aku masih kanak-kanak, engkau telah menjadi seorang jahat yang kuang­gap musuhku, Maharya. Pertama kali ketika engkau bersama muridmu yang gila, Tan-siucai, mencuri Hok-mo-kiam. Kemudian melihat engkau membantu Koksu menghancurkan Pulau Es, Pulau Neraka, kuanggap engkau seorang yang patut ditentang.” “Hok-mo-kiam....? Hemm, karena pe­dang itu, muridku telah tewas, dan pe­dang itu lenyap. Memperebutkan pedang di antara orang gagah tidak bisa disebut jahat, orang muda.” “Bukan soal pedang, melainkan karena engkau seorang pendeta yang selalu mengejar kemuliaan duniawi, mengejar kedudukan sehingga rela menjual diri bersekutu dengan Koksu, dipergunakan oleh Koksu, mengacau orang-orang gagah, bahkan tidak segan-segan untuk bermuka dua, berpura-pura bersahabat dengan Thian-liong-pang, akan tetapi diam-diam mengusahakan kematian ketuanya. Apa kaukira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di Se-cuan ketika Thian-liong-pang mengadakan pertemuan besar dahulu itu?” Maharya memandang tajam. “Eh? Kau tahu? Kalau begitu.... kau tahu pula tentang kematian Tan Ki dan Thai Li Lama....?” “Tentu saja! Pedang Hok-mo-kiam bukan miliknya atau milikmu. Pedang itu kini sudah kukembalikan kepada yang berhak.” Merah muka Maharya dan tombak bulan sabit di tangannya menggetar. “Ja­di.... engkaukah orangnya yang membunuh muridku?” “Dia mencari kematiannya sendiri....” Bun Beng tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia harus cepat mengelak dari sambaran tombak bulan sabit yang telah meluncur ketika Maharya menyerangnya dengan gerakan penuh kemarahan dan penuh nafsu membunuh. Maharya sudah marah sekali mendengar bahwa pemuda ini yang membunuh muridnya dan merampas Hok-mo-kiam, dan dia pun maklum bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, kalau tidak cepat dirobohkan akan berbahaya sekali. “Robohlah! Lihat aku siapa! Pandang aku! Tak mungkin dapat menang melawan aku!” Berkali-kali Maharya membentak dengan suara yang amat herpengaruh, namun Bun Beng sama tidak mem­pedulikannya, juga tidak pernah menen­tang pandang mata kakek itu. Dia hanya mengelak dengan cepatnya karena tombak bulan sabit itu bergerak seperti kilat menyambar-nyambar, sambil menanti kesempatan untuk merobohkan lawan yang tangguh itu. Sementara itu, dari gumpalan debu dan asap yang menyembunyikan pasukan siluman bangsa Nepal, menyambar ratusan batang anak panah ke arah pasukan pemerintah. Pasukan pemerintah yang sedang kacau ini tentu saja menjadi makin bingung ketika tiba-tiba mereka diserang anak-anak panah yang tidak ketahuan dari mana datangnya sehingga banyak di antara mereka yang terjungkal roboh menjadi korban anak panah lawan. Melihat ini, Bu-tek Siauw-jin lalu membentak keras, kedua tangannya mendQrong ke depan berkali-kali dan dia terus menerjang maju, tidak mempedulikan anak panah-anak panah yang menyambutnya dan yang mengenai seluruh tubuhnya bagian depan. Anak panah yang mengenai tubuhnya runtuh, tidak mempan, dan dari kedua telapak tangan kakek sakti ini menyambar angin yang membuat debu dan asap itu membuyar dan tertiup membalik ke arah para pasukan Nepal sendiri! Mulailah pasukan Nepal itu tampak setelah debu dan asap membuyar, dan melihat seorang kakek cebol yang sakti membantu pihak mereka, bangkit kembali semangat para perajurit pemerintah. Mereka berteriak-teriak menyerbu dan terjadilah perang campuh yang amat dahsyat antara orang-orang Nepal dan orang-orang Mancu perajurit pemerintah. Bu-tek Siauw-jin tidak sudi bertanding melawan perajurit-perajurit Nepal yang baginya terlalu lemah itu, dan dia ber­gembira menghadapi serbuan empat ekor gajah yang ditunggangi oleh perwira-perwira Nepal. Dia menubruk kaki seekor gajah, dicobanya untuk mengangkat tubuh binatang itu, namun terlampau berat, mendorongnya pun amat berat dan agak­nya merupakan hal yang amat sukar untuk merobohkan binatang raksasa itu. Bu-tek Siauw-jin menjadi penasaran, meloncat ke belakang, kemudian dia lari ke depan dengan kepala dipasang seperti seekor kerbau mengamuk. “Desss!” Dengan kepalanya, kakek cebol yang sinting itu menubruk dada seekor gajah dan.... binatang raksasa itu terjengkang dan roboh! Dua orang pera­jurit Nepal yang tidak menyangka sama sekali dan berada di dekat gajah yang mereka andalkan itu, terhimpit perut gajah dan tewas seketika, sedangkan penunggang gajah itu, seorang perwira Nepal yang sudah tua, terlempar dari atas punggung gajah dan terbanting ping­san! Amukan kakek cebol sinting itu benar-benar menimbulkan kekacauan kepada pasukan istimewa Nepal itu, apalagi setelah tiga ekor di antara lima ekor gajah itu telah roboh oleh Bu-tek Siauw-jin, dan debu serta asap hitam telah membuyar. Tadinya anak buah pasukan itu mengandalkan ilmu hitam Maharya, akan tetapi kakek India itu sendiri se­dang bertanding hebat dan mati-matian melawan pemuda yang amat tangguh dan lihai itu. Tentu saja hal yang melemah­kan semangat pasukan Nepal ini sebalik­nya mendatangkan semangat baru kepada para perajurit pemerintah yang tadinya sudah merasa agak panik. Pertandingan antara Bun Beng dan Maharya memang terjadi makin seru dan mati-matian. Kakek India itu benar-benar amat lihai dan andaikata Bun Beng belum menerima ilmu terkhir dari Pendekar Super Sakti dan Bu-tek Siauw-jin, kiranya dia pun tidak akan mudah untuk dapat menandingi Maharya. Sebetulnya, dalam hal ilmu silat, tentu saja Bun Beng me­miliki dasar yang lebih murni dan lebih tinggi tingkatnya, dan juga dalam inti tenaga sakti, dia tidak kalah kuat. Ke­kalahannya dalam hal pengalaman dan latihan dapat ditutup oleh keunggulannya karena ilmu silatnya adalah ciptaan manusia dewa yang amat tinggi tingkatnya. Akan tetapi, yang membuat Maharya amat sukar dilawan dan sukar dikalahkan adalah tenaga mujijat yang keluar dari pribadi kakek ini, berkat ilmu hitamnya. Bun Beng harus berhati-hati sekali, sama sekali tidak pernah berani bertemu pan­dang mata dengan lawannya, dan kadang-kadang dia bergidik karena merasa beta­pa ada hawa tenaga mujijat menyambar dari lawannya, kadang-kadang disertai suara aneh yang membuat bulu tengkuk­nya meremang, seperti suara jerit tangis kanak-kanak yang disiksa, suara tertawa wanita yang tidak lumrah manusia. Se­olah-olah tempat itu, atau di kanan kiri dan belakang lawannya terdapat iblis-iblis yang tidak tampak akan tetapi yang terdengar suaranya dan terasa pula sam­baran angin pukulannya! Bun Beng melawan dengan mati-mati­an. Dia sama sekali tidak tahu bahwa kakek sinting itu, biarpun kelihatannya mengamuk di lain bagian namun diam-diam kakek itu tidak pernah melepaskan perhatiannya dan selalu mengikuti pertandingan itu, atau hanya sebentar saja kadang-kadang dia mengalihkan perhatian. Dia selalu menjaga dan siap untuk melindungi pemuda yang disukanya itu. Diam-diam kakek ini kagum sekali. Setelah menyaksikan sepak terjang Maharya dia harus mengakui bahwa dalam pertan­dingan mati-matian ini, memang hebat sekali pendeta itu dan dia sendiri pun tidak akan mudah dapat mengalahkan Maharya. Namun pemuda yang hanya tiga hari menjadi muridnya itu, dengan tangan kosong mampu menandingi Mahar­ya dalam pertempuran hebat selama seratus jurus lebih, sedangkan Maharya yang tadinya menunggang gajah bersen­jatakan tombak bulan sabit, kini sudah kehilangan gajahnya dan agaknya tombak­nya itu pun sudah tidak danyak artinya dalam pertempuran hebat itu. Kini Ma­harya telah melolos kalung tasbehnya yang terbuat dari mutiara-mutiara putih yang besar-besar, memegang tombak bulan sabit di tangan kanan tasbeh di tangan kiri. Menghadapi serangan-serangan yang ganas dan dahsyat dari dua senjata aneh itu, Bun Beng mengandalkan kegesitan dan keringanan tubuhnya, akan tetapi dia pun sudah menanggalkan topi capingnya dan menggunakan benda ini untuk membantunya menangkis sambaran senjata yang bertubi-tubi. Di bagian lain, di balik puncak Pe­gunungan Merak Merah, tidak tampak dari situ hanya terdengar suaranya yang riuh rendah, terjadi pula perang yang lebih hebat dan seru lagi karena pusat perang terjadi di tempat itu, antara pasukan inti yang dipimpin oleh Koksu sendiri dan pasukan inti penyerbu dari pemerintah yang dipimpin oleh Nirahai dan Lulu! Dalam perang dahsyat ini, Koksu mendapat bantuan Thian Tok Lama dan Kwi Hong! Kwi Hong tentu saja membantu Koksu ketika melihat penyerbuan pasukan pemerintah yang dianggap mu­suhnya dan musuh pamannya. Apalagi ketika dia mendapat keterangan dari Koksu bahwa yang memimpin penyerbuan itu adalah Ketua Thian-liong-pang dan Ketua Pulau Neraka, dia tidak ragu-ragu lagi untuk membantu pihak Koksu. Me­mang sudah dipikirkannya masak-masak. Permusuhannya dengan Koksu dan kaki tangannya hanya karena Koksu melakukan tugas membasmi Pulau Es, dan sebagai petugas, tentu saja dia tidak dapat ter­lalu menyalahkan Koksu, dan Kaisarlah yang sesungguhnya menjadi musuh pa­mannya. Kini Kaisar mengirim pasukan, apalagi dipimpin oleh Ketua Thian-liong-pang dan Pulau Neraka yang sejak dahu­lu memang bukan sahabat Pulau Es, bahkan ketika dia masih kecil pernah dia diculik oleh Ketua Pulau Neraka. Maka ketika terjadi pertempuran, Kwi Hong sudah membantu Koksu, mengamuk de­ngan pedang Li-mo-kiam di tangannya. Para perajurit pemerintah yang berhadap­an dengan amukan dara perkasa ini men­jadi ngeri karena pedang yang mengeluarkan sinar kilat itu benar-benar menyeramkan. Tidak ada senjata yang mampu menandinginya, begitu bertemu satu kali saja tentu akan terbabat putus berikut tubuh pemegangnya! Betapapun juga, karena jumlah pasu­kan jauh kalah banyak, pasukan pembe­rontak terdesak hebat. Kwi Hong sendiri, biarpun mendatangkan kekacauan kepada pihak musuh dengan amukan pedangnya yang dahsyat dan membuat para perajurit musuh gentar, terpaksa harus mengguna­kan sebagian besar perhatiannya untuk melindungi tubuhnya karena banyaknya lawan yang mengeroyoknya. Bermacam senjata datang bagaikan hujan menye­rangnya. Koksu merasa girang sekali melihat kenyataan bahwa Kwi Hong benar-benar membantunya. Dia sendiri bersama Thian Tok Lama lebih mementingkan penjagaan terhadap Pangeran Yauw Ki Ong, karena kalau sampai pangeran ini tewas, habislah arti dari semua usaha perjuangannya. Tanpa adanya pangeran ini, tidak mung­kin dia akan mendapatkan dukungan orang-orang Mancu sendiri yang berpihak kepada pangeran ini, dan berarti jalan masuk baginya ke Kerajaan Mancu akan tertutup. Dia pun mengerahkan seluruh pembantunya, memimpin pasukan untuk melakukan perlawanan mati-matian. Dia mengharapkan agar paman gurunya Ma­harya, yang memimpin pasukan bantuan musuh, dapat segera mengubah keadaan dan dapat datang membantunya. Namun, yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang dan dia mendengar pelaporan anak buah­nya bahwa pasukan siluman Nepal yang dipimpin oleh Maharya sendiri itu pun mengalami tekanan hebat dari pihak musuh! Sama sekali Koksu tidak me­nyangka bahwa yang membuat Maharya tertahan itu adalah Bu-tek Siauw-jin dan Gak Bun Beng! Kalau dia tahu, tentu dia merasa khawatir sekali, apalagi kalau diingat bahwa munculnya dua orang itu, terutama Bu-tek Siauw-jin yang sudah menjadi guru Giam Kwi Hong, tentu akan mendatangkan perubahan besar kepada Kwi Hong. Betapa pun gigih Koksu dan anak buahnya mempertahankan, namun pihak musuh terlampau kuat dan jauh lebih besar jumlahnya. Terpaksa Koksu dan Thian Tok Lama sendiri mundur untuk melakukan penjagaan atas diri Pangeran Yauw yang berlindung di dalam pondok­nya, mendekam di atas pembaringannya dengan muka pucat dan dikelilingi para pelayan wanita yang seolah-olah hendak dijadikannya sebagai perisai terakhir. Pasukan pemberontak makin terdesak mundur dan tak lama kemudian, muncul­lah Nirahai dan Lulu sendiri di depan pondok persembunyian Pangeran Yauw Ki Ong yang dijaga oleh Koksu, Thian Tok Lama dan para panglima tinggi serta jagoan kaki tangan Koksu. Memang Nira­hai mengajak Lulu meninggalkan pasukan mereka yang sudah mendesak dan hampir menang itu untuk mencari-cari biang keladi pemberontak, yaitu Pangeran Yauw, Koksu dan kaki tangannya. “Yauw Ki Ong, pemberontak laknat!” Nirahai membentak sambil merobohkan beberapa orang anggauta pengawal yang sudah menyambut dia dan Lulu. “Menyerahlah untuk kuseret ke depan kaki Kaisar!” Yauw Ki Ong adalah saudara tiri Nirahai sendiri. Keduanya adalah ketu­runan Kaisar, berlainan ibu. Yauw Ki Ong tentu saja sudah mengenal dan maklum akan kelihaian Nirahai, maka mendengar suaranya, dia menjadi pucat dan tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya di dalam pondok yang terjaga kuat itu. Koksu dan para pem­bantunya, terutama sekali Thian Tok Lama, sudah bersiap-siap menjaga di situ dan kini mereka meloncat keluar meng­hadapi Nirahai dan Lulu. “Bhong Ji Kun, manusia rendah! Se­ekor anjing sekalipun akan ingat akan budi orang. Engkau telah memperoleh kemuliaan dari Kaisar, sebagai seorang asing peranakan India engkau telah di­angkat menjadi Koksu negara. Akan teta­pi engkau tidak berterima kasih malah menjadi pemberontak hina! Manusia ma­cam engkau ini tidak ada harganya untuk hidup!” Tanpa menanti jawaban lagi, Nirahai sudah menggunakan pedangnya menerjang Bhong-koksu. Kakek botak tinggi kurus ini terkejut bukan main melihat pedang di tangan Nirahai yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata itu. Dia segera mengenal Hok-mo-kiam, pedang yang dahulunya terjatuh ke dalam tangan Maharya, paman gurunya, kemu­dian pedang itu lenyap bersama tewasnya Tan Ki, murid Maharya yang tewas ber­sama Thai Li Lama tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya dan siapa yang men­curi atau merampas Hok-mo-kiam. Kini tahu-tahu pedang pusaka itu berada di dalam tangan bekas Ketua Thian-liong-pang ini!  “Tar-tar.... singgg....!” Pecut kuda ber­bulu merah di tangan kiri dan sebatang golok besar, golok perang di tangan ka­nan Koksu itu menyambar ganas. “Cringgg.... trakkk!” Ujung golok di tangan Bhong-koksu patah ketika bertemu dengan Hok-mo-kiam, akan tetapi Nira­hai harus cepat menarik pedang dan mencelat ke belakang karena ujung cam­buk merah sudah mengancam lengannya yang memegang pedang. Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun marah sekali, cepat mengeluarkan aba-aba dan menerjang ke depan dibantu oleh jagoan-jagoan yang menjadi kaki tangannya. Juga Thian Tok Lama dan beberapa orang temannya sudah menerjang dan mengeroyok Lulu. Tidak seperti Nirahai yang menggunakan Hok-mo-kiam, bekas Ketua Pulau Neraka ini menghadapi para pengeroyoknya dengan tangan kosong. Namun sepak terjangnya amat hebat dan menyeramkan karena begitu bergerak dia telah memainkan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat yang amat halus dan tinggi tingkat­nya, serta menggunakan tenaga mujijat Toat-beng-bian-kun yang telah bercampur dengan tenaga beracun dari Pulau Neraka. Dua orang pembantu Thian Tok Lama yang agaknya memandang rendah dan berani menyambut pukulan tangan yang kecil-kecil itu dengan lengan mereka, mengeluarkan pekik mengerikan dan mereka roboh terjengkang dengan seluruh lengan berwarna hitam, berkelojotan dan tewas tak lama kemudian! Repot juga Lulu dan Nirahai ketika dikeroyok oleh banyak sekali orang pan­dai itu sehingga mereka tdak dapat mencegah ketika lewat beberapa puluh jurus, Thian Tok Lama dan Bhong Ji Kun mengundurkan diri dari pertempuran, hanya menyerahkan kepada pasukan pe­ngawal untuk mengepung ketat. Mereka berdua sudah cepat memasuki pondok untuk membuat persiapan menyelamatkan Pangeran Yauw Ki Ong! Akan tetapi Nirahai yang berpeman­dangan tajam, dapat menduga akan ke­adaan ini. Melihat Koksu dan Thian Tok Lama menghilang dan yang mengepung hanyalah anak buah mereka, dia segera memutar Hok-mo-kiam, membuka jalan darah dan tubuhnya melesat ke atas wuwungan. “Yauw Ki Ong pemberontak hina, hendak lari ke mana engkau?” Bentaknya sambil melayang turun membobol genteng. Tiba-tiba dia melihat sinar berkilat menyambar dari samping. Nirahai terke­jut, maklum bahwa ada lawan tangguh menyerangnya secara tiba-tiba menyam­butnya ketika tubuhnya baru saja turun dari atas. “Tranggg....!” Bunga api perpijar dan Kwi Hong menjerit lirih. Tangannya terasa panas dan pedang Li-mo-kiam yang biasanya setiap kali bertemu senjata lawan pasti berhasil merusak senjata lawan, kini tergetar hebat! Juga Nirahai kaget bukan main. Baru sekarang Hok-mo-kiam bertemu dengan sebatang pedang yang amat kuat sehingga tidak patah, apalagi ketika dia melihat seorang gadis cantik dan gagah meme­gang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar berkilat! Kedua orang wanita itu, yang satu dara remaja yang lain wanita setengah tua, keduanya sama cantik dan sama keras hati, saling berhadapan dan saling pandang, pedang pusaka yang ampuh menggila di tangan masing-masing! Kini Nirahai tidak lagi mengenakan kerudung muka sehingga Kwi Hong dapat memandang wajahnya yang cantik, pakaiannya yang indah, pakaian seorang panglima wanita! Berdebar jantung Kwi Hong ketika dia mengenal wanita itu. Inilah wanita cantik yang dahulu bertemu dengan pamannya, wanita cantik yang kabarnya puteri kerajaan dan menjadi isteri pamannya, ibu dari Milana! Dia masih belum tahu bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah isteri pamannya! Akan tetapi, Nirahai tidak lagi me­ngenal Kwi Hong. Ketika untuk pertama kalinya dia bertemu dengan gadis ini, pada saat dia bertemu kembali untuk pertama kalinya dengan Suma Han, ke­adaan terlampau tegang sehingga dia tidak memperhatikan orang lain sehingga dia tidak mengenal keponakan suaminya ini. Karena dara cantik yang memegang sebatang pedang pusaka ampuh mengeri­kan itu berada di situ dan telah menye­rangnya, sedangkan dia melihat pangeran dikawal Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama sudah lari dari dalam pondok, dia menganggap gadis ini seorang di antara kaki tangan Koksu yang tangguh, maka dia segera menyerangnya. “Trang-trang-cringggg....!” Kembali dua orang wanita itu ter­huyung mundur. Nirahai terhuyung dua langkah sedangkan Kwi Hong terhuyung mundur sampai empat langkah. Betapapun juga, dara itu masih belum mampu me­nandingi tenaga sin-kang yang dimiliki Nirahai, sungguhpun dia telah memper­oleh kemajuan hebat semenjak menjadi murid Bu-tek Siauw-jin. Bunga api yang muncrat ketika tiga kali berturut-turut pedang Hok-mo-kiam bertemu dengan Li-mo-kiam menyilaukan mata. Kedatangan Kwi Hong memang pada saat yang tepat, karena kalau tidak ada dara ini, agaknya Koksu dan Thian Tok Lama takkan begitu mudah untuk dapat menyelamatkan Pangeran Yauw Ki Ong. Ketika Kwi Hong mengamuk dan melihat betapa pasukan anak buah Koksu terdesak hebat oleh gelombang serbuan pasukan pemerintah yang jauh lebih banyak jum­lahnya, gadis ini merasa khawatir dan maklum bahwa kalau dilanjutkan, perang itu akan berakhir dengan kekalahan di pihak sekutunya. Ketika dia menengok dan tidak melihat Koksu dan para pembantu­nya, yaitu Thian Tok Lama dan para jagoan yang berkepandaian tinggi, dia makin khawatir. Ke manakah mereka per­gi? Dia harus mengusulkan kepada Koksu untuk melarikan diri saja sebelum ter­lambat. Dengan pikiran ini, Kwi Hong membuka jalan darah dengan pedangnya, keluar dari kepungan dan menuju ke markas, yaitu ke pondok Pangeran Yauw dan sekutunya. Kedatangannya tepat se­kali. Dia melihat Koksu dan Thian Tok Lama bersama Pangeran Yauw, siap hendak melarikan diri. “Ahhh, keadaan musuh terlampau ba­nyak dan terlampau kuat. Kita harus melarikan diri, Lihiap,” kata Koksu begi­tu melihat munculnya Kwi Hong dengan pedang Li-mo-kiam yang berlepotan darah. “Sebaiknya begitu,” jawab Kwi Hong singkat. “Akan tetapi, ke manakah kita akan lari? Apakah Nona mempunyai usul yang baik?” Koksu memancing, padahal di da­lam hatinya, dia ingin sekali melarikan diri ke.... Pulau Es, pulau yang sudah kosong itu karena hanya di sanalah dia akan aman dari kejaran pemerintah. Tempat itu merupakan tempat yang su­kar didatangi, dan hanya mereka yang tahu jalan saja yang akan dapat menjadi penunjuk jalan saja. Kalau nona ini mau tentu akan dapat membawa mereka ke Pulau Es! Dia tahu bahwa tempat itu sudah kosong, dan kalau rombongannya dapat sampai ke tempat itu lebih dulu, berarti mereka akan memperoleh sebuah tempat pertahanan yang kuat! “Kalian larilah ke timur, ke pantai. Nanti kuantar kalian pergi melarikan diri ke Pulau Es,” jawab Kwi Hong. Tentu saja Koksu menjadi girang sekali. Akan tetapi dia cerdik dan cepat dia menjawab, “Akan tetapi.... apakah To-cu pulau itu sudi menerima kami? Dan penghuninya....?” “Pulau itu sudah kosong. Paman tidak lagi tinggal di sana. Pula, kalau paman tahu bahwa kalian melawan pemerintah, tentu paman suka menerima kalian. Pa­man sendiri pun seorang pelarian. Cepat pergilah....!” Pada saat itu Nirahai datang, melon­cat masuk dari atas atap yang dibobolnya. Begitu melihat seorang wanita melayang turun, Kwi Hong segera menyerangnya dan barulah dia terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa wanita itu adalah isteri pamannya sendiri, ibu dari Milana! Tentu saja di dalam hatinya Kwi Hong menjadi bingung sekali dan dia sebetulnya tidak mau bermusuhan dengan isteri pamannya ini. Akan tetapi karena dia diserang terus dan karena dia ingin memberi kesempatan kepada Koksu untuk menyelamatkan Pangeran Yauw, terpaksa dia melakukan perlawanan tanpa menge­luarkan kata-kata. Dia dapat menduga bahwa tentu wanita ini lupa dan tidak ingat kepadanya. Hal ini melegakan hatinya karena kalau sampai wanita cantik ini tahu bahwa dia adalah keponakan Pendekar Super Sakti, tentu akan menja­di marah sekali sedangkan dia sendiri pun tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap wanita ini. Jelas bahwa wanita ini adalah seorang tokoh pemerintah, dan mungkin puteri ini yang memimpin pasukan pemeritah. Melihat kedudukan itu, wanita cantik ini patut dimusuhinya, akan tetapi kalau teringat bahwa wanita ini adalah isteri pamannya, bagaimana dia berani bersikap kurang ajar dan mela­wannya? Betapa pun lihai Kwi Hong sekarang, dengan ilmu yang dipelajarinya dari Bu-tek Siauw-jin dan dengan pedang Li-mo-kiam di tangan, namun berhadapan de­ngan Nirahai, dia menjadi repot juga. Apalagi Nirahai menggunakan sebatang pedang pusaka yang amat hebat pula. Pedang Hok-mo-kiam adalah satu-satunya pedang yang sanggup menandingi Sepa­sang Pedang Iblis yang ganas. Andaikata Nirahai tidak memegang Hok-mo-kiam, agaknya wanita perkasa ini masih akan repot sekali harus menandingi Kwi Hong yang memegang Li-mo-kiam. Uutung bagi Kwi Hong bahwa dia ti­dak perlu terlalu lama menahan serangan yang bertubi-tubi dan amat dahsyat dari Nirahai karena Koksu yang cerdik itu sudah cepat mengirim bala bantuan beru­pa dua puluh orang lebih pengawal priba­di pangeran yang sudah menyerbu dalam pondok itu dan mengeroyok Nirahai. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kwi Hong untuk mencelat ke luar dari dalam pondok, meninggalkan Nirahai yang di­kepung dan dikeroyok oleh para pengawal. Cepat dia berlari keluar dan bergabung dengan rombongan Pangeran Yauw, dilindungi oleh pasukan dan melarikan diri ke timur menuju pantai, melalui pegu­nungan dan jurang-jurang. Sementara itu, pertandingan antara Gak Bun Beng melawan Maharya yang berlangsung amat hebat itu masih terjadi dengan seru, sedangkan Bu-tek Siauw-jin menonton dari pinggir sambil tersenyum-senyum. Kakek cebol yang sinting ini sekarang menganggur karena pasukan Nepal itu sedang dihajar oleh pasukan pemerintah yang pulih kembali semangat mereka setelah debu dan asap hitam membuyar. Tidak perlu lagi kakek ini membantu sehingga kini dia dapat me­nonton dengan enaknya, menonton per­tandingan antara Maharya dan Gak Bun Beng. “Ha-ha-ha, Maharya dukun lepus! Engkau tidak akan mampu mengalahkan muridku, ha-ha-ha!” Bu-tek Siauw-jin sengaja mengaku pemuda itu sebagai muridnya untuk membanggakan dirinya. Padahal dia hanya mengajar selama tiga hari saja, itu pun hanya menurunkan inti tenaga saktinya yang hanya merupakan sebagian dari gabungan sin-kangnya dengan sin-kang Pendekar Super Sakti! Kalau melawan “muridnya” saja Maharya tidak mampu menang, apalagi melawan dia yang men­jadi gurunya? “Siauw-jin, asal engkau tidak begitu pengecut untuk mengeroyok aku....” “Heh-heh-heh, siapa sudi mengeroyok­mu?” Bu-tek Siauw-jin mengejek. Inilah yang dikehendaki Maharya. Be­tapa pun sintingnya, ucapan dari seorang kakek sakti seperti Bu-tek Siauw-jin boleh dipercaya. Tanpa diminta, jawaban kakek sinting itu sudah merupakan janji. Boleh jadi pemuda ini lihai, akan tetapi dengan hanya bertangan kosong dan tanpa dibantu Bu-tek Siauw-jin, masa dia tidak akan mampu mengalahkannya? Untuk mengandalkan ilmu sihirnya, percuma, dan hal ini sudah diketahuinya sejak, tadi karena pemuda itu sama sekali tidak pernah mau beradu pandang mata dan pemuda itu memiliki sin-kang yang amat kuat. Apalagi sekarang ada Bu-tek Siauw-jin duduk menonton di situ, tentu saja dia tidak dapat mengandalkan ilmu hitamnya. Sebetulnya tidak perlu Maharya harus menggunakan akal untuk memancing janji seorang seperti Bu-tek Siauw-jin. Bagi kakek yang tidak lumrah manusia sehingga seperti sinting ini, kalah menang bu­kanlah apa-apa, dan dia sudah pasti tidak akan sudi turun tangan membantu Bun Beng biarpun pemuda itu andaikata ter­ancam bahaya maut kalau pertempuran yang dihadapi pemuda itu merupakan per­tempuran yang adil dan pantas. Kalau tadi dia selalu memperhatikan Bun Beng adalah karena dia khawatir kalau-kalau pemuda itu terjebak ke dalam perangkap Maharya yang banyak akalnya. Kalau pemuda itu dikeroyok, tentu saja dia akan membelanya, juga kalau Maharya menggunakan ilmu sihir, tentu dia akan berusaha menghalau kekuasaan dan pe­ngaruh ilmu hitam itu. Akan tetapi da­lam sebuah pertandingan seperti yang terjadi sekarang, tanpa diminta pun dia tidak akan mencampurinya. Bu-tek Siauw-jin merasa gembira dan tegang menonton pertandingan itu, akan tetapi sama sekali bukan tegang karena khawatir Bun Beng kalah. Bagi dia, siapa yang kalah siapa yang menang dalam sebuah pertandingan adil, tidak menjadi soal. Dia merasa tegang karena pertan­dingan itu memang hebat sekali, dahsyat dan seimbang. “Heeaaahhh!” Tiba-tiba Maharya yang sudah menjadi marah sekali karena mera­sa penasaran, menubruk maju, tombak bulan sabit di tangan kanannya diputar seperti kitiran angin dan menyambar ganas, sedangkan tangan kiri yang meme­gang tasbih sudah siap pula mengirim serangan susulan. Berbeda dengan tadi, Maharya kini agaknya hendak memperce­pat dan mengakhiri pertandingan karena melihat betapa pasukannya sudah mundur dan banyak yang tewas. Tadi dia masih selalu bersikap hati-hati, akan tetapi sekali ini dia mengerahkan seluruh ke­pandaiannya untuk menyerang. “Haiitt!” Bun Beng meloncat ke atas dan berjungkir-balik menghindarkan diri dari sambaran tombak bulan sabit, akan tetapi bukan semata-mata hendak menge­lak saja karena sambil berjungkir-balik itu tangannya mencengkeram dan dia menggunakan gerakan cepat luar biasa ini untuk menangkap batang tombak di dekat bulan sabit yang tajam itu. Mahar­ya terkejut sekali, akan tetapi dia adalah seorang yang memiliki banyak pengalam­an dalam pertandingan melawan orang-orang pandai sehingga setiap keadaan yang bagaimanapun juga, bahkan yang kelihatannya mengerikan, dapat dia man­faatkan sebaiknya demi keuntungannya. Karena itu, dia sengaja tidak mau me­narik tombaknya untuk merampas kemba­li senjata yang telah dipegang lawan ini, bahkan menggunakan kesempatan selagi tubuh lawan masih di angkasa, tasbih di tangan kirinya menyambar dada! Bun Beng sudah siap karena me­mang dia pun sudah menduga bah­wa lawannya tidak akan berhenti di situ saja. Maka dia pun menggerakkan caping­nya untuk menangkis. “Trakkkk!” Caping dan tasbih bertemu dan pada saat itu, kedua kaki Bun Beng sudah tiba lagi di atas tanah. Akan tetapi di luar dugaan pemuda ini, tiba-tiba kakek itu melepaskan tombaknya dan berbalik merampas topi capingnya. Karena gerakan Maharya ini tidak disangka sama sekali, dan ketika memegang tom­bak lawan dia mengerahkan tenaga, tubuhnya agak terhuyung dan tahu-tahu tasbih lawan telah meluncur dan melibat lehernya! Bun Beng mengerahkan tenaga. Le­hernya tercekik dan terdengar suara la­wannya tertawa. Bun Beng maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, dia terancam maut, maka dengan pengerahan tenaganya, dia menyodokkan gagang tombak rampasannya ke arah pusar lawan. Maharya yang memegang caping rampas­an, menangkis sodokan gagang tombak itu, akan tetapi bukan itulah maksud serangan Bun Beng karena tiba-tiba tombaknya ditarik kembali dan kini bagi­an yang tajam berbentuk bulan sabit itu membabat ke atas, ke arah tasbih yang melibat dan mencekik lehernya. “Cringgg.... rrrttt!” Disambar bagian yang amat tajam dari tombak bulan sabit itu, tasbih yang membelit leher Bun Beng putus dan mutiara-mutiara besar yang diuntai itu jatuh berserakan. “Wuuuttt.... brakkkk!” Pada saat tombak tadi menyambar tasbih, Maharya juga melihat gerakan ini dan maklum bahwa dia tidak dapat me­nyelamatkan tasbihnya, maka dengan kemarahan meluap dia menghantamkan caping rampasannya ke arah muka Bun Beng. Kakek pendeta ini menyerang dengan pengerahan tenaga sekuatnya dan Bun Beng yang baru saja menggunakan tombak untuk menyelamatkan lehernya dari belitan tasbih, melihat datangnya caping dengan kecepatan kilat. Dia tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak, terpaksa dia menekuk kedua lututnya, memberi kesempatan kedua tangannya untuk menggerakkan tombak yang diang­kat melintang dan menerima hantaman caping itu. Hebat bukan main pertemuan antara caping dan tombak. Caping pecah dan tombak patah-patah, pundak Bun Beng masih terpukul pecahan caping de­mikian kerasnya sehingga tubuhnya ter­guling ke atas tanah. “Mampuslah!” Maharya menubruk dengan injakan kedua kakinya ke arah kepala Bun Beng, akan tetapi pemuda itu dengan sigapnya berhasil mengguling­kan tubuhnya sehingga enam tujuh kali injakan kaki Maharya ke arah kepalanya yang merupakan serangan maut itu dapat dihindarkannya. Karena serangan kaki secara bertubi-tubi itu tidak memberinya kesempatan untuk membalas atau meloncat bangun, ketika untuk kesekian kalinya berguling, tangannya menyambar tanah dan sambil berguling dia melontarkan tanah ke arah muka lawan. Biarpun melontarkannya sambil bergulingan, na­mun tenaga sambitan ini hebat dan kalau tanah itu mengenai muka, terutama mata akan hebat akibatnya bagi Maharya. Melihat datangnya sinar hitam ini, ter­paksa Maharya meloncat ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Beng untuk meloncat bangun. Pundaknya terasa nyeri, akan tetapi dia sudah siap sehingga ketika melihat tubuh Maharya menerkamnya, dia menyambut dengan kedua telapak tangan didorongkan ke depan. Maharya sudah marah sekali. Pasukannya sudah habis, sebagian melarikan diri, dan dia sudah terkepung sendiri di situ oleh pasukan pemerintah yang kini seperti juga Bu-tek Siauw-jin, hanya menonton. Namun kakek ini maklum bahwa dia telah terkepung dan sukar untuk lolos kalau tidak dapat segera mengalah­kan pemuda ini dan mengalahkan Bu-tek Siauw-jin. Maka kini, melihat Bun Beng meloncat bangun dalam keadaan terluka pundaknya, dia sudah mengirirn serangan­nya yang paling dahsyat dengan memu­kulkan kedua telapak tangannya yang penuh dengan tenaga sin-kang bercampur tenaga yang keluar dari ilmu hitamnya. “Bresss!” Bukan main hebatnya pertemuan te­naga sakti yang amat kuat dari kedua pihak itu, dan akibatnya, mulut Maharya menyemburkan darah segar, akan tetapi tubuh Bun Beng terjengkang dan bergu­lingan! Maharya terkejut, maklum bahwa dia terluka parah, maka dia berlaku ne­kat. Dengan suara melengking seperti iblis marah, dia menubruk tubuh Bun Beng yang bergulingan, dengan maksud untuk mengadu nyawa, mengajak lawan mati bersama. Akan tetapi dia tidak tahu sama sekali bahwa pemuda itu memang sengaja menjatuhkan diri dan bergulingan untuk mengambil kekuatan dari bumi sesuai dengan ilmu yang diterimanya dari kakek Bu-tek Siauw-jin, yaitu tenaga sakti Inti Bumi. Begitu melihat kakek itu menubruk, dengan menekan bumi Bun Beng mengirim pukulan dari bawah, de­ngan telapak tangan kanan didorongkan ke atas menyambut tubuh kakek itu. “Desss....!” Terdengar pekik mengeri­kan ketika tubuh kakek itu terlempar kembali ke atas, terbanting ke atas ta­nah, berkelojotan dengan mata mendelik dan mulut muntah-muntah darah segar, kemudian mengejang dan tewas. Bun Beng cepat bangkit duduk dan bersila, memejamkan mata. Biarpun luka­nya tidak hebat, namun pukulan dengan caping yang pecah mengenai pundaknya tadi menggetarkan isi dadanya dan harus cepat disembuhkan dengan pengerahan sin-kang. Bu-tek Siauw-jin menoleh kepa­da para perajurit pemerintah yang menonton, lalu membentak ke arah mereka. “Hayo pergi kalian! Mau apa menon­ton? Ini bukan tontonan! Kalian telah membawa kami terpaksa ikut berperang. Sialan!” Para perajurit terkejut sekali. Mereka tidak mengenal siapa adanya kakek cebol ini dan pemuda yang amat gagah itu, akan tetapi karena sudah jelas bahwa kedua orang itu tadi bertempur memban­tu mereka, maka mereka tidak berani membantah dan segera meninggalkan tempat itu untuk membantu pasukan yang masih mengejar-ngejar pasukan pembe­rontak. Pasukan pemberontak telah dihancur­kan, sebagian kecil yang merupakan pa­sukan khusus, pengawal-pengawal pribadi Koksu dan Pangeran Yauw, ikut melari­kan diri dan mengawal rombongan pange­ran itu, termasuk tukang kuda dan pengurus kereta yang telah kehilangan kereta karena tak dapat dipergunakan dalam pelarian yang tergesa-gesa itu. Bahkan tidak semua dari mereka dapat menunggang kuda. Nirahai dan Lulu merasa penasaran sekali. Biarpun pasukan-pasukan pembe­rontak dapat dihancurkan, markas mereka dibasmi dan dibakar, namun biang keladi pemberontak dapat melarikan diri. Ketika mereka mendengar laporan tentang dua orang sakti yang membantu pasukan ketika pasukan siluman Nepal dengan gajah-gajah mereka mengamuk, Nirahai segera menduga bahwa mereka itu tentu­lah Bu-tek Siauw-jin dan Gak Bun Beng. Maka dia mengajak Lulu untuk menda­tangi tempat itu. Ternyata benar dugaan­nya. Gak Bun Beng masih duduk bersila dan Bu-tek Siauw-jin berdiri di dekatnya, tertawa-tawa ketika melihat Nirahai. “Wah-wah, setelah kerudungnya dibu­ka, ternyata dalamnya sebuah wajah yang luar biasa cantiknya!” kata kakek sinting itu, sama sekali tidak peduli bahwa dia bicara dengan bekas Ketua Thian-liong-pang, bahkan puteri Kaisar yang menjadi panglima besar. “Bu-tek Siauw-jin, terima kasih atas bantuanmu kepada pasukanku sehingga pasukan Nepal yang membantu pemberon­tak dapat dihancurkan,” kata Nirahai, suaranya tenang saja. Dia bukanlah seo­rang muda yang dapat panas hatinya oleh sikap kakek sinting ini, apalagi dia sudah tahu akan watak kakek ini yang tidak lumrah manusia. “Ha-ha-ha, engkau sendiri pernah me­nolongku ketika aku diganggu Koksu palsu itu selagi mandi. Pertolonganmu itu lebih berharga karena hampir aku dibuat malu!” Agak merah sedikit kulit muka yang halus itu karena Nirahai teringat betapa kakek sinting ini pernah berdiri bertelan­jang bulat begitu saja di depannya tanpa malu-malu! Dia melirik ke arah Bun Beng dan bertanya, “Apakah dia terluka?” Sebelum Bu-tek Siauw-jin menjawab, Bun Beng sudah membuka mata, bangkit berdiri dan memberi hormat. “Locianpwe, saya tidak apa-apa hanya terluka sedikit. Sukur bahwa Locianpwe telah berhasil menghancurkan musuh....”“Aihh, dialah orangnya yang dahulu membantu Koksu di kapal ketika menye­rang Pulau Es!” Ucapan ini keluar dari mulut Lulu ketika dia memandang mayat Maharya Mendengar ini, Bu-tek Siauw-jin ter­tawa, “Ha-ha-ha, dia pula yang membas­mi Pulau Neraka akan tetapi Majikan Pulau Neraka sama sekali tidak becus mempertahankan pulaunya!” Lulu mengerutkan alisnya. Mukanya yang pucat itu tidak berubah, dan sepa­sang matanya yang lebar dan jernih namun berkilat mengerikan itu ditujukan kepada kakek cebol itu. “Siapa engkau?” Akan tetapi Bu-tek Siauw-jin tidak menjawab, melainkan melanjutkan kata-katanya, “Muridku inilah yang telah ber­hasil membunuhnya, maka engkau harus berterima kasih kepadanya!” Lulu melirik ke arah Gak Bun Beng, alisnya masih berkerut. “Bukankah engkau pemuda yang dahulu membantu pula ketika Pulau Es diserbu pasukan pemerin­tah?” Bun Beng memberi hormat dan me­mandang penuh heran, kaget dan kagum. “Dan kalau saya tidak salah menduga, Locianpwe adalah wanita sakti yang da­hulu melepas bahan-bahan ledak, kemudi­an mengacau di kapal Koksu.”. “Hemmm, agaknya engkau seorang bocah ringan tangan, di mana-mana eng­kau hadir dan bercannpur tangan!” Lulu berkata lirih, akan tetapi diam-diam dia heran bukan main bagaimana seorang pemuda seperti ini dapat membunuh Maharya yang demikian lihai! “Sungguh aku heran sekali mengapa semua orang muda kauakui sebagai mu­ridmu, Bu-tek Siauw-jin?” Nirahai berta­nya karena sudah mendengar dari puteri­nya bahwa Kwi Hong juga diambil murid oleh Bu-tek Siauw-jin. Sebelum kakek sinting itu menjawab, Lulu sudah mencelat ke depan, berhadap­an dengan kakek cebol itu. “Jadi engkau yang bernama Bu-tek Siauw-jin?” Ketika Nirahai untuk pertama kalinya menyebut nama kakek itu, dia kurang memperhati­kan karena perhatiannya lebih tertarik kepada mayat Maharya. Baru sekarang dia mendengar nama itu dan kemarahan­nya bangkit. “Dan mana yang satu lagi? Mana dia yang disebut Cui-beng Koai-ong?” Bu-tek Siauw-jin tertawa. “Heh-heh, jadi engkau sudah mendengar nama kami? Tentu puteramu yang manja dan jahat itu yang memberi tahu!” “Tua bangka sialan!” Lulu yang masih belum hilang betul watak kerasnya menjadi marah mendengar betapa puteranya dicela oleh kakek ini. “Kaukira aku takut kepadamu? Biarpun engkau dan Cui-beng Koai-ong disebut tokoh-tokoh iblis dari Pulau Neraka, aku tidak takut!” “Lulu, kita dalam tugas, jangan bawa-bawa urusan pribadi!” Nirahai memper­ingatkan Lulu, akan tetapi setelah marah seperti itu, mana mungkin dengan mudah saja Lulu dibikin sabar. Dia sudah me­nerjang kakek itu dengan pukulan sakti dari Hong-in-bun-hoat! Kakek itu cepat mengelak, akan tetapi angin pukulan masih membuat dia terhuyung dan sambil tertawa kakek itu menjauhkan diri ber­gulingan lalu meloncat bangun. “Eit-eit, sungguh galak engkau! Kalau dahulu bukan aku yang melarang suheng, agaknya engkau hanya tinggal nama saja! Dan kalau aku tidak melihat bahwa engkau adalah pewaris kitab-kitab Pende­kar Sakti Suling Emas yang kami kagumi dan hormati, apakah aku akan melarang suheng menghancurkan engkau? To-cu (Majikan Pulau) yang memiliki warisan senjata kipas pusaka dan ilmunya Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan), mengapa tidak mengeluarkannya dalam pertempuran?” Lulu terbelalak. “Kau.... kau.... tahu akan itu semua?” “Heh-heh, sehari setelah To-cu datang, kami berdua sudah memeriksa seluruh benda yang To-cu bawa, karenanya aku bersikeras melarang suheng turun tangan karena To-cu adalah ahli waris Suling Emas.” “Lulu!” Nirahai kini menghadapi Lulu dengan alis berkerut dan sinar mata memandang dengan penuh selidik. “Jadi engkau yang mengambil benda-benda pu­saka itu? Jadi engkau yang membunuh Kakek Gu Toan....?” Lulu membanting-banting kakinya teringat akan semua peristiwa yang di­alaminya. Di bagian depan cerita ini telah dituturkan betapa ketika Lulu mu­lai dengan perantauannya bersama anak­nya yang masih kecil, Wan Keng In, dia tiba di kuburan keluarga Suling Emas, melihat kakek itu diserang oleh seorang yang amat lihai, dan oleh Kakek Gu Toan dia disuruh menyelamatkan benda-benda pusaka peninggalan keluarga Suling Emas. Dia telah mewarisi ilmu-ilmu itu, akan tetapi dia tidak mau memperguna­kannya karena ingin menyembunyikan diri di Pulau Neraka sampai niatnya berhasil, yaitu bertemu dengan orang yang dicin­tainya, menjadi isteri orang itu atau menjadi musuh besarnya. Kiranya keadaan menghendaki lain dan semua niat dan cita-citanya hancur berantakan, puteranya menyeleweng menyakitkan hatinya, Pulau Neraka hancur dan Suma Han.... menam­bah sakit hatinya! “Tidak! Aku tidak membunuhnya. Da­hulu aku hanya melihat seorang tinggi kurus seperti orang India menyerangnya dan mendesaknya. Sekarang aku tahu siapa adanya orang kurus itu. Bukan lain adalah Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun! Aku tidak tahu apakah Kakek Gu Toan mati atau hidup dalam pertandingan itu karena dia minta kepadaku untuk meng­ambil benda-benda pusaka dan melarikan­nya.” “Di mana benda-benda itu sekarang?” tanya Nirahai. “Ada kusimpan sebelum Pulau Neraka dihancurkan. Mengapa, Suci?” tanya Lulu, suaranya penuh tantangan. Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan nyaring sekali, datang dari jauh dan membuat semua orang terkejut. Hanya seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi dan sin-kang yang luar biasa kuatnya saja mampu mengeluarkan suara melengking seperti itu. “Ha-ha-ha! Dia baru datang!” Bu-tek Siauw-jin terkekeh dan Bun Beng juga sudah dapat menduga siapa adanya orang yang mengeluarkan suara melengking seperti itu. Nirahai dan Lulu saling pandang, agak­nya baru menduga setengahnya, dan baru mereka terkejut ketika lengking itu di­susul suara yang terdengar dari jauh akan tetapi amat jelas. “Nirahai....! Lulu....! Kalian memang patut dihajar!” Wajah Nirahai berubah merah sekali, dan wajah Lulu yang telah menjadi putih karena keracunan di Pulau Neraka tidak berubah, akan tetapi matanya bergerak-gerak liar ke kanan kiri mencari-cari. Tentu saja kedua orang wanita ini me­ngenal suara itu, suara yang mereka tak­kan lupakan selama hidup mereka, suara yang selalu terdengar oleh telinga mere­ka di waktu mereka melamun atau di waktu mereka bermimpi. Tanpa disengaja keduanya saling pandang dan seolah-olah dalam pandang mata mereka itu terjadi­lah sebuah permufakatan tanpa direnca­nakan atau dibicarakan, bahkan kini tanpa diucapkan. Bun Beng memandang dengan hati penuh ketegangan, apalagi ketika ia melihat sikap kedua orang wanita cantik itu. Diam-diam dia merasa heran sekali mengapa Pendekar Super Sakti marah-marah, dan mengapa kedua orang wanita itu kini hendak menyambut kedatangan pendekar yang dikagumi itu dengan jarum-jarum di tangan kiri! Bagaikan seekor burung garuda putih tubuh Pendekar Super Sakti meluncur turun dari atas, gerakannya cepat bukan main karena dia telah mempergunakan ilmunya yang luar biasa, yaitu Soan-hong-lui-kun. Dengan ilmu ini dia dapat berge­rak cepat, berloncatan dengan ayunan kaki tunggalnya, makin lama makin cepat seolah-olah Kauw Cee Thian (Si Raja Monyet) sendiri yang berloncatan! Dengan wajahnya yang tampan gagah itu kini kehilangan kemuramannya, sepasang matanya yang tajam dan aneh itu ber­sinar-sinar, kedua pipinya kemerahan dan wajahnya berseri, dagunya mengeras membayangkan kemauan keras yang tidak dapat dibantah, pendekar itu kini telah berdiri di depan kedua orang wanita itu dengan tegak. “Singg.... wir-wir-wir.... siuuuttt....!” Sinar-sinar merah meluncur dari tangan kiri Nirahai dan sinar hitam meluncur dari tangan kiri Lulu. Itulah jarum-jarum Siang-tok-ciam dan Hek-kong-ciam dari kedua orang wanita sakti itu. Jarum-jarum yang selain mengandung racun mematikan, juga dilempar dengan penge­rahan tenaga sin-kang sehingga jarum-jarum kecil itu cukup kuat untuk menembus benda keras! Namun Pendekar Super Sakti sama sekali tidak mengelak atau bergerak menangkis, masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali, bibirnya tersenyum dan sinar matanya amat tajam. “Cep-cep-cep, wir-wir-wirrr!” Jarum-jarum yang saking cepatnya telah menjadi sinar-sinar merah dan hi­tam itu seolah-olah menembus tubuh Suma Han. Padahal, tidak ada sebatang pun jarum yang menyentuh kulitnya, karena jarum-jarum itu hanya mengenai baju di sekeliling tubuhnya, menembus baju itu dan meluncur terus ke sebelah belakang tubuh Suma Han. Kiranya, biar­pun kelihatan marah dan ganas, kedua orang wanita itu melontarkan senjata rahasia mereka dengan terarah, sama se­kali tidak ada yang ditujukan kepada tubuh orang yang mereka cinta, melain­kan membidik ke sekeliling tubuhnya.  “Ihhhh....!” Lulu menahan seruannya dan matanya yang lebar terbelalak. “Ohhhh....!” Nirahai juga menahan seruannya dan otomatis tangan kirinya meraba bibir menutupi mulutnya. Kedua orang wanita itu kaget sete­ngah mati, bukan hanya karena rahasia mereka terbuka, rahasia bahwa mereka itu biarpun di luarnya kelihatan marah dan memusuhi, namun di balik sikap ini terkandung rasa cinta yang besar sehing­ga mereka tidak mau menyerang sungguh sungguh dengan jarum-jarum mereka. Bukan karena inilah mereka terkejut, melainkan karena melihat kenyataan be­tapa Suma Han sama sekali tidak menge­lak atau menangkis! Mereka maklum bahwa biarpun mereka menyerang dengan sungguh-sungguh sekalipun, tak mungkin mereka akan dapat melukai pendekar itu dengan jarum-jarum mereka. Mereka mengharapakan pendekar itu mengelak atau memukul runtuh jarum-jarum mere­ka dengan kibasan tangan atau dengan tongkat. Siapa kira, pendekar itu sama sekali tidak mengelak sehingga andaikata mereka tadi menyerang sungguh-sungguh, tentu tubuh Suma Han telah terkena jarum beracun! “Kau.... kau mau apa....?” Lulu berta­nya, gagap. “Pendekar kaki buntung, mau apa engkau datang ke sini?” Nirahai juga menegur, suaranya ketika mPnyebut “Pendekar Kaki Buntung” menyakitkan hati sekali. Akan tetapi Suna Han tidak mempedulikan itu, hanya memandang mereka lalu terdengar suaranya menegur, seperti seorang ayah menegur dua orang anaknya yang nakal. “Apa yang kalian lakukan ini? Menga­pa kalian begini bodoh untuk melibatkan diri dengan urusan negara? Benar-benar kalian masih belum dewasa, lancang dan perlu dihajar!” Nirahai dan Lulu terbelalak meman­dang Suma Han. Sedikit pun mereka tidak pernah mimpi akan mendengar ucapan seperti itu dari mulut Suma Han, laki-laki yang sejak dahulu bersikap le­mah, yang menyakiti hati mereka oleh kelemahan sikapnya itu. Akan tetapi, di samping keheranan luar biasa, juga ucapan Suma Han membangkitkan kema­rahan besar. “Peduli amat engkau dengan apa yang kami lakukan?” Nirahai balas membentak. “Engkau mau apa kalau kami mencam­puri urusan negara?” “Tentu saja aku peduli karena engkau isteriku, Nirahai. Setiap perbuatan seo­rang isteri menjadi tanggung jawab sua­minya pula. Dan juga perbuatan Lulu menjadi tanggung jawabku! Aku melarang kalian melanjutkan penglibatan diri kalian dengan urusan pemerintah!” “Suma Han, enak saja kau bicara!” Lulu membentak marah dan bertolak pinggang. “Nirahai-suci boleh jadi isteri­mu, akan tetapi engkau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!” Suma Han tersenyum memandang Lulu dan senyum ini saja sudah hampir melepaskan semua sendi tulang di tubuh wanita ini. “Lulu, berani engkau bicara seperti itu kepadaku? Engkau adik ang­katku....” “Aku tidak sudi menjadi adikmu!” “Aku tahu, biarlah kurubah sebutan, itu. Engkau sebagai wanita yang mencintaku juga yang kucinta, tentu saja engkau menjadi tanggung jawabku pula dan engkau harus menurut kata-kataku!” Lulu membanting-banting kaki kanan­nya, kebiasaan yang belum juga dapat dihilangkannya semenjak dia masih seo­rang dara remaja! “Tidak tahu malu! Tak tahu malu....!” “Suma Han, apa kehendakmu dengan segala sikap aneh ini? Apakah engkau datang untuk membadut? Ataukah engkau sekarang sudah gila?” “Ha-ha-ha! Ho-ho-ho-heh-heh! Lucu....! Lucu....! Belum pernah aku melihat yang selucu ini! Mau aku digantung kalau aku pernah melihat yang selucu ini! Ha-ha-ha!” Bu-tek Siauw-jin tertawa-tawa sam­bil memegangi perutnya. Bun Beng yang tadinya merasa tegang, terpaksa menahan geli hatinya mendengar ucapan dan meli­hat sikap kakek sinting itu. Di sana-sini terdengar suara tertawa dan Suma Han segera menoleh ke kanan kiri. Kiranya tempat itu penuh dengan perajurit-pera­jurit anak buah Nirahai yang menonton! “Keparat kalian semua! Pergi dari sini....!” Suma Han yang menjadi merah mukanya itu membentak ke kanan kiri, ditujukan kepada para perajurit. Para perajurit menjadi kaget, akan tetapi me­reka tidak bergerak pergi. Panglima mereka berada di situ, mana mungkin mereka pergi begitu saja diusir oleh orang luar, sungguhpun mereka mende­ngar bisikan-bisikan bahwa yang mengu­sir mereka itu Pendekar Siluman yang namanya pernah menggegerkan istana! Nirahai menoleh ke kanan kiri dan dia pun membentak, “Kelian pergi! Per­gi....! Pergi jauh dan jangan ada yang mendekat!” Tentu saja perintah yang keluar dari mulut Nirahai ini seperti cambukan pada tubuh sekumpulan domba. Mereka terke­jut dan ketakutan, cepat mereka itu membubarkan diri dan pergi dari tempat itu. Tak seorang pun berani mendekati tempat itu, biar dengan sembunyi sekali­pun, karena mereka tahu bahwa sembu­nyi pun percuma, tentu akan diketahui oleh panglima wanita yang amat lihai itu. Sebentar saja tempat itu menjadi sunyi. Kini yang masih berada di tempat itu hanyalah Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin. “Nirahai, sekarang kujawab pertanya­anmu tadi. Aku datang sebagai suamimu dan engkau sebagai isteriku harus tunduk kepadaku, dan harus ikut ke mana pun aku pergi. Aku hendak membawamu pergi. Aku hendak membawamu pergi dari sini dan kau harus ikut denganku!” “Tidak sudi!” “Sudi atau tidak, mau atau tidak, engkau harus ikut bersama aku sekarang juga. Kalau kubiarkan terus sendirian, makin lama engkau makin keras kepala dan menimbulkan keributan di mana-mana. Huh, sungguh gila! Menjadi Ketua Thian-liong-pang, berkerudung, menggegerkan kang-ouw, kemudian sekarang malah kembali menjadi panglima pemerintah. Apa-apaan ini?” “Setan! Kaukira akan mudah saja me­maksaku!” Nirahai hampir menjerit saking marahnya. Mukanya merah, sepasang ma­tanya mendelik dan tangannya sudah meraba gagang pedang Hok-mo-kiam di pingganggnya. “Lawan saja, Suci. Dia memang se­orang manusia tak tahu diri, biar kubantu engkau, Suci!” Lulu berkata, juga suara­nya terdengar marah sekali. “Lulu, engkau pun mulai saat ini ha­rus ikut dengan aku. Suka tidak suka, mau tidak mau, engkau harus berada di sampingku untuk selamanya!” kembali Suma Han berkata dan di dalam suaranya terkandung ketegasan yang tidak boleh dibantah lagi. “Apa? Lebih baik aku mati!” Lulu membentak. “Engkau takkan kubiarkan mati. Ka­lian harus ikut bersamaku dan habis perkara!” kembali Suma Han berkata. “Sing....!” Hok-mo-kiam telah dicabut dari sarungnya, kemudian Nirahai mener­jang maju menyerang Suma Han dengan gerakan cepat sekali. Lulu tidak tinggal diam dan dia pun sudah menyerang de­ngan pukulan-pukulan maut. “Bagus! Memang aku harus menunduk­kan kalian dengan kekerasan, hal yang semestinya kulakukan sejak dahulu!” Suma Han berkata, suaranya terdengar gembira, dan tubuhnya sudah mencelat mengelak, kemudian seperti kilat dia mainkan Soan-hong-lui-kun untuk menghadapi dua orang wanita yang dicintanya, dua orang wanita yang selama kurang lebih dua puluh tahun telah membuat dia menderita amat hebat! Tongkatnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung mengimbangi sinar pedang Hok-mo-kiam, dan dia mengha­dapi dua orang wanita itu dengan pengerahan ilmunya karena baik Nirahai mau­pun Lulu, bukanlah dua orang wanita seperti dua puluh tahun yang lalu, me­lainkan telah memperoleh kemajuan yang luar biasa sehingga tingkat kepandaian mereka sudah amat tinggi. Nirahai dan Lulu juga mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka untuk mengalahkan Suma Han. Hanya inilah satu-satunya jalan bagi mereka untuk mempertahankan harga diri dan keangkuhan mereka. Mereka tidak akan menyerah mentah-mentah sungguh pun di sudut hati mereka, dua orang wanita ini merasa terharu, bangga dan juga ba­hagia bahwa pria yang mereka cinta itu bersikeras untuk hidup bersama mereka! Seperti telah bermufakat sebelumnya, dalam menghadapi Suma Han ini, Nirahai dan Lulu dapat bekerja sama dan seolah-olah saling membantu sehingga tentu saja kedudukan mereka kuat bukan main, membuat Suma Han yang sudah memper­gunakan Ilmu Sakti Soan-hong-lui-kun itu harus bersikap hati-hati kalau dia tidak ingin gagal dan dikalahkan!  “Ha-ha-ha, lucu! Lucu dan gila! Eh, Bun Beng, lihat mereka bertiga itu! Seperti kanak-kanak, atau orang-orang dewasa yang miring otaknya! Ha-ha, ja­ngan mau kalah, Nirahai dan Lulu! Laki-laki macam itu memang pantas dihajar babak belur, biar kapok, biar tahu bahwa wanita-wanita macam kalian tak boleh dibuat sembarangan, tak boleh dipermain­kan. Ha-ha-ha! Eh, Pendekar Siluman, masa engkau tidak mampu menundukkan mereka? Wanita-wanita keras kepala me­mang semestinya ditundukkan dengan kekerasan. Itulah yang mereka kehendaki! Mereka suka ditundukkan, suka menyerah di bawah kekerasan laki-laki! Kalau engkau menjadi suami yang terlalu lunak, terlalu halus terlalu mengalah, mereka malah muak! Hayo, gaplok saja! Wah, ramai....! Ramai....! Ha-ha-ha!” Tiga orang itu saling serang dengan hebat, Bun Beng menonton dengan hati gelisah akan teta­pi Bu-tek Siauw-jin tertawa-tawa gembira bertepuk-tepuk tangan, bersorak dan menyiram minyak pada api di hati tiga orang itu saling bergantian agaknya ingin melihat pertandingan itu makin seru dan mati-matian. Lagaknya seperti kalau dia mengadu, jangkerik, akan tetapi kali ini dia tidak memihak, kedua pihak dipujinya juga dicelanya! “Locianpwe, bagaimana Locianpwe da­pat mengatakan lucu? Teecu tidak meli­hat sesuatu yang lucu, hanya tegang karena pertandingan hebat ini benar-be­nar amat berbahaya.” Biarpun bicara dengan Bu-tek Siauw-jin, namun pandang mata Bun Beng tidak pernah beralih dari gerakan tiga orang yang bertempur itu. Dia kagum bukan main. Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan pertan­dingan yang demikian dahsyat dan luar biasa. Ilmu yang dimainkan tiga orang itu adalah ilmu silat-ilmu silat tinggi yang sebagian besar bersumber kepada ciptaan-ciptaan Bu Kek Siansu atau Koai-lojin, juga menjadi ilmu silat pusaka dari keluarga Suling Emas yang terkenal sepanjang masa itu. “Eh? Engkau tidak melihat lucunya? Mereka itu saling mencinta, dan sekarang saling menyerang seperti orang-orang yang saling membenci mati-matian. Me­reka seperti orang gila, dan memang mereka telah dibikin gila oleh cinta! Ha-ha!” Bun Beng mengerutkan alisanya dan kini dia mengalihkan pandang matanya dari pertempuran itu karena penasaran. Mengapa kakek yang sakti ini demikian memandang rendah cinta? Cinta baginya suci murni, halus dan sungguh-sungguh urusan perasaan yang paling halus, ter­utama dia berpendapat seperti itu setelah pertemuannya yang terakhir dengan Milana. Akan tetapi kakek ini bicara soal cinta seolah-olah cinta merupakan hal yang remeh dan lucu! “Locianpwe, menurut pendapat teecu, cinta adalah perasaan yang mulus, murni dan bersih. Tidak ada yang lebih suci daripada cinta. Mengapa Locianpwe menganggapnya lucu?” Suaranya mengan­dung penasaran. Kalau cinta dianggap lucu dan remeh, apakah cinta antara dia dan Milana juga remeh dan lucu? “Ha-ha-ha, itulah tandanya engkau dimabok cinta! Tandanya engkau menjadi korban cinta! Semua cinta yang disebut-sebut manusia adalah cinta yang palsu!” “Wah, teecu tidak bisa menerima pendapat Locianpwe ini!” Bun Beng mem­bentak dan mereka berdua kini sudah melupakan tiga orang yang masih saling serang. Kini mereka berdua berhadapan, saling pandang seperti dua orang yang siap untuk bertanding, bukan bertanding pukulan melainkan bertanding pendapat tentang cinta! “Bagaimana Locianpwe dapat mengatakan bahwa cinta yang murni dari Suma-taihiap terhadap mereka itu palsu?” “Cinta antara pria dan wanita bukan­lah cinta yang sejati namanya! Melainkan asmara yang timbul dari kecocokan sele­ra, baik mengenai ketampanan maupun mengenai watak sehingga saling tertarik, kagum seperti orang melihat bunga-bunga indah. Gairah karena kecocokan selera ini bercampur dengan nafsu berahi. Asmara ini penuh dengan keinginan me­nguasai, memiliki, memperbudak, penuh dengan keinginan dimanja, dipuja dan dijunjung tinggi, disamping keinginan me­nikmati kepuasan dari hubungan badan yang didorong nafsu berahi. Semua ini bersumber kepada Si Aku yang selalu menujukan segala hal demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri, biarpun dengan cara yang cerdik berliku-liku, tujuan terakhir adalah untuk diri sendiri, untuk Si Aku. Karena itulah, asmara antara pria dan wanita ini menimbulkan hal-hal gila seperti sekarang ini. Kalau diputuskan menimbulkan duka, kalau di­khianati menimbulkan benci, kalau kurang tanggapan menimbulkan cemburu. Pen­deknya, asmara antara pria dan wanita menimbulkan bermacam pertentangan, ketakutan, yaitu takut kehilangan, dan duka. Itulah cinta antara pria dan wanita yang kauagung-agungkan itu!” Bun Beng masih penasaran. “Mungkin itu gambaran cinta seorang yang berwa­tak buruk, seorang yang hanya ingin mementingkan dirinya pribadi! Cinta se­orang yang berhati murni amat bersih, sanggup berkorban, dan siap melakukan apapun juga, bahkan berkorban nyawa kalau perlu, untuk orang yang dicinta!” “Ha-ha-ha, alasan kuno yang sudah menjadi kembang bibir semua orang yang dimabok cinta! Memang aku percaya bah­wa engkau akan berani berkorban nyawa untuk gadis yang kaucinta, Bun Beng. Akan tetapi bagaimana seandainya gadis itu tidak membalas cintamu? Bagaimana kalau engkau melihat dia berkasih-kasihan dengan pria lain? Bagaimana kalau dia tidak setia kepadamu, memperolok cinta­mu dan dengan mencolok bermain cinta dengan pria lain di hadapanmu? Apakah engkau rela dan cintamu akan tetap?” “Cintaku takkan berubah....” Bun Beng menjawab akan tetapi jawabannya yang keluar dengan suara sumbang itu lenyap ditelan suara kakek itu. Bun Beng masih penasaran dan berkata, “Kalau begitu, apakah tidak ada cinta suci di dunia ini menurut pendapat Locianpwe?” “Tidak ada! Yang disebut-sebut orang, semua adalah cinta palsu yang berdasar­kan kepada kepentingan Si Aku masing-masing.” “Ah, masa begitu, Locianpwe? Bagai­mana dengan cinta seorang anak kepada ibunya?” Bun Beng mengajukan pertanya­an dengan penuh semangat, karena dia merasa bahwa tentu kakek itu takkan mampu menjawab. Bagaimana mungkin orang menyangsikan cinta kasih seorang anak terhadap ibunya? “Itupun palsu! Seorang anak merasa terkurung budi kepada ibunya, orang ter­dekat dengannya sejak kecil! Orang yang bersikap manis, orang yang selalu digantunginya, disandarinya, sehingga dia ter­biasa oleh perlindungannya dan setelah Si Anak besar, teringat akan kebaikan-kebaikan ini merasa berhutang budi dan ingin membalas budi. Bukan cinta yang sejati, melainkan perasaan hutang budi belaka. Andaikata Si Anak sejak bayi diberikan kepada seorang wanita lain, kalau wanita itu melimpahkan kebaikan-kebaikan kepadanya, tentu anak itu akan berhutang budi pula. Ini pun bersumber kepada Si Aku, coba kalau seorang ibu bersikap buruk kepada anaknya, bersikap kejam dan sebagainya, apakah Si Anak akan tetap mencintanya seperti yang diucapkan mulutnya? Lihat saja semua orang yang telah dewasa, setelah menikah, bukankah perasaannya lebih mende­kat kepada suami, isteri, dan anak-anak­nya?” “Wah, Locianpwe pandai sekali ber­debat. Bagaimana kalau cinta kasih se­orang ibu kepada anaknya? Nah, berani­kah Locianpwe menyangkalnya dan me­ngatakan bahwa cinta kasih seorang ibu kepada anaknya juga palsu?” “Memang palsu selama Si Ibu meng­harapkan kesenangan dari cintanya itu. Kalau seorang ibu hendak membuktikan cintanya palsu atau bukan, dia boleh bertanya kepada diri sendiri, marahkah dia kalau Si Anak tidak menurut kata-katanya, bencikah dia kalau Si Anak berani melawannya dan bersikap kurang ajar kepadanya, dan dukakah dia kalau Si Anak melupakannya dan tidak mem­balas budi kepadanya. Kalau benar demikian, maka sesungguhnya dia tidak mencinta anaknya, karena di mana ada cinta, di situ tidak mungkin ada keben­cian, kemarahan dan kedukaan.” “Wah, kalau begitu pendapat Locian­pwe, cinta bukan perasaan manusia bia­sa! Agaknya hanya cinta kasih manusia terhadap Tuhan saja yang suci!” Bun Beng membantah. “Sama sekali tidak! Cinta manusia terhadap Tuhan lebih munafik lagi! Se­sungguhnya bukan cinta, melainkan pemu­jaan dan pemujaan ini palsu belaka kalau di baliknya terdapat keinginan agar memperoleh balas jasa atau imbalan. Kalau manusia memuja Tuhan dengan niat agar memperoleh imbalan berkah, baik selagi masih hidup atau kelak kalau sudah mati, maka pemujaan itu pun palsu belaka, seperti jual beli! Cinta adalah sederhana dan wajar, tanpa pamrih, kare­nanya tidak akan mendatangkan kecewa, benci atau duka.” “Haaaiiittt.... desss! Desss!” Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin ter­paksa menengok dan mereka melihat betapa Nirahai dan Lulu tadi menyerang secara berbareng, akan tetapi dengan teriakan panjang tubuh Suma Han mence­lat ke atas dan ketika kedua orang wani­ta itu mengejar dengan loncatan cepat, Suma Han mendorongkan kedua tangannya untuk menangkap mereka. Mereka me­nangkis dan keduanya terlempar kembali ke bawah, hampir terbanting kalau tidak cepat-cepat menggulingkan tubuh lalu meloncat berdiri. Dengan kemarahan meluap keduanya sudah menerjang dan pertandingan berlangsung terus lebih ramai. Melihat ini, Bun Beng kembali menoleh kepada Bu-tek Siauw-jin.  “Locianpwe yang begitu pandai me­nguraikan tentang cinta, yang begitu pandai menyeret semua cinta kepada hal yang remeh dan palsu, tentunya sudah mempunyai banyak sekali pengalaman tentang cinta. Pernahkah Locianpwe mencinta seseorang, seorang wanita mak­sud teecu?” Bu-tek Siauw-jin meloncat tinggi ke belakang seperti disambar seekor ular berbisa, matanya terbelalak. “Hehhh....? Aku....? Aku mencinta seorang wanita? Gila kau! Aku.... aku belum pernah ter­jeblos ke dalam perangkap asmara!” “Kalau begitu, bagaimana Locianpwe bisa bicara tentang asmara?” “Bukan karena pengalaman sendiri, melainkan karena melihat akibat-akibat yang terjadi dan dengan membuka mata melihat, membuka telinga mendengar. Lihat dan dengar saja tiga orang itu! Jelas, bukan? Mereka tidak saling men­cinta, dalam arti kata cinta suci, kalau demikian, mana ada duka, mana ada ben­ci, dan mana ada pertempuran seperti sekarang ini?” “Haiii, Bu-tek Siauw-jin! Kami bukan bertempur, melainkan aku sedang berusa­ha untuk menundukkan mereka ini!” Jawaban ini keluar dari mulut Suma Han dan sekali ini Bu-tek Siauw-jin membalikkan tubuh menonton. Dia terkekeh, merasa terpukul pernyataannya yang terakhir tadi tentang tiga orang ini kare­na kini barulah dia tahu bahwa pertan­dingan yang kelihatan mati-matian itu sebetulnya mengandung hal-hal tidak wajar yang amat lucu! Biarpun Suma Han melancarkan pukulan-pukulan hebat, namun semua pukulan itu hanya dimak­sudkan untuk menangkap kedua orang wanita itu bukan untuk merobohkan. Dan lucunya, pedang Hok-mo-kiam itu biarpun berkelebatan dan sinarnya bergulung-gulung, sesungguhnya lebih banyak meru­pakan ancaman daripada serangan betul-betul, seolah-olah pemegangnya selalu khawatir kalau-kalau pedang yang ampuh itu betul-betul akan menembus tubuh Suma Han. Demikian pula dengan Lulu, pukulan-pukulannya hanyalah pukulan yang dia yakin takkan mencelakai tubuh orang yang dicintanya! Tiga orang itu melam­piaskan kemarahan dan kemendongkolan hati, namun tetap saja tidak tega untuk saling mencelakakan, apalagi saling mem­bunuh! “Cringgg....! Bun Beng, terimalah pe­dang ini!” Sebuah tangkisan tongkat yang dige­tarkan oleh tangan Suma Han membuat pedang Hok-mo-kiam terlepas dari tangan Nirahai dan terlempar ke arah Bun Beng. Pemuda itu tentu tidak akan berani me­nerima pedang yang tadinya dipegang oleh Nirahai itu kalau tidak diperintah oleh Suma Han. Dia cepat menyambut pedang itu dan tetap berdiri dengan pe­dang di tangan, memandang penuh per­hatian. “Kalian benar-benar keras kepala!” Ucapan Suma Han ini disusul dengan serbuannya ke depan, serbuan yang nekat dan bukan merupakan jurus ilmu silat lagi, melainkan menubruk dan menggunakan kedua lengannya merangkul pinggang kedua orang wanita itu, terus diangkat dan dipanggulnya! Karena dia tidak melakukan penotokan, tentu saja amat mudah bagi Nirahai dan Lulu andaikata mereka hendak mencelakai Suma Han. Kaki tangan mereka meronta-ronta dan mulut mereka berteriak, “Lepaskan! Lepaskan aku!” Akan tetapi mereka sama sekali tidak menggunakan tangan yang bebas untuk melakukan serangan. Padahal dalam keadaan seperti itu, kalau mereka melakukan totokan atau pukulan, tentu Pendekar Super Sakti tidak akan mampu menjaga dirinya! “Tidak akan kulepaskan kalian lagi!” kata Suma Han yang memanggul tubuh dua orang itu di atas pundaknya, dengan dipeluk pinggang mereka kuat-kuat. “Lepaskan aku, kalau tidak, kupukul pecah ubun-ubun kepalamu!” Lulu berte­riak, tangannya dikepal dan mengancam di atas kepala Suma Han. “Hayo lepaskan aku! Apa kau ingin kutotok jalan darah kematianmu di teng­kukmu!” Nirahai mengancam pula, jari tangannya sudah menyentuh jalan darah pokok di tengkuk Suma Han. Suma Han hanya tersenyum dan keli­hatan gembira sekali. “Biar kalian mem­bunuhku, aku tidak akan melepaskan kalian sebelum kalian berjanji untuk memenuhi permintaanku.” “Manusia tak tahu malu! Apa permin­taanmu?” Nirahai membentak. “Nirahai, engkau adalah isteriku, ma­ka mau atau tidak, engkau mulai seka­rang harus ikut bersamaku, ke mana pun aku pergi dan kau harus selalu memenuhi perintahku sebagai suamamu!” “Suma Han! Nirahai-suci mungkin saja kaupaksa karena dia isterimu. Akan teta­pi aku tidak semestinya kaupaksa!” Lulu meronta dan berteriak. “Kita telah melakukan kekeliruan, biarpun saling mencinta tidak bersikap jujur. Untuk menebus kesalahan kita itu, mulai sekarang kita tak boleh berpisah lagi. Engkau harus ikut pula bersama kami, Lulu, dan untuk selamanya hidup bersamaku!” jawab Suma Han, suaranya tegas. “Suma Han, enak saja kau bicara! Katakan, siapakah yang kaucinta? Aku ataukah Lulu-sumoi?” Nirahai menuntut. “Aku.... aku mencinta kalian berdua, dan aku mau menghabiskan sisa hidupku disamping kalian berdua, sampai kakek nenek, sampai mati.” “Aku tidak sudi menjadi adik angkat­mu!” “Kalau begitu, karena kita saling mencinta dan sudah semestinya demikian, engkau mulai sekarang menjadi isteriku juga.” “Gila! Mana mungkin suci mau mene­rima aku sebagai madunya?” “Lulu-sumoi! Kau bilang apa? Kalau dia tidak mau mengambil engkau sebagai isterinya, aku pun tidak akan sudi ikut bersamanya.” “Nirahai-suci....!” Jerit yang keluar dari mulut Lulu ini sudah berubah, tidak lagi marah melainkan mengandung isak. “Sumoi, sudah semestinya begini....!” Nirahai berkata dan keduanya masih dipanggul di atas kedua pundak Suma Han, kini saling rangkul di punggung pendekar itu, saling rangkul sambil menangis. Bun Beng yang menonton dan men­dengarkan semua ini, menjadi terharu bukan main. Kalau menurutkan perasaan hatinya, melihat betapa pendekar yang dikaguminya dan dijunjung tinggi itu mendapatkan kembali kebahagiaan hidupnya bersama dua orang wanita yang dikasihinya, melihat keadaan mereka yang telah dihimpit duka nestapa dan kesengsaraan selama belasan tahun kini seolah-olah orang-orang yang kelaparan menda­patkan makanan atau orang-orang yang menderita penyakit payah mendapatkan obat, ingin dia menangis. Dengan suara terharu, menggetar dan yang keluar dari lubuk hatinya, Bun Beng menjura ke arah Pendekar Super Sakti dan berkata, “Suma-taihiap, teecu menghaturkan selamat atas kebahagiaan Taihiap ber­tiga!” “Ha-ha-ha, Gak Bun Beng, engkau gila! Semestinya engkau bukan mengha­turkan selamat, melainkan memujikan dia selamat dari penyakit yang dicarinya sendiri ini. Ha-ha-ha! Eh, Suma-taihiap, Pendekar Siluman, tahukah engkau me­ngapa murid kita ini memberi selamat? Karena dia terlalu bahagia melihat orang-orang yang menderita penyakit asmara dapat berkumpul kembali, karena dia sendiri sedang dilanda penyakit itu. Sekarang biarlah aku mewakili dia, di sini, di depan isteri-isterimu, aku memi­nang puterimu yang bernama.... eh, Bun Beng, siapa nama dara yang kautolong di atas pohon itu?” Merah muka Bun Beng. Biarpun sinting, kakek ini melakukan hal yang di luar dugaannya sama sekali, maka dia menjawab lirih, “Milana....” “Oya, puterimu Milana itu kupinang untuk menjadi calon isteri Gak Bun Beng. Bagaimana? Bagaimana, Tuan Puteri Nirahai?” Nirahai yang masih berangkulan de­ngan Lulu dan tubuhnya bergantung di belakang punggung Suma Han, menjawab, “Terserah kepada ayahnya. Aku memiliki kekuasaan apalagi, sih?” “Ha-ha-ha, belum apa-apa sudah ber­tobat. Benar-benar isteri yang hebat! Nah, bagaimana Suma-taihiap?” Suma Han mengerutkan alisnya. Me­nurut rencana hatinya dia ingin menjo­dohkan Kwi Hong dengan pemuda ini, akan tetapi kalau Milana memang men­cintanya.... dan hal ini harus dia selidiki terlebih dahulu. Maka dengan suara tegas ia menjawab, “Bu-tek Siauw-jin Locianpwe, urusan jodoh memang orang tua yang memutus­kan, akan tetapi harus mendengar lebih dahulu pendapat anak yang bersangkutan. Gak Bun Beng, kaubawalah Hok-mo-kiam itu dan aku memberi tugas kepadamu untuk mencari Milana, dan mengajaknya ke Pulau Es. Soal perjodohan, biarlah kita bicarakan kelak. Terima kasih atas kebaikanmu, Bu-tek Siauw-jin. Kami hen­dak pergi, selamat berpisah!” Setelah berkata demikian, dengan ilmunya yang hebat, tubuh pendekar itu melesat dan lenyap dari situ sambil memanggul tubuh dua orang wanita itu! “Heeiii.... Pendekar Siluman....! Sekali waktu aku ingin mengadu ilmu dengan­mu....!” Tiba-tiba Bu-tek Siauw-jin berte­riak, suaranya melengking nyaring sehing­ga Bun Beng yang berada di dekatnya cepat mengerahkan sin-kang untuk melin­dungi jantungnya. Khi-kang dari kakek ini benar-benar amat luar biasa. Tak lama kemudian, dari jauh terdengar suara Pendekar Super Sakti,  “Sekarang aku tidak ada waktu untuk melayanimu, Bu-tek Siauw-jin. Akan te­tapi sewaktu-waktu boleh datang ke Pulau Es....!” Bu-tek Siauw-jin memandang pemuda itu, tertawa. “Ha-ha-ha, sungguh heran sekali. Semenjak puluhan tahun aku me­nganggap penghuni Pulau Es sebagai musuh besar dari nenek moyangku. Akan tetapi, begitu bertemu dengan dia, dendam itu lenyap sama sekali. Dan aku ikut puas menyaksikan kebahagiaannya. Orang seperti dia tidak sepatutnya hidup seng­sara.” Kakek itu mengangguk-angguk. “Dan sekarang, ke mana engkau hendak pergi, Bun Beng?” “Seperti yang Locianpwe telah men­dengar sendiri, teecu diserahi tugas untuk mencari Nona Milana dan mengajaknya ke Pulau Es. Karena teecu tidak tahu di mana adanya Nona Milana, teecu akan ke kota raja dan menyelidikinya dari sana.” “Memang seharusnya begitulah. Dan engkau tidak mengecewakan hati mereka yang menjadi calon mertuamu. Mungkin itu merupakan ujian pula buatmu. Aku sendiri akan kembali ke Pulau Neraka. Setelah bertemu dengan Tocu Pulau Es dan api permusuhan di hatiku padam sama sekali, perlu apa lagi aku berke­liaran di dunia ini? Nah, aku pergi!” Kakek itu menggerakkan lengan bajunya dan berkelebat lenyap dari situ. “Locianpwe, teecu belum menghatur­kan terima kasih atas segala kebaikan­mu!” Bun Beng mengerahkan khi-kangnya seperti yang dilakukan kakek itu tadi. Dari jauh terdengar suara ketawa kakek itu. “Ha-ha-ha! Kalau kau meng­haturkan terima kasih, berarti terhapus hutangmu! Dan aku ingin kau membayar hutangmu dengan tiga cawan arak merah kelak, di Pulau Es!” Bun Beng menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah suara dengan perasa­an terharu. Kakek itu boleh jadi agak sinting, akan tetapi harus diakui bahwa di dalam kesintingannya, banyak kebaikan daripada keburukan yang muncul dari pribadinya. Setelah memberi hormat ke arah suara kakek itu, Bun Beng bangkit berdiri, mengambil sarung pedang Hok-mo-kiam yang tadi tanpa bicara telah dilemparkan ke bawah oleh Nirahai, me­masangkan pedang itu di punggungnya, kemudian mengambil capingnya yang pecah-pecah, membetulkan caping, me­makainya di atas kepala, kemudian menoleh ke arah mayat Maharya, dan memandang kepada mayat-mayat yang malang-melintang memenuhi tempat itu. Dia menghela napas panjang.