Hian Ceng tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh memandang Han Han, alisnya yang hitam kecil menjelirit itu mengerut, suaranya terdengar agak marah, “Kalau begitu, In-kong telah tega hati untuk membohongiku dan memper­mainkan aku!” Nah-nah-nah, sudah kumat lagi, pikir Han Han. “Mengapa, Nona? Aku tidak bohong! Masa aku bohong kalau mengata­kan bahwa adikku Lulu cantik jelita, manis, lihai dan menyenangkan hatiku?” Dia benar-benar tidak mengerti karena biarpun Lulu kadang-kadang juga merajuk dan mengambek, akan tetapi ada sebab­nya, bukan seperti nona ini yang tiada hujan tiada angin lalu menyambar-nyam­bar seperti kilat di siang hari! “In-kong bohong! Kalau begitu, mana bisa aku mengingatkan In-kong kepada adik In-kong itu?” Han Han mengangkat alis membelalakkan mata dan di dalam hatinya ia tertawa bergelak, akan tetapi mulutnya menahan ketawa itu sehingga ia menye­ringai seperti orang sakit gigi. “Oohhh.... mengapa tidak? Engkau hampir sama de­ngan dia, juga watakmu hampir sama dengan wataknya.” “Akan tetapi dia cantik manis....” “Engkau juga.... ehhhh!” Han Han menutup mulutnya, khawatir disangka mengejek lagi. Akan tetapi melihat kini gadis itu menahan senyum dan kelihatan gembira karena wajahnya berseri, ia me­lanjutkan, “Dan engkau pun lihai dan menarik, menyenangkan hati....” Dengan muka berseri girang Hian Ceng berkata, suaranya penuh semangat, “Aku akan mencari adikmu sampai dapat, In-kong! Percayalah, kalau memang benar dia berada di daerah Se-cuan, aku pasti akan dapat menemukannya! Setelah Pa­man Thio Kai meninggal dunia, akulah satu-satunya orang yang paling mengenal keadaan daerah Se-cuan. Sudah kujelajahi semua daerah karena hal ini amat pen­ting bagi tugasku sebagai penyelidik. Sssttttt.... kita sekarang harus berhati-hati, In-kong. Lembah di depan itu disebut Lembah Neraka oleh kaum pejuang karena di situ musuh melakukan pen­jagaan keras.” Dari tempat yang agak tinggi itu Han Han memandang tajam ke depan. “Akan tetapi kelihatannya sunyi saja.” Gadis itu mengangguk. “Itulah bahaya­nya. Kaum pejuang yang menyeberang dan belum mengenal keadaan, akan ter­jebak, mengira bahwa jalan itu aman. Padahal tentara penjajah yang tidak ku­rang dari seribu orang jumlahnya ber­sembunyi di kanan kiri lembah itu, ada yang mendirikan perkemahan di dalam jurang-jurang di kedua sampingnya, dan ada yang memasang barisan di atas te­bing, siap dengan anak panah mereka. Karena jalan di bagian lereng sebelah kiri itu merupakan jalan satu-satunya dan di sana terapit dinding batu gunung maka jalan itu sempit dan sekali orang lewat di situ, sukar untuk menyelamatkan diri jika diserang dari kanan kiri, atas dan kedua jalan itu ditutup oleh mereka dari depan belakang. Dahulu, setahun yang lalu, tidak kurang dari dua ratus orang pengungsi dari timur, yang hendak melarikan diri ke Se-cuan dan lewat di lo­rong itu, disembelih habis semua oleh mereka, laki-laki wanita dan kanak-kanak!” Han Han bergidik, teringat akan ke­ganasan bala tentara Mancu yang me­lakukan pembunuhan terhadap para peng­ungsi. Kalau kaum pejuang yang mereka bunuh, hal itu memang sewajarnya, se­bagai musuh dalam perang. Akan tetapi tentara Mancu yang ganas itu banyak pula membunuhi rakyat yang tidak tahu apa-apa, hal ini benar-benar merupakan perbuatan kejam yang harus ditentang. “Kalau jalan itu demikian berbahaya, bagaimana kita akan dapat lewat? Meng­apa Nona tidak mengambil jalan lain yang lebih aman?” “Jalan depan itu yang terdekat dan bagiku, yang paling aman.” “Eh, bagaimana bisa begitu? Bukankah kaukatakan tadi bahwa....” “Bagi yang tidak mengerti bagaimana akalnya memang berbahaya, juga bagi rombongan yang terdiri dari banyak orang. Akan tetapi biasanya kami berempat....” dia berhenti sebentar, teringat akan ayahnya dan dua orang pa­mannya yang tewas, “kami selalu meng­gunakan jalan ini. In-kong lihat, pegu­nungan yang menjulang di sebelah kanan itu adalah Pegunungan Min-san. Dan yang menjulang tinggi di sebelah kiri itu ada­lah Pegunungan Ta-pa-san. Kita sekarang ini berada di Pegunungan Cin-ling-san. Dan lihatlah baik-baik di balik jurang di bawah itu.” Han Han memandang daerah yang dikelilingi pegunungan ini dan ketika ia melihat ke arah yang ditunjuk, ia melihat garis kebiruan yang panjang berliku-liku seperti tubuh seekor naga biru. “Kaumaksudkan sungai itu, Nona?” “Benar, sungai yang mengalir ke se­latan itu adalah Sungai Cia-ling dan kita akan memasuki daerah Se-cuan melalui sungai itu.” “Naik perahu?” “Tidak mungkin naik perahu, In-kong. Di kedua tepi sungai itu penuh dengan perkemahan musuh dan barisan tentara sudah siap menghujani setiap perahu yang lewat dari luar perbatasan dengan panah api....!” “Habis, bagaimana?” Han Han memandang heran. Gadis itu tersenyum manis, agaknya merasa bangga sekali bahwa dalam hal ini dia dapat mengatasi Han Han, dan dialah yang memimpin. Meng­hadapi pemuda buntung ini ia merasa kecil tak berarti, merasa bukan apa-apa karena kepandaian pemuda itu luar biasa sekali, akan tetapi kini dialah yang men­jadi “pemimpin”! “Marilah, In-kong. Aku akan menunjukkan jalan dan caranya nanti!” Hian Ceng memegang tangan Han Han dan menariknya ke kanan, menuruni jalan menurun yang curam. Melihat jurang yang dituruni ini dan cara gadis itu menuruni dengan merayap seperti itu, se­betulnya Han Han tidak sabar. Kalau dia mau, dengan menggendong Hian Ceng ia dapat saja turun dengan gerak kilatnya sehingga dapat cepat tiba di Sungai Cia-ling. Akan tetapi ia merasa betapa tela­pak tangan gadis yang menggandeng tangannya itu hangat sekali, tanda bahwa gadis itu gembira dan bersemangat. Ia dapat menyelami perasaan Hian Ceng yang kini merasa menjadi orang yang lebih pandai, menjadi pemimpin, maka dia tidak tega untuk menghancurkan kegembiraan dan kebanggaannya. Maka ia pun ikut merayap turun. Akhirnya mereka tiba di tepi Sungai Cia-ling. Hian Ceng mengajak Han Han bersembunyi di balik semak-semak di tepi sungai, lalu menuding ke arah selatan. Han Han memandang dan melihat sebuah perahu dengan lima orang ten­tara Mancu berada di pinggir. Perahu ditambatkan pada pohon dan lima orang itu mengobrol sambil makan minum perbekalan mereka. “Kita bunuh mereka dan rampas perahunya?” bisik Han Han. Hian Ceng menggeleng kepala dan mendekatkan mulutnya di telinga pemuda itu, berbisik, “Jangan, kalau kita bunuh dan akhirnya diketahui, penyeberangan perbatasan menjadi sulit. Dan perahu itupun tidak ada gunanya bagi kita.” Akan tetapi Han Han hampir tidak dapat menangkap arti ucapan gadis itu karena merasa betapa bibir itu bergerak-gerak menyentuh daun telinga, hawa yang hangat dari mulut meniup-niup te­linga, hidung itu menyentuh-nyentuh pipi dan pelipis, jantungnya berdebar keras. Selama hidupnya Han Han belum pernah berdekatan dengan wanita seperti seka­rang ini. Dahulu pernah dia mengalami hal luar biasa dengan Lulu ketika berada di Pulau Es, hal yang sampai sekarang kalau ia ingat membuat ia menjadi merah mukanya, akan tetapi ketika itu ia dan Lulu berada dalam keadaan tidak sadar dan diamuk gairah nafsu berahi yang dibangkitkan oleh racun ular merah. Mereka dulu keracunan dan masih dapat melawan sehingga mereka berdua ter­hindar dari perbuatan yang akan mem­buatnya menyesal selama hidupnya. Dan selain peristiwa itu, memang sering kali Lulu dengan sikapnya yang manis me­meluknya, mengambung pipinya, akan tetapi Lulu adalah adiknya dan perbuatan itu tidak menimbulkan sesuatu dalam batinnya. Kemudian, pernah pula berdekapan dengan Kim Cu, akan tetapi, hal itupun dia lakukan ketika ia diamuk ke­dukaan karena kakinya buntung dan di­amuk keharuan melihat cinta kasih Kim Cu yang demikian mendalam kepada diri­nya. Berbeda dengan sekarang ini. Sekarang dia berada dalam keadaan sadar dan gadis ini baru saja dia kenal! “Lalu.... bagaimana....?” bisiknya. “Kau pandai renang.... ah, maafkan, In-kong. Tentu kau tidak bisa....” Gadis itu melirik ke arah kaki yang tinggal satu itu. Han Han menghela napas, bukan karena menyesal melihat kakinya buntung. Kebuntungan kakinya bukan apa-apa lagi baginya, akan tetapi ia menyesal bahwa kebuntungan ini selalu mendatangkan rasa kasihan dan tidak enak, canggung bagi orang lain. “Akan tetapi memang tidak perlu berenang,” gadis itu cepat menyambung dengan kata-kata lirih. “Aku memerlukan selonjor batang pohon itu ke tengah su­ngai dan kita bersembunyi di bawahnya, berpegang dan bergantung kepada cabangnya. Dengan demikian, tanpa susah payah kita akan dapat melewati barisan musuh dengan aman.” Han Han mengangguk-angguk. Jadi beginikah akalnya gadis cerdik ini? Cer­dik dan penuh keberanian karena kalau sampai akal ini diketahui musuh, tentu dia akan menjadi seperti tikus terjebak! “Baik sekali, Nona. Akan tetapi bagaimana kita akan bernapas dalam air?” Gadis itu tersenyum, senyum kemenangan penuh bangga karena kembali dialah yang akan dapat mengatasi ke­sulitan itu. Tangan kirinya meraih ke kiri dan jari-jari tangannya yang kecil dan kuat itu telah mematahkan sebatang alang-alang, mematahkan batang itu ke mulutnya. “Dengan dua tiga batang alang­-alang di mulut, dapat kita menyedot hawa dari permukaan air.” Har Han memandang kagum. Memang cerdik sekali. Dengan pipa batang alang-alang itu memang mereka akan dapat tinggal di bawah permukaan air sampai berapa lamanya pun! Permainan yang cerdik, akan tetapi amat berbahaya. Dengan tubuh dalam air, berarti sama se­kali tidak dapat melindungi tubuh ter­hadap bahaya dari luar. seolah-olah ha­nya menggantungkan nyawa kepada berhasilnya akal itu. Menggantungkan nyawa kepada batang alang-alang! Betapa baha­yanya! Akan tetapi, ia tidak mau menge­cewakan orang dan mengangguk-angguk, bahkan ia lalu berkata, “Aku akan men­cari batang pohon itu di sana.” Sebelum Hian Ceng menjawab, tubuhnya sudah melesat dan lenyap. Gadis itu tertegun dan mengintai ke arah para tentara yang ­berada di perahu, akan tetapi tentu saja mereka itu tidak melihat gerakan Han Han. Sedangkan dia sendiri yang biasanya membanggakan matanya, dan yang berada dekat sekali dengan Han Han, tidak da­pat melihat bagaimana pemuda buntung itu lenyap begitu saja dari depan hidung­nya! Karena percaya penuh akan kelihaian Han Han, maka Hian Ceng tidak mau tinggal diam dan ia lalu mulai mencari dan mengumpulkan batang alang-alang yang cukup besar dan tua sehingga batangnya kuat, tidak mudah patah. Ia mengumpulkan sampai sepuluh batang dan tak lama kemudian Han Han kembali dan berbisik. “Batang pohon sudah siap di sana, dekat tikungan.” Ia menuding. “Bagus, mari kita ke sana, In-kong. Ini batang jerami alang-alang, kau pakai sebagian.” Berindap-indap mereka lalu maju ke tepi sungai di tikungan sehingga tidak tampak oleh lima orang tentara di perahu. Melihat sebatang pohon besar yang jebol bersama akar-akarnya, Hian Ceng terbelalak. Kalau keadaan tidak demikian genting, tentu ia ingin sekali tahu bagai­mana caranya pemuda buntung itu me­numbangkan pohon ini berikut akarnya! Tanpa banyak cakap lagi, kedua orang muda itu lalu menyeret batang pohon ke sungai, menghanyutkan batang pohon itu sampai ke tengah sungai dan mereka bergantung pada dahan di bawah batang. Dan batang alang-alang menyambung mulut mereka dengan hawa di permukaan air, bersembunyi di antara daun-daun pohon sehingga mudah bagi mereka untuk bernapas. Batang pohon itu hanyut de­ngan cepat karena arus air kuat juga di bagian itu. Han Han bergantung pada dahan pohon dengan jantung berdebar te­gang. Bagaimana ia tidak akan merasa tegang kalau berada dalam keadaan se­perti itu, sama sekali tidak dapat menjaga diri, tak dapat menggunakan kepan­daiannya, tidak dapat melihat musuh dan menggantungkan keselamatan dirinya pada dua batang alang-alang? Tiba-tiba tangan Hian Ceng menceng­keram lengah Han Han. Han Han membuka matanya memandang ke arah atas yang ditunjuk gadis itu. Mula-mula hanya tampak bayangan hitam, akan tetapi lalu tampak kayu lonjong bergerak. Perahu! Han Han khawatir sekali, jelas ada perahu mendekati batang pohon. Ia lalu me­nyembulkan kepalanya, bersembunyi di antara daun-daun pohon itu. Benar saja, perahu dengan lima orang tentara Mancu berada dekat sekali, dan mereka semua sudah berdiri di perahu dengan tombak di tangan. Seorang di antara mereka berteriak. “Awas kawan! Di hawah pohon ini tentu ada ikan-ikan pemberontak, kita panggang mereka, ha-ha-ha!” Han Han terkejut sekali. Untung dia menyembulkan kepalanya, kalau tidak tentu mereka benar-benar akan disate oleh tombak-tombak itu. Mereka yang berada di perahu akan dapat melihat Han Han dan Hian Ceng, sebaliknya mereka yang berada di dalam air sukar untuk dapat melihat gerakan mereka yang di ­perahu! Cepat Han Han menyelam lagi dan ketika perahu sudah cukup dekat bagian depannya. Han Han menggerakkan tong­katnya, mendorong perahu dengan gerak­an tiba-tiba sehingga perahu itu terbalik dan lima orang tentara Mancu itu terlempar ke air! Han Han kagum sekali melihat betepa dengan gerakan yang cepat, Hian Ceng sudah mengerjakan jari-jari tangannya yang lihai sehingga tanpa mendapat kesempatan sama sekali, dua orang telah ditotok dan tewas se­ketika, rambut kepala mereka dicengkeram oleh tangan Hian Ceng. Han Han juga mengerjakan tongkatnya dan tiga orang tentara yang lain tewas tanpa dapat mengerti mengapa mereka mati dan oleh siapa. Han Han menahan mayat-mayat mereka dengen tongkat. Mereka berdua terpaksa menyembulkan kepala ke permukaan air. Untung kedua tepi sungai sunyi di saat itu sehingga peristiwa itu tidak teriihat oleh tentara lain. “Kita harus membawa mayat mereka ke tepi, kalau terhanyut, kita celaka....” kata Hian Ceng yang hendak berenang minggir sambil menyeret dua mayat kor­bannya. “Biarkan aku melempar mereka ke darat!” Han Han mencegah dan tongkatnya bergerak dan.... tubuh seorang tentara terlempar dan terbanting di tepi sungai. Lima kali Han Han menggerakkan tongkatnya dan lima mayat itu kini se­mua sudah menggeletak di pantai sungai. Perahunya yang tersangkut pada pohon itu, oleh Han Han didorong. Kekuatan mendorongnya luar biasa sekali sehingga perahu itu terdorong bagaikan anak panah cepatnya sehingga setibanya di tepi, ujung perahu itu menancap pada tanah! Mereka cepat menyelam lagi. Tiba-tiba tangan gadis itu sekali lagi men­cengkeram lengannya, Han Han membuka mata memandang gadis itu yang kelihat­an lucu dan aneh sekali karena gerakan air membuat wajah gadis itu peletat-peletot dan bengkak-bengkok. Hian Ceng mengangkat tangan kanan yang dikepal jari-jarinya kecuali ibu jari yang diangkat ke atas, di depan hidung Han Han. Ah, kiranya gadis itu hanya ingin menyatakan kagumnya, hanya ingin memujinya dan karena di dalam air itu tak mungkin mengeluarkan suara, maka gadis itu mengacungkan jempolnya di depan hidung untuk memuji. “Kita sudah masuk perbatasan daerah Se-cuan, di sini aman. Pakaian kita ba­sah, kalau tidak dijemur dulu, bisa masuk angin!” Han Han hanya mengangguk-angguk kemudian ia membalikkan tubuhnya mem­biarkan gadis itu membuka dan menjemur pakaian. Ia mendengar gadis itu mandi di anak sungai yang memuntahkan airnya di Sungai Cia-ling. Benar-benar mengherankan sekali. Setengah hari la­manya sudah merendam tubuh di air, sekarang masih mandi lagi! Benar-benar wanita merupakan mahluk yang paling aneh, merupakan manusia yang wataknya­ kadang-kadang mengherankan sekali. Bah­kan watak adiknya sendiri pun kadang-kadang membuat dia bengong dan meng­geleng-geleng kepala, menggaruk-garuk belakang telinga. Kini ia pun menggeleng kepala dan menggaruk telinga tanpa disadarinya. “Heiiiiii....! In-kong, kenapa kau menggeleng kepala dan menggaruk belakang telinga?” terdengar teriakan gadis itu dari belakangnya. Bukan main! Sudah mandi, kiranya masih mencurahkan per­hatian kepadanya sehingga semua gerak-geriknya diketahuinya belaka! “Aku heran mendengar engkau mandi, Nona,” kata Han Han sambil membuka bajunya, memeras air dari bajunya dan menggantungkannya di tempat panas bersama pakaiannya yang hanya satu stel. Celananya tetap ia pakai dan dia pun duduk di tempat panas untuk mengeringkan celana yang dipakainya. “Mengapa heran mendengar orang mandi? Apakah engkau belum pernah mendengar orang mandi?” “Bukan begitu maksudku. Baru saja kita keluar dari dalam sungai di mana kita berendam sampai setengah hari. Mengapa engkau mandi lagi, Nona?” “Mengapa tidak? Air Sungai Cia-ling kotor, dan air sungai kecil ini amat jernih.” Kini suara gadis itu terdengar de­kat, agaknya sudah selesai mandi. “Dan engkau tidak perlu lagi membelakangiku, In-kong. Aku sudah bersembunyi di balik semak-semak.” Han Han membalikkan tubuhnya, duduk menghadapi semak-semak dan su­ngai. Namun ia masih dapat melihat bayangan tubuh gadis yang telanjang itu di antara celah-celah daun semak-semak itu. Terpaksa ia menundukkan mukanya agar matanya jangan sampai melihat bayangan itu. Sunyi sejenak. Gadis itu memeras pakaiannya yang basah dan yang baru saja dicucinya, kemudian dari bayangan yang dikerlingnya sebentar untuk menge­tahui apa yang dilakukan Hian Ceng, Han Han depat menduga bahwa gadis itu se­dang menyambung bagian kain yang robek dengan benang-benang yang ia cabut dari kain pengikat kepalanya. “Mengapa diam saja, In-kong? Apa yang kau pikirkan?” Tiba-tiba pertanyaan ini mengejutkan Han Han dan menyadarkannya dari lamunan. “Eh, tidak apa-apa. Akalmu tadi baik sekali, Nona.” “Uh, baik apa? Buruk sekali! Hampir saja celaka. Akal itu sudah kuno, tidak memenuhi syarat lagi. Musuh sudah tahu, perlu diganti dengan akal yang lebih tepat.” Hian Ceng lalu bercerita panjang lebar tentang semua pengalamannya sam­bil menanti keringnya pakaian. Dari cerita ini tahulah Han Han bahwa gadis ini memang seorang gadis pejuang, gadis yang semenjak berusia tujuh tahun sudah ditinggal mati ibunya, kemudian ikut dengan ayahnya ke manapun It-ci Sin-mo Tan Sun yang sudah tua itu pergi. Dia diajak berjuang oleh ayahnya, tak tentu tempat tinggalnya, sebagian besar hidup di dalam hutan-hutan di atas gu­nung-gunung dan di tempat-tempat liar! Mengertilah Han Han mengapa sikap gadis ini terbuka, lincah liar dan polos. Agaknya, hidupnya selama ini di tempat-tempat terbuka, bersama-sama dengan para pejuang, hidup penuh kekerasan, menghadapi banyak bahaya maut bersama pejuang yang sudah mengeras wataknya dan menjadi kasar, membuat gadis ini menjadi gadis alam. Pantas saja tidak pemalu seperti gadis-gadis kota, dan tidak merasa canggung biarpun kini ia bercakap-cakap dengan Han Han dalam keadaan telanjang, biarpun tertutup se­mak-semak. Setelah pakaian mereka kering dan tubuh mereka yang tadinya dingin menjadi hangat oleh sinar matahari, Hian Ceng berpakaian dan muncul dari balik semak-semak. Wajahnya segar dan ber­sih, rambutnya terurai lepas, pakaiannya sudah tertutup rapat dan dia memandang Han Han yang sudah sejak tadi berpakai­an dengan wajah berseri. “In-kong, marilah kuperlihatkan padamu daerah Se-cuan yang indah, kuperkenalkan daerah pejuang!” Ia lalu berlari-lari cepat. Han Han segera berloncatan mengejar gadis yang mendaki pundak itu dan kegembiraan gadis itu menular kepadanya sehingga dengan ka­get dan heran akan tetapi juga senang ia sadar dan teringat betapa kini hatinya tidak begitu tertekan lagi, semangatnya tidak lemah lagi seperti sebelum ia bertemu dengan Hian Ceng. Ah, melihat gadis itu yang demikian lincah gembira, melihat dia hidup seperti tidak mengenal susah padahal baru saja ditinggal mati ayahnya, benar-benar menyadarkannya bahwa hidup ini sebetulnya tidaklah begitu buruk! Tak lama kemudian tiba di sebuah puncak di Pegunungan Cin-ling-san dan Hian Ceng berhenti. Han Han kagum se­kali. Memang pemandangan di situ amat indahnya, sungguhpun dia harus mengakui bahwa ia lebih tertarik dan merasa lebih indah ketika memandang sepasang mata yang bersinar-sinar gembira, bibir yang tersenyum dan agak terbuka karena ter­engah-engah, pipi yang kemerahan dan segar, rambut yang sudah kering betul dan melambai-lambai tertiup angin seper­ti benang-benang sutera. “Lihatiah, In-kong. Puncak-puncak Pegunungan Ta-pa-san di timur dan puncak-puncak Pegunungan Min-san dibarat tampak semua dari sini. Seperti juga di lembah Cin-ling-san ini, di lembah kedua gunung itupun terjaga oleh barisan Mancu. Berkali-kali fihak Mancu menyerang dari tiga daerah pegunungan ini, akan tetapi kami selalu dapat memukul mundur mereka. Daerah Se-cuan memang amat tepat menjadi pusat perjuangan melawan Mancu. Daerah yang dikurung gunung-gunung. Puncak yang amat tinggi dan jauh di barat itu, di balik Pegunungan Min-san, adalah Pegunungan Bayangkara. Di sebelah selatan Min-san disambung dengan Pegunungan Ciung-lai-san, dan di tapal batas sebelah selatan masih disambung lagi oleh Pegunungan Ta-liang-san. Daerah timur ditutup oleh Sungai Yang-ce-kiang dan bala tentara Bu-ongya dikerahkan untuk menjaga tapal batas di timur sepanjang Sungai Yang-ce-kiang, dan di utara di lembah-lembah Gunung Ta-pa-san dan Min-san.” Sambil memandang ke sekeliling dari tempat tinggi ini, Han Han kagum akan pengetahuan gadis itu tentang keadaan dan daerah itu. “Pusat pemerintah di mana Bu-ongya tinggal berada di kota raja Cung-king, dan semua benteng pertahanan yang di­jadikan pusat para pejuang yang mem­bantu Bu-ongya tersebar di tiga tempat, yaitu Cung-king, Kwan-yang dan Wan-sian. Engkau sendiri harus ke Cung-king, In-kong, selain untuk bertemu dengan Bu-ongya, juga di sana tentu engkau akan bertemu dengan para pejuang lain yang sudah In-kong kenal. Mari kita turun dan melanjutkan perjalanan. Biarpun sekarang telah memasuki daerah sendiri yang aman, akan tetapi perjalanan masih harus ditempuh dua hari dua malam dan amat sukar perjalanannya, baru kita akan berte­mu dengan penjaga-penjaga. Nanti aku akan menyuruh mereka mengantar In-kong ke Cung-king.” “Dan kau sendiri, Nona?” “Aku akan pergi mencari adikmu, kumulai dengan mencarinya di Kwang-yang.” “Aku pun hendak mencari adikku. Memang untuk keperluan itulah aku me­masuki Se-cuan.” “Benar, akan tetapi sebagai seorang yang baru saja memasuki Se-cuan, In-kong adalah seorang asing. Kalau tidak menghadap dulu ke Cung-king, tentu akan banyak menimbulkan kesulitan bagi In-kong sendiri yang akan dicurigai di mana-mana. Selain itu, sudah sepatutnya­lah kalau orang memasuki daerah yang sedang bergolak, terlebih dahulu meng­hadap Bu-ongya yang dapat dikatakan sebagai tuan rumahnya.” Gadis itu pandai sekali berdebat dan Han Han terpaksa membenarkannya. Me­reka lalu menuruni puncak itu dan se­telah hari menjadi gelap, Hian Ceng mengajak Han Han beristirahat di sebuah lereng gunung di mana terdapat sebuah gubuk kecil di pinggir hutan, gubuk yang menurut kata Hian Ceng sengaja dibuat oleh para pejuang untuk tempat istirahat. Hian Ceng benar-benar mengenal dae­rah itu. Dia pergi sebentar dan datang lagi membawa buah-buahan dan seekor ayam hutan yang gemuk. Sambil bernyanyi-nyanyi Hian Ceng membersihkan dan memanggang daging ayam itu, kemu­dian mereka makan dan minum air jernih. Malamnya, Hian Ceng yang sudah lelah sekali tidur di dalam gubuk, di atas dipan bambu, rebah miring. Dingin sekali malam itu. Han Han duduk tidak jauh dari tempat Hian Ceng rebah karena gubuk itu hanya sempit saja, dan biasa­nya, para pejuang yang kemalaman di tempat ini tidur saja di ataS dipan yang memenuhi gubuk, berderet-deret seperti ikan bandeng. Hal ini juga sudah dikata­kan oleh Hian Ceng tadi ketika gadis yang sudah biasa hidup di alam liar ini hendak tidur dan merebahkan tubuhnya miring. “In-kong, mari kita tidur. Kita harus mengaso karena perjalanan besok masih jauh!” Wajah Han Han merah sekali men­dengar ajakan itu, untung bahwa sinar api unggun yang merah menyembunyikan warna mukanya. “Tidurlah, Nona.” “Eh, masa engkau duduk saja? Tidur­lah, tempat ini cukup lebar. Biasanya kami juga tidur di sini, bersama Ayah dan para Paman. Mengapa malu? Nih, di belakangku masih lega, rebahlah di sini.” Akan tetapi tentu saja Han Han ha­nya dapat menggeleng kepala dan pura-pura tidak memperhatikan gadis itu de­ngan menambah kayu pada api unggun. Ia mengerti bahwa gadis yang biasa hidup di alam terbuka, biasa mengalami ke­sukaran hidup bersama para pejuang lain­nya, menganggap tidur bersama seperti itu biasa saja! Bahkan bertelanjang di depannya pun tadinya dianggap bukan apa-apa. Ia baru marah karena pandang mata Han Han yang terpesona! Benar-benar gadis yang jujur, polos dan murni. Akan tetapi dia yang sudah kenyang membaca kitab-kitab, tahu akan segala peradaban, segala kesusilaan dan kesopanan, bagaimana mungkin dapat rebah di samping seorang gadis? Kalau rebah dan tidur sepembaringan dengan Lulu, hal itu sih tidak terlalu menyiksa perasaan. Akan tetapi dengan gadis yang baru dikenalnya ini? Tak mungkin! Perut yang kenyang membuat Han Han mengantuk juga. Memang tubuhnya amat lelah dan sudah beberapa malam ia tidak tidur. Sambil duduk bersandar tiang bambu gubuk itu, Han Han melenggut. “Huhhhhh.... dinginnnnn....!” Suara Hian Ceng membangunkannya dan ia melihat api unggun hampir padam. Hawa malam itu memang dingin sekali. Bagi Han Han tentu saja tidak terasa dingin. Dibandingkan dengan hawa di Pulau Es, hawa dingin malam ini di puncak gunung bukan apa-apa! Akan tetapi ia melihat tubuh gadis yang rebah miring itu agak menggigil. Hian Ceng masih tidur dan mungkin saking dinginnya tadi sampai terucapkan mulutnya. Kedua kakinya di­tekuk, kedua lengan memeluk tubuh sen­diri, kepala ditundukkan sedalam mungkin sehingga tubuh itu seperti hendak melingkar macam tubuh ular! Han Han merasa kasihan, lalu me­nambah kayu pada api unggun. Setelah api unggun membesar, ia lalu mengeluar­kan satu stel pakaiannya yang tadi sudah dikeringkan, duduknya digeser mendekati Hian Ceng dan diselimutkanlah pakaian­nya itu ke atas tubuh Hian Ceng. Hian Ceng menghela napas senang, tangannya meraih “selimut” ini dan tanpa disengaja jari-jari tangannya menceng­keram pula tangan Han Han. Ia menarik “selimut” itu makin ke atas dan memeluk pula tangan Han Han. Pemuda ini berde­bar jantungnya, akan tetapi tidak berani bergerak, khawatir kalau membangunkan gadis itu sehingga Hian Ceng tentu akan menjadi malu sekali. Maka ia membiar­kan saja tangannya dipeluk dan didekap ke atas dada Hian Ceng. Terasa oleh telapak tangannya betapa jantung gadis itu berdetak halus, betapa dada itu turun naik dengan halus pula, tanda bahwa gadis itu sudah pulas. Akan tetapi ta­ngannya didekap dengan kedua tangan oleh gadis itu dan Han Han terpaksa menyandarkan lagi tubuhnya ke dinding, menekan perasaannya, “mematikan” pe­rasaan tangannya yang menumpang dada, lalu ia pun tertidur. Paginya, kokok ayam hutan dan bau sedap menyengat hidung membuat Han Han terbangun. Ia membuka mata dan cepat menengok ke arah tangannya yang masih terulur ke kanan. Kiranya tangan­nya itu kini bukan terletak di atas dada Hian Ceng, melainkan di atas tumpukan pakaiannya yang semalam ia selimutkan gadis itu. Ia menengok ke arah kiri dan melihat Hian Ceng dengan wajah segar, agaknya sudah mandi sepagi itu, sedang memanggang daging, agaknya daging kelinci. Mendengar Han Han terbangun, gadis itu menengok dan berkata mencela. “In-kong, engkau sungguh terlalu. Semalam suntuk tidur sambil duduk saja!” Han Han menjadi merah mukanya, teringat betapa semalam ia meletakkan tangan di atas dada orang, perbuatan yang sungguh tidak patut sungguhpun tidak ia sengaja. “Nona, sepagi ini sudah memanggang daging?” Nona itu tertawa. “Lekaslah mencuci muka, daging sudah hampir matang!” Han Han tersenyum dan menyambar tongkatnya, berloncatan ke anak sungai yang mengalir dekat gubuk itu. Setelah mencuci muka dan mulut, ia kembali ke gubuk. Hian Ceng sudah menyiapkan panggang daging dan dua cawan besar berisi air panas. Kiranya di sudut gubuk itu memang tersedia ceret untuk me­masak air dan beberapa buah cawan. tersedia ceret untuk me­masak air dan beberapa buah cawan. Setelah selesai makan daging yang se­dap, mereka menghirup air panas. Han Han berkata, “Nona, mulai sekarang harap kau­hilangkan saja sebutan In-kong itu. Andaikata benar aku pernah menolongmu, namun sudah terbalas impas oleh pertolonganmu yang berkali-kali terhadap aku.” “Habis, disuruh menyebut apa? Kong­cu?” “Ihhh, orang macam aku mana patut disebut Tuan Muda?” “Ah, ya! Semestinya aku menyebutmu taihiap!” “Jangan, sebut saja namaku, atau sebut saja twako karena aku lebih tua daripadamu, Nona.” “Ah, mana pantas? Aku menjadi tidak sopan kalau begitu!” “Nona, setelah apa yang kita bersama alami selama ini, menghadapi bahaya maut dan kita sudah seperti sahabat lama, bahkan lebih dari itu, seperti sau­dara, perlu lagikah kita bersopan-sopan?” “Hemmm, kalau engkau begitu sopan terhadap aku, In-kong, bagaimana aku tidak seharusnya bersikap sopan kepada­mu? Engkau menyebutku Nona, bukankah itu bersopan-sopan namanya? Kalau eng­kau menyebutku adik, tentu aku akan menyebutmu kakak.” Han Han tersenyum. Memang harus ia akui kalau berhadapan dengan seorang gadis yang masih asing, dia merasa likat dan janggal, malu-malu dan gugup. “Baiklah, Moi-moi. Baikiah, Ceng-moi (Adik Ceng), dan kau sebut saja Twako kepada­ku.” “Twako siapa? Engkau sudah mengetahui namaku, akan tetapi aku belum tahu siapakah sebetulnya penolong besarku ini!” Kembali Han Han tersenyum. Berde­katan dengan Hian Ceng ini benar-benar mendatangkan kegembiraan mengusir mendung kedukaan yang selama ini me­nyelimuti pikirannya, sejak ia kehilangan Lulu. “Adikku yang baik, namaku Sie Han. Akan tetapi Lulu dan kawan-kawan baik­ku menyebutku Han Han.” “Han-twako!” Dengan sikap manja dan genit dibuat-buat sehingga tampak lucu sekali Hian Ceng lalu menjura dan ber­soja kepada Han Han. Mereka melanjutkan lagi perjalanan itu, naik turun gunung dan pada keesokan harinya, setelah malam tiba, kembali mereka hermalam di puncak terakhir. “Sekali ini terpaksa kita harus bermalam di bawah pohon, Twako.” Han Han merobohkan seekor kijang dengan batu dan malam itu perut mereka kenyang dengan daging kijang yang sedap dan gurih, akan tetapi yang dimakan setelah dipanggang tanpa bumbu. Mereka duduk berdekatan di bawah pohon, bersandar batang pohon yang amat besar itu, melepaskan lelah. Setelah kini ber­ganti sebutan, Han Han merasa biasa dan tidak begitu likat lagi terhadap Hian Ceng, dan makin sukalah hatinya kepada gadis ini yang dapat mengobati sakit di hatinya karena rindu kepada adiknya. “Lima tahun yang lalu, kdlau tidak ada Paman Thio Kai, aku dan Ayah telah mati di sini,” kata Hian Ceng sambil termenung, teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan dengan ayah­nya dan lewat serta bermalam di tempat itu. “Mengapa? Apa yang terjadi?” Han Han menoleh, melihat betapa rambut gadis itu menjadi kekuningan tertimpa sinar bulan yang telah muncul tinggi. “Kami diserang halimun beracun....” “Halimun beracun? Apa itu?” “Aku sendiri tidak tahu, Twako, akan tetapi menurut keterangan Paman Thio kemudian, halimun beracun itu mengandung inti hawa yang tak mungkin tertahan oleh manusia sehingga manusia yang bertemu dengan halimun beracun di atas gunung tentu akan mati membeku kalau tidak mempunyai pengalaman dan dapat cepat menyelamatkan diri seperti yang dilakukan Paman Thio.” “Apa penolaknya?” Han Han tertarik sekali. “Kan bisa membuat api unggun?” “Api akan padam karena kayu bakar­nya tiba-tiba menjadi dingin membasah. Untung Paman Thio yang sudah biasa menjelajahi gunung-gunung tinggi bahkan pernah mendaki Gunung Himalaya, sudah cepat menuangkan minyak di atas kayu dan membakarnya. Dengan terus menambah minyak, api unggun itu tidak menjadi padam, dan Paman Thio menyuruh kita menggali lubang secepatnya di tanah dekat api unggun. Kami semua berlindung di dalam lubang dan dihangatkan oleh api minyak. Kami selamat, akan tetapi pada keesokan paginya kami mendapatkan sebelas orang teman yang juga diserang halimun beracun itu telah mati dalam keadaan mengerikan. Mereka itu ada yang masih duduk bersila, ada yang memeluk batang pohon, akan tetapi kesemuanya sudah mati kaku dan semua darah di tubuh mereka membeku!” Han Han tertarik sekali. Ia mem­bayangkan betapa panik dan menderita­nya orang-orang yang terserang hawa dingin yang melebihi kekuatan daya ta­han tubuh manusia. Orang-orang yang menjadi teman-teman seperjuangan ayah gadis ini tentulah bukan orang semba­rangan dan sudah memiliki sin-kang yang kuat, namun tetap saja tidak dapat ber­tahan terhadap serangan hawa dingin dari halimun beracun itu. “Twako, celaka....!” Tiba-tiba Hian Ceng berteriak kaget. Han Han cepat menoleh dan baru ia melihat betapa api unggun yang tadi bernyala besar tiba-tiba padam dan tempat itu menjadi ge­lap, rambut Hian Ceng tidak bersinar kuning lagi, bahkan makin lama tak tam­pak sedangkan hawa menjadi luar biasa dinginnya! “Han-twako.... halim.... mun.... beracun.... kita lari saja...., akan tetapi ke mana.... yang tidak ada halimunnya....?” Suara Hian Ceng sudah menggigil dan agaknya gadis itu takkan dapat bertahan lama. Memang terasa oleh Han Han betapa dinginnya kabut hitam yang disebut halimun beracun ini. “Han-twako....!” “Ceng-moi, tenanglah. Ada aku di sini, jangan khawatir.” “Di.... dinginnn.... tak tertahankan....” “Menggeserlah, jangan tempelkan pung­gungmu ke pohon. Biar kubantu engkau melawan dingin.” Hian Ceng tadi sudah mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi percuma saja, hawa dingin makin menusuk-nusuk dan telinganya mendengar suara menderu aneh seperti banyak iblis tertawa-tawa. Ia masih dapat mendengar perintah Han Han maka ia menggeser duduknya ke kiri, mendekati pemuda itu dan tiba-tiba ia merasa betapa sebuah telapak tangan meraba lalu menempel di pung­gungnya, tepat di tulang punggung. Be­lum lama telapak tangan pemuda itu menempel di punggungnya, tiba-tiba ia merasa ada serangkum hawa panas me­nyengat punggung. Ia terkejut dan merintih lirih, akan tetapi kemudian hawa panas membakar itu perlahan-lahan mem­buyar dan tergantilah hawa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan terus hawa hangat itu berputaran dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun! Serangan ha­wa yang tadinya amat dingin itu kini terasa hangat dan nyaman sekali se­hingga Hian Ceng menjadi mengantuk bukan main! Tanpa disengaja ia menyan­darkan tubuhnya ke belakang dan kepala­nya berbantal dada Han Han, matanya sukar dibuka lagi saking mengantuknya! Akan tetapi ada bisikan di dekat telinganya. “Ceng-moi, jangan tidur.... kerahkan sin-kangmu, terima bantuan Yang-kang dariku dan salurkan ke seluruh tubuh, kalau kau tidur, berbahaya....!” Hian Ceng teringat dan menjadi ter­kejut. Biarpun ia masih menyandarkan kepalanya, kini ia mengerahkan sin-kang­nya dan benar saja, hawa hangat itu yang tadinya berhenti kini mengalir kembali. Kurang lebih sejam kemudian, Han Han berkata, “Sudah aman.... kabut dingin sudah lewat!” Akan tetapi begitu ia menghentikan pengerahan sin-kangnya, Hian Ceng tak dapat menahan kantuknya dan ia sudah tidur nyenyak berbantal pundak Han Han dan karena kepalanya miring maka dahi­nya menempel dagu Han Han! Pemuda ini menghela napas panjang, berbahaya, pikimya. Benar-benar kekuasa­an alam amat dahsyat. Kalau saja ia da­hulu tidak tekun berlatih di Pulau Es, agaknya sin-kangnya tidak akan mampu melawan halimun beracun itu. Suara aneh seperti banyak iblis tertawa tadi adalah suara daun-daun yang membeku dan ron­tok! Kini sinar bulan tampak lagi dan ia menunduk. Wajah Hian Ceng tertimpa sinar bulan, bukan main cantiknya. Jan­tung pemuda ini berdebar keras dan ia merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi panas. “Alangkah cantiknya.... bibir itu.... begitu dekat, mata tertutup dihias bulu-bulu mata yang bersatu, kelihatan pan­jang melentik, kedua pipi yang merah, segar bagaikan buah apel.... hawa yang hangat berhembus dari hidung dan mulut yang setengah terbuka. Kalau aku men­ciumnya, siapa yang tahu?” Demikian terdengar bisikan hatinya dengan suara merayu dan membujuk. “Gila engkau!” hardik suara lain di dasar hatinya. “Buang jauh-jauh niat busuk, kotor dan cabul itu!” “Aaahhhhh, siapa bilang kotor dan cabul? Dia begini cantik manis, seperti setangkai bunga atau sebutir buah masak. Betapa sayangnya bunga harum tidak di­cium dan buah manis tidak digigit. Hayo­lah, sekali ciuman di bibir yang menggairahkan itu, apa salahnya? Dia tidak akan marah, karena dia tidak tahu dan....” suara itu makin lembut, “Andaikata dia tahu sekalipun, dia tidak akan marah. Sinar matanya padamu begitu lembut, membayangkan kagum dan sayang....” “Tidak!” Suara ke dua membentak. “Seorang gagah menggunakan kesempatan begini, untuk mencuri ciuman!” “Bukan mencuri....” bantah suara ke dua halus, “baru saja kau menyelamatkan nyawanya dari bahaya maut, dibalas se­kali ciuman mesra apa salahnya? Dan ingat, dia sendiri yang menyandarkan kepalanya di bahumu, dia begitu mesra.... kau seorang laki-laki muda, masa begitu bodoh....?” Han Han memandang wajah itu, bibirnya menggigil, matanya menjadi sayu. Bukan main! Wajah itu demikian cantik­nya, cantik jelita melebihi segala kein­dahan yang pernah dilihatnya! Tak dapat menahan lagi dia! Dia harus mencium wajah Hian Ceng, biarpun hanya satu kali, biarpun dengan mencuri. Mulut itu begitu dekat, dia tinggal menunduk se­dikit saja dan bibir mereka akan ber­temu. Mesra! Han Han sudah menunduk, tiba-tiba bagaikan kilat berkelebat me­masuki otak dan ingatannya, ia terbayang akan peristiwa di Istana Pulau Es ketika dia terpengaruh racun dan dengan penuh gairah dan berahi memuncak, dia dan Lulu juga saling mencumbu, dan saling memeluk cium dan betapa kemudian dia merasa amat menyesal dan untung masih belum terlanjur! Ketika bibirnya menyentuh bibir Hian Ceng, Han Han teringat dan dengan kaget sekali ia mendapat kenyataan bahwa saat itu ia hendak mengulangi lagi adegan yang dulu ia lakukan bersama Lulu di bawah pengaruh racun! Dan sekarang, tidak ada racun yang mempengaruhi dirinya, namun mengapa ada dorongan yang mujijat mendesaknya sehingga ia ingin sekali melumat bibir itu penuh nafsu, mencengkeram dan membelai tubuh di depannya ini? Mengapa? Tiba-tiba Han Han merenggutkan mukanya dari muka gadis itu, membalik­kan tubuhnya dan membentak, “Bedebah Suma Hoat....!” Tangannya yang mengerahkan tenaga sin-kang telah meng­hantam pohon itu sehingga terdengar suara keras, tangannya menerobos masuk ke dalam batang pohon besar sampai sesiku dan pohon itu bergoyang keras daun-daunnya banyak yang rontok berguguran! “Aihhhhh....! Ada.... ada apa....?” Hian Ceng meloncat kaget dan mundur-mundur melihat Han Han berdiri tegak dengan muka tersinar cahaya bu­lan, amat menyeramkan. Tiba-tiba gadis ini menjerit lagi ketika Han Han melom­pat dan menghantam sebatang pohon di sebelah kirinya, kini menggunakan do­rongan dengan tenaga sin-kang sehingga pohon itu roboh, lalu meloncat ke kanan mendorong roboh pohon lain, mulutnya memaki-maki. “Si keparat engkau, Suma Hoat....!” Sudah ada sepuluh batang pohon roboh oleh amukan Han Han. “Han-koko....!” Seruan yang merupakan jerit melengking ini memasuki teli­nga Han Han seperti suara Lulu, seketika lemaslah tubuhnya, otot-ototnya seperti dilolos dan ia menoleh dan berbisik. “Lulu....!” bisiknya mengandung isak. Hian Ceng menubruk dan merangkul­nya, berkata dengan suara penuh kekhawatiran. “Han-koko....! Kau kenapakah....?” Han Han mengangkat tangannya, me­ngelus kepala gadis itu dan hatinya lega. Kini telah minggat nafsu berahi yang tadi membakarnya, telah lenyap dorongan hati yang ia anggap sebagai warisan watak dan darah kakeknya, Jai-hwa-sian Suma Hoat. Kini ia dapat membelai ram­but gadis itu tanpa nafsu berahi, sewajarnya timbul dari kasih seperti kalau dia membelai rambut Lulu. “Tidak apa-apa, Ceng-moi. Tadi aku mengusir setan....” Tubuh gadis itu menggigil. “Aihhh.... betul-betulkah ada iblis yang menggerak­kan halimun beracun tadi?” Han Han mengangguk. Pada saat se­perti itu lebih baik dia membohong. Ti­dak mungkin ia menceritakan keadaan yang sebenarnya. “Agaknya begitulah, Moi-moi. Akan tetapi iblis-iblis itu telah pergi dan kabut dingin telah lenyap. Mari kita membuat api unggun.” Setelah api unggun menyala dan hawa menjadi hangat, keduanya bersandar pada pohon dan berusaha untuk tidur. Namun Han Han tak dapat memejamkan mata sekejap pun, hatinya masih ngeri kalau ia membayangkan gelora nafsu yang me­nguasainya tadi. Juga gadis itu tidak tidur lagi, hatinya masih ngeri kalau mengingat halimun beracun. “Twako, besok kita berpisah, Twako akan ke Cung-king bersama para penjaga yang akan kita temui di kaki gunung besok pagi, dan aku akan mulai mencari adikmu ke Kwang-yang.” “Hemmm, baiklah, Ceng-moi.” “Twako, dua kali kau sudah menyela­matkan aku. Pertama menyelamatkan aku daripada bahaya yang mengerikan sekali, ke dua menyelamatkan aku daripada maut di cengkeraman iblis halimun be­racun. Twako, kau sungguh baik sekali....” “Sudahlah, Moi-moi. Tidak perlu menyebut-nyebut hal itu lagi....” Han Han mendekati api unggun dan menambah kayu sehingga api menyala lebih besar. “Tidurlah....” “Twako, aku akan mencari adikmu sampai dapat! Sungguh, akan kukerahkan segala kemampuanku untuk mencarinya. Kalau sudah dapat kubawa kepadamu.... Twako, kau berjanjilah.... kau perbolehkan aku ikut denganmu. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan di dekatmu aku merasa aman, merasa tenteram dan senang.” “Ceng-moi, hal itu belum perlu dibicarakan sekarang. Tidurlah....” Suara Han Han terdengar terharu penuh duka, dan kembali pemuda ini menambah kayu pada api unggun sehingga nyalanya makin membesar. Tiba-tiba Hian Ceng sudah berjongkok di sebelahnya, memegangi kedua lengan­nya dan berkata, “Han-koko, mengapa engkau berduka lagi? Engkau agaknya menderita sekali.... ah, percayalah, Koko, aku akan berusaha dengan seluruh jiwa ragaku untuk membahagiakanmu....” Han Han memandang dan betapa kaget hatinya ketika melihat pandang mata gadis ini persis pula pandang mata Kim Cu, juga pandang mata Sin Lian dan pandang mata mendiang Lu Soan Li! Pandang mata penuh cinta kasih! Cepat ia membuang muka dan merenggut le­ngannya dengan halus. “Ceng-moi.... maafkan aku, biarkanlah aku sendiri.... tidurlah dan besok pagi kita bicarakan lagi....!” Di dalam suaranya terbayang penuh permintaan sehingga gadis itu menjadi kasihan, menarik napas panjang dan kembali ke pohon, bersandar dan mencoba tidur. Akan tetapi, berkali-kali ia menengok dan memandang Han Han yang duduk menghadapi api unggun, membelakanginya. Baru setelah menjelang pagi gadis itu dapat tidur pulas. Akan tetapi, ketika sinar matahari yang menembus celah-celah daun men­cium pipinya dan membangunkannya, Hian Ceng tidak melihat lagi Han Han berada di situ. Pemuda itu sudah pergi dan di atas tanah dekat api unggun yang sudah padam, Hian Ceng melihat tulisan yang cukup jelas.   “Aku ke Cung-king, tak pertu dikawal. Sampai jumpa.”  Hian Ceng menghela napas panjang. Dunia terasa sunyi setelah pemuda bun­tung itu meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak merasa khawatir bahwa Han Han pergi ke Cung-king tanpa pengawal. Pe­muda buntung itu bukan manusia biasa, kepandaiannya hebat dan agaknya akan mampu mengatasi segala perkara yang dihadapinya. Hian Ceng kembali menghela napas teringat akan semua pengalamannya dengan Han Han yang biarpun hanya berkumpul beberapa hari namun amat mengesankan dan menegangkan hatinya. Ah, ia merasa yakin bahwa Han-koko-nya akan mampu mengatasi segala perkara yang menimpa dirinya, akan tetapi ia ragu-ragu apakah pemuda itu akan dapat mengatasi dirinya sendiri. Pemuda itu kelihatan selalu berduka, dan peristiwa malam itu sungguh mengerikan, ketika pemuda itu berperang dengan “iblis” yang ia dapat menduga tentu berada dalam dirinya sendiri. Pemuda itu sering kali menderita hebat karena di dalam tubuhnya terdapat dua kekuatan yang saling berlawanan! Dia harus mencari Lulu sampai dapat, membawanya kepada Han Han kemudian dia tidak akan mau berpisah lagi! Setelah mengambil keputusan ini dalam hati­nya, Hian Ceng pergi dari situ ke Kwang-yang.  Seperti ketika dia memasuki kota raja Peking, ketika Han Han memasuki Cung-king buntungnya sebelah kakinya tidak menarik perhatian orang karena di Se-cuan pun banyak terdapat penderita ca­cad akibat perang. Hanya rambutnya yang panjang dan sinar matanya yang tajam luar biasa itulah yang menarik perhatian orang. Sebaliknya, Han Han menjadi kagum ketika ia memasuki kota besar ini karena ia merasa seolah-olah memasuki sebuah dunia yang lain. Amat jauh bedanya keadaan di kota ini dengan kota-kota lain di luar perbatasan. Bukan hanya cara berpakaian dan rambut, di mana tidak tampak rambut dikuncir se­perti di kota-kota jajahan, juga cara mereka itu bicara, pandang mata dan sikap penduduk ini semua bersemangat dan gagah. Belum lama ia memasuki kota Cung-king dan sedang mencari-cari di mana gerangan istana tempat tinggal Bu Sam Kwi, raja muda yang menguasai daerah Se-cuan dan yang namanya ter­kenal sekali, atau di mana kiranya ia akan dapat bertemu Sin Kiat, tiba-tiba ada orang memegang lengannya dan berkata. “Sahabat muda, marilah singgah di rumahku. Tentu engkau baru datang dari garis depan, bukan?” Han Han menengok dan melihat se­orang laki-laki setengah tua yang sikap­nya ramah sekali. Hatinya terharu ketika melihat bahwa orang inipun buntung sebelah kakinya, terpincang-pincang dan membawa tongkat seperti dia. Tubuhnya tinggi besar dan kuat, dan seluruh sikap­nya jelas membayangkan bahwa orang ini tentu seorang pejuang. “Terima kasih, Paman. Aku ada perlu penting, tidak mempunyai banyak waktu,” jawab Han Han ramah. “Kalau begitu, mari kita minum teh hangat di warung itu. Aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang perang. Tentu menarik sekali. Nasib kita sama, aku pun kehilangan sebelah kakiku dalam perang. Akan tetapi aku tidak menyesal, jangankan hanya satu kaki, biar nyawaku sekalipun kurelakan demi membela bang­sa dari cengkeraman penjajah!” Han Han merasa jantungnya tertikam. Dia terharu sekali. Orang ini benar-benar bahagia. Biar kehilangan kaki, namun orang ini kehilangan dengan hati rela karena kakinya hilang tidak percuma, melainkan untuk perjuangan membela bangsa. Kehilangan kakinya bahkan me­rupakan pupuk bagi suburnya semangat perjuangan. Kalau dia? Kakinya buntung dengan sia-sia. Konyol! Hatinya terharu dan ia tidak dapat menolak lagi. Keduanya terpincang-pincang memasuki warung makan. Penjaga warung menyambut me­reka dengan wajah ramah. Mereka makan bubur ayam dan mi­num teh panas yang dipesan laki-laki besar buntung itu. Bermacam-macam pertanyaannya yang dijawab dengan sing­kat saja oleh Han Han. Untuk menyenang­kan hati orang itu dan tidak menimbul­kan kecurigaan, ia membenarkan bahwa ia kehilangan kaki ketika ia membantu fihak pejuang dalam perang melawan penjajah. Akhirnya Han Han menutup kata-katanya dengan ucapan sungguh-sungguh. “Paman yang gagah, terima kasih atas keramahanmu. Memang sebetulnya aku bukanlah anggauta pasukan pejuang, akan tetapi kedatanganku ini membawa berita penting sekali yang harus kusampaikan sendiri kepada Bu-ongya. Di manakah istananya?” Tiba-tiba laki-laki buntung itu bangkit berdiri, bersandar pada tongkatnya dan bertanya dengan suara yang kaku, tidak seramah tadi, “Orang muda, di fihak siapakah kau berdiri? Pangeran Kiu atau­kah Raja Muda Bu?” Han Han menjadi bingung dan meng­geleng kepalanya. “Aku tidak tahu, aku tidak di fihak siapa-siapa.” “Bagus! Mari kita keluar dari sini dan bicara di luar.” Orang itu membayar harga bubur dan teh, menggandeng ta­ngan Han Han dan terpincang-pincang keluar. Karena kini ada dua orang bun­tung jalan bersama dan bercakap-cakap, hal ini menarik perhatian orang juga, akan tetapi yang ditujukan kepada mereka adalah mata yang mengandung kasihan. “Hiante, engkau orang yang baru datang, akan tetapi jasamu sudah jelas karena engkau telah mengorbankan se­belah kaki untuk perjuangan. Kesetiaan dan kebaktianmu terhadap tanah air dan bangsa sudah terbukti. Aku tidak tahu apa yang akan kausampaikan kepada Bu-ongya, akan tetapi kiranya perlu kuberitahukan kepadamu bahwa di sini terjadi perbedaan faham sehingga timbul tiga macam faham. Pertama adalah faham Bu-ongya yang bertekad untuk berjuang mati-matian sampai titik darah terakhir mempertahankan kerajaannya. Memper­tahankan kerajaannya! Mengertikah eng­kau, Hiante? Dan ke dua adalah faham Pangeran Kiu yang menganjurkan agar berdamai, bukan takluk, berdamai dengan penjajah Mancu dengan syarat-syarat yang menguntungkan fihak Se-cuan. Nah, yang ke tiga adalah faham yang paling murni, tidak mementingkan diri pribadi, yaitu faham para pejuang yang datang dari luar Se-cuan, yang berjuang demi tanah air dan bangsa, sama sekali tidak ingin menjadi raja atau mendapat kemuliaan. Seperti.... seperti engkau dan aku. Nah, selamat berpisah, kalau engkau masih hendak mengunjungi Bu-ongya, hal yang tentu saja tidak mungkin atau akan sulit sekali, nah, itu di sana istananya, yang atapnya menjulang tinggi!” Laki-laki buntung itu lalu meninggalkan Han Han. Pemuda ini berdiri termangu-mangu dan heran mendengarkan keterangan yang diucapkan dalam bisikan-bisikan itu. Ah, dia tidak akan peduli akan urusan itu. Yang penting, dia harus menyampai­kan rencana penyerbuan tentara Mancu untuk menyelamatkan Se-cuan. Perebutan kekuasaan terjadi di mana-mana dan dia tidak akan melibatkan diri. Tugasnya hanya menyampaikan rencana Mancu yang merupakan ancaman bagi rakyat Se-cuan, kemudian ia akan mencari Lulu. Han Han yang telah melangkah, berhenti lagi. Teringat ia akan ucapan laki-laki gagah yang buntung tadi. Laki-laki itu kehilangan kakinya untuk berdarma bakti kepada tanah air dan bangsa. Kalau dia? Kakinya buntung dengan sia-sia! Tidak, dia harus pula menyumbangkan tenaga untuk membantu rakyat dan bangsanya yang terancam penyerbuan Se-cuan. Bala tentara Mancu dibantu orang-orang pan­dai seperti Setan Botak, Iblis Muka Kuda, Toat-beng Ciu-sian-li dan masih banyak lagi tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi. Mereka itu bukan hanya membantu penjajah, akan tetapi juga terkenal sebagai tokoh-tokoh kaum sesat yang sudah se­patutnya kalau dia tentang. Dia akan membantu Se-cuan, bukan semata-mata untuk ikut melibatkan diri dalam perang yang dibencinya, melainkan terutama sekali untuk membela rakyat yang akan menderita karena penyerbuan bala ten­tara Mancu untuk menentang tokoh-tokoh kang-ouw yang jahat itu. Bukankah adik­nya Lulu, juga telah membantu perjuang­an Pek-lian Kai-pang? Adiknya benar. Bukan memusuhi bangsa Mancu atau bangsa apa pun juga, melainkan menen­tang kelaliman dan kejahatan, dari mana­pun juga datangnya! Dengan langkah lebar Han Han me­nuju ke pintu gerbang besar di depan istana yang cukup megah itu. Beberapa orang penjaga segera menghadangnya dan tak lama kemudian ia sudah berhadapan dengan tujuh orang penjaga dengan se­orang komandan jaga. “Ho-han (Orang Gagah) hendak mencari siapakah? Apakah hendak mengunjungi Ho-han Bu-koan?” tanya komandan jaga dengan sikap hormat. Kalau saja Han Han menjawab dengan anggukan kepala, tentu ia akan diberi jalan karena memang para penjaga sudah biasa melihat orang-orang kang-ouw, yang aneh-aneh memasuki istana untuk pergi ke Ho-han Bu-koan, yaitu sebuah gedung besar yang khusus disediakan oleh Bu Sam Kwi untuk menampung orang-orang gagah dari luar Se-cuan yang melarikan diri ke Se-cuan untuk menggabungkan diri menghadapi penjajah. Akan tetapi Han Han menggeleng kepala! Bahkan ia lalu menjawab, “Tidak, aku mohon menghadap Bu-ongya.” Para penjaga itu terkejut dan memandang Han Han penuh perhatian dan kecurigaan. “Ada keperluan apakah hendak menghadap Ongya?” “Urusan penting yang hanya akan saya sampaikan kepada Bu-ongya sendiri.” “Tidak begitu mudah, orang muda. Kalau engkau membawa surat penting, katakan dari siapa. Kalau engkau mem­bawa pesan, katakan engkau utusan siapa, agar kami dapat melaporkan ke dalam.” Han Han menggeleng kepala. “Lapor­kan saja bahwa aku mohon menghadap Bu-ongya untuk keperluan yang amat penting, aku membawa berita yang amat penting bagi keselamatan Se-cuan.” Ada yang terbelalak mendengar ini, ada pula yang tertawa. Agaknya pemuda ini seorang yang miring otaknya, pikir mereka. Berita apakah yang dapat menyelamatkan Se-cuan? Seolah-olah Se-cuan dapat diancam begitu saja! Akan tetapi komandan jaga yang da­pat menduga bahwa pemuda buntung itu tentu bukan orang sembarangan, melihat sikapnya yang dingin dan sinar mata yang tajam mengerikan itu, lalu berkata. “Kalau Ho-han hendak menghadap Ongya, harus lebih dulu menghadap ke Ho-han Bu-koan. Mari, silakan, Ho-han!” Han Han tidak tahu apa itu yang disebut Ho-han Bu-koan (Rumah Silat Kaum Ho-han) dan ia pun tidak peduli asal dia diperbolehkan bertemu dengan Bu Sam Kwi untuk melaporkan rencana penyerbuan oleh tentara Mancu seperti yang ia dengarkan dari rapat yang di­pimpin Setan Botak. Ia mengangguk dan terpincang-pincang mengikuti komandan jaga itu. Mereka memasuki pekarangan istana yang lebar dan karena dikawal oleh komandan jaga, maka para penjaga dan pengawal hanya memandang Han Han penuh perhatian. Agaknya mereka merasa heran mengapa ada pemuda pincang hen­dak pergi ke Ho-han Bu-koan. Selihai-lihainya orang pincang bisa apa sih? Kakinya pun tinggal satu! Komandan jaga itu membawa Han Han memasuki sebuah gedung yang besar, juga di samping kanan istana. Di depan gedung ini terdapat papan nama dengan huruf-huruf besar dan gagah, tulisan tangan yang indah sekali, hanya empat huruf : HOHAN BU KOAN. Berbeda dengan istana yang bagian depannya penuh dengan penjaga dan pengawal, gedung ini tidak dijaga dan pintunya yang lebar pun terbuka. Komandan jaga mengajak Han Han memasuki pintu. Ruangan depan kosong saja dan komandan itu berkata kepada Han Han. “Para Ho-han tentu sedang berkumpul di dalam. Mari kita masuk saja, Ho-han!” Han Han mengangguk dan bersikap waspada, akan tetapi ia hanya mengikuti komandan jaga itu memasuki ruangan dalam sambil terpincang-pincang dibantu tongkatnya. Begitu melewati pintu tem­busan, tampaklah sebuah ruangan yang amat luas dan di situ tampak berkumpul banyak sekali orang, ada empat puluh orang lebih dengan sikap seenaknya, ada yang duduk di atas meja, ada pula yang duduk bersila di atas tanah dan rebah-rebahan di lantai. Sikap orang-orang kang-ouw yang tidak acuh! “Apapun yang terjadi di atasan, apa pun yang mereka perebutkan, kita tidak peduli, yang penting, hancurkan penjajah Mancu!” Terdengar seorang laki-laki ting­gi kurus berkata sambil menggunakan sepasang sumpit yang istimewa panjang dan besarnya, sumpit gading, menjemput sepotong daging dari mangkok di atas meja dan melempar daging itu ke mu­lutnya. Ya, melemparnya karena ia ha­nya menggerakkan sumpit itu dan da­gingnya terlempar memasuki mulutnya yang ternganga, lalu dikunyahnya mengeluarkan suara seperti babi sedang makan! Orang ini yang menarik adalah ma­tanya, karena matanya buta sebelah, hanya sukar dikatakan yang mana yang buta, karena yang kiri hanya tampak putih saja sedangkan yang kanan hanya tampak guratan hitam! Agaknya mereka sedang membicara­kan tentang pertentangan faham antara Bu-ongya dan Pangeran Kiu seperti yang ia dengar dari laki-laki buntung tadi. Munculnya Han Han bersama komandan jaga membuat semua orang menghenti­kan percakapan dan mereka menengok, memandang ke arah Han Han penuh per­hatian dan penyelidikan, agak curiga karena mereka tidak mengenal pemuda buntung ini. “Harap cu-wi Ho-han (Orang-orang Gagah Sekalian) suka memaafkan. Ho-han muda ini datang dan mengatakan mohon menghadap Ongya karena mem­bawa berita yang penting bagi kesela­maian Se-cuan tanpa mau memberi tahu kepada saya. Karena meragukan keterang­annya maka saya antar ke sini agar cu-wi dapat menyelidik dan memberi keputusan. Terserah!” Komandan jaga itu lalu keluar dari situ setelah sekali lagi memandang Han Han penuh kecurigaan. Sejenak sunyi di ruangan itu ketika semua mata ditujukan kepada Han Han. Pemuda ini memandang ke sekeliling, memperhatikan ruangan yang bersih dan indah itu. Di tengah ruangan terdapat permadani berwarna biru tua yang bersih dan indah, dan di dekat pintu terdapat jendela besar yang tidak berdaun, terbuka memperlihatkan sebuah kebun yang ­indah pula sehingga ruangan ini men­dapat hawa dari luar yang amat sejuk. Karena ruangan itu amat bersih, tidak heran orang-orang kang-ouw itu duduk atau rebah di atas lantai begitu saja. Karena tidak ada orang yang menegurnya, Han Han menjadi tidak sabar dan ia bergerak maju terpincang-pincang ke te­ngah ruangan, di atas permadani biru tua dan berkata. “Maafkan saya. Sesungguhnya komandan jaga itu keliru mengantar saya ke sini karena saya tidak mempunyai urusan dengan cu-wi Enghiong sekalian. Saya hanya ingin bertemu dengan Raja Muda Bu Sam Kwi untuk menyampaikan urusan yang amat penting.” Akan tetapi alangkah heran hati Han Han ketika melihat betapa semua orang memandangnya dengan mata marah, bah­kan seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun yang bertubuh kurus dan bermuka pucat sudah meloncat maju menghadapi­nya di atas permadani biru dan memben­tak. “Sahabat yang gagah, perkenalkan namamu!” Han Han menjadi makin heran. Laki-laki ini bersikap gagah, kata-katanya pun bersahabat karena menyebutnya sahabat yang gagah, akan tetapi nada suaranya marah! Ia menjura dan menjawab, “Namaku Han Han.” “Siapa gurumu? Dari golongan mana? Selama berjuang ikut rombongan yang dipimpin siapakah?” Menghadapi pertanyaan bertubi-tubi seperti seorang hakim memeriksa pe­sakitan ini, berkerutlah alis Han Han, akan tetapi karena pertanyaan itu di­ajukan dengan sopan dan semua orang agaknya memperhatikan, ia menganggap bahwa memang sikap orang-orang kang-ouw ini aneh, maka ia pun menjawab singkat. “Nama guruku tidak boleh kuperkenal­kan orang lain, aku bukan dari golongan manapun dan aku tidak pernah ikut berjuang!” “Aaahhhhh....!” Seruan ini terdengar dari banyak mulut dan semua orang me­mandang dengan penuh kecurigaan, bah­kan ada bisikan dari sudut, “Jangan-jangan mata-mata anjing Mancu....!” Mendengar ini, Han Han mengangkat muka memandang mereka dan berkata lagi, “Aku bukan pejuang, bukan pula mata-mata Mancu, akan tetapi aku da­tang untuk menyampaikan berita yang amat penting bagi Raja Muda Bu Sam Kwi!” “Manusia sombong!” laki-laki kurus yang berdiri di depannya membentak lagi. “Tidak perlu banyak bicara yang tidak-tidak lagi, aku Sin-jiauw-eng (Ga­ruda Cakar Sakti) Lo Hwat menyambut tantanganmu. Lihat serangan!” Han Han terkejut sekali karena men­dadak orang kurus itu mencengkeram ke arah dadanya. Ia pikir tidak perlu mem­bantah lagi, biarlah kalau dia dianggap sombong dan menantang. Dia pun tidak menangkis atau mengelak, hanya menge­rahkan sin-kang pada dadanya yang di­cengkeram. Melihat betapa pemuda bun­tung ini sama sekali tidak mengelak maupun menangkis, Sin-jiauw-eng Lo Hwat kaget dan cepat mengubah serang­an mencengkeram menjadi dorongan tela­pak tangan. Dia adalah seorang gagah, tentu saja tidak mau membunuh orang yang tidak mau mempertahankan diri, sungguhpun orang ini telah berani berdiri di atas permadani biru! Han Han sama sekali tidak tahu bahwa sudah menjadi “hukum” di Ho-han Bu-koan itu bahwa siapa yang berdiri di atas permadani biru itu berarti menantang yang hadir untuk pibu (mengadu ilmu silat)! “Bukkk!” Tubuh Han Han sedikit pun tidak ber­goyang akan tetapi sebaliknya Lo Hwat yang memukulnya dengan dorongan keras malah terjengkang! Semua orang yang hadir mengeluarkan seruan kagum. Lo Hwat terkenal sebagai seorang yang memiliki tenaga lwee-kang kuat sekali di samping keahliannya mempergunakan jari tangan sebagai cakar garuda. Kini, Si Garuda Cakar Sakti itu memukul dada pemuda buntung ltu dan roboh terjeng­kang sendiri! “Aku tidak ingin berkelahi,” kata Han Han. Akan tetapi Lo Hwat sudah mencelat bangun lagi, matanya menjadi merah sa­king malu, marah dan penasaran. Dia tadi menaruh kasihan, siapa akan mengi­ra bahwa dia malah dibikin malu oleh bocah buntung ini. Sambil berseru keras ia lalu meloncat ke atas, kemudian dari atas tubuhnya menyambar bagaikan se­ekor burung garuda, kedua tangannya membentuk cakar, yang kanan mencakar ke arah kepala Han Han sedangkan yang kiri mencengkeram ke arah pundak. Han Han menjadi penasaran. Serangan lawan sekali ini amat berbahaya dan kalau dia diam saja, hanya menggunakan sin-kang melindungi tubuh, dia tentu akan dianggap menghina atau juga takut. De­ngan kaki satu masih berdiri tegak, ia mengelebatkan tongkatnya ke atas. Ge­rakan tongkatnya cepat bukan main, tahu-tahu sudah menempel kedua lengan lawan dan sekali ia membanting, tubuh Lo Hwat sudah terguling ke atas lantai dan terbanting, sedangkan Lo Hwat ini sama sekali tidak tahu mengapa tubuhnya tiba-tiba jatuh. Ketika ia memandang, pemuda buntung itu masih berdiri tegak di atas satu kaki, tongkatnya dikempit di bawah ketiak kiri dan kedua lengannya bersedakap! Kemarahan Lo Hwat memun­cak. Dia terjatuh di depan pemuda itu dan ketika ia merangkak bangun dan berlutut, tampak seolah-olah ia berlutut di depan pemuda buntung itu! Kemarah­an membuat orang menjadi mata getap. Demikian pula dengan Lo Hwat. Dia ter­kenal sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dua kali ia dirobohkan oleh pemuda buntung ini yang kelihatannya sama sekali tidak bergerak, dijatuhkan di depan sekian banyaknya orang gagah. Inilah yang membuat dia malu dan merasa terhina sehingga ke­marahannya membakar hati dan kepala. Tiba-tiba ia menggereng dan tangan kanannya yang sudah ia kepal dengan pe­ngerahan lwee-kang sekuatnya, ia pukul­kan ke arah pusar Han Han dengan tubuh masih berlutut atau setengah berjongkok. Hebat bukan main pukulan maut ini dan terdengarlah seruan-seruan kaget dari mulut heberapa orang gagah di situ yang menganggap perbuatan Lo Hwat ini me­lewati batas dan juga amat keji dan cu­rang. “Desssss!” Pukulan itu memang hebat sekali karena dilakukan dengan pengerahan te­naga dalam yang keluar dari pusar, se­dangkan yang dipukul juga bagian yang lemah, yaitu pusar. Tentu saja bagian lemah bagi orang biasa, akan tetapi pe­muda buntung itu sama sekali ia tidak mengelak bahkan mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada orang yang gagah akan tetapi berangasan ini. Ia mengerahkan sin-kang, menerima pukul­an dan mengembalikan hawa yang men­dorong pukulan itu, kepada penyerangnya. Tenaga dalam itu membalik dan menye­rang Lo Hwat sendiri sehingga dia me­mekik keras dan roboh terlentang di atas permadani dalam keadaan pingsan karena dadanya terluka oleh pukulannya sendiri! “Omitohud....! Bukan main bocah buntung ini, ilmunya boleh juga!” Oua orang yang berpakaian seperti hwesio, kepala mereka gundul dan mereka berkalung sarung berwarna kuning, bangkit berdiri dan melangkah maju, yang tinggi besar dan gemuk di depan sedangkan yang kecil pendek kurus di belakangnya. Akan tetapi, pada saat itu terdengar bentakan keras, “Bocah buntung yang sombong, engkau berani menghina muridku? Biarlah aku yang mencoba kelihaianmu. Perkenalkan aku, Tok-gan-siucai (Pelajar Bermata Tunggal) Gu Cai Ek!” kiranya kakek berusia lima puluhan tahun yang matanya putih satu hitam satu dan yang memegang sumpit gading tadi sudah ­berdiri di atas permadani menghadapi Han Han. Pemuda ini masih berdiri de­ngan kaki satu, tongkatnya dikempit dan kedua lengannya bersedakap, dengan sua­ra menyesal berkata. “Lo-enghiong, aku tidak ingin ber­kelahi dengan siapa pun juga!” “Omong kosong! Lihat seranganku!” Kakek ini sudah menyerang Han Han de­ngan sepasang sumpit gadingnya yang kini dipegang di kedua tangan. Caranya memegang seperti orang memegang alat tulis dan begitu menyerang ia menotok jalan darah sehingga maklumlah Han Han bahwa orang ini adalah seorang yang ahli mainkan senjata siang-pit (sepasang pensil) dan ahli totok, hanya dia tidak menggunakan pensil melainkan sepasang sumpit gading yang dapat ia pergunakan untuk makan! Mengertilah ia mengapa orang ini memakai julukan Siucai (Pela­jar). Karena serangan itu memang hebat, tentu saja jauh lebih lihai daripada ilmu kepandaian muridnya tadi. Han Han ce­pat mengelak. Dia masih bersedakap dan mengempit tongkatnya, hanya kakinya yang tinggal satu itu tiba-tiba mengen­jot dan tubuhnya mencelat ke atas. “Haliiittttt! Eh....?” Si Mata Satu terkejut sekali karena orang yang diserangnya itu tiba-tiba lenyap dan tahu-tahu sudah pindah ke tempat lain. Ia ce­pat mengejar dan kedua senjatanya me­luncur cepat, menotok secara bertubi-tubi, memilih jalan darah yang berbahaya. Namun Han Han hanya melawannya dengan berloncatan, mengerahkan sedikit saja dari ilmunya gerak kilat dan semua serangan itu hanya mengenai tempat kosong, bahkan Si Mata Satu itu berkali-kali mengeluarkan seruan bingung dan kaget karena sering kali lawannya lenyap. Dan kasihan sekali dia yang bermata tinggal satu itu kadang-kadang harus menengok ke kanan kiri mencari lawannya! “Lo-enghiong, aku tidak ingin ber­kelahi denganmu!” Sudah tiga kali Han Han berkata sabar, akan tetapi makin lama kakek bermata satu ini menjadi makin penasaran dan marah karena se­mua totokannya luput. Benar-benarkah pemuda buntung ini pandai menghilang seperti setan, ataukah matanya yang tinggal satu ini agaknya sudah tidak awas lagi? “Cuit-cuit-cuit.... sing-singgg....!” Han Han terkejut karena kini kakek bermata satu itu menggerakkan sepasang gading kecil berbentuk sumpit itu ber­gerak secara hebat dan aneh, cepat dan juga bertenaga, merupakan dua sinar kecil yang gemerlapan dan membentuk lingkaran-lingkaran yang menutup semua “pintu” di delapan penjuru. Ia kaget dan kagum. Kiranya kakek ini hebat juga ilmu kepandaiannya. Kalau ia mengerah­kan seluruh ilmunya gerak kilat, tentu akan menarik perhatian, maka ia pun cepat menggerakkan tongkatnya menang­kis. “Trak-tringgg....!” “Ayaaaaa....!” Kakek mata satu itu terkejut dan cepat membuat tubuhnya sendiri berputar setengah lingkaran untuk mematahkan tenaga tangkisan lawan yang hampir membuat kedua senjatanya terlempar dari tangan. “Lo-enghiong hebat, aku kagum dan terima kalah!” Han Han berkata, dan memang ia benar-benar merasa kagum ketika menangkis tadi dan mendapat kenyataan bahwa kepandaian Tok-gan-siucai ini benar-benar tinggi, tidak di sebelah bawah tingkat Lauw-pangcu! “Cuat-cuat-cuatt....!” Kembali sepasang sumpit itu melakukan totokan bertubi-tubi dan kini dari jauh saja Han Han sudah merasa sambaran angin yang kuat, tanda bahwa kakek itu telah meng­gunakan sin-kang dan melawan mati-mati­an. Ia merasa menyesal sekali. Mengapa­kah dia selalu dimusuhi oang? Mengapa kehadirannya selalu menimbulkan keribut­an? Apakah kesalahannya? Memang ia bernasib buruk, selalu sial. Maksud baik­nya selalu ditanggapi keliru oleh orang lain sehingga dia selalu dimusuhi orang. Dan kini kakek bermata satu yang lihai ini menyerangnya dengan hebat, melaku­kan serangan totokan-totokan yang amat berbahaya. “Mengapa engkau mendesakku?” teri­aknya dengan suara berduka, tongkatnya bergerak ke bawah dari bawah ketiaknya ketika tubuhnya meloncat ke atas. Pada saat itu, sumpit gading di tangan kiri Tok-gan-siucai menyambar, disusul sumpit kanannya. Cepat bagaikan kilat menyam­bar, sebelum tubuhnya turun, Han Han sudah menggerakkan tongkatnya, menge­rahkan gin-kang yang sudah sempurna sehingga tubuhnya seolah-olah dapat tertahan di udara, sin-kang di tangan yang memegang tongkat amat kuat ketika tongkat berturut-turut menangkis se­pasang sumpit, melekatnya dan sekali renggut, Tok-gan-siucai berseru kaget, kedua batang sumpitnya tak dapat ia tahan lagi, terbang lepas dari kedua tangannya dan terus terbang mencelat ke atas, menancap pada langit-langit ruang­an itu yang tinggi! “Omitohud.... benar mengagumkan....!” Kini seruan kagum ini terdengar dari mulut hwesio kurus dan tiba-tiba hwesio itu menggerakkan tangannya ke atas. Angin yang keras menyambar ke langit-langit ketika jubahnya yang lebar pada lengannya itu berkelebat dan.... dua batang sumpit yang tadinya menancap ke langit-langit itu tiba-tiba menyambar ke bawah, ke arah Han Han! Han Han terkejut sekali. Itulah de­monstrasi tenaga sin-kang yang amat tinggi, dan cepat ia mengulur tangan kanannya menyambut dua batang sumpit itu dengan gerakan seenaknya, lalu me­lemparkan sepasang sumpit itu kepada Tok-gan-siucai sambil berkata. “Maaf, Lo-enghiong. Saya tidak ingin ­berkelahi!” Tok-gan-siucai sebagai seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman, maklum bahwa dia bukanlah lawan pemuda bun­tung itu, maka ia menyambut sepasang sumpitnya, kemudian menyambar tubuh muridnya yang masih pingsan, membawanya loncat ke pinggir, keluar dari permadani biru. Ia merasa lega ketika memeriksa bahwa muridnya itu hanya ping­san karena tenaga sendiri yang membalik. Ia menotok beberapa jalan darah dan Sin-jiauw-eng Lo Hwat siuman sambil mengeluh perlahan. “Omitohud, seorang muda yang luar biasa! Biarlah pinceng mencobanya!” Hwesio tinggi besar gendut yang mukanya seperti anak kecil itu menggerakkan kakinya. Tidak kelihatan ia membuat ge­rakan meloncat, namun tubuhnya seperti terbang ke depan dan sudah berdiri di atas permadani menghadapi Han Han. “Maaf, Losuhu. Saya tidak ingin berkelahi,” kata pula Han Han, kembali ter­kejut menyaksikan gerakan ini. “Ha-ha-ha, jangan terlalu merendahkan diri, orang muda. Memang engkau memiliki kepandaian yang patut diperlihatkan dan diuji! Bersiaplah, pin­ceng menyerang!” Ucapan ini ditutup dengan gerakan tangan kirinya. Seperti juga gerakan hwesio kecil kurus itu hwesio gemuk ini seperti menggerakkan tangan sembarangan saja, akan tetapi dari balik lengan bajunya yang lebar itu menyambar angin yang luar biasa kuatnya, mendorong ke arah dada Han Han. Han Han maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pan­dai. Tingkat kekuatan sin-kang kedua hwesio aneh ini kiranya tidak di bawah kepandaian Gak Liat, Ma-bin Lo-mo atau bahkan Toat-beng Ciu-sian-li sendiri! Ia heran menyaksikan orang-orang pandai yang berkumpul di tempat ini, maka ia tidak ingin melawan. Cepat tubuhnya mencelat dan pukulan itu lewat di bawah kakinya.“Bagus! Sin-kangmu hebat, juga gin-kangmu amat luar biasa. Belum pernah pinceng menyaksikan gerakan seperti kilat cepatnya itu!” Hwesio gendut itu mulutnya memuji, akan tetapi tangan kirinya kembali menampar dan angin pukulan yang lebih kuat lagi menyambar ke arah tubuh Han Han yang masih di udara. Akan tetapi dia membelalakkan matanya lebar-lebar ketika melihat be­tapa tubuh pemuda buntung itu kembali mencelat ke samping, padahal kakinya belum menginjak lantai! Bagaimana mungkin dapat bergerak seperti itu sehingga kembali tamparannya luput? Ia mulai penasaran dan beberapa kali tangan kiri­nya menampar-nampar dan angin ber­bunyi bercuitan ketika tamparan itu me­nyambar dari kanan kiri dan mengejar bayangan Han Han yang terus berpindah-pindah secara aneh. Semua orang yang berada di situ menjadi silau matanya. Mereka hanya melihat pendeta gendut itu menggerak-gerakkan tangan kirinya se­perti orang mengebut-ngebutkan kipas dan mereka tidak dapat melihat lagi tubuh pemuda pincang, atau melihat tubuh pemuda itu berubah menjadi ba­nyak karena mencelat ke sana ke mari dengan amat cepetnya! Han Han sambil meloncat ke sana-sini memperhatikan pendeta gendut itu dan melihat bahwa sejak tadi, hwesio itu hanya menggunakan tangan kirinya untuk mengirim angin pukulan, sedangkan ta­ngan kanannya selalu disembunyikan di bawah jubahnya, menekan pinggang. Bukan main, pikirnya, baru maju tangan kirinya saja sudah begini hebat, apalagi kalau tangan kanannya yang bergerak. Dia menaksir bahwa tangan kanan itu tentulah hebat sekali dan agaknya kini masih belum dipergunakan si hwesio se­bagai ilmu simpanan atau cadangan yang hanya akan dipergunakan kalau perlu saja. Semenjak ia keluar dari tempat persembunyian gurunya, nenek berkaki buntung, belum pernah ia bertemu lawan yang sepandai ini, maka diam-diam Han Han menjadi gembira dan ingin menguji kemampuannya sendiri, ingin pula me­lihat bagaimana hebatnya tangan kanan hwesio gendut itu. Setelah timbul keinginan ini, ketika kakinya turun menotol lantai, ia mem­buat gerakan untuk mengurangi tenaga pantulan kakinya dengan berjungkir-balik sehingga tubuhnya berjungkir-balik ber­putaran sampai belasan kali seperti kitir­an, barulah kakinya turun ke lantai dan ketika pada saat itu hwesio gendut itu kembali memukul ke arahnya dengan tangan kiri, kini pukulan jarak dekat karena memang Han Han turun di depan hwesio itu yang agaknya ingin pula meng­uji kekuatan Han Han, pemuda inipun menerima pukulan yang merupakan tam­paran dengan telapak tangan terbuka itu dengan dorongan telapak tangan kanannya. “Bresssssi!” “Omitohud.... luar biasa....!” Tubuh hwesio itu bergoyang-goyang, mukanya menjadi merah seperti udang direbus dan ia mcrasa betapa seluruh tubuhnya panas sekali karena ketika menyambut pukulan tadi, Han Han sengaja mengerahkan te­naga inti Hwi-yang Sin-ciang! Han Han kagum bukan main karena melihat betapa hwesio itu dapat meneri­ma tenaga sakti ini dengan hanya ter­goyang tubuhnya dan merah mukanya. Benar persangkaannya bahwa hwesio itu memiliki kesaktian yang tidak kalah oleh Si Setan Botak Gak Liat! “Orang muda, engkau menarik sekali. Coba terima ini!” Hwesio gendut itu tiba-tiba menge­luarkan tangan kanannya dari balik jubah dan alangkah kagetnya hati Han Han melihat tangan itu berwarna biru sekali, biru kehitaman akan tetapi seperti ber­cahaya! Dan dengan tangan kanan itu kini hwiesio itu menyerangnya! Serangkum tenaga dahsyat memecah hawa udara menyambar ke arah Han Han dengan me­nimbulkan uap hitam yang panas sekali! Han Han cepat menggerakkan kakinya menotol lantai dan tubuhnya mencelat dengan kecepatan yang luar biasa sehing­ga uap hitam itu lewat di bawah kaki­nya. Akan tetapi kini ia sudah mengenal pukulan itu, yang ia dapat menduga ten­tulah pukulan itu berdasarkan hawa Yang-kang seperti Hwi-yang Sin-ciang, akan tetapi jauh lebih berbahaya karena uap hitam itu tentu mengandung penga­ruh yang luar biasa. Timbul pula keingin­annya mencoba. Tadi ia sengaja meng­gunakan Hwi-yang Sin-ciang, karena ia masih belum berani mempergunakan tenaga inti es yang ia latih di Pulau Es, maklum bahwa tenaganya itu luar biasa sekali kuatnya sehingga membahayakan nyawa lawan. Akan tetapi kini, melihat pukulan tangan kanan hwesio itu yang ia duga tentu amat kuat, setelah ia turun, ia menanti hwesio itu memukul lagi. Hwesio gemuk itu menjadi penasaran sekali. Jarang memang ia mengeluarkan tangan kanannya. Ia merasa malu kalau tangan kanannya yang hitam itu kelihat­an orang, maka kalau tidak terpaksa sekali, biarpun dalam pertandingan, ia tidak mengeluarkan tangan kanannya. Kalau sekali ia mengeluarkan tangan kanannya, sekali pukul saja ia harus da­pat mencapai kemenangan. Akan tetapi sekali ini, pukulannya yang amat dahsyat itu tidak mengenai sasaran, padahal biasa­nya, baru terkena tiupan sedikit hawanya saja, tubuh lawan sudah menjadi hangus! Hwesio gemuk ini bersama temannya yang kurus, adalah dua orang tokoh be­sar di Tibet, pada waktu itu menjadi pembantu yang terpercaya dari Dalai Lama sebagai pendeta besar dan ketua di Tibet. Hwesio gendut itu bernama Thian Kok Lama, terkenal sekali dengan ilmu kepandaiannya yang hebat sin-kangnya yang jarang bertemu tending, dan tangan kanannya yang mengerikan karena tangan kanannya inilah ia dijuluki Hek-in Hwi-hong-ciang (Tangan Awan Hitam Angin Berapi)! Adapun hwesio kurus itupun bukan orang sembarangan, karena diban­dingkan dengan hwesio gemuk, sukar dikatakan, mana yang lebih lihai karena mereka memiliki keahlian sendiri-sendiri. Hwesio kurus ini selain hebat sin-kangnya, juga terkenal sebagai ahli ilmu sihir yang disebut I-hun-to-hoat (semacam hypnotism) yang dapat menguasai se­mangat lawan, dan ilmu pukulan Sin-kun-hoat-lek (Sihir Tangan Sakti)! Ketika Thian Tok Lama yang sudah terlanjur mengeluarkan tangan kanannya itu tidak mampu mengalahkan Han Han dengan sekali pukul, kini melihat pemuda itu sudah turun lagi, ia cepat mengerah­kan tenaga, dari perutnya yang besar langsung dari pusar keluar suara “kok-kok-kok” tiga kali den tangan kanannya yang hitam itu memdorong ke arah Han Han. Bukan main hebatnya pukulan ini. Warna biru kehitaman itu makin mencorong dan uap hitam yang keluar dari telapak tangan itu seolah-olah mengandung api menyala dan terasa amat pa­nasnya sehingga ruangan itu ikut terasa hangat, pukulan hebat ini sepenuhnya meluncur ke arah dada Han Han. Han Han yang timbul kegembiraannya melihat ilmu yang dahsyat ini, cepat mengerahkan sin-kangnya, menggunakan tenaga inti es yang ia latih di Pulau Es, disalurkan tangan kirinya mendorong maju menyambut telapak tangan hitam itu. Dengan pukulan macam ini, yang merupakan inti dari Swat-im Sin-ciang yang paling hebat, Han Han mampu me­mukul air menjadi beku, menjadi bong­kah-bongkah es sebesar anak kerbau! Kini dua pukulan sakti yang amat dahsyat itu saling menerjang untuk bertemu! Hwesio gendut itu, Thian Tok Lama menjadi kaget dan menyesal. Ia merasa sayang kepada pemuda kaki buntung yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa itu, dan hanya karena penasaran, bukan karena marah atau benci, ia menggunakan tangan kanannya, dan tadinya ia mengira bahwa pemuda itu tentu akan menggunakan ilmunya mencelat yang luar biasa itu untuk menghindar. Siapa kira pemuda itu malah menerima pukulannya dengan langsung, menggunakan telapak tangan kirinya! Namun, ia sudah terlanjur memukul dan kalau ditariknya kembali tentu akan membahayakan isi dadanya sendiri, maka terpaksa dia melanjutkan pukulannya dengan hati menyesal karena ia merasa yakin bahwa pemuda itu tentu akan roboh dan tewas, tak mungkin dapat ditolong lagi. “Desssss.... cessshhhhh!” Semua orang memandang dengan mata terbelalak! Dua telapak tangan bertemu dan berbareng dengan bunyi keras seperti besi panas membara dimasukkan air, tampak asap hitam mengepul dan meng­gelapkan tempat itu! “Ihhhhh....!” Han Han berseru keras ketika merasa seolah-olah seluruh le­ngannya menjadi lumpuh dan ia cepat menarik kembali lengannya itu. “Omitohud....!” Thian Tok Lama juga berseru dan ia pun menarik kembali ta­ngan kanannya, berdiri agak terengah dan kini mukanya menjadi pucat kebiruan dan kedua pundaknya agak menggigil seperti orang terserang dingin yang hebat. “Ibliskah engkau....?” Thian Tok Lama kini mencelat maju dan mengirim tendangan dengan kakinya yang sebesar kaki gajah. “Wuuuuttt!” Han Han meloncat, akan tetapi kedua kaki itu biarpun amat be­sar, telah mengirim tendangan berantai sehingga angin bersiuran. Terpaksa Han Han yang sudah merasa cukup menguji kepandaiannya, mencelat ke pinggir ruangan itu sambil berseru, “Aku tidak ingin berkelahi, kalau cu-wi tidak suka menerimaku biarlah aku pergi dari sini....” “Tahan....! Jangan berkelahi....! Dia kawan kita sendiri! Eh, Han Han, meng­apa ribut-ribut dengan para locianpwe?” Sesosok bayangan berkelebat dan Wan Sin Kiat telah berada di situ. Han Han girang sekali, berlari hendak menghampiri Sin Kiat dan melewati permadani biru sambil berpincangan. “Han Han, jangan menginjak permadani itu!” Sin Kiat berteriak. Han Han terkejut dan cepat ia mencelat lagi mun­dur, lalu memandang Sin Kiat yang lari kepadanya sambil mengitari permadani, tidak berani menginjaknya. “Ah, agaknya ada salah pengertian di sini. Han Han, agaknya engkau tadi menginjak ini.” Sin Kiat tertawa sambil menudingkan telunjuknya ke arah permadani biru. Han Han mengangguk. Ia teringat bahwa ketika masuk tadi, untuk meng­hampiri para ho-han yang berada di situ, ia memang berdiri di situ. “Ya, aku tadi berdiri di situ, mengapa?” “Ha-ha-ha, pantas! Ketahuilah bahwa ada peraturan di sini bahwa siapa yang berdiri menginjak permadani ini, berarti dia itu menantang pibu kepada para locianpwe yang hadir di sini.” “Ohhhhh.... maaf....!” Sin Kiat lalu menjura kepada dua orang pendeta Tibet dan para ho-han sambil berkata. “Mohon cu-wi locianpwe dan para Ho-han suka memaafkan Han Han. Kare­na dia tidak tahu maka seolah-olah me­nantang pibu. Dia merupakan sahabat saya yang paling baik dan beberapa kali dia telah membantu para pejuang meng­hadapi tokoh-tokoh anjing Mancu.” “Hoa-san Gi-hiap Wan-sicu!” kata Thai Li Lama hwesio Tibet yang bertubuh kurus kering itu. “Kalau dia itu sahabat­mu, mengapa dia datang seperti ini? Dia menimbulkan kecurigaan besar!” “Ah tidak, locianpwe. Dia datang untuk mencari adiknya, dan untuk membantu kita menghadapi tokoh-tokoh penjajah.” “Hemmm, kalau mencari adiknya dan hendak membantu, mengapa dia berkeras hendak bertemu dengan Bu-ongya?” Tiba-tiba Tok-gan-siucai Gu Cai Ek menegur. Wan Sin Kiat mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Han Han. “Apakah artinya ini, Han Han? Benarkah kau hendak bertemu dengan Ongya?” “Benar sekali dan memang aku mem­bawa berita yang amat penting!” “Kalau begitu, ceritakan saja kepada para locianpwe di sini, karena mengenai urusan perjuangan, tidak ada hal yang dirahasiakan untuk para Ho-han di sini.” Han Han mengangguk-angguk. “Baik­lah. Aku telah mendengar rapat rahasia yang diadakan oleh para perwira Mancu di perbatasan, yang dipimpin oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, dihadiri pula oleh wakil-wakil dari Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat. Mereka membicarakan tentang penyerbuan ke Se-cuan secara besar-besaran dalam waktu dekat....” “Ahhhhh....! Mana mungkin?” teriak Tok-gan-siucai Gu Cai Ek. “Pemerintah Mancu sedang merayakan ulang tahun ke sepuluh dari kaisar mereka!” “Karena inilah maka mereka hendak menyerbu! Menggunakan kesempatan se­lagi di Se-cuan orang mempunyai pen­dapat seperti pendapat Lo-enghlong tadi sehingga tidak ada persiapan yang baik. Dan kalau saya tidak sudah dibikin kacau oleh serangan-serangan maut di ruangan ini, saya mendengar pula beberapa tempat-tempat yang akan mereka jadikan sasaran penyerbuan!” “Wah, ini penting sekali! Mari Han Han, kuantar engkau menghadap Ongya!” Semua orang di ruangan itu menjadi terkejut juga dan Thian Tok Lama malah menjura ke arah Han Han sambil ber­kata, “Pinceng mengharap taihiap sudi memaafkan kecurigaan kami. Sungguh taihiap merupakan seorang bekas lawan yang paling hebat yang pernah pinceng temukan!” “Ah, sayalah yang seharusnya minta maaf, locianpwe,” kata Han Han sambil balas menghormat. Akan tetapi tangannya lalu ditarik oleh Sin Kiat dan keduanya bergegas keluar dari situ menuju ke istana. Para ho-han ribut membicarakan pemuda yang buntung itu, dan Thian Tok Lama secara terang-terangan dan jujur mengakui bahwa sukar mencari tandingan pemuda berkaki buntung itu. Dia masih terheran-heran dan diam-diam ia memberi isyarat mata kepada kawannya lalu mereka berdua meninggalkan tempat itu. “Kau hebat, Han Han. Thian Tok Lama sendiri sampai memujimu!” “Ah, kaumaksudkan hwesio yang ge­muk itu? Dialah yang hebat, agaknya lebih lihai daripada Toat-beng Ciu-sian-li!” kata Han Han, benar-benar dia ka­gum sekali. “Dan dia menyebutmu taihiap!” Merah wajah Han Han. “Sudahlah, eh, Sin Kiat. Apakah kau sudah mendengar ­tentang adikku?” Wajah Sin Kiat yang tampan itu men­jadi muram dan dia kelihatan berduka ketika menggeleng kepalanya. “Sungguh menyesal sekali, aku belum berhasil, Han Han.” Han Han menarik napas panjang. “Ada seorang nona sedang mencoba untuk membantu mencarinya, namanya Tan Hian Ceng....” “Ah, puteri It-ci Sin-mo Tan Sun? Bagus sekali! Dia adalah seorang yang terkenal ahli yang mengenal semua daerah ini. Kalau dia membantu.... eh, kenapa?” Sin Kiat heran melihat wajah Han Man menjadi muram. “Kasihan dia. Ayahnya gugur....” “Apa? Bagaimana?” “Nanti saja kuceritakan. Lebih baik sekarang kita menghadap Bu-ongya.” Sin Kiat menemui kepala pengawal dan karena dia sudah dikenal, maka mere­ka berdua lalu dikawal menghadap Bu-ongya, yaitu Raja Muda Bu Sam Kwi yang amat terkenal itu. Bu-ongya me­nerima mereka berdua di dalam ruangan yang besar dan raja muda yang amat terkenal sebagai bekas jenderal yang paling gigih mengadakan perlawanan ke­pada pemerintah Mancu ini duduk di atas kursi emas dijaga oleh para pengawal pribadinya. Ia sudah mendapat laporan tentang Han Han, tentang sepak-terjang pemuda buntung ini di Ho-han Bu-koang maka ketika Han Han datang terpincang-pincang bersama Sin Kiat, dari jauh ia sudah memandang penuh perhatian de­ngan wajah berseri. Sin Kiat memberi hormat dengan menekuk sebelah lututnya dan bersoja, diturut oleh Han Han yang biarpun hanya berkaki satu, namun ia dapat berlutut dengan gerakan wajar sehingga seolah-olah dia tidak buntung. “Duduklah, ji-wi Ho-han!” kata Bu Sam Kwi dan dua buah kursi disodorkan oleh seorang pengawal. Sin Kiat dan Han Han lalu duduk di atas kursi menghadapi Bu Sam Kwi. Han Han memandang wajah raja muda itu sejenak, melihat bahwa raja muda itu usianya sudah tua, tentu sudah enam puluh tahunan, akan tetapi masih kelihatan gagah dan tegap, dengan sinar mata yang tajam bersinar-sinar penuh semangat dan keberanian. Di lain fihak, begitu bertemu pandang dengan Han Han dan melihat sinar mata pemuda buntung itu tajam luar biasa, membuat kedua matanya sendiri serasa ditusuk pe­dang, di dalam hatinya Bu Sam Kwi men­jadi kagum sekali, dan lenyaplah keraguan dan ketidakpercayaannya ketika tadi mendengar laporan bahwa pemuda ini sanggup menandingi tangan kanan Thian Tok Lama! “Han-sicu, siapakah temanmu yang gagah ini?” Bu Sam Kwi bertanya penuh wibawa, akan tetapi juga terdengar halus dan ramah. Suara seperti ini pandai membujuk dan mengambil hati orang, pikir Han Han, teringat betapa banyak­nya tokoh kang-ouw membantu perjuang­an raja muda ini dan betapa banyaknya yang telah mengorbankan nyawa, ter­masuk Lu Soan Li dan baru-baru ini Lauw-pangcu, kemudian ayah dan kedua orang paman Hian Ceng! “Sahabat baik hamba ini datang dari luar perbatasan dan membawa berita yang amat penting untuk disampaikan Ongya!” kata Sin Kiat. Memang Bu Sam Kwi amat pandai mengambil hati orang-orang kang-ouw, bahkan bersikap seperti sahabat dengan mereka sehingga ia tidak ragu-ragu untuk bersikap ramah dan me­rendah, memperlakukan mereka sebagai “kawan seperjuangan”. “Hemmm, siapakah engkau, sicu? Dan berita apakah itu?” Karena Han Han tidak bermaksud menghambakan diri, maka ia pun tidak suka untuk terlalu merendahkan diri, apalagi raja muda ini begini manis budi, begini ramah, maka dengan hati lega dan suara biasa ia lalu menjawab. “Saya bernama Han, she Suma.” Han Han tidak peduli kepada Sin Kiat yang menoleh memandangnya heran. Me­mang dia she Suma, mengapa harus di­sembunyikan? Dia benci she Suma, kare­na she ini mengingatkan ia akan kakek­nya yang menurunkan dia, teringat akan Jai-hwa-sian Suma Hoat. Akan tetapi, sebenci-bencinya ia kepada she keluarga­nya sendiri, ia lebih benci akan sifat pengecut. Dan ia menganggap bahwa me­nyembunyikan she-nya sendiri dan meng­gantinya dengan she Sie adalah perbuatan yang pengecut dan memalukan. Karena itulah, di depan raja muda itu ia meng­akui she aselinya dan mulai saat itu ia mengambil keputusan untuk mempergunakan she aselinya! Raja Muda Bu Sam Kwi tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Sungguh tepat se­kali. Di jaman seperti ini di mana ne­gara dan bangsa membutuhkan putera-putera Han sejati yang patriotik, yang berjiwa pahlawan, muncul seorang gagah perkasa yang namanya Han! Suma-hohan (Orang Gagah she Suma), berita apakah yang akan kaulaporkan kepadaku?” Dengan singkat namun jelas Han Han lalu melaporkan, menceritakan semua yang ia dengar dalam rapat yang diada­kan oleh para perwira di bawah pimpinan Setan Botak Cak Liat dan menceritakan pula bahwa gerakan penyerbuan yang direncanakan itu siasatnya diatur oleh Puteri Nirahai. Mendengar ini, berubah wajah Bu Sam Kwi, tadinya berubah agak pucat akan tetapi segera berobah merah sekali, matanya menjadi beringas, dagunya di­tarik kuat dan seluruh sikapnya membayangkan perlawanan. “Si keparat! Me­mang sudah kudengar nama Nirahai anak selir Khitan dari Raja Mancu itu, kabarnya amat cerdik pandai! Menggunakan selagi mereka berpesta ulang tahun un­tuk menyergap karena kita tentu sedeng tidak menduganya! Bagus! Kita akan menghadapi dan menghancurkan mereka! Pengawal! Undang para Ho-han dan para panglima unluk berkumpul. Sekarang juga! Wan-sicu, mulai sekarang engkau kuangkat menjadi panglima muda! Suma-sicu, engkau kuangkat menjadi panglima pelopor!” Han Han hendak membantah akan tetapi lengannya dijawil Sin Kiat yang menatap wajahnya dengan sinar mata penuh semangat, kemudian malah me­nariknya ke pinggir untuk memberi tem­pat kepada para panglima dan para tokoh orang gagah yang kini sudah ber­datangan memenuhi panggilan Bu Sam Kwi. Berbeda dengan Wan Sin Kiat yang mendengarkan perundingan dan rencana siasat yang dibicarakan untuk menyambut serbuan tentara Mancu seperti yang dikabarkan oleh Han Han tadi, pemuda buntung ini hanya mendengarkan dengan setengah hati, tidak begitu mengacuhkan karena memang dia tidak tertarik akan hal itu. Dia datang ke Se-cuan dengan tujuan utama mencari adiknya, dan kalau dia membocorkan rahasia para panglima Mancu hanyalah karena dia melihat ba­nyak tokoh-tokoh hitam di fihak Mancu, sedangkan di fihak pejuang banyak ter­dapat sahabat-sahabatnya, di antaranya yang sudah jelas adalah Wan Sin Kiat, mendiang Lu Soan Li dan Lauw-pangcu, Lauw Sin Lian dan gadis jenaka yang menarik hatinya pula, yaitu Tan Hian Ceng. Karena mengingat akan mereka inilah maka hatinya tentu saja condong membantu Se-cuan dan menentang pemerintah Mancu.   ***   Penyerbuan besar-besaran bala tentara Mancu tiba tepat pada saat dan di tempat-tempat seperti yang dilaporkan Han Han kepada Raja Muda Bu Sam Kwi, dan karena sebelumnya fihak Se-cuan telah membuat persiapan, maka melalui perang mati-matian bala tentara Mancu akhirnya dapat dipukul mundur. Pemerintah Mancu, dalam hal ini diwakili oleh Puteri Nirahai sendiri yang memimpin sebagai ahli siasat, menjadi kecelik. Bukan saja tiap pasukan yang sudah diatur untuk menyer­bu Se-cuan dari beberapa jurusan dalam waktu yang tak tersangka-sangka ­mengalami perlawanan sengit, juga tokoh-tokoh pandai seperti Kang-thouw-kwi yang memimpin kawan-kawannya, yang diharapkan untuk dapat mengacaukan pertahanan musuh dengan kepandaian mereka, ternyata “membentur karang” karena di Se-cuan terdapat banyak pula orang sakti! Bahkan segala usaha Setan Botak Gak Liat selain gagal oleh perlawanan tokoh pejuang yang membantu Raja Muda Bu Sam Kwi. Dan yang mem­buat Setan Botak menjadi kaget, penasaran dan marah adalah sepak terjang pemuda kaki buntung, bekas muridnya, Han Han. Setelah serbuannya yang berkali-kali dalam beberapa bulan selalu gagal dan ia kehilangan banyak perwira dan perajurit, akhirnya Gak Liat mengirim berita ke kota raja minta bantuan, selain bantuan pasukan yang besar, juga bantuan orang-orang pandai untuk menghadapi fihak musuh yang memiliki banyak jagoan lihai. Tak lama kemudian, utusannya datang kembali dari kota raja membawa perin­tah Puteri Nirahai agar penyerangan dihentikan dulu dan pasukan Mancu diharuskan mengurung Se-cuan dengan men­jaga tapal batas di timur, selatan dan utara dengan ketat sampai bala bantuan datang. Karena perintah ini, perang yang bia­sanya hampir setiap hari terjadi, menjadi berhenti dan kedua fihak hanya berjaga-jaga di daerah kekuasaan masing-masing, terhalang deretan pegunungan yang me­magari Propinsi Se-cuan. Fihak Se-cuan yang dalam perang ini menjadi fihak yang mempertahankan diri, bernapas lega menyaksikan terhentinya serangan-serangan musuh dan mereka dapat beristirahat sambil menyusun kekuatan baru. Secara terpaksa sekali Han Han kini ikut berperang menentang pasukan Mancu. Sebagai seorang panglima pelopor, di samping tokoh-tokoh besar lainnya, ter­utama sekali kedua orang pendeta Lama dari Tibet yang amat sakti, Han Han memimpin pasukan yang terdiri dari ahli-ahli silat dan sebagian besar adalah kaum pejuang golongan patriot yang ber­juang semata-mata membela nusa bangsa tanpa pamrih. Dan sesuai pula dengan siasat Bu Sam Kwi, pasukan-pasukan orang gagah ini memang dibentuk untuk menghadapi pasukan-pasukan kuat dan istimewa dari pemerintah Mancu, maka tentu saja Han Han menjadi lega hatinya ketika dalam pertempuran-pertempuran itu ia selalu menghadapi tokoh-tokoh hitam yang memimpin pasukan-pasukan istimewa musuh. Bahkan pernah dalam sebuah pertempuran besar-besaran, ia bertanding melawan Kang-thouw-kwi Gak Liat, Setan Botak yang lihai dan yang menjadi musuh lamanya itu! Kenyataan bahwa dia melawan tokoh-tokoh sesat inilah yang menghibur hatinya yang se­lalu merasa tidak enak kalau ia teringat bahwa dia berperang melawan bangsa adiknya! Setelah perang dihentikan oleh fihak Mancu setelah berbulan-bulan terjadi bentrokan-bentrokan di sepanjang per­batasan, keadaan menjadi sunyi dan para pejuang di Se-cuan menjadi menganggur. Han Han menjadi kesal hatinya. Usaha­nya mencari Lulu sama sekali tidak berhasil. Bahkan selama terjadi keributan perang, dia tidak pernah bertemu dengan Hian Ceng yang berjanji menyelidiki dan mencari Lulu. Juga Lauw Sin Lian belum masuk ke Se-cuan, ataukah sudah masuk dan melawan musuh di daerah lain? Ataukah tidak sempat memasuki daerah Se-cuan karena perang telah pecah? Pagi hari itu, selagi Han Han termenung seorang diri dalam hutan, tak jauh dari benteng penjapan, Wan Sin Kiat datang mengunjunginya. Mendengar pangglian Sin Kiat, Han Han menoleh dan dia memandang kagum. Sahabatnya ini benar-benar amat tampan dan gagah dalam pakaianya sebagai seorang pang­lima muda! Tubuh Sin Kiat tinggi besar, dadanya bidang, mukanya tampan dan berwibawa dengan alis tebal hitam dan mata yang bersinar penuh semangat, ja­lannya seperti lenggang seekor harimau! Seorang muda yang hebat dan dia akan merasa senang sekali kalau Lulu dapat atau lebih tepat lagi mau menjadi isteri pemuda ini! Dia tahu bahwa Sin Kiat amat mencinta Lulu, akan tetapi bagai­mana dengan Lulu? Dia mengharap mudah-mudahan Lulu dapat menerima cinta kasih Sin Kiat. Kalau adiknya itu men­dapatkan pelindung seperti Sin Kiat ini, hatinya akan merasa tenang dan tente­ram, tidak seperti sekarang ini. Ah, perlu apa memikirkan tentang perjodohan Lulu kalau bocah itu sendiri sampai se­karang belum dapat ditemukan, bahkan tidak ia ketahui di mana tempatnya, ma­sih hidup ataukah sudah mati? Cepat Han Han mengusir pikiran ini dan ia menyambut Sin Kiat dengan senyum lebar karena ia teringat akan bocah pengemis yang ia beri roti dahulu itu. “Wah, engkau gagah sekali, Sin Kiat! Sekarang telah terbukti dan tercapai cita-citamu ketika masih kecil.” “Cita-cita masih kecil? Apa maksud­mu?” Sin Kiat duduk di atas batu gunung di depan Han Han yang duduk di atas akar pohon. “Lupa lagikah engkau dahulu? Pernah engkau mengatakan bahwa engkau ber­cita-cita menjadi seorang perwira! Dan sekarang engkau telah menjadi panglima!” Sin Kiat tidak menyambut godaan ini dengan wajah berseri, bahkan keningnya berkerut. Ia menghela napas dan berkata, “Aku teringat akan pengalaman-pengala­manku selama masih kanak-kanak dan ternyata bahwa cita-cita itu tiada beda­nya dengan sebuah sarang burung di pun­cak pohon yang amat diinginkan oleh seorang kanak-kanak. Hati amat gembira dan penuh bayangan indah-indah dan muluk-muluk, penuh ketegangan ketika berusaha untuk memanjat pohon tinggi penuh bahaya, untuk meraih sarang dan mendapatkan anak burung di dalamnya. Dan setelah akhirnya didapatkan, setelah seekor burung tergenggam di tangan? Hanya kegembiraan sebentar saja karena segera disusul oleh kewajiban-kewajiban memelihara agar si anak burung tidak mati. Demikian pula dengan cita-cita, Han Han.” Han Han membelalakkan matanya, kemudian tertawa memandang wajan tampan gagah yang mengerutkan alis tebal itu. “Ha-ha-ha, pengalaman me­rupakan guru terpandai. Engkau kini pan­dai menyelami hidup, pandai berfilsafat, Sin Kiat. Memang demikianlah, rangkaian mencari-mendapatkan-memiliki-memelihara merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Kalau orang sudah me­miliki sesuatu, berarti dia dibebani se­suatu karena dia harus menjaga dan me­melihara! Makin banyak orang memiliki benda atau apa saja yang disukanya, makin banyak pula beban menindih pundaknya dan membuatnya selalu harus menjaga dan memelihara semua miliknya. Hanya orang yang tidak punya apa-apalah, yang akan enak tidur di waktu malam. Orang yang tidak punya tidak akan kha­watir kehilangan! Orang yang punya sekali waktu pasti akan kehilahgan!” Sin Kiat menggaruk-garuk kepalanya. “Hemmm, kalau begitu apakah lebih enak menjadi orang yang tidak mempunyai apa-apa yang disenanginya agar tidak sampai kehilangan?” Han Han tertawa dan menggeleng ke­pala. “Manusia menjadi korban daripada nafsunya sendiri, Sin Kiat. Karena itu, dalam keadaan bagaimanapun juga ia akan selalu menderita. Yang tidak punya akan menderita oleh nafsunya sendiri yang menimbulkan perasaan iri hati. Yang punya akan menderita oleh nafsu­nya sendiri yang tidak ingin kehilangan miliknya. Hanyalah orang yang telah mampu mengendalikan nafsunya sendiri, yang tidak dikuasai oleh nafsu pribadi­nya, baik di situ punya atau tidak punya, akan tetap tenang dan bahagia. Dalam keadaan tidak punya, dia tidak kepingin, dalam keadaan punya dia tidak terikat oleh miliknya.” Wan Sin Kiat mengangguk-angguk, kemudian memandang sahabatnya, dapat melihat kemuraman wajah Han Han. Dia mengerti apa yang menyebabkan sahabat­nya ini murung, bukan lain tehtulah hal yang juga membuat hatinya selalu ber­duka, yaitu hal lenyapnya Lulu! “Han Han, tadi aku mendengar eng­kau dipuji-puji oleh para ho-han yang melaporkan sepak terjangmu selama mu­suh menyerbu. Jasamu besar sekali dalam menghadapi musuh, Han Han,” katanya untuk membelokkan perhatian sahabatnya ini agar terhibur. Akan tetapi Han Han menggeleng kepala dan menghela napas panjang. “Aku tidak peduli akan itu, Sin Kiat. Engkau­ tahu bahwa kehadiranku di sini bukan untuk perang. Hanya kebetulan saja aku membantu, melihat betapa bala tentara Mancu menggunakan orang-orang golong­an sesat. Akan tetapi engkau tahu bahwa sesungguhnya aku mencari adikku yang sampai kini belum ada beritanya. Hemm, aku sudah bosan menanti dan karena se­karang barisan Mancu tidak menyerang lagi, aku bermaksud meninggalkan Se-cuan dan mencari Lulu di lain tempat. Aku yakin dia tidak berada di sini, karena kalau dia berjuang, tentu dia sudah dapat kutemukan di sini.” “Ah, jangan dulu kau pergi, Han Han. Tenagamu masih amat dibutuhkan. Para penyelidik melaporkan bahwa kabarnya Puteri Nirahai sendiri akan memimpin penyerbuan ke Se-cuan! Mengingat betapa lihainya puteri itu, dan masih banyak pula pembantunya yang lihai, kuharap engkau akan lebih lama membantu per­juangan melawan penjajah!” “Di sini pun banyak orang gagah. Dua orang pendeta Lama itu lihai sekali, periu apa takut? Aku tidak suka perang, apalagi aku tidak suka menjadi panglima karena memang bukan kehendakku meng­hambakan diri di sini.” “Dua orang pendeta itu? Ah, mereka sama sekali tidak boleh diandalkan! Me­mang, mereka itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi mereka adalah sekutu-sekutu dari Pangeran Kiu!” Han Han teringat akan cerita pejuang yang buntung kakinya, maka ia memandang kepada sahabatnya itu dan bertanya. “Apakah salahnya? Kulihat Pangeran Kiu juga berjuang bahu-membahu dengan Bu-ongya.” Sin Kiat menggeleng kepala. “Me­mang, sekarang ini kita semua bersatu dalam menghadapi serbuan barisan Mancu. Akan tetapi sesungguhnya di sebelah dalam timbul keretakan di antara mere­ka yang memegang pimpinan! Bu-ongya bertekad untuk menentang pemerintah Mancu sampai tenaga terakhir! Sebalik­nya, Pangeran Kiu berkali-kali mendesak­nya agar suka berdamai saja dengan fihak Mancu.” Han Han sudah tahu akan hal ini. “Kalau menurut pendapatmu, siapa di antara mereka yang benar?” “Entahlah, kedua-duanya benar. Bu-ongya hendak melawan terus karena ti­dak mau melihat tanah air dijajah, ada­pun Pangeran Kiu ingin berdamai dengan penjajah karena tidak mau melihat rak­yat makin menderita akibat perang.” “Dan kau sendiri?” Sin Kiat menggerakkan pundaknya. “Aku adalah seorang pejuang tanpa pam­rih, hanya didorong oleh kesadaran akan kewajibanku sebagai searang warga ne­gara untuk membela negaranya!” “Tapi kau menjadi panglima muda Bu-ongya.” Wajah Sin Kiat berubah merah dan ia menggeleng-geleng kepala. “Dorongan cita-cita bocah yang terlalu kenyang menderita. Sesungguhnya, seperti kukata­kan tadi, setelah kini menjadi panglima, aku bosan dan baru aku sadar bahwa sesungguhnya bukan untuk pangkat inilah aku berjuang. Andaikata saat ini juga pangkatku dicabut, aku tetap akan ber­juang melawan penjajah.” “Aku sudah bosan akan semua urusan politik, sudah bosan akan perang, Sin Kiat! Kehadiranku di Se-cuan dan bantu­an-bantuanku amatlah bertentangan de­ngan hatiku sendiri. Mungkin rasa tidak senangku akan perang ini ditimbulkan oleh sepak terjang para pimpinan sendiri. Seperti Raja Muda Bu Sam Kwi sendiri, tak dapat disangkal bahwa dia pernah berkhianat terhadap pemerintah dengan bersekongkol bersama bangsa Mancu menyerbu ke selatan. Akan tetapi karena keadaannya berubah, kini ia melawan bangsa Mancu, bahkan dianggap sebagai pusat pertahanan oleh kaum pejuang! Kemudian aku mendengar pertentangan diam-diam di sini yang tidak lain di­sebabkan oleh ambisi pribadi masing-masing. Semua ini menjemukan hatiku, Sin Kiat. Aku mulai curiga terhadap orang-orang yang menggunakan kedok yang indah-indah untuk menutupi nafsu pribadi, bersembunyi di balik kata-kata indah seperti perjuangan dan lain-lain sebagai alasan. Kalau saja dalam menge­jar cita-cita pribadi orang melakukannya sendiri dengan resiko-resiko ditanggung sendiri, hal itu sudah sewajarnya dan sepatutnya. Akan tetapi dalam perang sungguh merupakan dosa besar sekali karena, menyeret laksaan manusia lain yang seolah-olah dipermainkan nyawanya. Aku muak, Sin Kiat, karena itu aku hen­dak pergi dari sini mencari Lulu.” Sin Kiat menarik napas panjang. “Ber­sabarlah, Han Han. Bukankah engkau masih menanti hasil penyelidikan Nona Tan Hian Ceng? Pula, sekarang belum waktunya untuk keluar perbatasan, amat berbahaya. Di Se-cuan sendiri, semua orang adalah pejuang. Di sini orang tidak mengenal arti bebas perang, yang ada hanyalah kawan atau lawan! Dan kalau engkau keluar perbatasan yang kini di­kepung ketat oleh barisan Mancu, engkau tentu akan dianggap mata-mata dan akan dikeroyok ribuan orang tentara. Bersabarlah menanti sampai keadaan perang mereda dan sementara itu, harap engkau berhati-hati.” “Mengapa engkau memperingatkan aku demikian?” Sin Kiat memandang ke kanan kiri, kemudian berkata lirih, “Agaknya perten­tangan faham antara Pangeran Kiu dan Bu-ongya timbul lagi dan makin meng­hebat dengan adanya pengurungan barisan Mancu. Dan aku tahu bahwa kedua fihak ingin memperebutkan orang-orang pandai kedua fihak masing-masing, maka tentu saja engkau menjadi calon yang amat penting dan menarik untuk mereka perebutkan.” “Hemmm, aku....? Diperebutkan?” “Tenagamu yang amat mereka butuh­kan, Han Han.” Pemuda buntung itu menggeleng­-geleng kepala. “Aku makin muak. Akan tetapi baiklah, alasan-alasan yang kau ­kemukakan tadi memang tepat. Aku akan bersabar menanti sampai keadaan me­reda.” “Aku akan pergi mencari Nona Tan Hian Ceng, mungkin dia berada di Wan-sian dan membantu perang di bagian itu. Siapa tahu dia sudah mendengar tentang Nona Lulu.” Demikianlah, Han Han mendengar bujukan dan nasihat Sin Kiat, menunda kepergiannya meninggalkan Se-cuan. Akan tetapi dia sudah menjadi makin bosan dan gelisah memikirkan Lulu. Apalagi pada waktu itu, fihak Mancu hanya sa­ling menjaga tapal batas daerah kekuasaan masing-masing, mereka hanya mengirim mata-mata dan para penyelundup untuk saling menyelidiki keadaan masing-masing. Se-cuan dikurung dari timur, utara dan selatan. Satu-satunya daerah luar yang masih dapat dihubungi hanyalah Sin-kiang dan Tibet. Tepat seperti yang dikhawatirkan Sin Kiat, beberapa hari kemudian Han Han mengalami usaha memperebutkan dirinya ketika pada suatu malam dia diundang oleh Pangeran Kiu ke dalam gedungnya. Han Han yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan pangeran itu, merasa heran, akan tetapi tentu saja tidak be­rani menolak dan pada saat yang diten­tukan pergilah ia menghadap Pangeran Kiu di gedungnya. Berbeda dengan Wan Sin Kiat yang memakai pakaian panglima muda yang indah dan gagah, Han Han tidak pernah mau memakai pakaian ke­besaran, sungguhpun dia telah diangkat sendiri oleh Raja Muda Bu Sam Kwi sebagai panglima pasukan pelopor. Kini ia menghadap Pangeran Kiu juga dengan pakaian sederhana, dan terpincang-pincang dibantu tongkat bututnya memasuki ista­na yang megah itu. Han Han merasa kaget, heran dan juga malu hati ketika melihat betapa Pangeran Kiu sendiri yang menyambutnya, bersama Thian Tok Lama yang gen­dut bermuka kekanak-kanakan dan Thai Li Lama yang kurus dan bersinar mata hitam aneh. Ia cepat menjura dengan hormat, dan ia makin heran melihat Pangeran Kiu mendekatinya, memegang tangannya dan berkata. “Suma-taihiap, tidak perlu melakukan banyak peradatan, marilah kita masuk ke dalam. Aku hendak membicarakan hal yang amat penting dengan taihiap.” Mereka memasuki ruangan dalam yang indah dan di situ telah tersedia makanan yang serba lengkap dan mewah di atas meja. Pangeran Kiu mempersilahkan Han Han duduk dan beberapa orang pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-­cantik cepat melayani mereka menuang­kan arak, kemudian atas isyarat pangeran itu, mereka mundur dan berdiri di sudut kamar menanti perintah. Setelah menerima suguhan arak be­berapa cawan, Han Han lalu bertanya, tanpa menyembunyikan keheranannya dalam suaranya, “Maaf, Pangeran. Sungguh saya merasa amat heran atas undangan Pangeran. Ada urusan penting apakah?” Pangeran Kiu tertawa bergelak, dan dua orang pendeta Lama itupun terse­nyum. “Suma-taihiap, ketahuilah bahwa sebetulnya antara engkau dan aku, masih ada hubungan keluarga.” “Ahhh, harap Pangeran tidak berkela­kar!” Han Han berkata, tidak percaya sama sekali. “Aku tidak main-main, taihiap. Dan aku pun baru saja mengetahui akan hal ini dari keterangan Thian Tok Lama,” jawab Pangeran Kiu sambil tersenyum. Han Han teringat akan peringatan Sin Kiat agar dia berhati-hati. Siapa tahu ada maksud tersembunyi dalam sikap pangeran yang aneh ini, maka ia lalu menoleh dan memandang wajah pendeta Lama gendut yang ia tahu amat lihai kepandaiannya itu. “Saya mohon penjelasan,” kata Han Han singkat, ditujukan kepada Pangeran Kiu akan tetapi dia menatap wajah Thian Tok Lama. Hwesio Lama gendut ini tersenyum, mengangkat cawan dan minum araknya. Sekali teguk arak keras dalam cawan itu pindah ke perutnya, dan sambil meletak­kan cawan kosong di atas meja ia ber­kata, “Maaf, Suma-taihiap. Dalam perang pinceng terpaksa untuk sementara mem­buang pantangan minum arak dan makan daging. Tentu saja engkau merasa heran sekali mendengar keterangan Pangeran Kiu, bukan? Akan tetapi sesungguhnya begitulah. Engkau masih terhitung keluar­ga dari Pangeran, dan hal ini dapat di­buktikan kalau saja taihiap tidak me­nyembunyikan sesuatu dan suka mengaku secara jujur.” Han Han masih merasa heran dan kini ia memandang tajam, mengerutkan alis­nya. “Thian Tok Losuhu, saya tidak me­nyembunyikan sesuatu.” Pendeta gendut itu tertawa dan ma­tanya bersinar penuh kagum. “Taihiap pandai sekali menyembunyikan kesaktian dari pandai pula menyembunyikan nama besar. Suma-taihiap, bukankah taihiap ini cucu dari pendekar sakti Suma Hoat?” Pertanyaan ini diajukan secara tiba-tiba, membuat Han Han terkejut bukan main. Dia memang tidak menyembunyi­kan nama keturunannya ketika memper­kenalkan diri kepada Raja Muda Bu Sam Kwi, mengaku she Suma, akan tetapi untuk mengakui tokoh sesat yang menjadi kakeknya dan terkenal dengan julukan Jai-hwa-sian, yang amat dibencinya itu, benar-benar ia masih merasa berat. Akan tetapi, kini ia berhadapan dengan orang-orang pandai seperti Thian Tok Lama, juga dengan seorang pangeran yang me­miliki kekuasaan besar, bagaimana akan dapat menyangkal? Selain itu, apa pula perlunya menyangkal? “Losuhu, bagaimana Losuhu bisa tahu?” Ia balas bertanya, suaranya tenang saja akan tetapi pandang matanya penuh selidik. Kembali kakek gundul itu tertawa. “Pinceng mengenal baik Kakekmu itu, taihiap, seorang yang gagah perkasa, tampan dan sakti. Melihat wajah taihiap sama dengan melihat wajah Suma Hoat di waktu muda, tentu saja dengan mudah pinceng dapat menduganya. Melihat usiamu, melihat persamaan wajahmu dengan dia, pantasnya taihiap adalah cucunya.” Diam-diam Han Han merasa betapa hatinya menjadi kecut dan tidak senang. Celaka tiga belas dan sialan, pikirnya. Siapa kira bahwa wajahnya sama benar dengan kakeknya yang amat dibencinya! Akan tetapi dia tidak dapat berbohong, juga tidak mau membohong. Dia tidak senang diketahui orang sebagai cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat akan tetapi dia juga tidak takut orang mengetahuinya! Me­mang benar kakeknya seorang penjahat, akan tetapi kakeknya dan dia adalah dua orang lain! “Memang benar, saya adalah cucunya. Akan tetapi saya masih tidak mengerti apa hubungannya ini dengan Pangeran.” Pangeran Kiu tertawa bangga. “Ah, Suma-taihiap, atau mulai sekarang lebih baik saya menyebutmu Suma-hiante. Nama besar keluarga Suma sudah men­julang tinggi sampai ke langit selama puluhan tahun....” “Amat terkenal saking kotor dan jahatnya,” pikir Han Han penuh sesal. “.... sebagai keluarga yang berkuasa, kaya raya, memiliki ilmu kesaktian yang jarang bandingannya, dan yang lebih dari­pada itu semua, merupakan keluarga yang setia kepada kerajaan!” “Hemmm, pujian kosong,” pikir Han Han sungguhpun ia sendiri tidak pernah tahu akan riwayat keluarganya yang ter­kenal. “Bahkan pendekar sakti Suling Emas pun masih terhitung anggauta Suma ini. Suma Han-hiante, ketahuilah bahwa an­tara keluarga Suma dan keluarga Kiu terdapat ikatan kekeluargaan pula, yaitu karena seorang di antara selir mendiang Suma Kiat adalah puteri keluarga Kiu. Sedangkan Pangeran Suma Kiat itu ada­lah ayah dari Kakekmu Suma Hoat. Bu­kankah dengan demikian, di antara nenek moyang kita masih terdapat hubungan keluarga, Suma-hiante?” Kepala Han Han menjadi puyeng men­dengar keterangan tentang keluarga Suma yang sering kali menimbulkan benci dan penyesalan di hatinya itu. Ia tidak peduii apakah keluarga Suma itu dahulu keluarga bangsawan ataukah keluarga kaya raya, pendeknya nama kakeknya yang berjuluk Jai-hwa-sian telah menghapus semua perasaan mesra di hatinya sebagai anggauta keluarga Suma. Kalau dia di­suruh memilih, tentu ia akan jauh lebih suka memakai nama keluarga Sie, akan tetapi karena dia tidak sudi menyembu­nyikan nama yang dianggapnya sebagai sifat pengecut, terpaksa ia menggunakan she Suma yang dibencinya itu. “Apakah hubungannya hal itu dengan panggilan ini, Pangeran? Saya tidak per­caya bahwa saya dipanggil hanya untuk mendengar keterangan tentang keluarga nenek moyang ini.” “Ha-ha-ha! Engkau terlalu kurang sabar, Hiante! Bukankah hal yang meng­girangkan ini perlu dirayakan lebih dulu? Marilah, kita makan minum, baru nanti kita bicara lagi!” Karena sikap pangeran itu yang ra­mah-tamah, ditambah lagi sikap dua orang pendeta Lama yang menghormat­nya, Han Han tak dapat mengelak dan mulailah mereka makan minum. Han Hidak tahu betapa Pangeran Kiu den dua orang pendeta Lama itu sering kali ber­tukar pandang den isyarat, dan tidak tahu betapa pangeran itu sengaja men­datangkan dua orang pelayan wanita yang baru, yang muda-muda den amat cantik. Tidak tahu bahwa dua orang pelayan ini sengaja diperintah untuk melayaninya, untuk merayunya dengan gerakan-gerakan lemah gemulai, dengan suara merdu ke­tika menawarkan arak, dengan sentuhan-sentuhan mesra secara sambil lalu ketika melayaninya. Han Han merasa kikuk dan canggung, diam-diam mendongkol kepada dua orang pelayan itu yang dianggapnya genit dan terlalu berani, akan tetapi dia diam saja, melirik pun tidak kepada dua orang wanita muda yang menyiarkan keharuman dari tubuh mereka, suara-suara merdu memikat dari mulut mereka, dan rangsangan-rangsangan dari sentuhan jari tangan mereka. Han Han tidak tahu bahwa Pangeran Kiu sudah mengatur semua ini, juga ke­tika serombongan penari yang cantik-cantik datang, menari den meliak-liukkan tubuh mereka yang ramping dan se­perti menantang minta dipeluk, Han Han sama sekali tidak mengira betapa pange­ran itu dan dua orang hwesio Lama memandangi setiap gerak-geriknya. Dan memang Pangeran Kiu bersama dua orang hwesio Tibet itu kecelik. Me­reka tadinya menyangka bahwa sebagai cucu Jai-hwa-sian, pemuda yang buntung kakinya namun memiliki kelihaian me­lebihi Jai-hwa-sian sendiri ini tentu me­warisi watak kakeknya, suka akan wanita. Karena itu, Pangeran Kiu berusaha me­mikat Han Han dan menyenangkan hati­nya dengan wanita-wanita cantik agar pemuda lihai ini dapat terjatuh ke dalam kekuasaannya dan menjadi pembantunya. Siapa kira, pemuda itu sama sekali ti­dak tertarik dan hal ini dapat pula dilihat dari sikap dua orang wanita perayu yang makin lama makin lemas kehabisan semangat. Pangeran Kiu memberi isyarat dan semua penari dan pelayan mundur. Han Han bernapas lega, karena tadi, sung­guhpun ia menekan perasaan dan tetap tenang, hatinya sudah berdebar tidak karuan. Menghadapi rayuan-rayuan wanita cantik itu baginya lebih menegangkan dari pengeroyokan musuh yang bersenjata tajam. “Suma Han-hiante, sekarang tiba saat­nya bagi kita. Kita sama mengetahui bahwa di antara kita terdapat hubungan keluarga, maka aku tidak ragu-ragu lagi untuk mengajakmu bicara. Terus terang saja aku mengharapkan bantuanmu, Hian­te.” “Bantuan? Bantuan apakah, Pangeran?” “Bantuan kepadaku untuk menghadapi musuh-musuhku.” Han Han memandang pangeran itu, pura-pura heran sungguhpun ia sudah dapat menduganya, mengingat akan pe­nuturan Sin Kiat. “Pangeran, musuh kita semua bukan­kah barisan Mancu? Dan saya rasa se­lama ini saya pun sudah membantu, wa­laupun hanya sedikit menghadapi tokoh-tokoh pandai di barisan musuh.” “Bukan hanya itu, Hiante. Musuh yang terbesar bahkan yang kini menjadi sekutu kami. Kumaksudkan, Bu-ongya.” “Hehhh? Bu-ongya....? Bagaimana ini? Saya tidak mengerti, Pangeran.” “Thian Tok Lama, harap suka mem­beri penjelasan kepada Suma-hiante,” perintah Pangeran Kiu. Pendeta Tibet yang gemuk dan ber­muka lunak, kanak-kanakan itu lalu ber­kata dengan sikap lunak, “Suma-taihiap, biarpun ilmu kepandaianmu amat hebat dan tinggi, akan tetapi karena usiamu yang masih amat muda, tentu engkau belum tahu akan hal yang terjadi puluh­an tahun yang lalu dan tidak mengenal siapakah sebetulnya Bu Sam Kwi. Siapa­kah yang menjadi biang keladi penjajah­an? Yang memungkinkan bangsa Mancu datang menyerbu dan menaklukkan se­luruh pedalaman? Bukan lain adalah Bu Sam Kwi!” Kalimat terakhir ini diucap­kan dengan tekanan untuk mendatangkan kesan. Akan tetapi mereka semua melihat bahwa pemuda buntung itu tidak tampak kaget dan mendengarkan dengan tenang-tenang saja. Hal ini memang ti­dak aneh bagi Han Han yang sudah men­dengar akan cerita itu. Akan tetapi dua orang pendeta Tibet yang sakti itu mengira bahwa sikap te­nang Han Han ini hanya karena pemuda ini sudah pandai menguasai hati dan pikirannya, pandai menguasai perasaan­nya, maka Thian Tok Lama melanjutkan. “Pada waktu Kerajaan Beng diserbu bangsa Mancu, kalau semua panglima seperti Bu Sam Kwi dan lain-lain menge­rahkah bala tentara mempertahankan, tentu bangsa Mancu dapat dipukul han­cur. Akan tetapi sayang, kaisar terakhir Kerajaan Beng amat lemah sehingga para panglima memberontak. Bahkan Bu Sam Kwi yang merupakan pengkhianat ter­besar telah bersekutu dengan bangsa Mancu dan menyerbu ke selatan. Berkat bantuan Bu Sam Kwi maka bangsa Mancu berhasil menguasai seluruh pedalaman. Dan sekarang, setelah terlambat, setelah melawan pun tiada gunanya lagi, Bu Sam Kwi menentang bangsa Mancu mati-mati­an dan semua ini untuk mempertahankan kedudukannya sebagai raja muda di Se-cuan!” Han Han juga sudah mendengar akan hal itu, bahkan dia sudah tahu lebih banyak lagi, misalnya tentang keinginan Pangeran Kiu untuk mengadakan per­damaian dengan fihak Mancu yang tentu saja didasari keinginan mendapatkan ke­dudukan tinggi yang akan diberikan pemerintah Mancu kepadanya! Akan tetapi karena Han Han tidak peduli akan urusan itu yang dianggapnya bukan urusannya, kini mendengar penuturan Thian Tok Lama lalu bertanya. “Apakah hubungannya semua itu de­ngan saya? Dan mengapa diceritakan kepada saya?” Kini Pangeran Kiu yang melanjutkan. “Suma-hiante, setelah kau mendengar penuturan Thian Tok Lama, tentu engkau sadar bahwa tidak semestinya engkau mengabdi kepada Bu Sam Kwi! Dia se­orang yang palsu hatinya! Karena itu, saya mengulurkan tangan kepadamu, sebagai anggauta keluarga, untuk mem­bantuku.” Pangeran Kiu memandang ta­jam penuh selidik. “Akan tetapi, apakah bedanya? Andai­kata saya membantu Pangeran, tentu untuk melawan barisan Mancu.” Han Han pura-pura bertanya. “Omitohud....! Sungguh mengagumkan. Taihiap yang lihai masih terlalu muda, polos dan bersih!” Thai Li Lama yang kurus berkata. “Bukan, Hiante. Kuminta agar engkau suka berfihak kepadaku karena terjadi pertentangan antara fihakku dan fihak Bu Sam Kwi. Engkau tahu bahwa jelek-jelek aku masih keluarga Kerajaan Beng, se­orang pangeran dari kerajaan itu, sedangkan Bu Sam Kwi hanyalah seorang panglima yang sudah memberontak dan berkhianat! Kami tidak akan memerangi Kerajaan Mancu lagi, bahkan akan berdamai.” Han Han pura-pura terheran. “Hemm, tadi Bu-ongya dipersalahkan ketika ber­sekutu dengan bangsa Mancu, kenapa sekarang Pangeran hendak bersekutu dengan bangsa Mancu? Bagaimana ini?” “Jauh bedanya, Hiante! Dahulu tidak semestinya Bu Sam Kwi bersekutu de­igan bangsa Mancu, karena Kerajaan Beng masih kuat. Dalam keadaan masih kuat melawan dia bersekutu, itulah pengkhianatan namanya! Sekarang, Kerajaan Mancu amat kuat, sudah menguasai seluruh Tiongkok. Kalau kita berdamai, itu adalah menggunakan kecerdikan namanya. Rakyat tidak tersiksa dan menderita oleh perang yang berlarut-larut, dan setelah kita memperoleh kedudukan, mudah bagi kita untuk berusaha menguasai mereka, menanti kesempatan baik untuk menggulingkan musuh. Ini adalah sebuah siasat yang cerdik, tidak melawan secara membuta seperti yang kita lakukan selama ini.” melawan secara membuta seperti yang kita lakukan selama ini.” Han Han mengerutkan keningnya, hatinya muak. Kalau dipikir mendalam, semua itu sama saja. Permainan orang-orang besar yang bercita-cita mencapai kedudukan setinggi-tingginya bagi mereka sendiri. Tiba-tiba ia mengangkat muka, memandang wajah tiga orang itu berganti-ganti dengan pandang mata tajam sehingga Pangeran Kiu dan dua orang pendeta itu terkejut. Sinar mata Han Han seperti menembus jantung mereka. Thai Li Lama, seorang yang ahli dalam ilmu sihir, melihat sinar mata ini menjadi kagum dan terkejut sekali, mulutnya berbisik, “Omitohud....!” “Pangeran, maafkan kata-kata saya. Akan tetapi, sesungguhnya aku muak akan perang, muak akan urusan orang-orang besar yang saling memperebutkan kursi dan kedudukan. Saya datang ke Se-cuan sesungguhnya bukan untuk berpe­rang, melainkan untuk mencari adik saya yang bernama Lulu, yang saya kira tadi­nya berada di Se-cuan. Kalau saya ikut membantu peperangan adalah semata-mata ingin membantu para orang gagah dan melawan pasukan Mancu yang da­tang menyerbu. Kini perang berhenti, adik saya tidak berhasil saya temukan, maka saya pun hendak meninggalkan Se-cuan. Mengenai urusan Pangeran dengan Bu-ongya, saya tidak suka mencampuri­nya. Perang amat jahat, akan tetapi lebih kotor lagi adalah permainan orang-orang besar yang menggerakkan perang. Demi mencapai cita-cita mereka memperebut­kan kedudukan, mereka mengobarkan perang, menciptakan dalih yang muluk-muluk untuk membakar hati rakyat atau menggunakan harta benda untuk menukarnya dengan nyawa rakyat! Perang terjadi, siapakah yang menderita, siapa yang menjadi korban dan siapa yang mati bergelimpangan dalam jumlah puluhan laksa? Bukan lain rakyatlah! Kalau menang? Bukan rekyat yang mengecap nik­mat kemenangannya, melainkan orang-orang besar pengejar cita-cita pribadi berkedok demi rakyat itulah yang berpesta-pora, mabuk kemenangan! Kalau kalah? Rakyat yang mati tetap mati, akan tetapi orang-orang besar itu dapat melarikan diri jauh dari tempat perang membawa harta bendanya, atau kalau ­ditawan pun dapat menjadi sekutu yang menang dan memperoleh kedudukan pula, sungguhpun tidak setinggi seperti kalau menang! Sungguh menyedihkan namun menjadi kenyataan selama sejarah berkembang. Perang adalah permainan orang-orang besar yang mempermainkan rakyat demi tercapainya cita-cita mereka. Kalau kalah mereka, orang-orang besar itu lebih dulu melarikan diri karena memang tempatnya selalu di belakang, sebaliknya kalau menang mereka pulalah yang lebih dulu lari ke depan saling memperebutkan pahala dan jasa!” Han Han bicara penuh semangat dan memang di dalam hatinya ia merasa prihatin sekali setelah mengalami ber­macam hal sebagai akibat perang. Dia telah melihat rakyat yang melarikan diri mengungsi akibat perang, kehilangan semua miliknya yang tidak seberapa, bahkan banyak yang kehilangan nyawa keluarga dan nyawa sendiri, dikejar-kejar tentara Mancu, diperkosa, disiksa, dibunuh! Dan orang-orang besar seperti Pangeran Kiu ini dan banyak lagi, enak-enak di Se-cuan, di gedung besar sama sekali aman daripada penderitaan rakyat kecil, namun masih bicara tentang per­juangan! Bahkan mengatur siasat untuk bersekutu dan berdamai dengan bangsa Mancu! Dan semua itu masih pakai dalih yang muluk-muluk dan baik-baik. Kecer­dikan! Agar rakyat tidak tersiksa! Phuhh! Katakan saja demi untuk keselamatannya sendiri, demi untuk kedudukan dan keuntungan diri pribadi! Rakyat pula yang dibawa-bawa. Siapa tidak akan muak? Wajah kedua orang pendeta Tibet menjadi pucat, dan wajah Pangeran Kiu menjadi merah sekali saking marahnya. Tak mereka sangka pemuda buntung yang mereka harapkan berfihak kepada mereka itu mengeluarkan ucapan seperti itu! Ucapan seorang pengkhianat pula! Bagi mereka, tentu saja segala perbuatan mereka yang sudah-sudah, yang sedang berjalan, maupun yang akan datang ke­semuanya adalah baik dan benar belaka! “Suma Han! Berani engkau bicara seperti ini?” Pangeran Kiu hampir tak dapat menahan kemarahannya, akan tetapi Thian Tok Lama cepat berkata. “Pangeran, harap suka memaafkan ucapan Suma-taihiap. Dia masih muda, darahnya masih panas, tentu saja pan­dangannya pun dangkal. Betapapun juga, harus diingat bahwa dia telah berjasa. Biarlah penawaran Pangeran tadi dia pikirkan masak-masak, dan setelah pikir­annya tenang, tentu dia akan berpen­dapat lain.” Kemudian pendeta gendut ini berdiri menjura kepada Han Han sambil berkata. “Suma-taihiap, pinceng harap taihiap suka pulang dulu dan kami berharap da­lam waktu tiga hari taihiap suka mem­pertimbangkan apa yang kita bicarakan di sini sekarang ini. Di samping itu, pin­ceng pun akan membantu taihiap mencari dan menyelidiki tentang adik taihiap yang bernama Nona Lulu itu.” Han Han sadar bahwa ucapannya yang terdorong hati penasaran tadi membikin marah Pangeran Kiu. Dia bangkit berdiri, memberi hormat sambil berkata, “Mohon Pangeran sudi memaafkan saya yang lancang mulut.” Ia lalu mengundurkan diri dan pergi meninggalkan gedung Pangeran Kiu.   ***   Dua hari kemudian, ketika Han Han sedang termenung menyendiri, telinganya menangkap gerakan orang di sebelah belakang. Dia tahu bahwa yang datang adalah orang yang memiliki gin-kang ting­gi, akan tetapi dia diam saja, menoleh pun tidak. “Suma-taihiap....!” Han Han baru menoleh dan melihat Thian Tok Lama telah berdiri di bela­kangnya. Cepat ia memberi hormat dan berkata. “Sepagi ini Losuhu sudah datang menemui saya, ada keperluan apakah?” Thian Tok Lama tertawa. “Kabar baik, taihiap. Kabar baik sekali. Pinceng sudah dapat menemukan adik taihiap.” Seketika wajah Han Han berseri, da­danya berdebar tegang. “Losuhu! Di mana dia? Benarkah Losuhu bertemu dengan Lulu? Ahhh, terima kasih kepada Thian Yang Maha Kasih. Adikku masih hidup! Losuhu, di mana dia?” Thian Tok Lama memperlebar se­nyumnya, diam-diam ia kasihan kepada pemuda ini, kemudian ia menggerak-gerakkan telunjuknya seperti menegur kepada Han Han, “Taihiap, setelah pin­ceng mengetahui keadaanmu, mendengar siapa adanya adikmu, sungguh pinceng merasa makin kagum dan terharu. Me­ngertilah pinceng, mengapa taihiap demi­kian membenci perang, akan tetapi pin­ceng kagum bahwa pendirian taihiap te­tap teguh tak terpengaruh keadaan. Ki­ranya adik taihiap adalah seorang puteri Mancu! Hemmm....!” Kalau tadinya Han Han masih curiga dan ragu-ragu apakah benar-benar pen­deta Tibet ini tahu di mana adanya Lulu, kini keraguannya menghilang dan ia bertanya dengan suara mendesak, “Losuhu, setelah Losuhu datang menjumpaiku dan mengabarkan tentang Lulu, harap jangan menyiksa perasaanku dan katakanlah, di mana dia?” “Dia belum lama datang bersama pasukan yang dipimpin oleh Puteri Nirahai. Dia adalah seorang Panglima Mancu, taihiap.” Han Han membelalakkan matanya. “Aaaahhhhh? Tidak mungkin! Tidak mungkin!” Pendeta itu memandang tajam. “Meng­apa, taihiap? Bukankah Nona Lulu seorang gadis bangsa Mancu?” “Di mana dia, Losuhu, aku se­gera menyusulnya!” Han Han berkata penuh gairah. “Di perbatasan sebelah barat Min-san, di lereng-lereng gunung itulah dia bertugas melakukan penyelidikan.” “Terima kasih, Losuhu! Terima kasih! Sekarang juga aku hendak berpamit dan pergi!” Setelah berkata demikian, Han Han berkelebat pergi untuk minta diri dari Bu Sam Kwi. Pemuda itu tidak tahu betapa Thian Tok Lama memandangnya sambil menggeleng kepala dah berkata lirih. “Sayang.... dia pemuda yang lihai sekali.... sayang....!” Bu Sam Kwi tidak dapat menahan ke­tika Han Han berpamit dan menyatakan meletakkan jabatan dengan alasan ingin keluar dari Se-cuan dan mencari adik­nya. Tentu saja dia tidak mengatakan bahwa adiknya kini telah menjadi seorang Panglima Mancu! Ketika ia mendapat perkenan dan keluar dari istana, dia bertemu dengan Wan Sin Kiat. “Sin Kiat, aku pergi sekarang juga, sudah mendapat perkenan Bu-ongya. Se­lamat tinggal.” Sin Kiat memegang lengan sahabatnya itu. “Eh, nanti dulu. Engkau hendak ke manakah, Han Han?” “Ke mana lagi? Tentu saja mencari Lulu. Kalau lebih lama menanti di sini saja, sampai kapan aku dapat menemu­kannya?” Sin Kiat menarik napas panjang. Hatinya pun menyesal sekali mengapa dia tidak mendapat kesempatan untuk pergi sendiri mencari gadis yang telah me­robohkan hatinya itu. “Aku pun akan minta ijin dari Ongya untuk membantumu mencarinya.” “Jangan!” Cepat-cepat Han Han menarik lengannya. “Engkau masih dibutuh­kan di sini, biar aku sendiri yang men­carinya.” Setelah berkata demikian, Han Han melesat pergi cepat sekali. Sin Kiat menarik napas panjang. “Ah, Lulu....!” Ia lalu mengambil keputusan untuk minta ijin dari atasannya. Perang sedang berhenti, musuh tidak menyerbu. Kesempatan dalam menganggur ini akan ia pergunakan membantu Han Han men­cari jejak gadis itu. Han Han berlari, atau lebih tepat berloncatan cepat sekali menuju ke Pe­gunungan Min-san yang terletak di per­batasan utara Propinsi Se-cuan. Setelah melakukan perjalanan selama tiga hari, barulah ia tiba di daerah Pegunungan Min-san itu. Daerah yang sunyi dan di daerah inipun perang tidak tampak, suasana sepi dan agaknya para penjaga di fihak Se-cuan juga melakukan penjagaan sembunyi-sembunyi di dalam hutan-hutan. Dengan kepandaiannya, Han Han dapat melalui tempat penjagaan dan memasuki hutan-hutan di seberang perbatasan, memasuki daerah musuh di Propinsi Kan-su, di sebelah barat puncak Min-san. Pada hari ke lima, pagi-pagi ia me­masuki sebuah hutan dan hatinya agak bingung mengapa sampai sekian jauhnya belum juga ia menemukan pasukan Mancu. Mulailah ia meragu. Jangan-jangan ia ditipu oleh pendeta Tibet itu! Han Han mengusap peluh di dahinya dengan ujung lengan baju, beristirahat dan berdiri sambil bersandar pada tongkatnya, karena ia menjadi bingung, tidak tahu harus men­cari ke mana di hutan besar yang sunyi itu. Tiba-tiba Han Han menghentikan usap­annya pada dahi dan leher, matanya me­lirik ke kanan kiri, tongkat siap di ta­ngan. Ia mendengar gerakan banyak orang makin mendekat, agaknya mengu­rung tempat itu. “Wir-wir-sing-sing-singgg!” Dari arah belakang dan kiri, meluncur banyak anak panah ke arah tubuhnya. Han Han meng­gerakkan tongkatnya dan semua anak panah runtuh. Kemudian bermunculan dari balik-balik pohon di sekelilingnya pasukan yang terdiri dari kurang lebih lima puluh orang! Mereka bersenjata lengkap dan terdengar aba-aba dalam bahasa Mancu disusul serbuan pasukan itu! “Aku tidak ingin berkelahi! Aku men­cari adikku Lulu!” Han Han cepat ber­seru dan karena ia menggunakan tenaga khi-kang, maka suaranya nyaring sekali membuat perajurit Mancu terkejut dan langkah kaki mereka tertahan. “Dia panglima pemberontak Bu! Tang­kap! Bunuh saja!” Tiba-tiba terdengar suara yang amat dikenal Han Han, suara Thian Tok Lama! Mulailah Han Han me­ngerti bahwa dia memang ditipu! Ter­ingat ia sekarang bahwa Thian Tok Lama termasuk sekutu Pangeran Kiu yang ingin berdamai dengan bangsa Mancu. Kiranya pendeta itu sengaja menjebaknya di sini untuk membunuhnya, dan tentu saja un­tuk memperlihatkan iktikad baiknya terhadap bangsa Mancu! Han Han men­jadi marah, apalagi ketika dugaannya itu terbukti dengan munculnya Thian Tok Lama, agak jauh dari tempat itu. Ia melihat pula Thai Li Lama si pendeta Tibet yang kurus, dan yang lebih memarahkan hatinya lagi adalah ketika ia melihat banyak orang-orang sakti yang pernah ia lihat di kota raja ketika ia mengejar Giam Kok Ma, yaitu sepasang saudara Tikus Kuburan dan Si Burung Hantu yang menyeramkan, ditambah lagi dengan be­berapa orang tokoh Mancu. Lawan yang berat, pikirnya, apalagi di situ terdapat dua orang pendeta Tibet yang sudah ia ketahui kelihaiannya! Betapapun marahnya, Han Han masih tidak ingin untuk bertempur, sekali-kali bukan karena takut, melainkan karena dia tidak mau membuang-buang waktu, ingin segera pergi untuk mencari adik­nya yang ia yakin tidak berada di tem­pat ini dan keterangan Thian Tok Lama kepadanya itu palsu, hanya untuk menjebaknya di tempat itu. Maka ia lalu membalik dan meloncat ke belakang. Akan tetapi di belakangnya sudah men­jaga pula perajurit-perajurit Mancu dan tiba-tiba bayangan orang tinggi besar menerjangnya dari samping dengan pukul­an tangan yang mendatangkan hawa pa­nas dan angin keras! “Wuuuttttt!” Han Han meloncat ke belakang dan pukulan itu menyambar lewat. Akan tetapi pada detik berikut­nya, kembali pukulan yang sama hebat­nya menyambar dari belakangnya, dan cepat ia kembali mengelak. “Hemmm, kiranya Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong. Masih ada lagikah?” Han Han berkata marah. “Singgggg....!” Sinar merah menyambarnya dan Han Han kembali mengelak dengan mudah. Ternyata di situ telah berdiri pula Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio. Dengan demikian lengkaplah tiga orang murid yang terkenal dari Setan Botak yang sudah mengurungnya ber­sama puluhan orang perajurit Mancu! “Hek-pek Giam-ong dan Hiat-ciang Sian-li, aku tidak mencampuri lagi urus­an perang, aku hendak mencari adikku dan tidak ingin bertempur. Berilah aku jalan agar aku pergi saja dari sini!” kata Han Han. Hek-giam-ong yang seperti dua orang saudara seperguruannya tadi memandang Han Han penuh perhatian, terutama se­kali ke arah kakinya yang tinggal se­belah, kini berkata dengan suaranya yang parau, sesuai dengan mukanya yang hi­tam dan tubuhnya yang tinggi besar. “Han Han, engkau bocah setan sudah buntung kakimu masih menjual lagak. Lebih baik engkau lekas berlutut menyerah menjadi tawanan kami daripada kami turun tangan membuntungi kakimu yang sebelah lagi!” Diejek demikian Han Han masih te­tap sabar, akan tetapi ia tahu bahwa pertempuran tak mungkin dihindarkan melihat betapa pasukan Mancu itu, kini mengepungnya makin ketat dalam jarak dekat, sedangkan tokoh-tokoh sakti yang menyertai penjebakan inipun menjaga dari empat penjuru. “Han Han, setelah kakimu buntung, apa sih dayamu menghadapi pasukan kami? Aku sendiri menjadi malu harus bertanding melawan seorang buntung!” kata Pek-giam-ong memandang rendah. “Minggiriah, biar aku pergi!” Han Han masih bersikap sabar. “Siuuuttttt.... plakkk!” Tubuh Ma Su Nio terhuyung ke belakang ketika pukul­annya tadi ditangkis Han Han seenaknya tanpa menoleh, hanya mengangkat tangan kiri menangkis datangnya pukulan itu dari kiri. “Sudahlah, aku pergi saja!” Han Han berkata lalu tubuhnya mencelat ke kanan, menjauhi tiga orang murid Kang-thouw-kwi itu, hendak mendobrak pen­jagaan para perajurit Mancu yang me­ngurungnya untuk meloloskan diri. Melihat ini, enam orang perajurit Mancu bergerak menubruk dan menye­rangnya dari segala jurusan, sedangkan jalan keluar telah ditutup oleh penjagaan para perajurit. Han Han tidak melihat jalan keluar, terpaksa ia menggerakkan tangan kanannya mendorong dan enam orang itu terpelanting ke kanan kiri se­perti dihempaskan oleh tenaga angin badai yang amat kuat. Akan tetapi, sebelum Han Han sem­pat meloncat lagi, terdengar pukulan sakti menyambar dari belakang dan kanan kiri. Hawanya panas bukan main. Kiranya tiga orang murid Setan Botak itu telah menerjangnya dengan marah. Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong meng­hantamnya dengan pengerahan ilmu pu­kulan mereka Toat-beng Hwi-ciang se­dangkan Ma Su Nio menggunakan ilmu pukulannya yang lebih hebat lagi, yaitu pukulan Hiat-ciang yang mengeluarkan bunyi bercicitan sangat tinggi sehingga membikin anak telinga tergetar. Ilmu pukulan Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) dari Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong adalah cabang dari ilmu pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang biarpun kehebatannya tak dapat disamakan de­ngan Hwi-yang Sin-ciang namun sudah amat dahsyat karena tubuh lawan yang terpukul selain nyawanya melayang juga akan menjadi hangus seperti terbakar kulitnya. Akan tetapi Hiat-ciang (Tangan Merah) dari Ma Su Nio masih setingkat lebih tinggi lagi daripada Toatbeng Hwi-­ciang. Sepasang tangan Ma Su Nio menjadi merah darah kalau ia menggunakan ilmu ini dan setiap pukulannya selain mengandung hawa panas melebihi pukulan kedua orang kakek, juga membawa bau amis dan mengeluarkan bunyi mencicit tinggi. Berbeda dengan Toatbeng Hwi-ciang yang menghanguskan kulit lawan, pukulan Hiat-ciang ini mengandung racun jahat sekali yang akan meracuni darah lawan hanya oleh hawa pukulan saja, apalagi kalau sampai bersentuhan atau terkena pukulan tangan merah itu! Namun, betapapun lihai dan mengerikan ilmu pukulan dari ketiga orang murid Setan Botak ini, bagi Han Han mereka itu bukan apa-apa. Dia tidak ingin berkelahi, akan tetapi setelah diserang seperti itu, tentu saja dia tidak sabar lagi. Melihat datangnya pukulan dari be­lakang, kanan dan kiri ini dia mengempit tongkatnya, kakinya yang tinggal sebuah itu berputar sehingga tubuhnya membalik, tangan kirinya didorongkan ke arah pu­kulan Ma Su Nio yang berbunyi seperti tikus terjepit sedangkan tangan kanannya membuat gerakan dorongan memutar, sekaligus menghadapi kedua pukulan Hek­giam-ong dan Pek-giam-ong dari depan dan kanan. “Desssss....!!” Hawa pukulan yang panas bertumbuk di udara. Terdengar pekik nyaring dan tubuh tiga orang murid Setan Botak itu terbanting dan berguling­an sampai beberapa meter jauhnya. Han Han tidak menyia-nyiakan kesempatan selagi tiga orang lawannya itu berguling­an untuk meloncat dan hendak menerobos kepungan, akan tetapi para perajurit Mancu yang sudah menghadangnya telah menubruknya dengan tombak dan golok mereka. Menghadapi hujan senjata ini, Han Han cepat memutar tongkatnya. Ter­dengar suara nyaring berkerontangan ketika belasan batang tombak dan golok beterbangan terlepas dari tangan para pernegangnya, bahkan banyak di antara senjata-senjata itu yang patah-patah. “Setan-setan ganas! Minggirlah, beri jalan! Aku tidak mau berkelahi!” Han Han membentak, akan tetapi tentu saja suaranya tidak dihiraukan orang dan dari depan menyambar belasan batang anak panah sebagai jawaban bentakannya itu. “Hemmm, benar-benar keparat orang-orang Mancu!” Han Han mulai panas perutnya. Sekali putar saja, tongkatnya telah meruntuhkan semua anak panah. Para perajurit sudah menyerbu lagi. Ada yang menyerang dengan tombak, pedang, atau golok, akan tetapi banyak pula yang nekat menyerang dengan tangan kosong karena senjatanya telah patah. Mereka menyerang sambil berteriak-teriak, mem­buat Han Han makin marah. Empat orang perajurit yang mener­jang dari kiri memandang rendah dan merasa girang ketika pemuda buntung itu menyambut terjangan golok mereka de­ngan tangan kiri yang kosong. Mereka merasa yakin bahwa tentu serbuan mere­ka sekali ini akan merobohkan atau se­tidaknya melukai Han Han. Akan tetapi, tiba-tiba ketika tangan kiri pemuda bun­tung itu digerakkan seperti orang me­nampar, hawa yang amat dingin menyambar, tubuh mereka terpelanting ke atas tanah seperti dibanting dan senjata me­reka masih tergenggam, akan tetapi em­pat orang perajurit ini telah menjadi mayat yang darahnya membeku! Enam orang lain yang datang mener­jang dari depan dan kiri, disambut de­ngan tongkat. Demikian cepat gerakan tongkat ini sedangkan tubuh Han Han tetap tidak berpindah tempat, hanya berdiri di atas sebelah kaki, tongkat digerakkan ke arah para pengeroyok. Dalam waktu beberapa detik saja enam orang inipun roboh dan tewas! “Swinggggg....!” Han Han cepat merendahkan tubuh membiarkan sinar pedang yang menusuk ke arah tengkuknya itu lewat di atas kepalanya. Tanpa membalikkan tubuh, tongkatnya menyambar ke belakang, ke arah penyerangnya. “Trang-tranggg....!” Tampak api berpijar ketika tongkatnya tertangkis oleh dua batang golok yang digerakkan tenaga kuat. Han Han memutar kaki tunggalnya dan melihat bahwa yang menyerangnya tadi adalah Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio sedangkan yang menangkis tongkatnya adalah Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong. Kiranya ketiga orang murid Setan Botak ini sudah bangkit kembali dan kini telah mempergunakan senjata. Hal ini sebetul­nya jarang sekali dilakukan tiga orang itu. Mereka telah menerima gemblengan Kang-thouw-kwi Gak Liat dan telah me­miliki ilmu silat tinggi, bahkan kedua orang kakek yang mukanya hitam dan putih itu telah memiliki ilmu pukulan Toat-beng Hwi-ciang, sedangkan Ma Su Nio memiliki Hiat-ciang. Dengan kedua macam ilmu pukulan yang didasari te­naga sakti Hwi-yang Sin-ciang ini, mere­ka amat percaya akan kemampuan sendiri menghadapi lawan sehingga mereka tidak pernah membutuhkan senjata tajam. Kedua tangan mereka lebih ampuh dari­pada senjata tajam yang manapun juga! Akan tetapi sekali ini, menghadapi Han Han yang ternyata memiliki tenaga sin-kang yang amat luar biasa, jauh lebih kuat daripada tenaga mereka sehingga mereka itu sama sekali tidak dapat mengandalkan pukulan tangan kosong berdasarkan sin-kang, maka setelah mere­ka bergulingan dan lenyap kepeningan kepala mereka, tiga orang tokoh kaum sesat itu telah menyambar senjata dan menyerang lagi. Begitu Han Han membalikkan tubuh, tiga orang sakti itu menyerangnya. Ge­rakan pedang di tangan Ma Su Nio cepat bukan main sehingga pedangnya merupa­kan sekelebatan sinar menyilaukan mata. Juga gerakan golok di tangan kedua orang Hek-pek Giam-ong mendatangkan angin berdesir, tanda bahwa tenaga mereka kuat sekali. Tiga orang ini menyerang da­ri depan, kanan dan kiri Han Han dan begitu senjata mereka meluncur dengan tangan kanan, tangan kiri mereka menyusul dengan pukulan Toat-beng Hwi-ciang dan Hiat-ciang! Han Han yang baru saja membalikkan tubuh melihat berkelebatnya tiga batang senjata tajam itu, cepat menangkis dengan putaran tongkatnya, tidak menyangka bahwa tiga orang lawannya itu menyusulkan pukulan-pukulan langan kiri yang amat kuat, maka ia hanya menangkis pedang dan golok. “Cring-trang-tranggg....!” Tiga batang senjata lawan ini terpental dan hampir terlepas dari pegang­an, akan tetapi pukulan tiga tangan yang mengandung hawa sakti kuat, menyambar ke tubuh Han Han. Pemuda ini mengerahkan sin-kang dan menerima pukulan itu. Tubuhnya bergoyang-goyang. Melihat betapa tubuh Han Han ber­goyang-goyang akibat sambaran tiga buah pukulan jarak jauh, Ma Su Nio men­jadi girang dan mengira bahwa pemuda buntung yang amat lihai itu telah terluka. Ia mengeluarkan pekik melengking dan menubruk maju, pedangnya menusuk ke arah lambung kiri Han Han dan tangan kirinya dengan tenaga Hiat-ciang sepenuhnya menceng­keram ke arah leher. Hebat bukan main serangan Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio ini, dan entah mana yang lebih berbaha­ya antara pedang di tangan kanan atau­kah pukulan Hiat-ciang tangan kirinya. Terjangan ganas yang merupakan serang­an maut dari Ma Su Nio ini masih di­susul oleh serbuan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang siap-siap mendekati dan mencari kesempatan baik sebagai perkembangan serangan Ma Su Nio. Han Han melihat betapa para peraju­rit Mancu sudah mengepung rapat tempat itu, melihat pula sikap para tokoh kaum sesat yang siap hendak membunuhnya. Ia maklum bahwa makin lama akan makin berbahayalah keadaannya. Kini meng­hadapi terjangan Ma Su Nio, ia menge­luarkan seruan keras, tongkatnya ber­gerak ke pinggir menangkis dan terus menggunakan sin-kang menempel pedang wanita itu. Pukulan Hiat-ciang yang mengeluarkan bau amis itu tidak ia elakkan, melainkan ia papaki dengan tangan ka­nannya yang terbuka telapak tangannya. “Dukkk! Plakkk!” Pedang dan tongkat bertemu dan melekat, kedua tangan pun bertemu dan melekat. Ma Su Nio kem­bali mengeluarkan suara melengking nya­ring ketika merasa betapa pedangnya melekat pada tongkat dan betapa tangan kirinya yang menempel tangan kanan pemuda itu, pertama-tama terasa meng­gigil kemudian terasa betapa hawa yang amat dingin menjalar masuk ke tubuh melalui lengan kirinya. “Aiiihhhhh!” Ia berseru, melepaskan pedangnya yang masih menempel tongkat lawan, menggunakan tangan kanannya untuk menghantamkan lagi pukulan Hiat-ciang yang lebih hebat ke arah dada Han Han. “Bukkkkk!” Han Han sengaja meneri­ma pukulan tangan kanan wanita itu dan.... telapak tangan Ma Su Nio menempel pada dadanya, langsung hawa dingin menjalar memasuki lengan kanan wanita itu. Ma Su Nio mengerahkan sin-kang dan berusaha menarik kembali kedua lengannya, namun terlambat. Hawa dingin yang tersalur keluar dari tubuh Han Han adalah inti dari Im-kang yang dihimpunnya di Pulau Es, maka hawa dingin yang amat luar biasa itu telah melukai jantung Ma Su Nio yang seketika menjadi seperti kaku dan membeku! “Setan buntung!” Bentakan ini keluar dari mulut Pek-giam-ong. Iblis yang ber­juluk Raja Maut Putih ini mencelat maju hendak menolong sumoinya. Goloknya menyambar ke tengkuk Han Han dengan kecepatan seperti kilat menyambar, se­dangkan Hek-giam-ong juga sudah menusukkan goloknya untuk mendodet perut pemuda itu dari kanan. Han Han melepaskan Ma Su Nio sam­bil meloncat mundur. Tubuh wanita itu roboh tak bernyawa lagi, roboh seperti patung kayu yang kaku. Sambil meloncat mundur, Han Han merendahkan tubuh, tongkatnya menyelinap dari bawah, ta­ngan kanannya didorongkan ke atas meng­gunakan hawa pukulan menangkis bacok­an golok Pek-giam-ong. Pek-giam-ong menjerit ngeri ketika tahu-tahu orang yang dibacok tengkuknya itu sekali mengangkat tangan membuat goloknya tertahan dan tanpa dapat ia elakkan lagi, tongkat Han Han yang tadi bergerak dari bawah, melemparkan pedang Ma Su Nio yang tadi menempel di ujung tongkat. Pedang itu meluncur seperti anak panah dari jarak dekat, menembus perut Pek-giam-ong sampai ke punggung. Pek-giam-ong membelalakkan mata melihat ke perutnya, kemudian dengan kedua tangannya ia mencabut pedang itu dan.... berbareng dengan menyemburnya darah dari perut dan punggungnya, iblis muka putih ini menubruk maju! Han Han menangkis pedang itu, sekaligus ia mengirim tendangan yang membuat tubuh lawan itu tergelimpang dan tewas. Cara Han Han menendang amatlah mengherankan, tubuhnya mencelat ke atas, di udara kakinya bergerak dan tendangannya seperti tendangan ayam jago bertanding. Sambil menendang, ia telah menyambar pedang Ma Su Nio dengan tangan kanan, pedang yang oleh Pek-giam-ong dipergunakan untuk menyerangnya dalam keadaan sudah sekarat tadi. Hek-giam-ong sudah menubruk dengan kemarahan meluap-luap. Melihat kemati­an dua orang saudara seperguruannya, ia menjadi marah sekali. Tanpa mempeduli­kan sesuatu, maklum bahwa dengan pu­kulan dan senjata akan percuma terhadap pemuda buntung itu, ia telah membuang goloknya dan menubruk maju memeluk pinggang Han Han dari belakang. Sebelum pemuda buntung ini sempat menghindar­kan diri karena baru menghadapi Pek-giam-ong yang ditendangnya, tahu-tahu tubuhnya telah dipeluk oleh sepasang lengan yang panjang hitam dan amat kuat dari Hek-giam-ong! Raksasa hitam ini bukan hanya memeluk, bahkan kedua tangannya dengan jari-jari tangan mengan­dung Toat-beng Hwi-ciang itu telah men­cengkeram, yang kanan mencengkeram perut, yang kiri mencengkeram teng­gorokan Han Han. Sedetik pemuda buntung ini bingung juga menghadapi serangan tidak lumrah ini. Namun tentu saja dia tidak kehilang­an akal. Mula-mula, tubuhnya secara otomatis telah menggerakkan sin-kang un­tuk melindungi perut dan tenggorokan­nya, kemudian kakinya dan tongkatnya menekan tanah sehingga tubuhnya men­celat ke atas tinggi sekali. Semua pera­jurit Mancu dan para tokoh yang me­nyaksikan pertandingan ini menahan na­pas. Mereka melihat betapa tubuh Hek-giam-ong ikut terbawa mencelat ke atas dan tampaklah betapa pemuda buntung itu berkali-kali melakukan gerakan jung­kir-balik seperti kitiran di atas udara sehingga sukar diikuti pandang mata. Tiba-tiba bayangan yang berputaran itu pecah dua dan melayanglah tubuh Hek-giam-ong yang terbanting jatuh ke atas tanah dengan suara berdebuk dan dalam keadaan tak bernyawa lagi, kepalanya pecah oleh pukulan ujung tongkat Han Han. Han Han melesat ke depan melam­paui kepala pasukan Mancu. Akan tetapi ketika ia melayang lagi ke atas pohon, tiba-tiba ada desir angin yang amat hebat dari pohon itu. Kiranya di atas pohon itu telah berdiri seorang pendeta gendut yang bukan lain adalah Thian Tok Lama dan yang mengirim pukulan ke arahnya. Pendeta Lama itu berdiri setengah berjongkok di atas dahan pohon yang besar, perutnya mengeluarkan bunyi “kok-kok-kok!” seperti suara ayam biang dan kedua lengannya didorongkan ke arah tubuh Han Han yang sedang mencelat ke atas. Itulah pukulan jarak jauh Hek-in-hwi-hong-ciang yang amat dahsyat den agaknya kakek ini sudah mengenal gerakan-gerakan Han Han yang cepat seperti kilat maka ia sengaja menghadangnya dari atas pohon. Angin yang keras dan panas dengan uap hitam menyambar ke arah tubuh Han Han. Han Han terkejut sekali, maklum bahwa lawan tangguh ini melancarkan pukulan yang dahsyat dan berbahaya selagi tubuhnya masih di udara. Namun tidak percuma dia digembleng oleh wanita sakti buntung Khu Siauw Bwee dan telah mewarisi ilmu gerak kilat Soan-hong-lui-kun. Sambaran angin pukul­an yang dahsyat itu dapat ia perguna­kan sebagai tenaga landasan, dan sam­bil mengerahkan sin-kang di tangan kanan yang didorongkan ke depan menangkis, ia dapat “meminjam” hawa pukulan lawan membuat tubuhnya mencelat ke kiri dan pukulan yang dahsyat itu luput. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara kagum, “Omitohud....!” dan dari pohon sebelah kiri menyambar pula angin pukulan yang biarpun tidak sehebat Hek-in-hwi-hong-ciang tadi, namun dibarengi bentakan, “Robohlah!” Luar biasa sekali bentakan ini karena Han Han merasa seolah-olah ia terpaksa harus roboh! Biarpun ia sudah menggerakkan lengan me­nangkis dan mendapat kenyataan bahwa serangan dari pendeta kurus Thai Li Lama ini tidaklah sekuat serangan Thian Tok Lama tadi, namun di dalam bentakan itu terkandung wibawa dan kekuatan yang lebih berbahaya daripada pukulan itu! Seperti mimpi Han Han terpelanting, seolah-olah lebih parah terkena “pukulan” bentakan itu pada lubuk hatinya. Masih untung bahwa Han Han me­miliki kekuatan batin yang aneh. Andai­kata tidak demikian, tentu serangan tadi benar-benar akan membuat ia roboh terbanting karena pendeta kurus ini telah menggunakan ilmunya yang hebat, yaitu Sin-kun-hoat-lek, semacam ilmu pukulan yang disertai ilmu sihir yang terkandung dalam bentakannya tadi. Dalam waktu dua detik saja setelah ia merasa tubuh­nya melayang turun, Han Han sudah dapat menguasai dirinya dan cepat ia berjungkir-balik sehingga ketika turun ke tanah, ia berdiri tegak dengan kaki tung­galnya. Akan tetapi, baru saja ia turun, kem­bali Thian Tok Lama dan Thai Li Lama sudah menyerangnya, sekarang kedua orang pendeta Tibet itu menyerangnya dari atas tanah, dari kanan kiri. Thian Tok Lama masih menggunakan pukulan maut Hek-in-hwi-hong-ciang yang menyambar dari kanan, sedangkan pendeta kurus Thai Li Lama mengirim hantaman dari kiri sambil membentak lagi, “Roboh­lah!” Han Han merasa tubuhnya tergetar, bukan hanya oleh bentakan, melainkan juga oleh hawa pukulan. Ia mengerahkan semua sin-kangnya, maklum betapa lihai­nya dua orang lawan itu dan secepat kilat ia menancapkan pedang rampasan dan tongkat di atas tanah kemudian mengembangkan kedua lengan ke kanan kiri mendorong kembali serangan lawan. Se­cara otomatis, tangan kiri Han Han me­ngerahkan tenaga inti es, sedangkan ta­ngan kanan mengerahkan tenaga inti api. Memang pemuda ini memiliki sin-kang yang sudah mencapai tingkat amat tinggi sehingga dia dapat memecah sin-kangnya menjadi dua, yaitu menggunakan tangan kiri dengan Im-kang dan tangan kanan dengan Yang-kang. “Wuuut.... wuuuttttt.... desssss!” Pertemuan tenaga sakti yang amat dahsyat ini membuat tubuh Han Han ter­getar, akan tetapi kedua orang pendeta Tibet juga terkejut dan mundur selang­kah, tubuh Thai Li Lama agak meng­gigil kedinginan, sedangkan wajah Thian Tok Lama menjadi merah sekali. Dalam detik berikutnya, mereka berdua sudah menambah tenaga dan memukul lagi, sambil melangkah dekat. Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan berkele­bat dan tubuh Han Han berikut pedang dan tongkatnya telah lenyap karena pe­muda itu sudah mencelat ke atas. Ham­pir saja kedua orang pendeta sakti ini saling mengadu pukulan sendiri dan hanya karena tingkat mereka yang sudah amat tinggi membuat mereka dapat mengubah sasaran sehingga menyeleweng dan ma­sing-masing hanya merasakan sambaran angin pukulan teman. Han Han mencelat ke atas dengan niat hendak melepaskan diri dari kepung­an, akan tetapi tiba-tiba puluhan batang anak panah menyambar dari atas pohon-pohon yang mengelilinginya. Ia makin terkejut, maklum bahwa fihak musuh telah melakukan persiapan sehingga ba­risan panah telah menutup jalan keluarnya melalui puncak-puncak pohon. Ter­paksa ia memutar tongkatnya turun lagi, agak jauh dari situ. Begitu ia turun, ia sudah dikepung lagi oleh puluhan orang perajurit Mancu. Senjata pasukan ini datang menyerangnya bagaikan hujan. Han Han makin marah. Ia memang tidak suka berkelahi dengan mereka, akan tetapi kalau dipaksa se­perti itu, tentu saja ia harus membela diri mati-matian. Ia mengeluarkan seruan keras, tongkat dan pedang rampasannya ia gerakkan seperti kilat menyambar-nyambar sehingga dalam waktu singkat enam orang pengeroyok roboh dan tewas. “Minggir....!” Bentakan ini keluar dari mulut Thian Tok Lama dan Thai Li La­ma. Dua orang pendeta sakti dari Tibet ini maklum bahwa pemuda ini bukan lawan para perajurit itu dan hanya me­reka berdua dan para tokoh sakti saja yang akan mampu menandinginya. Han Han berdiri tegak, bersandar pada tongkat di tangan kirinya, sedang­kan pedang rampasan yang sudah merah oleh darah itu ia pegang dengan tangan kanan. Kedua alisnya yang tebal dikerut­kan, sepasang matanya tajam melirik ke arah lima orang sakti yang bergerak melangkah perlahan-lahan mengepungnya. Mereka itu bukan lain adalah Thian Tok Lama, Thai Li Lama, Bhong Lek si Muka Tikus dan Bhong Poa Sik yang kepalanya ada “telurnya”, yaitu sepasang saudara kakak beradik yang terkenal dengan ju­lukan Tikus Kuburan, seorang kakek ku­rus kecil berjenggot panjang yang ia ti­dak kenal siapa, dan di bawah sebatang pohon, dengan cara berdirinya yang aneh, tampak Sin-tiauw-kwi Ciam Tek si Bu­rung Hantu yang tidak ikut mengepung­nya, hanya menonton dengan mata tak pernah berkedip seperti mata seekor burung bangau mengintai katak! Han Han bersikap waspada. Ia dapat menduga bahwa di antara enam orang lawannya yang sakti ini, kedua orang pendeta Tibet dan Si Burung Hantu itu­lah yang agaknya paling lihai. Kedua Tikus Kuburan itu biarpun berkepandaian tinggi, namun bukan merupakan lawan tangguh, hal ini tampak bukan hanya dalam sikap mereka yang kelihatan gen­tar, juga terbukti bahwa mereka berdua memegang senjata. Bhong Lek si Muka Tikus itu memegang senjata siang-kek (sepasang tombak bercabang) bergagang pendek, sedangkan adiknya Bhong Poa Sik yang kepalanya benjol sebesar telur itu memegang sebatang pedang. Orang ke tiga yang memegang senjata adalah kakek kurus kecil berjenggot panjang yang bertelanjang kaki, memegang sebatang rantai panjang yang ia putar-putar dengan kedua tangannya. Aku harus dapat lebih dulu meroboh­kan tiga orang yang paling berbahaya itu, pikir Han Han. Musuh terlampau banyak dan kalau dia melawan mereka yang lebih lemah namun banyak jumlahnya sehingga nanti tenaganya akar habis untuk menghadapi tiga orang sakti itu, tentu dia akan celaka. Kalau dia berhasil merobohkan tiga orang lawan tangguh itu, dia akan selamat, yang lain-lain tidaklah berat untuk dihadapi dan dia akan dapat menyelamatkan diri. Setelah berpikir demikian, Han Han mengeluarkan seruan melengking dari dalam pusar menembus dada dan tenggorokan, kemudian tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir-balik dan berputaran membingungkan para pengurungnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke arah Ciam Tek si Burung Hantu yang kelihatannya melenggut di bawah pohon, bersandar pada gagang sabitnya yang amat tajam. Gerakan Han Han amatlah cepatnya karena memang dia mempergunakan ge­rak kilat dari Soan-hong-lui-kun sehingga Si Burung Hantu yang lihai itupun kini menjadi amat terkejut. Dahulu, ketika ikut membantu Giam Kok Ma menjebak Han Han, Ciam Tek si Burung Hantu ini pernah mendapat kesempatan bergebrak sejurus menghadapi Toat-beng Ciu-sian-li dan ternyata kepandaiannya berimbang dengan nenek itu! Karena itu, biarpun terkejut sekali, ia tidak kehilangan akal melihat tubuh pemuda buntung itu me­luncur dan menusuknya dengan pedang rampasan. Ciam Tek si Burung Hantu tahu-tahu sudah meloncat naik pula, senjatanya yang hebat berbentuk sabit itu berubah menjadi sinar menyilaukan, menyambar ke atas menangkis pedang rampasan yang dipergunakan Han Han untuk menyerangnya. “Tranggggg....!” Pedang rampasan di tangan Han Han patah menjadi dua, akan tetapi senjata sabit itupun patah, bahkan Ciam Tek masih terhuyung-huyung ke belakang. Ia terkejut bukan main, cepat ia menjatuh­kan diri bergulingan dan setelah melon­cat bangun Ciam Tek sudah siap meng­hadapi lawannya yang buntung namun memiliki tenaga sin-kang yang amat luar biasa itu. Akan tetapi ketika Si Burung Hantu ini meloncat bangun, ia melihat Han Han telah dikeroyok dua oleh Thian Tok Lama dan Thai Li Lama! Kembali Ciam Tek tertegun dan memandang ka­gum. Dua orang pendeta Tibet yang ter­hitung suheng-suhengnya karena dia pernah belajar di bawah satu guru dengan mereka itu, sudah ia ketahui kelihaian mereka. Namun kini mereka berdua maju berbareng, mengeroyok si pemuda bun­tung Han Han! Benar-benar hal yang amat aneh dan mulai menipislah rasa penasaran di hatinya mengapa dalam segebrakan saja senjatanya yang ampuh menjadi patah dan dia terhuyung ke be­lakang. Dengan tongkat bututnya, Han Han menghadapi pengeroyokan dua orang pen­deta Tibet. Pemuda ini mengerti bahwa dua orang lawannya memiliki pukulan-pukulan ampuh sekali, maka ia meng­hadapi mereka dengan hati-hati, akan tetapi juga ingin mengakhiri pertandingan itu secepatnya agar dia dapat membebas­kan diri sebelum terlambat dan kehabisan tenaga. Oleh karena ini Han Han main­kan tongkat di tangan kirinya dengan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang amat dahsyat, hanya bedanya, kalau Si­ang-mo Kiam-sut lebih hebat dimainkan dengan sepasang senjata pedang, kini dia hanya menggunakan sebatang tongkat di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia pergunakan untuk menangkis pukulan-pukulan lawan atau membalas dengan pukulannya sendiri yang mengandung tenaga dahsyat. Dua buah kitab yang dahulu diberikan kepadanya oleh $epasang Pedang Iblis Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa adalah dua kitab yang mengandung pelajaran ilmu pedang iblis, yaitu Iblis Jantan dan Iblis Betina yang kalau di­gabungkan menjadi Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang amat ampuh. Kini, karena dia hanya memegang sebatang tongkat di tangan kiri, Han Han hanya bisa mainkan semacam saja, yaitu bagian Ilmu Pedang Iblis Jantan dari ki­tab peninggalan Can Ji Kun. Melihat gerakan tongkat yang amat hebat, apalagi didasari gin-kang yang sukar dicari lawannya dan tenaga sin-kang yang amat kuat, dua orang pendeta Ti­bet itu diam-diam merasa heran sekali, juga kagum. Belum pernah selamanya mereka bertemu tanding selihai ini dan diam-diam mereka mengerti bahwa kalau mereka harus melawan satu-satu, mereka tentu akan sukar sekali menandingi ke­hebatan pemuda buntung ini! Selama tiga empat puluh jurus kedua orang pendeta itu berusaha merobohkan Han Han dengan serangan bertubi-tubi. Namun akhirnya mereka tahu bahwa kalau mereka mempergunakan jurus-jurus silat, tak mungkin mereka akan dapat merobohkan pemuda buntung yang ternyata dapat bergerak secepat kilat se­cara aneh ini, bahkan membahayakan mereka sendiri karena gerakan loncatan Han Han amat sukar diikuti pandangan mata dan sukar diduga ke mana tubuh yang hanya berkaki satu itu mencelat. Tiba-tiba Thian Tok Lama mengeluarkan gerengan keras yang agaknya menjadi isyarat bagi sutenya. Keduanya sudah meloncat dua langkah ke belakang, meng­hadapi Han Han dari barat dan timur, kemudian mereka melancarkan pukulan dahsyat yang berdasarkan sin-kang mereka yang kuat! Thian Tok Lama sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang, tubuhnya meren­dah seperti jongkok, perutnya mengeluar­kan bunyi berkokok dan dari kedua tangannya menyambar angin pukulan yang amat panas hawanya, bahkan dari lengan kanannya yang membiru itu keluar suara bercuitan, dibarengi mengebulnya uap hitam yang menerjang ke arah Han Han. Thai Li Lama juga berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, kedua lengannya bergerak, yang kanan melakukan gerakan mendorong ke arah Han Han, yang kiri dengan telunjuk mengacung membuat gerakan berputar dan mencoret-coret seperti sedang menggambar atau me­nulis huruf di udara. Han Han juga maklum bahwa kalau ia mengandalkan ilmu silatnya saja, akan sukarlah ia mengalahkan kedua orang pendeta Tibet itu, maka begitu melihat mereka mulai mengandalkan pukulan sakti, ia pun cepat menancapkan tong­katnya di atas tanah, kemudian cepat ia mengerahkan tenaga di kedua lengannya dan dia menggerakkann kedua lengannya ke kanan kiri, dilonjorkan untuk menahan pukulan-pukulan lawan dengan sin-kang yang menggetar keluar dari telapak ke­dua tangannya yang terbuka.Han Han merasa betapa kedua ta­ngannya seolah-olah bertemu dengan din­ding baja yang panas. Maklumlah ia bah­wa kedua orang kakek itu telah menge­luarkan tenaga Yang-kang, maka ia pun mengerahkan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang disalurkan ke arah kedua lengannya. Bukan main hebatnya pertemuan tenaga di udara ini. Biarpun kedua ta­ngan Han Han masih terpisah dari tangan lawan, masih sejauh setengah meter, namun sudah terasa panasnya dan uap hitam yang mengebul dari kedua tangan Thian Tok Lama makin menebal! Han Han berdiri tegak, tidak bergeming, ke­dua lengannya tampak kokoh kuat menahan ke kanan kiri. Pemuda ini merasa betapa tenaga kedua orang lawannya tidak seimbang. Tenaga Thian Tok Lama lebih kuat dan melihat kedua orang itu makin mendekat, Han Han sengaja mem­biarkan hal ini karena ia maklum bahwa kalau dia tidak berani membiarkan mereka mendekat, akan makin sukar baginya mencapai kemenangan. Dalam hal sin-kang, ia percaya kepada tenaganya sendiri, dan kalau mereka sudah dekat, ten­tu akan lebih mudah baginya mempergunakan gin-kang dari Soan-hong-lui-kun untuk mendahului mereka mengirim se­rangan maut. Para perajurit Mancu dan para tokoh yang menonton pertandingan itu menjadi tegang hatinya. Pertandingan yang aneh bagipara perajurit, akan tetapi bagi tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kubur­an, mereka maklum betapa bahayanya mencampuri pertandingan seperti itu yang seolah-olah mengeluarkan sinar-sinar kilat yang akan mematikan orang yang berani mendekat. Dari jauh saja mereka sudah dapat merasakan getaran-getaran hebat yang keluar dari benturan tenaga sakti tiga orang itu. Tubuh kedua orang hwesio Tibet itu makin dekat dan telapak tangan mereka hampir menyentuh kedua telapak tangan Han Han. Tiba-tiba Han Han menjadi terkejut bukan main karena dari sebelah kirinya di mana Thai Li Lama menyerang dengan hawa pukulan, timbul semacam gelombang yang amat aneh. Gelombang yang menggetarkan seluruh tubuhnya, yang kemudian menyelimuti pikirannya dan terdengar suara pendeta itu, amat dekat di telinganya atau seperti di dalam kepalanya, suara perlahan namun mempunyai daya tarik yang sukar dilawan. “Menyerahlah.... engkau tidak kuat lagi.... menyerahlah.... berlututlah....!” Suaranya sendirikah itu? Tiba-tiba Han Han merasa betapa beratnya mem­pertahankan diri, betapa kedua lengannya yang tadi masih kuat menahan himpitan tenaga sakti dari kanan kiri itu terasa lelah sekali, hampir tidak kuat dia. “Menyerahlah, berlutut....!” Suaranyakah itu? Ah, bukan! Itu suara Thian Li Lama yang entah bagaimana memasuki otaknya. Ketika Han Han di dalam hatinya menggoyang kepala meng­usir keadaan seperti mimpi itu, seketika pandang matanya terang kembali, bisikan lenyap akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa dia sudah benar-benar menekuk lutut kaki tunggalnya! Dan terdengarlah olehnya sorakan-sorak­an para perajurit Mancu yang melihat dia berlutut, mementangkan kedua le­ngannya ke kanan kiri dengan tubuh ge­metar. “Setan!” Han Han mengerahkan seluruh kekuatan batin dan sin-kangnya, lalu perlahan-lahan ia bangkit berdiri. Kiranya telapak tangannya sudah menempel kepada telapak tangan kedua lawan di ka­nan kiri dan ia merasa betapa hawa panas yang keluar dari tangan mereka itu masih dapat ia tahan. Ia melirik ke arah Thian Li Lama dan melihat pendeta kurus ini mulutnya berkemak-kemik, ta­ngan pendeta ini menempel di tangan kirinya dan tangan kiri pendeta itu mem­buat gerakan-gerakan aneh. Mengertilah Han Han bahwa tentu pendeta ini menggunakan ilmu hitam. Teringat ia akan kekuatan mujijat yang terkandung dalam tubuhnya sendiri, maka ia pun membalas pandang mata hwesio Tibet itu, mengerahkan kekuatan kemauannya dan di da­lam hatinya ia membentak, “Thai Li Lama, mengapa menyuruh orang lain? Engkaulah yang ingin menyerah dan berlutut. Berlututlah!” Tiba-tiba pendeta Tibet yang kurus itu mengeluarkan seruan aneh dari dadanya dan.... kedua kakinya bertekuk lutut! “Ji-suheng....!” Terdengar suara parau Burung Hantu. Agaknya teriakan ini­lah yang menyadarkan Thai Li Lama. Pendeta kurus ini terkejut sekali dan cepat bangkit berdiri, akan tetapi terlambat. Saat yang hanya sejenak itu telah dimanfaatkan oleh Han Han yang tiba-tiba, dengan kemampuannya yang luar biasa dalam tubuhnya, telah meng­ubah inti hawa panas Hwi-yang Sin-ciang menjadi Swat-im Sin-ciang yang dingin sekali. Seketika tubuh Thai Li Lama menggigil sedangkan Thian Tok Lama berseru keras, mengerahkan seluruh te­naganya melawan hawa dingin. “Aihhhhh....!” Han Han mengeluarkan seruan keras sekali, berkali-kali, ia mengubah-ubah sin-kangnya, dari dingin ke panas, dari panas ke dingin sehingga kedua orang lawannya menjadi bingung dan tersiksa. Lebih-lebih lagi Thai Li Lama yang memang sudah terluka se­bagai akibat kelengahannya jatuh di ba­wah pengaruh kekuatan mujijat Han Han. Perubahan-perubahan hawa sakti itu mem­buat keringat dingin bercucuran dan mukanya pucat sekali. Akan tetapi, pertandingan hebat ini bukan tidak merugikan Han Han sendiri karena melawan dua orang tokoh yang begitu kuat membutuhkan pengerahan seluruh tenaganya. Biarpun dia dapat menguasai keadaan, namun sesungguhnya dia terhimpit oleh tenaga raksasa, dan tadi ketika sejenak ia tertekan hebat dan hampir saja ia celaka. Maklum bahwa tidak boleh ia berlama-lama karena keadaannya sendiri berbahaya, Han Han mengumpulkan seluruh tenaganya, tubuhnya direndahkan sedikit kemudian ia mendorong ke kanan kiri dengan keras sambil berteriak, “Hyyyaaaaattttt!” Inti tenaga sin-kang Han Han memang bukan didapat dengan latihan biasa. Te­naga saktinya sudah timbul ketika ia mengalami hal yang mengguncang jiwa­nya, kemudian ia menggunakan kekuatan kemauan untuk melatih sin-kang yang tinggi tingkatnya seperti Hwi-yang Sin-ciang. Lebih-lebih lagi setelah ia melatih diri di Pulau Es, dia sudah memiliki sin-kang yang sukar dicari bandingnya. Kemudian sekali, dia digembleng oleh Khu Siauw Bwee, seorang di antara pe­milik Pulau ES, tentu saja tingkatnya menjadi amat tinggi. Biarpun kedua orang pendeta Tibet itu merupakan tokoh-tokoh besar di Tibet dan sukar dicari tanding­annya, namun setelah mereka dibingung­kan dengan hawa sin-kang yang berubah-ubah tadi, kini serangan terakhir Han Han tak dapat mereka tahan dan tubuh mereka terlempar ke belakang sampai sebelasan meter jauhnya. Begitu terban­ting roboh, kedua orang pendeta Tibet ini cepat bersila dan meramkan mata, cepat-cepat mengatur pernapasan dan menggunakan sin-kang untuk menolong nyawa mereka dari luka dalam yang cukup berbahaya. Akan tetapi, Han Han sendiri pun harus menggunakan tenaga terakhir tadi untuk dapat melontarkan dua orang la­wannya yang kuat, maka kini biarpun dia berhasil, dia sendiri pun tidak keluar tanpa luka, biarpun lukanya tidak se­berat kedua orang lawan. Bagitu kedua orang lawannya terlempar, pemuda bun­tung ini terhuyung-huyung, tubuhnya ber­goyang-goyang dan ia muntahkan sedikit darah segar, kedua matanya dipejamkan dan tangan kirinya meraba-raba gagang tongkat yang tadi ia tancapkan di atas tanah. “Aku mencari adikku.... kenapa kalian mendesakku....?” mulutnya berbisik penuh penyesalan. Tiba-tiba dari belakangnya menyambar angin pukulan yang amat hebat. Han Han terkejut, cepat ia memutar tubuh, akan tetapi karena kepalanya masih pening, gerakannya kurang cepat. Terpaksa ia hanya menggerakkan tangan kanan me­nangkis, dan berhasil menangkis tangan kiri Ciam Tek. Akan tetapi tangan kanan Si Burung Hantu masih tepat memukul dadanya dengan pukulan Hek-in-sin-ciang yang beracun. “Desssss....!” Tubuh Han Han terpelanting ke kanan dan kembali ia mun­tahkan darah segar. Pemuda ini masih sadar dan maklum bahwa kalau tidak cepat bergerak, akan celakalah dia. Ka­ki tunggalnya menjejak tanah, tangan dan tongkat juga bergerak dan tubuhnya su­dah mencelat ke atas. Benar saja duga­annya, pukulan Si Burung Hantu tiba dan mengenai tanah tempat ia tadi rebah. Melihat pukulannya gagal, Ciam Tek Si Burung Hantu yang sudah kegirangan karena serangan pertamanya tadi ber­hasil, cepat meloncat naik mengejar dan mengirim pukulan pula. “Pengecut curang....!” Han Han memapaki dan terpaksa ia berjungkir-balik untuk mengelak dan terpaksa ia melon­cat turun lagi ke atas tanah. Si Burung Hantu juga melayang turun. Han Han membelalakkan matanya penuh amarah, bibirnya masih berdarah, dadanya terasa sakit sekali. Ia marah oleh kecurangan lawan yang memukul dari belakang se­lagi ia pening.“Ha-ha-ha, mampuslah!” Ciam Tek tertawa mengejek dan kembali ia me­lakukan pukulan Hek-in-sin-ciang dengan gerakan yang aneh. Pukulan ini sebetulnya sama sumbernya dengan pukulan kedua orang pendeta Tibet dan memang dahulu ketika merantau sampai ke Tibet, Si Burung Hantu belajar ilmu pukulan ini dari guru kedua orang pendeta Lama maka mereka itu terhitung suheng-suhengnya. Pukulannya yang disebut Hek-in-sin-ciang (Pukulan Sakti Awan Hitam) inipun me­ngeluarkan uap hitam dan beracun. Sung­guhpun tidak sedahsyat Hek-in-hwi-hong-ciang dari Thian Tok Lama akan tetapi juga cukup hebat dan jarang ada orang mampu menahan pukulan maut ini. Ma­nusia bermuka seperti burung ini amat licik dan juga bermata tajam. Ia dapat mengerti bahwa sedikit banyak pemuda luar biasa ini sudah terluka dalam pertandingan melawan kedua orang pendeta Tibet, maka ia mempergunakan kesem­patan untuk menghantam Han Han dari belakang. Ketika pukulannya mengenai dada, ia menjadi girang sekali dan terus mendesak Han Han. Akan tetapi Han Han kini sudah ma­rah bukan main. Orang telah mendesak dia yang tidak ingin berkelahi. Apalagi Si Burung Hantu yang curang ini. Baik, ia menggigit bibir. Mari kita bertanding mati-matian! Dengan kemarahan meluap, melihat Ciam Tek memukul, Han Han tidak mau mengelak, melainkan menerima pukulan Hek-in-sin-ciang ini dengan pukulan pula sambil mengerahkan Im-kang. “Desssss!” Si Burung Hantu jatuh terduduk, tubuhnya menggigil kedinginan dan matanya terbelalak. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya mencelat ke arah Han Han, dari kerongkongannya keluar suara mencicit seperti burung, tangan kanannya menghantam didahului uap hitam ke arah ulu hati Han Han. Pemuda ini miringkan tubuh mengelak sambil berputar. Tiba-tiba tangan kiri Si Burung Hantu dengan jari terbuka dan digerakkan miring membabat ke arah lehernya seperti sebatang golok. Han Han kembali mengelak, akan tetapi rambutnya yang panjang itu terbabat sedikit dan.... putus! Han Han terkejut. Kiranya tangan kiri manusia aneh bermuka burung ini dapat dipergunakan sebagai senjata yang tajamnya tidak kalah oleh pedang, dapat membabat putus gumpalan rambut. Bukan main! “Heh-heh-heh!” Ciam Tek mengejek dan kembali kedua lengannya yang pan­jang-panjang itu sudah bergerak ke depan. Yang kanan menonjok perut yang kiri membacok kepala. Pada saat itu, tiga orang perwira Mancu ikut pula mener­jang maju dengan senjata tombak mere­ka. “Pergi, jangan bantu....!” Si Burung Hantu membentak, akan tetapi tiga orang perwira Mancu itu terus saja menyerang Han Han, pura-pura tidak mengerti. Dan memang mereka tentu saja mengerti bahwa mereka tidak semestinya memyerang te­rus. Akan tetapi karena penasaran maka mereka pura-pura tidak mendengar dan menerjang Han Han menggunakan tombak, seolah-olah berlumba untuk memperebutkan jasa. Diam-diam Han Han menjadi girang. Dia sudah agak lemah dan terluka, dan biarpun dia masih sanggup menandingi Ciam Tek, namun kalau manusia burung itu dibantu oleh tokoh-tokoh lain yang lihai, tentu keadaannya akan berbahaya sekali. Untung baginya bahwa tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kuburan dan yang lain-lain agak jauh dari situ, sehingga yang datang membantu Ciam Tek adalah perwira yang tidak memiliki kepandaian tinggi. Hal ini menguntungkan dia, dan merugikan Ciam Tek karena bagi ahli silat tinggi, bantuan dari orang-orang yang tidak pandai bukan merupakan bantuan lagi, bahkan menjadi peng­ganggu! Karena itulah maka tadi ia ber­teriak mencegah mereka sungguhpun ia belum yakin benar akan dapat mengalah­kan Han Han sendiri saja. Han Han membiarkan dua tombak datang meluncur. Setelah dekat sekali, ia menangkap kedua tombak dengan tangan, kakinya menendang roboh perwira ke tiga dan sekali ia mengerahkan tenaga, tubuh dua orang perwira itu terbawa oleh tom­baknya sendiri ke atas dan melayang ke arah tubuh Ciam Tek! “Tolol kamu!” Ciam Tek mendengus marah, kedua tangannya bergerak men­dorong dan tubuh dua orang perwira itu terbanting ke atas tanah, bergulingan dan pingsan. Kesempatan itulah yang dinanti-nantikan Han Han. Melihat betapa manu­sia burung itu menangkis dan melontar­kan kedua orang perwira Mancu, ia sudah meloncat ke depan dan mengirim pukul­an dahsyat dengan kedua tangan, tangan kanan menonjok dada, tangan kiri meng­gunakan ujung tongkat menotok. Si Burung Hantu atau Sin-tiauw-kwi Ciam Tek benar-benar amat lihai. Biar­pun serangan Han Han ini amat cepat dan hanya beberapa detik setelah ia me­nangkis tubuh dua orang perwira, namun ia masih dapat menghadapinya. Dengan tangan kirinya ia menangkis pukulan Han Han, kemudian tangan kanannya men­cengkeram ke arah tongkat yang me­notok lehernya. Namun, karena ia ter­gesa-gesa dan sebaliknya Han Han sudah mengatur siasat lebih dulu, tiba-tiba tongkat itu bergerak melejit dan sebalik­nya malah menggempur lengannya dengan pukulan yang menggetar karena mengan­dung tenaga sin-kang “Krakkk! Auuuggghhh!” Si manusia burung itu mencelat ke belakang, menye­ringai kesakitan karena tulang lengan kanannya retak! Saking marahnya, ia tidak terlalu merasakan keretakan tulang tengan kanannya, malah maju menubruk ke depan seperti gerakan seekor burung. Han Han terkejut, tidak menyangka bahwa lawan yang sudah terluka masih begitu nekat, padahal saat itu ia melihat berkelebatnya bayangan Sepasang Tikus Kuburan. Maka ia sengaja menerima han­taman tangan kanan Ciam Tek yang ia tahu telah terluka, sedangkan cengkeram­an tangan kiri lawan ke arah ubun-ubun­nya ia tangkis dengan tangan kanan, kemudian ujung tongkatnya meluncur ke arah dada lawan. “Krakkk....! Crotttt....!” Terdengar jerit melengking dari mulut Ciam Tek, tubuhnya berkelojotan di ujung tongkat yang menembus dadanya, tulang lengannya patah bertemu dengan dada Han Han karena memang tadinya tulang itu telah retak. Han Han menyeringai kesakitan. Biar­pun lengan kanan Ciam Tek telah retak tulangnya, namun pukulan yang mengenai dadanya itu masih hebat sekali membuat napasnya sesak dan matanya berkunang. Pemuda ini maklum bahwa dirinya ter­ancam bahaya maka cepat ia mencabut tongkatnya dan tubuhnya mencelat ke atas. Pandang matanya masih berkunang dan kepalanya berat sekali. Ia perlu ce­pat-cepat membebaskan diri agar dapat mengobati luka di dalam dadanya. Akan tetapi, tiba-tiba selagi tubuhnya meloncat, kaki tunggalnya terbelit ujung rantai baja yang panjang dan kuat. Kira­nya dia telah dikejar dan dikurung Sepasang Tikus Kuburan dan kakek kecil bertelanjang kaki yang telah menggerak­kan rantai bajanya secara istimewa. Ran­tai baja itu meluncur cepat dan berhasil melibat pergelangan kaki Han Han selagi pemuda ini meloncat. Han Han terkejut bukan main. Ia menendangkan kakinya namun tak dapat terlepas dari libatan rantai baja sehingga tubuhnya tertarik turun dan terbanting ke bawah! Cepat ia menggunakan lengan kiri merangkul batang pohon agar tubuhnya tidak terban­ting. Pada saat itu, tampak sinar ber­kelebat dan pedang di tangan Bhong Poa Sik telah menyambar ke arah lehernya! Han Han menjadi marah sekali. Teriakan dahsyat keluar dari kerongkongannya, teriakan yang mengandung hawa khi-kang sehingga si manusia berkepala benjol itu kaget, gerakannya tertahan sedetik na­mun cukup bagi Han Han yang masih bergantung dengan lengan kiri pada ba­tang pohon sedangkan kaki tunggalnya masih terlibat rantai itu. Han Han meng­gerakkan tangan kanannya, mencengke­ram ujung pedang, mengerahkan sin-kang dan sekali betot pedang itu telah diram­pasnya. Pergelangan tangannya bergerak, pedang membalik dan kini ia telah me­megang gagang pedang, langsung ia tu­sukkan ke lambung Bhong Phoa Sik. Pengerahan sin-kang tadi membuat dadanya makin sesak dan matanya menjadi gelap, namun Han Han masih dapat menusuk lambung lawannya dengan tepat sehingga pedang rampasannya menembus dari lam­bung kiri Bhong Poa Sik. Bukan itu saja, juga berbareng ia mengerahkan tenaga pada kakinya, menarik kaki itu ke bela­kang. Bersama dengan jerit kematian yang keluar dari mulut Bhong Poa Sik bersama semburan darahnya, terdengar pekik kaget kakek yang memegang ujung rantai karena tubuhnya terbawa oleh tarikan kaki Han Han. Betapapun ia mempertahankan, tetap saja tubuhnya terbawa melayang ke arah Han Han. “Cappppp!” Han Han terkejut bukan main. Kare­na pandang matahya gelap, ia kurang waspada sehingga pada saat ia menusuk­kan pedang ke lambung Bhong Poa Sik dan membetot tubuh kekek yang meme­gang rantai, sebuah tusukan tombak pendek di tangan kiri Bhong Lek si Muka Tikus menancap di paha kaki tunggalnya! Rasa sakit membuat Han Han makin marah. Tubuh kakek yang memegang rantai itu telah melayang dekat dan sekali Han Han menendang ke belakang, tumit kakinya menendang perut kakek itu yang seketika putus napasnya karena isi perutnya remuk! Dan Bhong Lek yang tadinya girang dapat melukai paha Han Hang tiba-tiba melihat sinar bergulungan di depan matanya dan.... arwahnya melayang tanpa disadarinya karena tahu-tahu leher Si Muka Tikus ini telah putus oleh sinar pedang yang digerakkan Han Han. Pemuda buntung ini berdiri dengan kaki tunggalnya yang terluka dan bercucuran darah, pedang di tangan kanan, tongkat di tangan kiri, tubuhnya agak bergoyang, rambutnya riap-riapan, muka­nya beringas penuh keringat, pakaiannya ­berlepotan darahnya sendiri dan darah para korban yang tewas di tangannya. Dia siap menghadapi maut, akan tetapi kematiannya akan ditebus mahal sekali oleh musuh-musuhnya karena dia siap untuk membela diri mati-matian sampai tetesan darah terakhir! Para perwira dan perajurit Mancu gentar menghadapi pemuda kaki buntung yang luar biasa itu. Kakak beradik Tikus Kuburan tewas, kakek Mongol yang terkenal lihai dengan rantai bajanya juga tewas, tiga orang murid Setan Botak yang amat lihai tewas pula, belum lagi banyak perajurit dan perwira yang roboh bahkan kedua orang pendeta Tibet masih duduk bersila memejamkan mata memulihkan tenaga! Namun, para perajurit yang mengurung itupun maklum bahwa pemuda buntung yang sakti itu sudah terluka hebat. “Tangkap.... Bunuh....!” Teriakan-teriakan terdengar. “Jangan dekati!” teriak seorang per­wira. “Serang dengan anak panah....!” Sibuklah para perajurit, seperti serombongan orang yang ketakutan mengurung seekor harimau yang ganas dan kuat. Han Han menggigit bibirnya. Tak mungkin dia menerjang maju karena kakinya, satu-satunya anggauta badan yang ia andalkan untuk menahan tubuh, telah terluka cukup parah. Tidak, kalau ia menggerakkan kakinya berarti ia memperlemah pertahanannya sendiri. Dia akan tetap berdiri di situ dan menghadapi semua terjangan musuh sampai mati! “Serrr.... serrr-serrrrr....!” Puluhan batang anak panah menyambar. Han Han memutar pedang rampasan di tahgannya sehingga terdengar suara nyaring berkali-kali, tampak bunga api berpijar dan di­susul pekik beberapa orang perajurit yang termakan anak panah mereka sendiri yang membalik oleh tangkisan Han Han. Sebagian besar anak panah runtuh, ada sebatang menancap di antara rambut yang awut-awutan itu seperti hiasan rambut, dan sebatang lagi menancap di bajunya setelah melukai kulit pinggul, tidak dapat menembus kulit karena Han Han memutar pedang sambil mengerahkan sin-kang melindungi tubuh! “Hentikan serangan....!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan ternyata di tempat itu telah datang pasukan yang terdiri dari seratus orang lebih yang merupakan pasukan pilihan Mancu, di­kepalai oleh seorang wanita yang cantik sekali, cantik dan gagah bermata seperti bintang kembar. “Han-koko....! Aihhh.... kalian orang-orang gila! Berani menyerang kakakku? Pergi semua! Pergi....! Dia itu Han-koko, kakakku....! Han-koko....!” Gadis jelita yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Lulu! Gadis ini, seperti kita ketahui, telah menjadi sumoi dari Puteri Nirahai di bawah gemblengan Puteri Maya, yaitu nenek bangsa Khitan yang sakti itu. Kemudian, karena pelaporan dari barisan yang menyerbu Se-cuan selalu terpukul mundur, Puteri Ni­rahai menjadi penasaran dan datang sen­diri ke garis depan di perbatasan Se-cuan, mengajak Lulu. Ketika itu Lulu sedang bertugas meronda tapal batas memimpin sebuah pa­sukan. Tentu saja segera mengenal Han Han dan kedatangannya pada saat yang amat tepat itu menyelamatkan kakaknya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hati dara ini ketika melihat bahwa kakaknya itu berdiri hanya dengan sebuah kaki! “Han-ko....!” Ia menjerit lagi, meloncat turun dari kudanya dan melesat cepat seperti terbang, langsung menubruk dan berlutut merangkul kaki Han Han yang tinggal sebuah sambil menangis sesenggukan. “Lulu....!” Han Han juga memanggil nama adiknya dengan hati yang tidak karuan rasanya. Mula-mula semangatnya seperti terbang saking girangnya men­dengar suara dan melihat betapa adiknya masih sehat dan selamat, akan tetapi hatinya menjadi perih melihat kedatangan adiknya itu bersama pasukan Mancu. Karena itu, panggilannya keluar dengan suara seperti orang merintih. Betapapun juga, keharuan hatinya lebih besar dan dia pun menjatuhkan tubuhnya yang su­dah lemas itu, berlutut dan merangkul adiknya dengan kedua lengannya. Sejenak mereka berangkulan dan bertangisan. “Lulu.... kau.... bocah nakal.... ke mana saja kau pergi?” Han Han menegur, tangan kiri diletakkan di atas pundak dara itu, tangan kanannya menghapus air mata yang bereucuran di atas pipi Lulu. Akan tetapi Lulu tidak menjawab, melainkan meraba-raba paha kiri Han Han yang buntung, matanya yang basah air mata itu terbelalak memandang, kemudian ia meloncat bangun, matanya yang lebar indah itu liar memandang ke arah para perajurit Mancu yang sibuk mengurus teman-teman yang tewas dan merawat yang luka, wajahnya yang manis dan jelita itu menjadi beringas, kulit mukanya merah sekali. “Siapa yang membuntungi kakimu, Han-ko? Siapa? Hayo katakan kepadaku agar dapat kubalas dia! Han-ko, katakan siapa yang membuntungi kakimu? Katakan....!” Para perwira dan perajurit Mancu menjadi ketakutan dan saling pandang. Mereka tentu saja amat takut kepada adik seperguruan Puteri Nirahai ini, bu­kan hanya takut akan kepandaiannya yang kabarnya amat lihai seperti sang puteri, akan tetapi terutama takut akan ke­kuasaan dan kedudukan Puteri Nirahai sendiri. “Lulu, bukan mereka.... kakiku sudah sangat lama buntung....” Han Han berkata. “Aihhhhh, Koko....!” Lulu menubruk lagi dan menangis, meraba-raba kaki yang buntung, lalu meraba-raba muka Han Han, menyibakkan rambut kakaknya yang awut-awutan menutupi muka yang tampan itu. “Kau.... kau terluka hebat.... ahhh.... Koko, mengapa kau berada di sini?” Kembali Lulu meloncat bangun dengan sigapnya, membalikkan tubuhnya dan membentak kepada para perajurit. “Pergi kalian semua! Pergi dari sini! Kalau tidak, kubunuh semua! Pergi!” Para perwira Mancu dan para peraju­rit terkejut, cepat-cepat mereka mem­bawa mayat dan teman-teman yang terluka meninggalkan tempat itu. Dua orang pendeta Lama sudah tidak kelihatan lagi di tempat itu. Mereka berdua maklum bahwa setelah Lulu datang secara tidak terduga-duga, rencana mereka membunuh Han Han yang dianggap seorang lawan berbahaya itu menjadi gagal. Setelah tempat itu bersih ditinggalkan semua pasukan, Lulu kembali menubruk Han Han. “Han-ko, apakah yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kakimu bun­tung? Siapa yang dapat melakukan perbuatan keji ini kepadamu, Han-koko?” Kembali kedua mata gadis itu bercucuran air mata begitu ia melihat ke arah kaki buntung kakaknya. Akan tetapi Han Han tidak menjawab. Lulu masih menangis sambil membe­namkan mukanya di dada kakaknya, ke­dua lengannya merangkul leher. “Han-koko.... setengah mati aku mencarimu.... bertahun-tahun amat lama rasanya, hampir aku putus harapan. Aku sampai di tempat sejauh ini juga mencarimu.... tapi.... siapa menduga bahwa kau.... ah, kakimu.... aduh, Koko....! Katakanlah, siapa orangnya yang begitu kejam membuntungi kakimu? Aku bersumpah untuk menuntut balas!” Akan tetapi Han Han tetap diam tak menjawab. Lulu yang diamuk keharuan, kegirang­an, juga kemarahan melihat kaki Han Han buntung, tidak merasa betapa semua pertanyaannya tak terjawab. Kini ia mengangkat mukanya dan berkata penuh semangat. “Jangan khawatir, Han-ko. Kalau musuh itu terlalu lihai, aku dapat mem­bantumu. Aku, adikmu ini, sekarang bu­kanlah Lulu yang dahulu! Aku sudah memiliki kepandaian tinggi dan....” Tiba-tiba Lulu menghentikan kata-katanya ketika ia melihat wajah Han Han. Kira­nya sejak tadi kakaknya itu memandang­nya dengan sepasang mata mendelik pe­nuh amarah! Wajah Han Han pucat, matanya men­delik seolah-olah mengeluarkan api, akan tetapi dari pelupuk matanya menetes-netes air mata! Pemuda yang terluka ini tidak hanya terluka pahanya yang robek oleh tusukan tombak Bhong Lek melain­kan yang lebih berbahaya lagi adalah luka di dalam dadanya akibat pukulan Ciam Tek si Burung Hantu, napasnya makin sesak dan seluruh dada terasa panas. Setengah mati ia mencari Lulu, bertahun-tahun ia lamanya dengan hati rindu dan penuh kekhawatiran, kini se­telah bertemu, kegirangan hatinya ternoda oleh kenyataan bahwa adiknya telah memimpin pasukan Mancu! “Koko.... Han-ko.... kau.... kau menangis? Kenapakah....?” Dengan jari tangan gemetar Lulu mengusap air mata yang mengalir di atas pipi yang pucat itu. Gerakan Lulu yang penuh kasih sayang ini memancing naiknya sedu-sedan dari dada Han Han, tangan kirinya me­rangkul dan mengelus-elus rambut di kepala Lulu, akan tetapi tangan kanannya mengepal keras sekali. Mulutnya tidak mampu menjawab, dua macam perasaan bertanding dalam hatinya sendiri. “Koko...., Koko.... bicaralah.... kau kenapakah? Kakimu....” Lulu terisak, “siapa yang membuntungi kakimu....?” “Buk! Buk! Bukkk!” Tiga kali kepalan tangan kanan Han Han menghantam tanah sehingga Lulu merasa betapa tanah yang diinjak tergetar. Ia kaget sekali dan memandang wajah kakaknya dengan ke­dua mata terbelalak lebar. “Han-ko! Kenapa....?” “Lulu! Buntungnya kakiku bukan hal penting!” Akhirnya ia dapat mengeluarkan kata-kata dengan napas terengah. “Urus­an diriku tidak perlu dibicarakan! Akan tetapi engkau....! Engkau....!” Lulu mengerutkan keningnya, meman­dang wajah kakaknya penuh selidik, lalu memegang kedua pundak kakaknya. “Han-ko, apa maksudmu? Ada apa denganku....?” Tiba-tiba Han Han menggunakan kedua tangannya mendorong sepasang le­ngan adiknya sehingga Lulu terjengkang ke belakang. “Ada apa dengan engkau? Masih hendak bertanya lagi? Engkau.... menjadi pemimpin pasukan Mancu ter­kutuk!” Seketika pucat wajah Lulu. Air mata yang tadi telah berhenti mengalir kini bercucuran dari sepasang mata yang tak pernah berkedip menatap wajah kakak­nya. Perlahan ia bangkit kembali, me­rangkak menghampiri Han Han dan me­nubruk kakaknya sambil menangis sesenggukan. “Han-koko.... lupakah engkau bahwa aku adalah seorang gadis Mancu? Aneh­kah kalau aku membantu bangsaku menghadapi para pemberontak....?” “Plak! Plak!” Kedua tangan Han Han menyambar dan sepasang pipi yang pucat itu ditamparnya. Lulu terpekik dan mun­dur ke belakang sambil meloncat bangun berdiri, memegangi kedua pipinya yang terasa panas dan sedikit berdarah keluar dari ujung bibir kiri yang pecah. Matanya terbelalak, mukanya pucat sekali. Rasa sakit di kedua pipinya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan rasa nyeri yang menusuk masuk di hatinya. Ia di­tampar kakaknya! Selamanya Han Han belum pernah memperlakukan dia seperti ini. Jangankan menampar, bersikap kasar sedikit pun belum! Han Han ikut pula berdiri, bersandar pada tongkatnya. Wajahnya lebih pucat lagi dan matanya juga terbelalak ketika ia melihat darah di ujung bibir Lulu. Rambutnya terurai menutupi muka, ia sibakkan dengan gerakan kepala, akan tetapi rambut itu terurai kembali menutupi sebelah mukanya. “Lulu....! Adikku....! Ahhhh.... apa yang telah kulakukan....?” Suaranya gemetar, mengandung isak, penuh penyesal­an seolah-olah ia baru sadar dari sebuah mimpi buruk. Namun wajah adiknya yang biasanya berseri-seri, yang biasanya jenaka, yang biasarya selalu cerah seperti sinar mata­nari di siang hari, kini berubah, dingin dan seperti muka mayat, amat pucat, matanya tidak bersinar, bahkan suaranya berubah ketika bibir itu bergerak bicara. “Han-koko....!” Ia berhenti dan terisak, susah payah menahan isak agar dapat bicara. “Kau tidak adil....! Memang aku membantu bangsaku karena aku memang bangsa Mancu. Memang aku telah bersalah, akan tetapi karena eng­kau tidak berada di sampingku, aku men­jadi bimbang dan akhirnya terseret ke dalam perang. Akan tetapi engkau sen­diri? Bukankah engkau menjadi seorang panglima Bu Sam Kwi yang memper­tahankan Se-cuan? Sudah lama kami mendengar akan adanya panglima kaki buntung dari fihak musuh yang lihai. Tak kusangka engkaulah orangnya! Engkau seorang berbangsa Han membela bangsa­mu menghadapi Mancu, sebaliknya aku seorang berbangsa Mancu membela bang­saku menghadapi musuh. Siapakah yang benar di antara kita? Siapa yang bersalah? Engkau.... telah menamparku, bukan menampar pipi melainkan menam­par dan menghancurkan hatiku. Ah, Han-koko, engkau tidak adil....!” Lulu mendekap muka dengan kedua tangan dan air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya. “Lulu...., Moi-moi adikku.... kauampunkan aku....” Han Han melangkah maju hendak memegang lengan adiknya. Akan tetapi sentuhan jari tangannya seperti ujung api menyengat tangan Lulu yang cepat menarik tangannya, meman­dang dengan mata basah penuh penyesal­an, kemudian terisak dan gadis ini mem­balikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu. “Lulu....!” “.... engkau tidak adil....! Engkau kejam.... tidak adil....!” Suara Lulu yang bercampur tangis itu terdengar oleh Han Han seperti tusukan pedang menembus jantungnya. Ia meloncat dan mengejar sambil berteriak-teriak seperti orang gila, “Lulu....! Lulu adikku....!” Akan tetapi ia terguling roboh. Pertemuan dengan adiknya yang mengakibat­kan pukulan batin hebat itu membuat luka di dadanya makin parah. Ia masih memanggil-manggil nama Lulu sambil merangkak, kemudian bangkit perlahan-lahan dan berjalan terhuyung-huyung menyeret tongkat, berloncatan tanpa mempedulikan pahanya yang mengucurkan darah. Namun Lulu telah jauh, telah lenyap dari situ. Biarpun bayangan gadis itu tidak tampak lagi, namun masih terngiang di telinga Han Han, merupakan tusukan-tusukan yang membikin hatinya perih, jeritan adiknya tadi, “Engkau tidak adil....! Tidak adil.... tidak adil....!” Han Han hampir tak kuat menahan. Ia merangkul sebatang pohon dan me­nangis, mengguguk seperti anak kecil. Ia sadar akan kesalahannya terhadap Lulu tadi. Memang dia tidak adil terhadap Lulu. Akan tetapi, bukankah dia men­dengar bahwa Lulu telah menjadi adik angkat Sin Lian dan bahkan ikut pula membantu gerakan para pejuang? Meng­apa kini Lulu menjadi pemimpin pasukan Mancu? Benarkah dia tidak adil? Siapa yang tidak adil? Siapa yang salah? Siapa yang benar? Han Han menggeleng kepala dan ber­bisik, “Tidak ada yang salah kecuali perang! Yang tidak adil adalah perang! Terkutuklah perang!” Dan pemuda ini lalu terpincang-pincang meninggalkan tempat itu, terus memasuki hutan tanpa tujuan. Hatinya kosong, lenyap sudah gairah hidup. Pikirannya pun kosong, dan ia hanya mengikuti gerak kaki berloncatan secara otomatis. Akhirnya, di dalam jantung hutan yang lebat, ia terguling pingsan! “.... engkau tidak adil....! Hu­-huuu-huuuuu.... tidak adil.... tidak adil....! Hi-hiii-hiiiii.... hu-huuuuu!” Lulu berlari cepat sekali sambil menangis dan merintih-rintih di sepanjang jalan, kedua tangannya menggosok-gosok kedua mata seperti anak kecil menangis, beberapa kali ia terhuyung karena kakinya tersandung batu atau akar pohon.  “Sumoi....!” Lulu terkejut, seperti sadar dari mimpi, menahan kakinya dan berdiri memandang melalui air matanya. Nirahai telah berdiri di depannya. Wajah yang cantik jelita dan biasanya bersikap ramah penuh kasih kepadanya itu kini kelihatan marah, kedua tangan bertolak pinggang. Akan tetapi dalam kesedihannya, Lulu tidak melihat perubahan ini. Begitu bertemu sucinya, ia lalu menubruk, merangkul dan menangis di pundak Nirahai. “Aduh, suci.... hu-huuuuu....!” “Hemmm, tenanglah dan jangan seper­ti bocah cengeng! Bicaralah!” kata Ni­rahai yang masih bersikap marah. “Suci.... dia.... dia....” Lulu menangis lagi, terlampau sakit hatinya oleh sikap kakaknya tadi sehingga sukar untuk bicara. Nirahai memegang kedua pundak Lulu dan mendorongnya mundur. “Sumoi, hentikan tangismu! Apa yang telah kudengar dari laporan pasukanmu? Engkau telah melindungi musuh!” Lulu mengusap air matanya, kemudi­an mengangkat muka memandang Nirahai. “Suci, dia.... dia adalah Han-koko yang kucari-cari!” Nirahai mengangguk. “Aku sudah men­dengar. Jadi panglima pemberontak ber­kaki buntung itulah Han Han yang se­lama ini kaucari-cari? Di mana dia sekarang?” “Kaki.... kau.... mau apakan dia....?” “Mau apakan dia? Dia adalah pang­lima musuh! Harus ditawan atau dibunuh!” “Suci....!” “Sumoi, tidak tahukah engkau bahwa tadi engkau telah melakukan perbuatan yang khianat? Engkau membantu musuh!” “Tapi dia kakakku!” Lulu membantah penasaran. “Tapi dia panglima musuh!” Nirahai membentak, lebih penasaran lagi. Lulu menjadi lemah kembali dan meratap, “Suci.... suci.... ingatlah, dia kakakku! Bagaimana aku dapat memusuhinya?” Nirahai menarik napas panjang. “Hemmm, sudahlah! Biarpun kakak, hanya kakak angkat. Andaikata kakak kandung sekalipun, kalau membantu musuh, harus ditentang. Lulu, dalam masa perang, urusan pribadi harus dikeduakan, yang diutamakan adalah urusan negara! Aku tidak membenci kakakmu yang belum pernah kujumpai, bahkan aku tidak pernah membenci para pemberontak secara pribadi, akan tetapi aku akan membunuh mereka sebagai musuh negara. Sudah, biarlah untuk sekali ini, aku tidak akan mengejar panglima buntung dari Se-cuan itu. Mari kita kembali ke pesanggrahan kita.” Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. Setelah melihat kenyataan bahwa Han-koko berada di fihak musuh, aku tidak mau perang lagi. Aku akan pergi.” “Ke mana?” Nirahai menyembunyikan kemarahannya. “Pergi menyeberang ke Se-cuan membantu pemberontak?” Lulu menggeleng kepala dengan se­dih. “Tidak, aku mau pergi menjauhi semua ini, mau menjauhi perang yang menghancurkan hidupku. Aku tidak sudi lagi terlibat....” “Sumoi! Engkau harus kembali ber­sama aku! Ini merupakan perintah!” Baru sekali ini selama menjadi sumoi Nirahai, sucinya itu mengeluarkan suara keras dan memperlihatkan sikap marah. Hal ini mengingatkan Lulu akan sikap Han Han tadi dan sakitlah hatinya. Ia pun memandang sucinya dengan sinar mata penuh penasaran dan tentangan, lalu bertanya dengan suara tegas. “Perintah siapa kepada siapa?” “Perintah seorang pemimpin kepada bawahannya! Perintah seorang wakil kaisar kepada warga negaranya! Perintah seorang suci kepada sumoinya!” Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. Apapun yang terjadi, aku tidak mau kem­bali ke markas, tidak mau ikut perang. Aku hendak pergi ke mana aku suka!” “Lulu! Membangkang berarti mem­berontak dan kau bisa dihukum!” “Terserah!” “Sumoi, engkau hendak melawan suci­mu? Engkau berani melawan aku?” “Suci, ketika aku ikut bersamamu, tidak ada perjanjian jual beli kebebasan­ku. Kalau sekarang engkau hendak me­maksa, hendak mengganggu kebebasanku, terpaksa aku melawanmu. Melawan eng­kau sebagai orang yang hendak memaksa­ku, bukan sekali-kali melawan bangsa atau negara! Aku tidak peduli akan urus­an bangsa dan negara, tidak peduli akan perang, aku muak! Biarkan mereka yang suka perang itu maju sendiri memper­taruhkan nyawa. Bagiku, terima kasih! Aku tidak mau kembali dan kalau suci hendak memaksa, apa boleh buat, aku melawan sebisaku!” Nirahai menghela napas, wajahnya kelihatan penuh kecewa dan sesal. Dia amat mencinta Lulu yang dianggapnya sebagai adik sendiri, tidak ingin menggunakan kekerasan. Akan tetapi dia pun sudah mengenal watak Lulu yang sekali menentukan sikap akan dibela sampai mati. Betapapun juga tak mungkin ia melepaskan sumoinya ini. Kalau sampai sumoinya ini kemudian membantu pemberontak, hal itu merupakan malapetaka yang lebih hebat lagi. Bayangkan saja. Sumoinya, seorang gadis Mancu pula, membantu pemberontak melawan bangsa sendiri! Tidak, ia harus mencegah hal yang terkutuk itu. Lebih baik melihat sumoinya mati di depan kakinya untuk kemudian ia tangisi dan kabungi daripada melihat sumoinya menjadi pengkhianat! “Sumoi, sekali lagi, marilah kau ikut aku kembali dan kita bicarakan semua urusan dengan baik. Jangan menuruti perasaan yang sedang terganggu. Perlu­kah urusan begini saja sampai mematah­kan ikatan persaudaraan dan kasih di antara kita?” Suara Nirahai yang lemah lembut ini membuat Lulu kembali terisak. “Suci.... suci.... kau kasihanilah aku, biarkan aku pergi....” ia meratap. “Sumoi!” Nirahai membentak lagi. “Engkau seorang gadis yang perkasa! Engkau adalah sumoiku! Engkau adalah murid Subo Maya! Mengapa sikapmu be­gini lemah? Hayo ikut aku kembali!” Lulu menggeleng kepala, “Tidak mau, suci.” “Hemmm, baik. Kita lihat saja siapa di antara kita yang lebih kuat. Akan tetapi ingat, sekali ini kita bukan sedang berlatih!” Nirahai berkata mengejek dan menubruk ke depan mengirim totokan ke arah leher Lulu disusul cengkeraman ke arah pundak. Lulu cepat mengelak totokan dan menangkis cengkeraman, bahkan langsung ia membalas dengan pukulan dari ilmu silat­nya yang ampuh dan yang ia latih dari Puteri atau Nenek Maya, yaitu Toat-beng Sian-kun. Kelihatannya ringan saja, pukulan ini yang mengarah dada dan perut Nirahai dengan kedua tangan terbuka. Akan tetapi tentu saja mengenal pukulan sakti, cepat ia mengelak den bales menyerang. Makin lama makin cepat gerakan mereka sehingga yang tampak hanya dua bayangan ber­kelebat, kadang-kadang menjadi satu! Betapapun lihainya Lulu, tentu saja dia tidak dapat menandingi kehebatan Nirahai yang memiliki banyak ilmu silat tinggi yang luar biasa. Sebentar saja, tidak sampai tiga puluh jurus, Lulu mulai terdesak hebat den hanya meng­andalkan kelincahan gerakannya yang ia dapat dari latihan di Pulau Es saja yang membuat ia dapat bertahan dari serangan Nirahai yang bertubi-tubi. Lulu mulai berloncatan ke sana-sini den terus mun­dur. “Lu-moi, jangan takut! Aku datang membantumu!” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan muncullah Sin Kiat yang langsung menyerang Nirahai dengan pe­dangnya. Gerakan murid Im-yang Seng-cu yang berjuluk Hoa-san Gi-hap ini cepat den dahsyat sekali, pedangnya mengeluarkan suara berdesing den ber­ubah menjadi sinar terang bergulung-gulung.“Hemmm.... pemberontak cilik bosan hidup!” Nirahai berseru dan tiba-tiba mata Sin Kiat menjadi gelap ketika ada sinar hitam lebar menutupi tubuh lawan­nya kemudian dari tengah bayangan hi­tam itu meluncur sinar putih yang me­nusuk ke arah lambungnya.  “Cringgg....!” Sin Kiat terkejut sekali. Ternyata bayangan hitam itu adalah sebatang payung yang tiba-tiba sudah berada di tangan Nirahai dan payung itu berkembang, kemudian ujung peyung yang runcing seperti pedang menusuknya. Tang­kisannya membuat tangannya tergetar, tanda bahwa puteri Mancu itu memiliki sin-kang amat kuat. Sin Kiat memutar pedangnya dan bergerak cepat, namun semua serangan­nya kena dihalau oleh tangkisan kuat, den dalam beberapa gebrakan saja ia sudah terdesak oleh serangan balasan ujung payung yang menyembunyikan ge­rakan lengan den pundak lawan. “Plak.... cring....! Aaaihhh!” Sin Kiat terpaksa meloncat ke belakang dan hampir saja lututnya kena disambar ujung payung yang gerakannya amat lihai itu. Sin Kiat memandang tajam, kemudian ia berkata. “Hemmm.... kalau tidak salah dugaanku, tentu engkaulah Puteri Nirahai yang terkenal licik itu, pengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai!” katanya sambil melintangkan pedang di depan dada. Kemudian ia menoleh ke arah Lulu dengan wajah berseri, “Lu-moi, engkau pergilah. Han Han mencari­mu. Biar aku yang menghadapi iblis bet­ina ini!” “Wah, melihat gerakan pedangmu, engkau tentu Hoa-san Gi-hiap seperti yang pernah diceritakan Lulu kepadaku. Ah, tidak kecewa engkau menjadi murid Im-yang Seng-cu, akan tetapi engkau harus belajar seratus tahun lagi untuk dapat melawanku!” Nirahai berseru dan kembali payung pedangnya mengirim serangan hebat. Sin Kiat tidak berani berlaku lengah dan cepat ia menangkis sambil meloncat ke samping kemudian mengirim serangan balasan yang dapat dielakkan secara mudah oleh Nirahai dengan sikap mengejek. “Wan-twako, jangan....! Jangan campuri, biar aku sendiri hadapi suci!” Wan Sin Kiat terkejut bukan main dan untuk kedua kalinya ia meloncat mundur. “Apa? Sucimu....?” Nirahai tersenyum dan memandang wajah tampan itu dengan tajam. Diam-diam ia kagum kepada pemuda yang tampan dan gagah ini, akan tetapi kare­na ia tahu bahwa pemuda inipun seorang panglima Se-cuan, maka dia menganggap pemuda ini musuhnya. “Benar, Wan Sin Kiat, ataukah Wan-ciangkun? Engkau seorang panglima pem­berontak, bukan? Lulu adalah sumoiku, akan tetapi mencampuri urusan kami atau tidak, setelah engkau berada di daerah ini, engkau harus menyerah men­jadi tawananku atau terpaksa aku akan membunuhmu sebagai tokoh pemberontak!” “Lu-moi....! Eh, bagaimana ini....?” Sin Kiat bingung sekali, akan tetapi Nirahai telah menyerangnya kembali dengan hebat. “Tranggg.... cringgggg....!” Dua kali Sin Kiat menangkis dan ia terhuyung ke belakang. Nirahai terus menerjang maju dan mendesak pemuda yang terhuyung itu dengan ujung payungnya. “Trikkkkk!” Nirahai mencelat mundur. Lulu telah mencabut pedang dan menangkis gagang payung itu, menolong Sin Kiat. “Suci, tidak boleh kaubunuh dia. Mari kita lanjutkan pertandingan kita.” “Sumoi, kau makin tersesat! Mem­bantu pemberontak di depanku, ya?” Nirahai menyerang dengan hebat dan kembali kedua orang gadis yang sama cantik jelita dan sama lincah itu saling serang, kini menggunakan senjata. Me­lihat ini, serta merta Sin Kiat membantu dan mengeroyok Nirahai. Pertempuran hebat berlangsung di dalam hutan yang sunyi itu. Kelebatan sinar pedang menyliaukan mata dan gerakan mereka amat cepatnya. Diam-diam Sin Kiat menjadi heran sekali, heran dan kagum. Kini ia men­dapat kenyataan betapa Lulu telah mem­peroleh kemajuan pesat, bahkan dari gerakan-gerakan gadis yang dicintanya itu ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian Lulu kini telah jauh melampaui tingkatnya sendiri! Akan tetapi, dengan kaget ia pun mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Puteri Nirahai yang terkenal ini lebih hebat lagi, dikeroyok dua sama sekali tidak terdesak, bahkan beberapa kali dia dan Lulu terancam oleh ujung gagang payung yang luar biasa aneh dan lihainya itu. Pantas saja tokoh-tokoh besar seperti orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tewas di tangan gadis puteri Kaisar Mancu ini! Karena dibantu Sin Kiat, kini tidak­lah begitu mudah bagi Nirahai untuk dapat mengalahkan Lulu, sungguhpun ia masih terus mendesak karena memang tingkat kepandaiannya jauh di atas kedua orang pengeroyoknya. Setelah lewat se­ratus jurus, Nirahai mulai penasaran dan marah. Kalau tadinya ia ingin meroboh­kan Lulu tanpa membunuhnya, bahkan kalau mungkin tidak melukainya, kini ia tidak peduli lagi dan kalau perlu hendak membunuh mereka berdua. Ia mengeluar­kan lengking nyaring sekali dan tampak­lah sinar emas berkilau. Lulu dan Sin Kiat terkejut sekali, mata mereka men­jadi silau dan permainan pedang mereka kacau-balau oleh suara yang keluar dari sebatang suling emas yang kini dimainkan oleh Nirahai. Itulah senjata pusaka Suling Emas yang ampuhnya menggila! “Trang-cringgg....!” Lulu dan Sin Kiat terhuyung, kedua tangan mereka tergetar hebat. “Lu-moi, pergilah.... cepat pergilah.... selamatkan dirimu....!” Sin Kiat berkata sambil memutar pedangnya dengan cepat membentuk gulungan sinar pedang seperti perisai baja. “Tidak, Wan-twako! Engkau saja pergilah, jangan menyia-nyiakan nyawa un­tuk aku. Biar kuhadapi urusanku sendiri!” Lulu berkata sambil memutar pedangnya. “Trang-trangg...!” Kini kedua orang muda itu tidak hanya terhuyung, bahkan terlempar ke belakang dan bergulingan. Nirahai tertawa dan terus menerjang maju. “Moi-moi.... pergilah selamatkan dirimu....!” Sin Kiat mendesak. “Twako, kenapa sih engkau hendak mengorbankan diri untukku?” Lulu ber­tanya penasaran. “Moi-moi, kau tahu. Aku cinta pada­mu, aku rela berkorban untukmu. Pergilah dan temui Han Han.... di Se-cuan....!” Sin Kiat menangkis, “Trakkk!” Pe­dangnya patah menjadi dua bertemu de­ngan suling emas! Tendangan kaki Nira­hai menyerempet pahanya dan pemuda itu terguling. “Wan-twako....!” Lulu berteriak dan ia memutar pedangnya menghalangi Ni­rahai mengirim serangan terakhir kepada pemuda itu. “Cringgg....!” “Sumoi, dia mencintamu, apakah eng­kau juga mencintanya?” Lulu tidak menjawab, mukanya merah dan ia menyerang dengan tusukan kilat yang dapat ditangkis oleh Nirahai. Sin Kiat sudah meloncat bangun lagi. Ia terkejut melihat betapa Puteri Nirahai kini menangkis pedang dan memutar-mutar suling emas sehingga Lulu ikut pula terputar-putar, kemudian pedang itu tak dapat dipertahankan lagi, terlepas dari tangan Lulu! “Hi-hik, kau menyerahlah, sumoi!” Nirahai berkata. Lulu makin marah, menubruk maju akan tetapi sebuah dorongan membuat ia terjengkang. “Moi-moi....!” Sin Kiat menghampiri Lulu lega hatinya mendapat kenyataan bahwa Lulu tidak terluka. “Cepat kau lari.... biar aku saja yang mati....!” Tanpa menanti jawaban Lulu, Sin Kiat mengeluarkan bentakan keras dan ia sudah menubruk dengan nekat ke arah Nirahai! Melihat kenekatan pemuda ini, Nirahai terkejut sekali dan hampir saja pundaknya kena dicengkeram Sin Kiat. Terpaksa puteri yang lihai ini melempar diri ke belakang dan bergulingan. Kemu­dian ia meloncat dan memandang pemuda itu dengan mata marah. “Hemmm, kau mau bunuh diri, ya? Nah, mampuslah!” Sinar kuning emas menyambar dan Sin Kiat terpelanting. Baru kena dorongan hawa pukulan senjata ampuh itu saja ia sudah terpelanting. Nirahai melangkah maju, mengayun pa­yungnya. “Biar aku mati bersamamu, twako!” Lulu menubruk maju dari belakang, menyerang Nirahai. “Hemmm.... kau mencintanya juga, bukan?” Nirahai membalikkan tubuh tan­pa menghentikan tusukannya pada Sin Kiat, akan tetapi ujung gagang payung­nya hanya menusuk pundak, sedangkan sulingnya menotok ke arah jalan darah di leher Lulu. Hebat bukan main gerakan Nirahai, terlalu cepat bagi dua orang muda yang nekat itu. “Krekkk!” Tubuh Sin Kiat terkulai, tulang pundaknya patah. “Cusss!” Tubuh Lulu lemas karena jalan darahnya terkena totokan suling emas secara tepat sekali. Nirahai tersenyum, menyimpan suling dan payung, menyambar tubuh Lulu dan dipanggulnya, kemudian memandang Sin Kiat yang duduk sambil memegangi pundak kirinya yang patah. “Wan Sin Kiat, karena melihat kau dan Lulu saling mencinta, aku meng­ampuni dan takkan membunuhmu. Akan tetapi pada pertemuan ke dua, kalau engkau masih menjadi pemberontak, ten­tu mengakibatkan kematianmu di tangan­ku.” Sambil berkata demikian, Nirahai membalikkan tubuh, tidak mempedulikan pemuda yang memandangnya dengan mata mendelik itu. “Nirahai! Aku bersumpah, kalau engkau mengganggu Lulu, kelak aku akan mencarimu dan akan membunuhmu!” Nirahai menoleh, tersenyum mengejek lalu tubuhnya berkelebat pergi dari tem­pat itu bersama Lulu yang terkulai lemas di atas pundaknya. Sin Kiat mengerutkan keningnya, masih terheran-heran mengapa Lulu menjadi sumoi puteri itu, dan heran pula mengapa keduanya saling serang mati-matian. Ia menggeleng-geleng ke­pala, menghela napas panjang penuh sesal mengapa dia tidak mampu melindungi Lulu dari tangan puteri yang luar biasa lihainya itu. Akan tetapi diam-diam masih terngiang di telinganya suara Lulu ketika membantunya tadi. “Biar aku mati bersamamu, twako!” Betapa merdunya suara ini. Bukankah kata-kata itu me­rupakan pencerminan hati yang mencinta? Secara kebetulan saja ia bertemu dengan Lulu di tempat ini. Dia bersusah payah mencari dan mengikuti jejak Han Han semenjak pemuda buntung itu meninggal­kannya. Dan di tempat sunyi ini, bukan Han Han yang ia temukan, melainkan Lulu! Ke manakah perginya Han Han? Tentu tidak jauh dari tempat ini karena jejaknya menuju ke tempat ini. Dia harus mencari Han Han! Kiranya hanya Han Han seorang yang akan mampu menan­dingi Nirahai yang begitu lihai! Setelah tiga hari tiga malam berke­liaran di dalam hutan-hutan sambil meng­obati sendiri pundaknya yang patah tu­langnya, akhirnya pada suatu pagi Sin Kiat melihat sesosok tubuh yang duduk bagaikan arca di bawah pohon, di tengah hutan yang amat sunyi dan liar. Dan orang itu bukan lain adalah Han Han! “Han Han....!” Sin Kiat berteriak girang. Akan tetapi Han Han tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan siu­lian dan matanya terpejam. Tongkat bu­tut melintang di depan lututnya. Luka di pahanya sudah mengering, dan luka di dalam dadanya pun sudah sembuh, akan tetapi pemuda ini terus saja bersamadhi seolah-olah sudah berubah menjadi arca dan tidak ada nafsu untuk sadar kembali. Han Han mengalami pukulan batin yang amat hebat secara bertubi-tubi sehingga membuat dia seolah-olah sudah bosan hidup. Pertama-tama urusan de­ngan Kim Cu sudah merupakan tekanan batin yang berat, disusul lagi dengan kematian Lu Soan Li yang juga menjadi korban cinta kasihnya kepadanya. Per­temuannya dengan Tan Hian Ceng yang mencintanya membuat hatinya makin terhimpit dan satu-satunya harapan hati­nya untuk dapat keluar dari himpitan dan mendapatkan hiburan batin adalah pertemuannya kembali dengan Lulu. Akan tetapi, begitu berjumpa dengan adiknya yang tercinta itu, ia malah menerima hantaman batin yang lebih berat lagi, yaitu dengan kenyataan bahwa Lulu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Man­cu! Lebih celaka lagi, dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya yang tim­bul karena baru saja ia dikeroyok dan hampir celaka di tangan para pemimpin Mancu sehingga dia menampar adiknya itu, membuat Lulu sakit hati dan gadis itu melarikan diri dengan kebencian ter­kandung di hati adiknya yang merupakan satu-satunya manusia yang ia harapkan akan dapat menghibur hatinya yang sakit! “Han Han, mengapa engkau menjadi begini? Apa yang telah terjadi dengan­mu? Sadarlah, aku telah berjumpa de­ngan Lulu!” Han Han membuka matanya, meman­dang Sin Kiat dan bertanya dengan suara lesu, “Di manakah dia? Mana Lulu?” “Han Han, celaka sekali! Aku ber­temu dengan Lulu, akan tetapi dia dan aku tidak dapat melawan Puteri Nirahai. Aku dirobohkan dan terluka, sedangkan Lulu dia dilarikan Nirahai. Anehnya Lulu menyebutnya suci, dan....” Akan tetapi Sin Kiat melongo ketika tiba-tiba tubuh Han Han mencelat dan lenyap dari tempat itu! “Han Han....!” Sin Kiat berteriak, akan tetapi tubuh Han Han sudah berloncatan jauh sekali. Sin Kiat meng­geleng-geleng kepala mengerti bahwa tidak mungkin ia dapat mengejar pemuda buntung itu, terpaksa ia pun meninggal­kan tempat itu. Dengan hati berat Sin Kiat lalu kembali ke Se-cuan, minta diri dari Raja Muda Bu Sam Kwi dan me­letakkan jabatan untuk pergi mencari Han Han dan terutama sekali Lulu.   ***   Begitu mendengar dari Sin Kiat bah­wa adiknya ditawan Puteri Nirahai, ke­marahan Han Han memuncak dan tanpa pamit ia meninggalkan Sin Kiat, meng­gunakan kepandaiannya pergi menuju ke kota raja untuk mengejar dan menolong adiknya. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pemuda berkaki buntung yang berjalan terpincang-pincang memasuki kota raja itu mengandung perasaan marah dan sakit hati yang akan menggegerkan kota raja! Han Han berjalan perlahan memasuki kota raja, suara tongkatnya yang membantunya terpincang-pincang itu mengeluarkan bunyi “tak-tok-tak-tok!” mengetuk jalan berbatu yang keras. Beberapa orang menoleh dan memandangnya dengan perasaan kasihan. Juga banyak yang menjadi heran melihat pemuda tam­pan yang wajahnya menyinarkan sesuatu yang aneh menyeramkan, yang pakaian­nya amat sederhana dan rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai di ates kedua pundak dan punggungnya, rambut yang kusut. Han Han tidak tahu ke mana adiknya dibawa oleh Puteri Nirahai, akan tetapi ia teringat betapa dahulu adiknya itu diculik oleh Ouwyang Seng, maka ia dapat menduga bahwa antara Puteri Ni­rahai dan keluarga Pangeran Ouwyang tentu ada hubungan erat. Karena itu dengan perasaan marah memenuhi dada, dengan hati panas oleh dendam, ia lalu menujukan langkahnya yang terpincang-pincang itu ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok! Lima orang penjaga pintu gerbang di luar pekarangan gedung besar Pangeran Ouwyang Cin Kok cepat menghadang dan memandang heran ketika melihat pemuda buntung itu seenaknya saja memasuki pintu gerbang. “Haiii! Berhenti! Tidak boleh mengemis di sini!” Seorang di antara mereka membentak, kemudian menodongkan tom­baknya ke depan dada Han Han. “Pergi!” Han Han tidak marah mendengar makian ini. Baginya, dikatakan pengemis bukan merupakan makian atau penghina­an. “Minggirlah, aku hendak mencari Ouwyang Seng!” Lima orang penjaga itu tercengang. Mendengar seorang pemuda kaki buntung yang mereka anggap pengemis itu me­nyebut nama Ouwyang-kongcu begitu saja, timbul dugaan bahwa tentu penge­mis buntung ini miring otaknya. “Eh, orang gila. Pergilah kalau tidak mau kami pukul!” bentak penjaga ke dua. “Kalian minggirlah jangan halangi aku!” Han Han berkata dengan suara dingin dan tanpa mempedulikan mereka, dia jalan terus memasuki pekarangan gedung besar. Lima orang penjaga itu menjadi marah dan berkelebatlah tombak-tombak mereka ke arah Han Han. “Trang-trang-krek-krek-krekkk!” Lima batang tombak patah-patah dan beter­bangan disusul tubuh lima orang penjaga itu yang terlempar ke kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin! Han Han tidak mempedulikan mereka lagi dan terus dia berloncatan menuju gedung. Teriakan-teriakan para penjaga ini menarik perhatian para penjaga di ge­dung dan mereka ini dua belas orang banyaknya datang berlari-lari. Mereka terkejut melihat para penjaga pintu ger­bang roboh semua dan melihat pemuda buntung itu berloncatan ke ruangan de­pan. Cepat mereka mengurung, akan tetapi Han Han yang tidak sabar sudah meloncat tinggi ke atas kepala mereka, kedua tangan didorong ke bawah dan dua belas orang itu roboh terbanting tung­gang-langgang. “Ouwyang Seng! Keluarlah! Kalau tidak, kuhancurkan tempat ini!” Han Han berteriak-teriak dan sekali sambar ia mengangkat singa-singaan batu yang be­lum tentu dapat terangkat oleh sepuluh orang biasa, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan melontarkan singa-singaw batu itu ke dalam. “Braaaaakkkkk!” Pecahlah pintu ruangan depan itu dan Han Han meloncat ke dalam ruangan itu, suaranya lantang berteriak, “Ouwyang Seng! Puteri Nirahai! Keluarlah dan serahkan kembali adikku Lulu! Kalau tidak, akan kuhancurkan kota raja!” Tiba-tiba dari sebelah dalam menyambar senjata rahasia yang berupa gelang-gelang kecil. Cepat dan kuat sekali sam­baran ini, akan tetapi dengan tenang Han Han menggerakkan tubuh meloncat tinggi sehingga sambaran senjata-senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Di udara, tubuh Han Han berjungkir balik dan ia sudah meloncat keluar karena kalau ada lawan tangguh menghadapinya, lebih baik ia berada di luar gedung. Benar saja dugaannya, dari dalam berkelebat bayangan yang cepat sekali dan tahu-tahu seorang pemuda yang me­megang sebatang golok telah berdiri di depannya. Pemuda itu bukan lain adalah Gu Lai Kwan! Ketika Lai Kwan melihat Han Han, ia pun terkejut dan marah. “Keparat! Kiranya engkau setan bun­tung!” Lai Kwan memaki dan goloknya sudah menyambar, menjadi sinar putih yang menyilaukan dan mengeluarkan su­ara berdesing ketika golok itu membelah angin. “Singggg....!” Lai Kwan terkejut karena tiba-tiba lawannya lenyap. Cepat ia memutar tu­buh dan mengelebatkan goloknya ke bela­kang, akan tetapi Han Han yang sudah berada di sebelah belakangnya, mudah saja mengelak sambil berkata. “Gu Lai Kwan, aku menjadi setan buntung karena engkau! Sekarang bukan maksudku datang untuk membalas dendam, aku tidak mendendam kepadamu. Akan tetapi suruhlah Nirahai dan Ouw­yang Seng keluar membawa adikku Lulu, kalau tidak.... hemmm.... siapa pun yang menghalangiku akan kubunuh, termasuk engkau!” “Buntung sombong!” Lai Kwan malah menyerang lagi. Han Han yang memang sedang berduka dan marah sekali melihat betapa pemuda bekas suhengnya ini nekat, menjadi gemas, akan tetapi ia masih tidak bergerak, hanya mengelebat­kan tongkat bututnya menangkis sambil mengerahkan tenaga memutar tongkat yang menangkis itu. “Trakkk! Aihhhhhh....!” Lai Kwan terkejut bukan main dan betapapun ia mempertahankan diri sambil mengerahkan tenaga, tetap saja ia terpelanting dan cepat ia bergulingan karena takut kalau-kalau Han Han menyerangnya. Akan tetapi Han Han masih berdiri tegak dan tenang. Melihat ini, sambil meloncat bangun Lai Kwan berteriak keras. “Suhu....! Sian-kouw....! Harap bantu....!” Setelah berteriak demikian Lai Kwan sudah menerjang lagi sambil me­ngerahkan seluruh tenaganya, akan tetapi ia berhati-hati sekali ini, maklum bahwa lawannya yang buntung ini biarpun dahulu hanyalah seorang sutenya, namun kini telah memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa. “Syuuuttt.... syuuuttt.... singgggg!” Sinar berkilauan dari golok Lai Kwan menyambar ganas bertubi-tubi. “Wuuuttttt!” Tubuh Han Han sudah melayang lagi keluar dari ruangan depan menuju ke pekarangan. Lai Kwan menge­jar dan Han Han berhenti di atas anak tangga depan ruangan. Lai Kwan yang memang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak memberi kesempatan kepadanya, sudah membacok lagi dengan goloknya mengarah kepala Han Han. Pemuda bun­tung ini tidak begitu mempedulikan Lai Kwan, hanya menundukkan muka meng­elak sambil siap menghadapi lawan yang lebih tangguh, yang ia duga tentu akan muncul mendengar teriakan Lai Kwan. Dan pada saat itu, terdengar suara lengkingan dahsyat dibarengi suara ringkik kuda dan muncullah Ma-bin Lo-mo Si­angkoan Lee dari pintu samping, langsung ia memukul ke arah Han Han dengan ilmu pu­kulan dahsyat Swat-im Sin-ciang! Juga tam­pak berkelebatnya bayangan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat nenek lihai itu melayang turun dari atas dengan jari tangan mencengkeram ke arah kepala Han Han meng­gunakan ilmu sakti Toat-beng Tok-ciang! Dan berbareng di saat itu juga, Lai Kwan sudah membabat ke arah kaki Han Han! “Desss!” Pukulan Ma-bin Lo-mo te­lah ditangkis oleh Han Han dengan tela­pak tangan kanannya, sambaran golok Lai Kwan didiamkannya saja karena dalam gugupnya Lai Kwan menyerang ke bawah untuk membabat kaki Han Han, lupa bahwa kaki kiri Han Han telah tidak ada lagi sehingga goloknya menyerang angin kosong! Han Han lebih memperhatikan cengkeraman si nenek ke arah kepalanya. Ia tidak mengelak, melainkan memapaki tubuh nenek yang menyerang dari atas itu dengan tongkatnya, gerakan pertama menotok telapak tangan kiri nenek itu dan ketika Toat-beng Ciu-sian-li terkejut menarik kembali tangannya, Han Han melanjutkan serangan tongkatnya dengan totokan pada pinggang nenek itu. “Aiiihhhhh!” Toat-beng Ciu-sian-li me­mutar tubuh di udara, berjungkir balik dan dari kedua tangannya menyambar dua buah gelang, yaitu senjata rahasia yang amat ampuh! Han Han telah memutar tongkat me­nangkis bacokan susulan Lai Kwan dari belakang, dan kembali tangan kanannya menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo. Melihat datangnya sambaran dua buah sen­jata rahasia ini, teringatlah ia akan Kim Cu yang dahulu hampir tewas akibat senjata rahasia ini, maka ia menjadi ge­mas sekali. Kepalanya bergerak, rambut­nya yang panjang menyambar ke depan dan.... dua gumpal ujung rambutnya berhasil melibat dua buah gelang yang menyambar, kemudian secara kontan dan keras gelang-gelang itu ia retour kem­bali ke arah pemiliknya, menyambar dahi dan tenggorokan Ciu-sian-li yang menjadi terkejut dan cepat mengelak sambil te­rus menubruk maju mengirim pukulan sakti dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya kembali mengarah ubun-ubun kepala Han Han dengan cengkeram­an maut. Juga Ma-bin Lo-mo yang men­jadi kagum dan terkejut menyaksikan gerakan Han Han yang mendapat kemaju­an secara aneh dan hebat, kini telah membarengi menyerang dengan pengerah­an tenaga Swat-im Sin-ciang sekuatnya. Bukan main hebatnya serangan yang di­lakukan secara berbareng oleh Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo ini, dahsyat dan mengingat bahwa keduanya merupakan datuk-datuk golongan hitam yang sudah mencapai tingkat di puncak, tentu saja amat sukar bagi lawan yang dikeroyok dua orang ini untuk dapat menyelamat­kan diri dari serangan mereka yang di­lakukan berbareng. Namun, betapa kaget dan heran hati kedua orang tokoh hitam ini ketika secara tiba-tiba tubuh Han Han lenyap dari tengah-tengah antara mereka, telah menghindarkan diri dengan sebuah loncatan yang luar biasa sekali, secepat kilat menyambar sehingga mereka berdua hampir tak dapat mengikuti dengan pandang mata mereka! Akan tetapi, Lai Kwan yang berada di luar gelanggang, dapat melihat gerakan Han Han yang mengguna­kan ilmunya Soan-hong-lui-kun, gerakan kilat yang membuat tubuhnya seperti mencelat dan keluar dari kepungan dua orang datuk hitam itu. Gu Lai Kwan adalah murid Toat-beng Ciu-sian-li yang paling setia dan paling disayang oleh nenek itu dan oleh Ma-bin Lo-mo dan pemuda ini amat benci kepada Han Han karena sesungguhnya pemuda ini men­cinta Kim Cu. Peristiwa yang menimpa diri Kim Cu sebagai akibat gadis itu membela Han Han, membuat Gu Lai Kwan menaruh dendam kebencian kepada Han Han. Maka kini melihat Han Han meloncat keluar dari kepungan kedua orang gurunya, Lai Kwan mengeluarkan bentakan nyaring dan menggunakan go­loknya menyambut tubuh Han Han yang masih melayang di udara. “Mampuslah engkau, manusia buntung keparat!” bentaknya, goloknya menyam­bar seperti naga mengamuk. Han Han dapat melihat sinar maut terpancar dari pandang mata Gu Lai Kwan, maka ia pun membentak, “Begitu kejamkah hatimu?” Biarpun tubuh Han Han baru meloncat dan kini disambut dengan serangan golok yang ganas, na­mun loncatannya itu memang merupakan keampuhan ilmunya yang mujijat yang ia pelajari dari nenek Khu Siauw Bwee, maka sambil meloncat, ia melihat menyambarnya golok, Han Han lalu meng­gerakkan tongkatnya, dengan tenaga sin-kang yang dahsyat tongkatnya menempel pada golok dengan sepenuhnya mengan­dung daya melekat! Betapapun Lai Kwan berusaha menarik kembali goloknya, sia-sia saja karena goloknya telah melekat pada tongkat seperti berakar di situ! Tiba-tiba Han Han melepas golok itu sambil mendorong, pada saat Lai Kwan menarik golok. Tak dapat ditahan lagi golok itu menyambar ke arah Gu Lai Kwan sendiri. Gu Lai Kwan terkejut, matanya terbelalak dan ia berusaha meng­gulingkan tubuhnya, namun golok di tangannya itu lebih cepat, tahu-tahu sudah membacok lehernya. Teriakan mengeri­kan seperti leher tercekik keluar dari mulut Lai Kwan dan tubuhnya yang tadi bergulingan itu rebah menelungkup, kepalanya miring secara aneh, golok masih di tangan dan tanah di bawah lehernya perlahan-lahan menjadi basah dan merah. Pemuda ini tewas oleh goloknya sendiri, lehernya hampir putus! Peristiwa ini terjadi cepat sekali, hanya beberapa detik selagi tubuh Han Han masih mengapung di udara. Kini Han Han mencelat ke depan, tidak mempe­dulikan lagi kepada Gu Lai Kwan yang seolah-olah telah melakukan “bunuh diri” dengan golok sendiri itu. “Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, mundurlah, aku tidak ingin ber­musuhan denganmu atau dengan siapa pun juga!” bentak Han Han dan suaranya mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya sehingga dua orang datuk hitam itu sampai tercengang dan sejenak mere­ka itu memandang Han Han dengan mata terbelalak. Akhirnya Toat-beng Ciu-sian-li memaki. “Bocah setan, murid murtad! Begini sikapmu terhadap bekas guru?” Han Han mengerutkan keningnya. “Aku bukan muridmu lagi, Nenek yang bewatak ganas. Aku datang untuk mencari adikku, dan siapapun dia yang meng­halangi aku mencari adikku, akan ku­hancurkan!” Teringat akan Lulu, kembali Han Han menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak. “Di mana Puteri Nirahai? Hayo keluarlah dan serahkan Lulu kepadaku.” Teriakannya ini amat nyaring sehingga bergema sampai jauh. Kembali Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li bergidik. Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini telah menjadi ahli waris Pulau Es dan memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, akan tetapi melihat pemuda ini setelah buntung kakinya menjadi makin lihai dan gerakan-gerakannya seperti orang yang pandai menghilang, benar-benar membuat mereka berdua menjadi ngeri! Betapapun juga, tentu saja dua orang yang menjadi tokoh dunia hitam itu tidak merasa takut dan mendengar tantangan Han Han terhadap Puteri Ni­rahai, mereka marah dan cepat mener­jang lagi dengan hebatnya. Nenek itu selain menggerakkan kedua tangannya yang mengandung tenaga sakti Toat-beng Tok-ciang, juga menggerakkan rantai gelang yang tergantung di kedua telinga­nya sebagai senjata yang ampuh dan aneh, tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, persis seperti keganasan se­orang kuntilanak dalam dongeng dunia setan. Adapun Ma-bin Lo-mo yang sudah mengerti bahwa lawannya biarpun bun­tung dan masih amat muda, memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah ma­nusia, juga telah menerjang maju dengan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang sekuat tenaga. Han Han tidak ingin berkelahi dan tidak ingin pula bermusuh dengan mereka, akan tetapi karena mereka berdua meng­halangi usahanya mencari Lulu, ia menjadi marah dan cepat mainkan ilmu silat­nya yang membuat tubuhnya mencelat ke sana ke mari dengan gerakan yang tak terduga-duga dan cepat bukan main. Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo menjadi pening kepala mereka karena harus mengikuti gerakan-gerakan kilat pemuda buntung itu dan setiap serangan mereka selalu mengenai tempat kosong. Dengan pena­saran kedua orang itu menubruk dengan pukulan-pukulan sakti. “Wuuuttt!” Pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung hawa dingin menyambar dari kiri. “Singggg.... syuuuttttt!” Serangan tangan ampuh beracun dari Ciu-sian-li dibarengi sambaran rantai gelang di teli­nganya tidak kalah ampuh dan berbahayanya. Dua serangan ini menyambar dari kanan kiri ketika kaki buntung Han Han baru saja turun menyentuh tanah. Akan tetapi tiba-tiba saja Han Han kembali mencelat ke atas dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya, mengatasi kece­patan serangan kedua lawannya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menukik dari atas dan tongkatnya melakukan dua kali totokan ke arah ubun-ubun kepala dua orang pengeroyoknya. “Hayaaa....!” Ma-bin Lo-mo berseru kaget dan cepat menggulingkan tubuhnya yang ia lempar ke atas tanah sambil berteriak. “Aiiihhhhh....!” Toat-beng Ciu-sian-li juga mengelak, melempar tubuh bagian atas ke belakang lalu berjungkir balik sampai lima kali sehingga rambutnya menjadi awut-awutan dan saling belit dengan kedua rantai gelang yang ter­gantung di kedua telinganya. Pada saat itu, serombongan pasukan pengawal datang berlari dan mengurung Han Han. Jumlah mereka lebih tiga pu­luh orang, semua bersenjata tajam dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian silat dan bertubuh kuat. Pada waktu itu, yang berada di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok hanyalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li dan muridnya yang terkasih, Gu Lai Kwan. Adapun tokoh-tokoh lain telah ikut membantu penyerbuan ke Se-cuan. Ketika melihat pemuda buntung mengamuk, semua pasukan pengawal dikerahkan dan Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri yang bersembunyi sambil mengintai menjadi gelisah bukan main. Betapapun juga, pembesar ini masih mengharapkan kemenangan karena di situ terdapat dua orang tokoh sakti dan di lubuk hatinya ia tidak percaya apakah seorang pemuda yang buntung kakinya akan mampu melawan Ciu-sian-li serta Ma-bin Lo-mo dan puluhan orang pasukan pengawal. Akan tetapi, Han Han sudah marah sekali dan pemuda ini mengamuk secara menggiriskan hati. Tubuhnya berkelebat, lebih banyak di udara daripada di darat, karena setiap kali ujung tongkat atau ujung kaki tunggalnya menyentuh sesuatu, baik tanah, pundak atau kepala lawan, tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas, seperti capung bermain di atas bunga-bunga di permukaan air, cepatnya seperti kilat sehingga setiap kali tubuhnya me­nukik ke bawah tentulah roboh dua tiga orang pengawal secara berbareng, men­jadi korban ujung tongkat atau kedua ta­ngannya! Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li marah dan penasaran sekali, juga mereka berdua merasa malu mengapa mereka tidak mampu merobohkan pemuda buntung itu, padahal dibantu puluhan orang pengawal. Ma-bin Lo-mo meringkik keras dan kedua tangannya mendorong ke arah Han Han ketika pemuda itu turun ke atas tanah. “Wuuusssss!” Angin yang mengandung hawa dingin sekali menyambar. Han Han sudah menangkap seorang pengawal dan melemparkan ke depan. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh pengawal itu ter­banting kaku, darahnya membeku muka biru! Dan seorang pengawal lain roboh pula karena oleh Han Han dipergunakan untuk menangkis pukulan beracun Ciu-sian-li, roboh dengan tubuh menghitam terkena hantaman pukulan Toat-beng Tok-ciang! Ketika para pengawal me­nubruk dengan senjata mereka, Han Han sudah mencelat ke atas lagi, meloncat sambil menyambar dua orang pengawal, kemudian ketika tubuhnya membalik, dua orang itu ia lemparkan ke arah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, disusul tubuhnya yang meluncur dengan serangan kilat. Dua orang kakek dan nenek itu ter­kejut. Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda buntung yang lihai itu menyusul dengan serangan, maka apa boleh buat mereka menangkis keras se­hingga dua orang pengawal itu terbanting roboh dengan tulang-tulang iga remuk. Benar saja seperti yang mereka duga, tubuh Han Han menyambar seperti se­ekor burung garuda, dan saking cepatnya hanya tampak bayangan berkelebat. Dua orang datuk hitam ini cepat meloncat untuk mengelak, namun masih kurang cepat sehingga pukulan tangan Han Han yang amat panas karena mengandung inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang itu telah mampir di dada Ma-bin Lo-mo sedangkan ujung tongkatnya telah menotok pundak Toat-beng Ciu-sian-li. “Hyaaaaahhhhh....!” “Haiiikkkkk....!” Ma-bin Lo-mo terjengkang dan ber­gulingan, mukanya menjadi pucat sekali dan dadanya sesak, terasa panas seperti dibakar. Adapun nenek sakti itu juga ter­banting ke belakang, cepat duduk bersila untuk menyelamatkan nyawanya karena dia telah terkena totokan yang hebat. Kalau saja Han Han tidak ingat bahwa kedua orang itu pernah menjadi gurunya, biarpun pada saat itu ada puluhan orang pengawal yang menerjangnya, tentu ia akan mudah saja melanjutkan serangan membunuh kedua orang datuk hitam itu. Akan tetapi Han Han tidak ingin membunuh mereka dan dia hanya meng­gerakkan tangan dan tongkatnya, me­lempar-lemparkan para pengawal seperti orang melempar-lemparkan rumput saja. Gegeriah para pengawal dan mereka mundur-mundur dengan muka ketakutan. Pemuda buntung itu terlalu kuat bagi mereka, seperti sekumpulan nyamuk me­lawan api saja. Melanjutkan pengeroyok­an sama artinya dengan membunuh diri bagi mereka. Adapun Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah men­derita luka, tidak berani melanjutkan pertandingan sebelum mengobati luka mereka, maka mereka berdua pun sudah lenyap memasuki gedung itu, menyelinap di antara sisa para pengawal yang hanya berani mengurung dari jauh sambil bersiap-siap untuk melarikan diri apabila Han Han mengejar. Namun pemuda itu tidak mengejar, hanya berdiri tegak, ber­sandar pada tongkatnya, menengadah dan mengeluarkan suara nyaring memekakkan telinga. “Puteri Nirahai! Kembalikan adikku....!” Setelah beberapa kali berteriak tanpa ada jawaban, Han Han lalu meloncat ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Melihat ini, biarpun hati mereka dicekam rasa gentar dan ngeri, namun para pengawal tentu saja segera menghadang dan berusaha mencegah pemuda buntung itu memasuki gedung. Han Han mengeluarkan seruan keras dan begitu tongkatnya berkelebat, para pengawal itu roboh terpelanting ke kanan kiri seperti disambar kilat dan mereka tidak mungkin da­pat menghalang lagi ketika pemuda itu berloncatan cepat melesat ke dalam ge­dung. Sambil berteriak-teriak para pengawal ini kalang kabut mengejar ke dalam. Han Han sudah marah sekali. Dia mengamuk seperti gila, menggeledah seluruh kamar gedung itu, mencari Ouwyang Seng dan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Setiap orang pengawal yang ber­usaha menerjangnya dirobohkan dengan sekali gerakan saja. Namun hasil peng­geledahannya sia-sia. Tidak tampak ba­tang hidung Ouwyang Seng yang dicari­nya. Ketika ada lima orang perwira pe­ngawal dengan nekat menerjangnya, ia melompat ke atas dan dari atas sinar tongkatnya bergulung-gulung, empat orang perwira roboh dan seorang lagi ia jambak rambutnya dan ia seret ke sudut ruangan. Dengan ujung tongkat ditedong­kan di leher perwira itu ia membentak. “Di mana Ouwyang Seng? Hayo jawab!” Wajah perwira itu pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia dipaksa jatuh berlutut. Dengan napas sengal-sengal ia menjawab. “Ham.... hamba.... tidak tahu. Sudah lama tidak berada di sini....” “Mana Ouwyang Cin Kok?” “Tadi.... ketika ribut-ribut.... beliau lari.... mungkin ke istana....” “Dan di mana kakek dan nenek tadi? Mana Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li?” “Lari.... mereka lari.... ke istana....” Han Han menjadi sebal dan marah. tubuhnya bergerak dan perwira itu sudah ia lemparkan ke sudut, tubuh perwira itu menabrak dinding dan tak dapat bangun lagi karena pingsan saking takutnya. Han Han meloncat keluar dan kini ia melesat amat cepatnya meninggalkan gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok yang sudah diobrak-abriknya itu, menuju ke istana! Kemarahan membuat manusia menjadi mata gelap dan lupa diri, lupa akan ba­haya dan demikian pula dengan Han Han. Dia sedang marah sekali. Penderitaan batin yang ia alami bertubi-tubi ditam­bah kemarahannya mendengar bahwa adiknya ditawan membuat Han Han men­jadi nekat dan tidak memakai perhitungan lagi, lupa bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang, betapapun saktinya, untuk menyerbu seorang diri ke istana kaisar! Tentu saja penjagaan di istana tidak dapat dibandingkan dengan penjagaan para pengawal di gedung Pangeran Ouw­yang Cin Kok. Pasukan pengawal yang dipusatkan menjaga istana amat besar jumlahnya, dan di situ pun banyak ter­dapat pengawal yang berilmu tinggi di samping keadaan istana sendiri yang me­rupakan semacam benteng yang amat kuat! Maka, begitu Han Han tiba di de­pan pintu gerbang, ia sudah dikurung oleh puluhan bahkan lebih dari seratus orang pengawal mengepung ketat, dan ia sudah dikeroyok secara hebat! “Tangkap pemberontak!” “Bunuh pemberontak!” Para pengawal berteriak-teriak biarpun dalam beberapa gebrakan saja Han Han telah merobohkan tujuh orang pe­ngeroyok, namun mereka tetap maju menerjang sehingga Han Han terpaksa memutar tongkat melindungi dirinya sam­bil berteriak. “Aku bukan pemberontak! Aku hanya ingin bertemu dengan Puteri Nirahai dan minta supaya adikku dibebaskan!” Tentu saja teriakannya sia-sia karena para pengawal sudah mendengar betapa hebatnya pemuda buntung ini mengacau gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok, kini pemuda itu akan mencelakakan keluarga kaisar ditambah pula, Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri, dengan dikawal oleh Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sudah lari mengungsi ke istana karena itu di situ pun diadakan penjagaan yang ketat. Biarpun para pengawal tidak pernah berkurang jumlahnya karena setiap ada yang roboh tentu tempatnya digantikan yang lain, namun dengan ilmunya yang mujijat, yaitu gerakan kilat Soan-hong-lui-kun, Han Han dapat menembus pintu gerbang dan memasuki halaman istana. Betapapun juga, dia tidak pernah dapat membebaskan diri dari kepungan yang makin lama makin ketat. Setelah dia memasuki pekarangan istana yang luas, pintu gerbang itu ditutup oleh para pe­ngawal sehingga Han Han kini kehilangan jalan keluar! “Bebaskan Lulu....! Lepaskan adikku!” Han Han berteriak-teriak dan mengamuk seperti seekor harimau terjebak. Betapa­pun juga, pemuda ini masih ingat bahwa kedatangannya bukan untuk menyebar kematian di antara para pengawal yang ia tahu hanya menjalankan kewajiban mereka menjaga keamanan istana. Oleh karena itu, dia hanya merobohkan mere­ka tanpa membunuh dan hal ini tentu saja amat mudah ia lakukan karena pasu­kan pengawal itu bukan tandingannya. Hanya dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan dan tongkatnya saja sudah cukup baginya untuk membuat ko­car-kacir seperti serombongan semut mengeroyok seekor jengkerik. Kalau ha­nya pasukan pengawal yang mengepung­nya, biar ditambah sampai seribu orang, kiranya akan mudah baginya untuk menyelamatkan diri dan keluar dari tempat itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan keras, aba-aba dari komandan penjaga yang menyuruh semua pasukan mundur dan mengepung dari jarah jauh. Para pengawal yang tadinya mengeroyok secara mati-matian, kini mundur dengan hati lega dan tampaklah oleh Han Han munculnya orang-orane sakti yang kini menghadapinya. Mereka itu bukan lain adalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Kang-thouw-kwi Gak Liat. Lima orang tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian hebat! Han Han maklum bahwa lima orang lawan ini merupakan lawan yang amat berat, terutama sekali dua orang hwesio Tibet itu merupakan wakil dari Pangeran Kiu yang mengkhianati perjuangan Bu Sam Kwi dan para orang gagah dengan mengadakan persekutuan gelap dengan pemerintah Mancu! Ia tersenyum dingin dan berkata. “Ji-wi Losuhu, aku tidak mau men­campuri urusan kalian, tidak mau me­libatkan diri dengan segala kepalsuan orang-orang yang mencari kedudukan melalui perang, fitnah, pengkhianatan dan lain-lain kekotoran lagi. Aku datang ha­nya untuk menuntut agar adikku Lulu yang ditawan Puteri Nirahai dibebaskan. Biarlah Puteri Nirahai sendiri keluar me­nemuiku! Aku datang bukan untuk me­ngacau, bukan untuk mencari musuh, melainkan semata-mata untuk menolong adikku. Bebaskan adikku, dan aku ber­sama adikku akan mengangkat kaki dari sini dan selamanya tidak akan mencam­puri urusan perang yang terkutuk!” “Murid murtad! Engkau masih harus menerima hukuman dariku!” Toat-beng Ciu-sian-li berteriak, penuh kemarahan karena nenek ini masih penasaran dan malu mengingat akan kematian muridnya terkasih, yaitu Gu Lai Kwan. “Han Han, engkau bekas murid yang selain menydeweng juga sudah banyak melakukan penghinaan kepadaku, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” Kata Ma-bin Lo-mo, sengaja mengeluar­kan kata-kata besar untuk menutupi rasa malunya dan untuk berlagak di depan begitu banyak pengawal yang mengurung tempat itu. “Ha-ha-ha, engkau bekas kacungku, kiranya engkau benar cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat yang menyembunyikan she Suma menjadi she Sie! Ha-ha-ha, meng­ingat bahwa engkau adalah Suma Han cucu Suma Hoat, biarlah aku akan meng­ampunimu asal engkau suka bertekuk lutut dan menyerah, Han Han!” kata Kang-thouw-kwi Gak Liat. Sepasang mata Han Han mendelik. Dia memang tidak akan menyembunyikan nenek moyangnya, akan tetapi disebutnya nama kakeknya yang diam-diam amat dibencinya karena dianggapnya sebagai biang keladi keburukan nasibnya itu mem­buat hatinya mengkal sekali, namun ia tetap membungkam. “Omitohud....! Suma-taihiap biarpun masih muda memiliki kepandaian hebat sekali, benar-benar mengagumkan hati pinceng. Perlu apa menyia-nyiakan usia muda dan berkepandaian tinggi? Menyerahlah, Suma-taihiap!” kata Thian Tok Lama. “Benar ucapan suheng. Suma-taihiap, lebih baik menyerah dan kalau taihiap berjanji akan membantu menumpas pengkhianat Bu Sam Kwi, tentu yang mulia kaisar akan suka memberi ampun, bahkan menganugerahkan kedudukan kepada­mu.” Thai Li Lama membujuk. Namun semua ucapan keras menghina dan lembut membujuk itu sama sekali saja, mendatangkan kemarahan di hati Han Han. Ia berdiri tegak di atas kaki tunggalnya, memegang tongkal butut di ta­ngan kiri dan menyilangkan lengan kanan di depan dada, kemudian berkata. “Sudah kukatakan, aku tidak ingin berurusan dengan pemerintah maupun dengan Ngo-wi Locianpwe yang merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Aku datang hanya untuk minta kebebaskan adikku!” “Hiye-heh-heh! Bocah sombong! Kalau tidak diserahkan, kau mau apa?” “Akan kurebut dengan paksa dan kuusahakan sampai aku mati.” “Pemuda buntung sombong!” Toat-beng Ciu-sian-li sudah menggerakan rantai gelang di kedua telinganya sehingga terdengar suara berdencingan nyaring dan menggetarkan hati para pe­ngawal yang mengurung tempat itu sam­bil berjaga-jaga, menutup jalan keluar pemuda buntung itu. “Omitohud, betapa tabahnya!” Thian Tok Lama yang gendut itu berseru me­muji karena benar-benar pendeta dari Tibet ini merasa kagum sekali. “Apakah taihiap berani melawan kami sedangkan tempat ini telah dikurung oleh ribuan orang pengawal?” Han Han menoleh ke sekelilingnya dan melihat bahwa pasukan pengawal kini bertambah banyak, tentu ada dua tiga ribu orang banyaknya. Ketika ia menyapu keadaan di seluruh halaman istana de­ngan pandang matanya yang tajam, ia melihat bayangan dua orang berkelebat di puncak genteng istana, akan tetapi lenyap lagi, entah bayangan manusia ataukah bukan. “Thian Tok Lama, bagiku, persoalannya bukan berani atau takut, melainkan benar atau salah. Kalau aku berpijak pada kebenaran, tidak ada lagi kata-kata takut, karena mati dalam kebenaran adalah mati yang terhormat. Kalau aku benar, biar menghadapi iblis sekalipun aku tidak takut, sebaliknya kalau aku salah, biar menghadapi seorang anak kecil pun aku tidak berani. Aku datang untuk membebaskan adikku, dan hal ini benar, maka aku tidak takut. Ter­serah kepada Ngo-wi, apakah aku me­nonjolkan kegagahan dengan cara mengeroyok aku dibantu pula oleh ribuan orang pasukan pengawal!” Ucapan terakhir Han Han ini mengandung ejekan yang amat tajam sehingga wajah kelima orang tokoh beser itu menjadi merah. Memang harus diakui bahwa peristiwa yang kini mereka hadapi merupakan pe­ristiwa yang ajaib dan amat memalukan. Biasanya, setiap orang di antara mereka berlima yang telah memiliki kesaktian tinggi, tidak pernah atau jarang sekali menemui tanding sehingga mereka ber­angkuh dan menganggap diri sen­diri sebagai tokoh tingkat tinggi yang tidak mau sembarangan bergerak, apalagi hendak mengeroyok lawan. Dan sekarang, mereka berlima menghadapi seorang pe­muda yang selain masih amat muda pa­tut menjadi cucu mereka, juga yang ha­nya memegang sebatang tongkat butut dan yang kakinya tinggal satu! Meng­hadapi seorang lawan muda penderita cacad dengan masih mengandalkan peng­urungan ribuan orang pengawal! Benar-benar merupakan peristiwa yang tak pernah mereka mimpikan dan amatlah merendahkan nama besar mereka! “Omitohud, orang muda yang som­bong. Kaukira pinceng tidak berani meng­hadapimu seorang diri?” Thai Li Lama menjadi tersinggung sekali dan ia sudah meloncat maju menghadapi Han Han. Empat orang tokoh yang lain juga me­rasa jengah dan tersinggung, maka mere­ka ini hanya menonton, ingin melihat apakah pendeta Tibet yang kurus itu akan dapat mengatasi Han Han si pe­muda buntung yang benar-benar merupa­kan lawan aneh yang baru pertama kali mereka jumpai selama hidup mereka yang sudah setengah abad lebih. Han Han mengerti bahwa Thai Li Lama adalah seorang yang selain pandai ilmu silat aneh dari barat, juga memiliki kepandaian ilmu hitam dan ilmu sihir, maka ia bersikap waspada dan sudah bersiap dengan tongkat dilintangkan di depan dada, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka berada di atas kepala, telapak tangannya menghadap ke langit, diam-diam ia telah mengerahkan sin-kang di tubuhnya, yang berputaran dan siap disalurkan untuk menghadapi lawan yang kuat ini. Akan tetapi aneh, pendeta Tibet itu tidak segera bergerak menyerangnya, melainkan berdiri tegak dan kaku, kepala lurus, kedua lengan lurus di kanan kiri tubuhnya, kemudian terdengar suaranya, halus seperti membujuk. “Suma-taihiap, kauturutilah permintaanku, tundukkan kepalamu....” Han Han merasa ada getaran aneh terbawa oleh suara ini, begitu lembut mengelus perasaannya, mendatangkan rasa terharu dan tidak tega untuk me­nolak permintaan itu. Akan tetapi kesadarannya membisikkan bahwa kakek ini tentu menggunakan ilmu sihir, maka se­baliknya dari menundukkan kepala, ia malah menengadah, memandang ke ang­kasa! Benar-benar merupakan gerakan kebalikan daripada apa yang diminta hwesio Tibet itu! Merupakan tantangan! “Omitohud, agaknya taihiap hendak menggunakan kekerasan. Baiklah. Suma Han, kaupandang mataku kalau berani!” Andaikata ucapan yang dikeluarkan merupakan perintah nyaring dan berwi­bawa ini tidak diembel-embeli “kalau berani”, tentu Han Han tidak sudi me­nurut, sungguhpun di dalam suara itu terkandung wibawa dan tenaga mujijat yang seolah-olah memaksanya dan menguasai perasaan dan pikirannya. Akan tetapi kata “kalau berani” membuat Han Han penasaran. Mengapa tidak berani? Ia lalu memandang ke depan, menentang pandang mata hwesio itu. Dua pasang sinar mata bertemu! Semua orang me­nahan seruan saking kaget dan seram melihat dua pasang pandang mata yang luar biasa itu. Sepasang mata Thai Li Lama yang sipit itu berubah bundar dan seolah-olah ada sinar terang keluar dari sepasang matanya, sedangkan sepasang mata Han Han menjadi tajam seperti mengandung api! Thai Li Lama berkemak-kemik dan mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menguasai kemauan dan pikiran Han Han melalui pandang matanya, me­nyerang pemuda itu dengan ilmu i-hun-to-hoat untuk membetot semangat (hyp­notism), akan tetapi Han Han yang me­rasa betapa sinar mata itu seolah-olah menembus jantungnya, cepat membulat­kan tekadnya untuk tidak tunduk dan dia malah membalas dengan pandang mata berapi-api. Di luar kehendak manusia, memang terjadi keanehan yang mujiiat di dalam diri pemuda buntung ini. Kekuatan gaib telah dimilikinya semenjak mala­petaka menimpa keluarganya dan kekuat­an kemauannya menjadi luar biasa sekali. Kemauan yang mujijat ini tidak saja membuat dia tidak mungkin dapat di­tembusi oleh ilmu hitam yang hendak menguasainya, bahkan kemauannya yang amat kuat ini dapat memancar keluar dan masih cukup kuat untuk menguasai orang lain! Kini Han Han yang maklum apa yang sedang dilakukan lawannya, membulatkan tekadnya untuk melawan dan menolak­ getaran halus yang keluar dari sinat mata Thai Li Lama. Ketika ia disuruh memandang, dia memang melakukannya, akan tetapi sama sekali bukan berdasar­kan tunduk akan perintah itu, melain­kan karena memang timbul atas kehendaknya sendiri hendak “mengadu kekuatam pandang mata” dengan hwesio Tibet itu. Maka terjadilah “pertandingan” yang luar biasa, lebih hebat daripada pertandingan adu kekuatan sin-kang karena yang diadu kini adalah kekuatan batin yang getaran­nya bergelombang terasa oleh semua orang yang hadir sehingga mereka itu terpesona seperti kemasukan pengaruh mujijat. Dua pedang sinar mata itu masih saling dorong, saling banting dan berusaha sekuatnya untuk menundukkan la­wan, kalau kelihatan tentu amat seru seperti dua ekor naga saling serang. Keduanya tak pernah berkedip, bahkan mata mereka makin lama makin lebar, dengan sinar yang berapi-api. Diam-diam Thai Li Lama terkejut bukan main. Dia tadinya hanya menganggap bahwa pemuda buntung itu amat lihai ilmu silatnya, dan siapa mengira bahwa ternyata pemuda ini pun agaknya seorang ahli hoat-sut, ahli sihir yang memiliki kekuatan batin luar biasa sekali! Biasanya, betapapun pandai silat lawannya, sekali ia meng­gunakan ilmu membetot semangat ini, lawannya tentu akan mudah ia tunduk­kan. Kini melihat kenyataan betapa sama sekali ia tidak dapat menundukkan pe­muda buntung ini, bahkan, seolah-olah sinar matanya melekat pada sinar mata pemuda itu, sukar dilepaskan lagi, Thai Li Lama menjadi kaget dan penasaran. Mulutnya berkemak-kemik membaca man­tram dan ia menggunakan seluruh kepan­daian sihirnya yang dahulu ia pelajari dari guru-guru besar dari India di lereng Pegunungan Himalaya. Tiba-tiba ia me­ngeluarkan gerengan seperti suara seekor biruang dan membentak. “Suma Han, lihat baik-baik siapa aku? Akulah manusia naga dari Himalaya, berkepala tiga berlengan delapan! Lekas kauberlutut dan menyerah!” Dari kepala pendeta Tibet itu mengepul uap putih kebiruan dan terdengarlah suara berisik ketika pasukan itu berseru dan berbisik penuh ketakutan sambil memandang ke arah Thai Li Lama dengan mata terbelalak dan muka pucat, tangan menuding dan kaki gemetar. Siapa orangnya yang tidak akan akan merasa ngeri dan takut? Pendeta Tibet yang tadinya bertubuh kurus kecil dan wajahnya sama sekali tidak menimbulkan rasa gentar itu kini telah berubah menjadi mahluk yang luar biasa. Tubuhnya masih tidak berubah, akan tetapi kepalanya berubah menjadi kepala naga, yang hidungnya menghembuskan uap biru, dan bukan hanya sebuah kepala naga yang mengerikan itu, melainkan ada tiga buah! Dan lengannya bukan dua lagi, melainkan bertumbuh enam buah lengan tangan lain di pundaknya, sehingga lengannya ber­jumlah delapan! Bagi Han Han, karena penglihatannya dilindungi oleh perisai kemauan yang membaja, perubahan pada diri Thai Li Lama itu hanya tampak suram-suram saja. Pemuda ini mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya. Pemuda ini tidak pernah mempelajari hoat-sut, tidak tahu bagaimana untuk mempergunakan kekuatan batinnya dalam ilmu ini, akan tetapi ia mengerti bahwa kalau ia mengerahkan kemauannya, maka ia tidak akan dapat terpengaruh orang lain bahkan dapat menguasai kemauan orang. Kini ia mengerti bahwa lawannya menggunakan ilmu sihir yang aneh, maka setelah mengerahkan seluruh tenaga kemauannya, ia tertawa dan berkata. “Hemmm, Thai Li Lama, engkau ini seorang pendeta yang sudah tua, meng­apa bersikap seperti anak kecil? Permainanmu ini hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, akan tetapi bagiku, engkau tetap Thai Li Lama yang biasa, berke­pala hanya sebuah yang penuh dengan akal muslihat kotor dan berlengan dua yang tidak segan-segan melakukan per­buatan jahat!” Semua pasukan yang mendengar ucapan Han Han yang keras dan berwibawa ini melihat perubahan aneh pada diri Thai Li Lama. Sekarang pendeta itu berubah menjadi biasa kembali dan kedua orang lawan itu masih melanjutkan mengadu kekuatan melalui sinar mata yang berapi-api! Akhirnya Thai Li Lama tidak kuat menahan, kepalanya berdenyut-denyut amat peningnya dan dari kedua matanya keluar air mata karena saking panas dan pedas rasa kedua matanya. Ia terhuyung dua langkah, dan tiba-tiba memekik sambil memukulkan sebelah tangannya ke arah dada Han Han, se­dangkan tangan yang lain membuat ge­rakan seperti orang menulis huruf. Han Han sudah siap sedia, ia melengking nyaring dan kedua tangannya juga mendorong ke depan, sebelah kiri dengan inti tenaga Swat-im Sin-ciang sedangkan yang kanan dengan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang! Dilanda dua macam tenaga yang berhawa amat dingin dan amat panas ini, Thai Li Lama terlempar ke belakang dan roboh terguling-guling. Ia dapat meloncat bangun lagi, akan tetapi napasnya terengah-engah dan mukanya pucat! Melihat keadaan sutenya, Thian Tok Lama sudah merendahkan tubuhnya yang gendut, perutnya mengeluarkan suara berkokok, seperti ayam biang, dan kedua tangannya menyerang dengan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang ampuhnya menggila itu. Tangan kanannya berubah biru dan dari kedua telapak tangan itu menyambar uap hitam ke arah Han Han. Pada saat yang hampir sama, tiga orang tokoh sakti yang lain, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menerjang dengan pukulan-pukulan sakti mereka ke arah Han Han. Namun semua pukulan sakti yang membawa maut itu luput karena pada saat yang tepat, tubuh Han Han telah lenyap dan pemuda buntung yang amat sakti ini telah melesat ke atas, kemudi­an menukik turun dengan tongkatnya diputar menjadi sinar kehijauan melingkar-lingkar yang menyambar ke arah kepala lima orang pengeroyoknya! Lima orang tokoh besar itu yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang sudah mencapai puncaknya, cepat mengelak dan melakukan pengurungan ketat dari lima penjuru, seolah-olah secara otomatis membentuk ngo-heng-tin (barisan lima anasir). Terjadilah pertandingan yang amat seru dan luar biasa. Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak melancarkan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang berhawa panas sekali. Juga Ma-bin Lo-mo Siang­koan Lee Si Iblis Muka Kuda menghujan­kan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin seperti salju. Toat-beng Ciu-sian-li dengan penuh amarah menggerakkan sepasang rantai gelang di kedua telinganya yang merupakan sepasang senjata ampuh, dibantu sambaran rambutnya dan serangan kedua, tangan penuh kuku runcing dengan pukulan Toat-beng Tok-ciang yang beracun. Kedua orang pendeta Lama dari Tibet juga tan­pa segan-segan lagi karena maklum akan kelihaian pemuda buntung itu, menyerang dengan pukulan-pukulan sakti mereka. Han Han mengerti sepenuhnya bahwa dia terancam maut. Dia mengenal ke­hebatan lima orang lawannya. Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, dia yakin akan dapat mengalahkan mere­ka. Akan tetapi, dikeroyok lima orang yang memiliki kepandaian setinggi itu, benar-benar amat berbahaya dan selama hidupnya, baru sekali ini ia benar-benar dihadapkan dengan pengeroyokan lawan yang menggiriskan! Terpaksa pemuda buntung yang amat sakti ini mengerahkan seluruh kepandaiannya yang pernah di­pelajarinya dan mengerahkan seluruh tenaga sin-kang yang berada di tubuhnya untuk melindungi diri dan juga untuk balas menyerang. Pada saat itu, senja telah mendatang dan keadaan cuaca mulai menggelap. Di atas wuwungan istana, jauh tinggi di puncaknya, terdapat dua orang yang me­nonton pertandingan itu penuh takjub. Mereka ini bukan lain adalah Puteri Nirahai dan gurunya, Puteri Maya. Tadi mereka keluar dari istana ketika men­dengar akan kekacauan di depan istana, akan tetapi melihat bahwa yang datang mengacau hanya seorang pemuda buntung dan yang menghadapi pemuda buntung itu sudah amat banyak, hati Maya menjadi tertarik maka ia memegang tangan muridnya diajak meloncat naik ke atas wu­wungan dan menonton. Bagi Puteri Maya, benar-benar merupakan pantangan besar dan amat memalukan kalau harus ikut-ikutan mengeroyok seorang lawan yang masih begitu muda, buntung kakinya dan sudah dikeroyok begitu banyak orang. Juga Puteri Nirahai merasa segan untuk turun tangan karena hal ini akan me­rendahkan derajatnya sebagai seorang puteri kaisar terutama sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi. Begitu mendengar teriakan-teriakan Han Han yang minta dibebaskannya Lulu, Nirahai dapat menduga bahwa tentulah pemuda buntung ini yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu. Ia merasa heran dan terkejut melihat bahwa pemuda itu buntung sebelah kakinya, padahal Lulu tidak pernah mengatakan bahwa kakaknya itu buntung! Dan dia terpesona, takjub menyaksikan gerakan dan sepak-terjang pemuda buntung itu, kagum menyaksikan betapa pemuda itu sanggup menghadapi Ilmu I-hun-to-hoat dari Thai Li Lama, dan hatinya berdebar aneh menyaksikan wajah tampan dilingkari rambut riap-riapan itu, terutama sekali melihat se­pasang sinar mata yang begitu tajam dan mengandung sesuatu yang aneh. “Ihhhhh....! Kedua tangannya mengandung pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang yang digunakan secara berbareng! Memecah sin-kang menjadi berlawanan ini dari mana dia mempelajarinya? Siapa bocah setan itu....?” terdengar Nenek Maya mengomel dan mata­nya memandang terbelalak penuh kaget dan heran menyaksikan Han Han menggunakan kedua tangannya untuk mengha­dapi lima orang pengeroyoknya. “Subo, dia itulah yang selalu dicerita­kan Lulu-sumoi. Dia kakak angkatnva yang bernama Han Han,” jawab Nirahai tanpa mengalihkan pandang matanya dari medan pertandingan di bawah. Akan tetapi Nenek Maya biarpun mendengar ucapan muridnya itu, agaknya tidak mengacuhkan karena dia mengalami kekagetan demi kekagetan ketika me­nyaksikan pertempuran itu, mulutnya mengeluarkan seruan-seruan heran, “Lihat pukulannya itu....! Tendangan dengan satu kaki....! Aihhh, bukankah itu jurus-jurus simpanan yang hanya dikenal kami bertiga di Pulau Es? Dan itu heiiiii....! Itu gerakan tongkatnya.... bukankah bagian dari Siang-mo Kiam-sut! Dan loncatan-loncatan itu.... hemmm.... seperti telah mengenalnya akan tetapi demikian aneh! Bukan main! Siapa bocah ini?” “Subo, dia Han Han dan seperti subo ketahui, dengan Lulu dia telah berhasil mewarisi kitab-kitab di Pulau Es.” “Aihhh....! Benar! Tapi loncatan-loncatan itu! Ilmu silat iblis manakah itu? Benar-benar hebat dan mengerikan!” Ternyata Nenek Maya ini merasa terkejut dan kagum sekali karena sebagai seorang ahli dia sampai tidak mengenal ilmu silat dengan gerakan kilat itu. Memang itu adalah Ilmu Soan-hong-lui-kun yang diciptakan oleh sumoinya sendiri, Khu Siauw Bwee, dalam pertapaannya! Tentu saja dia tidak mengenalnya sungguhpun ia merasa kenal akan dasar-dasarnya. Memang, untuk menghadapi pengero­yokan lima orang sakti itu, terpaksa Han Han mengerahkan seluruh kepandaiannya. Gerakan Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun yang ia pelajari dari Khu Siauw Bwee, tongkatnya dimainkan seperti pedang de­ngan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut, dan tangan kanannya melakukan serangan bergantian dengan hawa sin-kang Im dan Yang, juga ia mencampurkan gerakan-gerakan silat dari kitab-kitab yang telah !a pelajari dari Pulau Es, disesualkan untuk menghadapi hujan serangan kelima orang lawannya! Benar-benar hebat pe­muda ini dan barulah terbukti kesaktiannya yang jarang dapat ditemui tanding­nya, karena setelah bertempur selama ratusan jurus, mengandalkan kelincahan ilmu gerak kilat, ia sama sekali tidak terdesak, bahkan berhasil membuat pengepungan lima orang sakti itu kocar-kacir. Tentu saja lima orang pengeroyok­nya menjadi penasaran sekali, terutama Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li karena pemuda itu bekas murid mere­ka, dan Gak Liat karena bocah itu da­hulu bekas kacungnya! Cuaca semakin gelap dan para pe­mimpin pasukan pengawal yang melihat betapa pemuda buntung itu masih juga belum dapat ditundukkan oleh lima orang sakti itu, menjadi khawatir kalau pe­muda itu akan berhasil menyerbu ke is­tana, maka mereka lalu mulai menge­luarkan aba-aba dan pengurungan pasukan dipersempit dan diperketat, siap untuk menerjang pemuda itu seperti air bah mengamuk. Han Han melihat ancaman ini. Tidak mungkin baginya untuk menghadapi pe­ngeroyokan begitu banyak orang, sedang­kan pengeroyokan lima orang sakti itu saja sudah amat melelahkannya. “Lebih baik aku menerobos ke dalam istana menangkap Puteri Nirahai atau mencari di mana ditahannya Lulu agar aku dapat membebaskan adikku dan mengajaknya lari dari situ,” pikirnya. Ia mulai men­cari kesempatan untuk lolos dan mener­jang ke dalam istana. Akan tetapi lima orang pengeroyoknya makin lama makin penasaran dan marah sekali. Dari depan, sepasang pendeta Lama sudah menerjang­nya dengan pukulan-pukulan sin-kang yang lihai, sedangkan dari kanan kiri Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi sudah mener­jang pula. Han Han menggunakan tangan kanannya mendorong ke depan, sekaligus menolak pukulan kedua orang Lama. Hebat bukan main pengerahan tenaganya ini sehingga kedua orang Lama itu ter­huyung ke belakang. Pada saat itu pu­kulan Kang-thouw-kwi Gak Liat dengan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang sudah menerjang datang, didahului oleh si nenek Toat-beng Ciu-sian-li yang menye­rangnya dari belakang dengan sambaran rantai gelang! Han Han mengeluarkan suara meleng­king, tubuhnya cepat melesat ke bela­kang, tinggi dan berjungkir balik, tangan kanannya cepat menyambar dan ia ber­hasil menangkap ujung rantai gelang nenek itu yang menyambarnya. Dengan sepenuh tenaga disentakkannya kuat-kuat hingga tubuh nenek itu melayang ke atas. Nenek itu menjerit, kalau bukan dia tentu daun telinganya akan putus. Han Han melontarkan tubuh nenek itu dengan melepaskan rantai gelang ke arah Kang-thouw-kwi yang memukulnya tadi! Kini tubuh nenek itu melayang dan akan bertemu dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang ampuh! Melihat ini, Ma-bin Lo-mo berseru kaget, cepat ia pun mengerahkan tenaga­nya mendorong ke depan untuk menyambut pukulan Gak Liat dalam usahanya menolong nenek itu. “Desssss....!” Ma-bin Lo-mo terjengkang sedangkan Gak Liat terdorong mundur sambil terbatuk-batuk dan sedikit darah keluar dari mulutnya. Nenek itu sendiri terbanting roboh ke atas tanah, amat kerasnya sehingga nenek ini menge­luh dan merasa seolah-olah pantatnya yang tiada dagingnya lagi terbanting peyok! Ketika lima orang sakti yang dalam gebrakan hebat ini terdesak cepat me­nguasai diri dan hendak menerjang, tiba-tiba tubuh Han Han melesat ke atas, melampaui kepala para anak buah pasu­kan yang mengurung dan telah melayang ke atas genteng istana. Ramailah pasukan itu lari mengejar, ada pula yang me­masang obor karena cuaca sudah mulai remang-remang. “Kejar ke atas....!” “Awas, kepung istana agar dia tidak lari!” “Heiii, lekas jaga sebelah dalam istana, hadang semua jalan!” “Paling perlu lindungi kamar-kamar Sri Baginda dan keluarganya!” Ramailah pasukan pengawal itu berteriak-teriak dan bergerak kacau-balau seperti serombongan semut diganggu sa­rangnya. Adapun lima orang sakti itu, biar sudah amat tertinggal jauh, segera meloncat pula naik ke atas genteng me­lakukan pengejaran. Cara Han Han meloncat amat luar biasa karena dia menggunakan ilmunya gerak kilat, tubuhnya mencelat-celat ke atas sampai ke wuwungan. Tiba-tiba ia berhenti di atas wuwungan memandang terbelalak kepada seorang nenek dan se­orang gadis cantik jelita yang berdiri tenang di situ. Melihat gadis itu dalam cuaca yang remang-remang, Han Han memekik girang. “Lulu....!” Tubuhnya mencelat dan ia telah berada di depan gadis itu, terus dirangkulnya sambil mengeluh karena kelelahan, “Lulu adikku.... ah, Lulu.... syukur kau selamat.... kauampunkanlah aku, Lulu....!” Saking girang hatinya, seperti dahulu, ia mencium pipi adiknya itu, tidak tahu betapa gadis itu terbela­lak dan mukanya menjadi merah sekali. Dapat dibayangkan betapa malu dan je­ngah rasa hati gadis ini yang bukan lain adalah Puteri Nirahai sendiri yang di­sangka Lulu oleh Han Han. Memang ada persamaan pada wajah kedua orang gadis itu dan juga bentuk tubuh mereka sama, maka tidak mengherankan apabila Han Han yang dalam keadaan lelah salah duga melihat Nirahai dalam cuaca re­mang-remang itu. Han Han berada dalam kegirangan luar biasa melihat “adiknya” selamat, maka ketika merangkul dan menciumnya, kegirangan membuat ia kehilangan kewaspadaannya dan tiba-tiba ia mengeluh, tubuhnya menjadi lemas karena jalan darah di punggungnya telah tertotok se­cara hebat bukan main. Totokan biasa saja kiranya tidak akan mempengaruhi tubuhnya yang dialiri sin-kang amat kuat, akan tetapi sekali ini yang menotoknya adalah Nenek Maya serdiri! Maka ia ter­guling dan tahu-tahu telah dikempit oleh lengan kiri Nenek Maya. Pada saat itu, lima orang sakti telah menyusul ke atas wuwungan. Nenek Maya yang mengempit tubuh Han Han, ter­senyum mengejek dan berkata, “Dia sudah kutangkap, kalian mau apa?” Lima orang sakti itu telah mendengar bahwa di istana terdapat guru Puteri Nirahai yang amat lihai, akan tetapi karena belum pernah melihat nenek ini yang kehadirannya dirahasiakan, Toat-beng Ciu-sian-li yang berwatak angkuh segera menegur, “Engkau siapakah?” Nirahai khawatir kalau-kalau gurunya yang memiliki watak aneh luar biasa itu menjadi marah, maka ia cepat maju dan berkata halus. “Harap Ngo-wi Locianpwe suka mundur dan beristirahat karena pe­ngacau telah dapat ditangkap oleh guru saya dan akan kami periksa sendiri.” Mendengar ini, Toat-beng Ciu-sian-li terkejut dan memandang tajam penuh perhatian kepada Nenek Maya. Ia merasa sudah pernah melihat nenek itu, akan tetapi tidak ingat lagi kapan dan di ma­na. Juga tokoh-tokoh lain ketika men­dengar bahwa nenek yang agaknya de­ngan amat mudahnya menangkap Han Han yang tadi membuat mereka berlima kewalahan itu adalah guru Nirahai, cepat menjura dengan hormat. Mereka semua tahu akan kelihaian puteri cantik itu, kalau muridnya saja sudah demikian li­hainya, apa lagi gurunya! demikian li­hainya, apa lagi gurunya! Nenek Maya sudah membalikkan tu­buhnya dan tanpa mengeluarkan ucapan sedikit pun ia telah meloncat turun me­ngempit tubuh Han Han, diikuti oleh Nirahai, memasuki istana kembali melalui pintu belakang. Lima orang tokoh itupun cepat turun dan kini pasukan pe­ngawal sibuk merawat teman-teman yang terluka dalam pengeroyokan mereka ter­hadap Han Han tadi. Malam itu, suasana di sekeliling is­tana sunyi sepi, akan tetapi di dalam kesunyian ini, penjagaan para pengawal diperkuat karena para komandan pengawal merasa khawatir kalau-kalau datang lagi pengacau yang berilmu tinggi seperti di pemuda buntung yang kini telah menjadi tawanan Puteri Nirahai di dalam istana. Setelah tertotok lemas dan dibawa oleh nenek sakti itu ke dalam istana, barulah Han Han dapat melihat wajah Puteri Nirahai di bawah sinar lampu yang terang dan ia terkejut setengah mati ketika mendapat kenyataan bahwa gadis yang disangkanya Lulu, dirangkul dan dicium pipinya tadi ternyata sama sekali bukanlah Lulu, melainkan seorang gadis yang mirip Lulu dan cantik jelita sekali. Kekagetannya bertambah ketika ia melirik dan mengamati wajah nenek yang mengempitnya. Ia mengenal wajah ini yang biarpun sudah tua namun masih membayangkan kecantikan, membayang­kan raut muka yang mirip benar dengan puteri jelita ini, mirip pula dengan Lulu, dan.... mirip dengan patung wanita di Pulau Es. Han Han terbelalak, kini ia kembali memandang Nirahai. Bukan main! Sekarang terasa benar olehnya kemiripan wajah gadis jelita ini dengan patung Puteri Maya di Pulau Es! Han Han me­longo, terpesona, dan biarpun tubuhnya dikempit, pandang matanya seperti lekat pada wajah Puteri Nirahai. Puteri Maya membawa tubuh Han Han memasuki ruangan dalam yang luas di depan kamarnya, kemudian sekali tangannya bergerak, Han Han telah di­bebaskan totokannya dan tubuhnya telah dilempar ke atas lantai. Kemudian nenek sakti itu duduk di atas kursi, menyambar guci arak dan minum arak dari sebuah cawan perak. Adapun Puteri Nirahai masih berdiri. Gadis ini memandang wa­jah Han Han penuh perhatian, meman­dang ke arah kaki dan alisnya yang ba­gus itu berkerut dalam kesangsian dan pertanyaan apakah pemuda ini benar-benar kakak Lulu yang bernama Han Han! Han Han meloncat bangun dan ter­huyung karena tubuhnya masih terasa lemas, bukan oleh bekas totokan yang telah dibebaskan, karena sin-kangnya membuat ia dapat menguasai kembali jalan darahnya, melainkan karena lelah­nya setelah melakukan pertempuran yang berat tadi. Tiba-tiba Nenek Maya meng­gerakkan tangan dan tongkat butut Han Han yang tadi dia bawa pula melayang ke arah Han Han, melayang seperti lun­curan anak panah menuju ke dada pe­muda buntung itu. Han Han cepat me­nyambarnya dan nenek itu kagum bukan main. Pemuda buntung ini benar-benar tidak mengecewakan menjadi murid atau ahli waris Istana Pulau Es! Dengan tong­kat di tangannya, Han Han dapat berdiri tegak dan ketika ia memandang Nirahai, puteri inipun sedang memandangnya pe­nuh perhatian. Dua pasang mata bertemu pandang dan wajah Han Han menjadi merah sekali. Ia teringat betapa tadi ia merangkul dan mencium pipi yang halus kemerahan itu. Tak terasa lagi ia lalu berkata lirih menggagap. “Maaf.... maafkan kekurangajaranku tadi.... kukira engkau adikku Lulu.” Wajah puteri yang berkulit halus putih kemerahan itu menjadi makin merah, akan tetapi ia hanya mengangkat pundak­nya lalu bertanya, suaranya dingin seolah-olah hal yang dihadapi dan ditanya­kannya adalah urusan kecil. “Apakah engkau ini yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu?” Han Han mengangguk dan bertanya, “Di manakah adikku? Dan engkau.... eh, tentu engkau inilah Puteri Nirahai, bu­kan? Mengapa engkau menangkap adikku itu dan di mana dia? Kuharap kau suka membebaskannya. Kedatanganku ini bukan untuk mengacau, hanya untuk membebas­kan adikku.” Nirahai tersenyum mengejek. “Tidak membikin kacau akan tetapi membunuh dan melukai banyak pengawal istana, menggegerkan istana. Bahkan pernah menjadi pembantu pemberontak di Se-cuan! Hemmm, tentang urusan Lulu, dia adalah sumoiku, karena dia menyeleweng maka kutangkap. Subo yang menangkap­mu, maka terserah kepada subo untuk mengadilimu. Subo, teecu akan pergi sekarang mempersiapkan pertemuan pen­ting itu. Mengenai orang buntung ini, terserah kepada subo.” Nenek Maya mengangguk, sejak tadi nenek ini memandang Han Han penuh perhatian, lalu menggerakkan tangan menyuruh Puteri Nirahai pergi. Setelah melontarkan kerling mata terakhir ke­pada Han Han, mulut yang manis itu me­nyimpulkan senyum, Nirahai lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Han Han kini menghadapi Nenek Ma­ya, mereka saling pandang dan Han Han menjadi makin yakin di dalam hatinya bahwa nenek ini tentulah wanita yang patungnya berada di Pulau Es, suci dari gurunya yang telah membuntungi kaki gurunya itu. Dan betapa hebat persamaan puteri cantik tadi dengan patung itu pula! “Orang muda, engkaukah pemuda yang bersama muridku Lulu tinggal bertahun-tahun di Pulau Es?” Nenek Maya ber­tanya sambil memandang tajam. Karena kini tidak ragu lagi, Han Han lalu menjatuhkan diri berlutut dan ber­kata, “Benar, subo, harap subo memaaf­kan kelancangan teecu yang telah membikin ribut di tempat ini. Teecu tidak tahu bahwa adik teecu telah menjadi murid subo, dan sesungguhnya teecu hanya mengkhawatirkan keselamatan Lulu.” “Hemmm...., kau menyebut aku subo (Ibu Guru), atas dasar apakah? Tahukah engkau, siapa aku?” Han Han teringat bahwa seperti juga Khu Siauw Bwee, nenek buntung yang menjadi gurunya, Nenek Maya ini pun telah mengasingkan diri dan tidak pernah ­muncul di dunia ramai, maka tentu saja nenek itu ingin sekaii tahu bagaimana Han Han dapat mengenalnya. “Maafkan teecu kalau keliru. Subo adalah Puteri Maya yang arcanya pernah teecu lihat di dalam Istana Pulau Es, bersama arca Subo Khu Siauw Bwee dan Suhu Kam Han Ki.” “Aihhhhh....!” Nenek itu terbelalak dan sepasang matanya berkilat-kilat, “Di antara kami bertiga tidak mungkin ada yang meninggalkan nama di Pulau Es. Bagaimana engkau bisa mengenal nama-nama kami? Awas, sekali engkau ber­bohong, aku akan membunuhmu!” Pandang mata, suara dan sikap nenek ini benar-benar membuat Han Han meng­kirik. Betapa jauh bedanya nenek ini dengan gurunya Si Nenek Buntung. Nenek ini memiliki kecantikan yang amat luar biasa, seperti bukan manusia, akan tetapi di samping kecantikannya, juga memiliki watak yang mengerikan. Dan tentang ke­pandaian, tentu saja nenek ini memiliki kesaktian hebat, hal ini dia tidak ragu-ragu lagi mengingat akan hebatnya kepandaian Khu Siauw Bwee, nenek yang menjadi gurunya, yang kakinya dibuntungi oleh Nenek Maya ini. “Teecu tidak berani membohong. Ten­tu subo telah mendengar penuturan adik teecu tentang pengalaman kami berdua di Pulau Es. Teecu bersama Lulu me­mang tadinya tidak tahu sama sekali siapa adanya tiga arca yang berada di Istana Pulau Es itu. Akan tetapi, teecu telah berjumpa dengan Subo Khu Siauw Bwee....” Tiba-tiba Han Han menghentikan kata-katanya. Seluruh urat syaraf di tubuhnya menggetar dan hanya dengan kemauannya yang amat keras saja ia dapat memaksa dirinya untuk tinggal diam berlutut dan tidak melawan, meng­elak maupun menangkis. Nenek itu telah mencelat ke dekatnya dan tahu-tahu jari tangan nenek itu telah menyentuh ubun-ubun kepalanya, siap untuk mencengke­ram! Sedikit saja nenek itu menggunakan tenaganya mencengkeram, tentu kepalanya akan pecah! “Orang muda.... hati-hati kau.... kalau bohong....!” Suara itu terdengar gemetar, agaknya Nenek Maya ini ter­haru dan terkejut mendengar bahwa su­moinya itu masih hidup! “Teecu bersumpah tidak bohong, subo. Teecu ditangkap dan kaki teecu dibun­tungi aleh Toat-beng Ciu-sian-li sebagai hukuman, teecu terjerumus ke dalam jurang, hanyut di sungai dan ketika teecu berhasil mendarat, teecu bertemu dengan Subo Khu Siauw Bwee. Maka teecu lalu memberi kantung surat, yaitu peninggalan Suhu Kam Han Ki yang teecu ba­wa dari Pulau Es untuk teecu sampaikan kepada orang yang berhak. Dan ternyata surat-surat itu memang ditujukan oleh suhu kepada Subo Khu Siauw Bwee....” Kembali Han Han menghentikan kata-katanya karena nenek itu mengeluh lalu terhuyung-huyung ke belakang dan men­jatuhkan lagi dirinya di atas kursi. Wa­jahnya yang dahulu di waktu mudanya tentu amat cantik itu pucat sekarang. “Teruskan.... teruskan.... apa isi surat-suratnya itu....” Diam-diam Han Han berpikir. Biarpun nenek buntung Khu Siauw Bwee tidak mau menceritakan pengalaman-pengelaman mereka bertiga di waktu muda ketika mereka berada di Pulau Es, namun ia dapat menduga bahwa tentu terjadi perebutan cinta antara Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee, dan kemudian, melihat sikap Nerek Khu Siauw Bwee ketika membaca surat-surat itu, jelaslah bahwa sesungguhnya Koai-lojin hanya mencinta Khu Siauw Bwee seorang. Akan tetapi, kalau ia kemukakan hal ini, bukankah berarti ia akan menyakiti hati Nenek Maya ini? Dia menjadi tidak tega, bahkan diam-diam Han Han merasa ka­sihan kepada nenek ini. Dia sendiri da­hulu terpesona oleh arca nenek ini di waktu muda, demikian cantik jelitanya, seperti bidadari, dan baru melihat arca­nya saja jantung sudah berdebar dan gairahnya terangsang. Tadi pun ketika ia melihat puteri Nirahai yang mirip dengan arca itu, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Betapa mungkin ia dapat menyakiti hati nenek itu? Akan tetapi, kalau dia tidak berterus terang, nenek ini yang berwatak luar biasa tentu akan menjadi marah dan akibatnya tak dapat ia kira-kirakan, yang jelas ia tentu terancam bahaya maut. “Teecu tidak berani membuka surat-surat itu, subo. Biarpun teecu hanya mengetahui subo bertiga dari arca-arca yang berada di Pulau Es, namun tentu saja subo bertiga telah teecu anggap sebagai penghuni-penghuni Istana Pulau Es, dengan demikian menjadi pula guru-guru teecu. Mana berani teecu mem­baca surat Suhu Koai-lojin? Teecu hanya membawanya untuk diserahkan kepada orang yang berhak, dan ternyata memang surat-surat itu ditujukan kepada Subo Khu Siauw Bwee.” Kembali terdengar keluhan dari dada nenek itu, keluhan yang membayangkan kehancuran hati. Kemudian Nenek Maya dapat menguasai dirinya kembali dan bertanya, suaranya menggetar, “Cerita­kan, bagaimana sikap sumoi setelah membaca surat dari suheng itu....!” Di dalam lubuk hatinya, Han Han sudah dapat menduga apakah yang dahulu terjadi antara tiga orang gurunya, peng­huni-penghuni Pulau Es yang aneh itu. Sebaliknya bagi yang berkepentingan sendiri harus mengetahui hal sebenarnya, baik manis maupun pahit, agar tidak selalu menjadi keraguan dan menimbulkan pertikaian. Nenek Maya ini tentu selalu menyangka bahwa Koai-lojin men­cintanya maka dahulu telah terjadi pertentangan antara dia dan sumoinya. “Subo Khu Siauw Bwee setelah mem­baca surat-surat itu lalu menangis dan mengatakan mengapa dahulu suhu tidak berterus terang menyatakan mencinta subo seorang sehingga tidak terjadi pem­buntungan kakinya. Surat-surat itu ada­lah surat-surat pernyataan cinta....” Tiba-tiba Nenek Maya menjerit lirih dan menangis tersedu-sedu. Melihat ini, Han Han menjadi kasihan sekali. Betapa mungkin seorang wanita yang dahulunya tentu amat cantik jelita seperti bidadari mengalami penderitaan karena cinta! Pemuda itu teringat akan syair yang diukir di dinding Istana Pulau Es, dan dalam keadaan penuh haru dan setengah sadar itu Han Han lalu mengucapkan syair dengan suara penuh perasaan:   “Betapa ingin mata memandang mesra betapa ingin jari tangan membelai sayang betapa ingin hati menjeritkan cinta namun Siansu berkata: bebaskan dirimu dari ikatan nafsu!   Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?   Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang dunia takkan pernah tercipta! Betapapun juga, cinta segi tiga tak membahagiakan menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain akibatnya hanya perpecahan dan per­musuhan ikatan persaudaraan dilupakan akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.   Kesimpulan, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu!”   Nenek Maya yang tadinya membela­lakkan matanya yang basah itu, meman­dang dengan bengis dan penuh nafsu membunuh, ketika mendengarkan syair ini, makin lama makin terbelalak dan wajahnya tidak bengis lagi melainkan penuh keheranan dan keharuan, kemudian dengan suara serak ia berkata. “Orang muda, apa.... apa maksudmu dengan syair itu....?” “Maaf, subo. Saking terharu hati teecu, maka teecu teringat akan syair yang diukir pada dinding Istana Pulau Es, dan menurut Subo Khu Siauw Bwee, agak­nya syair itu diukir oleh Suhu Koai-lojin.” Kembali Nenek Maya mengeluh dan menutupkan kedua telapak tangannya pada mukanya. “Ahhh, kasihan.... kasihan sekali suheng....! Biarpun mencinta sumoi, ternyata tidak mau mengaku karena tidak suka menghancurkan hatiku! Orang muda, engkau tentu telah digembleng oleh Khu-sumoi, bukan? Cara engkau meloncat-loncat itu....” “Benar, subo. Sesungguhnyalah karena mengingat bahwa teecu memang sudah menjadi murid suhu dan subo berdua, dan agaknya melihat kaki teecu yang buntung, maka Subo Khu Siauw Bwee lalu mengajar teecu beberapa lamanya.” “Bagus, karena itu maka engkau tidak kubunuh sekarang! Dalam cinta mungkin aku telah kalah oleh sumoi, akan tetapi dalam ilmu silat, aku tidak mau kalah! Sumoi telah menurunkan ilmu silat cipta­annya yang baru kepadamu, dan aku akan menurunkan kepandaianku kepada murid­ku Nirahai. Kita sama lihat saja kelak siapa yang lebih unggul. Aku menitipkan nyawa kepadamu, bocah, dan kelak Nira­hai muridkulah yang akan mengambil nyawamu sekalian membuktikan bahwa ilmuku masih lebih tinggi daripada ilmu sumoi. Nah, pergilah sebelum aku me­nyesal akan keputusanku ini!” Han Han bukan seorang penakut. Kalau hanya menghadapi ancaman maut saja, dia sudah berkali-kali mengalami­nya. Kedatangannya untuk mencari Lulu adiknya, tentu saja ia tidak akan mudah diusir pergi dengan ancaman sebelum ia berhasil mendapatkan adiknya atau setidaknya mengetahui apa yang terjadi dengan adiknya. “Maaf, subo. Tentu saja teecu akan mentaati semua perintah subo, akan tetapi terlebih dahulu teecu harus dapat menemukan Lulu, adik teecu dan membebaskannya....” Nenek Maya menyusut air matanya dan memandang pemuda berkaki buntung itu. Biarpun hatinya masih merasa panas terhadap sumoinya, namun diam-diam ia merasa kagum kepada pemuda ini. Me­mang hanya muridnya Nirahai itulah yang agaknya merupakan satu-satunya orang yang akan dapat menandingi pemuda hebat ini. Muridnya itu mempunyai ke­cerdikan luar biasa, bakat yang amat hebat dan kekerasan hati yang sukar dicari keduanya. Betapapun juga, timbul keraguan hatinya apakah Nirahai akan mampu menandingi pemuda ini dan ia berjanji di dalam hati untuk menurunkan semua ilmunya yang paling ampuh kepada muridnya itu. Pendeknya, Nirahai tidak boleh kalah oleh murid Khu Siauw Bwee! “Bocah keras kepala, Lulu adalah muridku, siapakah yang akan mengganggu­nya? Dia memang ditangkap oleh sucinya karena dia menyeleweng, akan tetapi kini dia telah melarikan diri ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu tahanan. Entah ke mana perginya bocah yang suka menimbulkan kekacauan itu, aku tidak tahu.” Han Han terkejut bukan main. “Murid-murid Ma-bin Lo-mo....? Bagaimana.... apa maksud subo?” Nenek itu tersenyum dingin dan Han Han kagum melihat betapa nenek itu ternyata masih mempunyai gigi yang berderet lengkap dan kuat. “Siapa tahu dan siapa peduli? Murid-murid Si Muka Kuda itu memberontak terhadap guru mereka, dan melihat macamnya Ma-bin Lo-mo, jelas bahwa murid-muridnya ten­tu lebih baik daripada dia! Kalau aku turun tangan, apa yang dapat dilakukan mereka? Aku tidak peduli, dan karena Lulu hanya akan mereka bebaskan dan tidak diganggu, aku tidak peduli. Bocah itu sudah banyak bikin pusing, sekarang pergi entah ke mana, kau cari sendiri. Nah, sekarang pergilah dan kalau kau masih tidak taat, kuanggap kau menantangku!” Han Han menjadi girang akan tetapi juga bingung. Dia percaya penuh kepada nenek ini, seorang berkepandaian tinggi luar biasa dan berwatak angkuh, tentu tidak sudi membohong. Yang penting baginya, Lulu sudah bebas dan perkara mencarinya adalah urusannya sendiri. Maka ia cepat memberi hormat, kemudi­an tubuhnya mencelat pergi dari tempat itu. Sengaja ia mengerahkan tenaga meng­gunakan kepandaiannya yang ia dapat dari Khu Siauw Bwee, maka gerakannya pun cepat seolah-olah ia pandai meng­hilang dan lenyap dalam sekejap mata dari depan Nenek Maya. Melihat ini, Ne­nek Maya menghela napas panjang penuh kagum.     ***   Biarpun Han Han dapat mempercayai keterangan Nenek Maya bahwa adiknya telah terbebas dari dalam tahanan ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu tahanan, namun ia masih tidak tergesa-gesa meninggalkan kota raja dan melaku­kan penyelidikan dengan bertanya-tanya tentang peristiwa itu. Tentu saja berita penyerbuan itu menggegerkan kota raja dan hampir setiap orang yang ditanyainya dapat menceritakannya. Akan tetapi, seperti biasa berita yang merupakan berita angin dari mulut ke mulut, setiap orang mempunyai cerita yang berbeda, dan tidak seorang pun di antara mereka dapat memberitahukan secara jelas, juga tidak ada yang tahu ke mana perginya Lulu yang ikut pula melarikan diri dari tahanan bersama para tahanan lain ke­tika murid-murid In-kok-san (Lembah Awan) itu datang menyerbu. Han Han menjadi bingung dan tidak mengerti kalau ia teringat akan adiknya. Bukankah menurut keterangan Lauw Sin Lian, adiknya itu telah menjadi anak angkat mendiang Lauw-pangcu dan telah memihak para pejuang? Akan tetapi dia berjumpa dengan Lulu di Se-cuan sebagai seorang pemimpin pasukan Mancu! Kemu­dian mendengar Lulu ditangkap oleh Pu­teri Nirahai dan menjadi tawanan, sekarang ditolong oleh murid-murid In-kok-san. Sebenarnya, di fihak manakah Lulu berdiri? Benar-benar membingungkan dan mau tidak mau Han Han tersenyum sendiri kalau mengingat ucapan Nenek Maya bahwa Lulu sudah banyak membikin pu­sing! Benar-benar anak nakal adiknya itu! Akan tetapi senyumnya lenyap terganti awan duka kalau ia teringat akan per­temuannya yang terakhir dengan Lulu. Adiknya itu tentu membencinya! Lulu, aku harus dapat menemukanmu dan mem­beri penjelasan, minta maaf, demikian jerit hatinya dan pemuda ini mengambil keputusan untuk pergi menyelidik ke In-kok-san, di Pegunungan Tai-hang-san. Adiknya dibebaskan oleh murid-murid Ma-bin Lo-mo dan dia sendiri tidak tahu mengapa murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu istana sedangkan guru mereka sendiri berada di istana membantu Kera­jaan Mancu. Satu-satunya jalan untuk membongkar rahasia ini dan bertanya kepada bekas suheng-suheng dan suci-sucinya itu di mana adanya Lulu, hanya pergi mengunjungi mereka! Selain hendak mencari Lulu atau kalau adiknya tidak berada di sana, bertanya kepada mereka ke mana perginya adiknya, juga Han Han ingin mengunjungi kuburan kakeknya, yaitu Jai-hwa-sian Suma Hoat dan ingin menyelidik tentang riwayat nenek moyangnya. Hidupnya selalu dirundung ma­lang, dimusuhi sana-sini, selalu sengsara dan menderita tekanan batin, agaknya hal ini semua terjadi karena darah keturunannya. Hidupnya seperti hukuman, dan agaknya memang hukuman karena dosa-dosa nenek moyangnya! Di sepanjang perjalanannya yang jauh itu, Han Han selalu merasa hatinya ter­tindih kedukaan. Kalau ia renungkan dan ingat-ingat, apalagi di waktu ia menghentikan perjalanan karena malam gelap dan ia duduk mengaso di bawah pohon, terbayanglah di depan matanya wajah Kim Cu yang berkepala gundul dan sinar matanya penuh duka, terganti wajah Lu Soan Li yang telah mengorbankan nyawa untuknya, kemudian bermunculan wajah Lauw Sin Lian, Tan Hian Ceng, di antara bayangan wajah Lulu dan yang terakhir Puteri Nirahai! Diam-diam ia mengeluh! Mengapa Kim Cu dan Soan Li berkorban untuknya? Mengapa mencintanya? Dan Hian Ceng....! Ah, dia, seorang yang buntung, yang tidak patut mendampingi gadis-gadis cantik jelita itu, mengapa justeru dia yang mereka cinta? Bukankah hal ini merupakan hukuman baginya, hukuman karena dosa-dosa nenek mo­yangnya, terutama sekali kakeknya, Jai-hwa-sian Suma Hoat? Han Han mengeluh di dalam hatinya. Mengapa dia, yang sudah terang merupa­kan seorang pemuda berkaki buntung, bercacad sehingga tidak patut mendam­pingi seorang wanita, apalagi gadis-gadis cantik seperti mereka itu, kini selalu mengenangkan mereka? Tidak, tidak bo­leh sama sekali! Apakah hal inipun me­rupakan penyakit baginya, penyakit tu­runan sehingga ia tidak pernah mampu mengusir bayangan wanita-wanita cantik itu? Apakah dia pun termasuk seorang yang memiliki darah kakeknya, darah seorang pria yang mata keranjang? Kem­bali Han Han mengeluh panjang dan me­nyandarkan tubuhnya pada batang pohon, berusaha untuk melupakan semua itu dan untuk tidur. Dia harus menggunakan kekuatan kemauannya untuk melupakan bayangan-bayangan wajah ayu itu, kecuali bayangan wajah Lulu, adiknya! Tentu saja pemuda yang bernasih malang ini tidak tahu bahwa dia sama sekali bukan menderita penyakit, bukan pula mata keranjang, melainkan dia pun seorang manusia biasa. Karena usianya sudah dewasa, tentu saja daya tarik la­wan kelamin makin kuat dan tanpa disadarinya, berahinya terhadap wanita pun makin menguat. Hal ini adalah wajar dan bahkan sudah semestinya demikian. Ha­nya karena pemuda ini telah mengalami hal-hal yang melukai hatinyai melihat pengorbanan Kim Cu dan Soan Li untuk dirinya, ditambah pengetahuan bahwa kakeknya seorang penjahat cabul pemer­kosa wanita, maka ia mengekang rasa tertarik terhadap wanita ini yang diang­gapnya sebagai semacam penyakit dan ia menyalahkan darah keturunannya! Ketika ia tiba di lereng Pegunungan Tai-hang-san, Han Han memandang se­keliling dan menghirup hawa segar, hati­nya agak terharu mengingat betapa da­hulu, sepuluh tahun lebih yang lalu, ia tinggal di daerah ini sebagai murid In­-kok-san! Teringatlah ia akan Kim Cu yang semenjak menjadi saudara seper­guruan, selalu bersikap amat baik ter­hadapnya. Memang belum lama ini dia kembali ke In-kok-san, akan tetapi se­bagai tawanan Toat-beng Ciu-sian-li sam­pai kakinya dibuntungi, dan dalam ke­adaan seperti itu ia tidak dapat menik­mati keindahan alam dan tidak terkenang akan masa kanak-kanak dahulu. Kini ia berdiri termenung dan barulah ia sadar kembali ketika ia mendengar gerakan kaki manusia. Ketika ia menengok, ia melihat dua orang laki-laki menggotong sebuah joli yang tertutup tirai sutera. Cepat Han Han menyelinap ke belakang pohon karena ia melihat berkelebatnya bayangan empat orang yang bergerak cepat sekali, seolah-olah mempunyai niat buruk terhadap joli yang digotong oleh dua orang itu. Setelah joli yang digotong lewat dan empat bayangan itu dekat, Han Han makin tertarik. Ia mengenal empat orang pemuda tampan itu. Mereka adalah bekas-bekas suhengnya, murid-murid Ma-bin Lo-mo atau murid-murid In-kok-san! Mau apakah mereka mengikuti joli sambil bersembunyi dan siapa pula yang duduk di dalam joli? Tadinya, melihat sikap mereka yang mengancam, ingin Han Han memperingatkan orang yang duduk di dalam joli, akan tetapi ia segera menekan kehendak hati ini dengan kesadar­an betapa ia selalu mendatangkan salah faham dan keributan setiap kali turun tangan. Dia tidak akan mencampuri urusan yang belum diketahuinya benar. Maka Han Han hanya menyelinap dan mengikuti empat orang pemuda itu sam­bil bersembunyi, menggunakan kepandaiannya mencelat ke tempat-tempat ter­sembunyi sambil mengintai. Agaknya dua orang penggotong joli itu hanyalah me­miliki tenaga kasar saja, hanya kuat untuk menggotong joli dan melakukan perjalanan jauh, akan tetapi tidak me­miliki kepandaian. Buktinya, mereka berdua ini sama sekali tidak tahu bahwa ada empat orang yang kini membayangi dari dekat. Kini empat orang murid In-kok-san itu bergerombol di balik semak-semak, berbisik-bisik kemudian mereka mengayun tangan ke arah joli. Han Han terkejut sekali melihat sinar-sinar terang menyambar ke arah joli. Kiranya mereka itu telah menyerang joli dengan senjata-senjata rahasia. Jarum, piauw, dan uang logam beterbangan dengan jitu menyambar dan menerobos tirai sutera joli! Han Han membuka mata lebar-lebar karena tidak terdengar apa-apa dari dalam joli, bahkan beberapa detik, senjata-senjata kecil itu beterbangan menyambar dari dalam joli, kembali kepada empat orang penyerangnya secara cepat sekali, jauh lebih cepat dan kuat luncurannya daripada sambitan empat orang murid In-kok-san tadi! Han Han kagum dan juga merasa geli hatinya menyaksikan betapa empat orang itu berseru kaget dan kacau-balau mengelak dari sambaran senjata-senjata rahasia mereka sendiri sedangkan dua orang penggotong joli itu agaknya tidak tahu apa yang terjadi dan terus melangkah maju menggotong joli. Empat orang murid In-kok-san itu agaknya penasaran dan marah sekali. Mereka berempat lalu melompat keluar dari batik semak-semak, dan mencabut senjata sambil berseru keras mereka berempat itu menerjang ke arah joli. Dua batang pedang dan dua batang golok menyambar dan menusuk ke arah tirai sutera joli itu, terdengar kain robek ketika empat batang senjata runcing dan tajam itu menembus tirai menusuk ke dalam joli. Dua orang penggotongnya baru kaget, melepaskan joli dan menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi, da­pat dibayangkan betapa kaget dan heran­nya hati empat orang murid In-kok-san itu ketika senjata mereka memasuki joli yang kosong....! Hanya Han Han yang melihat betapa ada bayangan berkelebat cepat sekali keluar dari joli dari sebelah sana dan bayangan itu kini telah me­loncat dan berdiri di atas cabang pohon sambil tersenyum mengejek. Ketika ia memandang, kiranya bayangan itu bukan lain adalah Puterai Nirahai yang cantik jelita! Kekaguman Han Han makin mening­kat. Dapat menangkap serangan am-gi (senjata gelap) dari dalam joli dan mengembalikannya tanpa membuka tirai sudah merupakan kepandaian luar biasa, kini dapat menghindarkan diri dari se­rangan dengan cara secepat itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah memiliki tingkat ilmu silat yang amat tinggi! Empat orang muda itu adalah murid-murid Ma-bin Lo-mo yang tentu saja bukan merupakan jago-jago muda sembarangan, namun mereka kini berdiri bingung dan barulah mereka menggerakkan senjata dibarengi meluncurnya tubuh wanita jelita itu dari atas pohon menyambar ke arah mereka! “Trang-trang-trang-trang....!” Dua batang pedang itu terlempar ke kanan kiri, disusul robohnya empat orang muda itu dalam keadaan tertotok lemas dan rebah di atas tanah. Hanya mata mereka saja yang mampu memandang melotot penuh kebencian kepada Nirahai yang tersenyum lebar. “Untung bagi kalian bahwa aku da­tang membawa tugas perdamaian dan persahabatan. Kalau tidak, apakah kalian dapat mengharap masih dapat hidup di saat ini?” Setelah berkata demikian, Nirahai memasuki jolinya yang sudah robek-robek tirainya itu, memberi isyarat kepada dua orang penggotongnya. Dua orang itu bergegas menggotong joli dan cepat-cepat pergi dari situ, sedangkan dari balik tirai sutera yang robek-robek itu, Han Han dapat melihat wajah cantik jelita itu mengerling ke arah empat orang murid In-kok-san sambil tersenyum manis. Bukan main, pikir Han Han. Puteri itu benar-benar memiliki kepandaian yang hebat sekali! Lebih hebat daripada ke­pandaian datuk-datuk yang pernah ia lawan. Tentu akan merupakan lawan yang amat tangguh! Ia kagum akan kecantik­annya yang mempesonakan, akan per­samaannya dengan patung Puteri Maya di Pulau Es, akan kepandaiannya yang hebat dan akan sikapnya yang angkuh dan agung terhadap empat orang murid In-kok-san yang sudah jelas menyerang dengan mak­sud membunuhnya tadi. Dengan tenang Han Han lalu meng­hampiri empat orang murid In-kok-san yang masih rebah tak berdaya di atas tanah. Mereka itu memandang terbelalak ketika mengenal Han Han. Pemuda ber­kaki buntung ini lalu menggerakkan tong­katnya, empat kali tongkatnya bergerak menotok dan ia telah berhasil membebas­kan empat orang muda itu yang cepat meloncat bangun dan berdiri di depan Han Han. “Engkau.... Han Han-sute....!” Seorang di antara mereka yang bernama Song Biauw berkata. Han Han mengangguk. “Mengapa kali­an menyerang dia?” Empat orang itu memandang ke arah perginya joli itu dan Song Biauw berseru marah, “Iblis betina itu sungguh lihai! Dialah biang keladi segala kesengsaraan!” Kemudian ia menoleh kepada Han Han. “Kami sudah mendengar bahwa engkau sekarang menjadi seorang yang memiliki kepandaian tinggi, sute! Marilah kau­bantu kami membunuh iblis betina itu!” Han Han tersenyum dan menggeleng kepala. Dia terharu bahwa empat orang ini masih menyebutnya “sute”, kemudlan ia bertanya, “Ma-bin Lo-mo sendiri membantunya, mengapa kalian memusuhi pu­teri yang mewakili kerajaan itu?” “Ma-bin Lo-mo iblis tua juga akan kami basmi!” bentak seorang murid In-kok-san dengan muka merah penuh ke­bencian. Han Han diam-diam terkejut. “Eh, mengapa kalian memusuhi suhu kalian sendiri? Kalau kalian memusuhi Kerajaan Mancu, hal ini aku tidak heran.” “Hemmm, agaknya kau belum men­dengar akan peristiwa busuk yang men­jadi rahasia iblis tua itu, Han-sute? Eng­kau tentu sudah tahu bahwa kami semua murid In-kok-san adalah orang-orang yatim piatu....” “Aku tahu, orang tua kalian, seperti juga orang tuaku, terbunuh oleh pasukan Mancu....” kata Han Han. “Bukan!” Song Biauw memotong cepat sambil menggoyang tangan. “Mungkin orang tuamu terbunuh oleh pasukan Man­cu, akan tetapi orang tua kami semua sama sekali tidak terbunuh oleh pasukan Mancu, melainkan dibunuh secara diam-diam oleh Ma-bin Lo-mo!” “Heeehhhhh....?” Han Han benar-benar terkejut sekali mendengar ini. “Iblis tua bangka yang busuk itu! Dia dahulunya memusuhi penjajah Mancu, dan untuk dapat membentuk pasukan kuat, dia sengaja memilih anak-anak yang berbakat baik, menggunakan keadaan yang kacau membunuhi orang tua kami dan kemudian menolong kami dengan pernyataan bahwa orang tua kami dibunuh orang-orang Mancu. Kami masih terlalu kecil untuk mengerti akan tipu muslihat­nya ini. Akhir-akhir ini dia menjadi penjilat Mancu sehingga kami merasa heran sekali dan akhirnya kami dapat mengetahui rahasianya yang membocor dari istana. Tentu saja kami menjadi sakit hati kepadanya sehingga kami bersumpah selain memusuhi penjajah, juga akan membunuh bekas guru yang juga pembunuh orang tua kami itu!” Han Han mengangguk-angguk. Baru sekarang ia mengerti mengapa murid-murid In-kok-san menyerbu kota raja. “Jadi kalian menyerbu kota raja, mem­bebaskan tawanan-tawanan, juga dengan maksud untuk mengacau kota raja dan sekalian mencari Ma-bin Lo-mo?” Song Biauw berseri wajahnya. “Kau sudah mendengar akan penyerbuan itu? Kami kehilangan belasan orang saudara, akan tetapi kami berhasil membebaskan banyak tawanan. Kini saudara-saudara kami sebagian sudah menyeberang ke Se-cuan, maka kami mendengar bahwa engkau telah membantu perjuangan dan bah­kan menjadi panglima di Se-cuan. Kami yang masih tinggal di sini, mendengar bahwa puncak Tai-hang-san akan dijadi­kan tempat pertemuan antara pemerintah dan tokoh-tokoh kang-ouw, maka kami menghadang di sini untuk menyerang Ma-bin Lo-mo. Tadi ketika kami tahu bahwa Puteri Nirahai iblis betina itu datang, kami segera menyerangnya. Siapa tahu dia luar biasa lihainya!” Han Han menggeleng-geleng kepala. “Kalian ini bernafsu besar dan bercita-cita muluk, akan tetapi kalian bukanlah lawannya, bahkan kalian berempat takkan mampu mengalahkan Ma-bin Lo-mo.” “Masih ada lima orang saudara kami di bawah!” Song Biauw membentak. Han Han menghela napas. “Aku tidak akan mencampuri urusan kalian. Kebetul­an aku bertemu dengan kalian di sini karena memang aku ingin sekali bertanya. Ketika kalian menyerbu kota raja mem­bebaskan para tawanan, terdapat pula adikku Lulu yang ikut melarikan diri. Di manakah dia sekarang?” “Ohhhh.... dia? Puteri Mancu itu? Wah, dia hebat sekali!” kata Song Biauw dan tiga orang saudaranya mengangguk­-angguk. “Hanya karena bantuan dia maka kami dapat menyelamatkan diri keluar dari kota raja, dan hanya belasan orang yang gugur. Agaknya iblis betina Nirahai sehdiri segan untuk bersikap keras se­telah dia turun tangan membantu kami. Jadi dia adikmu, Han-sute? Ah, sungguh menyesal sekali, kami tidak tahu ke mana dia pergi karena begitu kami se­mua berhasil keluar dari kota raja, dia menghilang.” Han Han menghela napas panjang. Dia sudah menduga akan hal ini. Adiknya itu terlalu keras kepala, keras hati dan ingin ­bebas, tentu saja tidak mau bersatu dengan orang-orang ini. Entah ke mana sekarang “terbangnya” bocah itu! “Sudahlah, aku akan mencarinya sendiri. Kunasihati saja agar kalian tidak terburu nafsu mengandalkan kepandaian. Ma-bin Lo-mo lihai sekali, juga bekas guru kalian itu mempunyai banyak kawan yang lihai. Kalau memang kalian ingin berjuang, tempat kalian adalah di Se-cuan di mana dapat dihimpun kekuatan untuk menghadapi musuh. Nah, selamat berpisah!” Han Han menggunakan kepandaiannya, sekali mencelat ia telah berkelebat lepyap dari depan empat orang itu yang memandang terbelalak, mene­ngok dan mencari-cari ke sana ke mari kemudian saling pandang dengan melongo. Sukar mereka percaya bahwa pemuda yang kakinya hanya tinggal sebuah itu dapat bergerak secepat itu. Sambil berloncatan, Han Han berpikir. Pertemuan di puncak Tai-hang-san? Per­temuan apakah itu? Apa pula yang akan dilakukan oleh Puteri Nirahai yang lihai dan cerdik luar biasa itu? Ia tertarik sekali, apalagi dia mengharapkan bahwa Lulu akan hadir pula di pertemuan aneh itu. Dengan penuh harapan, Han Han lalu mendaki puncak Tai-hang-san, akan te­tapi memilih jalan yang sunyi karena dia tidak mau mengunjungi pertemuan itu secara berterang. Dia tidak mau melibat­kan diri, dan keinginan satu-satunya pada saat itu hanyalah mencari adiknya, Lulu. Ia pun bergidik kalau teringat akan cerita bekas saudara-saudara seperguruan­nya tadi akan kekejian hati Ma-bin Lo-mo. Kiranya kakek iblis itu hendak mem­bentuk pasukan terdiri dari murid-murid­nya yang mengandung hati dendam kepada pemerintah Mancu dengan cara membunuhi orang tua dan keluarga calon para muridnya secara diam-diam, kemu­dian menolong calon murid itu dan me­ngatakan bahwa keluarga si murid dibasmi orang Mancu. Cara mengobarkan anti Mancu yang amat curang, licik dan keji. Lebih menjijikkan lagi, setelah melakukan perbuatan yang tidak mengenal prikemanu­slaan itu, akhirnya kini Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li malah membalik, mengkhianati perjuangan sendiri dan menjadi kaki tangan Mancu! Makin dikenang, makin sakit rasa hat Han Han. Bukankah kedua orang nenek ­dan kakek itu merupakan orang-orang terakhir di dunia ini yang masih “berbay” keluarga nenek moyangnya sendiri? Me­rupakan orang-orang yang masih ada hubungan dengan keluarga Suma yang terkenal jahat di masa lalu? Teringatlah ia akan cerita yang didengarnya dari mulut Ma-bin Lo-mo sendiri ketika ia masih menjadi murid In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san ini. Arca yang dipuja di In-kok-san adalah arca Suma Kiat, guru Ma-bin Lo-mo atau ayah dari Suma Hoat Si Dewa Cabul atau kong-kong­nya sendiri! Jadi Ma-bin Lo-mo adalah murid dari kakek buyutnya. Adapun nenek iblis Toat-beng Ciu-sian-li adalah seorang selir dari kakek buyutnya itu! Hemmm, baru murid dan selir saja sudah merupakan dua orang iblis yang kejahat­annya sukar dicari bandingnya! Dapat dibayangkan betapa luar biasa jahat dan kejinya keluarga Suma itu sendiri! Pantaslah kalau dia, sebagai keturunan ke­luarga Suma, kini selalu hidup merana dan menderita sengsara, agaknya Thian telah menghukumnya atas dosa-dosa yang dilakukan nenek moyangnya! Setelah Han Han tiba di puncak Tai-hang-san, di lembah In-kok-san, dari jauh ia sudah melihat banyaknya orang yang berkumpul di situ. Ia cepat menyelinap dan berindap-indap mendekati pekarangan lebar di mana berkumpul banyak orang yang duduk di bangku-bangku membentuk lingkaran. Mereka itu terdiri dari orang-orang yang sudah tua dan bersikap penuh wibawa. Para tamu itu menghadapi fihak tuan rumah yang merupakan rombongan yang duduk di atas bangku-bangku di depan pondok dan mereka ini adalah Puteri Nirahai sendiri yang ditemani oleh Ma-bin Lo-mo sebagai pemilik In-kok-san tempat mereka mengadakan pertemu­an, Toat-beng Ciu-sian-li, Kang-thouw-kwi Gak Liat, dan kedua orang pendeta Lama dari Tibet yang lihai, Thian Tok Lama dan Thian Li Lama! Han Han yang bersembunyi dekat tempat itu dapat melihat jelas dan se­bagian di antara para tamu ada yang telah dikenalnya. Dari fihak Siauw-lim-pai hadir Ceng To Hwesio penjaga kuil Siauw-lim-si yang menjadi sute Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai ditemani dua orang kakek yang setelah Han Han ingat-ingat ternyata ia mengenalnya sebagai dua orang di antara Kang-lam Sam-eng (Tiga Pendekar Kang-lam). Dahulunya tiga pendekar itu adalah Khu Ceng Tiam kakek yang pendek kecil itu, Liem Sian yang tinggi besar, dan orang ke tiga adalah seorang wanita cantik Bhok Khim yang te­lah diperkosa Gak Liat Si Setan Botak dan bahkan yang terakhir bertemu de­ngan Han Han ketika wanita yang men­jadi gila itu membobol kamar penyiksa diri di Siauw-lim-pai dan melarikan diri membawa anaknya. Han Han merasa heran mengapa dalam pertemuan penting ini, hanya Ceng To Hwesio dan dua orang tokoh Siauw-lim-pai bukan pendeta ini yang hadir. Mengapa lima orang tokoh Siauw-lim Chit-kiam tidak hadir pula? Han Han memperhatikan terus para tokoh yang hadir sebagai tamu. Ia melihat pula tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang merupakan tosu-tosu tingkat tiga, tiga orang tosu galak yang pernah bentrok dengan dia dahulu, yaitu Lok Seng Cu dan Bhok Seng Cu, agaknya tiga orang kakek ini mewakili guru mereka, ketua Hoa-san-pai untuk hadir di In-kok-san ini. Selain kedua rombongan wakil Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, masih banyak terdapat wakil-wakil dari partai-partai persilatan lain, bahkan di antara mereka pula orang-orang dari Pek-lian Kai-pang, dan tokoh-tokoh pejuang yang pernah ia jumpai di Se-cuan. Kini dia memperhatikan Nirahai dan makin kagumlah hati Han Han. Be­nar-benar ampt hebat gadis itu. Masih amat muda, wajahnya cantik jelita seperti bidadari, kadang-kadang demikian lembut seperti setangkai mawar yang bergoyang-goyang perlahan terhembus angin, kadang-kadang membayangkan kekerasan yang melebihi baja pilihan. Semuda dan secantik itu telah menjadi seorang pemimpin besar, bahkan kini mengumpulkan para tokoh perjuangan dan para wakil-wakil partai persilatan yang jelas merupakan musuh-musuh besarnya. Demikian beraninya gadis ini! Apa ke­hendaknya mengumpulkan para pejuang yang bagi puteri itu tentu dianggap pem­berontak-pemberontak ini? Diam-diam Han Han merasa khawatir. Puteri ini terkenal cerdik sekali dan ahli siasat yang pandai mengatur tipu-tipu muslihat. Jangan-jangan setelah dikumpulkan di sini, para pejuang dan tokoh partai-partai besar ini akan dibasmi! Han Han berlaku waspada dan siap sedia. Kalau benar se­perti itu siasat Nirahai, biarpun dia sendiri tidak peduli lagi akan perang, ter­paksa dia akan turun tangan menentang kecurangan besar ini! Pada saat itu, agaknya semua tamu telah mengambil tempat duduk dan ter­dengarlah suara lantang akan tetapi mer­du dari mulut Puteri Nirahai. Han Han memandang penuh perhatian dan men­dengarkan dari tempat sembunyi. Ia men­jadi heran mendengar suara gadis jelita itu, karena biarpun gadis itu bukan ber­bangsa Han, akan tetapi suaranya sama sekali tidak kaku, bahkan kata-katanya teratur dengan rapi, tanda bahwa gadis itu memiliki pengertian yang baik ten­tang kesusastraan. “Atas nama Kerajaan Ceng-tiauw yang jaya, kami yang bertugas sebagai wakil kaisar dalam hal ini, menghaturkan banyak terima kasih kepada para locian­pwe dan para enghiong yang telah sudi memenuhi undangan kami untuk datang berkumpul dan bersama-sama menciptakan perdamaian, persahabatan dan kerja sama demi kesejahteraan rakyat jelata!” Han Han mendengarkan dengan kagum. Puteri itu benar hebat. Selain kata-katanya terdengar rapi teratur, juga nadanya membujuk dan memuji-muji orang gagah, suaranya mengandung dasar ketenangan sehingga amat menarik per­hatian mereka yang mendengarnya. Selanjutnya, secara singkat namun padat dan dengan kata-kata teratur baik, puteri itu menjelaskan mengapa pemerintah Kerajaan Mancu mengulurkan tangan untuk mengajak damai dengan para orang gagah, terutama dengan partai-partai besar. Rakyat sudah terlalu lama hidup tertekan dan menderita sengsara akibat perang, katanya. Karena itu, mengapa perang yang menyengsarakan itu dilan­jut-lanjutkan? Lebih baik semua tenaga rakyat dikerahkan untuk membangun demi kesejahteraaan hidup rakyat, di bawah pimpinan pemerintah Ceng yang jaya dan yang memang sudah ditentukan oleh Thian untuk memimpin rakyat jelata mencapai kemakmuran. Sejam lebih puteri itu bicara dengan lancar dan tidak membosankan para pendengarnya. Wajah itu demikian cantik jelita seperti setangkai mawar sedang mekar dengan segarnya, siapakah yang tidak terpikat dan siapakah yang akan bosan memandang? Sepasang mata itu berkilat-kilat penuh semangat dan gairah hidup, bibir yang bergerak-gerak ketika bicara itu demikian manis, semanis kata­-kata yang keluar secara teratur dan indah, seolah-olah gadis itu bukan sedang berpidato melainkan sedang mendeklama­sikan sajak-sajak indah! Tubuhnya agak bergoyang, sesuai dengan sikap kewanitaannya, mengingatkan para pemandangnya akan batang pohon yang-liu terhembus angin musim semi, meliak-liuk dengan lemas dan indahnya. Setelah membeberkan rencana kerja pemerintah dan memberikan janji dengan sumpah bahwa pemerintah tidak akan mengganggu hak milik para tuan tanah dan tidak akan mengganggu milik rakyat, tidak akan memeras rakyat dengan pajak berat seperti yang sudah-sudah dilakukan oleh kaisar-kaisar dahulu, berjanji pula akan menumpas semua kejahatan yang menghimpit penghidupan rakyat, menumpas para pencopet, pencuri, perampok dan mereka yang masih memberontak, terdengar puteri jelita itu berkata.