“Ahhh....!” Dua orang nelayan tua memandang terbelalak dan seketika me­reka menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil. Kwi Hong sendiri terkejut menyaksi­kan akibat kemarahannya. Sejenak dia tertegun dan terheran mengapa tiga orang itu dibunuhnya? Memang mereka kurang ajar, akan tetapi dia sendiri kini merasa betapa dia telah bertindak keter­laluan, karena kesalahan mereka itu belum patut untuk dihukum dengan kemati­an! Dia menyesal, akan tetapi sudah terlambat. Kini mendengar seruan kaget itu dia menoleh dan melihat dua orang nelayan tua berlutut dengan ketakutan, dia lalu berkata, suaranya halus seperti biasa. “Paman berdua tidak perlu takut. Me­reka ini menghinaku dan sudah mati. Kuburlah mayat mereka dan ini perahuku boleh kalian ambil. Kuberikan kepada kalian.” Setelah berkata demikian, Kwi Hong berkelebat dan sekejap mata saja dia telah meloncat dan berlari jauh, ke­mudian lenyap di antara pohon-pohon. Dua orang kakek itu terbelalak, sampai lama tidak dapat bangkit berdiri mengira bahwa wanita yang turun dari perahu di waktu laut bergelombang itu tentu seo­rang siluman atau iblis penghuni lautan! Semenjak Li-mo-kiam yang sejak di­ciptakannya selalu haus darah itu berhasil minum darah tiga orang nelayan, pedang iblis itu menjadi makin haus darah. Pengaruhnya ini dengan cepat dan mudah menjalar ke dalam pikiran Kwi Hong yang pada saat itu pun sedang dihimpit sakit hati, dendam, kekecewaan, kemarahan dan kedukaan, sehingga dara ini berubah menjadi seorang dara yang ganas sekali. Pendidikan dasar semenjak dia kecil di Pulau Es, gemblengan yang didapatnya dari Pendekar Super Sakti, tentu saja cukup kuat untuk mencegahnya terseret ke dalam lembah kejahatan. Ti­dak, Giam Kwi Hong masih belum menja­di seorang wanita iblis yang suka mela­kukan kejahatan sebagai kesenangannya, sama sekali tidak. Dia masih berwatak pendekar yang selalu berhasrat menentang kejahatan, akan tetapi perubahan watak­nya itu membuat dia menjadi seorang yang amat kejam dan ganas. Hal ini ter­bukti di sepanjang perjalanannya menuju ke kota raja. Setiap kali dia bertemu dengan orang yang dianggapnya jahat, dengan perampok dan bajak sungai, tentu mereka itu menjadi korban kehausan Li-mo-kiam dan dibasminya semua sampai habis ke akar-akarnya, tidak seorang pun diberi ampun. Maka muncullah nama baru yang amat ditakuti oleh golongan hitam, julukan yang dengan sendirinya diperoleh Kwi Hong karena pedang dan keganasan­nya. Perjalanannya ke kota raja dari Pulau Es ini menggoreskan jejak yang mendalam karena perbuatannya membas­mi para penjahat itu, dan berkumandang­lah nama julukan Mo-kiam Lihiap (Pendekar Wanita Pedang Iblis)! Karena merasa menyesal sekali bahwa dia telah tertipu oleh para pemberontak sehingga dia melakukan kesalahan besar kepada pamannya, bahkan dialah yang menjadi gara-gara sampai bibi Phoa Ciok Lin tewas, Kwi Hong menjadi seorang pendendam besar dan perasaan ini ditam­bah kekecewaan dan kedukaan membuat dia seorang yang tidak mengacuhkan se­gala sesuatu, dan dia menjadi pula seo­rang pembenci! Beberapa pekan kemudian tibalah dia di kota raja yang sekarang sudah aman. Dia mulai melakukan penyelidikan dan mendengar betapa pasukan pemberontak sudah hancur sama sekali oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Nirahai. Hal ini tidak menarik hatinya karena dia memang sudah tahu. Yang ingin diketahuinya adalah di mana adanya Milana dan.... terutama sekali Gak Bun Beng. Akhirnya dia berhasil mendapat keterangan yang mengejutkan bahwa Mi­lana, puteri dari Panglima Wanita Nira­hai, cucu dari Kaisar sendiri, telah lama lenyap diculik orang! Tidak ada yang tahu siapa penculiknya dan tidak ada pula yang tahu siapa atau di mana adanya Gak Bun Beng. Hati Kwi Hong menjadi bimbang. Ka­lau menurut pesan pamannya, dia harus mencari Milana dan Bun Beng. Tapi kini sudah kurang semangatnya untuk melak­sanakan perintah pamannya itu. Apa per­lunya mencari mereka? Mereka bukanlah anak kecil. Bertemu dengan Milana dan Bun Beng, melihat mereka berdua telah menjadi calon suami isteri, hanya akan menusuk perasaannya sendiri saja. Pa­mannya telah membencinya. Kalau dia berhasil menemukan Milana dan Bun Beng, berhasil mengajak mereka pulang ke Pulau Es, tentu dia hanya akan lebih menderita lagi. Lebih baik tidak lagi bertemu dengan Milana, tidak lagi berte­mu dengan pamannya. Dia tidak lagi akan pergi ke Pulau Es! Kwi Hong menggigit bibir menahan isaknya yang tersedu dari dalam dadanya. Digunakan kekerasan hatinya untuk mena­han menetesnya air mata. Tak perlu dia menangis. Dia bisa hidup sendiri. Memang dia seorang yang sebatangkara, seorang yatim piatu. Ah, ada gurunya yang ke dua. Bu-tek Siauw-jin! Kakek sinting itulah satu-satu­nya orang yang baik kepadanya. Teringat akan watak kakek yang sinting dan aneh itu, lenyaplah kedukaan hati Kwi Hong dan dia tersenyum geli sendiri. Tentu saja! Dia harus pergi mencari kakek yang menjadi gurunya itu, Bu-tek Siauw-jin, tokoh besar Pulau Neraka. Tentu saja kakek itu kemungkinan besar kembali ke Pulau Neraka. Berdebar tegang juga hatinya ke­tika ia mengingat akan hal ini. Juga pemuda iblis itu, Wan Keng In, dan gurunya yang mengerikan, kakek Mayat Hidup yang berjuluk Cui-beng Koai-ong, berada di Pulau Neraka! Sungguhpun hal ini pun belum tentu melihat kenyataan betapa pemuda yang menjadi putera bibi Lulu yang kini menjadi isteri pamannya di Pulau Es itu seringkali berkeliaran di daratan besar. Andaikata benar berada di sana dan dia berjumpa dengan pemuda iblis itu, dia pun tidak takut. Dia akan menyampaikan pesan bibi Lulu, memberi tahu bahwa bekas Ketua Pulau Neraka itu kini telah menjadi isteri Majikan Pulau Es dan minta supaya pemuda itu suka menyusul ibunya ke Pulau Es. Akan tetapi kalau pemuda iblis itu tidak mau, dia tidak akan peduli. Kalau pemuda itu masih memusuhinya seperti dahulu, dia tidak takut menghadapinya. Setelah dia menerima gemblengan Bu-tek Siauw-jin dan memegang Li-mo-kiam, tidak takut lagi dia berhadapan dengan pemuda iblis itu atau gurunya sekalipun, atau siapa saja! Dengan pikiran ini pergilah Kwi Hong meninggalkan kota raja, kembali ke utara dan kini tujuan perjalanan hanya satu, yaitu ke Pulau Neraka! Dia maklum bah­wa tidaklah mudah mencari Pulau Neraka akan tetapi dia pernah dibawa oleh bibi Lulu ke pulau itu, dan dapat mengira-ngirakan di sebelah mana letak Pulau Neraka. Giam Kwi Hong melakukan perjalanan cepat, melalui pegunungan dan hutan-hutan yang sunyi. Pada suatu pagi, ketika dia keluar dari sebuah hutan, dia melihat dari jauh orang-orang sedang bertempur. Tiga orang yang bersenjata tongkat hitam melawan lima orang bersenjata toya panjang. Biarpun ilmu tongkat tiga orang itu aneh dan cukup lihai, namun mengha­dapi pengeroyokan lima orang yang juga memiliki ilmu toya yang mirip-mirip aliran Siauw-lim-pai, mereka bertiga terde­sak hebat. Kwi Hong tidak mempedulikan urusan orang lain, akan tetapi melihat betapa pertandingan itu tidak adil dan berat sebelah, tiga orang dikeroyok lima, dia cepat meloncat ke tengah arena pertan­dingan sambil berseru, “Tahan....!” Delapan orang itu yang melihat bahwa yang melerai mereka hanya seorang gadis muda, tentu saja tidak mau berhenti ber­tanding, bahkan dua orang Pek-eng-pang yang merasa bahwa gadis itu mengganggu pihak mereka yang sudah hampir menang, mengira bahwa gadis itu tentu hendak membantu lawan. Dengan marah mereka menggerakkan toya mereka dan memben­tak, “Pergi kau!” “Sing....! Trak-trakkk!” Dua batang toya itu patah-patah bertemu dengan Li-mo-kiam. “Berhenti dan jangan bertempur kata­ku!” Kwi Hong membentak, mengelebat­kan pedangnya. Dua orang pemegang toya yaitu orang-orang dari perkumpulan Pek-eng-pang, terkejut dan terbelalak memandang toya yang sudah buntung di tangan mereka. Toya mereka terbuat dari baja murni yang kuat, mengapa bertemu de­ngan pedang di tangan gadis itu seolah-olah berubah seperti sebatang bambu saja. “Siapa kau?” Seorang di antara lima orang Pek-eng-pang yang menjadi pemim­pin mereka berkata. Orang ini berpakaian seperti jubah pendeta, rambutnya digelung melengkung ke atas. “Mengapa kau bera­ni mencampuri urusan kami?” “Aku siapa bukan soal, yang jelas kalian adalah orang-orang tak tahu malu dan pengecut, mengeroyok dengan jumlah lebih besar. Karena itu, aku tidak senang dan kalian harus berhenti bertempur. Kalian boleh bertempur kalau satu lawan satu, atau tiga lawan tiga.” “Perempuan muda yang sombong! Be­rani sekali kau menghina kami dari Pek-eng-pang, ya? Apakah kau sudah bosan hidup?” Orang yang dandanannya seperti seorang saikong itu membentak. “Bukan aku yang bosan hidup, akan tetapi kalian!” bentak Kwi Hong yang sudah marah sekali, pedang Li-mo-kiam di tangannya sudah menggetar. “Siluman betina, kau boleh bantu tikus tikus Koai-tung-pang ini kalau sudah bo­san hidup!” Orang itu berkata dan mem­beri isyarat kepada empat orang kawannya. “Tidak perlu dengan mereka, aku sen­diri sudah cukup untuk melenyapkan kali­an orang-orang sombong!” Kwi Hong bergerak cepat sekali, pedangnya berubah menjadi kilat menyambar-nyambar. Lima orang itu terkejut dan cepat mereka menangkis dan balas menyerang. Akan tetapi, seperti juga tadi, begitu bertemu dengan Li-mo-kiam, toya mereka patah-patah dan sekali ini Li-mo-kiam tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan menyambar ganas ke depan. Terdengar jerit lima kali disusul robohnya lima batang tubuh para anggauta Pek-eng-pang dan tewas seketika karena leher mereka ditembus pedang Li-mo-kiam yang ganas dan ampuh! Melihat dara itu berdiri tegak me­mandang pedang Li-mo-kiam di tangan, pedang yang kembali sudah minum darah lima orang akan tetapi yang agaknya semua darah disedotnya habis karena di permukaan pedang itu sama sekali tidak tampak noda darah, tidak ada setetes pun, tiga orang anggauta Koai-tung-pang menggigil kakinya. “Mo-kiam Lihiap....” Mereka bertiga berbisik dan menjatuhkan diri berlutut. “Kami menghaturkan terima kasih atas bantuan Lihiap,” kata seorang di antara mereka. Kwi Hong tersenyum sedikit dan me­nyimpan pedangnya. “Kalian sudah me­ngenalku?” “Baru sekarang kami bertemu dengan Lihiap, akan tetapi nama besar Mo-kiam Lihiap siapakah yang tidak mengenalnya. Harap Lihiap tidak kepalang menolong kami. Kami adalah anggauta-anggauta Koai-tung-pang di Bukit Srigala, sudah lama kami selalu diganggu oleh pihak Pek-eng-pang yang jauh lebih besar dari perkumpulan kami. Kalau mendengar bah­wa ada lima orang anggauta mereka tewas, tentu mereka akan ke sini dan kami akan celaka.” “Lima orang telah mati semua, bagai­mana mereka tahu?” “Lihiap tidak mengerti. Di samping lima orang ini, tadi masih ada seorang lagi yang bersembunyi dan melihat kea­daan. Mereka selalu begitu, melepas mata-mata melakukan penyelidikan. Seka­rang orang itu tentu telah melapor dan kami akan celaka, mungkin perkumpulan kami akan diserbu! Kini mereka menda­pat alasan yang kuat. Lima orang ang­gauta mereka tewas, sungguh hebat seka­li....” Pemimpin tiga orang itu berkata dengan suara gemetar mengandung rasa takut. “Hemmm, kalian mengira bahwa aku membunuh mereka karena aku membantu kalian? Sama sekali bukan. Aku tidak mau mencampuri urusan kalian yang tiada sangkut pautnya dengan aku! Aku tadi melerai bukan untuk membantu kalian, melainkan karena tidak suka melihat per­kelahian yang berat sebelah. Dan, aku membunuh karena mereka menghinaku. Sudahlah!” sebelum tiga orang anggauta Koai-tung-pang itu sempat membantah, tubuh Kwi Hong berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Tiga orang itu saling pandang dengan muka pucat. “Celaka....!” kata pemimpin mereka, “Kalau begini, kita akan celaka. Lebih baik dia tadi tidak muncul, paling hebat kita hanya dirobohkan oleh orang-orang Pek-eng-pang dan mereka tentu tidak akan membunuh kita. Sekarang, keadaan lain lagi, bukan hanya kita akan celaka, bahkan seluruh Koai-tung-pang tentu akan dihancurkan oleh Pek-eng-pang.” “Lebih baik kita melapor kepada Pangcu (Ketua)!” usul seorang di antara mereka. Tergesa-gesa mereka lalu berlari pergi, meninggalkan lima buah mayat itu untuk cepat-cepat melaporkan kepada ketua mereka di lereng Bukit Srigala yang tidak jauh dari tempat itu. Kwi Hong sudah melanjutkan perjalan­annya dengan cepat, tidak mempedulikan dan sudah melupakan lagi urusan tadi. Akan tetapi tak lama kemudian, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya ketikar melihat debu mengepul dari depan dan muncullah sepuluh orang berlari-lari cepat menda­tangi. Mereka dikepalai oleh seorang saikong berjubah lebar yang usianya sudah lima puluh tahun lebih. Sepuluh orang itu semua memegang sebatang toya panjang dan melihat ini Kwi Hong dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang Pek-eng-pang, kawan-kawan dari lima orang yang dibunuhnya tadi. Sinar matanya menjadi berkilat berbahaya karena dara ini telah menjadi marah sekali. “Dia inilah orangnya!” Seorang di an­tara mereka menuding, agaknya orang inilah yang tadi menjadi mata-mata dan yang menyaksikan ketika lima orang ang­gauta mereka itu tewas oleh pedang Li-mo-kiam di tangan Kwi Hong. Mereka sudah tiba di depan Kwi Hong dan saikong itu membentak marah, “Nona, benarkah engkau telah membunuh mati lima orang anggauta kami?” “Kalau benar demikian, kalian mau apakah?” Saikong itu menjadi makin marah, toya di tangannya sudah bergerak seolah-olah dia hendak menyerang. “Hemmmm, engkau benar-benar seorang wanita muda yang sombong sekali. Kalau benar demi­kian, mengapa kau membunuh para ang­gauta kami?” “Mereka telah menghinaku, tentu saja kubunuh.” “Perempuan rendah, kau sungguh ke­jam. Siluman betina yang harus dienyah­kan dari muka bumi!” Saikong itu berte­riak dan memberi isyarat kepada anak buahnya. Mereka menyerbu dengan toya mereka sambil mengurung Kwi Hong. “Awas pedangnya tajam sekali!” teriak orang yang tadi mengintai dan melihat betapa toya kawan-kawannya patah semua bertemu dengan pedang. Akan tetapi teriakannya terlambat karena sudah ada dua batang toya yang patah bertemu pedang, bahkan pedang itu terus membacok ke depan dan dua orang anggauta terpelanting mandi darah! “Kurung dan serang! Jangan adukan senjata!” Saikong itu berseru dan dia sendiri menerjang dengan hebatnya. Ge­rakan saikong ini memang hebat, tenaga­nya besar dan permainan toyanya adalah permainan ilmu toya dari Siauw-lim-pai yang sudah bercampur dengan ilmu silat lain dari golongan hitam. Kwi Hong bersikap tenang dan terpak­sa dia harus mengelak ke sana ke mari karena datangnya senjata lawan seperti hujan. Mereka berlaku cerdik, mengero­yoknya dari jarak jauh, tidak mau meng­adu senjata dan mengandalkan toya mereka yang panjang untuk menyerang darii segenap penjuru. Tiba-tiba tampak datang delapan orang yang kesemuanya memegang tong­kat hitam. Itulah rombongan Koai-tung-pang yang juga dipimpin oleh ketuanya. Begitu tiba di situ dan melihat gadis perkasa itu dikeroyok orang-orang Pek-eng-pang sedangkan dua orang di antara mereka telah roboh, Ketua Koai-tung-pang berseru, “Pek-eng-pangcu (Ketua Pek-eng-pang) dia itu adalah Mo-kiam Lihiap, musuh kita bersama. Mari kami bantu kalian!” Kini delapan orang Koai-tung-pang itu serentak maju dan mengeroyok Kwi Hong. Tentu saja gadis ini menjadi marah sekali. “Bagus! Majulah orang-orang pengkhia­nat dan pengecut!” Dia begitu marahnya sehingga dialah yang menerjang maju ke orang-orang Koai-tung-pang, mengelebat­kan pedangnya dan menggunakan gin-kangnya. “Singgg-trang-trang-trakk!” Tiga batang tongkat patah-patah dan dua orang anggauta Koai-tung-pang roboh dan tewas seketika oleh babatan pedang Li-mo-kiam. Akan tetapi teman-temannya mengurung ketat. Kini masih ada delapan orang Pek-eng-pang dan enam orang Koai-tung-pang yang mengurung, menye­rang dari jarak jauh dan selalu menarik senjata mereka kalau sinar pedang Li-mo-kiam berkelebat. Menghadapi penge­royokan ini, biarpun tidak terdesak, Kwi Hong merasa repot juga. “Wuuuttt.... singgg.... aughhh....!” Te­riakan saling susul terdengar ketika ada sinar kilat menyambar dari luar kepungan, disusul robohnya dua orang anggauta Pek-eng-pang. Pengepungan menjadi kacau dan mereka cepat membalik. Kiranya di situ telah berdiri seorang pemuda tampan yang memegang sebatang pedang yang serupa dengan pedang yang berada di tangan Kwi Hong, hanya agak lebih pan­jang. “Nona Kwi Hong, jangan khawatir, aku membantumu!” Biarpun Kwi Hong terheran melihat Wan Keng In, pemuda iblis dari Pulau Neraka itu bersikap membantunya, namun dia memang tidak senang kepada pemuda itu, dan membentak, “Aku tidak butuh bantuanmu!” “Ha-ha-ha, betapapun juga, aku mau membantumu. Nanti saja kita bicara, sekarang mari kita berlumba membasmi cacing-cacing ini, kita lihat siapa yang lebih hebat antara murid Cui-beng Koai-ong dan murid Bu-tek Siauw-jin!” “Boleh kau coba! Li-mo-kiam ini tidak akan kalah oleh Lam-mo-kiam itu!” jawab Kwi Hong yang segera mengerahkan se­luruh kepandaiannya untuk merobohkan para pengeroyok. Wan Keng In juga tidak mau kalah, pedang Lam-mo-kiam di ta­ngannya berkelebatan seperti naga sakti mengamuk. Yang celaka adalah para pengeroyok itu. Baru mengeroyok gadis pemegang Li-mo-kiam saja sudah payah, kini ditambah lagi pemuda lihai yang membawa Lam-mo-kiam, Sepasang Pedang Iblis itu mengamuk dan seolah-olah hidup di tangan pemuda dan gadis itu. Darah berceceran dan muncrat dari tubuh yang hampir putus, mayat berserakan dan tak lama kemudian, habislah semua pengero­yok termasuk ketua kedua buah perkum­pulan itu. Tinggal Kwi Hong dan Keng In yang berdiri memandang pedang mere­ka yang sedikit pun tidak bernoda darah biarpun Sepasang Pedang Iblis itu telah minum darah belasan orang! “Ha-ha-ha! Engkau tidak kecewa menjadi murid Susiok!” Keng In memuji dan bukan pujian kosong karena dia betul-betul merasa kagum. Diam-diam dia ingin sekali membuktikan apakah gadis murid susioknya ini akan mampu menandinginya. Di lain pihak, Kwi Hong juga terhe­ran-heran melihat sikap Keng In yang lain dari dahulu. Dahulu pemuda iblis itu selalu memusuhinya, akan tetapi mengapa kini membantunya dan bersikap ramah. Dia tidak peduli akan ini semua dan segera teringat akan pesan Lulu. Dengan pedang Li-mo-kiam masih di tangan, para korban pedang itu masih berserakan di sekitar kakinya dan darah masih bercucuran, dia berkata, “Wan Keng In, kebetulan sekali kita saling bertemu di sini. Aku membawa pe­san dari ibumu untukmu.” Berkerut alis Keng In mendengar ini. Dia juga sedang terheran memikirkan ke mana perginya ibunya, sungguhpun hal itu tidak menyusahkan hatinya benar. “Di mana kau berjumpa dengan ibuku? Dan apa yang dipesannya? Eh, Nona. Apakah tidak lebih baik kalau kita bicara di tempat lain, tidak di antara bangkai-bangkai yang menjijikkan ini?” “Terserah kepadamu,” jawab Kwi Hong singkat. Keng In meloncat dan ber­lari ke dalam hutan di sebelah kiri, dan Kwi Hong menyusulnya. Kini mereka berhadapan di bawah sebatang pohon yang besar. “Nah, di sini kan lebih enak. Akan tetapi mengapa kau tidak menyimpan pedangmu?” Kwi Hong memandang pedang yang masih dipegangnya. “Hemmm, menghadapi engkau yang memegang pedang terhunus, lebih baik aku tidak menyimpan pedang­ku.” Keng In mengangkat alisnya, meman­dang pedang Lam-mo-kiam di tangannya dan tertawa. “Ha-ha, aku sampai lupa. Agaknya kau curiga kepadaku.” Dia me­nyarungkan pedangnya dan diturut pula oleh Kwi Hong. “Aku bertemu dengan ibumu di Pulau Es....” “Apa? Ibuku di Pulau Es?” Keng In benar-benar terkejut sekali karena tidak disangka-sangkanya bahwa ibunya mau pergi ke Pulau Es. “Benar, tidak itu saja. Malah sekarang Bibi Lulu telah menjadi isteri Paman Suma Han bersama Bibi Nirahai. Mereka bertiga tinggal di Pulau Es sebagai suami isteri.” Dapat dibayangkan betapa kaget hati pemuda itu. Kaget, malu, kecewa dan marah. Akhirnya ibunya tunduk juga ke­pada pria yang belasan tahun lamanya membikin sengsara hatinya. Ingin dia marah-marah, ingin dia memaki-maki ibu­nya. Namun Keng In sekarang telah menjadi seorang pemuda yang cerdik dan tidak mau memperlihatkan perasaan hati­nya. Dia hanya menunduk sejenak, kemu­dian ketika dia mengangkat muka lagi, wajahnya sudah biasa dan tenang kembali. “Apakah pesan Ibu kepadamu untukku?” Kwi Hong benar-benar tercengang. Sikap Keng In telah berubah sama sekali, jauh bedanya dengan dahulu. Dahulu pe­muda itu seperti iblis, akan tetapi kini bersikap biasa dan bahkan ramah. “Bibi Lulu hanya berpesan kepadaku, kalau aku bertemu denganmu agar mem­bujukmu supaya engkau suka menyusul ibumu di Pulau Es. Hanya begitulah pesannya.” Keng In tersenyum, dan Kwi Hong harus mengakui bahwa pemuda ini tampan sekali, apalagi kalau tersenyum seperti itu. “Tentu saja aku harus menyusul Ibu, dan aku harus memberi hormat kepada Ayah tiriku yang sudah lama kukenal nama besarnya itu. Ah, kalau begitu lebih girang hatiku bahwa tadi aku menolongmu. Sekarang kita bukan orang lain lagi. Eng­kau adalah keponakan Pendekar Super Sakti, juga muridnya, sedangkan aku ada­lah anak tirinya. Bukankah dengan demi­kian kita masih dapat dikatakan saudara misan? Apalagi kalau diingat bahwa eng­kau adalah juga murid Susiok Bu-tek Siauw-jin, berarti kita adalah saudara misan seperguruan pula. Enci Giam Kwi Hong, kauterimalah hormatku dan maafkan segala kesalahanku yang lalu.” Kwi Hong tercengang dan juga menja­di girang. Ternyata pemuda ini sudah berubah menjadi seorang yang baik, tidak seperti dahulu, jahat seperti iblis. Dia tersenyum dan membalas penghormatan Keng In sambil berkata, “Aku juga girang sekali bahwa engkau bersikap baik, Wan Keng In. Dan memang sudah sepatutnya engkau menjadi adikku. Masih teringat olehku ketika masih kecil dahulu, ketika aku ditawan ibumu. Nakalmu bukan main....” “Wah, Enci Kwi Hong, apakah kau tidak mau melupakan hal yang lalu. Biar­lah aku minta ampun kepadamu.” Dan pemuda itu benar-benar menjatuhkan diri berlutut di atas tanah depan kaki Kwi Hong! “Ihhh! Jangan begitu, Adikku!” Kwi Hong tertawa, membangunkan Keng In dan keduanya lalu duduk di bawah pohon, di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah. “Enci Kwi Hong, bagaimana engkau sampai tiba di tempat ini! Tentu bukan untuk mencari aku di sini!” Berat rasa hati Kwi Hong untuk me­ngaku bahwa dia tadinya hendak mencari Milana dan Bun Beng, bahkan agak malu pula dia mengatakan bahwa dia hendak ke Pulau Neraka mencari gurunya, karena bukankah Pulau Neraka adalah milik pe­muda ini? Maka dia menjawab, “Aku hendak mencari Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan semua pembantunya.” Keng In mengerutkan alisnya. “Hemmm.... mencari mereka ada keperlu­an apakah, Enci Kwi Hong?” “Aku mau bunuh mereka!” “Ehh! Ada apa? Mereka itu lihai-lihai sekali! Mengapa kau hendak membunuh mereka?” “Mereka itu terutama Bhong Ji Kun, ketika masih menjadi pemberontak, telah menipu aku sehingga aku terpikat berse­kutu dengan mereka. Dengan terjadinya hal itu, aku telah melkukan kesalahan besar terhadap pamanku.” “Hemmm, begitukah? Mereka pun per­nah membujuk aku. Memang mereka harus dibunuh dan aku akan membantumu, Enci Hong! Bahkan aku dapat membawa­mu kepada beberapa orang di antara me­reka.” “Apa? Benarkah itu, Keng In?” “Benar, aku tidak membohong. Bebe­rapa hari yang lalu aku melihat beberapa orang anak buah Bhong-koksu itu di dekat pantai Lautan Po-hai, dan agaknya mereka itu bersembunyi di tempat sunyi itu.” Berseri wajah Kwi Hong. “Benarkah? Bagus, mari kauantar aku ke tempat itu, Keng In. Tentu saja mereka itu harus bersembunyi karena mereka adalah pemberontak yang dikejar-kejar pemerintah.” “Mari, Enci Hong. Tapi engkau benar-benar sudah tidak benci lagi kepadaku, bukan? Sudah kaumaafkan kesalahanku terhadapmu yang sudah-sudah?” Kalau memikirkan apa yang telah di­lakukan oleh pemuda ini di masa lalu, memang sukar untuk melupakannya. Akan tetapi manusia tidak selamanya baik atau buruk, karena keadaan manusia itu selalu berubah, pikirnya. Sekarang pemuda ini kelihatan berubah sekali, mungkin hal ini juga terdorong oleh keadaan ibunya yang sudah menjadi isteri Pendekar Super Sakti. Apalagi pemuda itu jelas ingin membantunya, tentu tidak mempunyai niat buruk. “Aku tidak lagi memikirkan hal yang lalu, Keng In. Aku percaya kepadamu.” Wajah yang tampan itu berseri girang dan berangkatlah Kwi Hong mengikuti Keng In menuju ke pantai Lautan Po-hai yang tidak berapa jauh, hanya memakan perjalanan beberapa hari saja dari situ. Seperti telah disaksikan oleh Suma Han dan kedua orang isterinya, di sebelah selatan Pulau Es terjadi badai yang hebat. Ketika itu, perahu besar yang ditumpangi oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan teman-temannya sedang berlayar ke selatan. Bekas Koksu ini dan teman-temannya telah menderita kekalahan total dan ke­gagalan yang bertubi-tubi sehingga pela­yaran itu dilakukan dengan wajah murung dan hati kesal. Usaha pemberontakan mereka dengan mengangkat Pangeran Yauw Ki Ong gagal sama sekali, dan pangeran itu ternyata mempunyai hati khianat sehingga terpaksa dibunuh oleh Bhong Ji Kun. Setelah tidak ada lagi pangeran itu, tentu saja mereka tidak mempunyai pegangan untuk memberontak. Bahkan di Pulau Es mereka mengalami pukulan hebat lagi, semua dikalahkan mutlak oleh Pendekar Super Sakti sehing­ga mereka mendapatkan pengampunan dan diusir dari pulau sebagai orang-orang yang kalah. Seperti anjing setelah menga­lami gebukan-gebukan! Bagi orang-orang yang terkenal di dunia persilatan seperti mereka itu, tidak ada yang lebih mema­lukan dan merendahkan daripada diam­puni lawan setelah mereka kalah! Memang mereka sedang sial. Usaha pemberontakan gagal sama sekali, disusul dengan kekalahan pribadi menghadapi Majikan Pulau Es. Kini, selagi mereka bingung ke mana harus pergi dengan pe­rahu mereka karena untuk mendarat amatlah berbahaya setelah mereka kini menjadi orang-orang pelarian, tiba-tiba saja badai datang mengamuk dan menye­rang perahu mereka! Perahu itu sebetulnya sudah merupa­kan sebuah perahu besar menurut ukuran perahu umumnya. Namun, setelah badai mengamuk menimbulkan gelombang-ge­lombang setinggi anak bukit, perahu itu tidak lebih seperti sebuah mangkuk kecil di tengah telaga. Dan tenaga orang-orang yang biasanya dianggap orang-orang yang berkepandaian tinggi dan bertenaga besar, kini tiada bedanya seperti tenaga semut-semut saja menghadapi tenaga air laut yang digerakkan badai. Perahu dilempar ke sana-sini, dilontarkan ke atas dan diseret kembali ke bawah, diputar-putar dan akhirnya perahu itu pecah berkeping-keping! Bhong Ji Kun dan anak buahnya tentu saja dalam keadaan seperti itu hanya dapat berusaha menyelamatkan diri ma­sing-masing. Mereka tidak dapat saling melihat ketika perahu itu pecah beran­takan dan mereka terlempar ke lautan yang sedang marah itu. Barulah mereka saling dapat melihat ketika badai telah lewat ke timur dan lautan di bagian itu agak tenang dan ternyata bahwa yang berhasil mencengkeram sebagian tubuh perahu yang pecah, yang hanya merupa­kan beberapa potong papan besar bersam­bung-sambung, hanya ada lima orang saja. Dalam keadaan setengah pingsan, lima orang ini naik ke atas papan-papan ber­sambung itu, terengah-engah. Mereka ini adalah Gozan, orang Mongol yang bertu­buh tinggi besar itu, Liong Khek, Si Mu­ka Pucat bertubuh kurus yang bersenjata pancing. Thai-lek-gu, Si Pendek Gendut bekas jagal babi yang bersenjata sepasang golok, dan dua orang Mongol yang tadinya adalah juru-juru mudi perahu itu. Berkat pengalaman dan keprigelan dua orang bekas juru mudi inilah, maka pe­cahan perahu yang kini ditumpangi mere­ka berlima itu akhirnya dapat keluar dari daerah badai, kemudian dengan susah payah mereka mendayung mempergunakan papan yang berapung, untuk menggerak­kan perahu istimewa ini ke darat. Dan mereka berhasil setelah melalui perjuang­an mati hidup selama beberapa hari. Mereka berhasil mendarat di tempat sunyi, di pantai Lautan Po-hai dalam keada­an tenaga habis dan hampir mati kela­paran! Kini mereka sudah hampir dua pekan berada di guha-guha pantai Lautan Po-hai. Tenaga mereka sudah pulih dan pada siang hari itu tiga orang bekas pembantu Koksu bercakap-cakap di depan guha sedangkan dua orang bekas juru mudi kini bertugas sebagai pelayan, memang­gang ikan yang mereka tangkap di tepi laut. “Sudah lama kita menanti di sini, dan Im-kan Seng-jin belum juga muncul,” kata Liong Khek yang sebagai orang terlihai di antara mereka berlima tentu saja otomatis menjadi pemimpin mereka. “Dalam badai seperti itu, biarpun me­miliki kepandaian selihai dia, kiranya takkan banyak berdaya,” Thai-lek-gu ber­kata menggeleng-gelengkan kepala, masih ngeri kalau mengenangkan peristi­wa itu. Dia tidak dapat berenang sama sekali, maka dapat dibayangkan betapa takutnya ketika itu, hanya untung oleh ombak dia dilemparkan dekat pecahan perahu sehingga dapat menyelamatkan diri. “Agaknya dia dan yang lain-lain sudah mati ditelan ikan,” kata Gozan. “Lebih baik kita tinggalkan saja dia. Tempat ini pun masih berbahaya. Kalau sampai ada nelayan yang melihat kita dan melapor­kan, kita akan celaka. Aku sudah khawa­tir sekali ketika beberapa hari yang lalu ada perahu kecil meluncur cepat di laut­an itu.” “Tak usah khawatir,” Liong Khek ber­kata, “Perahu kecit itu hanya ditumpangi seorang, dan dia agaknya tidak memperhatikan ke sini. Pula, dia sudah pergi beberapa hari yang lalu, kalau memang dia melaporkan, kiranya pada hari itu juga sudah ada pasukan yang datang hen­dak menangkap kita. Akan tetapi, andai­kata demikian, kita takut apa kalau hanya menghadapi pasukan-pasukan biasa?” “Sekarang lebih baik kita lanjutkan rencana kita,” kata pula Gozan. “Kita dapat pergi ke Mongol melalui dua jalan. Pertama melalui jalan barat, melintasi Propinsi Liao-ning dan melalui Pegunungan Tai-hang-san sebelah utara. Akan tetapi jalan ini berbahaya karena tentu kita akan bertemu dengan para penjaga yang menjaga di Tembok Besar. Jalan ke dua adalah melalui sepanjang Sungai Yalu dan kemudian terus ke barat melalui Mancu.”  “Melalui Mancu? Gila, bukankah di sana pusatnya bangsa yang menjajah se­karang?” “Justeru karena itulah maka kita tak­kan diperhatikan, karena tidak akan ada yang mengira bahwa kita berani lewat di sana. Di sana banyak terdapat orang Mongol, maka bagiku aman, juga banyak terdapat orang Han. Dengan menyamar, kita mudah saja melalui Mancu, kemudian ke barat dan menyelinap ke Mongol.” Gozan yang sudah hafal akan seluk-beluk daerahnya itu menggambarkan keadaan dengan coretan-coretan di atas tanah depan kakinya. “Kalau begitu, besok pagi-pagi kita berangkat pergi!” kata Liong Khek sambil menarik napas panjang. Tiba-tiba terdedgar suara nyaring merdu, “Tidak usah besok, sekarang pun kalian akan pergi ke neraka!” Tampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Kwi Hong dan Keng In! Pemuda itu tersenyum-se­nyum saja dan berdiri di pinggiran dengan kedua tangan bersedekap (terlipat di dada). Mendengar ucapan Kwi Hong dan ke­tika mereka mengenal dara ini, tiga orang itu sudah meloncat berdiri. “Nona, apa kehendakmu dan apa artinya kata-katamu itu?” Liong Khek bertanya, dan mukanya berubah pucat. “Aku datang untuk membunuh kalian! Mana Si Keparat Bhong Ji Kun, suruh dia keluar!” “Dia.... mungkin sudah mati. Perahu kami pecah oleh badai dan yang dapat menyelamatkan diri hanya kami berlima. Nona, kami telah dilepaskan pergi oleh paman Nona. Kami telah dimaafkan....” “Mungkin Paman memaafkan, akan te­tapi aku tidak! Penghinaan dan tipuan yang kalian lakukan kepadaku hanya da­pat ditebus dengan darah!” Sambil berka­ta demikian Kwi Hong sudah mencabut pedangnya. “Singgg....!” Kilat berkelebat ketika pedang Li-mo-kiam dihunus. Tiga orang itu menjadi kaget sekali. Liong Khek menoleh dan menghadapi Keng In yang masih berdiri tenang dan tersenyum-senyum. “Wan-taihiap engkau adalah bekas sekutu kami. Harap kau suka membantu kami dan menyuruh nona ini agar tidak memaksa kami bertanding.” Wan Keng In tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, kalian ini orang-orang yang tak dapat dipercaya dan berwatak pengecut, maka kalian memang sudah sepatutnya dibunuh. Akan tetapi karena kalian ber­hutang kepada Enci Kwi Hong, biarlah dia yang akan menagihnya. Aku hanya akan melenyapkan dua orang tiada guna itu!” Tiba-tiba tangannya bergerak, tam­pak sinar berkelebat ketika pedang Lam-mo-kiam dicabut dan tubuhnya hanya berkelebat sebentar lalu dia sudah berdiri lagi di tempat tadi, pedangnya sudah disarungkan kembali, akan tetapi dua orang pelayan bekas juru mudi yang tadinya berjongkok dekat perapian karena terganggu pekerjaan mereka memanggang ikan itu telah roboh dengan kepala terpi­sah dari tubuh, lehernya putus disambar sinar pedang Lam-mo-kiam! Tiga orang itu kaget bukan main dan tahulah mereka bahwa jalan satu-satunya bagi mereka hanyalah melawan! Melihat sikap pemuda Pulau Neraka yang mereka tahu lihai luar biasa itu, mereka hanya mengharapkan pemuda itu benar-benar memegang kata-katanya dan tidak akan ikut campur, membiarkan dara itu seo­rang diri saja melawan mereka. Kalau begini halnya, mereka masih ada harapan. Biarpun mereka juga maklum bahwa mu­rid dan keponakan Pendekar Super Sakti ini lihai sekali, namun mereka bertiga masa kalah melawan seorang gadis muda? Apalagi mereka itu telah siap dengan senjata mereka. Gozan yang tak pernah bersenjata itu mengandalkan kedua tangan dan kakinya dan ilmu gulat disamping ilmu silatnya. Thai-lek-gu (Kerbau Berte­naga Besar) pun ketika berhasil menyela­matkan diri, sepasang golok penyembelih babinya masih tergantung di punggung. Adapun Liong Khek sendiri yang kehilangan senjatanya, telah mencuri sebuah pancing dari nelayan di Pantai Po-hai dan sudah membuat senjata pancing baru. Biarpun tidak sekuat buatannya sendiri dahulu, namun cukup untuk diper­gunakan karena memang keistimewaannya adalah mempermainkan senjata aneh ini. Melihat betapa dua orang itu sudah mengeluarkan senjata masing-masing, dan Gozan sudah berdiri memasang kuda-kuda dengan kedua lengan dikembangkan seperti seorang yang kerinduan siap memeluk kekasihnya, Kwi Hong menggerakkan pedangnya dan membentak, “Bersiaplah untuk mampus!” Akan tetapi Liong Khek dan Thai-lek-gu sudah mendahului menggerakkan senja­ta mereka. Sepasang golok Si Gendut Pendek itu menyambar dahsyat dari kanan kiri, dan terdengar suara bersiut nyaring ketika tali pancing itu melecut udara dan mata kailnya membalik, me­nyambar tengkuk Kwi Hong dari belakang. Kwi Hong maklum akan kelihaian para lawannya, makin dia cepat memutar pe­dang menangkis sepasang golok sambil merendahkan tubuh dan menyelinap ke kiri untuk menghindarkan sambaran mata kail. Si Gendut Pendek itu mengenal Li-mo-kiam, cepat menarik kedua goloknya dan memutar golok itu untuk melanjutkan serangannya, yang kiri menusuk dada, yang kanan menyerampang kaki. Juga Liong Khek sudah menggerakkan tali pancingnya. Kwi Hong tadi meloncat ke kiri untuk menjauhi Gozan. Biarpun orang Mongol itu bertangan kosong, namun dia maklum akan kelihaian orang ini dengan kedua tangannya. Sekali kena dipegang orang itu, sukarlah untuk dapat lolos lagi. Karena itu dia selalu bergerak menjauhinya agar jangan sampai Gozan mendapat kesempatan menyergapnya dari belakang. Wan Keng In hanya berdiri tersenyum. Melihat wajah pemuda ini, sukar untuk mengetahui apa yang tersembunyi di balik dada dan di balik dahi itu. Akan tetapi yang sudah jelas, matanya bergerak me­ngikuti gerak-gerik Kwi Hong, penuh kagum, dan kadang-kadang mata itu de­ngan liarnya melayang ke arah dada, pinggang, kaki dan wajah yang cantik dari gadis itu. Pertandingan itu berjalan seru dan biarpun dikeroyok tiga, Kwi Hong tetap saja dapat mendesak. Hal ini bukan hanya karena tingkat ilmunya memang jauh lebih tinggi, akan tetapi terutama sekali karena tiga orang itu jerih menghadapi keampuhan Li-mo-kiam yang dahsyat dan mengandung hawa mujijat itu. Betapapun juga, tidaklah terlampau mudah bagi Kwi Hong untuk merobohkan mereka, karena tiga orang itu bertanding untuk mempertahankan nyawa mereka! Lima puluh jurus telah lewat dan masih belum ada di antara mereka yang terluka, kecuali golok kiri Thai-lek-gu patah ujungnya terbabat Li-mo-kiam. Karena maklum bahwa kalau mereka ha­nya mempertahankan diri saja, lambat laun tentu mereka akan menjadi korban Li-mo-kiam, maka tiga orang itu pun berusaha untuk membalas dan merobohkan gadis yang perkasa itu. Pendeknya, pertandingan itu bagi mereka hanya berarti membunuh atau dibunuh! Pada saat untuk kesekian kalinya se­pasang golok Thai-lek-gu menyambar, Kwi Hong berusaha menangkis dan me­matahkan golok dan Si Gendut itu me­mang hanya mengacau untuk memberi kesempatan kepada teman-temannya. Melihat dara itu menggerakkan pedang menghalau golok-golok yang mengancam­nya, Liong Khek menggerakkan pancing­nya yang kini diulur panjang untuk melibat pinggang dan leher dara itu! Kwi Hong memang suddh menanti hal ini ter­jadi karena dia merasa penasaran dan kehilangan sabar setelah sekian lamanya belum juga dapat merobohkan mereka. Begitu tali pancing melecut udara dan menyambar, Kwi Hong menggerakkan tangan kirinya menangkap tali pancing! Liong Khek berseru girang, dan seruan ini merupakan aba-aba bagi kedua orang temannya. Sepasang golok itu menyerang dari kanan kiri, sedangkan Gozan menu­bruk dari belakang! Kwi Hong mengerahkan sin-kang, me­narik tali pancing dengan tangan kiri, ketika sepasang golok menyambar, kem­bali dia memutar pedangnya dan melepas tali pancing dengan tiba-tiba sehingga mata kail itu meluncur ke arah pemilik­nya! Tentu saja Liong Khek dapat me­nyelamatkan diri dan pada saat pedang Kwi Hong berhenti bergerak karena dua batang golok itu ditarik kembali pada saat yang sama, mata kail itu sudah menyambar ke arah mukanya dan sepasang golok sudah menjepit pedang, sedangkan Gozan menubruk dari belakang, tahu-tahu kedua tangannya sudah mencengkeram ke arah pinggang! Kwi Hong tidak menjadi gugup. Dia merendahkan tubuh dan dimiringkan, akan tetapi dia tidak mengira bahwa gerakan Gozan memang cepat sekali dan tahu-tahu elakan itu masih belum cukup untuk menghindarkan kedua tangan Gozan dan kini tangan kanan raksasa Mongol itu sudah meraih pinggang Kwi Hong dan lengannya merangkul ketat! Tentu saja Kwi Hong terkejut sekali. Pedang yang terjepit sepasang golok itu dia betot sambil mengerahkan tenaga Inti Bumi. Terdengar suara “krakkk!” ketika sepasang golok itu patah-patah dan pedangnya terus membabat ke belakang.  “Crokkkk! Aughhh....!” Tubuh Gozan terguling, lengan kanannya putus sebatas pundak akan tetapi lengan yang besar itu masih melingkari pinggang dan jari-jari tangannya masih mencengkeram baju gadis itu! “Ihhhh!” Kwi Hong bergidik dan me­renggut lengan itu dengan tangan kirinya, membuangnya ke samping. “Brettt!” Baju di bagian perutnya te­robek oleh jari-jari tangan itu. Untung pakaian dalam hanya ikut terobek sedikit sehingga hanya sedikit bagian kulit perut­nya yang putih bersih itu tampak! Sambil menutupi bagian robek dengan tangan kiri, Kwi Hong membalikkan tubuh dan pedangnya berkelebat merupakan gulungan sinar pedang yang seperti kilat menyambar di waktu hujan. Tampak darah muncrat dan terdengar pekik-pekik mengerikan ketika tubuh Gozan dan tubuh Thai-lek-gu hampir berbareng roboh de­ngan pinggang hampir terpotong! Liong Khek menjadi pucat. Maklum bahwa dia tidak dapat melarikan diri, dia menjadi nekat. Mata kailnya menyambar dengan gerakan berputaran, mata kail meluncur turun menyerang ke arah mata Kwi Hong! Dan pada saat berikutnya, dia sendiri telah menubruk dan mengirim pukulan dengan pengerahan sin-kang ke arah dada dara itu. “Heiiittt.... blessss! Aduhhh....!” Kwi Hong telah merubah kedudukannya, sete­ngah berjongkok dengan kecepatan me­ngagumkan sehingga mata kail itu tidak mengenai sasaran, kemudian dari bawah pedangnya meluncur dan amblas mema­suki perut Liong Khek sampai menembus punggung dan secepat kilat tubuh dara itu sudah meloncat ke belakang sambil menarik kembali pedangnya sehingga darah yang muncrat itu tidak sampai mengenai pakaiannya. Liong Khek terhu­yung lalu roboh menelungkup tanpa ber­sambat lagi. Terdengar orang bertepuk tangan. “Bagus sekali! Kau sungguh hebat Enci Hong!” Mulutnya memuji akan tetapi matanya mengincar ke arah sebagian perut yang tidak tertutup tadi! Kwi Hong segera menutupi perutnya, mengeluarkan selem­bar saputangan sutera dan menggunakan saputangan itu untuk diikat dan menutupi bagian yang robek. Kwi Hong menyarungkan pedangnya, memandang tiga buah mayat musuhnya dan dia berlutut, menutupi mukanya, ter­isak sedikit lalu membuka pula kedua tangan yang menutupi muka dan.... ter­tawa! “Kau hebat, Enci Hong. Tentu kau sudah puas sekarang?” “Masih belum! Mereka ini hanya kaki tangannya, yang menjadi musuh besar utama adalah Bhong Ji Kun!” “Akan tetapi agaknya kau kalah dulu oleh badai. Menurut penuturan mereka tadi, perahu mereka pecah oleh badai dan hanya mereka yang selamat.” Kwi Hong bangkit berdiri, menarik napas panjang. “Sayang sekali kalau be­gitu.” “Aku tahu bahwa kau mendendam sakit hati hebat, karena itu tadi pun aku tidak mau turun tangan membantumu. Tentu saja aku yakin kau akan menang. Kalau aku membantumu tentu kau akan kecewa.”       Kwi Hong tersenyum kepadanya. “Terima kasih, Keng In. Engkau baik sekali. Dan melihat engkau begitu baik, benar-benar menimbulkan rasa kasihan di hatiku.” “Eh, kasihan kepadaku, Enci Hong?” Keng In benar-benar merasa heran. “Me­ngapa engkau merasa kasihan kepadaku?” Mereka bicara sambil berjalan pergi meninggalkan mayat-mayat itu. Agaknya mereka berjalan asal menjauhi mayat-mayat itu saja, tanpa tujuan tertentu, berjalan sepanjang pantai laut. Tiba-tiba Kwi Hong menoleh kepada pemuda itu. “Keng In, bukankah engkau mencinta Milana?” Keng In terkejut, mengira bahwa Kwi Hong tahu bahwa dia menculik Milana, akan tetapi dia dapat menekan perasaan­nya. “Dugaanmu benar, Enci Hong. Aku mencinta Milana, akan tetapi keadaannya menjadi rusak dan kacau sekarang ini. Milana adalah puteri ayah tiriku, bagai­mana mungkin....?” “Bukan itu saja.” Kwi Hong menghela napas. Gadis itu merasa hidup sebatang kara, setelah dia menganggap bahwa pa­mannya membencinya, semua orang mem­bencinya, dan tadinya harapannya tertum­pah kepada Bu-tek Siuw-jin. Kini, sebe­lum bertemu dengan gurunya itu dia bertemu dengan Keng In yang bersikap baik, maka dia tidak ingat apa-apa lagi dan mendapatkan seorang yang dapat dia ceritakan segalanya untuk menumpahkan semua kedukaan dan kekecewaannya. “Bukan itu saja, akan tetapi kini Milana lenyap, kabarnya diculik orang....” “Ehhh....?” Keng In terkejut, benar-benar terkejut bukan pura-pura. Hanya kalau Kwi Hong mengira dia terkejut mendengar dara yang dicintanya hilang, adalah sebenarnya Keng In sendiri terke­jut bukan karena itu, melainkan karena mengira bahwa Kwi Hong benar-benar telah tahu bahwa dia penculiknya! “Di­culik.... siapa....” “Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tadinya kusangka engkau, akan tetapi melihat perubahan pada dirimu, tentu bukan kau yang melakukan perbuatan keji itu. Akan tetapi, juga bukan karena Milana diculik orang itu yang membuat aku kasihan kepadamu, Keng In.” Dapat dibayangkan betapa lega hati Keng In. “Eh, ada apakah lagi yang lebih hebat dari berita hilangnya Milana itu?” “Ada yang lebih hebat, dan lebih me­nyedihkan untukmu, juga untukku...., bahwa Milana telah ditunangkan dengan Gak Bun Beng.” Berita ini benar-benar merupakan pu­kulan hebat bagi Keng In! Di dalam hati­nya seolah-olah ada api membakar dan kalau tadinya dia hanya cemburu karena Milana mencinta Bun Beng, kini cemburu itu makin berkobar karena dara yang dicintanya itu ternyata telah dijodohkan dengan pemuda yang makin dibencinya itu. Akan tetapi dia memang hebat. Se­muda itu dia telah pandai menguasai di­rinya sendiri sehingga dia hanya menun­duk saja, tidak tampak marahnya hanya kelihatan seperti orang yang berduka. Sampai lama mereka tidak berkata-kata, hanya melangkah terus perlahan-lahan di sepanjang pantai yang dijilati lidah-lidah ombak yang membuih. “Enci Hong.... kau tadi bilang bahwa hal itu juga menyedihkan hatimu. Mengapa?” “Tidak mengertikah engkau? Seperti juga engkau, aku mencinta orang yang bukan dijodohkan denganku....” Keng In menoleh dan menatap tajam wajah yang menunduk itu. “Kau.... kau juga mencinta Bun Beng?” Kwi Hong mengangguk tanpa menoleh sehingga dia tidak melihat betapa sinar kemarahan membuat wajah tampan itu menjadi menakutkan. Akan tetapi hanya sebentar, karena segera terdengar kata-kata Keng In, halus dan seperti suara orang yang benar-benar berniat jujur dan baik. “Betapapun juga, Enci Hong. Engkau adalah keponakan dan murid Pendekar Super Sakti, aku adalah anak tirinya. Kiranya sudah menjadi tugas kewajiban kita untuk mencari siapa penculik Milana dan ke mana dia dibawa pergi.” Kini Kwi Hong menoleh dengan pan­dang mata terheran-heran. “Kau....? Hen­dak mencari dan menolong Milana? Ahhh, betapa baik hatimu. Sungguh tak kusang­ka! Kau membikin aku merasa malu, Keng In. Aku sendiri tadinya sudah tidak peduli karena kedukaan dan kekecewaan­ku. Kau benar, kita harus mencari dia, harus mencari Bun Beng. Biarpun hati kita dihancurkan, dipatahkan, namun kita harus menemukan mereka dan menyuruh mereka kembali ke Pulau Es.” “Kalau begitu marilah kita mencari mereka, Enci. Hong! Lihat, Sepasang Pedang Iblis berada di tangan kita! Ha-ha-ha, Siang-mo-kiam telah menggegerkan dunia. Sekali ini pun akan menggegerkan dunia, akan tetapi dengan cara lain! Kita akan bekerja sama, bahu-membahu me­numpas musuh-musuh kita!” Tentu saja Kwi Hong terbawa oleh kegembiraan Keng In yang mencabut Lam-mo-kiam dan mengangkatnya tinggi-tinggi itu. Dia tidak mengartikan lain dengan sebutan “musuh-musuh kita” maka dia pun mencabut Li-mo-kiam, mengang­katnya di atas kepala dan dengan wajah berseri berseru, “Siang-mo-kiam akan menggegerkan dunia dan musuh-musuh kita akan tertumpas habis!” Siang hari itu mereka berhenti di da­lam sebuah hutan. Keng In menurunkan bangkai kijang yang tadi diburu dan bangkai kijang yang tadi diburu dan dibunuhnya. Kwi Hong sudah mempersiap­kan bumbu-bumbu yang tadi mereka beli di dusun terakhir di luar hutan. Keng In memilih daging-daging yang lunak dan memberikannya kepada Kwi Hong yang melumurinya dengan bumbu yang sudah diaduk dengan air, kemudian daging-daging itu mulai mereka bakar di atas api unggun. “Sayang tidak ada nasi,” kata Kwi Hong. “Makan daging saja asal cukup banyak juga kenyang. Dan aku masih mempunyai simpanan arak,” kata Keng In. Maka makanlah keduanya. Kwi Hong makan dengan lahap karena hatinya se­nang. Dia merasa mendapatkan teman seperjalanan yang menyenangkan dalam diri Keng In. Dia merasa seolah-olah Keng In memang sejak dahulu adiknya sendiri! Dan ajakan Keng In untuk men­cari Milana dan Bun Beng menimbulkan semangat kembali, tidak seperti sebelum ini, acuh tak acuh. Dunia masih lebar dan bukan hanya Bun Beng seorang laki-laki di dunia ini, sungguhpun sukarlah menemukan ke duanya! Setelah perutnya penuh dengan daging bakar yang harum dan gurih, dan kepadanya agak ringan oleh arak Keng In yang benar-benar keras, harum dan tua itu, Kwi Hong duduk menyandarkan punggung­nya di bawah pohon besar. Tempat itu teduh sekali, melindunginya dari panas matahari. Angin bertiup dan Kwi Hong yang kelelahan dan kekenyangan itu se­perti dikipasi, tanpa disadarinya lagi dia telah tertidur sambil menyandar batang pohon! Malam hampir tiba ketika Kwi Hong mengeluh dan membuka matanya. “Augg­ghh.... kepalaku pening....” Keng In segera mendekati dan berlu­tut di depan Kwi Hong. Dara itu membu­ka matanya, memandang heran. “Di mana aku....? Kau.... kau....?” “Enci Hong, kau kenapakah? Aku Keng In. Kau kenapa....?” “Ahhh, Keng In.... hampir aku lupa kepadamu.... entah, kepalaku pening.... aku bingung....” “Tenanglah, Enci Hong dan jangan khawatir, aku membawa obat untukmu. Rebahlah dan minum obat ini....” Keng In mengeluarkan sebotol obat cair yang berbau harum, memberi gadis itu minum obat ini. Kwi Hong yang berada dalam keadaan setengah ingat itu tidak membantah, dengan penuh kepercayaan dia minum obat itu, kemudian karena kepala­nya pening dan pandang matanya berku­nang, dia tidur lagi dan tak lama kemu­dian dia menjadi pulas. Melihat dara itu sudah tidur nyenyak, Keng In tersenyum lebar dan matanya mengeluarkan sinar yang aneh, kemudian dia menyimpan sisa obat yang masih banyak, membesarkan api unggun dan rebah di atas rumput untuk mengaso. Sukar baginya untuk bisa tidur pulas karena pikirannya penuh oleh pengalaman hari itu. Yang selalu terbayang olehnya adalah wajah Bun Beng, dibayangkannya dengan kemarahan dan kebencian besar. Milana mencinta Bun Beng, dan Kwi Hong juga mencinta Bun Beng! Semua orang mencinta Bun Beng dan membencinya! Biarlah dia akan menjadi Gak Bun Beng. Dia akan makan dan menikmati kembangnya, biarlah Bun Beng yang ter­kena durinya! Dia melirik ke arah Kwi Hong. Obat yang diberikannya tadi akan memperkuat obat yang terdahulu, yang berada di dalam araknya, dan obat itu membutuhkan waktu beberapa lama untuk bekerja dengan baik. Masih banyak waktu untuk bersenang-senang, pikirnya dan sambil tersenyum karena hatinya lega, tidurlah Keng In. Pada keesokan harinya, menjelang pagi, Kwi Hong terbangun. Dia mengejap-ejapkan kedua matanya, lalu menggosok-gosok matanya, mengerutkan alisnya. Di mana dia dan mengapa dia berada di hutan? Cuaca remang-remang dan keada­an sekelilingnya hanya diterangi oleh sinar api unggun. Dia bangkit duduk dan tiba-tiba terdengar suara orang memang­gil, “Kwi Hong....!” Kwi Hong menoleh ke kanan dan oto­matis tubuhnya bersiap siaga. Biarpun dia tidak ingat apa-apa lagi namun ilmu silat yang sudah mendarah daging di tubuhnya itu menggerakkan tubuh tanpa membutuhkan ingatan lagi! Melihat munculnya seorang laki-laki muda yang memakai sebuah caping (topi) bundar, dia membentak sambil meloncat berdiri, “Siapa kau?” Pemuda bercaping bundar itu terbela­lak heran. “Kwi Hong, lupakah engkau kepadaku, kepada laki-laki yang kaucinta dan yang mencintamu? Lihatlah wajahku, lihatlah capingku, apakah kau tidak ingat kepadaku lagi?” Kwi Hong tercengang keheranan, me­ngerahkan ingatannya untuk mengenal siapa pemuda ini, akan tetapi percuma saja. Ada bayangan di balik otaknya bah­wa dia memang mengenal pemuda ini dan merasa suka kepada wajah yang tampan itu, akan tetapi tidak ingat lagi. “Aku tidak tahu.... aku tidak ingat.... siapakah engkau....?” “Kwi Hong, dewiku tersayang. Aku adalah Gak Bun Beng, kekasihmu!” Mendengar nama Gak Bun Beng ini, Kwi Hong menjadi lemas. “Bun.... Bun Beng! Ahhh, Bun Beng....!” Dan dia menangis sambil jatuh terduduk. Pemuda itu cepat berlutut di depan­nya dan melingkarkan lengan ke lehernya, memeluknya dengan mesra. Biarpun pada waktu itu ingatan Kwi Hong sudah lenyap sama sekali sehingga dia tidak lagi dapat mengingat bagaimana wajah Bun Beng, akan tetapi mendengar nama itu sudah cukup menggerakkan hatinya, nama yang tak pernah terlupa olehnya. Otomatis, karena hatinya amat tertekan tadinya sebelum dia kehilangan ingatan, dan kini seolah-olah memperoleh obat penawar yang menyejukkan, kedua lengannya balas me­meluk pemuda itu. Mereka berpelukan dan Kwi Hong terisak penuh rasa girang dan lega. Pemuda itu memegang dagunya, mengangkat muka, dan ketika pemuda itu menciumnya, mencium pipinya, hi­dungnya, mulutnya, Kwi Hong hanya mengeluarkan suara rintihan terharu dan memejamkan kedua matanya! Sebelum kehilangan ingatannya, Kwi Hong merasa betapa hatinya hancur, ter­utama sekali karena Bun Beng yang dicintanya itu dijodohkan dengan Milana. Habis harapannya untuk dapat berjodoh dengan pemuda yang dicintanya itu, dan telah ada kenyataan bahwa pemuda yang dicintanya itu takkan dapat diraih oleh­nya, maka cintanya terhadap pemuda itu seolah-olah bertambah, dan dia merasa rindu sekali kepada Gak Bun Beng. Oleh karena itulah, kerinduan yang masih men­cengkeram bawah sadarnya, kini timbul ketika pemuda yang dicintanya itu telah memeluk dan menciumnya. Tanpa dorong­an rasa rindu yang hebat itu kiranya dia tidak akan menerimanya begitu saja pen­curahan kasih sayang dari seorang pria terhadapnya, keadaan yang sama sekali masih asing baginya ini. Tapi sekarang Kwi Hong sama sekali tidak memberontak bahkan di luar kesadarannya, hidung dan bibirnya bergerak membalas ciuman pe­muda itu dengan gairah yang meluap-luap. “Kwi Hong.... ah, Kwi Hong.... keka­sihku.... hanya engkaulah wanita yang kucinta....!” Laki-laki itu berbisik sambil memperketat dekapannya dan membawa Kwi Hong rebah di atas rumput. “Bun Beng.... ohh, Bun Beng....!” Kwi Hong memejamkan matanya dan sama sekali tidak peduli lagi akan apa yang dilakukan oleh pemuda yang dicintanya itu terhadap dirinya. Dia menyerah bulat-bulat, menyerahkan hati dan tubuhnya dengan penuh kerelaan, bahkan dia mem­bantu penyerahan itu karena dia pun membutuhkan kasih sayang pemuda ini. Maka terjadilah hal yang tak dapat di­elakkan lagi dalam keadaan seperti itu. Hanya pohon-pohon, kabut pagi, dan burung-burung yang baru keluar dari sa­rangnya saja yang menjadi saksi akan pencurahan cinta berahi yang berlangsung pada pagi hari di bawah pohon besar itu. Pencurahan nafsu berahi yang terjadi atas kehendak kedua pihak, dengan suka rela, sungguhpun Kwi Hong melakukannya dalam keadaan hilang ingatan dan hanya merasa yakin bahwa dia telah menyerah­kan tubuhnya kepada orang yang dicinta­nya, Gak Bun Beng, dan tidak akan me­rasa menyesal akan apa pun yang menja­di akibatnya. Adapun pemuda itu, yang mudah saja diduga bukan Gak Bun Beng sesungguhnya melainkan Wan Keng In, mula-mula menggunakan siasat ini, me­rampas ingatan Kwi Hong dengan obat pemberian gurunya, kemudian menyamar sebagai Bun Beng, bukan semata-mata untuk menikmati kemesraan tanpa perko­saan bersama Kwi Hong yang cantik dan yang dikaguminya, melainkan didasari oleh niat untuk menghancurkan hidup Bun Beng! Keng In ingin menanam kesan mendalam di hati Kwi Hong bahwa gadis itu telah menyerahkan tubuhnya kepada Bun Beng, dan hal ini tentu saja kelak akan menjadi penghalang bagi Bun Beng untuk melanjutkan perjodohahnya dengan Milana! Akan tetapi, bukan sampai di situ saja rencananya untuk menjebloskan nama baik Bun Beng ke pecomberan. Setelah mencurahkan kasih sayangnya kepada pemuda yang dicintanya, penga­laman pertama selama hidupnya yang baru sekarang dialami akan tetapi sama sekali tidak disesalkannya itu, Kwi Hong tertidur lagi kelelahan dan kepuasan. Ketika dia bangun lagi, pemuda bertopi bundar itu telah berada di sisinya. Kwi Hong menggeliat, seperti seekor kucing manja, membuka mata dan merangkulkan kedua tangan ke leher laki-laki yang te­lah duduk di dekatnya, menarik muka yang dicintanya itu dan kembali mereka berciuman. “Hemmm...., Bun Beng.... aku merasa berbahagia sekali....!” Keng In tertawa dan menarik tangan Kwi Hong bangun. “Hayo bangunlah, kita mandi di telaga dekat sini, kemudian melanjutkan perjalanan.”  “Eh, ke mana?” Kwi Hong bertanya sambil tersenyum manis, membetulkan pakaiannya yang awut-awutan seperti juga rambutnya, akan tetapi yang bahkan me­nambah keaslian kecantikannya. “Ke mana lagi, sayang? Bukanlah kita telah menjadi suami isteri, biarpun belum resmi? Aku adalah suamimu, maka kau harus ikut bersamaku.” Kwi Hong menggeleng-geleng kepala­nya. “Aku tidak ingat lagi.... di mana rumahmu.... akan tetapi aku tidak peduli, Bun Beng. Bersama denganmu, aku akan selalu merasa bahagia, biar kaubawa ke neraka sekalipun!” Keng In merangkul dan kembali mere­ka berciuman. “Kwi Hong.... pujaan hati­ku.... kalau aku membawamu, bukan ke neraka, melainkan ke sorga. Aku.... aku cinta padamu, Kwi Hong....!” Kalimat terakhir ini menggetarkan jantung Keng In karena dia merasa betapa ucapan itu tidak dibuat-buat seperti kalimat yang lain! Dia benar-benar merasa jatuh cinta kepada Kwi Hong! Sudah beberapa kali dia berhubungan dengan wanita, baik dengan perkosaan maupun dengan suka rela karena kenakalannya, akan tetapi semua itu hanyalah peristiwa badani saja. Anehnya, setelah apa yang terjadi, sete­lah merasa sampai ke dasar dirinya beta­pa Kwi Hong benar-benar menyerahkan segala-galanya dengan kasih sayang yang mesra, agaknya kasih sayang dara itu mencekam perasaannya dan menggugah cintanya pula! Sambil tertawa-tawa bahagia, mereka berdua mandi di air telaga yang jernih. Mereka mandi dengan telanjang bebas karena di dalam hutan itu sunyi tidak ada orang lain lagi. Dalam kesempatan ini, sambil berendam di dalam air jernih, kembali kedua insan itu mencurahkan perasaan mereka dan mengulangi perbuat­an mereka di bawah pohon tadi. Bagi dua orang yang sedang dimabok asmara, se­perti sepasang pengantin baru, agaknya keduanya tidak pernah merasa puas akan permainan cinta ini. Keng In yang cerdik itu kini malah merasa khawatir kalau-kalau Kwi Hong sadar dan ingatannya kembali lagi lalu menolak cintanya! Dia mulai merasa khawatir kalau dia akan kehilangan Kwi Hong yang dicintanya ini! Sungguh keada­an menjadi terbalik sama sekali! Karena itu, setiap hari dia selalu mencampurkan obat perampas ingatai ke dalam minuman atau makanan Kwi Hong dan mereka melakukan perjalanan cepat, hanya dise­ling dengan makan, tidur, dan bermain cinta. Keng In ingin cepat-cepat mengajak Kwi Hong ke Pulau Neraka, di mana dia ingin menjalankan siasatnya selanjutnya untuk merusak hubungan antara Bun Beng dan Milana. Selain itu, juga obat yang dibawanya tidak banyak. Kalau sampal obat itu habis sebelum mereka tiba di Pulau Neraka, tentu akan berbahaya se­kali. Kwi Hong akan sadar kembali dan dia akan menghadapi kesulitan besar. *** Biarpun Milana masih dapat memper­tahankan harga dirinya dan menolak dengan keras ajakan Keng In yang me­nyamar Gak Bun Beng untuk bermain cinta, namun dara ini merasa berduka sekali. Sepanjang ingatannya, kekasihnya yang bernama Gak Bun Beng itu adalah seorang gagah perkasa yang menjunjung tinggi kehormatan. Akan tetapi siapa kira begitu datang pemuda yang dirindukannya itu hendak melakukan pelanggaran yang amat merendahkan dirinya! Sepeninggal Bun Beng malam itu, dia menangis dan berduka. Biarpun dia terbebas dari bahaya itu, namun Milana masih tetap menjadi seo­rang yang seperti boneka hidup di Pulau Neraka. Dia masih belum ingat apa-apa karena sebelum pergi Keng In telah memesan kepada anak buahnya yang di­pimpin oleh tokoh Pulau Neraka, Si Gun­dul Kong To Tek untuk setiap hari mem­beri obat perampas ingatan itu dicampur­kan dalam makanan yang disuguhkan kepada Milana. Pada suatu pagi, Milana duduk ter­menung seorang diri di belakang pondok­nya di Pulau Neraka. Dia sama sekali tidak tahu bahwa malam tadi, Giam Kwi Hong keponakan dan murid ayahnya telah mendarat di Pulau Neraka bersama Wan Keng In! Andaikata dia melihat mereka mendarat, tentu dia akan menganggap Keng In yang memakai caping itu adalah Bun Beng yang selama ini dia pikirkan dengan hati risau, dan dia tentu tidak akan mengenal lagi Kwi Hong yang ke­adaannya sama dengan dia. Tiba-tiba muncul Kong To Tek. Biar­pun dia tidak mengenal siapa orang ini, akan tetapi Kong To Tek bukan merupa­kan orang asing bagi Milana, karena Si Gundul inilah yang melayani segala kebutuhannya. Pernah dia bertanya kepada Kong To Tek, ke mana perginya Gak Bun Beng yang selama itu belum datang, dan dijawab bahwa pemuda itu sedang pergi, akan tetapi tak lama tentu kembali. “Nona, Gak Bun Beng telah kembali ke pulau ini.” Kong To Tek berkata ke­pada Milana sambil menyeringai. “Dan Nona diharapkan menemuinya di sana.” Terjadi perang di dalam pikiran Mila­na. Akan tetapi akhirnya, cinta kasih yang sebetulnya tak pernah padam di dalam hatinya itu menang dan dia meng­angguk. “Di mana dia?” “Di dalam pondok kuning dekat pantai timur, Nona.” Milana lalu berjalan cepat menuju ke pantai timur. Dia sudah hafal akan ke­adaan di Pulau Neraka dan sebentar saja dia telah tiba di pondok itu. Akan tetapi sunyi saja di luar pondok dan ketika dia mendekat, terdengar olehnya suara orang berbicara dan tertawa, suara seorang laki-laki dan seorang wanita yang bersendau-gurau dan bercintaan. Dia terheran-heran, lalu mengintai dari jendela dari kamar tunggal pondok kecil itu. Kamar itu terang sekali dan tampak jelas olehnya segala yang terjadi di da­lam kamar. Dia melihat pemuda bertopi bundar, Gak Bun Beng yang dicintanya, sedang bermain cinta dengan seorang wanita cantik, seorang wanita yang se­perti telah dikenalnya akan tetapi dia lupa lagi siapa wanita itu. Melihat adeg­an yang selama hidupnya belum pernah disaksikannya itu, melihat betapa pria satu-satunya yang dicintanya bermain gila dengan seorang wanita lain, tak tertahan lagi Milana mengeluarkan suara isak ter­tahan, membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu! Dari dalam kamar di pondok kuning itu, biarpun dia sedang berkasih-kasihan dengan mesra bersama Kwi Hong, Keng In yang sudah mengatur siasat itu maklum bahwa siasatnya berhasil dan dia mendengar isak tertahan tadi. Diam-diam dia tersenyum bangga ketika menciumi Kwi Hong. Mampuslah kau, Bun Beng, pikirnya. Milana tentu takkan sudi melanjutkan perjodohannya dengan Bun Beng setelah terjadi dua hal itu. Pertama, Bun Beng hendak merayunya dan mengajaknya berjina, ke dua, Bun Beng telah bermain cinta dengan wanita lain! Setelah berhasil, dia akan membebaskan Milana. Biarlah Milana kembali ke daratan dengan bekal kebencian yang meluap bagi Bun Beng! Dan dia sendiri.... dia sudah puas dengan Kwi Hong. Hanya ada satu yang amat membingungkan dan menggelisahkan hati Keng In. Dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Kwi Hong. Tidak mungkin kalau selamanya dia harus membuat Kwi Hong kehilangan ingatannya seperti seka­rang ini. Obat itu adalah racun yang berbahaya, kalau terus menerus diberikan, menurut gurunya, bisa membuat gadis itu menjadi gila betul-betul! Akan tetapi, kalau ingatannya kembali dan Kwi Hong mendapat kenyataan bahwa dia telah menyerahkan dirinya bukan kepada Bun Beng, tapi kepada Keng In, apa yang akan terjadi? Apakah Kwi Hong mau menerima nasib? Bagaimana kalau tidak? Dia takut kehilangan wanita yang dicin­tanya!  Keng In mengusir rasa gelisahnya. Setelah kedua orang itu puas berkasih­-kasihan dan Kwi Hong tertidur di kamar itu, Keng In segera meninggalkan pondok. Masih ada sedikit lagi yang harus dia lakukan sebelum dia membebaskan Milana. Cepat ia pergi ke pondok Milana, mema­kai caping lebar. Milana sedang duduk menangis di da­lam pondok itu. Ketika mengengar ada orang datang dia menoleh. Melihat bahwa yang datang adalah Bun Beng, dia bang­kit berdiri. “Manusia hina! Gak Bun Beng, hayo kau keluar dari sini!” Keng In membelalakkan matanya dan kelihatan terkejut. “Milana.... kekasihku, mengapa kau marah-marah kepadaku?” “Jahanam, jangan menyebut kekasih kepadaku! Engkau pernah merayuku, hal itu masih dapat dimaafkan, akan tetapi apa yang telah kaulakukan di dalam pon­dok kuning bersama perempuan lacur itu?” “Milana! Perempuan lacur yang mana kaumaksudkan? Aku datang bersama Giam Kwi Hong! Masa kau tidak mengenal Giam Kwi Hong?” Keng In sengaja mene­kankan nama ini ke dalam ingatan Milana. “Aku tidak kenal segala Giam Kwi Hong. Yang kulihat adalah bahwa perem­puan tak tahu malu di kamar itu bermain gila denganmu. Aku tidak sudi lagi meli­hat tampangmu. Pergi!” “Milana! Dia itu bukan perempuan lacur, kalau dia cinta kepadaku, apakah aku harus menolak? Gak Bun Beng bukan laki-laki yang suka menolak cinta seorang wanita. Giam Kwi Hong adalah murid dan keponakan ayahmu sendiri. Masa kau lupa?” Milana kelihatan bingung. Ayahnya? Siapa ayahnya? Giam Kwi Hong? Seperti pernah dia mendengar nama ini. Murid dan keponakan ayahnya? “Siapa? Ayahku....?” “Ayahmu Pendekar Super Sakti, Pen­dekar Siluman Majikan Pulau Es!” Disebutnya nama ini seolah-olah me­rupakan guntur di siang hari memasuki telinga Milana. Inilah kesalahan Keng In. Nama Suma Han sebagai Pendekar Super Sakti telah berakar dalam ingatan Milana yang menjadi puterinya, maka begitu disebut nama ini, biarpun segala hal yang terjadi masih belum diingatnya, namun yang jelas dia tahu bahwa Bun Beng telah menghina ayahnya karena berjina dengan murid dan keponakan ayahnya itu! Ini saja sudah cukup baginya. “Keparat, kau menghina ayahku!” Ti­ba-tiba kaki Milana menendang dan se­buah bangku melayang ke arah muka Keng In. “Haiii!” Keng In memukul bangku itu. “Brakk!” Bangku pecah berantakan akan tetapi Milana sudah menerjang maju dengan pukulan tangannya. Keng In kaget sekali, tidak mengira bahwa Milana me­nyerangnya dengan marah seperti itu. Dia cepat mengelak dan meloncat keluar, di hatinya dia tertawa girang. Milana sudah mulai membenci Gak Bun Beng! Karena tidak ingin melayani Milana yang menga­muk itu, Keng In cepat berlari kembali ke pondok kuning. Akan tetapi tiba-tiba dia berhenti dan berdiri terpukau ketika melihat Kwi Hong sudah berdiri di depan pondok de­ngan pedang Li-mo-kiam di tangan dan mukanya merah, sepasang matanya berki­lat! Keng In terperanjat, dan bulu teng­kuknya meremang. Sepasang mata yang marah itu ditujukan kepadanya. Apakah karena dia tidak memakai caping bundar yang terlempar jauh ketika dia diserang Milana tadi? Ah, tidak mungkin! Kwi Hong sudah menganggapnya Bun Beng, pakai caping atau pun tidak! Akan tetapi mengapa? “Wan Keng In! Aku tahu bahwa kau yang menculik Milana. Hayo serahkan Milana padaku!” Kwi Hong berseru dan mengelebatkan Li-mo-kiam di tangannya. Keng In terbelalak. Jelas bahwa dara itu adalah Kwi Hong, wanita yang selama hampir dua pekan ini setiap hari bere­nang dalam lautan cinta yang mesra dengan dia! Dan wanita ini selalu meng­anggapnya Gak Bun Beng. Kenapa seka­rang tiba-tiba menyebutnya Wan Keng In? Sudah sadarkah dia? Tak mungkin! Tadi sebelum pergi, dia sudah menyedia­kan minuman bercampur obat untuk Kwi Hong! Memang amat mengherankan bagi yang tidak melihat apa yang terjadi de­ngan diri Kwi Hong ketika Keng In pergi tadi. Baru saja Keng In pergi dan Kwi Hong masih tidur pulas dengan wajah membayangkan senyum kepuasan, sesosok tubuh yang pendek menyelinap ke dalam kamar itu membuang isi cawan minuman dan menukarnya dengan benda cair yang dituangkan dari guci arak yang dibawanya. Kemudian bayangan itu menyelinap keluar lagi setelah dia mengguncang kaki Kwi Hong yang terbangun. Kwi Hong memandang ke kanan kiri, melihat cawan di atas meja. “Bun Beng....?” Dia memanggil akan tetapi tidak ada jawaban. Diambilnya cawan itu dan diminumnya. Tiba-tiba dia berteriak kaget, meloncat bangun akan tetapi ter­banting jatuh lagi ke atas dipan itu dan jatuh pingsan! Bayangan pendek yang bukan lain ada­lah seorang kakek tua renta, Bu-tek Siauw-jin, masuk ke kamar itu dan meng­geleng kepala sambil mengeluarkan suara “ck-ck-ckk!” Dengan perlahan dia lalu mengurut-urut punggung muridnya itu, di sepanjang tulang punggung dari bawah sampai ke tengkuk. Kwi Hong siuman, bangkit duduk dan menggoyang-goyang kepalanya. “Aihhhhh, di mana aku....?” “Kwi Hong....” Dia menoleh, terkejut melihat gurunya telah berdiri di kamar itu. Cepat dia meloncat turun dan berlutut, membetulkan pakaiannya yang tidak karuan. “Suhu! Apa artinya ini? Di mana tee­cu? Dan.... dan.... Bun Beng....” Gadis ini telah pulih kembali ingatannya berkat obat yang diberikan Bu-tek Siauw-jin dan urutan tangannya tadi. Dia teringat akan semua yang dialaminya dengan Bun Beng maka dia terkejut melihat gurunya dan tidak melihat kekasihnya di situ. “Kwi Hong,” suara Bu-tek Siauw-jin tidak seperti biasanya, kini terdengar tegas dan sama sekali tidak tampak sen­dau-guraunya, bahkan alisnya yang putih itu berkerut. “Kau agaknya tidak tahu bahwa kau berada di Pulau Neraka.” “Ehhh....? Apa teecu mimpi....?” Ada rasa kecewa di hatinya. Kalau hanya mimpi, jadi semua pengalamannya yang luar biasa dengan Bun Beng itu pun ha­nya mimpi? “Tidak, kau tidak mimpi. Akan tetapi ketahuilah bahwa Milana diculik oleh Wan Keng In, dan kau harus menolongnya keluar dari sini. Awas, dia datang!” Ka­kek itu berkelebat dan lenyap. Mendengar nama Wan Keng In disebut sebagai penculik Milana, Kwi Hong menjadi terkejut. Kini teringatlah dia betapa Wan Keng In telah membantunya mem­bunuh tiga orang musuhnya, membantu memberi tahu tempat mereka dan betapa dia melakukan perjalanan bersama Wan Keng In. Akan tetapi dia lupa lagi di mana dan bagaimana dia berpisah dan Wan Keng In kemudian bertemu Bun Beng. Di mana sekarang Bun Beng? Betapapun juga, mendengar perintah gurunya, cepat dia membereskan pakaiannya, menyambar Li-mo-kiam dan menanti di luar. Begitu dia mengenal Wan Keng In yang datang, dia segera menegurnya. “Enci Kwi Hong.... kau.... kau.... bagai­mana bisa tahu?” “Tak perlu kauketahui, pendeknya aku tahu bahwa kau menculik Milana dan aku minta kau segera membebaskannya agar dapat pergi keluar dari Pulau Neraka ini bersamaku. Selain itu, kalau kau berani menjebak Gak Bun Beng, terpaksa aku takkan memandang persahabatan kita lagi. Di mana dia?” Keng In menahan ketawanya, hatinya girang. Kiranya gadis ini masih belum tahu bahwa Gak Bun Beng yang selama belasan hari ini mabuk dalam peluk ciumnya, adalah dia sendiri! “Oohhh dia? Begini, Enci Kwi Hong. Dahulu, ketika kau melakukan perjalanan bersamaku, di tengah jalan aku bertemu dia dan.... dan...., aku mendengar bahwa Milana di­culik orang maka aku titipkan kau kepa­danya dan aku sendiri lalu mencari Milana, berhasil dan kubawa ke sini.... ada pun.... ada pun dia itu....” Keng In menja­di bingung sekali, bukan hanya karena Kwi Hong secara tiba-tiba kembali pulih ingatannya, akan tetapi juga karena urus­an menjadi berbalik arah! Kini dia tidak ingin gadis ini pergi meninggalkannya! Maka dia menekan hatinya dan mengam­bil keputusan untuk terang-terangan saja karena kalau tidak tentu Kwi Hong juga segera pergi meninggalkan dia! “Begini, Kwi Hong.... dengarlah baik­-baik dan tenangkan hatimu. Kita sama tahu bahwa Milana dan Bun Beng saling mencinta, bahkan mereka telah dijodoh­kan menjadi calon suami isteri. Engkau mencinta Bun Beng dan aku mencinta Milana, akan tetapi cinta kita keduanya gagal. Karena itu, setelah aku melihatmu, aku merasa kasihan, dan.... dan kita ber­dua yang gagal dalam cinta kasih ini bukanlah telah saling menemukan? Aku akan bebaskan Milana, biar dia mencari Bun Beng dan menikah. Aku.... aku akan berbahagia sekali hidup selamanya di sampingmu, Kwi Hong.” Muka Kwi Hong berubah pucat. Ada firasat tidak enak menyelubungi hatinya. Dia mulai mengingat-ingat. Cerita Keng In yang pertama tadi tidak masuk akal sama sekali. Pengakuan yang kedua lebih cocok. “Wan Keng In, jangan main gila kau! Apa maksudmu? Di mana Bun Beng?” Dengan nada suara sedih penuh kekha­watiran, Keng In menjawab, “Bun Beng tidak ada, Kwi Hong. Yang ada hanya Keng In. Bun Beng adalah milik Milana, akan tetapi Keng In adalah milikmu se­perti engkau milikku, Kwi Hong.” Wajah itu menjadi makin pucat, jan­tungnya berdebar tegang. “Apa....? Apa maksudmu?” “Kwi Hong, engkau dan aku adalah sama-sama orang yang tidak disukai orang lain, tidak ada yang mencinta, dan gagal dalam cinta. Engkau dan aku yang menguasai Sepasang Pedang Iblis. Kita berdua dengan Sepasang Pedang Iblis di tangan akan menjagoi seluruh dunia. Kalau kita berdua maju, siapa yang akan dapat menandingi kita? Bahkan pamanmu, Pendekar Super Sakti sendiri belum tentu akan dapat menangkan kita berdua. Kita sudah jodoh, Kwi Hong, dan aku cinta padamu.” “Apa....? Kau gila, Keng In!” “Kita berdua telah gila, akan tetapi dalam kegilaan itu kita dapat sepaham, dan kita akan senasib sependeritaan. Kwi Hong, engkau isteriku, engkau telah menjadi isteriku, selama dua pekan ini.... bukankah kita berdua telah saling mencurahkan cinta kasih, demikian nikmat, demikian mesra.... ah, Kwi Hong, dapatkah kau melupakan semua itu? Haruskah hubungan semesra dan sebahagia itu dihentikan untuk mengejar yang tak mungkin didapat? Kini wajah Kwi Hong menjadi merah sekali, air matanya bercucuran. “Kau.... jadi kau.... kau yang selama ini.... kusang­ka Bun Beng....?” “Terpaksa aku menyamar sebagai Bun Beng, karena aku ingin mendapatkan diri­mu, cintamu, tanpa perkosaan....” Terdengar jerit melengking disusul berkelebatnya Li-mo-kiam ketika Kwi Hong menyerang Keng In. Pemuda ini cepat menangkis dengan Lam-mo-kiam dan bertandinglah mereka. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut mereka, karena keduanya maklum bahwa siapa lengah dia binasa. Sepasang Pedang Iblis itu kini benar-benar beradu kekuatan dan keampuhan yang sama besarnya, digerakkan oleh dua orang muda yang sama lihainya pula. Setelah kini Kwi Hong digembleng oleh Bu-tek Siauw-jin, maka dia dapat mengimbangi kelihaian Keng In, karena dengan sin-kang yang dilatihnya di Pulau Es digabung dengan sin-kang tenaga Inti Bumi yang belum dikuasainya benar, dia kini memiliki te­naga sakti yang mujijat! Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Gak Bun Beng manusia hina! Aku harus membunuhmu!” Sebuah caping meluncur ke arah Keng In yang sedang bertanding melawan Kwi Hong. Itu adalah capingnya yang tadi tertinggal di pondok, yang ter­lepas ketika dia diserang Milana dan kini oleh gadis itu dilemparkan dengan pengerahan sin-kang kepadanya. Tidak boleh dipandang ringan caping yang dilemparkan oleh Milana ini. Karena sambitannya mengandung sin-kang, maka caping itu meluncur dan berputar seperti sebuah cakram baja yang kalau mengenai leher mungkin akan dapat membuat putus leher itu. Akan tetapi tentu saja Keng In yang li­hai tidak menjadi gentar, bahkan meng­gunakan tangan kirinya menyambar capingnya itu dan dipakainya lagi! Dia me­lakukan ini bukan semata-mata hendak bergurau atau memandang rendah Kwi Hong, melainkan untuk menyakinkan hati Milana yang menganggapnya Bun Beng itu. Milana yang marah itu tidak peduli mengapa Gak Bun Beng berkelahi melawan wanita yang dijadikan teman bercin­ta tadi dan yang menurut ucapan Bun Beng adalah Giam Kwi Hong murid ayah­nya! Dia sudah marah sekali kepada Bun Beng. Pertama, karena Bun Beng sudah mengecewakan hatinya dengan tingkah lakunya yang buruk. Ke dua, karena Bun Beng telah merusak kehormatan ayahnya dengan berjina bersama murid ayahnya. Dengan kemarahan meluap Milana sudah melolos sabuk suteranya. Karena dia tidak mempunyai senjata, kini dia menggunakan sabuk itu untuk menyerang Bun Beng. Memang senjata ini merupakan senjata ampuh bagi Milana, maka begitu sabuknya meluncur ke udara mengeluar­kan ledakan-ledakan kecil kemudian me­nyambar turun ke arah Keng In, pemuda itu terkejut bukan main dan cepat-cepat dia harus meloncat ke kanan untuk me­ngelak sambil mengelebatkan pedangnya menyambar ujung sabuk. Akan tetapi sabuk adalah benda lemas, apalagi berada di tangan seorang ahli, sabuk itu seperti seekor ular hidup dapat mengelit serang­an, dan kalau mengenai pedang, dapat menjadi lunak sehingga lenyaplah daya ketajaman pedang Lam-mo-kiam. Kwi Hong bingung sekali melihat ke­adaan Milana. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu Milana juga tidak sadar, entah karena apa, seperti dia sen­diri yang mengira pemuda ini Gak Bun Beng sehingga dia mau.... digauli dan menyerahkan tubuhnya sampai belasan hari lamanya! Teringat akan ini, hampir saja dia menjerit-jerit menangis dan kemarahannya tersalur ke pedang Li-mo­-kiam yang mengamuk dahsyat. Bantuan Milana itu ternyata membuat Keng In merasa terdesak juga, akan tetapi pemu­da ini dapat mempertahankan dirinya dengan baik. Baginya, melawan kedua orang wanita cantik itu benar-benar me­rupakan hal yang tidak menyenangkan. Yang dibenci adalah Bun Beng, dan biar­pun dia sudah “meloncat” Milana, namun di lubuk hatinya masih terdapat cinta kasih yang mendalam sehingga dia tidak suka untuk melukai dara ini. Ada pun terhadap Kwi Hong yang sudah menjadi “isterinya” juga tumbuh cinta yang mesra, dan tentu saja dia pun tidak mau melu­kai, apalagi membunuh Kwi Hong. Pada­hal, kedua orang dara itu menyerang sungguh-sungguh untuk membunuhnya. “Huhhh.... gadis-gadis liar....!” Seruan ini disusul menyambarnya angin dahsyat yang membuat Milana dan Kwi Hong terhuyung ke belakang. “Suhu, jangan....!” Keng In berseru ketika melihat gurunya Cui-beng Koai-ong muncul dan telah menyerang dua orang dara itu dengan dorongan dari jarak jauh. Akan tetapi kakek itu tidak peduli, sam­bil bersungut-sungut seperti seorang kakek yang marah karena diganggu tidurnya, dia meloncat ke depan seperti ter­bang saja dan kedua tangannya kembali mengirim hantaman dari jarak jauh, kini dengan pengerahan tenaga sakti yang luar blasa. “Suhu....!” Keng In kembali berteriak kaget. “Dessss!” Tubuh kedua orang kakek itu terpental ke belakang ketika pukulan dahsyat Cui-beng Koai-ong bertemu de­ngan dorongan tangkisan yang dilakukan oleh Bu-tek Siauw-jin yang muncul secara­ tiba-tiba di tempat itu. Melihat gurunya sudah muncul meng­hadapi kakek mayat hidup yang mengeri­kan itu, Kwi Hong sudah menyerang Keng In lagi. Juga Milana melanjutkan penyerangannya kepada Keng In yang tetap dianggapnya Gak Bun Beng itu. Kini Keng In benar-benar merasa khawatir sekali, khawatir dan bingung.  “Haiii, mundur kalian, jangan bantu aku!” Dia membentak Kong To Tek dan teman-temannya, sisa para anggauta Pulau Neraka, yang sudah maju mengu­rung hendak membantu pemuda ini menghadapi dua orang gadis yang mengamuk itu. Tentu saja para anggauta Pulau Neraka tidak berani maju, dan melihat betapa Cui-beng Koai-ong sudah bertan­ding melawan Bu-tek Siauw-jin, mereka pun hanya saling pandang dengan bingung. Membantu dua orang kakek yang saling bertanding ini mereka tidak berani, kare­na keduanya merupakan datuk Pulau Neraka, membantu Keng In dibentak. Mereka hanya dapat berdiri menonton dengan wajah tegang dan hati bingung. Akan tetapi yang paling bingung ada­lah Wan Keng In. Dia tidak mengira sama sekali bahwa akan begini jadinya. Siasatnya yang telah dilaksanakan dengan serapi-rapinya telah rusak berantakan dan semua ini adalah gara-gara kakek pendek sinting yang kini bertanding melawan gurunya itu. Keng In memiliki kecerdikan yang luar biasa sekali. Sambil menahan serangan Kwi Hong dan Milana dengan Lam-mo-kiam di tangannya dan menggu­nakan kelincahannya berkelebatan ke sana-sini, otaknya mulai bekerja dan mempertimbang-timbangkan keadaan. Ka­lau pertandingan itu dilanjutkan dan gurunya menang atas kakek pendek, gurunya yang sudah “kumat” kemarahan­nya itu tentu tidak mau sudah kalau be­lum membunuh Kwi Hong dan Milana! Hal ini sama sekali tidak dikehendakinya karena dia maklum bahwa dia sendiri tidak akan mampu mencegah gurunya yang berwatak aneh luar biasa itu. Seba­liknya, kalau gurunya kalah, dan hal ini mungkin saja mengingat bahwa susioknya Si Pendek Sinting itu memang memiliki kepandaian yang hebat sekali, kalau guru­nya kalah tentu dia akan terus didesak oleh dua orang wanita ini. Kalau mereka dibantu oleh Bu-tek Siauw-jin, bagaimana dia akan dapat meloloskan diri? Dan semua anak buah Pulau Neraka tentu tidak akan ada yang berani membantunya menghadapi Bu-tek Siauw-jin. Sungguh celaka, pikirnya. Setelah kedua kakek kakak beradik seperguruan itu bertanding sendiri, keadaan menjadi berbahaya bagi­nya. Gurunya menang pun celaka, gurunya kalah lebih celaka lagi! Inilah namanya urusan yang benar-benar tidak beres! Kalau tidak cepat-cepat mengambil tin­dakan yang tepat selagi gurunya dan susioknya (paman gurunya) masih berhan­tam, tentu akan terlambat. Tiada jalan lain, dia harus dapat memancing dua orang gadis ini keluar dari pulau sebelum kedua orang kakek sinting itu saling bunuh! Dengan kecerdikan yang dapat mem­buat dia memperhitungkannya secara tepat ini, Keng In lalu memutar pedangnya membuat gulungan sinar yang menyilaukan mata, kemudian menggunakan kesempatan selagi dua orang dara itu melangkah mundur, dia meloncat dan melarikan diri! “Manusia hina hendak lari ke mana kau?” Milana mengejar. “Urusan di antara kita belum beres!” Kwi Hong juga meloncat dan mengejar. Keng In lari ke tempat perahu di mana terdapat beberapa buah perahu dan memang dia sengaja melakukan ini agar bukan dia seorang yang dapat keluar dari pulau, melainkan juga dua orang dara itu. Akan tetapi, ketika dia tiba di tepi pan­tai, pada saat itu tampak sebuah perahu kecil dari mana meloncat ke luar seorang laki-laki yang juga memakai caping bun­dar. Gak Bun Beng! Melihat munculnya pemuda ini, diam-diam Keng In terkejut dan mengeluh sendiri. Sungguh sialan dia hari ini! Sementara itu, ketika Bun Beng yang baru datang melihat Milana, bukan main lega dan girang hatinya. Dia tidak mem­pedulikan apa-apa lagi dan langsung saja dia menghadang Milana, mengembangkan kedua lengannya dan berkata, “Milana.... terima kasih kepada Tuhan.... engkau ma­sih dalam keadaan selamat.....” “Kau....? Kau....?” Milana memandang bengong, sebentar memandang Bun Beng, kemudian memandang Keng In yang juga bercaping bundar dan yang sudah lari te­rus kini hanya dikejar Kwi Hong seorang. “Milana, kekasihku.... aku Bun Beng, lupakah kau....? Apa yang telah terjadi, Milana?” Bun Beng mendekat dan meme­luk dengan kaget dan heran melihat kekasihnya itu tidak mengenalnya. “Desss!” Sebuah pukulan tangan ka­nan Milana mengenai dada Bun Beng. Dara itu serta merta memukul begitu mendengar nama Bun Beng. “Aihhh mengapa, Milana?” Bun Beng terjengkang. Biarpun secara otoma­tis sin-kangnya sudah melindungi dada ketika pukulan tiba, namun karena pukul­an itu tidak tersangka-sangka, ditambah lagi hatinya yang remuk melihat kekasih­nya seperti tidak mengenalnya, bahkan membenci dan memukulnya, Bun Beng terpukul dan sejenak memandang nanar. Memang Milana masih dipengaruhi obat perampas ingatan. Gadis ini sendiri bingung ketika di depannya ada “Bun Beng” lagi padahal Bun Beng sedang di­kejar. Maka tanpa banyak cakap lagi dia menghantam orang yang mengaku Bun Beng ini. Baginya, yang teringat hanyalah bahwa nama Gak Bun Beng adalah nama yang dibencinya, karena orang itu telah mengkhianati cintanya! Setelah memukul, Milana berlari lagi mengejar Bun Beng pertama yang sudah meloncat ke atas sebuah perahu dan mendayung perahu ke tengah lautan. Kwi Hong juga sudah mendorong perahu kecil. Melihat ini, Milana meloncat jauh dan bagaikan se­ekor burung walet dia sudah tiba di atas perahu Kwi Hong yang sudah mulai me­luncur itu. Melihat Milana, Kwi Hong berkata, “Milana, kau kembalilah. Dia itu Bun Beng kekasihmu, sedangkan yang di depan itu....” “Tutup mulut dan mari kita kejar jahanam Gak Bun Beng itu!” “Akan tetapi, Milana....” “Aku tidak sudi bicara lagi tentang urusanmu. Kau mencintanya, bukan? Aku tidak peduli biar kau seribu kali mencinta Bun Beng!” “Aih, Milana.... aku.... aku tidak apa-apa dengan Bun Beng....” Milana memandang dengan penuh kemarahan. “Apa kaukira mataku ini sudah buta? Kau mau menyangkal bahwa kau berjina dengan laki-laki di depan itu?” Dia menuding ke arah perahu yang di­tumpangi Keng In. Kwi Hong terisak, duduk di perahu dan menangis. Apa yang harus dijawabnya? Tak mungkin dia menyangkal. Agaknya Milana sudah melihat sendiri ketika dia bermain cinta dengan Keng In di pondok kuning, Keng In yang disangkanya Bun Beng! Kata-kata Milana menghancurkan hatinya dan betapapun keras watak gadis ini, karena merasa betapa dia telah ter­perosok ke jurang kehinaan, dia menangis terisak-isak. Milana juga menjatuhkan diri duduk di atas langkan perahu di depan Kwi Hong. Gadis itu adalah murid ayahnya. Giam Kwi Hong. Kini mulai samar-samar dia mengingat bahwa ayahnya memang mempunyai seorang keponakan yang men­jadi muridnya sendiri. Dan Bun Beng yang mengaku cinta kepadanya, yang juga di­cintanya itu, di depan matanya sendiri telah berjina dengan gadis ini! Hal ini menusuk perasaannya dan Milana juga menangis. Dua orang gadis itu menangis, membiarkan perahu mereka digerak-­gerakkan ombak. Kemudian keduanya teringat akan Keng In atau yang disangka Bun Beng oleh Milana, maka mereka lalu tanpa bercakap-cakap lagi mendayung perahu dan mengembangkan layar, mela­kukan pengejaran kepada perahu Keng In yang sudah amat jauh, tinggal menjadi titik hitam di depan itu. Sementara itu, Bun Beng yang merasa terheran-heran menyaksikan sikap Milana, tidak melakukan pengejaran karena dia melihat Milana sudah bersama Kwi Hong, tidak perlu dikhawatirkan sama sekali menghadapi Keng In. Buktinya Keng In telah melarikan diri dikejar dua orang dara itu. Kalau dia mengejar Milana, tentu akan timbul salah sangka yang makin besar. Biarlah dia akan menyeli­dikinya kelak apa yang menyebabkan Mi­lana marah-marah dan memukulnya se­perti itu setelah tadinya dara itu seolah­-olah tidak mengenalnya lagi. Tiba-tiba muncul beberapa belas orang yang mukanya beraneka warna dan lang­sung mereka itu mengeroyoknya dengan pelbagai senjata di tangan mereka! Bun Beng mengenal mereka sebagai para penghuni Pulau Neraka yang dipimpin oleh dua orang tokoh yang dikenalnya pula karena dua orang itu dahulu pernah dijumpai dan bahkan dikalahkannya, keti­ka mereka mengacau di Thian-liong-pang dan dia menyamar sebagai ketua Thian-liong-pang. Dua orang yang memimpin delapan belas sisa anak buah Pulau Nera­ka itu bukan lain adalah Kong To Tek yang kepalanya gundul dan mukanya me­rah muda, pendek dan gendut. Orang ke dua adalah Chi Song yang juga gendut akan tetapi tinggi besar, juga mukanya merah muda. Melihat dia diserbu dan dikeroyok, Bun Beng meloncat jauh tinggi melampaui kepala mereka yang berada di belakangnya, kemudian turun ke atas tanah sambil berseru, “Tahan senjata! Aku datang bukan sebagai musuh!” “Kami mengenalmu. Engkau adalah Gak Bun Beng, musuh besar tuan muda Wan Keng In. Wan-kongcu sudah memesan bahwa jika bertemu dengan engkau, kami harus membunuhmu!” kata Kong To Tek Si Kepala Gundul. Teman-temannya sudah mengurung Bun Beng lagi dengan sikap mengancam. Bun Beng mengangkat tangan ke atas dan berkata nyaring, “Kalian ini apakah tidak dapat membedakan kawan atau lawan? Aku datang untuk menemui Wan Keng In dan Nona Milana, bukan sebagai musuh karena Wan Keng In sekarang te­lah menjadi anggauta keluarga Pulau Es. Kulihat mereka tadi berkejaran, apakah sesungguhnya yang terjadi di pulau ini?”  “Tidak perlu banyak bicara! Kawan-kawan, serbu....!” Kong To Tek dan Chi Song sudah me­nerjang maju memelopori teman-temannya dan begitu maju keduanya telah menggunakan pukulan-pukulan maut mereka. Kong To Tek Si Gendut pendek gundul ini adalah seorang ahli pukulan beracun yang dilakukannya dengan tubuh merendah seperti berjongkok, perutnya mengeluar­kan bunyi kok-kok dan mulutnya menge­luarkan uap hitam ketika dia memukul ke arah perut Bun Beng. Pemuda ini sudah mengenal ilmu Si Gundul ini, akan tetapi dia diam saja tidak mengelak atau menangkis. Hanya ketika pukulan menge­nai perutnya, dia mengerahkan sin-kangnya. “Cappp!” Tangan beracun itu mema­suki perut, tersedot sampai sebatas per­gelangan tangan dan tidak dapat dicabut kembali! Kong To Tek memekik kesakitan karena selain tangannya terasa panas se­kali, juga hawa beracun itu seperti terto­lak dan menyerang dirinya sendiri melalui lengannya yang tersedot ke dalam perut pemuda itu. “Haiiiittt!” Chi Song memekik dan tubuhnya sudah mencelat ke depan, se­perti terbang dia mengirim sebuah ten­dangan ke arah kepala Bun Beng. Tentu saja pemuda ini tidak membiarkan kepa­lanya ditendang, dan dengan tangan kiri dia menampar, mengenai tulang kering betis kaki yang menendang. “Krekkk!” Tubuh Chi Song terpelanting dan dia mengaduh-aduh karena tulang kering kakinya patah. Pada saat itu, tubuh Kong To Tek terpental ke belakang. Kiranya Bun Beng telah melepaskan tangan yang disedot perutnya tadi sambil menendang. Kong To Tek terbanting dekat Chi Song dan dia pun mengaduh-aduh karena le­ngannya seperti dibakar dan dalam ke­adaan lumpuh! Para anak buah Pulau Neraka terkejut dan marah melihat betapa dua orang pemimpin mereka roboh. Mereka adalah orang-orang yang tak mengenal takut, maka sambil berteriak-teriak mereka lari menyerbu. Pada saat itu terdengar te­riakan-teriakan melengking, sedemikian hebat teriak yang mengandung khi-kang kuat sekali itu sehingga belasan orang Pulau Neraka itu bergelimpangan dan seperti lumpuh sesaat karena getaran suara itu. Bun Beng sendiri cepat menge­rahkan sin-kangnya karena lengkingan dahsyat itu benar-benar luar biasa sekali. Dia tidak lagi mempedulikan para anak buah Pulau Neraka dan cepat dia melom­pat dan lari ke arah suara melengking yang luar biasa tadi. Ketika dia tiba di tengah pulau, dan tiba di tempat dari mana suara lengking­an dahsyat tadi terdengar, dia berdiri terpukau di tempatnya dan tidak bergerak memandang peristiwa hebat yang sedang berlangsung di depan. Ternyata bahwa kakek pendek yang sakti, yang telah menurunkan ilmu bersama-sama Pendekar Super Sakti kepadanya, yaitu kakek Bu­-tek Siauw-jin yang berkali-kali telah menolongnya, sedang bertanding melawan seorang kakek yang lebih tua dan yang mengerikan sekali, seperti seorang mayat hidup, namun yang kesaktiannya tak kalah oleh Si Kakek Pendek yang sinting! Dan memang pertandingan antara ka­kak beradik seperguruan itu hebat bukan main. Selama ini, mereka tidak pernah bentrok, karena biarpun keduanya adalah datuk-datuk Pulau Neraka, namun kedua­nya mempunyai kesenangan yang berbeda. Bu-tek Siauw-jin adalah seorang petualang dan perantau, jarang berada di Pulau Neraka, sedangkan Cui-beng Koai-ong adalah seorang yang suka bertapa, teru­tama bertapa di bawah tanah-tanah kuburan bersama kerangka dan mayat­-mayat. Dengan cara masing-masing, keduanya menambah ilmu mereka sehing­ga tidak lumrah manusia lagi. Mereka memang saling tidak menyukai, akan tetapi karena keduanya tahu bahwa masing-masing memiliki kepandaian hebat, mereka saling merasa segan untuk ben­trok, apalagi karena mereka masih sau­dara seperguruan. Baru setelah Cui-beng Koai-ong mengambil Wan Keng In seba­gai murid, timbul pertentangan dalam batin mereka. Bu-tek Siauw-jin juga melakukan perbuatan bandingan, mengam­bil Kwi Hong sebagai murid pula! Bahkan lebih dari itu, dia berkenan menurunkan ilmu sin-kangnya Tenaga Inti Bumi kepa­da Gak Bun Beng. Padahal hal-hal itu merupakan pantangan bagi datuk-datuk Pulau Neraka itu. Puncak pertentangan itu terjadi ketika Bu-tek Siauw-jin meli­hat suhengnya itu hendak membunuh Kwi Hong, maka dia muncul dan melawan. Andaikata Kwi Hong terbunuh dalam per­tandingan melawan Wan Keng In umpa­manya, kiranya kakek pendek ini tidak akan mau turut campur. Pertandingan antara mereka memang hebat dan menyeramkan. Tadi mereka bertempur menggunakan ilmu silat masing-masing, saling serang dengan gerakan cepat sehingga bayangan mereka menjadi satu, sukar dibedakan lagi. Namun, sam­pai seratus jurus belum juga ada yang dapat menang. Keduanya menjadi pena­saran dan mengeluarkan pekik melengking dahsyat untuk mempengaruhi lawan, pekik yang saking hebatnya sampai mem­buat para anak buah Pulau Neraka tergu­ling dan yang menarik perhatian Bun Beng tadi. Setelah mengeluarkan pekik itu, kini keduanya berdiri tak berpindah dari tempat mereka dan kalau ditonton oleh yang tidak mengerti tentu akan membuat orang tertawa geli. Kedua orang kakek itu berdiri saling berhadapan dalam jarak tiga meter, dan mereka itu menggerak-gerakkan kedua tangan dengan gerakan memukul dan menangkis, padahal tangan mereka itu saling berjauhan dan tanpa ditangkis pun pukulan itu tidak akan mengenai badan. Akan tetapi, Bun Beng yang melihatnya menjadi kagum dan juga terkejut karena pukulan-pukulan ja­rak jauh mereka itu sedemikian hebatnya sehingga angin pukulannya sampai terasa oleh dia yang berdiri agak jauh! Tentu saja Bun Beng tidak berani melerai atau mencampuri, hanya menonton dengan hati penuh ketegangan. Kini tampak kakek mayat hidup itu memukul dengan kedua lengan didorong­kan ke depan dengan dahsyat sekali. Bu-­tek Siauw-jin juga mendorongkan kedua lengannya ke depan, menyambut serangan suhengnya itu. Bun Beng seperti merasa tergetar dan tahu betapa di saat itu, dua tenaga raksasa mujijat yang amat kuat saling bertemu di udara, di antara kedua orang kakek itu. Tampak betapa keduanya agak tergetar dan bergoyang-goyang tubuh mereka. Kedua lengan mereka tetap dilonjorkan saling dorong dan tubuh me­reka tidak bergerak. Perlahan-lahan tam­pak uap mengepul dari kepala kedua kakek itu, dan dengan hati kaget Bun Beng melihat betapa muka Bu-tek Siauw-­jin penuh dengan peluh yang besar-besar menetes turun, akan tetapi wajah kakek pendek ini tetap berseri, mulutnya ter­senyum. Adapun kakek mayat hidup itu wajahnya keruh dan penuh kemarahan, akan tetapi tidak tampak peluh di muka­nya walaupun uap yang mengepul dari kepalanya sama tebalnya dengan uap yang mengepul dari kepala sutenya. Pertandingan mengadu tenaga sakti ini benar-benar amat menegangkan hati Bun Beng sendiri sehingga tanpa disadari­nya, tubuhnya juga mengeluarkan banyak keringat! Dia tidak mempedulikan Kong To Tek dan Chi Song bersama teman­-teman mereka yang sudah tiba di situ pula. Mereka itu sebagai ahli-ahli silat tahu apa artinya keadaan kedua orang kakek itu, dan mereka memandang de­ngan hati tegang, tidak bergerak bahkan ada yang menahan napas. Bun Beng yang sudah memiliki sin-kang tinggi, dapat menduga bahwa kakek pendek itu terdesak hebat, napasnya su­dah mulai memburu dan agaknya akan kalah dalam pertandingan ini. Akan teta­pi, Si Mayat Hidup itu pun harus mngerahkan segenap tenaganya dan andaikata kakek cebol itu roboh, agaknya Si Mayat Hidup pun tidak akan terhindar dari luka dalam yang parah. Maka dia menjadi makin tegang. Dia tidak berani mencam­puri, apalagi karena dalam keadaan se­perti itu, kalau dia mencampuri, selain berbahaya bagi dirinya sendiri, juga berbahaya bagi kedua orang kakek itu. Sedikit saja perhatian mereka teralih, mereka bisa tewas seketika terpukul oleh getaran hawa sakti yang bukan main dahsyatnya. Tiba-tiba kakek yang seperti mayat hidup itu mengeluarkan suara menggereng dari perutnya dan darah merah menyem­bur keluar dari mulut, akan tetapi pengerahan tenaga terakhir ini membuat Bu-­tek Siauw-jin tak mampu bertahan lagi dan dia roboh terjengkang! Si kakek mayat hidup mengeluarkan suara ketawa aneh, kemudian tubuhnya meloncat ke atas, kedua kakinya meluncur turun me­nginjak ke arah tubuh sutenya. Bu-tek Siauw-jin juga mengeluarkan suara ketawa, kelihatan tangannya ber­gerak menghantam, menyambut kaki yang menginjaknya. Keduanya memekik hebat dan roboh terbanting, dada Bu-tek Siauw-­jin pecah oleh injakan kaki kiri sedangkan kaki kanan Cui-beng Koai-ong hancur oleh pukulan sutenya. “Heh-heh.... mampus kau, sute.... heh-heh.... augh....” Cui-beng Koai-ong terke­keh dan menuding ke arah sutenya. “Ha-ha.... Suheng.... kau yang melayat atau aku yang melayat, nih....?” Bu-tek Siauw-jin juga tertawa sambil menuding ke arah suhengnya. Cui-beng Koai-ong tertawa lagi lalu terkulai dan seperti juga sutenya, kakek ini tewas seketika. Kakek mayat hidup itu telah memiliki kekebalan yang luar biasa, akan tetapi kelemahannya adalah pada telapak kakinya, maka begitu kakinya dipukul hancur, nyawanya melayang. Kakak beradik seperguruan yang keduanya memiliki kesaktian tidak lumrah manusia itu ternyata tewas dalam pertandingan antara mereka sendiri, sebuah pertanding­an yang menggetarkan jantung Bun Beng. Pemuda itu meloncat dekat, sekali pandang saja dia maklum bahwa keduanya telah tewas. Dia berlutut dekat mayat Bu-tek Siauw-jin, mengheningkan cipta sebentar sebagai penghormatan terakhir, kemudian dia bangkit berdiri memutar tubuh lalu pergi dari situ. Anak buah Pulau Neraka hendak menyerbunya, akan tetapi dia membentak, “Mau apa lagi kalian? Lebih baik urus jenazah kedua orang kakek ini!” Sikap dan ucapan yang nyaring itu membuat mereka ragu-ragu, apalagi ka­rena kedua orang pemimpin mereka, Kong To Tek dan Chi Song, sudah tidak mampu bertanding lagi. Mereka hanya dapat memandang kepergian Bun Beng seperti sekumpulan serigala yang berniat menge­royok akan tetapi ditindih rasa jerih. *** Perahu yang ditumpangi Milana dan Kwi Hong tidak mampu mengejar perahu Wan Keng In sehingga akhirnya mereka itu tertinggal jauh. Ketika kedua orang dara ini mencapai tepi pantai dan men­darat, Keng in sudah tidak tampak lagi. “Milana, dengarlah kata-kataku baik-baik. Entah apa yang telah terjadi denganmu, agaknya engkau masih belum mengu­asai ingatanmu, engkau masih belum sadar. Orang yang kita kejar tadi bukan­lah Gak Bun Beng. Dia adalah Wan Keng In, manusia jahat yang harus kita bunuh!” “Bohong! Aku tahu bahwa engkau mencinta Bun Beng, dan aku melihat dengan mata sendiri bahwa kau.... kau telah....” “Milana, aku sama sekali tidak melakukan sesuatu dengan Bun Beng. Ketahui­lah, kau dan Gak Bun Beng telah dijo­dohkan, dan kini ayahmu minta agar engkau suka kembali ke Pulau Es bersa­ma Bun Beng....” “Kwi Hong! Tak perlu engkau mem­bujuk aku dengan segala kebohonganmu! Coba jawab, apa engkau mencinta Wan Keng In?” “Tidak! Aku akan bunuh keparat jaha­nam itu!” “Nah, engkau membenci Keng In, dan engkau mencinta Bun Beng. Sekarang katakan, dengan siapa engkau di dalam pondok itu?” “Dengan.... dengan....” Kwi Hong bi­ngung dan gugup sekali. Maklumlah dia bahwa dia telah masuk perangkap. Kalau dia menjawab bahwa laki-laki dengan siapa dia bermain cinta di dalam pondok itu adalah Keng In, tentu hal ini berla­wanan dengan pengakuannya bahwa dia membenci Keng In dan akan membunuh­nya. Tentu saja Milana yang ingatannya belum pulih itu menyangka bahwa laki­-laki itu Gak Bun Beng. “Sudahlah, Kwi Hong, aku sudah me­lihatnya sendiri, tidak perlu kau mem­bohong lagi. Engkau mencinta Bun Beng, bahkan engkau telah menyerahkan dirimu kepadanya, aku tidak peduli lagi!” Milana hendak membalikkan tubuh, akan tetapi Kwi Hong memegang lengannya dan membujuk, “Milana, apa pun yang terjadi, marilah kita ke Pulau Es. Biar nanti ayahmu yang memutuskan segalanya. Engkau masih belum sadar....” Milana merenggutkan lengannya terlepas dari pegangan Kwi Hong. “Cukup! Aku tidak sudi lagi bicara denganmu, perempuan tak tahu malu!” Milana lalu melompat dan pergi meninggalkan Kwi Hong. Kwi Hong menjatuhkan diri berlutut di atas pasir pantai, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Menangis! “Bedebah kau, Wan Keng In. Aku bersumpah, tak kan berhenti sebelum membunuhmu!” Dia bangkit berdiri dan melangkah dengan terhuyung ke depan, seluruh tubuh terasa lemas karena batin yang tertekan ke­dukaan. Milana juga lari secepatnya dengan air mata bercucuran. Hatinya remuk ren­dam mengingat akan hubungan cinta kasihnya yang hancur. Perlakuan Bun Beng terhadap dirinya di Pulau Neraka, ketika pemuda yang menjadi pujaan hati­nya itu hendak merayunya dan mengajak­nya bermain cinta, masih dapat dimaaf­kannya biarpun hal itu mengecewakan hatinya. Masih dapat dimaafkan karena mungkin saking rindu dan cintanya, pemuda itu tidak dapat menahan gairah hatinya yang dikuasai nafsu berahinya pada waktu itu. Akan tetapi, melihat Bun Beng berjina dengan Giam Kwi Hong, bagaimana dia dapat memaafkannya? Apalagi mendengar dari mulut Kwi Hong bahwa dia dijodohkan ayahnya dengan Bun Beng. Siapa sudi menjadi isteri seorang laki-laki mata keranjang seperti itu? Beberapa hari kemudian setelah mela­kukan perjalanan tanpa tujuan, perlahan-­lahan ingatan Milana kembali karena pengaruh obat beracun itu sedikit demi sedikit lenyap setelah dia terbebas dari Pulau Neraka dan tidak diberi racun setiap hari seperti biasa. Karena kemba­linya ingatannya itu sedikit demi sedikit, Milana tidak merasa akan hal ini. Dia hanya mulai teringat akan keadaan dahu­lu satu demi satu, ingat akan Kaisar yang menjadi kakeknya di kota raja, akan semua orang yang dikenalnya. Semua ingatannya pulih, hanya satu hal yang tidak semestinya, yaitu tentang Bun Beng. Bun Beng sekarang bukanlah Bun Beng dahulu lagi, sekarang menjadi seorang laki-laki yang dibencinya. Karena ini, dia tidak mau kembali ke Pulau Es. Dia mendengar dari Kwi Hong bahwa dia dijodohkan dengan Bun Beng oleh ayah bundanya, dan dia tidak akan mau menerimanya. Kalau dia kembali ke Pulau Es, tentu akan terjadi hal yang tidak menyenangkan karena urusan itu. Maka dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja, menghadap kakeknya dan tinggal di istana sebagai puteri Kai­sar yang hidup mulia dan terhormat. Dan dia akan mencoba untuk melupakan Bun Beng! Pada suatu siang selagi Milana berja­lan cepat melalui pegunungan di sebelah utara kota raja, tiba-tiba muncul belasan orang laki-laki yang rambutnya digelung ke atas. Mereka itu kelihatan bersikap gagah, dan tidak kasar, akan tetapi jelas bahwa mereka sengaja menghadang di jalan dan pemimpin mereka, seorang laki-laki tinggi kurus berjenggot dan berkumis tipis, mengangkat tangan ke atas menyu­ruh dara itu berhenti. “Nona harap berhenti dulu!” Milana mengerutkan alisnya dan dia bertanya, “Kalian ini siapa dan mau apa menghadang orang lewat?” Si Tinggi Kurus menjawab, “Kami adalah orang-orang Tiong-gi-pang (Per­kumpulan Orang Jujur dan Berbudi) yang mengharapkan sumbangan dari semua orang lewat di sini. Maka harap Nona sudi meninggalkan sekedar sumbangan sebelum Nona melanjutkan perjalanan.” Milana marah sekali. “Kalian peram­pok?” Orang itu menggeleng kepala dan para anak buahnya bersikap tidak senang de­ngan sebutan itu. “Kami sama sekali bukan perampok, bahkan kami pembasmi para perampok yang tadinya banyak berkeliaran di tempat ini mengganggu orang-orang lewat. Akan tetapi perkum­pulan kami membutuhkan biaya-biaya dan dari siapa lagi kalau tidak dari sumbang­an para dermawan yang lewat? Nona seorang wanita muda melakukan perjalanan seorang diri, tentu Nona seorang kang-ouw dan sudah maklum akan hal ini. Maka harap Nona tidak bersikap pelit. Kami tanggung bahwa dari sini sampai kota raja, tidak akan ada seorang pun perampok yang berani mengganggumu, Nona.” Tentu saja Milana mengerti dan me­ngenal perkumpulan seperti itu. Dia ada­lah puteri bekas Ketua Thian-liong-pang, tentu saja tahu akan segala peristiwa dunia kang-ouw. Perkumpulan seperti mereka yang menamakan diri Tiong-gi-­pang ini adalah perkumpulan yang biasa diejek dengan perampok-perampok halus. Mereka sebetulnya adalah orang-orang gagah yang bersatu untuk menghadapi dunia hitam para perampok, maling dan lain-lain. Akan tetapi karena mereka itu tidak mempunyai penghasilan tetap dan perkumpulan mereka tentu saja membu­tuhkan biaya, maka mereka mengambil cara ini untuk menutup kebutuhan mereka yang bersahaja, yaitu dengan jalan “memungut sumbangan” dari para orang le­wat di daerah yang telah mereka “bersih­kan” itu. Akan tetapi pada waktu itu, hati dan pikiran Milana sedang dilanda kekecewaan dan kemarahan karena Bun Beng, maka menghadapi hal yang biasa­nya akan dianggap wajar dan dihadapinya dengan penuh pengertian itu, kini menimbulkan kemarahannya. “Bilang saja perampok, pakai memutar­-mutar omongan segala. Kalau kalian minta sumbangan kepadaku, aku hanya membawa kaki tanganku yang bisa mem­bagi pukulan dan tendangan! Entah kalian mau atau tidak menerima sumbangan ini!” Dua belas orang itu adalah laki-laki gagah, tentu saja mereka menjadi marah sekali mendengar ucapan gadis ini yang amat merendahkan mereka. Betapapun juga, mereka merasa segan untuk turun tangan mengeroyok seorang wanita muda, dan hanya pimpinan mereka yang tinggi kurus itu melangkah maju, matanya terbelalak marah ketika dia membentak,  “Bocah perempuan sombong! Mungkin kau memiliki sedikit kepandaian silat, akan tetapi hal itu amat tidak baik bagimu, membuatmu sombong sekali mengira di dunia ini tidak ada yang dapat melawanmu! Hemm, kalau memang engkau hanya bisa memberi pukulan dan tendangan, biarlah aku menerima sumbanganmu itu!” “Kalau begitu, terimalah ini!” Milana yang sedang risau hatinya itu segera me­nerjang maju dan mengirim pukulan-pu­kulan dengan kecepatan luar biasa. Biar­pun Si laki-laki Tinggi Kurus itu berusa­ha menangkis dan mengelak, namun dia bukanlah lawan dara yang memiliki ilmu silat tinggi itu dan pukulan bertubi-tubi dari Milana yang membuatnya terdesak tak mampu membalas serangan, akhirnya mengenai sasaran, pundaknya tertampar dan laki-laki itu terpelanting! Melihat ini kawan-kawannya terkejut, penasaran dan marah sekali. Tanpa diko­mando lagi mereka menyerbu, akan teta­pi tak seorang pun di antara mereka yang menggunakan senjata karena niat mereka hanya untuk menangkap gadis galak itu dan menghadapkannya kepada ketua mereka. Melihat ini, Milana me­ngamuk, akan tetapi dia pun mengerti bahwa pengeroyoknya itu bukanlah orang-­orang jahat kejam karena mereka itu tidak ada yang menggunakan senjata. Maka dia pun hanya memukul dan me­nendang dengan tenaga terbatas agar tidak kesalahan tangan membunuh mereka. Para pengeroyok itu terkejut sekali ketika mendapat kenyataan betapa lihai­nya gadis muda itu. Beberapa orang yang maju lebih dulu terpelanting ke kanan kiri dan mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lengan atau kakinya. Pada saat itu Milana melihat munculnya rombongan orang yang jumlahnya lebih banyak lagi, datang berlari-larian ke tempat itu. Hati­nya menjadi gemas, dan dia sudah siap untuk mengamuk dan merobohkan mereka semua! Tiba-tiba beberapa orang di antara rombongan yang baru datang itu berseru. “Berhenti semua....! Dia adalah Nona Milana, puteri Ketua Thian-liong-pang!” Mendengar seruan ini, para pengeroyok terkejut dan mundur. Milana juga berhen­ti mengamuk dan memandang mereka yang baru datang itu. Di antara orang-­orang ini dia mengenal beberapa orang anggauta Thian-liong-pang! Lima orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut di de­pan Milana sambil berkata, “Harap Nona suka memaafkan kami dan teman-teman kami, karena tidak tahu maka berani bersikap kurang ajar kepada Nona.” “Hemm, apa artinya ini? Kenapa kalian menjadi anggauta gerombolan ini?” tanya Milana dengan alis berkerut. “Harap Nona tidak salah duga. Perkumpulan Tiong-gi-pang bukanlah gerom­bolan perampok.... dan perkumpulan ini didirikan oleh Bhok Toan Kok Pangcu (Ketua).” “Haii....? Sai-cu Lo-mo....?” “Marilah Nona, kuantar menjumpai Pangcu. Ceritanya panjang dan sebaiknya Nona mendengar dari Pangcu sendiri.” Berdebar jantung Milana. Semua pembantu ibunya telah tewes ketika Thian­-liong-pang diserbu kaki tangan Koksu. Kiranya Sai-cu Lo-mo depat menyelamatkan diri dan sekarang kakek ini selain masih hidup, juga telah menjadi ketua sebuah perkumpulan. Dia mengangguk lalu mengikuti rombongan itu memasuki hutan, dipandang penuh kagum oleh anggauta-­anggauta perkumpulan Tiong-gi-pang yang bukan bekas anggauta Thian-liong-pang. Di dalam hutan di lereng bukit itu terdapat bangunan pondok-pondok seder­hana dan inilah pusat perkumpulan Tiong-­gi-pang yang jumlahnya kurang lebih lima puluh orang itu. Ketika Milana berhadap­an dengan Sai-cu Lo-mo, gadis ini tidak dapat menahan kesedihan dan keharuan­nya. Dia menubruk Sai-cu Lo-mo sambil menangis. “Bhok-kongkong (Kakek Bhok)....!” Dia menangis di pundak itu yang mengelus-­elus kepalanya. Kakek itu duduk di kursi, kedua kaki­nya telah lumpuh akibat luka-lukanya ketika Thian-liong-pang diserbu oleh anak buah Koksu. “Nona Milana.... aihhh, Nona....” Sai-cu Lo-mo juga mengejap-ngejapkan mata­nya menahan air matanya. Akan tetapi kakek ini dapat menekan perasaannya, lalu menuntun nona itu memasuki pondok. “Mari kita duduk dan bicara, Nona. Kita harus masih bersukur bahwa para pembe­rontak itu dapat dihancurkan oleh ibumu, dan biarpun Thian-liong-pang sudah han­cur lebur, namun namanya masih tetap baik sebagai pembela negara, Mari duduk dan ceritakanlah. Saya mendengar bahwa Nona terculik. Saya telah mengerahkan semua anak buah perkumpulan ini untuk membantu dan menyelidiki keadaanmu, namun sia-sia. Apalagi terdengar berita bahwa engkau diculik orang Pulau Neraka, betulkah ini? Di antara kami tidak ada seorang pun yang tahu di mana letaknya Pulau Neraka itu.” Milana menghapus air matanya, kemu­dian dia menceritakan kepada pembantu ibunya yang setia itu tentang semua pengalamannya. Betapa dia diculik oleh Wan Keng In, akan tetapi berhasil mem­pertahankan kehormatannya sungguhpun dia tidak berdaya untuk keluar dari Pulau Neraka. Betapa kemudian muncul Giam Kwi Hong dan bersama keponakan dan murid ayahnya itu dia berhasil mendesak Keng In sehingga pemuda itu melarikan diri, sedangkan guru pemuda itu dilawan oleh kakek pendek yang menjadi guru Kwi Hong. Kemudian, kembali dia terisak menangis ketika menceritakan kelakuan Gak Bun Beng kepadanya. “Menurut kata Enci Kwi Hong, oleh ayahku telah dijodohkan dengan dia, Kek. Akan tetapi.... aku tidak sudi menjadi isteri manusia rendah itu! Dia tidak saja berusaha untuk menyeret aku ke dalam perjinaan yang kotor, akan tetapi dia juga berjina dengan Giam Kwi Hong....” Milana menangis lagi. Dapat dibayangkan betapa marah, duka dan kecewa hati kakek itu. Gak Bun Beng adalah cucu keponakannya, karena ibu pemuda itu, Bhok Khim, yang dahulu diperkosa oleh Gak Liat Si Iblis Botak sehingga melahirkan Bun Beng (baca ceri­taPendekar Super Sakti) adalah keponakannya. Dan dia pernah melamar Milana untuk Bun Beng, yang ditolak oleh ibu Milana dan yang membuat dia mundur teratur ketika mendengar bahwa ibu Mi­lana bukan saja puteri Kaisar, akan teta­pi ayah Milana adalah Pendekar Super Sakti! Dan sekarang, Pendekar Super Sakti bahkan telah menjodohkan puterinya itu dengan Gak Bun Beng, akan tetapi agaknya Bun Beng telah berubah, telah menjadi seorang pemuda berwatak kotor! “Nona, benar-benar terjadikah apa yang kauceritakan itu kepadaku? Menurut penglihatanku, Bun Beng bukanlah seorang berwatak bejat....” “Kalau aku tidak mengalami sendiri dibujuk rayu olehnya, kalau aku tidak melihat sendiri dia berjina dengan Kwi Hong, aku sendiri tentu tidak percaya, Kek. Akan tetapi aku mengalami sendiri dan melihat sendiri....” Kembali dia ter­isak dan menutupi mukanya. “Sudahlah, Nona. Aku sendiri kalau kelak bertemu dengannya, akan menegur dan menghajarnya. Biarpun dia lihai, dia adalah cucu keponakanku, dan biarlah aku mati dalam tangannya kalau dia tidak dapat disadarkan. Sekarang, Nona hendak pergi ke mana?” “Aku hendak mencari ibu....” “Beliau tidak lagi berada di kota raja, Nona. Kalau tidak salah dugaanku, dia tentu ikut bersama ayahmu ke Pulau Es.” Milana menghela napas dan menghapus sisa air matanya, “Aku pun menduga de­mikian ketika Enci Kwi Hong muncul di Pulau Neraka. Akan tetapi.... aku sendiri tidak ingin ke Pulau Es setelah apa yang terjadi semua itu, setelah ayah menjo­dohkan aku dengan orang yang demikian rendah. Aku girang bahwa ibu akhirnya telah bersatu dengan ayah. Aku.... aku.... agaknya tidak ada jalan lain, aku akan ke kota raja menghadap Kaisar....” Dia ragu-ragu. “Nona Milana, biarpun Kaisar adalah kakekmu sendiri dan tentu kau akan diterima di istana, akan tetapi dapatkah engkau menyesuaikan diri dengan kehidupan di istana? Nona sudah biasa hidup bebas, mungkinkah Nona hidup terkurung dan terbatas di dalam istana?” Milana menarik napas panjang. “Aku pun meragukan hal itu, Bhok-kongkong. Tentu aku tidak kerasan di sana....”  “Kalau begitu, mengapa Nona tidak tinggal saja bersama kami? Ketika aku berhasil menyelamatkan diri dari serbuan anak buah Koksu pemberontak itu, aku bertemu dengan sisa para anggauta Thian­-liong-pang, dan bertemu dengan sisa ang­gauta Pek-eng-pang yang sudah kehilangan pimpinan. Maka kukumpulkan mereka, kusatukan dan karena aku tidak berani menggunakan nama Thian-liong-pang, juga tidak sudi memakai nama Pek-eng-pang, aku lalu mendirikan perkumpulan baru bernama Tiong-gi-pang untuk menolong mereka, dan untuk mencegah mereka terperosok ke dalam lembah kejahatan. Kami sedang memperbaiki sebuah kuil besar dan kuno di hutan sebelah, Nona. Tempat itu akan menjadi pusat Tiong-gi-­pang, dan kalau Nona suka tinggal bersa­ma kami, hatiku akan menjadi lega dan girang, juga kehadiran Nona sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang tentu akan mempengaruhi para anak buah Tiong-gi-­pang dan mencegah mereka dari penyele­wengan.” Demikianlah mulai hari itu, Milana tinggal bersama Kakek Sai-cu Lo-mo, bekas pembantu utama ibunya di Thian-­liong-pang yang kini telah menjadi pangcu dari perkumpulan Tiong-gi-pang. *** Gadis yang cantik manis dan lincah itu menarik perhatian banyak mata, ter­utama mata laki-laki, ketika dia mema­suki kota raja. Dia memang manis sekali, sepasang matanya jernih dan tajam me­mandang ke sana-sini, bukan hanya untuk mengagumi bangunan-bangunan besar di kota raja melainkan juga dengan penuh selidik pandang matanya menyapu wajah orang-orang yang dijumpainya, seolah-olah dia mencari seseorang di kota raja. Pa­kaiannya yang serba kuning itu membung­kus ketat tubuh yang padat berisi dan langsing. Di pinggir pinggul yang padat dan pinggang yang langsing itu tergantung pedang, tanda bahwa dara manis berusia kurang lebih dua puluh tahun ini adalah seorang gadis perantau kang-ouw yang tidak boleh dipandang ringan! Gadis baju kuning ini adalah Ang Siok Bi, puteri tunggal ketua Bu-tong-pai yaitu Ang-lojin (Orang Tua Ang) atau Ang Thian Pa. Seperti telah kita ketahui rombongan piauwsu yang pernah bentrok dengan Gak Bun Beng ketika terjadi pe­merkosaan dan pembunuhan suami isteri di dekat telaga, adalah murid-murid Bu-tong-pai. Setelah mereka itu menye­lesaikan tugasnya, pemimpin piauwsu itu lalu menceritakan peristiwa itu kepada Bu-tong-pai dan Ang Siok Bi juga hadir dalam pertemuan ini. Ketika mendengar bahwa Gak Bun Beng melakukan perbuat­an keji seperti itu, ketua Bu-tong-pai terkejut bukan main dan hampir tidak dapat percaya kalau yang bercerita bukan muridnya yang dipercayanya. Terutama sekali Ang Siok Bi, puterinya. Dara ini telah tahu bahwa dia oleh ayahnya hen­dak dijodohkan dengan Gak Bun Beng, dan sungguhpun pemuda itu belum mene­rima perjodohan ini, namun ayahnya masih selalu mengharapkan terjadinya ikatan jodoh itu. Karena inilah, juga karena dia sendiri pun tertarik dan jatuh cinta kepada pemuda itu, maka Siok Bi menganggap dirinya sebagai tunangan Gak Bun Beng dan tidak menghiraukan lain laki-laki lagi, bahkan di dalam lubuk ha­tinya dia mengambil keputusan tidak akan menikah kalau tidak dengan Bun Beng! Maka, dapat dibayangkan betapa kaget dan hancur hati dara ini mendengar pe­nuturan para piauwsu yang menduga bahwa Gak Bun Beng melakukan hal yang amat keji, memperkosa dan mem­bunuh seorang wanita, membunuh pula suami wanita itu di dekat telaga. Pada keesokan harinya, Ketua Bu-tong-pai tidak melihat puterinya dan dia hanya dapat menghela napas, maklum bahwa kepergian puterinya itu tentu ada hu­bungannya dengan penuturan murid Bu-tong-pai tentang Gak Bun Beng. Dugaan Ketua Bu-tong-pai ini memang benar. Siok Bi meninggalkan kuil Bu-­tong-pai untuk pergi mencari Bun Beng, untuk menyatakan sendiri kebenaran pe­nuturan itu. Dia harus bertemu dengan pemuda itu dan akan ditanyai tentang peristiwa yang dituturkan oleh kepala piauwsu itu. Kalau memang benar pemuda itu menjadi seorang penjahat keji, dia akan memusuhinya dan akan diputuskan­nya hubungan batin yang timbul karena janji ayahnya kepada pemuda itu. Akan tetapi dia masih tidak percaya bahwa pemuda yang gagah perkasa itu berubah menjadi seorang penjahat cabul yang berhati kejam. Tiba-tiba Siok Bi menghentikan lang­kahnya dan menoleh, memandang kepada seorang pemuda yang bercaping bundar dan berpedang di punggungnya. Gak Bun Beng! Benarkah Gak Bun Beng pemuda itu? Telah lama dia tak bertemu dengan pemuda itu, dan ada kemiripan pemuda yang lewat tadi dengan pemuda idaman hatinya. Dia cepat membalik dan menge­jar. Untuk menegur, dia belum berani karena takut kalau-kalau dia salah lihat. Pemuda yang tampan itu berjalan cepat menuju ke pintu gerbang kota raja. Siok Bi terpaksa mengikutinya terus, keluar lagi dari kota raja. Kesangsiannya lenyap ketika dia melihat pemuda di depan itu kini berlari cepat sekali setelah tiba di luar pintu gerbang kota raja. Siapa lagi kalau bukan Gak Bun Beng yang pandai berlari cepat itu? “Gak-taihiap....!” Dia menegur sambil mengejar, mengerahkan gin-kangnya untuk berlari cepat. Pemuda itu berlari terus dan betapa pun Siok Bi mengerahkan kepandaiannya, tetap saja tidak mampu mengejarnya! Maka dia berseru lagi, “Gak-taihiap, aku Ang Siok Bi ingin bicara!” Pemuda itu berhenti dan membalikkan tubuh. Setelah mereka berhadapan, kem­bali timbul kesangsian di hati Siok Bi. Dia meragu apakah benar-benar pemuda ini Gak Bun Beng. “Apakah.... apakah aku berhadapan dengan Gak-taihiap,” tanyanya sambil menatap wajah yang tampan itu. Pemuda itu tersenyum. “Agaknya eng­kau mencari Gak Bun Beng, Nona? Aku bukan Gak Bun Beng, akan tetapi aku adalah sababatnya. Nona siapakah dan ada urusan apa mencari Gak Bun Beng?” “Ahh.... maaf, saya kira engkau Gak Bun Beng. Saya.... saya.... Ang Siok Bi dan saya mencarinya. Tolong beritahu di mana dia?” “Hemm, dia tidak mudah dijumpai begitu saja, Nona. Siapakah Nona? Akan saya sampaikan kepadanya.” “Saya adalah tunangannya dari Bu-tong-pai.” Pemuda itu mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya. “Hemmm.... dari Bu-tong-pai? Baik, akan saya sampaikan kepadanya, Nona. Sebaiknya Nona pergi ke kota raja lagi, bermalam di sebuah penginapan. Malam ini dia akan datang mengunjungimu.” Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan sebentar saja sudah berada jauh sekali. Hal ini mengejutkan hati Siok Bi karena dia maklum bahwa kepandaiannya berlari cepat tidak dapat dipakai menandingi ilmu lari cepat pemuda itu! Betapapun juga, hatinya girang. Pemuda itu kiranya sahabat Gak Bun Beng dan kalau sudah disampaikan, tentu Gak Bun Beng akan menjumpainya. Jantungnya berdebar tegang dan dia makin tidak percaya bahwa Gak Bun Beng telah mejadi seorang jahat. Malam hari itu Siok Bi menanti di dalam kamarnya dengan hati bimbang dan tegang. Kalau dia teringat betapa dia tadi mengaku sebagai tunangan Gak Bun Beng kepada pemuda itu, jantungnya ber­debar dan mukanya terasa panas. Bagai­mana kalau pemuda tadi menyampaikannya kepada Gak Bun Beng? Tunangan? Pemuda itu dahulu menolak usul ayahnya yang hendak menjodohkan mereka. Bagai­mana sekarang secara tak tahu malu dia mengaku tunangannya? Biarlah, setidaknya pengakuannya itu telah membuka rahasia hatinya terhadap Bun Beng! Menjelang tengah malam, dia mendengar suara di jendela kamarnya. Dia memandang terbelalak dan menegur halus, “Siapa....?” “Nona Ang Siok Bi, aku adalah Gak Bun Beng. Harap suka membuka jendela.” terdengar suara dari luar, suara yang halus dan mendebarkan jantungnya. “Tunggu sebentar!” Siok Bi membesarkan api penerangan, kemudian secara tak sadar tangannya membereskan rambutnya yang berjuntai di dahi, kemudian mem­buka daun jendela. Angin menyambar dari luar memadamkan lampu penerangan sehingga keadaan kamar itu menjadi remang-remang, hanya mendapat sorotan lampu penerangan di luar kamar yang dipasang di ujung lorong. Kemudian tam­pak bayangan seorang pemuda bertopi caping lebar bundar melayang masuk ke dalam kamar itu. “Eiihh, kenapa kau memadamkan lampu?” “Ssssttt.... jangan ribut-ribut, nanti semua tamu terbangun. Nona Ang, ada apakah engkau mencari aku?” “Gak-taihiap.... aku sengaja mencarimu untuk bertanya.... eh, kami mendengar pe­nuturan para piauwsu anak murid Bu­-tong-pai bahwa engkau telah melakukan perbuatan keji. Aku tidak percaya, akan tetapi aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri....” “Hemm.... Nona, katakan dulu sebelum aku menjawab. Apakah engkau cinta ke­padaku?” Ditanya demikian yang sama sekali tidak pernah disangkanya, Siok Bi meng­gigil dan suaranya tersendat-sendat ketika dia berkata, “Aku.... aku.... ahh, aku telah ditunangkan kepadamu oleh ayah....” “Bagus, Bi-moi, aku pun cinta kepada­mu. Betapa rinduku kepadamu!” Setelah berkata demikian pemuda itu sudah me­meluknya. Siok Bi hendak membantah dan menolak, akan tetapi suaranya hilang ditelan ciuman pemuda itu. Siok Bi makin terkejut dan hendak mendorong, akan tetapi tiba-tiba pundaknya ditotok dan dia roboh dengan lemas! Hanya kedua matanya yang terbelalak penuh kengerian ketika dia dipondong oleh pemuda itu dan dilempar ke atas pembaringan. Telinga­nya mendengar suara yang kini terdengar seperti suara iblis, “Kau cinta kepadaku dan aku cinta kepadamu! Apalagi yang lebih menarik daripada itu! Marilah kita mencurahkan cinta kasih kita, dan ten­tang semua perbuatanku dengan wanita lain, tak perlu kauhiraukan, manis!” Kalau saja dia mampu bergerak, tentu Siok Bi akan melawan mati-matian, dan kalau saja dia mampu bersuara tentu dia akan menjerit-jerit dan memaki-maki. Akan tetapi apa daya, dia tidak mampu bersuara, tidak mampu bergerak sehingga dia hanya mampu menangis ketika pemuda itu mulai menggagahi dirinya. Dia pergi mencari Bun Beng untuk bertanya, untuk membuktikan sendiri apakah benar berita yang disampaikan oleh anak murid Bu-tong-pai itu. Siapa mengira, dia kini memperoleh bukti yang mutlak karena dia sendiri menjadi korban kebuasan pemuda yang tadinya dijunjung tinggi itu. Pemuda yang dirindukan dan dicinta dengan diam-diam kini mendatangkan rasa muak, benci dan dendam! Menjelang pagi, dalam keadaan hampir pingsan, Siok Bi melihat pemuda itu mendekati jendela dan berkata, “Kalau engkau ingin terus menikmati malam-­malam seperti ini dengan aku, Siok Bi yang manis, datanglah kau ke kuil di atas bukit sebelah utara kota raja dan carilah Tiong-gi-pang. Aku menantimu di sana. Sampai jumpa lagi, kekasihku!” Tubuh itu berkelebat dan sekali loncat saja lenyap dari dalam kamar. Siok Bi hanya dapat menangis! Mena­ngis karena dua hal yang menghancurkan hatinya, yang menghancurkan hidupnya, menghancurkan harapannya. Pemuda yang diharapkan menjadi jodohnya, yang di­tunggunya dengan setia sehingga dia menolak senlua pinangan orang, yang diam-diam dicintanya, ternyata telah menjadi seorang yang buas dan hina, seorang penjahat cabul yang kejam sekali melebihi iblis! Dan di samping ini, dia telah menjadi korban! Dia telah menjadi seorang yang rusak kehormatannya, tidak mungkin menjadi seorang wanita yang dihormati lagi. Dia harus membalas den­dam ini! Kalau perlu dia akan mengor­bankan nyawa, karena apa artinya hidup ini setelah apa yang terjadi malam tadi? Setelah totokan itu pulih dengan sendiri­nya, Siok Bi juga hanya dapat menangis, bahkan menangis pun tidak berani terlalu keras. Kalau terdengar orang dan ada yang bertanya, apa yang harus dijawab­nya? Peristiwa mengerikan yang menimpa dirinya semalam tidak akan diketahui siapa juga, kecuali dia dan Si Laknat Gak Bun Beng! Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siok Bi telah meninggalkan rumah penginapan keluar dari kota raja menuju ke utara. Menjelang senja barulah dia dapat menemukan kuil yang dimaksudkan oleh Gak Bun Beng ketika hendak me­ninggalkan kamarnya tadi pagi. Namun Siok Bi bersikap hati-hati ketika melihat banyak orang keluar masuk di bangunan kuil yang dikelilingi pondok-pondok kecil itu. Tentu mereka ini para anggauta Tiong-gi-pang! Dia datang untuk mencari Gak Bun Beng dan untuk membunuhnya! Kalau dia muncul begitu saja, bukan ha­nya usaha membalas dendam itu akan gagal, bahkan dia akan tertawan dan akan menjadi permainan pemuda iblis itu! Dia harus menahan sabar dan baru turun tangan malam nanti! Dengan pikiran ini Siok Bi bersembunyi di dalam hutan, menanti datangnya malam. Dia harus selalu menekan hatinya untuk tidak me­nangis terus. Setiap kali teringat akan malapetaka yang menimpa dirinya, ingin dia menjerit-jerit dan menangis. Malam itu sunyi sekali di luar Kuil Tiong-gi-pang, karena memang kuil itu berada di dalam hutan, tidak mempunyai tetangga. Para anggauta ying sudah lelah karena siang tadi bekerja atau berlatih silat, kini sudah beristirahat di dalam pondok-pondok kecil yang dibangun di sekeliling kuil. Hanya ada beberapa orang penjaga yang meronda secara bergilir untuk menjaga keselamatan dan keamanan kuil mereka. Sesosok bayangan berkelebat dan menyelinap di bawah bayangan pohon yang gelap. Bayangan ini adalah Ang Siok Bi yang berhasil melompati pagar yang mengelilingi tempat itu. Dia ingin memasuki kuil dengan diam-diam, mencari dan membunuh Gak Bun Beng, atau kalau gagal, terbunuh. Akan tetapi, ketika dia menyelinap ke dalam kuil melalui sebuah pintu samping yang terbuka dan tiba di ruangan depan, tiba-tiba ada suara mene­gurnya, “Siapa?” Tiga orang penjaga muncul dengan tiba-tiba, mengejutkan hati Siok Bi, me­reka itu adalah dua orang berpedang dan seorang bersenjata tongkat. Ketika melihat bahwa orang tak terkenal yang berkelebat masuk itu adalah seorang gadis cantik, tiga orang penjaga itu terbelalak heran dan tidak mau sembarangan turun tangan menyerang. Akan tetapi Siok Bi yang mengira bahwa mereka itu tentulah anak buah Gak Bun Beng, sudah mencabut pedangnya dan menerjang tanpa banyak cakap lagi. Dia harus merobohkan mereka ini sebelum yang lain-lain datang! “Trang-trang.... aih....!” Tiga orang itu terkejut, sedapat mungkin menangkis, akan tetapi gerakan Siok Bi yang lincah dan serangannya yang tak tersangka-sang­ka itu terlalu lihai bagi mereka. Dua orang terluka lengannya dan seorang lagi terluka dadanya oleh sambaran pedang puteri ketua Bu-tong-pai yang perkasa ini. Akan tetapi teriakan mereka mendatangkan tujuh orang penjaga lainnya. Melihat ini, dengan gemas Siok Bi sudah menggerakkan pedangnya mengamuk sam­bil berteriak marah, “Gak Bun Beng ma­nusia busuk! Kiranya engkau pengecut, mengandalkan banyak anak buahmu! Keluarlah kalau kau laki-laki, kita mengadu nyawa!” Mendengar seruan ini, penjaga terheran dan mereka menahan senjata sambil melompat mundur, terdengar bentakan nyaring, “Tahan senjata!” Ang Siok Bi juga menahan pedangnya ketika melihat munculnya seorang dara yang amat cantik dan gagah. Dara ini bukan lain adalah Milana, yang tadi ter­kejut mendengar suara ribut-ribut dan keluar dari kamarnya. Kebetulan sekali dia mendengar disebutnya nama Gak Bun Beng yang ditantang oleh wanita muda yang mengamuk itu, maka dia cepat menghentikan pertandingan. Sejenak kedua orang wanita muda itu saling berpandangan. Siok Bi masih me­mandang marah karena menduga bahwa tentu wanita cantik itu kaki tangan Gak Bun Beng pula, sedangkan Milana menduga-duga siapa wanita yang agaknya memusuhi Gak Bun Beng itu, juga dia terheran-heran mengapa wanita itu mencari Bun Beng di kuil Tiong-gi-pang. “Siapakah engkau? Mengapa engkau mengacau Tiong-gi-pang?” tanyanya. Para anak buah Tiong-gi-pang sudah berkumpul dan tiga orang yang terluka itu cepat ditolong dan luka mereka diobati dan dibalut. Dua di antara mereka terpaksa membuka baju agar luka di tubuh mereka dapat dibalut. Siok Bi yang sudah nekat melintang­kan pedangnya di depan dada sambil menjawab, “Aku Ang Siok Bi, datang untuk menantang ketua kalian bertanding sampai seorang diantara kami tewas. Akan tetapi kalau para anggauta dan kaki tangannya mau ikut maju aku tidak takut!” “Hemmm, siapa mencari aku?” Tiba­-tiba terdengar suara nyaring dan muncul­lah empat orang anggauta Tiong-gi-pang yang menggotong Sai-cu Lo-mo yang lumpuh. Begitulah ketua ini kalau me­nyambut datangnya orang asing atau tamu, duduk di atas papan yang digotong empat orang anak buahnya. Untuk keper­luan sehari-hari, dia bergerak mengandalkan kedua tangannya saja yang dapat dia pergunakan sebagai pengganti kedua kaki, berjalan dengan tubuh terangkat sedikit ke belakang! Siok Bi menoleh ke kiri dan meman­dang kakek itu dengan bingung. “Aku tidak mencari engkau, aku men­cari Ketua Tiong-gi-pang....” “Hemm, Nona. Akulah Ketua Tiong­-gi-pang.” Siok Bi makin terkejut, lalu menduga bahwa tentu Gak Bun Beng yang tinggal disini bukan ketuanya. Dengan suara tidak sabar Milana bertanya, “Sebenarnya apakah kehendakmu dan siapa yang kaucari?” Dengan agak bingung Siok Bi menja­wab, “Aku mencari Si Bedebah Gak Bun Beng. Suruh dia keluar!” Milana makin tertarik. Tentu ada se­suatu terjadi antara gadis itu dengan Bun Beng. Akan tetapi mengapa mencari Bun Beng di sini? “Ada urusan apakah engkau mencari Gak Bun Beng?” dia masih bertanya me­mancing. “Kau tak perlu tahu. Pendeknya aku mencari Gak Bun Beng untuk kubunuh!” Milana menyarungkan pedang yang tadi sudah dicabutnya. Melihat ini, Siok Bi menjadi heran. “Engkau salah alamat,” kata Milana. “Gak Bun Beng tidak berada di sini, juga kami bukanlah sahabatnya. Tiong-gi-pang tidak pernah ada hubungan apa-apa de­ngan Gak Bun Beng. Marilah kita bicara di dalam. Kalau engkau mempunyai pena­saran terhadap Gak Bun Beng, agaknya aku akan dapat membantumu.” Siok Bi makin terheran. Melihat sikap dara jelita itu, sikap Ketua Tiong-gi-pang yang lumpuh, sikap para anak buah Tiong-gi-pang yang sudah mundur dan agaknya tidak memperlihatkan sikap ber­musuh kepadanya, dia juga menyarungkan pedang di sarung pedang yang kini tergantung di punggungnya. Akan tetapi dia masih ragu-ragu melihat Milana membuka sebuah pintu batu di atas anak tangga. Milana yang sudah berada di depan pintu itu menoleh dan berkata, “Engkau demikian gagah berani sudah menyerbu Tiong-gi-pang, apakah sekarang menjadi takut untuk memenuhi undanganku masuk ke dalam dan bicara?” Sai-cu Lo-mo yang sudah bersedekap penuh rasa duka itu berkata, “Masuklah, Nona. Kami bukanlah orang-orang jahat. Kalau kami berniat buruk, perlukah me­mancingmu masuk?” Siok Bi mengerutkan alisnya dan me­mandang tajam kepada Sai-cu Lo-mo, kemudian dia menudingkan telunjuknya kepada Ketua Tiong-gi-pang itu dan membentak, “Aku pernah melihat engkau. Bukankah engkau seorang tokoh Thian-liong-pang?” Sai-cu Lo-mo menghela napas, kemudian menjawab, “Dugaanmu benar, Nona. Dan Nona adalah puteri Ketua Bu-tong-pai, bukan?” Siok Bi terkejut. Dahulu, ketika Thian-liong-pang mengadakan pertemuan besar di puncak Gunung Ciung-lai-san di Se-cuan, dia ikut ayahnya menghadiri pertemuan besar itu. Ayahnya, Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, pernah diculik oleh Thian-liong-pang, sehingga perkumpulan itu dapat dikatakan adalah musuhnya! “Jadi kalian.... kalian ini.... anggauta-­anggauta Thian-liong-pang....?” Di samping kekagetan dan kemarahannya, juga ada rasa gentar di hati Siok Bi karena dia maklum betapa lihainya orang-orang Thian-liong-pang. “Bukan,” jawab Milana. “Thian-liong-­pang sudah tidak ada lagi dan engkau menjadi tamu dari Tiong-gi-pang.” “Dan kau.... sekarang aku mengenalmu! Engkau adalah puteri cantik dari Ketua Thian-liong-pang!” Siok Bi berseru lagi, makin terkejut karena dia tahu bahwa puteri Ketua Thian-liong-pang memiliki ilmu kepandaian hebat. Milana tersenyum, “Kalau perkumpul­annya tidak ada, ketuanya pun tentu saja tidak ada. Marilah, apakah engkau masih tidak berani memenuhi undanganku? Di dalam kita bicara tentang manusia bernama Gak Bun Beng itu.” Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nyaring, “Gak Bun Beng manusia hina. Hendak lari ke mana engkau?” Dari jendela melayang masuk sesosok bayangan yang ternyata dia adalah seorang gadis cantik pula, sebaya dengan Siok Bi dan Milana dengan sebatang pedang di tangannya! Gadis ini sejenak bingung memandang Milana, Siok Bi, Sai-­cu Lo-mo dan para anggauta Tiong-gi-­pang, kemudian menoleh ke sana-sini, pandang matanya mencari-cari, kemudian dia membentak, “Hayo suruh Si jahanam keparat Gak Bun Beng keluar untuk menerima kematiannya!” Sai-cu Lo-mo menutup muka dengan kedua tangan yang tadi disedekapkan sambil mengeluh, “Ya Tuhan.... lagi-lagi Bun Beng....?” Milana juga merasa tertusuk hatinya. Lagi-lagi ada orang yang mencari Gak Bun Beng untuk membunuhnya, dan orang ini juga wanita muda cantik jelita! “Gak Bun Beng tidak ada di sini mengapa eng­kau mencarinya ke sini?” Dia menegur ke­pada gadis cantik yang baru datang itu. Gadis itu mengelebatkan pedangnya dan gaya gerakannya menunjukkan bahwa dia memiliki ilmu pedang yang hebat juga! “Bohong! Baru saja dia lari dan masuk ke sini! Hayo suruh dia keluar, kalau tidak, terpaksa aku akan mengo­brak-abrik tempat ini!” Milana terkejut. “Dia di sini?” Sai-cu Lo-mo juga terkejut dan cepat memberi perintah kepada anak buahnya. “Cari bocah setan itu sampai dapat! Periksa semua tempat!” Dengan cepat mereka semua bergerak pergi, bahkan Sai-cu Lo-mo sendiri sudah meloncat dari atas papan yang dipikul empat orang anggautanya, tubuhnya yang lumpuh kakinya itu masih dapat bergerak cepat sekali. Milana juga sudah mencabut pedangnya dan berkelebat lenyap. Tinggal Siok Bi dan gadis itu saling pandang de­ngan bingung. Siok Bi yang berkata, “Sobat, keadaan kita sama. Aku pun mencari manusia keparat Gak Bun Beng di sini, akan tetapi kita berdua salah alamat. Kurasa jahanam itu tidak berada di sini.” “Tak mungkin! Tadi kuserang, kukejar dan lenyap di tempat ini!” Gadis itu masih penasaran. “Akan tetapi orang-orang Tiong-gi-pang ini bukanlah sahabat Gak Bun Beng. Lihat saja mereka semua marah dan mencari Si Laknat itu,” bantah Siok Bi. Gadis itu menarik napas panjang dan mengangguk. “Akan tetapi....” “Biarlah kita menanti sampai mereka kembali. Ketahuilah bahwa para pimpinan Tiong-gi-pang ini adalah bekas tokoh­-tokoh Thian-liong-pang yang lihai.” Mendengar ini, gadis ini terkejut juga, dan berdiri dengan bingung. Melihat beta­pa Siok Bi tidak menghunus pedang, dia merasa kikuk dan segera dia menyarung­kan pedangnya pula. Tak lama kemudian, Milana datang lagi ke tempat itu. Gerakannya membuat Siok Bi dan gadis itu terkejut dan kagum. Seperti gerakan iblis saja, hanya tampak berkelebat dan tahu-tahu telah berada di situ. Mengertilah mereka berdua bahwa mereka bukan tandingan dara cantik jelita ini! Milana memandang kepada dara yang baru tiba. “Benarkah katamu tadi bahwa Gak Bun Beng lari, dan lenyap di tempat ini?” “Aku tidak membohong. Kalau tidak, apa perlunya aku masuk ke sini dan me­ngejarnya?” Milana mengangguk dan menarik napas panjang. “Kami mencari tanpa hasil dan hal ini memang tidak aneh. Kepandaian Gak Bun Beng tinggi bukan main, dan andaikata kita dapat menemukannya aku masih sangsi apakah kita semua dapat melawannya.” “Aku tidak takut!” Siok Bi berseru. “Aku akan mengadu nyawa dengannya!” Gadis itu pun berseru. Milana mengerutkan alisnya. “Mari kita bicara di dalam. Agaknya aku dapat menduga apa yang telah terjadi dengan kalian.” Ketika gadis yang baru muncul itu ragu-ragu, Milana melanjutkan setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang lain, “Bukankah kalian berdua menjadi korban Gak Bun Beng yang telah menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa)?” Seketika wajah kedua orang dara itu menjadi merah sekali. Milana menghela napas panjang. “Ketahuilah, aku bukan sahabat Gak Bun Beng dan kalau benar seperti yang kuduga bahwa kalian menja­di korban kebiadabannya, aku bersedia membantu kalian mencarinya dan meng­hadapinya!” Siok Bi sudah percaya kepada Milana, maka melihat gadis yang baru datang itu ragu-ragu, dia berkata, “Sebaiknya kita bicara dengan dia, karena dia ini adalah puteri bekas Ketua Thian-liong-pang.” Gadis itu kelihatan terkejut sekali. “Apa....?” Dia menatap wajah Milana de­ngan tajam. “Kau.... kau.... Puteri Milana cucu Kaisar? Engkau puteri dari Panglima Wanita Nirahai dan.... dan Pendekar Super Sakti?” Milana terkejut juga melihat betapa gadis itu mengenal ayah bundanya. Dia mengangguk dan bertanya, “Siapakah engkau?” Gadis itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. “Harap paduka sudi memaafkan saya yang bersikap kurang hormat....” Siok Bi juga terkejut sekali mendengar itu. Kiranya Ketua Thian-liong-pang adalah Puteri Nirahai? Dia memang sudah mendengar kabar angin tentang ini, akan tetapi ayahnya sendiri masih kurang percaya. Dan ternyata bahwa selain pu­teri Kaisar, juga Ketua Thian- liong-pang yang pernah menimbulkan geger itu ada­lah isteri Pendekar Super Sakti! Dia tidak berlutut seperti gadis itu, akan tetapi dia pun bertunduk dan memandang Mila­na dengan segan dan hormat. Milana merangkul gadis itu dan meng­angkatnya bangkit berdiri. “Tak perlu seperti itu. Aku gadis biasa saja, gadis kang-ouw seperti kalian. Siapakah nama­mu?” “Saya Lu Kim Bwee, dari Kong-kong (Kakek) yang pernah menjadi pengawal Kaisar saya mendengar tentang ibu Padu­ka....” “Hushh, Enci Kim Bwee, jangan ba­nyak sungkan. Jangan pakai paduka-padu­ka segala kepadaku. Anggap saja kita ini sahabat-sahabat yang senasib. Marilah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, mari kita masuk ke dalam dan kita bicara tentang manusia jahanam Gak Bun Beng ini.” Ketiganya memasuki kamar Milana, melalui anak tangga dan daun pintu batu yang tebal itu. Setelah pintu ditutup kembali, dua orang gadis itu tercengang kagum melihat betapa kamar di balik pintu yang menyeramkan itu amat indah dan bersih. “Ini kamarku sendiri,” Milana berkata. “Aku pun baru dua bulan berada di sini. Duduklah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, panggil saja aku Milana.” Dua orang gadis itu duduk di atas kursi yang indah, kemudian mereka saling pandang. Tidak ada keraguan lagi di hati mereka terhadap dara jelita cucu Kaisar ini. Milana kembali tersenyum kepada mereka, “Sungguh mengherankan sekali. Enci berdua muncul dalam waktu yang sama dan dengan niat yang sama pula, yaitu mencari Gak Bun Beng, untuk membunuhnya! Ketahuilah bahwa aku pun membenci Gak Bun Beng dan aku berjan­ji akan minta bantuan orang-orang Tiong­-gi-pang untuk mencari jejak manusia itu, kalau sudah dapat ditemukan, biarlah aku akan membantu kalian menghadapinya. Untuk kerja sama ini, sebaiknya kalau kita mengetahui keadaan masing-masing. Nah, sekarang kuminta Enci Siok Bi suka menceritakan pengalamannya, mengapa memusuhi dia, kemudian Enci Kim Bwe, dan kemudian aku sendiri akan menceri­takan pengalamanku.” Karena di situ hanya ada mereka ber­tiga, ditanya begini Siok Bi menangis. Milana dan Kim Bwee yang melihat Siok Bi menangis, tak dapat menahan kesedih­an hati masing-masing dan mereka pun menitikkan air mata, teringat akan nasib buruk yang menimpa mereka. Sambil terisak Siok Bi menceritakan malapetaka yang menimpa dirinya malam tadi di rumah penginapan di kota raja. Betapa dia didatangi Gak Bun Beng da­lam kamarnya dan ditotok tak berdaya kemudian diperkosa. Betapa kemudian dia mencarinya ke Tiong-gi-pang, karena Gak Bun Beng menyebut nama perkumpulan ini sebagai tempat tinggalnya. Setelah selesai bercerita dia menangis sesengguk­an. Milana mengerutkan alisnya dan men­cela, “Enci Siok Bi, mengapa engkau begitu mudah saja membukai jendela ka­mar di waktu malam hari memenuhi permintaan seorang laki-laki?” Ang Siok Bi teriak. “Aih.... harap ja­ngan salah sangka adik Milana.... ketahui­lah bahwa semenjak ayah ditolong oleh Gak Bun Beng ketika.... ketika dahulu berada di dalam tahanan.... Thian-liong-­pang.... ayah mengharapkan agar aku menjadi jodoh orang itu. Dan budi itu tak terlupa oleh kami sehingga aku sudah menganggap diriku sebagai tunangannya, sungguhpun belum resmi dan hanya men­jadi niat sepihak. Tentu saja ketika men­dengar suaranya aku tidak ragu-ragu untuk membiarkan dia masuk. Akan teta­pi siapa kira.... dia.... dia menjadi iblis....!“ “Keparat....!” Milana menampar meja di depannya sehingga meja itu tergetar. Memang dia marah sekali mendengar pe­nuturan itu, marah kepada Bun Beng. “Dan bagaimana dengan engkau, Enci Kim Bwee? Apakah engkau juga menjadi korban pemuda biadab itu?” Milana menoleh kepada Lu Kim Bwee. Sebelum menjawab, Kim Bwee mengu­sap air matanya, kemudian mengangguk. “Sudah agak lama terjadinya, sudah satu bulan lebih, ketika aku berada di pondok kakekku,” Dia lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia dan kakeknya keda­tangan Bun Beng yang tadinya bersikap mencurigakan, mengintai dari atas gen­teng, kemudian betapa pemuda itu mem­bohongi mereka dengan cerita bahwa ada suami isteri terbunuh setelah isterinya diperkosa di dekat telaga. Betapa kakek­nya membantu pemuda itu menyelidiki di sekitar telaga dan kiranya pemuda itu hanya membohong untuk memancing kakeknya keluar dari pondok, kemudian diam-diam pemuda itu kembali ke pondok dan memperkosanya! “Baru aku dan kong-kong tahu bahwa pembunuh suami isteri itu adalah dia sendiri. Aku tak mampu melawan karena dia telah menotokku secara tiba-tiba....” Kembali Kim Bwee mengusap air matanya. “Semenjak hari itu, aku pergi me­ninggalkan pondok kakek untuk mencari jahanam itu. Tadi aku bertemu dengannya di jalan. Aku menyerangnya, dan dia lari. Ketika kukejar, dia lari ke arah kuil ini dan lenyap.” “Hemmm, benarkah yang kauserang dan kejar tadi Gak Bun Beng?” “Cuaca agak gelap, aku tidak dapat melihat mukanya dengan jelas. Akan te­tapi siapa lagi pemuda memakai caping lebar itu kalau bukan dia? Pula, dia mentertawakan aku dan dia yang mem­perkenalkan diri ketika kami bertemu di jalan.” “Tidak salah lagi, tentu dia!” Siok Bi berseru penuh kemarahan. “Suami isteri yang dibunuh itu setelah isterinya diperkosa di pinggir telaga, memang menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng. Hal ini aku mendengar juga dari murid ayah yang menjadi piauwsu.” Dia lalu mence­ritakan kembali cerita yang didengarnya dari para piauwsu yang bertemu dengan Bun Beng di dekat telaga. Mendengar semua ini, dapat dibayangkan betapa panas rasa hati Milana. Laki-­laki yang dicintanya, pilihan hatinya, bahkan yang oleh ayahnya dijodohkan dengan dia, kiranya adalah seorang laki-laki jahat sekali. Terhapus sama sekali rasa cinta kasihnya, kini terganti oleh rasa benci yang seperti api bernyala-nyala membakar hatinya. Sambil meng­genggam kedua tangan, dia berkata, “Kita harus mencari jahanam itu, akan kukerahkan semua anggauta Tiong-gi-pang untuk menyelidiki, kalau kita sudah keta­hui tempatnya, kita serang dan bunuh dia.” Tentu saja Siok Bi dan Kim Bwee menjadi girang. Mendapat bantuan seo­rang seperti Milana, cucu Kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, tentu saja amat membesarkan hati. Mereka tahu akan kelihaian Gak Bun Beng dan tadinya mereka pun sudah menduga bahwa andaikata bertemu dengan pemuda itu, tentu mereka yang akan roboh! Kini harapan mereka untuk membalas dendam kepada pria yang menyeret mereka ke dalam jurang kehinaan itu timbul kembali. Bun Beng masih menaruh harapan bahwa Milana menyesal ketika mendengar gadis itu menjerit. Akan tetapi begitu Milana mencabut pedangnya dan darah muncrat dari luka di dada, gadis itu langsung menyerang lagi, kini pedangnya membabat ke arah leher Bun Beng. “Aihhh.... Milana....!” Bun Beng terpaksa mengelak dengan hati penuh kece­wa. Dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu benar-benar tega untuk membunuhnya. Dia lalu menggerakkan kakinya dan me­loncat jauh kemudian melarikan diri. “Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau?” Milana mengejar, diikuti oleh Siok Bi dan Kim Bwee yang sudah mengambil pedang mereka dan ikut mengejar pula. Akan tetapi dengan beberapa loncatan saja bayangan Bun Beng sudah menghilang di dalam hutan di utara dan lenyap di pegunungan yang penuh hutan lebat itu. Milana, Siok Bi, dan Kim Bwee mela­kukan pengejaran dan mencari-cari, na­mun tidak berhasil. Bun Beng lenyap tan­pa meninggalkan jejak. Karena hari telah menjelang senja, terpaksa tiga orang dara ini kembali ke kuil Tong-gi-pang dengan hati kecewa sekali. Pada keesokan harinya, pagi-pagi se­kali seorang anggauta Tiong-gi-pang yang berjaga di luar melaporkan bahwa ada dua orang tamu datang minta bicara de­ngan nona Milana. Mendengar ini, Milana segera keluar dan terkejutlah dia ketika melihat bahwa yang datang adalah Wan Keng In dan seorang kakek yang mukanya bopeng dan rusak sehingga kelihatan me­nakutkan sekali. Kakek itu berpakaian seperti seorang pendeta dengan jubah kuning yang lebar, kepalanya ditutup se­buah topi kuning pula, matanya besar sebelah dan hidungnya melesak ke dalam, mulutnya miring. Muka yang amat buruk, bahkan kulit muka itu seperti bekas digerogoti tikus! Wan Keng In seperti biasa berpakaian amat indah dan mewah se­hingga kelihatan makin tampan. Pedang Lam-mo-kiam tergantung di punggungnya. Adapun kakek menakutkan itu memegang sebatang tongkat berkepala ukiran naga. “Kau....?” Milana menegur keras. “Mau apa kau ke sini?” Wan Keng In tersenyum dan cepat­-cepat dia memberi hormat kepada Milana. “Harap kau suka maafkan kepadaku, Mi­lana. Aku mendengar bahwa engkau bera­da di Tiong-gi-pang maka aku cepat datang ke sini untuk menemuimu dan bicara denganmu.” “Mau bicara apa? Tidak ada urusan apa-apa di antara kita!” “Aihh, Milana, harap kau dapat maaf­kan segala kesalahanku dahulu. Aku minta maaf kepadamu dan aku telah sadar akan semua kesalahanku dahulu kepadamu. Aku tahu bahwa cinta tidak dapat dipaksakan, maka aku tidak menyesal bahwa engkau menolak cintaku. Memang sekarang tidak perlu lagi bicara tentang itu karena kita telah menjadi saudara tiri.” “Apa maksudmu?” “Aihh, apakah engkau belum tahu? Ibuku kini telah berada di Pulau Es, menjadi isteri ayahmu. Mereka bertiga di Pulau Es. Ayahmu dan ibumu, juga ibuku yang sekarang menjadi isteri Pendekar Super Sakti. Dengan demikian, bu­kankah kita ini adalah saudara-saudara tiri? Karena itu, engkau harus dapat memaafkan aku, Milana. Ketahuilah, cin­taku kepadamu telah menjadi cinta seo­rang kakak, dan aku sungguh tidak rela membiarkan engkau adikku dipermainkan dan dihina oleh seorang manusia busuk seperti Gak Bun Beng!” “Engkau tahu akan hal itu?” “Tentu saja! Apa aku buta? Aku tahu betapa di Pulau Neraka dia mempermain­kan Kwi Hong, dia hampir pula menye­retmu. Dan ketika aku melakukan per­jalanan, banyak aku mendengar akan per­buatannya yang keji. Bahkan aku mende­ngar pula betapa kemarin engkau bersama dua orang nona menyerangnya tanpa hasil.” “Aku telah melukai dadanya!” “Aku pun tahu akan hal itu, karena aku tahu di mana dia sekarang bersem­bunyi.” “Apa kau tahu? Di mana?” “Karena itu pulalah aku datang ke sini, Milana. Pertama, untuk menemuimu dan ke dua untuk mengajakmu bersama-­sama mengepung dan membunuh Bun Beng Si Laknat itu. Kau jangan khawatir, ini adalah seorang sahabat baikku yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sudah berjanji untuk membantu kita menghadapi Bun Beng.” “Siancai....!” Si Kakek Muka Buruk itu menjura, “Biarpun masih muda, Gak Bun Beng telah melakukan banyak kejahatan dan penghinaan kepada para wanita. Dia pantas dibasmi. Harap Nona tidak khawatir, lohu (aku si tua) Koai-san-jin (Kakek Gunung Aneh) akan membantumu meng­hadapi orang jahat.” Milana menjadi girang. Dia memang maklum bahwa biarpun dibantu Siok Bi dan Kim Bwee, dia tidak akan mampu mengalahkan Bun Beng. Akan tetapi kalau dibantu oleh Keng In yang kepandaiannya jauh melebihinya, apalagi ada bantuan kakek yang seperti setan ini, agaknya Bun Beng yang jahat itu akan dapat di­kalahkan. “Baiklah, Wan Keng In. Aku percaya kepadamu dan betapapun juga, memang ibumu adalah adik angkat ayahku dan kalau benar sekarang menjadi isteri ayah­ku, berarti kita jadi saudara. Tunggu sebentar, aku akan memanggil Siok Bi dan Kim Bwee.” Tak lama kemudian, Milana keluar la­gi bersama Siok Bi, Kim Bwee, dan Sai­-cu Lo-mo yang digotong empat orang anak buahnya. Milana segera memperke­nalkan Keng In dan Koai-san-jin kepada dua orang gadis itu dan Ketua Tiong-gi-­pang. Karena Keng In seorang pemuda tampan yang pandai bersikap halus dan ramah, dua orang dara itu tersipu malu dan merasa suka dan percaya kepada Keng In. Akan tetapi Siok Bi memandang dengan lirikan tajam karena dia merasa seperti pernah bertemu dengan pemuda ini. “Kalau tidak salah, kita pernah saling berjumpa, Wan-enghiong,” akhirnya dia berkata meragu. Keng In mengangkat kedua alisnya. “Aihh, sungguh saya kurang beruntung tidak pernah bertemu dengan Nona sebe­lumnya. Baru sekali ini kita saling berte­mu. Saya kira Nona berjumpa dengan orang lain.” “Maaf, saya telah lupa lagi.” Siok Bi berkata sambil menunduk. Tentu dia yang salah lihat, dan setelah dia ingat-ingat lagi, memang agaknya belum pernah dia bertemu dengan pemuda tampan yang berpakaian indah dan bersikap halus ini. Sai-cu Lo-mo juga memandang mereka dengan mata bersinar tajam. Setelah berkenalan dan menuturkan niat mereka menyerbu Gak Bun Beng yang tempat sembunyinya telah diketahui oleh Keng In, kakek itu berkata, “Sekali ini aku akan ikut sendiri, Nona Milana. Aku ingin melihat cucu keponakan yang murtad itu tewas menerima hukumannya.” Kakek lumpuh ini meloncat turun dari atas papan, kemudian ikut pergi bersama rombongan itu dengan cara berloncatan menggunakan kedua tangannya. Biarpun dia bergerak secara itu, namun gerakannya cukup cepat. “Ahhh, Pangcu. Tak mungkin saya melihat Pangcu bergerak seperti itu. Pangcu sudah tua dan saya seorang pe­muda, marilah Pangcu saya gendong saja.” Tanpa menanti jawaban, Keng In lalu menggendong tubuh Sai-cu Lo-mo, dan biarpun dia menggendong tubuh kakek ini, tetap saja Siok Bi dan Kim Bwee yang merasa makin kagum itu harus mengerah­kan seluruh tenaganya untuk dapat lari mendampingi Milana, Keng In, dan Koai-san-jin. Di puncak bukit, di sebuah guha yang menghadap jurang yang amat dalam, Bun Beng duduk bersila. Luka di dadanya sama sekali tidak ada artinya, kalau dibandingkan dengan luka di hatinya. Ber­ulang-ulang dia menarik napas panjang. Dia dapat menduga bahwa tiga orang gadis itu membenci den mendendam ke­padanya bukan tanpa dasar dan dia tidak dapat menyalahkan mereka. Dia tahu bahwa Kim Bwee diperkosa orang yang menggunakan namanya. Dan mungkin se­kali Siok Bi mengalami hal yang sama dengan Kim Bwee. Akan tetapi apa yang terjadi dengan diri Milana? Terlampau ngeri baginya untuk membayangkan apa yang terjadi dengan diri dara yang dicin­tainya itu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jelas bahwa ada orang yang sengaja merusak namanya di depan gadis-­gadis terutama Milana. Ada yang berusa­ha dengan jalan terkutuk, agar dia diben­ci oleh Milana! Semalam penuh dia tidak dapat tidur, diganggu oleh perasaan yang tertindih. Dia telah ditunangkan dengan Milana, telah diberi tugas untuk mencari Milana, Kwi Hong dan Keng In. Sekarang begitu berjumpa dengan Milana, dia telah dimu­suhi dan hendak dibunuh. Milana tidak main-main, jelas berniat membunuhnya! Betapa tega hati dara itu kepadanya. Bun Beng merasa berduka sekali dan dia meragukan apakah benar Milana mencin­tanya! Apakah artinya cinta? Kalau benar Milana dahulu itu mencintanya, mengapa kini dapat berubah menjadi benci? Andai­kata benar dia melakukan kesalahan, apa­kah kesalahan ini dapat merobah cinta seorang menjadi benci? Kalau begitu, apa bedanya cinta dengan benci? Bun Beng termenung kosong, meman­dang ke arah awan yang tergantung di depan kakinya di atas jurang yang curam itu kini pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang cinta! Mulai dia meng­ingat-ingat dan mencari-cari. Bagi manusia umumnya, cinta telah dibagi-bagi menjadi beberapa macam! Cinta antara pria dan wanita, cinta anta­ra anak dan orang tua, cinta antara sahabat, dan cinta antara manusia dengan Tuhannya! Adakah cinta yang sudah diba­gi-bagi ini benar-benar cinta? Seorang wanita, seperti Milana, menyatakan cinta kepada seorang pria seperti dia, akan tetapi cinta itu hidup selama dia diang­gap baik. Sekali dia dianggap buruk, cinta itu berubah menjadi benci! Apakah ini benar cinta? Aku cinta padamu, akan tetapi kau pun harus cinta kepadaku! Aku cinta kepadamu, akan tetapi kau harus baik dan menyenangkan hatiku! Kalau kau tidak cinta kepadaku dan lari kepada orang lain, kalau kau tidak baik dan tidak menyenangkan hatiku, cintaku hilang berubah benci! Cintakah ini, ataukah hanya jual beli seperti benda yang diperjualbelikan di pasar? Orang tua mencinta anak kalau anak itu menurut, kalau anak itu berbakti, pendeknya kalau anak itu menyenangkan hati orang tuanya. Kalau tidak? Kalau Si Anak pemberontak, put-hauw (tidak berbakti), murtad dan tidak menyenang­kan hatinya, akan tetapkah cintanya? Atau menjadi marah-marah dan anaknya dikutuk? Cintakah kalau sudah begini? Demikian pula dengan cinta sahabat. Kalau Si Sahabat menyenangkannya, me­nguntungkannya, baru cinta. Bagaimana kalau sababat itu tidak menyenangkannya, merugikannya? Masih adakah cinta itu? Sama saja. Ini cinta pasar, cinta jual beli, baru cinta kalau “ada apa-apanya”, ada tebusannya, ada imbalannya! Bagaimana dengan cinta manusia kepada Tuhannya? Adakah ini baru cinta yang sejati? Kita bersembahyang, mohon berkah, mohon ampun, mohon bimbingan, mohon perlindungan? Segala macam permohonan atau permintaan ini, segala macam tuntunan ini! Cintakah itu? Betul-betulkah hati kita penuh dengan cahaya cinta kasih disaat kita bersembahyang kepada Tuhan? Betul-betulkah kita ter­ingat dengan penuh kasih kepada Tuhan, ataukah kita hanya ingat kepada kebutuhan sendiri akan berkah, akan pengam­punan, dan lain-lain itu? Kita mencinta Tuhan hanya karena ingin imbalannya, yaitu berkah, pengampunan, dan lain-lain. Adakah ini Tuhan yang kita sembah, ataukah berkah-Nya yang kita harap? Bun Beng termenung dan pada saat seperti itu, pandang matanya seolah-olah menjadi terbuka dan jelas tampak olehnya segala kepalsuan manusia. Kepalsuan yang ditutup oleh tabir kebudayaan, peradaban, kesopanan, hukum dan lain-lain. Semua yang indah-indah dalam hidup manusia itu hanyalah keindahan yang menyelu­bungi hasrat tersembunyi, yaitu nafsu mementingkan Si Aku masing-masing! Apa pun yang dilakukan manusia, selalu didasari oleh pusat ini, oleh Si Aku ini. Betapa menyedihkan kenyataan ini. Teringatlah Bun Beng akan semua pengalamannya, akan pertemuannya de­ngan Pendekar Super Sakti, akan keadaan pendekar sakti itu bersama dua orang wanita yang juga terlibat dalam cengke­raman apa yang mereka sebut cinta dengan pendekar itu. Teringat pula dia akan Bu-tek Siauw-jin. Cinta telah me­nimbulkan banyak peristiwa yang ganjil, menimbulkan pertentangan, kesengsaraan dan ketakutan. Benarkah cinta semua itu kalau menimbulkan kesengsaraan, perten­tangan, ketakutan dan kebencian? Atau­kah sesungguhnya hanya nafsu mementingkan diri pribadi dalam mengejar ke­senangan, kenikmatan dan kepuasan belaka yang oleh kita semua disebut cinta kasih? Karena hanya nafsu memen­tingkan diri pribadi sajalah yang akan mendatangkan pertentangan dan kesengsaraan. Kalau benar cinta, tidak mungkin mendatangkan kesengsaraan karena cinta adalah keindahan, kebenaran, kesucian, kekekalan! “Gak Bun Beng manusia busuk, bersiaplah untuk menerima hukumanmu!” Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring sekali. Bun Beng membuka matanya dan mengangkat muka memandang. Kiranya di tempat itu telah muncul tiga orang gadis dan tiga orang laki-laki yang semua telah memegang senjata, kecuali kakek lumpuh yang dia kenal sebagai kakek yang mengaku paman kakeknya, Sai-cu Lo-mo, bekas pembantu ibu Milana! Tiga orang dara itu bukan lain adalah Milana, Ang Siok Bi, dan Lu Kim Bwee yang mengeroyok kemarin. Dia terkejut dan cepat meloncat bangun ketika melihat Wan Keng In bersama mereka, dan seo­rang kakek yang mukanya mengerikan, muka yang rusak dan pakaiannya seperti pendeta. “Milana, apa artinya ini....?” Bun Beng berdiri tegak, memandang dara itu dengan sinar mata penuh duka dan bim­bang. “Manusia busuk, tidak perlu banyak cakap lagi!” Milana berseru dan pedang­nya sudah digerakkan menusuk dada Gak Bun Beng yang cepat mengelak sambil meloncat ke kiri. “Sing-sing-singgg....!” Pedang di tangan Siok Bi dan Kim Bwee menyambar, di­susul dengan kilatan pedang Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In. “Tranggg....!” Bun Beng terpaksa me­nangkis ketika melihat Pedang Iblis Lam­-mo-kiam menyambar demikian dahsyatnya. Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang Hok-mo-kiam bertemu de­ngan Lam-mo-kiam, dan Wan Keng In merasa betapa tangannya tergetar hebat. Dia menjadi marah sekali dan cepat dia menyerang dengan dahsyatnya, kini diban­tu oleh Koai-san-jin yang sudah menggerakkan tongkatnya, “Singgg.... wirrr.... siuuuttt!” Bun Beng terkejut bukan main. Dia sudah mengenal kelihaian Wan Keng In dan keampuhan pedang Lam-mo-kiam, akan tetapi kiranya tongkat di tangan kakek itu tidak kalah dahsyatnya! Kakek bermuka rusak itu ternyata memiliki sin-kang yang amat kuat, dan tongkat berke­pala naga menyambar dengan tenaga yang akan dapat menghancurkan batu karang. Maklumlah dia bahwa dua orang lawan ini, Wan Keng In dan Si Kakek Muka Buruk, merupakan dua orang lawan yang amat lihai dan yang harus dihadapinya dengan hati-hati. Sedangkan tiga orang dara itu, terutama sekali Siok Bi dan Kim Bwee, menyerang dengan nekat seperti orang-orang yang sudah siap untuk membunuh atau dibunuh! Betapapun juga, hanya Milana seorang yang membuat dia bingung dan tidak da­pat melawan dengan baik. Keroyokan mereka itu sebenarnya masih dapat diha­dapinya dan bahkan dia merasa masih sanggup meloloskan diri atau memperoleh kemenangan biarpun Wan Keng In dan pendeta muka buruk itu lihai bukan main. Akan tetapi adanya Milana di situ yang ikut mengeroyok benar-benar membuat dia bingung dan gugup. Dia menggunakan Hok-mo-kiam, akan tetapi dia selalu menjaga agar pedangnya itu jangan sam­pai menangkis pedang Milana, apalagi menyerang dara itu. Dia hanya menggu­nakan pedangnya untuk menjaga diri dari sambaran Lam-mo-kiam dan membalas hanya kepada Keng In dan Si Pendeta Muka Buruk. Dia pun tidak mau menye­rang Siok Bi dan Kim Bwee karena mak­lum bahwa kedua orang dara ini pun hanya menjadi korban orang jahat yang menyamar sebagai dia. “Milana, dengar dulu keteranganku! Nona Siok Bi dan Nona Kim Bwee, aku tidak bersalah....!” “Manusia hina!” Milana memaki dan pedangnya sudah menerjang dengan he­batnya dan karena Bun Beng tidak meng­gunakan Hok-mo-kiam menangkis, pedang­nya itu sibuk menangkis serangan Lam-­mo-kiam dan tongkat kakek muka buruk, maka elakannya masih belum cukup menghindarkan diri dan kembali pedang di tangan Milana telah berhasil melukai paha kirinya sehingga celana dan kulit pahanya robek dan berdarah. “Gak Bun Beng, kematian sudah di depan mata, tidak perlu banyak cerewet lagi!” Wan Keng In mengejek dan Lam-­mo-kiam di tangannya menyambar dah­syat, dengan bertubi-tubi menusuk dada dan membabat leher sedangkan dari belakang Bun Beng, tongkat kakek muka buruk menyambar ganas menyerang kedua kaki dan perut pemuda itu. “Wan Keng In.... aku ada pesanan dari ibumu....” “Wuuuuttt.... singgg.... tranggg!” Pedang Hok-mo-kiam sekali lagi membentur Lam-mo-kiam sampai hampir saja tubuh Keng In terpelanting.  “Desss!” Tongkat kepala naga itu ber­hasil menggebuk pinggang Bun Beng dari belakang. Biarpun Bun Beng sudah kebal tubuhnya oleh sin-kang gabungan yang dia terima dari Pendekar Super Sakti dan Bu-tek Siauw-jin, namun hantaman itu hebat bukan main sehingga Bun Beng muntahkan darah segar dari mulutnya. Hal ini bukan berarti bahwa dia terluka hebat karena sin-kang yang mujijat telah melindungi bagian dalam tubuhnya. Dia memutar tubuh dan membabatkan pedang Hok-mo-kiam, akan tetapi terpaksa me­narik kembali pedangnya itu karena meli­hat Milana sudah bergerak menyerangnya sehingga kalau pedangnya dia lanjutkan, tentu dia akan merusak pedang Milana! Kembali dia dikepung dengan ketat oleh lima orang itu yang seolah-olah telah berubah menjadi iblis-iblis yang haus darah! Diam-diam Bun Beng mengeluh. Dua orang itu, Wan Keng In dan Si Ka­kek Muka Buruk, terlampau lihai untuk ditandingi dengan setengah hati. Akan tetapi untuk melawan sungguh-sungguh, gerakannya terbatas oleh adanya Milana di situ dan dua orang gadis yang ikut mengeroyoknya. Kalau saja di situ tidak ada Wan Keng In dan Si Kakek Aneh, tentu ia dapat meloloskan diri, namun Wan Keng In dengan Lam-mo-kiam bukan main dahsyatnya, ditambah kakek yang menggerakkan tongkatnya secara lihai sekali. Sai-cu Lo-mo duduk di dekat guha dan menonton dengan alis berkerut dan muka kelihatan berduka sekali. Dia masih ham­pir tidak dapat percaya bahwa pemuda itu telah berubah menjadi seorang jai-­hwa-cat yang hina, akan tetapi saksi-­saksinya banyak. Tidak mungkin dua orang dara itu membohong, apalagi Milana! Hatinya seperti diremas-remas dan melihat jalannya pertandingan, hatinya makin perih lagi karena dia maklum bah­wa Bun Beng akan celaka hanya karena pemuda itu tidak mau melukai Milana dan dua orang gadis lain sehingga membuat gerakannya kacau dan terbatas sedangkan Wan Keng In dan kakek muka buruk itu demikian hebat gerakannya. Dugaan Sai-cu Lo-mo memang benar. Beberapa kali Bun Beng terpaksa meneri­ma tusukan pedang Milana dan dua orang gadis sehingga pakaiannya sudah penuh dengan darahnya sendiri. Melihat keadaan ini, lima orang pengeroyok itu menjadi makin ganas dan suatu saat, lima buah senjata mereka menyambar secara ber­bareng! “Haiiiihhhh....!” Suara melengking dari mulut Bun Beng ini membuat Siok Bi dan Kim Bwee terpelanting dan pedang Hok­-mo-kiam berhasil menangkis Lam-mo-­kiam dan membabat buntung tongkat kepala naga, akan tetapi kembali pedang Milana berhasil membacok pangkal lengannya di bahu kanan, membuat lengan kanannya setengah lumpuh dan tubuh Bun Beng terhuyung ke belakang! “Mampuslah!” Keng In berteriak girang dan menerjang maju, menggerakkan Lam­-mo-kiam membacok. “Cringgg....!” Bunga api berpijar dan Keng In meloncat mundur dengan kaget karena ada pedang lain yang sanggup menangkis pedang Lam-mo-kiam. Ternyata Kwi Hong sudah berdiri di situ dengan pedang Li-mo-kiam di tangan! Pantas saja pedang itu kuat menangkis Lam-mo-kiam, karena pedang itu adalah Pedang Iblis Betina yang sama ampuhnya dengan Pedang Iblis Jantan! “Wan Keng In manusia keparat! Milana dengarlah.... Gak Bun Beng tidak ber­salah....” “Giam Kwi Hong! Tentu saja engkau membela dia setelah engkau menjadi ke­kasihnya!” Milana berteriak penuh ke­marahan. “Ha-ha-ha, benar-benar pasangan yang amat cocok! Bun Beng adalah anak haram dari Si Datuk sesat Gak Liat, sedangkan Giam Kwi Hong adalah anak haram dari Si Perwira hina Giam Cu yang telah menjadi gila. Ha-ha-ha, keduanya anak haram, tentu saja saling membela apalagi setelah menjadi kekasih gelap!” “Keng In, mulutmu jahat!” Kwi Hong berteriak dan dengan Li-mo-kiam di ta­ngan dia menyerang Wan Keng In. Pemu­da Pulau Neraka ini cepat menangkis dengan pengerahan tenaga karena dia maklum bahwa gadis ini sama sekali ti­dak boleh dipandang ringan. Segera mere­ka bertanding, akan tetapi Kwi Hong terdesak ketika kakek muka buruk sudah maju membantu Keng In. Milana dan dua orang gadis yang merasa sakit hati kepada Bun Beng, sudah menerjang Bun Beng yang kini duduk bersila di atas tanah. Serangan-serangan mereka itu dia sambut dengan secara terpaksa menggu­nakan Hok-mo-kiam. “Trakk! Trakkk!” Pedang di tangan Siok Bi dan Kim Bwee patah-patah, ha­nya pedang Milana yang belum beradu dengan Hok-mo-kiam sehingga tidak rusak. Namun Siok Bi dan Kim Bwee yang sudah nekat itu terus menerjang dengan kepalan mereka! Terpaksa Bun Beng menangkis dengan lengan kirinya membalik­kan pedangnya agar tidak melukai dua orang dara itu, dan dalam menangkis pun dia tidak mengerahkan tenaga sehingga tidak sampai melukai lengan kedua orang gadis itu. Milana masih berusaha untuk menyerang dengan pedang, akan tetapi melihat betapa dua orang gadis itu mengeroyok Bun Beng sedemikian nekat sehingga ada bahaya pedangnya mengenai tubuh mereka sendiri, dia lalu membalik dan membantu Wan Keng In mengeroyok Kwi Hong! Kwi Hong sudah terluka oleh pedang Keng In dan tongkat kakek muka buruk, namun dia masih membela diri mati-­matian. Kini Milana maju, dan gadis ini juga amat lihai, maka tentu saja Kwi Hong menjadi makin payah dan dia hanya dapat menangkis sambil mundur terus, tanpa disadarinya bahwa dia mundur ke arah jurang yang berhadapan dengan guha. “Kwi Hong.... hati-hati belakangmu.... !” Bun Beng berteriak, akan tetapi terlambat. Tubuh Kwi Hong tergelincir ke belakang dan terdengar dara itu menjerit mengerikan ketika tubuhnya terjengkang dan lenyap ke dalam jurang. “Kwi Hong....!” Tubuh Bun Beng mencelat dengan kecepatan yang luar biasa, dan tahu-tahu pemuda ini pun sudah me­loncat ke dalam jurang, menyusul Kwi Hong! Milana terbelalak, dan semua orang menahan napas. Keng In dan kakek muka buruk menghampiri pinggir jurang dan menjenguk ke bawah. Hati Keng In puas sekali karena melihat jurang itu merupa­kan jurang yang dalamnya tak dapat diukur, bahkan tidak nampak dari bawah karena tertutup awan dan halimun! “Mereka tentu hancur di bawah sana,” kakek muka buruk berkata dengan suara­nya yang agak pelo. Milana memejamkan matanya yang terasa panas. Di dalam hatinya timbul dua perasaan, perasaan cemburu dan juga perasaan duka. Perbuatan terakhir dari Bun Beng benar-benar menyakitkan hatinya. Dalam saat terakhir pun Bun Beng membuktikan cinta kasihnya kepada Kwi Hong sehingga rela mati bersama gadis itu meloncat ke dalam jurang! Dua orang gadis, Siok Bi dan Kim Bwee, berdiri tegak di pinggir jurang, muka mereka pucat sekali. Setelah kini orang yang memperkosa itu terlempar ke dalam jurang dan sudah mesti tewas, hati mereka tidak karuan rasanya. Ada rasa duka, ada rasa sunyi, dan rasa ngeri bagaimana mereka harus menempuh hidup selanjutnya! Hasrat mereka sekarang hanya untuk pulang, untuk menyembunyikan diri! “Adik Milana, sekarang aku mau pu­lang!” Siok Bi berkata dengan suara mengandung isak, kemudian dia memba­likkan tubuh dan lari pergi meninggalkan tempat itu. “Aku pun pergi, adik Milana!” Kim Bwee juga berkata, suaranya lirih seperti orang berduka. Gadis ini pun segera lari pergi setelah sekali lagi dia melempar pandang ke arah jurang dengan sinar mata sayu penuh duka. Milana sendiri sedang tertekan batin­nya, maka dia hanya mengangguk. Pan­dang matanya masih ditujukan ke arah jurang dengan sinar mata kosong. Wan Keng In terbatuk-batuk untuk menyadarkan keadaan Milana. “Milana, manusia jahat itu telah tewas dan aku menyesal sekali bahwa Kwi Hong ikut tewas, akan tetapi agaknya lebih baik begitu untuk dia setelah dia terbujuk oleh manusia hina she Gak itu. Marilah kita sekarang pergi ke Pulau Es menemui ayahmu dan ibuku.” Milana terdesak kaget. “Ke.... ke.... Pulau Es....? Setelah terjadi hal ini?” Sai-cu Lo-mo berloncatan maju. Kedua mata kakek ini masih basah oleh air matanya yang bertitik ketika meli­hat betapa Bun Beng tadi meloncat ke dalam jurang. Semenjak pertandingan itu dimulai, dia merasa terharu sekali dan betapapun juga, dia tidak bisa membenci cucu keponakannya itu. Apa pun yang dituduhkan orang kepada cucunya itu, namun dengan mata kepala sendiri dia melihat betapa Bun Beng adalah seorang laki-laki sejati, yang tidak mau melukai Milana dan dua orang gadis lainnya, bah­kan yang dalam saat terakhir berusaha menolong Kwi Hong yang terlempar ke dalam jurang! Dia dapat menduga bahwa seorang yang memiliki kepandaian tinggi, dan kegagahan seperti Bun Beng, tidak mungkin membunuh diri, dan perbuatannya meloncat ke dalam jurang tadi tentu dengan maksud untuk menolong Kwi Hong. “Nona Milana, memang sebaiknya ka­lau Nona pergi menghadap orang tua Nona dan menceritakan semua peristiwa yang terjadi ini.” Ucapan Sai-cu Lo-mo ini mengandung harapan agar Pendekar Super Sakti sendiri yang akan menangani urusan ini, dan yang akan menentukan apakah hukuman yang dijatuhkan atas diri Bun Beng ini benar. Biarpun Bun Beng sudah tewas, akan tetapi namanya perlu dibersihkan, kalau memang hal itu mungkin. Milana memandang Sai-cu Lo-mo dan dua titik air mata menetes ke arah pipi­nya. “Kakek, aku.... aku takut kepada Ayah....” “Mengapa takut, Nona? Ceritakan saja apa yang telah terjadi.” “Bagaimana aku tidak akan takut? Enci Kwi Hong adalah keponakan dan murid Ayah....” Wan Keng In berkata, “Milana, sudah kukatakan tadi bahwa kematian Kwi Hong bukanlah karena senjata kita, melainkan karena tergelincir ke dalam jurang.” “Aku baru mau pergi kalau engkau ikut pula pergi, Bhok-kongkong.” Sai-cu Lo-mo mengangguk-angguk. “Baiklah, aku yang akan menjadi saksi agar engkau tidak dimarahi ayah bundamu Nona.” Maka berangkatlah empat orang itu, Milana, Sai-cu Lo-mo, Wan Keng In dan Koai-san-jin, ke utara untuk pergi ke Pulau Es. *** Tubuh Suma Han Pendekar Super Sak­ti kini menjadi agak gemuk dan mukanya kelihatan segar berseri. Dia benar-benar merasa seperti hidup baru bersama dua orang isterinya di Pulau Es. Biarpun me­reka seolah-olah hidup mengasingkan diri dari dunia ramai, namun hidup mereka penuh dengan cinta kasih diantara mereka! Memang, kalau hati sudah penuh cinta kasih, orang tidak membutuhkan apa-apa lagi, dan kalau hati selalu aman tenteram tubuh pun menjadi sehat! Juga di wajah kedua orang wanita cantik itu, Nirahai dan Lulu, membayang kebahagiaan yang membuat wajah mereka berseri dan segar kemerahan kedua pipinya seperti wajah dua orang gadis muda saja! Siang hari itu, Suma Han dan kedua orang isterinya berdiri di tepi pantai Pulau Es sebelah barat, memandang ke arah sebuah perahu yang meluncur cepat menuju ke Pulau Es, setelah perahu agak dekat dan mereka dapat mengenal dua di antara empat orang yang berada di dalam perahu, Nirahai dan Lulu berseru girang, “Milana....!” “Keng In....!” Suma Han diam saja dan pendekar ini merasa hatinya terusik oleh sesuatu yang tidak menyenangkan. Dia tidak melihat Bun Beng dan Kwi Hong. “Siapakah dua orang kakek itu?” Dia berkata perlahan seolah-olah bertanya kepada diri sendiri. “Seorang di antara mereka adalah Sai-­cu Lo-mo, bekas pembantuku,” kata Nirahai. “Kakek muka buruk itu entah siapa.” Lulu juga tidak mengenal kakek muka buruk yang tadinya dia kira Cui-beng Koai-ong akan tetapi setelah perahu ma­kin mendekat ternyata bukan. Setelah perahu menempel di pulau, empat orang itu melompat ke darat, Keng In segera lari dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Lulu sambil berseru, “Ibu....!” Bukan main girangnya hati ibu yang seolah-olah menemukan kembali anaknya ini ketika menyaksikan sikap Keng In. Dia memeluknya dan air matanya bercu­curan. Milana juga dipeluk oleh Nirahai, akan tetapi dara ini menangis dan menyembu­nyikan mukanya di dada ibunya. Sai-cu Lo-mo melompat maju dan duduk meng­hadapi Nirahai dan Suma Han, kemudian berkata, “Harap Taihiap dan Pangcu sudi memaafkan saya yang berani lancang mendatangi Pulau Es.” Nirahai menjawab. “Tidak mengapa Lo-mo. Kenapa kedua kakimu?” Sai-cu Lo-mo tersenyum. “Akibat pe­nyerbuan yang lalu, Pangcu.” “Totiang siapakah?” Suma Han berta­nya sambil memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik kepada Koai-san-jin yang masih berdiri sambil menundukkan mukanya. Wan Keng In segera menjawab, “Dia adalah Koai-san-jin, seorang pertapa yang telah banyak menolong dan membantu kami, terutama sekali ketika menghadapi Si Jahat Gak Bun Beng.” Terkejutlah Suma Han, Lulu, dan Ni­rahai mendengar kata-kata yang menye­but Gak Bun Beng penjahat ini. “Keng In! Apa maksud kata-katamu ini?” Lulu memegang pundak puteranya sambil memandang tajam. Juga Nirahai dan Suma Han menatap wajah pemuda itu. “Ibu, aku hanya membantu adik Milana, harap tanyakan kepadanya saja.” Tiga orang penghuni Pulau Es itu kini semua menoleh dan memandang kepada Milana yang masih menangis, bahkan kini dara itu menangis makin sedih sambil berlutut di atas salju. Suma Han yang dapat menduga bahwa tentu telah terjadi hal-hal yang hebat sekali, lalu berkata, “Mari kita semua masuk ke istana dan bicara di sana.” Tanpa berkata-kata, pergilah mereka semua ke istana di tengah pulau, dan Sai-cu Lo-mo berloncatan menggunakan kedua tangannya, dipandang dengan penuh iba oleh Nirahai, “Nanti akan kucoba mengobati kedua kakimu, Lo-mo,” kata­nya lirih dan kakek itu hanya mengang­guk dan tersenyum penuh terima kasih. Setelah tiba di ruangan dalam Istana Pulau Es dan mereka telah mengambil tempat duduk, Suma Han lalu berkata kepada Milana, “Sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi.” Dia berhenti sebentar dan mengerling ke arah Keng In dan Koai-san-jin yang hanya duduk sambil menunduk, kemudian disambungnya, “Dan di mana adanya Gak Bun Beng dan Giam Kwi Hong?” Milana turun dari tempat duduknya dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, menangis lagi. “Ayah, ampunkan saya....” Suma Han menarik napas panjang dan menyentuh rambut kepala puterinya itu. “Milana, bersikaplah tenang dan ceri­takan semua.” “Enci Kwi Hong dan.... dan.... Bun Beng telah tewas, Ayah....” Terdengar seruan kaget dari mulut Nirahai dan Lulu, dan kalau saja Suma Han tidak memiliki kekuatan batin yang luar biasa, dia pun tentu akan terkejut bukan main mendengar berita hebat ini. Sejenak suasana menjadi sunyi sekali, yang terdengar hanya isak Milana. “Ayah.... Ibu.... semua telah saya ceri­takan kepada Sai-cu Lo-mo, harap Bhok-­kongkong saja yang mewakili saya men­ceritakan kepada Ayah dan Ibu....” Suma Han dan Nirahai menoleh kepa­da kakek lumpuh itu dan Nirahai meng­angguk sambil berkata, “Lo-mo, cerita­kanlah apa yang telah terjadi.” Sai-cu Lo-mo segera menceritakan de­ngan singkat dan jelas, mengulang penu­turan Milana kepadanya, betapa Milana bertemu dengan anak buah Tiong-gi-pang, kemudian bertemu dengan dia dan betapa dara itu menceritakan semua kejahatan yang dilakukan Gak Bun Beng di Pulau Neraka, merayu dan mengajak berjina dara itu yang ditolaknya, kemudian beta­pa Milana menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Bun Beng berjina dengan Kwi Hong. Kemudian dia menceritakan munculnya dua orang dara yang juga menjadi korban perkosaan Gak Bun Beng dan betapa ketiga orang dara itu, kemudian dibantu oleh Wan Keng in dan Koai-san-jin, berhasil mengepung Bun Beng yang bersembunyi di dalam guha. Akhirnya dia menceritakan peristiwa yang disaksikannya sendiri ketika Kwi Hong membantu Bun Beng sehingga akhirnya kedua orang itu terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam dan diduga tentu sudah tewas. “Sungguh tidak kusangka....!” Terdengar Lulu memberi komentar setelah mendengar penuturan singkat kakek lum­puh itu. “Untung engkau masih dapat menjaga kehormatanmu, Milana!” Nirahai meme­luk anaknya. Suma Han duduk seperti arca kemudian menarik napas panjang. Penuturan itu sungguh tak disangkanya sama sekali, dan andaikata bukan kakek lumpuh itu yang mewakili Milana, agaknya akan sukar dapat dipercaya. Mungkinkah Bun Beng berubah menjadi sejahat itu? Dan Kwi Hong? Anak yang dididiknya sejak kecil? “Ibu, aku mendengar bahwa Gak Bun Beng adalah keturunan Gak Liat datuk kaum sesat yang jahat seperti iblis. Ti­daklah aneh kalau dia pun mewarisi watak ayahnya,” Wan Keng In menghentikan kata-katanya ketika sinar mata Suma Han menyambar seperti kilat ke arahnya. Sinar mata Pendekar Super Sak­ti itu seolah-olah halilintar menyambar dan agaknya pendekar itu dapat menje­nguk dan membaca semua yang terkan­dung di dalam hatinya! “Keng In, engkau adalah anakku juga dan aku ayahmu. Hayo ceritakan mengapa Milana sampai berada di Pulau Neraka?” Ditanya begini, seketika wajah Wan Keng In menjadi pucat. Melihat keadaan pemuda itu, Milana yang merasa bahwa Keng In kini telah berubah menjadi baik, bahkan telah membantunya mati-matian ketika menghadapi Bun Beng, segera ber­kata, “Ayah, karena tidak betah berada di istana di kota raja, saya pergi keluar, dan bertemu dengan dia. Saya menerima ajakannya untuk pergi ke Pulau Neraka.” Suma Han memandang wajah dara itu, Milana cepat menunduk karena dia pun tidak tahan melihat sinar mata yang se­olah-olah menembus dadanya itu. Lulu maklum betapa dahulu puteranya amat nakal, maka dia membentak, “Keng In! Hayo kauceritakan dengan terus te­rang. Seorang jantan harus berani menga­kui segala kesesatannya dan pengakuan itu sudah merupakan langkah pertama ke arah perbaikan!” Mendengar ini, Suma Han memandang Lulu dengan senyum di bibir dan meng­angguk-angguk. Wan Keng In segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayah tirinya itu dan berkata, “Tidak saya sangkal bahwa saya pernah jatuh cinta kepada Adik Milana. Akan tetapi setelah saya mendengar bahwa dia adalah saudara tiri saya, cinta itu berubah menjadi cinta seorang kakak, maka saya membantunya untuk mencari dan menghadapi Gak Bun Beng. Harap Ayah sudi mengampuni semua kesalahan saya.” Kembali pendekar besar itu menarik napas panjang. “Sudahlah....” katanya untuk menutupi rasa perih di dalam hatinya karena kematian Kwi Hong yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Kemudian dia menoleh kepada Sai-cu Lo-mo dan Koai-san-jin. “Lo-mo, sebagai bekas pembantu iste­ri saya, bukanlah orang luar dan saya mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu. Juga kepada Koai-san-jin Totiang, sebagai seorang tamu kami, saya menghaturkan terima kasih. Ji-wi (Anda Berdua) kami persilakan untuk tinggal di sini selama tiga hari, setelah itu akan kami antar kembali ke darat.” Dua orang kakek itu menghaturkan terima kasih dan mereka masing-masing memperoleh sebuah kamar di dalam Istana Pulau Es itu sebagai tamu-tamu. Akan tetapi karena di istana kuno itu tidak terdapat pelayan, maka tentu saja penyambutan pihak penghuni istana juga amat bersahaja. Betapapun juga Nirahai dan Lulu yang masing-masing merasa amat berbahagia karena anak mereka telah datang dengan selamat, mempersiapkan perjamuan makan dan membuat masakan-masakan dari bahan yang memang banyak disediakan di pulau itu, kemudian di malam hari itu, sebagai pe­rayaan kembalinya anak-anak mereka, mereka menjamu dua orang tamu itu dengan masakan dan arak. Ketika sore hari tadi, selagi Nirahai, Milana dan Lulu sibuk di dapur mempersiapkan masakan diam-diam Wan Keng In pergi ke dalam kamar Koai-san-jin dan mereka berdua bicara dengan bisik-bisik, kelihatan serius sekali. Kurang lebih satu jam lamanya dua orang ini bicara bisik-­bisik, kemudian Wan Keng In meninggalkan kamar itu dan pergi ke dapur untuk membantu tiga orang wanita yang sibuk mempersiapkan masakan-masakan. Malam itu perjamuan sederhana dila­kukan dengan cukup meriah. Bahkan Suma Han kelihatan gembira dan berseri wajah­nya. Agaknya pendekar ini telah melupa­kan kedukaan hatinya karena kematian Kwi Hong, dan agaknya melihat kedua orang isterinya bergembira, dia pun ikut gembira. Setelah perjamuan selesai yang dilanjutkan dengan omong-omong, mereka semua pergi beristirahat di kamar masing masing. Sebentar saja keadaan menjadi sunyi, agaknya semua orang kebanyakan minum arak sehingga dapat segera tidur dengan nyenyak. Akan tetapi, pada keesokan harinya, terjadilah hal yang amat luar biasa. Pen­dekar Super Sakti Suma Han, Nirahai, Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo keluar dari kamar dan berjalan dengan sinar mata kosong! Sai-cu Lo-mo juga berlon­catan dengan alis berkerut dan mata bingung, mulutnya tiada hentinya berta­nya. “Di mana aku? Apa yang terjadi? Di mana ini?” Keluarga Pendekar Super Sakti, kecuali Wan Keng In, juga saling pandang dengan mata kosong seolah-olah tidak saling mengenal lagi. Mereka lalu duduk di atas kursi dan termenung! Mereka telah kehilangan ingatan! Wan Keng In dan Koai-san-jin saling memandang dan tersenyum lebar, mem­buat wajah Wan Keng In makin tampan akan tetapi wajah kakek itu menjadi makin buruk! “Bagus sekali, Wan-taihiap! Racun perampas ingatan itu benar-benar menga­gumkan sekali!” Koai-san-jin berkata memuji. “Racun ini adalah buatan Suhu Cui­-beng Koai-ong, tentu saja hebat!” Keng In berkata, “Sekarang, apa yang hendak kaulakukan terhadap mereka, Bhong-koksu?” “Heh-heh-heh, aku sudah bukan Koksu lagi, melainkan seorang tua bertubuh rusak seperti setan yang hanya ingin me­laksanakan pembalasan dendamku. Serah­kan saja Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai kepadaku, Wan-taihiap, dan yang lain-lain terserah kepadamu.” “Bagus, memang begitulah kehendakku. Aku tidak peduli apa yang akan kaulaku­kan terhadap diri mereka berdua. Aku akan membawa ibuku dan Milana ke Pulau Neraka.” “Dan Si Lumpuh Sai-cu Lo-mo....” “Dia? Ha-ha, orang sudah lumpuh be­gitu untuk apa? Bunuh saja atau tinggalkan sendiri di sini!” Mereka berdua tertawa bergelak, gembira karena mereka telah berhasil menundukkan pendekar yang paling hebat di dunia ini. Pendekar Super Sakti bersa­ma isteri-isterinya yang sakti! Sambil tersenyum-senyum mereka berdua lalu memasuki ruangan di mana Suma Han, Nirahai, Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo duduk di kursi dengan sinar mata kosong.  “Suma Han dan Puteri Nirahai, mari­lah kalian ikut bersamaku. Ada urusan penting sekali yang akan kusampaikan kepadamu!” berkata Koai-san-jin kepada Suma Han dan Nirahai. Kedua orang ini memandang kepada kakek buruk itu de­ngan bingung dan biarpun mereka bangkit berdiri, namun agaknya mereka ragu-ragu. “Lihat, aku adalah Koai-san-jin, saha­bat baik kalian! Mari kalian ikut bersa­maku untuk mengambil pusaka Pulau Es yang disimpan di sana!” Kakek itu menuding ke luar. “Pusaka Pulau Es....?” Suma Han menggumam, kemudian dia melangkah bersama Nirahai mengikuti kakek muka buruk yang mendahului mereka keluar dari istana menuju ke bagian yang paling tinggi dari pulau itu, di sebuah tebing di pantai yang amat curam. Suami pen­dekar itu mengikuti kakek muka buruk dengan gerakan seperti mayat-mayat hidup! *** Kita tinggalkan dulu keadaan Pulau Es yang menegangkan karena bahaya maut yang mengancam keluarga Pendekar Super Sakti, dan mari kita melihat bagai­mana dengan keadaan Giam Kwi Hong dan Gak Bun Beng, dua orang muda yang terjungkal ke dalam jurang yang amat curam itu. Benarkah dugaan Milana bahwa karena cintanya kepada Kwi Hong, Gak Bun Beng sengaja meloncat untuk membunuh diri mengikuti kematian Kwi Hong? Tentu saja sama sekali tidak begitu! Ketika Bun Beng yang sudah terluka itu melihat Kwi Hong datang menolong­nya dan membelanya, dia merasa terharu dan berterima kasih sekali kepada nona ini. Akan tetapi dapat dibayangkan beta­pa kaget hatinya ketika dia melihat Kwi Hong terdesak hebat dan biarpun dia sudah berteriak memberi peringatan, na­mun terlambat dan tubuh dara itu ter­jengkang masuk ke dalam jurang yang amat curam Bun Beng cepat melompat dan terjun ke dalam jurang dengan niat untuk sedapat mungkin menolong gadis itu. Lompatan Bun Beng yang amat cepat itu, membuat ia berhasil menyusul tubuh Kwi Hong. Dengan lengan kirinya dia menyambar tubuh itu dan berhasil me­rangkul pinggang gadis itu yang sudah menjadi hampir pingsan karena merasa ngeri terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam itu. Kini tubuh keduanya meluncur ke bawah dengan kecepatan yang mengerikan, Kwi Hong menjadi pingsan ketika pandang matanya menjadi gelap oleh kabut yang menyambutnya di waktu tubuh mereka meluncur ke bawah. Akan tetapi, gadis ini tetap memegang gagang Li-mo-kiam dengan erat dan seolah-olah tangan kanannya menjadi kaku mencengkeram gagang pedangnya. Biarpun lengan kirinya memeluk ping­gang Kwi Hong dan lengan kanannya sudah setengah lumpuh oleh luka besar di pangkal lengan, namun tangan kanan Bun Beng masih tetap memegang Hok­-mo-kiam dan pikirannya masih terang. Dia maklum bahwa kalau dia tidak mam­pu menahan luncuran tubuh mereka ber­dua, mereka tentu akan terbanting ke dasar jurang yang amat dalam dan tidak mungkin lagi dia menyelamatkan nyawa Kwi Hong atau nyawanya sendiri. Betapa pun kuatnya, tubuhnya dan tubuh Kwi Hong tentu akan terbanting remuk. Maka mulailah dia menggerak-gerakkan pedang di tangan kanannya, menusuk ke kanan kiri secara ngawur karena kanan kirinya gelap bukan main. Kalau belum tiba saatnya untuk mati, betapapun hebat bahaya mengancam nya­wa seseorang, ada saja jalannya untuk menyelamatkan diri. Bun Beng yang menusuk-nusukkan pedangnya itu, tiba-tiba mengerahkan tenaga karena pedang­nya menusuk benda keras di sebelah kanannya dan mukanya terasa perih seperti dicambuk. Cepat dia mengumpulkan tena­ga di lengan kanannya dan menggerakkan kedua kakinya untuk menahan luncuran tubuh. Lengannya terasa seperti akan terlepas dari pundak, nyeri bukan main sampai mulutnya mengeluarkan teriakan merintih panjang ketika cengkeraman pada gagang pedangnya itu menghentikan luncuran tubuhnya yang diganduli tubuh Kwi Hong. Ketika ia sudah dapat mengatasi rasa nyeri yang seolah-olah merobek seluruh tubuhnya, Bun Beng melihat bahwa tu­buhnya berada di dalam sebuah pohon yang tumbuh di dinding jurang dan pedang Hok-mo-kiam tadi secara kebetulan sekali telah dapat menancap di batang pohon itu. Timbul seketika harapannya untuk hidup. Dia mengangkat tubuh yang tadi dikempitnya itu ke atas pundak, menggunakan tangan kirinya untuk meng­ambil pedang Li-mo-kiam yang masih tergenggam oleh tangan kanan dara itu, kemudian dia mencari dahan yang cukup besar untuk duduk dan mengatur napas. Pedang Hok-mo-kiam dia biarkan menancap dan menembus batang pohon itu, bahkan kini dia menancapkan Li-mo-kiam di dahan agar jangan jatuh ke bawah. Ketika dia memandang ke bawah, dia memejamkan matanya penuh kengerian. Kini tampak dasar jurang itu yang meru­pakan sungai atau bekas sungai dangkal, penuh dengan batu-batu yang besar. Ten­tu tubuhnya dan tubuh Kwi Hong akan hancur kalau jatuh ke bawah sana! Me­mandang ke atas hanya tampak awan menutupi puncak tebing jurang. Akan tetapi dinding jurang itu ternyata banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil dan batu-batu menonjol sehingga memungkinkan orang untuk memanjat ke atas! Bun Beng memangku Kwi Hong yang masih pingsan. Tak lama kemudian dara itu mengeluh panjang dan membuka matanya. Sebelum dia bergerak, Bun Beng cepat memegang kedua lengannya dan berkata, “Kwi Hong, jangan bergerak! Kita masih hidup, tertolong oleh pohon yang tumbuh di dinding jurang ini. Te­nanglah, kita masih mempunyai harapan besar untuk keluar dari bahaya!” Kwi Hong membelalakkan matanya, memegang dahan pohon dan menekan perasaannya yang ngeri kalau dia teringat betapa tadi dia terjerumus ke dalam ju­rang! Tahulah dia begitu melihat Bun Beng bahwa pemuda ini yang menolong­nya! Dia memandang ke bawah dan seperti yang dilakukan Bun Beng tadi, dia meme­jamkan mata, kemudian memandang ke atas, lalu kembali memandang Bun Beng dan menarik napas panjang. Dengan suara halus dia berkata, “Kembali engkau telah menyelamatkan nyawaku. Aku melihat engkau tadi meloncat mengejarku. Gak Bun Beng, mengapa engkau rela memper­taruhkan nyawamu untuk menolongku?” Sepasang mata itu menatap wajah Bun Beng dengan penuh perhatian, dengan tajam sekali seolah-olah hendak membuka dada menjenguk isi hati pemuda itu. “Ah, mengapa engkau masih bertanya, Kwi Hong? Tentu saja aku akan menolong siapa yang terancam bahaya. Engkau sen­diri tanpa mempedulikan lawan yang lihai dan banyak jumlahnya, telah membela aku di atas tadi.” Kwi Hong lalu menarik napas panjang, kemudian berkata, suaranya bernada sedih, “Tentu saja begitu.... mengapa aku me­nyangka yang bukan-bukan? Tentu saja engkau menolongku bukan karena engkau.... cinta padaku....” Gadis itu meme­jamkan kedua matanya dan mengerutkan alisnya. Bun Beng menyentuh lengannya, “Kwi Hong.... apa artinya kata-katamu itu?” Tanpa membuka matanya Kwi Hong menjawab lirih, “Artinya, Bun Beng.... bahwa semenjak dahulu aku jatuh cinta kepadamu biarpun aku maklum bahwa hal ini tidak mungkin dilanjutkan, bahwa eng­kau mencinta Milana dan.... aku pun men­jadi korban cintaku yang sepihak itu....” Kwi Hong lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa dia telah tertipu oleh rombongan Koksu sehingga membantu mereka dan setelah para pemberontak kalah, dia bahkan mengajak Koksu dan kaki tangannya itu ke Pulau Es! Betapa kemudian pamannya datang bersama kedua orang isteri pamannya, Puteri Nira­hai dan Lulu, dan betapa Koksu dan kaki tangannya dapat dikalahkan oleh paman­nya dan diusir dari Pulau Es. Kemudian dia disuruh oleh pamannya untuk mendari Bun Beng dan Milana. “Engkau.... engkau telah dijodohkan dengan Milana....” Bun Beng termenung. “Akan tetapi.... mengapa Milana bersikap seperti itu?” “Agaknya aku mengerti apa yang telah terjadi,” Kwi Hong menarik napas panjang “Semua gara-gara Si Jahanam Wan Keng In. Orang itu benar-benar amat jahat sekali, melebihi iblis!” Dia lalu menceritakan betapa ia men­dengar bahwa Milana diculik orang. Dia menduga bahwa tentu Wan Keng In yang menculiknya, maka dia menyusul ke Pu­lau Neraka. “Kembali aku tertipu oleh Wan Keng In, dan.... dan.... di Pulau Neraka.... aihh....” Tiba-tiba Kwi Hong menangis tersedu-­sedu, teringat betapa dia telah menyerahkan diri dengan suka rela, penuh kemesraan, penuh kehangatan dan kebahagiaan, kepada Wan Keng In yang di­sangkanya adalah Gak Bun Beng! “Kenapa Kwi Hong? Apa yang terja­di....?” Diceritakanlah semua secara terus terang oleh Kwi Hong, betapa di tengah jalan dia diberi racun perampas ingatan oleh Keng In, kemudian betapa pemuda Pulau Neraka itu menyamar sebagai Bun Beng dan merayunya sehingga dia menye­rahkan diri dan kehormatannya! “Tadinya aku tidak tahu sama sekali bahwa ingatanku telah hilang sehingga aku menganggap bahwa orang yang ber­samaku pergi ke Pulau Neraka adalah.... engkau.... dan setelah tiba di Pulau Ne­raka, baru aku sadar namun.... sudah ter­lambat....! Aku melihat Milana juga te­rampas ingatannya, Milana melihat betapa aku ber.... bermain cinta, berjina dengan.... Gak Bun Beng yang sebetulnya adalah Wan Keng In.... semua telah diatur oleh Keng In agar Milana membencimu! Ketika Keng In muncul yang disangka engkau oleh Milana, Milana menyerangnya. Dia lari ketika kau datang.... kami mengejar dan berpisah di daratan....” Bun Beng bengong memandang Kwi Hong. Melihat Kwi Hong menangis lagi terisak-isak, menjadi terharu sekali dan merangkul pundak gadis itu. “Kwi Hong.... mengapa kaulakukan itu....? Mengapa kau begitu mudah menye­rahkan diri kepada seorang pria, biarpun kau mengira pria itu aku orangnya?” Kwi Hong mengangkat mukanya yang merah dan basah air mata. “Karena aku cinta kepadamu, Bun Beng. Karena aku tahu bahwa tak mungkin menjadi isterimu karena engkau telah dijodohkan dengan Milana. Maka aku rela menyerahkan diri­ku kepadamu.... biarpun tidak usah menjadi isterimu.... akan tetapi.... ya Tuhan, kiranya bukan engkau itu, melainkan Si Jahanam Keng In.” Tiba-tiba matanya terbelalak lebar dan berseru penuh sema­ngat, “Aku harus membunuhnya! Harus!” Bun Beng menundukkan mukanya. Mengertilah dia sekarang. Dengan menggu­nakan obat racun perampas ingatan, Wan Keng In telah memperkosa Kwi Hong, kemudian dia pun meracuni Milana sehingga dara itu kehilangan ingatannya pula, maka mudah saja Milana tertipu ketika melihat Keng In dan Kwi Hong bermain cinta, mengira bahwa Keng In adalah dia sendiri sehingga Milana mem­bencinya setengah mati! Dan dia dapat menduga sekarang bahwa yang membunuh suami isteri di pinggir telaga setelah memperkosa isteri itu, tentu bukan lain adalah Wan Keng In pula! Juga yang memperkosa Lu Kim Bwee dan menggu­nakan namanya, tentu pemuda itu yang agaknya amat membencinya dan sengaja memalsukan namanya untuk merusak na­ma baiknya. Hanya dia tidak mengerti mengapa Ang Siok Bi puteri Ketua Bu-tong-pai itu pun ikut membencinya? Dan kakek bermuka buruk itu? Semua ini ada­lah siasat Wan Keng In. Mengapa Wan Keng In demikian membencinya? “Sungguh heran sekali, mengapa dia begitu membenciku? Mengapa sejak dahu­lu Wan Keng In memusuhi aku dan kini berusaha mati-matian untuk merusak namaku?” “Apakah engkau belum dapat mengerti Bun Beng? Dia membencimu karena cem­buru. Dia jatuh cinta kepada Milana, sebaliknya Milana tidak melayaninya karena Milana cinta kepadamu. Itulah sebabnya.” Bun Beng menggeleng-geleng kepala­nya dan seperti berkata kepada diri sendiri dia berkata. “Cinta....! Betapa ganjil orang yang terkena penyakit ini! Wan Keng In rela melakukan perbuatan yang amat keji, memperkosa, membunuh, untuk merusak namaku gara-gara cembu­ru dan katanya dia mencinta! Engkau sendiri sampai rela menyerahkan diri dan kehormatan, juga karena cinta! Milana sekarang amat membenciku, siap untuk membunuhku dengan tangannya sendiri, juga gara-gara benci yang timbul dari cinta! Benarkah semua itu adalah cinta? Begitu buruk, begitu keji dan hinakah cinta yang diagung-agungkan itu? Atau semua itu sesungguhnya hanya nafsu be­laka yang memakai kedok cinta sehingga bukanlah cinta yang sesungguhnya?” “Gak Bun Beng, engkau sendiri, bu­kankah engkau mencinta Milana?” Kwi Hong bertanya karena ucapan-ucapan orang yang dicintanya itu benar-benar mendatangkan kesan di dasar hatinya. Bun Beng menarik napas panjang. “Setelah menyaksikan semua peristiwa yang terjadi karena perasaan apa yang disebut cinta, semua kekacauan, pertentangan, permusuhan, penderitaan, yang timbul karena hal yang dinamakan cinta itu, aku sendiri menjadi bingung dan tidak berani mengatakan apakah aku benar-benar cinta kepada Milana atau kepada siapapun juga. Aku merasa ngeri kalau ternyata kemu­dian bahwa cintaku kepada Milana ternyata sama saja nilainya seperti cinta­-cinta mereka itu! Betapa mengerikan! Aku akan merasa jijik kepada diriku sen­diri kalau cintaku hanya seperti itu! Kwi Hong, aku tidak tahu lagi! Sudahlah, tak perlu kita tenggelam lebih dalam membicarakan urusan cinta yang sulit ini. Yang membuat aku tidak mengerti, mengapa puteri Ketua Bu-tong-pai ikut-­ikutan memusuhi aku? Dan pula kakek muka buruk itu....!” “Aku sendiri tidak tahu mengapa gadis-gadis itu memusuhimu. Agaknya juga menjadi korban Wan Keng In yang meng­gunakan namamu. Akan tetapi kakek itu.... hemmm, apakah engkau tak dapat men­duganya dia siapa?” “Siapakah dia?” “Aku berani bertaruh bahwa dia itu tentu Bhong Ji Kun!” “Koksu....?” Bun Beng terbelalak, ke­mudian mengingat-ingat dan mengangguk. “Kau benar! Sekarang aku ingat akan gerakan-gerakannya! Akan tetapi mukanya.... mengapa menjadi seperti itu?” “Ketika Koksu dan anak buahnya di­usir oleh paman meninggalkan Pulau Es, mereka menggunakan perahu besar mere­ka ke selatan. Agaknya perahu mereka diserang badai, dan dengan bantuan Wan Keng In sehingga aku makin mudah ter­bujuk dan tertipu olehnya, aku berhasil membunuh tiga orang pembantunya yang berhasil menyelamatkan diri di pantai Po-hai. Aku tidak melihat Koksu di anta­ra mereka, agaknya Koksu pun berhasil menyelamatkan diri di tempat lain, akan tetapi.... dalam keadaan rusak mukanya seperti itu.” Bun Beng memandang Kwi Hong dengan muka membayangkan kekhawatiran. “Dan Milana berada bersama Keng In dan Koksu!”  “Memang berbahaya sekali. Kalau ti­dak segera mendapat pertolongan, tentu Milana akan celaka,” kata Kwi Hong. “Kalau begitu kita tunggu apalagi Kwi Hong, mari kita mencoba memanjat ke atas dengan bantuan pedang kita.” Kwi Hong mengangguk, akan tetapi sebelum Bun Beng mulai merayap mem­buka jalan, dia memegang lengan pemuda itu. “Pundakmu terluka parah....” “Tidak apa, aku dapat bertahan.” “Bun Beng....” “Ada apa, Kwi Hong?” “Tadinya aku sudah bersumpah di da­lam hatiku sendiri bahwa aku tidak akan kembali ke Pulau Es. Sekarang, bersama­mu dan melihat perkembangannya, mau tidak mau iku harus kembali ke sana karena aku menduga bahwa tentu Keng In melanjutkan siasatnya dan mengajak Milana ke Pulau Es. Karena itu, Bun Beng, maukah engkau berjanji....?” Bun Beng mengerutkan alisnya. Gadis ini telah mengalami hal yang amat me­nyedihkan. “Katakanlah, aku akan memenuhi permintaanmu, Kwi Hong.” “Aku tahu bahwa tidak mungkin aku menjadi jodohmu, karena itu, aku hanya minta agar kelak, baik aku dalam keada­an hidup atau sudah mati, sukakah eng­kau berjanji akan.... akan selalu ingat kepadaku, dan tidak akan melupakan aku?” Bun Beng merasa jantungnya seperti ditusuk. Gadis yang telah tertimpa mala­petaka hebat ini yang agaknya sudah tidak mempunyai gairah hidup, tidak memiliki harapan apa-apa lagi di dunia dan kebahagiaannya sudah hancur, agaknya menjadi seperti seorang anak kecil! Dengan penuh keharuan dia memegang kedua tangan dara itu. Lalu menunduk dan mencium dahi Kwi Hong sambil berbisik, “Aku berjanji, Kwi Hong, bahwa aku akan mengingatmu selalu. Mana mungkin aku dapat melupakanmu, Kwi Hong?” Terdengar sedu sedan naik dari dada gadis itu, akan tetapi dia tersenyum, wajahnya berseri dan matanya berkejap-­kejap untuk mengusir dua butir air mata yang mengganggu penglihatannya. “Engkau baik sekali, Bun Beng. Terima kasih....! Nah, mari kita lekas memanjat naik, tunggu apa lagi?” Dalam suara Kwi Hong kini terkandung kegairahan yang aneh, seolah-olah janji yang diberikan oleh Bun Beng untuk selalu mengingatnya menjadi semacam obat dalam kegelapan yang dihadapinya! Maka merayap dan memanjatlah kedua orang itu ke atas dengan hati-hati sekali, berpegang pada akar-akar dan batang-­batang pohon dan batu-batu menonjol, dibantu oleh pedang mereka yang dapat ditancapkan pada dinding jurang sehingga dapat dipergunakan sebagai pegangan. Karena keduanya telah memiliki gin-kang yang tinggi, dan di tangan mereka ter­dapat sebatang pedang pusaka yang amat ampuh, maka biarpun amat lambat, perlahan-lahan mereka dapat naik juga meninggalkan pohon penolong mereka itu untuk menuju ke puncak tebing dari mana mereka tadi meluncur jatuh. Tebing di atas pantai Pulau Es itu amat curam. Dari tepi tebing itu kalau orang menjenguk ke bawah akan tampak gelombang memecah di batu-batu karang yang meruncing seperti barisan tombak. Dan dalamnya tebing ini tidak kurang dari seribu kaki. Gelombang air laut yang memecah batu karang itu dari atas hanya kelihatan seperti mainan kanak-kanak saja, Suma Han dah Nirahai berdiri di tepi tebing itu tanpa bergerak, seperti dua buah arca batu, menghadap ke laut. Namun, kakek bermuka setan, Koa-san-­jin, biarpun memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak berani mendorong mereka dari belakang, karena dia maklum bahwa biarpun kedua orang suami isteri itu da­lam keadaan hilang ingatan, namun mereka itu masih tidak kehilangan ilmu kepandaian mereka yang sudah mendarah daging dan kalau sampai gagal, tentu dia akan menghadapi kesulitan besar. Tanpa bicara, dikeluarkannya dua gulung tali panjang sekali yang memang sudah dipersiapkan lebih dulu untuk me­laksanakan siasat yang sudah direncanakannya bersama Keng In. Ujung kedua tali diikatkannya pada batu karang yang berada di puncak tebing, kemudian kedua tali itu dilepas gulungannya dan dilempar ke bawah tebing. Kedua tali yang panjang itu kurang lebih hanya tiga ratus kaki panjangnya, tampak tergantung di bawah dan bergoyang-goyang terbawa angin. “Suma Han dan Nirahai, kalian adalah majikan-majikan Pulau Es. Pusaka-pusaka Pulau Es berada di dinding tebing ini, kira-kira tiga ratus kaki dalamnya dari atas, tersembunyi di dalam sebuah guha. Sekarang turunlah kalian melalui tali-tali itu dan bawa peti berisi pusaka-pusaka itu ke atas sini.” “Pusaka....?” Suma Han berkata meragu. “Majikan Pulau Es....?” Nirahai juga berkata dan mengerutkan alisnya. “Lekas kalian menuruni tali itu kalau tidak, tentu pusaka itu akan diambil orang lain yang akan memanjat dari ba­wah sana. Aku akan menjaga di atas dan menjamin agar tidak ada orang yang mengganggu pekerjaan kalian.” “Kau.... kau siapakah....?” “Ha-ha-ha, aku adalah sahabat baik kalian. Namaku Bhong Ji Kun!” Kakek itu yang sebetulnya memang bekas Koksu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dengan berani memperkenalkan namanya. Menga­pa tidak berani? Sekarang dia tidak perlu menyembunyikan dirinya lagi, karena tetap saja Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai tidak akan mengenal nama lamanya itu. Suma Han dan Nirahai mengangguk dan keduanya lalu meloncat, menyambar tali dan mulai merayap turun melalui tali-tali itu. Bhong Ji Kun yang sudah berjongkok di tebing dan menjenguk ke bawah, tersenyum lebar. Makin jauh kedua orang itu merayap, senyumnya makin melebar dan akhirnya dia tertawa bergelak, menggunakan sebatang golok di tangan kanan untuk membacok tali yang tergantung ke bawah. Dan dua buah tali itu putus dan lenyap ke bawah tebing “Ha-ha-ha! Puas hatiku sekarang, telah dapat membalas dendam kepada Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai, ha-ha-ha!” Sekali lagi dia menjenguk dan tidak meli­hat dua orang korbannya karena terlalu dalam, tampak olehnya dua helai tali itu seperti benang kecil di antara gulungan ombak. Dia tertawa lagi kemudian berlari-lari menuju ke istana Pulau Es. Ketika dia tiba di istana tua itu, dia melihat Keng In sedang sibuk berkemas, membawa barang-barang berharga yang dapat dia temukan di istana itu ke dalam sebuah perahu. Milana dan Lulu berdiri bengong, seperti dua orang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. “Ibu, Milana, ini adalah....” “Bhong Ji Kun, sahabat baik, heh-heh!” Bekas koksu itu menyambung dan Keng In juga tertawa karena dia tahu bahwa kini sudah “aman” untuk memperkenalkan kakek itu. Lulu dan Milana memandang kepada kakek bermuka buruk itu, kelihatan ngeri membayang di wajah mereka. “Bagaimana? Sudah bereskah mereka?” Keng In bertanya. Bhong Ji Kun tersenyum menyeringai puas. “Sudah, berkat kecerdikanmu, Wan­-taihiap. Terima kasih! Mereka sudah ter­banting ke bawah tebing, heh-heh!” “Hemm, tidak kaubereskan dengan kedua tangan sendiri? Apakah sudah kau­lihat benar bahwa mereka itu sudah tewas?” Keng In mengerutkan alisnya karena biarpun yakin bahwa Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai tak berdaya oleh racun perampas ingatan, namun kedua orang itu terlampau lihai untuk dipandang rendah begitu saja. “Jangan khawatir. Mereka sedang ber­gantung di tali dan kedua tali itu kupu­tus dengan golokku sendiri. Kulihat tali itu sudah berada di antara ombak di bawah. Mereka tentu tak dapat terbang menghindarkan maut.” “Hemm, betapapun juga, mari kita lekas pergi dari tempat ini, Seng-jin. Aku merasa ngeri berada di tempat ini terlalu lama.” “Aahh, Wan-taihiap. Takut apa lagi sih? Setelah Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai mati....” “Bhong Ji Kun pemberontak keparat! Kau bilang apa?” Tiba-tiba tampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri Giam Kwi Hong dan Gak Bun Beng! Ketika bekas Koksu itu mendengar bentakan Bun Beng ini, dia terkejut seka­li. Rahasianya sudah diketahui orang, dan dia terkejut melihat pemuda dan gadis yang sudah terjerumus ke dalam jurang sedemikian dalamnya, ternyata belum mati dan tahu-tahu muncul di tempat itu, juga Wan Keng In berdiri memandang dengan mata terbelalak dan bulu tengkuk bangun berdiri saking seremnya. Apakah dia melihat roh penasaran dari dua orang itu? Akan tetapi berkelebatnya sinar pedang Hok-mo-kiam di tangan Bun Beng dan pedang di tangan Kwi Hong membuktikan bahwa dia tidak ber­hadapan dengan setan penasaran sehingga cepat Keng In mencabut Lam-mo-kiam sambil melompat mundur, sedangkan Bhong Ji Kun yang diserang oleh Bun Beng juga sudah meloncat ke belakang menyambar tongkatnya yang ujungnya sudah buntung dan yang tadi ia tancapkan di atas tanah. Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring yang amat dahsyat dan ada angin menyambar ke arah Bun Beng dan Kwi Hong. Dua orang muda ini terkejut bukan main, cepat mereka menarik kembali pedang dan meloncat mundur. Dua ba­yangan berkelebat dan.... di situ telah berdiri Suma Han dan Nirahai dengan sikap angker! Suma Han menghampiri Milana dan Lulu, menggunakan telapak tangannya mengusap kepala kedua orang itu dan bagaikan orang baru sadar dari tidur, Lulu memandang ke sekeliling de­ngan heran, sedangkan Milana juga mengeluh, “Ehh.... apa yang telah terjadi....?” Sementara itu, kedua kaki Bhong Ji Kun menggigil dan matanya melotot se­perti akan terloncat keluar dari pelupuk matanya. Ketika Keng In memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kemarahan, kakek ini hanya menggeleng-geleng kepala seperti orang bodoh, mulutnya ternganga, dan dia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun saking bingung dan herannya. Tentu saja, baik Keng In maupun Bhong Ji Kun sama sekali tidak tahu bahwa semua kejadian di pagi hari itu adalah hasil dari ilmu sihir Pendekar Super Sakti! Tidaklah mudah untuk meni­pu seorang berilmu tinggi seperti Suma Han! Pendekar ini sudah menaruh curiga dan berlaku hati-hati sekali. Ketika me­reka makan minum, pendekar ini telah menggunakan sihirnya sehingga dalam pandangan Wan Keng In dan kakek muka buruk, dia dan Nirahai ikut pula makan minum, padahal dia dan isterinya itu sama sekali tidak menjamah makanan dan minuman dalam perjamuan itu. Suma Han sengaja membiarkan Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo ikut makan minum agar tidak mencurigakan kedua orang yang dicurigai itu. Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hatinya ketika pada keesokan harinya dia melihat Milana, Lulu dan Sai-cu Lo-mo menjadi seperti boneka-boneka hidup, kehilangan ingatan mereka! Maka dia dan Nirahai lalu ber­sandiwara, pura-pura berada dalam keadaan lupa ingatan seperti yang lain dan menurut saja ketika kakek muka buruk mengajak mereka ke atas tebing di pan­tai yang berbahaya itu. Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun bukan­lah seorang bodoh, dan sekiranya dia tidak mudah merasa girang dan yakin akan berhasilnya obat racun perampas ingatan dari Pulau Neraka, agaknya dia pun tidak begitu mudah dipengaruhi oleh kekuatan sihir yang dipergunakan Suma Han. Ketika berada di puncak tebing, Suma Han kembali mempergunakan ke­kuatan sihirnya sehingga dalam pandangan bekas Koksu itu, dia dan isterinya benar-benar menuruni tali yang kemudian di­bikin putus oleh kakek muka buruk itu! Padahal yang menuruni tali itu hanyalah bayangan kosong belaka! Dan Suma Han bersama Nirahai terkejut bukan main ketika kakek itu mengaku bahwa dia sebenarnya adalah Bhong Ji Kun! Tahulah mereka bahwa kakek ini berhasil menye­lamatkan diri dari serangan badai sehing­ga mukanya rusak, kemudian kembali membonceng Wan Keng In untuk menun­tut balas! Suma Han mencegah Nirahai yang sudah marah sekali dan hendak turun tangan menyerang itu, karena ia tidak menghendaki dia sendiri atau kedua orang isterinya melakukan penyerangan atau pembunuhan lagi. Diam-diam mereka mengikuti Bhong Ji Kun ke istana dan mereka melihat munculnya Bun Beng dan Kwi Hong yang langsung menyerang Bhong Ji Kun dan Wan Keng In. Melihat munculnya Bun Beng dan Kwi Hong dada Suma Han te­rasa panas. Tentu saja dia percaya penuh akan penuturan Milana dan dalam pan­dangan matanya, Bun Beng merupakan seorang yang tidak kalah busuknya dibandingkan dengan bekas Koksu itu! Maka dia cepat mencegah Bun Beng dan Kwi Hong turun tangan menyerang, dan se­telah memandang mereka bergantian dengan sinar mata penuh kemarahan se­perti dua bara api yang membakar, tanpa mempedulikan lagi kepada Bhong Ji Kun, Suma Han membentak. “Gak Bun Beng! Ke sini engkau!” Mendengar suara Pendekar Super Sak­ti yang dijunjungnya tinggi itu, Bun Beng segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu. “Cabut Hok-mo-kiam!” Tanpa ragu-ragu Bun Beng mencabut pedang itu dan tampak sinar berkilat. Tadi ketika melihat Suma Han dan Nira­hai muncul, dia sudah menyarungkan kembali pedangnya. “Gak Bun Beng, sekarang pergunakan pedang itu untuk membunuh diri! Ataukah harus aku yang mengotorkan tangan membunuh?” Bun Beng terkejut bukan main. Dia memandang kepada Nirahai, akan tetapi wanita itu pun memandangnya penuh ke­bencian. Juga Lulu memandang kepadanya dengan bayangan jijik di mukanya, se­dangkan Milana sama sekali tidak mem­pedulikannya! “Semenjak kecil saya telah banyak berhutang budi kepada Suma Locianpwe, maka kalau sekarang Locianpwe meng­hendaki nyawa saya yang tidak berharga, mana saya berani menolak?” Sekali lagi dia memandang ke arah Milana dan Hok-­mo-kiam digerakkan ke arah lehernya. “Trangggg....!” Bunga api berpijar ke­tika Li-mo-kiam menangkis pedang Hok­-mo-kiam itu. “Paman, sungguh tidak adil ini!” Teriak Kwi Hong sambil berlutut di samping Bun Beng. “Hemmm, bocah hina yang mencemar­kan nama keluarga! Engkau hendak mem­bela kekasihmu?” “Paman, dengarkan dulu cerita saya! Kalau sudah mendengarkan, mau bunuh Bun Beng, mau bunuh saya, terserah! Saya tidak takut mati, Bun Beng pun tidak takut mati, akan tetapi saya akan mati penasaran melihat Paman melakukan sesuatu yang tidak adil sama sekali!” Wan Keng In dan Bhong Ji Kun yang maklum bahwa penuturan Kwi Hong akan mencelakakan mereka, segera maju. “Mereka ini orang-orang jahat yang tak berhak hidup lagi!” Wan Keng In dan Bhong Ji Kun sudah menerjang ke arah Bun Beng dan Kwi Hong yang masih berlutut. “Diam kalian! Jangan bergerak!” Pada saat itu, di tubuh Pendekar Super Sakti sedang penuh dengan hawa amarah yang membuat tenaga saktinya timbul dan kuat bukan main. Bentakannya ini seketi­ka membuat Keng In dan Bhong Ji Kun tak mampu bergerak lagi, seperti arca-arca, atau seperti orang tertotok dalam keadaan kaku! “Coba bicaralah, memang tidak boleh orang mati penasaran!” kata Suma Han kepada Kwi Hong, mulai tertarik me­nyaksikan sikap Kwi Hong dan Bun Beng dibandingkan dengan sikap Wan Keng In dan Bhong Ji Kun. “Paman dan kedua Bibi tentu telah mendengar penuturan adik Milana dan Paman Sai-cu Lo-mo. Mereka berdua itu hanya menjadi korban penipuan keji yang ditujukan untuk menjatuhkan fitnah kotor kepada nama Gak Bun Beng. Terutama sekali adik Milana yang menjadi korban penipuan keji. Semenjak dia diculik oleh Wan Keng In dan dibawa ke Pulau Nera­ka, adik Milana telah diberi obat racun perampas ingatan sehingga dia tidak sadar bahwa dia ditipu oleh Keng In. Wan Keng In menyamar sebagai Gak Bun Beng melakukan perkosaan-perkosaan atas nama Gak Bun Beng sehingga menipu dua orang nona Ang dan Lu.” “Enci Kwi Hong, percuma saja engkau membelanya. Aku tahu bahwa engkau adalah kekasihnya, tentu saja mati-matian engkau hendak membelanya. Mataku me­lihat sendiri ketika kalian....” “Adik Milana, Paman dan kedua Bibi. Harap mendengarkan dengan sabar. Me­mang tidak salah bahwa adik Milana yang sengaja ditipu oleh Keng In menyaksikan saya ber.... jina dengan orang yang dianggapnya Gak Bun Beng, padahal orang itu adalah Wan Keng In sendiri! Adik Milana berada dalam keadaan lupa ingat­an, tentu saja dia tidak mengenal Wan Keng In yang mengaku bernama Gak Bun Beng.” “Hemmm, kalau engkau mengerti be­gitu jelas, mengapa engkau melakukan hubungan gelap dan kotor dengan Wan Keng In?” Suma Han membentak. “Saya mengaku salah. Saya pun telah tertipu olehnya, ingatan saya hilang oleh racun obatnya, dan dia mengaku Bun Beng, maka saya.... saya mengira dia Bun Beng, maka saya.... saya.... ah, Paman. Saya sudah melakukan semua penuturan dan agar jelas harap dengarkan pengalaman saya.” Dengan cepat dan singkat namun jelas, Kwi Hong menceritakan semua pengalamannya ketika dia ditugas­kan mencari Milana. Setelah selesai dia menangis dan berkata, “Sekarang terserah kepada Paman, mau bunuh lekas bunuh. Apa artinya hidup saya setelah semuanya dirusak oleh Wan Keng In?” Wajah Milana menjadi pucat sekali, matanya terbelalak memandang kepada Bun Beng. Setelah dia kini dalam keadaan sadar, lapat-lapat dia dapat mengingat semua pengalamannya di Pulau Neraka, ketika dia diculik, ketika dia hampir membunuh Wan Keng In sampai tiba-tiba muncul Gak Bun Beng, di pulau itu, hal yang kalau dipikirkan memang tidak masuk akal. Betapa mungkin Bun Beng tiba­-tiba muncul dan merayunya tanpa diketa­hui Keng In dan guru pemuda itu? Betapa mungkin pula Bun Beng dan Kwi Hong muncul berdua di Pulau Neraka hanya untuk bermain cinta di pondok agar kelihatan olehnya? Benar-benar tak masuk di akal. Teringat akan semua itu, dia menjerit lirih, “Oohhhh.... Dia benar....! Enci Kwi Hong benar! Sekarang, sekarang teringat olehku....! Ah, Ayah.... Ibu.... sekarang aku sadar.... bukan Bun Beng yang bersalah akan tetapi Wan Keng In....! Ah, aku telah berdosa besar....!” Sambil menangis Milana meloncat ke atas genteng Istana dan dicabutnya pedangnya. Sebelum lain orang bergerak, tahu-­tahu Bun Beng juga sudah meloncat mengejar. Pada saat Milana menggerak­kan pedang hendak membacok leher sendiri, Bun Beng menepuk lengan kanan Milana dari belakang dan pedang itu ter­lepas. “Adik Milana, jangan begitu....!” Milana berlutut di atas genteng dan pada saat Milana menangis terisak-isak, “Aku berdosa.... aku berdosa....” “Milana! Turun kau!” Suma Han mem­bentak. Sambil menangis, Milana meloncat turun dan berlutut di depan ayah dan ibunya. “Benarkah semua cerita Kwi Hong tadi?” “Agaknya demikian.... ya benar Ayah...., aku diculik Keng In, hampir diperkosanya akan tetapi aku dapat mempertahankan diri....” Sambil terisak dia menceritakan semua pengalamannya. Setelah Milana selesai bercerita, dia menangis sesenggukan. “Anak murtad, jahanam keparat!” Tiba-tiba Lulu memaki dan tubuhnya su­dah melesat ke arah Keng In, tangannya menampar kepala puteranya itu dan air matanya bercucuran. “Plak!” Tangan itu ditangkis Suma Han yang sudah mengejar. “Lulu, isteriku yang baik, mundurlah. Kita tidak perlu mengo­torkan tangan, apalagi dia itu puteramu sendiri.” Sambil menangis dan menutupi mukanya Lulu mundur lagi. Nirahai juga membentak. “Bhong Ji Kun engkau harus mampus!” “Nirahai, tidak perlu....! Kita menonton saja!” Pada saat itu, Bhong Ji Kun dan Wan Keng In sudah dapat bergerak kembali. Mereka tadi telah mendengarkan semua dan kini dalam keadaan nekat mereka lalu menerjang maju. Wan Keng In di­sambut oleh Kwi Hong, sedangkan Bhong Ji Kun dihadapi oleh Bun Beng. “Wan Keng In, aku sudah bersumpah untuk membunuhmu dan membalas peng­hinaamnu yang telah memperkosa diriku!” Kwi Hong berteriak. “Engkau atau aku harus mati untuk melunaskan perhitung­an antara kita.” Wan Keng In tidak menjawab. Pemuda ini bingung dan gentar bukan main. Ibu­nya tak dapat diharapkan bantuannya, dan di situ terdapat Nirahai dan Suma Han, dua orang yang memiliki kepandaian lebih tinggi malah daripada ibunya! Karena gentar dan ketakutan, maka kelebihan kepandaiannya atas tingkat Kwi Hong tidaklah menonjol sekali, apalagi karena Kwi Hong kini telah mewarisi ilmu dan tenaga Inti Bumi dari Bu-tek Siauw-jin. Pertandingan antara Bun Beng dan bekas Koksu juga amat seru, akan tetapi segera tampak betapa bekas Koksu itu terdesak hebat. Koksu ini sudah menge­nal keampuhan Hok-mo-kiam, maka dia bersikap hati-hati, tidak mau mengadukan tongkatnya yang sudah buntung ujungnya oleh Hok-mo-kiam dahulu. Karena ini, juga karena memang tingkatnya tidak mampu menandingi tingkat Bun Beng yang sudah amat tinggi, dia terdesak dan akhirnya dia bertanding sambil berloncat­an menjauh, mencari jalan untuk melari­kan diri! Bun Beng terus mengejar sehingga akhirnya kakek itu lari sampai di puncak tebing di mana dia tadi “membu­nuh” Suma Han dan Nirahai dan di sini dia tidak dapat lari lagi, terpaksa mem­bela diri mati-matian. “Bhong Ji Kun, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, dan hukuman yang kauderita ketika badai menyerangmu, agaknya tidak membikin kau bertobat!” Bun Beng memperhebat permainan pedangnya. “Crokkk!” Ujung tongkat di tangan bekas Koksu itu terbabat buntung dan pedang masih terus menyambar lehernya. Terpaksa Koksu pemberontak itu menang­kis lagi karena tidak sempat mengelak. “Krakkk!” Kini tongkat itu patah di tengah dan ujung Hok-mo-kiam masih merobek bibir kakek itu sehingga giginya rontok semua! Wajah Bhong Ji Kun men­jadi pucat sekali. Dia menyesal mengapa dia tidak dapat menggunakan senjatanya yang lama, yaitu pecut kuda yang lemas. Senjata itu lebih dapat bertahan kalau dipergunakan untuk menghadapi sebatang pedang pusaka seperti Hok-mo-kiam. “Gak Bun Beng, mari kita mati bersama!” Tiba-tiba kakek itu menubruk, tu­buhnya melayang seperti seekor burung garuda menyambar mangsanya. Pada saat itu Bun Beng berdiri di tepi tebing, membelakangi tebing. Melihat serangan dahsyat yang amat membahayakan dirinya itu, Bun Beng cepat meloncat ke kiri dan ketika tubuh lawan menyambar di sam­pingnya, pedangnya dikelebatkan. Terdengar teriakan mengerikan ketika kedua tangan Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun terbabat buntung sebatas pergelangan tangan, dan kedua tangan itu terlempar ke bawah tebing menyusul tubuhnya yang sudah terdorong ke depan masuk ke ba­wah tebing karena gagal menyerang tadi. Suara pekik mengerikan itu masih bergema. Bun Beng menyarungkan Hok­-mo-kiam dan menghela napas panjang, kemudian dia berlari turun dari puncak tebing, kembali ke depan Istana Pulau Es. Pertandingan antara Kwi Hong dan Keng In luar biasa ramainya. Kwi Hong bertanding dengan nekat karena memang dia hendak mengadu nyawa, membunuh atau dibunuh! Sebaliknya, Keng In merasa bingung sekali, seperti seekor tikus yang sudah tersudut, tiada jalan lari lagi. Me­nang atau kalah dalam pertandingan me­lawan Kwi Hong, dia akan tetap celaka! Maka dia pun melawan mati-matian sehingga Sepasang Pedang Iblis itu seolah-olah dua ekor naga yang sedang memperebutkan mustika, gulungan sinarnya saling belit, saling tekan dan saling tindih menyelimuti bayangan mereka! Sinar pedang dari Sepasang Pedang Iblis itu amat menyilaukan mata, seperti halilintar menyambar-nyambar sehingga Pendekar Super Sakti dan kedua orang isterinya memandang dengan takjub di samping ketegangan, kegelisahan, dan ke­dukaan yang melanda hati mereka. Milana masih berlutut, akan tetapi kini dengan muka pucat dia pun menonton pertandingan. Ingin sekali dia membantu Kwi Hong, ingin dia membunuh Wan Keng In yang menjadi biang keladi dari semua ini, akan tetapi tentu saja dia takut bergerak, takut kepada ayahnya dan ibunya. Wajah Lulu yang kini semenjak dia tinggal di Pulau Es menjadi biasa lagi, tampak pucat. Juga Suma Han sendiri dan Nira­hai berubah air mukanya, penuh kete­gangan. Tiba-tiba Kwi Hong terpelanting keti­ka pedang mereka saling bertemu dan kaki Keng In berhasil menendang lututnya. Keng In menubruk dengan pedangnya. “Keng In....! Jangan....!” Lulu berteriak dan hendak meloncat dan mencegah pute­ranya, akan tetapi lengannya dipegang oleh Suma Han yang melarang isterinya itu mencampuri. Keng In sama sekali tidak mengira bahwa lawannya telah memiliki tenaga Inti Bumi. Begitu tubuhnya bagian bela­kang menyentuh bumi, Kwi Hong mem­peroleh tenaga yang dahsyat sekali. Tiba-­tiba tubuhnya itu mencelat ke atas me­nyambut serangan Keng In dengan tusuk­an Li-mo-kiam. “Cresss! Cresss!” Lulu menjerit dan menutupi mukanya ketika melihat darah muncrat dari perut puteranya, sedangkan Milana juga menu­tupi muka melihat darah muncrat pula dari dada Kwi Hong. Kedua orang itu terguling. Perut Keng In masih menjadi sarung pedang Li-mo-kiam, sedangkan dada Kwi Hong tertembus pedang Lam-mo-kiam. Hampir saja Lulu pingsan, akan tetapi dia merasa lehernya dirangkul orang. Ketika dia mendengar bisikan halus, “Ingat kepada Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa....” Lulu terisak. Terbayanglah wanita ini ketika dahulu bersama Suma Han dia menyaksikan kematian dua orang yang memegang Sepasang Pedang Iblis, kemati­an yang presis seperti yang dialami oleh Wan Keng In dan Giam Kwi Hong. Hanya bedanya, kalau kedua orang suheng dan sumoi itu tewas dalam keadaan saling mencinta (baca ceritaPendekar Super Sakti), maka Keng In dan Kwi Hong te­was dalam keadaan saling membenci! “Keng In....!” Dia mengeluh, lari menghampiri, berlutut di dekat mayat putera­nya dan menangis. “Enci Kwi Hong.... !” Milana juga berlutut dekat mayat Kwi Hong, menangis terisak-isak dengan hati penuh rasa iba. Suma Han, Nirahai, Sai-cu Lo-mo, dan Gak Bun Beng yang sudah kembali ke tempat itu hanya memandang dengan hati terharu. Bun Beng berdiri seperti arca. Perasaannya menjadi tidak karuan, pikirannya melayang-layang. Beginikah akibat cinta? Wan Keng In dan Kwi Hong tewas gara-gara cinta? Ataukah nafsu belaka? Dan bagaimana dengan perasaan yang tadinya dia anggap cinta antara dia dan Milana? Apakah cinta antara mereka itu pun ke­lak hanya akan mendatangkan derita dan duka? “Suma-locianpwe, harap sudi menerima kembali Hok-mo-kiam,” katanya sambil berlutut di depan Suma Han, menyerah­kan pedang Hok-mo-kiam dengan sarungnya. “Teecu bersumpah tidak akan meng­gunakan pedang atau senjata apa pun juga lagi. Senjata merupakan benda yang jahat, hanya menimbulkan banjir darah dan ke­matian, permusuhan dan kebencian.” Suma Han menerima senjata itu, ke­mudian dengan tangan kirinya dia me­nyentuh rambut kepala Bun Beng, katanya perlahan dan halus, “Gak Bun Beng, ayah bundamu boleh merasa bangga dan tenang di alam baka kalau dapat me­nyaksikan sepak terjangmu. Tidak benar­lah kata orang bahwa anak akan mewa­risi watak orang tuanya, terbukti pada dirimu dan pada Wan Keng In.” Dia menarik napas panjang. “Siapa mengira.... Wan Keng In.... ibunya demikian jujur.... ayahnya demikian gagah.... dan engkau....” “Saya hanya seorang anak haram, Ayah saya seorang datuk kaum sesat, Locianpwe. Saya mohon diri, Suma-locian­pwe dan maafkan semua kesalahan saya.” “Bun Beng, engkau hendak ke mana?” Nirahai menegur, “Engkau masih ada urusan dengan kami.... maksudku, dengan Milana....” Bun Beng cepat memberi hormat sam­bil berlutut. “Harap Ji-wi Locianpwe sudi memberi ampun kepada saya. Setelah mengalami semua itu, saya berpendapat bahwa saya tidaklah patut menjadi calon jodoh adik Milana! Kalau dilanjutkan, kelak hanya akan menjadi tekanan batin bagi adik Milana. Tidak, Ji-wi Locianpwe, bukan sekali-kali saya menolak, melainkan saya telah kehilangan gairah berjodoh setelah melihat semua peristiwa yang menimpa kita semua. Saya kira Ji-wi Locianpwe akan mengerti dan sudi me­ngampunkan saya.” Ada dua titik air mata membasahi mata Pendekar Super Sakti. Dia mengerti. Dia tahu betapa pemuda ini sebetulnya mencinta Milana, akan tetapi melihat semua akibat yang amat pahit dari apa yang disebut cinta, pemuda ini merasa kasihan dan khawatir kalau kelak ikatan jodoh itu hanya akan menyengsarakan penghidupan Milana! Karenanya, sebelum terlanjur, pemuda ini merasa lebih baik mengundurkan diri! Dia hanya mengangguk dan matanya membasah ketika dia memandang bayang­an pemuda itu yang berjalan perlahan menuju ke pantai. Suma Han mengalihkan perhatiannya kepada Lulu yang masih menangis. Dia melangkah maju, menyentuh pundak iste­rinya itu dan menarik berdiri. Dirangkul­nya Lulu dan dia berkata, “Lulu, cobalah renungkan secara mendalam. Bukankah peristiwa ini menjadi jalan keluar yang terbaik bagi puteramu, bagimu, dan bagi kita semua? Bayangkan apa akan jadinya dengan kita dan puteramu kalau dia tidak tewas, kalau dia masih melanjutkan cara hidupnya seperti yang lalu. Bayangkan betapa kita akan merasa cemas dan prihatin, engkau akan selalu berduka, apalagi melihat Kwi Hong selalu akan memusuhinya. Sekali ini, Sepasang Pedang Iblis bekerja cepat, sudah saling menyudahi riwayat permusuhan mereka sebelum berlarut-larut.” Lulu menggigit bibirnya, menelan se­mua kata-kata yang tak terucapkan, lalu ia hanya menangis dan menyembunyikan mukanya di dada suaminya. Dia maklum bahwa puteranya telah menyeleweng daripada jalan benar, dan dialah yang bersa­lah, dia yang terlalu memanjakannya dan puteranya menjadi rusak karena berada di Pulau Neraka! “Milana, bangkitlah!” Suma Han ber­kata kepada puterinya. Milana bangun dan menghapus air matanya. “Milana, engkau tentu telah merasa akan kesalahanmu. Akan tetapi kesalahanmu itu bukan kau sengaja, maka tidak perlu lagi disesalkan. Engkau harus kembali ke kota raja, engkau harus bela­jar menjadi seorang keturunan bangsawan yang baik, tinggal di istana Kaisar seper­ti yang lalu.” “Tapi, Ayah....” “Diam, dan jangan membantah!” Suma Han membentak, “Kehidupan sebagai se­orang perawan kang-ouw sudah banyak menyeretmu ke dalam kekacauan dan kesengsaraan. Aku akan mencoba meng­obati Sai-cu Lo-mo, kemudian setelah dia sembuh, engkau bersama dia harus meninggalkan Pulau Es, dan kau hidup seba­gai seorang puteri cucu Kaisar di kota raja. Tentang perjodohanmu, biar kuse­rahkan kepada kebijaksanaan Kaisar.” “Ayah....! Ibu....!” Dengan mengeraskan hatinya Nirahai berkata, “Ayahmu benar, Milana. Lihat ibumu. Betapa banyak penderitaan yang telah kualami setelah aku meninggalkan istana kakekmu Kaisar. Baru sekarang ibumu mendapatkan kebahagiaan bersama ayahmu dan bibimu. Engkau harus menja­di penggantiku, membantu kakekmu dan berjasa bagi negara dan kerajaan. Tentu saja sewaktu-waktu engkau boleh datang menjenguk orang tuamu di Pulau Es.” Tanpa bertanya, Milana maklum bahwa ikatan jodoh antara dia dan Bun Beng telah dibatalkan. Hal ini agak melegakan hatinya. Dia memang mencinta Bun Beng, akan tetapi setelah terjadi semua itu, bagaimana mungkin dia akan dapat me­mandang muka Bun Beng lagi? Apa lagi sebagai suaminya? Maka dia hanya dapat menangis dan mengangguk-angguk. Setelah jenazah Kwi Hong dan Keng In dimakamkan di Pulau Es, Suma Han dan kedua orang isterinya berusaha mengobati kelumpuhan kedua kaki Sai-cu Lo-mo. Akan tetapi ternyata tidak berhasil kare­na kakek itu sudah tua, sukar sekali menyambung tulang-tulangnya dan membetulkan urat-uratnya. Terpaksa Suma Han menghentikan usahanya mengobati dan sebagai gantinya dia menurunkan ilmu-ilmu tinggi yang sesuai untuk dikua­sai seorang yang lumpuh kedua kakinya seperti Sai-cu Lo-mo! Sampai hampir enam bulan kakek itu berlatih dengan tekun dan akhirnya dia meninggalkan Pulau Es bersama Milana yang menangis tersedu-sedu. Pedang Hok-mo-kiam diberikan kepada Milana oleh Pendekar Super Sakti, sedangkan Sepasang Pedang Iblis tetap berada di Pulau Es karena pende­kar itu khawatir kalau-kalau sepasang pedang itu akan terjatuh ke tangan orang lain dan menimbulkan peristiwa-peristiwa hebat lagi. Sampai di sini selesailah sudah cerita “Sepasang Pedang Iblis” ini, dan apa bila tiada aral melintang, para penggemar akan dapat berjumpa pula dengan pengarang dalam karangan mendatang. Mudah-­mudahan saja ada bagian-bagian tertentu dalam karanganSepasang Pedang Iblis ini yang bermanfaat bagi para penggemar di samping tugasnya sebagai bacaan menghibur yang sederhana. TAMAT