“Dulu itu.... setelah kita berhasil membasmi Hek-i-mo...., kenapa Suheng lalu tiba-tiba saja meninggalkan aku sendiri?” Sepasang mata yang jeli itu me­mandang tajam penuh selidik, juga penuh dengan teguran dan penyesalan. Mendengar pertanyaan ini, berubah wajah Kam Hong dan dia merasa jan­tungnya terguncang. Dia bangkit berdiri, lalu berjalan perlahan agak menjauh, berdiri termangu-mangu membelakangi batu di mana Ci Sian duduk memandang­nya. Dara ini mengerutkan alisnya, penuh kekhawatiran, lalu ia pun turun dari atas batu, menghampiri suhengnya itu dan bertanya dengan suara lirih, akan tetapi dengan hati penuh ingin tahu, “Suheng, mengapakah?” Ketika Kam Hong membalik dan me­mandang sumoinya, wajahnya berubah agak pucat sehingga mengejutkan hati Ci Sian. Kam Hong lalu memegang kedua tangan sumoinya itu dan sejenak mereka berdiri berhadapan, dengan kedua tangan saling pegang, kedua mata saling pandang, tanpa berkata-kata. Akhirnya Kam Hong berkata, suaranya mengandung getaran aneh. “Sumoi, lihat baik-baik, pria macam apakah suhengmu ini?” Dan Ci Sian memandang. Seorang pria yang gagah perkasa dan ganteng menurut penglihatannya, tenang dan berwibawa, dengan sepasang mata yang mencorong tajam namun mengandung kelembutan. “Suhengku seorang pendekar yang gagah perkasa! Kenapa?” “Ingatkah engkau bahwa dulu, sebelum engkau menjadi sumoiku, engkau menye­butku paman?” “Habis, mengapa?” “Tahukah engkau berasa usiamu seka­rang, Sumoi?” “Usiaku?” Ci Sian tersenyum, merasa bahwa suhengnya ini menanyakan hal yang aneh-aneh saja. “Kalau tidak salah, tahun ini usiaku hampir sembilan belas tahun. Mengapa?” “Dan aku hampir tiga puluh dua ta­hun!” kata Kam Hong, suaranya mengan­dung kesedihan. “Habis mengapa?” “Usia kita selisih tiga belas tahun!” “Lalu, mengapa?”Kam Hong meremas-remas jari tangan itu, tanpa disadarinya karena hatinya terguncang, “Sumoi, Sumoi.... tidak sadar­kah engkau bahwa aku adalah seorang pria yang sudah tua?” Dan Ci Sian tertawa, tertawa geli sambil menutupi mulut dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya masih di­pegang suhengnya. “Wah, dengar ini ka­kek tua renta mengeluh tentang usianya! Aduh kasihan....!” “Harap jangan memperolokku, Sumoi.” “Siapa mengolokmu? Engkau sendiri yang aneh-aneh, Suheng. Siapa bilang engkau sudah tua? Aku sama sekali tidak melihat engkau sebagai seorang pria yang tua.” “Dan engkau baru sembilan belas tahun, masih anak-anak!” “Suheng!” Ci Sian kini menarik semua tangannya dan memandang dengan alis berkerut. “Sekarang engkau yang mem­perolokku! Aku seorang kanak-kanak? Siapa bilang aku masih kanak-kanak? Aku berani melindungi Pangeran dari bahaya, aku berani menghadapi Im-kan Ngo-ok dengan taruhan nyawa, dan engkau me­ngatakan aku masih kanak-kanak? Su­heng, apakah engkau hendak menghinaku?” “Maaf, Sumoi....!” Kam Hong berkata sambil menundukkan mukanya. “Bukan begitu maksudku, akan tetapi aku hendak mengatakan bahwa melihat perbedaan usia antara kita, aku.... terlalu tua un­tukmu, dan karena itulah.... tempo hari itu.... melihat bahwa engkau lebih tepat kalau berdekatan dengan Sim Hong Bu, dia sebaya denganmu, maka aku tidak mau menjadi batu penghalang, aku lalu menjauhkan diri....“ Ci Sian memandang bengong. “Tapi.... tapi.... ah, sungguh aku tidak mengerti, Suheng.... Mengapa demikian? Mengapa engkau meninggalkan aku dan apa artinya engkau mengatakan bahwa aku lebih tepat berdekatan dengan Hong Bu? Me­mang dia mencintaku, dia menyatakan bahwa dia jatuh cinta padaku, akan teta­pi apakah hal itu mengharuskan aku mendekatkan diri dengannya? Aku tidak mencintanya Suheng. Aku.... lebih senang berada di sampingmu daripada di samping siapapun juga di dunia ini! Karena itu, jangan engkau bertega hati, jangan eng­kau menyiksaku, jangan lagi tinggalkan aku seorang diri.” “Ci Sian, tidak ada pertemuan yang tidak berakhir dengan perpisahan.” “Aku tidak ingin berpisah darimu, Suheng. Untuk selamanya!” “Tidak mungkin, pada suatu waktu engkau harus menikah dan kita harus saling berpisah.” “Aku tidak akan menikah dengan siapapun juga! Dan engkau jangan menikah, Suheng, kita takkan pernah berpisah lagi....“ Kam Hong memegang kedua tangan itu lag! dan sampai lama keduanya hanya berdirik saling pandang, dengan hati yang tergetar aneh. Kam Hong lalu menggan­deng tangan itu dan berkata, “Mari kita cari Sang Pangeran jangan sampai beliau tertimpa malapetaka....” “Tapi kau berjanji dulu tidak akan meninggalkan aku, Suheng.” “Aku berjanji.” “Sumpah?” “Sumpah!” Keduanya lalu melanjutkan perjalanan dengan menunggang dua ekor kuda yang tadi dttunggangi Ci Sian dan Pangeran Mahkota. Suara derap kaki kuda mereka memecahkan kesunyian lereng bukit itu. Betapa anehnya asmara! Membuat dua orang manusia, seorang wanita dan se­orang pria, merasa saling tertarik dan saling terikat oleh sesuatu yang tidak mereka ketahui apa. Yang terasa hanyalah bahwa mereka itu ingin selalu saling berdekatan, saling bermesraan, dan mera­sa sengsara kalau berpisah. cinta asmara antara pria dan wanita adalah sesuatu yang penuh rahasia, dan di dalam cinta asmara ini, mereka berdua hanyalah manusia-manusia, pria dan wanita, yang saling tertarik dan saling mengasihi. Cinta tidak mengenal perbedaan usia, tidak mengenal perbedaan suku atau kedudukan, tidak mengenal agama atau paham kepercayaan yang berbeda. Pen­deknya, cinta meniadakan semua perbedaan antara mereka, yang penting bagi cinta adalah manusianya. Sedangkan se­mua yang lain hanyalah embel-embel saja. Kebijaksanaan yang membuat Kam Hong meragu, melihat perbedaan usia di antara mereka. Akan tetapi, mampukah kebijaksanaan menandingi cinta? Cinta membuat segala hal mungkin saja terjadi. Bukan usia, bukan harta, bukan agama yang menentukan, melainkan manusianya. Dan dua insan yang saling mencinta itu pun tertarik oleh manusianya, bukan embel-embelnya karena kalau tertarik oleh embel-embelnya, maka itu bukan cinta namanya! *** Ke manakah perginya Pangeran Kian Liong? Toa-ok telah melihat berkelebat­nya beberapa orang yang disusul dengan lenyapnya Sang Pangeran. Dan memang benar demikianlah. Selagi tiga orang datuk kaum sesat itu mengeroyok Ci Sian, muncullah tiga orang yang bergerak cepat, lalu mereka itu menyambar tubuh Sang Pangeran, menotoknya dan melari­kannya dengan cepat sekali. Mereka ber­tiga ternyata mempergunakan ilmu berlari cepat, membuat Pangeran Kian Liong merasa seperti diterbangkan saja. Pange­ran ini tahu bahwa kembali dia telah ditawan dan dilarikan orang, entah dari golongan mana. Akan tetapi Pangeran ini tidak merasa takut. Kiranya yang menculik Pangeran itu adalah tiga di antara para pendekar Siauw-lim-pai yang delapan orang ba­nyaknya itu, yang telah diselamatkan oleh Sang Pangeran dari kepungan pasu­kan pada waktu Siauw-lim-si dibakar. Mereka membawa Sang Pangeran kepada sebuah kereta yang sudah dipersiapkan oleh kawan-kawan mereka, lalu melarikan Pangeran menuju ke timur. “Harap Paduka tidak khawatir. Kami memang menawan Paduka, akan tetapi hal ini kami lakukan bukan karena ke­bencian pribadi. Kami adalah patriot-patriot bangsa Han, harap Paduka me­maklumi keadaan kami,” kata seorang di antara mereka dengan sikap hormat. Pangeran Kian Liong hanya tersenyum mengangguk. “Ke manakah kalian hendak membawaku?” tanyanya. “Kepada pimpinan kami di kota Cin-an, jawaban singkat ini diterima oleh Sang Pangeran tanpa banyak cakap lagi. Malah kebetulan, pikirnya. Dia kelak akan men­jadi kaisar, maka dia pun harus tahu benar tentang seluk-beluk mereka yang menganggap diri mereka sebagai para patrtiot ini. Kelak, mau tidak mau, dia­lah yang akan berhadapan dengan mereka ini. Dan dia pun perlu melakukan pen­dekatan, agar selain mengetahui keadaan mereka lahir batin, juga dia akan dapat bicara dengan mereka, terutama sekali para pemimpinnya. Jadi Cin-an, di Pro­pinsi Shantung itu sarang mereka? Perjalanan ke Cin-an itu bukan dekat, akan tetapi di sepanjang perjalanan, tiga orang pendekar Siauw-lim-pai itu bersikap sopan dan baik. Diam-diam Sang Pangeran memperhatikan dan dia mem­peroleh kenyataan bahwa gerakan mereka yang menamakan dirinya para patriot Han itu belumlah meluas, yaitu belum memperoleh banyak dukungan rakyat. Buktinya, di sepanjang perjalanan mereka itu merahasiakan perjalanan itu dan tidak pernah mereka menghubungi rakyat yang membantu mereka. Namun, harus dike­tahui bahwa mereka itu bersikap hati-hati sekali dan agaknya banyaknya te­man-teman mereka yang diam-diam men­jadi penyelidik dan pelindung sehingga perjalanan kereta itu tidak pernah men­dapat gangguan. Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, akhirnya ke­reta memasuki kota Cin-an di Propinsi Shantung, langsung memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar dan kuno. Kereta itu terus bergerak masuk ke bela­kang melalui jalan samping sehingga tidak nampak lagi dari depan. Sang Pangeran dipersilakan turun, lalu diiringkan mema­suki rumah besar melalui pintu belakang. Ruangan di dalam rumah besar kuno itu luas sekali. Ketika Pangeran Kian Liong memasuki ruangan itu, dia meman­dang ke kanan kiri dengan penuh perhatian. Ruangan itu nampak sunyi karena tidak ada suara, akan tetapi ternyata di situ duduk banyak orang. Laki-laki dan wanita-wanita yang kelihatan penuh se­mangat dan gagah perkasa. Lima orang pendekar Siauw-lim-pai yang lain hadir pula di situ, jadi lengkap delapan orang dengan yang membawanya ke situ. Nam­pak pula beberapa orang hwesio, bahkan ada pula yang berpakaian seperti tosu. Akan tetapi yang terbanyak adalah pria-pria berpakaian seperti pendekar. Mereka duduk di atas bangku-bangku tidak ter­atur, akan tetapi semua menghadap kepa­da seorang laki-laki setengah tua yang usianya kira-kira lima puluh tahun namun masih nampak tampan dan gagah. Ada beberapa orang duduk di dekat pria ini, termasuk tiga orang wanita cantik setengah tua. Pangeran Kian Liong segera mengenal pria gagah ini, dan dia pun dipersilakan untuk duduk berhadapan dengan pria gagah yang agaknya menjadi pimpinan para patriot di tempat itu. Di antara orang-orang yang duduk di dekat pria gagah itu, nampak pula seorang pemuda yang kelihatan lebih gagah lagi, bersama seorang dara yang menggunakan pakaian pria sehingga nampaknya sebagai seorang pemuda yang amat tampan. Akan tetapi sekali pandang saja tahulah Sang Pangeran bahwa pemuda yang amat tam­pan itu adalah seorang gadis.  “Ah, selamat datang, Pangeran!” kata pria tua yang gagah itu sambil bangkit berdiri memberi hormat, suaranya halus dan ramah, juga sikapnya menghormat. “Maafkan kalau kami membuat Paduka banyak kaget dan lelah, akan tetapi kami girang bahwa Paduka tiba di sini dalam keadaan sehat dan selamat.” Pangeran Kian Liong tersenyum, se­perti biasa sikapnya tenang sekali dan yang mengagumkan para patriot adalah bahwa Pangeran ini biarpun masih amat muda, namun sikapnya seperti seorang dewasa yang menghadapi sekelompok anak nakal saja. “Silakan duduk, Pangeran,” kata pula pria tua gagah itu. “Terima kasih, Bu-taihiap,” jawab Sang Pangeran sambil duduk dan meman­dang ke sekeliling. Sedikitnya ada dua puluh lima orang di dalam ruangan yang luas itu, kesemuanya adalah orang-orang yang bersikap gagah. Diam-diam dia merasa amat sayang bahwa orang-orang gagah seperti ini sekarang berdiri ber­hadapan dengan dia sebagai orang-orang yang memusuhinya, atau setidaknya me­musuhi kerajaan ayahnya. “Kalau boleh aku bertanya, mengapa dalam waktu singkat saja terjadi perubahan besar dan sikap Bu-taihiap menjadi berlawanan? Ketika aku hendak ditangkap Im-kan Ngo-ok, Bu-taihiap melindungiku, dan se­karang Bu-taihiap menawanku sebagai musuh. Apa artinya semua ini?” Bu Seng Kin atau Bu-taihiap, terse­nyum lebar dan kelihatan semakin gan­teng biarpun usianya sudah setengah abad. “Tidak perlu diherankan, Pangeran, karena semua itu hanya menjadi akibat dari keadaan Pangeran dan Kaisar yang juga berlawanan. Kalau tempo hari kami menyelamatkan Paduka, hanyalah karena kami hendak menolong seorang pangeran yang bijaksana dari ancaman penjahat-penjahat macam Im-kan Ngo-ok. Dan kalau sekarang kami terpaksa menawan Paduka adalah karena kami adalah pa­triot-patriot dan Paduka adalah putera mahkota.” Pangeran muda itu mengangguk-ang­guk. “Aku dapat mengerti, Bu-taihiap. Lalu, setelah aku ditawan dan dibawa sini, apakah yang hendak kalian lakukan terhadap diriku?” “Tentu Paduka tidak mau menerima kalau kami mengatakan bahwa ayah Pa­duka, Sri Baginda Kaisar Yung Ceng, telah melakukan banyak sekali kejahatan dan kelaliman, bertindak sewenang-we­nang terhadap para orang gagah?” “Aku maklum apa yang kaumaksudkan, akan tetapi bagaimanapun juga, pada waktu ini, aku hanya seorang Pangeran Mahkota dan seluruh kekuasaan mutlak berada di tangan Kaisar.” “Kaisar telah melakukan tindakan sewenang-wenang, bahkan baru-baru ini telah membasmi dan membakar biara Siauw-lim-si. Tentu Paduka mengetahui­nya, bahkan juga Paduka menyaksikannya dan Paduka pula yang menyelamatkan delapan orang pendekar Siauw-lim-pai.” “Aku sudah tahu akan semua itu. Lalu apa kehendakmu?” “Kaisar bukan seorang penguasa yang baik, dan menambah dendam dan sakit hati para pendekar yang sejak dahulu tidak rela membiarkan tanah air dan bangsa dicengkeram penjajah Mancu. Harap Paduka maafkan kalau kami bicara sejujurnya, karena Paduka adalah seorang yang juga memiliki kegagahan dan kebi­jaksanaan.” Pangeran Kian Liong kembali terse­nyum, bukan tersenyum pahit, sama se­kali tidak membayangkan perasaan sakit mendengar ucapan itu, melainkan tersenyum maklum akan “kenakalan” anak-anak di sekelilingnya. “Nanti dulu, Bu-taihiap. Yang dinama­kan penjajah itu adalah kalau satu nega­ra menjajah negara lain, satu bangsa menjajah bangsa lain. Akan tetapi kurasa bangsa Mancu tidak mempunyai negara lain kecuali di sini, dan bangsa Mancu sekarang pun sudah tidak ada dan menjadi satu dengan bangsa Han! Aku sendiri, sebagai Pangeran, sama sekali tidak merasa sebagai bangsa Mancu, tanah air­ku di sini dan negaraku juga di sini. Memang pada mulanya, bangsa Mancu yang merupakan bangsa Nomad itu me­nyerbu ke selatan dan karena kelemahan dan kesalahan bangsa Han sendirilah, yang tidak ada persatuan, sering berke­lahi sendiri, dan Kaisar amat lemah, para pembesarnya tidak ada yang jujur dan setia, semua tukang korup, maka akhirnya bangsa Mancu menjatuhkan Kai­sar yang berkuasa dan selanjutnya sampai sekarang memimpin bangsa Han untuk membangun negara. Akan tetapi aku bukan membela kerajaan Ayahku, sama sekali tidak, hanya bicara menurut ke­nyataan saja. Memang, Ayahku telah menyeleweng, menyerbu Siauw-lim-si dan semua itu dilakukan hanya karena urus­an-urusan pribadi. Ayah telah menjadi lemah pula dan hal ini amat kusesalkan. Kalau aku menjadi kaisar, semua hal yang bengkok pasti akan kubikin lurus, dan niatku hanya ingin memajukan bang­sa, membangun negara dan mendatangkan kemakmuran bagi rakyat jelata.” Semua patriot mendengarkan dengan alis berkerut. Mereka semua tahu bahwa Pangeran ini memang amat bijaksana dan andaikata Pangeran ini yang menjadi kaisar, agaknya keadaan pun akan beru­bah. Akan tetapi kenyataannya sekarang, Kaisar Yung Ceng telah menimbulkan dendam di hati para pendekar dan pa­triot. “Kami dapat percaya apa yang Padu­ka katakan, akan tetapi kenyataan seka­rang ini amat pahit bagi kami, dan Pa­duka masih belum menjadi kaisar. Oleh karena itu, kami harus bertindak, dan tidak mungkin kami diam saja membiar­kan Kaisar melakukan kelaliman sambil menanti Paduka menggantikannya.” “Hemm, Bu-taihiap, katakan saja. Apa yang hendak kalian lakukan kepadaku? Membunuhku? Aku tidak takut mati. Akan tetapi jangan harap dapat memak­saku memberontak terhadap Ayah dan pemerintahku sendiri.” Bu Seng Kin tertawa. “Kami pun tidak begitu bodoh, Pangeran. Mana mungkin kami mengharapkan Paduka, seorang Pangeran Mancu, memberontak terhadap Kerajaan Mancu sendiri? Tidak, kami cukup menghargai sikap Paduka yang baik dan kami percaya bahwa Pa­duka akan menjadi kalsar yang paling bijaksana di antara semua Kaisar Mancu yang pernah ada.” “Lalu apa kehendak kalian sekarang?” “Kami tidak akan mengganggu Padu­ka, hanya untuk sementara ini terpaksa Paduka kami tahan dulu sebagai sandera. Dengan Paduka sebagai sandera, kami hendak mengajukan tuntutan kepada Sri Baginda Kaisar, dan sebelum tuntutan kami dipenuhi, Paduka tidak akan kami bebaskan.” Pangeran itu tetap saja bersikap te­nang. “Apakah adanya tuntutan-tuntutan kalian, kalau boleh aku tahu?” “Tuntutan pertama, agar biara Siauw-lim-si yang telah dibakar itu dibangun kembali. Ke dua, agar semua pendekar Siauw-lim-pai dan para pendekar lain, patriot-patriot bangsa, tidak dikejar-kejar dan dibebaskan dari tuduhan memberon­tak. Ke tiga, agar bangsa Han diperlaku­kan sama rata dengan orang-orang Mancu dan ke empat, agar para pendekar diberi kebebasan untuk membawa senjata guna bekal dan perlindungan diri di waktu mengadakan perjalanan jauh.” Pangeran Kian Liong mengangguk-angguk. “Tuntutan yang cukup patut, hanya yang nomor dua itu harus ada pelaksanaan timbal-balik. Kalau para patriot tidak ingin dikejar dan dianggap memberontak tentu saja mereka jangan melakukan gerakan memberontak. Aku akan ikut membujuk Kaisar untuk melak­sanakan tuntutan-tuntutan kalian itu.” Semua patriot yang berkumpul di situ merasa lega dan girang. Kalau tuntutan-tuntutan mereka dipenuhi, tentu saja tidak ada alasan bagi mereka untuk memberontak. Pemberontakan bukanlah soal yang mudah. Untuk memberontak terhadap kerajaan yang demikian kuatnya, harus mempunyai ratusan ribu orang pasukan dan perlengkapan yang besar. Kalau hanya sekelompok pendekar saja, mana mungkin dapat melakukan pemberontakan? Demikianlah, mulai hari itu, Sang Pangeran diperlakukan sebagai seorang agung walaupun dia tidak mempunyai kebebasan dan menjadi tawanan. Siang malam dikawal dan dijaga, dan Bu-tai­hiap lalu mengirim utusan dan surat kepada Kaisar untuk menyampaikan tun­tutannya. Tentu saja tempat di mana Pangeran ditahan itu amat dirahasiakan.Pemuda gagah perkasa dan gadis ber­pakaian pria yang duduk di dekat Bu-taihiap ketika Pangeran Mahkota diha­dapkan itu adalah Sim Hong Bu dan Cu Pek In! Bagaimanakah kedua orang dari Lembah Suling Emas yang kini berubah nama menjadi Lembah Naga Siluman itu dapat tiba di tempat itu dan bergabung dengan para patriot? Untuk mengetahui hal ini, mari kita ikuti perjalanan pemu­da Sim Hong Bu, pewaris dari ilmu mujijat keluarga Cu di Lembah Naga Silu­man. Pemuda inilah satu-satunya orang yang mewarisi Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang hebat, bahkan pedang pu­saka itu pun kini berada di tangannya, lalu disembunyikan di balik bajunya yang panjang Seperti telah kita ketahui, Sim Hong Bu secara kebetulan bertemu dengan Ci Sian ketika dia muncul membantu dara itu menghadapi Hek-i Mo-ong yang amat lihai itu. Kemudian, karena diam-diam Kam Hong pergi, maka Ci Sian melaku­kan perjalanan bersama Sim Hong Bu. Akan tetapi, sebentar saja terjadi per­cekcokan ketika Ci Sian mendengar bah­wa Sim Hong Bu yang mewakili Lembah Naga Siluman dan keluarga Cu, kalau bertemu dengan Kam Hong hendak me­nantang Kam Hong mengadu ilmu, yaitu mengadu Ilmu Padang Kim-siauw Kiam-sut melawan ilmunya, Koai-liong Kiam-sut, Mendengar ini, Ci Sian marah-marah dan menantang Hong Bu, bahkan lalu menyerangnya sehinga terjadi pertandingan seru di mana Hong Bu mengalah. Ci Sian meninggalkannya dan pemuda ini berduka sekali. Dia telah jatuh cinta ke­pada Ci Sian semenjak perjumpaannya dahulu, beberapa tahun yang lalu ketika Ci Sian masih seorang dara kecil di pe­gunungan yang tertutup salju. Semenjak itu dia tidak pernah dapat melupakan Ci Sian, dan pertemuan terakhir ini menimbulkan kekaguman hebat melihat betapa dara itu telah menjadi seorang pendekar wanita. yang amat lihai. Kekaguman yang mempertebal cintanya dan yang membuatnya tanpa ragu-ragu lagi menyatakan cintanya kepada dara itu. Akan tetapi, dara itu agaknya membencinya! Karena dia adalah pewaris Koai-liong Po-kiam dan dia dianggap musuh besar dari Kam Hong, suheng dara itu, Hong Bu merasa sedih sekali. Perasaan duka delam hati seorang pe­muda yang merasa ditolak cintanya memang amat menyiksa. Segala sesuatu tampak hampa dan hidup rasanya hambar. Kegembiraan lenyap dan yang ada hanya perasaan iba duka yang semakin besar. Dalam keadaan seperti ini, Hong Bu melanjutkan perjalanannya. Dia merasa seperti sebuah boneka hidup yang hidup­nya hanya untuk melaksanakan tugas belaka. Tugasnya adalah pertama-tama, menyelamatkan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam agar jangan sampai terampas oleh utusan Kaisar yang mencari dan mengejarnya sebagai buronan. Ke dua, dia harus mencari Kam Hong untuk mempertahankan nama keluarga Cu dan untuk menyatakan bahwa Ilmu Koai-liong Kiam-sut tidak kalah oleh Ilmu Kim-siauw Kiam-sut. Dan juga, dia harus menebus kekalahan para gurunya itu dari tangan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Pada suatu hari yang amat panas, lewat tengah hari, Hong Bu duduk ber­istirahat di bawah sebatang pohon yang rindang. Keteduhan di bawah sebatang pohon terasa nikmat sekali setelah dia tadi terpanggang di dalam terik matahari, membuatnya mengantuk. Akan tetapi dia tidak tidur, melainkan melamun. Ter­bayanglah di pelupuk matanya tentang perubahan dirinya dan keadaannya. Da­hulu, ketika dia masih menjadi seorang pemburu biasa, tanpa ilmu yang tinggi, hanya seorang pemburu kasar biasa, ke­hidupannya selalu penuh dengan kegem­biraan. Menyusuri jejak binatang saja sudah mendatangkan kegembiraan tersen­diri. Lalu dalam keadaan berburu sudah mendatangkan ketegangan dan kegembira­an yang penuh harapan. Apalagi kalau dia berhasil merobohkan binatang buruan­nya, girangnya bukan main. Dilanjutkan dengan penjualan hasil buruan, juga mendatangkan kegembiraan tertentu. Dan sekarang? Sekarang jauh berbeda daripada da­hulu. Dia kini bukan seorang pemburu kasar biasa lagi. Dia seorang ahli waris ilmu silat tinggi yang tiada keduanya di dunia. Dia telah menjadi seorang ber­ilmu, seorang pendekar! Katakanlah dia telah maju! Akan tetapi bagaimana jadi­nya? Lenyaplah kegembiraan hidup seper­ti yang dirasakannya ketika dia masih menjadi seorang pemburu kasar dan bo­doh. Kini dia menjadi seorang yang mempunyai banyak musuh! Lenyaplah semua kebahagiaan, Lenyaplah semua ketenteraman. Dia dikejar-kejar dan dibe­bani tugas berat. Dan lebih dari itu ma­lah, dia berjumpa dengan Ci Sian hanya untuk patah hati! Sedih hatinya, dan orang yang berduka biasanya memang selalu mudah mengantuk. Dalam keduka­an, orang membuang dan menghamburkan banyak sekali kekuatan batin, maka mu­dah membuatnya mengantuk. Tanpa disa­darinya, sambil bersandar batang pohon, Hong Bu pun tertidur. Kebanyakan dari kita saling berlumba untuk mengejar yang kita namakan KEMAJUAN. Semenjak masih kecil seka­li, sejak duduk di kelas nol, kita dido­rong dan dibentuk oleh orang-orang tua kita dan oleh guru-guru kita untuk men­cari kemajuan. Angka-angka di buku laporan sekolah menunjukkan apakah kita maju ataukah tidak, dan kemajuan selalu dianggap sebagai sesuatu yang amat baik, menjadi tujuan kita sejak kecil sehingga setelah kita dewasa, tak mungkin lagi kita terlepas dari kehausan akan apa yang kita namakan kemajuan itu. Apakah yang sesungguhnya yang kita namakan kemajuan? Dalam buku laporan sekolah, angka-angka kita menunjukkan bahwa kemajuan adalah apabila angka-angka kita lebih baik daripada yang sudah. Jadi kemajuan tampak setelah ada perbandingan. Sekarang kelas satu, lain tahun kelas dua, itu namanya maju. Se­karang berpenghasilan sepuluh rlbu rupiah sebulan, lain waktu dua puluh lima ribu rupiah, itu namanya kemajuan! Si A lebih maju daripada si B dan si C lebih maju lagi. Semua orang berlari, berlumba un­tuk mencapai apa yang kita namakan kemajuan. Jadi kemajuan adalah suatu keadaan yang kita anggap lebih baik daripada keadaan lain yang sudah ada. Bukankah demikian? Lebih dari itu. Kemajuan kita anggap sebagai sesuatu yang jauh lebih baik, lebih menyenang­kan, lebih enak, pendeknya lebih menda­tangkan kesenangan dalam hati kita. Oleh karena itulah maka kita berlumba untuk mengejar kemajuan. Akan tetapi, benarkah demikian ke­adaannya? Benarkah kemajuan akan mendatangkan kesenangan dan kepuasan? Memang, tujuan yang tercapai menda­tangkan kepuasan dan kesenangan, akan tetapi hanya sejenak saja. Penyakit yang sudah mendarah daging pada diri kita, yaitu mencari kemajuan, akan timbul pada saat kita telah mencapai sesuatu yang kita kejar-kejar itu, yaitu mencari kemajuan lain yang lebih menyenangkan daripada apa yang kita capai. Diberi sejengkal ingin sehasta, ingin sedepa, ingin yang lebih panjang lagi. Dan kita terseret ke dalam saluran keinginan un­tuk maju ini sampai kita masuk lubang kubur. Ini pun tidak menjadi soal kalau saja kita tidak melihat bahwa dalam pelaksanaan pengejaran suatu cita-cita, pengejaran ambisi, pengejaran sesuatu atau suatu keadaan yang kita inginkan, menimbulkan tindakan-tindakan yang ka­dang-kadang merupakan penyelewengan. Untuk dapat maju, kadang-kadang kita tidak segan untuk mendorong orang lain, untuk melangkahi orang lain, mendahului orang lain. Bahkan tidak jarang, untuk mencapai apa yang kita cita-citakan, apa yang menjadi tujuan kita, maka kita mempergunakan segala daya upaya, tidak peduli lagi apakah daya upaya itu benar ataukah tidak. Maka, dapatlah kita lihat keadaan di sekeliling kita. Mengejar “kemajuan dalam harta” menimbulkan korupsi, penyelundupan, perdagangan morphin dan sejenisnya, perdagangan gelap, pencopetan dan banyak lagi peker­jaan kotor lain. Pengejaran “kemajuan dalam kedudukan” menimbulkan perebutan kekuasaan yang menyeret orang banyak ke dalam permusuhan, jegal-menjegal, bahkan dapat memuncak sampai berbu­nuh-bunuhan. Mengapa kita harus mengejar kemaju­an? Sampai di manakah batas kemajuan itu? Kalau kita mempelajari sesuatu, kalau kita mengerjakan sesuatu, mengapa harus ada dorongan untuk memperoleh kemajuan? Apakah untuk memperoleh hasil baik dalam sesuatu yang kita kerjakan itu harus didasari hasrat untuk maju? Ke manakah minat dan rasa cinta kita kepada apa yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan? Dengan minat dan rasa cinta, maka pikiran untuk memper­oleh kemajuan tidak dipedulikan lagi! Si A dan si B berdagang kuih yang mereka buat sendiri. Usaha mereka se­rupa, dengan modal yang sama. Si A membuat kuih dengan penuh minat dan penuh rasa cinta kepada pekerjaannya. Si B membuat kuih dengan penuh keinginan untuk memperoleh “kemajuan” yang dalam hal ini tentu saja agar banyak laku dan banyak untung, terutama sekali banyak untung dan lekas memperoleh hasil besar. Siapakah di antara mereka yang akan menghasilkan kuih yang baik? Si A tentu saja. Minatnya dan rasa cin­tanya terhadap pekerjaannya akan mem­buat dia melakukan pekerjaannya, mem­buat kuih dengan tekun, sebaik mungkin, selezat mungkin atau dalam istilah dagangannya, menjaga mutu yang utama, sedangkan soal keuntungan tidak mem­buat dia buta. Sebaliknya si B yang ingin lekas mendapatkan hasil banyak, mungkin saja mengurangi gulanya, mengurangi mutu bahannya, agar kalkulasi lebih ren­dah, agar untung lebih banyak, dan tentu saja dia akan membuat secepat dan sebanyak mungkin. Nah, jelas nampak perbedaan antara perbuatannya yang didorong oleh keinginan maju dan peker­jaan atau perbuatan yang didorong oleh minat dan cinta terhadap apa yang di­lakukannya. Mengapa kita tidak menanamkan cinta ini kepada anak-anak, agar mereka itu mencintai apapun yang mereka lakukan atau kerjakan? Mengapa selalu meng­iming-imingi mereka dengan pujian, ke­majuan, lebih pintar daripada anak lain, lebih menang daripada anak lain? Menga­pa menanamkan benih persaingan dan, ingin selalu paling tinggi dalam batin mereka yang masih bersih dan murni itu? Hong Bu yang tertidur pulas di bawah pohon menjadi terkejut, seolah-olah ada yang menggugahnya. Dia terkejut oleh kenyataan bahwa dia tertidur tanpa disadarinya itu, suatu hal yang amat tidak baik bagi seorang ahli silat, apalagi ka­lau di mana-mana terdapat musuh dan bahaya. Dia pun meloncat dan meman­dang ke kanan kiri. Tiba-tiba telinganya mendengar suara beradunya senjata. Ada orang-orang sedang berkelahi, pikirnya. Cepat dia pun menyambar bungkusan pa­kaiannya dan larilah dia ke arah suara itu, suara orang-orang berkelahi, di da­lam hutan. Ketika dia tiba di tempat itu, dia semakin terkejut mengenal seorang pe­muda yang amat tampan sedang dikero­yok oleh belasan orang yang dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar yang daun telinga sebelah kirinya buntung. Tentu saja dia mengenal pemuda tampan itu yang bukan lain adalah Cu Pek In! Dia terheran mengapa Cu Pek In dapat berada di tempat itu, padahal jaraknya dari lembah di mana dara itu tinggal terpisah ribuan lie jauhnya. Cu Pek In menggunakan sebatang pedang untuk melawan. Semenjak lembah itu meninggal­kan nama Lembah Suling Emas dan ber­ganti nama menjadi Lembah Naga Si­luman, Cu Pek In juga tidak lagi mau mempergunakan suling emas untuk sen­jata. Ia sudah mengganti suling emasnya dengan sebatang pedang yang baik karena memang di lembah itu banyak terdapat senjata yang baik, dan ia tidak kaku memainkan pedang karena selain sejak kecil Pek In menerima gemblengan ayah­nya sendiri dengan berbagai macam ilmu silat dengan senjata apapun, juga ge­rakan sulingnya sesungguhnya merupakan gerakan pedang pula. Akan tetapi, belasan laki-laki yang mengeroyok Pek In itu adalah orang-orang kasar yang semua memiliki kepan­daian lumayan dan tenaga besar. Ter­utama sekali pemimpin mereka yang buntung daun telinga kirinya itu, sungguh merupakan lawan yang tangguh. Dara yang berpakaian pria itu mulai terdesak dan terkurung rapat. dan karena Si Telinga Buntung itu memainkan sepasang goloknya dengan hebat, maka Pek In tidak diberi kesempatan lagi untuk me­robohkan anak buahnya, melainkan ter­paksa memutar pedang hanya untuk melindungi tubuh dari hujan serangan senja­ta para pengeroyoknya itu. Melihat su­moinya terdesak dan terancam bahaya, apalagi melihat Si Telinga Buntung itu lihai sekali, Hong Bu menjadi marah. Cepat dia mencabut Koai-liong-kiam yang tersembunyi di balik jubahnya dan sekali dia meloncat dan menggerakkan senjata pusakanya, nampak sinar biru yang me­nyilaukan mata dan biarpun, kepala pe­rampok telinga buntung itu berusaha memapakinya dengan sepasang goloknya, seketika goloknya itu terbabat putus dan sinar biru yang menyambar itu menembus lehernya. Sinar itu terus menyambar-nyambar dan dalam waktu singkat saja, robohnya kepala rampok yang lehernya tertembus sinar pedang itu disusul oleh enam orang anak buahnya. Melihat ini, sisa para perampok menjatuhkan diri ber­lutut dan minta-minta ampun. Akan te­tapi Pek In mengamuk dan merobohkan mereka semua. Hong Bu cepat mence­gahnya, akan tetapi dalam amukannya, dara itu telah membunuh lima orang, dan hanya ada empat orang lagi saja yang sempat diselamatkan Hong Bu dan me­reka hanya mengalami luka-luka oleh pedang Pek In! Setelah semua perampok roboh, barulah Pek In membalik dan menghadapi Hong Bu. Mereka berdiri saling berpan­dangan, dan kemudian terdengar Pek In terisak menangis. “Suheng, kau.... kau kejam sekali.... uhu-hu-huuuuh....“ Hong Bu memandang heran. Baru saja dia hendak menegur dan mengatakan betapa kejamnya sumoinya hendak mem­bunuh lawan yang sudah mengaku kalah dan minta ampun, malah didahului oleh dara itu yang menangis dan mengatakan­nya kejam sekali! “Sumoi, apa maksudmu mengatakan aku kejam?” Mendengar pertanyaan ini, Pek In menangis semakin terisak-isak. Hong Bu yang melihat betapa empat orang ang­gauta perampok yang belum tewas, hanya terluka itu, mengerang kesakitan akan tetapi juga dapat mendengar percakapan mereka, lalu menggandeng tangan Pek In dan dara itu ditariknya pergi dari situ. “Mari kita bicara di tempat lain, Sumoi....” katanya. Pek In masih mena­ngis dan membiarkan dirinya digandeng dan dibawa ke tempat lain, agak jauh dari tempat para perampok menggeletak itu. “Nah, katakanlah mengapa aku ke­jam?” “Suheng.... kau.... pergi begitu saja meninggalkan aku.... hu-huuuuh, aku telah mencari-carimu setengah mati, berbulan-bulan lamanya.... sampai aku hampir putus harapan.... hu-hu-hu.... kenapa engkau begitu kejam meninggalkan aku....?” Melihat dara yang biasanya amat tabah dan belum pernah dilihatnya me­nangis itu kini sesenggukan, Hong Bu merasa kasihan juga. Dara ini ditinggal ayahnya yang mengasingkan diri sebagai pertapa, dan dia tahu bahwa dara ini amat dekat dengan dia, maka setelah dia pergi, memang seolah-olah Pek In hidup sendirian saja di lembah yang sunyi itu. Karena merasa kasihan, maka dia lalu merangkul gadis itu dan mengelus rambutnya. Merasa betapa pemuda itu merangkul dan mengelus rambutnya, Pek In mena­ngis makin keras dan ia pun balas me­rangkul dan menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu. “Suheng.... aku cinta padamu, Suheng.... aku tidak mau terpisah darimu lagi.... lebih baik aku mati saja daripada harus berjauhan darimu....“ Bukan main kagetnya hati Hong Bu mendengar ini. Memang dia tahu bahwa gadis ini mencintanya, akan tetapi kalau gadis ini akan terus bersamanya, tidak mungkin pula, dia mencinta Ci Sian, bukan gadis ini. Akan tetapi dengan ha­lus dia melepaskan rangkulannya dan memegang kedua pundak gadis itu, men­dorongnya perlahan dan sambil memegang kedua pundak itu dengan lengan dilurus­kan, dia memandang wajah yang manis dan basah air mata itu. Gadis ini masih terisak, sesenggukan. “Sumoi, dengarlah baik-baik. Bukan aku tidak suka kalau engkau ikut de­nganku, akan tetapi engkau tentu tahu bahwa aku mempunyai tugas yang luar biasa beratnya dan berbahayanya. Per­tama, aku menjadi orang buruan dan dikejar-kejar oleh utusan Kaisar yang amat sakti. Engkau sendiri tahu betapa ayahmu dan Susiok Cu Seng Bu yang demikian saktinya, tidak mampu menan­dingi Pendekar Sakti Gurun Pasir. Dan aku dicari oleh pendekar itu dan isteri­nya dan puteranya, jenderal muda yang juga amat lihai. Ke dua, aku harus me­nebus kekalahan para guru dari Naga Sakti Gurun Pasir, tugas yang amat berat dan berbahaya. Ke tiga, aku harus menebus kekalahan Suhu dari Suling Emas Kam Hong. Nah, bagaimana engkau dapat ikut denganku? Membela diri sen­diri saja sudah amat berat bagiku, apa­lagi harus melindungi engkau?” “Aku tidak akan mengganggumu, Su­heng. Engkau tidak perlu melindungi aku, karena aku dapat membela diri sendiri. Kalau perlu, jangan kaucari mereka, pen­deknya, terserah apa saja yang hendak kaulakukan, tapi aku tidak mau kauting­gal lagi, tidak mau aku berpisah darimu.”“Tapi, Sumoi, Suhu akan marah kepa­daku. Engkau harus kembali ke lembah Sumoi. Aku berjanji, kalau sudah selesai semua urusan dan tugasku, aku pasti akan kembali ke sana....”  “Tidak, aku tidak mau kembali ke tempat yang sunyi itu. Aku bisa mati kesepian di sana, tanpa engkau. Aku ingin mati hidup bersamamu, Suheng.” “Ahh....!” Hong Bu menjadi bingung sekali. Dia tahu bahwa Pek In adalah seorang gadis yang keras hati dan yang sejak kecil terlalu dimanja oleh ayahnya sehingga apapun yang diinginkannya, ha­rus terlaksana! Kalau dia menolak, tentu Pek In akan marah dan sukar dibayang­kan apa yang akan dilakukan oleh gadis yang keras hati ini. Dia lalu berjalan pergi dari situ dengan muka tunduk, maklum bahwa gadis itu mengikutinya dari belakang. Sampai lama mereka berjalan tanpa berkata-kata. Akhirnya Pek In memper­cepat langkahnya berjalan di samping suhengnya dan menyentuh lengan suheng­nya itu. “Suheng, apakah engkau marah kepadaku?” tanyanya sambil memandeng wajah yang tampan itu. “Hemm....? Tidak marah, aku hanya bingung, Sumoi.” “Suheng, kaumaafkanlah diriku kalau aku menyusahkan dan membingungkan hatimu. Akan tetapi sungguh mati, aku tidak dapat berpisah darimu, Suheng. Aku.... aku cinta padamu dan lebih baik aku mati saja daripada harus kautinggal­kan....” Hong Bu menarik napas panjang. Se­jenak ia menatap wajah itu. Wajah yang manis. Seorang gadis yang baik dan ga­gah perkasa keturunan pendekar. Alang­kah mudahnya baginya untuk jatuh cinta kepada seorang gadis seperti ini, kalau saja dia tidak lebih dulu tergila-gila kepada Ci Sian. Bagi seorang pemburu sederhana seperti dia, Pek In merupakan dara yang sudah terlampau baik. Akan tetapi, apa hendak dikata, dia sudah ter­lanjur jatuh cinta kepada Ci Sian, dan tidak mungkin agaknya untuk melupakan Ci Sian dan menengok kepada gadis lain, walaupun dia masih merasa perih hatinya melihat Ci Sian tidak membalas cinta­nya, bahkan memusuhinya! “Ahhh, betapa penuh derita hidup ini,” pikirnya, “Dara yang dicintanya malah memusuhinya, dan dara yang mencintanya tak mungkin di­balasnya.” Demikianlah, dengan terpaksa sekali Hong Bu melakukan perjalanan bersama Pek In. Dia masih bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian dia teringat bahwa mereka berada dekat dengan kota Cin-an di mana menurut berita yang didengarnya terdapat sarang pendekar patriot. Memang sejak lama Hong Bu telah merasa setia kawan de­ngan para pendekar patriot, terutama sekali setelah terjadi pembakaran biara Siauw-lim-si. Memang tadinya dia sudah mempunyai keinginan untuk singgah di Cin-an dan mengunjungi pusat perkumpul­annya para pendekar patriot itu. Kini setelah Pek In ikut bersamanya, timbul pikirannya bahwa sebaiknya kalau dia mengajak gadis itu ke pusat para pen­dekar. Siapa tahu Pek In yang berwatak pendekar itu akan tertarik hatinya dan kalau saja dia bisa menitipkan Pek In untuk sementara di tempat itu, bersama dengan para pendekar patriot, maka se­lain dia sendiri tidak dibebani berat untuk melindunginya, juga mungkin gadis itu mau ditinggalkannya. Orang seperti Pek In harus diberi kesibukan yang mengasyikkan dan menyenangkan hatinya. Demikianlah, Hong Bu lalu mengajak sumoinya melanjutkan perjalanan menuju ke Cin-an. Akan tetapi karena mereka memasuki kota Cin-an setelah lewat senja, maka Hong Bu merasa tidak enak untuk langsung mencari dan mengunjungi para pendekar. Maka dia lalu mencari penginapan dan menyewa dua buah kamar yang berdampingan untuk melewatkan malam itu. “Suheng, engkau sengaja menuju ke kota ini, hendak mencari siapakah?” Pek In bertanya setelah mereka makan ma­lam dan duduk di ruangan dalam, tak jauh dari kamar mereka. Melihat di kanan kiri tidak ada orang Hong Bu lalu menjawab sambil berbisik, “Sumoi, selama engkau meninggalkan lembah, di dalam perantauanmu, apakah engkau mendengar tentang para pendekar patriot yang mulai bergerak karena penekanan Kaisar?” Pek In mengangguk. “Aku pernah mendengar tentang dibakarnya biara Siauw-lim-si, Suheng. Mereka itukah yang kaumaksudkan?” Hong Bu mengangguk. “Mereka dan banyak orang lagi yang merasa tidak suka melihat kelaliman Kaisar dan tidak suka melihat penjajahan bangsa Mancu atas bangsa kita. Apakah engkau tidak tertarik?” Pek In mengangguk “Memang mereka itu hebat dan gagah sekali, Suheng. Akan tetapi apa hubungannya dengan kita?” “Memang tidak ada hubungannya seca­ra langsung, Sumoi. Akan tetapi apakah kita juga harus diam saja menyaksikan kelaliman Kaisar itu? Bayangkan saja. Para pendeta di Siauw-lim-si, para pen­dekar Siauw-lim-pai yang terkenal gagah perkasa itu, yang selalu membela kaum lemah tertindas dan menentang mereka yang jahat sewenang-wenang, dibasmi dan biaranya dibakar. Entah berapa banyak­nya pendekar gagah perkasa yang tidak berdosa dibunuh, dibantai oleh pasukan besar. Bukankah kita ini juga merasa sebagai pendekar, Sumoi?” “Lalu apa yang hendak kaulakukan, Suheng?” “Aku ingin menemui mereka, ingin berkenalan dengan orang-orang gagah itu.” “Baik sekali! Di mana? Di sini?” Hong Bu mengangguk. “Ya, aku men­dengar bahwa mereka berkumpul di Cin-an ini, dan aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Kabarnya, aku mende­ngar dari seorang pendekar yang hidup sebagai nelayan sungai yang kulalui, me­reka itu berkumpul di sebuah rumah kuno yang disebut Gedung Mawar Kuning. Kiraku tidak sukar mencari rumah de­ngan nama seperti itu.” “Baik, aku ikut, Suheng. Aku pun senang sekali kalau dapat berkenalan dengan mereka, dan....“ Tiba-tiba Hong Bu mengeluarkan bu­nyi “Ssttt....!” dan memberi tanda agar Sumoinya tidak bicara lagi. Seorang pelayan rumah penginapan membawa len­tera mengantar masuk tiga orang tamu baru yang agaknya baru tiba di malam itu. Karena mereka diberi kamar agak ke belakang, maka mereka itu melewati kamar-kamar Hong Bu dan Pek In ketika diantar oleh pelayan ke kamar mereka di belakang. Diam-diam Hong Bu memper­hatikan mereka, juga Pek In dan wajah Pek In berubah pucat sekali, lalu gadis ini menundukkan mukanya, atau lebih tepat menyembunyikan mukanya dan memutar tubuh membelakangi tamu-tamu itu. Hong Bu memandang dengan penuh perhatian dan jantungnya berdebar te­gang. Dia tidak mengenal mereka itu, akan tetapi mereka segera dapat men­duga siapa adanya pria setengah tua ga­gah perkasa yang buntung sebelah le­ngannya itu! Ciri khas dari Pendekar Sakti Gu­run Pasir! Kalau saja orang ini tidak datang bersama seorang wanita setengah tua yang cantik jelita dan gagah dan seorang pemuda yang ganteng sekali, juga amat gagah, tentu dia dapat men­duga bahwa mungkin saja orang itu bu­kan Si Pendekar Buntung Lengan. Akan tetapi, melihat dua orang teman Si Bun­tung itu, hatinya tidak ragu-ragu lagi. Siapa lagi kalau bukan Naga Sakti Gurun Pasir dan anak isterinya yang lihai itu? Akan tetapi tiga orang itu agaknya tidak mempedulikan dia, juga tidak melihat kepada Pek In yang sudah membuang muka. Setelah mereka itu lewat dan mema­suki tikungan, barulah Pek In memegang lengan Hong Bu dan berbisik, “itu me­reka....” Hong Bu mengangguk dan memberi isyarat kepada sumoinya untuk memasuki kamar sumoinya. Setibanya di dalam kamar, Hong Bu berkata, “Aku mengenal mereka. Tentu inilah Naga Sakti Gurun Pasir dan anak isterinya, bukan?” “Benar! Apakah mereka melihatku, Suheng? Mereka tentu mengenalku.” “Agaknya mereka tidak menoleh ke­padamu, akan tetapi siapa tahu? Mereka adalah orang-orang sakti, dan kedatang­annya di rumah penginapan ini sungguh suatu hal yang terlalu kebetulan. Mereka mencari-cariku, kenapa kebetulan mereka datang ke rumah penginapan di mana aku berada? Sumoi, kita harus pergi sekarang jugal” “Tidak, aku tidak takut!” Pek In ber­seru dan mengepal tinju. “Aku tidak sudi melarikan diri!” “Bukan melarikan diri karena takut, Sumoi melainkan....” “Apa....?” “Sudahlah,” Hong Bu tidak mau me­ngatakan bahwa dia terpaksa melarikan diri karena dia berada bersama Pek In. Betapapun lihainya Pek In, gadis ini sama sekali bukan tandingan para pendekar sakti itu dan kalau harus melindungi gadis itu, tentu dia tidak akan dapat bergerak leluasa. “Sumoi, bukankah eng­kau ingin ikut denganku?” “Benar....” dan wajah yang manis itu kembali nampak khawatir. “Jangan.... tinggalkan aku, Suheng!” “Nah, aku mau pergi sekarang. Eng­kau ikut ataukah tidak?” Setelah berkata demikian, Hong Bu meninggalkan gadis itu, memasuki kamarnya dan mengambil buntalan pakaiannya. Pek In tidak men­jawab, akan tetapi tahu-tahu ia telah mengikuti pemuda itu dan sudah memba­wa pula buntalan pakaiannya. Wajahnya cemberut, akan tetapi masih manis. Setelah mereka meninggalkan rumah penginapan itu melalui jalan jendela dan melakukan perjalanan cepat, Pek In mengomel, “Sungguh memalukan sekali kalau kita harus melarikan diri dari me­reka.” “Sumoi, seorang pendekar bukan saja harus berani dan gagah perkasa, akan tetapi juga harus cerdik. Aku bukan ta­kut kepada mereka, akan tetapi kita harus cerdik. Mereka bertiga itu adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi sekali. Sebaiknya kalau kita lebih dulu menemui para pendekar patriot yang tentu tidak bersahabat dengan mereka, mengingat mereka itu adalah kaki tangan Kaisar.” “Huh, jadi engkau hendak mencari te­man?” “Bukan, hanya hendak mengimbangi mereka kalau-kalau mereka maju menge­royok.” Pek In memandang dengan tajam. “Aih, bagaimana engkau dapat menduga serendah itu kepada Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir? Dia dan anak isterinya mendatangi lembah bertiga saja, sama sekali tidak takut akan dikeroyok, karena mereka percaya bahwa seorang pendekar tidak nanti akan berlaku curang! Dan aku pun percaya bahwa Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bukanlah orang yang cu­rang!” Hong Bu hanya tersenyum. Tetap saja dia tidak mau mengatakan bahwa tindak­annya itu bukan sekali-kali karena takut, melainkan karena dia harus menyelamat­kan pedang, jangan sampai terampas utusan Kaisar. Pula, dia pun harus me­lindungi Pek In. Bagaimana mungkin dia sekaligus melindungi pedang dan Pek In? Kecuali kalau Pek In sudah berada di tempat aman, misalnya di antara para pendekar patriot itu barulah dia akan merasa lega dan mungkin saja dia malah akan menantang siapa yang berhak me­miliki pedang pusaka juga menebus ke­kalahan gurunya. Tidak sukar bagi mereka untuk men­cari Gedung Mawar Kuning itu. Setiap orang tahu di mana adanya gedung tua itu yang kini menjadi sebuah perkumpul­an silat yang bernama perguruan silat Kim-jiauw-eng (Garuda Kuku Emas). Me­mang gedung ini pernah menjadi pusat perguruan silat yang masih merupakan cabang dari Siauw-lim-pai itu. Gurunya adalah seorang she Ciong yang pernah menjadi murid Siauw-lim-pai dan memang Ilmu Silat Kim-jiauw-eng yang diajarkannya itu masih bersumber pada ilmu silat Siauw-lim-pai. Karena itulah, maka ke­tika ada pergerakan para pendekar pa­triot, gedung tua yang besar ini dipilih menjadi pusat tempat pertemuan mereka. Gedung itu dikurung pagar tembok yang tingginya hampir tiga meter. Akan tetapi bukan merupakan penghalang yang sulit bagi Hong Bu dan Pek In. Mereka meloncat ke atas pagar tembok itu dan melayang ke sebelah dalam. Akan tetapi begitu kedua kaki mereka turun ke atas tanah, terlihat berkelebatnya bayangan banyak orang dan tahu-tahu mereka telah dikepung oleh belasan orang yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi! Ki­ranya gerak-gerik mereka sejak mende­kati gedung sampai ketika mereka berdua melompat ke atas pagar tembok telah diketahui oleh para penjaga dan hal ini saja menunjukkan betapa kuatnya penja­gaan para pendekar di ternpat itu! “Kami bukan musuh!” Hong Bu cepat berkata sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat. “Kami adalah sahabat-sahabat yang ingin bertemu dengan pimpinan para Enghiong di sini!” Tentu saja ucapan itu tidak bisa di­terima begitu saja. Dua orang ini masuk secara gelap bukan melalui pintu sebagai tamu, mana bisa mereka mempercayai keterangan itu? Pula, keadaan para pen­dekar patriot di situ merupakan rahasia, tidak ada yang tahu bahwa tempat itu menjadi sarang mereka. Maka, orang yang datang dan tahu akan hal itu, sung­guh merupakan orang yang patut dicuri­gai. “Siapa engkau?” bentak seorang di antara mereka. “Namaku Sim Hong Bu, dan ini adalah Cu Pek In....” “Aihh, kiranya benar Pek In....!” Tiba-tiba terdengar seruan suara wanita dan seorang wanita berkelebat datang dan berdiri di depan Pek In. Tempat itu mendapat penerangan dari obor yang dibawa datang seorang pendekar sehingga mereka dapat saling memandang. Kini Hong Bu dan Pek In segera mengenal wajah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu. Melihat bibinya, Pek In cepat memberi hormat, diturut pula oleh Hong Bu. “Dan ini Hong Bu malah! Ah, masuk­lah. Kawan-kawan, mereka ini adalah keponakan-keponakanku sendiri!” Hong Bu dan Pek In merasa terheran-heran melihat bahwa bibi mereka ber­ada di tempat itu, akan tetapi keheranan mereka lenyap ketika mereka dihadapkan dengan pimpinan para pendekar itu yang ternyata adalah Bu Seng Kin atau Bu-taihiap! Biarpun di dalam hatinya ada rasa tidak senang, namun Pek In dapat mengerti mengapa bibinya berada di situ. Kiranya bibinya ini telah menyusul bekas kekasihnya, si pendekar perayu wanita itu yang sekarang telah menjadi pimpinan para pendekar patriot! Bu-taihiap girang bukan main mene­rima Hong Bu dan Pek In. Dia sudah mendengar dari isterinya, yaitu Tang Cun Ciu tentang diri pemuda ini yang kata­nya merupakan pewaris pedang Koai-liong Po-kiam berikut Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang tiada tandingannya di dunia ini! Maka pemuda itu merupakan tenaga yang amat boleh diandalkan, dan juga dia sudah mendengar tentang Cu Pek In, puteri tunggal dari penghuni Lembah Suling Emas yang kini menjadi Lembah Naga Siluman itu. “Selamat datang, Sim Hong Bu! Aku sudah banyak mendengar tentang kelihai­anmu dari bibi gurumu. Dan engkau, Cu Pek In. Ayahmu adalah seorang sahabat­ku yang amat baik!” Cu Pek In dan Sim Hong Bu memberi hormat, biarpun di dalam hatinya Cu Pek In memaki laki-laki ganteng ini, karena laki-laki inilah yang merayu hati Tang Cun Ciu, isteri dari toapeknya sehingga toapeknya itu meninggal dunia karena duka! Dan kini, dengan tak tahu malu sekali isteri toapeknya itu malah menyu­sul kekasihnya! Biarpun mereka itu kini menjadi pimpinan pendekar patriot, tetap saja baginya mereka mempunyai perbuat­an-perbuatan yang serba busuk!itulah sebabnya mengapa Pangeran Kian Liong yang menjadi tawanan itu melihat adanya pemuda perkasa dan ga­dis berpakaian pria yang bukan lain ada­lah Sim Hong Bu dan Cu Pek In di antara para pendekar patriot, duduk di dekat Bu-taihiap dan tiga orang isterinya yang merupakan puncak pimpinan para patriot itu. Tentu saja Cu Pek In tidak salah mengenal orang, dan juga dugaan Sim Hong Bu adalah benar bahwa tiga orang yang memasuki rumah penginapan itu adalah keluarga Kao. Pria gagah perkasa yang lengannya buntung itu memang adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu bersama isterinya, Jenderal Mu­da Kao Cin Liong. Seperti telah kita ketahui, Jenderal Muda Kao Cin Liong diperintah oleh Kaisar sendiri untuk mencari dan merampas kembali sampai berhasil pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang lenyap dari istana. Untuk nenghadapi tugas yang amat sukar dan berat ini, Kao Kok Cu dan isterinya yang kebetulan sedang mengunjungi pu­tera mereka, segera turun tangan dan membantu putera mereka. Bertiga, ke­luarga sakti ini telah mendatangi Lembah Suling Emas atau yang telah berganti nama baru Lembah Naga Siluman. De­ngan gagah perkasa tiga orang ini menyerbu lembah itu, mengalahkan keluarga Cu yang sakti sehingga mengakibatkan dua orang sakti, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, terpaksa mengundurkan diri. Akan tetapi, kemenangan atas diri kedua orang tokoh keluarga Cu yang sakti ini, bukan berarti pedang pusaka itu dapat mereka rebut kembali. Pedang itu menurut ke­terangan pihak keluarga Cu yang kalah itu, berada di tangan murid mereka yang merupakan ahli waris pedang dan ilmu itu, adalah Sim Hong Bu. Demikianlah, keluarga Kao yang ga­gah perkasa itu melanjutkan usaha atau tugas mereka, yaitu mencari pedang pusaka yang dibawa pergi pemuda yang bernama Sim Hong Bu. Kemudian, dalam perjalanan mereka, keluarga Kao ini mendengar tentang geger yang diheboh­kan oleh tindakan Kaisar terhadap Siauw-lim-pailim-si, yaitu pembakaran biara atau Kuil Siauw-lim-si dan menewaskan banyak sekali murid-murid Siauw-lim-pai. Tentu saja, seperti para pendekar di dunia kang-ouw, berita ini amat mengejutkan hati mereka dan menimbulkan perasaan tidak senang dan tidak puas. Semenjak dahulu, keluarga ini memandang tinggi nama Siauw-lim-pai dan tahu bahwa par­tai persilatan ini adalah partai yang bersih dan terhormat, yang mempunyai banyak pendekar sakti yang gagah perka­sa. Dan kini Kaisar telah bertindak de­ngan kejam, menggunakan pasukan besar untuk membunuh banyak murid Siauw-lim-pai, berusaha membasmi partai ini bahkan telah membakar habis biara Siauw-lim-si. Kao Cin Liong sendiri marah-marah mendengar berita itu. “Sungguh terlalu!” katanya ketika mereka mendengar berita itu. “Kalau sikap Sri Baginda Kaisar seperti ini dan kelaliman ini dilanjutkan, alangkah rendahnya kalau aku mengham­bakan diri kepada seorang lalim! Lebih baik aku meletakkan jabatanku dan ber­sahabat dengan para pendekar Siauw-lim-pai yang tertimpa malapetaka!” “Memang amat menggemaskan! Apa­lagi kalau diingat bahwa Sri Baginda Kaisar sendiri pernah menjadi murid Siauw-lim-pai! Perbuatan seorang murid yang sungguh keji dan murtad!” kata pula ibunya yang memang sejak muda memi­liki watak keras akan tetapi jujur dan adil. Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir me­narik napas panjang. Dia adalah seorang pendekar yang sudah matang, tidak mu­dah dipengaruhi oleh segala macam ke­adaan, dan tidak lagi membiarkan diri diseret nafsu perasaan. “Apapun juga alasannya, perbuatan Kaisar memang ti­dak patut, dan juga bukan merupakan perbuatan yang baik dan menguntungkan pemerintah. Akan tetapi, Cin Liong, harus selalu kauingat bahwa engkau adalah seorang pendekar, kau harus selalu dapat menjaga nama dan memenuhi tugasmu dengan baik. Tugasmu saat ini adalah mencari dan merebut kembali pedang pusaka kerajaan, dan bukan watak se­orang pendekar untuk meninggalkan tugas yang belum dilaksanakan sampai berha­sil.” Cin Liong mengangguk-angguk. “Saya mengerti, Ayah. Saya akan terus mencari Sim Hong Bu dan adapun hasilnya, saya harus dapat mencari dia, setelah berte­mu dan bicara dengan dia tentang pe­dang itu, baru saya akan kembali dan melapor kepada Sri Baginda Kaisar tentang pelaksanaan tugas ini. Setelah itu, baru saya akan mengundurkan diri mele­takkan jabatan. Pangeran Mahkota Kian Liong adalah seorang yang amat bijaksa­na. Menurut berita yang kita dengar, beliau malah membebaskan dan menyela­matkan sisa murid-murid Siauw-lim-pai sebanyak delapan orang, Pangeran ini tahu mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu, biarlah saya menanti sampai kelak Pangeran Kian Liong yang menjadi kaisar, baru saya akan menawarkan tenaga saya untuk mengabdikan diri.” Ayah dan ibunya menyatakan persetu­juan mereka dan ketiga orang gagah ini pun melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi, mereka terkejut bukan main ke­tika mendengar lagi berita angin dari para pendekar di kang-ouw bahwa Sang Pangeran Mahkota telah lenyap dan se­dang dicari oleh orang-orang gagah berbagai golongan. Tentu saja mereka, ter­utama sekali Cin Liong yang masih bertugas sebagai seorang jenderal, apalagi yang menjadi sahabat baik Pangeran Kian Liong, merasa gelisah bukan main. “Ah, biarpun ini merupakan tugas yang tidak langsung menjadi perintah Kaisar akan tetapi mencari dan menyela­matkan Sang Pangeran tidak kalah pen­tingnya daripada mencari dan merebut kembali pedang itu,” kata Cin Liong. “Memang, kita harus ikut mencari Sang Pangeran. Jangan sampai beliau dikuasai oleh orang-orang jahat,” kata ayahnya. “Sungguh Pangeran Mahkota merupa­kan seorang pemuda yang luar biasa,” kata Wan Ceng setengah mengomel. “Beliau adalah seorang pemuda yang lemah, akan tetapi mengapa selalu suka melaku­kan perjalanan merantau sendirian saja tanpa pengawal? Padahal, sebagai seorang pangeran mahkota tentu saja bahaya selalu mengancam beliau.” “Beliau akan menjadi kaisar yang baik,” suaminya mengangguk-angguk. “Seorang yang sejak muda telah melenyap­kan rasa takut dengan rasa kasih sayang terhadap rakyatnya. Beliau ingin melihat sendiri dan mendengar sendiri keadaan kehidupan rakyat dan keluh-kesah me­reka. Hanya seorang kaisar yang meme­rintah rakyatnya dengan kasih sayang sajalah, seperti seorang ayah yang benar-benar mencinta anak-anaknya, maka sebuah negara akan benar-benar menjadi makmur dan kuat.” Keluarga yang gagah perkasa ini me­lanjutkan perjalanannya sambil menyeli­diki dan mendengar-dengarkan dan akhir­nya, pada suatu siang ketika melewati sebuah hutan tak jauh dari kota Cin-an, mereka melihat belasan orang laki-laki rebah malang-melintang, sebagian besar telah tewas, akan tetapi ada bebe­kapa orang yang masih hidup, walaupun luka-luka mereka amat parah dan mereka ini pun sukar untuk dapat diselamatkan lagi. Agaknya, baru beberapa jam mereka itu telah dirobohkan oleh musuh yang amat kuat. Tiga orang muda ini cepat menghampiri mereka yang masih hidup, memeriksa, akan tetapi mereka mem­peroleh kenyataan bahwa mereka tidak akan mampu menolong lagi. “Siapakah yang melakukan ini dan mengapa?” Kao Cin Liong bertanya ke­pada seorang di antara mereka yang agaknya masih lebih kuat daripada yang lain. Ayah bundanya hanya ikut men­dengarkan saja, membiarkan putera me­reka menangani urusan ini. Setelah diberi beberapa teguk minum­an arak, orang itu dapat juga bicara lemah, “Kami.... menghadang seorang pemuda yang bersenjata suling emas.... kami hampir berhasil.... lalu muncul pe­muda yang berpedang.... pedang sinar biru.... aahhh....” Dan orang itu pun tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kepalanya sudah terkulai. Yang lain-lain­nya terlampau parah luka-luka mereka sehingga sama sekali tidak mampu bicara lagi. Bahkan sebelum tiga orang pendekar itu dapat berbuat sesuatu, mereka yang terluka parah itu pun tewas pula. Setelah memeriksa semua perampok itu dan mendapat kenyataan bahwa mereka telah benar-benar tewas, Cin Liong bersama ayah ibunya lalu menggali lubang besar dan mengubur semua jenazah itu dengan sederhana. Mereka, keluarga gagah per­kasa yang berjiwa pendekar ini tidak mungkin dapat membiarkan saja jenazah belasan orang itu tanpa dikubur, walau­pun mereka dapat menduga bahwa me­reka itu semua adalah anggauta perarn­pok. “Hemm, pedang bersinar biru? Dan pemuda bersenjata suling emas?” Cin Liong berkata ketika mereka melanjutkan perjalanan. Ayahnya memandang kepadanya. “Engkau dapat menduga siapa mereka?” Puteranya mengangguk, juga ibunya berkata, “Aku pun sudah tahu siapa mereka itu.”“Bagus, kalau begitu mari kita cepat-cepat melanjutkan perjalanan. Daerah ini termasuk daerah kota Cin-an, ke mana lagi mereka kalau tidak ke kota itu? Dan kabarnya, di kota Cin-an itu pula berkumpulnya para pendekar patriot,” kata Si Naga Sakti Gurun Pasir. Tanpa menyebut nama, tiga orang pendekar yang cerdas ini sudah dapat menduga bahwa pemuda bersenjata suling emas itu tentulah Cu Pek In dan pedang bersinar biru itu apa lagi kalau bukan Koai-liong Po-kiam? Demikianlah, keluarga sakti ini akhir­nya dapat mengikuti jejak Cu Pek In dan Sim Hong Bu, dan seperti telah dicerita­kan pada bagian depan, Cu Pek In dan Sim Hong Bu terkejut bukan main ketika melihat tiga orang ini. Dan biarpun Pek In cepat membuang muka, dan tiga orang sakti itu seolah-olah tidak melihat ada­nya dua orang muda itu, namun sesung­guhnya Cin Liong dan ayah bundanya sudah melihat mereka dan mereka yakin kini bahwa dugaan mereka adalah benar. Biarpun mereka tidak melihat adanya senjata pedang pusaka yang mereka cari­cari itu pada diri pemuda yang nampak sederhana itu, mereka dapat menduga bahwa pedang itu tentu disembunyikan dan hal ini bahkan lebih meyakinkan hati mereka. Kalau bukan Koai-liong Po-kiam yang dibawa pemuda ini, perlu apa di­sembunyikan? Dan kalau pedang itu, tentu saja disembunyikan, karena pedang itu adalah pedang pusaka yang hilang dari istana. Dan ketika pada malam hari itu Hong Bu dan Pek In melarikan diri dari los­men, hal ini pun sama sekali tidak ter­lewat dari pengamatan keluarga itu. Diam-diam mereka bertiga cepat mem­bayangi dari jauh. Mereka melihat betapa bayangan dua orang muda itu melompati pagar tembok sebuah rumah tua dan me­reka tidak berani ceroboh memasuki rumah orang. “Kau berjagalah di sini bersama Ibu­mu, aku akan menyelidiki rumah siapa ini,” kata Kao Kok Cu. Cin Liong dan ibunya mengangguk dan bersembunyi sambil mengintai untuk melihat kalau-kalau dua orang yang mereka bayangi tadi keluar dari situ lagi. Si Naga Sakti Gurun Pasir tidak lama pergi. Dia sudah muncul kembali dan berbisik kepada pu­teranya dan isterinya, “Wah, kiranya rumah inilah yang menjadi sarang pa­triot! Mereka berkumpul di sini!” Berita ini benar-benar amat menge­jutkan hati Cin Liong dan ibunya. Baik­nya mereka tadi tidak ceroboh memasuki sarang yang amat berbahaya, yang penuh dengan orang-orang sakti itu. Kedua orang yang mereka bayangi telah masuk ke situ, berarti bahwa itu pun tentu mempunyai hubungan yang erat dengan penghuni rumah itu! “Bagaimana baiknya sekarang?” tanya Kao Kok Cu untuk mencoba puteranya. Betapapun juga yang mempunyai tugas itu adalah puteranya, dan pendekar ini sudah percaya penuh kepada kecerdasan dan kewaspadaan puteranya sehingga dia menyerahkan keputusan kepada puteranya itu. “Ayah, tidak baik kalau kita menyer­bu sekarang. Mereka adalah pendekar-pendekar, bukan penjahat-penjahat. Se­baiknya kita besok pagi datang sebagai tamu dan dengan terus terang akan saya sampaikan kepada pimpinan para patriot agar menyerahkan Sim Hong Bu kepada saya dengan alasan urusan pribadi. Kita harus menjaga agar jangan sampai terjadi bentrokan antara kita dengan para pa­triot.” Ayahnya mengangguk lalu berkata, “Memang bijaksana dengan cara demi­kian. Akan tetapi aku meragukan apakah patriot-patriot itu akan menerimamu dengan sikap bersahabat karena mereka tahu bahwa engkau adalah seorang per­wira tinggi istana.” “Terserah kepada mereka. Yang jelas, kedatangan kita bukanlah untuk urusan antara Kaisar dan mereka, melainkan urusan pedang.” Mereka lalu kembali ke rumah pengi­napan. Mereka merasa yakin bahwa ke­dua orang muda yang mereka bayangi tadi tidak tahu bahwa mereka tadi mem­bayangi mereka, dan juga mereka dapat menduga bahwa tentu Sim Hong Bu ber­besar hati setelah berada di markas para pendekar patriot itu dan tidak akan pergi untuk sementara waktu. Dengan adanya pengejaran dari keluarga Kao, tentu pemuda itu menganggap bahwa markas itu merupakan tempat persembunyian yang paling aman. Dan memanglah, semua pendapat ini tepat sekali. Akan tetapi, Jenderal Kao Cin Liong dan ayah bundanya sama sekali tidak tahu bahwa pada malam hari itu juga, pangeran mahkota tiba pula di Cin-an dan ditahan di dalam rumah yang men­jadi markas para patriot, itu! Andaikata mereka terus mengamati di tempat itu, tentu mereka akan melihat hal ini dan mungkin akan terjadi bentrokan yang sukar dapat dicegah lagi. Hati Cia Han Beng merasa bingung dan gelisah sekali. Dia merasa menyesal bahwa dara yang membuatnya jatuh cin­ta, ternyata tidak sepaham dengan dia mengenai perjuangan para patriot. Bah­kan dara itu dengan kekerasan telah membawa pergi Sang Pangeran, dan dia sama sekali tidak ada keberanian hati, atau lebih tepat lagi tidak tega, untuk menentang dengan kekerasan. Dia merasa betapa tiba-tiba dia menjadi seorang yang lemah sekali, dan dia tahu bahwa selama Ci Sian melindungi Sang Pange­ran, dia tidak akan tega untuk merebut Pangeran itu. Dia pun tahu bahwa Ci Sian hanya bertindak sebagai seorang pendekar, sama sekali tidak memihak pemerintah dan menentang para patriot, melainkan hanya ingin melindungi yang lemah dari ancaman bahaya seperti se­layaknya dilakukan oleh seorang pende­kar. Hal inilah yang membuatnya bingung dan putus asa. Andaikata Ci Sian itu seorang penjilat pemerintah penjajah tentu cintanya akan dapat dilawannya sendiri dan dia tentu akan mau menen­tang dara itu. Akan tetapi, dara itu adalah seorang pendekar yang menga­gumkan hatinya. Tak mungkin aku berhasil sebagai se­orang patriot kahau begini, keluhnya dengan hati kesal sekali setelah dia berpisah dari Ci Sian. Tidak, dia akan mengembil cara lain. Dia tahu bahwa Pangeran Kian Liong memang seorang pemuda yang hebat dan bijaksana, maka dia pun tidak terlalu menyesal akan si­kap Ci Sian. Dia sendiri, andaikata dia tidak mempunyai jiwa pemberontak ter­hadap kekuasaan penjajah, tentu dia pun tidak akan segan untuk mmpertaruhkan nyawanya guna membela seorang pange­ran mahkota yang bijaksana seperti Pa­ngeran Kian Liong. Yang jahat, yang menjadi biang keladi semua peluapan ke­marahan hati para patriot adalah kela­liman Kaisar! Kaisarlah yang harus di­basmi! Peristiwa pembakaran biara Siauw-lim-si, perlakuan sewenang-wenang terhadap orang-orang Han, semua itu adalah perbuatan Kaisar yang membenci orang Han. Dan kalau dia telah gagal menangkap Pangeran, masih ada jalan lain baginya yang lebih langsung dan tepat, yaitu menyerbu ke istana dan mencoba untuk membunuh Kaisar. Dia tahu bahwa perbuatan ini amat berbaha­ya, karena istana merupakan tempat yang amat kuat dengan penjagaan ketat, di mana berkumpul perwira-perwira berke­pandaian tinggi dan pengawal-pengawal yang gemblengan. Akan tetapi, dia mem­punyai harapan. Bukankah ibu kandungnya berada di sana sebagai selir Kaisar? Demikianlah, dengan hati yang telah mengambil keputusan tetap, Cia Han Beng pergi ke kota raja. Biarpun para pengawal dan pembesar yang mengurus dalam istana, para thaikam (orang kebiri) menyambutnya dengan pandang mata penuh kecurigaan, namun mereka itu me­lapor juga kepada ibu pemuda itu yang menjadi selir Kaisar bahwa ada seorang pemuda bernama Cia Han Beng dan mengaku keluarga dekat mohon mengha­dap. Tentu saja ibu pemuda itu terkejut sekali mendengar disebutnya nama ini dan cepat-cepat mempersilakan thaikam untuk mempersilakan pemuda itu meng­hadapnya di dalam taman. Selir Kaisar ini memilih taman sebagai tempat pertemuannya dengan puteranya agar me­reka dapat bicara dengan leluasa di tem­pat terbuka sehingga tidak akan ada yang dapat mencuri dengar percakapan antara mereka. Dengan pengawal dua orang pengawal dalam yang juga terdiri dari laki-laki yang sudah dikebiri, Han Beng dipersi1a­kan memasuki taman. Ketika tiba di pondok indah dekat kolam ikan, Han Beng melihat seorang wanita cantik de­ngan pakaian yang mewah berdiri menan­tinya dengan kedua mata basah dengan ait mata. Melihat ibunya, Han Beng tak dapat menahan keharuan hatinya dan dia pun cepat maju berlutut di depan kaki ibu kandungnya sambil menundukkan mukanya. Selir itu memejamkan mata dan menggunakan saputangan menyusuti air matanya, kemudian memberi isyarat kepada dua orang pengawal kebiri itu untuk meninggalkannya bersama putera­nya. Setelah dua orang pengawal itu mengundurkan, wanita itu lalu membung­kuk dan merangkul puteranya, disuruhnya Han Beng berdiri dan sejenak mereka berdua saling berpandangan dengan hati yang tidak keruan rasanya. “Han Beng....!” Akhirnya wanita itu berbisik yang merupakan jerit yang keluar langsung dari dalam hatinya.“Ibu....!” Han Beng menahan agar air matanya tidak jatuh bertitik, sungguhpun dia sudah merasa betapa hatinya tergetar dan kedua matanya terasa panas. Kalau ibunya merasa berduka dan terharu sekali melihat puteranya, sebaliknya pe­muda ini selain terharu, juga merasa panas hatinya melihat ibunya hidup sebagai seorang selir kaisar yang berpakaian begini indah dan mewah, sedangkan ayahnya telah terbunuh oleh Kaisar yang kini menjadi suami ibunya!  “Han Beng, mari kita duduk di bangku itu.... kita bicara di luar saja agar jangan ada orang lain mendengarkan dengan sembunyi,” Ibunya berbisik dan menggan­deng tangan puteranya, diajaknya pute­ranya itu duduk di bangku panjang di tengah taman, jauh dari pondok. Wanita setengah tua itu, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, masih nampak cantik sekali, apalagi karena ia mengena­kan pakaian yang demikian indah dan rambutnya disanggul secara istimewa seperti biasa dandanan para selir Kaisar. Kini, melihat puteranya, seketika hancur berantakan segala kemuliaan yang dira­sakannya setiap hari dan terbayanglah di pelupuk matanya segala peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu! Dia hidup bersama suaminya yang merupakan seorang pendekar gagah perkasa dan hidup saling mencinta, dengan seorang putera mereka, yaitu Han Beng. Kemudi­an, datanglah malapetaka itu! Suaminya adalah seorang pendekar yang pernah menjadi sahabat Ai Sing Kiauw murid Siauw-lim-pai yang suka bersahabat dengan para pendekar itu, yang kini telah menjadi Kaisar Yung Ceng! Dan ketika mereka mengadakan perjalanan sampai ke kota raja, suaminya teringat akan saha­bat itu dan biarpun telah dicegahnya, suaminya tetap nekad berkunjung dan menghadap bekas sahabat yang kini men­jadi kaisar itu. Dan memang, Kaisar menyambutnya dengan ramah dan manis budi. Akan tetapi terjadilah malapetaka ketika Kaisar memandang kepadanya! Memandang kepadanya dengan sinar mata yang demikian mesra dan penuh nafsu berahi! Maka terjadilah kesemuanya itu, pe­ristiwa yang mengubah hidupnya! Suaminya telah terbunuh, dan ia pun diambil selir oleh Kaisar! Dan ia.... ia tidak melawan.... ia seorang wanita yang lemah melihat kemuliaan membayang di depan mata! Ia pun menyerahkan diri, bukan dengan ter­lalu terpaksa, bahkan dengan harapan baru. Kalau dulunya ia hidup sebagai seorang isteri pendekar yang bertualang, yang kadang-kadang menderita lapar dan tidur di kuil-kuil tua atau di hutan-hu­tan, kini ia menjadi seorang yang dihor­mati dan dimuliakan! Dan Kaisar pun sayang kepadanya. Bahkan Pangeran Mahkota sendiri memandangnya sebagai seorang ibu! Mau apa lagi? Puteranya, lari entah ke mana. Dan kini, puteranya itu muncul di depannya! Terjadilah perang dalam hati wanita ini, perang antara kemewahan dan kemu­liaan di istana, melawan kasih sayang seorang ibu kandung terhadap anaknya. Dan kemuliaan itu pun kini menipis. Segala macam kesenangan di dunia ini, apapun juga adanya, tidak akan abadi. Kesenangan selalu disusul oleh kebosanan, atau juga oleh keinginan memperoleh yang lebih besar lagi. sehingga kesenangan yang ada itu tidak begitu berarti lagi. Demikian pula dengan wanita ini. Kemu­liaan dan kemewahan itu memang pada mulanya dirasakan dan dinikmatinya be­tul, dalam waktu beberapa bulan, beberapa tahun. Akan tetapi, kemewahan dan kemuliaan yang dilimpahkan kepadanya setiap hari itu mulai menimbulkan kebo­sanan dan kemuakan. Apalagi dengan munculnya puteranya ini, yang menda­tangkan lagi kenang-kenangan lama, membuat ibu ini merasa terguncang batinnya. “Han Beng.... Anakku.... Puteraku sa­yang.... akhirnya engkau mau juga men­jenguk ibumu....” Ia berkata sambil mengusap air matanya yang terus bercucuran. Han Beng memandang wajah ibunya. Ada juga rasa iba, rasa haru dan rasa mesra yang timbul dari kasih sayangnya terhadap wanita yang menjadi ibunya ini. Akan tetapi yang lebih lagi adalah rasa marah. Ibunya sampai hati benar bere­nang di dalam kemewahan di samping laki-laki yang telah membunuh suaminya! “Ibu....” katanya, suaranya agak ge­metar. “Aku datang ini bukan untuk menjenguk Ibu, melainkan untuk....” dia berhenti sebentar, memandang ke kanan kiri yang sunyi. Dua orang tadi berdiri di luar taman, biarpun memandang ke arah­nya akan tetapi tidak dapat mendengar ­percakapan itu. “Untuk apa, Anakku? Engkau membu­tuhkan apa....? Ibumu akan dapat meno­longmu, Nak....” “Nah, terima kasih, Ibu. Itulah yang kubutuhkan, yaitu pertolonganmu. Kuha­rap Ibu suka membantuku dan suka memberi jalan kepadaku agar niat hatiku tercapai.” “Niat hatimu? Apa niat itu? Apakah engkau ingin.... menikah?” Dengan air mata masih berlinang, wanita itu menco­ba untuk tersenyum dan memandang wajah puteranya yang tampan. “Bukan. Niat hatiku adalah untuk membunuh Kaisar!” “Eiihhh....!” Wanita itu menahan jerit­nya dengan menutupkan tangan kiri di depan mulut, matanya terbelalak dan tangan kanannya mencengkeram lengan puteranya. “Kau.... kau sudah.... gila....!” Pemuda itu melangkah mundur, mele­paskan diri dari pegangan tangan ibunya, memandang tajam penuh kemarahan dan rasa penasaran. Akan tetapi suaranya masih perlahan karena dia pun tidak ingin suaranya terdengar oleh orang lain, “Ibu, selain Ayah telah dibunuh oleh Kaisar, juga seluruh pendekar bangsa Han ditindasnya, Siauw-lim-si dibakarnya, rakyat ditindasnya. Dan sekarang Ibu malah bersenang-senang menjadi selir kaisar lalim itu. Ibu, katakanlah seka­rang, siapakah di antara kita yang pan­tas disebut gila?” “Han Beng! Engkau hanya terdorong oleh dendam atas kematian ayahmu....” “Tidak, Ibu. Urusan pribadi hanya urusan kecil saja kalau dibandingkan dengan urusan seluruh bangsa! Tentu saja aku merasa sakit hati atas kematian Ayah, akan tetapi aku hendak membunuh Kaisar bukan karena itu, melainkan untuk membebaskan rakyat dari penindasan Kaisar penjajah yang lalim. Dan Ibu, kalau memang Ibu masih mempunyai se­dikit jiwa kependekaran seperti mendiang Ayah, Ibu harus membantuku.” “Tapi.... tapi.... berbahaya sekali, Anakku! Kaisar sendiri memiliki kepan­daian yang lihai, belum lagi diingat bah­wa beliau selalu dilindungi oleh pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi! Engkau akan tertangkap dan terbunuh sebelum engkau mampu mendekatinya!” “Akan tetapi, aku yakin bahwa sewak­tu-waktu Kaisar tentu berdua saja de­ngan Ibu, di mana tidak ada seorang pun pengawal yang mendekat. Kalau aku tidak mungkin mendekatinya, maka Ibu mudah sekali. Apa sukarnya bagi Ibu untuk menyerang dan membunuhnya se­waktu dia mendekati Ibu?” “Apa kau gila? Aku.... aku adalah selirnya! Isterinya!” “Bagiku bukan! Ibu adalah isteri Ayah yang telah dibunuh Kaisar, Ibu adalah isteri Ayah yang dirampas oleh Kaisar! Ibu adalah wanita Han yang tidak ingin melihat rakyat ditindas oleh Kaisar pen­jajah lalim!” “Ohhhh.... Anakku...., aku.... aku me­mang bersalah.... tapi.... tapi tidak tahukah engkau bahwa Ibumu ini hanya seorang wanita? Aku.... cinta padanya, Han Beng.” Pemuda itu merasa betapa jantungnya seperti ditusuk. “Hemm, kalau begitu, Ibu sudah lupa kepada Ayah, Ibu tidak cinta kepadaku, dan Ibu tidak peduli dengan bangsa sendiri?” “Bukan.... ah, aku cinta padamu, Anakku. Engkau anakku satu-satunya.... akan tetapi ini lain lagi, Han Beng.” “Sudahlah, Ibu. Tidak perlu banyak ribut lagi, kalau ketahuan orang semua usahaku gagal dan kita berdua akan ce­laka. Ibu tinggal pilih saja sekarang, Ibu lakukan sendiri bunuh Kaisar lalim itu, atau Ibu mencarikan jalan agar aku da­pat mendekatinya dan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri. Kalau Ibu menolak, aku akan mengamuk dan me­nyerbu ke dalam istana! Mati bukan apa-apa bagiku. Mati sebagai orang gagah jauh lebih berharga daripada hidup seba­gai pengkhianat bangsa dan pengecut!” Wajah wanita itu berubah pucat. Pengkhianat dan pengecut! Itulah lontar­an dan makian puteranya sendiri kepada­nya, walaupun bukan merupakan makian langsung. Dan kalau ia menolak, berarti ia membiarkan puteranya itu mati. Me­nyerbu istana seorang diri saja tiada bedanya dengan bunuh diri. Dengan muka pucat sekali dan bibir gemetar, pandang mata sayu dan wajah layu, akhirnya wa­nita ini mengangguk dan berkata lirih, “Baiklah, Han Beng. Akan kulakukan itu!” “Ibu....!” Han Beng berlutut dan me­nubruk kedua kaki ibunya, dua titik air mata keluar dari sepasang matanya. Dia yakin benar-benar bahwa perbuatan ibu­nya itu, selain akan membunuh Kaisar, juga bunuh diri. Akan tetapi, dia akan merasa bangga melihat ibunya mati seperti itu daripada melihat ibunya hidup menjadi selir Kaisar laknat yang lalim itu! “Ibu ternyata seorang patriot wanita yang gagah perkasa. Ibu berani mengorbankan nyawa demi bangsa, aku bangga dan terharu sekali, Ibu. Engkau memang Ibuku yang patut dipuja sepanjang masa!”“Eni,kau keliru, Han Beng. Aku mela­kukannya sama sekali bukan demi bangsa, bukan demi Ayahmu, bukan demi diriku sendiri, melainkan demi engkau, Anakku. Nah, pergilah.” Ucapan ibunya itu menyadarkan Han Beng dan dia pun bangkit lalu mundur, menatap wajah ibunya yang pucat, mena­tapnya untuk yang terakhir kali. Memang ada sedikit kekecewaan dalam hatinya bahwa ibunya hendak melakukan pengero­yokan itu bukan demi bangsa, melainkan demi dia. Betapapun juga, yang penting adalah terbunuhnya Kaisar lalim, pikir­nya. “Terima kasih, Ibu. Selamat tinggal, selamat berpisah dan ampunkan anakmu.” Wanita itu hanya mengangguk dan Han Beng lalu keluar, disambut oleh dua orang pengawal itu dan diantarkan sam­pai ke pintu tembusan di mana kembali dia diterima oleh pengawal lain yang mengantarnya sampai ke pintu yang lebih luar. Demnikianlah, akhirnya pemuda ini, setelah melalui penjagaan yang amat ketat, tiba di pintu gerbang istana paling luar dan akhirnya keluarlah dia dari ling­karan istana. Sementara itu, wanita itu berdiri se­perti patung lilin. Mukanya pucat dan matanya berlinang air mata. Demi cin­tanya kepada anaknya, bisik hatinya. Cinta memang sudah menjadi hal yang amat janggal dalam pengertian kita. Demikian banyaknya kata ini telah kita pecah-pecah artinya, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sehingga cinta bahkau menimbulkan banyak kesengsaraan dan malapetaka. Han Beng ingin melihat ibunya menjadi seorang patriot, seorang pahlawan. Pemuda ini lupa bahwa ibunya seorang manusia pula, bahwa ibunya me­miliki selera dan cara hidup sendiri, yang mungkin saja berbeda dengan orang lain, berbeda dengan dia. Akan tetapi dia ingin membentuk ibunya menjadi seperti yang diidamkannya, seperti yang dianggap patut menjadi ibunya, yaitu wanita pah­lawan! Dia menganggap ini benar, tentu saja. Akan tetapi sebenarnya, di dasar dari hatinya, dia hanya mengejar ke­inginan hatinya sendiri saja. Dialah yang akan bangga kalau ibunya menjadi pahla­wan bangsa! Dialah yang akan merasa bahagia. Apakah ibunya menyukai hal ini? Bukan urusannya! Apakah ibunya berbaha­gia jika tewas sebagai pahlawan bangsa? Juga sama sekali hal ini dilupakannya. Di­anggapnya bahwa secara otomatis ibunya tentu berbahagia pula, seperti dia! Demikian pula wanita itu. Ia mau saja membiarkan dirinya berkorban. Di­anggapnya pengorbanannya ini demi cinta kasihnya kepada puteranya. Akan tetapi benarkah demikian? Agaknya hal ini ma­sih harus diselidiki dengan teliti. Kalau dia mencintai puteranya, belum tentu dia membiarkan dirinya diperkosa kemudian menjadi selir dari Kaisar yang telah membunuh suaminya dan hampir juga membunuh puteranya kalau pemuda itu tidak dapat meloloskan diri. Memang, cinta telah menjadi sesuatu yang amat aneh, bahkan kadang-kadang menjadi pendorong perbuatan-perbuatan yang luar biasa kejamnya. Padahal, yang mereka namakan sebagai cinta itu sesungguhnya hanyalah nafsu belaka, nafsu untuk me­nyenangkan diri sendiri, perasaan sendiri melalui orang lain. Jadi, orang yang katanya dicinta setengah mati itu hanya dijadikan semacam jembatan saja untuk dapat menyeberang dan memetik kesenangan untuk diri sendiri. Han Beng bersembunyi di kota raja setelah dia keluar dari istana. Dia hen­dak menanti saat yang amat menegang­kan itu. Saat di mana akan diumumkan tentang kematian Kaisar! Mati di tangan ibu kandungnya! Dan saat yang dinanti-nantikan Han Beng itu ternyata tidak terlalu lama. Bahkan pada malam itu juga, Kaisar menjatuhkan pilihan kepada ibu Han Beng untuk melayaninya! Memang Kaisar cukup mencinta wanita ini, seorang wanita bekas pendekar yang bertubuh kuat, tidak seperti para selir lain yang lemah. Kai­sar sendiri adalah seorang ahli silat, maka dia merasa memiliki persamaan dengan selirnya ini, dan Kaisar suka sekali mengajak selir ini bercakap-cakap tentang ilmu silat di waktu selir ini diberi giliran untuk melayaninya dalam kamar selama semalam. Dan malam itu, ibu Han Beng berdandan secara istimewa, menambah wangi-wangian pada tubuhnya, dan memasuki kamar Kaisar dengan se­nyum cerah dan penuh daya pikat se­hingga Kaisar semakin terpikat dan menyambutnya dengan pelukan dan cium­an mesra. Mereka bercakap-cakap, bercumbu dan bermain cinta. Lewat tengah malam, ketika Kaisar sedang tidur pulas kelelah­an, ibu Han Beng dengan air mata ber­cucuran lalu menghunjamkan sebatang pisau belati ke dada Kaisar. Tetapi, karena tangan yang memegang pisau itu gemetar dan karena wanita itu menutup matanya karena tidak tega menyaksikan tangannya membunuh pria yang sesung­guhnya dicintanya, maka ujung pisau mengenai tulang iga dan meleset, dan Kaisar Yung Ceng yang memiliki tubuh kuat dan kepandaian tinggi itu, seketika sudah terbangun dan otomatis tangannya menghantam dengan sekuatnya. “Desss....!” Pukulan Kaisar itu amat kuatnya, dan tidak dapat dielakkan oleh wanita itu yang memang masih meme­jamkan kedua matanya sehingga tubuh wanita itu terlempar ke bawah dari pembaringan dan terbanting dalam ke­adaan kepala retak dan tidak bernyawa lagi! Kaisar cepat memanggil pengawal, mencabut pisau itu dan roboh pingsan. Pisau belati itu tidak menembus jan­tung atau bagian lain yang penting, akan tetapi ternyata bahwa pisau itu mengan­dung racun sehingga keadaan Kaisar cukup parah. Luka di dadanya itu mem­bengkak dan para tabib yang merawatnya merasa khawatir sekali. Kaisar sendiri yang sudah sadar sepenuhnya, maklum akan keadaan dirinya, maka mulailah dia mencari-cari dan menanyakan Pangeran Mahkota Kian Liong. Diam-diam Kaisar menyesal semua perbuatannya dan dia tahu benar bahwa malapetaka yang me­nimpanya malam itu adalah karena perbuatannya sendiri. Dia telah lengah, ti­dak mengira bahwa di balik senyum ma­nis dan pelayanannya yang amat menye­nangkan hatinya dari wanita bekas isteri sahabatnya itu ternyata masih tersem­bunyi dendam yang demikian mendalam. Ketika dia mendengar laporan bahwa sehari sebelumnya wanita itu menerima kunjungan seorang pemuda yang mengaku sebagai anak selir itu, maklumlah Kaisar bahwa itulah pendorongnya mengapa se­lirnya yang biasanya amat mencintanya itu tega untuk mencoba membunuhnya. Dan sebagai seorang ahli silat, dia pun yakin bahwa kalau selirnya itu tidak memejamkan mata, tentu tusukan itu akan menewaskannya, dan dia tidak akan berhasil membunuh selirnya dengan sekali pukul saja. Selagi para panglima, menteri dan hulubalang bingung karena tidak ada yang tahu di mana adanya Sang Pangeran, datanglah utusan para patriot yang telah menawan Sang Pangeran! Kaisar Yung Ceng menerima dan mendengarkan surat tuntutan itu dibacakan pembantunya kepadanya. Wajahnya berubah merah, akan tetapi dia menarik napas panjang. Pada saat itu dia tidak dapat banyak bergerak dan tidak bisa turun dari pembaringan, dia tidak dapat berbuat banyak. “Kirim jawaban kepada mereka bahwa aku berjanji akan memenuhi semua tun­tutan mereka itu, akan tetapi minta agar Pangeran Kian Liong cepat dibebaskan dan diantar kembali ke istana, karena keadaanku,” perintahnya kepada para petugas. Tentu saja utusan para patriot itu girang bukan main, bukan hanya bahwa mereka tidak dihukum atau dibunuh se­perti yang sudah mereka khawatirkan, akan tetapi bahkan menerima janji dari Kaisar yang akan memenuhi semua tun­tutan itu. Juga mereka mendengar bahwa Kaisar diserang oleh selirnya sendiri dan nyaris tewas! Maka, mereka cepat kem­bali ke Cin-an untuk membawa balasan dan janji Kaisar. Entah siapa di antara mereka yang lebih terkejut dan heran ketika pihak tamu dan pihak tuan rumah itu bertemu di ruangan tamu yang luas itu. Kao Cin Liong dan ayah bundanya sama sekali tidak mengira bahwa yang menjadi pe­mimpin para pendekar patriot di Cin-an itu ternyata adalah Bu Seng Kin se­keluarga, sebaliknya Bu-taihiap juga tidak menyangka bahwa tamu-tamunya yang datang adalah Jenderal Kao Cin Liong dan Naga Sakti Gurun Pasir ber­sama isterinya! Sejenak mereka hanya berdiri bengong saling pandang, lupa untuk saling memberi hormat sebagaima­na layaknya tamu dan tuan rumah! Akhirnya, Bu-taihiap yang memang ber­watak lincah dan gembira itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, memang tidak salah dika­takan orang bahwa dunia ini tidaklah sebesar yang disangka orang! Tidak kami sangka akan dapat berjumpa di tempat ini dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isteri dan puteranya yang gagah perkasa!” Kecuali keluarga Bu yang sudah me­ngenal keluarga Kao ini, para pendekar patriot terkejut setengah mati seperti mendengar suara guntur di hari terang ketika mereka mendengar bahwa tamu itu adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya bagi mereka seperti nama tokoh dongeng saja dan yang sela­manya belum pernah mereka lihat orang­nya. Kini semua mata ditujukan kepada pria setengah tua berlengan satu itu ber­sama isteri dan puteranya, penuh kagum dan juga gentar karena mereka itu belum tahu apa yang diinginkan oleh pendekar sakti sekeluarga ini dengan munculnya di tempat itu dalam keadaan yang amat gawat, yaitu selagi Pangeran Mahkota menjadi tamu agung, juga tawanan me­reka. “Kami pun tidak mengira bahwa di sini akan dapat bertemu dengan Bu-tai­hiap yang ternyata kini mengumpulkan banyak orang-orang gagah!” kata Kao Kok Cu sambil memberi hormat yang di­balas dengan gembira oleh tuan rumah. “Silakan duduk, silakan duduk dan selamat datang!” Setelah mereka semua duduk, Bu-taihiap bertanya, “Keperluan apakah kiranya yang dibawa oleh keluar­ga Kao yang mulia sehingga mau men­datangi tempat ini?” “Yarg mempunyai kepentingan adalah putera kami, maka biarlah dia yang men­jelaskan,” kata pula pendekar itu dengan suara tenang. Cin Liong lalu berkata sambil me­mandang ke kanan kiri karena dia tidak melihat adanya Hong Bu dan Pek In di situ, “Bu-locianpwe,” katanya hormat. “Saya adalah utusan Kaisar yang sedang mencari seorang bernama Sim Hong Bu, dan karena semalam saya melihat dia memasuki rumah ini, maka saya minta dengan hormat kepada Locianpwe untuk memberitahukan kepada saya di mana adanya dia. Kalau masih berada di sini, hendaknya disuruh keluar menemui kami. Kalau sudah pergi, harap beri tahu ke mana perginya.” Kembali Bu-taihiap tertawa bergelak. Di dalam hatinya, pendekar ini terkejut sekali melihat bahwa jenderal muda ini mencari Sim Hong Bu, dan isterinya, Tang Cun Ciu, yang duduk pula di situ tentu saja mengerti mengapa keluarga Kao mencari Hong Bu, akan tetapi dia diam saja hanya memandang tajam. Bu-taihiap yang masih merasa penasaran karena lamarannya ditolak tempo hari, kini memperoleh kesempatan untuk mengejek. “Ah, sampai hampir lupa aku bahwa aku berhadapan dengan seorang jenderal kaki tangan Kaisar Mancu, juga aku lupa bahwa yang terhormat Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir adalah ayah dari jen­deral besar antek Kaisar penjajah!” Mendengar ejekan ini, Kao Kok Cu tersenyum saja dengan tenang. Akan tetapi isterinya, Wan Ceng, sudah bang­kit berdiri dengan muka merah. “Orang she Bu! Kenapa engkau menjadi tuan rumah yang begini kasar dan kurang ajar? Kalau mau menghina orang dan membawa-bawa keluarga, apakah engkau lupa bahwa yang pura-pura menjadi pim­pinan pendekar patriot, akan tetapi di sini mempunyai seorang isteri yang pernah menjadi Panglima Nepal? Bukankah itu berarti bahwa engkau telah berkhianat dan bersekongkol dengan bangsa Ne­pal pula?” Hebat sekali serangan kata-kata Wan Ceng ini. Wajah Bu Seng Kin menjadi merah sekali dan Nandini, Puteri Nepal itu sudah bangkit berdiri dengan marah. “Sudah sepatutnya kalau pihak tamu yang bersopan diri!” bentak wanita ini. “Tamu yang menyerang tuan rumah dengan ka­ta-kata adalah tamu-tamu yang tak tahu diri!” Akan tetapi suaminya sudah mem­beri isyarat agar ia duduk kembali, dan wanita Nepal itu duduk dengan marah. “Kao-taihiap datang bertiga dan agak­nya sudah tahu bahwa kami di sini ada­lah pendekar-pendekar patriot yang me­nentang Kaisar Mancu yang lalim. Ka­rena Sam-wi (Kalian Bertiga) merupakan utusan Kaisar, maka kami dapat saja nenganggap Sam-wi sebagai musuh-musuh kita, sebagai antek kaki tangan Kaisar. Kalau kami mengerahkan teman-teman untuk mengeroyok Sam-wi, apakah kalian tidak akan celaka?” “Boleh coba! Siapa takut keroyokan?” tantang Wan Ceng dengan marah sambil bertolak pinggang. Suaminya lalu meme­gang tangannya dan dengan halus mem­bujuknya untuk duduk kembali. Cin Liong juga membujuk ibunya sehingga akhirnya nyonya yang keras hati ini mau duduk kembali dengan kedua pipi merah dan mulut cemberut, sepasang matanya men­corong penuh kemarahan. “Harap saja Bu-locianpwe tidak ber­kata seperti itu. Kalau memang saya bermaksud buruk terhadap Bu-locianpwe dan semua teman, apa sukarnya bagi saya untuk datang bersama pasukan besar untuk menumpas kalian?” “Seperti yang telah dilakukan terha­dap Siauw-lim-si?” Bu-taihiap mengejek. “Lihat, di antara ratusan orang murid Siauw-lim-pai, hanya delapan saudara inilah yang dapat lolos,” katanya sambil menunjuk kepada delapan orang laki-laki gagah perkasa yang berdiri di sudut ruangan itu dengan sikap keren. Cin Liong memandang kepada mereka dan berkata, “Saya tidak tahu-menahu akan hal itu dan merasa ikut menyesal dengan terjadinya hal itu. Akan tetapi, kedatangan kami tanpa pasukan hanya untuk menunjukkan bahwa kami tidak bermaksud buruk terhadap Locianpwe dan teman-teman.” “Ha-ha-ha, boleh saja kalau Kao-goan­swe (Jenderal Kao) hendak membawa pasukan besar. Hendak kulihat apa yang dapat mereka lakukan kalau kuberi tahu bahwa Pangeran Kian Liong telah berada dalam tahanan kami!” Bukan main kagetnya Kao Cin Liong dan ayah bundanya mendengar ini. Me­reka merasa terkejut dan juga khawatir. Dan Cin Liong menghadapi dua hal yang amat penting, yaitu soal merampas kem­bali pedang Koai-liong Po-kiam dan soal menyelamatkan Pangeran Mahkota. Tentu saja menyelamatkan Pangeran lebih pen­ting. Hal ini juga diketahui oleh Kao Kok Cu. Maka pendekar ini lalu berkata dengan suaranya yang tenang sekali. “Bu-taihiap, urusan putera kami ber­kenaan dengan perintah Kaisar memang adalah urusannya sendiri, akan tetapi kalau sudah menyangkut diri Pangeran Mahkota, mau tidak mau aku pun terpak­sa harus melibatkan diri. Siapa pun orangnya yang hendak mengganggu priba­di Pangeran Kian Liong, akan kuhadapi sebagai lawan! Nah, kami bertiga sudah berada di sini, dan kami bertiga siap mempertaruhkan nyawa kami demi me­lindungi keselamatan Sang Pangeran! Kalau kalian semua yang mengaku orang-orang gagah dan pendekar-pendekar hen­dak mengganggu Pangeran yang tidak mempunyai sangkut-paut dengan kelalim­an Kaisar, maka kalian adalah orang-orang licik dan curang. Kami bertiga menantang untuk mengadu ilmu, guna memperebutkan Pangeran!” Bu-taihiap menjadi marah mendengar ini. Memang dia pun ingin membalas penghinaan tempo hari karena lamaran­nya ditolak. Akan tetapi, sebagai seorang pendekar besar dia pun tidak sudi untuk melakukan pengeroyokan. Nandini, Puteri Nepal yang merasa sakit hati karena penolakan lamaran tempo hari, kini mendengar pula penghinaan yang ditujukan kepada dirinya, sudah tidak dapat mena­han kemarahannya lagi. Dalam hal keke­rasan hati, wanita ini tidak kalah oleh Wan Ceng, maka ia pun sudah bangkit berdiri lagi.“Bagus! Tamu menantang tuan rumah, sungguh merupakan kekurangajaran yang memuncak. Akulah yang akan maju lebih dulu melawan keluarga Kao yang som­bong dan tinggi hati!” Berkata demikian, wanita Nepal ini telah mencabut pedang dan berdiri tegak, sinar matanya tertuju kepada Wan Ceng maka jelaslah oleh sia­pa pun juga bahwa wanita ini menantang isteri Naga Sakti Gurun Pasir! Tentu saja Wan Ceng merasa bahwa dirinya ditantang, maka ia pun meloncat bangun dan membentak, “Siapa sih takut melawan perempuan Nepal, panglima yang sudah jatuh dan kini menjadi selir orang?” Semua orang yang berada di situ maklum bahwa pertempuran tidak mung­kin dapat dihindarkan lagi, maka mereka mundur sambil menarik bangku masing-masing, memberi tempat yang luas bagi mereka yang hendak berlaga. Kao Kok Cu dan Bu Seng Kin tidak dapat melarang isteri masing-masing. Pula, mereka yang akan berlaga adalah wanita lawan wanita dan masing-masing percaya akan kelihaian isteri mereka, dan perkelahian dilakukan dengan satu lawan satu, maka sebagai orang-orang gagah mereka mera­sa malu untuk melarang. Wan Ceng tersenyum dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat, mulutnya tersenyum mengejek ketika ia pun mencabut pedangnya yang begitu dicabut, membuat semua orang merasa serem. Pedang itu adalah pedang Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun) yang hawanya saja sudah terasa oleh semua orang, hawa yang mengerikan.­ “Hemm, engkau menantang sambil mencabut pedang, berarti engkau sudah bosan hidup!” kata Wan Ceng sambil melintangkan pedang di depan dada. “Mu­lailah!” “Isteriku, jangan sampai membunuh orang!” tiba-tiba terdengar Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir berkata dengan halus kepada isterinya. Wan Ceng menoleh kepada suaminya, melihat sepasang mata suaminya meman­dangnya penuh teguran. Ia pun tersenyum, mengangguk dan menoleh lagi kepada Nandini sambil berkata, “Untung bagimu, suamiku melarangku membunuh­mu.” Ucapan terakhir ini merupakan kata-kata yang oleh Nandini diterima sebagai kesombongan yang melampaui batas dan amat menghina. Ia adalah seorang bekas panglima yang tentu saja menganggap kematian dalam pertempuran sebagai hal yang sudah wajar dan tidak perlu dita­kuti, akan tetapi calon lawannya begitu memandang ringan kepadanya, seolah sudah memastikan bahwa ia akan kalah! “Tak perlu banyak cerewet, bersiaplah untuk mampus!” pedangnya menyambar ganas dan wanita Nepal ini sudah mener­jang dengan dahsyat. Wanita ini jauh lebih tinggi daripada Wan Ceng dan memiliki tenaga besar, dan karena hati­nya marah sekali, maka begitu menerjang ia telah melakukan serangkaian serangan yang bertubi-tubi. Wan Ceng memutar Ban-tok-kiam dan menangkis atau mengelak dari semua serangan itu, diam-diam memperhatikan gaya ilmu pedang lawan yang ternyata tidaklah lemah. Dan memang Nandini selama ini memperoleh petunjuk dari suaminya sehingga ilmu pedangnya mem­peroleh kemajuan pesat. Betapapun juga, yang dilawannya adalah Wan Ceng, se­orang wanita yang selain memiliki tenaga sin-kang yang hebat berkat anak ular naga yang pernah dimakannya (baca ce­ritaSepasang Rajawali), juga ia mem­pelajari banyak macam ilmu dan akhirnya menerima petunjuk dari suaminya yang sakti. Maka, menghadapi Wan Ceng, Nandini masih kalah setingkat, lebih dari itu, pedang di tangan Wan Ceng adalah pedang Ban-tok-kiam yang menggiriskan. Baru hawa pedang saja kalau menyambar mendatangkan rasa dingin dan perih, dan kalau sampai mengenai kulit lawan, amatlah berbahaya karena tanpa adanya obat penawar dari Wan Ceng, nyawa lawan sukar tertolong lagi! Agaknya Nandini mengenal pedang ampuh dan berbahaya, maka ia pun memutar pe­dangnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya agar jangan sampai terluka pedang lawan. Kao Kok Cu yang melihat betapa is­terinya masih lebih tinggi ilmunya, mera­sa khawatir kalau-kalau pihak lawan akan terluka oleh Ban-tok-kiam, maka dia meneriaki isterinya, “Isteriku, jangan meng­gunakan Ban-tok-kiam!” Mendengar kata-kata ini, Wan Ceng tertawa lalu menyimpan kembali pedang­nya. Melihat ini, Nandini juga menghenti­kan serangan pedangnya. Ia tidak mau menyerang lawan yang sudah menyimpan senjatanya. Hal ini saja sudah membuat berkurang kebencian dari hati Wan Ceng. Kiranya wanita Nepal ini memiliki watak yang gagah pula, pikirnya kagum. Ia tadi mentaati suaminya bukan karena ia takut kepada suaminya. Sama sekali tidak, bahkan terlalu sering ia membantah sampai membuat suaminya kadang-kadang pusing. Akan tetapi ia kini menurut karena dengan perbuatan itu seolah-olah ia telah menang angin dan “mengampuni” lawan. Kini ia tersenyum dan mengeluar­kan dua buah pisau belati dari pinggang­nya. Inilah sepasang senjatanya yang amat diandalkan ketika ia masih gadis dahulu. Sepasang belati ini sama sekali tidak beracun, dan memang inilah yang dikehendaki oleh suaminya. Kalau hanya menghadapi Nandini dengan kedua tangan kosong, amatlah berbahaya bagi Wan Ceng, akan tetapi dengan senjata sepa­sang belati ini, Kao Kok Cu dapat me­nilai bahwa isterinya takkan kalah, dan kalau sampai isterinya melukai lawan sekalipun, maka luka dengan belati jauh lebih ringan kalau dibandingkan dengan luka karena Ban-tok-kiam. Melihat Wan Ceng telah memegang sepasang pisau belati, Nandini mengeluar­kan teriakan nyaring dan sudah menye­rang lebih ganas daripada tadi. Wanita ini semakin penasaran dan marah karena pergantian senjata dari lawan itu jelas merupakan penghinaan dan pandangan yang merendahkan dirinya. Sementara itu, diam-diam Bu-taihiap mengeluh ka­rena dia tahu bahwa isterinya ini masih kalah dibandingkan dengan nyonya pende­kar Gurun Pasir itu. Akan tetapi dia pun merasa kagum dan lega bahwa Naga Sakti Gurun Pasir itu menyuruh isterinya berganti senjata. Dia mengenal pedang yang amat menggiriskan itu dan tadi diam-diam dia mengkhawatirkan kesela­matan isterinya. Betapapun juga, dia merasa menyesal akan watak keras Nan­dini yang telah berani maju, tidak mem­perhitungkan kepandaiannya sendiri. Memang, isterinya itu telah memiliki kepan­daian yang cukup hebat dan di atas ke­pandaian kebanyakan orang, namun diban­dingkan dengan dua isterinya yang lain, yaitu Gu Cui Bi dan Tang Cun Ciu, Nandini masih kalah jauh. Andaikata yang maju tadi Gu Cui Bi agaknya baru ramai melawan nyonya galak itu, dan kalau Tang Cun Ciu yang maju, dia ya­kin pihaknya akan menang. Akan tetapi dia pun tahu bahwa tentu saja Nandini yang maju karena isterinya itu tentu saja merasa sakit hatinya oleh penolakan ikatan jodoh antara puterinya dan putera keluarga Kao, maka tadi pun dia tidak melarang. Kekhawatiran pendekar ini memang terbukti. Biarpun kini ia telah berganti senjata dengan sepasang belati, namun ternyata memang tingkat kepandaian Wan Ceng masih menang dibandingkan dengan lawannya, maka setelah lima puluh jurus, Wan Ceng “mengunci” pedang lawan de­ngan putaran pisau belatinya yang kiri, dan cepat sekali pisau belatinya yang kanan bergerak ke depan. Mestinya pisau belati itu menusuk lambung, akan tetapi sengaja ia menurunkan sasarannya sehing­ga pisau belatinya menusuk dan merobek paha kiri lawan. Nandini mengeluarkan teriakan kaget dan meloncat ke belakang, terhuyung karena pahanya terobek dan berdarah cukup banyak. Melihat ini, Siok Lan berteriak marah dan meloncat ke depan untuk menyerang Wan Ceng, akan tetapi Bu-taihiap membentak. “Siok Lan, mundur kau!” Gadis itu memandang marah, akan tetapi tidak melanjutkan serangannya lalu memapah ibunya dan merawat luka di paha dengan obat dan membalutnya. Gu Cui Bi, isteri Bu-taihiap yang lain, tetap duduk diam saja tidak mau mencampuri urusan itu. Keluarga Kao ribut dengan suaminya dan Nandini, ia tahu karena lamaran ditolak dan hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Bahkan adanya Siok Lan sebagai puteri suaminya dan Nandini itu kadang-kadang mendatangkarn rasa iri dalam hatinya. Maka kali ini ia pun diam saja. Berbeda dengan Tang Cun Ciu, mendengar bahwa keluarga itu da­tang untuk juga mengejar Sim Hong Bu dan tentu saja untuk merampas kembali Koai-liong Po-kiam, ia sebagai pencuri pedang itu dari istana merasa ikut ber­tanggung jawab. Melihat kekalahan Nan­dini dan melihat ilmu silat isteri Pende­kar Naga Sakti Gurun Pasir itu, ia mera­sa sanggup untuk menandinginya, maka sekali meloncat ia sudah berada di tengah ruangan itu menghadapi Wan Ceng. “Biarlah aku yang melawan pengacau!” teriaknya. Wan Ceng mengenal wanita ini, maka ia tersenyum mengejek. “Tidak usah isteri orang she Bu maju satu demi satu, biarlah maju semua se­kaligus, biar ada seratus orang sekalipun, siapa takut?” Tentu saja ejekan ini amat menyakit­kan, akan tetapi Bu-taihiap yang memang merupakan seorang pria yang paling tebal muka terhadap urusan wanita, tertawa, “Wah, kalau ada seratus, betapa senang­nya, akan tetapi aku tentu repot sekali! Ha-ha-ha!” Diam-diam Pendekar Naga Sakti Gu­run Pasir mengerutkan alis, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa, hanya hatinya yang berbisik betapa pria itu benar-benar merupakan seorang perayu wanita, se­orang bandot yang luar biasa akan tetapi juga jujur! “Ibu, harap suka mundur, biarkan aku menghadapi nyonya ini!” tiba-tiba Cin Liong sudah meloncat maju ke dekat ibunya. Wan Ceng sebenarnya tidak takut menghadapi Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, hanya ia agak lelah menghadapi Nandini yang cukup tangguh tadi, maka ia mengangguk lalu mundur, duduk di dekat suaminya. Sejenak mereka saling berhadapan dan saling berpandangan. Keduanya sama-sama maklum bahwa lawannya yang di­hadapi amatlah tangguhnya. Cin Liong sudah tahu bahwa wanita yang bernama Tang Cun Ciu ini berjuluk Cui-beng Sian-li (Dewi Pengejar Arwah), seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, seorang tokoh dari keluarga Lembah Suling Emas yang terkenal lihai itu. Bahkan wanita inilah yang telah mencuri pedang pusaka Koai-liong-pokiam dari gudang istana! Sementara itu, Tang Cun Ciu juga tidak berani memandang rendah lawannya. Biarpun pernuda ini masih muda, akan tetapi pemuda ini ada­lah putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan sedemikian mudanya telah diangkat menjadi jenderal yang berarti bahwa tentu dia memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Dengan gerakan yang halus Tang Cun Ciu mencabut sebatang pedang dari punggungnya. Wanita ini memiliki banyak macam ilmu silat, akan tetapi kelihaian­nya memang dalam bersilat pedang, dan untuk ilmu ini ia pernah menerima ilmu dari mendiang suaminya, yaitu Cu San Bu, yaitu yang disebut Pat-hong Sin-kiam (Pedang Sakti Delapan Penjuru Angin). Ilmu ini telah dipecah menjadi dua, yaitu ilmu silat tangan kosong. Dan gerakan ilmu pedangnya juga berdasar dari ilmu keluarga Cu yang amat tangguh. “Jenderal Muda, keluarkanlah senjata­mu!” tantangnya dengan suara lantang namun sikapnya tenang seolah-olah wa­nita setengah tua yang masih cantik ini sudah yakin akan kemenangannya. Cin Liong sebetulnya lebih suka menghadapi lawan dengan mengandalkan kaki tangan saja, akan tetapi dia meng­hadapi isteri seorang locianpwe, maka dia tidak ingin dianggap memandang ren­dah kalau bertangan kosong saja. Maka dia pun mencabut sebatang pedang, yaitu pedang pemberian Kaisar sendiri sebagai tanda pangkatnya. Karena dia sedang menjalankan tugas sebagai utusan Kaisar, maka biarpun dia mengenakan pakaian biasa, namun pedang pangkatnya itu tidak pernah ditinggalkannya. Melihat Cin Liong sudah mencabut senjatanya pula, Tang Cun Ciu lalu membentak, “Lihat senjata!” Dan pedang­nya yang sudah berkelebat, berubah men­jadi sinar yang amat menyilaukan mata karena cepatnya. “Tranggg....!” Cin Liong sengaja me­nangkis karena dia hendak menguji sam­pai di mana kuatnya tenaga lawan. Ke­dua pihak merasa betapa tangan mereka yang memegang pedang itu tergetar hebat, tanda bahwa pertemuan kedua pedang itu amatlah kuatnya, dan tahulah mereka bahwa pihak lawan memang me­miliki sin-kang yang kuat. Mereka seje­nak memandang ke arah pedang masing-masing dan merasa lega bahwa pedang mereka tidak rusak oleh pertemuan yang amat keras tadi. Tang Cun Ciu sudah menyerang lagi, lebih hebat daripada tadi, dan kini ia tidak mengandalkan tenaga melainkan kecepatannya. Pedang itu lenyap, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung menghujankan serangan dari berbagai jurusan ke arah Cin Liong. Pemuda ini sebaliknya bergerak de­ngan amat cepatnya, namun gerakannya mantap dan setiap serangan lawan dapat dihalaunya dengan tepat, baik dengan tangkisan maupun dengan pengelakan. Dan biarpun setiap tiga kali serangan lawan baru dapat dibalasnya dengan satu kali saja serangan, namun serangannya amat kuat dan berbahaya sehingga se­tiap kali dibalas, nyonya itu terpaksa menarik gulungan sinar pedangnya untuk membentuk benteng kuat dan biarpun demikian tetap saja ia harus melangkah dua tiga tindak ke belakang. Semua orang yang hadir memandang dengan mata penuh ketegangan, dan para pendekar patriot memandang dengan mata hampir tak pernah berkedip. Para murid Siauw-lim-pai yang berada di situ adalah ahli-ahli silat yang lihai, akan tetapi menyaksikan perkelahian antara Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu melawan jenderal muda itu mereka merasa kagum dan takjub bukan main. Barulah mereka tahu bahwa tingkat kepandaian mereka sungguh masih jauh dibandingkan dengan kedua orang yang sedang bertanding ini. Mereka mengagumi isteri dari pimpinan mereka, akan tetapi mereka pun ter­cengang menyaksikan gerakan Cin Liong. Hanya pandang mata Bu-taihiap dan Kao Kok Cu saja yang dapat menilai dan tahu apa yang terjadi dalam perkelahian yang nampaknya seolah-olah nyonya itu di pihak yang lebih kuat karena lebih banyak menyerang. Mereka berdua ini tahu benar bahwa sesungguhnya, nyonya itu kewalahan menghadapi Cin Liong! Dalam mengadu tenaga, jelas kalah kuat, dan mengandalkan gin-kang atau keri­nganan tubuh untuk bergerak cepatnya tidak menolong karena pemuda itu pun ternyata memiliki gin-kang yang tidak kalah hebatnya. Biarpun ilmu pedang nyonya itu istimewa dan merupakan ilmu pedang pilihan, namun sebaliknya pemuda itu juga telah memiliki ilmu pedang yang luar biasa sekali. Perkelahian ini jauh lebih menegang­kan daripada perkelahian pertama antara Nandini dan Wan Ceng. Para penonton saja merasakan getaran-getaran dari ge­rakan mereka yang amat kuat, dan angin menyambar-nyambar ke segala penjuru. Kadang-kadang, mereka yang kurang tinggi tingkat kepandaiannya tidak mam­pu lagi, mengikuti gerakan kedua orang ini yang lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka. Bagi mereka ini, yang nampak hanya kaki dan tangan kedua orang itu saja yang kadang-kadang lenyap di antara gulungan sinar pedang, kadang-kadang nampak bergerak ke sana-sini, bahkan tangan dan kaki itu bukan hanya dua pasang, melainkan banyak sekali saking cepatnya kaki dan tangan itu ber­gerak! Akan tetapi Bu-taihiap mengerutkan alisnya. Isterinya itu, betapapun lihainya, agaknya tidak akan mampu menanggu­langi pemuda yang amat lihai itu. Diam­diam dia menarik napas panjang. Tingkat kepandaian isterinya sudah tinggi sekali, dia sendiri pun hanya menang tidak banyak dibandingkan dengan isterinya itu. Kalau sekarang isterinya kalah oleh pe­muda ini, maka tinggal dia seoranglah. Mungkin dia akan dapat menandingi pe­muda itu, akan tetapi mampukah dia menandingi Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir? Diam-diam dia bergidik. Baru puteranya saja sudah memiliki ilmu ke­pandaian yang demikian hebatnya, apalagi pendekar sakti itu sendiri! Hal ini bukan timbul karena dia merasa takut atau gentar, sama sekali tidak. Melainkan dia khawatir kalau-kalau memang keluarga pendekar Kao ini hendak menggunakan kekerasan untuk merampas Sang Pange­ran, dia pun terpaksa akan menggunakan kekerasan mengancam Pangeran untuk sandera. Ini bukan urusan pribadi, me­lainkan urusan perjuangan, dan untuk perjuangan, maka segala kehormatan pribadi boleh ditinggalkan lebih dulu! Untuk perjuangan, demi kemenangan perjuangan, tidak ada yang dinamakan curang. Segala jalan demi kemenangan perjuangan adalah benar, demikianlah pendapat para cendekiawan di jaman dahulu! Kita tidak dapat menyalahkan jalan pikiran pendekar Bu Seng Kin ini. Me­mang kenyataannya pun demikianlah. Semenjak jaman dahulu, kekuasaan mem­buat manusia mampu melakukan segala macam kekejian dan kelicikan. Semenjak jaman dahulu, ada saja sekelompok orang yang memegang kekuasaan atas orang terbanyak, disebut penguasa, pemimpin, atau pemerintah, yang dengan segala daya upayanya hendak memper­tahankan kekuasaannya, bahkan hendak memperkuat dan memperbesar kekuasa­annya. Dan untuk mempengaruhi orang terbanyak, untuk dapat mempergunakan tenaga mereka semua itu, muncullah slogan-slogan dan anjuran-anjuran yang muluk-muluk. Tentang kepahlawanan, tentang sucinya perjuangan dan banyak lagi pujuan-pujian bagi mereka yang mau berjuang alias menghadapi musuh dengan taruhan nyawa, tentu saja didengung­kan bahwa taruhan nyawa itu adalah untuk tanah air, untuk bangsa, dan se­bagainya lagi. Bahwa apapun yang dila­kukan manusia demi kemenangan per­juangan adalah suci dan agung! Betapa anehnya, betapa munafiknya dan betapa kejamnya. Di dalam perang, yang diperhalus dengan sebutan perjuang­an,dan sebagainya, yang pada hakekatnya hanyalah kebencian yang memuncak dan bunuh membunuh antara manusia, timbul­lah kejanggalan-kejanggalan yang me­ngerikan. Segala macam perbuatan manusia yang dalam keadaan wajar dianggap sebagai perbuatan jahat dan haram, di dalam perjuangan itu pun dihalalkan. Membunuh seorang manusia saja dalam keadaan atau waktu yang wajar akan dianggap kejahatan yang amat besar dan si pembunuh akan dituntut, dihukum seberat-beratnya. Namun, di dalam per­juangan atau perang, membunuh sebanyak-banyaknya manusia, yang kebetulan ber­ada di pihak musuh, dianggap sebagai perbuatan yang mulia, gagah berani, dan si pembunuh akan dipuji-puji, bahkan di­beri hadiah-hadiah dan dinamakan pahla­wan, menerima bintang dan sebagainya lagi. Demikian pula, segala macam per­buatan yang biasanya dianggap jahat dan haram dan si pelakunya dihukum, dalam masa perang yang dinamakan perjuangan itu si pelakunya dianggap baik, halal, berjasa dan diberi hadiah dan pujian. Di sini berlaku istilah tujuan menghalalkan segala cara! Apakah benar bahwa suatu tujuan, apapun juga itu namanya, yang dijangkau dengan jalan kekerasan, keke­jaman, pembunuhan, kepalsuan seperti itu, adalah tujuan yang suci murni? Da­patkah tujuan terlepas daripada sifat pelaksanaan atau caranya mencapai tu­juan itu? Bukankah di dalam tujuan itu terkandung si cara, sebaliknya di dalam cara itu terkandung pula si tujuan? Be­narkah jalan penipuan, kebencian, pembu­nuhan, kekerasan dan kepalsuan itu akan membawa kita kepada sesuatu yang luhur dan suci? Pertanyaan-pertanyaan ini amatlah penting bagi kita semua dan kiranya perlu kita selidiki bersama de­ngan membuka mata, membuang semua teori-teori lapuk karena teori-teori itu hanya kita pergunakan untuk mengecat dan memperhalus kesemuanya itu belaka, untuk kita pergunakan sebagai bahan-bahan pembelaan diri untuk membenarkan segala cara yang jelas kotor dan keji itu. Kalau sudah begitu, barulah kita dapat memandang dengan sempurna, melihat keadaannya seperti apa adanya, dan da­pat menyelidik sampai sedalam-dalamnya tanpa terpengaruh oleh segala macam pendapat-pendapat yang pada hakekatnya hanyalah untuk membenarkan diri sendiri belaka. Kekhawatiran Bu-taihiap memang terbukti. Setelah perkelahian itu lewat kurang lebih seratus jurus, tiba-tiba Tang Cun Ciu mengeluarkan pekik melengking yang amat mengejutkan semua orang. Pekik ini bukan seperti suara manusia, melainkan seperti suara suling ditiup dengan nada tinggi sekali! Melengking nyaring dan langsung menyerang jantung lawan melalui pendengarannya! Mendengar ini, Cin Liong terkejut sekali dan cepat dia pun mengerahkan sin-kangnya untuk melawan dan menahan serangan melalui khi-kang istimewa ini. Dan memang itu adalah inti dari ilmu para penghuni Lembah Suling Emas, yaitu khi-kang yang dapat dikerahkan melalui suara dan suara itu sendiri dapat menye­rang lawan yang dihadapinya. Lawan yang kurang kuat, baru mendengar suara ini saja sudah tergetar jantungnya dan dapat membuat menjadi lumpuh atau gugup, atau setidaknya menjadi kacau. Kekuatan suara seperti ini dimiliki pula oleh binatang-binatang buas seperti harimau, singa dan lain-lain, yang dengan suaranya saja sudah mampu membuat calon korban menjadi lumpuh! Dan menyusul serangan suaranya itu, secepat kilat, Tang Cun Ciu menyambit­kan pedangnya yang meluncur seperti anak panah ke arah tubuh lawan, sedang­kan kedua tangannya sendiri lalu ber­gerak mendorong ke depan dalam penye­rangan yang lebih hebat pula! Bukan main memang serangan wanita perkasa yang berjuluk Dewi Pengejar Arwah ini. Sekaligus ia telah melancarkan tiga ma­cam serangan yang amat hebat! Hal ini membuktikan bahwa wanita ini pun telah melihat kenyataan bahwa ia takkan me­nang melawan pemuda tangguh ini, maka ia telah mengeluarkan “simpanan” ter­akhir, yaitu dengan penyerangan maut yang luar biasa ini! Cin Liong juga maklum bahwa lawan­nya telah menjadi nekad dan bahwa la­wannya hendak mengadu nyawa. Maka dia pun cepat beraksi, melepaskan pe­dang dari tangan kanan dengan melontar­kannya ke depan juga, menyambut pe­dang lawan yang meluncur ke arah lehernya itu, dan dia pun menggerakkan kedua lengannya, didorongkan ke depan untuk menyambut lawan dengan jurus dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat ilmu simpanan dari ayahnya yang membuat nama ayahnya terkenal sebagai Naga Sakti Gurun Pasir. “Cringgg.... desss....!” Dua batang pedang itu bertemu di udara dan keduanya meluncur ke bawah menancap di atas tanah sampai separuh­nya lebih! Dan pada saat kedua pasang tangan itu bertemu, tubuh Tang Cun Ciu terhuyung ke belakang dan hampir saja jatuhkalau ia tidak cepat-cepat berjung­kir balik membuat pok-sai (salto) sampai tiga kali, sedangkan tubuh Cin Liong hanya terdorong mundur dua langkah saja. Marahlah Tang Cun Ciu, karena ben­turan terakhir itu sudah membuktikan bahwa ia telah kalah. Wanita ini memang memiliki kekerasan hati yang istimewa, dan keberanian yang luar biasa sekali sehingga tidak heran kalau ialah yang telah menggegerkan kota raja dan dunia kang-ouw dengan mencuri pedang pusaka dari istana! Biarpun ia tahu bahwa pe­muda itu terlampau kuat baginya, namun begitu ia sudah turun ke atas tanah, langsung saja tubuhnya meluncur lagi ke depan dengan loncatan seperti terbang cepatnya, dan kakinya telah melakukan tendangan terbang dan bertubi-tubi tiga kali, pertama tendangan ke arah kepala, ke dua ke arah ulu hati dan ke tiga ke arah pusar! Cin Liong memandang kagum. Wanita ini benar-benar tangguh sekali. Cepat dia berloncatan mengelak dan setelah meng­hindarkan diri dari tiga tendangan itu, Cin Liong lalu membalas serangan de­ngan mengeluarkan jurus-jurus Sin-liong ciang-hoat! Dan mulailah Cun Ciu terdesak terus, main mundur dan tidak ta­han menghadapi serangan-serangan yang aneh ini, yang dilakukan dengan tubuh lurus, kadang-kadang bahkan hampir mendekam ke atas tanah. Setelah men­coba untuk menghindarkan diri sampai belasan jurus, akhirnya sebuah tendangan dari kaki kiri Cin Liong mengenai pinggir lututnya dan nyonya itu pun terpelanting roboh! Ia mencoba untuk meloncat ba­ngun, akan tetapi roboh lagi karena lu­tutnya terasa nyeri dan ternyata tulang lututnya telah terlepas sambungannya! Bu Seng Kin cepat meloncat mende­kati isterinya, dan dengan beberapa kali mengurut lutut itu maka tulangnya dapat tersambung kembali dan dengan berloncatan di atas sebelah kakinya, Tang Cun Ciu terpaksa mundur setelah mencabut pedangnya dari dalam tanah, duduk kem­bali dengan muka marah dan mulut cemberut. Ia tidak pedulikan Cin Liong yang sudah menjura kepadanya sambil berkata, “Harap maafkan saya....”Akan tetapi sikap pemuda ini sungguh membuat Bu-taihiap merasa kagum bukan main dan dia pun menarik napas panjang penuh penyesalan. Sayang, sungguh sa­yang sekali bahwa pemuda seperti ini tidak bisa menjadi mantunya. Betapa akan bangga hatinya mempunyai seorang mantu seperti pemuda ini yang selain pandai sehingga semuda itu sudah menja­di jenderal kepercayaan Kaisar, juga amat gagah dan rendah hati. Seorang pendekar komplit!  “Kedua orang isteriku yang bodoh telah kalah, maka sekarang biarlah aku si tua bangka yang tak tahu diri ini mohon pelajaran dari keluarga Kao!” Dia sengaja menyebut keluarga Kao, karena untuk menantang Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir secara langsung dia masih merasa segan! Cin Liong yang masih berdiri di te­ngah ruangan itu dan kini melihat pen­dekar Bu sudah berdiri di depannya, lalu menjura dengan hormat. “Bu-locianpwe, sesungguhnya kedatangan kami di sini sama sekali tidak mempunyai niat untuk bertanding dengan siapapun juga, apalagi bermusuhan dengan para pendekar yang kami hormati. Akan tetapi, sebagai se­orang utusan Kaisar tentu saja saya harus melaksanakan tugas, dan setelah mendengar bahwa Sang Pangeran berada di sini, sudah menjadi tugas saya untuk membebaskannya. Dan untuk itu, kami tidak segan-segan untuk mengorbankan nyawa. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi oleh Locianpwe, dan saya harap saja Locianpwe tidak akan memejamkan mata melihat kenyataan bahwa segala yang dilakukan Kaisar sama sekali tidak dapat ditimpakan kesalahannya kepada Pangeran. Maka sekali lagi, saya harap Locianpwe suka mempertimbangkan dan menghabiskan segala macam perkelahian yang tiada gunanya sampai di sini saja dan membiarkan kami untuk mengawal Sang Pangeran pulang ke kota raja.” Ucapan itu sungguh penuh kegagahan dan juga tak dapat dibantah kebenaran­nya. Semua pendekar yang berada di situ juga diam-diam merasa malu dan meng­anggukkan kepala mereka. Akan tetapi, di balik kebenaran yang nyata ini ada ke­benaran lain, yaitu kebenaran yang khas dan mutlak bagi mereka, kebenaran per­juangan! Demi perjuangan, maka kebenar­an yang lain boleh disingkirkan dahulu! “Kao-goanswe, bukan kami tidak me­ihat kenyataan itu, akan tetapi kami juga mengharapkan pengertian dari ke­luarga Kao yang terhormat bahwa kami memperjuangkan tuntutan rakyat. Kami sendiri menghormat dan mengagumi Pa­ngeran, bahkan juga menyayanginya se­bagai seorang pangeran yang bijaksana dan baik. Akan tetapi kami tidak melihat cara lain untuk memaksakan tuntutan kami agar dipenuhi oleh Kaisar kecuali melalui penahanan diri Pangeran. Oleh karena itu, kami pun, demi perjuangan, rela untuk mengorbankan nyawa. Kami, biarpun bodoh, tidak dapat membenarkan sikap keluarga Kao yang kami hormati sebagai keluarga gagah perkasa itu, ialah untuk menjadi anjing penjilat Kaisar!” “Bu-locianpwe!” Kao Cin Liong me­mandang dengan mata terbelalak marah mendengar makian itu. “Cin Liong, mundurlah dan biarkan aku menghadapi Bu-taihiap, biar tua sama tua!” Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, cepat bukan main dan tahu-tahu pria setengah tua berlengan buntung sebelah itu telah berdiri di dekat putera­nya! Cin Liong menjura kepada Bu Seng Kin, dan tanpa berkata apa-apa lagi dia pun mundur dan duduk di dekat ibunya. Kini puncak pertemuan itu pun terjadilah dan semua orang merasakan ke­tegangan ini, tahu pula bahwa kini ber­diri dua orang setengah tua yang sama-sama sakti dan memiliki nama yang amat terkenal di dunia kang-ouw, walau­pun keduanya jarang terjun ke dalam urusan dunia. Mereka itu sama-sama tenang dan berhadapan, saling pandang sambil tersenyum simpul, seolah-olah dua orang itu adalah sahabat-sahabat lama saling jumpa dan berhadapan, sama sekali tidak nampak kemarahan membayang di wajah mereka, sama sekali bukan se­perti dua orang calon lawan yang saling berhadapan! Hanya pada wajah kedua orang pria gagah inilah nampak perbedaannya. Kalau wajah Bu-taihiap selalu tersenyum ramah, wajah seorang pria tampan yang menarik hati, sebaliknya pada wajah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu, biarpun juga tampan dan terang, namun wajah ini nampak amat berwibawa, terutama sekali sepasang matanya yang mencorong seper­ti mata naga itu! Wajah Si Lengan Bun­tung ini mendatangkan rasa segan dan jerih bagi mereka yang berhadapan de­ngannya dan yang mempunyai niat buruk. Pada saat itu, Kao Kok Cu memandang wajah lawan dengan penuh perhatian dan terdengar suaranya yang tenang dan tegas. “Bu-taihiap, sayang sekali bahwa se­orang pendekar seperti engkau masih mampu mengeluarkan kata-kata seperti itu. Perlu diketahui bahwa kami keluarga Kao, sejak dahulu, di jaman sebelum Pemerintah Ceng berdiri, nenek moyang kami telah hidup sebagai panglima-pang­lima perang. Kalau sekarang puteraku, sebagai keturunan mereka, menjadi se­orang Panglima pula, hal itu bukan ber­arti bahwa keluarga Kao adalah anjing-anjing penjilat Kaisar! Keluarga kami belum pernah ada yang menjadi pembe­rontak!” Bu-taihiap memperlebar senyumnya, akan tetapi senyumnya mengandung ejek­an. “Memang kami adalah pemberontak! Akan tetapi pemberontak terhadap kaisar lalim, terhadap kaisar penjajah! Kami memberontak karena itu merupakan perjuangan yang agung dan suci!” “Dan dengan beberapa gelintir orang ini, kalian bermaksud untuk mengalahkan sebuah kerajaan?” “Memang tidak mungkin, akan tetapi setidaknya kami dapat mengganggu pe­merintah Kaisar lalim, mengacaukan sana-sini, menawan Pangeran untuk me­maksa Kaisar memperlakukan kami de­ngan baik!” “Dan akibatnya Kaisar membalas den­dam kepada rakyat yang dianggap peng­ikut-pengikut kalian? Itukah hasilnya? Seperti yang baru-baru ini dilakukan Kaisar membakar biara Siauw-lim-si? Apakah itu yang kalian kehendaki?” “Apa? Kao-taihiap menyalahkan kami dengan terjadinya peristiwa pembakaran kuil?” Seorang di antara para pendekar Siauw-lim-pai berteriak penasaran. Kao Kok Cu menjawab tenang, “Ada akibat tentu ada sebabnya! Akibat keke­rasan tentu disebabkan oleh kekerasan pula! Bukankah terjadi penyerangan-penyerangan pribadi oleh jagoan-jagoan Siauw-lim-pai terhadap Kaisar? Bukankah itu juga merupakan sebab utama pembakaran kuil sebagai balas dendam?” “Tapi, kalau kami menyerang Kaisar, hal itu ada sebabnya pula....” “Aku tahu,” kata Kao Kok Cu. “Aki­bat dan sebab memang merupakan mata rantai yang tak terpisahkan. Satu sebab menimbulkan akibat dan si akibat itu menjadi sebab baru dari akibat lain yang baru pula, dan demikian seterusnya. Ka­lau perbuatan kalian ada sebabnya, maka harus diketahui pula bahwa perbuatan Kaisar pun ada sebabnya! Bukan aku membenarkan sikap Kaisar, sama sekali tidak. Akan tetapi kita harus dapat membuka mata melihat kenyataan, dan bertindak sebagai seorang pendekar seja­ti, bukan seperti orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, menuruti den­dam dan tanpa mempedulikan bahaya yang kita akibatkan dari perbuatan kita, yang akan menimpa orang-orang tak berdosa, seperti yang terjadi pada para pendekar Siauw-lim-pai!” Kao Kok Cu bicara dengan penuh pe­rasaan karena memang sesungguhnya pendekar ini merasa berduka sekali men­dengar akan semua peristiwa itu. Dia tahu bahwa Kaisar Yung Ceng telah me­nyeleweng daripada kebenaran, menyalah­gunakan wewenang dan kekuasaan untuk mengejar nafsu dan dendamnya sendiri. Akan tetapi, dia menganggap bahwa se­mua usaha para pendekar yang mengaku diri sebagai patriot-patriot itu pun tidak memperbaiki keadaan dan hanya terdo­rong oleh nafsu dendam belaka, jadi tidak ada bedanya dengan tindakan Kai­sar pula.Hening sejenak setelah pendekar ber­lengan satu itu bicara, karena kata-kata­nya tadi, yang dikeluarkan dengan suara mantap dan mengandung getaran kuat, meninggalkan kesan mendalam di hati para pendekar. Mereka dapat merasakan bahwa mereka berhadapan dengan se­orang yang tidak biasa menjilat-jilat ke atas dan menekan ke bawah, seorang yang bertindak dengan bijaksana dan tahu betul bahwa tindakannya itu tidak me­nyimpang dari kebenaran. Bu Seng Kin juga tahu akan hal ini, akan tetapi tentu dia tidak biasa mengalah begitu saja untuk menyerahkan Pangeran yang telah berada dalam kekuasaan mereka. Bagai­manapun juga, Pangeran merupakan kunci keberhasilan usahanya untuk memaksa Kaisar memperbaiki semua kesalahan yang telah dilakukan Kaisar. Membangun kembali biara Siauw-lim, membebaskan semua pendekar patriot daripada penge­jaran dan lain-lain. Bukankah itu amat penting bagi perjuangan mereka?  “Kao-taihiap, terserah apapun yang menjadi pendapatmu, akan tetapi terus terang saja, kami tidak dapat membebas­kan Pangeran sebelum ada jawaban da­tang dari Kaisar tentang tuntutan kami.” “Bagus, kalau begitu marilah kita pertaruhkan Pangeran dalam pertandingan antara kita. Kalau aku kalah olehmu, kami akan pergi dari sini tanpa banyak bicara lagi, sebaliknya kalau engkau suka mengalah, engkau harus serahkan Pange­ran kepada kami.” “Terserah apa yang hendak kaulaku­kan, kami tetap mempertaruhkan Pange­ran. Dan kalau engkau menantangku, Kao-taihiap, biarpun aku sadar akan ke­bodohanku sendiri dan akan kesaktianmu, maka aku pun tidak akan mundur selang­kah pun!” “Baik Bu Seng Kin, hari ini Kao Kok Cu minta pelajaran darimu!” kata Kao Kok Cu sambil melangkah maju men­dekat. “Akulah yang minta pelajaran dari­mu!” jawab Bu Seng Kin sambil mema­sang kuda-kuda. Semua orang memandang dengan penuh perhatian, dengan hati berdebar karena tegang. Mereka memandang ka­gum melihat bhesi (kuda-kuda) yang dipa­sang oleh Bu-taihiap. Pendekar ini nam­pak gagah sekali, mula-mula berdiri di atas jari-jari kaki, kemudian menggerak­kan kaki kanan ke depan membentuk kuda-kuda dengan kaki kanan di depan, lalu tubuhnya membalik ke arah lawan dan kuda-kudanya telah berubah menjadi kedua kaki terpentang dan ditekuk men­jadi siku, tubuhnya lurus tegak, tangan kiri terbuka di depan dada kiri, membentuk cakar harimau, dengan telapak ke depan dan tangan kanan, juga seperti cakar harimau, telentang di pinggang kanan, sepasang matanya memandang lurus ke depan, ke arah lawan dan mu­lutnya yang khas, senyum yang mudah sekali meruntuhkan hati wanita itu. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Kao Kok Cu yang mempelajari kedudukan kuda-kuda lawan, lalu membuat gerakan pula, kaki kanannya disepakkan ke sam­ping lalu meluncur ke depan, terpentang jauh sehingga tubuhnya hampir menelung­kup dengan kaki kanan jauh di depan dengan jari-jari membentuk cakar naga, lengan baju kiri yang kosong itu dikibas­kan ke belakang dan menjadi kaku seper­ti diisi besi lurus ke belakang dan muka­nya yang menunduk dalam itu nampak menjadi semakin pucat kehijauan, dan sepasang matanya mencorong dari bawah ke arah lawan! Bu-taihiap terkejut dan bergidik. Dia dapat menduga bahwa inilah ilmu dari orang gagah ini yang membuat dia dise­but Naga Sakti. Kuda-kuda itu seperti kedudukan seekor naga saja! Dan mata itu! Bu-taihiap maklum bahwa melawan orang seperti ini tidak boleh coba-coba, melainkan harus langsung mengeluarkan ilmu simpanan yang paling ampuh, karena melawan seorang yang amat lihai hanya ada dua pilihan, yaitu menang seketika atau terancam kekalahan. Tidak bisa dibuat berkepanjangan mengeluarkan ju­rus-jurus tidak berarti. Maka dia pun lalu membuat gerakan lagi, kuda-kudanya berubah dan kini kedua kakinya merapat, berjingkat di atas ujung kedua sepatunya, kedua lengan diangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya, membentuk paruh burung yang siap untuk mematuk lawan bebuyut­an, yaitu ular atau naga. itulah kuda-kuda Ilmu Silat Kim-sin Ho-kun (Ilmu Silat Burung Bangau Emas) yang sebenar­nya bersumber dari Ilmu Silat Ho-kun yang aselinya adalah dari Siauw-lim-pai akan tetapi yang telah dikombinasikan dengan ilmu aliran lain dan oleh Bu-taihiap dikembangkan dan diciptakan menja­di Kim-sin Ho-kun yang amat hebat. Demikian hebatnya ilmnu ini sehingga tidak ada seorang pun di antara isterinya yang mampu menguasainya dengan baik, tidak ada seperempat bagian saja. Akan tetapi, Bu-taihiap sendiri sebagai pen­ciptanya telah menguasai dengan sempur­na. Ujung jari-jari tangan yang dibentuk seperti paruh burung itu, dapat menotok semua bagian tubuh dengan amat kuatnya, juga dapat sekali patuk menghan­curkan batu, dan di dalam lengan itu, dari siku sampai ke ujung semua jari, dipenuhi sin-kang yang membuat lengan itu kebal dan berani dipakai menangkis senjata tajam lawan. Selain itu, paruh burung itu pun dapat membuat gerakan “menggigit”, yaitu dengan membuka kum­pulan jari untuk mencengkeram dengan kekuatan yang dahsyat! Saking kuatnya tenaga sin-kang yang terkandung dalam kedua lengan itu, maka gerakannya di­dahului oleh angin yang kuat dan ber­cuitan bunyinya. Melihat gerakan lawan, Kao Kok Cu juga menggerakkan tubuhnya, kedua ka­kinya seperti didorong ke depan, tidak melangkah, melainkan bergeser maju dan ujung lengan baju kiri yang kosong dan tadi lurus menuding ke belakang itu kini terangkat melengkung ke belakang seper­ti ekor kalajengking. Melihat lawannya tidak mengubah kuda-kuda, maklumlah Bu-taihiap bahwa memang lawannya telah mengeluarkan ilmu yang paling diandalkan, maka dia pun tidak mau sungkan-sungkan lagi dan membentak nyaring, “Kao-taihiap, lihat serangan!” Bu-taihiap menubruk ke depan, kedua tangan yang membentuk paruh burung itu menyerang ke arah kepala dan dada. Terdengar angin menyambar ketika kedua tangan itu menyambar dan tidak nampak oleh mata saking cepatnya. Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir juga menggerak­kan tangan kanan dan lengan baju kosong yang melengkung ke atas itu, dengan menyeret kaki belakang ke depan menyambut serangan lawan. “Plak! Dessss....!” paruh kanan Bu-taihiap tertangkis oleh lengan baju ko­song, sedangkan paruh kirinya disambut oleh telapak tangan Kao Kok Cu. Pertemuan dua tenaga sakti yang amat kuat itu hebat bukan main dan keduanya ter­dorong ke belakang! Semua yang hadir merasakan getaran hebat dari benturan tenaga itu, membuat rambut kepala me­reka bersama pakaian mereka berkibar seperti mendadak ada angin keras melanda tempat itu! “Bu-taihiap, awas seranganku!” Tiba-tiba Kao Kok Cu membentak dan tubuh­nya juga meluncur ke depan, tiba-tiba sampai di depan lawan tubuhnya memba­lik dengan putaran kakinya, lengan baju kosong itu menyambar seperti pecut atau seperti seekor naga yang memukul, disu­sul lengan kanannya yang menotok lam­bung lawan. Bukan main hebatnya se­rangan ini, karena ini adalah serangan dari Ilmu Sin-liong-hok-te (Naga Mende­kam di Bumi). Terdengar suara angin mendesir keras dan semua penonton yang berada terlalu dekat cepat mundur ka­rena angin itu mengandung hawa panas! Bu Seng Kin juga terkejut bukan main. Seperti lawannya tadi, dia pun tidak mau mengelak, melainkan cepat menggunakan kedua lengan untuk menangkis disertai pengerahan tenaga se­kuatnya. “Dukk! Dessss....!” Kembali keduanya terdorong ke belakang, akan tetapi kalau Kao Kok Cu hanya terdorong dua lang­kah tanpa mengubah kedudukan kakinya karena hanya tergeser, maka lawannya terdorong dan melangkah mundur terhu­yung sampai tiga langkah lebarnya! Sudah cukup bagi mereka untuk mengadu tenaga keras lawan keras dan biarpun tidak banyak selisihnya, akan tetapi Bu-taihiap harus mengakui bahwa dia memang kalah kuat dalam hal kekuatan sin-kang. Kalau dia terus mengandalkan sin-kangnya mengadu kekuatan, akhirnya dia akan terancam luka dalam yang amat berbahaya. Kekuat­an lawan itu tidak sewajarnya, dan mungkin karena sebelah lengannya bun­tung itulah maka lawan dapat menghim­pun kekuatan yang demikian dahsyatnya. Maka dia pun lalu menerjang ke depan, sekali ini mengerahkan tenaga pada ke­cepatannya dan bagaikan seekor burung bangau beterbangan, dia sudah menyerang dengan lebih mengutamakan serangan dari arah atas tubuh lawan di sekitar kepala, leher dan dada.Akan tetapi, Kao Kok Cu bersikap tenang sekali. Seperti seekor ular atau naga yang melingkar di atas tanah me­nanti serbuan burung dari atas, ular atau naga itu bersikap tenang dan hanya se­kali-kali menggerakkan kepala atau ekor­nya untuk mematuk atau menyabet pada saat burung yang menjadi lawannya menyambar turun! Kao Kok Cu tidak menyerang lebih dulu, hanya menanti sampai lawan melakukan serangan, baru­lah dia bergerak, kadang-kadang menda­hului sehingga serangan lawan gagal dan berbalik menjadi terserang, atau juga dia menangkis atau mengelak sambil langsung saja membalas. Dengan cara demikian, biarpun Bu-taihiap nampaknya lebih sibuk dengan serangan-serangannya, namun sesungguhnya dialah yang terdesak karena setiap kali lawan membalas dia terpaksa harus menghindar cepat-cepat, seperti seekor burung yang selalu mengelak dari serangan ular atau naga di bawah.  “Wut-wut-wut-wuttt....!” Tiba-tiba Bu­taihiap merubah gerakannya, menyerang tidak hanya dari atas, melainkan dari bawah dan gerakannya berubah menjadi gerakan harimau, akan tetapi masih ada dasar gerakan burung bangau. Kiranya dia telah berhasil mengkombinasikan kedua ilmu silat ini dan serangannya amat cepat, mendatangkan angin besar. “Wir.... syuuut-syuutttt....!” Kao Kok Cu mengelak dan membalas pula dengan lecutan lengan bajunya disusul hantaman tangan kanannya. Mereka saling serang dengan serunya. Pukulan dibalas pukulan secara langsung, dan dalam waktu sing­kat saja mereka telah saling serang dengan cepat dan mantap, pukul-memukul dan tangkis-menangkis, akan tetapi lebih banyak mereka itu saling mengelak dan saking cepatnya, sukar dilihat gerakan tangan mereka, bahkan tubuh mereka pun kini berputaran seperti benang ruwet menjadi satu! “Plak! Dukk!” Mereka terdorong ke belakang lagi, akan tetapi kini muka Bu-taihiap agak pucat dan mulutnya mena­han rasa nyeri karena ternyata telah “tersentuh” ujung lengan baju yang tak berisi lengan tangan itu! Dia merasa penasaran dan menyerang lagi. Kemudian terjadi pukul-memukul dan elak-meng­elak, gerakan mereka itu seperti telah diatur saja, seperti dua orang seperguru­an yang sedang berlatih silat, setiap pukulan mengenai tempat kosong dan selalu dibalas, ditangkis, membalas lagi, dielakkan dan menerima balasan. Begitu cepat dan hebat, angin menyambar-nyam­bar dan kini mereka berdua agaknya menggunakan tenaga lain karena lantai ruangan itu tergetar seperti ada gempa bum! Namun, kini mulaik tampak betapa Bu-taihiap terdesak mundur dan wajahnya penuh keringat, dari kepalanya mengepul uap putih tebal sedangkan Kao Kok Cu hanya berkeringat sedikit saja dan belum ada uap mengepul dari kepalanya! Para ahli di situ maklum bahwa kekalahan Bu-taihiap agaknya tinggal menunggu waktu saja. Perkelahian itu demikian menegangkan dan menarik perhatian semua orang yang hadir sehingga mereka tidak tahu sama sekali bahwa sejak tadi ada bayangan berkelebat di dekat ruangan itu, dan barulah mereka terkejut ketika bayangan seorang gadis yang memegang sebatang suling emas telah menyerbu medan per­tempuran dan gadis itu membentak, “Ja­ngan bunuh ayahku!” Kao Kok Cu kaget bukan main men­dengar suara melengking tinggi dengan getaran yang luar biasa kuatnya dan melihat sinar kuning emas menyambar dengan totokan itu disambung dengan amat cepatnya ke arah tujuh bagian tubuhnya yang berbahaya! Bukan main cepatnya gerakan itu, dan bukan main kuatnya getaran tenaga khi-kang yang terkandung dalam setiap totokan. Hebat­nya, kalau suling itu mengeluarkan hawa dingin, yang makin membahayakan totok­an, tangan kiri gadis itu pun masih me­nampar ke bagian yang berlawanan dan tamparan itu mengandung hawa panas! Gadis ini selain memiliki ilmu pedang yang dimainkan dengan suling, kemudian akhir serangan pedang itu menjadi tusukan yang berubah menjadi totokan, juga memiliki sin-kang yang telah demikian kuat sehingga mampu mengerahkan dua macam hawa yang berlawanan dalam satu serangan! Belum pernah pendekar ini mengalami hal seperti ini, belum pernah menghadapi lawan sehebat ini, maka dia sampai mengeluarkan seruan “Bagus se­kali....!” dan cepat-cepat dia menghin­darkan dirinya dengan putaran lengan baju kosong itu untuk menangkis setiap totokan dan berusaha melibat suling emas itu dengan lengan baju. Sementara itu, Cin Liong yang sedang nonton pertempuran seru antara ayahnya dan Bu-taihiap dengan keuntungan di pihak ayahnya, maklum bahwa sebentar lagi ayahnya tentu akan keluar sebagai pemenang. Akan tetapi dapat dibayang­kan betapa heran dan marahnya ketika tiba-tiba ada wanita yang menyerang ayahnya dengan demikian hebatnya. Dan betapa kagetnya melihat bahwa dara itu adalah Ci Sian yang telah dikenalnya! Maka cepat dia pun meloncat ke medan pertempuran itu dan berseru keras, “Ci Sian, Jangan serang ayahku!” Karena Cin Liong menyerbu ke medan pertempuran sambil menggunakan kedua tangannya untuk merampas suling, dengan maksud menghentikan serangan dara itu, Ci Sian mengira bahwa pemuda itu me­nyerangnya. Maka dengan marah ia pun sudah meninggalkan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan kini ia menyerang Cin Liong! Tentu saja Cin Liong menjadi kela­bakan diserang kalang-kabut oleh suling emas itu. Dia terkejut sekali. Dahulu, ketika dia bertemu dengan gadis ini, Ci Sian belum memiliki ilmu yang sehebat ini. Akan tetapi sekarang, benar-benar dia terkejut bukan main karena serangan-serangan dara ini benar-benar luar biasa dahsyatnya, dan tenaga yang terkandung di dalam serangan-serangan itu juga amat kuat! “Plak! Dukk!” Karena tidak mungkin mengelak lagi dan dia tidak mau kepala­nya remuk oleh pukulan suling, terpaksa dia menggunakan kedua tangannya, yang satu menangkis suling sedangkan yang kanan menangkis hantaman tangan kiri gadis itu, dan akibatnya dia terdorong ke belakang dengan dada terasa sesak kare­na kedua tangannya bertemu dengan dua kekuatan yang saling bertentangan, yang satu panas seperti api dan yang lain dingin seperti es! Dan hebatnya, dara itu terus menyerang dengan hebat, menggu­nakan sulingnya sehingga karena kewa­lahan dan tahu bahwa serangan-serangan itu sungguh amat berbahaya, maka Cin Liong terpaksa di samping mengelak dan menangkis, juga harus balas menyerang untuk menahan gelombang serangan dara itu. Sedangkan Bu-taihiap yang tiba-tiba wajahnya menjadi berseri melihat betapa dara itu yang dikenalnya sebagai yang diyakininya adalah puterinya sendiri, bangkit kembali semangatnya dan me­nyerang Kao Kok Cu! Tentu saja peris­tiwa ini mengejutkan semua orang. Ter­utama sekali melihat betapa dara yang memegang suling itu benar-benar hebat sekali kepandaiannya dan suling yang dipakainya sebagai senjata itu selain menjadi sinar kuning emas yang bergulung-gulung, juga mengeluarkan bunyi seperti dimainkan dan ditiup oleh mulut yang pandai saja! Selagi semua orang kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar suara halus namun amat ber­wibawa, “Harap Cu-wi hentikan semua pertempuran bodoh ini!” Suara itu me­ngandung teguran dan penyesalan dan semua orang memang terkejut sekali karena yang bersuara itu bukan lain ada­lah Pangeran Kian Liong sendiri! Akan tetapi Pangeran itu tidak sendirian, ka­rena di belakangnya berdiri seorang pe­muda yang gagah perkasa dan bersikap tenang, dan pemuda itu berkata pula, “Sumoi, harap mundur dan jangan berkelahi!” Melihat munculnya Sang Pangeran, Kao Kok Cu dan Kao Cin Liong cepat melompat mundur dan menghampiri Pangeran itu. Pangeran Kian Liong ada­lah sahabat baik Cin Liong dan memang sejak dahulu Pangeran ini amat suka kepada pemuda itu, maka dia lalu men­dekat. Ketika Cin Liong hendak memberi hormat, Sang Pangeran memegang le­ngannya dan berkata, “Jenderal Muda yang gagah! Kiranya engkau telah datang pula, apakah sengaja mencariku?” “Tldak, Pangeran, hamba mendengar Paduka di sini hanya kebetulan saja. Hamba sedang mencari Sim Hong Bu untuk minta kembali pedang pusaka ke­rajaan yang dicuri orang, dan hamba dibantu oleh ayah dan ibu hamba.” “Ah, kalau Naga Sakti Gurun Pasir yang turun tangan, segalanya tentu be­res!” kata Sang Pangeran dengan gem­bira. Kemudian Pangeran itu menghadapi Bu-taihiap yang masih bingung melihat munculnya Pangeran itu secara tiba-tiba dan dia merasa ragu-ragu untuk meme­rintahkan teman-temannya memperguna­kan kekerasan. “Bu-taihiap, harap jangan heran kalau aku telah dibebaskan oleh pendekar sakti ini.” katanya sambil menunjuk kepada Kam Hong. “Para pendekar yang menjagaku sama sekali bukan lawannya, dan dalam segebrakan saja mereka semua telah roboh dan pingsan. Apalagi dia datang bersama sumoinya, Nona Bu Ci Sian yang selalu melindungiku, dan biar­pun Nona ini puterimu, namun kurasa tidak sependapat denganmu dalam hal perjuangan dan pemberontakan. Dan di sini kulihat ada Jenderal Kao Cin Liong yang gagah perkasa, dengan ayah bunda­nya yang lebih perkasa lagi, maka kira­nya kalian para pendekar tidak akan mampu menahanku lagi.”Bu Seng Kin memandang kepada Kam Hong. Jadi pemuda ini suheng dari pute­rinya? Dia tadi sudah terheran-heran karena biarpun hanya beberapa gebrakan saja, dia sempat menyaksikan puterinya yang menyerang Naga Sakti Gurun Pasir, kemudian menyerang jenderal muda itu! Dan melihat bahwa puterinya itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat  “Bu-locianpwe,” kata Cin Liong yang merasa tidak enak melihat keadaan pe­mimpin para patriot itu, apalagi tadi dia melihat betapa Ci Sian membantu pen­dekar itu. Kalau sampai terjadi pertem­puran lagi, sungguh dia tidak sanggup untuk melawan Ci Sian, bukan jerih oleh keahlian dara itu, melainkan tidak sam­pai hati untuk berkelahi melawan gadis ini. Setelah dia bertanding beberapa ge­brakan saja, tiba-tiba Cin Liong melihat kenyataan yang membuatnya terkejut setengah mati, yaitu bahwa selama ini dia tidak pernah dapat melupakan dara ini, dan baru sekarang terasa olehnya bahwa sebetulnya sejak dahulu, sejak pertemuan di antara mereka dalam ben­teng pasukan Nepal, dia telah jatuh hati kepada Ci Sian! “Seperti telah saya ka­takan tadi, kedatangan kami bertiga adalah untuk mencari Sim Hong Bu yang kami tahu berada di sini. Kami memba­wa perintah Sri Baginda Kaisar untuk minta kembali pedang pusaka kerajaan yang telah dicuri dan kini berada di tangannya. Kami bukan datang untuk memusuhi para pendekar. Hanya karena kebetulan saja kami tahu tentang Pange­ran dan setelah beliau sekarang bebas, maka saya ingin mengulang permintaan saya, yaitu agar orang yang bernama Sim Hong Bu suka keluar dan berhadapan dengan saya.” Bu-taihiap tersenyum pahit. Dia dan kawan-kawannya telah gagal. Mereka, para patriot itu, tentu saja hanya dapat melakukan penahanan terhadap diri Sang Pangeran dengan rahasia saja, dan sete­lah sekarang Pangeran itu lolos, tak mungkin mempergunakan kekerasan, karena tentu mereka akan dihadapi pasukan besar yang akan membasmi mereka da­lam waktu singkat. “Jenderal Kao, kaucarilah sendiri pemuda yang bernama Sim Hong Bu itu.” Dari dalam terdengar suara wanita, “Suheng, jangan....!” Lalu muncullah seorang pemuda yang gagah, diikuti oleh seorang dara berpa­kaian wanita yang kelihatan gelisah se­kali. Pemuda itu bukan lain adalah Sim Hong Bu! Dia dan Pek In memang disu­ruh menyembunyikan diri dan jangan memperlihatkan diri ketika keluarga Kao datang berkunjung. Akan tetapi ketika mendengar percakapan tentang dirinya, Sim Hong Bu tidak dapat menahan hatinya lagi dan biarpun dicegah oleh Pek In yang merasa khawatir, dia tetap saja nekad keluar. Semua orang memandang kepadanya, dan dengan sikap tenang Sim Hong Bu menghadap Bu-taihiap dan menjura, lalu berkata dengan suara penuh penyesalan, “Bu-locianpwe, sungguh saya menyesal sekali karena kedatangan saya di sini hanya menimbulkan kegagalan dan ke­rugian saja bagi para saudara yang per­kasa. Kalau saya tidak datang ke sini, tentu tidak akan terjadi keluarga Kao menyusul ke sini. Oleh karena itu, biarlah saya menghadapi mereka, karena mereka itu adalah musuh-musuh pribadi saya!” Setelah berkata demikian, Sim Hong Bu menghadapi Kao Cin Liong dan juga Kam Hong. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kao Cin Liong, tidak kupungkiri bahwa akulah pewaris Koai-liong Po-kiam dan pedang pusaka ini adalah hak milik nenek moyang guruku. Kalau engkau menjadi utusan Kaisar untuk merampas kembali pedang ini, majulah! Pedang ini hanya dapat diambil orang lain melalui mayatku saja!” Dan sebelum Kao Cin Liong menjawab, Sim Hong Bu juga berkata kepada Kam Hong dengan lebih dulu menjura, “Kam-taihiap, aku merasa me­nyesal sekali untuk menyatakan ini, akan tetapi karena Tai-hiap juga sudah berada di sini, biarlah sekalian kusampaikan bahwa aku melaksanakan pesan guruku bahwa kalau aku bertemu denganmu, aku harus menantangmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul antara Suling Emas dengan Kim-siauw Kiam-sut mela­wan Pedang Naga Siluman dengan Koai-liong Kiam-sutnya. Dan karena urusan antara kita hanyalah urusan siapa yang lebih unggul dan pertandingan dapat di­lakukan secara persahabatan, maka biar­lah aku akan menandingi dulu suling emasmu sebelum aku harus memperta­ruhkan pedang pusaka ini dengan nyawa­ku,” setelah berkata demikian, nampak sinar berkelebat dibarengi suara meleng­king nyaring sekali seperti suling ditiup dan tahu-tahu pemuda itu telah meme­gang sebatang pedang yang sinarnya ber­kilauan mengerikan dan sinar kebiruan masih terbayang di dalam pandangan mata semua orang, padahal sinar yang tadi berkelebat itu telah lenyap karena pedang itu kini tidak digerakkan, melain­kan melintang di depan dada Sim Hong Bu. Seperti juga Cin Liong, Kam Hong tertegun dan kagum melihat sikap Sim Hong Bu. Sejak pertemuan pertama dia memang suka dan kagum kepada Sim Hong Bu dan dia pun sudah menyaksikan kehebatan ilmu pedang pemuda ini ketika bersama dengan Ci Sian, Hong Bu mengalahkan Hek-i Mo-ong. Diam-diam, dia malah tadinya mengharapkan perjodohan antara Sim Hong Bu dan Ci Sian, yang dianggapnya sebagai pasangan yang cocok sekali. Akan tetapi, pemuda itu kini berhadapan dengan dia sebagai wakil keluarga Cu yang hendak menuntut balas atas kekalahan mereka! Cin Liong sendiri juga meragu. Dia pun sejak mendengar akan riwayat pe­dang pusaka itu, merasa betapa beratnya tugas yang dipikulnya, bukan berat kare­na berhadapan dengan lawan yang tangguh, melainkan merasa berat karena se­betulnya hatinya condong untuk mengembalikan pedang itu kepada pemiliknya yang syah, yaitu keluarga Cu. Akan te­tapi, bagaimanapun juga, pedang itu te­lah dicuri dari istana dan sudah sepantasnya kalau dikembalikan ke tempatnya. Selagi Cin Liong dan Kam Hong ter­tegun dan merasa ragu-ragu dan menye­sal bahwa mereka harus menghadapi pemuda gagah perkasa itu sebagai lawan tanpa ada urusan pribadi, kesemuanya hanya karena ikatan tugas belaka, tiba-tiba terdengar bentakan Ci Sian dan nampak sinar kuning emas menyambar dan langsung menyerang ke arah Sim Hong Bu. “Tring-trang-cringggg....!” Tiga kali suling emas itu bertemu dengan pedang Naga Siluman dan nampak bunga api ber­pijar. Hong Bu terkejut bukan main dan cepat meloncat ke belakang. “Nanti du­lu...., Ci Sian.... aku.... aku tidak ingin berkelahi denganmu!” “Tidak, ya? Engkau adalah jagoan yang mewakili Pedang Naga Siluman, dan akulah yang mewakili suhengku, mewakili Suling Emas! Hayoh, tidak usah banyak cerewet. Selagi di sini berkumpul banyak Locianpwe, banyak pendekar yang gagah perkasa, mari kita buktikan, siapa yang lebih unggul antara Suling Emas dan Pedang Naga Siluman!” Dan Ci Sian su­dah menerjang lagi dengan dahsyatnya. Kam Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi dia memandang sambil tersenyum ketika melihat tarikan muka pemuda itu yang menjadi kebingungan sekali! Kembali amat jelas nampak oleh pendekar ini bahwa pemuda yang gagah perkasa itu sungguh mencinta sumoinya! Menghadapi serangan dara yang dicintanya itu agak­nya merupakan hal yang paling mem­bingungkan dan menggelisahkan hati Sim Hong Bu. Beberapa kali pedangnya me­nangkis dan berkali-kali dia minta kepada Ci Sian untuk menghentikan serangannya. Akan tetapi Ci Sian nekat terus dan rendesak terus, suling emasnya menge­luarkan suara menjerit-jerit seperti ditiup oleh orang yang sedang marah! “Ci Sian.... dengar.... jangan....!” Hong Bu berkali-kali berteriak untuk mencegah dara itu, akan tetapi Ci Sian sungguh terlampau marah untuk dapat ditahan lagi. Sulingnya menyerang semakin ganas dan bunyi lengking sulingnya makin he­bat. Semua orang yang menyaksikan ge­rakan suling ini bergidik ngeri dan para Locianpwe yang berada di situ juga men­jadi bengong dan kagum sekali. Bahkan Pendekar Sakti Gurun Pasir sendiri mengamati semua gerakan itu dengan sinar mata berkilat saking gembiranya karena baru sekali ini pendekar sakti itu melihat suatu ilmu yang benar-benar hebat luar biasa. Kalau sampai seorang pendekar sakti seperti Naga Sakti Gurun Pasir ini tercengang kekaguman, maka apalagai para pendekar lain yang hadir di situ. Bu-taihiap sendiri memandang de­ngan wajah berseri-seri walaupun tadinya dia terkejut dan terheran-heran, juga bingung melihat watak puterinya yang membolak-balik seperti angin itu, tadinya membantunya dan kini malah menyerang Sim Hong Bu! Akan tetapi semua keheranannya itu ditelen oleh rasa kagum menyaksikan ilmu silat dengan suling yang demikian hebatnya. Dia malah terpengaruh juga oleh getaran tenaga khi-kang yang terbawa oleh suara suling! Yang bingung adalah Hong Bu sendiri. Tentu saja, biarpun dia tahu bahwa dara itu amat lihai, dia tidak takut dan dapat menandinginya. Akan tetapi, mana mungkin dia menghadapi dara ini sebagai lawan? Dia mencinta Ci Sian! Dia rela mati untuk dara ini! Bagaimana dia da­pat mengangkat pedang untuk melawannya, melukainya atau bahkan membunuh­nya? Lebih baik dia yang mati. Dengan hati yang perih seperti ditusuk-tusuk rasanya, dan bingung sekali, setelah beberapa kali menangkis dan mengelak, Sim Hong Bu tiba-tiba meloncat dan melarikan diri secepatnya dari tempat itu! “Ke mana engkau hendak lari?” ben­tak Ci Sian yang hendak mengejarnya, akan tetapi suara Kam Hong lebih cepat lagi. “Sumoi, jangan kejar dia!” Suara Kam Hong rnerupakan satu-satunya suara di dunia ini yang mempu­nyai pengaruh besar bagi Ci Sian. Biar­pun belum tentu ia selalu taat, akan tetapi setidaknya, suara Kam Hong selalu diperhatikannya dan sekali ini ia pun berhenti dan tidak melanjutkan pengejar­annya. Melihat larinya Sim Hong Bu, Cin Liong khawatir kalau-kalau pemuda itu lenyap dan pedang pusaka itu tidak ber­hasil dirampasnya kembali.“Ayah, harap suka lindungi Sang Pangeran, aku hendak mengejarnya!” katanya dan tanpa menanti jawaban ayahnya, pemuda ini sudah berkelebat lenyap untuk mengejar Sim Hong Bu. Keadaan menjadi agak tegang dan suasa­na menjadi sunyi sekali di tempat itu setelah apa yang terjadi tadi.  “Ah, betapa sayangnya melihat para pendekar yang gagah perkasa kini bersikap seperti anak-anak kecil yang mem­perebutkan mainan, saling serang untuk saling membunuh. Betapa menyedihkan!” Pangeran Kian Liong berkata sambil menggeleng-geleng kepala. Mendengar ucapan ini, Bu Seng Kin cepat menjawab dengan suara mengandung penasaran. “Pangeran, kami adalah pejuang-pe­juang rakyat yang tertindas sebagai aki­bat kesewenang-wenangan Kaisar. Juga kami membela rekan-rekan kami para pendekar yang dikejar, dibunuh dan hen­dak dibasmi oleh Kaisar, seperti halnya sahabat-sahabat dari Siauw-lim-pai. Kami sama sekali tidak hendak memperebutkan sesuatu, melainkan minta agar kami di­perlakukan dengan baik sebagai manusia, sebagai rakyat yang memiliki tanah air ini!” Jawaban yang bersemangat itu membuat para pendekar yang berada di situ mengangkat dada dan sinar mata mereka pun menjadi berapi penuh se­mangat. “Tapi, siapa pun yang hendak meng­ganggu Pangeran yang tidak mempunyai dosa apapun dalam urusan Kaisar itu, akan kuhadapi dengan sulingku!” Ci Sian berkata, suaranya juga tegas dan nyaring, dan suling emas itu dilintangkan di depan dadanya. Bu-taihiap memandang kepada gadis ini dengan alis berkerut. “Ci Sian, sung­guh mati kami bingung sekali melihat sikapmu. Siapakah yang engkau bela? Tadi, aku melihat engkau sebagai se­orang puteriku yang gagah perkasa dan berbakti, yang membantuku ketika aku terdesak oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Akan tetapi, kemudian engkau bahkan melawan dan menyerang Sim Hong Bu yang berdiri di pihak kami sebagai seorang pendekar patriot! Dan sekarang pula, engkau hendak membantuku mem­bela Sang Pangeran. Bagaimanakah ini dan di pihak siapakah engkau sesungguh­nya berdiri?” “Aku tidak memihak siapapun juga. Aku bebas dan hanya berpihak kepada kebenaran. Kalau tadi aku membantumu adalah karena mengingat bahwa engkau adalah ayah kandungku, biarpun aku sama sekali tidak menyukai kenyataan itu! Dan aku melawan Sim Hong Bu karena dia menantang Ilmu Suling Emas! Kini aku membela Sang Pangeran karena beliau adalah seorang yang bijaksana dan sama sekali tidak bersalah!” “Hemm, Ci Sian, sesungguhnya di manakah engkau berdiri? Apakah engkau seorang pendekar yang berjiwa patriot dan membela tanah air dan bangsa dari­pada penindasan, ataukah engkau hendak menjadi seorang pengkhianat bangsa dan menjadi antek dari Kaisar penjajah?” Kini wajah Ci Sian menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi! “Biarpun engkau ayah kandungku, jangan harap untuk dapat memberi kuliah kepa­daku! Tengoklah diri sendiri! Seorang di antara isterimu adalah bekas panglima Nepal! Apakah ia pun seorang pecinta rakyat dan anah air kita? Aku tidak peduli tentang urusan perebutan keduduk­an. Aku bukan pengkhianat siapa-siapa dan juga bukan pemberontak.” Pangeran Kian Liong melangkah maju. “Ah, cukuplah kiranya percekcokan ini. Nona Bu, aku telah mengenalmu sebagai seorang dara yang gagah perkasa dan berjiwa pendekar. Apapun juga pandanganmu terhadap ayah kandungmu, tidak baiklah kalau membenci orang tua sendiri. Sekarang, Bu-taihiap, dengarlah baik-baik. Tidak perlu diributkan lagi mengenai diriku, dan hentikan semua pertikaian yang tiada artinya ini. Aku berjanji, kalian semua yang hadir di sini menjadi saksi, bahwa aku akan memper­juangkan semua tuntutan kalian itu kepa­da ayahku, Sri Baginda Kaisar. Biarpun aku tidak menjadi tawanan di sini, biar­pun aku tidak menjadi sandera, akan te­tapi aku berjanji bahwa aku akan meng­ajukan tuntutan-tuntutan itu kepada Kai­sar dan aku kira semua tuntutan itu akan dikabulkan.” Bu-taihiap mengerutkan alisnya. Biar­pun mereka semua masih berada di dalam sarang para pendekar patriot, akan tetapi keadaan sungguh tidak menguntungkan dirinya. Sekarang Pangeran telah mempunyai banyak pelindung yang amat ting­gi ilmu kepandaiannya. Dia sendiri tadi sudah merasakan kelihaian Naga Sakti Gurun Pasir. Dan biarpun kini Jenderal Kao Cin Liong sudah tidak berada di situ melainkan mengejar Sim Hong Bu, akan tetapi sebagai penggantinya di situ ter­dapat puterinya, Bu Ci Sian yang dia tahu telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Apa lagi suhengnya yang membebaskan Pangeran itu, dapat diduga tentu memiliki ilmu yang lebih hebat lagi. Menggunakan kekerasan dan penge­royokan berarti hanya akan menggagalkan usaha perjuangan itu sendiri, karena pemerintah tentu akan mengirim pasukan dan menghancurkan mereka. Akan tetapi mengalah begitu saja juga amat mema­lukan dan dapat menimbulkan penafsiran bahwa para pendekar patriot merasa takut! Selagi Bu-taihiap kebingungan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba terdengar teriakan dari para penjaga di luar, “Utusan ke kota raja telah tiba kembali!” Wajah Bu-taihiap menjadi cerah kem­bali dan dia cepat berkata kepada Sang Pangeran, “Harap Paduka ketahui bahwa orang yang kami utus ke kota raja menyampaikan tuntutan kepada Sri Baginda Kaisar telah pulang. Kita dengarkan saja bersama apa yang dihasilkan oleh tuntut­an itu.” Ketika dua orang utusan itu memasuki ruangan yang penuh orang itu, apa­lagi melihat pula Pangeran Kian Liong di situ, mereka menjadi ragu-ragu dan me­mandang kepada Bu-taihiap dengan sikap bingung. “Laporkanlah saja apa yang menjadi hasil tuntutan kita kepada Kaisar, biar didengar oleh semua yang berada di si­ni,” kata Bu-taihiap kepada dua orang utusan itu. “Jangan kalian ragu-ragu lagi.” “Kami telah menyampaikan surat tuntutan itu kepada kepala pengawal. Setelah kami disuruh menanti dan di jaga ketat, seolah-olah kami hendak ditangkap dengan kekerasan, tak lama kemudian muncul seorang pembesar istana dan kami menerima jawaban tertulis yang harus kami segera sampaikan kepada Tai-hiap.” Dua orang utusan itu menge­luarkan sepucuk surat bersampul yang ada cap istana, menyerahkannya kepada Bu-taihiap. Pendekar ini menerima dengan hati bangga dan juga wajah berseri. Jawaban dari istana berarti bahwa tuntutan mere­ka itu dihargai dan disambut. Kalau sebaliknya, tentu dua orang utusan itu sudah ditangkap atau dibunuh! Sambil tersenyum dia membuka sampul dan ber­kata kepada Sang Pangeran, “Harap Pa­duka ikut pula mendengarkan jawaban dari istana, juga semua saudara harap mendengarkan.” Setelah berkata demikian, Bu-taihiap lalu membuka surat itu dan membaca dengan suara keras. Di dalam surat itu tertulis bahwa Kaisar menerima semua tuntutan itu dan berjanji akan mengabulkannya, akan tetapi diminta agar Sang Pangeran segera dipersilakan pulang ke istana karena kaisar menderita sakit. Mendengar ini, semua orang terkejut, juga Sang Pangeran sendiri. “Ah, kiranya Sri Baginda Kaisar sedang sakit!” katanya. Lalu dia menoleh kepada Kao Kok Cu, “Kao-taihiap, aku harus segera kembali ke kota raja!” “Kami akan mengantar Paduka pu­lang,” kata pendekar berlengan satu itu. Bu-taihiap juga girang sekali melihat isi jawaban yang menyatakan bahwa tun­tutan mereka akan dikabulkan, maka dia pun segera menyediakan sebuah kereta dan kuda yang segar untuk dipakai oleh Sang Pangeran ke kota raja. Kao Kok Cu dan isterinya lalu cepat mengawal Pangeran untuk naik kereta menuju ke kota raja, dikusiri sendiri oleh Wan Ceng dan suaminya. Sedangkan Kam Hong segera meninggalkan ternpat itu untuk mengejar Sim Hong Bu pula, bersama sumoinya. Bu Seng Kin berusaha untuk menahan pu­terinya, agar mau tinggal di situ ber­samanya, namun dengan sikap angkuh dan keras Ci Sian menolak. “Biarpun engkau adalah ayah kandung­ku, akan tetapi sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayangmu. Oleh karena itu, bagiku engkau sama saja seperti orang lain, Ayah. Maka aku tidak mungkin dapat tinggal bersamamu, ke­cuali.... kecuali....” “Kecuali apa?” “Kalau engkau hidup sendirian saja!” Tang Cun Ciu yang pernah bermusuh­an dengan Ci Sian, bahkan pernah mere­ka berdua itu berkelahi, berkata dengan suara dingin, “Bu Ci Sian, engkau harus dapat melihat kenyataan! Hidup tidaklah semanis yang engkau kira. Ayahmu telah mempunyai isteri-isteri lain, dan ini ada­lah kenyataan, biarpun hati tidak setuju akan tetapi mana bisa mengubah kenyata­an? Betapapun juga kami adalah isteri-isterinya, mana mungkin dipisahkan be­gitu saja?” Ci Sian cemberut. “Aku pun tidak mau merampas Ayah. Boleh kalian semua miliki selamanya, aku tidak membutuhkan dia. Suheng, mari kita pergi! Tak tahan aku berlama-lama di tempat ini!” kata­nya sambil melompat keluar, diikuti oleh Kam Hong. Biarpun Bu-taihiap agak terpukul ba­tinnya oleh sikap puterinya itu, namun kegembiraan karena tuntutan para patriot diterima dan hendak dikabulkan oleh Kaisar merupakan hiburan besar. Bu-taihiap lalu menyebar orang-orang­nya untuk menyampaikan berita baik itu kepada seluruh pendekar patriot yang tersebar di banyak kota, dan mereka tinggal menanti pelaksanaan daripada janji Kaisar yang hendak mengabulkan permintaan mereka itu. Akan tetapi, sementara itu, Kaisar yang menjanjikan pemenuhan tuntutan itu sendiri sedang menderita sakit yang parah karena luka oleh pisau beracun itu menjadi makin membengkak dan mulai meracuni darah dalam tubuhnya! Ketika Pangeran Kian Liong tiba di istana dan langsung mengunjungi Kaisar, Pangeran ini terkejut bukan main melihat keadaan Kaisar yang amat payah. Dia mendengar akan peristiwa penyerangan selir itu dan Sang Pangeran menghela napas panjang. Ketika mendengar bahwa selir itu sehari sebelum melakukan pe­nyerangan dikunjungi seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai puteranya, tahulah Kian Liong siapa yang dimaksud­kan oleh mereka. Pemuda itu pernah di­jumpai sebagai seorang pendekar patriot yang bersemangat. Kembali akibat dari pada penyelewengan ayahnya, pikir Pa­ngeran ini. Ayahnya kini memetik buah daripada pohon yang ditanamnya sendiri. Biarpun keadaan penyakitnya amat parah, ketika Kaisar mendengar akan kedatangan puteranya, dia membuka ma­tanya dan memberi isyarat kepada Pa­ngeran Kian Liong untuk duduk. Pange­ran itu lalu duduk di tepi pembaringan. “Bagus, engkau sudah dibebaskan?” kata Kaisar itu bersemangat walaupun suaranya lemah dan lirih dan napasnya agak memburu. “Bagus, sekarang juga akan kuperintahkan agar dikirim pasukan besar untuk membasmi seluruh pemberon­tak-pemberontak laknat itu!” “Harap Paduka tenang dan tidak membiarkan kemarahan meracuni diri Paduka yang sedang sakit,” kata Sang Pangeran. “Agaknya Paduka lupa bahwa Paduka telah menjanjikan untuk menga­bulkan permohonan mereka....” “Permohonan? Mereka menuntut! Ti­dak ada janji dengan para pemberontak! Akan kubasmi sampai ke akar-akarnya!” Pangeran Kian Liong dengan halus membantah bahwa yang disebut pembe­rontak oleh Kaisar itu adalah pendekar-pendekar patriot-patriot sejati yang men­jadi sakit hati karena penekanan terha­dap mereka oleh pemerintah. “Terutama sekali pembakaran biara Siauw-lim-si membuat mereka itu menja­di semakin mendendam. Kalau kita ber­sikap baik kepada mereka, maka kita dapat mempergunakan tenaga mereka itu dengan baik dan demi kemakmuran negara. Kalau ditekan, mereka akan melawan dan kita harus ingat bahwa jumlah mereka cukup besar dan gerakan mereka itu didukung oleh hampir seluruh kaum kang-ouw.” “Kalau perlu akan kubasmi seluruh kaum kang-ouw!” Kaisar membentak ma­rah. Akan tetapi dengan suara halus, Pangeran Mahkota itu mencoba untuk mengingatkan Kaisar. Kaisar menjadi marah dan jengkel sekali dan hal ini sebetulnya amat tidak baik bagi kesehat­annya sehingga Kaisar jatuh pingsan lagi dan penyakitnya menjadi semakin berat! Melihat keadaan Kaisar yang penya­kitnya semakin payah itu, para pembe­sar lalu mengadakan musyawarah, di­pimpin oleh Pangeran Kian Liong dan atas persetujuan dari Kaisar yang ka­dang-kadang siuman itu, maka diangkat­lah Pangeran Kian Liong sebagai pelak­sana dan penguasa menggantikan Kaisar yang memang menjadi haknya sebagai Pangeran Mahkota. Dan begitu Pangeran muda ini duduk sebagai penguasa ter­tinggi, maka keluarlah keputusan-keputusan yang amat bijaksana dan melega­kan hati para pembesar yang setia, juga melegakan hati rakyat dan para pende­kar. Di antara keputusan-keputusan itu adalah pembangunan biara Siauw-lim, dan dihentikan pengejaran terhadap para pen­dekar patriot, peringanan pajak bagi rak­yat, terutama di dusun-dusun, pembangunan-pembangunan untuk kesejahteraan rakyat dan sebagainya. Tentu saja kepu­tusan-keputusan baru ini, selain di satu pihak disambut dengan gembira, namun di lain pihak ada orang-orang yang menyambutnya dengan tidak senang. Dan mereka itu adalah orang-orang yang memang pada dasarnya membenci bangsa Han yang mereka anggap sebagai bangsa yang lebih rendah daripada mereka. Me­reka ini adalah pembesar-pembesar Man­cu yang berkuasa di istana, yang merasa sebagai bangsa yang berkuasa di Tiong­kok. Selain beberapa orang di antara para pembesar Mancu, hanya beberapa orang saja karena tidak semua pembe­sar bangsa Mancu berwatak seperti itu bahkan sebagian besar telah melebur diri menjadi bangsa Han pula dengan mene­rima semua kebudayaan, ada pula pihak lain yang tidak puas dan bahkan marah-marah dengan adanya kebijaksanaan-ke­bijaksanaan baru dari Pangeran Kian Liong ini. Mereka itu adalah pembesar­pembesar, terutama di daerah-daerah, tidak peduli apakah mereka itu berbang­sa Mancu atau Han, yang merasa amat dirugikan dengan adanya peraturan-pera­turan baru seperti meringankan pajak dan sebagainya itu. Dengan adanya kebijak­sanaan baru ini, tertutuplah banyak sumber penghasilan mereka melalui korupsi! Betapapun juga, karena Pangeran Kian Liong melaksanakan semua keputusan itu dengan bijaksana, dan tidak ragu-ragu untuk menghukum mereka yang melang­gar, maka setuju atau tidak setuju, keputusan-keputusan itu dijalankan juga oleh para pembesar. Dan rakyat bersorak gembira dengan hati agak lega karena mereka merasa agak terangkat dari ju­rang kesukaran dan terlepas dari himpit­an-himpitan yang amat berat.Penyakit Kaisar semakin payah dan akhirnya Kaisar Yung Ceng meninggal dunia pada tahun 1735. Kaisar ini me­ninggal dalam keadaan sengsara karena penyakitnya membuat dia menderita dan rebah tersiksa selama berbulan-bulan, hampir setahun. Tidak ada kesulitan timbul dalam penobatan Pangeran Kian Liong menjadi kaisar. Sejak tahun 1735 dia memang telah menjadi penguasa penuh dan pada tahun 1736, beberapa bulan setelah me­ninggalnya Kaisar Yung Ceng, maka Pa­ngeran Kian Liong dinobatkan sebagai kaisar penuh. Setelah menjadi kaisar, maka Pange­ran Kian Liong makin berani dalam tin­dakan kebijaksanaannya. Berbagai per­aturan yang dianggapnya hanya bersum­ber kepada keinginan pembesar-pembesar yang bersangkutan untuk menumpuk harta kekayaan dan memperkuat kekuasaan belaka dihapus dan dirubah secara radikal. Pembesar-pembesar digantinya dengan orang-orang yang cakap. Kaisar muda ini pun mengulurkan tangan kepada para pendekar, siapa saja yang ingin menyumbangkan tenaga demi kemakmur­an negara dan rakyat, diterimanya tanpa pilih bulu, dan diberi kedudukan yang sesuai dengan kepandaian masing-masing. Selain ini, juga Kaisar Kian Liong meng­gunakan tangan besi terhadap para pen­jahat dan koruptor. Keadaan berubah sama sekali, baik di dalam pemerintahan maupun keadaan dalam kehidupan rakyat jelata. Kaisar ini berusaha sedapat mung­kin untuk menarik simpati rakyat, untuk menghapus kesan bahwa mereka itu terpimpin oleh kaum penjajah. Di dalam istana sendiri, Kaisar mengadakan pem­bersihan dan mengenyahkan para penjilat dan pembesar-pembesar korup. Tentu saja semua ini disambut oleh para pendekar dengan hati lega. Memang, perasaan tidak senang bahwa negara di­pimpin oleh bangsa Mancu masih ada dalam lubuk hati mereka. Namun, yang terpenting pada waktu itu adalah melihat rakyat hidup sejahtera dan makmur, ti­dak tertindas. Yang penting adalah ke­makmuran lahiriah lebih dulu dan mereka melihat dalam diri kaisar baru ini seorang pemimpin yang adil, yang bahkan lebih baik daripada kaisar-kaisar bangsa sendiri ratusan tahun yang lalu. Kaisar Kian Liong selain menghargai tenaga para pendekar, juga tidak mengabai­kan para ahli sastra. Dia pun meng­ulurkan tangan kepada kaum sastrawan untuk menyumbangkan tenaga dan pikir­an, dengan imbalan-imbalan yang mema­dai, dengan kedudukan-kedudukan yang cukup baik, sehingga pada masa pemerin­tahan Kaisar ini, kesusastraan berkembang biak dengan baiknya. Dan memang tercatat dalam sejarah bahwa Pangeran Kian Liong merupakan satu-satunya kaisar yang berhasil di da­lam pemerintahan Mancu, bahkan jarang ada kaisar yang demikian gemilang pada dinasti-dinasti sebelumnya. Kaisar Kian Liong sendiri adalah seorang yang amat mengagumi Kaisar Tang Thai Cung, yaitu kaisar di dalam Dinasti Tang yang diang­gapnya sebagai seorang kaisar yang bi­jaksana dan patut dicontoh. Maka dalam banyak hal, dia mencontoh Kaisar Dinasti Tang itu yang memerintah selama dua puluh tahun dan telah mencapai banyak sekali kemajuan untuk rakyat dan nega­ranya. Dan Kaisar Kian Liong ini malah menjadi Kaisar sampai selama enam puluh tahun! Sungguh merupakan masa pemerintahan yang amat lama dan jarang ada kaisar yang seperti dia. Hal ini membuktikan kebijaksanaannya ketika memerintah sehingga tidak banyak terjadi pemberontakan terhadap pimpinannya! Memang tidak dapat disangkal bahwa jiwa patriot masih belum padam di da­lam hati para pendekar. Namun api pemberontakan di dalam hati itu menge­cil bahkan hampir padam selama pemerintahan Kaisar Kian Liong karena para pendekar itu segan dan tunduk kepada Kaisar yang bijaksana itu. Semua propinsi dalam keadaan tenteram, bahkan negara­negara yang tadinya suka menyeberang perbatasan dan mengadakan pengacauan, kini menarik pasukan mereka tidak bera­ni mengganggu. Mereka pun maklum bahwa dalam sebuah negara yang tente­ram dan makmur, terhimpun kekuatan yang hebat, bukan hanya kekuatan pasukannya, melainkan terutama sekali karena setiap orang rakyat siap sedia untuk mempertahankan ketenteraman hidupnya dan akan bangkit melawan pengacau dari luar. Pada jaman Kaisar Yung Ceng, telah terjadi kontak-kontak dengan bangsa Rusia dan bangsa ini malah diperbolehkan membuka perwakilan di kota raja. Juga telah lama diadakan hubungan perdagang­an dengan bangsa Portugal sebagai bang­sa asing. yang paling dulu mengadakan hubungan dagang dengan Tiongkok. Ke­mudian berturut-turut datang pula bangsa Belanda, Inggris dan Perancis. Akan tetapi, Kaisar Kian Liong membatasi gerakan mereka dan menjaga benar-benar agar mereka itu tidak mempengaruhi rakyat di mana mereka tinggal dengan kebudayaan mereka. Setiap gerak-gerik mereka diawasi dan perdagangan pun dibatasi agar rakyat tidak sampai tertipu dan dirugikan. Demikianlah keadaan pada waktu pemerintah Kaisar Kian Liong, dan ka­laupun ada terjadi pemberontakan, maka pemberontakan itu hanya terjadi di da­erah pinggiran yang berbatasan dengan negara tetangga, pemberontakan suku bangsa yang masih liar dan yang selalu tidak mau menerima peraturan-peraturan dari pusat. Namun semua pemberontakan itu pun dengan mudah dapat ditundukkan dan diatasi. Melihat keadaan ini, kaum pendekar juga bangkit kembali semangat mereka. Kalau dulu, di waktu para pendekar itu kecewa menyaksikan kelaliman Kaisar Yung Ceng sehingga mereka tidak acuh terhadap keamanan rakyat, kini mereka bangkit dan menentang para penjahat yang hendak mengacaukan ketenteraman. Maka dengan adanya para pendekar ini, makin tenteramlah kehidupan rakyat je­lata, berkat kebijaksanaan Kaisar Kian Liong yang pandai mengambil hati kaum cerdik pandai dan gagah perkasa di se­luruh negeri. *** Diam-diam Kao Cin Liong amat ka­gum terhadap Sim Hong Bu yang dalam pertemuannya dengan para pendekar patriot itu telah muncul dengan gagah perkasa, menantang dia dan bahkan me­nantang suheng dari Ci Sian yang ber­nama Kam Hong itu. Akan tetapi dia mengerutkan alisnya kalau teringat be­tapa pemuda itu menjadi demikian bi­ngungnya ketika dihadapi dan diserang oleh Ci Sian, bahkan dia pun melihat dengan jelas betapa Hong Bu terus me­ngalah, bahkan kemudian melarikan diri, bukan karena takut kepadanya atau ke­pada Ci Sian, melainkan karena jelas bahwa pemuda itu sama sekali tidak mau menghadapi Ci Sian sebagai musuh. “Dia mencinta Ci Sian!” demikianlah berkali-kali hatinya berkata dengan pera­saan tidak nyaman. Dia sendiri juga jatuh cinta kepada Ci Sian dan agaknya kini dia menemui seorang saingan berat dalam diri Sim Hong Bu, pemuda gagah perkasa ahli waris keluarga Cu yang telah mewarisi pula pedang pusaka Koai-liong Po-kiam itu. Cin Liong menjadi semakin kagum ketika dia melakukan pengejaran dan sampai berpekan-pekan, bahkan lebih dari sebulan, belum juga dia mampu menyusul Hong Bu. Memang dia telah menemukan jejak pemuda itu dengan penyelidikan dan bertanya-tanya, akan tetapi Hong Bu selalu lenyap dengan cepatnya, bahkan setelah dia mengejar ke barat, tiba-tiba saja jejak pemuda itu menuju ke utara, ke kota raja!Di dalam perjalanan mencari dan mengikuti jejak Hong Bu ini, Cin Liong mendengar tentang Kaisar yang jatuh sakit berat dan betapa kini Pangeran Kian Liong yang menjadi pejabat dan pelaksana yang tertinggi. Dia merasa amat girang dan percaya sepenuhnya bahwa Pangeran itu tentu akan mengada­kan perubahan-perubahan bijaksana se­perti yang seringkali dikatakan dan dijanjikan oleh Pangeran itu membuatnya menjadi lega dan dengan hati tenang dia melanjutkan pengejarannya dan ketika dia tiba di kota Pao-ting di sebelah selatan kota raja, dia mendengar bahwa pemuda yang dikejarnya itu menuju ke hutan di sebelah barat kota itu, di Pegunungan Thian-hong-san. Keterangan ini didapat­nya dari para penjaga kota yang me­ngenal jenderal muda ini, karena Pao-ting tidak jauh dari kota raja dan nama Kao Cin Liong amat dikenal karena kegagahannya. Dia cepat melakukan pe­ngejaran ke daerah hutan di kaki pegu­nungan itu dan pada keesokan harinya pagi-pagi dengan hati berdebar dan juga girang dia melihat orang yang diburunya itu berada di bawah pohon bersama se­orang laki-laki berusia kurang lebih em­pat puluh tahun yang berpakaian seperti seorang pemburu. Siapakah pria berpakaian pemburu itu? Dan mengapa Hong Bu pergi ke tempat itu, di dalam hutan sunyi? Seper­ti kita ketahui, Hong Bu bingung bukan main ketika melihat Ci Sian menyerang­nya kalang-kabut dan bahkan semakin nekat. Dia tidak takut kepada dara ini, akan tetapi melihat betapa dara itu me­nyerangnya dengan demikian mati-matian seperti seorang musuh besar dan berniat membunuhnya, hatinya terasa seperti ditusuk dan kedukaan membuat dia melu­pakan semua urusannya. Maka dia pun tidak kuat bertahan dan melarikan diri secepatnya karena dia khawatir kalau-kalau Ci Sian mengejarnya. Setelah melihat dara yang amat dicintanya itu menganggapnya sebagai musuh, Hong Bu menjadi lemas dan lenyap semua se­mangatnya untuk menghadapi orang-orang yang memusuhinya. Dia lalu melakukan perjalanan cepat, tidak mau kalau sampai tersusul orang. Dia bahkan tidak bernafsu untuk berkelahi dengan siapa pun, yang teringat hanya Ci Sian, dan hatinya men­jadi semakin kacau membayangkan beta­pa dara itu menyerangnya mati-matian! Hal seperti ini tidak mungkin dibiarkan saja, pikirnya. Dia jatuh cinta kepada Ci Sian dan satu-satunya jalan hanya meminangnya untuk menjadi isterinya! Dan dia mempunyai harapan baik karena agaknya Bu Seng Kin, pemimpin para patriot itu, suka kepadanya dan agaknya tidak akan menolak kalau dia meminang Ci Sian yang ternyata adalah puterinya! Apapun hasilnya nanti, berhasil maupun gagal hal ini akan membuat hatinya lega dan tidak bimbang seperti sekarang ini. Biarlah dia ditolak kalau dara itu memang tidak dapat membalas cintanya. Akan tetapi harus ada ketentuan, ada kepastian, tidak seperti sekarang ini. Dia tahu bahwa se­benarnya dara itu tidak membencinya, bahkan melihat sinar mata dara itu ke­padanya, dahulu sebelum terjadi pertikai­an tentang permusuhan dan persaingan antara Ilmu Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut dia pernah melihat sinar mata dara itu bersinar-sinar mesra kepadanya. Mungkin dara itu juga ada hati kepadanya, hanya karena urusan permusuhan itu, maka kini menjadi marah dan membencinya. Demikianlah, Hong Bu lalu mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya, yaitu Sim Hok An, juga bekerja sebagai pemburu. Akan te­tapi Sim Hok An ini bukanlah paman aseli, bukan adik mendiang ayahnya se­perti halnya pamannya Sim Tek yang tewas di tangan Su-ok dahulu itu, melainkan adik sepupu yang masih bernama keluarga sama, yaitu she (nama keluarga) Sim. Sim Hok An inilah satu-satunya keluarganya yang dapat menjadi walinya untuk mengajukan pinangan kepada Bu Seng Kin, meminang Ci Sian! Untuk ke­perluan itulah maka Hong Bu mencari-cari pamannya itu. Tentu saja tadinya dia mencari ke tempat tinggalnya yang lama, akan te­tapi dia mendengar bahwa pamannya telah pindah ke Pao-ting bersama keluar­ganya, yaitu seorang isteri dan dua orang anak dan cepat dia menyusul ke Pao-ting. Di tempat ini dia mendengar bahwa pamannya sedang bekerja, yaitu seperti biasa, pekerjaan memburu ke dalam hu­tan. Pekerjaan ini kadang-kadang sampai makan waktu seminggu. Setelah memper­oleh banyak hasil buruan barulah peluang untuk menjual hasil buruan ke kota. Maka dia pun segera menyusul ke hutan itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa ada orang yang selalu membayanginya atau mengejarnya, ke mana pun dia pergi. Demikianlah, akhirnya Cin Liong ber­hadapan dengan Hong Bu dalan hutan yang sunyi, ketika Hong Bu sedang ber­cakap-cakap dengan Sim Hok An, pada pagi hari itu. “Sim Hong Bu, akhirnya aku dapat menemukan engkau!” Cin Liong berseru dengan lantang, hatinya girang sekali karena akhirnya pengejarannya berhasil. Hong Bu yang tidak menyangka sama sekali akan dapat disusul oleh utusan Kaisar yang hendak merampas pedangnya ini, terkejut, akan tetapi mukanya segera menjadi merah karena marah. Dia me­loncat bangun, berdiri dengan tegak, dan menoleh kepada pamannya. “Maaf, Paman. Aku mempunyai urusan pribadi dengan orang ini, biarlah kusele­saikan dulu urusanku dengan dia, baru kita sambung percakapan kita tadi.” Si­kapnya tenang sekali, akan tetapi me­lihat sikap dua orang muda yang sama gagahnya itu, Sim Hok An yang juga sudah bangkit berdiri segera menegur. “Hong Bu, apakah yang terjadi? Siapakah dia itu dan ada urusan apakah?” Tentu saja pamannya dapat melihat sikap yang serius dari keduanya, maka Hong Bu lalu berkata dengan terus te­rang, “Paman, aku mempunyai sebatang pedang dan orang ini hendak merampas­nya, maka hal ini harus kami putuskan dengan perkelahian. Harap Paman jangan mencampuri dan berdiri agak menjauh karena orang ini adalah Jenderal Kao Cin Liong, seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali!” Terkejutlah orang setengah tua itu dan dia pun segera melangkah mundur dan duduk di bawah sebatang pohon agak jauh dari situ. Dia belum tahu bahwa keponakannya yang sejak kecil telah menghilang dan kabarnya bersama dengan Sim Tek melakukan perburuan di utara dan baru sekarang pulang itu telah men­jadi seorang yang amat lihai. Setelah pamannya itu mundur, barulah Hong Bu menghadapi Cin Liong. “Nah, Kao Cin Liong, kita telah ber­diri berhadapan sekarang. Di sini tidak ada orang lain, dan Pamanku itu tentu tidak akan mencampuri. Kita adalah sama-sama laki-laki, katakanlah, apa yang kauhendaki maka engkau menyusul­ku ke tempat ini?” “Sim Hong Bu, engkau tahu apa yang kukehendaki. Sayang bahwa ketika kita bertemu di rumah para pendekar itu, engkau melarikan diri....” “Aku sama sekali tidak lari darimu, atau dari Kam-taihiap, atau dari siapa pun!” “Kalau begitu, kenapa engkau melarikan diri?” “Bukan urusanmu!” bentak Hong Bu dan mukanya berubah merah sekali, hati­nya sedih karena harus bicara tentang urusan yang mendatangkan duka di hati­nya itu, mengingatkan dia bahwa dia telah dimusuhi oleh Ci Sian dengan mati-matian. “Engkau tetap menghendaki pe­dang Koai-liong Po-kiam yang menjadi hak milikku sebagai ahli waris keluarga Cu di Lembah Naga Siluman?” “Hemm, maksudmu Lembah Suling Emas?” “Bukan, sekarang namanya telah menjadi Lembah Naga Siluman! Nah, jawab­lah.” “Tidak salah, memang aku mencari untuk minta dikembalikannya pedang pusaka itu. Betapapun juga, pedang itu tadinya adalah pusaka istana dan dicuri orang, maka harus dikembalikan ke sana.” “Bagus! Jawabanku tetap seperti da­hulu, yaitu engkau baru dapat merampas dan membawa pergi pedang itu melalui mayatku!” “Baiklah, akan kucoba untuk meram­pasnya darimu, Hong Bu. Sesungguhnya, terus terang saja aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, dan bah­kan aku tidak benci sama sekali kepada­mu. Akan tetapi, engkau tahu bahwa aku adalah seorang petugas yang menerima perintah untuk merampas kembali pedang pusaka istana, dan karena engkau kebe­tulan orangnya yang membawa pedang itu, dan kalau engkau tidak mau menye­rahkannya kepadaku dengan damai, ter­paksa aku harus menggunakan kekerasan.”“Bagus, kata-kata jantan! Aku pun ingin sekali mencoba sampai di mana lihainya putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang telah mengalahkan keluarga Cu!” Mendengar disebutnya Naga Sakti Gurun Pasir, Sim Hok An menggigil dan mukanya pucat. Biarpun dia hanya se­orang pemburu, akan tetapi keluarga Sim adalah pemburu yang berpengalaman dan banyak sekali kenalan di antara orang-orang kang-ouw, maka nama besar itu tentu saja pernah didengarnya. Juga dia mendengar tentang pedang Koai-liong Po-kiam yang lenyap dari istana itu. Siapa kira, ternyata pedang itu berada di tangan keponakannya, dan kini keponak­annya itu akan bertanding melawan putera Naga Sakti Gurun Pasir. Hampir dia tidak percaya akan semua itu dan merasa seperti dalam mimpi. Melihat betapa jenderal muda itu tidak mengeluarkan senjata, Hong Bu yang keistimewaannya hanyalah ilmu pedangnya yang memang luar biasa itu, perlahan-lahan mencabut Koai-liong Po-kiam dan nampaklah sinar kebiruan yang menyilaukan mata. Sim Hok An terkejut dan tidak terasa lagi dia menggeser duduknya di belakang pohon dan mengintai dari balik batang pohon itu! “Ah, memang pedang pusaka yang hebat. Pantas saja dijadikan rebutan!” kata Cin Liong. Tadinya dia hendak mengadu kepandaian tanpa senjata karena memang di antara mereka tidak ada per­musuhan atau kebencian pribadi, akan tetapi melihat betapa pemuda lawannya itu telah mengeluarkan pedang yang hen­dak dijadikan rebutan, dia tidak berani menghadapi pedang yang mengeluarkan sinar kebiruan seperti itu, maka Cin Liong juga mencabut pedangnya, pedang tanda pangkatnya, sebatang pedang yang terbuat dari bahan yang baik pula, yang tidak takut menghadapi keampuhan senja­ta pusaka. Pedangnya itu mengkilap dan kalau digerakkan mengeluarkan sinar putih seperti pedang biasa yang tajam. Sejenak mereka berdiri berhadapan, pedang di tangan dan hati ragu-ragu. Seperti juga lawannya, Hong Bu merasa betapa janggalnya keadaan mereka ber­dua. Tidak saling mengenal, bahkan tidak pernah ada urusan apapun diantara me­reka, tahu-tahu kini berdiri berhadapan sebagai musuh yang mungkin akan saling bunuh! Teringat pula dia kepada Ci Sian yang juga secara tiba-tiba saja berdiri menghadapinya sebagai musuh. Dan dia pun menarik napas panjang. Sebelum menjadi murid keluarga Cu, dia sama sekali tidak pernah punya musuh! Kalau dia membenci Im-kan Ngo-ok misalnya adalah karena mereka itu jahat dan pula pamannya, Sim Tek, tewas di tangan Su-ok. Akan tetapi apa salahnya orang-orang seperti Ci Sian, Kam Hong, Kao Cin Liong dan ayahnya, Kao Kok Cu? Ter­utama sekali Ci Sian dan Kam Hong, sama sekali dia tidak ingin memusuhi mereka. Juga Cin Liong ini demikian gagah perkasa. Tapi kini berhadapan dengannya sebagai musuh! “Kao Cin Liong, seperti juga kata-katamu tadi, aku tidak mempunyai per­musuhan pribadi denganmu, juga tidak membencimu. Akan tetapi kita berdua, oleh tugas masing-masing, terpaksa kini berhadapan sebagai lawan. Kalau aku sampai kesalahan tangan dan engkau ter­luka atau tewas di tanganku, harap kau suka maafkan!” Cin Liong tersenyum dan merasa se­makin tertarik. Dia akan lebih suka menjadikan pemuda ini teman daripada lawan. “Demikian pula aku, Sim Hong Bu. Nah, mari kita mulai saja!” Entah siapa di antara mereka yang menyerang terlebih dahulu. Serangan yang dilakukan setengah hati dan yang mudah ditangkis lawan, kemudian menan­ti sampai sang lawan melakukan serangan balasan. Akan tetapi begitu mereka mengadu tenaga dan teringat bahwa la­wan yang dihadapi adalah seorang yang amat lihai, mereka menambah kecepatan dan tenaga dan balasan jurus kemudian keduanya sudah saling mengerahkan ke­cepatan dan tenaga sin-kang mereka se­hingga tubuh mereka tidak nampak lagi oleh Sim Hok An yang makin lama se­makin bengong dan takjub. Apalagi ke­tika terdengar suara mengaung-ngaung mengerikan dari pedang di tangan Hong Bu, orang setengah tua itu semakin men­jauhi tempat itu dan memandang dengan hati penuh ketakjuban, ketegangan dan juga kengerian. Dia melihat daun-daun pohon rontok seperti tersambar pisau tajam, dan dua gulungan sinar biru dan putih itu sungguh indah dipandang, akan tetapi kalau teringat bahwa sinar-sinar itu merupakan cengkeraman-cengkeraman maut, dia menjadi ngeri. Sementara itu, dua orang pemuda itu sendiri makin kagum terhadap lawan masing-masing. Rasa kagum yang ber­campur rasa penasaran. Serangan-serang­an lawan sungguh amat berbahaya, akan tetapi juga pertahanan lawan demikian kokoh kuatnya sehingga sukar ditembus oleh pedang mereka. Hanya ada perbeda­an sedikit antara mereka! Koai-liong Kiam-sut sungguh merupakan ilmu pedang yang amat tangguh dan ampuh. Pedang yang diputar sampai mengeluarkan suara menggeram dan menggereng, mengaum seperti seekor binatang buas itu saja sudah menunjukkan betapa anehnya gerakan-gerakan itu. Dan dalam hal ilmu pedang ini, harus diakui bahwa Cin Liong masih kalah kuat setingkat. Ilmu Pedang Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) adalah perombakan dari Ilmu Sin-liong-ciang-hoat, bukan ilmu pedang ase­li, dalam arti kata diciptakan sengaja dengan pedang. Biarpun hebat, namun gerakannya tidaklah sehebat dan seaneh Koai-liong Kiam-sut yang memang dicip­takan untuk pedang yang khusus pula. Akan tetapi, ternyata dalam hal sin-kang dan gin-kang, ternyata Hong Bu masih kalah setingkat pula. Hal ini adalah karena dasar latihan Hong Bu kalah oleh Cin Liong yang semenjak kecil su­dah digembleng oleh ayahnya sendiri, yaitu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Dan karena masing-masing mempunyai kelebihan ini, maka keadaan mereka menjadi seimbang! Dengan ilmu pedang­nya yang ampuh, Hong Bu berusaha mendesak lawannya, akan tetapi Cin Liong dapat menghalau semua itu dengan kele­bihan tenaga sin-kang dan juga kelebihan kecepatan gerakannya, dan yang dapat membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya. Rasa kagum telah tidak terasa lagi kini, yang terasa hanyalah rasa penasaran dalam hati masing-masing! Memang, pementingan diri selalu paling menonjol dalam batin manusia, dan sinar kasih yang menyinar keluar itu tak tampak lagi karena tertutup oleh debu-debu, antara lain yang paling gelap adalah debu pementingan diri ini. Seperti sebuah lampu yang kacanya penuh debu sehingga sinarnya dari dalam tidak dapat menyo­rot keluar. Karena penasaran itulah, maka biar­pun dalam hati masing-masing tidak ada kebencian, dua orang pemuda itu menge­rahkan seluruh daya keampuhan mereka untuk saling mengalahkan, merobohkan, melukai, bahkan membunuh. Dan perkela­hian adu pedang itu sudah berlangsung lebih seratus jurus. Mereka sama kuat, sama ulet, dan biarpun sudah sekian la­manya, mereka terus bergerak dengan kekuatan dikerahkan seluruhnya, namun mereka tidak nampak lelah. Saling serang, saling desak, hebat bukan kepalang sehingga Sim Hok An yang menonton sambil bersembunyi di balik batang pohon menjadi pucat sekali wajahnya dan tu­buhnya agak gemetar. Kembali lima puluh jurus telah lewat. Tiba-tiba Hong Bu yang sudah merasa penasaran bukan main, mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pedang­nya berkelebat seperti halilintar. Sungguh serangan yang luar biasa dahsyatnya, jauh lebih dahsyat daripada yang sudah-sudah. Cin Liong terkejut tidak mengira bahwa lawan masih dapat mengeluarkan jurus yang demikian dahsyatnya, yang agaknya merupakan jurus simpanan. Dia pun cepat mengerahkan tenaga dan me­nangkis, berusaha untuk membikin pedang lawan terpental dengan mempergunakan kelebihan tenaganya. “Cringgg....!” Dua pedang bertemu, akan tetapi agaknya hal ini sudah diper­hitungkan oleh Hong Bu karena pedang­nya terpental, bukan ke belakang, melainkan menyeleweng dan meluncur ke arah leher Cin Liong dari samping dengan kecepatan kilat! Cin Liong tidak dapat menangkis lagi karena datangnya serangan itu amat men­dadak dan tidak disangkanya semula, maka cepat dia menjatuhkan diri ke depan miring ke kanan dan iangannya memukul ke depan karena dia menjatuh­kan diri bukan hanya untuk mengelak, melainkan juga untuk balas menyerang. “Hiaaattt....!” Bentakan keras dari Cin Liong ini berbareng dengan guratan ujung pedang yang mengenai pundak kanannya, akan tetapi pukulannya tadi yang juga dielakkan oleh Hong Bu masih menye­rempet paha kaki lawan. Keduanya meloncat ke belakang, menahan rasa nyeri. Pundak kanan Cin Liong berdarah, kulitnya terobek berikut bajunya, sedangkan Hong Bu merasa be­tapa kaki kanannya, di atas lutut, nyeri bukan main, membuatnya agak terpin­cang! Ternyata dalam gebrakan hebat tadi, keduanya telah sama-sama mende­rita luka, biarpun tidak berat akan tetapi cukup mengejutkan dan membuat keduanya waspada. “Engkau hebat, Hong Bu!” Cin Liong memuji. “Dan engkau pun telah berhasil me­lukaiku, bukan main!” Hong Bu menja­wab. Tanpa berkata apa-apa kecuali itu, keduanya sudah maju lagi, kini bergerak dengan hati-hati, dan keduanya kembali saling serang dengan ganas. Akan tetapi, sebelum pedang mereka berobah menjadi sinar bergulung-gulung seperti tadi, tiba-tiba terdengar suara halus namun penuh wibawa, “Tahan senjata!” Cin Liong segera mengenal suara ayahnya maka dia meloncat ke belakang meninggalkan lawan sambil melintangkan pedangnya. Sedangkan Sim Hong Bu yang juga segera mengenal pendekar sakti lengan buntung itu, menarik napas pan­jang. “Ah, melawan puteramu saja aku tidak mampu menang, apalagi melawan ayahnya, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Betapapun juga, jangan dikira aku takut. Majulah, Tai-hiap, dan aku tidak akan penasaran kalau tewas di tanganmu untuk membela nama keluarga Cu yang telah melepas budi kepadaku!” Dia pun melintangkan pedangnya dan memasang kuda-kuda menghadapi Pendekar Sakti Gurun Pasir. Pendekar berlengan satu ini terse­nyum dan juga melangkah maju mendekat “Orang muda, ketika kami datang ke lembah itu, adalah dalam rangka utusan Kaisar untuk mencari kembali pedang yang hilang. Maka terjadilah bentrokan antara kami dan keluarga Cu hanyalah karena urusan tugas, bukan urusan priba­di. Sampai saat ini kami tidak mempu­nyai permusuhan pribadi dengan keluarga Cu. Maka, kalau urusan tugas lalu dijadi­kan urusan pribadi, kalau mereka itu mengalah terhadap kami lalu mendendam dan menyuruh murid mereka membalas kekalahan itu, apakah engkau anggap hal itu benar?” Dengan jujur Sim Hong Bu menjawab, “Terus terang saja, Tai-hiap, hal itu me­mang tidak benar. Akan tetapi kalau seorang murid tidak memenuhi pesan dan permintaan gurunya, apakah hal itu juga benar?” Dia membalas bertanya. Kao Kok Cu tersenyum dan memuji kecerdikan pemuda ini yang menangkis pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan yang tepat pula. “Memang, tentu saja tidak memenuhi permintaan guru pun merupakan hal yang tidak benar, akan tetapi harus ditinjau dulu apa macam permintaan itu! Ada dua macam permin­taan, baik yang diajukan dari guru sen­diri sekalipun, yaitu permintaan yang pantas dan tidak pantas. Kalau suhumu minta agar engkau melakukan hal yang tidak benar dan tidak pantas dan engkau memenuhinya, bukankah hal itu berarti satu hal yang sama sekali tidak berbakti, malah durhaka sifatnya?” “Ehh....?” Sim Hong Bu memandang dengan mata terbelalak. Baru sekarang dia mendengar ada orang berfilsafat bah­wa memenuhi permintaan seorang guru malah merupakan hal yang durhaka dan tidak berbakti! “Apa maksudmu, Lo-tai­hiap?” “Sim Hong Bu, kalau seorang murid melihat tindakan gurunya tidak benar, bukankah murid yang bijaksana akan mengingatkannya dan mencegah agar gurunya jangan sampai melakukan tin­dakan itu, kalau si murid malah membantu melakukan hal yang tidak benar itu, apakah dia dapat dinamakan murid yang baik, berbakti dan benar? Nah, tindakan gurumu mendendam kepada kami adalah tidak benar, hal ini telah kaukatakan sendiri tadi. Akan tetapi mengapa engkau bersikeras untuk melak­sanakan perintah gurumu yang tidak be­nar itu?” Sim Hong Bu menjadi bingung. Me­mang, urusan hauw atau “berbakti” me­rupakah hal yang banyak membingungkan orang. Sejak jaman dahulu, berbakti ter­hadap guru atau orang tua dianggap se­bagai ketaatan si anak terhadap guru atau orang tua. Dan melihat bahwa di sini terdapat suatu hal yang amat mengun­tungkan maka kata “berbakti” itu diper­gunakan oleh guru atau orang tua untuk membuat murid atau anak menjadi tidak berdaya! Setiap kali seorang anak tidak menurut kata-kata orang tua, maka anak itu akan dicap sebagai anak “put-hauw” (tidak berbakti) sehingga si anak terbiasa untuk mentaati segala perintah orang tua agar menjadi anak berbakti. Dan biarpun pada lahirnya si anak mentaati karena ingin disebut berbakti, di dalam hatinya si anak mengeluh dan memberi cap ke­pada orang tuanya sebagai “tidak mencintanya”. Maka timbullah celah yang besar antara orang tua dan anak. Si orang tua ingin anaknya mentaatinya, dengan dalih bahwa semua perintahnya itu demi kebahagiaan dan kebaikan si anak, sikap seperti ini sesungguhnya bu­kan lain hanyalah sikap mementingkan diri sendiri, mencari enaknya sendiri, ka­rena kalau anaknya taat, dialah yang akan merasakan senang dan berbahagia. Si orang tua sudah memastikan bahwa apa yang dianggapnya baik itu MESTI baik pula bagi si anak dan apa yang dianggapnya membahagiakan itu mesti pula mem­bahagiakan si anak! Sikap seperti ini yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh orang-orang tua yang sesungguhnya timbul karena kekurangpengertian, menciptakan apa yang dinamakan “gap” atau celah antara orang tua dan anak. Ada­nya celah yang merenggangkan orang tua dan anaknya adalah karena tidak adanya kasih sayang, tidak adanya cinta kasih dalam batin masing-masing. Kalau ada cinta kasih, maka tidak ada lagi istilah berbakti atau durhaka, yang ada hanyalah kerja sama, saling membantu dalam hi­dup secara wajar, tanpa ingin disebut baik karena bantuan-bantuan masing-ma­sing itu, yang ada hanyalah kasih sayang dan tidak ada sedikit pun keinginan un­tuk senang sendiri, menang sendiri, atau benar sendiri! Betapa bahagianya sebuah rumah tangga jika terdapat kasih sayang ini di antara suami, isteri, dan anak-anak mereka! Peraturan-peraturan yang kaku dan dipaksakan hanya menimbulkan kemanisan lahir saja namun di dalam batin masing-masing merasa sakit hati dan menaruh dendam, kebencian terselubung senyum dan sikap ramah tamah palsu. Dan suasana seperti itu hanya dapat tercipta apabila dimulai dari diri sendiri! Bukan ingin mengatur orang lain. Cinta kasih harus timbul dari batin sen­diri dan cinta kasih sama sekali tidak mengharapkan balas dari orang lain. Na­mun cinta kasih mengandung daya muji­jat yang dapat membersihkan dan me­nerangkan orang lain pula! Dalam kebingungan mendengarkan kata-kata yang baru sekali ini didengar­nya namun yang dapat menusuk perasaannya karena dia merasa betapa semua ucapan itu tak dapat dibantah karena memang benar dan memang keadaannya pun demikian, maka Hong Bu mencari akal bagaimana untuk menjawab. Men­dengar ucapan itu, matanya seperti ter­buka betapa selama ini, semenjak dia melepaskan pakaian sebagai pemburu dan menjadi murid orang sakti dan memper­oleh ilmu-ilmu yang membuat dia men­jadi pendekar, dia merasa kehilangan sesuatu, dia merasa hidupnya tidak baha­gia lagi, tidak seperti ketika dia masih menjadi seorang pemburu muda yang kasar dan bodoh. Kini terbukalah mata­nya. Kiranya dia telah kehilangan kebe­basan dan kewajaran! Dia telah terikat, dan dia terpaksa oleh ikatan itu untuk melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan suara hatinya, sehingga semua tindakannya ialah palsu dan menimbulkan konflik dalam batinnya sendiri! Dia harus melakukan hal-hal yang berlawanan de­ngan kehendak hatinya! “Akan tetapi, Tai-hiap.... bukankah semua hal ini dimulai dari pihakmu? Kalau keluarga Kao tidak datang me­nyerbu ke lembah untuk merampas pe­dang, tidak mungkin akan terjadi pertan­dingan itu yang mengakibatkan guru-gu­ruku kalah dan mendendam!” Bantahnya ini lemah, namun setidaknya merupakan bantahan pula yang bukan tidak benar. “Semua akibat tentu ada sebabnya, orang muda, dan kalau kita menelusuri sebabnya, maka tidak akan ada habisnya. Kami datang ke lembah karena kami diutus Kaisar, dan kami diutus Kaisar karena pedang dicuri oleh seorang peng­huni lembah, dan tentu kalian mempunyai pula sebab-sebabnya atas perbuatan itu. Tidak akan ada habisnya. Maka yang penting sekarang adalah saat ini, apakah kita akan terus menimbulkan sebab-sebab baru dan akibat-akibat baru. Tergantung sepenuhnya di tangan kita.” “Akan tetapi kalau Tai-hiap sekeluar­ga masih terus mengejar-ngejarku, untuk merampas pedang, mana mungkin aku....” “Tidak lagi! Untung bahwa kedatang­anku belum terlambat. Aku ingin mem­beritahukan kalian berdua bahwa mulai sekarang, pedang Koai-liong Po-kiam itu adalah sah menjadi milikmu, Sim Hong Bu.” “Ayah....!” Cin Liong berseru heran. Ayahnya tersenyum. “Tidak tahukah engkau bahwa Pangeran Mahkota telah merubah banyak sekali peraturan dan menyudahi segala macam pertikaian dengan tindakan-tindakan bijaksana? Di antaranya adalah pembangunan kembali biara Siauw-lim dan juga pengakuan bah­wa Koai-liong Po-kiam adalah berasal dari keluarga Cu, maka pemerintah tidak menuntut kembalinya lagi?” “Bagus....!” Cin Liong bersorak gem­bira dan setelah menyimpan kembali pedangnya dia lalu menghampiri Hong Bu. Pemuda ini pun tersenyum dan menyimpan Koai-liong Po-kiam, lalu me­langkah ke depan sambil agak terpincang. Mereka saling berjabat tangan dengan gembira. “Hong Bu, aku girang sekali bahwa kini kita dapat menjadi sahabat!” “Aku pun girang sekali, Kao-goanswe.” “Eh, apa-apaan menyebut jenderal di antara teman! Aku kagum melihat ilmu kepandaianmu, Hong Bu.” “Dan aku takluk kepadamu, Cin Liong. Kalau dilanjutkan aku tentu ka­lah.”“Ah, engkau terlalu merandah. Belum tentu!” Suasana menjadi gembira sekali. Juga Kao Kok Cu ikut bergembira karena kedatangannya tidak terlambat untuk memisahkan dua orang pemuda yang seperti dua ekor naga sakti sedang ber­laga itu. Kalau dilanjutkan, tentu salah seorang di antara mereka akan tewas dan yang seorang lagi juga, tentu tidak luput daripada luka-luka hebat. Begitu mendengar keputusan Pangeran tentang pedang itu, cepat-cepat Kao Kok Cu meninggalkan kota raja, menyuruh isteri­nya menanti di kota raja dan dia sendiri cepat-cepat pergi menyusul dan mencari Cin Liong yang sedang melakukan penge­jaran terhadap Sim Hong Bu. Dan untung dia datang tepat pada waktunya. Di Pao-ting dia mendengar dari penjaga kota tentang puteranya itu, maka dia cepat menyusulnya. “Sim Hong Bu, kulihat pedangmu itu luar biasa sekali. Itulah yang dinamakan Koai-liong Kiam-sut?” “Benar, Locianpwe,” jawabnya, kini menyebut Locianpwe kepada Pendekar sakti itu, “Saya diangkat sebagai ahli waris oleh mendiang suhu Ouwyang Kwan yang menyamar sebagai Yeti, dan saya­lah satu-satunya orang yang berhak me­miliki Koai-liong Po-kiam ini bersama ilmunya yang khas diciptakan untuk itu, yaitu Koai-liong Kiam-sut.” Dengan sing­kat Sim Hong Bu lalu menceritakan riwayat pertemuannya dengan Yeti sam­pai dia diangkat menjadi ahli waris. Kao Kok Cu mengelus jenggotnya yang masih pendek itu, menarik napas panjang. Di dunia persilatan muncul Kaoi-liong Kiam-sut dan juga Kim-siauw Kiam-sut, sungguh amat mengagumkan sekali!” “Sayang sekali bahwa Suling Emas dan Pedang Naga Siluman terpaksa harus berdiri bertentangan....” Hong Bu me­ngeluh. “Eh, kenapakah begitu, Hong Bu? Aku melihat engkau juga menantang pewaris Kim-siauw Kiam-sut, mengapa?” tanya Cin Liong. Hong Bu menarik napas panjang. Memang hal ini amat menyusahkan hati­nya, tidak hanya karena dia amat kagum kepada Kam Hong dan tidak ingin memu­suhinya, terutama sekali karena Ci Sian juga merupakan pewaris Kim-siauw Kiam-sut. “Kembali karena ikatan dengan keluarga Cu....” dan dia pun mencerita­kan betapa keluarga Cu kalah oleh Kam Hong maka memesan kepadanya untuk mengadu ilmu dengan pewaris Kim-siauw Kiam-sut. “Ah, sayang sekali....” kata Kao Kok Cu. “Agaknya masih ada kaitan dekat sekali dengan kedua ilmu itu, setidaknya bersumber sama.” Setelah bercakap-cakap seperti saha­bat-sahabat baik, akhirnya mereka ber­pisah. Cin Liong bersama ayahnya diper­kenalkan kepada Sim Hok An yang sejak tadi bersembunyi. Hong Bu memperkenal­kan dia sebagai satu-satunya keluarga yang masih ada, dan Sim Hok An mem­beri hormat kepada pendekar sakti dan puteranya. Kemudian Kao Kok Cu dan puteranya pamit dan mereka kembali ke kota raja di mana Wan Ceng menanti-nanti mereka. Di dalam perjalanan, ayah dan anak ini tiada hentinya membicarakan Sim Hong Bu sebagai seorang pemuda yang sederhana, gagah perkasa dan berbudi baik. Seorang pendekar sejati! Dan dalam kesempatan berdua itu, Cin Liong lalu mengaku terus terang kepada ayahnya tentang cintanya kepada Ci Sian. Kao Kok Cu terkejut dan heran. “Apa? Dara pewaris Kim-siauw Kiam-sut yang.... eh, galak sekali itu?” “Di antara ribuan orang gadis yang kujumpai, hanya dialah yang menjatuhkan hatiku, Ayah. Memang ia keras hati, kekerasan hati yang terbuka dan jujur.... eh, bukankah Ayah juga menyukai keterbukaan dan kejujuran?” Pemuda yang cerdik ini mengingatkan ayahnya secara halus bahwa ibunya juga seorang wanita yang keras hati. Ayahnya tertawa dan mengerti isyarat itu. “Ceritakanlah perkenalan antara kalian,” katanya. Cin Liong lalu menceritakan pertemuannya yang pertama kali dengan Ci Sian, ketika dia menyamar dan menyusup ke dalam benteng tentara Nepal yang ketika itu dipimpin oleh Nandini, ibu Siok Lan yang kini ikut Bu-taihiap sebagai satu di antara isteri-isterinya. “Ketika itu pun, sebetulnya aku telah tertarik kepadanya, maka ketika Siok Lan memperlihatkan kasih sayangnya, aku tidak dapat menerimanya, Ayah. Aku mencinta Ci Sian, dan hal ini baru terasa benar di hatiku ketika ia menyerangku, yaitu ketika ia membela ayah kandungnya yang sedang bertanding denganmu itu.” Kao Kok Cu mengangguk-angguk. “Lika-liku cinta memang aneh, dan aku tidak heran bahwa engkau jatuh cinta kepadanya. Ia memang seorang dara yang penuh semangat, yang gagah perkasa dan memiliki keberanian istimewa, juga kulihat ilmu silatnya hebat sekali, agaknya tidak di sebelah bawah tingkatmu atau tingkat Hong Bu.” “Itulah yang amat mengherankan hatiku, Ayah. Ketika aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu di Himalaya itu, ilmu silatnya biasa saja. Akan tetapi sungguh heran, ketika kami mengadu senjata, ia memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa hebat, malah ada dua macam hawa yang bertentangan dalam tenaganya, amat panas dan dingin.” “Ehh....? Tenaga sin-kang seperti yang dimiliki keluarga Pulau Es?” “Agaknya begitulah, Ayah. Akan tetapi lepas dari semua itu, bagaimana pendapat Ayah tentang cintaku kepadanya?” “Bagaimana pendapatku? Eh, apakah ia juga mencintaimu? Itu yang penting” Cin Liong menarik napas panjang. “Sayang, aku tidak tahu dengan pasti, Ayah. Melihat sikap dan sinar matanya, agaknya.... aku boleh berharap demikian. Akan tetapi sungguh sayang, aku sendiri belum pernah menyatakan cinta dan ber­tanya, karena memang baru ketika kami bertanding di sarang para pendekar itu­lah aku sadar bahwa sesungguhnya aku cinta padanya” “Ah, sungguh luar biasa kalau diingat bahwa ia itu kebetulan anak Bu Seng Kin lagi!” “Mengapa, Ayah?” “Lupakan engkau? Keluarga Bu ma­rah-marah dan mendendam kepada kita usul mereka denganmu kita tolak. Dan sekarang agaknya.... kita yang akan ber­balik melamar anak perempuan mereka yang lain. Betapa janggalnya ini!” “Ayah khawatir kalau lamaran kita ditolak? Kukira tidak perlu takut, Ayah. Kita harus mengajukan pinangan kepada Bu-locianpwe, itu adalah menurut kepan­tasan dan peraturan belaka, karena dia adalah ayah kandung Ci Sian. Akan te­tapi, melihat sikap Ci Sian terhadap ayahnya, andaikata keluarga Bu menolak pinangan itu sekalipun, aku masih belum putus asa selama belum mendengar ke­putusan Ci Sian sendiri. Kalau Bu-locian­pwe menolak, aku masih dapat meminang kepada Ci Sian sendiri, atau kepada su­hengnya yang agaknya lebih dekat dengan Ci Sian daripada ayah kandungnya sen­diri.” Pendekar sakti itu menarik napas panjang. “Mari kita bicarakan persoalan ini dengan Ibumu, Cin Liong. Baru kita putuskan apa yang akan kita lakukan dalam urusan ini.” Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja dengan cepat. Beta­papun juga, mereka merasa bergembira bahwa tugas-tugas Cin Liong telah dapat diselesaikan dengan baik. Pertama, Pa­ngeran Kian Liong telah dapat diselamat­kan dan ke dua, urusan pedang pun telah selesai dengan baik, sungguhpun kedua hal itu tak dapat dikatakan bahwa tenaga keluarga Kao saja yang membereskannya. Bermacam perasaan teraduk dalam hati Cia Han Beng ketika dia diam-diam meninggalkan kota raja. Ibunya telah tewas! Biarpun hal itu tidak diumumkan, namun dia dapat menduganya dengan jelas. Dia mendengar bahwa Kaisar tiba-tiba menderita sakit, dan menurut desas­desus yang didengarnya, penyakit Kaisar adalah luka yang keracunan. Bagaimana Kaisar tiba-tiba menderita luka yang membuatnya menjadi sakit payah kalau bukan dilakukan oleh ibunya? Tentu ibu­nya telah menyerang Kaisar, nyaris ber­hasil, akan tetapi tentu telah menebus dengan nyawa sendiri. Hal ini dia yakin benar karena siapakah yang akan mampu lolos dengan selamat setelah percobaan­nya membunuh Kaisar? Dia merasa berduka. Tentu saja! Ibu kandungnya telah tewas dan dia tidak dapat membayangkan bagaimana kematian ibunya itu. Ditangkap dan disiksa lebih dulu? Kiranya, tidak demikian. Ibunya bukan seorang bodoh, bahkan Ibunya memiliki ilmu silat yang lumayan. Kalau usahanya gagal, tentu ibunya tidak mem­biarkan dirinya ditangkap dan disiksa, melainkan membunuh diri. Kiranya hanya ada dua kemungkinan. Ibunya mati bunuh diri setelah gagal, atau tewas di tangan Kaisar yang dia tahu memang memiliki kepandaian silat lebih tinggi daripada ibunya. Betapapun juga, Kaisar telah menderita luka parah sekali. Dia mendengar pula tentang diangkatnya Pangeran sebagai penggantinya dan mendengar tentang perubahan-perubahan yang dia lakukan oleh Pangeran yang bijaksana itu. Hal ini mengurangi kedukaannya dan kedukaan karena kematian ibunya itu terhibur oleh kebanggaan akan jasa ibu­nya! Ya, ibunya berjasa besar. Ibunya telah berhasil, jauh lebih berhasil daripa­da usaha ratusan bahkan mungkin ribuan orang pendekar patriot! Ibunya telah menyerang Kaisar dengan langsung, dan telah memungkinkan terjadinya perubah­an-perubahan yang amat baik bagi para patriot! Ibunya seorang patriot sejati! Mengorbankan diri dan menghembuskan nyawa akan tetapi menolong nasib rakyat dan para pendekar! Patut dibanggakan! Akan tetapi, di samping semua pera­saan itu ketika dia meninggalkan kota raja, ada suatu perasaan duka yang ma­sih menyelinap di dalam hatinya kalau dia teringat kepada Ci Sian. Dia mencin­ta dara itu. Akan tetapi dia melihat kenyataan bahwa dara itu tidak memba­las cintanya, bahwa dara itu tidak men­cintanya, dan pertentangan paham di antara mereka tentu akan merupakan jurang yang amat lebar yang akan me­misahkan mereka. Dengan adanya perbe­daan paham tentang perjuangan.itu kira­nya tidaklah mungkin dapat terjalin per­talian kasih sayang di antara mereka. Dia bukan seorang pemuda yang berpi­kiran sempit, melainkan orang yang sejak kecil telah digembleng oleh berbagai kepahitan hidup sehingga tidak menurutkan perasaan belaka. Akhirnya dia berkunjung ke Cin-an, diterima dengan amat ramah-tamah oleh keluarga Bu Seng Kin. Apalagi ketika keluarga Bu mendengar bahwa pemuda itu adalah putera dari selir Kaisar yang telah menyerang Kaisar dan mengakibat­kan Kaisar terluka parah kemudian Kai­sar tewas oleh lukanya itu, maka pan­dangan para patriot terhadap Cia Han Beng menjadi naik dan pemuda itu dianggap sebagai putera seorang patriot sejati. Di dalam pertemuan antara Cia Han Beng dengan para patriot dan terutama dengan keluarga Bu di Cin-an itu, ter­jadilah kontak antara dua hati melalui sinar mata mereka, yaitu antara pemuda Kun-lun-pai ini dan Bu Siok Lan. Kontak ini dimulai ketika pemuda itu untuk pertama kalinya datang memper­kenalkan diri sebagai seorang sepaham, yaitu golongan patriot yang menentang penjajahan bangsa Mancu. Karena ingin sekali mengukur kelihaian pemuda ini, maka Bu Seng Kin lalu mengajaknya ke lian-bu-thia dan di ruangan ini Bu-taihiap lalu minta kepada Han Beng untuk mem­perlihatkan ilmu silatnya dan sebagai pasangannya adalah Siok Lan. Tentu saja tadinya kedua pihak ini saling meman­dang rendah. Siok Lan memang mempu­nyai watak keras dan agak tinggi hati, hal ini mungkin timbul karena ibunya adalah bekas panglima, dan ayahnya ada­lah seorang pendekar sakti yang amat terkenal. Maka, mendengar bahwa pemu­da yang baru datang itu adalah murid Kun-lun-pai, dia memandang rendah. Akan tetapi begitu mereka bergerak dan saling serang, keduanya terkejut. Han Beng tidak menyangka bahwa Bu Siok Lan ternyata memiliki kepandaian yang cukup hebat dan tidak mengecewakan menjadi puteri Bu-taihiap, pemimpin para patriot di Cin-an itu. Sebaliknya Siok Lan terkejut bukan main karena dalam beberapa gebrakan saja tahulah ia bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang tinggi, dan tenaga sin-kangnya jauh lebih kuat daripada tenaganya sendiri. Dan timbullah kekaguman dalam hatinya, apalagi ketika Han Beng tidak mendesak­nya melainkan banyak bersikap mengalah, hal ini tidak luput pula dari pandangan Bu-taihiap yang tajam. Seorang pemuda yang lihai sekali, pikir pendekar ini. Dan memiliki watak yang halus dan baik sehingga mau pula mengalah terhadap puteri tuan rumah dalam pibu persaha­batan itu. Setelah lewat seratus jurus, Siok Lan mencabut pedangnya dan minta untuk bertanding ilmu pedang. “Harap Cia-enghiong suka memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku,” demi­kian kata Siok Lan sambil mencabut pedangnya. Napasnya agak memburu dan lehernya penuh keringat setelah ia harus melayani lawan sampai seratus jurus tadi. Cia Han Beng tersenyum. “Ah, Nona Bu Sungguh terlalu merendahkan diri,” katanya. “Sebagai puteri Bu-locianpwe, tentu ilmu pedangmu hebat bukan main. Mana berani aku main-main dengan ilmu pedangmu? Biarlah aku mengaku kalah saja.” Bu-taihiap senang akan sikap ini, akan tetapi diam-diam timbul harapan dalam dirinya untuk dapat menjodohkan puteri­nya itu dengan pemuda ini. Pemuda ini, dibandingkan dengan Jenderal Muda Kao Cin Liong yang pernah menolak perjo­dohan yang diusulkannya itu, tidaklah kalah terlalu banyak! Dia tahu bahwa pemuda ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang tertinggi dari para pimpinan Kun-lun-pai agaknya. “Cia-enghiong, harap jangan bersikap sungkan. Anakku yang bodoh mohon petunjukmu, dan kami sen­diri pun sudah lama sekali tidak pernah melihat Kun-lun Kiam-sut. Maka, harap Cia-enghiong tidak terlalu pelit untuk memperlihatkan sampai di mana kemaju­an ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat terkenal itu.” Karena desakan pendekar itu, terpak­sa Cia Han Beng menjura kepada Siok Lan sambil berkata, “Maafkan, Nona,” dan tangannya sudah mencabut sebatang pedang yang begitu dicabut tampak sinar merah yang seperti warna darah. Itulah pedang Ang-hio-kiam (Pedang Daun Merah) pemberian suhunya, sebuah di antara pedang-pedang pusaka dari Kun-lun-pai. Melihat pedang bersinar merah ini, ke­luarga Bu memandang kagum karena mereka semua sebagai ahli-ahli silat mengenal sebatang pedang pusaka yang baik. “Siok Lan, kaupakailah pedangku ini!” Tiba-tiba Nandini berkata sambil men­cabut pedangnya dan menyerahkannya kepada Siok Lan. Karena dara ini mengenal pedang ibunya sebagai pedang ha­diah dari Raja Nepal dan merupakan sebatang pedang yang baik pula, maka ia pun cepat menukar pedangnya. Tentu saja di samping ingin memin­jamkan pedangnya kepada puterinya agar dapat menandingi pedang merah lawan, juga Puteri Nandini memperkenalkan diri secara tidak langsung bahwa ia adalah ibu Siok Lan. Dan memang Han Beng memandang dengan rasa heran di dalam hatinya. Dari suaranya, dia dapat men­duga bahwa wanita itu bukanlah seorang wanita Han, akan tetapi wanita setengah tua itu selain cantik, juga memiliki sikap yang gagah sekali. Dia hanya dapat men­duga bahwa tentu ibu Siok Lan itu ada­lah seorang wanita dari suku bangsa yang jauh di barat atau di utara, tapi sepatut­nya dekat daerah Tibet. “Cia-enghiong, mulailah!” Siok Lan melintangkan pedang ibunya di depan dada sambil tersenyum. Hatinya telah terpikat melihat betapa tadi dengan ta­ngan kosong ia sama sekali tidak berdaya menghadapi pemuda perkasa ini. “Silakan, Nona, aku sudah siap,” kata Cia Han Beng yang tentu saja sebagai seorang tamu, apalagi sebagai seorang pria yang menghadapi seorang wanita, merasa segan untuk memulai dengan se­rangan lebih dulu. Hal ini menyenangkan hati Siok Lan dan setelah mengeluarkan seruan panjang yang nyaring akan tetapi juga merdu, ia sudah menggerakkan pe­dang di tangannya itu membuka serang­an, Han Beng menangkis dan pemuda ini dengan hati-hati sekali menjaga agar jangan sampai pedangnya merusak pedang gadis itu. Terjadilah pertandingan ilmu pedang yang amat indah. Semua orang memandang kagum karena permainan pedang pemuda Kun-lun-pai itu terkan­dung kekuatan yang dahsyat sekali. Sete­lah lewat lima puluh jurus, Siok Lan sudah tidak dapat melakukan serangan balasan lagi. Semua gerakannya tertutup, dan biarpun pemuda itu menyerangnya dengan perlahan, dan lambat saja bagi pemuda itu, namun bagi Siok Lan sudah membuatnya repot bukan main. Akhirnya, karena napasnya memburu dan lengannya yang memegang pedang terasa lelah dan kehabisan tenaga karena setiap tangkisan pedangnya mendatangkan getaran hebat yang membuat seluruh buku tulangnya nyeri, Siok Lan meloncat ke belakang. “Cia-enghiong, aku menerima petun­jukmu. Terima kasih!” dan gadis ini lalu menjura dan tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri ke ruangan belakang. Jangan dikira bahwa gadis ini merasa malu karena kalah, melainkan malu ka­rena melihat perasaannya sendiri terha­dap pemuda itu. Pemuda itu sendiri pun tergerak hatinya. Dia melihat seorang dara yang se­lain cantik manis akan tetapi juga penuh semangat perjuangan, puteri seorang pe­mimpin pejuang. Tentu saja dia tidak mungkin dapat membandingkan gadis yang manapun juga dengan Ci Sian yang telah merebut hatinya untuk pertama kalinya, juga dia tidak dapat memban­dingkan kepandaian Siok Lan dengan Ci Sian yang benar-benar membuatnya ka­gum sekali. Dia sendiri belum tentu akan mampu mengalahkan Ci Sian seandainya dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya sekalipun. Akan tetapi, dia tertarik kepada Siok Lan yang sepaham dengan dia, yaitu berjiwa patriot menentang penja­jahan. Oleh karena itulah, setelah beberapa hari kemudian Bu Seng Kin dan keluarganya mengundangnya untuk bicara tentang perjodohan, dan keluarga itu mengusulkan pertalian jodoh antara dia dan Bu Siok Lan, Han Beng menerimanya dengan girang. “Karena saya kini telah yatim piatu dan tidak mernpunyai anggauta keluarga lagi, maka untuk urusan ini sebaiknya kalau saya minta doa restu dari Suhu di Kun-lun-pai,” demikian saja dia menja­wab. “Tentu saja, hal itu baik sekali!” kata Bu Seng Kin. “Biarlah kita mencari hari baik dan kami akan mengirim utusan menghadap Kun-lun-pai dan membicara­kan urusan perjodohan ini kepada mereka dengan resmi. Sementara ini, kita anggap bahwa engkau telah bertunangan dengan Siok Lan.” Tentu saja sebelum membicarakan urusan perjodohan itu dengan Han Beng, lebih dulu Bu Seng Kin dan Nandini telah bicara dengan Siok Lan dan melihat ga­dis itu agaknya tidak menolak bahkan nampak malu-malu sebagai tanda kalau seorang perawan dilamar orang dan tidak menolak. Dan untuk pertunangan atau tali perjodohan yang disetujui kedua pi­hak ini, walaupun belum diresmikan ka­rena mereka belum menghadap pimpinan Kun-lun-pai yang sebetulnya hanya me­rupakan wakil-wakil atau wali yang tidak langsung saja dari Han Beng dan tidak mungkin akan menolaknya, maka per­tunangan itu lalu dirayakan secara seder­hana oleh keluarga Bu. Hadir dalam pe­rayaan sederhana itu para patriot pe­juang yang menganggap Han Beng seba­gai orang yang berjasa besar dalam per­juangan mereka. Karena pesta berlangsung di antara golongan sendiri, maka biarpun diadakan dengan sederhana namun amat meriah. Tidak ada golongan luar yang diundang, maka percakapan yang terjadi dalam pesta kecil pun itu berjalan dengan lan­car dan terbuka. Akan tetapi, betapa heran dan terkejut hati semua orang ketika penjaga di luar dengan suara lan­tang mengumumkan datangnya keluarga Kao dari kota raja! Semua percakapan terhenti dan pihak tuan rumah, diikuti oleh keluarganya, bangkit dan berjalan ke pintu untuk menyambut. Keheranan yang tadinya menyelinap di dalam hati Bu Seng Kin berubah menjadi kejutan besar sekali. Alisnya berkerut dan sepasang matanya memandang tajam ketika dia melihat bahwa yang muncul adalah tiga orang yang pernah datang di tempat ini dan menggegerkan semua sahabatnya para patriot. Mereka ini bu­kan lain adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu, isterinya yang berwatak keras dan juga lihai itu, dan puteranya, Jenderal Kao Cin Liong! Ten­tu saja jantungnya berdebar tegang dan biarpun dia pernah kalah oleh pendekar sakti dengan satu lengan itu dan isteri-isterinya juga kalah oleh keluarga Kao, namun dia tidak merasa gentar, bahkan memandang marah. Bu Seng Kin cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada, menghormat kepada tiga orang tamu itu. “Ah, kiranya keluarga Kao yang gagah perkasa yang telah datang. Harap banyak maaf karena tidak mengetahui terlebih dahulu akan kunjungan Sam-wi, maka kami tidak da­pat melakukan penyambutan secara sela­yaknya.” Kao Kok Cu tersenyum dan mengang­kat tangannya ke depan dada. “Maaf, maaf...., kamilah yang seharusnya minta maaf karena datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu sehingga agaknya kami amat mengganggu Bu-enghiong dan para sahabat yang gagah perkasa, yang agak­nya sedang mengadakan pesta.” “Ah, sama sekali tidak mengganggu. Malah kebetulan, silakan Sam-wi masuk dan duduk sebagai tamu kehormatan kami. Hendaknya Sam-wi ketahui bahwa malam ini kami sedang merayakan per­tunangan puteri kami.” Mendengar ini, tiga orang itu menjadi girang sekali, walaupun ada pula perasa­an tidak enak dalam hati mereka. Pihak keluarga Bu pernah mengusulkan tali perjodohan dengan keluarga mereka, dan mereka telah menolaknya. Dan kini, se­telah gadis yang pernah ditolak itu ber­tunangan dengan orang lain, mereka datang sebagai tamu yang tidak diun­dang! “Maaf, kalau begitu kami tidak berani mengganggu kegembiraan keluarga Bu-enghiong. Biarlah kami datang besok pagi saja,” kata Kao Kok Cu. “Ah, kenapa sungkan-sungkan? Sila­kan kami tahu bahwa Sam-wi merasa sungkan dan canggung karena kami tidak mengundang. Akan tetapi, biarlah se­karang kami mengundang Sam-wi untuk hadir dan duduk sebagai tamu kami yang terhormat.” Kao Kok Cu memandang kepada is­terinya. Wan Ceng adalah orang yang berhati keras dan terbuka. Kini melihat sikap tuan rumah, ia pun mengangguk kepada suaminya dan wanita gagah ini melepaskan kalungnya yang dihias mainan seekor naga emas mata mutiara biru yang amat indah. Setelah mereka masuk ke dalam ruangan itu, diikuti pandang mata seluruh tamu, juga pandang mata Bu Siok Lan yang mukanya sebentar berubah pucat dan sebentar berubah me­rah, Wan Ceng melopori keluarganya, menghampiri Siok Lan dan berkata, “Kami merasa gembira sekali memperoleh ke­sempatan untuk mengucapkan selamat atas pertunanganmu, Nona Bu Siok Lan. Dan sebagai tanda bahwa kami sekeluar­ga ikut merasa gembira, terimalah se­buah tanda mata dari kami ini!” Wan Ceng menyerahkan kalungnya yang amat indah itu. Siok Lan girang sekali melihat sikap wanita gagah perkasa ini. Setelah ia me­mandang kepada ayah bundanya dan me­lihat isyarat yang menyetujui, ia pun lalu memakai kalung itu dibantu oleh Wan Ceng, lalu menghaturkan terima kasih. Peristiwa ini seolah-olah memecahkan semua dinding pemisah di antara mereka dan tiga orang tamu agung ini segera memberi selamat kepada Bu Seng Kin, kepada Nandini, bahkan mereka bertiga lalu diperkenalkan dengan calon suami Siok Lan, yaitu Cia Han Beng. Ketika mendengar siapa adanya tamu-tamu agung itu, tentu saja Han Beng terkejut setengah mati dan memandang kepada pria berlengan buntung itu dengan penuh kagum. Nama besar Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir tentu saja sudah seringkali didengarnya dan tidak disangkanya bahwa kini dia akan berhadapan dengan pendekar itu, bahkan menerima ucapan se­lamat atas pertunangannya. Di lain pi­hak, ketika mendengar bahwa tunangan Siok Lan adalah murid utama dari Kun-lun-pai, keluarga Kao juga merasa ka­gum. Mereka bertiga lalu dijamu sebagai tamu-tamu kehormatan dan semua orang bergembira-ria pada pesta sederhana itu. Di dalam percakapan mereka selanjutnya, kedua pihak adalah orang-orang yang berjiwa pendekar, hanya persoalan politik saja yang memisahkan mereka menjadi golongan patriot yang anti pemerintah dan golongan yang membantu pemerintah. Akan tetapi, keluarga Bu ini maklum bahwa belum tentu pembantu-pembantu pemerintah merupakan penjilat-penjilat yang hanya haus akan kekuasaan dan harta belaka. Mereka melihat kenyataan betapa orang seperti Kao Cin Liong itu biarpun menjadi seorang panglima, namun dia menjadi panglima karena ingin me­nenteramkan kehidupan rakyat, dan dia pun berani menentang ketidakadilan di kalangan atas. Dalam kesempatan itu pula, menje­lang bubar pesta, Kao Kok Cu memper­oleh kesempatan baik untuk menyatakan isi hatinya kepada pihak tuan rumah. “Bu-enghiong, sesungguhnya amat janggal­lah apa yang akan kami kemukakan ini, dan kalau tidak mengingat bahwa keluar­ga Bu adalah keluarga gagah perkasa yang seperti juga kami tentu akan lebih dapat menerima keterbukaan dan kejujuran, agaknya kami tidak akan berani mengemukakan maksud hati kami ini.” Bu Seng Kin memandang tajam penuh selidik, juga penuh keheranan hati. “Ah, urusan apakah gerangan yang dikandung dalam hati Kao-taihiap? Memang lebih baik segala urusan dikeluarkan melalui mulut dan diperbincangkan sampai beres, daripada disimpan di dalam hati dan dapat menimbulkan penyakit.” Kao Kok Cu menarik napas panjang, lalu memandang kepada Cin Liong yang bersikap tenang saja. Kemudian meman­dang kepada isterinya. Melihat sikap suaminya yang kelihatan amat sungkan itu, Wan Ceng merasa kasihan dan ia pun berkata dengan terus terang kepada Bu Seng Kin, “Beginilah, Bu-enghiong. Terus terang saja kami datang mengun­jungi keluargamu adalah untuk melakukan lamaran terhadap puterimu....” “Ehh....!” Puteri Nandini bangkit ber­diri dan mukanya menjadi pucat.Wan Ceng tersenyum. “Maaf, tentu saja kami tidak gila untuk meminang puterimu yang telah mengikat jodoh dengan orang lain. Maksud kami adalah melamar Bu Ci Sian.” Nandini duduk kembali dan mukanya menjadi merah lagi. Bu Seng Kin terbelalak, lalu pandang matanya nampak muram. “Untuk putera tunggal Ji-wi?” tanya Bu Seng Kin kepada suami isteri itu sambil memandang kepada Kao Cin Liong. Kini Kao Kok Cu yang menjawab ka­rena pertanyaan itu terasa amat tidak menyedapkan hatinya, “Bu-enghiong, se­kali lagi kami mohon maaf. Tentu eng­kau sendiri mengerti bahwa soal per­jodohan adalah soal hati dari orang yang bersangkutan. Kami orang tua sekalipun tidak berhak mencampuri dan kami se­bagai orang tua hanyalah melaksanakan saja hasrat hati anak yang bersangkutan. Jadi, tentu engkau maklum pula bahwa putera kami telah jatuh cinta kepada puterimu, yaitu Bu Ci Sian karena inilah kami mengajukan pinangan.” Ucapan pendekar sakti berlengan satu itu sudah cukup jelas. Di situ terkandung penyesalan bahwa keluarga Kao pernah menolak usul ikatan jodoh dan kini malah mengajukan pinangan untuk puteri ke­luarga Bu yang lain. Semua itu dilakukan karena permintaan anak, dan juga dia mengingatkan bahwa jodoh adalah urusan hati, urusan cinta kasih antara kedua orang muda, oleh karena itu dapat saja terjadi seperti keadaan mereka, yaitu menolak Siok Lan dan meminang Ci Sian. Bu Seng Kin mengangguk-angguk, ter­senyum dan mengelus jenggotnya. Ke­mudian dia menarik napas panjang dan berkata, “Kao-taihiap tentu percaya kalau saya katakan bahwa kami sekeluarga me­rasa terhormat sekali dengan pinangan ini, dan sekiranya anakku Ci Sian itu setuju, tentu dengan hati dan tangan terbuka akan kami terima pinangan ini. Akan tetapi, hendaknya Sam-wi mengerti keadaan kami dan anak kami itu. Pernah Sam-wi saksikan sendiri sikap anak itu terhadap saya, dan ibunya sudah tiada. Agaknya, dalam urusan perjodohannya, saya pun sama sekali tidak dapat memutuskannya. Anakku itu agaknya.... ah lebih dekat dengan suhengnya daripada dengan kami, dan ini.... saya tidak dapat menyalahkannya. Sudahlah, tentu Sam-wi mengerti, yang jelas, saya akan merasa berbangga sekali kalau dapat mem­punyai mantu seperti Jenderal Muda Kao Cin Liong. Akan tetapi, saya tidak ber­kuasa atas diri Ci Sian. Sebaiknya kalau Sam-wi menghubungi Ci Sian secara langsung saja. Kalau ia menerima, kami akan berbahagia sekali. Akan tetapi ka­lau ia menolak, saya pun tidak dapat berbuat apa-apa. Nah, hanya inilah yang dapat saya katakan sebagai jawaban atas pinangan Sam-wi.” Keluarga Kao merasa puas dan gem­bira dengan jawaban itu. Memang mereka pun mengerti bahwa antara Ci Sian dan ayah kandungnya ini tidak ada hubungan yang baik. Dan tentang perjodohan gadis itu tentu berada di tangan gadis itu sendiri. Hal ini dimengerti benar oleh Cin Liong yang sudah mengenal watak Ci Sian. Akan tetapi, Bu Seng Kin adalah ayah kandung Ci Sian, dan melewatinya dalam urusan perjodohan Ci Sian sungguh dapat diartikan sebagai penghinaan. Kini, mereka telah menyampaikan pinangan kepada pendekar itu dan biarpun pende­kar itu tidak dapat memutuskan, namun pada dasarnya pendekar Bu telah menye­tujui kalau puterinya berjodoh dengan Cin Liong dan ini sudah cukup bagi pemuda itu. Ketika pesta bubar, mereka berpamit dan menghaturkan terima kasih. Setelah keluar dari kota Cin-an, Cin Liong tidak ikut dengan ayah bundanya yang hendak pulang kembali ke utara, ke tempat tinggal mereka, yaitu di Istana Gurun Pasir. “Aku akan pergi ke kota raja lebih dulu,” kata pemuda itu, “Setelah melapor kepada Pangeran yang kini telah menjadi Kaisar, aku akan minta cuti dan akan pergi mencari Ci Sian sampai dapat. Setelah bertemu dan memperoleh ke­putusan, barulah aku akan menyusul Ayah dan Ibu pulang ke utara.” Ayah dan ibu itu memberi banyak nasihat sebelum mereka berpisah, atau lebih banyak ibunya yang menghujaninya dengan nasihat-nasihat agar berhati-hati dan sebagainya. Ayahnya Kao Kok Cu, tidak banyak bicara, hanya berkata de­ngan suara yang berwibawa, “Cin Liong, satu hal harus kauingat bahwa perjodohan hanya dapat dilaksanakan apabila keingin­an itu hanya terdapat dari kedua pihak! Kalau keinginan itu hanya terdapat di satu pihak saja, kelak akan mendatang­kan banyak masalah dalam rumah tangga. Dan ingat, cinta kasih bukan berarti harus menikah! Tapi kalau keduanya ada cinta kasih, menikah merupakan jalan yang paling tepat. Syukurlah andaikata gadis itu juga menghendaki perjodohan denganmu. Kalau ia tidak setuju, hal itu wajar saja dan tidak sepatutnya me­nyengsarakan perasaan hatimu.” Pesan ayahnya ini meninggalkan kesan mendalam di hati Cin Liong. Dia tahu bahwa kalau sampai Ci Sian menolak cintanya, menolak menjadi isterinya, dia akan menderita pukulan batin, hatinya akan terasa sakit. Akan tetapi dia me­lihat pula kebenaran ucapan ayahnya, maka dia pun sudah bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun. Ketika Sim Hong Bu melarikan diri dari Cin-an, dari sarang para patriot karena dia panik dan berduka melihat betapa Ci Sian menyerangnya kalang-ka­but, diam-diam Cu Pek In juga melaku­kan pengejaran. Akan tetapi kalau se­orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Cin Liong saja tidak mu­dah dapat menyusul Sim Hong Bu, apala­gi Pek In yang ilmunya kalah jauh dibandingkan dengan suhengnya yang dicinta­nya itu. Akan tetapi, ia tidak pernah berhenti mencari jejak Hong Bu dan telah mengambil keputusan bahwa baginya hanya ada dua pilihan, yaitu mencari sampai jumpa atau mati dalam usahanya itu! Berpekan-pekan lamanya Cu Pek In mencari dan mengikuti jejak suhengnya itu. Akan tetapi ia pun dibikin bingung ketika ia melihat jejak suhengnya itu setelah menuju ke timur lalu kembali lagi ke barat, ke kota Cin-an dan me­nurut penyelidikannya, suhengnya itu pergi ke Cin-an bersama seorang laki-laki setengah tua. Dan setelah pergi mengejar dan mencari Hong Bu selama hampir dua bulan, akhirnya Pek In kem­bali ke Cin-an dan bertemu dengan ke­luarga Bu. Dari Bu-taihiap ia mendengar banyak. Bu Seng Kin yang mempunyai banyak sekali pengalaman itu dapat memaklumi bahwa gadis ini amat mencinta Hong Bu akan tetapi dia tahu pula bahwa Pek In bertepuk sebelah tangan dalam hal ini. Karena, baru beberapa kali yang lalu, Sim Hong Bu datang bersama seorang pamannya dan mengajukan pinangan atas diri Ci Sian! Dan hal ini terjadi baru beberapa hari setelah dia dan keluarga­nya menerima kunjungan dan pinangan dari keluarga Kao! Bu-taihiap dan keluarganya menceri­takan bahwa kini keadaan telah banyak berubah setelah Kaisar tua meninggal dan setelah Pangeran Kian Liong meme­gang kendali pemerintahan. Dia bercerita banyak tentang keadaan para pendekar patriot sekarang, yang sudah tidak dike­jar sebagai musuh dan bagaimanapun juga harus mengakui kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan oleh kaisar baru. Semua itu didengarkan dengan penuh perhatian oleh Cu Pek In, akan tetapi sesungguhnya di dalam hatinya, gadis ini tidak begitu tertarik. Kalau ia tadinya ikut pula dalam kelompok para pendekar patriot, hal itu hanya dilakukan karena ia mengikuti Hong Bu dan karena su­hengnya itu dianggap buronan dan di dalam pengejaran orang-orangnya Kaisar. “Bu-locianpwe, saya mencari Sim-suheng sampai jauh, akan tetapi jejaknya malah menuju kembali ke Cin-an. Apakah dia datang ke sini?” akhirnya dia ber­tanya dan Bu Seng Kin yang memberi isyarat kepada isteri-isterinya itu segera menjawab. “Dia memang pernah datang ke sini bersama seorang pamannya, akan tetapi tidak bermalam dan hari itu juga telah pergi lagi. Kurang lebih seminggu yang lalu dia datang. Ada hal yang amat menggembirakan, yaitu bahwa katanya, kaisar baru juga membebaskan dia, dan dia menyatakan bahwa pedang Koai-liong-kiam oleh Kaisar telah dinyatakan sebagai pedang milik keluargamu. Jadi sekarang dia tidak lagi dikejar-kejar.” Berita ini memang menggembirakan hati Cu Pek In. “Akan tetapi, Locianpwe, setelah meninggalkan Cin-an, dia pergi ke manakah?” Pendekar itu menarik napas panjang. Tentu saja dia tidak tega untuk mence­ritakan bahwa Hong Bu telah datang me­lamar Ci Sian. Akan tetapi dia dapat menduga ke mana perginya Hong Bu. Ke mana lagi kalau tidak mencari Ci Sian? Untuk mengatakan bahwa Hong Bu kini mencari-cari Ci Sian, apalagi kalau dije­laskan bahwa pemuda itu mencarinya untuk melamarnya, berarti tentu meng­hancurkan perasaan gadis ini. Maka dia pun lalu berkata, “Setelah dia dibebaskan oleh Kaisar, tentu dia akan memenuhi tugas yang dibebankan kepadanya oleh gurunya. Apakah engkau tidak dapat menduganya?” “Tugas itu adalah mengalahkan Kim-Siauw Kiam-sut.” Bu Seng Kin mengangguk. “Tentu saja. Dia tentu mencari Pendekar Suling Emas Kam Hong, untuk melaksanakan tugas yang dipikulnya, yaitu mengadu ilmu dengan pendekar itu atau.... sumoi­nya.” Cu Pek In mengepal tinju. “Aku harus membantunya!” Kemudian dipandangnya pendekar itu dan ia bertanya, “Ke mana­kah dia mencari mereka?”  “Kami tidak tahu, Nona, hanya kami mendengar bahwa pamannya itu masih mempunyai keluarga di Lok-yang. Mung­kin saja mereka itu pergi ke Lok-yang.” Keterangan ini memang benar, dan pula, menurut beberapa orang pendekar patriot yang melihatnya, memang paman dan keponakan itu meninggalkan Cin-an me­nuju ke barat. “Kalau begitu, saya akan segera me­nyusul dan mencarinya, Locianpwe.” Cu Pek In berpamit. Setelah gadis yang selalu berpakaian pria itu pergi, Bu Seng Kin menarik napas panjang dan berkata kepada tiga orang isterinya yang masih duduk di situ bersamanya. “Ahh, betapa cinta telah mengombang-ambingkan kehidupan para muda seperti gelombang samudera mem­permainkan perahu-perahu kecil! Betapa cinta menciptakan sorga atau neraka di dunia ini.” “Cinta memang selalu mendatangkan sorga dan sekaligus juga neraka dalam hidup!” tiba-tiba Nandini berkata. Dan anehnya, dua orang madunya mengang­guk-angguk membenarkan. Melihat ini, Bu Seng Kin membelalakkan matanya. “Eh, agaknya kalian bertiga sudah se­pakat begitu. Apa maksud kalian?” “Lihat saja kehidupan kami! Kami mencari sorga bersamamu akan tetapi yang kami dapat neraka!” kata pula Nan­dini cemberut, dan dua orang madunya juga cemberut. Mau tidak mau Bu-taihiap tertawa. “Akan tetapi mengakulah, bukankah di samping neraka kalian juga mendapatkan sorga? Bukankah kalau satu di antara kita saling berpisah kita merasa rindu dan menderita?” Tiga orang isterinya diam saja karena memang mereka harus mengakui bahwa mereka baru merasa berbahagia kalau di samping suami ini, walaupun kadang-kadang mereka harus menahan panas hati karena cemburu. “Memang demikianlah hidup,” pen­dekar itu menyambung. “Di mana ada senang tentu ada susah, kalau ada sorga tentu ada neraka. Akan tetapi, jangan dikira bahwa yang pahit-pahit dalam hidup itu tidak perlu. Coba saja bayang­kan, tanpa kita merasakan pahit, bagaimana mungkin kita dapat menikmati manis? Tanpa kita merasakan bagaimana yang dinamakan susah itu, bagaimana kita bisa mengenal senang? Demikian pula, kalau kita tidak pernah mengenal neraka, mana mungkin kita dapat me­nikmati sorga. Ha-ha-ha, selama kita berada dalam cengkeraman Im Yang, tentu saja keduanya itu kait-mengait dan tidak mungkin kita dapat terbebas dari kekuasaan dan roda perputarannya.” Apa yang diucapkan oleh Bu Seng Kin itu memang merupakan kenyataan. Sa­yang dia tidak menyelami lebih menda­lam lagi sehingga dia hanya menerima hal itu sebagai sesuatu yang seharusnya demikian, sehingga dia sendiri masih ter­seret ke dalam lingkaran setan dari baik dan buruk, senang dan susah dan seba­gainya itu. Senang dan susah adalah dua permu­kaan dari sesuatu yang sama. Keduanya tak dapat dipisahkan karena memang ke­duanya itu merupakan dua saudara kem­bar yang tak terpisahkan. Ada yang satu pasti ada yang lain. Karena itu, setiap pengejaran akan kesenangan sudah pasti akan bertemu pula dengan kesusahan karena kesenangan dan kesusahan itu berbadan satu tapi bermuka dua. Apa yang nampak pada muka itu, baik nam­pak sebagai senang maupun sebagai su­sah, hanya merupakan akibat daripada pilihan pikiran sendiri belaka. Apa yang hari ini dianggap sebagai menyenangkan, mungkin saja pada hari esok akan diang­gap sebagai menyusahkan, dan demikian sebaliknya. Senang dan susah muncul sebagai akibat daripada penilaian. Dan penilaian ini selalu bersumber kepada kepentingan si aku. Si aku adalah pikiran, si aku adalah nafsu. Wajarlah bagi seorang manusia untuk dimasuki perasaan-perasa­an itu. Senang, susah, takut, malu, ma­rah, dan sebagainya. Namun, dengan pengamatan terhadap diri sendiri secara penuh kewaspadaan dan perhatian, di waktu perasaan-perasaan itu memasuki hati dan pikiran, maka kita tidak akan terseret. Mengamati semua itu, meng­hadapi semua itu, tanpa menilai-nilai sebagai baik atau buruk. Mengamati saja penuh kewaspadaan tanpa ada si aku yang mengamati. Jadi hanya pengamatan saja yang ada, kewaspadaan saja yang ada. Menerima semua itu sebagai suatu hal yang sudah semestinya begitu, seperti yang dilakukan oleh Bu Seng Kin, maka tidak akan timbul perobahan dan untuk selama hidup, kita akan selalu ter­ombang-ambing antara suka dan duka, dan biasanya, lebih banyak dukanya dari­pada sukanya. Dan selama kita menjadi permainan si kembar ini, kita takkan pernah bahagia. Yang kita anggap kebahagiaan bukan lain hanyalah kesenangan belaka yang pada lain saat sudah akan berubah lagi menjadi kesusahan. Cu Pek In melakukan perjalanan ke barat dalam usahanya mencari Sim Hong Bu. Ia pergi menuju ke Lok-yang, sebuah kota yang besar ramai dan juga kuno di Propinsi Ho-nan. Gadis yang bagi yang tidak tahu dianggap sebagai seorang pe­muda remaja yang amat tampan ini, melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya dan menyelidik kalau-kalau ada yang melihat Sim Hong Bu lewat di situ. Akan tetapi, agaknya sampai di Lok-yang, tidak ada seorang pun yang dapat memberi keterangan tentang suhengnya itu. Tidak ada yang melihat adanya se­orang pemuda seperti Sim Hong Bu lewat di jalan yang dilaluinya. Dengan hati yang gelisah dan ber­duka, kedua kaki yang lemas karena melakukan perjalanan jauh dan tubuhnya lelah sekali. Hari telah menjelang senja ketika terpaksa untuk hari itu ia menun­da dulu pencariannya dan mencari kamar di sebuah losmen. Karena ia merasa amat lelah dan ingin beristirahat sebaiknya, maka dipilihlah hotel yang paling besar di kota itu. Hotel itu nampak be­sar dan cukup megah, dengan huruf-huruf besar dengan tinta emas di depannya berbunyi “Thian Hok Li Koan”. Ketika Pek In memasuki ruangan depan hotel itu dan menuju ke kantor di sudut, ia melihat enam orang laki-laki duduk meng­hadapi meja bercakap-cakap di ruangan depan. Seorang pelayan segera menyam­butnya dan sesaat alis pelayan ini ber­kerut melihat pakaian dan sepatu Pek In yang kotor dan berdebu, akan tetapi ketika dia memandang wajah yang tam­pan itu, dia segera bertanya dengan sua­ra yang cukup ramah, “Selamat sore, Tuan Muda. Kalau anda mencari kamar, sungguh sayang sekali karena semua kamar telah penuh.” Cu Pek In memandang pelayan itu dan hatinya menjadi kesal sekali. Ia su­dah lelah dan juga jengkel dan berduka karena kehilangan jejak suhengnya. Dan begitu tiba di hotel, di mana ia ingin cepat-cepat merebahkan diri, pelayan itu mengatakan bahwa semua kamar telah penuh! Ia merasa curiga, karena pelayan itu tadi memandang pakaian dan sepatunya yang berdebu. Karena sedang duka dan jengkel, maka Pek In menjadi mudah berprasangka dan marah-marah. Ia me­nyangka bahwa tentu pelayan ini tidak percaya kepadanya, pakaiannya berdebu, jangan-jangan ia dianggap tidak punya uang untuk membayar kamar! Hotel ini begitu besar, tentu mempunyai banyak kamar, masa sudah penuh? “Benarkah tidak ada kamar kosong sama sekali? Aku sanggup membayar sewanya, berapapun juga!” tanyanya dengan suara yang mengandung kejengkelan. Ia tidak tahu bahwa enam orang pria yang tadi bercakap-cakap kini berhenti bicara dan semua melirik ke arahnya. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam, seorang pria yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, memandang kepada Pek In dengan sepasang matanya melotot lebar dan mulutnya mengandung senyum penuh arti, tangannya meraba-raba kumisnya yang melintang ketika sepasang matanya itu menatap ke arah wajah dan tubuh Pek In dari pinggir. “Sungguh, Kongcu, semua kamar telah penuh. Hari ini memang ramai sekali se­hingga tidak ada lagi kamar di hotel kami yang kosong. Harap Anda memaaf­kan kami,” kata pengurus hotel yang sudah menjenguk keluar dari dalam kantornya. Cu Pek In menarik napas panjang. Memang dia sedang sial, pikirnya, segala-galanya tidak pernah berhasil. Ingin ia menangis. “Bung pengurus, biarlah kami mengo­songkan sebuah di antara kamar-kamar yang kami sewa dan berikanlah kepada Tuan Muda ini!” Tiba-tiba terdengar sua­ra parau dan kasar, suara dari pria ting­gi besar berkulit hitam itu. “Tapi.... tapi Kao-kauwsu telah mem­bayar semua kamar itu,” Si Pengurus berkata.“Tidak mengapa, seorang temanku dapat tidur bersama temannya dan me­ngosongkan kamar itu untuk Kongcu ini. Atau kalau Kongcu ini mau, tempat tidurku cukup lebar dan boleh saja aku membagi tempat tidur dengan dia.” Wajah Cu Pek In menjadi merah. Ka­lau didengarnya kata-kata itu sebagai seorang wanita, tentu saja kata-kata itu amat kurang ajar. Hampir saja ia marah sekali kalau tidak diingatnya bahwa ia kini sedang menyamar sebagai seorang pria. Maka ia pun berkata kepada pengurus hotel itu, “Kalau memang sudah pe­nuh, sudahlah, aku bisa mencari kamar di hotel lain.” Cu Pek In membalikkan tubuh dan tanpa menoleh kepada enam orang pria itu, ia hendak meninggalkan ruangan hotel. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara parau itu, “Nanti dulu, Siauwte, aku hendak bicara denganmu!” Cu Pek In menoleh dan melihat laki-laki tinggi besar itu sudah berdiri dan menjura kepadanya, demi kesopanan ia pun lalu balas menjura. “Ada urusan apakah yang hendak di­bicarakan?” Ia bertanya sambil meman­dang tajam. Laki-laki itu bersikap cukup sopan dan ramah, dan sepasang matanya yang lebar memandangnya dengan keka­guman yang tak disembunyikannya. Bukan pandang mata orang jahat, pikirnya, me­lainkan pandang mata seorang yang mata keranjang. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa ia berpakaian pria dan biasanya jarang ada orang yang dapat mengetahui penyamarannya, maka ia membantah penilaiannya sendiri, karena tidak mung­kin pria tinggi besar itu tertarik kepada seorang pemuda! “Siauwte, maafkan kalau aku men­campuri urusanmu. Akan tetapi melihat bahwa engkau nampak lelah, pakaian dan sepatumu penuh debu menunjukkan bahwa engkau telah melakukan perjalanan jauh, dan agaknya tidak akan mudah bagimu untuk mencari kamar di hotel-hotel lain yang tentu juga penuh, maka aku mena­warkan sebuah kamar kami kepadamu. Kami berenam menyewa lima kamar, kalau dikurangi satu kamar kami masih dapat tidur. Sebuah kamar untuk berdua pun tidak mengapa.” Cu Pek In tersenyum dan tidak tahu betapa senyumnya yang membuat wajahnya nampak semakin tampan itu mem­buat Si Tinggi Besar semakin kagum. “Ah, aku tidak ingin merepotkan Paman yang belum kukenal.” “Sama sekali tidak merepotkan. Atau Adik boleh pilih, memakai sebuah kamar sendirian atau berdua denganku. Tempat tidur di kamar kami cukup besar....” “Tidak, terima kasih! Aku tidak biasa tidur berdua....” jawab Pek In cepat-ce­pat memotong perkataan orang. “Kalau begitu, pakailah sebuah kamar sendirian saja. Temanku dapat mengalah,” kata pula Si Tinggi Besar. Melihat ke­baikan orang, Cu Pek In merasa ragu­ragu untuk menolak. Dan pengurus hotel itu pun cepat berkata kepadanya, “Kongcu, apa yang dikatakan oleh Koa-kauwsu ini memang benar. Sekarang sedang ramainya orang berdagang hasil bumi. Banyak tamu pedagang dari luar kota ini dan setiap hari semua hotel di kota ini penuh. Agaknya akan sukar bagi Kongcu untuk memperoleh kamar di ho­tel yang baik, kecuali di hotel-hotel kecil yang kotor.” Ucapan pengurus hotel ini menghi­langkan keraguan Cu Pek In dan ia pun lalu menghaturkan terima kasih kepada Si Tinggi Besar. “Ah, tidak perlu sungkan, Adik yang baik. Kita manusia di mana-mana me­mang harus saling bantu, bukan? Dengan begini, kita menjadi kenalan baru. Aku senang sekali berkenalan denganmu, Siauwte. Perkenalkanlah, aku Koa Cin Gu dari Lo-Couw sebelah selatan kota ini.” “Koa-kauwsu adalah guru silat yang terkenal di Lo-couw, bahkan di kota Lok-yang ini, Tuan Muda,” kata Si Pelayan memuji. “Koa-kauwsu,” kata Pek In sambil menjura, “Terima kasih atas kebaikanmu. Aku sudah lelah sekali dan ingin beristi­rahat.” Sambil berkata demikian, Pek In lalu meninggalkan orang tinggi besar itu dan mengikuti pelayan dan seorang te­man Si Tinggi Besar yang hendak meng­ambil barang-barangnya dari kamar yang diberikan kepada Pek In. Setelah kamar itu bersih, Cu Pek In membersihkan tubuhnya, berganti pakaian dan memesan makan minum dalam kamar­nya. Ia sudah lelah dan agak turun se­mangat, maka ia tidak keluar lagi dan memesan makan di kamarnya saja. Sete­lah makan dan istirahat sebentar, duduk termenung memikirkan nasibnya, ia pun merebahkan dirinya dan tidur. Ia sendiri tidak tahu berapa lama ia tertidur, akan tetapi tiba-tiba ia ter­bangun oleh ketukan di pintu. Cu Pek In membuka matanya dan tanpa turun dari pembaringan ia bertanya, “Siapa di luar?” Suara parau di luar segera dikenalnya sebagai suara Koa-kauwsu. “Aku Koa Cin Gu, Cu-siauwte!” “Koa-kauwsu, ada keperluan apakah mengetuk pintu kamarku?” tanya Pek In sambil duduk di tepi pembaringan. Saking lelahnya, tadi ia telah tertidur dengan pakaian lengkap, hanya sepatunya saja yang dilepaskan. “Harap buka pintunya, Adik Cu! Aku mempunyai hal yang amat penting untuk dibicarakan denganmu.” Cu Pek In adalah seorang gadis gagah yang tidak pernah mengenal takut, akan tetapi setelah banyak merantau seorang diri meninggalkan lembah, ia sudah mem­punyai banyak pengalaman dan bersikap hati-hati. Betapapun juga, ia harus men­curigai orang yang telah bersikap terlalu baik kepadanya itu. Dipakainya sepatunya dan diselipkan sulingnya di pinggang, tertutup baju, kemudian ia pun melangkah ke pintu dan membukanya. Koa Cin Gu masuk sambil tersenyum ramah. “Sudah tidurkah, Siauwte? Maaf­kan kalau aku mengganggu, ya?” Ketika dia bicara itu, Pek In mencium bau arak dan biarpun sikap guru silat itu masih biasa saja, namun melihat muka hitam itu kemerahan, juga matanya, ia dapat menduga bahwa orang ini tentu terlalu banyak minum arak dan agak mabok. Tanpa mempersilakan duduk, ia pun bertanya, “Koa-kauwsu, ada keperluan apakah yang hendak kaubicarakan?” “Banyak, banyak sekali. Cu-siauwte,” kata guru silat Koa itu dan dia pun menutupkan kembali daun pintu. Karena mengira bahwa orang itu menutupkan pintu karena memang mempunyai urusan yang penting, maka Pek In juga diam saja, hanya memandang dengan penuh perhatian. Akan tetapi, orang she Koa itu tanpa dipersilakan lagi kini sudah duduk, bukan duduk di atas kursi, melainkan di tepi pembaringan! Dan Si Muka Hitam itu kini tersenyum menyeringai sambil berka­ta, “Aku ingin berkenalan lebih baik de­nganmu, Adik Cu Pek In. Sini duduklah di dekatku sini, agar kita lebih enak bicara. Sejak melihatmu tadi, aku sudah suka sekali kepadamu, Adik yang baik.” Muka Pek In menjadi merah sekali. Akan tetapi ia masih teringat bahwa orang itu bicara kepadanya sebagai se­orang pemuda, bukan seorang gadis! “Ah, Paman Koa, mengapa begitu? Katakanlah apa yang perlu kaubicarakan sehingga malam-malam engkau datang ke sini. Aku mengantuk sekali.” “Ha-ha, mengantuk? Tidurlah, tidurlah biar kita bicara sambil merebahkan diri. Ataukah engkau lelah dan perlu kupijati? Ke sinilah, sayang.” Pek In mulai mengerutkan alisnya. Apakah orang ini sudah tahu akan penya­marannya dan bersikap kurang ajar ka­rena tahu bahwa ia adalah seorang wa­nita? Akan tetapi hatinya belum yakin benar dan ia masih berpura-pura mene­gur, “Koa-kauwsu, apa artinya sikapmu ini? Lupakah engkau bahwa aku adalah seorang pria?” “Ha-ha-ha, lupa? Tentu saja tidak, Adik tampan! Kalau engkau seorang wa­nita, apa kaukira aku sudi mendekatimu? Aku membenci wanita, dan aku sayang kepada pemuda-pemuda tampan seperti engkau ini. Ke sinilah, Adik tampan, akan kupijiti engkau agar lelahmu lenyap dan engkau temani aku tidur. Marilah....!” Dan guru silat bermuka hitam itu sudah mengembangkan kedua lengannya ke arah Pek In! Pek In memandang dengan mata ter­belalak. Betapapun banyaknya pengalam­an yang dihadapinya selama ini, baru sekarang melihat keganjilan ini. Seorang pria yang hendak mencumbu pria lain! Inikah yang dinamakan orang banci? Tu­buh guru silat itu demikian tinggi besar, kulitnya kasar hitam dan kumisnya me­lintang, tubuhnya jelas menunjukkan laki-laki seratus prosen. Akan tetapi mengapa dia menyukai pria muda tampan? Ter­ingat akan hal ini, Pek In dapat menduga betapa banyaknya pemuda-pemuda tam­pan yang menjadi korban orang aneh ini, tentu di antara murid-muridnya yang belajar ilmu silat banyak terdapat pe­muda-pemuda remaja yang tampan. Entah dipermainkan secara bagaimana. Tak dapat ia membayangkannya dan ia sudah merasa jijik dan geli, seperti melihat seekor ular. “Manusia keparat! Keluarlah engkau dari sini!” Pek In membentak marah se­kali dan menudingkan telunjuknya ke arah pintu. Koa-kauwsu memandang bengis, lalu bangkit berdiri dan bertolak pinggang. “Ah.... kiranya engkau hanya seorang pemuda yang tidak mengenal budi. Begini­kah balasannya ditolong orang?” “Hemm, kalau memberikan kamar kosong kepadaku kauanggap sebagai budi besar yang harus dibalas dengan kemesuman dan kecabulanmu, engkau mimpi, orang berhati binatang. Sudahlah, kau cepat keluar dari sini sebelum kuhancur­kan kepalamu!” Pek In sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Guru silat itu membelalakkan kedua matanya, dan dia tersenyum. Baru se­karang nampak oleh Pek In betapa se­nyum pria ini mengandung sifat kegenit-genitan seperti wanita! Koa Cin Gu se­betulnya bukanlah seorang penjahat, me­lainkan seorang guru silat yang cukup kenamaan. Akan tetapi, dia mempunyai kelainan dengan orang-orang biasa, yaitu, dia suka bermain cinta dengan pria-pria muda yang tampan. Dia sungguh tidak suka menyukai wanita, karena kalau tubuhnya tinggi besar dan kasar seperti pria tulen, adalah hatinya seperti seorang wanita, terutama mengenai selera dan berahi. Dia tidak pernah melakukan pe­maksaan terhadap pria-pria muda, karena dengan pengaruhnya sebagai guru silat, banyaklah murid-murldnya sendiri yang mau melayaninya dengan harapan mem­peroleh pelajaran silat yang lebih tinggi daripada murid-murid lain. Maka, terha­dap Pek In yang dianggapnya sebagai seorang pemuda yang tampan sekali ini pun Koa-kauwsu tidak bermaksud meng­gunakan kekerasan. Akan tetapi dia telah dihina dan dimaki, maka bangkitlah kemarahannya. “Bocah kurang ajar! Engkau ditolong baik-baik, diperlakukan dengan sikap ramah dan manis, malah menghina orang. Bocah sombong, benarkah engkau hendak menghancurkan kepalaku? Coba saja ka­lau engkau mampu!” “Mampu? Apa sukarnya? Akan tetapi aku tidak ingin membikin kacau dengan pembunuhan, maka bukan kepalamu yang akan kuhancurkan, melainkan lengan tanganmu saja!” Berkata demikian, Pek In sudah menerjang ke depan dengan pukulan tangan kirinya. Pukulannya man­tap dan cepat sekali, sehingga guru silat itu yang mengenal serangan berbahaya, mengeluarkan seruan dan cepat menang­kis dengan lengan kanannya, dan ber­bareng dengan itu langsung membalas dengan sodokan tangan kirinya ke arah dada Pek In. Biarpun hal ini bukan di­maksudkan untuk kurang ajar, akan te­tapi sebagai seorang gadis, Pek In meng­anggapnya demikian, maka ia pun sudah mengerahkan tenaga sin-kang pada lengan kanannya dan dia menghantam ke bawah, ke arah lengan kiri lawan. “Krakkk....!” Tulang lengan kiri Koa-kauwsu, dekat pergelangan, patah-patah­ dan di lain saat Pek In telah menendang tubuhnya sehingga guru silat terpelanting. Pek In cepat membuka pintu dan sekali lagi menendang. Tubuh guru silat itu terlempar keluar pintu kamar! Tentu saja ia mengaduh-aduh karena bukan hanya lengan kirinya yang patah-patah tulangnya, akan tetapi juga dua kali tendangan itu membuat dadanya sesak dan perutnya mulas. Ribut-ribut ini mendatangkan lima orang temannya dan melihat betapa guru silat itu mengaduh-aduh, memegangi lengan kiri dengan tangan kanan, lima orang itu lalu menyerbu ke dalam kamar Pek In. Akan tetapi Cu Pek In sudah muncul di pintu dan mem­bentak marah. “Masih ada lagi yang hendak kurang ajar kepadaku?” “Dia memukulku, dia mematahkan lenganku, pukul dia!” Koa-kauwsu yang merasa kesakitan itu sudah bangkit berdiri dan dengan meringis dia menuding ke arah Pek In dengan telunjuk kanan­nya. Lima orang temannya terkejut bukan main, tidak disangkanya bahwa pemuda remaja yang halus tampan itu mampu merobohkan guru silat Koa yang lihai! Mereka berlima dapat menduga bahwa tentu pemuda itu memiliki kepan­daian tinggi, maka mereka sudah men­cabut senjata golok mereka dan menyer­bu ke dalam kamar! Akan tetapi Cu Pek In sudah marah sekali. Ketika tangannya bergerak, nam­pak sinar emas berkelebatan, dan ter­dengar bunyi nyaring ketika sinar emas itu bertemu dengan golok-golok di tangan lima orang yang mengaduh-aduh, ada yang kepalanya benjol, ada yang lengannya patah, dan ada pula yang mendekap perutnya yang kena ditendang! Keadaan menjadi geger karena semua tamu kini terbangun dan berdatangan ke tempat itu. Tiba-tiba, di antara para tamu itu, muncul sepasang suami isteri yang gagah perkasa. “Pek In....!” Mereka menegur. Cu Pek In yang masih siap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan suling di tangan, cepat menengok dan melihat bahwa yang menegurnya itu ada­lah seorang laki-laki tinggi besar ber­sama seorang wanita cantik, segera mengenalnya. Pria itu adalah pamannya sendiri, Cu Kang Bu dan wanita itu ada­lah isteri pamannya, Yu Hwi. “Paman....!” teriaknya ketika menge­nal pamannya. “Pek In, mari kita pergi saja dari sini!” kata Kang Bu. Pek In begitu girang bertemu dengan pamannya sehingga ia tidak membantah, cepat mengambil pakaiannya dan keluar dari dalam kamarnya bersama paman dan bibinya. Setelah me­reka mengambil pakaian dari kamar suami isteri itu, Kang Bu lalu mengajak mereka keluar, berhenti di kantor pe­ngurus, membayar untuk dua kamar mereka dan segera mengajak keponakannya pergi meninggalkan hotel. Hal ini dilaku­kan oleh Kang Bu yang tidak mau meng­hadapi keributan setelah terjadi perkelahian antara keponakannya dan beberapa orang laki-laki tamu hotel itu. Mereka lalu mencari kamar di rumah penginapan kecil di pinggir kota. Di sini mereka lalu saling menceritakan perjalanan masing-masing, dan Cu Pek In dengan hati ber­sedih menceritakan betapa ia telah ber­temu dengan Hong Bu, bersama-sama pergi ke Cin-an di mana mereka berdua tinggal di sarang para patriot. “Aku bertemu dengan Bibi Tang Cun Ciu di sana, Paman. Engkau tahu, yang menjadi pemimpin para pendekar patriot adalah Bu Seng Kin Locianpwe?” “Hemm, pantas kalau begitu?” Hanya demikian Kang Bu berkata karena dia tidak mau mencampuri kehidupan pribadi bekas kakak iparnya itu. Pek In lalu melanjutkan ceritanya, betapa Hong Bu bertemu dengan dua orang yang harus dilawannya, yaitu ke­luarga Kao dan juga Pendekar Suling Emas Kam Hong. Betapa kemudian ka­rena diserang oleh Ci Sian, Hong Bu melarikan diri dan dikejar oleh Jenderal Muda Kao Cin Liong. “Aku pun mengejarnya, Paman, akan tetapi aku tertinggal jauh dan aku terus mencarinya sampai berbulan-bulan. Jejak­nya membawaku kembali ke Cin-an dan menurut keterangan Bu-locianpwe mung­kin Sim-suheng pergi ke Lok-yang ini.” Kemudian ia menceritakan pengalaman­nya di hotel itu dan sikap guru silat she Koa yang aneh dan kurang ajar terhadap dirinya. “Sungguh aneh, Paman. Dia sudah mengatakan bahwa dia menganggap aku pria, akan tetapi mengapa dia hendak merayuku? Apakah dia itu orang-orang gila, Paman?” Pamannya tertawa, demikian pula Yu Hwi. Yu Hwi yang menjawab. “Pek In, ketahuilah bahwa di dunia ini memang terdapat orang-orang yang sejak lahir telah mempunyai kelainan-kelainan yang mungkin saja diperkuat oleh keadaan sekeliling di waktu dia masih kanak-kanak. Atau mungkin ada sesuatu yang salah dalam tubuhnya sehingga ada orang yang tubuhnya pria akan tetapi perasaan hatinya wanita, seperti orang yang mengganggumu tadi. Akan tetapi ada orang yang tubuhnya wanita akan tetapi pera­saan hatinya pria, dan orang begitu ha­nya suka berdekatan dengan sesama wa­nita, dan membenci pria.” “Demikianlah yang dinamakan banci, Bibi?” “Biasanya, sebutan banci ditujukan kepada pria yang berhati wanita seperti pengganggumu tadi. Pria-pria seperti itu condong untuk menjadi wanita, merasa dirinya sebagai wanita, bahkan yang su­dah terlalu berat kecondongannya itu, tidak ragu-ragu lagi untuk berpakaian sebagai wanita dan bersikap sebagai wa­nita pula. Sebaliknya, wanita yang ber­hati pria itu pun condong untuk menjadi pria dan berpakaian sebagai pria....” Ti­ba-tiba Yu Hwi berhenti dan memandang kepada Pek In dengan muka berubah dan sikap sungkan. Melihat sikap isterinya ini, Kang Bu tertawa. “Jangan khawatir, Pek In adalah se­orang wanita aseli, buktinya ia jatuh cinta kepada Hong Bu. Kalau ia suka berpakaian pria adalah karena mendiang orang tuanya memberi pakaian pria ke­pada Pek In.” Wajah Cu Pek In menjadi merah sekali. “Ah, jadi ada wanita yang hatinya seperti pria dan lebih suka menjadi pria? Aku tidak mempunyai perasaan seperti itu, Bibi. Akan tetapi setelah mendengar penuturan itu, aku jadi muak untuk me­makai pakaian pria, jangan-jangan aku disangka orang banci lagi! Biarlah, mulai sekarang aku akan mengenakan pakaian wanita. Harap Bibi membantuku!” Demikianlah pada keesokan harinya, kedua orang wanita itu berbelanja dan mulailah Cu Pek In mengenakan pakaian wanita. Dan sungguh harus diakui bahwa setelah ia mengenakan pakaian wanita, mau berbedak dan berhias, ia nampak sebagai seorang dara yang cantik jelita! Bahkan Cu Kang Bu sendiri memuji keponakannya itu dan menyatakan sayang­nya mengapa sejak dahulu keponakannya tidak mau berpakaian sebagai seorang wanita. Kemudian mereka bertiga melan­jutkan usaha Pek In untuk mencari Sim Hong Bu. Ke manakah perginya Sim Hong Bu? Seperti telah kita ketahui, Hong Bu lari dan mencari pamannya untuk mengajak pamannya itu melakukan peminangan atas diri Ci Sian. Dan dia sudah berhasil ber­temu dengan pamannya itu. Akan tetapi Kao Cin Liong juga berhasil mengejarnya dan menyusulnya sehingga tak dapat dihindarkan lagi terjadilah perkelahian di antara mereka. Perkelahian yang amat seru dan mati-matian dan tentu akhirnya akan menimbulkan akibat hebat, dan mungkin tewasnya seorang di antara mereka kalau saja tidak muncul Kao Kok Cu yang melerai. Setelah ternyata bahwa kaisar yang baru telah menyatakan bah­wa pedang Koai-liong-kiam itu adalah hak milik keluarga Cu, maka tentu saja antara Hong Bu dan keluarga Kao tidak ada permusuhan lagi. Mereka bahkan menjadi sahabat dan berpisah sebagai sahabat. Setelah berpisah dari Kao Cin Liong dan ayahnya, Sim Hong Bu lalu mengajak pamannya pergi ke Cin-an untuk meng­ajukan lamaran atas diri Ci Sian kepada keluarga Bu. Dan Bu Seng Kin, seperti jawabannya terhadap lamaran keluarga Kao, juga menyuruh Hong Bu untuk lang­sung saja melamar kepada Ci Sian atau kepada suheng gadis itu karena dia sen­diri tidak berkuasa atas diri puterinya itu. Mendapatkan jawaban ini, Hong Bu lalu pergi mencari Ci Sian dan memang dia pergi ke Lok-yang karena pamannya hendak pergi mencari keluarga yang jauh di dekat Lok-yang. Setelah tiba di Lok-yang keduanya saling berpisah dan Hong Bu melanjutkan perjalanannya seorang diri mencari Ci Sian. Ketika Cu Pek In tiba di Lok-yang, selain Cu Kang Bu dan Yu Hwi yang juga berada di kota itu, sesungguhnya Hong Bu juga berada di situ. Hanya pe­muda ini tidak bermalam di kota, me­lainkan di luar kota, di dalam sebuah kuil tua karena pemuda ini telah dapat mengikuti jejak Ci Sian dan Kam Hong! Pada pagi hari itu, Kam Hong dan Ci Sian sedang mengamati pemandangan yang amat indah di lembah Sungai Huang-ho di utara kota Lok-yang. Lem­bah itu sunyi karena memang mereka menghindari tempat ramai. Sambil me­mandang di atas air yang tenang karena baru saja arusnya terpatahkan di selokan, Ci Sian melamun dan akhirnya berkata. “Suheng, sudahlah kita tidak perlu mengejar dan mencari orang she Sim itu. Kalau memang dia yang menghendaki untuk melanjutkan adu ilmu antara Koai-liong Kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut, biar dia yang mencari kita. Melihat sungai yang amat lebar dan tenang ini, timbul niatku untuk melakukan perjalanan melalui air. Kalau kita naik perahu mengikuti aliran sungai ini, kita akan sampai ke manakah, Suheng?” “Air sungai Huang-ho ini akan membawa kita kembali ke Cin-an lagi, ke­mudian masuk Laut Po-hai,” jawab Kam Hong. “Dan dari sana ke kota raja apakah masih jauh?” “Tentu lebih dekat daripada dari sini.” “Kalau begitu, mari kita menyewa perahu, Suheng.” “Ah, mana mungkin ada orang mau menyewakan perahu untuk dipakai mela­lui jarak sejauh itu? Pemilik perahu ten­tu mengalami kesukaran untuk kembali ke sini menentang arus. Dan sewanya akan mahal sekali, mungkin sewanya itu sudah cukup untuk membeli sebuah pe­rahu kecil.” “Wah, kalau begitu kita beli saja. Kita dayung sendiri, kan terbawa arus air, jadi tak perlu membuang banyak tenaga. Kita mancing setiap hari, makan daging ikan setiap hari. Wah, senangnya!” Kam Hong tertawa dan memandang kepada sumoinya. Betapa sumoinya ini kadang-kadang masih seperti anak kecil saja. Dan dia pun menarik napas panjang. Memang, dibandingkan dengan dia, sumoinya masih seperti anak kecil. Dia sendiri sudah berusia hampir tiga puluh lima tahun sedangkan sumoinya ini hanya seorang dara remaja berusia paling ba­nyak sembilan belas tahun! Dia merasa sudah tua dan tidak pantas berdekatan dengan sumoinya. “Kenapa kau tertawa lalu menarik napas, Suheng? Heran, habis tertawa kok menarik napas, engkau ini bergembira atau berduka?” “Suka dan duka hanya seperti siang dan malam, muncul silih berganti, Sumoi, demikian pula dengan senang dan susah. Membayangkan melakukan perjalanan melalui air, tentu saja yang terbayangkan hanya senangnya saja, akan tetapi kalau sudah dilaksanakan, barulah muncul su­sah-susahnya. Di dunia ini tidak ada ke­senangan kekal atau kesusahan kekal, selalu silih berganti menguasai kehidupan manusia.” “Wah, wah, sepagi ini sudah berfilsa­fat, Suheng! Apakah engkau mencari se­suatu yang kekal?” “Tidak, Sumoi, karena aku tahu bahwa tidak ada yang kekal dalam hidup ini. Mencari-carinya sama saja dengan mimpi di siang hari! Aku siap menerima segala sesuatu dalam hidup ini, Sumoi, meng­hadapi apa adanya tanpa keluhan. Kalau memang diri sudah tua dan buruk, apa perlunya mengeluh?” Ci Sian memandang wajah suhengnya dan tertawanya bebas karena gadis ini tidak pernah berpura-pura di depan su­hengnya, tidak pernah menyembunyikan keburukannya, maka di depan suhengnya ia dapat tertawa bebas tanpa berusaha untuk bersikap seperti orang yang hendak bersopan-sopan. “Wah, lihat kakek-kakek ini yang berfilsafat dan merasa sudah tua dan pikun! Wahai Suheng, siapa bilang engkau tua dan pikun dan jelek? Aku kadang-kadang merasa jauh lebih tua daripada Suheng!” “Kadang-kadang? Kalau sedang bagai­mana kau merasa lebih tua?” “Kalau sedang begini ini. Kalau Su­heng sedang menyesali nasib dan usia tua seperti itu. Sudah, mari kita mencari pe­rahu untuk kita beli Suheng.” Akan tetapi tiba-tiba Kam Hong menyentuh lengannya. “Ssttt, ada orang datang....” bisiknya. Mereka berdua menanti karena me­mang nampak ada bayangan orang berlari cepat sekali menuju ke tempat itu dan setelah orang itu tiba di depan mereka, dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati mereka melihat bahwa yang muncul di depan mereka itu adalah Sim Hong Bu! Melihat pemuda ini, Kam Hong ter­senyum. “Ah, ternyata benar kata orang jaman dahulu bahwa dunia ini sesungguh­nya tidak begitu luas seperti disangka orang. Kami mencari-carimu setengah mati tanpa hasil, dan sekarang engkau muncul di sini, Adik Sim Hong Bu!” Hong Bu sudah dapat menenangkan hatinya yang berdebar kencang ketika melihat Ci Sian. Hatinya girang bukan main bahwa akhirnya dia dapat menemu­kan gadis ini, dan dalam pandangannya, Ci Sian semakin cantik menarik, lincah dan gagah saja. “Engkau mencariku, Kam-taihiap? Sungguh, aku pun sudah lama mencari-carimu dan.... eh, Nona Ci Sian.” “Hemm, mau apa engkau mencariku, Hong Bu?” tiba-tiba Ci Sian berkata. “Apakah hendak menantangku lagi?” Di dalam pertanyaannya terkandung tantang­an. “Ada dua hal yang mendorong untuk mencari kalian,” kata Hong Bu dan dia berusaha sekuat tenaga untuk menekan debar jantungnya. Hampir saja dia tidak berani mengeluarkan kata-kata berikut­nya, akan tetapi dia menjadi nekad. Ka­lau tidak sekarang dikeluarkan isi hati­nya, mau tunggu kapan lagi? Maka dia pun menarik napas panjang, mengumpul­kan kekuatan, lalu berkatalah dia dengan sikap gagah dan suara lantang.“Kam-taihiap dan Nona Bu Ci Sian, dengarlah baik-baik. Aku bersama seorang pamanku telah pergi menemui dan meng­hadap Bu-locianpwe di Cin-an dan kami telah mengajukan pinangan kepadanya, untuk meminangmu, Nona. Akan tetapi Bu-locianpwe mengatakan bahwa aku harus mencarimu dan menyatakan ini kepadamu dan kepada Kam-taihiap. Nah, sekarang aku sudah menemukan kalian dan di sini aku menyatakan bahwa aku meminang Nona Bu Ci Sian untuk menja­di jodohku, Kam-taihiap.” Ucapan ini sungguh di luar dugaan Ci Sian dan Kam Hong. Kam Hong menahan senyumnya dan memandang wajah pemu­da itu dengan kagum dan dengan hati senang. Betapa gagahnya pemuda ini, begitu jujur dan terbuka. Sungguh me­rupakan pemuda yang memang tepat kalau menjadi jodoh sumoinya! Akan tetapi setelah sejenak melongo dengan muka agak pucat mendengar pinangan itu, Ci Sian lalu meledak karena marah­nya! “Tidak! Aku tidak mau! Engkau ma­nusia lancang, enak saja melamar orang seperti hendak membeli bakpao saja! Aku tidak mau, aku tidak suka, aku.... aku benci padamu!” “Ci Sian, jangan tergesa-gesa menja­wab dan tidak boleh engkau menghadapi pinangan orang seperti itu,” Kam Hong menegur, terkejut melihat sikap itu. “Tidak, tidak adil! Suheng, biarpun engkau suhengku, kalau engkau menerima pinangan orang terhadap diriku, nah, engkau boleh kawin dengan orang itu! Aku tidak sudi!” Ci Sian berteriak-teriak marah dan matanya mulai basah dengan air mata. Baik Kam Hong, terutama sekali Sim Hong Bu, sama sekali tidak pernah menduga bahwa tanggapan Ci Sian akan seperti itu terhadap pinangan yang diajukan oleh Hong Bu. Wajah Hong Bu menjadi pucat sekali dan sinar mata­nya sayu, membayangkan perihnya hati mendengar jawaban Ci Sian yang sudah amat jelas itu. Ci Sian sama sekali tidak membalas cintanya, bahkan membencinya! “Maaf.... maaf.... bukan maksudku un­tuk menyusahkan orang lain....” kata Hong Bu, mukanya pucat dan dia menun­dukkan mukanya. “Aku sudah mengatakan urusan pertama yang hendak kusampai­kan, yaitu pinangan dan aku telah dito­lak, bukan salah siapa-siapa melainkan salahku sendiri yang tidak tahu diri....” “Sim Hong Bu, setiap pinangan tentu mempunyai dua macam jawaban, diterima atau ditolak, hal itu wajar saja kukira. Dan urusan jodoh adalah urusan hati dua orang yang bersangkutan, maka engkau agak terburu-buru kukira, sebelum me­lihat lebih dulu bagaimana keadaan hati orang lain dalam urusan ini. Betapapun, semua sudah terlanjur dan aku kagum akan kejujuranmu, juga aku ikut menye­sal atas kegagalanmu. Lalu ada sebuah soal lagi yang hendak kaubicarakan, apa­kah itu, Saudara Sim?” “Maafkan, Kam-taihiap. Engkau selalu amat bijaksana dan gagah, sejak dahulu aku kagum sekali, dan terima kasih atas hiburanmu tadi. Memang salahku sendiri maka urusan pertama aku tidak berhasil. Maka biarlah sekarang kusampaikan urus­an ke dua kepadamu, Tai-hiap. Bukan lain aku mencarimu untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh guru-guruku, yaitu untuk menentukan mana yang lebih unggul antara Ilmu Pedang Naga Siluman dan Ilmu Pedang Suling Emas. Kuharap sekali ini engkau tidak berlaku kepalang tanggung, Kam-taihiap. Aku mohon pe­tunjukmu!” Setelah berkata demikian, Sim Hong Bu yang wajahnya masih pucat dan sepasang matanya masih suram itu men­cabut pedang Koai-liong Po-kiam dan nampaklah sinar pedang biru menyilaukan mata. “Kau menantang....?” Ci Sian ber­seru, akan tetapi Kam Hong sudah me­megang lengannya dan berkata dengan suara yang lembut akan tetapi mengan­dung wibawa. “Sumoi, serahkan urusan ini kepadaku. Akulah yang dahulu mengalahkan keluar­ga Cu dan menimbulkan rasa penasaran ini.” Kemudian pendekar ini melangkah maju menghadapi Sim Hong Bu sambil berkata, “Baiklah, Sim Hong Bu. Kalau engkau berkeras hendak memenuhi pesan gurumu yang hanya terdorong oleh rasa penasaran di dalam hatinya, aku tidak akan mengecewakan hatinya. Akan teta­pi, apakah engkau menyadari bahwa per­musuhan yang ditanam oleh pihak keluarga Cu ini sungguh tidak bijaksana? Di antara kita sesungguhnya tidak ada permusuhan apapun juga. Dahulu, nenek moyangku secara kebetulan memperoleh pusaka Suling Emas. Kemudian aku se­bagai turunannya yang terakhir, secara kebetulan pula mewarisi Ilmu Suling Emas. Bukankah itu sudah jodoh nama­nya? Biarpun penciptanya adalah nenek moyang keluarga Cu, apa salahnya kalau terjatuh kepada orang lain? Bukankah kini Ilmu Pedang Naga Siluman yang berasal dari keluarga Cu juga diwarisi oleh seorang she Sim? Saudara Sim Hong Bu, hendaknya engkau menyadari hal itu.” Tentu saja Hong Bu tahu akan hal itu dan memang tadinya dia sudah lemah semangat untuk menantang Kam Hong mengadu ilmu, apalagi semenjak dia ber­temu dan mendengar nasihat dari Pen­dekar Naga Sakti Gurun Pasir. Akan tetapi, setelah dia gagal dalam urusan cintanya terhadap Ci Sian, setelah dia patah hati, dia tidak peduli lagi dan biarlah kalau urusan kebaktian yang keliru terhadap gurunya ini gagal pula, dia rela mati di tangan seorang pendekar seperti Kam Hong. “Kam-taihiap, aku memang sudah ke­liru segala-galanya, maka biarlah keke­liruan berbakti kepada guruku ini meru­pakan kekeliruan yang terakhir. Keluar­kanlah senjatamu dan mari kita segera laksanakan pesan guruku. Hendak kulihat sampai di mana sesungguhnya kehebatan Ilmu Suling Emas itu dan kuharap engkau tidak berlaku kepalang tanggung sekali ini. Marilah!” Biarpun agak ragu-ragu dan setengah hati, Kam Hong mengeluarkan juga suling emasnya. Pendekar ini dapat menduga, melihat sikap dan mendengar suara pe­muda itu bahwa memang Sim Hong Bu agaknya sengaja, terdorong oleh kepedih­an hati oleh penolakan Ci Sian yang kasar tadi. Dia menarik napas panjang dengan penuh penyesalan. “Aku dapat membayangkan betapa para nenek mo­yang keluarga Cu yang menjadi pencipta Ilmu Pedang Suling Emas dan Naga Si­luman akan mengeluh dan menyesal bahwa ciptaannya hanya akan saling berla­wanan, padahal sudah sepatutnya kalau saling bekerja sama untuk menghadapi kejahatan di dunia ini. Silakan, Saudara Sim!” Maklum bahwa lawannya juga sungkan, maka Sim Hong Bu yang merasa sebagai penantang lalu menggerakkan pedangnya melakukan serangan pembukaan. Kam Hong juga menggerakkan sulingnya dan mulailah mereka saling serang. Mula-mula memang ada keraguan dan kesungkanan dalam hati mereka sehingga serangan-serangan mereka itu tidak di­lakukan dengan tenaga sepenuhnya, akan tetapi sebagai ahli-ahli silat di mana ilmu sllat itu telah mendarah daging kepada tubuh mereka, makin lama me­reka menjadi semakin bersemangat ka­rena menghadapi lawan yang amat tang­guh. Maka gerakan senjata mereka men­jadi semakin cepat dan berat dan tak lama kemudian, lenyaplah kedua orang itu terselimut gulungan sinar emas dan sinar biru yang menyilaukan mata. Terdengar pula suara pedang seperti suara mengaum-aum dan suara suling yang melengking-lengking, dan angin yang amat keras menyambar, membuat daun­-daun pohon di sekitar tempat itu ber­goyang-goyang dan kadang-kadang seperti dilanda angin berpusing. Ci Sian sendiri bengong, kagum sekali menyaksikan pertandingan yang amat hebat ini. Diam-diam harus diakuinya bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh Sim Hong Bu memang hebat bukan main, dan agaknya sama sekali tidak kalah di­bandingkan dengan Kim-siauw Kiam-sut yang dimainkan dengan suling emas itu. Sebagai seorang ahli, ia pun dapat meng­ikuti gerakan mereka, walaupun kadang-kadang gerakan kedua orang itu terlalu cepat untuk dapat diikuti dengan mata. Ia melihat betapa suhengnya bersilat dengan baik sekali, hampir dapat dikata sempurna malah, memainkan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut, akan tetapi tetap saja ia masih melihat keraguan dalam gerakan suhengnya itu, seolah-olah dia tidak menghendaki perkelahian itu dan bertanding karena terpaksa sekali. Setelah lewat seratus jurus, keduanya sudah benar-benar bebas dari keraguan dan keduanya kini sudah lupa diri. Yang ada hanyalah kegembiraan bertanding karena baru sekarang mereka benar-benar bertemu lawan yang setanding, dan baru sekali ini mereka bertanding tanpa ada sedikit pun perasaan benci atau marah. Kini mereka bertanding demi ilmu itu sendiri, seperti orang berlatih saja, akan tetapi jauh lebih hebat dan sungguh karena keduanya tidak mau sampai kalah. Maka, kini hanya jurus-jurus yang paling ampuh sajalah yang mereka keluarkan dan di dalam hati mereka penuh keka­guman terhadap lawan. Sukar dilihat siapa yang terdesak dan siapa yang men­desak antara keduanya, karena betapapun juga, setelah kini mereka melihat inti­nya, ada unsur-unsur yang sama dalam dasar ilmu pedang mereka. Hanya dalam hal tenaga dalam, Sim Hong Bu harus mengakui bahwa dia masih kalah seting­kat! Akan tetapi, Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut demikian hebatnya sehingga kekalahan tenaga ini dapat ditutupnya dengan gerakan cepat dan aneh sehingga dia tidak harus mengadu tenaga secara langsung. Serang menyerang terjadi, tikaman dan totokan ditukar, bacokan dan pukulan silih berganti, dan bukan hanya senjata mereka yang saling menyambar, melain­kan juga tangan kiri mereka sering kali melakukan totokan dan pukulan maut yang amat hebat, yang kalau ditangkis menimbulkan getaran yang bahkan terasa pula oleh Ci Sian yang berdiri di pinggir. Setelah lewat dua ratus jurus, Ci Sian memandang dengan alis berkerut. Sebagai seorang ahli, maklumlah dara ini bahwa perkelahian sehebat ini kalau dilanjutkan, tentu hanya berakibat robohnya seorang di antara mereka, mungkin roboh untuk tidak dapat bangkit kembali atau tewas. Setiap serangan yang dilakukan mereka itu adalah serangan maut yang amat hebat, yang kalau mengenai lawan sudah pasti akan merenggut nyawa lawan! Memang benarlah apa yang dipikirkan oleh Ci Sian ini. Setelah lewat dua ratus jurus Kam Hong yang lebih matang da­lam hal latihan, dan juga memang lebih sempurna menguasai ilmunya, dapat me­lihat kelemahan-kelemahan yang walau­pun sedikit dalam gerakan Hong Bu, namun cukuplah untuk dimasukinya de­ngan serangan kilat yang akan membuat lawan roboh. Akan tetapi pendekar ini tidak tega merobohkan Hong Bu dengan serangan maut. Dia sama sekali tidak ingin melukainya dengan berat. Timbul keraguan dalam hatinya. Apa gunanya kalau dia menang? Sebaliknya, andaikata dia mengalah sekalipun, hal itu pasti akan diketahui oleh Sim Hong Bu dan juga oleh Bu Ci Sian dan tidak akan ada manfaatnya lagi, bahkan mungkin Hong Bu akan merasa tersinggung kalau dia sengaja mengalah. Maka, sebaiknya kalau dia memberi isyarat kepada pemuda itu bahwa dia tidak ingin bermusuhan dan bahwa dia bersedia menghentikan pertandingan itu dan bersedia pula mengalah. Oleh karena itu, ketika dia kembali meli­hat lowongan yang merupakan kekosongan atau kelemahan dari lawan, secepat kilat sulingnya meluncur ke arah kiri dada Hong Bu dan sebelum pemuda ini dapat menghindarkan diri karena memang posi­sinya sudah terdesak dan terkurung, tahu-tahu ujung suling sudah mengenai dada kirinya. “Duk!” Sim Hong Bu terkejut bukan main karena biarpun ujung suling itu dengan tepat sekali mengenai dada, namun tidak terasa apa-apa dan totokan tadi sama sekali tidak mengandung kekuatan sin-kang sehingga ketika mengenai kulit dadanya lalu membalik! Dari heran, Hong Bu menjadi merah mukanya karena dia pun maklum bahwa lawannya sengaja tidak mengisi tenaga pada totokan tadi, dan hal ini hanya dapat diartikan bahwa lawan memang tidak menghendaki berkelahi dengannya. Padahal, dia pun menger­ti benar bahwa kalau tadi Kam Hong mengisi totokannya dengan tenaga sin-kang, dia tentu sudah roboh, kalau tidak mati seketika, sedikitnya tentu terluka parah atau roboh tertotok dan kalah. Jelaslah bahwa pendekar yang dikagumi dan dihormatinya itu memang sengaja tidak mau mengalahkannya, hal ini benar-benar membuat dia merasa berterima kasih akan tetapi juga membuka matanya bahwa dia kalah jauh dalam hal penga­laman dibandingkan dengan pendekar sakti ini. Maka, kalau dia melanjutkan pertandingan itu, sama saja dengan mengaku bahwa dia tidak tahu diri! “Trang....!” Pedang bertemu dengan suling dan pedang itu terlepas dari ta­ngan Hong Bu. Pemuda ini melangkah mundur dan menjura. “Kam-taihiap, saya Sim Hong Bu yang mewakili keluarga Cu mengaku bahwa di tanganku, Koai-liong Kiam-sut telah ka­lah melawan Kim-siauw Kiam-sut!” Lalu dia menjura lagi dan mengambil pedang­nya dari atas tanah. “Saudara Sim Hong Bu, engkau terlalu merendah. Koai-liong Kiam-sut hebat bukan main dan kalau toh aku dapat mengunggulimu sedikit, hal itu bukan karena ilmunya, melainkan karena engkau kalah matang dalam latihan dan pengalaman. Ilmu pedangmu hebat bukan main!” “Apa ini? Saling mengalah dan saling merendah! Sim Hong bu, kakak seper­guruanku memang lemah. Biarlah aku yang mewakili Kim-siauw Kiam-sut, ingin kucoba sampai di mana hebatnya Koai-liong Kiam-sut, dan antara kita tidak perlu ada sungkan-sungkanan dan menga­lah segala macam!” Berkata demikian, Ci Sian sudah menyerang dengan suling emasnya, serangan maut yang hebat se­kali sehingga terpaksa Hong Bu menang­kis. “Cringggg....!” Bunga api berpijar saking kerasnya pertemuan senjata itu. “Sumoi, jangan....!” teriak Kam Hong. “Ci Sian, aku sudah mengaku kalah,” kata Hong Bu, suaranya mengandung kegetiran hati. Dia telah patah hati dan dia tadi menghendaki tewas di tangan pendekar sakti Kam Hong, siapa kira pendekar itu mengalah dan dia kalah tanpa terluka sedikit pun. Hal ini mem­buatnya merasa perih sekali karena di­biarkan hidup menderita patah hati! “Tidak, tadi Suheng telah banyak mengalah dan engkau sengaja membiar­kan pedangmu lepas. Kaukira siapa aku ini? Anak kecil yang mudah saja dibo­dohi? Hayo, lawan aku, kalau engkau tidak berani dan kalau engkau takut, selanjutnya engkau harus mengaku se­bagai seorang pengecut!” “Ci Sian....!” Hong Bu berseru, jan­tungnya seperti ditusuk rasanya. “Sumoi, engkau terlalu....!” “Engkau berpihak kepadanya, Suheng? Boleh, kau berdua keroyoklah aku!” Ber­kata demikian, Ci Sian sudah menyerang lagi kepada Hong Bu yang terpaksa harus menggerakkan pedang dan melindungi dirinya kalau tidak mau mati konyol. Hatinya berduka bukan main. Tentu saja pantang baginya untuk hidup sebagai pengecut! Maka terpaksa dia pun me­nangkis dan balas menyerang sehingga seaat kemudian mereka berdua telah bertanding dengan seru dan hebat. Kam Hong berdiri bingung sekali, tidak me­ngerti mengapa sumoinya demikian marah dan membenci Hong Bu.Pada saat itu muncul tiga orang yang bukan lain adalah Cu Kang Bu, Yu Hwi, dan Cu Pek In! Mereka bertiga itu akhirnya dapat menemukan jejak Sim Hong Bu dan tiba di tempat itu pada saat Hong Bu sedang bertanding dengan hebatnya melawan Ci Sian. Melihat ini Cu Pek In sudah hendak meloncat untuk membantu suhengnya, akan tetapi Cu Kang Bu memegang lengannya. Pendekar ini melihat betapa Kam Hong berdiri di situ sejak mereka datang dan sama sekali tidak membantu Ci Sian. Oleh ka­rena itu, kalau sekarang dia serombongan datang-datang lalu membantu Sim Hong Bu, sungguh hal ini merupakan suatu kecurangan yang membikin malu. Inilah sebabnya maka dia mencegah keponakan­nya untuk membantu Hong Bu. Dan pen­dekar tinggi besar ini pun sudah meman­dang penuh dengan kekaguman karena pertandingan antara mereka itu sungguh hebat luar biasa. Baru sekaranglah dia dapat mengagumi Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang diwarisi oleh Hong Bu, akan tetapi dia juga berkesempatan menyaksikan kehebatan suling emas di tangan dara itu. Hebat sekali! Kedua ilmu itu sungguh merupakan ilmu yang jarang dapat ditemukan tandingannya di dunia ini. Akan tetapi hanya Kam Hong seorang yang sudah dapat mengenal kedua ilmu itu dan dapat mengikuti pertandingah itu dengan amat jelas yang melihat kenyata­an betapa Sim Hong Bu kini selalu mengalah terhadap Ci Sian! Kalau tadi dia sendiri mengalah terhadap Sim Hong Bu, mengalah sedikit saja, kini Hong Bu mengalah secara keterlaluan! Pemuda itu tidak pernah melakukan serangan yang sungguh-sungguh, sebaliknya, Ci Sian yang melakukan serangan dengan jurus-jurus terampuh dari Ilmu Kim-siauw Kiam-sut. Sementara itu, ketika Hong Bu me­lihat datangnya susioknya dan dua orang wanita yang tidak dilihatnya jelas karena dia didesak hebat oleh lawan, hatinya terguncang dan kedukaannya memuncak, maka ketika itu gerakannya menangkis kurang tepat dan kurang kuat. “Tokkk!” Ujung suling itu mengenai lehernya, dan biarpun dia sudah miring­kan kepalanya, masih saja ujung suling itu mengenai pangkal lehernya. Serangan ini hebat sekali dan Hong Bu terjungkal dan terbanting, tak mampu bergerak lagi! “Suheng....!” Cu Pek In menjerit dan menubruk tubuh itu sedangkan Kam Hong sudah menarik tangan Ci Sian yang juga terbelalak memandang ke arah Hong Bu, wajahnya agak pucat karena ia tidak bermaksud membunuh Hong Bu dan kini melihat pemuda itu terjungkal, hatinya merasa ngeri karena ia khawatir kalau-kalau ia telah kelepasan tangan membu­nuh orang yang sebenarnya amat disukai­nya itu! Pek In sudah menangis sambil meme­luk tubuh Hong Bu yang tak bergerak seperti mayat itu. Mata pemuda itu mendelik dan mukanya pucat, napasnya berhenti! Cu Kang Bu cepat memeriksa dan mengurut beberapa jalan darah di dada, punggung dan leher, maka nampaklah Hong Bu mengeluh lirih dan napasnya pun berjalan kembali. “Dia akan sembuh....” kata Cu Kang Bu dan melihat ini, Kam Hong dan Ci Sian merasa lega bukan main. “Maafkan kami!” kata Kam Hong sambil menjura ke arah Cu Kang Bu, kemudian ia memegang tangan sumoinya dan menariknya pergi meninggalkan tem­pat itu. Kam Hong maklum bahwa jika dibiarkan sumoinya berada di situ lebih lama lagi, bukan tidak mungkin timbul kesalahpahaman baru dengan keluarga Cu. Dia tidak menghendaki hal ini, apa­lagi di situ terdapat pula Yu Hwi, bekas tunangannya dan hal ini pun membuat dia merasa tidak enak sekali. Dan agak­nya Cu Kang Bu juga tidak ingin men­cari urusan. Dia sudah melihat betapa jago dari keluarga Cu telah kalah dan dia tahu bahwa melawan Pendekar Suling Emas dan sumoinya yang amat lihai itu dia dan isterinya tidak akan menang. Cu Pek In sudah memondong tubuh Hong Bu. “Mari kita mencari tempat yang baik untuk merawatnya,” kata gadis itu kepada pamannya. “Baik, akan tetapi biarkan aku memondongnya, Pek In,” kata pamannya. “Biarlah, Paman, biarlah aku memon­dongnya,” Pek In berkata dan mendekap tubuh pemuda itu seperti orang memon­dong anak kecil saja. Bagi seorang gadis seperti Pek In yang memiliki kepandaian cukup tinggi, memondong tubuh seorang dewasa bukan hal yang sukar. Akhirnya mereka menemukan sebuah pondok kecil terpencil di luar dusun. Mereka menyewa pondok ini dari kakek petani yang memilikinya dan Pek In lalu merebahkan Hong Bu di atas dipan bam­bu sederhana yang berada di dalam ka­mar. Cu Kang Bu dan Yu Hwi segera memeriksa kembali keadaan pemuda itu. Mereka adalah suami isteri yang berilmu tinggi, bahkan Yu Hwi mengerti pula tentang ilmu pengobatan. Totokan suling tadi memang hebat, akan tetapi untung meleset dari urat penting yang dapat membawa maut. Totokan itu menggetarkan jantung, akan tetapi karena tubuh Hong Bu memang amat kuat, maka tidak sampai membahayakan dirinya, walaupun membuatnya roboh pingsan dan sekitar pundak dan pangkal leher menjadi ke­biruan karena ada otot yang pecah. Cu Kang Bu dan isterinya lalu men­carikan obat ke Lok-yang, sedangkan Pek In menjaga pemuda itu dengan penuh perhatian. Pek In yang terus menjaga dan meminumkan obat sedikit demi se­dikit, menjaga siang dan malam dan merawatnya penuh kasih sayang sehingga melihat ini, Cu Kang Bu dan Yu Hwi merasa terharu bukan main. Baru pada keesokan harinya, pernapasan Hong Bu berjalan seperti biasa dan mukanya yang tadinya pucat itu menjadi agak kemerah­an kembali. Hari telah larut ketika Hong Bu me­ngeluh lirih. Pek In cepat mendekatinya, duduk di tepi dipan dan meraba dahi pemuda itu, lalu mempergunakan sapu­tangan untuk mengusap keringat yang membasahi dahi dan leher. Pemuda itu telah berkeringat dan menurut paman dan bibinya, kalau pemuda itu sudah mengeluarkan keringat berarti akan se­gera sembuh. Bukan main girang hati Pek In dan ia menatap wajah yang tampan itu dengan penuh kemesraan. Kedua mata itu terbuka perlahan, lalu berkedip-kedip karena agak silau oleh sinar matahari yang memasuki kamar lewat jendela. Kemudian, setelah mata itu agak terbiasa, Hong Bu memandang kepada Pek In, lalu berkata lirih, “Siapa Nona....?” Mendengar pertanyaan ini, hampir saja Pek In tertawa geli, akan tetapi ia segera teringat bahwa semenjak menjadi suhengnya, barulah sekali ini Hong Bu melihat ia berpakaian sebagai seorang wanita dengan rambut digelung ke atas. Pek In tersenyum manis. “Coba kau­terka, siapa aku ini?” Suaranya terdengar merdu sekali karena hatinya riang me­lihat pemuda itu telah siuman dan tam­pak sehat. “Seperti.... seperti tak asing bagiku....” Hong Bu mengerutkan alisnya. Memang gadis ini telah dikenalnya! Akan tetapi dalam detik-detik pertama dia lupa lagi siapa ia. Akan tetapi dia segera menepuk dahinya. “Sumoi....! Ah, benar, engkau Sumoi Cu Pek In....!” Pek In tertawa dan menutupi mulut­nya. “Aku sudah khawatir engkau tidak akan mengenalku,” katanya tertawa. Hong Bu juga tertawa. “Siapa dapat mengenalmu? Engkau telah menjadi se­orang gadis yang.... manis sekali!” Cu Pek In cemberut. “Apa kaukira biasanya aku bukan seorang gadis?” Hong Bu baru sadar bahwa dia telah kesalahan bicara. “Maaf, bukan begitu maksudku.... eh, maksudku....” memang baru sekarang inilah dia menyadari bah­wa sumoinya adalah seorang gadis, se­orang gadis yang cantik manis. Mungkin biasanya dia hampir tidak memperhatikan Pek In karena gadis itu baginya seperti adik seperguruan biasa saja, hampir se­orang saudara atau kawan baik laki-laki karena gadis itu selalu berpakaian pria. “Maksudmu bagaimana?” Pek In menggodanya. “Maksudku.... eh, di mana aku ini? Apa yang telah terjadi? Ahhh....” Dan Hong Bu bangkit duduk dengan wajah muram. Teringatlah dia akan Semua itu, akan pertandingannya melawan Ci Sian dan betapa karena mengalah maka ia terkena totokan suling emas. “Engkau sudah ingat, Suheng?” tanya Pek In halus, suaranya mengandung ke­khawatiran. Pemuda itu mengangguk dan menatap wajah sumoinya. “Kiranya aku belum mati....” “Engkau nyaris tewas, Suheng. Kata Paman, kalau sedikitsaja ke atas, me­ngenai urat penting, engkau takkan ter­tolong lagi. Menurut Paman dan Bibi, agaknya gadis itu memang sengaja tidak membunuhmu....” “Hemm...., mana Susiok Cu Kang Bu?” “Dia dan Bibi sedang berada di luar tadi....” Akan tetapi pada saat itu, Cu Kang Bu dan Yu Hwi memasuki kamar dan mereka berdua merasa girang melihat betapa Hong Bu telah siuman dan nam­pak sehat kembali. Hong Bu cepat mem­beri hormat kepada suami isteri itu dan berkata dengan suara penuh penyesalan, “Susiok, harap maafkan bahwa teecu tidak berhasil memenuhi pesan Suhu se­hingga teecu kalah ketika melawan pe­waris Kim-siauw Kiam-sut.” Cu Kang Bu menarik napas panjang. “Aku sudah menyaksikan pertandingan itu dan aku tidak menyalahkanmu, Hong Bu. Memang hebat sekali Ilmu Suling Emas itu, tiada keduanya di dunia ini. Bagai­manapun juga, kita harus bijaksana dan dapat melihat kelemahan sendiri. Aku tidak setuju dengan pendapat kakakku yang berkeras hendak membalas kekalah­an. Biarpun kedua ilmu itu bersumber dari keluarga kita, akan tetapi jelaslah bahwa Ilmu Suling Emas ini jauh lebih tua dan tidak mengherankan kalau lebih kuat daripada Koai-liong Kiam-sut yang tercipta ratusan tahun kemudian. Sudah­lah, Hong Bu, tidak perlu hal itu dibuat menjadi beban batin dan rasa penasaran. Bagaimanapun juga, harus kita akui bahwa mereka berdua itu adalah pendekar-pendekar yang hebat.”Atas bujukan Cu Kang Bu, akhirnya Sim Hong Bu mau untuk ikut kembali ke lembah. Bahkan Cu Kang Bu yang ber­watak jujur itu menambahkan pula secara blak-blakan, di depan Pek In. “Engkau tentu masih ingat akan pesan Twako bahwa dia menghendaki agar engkau dan Pek In berjodoh, Hong Bu. Kurasa hal itu amat baik, dan kalau memang engkau menyetujui, marilah kita segera langsungkan saja pernikahan itu di sana. Usia Pek In sudah cukup untuk segera mem­bentuk rumah tangga denganmu.” Mendengar ucapan itu otomatis Hong Bu menoleh dan memandang kepada Pek In. Sejenak mereka saling pandang, akan tetapi Pek In lalu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Dan Hong Bu mempunyai perasaan yang aneh. Mengapa baru sekarang dia seolah-olah baru me­lihat Pek In? Seorang gadis yang amat manis, dan dia mendengar betapa gadis ini merawatnya sehari semalam tanpa beranjak dari sampingnya, tidak makan tidak tidur. Dia tahu benar betapa besar rasa cinta kasih sumoinya ini terhadap dirinya dan dia selama ini tidak memper­hatikan karena keadaan Pek In yang selalu berpakaian seperti pria itu seolah-olah memiliki daya tolak yang besar. Akan tetapi sekarang lain sekali keada­annya. Gadis itu ternyata memiliki daya tarik yang cukup kuat dan terus terang saja, dia suka melihat wajah yang manis itu, bentuk tubuh yang padat, indah dan menggairahkan sebagai wanita itu. Dan dia pun kini sudah tidak mempunyai ha­rapan lagi terhadap diri Ci Sian. Menga­pa tidak? Kalau dia menolak, apa pula alasannya? Dan penolakannya tentu akan membuat Pek In merasa sengsara, di samping membuat hubungannya dengan keluarga Cu menjadi hambar. “Baiklah, Susiok. Akan tetapi usul Susiok itu mengingatkan kepada teecu bahwa untuk memperoleh doa restu dari arwah ayah teecu, selagi teecu berada di Propinsi Ho-nan ini, sebaiknya kalau teecu mengunjungi makam ayah dan ber­sembahyang di sana.” “Tentu saja, itu baik sekali! Di mana­kah makam ayahmu?” “Di dekat kota Sin-yang, di selatan Sungai Huai.” “Baik, kalau begitu mari kita pergi beramai ke sana, aku pun ingin memberi hormat kepada makam ayahmu,” kata Cu Kang Bu yang tidak ingin kehilangan lagi murid keponakannya itu kalau mereka harus berpisah lagi. Maka berangkatlah mereka meninggalkan dusun itu menuju ke selatan. Tubuh Hong Bu yang kuat itu membuat dia sembuh kembali dalam waktu singkat dan beberapa hari kemu­dian dia sudah pulih kembali seperti biasa. *** “Ci Sian, sungguh aku menyesal sekali mengapa engkau sampai melukai Hong Bu seperti itu, nyaris dia tewas di tangan­mu,” kata Kam Hong ketika mereka berjalan meninggalkan lembah itu. Ci Sian merasa ngeri mendengar ini dan ia pun bersungut-sungut, “Habis hati­ku mengkal sekali sih!” “Kenapa? Bukankah dia hanya meme­nuhi tugas yang diperintahkan gurunya untuk mengadu ilmu denganku? Dan bu­kankah dia sudah mengaku kalah? Kenapa engkau mendesaknya sehingga melukai­nya, Ci Sian? Padahal, engkau sendiri tentu sudah tahu benar betapa selama dalam perkelahian melawanmu itu dia terus mengalah. Ah, kenapa engkau be­gitu kejam kepadanya, Ci Sian? Engkau tahu, dia amat mencintamu....” “Suheng!” Ci Sian berkata dengan suara membentak sehingga mengejutkan hati Kam Hong. “Justeru itulah yang membikin hatiku jengkel!” Kam Hong memandang dengan heran. “Apa katamu? Kau jengkel karena dia mencintamu?” “Bukan!” “Habis apa? Apakah engkau jengkel karena dia mentaati perintah gurunya dan menantangku?” “Juga tidak!” “Habis, apa yang membuatmu jeng­kel?” “Karena dia berani melamarku!” “Ah, lebih aneh lagi itu. Dia mela­marmu adalah sudah wajar, karena dia mencintamu, dan kulihat dia memang seorang pemuda pilihan yang hebat. Aku pun masih merasa heran dan penasaran mengapa engkau tidak menerima pinang­annya malah marah-marah, padahal pinangan itu wajar saja.” Tiba-tiba Ci Sian memandang kepada suhengnya dengan sinar mata muram. “Suheng, mengapa engkau begitu mem­benciku?” “Eh?” Kam Hong memandang bengong dan terheran. “Engkau demikian membenciku sehing­ga engkau ingin agar aku meninggalkan­mu. Begitukah? Engkau seperti mendo­rongku untuk menerima pinangan Hong Bu. Itulah yang membuatku jengkel!” Kam Hong memandang dengan jantung berdebar. Tak salah lagi, Ci Sian men­cintanya! Dia berusaha untuk menyangkal kenyataan ini, untuk membantah hatinya sendiri, untuk mendorong sumoinya agar berjodoh dengan pemuda yang lebih patut menjadi sisihan Ci Sian, yang sama mudanya. Akan tetapi ternyata itu malah mendatangkan kemarahan di dalam hati Ci Sian! “Kalau begitu maafkanlah aku, Sumoi. Maksudku baik....” “Sudahlah, Suheng, harap jangan bica­rakan itu lagi. Aku pun menyesal sekali telah merobohkan Hong Bu. Sebenarnya aku suka kepadanya. Masih untung bahwa dia tidak tewas olehku tadi. Aku menye­sal.” Kam Hong percaya. Dari suaranya saja jelas terbukti bahwa sumoinya be­nar-benar menyesal dan sebetulnya su­moinya sama sekali tidak membenci Hong Bu. Hanya karena Hong Bu memi­nangnya, dan karena dia sendiri seperti menyetujui dan mendorong, maka hal itu mendatangkan kemarahan di hati sumoi­nya. “Baiklah, Sumoi. Apakah kita jadi membeli perahu?” “Tidak, sudah hilang seleraku untuk melakukan perjalanan melalui air. Kita berpesiar saja di Pegunungan Fu-niu-san ini, aku mendengar bahwa pemandangan di situ amat indahnya.” “Benar, Sumoi. Dan bambu-bambu dari Fu-niu-san amat terkenal. Banyak ter­dapat bambu-bambu yang indah dan aneh-aneh bentuknya di pegunungan ini.” Mereka pun lalu melakukan perjalanan seenaknya di pegunungan itu, kalau ma­lam mereka bermalam di hutan-hutan. Mereka tidak kekurangan makanan karena terdapat dusun-dusun berpencaran di pegunungan itu di mana mereka dapat membeli buah-buah dan juga daging yang mereka masak di rumah para penduduk dusun. Pada suatu pagi, ketika mereka ke­luar dari sebuah dusun di lereng timur setelah malam tadi mereka bermalam di dusun itu, tiba-tiba Ci Sian menuding ke depan. “Suheng, bukankah itu ada orang datang?” Kam Hong juga sudah melihatnya. Pagi itu kabut tebal memenuhi lereng sehingga yang nampak hanya bayangan berlari dari depan, kadang-kadang nam­pak kadang-kadang tidak, tergantung tebal tipisnya kabut yang lewat dengan cepat seolah-olah kabut-kabut itu keta­kutan oleh munculnya sinar matahari di balik puncak. Akhirnya bayangan itu tiba di depan mereka dan terkejut ketika saling me­ngenal. Yang datang itu bukan lain ada­lah Jenderal Muda Kao Cin Liong! Kalau Kam Hong dan sumoinya terkejut, seba­liknya Cin Liong tersenyum gembira sekali melihat mereka. Cepat jenderal yang berpakaian preman itu menjura dengan hormat sambil berseru, “Ah, akhirnya saja dapat juga bertemu dengan Ji-wi setelah dengan susah payah men­cari jejak Ji-wi! Akan tetapi, tidak saya sangka akan bertemu dalam kabut ini sehingga agak mengejutkan juga.” “Kiranya Kao-goanswe yang datang!” kata Kam Hong dan tersenyum kagum. Pemuda ini adalah putera tunggal Pen­dekar Naga Sakti Gurun Pasir. Hati siapa takkan kagum memandangnya? Seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, memiliki ilmu kepandaian yang jarang ditemukan tandingannya, dan se­muda itu telah menjadi seorang pangli­ma, seorang jenderal! “Ah, selamat datang, Kao-goanswe, dan ada kepentingan besar apakah maka engkau bersusah pa­yah mencari kami?” “Harap Kam-taihiap jangan menyebut saya goanswe, biarpun saya seorang jen­deral akan tetapi pada saat ini saya tidak bertugas dan lihat saja pakaianku adalah orang biasa, bukan? Dan keper­luanku adalah keperluan pribadi, bukan sebagai seorang berpangkat.” Kam Hong tersenyum. “Baiklah, Sau­dara Kao Cin Liong. Nah, keperluan apakah yang kaubawa?” Cin Liong memandang kepada Ci Sian dan tersenyum. Gadis itu juga tersenyum karena sudah lama ia mengenal Cin Liong. “Bagaimana kabarnya, Nona Bu? Kuharap engkau sehat-sehat saja.” “Terima kasih, aku baik-baik saja, Saudara Cin Liong. Ada keperluan apakah engkau datang mencari kami?” Mereka saling berpandangan dan teringatlah mereka akan pengalaman mereka berdua ketika bersama-sama beraksi di dalam benteng pasukan Nepal yang dipimpin oleh Nandini, ibu Siok Lan. Kalau mengenangkan masa lalu, di dalam hati keduanya ada suatu kehangatan karena ketika itu mereka berjuang sehidup se­mati menghadapi lawan-lawan tangguh. Betapapun juga, kini, menghadapi pengakuan cintanya, dan peminangannya, Cin Liong si jenderal yang tidak gentar menghadapi ribuan orang pasukan musuh itu tiba-tiba merasa badannya panas dingin dan jantung berdebar tegang! Sampai lama dia tidak mampu menjawab, hanya memandang kepada Ci Sian dengan bingung. Kam Hong yang bepandangan tajam itu agaknya dapat menduga bahwa jenderal muda itu ingin menyampaikan sesuatu kepada Ci Sian, maka dia pun lalu berkata dengan suara halus, “Kalau engkau hendak bicara berdua dengan Sumoi, silakan, Saudara Cin Liong, aku akan menyingkir lebih dulu....” “Ah, tidak.... saya.... saya hendak bicara denganmu, Kam-taihiap!” kata Cin Liong dengan gugup.  “Kalau begitu, biarlah aku saja yang menyingkir!” kata Ci Sian dan sebelum ada yang menjawab, ia sudah pergi dari tempat itu, agak menjauh dan melihat-lihat pemandangan alam yang indah. “Nah, bicaralah Saudara Kao Cin Liong,” kata Kam Hong sambil tersenyum memberanikan hati pemuda itu. “Kam-taihiap, terus terang saja.... kedatangan saya mencari Tai-hiap berdua adalah untuk melamar Nona Bu Ci Sian!” Hampir saja Kam Hong tertawa men­dengar ini. Memang tadi, melihat sikap Cin Liong, dia sudah setengah menduga bahwa jangan-jangan pemuda ini hendak menyatakan cintanya kepada Ci Sian, maka tadi dia mengusulkan untuk me­nyingkir kalau pemuda itu hendak bicara berdua dengan sumoinya. Akan tetapi dia tidak percaya akan dugaannya sendiri. Dan ternyata memang benar! Bahkan jenderal muda ini mengajukan lamaran. Hampir sukar untuk dapat dipercaya bagaimana bisa begini kebetulan! Dalam waktu beberapa hari saja, Ci Sian sudah dilamar oleh dua orang pemuda! Sumoi­nya itu sungguh “laris”, dihujani lamaran dan yang melamarnya adalah pemuda-pemuda pilihan. Cin Liong ini dalam segala-galanya bahkan tidak kalah diban­dingkan dengan Hong Bu, maka timbullah harapan di dalam hatinya. Siapa tahu kalau sumoinya akan suka menjadi jodoh pemuda ini. Dia sendiri akan ikut merasa bangga! Menjadi mantu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Dan pemuda ini pun jujur, seperti Hong Bu. Hanya bedanya, karena pemuda ini terdidik di kota raja, dan hidup sebagai seorang berkedudukan tinggi, tentu saja pemuda ini masih terikat oleh kesusilaan sehingga merasa malu dan sungkan menyatakan isi hati­nya. Berbeda dengan Hong Bu yang sejak kecil hidup setengah liar, maka kejujur­annya lebih terbuka tanpa halangan se­suatu lagi. “Ahh, Saudara Kao! Bagaimana ini? Aku hanyalah suheng dari Sumoi Bu Ci Sian, bagaimana engkau melamarnya ke­padaku? Bukankah seharusnya kepada ayahnya....?” “Tentu saja saya tidak berani melam­paui Bu-locianpwe, Tai-hiap. Sebelum saya mencari Tai-hiap berdua, saya ber­sama orang tua saya pernah datang mengajukan lamaran kepada Bu-locianpwe dan beliau sendiri yang menganjurkan agar saya mencari Ji-wi dan langsung saja meminang kepada Nona Bu atau kepada Kam-taihiap sebagai walinya.” “Hemm...., Bu-locianpwe sungguh menaruh kepercayaan besar kepadaku. Saudara Kao Cin Liong, kalau tidak salah, me­nurut penuturan Sumoi, kalian berdua telah lama sekali saling berkenalan, bah­kan telah menjadi sahabat baik dan per­nah berjuang bahu-membahu, bukan? Aku yakin bahwa yang mendorongmu mengajukan pinangan ini tentu berdasarkan hatimu yang mencinta, bukan?” Wajah Cin Liong menjadi agak merah, akan tetapi dengan tenang dia menatap wajah pendekar itu dan menjawab, “Be­nar demikian, Tai-hiap.” “Dan engkau tentu tahu bahwa aku atau siapapun juga tidak akan dapat memaksa Sumoi, dan hal itu tergantung sepenuhnya kepadanya. Akan tetapi, aku tidak tahu bagaimana dengan isi hatinya. Apakah ia mencintamu, Saudara Kao? Maafkan pertanyaanku ini.” Cin Liong menggeleng kepala. “Aku tidak tahu dengan pasti....” katanya lirih seperti kepada dirinya sendiri, kemudian dia memandang kembali kepada pendekar itu. “Terus terang saja, kami tidak per­nah bicara tentang cinta, Tai-hiap, akan tetapi kalau saya melihat sinar matanya, saya kira.... yah, mudah-mudahan ia pun mencinta saya seperti saya mencintanya selama ini.” “Hemm.... kalau begitu, kiranya se­baiknya kalau engkau mengatakannya kepadanya sendiri, karena keputusannya terserah kepadanya.” Kembali Cin Liong nampak gugup. “Ah, sukar sekali saya dapat bicara kalau di depannya, Tai-hiap. Ia seorang ber­watak keras, saya sudah mengenalnya baik-baik, dan sikap keras itu justru merupakan satu di antara sifatnya yang menarikku. Saya.... saya mohon bantuan, Tai-hiap, sukalah menjadi perantara membuka percakapan tentang itu. Kalau sudah dimulai, agaknya saya akan berani mengemukakan kepadanya.” Kam Hong mengerutkan alisnya. Sungguh tugas yang berat. Dia sendiri, walaupun dilawannya sendiri dengan me­lihat kenyataan bahwa dia tidak pantas menjadi jodoh sumoinya, dia telah jatuh cinta kepada dara itu. Dan kini dia di­minta tolong untuk menjadi perantara perjodohan dara itu dengan orang lain! Akan tetapi, bukanlah ini yang dia ke­hendaki? Bukankah dia akan merasa gi­rang kalau Ci Sian menjadi jodoh Cin Liong, bahkan lebih baik malah daripada menjadi jodoh Hong Bu? Ci Sian mung­kin akan marah kepadanya. Akan tetapi biarlah. Dia harus dapat mengambil ke­putusan yang tepat dan melihat kenyata­annya bagaimana. Dia masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa sumoinya hanya mencinta dia seorang. Agaknya tidak mungkin kalau di samping dia ter­dapat pemuda-pemuda seperti Hong Bu dan Cin Liong yang mencintanya bahkan mengajukan pinangan kepadanya! “Sumoi....!” dia memanggil, suaranya terdengar agak gemetar. Gadis itu menoleh. Melihat suhengnya menggapai, ia lalu menghampiri setengah berlari. Nampak masih kekanak-kanakan ketika ia berlari-lari itu, akan tetapi juga manis sekali. Ci Sian tersenyum memandang kepada Cin Liong. “Nah, sudah selesaikah urusan besar yang teramat penting itu?” “Belum, Sumoi, bahkan baru dimulai.” “Eh, kalau begitu mengapa memanggil aku?” “Karena urusan ini memang mengenai dirimu. Duduklah, Sumoi dan dengarlah baik-baik,” kata Kam Hong, Ci Sian mengerutkan alisnya, sejenak memandang kepada Cin Liong dengan sinar mata tajam penuh selidik, akan tetapi ia duduk juga di atas batu besar yang banyak terdapat di situ. “Ada apa sih, begini penuh rahasia?” “Begini, Sumoi. Saudara Kao Cin Liong ini pernah bersama ayah bundanya pergi berkunjung kepada Ayahmu di Cin-an, kemudian sekarang ia mencari kita. Adapun keperluannya adalah untuk me­minangmu, Sumoi, engkau dilamar untuk menjadi isteri Saudara Kao Cin Liong....” “Suheng! Lagi....? Engkau.... engkau....” dan Ci Sian lalu menangis! Tentu saja Cin Liong terkejut bukan main sedangkan Kam Hong hanya termenung saja, mak­lum bahwa kembali dia telah menyakiti hati sumoinya. “Nona Bu Ci Sian, maafkanlah aku....” kata Cin Liong. “Sungguh mati, aku me­minangmu dengan hormat, sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan­mu....” “Kau tahu apa tentang menyinggung hati? Kalian laki-laki sungguh meman­dang rendah kaum wanita! Kenapa laki-laki tidak mau tahu tentang perasaan hati wanita? Kenapa tanpa meneliti pe­rasaan wanita, mudah saja datang me­lamar seolah-olah wanita itu barang dagangan yang boleh saja ditawar orang seenak perutnya? Kam-suheng, kalau memang engkau begitu benci kepadaku, bilang saja terus terang dan aku pasti akan pergi dari sampingmu, entah apa jadinya denganku! Tidak perlu engkau mendorongku untuk menjadi isteri orang lain! Tak kusangka kau.... sekejam ini....” “Sumoi, sama sekali tidak begitu....” “Nona Bu, sekali lagi maafkanlah aku....” Akan tetapi Ci Sian sudah mencabut sulingnya dan menghadapi Cin Liong sambil menantang. “Jenderal Kao Cin Liong! Engkau telah meminangku melalui ayah kandungku, juga engkau telah me­minangku kepada Kam-suheng yang agak­nya tidak peduli kepadaku dan ingin melihat aku menjadi isteri siapapun juga dan mau memberikan aku kepada pria pertama yang mau datang meminangku. Sekarang engkau dengarlah syaratku. Aku mau menjadi isterimu asal engkau dapat mengalahkan aku dan dapat menewaskan aku di sini. Majulah!”Wajah Cin Liong menjadi pucat seke­tika dan dia merasa jantungnya seperti ditusuk. Dia telah salah sangka! Dara ini tidak mencintanya, melainkan mencinta Kam Hong! Akan tetapi agaknya Kam Hong tidak tahu akan hal ini, maka pen­dekar itu seperti mendorong sumoinya untuk menerima pinangan orang lain. Tapi dia sendiri dapat melihat dengan jelas dan tahulah dia mengapa Ci Sian marah-marah, yaitu karena sikap Kam Hong itulah. Dia menarik napas panjang dan menundukkan mukanya.  “Sumoi, harap engkau jangan bersikap begini!” Kam Hong yang jadi terkejut sekali mendengar tantangan Ci Sian ter­hadap Cin Liong, menegur. Akan tetapi tegurannya ini bagaikan minyak yang menyiram api, membuat kedukaan dan kemarahan dalam hati Ci Sian menjadi semakin berkobar. Dengan kedua mata yang agak kemerahan karena menangis tadi, ia menoleh dan memandang wajah suhengnya. “Suheng, daripada engkau mendorong-dorongku untuk menjadi isterinya, lebih baik engkau membelanya sekali dan biar­lah aku mati di tangan kalian. Majulah dan keroyoklah aku!” “Sumoi....!” Cin Liong sudah maju mendekati Ci Sian dan menjura, mukanya masih pucat akan tetapi dengan gagahnya pemuda, ini menekan perasaan nyeri dan mencoba untuk tersenyum. “Nona Bu Ci Sian, ternyata, aku telah buta. Telah begitu lama aku mengenalmu, akan tetapi ter­nyata aku salah menafsirkan sikapmu kepadaku. Engkau baik kepadaku bukan karena cinta, dan cintaku bertepuk ta­ngan sebelah. Aku tahu bahwa engkau telah mencinta orang lain, Nona, dan memang orang itu patut menerima cinta kasihmu karena dia adalah seorang yang hebat, cintanya kepadamu tanpa pamrih untuk dirinya sendiri dan dia hanya men­dambakan kebahagiaanmu. Kam-taihiap, Nona Bu, selamat tinggal, maafkanlah aku sebanyaknya dan semoga kalian ber­dua berbahagia.” Tanpa menanti jawaban, Cin Liong lalu meloncat pergi dari situ meninggalkan mereka berdua. Keadaan menjadi sunyi sekali setelah Cin Liong pergi dan Ci Sian sudah me­nyimpan sulingnya dan membalikkan tu­buhnya. Kini ia berhadapan dengan Kam Hong, saling berpandangan sampai bebe­rapa lama dan akhirnya Kam Hong me­narik napas panjang dan berkata, “Sumoi, sungguh kasihan sekali pemuda itu. Dia tidak boleh sekali-kali dipersalahkan ka­rena dia jatuh cinta kepadamu dan meminangmu, ah, dapat kubayangkan betapa hancur rasa hatinya....” Akan tetapi ucapan ini sama sekali tidak dipedulikan oleh Cin Sian, bahkan seperti tidak didengarnya, matanya masih menatap wajah suhengnya dan akhirnya ia pun berkata, “Suheng, benarkah apa yang dikatakan oleh Cin Liong tadi....?” “Apa? Kata-kata yang mana maksud­mu?” “Tentang orang yang mencintaku tan­pa pamrih untuk dirinya sendiri dan dia hanya mendambakan kebahagiaanku. Be­narkah itu, Suheng?” Di dalam suara ini terkandung nada permohonan dan peng­harapan yang menggetar melalui suara­nya. Sejenak Kam Hong memandang ta­jam, mereka saling pandang dan akhirnya Kam Hong hanya menarik napas panjang lalu mengangguk. “Kam-suheng....!” Ci Sian berseru dan menangis sambil menubruk suhengnya yang lalu memeluknya. Dara itu mena­ngis di dada Kam Hong yang mengguna­kan tangannya untuk mengelus rambut yang hitam halus itu. Air mata membasahi bajunya dan menembus membasahi kulit dadanya, bahkan terasa seolah-olah menembus kulit dan menyiram perasaan, menimbulkan kesejukan seperti bunga kekeringan menerima curahan air hujan. “Suheng....!” akhirnya Ci Sian dapat meredakan tangisnya dan bertanya, sua­ranya lirih tanpa mengangkat mukanya dari dada pendekar itu, “Kalau benar engkau mencintaku seperti cintaku kepa­damu.... ya, tak perlu aku mengaku, aku memujamu sejak dahulu, Suheng.... kalau benar engkau cinta padaku, kenapa si­kapmu begitu? Kenapa engkau seperti mendorongku untuk menerima pinangan orang lain?” Kam Hong mencium rambut kepala yang bersandar di dadanya itu, Dekapan­nya menjadi kuat untuk beberapa lama, kemudian mengendur lagi dan dia pun berkata, “Sumoi, semenjak aku merasakan bahwa hubungan antara kita berubah.... semenjak aku melihat gejala bahwa engkau jatuh cinta kepadaku seperti cinta seorang wanita terhadap pria, dan aku melihat kenyataan bahwa perasaan hatiku pun condong seperti itu, mencintamu bukan sebagai seorang suheng terhadap sumoinya melainkan sebagai seorang pria terhadap seorang wanita, maka aku men­jadi khawatir sekali. Karena itulah maka aku dahulu sengaja meninggalkanmu ber­sama Sim Hong Bu....” Pendekar itu berhenti bicara dan Ci Sian yang tadi mendengarkan penuh per­hatian, lalu bertanya, “Akan tetapi, mengapa, Suheng? Mengapa? Apa salah­nya kalau kita saling mencinta sebagai wanita dan pria, bukan hanya sebagai suheng dan sumoi? Apa salahnya?” “Ingatkah engkau akan ucapan Cin Liong tadi? Dia bermata tajam dan ber­otak cerdas, sekilas pandang saja dia telah dapat menyelami sampai mendalam. Aku mencinta padamu, Sumoi, dan cinta­ku bukan hanya untuk menyenangkan diriku sendiri. Aku ingin melihat engkau berbahagia. Aku melihat kenyataan bah­wa aku adalah seorang yang sudah ber­usia jauh lebih tua daripadamu. Selisih antara kita belasan tahun! Aku khawatir bahwa kelak engkau akan menyesal dan tidak berbahagia di sampingku. Aku me­lihat betapa engkau jauh lebih tepat menjadi sisihan pendekar-pendekar muda seperti Hong Bu atau Cin Liong. Karena itulah maka aku seperti mendorongmu, aku hanya ingin melihat engkau berbaha­gia, Sumoi. Nah, sudah kukeluarkan se­mua isi hatiku....” Pendekar itu menariknapas panjang, hatinya terasa lapang setelah dia mengeluarkan semua itu. Ci Sian melepaskan diri dari pelukan dan melangkah mundur selangkah, lalu memandang suhengnya dengan sinar mata penasaran. “Suheng, kalau aku, mencinta hanya karena melihat usia muda, wajah tampan, kedudukan, harta benda, kepan­daian dan semacamnya lagi, berarti aku hanya mencinta semua keadaan dan sifat itu, bukan mencinta orangnya. Akan te­tapi aku mencintamu karena dirimu, karena engkau adalah engkau, Suheng.... mengapa bicara tentang perbedaan usia segala? Kenapa engkau yang katanya mencintaku dan ingin melihat aku berbahagia, malah tega meninggalkan aku sendirian, membiarkan aku merana dan sengsara dan menderita rindu, kemudian malah tega hendak mendorongku menjadi isteri orang lain? Suheng ingin melihat aku berbahagia, atau ingin melihat aku sengsara? Kebahagiaan hanyalah apabila aku berada di sampingmu, Suheng!” “Sumoi, kaumaafkan aku....” Dengan penuh keharuan hati Kam Hong lalu merangkul dara itu. Ci Sian mengangkat mukanya, berdekatan dengan muka su­hengnya dan seperti ada daya tarik sem­brani yang kuat, entah siapa yang ber­gerak lebih dulu, tahu-tahu mereka telah berciuman dengan mesra. Cinta asmara bukan sekedar terdorong oleh daya tarik masing-masing antara pria dan wanita, walaupun tentu saja dimulai oleh suatu daya tarik. Daya tarik, itu bisa saja berupa wajah rupawan, ke­dudukan tinggi, harta benda, kepandaian, atau keturunan keluarga orang besar. Akan tetapi juga dapat berupa sikap yang menyenangkan hati yang tertarik, tentu saja sikap ini pun bermacam-macam sesuai dengan selera masing-masing yang tertarik. Akan tetapi, hubungan kasih sayang ini barulah mendalam dan juga membahagiakan orang yang dicinta­nya. Sebaliknya, cinta asmara yang di­dorong oleh keinginan menyenangkan diri sendiri, sudah tentu akan bertumbuk kepada banyak hal yang mendatangkan derita. Derita ini timbul karena sekali waktu tentu orang yang dicintanya itu akan melakukan sesuatu yang dianggap­nya tidak menyenangkan hatinya lagi! Tiada sesuatu yang kekal di dalam ke­hidupan ini kecuali cinta kasih! Seperti kita ketahui, Sim Hong Bu meninggalkan daerah Lok-yang dan pergi menuju ke Sin-yang bersama Cu Pek In, Cu Kang Bu dan Yu Hwi. Mereka tidak tahu bahwa gerak-gerik mereka itu telah diawasi sejak lama dari jauh oleh banyak pasang mata yang bersembunyi-sembunyi. Baru setelah mereka tiba di sebuah hu­tan kecil di lereng gunung, mereka berempat merasa heran melihat munculnya belasan orang yang sudah mengepung mereka. Empat orang itu bersikap te­nang, bahkan Hong Bu tersenyum meng­ejek dengan hati terasa geli. Orang-orang ini mencari penyakit, pikirnya. Akan tetapi sedikit pun hatinya tidak menjadi marah. Kemarahan jauh dari hati Hong Bu pada saat itu. Dia telah menemu­kan kesejukan hati yang baru, setelah dia “mengenal” Pek In sebagai seorang gadis yang wajar, sebagai kekasihnya, bahkan lebih dari itu, sebagai tunangannya, calon isterinya! Dan di dalam perjalanan itu, Cu Kang Bu dan isterinya yang bijaksana memang sengaja memberi banyak kesem­patan kepada mereka untuk berduaan. Hong Bu selalu merasa gembira dan ba­hagia. Terlupakanlah sudah kegetiran yang terasa oleh penolakan Ci Sian! Memang, segala macam perasaan hanya timbul oleh permainan pikiran yang mengingat-ingat belaka. Seperti juga kepuasan yang hanya sebentar, ke­kecewaan pun lewat bagai angin lalu saja. Suka dan duka silih berganti seperti awan-awan bergerak di angkasa. Ketika Hong Bu merasa kecewa dan ber­duka karena penolakan Ci Sian, hal itu timbul karena pikirannya mengenang semua itu dan menimbulkan rasa iba diri dan kecewa. Akan tetapi sekarang, be­gitu pikirnya penuh dengan kegembiraan karena hasil baru yang amat menyenang­kan dan baik dalam hubungannya dengan Pek In, maka semua kedukaan yang lalu pun lenyap tanpa bekas. Kita ini, biarpun sudah dewasa, namun masih tiada beda­nya dengan anak-anak, hanya badan kita saja yang bertumbuh menjadi besar, kita masih mudah tertawa dan menangis, se­perti kanak-kanak yang mudah tertawa memperoleh permainan baru dan mudah menangis karena kehilangan sesuatu yang disenanginya. Akan tetapi setiap muncul pengganti yang baru, yang lama, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan, akan terlupa dan hilang tak berbekas. Yang berbeda hanyalah macam permainan itu saja. Biasanya, kita manusia, di ujung dunia yang manapun juga, selalu mengejar-ngejar pengulangan kesenangan atau mencari keadaan yang lebih menyenang­kan atau dianggap lebih menyenangkan lagi, selalu mencoba untuk menjauhi atau menghindari apa saja yang dianggap me­nyusahkan. Kita ingin hidup ini penuh dengan yang manis-manis saja. Kita lupa bahwa selama kita mendambakan yang manis, maka akan bermunculanlah yang pahit, yang getir, yang masam dan se­bagainya karena semua itu muncul apa­bila yang manis dan kita dambakan itu tidak tercapai. Itulah romantika hidup. Ya manis, ya pahit, ya getir. Semua itu merupakan kesatuan yang tak terpisah­kan, yang menjadi isi daripada kehidupan kita sekarang ini. Mengapa kita tidak menerima semua itu secara wajar saja? Mengapa mesti bersenang kalau menda­patkan yang manis akan tetapi mengeluh kalau memperoleh yang pahit? Kalau kita menghadapinya dengan pengamatan men­dalam, tanpa penilaian si pikiran yang mencari manis selalu, mungkin kita akan melihat sesuatu yang ajaib. Benar pa­hitkah yang kita anggap pahit itu dan benar maniskah yang kita anggap manis? Apakah akan terasa nikmatnya manis kalau kita tidak merasakan tidak enaknya pahit? Apakah kita dapat mengenal te­rang kalau kita tidak mengenal gelap? Melihat munculnya belasan orang yang memegang senjata golok dan pedang lalu mengepung tempat itu, Yu Hwi juga ter­senyum lebar seperti melihat sesuatu yang lucu sekali. Akan tetapi tidak de­mikian dengan Cu Pek In. Gadis ini mengenal seorang di antara mereka, yaitu orang yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam, usianya sekitar empat puluh tahun, berkumis tebal melintang dan lengan kiri orang itu masih dibalut. Orang itu bukan lain adalah Koa Cin Gu, guru silat dari Lo-couw yang lebih suka pria tampan daripada wanita cantik itu! Maka, melihat orang ini, marahlah Pek In. “Orang she Koa yang tidak tahu ma­lu! Sudah kupatahkan lengan kirimu eng­kau masih berani datang berlagak, apa­kah harus kupatahkan tulang lehermu?” Sambil berkata demikian, Cu Pek In melangkah maju ke arah laki-laki tinggi besar itu. Si Tinggi Besar itu terbelalak. Tentu saja dia tidak mengenal Pek In sebelum dara ini membuka suara dan sekarang dia memandang, dengan mata terbelalak, “Ah, kiranya seorang perempuan....?” katanya perlahan. Sebelum Pek In dapat turun tangan atau bicara lagi, tiba-tiba Si Tinggi Be­sar itu dan beberapa orang kawannya membuat gerakan minggir dan terdengar suara yang tenang dan halus, “Ah, kira­nya keluarga Lembah Suling Emas yang berada di sini!” Pek In tidak jadi menyerang Si Tinggi Besar dan cepat mundur kembali men­dekati paman dan bibinya dan Hong Bu ketika mengenal siapa yang mengeluarkan suara itu. Nampak empat orang berjalan perlahan memasuki kepungan itu dan ternyata mereka itu adalah Toa-ok Su Lo Ti, Ji-ok Kui-bin Nio-nio, Sam-ok Ban Hwa Sengjin, dan orang ke empat adalah seorang kakek raksasa yang rambutnya sudah putih semua dan pakaiannya serba hitam, membawa sebuah kipas merah dan mengipasi lehernya tanpa bicara, akan tetapi jelas memiliki sikap yang amat berwibawa. Cu Kang Bu, isterinya, dan Pek In tidak mengenal kakek ini, akan tetapi Sim Hong Bu terkejut bukan main ketika mengenal bahwa kakek berpakaian hitam itu bukan lain adalah Hek-i Mo-ong, manusia iblis yang pernah menjadi ketua perkumpulan iblis Hek-i-mo itu!” Sementara itu, ketika Hek-i Mo-ong melihat Hong Bu, wajahnya berubah. Tadinya, kakek ini sama sekali tidak ter­tarik dan amat memandang rendah kepa­da orang-orang yang hendak dihukum oleh Toa-ok, Ji-ok dan Sam-ok. Akan tetapi begitu dia melihat Hong Bu, tentu saja dia mengenal musuh besar yang per­nah menghancurkan perkumpulannya ber­sama seorang gadie bersuling emas dengan suhengnya yang lihai bukan main itu. Dia merasa glrang bukan main, me­rasa bahwa secara kebetulan dia dapat membalas dendam atas kekalahannya dikeroyok tempo hari. “Ha-ha-ha, kiranya engkau bocah setan datang mengantar nyawa!” katanya sambil menudingkan kipasnya, ke arah muka Sim Hong Bu. Melihat lagak ini, Pek In yang tidak mengenal lagak Hek-i Mo-ong, menjadi marah. Tunangan atau kekasihnya dimaki orang bocah setan, tentu saja ia marah. “Iblis tua bermulut busuk!” katanya dan ia pun sudah mencabut sulingnya dan menyerang. “Sumoi, jangan....!” teriak Hong Bu dan cepat dia melompat ke depan.Akan tetapi, suling itu telah menge­luarkan suara melengking ketika me­nyambar ke arah kakek itu, berubah menjadi sinar kuning emas. Melihat gadis ini menggunakan senjata suling emas, kakek itu terkejut dan mengira bahwa tentu gadis ini mempunyai hubungan dengan gadis yang pernah mengalahkan­nya bersama pemuda berpedang biru itu. Maka ia pun menggunakan lengan menangkis sambil mengerahkan tenaga kare­na kalau gadis ini selihai gadis yang dulu pernah mengeroyoknya, serangan itu cu­kup berbahaya.  “Dukkk....!” Dan akibatnya, tubuh Pek In terlempar dan tentu ia akan terban­ting keras kalau saja pamannya, Cu Kang Bu, tidak cepat mengulurkan tangan dan menangkap tangan keponakannya itu, terus dilontarkan ke atas sehingga Pek In dapat turun dengan enak, tidak sampai terbanting, Pek In terkejut bukan main, dan kakek itu tertawa. Kiranya gadis itu masih amat lemah, sebaliknya laki-laki tinggi besar yang amat gagah perkasa itu cukup lihai. Hal ini dapat dilihatnya dengan mudah ketika laki-laki itu menahan jatuhnya gadis yang terlem­par. Bagaimanakah tiga orang sisa dari Im-kan Ngo-ok itu tahu-tahu telah bisa bersekutu dengan Hek-i Mo-ong dan agaknya membantu guru silat She Koa itu? Persekutuan antara mereka tidaklah aneh karena Hek-i Mo-ong sebetulnya mash terhitung susiok (paman guru) dari Toa-ok Su Lo Ti orang pertama Im-kan Ngo-ok. Dan karena keduanya telah mengalami musibah, yaitu Im-kan Ngo-ok selain kehilangan pekerjaan atau kedudukan sebagai pendukung Sam-thaihouw juga telah kehilangan dua orang anggauta termuda yaitu Su-ok dan Ngo-ok, sedang­kan Hek-i Mo-ong juga menderita keka­lahan dari sepasang orang muda yang me­wakili pewaris Suling Emas dan Naga Si­luman sedangkan perkumpulannya diobrak-abrik, maka mereka saling membutuhkan dan saling membantu. Setelah mengadakan pertemuan, maka mereka bersepakat untuk bekerja sama agar nama mereka dapat diangkat kembali ke dunia kang-ouw. Persekutuan mereka itu tentu saja membuat mereka merasa lebih kuat daripada sebelumnya. Tiga orang anggauta Im-kan Ngo-ok itu bagi Hek-i Mo-ong merupakan pembantu yang amat kuat dan boleh diandalkan, lebih kuat daripada semua anak buahnya yang telah diobrak-abrik oleh Sim Hong Bu, Ci Sian dan Kam Hong. Sebaliknya, tentu saja bagi sisa Im-kan Ngo-ok lebih terasa lagi karena keadaan mereka berempat jauh lebih kuat daripada ketika mereka masih berlima! Akan tetapi, urutan tingkat kepandaian mereka sekarang tentu saja mengalami perubahan, yaitu Hek-i Mo-ong berada paling atas dan Toa-ok men­jadi orang ke dua! Biarpun merasa diri mereka kuat, akan tetapi melihat betapa Pangeran Kian Liong yang bijaksana dan didukung oleh semua pendekar perkasa itu telah menjadi kaisar dan mengambil sikap tangan besi terhadap orang-orang golong­an sesat, maka untuk sementara empat orang datuk ini tidak berani menonjolkan diri mereka. Dan mereka menemukan tempat persembunyian sementara yang amat baik, yaitu di tempat perguruan Koa Cin Gu, yang baru beberapa tahun bekerja membuka perguruan sebagai se­orang guru silat. Koa Cin Gu yang ting­gal di Lok-yang ini adalah seorang ke­nalan baik dari Sam-ok Ban Hwa Sengjin dan merupakan orang yang sudah amat dipercaya. Demikianlah keadaan para datuk itu mengapa mereka dapat bersekutu dan mengapa mereka membantu Koa-kauwsu. Guru silat ini dan anak buahnya atau murid-muridnya merupakan pembantu-pembantu untuk menyelidiki keadaan di kota raja dan kota-kota besar bagi para datuk ini. Oleh karena itu, ketika pada suatu hari Koa Cin Gu pulang dengan lengan kiri patah, mereka terkejut sekali. Koa-kauwsu menyuruh para kaki tangan­nya membayangi dan menyelidiki keadaan “pemuda” itu. Sam-ok sendiri melakukan penyelidikan dan ketika melihat bahwa yang disebut pemuda oleh Koa Cin Gu itu adalah Cu Pek In puteri majikan Lembah Suling Emas, bersama Cu Kang Bu yang dikenalnya sebagai pendekar dan penghuni Lembah Suling Emas, dan juga isteri pendekar itu, Sam-ok terkejut bu­kan main dan itulah sebabnya mengapa Koa Cin Gu muncul bersama empat orang datuk itu! “Lembah Suling Emas merupakan tem­pat rahasia di Pegunungan Himalaya,” kata Sam-Ok, terutama kepada Hek-i Mo-ong, “Dan di sana terkumpul banyak pusaka-pusaka yang tak ternilai harganya. Bahkan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang dihebohkan itu pun dicuri oleh penghuni lembah itu. Mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan kalau kita dapat menahan tiga orang ini sebagai sandera tentu kita akan dapat memaksa mereka untuk menyerahkan pusaka-pusaka itu, terutama Koai-liong Po-kiam kepada kita.” Ji-ok dan Toa-ok tentu saja merasa setuju sekali. Mereka berbesar hati dan timbul keberanian mereka untuk memu­suhi para penghuni Lembah Suling Emas setelah kini Hek-i Mo-ong menjadi sekutu mereka. Hek-i Mo-ong hanya mengangguk-ang­guk. Orang yang setua dia sebetulnya sudah tidak ingin lagi untuk memperoleh pusaka-pusaka, dan dia sudah terlalu mengagulkan diri sendiri sehingga dia menganggap bahwa tanpa merampas pu­saka orang lain sekalipun dia tidak mem­punyai tandingan lagi di dunia ini. Akan tetapi untuk menyenangkan hati tiga orang pembantu barunya itu, yang diang­gapnya juga sebagai keponakan-keponakan muridnya, dia menyetujui untuk bersama mereka menghadang perjalanan tiga orang itu. Dan dapat dibayangkan betapa kaget dan juga girangnya ketika dia me­lihat bahwa musuh besarnya pemuda yang pernah mengeroyoknya bersama dara bersenjata suling emas, ternyata berada pula dalam rombongan keluarga Lembah Suling Emas itu! Demikianlah, empat orang datuk itu kini berhadapan dengan empat orang pen­dekar dari Lembah Suling Emas yang telah berubah sebutannya menjadi Lem­bah Naga Siluman itu. “Hek-i Mo-ong, bagus bahwa engkau masih hidup! Kini aku dapat menyempur­nakan usahaku untuk membunuhmu!” kata Sim Hong Bu, ucapan yang sengaja dikeluarkan untuk memberi tahu kepada Cu Kang Bu dan Yu Hwi bahwa kakek itu adalah Ketua Hek-i-mo yang terkenal itu. Dan memang suami isteri ini terke­jut bukan main mendengar bahwa kakek yang berpakaian serba hitam ini adalah kakek iblis yang namanya pernah menju­lang tinggi dan menggetarkan dunia Kang-ouw itu. “Ha-ha, sekali ini engkaulah yang akan mampus di tanganku, bocah setan!” Kata kakek itu yang segera menerjang maju sambil mencabut keluar senjatanya yang amat menyeramkan, yaitu tombak Long-ge-pang (Gigi Srigala). Dia meme­gang tombak itu di tangan kanan dan dibantu kipas merah di tangan kirinya, menyerang sambil tertawa nyaring, suara ketawa yang mengandung khi-kang amat kuatnya. “Trang-trang-trang....!” “Wuuuuttt.... cringggg....!” Dalam segebrakan saja, mereka telah saling serang dengan hebatnya dan sinar kebiruan dari Koai-liong Po-kiam menyi­laukan mata. Melihat bahwa pemuda itu mempergunakan pedang pusaka yang membuat mereka dahulu ikut pula mem­perebutkannya, tiga orang dari Im-kan Ngo-ok menjadi girang sekali dan mereka pun sudah bergerak maju. Tentu saja Cu Kang Bu dan Yu Hwi cepat menyambut mereka, juga Cu Pek In sudah memper­gunakan sulingnya untuk membantu pa­man dan bibinya. Toa-ok disambut oleh Cu Kang Bu, sehingga Yu Hwi terpaksa melawan Ji-ok dan Sam-ok dilawan oleh Pek In. Tentu saja Hong Bu dan Kang Bu merasa khawatir sekali, karena mereka tahu bahwa kepandaian kedua orang wanita itu masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan lawan mereka yang merupakan datuk-datuk yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Akan tetapi, mereka tidak berdaya untuk melindungi Yu Hwi dan Pek In. Sim Hong Bu yang ingin melin­dungi Pek In, tidak mungkin dapat ke­luar dari kurungan sinar senjata lawan­nya yang amat hebat itu, dan tanpa melindungi gadis itu pun dia harus me­ngeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya un­tuk mengimbangi Hek-i Mo-ong. Diputar­nya pedangnya sehingga nampak gulungan sinar biru yang bukan hanya melindungi tubuhnya melainkan juga membalas se­rangan lawan dengan dahsyat. Hek-i Mo-ong mengenal kelihaian pemuda ini, maka dia pun tidak berani memandang ringan dan sudah menggerakkan senjata tombak Long-ge-pang itu dengan gerakan aneh, cepat dan kuat sekali, dibantu oleh ge­rakan kipas merahnya yang menotok jalan darah lawan bagaikan patuk burung garuda. Ban-kin-sian Cu Kang Bu merupakan lawan yang setanding dari Toa-ok Su Lo Ti. Pendekar tinggi besar yang gagah perkasa ini telah mencabut senjata cambuknya, sehelai cambuk baja yang tadi­nya menjadi ikat pinggangnya., Biarpun Toa-ok merupakan orang pertama dari Im-kan Ngo-ok dan merupakan datuk yang amat lihai, namun menghadapi Cu Kang Bu dia tidak dapat main-main dan terpaksa harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya kalau dia tidak ingin men­jadi korban sambaran cambuk baja yang berkelebatan membentuk sinar bergulung-gulung seperti seekor naga mengamuk itu. Julukan Cu Kang Bu adalah Ban-kin-sian (Dewa Bertenaga Selaksa Kati) maka tentu saja tenaganya hebat luar biasa sehingga sabuk yang diputarnya itu lenyap bentuknya dan menimbulkan angin yang dahsyat sekali. Namun lawannya adalah Toa-ok, Si Jahat Nomor Satu yang selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga mempunyai pengalaman yang amat luas. Kedua lengannya yang tidak bersenjata itu penuh dengan tenaga sin­kang sehingga menjadi kebal, namun dia cukup cerdik untuk tidak mengadu le­ngannya secara langsung dengan cambuk baja yang digerakkan amat kuatnya. Dia lebih banyak mengelak dan kalau me­nangkis, selalu menangkis dari arah samping, juga membalas dengan dorongan-dorongan telapak tangannya yang menda­tangkan hawa pukulan kuat sekali. Seper­ti pertandingan antara Hong Bu dan Hek-i Mo-ong, maka perkelahian antara Cu Kang Bu melawan Toa-ok ini pun ber­jalan dengan seru sekali. Akan tetapi tidak demikianlah per­tempuran, antara kedua orang wanita itu melawan Ji-ok dan Sam-ok. Sejak dari permulaan Yu Hwi sudah terdesak hebat oleh Ji-ok, juga terutama sekali Cu Pek In terdesak hebat oleh Sam-ok. Tingkat kepandaian mereka kalah jauh dibanding­kan dengan Jahat Nomor Dua dan Jahat Nomor Tiga itu. Cu Kang Bu dan Sim Hong Bu yang melihat ini merasa gelisah sekali namun mereka berdua tidak berdaya membantu kedua orang wanita itu. Betapapun juga, dua orang wanita itu dengan semangat bernyala-nyala terus melakukan perlawanan dengan gigih. Na­mun, belum lewat lima puluh jurus, suling di tangan Pek In telah dirampas oleh Sam-ok dan sebelum dara itu dapat menghindarkan diri, ia sudah roboh ter­totok oleh Sam-ok. “Sumoi....!” Hong Bu berseru dan hen­dak menolongnya, akan tetapi tombak Long-ge-pang di tangan Hek-i Mo-ong berkelebat. Hong Bu terkejut bukan main. Gerakannya untuk menolong Pek In tadi membuatnya lengah dan posisinya lemah, maka biarpun dia sudah menang­kis dengan pedang Koai-liong-kiam, tetap saja ujung tombak Gigi Srigala itu me­nyerempet pundaknya, merobek pundak sehingga darah mengucur membasahi bajunya yang robek. Terpaksa Hong Bu membalas dengan serangan-serangan dahsyat dan dia tidak mempunyai kesempat­an lagi untuk memperhatikan Pek In karena lawannya benar-benar amat lihai sekali. Sementara itu, Ji-ok juga sudah men­desak Yu Hwi. Biarpun Yu Hwi telah memutar pedangnya dan mempergunakan Ilmu Kiam-to Sin-ciang yang membuat tangan kirinya dapat memukul seperti tajamnya pedang dan golok, namun kare­na tingkatnya kalah jauh oleh Ji-ok, nenek yang bertopeng tengkorak itu, maka ia pun didesak terus. Apalagi Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) nenek itu mirip dengan ilmu yang pernah dipelajarinya dari gurunya yang pertama, yaitu Hek-sin Touw-ong Si Raja Maling. Akan te­tapi, ilmu dari gurunya itu, ialah Kiam­to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok), tidaklah seganas dan sedahsyat Kiam-ci (Jari Pedang) dari Jahat Nomor Dua ini. Jari tangan nenek itu menyam­bar dan seolah-olah mengeluarkan sinar maut yang amat hebat. Dan setelah Pek In itu roboh tertotok, hati Yu Hwi menjadi gentar dan kesempatan ini diper­gunakan oleh Ji-ok untuk menendang lututnya, Yu Hwi terpelanting roboh dan Ji-ok mengeluarkan suara ketawa terke­keh, lalu menubruk maju. Sam-ok mengenal temannya ini. Kalau Ji-ok sudah mengeluarkan suara ketawa terkekeh lalu menubruk, berarti nenek itu hendak me­nurunkan tangan maut membunuh orang. Maka dia pun cepat menubruk dan me­nangkis tangan Ji-ok yang sudah menye­rang ke arah Yu Hwi yang masih rebah miring itu. “Dukkk....!” Keduanya terpental ke belakang. “Ji-ci, jangan bunuh, kita tawan saja!” Akan tetapi, Ji-ok sudah menjadi marah bukan main. Baginya, menghalangi kehendaknya berarti memusuhinya. Apala­gi yang menghalanginya itu adalah Sam-ok yang terhitung “adik” dalam urutan tingkat mereka, maka kemarahannya meluap. “Sam-te, berani engkau menghalangi­ku?” Dan nenek itu pun cepat menerjang dan menyerang Sam-ok dengan tusukan-tusukan jari mautnya! “Eh, apakah engkau sudah gila?” Sam-ok membentak dan mengelak sambil membalas. Keduanya sudah berkelahi dengan hebatnya! Melihat ini, Toa-ok dan Hek-i Mo-ong menjadi marah. “Sam-te, jangan berkelahi dengan teman sendiri!” kata Toa-ok. “Ji-ok, tidak boleh membunuh lawan!” Hek-i Mo-ong juga membentak Ji-ok. Mendengar bentakan mereka itu, Ji-ok dan Sam-ok masing-masing meloncat ke belakang. Kemudian Sam-ok melihat be­tapa Yu Hwi telah meloncar bangun dan biarpun terpincang-pincang, nyonya ini sudah siap lagi dengan pedang di tangan. Dia menubruk ke depan, ketika Yu Hwi menggerakkan pedang menusuk, Sam-ok memukulnya dari samping. “Plakk!” Pedang terpental dan ter­lepas dari tangan Yu Hwi dan di lain saat, Sam-ok juga sudah berhasil merobohkan Yu Hwi. “Ji-ci, kautawan dan jaga yang ini, aku yang itu!” kata Sam-ok. Sementara itu, Cu Kang Bu dan Sim Hong Bu tentu saja sudah melihat betapa Yu Hwi dan Pek In telah ditawan musuh, maka mereka berdua mengamuk dan memutar senjata dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba kedua pendekar itu men­dengar suara Sam-ok yang nyaring, “Ban-kin-sian dan pemuda yang memegang Koai-liong-kiam! Tahan senjata dan me­nyerahlah, kalau tidak, aku akan mem­bunuh lebih dulu dua orang wanita ini!” Sim Hong Bu dan Cu Kang Bu melon­cat ke belakang dan menoleh. Mereka melihat betapa Yu Hwi dan Pek In telah dibelenggu oleh anak buah Koa-kauwsu, dan kini Sam-ok dan Ji-ok mengancam kedua orang wanita itu dengan tangan di atas kepala. Mereka berdua maklum bahwa sekali saja menggerakkan tangan, maka nyawa dua orang wanita itu takkan dapat tertolong lagi. Melihat isterinya dan keponakannya diancam, lemaslah rasa tubuh Cu Kang Bu dan dia pun melepas­kan senjata sabuk baja. “Aku menyerah....” katanya dengan suara lemah. “Susiok, jangan menyerah!” kata Sim Hong Bu, akan tetapi Kang Bu hanya menggeleng kepala dan mudah saja ke­tika dia didekati oleh Sam-ok yang ke­mudian menotoknya dan pendekar ini pun dibelenggu seperti Yu Hwi dan Pek In. “Keparat engkau Hek-i Mo-ong dan iblis-iblis Im-kan Ngo-ok! Sampai mati aku tidak akan menyerah!” kata Hong Bu dan dia pun sudah menubruk maju dan menyerang Sam-ok yang menotok roboh Kang Bu tadi. “Orang muda! Kalau engkau tidak menyerah, mereka bertiga ini akan kami bunuh!” teriak Sam-ok sambil meloncat mundur.“Bunuhlah! Akan tetapi kalian pun akan mampus semua di tanganku!” bentak Sim Hong Bu. Pemuda ini mengerti bah­wa terhadap orang-orang macam mereka itu, tak mungkin mengharapkan pengam­punan. Kalau dia dan Kang Bu menyerah, akhirnya toh mereka itu, juga dia, akan dibunuh. Maka, daripada mati dalam ke­adaan tidak berdaya, mati konyol, lebih mati dalam perlawanan! Melihat betapa Sim Hong Bu nekad melakukan perlawanan, Cu Pek In dan Yu Hwi memandang dengan alis berkerut. Mereka merasa penasaran mengapa pe­muda itu nekad melawan. Terutama sekali Pek In memandang dengan mata basah air mata. Salahkah dugaannya se­lama ini bahwa Hong Bu juga mencinta­nya? Setelah kini ia terancam maut, mengapa pemuda itu tidak mempedulikan ancaman musuh yang hendak membunuh­nya dan nekad melawan? Hanya Cu Kang Bu yang memandang dengan sikap te­nang. Dia sendiri menyerah karena dia tahu bahwa kalau dia dan Hong Bu tetap melawan, bukan ancaman kosong belaka kalau pihak musuh hendak membunuh dua orang wanita itu. Akan tetapi setelah dia sendiri menyerah, dia dapat mengerti mengapa Hong Bu tetap melawan dan dia pun dapat membenarkan tindakan pemuda itu. Memang, kalau Hong Bu juga me­nyerah, apakah dapat dijamin bahwa orang-orang jahat ini mau membebaskan mereka berempat? Setidaknya, setelah dia sendiri menyerah, tentu isterinya dan keponakannya takkan diganggu, dan Hong Bu masih dapat berdaya melawan musuh kalau tidak ikut menyerah. Jadi, masih ada harapan. Maka dia pun hanya meng­ikuti jalannya pertandingan itu dengan, hati tegang walaupun dia nampak tenang saja. Hong Bu memang nekad. Dia akan melawan sampai mati. Kini, tiga orang Im-kan Ngo-ok sudah mengepungnya. Toa-ok, Ji-ok, dan Sam-ok mengeroyok­nya dari tiga penjuru. Akan tetapi Hong Bu sekali ini benar-benar memperlihatkan kemampuannya. Tubuhnya lenyap dise­limuti sinar biru yang bergulung-gulung dan dari gulungan sinar ini kadang-ka­dang nampak kilatan biru menyambar ke arah musuh-musuhnya. Biarpun dikeroyok oleh tiga orang datuk yang sakti itu, Hong Bu tidak menjadi gentar dan per­mainan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang dimainkan dengan pengerahan seluruh tenaga itu memang dahsyat luar biasa, mengeluarkan suara mengaum-aum seperti seekor naga mengamuk dan juga membawa angin berpusing yang amat kuatnya. Betapapun lihainya tiga orang dari Im-kan Ngo-ok itu, menghadapi ilmu pedang yang demikian hebatnya, mereka tidak dapat mendekati pemuda itu. Melihat ini, Hek-i Mo-ong merasa penasaran sekali. Dia sendiri pernah di­kalahkan oleh pemuda ini yang bekerja sama dengan seorang gadis bersenjata suling. Kini, melihat betapa tiga orang murid keponakannya yang telah memiliki ting­kat ilmu yang tidak begitu jauh selisih­nya dengan ilmunya sendiri tidak dapat mengalahkan pemuda itu, dia pun lalu mengeluarkan suara menggereng keras dan tombak Long-ge-pang di tangannya sudah digerakkan dan kakek ini pun me­nerjang maju ikut mengeroyok Hong Bu! Sungguh merupakan kejadian yang luar biasa sekali kalau sampai tiga orang pertama dari Im-kan, Ngo-ok mengero­yok seorang pemuda, dan lebih lagi tidak mungkin dapat dipercaya orang kang-ouw kalau mendengar bahwa mereka itu bahkan dibantu pula oleh Hek-i Mo-ong mengeroyok seorang pemuda. Akan tetapi kenyataannya demikian dan mereka pun agaknya sudah tidak lagi mempedulikan rasa malu dan harga diri. Mereka hanya ingin menundukkan pemuda yang amat lihai ini. Cu Kang Bu menonton dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri, penuh dengan kebanggaan akan tetapi juga ke­khawatiran. Dia melihat kehebatan Koai-liong Kiam-sut dan merasa bangga bahwa ilmu itu adalah ilmu keturunan nenek moyangnya, dan bahwa pemuda itu ada­lah murid keponakannya, pewaris dari pusaka neneknya. Dia kagum bukan main, akan tetapi juga khawatir karena maklum betapa lihainya empat orang yang me­ngeroyok Hong Bu itu. Kekhawatirannya terbukti ketika dia melihat ujung tombak Long-ge-pang di tangan Hek-i Mo-ong menyambar dan menyerempet bahu kiri Hong Bu sehingga bahu itu berdarah dan terluka. Namun Hong Bu masih meng­amuk seperti seekor naga. “Hong Bu larilah engkau!” teriaknya kepada murid keponakan itu. Hong Bu memang sudah mengerti bahwa kalau di­lanjutkan, betapapun juga dia tidak mungkin dapat menandingi pengeroyokan empat orang itu. Kalau dia melawan te­rus, dia akan roboh mati dan kematiannya tidak akan ada gunanya bagi tiga orang yang tertawan itu. Kalau dia me­loloskan diri dan masih hidup, setidaknya dia masih dapat berdaya-upaya untuk menolong tiga orang itu. Maka, dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan pe­dangnya bergerak dengan amat hebatnya, mengeluarkan jurus Naga Siluman Me­nyemburkan Api, pedangnya menimbulkan sinar berkeredepan ke arah empat orang lawannya sehingga mereka itu terkejut dan meloncat ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hong Bu untuk meloncat jauh sekali dari tempat itu. Empat orang itu berloncatan menge­jar, akan tetapi Hong Bu telah berlari cepat sekali dan mereka tidak berani untuk mengejar satu-satu, kalau tidak berbarengan karena pemuda itu memang berbahaya sekali. Melihat kekasihnya lari meninggalkan ia dalam tangan musuh, Pek In merasa sedemikian kecewa dan menyesalnya sehingga gadis hni roboh pingsan! Akan tetapi Kang Bu diam-diam bersyukur bahwa murid keponakannya itu tidak sampai tewas di tangan orang-orang yang lihai itu. Bagaimanapun juga, dia akan merasa menyesal kalau sampai murid keponakan itu, pewaris nenek moyangnya, sampai mati konyol. Empat orang datuk itu tidak mengejar terus. Betapapun juga, tiga orang ang­gauta keluarga Lembah Suling Emas te­lah berada di tangan mereka dan melalui tiga orang tawanan ini, mereka dapat menguasai pusaka-pusaka dari lembah itu. Maka, tanpa banyak cakap Hek-i Mo-ong lalu memberi perintah kepada ka­wan-kawan guru silat Koa untuk meng­angkat tiga orang yang sudah tertotok itu dan membawa mereka ke tempat persembunyian mereka, di rumah guru silat Koa Cin Gu. Hong Bu berlari terus secepatnya, mengerahkan seluruh ilmu gin-kangnya. Dia sudah terluka dan banyak darah mengalir dari pundaknya, akan tetapi dia harus dapat melarikan diri. Kalau dia sampai tertawan pula, maka habislah harapannya untuk dapat menolong tiga orang itu. Maka, dia memaksa tenaganya yang mulai lemah dan barulah setelah dia melihat bahwa dirinya tidak dikejar mu­suh, dan dia tiba di lereng sebuah bukit, tubuhnya terguling di bawah sebuah bu­kit, tubuhnya terguling di bawah pohon besar di mana dia duduk terengah-engah lalu dia bersila dan mengatur pernapasan untuk mengembalikan tenaganya yang hampir habis. Melawan empat orang tadi sungguh terasa amat berat dan dia tadi telah mengerahkan seluruh sin-kangnya sehingga setelah berlari secepat itu, dia merasa tenaganya hampir habis dan na­pasnya hampir putus. Setelah bersamadhi kurang lebih se­jam lamanya, barulah pernapasannya menjadi tenang kembali dan perlahan-lahan dia berhasil menghimpun tenaga murni di lereng gunung yang sejuk bersih itu, tenaganya pun berangsur-angsur pulih kembali dan dia sudah mempergunakan kekuatan dalam untuk menghentikan darahnya yang mengucur keluar. Dalam kedaan hening itu, Hong Bu melupakan segala-galanya, melupakan keadaan tiga orang yang tertawan, karena kalau pikir­annya terganggu, tentu dia tidak mungkin dapat mengosongkan dan mengheningkan batinnya. “Hong Bu....!” Pemuda itu terkejut. Dalam keadaan­nya seperti tadi, kalau tiba-tiba yang datang itu musuh dan menyerangnya, dia pasti celaka. Dia cepat membuka mata dan ketika dia melihat siapa orangnya yang datang, hatinya merasa girang se­kali dan dia pun segera bangkit.  “Cin Liong....! Ah, hanya Tuhan yang membimbingmu datang kepadaku pada saat seperti ini, Cin Liong!” Dia pun memegang tangan bekas lawan yang te­lah menjadi sahabat baik yang dikagumi­nya itu. Semenjak dia berlawan tangan dengan jenderal muda ini dan merasakan betapa lihainya jenderal muda ini, dia merasa kagum sekali. Apa pula setelah dia mendapatkan kenyataan bahwa per­tentangan di antara mereka sebagai buronan dan pengejaran telah habis dengan adanya pengumuman kaisar baru bahwa pedang pusaka Koai-liong Po-kiam dinyatakan sebagai miliknya yang syah. Seperti kita ketahui, Cin Liong lari meninggalkan Ci Sian setelah dia mendapat kenyataan bahwa dara yang dicintanya dan dipinangnya itu ternyata telah jatuh cinta kepada pria lain, bahkan kepada suhengnya sendiri, kepada Kam Hong, pendekar yang dikaguminya itu. Hal ini dapat dilihatnya dengan jelas ketika gadis itu marah-marah karena lamaran­nya, marah kepada suhengnya. Dia segera dapat menduga apa yang terjadi antara kedua orang suheng dan sumoi itu. Dia tahu bahwa Ci Sian mencinta Kam Hong, dan dia dapat menduga pula dengan hati kagum bahwa Kam Hong juga mencinta sumoinya, akan tetapi dengan cinta yang demikian suci murninya, sehingga Kam Hong rela menyampaikan pinangan pria lain kepada sumoinya itu. Sikap Kam Hong ini membuat Cin Liong merasa terpukul dan malu kepada diri sendiri, rnaka dia pun lalu minta maaf dan melarikan diri. Ketika dia melihat seorang pemuda duduk bersila, dia merasa terheran-heran, lalu didekatinya pemuda itu. Giranglah hatinya ketika dia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Sim Hong Bu, sahabat baru bekas lawan yang dikagumi­nya karena kelihaiannya dan juga kejujurannya itu. “Apakah yang terjadi, Hong Bu? Wa­jahmu agak pucat dan engkau gelisah.... dan pundakmu luka! Apa yang telah ter­jadi?” tanya Cin Liong sambil membalas pegangan tangan sahabat barunya itu. Hong Bu lalu menceritakan tentang Cu Kang Bu, Yu Hwi, dan Pek In yang tertawan oleh empat orang datuk sesat itu. “Aku mohon bantuanmu, Cin Liong. Tanpa bantuanmu, aku tidak tahu bagai­mana aku dapat menyelamatkan mereka.” Hong Bu mengakhiri ceritanya.Cin Liong terkejut bukan main. Tiga orang dari Im-kan Ngo-ok muncul lagi! Dan malah ditambah seorang datuk yang telah lama dikenalnya sebagai seorang penjahat yang sakti, yaitu Hek-i Mo-ong yang pernah menguasai daerah Sin-kang di barat dengan gerombolannya, yaitu gerombolan Hek-i-mo yang amat terkenal itu.  “Jangan khawatir, Hong Bu. Aku ten­tu membantumu. Akan tetapi di manakah mereka berada? Dan.... keluarga Cu itu, apakah tidak berbahaya sekali tertawan oleh mereka? Tiga orang dari Im-kan Ngo-ok itu adalah manusia-manusia busuk yang amat kejam.” “Aku tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan mereka,” kata Hong Bu. “Aku tahu bahwa mereka sengaja menawan keluarga Cu karena mereka menghendaki pusaka-pusaka Lembah Naga Siluman. Tentu mereka tidak akan mengganggu keluarga Cu untuk sementara waktu ini. Dan menurut penuturan Sumoi Cu Pek In, agaknya kita akan bisa menemukan tempat persembunyian mereka melalui seorang guru silat bernama Koa Cin Gu yang tinggal di Lo-couw. Mari kita me­nyelidiki ke sana.” “Baik, mari kita cepat pergi. Aku khawatir sekali akan keadaan keluarga Cu,” jawab Cin Liong dan dua orang pemuda perkasa itu, lalu berangkat me­nuju ke kota Lo-couw yang tidak jauh dari situ letaknya. Dalam perjalanan itu Cin Liong menghibur hati Hong Bu dan mengatakan bahwa dia pasti akan dapat menghancurkan persekutuan penjahat itu dan dia akan minta bantuan pasukan keamanan di kota Lo-couw untuk mem­bantunya mengepung sarang penjahat. “Tiga orang Im-kan Ngo-ok itu me­miliki ilmu kepandaian tinggi dan aku dapat menduga bahwa Hek-i Mo-ong tentu juga lihai sekali.” “Kakek itu lebih lihai daripada mere­ka bertiga,” kata Hong Bu. “Hemm, mungkin bagi kita berdua tidak akan mudah mengalahkan mereka berempat, akan tetapi dengan bantuan pengepungan pasukan, tentu setidaknya keluarga Cu akan dapat diselamatkan dan dibebaskan.” “Kalau saja kita dapat lebih dulu membebaskan Cu Kang Bu Susiok, kita bertiga dengan dia tentu akan mampu menandingi mereka berempat.” “Sebaiknya kita menggunakan siasat memancing harimau-harimau keluar dari sarangnya, Hong Bu. Biar kukerahkan pasukan untuk menyerbu dan pada saat mereka sibuk menghadapi pasukan, kita menyelinap masuk untuk lebih dahulu membebaskan keluarga Cu,” kata Cin Liong. “Terserah kepadamu, dalam keadaan seperti ini aku hanya dapat mengharap­kan bantuanmu.” Ketika mereka tiba di Lo-couw, Cin Liong langsung mencari markas pasukan keamanan dan menemui komandannya. Ketika komandan mengenal Cin Liong sebagai Jenderal Muda Kao yang terke­nal, tentu saja dia terkejut dan menyam­but dengan sikap amat hormat. Cin Liong lalu mencari keterangan tentang guru silat Koa Cin Gu dan dengan mudah mendapat keterangan di mana guru silat itu tinggal. Kiranya kehadiran para datuk itu merupakan rahasia dan tidak diketa­hui orang di Lo-couw. Cin Liong memerintahkan kepada ko­mandan itu untuk menyiapkan sepasukan perajurit dan mengepung rumah guru silat itu dari jarak agak jauh, menanti tanda darinya, sedangkan dia sendiri berdua dengan Hong Bu lalu melakukan penyelidikan ke rumah guru silat yang cukup besar dan dikelilingi pagar tembok yang tinggi itu. Senja telah mendatang dan cuaca mulai menjadi gelap ketika mereka tiba di luar pagar tembok, di mana pintu gerbangnya telah tertutup dan tidak nampak seorang pun di luar pintu. Hanya dapat terdengar suara orang-orang di dalam pintu, mungkin suara para anak buah guru silat yang melakukan penjagaan. Dua orang muda perkasa itu tidak mau lancang turun tangan, karena me­reka harus yakin dulu bahwa empat orang datuk itu benar-benar berada di situ, dan terutama sekali bahwa keluarga Cu Juga tertawan di tempat itu. Kalau tidak demikian, mereka akan menangkap guru silat Koa dan memaksanya mengaku di mana tawanan disembunyikan dan di mana pula adanya para datuk kaum sesat itu! Dan untuk ini tentu saja tidak perlu dikerahkan pasukan yang telah dipersiap­kan itu. Mereka menanti sampai cuaca men­jadi gelap betul dan ketika mereka se­dang menyelinap di luar tembok, tiba-tiba mereka melihat berkelebatnya ba­yangan dua orang di depan. Tentu saja keduanya terkejut melihat betapa cepat dan ringannya gerakan dua orang di de­pan itu. Karena menduga bahwa tentu dua orang itu adalah dua di antara para datuk yang sedang mereka cari, mereka cepat menyelinap ke depan untuk me­ngejar. Akan tetapi bayangan dua orang di depan itu telah lenyap, padahal jelas bahwa dua orang itu tadi belum melon­cat ke sebelah dalam pagar tembok. “Aneh,” bisik Hong Bu. “Kalau mereka itu orang dalam, mengapa mereka ber­gerak di luar pagar tembok, dan bukan langsung masuk melalui pintu gerbang?” “Siapa pun adanya mereka, kita harus mengetahui dengan jelas sebelum turun tangan,” bisik Cin Liong. Karena dua orang itu lenyap, Hong Bu dan Cin Liong melanjutkan perjalanan mereka untuk memeriksa keadaan sekeli­ling pagar tembok itu, untuk mencari jalan masuk yang baik dan tepat sambil menanti cuaca sampai gelap benar. Akan tetapi, ketika mereka melalui semak-se­mak tiba-tiba ada dua sosok tubuh orang menerjang mereka dari balik semak-se­mak itu. Gerakan dua orang itu sedemi­kian cepatnya sehingga Hong Bu dan Cin Liong terpaksa bergerak cepat pula dan sambil mengerahkan tenaga mereka me­nangkis lengan mereka yang bergerak untuk menotok. “Dukkk!” “Desss....!” Empat orang itu terdorong mundur dan semua merasa kaget bukan main ketika mendapat kenyataan betapa kuatnya tenaga pihak lawan. Akan tetapi, mereka menjadi semakin kaget, heran dan juga gembira setelah saling menge­nal. Kiranya dua orang itu bukan lain adalah Kam Hong dan Ci Sian! Melihat mereka seketika wajah Cin Liong menja­di kemerahan karena merasa malu, akan tetapi sebaliknya Hong Bu menjadi girang bukan main. Di lain pihak, Kam Hong dan Ci Sian juga terkejut melihat dua orang pemuda itu yang baru mereka kenal setelah me­reka bertanding tangan tadi karena cuaca sudah mulai gelap. “Saudara Sim Hong Bu dan Kao Cin Liong!” seru Kam Hong dengan mata terbelalak lebar. “Kiranya kalian ini! Kami sangka peronda!” Sementara itu, Ci Sian hanya memandang kepada dua orang pemuda itu dengan wajah kemerahan. Dua orang pemuda yang baru saja meng­ajukan pinangan kepadanya! “Mari kita bicara agak jauh dari sini” bisik Hong Bu sambil meloncat pergi dan yang lain mengikutinya. Setelah tiba di tempat agak jauh dari pagar tembok, Hong Bu lalu menjura kepada Kam Hong dan Ci Sian, lalu ber­kata, “Sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu dengan Ji-wi di sini, seolah-olah Ji-wi dituntun oleh Tuhan untuk membantuku, setelah Jenderal Kao Cin Liong juga datang membantuku.” Lalu dengan singkat namun jelas Hong Bu men­ceritakan tentang rombongannya yang berjumpa dengan tiga orang datuk Im­kan Ngo-ok dan Hek-i Mo-ong dan beta­pa keluarga Cu telah ditawan oleh empat orang datuk sesat itu. “Aku seorang diri tidak mampu me­lawan mereka dan terpaksa melarikan diri,” Hong Bu mengakhiri ceritanya, “Dan kebetulan sekali aku berjumpa dengan Cin Liong. Malam ini kami melakukan penyelidikan untuk melihat apakah benar empat orang datuk itu berada di sini dan apakah keluarga Cu ditawan di tempat ini. Ketika kami melihat bayangan Ji-wi, kami mengira Ji-wi adalah dua orang di antara mereka.” “Dan bagaimanakah Kam-taihiap dan Nona Bu dapat berada di sini?” Cin Liong bertanya.Melihat sikap dua orang pemuda itu biasa saja, seolah-olah tidak ada kan­dungan penyesalan hati sedikit pun ten­tang peristiwa penolakan pinangan me­reka terhadap Ci Sian, hati Kam Hong merasa girang dan juga kagum sekali. Mereka sungguh patut menjadi pendekar-pendekar muda yang gemblengan, tidak mudah menaruh dendam pribadi. Juga Ci Sian merasa lega melihat sikap mereka. “Kebetulan sekali ketika kami lewat di sini, kami melihat berkelebatnya ba­yangan Hek-i Mo-ong memasuki rumah ini. Kami merasa curiga dan terheran-heran bagaimana datuk itu tiba-tiba muncul di tempat ini, maka kami lalu mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan, kalau perlu membasmi ka­kek iblis itu. Dan baru saja kami mela­kukan penyelidikan, kami melihat kalian berdua dan mengira bahwa kalian adalah peronda atau anak buah Koa-kauwsu,” Kam Hong menjelaskan. “Jangan khawatir, Hong Bu, aku akan membantumu menghadapi iblis-iblis itu dan membebaskan keluarga Cu!” kata Ci Sian dan suaranya kini biasa kembali terhadap Hong Bu, mengingatkan pemuda ini ketika mereka berdua dahulu pernah bekerja sama menghadapi Hek-i Mo-ong yang lihai. Maka gembiralah hatinya. “Terima kasih, terima kasih!” katanya gembira dan kini dia tidak merasa ragu lagi bahwa dia akan dapat menyelamat­kan keluarga Cu, terutama Pek In yang dicintanya. Tanpa ragu-ragu lagi dia pun berkata melanjutkan, “Kini aku yakin bahwa tunanganku akan dapat diselamat­kan!” Kam Hong dan Ci Sian memandang dengan mata terbelalak, dan Cin Liong sendiri pun bertanya, “Tunanganmu....? Ah, kiranya engkau telah bertunangan dengan Nona Cu Pek In? Bagus! Selamat, Hong Bu!” Kam Hong dan Ci Sian juga memberi selamat yang diterima dengan gembira oleh Hong Bu. “Sekarang belum waktunya kita bergembira,” tiba-tiba Cin Liong mengingatkan, “Yang penting sekarang adalah rencana penyerbuan untuk menye­lamatkan keluarga Cu. Setelah Kam-tai­hiap dan Nona Bu hadir, hatiku tidak khawatir lagi. Kami berempat kiranya akan sanggup menghadapi mereka ber­empat. Betapapun juga, yang paling perlu adalah membebaskan keluarga Cu yang tertawan. Maka, menurut pendapatku, harus dipergunakan siasat untuk memberi kesempatan kepada Hong Bu untuk menyelinap ke dalam dan membe­baskan mereka.” Jenderal muda ini lalu menjelaskan siasatnya dan tiga orang pendekar yang mendengarkan dengan penuh perhatian hanya mengangguk me­nyetujui karena mereka tahu bahwa Kao Cin Liong, selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga merupakan seorang ahli siasat perang sehingga tentu saja lebih ahli dalam hal melakukan penyerbuan seperti itu. Tak lama kemudian, sesuai dengan rencana yang diatur oleh Kao Cin Liong, sepasukan perajurit penjaga keamanan kota Lo-couw telah mengepung rumah perguruan silat itu, dipimpin oleh Jen­deral Kao Cin Liong sendiri yang di­temani oleh Kam Hong dan Ci Sian. Pintu gerbang digedor dari luar dan dengan suara lantang seorang perajurit pelapor meneriakkan kepada guru silat Kao Cin Gu untuk membuka pintu ger­bang karena komandan pasukan keaman­an kota Lo-couw hendak bicara. Tentu saja para penghuni perguruan itu menjadi panik ketika mereka meng­intai dari balik pintu gerbang dan me­lihat bahwa tempat mereka telah dikepung pasukan pemerintah yang bersenjata leng­kap! Dengan wajah pucat terpaksa Koa Cin Gu keluar setelah pintu gerbang dibuka. Dia mengenal komandan Thio yang mengepalai pasukan keamanan kota itu, maka segera dia menghadap Thio-ciangkun yang berdiri di sebelah kiri Cin Liong yang tidak dikenalnya karena pe­muda ini mengenakan pakaian biasa. “Thio-ciangkun, ada terjadi apakah maka malam-malam Ciangkun datang bersama pasukan?,” Koa Cin Gu bertanya, sedapat mungkin mengambil sikap tenang. “Koa Cin Gu, tidak perlu engkau menutup-nutupi dosamu!” berkata Thio-ciangkun dengan suara galak. “Kami memperoleh keterangan bahwa engkau menyembunyikan tokoh-tokoh penjahat besar yang terkenal dengan nama Hek-i Mo-ong, Toa-ok, Ji-ok dan Sam-ok. Suruh mereka keluar, kalau tidak engkau akan kami anggap sebagai pemberontak dan sekalian penghuni rumah ini akan kami tangkap sebagai anggauta-anggauta pemberontak!” Bukan main kagetnya hati Koa-kauwsu mendengar ucapan ini. Akan tetapi se­belumnya tadi dia memang sudah berun­ding dengan empat orang tamunya itu, maka kini sesuai dengan rencana mereka tadi, Koa-kauwsu berkata, “Ah, Thio-ciangkun.... bagaimana Ciangkun dapat mempercayai fitnah seperti itu? Ciang­kun sudah mengenal baik siapa saya. Saya tanggung bahwa tidak ada penjahat di sini. Harap Ciangkun suka menarik kembali pasukan dan besok saya akan menghadap Ciangkun untuk bicara soal ini.” Di balik kata-katanya itu seperti biasa tersembunyi maksud, yaitu bahwa dia hendak membereskan persoalan ini dengan hadiah atau sogokan! Akan tetapi biarpun komandan itu bukan seorang pejabat yang tidak biasa menerima sogokan macam itu, kini di depan seorang jenderal yang terkenal dari kota raja, tentu saja dia menjadi marah sekali. “Koa Cin Gu, jangan engkau main-main! Hayo cepat suruh empat orang itu keluar, kalau tidak, terpaksa kami akan mengerahkan pasukan untuk menangkap semua orang dan menggeledah ke dalam!” Melihat bujukannya tidak berhasil, orang she Koa itu lalu berkata, “Ciang­kun, memang benar saya mempunyai empat orang tamu, akan tetapi mereka adalah para Locianpwe yang datang memberi petunjuk-petunjuk ilmu silat, sama sekali bukan penjahat. Semua itu adalah fitnah belaka.” “Tidak peduli mereka itu pendekar atau penjahat, suruh mereka keluar agar dapat menemui dan bicara dengan kami!” kata pula Thio-ciangkun. Karena tidak melihat jalan lain, se­suai dengan rencana mereka, Koa Cin Gu terpaksa lalu menghadap ke dalam rumah dan berseru, “Harap Cu-wi Locianpwe suka keluar menemui Thio-ciangkun!” “Ciangkun, kami adalah orang baik-baik, mengapa?” Akan tetapi ucapan Sam-ok yang menjadi juru bicara mereka itu tertahan dan matanya terbelalak ketika dia mengenal Kam Hong, Ci Sian, dan Jenderal Muda Kao Cin Liong. Juga Hek-i Mo-ong mengenal Kam Hong dan Ci Sian, maka kakek ini pun tahu bahwa dia telah berhadapan dengan musuh yang pandai, maka tangannya bergerak dan senjata Long-ge-pang telah berada di tangannya. “Ah, kiranya kalian bocah-bocah setan yang datang mengacau!” katanya dan langsung saja Hek-i Mo-ong menerjang maju. Kam Hong menyambutnya, dengan suling emas yang sudah dicabutnya, mak­lum betapa dahsyatnya serangan kakek raksasa berambut putih dan berpakaian serba hitam itu. Tiga orang dari Im-kan Ngo-ok yang juga mengenal tiga orang muda perkasa itu maklum bahwa tidak ada gunanya lagi berpura-pura dan bahwa untuk me­nyelamatkan diri mereka harus memper­gunakan kekerasan, maka mereka bertiga pun segera menerjang ke depan, disambut oleh Kao Cin Liong dan Ci Sian. Melihat ini, guru silat Koa Cin Gu juga mengerti bahwa rahasianya telah terbongkar, maka dia pun menjadi nekat. Dengan teriakan nyaring dia pun memimpin anak buahnya untuk mencegah pasukan memasuki ru­mahnya. Terjadilah pertempuran hebat di pekarangan depan rumah itu. Sementara itu, Cu Kang Bu, Yu Hwi, Cu Pek In ditahan dalam kamar-kamar terpisah-pisah. Mereka dalam keadaan tertotok dan dibelenggu tangan mereka, rebah di atas dipan dalam kamar tahanan masing-masing, dan setiap orang dijaga oleh dua orang anak buah Koa-kauwsu.Para anak buah Koa-kauwsu bukanlah orang-orang baik. Koa-kauwsu sendiri biarpun seorang guru silat, akan tetapi dia adalah orang yang berkecicmpung da­lam dunia hitam sehingga para muridnya tentu saja terdiri dari tukang-tukang­ pukul dan penjahat-penjahat yang ingin memperkuat dirinya. Ketika semua orang menyerbu keluar untuk menyambut mu­suh, enam orang yang bertugas jaga itu ditinggal berdua saja dengan masing-ma­sing tawanan mereka. Kesempatan ini menimbulkan niat yang keji dalam benak mereka yang menjaga Yu Hwi dan Pek In. Dua orang wanita ini adalah wanita-wanita yang tergolong cantik, maka melihat di situ tidak ada orang-orang lain, para penjaga dua orang tawanan wanita ini timbul niat yang kotor untuk mengganggu dua orang tawanan mereka. Mereka mulai mendekati tawanan masing­masing yang rebah terbelenggu dan ter­totok di atas dipan, memandang dengan mulut menyeringai dan berliur. Dua orang yang menjaga Cu Pek In sudah mendekati gadis itu. Cu Pek In merasa bulu romanya meremang ketika melihat sikap mereka berdua itu. Akan tetapi ia tidak mampu bergerak karena telah tertotok jalan darahnya. Andaikata tidak tertotok, biarpun kaki tangannya terbelenggu, tentu ia dapat bergerak dan berdaya untuk melawan. Akan tetapi, kini ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak ketika dua orang itu mendekatinya dan terkekeh-kekeh. “Heh-heh, kita tidak bisa maju ber­bareng, harus antri. Siapa yang lebih dulu?” kata yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. “Kita undi saja!”, kata kawannya yang bermata juling. “Kita main bertanding jari saja, siapa menang boleh maju lebih dulu dan yang lain menjaga di luar kamar menanti gi­liran!” kata Si Tinggi Besar. Dua orang itu tertawa-tawa dan bermain jari. Ter­nyata Si Tinggi Besar yang menang dan dengan muka kecewa Si Mata Juling lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan kawannya dan berjalan di luar. Daun pintu ditutupkan, akan tetapi Si Mata Juling itu mengintai dari celah-celah daun pintu. Pek In memandang dengan mata ter­belalak, melihat betapa sambil terkekeh dan menyeringai menyeramkan, Si Muka Hitam yang tinggi besar itu menanggalkan pakaiannya sendiri. Wajah Pek In menjadi pucat dan mulutnya berbisik, “Jangan.... ah, jangan....!” “Ha-ha-ha diamlah, manis,” kata Si Tinggi Besar yang kini melangkah men­dekati dipan, membuat Pek In merasa ngeri dan takut sehingga hampir ia rbboh pingsan. Akan tetapi pada saat jari tangan Si Tinggi Besar menyentuh pakaian Pek In, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar pintu. Daun pintu terbuka. Si Tinggi Besar menoleh dan seketika mukanya menjadi pucat ketika dia melihat teman­nya, Si Mata Juling itu sudah roboh mandi darah di depan pintu. Dan sebelum dia sempat menguasai hatinya, sesosok bayangan berkelebat dan Hong Bu telah menghantamnya dengan telapak tangan kanan. Si Tinggi Besar tak sempat lagi berteriak karena terdengar suara keras ketika kepalanya kena ditampar. Tubuhnya terpelanting dan kepalanya retak, mengeluarkan darah dan otak. Dia tewas seketika tanpa sekarat lagi. Hong Bu cepat membebaskan totokan Pek In dan mematahkan belenggu kaki tangannya. “Engkau tidak apa-apa, In-moi....” tanyanya. “Ahh.... Bu-ko....!” Pek In merangkul dan menangis di dalam pelukan pemuda itu. Pek In melirik ke arah tubuh telan­jang yang kepalanya retak itu dan menggigil. “Untung engkau segera datang, Bu­ko....” katanya dan hatinya lega sekali karena rasa penasaran dan duka karena ditinggal lari oleh Hong Bu itu kini ter­obati dengan munculnya kekasihnya yang telah menyelamatkannya. Sebelum menolong Pek In, Hong Bu tadi telah memasuki kamar tahanan Cu Kang Bu, merobohkan dua orang penjaga­nya dan membebaskan Cu Kang Bu. Be­gitu bebas, Kang Bu segera minta kepada Hong Bu untuk menolong Pek In di ka­mar sebelah kanan sedangkan dia sendiri cepat lari ke kamar sebelah kiri di mana dia tahu isterinya ditawan. Dia meman­dang daun pintu itu dan dapat dibayang­kan betapa marahnya ketika dia melihat dua orang penjaga sedang menggerayangi tubuh isterinya dalam usaha mereka un­tuk melepaskan pakaian isterinya yang tertotok dan terbelenggu tak mampu melawan itu. “Keparat!” bentak Cu Kang Bu dan sekali loncat dia sudah tiba di belakang dua orang penjaga yang kurang ajar itu. Mereka membalikkan tubuh, akan tetapi tahu-tahu rambut kepala mereka telah dijambak oleh Cu Kang Bu dan sekali menggerakkan kedua tangannya, pendekar tinggi besar dari Lembah Naga Siluman itu sudah membenturkan dua buah kepala itu. Terdengar suara “Prokk!” dan dua buah kepala itu pecah berhamburan! Ketika Kang Bu membebaskan isteri­nya dan mereka berdua keluar dari dalam kamar itu, mereka bertemu dengan Hong Bu yang juga sudah berhasil membebas­kan Pek In. “Di luar sana aku dibutuh­kan, harap Susiok bertiga suka membantu pasukan dari dalam. Aku sendiri harus membantu mereka menghadapi empat iblis itu!” Setelah berkata demikian, Hong Bu meloncat keluar dengan cepat sekali. Kang Bu tadi sudah diberi tahu oleh Hong Bu bahwa yang dimaksudkan, dengan mereka itu adalah Jenderal Muda Kao Cin Liong, Pendekar Suling Emas Kam Hong dan sumoinya, Bu Ci Sian. Dengan singkat dia pun memberi tahu kepada isterinya dan keponakannya, kemudian mereka bertiga juga menyerbu keluar dan mengamuk, menyerang para anak buah guru silat Koa dari sebelah dalam. Tentu saja para anak buah Koa-kouwsu menjadi terkejut dan semakin panik karena mereka pun sudah terdesak oleh pasukan keamanan yang menyerbu dari luar. Perkelahian antara Kam Hong mela­wan Hek-i Mo-ong masih berlangsung dengan amat serunya, akan tetapi Cin Liong dan Ci Sian yang bekerja sama menghadapi pengeroyokan tiga orang Im-kan Ngo-ok terdesak hebat dan mereka berdua itu hanya mampu memutar senja­ta untuk melindungi diri belaka tanpa mempunyai banyak kesempatan untuk membalas. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Hong Bu sudah menerjang dan membantu mereka berdua. Melihat betapa Koa-kauwsu dan anak buahnya sudah roboh semua karena amukan Cu Kang Bu bertiga, dan melihat betapa mereka berempat sudah terkurung oleh pasukan dan di situ terdapat orang-orang muda yang amat lihai itu, Hek-i Mo-ong maklum bahwa kalau terjadi pertempuran keroyokan tentu pihaknya akan mengalami kerugian karena kalah banyak, maka tiba-tiba dia meloncat ke belakang dan berseru dengan lantang, “Tahan senjata! Kami hendak bicara!” Empat orang pendekar muda itu me­nahan senjata mereka dan Kam Hong mewakili teman-temannya, sambil melin­tangkan suling emas di depan dada dia pun menegur, “Hek-i Mo-ong, engkau hendak bicara dan menggunakan kecu­rangan apa lagi?” Wajah kakek itu berubah merah. Ter­ingat dia bahwa dia pernah melukai pe­muda luar biasa ini, akan tetapi hal itu dilakukannya karena dia main curang, yaitu pada saat Kam Hong melawan delapan orang muridnya, ialah Hek-i Pat-mo dan ketika pendekar ini terdesak delapan orang itu, dia turun tangan membantu murid-muridnya sehingga Kam Hong menderita luka dalam yang cukup parah. “Bocah she Kam! Kalau memang ka­lian adalah orang-orang muda yang gagah perkasa dan mengaku sebagai pendekar-pendekar sakti, mari kita melakukan pertandingan satu lawan satu tanpa pe­ngeroyokan dan tanpa mengandalkan ban­tuan. Kita masing-masing mengadakan pertandingan satu lawan satu sampai mati dan tidak boleh ada orang lain yang membantu. Nah, bagaimana? Apakah kalian berempat berani menyambut tantangan kami berempat?” Kam Hong mengerutkan alisnya dan memandang kepada tiga orang kawan­nya. Dia melihat betapa Ci Sian, Hong Bu, dan Cin Liong mengangguk kepada­nya, dan dia sendiri pun percaya sepe­nuhnya bahwa tiga orang muda itu cukup tangguh dan kuat untuk melawan tiga orang datuk dari Im-kan Ngo-ok maka ia pun menjawab dengan lantang, “Baik, Hek-i Mo-ong. Kami berempat menerima tantangan kalian!” Thio-ciangkun lalu membuat lingkaran dengan pasukannya, lingkaran yang cukup luas di pekarangan rumah itu, dan me­masang obor yang cukup banyak sehingga tempat itu menjadi terang dan merupa­kan gelanggang pertandingan yang di­ pagari pasukan. Cu Kang Bu dan Yu Hwi yang sudah selesai membasmi Koa-kauw­su dan anak buahnya itu pun kini berdiri menonton dengan penuh kepercayaan terhadap empat orang muda yang sakti itu, hanya Cu Pek In yang mengerutkan alisnya dan merasa khawatir.“Bagus! Kami akan mengajukan jago pertama kali. Sam-ok, majulah!” kata Hek-i Mo-ong. Sam-ok Ban Hwa Sengjin, bekas Koksu Nepal yang nama aselinya Lakshapadma itu segera melangkah maju ke tengah lapangan. Dia pun maklum bahwa jalan keluar tidak ada, maka tin­dakan Hek-i Mo-ong itu dianggapnya tepat. Hanya melalui pertandingan per­orangan maka mereka memperoleh ke­sempatan untuk lolos, asal dapat meme­nangkan lawan. Dan bagaimana pun lihai­nya, empat orang lawan itu hanyalah orang-orang muda yang tentu masih jauh kurang pengalamannya dibandingkan de­agan mereka berempat. Dia maju dengan tenang. Kakek raksasa yang kepalanya botak ini nampak gagah dengan mantel­nya yang merah, dan kini dia menanggalkan mantel merahnya dan melemparkan mantel itu kepada Ji-ok. Dia sendiri dengan kedua kaki terpentang lebar, ke­dua lututnya agak ditekuk dan kedua le­ngannya membuat silang di depan dada, yang kanan miring di depan dahi, yang kiri miring di depan dada, sikapnya se­perti seorang pendeta sedang melakukan sembahyang dengan sikap aneh.  “Biar aku yang menghadapi tua bang­ka Nepal ini!” kata Kao Cin Liong dan majunya Cin Liong melegakan hati Kam Hong. Dibandingkan dengan Cin Liong, mungkin sumoinya masih kalah, dan biar­pun di pihak musuh Sam-ok merupakan orang terakhir, namun dia tahu bahwa bekas Koksu Nepal ini mempunyai banyak tipu muslihat sehingga kalau Ci Sian yang melayani dia, hal itu amat berbahaya. Berbeda kalau Cin Liong yang menyambut kakek itu, karena biarpun masih muda, namun Cin Liong juga se­orang yang memiliki banyak pengalaman dan mengenal banyak siasat-siasat licik pihak musuh. “Baiklah, Saudara Kao Cin Liong. Kaulawan Sam-ok dan hati-hatilah terha­dap akal busuk!” kata Kam Hong. Cin Liong melangkah maju dengan tenang. Di bawah sinar obor yang banyak dinyalakan itu, pemuda ini nampak tegap dan gagah perkasa sekali. Wajahnya yang bundar itu nampak halus dan tampan, sepasang matanya yang lebar bersinar-sinar dan tahi lalat kecil di bawah te­linga kirinya itu menambah kewibawaan­nya. Ketenangan pemuda ini nampak pada senyumnya, seolah-olah dia sama sekali tidak merasa jerih menghadapi lawan yang sudah amat tersohor karena kelihai­annya ini. Masih begitu muda sudah memperoleh kepercayaan Kaisar, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya pe­muda ini. Sam-ok juga merasa agak ter­kejut ketika melihat bahwa jenderal mu­da itu yang maju. Dia tahu akan kelihai­an pemuda ini. Baru mengingat bahwa pemuda ini adalah putera tunggal dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir saja sudah membuat dia menjadi agak ngeri. Akan tetapi, dia segera dapat mengusir perasaan ini dengan keyakinan akan kepandaian sendiri. Betapapun juga, pemuda ini bukanlah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, pikirnya, melainkan seorang yang masih muda dan tentu masih hijau pula dalam pengalaman. “Ha-ha-ha!” Sam-ok tertawa bergelak untuk membesarkan hati. “Inikah Jenderal Muda Kao Cin Liong yang terkenal itu? Ha-ha, orang muda, sudah, rela benarkah engkau untuk mati konyol maka engkau berani melawanku?” “Ban Hwa Sengjin! Engkau telah ber­dosa terhadap pemerintah dan negara ketika engkau menjadi Koksu Nepal, dan engkau berdosa terhadap rakyat ketika engkau menjadi $am-ok. Dosamu sudah terlampau bertumpuk, terlampau banyak maka sudah sewajarnyalah kalau sekarang engkau menerima hukuman dari tanganku sendiri! Majulah!” Sebelum maju tadi Cin Liong telah menitipkan pedangnya kepada Hong Bu dan kini dia menghadapi lawan dengan tangan kosong. Dia tahu bahwa Sam-ok adalah seorang yang memiliki ilmu silat yang sudah agak tinggi ting­katnya maka datuk ini tidak lagi meng­andalkan senjata. Dan karena dia sendiri pun murid ayah kandungnya yang memi­liki ilmu silat tangan kosong pula, maka dia menghadapi lawan dengan tangan kosong. Dia berdiri tegak lurus, mula-mula kedua lengannya tergantung lurus di kanan kiri, lalu diangkatnya sampai ke pinggang dengan jari-jari terbuka dan ibu jari ditekuk ke telapakan, perlahan-lahan lengannya diangkat ke atas lalu setelah sampai di atas kepala ditarik ke bawah sambil mengerahkan tenaga sin-kang. Kedua lengannya itu nampak tergetar halus, dan kini tubuhnya penuh dengan saluran sin-kang yang dahsyat! Sam-ok mengeluarkan suara meng­gereng dan karena gerengan ini mengan­dung getaran tenaga khi-kang yang amat kuat, maka para perajurit yang menge­pung tempat itu untuk nonton perkelahi­an itu menjadi terkejut dan tubuh me­reka menggigil. Sam-ok menyusul gereng­annya ini dengan terjangan dahsyat, ke­dua lengannya yang panjang dan besar itu bergerak cepat dan tahu-tahu dia telah mengirim serangan beruntun sampai empat kali, memukul dengan kedua ta­ngan dari atas ke bawah disusul cengkeraman dari kanan kiri. Cin Liong juga bergerak cepat, kedua lengannya sudah menangkis dua pukulan pertama dan menghadapi cengkeraman dari kanan kiri itu dia meloncat ke belakang sambil membalik dan tiba-tiba saja tubuhnya berputar dan dia pun sudah membalas dengan sebuah tendangan kilat yang mengarah dagu lawan. Ketika Sam-ok menggerakkan tangan hendak menangkap kaki yang menendangnya, Cin Liong menarik kembali kakinya dan tubuhnya meluncur ke depan, tangan kanan meno­tok ke arah pusar dan tangan kiri men­cengkeram ke arah ubun-ubun kepala botak itu! Dia telah mulai menggunakan jurus-jurus dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat yang hebat. Karena dia tahu bahwa lawannya adalah seorang yang lihai, maka pemuda ini tidak mau mem­buang waktu dengan mengeluarkan ilmu silat lain, melainkan langsung mengeluar­kan ilmu ciptaan kakek gurunya, yaitu Si Dewa Bongkok itu. Sesungguhnya Ilmu Sin-liong Ciang-hoat asalnya adalah ilmu ciptaan Dewa Bongkok yang khas, yaitu untuk seorang yang berlengan tunggal. Akan tetapi Kao Kok Cu, Si Naga Sakti Gurun Pasir telah menyempurnakan ilmu tangan kosong ini untuk puteranya, sehingga kini yang di­kuasai oleh Kao Cin Liong adalah ilmu silat tangan kosong yang cocok untuk di mainkan oleh seorang yang berlengan utuh, walaupun dasarnya masih ilmu ase­li. Justeru karena dasarnya adalah ilmu silat yang tadinya diperuntukkan seorang yang berlengan buntung, maka setelah kini dimainkan oleh Cin Liong, gerakan­gerakannya amat aneh dan tak dapat diduga-duga oleh musuh. Kadang-kadang pemuda itu hanya menggerakkan tangan kanannya saja, dan tangan kirinya ber­gantung mati, akan tetapi pada detik-detik yang sama sekali tidak disangka oleh lawan, tiba-tiba saja tangan kirinya bergerak mengirim serangan susulan, serangan maut yang amat dahsyat, lebih dahsyat daripada serangan-serangan ta­ngan kanannya! Biarpun Sam-ok seorang yang tinggi ilmunya, namun menghadapi ilmu silat ini dia merasa bingung juga sehingga setelah lewat lima puluh jurus, dia kurang cepat mengelak dan tamparan tangan kiri yang tadinya tergantung mati itu sempat me­ngenai pundak kanannya, membuat tubuh yang tinggi besar itu terhuyung ke belakang. Sam-ok meloncat untuk mengatur keseimbangan badannya dan mulutnya menyeringai menahan rasa nyeri yang membuat separuh tubuhnya sebelah kanan seperti lumpuh sejenak. “Haiiiikkk!” Tiba-tiba Sam-ok me­nubruk ke depan. Cin Liong mengelak dengan loncatan ke kiri, akan tetapi tiba-tiba dari lengan baju yang lebar itu meluncur sinar-sinar hitam yang lembut menuju ke seluruh tubuh Cin Liong dari atas ke bawah! itulah jarum-jarum rahasia beracun yang dilepas dari jarak dekat sekali! Dan ini merupakan satu di antara kecurangan-kecurangan Sam-ok. Akan tetapi, sejak tadi Cin Liong memang sudah waspada terhadap serangan gelap, maka begitu melihat sinar hitam menyambar dia su­dah meloncat tinggi sehingga semua jarum lewat di bawah kakinya. Cin Liong bukan sembarangan meloncat, melainkan meloncat ke depan dan kini dari atas dia terjun menyerang ke arah kepala lawan dengan menggunakan kedua kakinya! Sam-ok terkejut bukan main. Tak di­sangkanya bahwa pemuda itu selain dapat menghindarkan semua jarumnya, juga memiliki gin-kang sedemikian hebatnya sehingga sambil mengelak kini bahkan langsung menyerang. Cepat dia secara terpaksa menggulingkan tubuhnya ke atas tanah sehingga serangan dari atas itu pun tidak mengenai sasaran dan begitu dia meloncat bangkit lagi, Sam-ok sudah mengeluarkan ilmunya yang paling diandalkan karena aneh dan tangguhnya. Tu­buhnya tiba-tiba berpusing seperti sebuah gasing dan terus berpusing, sehingga tubuh itu tidak nampak lagi. Dan dari gerakan berpusing ini dengan cepat bagaikan kilat menyambar, ada serangan-serangan men­cuat yang menuju ke arah lawan. Cin Liong menggerakkan kaki tangan menangkis, akan tetapi karena pusingan tubuh lawan itu mendatangkan angin dahsyat, dan karena serangan yang mencuat dari tubuh yang berputar cepat itu sukar diikuti dengan pandangan mata, maka Cin Liong terkena sambaran pukulan yang mengarah lambungnya. Tangkisannya menyeleweng dan biarpun dia tidak ter­kena pukulan langsung, namun tetap saja dia terdorong sampai hampir terjengkang dan merasa betapa paha kanannya panas oleh hawa pukulan lawan. Hanya dengan melempar diri ke belakang dan berjungkir balik saja pemuda itu dapat menyelamat­kan diri dan tidak sampai roboh terjeng­kang.Melihat hebatnya lawan, Cin Liong tiba-tiba mendekam di atas tanah dan ketika lawan yang berpusing itu mende­katinya, mendadak pemuda itu menge­luarkan suara melengking dahsyat dan tubuhnya meluncur dari bawah dengan pukulan kedua tangan didorongkan ke depan. Itulah pukulan dari Ilmu Sin-liong Hok-te yang amat hebat dari Istana Gu­run Pasir!  “Desss....!” Karena hebatnya pu­kulan itu, Sam-ok mana mampu meng­elak? Terpaksa dia menangkis dengan pengerahan seluruh tenaganya dan aki­batnya, tubuhnya terlempar dan terban­ting keras sekali! Itulah hebatnya pukulan Ilmu Sin-liong Hok-te (Naga Sakti Men­dekam di Bumi). Kalau tadi Sam-ok mempergunakan tenaga lembut, tidak mempergunakan tangkisan tenaga kasar, dia pun akan celaka kalau Cin Liong juga mempergunakan tenaga Im. Tubuh yang tinggi besar itu terguling-guling dan akhirnya dapat meloncat bangkit kembali, berdiri agak bergoyang-goyang dan di ujung bibir kakek itu nampak darah segar yang keluar dari mulutnya! Dengan bajunya, Sam-ok menghapus darah itu dan mukanya berubah merah sekali. Dia menggereng nyaring, gerengan yang keluar dari dalam perutnya saking marahnya dan tiba-tiba dia merenggut ke arah lehernya. Nampak sinar berkilauan ketika tangannya sudah memegang seuntai rantai hitam yang tadinya dipakai sebagai kalung lehernya. Rantai ini adalah untaian batu-batu hi­tam dari Nepal yang diuntai dengan tali baja yang amat kuat! Jarang sekali Sam-ok mempergunakan senjata dalam perkelahian menghadapi lawan yang bagaimana pandai sekalipun. Ilmu silatnya sudah sangat tinggi, tenaga sin-kangnya amat kuatnya sehingga tanpa bantuan senjata pun dia sudah merupakan seorang yang sukar dikalahkan. Akan tetapi, sekali ini dia bertemu tanding, bahkan dia telah menderita guncangan dalam tubuh yang membuatnya terluka, maka tanpa malu-malu lagi dia menge­luarkan senjata simpanannya yang tadinya dipakainya sebagai sebuah kalung jimat! Menurut kepercayaan tahyul di Nepal, batu-batu hitam yang dipakainya sebagai kalung itu mempunyai daya kekuatan, untuk menolak penyakit dan malapetaka. Selain itu, juga batu-batu hitam itu ke­ras sekali dan kuat, dapat menahan sen­jata pusaka lawan yang bagaimanapun ampuh sekalipun. “Trrrik.... wirr.... wirr!” Senjata aneh itu mengeluarkan bunyi berketrik ketika digerakkan dan angin dahsyat menyambar ganas ke arah Sin Liong. Pemuda ini terkejut sekali dan mengelak, akan tetapi sinar hitam itu mengejarnya terus, ter­paksa untuk menangkis, tidak berani langsung menangkis dengan lengannya karena dia belum mengenal sifat senjata lawan. Akan tetapi, biarpun lengan baju­nya itu hanya merupakan kain saja, di dalam tangan pemuda ini berubah men­jadi senjata penangkis yang ampuh dan kuat sekali. “Prattt!” Tangkisan ujung lengan baju dari Cin Liong itu membuat serangan Sam-ok gagal dan sinar hitam senjata rantainya itu menyeleweng, akan tetapi pemuda itu terkejut bukan main ketika melihat betapa ujung lengan bajunya pecah-pecah! Dan kini sinar hitam itu telah menyambar lagi bertubi-tubi, mengarah kepalanya dan ujung sinar hi­tam itu dapat melakukan serangan totokan ke arah jalan darah yang mematikan. Maka Cin Liong segera mengelak dan berloncatan ke sana-sini, dan terdesak hebat oleh sinar hitam yang mengeluarkan bunyi berketrikan itu. “Cin Liong, nih terima pedangmu!” Tiba-tiba terdengar Hong Bu berseru dan nampak sinar terang ketika pedang Cin Liong yang tadi dititipkan kepada pemu­da itu telah dicabut oleh Hong Bu dan dilemparkannya kepada jenderal muda itu. Cin Liong cepat menyambut pedang­nya dengan tangan kanan. “Terima kasih, Hong Bu!” katanya gembira dan seketika pedang itu diputar-putarnya di tangannya, berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyilaukan mata ketika tertimpa sinar obor. Pedang itu adalah sebuah pedang yang baik karena pedang itu merupakan pedang pemberian Kaisar sebagai tanda pangkatnya. Seperti juga Sam-ok, putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir ini sebetulnya tidak lagi memerlukan senjata untuk membantunya dalam perkelahian. Akan tetapi karena lawannya yang tangguh itu memperguna­kan senjata yang aneh dan yang mungkin saja dapat melukai lengannya, maka ten­tu saja dia merasa gembira untuk mem­pergunakan pedangnya menghadapi senjata lawan. Sam-ok masih terus mendesak dengan senjatanya yang diputar-putar dan meng­hujani lawannya dengan serangan-serang­an maut. Cin Liong juga memutar pe­dangnya dan menyambut serangan itu dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaganya. “Tranggg.... cringggg....!” Keduanya melompat ke belakang ke­tika merasa betapa telapak tangan me­reka panas dan nyeri, seolah-olah kulitnya terkupas. Mereka masing-masing meme­riksa senjata sendiri, akan tetapi hati mereka lega melihat bahwa senjata me­reka tidak rusak oleh benturan yang hebat tadi. Mereka gembira karena senjatanya dapat menahan senjata lawan, keduanya lalu saling terjang lagi dengan dahsyatnya. Tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan sinar hitam dan sinar terang dari pedang Cin Liong, dan kedua sinar yang bergulung-gulung itu saling belit, saling tekan dalam sebuah pertem­puran yang amat seru. Semua orang yang menyaksikan pertandingan ini, diam-diam merasa tegang bukan main karena me­mang jaranglah terdapat perkelahian antara dua orang yang demikian lihainya. Yang menegangkan adalah karena kedua pihak tidak mau turun tangan membantu teman. Pihak Hek-i Mo-ong tentu saja tidak berani melakukan ini sebagai pihak yang lebih lemah atau yang lebih sedikit jumlah temannya, sebaliknya pihak Kam Hong dan kawan-kawannya tentu tidak mau melanggar perjanjian sebagai pen­dekar-pendekar yang menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan. Maka semua orang tahu bahwa pertandingan antara Sam-ok dan Cin Liong ini, seperti juga pertandingan lain yang akan terjadi anta­ra kedua pihak, merupakan perkelahian mati-matian tanpa dapat mengharapkan bantuan orang lain. Kembali puluhan jurus lewat dengan cepat dan kedua pihak belum juga mam­pu saling melukai, apalagi merobohkan. Cin Liong yang maklum akan kelihaian lawan, menggerakkan tubuh dan pedang­nya dengan tenang dan hati-hati, sebalik­nya Sam-ok yang memang merasa gelisah karena maklum bahwa pihaknya kalah kuat dan telah terkepung, menyerang dengan penuh nafsu. Melihat betapa per­tahanan pemuda itu amat tangguhnya, dia menjadi penasaran. Tiba-tiba, ketika kedua senjata itu saling bertemu di uda­ra, Sam-ok menggerakkan pergelangan tangannya, dan senjata rantai batu hitam itu segera bergerak membelit-belit pe­dang di tangan Cin Liong, seperti seekor ular. Kedua senjata itu tak dapat terlepas kembali dan mereka kini saling tarik-menarik dan tiba-tiba kaki kanan Cin Liong terpeleset karena dia menginjak batu yang basah dan licin. Pemuda itu terjatuh miring di atas ta­nah. Tentu saja semua temannya mena­han teriakan kaget melihat hal ini. Melihat kesempatan yang amat baik ba­ginya ini, Sam-ok menjadi girang sekali dan dia pun lalu menubruk ke bawah, tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah kepala pemuda itu! Hebat bukan main serangan ini dan semua orang tahu bahwa sekali kepala itu terkena cengke­raman jari-jari tangan yang kuat itu, tentu pemuda itu akan tewas seketika! Melihat ini, Ci Sian tentu sudah melon­cat kalau saja suhengnya tidak memegang lengannya. Hong Bu juga mengepal tinju dan matanya melotot memandang ke arah sahabatnya itu yang rebah miring dan kepalanya terancam cengkeraman yang mengandung ancaman maut itu. Sam-ok tidak tahu, juga para ahli silat di situ tidak ada yang tahu bahwa ketika terjatuh tadi, otomatis Cin Liong mengatur gerakan jurus dari ilmu silat sakti Sin-liong Hok-te. Ilmu silat ini memang meminjam kekuatan bumi dan dilakukan dengan banyak mendekam di atas tanah. Maka ketika Sam-ok menye­rangnya dengan cengkeraman tangan ke arah kepalanya, sebenarnya Cin Liong sudah siap siaga dengan jurus ilmu silat­nya yang ampuh. Dia cepat menggerak­kan kepalanya menyingkir dan tangan Sam-ok itu kini mencengkeram pundaknya dan pada saat itu juga, tiba-tiba dari bawah, tangan kiri pemuda ini meluncur dengan dahsyat mengirim serangan-se­rangan pukulan mendadak. “Dessss....!” Terdengar gerengan serak dari mulut Sam-ok ketika tubuh raksasa itu terlem­par sampai tiga meter lebih, terbanting jatuh ke atas tanah! Sam-ok merangkak bangun, berdiri dan terhuyung-huyung, memandang dengan matamelotot ke arah Cin Liong, tangan kiri mencengkeram dadanya yang terpukul, tangan kanan mengangkat rantainya tinggi-tinggi, si­kapnya seperti hendak menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba mulutnya terbuka dan menyemburkan darah segar, kedua kaki­nya terkulai dan dia pun roboh mene­lungkup dan nyawanya melayang mening­galkan tubuhnya! Cin Liong bangkit dan menyeringai, tangan kirinya memegangi pundak kanannya yang tadi kena dicengkeram lawan. Cu Kang Bu yang pandai dalam hal pengobatan, cepat meloncat mendekati­nya dan memeriksa pundaknya. Untung hanya luka daging saja, dan tenaga sin-kang telah melindungi tulang pundak itu sehingga, tidak remuk. Cu Kang Bu cepat memberi sebuah pel merah untuk ditelan oleh jenderal muda itu dan luka di pun­daknya ditempeli koyok hitam. Kemenangan jenderal muda ini disam­but sorak-sorai oleh para pasukan, akan tetapi Toa-ok, Ji-ok, dan Hek-i Mo-ong mengerutkan alis dan muka mereka se­bentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba Ji-ok mengeluarkan pekik melengking nyaring dan ia sudah melon­cat ke depan, lalu ia menoleh kepada Hek-i Mo-ong sambil berkata, “Biarkan aku menebus nyawa Sam-te!” Nenek ber­topeng tengkorak ini adalah seorang da­tuk kaum sesat yang kejam sekali sehingga ia mampu memperoleh julukan Si Jahat ke Dua. Akan tetapi kini melihat betapa Sam-ok tewas di depan matanya, hatinya terasa seperti disayat dan ia me­cat sakit hati sekali. Kini, Ji-ok Kui-bin Nio-nio sudah berdiri tegak, tubuhnya yang kecil ramping seperti tubuh orang muda itu bergoyang-goyang, dadanya turun naik terbawa tarikan napas panjang karena kemarahannya, sepasang mata di balik topeng tengkorak itu seperti dua titik api yang mencorong, rambutnya yang sudah putih semua riap-riapan, se­bagian menutupi muka tengkorak, kedua tangannya yang berkuku runcing bertolak pinggang, sikapnya menantang sekali. “Bocah-bocah sombong, majulah dan terimalah kematian di tanganku!” bentaknya menantang. Ci Sian melangkah maju dan berkata kepada suhengnya, “Suheng, ia adalah satu-satunya wanita di pihak lawan seperti juga aku di pihak kita. Biarkan aku menghadapi iblis betina ini!” Kam Hong mengerutkan alisnya. Ten­tu saja diam-diam dia merasa khawatir sekali akan keselamatan gadis yang amat dicintanya ini, dan dia pun tahu akan kelihaian Ji-ok. Akan tetapi, di antara lawan yang masih tinggal tiga orang, kiranya Ji-ok masih terhitung yang paling lemah dibandingkan dengan Toa-ok, dan Hek-i Mo-ong, dan selain itu, dia pun maklum bahwa sumoinya sekarang sama sekali tidak boleh disamakan dengan sumoinya setahun yang lalu. Sumoinya telah mewarisi ilmu sin-kang dari Pulau Es ketika digembleng oleh pendekar sakti Suma Kian Bu, dan dibandingkan dengan dirinya, sumoinya hanya kalah setingkat saja. Maka dia pun merasa yakin bahwa sumoinya akan mampu menandingi Ji-ok Kui-bin Nio-nio. Maka dia pun meng­angguk. “Hati-hati, Sumoi. Hadapi ia dengan tenang saja, karena engkau tidak akan kalah!” katanya memperingatkan sumoi­nya bahwa menghadapi seorang datuk kaum sesat yang tentu saja memiliki banyak pengalaman bertanding dan juga mempunyai banyak tipu muslihat, harus dilakukan dengan penuh ketenangan dan kepercayaan kepada diri sendiri. Terburu nafsu menghadapi orang seperti Ji-ok ini bisa celaka sendiri. Ci Sian mengangguk dan tersenyum. “Suheng, aku tidak akan membikin malu dan kecewa padamu,” katanya dan janji ini mengelus hati Kam Hong yang merasa terharu dan juga berbahagia se­kali. Ci Sian kini menghadapi Ji-ok dan ia telah mencabut suling emasnya. Dara ini sekarang telah menjadi seorang gadis dewasa. Wajahnya yang bulat manis itu masih membayangkan kelincahan dan kejenakaan, sinar matanya penuh kebe­ranian dan senyum mulutnya masih membayangkan kenakalan remajanya walaupun sikapnya kini nampak tenang dan mem­bayangkan kematangan pengalaman-peng­alaman yang selama ini dihadapinya. Mukanya yang bulat itu nampak amat manis ketika diangkatnya suling melintang depan. dada dan matanya meman­dang kepada lawan dengan tajam, kedua kakinya agak terpentang dan jari telunjuk dan tengah tangan kiri menyentuh ujung sulingnya yang melintang. Melihat bahwa yang maju dan hendak melawannya hanya seorang gadis yang nampaknya masih remaja itu, Ji-ok me­ngeluarkan suara tertawa mengejek, lalu ia mendengus dengan suara memandang rendah sekali, sikap yang disengaja untuk menjatuhkan nyali lawan. “Hi-hik, bocah ini yang hendak menandingiku? Apakah tidak sayang kalau gadis secantik dan semuda ini harus mampus di tanganku? Bocah manis, lebih baik kalau lekas ber­lutut minta ampun dan nenekmu mungkin akan menaruh kasihan kepadamu!” Ucap­an ini selain hendak merendahkan dan mengecilkan nyali lawan, juga disengaja dikeluarkan untuk membakar hati lawan, agar marah, kemarahan yang mengawali pertandingan berarti merugikan sekali dan hal ini diketahui dengan baik oleh Ci Sian yang selain menerima gemblengan Kam Hong, juga pernah digembleng oleh seorang pendekar sakti seperti Suma Kian Bu. Maka, mendengar ucapan dan melihat sikap nenek itu, ia tetap ter­senyum, bahkan mengambil sikap seperti seorang dewasa melihat tingkah laku seorang anak kecil yang nakal. “Ji-ok Kui-bin Nio-nio,” katanya lan­tang, “Sudah lama aku mendengar bahwa engkau adalah seorang nenek yang amat kejam seperti siluman, banyak membunuh anak-anak kecil untuk kauhisap darah dan otaknya. Kejahatanmu sudah melampaui takaran dan engkau sudah layak untuk mati sampai seratus kali. Maka sekarang, sudah tiba saatnya engkau menebus dosa-dosamu di dasar neraka menyusul Sam-ok yang sudah mendahuluimu dan sedang menantimu di ambang pintu neraka. Ber­siaplah engkau, wahai nenek iblis!” Kini terjadilah senjata makan tuan. Senjata yang dipergunakan oleh Ji-ok, yaitu kata-kata untuk memancing kema­rahan lawan, ternyata dipergunakan pula oleh Ci Sian yang cerdik. Dara ini mak­lum akan kelemahan lawan pada saat itu, maka ia sengaja mengingatkannya tentang kematian Sam-ok. Di luar kesadar­annya sendiri, mendengar ucapan ini, Ji-ok teringat akan kematian Sam-ok dan ia menjadi marah bukan main. Sambil me­ngeluarkan suara mendengus karena tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata sa­king marahnya, nenek ini sudah meng­gerakkan tubuhnya dan tangan kirinya yang berkuku panjang itu telah melaku­kan penyerangan dahsyat, mencengkeram ke arah muka Ci Sian! Ci Sian tersenyum mengejek dan ce­pat mengelak sambil menggerakkan su­lingnya menotok ke arah sambungan siku lengan nenek yang menyerangnya itu dari samping, memaksa Ji-ok untuk cepat menarik kembali lengannya yang melaku­kan penyerangan tadi. Mereka segera mulai serang-menyerang dengan sengit dan terjadilah perkelahian yang tidak kalah serunya dibandingkan dengan per­tandingan pertama antara Cin Liong dan Sam-ok tadi. Pelampiasan kemarahan merupakan pembuangan kekuatan batin yang amat besar, merupakan penghamburan enersi yang sungguh sia-sia. Orang yang melam­piaskan kemarahan melalui kata-kata keras atau tindakan-tindakan kekerasan, tentu akan merasa betapa sesudahnya dia akan kehabisan tenaga, lemas lahir batin. Oleh karena itu, orang yang mampu menghadapi nafsu-nafsu yang muncul seperti nafsu amarah, tanpa mengham­burkan kekuatan dahsyat itu melalui pelampiasan, berarti akan menyimpan kekuatan batin yang kuat. Bukan me­ngendalikan kemarahan, melainkan meng­hadapinya dan memandangnya dengan wajar dan waspada dan sadar, tidak di­kuasai olehnya. Pengendalian kemarahan hanya akan meredakan nafsu itu untuk sementara waktu saja. Ji-ok telah dikuasai nafsu kemarahan sendiri, dan kemarahannya ini semakin melonjak saja ketika ia mendapatkan ke­nyataan betapa ia tidak mampu menga­lahkan lawan yang dianggapnya masih bocah ingusan ini, betapapun ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan memeras seluruh kepandaiannya. Bahkan seba­liknya, serangan-serangan balasan dari suling emas itu sungguh membuat ia kadang-kadang terkejut dan beberapa kali nyaris terkena totokan ujung suling emas. Lebih dari itu pula, setelah lewat puluh­an jurus, suling emas itu selain menge­luarkan serangan yang amat berbahaya, juga mengeluarkan suara melengking tinggi rendah seperti ditiup mulut yang tidak nampak, dan di dalam suara ini terkandung tenaga khi-kang yang amat kuat, membuat kepalanya pening dan pengumpulan tenaganya kadang-kadang membuyar! Ji-ok yang biasanya amat yakin akan kemampuan sendiri, yang biasanya memandang rendah kepada pihak lawan, sekali ini merasa penasaran bukan main dan hal ini mendorong kemarahan­nya menjadi semakin memuncak sampai napasnya terengah-engah dan dari atas kepala yang penuh rambut putih itu mengepul uap putih yang tebal!“Mampuslah engkau!    Haiiittt....!” Tiba-tiba nenek itu merendahkan dirinya untuk membiarkan suling itu meluncur lewat, lalu kakinya mengirim tendangan kilat ke arah dada Ci Sian. Bukan sembarang tendangan karena tendangan itu dilakukan sambil meloncat dan merupa­kan tendangan berantai, dilakukan oleh kaki bersepatu yang dilapisi besi merun­cing itu. Bertubi-tubi kedua kaki itu me­nendang, dan setiap kaki dapat melaku­kan tendangan berantai sampai tiga em­pat kali mengarah bagian-bagian berba­haya dari tubuh lawan! Terdengar suara “tak-tuk-tak-tuk” ketika Ci Sian mengelak dan menangkis dengan sulingnya sampai akhirnya nenek itu terpaksa menghentikan serangan ten­dangan berantai yang selain tidak ber­hasil, juga membuat kedua kaki yang terbungkus sepatu itu terasa nyeri ber­temu dengan suling emas. Akan tetapi masih dua kali ia menendang dan sekali ini, dari pinggiran ujung sepatunya me­nyambar sinar kecil-kecil merah ke arah tubuh Ci Sian! “Tring-tring-tring....!” Paku-paku ber­warna merah yang mengandung racun itu runtuh semua ketika tertangkis suling dan dengan marah Ci Sian memutar sulingnya, menggunakan jurus yang ampuh dari Kim-siauw Kiam-sut untuk balas menyerang. Gulungan sinar keemasan dari suling itu menghimpit dan nenek itu terpaksa berloncatan mundur karena ter­desak oleh serangan suling berubi-tubi yang mengeluarkan bunyi melengking tinggi itu. Untuk menghindarkan diri dari se­rangan suling bertubi-tubi yang sinarnya menggulung dirinya itu, terpaksa Ji-ok harus melempar tubuhnya ke belakang, ke atas tanah lalu ia bergulingan sampai jauh. Ketika Ci Sian yang melihat lawan bergulingan menjauhi ini mengejar dengan serangan sulingnya, dengan hati girang karena lawannya memperlihatkan kele­mahan, tiba-tiba saja Ji-ok melakukan penyerangan dari bawah, mempergunakan ilmunya yang ampuh, yaitu Kiam-ci (Jari Pedang). Telunjuknya menusuk atau me­notok, mengeluarkan suara bercicitan se­perti tikus terjepit dan dari telunjuk tangannya itu keluarlah sinar berkilat yang mengandung hawa dingin sekali! Melihat telunjuk lawan menuju ke arah tenggorokannya, dan merasakan hawa dingin yang menyambar, Ci Sian lalu menggerakkan tangan kirinya menangkis sambil mengerahkan Hwi-yang Sin-kang atau sin-kang yang mengandung hawa panas yang pernah dilatihnya dari Pen­dekar Pulau Es Suma Kian Bu. “Tasss....!” Pertemuan dua tenaga yang saling bertentangan itu merupakan benturan keras lawan keras. Akibatnya, keduanya terdorong ke belakang, Ji-ok merasa betapa seluruh lengannya tergetar dan panas sekali, sebaliknya Ci Sian cepat mengerahkan sin-kang untuk melawan hawa dingin yang menyusup ke tubuh melalui tangan yang menangkis tadi. Betapapun, girang juga hati Ji-ok me­lihat betapa ilmunya yang hebat itu sempat membuat lawan tangguh ini terhuyung, maka ia pun sudah meloncat ke depan lagi sambil menyerang dengan ilmu Kiam-ci secara dahsyat dan bertubi-tubi. Menghadapi serangan aneh dan amat berbahaya ini, Ci Sian cepat meng­gerakkan dan memutar sulingnya dengan tangan kanan, dan tangan kirinya membantu, bukan hanya untuk menangkis, melainkan juga untuk menyerang dengan pukulan-pukulan jarak jauh untuk meng­imbangi serangan lawan. Tentu saja ia sudah mempergunakan tenaga gabungan Im dan Yang dari Pulau Es yang pernah diajarkan Suma Kian Bu kepadanya. Kini pertandingan itu berjalan lebih seru, akan tetapi juga aneh karena jarak antara mereka agak jauh dan agaknya kedua tangan mereka tidak pernah saling menyentuh akan tetapi di antara dua orang wanita ini menyambar-nyambar hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi bercicitan dan juga terasa betapa angin pukulan yang kadang-kadang dingin bukan main, kadang-kadang panas, menyambar-nyambar ke semua jurusan. Hebat me­mang perkelahian itu dan semua orang yang menonton menjadi kagum sekali. Terutama Kam Hong, pendekar ini bang­ga bukan main. Sumoinya itu, setelah memiliki sin-kang gabungan dari Pulau Es, benar-benar menjadi seorang wanita yang amat hebat! Adu pukulan jarak jauh itu berlangsung sampai seratus jurus, dan keduanya mulai lelah karena perkelahian macam ini membutuhkan pengerahan sin-kang yang terus menerus dan siapa lengah tentu akan celaka. Dan hal ini pun menguntungkan Ci Sian. Dara ini masih muda sekali, tentu saja memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat dibandingkan lawannya yang mulai terengah-engah dan uap yang mengepul dari kepala itu kini semakin tebal saja, dan nampak keringat menetes-netes dari balik kedok tengko­rak, juga di leher nenek itu nampak keringat membasahi kulit dan baju. Memang tak dapat disangkal pula bahwa Ci Sian juga merasa lelah, dadanya ber­gelombang, pernapasannya mulai terde­ngar, dan dahi serta lehernya nampak basah. Namun, dibandingkan dengan la­wannya, ia masih lebih segar. Tentu saja Ji-ok menjadi semakin pe­nasaran dan marah, sungguhpun kemarah­annya itu mulai bercampur dengan ke­khawatiran. Sungguh tidak disangkanya, lawannya yang masih amat muda ini ternyata benar-benar lihai bukan main, bukan saja memiliki ilmu silat yang amat tinggi dengan suling emasnya, juga ter­nyata memiliki tenaga sin-kang yang hebat sekali di samping tenaga khi-kang yang membuat sulingnya dapat meleng­king tinggi menggetarkan jantung. Maka nenek ini pun mengambil kepu­tusan bulat untuk mengeluarkan ilmunya yang paling ampuh, yang merupakan sen­jata rahasianya yang selama ini bahkan belum pernah dikeluarkannya menghadapi lawan-lawan tangguh. Ketika itu, Ci Sian yang melihat betapa lawannya sudah nampak lelah sekali, memutar sulingnya dan melakukan desakan hebat sehingga Ji-ok terpaksa hanya main mundur dan mengelak ke sana sini. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya seperti orang hendak lari. Tentu saja Ci Sian tidak membiarkan lawannya melarikan diri dan ia pun cepat meloncat mengejar. Dan pada saat itu, tiba-tiba Ji-ok membalik­kan tubuh lagi dan kedua tangannya menyerang dengan jurus Kiam-ci yang me­ngeluarkan suara bercuitan. Dan bukan hanya tusukan-tusukan jari yang dahsyat ini saja yang menyambar ke arah Ci Sian, akan tetapi juga didahului oleh dua sinar hitam yang menyambar dan tahu-tahu dua sinar itu telah mengenai leher dan juga pinggang Ci Sian. Semua orang terkejut sekali melihat, dua sinar ini adalah dua ekor ular yang amat berbaha­ya. Semacam ular cobra yang jahat dan beracun sekali! Ular-ular cobra itu sudah melingkari leher dan pinggang Ci Sian dan semua orang tahu bahwa sekali saja terkena gigitan ular seperti ini, maka tidak ada obat di dunia ini yang akan dapat menyelamatkan nyawa orang yang digigitnya. Hanya Kam Hong yang masih nampak tenang-tenang saja, padahal Cin Liong dan Hong Bu sudah menahan se­ruan dan wajah kedua orang muda ini sudah menjadi pucat sekali. Juga Cu Kang Bu, Yu Hwi, dan Cu Pek In me­mandang dengan mata terbelalak, walau­pun Yu Hwi juga segera tersenyum karena ia teringat bahwa Ci Sian akan mampu menghadapi ular-ular itu. Dugaannya memang benar dan hal ini pun diketahui oleh Kam Hong maka pendekar ini nampak tenang saja. Ci Sian adalah murid terkasih dari See-thian Coa-ong, raja ular yang memiliki ilmu pawang ular yang lihai sekali. Gadis ini selain telah menguasai Sin-coa Thian-te-ciang, ilmu silat ular yang lihai, juga telah menguasai ilmu pawang ular. Maka begitu ia tadi melihat bahwa senjata rahasia lawannya adalah dua ekor ular cobra, diam-diam ia tertawa dan segera mengerahkan ilmu menundukkan ular itu. Dan hebatnya, begitu ular-ular itu me­ngenai leher dan pinggangnya, dua ekor ular yang segera mengenal ilmu itu dan tahu bahwa manusia ini adalah “ratu” mereka, sama sekali tidak menggigit malah lalu melingkar dengan manja! Yu Hwi maklum bahwa Ci Sian pernah men­jadi murid See-thian Coa-ong, dan Kam Hong juga tahu akan hal ini, maka me­reka berdua tidak merasa khawatir.Akan tetapi, tiba-tiba Ci Sian menge­luarkan teriakan nyaring dan roboh ter­jengkang! Kam Hong sendiri sampai ter­kejut setengah mati melihat hal yang tidak diduga-duganya ini. Ji-ok terkekeh girang, lalu menubruk untuk memberi pukulan maut terakhir. Akan tetapi, mendadak kedua tangan Ci Sian bergerak dan dua ekor ular itu kini meluncur ke arah tubuh Ji-ok yang sedang menubruk, dengan mulut mendesis penuh kemarah­an! Ji-ok terkejut, namun tidak mampu mengelak lagi dan dua ekor ular itu telah mengenai pundak kanan dan paha kirinya, terus saja dua ekor ular cobra itu mematuk dan menggigit! Ji-ok men­jerit ngeri, lalu terpelanting, Ci Sian juga sudah melompat bangun, sulingnya menotok ke arah tenggorokan wanita itu. Ji-ok mengelak dan suling itu mengenai topengnya. Terdengar suara keras dan topeng itu terlepas dari muka Ji-ok. Dan semua orang pun menahan seruan kaget dan ngeri ketika melihat muka nenek itu. Muka yang cantik sesungguhnya, biarpun sudah tua akan tetapi kulit muka itu masih halus, dan putih, bentuk mulutnya, hidungnya, matanya, semua jelas menunjukkan bahwa muka itu dahulu adalah wajah seorang wanita yang amat cantik. Akan tetapi, sungguh mengerikan sekali, wajah yang demikian eloknya itu ternoda oleh goresan bersilang dari atas kiri ke bawah kanan dan dari atas kanan ke bawah kiri sehingga membuat muka itu nampak mengerikan sekali! Sekarang semua orang baru tahu bahwa di balik topeng tengkorak itu tersembunyi wajah cantik yang sudah cacad. Tentu saja Ji-ok yang mempunyai senjata rahasia ular cobra yang amat berbahaya telah menggunakan obat sehingga tubuhnya kebal terhadap gigitan ular-ular itu, dan biarpun tadi dua ekor ular yang telah dikuasai oleh ilmu Ci Sian itu membalik dan menggigit majikan sendiri, namun Ji-ok tidak terancam bahaya maut oleh gigitan itu. Yang membuatnya terkejut bukan main adalah terlepasnya kedok. Ia marah sekali dan menubruk ke arah Ci Sian tanpa mempe­dulikan lagi keselamatan dirinya, sama sekali tidak lagi memperhatikan daya tahan untuk melindungi dirinya. Ia seper­ti orang nekad yang hendak mengadu nyawa dengan lawannya. Dan memang sesungguhnya demikianlah. Wanita ini ketika mula-mula memakai kedok teng­korak, telah bersumpah bahwa tidak ada orang lain yang boleh melihat wajahnya dan kalau sampai wajahnya nampak oleh orang lain berarti ia akan mati! Maka, begitu kedoknya terlepas oleh pukulan suling lawan, ia pun menjadi marah dan melakukan serangan nekad, menubruk dengan jari-jari tangan terbuka seperti cakar garuda, dengan kuku panjang yang mengandung tenaga dahsyat dari Kiam-ci itu. Tentu saja Ci Sian dapat melihat kenekadan lawan, maka ia pun cepat meloncat ke samping dan melihat betapa tubuh orang terbuka tanpa perlindungan, sulingnya sudah menyambar, merupakan sinar kuning emas yang meluncur cepat. “Takk....! Aihhhh....!” Ji-ok mengeluarkan jeritan satu kali lalu tubuhnya terguling dan jatuh menelungkup di atas tanah, tewas seketika karena dua kali tubuhnya tertotok ujung suling, pertama kali pada lambungnya lalu disusul totokan pada leher bawah telinganya. Bukan main sedihnya hati Toa-ok melihat tewasnya Ji-ok dan Sam-ok di depan matanya tanpa ia mampu melindungi mereka itu. Kini tinggal dia se­orang diri di dunia. Im-kan Ngo-ok yang terdiri dari lima orang itu kini tinggal dia seorang saja. Su-ok dan Ngo-ok telah tewas lebih dulu dan kini menyusul Sam-ok dan Ji-ok. Biarpun Toa-ok merupakan seorang datuk kaum sesat yang biasa berhati kejam sekali, akan tetapi sekali ini dia merasa betapa hatinya perih dan nyeri. Dengan muka berubah merah dia sudah melompat ke depan dan ketika dia menggerakkan tangannya, lengan bajunya berkibar dan dari situ menyambar angin dahsyat ke depan, membuat debu me­ngebul dan daun-daun kering beterbangan. Akan tetapi Ci Sian yang merasa lelah dan juga girang karena telah berhasil keluar sebagai pemenang, kini telah meloncat ke belakang dan tidak mau me­layani Toa-ok yang memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan bersinar-sinar penuh kemarahan dan dendam. Tanpa membuang waktu lagi, Sim Hong Bu melangkah maju sambil berkata kepada Kam Hong, “Biar aku yang mela­yaninya.” Kam Hong mengangguk. “Hati-hatilah, Saudara Hong Bu, lawanmu itu cukup tangguh.” Melihat majunya pemuda tegap seder­hana yang sikapnya gagah ini, Toa-ok menghadapinya dan sepasang matanya yang masih terbelalak penuh kemarahan itu seperti hendak menelan Hong Bu bulat-bulat. Dia mengenal pemuda ini, bahkan dia tahu pula bahwa pemuda inilah yang dahulu bersahabat dengan Yeti. Mengingat bahwa pemuda ini baru beberapa tahun saja mempelajari ilmu silat, tentu saja Toa-ok yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan pemuda ini, walaupun dia sama sekali tidak mau ber­sikap sembrono dan memandang rendah. Tadi sudah disaksikannya betapa orang-orang muda seperti Kao Cin Liong dan Bu Ci Sian telah mampu merobohkan dan menewaskan Sam-ok dan Ji-ok. Dia se­karang harus dapat membalas kematian dua orang adik-adiknya itu. Akan tetapi ketika Hong Bu mencabut pedang Koai-liong Po-kiam dan nampak sinar biru ber­kelebat, Toa-ok merasa gentar juga. Bagaimanapun juga, pemuda ini sudah pernah membuktikan kelihaiannya ketika dikeroyok dan dapat juga melarikan diri. Pedang di tangan pemuda itu adalah se­batang pedang yang amat ampuh, dan juga ilmu pedang yang dimiliki pemuda ini luar biasa aneh dan lihainya, maka Toa-ok bersikap hati-hati. Di antara lima orang Im-kan Ngo-ok, hanya Toa-ok sajalah yang tidak pernah mau mempergunakan senjata. Tentu saja, sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi, dia pandai memainkan segala macam senjata yang dipergunakan orang di dunia persilatan. Akan tetapi, tokoh ini memiliki tingkat yang tinggi dan te­naga sin-kang yang kuat sekali sehingga dia tidak lagi membutuhkan bantuan senjata. Kedua lengannya yang panjang dan besar itu telah dilindungi oleh ke­kuatan gin-kang dan dapat menahan senjata tajam yang bagaimanapun kuatnya. Setiap serangan tangan atau kakinya juga lebih berbahaya daripada senjata tajam. Setelah melihat pemuda pewaris Koai-liong Po-kiam itu mencabut pedangnya, Toa-ok juga tidak mau banyak cakap lagi. Sambil mengeluarkan suara meng­gereng seperti seekor monyet raksasa, kakek ini pun lalu mulai membuka se­rangannya. Gerakannya biasa saja, seperti bukan gerakan silat, juga nampak kaku dan dia hanya mengembangkan kedua lengannya ke depan dan kedua tangannya itu menyambar dari atas, kanan dan kiri, akan tetapi, biarpun nampak kaku dan lamban, namun dari kedua tangannya itu menyambar angin pukulan yang dahsyat sekali, yang mengeluarkan suara angin keras dan baru saja kakek itu mulai dengan serangannya, Hong Bu sudah me­rasakan sambaran hawa pukulan yang amat panas. Maka pemuda ini pun lalu memutar pedangnya dan selain mengelak serta melindungi diri dengan gulungan sinar pedang kebiruan, juga dia membalas secara kontan dengan tusukan pedangnya ke arah perut lawan yang agak gendut itu. “Trakkk!” Toa-ok menangkis dengan lengannya, sengaja menangkis sambil mengerahkan tenaga, mencoba membuat pedang lawan terpental, bahkan tangkisan itu disambung dengan cengkeraman untuk merampas pedang. Ketika lengan bertemu pedang, Hong Bu merasa betapa pedang­nya tergetar hebat, akan tetapi dia pun cepat menarik pedangnya itu dan gulung­an sinar pedang kembali berkelebat dan sudah membabat ke arah leher lawan. Ketika Toa-ok mengelak, pedang itu sudah menyambar lagi dengan dahsyat­nya, seolah-olah mempunyai nyawa dan setiap serangan yang tidak mengenai sasaran disambung dengan serangan berikutnya. Terjadilah perkelahian yang sama se­runya dengan dua pertandingan yang terdahulu. Bahkan lebih menegangkan lagi karena para pendekar itu maklum bahwa kepandaian Toa-ok ini masih lebih lihai dibandingkan dengan Ji-ok atau Sam-ok. Sekali ini, yang paling khawatir ada­lah Cu Pek In. Dara ini biarpun merupa­kan puteri dari pendekar sakti keluarga Cu, namun tingkat kepandaiannya belumlah setinggi Hong Bu, maka ia hanya dapat menonton dengan hati gelisah. Ia pun tahu betapa lihainya kakek yang seperti gorila itu dan biarpun gerakan kakek itu kaku dan aneh seperti gerakan seekor monyet raksasa, namun ia me­ngerti bahwa kalau tidak lihai bukan main, tidak nanti kakek yang mukanya menyerupai monyet ini menjadi orang pertama dari Im-kan Ngo-ok! Sim Hong Bu maklum akan hal ini, maka dia pun tidak berani memandang rendah dan kini pemuda itu mulai me­mainkan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang amat hebat itu. Perlahan-lahan nampak sinar pedang berwarna biru be­gulung-gulung, makin lama makin cepat dan makin lebar. Mula-mula hanya ter­dengar bunyi berdesing, lalu bunyi itu makin meninggi menjadi lengking yang aneh, seperti auman singa, makin lama makin nyaring sampai menggetarkan anak telinga. Pedang itu lenyap membentuk gulungan sinar biru yang agaknya memenuhi tempat itu, membungkus tubuh Sim Hong Bu sehingga yang nampak pada diri pendekar muda perkasa ini hanya kedua kakinya yang kadang-kadang turun ke atas tanah, akan tetapi sebentar saja sudah lenyap lagi. “Hyaaaattt....!” Tiba-tiba terdengar teriakan Hong Bu di antara lengkingan suara pedangnya, dan dengan gerakan kilat sinar biru menyambar ke arah leher Toa-ok. Jurus ini amat hebatnya, tu­sukan pedang itu bergetar, membuat ujung sinar pedang itu menjadi banyak, membingungkan lawan karena sukar untuk menduga ke mana pedang itu akan me­nyerang. Akan tetapi, Toa-ok yang juga berkelahi dengan amat hati-hati itu tahu bahwa lehernya yang menjadi sasaran utama, maka dia pun sudah miringkan tubuh menarik kepalanya ke belakang dan kedua lengannya membuat gerakan meng­gunting dalam usahanya menangkap pe­dang lawan. Akan tetapi Hong Bu mena­rik sedikit pedangnya dan menggunakan ujung pedang untuk menusuk ke arah sambungan siku kanan Toa-ok. “Hemmm!” Toa-ok mendengus, me­narik sikunya turun dan tangan kirinya menangkis pedang sedangkan tangan kanan sudah mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Sim Hong Bu. Pemuda ini tentu saja tahu akan datangnya baha­ya maut, maka sambil menarik pedang­nya dia melompat ke belakang. Akan tetapi, alangkah terkejut hati pemuda itu ketika melihat betapa tangan yang besar berbulu seperti tangan mo­nyet itu masih terus saja mengejar ke­palanya dan mengancam dengan ceng­keraman yang mengerikan. Kiranya orang pertama dari Im-kan Ngo-ok ini memi­liki ilmu memanjangkan lengan tangan sehingga biarpun Hong Bu sudah mundur sampai dua meter, lengan itu masih dapat menjangkaunya dan tangan itu masih meneruskan serangannya. “Plakk!” Terpaksa Hong Bu menangkis dengan lengan kirinya yang kebetulan berada dalam posisi yang baik untuk menangkis sedangkan pedangnya tidak sempat melindungi dirinya. Dan tangkisan ini membuat Hong Bu terhuyung. Diam-diam pemuda ini merasa kagum dan juga kaget. Nyaris dia menjadi korban ilmu aneh memanjangkan lengan itu! Maka dia pun cepat menyusuli tangkisannya dengan babatan pedangnya ke arah sambungan siku lengan yang memanjang itu. “Wwuuuuttt....!” Tiba-tiba saja lengan yang panjangnya lebih dari dua meter itu menjadi pendek kembali seolah-olah ditarik dengan amat cepatnya dan kini kakek raksasa seperti monyet itu sudah memutar tubuhnya dan kedua kakinya sudah melakukan serangan Im-yang Soan-hong-twi (Ilmu Tendangan Angin Puyuh Im dan Yang). Kedua kaki yang besar dan panjang itu dengan amat cepatnya berputar-putar silih berganti melakukan tendangan berantai dan ketika Hong Bu mengelak dan beberapa kali menangkis, dia memperoleh kenyataan bahwa ten­dangan itu selang-seling dengan dua macam tenaga lemas dan kasar. Meng­hadapi tendangan berantai yang ganas ini, Hong Bu lalu memutar pedangnya dengan jurus Naga Sakti Bercanda De­ngan Mustika. Pedang itu berputar dan membentuk lingkaran sinar biru di depan­nya, merupakan benteng yang berbahaya bagi kedua kaki Toa-ok yang terpaksa menghentikan tendangan berantai itu karena terdapat bahaya kakinya akan menjadi buntung kalau berani memasuki lingkaran sinar biru itu. Setelah kini Hong Bu mainkan Koai-liong Kiam-sut, mengeluarkan jurus-jurus pilihan saja sehingga pedangnya menge­luarkan suara mengaum-aum nyaring, perlahan-lahan Toa-ok nampak repot juga, terdesak karena memang ilmu pe­dang ini luar biasa sekali dan dia belum dapat mengenal dasar-dasarnya. “Arrrghhh....!” Bentakan yang keluar dari kerongkongan Toa-ok ini mirip benar dengan gerengan seekor monyet yang sedang marah, dan tiba-tiba saja tangan kiri kakek itu dapat menangkap pedang Koai-liong po-kiam! Dapat dibayangkan betapa lihainya kakek ini yang telah dapat menangkap pedang telanjang de­ngan tangan kosong, padahal pedang itu tadi berubah menjadi sinar berkelebatan. Hong Bu terkejut, merasa betapa pedangnya seperti terjepit pada sebuah jepitan baja yang amat kuat! Dia menarik dan membetot, tidak dapat ditarik kembali. Dan pada Saat itu, Toa-ok telah menghantamkan tangan kanannya yang terbuka lebar itu ke arah dada Hong Bu dengan dorongan tenaga sin-kang yang amat kuatnya! Karena pedangnya masih terjepit di tangan lawan, tentu saja Hong Bu tidak mau mengelak dan melepaskan pedang. Dia tahu bahwa kalau dia kehi­langan pedang pusaka itu, maka dia akan menjadi seperti harimau dicabuti giginya, dan jalan satu-satunya untuk menghadapi pukulan telapak tangan lawan itu hanya dengan keras melawan keras. Maka dia pun cepat menggerakkan tangan kirinya, menerima hantaman itu dengan mema­paki tangan dengan tangan, pula. “Desss....!” Dua telapak tangan ber­temu dan telapak tangan kakek itu, dua kali lebih lebar daripada telapak tangan Hong Bu. Akan tetapi pendekar muda ini pun tadi sudah menggunakan sin-kang sekuatnya sehingga ketika dua telapak tangan bertemu, kedua tangan itu seperti saling melekat, tidak dapat ditarlk kem­bali karena siapa yang menarik lebih dulu, akan menghadapi bahaya maut ka­rena lawan tentu langsung menyerangnya. Maka kini keduanya berkutetan, sebelah tangan saling menarik pedang untuk me­rampasnya, sebelah tangan yang lain saling dorong mengadu kekuatan sin-kang! Keadaan amat menegangkan, bahkan Cin Liong sudah mengepal-ngepal tinju, ragu-ragu apakah pemuda itu akan mampu menandingi Toa-ok dalam adu tenaga ini. Memang Hong Bu mulai terdesak dalam adu tenaga ini. Bagaimanapun juga inti ilmu yang diwarisinya adalah ilmu pedang dan kini setelah pedangnya tertangkap dan dia tidak lagi mampu mem­pergunakan ilmu pedangnya, maka tentu saja kelihaian Hong Bu seperti mati langkah, dan dalam hal tenaga sin-kang, dia masih kalah oleh orang pertama dari Im-kan Ngo-ok itu! Kalau dilanjutkan adu tenaga itu, tentu Hong Bu akan kalah dan Kam Hong sudah bersiap-siap untuk menyelamatkan sahabatnya itu, bukan untuk mengeroyok melainkan untuk menyelamatkan sahabatnya dan tentu saja mengaku kalah. Kekalahan di pihaknya berarti harus membiarkan yang menang untuk pergi dengan aman! Dan orang seperti Toa-ok itu amatlah berba­haya kalau dibiarkan berkeliaran di dunia ini. Akan tetapi, tiba-tiba saja Toa-ok yang seperti juga Hong Bu tidak mampu lagi mempergunakan kedua tangan itu, menggerakkan kepalanya dan mulut yang agak lonjong ke depan seperti monyong monyet itu, dengan giginya yang besar-besar dan bersihung, dibuka dan hendak menggigit ke arah tenggorokan Hong Bu! Semua orang terkejut sekali melihat ini, bahkan Hong Bu sendiri juga kaget. Tak disangkanya bahwa seorang tokoh persilatan yang begitu tinggi kedudukan­nya, seorang datuk seperti Toa-ok, mau mempergunakan cara yang hanya dilaku­kan binatang buas dalam perkelahian, yaitu menggigit! Betapapun aneh dan lucunya hal ini, namun harus diakui bah­wa serangan menggunakan mulut untuk menggigit tenggorokan ini amat berbaha­ya. Tentu saja Hong Bu tidak lagi dapat mengelak. Tangan kanannya masih mempertahankan pedang pusaka yang hendak dirampas, dan tangan kirinya masih me­nahan telapak tangan Toa-ok. Kedua ta­ngannya tak dapat dipakai untuk me­nangkis, dan untuk mengelak ke belakang pun tidak mungkin. Akan tetapi, pemuda ini teringat bahwa dahulu, sebelum dia menjadi murid pendekar sakti keluarga Cu, dia pernah mempelajari ilmu silat tingkat rendahan dari ayahnya dan para pamannya. Dan di dalam latihan-latihan ketangkasan dan latihan tenaga ini ada semacam latihan yang pernah dilatihnya, bahkan telah dikuasainya dengan baik, yaitu melatih kepalanya, terutama bagian dahi untuk menyerang! Dengan latihan yang tekun, di waktu dia masih kecil saja dia sudah mempunyai batok kepala yang kuat dan dengan dahi kepalanya dia sudah mampu menghancurkan batu bata yang keras. Kini, kepandaian ini timbul dalam benaknya ketika dia menghadapi bahaya. Kekuatan kepalanya yang hanya berkat latihan dan dilandasi kekuatan otot dan kekerasan tulang kepala yang dilatih itu tentu saja tidak akan berguna, bahkan berbahaya kalau dilawan oleh tenaga sin-kang lawan, maka dia pun tidak pernah mau menggunakan kepalanya dalam pertempuran. Akan tetapi sekali ini dia menghadapi gigi! Dan tidak ter­dapat jalan lain untuk menyelamatkan tenggorokanhya dari ancaman gigi yang besar-besar dan runcing itu. Maka, dengan cepat Hong Bu juga menggerak­kan kepalanya, menyambut mulut lawan yang dimoncongkan untuk menggigitnya itu, dengan benturan yang dilakukan de­ngan sekuat tenaga. “Bresss....!” Bukan main hebatnya pertemuan anta­ra mulut dengan dahi itu dan terdengar Toa-ok berteriak keras sambil meloncat ke belakang. Mulutnya berdarah dan ter­nyata giginya rontok dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Gigi orang yang sudah tua ini, yang hanya tinggal beberapa potong dan itu pun sudah kurang kuat, tidak dapat bertahan ketika bertemu dengan dahi yang terlatih dan kuat itu! Toa-ok menjadi marah sekali. Bukan hanya dia telah dibikin rugi, kehilangan semua sisa giginya dan bibirnya berdarah, akan tetapi juga dia telah mendapat malu karena keadaannya itu sama saja artinya dengan dia menderita kekalahan. Sambil menggereng, dia pun lalu mener­jang maju dan angin yang keras menda­hului terjangannya ini. Kedua lengannya dipentang lebar-lebar ke atas, seperti seekor orang hutan raksasa sedang marah dan menyerang, dari tenggorokannya keluar gerengan yang menggetarkan jan­tung. Akan tetapi, Hong Bu sudah siap menanti kemarahan lawan ini, pedangnya berkelebat ke depan dan pada saat kedua tangan dari atas itu menerkam, Hong Bu menyelinap di bawah ketiak kanan lawan sambil membalik dan pedangnya menusuk lambung.“Crott!” Biarpun pedang itu tidak dapat memasuki lambung yang penuh dengan hawa sin-kang yang kuat itu, namun tetap saja baju kakek itu di ba­gian lambung terobek, berikut kulit lambung dan sedikit dagingnya, cukup untuk membuat darahnya mengucur dari tempat itu. Sedangkan Hong Bu sudah meloncat menjauh. Kembali kakek yang semakin marah itu menerjang, dan sekali lagi Hong Bu mengelak sambil menye­rang, sekali ini pedangnya berhasil menggores pipi dan leher lawan yang menjadi robek kulitnya dan berdarah. Dan ketika kakek itu membalik, lawan­nya yang lincah itu sudah menjauh pula. Hong Bu kini memperoleh akal, memper­gunakan siasat seperti seekor lebah me­nyengat lalu terbang menjauh, menyengat lagi dan menjauh lagi. dan dia pun tahu di mana letak kelemahan lawannya atau di mana dia dapat mengungguli lawan, yaitu pada kecepatan gerakan. Mengandal­kan kecepatannya ini, dan mengandalkan pedang Koai-liong Po-kiam yang amat tajam, maka mulailah Hong Bu dapat mengacau lawan, bahkan kini sengatan pedangnya semakin cepat dan semakin sering sehingga lewat tiga puluh jurus saja, baju yang menutupi tubuh Toa-ok sudah robek-robek di sana-sini dan pada setiap tempat yang terobek itu tentu ternoda darah. Toa-ok merasa penasaran sekali, dia pun sudah mengerahkan tenaga dan, kecepatannya, namun pemuda itu terlalu lincah baginya, dan ilmu pedang pemuda itu masih belum juga dapat dia pecahkan rahasia dasarnya sehingga dia selalu dibuat bingung, tidak dapat mengikuti ke mana arah perkembangan sinar pedang yang cepat itu. Toa-ok benar-benar merasa kewalahan sekarang. Kalau tadinya, dengan sin­kangnya dia masih dapat melindungi seluruh tubuh sehingga sengatan-sengatan ujung pedang itu hanya mendatangkan luka kulit daging yang kecil dan dangkal saja, makin lama sengatan-sengatan itu makin dalam karena tenaga pemuda itu semakin bertambah sedangkan tenaganya sendiri sudah menjadi makin lemah. Tu­buh yang mulai tua dan kurangnya latih­an membuat dia terpaksa mengakui ke­unggulan lawan yang masih muda itu. Betapapun juga setelah lewat seratus jurus lebih, ketika untuk kesekian kalinya ujung pedang pemuda itu menyengat dan mengenai paha kirinya, tiba-tiba dia membarengi dengan hantaman kedua ta­ngannya, dengan pengerahan tenaga yang masih bersisa, tanpa mempedulikan se­ngatan pedang pada pahanya. “Crott! Desss....!” Tubuh Hong Bu terlempar dan terguling-guling sampai lima meter jauhnya akan tetapi celana di paha Toa-ok terobek dan darah muncrat dari lukanya yang cukup dalam karena pe­dang itu menusuk sampai mengenai tu­langnya! Rasa nyeri membuat Toa-ok menggereng dan melihat pemuda itu bergulingan, dia pun menubruk ke depan tanpa memberi kesempatan pemuda itu untuk bangun kembali. Serangan ini hebat bukan main dan Pek In sudah menjerit, akan tetapi Cu Kang Bu, juga Kam Hong dan Ci Sian dapat melihat gerakan pe­muda itu ketika menerima hantaman dengan bahunya dan mereka bertiga menduga dengan penuh harapan bahwa Hong Bu setengah sengaja membiarkan dirinya dihantam tadi. “Wuuuuttt....!” Toa-ok menubruk se­perti seekor singa kelaparan menubruk seekor domba saja. “Crottt....!” Pedang Koai-liong Po-kiam menembus lambung dan Hong Bu cepat meloncat menyingkir dan terpaksa meninggalkan pedang yang terbenam di lambung lawan itu karena kalau tidak, tentu dia akan terpaksa menerima ceng­keraman yang dahsyat sekali itu. “Bress....!” Biarpun Toa-ok sudah ter­luka hebat, pedang itu menembus lam­bung sampai ke belakang tubuh, namun batu besar yang kena ditubruknya dan dicengkeramnya itu pecah berhamburan, debu mengepul tinggi dan bumi rasanya terguncang! Dia masih bangkit, mengge­reng-gereng dan dengan kedua tangannya, dia memegang gagang pedang pusaka itu dan mencabutnya. Begitu dicabut, darah muncrat-muncrat dan Toa-ok memutar-mutar pedang Koai-liong Po-kiam yang berlepotan darah itu, menyerbu ke arah Hong Bu! Pemuda ini terpaksa mengelak ke sana-sini dengan hati penuh kagum dan juga gentar melihat lawan yang lam­bungnya sudah ditembusi pedang itu ma­sih dapat mengamuk seperti itu. Akan tetapi tiba-tiba serangan Toa-ok terhenti. Kakek itu berdiri kejang, matanya terbe­lalak, lalu terpelanting dan roboh miring. Dia masih bangkit, menggereng-gereng dan dengan kedua tangannya, dia memegang gagang pedang pusaka itu dan mencabutnya dengan pedang masih di tangan! Dia tewas dalam keadaan penasaran dan pe­dang lawan masih digenggamnya, muka­nya masih memperlihatkan kebengisan. Dengan hati-hati Hong Bu menghampiri, khawatir kalau-kalau orang jahat itu menjebaknya dan pura-pura pingsan atau mati. Akan tetapi ternyata ketika dia merampas pedangnya, pedang itu dengan mudah berpindah tangan dan dengan ka­kek itu terkulai lemas dan ketika dipe­riksa, ternyata lawannya itu telah tewas. Melihat ini, para pasukan, seperti juga ketika tadi ketika menyambut ke­menangan Cin Liong dan kemudian Ci Sian, bersorak dan memuji. Sebaliknya Hek-i Mo-ong memandang kepada mayat Toa-ok dengan mata pucat dan mata terbelalak. Tiga orang pembantunya atau sekutunya telah tewas semua dan kini hanya tinggal dia seorang diri! Kam Hong sudah melangkah maju dan meman­dangnya sambil tersenyum akan tetapi sinar matanya penuh tantangan. “Hek-i Mo-ong, kini tiba giliran kita untuk menentukan siapa di antara kita berdua yang berhak untuk hidup!” Akan tetapi tiba-tiba kakek raksasa yang rambutnya sudah putih dan pakaian­nya serba hitam itu mengeluarkan suara menggeram parau yang aneh, akan tetapi suara ini mengandung pengaruh yang amat berwibawa dan semua orang yang ada di situ tergetar hatinya dan meman­dang dengan kaget dan gentar. Nampak sinar merah ketika kakek itu sudah me­ngeluarkan sebatang kipas merah yang sudah dikembangkan, matanya berapi-api memandang kepada Kam Hong, lalu terdengar suaranya yang parau meng­getar. “Orang she Kam! Kaukira akan dapat melawanku? Ha-ha-ha-ha, lihat baik-baik, kalian semua, ha-ha-ha-ha!” Kam Hong maklum bahwa kakek ini mempunyai kekuatan sihir, maka dia pun sudah siap dan mengerahkan kekuatan batin untuk melawannya. Akan tetapi, tetap saja dia terbelalak, seperti semua orang lain yang berada di situ, melihat betapa kakek raksasa berjubah hitam itu tiba-tiba saja, perlahan-lahan, berubah menjadi besar dan tinggi, sampai tiga meter tingginya dan suara ketawanya makin lama makin nyaring bergema! Jenderal Muda Kao Cin Liong juga ter­kejut dan pemuda perkasa ini maklum bahwa kakek yang pandai ilmu silat itu berbahaya sekali, maka dia pun cepat memberi aba-aba kepada pasukan. “Kepung tempat ini, jangan biarkan iblis itu melarikan diri!” Dengan panik karena mereka merasa ketakutan, para penjaga keamanan itu segera melakukan pengepungan. Semen­tara itu, Kam Hong sudah mencabut sulingnya dan terdengar suara melengking lembut sekali ketika pemuda perkasa ini menyerang raksasa itu dengan suling emasnya. “Blarrrr....!” Raksasa yang dihantam­nya dengan suling itu seperti meledak dan lenyap dalam asap hitam tebal. “Ha-ha-ha-ha!” Suara ketawa Hek-i Mo-ong kini terdengar di sebelah bela­kang Kam Hong. Ci Sian juga sudah mencabut suling­nya dan kembali terdengar suling melengking ketika gadis ini pun menerjang maju, menyerang kakek itu yang berada di belakang Kam Hong. Baru mereka tahu bahwa raksasa tinggi besar, tadi hanyalah jadi-jadian saja, hasil ilmu hitam kakek itu. Akan tetapi, terpaksa Ci Sian mundur lagi ketika dari tempat dia ber­diri, kakek itu sudah menggerakkan ta­ngan ke arahnya dan tiba-tiba saja ter­dengar ledakan di depan Ci Sian dan asap hitam menggelapkan segalanya. “Sian-moi, hati-hati....!” Kam Hong berseru ketika melihat dara itu terhu­yung ke belakang. Dia cepat meloncat mendekati dan menyambar tangan dara itu. Akan tetapi Ci Sian tidak terluka hanya terkejut saja dan terhuyung karena terkejut oleh ledakan dan asap. Suara ketawa itu masih terdengar terus, disusul dengan ledakan-ledakan yang mengeluar­kan asap hitam. “Cegah dia lari!” Kam Hong berseru. Juga Hong Bu bersama Ci Sian yang pernah melawan kakek ini dan melihat betapa kakek ini dapat melarikan diri dengan bantuan asap-asap hitam, sudah cepat meloncat ke sana-sini untuk men­cari kakek itu dan mencegahnya melari­kan diri. Akan tetapi, ledakan-ledakan masih berbunyi dan asap semakin tebal. Di antara gumpalan asap hitam itu, ter­dengar suara ketawa Hek-i Mo-ong, di­susul suaranya yang parau, “Biarlah se­kali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi tunggu saja kalau Hek-i Mo-ong sudah mengumpulkan kembali kekuatannya. Ha-ha-ha!” Suara ketawa itu semakin jauh dan biarpun para pendekar, termasuk Cu Kang Bu dan Yu Hwi, mencari dan me­ngejar, usaha mereka tidak berhasil dan setelah asap hitam bergumpal-gumpal itu membuyar, kakek itu pun tidak nampak lagi dan tidak meninggalkan jejak. Untuk kedua kalinya, dalam keadaan terdesak, kakek yang memiliki ilmu iblis itu telah dapat meloloskan diri. Kam Hong menarik napas panjang. “Ah, sukar memang menghadapi ilmu hitamnya. Dan selama Hek-i Mo-ong masih berkeliaran dengan bebas diper­mukaan bumi ini, tentu dia hanya akan menyebar kejahatan belaka.” “Betapapun juga, Kam-taihiap telah berhasil membasmi sisa dari Im-kan Ngo-ok dan ini merupakan hasil gemi­lang,” kata Cin Liong. “Kenapa aku? Yang membasmi adalah termasuk engkau pula, Saudara Kao. Dan memang, kalau para pendekar muda mau bersatu, kiranya orang-orang jahat akan menerima hajaran keras dan mereka tidak akan berani merajalela secara se­mena-mena.”Thio-ciangkun, komandan pasukan itu, lalu mengerahkan pasukannya untuk membuat pembersihan, mengangkut ma­yat-mayat dan menangkapi sebagian dari anak buah guru silat Koa Cin Gu yang tadi melempar senjata dan menyerahkan diri. Para pendekar muda itu bercakap-cakap, saling mengagumi kepandaian masing-masing. Hati Kam Hong merasa girang dan juga kagum sekali kepada Sim Hong Bu dan Kao Cin Liong. Biarpun dua orang pemuda itu belum lama berselang telah menderita pukulan batin dengan penolakan Ci Sian atas pinangan mereka, namun kini sikap mereka sama sekali tidak berubah, tidak memperlihatkan penyesalan atau kekecewaan hati, seperti sikap seorang sahabat karib yang tidak pernah terjadi sesuatu yang tidak baik di antara mereka. Juga Cu Kang Bu merasa kagum se­kali pada mereka. Sejak muda dia banyak bersembunyi di lembah dan kini baru dia mengenal para pendekar yang benar-be­nar amat mengagumkan hatinya dan diam-diam dia pun merasa betapa keluar­ganya keluarga Cu, selama ini merasa bahwa merekalah yang paling pandai se­hingga mereka itu menjadi agak angkuh dan memandang rendah orang lain. Kini, semua perasaan penasaran terhadap Kao Cin Liong dan Kam Hong yang pernah dianggap musuh oleh keluarganya itu, lenyap dari dalam hatinya. Yu Hwi juga girang sekali. Kini dengan terjadinya peristiwa itu, di mana mereka semua berkumpul sebagai sahabat-sahabat baik yang saling bantu, ia dapat memandang wajah Kam Hong, bekas tunangannya itu, dengan sinar mata terbuka, memandangnya sebagai seorang sahabat baik yang ber­ilmu tinggi dan tidak ada perasaan lain yang tidak baik tersisa di dalam hatinya terhadap bekas tunangannya ini. Bahkan Cu Pek In sendiri pun berubah, dan dara ini pun mengagumi Cin Liong, Kam Hong, dan Ci Sian, yang bagaimanapun juga telah menyelamatkan keluarganya, bahkan dengan cara yang mati-matian, mengadu ilmu dengan tokoh-tokoh sesat yang amat lihai. Kini, mendengar akan pertunangan antara Sim Hong Bu dan Cu Pek In, Ci Sian adalah orang pertama yang memberi hormat. “Kionghi (Selamat), kionghi atas pertalian jodoh antara kalian Pek In dan Hong Bu!” Cu Pek In menjadi merah mukanya dan ia mengucapkan terima kasih sambil menundukkan mukanya. Juga wajah Hong Bu menjadi merah sekali, akan tetapi dia membalas penghormatan Ci Sian dan berkata sambil tersenyum, “Terima kasih, Ci Sian. Dan kami pun mengharapkan agar segera menerima undangan kartu merahmu!” “Ha, tidak perlu menanti lama. Tentu sebentar lagi Kam-taihiap akan mengirim kartu merahnya!” Mendengar ini, Ci Sian mengerling kepada jenderal muda itu dan Kam Hong hanya tersenyum, sedangkan Hong Bu diam-diam merasa kaget sekali, lalu dia mendekati Kam Hong dan memegang tangan pendekar itu. “Ah, betapa buta mataku.... eh, selamat, Kam-taihiap, sungguh mati, berita ini merupakan be­rita yang amat mengejutkan dan meng­gembirakan hatiku!” Kam Hong merasa tidak enak terha­dap Cin Liong. Bekas tunangannya, Yu Hwi, telah mendapatkan seorang suami yang gagah perkasa seperti Cu Kang Bu itu, dan Hong Bu juga sudah memperoleh jodoh, yaitu Nona Cu Pek In yang cukup jelita dan gagah, sedangkan dia sendiri saling mencinta dengan Ci Sian. Akan tetapi, hanya Kao Cin Liong seoranglah yang masih belum memperoleh ganti setelah dia tidak berhasil berjodoh dengan Ci Sian. Agaknya semua orang juga merasakan hal ini, maka Kam Hong lalu berkata, “Dan bagaimana denganmu sen­diri, Jenderal? Kapan kiranya kami se­mua akan dapat diperkenalkan kepada calon nyonya Jenderal?” Ucapan Kam Hong ini, kalau orang lain yang mengucapkan, tentu merupakan kata-kata yang mengandung bahaya, da­pat disangkanya sebagai ejekan. Akan tetapi, cara Kam Hong mengucapkannya, dan pandang matanya, sama sekali tidak mengandung ejekan, melainkan merupakan kelakar yang mengandung kesungguhan. Wajah Cin Liong menjadi merah, akan tetapi jenderal muda itu pun tertawa gembira. “Ha-ha-ha, kalian tunggu saja! Masa aku kalah oleh kalian? Lihat saja nanti, masa di dunia ini tidak ada gadis yang mau menjadi sisihanku? Kalian semua pasti akan menerima undanganku, dan mudah-mudahan tidak akan terlalu lama lagi.” Setelah bercakap-cakap dengan hati tulus dan dalam suasana gembira, akhirnya mereka semua saling berpisah. Sim Hong Bu bersama Cu Pek In, Cu Kang Bu dan Yu Hwi kembali ke barat, ke Lembah Naga Siluman di daerah Himala­ya di mana mereka segera pergi meng­hadap kepada Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang kini bertapa mengasingkan diri, untuk membuat semua laporan. Juga Sim Hong Bu melaporkan tentang tugas-tugas yang diberikan kepadanya oleh gurunya. Mendengar semua penuturan itu, Cu Han Bu menarik napas panjang. “Kalau pedang pusaka kita itu oleh Kaisar yang baru sudah direlakan kepada kita, tentu saja hal itu baik sekali dan kita harus berterima kasih kepada Sri Baginda Kaisar yang bijaksana. Dan ba­gaimanapun juga, engkau telah mengadu ilmu melawan putera Naga Sakti Gurun Pasir, juga dengan pewaris Suling Emas, sehingga dunia tidak akan memandang rendah kepada Pedang Pusaka Naga Si­luman.” Kemudian kakek ini lalu merun­dingkan tentang perjodohan puterinya dengan Hong Bu yang akan dilakukan secepat mungkin dengan mengundang sahabat-sahabat baik saja ke lembah. Adapun Kam Hong dan Ci Sian, dua orang pewaris Ilmu Pedang Suling Emas, meninggalkan tempat itu dan pergi me­nuju ke Puncak Bukit Nelayan, tempat indah di lereng Tai-hang-san di tepi sungai itu, di mana mereka tinggal ber­dua dan untuk mengesahkan pernikahan mereka, dua orang ini, atas bujukan Kam Hong, lalu pergi menghadap keluarga Bu Seng Kin yang kini menetap di Cin-an. Tentu Bu Seng Kin merasa girang sekali melihat betapa puterinya mau mengang­gapnya sebagai ayah dan dengan terharu dia pun memberi doa restunya, bahkan keluarga Bu ini pula yang merayakan pernikahan ganda antara puterinya Bu Ci Sian dengan Kam Hong, dan antara Siok Lan dengan Cia Han Beng. Perayaan itu meriah sekali, dikunjungi oleh para tokoh besar dunia kang-ouw, terutama sekali para pendekar patriot, kemudian, sebagai suami isteri, Kam Hong bersama Ci Sian tinggal di puncak Bukit Nelayan, di ista­na kuno bekas tempat tinggal Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek. Bagaimana dengan Kao Cin Liong, jenderal muda yang gagal dalam bercinta itu? Dia tidak patah hati, bahkan dia merasa bergembira sekali melihat dara yang dicintanya itu berjodoh dengan Kam Hong, seorang pendekar yang amat di­kagumi. Pendekar muda putera tunggal Naga Sakti Gurun Pasir ini terlalu gagah untuk mudah begitu saja patah hati se­perti seorang yang cengeng. Bagaimana perjalanan Cin Liong se­lanjutnya akan diceritakan oleh pengarang dalam cerita lain. Karena cerita ini sesungguhnya dimaksudkan untuk mence­ritakan tentang pewaris Suling Emas dan Pedang Naga Siluman, maka akan terlalu panjanglah kalau digabungkan dengan cerita tentang para pendekar ini, ter­utama dengan kehidupan para pendekar keturunan Pulau Es. Cerita tentang para pendekar Pulau Es akan disusun dalam sebuah cerita lain oleh pengarang dalam kesempatan mendatang. Sebagai akhir kalimat, pengarang hanya mengharapkan semoga cerita ini seperti cerita-cerita yang lain dapat menghibur hati para pembaca dan ada pula bagian-baglan yang mengandung manfaat bagi kesadaran kita bersama dalam kehidupan yang serba rumit ini. TAMAT