"Belum ada pemenangnya. "Kita bisa melanjutkan." Kala Gemet yang terhuyung-huyung menjadi merah padam wajahnya. Tangan kanannya bergerak ke udara. Dengan suara lantang ia berseru, "Tumpas musuh!" Mahapatih Nambi meloncat, dan berdiri dengan gagah. Diikuti oleh senopati yang lain, serta para prajurit. "Bagus, bagus. "Kalau kalian semua mau maju mengeroyok, aku Ratu Azeri Baijani dengan senang hati akan melayani. Inilah sambutan kehormatan yang sesungguhnya. "Aku bisa tahu siapa kalian sebenarnya." Perang habis-habisan bisa segera terjadi. Kala Gemet tak menyadari bahaya. Ia bahkan menggerung, menyerbu masuk ke arah Ratu Ayu dengan ilmu yang diajarkan Senopati Sora. Akan tetapi sebelum tubuhnya mencapai setengah jarak, tangan Senopati Sariq yang terulur berhasil menjangkau dan menahan gerakannya. Dengan satu putaran, tubuh Kala Gemet terbanting ke lantai. Paling tidak, tulang pundaknya akan patah seketika. Itu kalau Kala Gemet cukup jitu menyelamatkan kepalanya. Kalau tidak, bisa dibayangkan tenaga bantingan Senopati Sariq! "Yang begini mau memakai takhta Turkana, sungguh tak tahu malu sama sekali." Kejadian berlalu sangat cepat sekali. Dan tak terduga. Siapa pun tak menyangka bahwa Kala Gemet akan menyerang secara serampangan. Kecuali Upasara Wulung. Bahkan rasanya, Upasara Wulung sudah bisa menebak perintah penyerangan yang dikeluarkan Kala Gemet. Saat itu, Upasara sudah bersiap mencegah. Tangan kirinya sudah memegang erat pedang hitam tipis, Galih Kangkam. Dan melihat tubuh Kala Gemet dibanting bagai benda mati, Galih Kangkam terulur maju. Menahan tubuh Kala Gemet. Sambil melompat, Upasara membebaskan tekanan yang menindih pedangnya. Dengan begitu, Kala Gemet hanya sempoyongan. Tidak sampai terbanting dan luka parah. Tapi dengan begitu, Upasara telah memunculkan dirinya secara resmi. "Kakang!" Gendhuk Tri menyebut dengan ucapan yang lantang. Semua perhatian tertuju kepada Upasara Wulung. Kecuali Nyai Demang yang segera melindungi Tunggadewi dan Rajadewi dengan membawa menjauhi medan pertarungan yang setiap saat bisa terjadi. Pedang Nglanglang MAHA SlNGANADA memperhatikan Upasara tanpa berkedip. Selama ini ia hanya mendengar wajah dan penampilannya dikatakan mirip dengan Upasara. Nyatanya begitu. Singanada mengetahui bahwa yang berdiri gagah tetapi penampilannya lembut adalah Upasara Wulung, karena mendengar teriakan Gendhuk Tri yang memanggil dengan sebutan "Kakang". Sebaliknya, Sariq merasa sedikit heran karena bantingannya yang sepenuh tenaga, bisa dimentahkan dengan besi panjang berwarna hitam dan kelihatan lentur. Berarti pemiliknya mempunyai tenaga dalam yang telah dikuasai secara sempurna. Upasara menunduk, memberi sembah ke Keraton, seolah kembali berjongkok, baru kemudian memberi hormat dengan tangan kanan tertekuk di depan dada dan hanya ibu jarinya yang menonjol. "Saya mohon ampun atas kelancangan dan kekurangajaran ini. Kiranya Senopati Sariq, juga Gusti Ratu Ayu Azeri Baijani, serta sekalian para priyagung, sudi mengampuni. "Sekali lagi, saya yang rendah meminta ampunan." Ratu Ayu memandang lebih tajam. Tadinya dirasa aneh. Bukan karena apa, melainkan karena kumis tebal yang dipasang oleh Upasara menjadi mencong. Sehingga wajahnya menjadi lucu. Baru setelah menyadari bahwa yang mengganggu pandangan adalah kumis palsu sembarangan, Ratu Ayu berusaha menahan senyumnya. "Ksatria penuh sopan, penuh santun, kalau kau senopati, senopati dari mana dan siapa namamu? Kalau pendekar, siapa gelarmu?" Upasara memberikan hormatnya. "Maaf, Gusti Ratu. "Hamba bukan senopati, bukan prajurit, tidak mempunyai gelaran apa-apa. Nama hamba Upasara Wulung, bekas prajurit Ksatria Pingitan." Suasana menjadi senyap. Ratu Ayu mendongak. "Hmmm, kiranya ini yang berhasil menjadi lelananging jagat, yang telah mengalahkan semua jago jagat. Tidak percuma nama besarmu. "Sungguh kurang pantas, ksatria besar seperti ini harus menyembunyikan diri." Wajah Upasara menjadi merah. Kata-kata Ratu Ayu bisa juga berarti sindiran yang tajam dan menampar. Dengan mengatakan "menyembunyikan diri" seolah Upasara sengaja mengintip pertarungan yang terjadi. Ini bukan sifat ksatria yang mengambil keuntungan dengan cara curang. Upasara memang tidak begitu tajam lidahnya, tak bisa merangkai kata-kata pembelaan. Kalaupun ada, juga tak mungkin menerangkan bahwa ia sedang mengawal Tunggadewi dan Rajadewi. "Maaf, Ratu Ayu." "Karena kamu sudah masuk ke dalam gelanggang serta membawa pedang terhunus, sungguh tidak enak kalau aku tidak menyambutmu. Aku sudah lama menunggu dan ingin mengetahui apakah sebutan lelananging jagat benar-benar pantas kamu sandang atau tidak." Upasara menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak pantas, Gusti Ratu Ayu." "Kalau tidak pantas, kamu harus menyerahkan kepadaku." Upasara mengangguk. "Kalau saya yang rendah memiliki tanda seperti yang Gusti Ratu Ayu maksudkan, saya akan menyerahkan saat ini juga. Tetapi, sesungguhnya tak pernah ada sebutan untuk itu." Mendadak Maha Singanada tertawa. "Aneh. Sungguh aneh ksatria tanah Jawa ini. Serba melenggok seperti perempuan saja. "Sudah lama dan sering kudengar nama Upasara. Tak tahunya mulutnya terlalu kecil untuk menerima tantangan. Kalah atau menang, apa ruginya? "Kalau kamu mengaku ksatria Pingitan, jangan membuat cemar nama Baginda Raja Sri Kertanegara!" Suara geram Maha Singanada membuat darah Upasara berdesir. Tapi wajah dan suaranya tetap dengan irama yang sama. "Maaf, segala nama besar itu sesungguhnya tidak ada. “Bukan maksud saya membuat cemar. Saya hanya mengatakan pernah dididik dan dihidupi di Ksatria Pingitan, karena kebaikan beberapa senopati yang kasihan pada saya. “Rasanya, saya tak pantas mengaku seperti ini.” Ratu Ayu mendecakkan lidahnya. “Aku tak suka tata bicara yang tidak jelas apa maunya. “Upasara, kalau kamu menyerah sebelum bertanding, berikan Pedang Nglanglang sebagai upeti bagi Ratu Turkana. Karena telah ikut campur dalam pertarungan ini.” Upasara mengangsurkan pedangnya. Mendadak Gendhuk Tri berteriak keras. “Jangan berikan, Kakang! “Jangan!” Upasara menggeleng lagi. “Biar!” “Tidak bisa! Tidak bisa! “Itu bukan pedang Kakang. Itu milik Paman Galih Kaliki. Apa hak Kakang memberikan kepada orang lain?” Serampangan kata-kata yang diucapkan Gendhuk Tri. Tapi Nyai Demang memuji dalam hati. Dengan cara seperti ini, Gendhuk Tri bisa mematahkan keinginan Upasara Wulung. Karena, nyatanya itu pedang milik Galih Kaliki yang tersimpan dalam tongkatnya! Upasara menarik mundur pedangnya. Tangan Ratu Ayu terulur, dan seketika itu kedelapan pedang yang berserakan, teraup ke dalam genggamannya. Dan dengan sekali sentak, menyerbu ke semua yang ada di medan pertarungan. Sebat sekali! Bahkan yang menancap di pundak Senopati Sora bisa tertarik kembali seketika. Seakan semua pedang lengkung itu diberi tali di belakangnya. Singanada yang berada dalam jarak tusukan lemparan mengegos dengan mudah. Akan tetapi pasti tak bisa dilakukan Kala Gemet maupun Senopati Sora! Mau atau tidak, Upasara terpaksa menggerakkan Galih Kangkam! Ini memang yang dikehendaki Ratu Ayu! Memancing Upasara. Yang dengan sekali entak, tujuh pedang lengkung bisa tersapu. Bisa tertangkis dengan tangan kiri, tanpa bergerak dari tempatnya! Dengan gerakan berikutnya, semua pedang lengkung dilemparkan ke langitlangit. Kalau Maha Singanada atau yang lainnya pasti memakainya untuk menusuk balik. Tapi Upasara lebih membuang ke atas. Ke arah langit-langit. Ratu Ayu menggertak pendek. Warna hijau berkilau memancar dari tubuhnya yang secara cepat melayang ke atas. Disusul oleh Sariq, Uighur, dan Karaim yang juga berloncatan mengambil pedangnya. Dengan gerakan siku menyentuh, sebagian pedang itu menusuk langsung ke arah Upasara. Tangan kiri Upasara terangkat ke atas. Pedang hitam kurus mengeluarkan bunyi bergetar menahan jatuhnya pedang-pedang yang begitu menyentuh seakan menjadi lengket! Dan begitu Upasara menarik pedangnya, pedang lengkung terjatuh ke lantai mengeluarkan bunyi nyaring. Berdentingan. Ratu Ayu memuji dengan suara lantang. Dalam setiap gebrakan, Upasara memperlihatkan penguasaan tenaga dalam yang sempurna. Mengalir ke seluruh kulit tubuhnya. Sehingga bisa diatur sempurna untuk menahan, mengentak balik, dan mengendor. “Aku mau lihat seberapa jauh Tepukan Satu Tangan yang kesohor itu.” Ratu Ayu beringsut maju, dengan gerak kaku. Warna hijau telah berubah menjadi merah, dan Senopati Sariq pun telah berubah seolah menjadi warna kuning. Senopati Uighur menjadi ungu, dan Senopati Karaim menjadi bersemu hitam gelap. Ratu Ayu menerjang maju dengan gerakan patah, akan tetapi cepat sekali. Menghantam dada Upasara. Kiri-kanan secara beruntun. Upasara hanya memiringkan tubuhnya dua kali. Tenaga dahsyat berbau harum seakan hanya menyentuh tubuhnya. Akibat lontaran tenaga itu, tiang sitinggil seperti tergetar karenanya. Atap sitinggil mengeluarkan suara berderak-derak. Mahapatih Nambi menyembah lalu menuntun Kala Gemet ke arah samping, dan turun dari sitinggil. Sementara Senopati Sora dipapah Senopati Pangsa. Melihat dua lontaran pukulan bertenaga dihindari dengan mudah, Ratu Ayu mengubah serangannya. Satu tangan memerintahkan Sariq mundur, tangan yang lain menarik kembali pedang lengkung dan kembali secara beruntun menembus dalam satu tukikan ke arah Upasara. Wajah Upasara menjadi beringas. Galih Kangkam berkelebat dengan keras. Tubuhnya meloncat ke atas, dan dengan entakan keras, pedang lengkung itu menjadi kutung. Gelang Gelung Dewi Kiblat UPASARA memperlihatkan kelas yang sesungguhnya. Dengan sekali entak, pedang hitamnya mampu memapas hingga kutung. Satu pedang lengkung menjadi dua bagian, yang kemudian masing-masing terbagi dua. Siapa pun yang menyaksikan berdecak kagum. Karena serangan yang sama tadi mampu membuyarkan serangan Maha Singanada. Yang disebut terakhir ini mengawasi dengan sorot mata tajam, dan berseru keras, “Awas!” Seruan meluncur begitu saja. Bukan karena sengaja memberitahu Upasara akan datangnya bahaya. Itu tak pernah terpikirkan. Seruan ini lebih merupakan peringatan bagi dirinya sendiri. Karena serangan pedang beruntun ini yang sangat berbahaya. Arah pedang lengkung sama, datang secara bersamaan, tapi tetap ada yang tersembunyikan. Yaitu pedang yang terakhir. Karena datangnya lebih lambat! Dan tak terduga. Karena dirasa semuanya sudah terbasmi. Dan inilah tadi yang menjadi kemenangan Ratu Ayu. Yang sekarang diulangi lagi. Sewaktu tubuh Upasara melayang turun, dengan pedang yang merendah tapi terarah ke depan, pedang terakhir yang disambitkan Ratu Ayu datang. Menusuk ke arah kanan. Bagian tubuh Upasara yang paling lemah. Yang bisa segera terbaca oleh Ratu Ayu! Tangan kanan Upasara tak mungkin menangkis atau menyampok, karena tak bisa digerakkan secara leluasa sejak bentrok dengan tenaga dalam Halayudha. Itu yang mendasari Singanada berteriak awas. Itu yang juga tak diduga oleh Upasara. Karena saat itu tak mungkin menarik mundur pedangnya untuk menangkis. Juga tak mungkin menghindar, bersamaan dengan datangnya pedang. Kalau Singanada, pada situasi yang sama bisa meloloskan diri, karena tubuhnya bisa menggeliat bagai geliatan singa murka disertai auman keras. Jelas, kelenturan tubuh semacam itu tak dimiliki Upasara. Berarti pedang lengkung itu terus amblas. Ratu Ayu berdesis pelan. Namun bukan Upasara kalau menghadapi saat-saat maut menjadi gugup. Dengan penguasaan ilmu Tepukan Satu Tangan, boleh dikatakan kekayaan batinnya lebih luas. Pedang yang menusuk ke arah lengan kanan digoyang dengan pundak, memakai tenaga simpanan karena hanya satu bagian yang disalurkan ke tangan kiri. Inilah keistimewaan Tepukan Satu Tangan. Cukup menyerang satu tangan, sementara tangan lain bisa berjaga. Atau dengan kata lain, masih mempunyai tenaga yang tersisa yang bisa digunakan saat diperlukan. Sekarang ini. Goyangan pundak Upasara membuat arah pedang lengkung bergeser. Naik, menuju ke arah dagu. Upasara menarik kepalanya ke belakang. Bibirnya seperti menyunggingkan senyuman. Dan pedang lengkung itu berhasil ditangkap dengan giginya. Digigit. Digigit! Pada saat yang sama, ujung lidah Upasara menyentil kembali dengan empasan tenaga dalam. Pedang lengkung itu jadi berbalik menusuk ke arah Ratu Ayu. Gendhuk Tri bersorak. Singanada mengeluarkan seruan pujian. Akan tetapi Ratu Ayu justru mengeluarkan suara dingin. Tangan kanan bergerak cepat, meraup pedang yang menusuk ke arahnya dan dengan satu gerakan yang sama membalikkan kembali ke arah Upasara. Yang telah bersiaga. Galih Kangkam seolah mengukir udara, dan pedang lengkung itu berubah menjadi delapan potongan yang sama panjangnya. Seolah menebas batang pisang. Ini berarti, serangan balik yang dilancarkan oleh Ratu Ayu seperti telah terbaca dengan mudah. Ganti Senopati Sariq yang mengeluarkan suara dingin di hidung. Ia merasa bahwa kini Upasara betul-betul masuk ke dalam perangkap. Jebakan yang dilancarkan oleh Ratu Ayu. Karena setelah melemparkan pedang lengkung, Ratu Ayu menyambung dengan putaran tubuh dan kedua tangan terulur ke arah depan. Gelang di tangannya melayang, bagai senjata rahasia. Menerjang ke arah Upasara! Cepat dan bergelombang. Empat gelang, dua dari tangan kiri dan dua dari tangan kanan. Gelang ini membuat gerakan berputar yang sangat cepat. Yang pertama berputar sebelum membentur. Yang kedua memakai tenaga putaran gelang pertama sehingga menjadi lebih keras. Begitu juga yang ketiga dan keempat. Bahkan dalam melemparkan gelang pun, dasar-dasar Lompat Turkana dipraktekkan. Sehingga keempat gelang itu seperti saling menyusul yang lain. Yang paling ujung pasti lebih deras dan ganas. Datangnya secara beruntun. Dan ternyata itu belum semuanya. Selepas melontarkan keempat gelang, tangan Ratu Ayu tertekuk ke arah kaki, dan dari kedua kaki ini pula terlempar empat gelang! Berarti ada delapan gelang. Bergerak dalam satu putaran dan arus yang sama, menuju ke wajah Upasara. Kalau penonton di sitinggil masih terpesona melihat dan mendengar dering delapan potongan pedang yang terbabat, kedelapan gelang dari tangan dan kaki Ratu Ayu sudah menyambar. Putaran tenaga yang makin bertambah kencang dan menghunjam. Satu gelang tersingkir, masih ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga kedelapan. Salah satu saja menyambar atau berhasil menyerempet, tulang pun bisa terbeset. Inilah bagian Tarian Penjemput Maut yang dikatakan Maha Singanada. Jurus yang dimainkan Ratu Ayu sekarang ini bisa dikatakan jurus Gelang Gelung Dewi Kiblat. Atau dalam Kitab Bumi dikidungkan sebagai kembanging surastrysoka kadyapus gelunging asta. Asta adalah sebutan Dewi Kiblat. Kembang adalah bunga. Jadi ibarat kata rangkaian bunga sulastri dan angsoka pengikat sanggul atau gelung Dewi Kiblat! Gendhuk Tri sadar sesadar-sadarnya bahwa dasar-dasar tarian bisa dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi tarian maut. Kalau pada dirinya baru terbatas pada olah gerak yang berbeda dari tarian biasa, Ratu Ayu sudah mengembangkan lebih jauh. Semua anggota badan dan piranti yang melekat dalam tubuh bisa menjadi senjata. Bukan hanya selendang akan tetapi juga gelang. Singanada sadar bahwa kalau ia hanya mempergunakan bagian tubuh yang tumbuh di kepala sebagai andalan, Ratu Ayu sudah melangkah jauh lebih maju. Apa yang dipikirkan Gendhuk Tri memang tak berbeda jauh dengan Singanada. Barangkali juga Senopati Sora, yang biasa menggunakan ujung kain yang disampirkan di pundaknya. Barangkali juga senopati yang lain. Atau para prajurit dan ksatria yang kebetulan bisa menyaksikan pertarungan. Bahwa penguasaan tubuh bisa berarti luas sekali. Dan kalau dilatih secara sempurna, hasilnya bisa luar biasa. Tak terduga. Kalau selama ini perluasan penguasaan tubuh biasanya terbatas kepada otot, urat, dan pernapasan, serta anggota tubuh seperti tangan, kaki, semburan tenaga dari bibir. Dan mempergunakan senjata sebagai kelanjutan dari bagian tubuh. Kalaupun ada, adalah mengandalkan senjata rahasia. Yang dipakai secara tersembunyi pada saat mendesak. Hanya saja perkembangan penggunaan senjata rahasia tak menjadi besar peranannya, karena para ksatria tanah Jawa menganggap bukan sebagai perbuatan seorang pendekar. Seorang pendekar sejati tak mau mengalahkan lawan dengan cara “licik” seperti itu. Apalagi bagi pendekar yang telah diakui kedudukannya dalam dunia persilatan, hal itu boleh dikatakan tak pernah terjadi. Hebatnya, Ratu Ayu tidak mempergunakan senjata rahasia. Ia mempergunakan gelang terbang yang bergelung! Yang bukan rahasia sejak pertama tadi telah dikenakan. Inilah yang luar biasa dan mengatasi cara berpikir yang selama ini dikenal. Desingan suara gelang membuat Upasara waspada. Tubuhnya miring ke kanan, menyembunyikan tangan kanan. Dua kaki yang membentuk kuda-kuda tetap berada di tempatnya, dan hanya pedang hitam panjang yang menebas ke arah gelang yang menghantam dadanya. Benturan keras terdengar. Satu gelang terpukul, melenceng arahnya. Pedang Upasara tergetar, tangan Upasara menjadi kesemutan karenanya. Kekuatan Utama di Titik Terlemah UPASARA terus menyabet. Gelang kedua disampok, gelang ketiga dipukul dengan gagang pedang, sedikit di bawah bagian yang menjadi pegangan. Bertindak maju selangkah, Upasara memutar pedangnya, dan menangkis secara keseluruhan. Tangannya tergetar hebat. Tanda bahwa tenaga dalam Ratu Ayu memang cukup tersalur kuat. Dan yang sesungguhnya berada di luar dugaan Upasara ialah daya luncur dan daya serang gelang terbang itu tidak sama. Baik karena pengaturan tenaga dalam Ratu Ayu, maupun bahan yang dipakai membuat gelang. Berbeda antara emas, perak, perunggu, maupun dari jenis logam yang lain. Beratnya juga berbeda. Gelang tangan jauh lebih tipis, tapi lebih kencang, seolah anak panah. Sedang gelang kaki, lebih berat seolah ujung tombak. Kalau tadi dalam meluncurkan pedang lengkung Ratu Ayu memakai daya pegas yang berbeda sehingga daya dorongnya berbeda-beda, hal ini juga digunakan dalam memainkan gelang terbang membentuk konde. Dengan lebih sempurna. Karena perbedaan logam yang dipakai untuk membuat gelang. Keistimewaan yang lain ialah bahwa Ratu Ayu mampu memainkan sebagai satu rangkaian serangan, tanpa ada gelang yang mental atau jatuh. Kalau Upasara bisa membuat arah salah satu gelang terbang melenceng, tidak berarti lepas dari rangkaian serangan. Karena Ratu Ayu dengan mudah bisa menariknya kembali, dan mengertakkan dalam satu lemparan. Dua Belas Jurus Nujum Bintang dipamerkan oleh Upasara dengan sangat cepat dan bertenaga. Sebentar tubuhnya menghindar, melayang, dan memapak maju. Akan tetapi, ke arah mana pun Upasara bergerak, gelang terbang itu mengejar, mengurung, dan mengisyaratkan sabetan maut. Sungguh lawan yang perkasa. Tangguh dan jauh di atas kelas yang diduga. Tidak percuma Ratu Ayu Turkana disejajarkan dengan Naga Nareswara, Kiai Sambartaka, serta Kama Kangkam. Memang di situlah tempatnya. Pujian ini berasal dari Halayudha yang berada di tempat jauh. Halayudha mengakui bahwa ia salah memperhitungkan lawan. Rangkaian gelang terbang bergelung, sejak jurus pertama sudah langsung mematikan. Kalau dirinya yang terjerat dalam pertarungan, Halayudha akan mempergunakan tipu muslihat lain. Dengan mempergunakan ajian atau cara-cara licik. Hanya itulah jalan yang dianggap paling selamat untuk menghindar. Tapi Halayudha tahu bahwa Upasara tak akan melakukan hal semacam itu. Bagi Upasara lebih baik kalah atau binasa. Kalau ini yang terjadi, jangan harap ada yang mampu menandingi Ratu Ayu satu lawan satu. Maka Halayudha memberikan kisikan agar semua senopati, tanpa kecuali, mengadakan persiapan. Terutama menjaga Baginda. Dan juga mempersiapkan jalan menghindar ke dalam Keraton yang aman. Cepat atau lambat situasi akan berubah. Upasara tak bisa bertahan dengan cara seperti itu. Tenaga benturan pedangnya akan melemah, sementara putaran gelang terbang justru tetap bisa berlipat. Dan tetap gencar. Mengetahui bahwa Dua Belas Jurus Nujum Bintang tak mampu menerobos, Upasara mengganti dengan dasar-dasar penyerangan Banteng Ketaton atau Banteng Terluka, ilmu silat yang mendasari ilmunya. Dibuka dengan tangan kiri tertarik ke arah kanan, kaki menendang bumi, Upasara menebas dari arah samping. Serangan gencar dari arah samping sebagai pancingan, dan kemudian menyeruak maju bagai banteng yang terluka. Pedangnya berubah gerakannya, mencongkel dari bawah, seakan sodokan tanduk banteng. Akan tetapi dengan begitu, Upasara seperti terjebak dalam bahaya. Karena delapan gelang terbang Ratu Ayu mendadak pecah menjadi dua bagian! Satu lingkaran menyerang atas, satu rangkaian lingkaran yang lain menyerang dari bawah. Betapapun kuat kuda-kuda ilmu Banteng Ketaton, tak akan kuat tulang kaki digenjot dengan gelang! Dalam sekejap, tubuh Upasara dilibat dalam putaran. Kini bahkan untuk menerobos pun rasanya sulit. Sepersekian kejap Upasara menjadi bimbang untuk memainkan ilmu Penolak Bumi. Delapan Jurus Penolak Bumi adalah jurus andalan yang sangat ampuh untuk menolak serangan, untuk mementahkan serbuan. Akan tetapi Delapan Jurus Penolak Bumi berdasarkan perhitungan di mana ada kedudukan yang berbahaya. Posisi bahaya di selatan, bisa dimentahkan dengan gerak dan arah tertentu. Sulitnya, yang dihadapi sekarang ini adalah bahaya dari semua jurusan. Mementahkan satu arah mata angin, akan berakibat tersambar gelang terbang pada mata angin yang lain. Sepersekian kejap sangsi, Upasara benar-benar terdesak. Sehingga gerakannya berubah makin cepat dengan geliatan yang gagap untuk menghindar. Dalam keadaan terdesak, Upasara surut. Pedangnya ditarik, merapat ke tubuhnya. Tangan kiri yang menggenggam pedang merapat ke dada sebelah kanan. Ratu Ayu berseru dingin tapi keras terdengar. Dua tangannya melontarkan tenaga dengan perkasa. Kini delapan gelang menyerbu bersama. Desingan udara seperti terbelah karenanya. Sepersekian kejap Upasara seperti menunggu. Maha Singanada mengeluarkan teriakan kecemasan. Berdiri dari duduknya. Nyai Demang merangkul Tunggadewi dan Rajadewi. Bibir Gendhuk Tri bergerak-gerak tak jelas. Halayudha menggenggam hulu kerisnya. Matanya memandang ke arah Mahapatih dan memberi tanda. Upasara menggerakkan pedang hitam lurus ke depan. Membentur salah satu rangkaian gelang, tanpa memperhitungkan gempuran gelang yang lain. Perlahan gerakan tangannya. Didorong oleh tenaga sepenuhnya. Pandangannya lurus ke depan. Tak hirau. Terdengar gemerincing keras. Gelang yang ditebas Upasara terlingkar, masuk ke dalam pedang, masih berputar, sebelum akhirnya melorot ke dasar pedang. Dan masih berputar kencang. Sehingga tangan Upasara seperti digigiti seratus semut, dan sengatan binatang berbisa. Namun Upasara tetap bertahan. Ajaib. Gelang kedua juga masuk ke dalam lingkaran, tetap berputar, dan akhirnya melorot turun ke dalam pedang. Disusul gelang ketiga, keempat, kelima… Seluruh gelang akhirnya masuk ke dalam pedang Upasara. Yang tetap berdiri gagah. Seluruh gelang bertumpuk bagai hiasan. Bagai daging sate. Upasara berdiri gagah. Ratu Ayu memandang ke arah langit-langit. Wajahnya nampak pucat, keringatnya membasahi wajahnya. Napasnya sedikit tersengal. “Ilmu siluman apa yang kamu mainkan, Upasara?” “Bodo amat. Begitu saja dibilang ilmu siluman,” Gendhuk Tri melampiaskan ketegangannya dengan suara kasar. “Itulah ilmu yang paling ringan dari Kitab Penolak Bumi. Semua hidung yang belajar silat juga tahu. “Kakang Upasara telah memainkan dengan sepersepuluh tenaganya untuk mematahkan rangkaian bunga gelung Dewi Kiblat. Semua orang juga bisa melakukan. “Apa istimewanya rangkaian itu? “Dalam setiap rangkaian untaian bunga, titik kekuatan yang utama adalah yang terlemah. Dalam rantai yang bercantolan, kekuatan sebenarnya dari mata rantai itu adalah pada kaitan yang terlemah. “Kalau itu putus, semua rangkaian juga putus.” Dengan tertawa keras, Gendhuk Tri meloncat ke tengah arena. Secara teori, apa yang dikatakan oleh Gendhuk Tri sangat tepat Kalau terkesan Gendhuk Tri luar biasa pengetahuannya, itu hanya karena kebetulan Upasara telah memainkan dengan sempurna. Gendhuk Tri sekadar mengatakan kata-kata yang terdapat dalam kidungan Kitab Bumi di bagian Delapan Jurus Penolak Bumi. Yang memang menjelaskan hal semacam mi. “Jangan melompong seperti itu. Masih belum mau mengaku kalah? Apakah perlu gelang-gelang itu dimasukkan kembali ke dalam tangan, kaki, atau leher sekalian?” Ucapan Gendhuk Tri lebih tajam dan lebih menyakitkan. Pedang Kelana, Pedang Takhta Turkana GENDHUK TRI paling bahagia. Bibirnya menyunggingkan tawa. Tangannya bertolak pinggang. Melihat Ratu Ayu kelimpungan, nafsunya untuk mempermainkan makin menjadi-jadi. Bibirnya sudah terbuka untuk menyemprot sindiran. Tapi tak bisa digerakkan. Jadinya malah melongo. Satu jentikan kecil jari Ratu Ayu telah membuat urat rahang Gendhuk Tri membeku. Bisa dibayangkan kalau ditambahi sedikit tenaga, napas Gendhuk Tri sudah terhenti! Upasara melepaskan rangkaian gelang. Lalu dengan penuh hormat mengembalikan sambil menyembah. “Maafkan, Ratu Ayu.” “Kamu belum menjawab pertanyaanku, Ksatria Upasara.” “Hamba hanya menjajal menetak rangkaian gelang terbang yang terlemah. Karena delapan gelang dengan kekuatan saling berkait menjadi sangat kuat berlipat, akan tetapi juga saling bergantung.” “Dari Kitab Bumi kamu pelajari jurus ini?” “Ya dan tidak. “Ya, karena ada beberapa gagasan dasar yang dikidungkan mengenai kekuatan berangkai. Tidak, karena secara jelas tidak disebutkan bahwa ada jurus Gelang Gelung Dewi Kiblat.” “Sebelum mengaku kalah, katakan, apakah ilmu Turkana masih belum sempurna?” Upasara menyembah dengan hormat. “Semua ilmu sempurna dan juga tidak sempurna. Kesempurnaan ilmu, menurut yang hamba ketahui, ialah pada saat tidak perlu dipergunakan lagi.” “Ah, omonganmu seperti kakek pikun! “Dari mana kamu mengetahui kekuatan rangkaian ialah pada titik terlemah?” “Di negeri ini ada berbagai barisan penyerang. Salah satu di antaranya ialah dari dua belas murid Kiai Sumelang Gandring. Kekuatannya hebat, akan tetapi satu rangkaian patah, seluruhnya putus. “Ibarat kata sebuah tali tambang yang sanggup menarik perahu sampai ke pantai, titik kekuatannya pada serat yang terlemah. Kalau itu yang putus, semua kekuatan bisa putus. Kalau itu terlindungi, kekuatannya berlipat. “Kecuali kalau rangkaian kekuatan itu berasal dari tenaga tunggal seperti yang dilakukan dengan sangat luar biasa oleh Ksatria Utama Maha Singanada. Pelipatan tenaga sembilan singa, tidak secara wadag, tidak secara lahiriah dengan sembilan singa atau sembilan orang.” “Aku suka pujian seperti ini,” kata Singanada keras. “Upasara, katakan terus terang, di mana kelemahan ilmu Lompat Turkana?” Upasara menunduk. Lalu bersila. Menyembah. “Sesungguhnya ilmu itu tak tercela, Gusti Ratu.” “Ah… tata krama kamu membuat aku risi. “Upasara, aku ingin mendengar kamu membaca Lompat Turkana, dan mengatakan pendapatmu.” Upasara merasa risi didesak dengan cara begitu. Hanya bisa menggeleng. “Hamba tak cukup mengerti. “Hanya secara selintas, apa yang dimainkan delapan senopati utama, dengan meloncati lawan dan atau kawan, sungguh hebat. Kalau Gusti Ratu ikut memainkan, barangkali di seluruh jagat ini tak ada yang mampu menandingi. “Karena Lompat Turkana, atau apa pun namanya, bersumber dari delapan tenaga. Sedangkan inti tenaga yang sesungguhnya berasal dari sembilan. Delapan penjuru, dan satu titik di tengah. “Untuk sementara, hamba hanya bisa mengutarakan sampai di sini. Karena bukan tidak mungkin, dengan delapan tenaga, juga bisa lebih terarah dan tepat. “Maha Singanada beranggapan sembilan. “Berkeyakinan sembilan sebagai pusat tenaga. “Hamba sendiri hanya melihat satu pusat tenaga. Satu tangan. “Entah mana yang lebih tepat. Karena sesungguhnya, dasarnya bukanlah pembagian, tetapi juga kepasrahan kita mengikuti petunjuk yang ada.” Ratu Ayu menunduk. Ikut bersila. “Upasara, sesungguhnya kamulah yang kucari di seluruh pelosok jagat ini. Sejak aku melihat pedang yang kamu genggam, aku yakin itu adalah Pedang Nglanglang yang selama ini hilang.” Upasara mengangsurkan pedang hitam panjang dengan satu tangan. Meletakkan di depan Ratu Ayu. “Kalau Gusti Ratu Ayu menghendaki, hamba akan menyerahkan. Sesungguhnya ini bukan milik hamba. Milik seorang sahabat sejati, Kakang Galih Kaliki.” Ratu Ayu menunduk. Air matanya menitik. Kedua tangannya menggenggam pedang hitam. Mendadak delapan senopati Turkana bersujud, menyembah ke kaki Upasara sambil menyanyikan kidungan yang tak dimengerti oleh Upasara. Dan tetap menunduk terus. Demikian juga Ratu Ayu. Menyembah kaki Upasara Wulung. Upasara berkelojotan tak mengerti. Kalau hanya soal pedang, walau itu pedang pusaka, rasanya tak pantas seorang ratu menyembah! Dalam upacara terbuka yang dilihat masyarakat. Dalam bengongnya, Gendhuk Tri masih bisa berpikir jernih. Ia mendengar sebutan Pedang Nglanglang, atau Pedang Kelana. Ini untuk pertama kalinya ada sebutan bagi pedang hitam tipis panjang yang selama ini hanya disebut dengan Galih Kangkam, atau Kangkam Galih. Sebutan yang tidak menunjukkan hal yang sebenarnya selain pernah dimiliki oleh Galih Kaliki. Atau berasal dari tongkat galih. Meskipun sebutan Pedang Nglanglang juga belum menunjukkan hal yang sebenarnya terkandung dalam pedang itu, akan tetapi paling tidak menunjukkan asalusulnya. Yaitu dari suatu pengembaraan yang jauh. Jalan pikiran Gendhuk Tri tak berbeda banyak dari Upasara. Yang berbeda ialah jalan pikiran Nyai Demang. Yang tak bisa menahan diri untuk ikut berkata. “Apakah Adimas benar menerima lamaran Ratu Ayu Azeri Baijani?” Disambar sembilan petir pun Upasara tak sekaget ini. “Mbakyu Demang… ini bagaimana… aduh… saya…” “Adimas, Ratu Ayu berkelana mencari jodohnya. Barang siapa bisa melengkapi ilmunya, akan diangkat menjadi suaminya, dan berhak atas takhta Turkana. “Barangkali sangat kebetulan simbol utama yang dicari adalah pedang itu. Kalau Adimas menyerahkan, berarti Adimas menerima pinangan Ratu Ayu.” Upasara beringsut dua tindak ke belakang. Delapan senopati Turkana menyuruk maju. Juga Ratu Ayu. Kalau Gendhuk Tri tidak beku rahangnya, segala cemoohan sudah terlontar secara berurutan tanpa henti. Nyai Demang bisa mengerti bahwa dengan demikian Upasara menjadi sangat kikuk. Tak berbeda dulu ketika secara tidak sengaja menerima tawaran menjadi pimpinan Perguruan Awan. Bedanya, saat diangkat menjadi pemimpin Perguruan Awan, Upasara memang sedang mencari tempat untuk menenangkan diri. Dan pengangkatan itu tidak membawa akibat besar. Karena di Perguruan Awan, menjadi pemimpin atau penghuni tak jauh berbeda. Sedangkan menjadi Raja Turkana, tak akan pernah terbayangkan. Bisa berarti pergi ke negeri Turkana! “Mbakyu Demang, tolong jelaskan… saya ini tak pantas menerima penghormatan semacam ini. Bagaimana mungkin saya… saya…” Ratu Ayu tetap menunduk, menyembah ketika berkata, “Junjungan hamba, junjungan negeri Turkana yang agung, kalau memang hamba tak pantas mendampingi Baginda, biarlah hamba dikubur di sini.” “Demikian juga hamba.” Suara delapan senopati terdengar serempak. Upasara menggaruk belakang rambutnya. Seluruh tubuhnya menjadi sangat pegal. Tak tahu harus berbuat bagaimana. Kalau ia tetap menolak, bukan tidak mungkin Ratu Ayu Bawah Langit akan membunuh diri. Bersama dengan delapan senopati Turkana. Melihat kecemasan di wajah Nyai Demang, hal itu bisa terjadi. Sebaliknya, kalau ia menerima pinangan Ratu Ayu, ia tak tahu apa yang akan diperbuatnya. Lebih dari itu semua, Upasara tak bisa menyusun kata-kata. Baik untuk menerima atau menolak. Seumur hidupnya tak pernah mengalami peristiwa semacam ini. Bahkan membayangkan pun tidak. Disembah, disebut sebagai Baginda. Dan memiliki permaisuri. Demi Dewa yang Maha dewa, bagaimana semua ini bisa terjadi? Sempurnalah Keraton Singasari KEADAAN jadi senyap. Terlelap dalam jalan pikiran sendiri-sendiri. Gendhuk Tri jelas tak bisa ikut bicara serampangan karena bibirnya terkunci. Para senopati Keraton juga terdiam. Di kejauhan dari sitinggil, Baginda merasa punggungnya seakan kaku. Sementara wajah Permaisuri Indreswari berubah menjadi kaku seperti topeng kayu. Halayudha sendiri tak pernah memperhitungkan, bahwa Upasara yang akan muncul sebagai pilihan Ratu Ayu. Sekaligus pujaan semua penduduk yang menyaksikan secara langsung. Dan Upasara sendiri masih tak mengerti apa yang harus dilakukan. Nyai Demang yang biasanya cepat mengambil keputusan pun, kali ini terdiam. Nyai Demang tahu bahwa nasihatnya bakal didengar oleh Upasara. Akan tetapi hatinya sulit menentukan. Apakah Upasara Wulung harus menerima atau menolak. Semua membawa akibat yang sangat jauh pengaruhnya. Pada saat itu, justru Maha Singanada yang berdiri dengan gagah perkasa. Wajahnya mendongak ke arah langit, rambutnya yang tergerai bergerak-gerak oleh angin. Suaranya mengandung kebanggaan dan sekaligus pujian. “Dewa yang Maha agung dan Maha bijak. “Akhirnya, inilah perkenanMu yang mulia. Tanpa sabda langsung dari Baginda Raja Sri Kertanegara, Keraton Singasari tak akan berkumandang ke tlatah tapel wates, memerintah sampai ke Keraton Turkana. “Auman singa di seluruh penjuru jagat. “Selamat, Upasara, terimalah hormat dan sembahku!” Belum Upasara bereaksi, Maha Singanada sudah menunduk hormat. Saat itulah terdengar sorak-sorai bergemuruh yang luar biasa. Semua yang hadir mengeluelukan Upasara. Maha Singanada bahkan memanggul Upasara dengan gagah! Gong terdengar bertalu-talu. Malam itu juga, dengan upacara kebesaran, Upasara diiringkan menuju ke dalam Keraton, untuk beristirahat di rumah yang disediakan khusus bagi Ratu Ayu Bawah Langit. “Inilah kebesaran utama Keraton Singasari. Inilah tanda kejayaan Baginda Raja Sri Kertanegara. Abu dan arwahnya akan bahagia selamanya.” Nyai Demang menghela napas. “Nyai tidak kelihatan gembira?” Nyai Demang tersenyum. Dirangkul Tunggadewi dan Rajadewi dengan kencang. “Saya masih mempunyai satu tugas untuk mengembalikan dua putri Keraton ke dalam.” “Marilah, biar aku yang mengantar. Malam ini kita pesta sampai tak ingat apaapa. Nyai bersedia?” Nyai Demang meminta Maha Singanada membebaskan totokan Gendhuk Tri. Beberapa kali Maha Singanada mencoba, akan tetapi hanya membuat Gendhuk Tri mendelik dan air matanya mengucur. “Kalau begitu kita terpaksa mengganggu pengantin baru.” Suara Maha Singanada tetap berada dalam suasana riang gembira. “Betapa agungnya Baginda Raja Sri Kertanegara. Dengan segala kebesarannya, semua penjuru jagat yang bisa diinjak kaki dijelajahi. “Sungguh tak nyana, bahwa hari ini salah seorang ksatria didikannya bisa menaklukkan hati Ratu Ayu Turkana. Bukankah ini luar biasa, Nyai? “Aku berlayar ke negeri Campa, untuk mengantar Tuan Putri Tapasi, akan tetapi hasilnya tetap tak mengungguli apa yang dilakukan Upasara. Kalau satu dari seratus ksatria seperti Upasara, seluruh jagat menyatu di bawah panji kebesaran Keraton Singasari.” Nyai Demang menjadi bisa menebak asal-usul Maha Singanada. Setidaknya dari yang dikatakan, Maha Singanada termasuk salah seorang ksatria utama atau senopati yang mengemban tugas dari Baginda Raja Kertanegara ke negeri seberang. Kalau Senopati Anabrang ke negeri Melayu dan kembali membawa dua putri utama, apa yang dilakukan Maha Singanada sedikit berbeda. Dengan disebut-sebut Putri Tapasi, Nyai Demang jadi ingat. Bahwa putri Baginda Raja Sri Kertanegara, Dyah Ayu Tapasi, adalah utusan Baginda Raja ke negeri Campa. Ke Keraton Caban, yang diperintah oleh Raja Che Nang yang kesohor. “Agaknya saya berhadapan dengan Senopati Agung yang telah menjelajah negeri Campa. Maafkan, kalau selama ini saya tak bisa mengetahui kebesaran Senopati Maha Singanada.” Singanada tertawa. “Akhirnya semua akan mengetahui kebesaran Singasari yang perkasa. Tak menyesal aku dilahirkan di perjalanan dan menjadi besar di negeri orang. Sungguh luar biasa. Hari ini kusaksikan sendiri kebesaran itu.” Singanada seperti tengah tenggelam dalam arus pikiran kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara. Sesuatu yang bisa dimengerti oleh Nyai Demang. Karena, seperti pengakuannya, Maha Singanada berangkat sewaktu masih kecil, atau malah dalam kandungan ibunya yang menyertai utusan ke negeri Campa. “Bagaimana kabarnya Putri Dyah Ayu Tapasi?” “Sesuai dengan rencana. Permaisuri Tapasi berdiam di Keraton Wijaya atau Caban, dan secara resmi menjadi Permaisuri Utama Raja Jaya Singawarman Turunan Ketiga. Cucu utama Raja yang memerintah Wijaya. “Tahukah, Nyai, bahkan Raja Caban pun memakai gelar singa sebagai tanda mengakui kebesaran Baginda Raja?” “Kenapa Senopati Singanada kembali ke tanah Jawa?” “Panjang ceritanya, Nyai. “Aku tak ingin bercerita pada malam yang bahagia ini, yang bisa untuk memabukkan diri hingga pekan depan.” Nyai Demang sendiri memang tidak begitu berminat mendengarkan cerita yang panjang saat ini. Karena diam-diam muncul kerisauan yang tak bisa ditutupi. Sejak sorak-sorai dan gong bertalu tadi, Raja Kertarajasa telah meninggalkan pasamuan. Sesuatu yang sangat luar biasa, karena meninggalkan begitu saja. Tanpa merestui atau mengucapkan sepatah kata pun mengenai Upasara atau Ratu Ayu. Dari segi tata krama Keraton yang sangat penuh perhitungan rumit, ini pertanda kemurkaan yang besar. Yang juga bisa berakibat sangat besar. Kemenangan Upasara tidak diakui oleh Raja. Tidak diakui sebagai kehormatan besar Keraton Majapahit, yang salah seorang senopatinya dipersunting Ratu Ayu dari negeri Turkana! Sangat boleh jadi ini akan mengubah perjalanan hidup Upasara atau hubungan dengan negeri Turkana. Baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Jelas bahwa berpihaknya Upasara kepada Ratu Ayu Azeri Baijani dianggap petaka besar. Karena, ini semua di luar rencana Keraton. Nyai Demang tak terlalu sulit menangkap rencana yang tersembunyi dengan munculnya Putra Mahkota Kala Gemet dalam pertarungan. Bisa dipastikan Putra Mahkota juga menghendaki Ratu Ayu. Dengan alasan karena tertarik, ataupun alasan kenegaraan. Seperti yang dilakukan Senopati Anabrang ke tanah Melayu, maupun Maha Singanada sampai ke negeri Campa. Serta senopati-senopati yang lainnya. Kalau perhitungan ini benar, Nyai Demang menjadi lebih kuatir karenanya. Jauh lebih kuatir dari membayangkan apa yang terjadi terhadap Upasara saat ini. Celakanya, Nyai Demang merasa tak mempunyai teman yang bisa diajak membicarakan isi pikirannya yang penuh. Maha Singanada sudah mabuk kemenangan dan keunggulan Keraton Singasari. Sementara Gendhuk Tri tak bisa mengeluarkan suara. Hanya dua wanita yang masih kecil. “Bibi… Paman Demit dibawa ke mana?” Nyai Demang menyembah. Walau merasa kurang enak dipanggil Bibi-panggilan untuk inang pengasuh, namun perasaan itu hanya mengusik sementara. “Paman Demit akan menjadi pengantin, Gusti Ajeng.” “Kawin dengan Ratu Ayu?” “Begitulah yang kita lihat, Gusti Ajeng.” “Pastilah Paman Demit akan mengundang kita berdua. Kanjeng Ibu akan mengizinkan kita berdua datang.” Sampai di sini, Nyai Demang merasa dirinya sangat tolol. Bagaimana mungkin ia bercerita begitu saja kepada Tunggadewi, yang nantinya akan bercerita kepada Permaisuri Rajapatni? Bahwa nantinya toh Permaisuri Rajapatni akan mendengar juga, itu soal nanti. Tapi tidak sekarang ini. Dari putrinya. Nyai Demang jadi merasa kurang enak. Entah kenapa hatinya merasakan beban hubungan antara Upasara dan Gayatri. Daya asmara yang tetap terasakan pengaruhnya, kalau tidak malah makin kuat, meskipun keduanya sudah berpisah lama. Meskipun Gayatri telah menjadi permaisuri, dan berputri. “Mari Bibi antarkan pulang ke kaputren, Gusti Ajeng.” Tanpa menyembah sebagaimana lazimnya seorang emban pengasuh, Nyai Demang langsung menggandeng Tunggadewi dan Rajadewi. Membawa masuk ke kaputren. Pendeta Tlatah Syangka MELEWATI pintu utama Keraton, Nyai Demang mulai merasa ada sesuatu yang menguntitnya. Ada udara dingin yang kadang terasa kadang tidak. Nyai Demang dengan cepat bisa membedakan antara dinginnya tiupan angin malam dan pengaruh tenaga yang lain. Walaupun sangat samar Nyai Demang bisa menebak bahwa di sekelilingnya ada tokoh yang cukup tinggi ilmunya. Karena gerakan angin yang ditimbulkan sangat lembut. Akan tetapi terasa pengaruhnya. Yang membuat Nyai Demang menjadi lebih hati-hati ialah arah tiupan angin dingin itu kadang dari sebelah belakang, kadang dari sebelah depan, kadang berubah dari samping. Seakan sedang mengamatinya dari semua sudut pandang. Beberapa langkah Nyai Demang sengaja memperlambat jalannya atau menoleh dengan cepat, akan tetapi tak ada bayangan manusia atau desiran angin yang lebih keras. Melewati pelataran Keraton, Nyai Demang lebih berhati-hati. Ia merasa bahwa bila terjadi sesuatu pada diri Rajadewi serta Tunggadewi, tak tahu lagi harus bagaimana mempertanggungjawabkan. Ternyata apa yang menjadi kekuatirannya terjadi. Hanya saja ia sedikit terlambat. Begitu ada tiupan angin dingin dari arah belakang, Nyai Demang segera melindungi dua putri Keraton, sambil membalikkan tubuh dengan kedua tangan terentang. Akan tetapi bayangan itu muncul di arah belakang. Begitu Nyai Demang berbalik, Rajadewi dan Tunggadewi sudah berada dalam dekapan orang yang wajahnya nampak samar-samar dalam kegelapan malam. Hati Nyai Demang bercekat. Sungguh digdaya pendekar yang satu ini. Kesiuran angin yang dikeluarkan bisa menjebak lawan. Gerakannya amat sangat cepat sekali. Namun Nyai Demang tak mau berpikir panjang. Begitu melihat bayangan yang menarik Tunggadewi dan Rajadewi, kedua tangan yang sudah terentang menepuk ke depan. Dibarengi dengan goyangan tubuhnya yang menjadi sangat lemas. Tanpa menghindar atau membalas, bayangan samar itu menggelengkan kepalanya perlahan. Ketika dua tangan Nyai Demang menyentuh dada orang itu, tanpa sengaja dengan cepat ditarik kembali. Tangannya seperti menyentuh bongkahan marmer yang sangat dingin. “Lepaskan!” “Sssttt!” Kaki kanan Nyai Demang menendang. Tepat mengenai sasaran, yaitu paha lawan. Akan tetapi lagi-lagi justru angin dingin yang mendesir masuk ke ulu hatinya. Tanpa terasa tubuh Nyai Demang bergoyang karena kedinginan. “Kau…” “Sssttt!” Kini Nyai Demang baru bisa melihat sedikit lebih jelas. Manusia bertubuh dingin itu memang nampak samar karena tubuhnya berada dalam gelap. Kedua pipinya turun. Matanya berkilau dan menusuk. Bibirnya, barangkali saja membentuk senyuman. Akan tetapi tertutup oleh pipinya yang tembam. “Aku yang mengantar ke dalam.” “Tunggu…” “Sssttt!” Cepat jalan pikiran Nyai Demang bekerja. Bahwa yang dihadapi ini bukan sembarang tokoh. Jelas-jelas ilmunya di atas dirinya. Akan tetapi caranya ber-Sssttt, menunjukkan bahwa kehadirannya juga tak ingin diketahui orang lain. Nyai Demang bisa menebak lebih jauh. Tubuh yang dingin bagai air es di puncak pegunungan, menandai bahwa pemiliknya mempunyai tenaga dalam yang bersumber dari tenaga dingin. Latihan dan penguasaannya cukup hebat. Selama ini, hanya beberapa tokoh saja yang mempelajari secara khusus tenaga dalam semacam itu. Yang diketahui oleh Nyai Demang adalah Kiai Sambartaka. Dengan Pukulan Beku atau Mandeg Mangu. Sama menggunakan tenaga dalam yang berhawa dingin. Hanya saja Kiai Sambartaka menggunakan untuk membekukan darah lawan yang berhasil dipegang. Sementara tokoh yang dihadapi ini justru sebaliknya. Membekukan darah dan tubuhnya sendiri. Di seluruh jagat ini tak begitu banyak yang secara khusus mempelajari ilmu pengerahan tenaga dingin. Biasanya mempelajari dua-duanya. Yaitu tenaga panas dan sekaligus juga tenaga dingin. Karena untuk mempelajari salah satu saja, bisa terganggu keseimbangannya. Apalagi kalau yang diambil sebagai latihan utama adalah pengerahan dan pengaturan tenaga dingin. Salah-salah dari awal tubuhnya sendiri yang beku jadi mayat. Dan kalau Kiai Sambartaka yang berasal dari tlatah Hindia pun tidak mengkhususkan diri, tak bisa lain tokoh yang dihadapi ini adalah… “Rupanya saya berhadapan dengan Pendeta dari tlatah Syangka. Sungguh suatu kehormatan besar bisa berkenalan.” Kedua pipi tembam bergerak-gerak. Suaranya perlahan sekali. “Marilah kita bicara sambil berjalan, agar tak menarik perhatian. “Nyai Demang sungguh tajam dan luar biasa sekali. Barangkali di seluruh tanah Jawa ini hanya Nyai yang bisa mengenali asal-usul saya tanpa diberitahu. “Sungguh karunia Budi Luhur Tanpa Batas. “Nyai, atas nama hamba Budi Luhur, saya meminta maaf kalau mengganggu Nyai. Percayalah, dua putri ini akan selamat sampai di kaputren. Nyai tak perlu bersusah payah…” Satu kesiuran angin dingin menyelinap, dan bersamaan dengan itu bayangan Pendeta Syangka sudah lenyap dari pandangan mata. Bersama dengan Rajadewi dan Tunggadewi. Nyai Demang bukannya tak mengetahui arah gerakan Pendeta Syangka, akan tetapi kalau ia mengejar sambil mengeluarkan tenaga sepenuhnya, seluruh prajurit Keraton akan mengetahui keberadaannya. Bisa-bisa lebih runyam. Karena arahnya menuju kaputren, Nyai Demang merasa sedikit lebih tenang. Untuk lebih meyakinkan, ia berusaha meneruskan langkahnya. “Kita pasti bertemu lagi, Nyai.” Angin dingin itu seolah bertiup di pinggir daun telinga Nyai Demang. Hingga langkahnya menjadi urung. Ini benar-benar luar biasa. Dalam sekejap saja, seluruh jago utama dari semua pelosok jagat bermunculan. Nyai Demang hanya bisa menduga-duga saja kehadiran Pendeta Syangka. Bukan tidak mungkin dengan tujuan memperebutkan siapa yang paling menguasai Kitab Bumi. Atau apa pun namanya. Sejauh yang Nyai Demang ketahui, tlatah Syangka lebih jauh dari tlatah Hindia. Masih harus menyeberangi lautan lagi. Tlatah Syangka, dalam kitab-kitab yang dibacanya, dulu juga disebut tlatah Sri Langka. Suatu wilayah luas dengan pendeta-pendeta Budha yang sakti. Hanya saja selama ini kebesarannya tertutup oleh pendeta-pendeta Hindu dari tlatah Hindia. Bukan mustahil kalau nama Kiai Sambartaka lebih dikenal daripada Pendeta Syangka, yang ia sendiri tak mengenali nama dan gelarannya. Walau jelas, ilmu yang dimiliki belum tentu kalah dengan tokoh-tokoh utama. Nyai Demang makin mengakui kehebatan Eyang Sepuh, yang nyatanya bisa mengundang perhatian sampai ujung jagat. Di bawah kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara, semua hubungan ke tepi laut seberang mana pun bisa terjajaki. Kalau benar Pendeta Syangka berniat menjajal keunggulan dan merebut gelar lelananging jagat, kenapa tidak berada di Trowulan? Sungguh tidak masuk akal kalau tidak tahu. Akan tetapi kalau bukan mencari kemenangan, apa hubungannya muncul di Keraton? Kenapa bisa begitu leluasa masuk ke dalam kaputren? Ataukah utusan khusus Baginda? Agak masuk akal, meskipun Nyai Demang akhirnya meragukan sendiri. Agak masuk akal, karena sebagai raja, Baginda selalu dikelilingi oleh beberapa pendeta, tokoh sakti, dari berbagai tlatah. Boleh dikatakan semua raja dikelilingi tokoh sakti. ” Yang membuat Nyai Demang ragu adalah Baginda tak begitu mengenal hubungan dengan tlatah Syangka. Apalagi, selama ini memang tak pernah ada hubungan baik. Berbeda dari tlatah yang lain, tlatah Syangka mempunyai ciri dan warna tersendiri dalam hubungan dengan raja-raja di tanah Jawa atau tanah Sriwijaya. Keraton Agung Sriwijaya pernah menaklukkan tanah Syangka. Prajurit dan para senopati bahari dari Keraton Sriwijaya berhasil menguasai tanah Syangka. Sejak itu boleh dikatakan ksatria dan pendekar dari Syangka, termasuk para pendeta, ingin melepaskan diri dari pengakuan atas Keraton Sriwijaya. Itu sebabnya hubungan kedua keraton yang berbatasan lautan luas tak pernah bisa tenteram. Meskipun di permukaan, setiap saat tertentu utusan dari Syangka datang dan menyerahkan tanda pengakuan kekuasan Keraton Sriwijaya. Tradisi Syangka pada Putra Mahkota MESKIPUN kejadiannya sudah lama sekali, sekitar seratus tahun lebih, akan tetapi Nyai Demang masih bisa membenarkan apa yang dituliskan dalam kitab-kitab yang pernah dibacanya. Sekarang yang membuatnya bimbang dan ingin tahu: apa arti kehadiran Pendeta Syangka? Mengabdi pada Baginda, jelas sangat tipis kemungkinannya. Mengabdi kepada Mahapatih, rasanya kurang tepat juga. Sebagai pendeta, mereka hanya mengabdi kepada yang tertinggi. Yaitu Raja. Kalau bukan Baginda, hanya ada satu kemungkinan. Yaitu Putra Mahkota Bagus Kala Gemet. Siapa lagi, mengingat keleluasaan yang berlaku padanya. Dan kalau benar begitu, ceritanya bisa panjang sekali. Karena Nyai Demang tetap dipenuhi tanda tanya: kenapa Putra Mahkota begitu bersemangat mengumpulkan tokoh-tokoh sakti? Ataukah diam-diam sedang menyusun kekuatan untuk mempersiapkan diri kalau nanti dinobatkan sebagai raja? Dipenuhi pikiran semacam itu, Nyai Demang jadi maju. Ia mengambil langkah memutar. Menuju ke bagian yang didiami Putra Mahkota. Untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya dari Senopati Sora bisa diketahui terjadinya sesuatu yang luar biasa. Menyebut nama Senopati Sora, dalam hati Nyai Demang makin bercabang pertanyaan. Selama ini Baginda sudah memutuskan Senopati Sora untuk mendampingi Putra Mahkota. Bahkan sudah menyediakan Dahanapura sebagai tempat mesu budi, atau latihan pengendalian nafsu. Sebagai tempat latihan memerintah. Agaknya Putra Mahkota tak merasa cukup puas dengan Senopati Sora. Merasa perlu mengumpulkan yang lainnya. Kalau tidak salah duga, termasuk Maha Singanada! Yang kelihatannya juga menerima perintah langsung dari Putra Mahkota. Ini yang diketahui. Bukan tidak mungkin masih ada yang tersembunyi. Yang akan muncul ke atas permukaan pada saat diperlukan nanti. Suatu intrik yang membuat bulu kuduk Nyai Demang berdiri. Secara langsung ia mengalami sendiri saat-saat Raja Muda Gelang-Gelang, Jayakatwang, menyusun taktik yang sama hinanya dalam menghancurkan Keraton Singasari. Kemudian dibalas oleh Raden Sanggrama Wijaya serta pasukan dari Tartar. Yang pada gilirannya diusir ke tengah laut. Dan kemudian juga munculnya Halayudha, senopati Keraton yang dekat dengan Baginda dan mampu mengeruhkan yang jernih, mengaburkan yang samar. Terbersit juga pertanyaan dalam hati Nyai Demang. Apakah semua ini tak diketahui oleh Baginda? Ataukah sudah diketahui dan sengaja dibiarkan? Agar ada yang muncul ke permukaan, mengadakan perlawanan, untuk kemudian ditumpas habis? Nyai Demang tak begitu paham dengan tata budaya mencari kekuasaan. Ia jauh dari semua keinginan itu. Semua yang diketahui mengenai liku-liku dan tata pemerintahan hanya dari kegemarannya membaca buku semata. Tanpa pernah terlibat langsung. Kalaupun terjadi pada dirinya, itu hanya tingkat demang, yang sungguh jauh dari menggapai Keraton. Jauh sekali jenjangnya. Toh begitu, Nyai Demang merasakan kepahitan hidup yang tak akan pernah terlupakan! Kematian suami dan anak-anaknya yang mengenaskan! Pengorbanan kehormatannya! Nyai Demang mengenyahkan pikiran yang menyangkut dirinya. Dengan cepat tubuhnya bergerak. Masuk menuju bagian perumahan yang didiami Senopati Sora. Dengan harapan bisa mendengar sesuatu. Yang berhubungan dengan Pendeta Syangka. Ketika Nyai Demang menemukan tempat kediaman yang sepi, ia merasa salah langkah. Adalah di luar dugaannya ketika ia sedang merunduk di bawah jendela, mendadak jendela itu dibuka perlahan. “Marilah kita bicara di dalam, Nyai.” Suara Senopati Sora! “Kamar sederhana ini terbuka bagi jiwa ksatria sejati. Masuklah, Nyai, sebelum pintu tertutup bagi persahabatan.” Nyai Demang segera bergegas, masuk melalui pintu depan yang ternyata tak terkunci. Dengan menunduk, Nyai Demang menghaturkan sembah, lalu jalan-duduk ke arah dalam. Senopati Sora duduk di ruangan tengah, bersila, tanpa membuat gerakan. Nyai Demang kaget juga karena seluruh ruangan kosong. “Maafkan kelancangan saya, Senopati.” Ucapan Nyai Demang bukanlah sekadar basa-basi. Perbuatan mengintai kediaman seseorang adalah kesalahan yang tercela. Dan Nyai Demang benar-benar merasa bersalah. Akan tetapi Senopati Sora hanya menghela napas. “Selama masih bisa memberi dan menerima maaf, selama itu pula kita seharusnya merasa bersyukur. Pupung ada waktu sebentar, pupung masih ada perjumpaan, kenapa tidak kita manfaatkan sisa waktu yang sekejap ini?” Nyai Demang merasa kalimat Senopati Sora tidak keruan ujung-pangkalnya. Hanya karena suaranya menyayat serta diucapkan dengan nada berat, Nyai Demang tak berani mempertanyakan. Dan memang tak perlu. Karena Senopati Sora melanjutkan. “Nyai, saya juga minta maaf karena tak bisa menyambut tetamu yang berjiwa ksatria dengan baik. “Saya akan segera kembali ke tanah asal. Malam ini juga saya harus segera berangkat. Titip, jaga kebesaran Keraton.” Di telinga Nyai Demang, kata-kata itu terdengar sangat aneh. “Nyai akan segera mengetahui. “Oleh Baginda Putra Mahkota, saya dititahkan kembali ke Dahana, menjaga di sana. Sebagai prajurit yang gagal berkali-kali, saya merasa semuanya telah cukup. “Saya orang tua yang tak berguna. “Hanya karena saya dididik dalam keprajuritan, saya tak ingin membunuh diri saya untuk menebus dosa. “Ah, sedikit lega dada ini bisa mengatakan sesuatu. Apakah Nyai ingin menyaksikan pemakaian gelar Pandya? Beruntunglah Nyai diundang dalam perjamuan kebesaran tradisi Syangka ini.” Bagi Nyai Demang, semuanya menjadi jelas! Senopati Sora dianggap gagal. Untuk itu ia dipulangkan ke Dahanapura, tempat kediaman resmi Putra Mahkota Bagus Kala Gemet. Sedangkan Putra Mahkota tetap tinggal di Keraton. Lebih dari itu, Putra Mahkota sedang mengadakan perjamuan besar. Peristiwa yang mengandung makna sangat dalam, karena Senopati Sora menyebutkan sebagai pemakaian gelar Pandya! Gelar itu adalah gelar yang biasa dipakai oleh mereka yang naik takhta secara resmi. Nama Pandya, menunjukkan tradisi tanah Syangka. Ini berarti, Putra Mahkota Bagus Kala Gemet diam-diam sudah mengangkat dirinya sebagai raja! Untuk tidak terlalu menarik perhatian dan pertentangan, diberi gelar Pandya di belakang nama yang dipilih. Dengan itu pula sekaligus menunjukkan, bahwa Bagus Kala Gemet telah memilih cara tata kenegaraan yang terjadi di tanah Syangka! Kalau dulu Raden Sanggrama Wijaya memakai gelar yang menunjukkan dirinya berasal dari keturunan Keraton Singasari, kini justru Putra Mahkota Keraton Majapahit memakai gelar dari nama raja-raja di Syangka. Sungguh tak masuk di akalnya. Lebih tak masuk akal lagi kalau ia menduga bahwa Senopati Sora sedang menceritakan lelucon. Nyai Demang merasa batinnya perih. “Duh, Senopati Sora, apakah telinga saya tidak salah dengar?” “Saya akan segera kembali ke tanah asal, Nyai. “Rasanya masih ada waktu untuk mengatakan segalanya dengan jujur.” Nyai Demang menyembah dengan hormat. “Senopati perkasa, jangan salah tampa. Saya tidak bermaksud…” “Saya tahu, Nyai.” “Apakah ini semua karena ulah Pendeta Syangka?” Tak ada jawaban. Helaan napas dalam. “Karena saya tak tahu pasti jawabannya, saya tidak berani menjawab apa-apa. “Nyai-lah yang akan menemukan jawaban itu.” “Senopati…” Senopati Sora berdiri. “Sebelum tengah malam, saya sudah harus tidak ada di dalam Keraton ini. Maka maafkan kalau saya tak bisa menemani lebih lama. Titip segala yang bisa Nyai lakukan untuk tanah tumpah darah ini. “Untuk ini, saya yang tua tak berguna mengucapkan terima kasih yang dalam.” Nyai Demang terpana ketika Senopati Sora menyembah ke arahnya. Maha Singa Marutma SAMPAI Senopati Sora selesai memberi hormat, Nyai Demang masih tetap terbengong. Siapa mengira dirinya akan menerima penghormatan seperti ini? Sampai Senopati Sora membalikkan tubuh, baru sadar bahwa tak seharusnya dirinya bersikap kaku. Karena bingungnya, Nyai Demang berkata tergesa, “Tidak… maaf… bukan… tapi, tapi saya… tunggu…” Senopati kembali membalikkan tubuhnya. “Maaf, Senopati Sora. Kalau benar malam ini ada upacara pemberian gelar sebagai Pandya oleh pendeta dari Syangka, apakah berarti pendeta dari tanah Jawa kalah dan tak terpakai?” “Kemauan dan kekuasaan seorang putra mahkota lebih penting daripada kesaktian.” “Apakah ini tidak memancing pertengkaran di belakang hari?” “Atau sudah dimulai, Nyai?” Senopati Sora menunduk. Nampak sekali penyesalan di wajahnya. “Tidak seharusnya saya mengatakan seperti ini.” “Biar saya yang menanggung dosa. “Saya tetap tak mengerti. Kenapa Bagus Kala Gemet begitu tergesa untuk menyiapkan diri, sementara Baginda masih memegang kekuasaan? Apakah karena ada Pendeta Syangka, dan mempunyai Senopati Maha Singanada yang diunggulkan?” “Dan satu lagi yang sangat diunggulkan. Senopati Maha Singa Marutma yang perkasa. Yang seperti Pendeta Syangka, masih disimpan.” “Marutma?” “Ya, Nyai.” “Marutma… Martaban…?” “Nyai tahu hal itu.” “Apa tidak salah dengar?” “Itulah yang saya dengar. Dan saya lihat.” “Kalau benar begitu…” Tanpa terasa Nyai Demang menggaruk-garuk rambutnya yang disanggul sempurna. Pandangannya nyalang. Marutma atau biasa disebut dengan Martaban adalah suatu wilayah subur di tepi Sungai Saluen. Di sanalah berdiri Keraton Mon. Keraton yang aman dan damai, yang menjadi salah satu wilayah di mana Baginda Raja Sri Kertanegara mengibarkan panji-panji kekuasaan pemerintahannya. Nyai Demang tahu persis bahwa banyak senopati unggul yang dikirimkan dari Keraton Singasari ke Keraton Mon. Seperti juga utusan yang dikirim ke tlatah Melayu. Bahkan boleh dikatakan rombongan senopati yang berangkat ke Keraton Mon lebih besar. Karena Keraton Mon sedang dikepung dua musuh yang berusaha menaklukkannya. Yaitu Keraton Sukothai atau Keraton Thai, serta Keraton Burma yang dikenal dengan barisan gajah putih. Selama ini yang diketahui Nyai Demang hanya utusan ke tlatah Melayu yang pulang kembali membawa dua putri. Yang lainnya tidak diketahui sama sekali. Baru dengan kemunculan Maha Singanada, Nyai Demang kemudian mengetahui adanya rombongan yang lain. Yaitu yang kembali dari Keraton Campa. Rombongan Maha Singanada-lah yang membawa putri Singasari bernama Putri Tapasi yang dipermaisurikan oleh Raja Jaya Singawarman Katelu, atau Ketiga. Dan di luar itu ternyata masih ada lagi Maha Singa Marutma, utusan yang kembali dari Keraton Mon! Bedanya dari utusan yang lain, kedua senopati ini langsung ditarik ke dalam rangkulan kekuasaan Putra Mahkota Kala Gemet. Ini yang agak aneh. Karena rombongan Senopati Anabrang menyerahkan putri bawaannya kepada Baginda. Kalaupun kedatangan Senopati Maha Singanada dan Senopati Maha Singa Marutma berselisih waktu yang cukup lama, jelas bukan sowan, atau menghadap kepada Putra Mahkota. Mereka tetap harus melapor, menyerahkan semua hasil yang dibawa kepada Baginda. Yang merupakan lanjutan pemerintahan Keraton Singasari semasa Baginda Raja Sri Kertanegara. Tapi nyatanya lain. Ini berarti ada satu usaha yang diam-diam dilakukan, tapi cukup kuat pengaruhnya dan berhasil. Siapa lagi kalau bukan dari Pendeta Syangka, yang bahkan mempengaruhi Putra Mahkota untuk memakai gelaran Pandya? Jelas dalam benak Nyai Demang, akan tetapi menggelisahkan di dalam hati. Keruwetan Keraton Majapahit selama ini, karena adanya seorang bernama Halayudha. Senopati Keraton yang sangat dipercaya oleh Baginda. Kalau kini Putra Mahkota juga didalangi oleh seorang pendeta, bisa dua kali bahaya. Dalam belitan keruwetan yang luar biasa ini, secara kebetulan pula para jawara penjuru dunia datang untuk mengadu kesaktian. Bahkan juga ikut muncul Ratu Ayu dari negeri Turkana! Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Mengibaskan jalan pikiran yang simpang-siur. “Apakah Baginda tidak mengetahui hal ini?” “Saya tidak tahu, Nyai.” “Paman Senopati wajib memberitahukan.” “Permaisuri Indreswari telah menerima laporan.” “Oh!” Ini berarti Putra Mahkota mempunyai kekuatan rangkap. Di satu pihak ia berhasil mengumpulkan para jago silat yang diangkat menjadi senopati, di lain pihak ia mendapatkan perlindungan dari Permaisuri Indreswari. Yang bisa mempengaruhi Baginda. Nyai Demang tak pernah lupa, bahwa Baginda sangat tunduk dan selalu mengiyakan apa yang menjadi permintaan Permaisuri yang datang dari Melayu. Kalau tidak begitu, pasti bukan Kala Gemet yang sejak kecil sudah ditunjuk sebagai ahli waris satu-satunya! Dan ahli waris satu-satunya, sang putra mahkota ini, ingin mempercepat proses! Sungguh menyedihkan kedudukan Baginda. Di satu pihak sangat disibukkan oleh senopati yang berebut dan menginginkan kedudukan mahapatih, sehingga terjadi saling pertikaian, di pihak lain, putra kandungnya sendiri mempersiapkan sesuatu yang bisa menjungkirbalikkan kedudukannya. Nyai Demang juga-bisa memperhitungkan, atau sedikitnya memperkirakan, bahwa jalan yang akan ditempuh Putra Mahkota pastilah bukan jalan yang berdarah. Seperti Baginda dulu merebut kekuasaan dari tangan Raja Jayakatwang. Seperti Raja Jayakatwang dulu merebut kekuasaan dari tangan Baginda Raja Sri Kertanegara. Akan tetapi akibat yang ditimbulkan bisa lebih menghamburkan darah. Karena persiapan yang ditempuh Putra Mahkota bisa menjurus ke arah itu. Senopati, punggawa, prajurit yang tak disukai bisa disingkirkan begitu saja. Seperti halnya Senopati Sora, yang tak mempunyai ambisi apa-apa. Seperti Rajadewi dan Tunggadewi yang masih kanak-kanak. Semua jalan akan dilicin ratakan. Yang menghalangi akan disikat habis. “Senopati Sora… Paman…” Suara Nyai Demang tertahan. Tak ada lagi bayangan orang lain. Ia sendirian. Entah sejak kapan Senopati Sora meninggalkannya. Terbayang wajah duka seorang senopati utama, seorang prajurit sejati yang kecewa lahir dan batin. Adalah Senopati Sora yang berjuang sejak awal. Sejak penyerbuan pertama ke Keraton Singasari (Daha) yang masih diduduki Raja Jayakatwang. Yang ikut menyabung nyawa mengusir pasukan Tartar. Adalah Senopati Sora yang dianggap sesepuh dan pantas menduduki jabatan mahapatih. Justru dalam puncak pengabdiannya, Senopati Sora tetap merendah dan merasa tidak pantas dengan keunggulan jabatan itu. Ia menolak secara halus. Sehingga keponakannya, Adipati Lawe, menjadi geram, dan sesuai dengan darah panasnya, mengatakan secara terbuka. Yang berlarut menjadi perang tanding dengan Senopati Anabrang. Dan tewas di tangan senopati itu. Yang kemudian tewas di tangannya. Sebagai ksatria, Senopati Sora bersedia menanggung semua akibat yang diperbuatnya-walaupun itu bukan pembunuhan yang disengaja. Hatinya lebih hancur lagi ketika Baginda tidak memberi hukuman dengan mencopot jabatannya atau menghukum mati. Senopati Sora hanya “dibuang” ke Keraton Dahanapura. Mendampingi Putra Mahkota. Tetap berusaha mengabdi sebagai senopati utama yang menyerahkan dan mengerahkan seluruh pengabdiannya. Yang justru ditendang dengan semena-mena oleh Putra Mahkota. Betapa hancur harga dirinya. Betapa remuk batinnya tertimpa duka. Inikah akhir seorang prajurit yang jujur, setia, yang memberikan seluruh pengabdiannya dengan jiwa dan raganya? Nyai Demang merasa bahwa kehancuran jiwa Senopati Sora jauh lebih mengerikan daripada penderitaan yang disandangnya selama ini. Jari Lentik Permaisuri Indreswari NYAI DEMANG memberontak dalam hati. Walau luas pandangannya yang jauh dalam mempertimbangkan, akan tetapi hati kecilnya terusik. Perlakuan terhadap Senopati Sora sangat menyedihkan. Karena tak mungkin mengejar Senopati Sora, Nyai Demang berniat menerobos ke dalam kediaman Putra Mahkota. Untuk menjelaskan bahwa ada beberapa perkiraan yang keliru. Ada sesuatu yang tak pantas dilakukan terhadap Senopati Sora. Memang terbersit juga pikiran untuk menghadap langsung Baginda Kertarajasa, akan tetapi itu pasti akan lebih sulit. Dan ternyata tak begitu sulit untuk masuk ke dalam kediaman Putra Mahkota. Karena boleh dikatakan itu adalah pertemuan terbuka. Bahkan boleh dikatakan semua pembesar Keraton hadir. Mulai Mahapatih Nambi hingga para prajurit pengawal utama. Untuk pertama kalinya Nyai Demang melihat Permaisuri Indreswari hadir dalam pertemuan. Malah bertindak sebagai penyelenggara. “Kedatangan para senopati membesarkan hati kami. Ini membuktikan kesetiaan kepada Keraton, sampai turunan yang kemudian. Untuk ini semua, saya secara pribadi tak akan pernah melupakan.” Suara Permaisuri Indreswari terdengar sedikit lebih lantang. “Malam ini, secara resmi, Putra Mahkota Bagus Kala Gemet penerus utama dan satu-satunya, akan resmi memakai sebutan Sri Sundarapandya Adiswara. “Mulai malam ini hanya itulah sebutan yang berlaku.” Semua yang hadir menghaturkan sembah. Hormat dan khidmat. Putra Mahkota yang duduk di kursi berukiran warna emas nampak mengangguk. Gerakan tangannya sama lembutnya dengan gerakan tangan ibundanya, ketika memberi aba-aba agar penghormatan dihentikan. “Malam ini akan lebih sempurna kalau Putri Ayu Turkana menjadi salah seorang pendampingnya. Akan tetapi ternyata derajat dan pangkat putri mancanegara itu tak cukup bagus. Sehingga harus mendampingi seseorang yang tak jelas asalusulnya. “Tapi itu semua soal kecil, selama kalian semua, para senopati yang dipercaya oleh Keraton, hadir di sini.” Suasana lengang. Nyai Demang mencari-cari di mana Pendeta Syangka berada. Karena kini sampai kepada tata upacara memberi penghormatan kepada Sri Sundarapandya Adiswara. Satu demi satu para senopati maju ke depan. Diawali oleh Mahapatih Nambi, yang berjalan jongkok. Dari jarak beberapa meter, Mahapatih menunduk hormat ke arah telapak kaki Putra Mahkota. Upacara berjalan cukup lama dan melelahkan bagi Nyai Demang yang berada di kejauhan. Sementara itu, Permaisuri Indreswari memperhatikan satu demi satu. Seolah menghitung siapa yang datang dan siapa yang tidak. Siapa yang menunjukkan kesetiaan dan siapa yang menjadi pembangkang. “Sora memang tidak mau datang.” “Hamba sudah berusaha membujuknya, akan tetapi maaf, Gusti Permaisuri yang paling dicintai Baginda, senopati tua itu berkeras tak mau datang menghadap.” Itulah suara Halayudha! Satu-satunya manusia di jagat yang membuat Upasara bisa menaruh dendam. Bahkan terhadap Ugrawe yang jahat kelewat-lewat, Upasara sampai mengutarakan secara terbuka. Bagaimana mungkin Halayudha bisa mengatakan bahwa Senopati Sora tidak mau menghadap kalau memang ia tidak diundang? Dusta macam apa lagi ini? Tangan Permaisuri Indreswari yang lentik menggapai ke arah Mahapatih Nambi. Yang segera mendekat dan menghaturkan sembah. “Benar, Sora tidak mau datang?” “Hamba tidak melihatnya, Gusti Permaisuri.” “Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?” “Apa pun yang diperintahkan Baginda, hamba akan melaksanakan dengan seluruh jiwa dan raga hamba.” “Apakah perlu menunggu perintah langsung?” Mahapatih menunduk, menyembah. Seluruh ruangan menjadi sunyi dan tegang. Suara Permaisuri Indreswari maupun Mahapatih Nambi terdengar jelas. “Kalau memang perlu titah langsung dari Baginda, kamu akan mendengar sebelum matahari terbit esok hari. “Bisa dimengerti keraguanmu, Mahapatih, karena Baginda tak menghendaki adanya pertentangan di dalam. Akan tetapi pembangkangan secara terang-terangan ini tak bisa diampuni. Tak bisa dibiarkan tanpa penjelasan.” Lalu Permaisuri Indreswari menoleh ke arah Halayudha. “Senopati mana lagi yang tidak hadir?” “Semua hadir, Gusti Permaisuri. “Kecuali Senopati Sora dan Senopati Muda Gajah Biru.” “Ini akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka.” Nyai Demang tak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang permaisuri utama bisa begitu cepat mengambil keputusan. Dan merasa bahwa ia bisa menentukan kesetiaan seseorang. Kalaupun tidak baru saja bertemu, Nyai Demang tetap percaya bahwa Senopati Sora bukan pembangkang. Darah Nyai Demang mendidih. Giginya gemeretuk. Perutnya terasa mual setiap kali Permaisuri Indreswari bernapas. Mendadak ada tangan mencekal tangan Nyai Demang. Ketika Nyai Demang menoleh, hampir saja berseru kaget. Karena dikiranya yang memegang tangannya adalah Upasara! Memang wajahnya mirip. “Maha Singanada.” “Kita bertemu lagi, Nyai. “Nyai tak usah terpengaruh. Saya juga baru bertemu dengan Senopati Sora.” “Lalu?” “Ini bukan urusan kita.” Nyai Demang menahan kedongkolan dalam hati. Baru kini bisa jelas perbedaan antara Maha Singanada dan Upasara Wulung. Kalau Upasara ada, tak akan mengatakan hal semacam itu. Upasara lebih mulia. Lebih ksatria. “Omonganku kasar, Nyai?” Nyai Demang berdiam. “Aku bukan Upasara yang sedang menikmati malam pengantinnya.” Kasar, sembrono, tetapi ada benarnya! Upasara masih menikmati wewangian pengantin. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Gendhuk Tri… Astaga, apakah ia masih beku di Kamandungan? Suara Maha Singanada cukup keras, sehingga Permaisuri Indreswari menengok ke arahnya. Nyai Demang bergidik. Ngeri. Sebaliknya, Maha Singanada nampak tenang sekali. Tak terpengaruh sama sekali. “Siapa yang berani begitu kurang ajar berbicara sendiri?” “Saya.” Sukma Nyai Demang benar-benar terbang. Sama sekali tak disangka bahwa Maha Singanada akan berbuat selancang dan sengawur itu. “Kalau begitu, enyahlah kamu dari hadapanku.” Suasana menjadi berubah seketika. Semua pandangan tertuju ke arah Maha Singanada. “Mulai sekarang dan untuk selama-lamanya, aku tak sudi melihat bayanganmu.” Maha Singanada berdiri. Tanpa menghaturkan sembah. Berjalan begitu saja, ketika tiba-tiba satu bayangan memaksanya berkelit menghindar. “Siapa menyuruhmu berbuat begitu kurang ajar dan tak tahu aturan?” “Tak ada.” “Kita selesaikan di luar.” Maha Singanada mengangguk. Keduanya berkelebat pergi. Nyai Demang merasa kepalanya pening mendadak. Berturut-turut terjadi peristiwa yang berada di luar jangkauan pikirannya. Mana mungkin pertarungan bisa terjadi hanya karena sikap yang begitu ugalugalan? “Sidateka, selesaikan urusan di luar tanpa ribut-ribut.” Yang disebut namanya segera menunduk, memberi hormat, dan melompat pergi. Sebat sekali gerakannya, meninggalkan kesiuran angin dingin. Nyai Demang sadar bahwa yang disebut Sidateka adalah Pendeta Syangka! Jadi pendeta dari Syangka itu sudah mempunyai nama sebuah desa di Keraton. Desa Sidateka! Berarti sudah cukup lama berada di dalam wilayah Keraton. Jalan pikiran Nyai Demang terputus ketika mendengar suara halus. “Lebih baik kamu menyerah. Hukumanmu bisa diperingan atas ampunan Gusti Permaisuri.” Pangeran Jenang dari Campa NYAI DEMANG menatap ke arah pembicara yang memberi peringatan padanya. Sosok tubuh yang sedikit kurus, dengan dagu mendongak. Tak bisa dibedakan dari senopati lain. Hanya saja gelang lengan yang dikenakan menunjukkan tingkat kebangsawanan yang tinggi. Demikian juga kalung bersusun yang gemerlap. Dengan bentuk sayap burung, besar dan bersusun makin lama makin kecil. Sesaat Nyai Demang merasa heran. Tokoh dari mana lagi ini? “Gusti Permaisuri, saya mohon ampunan atas kelakuan kasar wanita ini. Rasarasanya…” Nyai Demang mendengus keras. Langsung berdiri dengan gagah. Tatapan matanya menyorot tajam. “Untuk apa minta ampunan kalau tidak melakukan kesalahan. Gusti Permaisuri, ampunan tak bisa saya terima.” Suara lantang Nyai Demang lebih dikarenakan kegeraman atas sikap Permaisuri Indreswari dan Putra Mahkota. Ia bukannya tidak mengetahui bahwa bangsawan yang memamerkan kekayaannya ini berusaha melindunginya. Namun Nyai Demang menangkap gelagat sinar yang tak senonoh dari pancaran mata lelaki bangsawan yang berusaha melindungi. Bagi wanita seperti Nyai Demang sangat mudah untuk menebak arti sorot mata lelaki. Itu yang membuatnya lebih gondok. “Siapa kamu, berani kurang ajar kepada Pangeran Jenang?” Suara Putra Mahkota terdengar mengguntur. Pangeran Jenang mendongakkan wajahnya. Seakan mendapat kehormatan yang lebih tinggi. “Kurang ajar atau tidak, apa urusannya? “Di jagat ini begitu banyak pangeran, begitu banyak ratu berkeliaran, tak menentu apa maunya. Kalau semua pelarian masih menganggap harus tetap dihormati sebagai sesembahan, sampai bungkuk tubuh saya tak akan selesai penghormatan ini.” Permaisuri Indreswari menuding murka. Empat senopati utama langsung mengurung Nyai Demang. Menunggu aba-aba. Satu gerakan lembut dari Permaisuri Indreswari, cukup untuk membuat Nyai Demang jadi cincangan. Nyai Demang berdiri tegak. Tak membiarkan dirinya diringkus begitu saja. Hatinya cukup sadar bahwa kata-kata yang dilontarkan mampu membuat Permaisuri Indreswari mencincang sampai lumat! Memang begitulah sesungguhnya! Apa yang dikatakan Nyai Demang seolah melempar kotoran busuk ke wajah yang terhormat. Nyai Demang tahu bahwa tetamu kehormatan yang juga muncul malam ini adalah Pangeran Jenang, atau Pangeran Che Nam. Penguasa dari Keraton Tran-Minh-tong di tlatah Vietnam. Sudah sejak lama Nyai Demang mendengar bahwa penguasa utama dari Vietnam menyembunyikan diri di tanah Jawa. Pangeran Jenang adalah penguasa yang terusir setelah gagal merebut kembali keratonnya dari penguasaan bangsa Vietnam. Ke mana lagi larinya kalau tidak minta bantuan Keraton Singasari yang memang mempunyai kekuasaan di wilayah itu? Kedatangan Pangeran Jenang diterima dengan baik oleh Permaisuri Indreswari dan dimanfaatkan sebagai bagian upacara kebesarannya. Pangeran Jenang diterima sebagai tamu kehormatan. Dan diperlakukan sebagai penguasa tertinggi. Sebutan pangeran, menunjukkan sedikit di bawah raja. Bisa dimengerti bahwa ucapan Nyai Demang bagai melempar noda yang busuk. Dengan enteng Nyai Demang mengatakan sebagai raja yang berkeliaran. Tak berbeda dari Ratu Ayu! Yang dianggap ratu keluyuran dan hanya mencari jodoh. Telinga Putra Mahkota pun terasa seperti terbakar. Karena kehadiran Pangeran Jenang secara politis sangat berarti sekali. Seakan peresmian dihadiri oleh beberapa utusan berbagai negara dari tanah seberang. Namun dengan beberapa patah kata, Nyai Demang telah memorakporandakan tata upacara kenegaraan. Kalau istilah itu ditujukan kepada Ratu Ayu Bawah Langit, mungkin tak akan membakar gusar seperti sekarang ini. Bukan karena Ratu Ayu gagal dipersunting Putra Mahkota, akan tetapi karena selama ini tak ada hubungan langsung dengan negeri Turkana yang jauh di ujung jagat. Sementara hubungan dengan Pangeran Jenang sudah terjalin dengan baik sejak Baginda Raja Sri Kertanegara. Sama-sama tamu negara, kedudukan Pangeran Jenang jauh berbeda dari Ratu Ayu. Putra Mahkota berdehem, mengeluarkan suara di tenggorokan karena geramnya. “Tujuh turunan di atasmu pastilah manusia yang tak mengenal tata krama. Tujuh turunan di bawahmu akan tetap seliar binatang. Dihukum cincang pun rasanya masih kurang. “Wanita biadab.” “Enak saja bisa memaki orang lain. “Percuma saja menjadi calon sesembahan seluruh masyarakat jika bisanya hanya memamerkan kekuasaan. Putra Mahkota Keraton yang begini besar dan jaya, tak tahunya hanyalah…” Empat senopati sudah langsung mengepung. Dengan sangat bernafsu menubruk dan berusaha membungkam Nyai Demang. Nyai Demang hanya mengeluarkan suara pendek, menggeliatkan tubuhnya, dan serta-merta meloncat ke atas. Satu tangan bergerak menangkis, didahului dengan gerakan kaki. Sangat cepat. Dan mengena. Namun yang terkena tak peduli, apalagi yang lainnya. Tetap saja menubruk. Ingin meringkus secepatnya. “Biar aku yang menjajal dan memberi pelajaran. Mohon perkenan Gusti Permaisuri.” Pangeran Jenang menyembah hormat kepada Permaisuri Indreswari dan Putra Mahkota, lalu dengan sebat meloncat ke arah Nyai Demang. “Wanita ayu, tubuhmu indah, gerakanmu memesona. Lidahmu tajam. Aku tak bisa menahan diri untuk menangkapmu secara istimewa. Aku masih memerlukan beberapa dayang.” “Coba saja kalau mampu. “Kalau berdiri di negeri sendiri tidak mampu, jangan mencoba bertolak pinggang di negeri orang.” “Sangat luar biasa. Kamu mengenaliku. Siapa namamu, wanita ayu?” Nyai Demang mengeluarkan senyuman mengejek. “Kalau pemimpin keraton hanya memperhatikan wanita ayu dan gerakan tubuh, bagaimana memimpin negeri? Soal nama, apa pedulimu?” Dengan menyebut mu, Nyai Demang betul-betul menunjukkan kekurangajaran nya. Walau sebenarnya karena kemuakan melihat gaya dan tingkah laku Pangeran Jenang. “Aku suka kuda liar seperti ini. “Lebih menarik untuk ditaklukkan dan dikendarai.” Kali ini justru Nyai Demang yang menggebrak langsung. Bagian dari Dua Belas Jurus Nujum Bintang dimainkan dengan sepenuh hati yang terbakar dendam. Langsung menyodok ke arah ulu hati, dibarengi sapuan kaku yang ganas, Mengarah ke selangkangan Pangeran Jenang, yang dengan cepat mencoba menangkis dengan kedua tangan sekaligus! Gerakan patah, tapi kentara menyimpan tenaga dalam yang terlatih. Pangeran Jenang memang bukan sembarang pangeran! Walau mata keranjang dan suka main-main, ilmunya cukup tinggi. Tak terlena dengan segala kemewahan dan kelebihan yang dimiliki. Menangkis gerakan dengan dua tangan ke bawah, tubuh Pangeran Jenang berputar maju. Memapak ke arah Nyai Demang, dan dua sikunya menusuk ke arah dada. Gerakan dua tangan yang seolah satu sodokan. Kaku, akan tetapi jitu. Menusuk langsung. Akan tetapi Nyai Demang justru menyambut keras lawan keras. Dadanya yang terbuka serangan hanya ditarik mundur, sementara kakinya menebas dengan keras. Menebas sedikit di bawah lutut, yang segera ditarik ke atas. Lagi-lagi selangkangan lawan yang diincar. Sebat, seolah kain yang dipakai Nyai Demang bukan merupakan penghalang. Bahkan sebaliknya, seakan menyatukan dengan tendangan berturut turut. Agaknya Pangeran Jenang tak menduga sedikit pun bahwa Nyai Demang begitu nekat. Adalah di luar perhitungannya, bahwa kata-katanya telah membakar harga diri Nyai Demang. Menyentuh bagian rasa kewanitaannya yang paling peka. Bagi Nyai Demang adalah pantangan untuk hanya dianggap sebagai wanita pemuas dahaga asmara. Sikap dan kata-kata Pangeran Jenang justru menjurus ke arah itu. Tak bisa ditafsirkan lain. Rasanya Nyai Demang rela mati untuk membela harga dirinya. Itulah sebabnya tak mengubah serangannya. Lulur Pengantin PANGERAN JENANG menurunkan tangannya, ganti dipakai untuk menebas kaki Nyai Demang. Karena Nyai Demang tak menarik mundur, bentrokan tenaga tak bisa dicegah. Keras lawan keras. Tenaga lawan tenaga. Benturan itu membuat kaki kiri Nyai Demang terasa sedikit ngilu. Akan tetapi kaki kanannya terus menghajar ke atas. Ke arah wajah Pangeran Jenang, saat Nyai Demang membalikkan tubuh. Mengetahui datangnya serangan nekat, Pangeran Jenang tak bertindak ayal. Dengan serta-merta, kepalanya ditarik ke arah belakang bersamaan dengan tubuhnya. Mau tak mau harus meloncat mundur! Nyai Demang justru menyusuli dengan tendangan kedua. Ketiga. Sambil terus berputar bagai gasing. Pangeran Jenang tak bisa tidak juga mundur. Dua langkah. Tiga langkah. Bukan pemandangan yang menyenangkan bagi Pangeran Jenang. Karena seolah ia dipaksa mundur, didesak dalam gebrakan pertama. Dipaksa bertahan kembali ke bagian awal. Tidak persis seperti ini, akan tetapi inilah yang terlihat. Tidak persis, karena justru dalam soal adu tenaga, terlihat betapa sesungguhnya tenaga dalam Pangeran Jenang lebih unggul. Dalam sekejap, Pangeran Jenang mengetahui bahwa tenaga dalamnya jauh lebih besar daripada yang dimiliki Nyai Demang. Akan tetapi kini justru nampak terdesak. Inilah yang tidak enak. Namun untuk membalikkan arah serangan, juga tak bisa begitu saja. Kedua kaki Nyai Demang berturut-turut menyambar, dan arah yang dituju selalu wajah. Dua kali diseling sambaran ke arah ulu hati. Nyai Demang memang memainkan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Rangkaian gerakan dalam Kitab Bumi yang sudah dihafal hampir semua pendekar silat. Akan tetapi tidak berarti bisa terbaca jelas gerakan-gerakannya. Karena Kitab Bumi justru hanya mengajarkan tentang pengaturan tenaga, cara memperoleh, dan menyalurkannya. Gerakannya sendiri bisa mempunyai banyak kembangan, atau perubahan. Apalagi Nyai Demang sedang didorong oleh dendam yang membakar. Ini salah satu sebab kenapa Nyai Demang sedikit unggul pada gebrakan awal. Kelebihan Nyai Demang justru dalam hal mengerti nama-nama jurus dan bisa di luar kepala semua kidungan dan atau lirik-lirik dalam Kitab Bumi. Lebih dari itu, Nyai Demang juga mengetahui berbagai kembangan seperti yang terjadi pada Kiai Sambartaka ataupun pada Naga Nareswara. Semua ini mempunyai pengaruh akan keluasan pandangan Nyai Demang. Dalam keadaan menyerang Nyai Demang bisa mengeluarkan semua kemampuannya. Tidak sebaliknya. Nyai Demang tak akan cukup mampu bertahan. Karena memang kekuatan tenaganya sangat terbatas dibandingkan para pendekar yang sudah mencapai tingkatan tertentu. Hal ini sangat disadari oleh Nyai Demang. Tak ada yang mampu menilai diri sendiri seperti Nyai Demang. Dalam keadaan terdesak, semua ilmu yang beragam yang dimiliki akan hilang dan terpusat pada pembelaan diri. Kelemahan utama ini bisa dimanfaatkan oleh lawan secepatnya. Itu pula sebabnya Nyai Demang terkadang begitu mudah ditumbangkan. Dan dianggap kelasnya masih jauh di bawah. Namun ini semua tidak berlaku di saat ia bisa menguasai lawan dan menyerang. Sadar di mana kelebihan dan kekurangannya, Nyai Demang terus menghajar Pangeran Jenang. Dua belas jurus berturut-turut, ia memaksa Pangeran Jenang mundur ke segala penjuru. Dan bertahan dengan ketat dan geram. Sebenarnya Nyai Demang bisa memancing lawan ganti menyerang, dan saat itu ia memainkan jurus-jurus dalam Kitab Penolak Bumi. Ibarat kata tinggal menjebak lawan. Hanya saja Nyai Demang tidak yakin bahwa pada saat lawan ganti menyerang, ia mampu menjebak dengan baik. Justru karena mengetahui kekuatannya tak mampu mengimbangi. Maka selesai dua belas jurus, Nyai Demang menyambung dengan jurus ketujuh, kedelapan, dan kemudian menyentak lagi dari awal. Dua kali tendangannya hampir mengenai wajah lawan, sehingga Pangeran Jenang terpaksa menyambar tombak trisula. Ujung tombak yang terkena sentakan kaki Nyai Demang sampai tergetar. Pada saat itu tangan kiri Nyai Demang terulur maju, seakan dengan satu tangan siap menggotong mayit, atau menggotong mayat. Pangeran Jenang mengeluarkan suara tertahan. Tombaknya bisa direbut Nyai Demang. Tiga ujung tombaknya berbalik ke arah lambungnya sendiri. Bahaya! Pangeran Jenang tak menyangka bahwa dalam dua puluh jurus ia terdesak terus dan kini betul-betul repot menyelamatkan diri. Risiko paling buruk bagi pesilat. Karena dengan membiarkan dirinya terdesak satu langkah, rangkaian langkah berikutnya makin kuat dan tak terduga. Bahaya! Tiga ujung tombak sudah mendekat. Tangan Pangeran Jenang turun dengan cepat. Mau atau tidak ia akan beradu tenaga. Merampas ujung tombak dan mengerahkan tenaga dalam untuk membetotnya. Berarti adu tenaga. Yang dalam perhitungan Pangeran Jenang akan bisa dimenangkan. Walau memang mengandung sedikit risiko. Karena satu torehan sedikit saja akan menyebabkan kantong nasinya terobek. Pada saat yang kritis tak terlalu banyak pilihan. Pangeran Jenang memusatkan konsentrasi pikiran, mengerahkan tenaga ke arah dua tangannya. Satu jari di bawah ujung yang runcing digenggam dengan cepat, dan disentakkan. Berhasil. Tapi kecele. Karena Nyai Demang tidak mengerahkan tenaga di situ. Malah sebaliknya. Kaki kiri Nyai Demang-lah yang melayang bersamaan dengan tubuhnya bergerak ke atas. Bahaya! Terlambat Pangeran Jenang menyadari bahaya yang sesungguhnya. Tak masuk dalam perhitungannya bahwa Nyai Demang tetap mampu melancarkan serangan kaki berupa tendangan, justru pada saat menusuk. Tak masuk dalam perhitungan Pangeran Jenang, justru karena tak mengetahui bahwa Nyai Demang tidak begitu mampu menguasai permainan tombak. Kalau saja Pangeran Jenang sedikit cerdik, bisa mengetahui bahwa serangan Nyai Demang yang terutama adalah permainan kaki, seperti pada awal yang telah dipertunjukkan. Gerakan yang lain sekadar perubahan untuk membingungkan lawan, dan bukan merupakan serangan utama. Plak! Bahaya! Kepala Pangeran Jenang terdongak ke atas, tombak trisula terlepas dari genggamannya, dan tubuhnya terbanting di lantai. Kemenangan Nyai Demang yang gilang-gemilang. Keunggulan mutlak. Akan tetapi, bersamaan dengan ambruknya tubuh Pangeran Jenang serentak itu pula kepungan dan serangan mendadak muncul. Nyai Demang yang tengah melayang di angkasa, mengerahkan sepenuh tenaganya untuk mencari pijakan. Tidak mudah. Karena begitu tubuhnya melayang turun, hampir semua senjata digerakkan untuk memotongnya. Sehingga Nyai Demang meminjam tenaga dari salah satu senjata yang ada, untuk mumbul, naik ke atas lagi. Akan tetapi tiga kali melambung, tenaga perlawanan Nyai Demang sudah merosot jauh. Bahaya! Pertarungan di tengah udara bukan keunggulan Nyai Demang. Pun andai di atas tanah, tetap tak akan mengimbangi serbuan para senopati yang tak terhitung banyaknya. Kini ia benar-benar dalam bahaya. Satu sabetan pedang saja bisa membuat kakinya kutung atau tubuhnya putus. Satu tusukan saja bisa membuat Nyai Demang bagai terpanggang. Nyai Demang tak mungkin memenangkan pertarungan secara keroyokan begini. Pada saat loncatan kelima, Nyai Demang merasa bahwa akhir hidupnya tak tertolong lagi. Karena kekuatannya sudah makin merosot, dan ia tak bisa sepenuhnya menguasai gerakan tubuhnya. Pada saat itulah, mendadak di bawah terjadi perubahan. Serbuan para senopati seperti terobek. Menguak. Sehingga Nyai Demang bisa turun dan berdiri tegap. Pinggangnya didekap seseorang. Upasara Wulung! “Adimas.” “Mbakyu Demang… Mari kita menyingkir.” “Astaga, tubuhmu masih bau lulur pengantin. Bedak pengantin Turkana ini…” Upasara Wulung membalikkan telapak tangannya. Tiga ujung senjata yang menusuk ke arahnya diraup dengan satu tangan. Dibanting ke tanah. Lalu dengan menggandeng Nyai Demang, meloncat pergi. “Bagaimana nasib dua putri Permaisuri Rajapatni?” Raja Turkana BAIK Nyai Demang maupun Upasara menanyakan isi hati masing-masing. Dalam benak Nyai Demang kemunculan Upasara adalah sesuatu yang sama sekali di luar dugaannya. Karena seharusnya saat itu Upasara sedang menikmati malam pengantin bersama Ratu Ayu Bawah Langit. Kesempatan yang begitu diimpikan oleh banyak lelaki. Sebaliknya Upasara justru lebih memikirkan keselamatan Rajadewi dan Tunggadewi. Aneh atau tidak aneh, itulah kenyataannya. Sesaat setelah pertarungan yang berhasil dimenangkan, Upasara diboyong oleh Ratu Ayu dan para senopatinya. Saat itu Upasara tak sadar sepenuhnya apa yang terjadi. Ia tak bisa menolak dan tak bisa menerangkan apa-apa ketika digiring masuk ke dalam kediaman Ratu Ayu. Juga ketika masuk ke dalam ruangan, Upasara makin kikuk, karena Ratu Ayu bersujud di ujung kakinya. Disusul oleh para Senopati Turkana. “Paman Senopati, maaf… Juga Ratu Ayu… Saya kira ada yang perlu dijelaskan,” suaranya menjadi gugup tak menentu. Bau wangi dupa di dalam ruangan membuat Upasara makin gelapan. “Raja Turkana yang gagah perwira, Baginda sekarang memegang kekuasaan tertinggi.” “Saya tak bisa. Tak bisa. “Pokoknya tak bisa saja.” Ratu Ayu memandang dengan sorot mata memohon. “Sampai hamba membunuh diri di depan kaki Raja Turkana sesembahan kami, kenyataan ini tak bisa berubah.” Upasara menggelengkan kepalanya. “Bukan saya menolak kehormatan yang demikian besarnya, Ratu. Bukan untuk membunuh diri siapa pun. Hanya saja, rasanya masih ada sesuatu yang belum selesai. Saya masih harus mengembalikan dua putri yang saya jaga, masih ada berbagai urusan yang harus saya selesaikan.” Ratu Ayu menyembah. Diikuti para senopati. Upasara makin merasa tak betah duduk di kursi. “Sebagai Raja Turkana, Baginda bebas melakukan apa saja. Menyelesaikan urusan, memilih istri kedua atau kesepuluh. Tetap tinggal di tanah Jawa, atau memilih kembali ke singgasana di Turkana. “Sebagai Raja Turkana, Baginda bisa melakukan apa saja. Kami tak akan pernah mungkin menghalangi atau menawar perintah. “Sebab Baginda yang paling menentukan.” Upasara melengak tak habis pikir. Asap wewangian membuatnya setengah sadar setengah tidak. Pikirannya yang jernih seperti teraduk. Ia tak membayangkan dirinya akan menjadi raja. Benar-benar dipanggil dengan sebutan Baginda dan disembah. Raja sebuah negeri! Lebih dari itu semua, ialah kenyataan bahwa itu semua tak mengurangi apa yang bisa dilakukan. Sebagai raja, ia bisa melakukan dan memutuskan apa saja. Ratu Ayu yang kesohor itu akan mengikuti jejaknya. Ini yang justru sangat merepotkan. Kalau ia bisa melepaskan takhta, atau keluar begitu saja, masalahnya akan selesai. Batinnya tidak mempunyai beban apa-apa. Akan tetapi sekarang justru lain. Ia tetap bisa berbuat apa saja, hanya saja anggapan sebagai Baginda Raja Turkana tak pernah bisa ditanggalkan. “Saya akan mengembalikan kedua putri dan…” “Hamba bisa melakukan, Baginda,” sembah Senopati Uighur. “Tidak, tidak. Nanti akan merepotkan.” “Tidak bagi hamba, Baginda.” “Saya akan melakukan sendiri.” “Kalau itu kehendak Baginda, hamba akan mengikuti titah.” Upasara merasa punggungnya menjadi gatal tak menentu. Digaruk susah, tidak digaruk membuat gelisah. “Ratu Ayu.” “Siap menerima perintah Baginda.” “Saya tak tahu harus bersikap bagaimana. Kejadian ini di luar pengertian saya. Karena masih ada beberapa urusan, saya akan menyelesaikan sendiri. “Barangkali ini akan lebih baik. Sementara saya pergi, Ratu Ayu tetap menjadi pemimpin seperti sebelumnya.” Akhirnya Upasara mampu juga mengutarakan gagasannya. “Hamba akan menjalankan semua perintah Baginda. Apa pun sabda Baginda itu yang berlaku bagi kami semua. Hanya saja hamba tak mungkin mewakili Baginda. “Tidak dalam pengertian apa pun. “Hamba sama dengan semua senopati di sini.” Upasara menggeleng sedih. “Begini… begini… “Masalah negeri Turkana atau pengembaraan kalian di sini, kalian bebas melakukan apa saja, selama saya menyelesaikan urusan. Setelah itu kita akan membicarakannya lagi.” “Ke mana Baginda melangkah, ke tempat itulah kami semua mengikuti. “Kalau tidak begitu kami, hamba sahaya ini, tak akan mengikuti Ratu Ayu sampai ke tanah Jawa.” Suara Senopati Uighur menyadarkan Upasara bahwa ia tak bisa berkelit lagi. Secara resmi ia adalah Raja Turkana. Tak ada gunanya mendebat atau mempertanyakan kembali. “Kalau begitu, kalian semua menjaga diri baik-baik. “Akan saya tinggalkan Galih Kangkam sebagai pengganti saya di tempat ini. Malam ini saya akan kembali ke Keraton untuk menyelesaikan tugas yang ada. Kalian semua, termasuk Ratu Ayu, tak perlu campur tangan agar tidak terjadi permusuhan.” “Kami jalankan titah Baginda.” Semua melakukan sembah. Lalu delapan senopati menyembah dan dengan berjongkok setengah merangkak ke luar. Tinggal Upasara dan Ratu Ayu. “Berdirilah, Ratu.” Ratu Ayu Bawah Langit berdiri, mengambil tempat duduk di sebelah Upasara. “Baginda akan berangkat malam ini juga?” “Ya, Ratu.” “Doa dan pujian kami semua menyertai perjalanan Baginda.” “Ratu Ayu, kalau terjadi apa-apa dengan saya di Keraton, itu sepenuhnya tanggung jawab saya. Ratu tak usah menuntut balas atau memperhitungkan di kelak kemudian hari.” “Sebagai hamba, saya tak bisa menolak perintah. “Akan tetapi sebagai istri, sebagai permaisuri, saya berhak membalas dendam kalau ada kulit Baginda yang lecet karenanya. Sebagai permaisuri, saya berhak memuji dan menyerang kawan atau lawan Baginda. “Baginda adalah kehormatan dan pujaan seluruh tanah Turkana.” Upasara memang tak terlalu pandai menyusun kalimat, sehingga hanya bisa menggerakkan kepala tanpa jelas maksudnya. “Baginda…” “Ini membingungkan.” “Maaf, Baginda. “Kami semua hanya pengikut dan pengabdi Baginda. Tak ada bedanya dengan semua senopati Keraton kepada Baginda di Majapahit ini. Atau di belahan mana pun. “Kalau Baginda tidak puas dengan pelayanan kami, Baginda bisa memecat, mengganti, atau menambah permaisuri dan senopati. “Akan tetapi sampai mati pun, kami hanya mengabdi kepada satu orang sesembahan.” “Baik, baik, Ratu. “Saya akan mencoba memahami perlahan-lahan. Karena pedang hitam tipis ini merupakan pusaka utama Keraton Turkana, untuk sementara saya titipkan kepada Ratu. “Dengan menggenggam Galih Kangkam, Ratu bisa berbuat apa saja pada saat yang diperlukan. Saya akan kembali ke dalam Keraton menyelesaikan dua urusan. “Setelah itu kita bicarakan lagi.” Ratu Ayu menunduk. “Apa pun sabda Baginda. “Saya terlalu rendah untuk mengingatkan bahwa ini adalah malam pengantin Baginda.” Wajah Upasara menjadi merah karena jengah. Meskipun hanya berdua, Upasara tak bisa menyembunyikan rasa kikuk yang mencapai puncaknya. Ia tak pernah berdua-dua seperti ini, apalagi sekarang ini dalam pengertian sebagai baginda dan permaisuri. “Kalau Baginda tak menghendaki saya, Baginda bisa mengambil permaisuri yang mana saja.” “Bukan begitu masalahnya, Ratu. “Saya tak tahu apakah saya cukup berharga atau tidak mendampingi Ratu Ayu. Saya tak mempunyai pikiran apa-apa. Jangan terlalu membayangkan dan menilai diri terlalu rendah. “Ah, apakah omongan saya ini urut? “Hmmmmm….” Upasara segera berdiri. “Baginda, kami semua menunggu Baginda.” Ratu Ayu menyembah dengan dalam. Turun ke bawah, kedua tangannya menyentuh kaki Upasara. Membersihkan Ilalang BAHWA Ratu Ayu melakukan itu semua dengan hati yang tulus, dengan kecintaan dan pemujaan yang muncul dari lubuk hati, membuat Upasara makin canggung. Kalau ia segera keluar dan menuju Keraton, karena ingin melepaskan diri dari suasana yang membuatnya serbasalah. Bagi Upasara, suasana yang dihadapi sama sekali tidak siap diterima. Sebagai raja. Sebagai suami. Maka begitu melesat ke luar, Upasara segera merasakan udara segar. Ia bergegas masuk ke dalam Keraton. Untuk mencari tahu apakah Rajadewi dan Tunggadewi sudah selamat sampai ke kaputren. Sesudah itu, ia tak tahu lagi harus bagaimana. Apakah kembali ke dalam rangkulan kehormatan atau kembali ke Perguruan Awan. Atau meneruskan berkelana. Mengambil jalan berputar, Upasara menuju ke kaputren. Kali ini hatinya berkebat- kebit lebih keras. Darahnya berdesir lebih cepat. Kaputren dalam keadaan kosong. Ruangan yang biasa ditempati Permaisuri Rajapatni hanya ditunggui dua dayang yang mematung. Tak ada suara napas Permaisuri Rajapatni maupun suara Rajadewi dan Tunggadewi. Sewaktu Upasara nekat menyusup ke dalam pun, kamar yang ditemui kosong. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencari di ruangan lain. Ketiga permaisuri yang lain tetap berada dalam kamarnya masing-masing. Pikir Upasara, pasti sedang terjadi sesuatu. Dan kalau terjadi sesuatu terhadap Rajadewi dan Tunggadewi, itu berhubungan dengan Putra Mahkota. Maka Upasara menuju ke dalem pangeranan, kediaman Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, yang sedang memaklumkan dirinya dengan gelar yang baru. Upasara terlambat sampai di tempat itu. Yang dilihatnya saat itu hanyalah terancamnya jiwa Nyai Demang yang tadinya dipasrahi menjaga dua putri. Tanpa berpikir dua kali, Upasara segera bergerak. Dan lawan-lawan bisa tersingkir. Itu pula sebabnya pertanyaan pertama adalah mengenai keselamatan dua putri yang menjadi tanggungannya. Digandeng oleh Upasara, Nyai Demang merasakan getaran yang lain. Semacam getaran asmara yang menyengat ketika untuk pertama kalinya Upasara memegang pinggang Nyai Demang. Apalagi sekarang ini digandeng untuk meloloskan diri. “Bagaimana keadaannya, Nyai?” “Aman.” Nyai Demang memilih jawaban yang menenteramkan, meskipun sadar bahwa keadaan yang sebenarnya bisa berarti lain. Tapi Nyai Demang merasa itulah jawaban yang paling baik. Ia tidak merasa mendustai Upasara. Karena memang, boleh dipastikan, keadaan Rajadewi dan Tunggadewi aman tak kurang suatu apa. Hanya saja kini sepenuhnya dalam kekuasaan Putra Mahkota. Yang dikuasai oleh Permaisuri Indreswari di satu pihak dan Sidateka, Pendeta Syangka, di lain pihak. Dua unsur antara kekuasaan dan kekuatan. Pilihan jawaban ini menenangkan hati Nyai Demang. Karena ia merasa mengetahui isi hati Upasara Wulung. Lelaki perkasa yang dikenalnya dengan baik. Sejak masih menyorotkan pandangan tertarik dulu, sampai dengan ketika seluruh daya asmara Upasara tersedot ke dalam diri Gayatri. Nyai Demang bisa memahami sepenuhnya. Walau kadang juga timbul pikiran yang aneh. Aneh bagi dirinya sendiri. Ada semacam desiran darah dan guncangan hati yang tak mampu dikuasai setiap kali bersama Upasara Wulung. Adalah benar pandangan Gendhuk Tri yang sering mencemburuinya. Karena diam-diam Nyai Demang juga menaruh hati kepada Upasara! Sesuatu yang diakui oleh Upasara dan pernah diutarakan pada permulaan perjumpaan. Namun jauh di dalam lubuk hati Nyai Demang, ada kesadaran lain yang mengerem tindakannya. Secara sadar Nyai Demang bersikap sebagai mbakyu, kakak perempuan, pada Upasara. Ia mencintai Upasara, kalau mau dikatakan dengan jujur. Ia mengharapkan Upasara menemukan yang terbaik. Dan Nyai Demang merasa dirinya bukan yang terbaik untuk Upasara. Jalan hidup Upasara terlalu bersih, lurus. Upasara mempunyai masa depan yang lebih elok. Ditambah berbagai alasan lain, Nyai Demang merasa bahagia bisa mendampingi Upasara. Tidak sebagai kekasih, tidak karena daya asmara semata. Karena persahabatan, kekaguman, dan kebersamaan. Ia merasa memiliki Upasara tanpa merusaknya. Itulah daya asmara yang paling murni. Yang akhirnya terasakan oleh Nyai Demang dan kemudian membuatnya bahagia. Akan tetapi pada saat tertentu, seperti sekarang ini, Nyai Demang tak bisa menyembunyikan isi hatinya. Tangannya menjadi dingin. Sementara tangan Upasara terasa panas. Kalau jalan pikiran Nyai Demang berliku, jalan pikiran Upasara lebih sederhana. Ia menangkap tubuh Nyai Demang, dan kemudian menggandengnya melewati pasukan yang mengejarnya, karena memang itulah jalan yang terbaik. Menyelamatkan Nyai Demang. Sejak terbetot perhatiannya kepada Gayatri, Upasara boleh dikatakan tak pernah dilintasi pikiran adanya wanita lain. Apalagi Nyai Demang yang telah dianggap sebagai kakak kandung, yang banyak melalui pengalaman hidup getir bersama-sama. Termasuk usaha keras Nyai Demang untuk mengembalikan kesadaran Upasara, di saat jiwanya blong, kosong, setelah semua ilmunya dimusnahkan. Dengan mencekal keras, Upasara menarik tubuh Nyai Demang melayang ke atas, melompati dinding Keraton. Lenyap ke dalam kegelapan. Sementara itu Permaisuri Indreswari menggigit bibirnya dengan keras. Sejak kemunculan Nyai Demang dan kemudian datangnya Upasara, hatinya menjadi sangat gusar. Sebagian jalannya upacara jadi berantakan. “Inilah saatnya membersihkan ilalang, agar padi bisa tumbuh sempurna.” Suara Senopati Halayudha terdengar berbisik. “Apa maksudnya, Halayudha?” “Sebagai permaisuri utama dan satu-satunya, tidak seharusnya melarutkan diri dalam soal-soal yang remeh tak berharga. Kehadiran Nyai Demang atau juga penyusupan Upasara Wulung, malah bisa melapangkan jalan. “Ibarat kata mereka ini adalah ilalang yang sedang tumbuh. Sebelum besar, tangan Permaisuri Indreswari bisa menudingnya, dan dengan senang hati Mahapatih akan mencabutnya.” Permaisuri Indreswari tersenyum. Apa yang dikatakan oleh Halayudha bisa tertangkap maksudnya. Halayudha memakai perumpamaan “membersihkan ilalang”. Kemunculan Nyai Demang, Upasara, serta ketidakhadiran Senopati Sora dan Gajah Biru boleh dikatakan ilalang. Ilalang yang bisa mengganggu pertumbuhan padi. Kalau padi ingin tumbuh subur, ilalang harus dibersihkan. Dicabut sampai ke akar- akarnya. Bagian yang tersulit ialah menentukan mana yang ilalang, mana tumbuhan lain yang membantu pertumbuhan padi. Sekarang justru menjadi jelas. Perlawanan Nyai Demang dengan mudah bisa dikatakan sebagai ilalang. Semua orang bisa mengerti. Lebih penting lagi, Baginda pun akan menyetujui. Sekarang saatnya membasmi. Bagi Halayudha, ini juga kesempatan terakhir. Dengan memihak sepenuhnya kepada Permaisuri Indreswari, Halayudha memainkan kartunya dengan cerdik. Menjadi orang kepercayaan Baginda saja tidak cukup. Harus bisa mendapatkan dukungan juga dari Permaisuri Indreswari. Sebab sering terjadi, justru kebijaksanaan dan keputusan yang besar datang dari usulan Permaisuri Indreswari. Dalam perhitungan Halayudha, lawan terbesar dalam urutan keperwiraan dan kepangkatan di Keraton kini adalah Senopati Sora. Kalau sekarang ini ia menjatuhkan Mahapatih Nambi, pilihan sebagai pemegang jabatan utama kedua, akan jatuh ke tangan Senopati Sora. Karena dibandingkan dengan senopati yang lain, Senopati Sora tetap yang lebih unggul. Kalau Senopati Sora yang tampil menggantikan Nambi sebagai mahapatih, ia tak bisa berkutik. Senopati Sora jauh lebih keras sikapnya, tak mudah termakan oleh hasutan. Maka jalan satu-satunya adalah melenyapkan Senopati Sora. Dengan demikian tak ada yang menduga apa yang dilakukan. Tidak juga Mahapatih Nambi, yang dalam pikiran Halayudha tak terlalu berbahaya. Dengan tudingan jari Permaisuri Indreswari, Mahapatih Nambi bisa pindah tempat dan jabatan. Dan tak akan menimbulkan banyak pergolakan. Karena Mahapatih Nambi tidak mempunyai pendukung kuat seperti Senopati Sora! Duka Ibu Tak Bisa Dibagi PERMAISURI INDRESWARI memerintahkan agar pesta dan kemeriahan terus berlangsung. Ia sendiri kemudian mengajak Senopati Halayudha langsung menghadap Baginda. “Maaf, Gusti Permaisuri, di tengah malam seperti ini?” “Baginda juga membangunkan saya di tengah malam seperti ini.” “Apakah hamba patut menyertai?” “Halayudha, kamu menjadi saksi, bila Baginda menanyakan sesuatu. Kalau kamu kubawa serta, besok pagi semua perintah telah dikeluarkan. “Jangan menunggu sampai matahari meninggi.” “Gusti Permaisuri sungguh bijak bestari.” “Satu lagi, Halayudha, apakah betul yang muncul tadi Upasara Wulung yang perkasa?” “Begitulah, Gusti.” “Apakah di belakang hari tidak akan menimbulkan masalah mengingat ilmunya begitu tinggi?” “Seorang yang mengaku ksatria tak akan membuat gangguan selama tidak diganggu bersilat. Upasara tak ada maksud untuk turut berebut pangkat dan derajat. “Lagi pula sebagai suami Ratu Ayu, kita bisa mempergunakan titik lemah ini untuk mengusirnya.” “Kalau ia tak mau pergi?” “Banyak jalan untuk membuat Upasara bertarung dengan para ksatria karena Ratu Ayu dizinahi lelaki lain.” “Hmmm, jalan pikiranmu panjang, Halayudha. “Aku rada bimbang, apakah di belakang hari kamu tidak akan berpaling dariku.” Halayudha menyembah. “Kalau ada setitik kebusukan dalam diri hamba mengenai Putra Mahkota atau Permaisuri, biarlah sekarang juga hamba…” “Tak perlu kuragukan kesetiaanmu sampai saat ini.” Dalam hati, Halayudha tertawa puas. Permaisuri boleh merasa unggul dan berkuasa. Boleh merasa mampu mengawasi semua orang dan mengatur, akan tetapi tidak diriku ini. Satu kaki membalik, Permaisuri Indreswari tak akan menyadari. Sampai akhirnya ia sendiri terjerembap keluar. Bagi Halayudha, Permaisuri Indreswari adalah tokoh yang menggelikan. Yang puas atas kemenangannya di antara semua permaisuri dan wanita Keraton. Yang merasa mampu memaksakan kehendaknya pada Baginda. Yang menjadi satu-satunya pendamping Baginda. Itulah kekuatan utama dan sekaligus juga kelemahannya. Karena Permaisuri Indreswari dalam soal taktik dan strategi masih terlalu hijau. Halayudha mengiringi Permaisuri menuju ke kediaman Baginda. Menyusuri lantai yang megah dan sepi. Di depan kamar Baginda, nampak Permaisuri Rajapatni bersujud. Semua rambutnya diurai, wajahnya menunduk, tak bergerak sedikit pun. Permaisuri Indreswari memalingkan mukanya, seakan tak melihat sama sekali. Dan melangkah masuk ke dalam. Berjongkok, melakukan sembah. Halayudha mengiringkan. Bersujud di tempat yang agak jauh di belakang. Baginda hanya melirik, lalu menghela napas. Sebelum akhirnya kembali ke tempat peraduannya. “Pintu itu selalu terbuka. Ada yang berani langsung masuk, ada yang lebih suka menangis di luar. “Apa lagi?” “Mohon ampun, Baginda. “Keberanian abdi Baginda menerobos masuk karena merasa tak tahan lagi dengan tingkah laku Senopati Sora yang justru mengadakan kraman saat-saat upacara berlangsung.” “Sora?” “Demikian, Baginda junjungan hamba.” “Sora memang pemberani. Sedikit keras kepala. Itu aku suka. Tapi karena tidak pada tempatnya… perlu diperingatkan pula. Besok diminta menghadap kemari.” Sunyi. Permaisuri Indreswari menyembah. “Rasanya tak cukup diperingatkan, Baginda. Kali ini sangat keterlaluan sekali. Hukum buang pun rasanya…” Tangan kiri Baginda bergerak perlahan. “Aku yang menentukan, Yayi! “Aku tak pernah berkata dua kali. Halayudha, perintahkan Sora menghadap kepadaku. “Aku akan berbicara langsung.” “Sembah dalem, hamba akan menjalankan titah Baginda, malam ini juga.” “Kamu pergi sendiri, Halayudha.” Halayudha menyembah, lalu mundur. “Tunggu, sebentar. “Aku ingin mendengar pendapatmu…” Halayudha menyembah lagi. “Permaisuriku yang lain lagi, Rajapatni, bersila sejak sore tadi di depan pintu. Kutanya ada apa, ia malah menangis. Kuajak masuk, ia menunduk. “Hanya beberapa patah kata yang terucap, ‘Duka permaisuri bisa dibagi seperti panas matahari, akan tetapi duka seorang ibu yang kehilangan anaknya adalah duka yang tak bisa dibagi.’ Kamu bisa mengerti apa maksudnya?” Halayudha menyembah. “Seratus kali bertambah pandai, hamba tetap tak menangkap isinya, Baginda. “Hanya barangkali Permaisuri Rajapatni yang mengerti susastra tinggi ingin menyampaikan bahwa kegelisahan hati Permaisuri Rajapatni karena kehilangan kedua putrinya, yaitu Putri Ayu Rajadewi dan Putri Ayu Tunggadewi. “Kerisauan ini hanya bisa dirasakan oleh ibu.” Baginda tersenyum. “Itu aku tahu. “Yang ingin kuketahui, apakah kamu tahu di mana kedua putriku itu?” Halayudha terdiam. Baginda melirik ke Permaisuri Indreswari. “Bicaralah, Yayi.” “Kami terpaksa mengasuhnya, karena putri sekar kedaton, bunga Keraton, dibiarkan keluyuran di luar. “Sungguh aib dan ternoda kalau sampai diketahui orang luar.” Baginda mengangguk. “Sampai kapan?” “Sampai ibu yang melahirkan dan merasa berduka bisa mengasuhnya.” “Baik, kalau begitu.” Baginda menggerakkan kedua tangannya. Permaisuri Indreswari dan Halayudha menyembah bersamaan dan berjongkok mundur, agar tidak memunggungi Baginda. Baru kemudian Baginda melangkah ke pintu. Memandang Permaisuri Rajapatni. “Yayi, kamu dengar sendiri semuanya?” Permaisuri Rajapatni tak bergerak. “Cukup. “Sekarang kembalilah ke kaputren.” Permaisuri Rajapatni menyembah. “Hamba tak akan beranjak dari tempat ini kalau kedua putri hamba belum kembali ke dalam pelukan hamba.” Baginda tertawa kecil. “Inilah susahnya. “Siapa menduga bahwa menjadi raja justru susah mengatur permaisuri yang mempunyai jalan pikiran sendiri-sendiri? Dengan satu patah kata aku bisa menentukan perang besar atau perdamaian. Semua akan mengikutiku. “Tapi soal begini, ah, sungguh runyam. “Kubenarkan tindakan Indreswari yang merasa menjaga tata krama Keraton. Kusalahkan kamu karena membiarkan putriku keluyuran. Kurasakan beratnya dukamu, Yayi. “Bersabarlah, besok atau lusa, kedua putrimu akan kembali tanpa putus sehelai rambut pun. Kalau ada yang mengganggu, aku sendiri yang akan bertindak. “Sekarang kembalilah.” Permaisuri Rajapatni tetap tak bergerak. “Aku tak hanya mengurusi putriku. Aku dititahkan oleh Dewa Penguasa Tanah Jawa untuk mengurus semuanya. “Aku tahu siapa kamu, siapa Indreswari, siapa Sora, siapa Halayudha. “Sebagai raja, aku harus bertindak adil untuk semuanya. “Masih mau bertahan di situ?” Permaisuri Rajapatni menyembah. Baginda menggelengkan kepalanya. “Yayi Gayatri, kalau bukan kamu, malam ini juga kamu sudah kuusir dan tak kuizinkan bayangan tubuhmu masuk ke dalam Keraton untuk selamanya. Tapi kamu lain. Kamu memberikan kasih padaku, kamu ditakdirkan Dewa menjadi pendampingku. “Tapi kamu sendiri yang menakdirkan berada di situ sampai tua!” Baginda segera melangkah ke dalam. Sedia Senjata Sebelum Mendung SEWAKTU Baginda masuk kembali ke kamar peraduan, Permaisuri Gayatri masih tetap bersila. Tak bergerak seujung rambut pun. Ketika itu Halayudha sudah langsung mempersiapkan diri untuk menyusul ke Dahanapura, setelah lebih dulu menemui Mahapatih Nambi. Yang merasa agak heran, karena Permaisuri juga menyertai. “Saya sendiri merasa berat, Mahapatih. Akan tetapi inilah titah Baginda. Agar menyelesaikan Senopati Sora yang berniat kraman. Kalau Senopati Sora tetap menolak untuk hukum buang besok, berarti Mahapatih yang harus menyelesaikan.” Mahapatih mengangguk ragu. Permaisuri Indreswari mengangguk dalam. “Keputusan Baginda hanya dua. Membuang Sora atau menghukum mati. Yang pertama akan lebih berharga bagi Sora, kecuali kalau ia menghendaki lain.” Halayudha menyembah ke arah Permaisuri Indreswari. “Dalam satu-dua hari ini, saya akan menghadap Mahapatih, dengan atau tidak bisa membawa Senopati Sora.” “Kamu tak perlu kuatir hal itu, Nambi. Siapkan seluruh prajurit utama, semua senopati, untuk menghadapi bahaya sewaktu-waktu.” Bagi Mahapatih Nambi ini menimbulkan kebimbangan yang cukup berat. Baginya, apa yang dilakukan Senopati Sora jelas keliru. Menentang secara terbuka. Akan tetapi untuk menghukum mati juga tak bisa begitu saja. Akan tetapi kecil sekali kemungkinannya menafsirkan bahwa Halayudha maupun Permaisuri mengartikan lain perintah Baginda. Rasanya sangat tidak mungkin! Itu seperti menyangsikan Baginda! Tak akan terjadi pada seorang prajurit sejati, prajurit pengabdi. Maka tak ada pilihan lain kecuali menyiapkan pasukan istana yang siap gegaman, siap senjata tempur, untuk menghadapi kemungkinan yang tak diinginkan. Kesulitan yang juga muncul malam itu ialah kenyataan bahwa pertarungan di halaman depan Keraton ternyata tak seperti yang diharapkan. Pendeta Syangka yang sangat diandalkan, ternyata tak mampu menangkap Maha Singanada. Maha Singanada berhasil melarikan diri. Atau meloloskan diri karena merasa dikerubut begitu banyak lawan. Kalau mau dipersoalkan, ini termasuk tanggung jawabnya juga. Bahkan sampai Pangeran Jenang kena tendang wajahnya oleh Nyai Demang, termasuk bagian yang bisa disalahkan ke arahnya. Permaisuri bisa menumpahkan semua kesalahan ini padanya. Yang berarti sandungan bagi pengabdiannya yang tulus. Yang berarti kegagalan dari sekian banyak tugas dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Nambi menyadari sepenuhnya. Sebagai senopati, Nambi merasakan puncak tertinggi pangkat yang bisa disandang adalah mahapatih, Karena senopati seperti dirinya bukannya titisan Dewa yang bakal bisa menduduki takhta. Ia tak mempunyai wahyu untuk itu. Hal itu sangat disadari betul. Dalam perhitungan ketika mengucapkan doa di dalam hati, Mahapatih Nambi makin menyadari posisinya. Di seluruh Keraton ini, siapa yang bakal menjadi raja sudah ditentukan oleh Dewa yang menguasai Jagat. Akan tetapi siapa yang menjadi mahapatih, tergantung siapa yang bisa meraih. Dari seluruh penduduk Keraton, hanya ada satu mahapatih. Atas kemurahan Dewa Agung, maka dirinya terpilih untuk tugas sangat suci. Satu-satunya yang dipercaya menjadi mahapatih, dari sekian ratus senopati yang unggul, dan sepuluh senopati yang pantas menduduki jabatan tertinggi kedua ini. Tidak, bagi Mahapatih Nambi bukan keinginan untuk mempertahankan jabatan dan pangkat ini selamanya. Baginya pangkat dan derajat adalah kepercayaan yang diberikan padanya. Pangkat yang dititipkan oleh Dewa melalui tangan Baginda. Sebagai ksatria, Mahapatih Nambi tidak tamak dan serakah mengenai kemewahan dan kekuasaan. Ia menerima segalanya berdasarkan rasa pengabdiannya. Sebagai perwujudan tanggung jawabnya. Juga sekarang ini. Kalau ia terpaksa bertindak keras kepada kawan yang dikenal semasa berjuang mengenyahkan prajurit Raja Jayakatwang dan mengusir pasukan Tartar dulu, sematamata karena tugas. Karena pengabdian. Hanya itulah yang dimiliki dan wajib dilakukan sebagai prajurit. Jangan kata sahabat, anak sendiri bila perlu disingkirkan kalau ternyata mengganggu ketenteraman Keraton. Percakapan dalam hati Mahapatih Nambi membuatnya sedikit tenteram. Hanya saja tak bisa dipungkiri adanya sedikit ganjalan yang menggelisahkan. Kalau Baginda bertindak adil dan benar, kenapa masih ada tokoh-tokoh seperti Upasara Wulung? Kenapa Upasara Wulung muncul secara terang-terangan dan membuat gegeran? Mahapatih Nambi bisa membuat perhitungan sendiri atas Upasara Wulung dengan beberapa pertimbangan. Setidaknya bagi mereka yang tergabung dalam Perguruan Awan. Mereka ini adalah ksatria sejati. Hal ini tak perlu diragukan lagi. Sifat-sifat luhur ksatria mengalir dalam darah dan terembus dalam semua tindakannya, sampai napasnya pun murni. Tanpa keinginan jahat untuk merusak atau mengacau. Kurang apa untuk seorang Upasara, kalau ia lebih dulu dipilih Baginda untuk menduduki derajat dan pangkat sebagai mahapatih? Kurang apa kalau sekarang Upasara menjadi lelananging jagat, dan mampu mempersunting Ratu Ayu Bawah Langit? Semua yang diharapkan telah berada dalam genggamannya. Semua yang diidamkan lelaki berhasil digenggam. Tanpa perlu membuat keonaran pun, Upasara bisa hidup dengan tenang dan bahagia. Akan tetapi justru bukan itu semua yang menjadi dasar pergerakan batinnya. Di mana ada ketidakberesan, Upasara akan muncul dan berani menantangnya. Termasuk pengeroyokan terhadap Nyai Demang. Alasan bergerak Upasara hanyalah karena merasa ada sesuatu yang tidak benar. Ada perlakuan yang tidak adil. Bukan karena iri, bukan karena mau merebut derajat dan pangkat, bukan pula karena harta. Usikan ini membuat Mahapatih Nambi sedikit gelisah. Kalau Upasara memperjuangkan kebenaran dan keadilan, kenapa harus bentrok dengan Keraton? Apakah ini berarti Keraton tidak benar dan kurang adil? Bahwa masih banyak masalah yang perlu dibenahi dan didandani, Mahapatih Nambi mengetahui lebih dari siapa pun. Akan tetapi itu semua bisa dilakukan tanpa menimbulkan gegeran yang sifatnya terbuka menantang Keraton. Yang justru kini dilakukan oleh Upasara. Yang justru dulunya begitu rapi menyembunyikan diri. Akan tetapi apa pun kebimbangan yang ada, suara kegelisahan yang mengusik, tak berarti banyak. Bagi Mahapatih hanya ada satu kebenaran yang abadi sebagai abdi. Menjalankan perintah Baginda. Kalau untuk itu ia harus memindahkan gunung atau membendung sungai, tetap akan dijalankan. Juga kalau harus menghadapi Upasara Wulung! Musuh Keraton adalah musuhnya. Penghalang kebijaksanaan Raja adalah lawan yang harus dibasmi. Kemantapan dalam hati ini datang bersama fajar pagi yang menyemburatkan sinar. Mengusir hawa dingin dan mendung. Mahapatih sudah menyiapkan seluruh prajurit utama untuk berjaga-jaga. Untuk menangkap Senopati Sora. Atau kalau perlu memburu ke Dahanapura. Prajurit telik sandi yang dikirimkan secara diam-diam sudah memberi laporan bahwa Senopati Halayudha sudah mengadakan pembicaraan dengan Senopati Sora. Prajurit kedua memberi laporan bahwa Senopati Sora menolak untuk dihukum buang. Prajurit ketiga melaporkan bahwa kini justru Senopati Sora sedang mempersiapkan prajuritnya yang setia untuk datang ke Keraton. Utusan dari Halayudha menjelaskan kemudian bahwa dalam rombongan yang akan menghadap Baginda, selain Senopati Sora dan Gajah Biru, juga ada Senopati Juru Demung. Serta beberapa tokoh persilatan lain yang agaknya akan mendampingi Senopati Sora. Termasuk dalam rombongan itu, Upasara Wulung dan Nyai Demang dari Perguruan Awan. Dan sudah barang tentu akan disertai senopati Turkana yang pasti akan berpihak kepada Upasara. Mahapatih diminta dengan hormat mengawasi gerak-gerik delapan senopati Turkana. Jalan pikiran yang paling sederhana mengartikan bahwa Senopati Sora tidak sekadar ingin sowan kepada Baginda, melainkan sekaligus menyiapkan langkah terakhir, jika usahanya gagal. Berarti juga perang besar. Jalan pikiran Mahapatih Nambi bukan terlalu mencurigai dan dicari-cari. Sejarah mengajarkan bahwa sejak Raja Jayakatwang, Raden Sanggrama Wijaya juga melakukan cara yang sama. Menyusup ke dalam Keraton dengan persiapan penuh. Mahapatih Nambi cepat mengambil keputusan. Kebo Berune UPASARA yang masih menggandeng Nyai Demang meninggalkan Kamandungan dengan langkah enteng. “Adimas mau ke mana?” Upasara tidak bisa menjawab seketika. “Ke mana sebaiknya, Mbakyu?” Nyai Demang tertawa. Dengan sedikit sungkan ia melepaskan tangan kiri Upasara yang mencekalnya. Upasara jadi tersipu. “Mana saya tahu? “Adimas kan pengantin baru? Pasti mempunyai acara dan kesibukan sendiri. Saya tak mau disalahkan di belakang hari jika pada malam pengantin ini Adimas keluyuran tak menentu.” Kali ini Upasara menggeleng mantap. “Tak sepenuhnya begitu, Mbakyu. “Tapi sudahlah, akan panjang kalau diceritakan. Nanti Mbakyu Demang akan mengetahui sendiri.” “Maaf, saya tak ingin mencampuri urusan pribadi.” Mereka berdua berjalan menjauhi Keraton. Bintang di langit sebagian bisa dilihat dengan jelas. Juga angin perlahan bisa dirasakan. Upasara menghela napas berat. “Saya juga tak ingin mencampuri urusan Keraton. Kalau sekarang atau nanti terjadi pergolakan, itu semata urusan Keraton. Sejauh tidak menyakiti Tunggadewi dan Rajadewi yang menjadi tanggungan saya. “Rasanya kita masih perlu mencari Gendhuk Tri dan Dewa Maut.” “Kalau sudah bertemu kenapa?” Upasara melengak lagi. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan. Dan Nyai Demang bisa menebak dengan jitu. “Kenapa Adimas ingin menjauhi Ratu Ayu?” Sesaat tak ada jawaban. “Tidak juga, Mbakyu. “Saya tidak berusaha menjauhi atau mendekati. Mbakyu Demang lebih tahu, ada beberapa salah pengertian dalam hubungan ini. Saya kira Ratu Ayu Azeri Baijani telah menemukan yang dicari. Yaitu Pedang Kelana, Galih Kangkam yang selama ini musnah dari Keraton Turkana. “Setelah menemukan yang dicari, masalahnya sudah selesai.” “Tidak sesederhana itu, Adimas Upasara. “Salah pengertian atau bukan, semua telah mengetahui Adimas resmi menjadi suami Ratu Ayu. Beban atau kesenangan itu tak bisa dielakkan lagi. “Saya bisa memahami perasaan Adimas, akan tetapi tidak demikian halnya dengan seluruh penduduk yang menyaksikan pertarungan di Kamandungan.” “Lalu harus bagaimana?” Nyai Demang mengangkat bahu. “Sudah saja jalani hidup dengan baik. Belum tentu tidak menyenangkan. Bagi saya pribadi, itu lebih baik daripada Adimas selalu mengenang Gayatri.” Wajah Upasara menjadi merah. Sebenarnyalah itu yang menjadi ganjalan di hatinya. Upasara mengakui dan sadar sepenuh-penuhnya. Ratu Ayu, sesuai dengan julukannya, memang sangat elok. Mempunyai kekuasaan tertinggi. Akan tetapi Upasara tak bisa menerima dengan tenang. Selama ini yang masih memenuhi bayangan dan mimpinya adalah sosok Gayatri, yang telah menjadi Permaisuri Rajapatni. Bahkan ketika Ratu Ayu menyilakan Upasara memilih juga yang lainnya dan tak menghalangi, Upasara merasa makin terjepit perasaannya. Rasanya tak bisa melupakan Gayatri begitu saja. Nyatanya memang begitu. Upasara malu mengakui hal itu. “Bukan itu, Mbakyu. Soalnya…” “Adimas masih ingin merahasiakan kepada mbakyumu ini? Ah, Upasara… Upasara! “Mbakyumu ini sudah tua, sudah cukup kenyang dengan garam asmara. Kenapa masih menganggap saya ini orang lain?” Upasara memalingkan wajahnya ke arah lain. Dalam gelap perubahan wajahnya tidak bisa terlihat jelas. Tapi dari suaranya bisa dikenali getaran perasaan hatinya. “Saya tak mengerti kenapa ada sisa-sisa perasaan seperti itu. Ah, Mbakyu Demang, mari kita bicarakan hal yang lain saja.” Keduanya terdiam. Hanya angin yang menggoyang ujung pohon dan dedaunan. Samar-samar terdengar seperti kidungan. Kalau bulan diselimuti awan kenapa bicara tentang surya Kalau hati sedang tertawan kenapa bicara tentang surya? Gerhana bulan pasti datang seperti gelombang kerinduan… Bukan hanya Upasara yang terkejut. Bahkan Nyai Demang seperti tersengat. Jelas sekali kidungan itu ditujukan kepada mereka berdua. Yang membuat Nyai Demang tersengat, karena seakan mengenali lirik-lirik kidungan itu. Yang sengaja dibelokkan ucapannya. “Kalau bisa bicara terbuka, kenapa bersembunyi seperti kura-kura?” Nyai Demang berseru perlahan sambil mengerahkan tenaga dalamnya. Karena sadar bahwa yang dihadapi adalah tokoh yang cukup sakti. Dari tenaga dalam ketika melantunkan kidungan maupun dari keberanian mencampuri urusan. “Menguping pembicaraan orang lain bukan pekerjaan ksatria. Masih ada tempat untuk muncul bersama.” Tantangan Nyai Demang mendapat jawaban yang mengejutkan. “Kalau yang tua mendatangi yang muda, apakah tidak akan dibilang kurang ajar?” Upasara mencekal tangan Nyai Demang. Dengan satu tekukan kaki, tubuhnya melayang ke arah datangnya suara. Ternyata di balik pohon-pohon, tersembunyi gubuk yang sangat sederhana. Sedemikian sederhananya, sehingga lebih mirip kandang kuda yang belum selesai. Upasara menunduk. “Izinkanlah kami mengganggu ketenangan Kakek yang mulia.” Nyai Demang merasa heran, karena Upasara menyebut sebagai Kakek. Lebih kaget lagi karena terdengar jawaban yang disertai batuk-batuk kecil. “Saya sudah tua, tetapi siapa mengajarimu menyebut Kakek? Apa susahnya menyebut sebagai Eyang?” “Maafkan, Eyang.” Terdengar tawa lirih. “Tak kusangka. Ksatria lelananging jagat ternyata tahu sopan santun, mengerti tata krama. Sungguh, budaya Keraton yang mulia telah mendidik dengan sangat baik. “Itu yang terbaik.” Aneh kata-katanya, seperti tak keruan arah dan tujuannya. Upasara menyembah sekali lagi. Sementara Nyai Demang masih berdiri kaku. “Bocah slemok, kamu juga perlu menyembah sebelum masuk keratonku.” Nyai Demang mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. Dipanggil dengan sebutan bocah slemok, yang artinya anak yang gemuk menggemaskan, hati wanitanya tersinggung. Mana mungkin dirinya dipanggil sebagai bocah? “Saya yang rendah, Upasara Wulung, dengan ini mewakili menyampaikan hormat kepada Eyang.” Nyai Demang mengerutkan kening. Ia tahu bahwa Upasara sangat menghormati seseorang, apalagi lebih tua. Akan tetapi tidak seperti sekarang ini. Kerutan di kening Nyai Demang bisa berarti pertanyaan. Apakah ada orang yang begitu harus dihormati seperti penghormatan yang dilakukan oleh Upasara? Yang bersedia memanggil dengan sebutan Eyang secara seketika? ., “Itu sejak tadi telah kurasakan. “Sayang, kenapa bocah cerdik seperti kamu kurang bisa mengenali tata krama. Bukankah ini terakhir kali kamu bisa memberi hormat kepada aku yang sudah bakal pergi ke alam baka?” Kini Nyai Demang seperti disadarkan bahwa ia bertemu tokoh sakti yang ganjil sekali. Setelah munculnya Kiai Sambartaka, Naga Nareswara, Kama Kangkam, dan Ratu Ayu, bukan tidak mungkin tokoh yang setara masih bisa muncul seketika. “Menghormat hanyalah sekadar membungkukkan badan dan merangkapkan tangan. Apa susahnya? “Sebelum tahu kepada siapa saya harus menghormat, buat apa susah-susah menyembah.” “Jawaban yang bagus. Kalian pasangan yang tak ada tandingannya. Dari Berune aku datang, tak percuma bisa bertemu dengan pewaris darah ksatria Singasari. “Mati pun aku tak begitu menyesal sekarang ini.” Tri Parwa, Tiga Buku Utama NYAI DEMANG merasakan suara kesakitan yang amat memedihkan. Sedikit keluhan yang tak tertahankan. Bersama Upasara, segera masuk ke dalam gubuk. Apa yang disaksikan membuatnya menatap tak berkedip. Gubuk yang didiami Kakek dari Berune tidak mirip rumah atau kamar yang biasa dihuni. Banyak debu menempel di tiang, di balai-balai. Seakan memang tak pernah ada yang menyentuh. Di ruang tengah seorang kakek yang sangat tua wajahnya, kurus kering, bernapas satu-satu. Matanya seperti mendelik, rambutnya panjang tetapi jarang. Engahan napas itu yang membuat hati Nyai Demang seperti tercakar. Pilu. Spontan Nyai Demang bergerak untuk menolong, akan tetapi tangan Upasara bergerak menahan. Nyai Demang tertahan geraknya. Tak ada yang bergerak. Tidak juga Kakek Berune yang bernapas terengah-engah, dadanya naik-turun, tersengal-sengal. Aneh, Nyai Demang tidak membayangkan bakal bertemu dengan tubuh tua yang susah bernapas. Baru saja ia mendengar kidungan yang dilantunkan tenaga dalam sangat kuat. Baru saja terdengar pembicaraan yang tangkas dan seolah mengerti banyak hal. Akan tetapi ketika masuk menemukan seseorang yang sangat tua dan kelihatan sangat menderita, sedang sekarat. Dalam pandangan Nyai Demang, yang luar biasa justru Upasara Wulung. Dengan segera, Upasara bisa membaca dengan siapa ia berbicara. Begitu menghormat, begitu cepat mengetahui dengan siapa ia berhadapan. Nyai Demang yakin, bahwa Upasara belum tentu tahu pasti di mana letak tlatah Berune. Tapi itu tak menghalangi dan mengurangi ketajaman pandangan. Barangkali inilah bedanya. Nyai Demang merasa mempunyai pengetahuan yang luas. Dengan satu kata saja ia bisa mengenali dan menjelaskan di mana tanah Berune. Sebuah keraton kecil di ujung utara. Dalam kitab-kitab yang dibaca, Keraton Berune adalah wilayah luas yang subur, akan tetapi ksatrianya cukup tinggi ilmunya. Bersama dengan Keraton Balineo, dua tata pemerintahan itu termasuk wilayah besar Keraton Singasari. Kalau tidak keliru, dua wilayah itu di bawah tata pengaturan Keraton Sukadana di tlatah Karimata. Namun ternyata pengertian-pengertian seperti itu tak membuatnya arif. Justru Upasara yang menangkap arti sebenarnya dari kehadiran seorang yang sangat tua, menderita. Pendekatan kemanusiaan Upasara jauh lebih mengena. Toh pada akhirnya, dari mana asal-usulnya, tak berarti banyak kalau ingin berkenalan dan menolong. Kalau sekarang ini Upasara berdiam diri, bukannya tak mau bergerak menolong. Sekadar memindahkan ke tempat yang lebih bersih ataupun membantu pernapasan, sangat mudah dilakukan. Akan tetapi agaknya Upasara tak perlu turun tangan. Karena ketajaman pandang bahwa penderitaan yang sedang ditanggung Kakek Berune ini penderitaan karena pengaturan napas. Yang tidak bisa sembarangan dimasuki oleh orang lain. Apalagi tadi disebut-sebut dari Berune. Yang bisa saja terjadi kekeliruan sewaktu ingin membantu. Dan ini semua diketahui oleh Upasara dalam sekejap. Dalam perjalanan. Sungguh kemajuan tenaga dalam yang luar biasa. Rasanya Nyai Demang masih mengenali Upasara yang menjadi murid utama Ngabehi Pandu. Gagah perkasa, akan tetapi tidak setinggi dan sedalam ini. Tidak sampai tingkatan yang begitu dalam. Engahan napas berakhir. Nyai Demang melihat bahwa keringat membasahi seluruh wajah dan dada yang kurus kering. “Tidak jadi lagi. “Setiap kali mau mati, urung lagi. Padahal aku, Kebo tua ini, sudah ikhlas. Semua temanku sudah enak-enak di alam sana, sementara aku masih menderita begini. “Benarkah kamu lelananging jagat? Bagaimana kabar Eyang Sepuh sekarang ini? Bagaimana kabar Mpu Raganata? Apa betul ia telah berkumpul dengan bidadari? Bagaimana dengan Paman Sepuh Bintulu? Apa betul wajahnya sekarang lebih jelek dari aku? “Ceritakan dengan cepat. Sebentar lagi aku akan mati.” Upasara menyembah hormat. “Saya Upasara Wulung, sekarang berdiam di Perguruan Awan tempat Eyang Sepuh menunggui hutan dan awan. Memang benar ada pertemuan besar di Trowulan. Akan tetapi sesungguhnya tidak ada pemberian gelar lelananging jagat.” “Istrimu menarik sekali. “Sayang aku sudah tua dan mau mati.” Wajah Nyai Demang berubah keruh. Kalimat-kalimat Kebo Berune masih tetap membuat daun telinga sangat panas. Betapa tidak. Sejak pertama bertemu, sudah memanggil dengan bocah slemok. Kini memuji kecantikan tubuh, dengan tambahan dirinya sudah tua dan mau mati. Memangnya kalau masih muda mau… “Kakek Berune… Jauh-jauh Kakek datang hanya untuk menunjukkan diri masih punya pikiran kotor?” Kebo Berune menyeringai. Tubuhnya tetap tak bergerak. Tergeletak. “Kami bersahabat, sebagai sesama penghuni Perguruan Awan.” Suara Upasara membuat Kebo Berune berdecak. “Kawini saja. “Lima puluh tahun lagi, pada pertemuan besar, kalian sudah punya keturunan yang bakal menyelamatkan pertarungan besar di Trowulan. “Berarti Singasari tetap yang paling murni dan besar. Sungguh menyenangkan. Sayang, Baginda Raja Sri Kertanegara tak menyaksikan kebesaran ini.” Nyai Demang menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. “Apakah Kakek termasuk senopati Singasari yang dikirim ke tanah Berune, seperti halnya Senopati Kebo Anabrang?” “Siapa itu Anabrang?” “Senopati yang dikirim ke tlatah Melayu.” “Aku cuma mengenal senopati yang ternama. Kalau yang kecil-kecil, mana mungkin aku mengenalnya? Bisa jadi mereka mengenal aku dengan baik. “Cepat kalian ceritakan yang pokok. Singkat saja, sebelum aku mati.” Upasara menyembah dan menceritakan jalannya pertarungan di Trowulan. Kebo Berune mendengarkan sambil memejamkan matanya. “Kalau benar begitu, Paman Sepuh Bintulu sudah mati. Sayang aku belum sempat mengejek wajahnya yang jelek. Ia dulu paling sombong…” Sampai di sini Nyai Demang tak bisa menahan rasa gelinya. Jelas Kebo Berune ini yang angkuh dan tinggi hati dengan mengatakan tak mengenal Kebo Anabrang, masih juga bisa menilai orang lain yang sombong. “…Bintulu merasa paling gagah. Paling tampan. Hmmm, tak tahunya jadi paling jelek dan menyembunyikan wajahnya. Tapi ia bisa menciptakan Bantala Parwa dengan baik. “Berarti tugas selesai. “Bintulu, kamu pasti tertawa-tawa di sana dan balik menertawakan aku. Iya, kan? Aku bisa merasakan. Tapi tunggulah sebentar lagi. Aku akan bertemu denganmu di sana.” “Jadi benar bahwa Bantala Parwa ditulis oleh Paman Sepuh Bintulu?” “Siapa lagi yang rajin menulis seperti Bintulu? “Sejak dulu ia begitu. Ia selalu berpikir bahwa yang menguasai jagat ini adalah ilmu silat. Bukan pengetahuan mengenai ketatanegaraan yang ditekuni Raganata. Juga bukan omongan dan pikiran yang melayang seperti yang dikatakan Bejujag.” “Bejujag?” Nada tanya Nyai Demang mendapat anggukan dari Upasara yang kemudian berbisik, bahwa Bejujag adalah nama panggilan buat Eyang Sepuh. Kalau sekarang Kebo Berune menyebutkan juga nama itu, berarti Kebo Berune hidup pada zaman yang sama. “Kakek mengenal Eyang Sepuh secara langsung?” “Apa untungnya? Apa istimewanya? ., “Bejujag, Bintulu, Raganata tak berbeda jauh dengan aku. Hanya saja mereka yang sejak dahulu diakui. Terutama Bejujag itu. Ia yang berhasil mengundang para ksatria seluruh jagat untuk berkumpul setiap lima puluh tahun. “Di seluruh tanah Jawa ini hanya diakui ada Tri Parwa Utama. Hanya ada Tiga Kitab Utama. Aku tak pernah diperhitungkan. “Ini kesalahan terbesar sejarah. Tapi aku tak bisa membuktikan kesalahan itu, karena kau tak bisa datang di Trowulan. Dan aku akan mati sebentar lagi. “Jadi ada benarnya, hanya ada Tiga Kitab Utama!’ “Tiga? Sejauh ini kamu hanya mendengar Bantala Parwa.” Kebo Berune menggelengkan kepalanya. “Raganata juga membuat kitab mengenai tata pemerintahan, Nagara Parwa. Tapi mana kamu tahu. Itu hanya diperuntukkan Baginda Raja Sri Kertanegara yang tanpa tanding. Sedangkan Bejujag juga menulis kitab yang setiap kali ditulis kembali. Aku tak pernah mengerti, karena setiap kali klika yang dikirimkan selalu berubah.” Kidung Paminggir BAGI Upasara, keterangan Eyang Kebo Berune melengkapi apa yang selama ini sedikit-banyak telah diketahui, secara sepotong-sepotong. Seperti diketahui, selama ini Upasara merasa gelap mengenai asal-usul Perguruan Awan. Apalagi mengenai tokoh sepuh, pujaan seluruh ksatria, yaitu Eyang Sepuh. Barulah ketika bertemu dengan Paman Sepuh Dodot Bintulu, gambaran masa lalu itu sedikit terbentuk. Kini menjadi lebih sempurna dengan penjelasan Eyang Kebo Berune. Pada masa lima puluh tahun yang lalu, di tanah Jawa ada tiga ksatria muda yang telah mengukir nama dalam dunia persilatan. Ketiga ksatria muda itu di belakang hari dikenal sebagai Eyang Sepuh, Paman Sepuh, dan Mpu Raganata. Ketiga ksatria inilah yang mendapat kepercayaan utama dari Baginda Sri Kertanegara untuk mengembangkan ilmu silat yang ada. Payung kebesaran Baginda Raja bukan hanya menyatukan mereka bertiga, akan tetapi juga memberi kelonggaran kepada masing-masing untuk mengembangkan kemampuannya sendiri-sendiri. Paman Sepuh yang kemudian memilih untuk menekuni ilmu silat dan akhirnya berhasil menuliskan Kitab Bumi. Dengan kelebihan ilmu dan kawicaksanan yang luar biasa, Paman Sepuh mampu mengumpulkan berbagai sari ilmu kanuragan yang ada. Sebaliknya Mpu Raganata lebih memusatkan diri untuk menuliskan berbagai tata cara penyelenggaraan Keraton. Baik mengenai hubungan di dalam yaitu peraturan dan tata krama, maupun mengenai hubungan ke luar dengan keratonkeraton yang lain. Sementara Eyang Sepuh mengerahkan seluruh kemampuannya dalam ilmu silat yang lebih murni. Ketiga ksatria perkasa ini sambil bertukar pikiran, lewat tulisan dari klika, memberitahukan apa yang dialami satu sama lain. Jurus-jurus, cara melatih pernapasan, maupun tata krama yang kemudian dijadikan perundangan, boleh dikatakan melalui ketiga ksatria yang berangsur-angsur juga bertambah usianya. Dari sisi ini, Upasara bisa memahami kebesaran dan jiwa luhur Baginda Raja. Yang mampu menanamkan benih-benih kebesaran negara di atas segalanya. Dalam suasana pertentangan yang mungkin saja terjadi, ketiga ksatria masih selalu berhubungan dan memberikan hasil yang terbaik dari pencariannya selama ini. Dan kalau dihubungkan dengan senopati yang lain lagi, bukan hanya mereka bertiga yang saling bertukar pikiran dan mendapatkan hasilnya. Melainkan juga para senopati utama. Tak peduli di mana pun berada. Dengan demikian segala kemajuan dan pengetahuan yang diperoleh bisa diteruskan kepada yang lain. Tanpa perasaan iri atau mau menang sendiri. Sungguh dalam hal seperti ini Baginda Raja Sri Kertanegara mengungguli pemikiran lain yang ada. Mampu menanamkan kebesaran dalam kebersamaan. Bukan hanya Kebo Berune yang tetap memakai nama itu, melainkan juga Maha Singanada, ataupun Maha Singa Marutma, atau Kebo Anabrang, atau yang lain lagi. Keunggulan Paman Sepuh Dodot Bintulu dalam merampungkan Kitab Bumi tidak hanya untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk kebesaran Keraton Singasari. Untuk tanah tumpah darah di mana ksatria Singasari lahir dan dibesarkan. Upasara sadar bahwa di samping ketiga ksatria muda itu, banyak yang lainnya. Salah seorang di antaranya adalah Eyang Kebo Berune. Yang bukan hanya hidup sezaman, melainkan juga merupakan suatu bagian yang saling bertukar pikiran. Nama Kebo Berune lebih menunjukkan bahwa kebo adalah simbol nama yang dipakai di zaman Baginda Raja, sementara Berune menunjukkan tanah di mana panjipanji Singasari dikibarkan. Salah satu keelokan yang ditunjukkan oleh Eyang Sepuh ialah bahwa kehadirannya mampu memancing kedatangan para pendekar seluruh jagat. Untuk bertemu setiap lima puluh tahun. Sesuatu yang tak mungkin terjadi tanpa perlindungan sepenuhnya dari Baginda Raja. Bahkan ini termasuk salah satu kebijaksanaan Baginda Raja, menjadi penyelenggara pertemuan sejati para pendekar utama. Ini pula yang membuat Eyang Kebo Berune datang kembali ke tanah Jawa dari pengembaraannya di negeri asing. Nyai Demang tak terlalu paham. Akan tetapi bisa merasakan, bahwa pada masanya Kakek Kebo Berune ini boleh dikatakan sejajar dengan tiga tokoh utama. Hanya, barangkali saja, perjalanan hidupnya yang berbeda. Setidaknya kalau dilihat dari penyesalan yang masih tersisa dari kata-kata Kakek Kebo Berune. Nyai Demang jadi lebih menghormat dalam hati. Kalau kakek tua yang hanya bisa berbaring ini sangat ketus, bisa dimengerti. Dalam dunia persilatan, tokoh yang sakti memang biasa mempunyai tabiat yang berbeda dari kebanyakan orang. Makin aneh kadang makin menandakan kesaktiannya. Kalau masih ada yang mengganjal dalam hati Nyai Demang, itu adalah sejumlah kecil pertanyaan. Apa yang menyebabkan Kakek Kebo Berune ini menderita penyakit yang begitu parah, sehingga setiap kali menyebut ajalnya sudah dekat? Siapa yang mampu merontokkan tenaga dalam yang masih begitu sempurna? Siapa lagi tokoh yang lebih sakti itu? Rasa penasaran yang lebih membuat tak bisa menahan rasa ingin tahunya ialah mengenai adanya Tiga Kitab Utama. Selama ini Nyai Demang merasa sudah membaca hampir semua kitab pusaka yang ada. Bahkan lebih dari itu, juga dalam berbagai bahasa lain. Akan tetapi selama ini tak pernah mengetahui bahwa Eyang Sepuh ternyata juga menulis! Seperti apa pula itu? “Apa betul Eyang Sepuh juga menulis kitab pusaka?” “Pusaka atau tidak, mana aku tahu? “Bejujag itu selalu mengganti setiap kali. Akhirnya ia tak mau menuliskan lagi ilmu silat atau latihan pernapasan. Ia lebih suka melamun. Aku pernah membaca sebagian kidung lamunan untuk menyenangkan nyamuk dan menggelisahkan Raja. “Bejujag itu memang licik, licin, pandai, cerdik untuk selalu mencari perhatian.” “Apakah Eyang Berune mengetahui nama kitab yang ditulis Eyang Sepuh?” Tubuh yang tergeletak itu tetap tak bergerak. Perubahannya hanya terlihat di bibirnya. Sedikit mengejek. “Kamu akan kecewa. Bejujag itu cuma cari nama. “Kitab yang ditulisnya tak lebih dari coretan anak-anak di pinggir sungai. Jauh di bawah kemampuan Bintulu yang dengan tegar dan gagah mampu menulis Kitab Bumi. Jauh di bawah kemampuan Raganata yang menulis Kitab Negara. Baik Bantala Parwa maupun Negara Parwa tak bisa disamai. Hanya disamai saja tak mungkin. “Tapi Bejujag pintar, cerdik, nasibnya baik, dihormati, dipuja, disembah. Sejak dulu Baginda Raja selalu terkesima dengan kepandaian Bejujag bertutur kata. “Dan Bejujag itu selalu bisa menarik perhatian dunia. Ksatria seluruh jagat merasa terhormat memenuhi undangannya. Akan lain kalau yang mengundang Bintulu, atau bahkan Raganata sekalipun! “Padahal Bejujag itu hanya menulis beberapa bait kidungan yang paling kampungan.” Nyai Demang tak bisa menahan diri. “Apakah itu termasuk ‘bait yang tak terbaca di hati’? Rasanya…” Napas Eyang Kebo Berune berangsur tenang. Membaik. Wajahnya, sedikit lebih bersemangat. “Itulah kelebihannya. Bait atau huruf yang dipakai selalu menjadi lebih terkenal. Bahkan Kitab Bumi pun dianggap sebagian atau seluruh ksatria sebagai hasil karya Bejujag. Bahkan ketika Bejujag mengatakan bahwa bukan ia yang menciptakan, tak ada yang percaya. “Kalau bukan nasib baik, apa lagi namanya?” “Eyang, apa nama kitab pusaka itu?” “Lupakan. “Itu bukan kitab. Apalagi pusaka. “Itu hanya merupakan beberapa baris kidungan, yang dinamai Kidung Paminggir. Entahlah kalau sekarang sudah diganti lagi. “Ah, aku tahu. Bejujag tak berani muncul karena takut ketahuan belangnya. Makanya ia menyembunyikan diri. Kalau tidak, ia pasti tahu aku di sini. “Bejujag, Bejujag! “Sampai kapan kamu dipuja?” Meskipun meragukan, tak ada rasa dendam dalam nada ucapannya. “Kamu akan kecewa, kalau sudah membaca tulisannya. Aku lebih kecewa, karena aku tahu persis ia main-main. Ia mempermainkan aku, mempermainkan Bintulu dan Raganata. Mempermainkan seluruh ksatria sejagat. “Dan ia menikmati. “Aha, apakah tidak ada yang lebih ajaib dari hal ini? Bahkan kamu pun tahu ‘bait yang tak terbaca di hati’. Kalau ia berani muncul, akan aku telanjangi ia di sini, memaksanya meminta ampun dan menjilati kakiku, dan aku tak memperbolehkan. “Biar tahu rasa.” Pukulan Pu-Ni NYAI DEMANG, yang merasa begitu tulus menghormat pada Eyang Sepuh, merinding kulitnya. Baru sekarang ia mendengar sendiri, seorang kakek yang terbaring dan sedang sekarat mencaci Eyang Sepuh dengan kata hinaan yang keterlaluan. “Bisa jadi Eyang Sepuh menulis kitab yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang telah sampai pada tingkat tinggi.” “Salah. “Keliru. “Itu selalu jalan pikiran orang lain. Tapi aku tak pernah bisa dikibuli. Aku tahu persis siapa dia. “Upasara, coba kamu mainkan dasar-dasar Kitab Bumi. Aku ingin menyaksikan sebentar.” Upasara memberi hormat. Lalu berdiri, dengan kaki sedikit mengangkang. Mulailah ia memainkan dengan cepat, Dua Belas Jurus Nujum Bintang secara penuh, kemudian disusul dengan Delapan Jurus Penolak Bumi. Kemampuan Upasara dengan pengaturan tenaga dalam membuat Nyai Demang makin bertambah rasa kagumnya. Getaran tenaga dari seluruh kulit Upasara mampu menggerakkan debu dan abu dalam rumah, akan tetapi setelah selesai memainkan, debu dan abu itu seperti tertumpuk di tempatnya semula! Seperti tak pernah ada angin sebelumnya. Namun, Eyang Kebo Berune sama sekali tak menoleh. Tetap tergeletak memandang langit-langit. Melirik pun tidak. Yang membuat Nyai Demang heran, justru karena tanpa melirik pun Eyang Kebo Berune bisa mengetahui apa yang dimainkan Upasara. “Dasar-dasar ilmu Kitab Bumi itu masih saja seperti yang ditulis oleh Bintulu. Hanya delapan jurus terakhir itu dikembangkan sedikit oleh Bejujag. Apa itu yang disebut-sebut sebagai Tepukan Satu Tangan?” “Pandangan Eyang sangat tepat.” “Hebat. Sekali lagi aku harus memuji Bejujag itu. Bintulu yang susah payah menemukan, dengan satu polesan saja menjadi Tepukan Satu Tangan yang seolah ciptaan Bejujag. “Tapi ada apa dengan tangan kananmu? “Bagaimana kamu bisa menjadi lelananging jagat dengan tangan lumpuh seperti itu?” Upasara menjelaskan bahwa tangan kanannya masih kaku digerakkan, meskipun tidak selalu mengganggu, karena pukulan dari Halayudha. “Siapa Halayudha? “Halayudha atau Bintulu?” “Besar kemungkinan murid yang mencelakakan Paman Sepuh Dodot Bintulu.” “Nah, berarti jelas sekali sekarang ini. “Ilmu yang dipuji seluruh jagat, yang membuat semua pendekar sejati kelas utama datang ke tanah Jawa ini, bisa dikalahkan. Tepukan Satu Tangan yang hebat itu bisa dipatahkan oleh Bintulu. Berarti ia sudah berhasil memecahkan rahasia ciptaan Bejujag! “Bintulu, akhirnya kamu yang paling perkasa juga.” Pujian yang terdengar menggeletar. Upasara seperti disadarkan bahwa dalam banyak hal, Halayudha memiliki ilmu yang sakti mandraguna. Ilmu sakti sejati, yang bisa mematahkan ciptaan Eyang Sepuh. Pada penguasaan yang sempurna, benar-benar merupakan maha malapetaka di belakang hari. Baru sekarang terjawab, kenapa Upasara bisa dilumpuhkan oleh pukulan Halayudha. “Upasara, apakah kamu juga murid Bintulu?” “Saya tak berani mengaku. “Sebagian yang saya pelajari adalah dari Kitab Bumi yang ternyata ciptaan besar Paman Sepuh Dodot Bintulu.” “Bukan, bukan itu. “Apa yang kamu mainkan sepenuhnya Kitab Bumi yang sudah disempurnakan Bejujag. Terutama sekali dalam Delapan Jurus Penolak Bumi. Itu tak perlu diragukan lagi. “Akan tetapi tarikan napasmu, adalah murni dari dasar yang diajarkan Bintulu.” Upasara menyembah hormat. Menjelaskan bahwa ia pernah menghancurkan tenaga dalamnya. Dalam perjalanan kemudian, bertemu dengan Paman Sepuh Dodot Bintulu yang mengajarkan cara-cara memanggil kembali yang tersimpan, sehingga kekuatannya pulih kembali. “Mungkin ini jawabannya.” “Bukan mungkin. Memang begitu. “Kalau begitu bisa bahaya.” Nyai Demang yang berkeringat. “Bahaya?” “Kalau kamu menyebut bahaya, cah slemok.” “Di mana bahayanya?” “Seperti aku ini. “Terbaring seperti ini. Karena pertarungan antara kekuatan tenaga dalam. Berganti-ganti aku mempelajari apa yang ditulis Bintulu dan Bejujag, sehingga akhirnya seperti ini. “Aku mempunyai ilmu yang kuberi nama Pukulan Pu-Ni. Nama ini untuk mengingatkan bahwa pukulan ini benar-benar tercipta di tanah Pu-Ni atau Beruni atau Brunei, atau Barune, atau Berune, tergantung lidah kamu mau bilang apa. “Pukulan ini, demi Dewa, seperti Tepukan Satu Tangan. Akan tetapi ternyata tenaga murni yang kumiliki dasarnya berbeda. Waktu aku seusia kamu, hal ini tak terasakan. Sekarang baru terasakan akibatnya. “Aku sengaja datang untuk memberitahu Bejujag. Bahwa keduanya adalah manusia paling terkutuk di jagat ini. Bahwa persaingan keduanya menghancurkanku.” “Kenapa Kakek selalu mendendam pada mereka yang terhormat?” Pertanyaan Nyai Demang membuat sorot mata Eyang Kebo Berune menatap langit-langit lebih keras. “Kamu akan begitu juga, kalau mengetahui kekasihmu ini hanya bisa berbaring seperti aku, dan susah mati.” Nyai Demang bergidik. Apa yang dikatakan Eyang Kebo Berune merobek seluruh angan-angannya. Bukan karena disebutnya Upasara sebagai “kekasih”, melainkan karena keadaan Eyang Kebo Berune yang mengenaskan. Seperti sekarang ini! Bukan oleh lawan, melainkan oleh dirinya sendiri. Benarkah Upasara akan mengalami keadaan sekarat seperti ini? Dan ini karena persaingan antara Paman Sepuh dan Eyang Sepuh? “Mereka berdua sengaja memberikan ilmu silat dan cara pernapasan yang bertentangan. Agar dipelajari dan masing-masing pastilah berpikir yang lainnya akan rontok dan hancur. Celakanya, justru akulah yang terkena. “Upasara, seharusnya kamu bisa membaca bahwa pengerahan tenaga tumbal adalah penyerahan. Yang berarti kerelaan. Kerelaan yang… apakah kalau menderita seperti ini juga harus rela? “Nah, apakah kalian masih mau mengatakan aku jahat dengan memaki Bejujag? “Siapa yang paling jahat? “Aku, yang memilih menjadi prajurit dan dikirim ke tanah seberang? Ataukah Bintulu yang merasa dirinya paling tampan dan perkasa? Ataukah Raganata yang ingin menikmati kebesaran duniawi dengan mengabdi kepada Baginda Raja? Ataukah Bejujag yang secara sengaja menuliskan lamunan untuk menjungkirbalikkan ketenteraman? Ataukah Pulangsih yang menggoda itu?” Kini, Nyai Demang bisa menangkap lebih luas daripada Upasara Wulung. Cepat sekali jalan pikiran Nyai Demang berkembang ke arah masa yang diceritakan Kakek Kebo Berune. Bahwa pada masa-masa itu ada tiga ksatria muda yang mempunyai nama besar. Di samping mereka ada juga seorang ksatria yang menjadi senopati, dan kemudian sesuai dengan sebutannya, dikenal sebagai Kebo Berune. Ini ternyata belum semuanya. Masih ada satu lagi yang disebut dengan nama Pulangsih. Entah siapa tokoh yang satu ini, dengan kesaktian seperti apa pula. Yang jelas, sebutan nama itu menunjukkan adanya dendam atau kemarahan, penyesalan, tetapi juga kegeraman yang berhubungan dengan asmara. Pulangsih bisa berarti nama seorang wanita, akan tetapi juga bisa berarti kumpul asmara. Bermain asmara. Nyai Demang bisa mengetahui bahwa tokoh wanita yang satu lagi tidak bernama Pulangsih. Nama itu lebih menunjukkan julukan yang akrab bagi mereka. Seperti halnya menyebut Eyang Sepuh dengan Bejujag atau si Kurang Ajar. Sangat mungkin sekali, di masa mudanya Eyang Sepuh di antara sebayanya dikenal sebagai kurang ajar. Dan nama Pulangsih diberikan karena keempat ksatria ini sama-sama terlibat daya asmara. Siapa pun orangnya yang disebut Pulangsih ini pasti luar biasa. Kalau tidak, mana mungkin keempat ksatria yang perkasa pada zamannya memperebutkan? “Kakek Kebo Berune, di manakah Eyang Putri Pulangsih sekarang ini?” Tak ada jawaban. Hanya dada kakek tua yang tergeletak tanpa gerak itu jadi turun-naik dengan cepat. Napasnya tersengal-sengal. “Rasanya aku mati sekarang ini.” Kidung Paminggir, Pupuh Pertama TUBUH kakek tua itu tergetar hebat. Tanpa suara gigi gemeretuk. Tanpa gerak. Hanya dengus napasnya tak teratur. Makin lama makin cepat, bergejolak. Nyai Demang memandang ke arah Upasara. Namun Upasara hanya menunduk tak memperlihatkan reaksi. “Kakek sedang lelaku…” Lelaku adalah istilah yang lebih halus dan menghormat daripada sekarat. Intinya sama saja. Menjelang ajal. Biasanya ditandai dengan tarikan napas yang makin lama makin cepat, tersengal. Walau ilmu tenaga dalam Nyai Demang tidak sangat istimewa, akan tetapi cukup bisa merasakan betapa gawatnya keadaan. Nyai Demang tak bisa berdiam diri. Hatinya tidak tega melihat lelaki tua yang menderita sendirian itu. Tangannya terulur ingin menenangkan. Ingin melakukan sesuatu yang bisa, sedikitnya, memperingan penderitaan. Tubuhnya maju ke depan. Satu jari dari tubuh Kebo Berune, Nyai Demang menjerit. Tubuhnya tertekuk, kedua kakinya mendadak lemas. Ada sengatan tenaga yang menghantam ke ulu hatinya. Bagai kena sentakan halilintar. Sungguh tak dinyana tak diduga. Dari tubuh yang kering kerontang tergeletak tanpa gerak ini bisa mengalirkan tenaga yang begitu kuat. Nyai Demang memegangi perutnya. Rasa mual dari ulu hati tak bisa ditahan. Saat itu tangan Upasara menyentuh. Dan mendadak Upasara menarik tangannya. Terasakan sentakan yang keras, bagai gelombang tenaga yang sangat tipis menyusup. Berbeda dengan Nyai Demang yang terhuyung-huyung, Upasara tetap berdiri kukuh. Malah lalu merangkap kedua tangan, menggosok telapak tangan dengan gerakan kaku karena tangan kanannya belum sempurna. Lalu satu tangan maju mendekat ke arah tubuh Nyai Demang. Mendekat. Lekat. Dan ditarik kembali. Nyai Demang mengaduh. Tubuhnya terkulai. Upasara mengulang kembali setelah memusatkan seluruh pikirannya. Kini, lebih jelas bahwa tenaga yang bergolak dalam tubuh Nyai Demang adalah tenaga yang kelihatan bertentangan, bertarung satu sama lain. Sentuhan tangan Upasara mengalirkan tenaga yang terbendung itu. Ini yang tadi dirasakan oleh Nyai Demang ketika menyentuh tubuh Eyang Kebo Berune. Sentuhan kedua, masih terasakan getaran yang kuat. Upasara mencoba menolak, akan tetapi tubuh Nyai Demang jadi berkelojotan dan mengeluarkan rintihan memelas. Terpaksa tenaga yang bergolak dari tubuh Nyai Demang diserap, sehingga Upasara merasakan getaran yang dahsyat di ulu hatinya. Sesaat. Tangannya dilepaskan. Upasara memusatkan perhatian kembali. Mengumpulkan tenaga dalam, dan menjajal kembali. Di luar dugaannya, tenaga bergolak dalam diri Nyai Demang masih tetap kuat menyerang. Dan setiap kali Upasara berusaha menggempur, badan Nyai Demang bergoyang tak tahan. Ini hebat! Bisa dibayangkan pergolakan tenaga dalam yang luar biasa dalam tubuh Eyang Kebo Berune. Pasti jauh berlipat ganda dari yang sekarang sedang mengamuk dalam tubuh Nyai Demang. Mengejutkan. Upasara cukup pengalaman dalam soal olah pernapasan dan latihan tenaga dalam. Boleh dikatakan unsur-unsur yang sejati dalam cara melatih pernapasan sangat dikuasai. Dengan Kitab Bumi sebagai sumber utama, Upasara tumbuh sebagai ksatria yang bisa disejajarkan dengan pendekar-pendekar berusia lanjut. Lebih menguntungkan lagi, justru pada usia masih muda Upasara sempat menjajal dengan berbagai pertarungan yang penting dan menentukan. Akan tetapi, tenaga bergolak dari tubuh Nyai Demang tetap menimbulkan teka-teki baginya. Karena agaknya tenaga dalam Nyai Demang seperti terkuras untuk meletup ke luar. Kalau tidak akan menggerogoti kekuatannya sendiri. Seakan butuh penyaluran. Bahayanya, jika tenaga itu didorong atau dilawan, tubuh Nyai Demang yang termakan, yang menjadi korban. Dengan kata lain, semacam tenaga bebas yang bergerak dan bisa menghantam apa saja. Sejak pertama kali, Upasara telah mengetahui ada sesuatu yang luar biasa dalam diri Eyang Kebo Berune. Itu sebabnya ia menyabarkan diri untuk tidak bertindak sembrono. Hal itu yang juga diisyaratkan pada Nyai Demang. Hanya saja pada saat terakhir, Nyai Demang merasa tidak tahan. Ia menyentuh tubuh Eyang Kebo Berune. Akibatnya cukup gawat. Kini Upasara sendirian. Eyang Kebo Berune masih tetap tak bergerak, sementara Nyai Demang juga mengalami nasib yang sama. Kini saatnya bergerak untuk melakukan sesuatu. Upasara pernah mengalami kejadian yang kurang-lebih sama. Yaitu saat di mana Gendhuk Tri terkena hawa racun yang luar biasa. Sehingga seluruh tubuhnya dialiri racun berbisa. Siapa yang tercakar, tenaga racun dalam tubuh Gendhuk Tri akan merembes masuk ke arah lawan. Sangat berbahaya, karena ini berarti maut. Bahkan jenis binatang berbisa tak berani mendekati tubuh Gendhuk Tri. Waktu itu Upasara bisa menyembuhkan dengan cara memberikan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa racun. Ini bedanya. Sekarang ini kalau Upasara akan memberikan tenaga dalamnya, belum tentu berhasil. Karena tenaga dalam yang bergolak tak bisa dijinakkan. Dipaksa keluar dengan perlawanan, akibatnya membahayakan si penderita. Sementara kalau diterima, pengalihan tenaga bergolak ini rasanya tak berkurang. Nyai Demang masih tetap menderita, dan dirinya sendiri diamuk tenaga perlawanan. Tenaga sesat yang menjadi korban lebih banyak. Upasara mencoba lagi. Kali ini berdiri tegak, dengan kedua kaki mengangkang. Tangan tertekuk di pusar. Perlahan kedua tangan bergerak ke atas, dengan siku mundur. Telapak tangan menghadap ke atas, bergerak naik. Seiring dengan tarikan napas yang dalam. Lewat ujung hidung, masuk ke dalam otak di kepala, lalu turun ke belakang lewat sumsum tulang belakang, dan dikumpulkan di bagian pusar. Sementara kedua tangannya bergerak perlahan ke depan, mendorong. Perlahan, dengan tangan kiri lebih mengarah, mendahului tangan kanan. Bersama dengan embusan napas yang sudah ditahan sebisa mungkin di pusar. Napas Bumi! Tubuh Nyai Demang bergetar. Gejolak tenaga dalam menembus ke dalam tubuh Upasara lewat tangan Upasara. Yang untuk sementara melekat erat. Upasara menampung sekuat mungkin. Baru kemudian melepaskan dan melampiaskan tenaga yang bergolak ke arah luar. Terdengar gejolak keras. Pohon-pohon di luar rumah bergoyangan dan roboh. Gubuk itu sendiri bergerak, seolah jebol dari dasarnya. Sesaat Upasara menahan diri, merasakan sisa-sisa serangan tenaga Nyai Demang. “Apakah lebih baik, Mbakyu Demang?” “Ya.” “Kalau begitu akan saya coba lagi. “Mbakyu jangan melawan. Biarkan saja.” Upasara bersiap lagi. “Percuma. “Kamu akan mati kelelahan. Tenaga Pukulan Pu-Ni tak bisa dipindahkan begitu saja.” Upasara memandang hormat kepada Eyang Kebo Berune. “Nyai Demang-mu itu menjadi lebih baik tubuhnya karena memang begitulah adanya. Tenaga Pukulan Pu-Ni akan muncul dan lenyap secara mendadak. Sampai satu saat tertentu, ia tak kuat lagi dan mati. “Bukankah sekarang aku segar lagi?” “Eyang Berune, saya masih terlalu dungu untuk memahami. Akan tetapi rasanya selalu ada jalan keluarnya.” “Bejujag mungkin tahu. “Tapi ia tak mau mengatakan.” Mendadak Nyai Demang menggeliat dan bangun, seperti segar kembali. “Kakek Berune, coba katakan bagaimana bunyi kidungan yang Kakek sebutkan. Siapa tahu kita bisa bersama-sama memecahkannya. “Setidaknya kidungan yang pertama saja.” “Kenapa kita tidak mati bersama tanpa penasaran? Pupuh pertama atau terakhir, apa ada gunanya?” Kidung Pujian bagi Baginda Raja SEBENARNYA Nyai Demang sudah sangat merendah. Dengan mengatakan bisa dipecahkan bersama, Nyai Demang tidak ingin menunjukkan dirinya lebih pintar dalam menguraikan arti Kidungan Paminggir dibandingkan Eyang Kebo Berune. Bahkan dengan menyebutkan pupuh pertama, atau bait pertama saja, Nyai Demang ingin mengetahui sampai sejauh mana kitab yang konon ditulis oleh Eyang Sepuh. Alasan yang lain bagi Nyai Demang ialah karena secara langsung Eyang Sepuh menyebutkan hal itu dalam pertemuan dengan Upasara. Dan selama ini, beberapa kali Nyai Demang berusaha menerjemahkan makna kata-kata Eyang Sepuh. Dengan membolak-balik arti kidungan dalam Kitab Bumi. Hasilnya? Merasa bisa tapi juga ternyata bukan jawaban yang sebenarnya. Sehingga rasa ingin tahu Nyai Demang makin menggunung. Sebenarnya Upasara juga mempunyai keinginan yang sama. Alasannya tidak jauh berbeda dari Nyai Demang. Dalam Kitab Bumi, selintas bisa dibaca mengenai cara berlatih tenaga dalam, cara mengatur pernapasan. Akan tetapi dari Kitab Bumi itu pula, dengan lirik katakata yang sama, bisa diterjemahkan secara lain. Bahkan kurungan bawah tanah yang berliku-liku juga bisa dipecahkan dengan lirik-lirik Kitab Bumi! Seperti yang telah dilakukan Dewa Maut ketika memberi petunjuk Nyai Demang. Seperti yang telah diusahakan Nyai Demang untuk memancing kembali tenaga dalam Upasara yang musnah. Seperti yang diajarkan Paman Sepuh Dodot Bintulu dalam mengembalikan tenaga dalam Upasara Wulung. “Eyang, barangkali ada gunanya dicoba.” Terdengar helaan napas. “Baik, baik. Kuakui keunggulan Bejujag itu. “Di jagat raya ini, rasanya hanya aku yang mendengar Kidung Paminggir. Tinggal aku yang bisa mengajarkan dusta ini. Bintulu sudah tak ada, Raganata sudah musnah, Bejujag sendiri sudah bersembunyi sepenuhnya. “Tinggal aku. “Kecuali kalau Pulangsih si penggoda masih ada. “Baik, baik. Upasara dan Nyai Demang, dengarkan baik-baik. Katakan dengan jujur apakah aku yang membual, atau Bejujag itu yang kurang ajar.” Sunyi sebentar. Upasara memusatkan perhatiannya. Nyai Demang siap mencatat kidungan di lantai yang berdebu. KIDUNG PAMINGGIR Pupuh pertama, rasa syukur kepada segala Dewa yang memberkati keluhuran raja bijaksana sembahan seluruh umat manusia bergelar agung Baginda Raja Sri Kertanegara tanpa cela, seumpama Dewa yang sesungguhnya seluruh jagat terpikat mendengarnya! Upasara masih menunggu. Nyai Demang menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa kalian masih ingin mendengarkan pupuh berikutnya?” “Hanya itu pupuh pertama?” “Kamu kira Bejujag itu mau bersusah payah menyusun seperti Bintulu?” Nyai Demang segera menghapus tulisan tangan di tanah. “Nah, kalian masih beranggapan tulisan Bejujag sejajar dengan kitab yang lain?” “Rasanya tidak di pupuh pertama.” Terdengar tawa halus. “Aku lebih hafal dari Bejujag itu sendiri. Sampai pupuh kesembilan tetap tak ada apa-apanya. Bahkan lebih membual. Tapi baiklah, Nyai, karena kamu baik hati mau mati bersamaku, apa salahnya aku kabulkan keinginanmu? “Sekalian menjelaskan bahwa Bejujag tak harus dipuja seperti itu. Dengar baikbaik, catat sampai putus jarimu.” Sunyi lagi. Upasara kuatir jika serangan dalam tubuh Eyang Kebo Berune bergolak lagi. Karena bisa terhenti di tengah jalan. Untuk selamanya. Ini adalah kesempatan yang amat langka. Bisa bertemu secara langsung dengan tokoh yang sezaman dengan Eyang Sepuh dan mengetahui lebih banyak dari siapa pun. Pupuh kedua, masih atas Baginda Raja yang lebih cendekia dari segala Dewa Duh, Baginda, inilah kisah seorang lelaki yang bertemu Tamu dari Seberang memberikan takhta padanya jadilah ia seorang raja melahirkan anak cucu bermahkota sampai akhir turunannya Sampai akhirnya, adalah kisah lain lelaki paminggir, lelaki nista dan miskin mendengar suara, mendapat wahyu Wahyu Paminggir menjadi penguasa seperti Dewa Wahyu Paminggir dimiliki oleh lelaki jelata tanpa mahkota Itulah saat, seluruh jagat menatap kebesaran Keraton Duh, Baginda Raja yang lebih bijak dari Dewa ini bukan gempa, bukan bencana sebab Wahyu Paminggir telah hadir sejak sebelum dituliskan oleh si pandir! Nyai Demang jadi ragu-ragu. Cara Kakek Kebo Berune mengidungkan sangat kurang enak di telinga, akan tetapi arti yang tertangkap lebih tidak enak lagi. “Nah, kalian tahu sendiri bualan itu sekarang. “Di saat Bintulu menyusun Kitab Bumi dengan jungkir balik, di saat Raganata merampungkan Kitab Negara, Bejujag justru main-main dengan lamunan. “Bukankah semua tahu bahwa dulu ada lelaki bernama Ken Arok yang naik takhta, meskipun ia tidak dialiri darah Dewa? “Bukankah Bejujag ingin menjelaskan lagi, bahwa kebesaran semacam itu akan terjadi lagi? “Bukankah Bejujag ingin mengatakan ia sangat ingin sekali memegang jabatan itu? “Dan ia berhasil. Berhasil mengguncangkan Keraton. Sejak itu Baginda Raja melarang Bejujag menulis. Melarang Raganata membaca semua karyanya.” “Jangan-jangan yang diramalkan adalah Adimas Upasara.” “Hmmm.” “Bukankah paminggir berarti yang tidak pernah dianggap. Berarti selir, gundhik yang tidak resmi? “Adimas Upasara juga ksatria yang tidak diakui resmi. Ia yang akan tampil suatu hari nanti. “Ya, ya, ramalan dan perhitungan yang jitu.” “Tolol!” terdengar seruan geram Kakek Kebo Berune menanggapi ucapan Nyai Demang. Untuk seorang tua, suara emosional begini terdengar menggelikan. “Sangat tolol. “Karena semua orang yang tidak berdarah turunan merasa bakal jadi pahlawan dan penguasa besar di belakang hari. Ini meracuni jiwa. Dan semua keturunan Dewa dibuat risau karenanya. “Lagi pula apa istimewanya nujum seperti ini? Bisa diartikan siapa saja.” Upasara tetap tenang. Pikirannya lebih jernih dibandingkan Nyai Demang maupun Eyang Kebo Berune. “Maaf, Eyang Berune, saat apa Eyang Sepuh menyusun Kidung Paminggir itu?” “Saat apa? “Tiap kali, ketiga ksatria perkasa mengirimkan hasil pemikiran dan pencariannya. Tidak saat apa-apa.” “Apakah bukan jawaban bagi jurus-jurus yang dikemukakan oleh Paman Sepuh Bintulu? Atau jawaban bagi Eyang Mpu Raganata? Atau justru bagi Eyang Kebo Berune sendiri?” “Atau bagi Eyang Putri Pulangsih?” Tambahan kalimat Nyai Demang membuat Eyang Kebo Berune berkejap-kejap matanya. “Kenapa kamu berdua mempunyai jalan pikiran yang sama? “Apa betul Bejujag itu yang paling sakti di antara kita semua? Sedemikian saktinya sehingga aku tak mampu menangkap kalimatnya? “Bejujag, semoga kamu dikutuk semua Dewa yang pernah ada!” Pamiluta, Ilmu Bujuk Rayu KAKEK tua tetap tergeletak. Hanya jakunnya yang bergerak. Lebih cepat dari biasanya. Helaan napasnya agak tersendat. Nyai Demang terus memperhatikan. “Maaf, Kakek Berune, kami tak ingin mengganggu Kakek. Apa pun pengalaman masa lampau yang pahit, kami tak ingin menghadirkan kembali. Keinginan kami hanya ingin menjajal sesuatu yang barangkali bisa untuk menyembuhkan saya, atau Kakek sendiri.” “Dengan kata lain, kalian masih lebih percaya Bejujag. “Mungkin harus begitu. “Di antara kami berempat, Bejujag adalah yang paling tidak bisa apa-apa. Bintulu yang paling tampan, gagah perkasa tapi sekaligus lembut. Putri-putri Keraton akan merasa bahagia jika mimpi dilirik. “Lebih dari ketampanannya, Bintulu paling tekun, paling baik budinya. Di antara kami bertiga, sama-sama mengakui bahwa Bintulu yang paling pantas menjadi pemimpin, yang paling pantas mendapatkan Pulangsih. “Aku rela kalau Bintulu yang mendapatkan Pulangsih. Seperti juga Bejujag dan Raganata. “Tapi karena perhatian Bintulu yang luar biasa kepada ilmu kanuragan, dan jauh di dalam hatinya ia tak tega mengkhianati sahabat-sahabatnya, maka ia agak malu-malu mendekati Pulangsih. “Calon berikutnya, pastilah aku. Saat itu akulah yang paling biru darahnya, paling mapan kehidupannya dengan kemampuan ilmu silat yang tak kalah dari yang lainnya. Akan tetapi Pulangsih kurang menyukai ketika aku memutuskan menjadi prajurit. Apalagi ketika akhirnya aku berangkat sebagai senopati utama yang diutus ke Keraton Berune. Dari semua prajurit muda, akulah yang paling muda dan paling berpengharapan. “Kalau aku tak bisa, agaknya Raganata pantas menyanding. Dia termasuk tampan, mempunyai perhatian yang lebih kepada sesama, tutur katanya manis, dan sangat asih kepada wanita. “Sebelum aku berangkat, kami berlima mengadakan pertemuan. Aku yang mengutarakan niat baik, kepada siapa Pulangsih akan menjatuhkan pilihannya. Siapa pun di antara kami berempat yang dipilih Pulangsih, kami akan menerima dengan hati terbuka. “Inilah kelebihan kami sebagai ksatria muda. “Upasara, Nyai Demang, kalian tahu siapa yang dipilih Pulangsih?” Nyai Demang menjawab perlahan, “Eyang Sepuh.” “Itulah gilanya. Pulangsih mengatakan pilihannya jatuh kepada Bejujag. Sertamerta kami bertiga bertanya: Kenapa memilih Bejujag? “Jawaban Pulangsih membuat kami terkesima, seakan tak percaya: Dari hati wanita yang paling lembut dan jujur, dialah lelaki yang bisa membahagiakan wanita. “O-ho! “Sebodoh-bodohnya kura-kura masih lebih bodoh hati wanita! “Akan tetapi karena kami berempat sudah sepakat apa pun pilihan Pulangsih, kami menerima. Aku yang berangkat lebih dulu. Dengan janji akan bertemu setiap lima puluh tahun. Mengundang seluruh ksatria di penjuru jagat. Untuk menguji siapa yang paling kuat menyerap ilmu. “Agak kekanak-kanakan memang. “Lima puluh tahun ternyata sangat lama. Bisa mengubah segalanya. Akan tetapi ternyata tak cukup dua tahun untuk mengetahui siapa sebenarnya Bejujag. “Belum dua tahun, Bejujag sudah melemparkan Pulangsih. Menampik Pulangsih dengan cara yang paling menyakitkan. Ia bergendak dengan wanita-wanita yang lain. “Rasanya aku ingin segera kembali dan menghajar Bejujag. Tak sepantasnya wanita setulus Pulangsih disia-siakan dengan cara begitu hina. “Hanya karena mengemban tugas negara, aku tak kembali waktu itu. Aku kuras kemampuanku untuk memperdalam ilmuku, Pukulan Pu-Ni, yang kuyakin tak ada yang mampu menandingi. Sementara kiriman dari Raganata datang beraturan, dan aku ganti mengirimkan apa yang kuperoleh. “Aku makin yakin bahwa aku siap melabrak Bejujag.” “Kakek juga menanyakan keadaan Putri Pulangsih?” Wajah Kakek Berune berubah. Ah, masih tersimpan kenangan indah yang mendadak terbuka. “Ya.” “Juga kabar yang diberikan Mpu Raganata?” “Ya.” “Juga dari Paman Sepuh Bintulu?” “Ya. “Kami bertiga ternyata masih menyimpan harapan yang sama. Hanya karena aku paling jauh, aku tak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.” “Juga dari Eyang Sepuh?” “Ya.” “Apakah…” “Ia menerangkan kemudian, bahwa Pulangsih tak pantas dijadikan pendampingnya, karena Pulangsih mempelajari ilmu Pamiluta, ilmu pelet untuk merayu lelaki dengan bujukan manis. “Demi Dewa segala Dewa! “Pulangsih tak memerlukan apa-apa untuk membuat Dewa menciumi kakinya minta daya asmara. “Bagaimana mungkin aku bisa percaya penjelasan busuk semacam itu? “Tiap kali aku kirimkan utusan kembali ke tanah Jawa, hanya untuk mengetahui apa yang terjadi atas diri Pulangsih.” “Ternyata Putri Pulangsih dilepas oleh Eyang Sepuh.” “Ya.” “Ternyata Putri Pulangsih tidak mendendam pada Eyang Sepuh. Malah tetap memujanya?” “Ya. “Hei, dari mana kamu tahu itu, Nyai?” “Saya dilahirkan sebagai wanita, dengan hati dan perasaan wanita sejati.” “Apa betul begitu? “Setolol itukah semua wanita di jagat ini?” Nyai Demang mendesis. “Selama lelaki masih menilai begitu kejam, jangan harap bisa memahami hati wanita. Itulah kelebihan Eyang Sepuh.” “Kelebihan?” “Ya.” “Tunggu, jangan kaubikin aku mati penasaran. “Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, Nyai?” Kini berbalik. Nyai Demang-lah yang ditanyai. Upasara menunduk. Pikirannya sedang berkelebat antara bayangan Ratu Ayu dan Gayatri. Silih berganti saling menindih. Akan tetapi, setiap kali bayangan Gayatri yang muncul lebih jelas. Ah, inikah daya asmara yang luar biasa itu? Yang juga terjadi pada diri Eyang Sepuh, Paman Sepuh Dodot Bintulu, dan Mpu Raganata… serta Eyang Kebo Berune? “Sederhana sekali, Kakek Berune.” “Sederhana?” “Sangat sederhana. Dari penuturan Kakek, jelas sekali Putri Pulangsihtentunya mempunyai nama yang lebih bagus dari julukan jorok seperti itu- sangat ayu dan menawan. Sehingga Kakek berempat tergila-gila padanya.” “Semua bidadari dikumpulkan menjadi satu pun tak bisa menyamai saat Pulangsih cemberut.” “Saya percaya itu.” “Ha-ha… bagaimana mungkin aku bisa bicara seperti ini? Rasanya mulut ini jadi enteng kalau bicara mengenai Pulangsih. Ia bintang pujaan kami, akan tetapi sekaligus sumber kebencian yang tiada habis-habisnya. “Justru di saat Pulangsih dicampakkan, dihina, ia menitipkan pesan agar jangan ada yang mengganggu Bejujag. Tak diperbolehkan untuk menantang atau menganiaya. Hanya diizinkan membantu, kalau-kalau Bejujag menemui kesulitan. “Pulangsih sendiri yang meminta itu. “Seumur hidup hanya sekali aku menerima tulisannya, dan itu pun memintaku agar tidak mengganggu Bejujag! “Dewa pun tak bisa percaya.” “Kakek tahu kenapa Putri Pulangsih justru sangat mencintai Eyang Sepuh?” “Karena tol…” Nadanya mendadak berubah, seperti teringat apa yang dikatakan Nyai Demang. “Kenapa, Nyai?” “Karena mencintai.” “Ya, kenapa?” “Itulah jawaban, bukan pertanyaan.” “Dewa segala Dewa. “Bagaimana bisa begitu?” “Seharusnya begitu. Daya asmara bukanlah perhitungan bahwa dengan mengerahkan tenaga ke tangan, tangan akan lebih sakti dari kaki. Dengan menyimpan tenaga di pusar, akan bisa disalurkan ke arah mana saja. “Itu perhitungan ilmu kanuragan. “Bukan daya asmara.” Upasara bisa melihat bahwa di bagian tepi mata Eyang Kebo Berune terlihat titik air mata. Lahirnya Bantala Parwa “AKU tahu, bahwa selama ini aku tidak mengerti, Nyai. Dan akan tetap tidak bisa mengerti.” “Bukankah itu sendiri pengertian?” “Dewa segala Dewa. “Kalau aku sudah bertemu denganmu sejak dulu, aku bisa memahami apa yang dilakukan Pulangsih. “Hmmm, daya asmara…?” Hening sunyi. Air mata itu seperti membeku. “Maaf…” “Tak apa, Nyai. Justru sekarang ini baru terbuka mata batinku untuk memahami apa yang telah terjadi.” “Saya tidak bermaksud mengajari Kakek.” “Kamu sangat baik budi, Nyai. “Dewa akan melindungi siang dan malam.” Nyai Demang mengalihkan ke arah pembicaraan yang lain. “Bagaimana kalau kita cari air kelapa untuk Kakek Berune, Adimas?” “Tidak perlu. “Saat serangan mengancamku seperti ini, aku hanya bisa menggeletak seperti ini. Semua makanan atau minuman akan menjadi racun dahsyat yang merusak. Rasanya aku sudah empat puluh hari empat puluh malam tergeletak di sini. Hanya nyamuk yang kebetulan lewat di bibir bisa kumakan. “Selebihnya menunggu kematian. “Tapi aku kini bisa mati dengan lega. “Mengagumkan. Ternyata Dewa masih mempunyai rasa welas asih padaku, sehingga ragaku tidak penasaran. “Nyai tahu yang dikatakan Raganata mengenai permintaan Pulangsih? “Raganata mengatakan bahwa ini kesalahan kita bertiga. Ternyata memburu- memuja-mengharap Pulangsih. Dan Pulangsih sudah muak dengan sikap pemujaan seperti ini. “Makanya justru kehadiran Bejujag yang biasa-biasa, menjadikan hatinya tergugah. Bejujag tak pernah memujinya secara terbuka. Bejujag tak memperlakukan Pulangsih secara istimewa. “Yang biasa itu yang menarik.” “Bisa juga begitu. “Meskipun sebenarnya setiap penjelasan, tak akan menjawab secara tuntas. “Maaf, Adimas, kalau saya menyinggungmu… Adimas Upasara juga terpaut hatinya oleh seorang wanita. Dan tak akan pernah lekang sedikit pun, walau kini wanita yang dikasihi telah mempunyai dua putri. “Begitu juga sebaliknya.” “Itu baik. “Artinya Upasara dan kekasihnya menyimpan daya asmara. “Bejujag ini betul-betul kurang ajar! “Ia sengaja menyakiti hati Pulangsih demi ilmu silatnya! Betapa konyol dan hinanya.” “Demi ilmu silatnya?” “Demi keunggulan pribadi Bejujag. “Semua ini diceritakan oleh Bejujag dengan segala kemenangan. Dengan segala kebanggaan yang ada. “Nyai, kamu tahu apa yang dikatakan Bejujag padaku?” “Tunggu… Rasanya saya bisa menebak.” “Apa?” “Bukankah sikap Eyang Sepuh itu yang mengilhami ilmu silatnya yang kesohor, yang dikenal dengan Tepukan Satu Tangan?” “Jangan-jangan kamu murid Pulangsih.” “Kalau saya ada hubungan dengan Putri Pulangsih, saya sudah akan mengubur Kakek hidup-hidup. “Tetapi saya kurang mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi.” “Aku sudah bercerita panjang. “Bintulu yang menuliskan bagian pertama Kitab Bumi yang terdiri atas Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Suatu maha karya yang tiada taranya. Akan tetapi Bintulu merasa belum puas. Masih ingin menyelesaikan satu bagian lagi, yang akan terdiri atas delapan jurus. “Itu sebabnya diberi nama Dwidasa Nujum Kartika, walau hanya terdiri atas dua belas jurus. “Jalan pikiran Bintulu sangat cemerlang. Mengagumkan. Gagasan dasarnya ialah ingin menciptakan jurus-jurus dan atau latihan pernapasan yang bisa mementahkan semua jurus dan perkiraan, dan meminta pendapat dari kami bertiga. “Pada saat seperti itulah, Raganata mengembangkan bagian yang disebut Weruh Sadurunging Winarah, atau Tahu Sebelum Terjadi. Inilah cara mementahkan semua Jurus Bintang. “Dengan mengetahui apa yang menjadi sasaran serangan lawan, dengan sendirinya akan berhasil mengatasi. “Raganata menempuh latihan pernapasan yang dalam, untuk mengetahui napas lawan. Karena sesungguhnya, di situlah sumber serangan. Bukan gerak kaki atau tangan. Bukan lirikan mata. Melainkan dengus dan tarikan napas. “Rumit dan berat, akan tetapi Raganata berhasil melatih dengan luar biasa. “Aku tak mau kalah. Aku menunjukkan cara-cara memainkan Pukulan Pu-Ni. Satu pukulan yang bisa membereskan semua serangan. Dengan sekali serang, Pukulan Pu-Ni akan menghancurkan lawan. Dengan demikian serangan yang berikutnya, apa pun bentuknya, tak akan lahir. “Sudah ditumpas sejak awal. “Kalau Raganata lebih melatih napas dan rasa, aku memakai tenaga keras.” “Dan Paman Sepuh Dodot Bintulu?” Upasara tak bisa menahan diri ikut bertanya. “Bintulu? “Lebih dekat dengan penyelesaian yang dipakai juga oleh Raganata, tetapi juga dekat dengan cara yang kupakai. Bintulu mengajukan pukulan yang dinamai sementara Banjir Bandang Segara Asat. Menciptakan banjir besar di darat dengan mengeringkan laut. “Intinya pukulan keras. “Mengadu tenaga dalam, pada saat yang bersamaan, menyedot tenaga dalam lawan untuk dijadikan tenaga dalamnya sendiri. Kalau kita yang memainkan lebih unggul, berarti tenaga dalam lawan terisap. Bahayanya ialah, jika kita kalah kuat, tenaga kita yang terisap.” “Saya pernah menyaksikan dan merasakan kehebatan ilmu itu, Eyang.” “Bagus. Kuakui, Bintulu memang cemerlang. Karena di samping tenaga keras, cara-cara mengisap tenaga lawan adalah memakai tenaga lembut, seperti yang pemikirannya dilontarkan oleh Raganata.” “Eyang Sepuh memperlihatkan Tepukan Satu Tangan. Bukankah begitu, Kakek?” “Ya, Bejujag mengajukan pemikiran bahwa satu tangan yang bertepuk menimbulkan suara lebih nyaring dari dua tangan. Inti mendasar dari ilmu ini ialah pengorbanan, menjadikan diri kita korban, diri kita tumbal. Maka niatan yang pertama lahir adalah penolakan. “Selama kita masih berpikir untuk meraih kemenangan, menginginkan keunggulan atau kepentingan pribadi, nafsu itu yang lebih menguasai. Kita tak mempunyai rasa pasrah. Kita yang akan kalah oleh daya nafsu kita sendiri. “Pasrah total. Itulah inti pengorbanan diri.” “Saya tahu… saya tahu…” “Kamu tahu bahwa inti ajarannya justru bersumber dari penolakannya kepada Pulangsih? “Bejujag gila. “Justru dengan menolak Pulangsih, Bejujag akan mendapatkan. Justru dengan mencampakkan Pulangsih, daya asmaranya akan berlipat ganda. Dengan bertepuk sebelah tangan, lebih nyaring gemanya daripada dua tangan bersambut. Dengan tidak memiliki Pulangsih, Bejujag justru mendapatkan seumur hidupnya. Bahkan sampai di alam lain. “Nyatanya begitu. Karena justru Pulangsih yang meminta-minta agar ia tak diganggu menyelesaikan ilmunya. “Aku paling membenci. Dan kuanggap ilmunya lebih berbahaya dari Banjir Bandang Segara Asat yang diciptakan Bintulu. “Akan tetapi segalanya serba gila. “Bintulu dan Raganata yang merundingkan, yang berpikir masak-masak, akhirnya memutuskan menerima ilmu Bejujag sebagai pelengkap utama Kitab Bumi. “Kitab resmi, untuk diajukan kepada Baginda Raja. “Dan Baginda Raja juga memilih serta menyetujui bahwa Kitab Bumi yang utuh terdiri atas Dua Belas Jurus Nujum Bintang dan Delapan Jurus Penolak Bumi! “Itulah lahirnya Bantala Parwa. “Yang diakui juga oleh Bintulu, Raganata, dan aku sendiri. Mengakui secara resmi, bahwa ajaran utama yang dituliskan adalah apa yang diajukan oleh Bejujag. “Ilmu yang didasarkan pada penolakannya kepada Pulangsih. Kemampuannya untuk meniadakan Pulangsih. “Maka, sejak itu pula Bantala Parwa direstui menjadi pelengkap yang dipakai sebagai pegangan dan ajaran Keraton Singasari. Sampai jagat ini tamat.” Wahyu Paminggir “KALAUPUN Kitab Bumi yang direstui Baginda Raja, bukankah itu tidak berarti satusatunya yang boleh dipelajari?” “Tentu saja tidak, Nyai. “Di jagat ini mana ada seorang yang bisa mengharuskan dan melarang hanya mempelajari jurus tertentu? “Pukulan Pu-Ni belum tentu kalah dengan Bantala Parwa. Aku masih berniat menguji.” Nyai Demang tersenyum dalam hati. Kakek Kebo Berune yang napasnya tinggal satu-satu dan tak mampu bergerak, masih bisa menyombongkan diri. “Kakek Berune, kenapa Baginda Raja Sri Kertanegara mempunyai maksud memakai pakem atau kitab pegangan?” “Agar bisa dijadikan dasar untuk mengembangkan diri. “Ada yang tercatat, dan diakui tak akan membahayakan. “Masa soal semudah ini kamu tidak tahu, Nyai.” “Itulah masalahnya,” tukas Nyai Demang cepat. “Dalam mempelajari ilmu silat, kita cenderung mengagungkan milik kita sendiri. Boleh dikatakan rahasia bagi perguruan lain. Akan tetapi kini malah disatukan. Dan disebarkan. “Kakek sendiri juga menerima hasil rembugan para ksatria sejati, walau berada di seberang. Bukankah ini aneh dan bertentangan?” “Di jagat ini, mana ada raja seperti Baginda Raja? “Lebih dari siapa pun. Dewa saja kalah jauh pemikirannya. Kita semua, para ksatria, pendekar, bahkan para durjana, mempunyai rasa hormat yang tinggi kepada Baginda Raja. Beliau raja yang dihormati bukan hanya karena kekuasaannya. “Tapi karena kehebatannya. “Baginda Raja mempunyai kehendak yang mulia. Keraton Singasari direncanakan akan mencapai seluruh ujung jagat. Itu hanya bisa dicapai jika kekuatan Keraton tak terkalahkan. “Dengan membuat pakem dari Kitab Bumi, Baginda Raja ingin menyebarluaskan gagasan itu. Semua prajurit atau bukan prajurit akan dilatih. Sehingga kelak di kemudian hari, Keraton Singasari akan digdaya tanpa tanding. “Bahkan Baginda Raja mendirikan Ksatria Pingitan.” Upasara menyembah. “Saya didikan Ksatria Pingitan, Eyang.” “Itulah. “Di samping mengirimkan semua senopati ke negara seberang, seperti aku, Baginda Raja memperkuat di dalam. Pada suatu saat nanti, semua penduduk Singasari adalah prajurit sejati. Yang bisa menguasai kanuragan dan sekaligus mempunyai budi pekerti yang baik. “Bayangkan kalau itu terjadi!” “‘ “Lalu apa kesulitannya?” “Tak ada. “Tak ada, kan?” “Kelihatannya…” “Kelihatannya Baginda Raja menginginkan dari penduduk yang biasa-biasa bisa mempelajari ilmu silat. Mereka akan menjadi bibit-bibit prajurit yang tangguh, yang di kelak kemudian hari menjadi senopati. Dan akan muncul senopati-senopati yang gagah perwira. “Tak ada apa-apanya kalau Bejujag tidak mengacaukan semua kehendak Baginda Raja.” “Mengacaukan?” “Dengan Kidung Paminggir. “Yang meramalkan bahwa suatu hari akan lahir seorang senopati utama, yang lebih besar dari raja itu sendiri. Itu yang dikatakan sebagai Wahyu Paminggir.” “Maaf, Kakek Berune, saya tak bisa menangkap. “Kalau Baginda Raja begitu luas pandangannya, kenapa tak menyukai kemungkinan yang telah diletakkan dasar-dasarnya?” “Karena Bejujag! “Perhitungan atau ramalan atau nujuman Bejujag menegaskan hal itu. Kalian akan mengetahui betapa kurang ajarnya Bejujag jika mengetahui kidungan bagian itu. Akan kubacakan: Ini pupuh kesekian, mengenai Wahyu Paminggir Wahyu ialah zat dari Dewa Sukma kekuasaan tertinggi hanya ada pada tangan raja sebab raja adalah raja raja adalah Dewa Dewa berada dalam raja Selain Wahyu Utama milik hanya para Dewa ada pula Wahyu Paminggir bagi yang berada dipinggir tak punya nama besar, bukan keturunan raja tak punya darah biru, bukan keturunan selir Mereka ini memperoleh Wahyu Paminggir yang sinarnya bisa lebih terang dari Wahyu Utama yang gemilang Berbahagialah penerima Wahyu Paminggir Kidungan ini tertuju padanya yang keringat dan kemauannya tak bisa berakhir Berbahagialah raja yang membawahkan Kidungan itu tertuju hormat padanya yang kebesaran dan takdirnya tiada terkalahkan Antara Wahyu Utama dan Wahyu Paminggir seperti bibir atas dan bibir bawah Dewa segala Dewa, raja segala raja tak bisa menerka yang mana Paminggir atau utama…” Nyai Demang bisa mengerti kalau Baginda Raja murka dengan kidungan yang diciptakan Eyang Sepuh. Dengan mengetengahkan gagasan adanya Wahyu Paminggir, secara jelas Eyang Sepuh mengatakan ada wahyu yang lain, di samping wahyu yang khusus untuk seorang raja! Itu tak boleh terjadi. Tak akan ada raja, di mana pun, menerima kenyataan bahwa ada matahari lain. Kekuasaan mutlak ada padanya. “Bejujag mau kraman, mau mengambil alih Wahyu Raja. Bukankah itu keterlaluan? “Bukankah itu tak bisa diampuni?” Apa yang dikatakan Eyang Kebo Berune mempunyai gema dalam hati Upasara Wulung. Karena setelah terkurung selama dua puluh tahun, untuk pertama kalinya ia muncul ke dunia persilatan, karena gema adanya Wahyu Paminggir! Di mana Eyang Sepuh mengisyaratkan datangnya Tamu dari Seberang, yang akan menentukan siapa yang bakal menjadi raja. Eyang Sepuh memakai contoh lahirnya raja pertama yang mendirikan Keraton Singasari, yaitu Ken Arok. Yang tidak berdarah biru. Saat itu terjadi kegemparan yang luar biasa. Baginda Raja memerintahkan semua senopati untuk melabrak ke Perguruan Awan, untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Saat itu, Eyang Sepuh sudah menghilang. Yang ada para pendekar, para ksatria yang justru sedang akan ditumpas habis. Baru sekarang Upasara mendapat keterangan yang lengkap. Namun tak bisa ditutupi, justru perhitungan Eyang Sepuh mendekati tepat. Saat itu Raja Muda Gelang-Gelang menghancurkan Keraton Singasari, menduduki takhta kehormatan. Dan baru dengan munculnya pasukan Tartar, yang bisa disebut Tamu dari Seberang, bisa menggulingkan Raja Muda Jayakatwang. Dilihat dari sisi ini, segala perhitungan atau ramalan Eyang Sepuh tak bisa dikatakan sekadar lamunan kosong. Nyatanya terbukti. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Upasara. “Bejujag dianggap sangat tepat ramalannya. Mungkin begitu, mungkin kebetulan. Yang bisa saja terjadi. Tapi dalam hal ilmu silat, Bejujag tak ada apaapanya. Tidak bila dibandingkan dengan aku. “Bahkan ketika kamu mainkan jurus-jurus Penolak Bumi, aku bisa memecahkan dengan mudah. Juga Bintulu yang sanggup mematahkan satu tanganmu.” Nyai Demang merintih. Tubuhnya kembali bergoyang, sebelum akhirnya jatuh berkelojotan. Benturan tenaga yang terserap dari Pukulan Pu-Ni kembali muncul. Upasara menjajal kembali. Satu tangan bergerak dari lambung ke arah atas beberapa jari di atas tubuh, dan mendadak terdorong ke depan. Menyentuh kaki Nyai Demang. Sentakan tenaga bagai sabetan halilintar menyergap. Upasara mendesis. Tubuhnya bagai kosong. Tenaga yang menyerbu masuk dibiarkan melalui semua tenaga penghalang. Ada dua kemungkinan: tenaga dalam Upasara bakal rontok, atau sengatan yang mengalir terhenti. Ternyata tidak dua-duanya! Sifat Bumi TENAGA itu tetap masuk menerobos tubuh Upasara. Tidak berhenti. Tubuh Upasara bergeming. Tenaga dalamnya tidak rontok. Karena sekejap kemudian, Upasara bisa melepaskan kembali tangannya tanpa merasa adanya gangguan yang berarti. Juga ketika menghela napas, dan mengatur pernapasan. “Bisa. Bisa, Mbakyu. “Saya bisa.” Kebo Berune berseru kaget, “Bisa apa?” “Bisa menyalurkan tenaga bergolak dari dalam tubuh Nyai Demang.” “Mana mungkin?” “Maaf, Eyang, saya baru menjajalnya. “Rasa-rasanya bisa tersalur.” “Aku bisa mati membelalak. Selama ini aku mempelajari Pukulan Pu-Ni dengan sepenuh hati seumur hidupku. Dan Nyai Demang itu terkena pula. Bagaimana mungkin kamu bisa mementahkan begitu saja? “Apakah kamu disuruh Bejujag memperolok aku?” Tentu saja Upasara tak mempunyai pikiran untuk mempermainkan Eyang Kebo Berune. Jalan pikirannya sangat polos untuk permainan semacam itu. Yang pertama dirasakan Upasara ialah bahwa tenaga dalam yang bergolak dalam tubuh Nyai Demang bisa diambil tanpa merusakkan tenaga dalamnya sendiri. Dengan cara membiarkan dirinya kosong, dan tenaga itu tersalur terus. Hilang di dalam bumi. Upasara memang memakai jalan pernapasan bumi. Sesuai dengan sifat bumi yang menerima segala apa. Sambaran tenaga halilintar yang betapapun hebatnya, lenyap seketika kalau masuk ke perut bumi. Sewaktu Upasara mengutarakan gagasan itu, Eyang Kebo Berune jadi terbengong-bengong. “Sifat Bumi?” “Begitulah, Eyang.” “Tunggu dulu, apakah itu ada di dalam Kitab Bumi? Apakah itu diajarkan dalam Kitab Bumi?” “Ya, Eyang.” “Di bagian mana?” “Di bagian Penolak Bumi. “Dalam Tumbal Bantala Parwa, diterangkan pada kidungan awal, bahwa gerakan-gerakan yang ada adalah dengan mempelajari unsur-unsur tanah, tata letak bumi. Dekat gunung, dekat mata air, dekat batu, dan lain sebagainya. “Masing-masing kedudukan tanah yang demikian mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. “Masing-masing bisa membawa rezeki dan bahaya. “Untuk yang mengandung bahaya, bisa diatasi dengan tumbal. Kalau kita mengenali sifat tanah, kita mengetahui kekuatannya.” “Demi Dewa segala Dewa. “Bukankah itu bagian yang dituliskan Bejujag?” “Maaf, saya tak begitu paham.” “Jelas. Itu akal Bejujag. “Kalau benar begitu, ia sebenarnya telah mengalahkan Pukulan Pu-Ni yang kulatih seumur hidup, yang membuatku cacat seperti ini.” Suaranya mengandung penyesalan yang dalam. Upasara tak mau terganggu pikirannya. Dengan mengosongkan diri, tangannya terulur kembali. Kali ini dengan tenang, tenaga yang bergolak dalam tubuh Nyai Demang tersalur. Amblas ke dalam bumi. Tak sampai sepenanak nasi, tubuh Nyai Demang telah pulih kembali. Seperti sediakala. “Luar biasa.” “Maaf, kalau Eyang bersedia, saya ingin mencoba pada Eyang.” “Tak bisa. Tak bisa. “Mana mungkin aku mau dihina begini rupa? Lebih baik aku mati seperti sekarang. Sebentar lagi toh akan mati juga. Buat apa kamu menyombongkan diri sebagai pemenang kepada orang yang sedang sekarat?” Nyai Demang merasa jengkel juga. “Adimas Upasara telah berbaik hati ingin membebaskan Kakek dari penderitaan yang berkepanjangan, tetapi masih ditolak. Dengan cara menyakitkan. “Sudah saja. “Mari kita tinggalkan.” Suara Nyai Demang mengandung kemarahan besar. Bisa dimengerti karena Nyai Demang merasakan siksaan tenaga Pukulan Pu- Ni. “Mari, Adimas, masih banyak yang harus kita lakukan. “Tak bisa menunggui di sini.” Upasara menggeleng. Ia tak bisa meninggalkan begitu saja. Biar bagaimanapun, Eyang Kebo Berune adalah tokoh tua yang sezaman dengan Eyang Sepuh dan Mpu Raganata. Tak bisa ditinggalkan begitu saja. Dengan segala hormat, Upasara justru menyembah lagi. “Tak perlu, Adimas. “Hanya akan membahayakan Adimas sendiri. Saat menyalurkan tenaga Kakek Berune, Adimas berada dalam keadaan kosong. Saat itu kalau saya berniat jahat, dengan mudah bisa membunuh Adimas.” “Mbakyu tak akan melakukan itu.” “Jangan bodoh, Adimas. “Saya tak akan melakukan itu. Tapi siapa saja bisa melakukan itu. Prajurit dari Keraton atau bahkan Halayudha bisa melakukan itu. Tempat ini tak jauh dari Keraton, di mana setiap saat bisa ada yang lewat. “Saya tak bisa melindungi.” Benar juga yang dikatakan Nyai Demang! “Aha, kalian bertengkar sendiri. “Aku juga tidak sudi kalian tolong. Itu sama juga mengakui keunggulan Bejujag. Aku tak bisa menerima.” Upasara jadi serbasalah. Menolong, jelas berbahaya. Tidak menolong, hatinya tak tega. “Sudah pergi sana! “Aku masih bisa memanggil orang lain.” “Eyang…” “Cukup. Bagiku sudah cukup. Kalian sengaja datang disuruh Bejujag untuk menunjukkan ketinggian ilmu kalian. Sampai di alam sana nanti, tetap akan kucari Bejujag.” Nyai Demang berdiri. “Mari, Adimas.” “Mbakyu berangkat saja sendiri.” Bagi Nyai Demang sangat gampang berangkat sendiri. Tapi ia tak mau melakukan itu. Justru karena mengetahui bahwa Upasara pasti akan tetap menolong Kakek Berune, tanpa memedulikan keselamatannya sendiri. Itu sifat Upasara. Repotnya, Nyai Demang juga tak bisa memaksa Upasara pergi. Jadinya ia berdiri kaku. “Kakek, lalu Kakek mau apa?” “Itu bukan urusanmu.” Mendadak Nyai Demang mengerutkan keningnya. Lapat-lapat telinganya mendengar suara orang mendatangi. Dengan cepat Nyai Demang menuju ke bagian samping yang tak terlihat dari luar. Upasara mengikuti tindakan Nyai Demang. Suara langkah yang mendekati kian jelas. Nada pembicaraan mulai terdengar jelas. “Mungkin sudah meninggal sekarang ini.” “Sayang kita belum bisa menyadap ilmunya.” Dalam sekejap, dua bayangan muncul di pintu. Nyai Demang mengenali bahwa salah seorang dari yang datang ialah Pendeta Syangka. Pendeta Sidateka! Yang seorang lagi tak begitu jelas, karena Nyai Demang tak bisa melihat dengan jelas. Nyai Demang lebih berusaha menyembunyikan diri dengan mengatur jalan napas agar tak dirasakan kehadirannya. “Berune, kamu belum mati?” “Belum. Apa maumu, Pendeta Busuk?” “Tak ada. Selain kami berdua akan menjajal ilmu. Siapa tahu tubuhmu masih bisa dipakai untuk latihan memukul.” Upasara mengertakkan giginya. Nyai Demang memegang tangan Upasara erat-erat. Terasa dingin. “Coba saja. Mana ada Pendeta Busuk yang suka berbuat tak senonoh punya pukulan bagus? Pukulan dingin kamu tak lebih dari bau kentut. “Lebih memuakkan daripada menakutkan.” Wajah Pendeta Sidateka berubah gusar. “Kalau kamu tahu siapa yang datang bersamaku, kamu tak akan bermulut besar seperti itu.” “Segala jenis ular busuk kamu bawa, apa kamu kira ada racun yang bisa melukaiku?” Nyai Demang merinding. Rasanya ia mengenali siapa yang datang bersama Pendeta Sidateka. Sangat mengenali. Karena tokoh itu tak lain dan tak bukan adalah Kiai Sambartaka! Rangkulan Dua Musuh Bebuyutan NYAI DEMANG mengerahkan kemampuannya untuk mengatur jalan napasnya. Agar tidak terdengar oleh Pendeta Sidateka maupun Kiai Sambartaka. Getaran pikiran yang menyeruak membuat sedikit sakit di dada. Cekalan tangan Upasara yang mengalirkan ketenteraman sedikit-banyak membantu penguasaan diri Nyai Demang. Ini cekalan yang kedua, yang dilakukan secara sadar. Yang pertama ketika Upasara membimbingnya keluar dari Keraton. Bahkan mencekal pinggangnya ketika meloncati tembok. Lalu sekarang ini. Sungguh aneh. Setelah sekian tahun bersama-sama, justru dalam satu malam saja, Upasara telah mencekal tangannya dan mengalirkan tenaga yang menenteramkan. Kalau usaha penyembuhan juga dihitung, barangkali yang ketiga. Akan tetapi Nyai Demang tidak menghitung itu sebagai perlakuan yang istimewa. Karena untuk menyembuhkan luka. Bagi Nyai Demang sikap Upasara menjadi jauh berbeda. Tadinya adalah perjaka yang serba kikuk, yang menjadi merah padam mukanya, walau hanya saling berbicara. Sekarang berani menyentuh. Nyai Demang membuang jauh-jauh pikiran yang bukan-bukan. Hatinya tergetar dan gusar karena mengetahui bahwa Sidateka datang bersama Kiai Sambartaka. Gusar karena Kiai Sambartaka, Kiai Kiamat yang sakti dari tlatah Hindia itu, ternyata sangat culas hatinya. Tega mencurangi Eyang Sepuh yang telah menolong jiwanya. Pada pertarungan di Trowulan, Nyai Demang-lah yang berusaha terjun ke Brantas untuk mencari Kiai Sambartaka. Karena merasa dendam! Bahwa sekarang Kiai Sambartaka bisa muncul lagi dalam keadaan segar bugar, itu tak terlalu mengherankan. Sebagai tokoh sakti tingkat Dewa, hal seperti itu bukan sesuatu yang istimewa. Akan tetapi bahwa kini bergandengan dengan Pendeta Sidateka, itu yang aneh sekali. Tak masuk akal. Sejauh yang diketahui Nyai Demang, kedua negeri, yaitu tlatah Syangka dan tlatah Hindia, tak pernah akur. Dalam segala hal. Permusuhan yang bebuyutan ini berkembang terus hingga ke anak keturunan yang kesekian. Dalam berbagai kitab yang dibaca oleh Nyai Demang atau siapa saja, sangat jelas terasakan. Bahkan dalam cerita-cerita yang paling kesohor, bisa dimengerti adanya permusuhan tanpa akhir itu. Pendekar dan para ksatria dari tlatah Hindia menganggap tlatah Syangka adalah pusat segala kejahatan jagat, yang sama dengan Keraton Alengka. Sementara tlatah Hindia adalah tanah yang dimiliki titisan Dewa Wisnu yang selalu menghancurkan angkara murka dan kejahatan. Setiap tindakan yang menghancurkan Syangka adalah tindakan sangat terhormat. Permusuhan yang tak terjembatani lagi. Dalam banyak hal, pendeta ataupun ksatria dari Syangka ingin mengibarkan panji-panji tersendiri. Tak mau berlindung dalam wilayah kekuasaan Hindia. Hanya memang selama ini, para pendeta dan ksatria dari Syangka selalu keteter, selalu terdesak keberadaannya. Maka sangat mengejutkan bahwa sekarang Kiai Sambartaka yang sakti mau bersahabat dengan Sidateka. Apa pun alasannya, sulit diterima. Sejahat-jahatnya Kiai Sambartaka dalam kelicikan, rasanya tak bisa dimengerti mau bersahabat dengan Sidateka. Lebih baik mati ngenas. Karena kalau sampai terdengar ke tlatah Hindia, kabar itu tak bisa dicuci sampai tujuh puluh turunan. Kekuatiran Nyai Demang dari segi yang lain ialah, bahwa bersatunya antara Sidateka dengan Kiai Sambartaka, bisa merupakan kekuatan yang tangguh dan sulit dicari tandingannya. Kiai Sambartaka menguasai segala jenis racun yang berasal dari dunia binatang dan tumbuh-tumbuhan. Lebih dari itu, Kiai Sambartaka juga menguasai apa yang disebut Pukulan Beku, atau pukulan Mandeg-Mangu. Yang mampu menghentikan jalan darah atau napas, setiap kali bisa menyentuh bagian tubuh lawan. Hal ini Nyai Demang sudah menyaksikan sendiri. Sedangkan Pendeta Sidateka juga memiliki ilmu dingin yang luar biasa yang mampu bergerak cepat. Gabungan dari kedua ilmu ini adalah sesuatu yang luar biasa. Bukan tidak mungkin Upasara Wulung pun akan kecolongan. Satu pukulan saja, Upasara bisa beku selamanya. “Kerbau Tua, lebih baik kita bicara baik-baik,” kata Pendeta Sidateka dengan nada tinggi. “Toh kamu sebentar lagi bakal mati juga. “Akan lebih baik kalau kamu mengatakan sesuatu, dan saya berjanji akan mendoakan arwahmu, menguburmu baik-baik, dan mengabulkan apa permintaanmu. “Bukankah ini jual-beli yang baik?” “Kalau aku tak mau? “Apa yang bisa kamu lakukan?” “Tak ada. Selain melihat seekor kerbau tua sekarat. Setiap kali akan mati, kami akan berusaha menolongmu.” Nyai Demang mengetahui alasannya. Setidaknya bisa menebak bahwa ada yang dikehendaki dari Eyang Kebo Berune oleh Pendeta Sidateka maupun Kiai Sambartaka. “Mana mungkin kalian bisa menolong atau tidak? Apa yang kalian ketahui selain bagaimana mencari racun cacing dan berkomat-kamit seperti demit?” Kiai Sambartaka menyemburkan ludahnya ke tanah. “Mulut kerbau tua ini sangat busuk. “Aku lebih suka melihatnya sekarat, dan kita menyembuhkan. Biar tambah lama tambah menderita.” “Suara perut juga sama busuknya dengan bau kentut. “Dengan apa kamu berkaca? Kudengar kamu bisa datang ke Trowulan, dan bisa hidup, tapi bukan pemenang. Buat apa melihat matahari kalau tubuh dan jiwanya bau?” Nyata-nyata Eyang Kebo Berune masih galak. “Trowulan hanya tipuan anak-anak muda. Tak ada yang pantas dipakai sebagai ukuran. “Kebo Bangkai, dengar baik-baik. Aku sudah tahu apa itu Kitab Bumi. Dan karena kamu juga mempelajari itu, rasanya aku bisa menyembuhkan dengan baik. Setidaknya menjaga agar kamu tidak segera mati.” “Itu bagus. “Kalau bisa.” “Apa susahnya mempelajari ilmu anak-anak bayi seperti itu? Dalam Kitab Bumi ada bagian cara mengatur pernapasan dengan memusatkan pikiran sehingga serasa kosong. “Membuat tubuh menjadi kosong. “Membuka gendang telinga kiri sama lebar dengan telinga kanan. Seolah tak mempunyai gendang telinga. Suara sekeras apa pun tak akan mengganggu.” Darah di nadi Nyai Demang bergolak lagi. Apa yang dikatakan Kiai Sambartaka adalah apa yang dipamerkan secara luar biasa oleh Upasara Wulung. Upasara berhasil memainkan dengan baik. Yang dikenal sebagai ilmu Memindahkan Tenaga Suara. Ini memang ada dalam kidungan Kitab Bumi. Yang mencapai puncaknya pada penguasaan Eyang Sepuh dengan aji Manjing Ajur-Ajer, menyatu dengan alam. Bisa bergerak tanpa suara. Bisa ada di mana-mana. Bisa antara kelihatan dan tidak. Yang akan sampai ke tingkat moksa. Seperti yang dicapai oleh Eyang Sepuh. Ilmu ini pula yang dikatakan Nyai Demang lebih setingkat dari apa yang dipakai oleh Ratu Ayu Bawah Langit sebagai penguasaan langkah Tathagati! Dari sekian cabang Jalan Budha yang ada, Eyang Sepuh telah mencapai tatanan yang tak terkalahkan. Dan tadi dengan enteng saja Kiai Sambartaka mengatakan seolah ia yang menemukan. Sungguh licik! Bagi Upasara, hal semacam ini bukan sesuatu yang mengganggu harga dirinya. Tak ada rasa keakuan untuk bisa tersinggung karena kelicikan semacam itu. Malah Upasara membenarkan dalam hati. Bahwa yang dikatakan Kiai Sambartaka sangat tepat. Ketika tadi menyembuhkan tenaga bergolak dalam tubuh Nyai Demang, Upasara juga memakai cara yang sama disebutkan Kiai Sambartaka. Bedanya, Upasara memakai tenaga bumi untuk menyerap golakan tenaga dalam. Ibarat kata sambaran halilintar dimusnahkan dalam bumi. Dengan tubuh Upasara sebagai pengantar. “Coba saja, kalau kamu bisa.” “Kerbau Tua, kenapa kamu tak mau bekerja sama?” “Apa untungku? “Selama hidup, aku selalu dianggap kalah oleh Bejujag, Bintulu, dan Raganata. Kini di saat-saat terakhir, aku harus mengajarkan ilmu Bejujag? “Siapa yang mau mengakui cara begitu? Ilmu Bejujag tak ada gunanya. Jangan terlalu berharap.” Tengkorak Kekasih UPASARA bisa memahami Eyang Kebo Berune yang menjadi gusar. Dari pengalamannya selama ini, Upasara menjumpai dua tokoh seangkatan yang begitu kesal pada polah Eyang Sepuh. Yang pertama adalah Paman Sepuh Dodot Bintulu. Yang kedua adalah Eyang Kebo Berune. Keduanya menyebut sebagai si nakal, berandal, tanpa menyebut nama yang sesungguhnya. Bedanya ialah Paman Sepuh tidak menaruh dendam seperti Eyang Kebo Berune. Maka bisa dimengerti jika Eyang Berune menjadi murka justru karena dipaksa menyerahkan sesuatu yang agaknya bisa dikaitkan dengan Eyang Sepuh. Nyai Demang yang lebih jitu menebak. Bahkan sesuatu itu adalah ilmu, atau kitab, yang menjadi ciptaan Eyang Sepuh. Apa lagi kalau bukan bagian “yang tak terbaca di hati” atau juga Kidung Paminggir atau Wahyu Paminggir? Sesuatu yang tadi dikatakan oleh Eyang Kebo Berune kepada Upasara dan dirinya. Ini berarti sebenarnya Kakek Kebo Berune lebih memilih mereka berdua, dibandingkan dengan Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka. “Kalian mau memakai ilmu Memindahkan Tenaga Suara? Boleh saja dicoba. Kalian pikir aku tak bisa mengubah tenaga dalam milikku sendiri? “Tak semudah itu Kitab Bumi mengungguliku. “Sebelum kalian bisa makan dengan tangan, aku sudah membaca kitab itu dengan baik.” Nyai Demang bersorak dalam hati. Apa yang dikatakan Kakek Kebo Berune memang masuk akal. Dengan kemampuan yang begitu tinggi, tak mungkin bisa dikuasai begitu saja. Kalau tadi Upasara berhasil menyalurkan tenaga dalam dari tubuh Nyai Demang, itu juga belum sebagai jaminan utama. Karena tenaga utama Nyai Demang berbeda dari tenaga Kakek Kebo Berune yang menjadi sumber tenaga utama. Dalam sekejap, Nyai Demang juga bisa menilai bahwa sesungguhnya Kakek Kebo Berune ini mempunyai adat yang aneh. Keras, rada angkuh, dan dengan demikian mudah mengumbar kata-kata. Sesuatu yang seharusnya tak dilakukan. Karena dengan demikian seolah membiarkan dirinya terbuka untuk dibaca lawanlawannya. “Aku mau mencobanya, Kakek Bangkai. “Tetapi aku punya sesuatu yang bagimu penting.” Kiai Sambartaka mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Dilemparkan ke atap. Tepat di atas, dalam pandangan mata Kakek Kebo Berune. Napas Nyai Demang tertahan. ‘ Yang dilemparkan ternyata tengkorak yang telah kering. Entah dengan cara apa tengkorak itu bisa ditancapkan di situ. “Kamu pasti mengenali, Kebo Bangkai.” “Permainan apa itu?” “Lihatlah baik-baik. Wajahnya bisa kamu bayangkan. Kepala begitu kecil, dengan rambut, dengan bibir mungil.” “Apa itu?” “Masa kamu tak mengenali tengkorak kekasihmu?” Tarikan napas Kakek Berune terdengar jelas sekali. “Katakan kidungan itu dengan baik-baik. “Atau kamu mau melihat tengkorak itu kuperkosa? Kakek Bangkai, aku tega memperkosa tengkorak itu di depan matamu.” Tubuh Nyai Demang menggigil. Juga Upasara merasa bulunya merinding. Ini memang keterlaluan. Nyai Demang tak bisa menahan dirinya untuk segera bergerak. Walau Nyai Demang tak kenal sama sekali dengan Putri Pulangsih, akan tetapi bisa mengerti perasaan kakek Berune. Perasaan yang dikuasai daya asmara. Bagaimana tercabik-cabiknya perasaan Kakek Berune bisa dimengerti oleh siapa pun yang paling tumpul perasaannya. Sesudah menjadi tengkorak pun masih akan diperkosa. Di depan mata seorang yang begitu mencintai. Nyai Demang mengertakkan giginya. Ia melepaskan cekalan Upasara. Hanya saja ternyata ada tubuh lain yang bergerak. Melayang ke atas. Terbang dari tanah. Ini bukan perumpamaan. Karena tubuh Kakek Berune yang terbang ke angkasa. Masih dalam keadaan terbaring, lurus tak bergerak, tapi bisa naik ke atas. Tanpa gerak. Hanya perutnya yang bergerak naik-turun. Seakan dari situlah diatur tenaga dalamnya! Bahkan Pendeta Sidateka pun membuka matanya lebar-lebar sambil menahan napas. Kiai Sambartaka menyembunyikan kekagumannya dalam wajahnya yang membeku. Dalam hatinya berkelebat pikiran-pikiran yang bertentangan. Antara mengakui apa yang dilihat, dan suara hatinya yang ingin memenangkan dirinya sendiri. Dirinya adalah jago segala jago di tlatah Hindia. Sepenuh hidupnya diabdikan untuk mempelajari ilmu silat. Berlatih diri habishabisan, menyiksa diri dengan ambisi yang tinggi. Segala daya dan kemampuan dikerahkan. Baik dengan jalan yang dipakai oleh para ksatria maupun yang ditolak. Itulah kedudukan yang dicapai saat ini. Dengan keyakinan akan menjadi lelananging jagat yang sanggup menundukkan siapa saja. Adalah di luar dugaannya bahwa lawan-lawan yang setara dan sulit dikalahkan begitu banyak bermunculan. Salah satu dari lawan yang berat justru masih bau kencur di jidatnya. Yang lebih menggetarkan hatinya lagi, ia dikalahkan oleh seorang tokoh dari tanah Jawa! Tanah yang dianggap hanya menjadi gema dari apa yang terjadi di negerinya. Akan tetapi justru Eyang Sepuh, antara kelihatan dan tidak, bisa menundukkan. Lebih dari itu semua, Eyang Sepuh tak mau menjatuhkan tangannya. Bagi Kiai Sambartaka ini bukan kehinaan, akan tetapi kesempatan untuk meloloskan diri. Setidaknya dengan hancurnya sebagian jawara-jawara jagat, ia bisa malang melintang sendirian. Tak tahunya, masih ada pendekar lain. Dari tanah Jawa pula! Yang bisa terbang dalam keadaan tetap terbaring tanpa gerak. Yang mendekati ke arah tengkorak, dan hanya dengan sorot mata, tengkorak itu terlepas, jatuh tepat di atas perutnya. Lalu perlahan-lahan, tubuh itu turun. Ke tanah. Tempat ia berbaring. Seperti tak terjadi sesuatu sebelumnya. Kenyataan ini sangat memukul Kiai Sambartaka. Dalam ilmu silat, jenis-jenis yang serba aneh dan muskil adalah bagian yang secara khusus diperdalam. Salah satu di antaranya adalah berbicara melalui perut, mengebalkan kulit yang tak bisa ditembus senjata apa pun. Segala macam jenis ilmu hitam juga dipelajari dan dilatih secara terusmenerus. Siapa nyana bahwa sekarang ini, seorang yang telah cacat total tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, mampu melayang ke angkasa? Bukankah kalau Kebo Berune ini ikut muncul di Trowulan, kesempatannya untuk menjadi lelananging jagat makin kecil? Suasana menjadi sunyi beberapa saat. Angin dingin mulai terasakan. Suara kokok ayam mulai terdengar satu-satu di kejauhan. “Ambil tengkorak itu, Kebo Bangkai. “Aku masih bisa memperkosa tulang-tulangnya yang lain.” Napas Eyang Kebo Berune bergerak naik-turun sesaat, lalu tiba-tiba saja tengkorak itu melayang ke atas. Kembali ke tempatnya semula. “Kenapa kalian begitu ceroboh mempermainkan aku? Bahkan tengkoraknya pun aku bisa mengenali dengan baik. “Sekarang pergilah! ‘ “Akan kutunggu siapa yang cocok untuk mendengar obrolanku. Sana pergi sana! Cari bubur buat makan, dan minta susu kambing. Ha… ha… bagaimana tengkorak jelek begitu bisa disamakan dengan Pulangsih?” Pendeta Sidateka terbatuk keras. “Cepat pergi! “Masih mau bertingkah seperti apa lagi? Toh kalian tak akan mendapatkan apa-apa dariku. Belajar ilmu baik-baik. Nanti lima puluh tahun lagi kalian berdua kemari, untuk bertanding dengan anak bayi yang lahir sebelum itu. “Pergi sana!” Luar biasa. Tokoh utama seperti Pendeta Sidateka yang mampu menguasai Angin Dingin dan Kiai Sambartaka yang menguasai Pukulan Beku, diusir seperti binatang yang menjijikkan. Rasanya Nyai Demang ingin tertawa sepuas hati. Agar Kiai Sambartaka mengetahui ada saksi. Karena kalau hanya diceritakan rasanya sulit dipercayai. Jemputan Dewa NYAI DEMANG sudah hampir bergerak, sewaktu Upasara Wulung justru menahan napas. Semua tenaga tersalur ke ujung tangan kiri dan menggeletar. Barulah Nyai Demang sadar sesuatu sedang terjadi. Ternyata Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka tidak segera meninggalkan gubuk. Dua kali melangkah ke luar lalu berbalik! Serentak dengan itu dua tangan terulur. Pukulan berganda! Dua telapak tangan bersatu, saling menempel. Tangan kanan Pendeta Sidateka menempel pada telapak kiri Kiai Sambartaka. Sementara kedua tangan yang bebas itulah yang dipakai mengerahkan tenaga untuk memukul jarak jauh ke arah Kakek Kebo Berune! Pukulan berganda! Yang kedahsyatannya pernah dibayangkan oleh Nyai Demang. Gabungan antara Pukulan Beku dan Angin Dingin. Tadinya hanya berada dalam lintasan pikiran. Nyatanya bisa dilakukan. Dan korbannya adalah seorang kakek tua yang hanya bisa berbaring. Sungguh kejam. Bisa dimengerti kalau Upasara menyiapkan tenaga dalam untuk mengimbangi pertarungan. Akan tetapi tangan Upasara bergetar tanpa mengeluarkan tenaga. Pandangannya menyatu, tertuju ke satu arah. Tubuh Kakek Berune bergoyang, seakan hampir terbalik. Guncangan terulang lagi. Hanya dengan berdiam diri, Kakek Berune mencoba mementahkan daya pukul berganda. “Tempelkan pantat kalian berdua, belum tentu bisa menyentuhku. Coba lagi!” Jumawa sekali kata-katanya. Dalam keadaan tak bergerak pun, Kakek Berune masih bisa mempermainkan dua tokoh kaliber jagat! Nyai Demang merasa rambut kepalanya menjadi gatal. Ini hebat! Kakek Berune ternyata bisa menganggap serangan Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka tak ada artinya. Bahkan menyindir, kalaupun mereka berdua saling menempelkan pantat, tetap tak akan menguasai. Sindiran yang kelewat tajam. Dan kena sasaran. Beradu pantat bagi dua tokoh yang tadinya selalu bermusuhan saja sudah merupakan hinaan. Apalagi ini juga bisa berarti dua lelaki! Sekilas Nyai Demang teringat kepada Dewa Maut. Yang hidup berdua dengan sesama lelaki, yang dipanggil Tole, sebelum bertemu dengan Gendhuk Tri. Ingat Dewa Maut, wajah Nyai Demang menjadi merah. Ada pengalaman menggetarkan yang terjadi yang tak bisa dimengerti sendiri. Ketika keduanya berada dalam gelap! Ketika saling menularkan tenaga dalam. Mendadak terjadi perubahan lain. Tubuh Kakek Berune menggeletar. Kejang-kejang terjadi lagi. Suaranya parau. Wajahnya yang pucat menjadi lebih pucat lagi. Pertarungan tenaga dalam yang saling menggempur, kumat lagi! Ini bahaya! “ Ajalmu kini sampai. “Kami akan menahanmu, agar tetap menderita.” Suara Kiai Sambartaka sangat dingin. Tangan terulur ke depan. Tubuh Kakek Berune bergoyang, menjadi miring. Kini Nyai Demang menjadi bingung. Pandangan matanya melirik ke arah Upasara. Ia berharap Upasara segera bertindak. Upasara sendiri sebenarnya sedang bingung. Antara berbuat sesuatu dan tidak. Tenaga telah tersalur sepenuhnya ke tangan kiri. Akan tetapi menjadi ragu, bagaimana harus bertindak. Membuyarkan pukulan Kiai Sambartaka dan pukulan Pendeta Sidateka, berarti mempercepat kematian Eyang Berune. Karena justru pukulan itu dimaksudkan untuk mencegah kematian. Membiarkan saja, berarti menambah penderitaan Eyang Berune. Ragu! Sejenak. Tapi waktu yang sejenak itu sudah cukup bagi Nyai Demang untuk bergerak. Semata-mata karena dorongan nuraninya. Tanpa perhitungan menolong atau justru menghancurkan Kakek Berune. Tubuh Nyai Demang menggulung maju. “Awas, Kakek!” Upasara mengeluarkan suara tertahan. Sambaran pukulan berhawa dingin, membuat tubuh Nyai Demang terdorong bergulingan. Tapi Nyai Demang tak berpikir soal mati-hidupnya sendiri. Dengan nekat Nyai Demang justru menyongsong ke arah pukulan. Tubuhnya terdorong ke arah Kakek Berune. Ketika jatuh bergulingan, Nyai Demang langsung memeluk Kakek Berune! Menggendongnya dan membawa minggir! Sama juga bunuh diri! Karena tenaga dalam yang bergolak dalam tubuh Kakek Berune kini mengalir sepenuhnya ke tubuh Nyai Demang. Yang menggeletar hebat dan membuat langkahnya terhuyung-huyung tak menentu. Pada saat yang bersamaan, Upasara sudah menghadang dengan pukulan tangan kiri. Memapak dua tangan Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka! Terdengar suara keras. Gubuk itu sepenuhnya ambruk. Rata dengan tanah! Upasara masih berdiri gagah. Di seberang, Pendeta Sidateka masih bergandengan tangan dengan Kiai Sambartaka. Sementara tubuh Nyai Demang makin keras bergoyang-goyang bagai pemabuk berat. “Mbakyu… bagaimana rasanya?” Kekuatiran Upasara lebih tertuju ke arah Nyai Demang. Yang ternyata tak bisa menjawab dengan isyarat sekalipun. Kesempatan itu digunakan oleh Pendeta Sidateka dan Kiai Sambartaka untuk menyambar. Kesiuran angin dingin yang membekukan udara sekitar mengurung Upasara. Dengan menggeliatkan tubuhnya, Upasara mendesak maju. Memapak dengan satu tangan kiri. Telapak tangan terbuka. “Jemputan Dewa telah sampai. Sekaligus tiga nyawa. Sungguh tak nyana. Upasara, jangan berharap kami bisa menguburmu dengan baik. Biar cacing dan lalat yang menyantapmu.” Upasara tak bisa melayani kata-kata Kiai Sambartaka yang meremehkan. Karena nyatanya tekanan udara dingin yang membekukan begitu kuat mempengaruhi. Sehingga seakan seluruh darahnya membeku. Udara yang dihirup membongkah di lubang hidung. Dada menjadi panas. Sesak. Dalam pertarungan kali ini, Upasara tak bisa berbuat banyak. Pemusatan kekuatan sepenuhnya hanya mampu mengimbangi tekanan lawan yang makin menggigilkan. Bertarung melawan Kiai Sambartaka, Upasara memerlukan waktu yang lama dalam pertarungan yang sangat alot. Tak mudah memetik keunggulan. Kini Kiai Sambartaka menyatu dengan Pendeta Sidateka. Jelas menjadi berlipat kemampuannya. Dalam situasi yang biasa, Upasara lebih memerlukan pemusatan kemampuan untuk bisa mengimbangi. Celakanya, justru saat ini pikiran Upasara terpecah. Karena biar bagaimanapun tak bisa membebaskan rasa kuatir akan nasib Nyai Demang. Yang secara langsung mengemban tubuh Eyang Berune. Kalau tersentuh saja membuat Nyai Demang berkelojotan, bisa dibayangkan sekarang ini. Kesempatan ini yang dipergunakan Kiai Sambartaka. Sehingga tidak terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa ketiga nyawa kini sedang menunggu Dewa Pencabut Nyawa. Lima jurus, Upasara makin terdesak. Satu tangan tak bisa menandingi empat tangan yang merupakan satu rangkaian. Dengan dua tangan tetap saling melekat, Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka terus merangsek maju. Menggencet Upasara. Satu tangan menyambar ke atas, satu tangan yang lain menyerang bagian tengah. Dan karena dua tubuh bergabung, seolah menjadi besar. Seolah menguasai seluruh medan pertarungan. Ke arah mana pun Upasara menghindar, tangan lawan sudah menunggu. Yang lebih membuat Upasara terdesak adalah, setiap kali ia melangkah surut, ia tak bisa mendesak maju lagi. Karena udara di tempat semula sepenuhnya dikuasai oleh lawan. Seakan di tempat itu udaranya sudah membeku. Napas Upasara tersengal-sengal. Bahkan mulai batuk-batuk. “Serang kiri… kiri… kanan… ulang!” Dengan memberi aba-aba Kiai Sambartaka makin merangsek maju, mengepung dari berbagai penjuru. Secara langsung Kiai Sambartaka pernah merasakan ilmu Upasara Wulung. Pernah bertarung antara hidup dan mati. Jadi cukup mengenali, dan bisa melihat titik-titik kelemahan di mana ia bisa menerobos. Sesuatu yang sangat berharga. Justru karena Upasara memainkan jurus-jurus dari Kitab Bumi! Yang pernah dijajal Kiai Sambartaka dari sumber utamanya, baik Eyang Sepuh maupun Paman Sepuh! Penundaan Kematian DALAM pertarungan habis-habisan di Trowulan, Kiai Sambartaka merasakan betapa dahsyatnya jurus-jurus dari Kitab Bumi. Sebagai pentolan jagat yang sangat luas pengetahuannya, Kiai Sambartaka bisa memahami gerakan-gerakan tersebut. Meskipun ada perbedaan antara yang diperlihatkan Paman Sepuh dan Eyang Sepuh, namun dasar-dasar bisa dengan mudah dicari persamaannya. Juga yang dimainkan Upasara. Makanya kini bisa menekan. Setiap saat bisa mematikan. Upasara bukannya tidak menyadari bahaya yang mengancam. Mata batinnya sudah memperingatkan sejak dini. Bahwa keunggulan utama Kitab Bumi, terutama sekali bukan pada gerakan atau jurus-jurusnya. Melainkan pada saat memainkan dengan tepat. Pengaturan tenaga dalam lebih menentukan. Dengan kata lain, kalaupun lawan sudah mengetahui arah pukulan, masih bisa tertipu dan tak menduga berat-ringannya tekanan yang datang. Akan tetapi yang menjadi syarat utama adalah kekuatan yang terpusat. Yang justru saat ini tak mampu dilakukan oleh Upasara. “Kena!” teriak Pendeta Sidateka. Telapak tangannya menjotos ke arah pinggang Upasara. Sekali sentuh, seluruh tubuh Upasara akan menggigil kedinginan hingga ke ulu hati. Pada saat itu Kiai Sambartaka bisa menghantam dengan Pukulan Beku, Pukulan Mandeg-Mangu. Habislah Upasara! Begitulah menurut perhitungan. Begitulah seharusnya. Karena setelah berhasil mengurung lawan pada satu titik, Pendeta Sidateka tak melihat lagi bahwa Upasara mempunyai kemungkinan untuk meloloskan diri. Satu tangan memapak pukulan Kiai Sambartaka yang dianggap lebih berbahaya, satu tangan yang lain terkulai saja. Arah mundur sudah dicegat. Dan sewaktu mengangkat tangan, pinggangnya terbuka. Saat itu pukulan Pendeta Sidateka masuk! Sap! Upasara tak bisa menghindar. Hanya saat telinganya mendengar gema teriakan “Kena!”, inti tenaga tumbal seperti terpanggil dengan sendirinya. Inti tenaga berkorban. Inti penyerahan. Pinggang Upasara tetap terbuka, pukulan Pendeta Sidateka masuk, hanya saja akibatnya berbeda. Pukulan dingin itu justru seperti mengenai bongkah es yang lebih dingin. Yang menelan tenaga yang ada. Pendeta Sidateka yang mengeluarkan jerit tertahan. Karena tangannya mendadak kaku. Dadanya sesak, dan tubuhnya menggigil. Hanya Kiai Sambartaka yang menangkap pengertian bahwa suasana bisa berbalik. Upasara bisa menjadi di atas angin. Walau tidak bisa melanjutkan serangan. “Tebas kiri… kiri… tebas kaki…” Pendeta Sidateka tak menduga sama sekali bahwa pukulannya jusru berbalik mengenai tubuhnya. Membekukan tangannya. Merasa gagal, Sidateka menuruti apa yang dikatakan Kiai Sambartaka. Kaki kiri dan kanan bergerak maju, menebas kaki Upasara. Keras lawan keras. Dengan serangan yang mantap begini, Upasara tak mempunyai kesempatan untuk menyiapkan diri. Menghadapi keras lawan keras pertarungan kaki, atau menghindar. Yang terakhir tak mungkin dilakukan. Karena Kiai Sambartaka telah mengincar. Yang pertama juga mengundang bencana. Karena justru pada saat mempertahankan kuda-kuda, serangan Kiai Sambartaka tak terbentengi. Pukulan Beku yang akan membekukan nyawa Upasara. Kalau Nyai Demang masih normal, jalan pikirannya juga tak berbeda dari Pendeta Sidateka. Demikian pula Upasara. Maka Upasara mencoba mencuri keunggulan dengan putaran tangan, memperkuat kuda-kuda kaki. Putaran tangan yang mengeluarkan desis kuat untuk mengurangi tekanan gempuran Kiai Sambartaka, dan sekaligus mencuri kemenangan dari Pendeta Sidateka yang lebih lemah. Kuda-kuda yang kuat untuk mengimbangi tebasan kaki akan membuatnya tetap bersiaga. Tidak demikian dengan Kiai Sambartaka. Pikirannya menemukan sisi yang lain. Ia bisa memaksa Upasara mengarahkan pukulan ke arahnya. Ia bisa memaksa perhatian Upasara ke arahnya. Agar serangan tebasan kaki Pendeta Sidateka berhasil. Seperti yang diperintahkan. Itu yang tidak dilakukan. Apa yang dilakukan Kiai Sambartaka justru sebaliknya. Ia menarik tenaga dalam, menyimpan, dan dengan satu putaran tubuhnya melesat ke udara. Tempelan tangannya terlepas dari Pendeta Sidateka. Berarti membiarkan Pendeta Sidateka menghadapi bahaya sendirian. Pada saat satu tangan telah terluka. Pada saat seluruh pemusatan tenaga berada di kaki. Tanpa bantuan tenaga dalam yang sudah menyatu, Pendeta Sidateka merasakan kekosongan dalam tubuhnya. Seolah sebagian besar tenaga dalamnya terhenti. Sehingga gempurannya menjadi berkurang. Dalam perhitungan Kiai Sambartaka, dalam tenaga penuh pun, kuda-kuda kaki Upasara tetap akan bergeming. Karena pengerahan tenaga di kedua kaki bukan sesuatu yang luar biasa bagi Upasara. Kiai Sambartaka tak mengetahui persis bahwa itu adalah jurus-jurus yang mendasar dari Banteng Ketaton, awal ilmu Upasara Wulung. Hanya sewaktu bertarung, Kiai Sambartaka bisa merasakan kehebatan daya tahan kuda-kuda ilmu Banteng Terluka. Kini ditambah satu putaran tenaga dari tangan kiri Upasara. Pendeta Sidateka benar-benar berada dalam bahaya. Ini yang justru dikehendaki Kiai Sambartaka! Sesaat kaki Pendeta Sidateka seperti menebas tiang karang yang kukuh. Pada saat yang sama, pundaknya seperti kejatuhan bongkahan karang. “Tobat!” Seruan tertahan dari bibir Pendeta Sidateka menunjukkan luka dalam. Sekaligus kekalahan, dan juga minta ampun! Tak biasanya tokoh sakti meminta ampun. Tapi memang tak ada pilihan lain. Upasara hanya bisa memindahkan sebagian tenaga pukulan ke kaki. Namun selebihnya tetap membuat Pendeta Sidateka terbanting ke tanah. Muntah darah beku. Bagai gumpalan daging merah. Mentah. “Baguslah itu,” suara Kiai Sambartaka terdengar dalam nada dingin. “Sebentar atau sebentar sekali, kamu akan lebih dulu mati. Penundaan kematian ini hanyalah karena Upasara berbaik hati sedikit padamu. “Tetapi dengan begitu, ia sendiri akan mengalami kerepotan menyelesaikan pertarungan ini denganku.” Tubuh Pendeta Sidateka menggelepar. “Bajingan kamu…” “Puaskan memaki. “Sebelum kamu tak bisa membuka bibirmu. O, betapa tololnya Pendeta Syangka, negeri bawahan yang berjiwa budak hina. “Kamu kira kamu bisa berdiri sejajar denganku? “Kamu mimpi besar, Syangka jelek!” Kiai Sambartaka tersenyum tipis. Lalu wajahnya berubah menjadi kaku lagi menghadapi Upasara. “Anak muda, yang mengaku lelananging jagat, dengarlah. “Pagi ini sebelum mentari sepenuhnya bersinar, gelar itu sudah berada dalam genggamanku. Dan tak akan ada lagi yang menghalangiku. “Tak ada yang menghalangiku. “Sebentar ini kakimu sudah kedinginan, napasmu sesak. Aku hanya menunggu sampai di puncak penderitaan, dan menyelesaikan pertarungan. “Siapa lagi yang menghalangiku? “Tak ada. “Tak ada lagi. “Tak ada lagi yang menghalangiku. Syangka jelek ini mendahuluimu, Kebo Bangkai itu tak ada gunanya. Eyang Sepuh sudah hilang! “Oh, Dewa… akulah lelananging jagat yang sesungguhnya!” Upasara tak pernah membayangkan bahwa Kiai Sambartaka mabuk kemenangan seperti sekarang. Menganggap menjadi ksatria sejati adalah tujuan utama. Lebih tak memperhitungkan bahwa kakinya terasa dingin, ngilu, dan terganggu. Pendeta Syangka berhasil melukai. Karena rasa dingin menggigil itu mulai mengalir, mulai menyusup, sehingga Upasara perlu mengerahkan hawa perut melawannya. Tenaga yang masih diperlukan untuk bertarung. Persembahan Kematian DENGAN perhitungan yang penuh tipu tapi jitu, Kiai Sambartaka akan keluar sebagai pemenang. Pendeta Sidateka yang di belakang hari bisa merusak nama baiknya telah dicelakakan. Upasara yang disegani telah tercuri kekuatannya. Benar-benar tak akan ada lawan yang sanggup menghadapi ilmu Kiai Sambartaka. “Manusia berhati lebih buruk dari binatang, sungguh percuma gelaran Kiai yang kamu sandang.” Kiai Sambartaka tersenyum dingin. Lewat hidungnya. “Katakan apa saja. Lebih buruk dari itu tak membuat aku sedih. “Percuma saja kalian di tanah Jawa ini mengaku berilmu tinggi, ksatria sejati, memakai sebutan eyang atau kiai atau empu. Nyatanya kalian ini masih mementingkan gelar yang tak ada artinya. “Hmmm, sungguh menjengkelkan. “Bagaimana kalian bisa memperdalam ilmu yang begitu tinggi, tapi juga sekaligus menggali kepicikan? “Upasara, kamu dari turunan kesekian, masih tercium bau pupuk di ubunubunmu. Akan tetapi kamu pun telah dicekoki bahwa ksatria harus begini-begitu. Bahwa kiai, empu, eyang harusnya tidak boleh begini-begitu. “Siapa yang mengharuskan semua itu? “Kepicikan sempit macam apa pula yang mendasari ini semua? Bukankah pengertian-pengertian derajat dan pangkat itu yang membuat kalian semua tersesat? “Bukankah itu yang menghancurkan kalian? “Sehingga aku yang mau tak mau disebut sebagai lelananging jagat, ksatria nomor satu. “Aku tak mengerti ajaran kalian di tanah Jawa ini. “Tetapi aku tak peduli. “Bagiku, hanya ada satu gelar yang tak tertandingi. Menjadi ksatria nomor satu. Sekarang sudah di depan mata. Sebelum matahari bersinar sempurna, aku telah memiliki, menyandang. Dan seluruh jagat akan mendengar nama besarku. “Aku bisa mempercepat dengan menggempurmu sekarang, tetapi aku masih ingin menikmati perlahan-lahan.” Dalam benak Upasara, Kiai Sambartaka ini tak berbeda jauh dari Halayudha. Mengejar sesuatu dan untuk mendapatkannya menempuh semua cara. Bedanya, Kiai Sambartaka mabuk keunggulan sebagai pesilat, sementara Halayudha lebih kepada kekuasaan Keraton. Mengingat Halayudha, rasa gusar Upasara seperti terpancing. Pergolakan darahnya menderas. Pada saat itu terasa darah dingin merayap ke atas. Sehingga buru-buru ditenangkan kembali. Bagi Kiai Sambartaka, cara mengatur napas Upasara membuktikan bahwa memang ada gangguan dalam tubuhnya. Sesuai dengan perhitungannya. “Sayang sekali. Kamu masih muda. Ilmumu begitu sempurna. Tapi di jagat ini hanya boleh ada satu lelananging jagat. Dan nasib tidak berpihak padamu.” “Tak begitu mudah.” “Memang tidak. “Tapi aku pasti bisa meraihnya. “Kini saatnya kamu rasakan pukulan Mandeg-Mangu, inti utama dari yang kalian tiru sebagai Kitab Bumi. “Aku paling segan berbicara. Akan tetapi pagi ini hatiku sangat gembira.” Kiai Sambartaka tertawa dingin. Kedua tangannya terkembang. Wajahnya dingin. Matanya menyorot tajam. Upasara berdiri tegak. Sedikit memiringkan tubuh. Tangan kanan berada di bagian belakang. Bersiap menghadapi segala kemungkinan. “Upasara, kuambil gelaran terhormat ini.” Sebat Kiai Sambartaka menggertak maju. Menyambar dada dan perut, dengan menguasai serangan bagian tengah. Dengan sangat cerdik, Kiai Sambartaka berusaha menerobos kekuatan Upasara. Yang agaknya tepat diperhitungkan oleh Kiai Sambartaka. Pukulan dengan satu tangan masih dihindari. Upasara menangkis dengan tangan kiri yang disampokkan ke bawah, dan dengan siku tertekuk menyodok ulu hati lawan. Kiai Sambartaka menyedot udara dalam hidungnya dengan kuat-kuat. Jurusjurus yang sangat dihafal di luar kepala. Maka dengan enteng, dada Kiai Sambartaka ditekuk. Kedua tangan tetap terkepal, siap membekukan darah di daerah yang tersentuh. Upasara membarengi dengan sebat, meloncat maju. Pada saat itulah terasakan bahwa tenaga kaki tak bisa sepenuhnya dikuasai. Tenaganya seperti macet. Kakinya seperti kesemutan. Inilah kehebatan pukulan Pendeta Sidateka. Udara dingin yang diciptakan dari pukulan Pendeta Sidateka bukanlah jenis Pukulan Beku. Melainkan bekerja perlahan-lahan. Sekali lawan sudah terkena, hawa dingin itu akan menjalar dengan sendirinya. Tanpa perlu tenaga Pendeta Sidateka. Tenaga dalam lawan yang terkena yang akan menyebarluaskan hawa dingin menggigilkan itu. Kini hal itu dialami oleh Upasara. Bebannya menjadi berat. Menghadapi Kiai Sambartaka di satu pihak, dan menghadapi menjalarnya hawa dingin di lain pihak. Makin kencang ia mengerahkan tenaga dalam, makin kencang pula selusupan hawa dingin itu. Sepuluh jurus kemudian Upasara merasa bahwa kakinya bukan tak leluasa digerakkan, akan tetapi beberapa kali seperti tak terasakan. Sudah bergerak atau belum. Rasanya sudah melangkah, tapi ternyata Kiai Sambartaka masih di luar jarak pukulan dan tendangan. Kalau benar begini, sebelum matahari sempurna, Kiai Sambartaka sudah bisa merobohkannya. Upasara benar-benar keteter. Pikirannya masih berbias akan nasib Nyai Demang dan Eyang Kebo Berune. Dan makin merasa terdesak karena untuk melangkah surut pun gerakan kakinya menjadi lamban. “Aku hitung sampai tiga. “Satu…” Kiai Sambartaka mencengkeram pundak. Upasara mengelak dengan mengegos, tapi saat itu kaki Kiai Sambartaka menerobos di antara kaki Upasara. Membedah dari dalam. “Dua…” Upasara meloncat dengan gerakan tersendat. Tangan Kiai Sambartaka menyambar ulu hati, dan tak diundurkan lagi. Sampokan tangan kiri Upasara dihadapi dengan keras. Mengejutkan. Tangan Kiai Sambartaka seperti terkedut keras. Tenaga dalam Pukulan Beku seperti diaduk dan dikocok. Tepukan Satu Tangan memang pengerahan tenaga luar biasa! Tidak terduga. Pada serangan berikut, Kiai Sambartaka tidak berani menghitung “tiga”, karena tidak yakin bisa memenangkan pada saat itu. Namun ini tak mengubah akhir pertarungan. Andai tidak terganggu hiruk-pikuk yang berkepanjangan. Suara kaki-kaki dan gemerincingnya senjata. Dalam waktu sekejap, muncul beberapa puluh prajurit dengan senjata yang siap. “Ini aku yang tua tak berguna, Sora yang hina. Tak perlu kalian berbasa-basi. Aku sengaja datang, sengaja sowan ke Baginda sebagai tanda baktiku yang terakhir. “Aku persembahkan kematian yang papa ini sebagai tanda kesetiaan kepada Keraton.” Suaranya mengguntur, keras, menyakitkan telinga. “Dulu nyawaku tertolong oleh ksatria sejati Upasara Wulung. Kini tak ada lagi yang menghalangi niat kalian semua. Mahapatih Nambi yang terhormat… apa lagi yang Mahapatih tunggu?” “Tangkap pemberontak!” Dalam sekejap terjadi kekalutan. Para prajurit Keraton bergerak secara serentak. Sementara para pengikut Senopati Sora pun mengangkat senjata. Pertarungan tak bisa dihindarkan. Medan pertarungan juga meluas ke arah Upasara Wulung dan Kiai Sambartaka yang segera berada di tengah pergulatan. Kiai Sambartaka menjadi geram. Ia main hantam kiri-kanan. Beberapa prajurit Keraton mati beku seketika. Akan tetapi dengan demikian prajurit yang lain mengurung dan menyerbu ke arahnya. Meskipun bukan tandingan Kiai Sambartaka, serangan itu merepotkan juga. Sehingga ia tak bisa menyelesaikan serangan berikutnya kepada Upasara. Yang segera mengepung dan menyerangnya. “Paman Sora… ini saya…” Upasara mencoba melompat ke arah Senopati Sora yang menoleh ke arahnya. Akan tetapi karena gerakan kaki Upasara tidak sempurna, senjata Mahapatih Nambi lebih dulu amblas ke perut Senopati Sora. Ketika senjata disentakkan, tubuh Senopati Sora terbanting. Seluruh tubuhnya seolah bermandikan darah. Terang di Tanah, Tenang dalam Darah UPASARA menggertak maju. Tiga senjata diempaskan. Sabetan Mahapatih Nambi disodok dengan pukulan terarah. Merasa terbebas dari kepungan, Upasara berlutut. Menunduk ke arah Senopati Sora. “Paman…” Wajah Senopati Sora pucat pasi. Hanya senyuman bahagia yang terkembang di sudut bibir, memberi warna lain dari darah dan usus yang terurai ke tanah. “Anakmas Upasara…” Suara Senopati Sora terdengar jelas. “Dua kali Anakmas menyabung nyawa menyelamatkan Paman yang tak berharga ini…” Upasara menggelengkan kepalanya. Banyak yang ingin dikatakan seketika. Banyak sekali. Ingin juga dikatakan bahwa sesungguhnya sekarang ini justru Senopati Sora yang menyelamatkan nyawanya. Ingin dikatakan betapa terima kasihnya yang tulus ingin disampaikan karena Senopati Sora telah sedemikian baiknya menyimpan cundhuk milik Gayatri. Ingin diceritakan panjang-lebar bahwa kekaguman tak pernah berkurang kepada Senopati yang begitu penuh pengabdian, begitu gagah, tapi juga begitu pedih penderitaannya. Ingin diceritakan bahwa ia mendengar semua dari Nyai Demang tentang siksaan batin itu. Ingin ditumpahkan semua unek-unek batinnya yang mengganjal. Keinginan tinggal keinginan. Saat ini justru Senopati Sora lebih perlu mengatakan, bukan mendengarkan. Suasana sekitar tempat Upasara menjadi hening sepi. Meskipun di luar lingkaran yang mengepung, korban terus berjatuhan. Para prajurit dan senopati yang mengepung Upasara setengah merasa ngeri akan ketangguhan Upasara, setengahnya lagi merasa tergetar hatinya. Pemandangan yang memilukan. Saat matahari mulai terang, di medan peperangan yang ganas, seorang Upasara menunduk, memangku kepala Senopati Sora. Tidak sedikit yang menyaksikan pemandangan yang sama, beberapa saat lalu. Bedanya, saat itu Senopati Sora hanya terluka dan kemudian bisa sembuh dan melanjutkan pengabdian, sekarang ini tak ada kemungkinan lagi. “Tanah sudah terang… darah sudah tenang. “Jangan iring kepergian Paman dengan air mata, Anakmas Upasara. Jelek-jelek begini, Paman adalah prajurit, dan Anakmas Upasara juga prajurit. “Sesama prajurit tak harus saling memamerkan air mata. “Anakmas, sejujurnya inilah jalan paling terhormat bagi seorang prajurit.” Pundak Upasara terguncang. Bahunya bergerak-gerak menahan kepedihan hatinya. Bayangan wajah Senopati Sora menghablur. Berubah menjadi wajah gurunya, ayah angkatnya yang membesarkannya, Ngabehi Pandu. Dulu juga seperti sekarang ini. Di pangkuannya pada saat-saat terakhir. Hanya saja saat itu Ngabehi baru saja menyelesaikan pertarungan yang paling ganas dengan lawan yang ingin menghancurkan Keraton. Sekarang ini, berbeda. Berbeda? Tidak. Bagi prajurit sejati, kematian selalu sama. Sebagai tanda pengabdian, sebagai persembahan utama. Senopati Sora sudah mempersiapkan diri sejak lama. Saat-saat terakhir sudah memakai pakaian serba putih, sudah keramas dan memotong semua kukunya. Bersih. Siap lahir-batin. “Tanah sudah terang, Anakmas.” “Ya, Paman.” “Darah sudah tenang.” “Ya, Paman.” “Anakmas, Paman akan meminta sesuatu. “Janganlah kepergian Paman menjadi penyebab huru-hara dan balas dendam. Paman tak akan bisa tenang kalau itu terjadi. Tolong sampaikan kepada semua pengikut Paman. “Bersediakah Anakmas Upasara?” Upasara mengangguk. Senopati Sora mangkat. Matanya tertutup. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Tanah telah terang, darah telah tenang. Selamat jalan, Paman Sora. Upasara bersujud, menyembah. Lalu berdiri dengan gagah. Kakinya masih kaku. Tangan kanannya tetap terkulai. Tapi pandangan matanya keras membatu. Mahapatih Nambi melangkah ke depan. Berhadapan. “Upasara, kita bisa mengadakan perhitungan lain waktu.” Upasara menggeleng. “Tidak karena soal ini.” “Terima kasih. “Kalau begitu, silakan datang ke Keraton.” Upasara menggeleng. “Tidak sekarang. “Maaf, Mahapatih.” Upasara melangkah seperti menyeret kakinya. Perlahan menjauh, ke arah matahari yang makin membesar cahayanya. Terang di tanah, tenang di darah. Betapa indah kata-kata mulia itu. Yang terucap dari seorang yang begitu pahit dan getir pengabdiannya. Batin Upasara terguncang. Senopati Sora tak begitu dikenal secara pribadi. Tak berbeda dari para senopati Keraton yang lain. Pun saat-saat bertarung melawan pasukan Tartar. Kalau ada sedikit keistimewaan hanyalah kaitannya dengan Gayatri. Akan tetapi, terutama sekali yang menggeletarkan sukma Upasara bukan itu. Senopati Sora bukan paman, bukan saudara, tidak bertalian darah dengannya. Namun Upasara seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang dimiliki. Jiwa pengabdian. Jiwa prajurit. Jiwa yang mencintai tanah tumpah kelahirannya. Keraton yang menyemai kebanggaannya. Betapa mulia pengabdian Senopati Sora kepada Keraton. Seperti juga Gajah Biru dan Juru Demung serta pengikut-pengikutnya yang setia. Yang datang ke Keraton untuk memberikan nyawa, sebagai bukti kesetiaan tanpa tanding. Walau mungkin ditanggapi secara lain. Walau memang diartikan secara berbeda. Tak apa. Tak membuat Senopati Sora dan pengikutnya benar-benar memberontak, benar-benar mbalela, melawan perintah Raja, tidak membuat kraman atau memberontak. Sebab itu bukan jiwa prajurit sejati. Sebab itu bukan sukma ksatria sejati. Terang di tanah, tenang di darah. Upasara terus menyeret langkahnya. Setiap langkah meninggalkan bekas di tanah. Seakan menggoreskan luka, membekaskan duka. Ah, betapa banyak kesengsaraan dan penderitaan. Sejak Dewa Maut yang masih terkurung di bawah Keraton, Upasara menyadari kegetiran hidup. Apa salahnya, sehingga Dewa Maut harus kehilangan semua ilmunya dan semasa jaya dikucilkan hanya karena hidup bersama dengan sesama pria? Sejak menyadari bahwa pendekar dan prajurit pengabdi seperti Eyang Kebo Berune tersiksa oleh tenaga dalamnya. Sejak menyadari bahwa seorang penduduk biasa tanpa dosa tanpa terlibat masalah Keraton dan dunia persilatan, seperti Pak Toikromo, yang hidupnya begitu jujur terbelah dadanya. Pikiran Upasara berjalan bolak-balik tak menentu. Saat seperti itu, kakinya makin sukar digerakkan. Makin tidak mengikuti kemauannya. Mengatur kembali pernapasan, melatih tenaga dalam, dan kemudian membalas dendam? Melabrak Kiai Sambartaka? Menantang Halayudha? Ah, betapa kecilnya. Betapa kerdilnya, dibandingkan jiwa besar Senopati Sora yang terang di tanah, tenang di darah. Upasara membiarkan tubuhnya ambruk. Telentang di pinggir sawah. Matahari makin panas. Gerah. Helaan napas. Lepas. Tapi darahnya masih bergolak, pertanyaan silih berganti menggelegak, bertarung keras dalam benaknya. Jalan Simpang UPASARA makin terbaring. Tanah semakin kering. Secara pribadi kesadarannya makin menurun. Hawa dingin mulai naik dari bawah kakinya. Kini sudah mencapai ke arah lutut. Merayap perlahan ke bagian paha. Dengan kemampuan dan pengaturan tenaga dalam yang dimiliki, bagi Upasara tak terlalu sulit untuk menghentikan aliran hawa dingin. Akan tetapi, jalan pikiran Upasara masih bercabang, di mana setiap cabang pikiran mengembang ke cabang yang baru. Kematian Senopati Sora mengguncang batinnya. Justru karena keikhlasan menerima dengan damai dan bahagia. Dengan pasrah, sumarah. Inilah sesungguhnya bagian dasar Kitab Bumi yang dipelajari. Kemampuan dan kemauan yang tulus untuk menjadi tumbal, untuk mengorbankan diri. Guncangan batin ini tak jauh berbeda dari apa yang dialami oleh Eyang Kebo Berune. Inti Kitab Bumi, sesungguhnya lebih dalam dari ketajaman daya pikirnya. Semakin dipelajari sesuai dengan perkembangan daya pikirnya, semakin menarik. Sewaktu mempelajari Kitab Bumi pada awalnya, Upasara seakan menemukan jalan buntu. Kagok. Pada saat ilmu dan tenaga dalam makin sempurna, pada saat yang sama Upasara merasa ada bagian yang keliru dari yang selama ini diperdalam. Ada arah yang salah, hanya dengan mempelajari ilmu silat. Titik kritis yang tak bisa diatasi menyebabkan Upasara melepaskan semua ilmu yang dimiliki. Bertekad menjadi manusia biasa. Tanpa beban pertarungan. Namun ternyata Upasara tak bisa membebaskan diri dari pergulatan. Ia mengundurkan diri, akan tetapi dunia persilatan justru makin melibatkan diri. Tak ada titik untuk melangkah surut. Tak ada titik untuk memalingkan wajah. Pada pertemuan dengan Paman Sepuh Dodot Bintulu, Upasara mampu mengembalikan tenaga dalamnya dari tenaga cadangan. Ini semua menyebabkan terlibatnya kembali ia dalam dunia persilatan. Yang mencapai puncaknya pada pertarungan habis-habisan di Trowulan. Semua jago jagat turun ke lapangan, dan meninggalkan korban-korban yang selama ini justru melatih diri dalam dunia persilatan. Mata Upasara pedih. Sangat jelas dalam gambarannya, bahwa pertarungan ini juga dialami para empu-empu linuwih, empu-empu yang bijak bestari. Seperti halnya ketika Paman Sepuh Dodot Bintulu menuliskan gabungan ajaran-ajaran jurus silat, yang kemudian dinamai Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Ajaran yang bersumber kepada sifat-sifat bumi yang perlu diteladani ini menjadikan suasana dunia persilatan semarak. Di zaman Baginda Raja Sri Kertanegara, dasar-dasar itu memperoleh tempat persemaian. Dengan berhasilnya merumuskan Dua Belas Jurus Nujum Bintang, para ksatria sejati justru merasa lebih risau. Karena perkembangan ilmu silat tak bisa dikendalikan lagi. Menjamunya ajaran silat, membuka peluang besar adanya adu kesaktian yang terus-menerus. Keinginan untuk menciptakan ksatria sejati yang kelak menjadi senopati utama, pada saat yang sama juga menciptakan petualang-petualang yang sekadar mencari kemenangan. Gegeran berlangsung lama. Sampai kepada satu titik, di mana para ksatria utama saat itu menciptakan kembali ilmu penangkal. Melalui pergulatan yang paling panjang, melalui semadi yang tanpa ujung, lahir dan terpilihlah ciptaan Eyang Sepuh, Delapan Jurus Penolak Bumi. Tumbal Bantala Parwa mengajarkan jurus-jurus untuk mengendalikan ketelengasan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Lebih dari Dua Belas Jurus Nujum Bintang, dalam Kitab Penolak Bumi tidak semata-mata diajarkan cara mementahkan jurus lawan, cara mengatasi jurus-jurus serangan. Kitab Penolak Bumi lebih menitikberatkan kepada ajaran menghilangkan keinginan untuk menang, keinginan untuk unggul dengan menghancurkan lawan. Kitab Penolak Bumi berisi kidungan-kidungan penyerahan. Sekaligus penolakan. Inilah yang menyebabkan Upasara seperti menemukan jalan buntu. Dan sekarang ini guncangan itu terjadi lagi. Apa artinya semua ilmu yang dipelajari, kalau ternyata seorang Senopati Sora yang begitu penuh pengabdian, harus menerima kematian sebagai pemberontak? Dasar dari meniada yang sangat gamblang disebutkan dalam kidungan Kitab Penolak Bumi, menemukan bentuk utamanya pada apa yang dialami Senopati Sora. Bahwa sesungguhnya, semua yang ada harus ditolak. Karena yang ada itu tak pernah ada. Karena daya asmara Putri Pulangsih tak pernah ada. Karena segala pangkat dan derajat hanyalah titipan. Karena segala gelar kiai, empu, eyang, tak membuat seseorang menjadi lebih bijak. Dalam perjalanan hidup, apa yang dilakukan Eyang Sepuh adalah bagian dari sikap yang didasari cara mengatur napas Kitab Penolak Bumi. Yang akhirnya menempatkan langkah hidup Eyang Sepuh moksa. Tak terlibat dalam percaturan ilmu silat. Tak jauh berbeda dari apa yang dilakukan Mpu Raganata ketika berada di dalam Keraton Singasari saat Raja Muda Jayakatwang menyerbu. Mpu Raganata mampu melawan, mampu menyelamatkan diri. Akan tetapi justru memberikan tenaga dalamnya kepada lawan. Tak jauh berbeda dari Dewa Maut yang merasa damai dengan kurungan bawah Keraton. Penjara seumur hidup itu justru diterimanya sebagai bagian dari kebahagiaannya. Sehingga mampu menangkap getaran alam. Mendengar akar tumbuh. Mengetahui daun akan berubah warna. Pokok pangkalnya sama. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan saat ini? Mengembalikan tenaga dalam, menyelesaikan dendam seperti semula, baru kemudian pergi bertapa di Perguruan Awan? Apakah dengan membalas dendam, dirinya menjadi lebih benar? Apakah justru tidak mengundang pertarungan yang lain lagi? Berbeda dari Upasara, Kiai Sambartaka justru tengah berada dalam semangat untuk tampil. Kebimbangan seperti yang dirasakan Upasara tak berbicara dalam hatinya. Sewaktu pertarungan pengikut Senopati Sora dengan prajurit Keraton makin menghebat, Kiai Sambartaka justru menyudutkan diri. Baginya, pertarungan ini tak ada hubungan sama sekali dengan dirinya. Hanya akan merepotkan saja. Maka ia segera menyingkir, menjauh dari pertarungan. Apa yang diinginkan hanya satu. Mengungguli Upasara. Kemudian mengumumkan diri sebagai ksatria nomor satu di jagat! Pada saat itu, ia bisa malang melintang dan tercapailah semua yang diangan-angankan. Maka satu-satunya halangan yang harus segera diselesaikan adalah melindas Upasara. Dengan cara apa saja. Sekarang adalah kesempatan terbaik. Kiai Sambartaka bisa memperhitungkan, bahwa bagaimanapun hebatnya Upasara, pukulan Pendeta Sidateka akan menjadi gangguan. Hawa dingin yang bersarang dalam pembuluh darah Upasara, ibarat anggur, yang secara perlahan akan mempengaruhi dalam jarak waktu lebih lama. Upasara pasti tak bisa lari jauh. Dengan kaki yang kaku, langkahnya tak akan sampai ke ujung pantai yang lain. Dengan jalan pikiran seperti itu, Kiai Sambartaka bergegas menyusul ke arah matahari terbit. Arah ke mana Upasara menghilang. Dengan harapan akan menemui Upasara yang sedang kesakitan, dan ia berhasil memanfaatkan kesempatan yang menguntungkan. Sewaktu Kiai Sambartaka meninggalkan medan pertempuran, peperangan antara pengikut Senopati Sora dan prajurit Keraton sudah berhenti. Semua senopati utama berhasil ditaklukkan, dan sebagian prajurit menyerahkan diri. Mahapatih Nambi memerintahkan segera dilakukan pembersihan agar tidak meninggalkan bekas-bekas. Medan pertarungan bisa segera dikembalikan ke suasana semula. Korban yang meninggal dikuburkan, yang sakit dirawat, yang menyerah diurus untuk tata peradilan yang berlaku. Belum sepenanak nasi, suasana kembali seperti semula. Bagian pinggir dinding Keraton bersih seakan tak pernah terjadi sesuatu yang mengerikan. Seakan tak pernah ada pertumpahan darah sesama saudara. Akan tetapi, pertarungan dalam hati Mahapatih tak segampang itu dibersihkan. Hati yang jauh lebih kecil, yang tak lebih lebar dari telapak tangan, seperti tak bisa dibungkam sepenuhnya. Telinga seperti mendengar rintihan. Rintihan sendiri. Yang makin jelas ketika Mahapatih kembali ke dalem kepatihan. Sebelum akhirnya melapor kepada Baginda. Simpang Kebimbangan BAHWA dirinya akan menangkap dan mengadili Senopati Sora yang membangkang, itu sedikit pun tak membuatnya ragu. Semua sudah terbayangkan secara rinci dalam benak Mahapatih. Yang tetap membuatnya terenyak adalah kenyataan bahwa tubuh Senopati Sora menelentang di tanah dengan perut hancur, tetapi dengan sunggingan senyuman luhur. Adegan itu membuat Mahapatih bimbang. Tanpa suara, tanpa menoleh kiri-kanan, Mahapatih segera masuk ke dalam senthong. Ke dalam bagian rumah yang selalu dibiarkan kosong. Kamar yang biasanya selalu dipakai buat bersemadi, berdoa, memasrahkan diri kepada Yang Maha mutlak ini merupakan tempat yang teduh. Semua senopati atau prajurit, selalu mempunyai senthong dalam rumahnya. Ruangan yang selalu dibiarkan kosong melompong. Dengan jendela yang selalu tertutup. Hanya ketika Mahapatih membuka pintu, terdengar suara perlahan. “Kenapa tak kamu basuh kakimu sebelum masuk kemari, anakku? Kenapa tak kamu biarkan keringat menjadi kering lebih dulu?” Mahapatih Nambi berlutut. Bersila dan menghaturkan sembah. Suara yang lembut, pelan menyentuh telinganya, adalah suara yang diakrabi sejak masih kecil. Suara Ayahanda. Lelaki perkasa yang seluruh rambutnya putih dengan badan yang kurus itu duduk di lantai dingin. Tanpa alas apa-apa. Mahapatih menyembah lagi. Jauh dalam hatinya, Mahapatih Nambi sangat menghormati ayahnya. Tokoh pujaan semasa kecil, sampai ketika ia masuk sebagai prajurit, dan pangkatnya terus naik, hingga ke puncak kekuasaan sebagai mahapatih. Selama itu pula, Mahapatih Nambi merasa bahwa apa yang bisa dicapai adalah karena restu dari ayahnya. Yang memilih hidup di Lumajang, hidup dari sawah dan sungai. Yang tetap memilih cara hidup seperti ketika Mahapatih Nambi masih kecil. Tak ada yang berubah. Tak ada yang bertambah. Beberapa kali Mahapatih Nambi mengirim utusan atau datang sendiri ke Lumajang, baik untuk mengirimkan sesuatu atau memohon ayahandanya pindah ke Keraton. Akan tetapi ayahandanya selalu menolak. Tak pernah bergerak lebih jauh dari tapal batas desa Gandhing. Bahkan ketika Nambi dinobatkan sebagai mahapatih, ayahandanya tetap tak mau diundang. Sekarang ini, justru datang. “Biarkan keringatmu kering, anakku. “Ruangan ini tak bisa mengeringkan keringat seorang lelaki.” Mahapatih menunduk. “Sungguh bahagia, Bapak berkenan menengok anaknya yang berada di jalan persimpangan ini. “Rasanya saya merasa bukan anak lola, yang tak mempunyai siapa-siapa dan apa-apa lagi.” “Tata bicaramu bagus sekali, anakku. “Kenapa harus bimbang? Bukankah semua jalan adalah persimpangan? Bukankah semua jalan menuju ke arah yang kita mau? “Anakku, sebagai prajurit kamu tahu di mana jalanmu. “Sebagai orang dusun, aku tahu di mana jalanku. “Kenapa merisaukan persimpangan, yang bukan jalan kita?” “Mohon petunjuk lebih jauh.” “Anakku, siapa yang berani memberi petunjuk Mahapatih?” Suara itu justru menyayat Mahapatih yang makin menunduk. “Tapi kamu anakku. “Kamu Nambi yang setia menunggu batang padi tumbuh. Setia menunggu air di sawah. “Yang mendengarkan dongengan prajurit utama. “Nambi, anakku.” Mahapatih terkejut. Hatinya sedikit kecut. Suara Ayahanda seperti mengisyaratkan sesuatu. “Pandanglah bapakmu ini.” Mahapatih mendongak perlahan. Wajah yang dulu sangat dikenalnya. Wajah yang sekarang selalu dibayangkan. “Aku masih bapakmu, Nambi. “Kamu masih anakku. “Tapi jalan yang kita tempuh jauh berbeda. Sewaktu aku datang, prajuritprajurit mengelukan, menyambut dengan upacara besar-besaran. Pranajaya Mpu Sina, bapak agung Mahapatih, berkunjung. “Ah, siapa yang menjadi empu?” “Maaf…” “Tak ada yang perlu dimaafkan, Nambi. “Tak apa. “Semua harus begitu. “Kalau ada jalan simpang, itulah jalan simpang yang ada. Akan tetapi jangan membuatmu bimbang. “Teruskan langkahmu. “Aku bangga padamu. “Kamulah anak lelakiku, kamulah prajurit, mahapatih tempat rakyat mencari perlindungan.” Mahapatih menunduk. “Aku tak punya kata-kata. Tata kramaku sangat buruk, Nambi. “Bahkan untuk menyembah seorang mahapatih pun tak mampu. Aku hanya ingin menengokmu. Menengok anakku, prajuritku. “Sekaligus aku minta pamit. “Kalau nanti aku berada di Gandhing, aku akan merasa bahagia karena telah melihatmu. “Anakku, prajuritku. “Teruskan langkahmu. Langkah prajurit yang gagah.” Mpu Sina mengangguk. Perlahan berdiri. Mahapatih masih menunduk. Tak bergerak. Mpu Sina berjalan perlahan. Sampai di pintu senthong berhenti sebentar. Tangannya yang lembut menyentuh pundak Mahapatih. “Teruskan langkahmu. Langkah prajurit yang gagah. “Kalau kamu membelok ke Lumajang, itulah persimpangan yang salah. “Selamat, anakku. “Dewa Yang Mahaagung akan selalu menyertaimu.” Mpu Sina meneruskan langkahnya. Keluar dari senthong, melalui ruang utama, menuju pendapa, dan melalui halaman kepatihan, menuju pintu gerbang. Dan lenyap. Kembali ke desa Gandhing. Mahapatih masih menunduk di depan pintu senthong. Tak berani bergerak. Inilah pengalaman yang sangat luar biasa. Untuk pertama kalinya, ayahandanya bersedia datang ke Keraton. Untuk terakhir kalinya pula. Betapa jauh perjalanan dari Lumajang, untuk seorang setua ayahandanya. Apalagi ditempuh dengan jalan kaki, sebisanya, sekuatnya. Tak ada gunanya mengirimkan kuda, joli, atau pengawalan. Seperti juga ketika kembali. Satu langkah demi satu langkah. Dengan bantuan tongkat dan istirahat. Itulah ayahandanya. Yang tetap merasa sungkan disebut empu. Yang merasa tak pantas dikawal. Itulah lelaki yang menempa batinnya sehingga ia seperti sekarang ini. Mahapatih bisa membayangkan bahwa jauh sebelumnya, ayahandanya sudah berangkat. Dan dengan perhitungan batin yang tak diketahui bagaimana caranya, datang pada saat yang tepat. Saat Mahapatih gundah. Dan datang dengan petuah. Bahwa apa yang dilakukan sekarang ini adalah jalan yang tepat bagi seorang prajurit. Dirinya adalah prajurit. Tak ada kelegaan yang bisa membuat Mahapatih bersyukur selain kalimat tersebut. Tapi juga kekuatiran yang dalam. Kenapa disebut-sebut jalan simpang itu justru kalau ia mengingat Lumajang? Kalau ia ke desa Gandhing? Kalau ia menempuh jalan yang diartikan sebagai “bukan jalan prajurit”? Mahapatih merasa bahwa kata-kata ayahandanya mempunyai arti yang dalam. Hanya ia tak bisa mengerti ke mana arahnya. Dalam hal tata susastra, Mahapatih Nambi merasa dirinya sangat tumpul. Apa yang dilatih dan diketahui dengan baik adalah apa-apa yang bisa dilihat. Yang serba jelas. Rangkaian indah di balik kidungan, tak bisa tertangkap dengan baik. Itu salah satu yang membuatnya dulu bimbang mendapat pangkat paling terhormat sebagai mahapatih. Masih lama Mahapatih Nambi terus berlutut di depan pintu senthong yang menganga, seakan mengundang segera masuk. Prawita Parwa PERMAISURI INDRESWARI yang pertama kali mendengar secara lengkap. Wajahnya tetap dingin. “Apa istimewanya, Halayudha? “Bukankah itu seharusnya? Seorang pemberontak mati, hukuman yang terbaik. “Apa istimewanya kamu laporkan kematian Sora?” Halayudha menyembah dengan hormat. “Maaf atas kelancangan hamba, Permaisuri Agung. “Hamba selalu bersikap lancang dan kurang seronok dalam mengutarakan pendapat. Akan tetapi hamba berpendapat, akan lebih baik kalau Permaisuri memberi perhatian kepada Mahapatih.” Alis Permaisuri Indreswari bergerak. “Halayudha, benarkah kamu ini senopati yang paling dekat dengan Baginda? “Benarkah Baginda memilihmu karena kamu begitu dungu? “Perhatian apa yang perlu aku berikan kepada Nambi? Hadiah?” “Begitulah, Permaisuri Agung.” “Aku ingin menanggalkan derajat dan pangkatnya sekarang juga, kalau mungkin! “Apa istimewanya? “Dalam pandanganku, Nambi gagal menjalankan tugasnya. Kalau tidak, Pendeta Syangka, Kiai Sidateka, tak perlu menderita seperti sekarang ini. “Sudah jelas semua mengetahui bahwa Pendeta Syangka pendamping Putra Mahkota, masih juga bisa terluka.” “Begitulah, Permaisuri Agung.” “Begitulah?” “Maaf, Permaisuri Agung. “Dengan memberikan hadiah, Mahapatih Nambi tak merasa dimusuhi. Sebaliknya akan merasa dekat dengan Permaisuri Agung. Pada saat seperti itu, rasanya lebih mudah mengawasi gerak-geriknya. “Kalau Permaisuri Agung menunjukkan permusuhan, Mahapatih Nambi akan merasa perlu berhati-hati.” Kali ini alis Permaisuri Indreswari tergerak lagi. “Rasanya ada gunanya mendengarkan pendapatmu.” “Maaf, hamba hanya mengutarakan yang biasa-biasa. “Karena Mahapatih Nambi sedang mabuk kemenangan saat ini.” “Halayudha… “Kudengar ilmu silatmu juga cukup sakti. Apakah kamu tidak bisa mengusahakan penyembuhan Pendeta Syangka?” Darah dalam nadi Halayudha bergolak. Kemarahannya mencapai puncak. Kehadiran Pendeta Syangka justru sangat menyulitkan posisinya. Karena begitu Putra Mahkota naik takhta, pasti Pendeta Syangka yang akan menguasai segalanya. Berarti tak ada tempat baginya. Sudah bagus sekarang ini keadaannya setengah mati. Akan tetapi Halayudha memendam semua perasaannya. “Hamba hanya bisa mencoba. “Kemurahan Dewa akan menyertai pendeta yang bijak dan mulia. Hanya karena dasar ilmu silat dari Syangka berbeda, hamba memerlukan waktu untuk mempelajari…” Dengan pendekatan begini, Halayudha bisa menguasai secara resmi. Paling tidak ini memberi kesempatan buat mengulur waktu, kalau tak bisa segera disembuhkan. Dan Halayudha bisa mempelajari ilmu Pendeta Sidateka. Selama ini, bagi Halayudha masih menimbulkan teka-teki. Karena luka di dalam tubuh Pendeta Syangka tidak mengalirkan darah segar, melainkan dalam bentuk gumpalangumpalan. Semacam kekuatan dingin yang dikuasai dengan baik, hingga ke susunan darahnya. Kalau benar begitu, Halayudha yakin bisa mempelajari dan kemudian menguasai lebih baik daripada pemilik ilmu. Sejak munculnya para tokoh sakti mandraguna sejagat, mata Halayudha terbuka makin lebar. Ia memerlukan waktu untuk mengenal berbagai kemungkinan. Naga Nareswara saja sudah begitu hebat. Juga Kama Kangkam dari Jepun. Beruntunglah ia berhasil mengecap sebagian ilmunya. Namun di saat merasa makin bertambah, muncul lagi Ratu Ayu Bawah Langit yang menggetarkan. Yang mempunyai dasar yang berbeda. Apa salahnya kini berusaha mengenal ilmu dari Syangka? Dengan cara itulah Halayudha mendekati Pendeta Sidateka, dan merawat. Berpura-pura menyalurkan tenaga dalam, mempelajari cara pernapasan. Namun setiap kali akan berhasil, ia melepaskan kembali sambil menggelengkan kepalanya. “Sulit… sulit sekali.” Yang lebih menggembirakan bagi Halayudha ialah ia mendapat keleluasaan untuk menggeledah suasana dan kamar Pendeta Sidateka. Sehingga akhirnya bisa menemukan tulisan pada selembar kain sutra. Pandangan Halayudha yang tajam dan menyelidik segera mengetahui bahwa tulisan itu pasti bukan sembarangan. Maka secara diam-diam ia menyalin dalam ingatannya, dan kemudian menuliskan untuk dipelajari secara perlahan-lahan. Setiap kali mengobati, setiap kali pula mencuri pandang dan mengingat serta kemudian mencatat. Adalah di luar dugaan Halayudha ketika rangkaian yang disalinnya memberi rangsangan untuk mempelajari lebih mendalam. Karena susunan kidungan yang ada sangat mirip sekali dengan Kitab Bumi. Prawita Parwa, adalah kitab permulaan pada mulanya yang ada hanya air air yang mengalir ke tempat rendah air di bumi air di langit air di tubuh di mana ada ruang di situ ada air pada awalnya air pada akhirnya kembali ke air karena air mengalir…. Yang membuat Halayudha setengah gemetaran ialah kenyataan bahwa kidungan itu justru sangat mirip dengan apa yang diciptakan gurunya! Sifat-sifat air itu pula yang mendasari lahirnya jurus Sindhung Aliwawar yang mencapai puncaknya dengan jurus Banjir Bandang Segara Asat. Ini betul-betul luar biasa. Halayudha tidak mengerti bagaimana mungkin Kitab Permulaan ini berada di tangan Pendeta Sidateka. Sungai juga air setelah menyeberangi sungai, jangan terlalu dekat sebelum menyeberangi sungai, lihatlah riak sungai menciptakan laut laut tak menciptakan sungai sungai mengumpulkan mata air yang menetes, yang merembes tapi tidak menampung… Halayudha makin yakin bahwa Prawita Parwa, atau bisa juga disebut Kitab Permulaan, kitab untuk berguru, kitab sebab-musabab, mempunyai kaitan langsung dengan Kitab Bumi yang didewa-dewakan. Ketajaman pandang Halayudha dalam soal seperti ini tak perlu diragukan lagi. Yang sedikit menjadi tanda tanya dalam hatinya ialah kenapa sejak mula ia tak pernah mendengar adanya Prawita Parwa ini? Padahal kalau diperhatikan, petunjuk yang ada dalam Prawita Parwa jelas menunjukkan cara-cara memainkan ilmu silat dan mengatur pernapasan. Dengan kidungan yang lebih jelas, tidak dengan balutan kalimat yang susah ditafsirkan. Latihan pertama air selalu rata tenaga merata melalui lubang kulit panas tubuh keluar melalui lubang tubuh dingin tubuh memancar kerahkan tenaga seperti menunggang kuda ambil udara dari dada, kanan dan kiri… Matirta Parwa HALAYUDHA mengerahkan seluruh kemampuannya. Sekali lagi ia menyelinap ke kamar Pendeta Sidateka. Kali ini dengan sepenuh hati ia menjajal mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa dingin yang masih tertahan pada beberapa bagian. Pengerahan tenaga yang dilakukan tidak dengan mendorong ke luar, melainkan dengan latihan pernapasan yang dipelajari. Yaitu dengan menyelimutkan tenaga dalamnya ke bagian-bagian yang terganjal alirannya. Hasilnya di luar dugaan Halayudha. Pendeta Sidateka mulai mengerang. Bahkan bibirnya bisa berkomat-kamit. “Terima kasih, Senopati Halayudha.” “Di antara sesama saudara, rasanya ucapan itu berlebihan, Kisanak.” “Tenaga dalam Kisanak sungguh luar biasa. “Dari mana Kisanak mempelajari?” Halayudha terlalu mudah menebak arah pertanyaan Pendeta Sidateka yang mulai mencurigainya. “Sejak pertama kali saya hanya mempelajari ilmu semacam ini. Apa yang diketahui banyak orang yang lain.” “Cara mengatur pernapasan dari Kitab Bumi?” “Kisanak lebih paham dari saya.” Pendeta Sidateka menggelengkan kepalanya. Walaupun suaranya lirih dan pengucapannya perlahan, Halayudha bisa mendengarkan dengan jelas. “Rasanya aneh sekali. Saya mempelajari, akan tetapi tetap tak bisa memahami. Begitu luar biasa luas dan dalamnya.” “Ah, saya belum bisa menerima pujian seperti ini.” “Rasanya saya mengenali cara mengatur napas Kisanak. Kalau benar begitu, saya bisa mempelajari juga.” Halayudha menjajal lagi. Kali ini justru melakukan yang sebaliknya. Tenaga dalamnya tidak untuk melindungi, melainkan mendorong seperti pada awalnya. Sehingga wajah Pendeta Sidateka menjadi merah dan napasnya tersengalsengal. Halayudha terus memaksa, sehingga Pendeta Sidateka mengeluarkan jeritan tertahan. Tak sadarkan diri. Saat itu dengan cepat Halayudha membuka lembaran kain sutra dan membaca serta menyimpan dalam ingatannya dengan cepat. Setelah mengembalikan ke tempat semula, Halayudha segera meninggalkan kamar. Kembali ke dalam kamarnya. Sambil bersemadi, Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menuliskan dengan cepat apa yang diingatnya. Kidungan pemula ini juga berarti kidungan tentang air, air suci maka kitab ini juga bisa disebut Matirta Parwa, artinya kitab tentang mandi dengan air suci Tirta itu air, Matirta mandi mandi itu membersihkan mandi menyucikan hanya air yang bisa mencuci hanya air yang bisa dicuci Kidungan pertama, di mana air di bumi tanpa air, bumi bukan bumi di langit tanpa air, langit bukan langit di badan tanpa air, badan bukan badan di jiwa, tanpa air, jiwa bukan jiwa Air adalah tenaga tenaga ada di mana saja tarik napas, itulah tenaga biarkan di dada, gerakkan tangan kiri atau kanan sama saja selama tak dibendung air terus menggulung Bumi lebih mudah dikenali karena bumi diinjak setiap kali air terlupakan karena menyatu di badan Bumi ada pusatnya, di pusar air tanpa pusat tanpa pusar Bumi ada bentuknya, pukulan air membentuk rangkulan Inilah kidungan pertama sebagai puji syukur kepada Dewa yang dicipta dari air! Bagi Halayudha kini segalanya menjadi lebih jelas. Bahwa kidungan utama Matirta Parwa ini mempunyai sangkut-paut secara langsung dengan Bantala Parwa. Karena secara gamblang pula dijelaskan perbedaannya dengan Kitab Bumi. Bahkan kelihatannya seperti menerangkan ada sesuatu yang masih kosong dalam Kitab Bumi. Hal ini tak usah diragukan lagi. Kitab Bumi mengajarkan ajaran pernapasan yang berpusat pada satu tempat. Di pusar. Semua udara yang diisap kuat disalurkan lewat hidung, ke atas melalui rongga kepala, ke bawah lewat tulang punggung, dan akhirnya terkumpul di perut, dan naik ke dada. Baru kemudian disalurkan lewat tenaga dorongan di tangan. Sedangkan Matirta Parwa justru sebaliknya. Pengerahan tenaga itu bisa dari mana saja. Selama tenaga tak terbendung, bisa dialirkan. Bisa dikerahkan secara seketika, tanpa harus menghimpunnya lebih dulu. Pada tingkat tertentu, kecepatan pengerahan dan perubahan tenaga menjadi kunci keunggulan dibandingkan dengan apa yang dituliskan dalam Kitab Bumi. Itu pula sebabnya dengan sangat mudah sekali tenaga dalamnya bisa dikerahkan untuk menahan dan mengepung hawa dingin dalam tubuh Pendeta Sidateka. Serta membiarkan saja, dan menyebabkan hawa dingin mencair. Leleh, dan menjadi tenaga biasa. Tidak mengganjal, tidak menghambat. Mempergunakan sifat air. Bagai kerasukan Halayudha menjajal, melatih, dan mempelajari ulang. Setiap kali mencoba menyalin, Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga berkeringat dan sesudahnya menjadi keletihan. Kenyataan ini justru membuat Putra Mahkota Kala Gemet sangat menghargai. Karena disangkanya Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyembuhkan Pendeta Sidateka yang sangat dihormati. “Sebentar Paman Sidateka akan sembuh kembali,” kata Putra Mahkota dengan wajah berseri. “Rasanya begitu, duh sang Calon Raja. “Hamba ingin segera sembuh, akan tetapi tujuh hari mulai hari ini, biarlah hamba sendiri yang menjajal. Hamba tak ingin merepotkan Senopati Halayudha.” “Tak apa, Paman Sidateka.” “Maaf, tetapi hamba tak bisa menerima kebaikan ini. Hamba mohon sudilah, duh Sang Calon Raja.” “Kalau itu permintaan Paman, itu yang menjadi keputusan.” Halayudha menerima perintah dengan menyembah hormat. Apa yang menjadi perasaan hatinya sama sekali tak tergambar dalam wajahnya, dan sikapnya. Kegalauan Halayudha terutama sekali karena munculnya perhitungan bahwa Pendeta Sidateka mulai mengendus ada sesuatu yang mencurigakan. Dengan kata lain, Pendeta Sidateka mulai tahu bahwa sebagian ilmu yang disimpannya tercuri. Halayudha tidak kuatir mengenai hal ini. Akan tetapi ia tak mau berhenti di tengah jalan. Apalagi ketika mulai bisa melatih, Halayudha menemukan perubahan dalam dirinya. Ada semacam keleluasaan dalam mengendalikan jurus-jurus yang dimainkan. Bahkan ketika melatih jari-jarinya, Halayudha merasa bahwa keempat jari kanannya yang kutung seperti ada kembali! Bisa menyalurkan tenaga. Bisa tergetar. Bisa digetarkan! Bagi Halayudha itu hanya sedikit memutar akal untuk menemukan jalan, bagaimana merampas atau mengetahui isi Matirta Parwa. Jalan yang paling sederhana adalah meminjam tangan Baginda. Jamu Asmara HANYA masalahnya sekarang ini, Keraton masih dilanda kemelut. Suasana kurang menyenangkan. Ternyata kematian Senopati Sora dan seluruh pengikutnya sangat memukul perhatian Baginda. Sehingga resmi Baginda tidak mau ditemui siapa pun. Baik oleh semua permaisuri, maupun Halayudha. Bagi Halayudha ini sedikit aneh, karena selama ini tak pernah masuk dalam akalnya bahwa dirinya akan dijauhi. Selama ini Halayudha merasa bisa berada di dekat Baginda dalam keadaan apa pun. “Semua kesalahan saya, Mahapatih,” kata Halayudha merendah ketika Mahapatih Nambi menghubungi. “Kesalahan saya yang utama, karena saya berlaku begitu kejam pada Senopati Sora.” “Bukan Paman Halayudha yang berbuat itu, tetapi saya.” “Mahapatih, tangan kanan Baginda… “Bukan kesalahan Mahapatih. Inilah salah hamba, yang tak bisa menangkap maksud Baginda yang sesungguhnya. Baginda kurang berkenan pelenyapan Senopati Sora terjadi di samping Keraton.” “Saya yang menyergapnya.” “Betul, akan tetapi hambalah yang…” “Paman Halayudha, kalau ini kesalahan, biarlah saya yang menanggung. Bukan Paman. “Silakan Baginda menjatuhkan hukuman, saya akan menerima dengan sikap prajurit sejati.” “Duh, Mahapatih… “Kalau sekiranya Baginda bersabda apa yang menjadi salah kita, hamba tak akan serepot sekarang ini.” “Cobalah ketahui apa kehendak Baginda. Lewat Permaisuri Indreswari…” “Maaf, barangkali hamba lancang. “Akan tetapi sesungguhnya Permaisuri Indreswari kurang berkenan dengan Mahapatih.” Sejenak keduanya terdiam. Halayudha menunduk lesu. Merasa salah. Malu. Menyesal. “Saya sudah merasa, Paman.” “Permaisuri Indreswari sengaja memberi hadiah kepada Mahapatih, agar Mahapatih merasa tak menduga isi hati Permaisuri Indreswari yang sesungguhnya. “Hamba hanya abdi Baginda. Keset kaki Baginda. “Tak mempunyai hak untuk mendengar apalagi menceritakan.” “Katakan saja, Paman. “Adalah menjadi sikap prajurit untuk ditegur dan dipuji.” “Mahapatih sungguh bijaksana. “Luas pengetahuannya. Hanya sekali ini Mahapatih berhadapan dengan Permaisuri Indreswari yang berasal dari tanah seberang, yang kurang mengenal tata krama Keraton. “Permaisuri Indreswari merasa bahwa Mahapatih di belakang hari bisa menjadi penghalang bagi takhta Putra Mahkota Kala Gemet.” Mahapatih terdiam lama. “Hanya karena Putra Mahkota mencalonkan Pendeta Syangka sebagai mahapatih di kelak kemudian hari. “Duh, Mahapatih Nambi… sejelek dan seburuk apa pun, hamba bisa menjunjung tinggi jasa-jasa Mahapatih dalam mengabdi Keraton. Dan dalam hal ini Pendeta Sidateka bukan tandingan apa-apa. “Akan tetapi dengan ilmu tenungnya, Putra Mahkota bisa dikuasai dan diarahkan. “Maaf kalau hamba berbicara agak panjang-lebar, Mahapatih… “Bagi hamba tak menjadi masalah kalau itu pikiran Putra Mahkota atau bahkan Permaisuri Indreswari. Akan tetapi kalau sampai terdengar Baginda, akan lain soalnya.” Mahapatih Nambi mengangguk perlahan. “Kadang hamba berpikir buruk untuk tak mau menyembuhkan Pendeta Sidateka… agar tak menimbulkan persoalan di belakang hari…” “Jangan lakukan itu, Paman! “Itu bukan jiwa ksatria.” Dalam hati Halayudha menertawakan Mahapatih Nambi setengah mati. Ia merasa bisa memasukkan hasutan yang di kelak kemudian hari akan membara, dan membakar semua hubungan baik yang ada. Kalau ini sesuai dengan rencana, berarti jalan yang dirintis berhasil. Dirinyalah yang akan keluar sebagai pemenang. Bukan Nambi atau Sidateka. Melainkan Mahapatih Halayudha! Itu berarti tinggal satu langkah saja untuk menggeser takhta Kala Gemet ke atas kepalanya sendiri. Tanpa pendukung yang kuat, Kala Gemet bukan apa-apa baginya. Terlalu gampang untuk melenyapkan. Hari kedua Pendeta Sidateka mengurung diri, Halayudha sengaja berdandan sebagus mungkin. Sisiran dan gelungan rambutnya dibuat sedemikian rupa sehingga aneh, dan wajahnya selalu berseri-seri. Begitulah yang dilakukan selama menunggu di depan kamar Baginda. Dan seperti jebakannya, umpan ini tercium Baginda yang segera memanggilnya ke dalam kamar. Halayudha bersujud, seakan menenggelamkan wajahnya ke lantai. “Tubuhmu bau kesturi… pakaianmu bau melati. Ada apa sebenarnya kamu ini?” Halayudha menunduk malu-malu. “Segala dosa, biarlah hamba tanggung sendiri, Baginda. “Karena tidak becus menjalankan perintah dan menjaga keluhuran Baginda, sehingga membuat Baginda berduka, hamba yang tak berguna ini…” “Halayudha!” “Hamba tak bisa bersembunyi dari bayangan Baginda. “Selama ini hamba menjalin hubungan asmara dengan salah seorang dayang hamba sendiri.” Bibir Baginda tertarik sedikit. “Hmmm.” “Hamba memang sudah tua. Sudah loyo. Akan tetapi sejak hamba minum ramuan jamu asmara… rasanya menjadi muda kembali.” Dugaan Halayudha tepat. Umpan yang tercium itu mulai diendus. “Jamu asmara?” “Sembah bagi Baginda… “Selama ini hamba minum jamu asmara, akan tetapi hasilnya biasa-biasa saja. Akan tetapi sejak minum ramuan jamu asmara Mpu Suwanda… rasanya agak berbeda.” “Mpu Suwanda?” “Hamba bagian tumbuh-tumbuhan, tetuwuhan…” Umpan yang terendus ini mulai disentuh dengan bibir. Dengan gigi. Meskipun sambil lalu, Baginda menanyakan siapa Mpu Suwanda. Dan dengan rendah hati, Halayudha menjelaskan abdi dalem bagian tetuwuhan ini tak pernah diperhitungkan sebelumnya. Malah dijauhi oleh para tabit Keraton. Para tabit atau tabib Keraton menganggap selama ini Mpu Suwanda hanya mempelajari pengobatan yang kasar dan rendah. Sesuai dengan namanya suwanda yang artinya badan atau tubuh. Yang bersifat badani. Tapi justru berhasil menemukan ramuan jamu asmara yang khasiatnya membuat Halayudha merasa kembali muda. Secara tidak langsung Baginda mengatakan keheranannya. Bagi Halayudha ini sudah berarti Baginda telah memakan umpan. Secara bulat-bulat. “Barangkali Baginda ingin melihat hasil yang dibuat oleh Mpu Suwanda. Sebagai abdi dalem, akan merasa sangat terhormat sekali kalau Baginda berkenan melihat apa yang diperbuat. “Hamba seharusnya melaporkan semua yang terjadi… tetapi hal ini terlalu sepele di hadapan Baginda…” Secara tidak langsung pula Halayudha meninggalkan contoh akar-akar yang bila diseduh memberikan kekuatan asmara. Perhitungan Halayudha, Baginda sedikit-banyak akan sungkan kalau diketahui menggunakan jamu asmara. Karena sudah ada tabit Keraton yang diam-diam menyediakan. Maka dengan meninggalkan contoh, pasti Baginda dengan diam-diam akan mencoba. Perhitungan Halayudha sangat sederhana. Bahwa Baginda juga seorang lelaki. Lebih dari dirinya, Baginda mempunyai pilihan dan kesibukan yang lebih beragam. Nyatanya begitu. “Tapi dari mana Tabit Suwanda menemukan ramuan yang begitu khusus?” “Menurut pengakuannya, diperoleh dari Pendeta Sidateka, dari kitab yang disebut Prawita Parwa, yang disimpan secara diam-diam. Hanya saja belum seluruhnya terpelajari, karena Pendeta Sidateka sengaja merahasiakan. “Malah, kalau hamba tidak salah, sekarang tak mau dijenguk siapa pun.” Baginda mengeluarkan suara dingin. “Panggil Kala Gemet kemari. Biar ia yang membawa kitab itu kemari. Sekarang juga.” Tirta Haruna RASANYA, sebelum kata-kata Baginda selesai, kitab yang dimaksudkan sudah bisa diambil. Tak ayal lagi segera Halayudha mengambil salah seorang untuk dipaksa mengaku sebagai Tabit Suwanda, yang kemudian membuat jamu asmara. Halayudha sendiri lebih memikirkan Matirta Parwa. Beberapa yang sudah dihafal dan dicatat dicocokkan kembali. Tak ada satu patah kata pun yang meleset. Namun ini tidak membuat Halayudha bergembira. Justru sebaliknya. Hatinya menjadi was was. Karena merasa bahwa Pendeta Sidateka sengaja memasang jebakan untuknya. Dengan sengaja kitab itu diberikan, akan tetapi sebenarnya telah diubah! Telah dibuatkan catatan yang baru, yang justru akan mencelakakan Halayudha! Pasti. Tak bisa lain. Pendeta Sidateka bukan orang yang bodoh, bukan tokoh yang begitu saja menyerahkan kitab pusaka. Apalagi kepada seseorang yang sama sekali tak bisa dipercayai. Jalan pikiran Halayudha menggambarkan siapa dirinya. Kalau dirinya adalah Pendeta Sidateka, hal yang sama inilah yang dilakukan. Karena tak mungkin menolak perintah Raja, kitab diserahkan setelah diubah sedemikian rupa. Agar si penerima tidak curiga, bagian yang telah disalin tetap dibuat sedemikian rupa sama persis. Yang lainnya diubah susunannya. Sehingga kalau berlatih dengan urutan yang berbeda, hasilnya akan berbalik. Itu sebabnya Pendeta Sidateka meminta waktu satu pekan agar tidak diganggu sama sekali. Apa lagi yang diperbuatnya kalau tidak berusaha mengelabui? Apa lagi selain waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan perubahan? Hal yang sangat mudah dilakukan karena lembaran kain sutra itu memang tidak memakai urutan. “Ia bisa mengelabui Raja, tetapi tidak seorang Halayudha,” kata Halayudha pada dirinya sendiri. Jalan terbaik yang akan ditempuh ialah mencoba mengurutkan sendiri, sesuai dengan kemampuannya. Dengan cara ini, ia akan berpura-pura teracuni, dan pada saat itu justru akan bangkit menyikat lawan-lawan atau penghalangnya. Karena tidak mempunyai lawan bicara yang bisa mendengarkan dengan baik, Halayudha lebih suka berkata pada dirinya sendiri, dan menjawab sendiri. Kidungan kedua, bisa disebut Tirta Haruna Tirta itu air, Haruna itu kijang Air Kijang, ialah kijang yang menjadi air hanyut tapi tak bisa larut hanyut kala tak melawan berarti harus bisa surut berarti berani berkorban kijang akan melompat tetapi Air Kijang mengikuti arus tenaga melompat menjadi tenaga arus tenaga berlari empat kaki tenaga lurus walau ada rumput bukan makanan walau ada air tak merasa haus Air Kijang terus terus-menerus tanpa putus…. Benar sekali. Halayudha bisa mengalirkan semua tenaganya mengikuti gerakan air. Ilmu silat yang dimiliki selama ini bisa diubah sedemikian rupa sehingga menyerupai tenaga air. Mengalir, tenang tanpa beriak. Bahwa masih ada gangguan dalam penyaluran, ia percaya itu pada mulanya. Kalau ia bisa mengubah sikap “kijang” dalam dirinya, pasti akan menemukan sesuatu. Kijang yang bisa hanyut adalah kijang larut. Seumpama kijang yang mati. Agak mengherankan, tetapi terbukti hasilnya. Halayudha makin penasaran dan makin larut dalam latihan. Bahkan kemudian terbersit dalam pikirannya bahwa gerakan-gerakan seperti yang dilatih ini rasa-rasanya pernah dijumpai. Ada yang pernah dikenali. Dalam waktu yang belum terlalu lama. Siapa yang mempraktekkan selama ini? Jelas bukan Pendeta Sidateka yang cara-cara menggali dan melatih pernapasannya sangat berbeda. Juga bukan Upasara Wulung atau dari Perguruan Awan. Juga bukan dari ilmu dasarnya sendiri. Mengalami berbagai pertarungan, Halayudha memeras otaknya untuk menemukan yang paling tepat. Selama ini telah disaksikannya sekian banyak jurus ilmu silat dari berbagai penjuru jagat. Yang agak aneh dan berbeda dan tidak segera bisa diketahui sumbernya ialah jurus-jurus Galih Kaliki. Jurus-jurus itu bahkan tidak mempunyai nama yang bisa dikenali. Baru kemudian sekali, diketahui bahwa sumber utamanya tak berbeda jauh dengan jurus-jurus dari Jepun. Yang sama anehnya dan selama ini boleh dikatakan tidak dikenal namanya adalah jurus-jurus yang dimainkan oleh… Gendhuk Tri! Bocah kecil itu memang mempelajari banyak ilmu dari berbagai sumber. Akan tetapi gerakan dasar yang pertama diterima dengan memainkan selendang warnawarni, sampai sekarang masih merupakan teka-teki. Hanya menurut kabar, Gendhuk Tri murid seorang penari Keraton Singasari yang bernama Jagaddhita. Dan penari itu menjadi murid tidak langsung Mpu Raganata. Apakah ini berarti Kitab Air ini berasal dari Mpu Raganata? Harusnya iya. Akan tetapi nyatanya tidak sesederhana itu. Mpu Raganata justru dikenal karena ilmu Weruh Sadurunging Winarah yang sudah kondang. Mana mungkin seorang seperti Mpu Raganata menciptakan ilmu yang sama sekali berbeda dasarnya? “Tak bisa lain, jurus-jurus dari kitab ini ada hubungannya dengan air. Ada hubungannya dengan wanita. “Kalau Kitab Bumi bisa diumpamakan lelaki, Kitab Air justru bisa disejajarkan dengan wanita. “Lalu siapa penciptanya?” Pertanyaan Halayudha tak menemukan jawaban. Dibaca dari awal sampai akhir, tak ada nama atau singgungan nama seseorang. Baik tersamar maupun terangterangan. “Satu-satunya jalan ialah dengan menyelidiki dari Gendhuk Tri.” Pertanyaan dan sekaligus jawaban ini, membuat Halayudha bertekad menemukan Gendhuk Tri. Ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyebar dan mencari tahu di mana Gendhuk Tri. Yang pasti hanya ada di sekitar Keraton. Perhitungan Halayudha didasarkan pada sifat bocah yang masih serba ingin tahu, dan sedang berlangsung kejadian di Keraton. Ini sama sekali tidak meleset. Gendhuk Tri memang masih berada di sekitar Keraton. Sejak ia kena ilmu membisu dari Ratu Ayu Bawah Langit, Gendhuk Tri hanya bisa bengong melompong. Juga ketika matanya melihat sendiri bagaimana Upasara Wulung menggandeng Nyai Demang meloncati dinding Keraton. Hatinya gondok luar biasa. Tapi tak bisa berbuat suatu apa. Karena masih terkena ilmu semacam totokan jalan darah yang membuat Gendhuk Tri mematung. Dendamnya segunung. Baik kepada Ratu Ayu Bawah Langit, kepada Nyai Demang, maupun kepada Upasara Wulung. Baginya ini tindakan Upasara yang paling tak bisa diterima. Upasara Wulung adalah kakaknya, gambaran terbaiknya akan seorang lelaki. Maka sungguh tak masuk akal sama sekali seorang Upasara menggandeng Mbakyu Demang-nya! Lewat tengah malam, barulah tubuh Gendhuk Tri yang kaku bisa digerakkan kembali. Agaknya pengaruh aji sirep Ratu Turkana memang tidak dimaksudkan untuk membunuhnya. Hanya sekadar membungkam geraknya untuk sementara waktu. Tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Gendhuk Tri untuk menerjang dan menuntut balas. Hanya saja ketika ia berindap menuju ke tempat peristirahatan rombongan dari Turkana, yang ditemui itu berlalu tanpa ketahuan ke mana perginya. Tanpa diketahui kepada siapa ia akan bertanya. Juga tak bisa melampiaskan kesalnya kepada orang lain. Jadinya Gendhuk Tri merasa serbasalah. Dalam keadaan seperti itu, segala apa bisa dilakukan. Segala tindakan kecil yang membuatnya tidak suka, bisa membuat tangannya melayang dengan kasar. Selendang yang warna-warni bisa mengedut untuk mencabut nyawa. Pertemuan Jinalaya SEBENARNYA sewaktu Senopati Sora dan pengikutnya dikepung Mahapatih Nambi, Gendhuk Tri mengetahui. Andai saja ia masuk ke dalam pertarungan, ia bisa mengetahui kehadiran Upasara. Hanya saja belum tentu juga menjadi lilih atau berkurang gusarnya. Karena pada dasarnya, Gendhuk Tri sangat memuja Upasara Wulung. Lebih dari siapa pun di jagat ini. Baik sebagai kakak, sebagai ayah, sebagai guru, atau bahkan sesembahan dalam arti yang luas. Dalam alam pikiran Gendhuk Tri, Upasara adalah ksatria sejati. Satu-satunya tokoh yang putih bersih dan baik hati. Bahwa kemudian hati kecilnya sangat kecewa karena Upasara menerima tawaran lamaran Ratu Ayu Bawah Langit, itu tak mengubah pemujaan kepada Upasara. Kejadian semacam ini masih bisa masuk dalam akalnya. Akan tetapi tidak kalau menggandeng Nyai Demang. Itu semacam pengkhianat tanpa ampun. Dunia akhirat akan mencatat kedurhakaan semacam ini. Kalaupun ini semua karena jalan pikiran Gendhuk Tri yang masih serba kekanak-kanakan, belum tentu bisa berubah pada perjalanan hidupnya nanti. Saat sekarang ini, yang ada dalam hati Gendhuk Tri hanyalah kekesalan yang luar biasa sengitnya. Segala apa yang dipercayai menjadi goyah. Maka ketika ia mendengar ada pertemuan Jinalaya, ia langsung berangkat, tanpa perlu banyak bertanya. “Siapa tahu wanita tak tahu diri itu ada di sana,” pikir Gendhuk Tri sambil menuju ke bekas tempat bersemadi Baginda Raja Sri Kertanegara. Gendhuk Tri tahu bahwa Jinalaya adalah istilah yang dulu digunakan untuk menyebut bahwa Baginda Raja wafat. Jina bisa berarti gelas Sang Budha, atau cawan Sang Budha. Sedangkan laya bisa berarti tempat tinggal, rusak, mati, atau musnah. Kata sandi Jinalaya digunakan bagi para pengikut setia yang menggambarkan bahwa Baginda Raja kini kembali ke tempat tinggal asal mulanya, yaitu ke dalam gelas Sang Budha. Walau Baginda Raja telah lama wafat, ini semua tak mengurangi pemujaan yang selalu dilakukan oleh pengikutnya yang setia. Raja yang sekarang memerintah Keraton Majapahit tidak secara terangterangan melarang, walau juga tidak secara terang-terangan merestui pemujaan pada saat-saat tertentu. Hanya saja, sejak Putra Mahkota Kala Gemet memaklumkan gelaran yang tidak lagi menunjukkan keturunan langsung dari Baginda Raja, kegiatan pertemuan Jinalaya dianggap menentang Keraton. Sehingga pengikut-pengikut setia Baginda Raja Sri Kertanegara menjadi ketakutan. Karena bisa menemukan kesulitan suatu ketika. ‘ Namun, walaupun banyak larangan dan hambatan, nyatanya pertemuan Jinalaya, memperingati hari-hari terakhir Baginda Raja, masih tetap berlangsung. Ke sanalah Gendhuk Tri datang, dan langsung bergabung. Berada dalam kerumunan di antara orang-orang yang tak dikenalnya, yang mengadakan upacara doa bagi Baginda Raja. Sambil satu per satu memuji kebesaran Baginda Raja. Ada semacam panggung di mana setiap orang berhak maju dan memuji. Kurang dari setengah penanak nasi, Gendhuk Tri sudah merasa sebal. Telinganya menjadi gatal. Demikian juga bibirnya. “Jagat ini tadinya gelap gulita,” tutur seorang pembicara yang memegang tombak panjang. “Matahari belum ada. Dunia dalam kegelapan, sampai lahirlah Baginda Raja yang perkasa. “Sejak saat itu matahari bisa bersinar. “Bulan mau muncul. “Padi bisa ditanam. “Manusia tak lagi bergayutan di pohon seperti kera. “Sungguh besar jasa Baginda Raja.” Lalu yang hadir menggumamkan nama Baginda Raja sambil menyembah. Gendhuk Tri terbatuk karena tak bisa menguasai perasaannya. Apalagi ketika pembicara kedua, yang membawa dua golok panjang, mulai maju ke tengah. “Ketika Baginda Raja memerintah, Keraton menjadi aman dan makmur, seadiladilnya. Sedemikian tenteram dan bahagianya, sehingga mampu mengalahkan ketenteraman Jonggring Saloka, tempat bersemayam para Dewa. “Sehingga karena iri, para Dewa turun ke bumi. “Menggoda Baginda Raja agar Baginda Raja berkenan memerintah Dewa. Tapi Baginda Raja menganggap bahwa para Dewa lebih susah diatur daripada rakyat Singasari. “Dengan kata lain, Dewa pun kalah pamornya. “Apa yang saya ceritakan ini, berdasarkan penuturan para Dewa sendiri.” Kembali terdengar gumam pujian. Giliran pembicara ketiga maju, Gendhuk Tri berteriak, “Para tikus busuk, tanpa membuka mulut pun kalian sudah bau tengik. Jangan memperburuk keadaan. “Mendengar omongan kalian, Baginda Raja bisa sakit perut.” Suara Gendhuk Tri luar biasa nyaringnya. Semua yang mendengarnya menoleh ke arahnya dengan wajah gusar. Apa yang diucapkan Gendhuk Tri memang menyentak pada sasaran. Ia mengatakan ini pertemuan tikus busuk, sesuatu perasaan. Karena Gendhuk Tri mengucapkan kata jina seolah terdengar sebagai jinada. Jina adalah gelas Sang Budha, sedangkan jinada artinya tikus. Jelas sangat kurang ajar. Lebih dari itu, dengan kalimat enteng Gendhuk Tri menyebutkan Baginda Raja bisa sakit perut. Dalam anggapan para pemujanya, Baginda Raja lebih hebat dari Dewa. Mana mungkin disamakan begitu saja dengan orang biasa yang bisa sakit perut? “Kisanak semua, harap tenang… “Kalau ada setan yang menyusup kemari, itu sudah biasa. Tikus yang kegerahan akan keluar dari sarangnya untuk mencari seseorang yang mau membunuhnya. “Ajaran Baginda Raja adalah kasih sayang…” Pembicara pertama yang memegang tombak mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tombaknya menjadi garang. “Tikus tersesat yang tidak melihat cahaya suci Baginda Raja Sri Kertanegara, apa maksudmu mengatakan dengan mulut kotor?” “Kalian semua tikus tersesat yang kotor, bau, tengik. “Kalian pikir apa gunanya memakai sebutan pertemuan Jinalaya kalau isinya cuma ocehan mabuk begini?” Semua yang hadir menggerung serentak. Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya. Kedua kakinya menyepak kiri-kanan secara serentak. Lima orang mengerang serentak. Termasuk yang memegang tombak. Kalau tadinya Gendhuk Tri menduga pertemuan ini hanya dihadiri anggotaanggota yang ilmu silatnya masih pasaran, kini merasa bahwa dugaannya terlalu tinggi. Kumpulan manusia ini ternyata hanya bisa mengumbar kata-kata, gagah dalam penampilan dan senjata hebat. Tapi ternyata ilmu silat mereka masih jauh dari persyaratan. Sehingga dengan sekali gebrak saja seluruh kepungan jebol. Gendhuk Tri mengedut selendangnya sekali lagi. Kali ini dengan gerakan kedua tangan dan kedua kaki sekaligus berjumpalitan di udara. Setiap gerakan membuat dua pengepung merintih kesakitan. Ada yang lepas genggaman senjatanya, ada yang memegangi tulang keringnya yang serasa retak. Gendhuk Tri meludah ke tanah. “Tengik dan kecing. “Yang begini kalian namakan memuja Baginda Raja? Hari ini akan saya sembelih kalian semua.” Di luar dugaan Gendhuk Tri, ternyata yang mengepungnya tidak lari ketakutan. Malah berdiri berjajar. Dan bersuara secara bersama. Bagai koor. “Mari kita mati bersama, Saudara. “Demi Baginda Raja “Lebih dari Dewa Syiwa “Lebih dari Budha “Mari, Saudara…” Mereka malah bergerak mendekati Gendhuk Tri. Yang kalau mau dengan sekali mengebutkan selendangnya, pasti jatuh dua korban sekaligus. “Tengik! “Kalian ini apa maunya?” Si pemegang golok berat mendongak. “Kalau kami mau disembelih karena Baginda Raja, kami akan bahagia. Lakukan, setan kecil.” Gendhuk Tri menggerakkan selendangnya. Menggulung golok berat dan menyentakkan. Golok itu berubah arah, menuju leher pemiliknya! Yang bergeming. Cebol Kepalang GENDHUK TRI merinding sendiri. Dan arah golok berat itu dialihkan ke ruang kosong. Berkelontangan ketika saling beradu. Menunjukkan bahan yang dipakai untuk membuat bukan besi utama. “Aduh!” Justru jeritan itu terdengar dari pemilik golok yang segera menjatuhkan diri seolah mati. “Kalian ini benar-benar tengik. “Biar aku bunuh semua. Agar tak mengganggu pemandangan dan merusakkan pendengaran dengan omongan yang kacau.” Gendhuk Tri bersiap. “Akhirnya ada juga yang mau berbuat baik dan berbudi luhur.” Gerakan tangan Gendhuk Tri justru terhenti karenanya. Pandangannya bisa menemukan arah suara. Yang tadi tak diduga karena berasal dari seorang yang berkulit sangat hitam, dan terus duduk sejak tadi. “Ya, kamu yang mati lebih dulu.” Gendhuk Tri menyampok dengan selendangnya. Ujung selendang memancarkan tenaga pukulan. Tubuh membungkuk hitam itu terlempar ke atas. Kali ini Gendhuk Tri yang bengong. Rasanya tak percaya apa yang dilihat. Bukan karena ilmunya menjadi mentah. Bukan karena lawan memiliki daya tangkis. Justru sebaliknya. Tubuh hitam kecil itu benar-benar terpental. Yang tak diduga Gendhuk Tri, tubuh itu benar-benar kecil, pendek, bagai segumpal arang. Kembali Gendhuk Tri mengubah kedutannya. Kali ini memakai tenaga menarik, sehingga tubuh kecil itu terbanting tepat di depan kakinya. Dan memang kecil, pendek, hitam. Terduduk tak bergerak. “Cebol kepalang, apa maumu?” Cebol kepalang adalah istilah untuk menyebut seorang yang kerdil, akan tetapi nampak biasa kala duduk, dan kelihatan lebih pendek kala berdiri. “Mauku, maulah berbuat baik padaku.” Tenang sekali suaranya. “Membunuhmu?” “Itulah budi baik.” “Tunggu dulu. Siapa namamu?” “Kamu sudah menyebut Cebol. Apa pun namaku, apa bedanya?” “Cebol kan sebutan, bukan nama.” “Itulah namaku. Cebol. Bisa ditambahi hitam. Bisa diperhalus, tapi tetap Cebol.” Di balik ucapan yang seolah penuh pemikiran itu, ternyata tak ada apa-apanya. Dari sentakan tadi, Gendhuk Tri yakin bahwa Cebol ini memang tak memiliki ilmu silat apa-apa. Juga yang lainnya. “Tengik. “Sungguh tak bisa kumengerti. Kedengarannya saja gagah. Pertemuan Jinalaya, tak tahunya hanya comberan seperti lumpur busuk yang berkumpul.” “Kami memang comberan, memang lumpur, memang busuk. “Kenapa tidak dihilangkan saja agar tak mengganggu?” “Kalian bisa cari mati sendiri.” “Itu mendurhaka ajaran Baginda Raja.” “Siapa bilang?” Jawabannya ternyata koor bersamaan. “Tunggu dulu. Tunggu dulu. “Aku berjanji akan menyembelih kalian satu per satu, atau bersamaan. Tetapi jelaskan dulu, apa mau kalian dan apa gunanya kalian berkumpul di sini?” “Meneruskan ajaran Baginda Raja,” jawab Cebol. “Jadi kalian menganggap diri kalian ini ksatria, pendekar, atau bahkan pendeta?” “Tidak semuanya.” “Lalu?” “Kami adalah kami.” “Kenapa memakai nama pertemuan Jinalaya segala?” “Gadis berbudi luhur. “Siapa yang mengatakan bahwa Baginda Raja yang bijak bestari hanya milik para ksatria, para senopati, para prajurit, para pendeta? Kami juga rakyat Baginda Raja yang dikasihi. “Zaman Baginda Raja bertakhta, kami dihargai. “Tidak peduli pendek atau panjang. “Tidak pandang cebol atau jangkung. “Tidak peduli ksatria atau pendeta.” Lalu terdengar suara bersama. “Begitulah Baginda Raja… “Sumber segala cahaya… “Di jagat…” Lirik berikutnya tak bisa terdengar sempurna. Gendhuk Tri menggelengkan kepalanya. “Cebol Jinalaya… Baiklah kamu kupanggil begitu saja. Karena kelihatannya kamu paling waras… Apa tujuan kalian sebenarnya?” “Menunggu perkenan Baginda Raja memanggil kami. “Di alam sana lebih baik, lebih damai, lebih adil, sebab di sana ada Baginda Raja.” “Itulah yang tidak waras.” “Gadis baik budi, kamu sudah berjanji mau menyembelih kami. Kami menagih janji.” Belum pernah Gendhuk Tri menjadi pusing hingga memegangi kepalanya yang pening. Ini aneh! Di suatu tempat bisa berkumpul begitu banyak orang. Semua memuja kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara. Berbeda dengan pemujaan para ksatria, para senopati yang kembali dari mancanegara, mereka ini asal berucap saja. Dan sangat berlebihan. Tapi bukan salah sama sekali. Siapa yang mengharuskan bahwa Baginda Raja hanya boleh menjadi pujaan bagi para ksatria? Siapa berhak melarang bahwa Cebol kepalang atau yang lainnya ini memuja? Bukankah mereka ini yang dulu merasakan tenang dan tenteram serta tidak dipermalukan hanya karena tubuhnya cebol dan kulitnya hitam? “Saya tidak meminta, tetapi saya mau disembelih lebih dulu,” kata pemegang tombak. “Setelah itu saya,” kata yang memegang golok. “Atau kita bertiga bersama-sama,” kata Cebol Jinalaya. “Itu mudah sekali. “Kalau bukan aku, pasti ada yang lainnya. Prajurit Keraton akan senang sekali menangkap dan membunuh kalian.” “Sekarang tak ada lagi. “Bahkan beberapa prajurit Keraton bergabung bersama kami.” Dagu Gendhuk Tri tertarik. Memang terlihat ada beberapa wajah dan badan yang penuh dengan otot terlatih. Setidaknya lebih berisi dari yang lainnya. “Cebol, berapa umurmu? “Apa aku harus memanggil Paman atau Kakek Cebol?” “Panggil Eyang Cebol juga boleh, asal segera disembelih.” Gendhuk Tri menemukan dirinya berada di tengah kerumunan. Alih-alih ia sendiri yang menjadi repot karenanya. Karena kalau mereka semua mendesak ingin disembelih bisa memuakkan. Kalau tadi karena murka, sekarang justru iba. “Aku sudah janji. “Tak nanti aku menarik apa yang kukatakan. Hanya saja sebelum aku membunuh kalian semua, aku akan menanyakan sesuatu kepada Cebol Jinalaya. “Nah, sekarang dengar baik-baik.” Semua terdiam. Gendhuk Tri berniat meloncat dan segera melarikan diri. Seluruh bulu tubuhnya berdiri. Kini, seluruh perasaannya justru dibalut perasaan takut dan ngeri. Gendhuk Tri pernah berada dalam Gua Pintu Seribu yang ditimbuni dan ditutup. Dikubur hidup-hidup. Akan tetapi saat itu, meskipun menyaksikan mayat membusuk, Gendhuk Tri tak merasa ngeri seperti sekarang ini. Maka cara yang terbaik adalah segera melarikan diri. “Yang masuk tak bisa keluar. “Yang keluar bisa masuk.” Gendhuk Tri membelalak. Dari keremangan di ujung, muncul sosok tubuh Nyai Demang! Ya, Nyai Demang yang sangat dibenci. Lebih memuakkan lagi Nyai Demang tengah menggendong seorang lelaki tua yang merangkul kencang. “Nyai!” Nyai Demang menoleh ke arah Gendhuk Tri. Gendhuk Tri lebih merasa ngeri karena pandangan Nyai Demang seolah kosong. “Hei, kamu Nyai Demang… Mbakyu Demang, kan?” “Rasanya nama itu pernah kudengar. “Siapa kamu?” Ini maha aneh! Masa Nyai Demang menanyakan siapa Gendhuk Tri? “Di mana Kakang?” Manusia Delahan BARU kemudian Gendhuk Tri menyadari omongannya sendiri melantur tak keruan. Karena pada pertemuan pertama sudah langsung menanyakan di mana Upasara! “Kakang… Kakang siapa?” “Kakangku. Yang menggandeng Nyai di luar pagar Keraton.” Nyai Demang tertawa. “Ini kakangmu. “Sudah jadi manusia delahan, masih juga merangkulku.” Tubuh Gendhuk Tri lemas. Matanya berkunang-kunang. Kakinya kesemutan, hingga tanpa terasa berlutut. Kalau tadi merasa sangat ngeri, sekarang lebih lagi. Sedemikian keras hantaman menonjok kesadarannya, sehingga kedua kakinya tak mampu menyangga tubuhnya. Kalau bisa memilih mati, Gendhuk Tri merasa lebih lega. Nyai Demang menjadi seorang yang sangat menakutkan. Belum lama disaksikan ketika Nyai Demang masih digandeng mesra oleh Upasara Wulung. Kini sudah seperti orang linglung. Kehilangan pikiran. Rambutnya terurai, matanya kosong tanpa makna. Puncak dari kengerian yang paling melipat habis keberanian Gendhuk Tri ialah kenyataan Nyai Demang menggendong seorang lelaki tua yang merangkulnya, yang disebut manusia delahan. Manusia delahan, bisa berarti manusia akhirat, manusia yang telah berakhir, alias mayat. Berarti Nyai Demang selalu menggendong mayat yang tak bisa dilepaskan! Apalagi yang lebih mengerikan dari ini semua? “Manusia delahan ini namanya Kakek Berune. Katanya ahli Pukulan Pu-Ni. Tapi sejak kugendong tak bergerak tak bernapas. Tapi terus merangkul. “Bagus, ya?” Air mata Gendhuk Tri mengembeng. Beku. Setelah sedikit bisa menata perasaannya, Gendhuk Tri berbisik kepada Cebol Jinalaya. “Sejak kapan Mbakyu Demang berada di sini?” “Tak ada gunanya dihitung. “Ini tempat terbuka. Siapa saja bisa masuk menjadi anggota dan tak keluar lagi.” “Peraturan siapa?” “Peraturan begitu. “Siapa keluar dari kerumunan akan didekati, agar membunuh kami lebih dulu.” Napas Gendhuk Tri tertahan. “Kamulah gadis berbudi yang mau menyembelih kami tanpa diminta.” Gendhuk Tri mengangguk perlahan. Tubuhnya masih gemetar. Kaki dan tangannya masih gemetar seperti kesemutan. Akan tetapi tekadnya mulai tumbuh. “Cebol, kamu akan kubunuh lebih dulu. Akan tetapi bagaimana mungkin aku bisa membunuh yang ada di sini semua? Bagaimana kalau kita jalan bersama menuju Keraton Majapahit?” “Di sini Baginda Raja mangkat, dari tempat ini pula kami mengikuti…” “Baik, baik, Cebol… “Rasanya hanya perlu waktu sedikit…” Gendhuk Tri menoleh ke arah Nyai Demang yang tetap berjalan kian-kemari sambil menggendong Kakek Berune. “Nyai…” “Aku?” “Ya… Mbakyu. “Mbakyu ingat kidungan Kitab Bumi?” “Kitab Bumi? Ingat.” “Coba kidungkan.” Gendhuk Tri menatap sambil berdebar. Mulutnya berkomat-kamit. “Kidungan awal, kidungan pembuka…” Nyai Demang mengangguk-angguk. Yang masuk tak bisa keluar Yang keluar tidak ada Baginda Raja lebih dari Dewa karena Dewa berguru padanya… Gendhuk Tri benar-benar putus asa. Kondisi Nyai Demang sangat gawat. Ingatannya sudah tak bisa dikontrol lagi. Dengan mengingatkan Kitab Bumi, tadinya Gendhuk Tri yakin bisa membimbing pikiran Nyai Demang. Karena justru Nyai Demang-lah yang dulu berhasil menumbuhkan semangat hidup Upasara. “Bukan itu, Nyai.” “Memang Kitab Bumi dimulai dengan bukan, dengan tidak, tiada…” “Nyai…” “Aku?” “Nyai ingat Kakang Upasara Wulung?” “Upasara?” “Ya, Adimas Upasara Wulung.” “Adimas… Adimas… Ya, ya… ada Kiai Sambartaka, Pendeta Sidateka, Kakek Berune, tubuhnya berkelojotan, aku yang menggendong, lalu aku menggendong, lalu…” Gendhuk Tri berusaha mendekati Nyai Demang. Akan tetapi seluruh yang hadir juga bergerak. “Begini saja,” kata Gendhuk Tri mendadak karena mendapat bersitan pikiran. “Kalian meneruskan pujian kebesaran Baginda Raja… Ayo kita mulai lagi…” Gendhuk Tri membujuk Cebol Jinalaya. “Paman Demeng… coba Paman mulai…” Gendhuk Tri memohon dengan menyebut Paman Demeng, atau Paman Hitam, tanpa menyebut Cebol. Begitu Cebol Jinalaya menuju ke bagian tengah, semua perhatian tertuju padanya. Napas Gendhuk Tri berangsur tenang. Perlahan ia mulai menyurutkan diri menuju ke bagian tepi. Agar bisa meloloskan diri. Setidaknya ini yang paling selamat. Satu-satunya yang mengganjal hatinya ialah bahwa ia tak bisa mengajak Nyai Demang. Namun dalam hatinya, Gendhuk Tri berjanji akan segera kembali untuk membawanya. Biar bagaimanapun benci dan dendamnya, Gendhuk Tri tetap merasa tak tega. Ternyata pertemuan Jinalaya ini seperti adonan lumpur yang bisa dibentuk semaunya. Karena kini semua memandang dan mendengarkan omongan pujian Cebol Jinalaya. Yang segera disusul yang lainnya. Tanpa memedulikan betul di mana dan bagaimana janji Gendhuk Tri. Sampai di bagian pinggir, Gendhuk Tri bersiap meloncat pergi. Akan tetapi Cebol Jinalaya sudah berdiri di sampingnya. Tak mencapai pinggang Gendhuk Tri, akan tetapi suaranya begitu jelas di telinga Gendhuk Tri. “Kamu mau tinggalkan kami, gadis berbudi luhur?” “Membunuh orang lain tanpa sebab, bukan ajaran Baginda Raja.” “Ke mana kamu mau pergi?” “Paman Demeng boleh ikut kalau mau.” Tanpa menunggu persetujuan, Gendhuk Tri mencekal tangan Cebol Jinalaya. Begitu menjejakkan kaki, tubuhnya melayang dengan cepat. Bebas sudah. Bahkan tak ada yang menduga. Hanya saja begitu kakinya hinggap di tanah, terdengar suara yang bernada gembira. “Bagus sekali. “Itulah gerakan air mengikuti angin.” Gendhuk Tri melepaskan cekalan Cebol Jinalaya. Langsung membuat gerakan bersiaga. Empat helai selendangnya bergerak naik terjepit jari-jarinya. “Tidak. Tidak terlalu tepat. “Gerakan menjepit tidak selalu telunjuk dan ibu jari. Semua jari bisa digunakan. Jari tengah dan kelingking pun bisa. Sayang saya tidak memiliki lagi.” Halayudha memperlihatkan tangan kanannya. Yang keempat jarinya kutung. “Aku sudah mencarimu, Gendhuk Tri. Dugaanku tak keliru. Kamu pasti datang ke pertemuan manusia cacat dan sakit ini.” “Ayolah kita jalan sama-sama.” Halayudha membusungkan dadanya. “Kini saatnya kita kuasai jagat. Ayolah…” Tangan Halayudha terulur maju. Cepat, tetapi seolah tanpa gerakan. Gendhuk Tri tak menduga bahwa Halayudha berusaha menariknya. Cepat Gendhuk Tri membuang tubuhnya, akan tetapi tangan kiri Halayudha menangkap pundaknya. Gendhuk Tri menjatuhkan dirinya. Salah satu jurus andalan yang selalu bisa menyesatkan lawan. Tapi justru Halayudha membungkuk, dan menangkap kaki Gendhuk Tri. “Air selalu ke bawah, mencari tempat yang kosong. “Tepat sekali. Begitu tersentuh pundak, kamu menjatuhkan diri. Hebat. Dugaanku hebat. Kamulah pewaris ilmu Tirta Parwa. Air Mengalir dari Sumbernya GENDHUK TRI mengetahui bahwa Halayudha termasuk tokoh yang luar biasa. Bukan hanya karena kelicikan dan keculasannya yang mampu mengubah total penampilannya, melainkan juga karena ilmu silat yang dikuasai beraneka ragam. Meskipun demikian, Gendhuk Tri juga bisa menilai dirinya bukan contoh yang bisa ditekuk habis dalam sekali gebrak. Kalaupun tingkat ilmu mereka berbeda, masih diperlukan waktu untuk mengalahkan. Akan tetapi kenyataannya justru dalam satu gerakan saja kedua kaki Gendhuk Tri dapat ditangkap. Tanpa bisa berkutik. Karena tepat di pergelangan kaki dan menekan urat nadi. Sehingga dengan sekali tekan, akan putus semuanya. Setidaknya Gendhuk Tri akan menderita cacat seumur hidupnya. Dalam keadaan terdesak, Gendhuk Tri bisa menjadi nekat. Akan tetapi, sekarang ini akal sehatnya bisa bekerja. Apa pun yang dilakukan, sia-sia. Tak mengubah perlawanan. Anehnya, justru pada saat kemenangan di tangan, Halayudha melepaskan begitu saja. Dan berdiri tegak sambil tersenyum. Sebat luar biasa Gendhuk Tri menyapu dengan kedua kakinya. Kedua kakinya terjulur di antara kaki Halayudha, dan dengan satu sentakan kuat memotong dari dalam. Halayudha berjingkrakan. “Luar biasa! “Aku yang luar biasa. Itulah tenaga air. Mengalir dari sela-sela. Begitu kekuatan air yang sesungguhnya. Menerobos dari sisi kecil, mengalir, masuk dan menenggelamkan yang bisa dimasuki, atau menghancurkan jalan masuknya sehingga semakin melebar.” Gendhuk Tri tidak memedulikan ocehan Halayudha. Sebat gerakannya, seakan menyentuh lutut bagian dalam Halayudha. Hanya saja beberapa kejap sebelum menyentuh, Halayudha sudah meloncat ke atas, dengan masih berjingkrakan. Gendhuk Tri mempergunakan kesempatan untuk meloncat ke atas, dengan kedua tangan terulur ke depan, sementara selendang warna-warni menyabet ke arah tenggorokan dan kedua kakinya pun mencegat arah mundur. Dicecar dengan serangan gencar, Halayudha makin liar gerakannya berjingkrakan. “Bagus, bagus. “Aku yang bagus. “Ayo teruskan. Kamu mau menyerang bagian yang mana? Kelihatannya sekilas mataku akan kau cungkil dengan tangan, leherku akan kau libat dengan selendang. Tetapi sebenarnya yang paling berbahaya adalah gerakan kaki. “Serangan yang berasal dari bawah itulah sifat air. “Bagus. “Bagus, aku bisa mengerti. “Lihat, aku akan bisa menghindarimu.” Gendhuk Tri merasa makin jengkel karena dipermainkan. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya, akan tetapi dengan cara berjingkrakan, enteng sekali Halayudha bergerak. Setiap kali Gendhuk Tri mengejar, Halayudha bisa menghindar dengan cara leluasa. Sambil tertawa-tawa dan berkomentar. Makin cepat Gendhuk Tri mengejar, makin cepat pula Halayudha berloncatan menghindar. “Kalau air datang, kamu tak bisa melawan. Sebab tenaga air makin lama makin kuat. Jangan ikut arus, kalau tak ingin hanyut. Jalan satu-satunya adalah dengan meloncat. Tenaga air tak akan menghantam telak. “Bukan begitu?” Gendhuk Tri terkesima. Semua ilmunya ternyata bisa terbaca secara sempurna. Seumpama seorang yang tengah membaca buku. “Ayo, serang lagi.” Gendhuk Tri menggeleng. “Sejak kapan air suci perguruan kami kamu kotori?” Terang Gendhuk Tri hanya main gertak saja. Ia sendiri tak mengetahui asal-usul ilmu silatnya. Juga tak mengenal perguruannya secara resmi. Karena hanya belajar dari Jagaddhita, yang mendapatkan ilmunya dari Mpu Raganata. “Ha… ha, bukankah kamu yang mencuri Tirta Parwa yang kuwarisi?” Halayudha bisa dengan cepat membalikkan persoalan. Dan bukan hanya omongan kosong. Kalau dilihat dari penguasaan, jelas Halayudha jauh lebih menguasai dibandingkan dengan Gendhuk Tri. Sementara itu kerumunan yang menonton pertarungan masih memperhatikan, seolah menunggu kesempatan untuk dilenyapkan. Gendhuk Tri termangu. Sesungguhnya ia tak begitu mengerti apa nama ilmu silatnya dan apakah mempunyai kitab pusaka yang disebut Tirta Parwa, atau Kitab Air. Rasa ingin tahunya jadi melambung tinggi. “Air selalu mengalir dari sumbernya. Mana mungkin manusia busuk macam kamu menjadi pewaris Tirta Parwa? Orang seperti kamu lebih pantas menjadi Tumbal Tirta Parwa.” Gendhuk Tri menjawab angin-anginan saja. Karena kalau disebut Kitab Air, ingatannya adalah Kitab Bumi. Kitab itu mempunyai bagian yang disebut Kitab Penolak Bumi. Jadi kalau ada Kitab Air, tentunya ada pula bagian Kitab Penolak Air. “Jangan-jangan ini bagian dari Kitab Penolak Air. Air… Kalau benar begitu, berarti Pendeta Sidateka memang sengaja memutar balik! Mana mungkin isi Tumbal ditulis lebih dulu…” “Apa yang kaukatakan?” “Kamu benar, anak kecil. “Aku tak bisa diakali. Marilah kita kembali ke Keraton. Aku akan memeliharamu. Untuk melihat ilmu silatmu sejauh mana.” Berada dalam tawanan Halayudha, Gendhuk Tri tak akan bisa bernapas dengan bebas. Ia mengetahui bahwa jago di antara para jago seperti Naga Nareswara atau Kama Kangkam pun bisa diisap habis-habisan ilmunya. “Untuk apa aku ikut kamu? “Aku lebih suka mati.” “Tak akan kubiarkan…” Halayudha mendengus perlahan. Kedua tangannya bergerak seolah menepuk air, dan tubuhnya berputar mengelilingi Gendhuk Tri, yang tiba-tiba merasa terkepung, terseret, mengikuti ke arah mana tubuh Halayudha berputar. “Air lebih mudah membawa air yang lain. Pusaran arus lebih mudah menggandeng air tenang.” Masih dengan berhaha-hehe, Halayudha mampu menjinakkan Gendhuk Tri yang benar-benar tak bisa melawan. Sehingga dalam satu putaran berikutnya, kedua tangannya sudah terikat dengan selendangnya sendiri! Gendhuk Tri tak mampu mengadakan perlawanan. Benar-benar seperti terseret dalam arus, dan terjerumus ke dalam pusaran. Hebatnya lagi, Halayudha dapat melepaskan ikatan itu dan sebelum Gendhuk Tri bisa meloloskan diri, ikatan itu sudah erat lagi. Seperti main-main. “Beginilah cara memainkan tenaga air. Jadilah pusaran, bukan gelombang. Tariklah sesuai dengan tenaga putarmu, jangan sebaliknya. “Kalau kamu mau membaca baik-baik, kamu tak akan seceroboh ini.” Pikiran Gendhuk Tri bermuara pada kesimpulan, bahwa Kitab Air itu benarbenar ada, dan Halayudha telah atau tengah mempelajari. “Satu guru satu ilmu sebaiknya tidak saling mengganggu. “Anak kecil nakal, kamu masih tak mau mengakuiku?” “Sepanjang hidupku, tak pernah ada nama lain yang mempelajari Kitab Air yang tak kukenal. Makanya kamu jangan ngaco dan sembarangan buka mulut.” “Jagaddhita ngerti apa?” “Eyang guruku tak akan sembarangan mengangkat murid.” “Kamu kira Mpu Raganata yang loyo itu bisa menciptakan ilmu silat yang begini dahsyat? Kamu mimpi apa selama ini?” “Kalau begitu siapa yang mengajarimu?” Inilah pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Halayudha. Sebab memang itu yang ingin diketahui. Jelas bahwa Gendhuk Tri murid Jagaddhita, dan Jagaddhita murid Mpu Raganata. Akan tetapi dasar-dasar ilmu yang dipelajari sangat berbeda. “Katakan kalau kamu tidak mencuri.” Halayudha tersenyum. “Apa perlunya menyebut nama? Kalau aku sudah menguasai, apa bedanya ini ajaran cacing atau kucing?” Hanya Halayudha yang menganggap rendah seorang guru! Kalimat yang sangat kurang ajar dan tidak mengenal sopan santun sedikit pun ini membuat Nyai Demang berteriak. “Mana ada manusia yang berhati iblis dan berdarah setan seperti kunyuk satu ini? “Sudah jelas penciptanya tokoh yang paling suci, wanita yang paling bijak di seluruh jagat, masih juga disamakan cacing atau kucing? “Sungguh ucapanmu kelewat batas.” Kali ini Halayudha yang tersentak kaget. Nyai Demang yang sudah mirip orang kehilangan akal sehatnya, justru bisa bicara dengan urut. Aneh. “Dari mana kamu tahu?” Bumi Itu Tanah dan Tanah Itu Air NYAI DEMANG tertawa ngakak. Badannya bergoyang-goyang sehingga Kakek Berune yang berada dalam gendongannya seperti mau jatuh. “Dari mana aku tahu? “Bagaimana aku tidak tahu, kalau itu diciptakan untukku?” Di telinga Gendhuk Tri, ucapan Nyai Demang terdengar ngawur. Akan tetapi Halayudha melihat dari sisi yang lain. Sejak tadi Nyai Demang tak ikut bicara sepatah kata pun yang agak urut. Lalu ketika disinggung mengenai Tirta Parwa menjadi “waras”. Berarti ada sesuatu yang bisa menunjukkan arah yang sama. Berarti ada hubungan antara Tirta Parwa dan bawah sadar atau suara batin Nyai Demang. “Ya, ya, aku lupa Kitab Air diciptakan untuk kamu. “Jadi siapa kamu sebenarnya?” “Astaga. Kamu pura-pura tak mengenai diriku? Apakah Bejujag itu sudah demikian jahat mencuci otakmu?” “Kalau begitu siapa aku?” “Batok tengkorakmu pun kukenali, apalagi tubuhmu. Meskipun suaramu sangat jelek sekarang ini.” Meskipun tidak tahu persis hubungannya, Gendhuk Tri juga bisa meraba-raba. Bahwa yang bicara sekarang ini bukan jalan pikiran Nyai Demang. Melainkan suara atau jalan pikiran orang yang digendong, yang sudah menjadi mayat, yang disebut sebagai Eyang Berune! Sangat masuk akal. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Nyai Demang hanyalah tubuhnya saja. Sedangkan detak jantung dan naluri yang dimiliki adalah orang yang digendongnya. Hal seperti ini bukan sesuatu yang luar biasa. Gendhuk Tri juga pernah mengalami dalam hidupnya. Ia pernah kemasukan racun yang luar biasa ganasnya. Sehingga tak ada manusia atau binatang yang mau didekati. Sejak itu Gendhuk Tri merasa menderita lahir dan batin. Baru kemudian hawa racun yang mengalir dalam darahnya tersapu bersih sewaktu Upasara Wulung meminjamkan tenaganya. Menguras tenaga dalamnya untuk disalurkan ke dalam tubuh Gendhuk Tri. Apa yang dialami Nyai Demang kurang-lebihnya sama. Hanya lebih seram. Kakek Berune yang berada dalam gendongan Nyai Demang termasuk tokoh sakti, karena nyatanya masih bisa lengket terus. Barangkali saja saat-saat terakhir, Kakek Berune mencoba memindahkan dirinya ke dalam tubuh Nyai Demang! ‘ Juga bukan sesuatu yang mustahil. Gendhuk Tri pernah mendengar ilmu memindahkan nyawa. Yang termasuk dalam ilmu hitam, yang pantang dipelajari sebagai ilmu. Ilmu pemindahan nyawa ini biasanya terjadi dari orang yang hidup ke dalam tubuh orang yang sudah mati. Sehingga orang yang sudah mati bisa dipaksa berbicara atau bergerak, sesuai dengan kehendak yang memindahkan nyawa. Pada penganut ilmu hitam, biasanya dipakai sebagai senjata tidak langsung. Karena mayat-mayat ini bisa menerobos masuk ke daerah lawan dengan meloncat-loncat, dan kalaupun terkena senjata lawan tak akan mengaduh. Dan yang jelas, yang menggerakkan mayat tak terluka. Bedanya, Nyai Demang bukan memindahkan tenaga dan kekuatannya ke dalam mayat Kakek Berune, melainkan sebaliknya. “Jadi kamu mengenaliku?” “Tentu saja. Aku sudah membaca dan mempelajari Tirta Parwa yang tak kalah hebatnya dengan Pukulan Pu-Ni yang kumiliki. Jauh di atas Tepukan Satu Tangan. “Akan tetapi kenapa justru Kitab Penolak Bumi yang dipakai? “Kenapa?” Halayudha tak tahu ke mana arah pertanyaan itu sehingga ia terdiam. “Karena kamu masih lebih mencintai Bejujag itu? “Ayo jawab saja!” Wajah Nyai Demang menyeringai. Mengerikan. Dalam hati Halayudha menggigil. Hebat juga pengaruh yang menguasai Nyai Demang ini, pikirnya. Apa pun alasan atau latar belakang kejadiannya, agaknya tenaga lain Nyai Demang mengenali Kitab Air. Kalau aku bisa memanfaatkan, pasti jadi luar biasa. Berpikir begitu, Halayudha menghadapi Nyai Demang dengan pemusatan pikiran penuh. “Terserah apa yang kamu katakan.” “Kitab Air lebih dari Kitab Bumi. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan? Ayo ulangi, biar kamu ingat.” Gendhuk Tri menjadi panas-dingin. Kalau benar Nyai Demang menceritakan semuanya, alamat Halayudha bakal makin gila dan menguasai. Akan tetapi ia sendiri tak bisa mencegah atau berbuat sesuatu. Halayudha menghela napas. Lalu menutup kedua matanya. Bibirnya berkomat-kamit, perlahan. Terdengar kidungan yang halus. Bumi itu tanah dan tanah itu air air lebih dari bumi, lebih dari tanah sebab air ada di semua bumi ada di suatu tempat hanya kalau air minggir, bumi terlihat jadi air lebih hidup dan menggeliat bumi itu tanah dan tanah itu air air sama dengan bumi tanpa tanah, air hanya air tanpa air, tanah bukan tanah bumi milik tanah tanah milik air tanah dan air milik yang terakhir… Air mata Nyai Demang menetes. Duka menggores. “Jadi kamu masih ingin selalu bersatu dengan Bejujag?” Tak ada jawaban, Tadi Halayudha hanya menghafal kidungan yang kira-kira bunyi dan isinya seperti yang diminta Nyai Demang. Tanpa menyadari bahwa ternyata jawabannya tepat sekali. “Tunjukkan yang lainnya, agar aku yakin.” “Akhirnya kamu mau mengakui aku. “Dengar baik-baik. Dalam kidungan yang kau kirimkan padaku tentang Gita Tirta atau Nyanyian Air, dengan jelas kaukatakan…” Mendadak suara Gendhuk Tri melengking tinggi. “Jangan mengatakan sembarangan. Harusnya kepadaku, karena aku murid yang resmi.” Nyai Demang melengak. Juga Halayudha yang bisa membaca kemauan Gendhuk Tri agar Nyai Demang tidak menunjukkan bagian-bagian yang penting. Darah Halayudha menggelegak. Dengan sekali tekuk, Gendhuk Tri bisa dibekuk. Akan tetapi Halayudha masih ragu. Apakah ini membuat Nyai Demang yang kerasukan orang lain menjadi murka atau tidak. Kalau murka, dirinya bisa kehilangan kesempatan emas. Kehilangan Gendhuk Tri maupun sukma yang memaksa berada dalam tubuh Nyai Demang. Dua-duanya merupakan kunci pembuka Kitab Air. Hanya saja telinganya sempat mendengar mengenai Nyanyian Air. Ah, di bagian mana yang kidungannya berbunyi Gita Tirta? Rasanya semua isi Kitab Air sudah dipelajari. Sudah dibaca ulang dan ia hafal dengan baik. Akan tetapi, tak ada yang merujuk ke arah Gita Tirta. Ini bisa berarti bahwa Pendeta Sidateka tetap merahasiakan satu bagian yang penting. Yaitu kidungan Gita Tirta. Kalau tidak, pasti ia sudah mengetahui. “Sejak tadi aku yang memainkan beberapa jurus ajaran Kitab Air. Masa kamu tidak merasakan. Makanya hanya kepadakulah kamu bercerita.” “Kamu siapa?” “Aku Gendhuk Tri, hubungan kita sama dekatnya dengan Kakang Upasara. Yang belum lama ini menggandeng Mbakyu. Masa tidak ingat nama Upasara Wulung?” Nyai Demang bergoyang-goyang tubuhnya. Lututnya tertekuk. Gendhuk Tri menyadari kesalahan terbesar. Secara tidak sadar ia menjawab seolah berbicara dengan Nyai Demang. Padahal yang menguasai Nyai Demang adalah Kakek Berune! Tidak sepenuhnya, karena Nyai Demang masih bisa tersentuh oleh ingatan, ketika nama Upasara Wulung disebutkan. Tapi justru dua jalan pikiran dari dua orang yang berbeda membuat tubuh Nyai Demang tak kuat. Ini bahaya! Kidung Penolak Air HALAYUDHA mengetahui bahwa Gendhuk Tri sangat cerdas. Bisa dengan cepat memotong omongan Nyai Demang. Sehingga penjelasan mengenai Kitab Air jadi terhenti. “Gendhuk kecil, omonganmu yang mengacau bisa membahayakan Nyai Demang. Kenapa kamu ingin melenyapkan dengan cara licik seperti itu?” “Siapa yang licik? Kamu atau aku?” Halayudha meringis. “Semua orang tahu aku licik, licin, culas, jelek, nista, bukan ksatria. Kuakui. Akan tetapi aku tak pernah berpura-pura baik dan berjiwa ksatria seperti kamu.” “Kamu yang ngaco. Mana mungkin aku berniat jahat kepada Nyai Demang. Apa alasanku?” “Apa alasanku…?” Halayudha menirukan nada bicara Gendhuk Tri dengan nada lebih tinggi. “Hanya karena ingin merangkul Upasara sendirian, kamu menyingkirkan Nyai Demang. Sungguh keji hati wanita. Sekecil kamu sudah busuk dan hina.” Bibir Gendhuk Tri gemetar. Menahan gusar yang kelewat takar. Darahnya mendidih, terbakar. Kalimat Halayudha berbisa luar biasa. Dengan caranya sendiri, Halayudha bisa menangkap perasaan Gendhuk Tri terhadap Upasara. Dari ucapan-ucapan seketika. Dengan cara itu, Halayudha ganti memojokkan Gendhuk Tri. Memutar balik kenyataan adalah keunggulan Halayudha. Dalam hal begini, Gendhuk Tri yang bisa bicara menyakitkan pun masih tetap di bawah tekukan lidah Halayudha. “Kamu benar-benar biadab!” “Semua yang ada di sini menjadi saksi.” Halayudha berjongkok menghaturkan sembah ke arah Nyai Demang. “Saya yang rendah menghaturkan sembah kepada Kakek Sakti. Mohon kiranya diperkenankan mengetahui nama besar Kakek Sakti yang tidak saya ketahui.” “Apa hubunganmu dengan Dodot Bintulu?” Mendadak Nyai Demang bangkit lagi. Berdiri dengan perkasa. Pandangannya keras. Jelas bahwa kini yang menguasai jalan pikiran Nyai Demang bukan dirinya lagi. “Jelek-jelek begini, saya pernah berguru pada Paman Sepuh Dodot Bintulu. Namun saya terlalu bodoh…” “Aku mendengar Paman Sepuh punya dua murid jahat. Kamu yang pertama atau kedua?” Seketika Halayudha seperti terkena serangan telak. Seketika saja. Bukan Halayudha kalau tak bisa mempertahankan diri dengan cemerlang. “Maaf, Kakek Sakti, saya hanya murid kesekian yang tak diperhitungkan. Saya hanya sebentar diajari, dan Paman Sepuh, guru kami yang mulia, takut dijahati muridnya sehingga saya tak diakui secara resmi. “Hanya karena tadi disebut-sebut dan ditanyakan, saya terpaksa mengaku-aku. “Maafkan hamba….” “Hmmm… Ilmumu tak begitu jelek. “Aku teman main Dodot Bintulu, yang nasibnya sama-sama buruknya. Pernah dengar Pukulan Pu-Ni?” Biarpun tak pernah mendengar, Halayudha menyembah hormat. “Paman Sepuh, guru yang mulia, pernah menyebut-nyebut kesaktian pukulan yang mementahkan segala pukulan. Sungguh nasib baik dan sukma guru yang mulia yang mempertemukan.” Nyai Demang mengangguk-angguk. “Kenapa sebagai murid Dodot Bintulu kamu mempelajari ilmu Air?” Ilmu Air? Pertanyaan itu tergema kembali dalam dinding hati Halayudha. “Hamba mendapat pesan terakhir, bahwa Tirta Parwa banyak disalahgunakan oleh orang-orang culas yang tak berhak. Kalau bisa hamba disuruh membersihkan.” “Itu baik. “Itu mulia. “Kalau begitu kamu sudah mempelajari?” “Serba sedikit, Kakek Sakti Pu-Ni….” “Kalau serba sedikit, kenapa kamu tak pernah mendengar Gita Tirta? Ini sungguh aneh… Kidungan itu sampai kepadaku, tentunya Dodot Bintulu, Raganata, Bejujag, sudah membaca dengan baik.” “Mohon Kakek Sakti Pu-Ni memberi penjelasan. Demi nama baik pencipta Kitab Air….” Halayudha setengah main tebak saja. Namun dengan alasan yang kuat. Ia sadar bahwa “Kakek Sakti Pu-Ni” mempunyai hubungan yang erat dengan pencipta Tirta Parwa, yang seangkatan dengan Mpu Raganata, Paman Sepuh, dan Eyang Sepuh. Betul-betul tingkat pepunden, tokoh pujaan yang luar biasa. Dengan mengatas namakan pencipta Kitab Air, Halayudha ingin mendekatkan diri. Dan berhasil. Karena Nyai Demang mengangguk-angguk. “Ah, bisa jadi gurumu juga tak memahami Gita Tirta. Juga yang lain. Nyatanya bocah kecil yang mengaku didikan Raganata juga tak becus. “Ketahuilah, orang-orang bodoh, akulah Kebo Berune, yang sekarang kalian panggil dengan sebutan Eyang Berune, pencipta Pukulan Pu-Ni yang tiada tandingannya di kolong langit ini. “Aku mengerti semua ciptaan, semua ilmu kanuragan yang dianggap paling mustahil di tanah Jawa ini. “Kalian harus tahu bahwa ilmu yang terbaik, ilmu yang paling sakti, bukanlah yang dituliskan dalam Tumbal Bantala Parwa. Kitab itu karya curian dari Gita Tirta. “Sesungguhnya di situ kidungan pertama kali muncul. Itulah ilmu pamungkas, ilmu yang terakhir. “Bejujag hanya mengambil alih saja. “Dengarkan kidungan lengkapnya, sehingga semua bisa membandingkan mana yang asli mana yang palsu. Dari semua air, dari semua sumber selalu ada akhir, selalu ada penghabisan air melenyap, tinggal senyap air menguap, tinggal senyap bumi yang sangar, bumi yang ganas ada tumbalnya bisa dicipta negara yang panas, negara yang ganas ada tumbalnya bisa ditata air yang mengalir lenyap dari akhir berarti nyanyian Nyanyian Air, Gita Tirta Gita Tirta, tanpa jurus tanpa tarikan napas tanpa kehendak air bisa dihapus, tanpa bekas itulah Nyanyian Air yang terus terdengar selama masih bisa mendengar terasa selama masih bisa merasa… “Cukup!” Gendhuk Tri berteriak dengan lengkingan tinggi. Tubuhnya melayang ke udara. Coba menyetop Nyai Demang. Halayudha bergerak sama cepatnya! Mengerti arah gerakan Gendhuk Tri, Halayudha menaikkan tangan kiri dengan tekukan. Udara yang digeletarkan menahan laju tubuh Gendhuk Tri. Yang mendadak berbalik dan menendang Halayudha yang masih duduk bersila. Tenang sekali Halayudha menggeser kepalanya, membiarkan sapuan kaki Gendhuk Tri berdesis beberapa jari di depan hidungnya. Ketika Gendhuk Tri mengulang lagi, Halayudha cepat menarik selendang Gendhuk Tri dan tubuhnya sendiri melayang ke atas, ke arah Nyai Demang! “Jangan ganggu Guru Sakti Eyang Berune!” Dengan cara begitu, seolah Halayudha ingin menunjukkan bahwa ia melindungi diri Kakek Berune. Sesuatu yang biasa dilakukan. Padahal niatan Halayudha hanya satu. Mendapatkan Kakek Berune! Yang pikirannya berada dalam tubuh Nyai Demang. Sebab di sinilah kunci Tirta Parwa yang sesungguhnya. Bukan pada diri Gendhuk Tri! Dalam gerakan itu Halayudha melindungi Nyai Demang. Tangan kiri berjaga atas serangan Gendhuk Tri, tangan kanan mendorong hormat tubuh Nyai Demang. Itu bahaya! Tenaga dalam Nyai Demang mengarus ke tubuh Halayudha. “Aduh!” pekiknya nyaring. Pembunuhan Habis-habisan HALAYUDHA tidak menyangka sama sekali bahwa dalam tubuh Nyai Demang tersimpan tenaga dari Kakek Berune yang masih bergolak. Begitu tersentuh tubuh lain, secara otomatis tenaga itu tersalur! Dengan sifat menghancurkan! Sesungguhnya itulah yang dirasakan oleh Nyai Demang sehingga ia tak bisa menguasai diri. Merasa tangan kanannya kesemutan, Halayudha membuang tenaga yang menyerang tubuhnya ke sembarang tempat. Sudah barang tentu yang menjadi sasaran orang-orang yang ada di sekitarnya. Para pengikut Jinalaya tak sempat mengeluarkan teriakan mengaduh. Sekali berkelojotan, langsung mati! Dalam sekejap, selusin orang meninggal seketika. Termasuk si pemegang golok, tombak, gada, yang begitu tersentuh langsung kejang. Cebol Jinalaya yang ingin maju, segera ditarik oleh Gendhuk Tri. Rasanya Gendhuk Tri tetap tak rela kalau cebol kepalang ini meninggal karena ulah Halayudha, walaupun sebenarnya tujuan mereka memang ingin mati. Ingin menyusul dan tetap mengabdi Baginda Raja Sri Kertanegara! Halayudha masih terus berputar-putar. Setiap kali tangan kanannya disentuhkan, ada semacam tenaga yang menerobos ke luar. Meskipun ini menyebabkan kematian pada orang lain, akan tetapi tenaga yang membuat tangannya kesemutan makin lama makin berkurang. Sehingga ketika semua yang hadir, kecuali Gendhuk Tri dan Cebol Jinalaya serta pengikutnya, terkena sentuhannya, rasa nyeri itu berkurang banyak. Betul-betul pukulan yang luar biasa. Sisa tenaga yang mengeram di tangan kanannya bisa untuk membunuh sekian banyak orang! Apalagi kalau dipukul langsung. Bisa-bisa manusia menjadi bubuk batu! Hancur lebur! Betul-betul pukulan sakti! Ini ilmu yang betul-betul sakti mandraguna, hebat kelewat-lewat. Halayudha sendiri masih ternganga karena tak percaya. Begitu banyak ilmu yang dipelajari, ditekuni, juga berasal dari tokoh-tokoh kelas utama dalam jagat ini, akan tetapi Pukulan Pu-Ni tetap diakui sebagai pukulan paling ganas dan telengas. Bahwa pukulan itu ciptaan Kakek Sakti Berune, tak disangsikan lagi. Akan tetapi bahwa hasilnya luar biasa, didukung oleh beberapa unsur yang lain. Tenaga dalam Halayudha sendiri cukup kuat. Sehingga pergolakan di tangan kanan setiap kali keluar, juga didorong oleh tenaga dalamnya sendiri. Bukan sematamata tenaga mengeram dari Pukulan Pu-Ni. Lagi pula yang menjadi sasaran boleh dikatakan bukan jago silat yang sebenarnya. Namun itu semua tak mengurangi ketakjuban dan kecemasan Gendhuk Tri. Ketakjuban karena Gendhuk Tri tahu bahwa itu bukan tenaga Nyai Demang. Kekuatan Nyai Demang sangat diketahui batas-batasnya. Kecemasan karena kini Nyai Demang berada dalam pengaruh tenaga Eyang Berune. Entah tokoh mana lagi, akan tetapi yang jelas sejajar dengan nama-nama kampiun yang tadi disebutkan. Makin cemas lagi kalau mengingat bahwa sekarang ini Halayudha bisa menemukan, dan bukan tidak mungkin merangkul, Nyai Demang untuk mengisap habis ilmunya. Kalau itu terjadi, bumi tak tersisa lagi. Akan diinjak sampai rata. Yang lebih mencemaskan lagi, Gendhuk Tri sadar tak bisa berbuat suatu apa. Ilmunya, seperti telah terbaca jelas dari gerakan maupun tarikan napas. Yang dengan mudah bisa ditekuk habis oleh Halayudha. “Halayudha busuk! “Bagaimana kamu mengaku murid Paman Sepuh tapi begitu jahat? Bagaimana kamu mau menjaga Tirta Parwa kalau sifat jahat dan hinamu begitu kelewatan? “Kenapa sedikit kesakitan saja tanganmu, semua orang kamu bunuh?” Halayudha berdiri kaku. Ragu. Apakah ia harus menggempur Gendhuk Tri, yang bisa dengan mudah dilakukan, atau membiarkan saja. Kalau ia menghajar Gendhuk Tri, bisa saja Nyai Demang muncul kembali kesadarannya. Dan ini merepotkan. Kalau dibiarkan saja, ia bisa menganggap sepi, dan kemudian meninggalkan begitu saja. Asal sudah berhasil mendapatkan Nyai Demang. Setidaknya kidungan lengkap Gita Tirta yang disembunyikan Pendeta Sidateka terkutuk itu! Yang akan segera disikat kalau sudah kembali nanti! Dengan meminjam tangan Baginda. Dengan melaporkan bahwa secara sengaja Pendeta Sidateka menyembunyikan sebagian isi kitab yang dituliskan di kain sutra. Padahal itu atas permintaan Baginda! Dalam keadaan termangu pun, Halayudha masih bisa memikirkan setidaknya tiga langkah di muka. “Kamu benar-benar busuk, Halayudha. “Tak pantas mendengar Gita Tirta.” “Jangan bawa-bawa nama itu. Kamu murid pencuri busuk,” jawab Halayudha dengan lantang. “Kamu mengaku murid Jagaddhita. Jagaddhita mengaku murid Mpu Raganata. Ternyata itu ilmu curian belaka. “Cacian maling busuk tak terlalu didengar.” Nyai Demang yang masih menggendong Kebo Berune jadi memiringkan kepalanya ke arah Halayudha dan Gendhuk Tri berganti-ganti. Seolah mau mencari kepastian siapa yang harus lebih didengar. Keadaan itu juga disadari oleh Gendhuk Tri. Maupun Halayudha. Saat ini jalan yang terbaik adalah mempengaruhi Nyai Demang. Siapa yang menguasai, dengan sendirinya bisa menjatuhkan lawan. Dan untuk bisa menguasai Nyai Demang, haruslah dengan kalimat-kalimat yang bisa dipahami oleh Kakek Berune. Ini juga susah. Karena baik Halayudha maupun Gendhuk Tri tak mengerti siapa sesungguhnya Kakek Berune. Selain yang tadi dibicarakan. Takut salah bicara, Gendhuk Tri berdiam diri. Juga Halayudha. Keadaan sunyi. Di suatu tempat mayat-mayat bergeletakan, yang masih hidup berdiri dan berdiam diri. Nyai Demang menghela napas. “Kacau… Kalian semua kacau. “Kalian semua pencuri busuk. Aku harus melenyapkan kalian berdua. Atau siapa saja.” Halayudha menyembah. “Kalau Kakek Sakti Berune mau mencabut nyawa hamba, itu adalah kehormatan bagi hamba. Tak nanti hamba yang bersalah ini berani menggeser kaki.” “Bagus. Bersiaplah!” Halayudha menyembah lagi. Duduk sambil menutup mata. Menunggu. Seolah menunggu. Karena saat itu justru sedang mengerahkan semua kemampuannya untuk menangkap bunyi atau getar yang paling lemah sekalipun. Kelihatannya saja menyerah, akan tetapi merencanakan untuk melakukan serangan penghabisan. Tak nanti ia rela dibunuh begitu saja, justru di saat hampir menguasai ilmu yang tak pernah dikenal selama ini. Cara yang ingin dilakukan ialah menjambret tubuh Gendhuk Tri, untuk dikorbankan. Itu akan dilakukan saat terakhir sekali. Gendhuk Tri pun bisa terkelabui. “Halayudha busuk, apa benar kamu yang berhak atas Tirta Parwa yang kamu sebut-sebut itu?” Suara Halayudha terdengar mengandung penyesalan. “Sudahlah, buat apa disebut-sebut? “Selama hidup, aku juga tak bisa menjaga kebesaran nama Tirta Parwa. Bahkan walaupun aku bisa menghafal kidungan yang lain, bagian yang terpenting, yaitu Gita Tirta, tak mampu kuingat.” Nyai Demang terkekeh. “Tidak, tidak. “Barangkali Pulangsih memang hanya memberitahu aku. Tak mau memberitahukan kepada Dodot Bintulu atau Raganata. “Bukankah itu berarti Pulangsih masih melihat wajahku dibandingkan yang lain? “Pulangsih, Pulangsih… Tak sangka kamu masih lebih mementingkan aku dibandingkan yang lain. “Sampai kapan pun, aku tak akan melupakan perhatianmu ini… Kalau saja Bejujag, Bintulu, Raganata, mendengar ini, di dalam kubur mereka akan iri, cemburu habis-habisan. “Aha, ternyata aku masih lelaki yang paling bahagia.” Nyanyian Air di Keraton HALAYUDHA menyembah hingga dahinya menyentuh tanah. “Eyang Sakti, kalau Eyang Berune tidak berkeberatan, silakan mampir di gubuk hamba di Keraton.” “Ada urusan apa?” “Barangkali Eyang Sakti masih bisa mengenali tulisan tangan Yang Mulia Eyang Putri Pulangsih.” Gendhuk Tri mengakui bahwa Halayudha bukan hanya sangat licik, tetapi juga sangat cerdas dan cepat sekali mengambil keputusan. Dari kata-kata Nyai Demang, bisa diketahui bahwa Kakek Berune menaruh hati kepada Pulangsih. Atau yang disebut Pulangsih. Itu pula yang digunakan untuk menjebak. Nyai Demang meludah ke tanah. “Bagaimana mungkin kamu menyebut Eyang Putri? Pulangsih masih cantik jelita dan muda. Kenapa kamu panggil Eyang Putri?” Telanjur berdusta, Halayudha tak mau kepalang basah. “Beliau selalu lebih suka dipanggil begitu.” “Kamu masih bertemu?” “Dalam pertemuan di Trowulan, Eyang Putri masih hadir. Entah kapan lagi beliau akan hadir.” Gendhuk Tri yang berada di Trowulan saat pertarungan habis-habisan pun tak mampu mengarang cerita seperti Halayudha. “Hmmm, berarti masih sempat bertemu yang lainnya. “Baik, baik… Ayo berangkat sekarang!” Halayudha menyembah. Berdiri. Satu tangan bergerak ke arah Gendhuk Tri. “Tak usah. Kita berangkat.” Halayudha mengangkat alisnya. Lalu berlalu. Bersama rombongannya dan Nyai Demang yang menggendong Kakek Berune. Tinggal Gendhuk Tri sendirian. Dan Cebol Jinalaya. Tak ada suara. Agak lama. “Kamu sedih?” Gendhuk Tri tersenyum tawar. “Kamu gadis yang baik, yang berjanji akan mengantarkan aku kepada Sri Baginda Raja. Semua temanku sudah sampai, dan aku masih menunggu kebaikanmu.” Berat beban di hati Gendhuk Tri. Segala yang dikuatirkan terjadi. Upasara Wulung hilang tak ketahuan rimbanya. Nyai Demang yang dicemburui dikuasai Kakek Berune dan kini dikuasai Halayudha. Pada saat yang bersamaan, ia dituntut untuk membunuh. “Kalau saya bunuh kamu, siapa yang akan membunuhku? “Kamu kira aku mau berdiam sendiri di jagat ini, Cebol?” Cebol Jinalaya ikut termenung. “Kalau begitu, marilah kita berdoa bersama. Semoga ada ksatria lewat dan berbaik hati mau membunuh kita.” Gendhuk Tri mendongak. Memandang angkasa. Guratan kekecewaan menoreh wajahnya. Dengan tenang ia bisa meninggalkan Cebol Jinalaya. Sewaktu-waktu ia bisa pergi dengan gampang. Dan tidak memedulikan. Melupakan. Namun sekarang, jalan pikiran Gendhuk Tri jadi lain. Kalau ia pergi, mau pergi ke mana? Bukankah keadaannya sekarang ini sama seperti si cebol hitam ini? Sendiri, tak punya siapa-siapa, tak mempunyai keinginan apa-apa yang bisa menjadi semangat hidupnya? Habis terpenggal rata. Apakah, apakah perasaan kosong yang sama ini yang dirasakan oleh Upasara Wulung ketika akhirnya Gayatri meninggalkannya? Sehingga Upasara memilih menghabiskan ilmunya, dan membiarkan dirinya mati diterkam binatang buas? Inikah kehancuran dari dalam itu? Apakah, apakah ini yang juga dirasakan oleh Dewa Maut ketika ditinggalkan oleh kekasihnya, lalu ditinggalkan kekasihnya Padmamuka? Apakah, apakah ini yang menyebabkan Dewa Maut memanggilnya Tole, dan justru ia mempermainkannya? Apakah, apakah kekosongan ini yang juga dirasakan Nyai Demang ketika suami dan anak-anaknya dihabisi, walau tidak bersalah? Gendhuk Tri tenggelam dalam lamunannya. Sampai bulan muncul, dan lenyap lagi. Bersambung dengan sinar panas matahari, disambung dengan kegelapan dan hujan turun rintik-rintik. Gendhuk Tri masih terdiam di tempatnya. Cebol Jinalaya masih berdoa agar ada ksatria yang baik hati mengantarkan ke alam di mana ia bisa mengabdi kepada raja yang disembah setulus hati. Pikiran Gendhuk Tri masih bolak-balik tak ada batasnya. Hanya helaan napas yang menandai keyakinan Cebol Jinalaya bahwa dirinya tidak sendirian. “Akhirnya doa kita terkabul,” bisik Cebol perlahan. “Ada ksatria datang kemari.” Baru kemudian, Gendhuk Tri sadar. Dengan sisa-sisa kegesitannya, Gendhuk Tri menutup mulut Cebol dan menariknya bersembunyi. Gendhuk Tri agak kecewa karena yang muncul adalah prajurit Keraton yang lewat berombongan. “Kenapa kita perlu membawa ke Dahanapura, kalau Putra Mahkota justru berada di Keraton?” “Kita sebagai prajurit,” jawab suara yang lain, “hanya menjalankan perintah. Lebih baik kita tidak membicarakannya, Adimas. Karena rumput dan ranting bisa mempunyai telinga dan menyampaikan kepada orang lain.” “Di tengah hutan begini, di tengah malam begini?” terdengar suara prajurit pertama. “Siapa tahu?” “Ah, jangan penakut. “Saya pun menjalankan perintah, Kakangmas. Hanya yang membuat saya heran, kenapa Putri Ayu Tunggadewi dan Putri Ayu Rajadewi harus dibawa ke Dahanapura? Dari tadi itu saja yang mempengaruhi pikiranku.” “Apa anehnya?” “Kamu pasti juga mendengar kabar bahwa Permaisuri Rajapatni masih bertapa di depan pintu Baginda.” “Sssttt… “Ayolah kita berjalan terus.” Belasan langkah kemudian mereka mengeluarkan suara tertahan, ketakutan karena menemukan puluhan mayat yang bergeletakan tak keruan letaknya. Gendhuk Tri sebenarnya tak peduli. Akan tetapi karena nama kedua putri Permaisuri Rajapatni disebut-sebut, hatinya tergerak juga. Karena Permaisuri Rajapatni adalah Gayatri. Gayatri-nya Upasara Wulung. Berpikir dalam keadaan bagaimanapun, Upasara masih tetap melindungi. Siapa tahu justru dengan menguntit mereka, Gendhuk Tri bisa bertemu dengan Upasara Wulung. Berpikir begitu, Gendhuk Tri segera mengikuti para prajurit. Digandengnya erat-erat pergelangan tangan Cebol Jinalaya untuk dibawanya terbang. Dalam sekejap Gendhuk Tri melupakan semua kerisauan yang tadi melanda. Kekalutan yang begitu mengimpit seolah sirna begitu saja. Dengan riang Gendhuk Tri menyatroni para prajurit untuk mencuri bekalnya. Dihabiskannya bersama Cebol Jinalaya yang tersenyum-senyum. Bagi para prajurit pengawal, beberapa kejadian aneh membuat mereka makin dicekam ketakutan. Setelah bertemu mayat-mayat, bekal makanan tiba-tiba habis. Sehingga tak ayal lagi mempercepat perjalanan. Menjelang fajar, Gendhuk Tri bisa melihat bahwa ada joli kecil yang dijaga dengan saksama. Tak bisa tidak, itulah kedua putri Gayatri. “Ayo kita nakali mereka. Cebol jelek hitam, kamu masuk ke joli itu. Kita tak usah main sembunyi. Bisa enak-enak di dalam joli. Bagaimana? “Kalau itu mempercepat jalan sowan kepada Sri Baginda Raja, aku selalu bersedia.” “Tunggu sampai malam. “Begitu muncul tengah malam, mereka akan kocar-kacir. Itu saat terbaik untuk menyusup masuk.” “Apakah aku menakutkan?” Gendhuk Tri mendadak merasa iba. “Tidak. Tentu saja tidak. “Merekalah prajurit yang penakut. Bukan karena kamu.” Cebol menggelengkan kepalanya. “Bukankah dua putri itu juga akan takut? Bukankah rencana kita akan gagal?” “Pikiranmu tak sependek tubuhmu. “Jangan kuatir, aku ada akal.” “Akalmu banyak sekali. “Makin banyak akal, makin tak cepat kita sampai ke pengabdian di alam sana.” Gendhuk Tri menghela napas berat. “Ini putri turunan Sri Baginda Raja. Melindunginya sama juga mengabdi Sri Baginda secara pribadi. Kenapa kamu begitu bodoh?” Perangkap Kiai Sambartaka SUARA Gendhuk Tri nyaring karena kesalnya. Itu yang membuat para prajurit pembawa tandu berhenti, menoleh ke belakang, dan bersiap. “Jangan main bokong seperti pengecut. Keluarlah!” Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya. Meloncat dari balik pepohonan. “Kalian para prajurit yang tak bisa berbaris dengan baik, berani buka mulut sembarangan. “Cecunguk macam kalian hanya mengotori lantai Keraton.” Gendhuk Tri tak mau membuang waktu. Cekatan ia meloncat, langsung menuju joli yang terjaga. Tiga tombak yang menghalang dilibat dengan selendang dan disentakkan. Kedua kakinya menyambar, dan dengan dua gerakan, prajurit yang menjaga terjungkal. Gendhuk Tri berkerut keningnya. Walau sejak pertama tahu bahwa prajurit pengiring bukan prajurit yang tangguh, akan tetapi tidak seharusnya mereka jatuh-bangun dalam gebrakan pertama. Tangan Gendhuk Tri bergerak kembali. Siku, telapak, kaki, bersamaan menyambar. Setiap gerakan membuahkan hasil. Lawan terpencar, jungkir-balik. “Prajurit gadungan begini masih mau buka mulut bau?” Gendhuk Tri menggerakkan tangan membuka tirai joli. Wajahnya menjadi berubah ketika satu sosok tubuh mengedip ke arahnya. “Adik manis, mari masuk…” Itu Maha Singanada, yang penampilannya mirip Upasara Wulung. Ksatria gagah yang bicaranya lantang. “Kenapa kamu sembunyi seperti anak ayam di situ?” Pertanyaan yang wajar diucapkan Gendhuk Tri mengingat Singanada bukanlah ksatria yang suka menyembunyikan sesuatu. Pertanyaan yang walaupun selintas terdengar kasar akan tetapi menunjukkan rasa hormat. Karena bagi Gendhuk Tri, Singanada adalah satu-satunya lelaki yang dihormatinya, yang menganggapnya sebagai seorang gadis. Gadis yang manis, yang baik. Tidak menilai sebagai anak kecil. Bagi gadis seusia Gendhuk Tri, pertemuan pertama dulu sangat membekas dalam hati. Tak mungkin bisa dilupakan. “Enak di sini. Tinggal duduk. Menunggu Upasara, dan melihatnya bertempur dengan Kiai Sambartaka yang kesohor.” “Tipu muslihat apa lagi ini?” “Sewaktu aku keluyuran, aku melihat Kiai Sambartaka membayar penjahatpenjahat kecil untuk menyamar sebagai prajurit Keraton. Sambil membawa joli yang dikatakan membawa dua putri Permaisuri Rajapatni. ‘ “Dengan harapan agar Upasara muncul dan menolong. “Dan Kiai Sambartaka akan menantangnya.” Cukup jelas kata-kata Singanada. Ringkas dan langsung, apa adanya. “Kenapa kamu ikut-ikutan?” “Aku mau menyaksikan siapa sesungguhnya lelananging jagat ini. Bukankah itu pertarungan yang menarik?” “Di mana kiai Hindia yang busuk itu?” “Untuk apa kita pedulikan? “Pasti di sekitar daerah ini. Ayo masuk saja! Kita tunggu sampai terjadi pertarungan. “Tapi barangkali kurang seru, karena Upasara terkena pukulan Pendeta Sidateka.” Dada Gendhuk Tri tergetar. “Mana mungkin Kakang Upasara bisa dilukai?” “Itulah kabar yang terdengar. Entah siapa yang menyebarkan. Upasara terluka parah oleh pukulan Pendeta Sidateka.” “Kalau benar begitu, sungguh gawat. “Syukur kamu mau menolong.” Maha Singanada menggelengkan kepalanya. “Aku tak ada urusan menolong atau ditolong. Aku hanya ingin menyaksikan pertarungan sejati. Jauh-jauh aku mengembara ke negeri seberang ingin melihat ilmu sejati. “Setelah semua jago tersingkir, tinggal Kiai Sambartaka dan Upasara Wulung. Entah mana yang lebih jago.” Gendhuk Tri berbalik. Singanada meloncat keluar dari joli. “Kamu tidak tertarik, gadis suci?” “Aku lagi tidak ingin ketemu Kakang Upasara.” Singanada menghampiri Gendhuk Tri. Berjalan di sampingnya, tanpa memedulikan para prajurit gadungan yang membenahi joli. “Kenapa bisa begitu?” “Bukan urusanmu.” “Memang bukan. Kalaupun kamu jelaskan, belum tentu aku mengerti. Soal wanita dan lelaki memang serba menggelikan, cabul, dan tak masuk pikiran. “Raja Muda Kala Gemet begitu bernafsu mempersunting Ratu Ayu. Aku juga. Tapi ia memilih Upasara Wulung. Yang justru lebih suka pergi mengembara. Bukankah ini aneh? “Sama anehnya, kamu, gadis suci yang mencintai kakangnya tapi tak mau bertemu dengannya.” “Siapa menyuruhmu ngomong sembarangan?” “Upasara juga aneh,” kata Singanada tanpa memedulikan pertanyaan Gendhuk Tri. “Ia punya kamu, punya Nyai Demang, punya Ratu Ayu, tapi katanya menyayangi Permaisuri Rajapatni. Aku tak mengerti, dan tak akan pernah mau mengerti. “Tugasku telah selesai.” Maha Singanada berhenti. Dadanya membusung. “Apa urusanmu?” “Aku ditugaskan ke tlatah Campa membawa Dyah Ayu Tapasi. Tugas mulia dari Sri Baginda Raja telah kami selesaikan. Apa lagi? “Kini aku bebas mau apa saja, ke mana saja. “Aku anak turunan prajurit Singasari yang telah selesai menjalankan bakti.” “Kenapa tidak kembali ke tanah Campa saja?” “Ada juga rencana itu. “Gadis suci, kamu mau ikut?” Tanpa terasa wajah Gendhuk Tri menjadi merah. Jengah. Menunduk. “Begitukah cara lelaki mengajak perempuan?” “Sudah lama aku tak mengenal tata krama Keraton Jawa. Aku lahir dalam perjalanan, besar di negeri seberang. Aku juga tak peduli ucapan ini cukup sopan atau kurang ajar. “Maafkan kalau lancang. “Tapi aku ingin mengajakmu. “Kepalaku puyeng melihat kejadian-kejadian yang memalukan seperti ini. Dulu, dalam bayanganku, Keraton adalah puncak kesempurnaan. Begitu semua orang tua menceritakan kebesaran Keraton Singasari yang perkasa. Sehingga dalam angananganku tak ada yang lebih membahagiakan dan membanggakan selain Keraton Singasari. “Akan tetapi nyatanya ketika aku kembali, yang ada seorang raja yang bernama Sanggrama Wijaya. Yang ada anaknya, Putra Mahkota Kala Gemet, yang berebutan. Yang ada pembunuhan para senopati utama. Seperti Senopati Sora. “Dan kini Mahapatih Nambi sedang dijebak.” “Dijebak bagaimana?” “Aku tak peduli karena bukan urusanku.” “Oleh Halayudha?” “Mungkin. Apa bedanya? “Di tanah Jawa tak ada lagi jiwa ksatria. Tak ada lagi prajurit sejati. Yang ada cacing-cacing hina yang berebut bangkai nista.” Suaranya mengandung kegeraman yang luar biasa. Gendhuk Tri bisa mengerti. Senopati Maha Singanada adalah senopati dan sekaligus juga prajurit sejati yang lahir dalam tugas. Tugas mulia ketika Baginda Raja Sri Kertanegara meluaskan pengaruhnya. Menjalankan hubungan kerja sama sampai negeri Campa. Singanada dibesarkan dalam dongengan kebesaran Singasari. Akan tetapi ketika kembali justru menjumpai hal-hal yang membuatnya malu. Gendhuk Tri tak bisa menjelaskan dengan singkat bahwa ada perbedaan antara Keraton Singasari dan apa yang ditemui sekarang ini. Apalagi Singanada kini ditarik mengabdi kepada Kala Gemet! “Aku sudah muak dengan bisul-bisul masalah Keraton. Masalah pangkat dan derajat yang palsu. Sebagai ksatria, aku hanya ingin melihat di mana masih kutemukan jiwa ksatria. Kalau di sini tak ada lagi, untuk apa aku berdiam di sini lagi? “Di tanah Campa, atau di mana saja, aku masih bisa berdiri dengan gagah mendongak ke langit. Kalau hanya ingin pangkat, aku bisa menjadi senopati agung di sana. Tapi sejak lama aku menolak. Aku ingin menjadi ksatria.” Gendhuk Tri tersenyum. Tiba-tiba wajahnya seperti seorang kakak yang mengerti kerisauan adiknya, seorang ibu yang memahami kerisauan anaknya. “Setidaknya kamu masih menganggap Kakang Upasara seorang ksatria, bukan?” “Tidak lagi.” Jawaban Singanada membuat mata Gendhuk Tri membelalak. Kembalinya Pukulan Beku “UPASARA WULUNG bukan lagi ksatria. “Ia bermulut kecil, berjiwa kerdil seperti cacing atau yang lainnya. Kesaktian yang dimiliki tidak membuat jiwanya tegar sebagaimana layaknya seorang ksatria. “Ia begitu pengecut, lari ke sana kemari tidak jelas. Hanya karena takut menghadapi kain wanita yang terbuka. “Lelaki macam apa pula itu?” Gendhuk Tri menjadi panas. Kalaupun ia tengah membenci Upasara Wulung setinggi langit setebal bumi, tak nanti orang lain dibiarkan mencaci begitu saja. Akan tetapi Gendhuk Tri menyadari bahwa Singanada mengatakan isi hatinya secara jujur. Sifat dan pembawaannya selalu begitu. Hal lain, bukan tidak mungkin apa yang dikatakan Singanada ada benarnya. “Kalau Kakang Upasara bukan lelaki, kenapa kamu masih ingin menemui?” “Karena aku ingin mengatakan itu padanya. “Mengatakan bahwa ia tidak pantas menjadi prajurit Singasari. Atau prajurit mana pun. “Upasara bukan didikan Ksatria Pingitan. “Aku, Maha Singanada, lebih berhak dari Upasara untuk mengatakan diriku sebagai prajurit Singasari, abdi Sri Baginda Raja!” Kali ini Gendhuk Tri menjadi panas. “Kamu sama berhati cacing. Dengki.” “Tak ada sifat itu padaku.” “Kalau Kakang Upasara bukan ksatria, bukan lelaki, apakah kamu menganggap Kiai Sambartaka yang bersembunyi dan mendengarkan omongan kita sebagai lelananging jagat?” “Aku tidak peduli siapa yang memegang gelar itu. “Aku sekadar ingin tahu saja. Seperti apa yang menyandang gelar ksatria di antara ksatria, pendekarnya pendekar, jagonya seluruh jago. “Kiai Sambartaka busuk atau bau kentut, aku tidak peduli, karena ia bukan prajurit Singasari.” Kata-kata itu mengenai jantung hati Gendhuk Tri. Sungguh bisa dimengerti apa yang dimaksud oleh Singanada. Tapi Gendhuk Tri tak mau menyerah. “Kenapa kamu ajak aku?” “Kamu gadis kecil yang suci. Yang tak seharusnya terseret intrik harta, wanita, atau kepangkatan. Kamu sisa-sisa prajurit Singasari yang masih bisa diselamatkan.” Senyum Gendhuk Tri urung, ketika terdengar suara dingin. “Tak usah jauh-jauh menyelamatkan diri. Di sini aku ingin menamatkan kalian yang telah merusak rencanaku.” Gendhuk Tri menelan ludahnya dengan susah. Maha Singanada tetap berdiri gagah. Di depannya nampak seorang lelaki tinggi jangkung yang merangkap kedua tangannya. Bibirnya tak bergerak ketika berbicara. Kiai Sambartaka! Keringat dingin melembapi Gendhuk Tri. “Bersiaplah, aku tak punya waktu banyak.” Bret, bret. Dua tangan Kiai Sambartaka bergerak perlahan. Hawa dingin bergumpal mengepung dari sisi tangan Kiai Sambartaka berada. Inilah Pukulan Beku yang ampuh, Pukulan Mandeg Mangu, yang serta-merta membuat udara sekitar menjadi beku. Hingga lawan susah bernapas. “Kanyasukla, awas!” Kanyasukla adalah panggilan Maha Singanada yang membuat Gendhuk Tri tergetar hati kegadisannya yang sedang tumbuh. Maka membuatnya bercekat juga karena gembira. Akan tetapi pikiran begitu dengan cepat tersapu. Kiai Sambartaka adalah salah satu tokoh yang datang ke Trowulan untuk perebutan gelar lelananging jagat, yang bukan hanya sakti, tetapi juga licik. Kalau Eyang Sepuh saja bisa diakali, apalagi yang lain! Kalau Eyang Sepuh bisa dibuat terluka, apalagi yang lain! Apalagi dirinya atau Maha Singanada! Gendhuk Tri menarik kakinya satu tindak ke belakang, sementara Maha Singanada menggerung keras. Auman Sembilan Singa! Gebrakan disertai pengaturan napas Nawawidha. Cara mengatur napas yang melipatkan tenaga dalam sembilan kali. Bahwa ini langsung dikeluarkan, menandakan bahwa Singanada merasa lawan yang dihadapi setingkat atau dua tingkat lebih tinggi. Gerakan Singanada juga langsung dengan ilmu andalannya, Siasat Sembilan Bintang. Bergerak ke arah delapan penjuru, dan kantar, tombak pendeknya, sudah seketika mencongkel lawan. Tubuh Kiai Sambartaka seperti bergoyang sedikit, kedua tangannya naikturun. Tanpa mengubah kuda-kuda. Memang luar biasa. Singanada yang berloncatan menutup jalan mundur atau jalan maju atau gerakan ke samping, seperti sia-sia. Karena Kiai Sambartaka tak berniat mundur atau maju atau menyamping. Tetap berdiri di tempatnya semula. Kepalan telapak tangannya tiap kali terlontar, setiap kali pula seperti meninggalkan gumpalan dingin yang mematikan. Yang tak bisa dipakai oleh Singanada. Yang terpaksa menghindar. Karena hidungnya seperti menemui tempat kosong, dingin, beku. Tak ada udara yang bisa ditarik. Tak bisa diisap. Kalau kehabisan napas, seorang tokoh sakti seperti dewa pun akan mudah dikalahkan! Perlahan Singanada mulai tertindih. Gerakannya menjadi keteter. Aumannya yang keras membahana seperti berubah menjadi jeritan singa terluka. Tubuhnya makin terhuyung-huyung. Gendhuk Tri menggenggam tangannya erat-erat. Untuk ikut maju ke medan pertarungan, ia merasa tak bakal menolong lebih banyak. Akan tetapi untuk berdiri saja, jelas juga tidak mungkin. Sret. Gendhuk Tri meloloskan selendangnya. Sehelai. Dan dengan nekat ia meloncat maju, menutupkan selendang ke wajah Kiai Sambartaka. Dengan cara itu, ia berharap kekuatan utama Kiai Sambartaka yang terpancar dari pandangan matanya yang ganjil akan terkurangi. Dan kalau selendangnya bisa direbut lawan, Gendhuk Tri tak akan menderita terlalu dalam. Karena telah dilepaskan dari ikatan tubuhnya. Suatu akal yang jitu. Singanada melihat peluang yang menguntungkan. Dalam hati ia memuji Gendhuk Tri yang pandangannya sangat tajam, mampu melihat kekuatan lawan dan bersiasat untuk mengatasi. Maha Singanada merasakan bahwa udara sekitarnya membeku. Akan tetapi yang lebih melumpuhkan ialah sorot mata Kiai Sambartaka! Yang membuatnya terpaku di sana. Pandangan mata yang membuatnya letih. Singanada bukannya tidak mengendus bahwa ada semacam ilmu hitam, terutama yang berasal dari tlatah Hindia, yang mempergunakan tenaga pancaran mata untuk mempengaruhi lawan. Akan tetapi ternyata ia tak bisa membebaskan. Begitu terserap, rasanya tak bisa lepas lagi. Dan sorot mata itu seolah menyuruh, memerintah untuk mengikuti kemauan lawan. Maka pertolongan Gendhuk Tri dengan kibasan selendang menutupi mata Kiai Sambartaka sangat besar pengaruhnya. Singanada bisa kembali memusatkan kekuatannya. Dan bergerak dengan gesit, beberapa kali kantar-nya menyobek ke arah lambung. Mau tak mau Kiai Sambartaka menggeser kakinya. Dua, tiga tindak surut ke arah kiri. Satu tindak ke arah belakang. Kiai Sambartaka sendiri dalam hati kesal. Karena ulah Gendhuk Tri yang menampar keangkuhannya. Membekuk lawan tanpa menggeser kaki. Baginya untuk memenangi pertarungan ini sangat mudah. Karena kedua lawan jauh di bawah ilmunya. Akan tetapi sungguh menyakitkan kesombongannya kalau untuk itu ia harus bertarung mati-matian. Tapi tak ada jalan lain. Kemurkaan Kiai Sambartaka terlihat dari tubuhnya, yang tadinya kaku kejang, jadi menggeliat. Seperti tarian ular beracun yang siap mematuk. Begitu selendang Gendhuk Tri menutupi lagi, Kiai Sambartaka mengeluarkan teriakan dingin sambil meloncat ke udara. Tubuhnya terbang dan hinggap lagi di tanah, dengan dua pukulan terlontar ke arah Gendhuk Tri dan Singanada. Yang membuat Gendhuk Tri mencelos ialah bahwa selendangnya menjadi beku. Menjadi keras, kering seolah papan kayu yang tak bisa digerakkan! Selendangnya bisa terkena Pukulan Beku. Sehelai kain saja bisa dikuasai ilmu Pukulan Mandeg-Mangu, apalagi tubuh manusia yang terdiri atas darah dan daging! Hal sama juga dirasakan oleh Singanada. Justru dalam keadaan mengangkasa, Singanada melihat bahwa lawan sudah tercecar untuk sementara. Bukan hanya mampu dipaksa mundur dan menyamping, akan tetapi juga berjumpalitan dan berlenggok. Tapi sekejap kemudian, kantar-nya. terasa mematuk urat nadinya. Bagai patukan ular berbisa. Yang membuat tangannya ngilu. Dengarkan Suara Air SATU-SATUNYA jalan menyelamatkan diri hanyalah dengan membuang kantar. Dan membuang tubuhnya ke belakang sambil menarik Gendhuk Tri mundur. Kiai Sambartaka berdiri dengan tenang. “Sebelum kalian bisa mati bahagia karena berdua-dua akan membeku, saya ingin memberi sedikit rasa sakit.” Kedua tangan Kiai Sambartaka bergerak. Sikunya naik ke atas, lengannya rata dengan pundak. Kelima jari di kanan dan kiri menekuk ke bawah. Dari kelima jari terulur lidah ular. Benar-benar ular hidup yang buas mencari patukan. “Tak percuma saya membawa dari tanah kelahiran. Rasakan sedikit keenakan yang belum pernah kalian rasakan. “Giginya kecil. “Taringnya mungil. “Masing-masing dari kalian akan menerima lima gigitan. Cukup untuk dirasakan sebelum meninggalkan dunia ini.” Gendhuk Tri tidak gentar. Justru pada saat mati-hidup itu nyalinya seperti ditantang. Ia tak mau di belakang tubuh Singanada yang melindungi. Ia menggeser maju. “Kalau kepada Eyang Sepuh saja kamu berani berbuat kurang ajar dan menipu, apalagi kepada kami! “Keluarkan semua ilmu busukmu akan aku hadapi!” “Ada dua alasan untuk menyakitimu, anak kecil. “Kalau begitu kamu tiga kali gigitan saja. Biar menderita lebih lama…” Kiai Sambartaka menarik napas. Dari jari-jari tangan kirinya, dua ekor ular kecil menyusup masuk. Ini hebat! Bahkan ular berbisa pun menjadi bagian dari tubuhnya. Seperti binatang buas yang bisa menarik kukunya. Ini memang kelebihan Kiai Sambartaka. Dengan menarik dua ekor ularnya, berarti hanya tiga ekor yang tersisa. Tiga pagutan, akan membuat Gendhuk Tri menderita lebih lama. Sebelum akhirnya mati. “Alasan pertama karena kamu mengungkit kembali Bejujag gila. Yang kedua karena kamu menggagalkan niatanku menjebak Upasara. Barangkali dengan kematianmu, Upasara akan lebih cepat muncul. “Bagus!” Singanada menggeser maju. “Kanyasukla, ini bagianku. Biar aku saja yang melayani.” “Lebih baik kau ke negeri Campa sana. Ini urusanku. Aku tak rela pendeta busuk menyebut-nyebut Eyang Sepuh seenak mulutnya yang, bercabang lidahnya.” “Harusnya wanita seperti kamu ini dihina lebih menjijikkan lagi. Biarlah ularular ini menggerayangi kewanitaanmu sebelum kamu kena pagut.” Sret! Kiai Sambartaka menggeliat, dan kedua tangannya maju meraup ke depan. Kini bukan hanya hawa dingin yang membekukan dan membuat susah bernapas, akan tetapi juga tercium bau amis yang luar biasa. Perut Gendhuk Tri menjadi mual, pandangannya berkunang-kunang. Bahkan Singanada yang tenaga dalamnya lebih kuat terpengaruh dengan hebat. Pemusatan pikirannya menjadi kacau. Terutama juga karena memikirkan keselamatan Gendhuk Tri. Inilah kesalahan utama. Memusatkan pada diri sendiri saja tak akan mampu mengimbangi, apalagi terpecah! Maka gerakan Singanada maupun Gendhuk Tri seperti gerakan ngawur untuk mempertahankan diri. Satu kali tangan Kiai Sambartaka bergerak, kaki Singanada kena sentuhan, dan membeku tak bisa digerakkan. Tubuh Gendhuk Tri juga seperti terkurung. Satu-satunya jalan, tetap saja. Melorot turun, meluncur dengan tenaga punggung. Terpaksa Kiai Sambartaka meloncat menghindar. Dan tangan kirinya tetap terulur ke depan menyambar tubuh Gendhuk Tri yang masih meluncur ke tanah. Saat itu tubuh Gendhuk Tri tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tak bisa melawan. Karena udara sekeliling tubuhnya beku dan membuatnya tak bisa menghindar. Akan tetapi tanpa disadari, ada tenaga lembut mengalir lewat bahunya. Dengan sangat cepat menyebar ke seluruh tubuh. Begitu tangan Kiai Sambartaka mendekat, Gendhuk Tri bisa mengegos dan dengan tekukan tenaga dalam perut, tubuh Gendhuk Tri melayang ke atas. Ringan, enteng, melayang. Bahkan selendangnya yang tersisa bisa berkibar. Singanada mengeluarkan seruan tertahan. Ia tak menyangka sama sekali bahwa Gendhuk Tri masih bisa meloloskan diri dengan cara yang luar biasa. Dalam keadaan yang begitu sulit, masih mampu mengerahkan tenaga perut untuk melayang. Bahkan kalau dilihat dari gerakannya, sangat lemas, lembut, dan terkuasai. Singanada tak menduga sama sekali. Sehingga matanya melihat tanpa berkedip. Kakinya saja kena pengaruh lawan dan sulit digerakkan. Tetapi nyatanya Gendhuk Tri justru bisa membebaskan diri! Sebenarnya Kiai Sambartaka juga tak bisa menyembunyikan rasa herannya. Hanya saja parasnya tak menunjukkan perubahan seperti Singanada. Rasa heran Kiai Sambartaka terutama karena tak menduga bahwa di saat meluncur, tubuh Gendhuk Tri masih mampu bergerak ke arah lain. Masih bisa mengandalkan tenaga perut yang menggelembung dan mengempis, untuk mengempos semangat! Pengerahan tenaga dalam yang, nyaris, sempurna. Kiai Sambartaka menduga bahwa penguasaan seperti itu hanya dimiliki mereka yang puluhan tahun menghabiskan waktu berlatih secara keras. Kalaupun sejak lahir Gendhuk Tri sudah diajari melatih pernapasan, dan itu hampir mustahil, umurnya sekarang masih belum mendukung lamanya latihan. Keheranan Kiai Sambartaka, karena diam-diam muncul kesangsian akan kemampuannya melancarkan Pukulan Beku. Padahal itu satu-satunya ilmu andalan yang dianggap paling sakti di seluruh jagat. Inti ilmunya ialah membuat udara sekitarnya beku bagi lawan. Menjadi dingin, kaku, dan tak bisa diisap. Dengan menciptakan udara beku di sekitar, lawan tak bisa menguasai wilayah itu. Tinggal memojokkan, dan menghabisi. Itu yang terjadi pada permulaan. Hingga ia bisa memaksa Gendhuk Tri meluncur ke bawah. Saat itu udara di sekitar sudah sepenuhnya dikuasai. Luar biasa jika kemudian Gendhuk Tri mampu menerobos. Itu yang tak dimengerti. Sesungguhnya, Gendhuk Tri sendiri tak mengerti sepenuhnya. Kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya begitu tiba-tiba, juga ketika terkumpul di pusar dan dikerahkan. Sampai saat tubuhnya melayang di udara. Ketika itulah telinganya mendengar suara lembut: Dengarkan suara air bukan gemericiknya ikuti gerakan air bukan ombaknya… Kekuatan Gendhuk Tri seperti terpanggil kembali. Ia mengetahui bahwa ada seorang tokoh yang membantunya secara diam-diam. Gendhuk Tri tak tahu pasti apakah itu suara Eyang Sepuh—karena ia tak pernah mendengar sebelumnya, atau tokoh sakti yang lain. Untuk sementara Gendhuk Tri tak mau peduli. Hanya ia merasa tokoh sakti yang membantunya masih berada di sekitarnya. Tubuh Gendhuk Tri melayang ke bawah dengan anggun. “Kiai busuk, tak perlu bengong. “Untuk apa jauh-jauh mencari Kakang Upasara atau secara pengecut melarikan diri dari Trowulan, kalau bertemu dengan aku saja matamu tak berkedip? “Apa kamu kira ilmu Pukulan Ragu bisa menandingi pukulan-pukulan kami yang diciptakan dari keluhuran budi?” Gendhuk Tri memang pintar memainkan lidahnya. Ia mengatakan pukulan andalan Kiai Sambartaka dengan Pukulan “Ragu”, yang artinya kurang-lebih sama dengan Pukulan Mandeg-Mangu. Namun kalau istilah pertama menunjukkan ketidakpastian, arti kata yang kedua menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya. “Dengan modal hanya begini, kamu jauh-jauh mau mengadu. “Apa bisa disejajarkan dengan Tepukan Satu Tangan yang tanpa tandingan? Atau gerakan selendangku? Meskipun kamu gabung dengan Pukulan Pu-Ni yang kamu curi dari Kakek Berune, masih jauh di bawah ilmu Mpu Raganata yang paling biasa.” “Tahu apa kamu tentang Pukulan Pu-Ni?” Air Tak Membedakan KINI giliran Gendhuk Tri yang tertawa keras. “Kasihan. Sungguh kasihan nasibmu. “Jauh sekali kamu datang. Jauh sekali kamu mempersiapkan diri sejak kakek gurumu mempunyai keinginan menghadiri pertemuan di tanah Jawa. “Semua yang kamu harapkan sia-sia. “Bahkan usahamu menyelami tanah Jawa, mencoba mengubah namamu dengan gelaran terhormat Kiai Sambartaka, kiai yang mampu mendatangkan kiamat, ternyata cuma ilmu kulit kacang. Lepas tak berguna karena kena panas. “Kiai ular kecil, dengarkan baik-baik! “Kamu masih ingat aku juga ada di Trowulan? Atau lidah kamu sudah mulai mengenal Trowulan? Brantas? Masih segar dalam ingatanmu? “Aku datang karena aku berhak datang. “Seperti Kakang Upasara Wulung, yang akhirnya menjadi pemenang. Tak peduli siapa yang ikut ke gelanggang, aku atau Kakang Upasara, hasilnya sama. “Kamu tahu, kamu mengalami, bahwa Eyang Sepuh telah menghancurkan, telah mengalahkan. Kalau Eyang Sepuh berkenan. Akan tetapi Eyang Sepuh memberi ampunan. Sehingga kamu seperti cacing menyelam ke dalam sungai, menyembunyikan kepalamu di dasar sungai. “Kami bisa mengangkatmu ke atas. Dan mengencingimu tepat di lubang hidungmu. “Tapi Eyang Sepuh mengampunimu. “Kenapa kamu masih belum puas? Masih merasa pantas untuk adu tanding memperebutkan gelar ksatria yang paling terhormat?” “Kamu tidak menjawab pertanyaan.” “Kamu tidak mau dan tak bisa mendengarkan jawaban.” “Aku menanyakan apa yang kauketahui tentang Pukulan Pu-Ni.” “Sama saja. Kamu menanyakan Pukulan Pu-Ni, atau Tepukan Satu Tangan, atau Weruh Sadurunging Winarah, atau Pukulan Air, atau sepuluh nama lain bisa kusebutkan. “Tingkat sama dan sudah merata. “Salah satu saja dari yang kusebutkan, Pukulan Beku kamu tak banyak berarti. Tak mungkin bisa menandingi. “Kamu sungguh keliru kalau hanya menganggap Tepukan Satu Tangan sebagai satu-satunya pukulan dahsyat. Tanah Jawa terlalu subur untuk pukulan lain. Untuk tumbuhnya akal budi. “Tabiatmu yang busuk tak akan pernah sampai.” Meskipun mengarang, Gendhuk Tri sedikit-banyak mengetahui nama-nama yang disebutkan. Sehingga Kiai Sambartaka sedikit-banyak terpengaruh juga. “Apa pernah kamu dengar Kidung Paminggir?” Gendhuk Tri tertawa. “Kenapa kamu masih saja penasaran dengan nama-nama? Apakah setelah mengetahui Kidung Paminggir kamu berusaha bisa menguasai ilmunya? “Seperti Halayudha yang merasa menjadi sakti hanya dengan mendengar Gita Tirta? “Kamu masih tak akan mengungguli karena dasar jiwamu masih kotor dan rendah.” Gendhuk Tri menarik napas lega. “Caramu melatih pernapasan saja tidak jujur, tidak ikhlas. Kamu terlalu memaksa diri. Tlatah Hindia adalah tlatah leluhur bagi kami. Pada mulanya. “Tapi itu sudah lama berakhir. “Ilmu pernapasan yang kami terima sudah jauh berbeda. Rasakan sendiri bedanya. Pukulan Mandeg-Mangu kamu kuasai dengan sangat baik, tapi tetap kurang sempurna. Karena kamu hanya mengandalkan tenaga keras. Tenaga bumi, tenaga tanah, tenaga yang bisa mementahkan Kitab Bumi. “Bukankah ketika kamu menjatuhkanku dan siap mencengkeramku, kamu tak menduga bahwa aku bisa lolos dengan enak? Menerobos kurungan kebekuan yang kamu ciptakan?” Kiai Sambartaka sampai menggaruk-garuk belakang telinganya. Singanada juga merasakan dadanya panas. Keduanya tidak mengetahui bahwa Gendhuk Tri sengaja meneruskan suara yang berdenging di telinganya. Tentu saja dengan ditambahi bumbu, sesuai dengan keinginannya sendiri. “Karena kebekuan tenagamu hanya bisa mengurung tenaga keras, tenaga yang, tenaga lelaki. Begitu lawan melatih tenaga lain, tenaga wanita, kamu kelabakan. “Semua ilmu kamu tak ada gunanya. “Ini nasihat yang baik. Pelajari lagi baik-baik, dan lima puluh tahun lagi, kalau umurmu panjang atau muridmu ada yang berbakat, kirim lagi kemari. “Nasihat kedua ialah, jangan terlalu lama menahan tenaga di dada sebelah atas. Satu dan lain waktu, kekuatanmu sendiri tak mampu menguasai. Sekarang pun bisa kudengar tarikan napasmu yang mendesing seperti nyamuk kelelahan. “Itu artinya ada yang tidak betul. “Ada yang kamu paksakan. “Rangkaian kekuatan, rangkaian tenaga napas, begitu kena gangguan sedikit saja, menjadi tidak beres. Semua tenaga dalam yang kamu latih puluhan tahun akan hilang atau berbenturan sendiri. “Sudahlah, Sambartaka, pulang saja. “Seekor ularmu telah mati teracuni sendiri. Itulah nasibmu suatu ketika kalau kamu tidak hati-hati.” Kiai Sambartaka mengeluarkan sepuluh ekor ularnya dari jari-jarinya. Benar yang dikatakan Gendhuk Tri. Seekor ularnya tak bergerak, meluncur jatuh ke tanah. Singanada membelalak. Kiai Sambartaka menunduk. “Sebentar lagi aku akan kembali.” Tubuhnya menggeliat dan mendadak hilang dari pandangan. Gendhuk Tri menunduk. Lalu duduk, dengan sikap bersemadi. “Terima kasih sekali, Guru Sakti yang baik hati. “Dengan ini saya, Gendhuk Tri yang rendah, menghaturkan sembah bekti.” Terdengar angin bergerak. Cebol Jinalaya yang muncul mendekat. Maha Singanada menunduk dan memberi sembah kepada Cebol Jinalaya. Tentu saja Cebol Jinalaya yang tidak tahu-menahu apa-apa balik merasa heran. “Rupanya kamu mengenal Raganata, Bejujag….” Suara itu datang dari arah lain. Singanada juga menangkap. “Kenapa bersembunyi segala macam?” “Saya tidak bersembunyi. Sejak tadi saya ada di sini, berbicara denganmu. Sejak tadi saya tahu bahwa kamu mempelajari ilmu selendang yang rasanya pernah saya ciptakan. “Dari mana kamu pelajari itu, Gendhuk Tri?” “Dari Ibu Guru Jagaddhita.” “Saya tak tahu.” “Ibu Guru Jagaddhita mendapat ilmu dari Eyang Raganata.” “Ooooh. “Raganata, lelaki yang baik. Yang memikirkan negara, memikirkan Keraton. Saya membaca sebentar Kitab Negara. Saya, terus terang saja, tak mengerti isinya. “Apa betul ia sudah mendahului?” “Begitulah yang hamba ketahui. “Kalau betul Kakek Guru yang menciptakan…” “Bagaimana mungkin kamu memanggil Kakek? Apa suara saya seperti suara lelaki?” Mimpi pun Gendhuk Tri tak menyangka kalau salah menebak. Ternyata selama ini yang berbisik, yang berbicara padanya adalah wanita. “Bagaimana hamba bisa tahu kalau tak melihat?” Mendadak desiran angin lembut membuat Gendhuk Tri mendongak. Kini di depannya nampak bayangan yang samar, yang kadang kelihatan, kadang lenyap kembali. Bayangan seorang wanita yang alisnya tebal, berwarna putih. Gendhuk Tri menyembah hingga menyentuh tanah. Tubuhnya gemetar. “Kiranya hamba bertemu dengan Putri Pulangsih yang mulia, yang mempunyai ilmu Manjing Ajur Ajer seperti halnya Eyang Sepuh. Ah, apakah hamba telah mati?” “Kamu jenaka dan segar. “Gendhuk Tri, budimu cukup baik. Tak sia-sia Raganata memilihmu untuk meneruskan ilmu saya. Hanya kenapa jadinya begitu dangkal? “Bukankah air tak pernah membeda-bedakan? “Bukankah air menyapa secara sama siapa saja? “Raganata, apakah kamu sengaja meremehkan ilmu saya, agar dunia menjadi maklum saya tetap wanita yang hanya bersatu dalam asmara, hanya gumpalan nafsu belaka?” Pulangsih memang berarti bersatunya daya asmara, alias bertemu badani. Sewaktu diucapkan, Gendhuk Tri masih merasakan getaran hati yang tersayat. Semacam penyesalan yang tak bisa terobati. Air Tak Bersisa Duka SUARA Putri Pulangsih masih menyayat hati Gendhuk Tri. Yang berpikir-pikir, bahwa sekian puluh tahun ternyata ada kenangan yang tak bisa dihapus. “Eyang Mpu Raganata kelewat sakti dan luhur budinya. Dihormati seluruh Keraton Singasari dan para ksatria. Rasa-rasanya tak mungkin beliau berbuat yang tidak-tidak. “Saya yang tak pernah mengerti ajaran itu.” “Lupakan saja, Gendhuk Tri. “Kalau saya mengatakan seseorang buruk perilakunya, tak akan mengubah apa-apa. Tidak bermaksud menggugat atau merendahkan. “Raganata sangat baik. “Baik sekali. “Raganata secara jujur mengakui, bahwa ia tertarik menjadi prajurit. Menjadi abdi dalem, menjadi punggawa Keraton. Dulu ia mengatakan itu pada saya. Karena kesadaran, bahwa satu-satunya cara untuk mengubah dan memperbaiki tanah Jawa ialah melalui Keraton. Sebab Keraton lah yang secara langsung memimpin dan menentukan. “Ia meninggalkan saya dan teman-teman, mengabdi kepada Sri Baginda Raja. “Lucu juga, membayangkan ia menjadi prajurit. “Menjadi empu. Berdiam di Keraton, mengurusi tata negara, mengawasi tata pemerintahan. “Tak bisa dibayangkan. “Tapi itulah kejujuran yang polos. Raganata membuat Kitab Negara, Nagara Parwa, yang tidak saya mengerti. Tapi ia juga masih membuat tulisan lain, kitab kanuragan yang kemudian dikenal dengan nama ilmu silat Weruh Sadurunging Winarah, Tahu Sebelum Terjadi. “Itu menunjukkan bahwa sebenarnya jiwa yang sesungguhnya adalah jiwa ksatria. Jiwa pendekar, jiwa pengelana. Hanya karena melihat bahwa Keraton bisa menyalurkan hasrat perbaikan, ia bergabung ke dalam Keraton. “Diam-diam ia mengajarkan juga ilmu Tirta, ilmu Air, yang saya latih. “Ya, Raganata orang yang jujur dan baik.” “Putri Pulangsih mengenal Mpu Raganata?” Secara samar-samar Gendhuk Tri melihat senyum terkembang. “Seperti kamu mengenal lelaki di dekatmu itu. Atau malah lebih. “Dulu mereka dekat dengan saya. Saling berlomba memilih saya. Raganata, Dodot Bintulu…” “Paman Sepuh…” “Juga Bejujag….” “Eyang Sepuh?” “Nama yang kemudian memang serba terhormat, serba sepuh. Saya sendiri yang masih memakai nama hina. “Tapi apa artinya nama? Ada yang cuma Gendhuk Tri….” “Maaf, tapi siapa sebenarnya Kakek Berune?” “Ah, ia juga lelaki yang baik. “Ksatria yang setia mengabdi pada Keraton. Dikirim ke tanah seberang. Gendhuk Tri, agaknya kamu cukup mengenal mereka semua.” Secara singkat Gendhuk Tri menceritakan perkenalan dengan Mpu Raganata, juga Perguruan Awan yang didirikan Eyang Sepuh, pertarungan di Trowulan, serta yang baru saja didengar mengenai Kakek Berune. “Ia masih tergila-gila pada saya? “Aha. Semua masih tergila-gila. Hanya semua lelaki memang lahir bersama keangkuhan.” Dalam hati, Gendhuk Tri merasa geli juga. Dalam pandangannya, Putri Pulangsih sudah nenek-nenek dan reyot. Akan tetapi penampilan dan gayanya masih seperti gadis muda. . Seakan ada perkembangan rasa yang terhenti di saat remaja. “Saya bintang, saya bunga pujaan. “Dan karena saya tak ingin menyakiti hati salah satu, saya menghindari semuanya. Dan semua menyalahkan saya. Menuduh yang bukan-bukan, bahkan sepakat memberi nama yang hina. “Sedih? “Saya tak pernah punya duka yang tersisa. “Saya tahu apa yang harus saya jalani. Menjaga putra-putri Singasari yang hebat. Kalau satu saya pilih, yang lainnya akan bermusuhan. Saya harus menjaga keutuhan ini. “Saya juga membuktikan bahwa ilmu silat saya tak bisa diremehkan. Bertahuntahun saya menuliskan Tirta Parwa atau Kitab Air, seperti Dodot Bintulu menuliskan Bantala Parwa, dan Raganata menuliskan Nagara Parwa. “Kami saling membaca tulisan, dan saling mempelajari dan memecahkan. “Bejujag melengkapi Bantala Parwa dengan Tumbal Bantala Parwa yang memang luar biasa. Saya melengkapi dengan Gita Parwa, yang saya rasa merupakan ilmu penutup dari semua ilmu silat yang ada. “Kalau Bejujag meneruskan inti segala inti bumi, saya memakai inti tenaga air. “Seperti sudah kamu ketahui, kami akan menjajal semua kemampuan yang ada saat bertemu di Trowulan, persisnya di tepi Kali Brantas. “Saat itu, atas jasa Raganata, Sri Baginda Raja telah menitahkan bahwa Bantala Parwa merupakan kitab resmi mengenai ilmu kanuragan. “Namun Bejujag itu memang paling sembrono dalam hidupnya. “Mungkin sekali, itu sebabnya saya merasa paling dekat dengannya. “Justru pada saat ia dianggap sebagai pencipta ilmu silat yang tiada taranya, yang diakui Sri Baginda Raja, yang bisa malang-melintang dengan gagah perkasa, ia menyelesaikan kidungan yang aneh, Kidung Paminggir, yang membuat Sri Baginda Raja murka. “Itulah Bejujag. “Saya mengakui sikapnya yang selalu angin-anginan. Selalu sembrono, nakal, dan tak memedulikan. Tumbal Bantala Parwa dikatakan tercipta karena berani menolak daya asmara dari saya. Padahal saya tak pernah memilih dia. “Siapa bisa tahan hidup bersama angin? “Siapa yang mau mengerti bahwa Kidung Paminggir menuliskan di suatu saat kelak akan muncul seorang paminggir, seorang yang tidak dikenal asal-usulnya, yang akan menjadi panutan, lebih dari raja sendiri. “Gendhuk Tri, apakah ada orang yang lebih gila dari dia ini?” Gendhuk Tri tak bisa menjawab pasti. Bisanya cuma menggeleng. “Sri Baginda Raja, penguasa tertinggi yang dipuja seluruh rakyat. Semua yang menjadi keinginan rakyat dipenuhi. Tontonan setiap saat bisa diadakan. Bagi mereka yang gemar susastra, semua kitab yang ada di seluruh jagat ini ditulis ulang. Diberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mempelajari. Semua tanah di jagat ini didatangi, diberi anugerah, dipayungi dengan kebesarannya. “Apa pun yang menjadi keperluan para ksatria, dipenuhi. “Termasuk Bejujag yang mendirikan Perguruan Awan. Akan tetapi justru di saat itu ia meramalkan akan ada ksatria sejati yang melebihi rajanya! “Gila, benar-benar gila! “Kenapa ia tulis kidung seperti itu?” Lama tak ada sahutan. Singanada yang sejak tadi berdiam diri, menghaturkan sembah. “Kalau benar Baginda Raja adalah penguasa yang bijak dan adil, yang tiada tandingan, kenapa Baginda harus murka kepada Eyang Sepuh?” “Siapa kamu, anak muda?” “Hamba prajurit yang juga dikirim ke tanah seberang.” “Kamu tak tahu, bahwa Baginda murka karena tahu apa yang dikatakan Bejujag bisa benar-benar terjadi! “Itulah hebatnya Bejujag.” Kali ini sunyi berlalu lama sekali. “Paling tidak, Baginda percaya itu akan terjadi. Dan sebelum menggegerkan Keraton, Baginda melarang Bejujag meneruskan ajarannya. Itu yang membuat kacau, sehingga kami tak bisa saling bertemu atau bertukar pikiran. “Karena masing-masing lebih sibuk dengan ilmunya sendiri. Karena untuk memperdalam dan menunggu saat pertarungan yang sesungguhnya diperlukan latihan sepanjang hidup. “Saya berani keluar, akan tetapi rasanya terlambat. “Pertemuan telah berakhir. “Lima puluh tahun lagi, saya akan datang kembali. Untuk menguji, siapa yang lebih murni. Apakah yang berintikan bumi atau air.” “Kenapa tidak menemui Kiai Sambartaka atau Kakang Upasara saja?” “Untuk apa? “Kami, para ksatria, harus memegang teguh janji. Kami hanya akan mengadu ilmu sejati pada saat dan tempat yang telah ditentukan bersama. “Betapa sia-sia dan membuang waktu untuk mengurusi yang kecil dan sepele. “Masih lebih baik mempelajari ilmu, yang tak ada habisnya untuk dipelajari. “Hari ini saya bicara terlalu banyak. “Gendhuk Tri, bebaskan temanmu itu. Lima puluh tahun lagi kita akan saling bertemu kembali.” Pewaris Kitab Air GENDHUK TRI berteriak kuat, akan tetapi bayangan samar di depannya menghilang. Singanada menghela napas. Kakinya masih tak bisa digerakkan. Kalaupun bisa, juga tak bisa mengejar. Cebol Jinalaya bingung memandangi Gendhuk Tri yang berteriak. Sejak tadi ia melihat Gendhuk Tri berbicara sendirian, karena ia tak bisa melihat bayangan Putri Pulangsih. Makanya ia menjadi heran ketika Gendhuk Tri berteriak kuat. Apalagi setelah itu, Gendhuk Tri dan Singanada duduk, menyembah dengan hormat. “Banyak yang ganjil di dunia ini. Tetapi yang namanya tokoh-tokoh terhormat lebih ganjil lagi. “Aku tak mengerti kenapa Eyang Putri masih menunggu lima puluh tahun lagi, dan sekarang ini ingin memperdalam ilmunya. Rasa-rasanya aku pun belum tentu masih hidup lima puluh tahun lagi. “Sungguh tak bisa dimengerti.” Maha Singanada berdiam diri. Perlahan anyaman di benak kepalanya membentuk gambaran kebesaran Keraton Singasari. Baginda Raja Sri Kertanegara tetap raja yang paling dahsyat di seluruh jagat. Pada saat memerintah, semua kitab yang ada di seluruh jagat ini diubah dan dibuat salinannya. Dan itu bukan hanya kitab kanuragan, tetapi juga kitab-kitab susastra yang adiluhung. Itu yang menyebabkan kedua orangtuanya berangkat ke tanah Campa. Tempat ia dilahirkan, dibesarkan dengan dongengan dan kenyataan. Itu yang menalikan sebagai kekuatan raksasa. Mpu Raganata dengan gemilang menjadi penghubung, termasuk mengirimkan salinan Kitab Bumi yang dipelajari hingga sekarang. Sungguh mengagumkan. Baru saja disaksikan sendiri salah satu kesaktian yang tiada taranya. Ilmu Manjing Ajur Ajer yang dipelajari, ternyata bisa mencapai puncaknya dengan menghilangkan diri. Menjadi moksa. Menjadi cat katon cat ilang, antara kelihatan dan hilang. Ini pula yang berbunyi di hati Gendhuk Tri. Seumur hidupnya, ia menyaksikan sendiri dua tokoh sakti memperlihatkan ilmu itu. Yang pertama ialah Eyang Sepuh. Dan kini Putri Pulangsih. Yang sudah mencapai tingkat kasampurnan, sempurna. Sehingga tidak penting lagi, perlu ada secara nyata atau tidak. Ada rasa berbunga-bunga pada Gendhuk Tri. Ternyata, dirinya masih cucu murid kesekian pencipta Tirta Parwa, yang selama ini namanya saja tak diketahui. “Bagus, bagus sekali ilmu kamu.” “Ilmunya yang hebat, aku sendiri masih luar biasa gobloknya.” “Baru bisa mencapai tingkat itu,” kata Maha Singanada. “Apa susahnya mempelajari?” “Mana mungkin? “Aku tak pernah mengetahui.” “Bukankah Nyai Demang bisa tahu dari Kakek Berune? Bukankah Halayudha menyimpan salinannya?” “Gila! “Benar apa yang kamu katakan. Aku akan merebut kembali.” “Berangkatlah segera.” “Kamu sendiri bagaimana?” Maha Singanada menggelengkan kepalanya. “Jangan urusi diriku. “Perhatianmu sudah cukup melegakanku.” Wajah Gendhuk Tri merah padam. Ia berpaling ke arah lain. “Aku cuma kasihan melihatmu tak bisa bergerak. Jangan berpikir yang macam-macam.” “Kakiku kaku. “Tapi biar saja.” “Tadi dikatakan aku bisa menolongmu. Tapi mana bisa?” Gendhuk Tri bersemadi. Duduk bersanding. Menarik udara keras-keras, menahan di dada. Memusatkan perhatian kalau-kalau mendengar bisikan petunjuk. Lama sekali Gendhuk Tri menunggu. Sampai perasaannya sendiri hanyut terbawa alunan irama angin. Tanpa terasa tangannya bergerak, memegang kaki Singanada. Dirasakannya satu getaran dingin yang menggumpal. Dengan mengikuti tenaga gumpalan, Gendhuk Tri berusaha menyalurkan tenaganya. Perlahan. Yang terbayang hanyalah air. Bukan selendang warna-warni. Bukan wajah Jagaddhita. Bukan Mpu Raganata. Melainkan air. Gemercik air, tapi bukan bunyinya. Air. Air mengalir. Tapi bukan geraknya. Air yang menggenang. Air yang mengubang. Air. Air. Air. Singanada juga memusatkan perhatian. Kalau tadi tenaga dalamnya berusaha membebaskan kakinya yang kaku dan selalu terhalang, kini diikutinya saja pelukan tenaga dari telapak tangan Gendhuk Tri yang terasa hangat. Mengurung bagian yang ngilu tak bisa digerakkan. Cebol Jinalaya menyaksikan semua kejadian dengan diam. Tenang dan menunggu. Ia tak mengerti bahwa pada saat itu Gendhuk Tri dan Maha Singanada sedang memusatkan seluruh kemampuan tenaga dalam mereka. Sedang mencairkan kebekuan! Bagi Gendhuk Tri maupun Singanada, menerima dan menyalurkan tenaga dalam merupakan latihan sehari-hari. Sehingga meskipun baru sekarang ini bersentuhan, bisa langsung mengatur diri. Hal semacam ini lumrah dalam dunia persilatan. Gendhuk Tri bahkan mengalami yang lebih dari ini. Tenaga dalam Upasara Wulung dimasukkan secara paksa ke dalam tubuhnya untuk membongkar racun ganas dalam tubuhnya. Maka baginya tak terlalu sulit menyalurkan tenaga dalamnya. Begitu juga Singanada. Tak terlalu sulit menerima saluran tenaga dalam dan digabungkan dengan tenaga dalamnya sendiri. Yang sedikit mengganjal ialah bahwa tenaga dalam dari tangan Gendhuk Tri seperti merembes. Perlahan, lunak, mengalir. Tak bisa dipaksa dan dibantu dengan tenaga dalamnya sendiri. Kadang terasa sangat penuh di kakinya, terkadang justru lenyap kembali. Sampai sepenanak nasi Gendhuk Tri menjajal, hingga seluruh tubuhnya bermandikan keringat dingin. “Aku tak tahan lagi,” kata Gendhuk Tri sambil menarik kembali tangannya. Maha Singanada memandang dengan sorot mata penuh rasa terima kasih. “Kiai Sambartaka memang hebat. Tapi kamu lebih hebat lagi.” “Tidak, aku sendiri tak mengerti sepenuhnya. Aku hanya menjajalnya. “Bagaimana, masih tak bisa digerakkan?” Singanada menarik kakinya. Masih kaku sedikit, akan tetapi mulai bisa bergerak. Juga jari-jari kakinya bisa digerakkan. “Kamu pewaris tunggal Ilmu Air. “Pasti bisa.” “Harusnya begitu. Tapi selama ini aku tak pernah mempelajari secara langsung. Aku hanya mengikuti petunjuk guruku.” “Jangan tersinggung kalau kukatakan kamu pada dasarnya bodoh. Kalau guru yang sebenarnya bisa mencapai tingkat seperti yang kita lihat, seharusnya kamu bisa mengungguli. “Sudah jelas dikatakan intinya adalah air. Tenaga air. Maka kamu tinggal melatih lagi, menjajal lagi.” Gendhuk Tri berdiri seketika. “Enak saja. Kamu mau memperbudak aku untuk mengobatimu?” “Tidak apa. “Kamu bisa menjajal pada tubuhmu.” Suara Singanada polos. Pandangan matanya juga polos. Tanpa prasangka apa- apa. Memang itulah Maha Singanada yang diketahui Gendhuk Tri. Berbicara secara terus terang. Apa yang ada di benaknya keluar tanpa disaring dengan basa-basi. “Ayo kita jajal lagi.” “Jajal saja sendiri.” “Tak bisa, tak bisa. “Dengan mengatur napas Nawawidha, justru kebekuan dan rasa sakit jadi berlipat sembilan. Barangkali ini yang membuat lebih sakti. Tapi usahamu malah menjadikan lebih baik. “Itu, barangkali saja, sifat air. “Dan wanita cocok dengan sifat itu. “Aku ingin kamu menguasai lebih banyak dan lebih sadar, sehingga bisa merebut kitab salinan dari tangan Halayudha.” Gendhuk Tri tak menjawab. Cebol Jinalaya mengangguk. “Kalau saya bisa melakukan, akan saya lakukan. Apa yang harus saya lakukan sekarang ini?” Pasangan Bumi dengan Air APA yang dikatakan si cebol hitam sangat tepat. Dengan menanyakan “Apa yang harus saya lakukan sekarang ini?”, Cebol Jinalaya masuk ke tengah persoalan. Bahwa ia bisa berbuat sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini. Gendhuk Tri bukannya tidak mengetahui bagaimana mengatur pernapasan atau menyalurkan tenaga dalam untuk membantu Maha Singanada. Walau secara teori tidak sempurna, akan tetapi sejak masih kecil Gendhuk Tri sudah berlatih secara langsung. Ditambah pengalamannya yang luar biasa dalam berbagai medan pertempuran, dengan sendirinya penguasaan akan ilmunya boleh dikatakan sangat mudah digerakkan semau hatinya. Yang tak mungkin dilakukan saat itu ialah membantu Singanada dengan memegangi kakinya! Karena Gendhuk Tri yang sekarang bukanlah Gendhuk Tri yang dulu. Sekarang ia adalah gadis remaja yang sedang tumbuh. Yang secara alamiah merasakan getaran aneh yang membuat wajahnya merah padam, daun telinganya terasa panas. Apalagi menghadapi Singanada. Singanada adalah satu-satunya lelaki yang pernah menyadarkan Gendhuk Tri akan usianya yang berkembang. Selama ini Gendhuk Tri selalu mendapat perlakuan seperti anak kecil. Karena dikelilingi oleh orang-orang yang lebih tua, yang mengenalnya sejak masih ingusan. Terutama tokoh-tokoh dari Perguruan Awan. Termasuk di dalamnya Upasara Wulung maupun Nyai Demang. Dalam anggapan mereka, Gendhuk Tri merasa perlu diperlakukan sebagai anak kecil. Sebagai gendhuk. Padahal bibit-bibit kedewasaan mulai tumbuh. Perasaan kewanitaan berkembang sesuai dengan usianya. Gendhuk Tri yang sekarang adalah seorang gadis remaja! Geletar yang paling bisa disadari sendiri ialah ketika rasa cemburunya yang membesar saat melihat Upasara bergandengan tangan dengan Nyai Demang. Untuk pertama kalinya, Gendhuk Tri merasa sangat gusar. Kecemburuan yang mirip persaingan. Perubahan yang secara agak terlambat disadari oleh Gendhuk Tri. Akan tetapi tumbuhnya kepekaan ini tak bisa ditolak. Maka sekarang ini, kalau ia menolak membantu Singanada, terutama sekali karena tebalnya rasa rikuh, sungkan, malu. Singanada adalah perjaka, dan dirinya adalah perawan. Mana mungkin pegang-pegang kaki segala macam? Hanya saja, jelas Gendhuk Tri tak mungkin bisa menerangkan perasaan hatinya. Celakanya, Maha Singanada juga tak bisa menangkap gelagat. Bahwa ia menganggap Gendhuk Tri bukan sebagai anak-anak, itu sudah dilakukan sejak pertama kali bertemu. Akan tetapi jiwa Singanada kosong dalam menghadapi soal hubungan lelaki-perempuan. Ia dibesarkan di rantau, digembleng dalam suasana persilatan. Sehingga mengenai hubungan semacam ini kurang diketahui dengan baik. Kalau ia mengusulkan dan mengajak berlatih bersama, semata-mata berdasarkan pertimbangan ilmu silat. Tidak lebih. Baru ketika Cebol Jinalaya mengajukan diri, dan Gendhuk Tri melengos ke arah lain, Singanada menyadari. Dalam hatinya timbul rasa senang dan sekaligus penyesalan. Senang karena merasakan getaran yang sama aneh tapi menggugah perasaan yang tak pernah dialami. Penyesalan karena menduga bahwa Gendhuk Tri belum tentu bersedia membantunya. “Baik, cebol yang baik. “Letakkan tanganmu pada kaki Singanada. Aku akan mencoba menjajal seperti tadi.” Cebol Jinalaya mengangguk. Kedua tangannya bergerak. Akan tetapi Singanada menggeser, meskipun kelihatan masih kaku. “Apa maumu?” teriak Gendhuk Tri kaget. Singanada menarik udara dari hidungnya. “Kalau kamu merasa segan, tak usah dipaksakan. Aku tak bisa menerima perlakuan semacam itu.” “Kamu ingin aku melakukan sendiri?” Singanada memandang tajam. “Ya.” “Huh!” “Bagiku tak ada gunanya kalau kamu sendiri tak rela. Kalau kamu tak suka menolongku, buat apa melalui perantara?” Cebol Jinalaya berdiri bengong. “Sejak dilahirkan, saya memang tak ada gunanya.” “Tunggu!” teriak Gendhuk Tri. “Bukan salahmu, cebol yang baik. Ksatria Campa ini mau memaksakan kehendaknya agar aku mau mengurut kakinya. “Dan itu tak akan terjadi.” “Kalau tidak suka, tak perlu dipaksa. Aku sudah bilang tadi.” “Jangan cerewet. Sudah kukatakan aku mau menolongmu.” “Kenapa tidak kamu lakukan sendiri?” “Aku… aku… aku…” Singanada menggeleng. “Kalau kamu sudah mempunyai Upasara Wulung, ya sudah. Jangan berpikir yang macam-macam. Aku juga tidak memaksa kamu mau denganku. “Aku tak memaksa berhubungan denganku….” Gendhuk Tri menggigil. Ia tak tahu harus berbuat apa. Kalimat Singanada sangat terus terang, terbuka, dan langsung mengenai hatinya. “Singanada, apakah kamu menyukai aku?” “Ya.” “Lalu apa maumu?” “Kalau kamu juga mau denganku, kita jalan bersama. Kita rebut kembali Kitab Air. Karena kamu pewarisnya yang sah.” Wajah Gendhuk Tri merah terbakar. “Kalau kamu sudah janji sama Upasara Wulung, ya sudah.” “Ngawur. “Siapa janji sama dia?” “Atau lelaki lain?” “Ngawur.” “Atau tak suka padaku?” “Ngawur…” Gendhuk Tri gelagapan sendiri. Dengan menjawab ngawur pada pertanyaan terakhir, berarti ia suka kepada Singanada. Itu yang menyebabkan Singanada bergelak keras sekali. Suaranya mengguntur. “Hebat, hebat sekali tanah Jawa ini. “Orangnya serba berbelok, serba berputar. Suka, tapi emoh bilang suka. Tapi aku suka cara begini ini. Ada malu-malu, sungkan, antara iya dan tidak… “Ha… ha… ha… “Sungguh menarik hidup begini ini. “Kanyasukla, di sini hanya ada kamu dan aku. Dan disaksikan cebol yang baik ini, kenapa kamu masih malu-malu? “Ayolah kita pelajari bersama.” Sesungguhnya, Gendhuk Tri masih bimbang. Dalam hatinya yang paling dalam ia tak mengetahui bagaimana harus menghadapi Singanada. Ia tak tahu persis jawabannya: apakah ia menyukai Singanada atau tidak. Yang jelas, ia tak membenci. Tidak menimbulkan rasa muak, seperti misalnya melihat Kala Gemet, walaupun ia putra mahkota! Yang selama ini yang menjadi idamannya adalah Upasara Wulung. Segalanya yang sempurna dalam angannya tercipta dalam diri Upasara Wulung. Hanya kemudian perasaan itu bergeser karena Upasara Wulung cuma mempunyai satu daya asmara—kepada Gayatri. Perasaan itu lebih bergeser lagi dan mengubah pendiriannya, sewaktu Upasara akhirnya menikah dengan Ratu Ayu Bawah Langit, dan kemudian sekali dilihatnya bergandengan tangan dengan Nyai Demang. Sejak itu berturut-turut kekaguman yang utuh mulai rontok. Pada saat yang tepat, muncul lah Singanada. Ksatria gagah yang mirip Upasara Wulung. “Kalau kamu menguasai Kitab Air, dan aku menguasai Kitab Bumi, rasanya yang namanya Halayudha atau siapa saja bukan sesuatu yang menyulitkan kita di belakang hari. “Cebol yang baik, hari ini kamu menjadi saksi bersatunya bumi dengan air.” Singanada duduk memusatkan pikiran. Gendhuk Tri memegang tangan Cebol Jinalaya yang segera menggenggam kaki Singanada. Perlahan gelombang tenaga dalam Gendhuk Tri merembes masuk ke kaki. Mengurung rasa dingin yang membeku, mencairkan dan menggiring, mendorong ke segala nadi. Hasilnya memang luar biasa. Dalam waktu sekejap, rasa sakit dan kaku itu lenyap. Bahkan Gendhuk Tri sendiri tak menyangka akan sehebat itu hasilnya. Kalau sebelumnya ia mencoba sampai kehabisan tenaga, kali ini bisa langsung masuk terserap. Apakah ini perpaduan antara tanah dan air? Kembali ke Kemelut Keraton KALAU Gendhuk Tri merasa keheranan, Singanada justru sebaliknya. Ia merasakan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya dan yang dimiliki Gendhuk Tri merupakan pasangan yang saling membantu dan berlipat ganda. Jalan pikiran Singanada sangat tepat. Walau tak bisa menerjemahkan secara tepat. Singanada hanya merasakan bahwa dasar ilmu pernapasan dan ilmu silat yang dimiliki berasal dari Kitab Bumi. Dengan segala perubahan dan kembangan yang ada. Pada puncak perkembangan itu adalah kemampuan untuk melipatkan tenaga dalam sampai sembilan kali. Inti tenaga keras yang dimiliki, ternyata bisa ditandingi dengan tenaga keras yang lain. Yang bisa lebih memusnahkan. Bahwa dalam hal begini lebih ditentukan siapa yang menguasai tenaga dalam lebih kuat, Singanada bisa mengerti sepenuhnya. Akan tetapi yang membuatnya takjub ialah ketika Putri Pulangsih mengatakan mengenai Kitab Air. Dengan cepat pengertian itu membersit dan masuk ke dalam kepala serta hati Singanada. Jauh lebih cepat membuka mata batin Singanada dibandingkan dengan Gendhuk Tri. Sesungguhnya ini hanya perbedaan sikap dasar ketika sama-sama mempelajari ilmu silat. Bagi Gendhuk Tri, ia mempelajari ilmu silat secara langsung. Lewat guru yang langsung melatih. Tanpa banyak penjelasan. Hasilnya memang lebih cepat, lebih tangkas, karena tak direpotkan dengan berbagai teori. Sebaliknya, bagi Maha Singanada, ia dibesarkan dalam ajaran yang disampaikan lewat kidungan. Kedua orangtuanya, paman-paman, serta para senopati yang berada di tanah seberang, harus mempelajari lebih dulu kitab-kitab yang dikirimkan. Sebagai perkembangan yang kemudian lebih didasarkan atas pengalaman batinnya sendiri ketika berlatih. Cara pendekatan semacam ini lebih melelahkan dan lebih menyita waktu banyak. Akan tetapi keuntungan yang utama ialah mata batinnya siap terbuka. Bahkan segala sesuatu yang baru, bisa dengan cepat ditangkap. Maka sewaktu bayangan Putri Pulangsih menceritakan sekilas mengenai kidungan Tirta Parwa, Singanada bisa menangkap intinya. Bahkan Singanada yang lebih dulu menyadari Kitab Air adalah kitab utama ilmu silat Gendhuk Tri. Bahwa perpaduan tenaga bumi dengan tenaga air bisa hebat luar biasa. Kalau Singanada mengetahui asal-usul penciptaan kidungan, penciptaan Kitab Bumi maupun Kitab Air, ataupun Pukulan Pu-Ni dan atau yang dikembangkan Mpu Raganata, ia bisa menangkap dan mengungkap lebih banyak lagi. Dan itu juga akan dikatakan secara terus terang kepada Gendhuk Tri. Yang bisa saja malah mengurungkan diri! Karena, sebenarnya masih ada titik keraguan untuk menerima Maha Singanada secara total. Yang tidak diketahui baik oleh Gendhuk Tri maupun Maha Singanada adalah bahwa Kitab Air diciptakan oleh Putri Pulangsih pada saat-saat setelah Kitab Bumi disempurnakan oleh Eyang Sepuh. Dan niatan untuk menciptakan Kitab Air, terutama juga didorong karena keinginan menciptakan maha karya yang bisa dipakai sebagai babon ilmu kanuragan. Akan tetapi di balik kisah ilmu silat yang sakti, terjalin juga hubungan asmara yang sulit diterangkan bagi mereka yang tidak mengalami secara langsung. Karena saat itu Putri Pulangsih merupakan pilihan utama para ksatria. Dan Putri Pulangsih merasa bisa lebih dekat dengan Eyang Sepuh. Bisa dimengerti kalau ada suasana yang padu. Setidaknya kalau dibandingkan perpaduan Kitab Air dengan sumber penciptaan yang lain. Itu sebabnya dalam sekejap rasa sakit di kaki Singanada lenyap seketika. Keampuhan perpaduan tenaga dalam Gendhuk Tri dengan Maha Singanada yang terpantul dari perpaduan perasaan, menyebabkan timbulnya tenaga yang hebat. Singanada bisa langsung merasakan, karena inti penguasaan ilmunya adalah kelipatan sembilan kali. Kini yang dirasakan bukan hanya sembilan kali, akan tetapi secara menyeluruh. “Kita berhasil.” Singanada melompat tinggi. Kakinya bisa digerakkan dengan leluasa. Cebol Jinalaya pun berseri-seri. Gendhuk Tri membenahi selendangnya. “Ayo kita kembali ke Keraton. Kita cari Halayudha….” Gendhuk Tri mengangguk. “Bagaimana kalau saya ikut ke Keraton?” Suara Cebol Jinalaya terdengar asing di telinga Gendhuk Tri. “Kenapa, kamu mau cari mati di sana?” “Entahlah, saya tak tahu. “Tadinya saya hanya ingin segera mati. Agar bisa bersatu dengan Baginda Raja. Lagi pula hidup saya tak ada gunanya. Akan tetapi setelah ikutan memegang kaki dan kamu pegangi, ada perasaan segar.” Gendhuk Tri membelalak. “Apa betul begitu?” “Ya, segar.” “Kamu tak mau mencari mati lagi?” “Entahlah, saya tak mengerti.” “Itu baik, baik sekali,” kata Singanada. “Kamu terkena sawan tenaga dalam kami berdua.” Sawan, atau berkah atau tuah atau faedah tak langsung, yang dikatakan Singanada bisa dirasakan pula oleh Gendhuk Tri. Kalau bukan Cebol yang mengatakan, Gendhuk Tri akan curiga. Akan tetapi, ia sendiri mengalami bersama-sama Cebol yang setiap saat ingin mati. Yang sebelum menyentuh kaki Singanada masih merasa dirinya tak pernah ada gunanya. Yang membuat Gendhuk Tri sedikit bertanya-tanya dalam hati ialah kenapa pengaruhnya bisa begitu cepat. Akan tetapi pertanyaan itu disimpannya dalam hati. Ia merasa bersyukur bahwa Cebol mau ikut. Sekurangnya akan membuat dirinya tidak menjadi sangat kikuk kalau harus berduaan saja dengan Singanada. Dalam perjalanan kembali ke Keraton, mereka berdua sempat berlatih dua kali. Cebol ikut mendengarkan dan mencatat kidungan yang ditembangkan baik oleh Gendhuk Tri maupun oleh Maha Singanada. Singanada sendiri tak segan-segan menggendong ke pundaknya saat mereka melakukan perjalanan. “Tunggu, rasanya ada apa-apa di dalam Keraton,” kata Gendhuk Tri berbisik. “Kenapa?” “Sejak di perbatasan tadi para prajurit disiagakan secara penuh.” “Lalu kenapa?” “Jangan-jangan ada huru-hara….” “Kalaupun ada, apa bedanya? “Kita datang untuk merebut Kitab Air, bukan urusan Keraton.” “Mana mungkin kita bisa bergerak leluasa, kalau urusan seperti ini?” “Kanyasukla, aku tahu kamu dibesarkan di Keraton. Aku di bawah panji-panji kebesaran Keraton. “Tetapi aku sekarang tak peduli lagi. Aku tak menemukan kebesaran Keraton di mana aku harus mengabdi diri. Putra Mahkota yang masih kecil sudah segenit itu, dan aku tak mau jadi korban pemuasan nafsunya. “Ayolah kita selesaikan urusan kamu, dan kita bisa keliling jagat.” Gendhuk Tri merasakan kekecewaan dalam nada suara Singanada. “Mengabdi kepada Keraton adalah tugas mulia. Tanpa harus memedulikan siapa yang duduk di takhta. “Itu sudah keputusan para Dewa. “Tidak sebaiknya kita mengungkit soal itu.” “Baik, baik, kalau begitu maumu. “Tapi aku tetap mau merebut Kitab Air milikmu. Sebab kita sama-sama. Kalau itu kitab warisan buatmu, berarti juga buatku.” Hati Gendhuk Tri berdenging. Sama sekali tak disangkanya bahwa perhatian Singanada begitu mendalam padanya. Singanada sudah menganggap Gendhuk Tri adalah bagian dari hidupnya. Diam-diam ada rasa takut dalam hati Gendhuk Tri. Hanya saja ia tak tahu takut soal apa dan bagaimana. Karena Gendhuk Tri kadang masih membayangkan di mana sekarang ini Upasara berada. Apa yang terjadi dengannya? Perasaan itu masih muncul. Walau ditenggelamkan kembali. Ia tak ingin Maha Singanada mengetahui bersitan pikiran semacam itu. Tak tahu kenapa, tapi Gendhuk Tri merasa lebih baik menyembunyikannya. Senopati Sidateka BUKAN hanya Gendhuk Tri yang keheranan melihat suasana keraton yang nampak tintrim, tenang tapi menakutkan. Perasaan yang sama dialami ketika Halayudha kembali ke Keraton. Sambil membawa Nyai Demang yang masih menggendong Eyang Berune. Hanya saja penciuman Halayudha lebih peka. Begitu melihat bahwa di perjalanan tak banyak masyarakat lalu-lalang, pun di siang hari, Halayudha merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Apalagi melihat kenyataan bahwa para prajurit disiagakan penuh. Segera ia menghindar. Tidak langsung menuju ke dalam Keraton. Melainkan menyelundup masuk ke bagian belakang. Menyembunyikan Nyai Demang dalam salah satu ruangan. Lalu dengan sigap ia menyusup masuk ke dalam. Yang pertama dituju ialah Mahapatih Nambi. Karena sebagai mahapatih, Nambi pastilah paling mengetahui keadaan dan keamanan Keraton. Namun, hatinya bercekat, karena sama sekali tak bisa menemukan Mahapatih di tempat kediamannya. Juga lebih kaget lagi ketika menuju ke tempat kediamannya yang sudah dijaga ketat. Tak ada satu pun prajurit yang setia kepadanya berada di tempat. Dengan kemampuannya, Halayudha bisa menyusup masuk, dan melihat bahwa seluruh isi rumahnya telah diobrak-abrik. Tak ada yang tersisa. Tak ada barang yang tak dipindahkan tempatnya. Luar biasa. Boleh dikatakan ia tak meninggalkan Keraton untuk jangka waktu lama. Tapi begitu melangkah ke luar, kamarnya telah disatroni lawan yang berbuat seenaknya. Seketika darah Halayudha mendidih. Akan tetapi jalan pikirannya yang mampu menembus kemarahan, membuatnya tidak murka seketika itu juga. Ia ganti masuk ke kaputren. Hasilnya sama saja. Tak ada siapa-siapa, selain prajurit yang menjaga di setiap sudut. Ini sangat aneh. Prajurit Keraton atau pengawal pribadi mana yang mendapat tugas begitu istimewa? Usaha Halayudha untuk menembus sampai ke dalam Keraton juga tak mungkin. Tempat kediaman Baginda dijaga kelewat ketat. Tak ada ruang tersisa di mana tidak ada prajurit dalam keadaan siaga. Sebenarnya Halayudha bisa muncul dan masuk dengan leluasa. Ia tak perlu terlalu kuatir mengenai dirinya. Siapa pun yang kini menguasai Keraton, pasti dikenalnya. Akan tetapi karena belum tahu pihak mana, membuatnya bersabar untuk tidak segera muncul. Baginya hanya ada perhitungan sederhana. Kalau sekarang Keraton dikuasai seseorang, pastilah bukan orang yang terlalu asing. Pastilah masih kerabat sendiri. Rasanya tak mungkin ada prajurit atau pendekar lain yang bisa membuat Keraton sunyi dan sepi. Kalau musuh dari luar, pertempuran berdarah yang terjadi. Nyatanya kali ini tidak. Bahkan tanda-tanda pertarungan ramai pun tak ada jejaknya. Kemungkinan yang paling dekat hanyalah dari Putra Mahkota Kala Gemet, yang direstui sepenuhnya oleh Permaisuri Indreswari. Tak bisa lain. Akan tetapi kalau ini gebrakan yang dilakukan oleh Putra Mahkota, termasuk modal sumbi, di luar kebiasaan. Putra Mahkota tak perlu melakukan hal seperti ini. Kecuali ada yang mengisiki. Ada yang membakarnya. Kalau perhitungan ini benar, orang di belakang’ Putra Mahkota pastilah Pendeta Sidateka. Tak ada yang lain. Hanya Pendeta Syangka itu yang sangat didengar dan dihormati oleh Putra Mahkota, yang rela memakai gelaran dari negara manca. Pendeta yang cukup sakti itu memperlihatkan taringnya dengan menyapu semua lawannya. Ini yang paling mungkin terjadi. Dengan memunculkan Putra Mahkota yang kini menghimpun para pendekar, tak akan membuat para senopati lain curiga. Dengan restu Permaisuri Indreswari, gebrakan pembersihan lawan bisa dilakukan dengan mudah. Halayudha benar-benar merasa kecolongan. Hanya sepekan ia meninggalkan Keraton, Pendeta Syangka mampu menjungkir balikkan keadaan. Mengubah peta pemerintahan. Halayudha sedikit pun tak gentar menghadapi Pendeta Sidateka ataupun para pengikutnya. Ibarat kata, seorang diri pun ia sanggup menghabisi lawan-lawannya. Akan tetapi karena di belakangnya ada Putra Mahkota, juga Permaisuri Indreswari dan sekaligus Baginda, kalau ia bangkit melawan, dirinya yang menjadi pemberontak. Tak jauh berbeda dari Senopati Lawe atau Senopati Sora. Dan setiap pemberontakan atas Keraton harus ditumpas habis! Tanpa ampunan! Dugaan Halayudha mendekati apa yang sesungguhnya terjadi, sewaktu berhasil menemui Senopati Kuti yang sedang tepekur di taman, duduk bersujud di antara tanaman cabe. “Senopati dalem, kenapa harus mengendap-endap seperti kadal?” Halayudha menghaturkan sembah. “Senopati Kuti yang budiman, terkasih di antara para senopati… sengaja saya merayap bagai kadal, karena saya memang hina seperti binatang itu. “Saya sowan ke hadapan Senopati Kuti, karena tak bisa lagi melihat siapa yang pantas saya datangi.” “Apa yang bisa saya lakukan untuk Senopati Halayudha?” “Berikan petunjuk, kepada siapa saya harus menghaturkan sembah….” Senopati memotes daun cabe. “Saya tak tahu harus bagaimana. Keadaan Keraton tak menentu.” “Bagaimana keadaan junjungan kita Baginda?” “Menurut Senopati Sidateka, segalanya berjalan sebagaimana biasa. Hanya Baginda tak menghendaki ada hati yang bercabang. Dan menugaskan Senopati Sidateka untuk membersihkan.” Halayudha bisa dengan cepat menangkap apa yang terjadi. Naiknya Senopati Sidateka sebagai pelaku utama, sudah sangat jelas membuktikan perpindahan kekuasaan dari tangan Mahapatih Nambi. Yang segera terasakan pula oleh Halayudha ialah bahwa Senopati Kuti juga tak sepenuhnya menyetujui apa yang terjadi. “Tugas yang mulia. “Saya pun rela menyerahkan kepala saya ke tangan Senopati Sidateka jika bersalah. “Yang merisaukan saya, apakah benar Baginda mengetahui hal ini?” “Kenapa Senopati Halayudha mempertanyakan hal ini? “Tidak ada rasa hormatkah Senopati kepada junjungan kita semua?” Senopati Kuti meraba hulu kerisnya. “Demi segala Dewa di langit, biarlah saya tak menitis sebagai manusia, biarlah saya tak tumimbal lahir, kalau berani mempertanyakan keadilan Baginda. “Hanya rasanya masih ada yang mengganjal. “Kenapa Pendeta Sidateka yang diserahi tugas begini penting?” “Bagi Baginda, siapa saja bisa ditunjuk.” “Dalam hal begini, kita tak berbeda pendapat,” sahut Halayudha cepat. “Akan tetapi, biar bagaimanapun Pendeta Sidateka yang mengangkat diri menjadi senopati adalah manusia manca. Pendeta tanah sabrang. “Apakah kebanggaan kita sebagai prajurit Sri Baginda Raja warisan Singasari tak ada artinya lagi? “Apakah telah demikian busuknya kita semua, sehingga merayap seperti kadal pun tak punya keberanian lagi?” Halayudha mampu mengobarkan perasaan yang paling dalam yang menghuni hati Senopati Kuti. Atau senopati yang lainnya. Yang masih mewarisi semangat dan kebanggaan sebagai prajurit Singasari. Sebagai pengabdi setia Baginda Raja Sri Kertanegara. Siapa pun yang pernah mengenyam zaman itu akan selalu membanggakan! Dengan menyinggung masalah ini, Halayudha bisa merebut simpati. “Senopati Kuti yang gagah berani. “Saya hanyalah senopati yang bertugas di dalam Keraton. Akan tetapi saya tak rela Keraton diinjak-injak semaunya oleh orang sabrang tanpa kejelasan. “Saya akan merayap seperti kadal, seperti cacing busuk menggaruk tanah, untuk mendapat kejelasan dari Baginda. “Hari ini saya minta izin Senopati Kuti, sebagai sesepuh yang bisa saya temui.” Senopati Kuti tergerak hatinya. “Apa yang akan Senopati lakukan?” Senopati Brahma HALAYUDHA menyembah hormat. Senopati Kuti menjadi kikuk karenanya. Dalam keadaan biasa sehari-hari, Senopati Halayudha tak perlu melakukan sembah padanya. Bahkan sebaliknya. Meskipun dirinya termasuk senopati yang mempunyai hak-hak istimewa, Kuti mengakui bahwa hubungan Halayudha sangat dekat dengan Baginda. Jadi dalam jajaran kepangkatan sama. Tak perlu melakukan sembah. Cukup dengan membungkukkan tubuh menghormat. Bagi Halayudha perbuatan semacam ini tidak membuatnya merasa hina. Justru sebaliknya. Dengan cara begini ia bisa menjadi lebih dekat. “Saya ingin mendengar langsung atau tidak langsung dari Baginda, mengenai pengikut yang mempunyai hati bercabang.” “Berarti kita harus menemui Senopati Sidateka.” “Itu yang tak mungkin. “Karena belum tentu Senopati Sidateka bisa menangkap penuh kemauan Baginda.” “Rasanya tak mungkin menemui Baginda. “Bahkan Mahapatih sudah mengajukan diri untuk sowan, akan tetapi ditolak oleh Putra Mahkota Bagus Kala Gemet. Cukup menghadap beliau.” Ini berarti semua jalan tertutup! “Kalau bisa, apakah Senopati kira saya akan berdiam di sini menunggui cabe rawit?” Halayudha menggigit bibirnya. “Kalau begitu tinggal satu jalan saja…” Senopati Kuti menunggu. Halayudha menghela napas. “Saya melihat kemungkinannya hanya satu,” sahut Senopati Kuti. “Hanya seorang seperti Upasara Wulung yang bisa menerobos ini. “Upasara adalah senopati kesayangan Baginda. Upasara juga bergelar lelananging jagat, sehingga Pendeta Sidateka akan memperhitungkan kalau ingin menolaknya.” Halayudha manggut-manggut. “Sayangnya, kita tak tahu di mana Upasara Wulung. “Sayang, Putra Mahkota tak menyukai Upasara Wulung, sejak Upasara merebut Ratu Ayu Bawah Langit….” “Bagaimanapun juga, itu pilihan terbaik. “Kami, para senopati, sudah memperhitungkan kemungkinan itu, akan tetapi rasanya tak ada pilihan lain. Tidak saya, atau Senopati Halayudha sendiri….” “Maaf, bolehkah saya mengajukan usulan?” “Selama demi kebaikan dan ketenteraman Keraton, setiap prajurit wajib mengutarakan pendapatnya.” “Kalau misalnya semua senopati menyetujui, kenapa kita tidak menemui Senopati Brahma….” Kalimat pendek Halayudha bagai sambaran petir. Bagai seratus kilat berpijar bersamaan. Namun yang tak pernah terlintas! Senopati Brahma. Senopati Agung Brahma! “Perhitungan saya hanyalah, bahwa Senopati Agung Brahma masih didengar dan dihormati oleh Putra Mahkota, sehingga Pendeta Sidateka pun akan menuruti kemauan Putra Mahkota.” Sangat masuk akal. Sungguh tidak percuma Halayudha berada di dalam Keraton. Senopati Brahma bisa menjadi kunci untuk sowan ke Keraton. Tokoh yang selama ini terlupakan, karena dianggap tak memerintah secara langsung. Pada situasi sekarang ini, kedudukan Senopati Brahma tak mungkin tergantikan oleh yang lain. “Sungguh cemerlang pikiran Senopati Halayudha….” “Saya secara kebetulan saja teringat….” Bagi Halayudha, segala kekuatan dalam kekuasaan di Keraton boleh dikata ia hafal seperti menghafal telapak tangannya sendiri. Seperti menyusun jari-jari untuk mencubit atau menggenggam atau menjitak atau memelintir. Begitu dekat dengan puncak kekuasaan, Halayudha mempelajari situasi secara cermat. Bukan kebetulan jika Halayudha mengingat nama Senopati Brahma. Senopati Brahma atau Senopati Agung Brahma, tokoh yang cukup disegani oleh Putra Mahkota. Karena masih paman besar, atau paman agung. Baginda sendiri memanggil dengan sebutan hormat karena merasa kalah umur. Adwaya Brahma yang mempersunting Dyah Dara Jingga, kakak perempuan Dyah Dara Petak atau Permaisuri Indreswari. Sehingga Putra Mahkota memberi hormat sebagaimana keponakan. Lebih dari itu, kehadiran Senopati Agung Brahma juga bisa meredam kekuasaan Permaisuri Indreswari. Sekurangnya dari sisi istrinya! Maka betapa jitu perhitungan dan penunjukan Halayudha. Halayudha akan melakukan sendiri, kalau hal itu memungkinkan. Akan tetapi sejak bertugas di Keraton, Halayudha tak pernah memperhitungkan Senopati Agung Brahma. Yang meskipun mempunyai pangkat sangat tinggi, tak memegang kekuasaan secara langsung. Bahkan kehadirannya tertutup sepenuhnya oleh Permaisuri Indreswari. Kini saatnya dibuka. Diberi peranan. Halayudha bisa menyusup sendiri kalau mau. Akan tetapi selain dengan Senopati Brahma yang diberi tambahan gelar Agung, ia pernah bentrok dengan putranya, Janaka Marmadewa atau Mantlorot, yang seusia dengan Bagus Kala Gemet. Ini berarti kalau ia yang maju, malah bisa disikat habis sebagai pembalasan dendam. Itu pula sebabnya Halayudha menghubungi orang lain. Senopati Kuti! Untuk Senopati Kuti, pujian bagi Halayudha tak ada habisnya. Ia sama sekali tak mengetahui ada peristiwa yang meretakkan hubungan antara Senopati Agung Brahma dan Halayudha. Dari jalan pikiran yang tanpa prasangka, jelas yang diutarakan Halayudha sangat berarti sekali. Pada saat menghadapi jalan buntu, Halayudha tampil dengan gagasan yang cemerlang. Cemerlang dan suci: menyelamatkan Baginda! Senopati Kuti menyembah hormat. “Hari ini juga saya akan menemui semua senopati, dan menghadap kepada Senopati Agung Brahma. Kalau Senopati Halayudha mengizinkan…” “Duh, Senopati Kuti yang perwira. “Manusia kadal seperti saya tak pantas dibawa ke tempat terhormat dalam urusan sepenting ini. Biarlah saya tinggal di rumah, menjaga rumah ini….” “Kalau itu kemauan dan budi baik Senopati Halayudha, silakan saja… saya akan segera pamit.” “Semoga Dewa memberkati tugas mulia ini….” Saat itu juga Senopati Kuti memerintahkan prajuritnya untuk memberi tempat pada Senopati Halayudha dan menyediakan segala keperluannya. Ia sendiri langsung berangkat dan menemui Mahapatih Nambi untuk melaporkan. Mahapatih Nambi tersentak. “Selama ini saya selalu menduga jahat kepada Halayudha, nyatanya hatinya begitu baik. Bahkan maksud mulia ini diserahkan kepada orang lain, tanpa ingin pamer kemampuan. “Kuti, Halayudha adalah senopati Singasari yang tulen, dari darah dan keringatnya. “Kita tak boleh melupakan hal ini.” Sore itu juga Mahapatih Nambi meminta waktu untuk sowan kepada Senopati Agung Brahma. Sambil mengatakan akan menyerahkan arca yang baru ditemukan. Dengan senang hati, Senopati Agung Brahma menerimanya. Bahkan ia sendiri berkenan untuk melihat wujud arca yang menjadi barang kesayangannya. Pada saat itulah Mahapatih Nambi secara tidak langsung mengutarakan, bahwa sudah saatnya Senopati Agung Brahma menghadap Baginda. “Sudah dijelaskan, bahwa di Keraton masih ada sisa-sisa prajurit yang hatinya bercabang. Itu perlu dibersihkan. “Untuk apa saya mempertanyakan itu?” “Senopati Agung, meskipun hamba ini mahapatih, tetapi hamba hanyalah prajurit biasa. Tidak mempunyai derajat apa-apa. Hanya Senopati Agung yang mungkin melaksanakan tugas mulia ini. “Sekarang ini hanya Paduka yang bisa menemui Baginda.” “Sungguh menyenangkan. “Akhirnya, di samping bersenang-senang di Keraton, ada yang bisa kubuktikan untuk negeri ini. “Baiklah, Mahapatih, kusanggupi keinginanmu. “Malam ini juga aku akan menghadap ke Keraton.” Mahapatih menghaturkan sembah tulus dan hormat. Terasa ada pencerahan yang dalam. Kalau saja mengetahui bahwa Halayudha sudah menyusup ke dalam Keraton, perasaan itu berbalik seperti siang dengan malam. Darahku Darah Singasari SENOPATI AGUNG BRAHMA menepuk pundak Mahapatih Nambi. Walaupun Mahapatih Nambi adalah pimpinan seluruh senopati Keraton, dalam hal ini Mahapatih yang melakukan sembah. Karena walaupun Brahma hanya senopati, pun ditambah gelar Agung, akan tetapi hubungan darah kekeluargaan yang lebih dituakan dari Baginda menyebabkan siapa pun menyembah padanya. “Aku tahu kegelisahanmu, Mahapatih. “Kita bukan orang yang baru saja mengenal. Dalam darahku masih mengalir deras darah Keraton Singasari. Aku tahu apa yang harus kulakukan. “Bukan karena arca kesayangan itu yang menyebabkan aku menghadap Baginda. Akan tetapi ini adalah kewajiban seorang prajurit, seorang senopati yang pernah dibimbing Sri Baginda Raja. “Kukira Mahapatih bisa memahami.” Mahapatih merunduk hormat. Sekilas bisa menebak kerisauan Senopati Agung Brahma. Dalam jajaran kepangkatan di Keraton, Senopati Agung Brahma tidak mendapatkan derajat tinggi hanya karena kebetulan beristrikan saudari Permaisuri Utama. Bukan hanya itu. Senopati Adwaya Brahma adalah senopati utama di zaman Baginda Sri Kertanegara memegang tampuk kekuasaan. Bahkan terpilih sebagai salah satu dari sekian banyak senopati yang mewakili untuk dikirim ke tanah seberang, ke tlatah Pagar Ruyung, guna membawa arca Amoghapasa. Suatu cara menaklukkan negeri seberang, cara untuk menundukkan dengan damai. Kalau tidak cukup sakti dan dianggap mempunyai kebijaksanaan luhur, tak mungkin Senopati Adwaya Brahma menjadi pilihan Sri Baginda Raja. Dan nyatanya tugas suci yang dijalankan berhasil dengan baik. Tlatah Pagar Ruyung di Melayu mengakui kebesaran Keraton Singasari. Bahkan secara suka rela menyerahkan seluruh wilayahnya untuk diambil oleh Sri Baginda Raja, saat kapan pun diperlukan. Bahwa kemudian Baginda Kertarajasa Jayawardhana memilihnya sebagai suami Dyah Dara Jingga, juga menunjukkan penghormatan yang tinggi. Pengakuan itu tercermin dari perlakuan kepada Senopati Agung Brahma. Berhak memakai kebesaran yang biasanya diperlakukan untuk raja. Pada upacaraupacara yang penting, Senopati Agung selalu diminta hadir. Demikian juga perlakuan kepada putranya, Bagus Janaka Marmadewa, tak dipisahkan sedikit pun dari Bagus Kala Gemet. Dalam segala hal diperlakukan sama. Hanya memang selama ini Senopati Agung tak pernah mau menonjolkan diri. Malah boleh dikatakan sangat menjauhi kesempatan-kesempatan untuk tampil. Baik pada kesempatan yang penting maupun tidak. Sewaktu Baginda memilih siapa yang pantas menjabat mahapatih, Senopati Agung justru menyurutkan diri. Ia sama sekali tidak memberikan suara, tidak memperlihatkan dirinya. Jauh dalam hati, Senopati Agung merasa bahwa ia tidak pantas untuk pangkat dan derajat yang begitu tinggi, kalau hanya diperhitungkan sebagai saudara ipar raja. Baginya itu penghinaan. Senopati Agung merasa dirinya senopati, prajurit, dan sekaligus seorang yang memiliki jiwa prajurit sejati. Pangkat tinggi, kehormatan yang agung, bukan semata-mata tujuannya. Inilah kebanggaan para prajurit yang pernah dibesarkan dalam kekuasaan Baginda Raja Sri Kertanegara. Maka kalau Senopati Agung sampai mengatakan bahwa ia bersedia melakukan permintaan Mahapatih Nambi, itu juga karena dasar jiwa prajuritnya. Bukan karena upeti. Betapapun dirinya tergila-gila kepada segala jenis arca yang mempunyai nilai tinggi. “Maaf, Senopati Agung Brahma. “Setitik pun hamba tak mempunyai perasaan dan penilaian….” “Aku mengerti, Mahapatih. “Aku mengerti justru karena kita sama-sama prajurit. “Dan sebagai prajurit, aku hanya bisa menunggu titah, menunggu dawuh, menunggu perintah. “Kalau suatu saat Bagus Kala Gemet memerintahkan untuk menaklukkan Ratu Ayu Bawah Langit, akan kulakukan juga. Aku bisa menyarankan bahwa Bagus Kala Gemet belum pantas untuk memilih jodoh. Akan tetapi jika itu diperintahkan, akan kulakukan juga. Sampai darah Singasari yang menderas dalam tubuhku ini kering.” “Hamba mengerti, Senopati Agung….” “Kamu mengerti. Ya, kamu mengerti. “Betapa lama aku merapatkan bibirku erat-erat. Karena aku tak mau membuat kisruh. Karena aku tidak ditanya. “Sekarang saatnya aku melakukan dharma baktiku sebagai prajurit. Menyampaikan kepada Baginda. “Bahkan tanpa permintaan Mahapatih pun, aku akan sowan. Hanya sekarang ini menjadi lebih mantap, karena kerisauan ini juga tergema dalam dada Mahapatih.” Senopati Agung menghela napas. “Jangan kecewa kalau aku tak membawa kabar apa-apa. “Aku hanya ngunjuk atur, meminta kesediaan Baginda mengatakan sesuatu. “Mahapatih, barangkali sebelum ayam jantan berkokok besok pagi, aku ingin menemuimu. “Antarkan arca ini ke sana, dan kita bisa melanjutkan pembicaraan.” “Sembah bekti bagi Senopati Agung….” “Mudah-mudahan malam nanti purnama tidak tertutup awan. Pada musim hujan seperti sekarang ini, kadang ada awan yang muncul begitu saja….” Dengan kalimat isyarat, Senopati Agung memperingatkan bahwa bukan tidak mungkin ada sesuatu yang masih gelap, yang bisa mengacaukan keinginannya menghadap kepada Baginda. Hal yang bisa dimengerti oleh Mahapatih Nambi. Karena secara tiba-tiba, pekan lalu Putra Mahkota Kala Gemet memerintahkan agar semua senopati berkumpul. Pada saat yang sama, Putra Mahkota mengatakan bahwa ia membawa sabda Baginda untuk membersihkan hati yang bercabang, yang masih ditemui pada beberapa senopati Keraton Majapahit. Saat itu Mahapatih sudah bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Putra Mahkota yang mengatakan hal itu? Lebih menjadi tanda tanya lagi karena Putra Mahkota menunjuk Pendeta Sidateka menjadi senopati yang bertanggung jawab secara penuh atas pembersihan ini. Ini sama artinya dengan mengambangkan atau meniadakan pangkat dan tanggung jawab yang selama ini dipegang oleh Mahapatih Nambi! Dipecat secara resmi pun tak akan seterkejut sekarang ini. Akan tetapi Putra Mahkota tidak menyinggung sedikit pun masalah pergeseran atau pencabutan pangkat. Putra Mahkota hanya mengatakan bahwa semua prajurit harap disiagakan secara penuh, dengan komando kekuasaan di bawah tangan Senopati Sidateka. Segala sesuatu, baik perintah ataupun ucapan, dijalankan dari Senopati Sidateka. Selebihnya semua berjaga diri. Kenyataan yang sangat membingungkan dan menimbulkan rasa was was. Mahapatih Nambi tak bisa mengatakan sesuatu atau menanyakan. Bersama para senopati yang lain, hanya bisa menunggu. Menunggu. Dan lebih aneh lagi, selama Senopati Sidateka memegang kekuasaan dan tanggung jawab, tak ada perubahan yang berarti. Hanya beberapa prajurit yang ditangkap dan diperiksa. Akan tetapi tidak ada pergeseran atau perubahan di tingkat atas. Ini yang membingungkan. Dan membuat saling curiga. Pada saat itu, Baginda tidak mungkin bisa ditemui. Sehingga Mahapatih merasa seperti anak ayam yang kehilangan pelindungnya. Tak tahu-menahu harus mempertahankan apa atau siapa. Semua ini dipendam dalam-dalam, sampai Senopati Kuti muncul dan memberitahukan pendapat Halayudha. Yang serta-merta dilaksanakan. Tidak terlalu meleset karena Senopati Agung juga merasakan keprihatinan yang sama. Bahwa Putra Mahkota melakukan sesuatu yang di luar dugaan, bukan baru sekarang ini. Bahwa tindakan Putra Mahkota untuk mengurung dua putri Permaisuri Rajapatni menimbulkan tanda tanya, itu sudah jelas. Akan tetapi karena ini menyangkut urusan keluarga, Mahapatih Nambi tak berhak bertanya satu patah pun. Persoalannya menjadi lain, ketika menyangkut masalah ketenteraman dan keamanan serta kelangsungan pemerintahan. Mahapatih ingin bisa menemui Baginda. Atau sekurangnya Senopati Sidateka. Untuk memperoleh keterangan yang berarti, karena masalah keamanan dan ketenteraman selama ini berada dalam tangannya. Menumpas Bibit Kraman BAHWA munculnya Pendeta Sidateka yang langsung menjabat senopati utama atau satu-satunya, bisa dikaitkan hubungan dan pengaruhnya selama ini. Sidateka sendiri merasa bahwa ia tak bisa berada di balik layar terus-menerus. Ia harus segera tampil. Satu-satunya yang bisa dikendalikan ialah Putra Mahkota. Maka ketika itu Sidateka langsung menghadap Permaisuri Indreswari dan mengatakan gagasannya. “Sebelum kejadian menjadi berlarut-larut, barangkali saja Permaisuri Indreswari perlu memberi pelajaran kepada para prajurit yang masih bercabang kesetiaannya kepada Putra Mahkota.” “Atas dasar alasan apa kamu mengatakan itu?” “Pada saat sekarang ini, kita belum mengetahui jelas siapa yang betul-betul setia kepada Putra Mahkota. Ini bisa menjadi beban dan bencana di kelak kemudian hari yang tak lama, jika Putra Mahkota naik takhta. “Maka sebelum bibit kraman, bibit pemberontakan, bersemi, Permaisuri Indreswari perlu memerintahkan pembersihan. Agar bibit kraman itu tak bisa tumbuh.” “Siapa yang hatinya masih bercabang?” “Saat ini hamba tak bisa menghaturkan nama-nama, karena akan membuat hamba berdosa. “Akan tetapi kalau dilihat sewaktu Putra Mahkota dinobatkan, sewaktu Putra Mahkota menghendaki Ratu Ayu Bawah Langit, terlihat jelas bahwa masih ada yang ragu-ragu untuk mendukung Putra Mahkota secara penuh. “Senopati Sora yang sejak kecil mengabdi Putra Mahkota, yang tak pernah kita perhitungkan akan membangkang, ternyata bisa menggagalkan kebesaran Putra Mahkota. “Menurut pertimbangan hamba, yang seperti Senopati Sora masih ada.” “Perasaanku mengatakan hal yang sama. “Apa yang akan kaulakukan, Sidateka?” “Barangkali saja, Putra Mahkota memegang kendali pemerintahan, mengatur Keraton untuk sementara waktu. Pada saat itu akan segera terlihat siapa yang menerima Putra Mahkota dan siapa yang bercabang hatinya. “Saat itulah kita bergerak. “Kalau dipercaya, rasanya hamba mampu menjalankan tugas ini.” Permaisuri Indreswari mengelus rambutnya. “Usulmu bagus, akan tetapi berbahaya. “Apa sabda Baginda jika mengetahui Putra Mahkota yang menjalankan pemerintahan?” “Kalau Permaisuri Indreswari bisa membujuk Baginda, rasanya tak ada yang mustahil. Hanya untuk beberapa lama….” , “Aku bisa menangkap maksudmu. “Baginda kita minta memberi kesempatan kepada putraku.” “Demikianlah maksud hamba.” “Kata-katamu agak lancang, Sidateka. “Akan tetapi karena putraku sangat menghormatimu, kelancanganmu bisa kumaafkan sekarang ini.” Bagi Sidateka, hal yang dianggap menjadi ganjalan utama ialah sewaktu Baginda memerintahkan mengambil Tirta Parwa yang dimilikinya. Sangat gamblang bahwa Baginda tidak berminat lagi pada kidungan di kain sutra tersebut. Pastilah dikendalikan oleh orang lain. Yang tak lain adalah Halayudha. Kalau Halayudha mampu mempengaruhi Baginda dalam satu hal, bukan tidak mungkin dalam hal lain juga bisa menanamkan pengaruhnya. Bisa meminjam tangan dan sabda Baginda. Yang begini sungguh berbahaya. Justru di saat ia telah bisa begitu dekat dan menguasai Putra Mahkota. Bukankah Putra Mahkota telah berani memakai gelaran raja-raja di negeri Syangka? Dan tidak mengagungkan tetesan darah Sri Baginda Raja Kertanegara? Alasan lain yang dipandang Sidateka membuat ia mengajukan usulan ialah bahwa masih banyak ksatria yang ilmunya sangat tinggi. Setidaknya masih ada Upasara Wulung dan Kiai Sambartaka. Kalau ia tak bisa melumpuhkan mereka sekarang ini, mungkin kesempatan semacam itu tak akan pernah ada lagi. Adalah menjadi tujuan utamanya untuk menaklukkan Keraton Majapahit, sehingga nantinya mengakui kekuasaan utama Keraton Syangka. Tanah Syangka akan menjadi kiblat baru. Menjadi panutan utama. Dan bukan tlatah Hindia. Maka meskipun dalam keadaan belum sepenuhnya sehat, Senopati Sidateka mengadakan perburuan. Yang menjadi sasaran utama ialah kediaman Halayudha. Diobrak-abrik untuk menemukan bukti-bukti bahwa Senopati Halayudha menyimpan Tirta Parwa. Langkah yang kedua ialah mengumumkan bahwa Upasara Wulung maupun Kiai Sambartaka adalah musuh utama Keraton. Bisa diusahakan pencarian besar-besaran. Siapa yang menghalangi maksud ini dianggap membangkang dan tidak setia kepada Keraton. Rencana itu dianggap sempurna, dan akan melicinkan jalan yang dicitacitakan. Menguasai Keraton, dan menjadi lelananging jagat. Sidateka boleh merasa dirinya jago dalam mengatur siasat. Akan tetapi Halayudha bukan lawan yang enteng. Kalau Halayudha berada dalam posisi seperti Pendeta Sidateka, apa yang dilakukan jauh lebih menguntungkan. Tapi membuat para senopati bertanya-tanya dalam hati. Tanpa menimbulkan kecemasan yang tak perlu. Dalam hal ini Sidateka menganggap kegelisahan itu tak ada artinya. Karena memang tujuannya tidak akan terpengaruh oleh kegelisahan atau kecemasan para senopati dan prajurit. Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh Halayudha. Menghadapi lawan yang memegang kekuasaan, Halayudha tidak muncul sebagai penantang. Ia meminjam tangan untuk mengedepankan Senopati Agung Brahma. Itu langkah yang pertama. Langkah yang kedua ialah kebalikan dari langkah yang pertama. Yaitu mengadu domba. Mengatakan bahwa para senopati berkomplot menunggangi Senopati Agung Brahma untuk menandingi Permaisuri Indreswari. Dengan cara ini, Halayudha mengadu dua kekuatan utama. Tanpa perlu turun tangan. Tanpa perlu menanggung risiko. Karena siapa pun yang tersingkir, tak akan mencela Halayudha. Karena siapa pun yang unggul, akan merasa adanya jasa baik Halayudha. Dengan persiapan seperti itu, Halayudha muncul dan masuk ke Keraton. Dengan sekali gebrak, tiga prajurit utama yang menjaga kaputren bisa dibekuk tanpa menimbulkan suara. Kemudian beranjak masuk ke tempat peraduan Permaisuri Indreswari. “Apakah kamu mau mencari mati berani menyusup kemari?” “Hukumlah hamba, Permaisuri Utama dan satu-satunya. “Ini adalah kebodohan hamba. Namun hamba rela mendapat hukuman potong lidah setelah menghaturkan sesuatu ke hadapan duli Permaisuri Indreswari….” “Katakan secepatnya.” “Mudah-mudahan yang hamba dengar salah, akan tetapi telinga ini tak bisa ditutupi….” Halayudha menyampaikan bahwa ia diajak para senopati untuk membujuk Senopati Agung Brahma agar menghadap Baginda, malam ini juga. “Urusan apa?” “Para senopati merasa bahwa Putra Mahkota sangat membatasi gerak-gerik dan keleluasaan para senopati yang memang busuk. Para senopati merasa lebih pantas berlindung di balik kejayaan payung kebesaran Bagus Marmadewa….” “Yang menjadi putra mahkota itu anakku. “Bukan anak kakakku.” “Duh, Permaisuri Indreswari… “Dewa di langit segala langit pun mengetahui hal ini. Juga tetumbuhan di hutan. Akan tetapi para senopati bisa memaksakan kehendaknya. Atau barangkali Senopati Agung Brahma merasa lebih tua dan lebih…” “Kamu selalu muncul dan mengguncang perasaan. “Dosamu tanpa takaran….” “Bunuhlah hamba sekarang juga, Permaisuri yang mulia. “Hamba hanya ingin menyampaikan hal ini sebagai abdi yang pernah merasakan sikap Permaisuri yang maha welas asih….” “Lepas dari benar-tidaknya kata-katamu, ada baiknya kita bersiaga. “Kalau malam nanti Kakang Senopati Agung Brahma menghadap, apa yang kamu katakan adalah benar. Jika tidak, aku sendiri yang akan mencincang tubuhmu….” “Hamba rela dicincang sekarang ini….” Permaisuri Indreswari memerintahkan Halayudha untuk menyingkir. Saat itu juga Permaisuri Indreswari memanggil Senopati Sidateka dan mengatakan kemungkinan Senopati Agung Brahma akan menghadap. “Tanyakan apakah benar ia mau menghadap Baginda. “Bila jawabnya ‘ya’. Kamu tak usah menunggu perintah. Ringkus seketika itu juga.” Air Palsu Air yang Keruh SIDATEKA menghaturkan sembah. “Nambi akan mengatasi dengan baik….” “Aku ingin kamu sendiri yang bergerak. “Sebab Nambi ada di belakang Kakang Brahma….” Mendadak terdengar suara nyaring dari luar. “Aku adalah Senopati Brahma. Kalau menyebut namaku, kenapa di belakangku?” Permaisuri Indreswari menudingkan telunjuknya. Sidateka serta-merta melangkah ke luar. Di halaman prameswaren, perumahan untuk para permaisuri yang menjadi satu dengan kaputren berdiri gagah seorang lelaki dengan berkacak pinggang. “Karena kudengar namaku disebut-sebut, aku ingin mendengar apa yang dibicarakan.” “Kamukah Senopati Brahma?” Mata Senopati Agung Brahma mendelik saking gusarnya. Jakunnya naik-turun. Belum pernah ia dihina sedemikian rupa. Di dalam Keraton lagi! “Aku Senopati Agung Brahma.” Kedua tangannya terangkap, bersidekap di depan dada. “Apa pedulimu bertanya tanpa tata krama seperti itu?” “Aku Senopati Sidateka yang mendapat tugas menjaga ketenteraman Keraton sekarang ini.” “Bagus kalau begitu. “Minggir dari depanku. Karena kakiku tak punya mata, sehingga bisa menendang kepala yang menghalangi.” Gagah melangkah tanpa peduli. Pendeta Sidateka menggerung. Kedua tangannya bergerak, dan seketika itu pula puluhan prajurit pribadi bersiaga. “Kalau harus memandikan keris dengan darah Keraton, aku tak akan menyesali.” Sret, tangan kanan Senopati Agung Brahma mencabut kerisnya. Langsung diacungkan ke atas. Dalam kejap berikutnya, keris itu menuding lurus ke depan. Sabetan yang digerakkan dengan cara yang luar biasa cepat. Mengiris udara. Pendeta Sidateka mengeluarkan seruan tertahan. Menggeser tubuhnya ke arah kiri, tangannya terulur, mencengkeram pergelangan tangan. Senopati Agung Brahma membalik telapak tangannya, kali ini ujung kerisnya menoreh ke arah nadi. Pendeta Sidateka agak gelagapan karena sama sekali tak mengira serangan lawan yang ganas bisa berubah dalam satu pukulan. Terpaksa uluran tangan kanannya mengeras bagai kepalan dan langsung ke arah lambung. Tanpa menarik mundur kaki dan tubuhnya, Brahma membalikkan ujung kerisnya. Memapak ke arah jotosan lawan. Gerakan keris Singasari! Yang pernah dimatangkan oleh Upasara Wulung. Tidak mengherankan, karena Brahma memang prajurit Singasari yang mendapatkan ilmu dengan dasar yang sama. Yang sedikit membuat Sidateka terkesiap ialah bahwa gerakan-gerakan pergelangan tangan Brahma sangat luwes, sangat prigel, sehingga arah ujung keris bisa berubah dalam sekejap. Dari menusuk lurus, ke samping, atas, ataupun mengiris. Sehingga mau tak mau Sidateka mengeluarkan semua ilmu simpanannya. Bahwa Brahma masih menguasai jurus-jurus silatnya dengan baik, rasanya tak perlu diragukan lagi. Akan tetapi bahwa tenaga dalamnya tak mendukung kemampuannya, juga bisa dimengerti. Karena praktis sejak menjadi keluarga Keraton yang terhormat tak bisa latihan dengan leluasa. Padahal jago silat di mana pun, kematangan dan kemampuan tenaga dalamnya sangat tergantung dari latihan setiap kali secara berkesinambungan. Maka dalam sepuluh jurus berikutnya, Brahma tak bisa mendesak lebih jauh. Meskipun pada awalnya mampu menyudutkan Sidateka. “Tangkap pemberontak!” Mendengar teriakan Sidateka yang adalah senopati utama, para prajurit segera bergerak mengurung. Bahkan Senopati Kuti yang berada di kejauhan segera mendekat. Demikian juga Mahapatih Nambi. “Kurung pemberontak satu ini!” “Maaf, Senopati….” “Apakah kamu membantah perintahku, Nambi?” Mahapatih Nambi mendongak. Dadanya membusung. “Senopati Sidateka, jangan kelewat kurang ajar. Tata krama juga berlaku di antara tikus sawah. “Aku tak bisa diperlakukan seperti ini.” Begitu Mahapatih Nambi mengambil sikap sempurna, semua prajurit yang tadinya mengurung Senopati Agung Brahma jadi berubah sikap. Sidateka mundur selangkah. “Mau menghindar ke mana, pencuri ilmu?” Sidateka berpaling. Pandangan nanar. Hampir tak percaya apa yang dilihatnya. Halayudha berdiri di belakangnya. Senyumnya dingin. Yang membuat pandangannya nanar, terutama karena kalimat Halayudha yang menyebutnya sebagai pencuri ilmu silat. Sudah jelas bahwa Halayudha yang mencuri ilmu silatnya! Bagaimana mungkin begitu tega menuduh kepada pemiliknya? “Duh, para senopati linuwih, rasanya tak perlu mengotori tangan untuk menghukum seorang pendeta yang mencuri ilmu. Yang seperti ini tak ada harganya untuk dilayani.” Sidateka meludah. “Sudah jelas kamu yang mencuri ilmuku.” “Sejak kapan orang seberang menciptakan Kitab Air? “Seekor ikan kecil pun bisa tertawa. Mari kita buktikan di luar, siapa yang menimba air palsu pasti lebih keruh….” Di akhir kalimatnya, tangan kiri Halayudha bergerak. Seolah menenteng anak kecil yang nakal. Sidateka seperti tertarik pusaran air yang keras, sehingga tubuhnya condong ke depan. Tak ada jalan lain kecuali melompat tinggi untuk membebaskan diri dari terkaman tenaga mengisap. Pada saat yang sama Halayudha melayang ke udara. Sekali lagi kedua tangannya bergerak, bagai gelembung air ditiup angin. “Itu ilmuku!” “Inilah yang membuktikan kamu pencurinya.” Tanpa menunggu tubuh Sidateka menginjak tanah, kedua tangan Halayudha terayun ke depan. Kali ini yang dirasakan Sidateka adalah gelombang yang keras menghantam. Sekejap tubuhnya yang belum sehat sempurna menjadi sempoyongan. Pada waktu akan membuang tenaga ke belakang, saat itu justru Halayudha sudah bersiap. Karena mengetahui reaksi dan gebrakan Sidateka. Punggungnya kena diterkam. Sekali sentak tubuh Sidateka terbanting ke tanah! Satu kaki Halayudha terayun dan menginjak tepat di leher. “Kalau tidak segera minta maaf kepada Senopati Agung Brahma, hari ini nyawamu pindah ke telapak kakiku.” Siapa pun yang menyaksikan kehebatan Halayudha menjadi bercekat. Bahwa Halayudha mempunyai ilmu silat yang tangguh, sudah banyak didengar. Akan tetapi bahwa hanya dengan satu gebrakan saja bisa membuat Sidateka tak berdaya sama sekali, masih di luar perhitungan mereka. Tak terkecuali Senopati Agung Brahma. Masih terasakan kehebatan ilmu Sidateka. Bahwa dirinya tak bisa mendesak lebih jauh dan malah mulai keteter. Toh dengan gampang sekali Halayudha bisa menundukkan. Mahapatih Nambi menggerakkan tangannya. Terlambat. Kaki Halayudha telah turun. Amblas ke tengah leher. Hanya kelojotan sebentar. Sesudah itu tubuh Sidateka tak bergerak lagi. Halayudha memang ingin memusnahkan Sidateka yang di belakang hari bisa membongkar siasatnya yang menerobos masuk ke ruangan Permaisuri Indreswari. Atau mengungkit masalah kidungan dalam kain sutra. Dalam keadaan sekarang ini jelas lebih baik menghentikan napas Sidateka. Yang membuat Mahapatih Nambi tak berkedip ialah kenyataan bahwa Senopati Utama yang diangkat secara resmi oleh Putra Mahkota dibunuh di halaman Keraton. Di belakang hari bisa menimbulkan masalah. Halayudha mendongak ke langit. Napasnya ditarik keras sekali. “Dewa yang Mahaasih di langit. “Hari ini aku mengulang kesalahan kepada Putra Mahkota. Kalau sekarang ini aku harus menerima hukuman, biarlah aku jalani dengan hati yang lapang. “Sebab aku tak ingin mendengar mulutnya yang busuk.” Suara Halayudha sangat lantang. Ini disengaja karena dengan demikian akan terdengar oleh Permaisuri Indreswari. Seolah ia ingin mengatakan bahwa dibunuhnya Sidateka agar tidak mengumbar cerita apa yang sebenarnya tengah terjadi! Itulah Halayudha. Setiap gerakan mempunyai arti ganda! Senopati Seleh Gegaman TINDAKAN Halayudha kelewat cepat. Dan menyelesaikan. Kini semua yang hadir hanya bisa memandangi. Berdiri dan duduk di tempat semula tanpa bisa melakukan sesuatu. Tidak segera memuji atau bisa mencegah. Karena masih terpukau dengan cara Halayudha menyelesaikan masalah. Sudah jelas Senopati Sidateka diangkat resmi oleh Putra Mahkota. Kini diinjak batang lehernya hingga putus. Sudah jelas Halayudha mengaku bersalah, akan tetapi tak segera diketahui siapa yang harus menindak. Kecuali desisan kecil. “Siapa menyuruh kamu berbuat kurang ajar di depanku?” Senopati Agung Brahma maju setindak. Dialah yang paling merasa tersinggung dengan tindakan Halayudha. Pada saat ia bertarung, dengan seenak perutnya sendiri Halayudha mencomot lawannya, membanting dan menginjak. Walaupun semua dalam rangkaian menyelesaikan pertempuran, akan tetapi sebagai seorang ksatria Senopati Agung Brahma merasa tersinggung. “Saya bersedia menerima murka Senopati Agung. “Akan tetapi yang saya lakukan semata-mata demi keselamatan Senopati Agung.” Lebih jelas kata-kata Halayudha. Ia memenangkan pertarungan dan mengatakan bahwa sebenarnya Senopati Agung Brahma tak bisa menyelesaikan urusan. Bahkan jiwanya terancam bahaya. Sehingga Halayudha perlu turun tangan. Kata-kata kasar yang membuat Senopati Agung Brahma naik darahnya. Tangannya mencabut keris yang baru saja disarungkan. “Mari kita buktikan siapa yang lebih lelaki….” Kaki Senopati Agung melangkah maju. Halayudha mengerahkan tenaga di kedua tangannya sambil menunggu. Begitu Senopati Agung bergerak, Halayudha memperlihatkan keunggulannya. Sikunya yang tertekuk menyodok ulu hati lawan, dan dengan tangan kiri, membetot keris lawan. Gerakan yang bisa diduga. Senopati Agung bisa mengubah ujung keris ke dalam. Menusuk siku yang berusaha membentur dadanya. Dan kejapan berikutnya bisa diubah lagi untuk menyerang. Perhitungannya meleset. Kaget pun tak sempat. Karena tenaga sodokan dengan siku berjalan sangat cepat. Yang lebih menakjubkan lagi angin tusukan terasakan sangat tajam, sehingga ulu hati Senopati Agung sangat sakit. Menyentuh pun belum. Kesiuran angin pun belum terasakan. Tapi tenaganya menjadi buyar. Pada saat yang bersamaan, hanya dengan tangan kiri, Halayudha mampu merampas keris. Satu sentakan saja! Apa yang dipamerkan Halayudha memang permainan tenaga dalam yang lihai. Yang bisa diatur secara sempurna. Kini saatnya Halayudha memperlihatkan siapa dirinya. Kalau selama ini dirinya hanya dipandang sebagai senopati yang dekat hubungannya dengan Baginda, sekarang mempertunjukkan kebolehannya. Sudah sekian lama Halayudha merasa terganjal hatinya. Kemampuan ilmu silatnya sebagian sengaja disembunyikan, dan ia lebih dikenal sebagai pelayan Baginda. Untuk ini semua ia menahan sakit hati karena pandangan yang merendahkan dirinya. Di mana ukuran keunggulan ditentukan oleh tebal atau tipisnya kulit. Halayudha tak bisa menahan diri lebih lama. Pada kesempatan yang terbaik seperti sekarang ini, ia memunculkan siapa dirinya. Yang pada dasarnya lebih unggul. Yang seperti terlupakan bahwa Halayudha adalah murid langsung Paman Sepuh Dodot Bintulu, salah satu dari ksatria utama yang setara dengan Eyang Sepuh! Ini saja sudah menunjukkan dasar-dasar yang jauh lebih kuat dari senopati yang lain. Bagi Halayudha ini masih harus segera ditambahkan, bahwa selama ini ia telah mengisap habis semua ilmu kelas satu di jagat. Ia berhasil menimba tuntas dari Kama Kangkam, ksatria utama dari Jepun. Ia juga berhasil mengakali Raja Segala Naga Tartar. Bahkan terakhir mampu menyerap apa yang termaktub dalam Kitab Air. Itu pula sebabnya dalam gebrakan yang pendek, Pendeta Sidateka yang masih menderita sakit bisa dilipat habis seketika. Demikian juga halnya dengan Senopati Agung Brahma. Dengan sangat cepat Halayudha bisa membaca arah gerakan lawan, dan dengan sama cepatnya memberikan tangkisan dan mendahului menyerang. Titik terlemah lawan yang menjadi sasaran penyerangan. Gerakan siku tak begitu berarti banyak kalau tidak disertai tenaga dalam yang kuat menerobos. Yang langsung menghentikan sumber tenaga dalam Senopati Agung. Maka keris pusakanya bisa dirampas dalam sekejap. Halayudha tidak berhenti di situ saja. Dengan gerakan memutar, tubuhnya membentuk lingkaran. Keris yang terampas di tangannya, dilontarkan dari tangan kiri, sementara kakinya menendang mayat Sidateka. Begitu tubuh Sidateka melayang ke arah dinding, tangan kanannya melempar. Mahapatih Nambi mengeluarkan seruan tertahan. Karena tubuh Pendeta Sidateka melayang ke arah dinding. Disusul tusukan keris. Yang amblas hingga ke dinding, menembus tubuh Sidateka. Tubuh Sidateka terpantek ke dinding! Bisa disaksikan siapa saja yang berada dalam halaman kameswaren dengan jelas. Apalagi kaki Sidateka masih bergoyang-goyang karena gerakan lemparan, dan darahnya basah menetes. Menjijikkan. Membuat Senopati Agung berpikir tiga kali. Kalau saja Halayudha mau mengarahkan keris itu ke tubuhnya yang mana saja, atau bahkan keningnya, Senopati Agung tak bisa mengelak. Karena inti tenaganya tak bisa dikerahkan, juga untuk menghindar. Yang menimbulkan kesan lebih dahsyat ialah kenyataan tubuh Sidateka yang terpampang di dinding. “Biarlah ini menjadi pelajaran bagi setiap pemberontak. Kekuasaan Keraton tak boleh dikotori oleh siapa saja. “Kalau di antara kalian ada yang ingin membela Sidateka, silakan maju!” Ganas dan keras. Ucapan Halayudha bisa ditafsirkan bahwa ia menantang siapa saja yang bisa mendengar, walau seperti ditujukan kepada para prajurit. Bisa ditafsirkan sebagai tantangan terbuka untuk menguji ilmu silatnya. Sejenak tak ada suara atau gerakan. Halayudha mendongak, menanti. “Kalau memang tak becus, lebih baik seleh gegaman.” Suara yang berat menekan, penuh dengan wibawa. Serentak semua yang berada di halaman bersujud, menghaturkan sembah. Tak berani mendongak atau melepaskan sikap menyembah. Termasuk Halayudha dan Senopati Agung Brahma. Suara berat itu dimiliki oleh Baginda Kertarajasa. Pengertian seleh gegaman, dalam arti harfiahnya, ialah meletakkan senjata, bisa juga menyerah kalah. Mengakui keunggulan lawan dan rela menyerah tanpa syarat. “Kalau para senopati seleh gegaman, apa lagi yang tersisa? Kenapa untuk menyingkirkan seorang perusuh harus banyak kalimat berbusa-busa?” “Sembah bekti bagi Baginda….” Jawaban serentak yang terdengar. “Taman ini tidak untuk pertikaian. Kalian semua saya izinkan untuk bubar….” Tanpa menunggu reaksi, Baginda meninggalkan tempat. Agak lama baru satu per satu mendongak, menyembah lagi, dengan laku ndodok meninggalkan ruangan. Yang tersisa adalah pertanyaan dalam hati. Kenapa Baginda mendadak muncul? Siapa yang menggugah Baginda untuk berjalan keluar dari kamar peraduannya? Ataukah selama ini Baginda tidak berdiam di Keraton? Sehingga Putra Mahkota bisa memerintah dengan leluasa? Bahwa kematian Sidateka menimbulkan masalah yang pelik, bisa ditebak. Akan tetapi kehadiran Baginda yang mendadak, menimbulkan pertanyaan lebih pelik lagi. Karena tak mungkin ada jawaban, untuk sementara atau selamanya. Baginda bisa muncul sesaat, dan dengan sabdanya segalanya diselesaikan. Sekurangnya pertemuan saat itu. Hanya diiringkan oleh lima prajurit pribadi, Baginda memasuki Keraton. Ketika tangannya bergerak perlahan, lima prajurit pengiring utama berhenti di gerbang. Baginda melangkah sendiri menuju peraduannya. Tanpa suara. Tanpa gema. Tapi terasa betul keberadaannya memenuhi ruangan seluruhnya. Melewati dinding, halaman, batas sebelah luar. Kehadiran yang tak bisa diganti atau disamai dengan wibawa yang lain. Juga ketika berada dalam kamar peraduan. Menghadapi Permaisuri Rajapatni. Isyaratkan Kemauanmu, Yayi…. DALAM kamar peraduan yang sunyi, hanya terasakan bau dupa wangi yang pekat. Permaisuri Rajapatni duduk bersimpuh di bawah dengan menundukkan wajah. “Yayi, masih perlukah kamu membisu seperti batu? “Apa sebenarnya yang menjadi kemauanmu?” Tubuh Permaisuri Rajapatni tetap bergeming. “Susah menangkap isyarat apa yang terpaku dari kepiluanmu. “Hmmm, kalau bukan karena Dewa menjodohkan kita sebagai pasangan yang bakal melahirkan keturunan raja yang berkuasa di seluruh jagat raya, sifatmu yang kekanak-kanakan tak bisa kumaafkan. “Kalau yang kamu prihatinkan kedua putrimu, yang adalah putriku juga, pulanglah kembali ke kamarmu. Mereka ada di sana.” Mendadak kesunyian pecah oleh isak tangis. Tubuh Permaisuri Rajapatni bergerak-gerak, perlahan. Tangannya gemetar ketika menyembah. Dalam cahaya yang tak begitu terang, dengan aroma bau dupa harum dan asap samar-samar, nampak jelas wajah pucat dan mata yang cekung karena kurang tidur dan makan. Namun semburat keayuan yang hanya dimiliki putri Keraton tetap terpancar. “Cukup puas?” Tubuh Permaisuri kembali tergetar. “Segala puji syukur bagi kebesaran Baginda, raja Keraton Majapahit yang perkasa.” Baginda menggerakkan kepalanya. “Kadang aku bertanya-tanya dalam hati. “Apakah kamu ini sebagian dari dayang-dayangku, atau kamu ini yang kutitipi anakku. “Yayi Gayatri… wanita seluruh Keraton ini bisa kumiliki dan kubuang seketika tanpa membuatku berpikir dua kali. Hanya kepadamu, kadang kurasakan ada sesuatu yang menahanku. Yang membuatku ragu. “Ketika semua wanita seluruh Keraton berusaha bisa menyembah bayanganku dengan segala cara, kamu yang kuajak bicara malah berdiam diri. “Aneh. “Sungguh aneh. “Ataukah semua wanita aneh, atau kamu sendiri yang aneh? “Hmmm, Gayatri… Gayatri… “Setiap hari kutemukan berbagai persoalan. Baik yang besar maupun yang sangat besar. Tapi tak ada yang seganjil bila bertemu denganmu. “Sungguh tidak lucu. Kamu menguatirkan kedua putrimu, yang dijaga Gemet. Kenapa kamu harus begitu prihatin sehingga membisu, bertapa seperti tak punya sukma? “Apa kamu kira aku tega kalau ada selembar rambut yang rontok dari putrimu?” Permaisuri Rajapatni menghaturkan sembah kembali. Khusyuk, hormat, bekti. Tulus, menghormat dari lubuk hati. “Perjalanan hidup ini banyak ragamnya. Dewa di Atas Dewa yang mengatur langit dan bumi bisa menentukan apa saja. Termasuk sifatmu. “Apa kurangnya menjadi permaisuri seorang raja yang berkuasa seperti aku? Apakah masih ada lelaki yang bisa menyamai, bahkan hanya bayanganku? “Rasanya di seluruh jengkal tanah wilayah Keraton tak akan pernah ada. “Tetapi anehnya, kamu seperti masih menyimpan, masih memberi tempat kepada seorang ksatria yang bernama Upasara Wulung. Kuakui ia senopatiku yang menentukan saat melawan prajurit Tartar. Ia masih muda. Tapi ia tak ada apa-apanya. “Upasara tidak membuatku cemburu. “Tidak membuatku harus berhitung dengannya. “Setiap saat aku bisa menyuruhnya membunuh diri. Setiap saat ia akan menyembah bayanganku. Ia tak akan mungkin bisa menyamai bayangan tubuhku yang telah lenyap. “Yayi Gayatri… sudahilah perasaan yang tak perlu itu. “Itu hanya akan menyiksamu. “Dan menyiksa Upasara….” Suara Baginda berubah menjadi lebih keras. Nadanya menjadi lebih cepat. “Kamu harus tahu, Yayi, Upasara bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Ia seorang prajurit tanpa diketahui siapa orangtuanya, dari mana asal-usulnya. Ia tak punya pangkat, tak punya derajat. Sewaktu bertugas menyelidik ke Keraton Singasari, kamu menemaninya. Saat itu tumbuh daya asmara yang luar biasa. “Karena dalam bayangannya, dan sesungguhnya begitu, kamulah bidadari yang paling bidadari, dewi yang paling dewi, sehingga kehadiranmu bagaikan sinar bulan purnama. “Lebih menyedihkan lagi karena kekonyolan merasa kamu menanggapi perasaannya. “Katakan terus terang, apakah itu tidak menyiksanya? “Melukai sampai ke tulang sumsumnya? “Upasara boleh saja menjadi perkasa. Menjadi ksatria utama, menguasai segala ilmu yang memang diperlukan prajurit, menjadi lelananging jagat, akan tetapi tetap saja merasa jiwanya tak imbang. “Merasa sisa-sisa daya asmaramu masih melekat di sana. “Itulah beban yang akan ditanggung seumur hidupnya.” Baginda terbatuk sesaat. Wajahnya memperlihatkan sinar puas. Akan tetapi senyuman yang terpancar terlalu dingin. “Padahal kalau direnungkan, apalah arti hubungan kalian. Daya asmara apa yang kalian rasakan? Tak ada. Tak akan pernah ada. Tak akan pernah ada selamanya. “Hanya impian. “Impian keinginan yang melelahkan. “Yang membuat Upasara gila. “Yayi-lah penyebabnya!” Kembali terdengar suara. Antara batuk dan terbatuk. Baginda melirik istrinya sekejap. Tak ada perubahan yang bisa ditangkap dari wajah yang tetap menunduk sejak pertama tadi. “Apa lagi namanya kalau bukan kegilaan yang menjadi beban? “ Sekian tahun telah berlalu. Kamu tak pernah tahu, tak pernah bertemu bayangannya. Entah hidup atau matinya kamu tak tahu. Dan Upasara masih merasa memiliki daya asmara denganmu. Sehingga Ratu Ayu Bawah Langit yang menjadi istri pendampingnya ditinggal pergi. “Tidak pernah jelas. “Yang jelas dan nyata adalah merawat daya asmara denganmu. Yayi, katakanlah terus terang, bukankah Yayi sangat jahat padanya? Membuat Upasara edan dalam keadaan waras? Membuat ia cacat dalam keadaan sehat? “Ah, betapa dungunya. “Betapa tololnya. “Di jagat ini ada begitu banyak wanita. Tapi ia masih bernyanyi, masih mengidungkan sesuatu yang tak ada. “Dan kamu yang menjadi penyebabnya, diam-diam merasa bahagia. Dan aku, raja yang berkuasa, yang bisa melakukan apa saja, jadi terdorong untuk membicarakannya. “Terus terang aku kasihan pada Upasara. “Ksatria yang bisa berbakti sebagai abdiku, tenggelam seperti kotoran….” Permaisuri Rajapatni tetap tertunduk. Tak bergerak. Tak berubah tarikan napasnya yang pelan dan berirama. “Isyaratkan apa maumu, apa keinginanmu. Aku selalu bisa mewujudkannya. Tetap tak ada jawaban. Tak ada perubahan. Seperti tak ada. Seperti dupa. Hati Baginda tergetar tanpa terasa. Selalu begitu setiap kali berhadapan dengan Permaisuri Rajapatni. Selalu ada rasa yang mengintip, mengilik-ngilik setiap kali melihat permaisurinya yang ini, karena selalu terpeleset hubungannya dengan Upasara. Dalam hatinya Baginda merasa bahwa dirinya di atas segala apa. Tetapi juga dalam hatinya, secara tak dipaksa, tersisa tanda tanya, apa yang sebenarnya membuat Gayatri selalu membisu pada saat-saat tertentu? Apa yang dulu membuat Upasara menolak diberi jabatan mahapatih? Pertanyaan yang bisa dijawab siapa saja. Juga hatinya sendiri. Untuk memuaskan. Tapi kadang tergema lagi. Meminta jawaban baru. “Sekarang ini, Keraton lagi diguncang kerisauan. “Dan aku membicarakan sesuatu yang tak ada gunanya. Pergilah, Yayi….” Permaisuri Rajapatni menyembah tulus. Lalu menggeser tubuhnya perlahan sekali. Meninggalkan Baginda yang untuk beberapa saat menghela napas dua-tiga kali, sebelum berusaha menenggelamkan semuanya ke alam impian. Asmara Bumi dengan Air SEJAK Baginda meninggalkan halaman prameswaren, suasana masih hening beberapa saat. Baru kemudian terdengar suara Halayudha. “Baginda baru saja bersabda, kita semuanya seleh gegaman. Tak ada lain yang bisa kita lakukan kecuali menjunjung tinggi sabda Baginda. “Maafkan, kalau saya mendahului….” Halayudha menyembah ke arah di mana Baginda tadi berada, lalu berjongkok, sebelum akhirnya berdiri. Dengan memakai kalimat Baginda, Halayudha menekankan bahwa tak ada gunanya melanjutkan sengketa. Semua yang hadir dianggap tidak becus, sehingga perlu meletakkan senjata. Perlu untuk tidak melakukan suatu apa. Dalam artian yang lebih luas, semua senopati, tanpa kecuali, tidak memegang jabatan apa-apa. Menunggu perintah selanjutnya. Dari semua yang mendengar, hanya Senopati Agung Brahma yang mendehem kecil. “Kita semua harus mematuhi. “Akan tetapi aku tak akan pernah melupakan hal ini. Halayudha, masih ada hari lain untuk bertemu muka.” Di luar dugaan, Halayudha balas menatap sorot mata Senopati Agung. “Dengan senang hati, Senopati Agung. “Sebagai prajurit, saya menjalankan sabda Baginda. Sebagai sesama ksatria, saya siap melayani kapan saja. Di luar batas wewenang Keraton, kita bisa berhadapan sebagai sesama lelaki.” Gamblang sekali Halayudha menyambut tantangan Senopati Agung! Ditambah lagi: “Semua yang hadir di sini menjadi saksi. “Saya tak akan mundur menunggu sampai keris pusaka Senopati Agung dibersihkan dengan bunga melati.” Sindiran Halayudha terdengar kasar. Menyinggung masalah keris, seolah Halayudha ingin menekankan bagaimana ia bisa merebut dengan mudah, dan menggunakan untuk menggantung Sidateka di dinding Keraton. Senopati Agung harus mengambil, membersihkan dulu sebelum bisa menghadapi Halayudha. “Kalau masih ada yang tersinggung dengan kata-kata saya dan yang saya lakukan, silakan menyelesaikan di luar halaman.” Lebar langkah Halayudha ke arah luar. Menuju kori butulan atau pintu kecil. Akan tetapi pintu itu terbuka lebih dulu. Gendhuk Tri berdiri di samping Singanada. Menunggu. Sejak mereka berdua datang, mereka masih menunggu untuk membaca situasi. Karena begitu banyak prajurit bersiaga. Sewaktu mendengar suara gaduh di bagian dalam, mereka berdua menyerbu masuk. Tak terlalu menimbulkan kesulitan. Di pintu kecil, keduanya menunggu masuk. Saat itu justru Halayudha sedang melangkah ke luar. “Persoalan kita belum selesai, Halayudha….” “Apa yang kamu perlukan dariku, anak muda?” Singanada bertolak pinggang. “Kembalikan kitab pusaka Gendhuk Tri.” Halayudha mengangkat alisnya. “Kitab pusaka macam apa? “Ditulis di daun apa, bagaimana bunyinya?” Singanada terenyak. Sama sekali tak diduganya bahwa ia akan menghadapi pertanyaan balik seperti yang diucapkan Halayudha. Ia mengetahui bahwa Halayudha menyimpan kitab yang menjadi inti ajaran Gendhuk Tri. Akan tetapi ia sendiri tak tahu kitab apa, dan ditulis di tempat apa, atau bagaimana bentuknya. Demikian juga Gendhuk Tri. Seumur hidup ia belum pernah melihat atau menyentuhnya. “Kalian bilang aku mencuri atau mengambil kitab kalian. Katakan yang mana. Kalau memang kalian ingin mencari gara-gara, tak perlu menuduh tanpa alasan. “Aku sudah siap menghadapi.” Para senopati yang masih berada di sekitar halaman depan Keraton saling pandang tak mengerti persoalannya. “Kalau itu yang dikehendaki, bersiaplah.” Singanada mencabut kantar-nya. “Sebagai prajurit, kamu tidak mematuhi perintah Baginda untuk seleh gegaman. Malah bikin ribut. “Singanada, lebih baik aku simpan barang mainanmu itu.” Sebat sekali Halayudha bergerak maju. Tubuhnya bergerak bagai bayangan yang melesat ke depan. Akan tetapi sesungguhnya kakinya yang lebih dulu menggunting kuda-kuda Singanada. Singanada mengetahui bahwa Halayudha cerdik sekali membaca kekuatannya. Tenaga lipat sembilan yang menjadi andalannya, dengan meloncat ke arah sembilan penjuru, bermula dari loncatan pertama. Bagian itulah yang dimatikan Halayudha. Singanada tidak mengubah kedudukan kakinya. Rambutnya yang tergulung tiba-tiba saja lepas terurai dan menyampok ke wajah Halayudha. Bagai tusukan seratus jarum seketika. Dengan mengeluarkan suara ejekan dingin, Halayudha merebahkan tubuhnya, dengan kaki tetap menggunting kaki lawan. Singanada merasa tempurung lututnya berdenyut. Getaran tenaga Halayudha terasakan. Secepat ancaman datang, secepat itu pula Singanada mengubah serangan. Tubuhnya kembali tegak, rambut tertarik ke belakang, dan kantar di tangan kanan dan kiri menghantam ke arah dada. Ke arah satu tempat. Halayudha justru membalik tubuhnya. Menyongsong maju. Menyerahkan dadanya kena totokan kantar. Senopati Agung Brahma menahan napas. Apa yang dipertontonkan Halayudha jarang dilakukan tokoh silat kelas utama. Tenaga yang tadinya ditarik ke belakang dengan menekuk punggung, justru diubah ke depan saat serangan datang. Gendhuk Tri juga heran. Karena gerakan yang pertama tadi, biasanya disusul dengan gerakan menjatuhkan tubuh. Seperti yang selama ini selalu berhasil dilakukan untuk mengecoh lawan. Akan tetapi sekarang justru dibalik. Singanada memindahkan dua kantar pendek ke satu tangan. Dalam sepersekian tarikan napas, ia merasa bahwa dada lawan yang diarah seperti pusaran air yang menenggelamkan tenaga yang datang. Pada saat yang bersamaan kakinya terancam. Tak ada cara lain kecuali melompat ke atas. Dengan kekuatan satu kaki. Karena kaki yang sebelah, lebih untuk menghindar dengan jalan memutar tubuhnya. Saat melayang ke atas Singanada sudah bersiap menyambut datangnya serangan beruntun. Yang pasti akan segera datang. Pertarungan di tengah udara. Perhitungan yang tepat. Akan tetapi tetap juga melesat. Karena Halayudha tidak melanjutkan serangan dengan melompat ketengah udara, melainkan memutar tubuhnya, dengan kaki terangkat sempurna ke atas. Tubuh Singanada yang melayang ditendang dari jarak jauh dengan kekuatan berputar, searah dengan putaran tubuh Singanada. Mahapatih Nambi yang sejak tadi memperhatikan setiap gerakan, mendugaduga bahwa Halayudha secara sengaja membalikkan setiap gerakan yang sudah diduga lawan. Sesuatu yang sebenarnya sangat berbahaya. Karena gerak rangkaiannya terpatah-patah dan sulit diterka kemungkinan yang terjadi. Di samping itu, perlu diperhitungkan juga kekuatan lawan. Yaitu Maha Singanada, yang bukan sembarang jago silat. Sebagai sesama jago silat, Mahapatih Nambi bisa mengetahui bahwa dengan membalik-balik gerakan, memungkinkan untuk sedikit “bermain-main”, merangsang kepekaan baru. Akan tetapi itu tak bisa dilakukan dengan lawan yang seimbang. Gerakan pembukaan dalam ilmu silat, tersusun langkah demi langkah yang berangkaian. Setiap gerakan awal boleh dikatakan sudah pasti, sekurangnya sampai pada jurus-jurus tertentu. Kecuali kalau memang kekuatan tenaga dalamnya lebih berlipat ganda dari musuhnya. Ibarat melawan prajurit biasa, walau gerakan lawan rumit dan tersusun, Nambi bisa menyapu keras. Memusnahkan dengan mengadu tenaga dalam. Kalaupun Halayudha lebih unggul setingkat, Singanada bukan lawan yang bisa disapu begitu saja. Akan tetapi toh itu yang dilakukan oleh Halayudha. “Loncat!” Teriakan Halayudha begitu keras, dan ternyata Singanada memang berloncatan ke arah sembilan penjuru. Setiap kali bayangan tubuhnya berkelebat ke delapan penjuru, untuk kemudian berada di tengah. “Ini menarik, akan tetapi membosankan. “Gendhuk kecil, bergabunglah. “Aku ingin menyaksikan perpaduan bumi dengan air.” Telapak tangan Halayudha mengincar ke arah dada Gendhuk Tri! Benar-benar kurang ajar! Asmara Berasal dari Dalam BENAR-BENAR kurang ajar. Dan hebat. Kurang ajar karena telapak tangan Halayudha mengincar dada Gendhuk Tri. Sesuatu yang tak seharusnya dilakukan ksatria, apalagi senopati setingkat seperti Halayudha. Akan tetapi Halayudha seperti bisa menebak dengan jitu, bahwa hanya dengan gerakan kasar inilah ia bisa memancing Gendhuk Tri terseret ke dalam medan pertempuran secara seketika. Kalau hanya dipanasi atau diserang, belum tentu Gendhuk Tri mau ikutan terjun mengeroyok. Hebat, karena di saat menghadapi serangan dari segenap penjuru, Halayudha masih bisa mencuri peluang untuk menyerang Gendhuk Tri yang bersiaga. Padahal dilihat selintasan, medan pertarungan yang dihadapi Halayudha belum sepenuhnya menguntungkan dirinya. Belum ada tanda-tanda ia bisa merebut keunggulan. Akan tetapi sudah mengeduk ke arah lain, membuat medan baru yang membuatnya menghadapi risiko ganda. Bahkan kalau didengarkan apa yang diucapkan, Halayudha seakan tengah melatih lawan. Bukan sedang berusaha mengalahkan. Diam-diam Senopati Agung Brahma mengakui bahwa Halayudha dua tingkat di atas ilmu yang dimiliki. Terutama sekali dari kecepatan dan ketepatan membaca gerakan lawan. Sewaktu menghadapi Singanada, Halayudha sudah tahu bahwa ia tak bisa merebut kemenangan dalam waktu singkat. Akan tetapi seperti sudah memperkirakan gerakan lawan dan gerakannya sendiri. Pertarungan seperti yang telah direncanakan, telah dihafal, sehingga ia bisa bergerak sangat cepat sekali. Dengan mengundang Gendhuk Tri, Halayudha seperti menemukan gairah baru untuk menghadapi dua lawan sekaligus. Pancingan mengena. Begitu tangan Halayudha merayap liar di depan dada, secara spontan Gendhuk Tri menyampok keras. Selendangnya yang warna-warni menggulung tangan Halayudha. Tangan kirinya terulur ke depan, menyambut jakun Halayudha. Halayudha menarik tangannya, menekuk, dan sikunya menghantam perut Gendhuk Tri. Dalam gerakan berputar. Sementara kakinya yang lepas, menahan serbuan dari Singanada. Kali ini Senopati Agung yang menahan napas. Sodokan siku itulah yang menamatkan perlawanannya. Yang membuat kerisnya bisa direbut paksa. Itu yang akan dialami oleh Gendhuk Tri. Karena selendang yang melibat tangan Halayudha ikut tertarik ketika Halayudha menekuk tangannya. Badannya jadi ikut terdorong ke depan karena kerasnya tarikan. Pada saat itu siku Halayudha yang berbisa siap menghancurkan. Singanada yang melihat bahaya mengancam Gendhuk Tri, menyusup di antara celah kaki Halayudha. Menyusup masuk. Gendhuk Tri sendiri bukan lawan yang enteng. Yang bisa dibekuk dalam satu gebrakan. Dengan sangat cepat Gendhuk Tri memutar tubuhnya bagai gasing, ke arah yang berlawanan dengan libatan selendangnya. Sehingga meskipun tertarik, bisa melepaskan diri. Tanpa tersentuh siku Halayudha. “Bagus. “Jangan terbang terlalu tinggi. “Itu kurang bagus. Air tak akan membuat gelombang tinggi kalau tidak berada di laut, kalau tak ada angin kencang.” Tubuh Gendhuk Tri yang melayang ke atas bergoyang-goyang. Seperti gemetar. Karena pada saat itu Halayudha menggemboskan tenaga dalamnya. Tenaga tarikan Gendhuk Tri jadi punah karenanya. Hal yang juga dirasakan Singanada. Ia seperti amblas ke udara kosong. Sehingga tubuhnya jatuh menderas. Singanada menggerung keras. Dua kantar pendek berada di tangan kanan dan kiri. Pada saat yang sama kedua tangannya membuka dan tubuhnya berputar keras. Menyabet apa saja yang menghalangi. Halayudha mengeluarkan decak kagum. “Sembilan tenaga, bukan sembilan kali putaran.” Halayudha masih bisa memberi pengarahan, sambil menghindar ke arah samping. Dengan demikian serangannya ke arah Gendhuk Tri batal. Malah ia terpaksa menarik mundur kakinya. Tiga langkah saja. Langkah keempat sudah kembali masuk ke dalam pertarungan. Dengan kedua tangan terangkat ke atas, terkepal, dan pundak lurus rata dengan tangan sampai siku. Inilah cara menggempur putaran tangan Singanada. Mematahkan di tengah putaran. Dengan tenaga keras. Singanada kembali mengaum. Tubuhnya menggeliat, dengan gerakan dahsyat ia berusaha membelit tubuh lawan. Pertarungan keras dengan jarak sangat dekat. Membelit tubuh dengan tubuh adalah gerakan yang cukup berbahaya. Justru karena ilmu yang biasa dimainkan Singanada adalah ilmu Sembilan Penjuru. Mengurung udara dan ruang pertarungan. Berarti pertarungan berjarak. Akan tetapi Singanada tak bisa memainkan Nawagraha atau Siasat Sembilan Bintang. Bahkan kantar, tombak pendek, yang bisa untuk menjaga lawan berada dalam batas serangan seperti macet. Halayudha bisa menebak gerakan-gerakan yang ada. Dengan tenaga sedikit berlebih, Halayudha seakan siap menandingi benturan keras sama keras. Adu tenaga pada posisi sekarang ini jelas lebih menguntungkan Halayudha. Menghadapi situasi rumit, Singanada menggerung keras. Mengubah menjadi pertarungan jarak pendek. Nawadwara atau Sembilan Pintu diringkas menjadi pendek. Dengan pemikiran itu, Singanada ingin agar Halayudha tak mampu menebak gerakannya, yang bisa terbaca dengan mudah. Satu-satunya yang masih membuat Singanada was was ialah kemampuan tenaga dalam Halayudha yang sempurna. Pada saat yang sama bisa mengubah antara berisi, kosong, atau tenaga berputar. Seperti yang barusan terjadi. Tenaga putar demikian keras, lalu berubah menjadi kosong, dan kini berubah menjadi keras. Menjebol kurungan tubuh Singanada yang berputar. Singanada menggeliat ke sisi lain, untuk menghindar adu tenaga keras lawan keras. Akan tetapi dengan begitu, Halayudha mempunyai kesempatan menyapu kaki Gendhuk Tri yang sedang melayang dan bergoyang turun. “Srimpung habis.” Singanada mencelos. Tak menduga bahwa Halayudha akan menebas kaki Gendhuk Tri dengan gerakan kaki berputar yang keras. Dengan menyrimpung, diartikan menebas rata. Sekeras apa pun kaku dan kekuatan Gendhuk Tri, pasti bukan lawan Halayudha. Lebih berbahaya lagi karena tak mungkin menghindar. Tubuhnya sedang meluncur turun. Dilihat dari goyangan tubuh, Gendhuk Tri belum menguasai sepenuhnya berat tubuhnya. Gendhuk Tri menyadari bahaya. “Kamu keliru!” Justru itu yang diteriakkan. Dengan tubuh terus meluncur. Akan tetapi kedua kakinya ditekuk ke belakang. Sehingga srimpungan kaki dengan kaki yang menebas dengan gaya berputar, menemukan tempat kosong. Gendhuk Tri turun dengan lutut menyentuh tanah. Pada saat yang sama tangannya melepaskan selendang dan menggulung leher Halayudha. Hebat dan jeli Halayudha, akan tetapi terkesiap juga. Sabetan selendang ke leher membuatnya perih. Kalau saja tenaga dalam Gendhuk Tri setanding, Halayudha sudah terbanting seperti Sidateka! Singanada maju ke depan mendampingi Gendhuk Tri. Siap melindungi dan mengambil alih pertarungan. Halayudha berdiri tegak. Dadanya membusung. “Bagus, bagus sekali. “Kalian berdua ingat baik-baik. Inilah perpaduan sifat bumi dan air yang sesungguhnya. Bagai bersatunya daya asmara yang berasal dari dalam. Dari batin. “Ingat baik-baik. “Selama kalian berdua mencoba main sendiri-sendiri, ingin merebut kemenangan satu dari yang lainnya, hasilnya justru sebaliknya. “Tapi justru yang baru saja ini membuktikan kehebatan. “Bagus, bagus sekali. “Di kelak kemudian hari, kalian berdua akan menjadi pasangan yang luar biasa. Tapi karena sekarang ini masih terlalu ringan, kalian tetap kalah. “Hanya mampu menunjukkan kebolehan, tapi tak bisa memenangkan pertarungan.” Duka dari Dewa HALAYUDHA menghela napas berat. Wajahnya mendongak ke langit. Guratan duka menggaris tajam. Mengiris suaranya yang menggeletar. “Dewa yang berada di langit, kenapa kamu begitu murka kepada Guru? Dosa apa yang dilakukan sehingga kamu turunkan duka bertubi-tubi pada guruku, dan harus kusandang? “Kalau kamu punya keberanian, turunlah. “Aku, Halayudha, murid utama Paman Sepuh Dodot Bintulu, menantangmu.” Tubuhnya yang kokoh perkasa, kepalan tangannya yang kaku, masih kalah mengerikan dibandingkan tusukan nada suaranya yang menyayat. Seakan disarati dengan beban duka yang tak tertanggungkan. Untuk pertama kalinya, siapa pun yang mengenal Halayudha merasa menemukan sosok yang lain. Bahkan Senopati Agung Brahma yang begitu mendendam, tercerabut perasaan iba untuk sesaat. Halayudha yang sekarang ini, seperti pertapa tua yang melontarkan dendam dengan rintihan. Selama ini Halayudha selalu bisa menampilkan berbagai wajah. Bisa mengubah raut muka untuk maksud-maksud tertentu. Akan tetapi sekali ini mengesankan sekali. “Dewa di langit. “Kenapa kamu begitu pengecut?” “Rupanya kamu pun kecewa. “Untuk apa penyesalan itu?” Gendhuk Tri menoleh ke arah datangnya suara. Karena serasa mengenali. Dan tidak salah. Yang muncul adalah Nyai Demang yang masih menggendong Kakek Berune. Masih beriapan tak keruan. Terjadilah pemandangan yang aneh. Halayudha yang baru saja memamerkan semua ilmu yang dimiliki, mendadak sangat berubah perangainya. Mengutuk Dewa. Pada saat berikutnya muncul seorang wanita yang menggendong mayat dan menjawab pertanyaan. Hanya karena semua perhatian sedang tertuju kepada Halayudha, kemunculan Nyai Demang dari persembunyian Halayudha tak begitu terperhatikan. Sekarang semua berusaha mengikuti setiap langkah dan kata pembicaraan yang membingungkan. “Jadi kamu pun kecewa, Dodot Bintulu? “Kamu pun mengutuk Dewa? Sungguh tak tahu malu.” Meskipun kata-kata itu keluar dari mulut Nyai Demang, akan tetapi nadanya sedikit berbeda. Karena sesungguhnya pengaruh Kakek Berune yang berbicara. Maha Singanada yang sedikit-banyak mengerti latar belakang persoalan masih tetap mengerutkan kening. Karena tak bisa menebak ke arah mana tanya-jawab yang tengah terjadi. Apalagi pendengar yang lain. Hanya Gendhuk Tri yang secara samar menemukan bentuk kira-kira apa yang tengah berlangsung. “Kenapa kamu sesali kalau jurus Air sengaja diciptakan untuk mendampingi jurus Bumi? Jurus Bumi yang ada bukan berarti Bejujag. Itu bisa berarti dirimu sendiri.” Halayudha menggeleng. “Kakek Berune, ketahuilah, aku adalah Halayudha, murid utama Paman Sepuh… Aku menuntut kepada Dewa, karena ia pilih kasih. Karena ia membenci Guru, dan ikut membenciku! “Dewa menjadi pengecut karena tak berani muncul menghadapiku. Padahal sudah jelas aku menantangnya.” “Ah, itu karena kamu kecewa saja. “Dari dulu yang namanya Dodot Bintulu selalu iri. “Dari dulu kamu tak pernah berubah.” “Kakek Berune, jangan turut campur.” “Aha, kamu kira siapa kamu ini? “Kamu kira, kamu yang dipilih Pulangsih? Tengok wajahmu yang morat-marit dan nasibmu yang buruk itu.” Halayudha mengertakkan giginya. “Bapa Guru yang mulia menciptakan Kitab Bumi, meramu ilmu segala ilmu yang ada di tanah Jawa. Untuk diabdikan kepada Keraton, untuk dijadikan pegangan para ksatria. “Akan tetapi justru wanita yang disayanginya menganggap itu ciptaan Eyang Sepuh. Justru wanita yang disayangi menciptakan ilmu untuk berpasangan seolah pasangan Eyang Sepuh dengan Putri Pulangsih. “Tidakkah itu menyakitkan? “Bukankah itu penghinaan Dewa yang hanya mengirimkan duka kepada Rama Guru? “Aku tak bisa menerima. “Sepanjang hidupnya Bapa Guru begitu banyak menderita. Sampai ke anak muridnya dipaksa menjadi durjana, karena duka yang kelewat berat. “Di mana ada keadilan? “Kalau tak bisa menunjukkan, biarlah aku yang ganti mengajari para Dewa.” Walau pembicaraan simpang-siur tidak menentu, Gendhuk Tri bisa menemukan alur yang sesungguhnya. Dari sisi tertentu, Halayudha tetap ksatria. Yang tergila-gila pada ilmu silat, lebih dari segala urusan. Termasuk kepangkatan dan derajat mulia dalam tata pemerintahan Keraton. Betapapun besar nafsu berkuasanya, masih terselip keinginan untuk muncul sebagai ksatria, untuk menjadi lelananging jagat. Itu sebabnya ketika menduduki jabatan yang begitu rapat dengan puncak kekuasaan, Halayudha masih mengejar ilmu silat. Masih menekuni dan mencoba menguasai. Pangkat dan derajat tinggi di Keraton pada dasarnya hanya untuk memudahkannya mengisap semua pelajaran ilmu silat yang ada. Segala ilmu yang dianggap sakti, tanpa memedulikan apa pun, akan dikuasai. Tindakan itu yang menyeret Halayudha kepada berbagai tokoh penjuru dunia. Sampai pada titik tertentu, menemukan Kitab Air. Tirta Parwa ini pula yang membawa kepada pengertian bahwa sesungguhnya penciptaan Kitab Air untuk melengkapi atau sebagai padanan Kitab Bumi. Untuk melengkapi kekurangan Kitab Bumi yang dikembangkan oleh Eyang Sepuh dengan jurus-jurus Tumbal Bantala Parwa. Hati Halayudha terluka. Tergores duka. Tersayat hina. Gabungan antara gerakan Gendhuk Tri, yang secara jelas mewarisi ilmu Putri Pulangsih, dan gerakan dasar Maha Singanada, menunjukkan bukti hubungan daya asmara di belakang penciptaan. Begitu kedua ilmu digabung, yang menyembul ke luar adalah kekuatan baru yang menakjubkan. Kekuatan yang mampu mengalahkan segala mara bahaya. Mampu mengungguli ilmu yang selama ini secara mati-matian memaksa Halayudha berlatih. Kenyataan inilah yang menjungkirbalikkan Halayudha. Jalan pikirannya menjadi kacau. Justru pada saat itulah tiba-tiba ia teringat Guru. Teringat Paman Sepuh yang hidupnya begitu menderita. Yang dikhianati murid-muridnya sendiri, yang dicelakakan, yang membuatnya menderita dan pedih sepanjang hidup. Loncatan pikiran ke arah penderitaan gurunya, selama ini tak mempunyai arti apa-apa bagi Halayudha. Sebelumnya. Tapi tidak setelah menyaksikan perpaduan gerakan Gendhuk Tri dan Maha Singanada. Apa yang ditemui adalah suatu kenyataan baru. Yang walaupun sudah terpikirkan, tetap membuatnya sangat terkejut. Keberhasilan perpaduan antara bumi dan air. Sekarang ini, Halayudha masih bisa mengalahkan Gendhuk Tri maupun Singanada. Halayudha masih percaya diri mampu menundukkan mereka berdua, walau tidak semudah sebelumnya. Baik karena penguasaan ilmu Gendhuk Tri-Singanada belum menyatu benar, maupun karena Halayudha percaya diri mempunyai siasat untuk merontokkan perpaduan itu. Akan tetapi ini semua tak membantah kekuatan baru. Kekuatan yang bisa menundukkannya, suatu ketika. Kekuatan yang bisa meletup, berbenih dari perpaduan daya asmara. Sesungguhnya, inilah yang menampar kesadaran Halayudha. Yang merasa akar pijakannya lepas. Pada saat itu, sebersit pikiran ingat gurunya. Pada saat itu pula, Kakek Berune yang kini memakai tubuh Nyai Demang sebagai perantara, menemukan jawaban yang sama. Kakek Berune, Paman Sepuh, Eyang Sepuh, Mpu Raganata, maupun Putri Pulangsih adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup sezaman seperti mereka sekarang ini. Lebih dari itu mereka ditalikan oleh hubungan yang erat. Baik sebagai sesama prajurit Keraton Singasari dan pemuja Sri Baginda Raja Kertanegara, maupun sebagai sesama ksatria. Ikatan batin yang lebih kuat terjalin karena sama-sama berharap kepada Putri Pulangsih. Maka kemunculan Kakek Berune bisa langsung menyambung pembicaraan. “Kakek Berune, kalau mau mati, mati saja dengan tenang.” Duka Itu Masih Menetes SUARANYA lantang keras, akan tetapi menyentuh. “Apa kamu bilang? “Aku baru mau mati setelah kalian semua melihat bahwa Pukulan Pu-Ni yang terbaik, dan Pulangsih mengakui itu.” “Apa ada gunanya lagi? “Bumi dan Air sudah bersatu. Bukan Pu-Ni dan Air, bukan yang lainnya. Masihkah penasaran dan tak mau menerima? “Bukankah Guru yang lebih penasaran karena Bumi yang diciptakan diakui sebagai milik orang lain?” Sampai di sini Gendhuk Tri mengentakkan kakinya. “Jangan asal bicara, Halayudha. “Tak nanti Eyang Sepuh mengakui ilmu orang lain.” Halayudha menggeleng. Berulang. “Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini.” “Ngawur! “Sudah jelas kamu yang mencuri kitab pusaka warisanku.” Halayudha tersenyum. Bagai seringai kesakitan. Seakan duka abadi masih menetes dari napasnya. “Gendhuk Tri, ambillah Kitab Air yang dibawa Sidateka. Entah kenapa bisa disalin oleh pendeta dari Syangka yang sembrono itu. Bawalah semuanya. Kamu berhak mendapatkannya. “Tak ada gunanya lagi bagiku.” Bahkan Singanada yang biasa berterus terang merasa aneh dengan perubahan sikap Halayudha yang berbalik. Gendhuk Tri sempat bertanya-tanya apakah Halayudha sedang menyusun siasat kotor. “Ambil kembali. Selama ini kusimpan di tempat pakaian kotor, yang tak bisa diendus Sidateka. “Gabungkan agar kalian meneruskan keinginan yang tak terlaksana. “Meskipun itu membuat Guru sakit hati selamanya. “Juga di tempat Guru bertemu para Dewa.” Halayudha berbalik setelah mengangguk. “Tunggu!” Nyai Demang maju setindak. “Bintulu, kamu sudah menyerah kalah? “Kamu sudah mengundurkan diri? Baik, baik. Kini giliranku.” “Bapa Guru jauh lebih tenang dan bahagia daripada Kakek yang masih penasaran.” Tangan Halayudha mengedut dan dua tombak prajurit di sampingnya bisa diraup sempurna untuk dilontarkan ke arah Nyai Demang. Yang dengan dingin menangkap. Tombak itu retak. Berkeping-keping. Jatuh ke samping. Dua kali Halayudha menjajal, hasilnya sama saja. Halayudha menoleh ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada. “Itu adalah tugas kalian berdua, kalau ingin memulihkan Kakek Berune. Aku tak ada urusan lagi.” Halayudha mengibaskan tangannya. Tubuhnya melesat ke arah luar Keraton. Sedemikian cepatnya sehingga Singanada menggerung keras, dan kantar-nya terlontar. Karena menduga Halayudha melakukan gerakan menyerang. Tombak pendek itu meluncur tepat. Halayudha hanya menggerakkan tangannya pendek, dan kantar itu terlontar kembali. Amblas ke kori butulan. Sehingga mengunci. Tenaga kibasan yang luar biasa hebatnya. Tenaga yang sama yang ditujukan kepada Nyai Demang. Yang berhasil dipatahkan dengan gampang. Singanada memandang ragu ke arah Gendhuk Tri. Keduanya berpandangan. Menghela napas bersamaan. Apa yang baru saja terjadi menyingkap banyak persoalan dalam hati masingmasing. Gendhuk Tri membenarkan semua kalimat Halayudha. Termasuk bagian di mana perpaduan antara jurusnya dan jurus Singanada yang menjadi sakti. Ketika masih menyerang sendiri-sendiri, Halayudha seakan bisa mempermainkan. Bisa membuat seolah latihan di mana Halayudha memberi petunjuk. Namun begitu berubah perasaan hati mereka berdua, serta-merta Halayudha bisa terjerat. Terkena lilitan selendang. Padahal kalau dilihat dari kemampuannya, tak mungkin Halayudha bisa tersudutkan dalam pertarungan. Yang membuat Gendhuk Tri menjadi risau dan gamang ialah kenyataan bahwa ia menyadari perasaannya ketika harus sama-sama menggempur tadi. Perasaan kepada Singanada, seperti rasa kuatir, rasa membela, dan rela mengorbankan diri. Hal yang kurang-lebih juga dirasakan oleh Singanada. Hanya pada dirinya hal itu tidak begitu masalah. Karena merasa sejak sebelumnya ia menyukai Gendhuk Tri dan Gendhuk Tri menyukainya. Tak ada pikiran lain. Tak ada kerisauan seperti yang dirasakan Gendhuk Tri. “Mari kita ambil kitab pusaka itu, dan kita menyingkir dari tempat ini.” Gendhuk Tri masih berdiri terpaku. Nyai Demang memandang kiri-kanan. “Di mana kamu, Dodot Bintulu?” Perlahan-lahan tubuhnya bergerak, melaju ke depan, seakan gerakan yang limbung. Seolah beban di tubuh Nyai Demang begitu berat, atau kakinya tak begitu kuat. “Kenapa tidak ditolong?” Suara Cebol Jinalaya menjebol perhatian Gendhuk Tri. “Tidak sekarang ini. “Lebih mungkin membahayakan kami dan Nyai….” Cebol Jinalaya mengangguk-angguk. “Kalau begitu saya saja. Saya biasa mengantarkan orang menjelang ajal….” Dua langkah kaki Cebol Jinalaya bergerak, Gendhuk Tri menarik kembali dengan selendangnya. Lalu bersama dengan Singanada melangkah ke bagian samping, menuju ke tempat kediaman Halayudha. “Maaf, Senopati Campa, bolehkah aku yang tua ini mengenalmu?” Singanada berbalik. “Bukankah sekarang sudah mengenal?” “Namaku Brahma. Aku dulu utusan Baginda Raja yang sama-sama dengan Senopati Muda ke tanah Campa….” “Itu kedua orangtua ku. “Aku tak mau membicarakan itu. Maaf.” “Apakah orangtua Senopati bernama Mapanji Wipaksa?” Jari-jari Singanada saling beradu. Gerahamnya beradu, menimbulkan suara keras. Pandangan matanya tajam menusuk. Gendhuk Tri bergidik karenanya. Tak pernah ia mengetahui bahwa Singanada bisa berubah sama sekali. Selama ini ia bertanya-tanya dalam hati, dari mana asal-usul Maha Singanada. Yang diketahui hanyalah sepotong kecil: ia salah seorang putra senopati yang diutus ke tanah Campa untuk mengantarkan putri Keraton yang bernama Dyah Ayu Tapasi. “Jangan paksa aku bertindak kasar.” Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. “Rasanya aku mengenali. “Tapi kalau Senopati Muda tak mau membicarakan, aku minta maaf. “Maaf….” Suara Senopati Agung Brahma menjadi sangat berat. Wajahnya menunduk. Kedua bahunya menggunduk. Beberapa kali kepalanya menggeleng lemah. Seakan mengusir bayangan yang ganjil dan tak bisa dilepaskan seketika. Maha Singanada sendiri berubah sikapnya. Pandangan matanya menatap kosong. Gerahamnya beradu. Tangannya kaku. Langkahnya tak menentu. “Kenapa kamu begitu kasar kepada orang yang lebih tua?” “Aku tak mau kamu campur tangan urusanku.” Gendhuk Tri mundur setindak. Singanada menatap tajam. Mendadak berbalik. “Senopati Brahma, aku datang untuk membunuhmu. “Bersiaplah.” Singanada ternyata tidak main-main. Ia mengambil sikap sempurna. Kedua tangannya bersiaga, membentuk sembah, lalu berubah dalam keadaan siap menyerang. Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. Disertai helaan napas berat. “Sudah lama aku mengubur semua yang berlalu. “Kalau hari ini aku melangkah kemari, aku tak menduga bakal menemukan begitu banyak yang telah kulupakan. “Ah, ada sesuatu yang tak bisa mati dan dikubur.” Melihat gelagat, Mahapatih Nambi memberi isyarat dan semua prajurit serta para senopati bersiaga membela Senopati Agung. Kidungan Masa Silam GENDHUK TRI tegak, tak segera bereaksi. Justru pada saat Singanada bersiap menghadapi Senopati Agung yang dikelilingi semua senopati Keraton yang ada, Gendhuk Tri termenung. Beberapa bayangan berkelebat dalam angannya secara tak teratur. Dalam waktu yang singkat beberapa hal terjadi dan berubah dari yang telah dikenalnya. Yang paling mencolok ialah perubahan Halayudha. Senopati licik yang dimusuhi Upasara—lagi-lagi Upasara, yang tak pernah merasa dendam pada seseorang, tiba-tiba saja kelihatan ganjil perangainya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Apa pun penyebabnya, perubahan itu kelewat mengejutkan. Yang juga membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hatinya ialah seolah Halayudha sendiri tak menyadari sepenuhnya. Seakan ada kekuatan lain yang membuatnya berbuat berbeda dari biasanya. Keadaan yang sekarang dialami oleh Singanada. Selama hari-hari terakhir ia mengenalnya, Singanada adalah ksatria yang terbuka, lelaki yang bicara terus terang dan agak sembrono, tidak begitu memedulikan tata krama. Akan tetapi, dengan satu pertanyaan dari Senopati Agung saja, seakan menjadi pribadi yang lain. Ada apa sebenarnya di balik ini semua? Jawabannya adalah masa lampau. Kidungan yang terdengar sebelumnya, yang masing-masing mengalami sebagai sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain. Sekurangnya begitulah jalan pikiran Gendhuk Tri mengenai diri Singanada. Dibandingkan dengan dirinya sendiri, Gendhuk Tri tak pernah merasa bahwa Singanada mempunyai alasan untuk gusar besar. Apalah artinya disebutkan siapa nama orangtuanya. Yang bahkan Gendhuk Tri pun tetap tak mengenalnya. Selain nama yang disebutkan sebagai senopati sabrang yang dikirim ke negeri Campa. Seperti juga senopati sabrang lainnya. Dengan duka dan derita yang pasti dialami. Kalaupun sesuatu yang mengerikan, Gendhuk Tri kurang yakin hal ini, tak perlu membuat kalap. Gendhuk Tri tak pernah merasa risau dengan dirinya, ia bahkan tak mengetahui siapa kedua orangtuanya. Yang diketahui hanyalah sejak kecil ia diselamatkan seseorang—bisa saja Jagaddhita, bisa pula Empu Raganata— dari kemungkinan menjadi selir kesekian ratus Sri Baginda Raja. Ia bahkan belajar ilmu silat tanpa mengenai nama ilmu silat yang dipelajari, sebelumnya. Upasara—tidak adakah contoh lain, Gendhuk Tri?—juga tidak mengenai siapa kedua orangtuanya. Selain sedikit petunjuk bahwa ia berasal dari Ksatria Pingitan. Yang sangat mungkin sekali masih mempunyai darah Keraton. Kalaupun tidak, kalaupun mereka ini dilahirkan sebagai kelompok paminggir, kelompok yang asal-usulnya tak diperhitungkan dalam tata masyarakat, apa salahnya? Gendhuk Tri masih berdiri mematung. Pergelutan pikirannya masih belum selesai. Selain masalah masa lampau, pikiran Gendhuk Tri juga dipenuhi dengan berbagai kemungkinan dari pengaruh ilmu silat. Selama ini ia asal mempelajari saja, dan langsung terjun ke medan pertarungan yang ada. Tanpa peduli apa-apa. Di masa lalu ia pernah memutuskan telinga Mpu Ugrawe yang kesohor, pernah berhadapan dengan saudara seperguruannya yang bernama Halayudha. Pernah kerasukan darah yang sangat beracun. Semua dijalani dengan menggelinding saja. Akan tetapi kenyataan demi kenyataan baru memaksanya berpikir. Sejak kemunculan Putri Pulangsih yang “antara ada dan tiada” yang bisa manjing ajur ajer dalam pengertian yang tinggi, Gendhuk Tri tergugah hatinya. Bahwa sesungguhnya ilmu silat yang dipelajari bukan hanya membentuk dirinya menjadi bisa berjumpalitan atau mengerahkan tenaga dalam. Akibatnya yang lebih langsung justru lebih hebat dari itu. Yaitu perubahan dalam diri seseorang. Pembentukan watak. Bukan sesuatu yang sama sekali baru. Namun baru pertama kali Gendhuk Tri menyadari secara dalam. Pengaruh dalam watak inilah yang dulu menyebabkan Upasara Wulung— aaaah!—memusnahkan ilmu silatnya. Pengaruh Kitab Bumi yang tak akan terpahami sepenuhnya. Hal yang sama, yang mungkin sekali terjadi pada diri Halayudha! Pada satu tingkat tertentu, jalan pikirannya menjadi berbalik. Mendadak saja Halayudha mengetahui kesengsaraan gurunya. Merasakan kepedihannya. Pada satu tingkat tertentu, Kakek Berune masih menitipkan keinginan pada tubuh Nyai Demang. Sementara tubuhnya sendiri sudah tidak memungkinkan. Dilihat dari hal ini, Gendhuk Tri bisa menangkap dengan jelas perbedaan apa yang dicapai para pendekar sejati. Eyang Sepuh, seperti juga Putri Pulangsih, telah berada pada tingkat moksa, bisa lenyap seluruh raganya. Meskipun masih tergoda untuk muncul kembali. Sementara Kakek Berune, yang dikatakan melalui jalan agak sesat, menghadirkan dirinya kembali melalui raga orang lain. Lalu kalau benar ini pengaruh ilmu silat, apa yang tengah terjadi dengan Singanada? Lelaki gagah yang membuka mata hatinya sebagai wanita. Gendhuk Tri tak mampu meneruskan pertanyaan karena mendengar suara Senopati Sepuh yang berat. “Saya minta para senopati yang lain mundur. “Ini tantangan seorang ksatria kepada ksatria yang lain. Tak ada hubungannya dengan Keraton atau takhta. “Saya minta semua saja mundur….” Mahapatih Nambi mundur selangkah. Diikuti para senopati yang lain. Senopati Agung menunggu sesaat. Mahapatih Nambi mundur lagi. Lima langkah. Diikuti oleh yang lainnya. “Aku sudah bersiap, Singanada.” “Bagus. Aku sudah bersumpah, siapa pun yang menyebut nama orangtua ku harus mati di tanganku.” “Aku sudah menyebutnya. “Bunuhlah kalau bisa. “Hanya perlu kamu ketahui, anak muda, aku menyebut bahwa aku mengenalnya. Karena kami sama-sama berangkat pada hari yang sama ketika rembulan masih tersisa. Melalui lautan yang sama, menghirup angin yang sama.” “Aku tak peduli itu.” Senopati Agung mengentakkan kakinya. “Aku tahu, bapakmu keras kepala seperti kamu. “Tak salah lagi. “Aku iri dengan keberaniannya.” Tubuh Singanada tergetar. Diiringi oleh jeritan mengaum, tubuhnya meloncat ke depan. Kelebatan bayangannya menuju arah depan, tapi seketika berubah di delapan arah yang berbeda, sebelum akhirnya menerjang maju. Senopati Agung memperdengarkan suara nyaring yang sama. Kakinya menjejak tanah, dan meloncat ke arah bayangan Singanada. Mengikuti gerakan tubuh Singanada. Seakan wilayah udara yang dikuasai dengan cepat direbut kembali. Ke arah mana Singanada berkelebat, ke arah itu pula Senopati Agung memburu. Dalam sekejap keduanya seperti main kejar-kejaran. Diseling dengan berbenturan di tengah, saling mengadu telapak tangan, kaki, yang cukup keras. “Nawawidha.” Gendhuk Tri menarik kepalanya sedikit. Teriakan Nawawidha kali ini justru diucapkan oleh Senopati Agung! Bukan oleh Singanada yang sejak pertama dikenal mempunyai cara bernapas melipat gandakan sembilan kali. Singanada menggerung keras. Tubuhnya menggeliat, memutar, dan menerkam Senopati Agung. Yang terpaksa meloncat ke samping, untuk kemudian membuang diri ke arah dinding. Singanada mengejar. Hinggap di dinding. Keduanya terlempar ke dalam. Kembali ke dalam halaman prameswaren. Seperti diketahui tadi mereka sudah berada di halaman depan, melewati pintu kecil. Karena pintu itu ditutup paksa, sekarang keduanya melewati bagian atas. Mahapatih Nambi tidak berdiam diri begitu saja. Tubuhnya melayang ke atas, melompat dinding pembatas. Meskipun ia dilarang Senopati Agung turun tangan, tak mungkin berpangku tangan kalau keadaan membahayakan. Gendhuk Tri mendongak ke atas. Sekejap ia ragu. Menyusul ke balik dinding atau menunggu. Sekejap berikutnya, ia melihat satu bayangan berkelebat datang dari halaman, disusul bayangan berikutnya. Singanada dan Senopati Agung sudah kembali ke tempat semula. Dan melanjutkan pertarungan. Tubuh Mahapatih Nambi pun melompat kembali. Justru pada saat itu Singanada dan Senopati Agung melompat secara bersamaan ke balik dinding. Raja Tanpa Takhta TUBUH Mahapatih berada di halaman prameswaren, ketika Singanada dan Senopati Agung di luar. Begitu juga sebaliknya. Sehingga sekilas seperti permainan petak umpet yang menggelikan. Namun para senopati yang lain menyadari bahwa yang sedang terjadi bukan hanya permainan yang menggelikan. Bukan hanya Mahapatih yang ternyata tak bisa menebak arah pertarungan. Melainkan pertarungan dua ilmu yang senada. Dua ilmu yang sejak lama tak bisa disaksikan. Senopati Agung selama ini tenggelam dalam kebesaran para senopati yang lain. Kedudukannya tidak memungkinkan dirinya tampil sebagai ksatria yang memainkan ilmu silatnya. Baru sekarang ini muncul. Itu pun bukan awal yang menguntungkan. Karena sudah langsung menghadapi Pendeta Sidateka, dan kemudian munculnya Halayudha secara meyakinkan. Sehingga tokoh terhormat yang tersembunyi seakan makin tenggelam. Dengan pemunculan Singanada, baru ketahuan bahwa Senopati Agung tetap ksatria yang berilmu tinggi. Karena para senopati sudah pernah menyaksikan kelebihan Singanada. Dan kini Senopati Agung mampu mengimbangi dengan baik. Malahan beberapa kali mendiktekan jurus-jurus yang dimainkan. Pada usia setinggi itu, kemampuan Senopati Agung menimbulkan kekaguman. Apalagi kalau dilihat bahwa selama ini seperti tak pernah berlatih atau memunculkan ilmunya. Sementara di halaman terjadi pertarungan, di dalam Keraton terjadi sesuatu yang tak diduga-duga. Halayudha ternyata melesat masuk ke dalam Keraton. Dengan gagah dan bertolak pinggang, tubuhnya melangkah lebar. Prajurit kawal pribadi Raja disingkirkan dengan sekali menggerakkan telapak tangannya. Dengan tetap berdiri gagah, Halayudha berdiri di depan kamar peraduan Baginda. “Sanggrama Wijaya, raja tanpa takhta, raja tanpa kebesaran matahari, apakah masih melanjutkan mimpi yang indah dalam dekapan wanita-wanita ayu? Suaranya betul-betul mengejutkan siapa pun yang mendengarkan. Nada suaranya begitu tinggi. “Apa yang kamu lakukan, Sanggrama Wijaya? Memerintahkan para istri memijati kakimu yang tak digunakan melangkah? Memerintah dupa wangi mengasapi rambutmu?” Semua prajurit kawal pribadi Raja berdiri siap. Dengan senjata dan keinginan untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan udara yang diisap oleh Halayudha. Sebagian sudah melarikan diri ke depan, untuk melaporkan kepada Mahapatih Nambi dan para senopati yang lain. Akan tetapi Halayudha seakan tak peduli. “Ingsun masih tetap raja, memegang tampuk pemerintahan tertinggi. Ingsun masih matahari yang tertinggi. “Siapa bermulut lancang membusuk di depan pintu?” Suara Baginda tetap mengguntur. Nada dan wibawanya mengalahkan apa saja yang berada dalam ruangan sekitar. “Benarkah kamu masih memiliki takhta? “Benarkah kamu masih setinggi matahari? Jangan-jangan itu hanya mimpimu yang terindah saat ini. “Sanggrama, kamu bukan raja. “Kamu tak memiliki takhta kewibawaan. Tak memegang matahari. Kamu tak berbeda dari Nambi, menjadi mahapatih telanjang. Tak beda dari Kala Gemet, putra mahkota yang mengejar gadis lajang. Apa yang akan kamu persembahkan kepada Dewa? “Apa yang membuatmu merasa sama gagah dengan takhta yang dikenakan Baginda Raja Sri Kertanegara?” Mendadak pintu kamar peraduan membuka keras. Dibanting dengan tenaga dalam yang besar. Baginda menapak maju dua tindak. “Ingsun di sini….” Kegagahan dan kewibawaan masih terserap dengan jelas. Bukan hanya dari penyebutan diri sebagai ingsun, akan tetapi juga memancar dari semua lubang kulit. “Kamu di situ, Sanggrama. “Semua tahu. “Kamu menjadi raja. “Semua tahu. “Tapi apa yang kamu lakukan selama ini? Sibuk dengan permaisurimu yang banyak, membiarkan senopati bertarung tak mematuhi perintahmu. “Itukah perbuatan seorang raja, wakil para Dewa?” Dengan satu tarikan napas atau satu kedipan mata, Baginda bisa membuat seluruh prajurit dan senopati yang ada bergerak serentak. Sakti seperti apa pun, Halayudha akan dibuat repot karenanya. Apalagi para prajurit dan senopati ini, seluruhnya, akan menyerang tanpa memperhitungkan keselamatan dirinya. Sepuluh prajurit terbunuh tapi bisa melukai Halayudha sudah lebih dari cukup. Karena tugas utama mengawal dan mengamankan Baginda. “Begitu banyak kitab bagus, tapi kamu bercengkerama. Begitu banyak ilmu sakti mandraguna, tapi kamu membuatnya tak bermakna. Begitu banyak kawicaksanan bisa kamu lakukan, tapi kamu bekukan?” “Apakah masih berani kamu melihat leluhurmu?” Wajah Baginda merah seketika. Gerahamnya beradu. Giginya bersentuhan. Pandangannya menyala. “Setan busuk mana yang menelan rohmu, hai, kawula alit?” Halayudha mendongak. “Setan busuk mana lagi kalau bukan tetesan kawicaksanan, kebijakan, Baginda Raja yang tanpa tanding di seluruh jagat ini? “Baginda Raja yang menguasai takhta. Yang mengarungi semua samudra, mendaki semua gunung, mengurung semua lembah yang diciptakan Dewa? “Raja segala raja yang pernah ada. “Takhta terbesar dari semua takhta yang ada. “Wijaya, mimpi apa kamu selama ini? Bertakhta dan menikmati kehidupan seperti prajurit kecil yang memenangkan pertarungan. Mendapat kenaikan pangkat dan hidup bersenang-senang. “Alangkah menyedihkan. “Alangkah kerdilnya. “Bagaimana mungkin yang begini ini mengaku turunan Singasari?” Dalam telinga semua prajurit, dentuman halilintar di siang hari tak lebih mengerikan dibandingkan apa yang diucapkan Halayudha sekarang ini. Setan paling busuk yang sedang mabuk pun tak akan mengucapkan kalimat sekasar dan sehina ini. Bahwa berdiri di depan Raja saja, merupakan dosa yang tak bisa terampuni selama tujuh turunan. Apalagi dilakukan seorang senopati! Langit dan bumi serta seluruh isinya tak bisa untuk menebus kesalahan ini. Apalagi bertolak pinggang dan mengeluarkan kata-kata lancang. Dunia seperti dibalik-balik, dengan matahari muncul dari arah barat menuju utara. Yang lebih aneh lagi, Baginda justru terdiam. Jelas terasakan kegusaran yang tinggi, akan tetapi tarikan napas dan suaranya masih tetap menunjukkan kelebihan yang utama. “Apa yang kamu inginkan, Halayudha?” “Saya ingin mengabdi raja yang raja. Raja yang menguasai jagat. “Raja yang duduk sejajar dengan para Dewa, yang memegang matahari di tangannya tanpa merasa panas.” “Apa yang dilakukan raja seperti itu?” “Membuang abu dupa. “Mengangkat senjata, membunyikan terompet, mengarungi seluruh jagat. Menaklukkan jagat.” “Apa itu semuanya?” “Raja yang dari tarikan napasnya lahir karya-karya terbesar yang pernah ada. Yang mengumpulkan semua kitab yang pernah ditulis manusia. Yang mengajarkan ilmu kanuragan seluruh jagat. Yang melihat ada gunung dan sungai seberang yang bisa dikuasai. Yang tidak memberikan tempat bagi anak-cucu dan keturunannya mengalahkan semua. Yang membuat perahu besar agar cucunya berlayar. Yang membuat gunung tinggi agar cucunya menggenggam matahari.” “Apa itu pernah dilakukan?” “Itu yang dipersembahkan kepada para Dewa. “Semua tanah, air, batu, rumput, semut menjadi saksi. Kebesaran yang tiada tara di kelak kemudian hari, dibangkitkan mulai hari ini. “Itulah takhta yang sesungguhnya. “Itulah ajaran hidup.” “Semua sudah lewat.” “Tak ada yang lewat!” “Waktu berubah.” “Kebesaran tidak berubah bersama waktu.” “Keadaan hari ini tidak sama dengan kemarin.” “Kebesaran, keluhuran, kawikcasanan selalu abadi, sampai saat para Dewa menyatu dengan manusia.” Kidungan Para Raja BAGINDA menggerakkan jari kanan mengelus alis. Halayudha masih memandang secara langsung. “Tembangkan kidungan itu. “Seberapa jauh kamu mengetahui?” Halayudha menjulurkan lidahnya. Suara dari hidungnya mendesis. “Ingsun lebih mengetahui dari kamu yang mencuri baca kitab pusaka, Halayudha. Kamu tak akan pernah memahami.” “Itu tandanya tak pernah dibaca dengan hati. “Itu tandanya tak ada rasa tuntas.” Tubuh Halayudha tergetar hebat. Seolah kedinginan, menggigil. Bergoyang beberapa saat, lalu menunduk. Lututnya tertekuk. Ambruk. Kepalanya condong ke depan. Perlahan dahinya menyentuh lantai. Seiring dengan itu terdengar kidungan yang lembut, perlahan, seperti desiran angin menggoyang ujung daun yang menguning tanpa merontokkan. Aku raja dengan takhta yang mencipta kidungan Dewa untuk para raja sebab aku Kertanegara hanya bisa bicara dengan sesama raja walau tanpa mahkota Raganata menyembah ujung kakiku melaporkan Kitab Bumi sudah selesai ia sudah tua, mau mati tapi matanya tertutup hatinya redup aku berkata padanya untuk apa itu semua kalau dibawa ke alam baka Raganata menyembah ujung kakiku melaporkan Kidung Paminggir sudah selesai aku katakan, aku sudah membaca sebelum kidungan itu ditulis sebab akulah raja sebab akulah Dewa kalau aku murka karena kidungan itu tak bisa ditembangkan sembarangan hanya darah raja yang bisa sebab hanya Dewa yang punya matahari ada banyak raja juga yang tak punya takhta aku raja, punya takhta punya semuanya jagat ini bakal kukuasai sebelum Dewa menyadari Singasari ini kayangan Tempat Dewa Sebab di sini dituliskan Kidungan Para Raja Yang menguasai jagat seluruhnya raja harus punya selaksa wanita untuk melayani siang dan malam raja harus punya lautan untuk membasuh kakinya, siang dan malam raja harus punya keris untuk menggaris raja harus punya selaksa hutan untuk memelihara singa aduan raja harus memiliki matahari untuk mengalahkan Dewa raja harus memiliki anak raja jumlahnya selaksa kau mengerti apa, Raganata? kau tak berdarah raja kau bicara apa, Raganata? kalau Dewa tak memilihmu inilah Kidungan Para Raja raja segala raja lahir dari Singasari ke seluruh jagat tulislah kidungan apa saja tak akan mengimbangiku sebab aku raja dengan takhta seperti Dewa yang melahirkan raja yang mengalahkan Dewa…. Suara Halayudha lembut mengalun, akan tetapi dada Baginda naik-turun karenanya. Setiap ujung suara beralun, setiap kali pula Baginda merasa perasaannya diremas-remas. Kidungan Para Raja adalah kitab pusaka Keraton Singasari yang ditulis sendiri oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Menurut cerita yang didengarnya, Baginda Raja masih menuliskan di saat-saat terakhir, ketika prajurit Gelang-Gelang di bawah pimpinan Jayakatwang dan Senopati Ugrawe menyerbu masuk Keraton. Sudah barang tentu Baginda mengerti dan pernah mendengar serta membaca sendiri kidungan itu. Karena merupakan kitab pusaka Keraton yang tiada tandingannya. Yang dikumpulkan bersama kitab-kitab utama yang ditulis oleh para raja. Dari sekian ratus segala jenis kitab, kumpulan Kidungan Para Raja menempati tempat yang sangat terhormat. Boleh dikatakan tak ada angin yang bisa menjamah selain seorang raja. Maka termasuk langka kalau Halayudha bisa membacanya. Meskipun kalau dirunut, bukan sesuatu yang mustahil. Sewaktu Baginda belum menduduki takhta, keadaan tidak menentu. Terusirnya prajurit Kediri dan kemudian pertarungan terakhir dengan prajurit dari Tartar serta pemindahan pusat Keraton, sangat memungkinkan tangan lain memegang atau membuka. Akan tetapi barangkali hanya Halayudha yang dengan jail mengintip baca. Dan kemudian menembangkan! Bahwa kitab ilmu silat .saja dirahasiakan begitu rupa, dan masing-masing menganggap suci, bisa dimengerti betapa kaget Baginda mendengar Halayudha membaca Kidungan Para Raja. Aku telah mengirimkan selaksa perahu menghitung jumlah air di laut biru aku telah mengirim selaksa senopati menikam keris seluruh negeri aku telah mengirimkan putri-putri meneruskan keturunan Singasari aku telah menuliskan Kidungan Para Raja mengalahkan para Dewa sebut negeri mana seberang macam apa yang tak kudirikan panji kebesaranku jawabannya: tak ada aku telah mengalahkan Dewa sebab aku telah menjadi Dewa aku telah mengalahkan semua raja sebab aku melahirkan selaksa raja akulah raja, akulah takhta akulah Dewa akulah bumi dan air dan matahari dan semuanya menyatu dalam Singasari menyatu dari Sri Baginda Raja Kertanegara yang bersama semesta menciptakan semesta! Di akhir kalimatnya, tubuh Halayudha seperti terangkat dari lantai. Melayang ke atas secara perlahan, hingga tinggal dahinya yang menyentuh lantai. Dengan napas Baginda mengiringi gerakan perlahan, dan kini sempurnalah Halayudha melayang ke angkasa. Tubuhnya, seluruhnya, tak menyentuh tanah. Menggantung di tengah udara. Beberapa saat. Sebelum akhirnya terbanting kembali. Dengan suara keras. Secepat itu pula, Halayudha meloncat bangkit. Bersamaan dengan itu pula para prajurit kawal pribadi menyerbu karena menduga Halayudha melakukan serangan. Tamat Bagian I