“Huah-hah-hah, kiranya hanya begini saja kepandaian si Raja Obat!” terdengar suare kakek merah. “Kau tidak patut dan tidak berhak menggunakan sebutan Yok-ong (Raja Obat) lagi!” seru suara kakek putih. “Locianpwe, biarkan saya memberi hajaran kepada mereka!” Suling Emas berseru marah, dan hendak lari ke barat dari mana suara-suara itu datang. Akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang orang. Ia menoleh dan ternyata Tan Lian yang memegang tangannya, wajah gadis itu pucat dan memandang dengan penuh kekhawatiran. “Ada apa, Nona Tan?” tanya Suling Emas merasa terganggu. Merah wajah Tan Lian dan gadis ini segera melepaskan pegangannya. “Tidak apa-apa, hanya.... mereka itu benar-benar sakti, mari kubantu engkau....” “Terima kasih. Tidak perlu, karena kau sendiri masih belum boleh mengeluarkan tenaga, harus beristirahat sampai sembuh.” Suling Emas lalu berkelebat dan lari untuk mencari dua orang kakek iblis itu. “Kau.... berhati-hatilah....!” seru Tan Lian dan sampai lama gadis ini berdiri bengong memandang ke arah barat, ke arah perginya pendekar yang sudah me­nundukkan hatinya itu. Sampai lama ia berdiri seperti patung, tidak tahu bahwa pekerjaan menguruk kuburan masih menanti dan juga bahwa si kakek tabib memandanginya dengan tarikan napas panjang. “Anak yang baik, mayat-mayat itu menunggu untuk diuruk selekasnya!” Tiba-tiba tabib itu berkata. Sadarlah Tan Lian daripada lamunannya dan segera ia mengerjakan tanah galian untuk menguruk lubang-lubang kuburan itu bersama Kim-sim Yok-ong. Kemudian tabib itu meng­ajak Tan Lian ke pondok dan mereka membersihkan pondok dari darah yang berceceran. Kim-sim Yok-ong menyiram-nyiramkan obat pemunah hawa beracun dan membakar akar wangi, kemudian ia memanggil gadis itu untuk duduk di de­pannya. “Tak usah kau merasa khawatir. Biarpun kedua orang iblis itu lihai sekali, namun Suling Emas biarpun masih muda adalah seorang pendekar yang sakti dan waspada. Kurasa tidak akan mudah men­celakakan Suling Emas,” kata kakek itu dengan suara menghibur. “Mudah-mudahan begitulah, Locianpwe,” jawab Tan Lian yang kemudian menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu. “Saya berhutang nyawa kepada Locianpwe, apabila dalam hidup ini saya tidak mampu membalas, biarlah dalam penjelmaan lain saya akan menjadi binatang peliharaan Locianpwe untuk mem­balas budi.” Dan tiba-tiba dengan sedih nona ini menangis. Kim-sim Yok-ong tertawa, mengelus-elus jenggotnya dan membangunkan gadis itu. “Jangan begitu, kau duduklah. Jangan kauikat aku dengan belenggu karma. Semua yang kulakukan bukanlah untuk menanam budi, juga bukan bermaksud menolong, melainkan karena sudah men­jadi kewajibanku. Anak yang baik, kalau orang sudah setua aku ini, seharusnya melakukan segala sesuatu tanpa pamrih, hanya berdasarkan kewajiban dan sebagai pujaan kepada kebesaran Thian. Nona, kau telah terpukul oleh seorang yang memiliki pukulan dasar dari ilmu silat Beng-kauw, pukulan yang dahsyat dan yang tadinya kuanggap hanya mampu dilakukan oleh Pat-jiu Sin-ong seorang. Siapakah yang memukulmu dan mengapa? Bagaimana pula Suling Emas yang mem­bawamu ke sini? Kalau kau tidak ke­beratan, harap kauceritakan kepadaku karena aku merasa kasihan kepadamu dan ingin memberi sekedar nasihat.” Makin sedih tangis Tan Lian mendengar pertanyaan ini. Ia hidup sebatangkara, selama ini tidak ada orang lain yang memperhatikan nasibnya kecuali, tentu saja, Thio San. Thio San adalah seorang pemuda, tunangannya sejak kecil. Akan tetapi ia telah menyia-nyiakan pertunangannya dengan Thio San dan selalu menghindari pemuda itu karena besarnya tekad dan cita-citanya selama ini untuk membalas dendam. Selain ini, di lubuk hatinya, ia pun tidak puas de­ngan tunangan ini, tunangan yang dipilih ayahnya semenjak ia masih kecil karena Thio San adalah putera sahabat baik ayahnya. Ia tidak puas karena Thio San, sungguhpun merupakan seorang pemuda yang tampan dan baik, dan yang ternyata amat setia dan amat mencintanya pula, hanya seorang pemuda terpelajar yang lebih tekun mempelajari kesusastraan sehingga dalam pandangannya Thio San adalah seorang pemuda lemah yang tidak mengerti ilmu silat. Tidak sesuai dengan keadaannya sendiri sebagai puteri men­diang Hui-kiam-eng Tan Hui yang ter­kenal sebagai seorang pendekar besar. “Locianpwe, banyak terima kasih atas perhatian Locianpwe terhadap diri saya yang bernasib malang ini. Sesungguhnya secara terus terang saya mengakui bahwa yang memukul saya adalah adik tiri Su­ling Emas, sedangkan Suling Emas adalah.... adalah musuh besar saya.” “Apa? Musuh besarmu? Akan tetapi dengan susah payah dia membawamu ke sini!” “Itulah yang memberatkan hati saya, Locianpwe, dan saya mohon petunjuk. Sebetulnya bukan dia musuh saya, me­lainkan ibunya, Tok-siauw-kui yang sudah membunuh ayah saya.” “Siapakah ayahmu?” “Mendiang ayah adalah Hui-kiam-eng Tan Hui....” “Ahhh....! Tentu saja aku kenal dia. Lalu bagaimana? Teruskanlah dan jangan ragu-ragu, mendiang ayahmu dahulu ada­lah sahabat baikku, dia seorang pendekar besar.” Mendengar ini, makin deras air mata mengucur keluar dari sepasang mata gadis itu. Setelah dapat meredakan tangisnya ia menyambung ceritanya, “Kematian ayah membuat saya menjadi se­orang yang hidup sebatangkara, tidak ada cita-cita lain di hati kecuali mencari Tok-siauw-kui dan membalas dendam. Akan tetapi karena Tok-siauw-kui amat lihai sehingga ayah sendiri kalah oleh­nya, saya melewatkan waktu sampai belasan tahun untuk memperdalam ilmu silat. Akan tetapi, Locianpwe, alangkah malang nasib saya. Begitu saya merasa bahwa sudah tiba saatnya saya pergi mencari Tok-siauw-kui yang kabarnya berada di Nan-cao, bersembunyi di sana dan saya segera berangkat, di tengah jalan saya mendengar berita bahwa Tok-siauw-kui baru saja tewas! Ah, hancur hati saya karena saya tidak berhasil membalas dendam. Akan tetapi, kemudian saya mendengar dari It-gan Kai-ong bahwa Tok-siauw-kwi adalah ibu dari Suling Emas. Tentu saja saya ikut ber­sama tokoh-tokoh kang-ouw lain untuk membalaskan sakit hati itu kepada pu­tera musuh besar saya. Kembali saya kecewa, Locianpwe, karena.... karena.... saya tidak mampu mengalahkan Suling Emas, malah.... malah.... ketika saya bersumpah di depan makam ayah untuk membalaskan dendam itu kepada isteri dan anak-anak Suling Emas, saya dipukul roboh oleh adik tirinya dan.... dia malah menolong saya....” Gadis itu kembali menangis sedih. “Hemmm.... hemmm.... tidak hanya kau kalah oleh Suling Emas, malah hati­mu pun roboh oleh asmara. Kau men­cinta Suling Emas?” Seketika berhenti tangis Tan Lian dan ia melonjak kaget, memandang kakek itu dengan muka pucat dan mata terbelalak. Kakek itu tetap tersenyum sabar. “Bagaimana.... bagaimana.... Locianpwe bisa tahu....?” Akhirnya Tan Lian bertanya dengan suara gagap. Senyum kakek itu melebar, “Aku pernah muda, anak baik, dan sudah banyak kusaksikan di dunia ini. Sudah banyak dongeng dan peristiwa terjadi karena cinta. Kalau tidak karena cinta, agaknya tidak akan terjadi urusanmu dengan Su­ling Emas, tidak akan terjadi permusuhan yang terpendam di hatimu. Ayahmu pun menjadi korban cinta. Karena itu, kau percayalah kepadaku, anak baik, buang jauh-jauh perasaan itu karena kulihat bahwa kau berbakat untuk menjadi mu­ridku. Tadinya aku tidak ada niat me­miliki murid, akan tetapi setelah dua iblis itu mengakaliku dan mencuri banyak pengetahuanku, aku harus menurunkan kepandaianku. Kaulah yang cocok untuk menjadi muridku, tidak saja kau ber­bakat, akan tetapi kau pun anak sahabat­ku.” Tan Lian menjatuhkan diri lagi berlutut di depan kakek itu. “Ohhh, Locian­pwe saya merasa seakan-akan bertemu dengan ayah saya. Locianpwe, tolonglah saya. Saya sudah bersumpah hendak mem­bunuh isteri dan anak-anak Suling Emas, akan tetapi.... dia tidak punya isteri dan.... dan memang betul saya jatuh cinta kepadanpa. Locianpwe, sudilah Lo­cianpwe menolong saya, mewakili orang tua saya yang sudah tiada, harap suka usahakan perjodohan saya dengan Suling Emas. Kalau hal ini tidak terjadi, saya merasa sia-sia hidup di dunia, dendam ayah tak terbalas, hasrat hati hendak memunahkan dendam dengan ikatan jodoh tak tercapai....” Kakek itu termenung sejenak. “Suling Emas termasuk seorang di antara tokoh-tokoh aneh di dunia ini. Aku khawatir kalau-kalau maksud hatimu akan gagal, Nak. Mengapa tidak kaubatalkan saja dan hidup mencapai kebahagiaan penuh damai daripada kesunyian seperti aku? Aku tanggung bahwa kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna daripada kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna daripada kebahagiaan duniawi.” “Cobalah dulu, Locianpwe. Belum tentu dia tidak setuju, agaknya.... agaknya dia pun bukan tak suka kepada saya....” Akhirnya kakek itu mengangguk-angguk dan menghela napas. “Baiklah.... baiklah, akan tetapi jangan kau lalu membunuh diri kalau dia menolak. Berjanjilah dulu, tanpa janjimu aku takkan mau menerima permintaanmu.” “Saya berjanji takkan membunuh diri kalau.... dia menolak.” “Dan akan suka menjadi muridku,” sambung kakek itu. “.... dan akan suka menjadi murid Locianpwe....” “Bagus!” Kakek itu tampak girang, “Nah, kau beristirahatlah, kita menanti sampai dia kembali.” Akan tetapi pada saat itu, di luar pondok terdengar langkah kaki orang. Tergopoh-gopoh Tan Lian berlari ketuar, hatinya sudah tak sabar lagi untuk menyambut kedatangan Suling Emas. Ia harus cepat melihat dengan mata sendiri bahwa pendekar itu kembali dalam ke­adaan selamat. Ketika ia melangkah keluar dari pintu pondok, tiba-tiba ia tercengang dan berdiri seperti patung, memandang laki-laki muda yang berdiri di pekarangan rumah itu dengan mata terbelalak. Pemuda itu, yang berpakaian sederhana seperti seorang pelajar, ke­libatan lelah sekali, berwajah tampan dan keningnya lebar, juga memandang ke­padanya, mata yang sayu kelelahan itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri. “Lian-moi (Adik Lian)....!” Akhirnya ia berseru dan tersaruk-saruk ia melangkah maju. “Kau....? Kenapa kau datang ke sini?” “Kenapa? Lian-moi, tentu saja hendak mencarimu, menyusulmu! Lian-moi, ham­pir glia aku mencarimu, mengikuti jejak­mu. Lian-moi, mengapa kau di sini dan dengan siapakah kau....” Orang muda yang bukan lain adalah Thio San itu tiba-tiba berhenti karena melihat mun­culnya seorang kakek yang bersikap te­nang dan bermata tajam muncul di pintu, di belakang tunangannya. “Thio San! Sudah berapa kali kujelas­kan kepadamu bahwa di antara kita su­dah tidak ada ikatan dan tidak ada urus­an apa-apa lagi. Kenapa kau begini tak tahu malu dan masih berani menyusulku dan mengikutiku selalu? Pergilah!” “Tapi....” “Pergilah, sebelum aku habis sabar dan terpaksa bertindak kasar!” “Tapi, Lian-moi, kita bertunangan....” “Hemmm, kalau tidak ingat akan hubungan itu, sudah dulu-dulu aku mengenyahkanmu dengan kekerasan. Thio San, sejak dua belas tahun yang lalu, di depan engkau dan orang tuamu, bukankah aku sudah menyatakan pembatalan ikatan itu? Bukankah sudah kujelaskan secara terang-terangan apa yang menjadi sebab­nya? Thio San, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Nah, cukup, kau pergi­lah!” Karena hampir tidak kuat menahan air matanya, Tan Lian lalu membalikkan tubuhnya dan lari memasuki pondok. Pemuda itu berdiri dengan muka pu­cat, sinar matanya menjadi makin sayu, wajahnya makin muram, tubuhnya ber­goyang-goyang seperti sebatang pohon terlanda angin, agaknya ia mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak roboh. “Orang muda,” Kim-sim Yok-ong ber­kata, suaranya halus menghibur. “Aku tidak berhak mencampuri urusanmu, akan tetapi biarlah kuperingatkan kau bahwa perjodohan yang dipaksakan oleh sefihak takkan membentuk rumah tangga yang berbahagia. Syarat utama perjodohan adalah kesediaan, kerelaan dan cinta kasih kedua fihak. Karena itu, seorang laki-laki harus dapat menguatkan hati dan rela berkorban perasaan demi men­cegah dirinya sendiri terperosok ke da­lam neraka rumah tangga yang tidak bahagia.” Suara orang lain yang memasuki te­linganya menyadarkan pemuda itu dari keadaan yang memelas (menimbulkan iba) itu. Ia mengangkat dadanya dan menegakkan kepalanya, memandang tajam kepada kakek itu ketika menjawab. “Orang tua, aku tidak mengenal si­apakah engkau, akan tetapi karena ucap­anmu bermaksud baik, aku berterima kasih sekali kepadamu. Namun, kalau aku harus membenarkan pendapatmu itu, lalu ke mana nanti perginya kesetiaan dan kebaktian? Jodoh yang sudah dipilihkan orang tua semenjak kecil, harus diterima dengan rela, itu bakti namanya! Satu kali orang bertunangan, harus ditunggu sampai mati, itu setia namanya! Betapapun juga, kau betul, orang tua. Dia tidak suka kepadaku dan aku tidak dapat memaksa­nya. Dia seorang ahli silat yang lihai, hatinya penuh dendam yang belum ter­balaskan, hidupnya bagaikan seekor naga yang melayang-layang di angkasa dengan bebas beterbangan di antara awan dan petir! Sedangkan aku.... aku....” “Dan kau seorang muda yang penuh filsafat, yang mabuk akan ujar-ujar kuno, yang hidup menurunkan garis-garis dalam kitab, yang buta akan kenyataan bahwa betapapun mengecewakannya, manusia yang belum mau melepaskan diri dari­pada kehidupan ramai, berarti belum mungkin terlepas daripada nafsu-nafsu duniawi! Kau tidak mau mengerti bahwa orang seperti Tan Lian hanya tunduk kepada nafsu yang menguasai hatinya, sebaliknya kau hanya tunduk kepada per­aturan tanpa mau menjenguk keadaan orang lain. Orang muda, aku kasihan kepadamu. Kau seorang yang baik, berbakti dan setia, akan tetapi kau lemah! Bukan lemah jasmani saja, juga lemah batinmu karena kau malu akan kenyataan bahwa juga engkau telah dikuasai nafsu yang mendorong cinta nafsumu terhadap Tan Lian, akan tetapi kau tidak berterus terang, malah kau hendak menutupi cinta­mu dengan dalih setia dan berbakti! Sayang....” Tiba-tiba dua titik air mata mem­basahi pipi pemuda itu yang menunduk­kan mukanya dan berkata, “Orang tua, kau betul. Aku cinta padanya, tapi dia menolakku. Namun, aku akan menanti dengan sabar, seperti yang sudah kulaku­kan belasan tahun lamanya, karena ku­lihat dia masih sendiri. Kalau dia sudah bersuamikan orang lain, barulah aku akan mundur. Maafkan aku, orang tua,” Se­telah berkata demikian, pemuda itu men­jura dan membalikican tubuh, lalu ber­jalan dengan langkah-langkah gontai me­ninggalkan pondok. Sampai lama Kim-sim Yok-ong ber­diri memandang dari depan pintu pondok­nya sambil menggoyang-goyang kepala dan menghela napas. “Sampai sekarang, entah sudah berapa juta orang muda menjadi korban penyakit asmara ini. Sungguh memalukan, aku yang berjuluk Yok-ong belum juga dapat menemukan obatnya!” Sambil menggeleng-geleng kepala ia memasuki pondoknya dan melihat Tan Lian menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangan, kakek ini tidak mau bertanya-tanya lagi. Ia maklum bahwa gadis ini tentu merasa menyesal, berduka, dan malu karena urusan pribadinya telah terdengar orang lain. “Locianpwe...., aku.... aku malu sekali. Ah, Locianpwe tentu akan memandang rendah kepadaku.... seorang gadis yang sudah ditunangkan sejak kecil akan tetapi berani minta tolong kepada Locianpwe untuk menguruskam perjodohan dengan pria lain....! Kalau Locianpwe merasa bahwa aku terlalu hina dan rendah, biarlah aku pergi dari sini dan tidak berani mengganggumu lagi....” “Hemmm, aku tahu keadaan hatimu, Nak, dan tidak biasanya aku mencampuri urusan pribadi orang lain. Aku tidak memandang rendah dan aku tetap akan memegang janjiku.” Mendengar ucapan ini, Tan Lian berlutut dan merangkul kaki Yok-ong sambil menangis. *** Dengan gerakan yang cepat sekali, bagaikan terbang saja terlihat dari jauh, pendekar sakti Suling Emas lari mendaki puncak Thai-san. Ia sengaja mencari tempat-tempat tinggi, bahkan kadang-kadang ia meloncat naik ke atas pohon untuk melihat keadaan sekitar pegunung­an itu dalam usahanya mencari jejak dua orang iblis tua yang telah mengacau pondok Kim-sim Yok-ong. Namun sudah sehari semalam ia mencari, hasilnya sia-sia belaka. Pada harti ke dua, pagi-pagi sekali ia sudah tiba di puncak paling tinggi dan selagi ia meneliti keadaan se­kelilingnya, tiba-tiba ia mendengar te­tabuhan khim yang nyaring, merdu dan halus. Sejenak kagetlah Suling Emas ka­rena ingatannya melayang-layang, me­ngira bahwa Bu Kek Siansu berada di tempat ini. Akan tetapi ketika ia mem­perhatikan, ia segera mengerutkan keningnya. Suara alat musik yang-khim yang ditabuh ini, sungguhpun cukup nya­ring dan merdu, namun memiliki gaya yang liar dan iramanya merangsang. Be­tapapun juga, harus ia akui bahwa tenaga yang keluar dari suara khim ini cukup hebat, menimbulkan rangsang yang men­debarkan jantung dan bagi orang yang kurang kuat tenaga batinnya, tentu akan roboh di bawah pengaruh suara itu. Kemudian Suling Emas tersenyum dan teringatlah ia akan Siang-mou Sin-ni, seorang di antara Thian-te Liok-koai, yang dapat mainkan yang-khim seganas ini? Ia ingat bahwa dahulu wanita iblis ini telah merampas alat musik yang-khim dari tangan Bu Kek Siansu dan agaknya ia telah mempelajari alat musik itu, di­sesuaikan dengan ilmu untuk menyerang orang, baik melalui suara yang-khim maupun dengan cara mempergunakan alat musik itu sebagai senjata. Diam-diam Suling Emas menghitung-hitung dan memang hari itu sudah tiba saatnya perjanjian para anggauta Thian-te Liok-koai mengadakan pertemuan untuk mengadu ilmu di puncak Thai-san. Karena suara yang-khim dari Siang-mou Sin-ni itu me­rupakan panggilan atau tantangan, untuk sementara Suling Emas menunda urusan­nya mencari dua orang asing dan kini ia mencabut sulingnya, meniup dan melagu­kannya sambil melangkah lebar ke arah datangnya suara. Sungguh ajaib suara yang terdengar di hutan-hutan Gunung Thai-san pada saat itu. Kalau ada orang mendengar suara ini tentu akan mengira bahwa suara itu bukan sewajarnya, mungkin para iblis hutan sedang berpesta. Suara suling me­ngalun, bergelombang turun naik menge­lus perasaan, menyegarkan akan tetapi juga memabukkan karena memiliki daya seret yang menghanyutkan. Suara ini mengiringi atau diiringi suara berkencring­nya yang-khim yang diseling dengan “me­lody” yang jelas satu-satu dan nyaring, namun bukan main hebatnya suara ini karena setiap bunyi “ting!” dari sehelai kawat yang disentil jari, cukup kuat daya serangnya untuk membuat jantung lawan putus! Perpaduan suara musik yang aneh dan bergema di seluruh hutan, menari-nari di puncak pohon, bahkan menembus dasar jurang yang paling dalam. Pertandingan jarak jauh yang dilakukan dengan “suara” itu benar-benar amat menarik. Kini Suling Emas tidak melang­kah lagi, melainkan berhenti dan berdiri tegak. Mukanya agak merah dan dari belakang kepalanya tampak uap putih tipis. Ini menandakan bahwa Siang-mou Sin-ni sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga untuk menghadapi suara yang-khim itu, Suling Emas tak boleh bersikap sembarangan dan harus pula mencurahkan perhatian dan mengerahkan tenaga sin-kang. Akan tetapi, begitu pendekar sakti ini memusatkan tenaganya, suara yang-khim makin menjadi lemah seakan-akan terdesak suara suling yang makin me­lengking tinggi itu. Anehnya, daun-daun pohon yang masih hijau segar, yang tum­buh di atas kepala dan di dekat Suling Emas meniup sulingnya, tiba-tiba rontok satu demi satu, melayang-layang ke bawah dengan gerakan aneh dan lucu se­akan-akan daun-daun itu menari-nari mengikuti bunyi irama suling! Akhirnya suara yang-khim itu berhenti dan terdengar keluhan, lalu disusul suara Siang-mou Sin-ni dari jauh. Suara itu terdengar lamat-lamat akan tetapi cukup jelas. “Suling Emas, saat mengadu kepandaian adalah malam nanti kalau bulan sudah muncul. Aku hanya main-main, kenapa kau sungguh-sungguh?” Suling Emas juga menghentikan tiupan sulingnya dan ia menarik napas panjang lalu tersenyum. Kata-kata itu tak perlu dia menjawabnya. Ia tahu bahwa untuk menghadapi malam pertemuan bulan lima tanggal lima belas, yaitu malam nanti di mana akan diadakan pertandingan untuk menentukan tingkat masing-masing, Siang-mou Sin-ni berusaha untuk “mengukur keadaannya” dengan suara yang-khim tadi. Dan menurut pendapatnya bahwa biarpun ia tidak kalah oleh Siang-mou Sin-ni dalam penggunaan sin-kang di dalam suara, namun kemajuan wanita iblis itu tak boleh dipandang ringan begitu saja dan malam nanti akan merupakan lawan yang tangguh. Setelah Siang-mou Sin-ni pergi, Su­ling Emas teringat kembali akan dua orang kakek yang dicarinya. Ia lalu me­lanjutkan usahanya mencari jejak kedua orang itu. “Dua Locianpwe yang muncul di pon­dok Kim-sim Yok-ong, silakan kduar, saya mau bicara!” Demikianlah berkeli-kali ia berteriak dengan pengerahan khi-kangnya sehingga suaranya bergema sam­pai jauh. Namun hasilnya sia-sia, tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Ia melangkah terus dan tiba di sebuah puncak lain. Di sini ia pun berdiri dan meneriakkan panggilannya seperti tadi. Oleh karena suaranya memang keras, apalagi dengan pengerahan khi-kang, suara itu bergema dan burung-burung yang tadinya enak-enak hinggap dan mengaso di atas cabang-cabang pohon, berlindung dari panasnya matahari di antara daun-daun, menjadi kaget dan beterbangan sambil bercuwit-cuwit, sekelompok burung yang kebetulan berada di pohon dekat Suling Emas berdiri, kaget dan kelepak sayapnya terdengar gaduh. Suling Emas mengangkat muka memandang sambil tertawa. Akan tetapi suara ketawanya terhenti ketika ia melihat sinar hitam seperti asap menyambar ke atas dan burung-burung itu yang jumlahnya belasan ekor runtuh ke bawah dan berjatuhan di depan kaki Suling Emas. Ketika ia memandang teliti, ternyata burung itu semua telah mati dan kulit mereka berubah menjadi hitam sedangkan bulu-bulunya rontok! Tahulah ia bahwa bukan hanya Siang-mou Sin-ni saja yang sudah hadir di Thai-san, dan agaknya para anggauta Thian-te Liok-koai mulai mendemonstrasikan kelihaiannya. “Hek-giam-lo iblis keji. Tak perlu kau memperlihatkan kekejamanmu di hadapan­ku, kalau kau mau mulai bertanding, keluarlah!” Tidak ada jawaban kecuali suara dengus mengejek yang disusul oleh sambar­an sinar hitam yang cepat bagaikan kilat gerakannya. Diam-diam Suling Emas ka­gum dan mengerti bahwa kepandaian Hek-giam-lo dalam hal melepas senjata rahasia Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam) telah maju dan jauh lebih berbahaya daripada dahulu dalam pertan­dingan di puncak Thai-san ini (baca jilid pertama). Karena ini Suling Emas tidak mau memandang rendah. Cepat tangan­nya sudah mencabut keluar kipas birunya dan dengan gerakan yang diisi lwee-kang sepenuhnya ia mengibas ke depan. Run­tuhlah jarum-jarum hitam itu, semua lenyap ke dalam tanah. Akan tetapi sinar hitam ke dua menyusul, malah lebih besar dan lebih kuat. Ketika Suling Emas mengibaskan kipasnya lagi, sinar itu mem­balik, tapi hanya kurang lebih dua meter, lalu terdorong maju lagi, mendesak terus, bahkan kini mulai berpencar menjadi tiga bagian yang menerjang tubuh Suling Emas dari atas, tengah, dan bawah! Suling Emas terkejut karena pada saat itu, di belakang sinar hitam yang sudah pecah menjadi tiga bagian, tampak belasan sinar berkilauan menyambar pula ke depan. Itulah barisan hui-to (golok terbang), senjata rahasia dari Hek-giam-lo yang ampuh sekali di samping senjata rahasia jarum-jarum beracunnya. Dengan cara luar biasa sekali, iblis hitam itu dapat menyambitkan tiga belas batang golok kecil (belati) sekaligus dan tiga belas batang pisau terbang itu secara tepat mengancam tiga belas bagian tubuh yang kesemuanya mematikan! “Hek-giam-lo, terlalu kau!” seru Su­ling Emas dengan marah. Tangan kanan­nya sudah mencabut sulingnya dan bagai­kan terbang tubuhnya sudah mencelat ke atas. Ketika sinar-sinar hitam itu me­ngejar, ia mengibaskan kipasnya dan ber­bareng ia memutar sulingnya merupakan lingkaran besar di depan tubuhnya. Ke­tika belasan pisau terbang itu tiba, pisau-pisau itu “tertangkap” oleh lingkaran sinar suling, terus ikut berputar-putar merupakan bundaran sinar berkilauan yang indah sekali. “Terimalah kembali!” bentak Suling Emas yang sudah turun ke bawah. Suling­nya digerakkan seperti mendorong dan tiga betas batang pisau terbang yang tadinya beterbangan memutar-mutar di depan Suling Emas, kini seperti belasan ekor burung terbang kembali ke sarangnya! Seperti juga Siang-mou Sin-ni, tahu-tahu terdengar suara Hek-giam-lo dari jauh, “Malam nanti kita bertanding!” Suling Emas mendongkol sekali akan tetapi ia tidak mau mengejar karena memang saat yang dijanjikan adalah ma­lam nanti kalau bulan purnama sudah muncul menyinari bumi. Ia berjalan terus mencari dua orang kakek sakti yang aneh dan kejam. Diam-diam ia merasa kha­watir juga. Dari peristiwa tadi ia men­dapat kenyataan bahwa Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo sudah memperoleh kemajuan pesat dan jauh lebih berbahaya daripada dahulu. Tentu iblis-iblis yang lain, It-gan Kai-ong dan kakak beradik Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong juga telah memperdalam ilmu-ilmu me­reka. Dia tidak gentar menghadapi me­reka, akan tetapi siapa tahu, kalau dua orang kakek asing yang baru muncul mengacau di pondok Kim-sim Yok-ong itu membantu para iblis, sukarlah untuk mencapai kemenangan. “Aku harus menghadapi dua orang kakek itu lebih dulu sebelum bertanding dengan Thian-te Liok-koai,” pikirnya dan kembali ia melanjutkan usahanya mencari. Hari telah menjelang senja ketika ia makin mendekati puncak di mana per­tandingan antara Thian-te Liok-koai akan diadakan. Makin tinggi orang mendaki gunung, makin dinginlah hawa udara. Suling Emas juga sudah mulai merasa dingin, apalagi menjelang senja itu, puncak Thai-san dili­puti hailmun yang cukup tebal. Ketika ia memasuki sebuah hutan pohon cemara tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan ba­nyak pohon tumbang, malah ia lalu ter­paksa berloncatan ke sana ke mari untuk menghindarkan dirinya tertimpa batang-batang pohon yang beterbangan ke arahnya! Suling Emas cepat menyelinap sam­bil meloncat ke sana-sini, kemudian tahu­lah ia bahwa yang “main-main” dengan batang-batang pohon adalah Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong! Agaknya mereka berdua juga melihatnya, karena kini mereka tertawa-tawa dan semua ba­tang pohon dan batu-batu besar yang mereka permainkan itu kini menimpa ke arah Suling Emas! Pendekar ini memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya. Biarpun ada “hujan” pohon dan batu-batu besar, bagaikan seekor kera ia menyeli­nap dan mengelak ke sana-sini. Demikian cepat dan ringan gerakannya sehingga bajunya saja tak pernah tergores cabang pohon yang menimpanya bertubi-tubi. “Dua iblis liar, beginikah cara kalian menandingiku?” Suling Emas membentak dan sudah siap untuk balas menyerang. Akan tetapi sambil tertawa-tawa dua orang iblis itu melarikan diri, dan Suling Emas tidak mau mengejar mereka. Ia melanjutkan perjalanannya, sementara itu cuaca mulai menjadi remang-remang dan hawa udara makin dingin. Puncak tertinggi sudah tampak menjulang tinggi di depan matanya. Ia sudah mulai putus asa untuk bisa mendapatkan dua orang kakek aneh itu, karena ia sudah tidak ada waktu lagi untuk men­cari mereka. Ia harus pergi ke puncak untuk menemui dan menandingi iblis-iblis yang berkumpul, untuk mewakili ibu kandungnya yang dulu ditantang oleh It-gan Kai-ong. Akan tetapi tiba-tiba ketika ia membelok, ia melihat pemandangan aneh sekali di pinggir anak sungai yang mengalir deras dari sumbernya. Dua orang kakek yang dicari-carinya selama sehari semalam itu ternyata, tanpa diduga-duga kini berada di depan­nya! Si kakek putih duduk bersila di tengah sungai, tenggelam sampai sebatas lehernya. Bukan main! Hawa udara begitu dinginnya menyusup tulang, dan air su­ngai itu pun dinginnya melebihi salju, akan tetapi kakek ini duduk bersila me­rendam diri, kelihatannya enak-enak tidur ataukah sedang samadhi dengan tenangnya! Akan tetapi bukan, ia bukan sedang tidur atau bersamadhi karena mulutnya mengomel panjang pendek, “Wah, panas­nya, tak enak, sialan benar!” Hawa udara begitu dingin, berendam di air gunung lagi, masih mengeluh kepanasan! Adapun kakek merah tidak kalah aneh­nya. Kakek ini duduk di pinggir sungai, bersila di atas tanah, dikelilingi api ung­gun yang menyala besar. Jarak antara tubuh kakek itu dengan api yang menge­lilinginya kurang dari satu meter, seluruh tubuhnya yang sudah merah itu menjadi makin merah. Di depannya terdapat se­buah periuk terisi air yang digodok di atas api, air yang mendidih. Dapat di­bayangkan betapa panasnya dikurung api besar sedekat itu, akan tetapi kakek ini malah menggigil kedinginan dan kedua tangannya berganti-ganti ia masukkan ke dalam periuk penuh air mendidih itu, lalu menyiram-nyiramkan air panas itu ke mukanya. “Waduh dinginnya, tak tertahankan, hu-hu-huuu.... dingin....!” Alangkah sombongnya mereka ini, pikir Suling Emas. Ia maklum bahwa kedua orang kakek ini memang sengaja berdemonstrasi seperti itu untuk me­mamerkan kepandaian mereka. Memang harus diakui bahwa demonstrasi ini jelas membuktikan kehebatan sin-kang mereka yang dapat membuat tubuh menjadi kebal akan rasa panas maupun dingin. Perbuat­an seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesaktian, yang tenaga sin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi sungguh suatu cara menyombongkan kepandaian yang amat menggelikan kalau kepandaian seperti ini dibuat pamer, apalagi terhadap dia! Karena merasa yakin bahwa dua orang ini sengaja memamerkan kepandaian ke­padanya maka terpaksa Suling Emas ha­rus melayani mereka. Ia mendekati kakek putih yang berendam di dalam air sebatas leher itu. “Ah, Locianpwe, memang kau benar, hawanya amat panas, mem­buat orang ingin mandi terus. Akan te­tapi aku tidak ada kesempatan mandi, biar kurendam saja kepalaku!” Setelah berkata demikian, Suling Emas lalu mem­benamkan kepalanya ke dalam air dan tidak dikeluarkannya dari dalam air sam­pai lama sekali! Biarpun perbuatan ini hanya demonstrasi atau main-main, akan tetapi jelas menang setingkat kalau dibandingkan dengan kakek putih yang biarpun tubuhnya terendam air, akan tetapi hanya sebatas leher, kepalanya tidak. Dan merendamkan kepala ke da­lam air sedingin itu, apalagi sampai lama sekali, tentu lebih sukar daripada me­rendam tubuh saja. Ketika mendengar air itu berguncang cepat Suling Emas mengangkat kepalanya. Ia maklum bahwa pukulan dari dalam air dapat membuat air bergelombang dan kepalanya akan terancam bahaya luka di dalam kalau tergencet hawa pukulan melalui gelom­bang itu. Kiranya kakek putih sudah berdiri dalam air yang tingginya hanya sebatas pahanya, bajunya yang serba putih basah kuyup dan kakek itu meman­dang dengan mata marah. Akan tetapi Suling Emas tidak mem­pedulikannya, melainkan segera meng­hapus muka dan kepalanya yang basah sambil menghampiri kakek merah yang duduk dikurung api unggun dan main-main air mendidih. “Kau kedinginan, Locianpwe? Memang hawanya dingin bukan main. Untung kau membuat api unggun!” Sambil berkata demikian, Suling Emas menghampiri api dan memasukkan kedua tangannya ke dalam api yang bernyala-nyala, bahkan membiarkan api itu bernyala menjilat leher dan mukanya! “Bocah sombong! Berani kau me­mamerkan kepandaian kepada kami?” Kakek putih membentak marah dari da­lam sungai. “Huah-hah-hah, orang muda, bukankah kau anjing penjaga Kim-sim Yok-ong? Apakah kau menantang kami?” “Ji-wi Locianpwe, aku hanya meng­imbangi cara kalian. Sama sekali bukan bermaksud pamer. Aku bukan penjaga, melainkan sahabat baik Kim-sim Yok-ong yang kalian ganggu dengan cara keji melukai banyak orang.” “Huah-hah-hah, ada delapan orang yang mampus, kan? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan mereka?” kata lagi kakek merah sambil berdiri di tengah-tengah api unggun. “Kailan dua orang tua benar-benar terlalu. Ji-wi ini siapakah dan mengapa melakukan pembunuhan keji hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong? Apakah dosanya orang-orang itu dan apa pula kesalahan Yok-ong yang selalu me­nolong orang tanpa pandang bulu? Tidak ada orang di dunia kang-ouw ini yang tidak menaruh sayang dan hormat kepada Yok-ong yang berhati emas, akan tetapi kalian ini telah mempermainkannya.” “Heh, bocah lancang! Siapakah kau berani bicara seperti ini kepada kami?” bentak si kakek putih. “Ha-hah, apa peduliku dengan orang-orang kang-ouw cacing-cacing tiada guna itu?” kata pula kakek merah. “Kau siapa­kah, bocah lancang?” “Orang mengenalku dengan sebutan Kim-siauw-eng, Si Suling Emas!” “Suling Emas, agaknya kau merasa menjadi pendekar muda. Usiamu paling banyak tiga puluh tahun, masih bocah! Mana kau mengenal kami? Yang tua-tua pun belum tentu mengenal kami. Akan tetapi kalau kau mau tahu, aku adalah Lam-kek Sian-ong (Dewa Kutub Selatan) dan dia si putih itu adalah Pak-kek Sian-ong (Dewa Kutub Utara)! Nah, kau sudah mengenal kami sekarang, dan kau harus mampus!” Si kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangannya ke arah api dan.... bagaikan bintang-bintang beterbangan, lidah-lidah api itu menyam­bar ke arah tubuh Suling Emas! Suling Emas kaget sekali. Baru ia tahu bahwa demonstrasi yang dilakukan kakek ini tadi hanyalah demonstrasi kecil saja, mungkin dilakukan karena memandang rendah kepadanya. Akan tetapi serangan yang dilakukannya kali ini, be­nar-benar hebat luar biasa, merupakan “pukulan berapi” yang luar biasa, me­ngandung sifat panas melebihi api sendiri. Ia maklum bahwa inti tenaga Yang ini amat kuat, ia takkan mampu menandinginya kalau melawan dengan kekerasan, maka cepat Suling Emas menggunakan kipasnya mengebut sambil meloncat ke sana ke mari. Api menyala-nyala yang menyambar itu merupakan api yang di­dorong oleh tenaga pukulan jarak jauh, begitu terkena dikebut, menyeleweng arahnya dan karena kakek itu terus me­lakukan pukulan sedangkan Suling Emas terus mengibas sambil mengelak tampak­lah pemandangan yang indah. Api-api itu beterbangan, merah menyala dan padam apabila runtuh menyentuh tanah, seperti kembang api yang dinyalakan orang untuk menyambut datangnya musim semi! “Serahkan dia padaku!” seru si muka putih dan tiba-tiba dari arah sungai melayang sinar-sinar putih berkeredepan dan setelah dekat, Suling Emas merasa hawa dingin yang menembus kulit menyelinap ke tulang-tulang. Kagetlah ia dan mak­lum bahwa juga kakek putih ini benar-benar sakti. Inti tenaga Im yang dimiliki kakek itu sudah sedemikian hebatnya sehingga ia mampu membuat air sungai dikepal menjadi salju atau es dan dilontarkan merupakan peluru-peluru yang mengandung hawa pukulan dingin me­matikan! Seperti juga serangan api tadi, kini serangan es yang dingin tak mampu ia menghadapinya dengan perlawanan tenaga, maka ia pun cepat mengelak ke sana ke mari sambil menyelewengkan hujan es itu. Sebentar saja Suling Emas menjadi sibuk sekali, kipasnya mengibas hujan api dari kanan, sulingnya menang­kis hujan peluru es dari kiri! Adapun kedua orang kakek itu agak­nya begitu penasaran sehingga mereka tidak mau menggunakan cara lain untuk menyerang. Berkali-kali terdengar mereka berseru kaget dan kagum. “Aneh, dia dapat bertahan!” disusul seruan-seruan tak percaya, “Masa semua tidak mengenai sasaran?” Agaknya karena penasaran inilah me­reka terus melontarkan pukulan seperti tadi dan Suling Emas terus-menerus me­nangkis dan meloncat ke sana ke mari menyelamatkan diri tanpa mampu balas menyerang. Namun gin-kangnya memang sudah hebat dan gerakan kaki tangannya sudah sempurna, maka biarpun dihujani api dan es dari kanan kiri, pendekar ini tetap dapat mempertahankan diri. Se­mentara itu, senja sudah mulai terganti malam dan bulan mulai menampakkan dirinya. Bulan bundar dan penuh, kebetul­an tidak ada awan menghalang, halimun pun sudah pergi, maka keadaan menjadi terang benderang. “Suling Emas....! Mengapa kau tidak muncul? Takutkah engkau?” Terdengar teriakan yang bergema, datangnya dari arah puncak. Suling Emas sibuk sekali. Dua orang kakek ini lihai bukan main, tak mungkin ia dapat meninggalkan mereka. Ia pun tahu akan kelihaian dan kejahatan iblis-iblis yang berada di puncak. Kalau mere­ka tahu bahwa ada dua orang kakek asing yang amat sakti memusuhinya, tentu mereka akan mempergunakan ke­sempatan baik ini untuk memukul roboh padanya. Maka ia pun diam saja. “Huah-hah-hah, agaknya bocah ini banyak musuhnya. Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), biar kita beri kesempatan padanya untuk menghadapi musuhnya, baru nanti kita turun tangan, takkan terlambat.” “Baiklah, Ang-bin-siauwte (Adik Muka Merah) kita nonton, sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh jaman sekarang!” Seketika hujan api dan hujan es itu terhenti dan ketika Suling Emas meman­dang, kedua orang kakek itu sudah le­nyap dari tempat itu! Ia menarik napas panjang, menyusut peluhnya dan berkata seorang diri, “Berbahaya....! Mereka benar lihai. Apa maksud kedatangan me­reka di dunia ramai? Nama mereka tidak dikenal di dunia kang-ouw, tanda bahwa mereka adalah pertapa-pertapa yang puluhan tahun menyembunyikan diri, mengapa sekarang tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu Kim-sim Yok-ong?” Suling Emas mengerutkan keningnya dan diam-diam ia ingin melihat gerakan ilmu silat mereka untuk mencoba-coba menerka, dari golongan manakah kakek merah dan kakek putih itu. Tingkat tenaga inti dari Im dan Yang sedemikian tingginya, kiranya hanya dicapai oleh para guru besar dari partai-partai persilatan besar pula, hasil latihan matang selama puluhan tahun. “Suling Emas! Apakah kau tidak berani muncul?” kembali terdengar seruan suara parau yang menggunakan khi-kang. Suling Emas mengenal suara ini, suara It-gan Kai-ong, maka ia lalu mengerahkan khi-kangnya, berseru keras. “Aku Kim-siauw-eng datang!” Tubuhnya berkelebat cepat bagaikan terbang menuju ke puncak itu. Bulan purnama bersinar terang, dan Suling Emas memang sudah sering kali mendaki pegunungan ini sehingga ia hafal akan jalannya, maka di bawah penerangan bulan purnama, sebentar saja ia sudah sampai di puncak. Ternyata mereka sudah hadir lengkap di puncak yang merupakan tanah terbuka ditumbuhi rumput hijau. Lengkap hadir para anggauta Thian-te Liok-koai yang kini hanya tinggal lima orang itu. It-gan Kai-ong, Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, Toat-beng Koai-jin, dan adiknya, Tok-sim Lo-tong. Mereka sudah tidak sabar lagi menanti, dan mengomel panjang pendek ketika akhirnya Suling Emas muncul. “Anggauta Thian-te Liok-koai selalu berlumba untuk lebih dulu hadir dalam pertemuan mengadu kepandaian, membuktikan bahwa ia berani. Dia ini main lambat-lambatan, anggauta macam apa ini!” Toat-beng Koai-jin mendengus dan marah-marah. “Memang dia tidak patut menjadi anggauta Thian-te Liok-koai! Cuhhh!” It-gan Kai-ong meludah dengan sikap menghina sekali. “Sudah menjadi pendirian Thian-te Liok-koai bahwa anggauta-anggautanya terdiri daripada orang-orang gagah yang suka melakukan perbuatan berani dan gagah! Akan tetapi dia ini tidak gagah berani, melainkan lemah dan pengecut, buktinya dia selalu memperlihatkan watak lemahnya dengan menolong orang-orang!” *** Mendengar ucapan Hek-giam-lo ini semua orang mengangguk-angguk membenarkan. Diam-diam Suling Emas mengeluh di dalam hatinya. Memang, baik dan jahat, gagah dan pengecut, semua hanya sebutan manusia, dan karenanya baik atau pun bucuk, gagah ataupun pengecut, sepenuhnya tergantung daripada orang yang mengatakannya, yaitu berdasarkan pandangannya. Iblis-iblis berupa manusia ini memang wataknya berlainan dengan manusia biasa, akan tetapi mereka tidak sengaja bersikap demikian, karena memang menurut pendapat mereka, pandangan mereka itu pun benar pula! Dari jaman dahulu sampai kini banyak terdapat orang-orang seperti ini, yang hatinya sudah tertutup dan kotor sehingga pandangannya pun kotor dan nyeleweng tanpa mereka sadari. Perbuatan ugal-ugalan, mengganggu orang, menindas, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan, mengganggu wanita baik-baik, menonjolkan kekurangajaran, semua per­buatan ini mereka anggap sebagai per­buatan gagah berani, atau setidaknya sebagai bukti bahwa mereka ini gagah berani dan mereka bahkan menjadi bang­ga karena perbuatan-perbuatan itu. Sebaliknya, orang-orang yang menghindari perbuatan-perbuatan semacam ini, yang selalu berusaha mengasihi sesamanya, mengulurkan tangan menolong sesama­nya, dianggap sebagai tanda dari watak penakut dan pengecut! “Hi-hi-hik!” Siang-mou Sin-ni tertawa terkekeh dan memasang muka semanis-manisnya ketika ia mendekati Suling Emas, memandang wajah yang tampan itu, lalu berkata, “Betapapun juga, ke­pandaiannya cukup lumayan untuk mem­buat ia patut menjadi anggauta Thian-te Liok-koai. Tentang sifat-sifat gagah berani itu, biarlah kelak aku sendiri yang akan membimbingnya. Aku akan membuat hatinya lebih kuat daripada hati kalian, aku akan mengajarnya menjadi seorang yang paling gagah dan paling berani di dunia ini!” Kembali iblis betina itu terkekeh dan dari rambutnya semer­bak bau wangi. Tentu saja yang dimak­sudkan dengan “hati kuat” adalah hati yang kejam dan ganas, sedangkan “gagah berani” adalah suka melakukan perbuatan yang paling jahat mengerikan. Ketika Siang-mou Sin-ni mengulurkan tangan hendak menggandengnya, Suling Emas melangkah mundur sambil mengelak. “Eh, Suling Emas, mengapa kau mun­dur? Bukankah tadi kita sudah main-main dan permainan bersama kita menghasil­kan perpaduan yang sedap didengar? Percayalah, kalau kau dan aku bersatu, kelak kita akan mempunyai seorang putera yang akan menjadi raja yang menguasai seluruh jagad!” Suling Emas melangkah maju dan berkata, suaranya keren, “Dengarlah kalian berlima! Aku datang bukan dengan maksud hendak menjadi anggauta Thian-te Liok-koai, oleh karena itu tidak perlu kalian menilai diriku apakah aku patut atau tidak menjadi rekan kalian! Aku datang mewakili mendiang ibuku yang ditantang oleh It-gan Kai-ong untuk ikut dalam adu ilmu di antara Thian-te Liok-koai, dan di samping itu, aku hendak minta kembali tongkat pusaka Beng-kauw dari tangan Hek-giam-lo juga sekalian aku memang mempunyai perhitungan dengan kalian semua. It-gan Kai-ong harus mengembalikan kitab yang diram­pasnya dari tangan Locianpwe Bu Kek Siansu, juga Hek-giam-lo, sedangkan Siang-mou Sin-ni harus mengembalikan yang-khim. Adapun Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong yang kena dibujuk It-gan Kai-ong untuk menjadi kaki tangan Suma Boan, sebaiknya kembali saja ke tempat asal kalian di pulau-pulau kosong!” “Wah-wah, dia cukup berani! Memaki-maki kita, mengusir kami berdua! Biar­kan dia ikut dalam adu kepandaian!” kata Toat-beng Koai-jin. Memang tokoh-tokoh hitam ini paling suka melihat orang yang berani, apalagi yang kejam, karena watak ini cocok dengan selera mereka. “Baiklah, kita mulai dan kali ini kita harus bersungguh-sungguh untuk dapat menentukan urutan tingkat dalam Thian-te Liok-koai, siapa yang paling pandai disebut twako (kakak tertua), yang ke dua ji-ko (kakak ke dua) dan seterusnya. Yang mampus dalam adu ilmu ini takkan dikubur, bangkainya akan menjadi makanan binatang buas dan burung gagak, tulang-tulangnya akan diperebutkan anjing-anjing hutan!” kata It-gan Kai-ong sam­bil meludah-ludah. “Bagus, kita mulai!” teriak Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo berbareng. Lima orang itu serentak meloncat mundur, masing-masing melompat mundur kira-kira dua tombak jauhnya dan kini mereka memasang kuda-kuda, mata mereka melirik-lirik mencari korban. Karena mak­lum bahwa mereka ini adalah orang-orang sakti yang aneh, Suling Emas juga tidak mau menjadi sasaran di tengah-tengah dan ia pun melompat mundur. Kini enam orang itu merupakan lingkaran yang menghadap ke dalam, menanti saat un­tuk merobohkan lawan dalam pertanding­an campuran itu, di mana tidak ada kawan, semua adalah lawan yang harus dikalahkan, kalau perlu dibunuh! “Siapa berani menyerangku?” It-gan Kai-ong mengejek. Kesempatan ini diper­gunakan oleh Tok-sim Lo-tong yang me­nerjangnya dari samping kiri sambil mengeluarkan senjatanya yang berupa seekor ular hidup. Terjangan ini dibarengi pekik nyaring yang tidak menyerupai pekik manusia lagi, melainkan lebih pan­tas keluar dan mulut seekor binatang buas atau agaknya begitulah suara iblis. Memang aneh sekali watak orang-orang ini. Tok-sim Lo-tong bersama kakaknya, Toat-beng Koai-jin tadinya dapat diper­alat It-gan Kai-ong dan bekerja sama dengan raja pengemis itu. Akan tetapi dalam pertemuan di puncak Thai-san ini, di mana mereka hendak memperebutkan kedudukan sebagai saudara tua yang pa­ling lihai di antara mereka, lenyaplah segala persahabatan, segala hubungan, satu-satunya nafsu yang menguasai mere­ka adalah menang sendiri dan menjadi jagoan nomor satu! Serangan Tok-sim Lo-tong ini hebat sekali, tangan kirinya yang mencenake­ram ke depan mengeluarkan sambaran angin pukulan yang mengeluarkan bunyi seperti suara tikus, bercicitan, sedangkan ular yang ia pegang dengan tangan kanan itu meluncur ke depan menggigit dan mengeluarkan racun dari semburan mulut­nya! Jangan dipandang rendah racun ular itu karena binatang yang dijadikan sen­jata ini adalah ular beracun yang amat berbahaya, yang mempunyai bisa disebut “racun api” karena racun itu dapat mem­bakar hangus apa saja yang disentuhnya. Juga cengkeraman tangan kiri Bocah Tua Hati Racun (Tok-sim Lo-tong) ini mengandung tenaga dalam yang penuh dengan racun dingin, merupakan racun yang berlawanan dengan ular di tangan kanannya, namun tidak kalah hebatnya karena sekali saja pukulan tangan kirinya mengenai sasaran, dapat membikin beku jantung dan darah. Namun Tok-sim Lo-tong boleh jadi berbahaya bagi lawan manusia biasa, menghadapi It-gan Kai-ong ia menemukan tanding. Dengan suara ketawa terbahak, raja pengemis ini menyambut serangan Tok-sim Lo-tong dengan sama dahsyat­nya. Kakek mata satu ini mengangkat tongkat bututnya, ditusukkan ke arah mulut ular sedangkan dia sendiri meludah tiga kali berturut-turut yang ditujukan ke arah tiga jalan darah di sepanjang lengan kiri lawan yang menyerangnya. Jadi, serangan Tok-sim Lo-tong itu dibalas serangan pula oleh It-gan Kai-ong! “Uh-uh!” Lo-tong menjerit marah dan tentu saja ia mengerahkan kedua lengan­nya, yang kanan untuk menghindarkan ularnya dari tusukan maut sedangkan yang kiri untuk menghindari sambaran air ludah yang lebih berbahaya daripada senjata rahasia beracun. Kemudian ia mendesak lagi dengan memutar ularnya seperti kitiran angin cepatnya, sedangkan tangan kirinya tetap melakukan pukulan sebagai selingan. “Heh-heh-heh!” It-gan Kai-ong ter­tawa mengejek dan ia pun memutar tong­katnya mengimbangi lawan dan di lain saat keduanya sudah berhantam dengan seru. Biarpun tongkat di tangan It-gan Kai-ong itu hanya tongkat butut, namun kalau sudah ia mainkan seperti itu, dapat melawan senjata baja yang bagaimana keras dan tajam pun. Sebaliknya, sen­jata hidup di tangan Tok-sim Lo-tong juga demikian, kecuali bagian lemah yang terletak di mulut dan mata ular itu, tubuh ular telah dilindungi kulit yang kebal dan tahan bacokan senjata tajam. Pertandingan antara dua orang tokoh iblis dunia ini hebat sekali, angin yang berputar-putar seperti angin puyuh mem­buat pohon-pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang dan daun-daun pohon banyak yang rontok! Sementara itu, Hek-giam-lo, orang ke dua yang sama licik dan curangnya de­ngan It-gan Kai-ong, segera menggerak­kan senjata sabitnya yang mengerikan dan tajam seperti pisau cukur itu, tanpa peringatan lagi ia menerjang Toat-beng Koai-jin yang berdiri di sebelah kirinya. Mengapa ia memilih lawan Toat-beng Koai-jin? Inilah kecerdikan setan hitam itu. Menurut perhitungannya, dibanding­kan dengan Siang-mou Sin-ni, apalagi dengan Suling Emas, Toat-beng Koai-jin ini adalah lawan yang lebih empuk, maka ia tidak menyia-nyiakan waktu terus saja meniilih Toat-beng Koai-jin sebagai lawannya yang ia yakin akan dapat ia jatuhkan dalam waktu singkat. Toat-beng Koai-jin si manusia liar yang gendut berpunuk seperti kerbau itu, bertelanjang baju, menggereng seperti binatang biruang luka, kemudian kedua tangannya mencakar-cakar dengan kuku-kukunya yang panjang runcing. Di lain saat sudah ada tiga buah batu besar dan dua batang pohon menyambar ke arah Hek-giam-lo. Iblis Hitam ini tentu saja dapat mengelak cepat, akan tetapi ketika ia menerjang lagi, si punuk liar itu sudah memegang sebatang pohon besar, diper­gunakan sebagai senjata, mengamuk dan menerjang Hek-giam-lo! Repot juga Hek-giam-lo diterjang dengan senjata pohon yang penuh cabang ranting dan daun-daun itu. Ia membabat dengan sabitnya dan beterbanganlah daun-daun dan ran­ting pohon itu bagaikan hujan. Sebentar saja pohon di tangan Toat-beng Koai-jin sudah tinggal batangnya saja yang dipergunakan oleh Toat-beng Koai-jin sebagai senjata tongkat besar, tongkatnya yang sebesar balok bergaris tengah tiga puluh senti itu ia putar-putar di atas kepala sehingga sinar bayangannya me­nyelimuti seluruh tubuhnya. Segera kedua orang iblis ini sudah saling terjang dan terlibat dalam pertandingan yang tidak kalah serunya dengan pertandingan antara It-gan Kai-ong dan Tok-sim Lo-tong. Ha­nya bedanya, pertandingan ini meng­akibatkan batu-batu kecil beterbangan ke atas dan tanah menjadi debu bergulung-gulung menyuramkan pandangan mata yang hanya diterangi sinar bulan purnama. Suling Emas sudah siap siaga ketika ia melihat orang terakhir, Siang-mou Sin-ni melangkah dan menghampirinya dengan langkah seperti harimau lapar, dengan pinggul digoyang-goyang, lenggang dibuat-buat, disertai senyum manis dan sepasang mata ini berkilat-kilat memantulkan sinar bulan. Deretan gigi putih berkilauan me­ngintai dari balik bibir mengulum senyum, Suling Emas bersikap makin waspada dan siap, karena ia cukup mengenal iblis betina ini. Makin manis sikapnya, makin berbahayalah iblis ini. Diam-diam ia harus kecantikan Siang-mou Sin-ni. Seorang wanita yang sudah masak, yang sukar dicari cacatnya dari rambut yang halus hitam panjang berbau harum itu sampai kepada wajah cantik jelita dan bentuk tubuh yang ramping padat dan sepasang kaki tangan yang kecil menarik. Patut disayangkan seorang wanita yang berdarah bangsawan Kerajaan Hou-han ini tersesat menjadi seoranp manusia iblis yang keji. Kalau Suling Emas teringat akan perbuatan-perbuatan jahat Siang-mou Sin-ni, lenyaplah rasa sayang dan kasihannya. Entah berapa banyak manusia dan kanak-kanak tidak berdosa tewas di tangan iblis wanita ini, dihisap darahnya hidup-hidup untuk dijadikan obat kuat! Mengingat akan kekejaman ini, ia ber­gidik dan timbul niatnya untuk membasmi wanita iblis ini agar lenyap sebuah ancaman bagi keselamatan manusia. Akan tetapi wanita itu tidak segera menyerangnya seperti yang disangka oleh Suling Emas, bahkan mendekatinya sam­bil tersenyum-senyum dan matanya mengerling tajam. “Suling Emas, biarkan si goblok itu saling gempur sendiri. Kita tidak begitu goblok untuk bunuh-membunuh di malam seindah ini, bukan? Lihat, betapa indah­nya bulan, betapa cemerlang dan sejuk­nya hawa udara. Suling Emas, kita biar­kan mereka itu saling gebuk dan saling bunuh, nanti dengan mudah kita bereskan mereka semua anjing-anjing busuk itu, Sekarang mari kita menonton mereka sambil mengobrol di bawah sinar bulan purnama, asyik dan nikmat, kan? Aku merindukan dirimu semenjak pertama kita di sini dahulu. Marilah, sayang!” Sambil berkata demikian, dengan bibir tersenyum dan mata setengah terkatup wanita itu mengembangkan kedua lengan­nya seperti hendak memeluk Suling Emas. Suling Emas melangkah mundur, me­ngibaskan lengan bajunya dengan marah. “Siang-mou Sin-ni, simpanlah bujuk rayu­mu untuk orang lain. Aku bukanlah laki-laki seperti yang kaukehendaki. Lebih baik kau insyaflah, tebus dosa-dosamu dengan bertapa dan membersihkan batin. Kalau tidak mungkin aku sendiri yang akan mengantar kau kembali ke alam asalmu!” Tiba-tiba sepasang mata yang tadi setengah terkatup bersinar mesra itu terbuka lebar dan sinarnya kini penuh kekejian. Mulut itu masih tersenyum, akan tetapi matanya membayangkan ke­bencian yang memuncak. Kennudian, tiba-tiba wanita itu menjerit dan menubruk maju, didahului rambutnya yang panjang menyambar hendak menangkap Suling Emas. Wanita yang tadinya seperti seorang puteri jatuh cinta, yang gerakan­nya lemah gemulai dan penuh bujuk rayu itu, kini tiba-tiba berubah menjadi silu­man betina yang haus darah! “Kalau begitu, mampuslah kau!” teriaknya mengikuti serbuannya. Suling Emas cepat menggerakkan kipasnya mengebut pergi rambut itu dan sulingnya berkelebat menjadi sinar ke­emasan menotok ke arah leher Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi wanita sakti ini dapat mengelak dan melanjutkan serang­annya dengan dahsyat dan penuh kebenci­an. Kini tangan kirinya memegang sebuah yang-khim sebagai senjata dan bertem­purlah mereka berdua dengan seru dan mati-matian. Tempat yang indah dan romantis, puncak Thai-san yang biasanya sunyi hening dan yang tentu akan menarik perhatian kaum pertapa sebagat tempat suci itu kini menjadi medan pertandingan mati-matian yang mengerikan. Enam orang yang sedang bertempur itu ke­semuanya memiliki kesaktian yang tinggi. Angin pukulan mereka membuat daun-daun rontok, semua batu-batu pecah berhamburan dan debu mengebul tinggi. Suara angin pukulan mereka berciutan mengerikan dan dalam jarak belasan meter batang-batang pohon yang terlanda angin pukulan berguncang-guncang seperti didorong oleh tenaga raksasa. Dasar lima orang manusia iblis itu berwatak aneh dan liar, maka dalam melakukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling unggul, sama sekali tidak dipergunakan aturan sehingga pertempuran itu dari kacau-balau dan penuh nafsu membunuh. Dan memang masing-masing memiliki keistimewaan sendiri maka tidaklah mudah bagi yang seorang untuk mengalahkan yang lain. Betapapun juga, menghadapi It-gan Kai-ong yang luar biasa dan yang telah memiliki sebagian daripada kitab rampasan dari Bu Kek Siansu, lambat-laun Tok-sim Lo-tong terdesak hebat. Karena merasa penasaran bahwa Tok-sim Lo-tong selalu dapat menahan serangannya sungguhpun ia sudah mengerahkan seluruh tenaga, akhirnya It-gan Kai-ong memekik keras dan mulailah ia menggerakkan tongkatnya menurut ilmu barunya yang ia pelajari daripada kitab rampasannya yang hanya setengahnya itu. Namun hasilnya sudah hebat sekali. Serangkum angin pukulan berpusing menyerbu ke arah Tok-sim Lo-tong. Iblis ini mengeluarkan seruan kaget, cepat ia memutar pula ularnya. “Prakkk!” ujung tongkat It-gan Kai-ong tepat sekali menghantam kepala ular sehingga kepala ular itu pecah berantakan. Tok-sim Lo-tong menjerit marah dan ia menyambitkan bangkai ular ke arah lawannya. Namun sekali menangkis, bangkai ular itu terlempar ke samping, ke arah gerombolan pepohonan di sebelah kiri. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh seseorang yang tak dikenal terguling-guling roboh, sebagian dari tubuh ular itu masuk ke dalam dadanya. Demikian hebatnya sambitan itu! Kiranya orang yang terkena sambitan itu adalah seorang tosu yang tadinya me­nonton sambil bersembunyi. Pada saat berikutnya, terdengar Siang-mou Sin-ni terkekeh genit, rambutnya menyambar ke kanan dan di saat berikut­nya rambutnya telah “menangkap” se­orang hwesio yang tak mampu melepaskan diri, biarpun sudah meronta-ronta sekuat tenaga. Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya dan tubuh hwesio itu terangkat lalu diputar-putar seperti kitir­an, dijadikan senjata melawan Suling Emas! “Iblis keji! Lepaskan dia!” seru Suling Emas yang terpaksa mengelak ke sana­ sini karena tidak mau menangkis yang akibatnya tentu menewaskan hwesio penonton yang tak bersalah itu. Akan tetapi Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh dan terus menerjang makin hebat. Dengan menggunakan gin-kangnya, Suling Emas mendahului meloncat ke atas dan dari atas sulingnya bergerak menghantam rambut yang mengikat hwesio itu, sedangkan tangan kirinya merampas tubuh si hwesio. Hwesio itu dapat terampas dan terlepas, akan tetapi alangkah kaget hati Suling Emas melihat bahwa hwesio itu sudah tewas, lehernya hampir putus oleh jiratan rambut tadi! Ia melemparkan mayat itu ke samping lalu menerjang maju penuh kemarahan. Wamta iblis itu menyambutnya sambil terkekeh mengejek. Agaknya sudah banyak berkumpul tokoh-tokoh kang-ouw yang cukup tabah untuk menonton pertandingan hebat ini, yang memang sudah tersiar luas di dunia kang-ouw. Celakanya, ketabahan harus dibayar mahal sekali sehingga da­lam waktu beberapa detik saja, dua orang sudah menjadi korban. Lebih hebat lagi, agaknya hal ini menimbulkan kegembira­an hati yang buas dan liar itu, karena terdengar It-gan Kai-ong tertawa-tawa, untuk sementara mengurangi desakannya pada Tok-sim Lo-tong dan ia meludah sejadi-jadinya ke kanan kiri. Terdengar teriakan-teriakan dan beberapa orang sudah terluka oleh ludah-ludah itu. Sibuk­lah kini di balik pepohonan itu karena orang-orang yang tadinya menonton mulai jerih, beramai-ramai mengundurkan diri sambil membawa teman-teman yang te­was atau terluka. Akan tetapi tampak sinar terang berkelebat dan dua orang di antara mereka terjungkal tanpa kepala lagi. Kiranya Hek-giam-lo tidak mau ketinggalan dan berpesta dengan senjata sabitnya. Hal ini ditambah dengan hujan batu besar dan pohon-pohon yang dilontarkan oleh Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong! Setelah para penonton yang tak diundang itu kalang-kabut pergi menjauhi tempat maut itu, pertandingan dilanjut­kan, lebih gembira dan lebih dahsyat daripada tadi. Tok-sim Lo-tong kini sudah meniru kakaknya, menggunakan sebatang pohon untuk menghadapi It-gan Kai-ong. Akan tetapi karena keistimewaannya adalah senjata ular hidup, ia tidaklah begitu cekatan seperti kakaknya dan beberapa belas jurus kemudian, tongkat It-gan Kai-ong yang gerakannya berpusing aneh itu berhasil mengetuk tangannya sehingga sambil berterik kesakitan Tok-sim Lo-tong terpaksa melepaskan senjatanya sambil bergulingan ke kiri dikejar It-gan Kai-ong yang tertawa-tawa. Ketika Tok-sim Lo-tong terguling di dekat Hek-gia-lo, mendadak iblis hitam ini meninggalkan Toat-beng Koai-jin dan mengayun sabitnya membacok ke arah kepala Tok-sim Lo-tong! Iblis gundul kurus kering ini cepat mengelak sambil meloncat berdiri sehingga sabit itu luput makan lehernya dan amblas ke dalam tanah sambil mengeluarkan api ketika terbentur batu-batu yang terbabat seperti agar-agar saja! Terdengar teriakan keras dan pnhon besar di tangan Toat-beng Koai-jin me­nyambar ke arah Tok-sim Lo-tong yang baru saja terbebas dari maut di tangan Hek-giam-lo. Tok-sim Lo-tong meloncat tinggi menghindari serangan kakaknya sendiri, akan tetapi ia terhuyung-huyung oleh sambaran angin pukulan dengan batang pohon ini. Hebatnya, Siang-mou Sin-ni agaknya melupakan Suling Emas dan kini wanita itu pun menerjang Tok-sim Lo-tong yang sudah terhuyung-huyung, menggunakan rambutnya yang panjang mengirim serangan maut! Suling Emas berdiri bengong. Lima orang itu memang patut dijuluki iblis. Mereka begitu licik dan curang sehingga dalam pertandingan menentukan kedudukan ini, mereka tidak segan-segan untuk me­ngeroyok Tok-sim Lo-tong yang terdesak hebat, menggunakan serangan-serangan maut. Bahkan Toat-beng Koai-jin, kakak Tok-sim Lo-tong sendiri, ikut pula mengeroyok, seakan-akan lupa bahwa yang dikeroyok itu adalah adiknya sendiri! Adakah manusia yang lebih ganas dari­pada mereka ini? Namun, boleh dipuji kepandaian Tok-sim Lo-tong. Biarpun ia tadi terhuyung-huyung, namun menghadapi serangan Siang-mou Sin-ni, ia masih dapat menggerakkan kedua tangan mengirim pukulan-pukulan dengan sin-kang sehingga gumpal­an rambut yang menyambar ke arahnya itu dapat tertahan oleh hawa pukulan­nya, malah kini tangannya membentuk cakar setan untuk mencengkeram rambut itu! Pada saat itu, tampak berkele­batnya sabit Hek-giam-lo yang membabat ke arah tangannya sehingga terpaksa Tok-sim Lo-tong menarik kembali ta­ngannya. Tongkat It-gan Kai-ong me­nyambutnya dari belakang dan batang pohon di tangan Toat-beng Koai-jin juga sudah menyambar pula dari depan! Tok-sim Lo-tong sibuk mengelak dan meng­gunakan ilmunya menggelinding seperti bola ke sana ke mari, gesit dan cepat sekali. Namun empat orang pengeroyok­nya tidak memberi ampun dan pada saat ia meloncat bangun menghindarkan bacok­an Hek-giam-lo, pundaknya keserempet tongkat It-gan Kai-ong. Si gundul kurus kering ini memekik kesakitan dan membalikkan tubuh hendak mengamuk. Na­mun cabang-cabang pada batang pohon yang menyambarnya telah menyapu kakinya sehingga ia roboh terguling. “Tranggggg!” Sinar kuning emas me­nangkis sabit yang membacok kepala Tok-sim Lo-tong dan menangkis pula tongkat It-gan Kai-ong, bahkan kipasnya mengebut rambut-rambut Siang-mou Sin-ni. Kiranya Suling Emas yang menolong Tok-sim Lo-tong. Pendekar ini tak dapat tinggal diam saja menyaksikan pertan­dingan yang berat sebelah dan tidak adil. Mana ada aturan mengeroyok orang yang sudah terdesak? Benar-benar mereka itu tidak mengenal watak gagah tidak mau peduli akan norma-norma yang berlaku pada tokoh-tokoh kang-ouw. Biasanya, sungguhpun golongan hitam yang terdiri daripada penjahat, masih enggan melaku­kan perbuatan yang memalukan dan ber­sifat pengecut. Akan tetapi iblis-iblis ini benar-benar tak tahu malu dan terpaksa Suling Emas turun tangan membantu Tok-sim Lo-tong yang dikeroyok oleh empat orang rekan-rekannya para ang­gauta Thian-te Liok-koai termasuk kakaknya sendiri Toat-beng Koai-jin! Campur tangan Suling Emas membuat pertandingan menjadi kacau-balau dan secara otomatis mereka itu masing-masing memilih lawan terdekat dan di lain saat It-gan Kai-ong sudah bergebrak melawan Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni bertanding dengan Toat-beng Koai-jin, sedangkan Tok-sim Lo-tong yang kini sudah menyambar sebatang pohon itu kini me­nyerang mati-matian kepada Suling Emas yang baru saja membebaskannya daripada ancaman maut! Semua keadaan yang tidak tahu aturan, tidak mengenal budi, dan liar ganas seenaknya sendiri ini ber­jalan tanpa kata-kata. Diam-diam Suling Emas menjadi bi­ngung juga. Ia tidak mau terlalu men­desak Tok-sim Lo-tong karena ia tahu bahwa begitu si gundul kurus kering ini ia desak, tentu yang lain-lain akan turun tangan mengeroyok Tok-sim Lo-tong! Oleh karena inliah maka ia hanya mempertahankan diri sambil memperhatikan jalannya pertandingan antara pasangan-pasangan lain. Juga ia sempat melihat bahwa banyak juga tokoh kang-ouw yang masih bersembunyi menonton, akan te­tapi mereka kini tidak berani terlalu mendekati tempat itu, melainkan nooton dalam jarak yang cukup aman. Mendadak terdengar suara “cring-cring-cring” yang amat nyaring dan meng­getarkan jantung. Suling Emas kaget sekali, mengenal suara itu yang ternyata keluar dari alat musik yang-khim di ta­ngan Siang-mou Sin-ni! Betul saja Toat-beng Koai-jin yang terserang suara ini karena ia bertanding melawan Siang-mou Sin-ni, tidak kuat melawan pengaruh suara yang mengikat semangat ini, ilmu yang dicuri oleh Siang-mou Sin-ni meng­gunakan yang-khim milik Bu Kek Siansu. Kakek berpunuk yang liar itu tiba-tiba menjadi pucat dan terhuyung-huyung ke belakang. Tahu-tahu kedua kakinya sudah terkena sambaran rambut Siang-mou Sin-ni yang menariknya sehingga kakek liar itu terjengkang ke belakang. Seperti tadi ketika Tok-sim Lo-tong terdesak, kini mereka berempat, Hek-giam-lo, It-gan Kai-ong, dan Tok-sim Lo-tong bersama Siang-mou Sin-ni serentak menyerang Toat-beng Koai-jin yang sudah roboh! “Pengecut, tahan!” seru Suling Emas melompat untuk membantu Toat-beng Koai-jin. Namun terlambat karena ketika ia tiba di dekat kakek itu, sabit di ta­ngan Hek-giam-lo telah membacok kepala, sedangkan tongkat It-gan Kai-ong sudah menusuk dada dalam detik hampir berbareng, sedangkan rambut Siang-mou Sin-ni yang terbagi menjadi dua merobek tubuh kakek itu dengan menarik kedua kaki ke kanan kiri disusul oleh hantaman balok pohon oleh Tok-sim Lo-tong. Beta­papun saktinya Toat-beng Koai-jin, tu­buhnya seketika menjadi remuk dan te­robek-robek, hancur! “Kejam! Kalian iblis-iblis ganas!” ben­tak Suling Emas yang segera mengamuk dengan sulingnya. Saking hebatnya gerak­an Suling Emas, Tok-sim Lo-tong tak dapat menghindarkan dirinya dan sekali dadanya terkena totokan suling, kakek ini pun roboh dengan nyawa putus, rohnya melayang menyusul kakaknya. “Heh-heh-heh, Toat-beng Koai-jin menjadi anggauta ke enam karena dia mampus lebih dulu. Tok-sim Lo-tong menjadi anggauta ke lima, setingkat lebih tinggi daripada kakaknya. Lucu!” kata It-gan Kai-ong tertawa-tawa. Hek-giam-lo hanya mendengus dan Siang-mou Sin-ni cekikikan. Kini tinggal empat orang yang masih hidup dan otomatis mereka berdiri di empat sudut, memasang kuda untuk memperebutkan kemenangan. “Kalian iblis-iblis ganas, malam ini aku Suling Emas bersumpah hendak mem­basmi kalian bertiga!” seru Suling Emas. Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak cepat sekali dan dia sekaligus su­dah membagi-bagi serangan kepada tiga orang lawannya secara beruntun. Karena maklum bahwa tiga orang lawannya ini merupakan orang-orang terlihai dari Thian-te Liok-koai, maka dalam serangan­nya ini Suling Emas mengeluarkan ilmu­nya berdasarkan Hong-in-bun-hoat yang dahulu ia terima dari Bu Kek Siansu. Tidak saja gerakannya berdasarkan ilmu silat huruf yang hebat ini, juga ia me­ngerahkan tenaga Kim-kong Sin-im se­hingga ketika bergerak, sulingnya menge­luarkan bunyi yang dahsyat dan meng­getarkan isi dada ketiga orang lawannya. Hebat sekali gerakan Suling Emas ini, sulingnya berubah seperti halilintar me­nyambar, sinarnya menyilaukan mata para lawannya, apalagi dibarengi suara melengking tinggi itu, benar-benar mengejutkan lawan yang sambil memekik mereka melompat mundur dengan gerakan mempertahankan diri. Mereka selamat dari penyerangan pertama ini, namun tidak urung mereka merasa gentar juga dan jantung mereka berdebar-debar. Tiga orang iblis ini adalah orang-orang yang cerdik dan licik. Maklumlah mereka bahwa pendekar muda ini benar-benar tak boleh dibuat main-main, kepandaiannya meningkat hebat semenjak pertemuan terakhir. Oleh karena itu, kini pendirian mereka pun berubah. Mereka tidak mau saling serang antara kawan sendiri dan bermaksud menggabungkan tenaga tiga orang untuk menghadapi Suling Emas. Tanpa kata-kata, tiga orang iblis ini sudah bersepakat dalam hal ini, maka otomatis mereka melakukan gerakan menyudut dan mengurung Suling Emas dari sudut segi tiga. Rambut yang hitam halus dan panjang dari Siang-mou Sin-ni melebar tegak lurus seperti duri lan­dak, penuh tenaga dan siap dipergunakan, sedangkan alat musik khim yang berada di tangan kanannya diangkat ke atas kepala, digerak-gerakkan perlahan untuk mengubah-ubah posisi, mencari kesempa­tan yang baik, wanita yang cantik ini sekarang kelihatan mengerikan dan agak­nya pantas kalau mulutnya yang menye­ringai itu diberi tambahan caling di ka­nan kiri, seperti gambar siluman betina yang haus akan darah manusia. Hek-giam-lo juga berdiri dengan siap, kedua kaki­nya terpentang lebar, kokoh kuat, muka­nya yang berkedok tengkorak amat me­ngerikan karena dari lubang di bagian matanya berjelalatan, sabit yang tajam berkilau diangkat tinggi ke atas, terkena sinar bulan berkeredepan menyilaukan, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka didorong lurus ke depan, seperti tangan setan hendak menceng­keram korbannya. Yang paling menjijik­kan adalah It-gan Kai-ong. Kakek raja pengemis ini berdiri agak terbongkok, kedua kakinya ditekuk rendah bagian lututnya, tongkat bututnya melintang di depan dada, matanya yang tinggal se­belah itu merah terbelalak tak pernah berkedip, mulutnya agak terbuka dan air liurnya menetes-netes dari ujung kanan. Suling Emas yang terkurung di tengah-tengah tampak tenang-tenang saja. Le­nyap sudah kerut merut kemarahan dari mukanya. Memang pendekar sakti ini sudah berhasil menghalau nafsu marah di hatinya dan inilah syarat utama bagi seorang pendekar silat, yaitu tidak boleh sekali-kali dipengaruhi nafsu perasaan di hatinya. Ia berdiri dengan kuda-kuda biasa, kaki kiri diangkat ke atas dengan lutut ditekuk, kaki kanan berdiri di ujung jari kaki, suling di tangan kanan melin­tang di depan kening, tangan kiri me­megang kipas biru yang bergerak-gerak, tertutup terbuka, perlahan-lahan tanpa mengeluarkan bunyi, sepasang matanya tidak memandang ke mana-mana, seakan-akan memandang ujung hidungnya sendiri seperti keadaan seorang dalam samadhi, namun seluruh urat syarafnya telah “di­pasang” dan panca inderanya mengikuti gerak-gerik tiga orang lawannya. Sunyi hening di saat itu. Empat orang itu seperti patung-patung mati, bahkan pernapasan mereka pun tidak terdengar. Jengkerik dan walang yang biasanya ra­mai berdendang menghias kesunyian pun­cak, kini berhenti seakan-akan mereka ikut nonton dengan penuh ketegangan dan kecemasan, seperti para tokoh kang-ouw yang sembunyi sambil menonton di se­keliling tempat itu. Tiba-tiba empat “pa­tung” itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata biasa, disertai suara-suara mengejutkan. “Hiaaaaattttt!” Sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar cepat sekali, seperti kilat dan hanya tampak cahayanya saja. “Siuuuttttt!” Hanya satu sentimeter saja selisihnya dari leher Suling Emas yang dengan mudah miringkan tubuh membiarkan sabit menyambar di dekatnya. “Huah-ha-ha-ha.... wuuuuttttt!” Tongkat It-gan Kai-ong melakukan serangan tusukan maut dari samping selagi Suling Emas miringkan tubuh, disusul pada detik berikutnya oleh sambaran yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni yang menghantam pusar dengan gerakan kuat-kuat sehingga yang-khim mengeluarkan bunyi “singgggg!”. Namun dengan amat cekatan, seakan-akan berubah menjadi segulung asap. Suling Emas sudah bergerak menyelinap di antara gulungan sinar senjata lawan dan tak sebuah pun di antara hujan senjata lawan dan tak sebuah pun di antara lembaran rambut Siang-mou Sin-ni yang mengirim serangan susulan, dapat menyentuhnya! Namun Hek-giam-lo sudah menerjang lagi, sabitnya menyambar-nyambar laksana burung hantu dari udara, sedangkan tongkat It-gan Kai-ong juga bergerak-gerak seperti ular hitam menotok pelbagai jalan darah mematikan, dibantu oleh hantaman-hantaman yang-khim dan sambaran-sambaran rambut yang mengeluarkan suara berciutan. Suling Emas memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya. Ia meloncat, mendekam, memutar tubuh, berjungkir-balik dan setelah lewat lima menit mereka berempat bergerak-gerak sedemikian cepatnya sehingga bayangan mereka campur aduk menjadi satu, tampak Suling Emas meloncat tinggi sekali dan tahu-tahu sudah berdiri sejauh empat meter di depan tiga orang lawannya. Kembali seperti tadi, mereka berempat tak bergerak, saling pandang penuh rasa benci dan penasaran. Kini Suling Emas tidak terkurung lagi, melainkan menghadapi mereka bertiga yang berada di depannya. Perlahan-lahan tiga orang itu melangkah maju dan otomatis membentuk barisan segi tiga. Namun Suling Emas tidak mau terkurung lagi. Ia ingin membalas, tidak mau dijadikan umpan serangan mereka tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali. Ia maklum bahwa kecepatan mereka itu amat hebat dan kalau ia sudah terkurung seperti tadi, serangan mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti dan keadaan demikian itu tentu saja amat berbahaya dan tidak meng­untungkan. Ia tersenyum mengejek, lalu berkata. “Bagus, tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai! Menghadapi aku saja dengan tiga lawan satu, kalian gentar, apalagi mau menghadapi mendiang Ibuku! Eh, apakah kalian takut? Kalau takut....” “Sssrrr.... srrr.... srrrrr....!” “Cuiiiiittttt....!” “Sing.... sing.... singgg!” Suling Emas tentu saja sudah was­pada. Malah ini yang ia kehendaki, maka ia tadi sengaja mengejek untuk memanas­kan hati mereka. Pancingannya berhasil karena secara beruntun mereka melepas senjata rahasia. Pertama-tama Siang-mou Sin-ni yang melontarkan jarum-jarum beracun dari arah kiri, sebanyak tujuh belas yang kesemuanya menuju ke jalan-jalan darah utama. Kemudian disusul oleh senjata rahasia It-gan Kai-ong yang menjijikkan namun tak kalah jahatnya, yaitu air ludahnya, menyerang dari arah kanan dan paling akhir Hek-giam-lo telah meng­gunakan pisau-pisau terbangnya menyerang dari depan langsung dengan kecepat­an luar biasa. Biarpun orang sesakti Su­ling Emas, andaikata ia lengah, tentu akan sukar melepaskan diri daripada ancaman bahaya maut dari tiga penjuru ini. Baiknya ia memang sudah waspada dan sudah menduga lebih dulu, maka begitu tampak sinar melayang dari tiga jurusan, ia telah mendahului mereka, tubuhnya mendadak mumbul ke atas se­perti terbang, lebih cepat daripada sam­baran senjata-senjata rahasia itu, dan kini dia melayang di atas senjata-senjata rahasia itu, langsung ia menerjang tiga orang lawannya dari atas dengan serang­an sulingnya dalam jurus-jurus rahasia dari Hong-in-bun-hoat. Kini giliran tiga orang iblis itulah yang kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada suara men­dengung-dengung dan melengking di atas kepala mereka, disusul oleh sinar ke­emasan yang menyilaukan mata. Mereka sama sekali tidak menduga akan terjang­an Suling Emas sehebat itu. Karena tiga orang iblis itu memang sakti dan berilmu tinggi, biarpun terkejut dan terdesak hebat oleh serangan Suling Emas dari atas yang dahsyatnya bagaikan sambaran halilintar di musim hujan itu, namun mereka bertiga dapat juga me­nyelamatkan diri. It-gan Kai-ong berhasil menjatuhkan diri ke belakang sambil me­mutar-mutar tongkatnya melindungi diri­nya, sehingga ia berhasil memecahkan sinar bergulung-gulung yang menyambar­nya dan hanya pakaiannya saja yang sebagian besar robek oleh sambaran sinar suling lawannya. Hek-giam-lo juga ber­hasil melompat ke belakang sambil berteriak nyaring dan menangkis dengan sabitnya. Terdengar suara keras dan ujung senjatanya itu patah, akan tetapi ia se­lamat tidak terluka. Hanya Siang-mou Sin-ni yang kurang beruntung karena ketika dalam kagetnya ia menggerakkan rambutnya menangkis, rambutnya itu terbabat sinar kuning emas dan putuslah rambutnya yang hitam panjang sehingga tinggal sampai ke pundaknya saja! Wanita ini menjerit ngeri dan menangis. Akan tetapi tidak hanya sampai di situ Suling Emas menyerang. Kini tubuhnya sudah berada di atas tanah dan tan­pa membuang waktu lagi ia melanjutkan serangannya, bertubi-tubi ia menyerang tiga orang lawannya sambil tetap main­kan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat yang amat luar biasa itu. It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terdesak, mereka maklum akan kelihaian ilmu ini maka mereka main mundur menjauhkan diri. Tidak demikian dengan Siang-mou Sin-ni yang menjadi marah sekali karena rambut yang menjadi kebanggaan dan menjadi senjata ampuhnya itu telah “berondol”. Dengan nekat wanita ini menyambut serangan Suling Emas dengan kekerasan. Ia mainkan yang-khim di tangannya dan menyambut pukulan dengan pukulan pula. Betapapun juga, Siang-mou Sin-ni terpaksa mengakui kehebatan Hong-in-bun-hoat karena belum sampai sepuluh jurus, ia sudah terdesak dan terancam hebat. Dengan gerakan nekat tanpa mem­pedulikan keselamatan dirinya, Siang-mou Sin-ni menjerit dan menghantamkan yang-khim pada saat suling lawannya bergulung-gulung mengitari dirinya. Suling Emas kaget sekali, tidak menyangka lawannya akan berlaku nekat mengadu nyawa. Tiada waktu lagi untuk mengelak, maka ia menggerakkan kipasnya yang sudah tertutup untuk menangkis.­ “Brakkkkk!” Keras sekali suara ini terdengar dan yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni pecah menjadi empat potong, tetapi kipas biru di tangan Suling juga patah menjadi dua. Detik amat berbahaya itu dipergunakan Suling Emas dengan baiknya karena sulingnya sudah meluncur ke depan dan tiga kali sulingnya berhasil menotok tiga jalan darah yang berbahaya dari Siang-mou Sin-ni. “Aihhhh....!” Siang-mou Sin-ni menjerit, yang-khim yang sisanya berada di tangannya ia lemparkan ke bawah, berbareng dengan kipas Suling Emas yang juga dibuang ke bawah, kemudian tiba-tiba wanita itu tertawa nyaring dan.... sinar merah menyambar dari mulutnya ke arah muka Suling Emas. Pendekar sakti ini kaget sekali, maklum apa artinya sinar merah yang mengeluarkan bau busuk memabukkan itu. Wanita iblis itu telah mempergunakan ilmunya yang terakhir, yaitu Tok-hiat-hoat-lek, ilmu menyemburkan darah beracun yang amat berbahaya. Kipasnya sudah tidak ada padanya, padahal kipas itulah yang paling tepat untuk menghadapi serangan dahsyat mengerikan ini. Terpaksa ia lalu melempar tubuhnya ke belakang. Namun, biarpun ia tidak terkena semburan darah beracun, hawa beracun dari darah yang mengeluarkan bau busuk melebihi mayat busuk ini telah mempengaruhinya dan mendatangkan pusing pada kepalanya dan pandang matanya berkunang-kunang. Ia cepat mengerahkan sin-kang dan setelah tubuhnya terlempar ke belakang, segera ia berjungkir-balik dan melompat jauh ke kanan. Baiknya ia seorang yang hati-hati dan gesit, karena benar seperti yang ia khawatirkan, semburan darah itu tadi mengejarnya dan kalau saja ia tidak cepat-cepat berjungkir-balik dan melompat tentu ia akan menjadi korban. Kini ia melihat wanita iblis itu terhuyung-huyung dan tertawa-tawa. Hal ini mem­buat Suling Emas diam-diam mengagumi Siang-mou Sin-ni. Totokannya tiga kali tadi hebat sekali dan kesemuanya men­datangkan maut. Seorang yang bagaimana pandai dan kuatnya tentu akan roboh dan tewas seketika. Akan tetapi Siang-mou Sin-ni masih mampu mengeluarkan ilmu­nya yarig terakhir, mampu tertawa-tawa dan hanya terhuyung-huyung. Hebat! Wa­nita itu sambil tertawa memuntahkan darah yang beracun, lalu berlari-larian seperti orang gila dan akhirnya terdengar jeritnya melengking ketika tubuhnya ter­jungkal ke dalam jurang tak jauh dari situ. Agaknya ia seperti gila dan buta oleh luka-lukanya dan lari tanpa melihat lagi sehingga terjungkal memasuki jurang yang ratusan kaki dalamnya! Tiba-tiba Suling Emas berteriak keras dan tubuhnya melesat ke kanan kiri sambil memutar sulingnya. Secara serentak ia diserang hebat oleh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo. Karena pandang matanya masih berkunang-kunang dan kepalanya masih pening, ia hanya dapat mengelak sambil menjaga diri dengan suling. Agaknya keadaannya ini diketahui pula oleh dua orang manusia iblis itu, yang terus mendesaknya dengan serangan-serangan kilat. Setelah dua orang iblis ini mengeroyok berdua saja, mereka men­dapat kenyataan yang mengagumkan, yaitu bahwa ilmu silat yang mereka mainkan untuk mengeroyok Suling Emas kini menjadi berlipat ganda ampuhnya. Ilmu silat mereka itu saling mengisi kekosongan yang ada dan dimainkan bersama-sama dapat menjadi semacam daya serang yang luar biasa! Insyaflah mereka akan hal ini, karena memang sesungguh­nya ilmu silat baru mereka itu adalah bagian-bagian daripada sebuah ilmu yang kitabnya mereka ranpas dari tangan Bu Kek Siansu. It-gan Kai-ong dalam pe­rebutan berhasil mendapatkan kitab bagi­an depan sedangkan Hek-giam-lo bagian belakang. Suling Emas juga kaget karena terasa olehnya betapa hebat desakan kedua orang ini. Ia berusaha menghalau hawa beracun yang mendesak di dadanya dan ke otaknya, akan tetapi kedua orang lawannya tidak memberi kesempatan ke­padanya, terpaksa ia harus mengandalkan sulingnya untuk melindungi tubuh sehingga suling itu berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyelimuti dirinya, tak memungkinkan sabit dan tongkat menyentuhnya. Mereka seakan-akan hanya mengadu tenaga dan keuletan. Akan tetapi berapa lama ia akan dapat bertahan? Betapapin juga, dalam ilmu silat, menyerang lebih menguntungkan daripada mempertahankan, kecuali kalau pertahanan itu dapat diubah cepat men­jadi penyerangan balasan. Dalam hal ini, Suling Emas sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Hal ini adalah karena ia masih berada dalam pengaruh hawa beracun Tok-hiat-hoat-lek dari Siang-mou Sin-ni tadi, dan ke dua karena penggabungan ilmu silat ke­dua orang iblis itu benar-benar memper­lipat ganda kehebatan daya serang mere­ka. It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo ada­lah tokoh-tokoh kawakan yang sudah matang ilmunya, maka tentu saja dalam hal ilmu silat mereka merupakan orang-orang yang banyak pengalaman dan cer­dik sekali. Setelah mainkan bagian ilmu rampasan kitab Bu Kek Siansu bersama-sama, segera mereka menarik kesimpulan baliwa apabila kedua ilmu mereka itu digabungkan, maka akan merupakan ilmu yang hebat sekali. “Kiri buka, atas tekan!” Tiba-tiba It-gan Kai-ong berseru. Hek-giam-lo mendengus dan berteriak. “Kanan tutup, bawah dorong!” Kiranya yang diucapkan It-gan Kai-ong adalah merupakan sebagian daripada ilmu pukulan yang paling hebat, akan tetapi karena hanya ia dapatkan setengahnya, maka selama ini merupakan rahasia baginya dan tak dapat ia pergunakan. Adapun ucapan Hek-giam-lo sebagai im­bangannya adalah lanjutan daripada jurus itu, maka keduanya segera bergerak. It-gan Kai-ong lebih dulu lari disambung oleh Hek-giam-lo. Bukan main dahsyatnya terjangan ini, sebuah jurus rahasia yang kini dimainkan secara bersambung oleh dua orang! Begitu otomatis gerakan me­reka, ganti-berganti sehingga merupakan serangkaian serangan yang serba sulit dihadapi. Suling Emas kaget sekali. Hampir saja ia terkena bacokan sabit setelah ia berhasil menghindarkan tusukan maut tongkat It-gan Kai-ong. Akan tetapi begitu sabit itu lewat sedikit di atas pundaknya, secara aneh sekali tongkat kakek raja pengemis sudah menyambar, ujungnya tergetar menjadi lima dan menyerang ke arah lima bagian tubuhnya dari sebelah atas, disambung dengan sambaran sabit bertubi-tubi dari bawah! Suling Emas sudah berusaha menyelamatkan diri dengan memutar sulingnya, namun karena ia masih pusing dan sulingnya hanya merupakan senjata pendek yang sukar menghadapi senjata-senjata panjang yang menyerang dari atas dan bawah secara aneh dan bertubi-tubi, ketika tubuhnya melompat miring, pundaknya terkena hantaman tongkat It-gan Kai-ong. “Brukkk!” Hantaman ini keras sekali. Batu karang juga akan hancur terlanda pukulan ini. Suling Emas sudah mengerah­kan lwee-kangnya ke arah pundak, namun tetap saja ia terbanting dan bergulingan di atas tanah! “Heh-heh-heh!” It-gan Kai-ong ter­tawa gembira dan mukanya beringas ketika ia mengejar dengan tongkat terangkat, siap memberi tusukan terakhir. “Mampus kau!” Hek-giam-lo mende­ngus dan berlumba dengan kakek penge­mis itu untuk berusaha mendahuluinya membacokkan sabitnya ke arah tubuh Suling Emas yang bergulingan dan ke­lihatannya tak berdaya lagi itu. Hampir berbareng, tongkat dan sabit itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas. Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang getarannya seakan-akan men­copot jantung It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo. Suara ini adalah suara yang ditiup Suling Emas dalam keadaan bahaya itu. Sejenak Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong tertegun dan gerakan mere­ka terhenti beberapa detik. Namun be­berapa detik ini cukuplah bagi pendekar sakti seperti Suling Emas yang sudah melompat bangun dan menggerakkan sulingnya. “Trang-trang.... duk.... duk....!” Tubuh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo ter­lempar dan melayang bagaikan layang-layang putus talinya, sedangkan sabit dan tongkat mereka patah-patah! Kemudian robohlah dua orang iblis sakti itu, me­ngeluh dan dari mulut mereka muntah darah segar. Mereka telah terluka hebat. Akan tetapi di lain fihak, Suling Emas berdiri dengan terhuyung-huyung. Ia ber­usaha mengusir kepeningan kepalanya akibat hawa beracun Siang-mou Sin-ni tadi, karena luka di pundaknya akibat gebukan tongkat It-gan Kai-ong tidaklah amat parah baginya kalau dibandingkan dengan hawa beracun itu. “Huah-hah-hah, anjing muda boleh juga!” “Semua sudah roboh, tinggal dia yang harus roboh!” Sambung suara ke dua dan muncullah kakek putih dan kakek merah. Keduanya menggerakkan tangan, kakek merah dari depan Suling Emas sedangkan kakek putih dari belakangnya karena munculnya kedua orang kakek itu berpencar. Suling Emas yang sudah berku­rang tenaganya karena pusing, juga kare­na luka di pundaknya, cepat miringkan tubuh dan mementangkan kedua lengan­nya, didorong ke arah kanan kiri untuk menghadapi serangan dua orang kakek itu. Ia kaget sekali ketika menerima dorongan tenaga sakti yang berlawanan, dari kanan tenaga kakek merah panas seperti api, sedangkan dari kiri tenaga kakek putih dingin seperti salju! Inilah hebat, pikirnya. Tak mungkin ia menge­rahkan dua macam tenaga untuk meng­hadapi serangan maut ini, akan tetapi Suling Emas bukanlah seorang sakti yang sudah kenyang akan gemblengan hebat kalau ia menjadi panik atau gentar. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, semua hawa murni ia kerahkan untuk menahan gelombang serangan itu, sepasang matanya meram, dari balik kain kepalanya mengepul uap putih. Gelombang tenaga makin dahsyat dari kanan kiri, tubuh Suling Emas sudah gemetar, hampir tak kuat lagi.  “Orang-orang tak tahu malu, pengecut! Mengeroyok kakakku yang sudah terluka!” Tiba-tiba seorang pemuda meloncat ke depan. Dia ini bukan lain adalah Bu Sin! Pemuda ini mencabut pedangnya. Sesosok bayangan lain berkelebat dan cepat menarik tangannya. “Bu Sin, jangan....! Tiarap....!” Dengan sentakan keras bayangan yang ternyata adalah seorang nikouw (pendeta wanita Buddha) ini berhasil membuat Bu Sin roboh terguling. Akan tetapi ia berhasil menyelamatkan Bu Sin saja karena sekali kakek merah mengibaskan tangan kirinya ke arahnya, nikouw yang bukan lain adalah Kui Lan Nikouw, bibi guru Bu Sin ini, roboh terguling sambil me­ngeluh. Pada saat itu, Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong sudah merangkak bangun. Terdengar It-gan Kai-ong terkekeh biarpun napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan darah, sedangkan Hek-giam-lo mendengus aneh, juga napasnya terengah-engah. Kedua orang kakek ini lalu dengan langkah terhuyung-huyung menghampiri Suling Emas yang berdiri dengan kedua lengan terpentang kaku, tangan mereka memegang sisa senjata yang sudah patah lebih setengahnya. Jelas bahwa mereka hendak menurunkan tangan maut terhadap Suling Emas yang sama sekali sudah tidak berdaya itu. Mereka ini sudah terluka berat di sebelah dalam tubuhnya akibat totokan suling, akan tetapi nafsu mereka masih besar untuk membunuh Suling Emas yang sudah berada dalam keadaan “terjepit” antara dua tenaga raksasa yang amat dahsyat. Biarpun keadaan dua orang iblis itu sudah terluka dan lemah namun karena mereka adalah orang-orang sakti, tentu saja tanpa perlawanan Suling Emas, sekali pukul dengan senjata-senjata sepotong itu sudah akan cukup untuk membunuh perdekar ini. Mereka kini sudah berada dekat sekali dan sabit serta tongkat sudah diangkat, siap untuk dipukulkan. “Plakk!” Dua sosok ba­yangan manusia berkelebat cepat, se­batang pedang bersinar kuning menangkis sabit membuat sabit itu kini terpotong tinggal gagangnya sdja, sedangkan sebuah tengan yang kecil halus menangkis tongkat sehingga tongkat itu terpental. Kiranya yang muncul adalah dua orang gadis, Lin Lin dan Sian Eng yang muncul di saat yang bersamaan dari dua jurusan! Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong terkejut dan terhuyung mundur. Lin Lin sambil berseru keras mengayun pedangnya menyerang Hek-giam-lo. Iblis hitam ini tentu saja tidak takut menghadapi Lin Lin, akan tetapi oleh karena ia telah terluka hebat dan senjatanya yang ampuh sudah musnah, ditambah lagi karena dalam tangkisan tadi ia mendapat bukti bahwa Lin Lin telah memiliki ilmu dan tenaga mujijat, Hek-giam-lo mendengus marah lalu melompat jauh, menghilang di tempat gelap. Juga It-gan Kai-ong yang sudah terluka parah ketika menerima tangkisan lengan Sian Eng, kaget setengah mati karena tangannya terasa panas dan gatal-gatal. Ia maklum bahwa keadaannya yang sudah terluka itu tidak menguntungkan dirinya, maka ia pun lalu melompat dan lenyap di tempat gelap. Lin Lin dan Sian Eng saling pandang gembira. “Enci Sian Eng....!” serunya gembira. Akan tetapi Sian Eng tidak menjawab dan Lin Lin melihat betapa wajah encinya yang tersinar cahaya bulan itu aneh sekali. Sian Eng seakan-akan tidak mempedulikannya, malah kini Sian Eng dengan tangan kosong menerjang kakek putih yang berjuluk Pek-kek Sian-ong, dari mulutnya terdengar lengking yang amat aneh, yang membuat bulu tengkuk Lin Lin serasa berdiri karena ia teringat akan lengking yang keluar dari si mayat hidup Cui-beng-kwi! Akan tetapi ia pun segera sadar bahwa Suling Emas terancam bahaya, maka dengan pedang terhunus ia lari menghampiri Lam-ek Sian-ong kakek muka merah, lalu menerjang dengan ilmu pedangnya berdasarkan ilmu silat yang ia pelajari dari dalam tongkat pusaka Beng-kauw! Melihat dua orang gadis yang gerakan-gerakannya ganas sekali menerjang, baik Lam-kek Sian-ong maupun Pak-kek Sian-ong terkejut sekali dan sama sekali mereka tidak menduga-duga terjadinya hal ini. Tadi, melihat betapa dua orang gadis muda remaja itu sekali tangkis dapat membuat It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo yang sudah mereka saksikan kelihaian­nya lari tunggang-langgang saja sudah membuat mereka terheran-heran. Maka mereka berbareng lalu mengerahkan te­naga mendesak Suling Emas. Karena memang sudah payah keadaannya, di“jepit” seperti itu Suling Emas tak dapat menahan lagi, ia mengeluh panjang dan roboh terguling, dalam keadaan pingsan dan mukanya pucat sekali seperti sudah mati! Sian Eng dan Lin Lin memuncak ke­marahannya. Lin Lin memutar pedangnya dan menyerang kalang-kabut sambil me­maki-maki, “Kakek tua bangka mau mam­pus! Kau berani mencelakai dia? Kucukur jenggotmu kutabas hidungmu kupenggal lehermu!” Ia memaki-maki sambil me­nyerang. Serangannya hebat bukan main karena dalam keadaan marah itu ia me­ngeluarkan jurus-jurus paling hebat dari ilmu silat barunya yang sudah ia latih lagi atas petunjuk Gan-lopek. Adapun Sian Eng yang juga menyaksikan keadaan Suling Emas, kini memaki-maki dan melengking-lengking secara aneh, namun gerakan-gerakan kedua tangannya ketika menerjang kakek muka putih dahsyat bukan main, mengeluarkan angin yang mengeluarkan bunyi bersuitan. Lin Lin dan Sian Eng yang marah melihat Suling Emas roboh dan menyerang kedua orang kakek itu, tidak melihat betapa sesosok bayangan berkelebat cepat sekali, me­nyambar tubuh Suling Emas dan dibawa lari dengan kecepatan seperti terbang. “Eh, siapa kau dan hendak kaubawa ke mana kakakku? Berhenti!” Bu Sin yang tadinya bingung berlutut di dekat tubuh bibi gurunya yang terluka, kini meloncat ketika melihat seorang wanita cantik baju hijau melarikan Suling Emas yang masih pingsan. “Bodoh! Kubawa dia ke pondok Kim-sim Yok-ong agar diobati!” wanita itu membentak Bu Sin sambil terus lari. Bu Sin yang mengejarnya sebentar saja kehilangan bayangan wanita itu yang bukan lain adalah Tan Lian, gadis yang memiliki gin-kang luar biasa itu dan yang tentu saja tak dapat dikejar oleh Bu Sin. Kare­na mengkhawatirkan keadaan bibi gurunya dan kedua orang adiknya, apalagi karena mendengar bahwa wanita tadi hendak mengobatkan Suling Emas, ter­paksa Bu Sin kembali ke tempat per­tandingan. Memang harus diakui bahwa di luar kesadaran, bahkan diluar kehendak mere­ka atau tidak disengaja, baik Lin Lin maupun Sian Eng telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat luar biasa, yang secara mujijat telah mendatangkan tenaga sin-kang yang amat kuat, namun ilmu itu baru saja mereka dapatkan dan belum mereka latih masak-masak. Kini mereka menghadapi tokoh-tokoh seperti dua orang kakek sakti yang aneh itu, sudah tentu saja bukan lawan mereka. Tadi pun keti­ka menghadapi Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong, mereka dapat dan kuat menangkis hanya karena kedua orang iblis itu sudah menderita luka dan kehabisan tenaga. Kalau dua orang iblis itu dalam keadaan sehat dan segar, tentu saja Lin Lin dan Sian Eng tentu takkan mampu menandingi mereka. Sepasang kakek yang aneh itu, Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, juga hanya sebentar saja merasa heran dan kaget, akan tetapi setelah menghadapi Lin Lin dan Sian Eng, maklumlah orang-orang sakti ini bahwa dua orang gadis itu sungguhpun mewarisi ilmu mujijat, namun ternyata masih “mentah”. Segera terdengar mereka tertawa-tawa dan begitu kedua orang kakek ini menggerakkan kedua tangan mereka, tubuh Lin Lin dan Sian Eng “tersedot” dan “hanyut” dalam arus hawa pukulan yang berputaran seperti angin puyuh! Lin Lin dan Sian Eng berusaha mempertahankan diri, namun sia-sia, mereka terputar-putar seperti kitiran angin oleh dua orang kakek sakti. Bu Sin bingung sekali. Bibi gurunya masih pingsan dengan muka pucat. Melihat kedua orang adiknya terputar-putar seperti itu, hatinya ingin menolong, akan tetapi ia pun maklum bahwa tenaga dan kepandaiannya jauh dari yang diharapkan untuk bisa menolong adik-adiknya. Beta­papun juga, pemuda ini sudah siap me­nerjang kedua orang kakek itu. Dengan gerakan nekat, ia meloncat dan mem­bentak. “Dua orang kakek siluman lepaskan adik-adikku!” Akan tetapi begitu meloncat, segera ia terbanting roboh ke belakang dekat bibi gurunya, terdorong oleh sebuah tenaga ajaib yang datang tiba-tiba. Tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang kakek lain, kakek tua yang berjenggot panjang, yang berdiri tersenyum memandang kepadanya, akan tetapi yang cukup membuat Bu Sin terhenyak kaget ketika mengenal kakek itu sebagai kakek sakti yang pernah me­nolongnya dan melatihnya di bawah pan­curan air. “Mereka bukan lawanmu,” terdengar kakek itu berkata lirih. “Locianpwe, tolonglah adik-adikku....” Akan tetapi kakek itu yang bukan lain adalah Bu Kek Siansu, sudah melangkah maju dan berkata, suaranya li­rih namun suara ini menembus seluruh udara, mendatangkan gema yang nyaring berpengaruh. “Sayang.... puluhan tahun bertapa ternyata tak mampu mengendalikan nafsu!” Ia mengangkat kedua lengannya, digerakkan perlahan ke depan dan.... dua orang gadis itu seakan-akan tertarik dan bebas daripada pusaran hawa pukulan kedua kakek, terhuyung-huyung dan roboh dengan kepala pening namun tidak menderita sedikit pun juga. Si kakek merah dan si kakek putih terdesak mundur oleh hawa halus yang keluar dari gerakan tangan Bu Kek Siansu, sehingga kuda-kuda mereka terbongkar. Mereka kaget sekali, memandang Bu Kek Siansu dengan penasaran. “Siapa kau?” hardik Lam-kek Sian-ong si muka merah. “Berani kau menentang kami?” Pak-kek Sian-ong juga membentak. “Damai di bumi....” Bu Kek Siansu berbisik lirih lalu menarik napas panjang dan balas memandang dengan wajah berseri dan mulut tersenyum. “Pak-kek Sian-ong, siapa adanya aku bukanlah soal yang perlu diributkan, karena aku tiada beda­nya dengan kalian berdua atau orang lain. Aku manusia biasa, tiada bedanya dengan kalian. Hanya sayang kalian.....” “Kau mengenal nama kami?” seru Pak-kek Sian-ong terheran-heran, karena puluhan tahun mereka berdua merupakan tokoh tersembunyi dan tak seorang pun tokoh kang-ouw, apalagi yang baru-baru mengenal mereka. “Kau siapa?” bentak Lam-kek Sian-ong. “Kau yang berani menentang kami, apakah kau begitu pengecut untuk menyembunyikan nama?” Bu Kek Siansu tersenyum, “Aku sama sekali tidak menentang kalian.” “Kau bilang tidak menentang akan tetapi kau turun tangan terhadap kami dan menolong dua orang bocah itu!” “Aku memang turun tangan.” jawab kakek sakti itu dengan penuh kesabaran, “akan tetapi sama sekali dasarnya bukan untuk menentang kalian!” “Lalu, apa dasarnya?” “Pertama, karena aku sayang kepada kalian, sayang akan jerih payah kalian bertapa sampai puluhan tahun dan kini tak dapat mengendalikan nafsu hendak membunuh dua orang anak perempuan ini. Ke dua, aku merasa sayang, kalau bocah-bocah yang masih muda remaja, yang atas kehendak Thian telah mewarisi ilmu-ilmu tinggi, yang masih akan melanjutkan riwayat hidupnya dan meramaikan dunia ini dengan perbuatan-perbuatan mereka, kalian habiskan riwayatnya sampai di sini saja. Pula, memang agaknya sudah menjadi kehendak Thian bahwa dua orang anak ini tidak semestinya tewas pada saat ini, maka kebetulan sekali aku lewat....” “Manusia sombong!” bentak si muka merah. “Betulkah mereka takkan tewas setelah kau datang? Heh, manusia besar mulut, kalau sekarang kami turun tangan membunuh mereka, kau mau bisa berbuat apa?” Bu Kek Siansu menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang, akan tetapi wajahnya tetap tenang, sabar, dan ramah. “Penentuan mati hidup berada sepenuhnya di tangan Yang Menghidupkan! Hanya manusia yang buta hati saja yang tidak melihat kenyataan mutlak ini. Membunuh? Terbunuh? Tak seorang pun mampu menentukan hal-hal rahasia ini. Kalau Tuhan menghendaki seseorang meninggalkan raganya, biarpun seribu dewa takkan mampu menunda atau membatalkannya. Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki seseorang tetap hidup di dunia, biarpun seribu setan takkan mampu menewaskan orang itu. Hanya orang-orang sesat saja yang mengira bahwa dia, dengan kekuasaannya, dengan kekuatannya, dapat menentukan mati hidup orang lain, berlawanan dengan kehendak Tuhan, karena dengan perkiraannya itu, berarti dia hendak menentang kekuasaan Tuhan!” *** “Tua bangka besar mulut! Apakah kauanggap kami ini anak-anak kecil dan kau seorang pendeta yang hendak memberi wejangan tentang kebatinan? Huh, lamunan kosong belaka semua kata-katamu itu. Yang Maha Kuasa, Thian, hanya menuruti kehendak yang menang, yang berkuasa dan kuat. Mau bukti? Sekarang juga kami sanggup membunuh dua orang gadis itu, juga kau sendiri!” bentak si muka merah yang agaknya lebih berangasan daripada si muka putih yang mendengarkan dan mengangguk-angguk membenarkan. “Damai.... damai....” Kakek itu bersabda, lirih seperti orang berbisik. Kemudian ia memandang tajam dan dengan wajah masih berseri ia berkata lagi. “Alangkah kosong rasa hati mendengarkan ucapan, Saudara. Dan hebatnya, apa yang kaukatakan itu justeru menjadi ang­gapan sebagian besar manisia, dan tak dapat dibantah lagi, perkembangan di dunia memang sejalan dengan pikiranmu itu. Anugerah paling suci yang diberikan kepada manusia, yaitu akal budi, yang dapat membuat manusia mengungkap segala rahasia alam, yang membuat ma­nusia merupakan mahluk yang terpandai, ternyata oleh manusia sendiri disalah­gunakan. Anugerah ini malah diperguna­kan untuk menentang Sang Pemberi. Ma­kin pandai manusia, makin gila dia. Ma­kin pandai manusia, makin kacau dunia. Semua ini adalah akibat daripada jalan pikiran yang telah kauucapkan tadi. Wewenang dipakai mencari menang. Kekuasa­an menjadi alat penindas. Kepandaian di­pergunakan sebagai alat pemuas nafsu. Ya Tuhan, turunkanlah kiranya kekuasaan­mu untuk menyapu bersih segala kotoran yang menutup dan menyuramkan api suci dalam jiwa manusia....” “Tua bangka. Pendeta kepalang tang­gung, tosu bukan hwesio bukan. Mau apa kau banyak mulut?” Lam-kek Sian-ong. “Eh, sahabat, kami berdua sengaja turun dari pertapaan untuk mencari tan­ding di seluruh permukaan bumi!” kata Pak-kek Sian-ong. “Hemmm, menandingi diri sendiri saja masih belum mampu, menandingi orang lain? Saudaraku yang baik, kaukalahkan dulu dirimu sendiri dan kau akan menaklukkan dunia,” jawab Bu Kek Siansu. “Kami akan bunuh dua orang gadis ini. Lihat, kau dapat berbuat apa?” Lam-­kek Sian-ong membentak dan diturut oleh Pak-kek Sian-ong, dia sudah bergerak maju. Lin Lin dan Sian Eng yang sejak tadi mendengarkan dengan heran, kini bersiap untuk menjaga diri. Akan tetapi Bu Kek Siansu meng­angkat tangan kanannya ke atas dan entah bagaimana, isyaratnya ini agaknya mempunyai pengaruh untuk menyetop kedua orang kakek jagoan itu untuk se­mentara. “Mengapa kalian begini bernafsu untuk memukul orang? Daripada memukul anak-anak, kalian boleh memukul aku dan aku takkan melawan.” “Sombong! Kau tahu bahwa Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong semenjak turun dari pertapaan tak pernah menemui tanding? Tua bangka, jangan kau som­bong, sekali pukul kami mampu membikin tubuhmu separuh hangus separuh beku!” teriak si muka merah yang merasa dipandang rendah. “Biarlah kalau Thian menghendaki demikian. Aku hanya ingin mewakili dua orang anak itu daripada pukulan-pukulanmu.” “Ang-bin-siauwte, mengapa banyak bicara melayani kakek gila ini? Mari kita pukul dia hendak kulihat bagaimana macam mayatnya nanti,” kata Pak-kek Sian­-ong. Keduanya lalu melangkah maju setindak dan dengan gerakan berbareng mereka memukul dengan pukulan jarak jauh. Biarpun tidak mengeluarkan suara apa-apa, namun dari tangan kedua orang kakek itu dengan jelas sekali tampak menyambar dua macam cahaya putih dan merah. Yang merah mendatangkan hawa panas sekali sedangkan yang putih men­datangkan hawa dingin. Dua cahaya itu bagaikan dua gulung asap menyambar ke arah tubuh Bu Kek Siansu dan.... tidak terjadi apa-apa! Tubuh tua itu masih tetap berdiri di situ, wajahnya tetap berseri, matanya membayangkan keterang­an, kesabaran dan cinta kasih terhadap sesama hidup, sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa Bu Kek Siansu merasakan pukulan jarak jauh yang dahsyat itu. Dua orang kakek muka merah dan muka putih, tetap berdiri sambil menggerak-gerakkan kedua tangan, agaknya mengerahkan te­naga dan memperkuat daya pukulannya. Namun Bu Kek Siansu tidak mempedulikan mereka, bahkan ia menghampiri Kui Lan Nikouw yang masih rebah pingsan. Pada saat gulungan cahaya kemerahan dan keputihan menyambar punggungnya, Bu Kek Siansu menggerakkan kedua ta­ngannya ke arah tubuh Kui Lan Nikouw dan pendeta wanita itu mengeluh, bergerak, lalu bangkit duduk! Kiranya Kui Lan Nikouw yang pingsan karena sambaran hawa pukulan kedua orang kakek sakti ketika ia menyelamatkan Bu Sin, sekarang oleh Bu Kek Siansu diobati dengan hawa pukulan yang sama, yaitu kakek sakti ini “memindahkan” hawa pukulan dua orang kakek aneh itu ke tubuh Kui Lan Nikouw dan karenanya pendeta wanita ini segera sembuh kembali. Setelah menyembuhkan Kui Lan Nikouw, Bu Kek Siansu lalu bangkit berdiri dan menghadapi dua orang kakek aneh itu kembali. “Cukupkah kalian memukul? Belum puaskah nafsumu?” Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong saling pandang dengan mata terbelalak. Apakah ilmu mereka mendadak melempem seperti kayu bakar terendam air? Mereka merasa yakin bahwa pukulan mereka mengandung tenaga sepenuhnya, hal ini terasa benar. Akan tetapi mengapa kakek yang punggungnya membawa alat yang-khim ini seperti tidak merasakan sesuatu. “Belum, belum cukup!” Pak-kek Sian-ong membentak. “Rasakan ini!” Lak-kek Sian-ong menyambung. Mereka lalu serentak maju dan kini mereka menyerang Bu Kek Siansu. Pukulan mereka ini hebat sekali. Batu hawa pukulannya saja mampu merobohkan lawan, bahkan Suling Emas sendiri, seorang pendekar sakti, tadi juga digencet oleh hawa pukulan mereka. Apalagi kalau pukulan itu langsung mengenai kulit lawan, dapat dibayangkan bahayanya! Akan tetapi, tepat seperti yang dikatakannya tadi, Bu Kek Siansu sama sekali tidak melawan, tidak menangkis maupun mengelak. Ia berdiri tenang dan tegak, memandang dengan sinar mata orang tua yang menghadapi kenakalan kanak-kanak. “Buk-buk-plak!” Beberapa kali secara bertubi-tubi telapak tangan kedua orang kakek aneh itu mengenai tubuh Bu Kek Siansu. Namun seperti juga tadi, Bu Kek Siansu sama sekali tidak bergeming. Bahkan kedua orang kakek itu yang menjadi pucat dan mundur-mundur dengan jerih karena ketika menampar dan mendorong tadi, mereka merasa bahwa tubuh kakek sakti itu “kosong” sehingga pukulan-pukulan mereka seperti batu-batu berat yang tenggelam ke dalam laut dan tidak meninggalkan bekas. “Mengapa kalian mundur? Sudah puaskah sekarang kalian memukulku? Kalau belum puas, boleh ditambah lagi kelak dengan mencari aku di puncak-puncak gunung. Cari saja di mana adanya Bu Kek Siansu....” Tiba-tiba kakek sakti ini lenyap dari depan dua orang kakek aneh yang tiba-tiba terbelalak matanya ketika mendengar nama Bu Kek Siansu itu, dan biarpun sudah lenyap bayangannya, na­mun masih terdengar suara kakek sakti itu melanjutkan kata-katanya “.... bahagialah orang yang sadar akan kekurangan, kelemahan dan kebodohan sendiri.” Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sejenak tertegun seperti patung, kemudian mereka mengeluh panjang dan sekali berkelebat mereka lenyap dari tempat itu. “Omitohud.... pinni (aku) merasa bahagia sekali mendapat kesempatan untuk bertemu kakek sakti Bu Kek Siansu dan mendengar suaranya....” Kui Lan Nikouw merangkap sepuluh jari di depan dada dan memuji-muji sebentar, kemudian ia membuka mata memandangi ketiga orang keponakannya sambil berkata. “Dan amat menggirangkan hatiku bertemu dengan Sian Eng dan Lin Lin pula di sini. Hal yang tak terduga-duga sama sekali. Akan tetapi di manakah adanya Bu Song? Be­narkah dia tadi Bu Song?” Agaknya saking tertarik oleh peris­tiwa munculnya kakek sakti Bu Kek Siansu tadi, Lin Lin dan Sian Eng juga begitu terpesona sehingga mereka se­akan-akan melupakan Suling Emas. Baru sekarang mereka menoleh dan mencari-cari dengan pandang matanya, kelihatan kaget. Lebih-lebih Lin Lin yang menjadi bingung sekali, Bu Song? Kakak tirinya yang sulung? Mengapa bibi guru ini me­nyebut-nyebut nama Bu Song? Tiba-tiba muncul banyak orang dari balik gerombolan pepohonan, yaitu tokoh kang-ouw yang sengaja datang hendak menonton pertandingan puncak antara tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai dan bah­kan ada beberapa orang di antara mereka yang tewas. Dari dalam gelap ber­kelebat bayangan orang mendekati Lin Lin sambil berkata. “Suling Emas diculik seorang wanita baju hijau, kulihat lari ke arah sana!” Mendengar ini, bagaikan kilat menyambar cepatnya, Lin Lin berkelebat ke arah itu, mengejar. Hatinya pasan bukan main. Bukankah wanita baju hijau itu wanita yang dipukulnya di tanah kuburan, yang kemudian dibawa pergi oleh Suling Emas? Dia tadi mati-matian membantu dan membela Suling Emas, akan tetapi wanita siluman itu malah yang sekarang menggondol kekasihnya! “Tunggu, Lin-moi....! Aku tahu....” akan tetapi Lin Lin sudah tak mendengarnya karena sudah lari terbang cepat sekali. Sian Eng yang kini berada dalam keadaan “normal” memegang tangan kakak­nya dan bertanya, “Apa yang kau ketahui, Sin-ko?” “Tadi ada wanita baju hijau memondong Bu Song koko, ketika kukejar, dia bilang hendak menolong Koko, membawanya kepada Kim-sim Yok-ong untuk diobati.” “Ah, mari kita kejar....!” dan tiba-tiba saja Bu Sin merasa tangannya di­pegang adiknya dan di lain detik tubuh­nya telah terseret seperti terbang cepat­nya, mengagetkan dan mengherankan hati Bu Sin yang benar-benar tidak mengerti bagaimana adiknya ini sekarang memiliki tenaga dan gin-kang begini hebat. Seperti mereka, para tokoh kang-ouw yang tadi­nya menjadi “penonton” kini mengelilingi Kui Lan Nikouw dan ramai membicara­kan dan memuji-muji Lin Lin dan Sian Eng yang demikian berani dan gagah. Juga mereka tiada habisnya membicarakan Bu Kek Siansu yang selama hidup mereka baru sekali itu mereka lihat dan buktikan kesaktiannya yang tak dapat diukur lagi tingkatnya. Ketika mereka membicarakan Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, timbul kekhawatiran besar di hati para tokoh ini karena mereka maklum kalau Suling Emas saja tidak mampu mengalah­kan mereka berdua, siapa lagi yang akan dapat menahan mereka kalau mereka mengacau di dunia kang-ouw? Satu-satu­nya manusia yang dapat menghadapi me­reka kiranya hanya Bu Kek Siansu, akan tetapi kakek sakti ini bukan manusia biasa dan tadi pun tidak mau menurunkan tangan keras terhadap kedua kakek iblis itu. “Harap Cu-wi jangan khawatir akan hal itu,” akhirnya Kui Lan Nikouw ber­kata dengan suaranya yang halus dan tenang, “Betapapun tingginya uap air terbang ke angkasa, akhirnya akan runtuh kembali ke bumi menjadi hujan. Betapa­pun pandai dam jahatnya manusia me­nyeleweng daripada kebenaran, akhirnya ia pun akan runtuh dan pasti ada yang mengalahkannya. Kita serahkan saja ke­pada Yang Maha Kuasa. Maafkan, Cu-wi sekalian, pinni tidak dapat melayani Cu-wi (Anda sekalian) lebih lama bercakap-cakap karena pinni harus menyusul dan mencari keponakan-keponakan pinni tadi.” Kui Lan Nikouw lalu menjura de­ngan hormat dam meninggalkan orang-orang yang masih ramai membicarakan peristiwa hebat tadi sampai pagi hari. *** “Nona, lepaskan aku....” Tan Lian kaget dan juga girang. Ia tadinya lari memondong tubuh Suling Emas yang pingsan. Mendengar kata-kata ini, ia segera menurunkan Suling Emas dengan hati-hati di atas rumput. Kemudi­an ia sendiri berlutut dam memegangi lengan pendekar itu. “Kau tidak apa-apa? Ah syukur kepada Tuhan. Aku.... aku tadi khawatir sekali.... kalau.... kalau kau mati.... aku pun tidak mau hidup lagi....” Gadis ini lalu menelungkupkan mukanya di atas dada Suling Emas sambil menangis! Suling Emas dengan gerakan halus mendorong pundak gadis itu, lalu ia bang­kit duduk, malah terus berdiri. “Nona Tan, harap kau suka sadar dan ingat! Insyaflah bahwa kau terseret oleh nafsu perasaan yang tidak benar. Ah, mengapa kau selemah ini?” Tan Lian kaget, seakan-akan disiram air dingin kepalanya. Ia pun meloncat berdiri dan menghadapi Suling Emas. Untung sinar bulan agak kemerahan se­hingga menyembunyikan warna merah pada sepasang pipinya. “Apa.... apa maksudmu?” Suling Emas menarik napas panjang. Berat rasa hati dan lidahnya untuk bi­cara akan tetapi ia maklum bahwa be­tapapun juga akibatnya, ia harus bicara secara terus terang kepada nona ini. Pura-pura tidak tahu hanya akan menam­bah berat penanggungan batin nona yang patut dikasihani itu. “Nona,” suaranya perlahan dan agak tersendat, “terus terang saja, aku telah tahu akan semua isi hatimu yang kau­curahkan di depan Kim-sim Yok-ong. Aku tahu akan semua persoalanmu dan tahu pula akan niat hatimu. Aku merasa ter­hormat sekali, Nona, dengan maksudmu untuk.... untuk mengubah ikatan permusuhan orang tua kita dengan ikatan.... ikatan jodoh antara kita. Akan tetapi hal itu tidak mungkin, Nona. Bukan sekali-kali karena aku tidak menghargai perasaan hatimu, akan tetapi.... aku.... aku tidak dapat menerima itu dan.... dan hendaknya kau ingat pula akan tunangan­mu! Mana mungkin kita akan demikian tidak mengenal aturan sehingga memen­tingkan kesenangan diri sendiri dengan mengesampingkan perasaan orang lain yang terluka? Nona, kau kembalilah ke­pada tunanganmu, dan antara kita.... biarlah kita tetap menjadi sahabat atau saudara. Kita lenyapkan permusuhan an­tara orang tua kita dengan kesadaran, bukan dengan.... dengan ikatan jodoh....” Selama bicara, Suling Emas tidak berani menentang muka nona itu. Dan memang hebat akibat kata-kata ini yang tiap kata merupakan ujung pisau beracun yang menikam jantung Tan Lian. Dengan muka pucat dan tubuh gemetar nona itu beberapa kali membuka mulutnya tanpa ada suara yang keluar. Akhirnya ia dapat memaksa mulutnya bertanya. “Kau.... kau menolakku....?” Tidak ada tikaman yang lebih hebat dan parah akibatnya bagi seorang gadis daripada tikaman berupa penolakan cinta kasih oleh seorang pemuda! “Bukan begitu, Nona. Aku menolak karena tidak mungkin melaksanakan maksud hatimu itu. Aku.... aku tidak mempunyai niat untuk berumah tangga, di samping itu, kita harus ingat kepada tunanganmu....” “Cukup....! Kau.... kau dua kali menghancurkan hatiku, membasmi harapanku....! Ahhh....!” Gadis itu lalu lari sejadi-jadinya sehingga tidak melihat ada­nya sebatang pohon yang ditabraknya begitu saja. Ia roboh terguling, merang­kak bangun dan lari lagi sambil menangis. Seluruh urat syaraf di tubuh Suling Emas bergerak mendorongnya hendak mengejar dan menghibur, namun ia me­ngeraskan hati. Lebih baik begini, pikirnya, lebih baik dia membenciku daripada aku harus memberi harapan yang kelak akan lebih menghancurkan hatinya. Biarlah ia pergi dengan marah, karena hanya jalan inilah yang akan mengurangi kepatahan hati gadis itu agaknya, biarlah dia membenciku, pikirnya. Akan tetapi segera terasa dadanya sesak dan cepat-cepat ia mengerahkan tenaga untuk me­nahan rasa nyeri yang menyesak dada, kemudian ia lalu berlari cepat menuju ke pondok Kim-sim Yok-ong. “Wah, kau terluka berat....!” seru Kim-sim Yok-ong dan begitu Suling Emas merebahkan dirinya di atas bangku pan­jang, tabib sakti itu cepat-cepat mem­buka baju atas pendekar itu dan me­meriksanya. “Aiiihhh! Dua orang kakek iblis itu lagi-lagi yang menurunkan tangan kejam­nya!” serunya kaget. “Dua macam tenaga Im dan Yang menyerangmu. Hebat.... ganas! Baiknya tenaga sin-kang dalam tu­buhmu cukup kuat, Kim-siauw-eng. Mu­dah-mudahan aku akan berhasil menolong­mu. Tunggulah sebentar, aku membakar jarum-jarumku.” Suling Emas telentang dan mengatur napasnya. Dadanya makin sesak dan ia harus mengakui kehebatan bekas tangan kedua orang lawannya. Ia menjadi pena­saran sekali, karena ia diam-diam merasa bahwa andaikata ia tidak terpengaruh oleh racun jahat Siang-mou Sin-ni, kira­nya belum tentu ia akan terluka oleh pukulan jarak jauh Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Rasa sesalnya ini merugikannya, karena dadanya makin sesak dan untuk kedua kalinya Suling Emas roboh pingsan setelah mengeluh panjang. Kim-sim Yok-ong mendengar keluhan dan menengok. Ia cepat menghampiri dan memeriksa. Ia cepat menghampiri dan memeriksa, mencium pernapesan Suling Emas, lalu menggeleng-geleng kepalanya, “Luar biasa sekali. Sepantasnya ini hasil kerja Siang-mou Sin-ni, racun darah yang luar biasa jahatnya. Hemmm, pendekar yang begini gagah tak boleh mati se­belum iblis-iblis berupa manusia itu le­nyap dari muka bumi.” Ia kembali kepada jarum-jarumnya. Dengan tekun tabib sakti itu membuat persiapan-persiapan dengan jarumnya dan sementara itu, malam sudah berganti pagi. Matahari mulai menyinar, menerobos masuk melalui jendela ruangan yang dibukanya lebar-lebar. Mendadak berkelebat sesosok bayangan orang dan Lin Lin sudah memasuki pondok itu. Begitu melihat Suling Emas telentang di atas bangku panjang dengan muka pucat dan mata meram, ia meloncat dekat. Kemudian ia melihat kakek yang sedang membakar jarum, dan melihat banyak bahan-bahan obat di situ. Seketika harapannya timbul dan ia segera menegur. “Kakek yang baik bagaimana dengan dia....? Ah, tolonglah dia, Kek.... kausembuhkan dia dan aku akan berlutut seribu kali kepadamu....” Sepasang mata Kim-sim Yok-ong bersinar-sinar. “Nona cilik, tanpa kauminta aku pun memang sedang berusaha mengobatinya. Upah berupa penghormatanmu sampai seribu kali itu terlalu melelahkan. Aku tidak pernah minta upah untuk usahaku mengobati orang.” Setelah berkata demi­kian, Kim-sim Yok-ong melanjutkan pe­kerjaannya membakari jarum. Lin Lin dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang tabib pandai, akan tetapi ia diam-diam merasa curiga. Tadi ia mendengar dari seorang diantara penonton pertandingan bahwa Suling Emas dibawa lari seorang gadis berbaju hijau, akan tetapi mengapa sekarang ia temukan di dalam pondok ini dalam keadaan pingsan? Kemana perginya gadis baju hijau? Siapa tahu, kakek ini masih ada hubungannya dengan gadis baju hijau itu. Berpikir begini, Lin Lin segera memasuki ruangan dan kamar lain, mencari-cari dan melakukan pemeriksaan! Hatinya lega ketika mendapatkan kenyataan bahwa pondok itu memang tidak menyembunyi­kan si nona baju hijau. Ketika ia kem­bali ke ruangan pengobatan, kakek itu masih sibuk dengan jarum-jarumnya se­dangkan wajah Suling. Emas dalam pan­dangan Lin Lin makin pucat saja! Mulai bingunglah Lin Lin. “Kek, lekaslah, Kek.... mengapa kau berlambat-lambat benar? Jangan-jangan dia takkan dapat kau tolong lagi. Lihat, dia begini pucat....!” Lin Lin meraba-raba muka Suling Emas dengan jari-jari tangannya, meraba-raba dadanya dan ingin ia menangis di atas dada itu. Ketika Kim-sim Yok-ong menengok dan menyaksikan keadaan Lin Lin demi­kian itu, ia segera bertanya, “Nona, apa­mukah Suling Emas?” “Bukan apa-apa, akan tetapi kalau aku hidup dia harus hidup pula, sebalik­nya kalau dia mati aku pun tidak mau hidup lagi. Kek, kau harus tahu, kalau kau dapat menyembuhkan dia, kau pun akan hidup, sebaliknya kalau dia mati kau pun akan ikut kami!” Sejenak sepasang mata kakek ini ter­belalak, kemudian ia menggeleng-geleng kepalanya. Wah, bocah ini memiliki sifat liar, pikirnya, akan tetapi tak dapat disangsikan lagi, dia mencinta Suling Emas. Teringat ia akan Tan Lian yang juga mencinta pendekar itu. Kembali Yok-ong menghela napas. Sungguh ruwet liku-liku cinta kasih dan diam-diam ia merasa kasihan kepada Suling Emas. Di­cinta dara-dara “nekat” macam Tan Lian dan apalagi Lin Lin, benar-benar berabe! Setelah selesai membakari jarum-jarumnya, Kim-sim Yok-ong lalu berjalan menghampiri Suling Emas dan mulailah ia menusuk-nusukkan jarum-jarum emas dan peraknya ke dada, leher, pundak dan bagian pusar. Lin Lin hanya menonton dari pinggir dengan hati penuh ketegangan, pandang matanya tidak pernah meninggalkan wajah Suling Emas yang masih pucat. Akan tetapi, sepuluh menit ke­mudian terdengar pendekar ini mengeluh panjang dan wajahnya mulai merah. Diam-diam Lin Lin girang bukan main. Pada saat itu terdengar suara di luar pondok, “Ah, di sini agaknya!” Ketika Lin Lin menengok, makin girang hatinya karena yang datang adalah Sian Eng bersama Bu Sin. Dua orang ini tersenyum girang dan hendak menegurnya dengan kata-kata. Akan tetapi Lin Lin cepat menaruh telunjuk di depan mulut, men­cegah mereka mengeluarkan suara berisik. Bu Sin dan Sian Eng ketika melihat tanda ini dan melihat seorang kakek sedang mengobati Suling Emas dengan tusukan-tusukan jarum, segera melangkah maju dengan hati-hati dan tidak mengeluarkan suara. Tiga orang muda itu se­gera berdiri mengelilingi Suling Emas yang terlentang di atas meja, sedangkan Kim-sim Yok-ong membungkuk dan mulai mencabuti jarum-jarumnya. Setiap kali jarum dicabut, Suling Emas mengeluh dan setelah jarum terakhir di lehernya di­cabut, mulailah ia membuka kedua mata­nya. Ia mula-mula memandang wajah Kim-sim Yok-ong, lalu memandang Lin Lin, kemudian Sian Eng dan Bu Sin. Ia mengejap-ngejapkan kedua matanya se­jenak, lalu mengeluh lagi, “Kepalaku.... ah, pusing....” “Bagus, itu tandanya dua hawa pukul­an yang bertentangan itu sudah mulai bergerak keluar. Lekas kau menelungkup. Bagian belakang tubuhmu mendapat gilir­an ditusuk!” kata Kim-sim Yok-ong de­ngan wajah berseri. Tanpa diperintah dua kali Suling Emas segera menelungkup di atas bangku itu, dikelilingi adik-adiknya dan si tabib sakti yang memegang jarum dengan jepitan telunjuk dan ibu jari ta­ngan kiri, siap menusukkan ke jalan da­rah tertentu. Sian Eng yang keadaannya normal kem­bali tiba-tiba teringat akan pelajaran yang ia baca di dalam gua di bawah tanah. Tiba-tiba ia berseri-seri, sepasang matanya bersinar-sinar dan tangannya diangkat ke atas, jari-jarinya bergerak-gerak lalu meluncur ke atas punggung Suling Emas, menotoknya secara aneh sampai tiga kali beruntun, mendahului jarum di tangan Kim-sim Yok-ong! To­tokan aneh itu dengan jitu mengenai pusat jalan darah di tengkuk, punggung dan pinggang. “Auuuhhhhh....!” Suling Emas mengeluh dan membalikkan kepala menoleh. “Hebat....! Luar biasa....!” Kim-sim Yok-ong berseru. “Enci Sian Eng....!” Lin Lin berseru, terkejut dan marah. “Eng-moi, apa yang kaulakukan....?” Bu Sin juga membentak. Akan tetapi secara tiba-tiba keadaan Sian Eng sudah berubah, kini ia menoleh ke arah jendela yang terbuka, matanya liar, mukanya merah padam dan men­dadak ia mengeluarkan lengking aneh sekali yang seolah-olah menggetarkan seisi ruangan itu, disusul tubuhnya yang berkelebat melayang keluar jendela. “Enci Eng....!” Lin Lin loncat mengejar. “Sian Eng...., tunggu....!” Bu Sin juga mengejar. Sementara itu Kim-sim Yok-ong ber­diri terbelalak keheranan melihat Suling Emas sudah dapat meloncat turun dan hendak mengejar pula. Akan tetapi Su­ling Emas ingat bahwa ia berada dalam keadaan setengah telanjang, maka ia tidak jadi lari mengejar, melainkan cepat-cepat ia menyambar baju dan memakainya. “Hebat, gadis itu.... ia memiliki tenaga dan ilmu mujijat! Im-yang Tiam-hoat (Ilmu Menotok Im Yang) seperti itu hanya dimiliki ketua Siauw-lim-si....” kata si tabib sakti itu. “Dia adikku, harus kukejar. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi....” kata Suling Emas dan ia pun melompat keluar jendela. Akan tetapi ia mengeluh dan melompat masuk lagi, lalu duduk bersila mengerahkan sin-kang. Ketika melompat tadi, dadanya kembali sesak rasanya. “Kau sudah sembuh sama sekali oleh totokan Im-yang Tiat-hoat tadi, akan te­tapi luka di dalam dadamu belumlah sembuh benar. Tak boleh kau bergerak mengeluarkan tenaga dalam sebelum is­tirahat dan minum obat,” kata Kim-sim Yok-ong. Suling Emas menarik napas panjang. Hebat memang akibat pukulan dua orang kakek itu. Ia sudah sembuh, akan tetapi sekali mengeluarkan tenaga gin-kang atau lwee-kang, lukanya akan terasa nyeri. Sedikitnya ia harus ber­istirahat dua hari sehingga lukanya sem­buh betul. Sementara itu, Lin Lin yang mengejar dengan cepat, ternyata tidak dapat melihat bayangan Sian Eng. Begitu cepatnya dan begitu anehnya gerakan Sian Eng sehingga dalam sekejap mata saja le­nyaplah encinya itu. Namun Lin Lin te­tap mengejar dengan hanya mengira-ngira­kan arah yang dapat ditempuh encinya. Karena pengejaran yang dilakukan secara kira-kira ini, maka jurusan yang diambil Lin Lin berbeda dengan jurusan yang di­ambil oleh Bu Sin. Dalam mengejar sau­dara mereka itu kedua orang muda ini berpencar. Setelah melalui dua buah hutan di lereng Thai-san tanpa menemukan jejak Sian Eng, Lin Lin tiba-tiba teringat akan keadaan Suling Emas dan ia menghenti­kan pengejarannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan diri Suling Emas. Sudah sembuhkah dia? Ataukah totokan Sian Eng, yang aneh tadi malah mem­bahayakan keselamatan nyawanya? Lin Lin merasa khawatir sekali dan akhirnya ia berlari kembali menuju ke pondok Kim-sim Yok-ong. Kiranya ia telah meng­habiskan waktu beberapa jam dalam pe­ngejaran itu dan karena ia belum hafal akan daerah hutan-hutan Gunung Thai-san ini, ia mulai menjadi bingung ke mana ia harus mencari pondok Kim-sim Yok-ong! Lin Lin mengingat-ingat jalan yang ditempuhnya tadi dan beberapa kali ia meloncat naik ke puncak pohon tinggi untuk mencari-cari pondok si tabib sakti. *** “Locianpwe.... tolonglah....! Selamatkan dia!” Suara setengah menangis ini mem­bangunkan Suling Emas daripada samadhi­nya. Ia membuka mata dan bangkit ber­diri. Kim-sim Yok-ong sedang sibuk men­cari daun-daun dan akar-akar obat di sebelah belakang, maka agaknya tidak mendengar suara orang di depan pondok itu. Suling Emas melangkah keluar pintu pondok dan melihat seorang pemuda ku­rus pucat berlutut di depan pintu pondok sambil menangis. Karena memang Suling Emas mengintai dari tempat jauh ketika pemuda ini untuk pertama kali datang ke pondok, maka ia mengenal bahwa pemuda ini adalah tunangan Tan Lian, pelajar yang bernama Thio San itu. “Apakah yang terjadi? Ceritakan!” Suling Emas bertanya, di dalam hatinya ia merasa amat tidak enak dan kasihan karena ia merasa dirinya menjadi “gara-gara” kesengsaraan hati pemuda ini. Thio San, pemuda itu mengangkat muka dan ia agak bingung melihat se­orang laki-laki gagah yang tak dikenal­nya. Ia mengharapkan pertolongan tabib sakti, bukan orang muda ini. “Jangan ragu-ragu, sahabat. Aku tahu bahwa kau adalah tunangan Nona Tan Lian. Saudara Thio San, apakah yang terjadi? Aku adalah sahabat baik tunanganmu itu, ceritakanlah apa yang terjadi, aku menolongmu.” Pada saat itu, Kim-sim Yok-ong ber­jalan mendatangi dari belakang. Melihat kakek itu muncul, Thio San menangis lagi dan berkata, “Locianpwe, tolonglah dia! Dia.... dia hendak menjadi nikouw, hendak menggunting rambutnya, dan hen­dak bunuh diri! Saya tidak kuasa menahannya....!” Mendengar ini, Suling Emas cepat menyambar tangan pemuda itu dan me­nariknya pergi. “Cepat, antarkan aku kepadanya!” Jantung Suling Emas ber­debar-debar tegang, dan ia merasa kha­watir sekali. Sedikit pun tak pernah ia menyangka bahwa hati Tan Lian akan sekeras itu, tak mengira bahwa gadis itu akan menempuh jalan nekat. Sambil ber­jalan setengah berlari biasa, tak berani ia berlari cepat, pikiran Suling Emas membayangkan keadaan Tan Lian. Mula-mula gadis itu bersumpah hendak membalaskan dendam ayahnya, kemudian ga­dis itu kecewa karena tidak mampu mengalahkannya, bahkan lebih celaka lagi, gadis itu jatuh cinta kepadanya. Kemudi­an, di depan makam ayahnya, Tan Lian bersumpah hendak memusuhi anak isteri Suling Emas, kemudian melihat kenyataan bahwa Suling Emas tidak beristeri, lalu timbul kembali cinta kasihnya dan ber­hasrat menghabiskan permusuhan dengan perjodohan. Akan tetapi kembali harapan ini buyar ketika Suling Emas dengan terus terang menyatakan tak dapat me­nerimanya. Ia dapat membayangkan betapa han­cur hati gadis itu. Kecewa, menyesal, malu, merasa terhina dan gadis yang tadinya merupakan seorang pendekar wanita, keturunan pendekar besar men­diang Hui-kiam-eng Tan Hui, anak ber­bakti, kini telah mengambil keputusan nekat untuk menjadi nikouw, bahkan hendak membunuh diri. Dan semua ini dialah yang menjadi gara-garanya. Kalau Tan Lian berhasil membunuhnya, atau kalau dia mau menerimanya sebagai is­terinya, tentu takkan terjadi hal-hal ini. Akan tetapi itu bukanlah merupakan jalan keluar yang baik. Apalagi meneri­ma gadis itu menjadi isterinya. Bukankah itu berarti merebut hak orang lain? Dan dia pun tidak ada rasa kasih terhadap Tan Lian! Sayang, seorang gadis yang baik, seorang anak yang berbakti! Berbakti! Kata-kata ini mendatangkan ilham bagi Suling Emas. Inilah agaknya senjata yang dapat ia pergunakan untuk memecahkan persoalan Tan Lian ini. “Mari cepat, di mana dia?” “Di depan itu, di balik gunung-gunungan batu, di tepi jurang!” kata Thio San, suaranya gemetar penuh kegelisahan. Dia ini calon suami yang amat baik, pikir Suling Emas. Dengan hati penuh cinta kasih murni, pemuda ini akan dapat mendatangkan bahagia di hati Tan Lian. Benar saja, ketika mereka memutari gunung-gunungan batu, tampaklah Tan Lian duduk menangis, berlindung dari teriknya matahari di bawah batu yang menonjol, jurang curam yang luas terbentang tak jauh di depan. “Lian-moi.... Thio San berseru dengan isak tertahan. Tan Lian mengangkat mukanya dan ia meloncat karena kaget melihat Suling Emas datang bersama tunangannya. Ada­pun Suling Emas berdiri seperti patung, hatinya serasa tertusuk melihat gadis itu. Muka gadis itu pucat sekali, kedua pipi­nya basah air mata, matanya kemerahan dan kepalanya gundul plontos. Rambut yang tadinya gemuk hitam dan panjang, yang ia lihat diurai ketika gadis itu ber­sumpah di depan makam ayahnya, kini lenyap sama sekali. Wajah itu tetap can­tik, dan kegundulan kepalanya sama se­kali tidak mengakibatkan lucu, melainkan mendatangkan rasa iba. “Kau.... kaubawa dia datang bersamamu? Kau.... kalian terlalu menghinaku! Apa gunanya hidup lagi?” Gadis itu lalu beriari cepat menuju ke tepi jurang, siap hendak meloncat. “He, tunggu dulu, Nona! Dengar dulu omonganku....!” Suling Emas berlari maju dan Thio San juga lari mengejar dengan kedua lengan dikembangkan, wajahnya makin pucat. Di tepi jurang, Tan Lian menoleh, kedua tangannya sudah berkembang siap meloncat ke dalam mulut maut yang ternganga lebar di bawah kakinya. “Jangan dekat! Aku akan meloncat dan tak se­orang pun dapat mencegahku. Mau bicara apa, boleh bicara, tapi jangan mendekat!” Dengan hati tegang terpaksa Suling Emas menghentikan langkahnya. Ia maklum bahwa kalau ia mendekat lagi, gadis nekat ini akan meloncat turun tanpa mendengarkan lagi kata-katanya. Hatinya perih melihat titik-titik air mata me­netes dan sepasang mata yang lebar, jeli itu memandang kepadanya penuh sesal. “Nona Tan, ingat dan sadarlah. Pikiriah masak-masak. Apa kau tidak kasihan kepada Saudara Thio San, tunanganmu ini? Dia amat mencintamu, mencinta de­ngan murni, dengan sepenuh jiwa raga­nya. Nona, dia bersedia melupakan se­gala-galanya, bersedia, menerimamu dan melanjutkan perjodohan kalian. Tak se­orang pun laki-laki di dunia ini yang dapat mencintamu seperti dia....” Sepasang mata itu terbelalak meman­dangnya, bibir yang gemetar itu berkata lemah, “Dia.... dia....?” Tertusuklah hati Suling Emas oleh pandang mata dan kata-kata ini. Ia maklum apa artinya itu. Pandang mata dan dua kata itu merangkai pertanyaan tek berbunyi, “Mengapa dia dan dia saja, mengapa bukan engkau?” “Sudahlah, pergilah kalian. Atau.... barangkali kalian ingin melihat aku ter­jun?” Kembali Tan Lian siap untuk ter­jun ke depan. “Lian-moi....! Kalau kau bertekad hendak mati, biarlah aku menemanimu ke alam baka!” teriak Thio San. Teriakan ini agaknya meragukan Tan Lian. Melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk menghalangi maksud gadis keras hati itu, tiba-tiba suling Emas berkata keras. “Nona Tan Lian, kau ternyata adalah seorang anak yang paling murtad dan tidak berbakti di dunia ini! Arwah ayah­mu pasti akan merasa malu sekali!” Cepat sekali Tan Lian membalikkan tubuhnya. Matanya memandang penuh kemarahan kepgda Suling Emas. “Suling Emas! Tutup mulutmu! Kau sudah meng­hinaku, apakah kau juga hendak menghina ayah? Tak boleh kausebut-sebut nama ayah, dan aku.... karena baktiku kepada ayah maka sampai begini!” Suling Emas sengaja tersenyum meng­ejek. “Huh, orang seperti engkau ini masih mengaku berbakti kepada ayah? Kau durhaka dan tidak berbakti. Orang seperti Saudara Thio San ini, barulah bisa disebut setia dan berbakti. Ia ber­bakti dan menjunjung tinggi perintah ayahnya untuk menjadi jodohmu dan ia setia kepadamu sampai mati. Akan tetapi engkau? Huh, kau durhaka terhadap ayah, masih pura-pura merasa diri berbakti? Memalukan!” “Jahanam, tutup mulutmu! Buktikan apa yang kaukatakan tidak berbakti itu, kalau kau tidak dapat membuktikan, hemmm.... aku akan mengadu nyawa denganmu!” Suling Emas tertawa memanaskan hati. “Kau sudah bersumpah membalaskan dendam ayahmu, tidak terlaksana. Hal itu masih bisa dimengerti karena ibuku yang hendak kaubalas sudah meninggal dunia, pula untuk membalas dendam itu kepadaku, memang kau tidak mampu menangkan aku. Akan tetapi ayahmu telah memilih Thio San menjadi jodohmu. Perintah ayahmu ini bukan tak dapat kaupenuhi, karena Thio San masih ada dan pemuda itu mencintamu. Mengapa kau mengingkarinya? Mengapa kau hen­dak melanggar janji perjodohan yang di­tentukan ayahmu? Bukankah dengan de­mikian berarti kau menyeret ayahmu ke jurang kehinaan, sebagai orang yang mengingkari janji ikatan jodoh? Huh-huh, kukira kalau kau sekarang meloncat ter­jun ke dalam jurang itu dan mampus, arwahmu akan disambut penuh kemarah­an dan kebencian oleh arwah ayahmu. Nah, kau loncatlah, biar kulihat!” Suling Emas berdiri tegak sambil memangku tangan. “Kurang ajar!” Thio San berteriak sambil berlari menghampiri Suling Emas. Kemarahannya membuat wajah pemuda ini merah padam, “Kau kurang ajar se­kali. berani mengeluarkan kata-kata menghina seperti itu kepada Lian-moi. Biarpun kau seorang pendekar yang pan­dai ilmu silat, biarlah aku yang mengadu nyawa denganmu untuk mencuci peng­hinaanmu!” Setelah berkata demikian Thio San menggerakkan kedua tangannya, bertubi-tubi memukuli muka dan dada Suling Emas yang menerima semua pu­kulan itu tanpa melawan dan dengan mata tidak berkedip. “San-koko.... jangan....!” Thio San yang tadinya sudah merasa betapa sia-sia memukuli “manusia baja” yang seperti tidak merasakan pukulannya dan yang sebaliknya malah membuat kedua tangan­nya sakit itu, tercengang dan cepat me­nengok mendengar sebutan “koko” dari tunangannya. Ia melihat tunangannya itu menangis tersedu-sedu menutupi muka dengan kedua tangan. “Lian-moi, dia kurang ajar!” “.... tidak.... dia benar.... Ya Tuhan.... ayah, ampunkan anakmu ini, ayah....!” Thio San cepat maju memeluk tubuh tu­nangannya yang terhuyung-huyung hendak roboh. Gadis itu makin tersedu-sedu di atas dada tunangannya. “Koko.... kau.... pun maafkanlah aku....” isaknya. Thio San hanya dapat mengusap pundak gadis pujaan hatinya dengan air mata bercucuran. Ketika ia menengok, ia melihat Suling Emas sudah melangkah pergi dari situ dengan wajah berseri dan bibir ter­senyum. Thio San mengejap-ngejapkan matanya menahan haru yang menguasai hatinya. Ia takkan melupakan pendekar itu, selama hidupnya. Tahulah ia sekarang bahwa sesungguhnya nyawa Tan Lian tertolong oleh Suling Emas, bukan hanya nyawa Tan Lian, melainkan juga nyawa­nya, kebahagiaan hidupnya! Cepat-cepat ia lalu memapah dan merangkul Tan Lian, diajak pergi meninggalkan jurang yang tetap menganga dan sunyi, seakan-akan merenungi peristiwa itu tanpa pe­rasaan apa-apa. Suling Emas berjalan sambil menun­dukkan kepalanya. Ia mengerti betul bahwa sungguhpun tadi ia berhasil men­cegah Tan Lian membunuh diri, bukan itu saja, juga menemukan kembali dua buah hati dan mempersatukan dua kasih yang tadinya menyeleweng, namun semua hasil ini dibeli dengan pengorbanan yang cukup besar. Karena biarpun ia berhasil membelokkan cinta kasih Tan Lian ke­pada tempat yang wajar, kepada orang yang berhak, namun sebagai imbangannya ia membangkitkan kembali dendam gadis itu sebagai pelaksanaan daripada kebakti­an terhadap ayahnya. Sumpah di depan kuburan yang tadinya terselimut oleh rasa cinta, kini muncul kembali berupa ancaman terhadap keluarga Suling Emas! Berkali-kali Suling Emas menarik napas panjang dan karena perjalanan ini sedikit banyak mempergunakan tenaga, ia merasa dadanya sakit kembali. Dalam keadaan melamun dan nelangsa ini ia tidak tahu bahwa dirinya dibayangi orang, juga tidak tahu bahwa udara yang tadinya terang menjadi gelap oleh mendung dan angin mulai bertiup. Baru setelah ada daun-daun gugur yang tertiup angin keras menghantam mukanya, dan kain kepalanya hampir terlepas terbang dari kepalanya, ia sadar dan kaget. Ternyata cuaca sudah menjadi agak gelap dan udara yang tadinya tenang menjadi liar karena angin bertiup keras. Sebentar lagi turun hujan, pikirnya. Ia lalu membelok ke arah gunung batu di mana terdapat banyak gua-gua batu untuk berlindung. “Suling Emas....!” Di dalam gua ia membalikkan tubuh. Kiranya Lin Lin yang memanggilnya dan kini gadis itu yang berlari cepat su­dah masuk gua, serta-merta gadis ini merangkul dan menangis, membenamkan muka ke dadanya! Suling Emas memejam­kan dan mendongak ke ataS, sekuat te­naga berusaha menekan guncangan hati­nya, namun sia-sia. “Ah, betapa gelisah dan khawatir hatiku tadi.... aku sedang mengejar Enci Sian Eng ketika aku teringat akan ke­adaanmu. Aku hendak kembali ke pondok namun sesat jalan. Aku.... aku gelisah dan melihat kau berjalan dengan muka pucat bersama pemuda itu, aku heran dan mengikuti.... pertemuanmu dengan gadis baju hijau yang aneh. Ah, Suling Emas, betapa khawatir hatiku. Dia.... dia mencintamu dan.... ah syukurlah. Kini aku bahagia. Kiranya kau hanya mencinta aku seorang, seperti juga aku hanya mencinta engkau seorang di dunia ini....!” Suling Emas tidak menjawab, tidak mampu menjawab karena jantungnya yang berdebar-debar seakan-akan hendak pecah itu mencekik tenggorokannya. Karena itu ia hanya dapat menggelengkan kepalanya keras-keras. Gerakan ini agaknya terasa oleh Lin Lin yang segera mengangkat muka memandang. Suling Emas menunduk, muka mereka berdekatan, dua pasang mata saling pandang. Kembali Suling Emas menggeleng kepala dan pandang matanya sayu. Lin Lin memeluk lebih erat lagi. “Kenapa kau menggeleng kepala? Apa maksudmu hendak menyangkal? Suling Emas, betapapun kau hendak berpura-pura, hatimu tidak akan dapat menipuku, tidak akan menipumu. Debar jantungmu meneriakkan betapa kau mencintaku. Ah, jangan kaugoda aku....!” Kembali Lin Lin membenamkan mukanya pada dada yang bidang itu. Sejenak Suling Emas tenggelam ke dalam alam perasaan indah dan nikmat yang membuat ia membelai-belai rambut hitam halus dan menciuminya penuh nafsu. Biarpun mereka tak berkata-kata, dengan muka Lin Lin ter­benam di dada Suling Emas dan muka Suling Emas terbenam di rambut Lin Lin, namun keduanya sama-sama tenggelam dalam kebahagiaan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang terbuai as­mara. Mereka tidak menghiraukan bah­kan tidak tahu betapa angin makin keras mengamuk di luar gua. “Koko (kanda).... sebetulnya siapakah namamu?” Lin Lin berbisik lirih. Akan tetapi bagi Suling Emas, bisikan lirih ini seakan-akan merupakan halilintar menyambar kepalanya yang menghancur­kan semua mimpi indah dan menyeretnya kembali kepada kenyataan. Dengan halus akan tetapi pasti ia memegang kedua pundak Lin Lin dan mendorong gadis itu sehingga terlepas dari padanya kemudian ia melangkah mundur dan memutar tu­buhnya membelakangi Lin Lin sambil berseru keras, “Tidak.... tidak mungkin....!” Tentu saja Lin Lin terkejut sekali dan memandang dengan muka pucat dan hati khawatir. “Ada apakah? Apa yang tidak mungkin....?” katanya sambil memegang lengan Suling Emas, akan tetapi pende­kar ini tetap membuang muka dan kedua matanya dipejamkan. “Tak mungkin kita lanjutkan kegilaan ini. Lin Lin, aku.... betapapun perih rasa hatiku, aku.... aku tak mungkin begitu gila untuk menerima perasaanmu yang murni. Tak mungkin!” Kata-kata terakhir ini keluar dari mulut Suling Emas seperti keluhan dengan suara gemetar dan parau. Lin Lin tersentak bagaikan disambar petir. Dua titik air mata meloncat turun di atas pipinya yang pucat dan sepuluh jari tangannya bergerak-gerak saling re­mas membayangkan hati yang bingung, perih dan gelisah. “Kenapa....? Kenapa....? Suling Emas, bukankah kau mencintaiku? Sejak pertama kali kita bertemu di kota raja.... sikapmu selama ini.... pengakuanmu di depan gadis tadi.... bukankah itu semua membuktikan bahwa kau pun mencintaiku seperti aku mencintamu? Ataukah.... aku telah salah duga? Suling Emas, katakan­lah, sebagai seorang laki-laki yang gagah, katakanlah, apakah kau menolak kasihku? Apakah kau tidak.... tidak mencintaku seperti yang kuduga?” Suling Emas bersedakap memangku lengan, ia masih membuang muka dengan mata terpejam karena tidak kuasa ia memandang wajah gadis yang bicara dengan suara begitu tergetar memilukan. Akhirnya ia dapat menjawab, suaranya lirih dan tersendat-sendat menahan gon­cangan hati. “Adik Lin Lin, semata-mata bukan aku menolak cinta kasihmu, bukan pula membencimu, akan tetapi justeru aku sangat menyayangkan nasibmu kelak apabila kau menjadi jodohku. Lin Lin, engkau cantik jelita, muda remaja, engkau ber­hak memperoleh seorang suami yang lebih segala-galanya daripada aku. Masih banyak kesempatan bagimu untuk ber­temu jodoh yang tampan dan gagah perkasa, seorang satria sejati yang tepat menjadi teman hidupmu selamanya. Aku.... ah, aku sudah tua untukmu, Lin Lin!” Di belakang punggungnya, Suling Emas mendengar isak tangis Lin Lin. Ia me­ngeraskan hatinya. Apa yang ia ucapkan tadi adalah suara hatinya. Lin Lin ada­lah adiknya, sungguhpun bukan adik kan­dung dan berasal dari orang lain, namun gadis ini sudah menggunakan she (keturun­an) ayahnya, bernama Kam Lin, adik Kam Bu Song, dia sendiri! Ayahnya sudah meninggal dunia, berarti dia sebagai pu­tera sulung menjadi pengganti ayahnya. Dia adalah kakak Lin Lin, juga wakil ayah Lin Lin. Dia yang berkewajiban mencarikan jodoh untuk adiknya ini, jo­doh yang tepat. Mana mungkin dia sen­diri terlibat cinta kasih dengan Lin Lin! Mana mungkin dia memperisteri Lin Lin, mengambilnya sendiri menjadi jodohnya. Dunia akan mentertawakannya, arwah ayahnya akan mengutuknya, Thian akan menghukumnya. Kalau saja Lin Lin bukan bernama Kam Lin, bukan adik angkatnya, agaknya ia akan membuka kedua lengan­nya, karena hanya pada Lin Lin ia me­lihat pengganti Suma Ceng! “Tidak....! Kau tidak tua bagiku. Aku tidak sudi menjadi jodoh orang lain. Aku hanya mencintaimu seorang! Suling Emas, apakah cinta kasih murni mengenal usia? Ah, Suling Emas, aku yakin betul akan cinta kasihmu, mengapa kau harus berpura-pura, menipu diri sendiri? Meng­apa kau hendak merenggut pertalian ka­sih antara kita, rela merobek hatimu sendiri dan menghancurkan hatiku, hanya karena alasan usia? Tak tahukah engkau bahwa sikapmu ini mengakibatkan hati kita robek-robek berdarah, dan selama hidup akan menyiksa kita sendiri? Aku hanya mencinta engkau seorang, dan kau pun cinta kepadaku.... ah, aku mohon kepadamu.... jangan patahkan ikatan suci ini.... Suling Emas....!” Lin Lin menangis sesenggukan dan tiba-tiba ia berlutut dan merangkul kedua kaki Suling Emas! “Jangan....! Jangan begitu....!” Suling Emas berseru kaget sambil melangkah mundur. “Biarlah! Kaulihat. Demi cinta kasihku kepadamu, aku berlutut dan bermohon kepadamu! Aku merendahkan diri, aku bersikap hina, karena.... karena cintaku. Kau telah mengenalku, kalau bukan demi cintaku, lebih baik aku mati daripada merendahkan diri seperti ini....!” Tiba-tiba Lin Lin mengangkat mukanya dan berteriak, “Suling Emas....!” Akan tetapi pendekar itu sudah lenyap, tidak berada di dalam gua lagi. Dengan isak tertahan Lin Lin melompat keluar, disambut angin dan air hujan. Matanya sukar dibuka dan lebih sukar lagi melakukan pengejaran dalam keadaan seperti itu. “Suling Emas....!” Berkali-kali ia menjerit, memanggil-manggil dan lari ke sana ke mari mencari pendekar itu sam­bil menangis. Air matanya bercucuran menyaingi air hujan. Beberapa jam ke­mudian tubuh Lin Lin menggeletak pingsan di antara siraman air hujan. *** “Lin-moi....!” Bu Sin terkejut bukan main ketika melihat tubuh Lin Lin se­perti telah tak bernyawa lagi itu di atas rumput. Cepat-cepat ia memondong tu­buh adiknya dan berlari kembali ke pon­dok Kim-sim Yok-ong. “Locianpwe.... tolonglah.... tolonglah adikku ini....! Kudapatkan dia seperti ini di dalam hutan....!” Bu Sin berkata dengan suara gugup kepada kakek tabib yang sedang duduk di ruangan dalam. Kim-sim Yok-ong menghampiri Lin Lin yang rebah di atas bangku panjang di mana tadinya Suling Emas berbaring. Wajah Lin Lin pucat sekali seperti ma­yat, dadanya tidak bergerak seakan-akan sudah tak bernapas lagi. Hal inilah yang membuat Bu Sin kebingungan. Setelah menyentuh nadi pergelangan tangan ga­dis itu, Yok-ong menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang, diawasi oleh Bu Sin yang menjadi amat gelisah. “Hemmm.... di dunia ini banyak terjadi hal-hal aneh! Entah mengapa adikmu ini sekaligus dapat terserang perasaan malu, kecewa dan duka secara berbareng. Padahal kulihat dia tadi demikian lincah gembira. Akan tetapi jangan khawatir, dia tidak apa-apa.” Bu Sin lega hatinya, namun ia sendiri terheran mendengar keterangan itu. Lin Lin merasa malu, kecewa dan berduka? Apa sebabnya? Ia memang sudah terheran-heran melihat Lin Lin. Adiknya ini tiba-tiba memiliki kepandaian yang he­bat, demikian pula Sian Eng. Apakah yang terjadi dengan kedua orang adjk­nya? Ia belum mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap. Kini Sian Eng secara aneh sekali telah pergi entah ke mana, dan Lin Lin.... mengapa bisa begini? “Tak usah kau khawatir, Yok-ong bilang dia akan sembuh dua tiga hari setelah beristirahat!” Tiba-tiba terdengar suara orang dan Bu Sin segera menengok, kiranya bibi gurunya, Kui Lan Nikouw yang berada di situ. Kui Lan Nikouw memang tiba di pondok Yok-ong setelah orang-orang muda itu pergi. Sebagai seorang beribadat, melihat keadaan Yok-ong, Kui Lan Nikouw menjadi kagum sekali dan tanpa diminta ia lalu mem­bantu merajang akar dan daun obat di sebelah belakang pondok sambil menanti kembalinya para keponakannya. Nikouw ini biarpun ilmu silatnya tidak sangat tinggi, namun ia merupakan tokoh yang terkenal pula di Cin-ling-san dan tubuhnya masih kuat. Biarpun ia hanya berdiam di Cin-ling-san, bertapa dan mengajarkan ilmu batin menurut pelajar­an Agama Buddha. Akan tetapi setelah lama ketiga orang murid keponakannya meninggalkan Ting-chun, ia merasa kha­watir juga, lalu pada suatu hari ia me­ninggalkan Cin-ling-san, mencari kepo­nakan-keponakannya ke kota raja. Secara kebetulan sekali di tengah perjalanan ia bertemu dengan Bu Sin yang hendak mengunjungi Cin-ling-san untuk memberi laporan kepada bibi guru­nya tentang mereka bertiga, juga sekali­an untuk membicarakan rencana per­jodohannya dengan Liu Hwee, puteri dari Beng-kauwcu (ketua Beng-kauw). Girang hati nikouw ini mendengar tentang ren­cana perjodohan, akan tetapi di samping kegirangannya, ia pun merasa gelisah memikirkan Sian Eng dan Lin Lin, maka ia menegur keponakannya ini, “Sin-ji (anak Sin), mengapa kau tidak menanti adik-adikmu sehingga dapat pulang ber­sama mereka? Kau benar-benar terlalu memikirkan kepentingan sendiri. Kurasa, yang dapat menolong kita mendapatkan adik-adikmu hanyalah Bu Song yang kini ternyata menjadi Suling Emas, pendekar besar yang namanya sampai bergema di Cin-ling-san. Pinni (aku) mendengar pula tentang pertandingan besar antara Thian-te Liok-koai di Thai-san. Kurasa Suling Emas akan hadir pula di sana, maka sebaiknya kita langsung ke sana me­nemuinya. Setelah kita berjumpa dengan Sian Eng dan Lin Lin, baru kita beramai pergi kepada Beng-kauwcu untuk meminang puterinya.” Demikianlah, secara kebetulan sekali Kui Lan Nikouw dan Bu Sin muncul ke­tika terjadi pertandingan hebat di puncak Thai-san, di mana Kui Lan Nikouw roboh oleh hawa pukulan dua orang kekek sakti karena hendak menyelamatkan Bu Sin, akan tetapi secara mujijat nikouw ini ditolong oleh Bu Kek Siansu. Nikouw ini tadinya gembira sekali karena tepat se­perti dugaannya, ia dapat bertemu de­ngan Suling Emas di puncak Thai-san, bahkan bukan hanya dengan keponakannya yang telah lama hilang ini, juga malah bertemu pula dengan Sian Eng dan Lin Lin yang telah memiliki kepandaian yang ajaib sekali. Akan tetapi kegembiraannya hanya sebentar saja karena sekarang kembali kedua orang keponakannya itu telah lenyap, bahkan kemudian Bu Sin kembali dengan Lin Lin yang berada dalam keadaan pingsan, bahkan seperti telah mati. Baiknya ada Kim-sim Yok-ong yang memberi jaminan bahwa Lin Lin tidaklah berbahaya keadaannya. Sampai dua hari dua malam Lin Lin tidak sadarkan diri. Tak pernah membuka mata dan kadang-kadang ia mengigau tentang hal-hal yang tak dimengerti sa­ma sekali oleh Kui Lan Nikouw maupun Bu Sin yang dengan hati-hati menjaga­nya. Ia sering kali mengigau tentang usia tua, tentang cinta yang bernoda darah, tentang ratu-ratu dan puteri-puteri. Se­ring kali ia menjerit, “Bukan karena tua, akan tetapi karena kau mencinta wanita lain!” Hanya sedikit bubur encer yang me­masuki perutnya, disuapkan ke dalam mulutnya oleh Kui Lan Nikouw. Tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat sekali, dan biarpun kedua matanya meram, akan tetapi banyak air mata keluar dari se­pasang matanya. Pada hari ke tiga, pagi-pagi sekali ia membuka matanya, menengok ke kanan kiri, tampaknya bingung. “Sin-ko....! Sukouw....!” Akhirnya ia berseru ketika mengenal dua orang yang duduk di pinggir dipan. Ia bangkit duduk dan menubruk bibi gurunya sambil menangis. Kui Lan Nikouw mengelus-elus ram­butnya, penuh kesabaran, “Kau berbaring­lah saja, anak baik. Kau sudah sembuh, hanya perlu beristirahat.” “Lin-moi, aku mendapatkan kau rebah pingsan di dalam hutan. Apakah gerangan yang terjadi?” Kui Lan Nikouw memberi isyarat dengan matanya kepada Bu Sin, akan tetapi pemuda ini sudah terlanjur bicara, maka nenek ini menoleh kepada Lin Lin dengan khawatir. Menurut anggapannya, tidak tepat saatnya untuk bicara tentang itu selagi Lin Lin baru saja sadar. Akan tetapi Lin Lin hanya mengerutkan ke­ning, menggeleng kepala, matanya sayu. Ini pun hanya sebentar karena tiba-tiba matanya mengerling kepada Kui Lan Nikouw dan kembali merangkulnya. “Ah, girang sekali bertemu denganmu, Sukouw. Bagaimanakah Sukouw bisa mun­cul di sini? Seperti dalam mimpi saja!” Lega hati Kui Lan Nikouw. Kiranya Lin Lin masih biasa seperti dulu, ramah dan lincah. “Nanti kuceritakan, Lin Lin. Sekarang kau rebahlah, kau perlu beristirahat kata Kim-sim Yok-ong.” “Ah, Si Raja Obat itukah yang me­nolongku? Benar-benar dia patut disebut Raja Obat, dan tentang hatinya emas atau bukan, perlu diselidiki dulu.” Ia ter­senyum dan sudah mendapatkan kegembi­raannya kembali. “Aku tidak merasa sakit apa-apa, Sukouw, hanya.... lemas dan.... dan lapar sekali! Kalau begini rasanya aku sanggup menghabiskan nasi sepanci dan ayam gemuk tiga ekor, bak­mi dua kati!” Gadis ini tertawa dan Kui Lan Nikouw juga tertawa. “Bocah nakal! Dua hari ini kaubikin hatiku penuh kekhawatiran saja.” Nikouw ini girang bukan main. Akan tetapi biar­pun mulutnya tersenyum, di dalam hati­nya Bu Sin tidak puas. Ia terlampau kenal watak Lin Lin yang memang mu­dah sekali berduka dan gembira, mudah menangis mudah tertawa semenjak kecil­nya. Akan tetapi kini ia melihat betapa di balik wajah berseri dan senyum melebar itu terdapat awan gelap yang mem­bayang dari kesayuan mata adik angkat­nya ini, mata sayu lesu yang hanya dapat timbul karena kedukaan yang me­nindih hati. Maka diam-diam ia merasa prihatin dan kasihan kepada Lin Lin, na­mun ia tidak berani bertanya karena ia mengenal watak Lin Lin yang takkan mau bercerita kalau tidak atas kehendak­nya sendiri. Ditemani oleh Kim-sim Yok-ong, Lin Lin bersama kakaknya dan bibi gurunya lalu makan masakan tanpa daging yang dimasak oleh Kui Lan Nikouw. Selesai makan mereka bicara tentang peristiwa yang lalu terutama sekali tentang ke­adaan dan sikap Sian Eng yang amat aneh. “Sungguh aku merasa heran sekali melihat Enci Sian Eng. Mengapa ia me­larikan diri dan apakah yang terjadi atas dirinya maka ia berubah seaneh itu?” kata Lin Lin. “Kau sendiri pun aneh, Lin-moi. Kulihat kau telah memiliki ilmu yang hebat sehingga berdua dengan Sian Eng kau mampu melawan tokoh-tokoh iblis. Ba­gaimana kau bisa mendapatkan kemajuan dalam waktu singkat dan memiliki ilmu yang luar biasa?” Lin Lin tersenyum. “Ah, kebetulan saja aku mendapatkan warisan ilmu yang tak dapat kuceritakan dari mana asalnya. Enci Sian Eng lebih hebat, dan menjadi begitu aneh, seakan-akan kumelihat sinar yang tidak sewajarnya dari mukanya.” “Sayang sekali, Bu Song juga ikut pergi dan tidak kembali sampai sekarang. Belum sempat aku bercakap-cakap de­ngan keponakanku itu. Ah, kurasa dia lebih mengetahui akan keadaan Sian Eng yang aneh,” kata Kui Lan Nikouw. “Siapa katamu, Sukouw? Kakak Bu Song....? Di mana dia....? Siapa....?” Lin Lin bertanya dengan muka terheran-heran. Sudah dua kali ia mendengar di­sebutnya nama kakaknya yang sampai kini belum ia lihat itu. Bu Sin tertawa. “Kasihan kau, Lin-moi. Sampai sekarang pun kau belum tahu dan belum dapat menduga? Aku dan Sian Eng sudah tahu. Yah, mungkin kare­na kau selalu terpisah dariku, maka kau tidak tahu akan rahasia ini. Suling Emas, pendekar itu, dialah sebetulnya kakak Kam Bu Song yang kita cari-cari!” “Prakkk!” Pecahlah cangkir yang ber­ada di tangan Lin Lin. Gadis ini bangkit berdiri, matanya terbelalak lebar ketika ia memandang kepada Bu Sin dengan sinar mata tak percaya. Kemudian ia memandang Kui Lan Nikouw dengan ma­ta bertanya. “Dia....? Kakakku....?” Bu Sin tertawa gembira melihat ke­heranan dan kekagetan Lin Lin ini. Akan tetapi Kui Lan Nikouw memandang de­ngan kening berkerut, karena sekarang nenek inilah yang dapat melihat bahwa gadis itu tidak hanya heran dan kaget saja. Ia segera berkata menerangkan. “Tentu saja dia kakakmu, Lin Lin! Bu Song adalah putera sulung ayahmu dengan Liu Lu Sian. Kemudian Bu Sin dan Sian Eng adalah anak-anak ayahmu yang ke dua dan ke tiga, dari ibu mere­ka yaitu Souw Bwe Hwa sedangkan kau sendiri adalah....” “Anak pungut! Aku hanya anak ang­kat!” Lin Lin berseru keras. Kini Bu Sin memandang kaget. “Biarpun anak angkat, akan tetapi kau seperti anak ayah ibu sendiri, Lin-moi. Kau adik kami....!” “Adik angkatnya! Sebetulnya orang lain!” Lin Lin kembali bersitegang sam­bil menggigit bibirnya yang gemetar. “Hushhh! Mengapa kau bicara begitu?” Kui Lan Nikouw menegur. “Lin Lin, kau juga puteri ayahmu, biarpun anak angkat akan tetapi kau sah menjadi keluarga Kam. Kau she (bernama keturunan) Kam dan namamu Lin....” “Bukan!” Lin Lin sudah meloncat se­karang, dan sinar keemasan berkilauan ketika ia mencabut pedangnya. Pedang Besi Kuning! Melihat ini, Bu Sin dan Kui Lan Nikouw juga bangkit berdiri dengan muka pucat. Hanya Kim-sim Yok-ong yang tetap duduk tenang, hanya melirik sedikit ke arah Lin Lin, agaknya kejadian seperti ini sama sekali tidak aneh bagi­nya karena ia telah mengetahui dasar-dasarnya. “Bukan! Aku bukan apa-apa kalian, bukan apa-apanya Bu Song! Aku tidak punya she Kam, dan namaku adalah Yalina! Puteri Mahkota, Puteri Khitan, yang mulia Puteri Yalina! Aku bukan apa-apa kalian. Aku bukan adiknya, bukan adiknya....!” Tiba-tiba Lin Lin meloncat dan lari keluar dari dalam pondok, pedangnya berkilauan. “Lin-moi....!” Bu Sin hendak mengejar akan tetapi lengannya dipegang Kui Lan Nikouw. “Takkan ada gunanya, Sin-ji. Sejak dulu aku sudah menduga bahwa sewaktu-waktu ia akan memenuhi panggilan darah­nya. Memang dia berdarah bangsawan Khitan. Kau tidak lihat sikapnya tadi? Begitu agung seperti puteri! Biarkanlah, hatinya keras sekali dan kepandaiannya juga luar biasa, percuma saja dihalangi kehendaknya.” “Korban asmara lagi....” Kim-sim Yok-ong bicara perlahan seperti orang bicara kepada dirinya sendiri. “Penyakit orang muda yang amat sukar diobati. Percuma saja aku disebut Raja Obat, terhadap penyakit yang satu ini aku benar-benar angkat tangan....” lalu ia menarik napas panjang dan meninggalkan meja, memasuki kamarnya untuk mengaso. Bu Sin hanya dapat saling pandang dengan bibi gurunya, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Raja Obat itu. Yang paling bingung dan sedih adalah Bu Sin. Kembali ia harus berpisah dari Sian Eng dan Lin Lin. Perpisahan yang amat aneh dan luar biasa. Sian Eng lenyap tak meninggalkan bekas sehingga sukar bagi­nya untuk mencarinya. Akan tetapi Lin Lin biarpun pergi secara aneh dan tidak sewajarnya, dapat ia duga bahwa adik­nya, adik angkat, yang luar biasa ini besar sekali kemungkinannya pergi ke Khitan! Hanya Suling Emas yang dapat ia harapkan! Suling Emas, atau kakaknya, Kam Bu Song seoranglah yang dapat ia harapkan bantuannya untuk mencari ke­dua orang adiknya itu. Akan tetapi, Su­ling Emas juga lenyap tak berbekas, ke mana ia harus mencarinya? Sementara itu, Lin Lin berlari-lari seperti orang gila, tidak peduli ke mana kakinya bergerak membawanya, berlari sambil mengulang kata-kata, “Dia bukan kakakku.... dia bukan kakakku....!” Sampai malam gelap tiba, gadis ini terus berlari meninggalkan Pegunungan Thai-san dan akhirnya tibalah ia di sebuah hutan di kaki gunung bagian utara. Ma­lam yang gelap tidak memungkinkan ia melanjutkan larinya. Ia menjatuhkan diri di atas rumput dan duduk termenung. Tidak menangis lagi, namun beberapa kali ia masih terisak, sedu-sedan menye­lingi napasnya yang terengah-engah kare­na berjam-jam lari cepat tadi melelah­kannya. Pikirannya penuh dengan bayang­an Suling Emas, penuh dengan persoalan Suling Emas. *** Sambil menyadarkan tubuhnya pada sebatang pohon, Lin Lin merenung. Ia merasa yakin benar bahwa Suling Emas mencintanya. Hal ini jelas dapat ia tangkap dari pandang mata, dari kata-kata, maupun dari gerak dan belaiannya kemarin. Ia tahu bahwa Suling Emas memaksa diri menjauhinya, memaksa diri memutus rasa cinta kasih. Apakah sebabnya? Inilah yang menjadi bahan pemikirannya. Karena mereka masih bersaudara? Hanya namanya saja saudara! She Kam yang ia pakai bukanlah she-nya yang aseli. Ia tidak berdarah Kam! Tidak dari ayah, juga tidak dari ibu, tidak menghubungkan pertalian darah antara dia dan Suling Emas. Apakah karena Suling Emas betul-betul merasa telah tua? Ini pun tidak betul, karena biarpun ada selisih usia antara dia dan Suling Emas, namun pendekar itu belumlah tua, baru tiga puluh tahun lebih. Lalu, apa sebabnya dia menolaknya. Karena di sana ada wanita lain! Tapi.... ia yakin bahwa Suling Emas mencintanya. Tiba-tiba ia teringat dan meloncat bangun! Mengapa ia hanya mengingat akan Suling Emas? Sehingga ia lupa akan Kam Bu Song? Ah, sekarang tahulah dia. Pernah ia mendengar tentang hubungan asmara antara kakaknya itu, Kam Bu Song pernah bercinta dengan puteri bang­sawan adik Suma Boan. Dan Kam Bu Song adalah Suling Emas! Ah, mengapa ia begini tolol? Teringat ia sekarang akan perjumpaannya yang pertama kali dengan Suling Emas. Di dalam gedung perpustakaan di istana kaisar. Perjumpa­an pertama di tempat yang agak gelap itu, di mana serta-merta Suling Emas memeluk dan menciumnya, kemudian kaget dan minta maaf, bukankah ini jelas membuktikan bahwa Suling Emas me­nyangka dia wanita lain, wanita yang menjadi kekasihnya, yang biasa dipeluk-ciumnya dan biasa mengadakan pertemuan rahasia dengannya? Ah, mengapa ia begitu bodoh? Terang bahwa Suling Emas mencinta wanita lain, tak salah lagi, wanita itu tentulah adik Suma Boan! Berpikir sampai di sini, muka Lin Lin menjadi merah padam. Alangkah me­malukan! Ia mencinta orang yang selama ini dicari-carinya sebagai kakaknya! Dan ia bertepuk sebelah tangan. Orang yang dicintanya sama sekali tidak membalas, karena telah mencinta orang lain. Benar-benar ia telah merendahkan diri sampai sehina-hinanya. Ia merasa malu sekali. “Aku harus pergi jauh. Aku harus kembali ke Khitan. Aku takkan mau ber­temu muka dengan dia lagi, kecuali ka­lau aku sudah menjadi ratu di Khitan! Baru aku suka bertemu dengan dia, se­bagai ratu bukan sebagai adiknya, apalagi sebagai.... kekasihnya. Tapi sebelum ke Khitan.... aku harus melenyapkan wanita itu, wanita yang berani menolak cinta kasih Suling Emas, wanita yang berani merampas hati Suling Emas, wanita yang menjadi penghalang kebahagiaannya!” Berpikir demikian, hati panas membuat Lin Lin lupa akan kelelahannya dan bang­kitlah ia, lalu melanjutkan perjalanan di waktu malam, keluar masuk hutan. Tiba-tiba Lin Lin menghentikan kaki­nya dan kepalanya dimiringkan. Ia men­dengar suara aneh. Lengking tinggi ber­kali-kali menggema di malam gelap. Hatinya berdebar. Suara sulingkah itu? Ia ragu-ragu. Ia tidak sudi bertemu kem­bali dengan Suling Emas sebelum ia menjadi ratu di Khitan. Akan tetapi.... sebelum ia pergi jauh, apa salahnya satu kali lagi saja melihat wajahnya? Keragu­an meliputi hati Lin Lin, akibat daripada dua macam perasaan yang bertentangan. Namun akhirnya kakinya melangkah, se­akan-akan di luar kesadarannya, menuju ke arah suara melengking-lengking, Pe­dang Besi Kuning sudah berada di dalam tangannya. Ketika tiba di tempat itu, Lin Lin tertegun. Di sebuah tempat terbuka, di bawah sinar bintang-bintang yang remang-remang, ia melihat pertempuran yang hebat dan ia tersentak kaget. Siang-mou Sin-ni agaknya yang sedang bertanding, melawan seorang kakek bongkok yang bukan lain adalah It-gan Kai-ong! Akan tetapi mana mungkin? Bukankah Siang-mou Sin-ni sudah tewas, terjerumus ke dalam jurang, mati di tangan Suling Emas? Dan suara melengking-lengking itu keluar dari mulut Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi, biarpun wanita itu bertanding dengan rambut terurai, rambut itu tidak sepanjang Siang-mou Sin-ni dan wanita ini bertanding tanpa menggunakan rambut­nya seperti keistimewaan Siang-mou Sin-ni! Apakah wanita baju hijau? Pernah ia melihat wanita baju hijau itu berurai rambut ketika bersumpah di depan ma­kam ayahnya. Akan tetapi wanita itu baru-baru ini ia lihat tidak berambut lagi, sudah gundul seperti seorang nikouw! Siapakah gerangan wanita ini? Ia mendekati dan melihat betapa wanita itu gerakan-gerakannya dahsyat dan aneh luar biasa, It-gan Kai-ong me­rupakan lawan yang berat, tongkatnya menyambar-nyambar mendatangkan angin keras. Akan tetapi gerakan kakek itu lamban, dan teringatlah Lin Lin bahwa kakek pengemis mata satu ini pun sudah terluka parah. Kalau tidak terluka, agak­nya wanita itu bukan lawannya. Lin Lin makin mendekat dan alangkah kaget dan marahnya ketika ia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Sian Eng! “Enci Sian Eng, jangan takut. Kubantu kau menghajar mampus iblis ini!” setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat ke depan, didahului sinar kuning emas pe­dangnya yang sudah menerjang It-gan Kai-ong dengan ganas. Maklum akan kelihaian lawan, serta-merta Lin Lin mainkan jurus-jurus yang ia pelajari dari ilmu rahasia dalam tongkat pusaka Beng-kauw. Hebat gerakannya itu, biarpun be­lum matang sekali namun karena jurus-jurus itu adalah jurus sakti yang khusus diciptakan oleh mendiang pendiri Beng-kauw, Pat-jiu Sin-ong, maka hebatnya bukan main. Begitu pedangnya bergerak, It-gan Kai-ong berseru, “Uhhhhh!” Dan kakek ini terhuyung ke belakang, hampir saja perutnya termakan ujung pedang. “Bagus, Lin-moi adikku! Mari bantu aku bikin mampus anjing ini!” teriak Sian Eng dengan gembira dan kedua tangannya melakukan serangan hebat, dengan jari-jari terbuka mencengkeram ke arah dada kakek itu. Lin Lin tertegun karena melihat betapa kedudukan kaki dan gerakan tangan encinya itu mirip sedikit dengan ilmu barunya! Hal ini sebenarnya tidak aneh karena sebuah di antara kitab yang dipelajari Sian Eng di dalam gua adalah kitab ilmu silat Beng-kauw peninggalan Tok-siauw-kui yang tentu saja dasarnya sama dengan ilmu yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong. Karena ini ia menjadi gembira dan mainkan pedangnya. Secara aneh sekali, gerakan mereka seimbang dan setelah mereka menyerang bersama, maka serangan itu merupakan rangkaian yang cocok dan daya serangannya hebat bukan main. It-gan Kai-ong yang sudah terluka parah dalam pertandingannya melawan Suling Emas beberapa hari yang lalu, menjadi terkejut sekali. Biarpun dua orang gadis itu sudah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian yang luar biasa, namun andaikata ia tidak terluka parah, agaknya tidaklah mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkannya. Akan tetapi, apa hendak dikata, ia terluka hebat dan luka itu belum sembuh, maka sekarang ia meng­hadapi keroyokan ini dengan berat. Be­berapa kali ia terhuyung dan pada saat ia menangkis Pedang Besi Kuning dengan tongkat yang ia buat dari dahan pohon, kedua senjata itu saling tempel tak da­pat dipisahkan lagi. Inilah saat yang celaka bagi It-gan Kai-ong karena pada detik berikutnya, pukulan tangan kanan Sian Eng dengan hebat menghantam lambungnya. “Blukkk....!” It-gan Kai-ong memekik aneh dan mulutnya menyemburkan darah segar, lalu tubuhnya terjengkang ke bela­kang. Pedang Besi Kuning yang sudah terlepas dari tempelan tongkat, menyam­bar dan sebuah bacokan membuat pundak kiri It-gan Kai-ong hampir putus. Kakek itu roboh dan pingsan seketika. “Adikku, pinjamkan pedangmu seben­tar!” kata Sian Eng dengan suara ber­sorak, kemudian ia menerima Pedang Besi Kuning itu dan.... sambil tertawa-tawa seperti orang gila Sian Eng lalu menghujani tubuh It-gan Kai-ong dengan bacokan dan tusukan sehingga dalam sekejap mata saja tubuh kakek itu han­cur tidak karuan macamnya lagi. “Sudah, Enci Eng....!” Lin Lin merasa ngeri dan memalingkan mukanya. Ia me­rasa ngeri dan heran mengapa encinya meniadi begitu ganas. “Cukup! Dia sudah mati....!” Akan tetapi Sian Eng terus membacok-bacok sambil tertawa-tawa sampai tubuh itu tidak merupakan tubuh manusia lagi, melainkan merupakan daging cacah­an yang mengerikan. Tiba-tiba ia ber­henti membacok, melempar pedangnya ke atas tanah lalu.... gadis ini menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis ter­sedu-sedu, sedih sekali. Lin Lin sejenak terkesima. Kemudian ia mengambil pedangnya, membersihkan­nya dengan rumput dan menyarungkan­nya. Setelah itu ia mendekati Sian Eng, berlutut, merangkulnya dan membujuk. “Sudahlah, Enci Eng. Mengapa kau agaknya begitu membencinya? Mengapa pula kau melarikan diri secara aneh? Ada rahasia apakah yang terjadi padamu? Ceritakanlah kepada adik....” sampai di sini Lin Lin teringat dan menyambung, “ceritakan kepadaku, apa yang kaususah­kan.” Mendengar ini, Sian Eng menangis makin keras sampai tubuhnya berguncang-guncang sesenggukan ketika ia mem­benamkan mukanya pada rangkulan Lin Lin. Akhirnya tangisnya mereda dan ia dapat bicara, “Lin Lin, aku menangis saking girang hatiku dapat membunuh anjing ini. Dapat membunuh.... gurunya dan sekarang aku akan mencarinya. Sebelum aku dapat membunuhnya, aku tidak mau berhenti!” Lin Lin belum dapat mengerti. “Mem­bunuh siapa, Enci Eng?” “Siapa lagi kalau bukan murid anjing ini?” Lin Lin terkejut, terheran. Setahunya murid It-gan Kai-ong adalah Suma Boan. Memang mereka semua membenci Suma Boan, akan tetapi mengapa agaknya enci­nya membenci secara luar biasa? “Kau­maksudkan, Suma Boan?” Tiba-tiba meledak lagi tangis Sian Eng. “Betul! Anjing biadab itu! Keparat jahanam Suma Boan, kautunggulah pem­balasanku!” Ia berteriak-teriak. Diam-diam Lin Lin girang. Dia sen­diri bermaksud mencari adik perempuan Suma Boan yang ia anggap telah merampas kekasihnya. Akan tetapi di sam­ping kegirangannya mendapat teman enci­nya pergi ke kota raja, ia pun merasa heran bukan main. “Enci Sian Eng, memang Suma Boan itu bukan manusia baik-baik dan sudah sepatutnya kita membencinya. Akan te­tapi, kausebut-sebut tentang pembalasan. Apakah artinya itu?” Sian Eng merangkul Lin Lin. Pada saat itu, ia telah kembali normal. Lin Lin merapikan rambut encinya, mengatur dan menyanggulkannya kembali. “Lin-moi, dia.... dia.... ah, tadinya aku.... aku telah gila. Aku.... aku mencintanya....” “Hemmm....?” Tapi Lin Lin menindas keheranannya, “Apa anehnya dengan itu? Wajar, Enci. Memang hati ini tidak dapat dikuasai kalau sudah menjatuhkan pilihannya.” “Tapi dia menipuku! Dia mengkhianatiku! Ah.... Lin-moi, pilihanku keliru....!” Sambil menangis Sian Eng lalu menceri­takan semua pengalamannya, mulai dia diperalat oleh Suma Boan mencari ilmu warisan Tok-siauw-kui sampai peristiwa di dalam perahu di mana ia dinodai oleh pemuda bangsawan yang berwatak kotor itu. Berdiri sepasang alis Lin Lin, ia mempertemukan giginya dengan penuh ke­gemasan sambil berkata, “Bedebah! Dia patut dibasmi! Mari kubantu kau, Enci Sian Eng. Kita cari dia di kota raja dan kita bunuh anjing itu, setelah itu, kita langsung pergi ke istana karena aku pun harus membunuh adik perempuan Suma Boan.” Kini Sian Eng yang memandangnya dengan mata terbelalak heran. Saking kaget dan herannya, Sian Eng lupa akan tangisnya dan dengan mata merah dan pipi masih basah air mata ia menatap wajah adiknya, bertanya, “Suma Ceng? Mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng? Aku pernah bertemu dengannya, dia itu biarpun adik dari Suma Boan, namun wataknya baik sekali, berbeda dengan kakaknya. Pula, dia adalah bekas kekasih kakak Kam Bu Song yang sampai sekarang masih mencintanya.” “Justeru itulah sebabnya mengapa aku harus membunuhnya!” “Apa? Karena ia mencinta kakak Bu Song?” “Karena ia berani mencinta Suling Emas!” “Eh, Lin-moi. Bagaimana itu? Apa salahnya itu? Mengapa kau marah melihat Suma Ceng mencinta....” “Karena aku mencinta Suling Emas!” ucapan Lin Lin ini terdengar keras. Sian Erg melongo dan sejenak tak dapat mengeluarkan kata-kata. Kemudian ia memegang lengan adiknya dan meng­guncang-guncang, seakan-akan ia hendak membangunkan adiknya daripada tidur dan mimpi buruk. “Lin-moi....! Gilakah kau? Suling Emas adalah Kam Bu Song!” “Aku tahu!” jawabnya dingin. Sian Eng makin bingung. “Kau tahu dan kau bilang mencintanya? Suling Emas atau Kam Bu Song adalah kakakmu....” “Bukan! Sekali lagi bukan kakakku! Pertalian apakah yang mengikat persau­daraan kami? Dia itu kakak tiriku, me­mang betul. Kalian seayah lain ibu. Akan tetapi aku? Aku adalah Yalina, Puteri Yalina, Puteri Mahkota Khitan! Dia itu, juga kau, dengan aku adalah orang lain, berlainan darah. Mengapa aku tidak boleh mencinta Suling Emas?” Hening sejenak. Agaknya Sian Eng terpukul mendengar kenyataan yang be­nar-benar mengguncangkan hatinya ini. Sama sekali tak pernah disangkanya akan terjadi keruwetan cinta kasih semacam ini. Tadinya ia mengira bahwa dialah orang paling tidak beruntung di dunia ini, yang menjatuhkan hati secara keliru. Kiranya sekarang terjadi pertalian asma­ra yang lebih aneh pada diri Lin Lin. “Hemmm, begitukah? Kau mencinta Suling Emas. Lalu, mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng? Dia sudah bersuami orang lain, sudah mempunyai anak, mengapa diganggu lagi? Bagaimana sikap Suling Emas terhadap cintamu?” Ditanya begini, tiba-tiba Lin Lin me­nangis! Keadaan menjadi terbalik sama sekali. Sekarang Lin Lin yang menangis dan Sian Eng memeluknya, menghiburnya. Kemudian, di antara isak tangisnya, Lin Lin yang menceritakan pengalamannya, betapa secara aneh Suling Emas menolak cintanya dengan alasan sudah tua, alasan yang sama sekali tidak dipercayanya karena ia yakin bahwa kakak angkatnya itu juga mencintanya. “Tentu karena gara-gara Suma Ceng itulah maka ia tidak membalas cintaku, atau lebih tepat ia memaksa diri me­mutuskan pertalian asmara denganku. Enci Sian Eng, biarpun kita bukan sau­dara sedarah, namun semenjak kecil kita berkumpul. Aku akan membantumu mem­bunuh Suma Boan, kemudian kau mem­bantu aku membunuh Suma Ceng. Setelah itu, aku akan pergi ke Khitan untuk merampas kedudukan ratu yang menjadi hakku. Nah, bagaimana? Apakah kau mau ikut denganku? Aku akan tetap menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Biarlah kita yang menderita karena asmara ini bersama-sama menghadapi segala hal, sehidup semati.” Sian Eng terharu, merangkulnya dan kedua orang gadis itu bertangisan. Ke­mudian mereka meninggalkan tempat itu tempat yang amat menyeramkan karena di situ terdapat onggokan daging tulang dan darah It-gan Kai-ong yang sudah tidak dapat disebut mayat lagi, dan tak lama setelah kedua orang gadis itu pergi, burung-burung liar beterbangan datang untuk menyantap hidangan yang lezat bagi mereka ini! *** Sementara itu, terjadi perubahan be­sar di Kota Raja Kerajaan Sung. Kaisar Sung Thai Cu, Kaisar Kerajaan Sung pertama, telah menyerahkan tahta ke­rajaan kepada adiknya sendiri yang berjuluk Kaisar Sung Thai Cung juga me­lanjutkan politik pemerintahan kakaknya, namun dibandingkan dengan Sung Thai Cu kaisar ke dua ini lebih berhasil kemudian Sung Thai Cung berani mempergunakan tangan besi terhadap para pejabat tinggi yang melakukan penyelewengan, tidak mudah dijilat oleh sikap memuji-muji, dan di samping ini, memperkuat pasukan kerajaan dalam persiapan menggempur kerajaan-kerajaan kecil yang sampai saat itu belum juga mau tunduk dan belum mengakui kekuasaan Kerajaan Sung. Berbeda dengan jaman kerajaan yang sudah-sudah, terutama di jaman Kerajaan Tang yang sering kali terjadi perebutan kekuasaan dan perang saudara di kala tahta kerajaan berpindah tangan, pemin­dahan kekuasaan dan penggantian kaisar kali ini terjadi dengan aman dan tidak terjadi sesuatu keributan. Hal ini adalah karena kebijaksanaan Kaisar Sung Thai Cu yang dalam hal ini melaksanakan anjuran ibunya, yaitu menyerahkan kekuasaan dan mengangkat adiknya sendiri sebagai penggantinya. Andaikata ia tidak bijaksana dan memaksa untuk mewariskan tahta kerajaan kepada putera-puteranya yang kurang pengalaman, pasti hal ini akan menimbulkan kekeruhan, mendatang­kan perebutan kekuasaan dan perang saudara, seperti yang sudah-sudah. Kaisar yang baru, Sung Thai Cung, adalah seorang yang luas pandangan dan bijaksana. Namun tindakannya yang per­tama, yaitu membersihkan petugas-petugas negara yang korup dan nyeleweng, sedikit banyak menimbulkan keributan pula dari para pembesar yang melakukan perlawan­an. Betapapun juga, mereka ini semua dapat ditundukkan dan diseret ke dalam penjara, bahkan banyak di antaranya yang diberi hukuman mati. Biarpun peristiwa pembersihan ini melegakan hati rak­yat, namun mengubah suasana di kota raja. Karena terlalu banyak pembesar korup dibunuh, dan juga karena memang hampir semua petugas tadinya menyele­weng, banyak di antara mereka yang melarikan diri sebelum tertangkap, dan mereka yang masih berani tinggal di kota raja dengan harapan takkan diketahui dosa-dosa mereka yang lalu, tidak pernah berani keluar rumah, takut ada jari telunjuk menudingnya. Inilah yang membuat kota raja menjadi sunyi. Tidak ada lagi pembesar, lama maupun baru, yang berani berfoya-foya dan ber­pelesir seperti yang sudah-sudah. Keadaan di kota raja ini mempenga­ruhi pula keadaan kota-kota besar lain, terutama sekali yang berdekatan dengan kota raja, seperti kota An-sui. Kota ini pun menjadi sepi dan banyak pembesarnya melarikan diri atau ditangkap. Gedung besar Pangeran Suma Kong tetap berdiri megah dan pangeran tua ini tidak mau melarikan diri. Memang ia dahulu terkenal sebagai seorang pangeran yang korup dan banyak makan uang ne­gara. Akan tetapi sudah bertahun-tahun ia tidak memegang tugas lagi karena dipecat dan tidak diperbolehkan bertempat tinggal di kota raja oleh kaisar pertama. Selain merasa bahwa dia sekarang sudah “bersih”, juga dengan adanya Suma Boan yang amat terkenal, tentu saja keluarga bangsawan Suma ini tidak merasa takut. Bahkan Suma Boan mengumpulkan anak buahnya, yaitu para buaya dan tukang pukul yang memiliki kepandaian, untuk menjaga gedungnya siang malam. Di luar gedung, di setiap pintu, di atas genteng di sebelah kanan kiri dan belakang, semua terjaga dengan kuat siang malam sehing­ga gedung Pangeran Suma itu seakan-akan berubah menjadi sebuah benteng. Setiap hari para penjaga yang bertugas menjaga di pekarangan depan yang luas dari gedung itu, melewatkan waktu menganggur dengan latihan-latihan ilmu silat atau olah raga lain yang maksudnya selain untuk berlatih juga sebagai “pamer kekuatan” untuk membangun ketabahan sendiri dan untuk mengecilkan hati golongan yang hendak memusuhi Pangeran Suma. Di situ terdapat delapan belas macam senjata dan juga besi-besi dan batu-batu besar yang mereka angkat dan lempar-lemparkan ke atas untuk mendemonstrasikan tenaga mereka. Penjagaan yang amat ketat ini dilakukan siang malam sehingga keluarga itu seakan-akan mempunyai barisan sendiri yang terdiri dari seratus orang lebih yang melakukan penjagaan secara bergiliran. Pada suatu pagi yang cerah, seperti biasa, belasan orang penjaga di pekarang­an depan itu bermain-main di pekarangan, mengangkat besi dan melempar-lempar batu, ada pula yang bermain silat dengan pelbagai senjata. Di antara mereka, yang mempunyai bentuk tubuh kuat dan men­jadi ahli gwa-kang (tenaga luar), sengaja membuka baju untuk memamerkan otot-otot yang besar melingkar-lingkar di tubuh mereka. Kelebatan senjata tajam menyilaukan mata. Para penjaga yang bertugas di atas rumah juga ikut me­nonton sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Munculnya Sian Eng di depan pintu pekarangan itu sekaligus menghentikan semua kegiatan olah raga. Semua mata mengincar keluar dan senyum lebar meng­hias semua mulut para penjaga itu, se­nyum dan pandang mata kurang ajar karena memang pemandangan di pagi hari ini menyedapkan mata. Pakaian Sian Eng yang ringkas membungkus tubuh yang langsing padat, wajah yang cantik jelita dengan hiasan rambut yang hitam halus disanggul ke atas, gerakan yang lemah gemulai, semua ini merupakan daya penarik yang mengagumkan hati semua laki-laki. Sudah lazim di dunia ini, apabila melihat seorang wanita cantik, timbul kegembiraan di hati pria. Kalau pria itu hanya sendirian, tentu tidak berani ia mengumbar kekurangajarannya dan akan menyimpan kekagumannya dalam pandang mata dan senyum. Kalau pria itu me­mang berwatak bersih, ia hanya akan menyimpan kekagumannya di dalam hati. Akan tetapi kalau banyak laki-laki yang memang wataknya kasar sedang berkum­pul, tentu akan timbul kekurangajaran mereka dan mulailah para penjaga ini tertawa-tawa. “Aduhhhhh.... cantiknya....!” “Wahai.... siapakah begitu bahagia memiliki bidadari ini?” Demikian bermacam-macam teriakan yang terdengar dari mulut mereka, bahkan di antara mereka ada yang mulai pula melempar-lempar batu dan meng­angkat-angkat besi berat untuk pamer dan berusaha menarik perhatian gadis cantik ini. Namun Sian Eng tidak peduli­kan itu semua, kakinya langsung melang­kah masuk dengan tenang. Melihat gadis itu betul-betul memasuki pekarangan, kegembiraan mereka memun­cak dan seorang di antara mereka, ko­mandan jaga, segera melangkah maju bertanya, suaranya digagah-gagahkan, “Nona, kau hendak mencari siapakah? Siapa diantara kita yang hendak kau jumpai? Heee, teman-teman! Adakah di antara kalian yang mengenal Nona ini?” kata-kata ini diteriakkan si komandan jaga dengan nada tidak percaya. “Aku....!” “Aku kenalannya!” “Ah, akulah sahabat baiknya!” “Heee, jangan mengacau! Dia tentu memilih aku!” teriak pula seorang pen­jaga yang bertugas di atas genteng. “Pilihlah aku, Nona. Habis bulan se­mua gajiku akan kuserahkan padamu se­luruhnya!” teriak pula seorang yang tubuhnya tinggi besar. “Ha-ha, jangan percaya! Tentu sebagian sudah ia selundupkan ke tangan isteri­nya yang pertama!” Ramailah suara para penjaga, bahkan banyak diantaranya yang mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak sopan. Akan tetapi Sian Eng tetap tenang tidak mempedulikan mereka, bahkan tersenyum se­dikit, senyum yang sebenarnya merupa­kan senyum sedih akan tetapi karena memang ia manis sekali kalau tersenyum, maka senyum ini mendatangkan teriakan-teriakan baru yang lebih riuh. Sian Eng menanti sampai hiruk-pikuk itu reda, baru ia berkata. “Aku ingin bertemu dengan Suma Boan.” Semua suara sirap seketika dan semua mata memandang penuh curiga, penuh selidik. Semua penjaga ini mengenal be­laka kongcu mereka dan mengenal pula wanita-wanita yang mempunyai hubungan dengan putera pangeran itu. Akan tetapi mereka belum pernah melihat Sian Eng, oleh karena itu mereka menjadi curiga. “Mengapa mencari Suma-kongcu? Apa­kah kau kenal dia?” tanya si komandan matanya memandang penuh selidik. Sian Eng mengangguk, “Aku kenal dia, harap suka panggil dia keluar.” Seorang penjaga yang bertelanjang dada, yang tubuhnya tegap dan kuat, melangkah maju. “Nona cantik, mengapa mencari Kongcu? Apakah kita ini tidak cukup hebat? Kau tinggal pilih. Lihatlah aku, hemmm, kalau kau menjadi kekasih­ku, kau akan aman. Lihat betapa kuatnya aku!” Ia lalu membungkuk, kedua lengan­nya bergerak mengangkat sebuah batu besar. Otot-otot di tangannya melingkar-lingkar dan menonjol keluar ketika ia melemparkan batu itu ke atas, disambut dan dilemparkan lagi berkali-kali, seakan-akan seorang anak kecil bermain-main dengan sebuah bola karet yang ringan. Akhirnya ia membanting batu seberat seratus kati lebih itu ke atas tanah, ke depan Sian Eng, sambil mengangkat dada dengan penuh kebanggaan. Sejak tadi sebetulnya hati Sian Eng sudah panas dan marah, akan tetapi ditahan-tahannya. Pikirannya sedang normal maka ia dapat mempergunakan kesabaran­nya, apalagi memang kedatangannya ini sudah ia rencanakan bersama Lin Lin. Mereka sudah beberapa malam mengitari gedung akan tetapi tidak melihat jalan aman untuk memasuki gedung. Demikian ketat penjagaan di situ dan mereka ber­dua maklum bahwa menghadapi Suma Boan saja sudah berat, apalagi kalau dikeroyok banyak penjaga dan siapa tahu di dalam gedung itu bersembunyi pula orang-orang sakti yang membantu Suma Boan. Akan tetapi menyaksikan lagak orang-orang ini, Sian Eng hampir tidak kuat menahan kesabaran hatinya. Ia me­langkah maju mendekati tempat itu, kaki kirinya bergerak dan.... batu besar itu terlempar ke arah penjaga bertelanjang dada yang sedang membusungkan dadanya itu. “Uhhhhh....!” Orang itu berseru kaget, terpaksa menerima batu itu, namun ia tidak kuat menahan dan tubuhnya terlempar ke belakang sampai beberapa meter. Untung batu itu segera ia lempar ke samping sehingga tidak menimpa dada­nya, namun hantaman tadi cukup membuat ia terengah-engah dan dari mulut­nya keluar darah! Ributlah para penjaga itu. Makin curiga mereka karena ternyata bahwa gadis cantik ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi Sian Eng segera ber­kata dengan suara ketus. “Aku adalah kenalan baik Suma Boan, apakah kalian masih berani main-main? Tunggu saja kalau Kongcu kalian melihat kekurang­ajaran kalian, aku akan minta dia me­menggal kepala kalian seorang demi seorang!” Kata-kata ini berpengaruh sekali. Mereka segera mundur dengan muka pucat dan komandan jaga segera menge­dipkan mata kepada kawan-kawannya, kemudian ia sendiri berkata, “Maaf, ka­rena kami tidak mengenal Nona, maka berani bersikap kasar. Harap Nona tung­gu sebentar, saya akan melaporkan ke­pada Suma-kongcu.” Sian Eng hanya mengangguk, kemudi­an ia menghampiri penjaga yang masih duduk terengah-engah. “Kau tidak lekas berlutut?” bentaknya. Penjaga yang sial ini sudah mendengar juga tadi pengakuan gadis lihai ini se­bagai kenalan baik Suma-kongcu, maka dengan menahan rasa sakit dan hati pe­nuh rasa takut akan kemarahan majikan­nya, ia segera berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala minta ampun. Tiba-tiba mereka semua, para penjaga itu, menjadi ngeri den merasa serem karena gadis cantik itu tertawa meleking aneh dan terdengar bukan seperti suara ke­tawa manusia. “Pergilah!” kaki Sian Eng bergerak dan penjaga itu terlempar be­berapa meter jauhnya, bergulingan seperti sebuah bola ditendang. Anehnya, ia me­rasa dadanya tidak sesak lagi, maka cepat ia meloncat berdiri, mengangguk dengan hormat dan mengundurkan diri! “Moi-moi....!” Pada saat itu Suma Boan muncul dari pintu samping. Ketika menerima laporan bahwa seorang gadis cantik yang amat lihai datang mencari­nya, Suma Boan menjadi curiga dan mengintai dengan jalan memutar, dari pintu samping. Akan tetapi begitu me­lihat bahwa yang datang adalah Sian Eng, hatinya berdebar keras. Tentu saja ia menjadi curiga dan menyangka buruk. Akan tetapi, karena Sian Eng hanya datang seorang diri, timbul ketabahan hati­nya, dan pula memang ia merasa suka kepada gadis cantik yang ia tahu amat mencintanya ini. Maka dengan hati ber­debar dan sikap waspada, pemuda ini lalu muncul dan memanggil dengan suara penuh kasih sayang, wajah berseri, akan tetapi sinar matanya penuh selidik me­natap wajah yang cantik jelita dan agak pucat itu. “Koko....!” Sian Eng juga berseru dengan suara tertahan, seakan-akan ia merasa girang dan terharu, mukanya tiba-tiba menjadi merah seperti orang malu dan jengah. “Aku.... aku ingin bicara penting denganmu....!” Berdebar-debar jantung Suma Boan. Akan tetapi pandang matanya masih penuh selidik, ingin ia menjenguk isi hati gadis itu. Ia tahu bahwa Sian Eng men­cintanya, akan tetapi tahu pula bahwa gadis itu bisa mendendam kepadanya dan bisa membenci karena perbuatannya terhadap gadis itu di dalam perahu. Tentu saja ia tidak mencinta dengan setulus dan sejujurnya hati terhadap Sian Eng, melainkan mencintanya karena gadis itu memang cantik jelita. Bagi seorang laki-laki semacam Suma Boan, ia selalu jatuh cinta kepada wanita cantik, berapapun banyaknya, cinta yang berdasarkan nafsu berahi, cinta yang berdasarkan ingin me­nyenangikan diri sendiri. Di samping kecantikan Sian Eng, juga gadis ini telah menemukan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui yang amat ia inginkan. Namun Suma Boan adalah seorang laki-laki yang sudah banyak pengalaman­nya, pula ia terkenal cerdik, maka ia masih saja menaruh curiga. Tentu saja ia cukup percaya akan kepandaian sendiri, tahu bahwa Sian Eng seorang diri saja takkan mampu berbuat buruk terhadapnya, akan tetapi ia sudah membuktikan keadaan aneh gadis ini yang seakan-akan telah menemukan ilmu dan memilikinya secara hebat, sungguhpun belum sempurna benar. “Koko, aku mau bicara tentang.... kitab....” Seketika wajah Suma Boan berseri. Keinginannya mendapatkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui amat besar, apalagi pada waktu sekarang se­telah keadaan pemerintahan di kota raja terjadi perubahan dan ia merasa betapa kedudukan keluarga ayahnya terancam, ia ingin sekali mendapatkan kitab-kitab itu dan mewarisi kepandaian yang akan membuat ia menjadi seorang jagoan no­mor satu yang ditakuti semua lawan. “Moi-moi...., aku girang sekali kau datang. Marilah kita bicara di dalam....!” Ia melangkah maju, memegang lengan Sian Eng dan menggandengnya. Sian Eng menurut saja dan berjalanlah mereka bergandengan tangan menuju ke ruangan dalam, melewati pagar penjaga yang ber­diri tegak tanpa berkedip. Suma Boan yang menggandeng dan merapatkan tubuh­nya merasa betapa jantung di dalam dada gadis itu berdebar-debar keras. Diam-diam ia merasa bahagia sekali karena mengira bahwa gadis ini terlalu girang bertemu dengannya. Setelah mereka memasuki ruangan sebelah dalam, Suma Boan segera me­narik gadis itu ke dalam sebuah kamar tamu yang indah, tiba-tiba ia memeluk Sian Eng dan menciuminya. Sejenak Sian Eng menurut saja, kemudian perlahan ia merenggutkan dirinya, terlepas dari pe­lukan Suma Boan yang makin merasa yakin bahwa gadis ini tidak marah atau benci kepadanya. “Moi-moi, kekasihku yang tercinta,” bisik Suma Boan, masih memegangi ke­dua tangan gadis itu, “alangkah rinduku kepadamu! Kau datang seperti seorang bidadari dari sorga yang turun ke dunia untuk menghibur hatiku. Moi-moi, aku tidak akan melepaskanmu lagi, jangan kau pergi meninggaikan aku lagi. Mari kita hidup bahagia di rumahku ini!” “Suma-koko, kau sudah mengenal hatiku. Perkara itu belum waktunya kita bicarakan. Kedatanganku ini membawa urusan yang amat penting. Lepaskan ta­nganmu dan mari kita bicara baik-baik.” Sian Eng menarik tangannya. Suma Boan tersenyum dan sengaja menekan jantung­nya yang berdebar saking girangnya, karena di depan gadis ini ia harus me­nyembunyikan perasaannya bahwa ia jauh lebih “cinta” pada kitab-kitab pusaka peninggalan Tok-siauw-kui daripada diri gadis ini. “Marilah, Adik Sian Eng, kita duduk di sana.” Ia menarik Sian Eng dan kedua­nya lalu duduk di atas dipan yang ter­dapat di kamar itu. Suma Boan tetap tidak melepaskan gadis itu, duduk di sampingnya sambil memeluknya. Sian Eng tidak menolak lagi dan ia berkata perlahan. “Koko, kau tentu maklum akan perasaan seorang gadis. Saking kaget dan duka hatiku, ketika di dalam perahu dahulu....” suaranya tersendat dan kedua pipinya menjadi merah sekali, “secara tidak sadar aku menyerangmu dan ke­mudian melarikan diri. Baru kemudian aku merasa betapa.... aku tak dapat hidup terpisah dari padamu, maka.... maka aku datang ke sini....” Girang sekali hati Suma Boan. Ia mengelus-elus rambut kepala gadis itu lalu berkata, “Aku tahu, Moi-moi. Aku.... aku lupa daratan waktu itu saking besarnya cintaku kepadamu. Tentang kitab-kitab itu.... eh, bukankah kau tadi bilang mau bicara tentang kitab?” Wajah Sian Eng berseri dan ia tersenyum lebar. “Kitab-kitab? Ah, belum kuceritakan kepadamu bahwa setelah aku pergi dari perahu, aku memasuki lagi gua rahasia dan mengambil semua kitab pe­ninggalan Tok-siauw-kui. Kau tahu kitab-kitab apa yang kudapatkan? Kitab raha­sia dari Siauw-lim-pai, kitab ilmu pedang dari Kun-lun, kitab rahasia tentang ilmu kesaktian Beng-kauw, ada pula kitab yang mengajarkan ilmu-ilmu mujijat ten­tang melawan maut, malah ada kubaca sepintas lalu judul sebuah kitab yang mengajarkan ilmu menghilang dan ter­bang!” Seperti seorang kelaparan mendengar cerita tentang makanan-makanan lezat, Suma Boan menelan ludah, akan tetapi sebagai seorang yang cerdik ia menahan gelora hatinya ini dan cepat memeluk Sian Eng. “Ah, kekasihku yang baik. Se­sungguhnya, soal kitab itu bagiku hanya soal kecil. Yang penting, yang selalu ku­rindukan, yang selalu kuimpikan, adalah dirimu, Adik Sayang! Akan tetapi aku khawatir sekali karena kau sudah men­dapatkan kitab-kitab itu, tentu kau men­jadi incaran orang-orang dunia kang-ouw. Akan lebih aman kalau kau tinggal bersamaku di sini, beserta kitab-kitab itu yang boleh kita pelajari bersama. Kita kelak akan menjadi suami isteri yang paling hebat di kolong langit! Di mana­kah sekarang kitab-kitab itu? Mari kita ambil dan bawa ke sini, Moi-moi.” Sian Eng tersenyum manis, biarpun hatinya penuh kebencian ketika pemuda yang ia cinta akan tetapi yang menghan­curkan cinta kasihnya dengan pengkhianat­an itu menciuminya mesra. “Itulah sebab­nya aku datang, Koko. Kitab-kitab itu kusembunyikan di tempat rahasia. Akan tetapi aku tidak berani mengambilnya sendiri dan membawanya ke sini. Kau benar, kalau sampai ketahuan orang kang-ouw, tentu mereka akan berusaha merampasnya. Marilah kau ikut denganku ke tempat itu, tidak jauh, kita bersama mengambil kitab-kitab itu dan membawanya ke sini. Akan tetapi.... apakah betul kau akan tetap setia kepadaku?” Sian Eng pura-pura memandang penuh curiga. “Ah, Sian Eng, kekasihku, apakan kau masih tidak percaya kepadaku?” Tiba-tiba pemuda itu berlutut di depan Sian Eng, merangkul kedua kakinya! Sejenak sepasang mata yang bagus itu mengeluar­kan sinar berapi. Alangkah inginnya ia menggerakkan tangan, sekali pukul ubun-ubun kepala yang tunduk di depannya itu ia akan dapat membunuh Suma Boan. Akan tetapi ia teringat akan banyaknya penjaga dan ia tentu akan terkurung dan berada dalam bahaya. “Mari kita pergi sekarang, Koko.” “Sekarang? Mengapa tergesa-gesa? Pula, berbahaya sekali mengambilnya di waktu siang. Lebih baik malam nanti kita pergi, Adikku.” Karena tahu bahwa kalau ia men­desak, Suma Boan pasti akan menaruh curiga, gadis itu terpaksa menyetujui. Pula, memang lebih baik pergi di waktu malam untuk melaksanakan rencananya yang sudah ia atur dengan Lin Lin ini. Ia harus berani berkorban, demi maksud hatinya membalas dendam. Hatinya perih dan makin sakit, akan tetapi Sian Eng rela menjadi permainan Suma Boan sebelum ia mendapat kesempatan meng­hancurkan orang yang telah membasmi kebahagiaan hatinya. Ia terpaksa menuruti kehendak Suma Boan terpaksa ia menye­rah dan menahan-nahan kemuakan hati­nya ketika Suma Boan membuktikan “cin­ta kasihnya”, yang sesungguhnya bukan lain hanya terdorong nafsu semata-mata. Makin bencilah hati Sian Eng, dan ketika hari terganti malam Suma Boan meng­gandeng tangannya keluar dari gedung, hampir Sian Eng tak kuat menahan ke­benciannya. Baru setelah mereka berjalan di dalam gelap, gadis ini mencucurkan air mata yang cepat-cepat ia usap de­ngan ujung lengan bajunya. Suma Boan kini percaya betul kepada Sian Eng. Siang tadi, gadis ini menyerah ikhlas kepadanya, tanda bahwa gadis ini benar-benar datang karena cintanya. Penyerahan gadis inilah menjadi bukti bagi­nya bahwa di balik kedatangan Sian Eng tidak ada rahasia apa-apa. Kalau tadinya ia menaruh curiga dan menyangka akan adanya jebakan, maka dengan penyerahan diri Sian Eng kepadanya, maka kecuriga­an itu lenyap sama sekali. Kini ia yakin bahwa Sian Eng benar-benar mencinta­nya, benar-benar datang hendak menye­rahkan diri sambil membawa kitab-kitab yang berharga. Maka dapat dibayangkan betapa bahagia rasa hati putera pangeran ini. Mereka memasuki hutan yang letak­nya di sebelah barat kota An-sui. Hutan yang tidak terlalu luas akan tetapi cukup gelap karena pohon-pohon besar memenuhi hutan itu. “Baik sekali kau tidak mengajak pe­ngawal, Koko. Urusan ini lebih baik tidak diketahui orang lain.” “Memang betul, Moi-moi. Kalau saja kau tidak membuktikan cinta kasihmu yang besar siang tadi, tentu aku akan mengajak pengawal-pengawal. Maklumlah, bukan aku kurang percaya kepadamu, akan tetapi perubahan di kota raja membuat musuh-musuhku mencari kesem­patan untuk menghancurkan aku. Di ma­nakah gua itu, Adikku?” “Di sebelah sana, sudah dekat. Mari!” Di dalam gelap itu, dengan “mesra” Sian Eng menggandeng tangan Suma Boan dan diajaknya berlari menuju ke tengah hutan. Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah gua yang depannya tertutup oleh rumput alang-alang. Sian Eng me­narik tangan Suma Boan, diajak memasuki gua yang gelap itu sambil menyingkap alang-alang yang tinggi menyembunyikan gua. “Mari masuk, kusembunyikan di dalam situ.” Mereka lalu memasuki gua yang cukup besar itu dengan jalan berindap-indap. Suma Boan mulai curiga dan ber­sikap waspada, akan tetapi karena tidak mendengar suara apa-apa, ia ikut dengan Sian Eng melangkah masuk ke dalam gua. Setelah mereka melangkah maju se­jauh lima meter, mereka bertemu dengan dinding gua. “Di mana kitab-kitabnya?” Suma Boan berbisik. Akan tetapi tiba-tiba Sian Eng merenggutkan tangannya. Suma Boan kaget. Gua itu gelap, ia melihat bayangan Sian Eng menjauhkan dirinya. “Moi-moi.... di mana kau? Mana kitabnya....?” Tiba-tiba matanya silau oleh sinar api yang dibuat orang dari luar dan beberapa detik kemudian, Lin Lin yang membawa obor di tangannya telah meloncat masuk, obor di tangan kiri, pedang bersinar kuning di tangan kanan! Juga Sian Eng menyambar sebuah obor, dinyalakannya dan menaruh obor itu di sudut gua. Keadaan menjadi terang menyeramkan. Suma Boan berdiri terbelalak. Matanya mencari-cari dan ternyata gua itu kosong sama sekali. Luasnya lima meter persegi. Di depannya kini berdiri dua orang gadis berdampingan dan menutup jalan keluar. Lin Lin dengan pedang ber­sinar kuning di tangannya. Sian Eng de­ngan kedua tangan terbuka, jari tangan­nya menegang, matanya terbelalak penuh kebencian. Diam-diam Suma Boan merasa ngeri juga, akan tetapi karena ia seorang laki-laki yang tabah dan berilmu tinggi, ia dapat menekan perasaannya dan pura-pura tidak dapat menduga kehendak me­reka. “Moi-moi.... adikku Sian Eng yang manis, mengapa tiba-tiba adikmu ini muncul? Dan manakah kitab-kitab yang kaujanjikan?” “Suma Boan manusia iblis! Kematian sudah di depan mata, masih pura-pura tidak tahu akan dosa-dosamu?” bentak Sian Eng dengan suara gemetar saking menahan kemarahan yang meluap-luap, kemarahan dan kebencian yang selama ini memenuhi dadanya, yang selalu ditahan-tahan dan ditutupi sikap kasih sayang untuk dapat memancing dan me­nipu Suma Boan. “Apa....? Eng-moi.... apakah maksudmu? Bukankah kau juga mencintaku se­perti aku mencintamu? Bukankah tadi.... kau menyerahkan diri sepenuhnya dengan rela dan suka kepadaku?” “Tutup mulutmu yang kotor!” bentak Sian Eng sambil melangkah maju penuh ancaman. “Ooooohhh, betapa bencinya aku! Makin benci mendengar kata-katamu. Suma Boan manusia berhati binatang, perbuatanmu yang biadab terhadap diriku di dalam perahu telah menodai cinta kasihku, telah merobek-robek hatiku, telah mengubah cintaku menjadi benci yang sebesar-besarnya. Aku ingin meng­ganyang jantungmu, ingin kuhirup darah­mu kukeluarkan isi perutmu!” Suma Boan kaget bukan main, merasa ngeri dan gentar. Mulai menyesallah hatinya mengapa ia terburu-buru menodai gadis ini yang ternyata tadinya benar-benar mencintanya. Akan tetapi semua itu telah terlanjur dan melihat bahwa yang menentangnya hanya dua orang gadis ini, tentu ia segera dapat mengusir rasa jerihnya. Ia tersenyum mengejek dan berkata. “Hemmm, Sian Eng. Dengan kepandai­anmu dan dibantu adikmu, apa kaukira akan mudah saja mengalahkan aku? Kau tahu, tingkat ilmu kepandaianku jauh melebihimu. Juga jauh melebihi kepandaian adikmu. Insyaflah akan hal ini dan kalian ini nona-nona manis, sayang se­kali kalau sampai tewas di tanganku. Lebih baik kalian hayo ikut denganku, hidup penuh kesenangan di istanaku sambil memperdalam ilmu silat....” “Laki-laki ceriwis....!” Lin Lin membentak dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning, menyambar ke arah leher Suma Boan. Pemuda ini terkejut. Tak disangkanya gerakan Lin Lin demikian cepatnya maka ia segera mengelak de­ngan meliukkan tubuh ke bawah sambil mendorong dengan tangannya ke arah siku yang memegang pedang ketika pe­dang itu lewat di atas kepalanya. Namun Lin Lin yang bersilat dengan ilmu sakti­nya yang baru, yaitu Cap-sha Sin-kun, segera dapat merubah letak pedangnya yang kini membalik ke bawah, menyam­bar dengan gerakan pergelangan tangan sehingga tangan Suma Boan yang tadinya hendak mencengkeram siku, kini berbalik disambar mata pedang! “Aaaiiihhh!” Suma Boan yang sudah menarik lengannya itu kini menjerit sambil melompat ke atas dan berjungkir balik ke belakang karena kembali sinar pedang Lin Lin yang tadi dapat dielakkan­nya itu sudah berubah menjadi segulung­an sinar kuning yang berpusing di sekitar dada dan lehernya! Hanya dengan cara berjungkir balik seperti tadi maka ia selamat. “Bersiaplah menerima hukuman!” ben­tak Sian Eng dan kembali Suma Boan terkejut sekali karena tiba-tiba angin menyambar berputaran dari arah Sian Eng ketika gadis itu menerjangnya de­ngan pukulan yang gerakan-gerakannya aneh sekali. Suma Boan baru saja ter­bebas dari ancaman maut pedang Lin Lin, kini ia cepat menggerakkan tubuh­nya miring ke kiri sambil mengibaskan tangannya dengan tenaga sin-kang se­penuhnya untuk menangkis. “Wuuuttt! Wuuuttttt!” Angin pukulan kedua fihak yang disertai tenaga sin-kang itu saling sambar dan baiknya Suma Boan adalah seorang jagoan yang terlatih maka biarpun ia merasa tergetar oleh hawa pukulan mujijat dari Sian Eng, namun tidak membuatnya roboh dan tangkisan­nya tadi berhasil. “Singgg....!” Kembali sinar kuning pedang Lin Lin menyambar, disusul pu­kulan Sian Eng yang tidak kalah me­ngerikan daripada sambaran pedang. Ke­dua orang gadis itu menerjangnya susul-menyusul dan bertubi-tubi dengan ke­cepatan yang luar biasa dan gerakan yang amat aneh. “Kalian hendak mengadu nyawa? Boleh!” Akhirnya Suma Boan memekik marah karena ia tidak melihat jalan keluar lagi. Betapapun juga, dalam hal ilmu silat, ia lebih banyak pengalaman kalau dibandingkan dengan dua orang gadis ini. Maka cepat ia mengerahkan tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari beberapa orang guru pandai, di antaranya terutama sekali It-gan Kai-ong. Bertahun-tahun putera pangeran ini menjagoi daerah An-sui, bahkan namanya terkenal sampai di kota raja, ditakuti orang dan pengaruhnya besar sekali. Sa­king lihainya, ia sampai mendapat juluk­an Lui-kong-sian atau Dewa Geledek karena pukulan tangannya selalu ampuh dan sekali pukul cukup untuk mengantar nyawa lawan ke akherat. Entah berapa banyaknya lawan yang sudah terbunuh oleh pukulannya. Ketenaran namanya dan kehebatan ilmunya inilah yang membuat Suma Boan menjadi manusia sombong, memandang rendah orang lain, dan ke manapun ia pergi, ia tidak pernah mem­bawa senjata karena ia menganggap bah­wa kedua pukulannya sudah cukup untuk mengalahkan musuh yang bagaimanapun juga. Di antara banyak macam kepandaian­nya menggunakan tangan kosong, yang paling hebat adalah ilmu pukulan yang ia pelajari dari It-gan Kai-ong yaitu yang disebut Ho-tok-ciang (Tangan Racun Api). Pukulan ini kalau dipergunakan, hebatnya bukan kepalang karena dapat membuat badan lawan yang terpukul menjadi ha­ngus! Jarang sekali Suma Boan meng­gunakan ilmu pukulan ini, karena sung­guhpun hebat akibatnya kalau mengenai tubuh lawan, juga merugikan diri sendiri karena pengerahan sin-kang di tubuhnya yang dibarengi dengan penggunaan racun yang panas seperti api, dapat merangsang dirinya sendiri sehingga dapat mendatang­kan luka pada kedua lengannya. Menghadapi pengeroyokan Lin Lin dan Sian Eng yang mempunyai gerakan-gerakan aneh mujijat itu, mula-mula Suma Boan menggunakan semua ilmu silat yang ada untuk melawan. Namun baru dua puluh jurus lewat saja ujung pedang Lin Lin sudah menggurat pahanya dan pukulan Sian Eng yang ditangkisnya meleset me­ngenai pundak sehingga membuatnya ter­huyung-huyung. Kagetlah Suma Boan dan tahulah ia sekarang bahwa ia berada dalam bahaya. Kiranya dua orang gadis ini bukanlah Lin Lin dan Sian Eng se­tahun yang lalu, jauh selisihnya. Dua orang gadis ini mainkan ilmu silat yang amat aneh, ganas dan selain itu, tenaga mereka secara ajaib telah menjadi ber­puluh kali lebih kuat daripada dahulu. “Hiaaattt!” Ketika Sian Eng mener­jang lagi, Suma Boan memekik dan me­loncat ke kanan sampai mepet dinding gua. Secepat kilat pemuda ini mengeluarkan racun dari sakunya dan digosok-gosok­kan kedua telapak tangannya dengan racun bubuk itu sehingga bubuk itu han­cur memasuki telapak tangannya. Ketika ia membuka kedua lengannya, telapak tangan itu kelihatan menyala! Menyala dan mengeluarkan asap seperti arang dibakar. Hawa panas segera memenuhi gua. “Awas tangannya, Enci!” Lin Lin ber­seru dengan kaget. Akan tetapi gadis ini tidaklah menjadi gentar sungguhpun la­wan menggunakan ilmu yang begitu aneh. Malah khawatir kalau-kalau Sian Eng celaka oleh tangan api itu, Lin Lin sudah menerjang maju lebih dulu, memutar pedangnya dan sekaligus ia menggunakan jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Me­ngeluarkan Kilat), sebuah di antara tiga belas jurus ilmu saktinya. Sian Eng juga mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya mencelat ke atas dan dari atas ia menyambar turun dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya seperti hendak mencengkeram kepala lawannya. Di antara kedua orang pengeroyok­nya, Sian Englah yang amat dibuat ngeri oleh Suma Boan. Ia maklum bahwa gadis ini menaruh kebencian besar kepadanya, menaruh dendam yang hanya dapat di­redakan oleh darah dan nyawa. Oleh ka­rena itu, begitu melihat datangnya se­rangan mereka yang demikian dahsyat­nya, Suma Boan segera mendahului meng­gempur Sian Eng yang menyambar turun dari atas dengan dorongan kedua tangan­nya yang mengandung tenaga Ho-tok-ciang. Melihat ini, Sian Eng nekat. Ia segera mengerahkan tenaga menurut ajaran kitab-kitab yang ia temukan di gua rahasia bawah tanah, lalu memekik tinggi. Belum juga kedua pasang tangan itu bertemu, hawanya sudah menyusup ke tulang sumsum. Sian Eng merasa betapa hawa panas memasuki kedua lengannya, sebaliknya Suma Boan kaget sekali kare­na serasa kedua lengannya dingin dengan mendadak. Tiba-tiba mata Suma Boan menjadi silau oleh cahaya kuning. Ia menjerit dan cepat mempergunakan tangan kiri untuk mencengkeram pedang Lin Lin yang me­nyambar. Kalau tangannya sudah dimasuki tenaga Ho-tok-ciang macam itu, ia tidak takut untuk menangkis atau mencengke­ram senjata tajam. Gerakan inilah yang mencelakakan Suma Boan. Andaikata ia menggunakan seluruh tenaganya menyambut Sian Eng, tentu gadis itu akan kalah kuat dan cela­ka oleh hebatnya hawa pukulan Ho-tok-ciang. Atau andaikata ia menggunakan kedua tangannya dan mengerahkan selu­ruh tenaga untuk menyambut pedang Lin Lin, tentu pedang itu akan terampas dan Lin Lin akan menemui bahaya maut. Akan tetapi setelah Suma Boan membagi perhatian dan tenaga, juga membagi kedua tangannya, kini berbalik ia yang kalah kuat. Terdengar jerit mengerikan ketika mereka bertiga itu dalam detik yang sama saling berbenturan. Siang Eng ter­huyung mundur, juga Lin Lin terhuyung mundur, akan tetapi Suma Boan terlem­par ke belakang, dan hanya dapat berdiri sambil bersandar dinding gua. Tangan kanannya lumpuh, tangan kirinya luka berdarah dan hilang dua buah jarinya. Sejenak ia tertegun, akan tetapi tiba-tiba rasa sakit dari kedua tangannya tak tertahankan lagi. Tangan kanannya yang kalah kuat ketika bertemu dengan kedua tangan Sian Eng, membuat tenaga be­racun Ho-tok-ciang membalik dan kini rasa panas berselubung rasa dingin akibat hawa pukulan Sian Eng memasuki dan menjalar perlahan-lahan dalam lengan­nya. Bukan main nyerinya, sampai seperti menusuk-nusuk jantung. Adapun tangan kirinya yang termakan Pedang Besi Ku­ning, juga terasa perih dan gatal. Pedang Besi Kuning adalah pedang pusaka yang tidak beracun, akan tetapi mengandung khasiat anti racun. Karena lengan kiri Suma Boan tadinya penuh hawa beracun, begitu termakan oleh pedang ini, maka hawa yang anti racun itu memerangi racun di tangan itu, maka mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa. “Aduh.... aduh.... mati aku.... aduh tanganku....!” Suma Boan tidak kuat menahan. Tubuhnya terguling, ia merintih-rintih lalu bergulingan ke sana ke mari seperti cacing kepanasan, mengaduh-aduh dan minta-minta ampun. Pakaiannya ro­bek semua ketika ia bergulingan, muka­nya menjadi kotor dan matanya mendelik mulutnya berbusa. “Lin-moi, pinjam pedangmu!” Lin Lin yang pernah menyaksikan kekejaman hati Sian Eng ketika mereka membunuh It-gan Kai-ong, merasa ngeri dan ragu-ragu untuk memberikan pedang­nya. Akan tetapi mendadak tangan kiri Sian Eng mencengkeram ke arah muka­nya dengan ganas. Lin Lin terkejut se­kali dan mengelak, akan tetapi pada detik selanjutnya Pedang Besi Kuning sudah terampas dari tangannya. Terpaksa ia hanya dapat berdiri memandang dengan hati ngeri. “Eng-moi.... jangan.... ampunkan aku!” “Ampun? Hi-hi-hik, ampun kau bi­lang?” Pedang itu berkelebat dan “crok! crok!” dua kali pedang menyambar putus­lah kedua lengan Suma Boan sebatas pundak! “Aduhhh....!” Suma Boan menjerit dan bergulingan. Darah bercucuran keluar dari kedua pundaknya yang buntung. Ce­laka baginya, pemuda bangsawan ini te­lah melatih diri sedemikian rupa sehingga daya tahan tubuhnya amat kuat. Lain orang tentu sudah roboh pingsan dan tak­kan merasakan sakit lagi. Akan tetapi dia tidak pingsan dan dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan yang ia rasakan. “Hi-hi-hik! Kau jadi buntung! Hayo coba kulihat apakah kau masih mampu berbuat keji kepada wanita!” Kembali Sian Eng sambil tertawa-tawa menyeram­kan menggerakkan pedangnya membacok Suma Boan yang ketakutan itu mukanya pucat penuh peluh. Ia masih mampu menggulingkan ke sana ke mari untuk membebaskan diri daripada bacokan pe­dang. Namun pedang itu membayanginya terus dan akhirnya “crok! crok!” disusul jeritan panjang dari mulut Suma Boan. “Aduh.... ampun.... ampun....!” Biarpun kedua kakinya sudah terbacok putus sebatas paha, tubuh Suma Boan masih mampu bergerak-gerak dan sepasang matanya melotot seakan-akan hendak meloncat keluar dari dalam rongga ma­tanya. “Hi-hi-hi-hik! Kau begitu ingin men­jadi jago nomor satu di dunia dan untuk itu kau rela menipuku? Nah, setelah kaki tanganmu buntung, apa kau masih ingin menjadi jagoan?” “Eng.... moi...., ampun....” Suma Boan masih dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara serak. Akan tetapi agaknya sebutan terhadap dirinya ini menambah keganasan Sian Eng karena kembali pedangnya menyambar dan terbukalah perutnya. Tangan kiri Sian Eng menyusul, cepat membetot keluar jantung yang basah oleh darah sehingga tangan kirinya berlepotan darah. Tubuh Suma Boan berkelojotan sebentar lalu diam terkulai. Sian Eng tertawa-tawa lagi sambil menjilati darah di tangannya ke­mudian ia makan jantung itu. “Hi-hik, kuminum darahmu, kuganyang jantungmu....!” “Enci Sian Eng....!” Lin Lin menjerit penuh kengerian sambil melompat mendekati, tangannya merampas pedang. “Enci Eng, apakah kau telah menjadi gila? Kau kejam dan liar!” Jantung itu sudah memasuki perut Sian Eng. Kini ia menunduk, memandang tubuh Suma Boan yang sudah tidak karu­an macamnya, kaki tangan buntung, pe­rut robek dan isinya berceceran keluar. Tiba-tiba Sian Eng menubruk dan me­nangis sambil memeluk Suma Boan. “Suma-koko.... kenapa kau menyia-nyiakan cintaku....?” Ia menangis menggerung-gerung, membuat Lin Lin berdiri tertegun dengan bulu roma berdiri. Hati­nya tidak karuan rasanya. Jelas bahwa encinya ini tidak beres lagi otaknya. “Enci Sian Eng, ingatlah! Dia memang jahat, akan tetapi kita sudah berhasil membunuhnya. Mari kita pergi dari sini!” Tiba-tiba Sian Erg mengangkat muka­nya yang basah air mata, lalu memben­tak, “Pergi dari sini? Tak tahukah kau bahwa aku tak dapat meninggalkan ke­kasihku? Dialah satu-satunya pria yang kucinta. Kau pergilah, jangan ganggu kami!” Lin Lin menggeleng kepalanya. Watak encinya suaah amat berubah dan kalau ia menggunakan kekerasan tentu encinya akan mengamuk. Ia ngeri memikirkan akibatnya kalau mereka berdua sampai bentrok. Biarpun ia menguasai ilmu silat tinggi, namun encinya juga mewarisi ilmu yang biarpun sama halnya dengan dia sendiri, belum masak latihannya, namun harus ia akui bahwa encinya memiliki ilmu yang aneh mujijat. Pertempuran antara mereka akan hebat sekali akibat­nya. Maka dengan perasaan ngeri, apa boleh buat ia meninggalkan tempat itu, cepat lari menuju ke kota raja. Biarlah, kalau encinya sudah kumat penyakit gilanya, ia akan pergi sendiri mencari Suma Ceng, wanita yang menjadi kekasih Su­ling Emas, yang menghalangi pertalian kasih antara dia dan Suling Emas. Karena Lin Lin melakukan perjalanan cepat sekali maka pada keesokan harinya pada senja hari ia telah tiba di kota raja. Sungguh pun kini kaisar yang memegang tampuk kerajaan sudah diganti, namun keadaan di kota raja tampaknya biasa saja, tidak ada perubahan. Bahkan Lin Lin melihat bahwa di dalam kota tidak tampak berkeliaran anggauta-ang­gauta pasukan seperti keadaan dulu. Hal ini memang satu-satunya perubahan yang diadakan oleh kaisar yang baru, yaitu Sung Thai Cung. Setelah kalsar baru ini menggantikan kedudukan kakaknya, ia memperkuat keadaan pasukannya dan memperkuat penjagaan tapal batas atau wilayah Kerajaan Sung, mengerahkan seluruh balatentara yang ada untuk men­jaga di perbatasan dan mencegah gang­guan dari kerajaan tetangga. Malam hari itu, dengan menggunakan ilmunya, Lin Lin berkelebat di atas gen­teng rumah gedung besar Pangeran Kiang, suami Suma Ceng. Mudah saja bagi Lin Lin mendapatkan rumah Pangeran Kiang karena ketika ia bertanya tentang rumah ipar dari Suma Boan, tidak ada orang di kota raja yang tidak tahu. Seperti juga dahulu, rumah gedung ini masih indah dan mewah. Akan tetapi keadaannya sunyi, padahal waktu itu malam baru saja tiba dan bulan hampir penuh menghias angkasa menciptakan malam indah. ­Tiba-tiba Lin Lin yang berada di atas genteng rumah itu mendengar suara anak-anak yang bermain-main sambil tertawa-tawa. Cepat ia melompat ke arah bela­kang dan ternyata dalam sebuah taman tampak tiga orang anak sedang bermain-main, diasuh oleh dua orang pelayan. Adapun di dekat kolam ikan duduk se­orang wanita cantik yang termenung memandang bayangan bulan di dalam air. Hanya kadang-kadang saja wanita ini menoleh ke arah anak-anak yang ber­main-main dengan gembira, akan tetapi segera ia tenggelam pula dalam lamunan­nya. Dari atas genteng, Lin Lin memper­hatikan wanita itu. Lampu taman yang diselubungi kertas berwarna-warni men­jatuhkan cahayanya pada wajah yang ayu dan tubuh yang bentuknya ramping, gerak gerik yang halus. Makin panas hati Lin Lin. Kalau benar inilah wanita yang bernama Suma Ceng pantas kalau Suling Emas jatuh cinta. Wanita ini cantik dan memiliki sikap agung seperti biasa dimiliki puteri bangsawan. Tentu saja Su­ling Emas memilih wanita ini daripada dia. Dia seorang gadis kang-ouw yang kasar dan liar! Makin dipandang, makin panas hati Lin Lin dan tiba-tiba tubuh­nya sudah melayang turun dan langsung ia lari ke depan wanita itu. Wanita itu memang betul Suma Ceng adanya. Semenjak peristiwa dengan Suling Emas yang menyerang suaminya dan ia membela suaminya mati-matian, sering kali wanita ini duduk melamun. Kadang-kadang ia menyesali perbuatannya karena sesungguhnya, harus ia akui di dalam hati bahwa cintanya terhadap pendekar itu tak pernah lenyap, tak pernah luntur dari hatinya, maka perlawanannya ter­hadap Suling Emas untuk membela suaminya itu tentu saja menghancurkan hati­nya. Ia maklum bahwa perbuatannya itu tentu merupakan tusukan yang menyakit­kan hati terhadap bekas kekasihnya. Akan tetapi, pikiran ini segera ia usir dengan kesadaran bahwa sesungguhnya hal itu merupakan jalan terbaik baiknya. Lebih baik membiarkan Suling Emas pergi dan membencinya, tidak akan kembali lagi selamanya agar pendekar itu dapat me­lupakannya, tidak tersiksa lagi hatinya. Juga dia sendiri dapat menjaga nama baik sebagai seorang isteri yang setia kepada suaminya. Dan yang jelas, semen­jak peristiwa itu terjadi, suaminya, Pa­ngeran Kiang, bersikap manis dan baik kepadanya. Ketika Suma Ceng melihat berkelebatnya orang dan secara tiba-tiba melihat seorang gadis berdiri di depannya, ia kaget sekali dan cepat bangkit berdiri. Tadinya ia kaget dan mengira Suling Emas yang datang lagi, akan tetapi se­telah melihat bahwa yang datang seorang gadis, ia terheran-heran. Akan tetapi ketabahannya kembali ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis muda yang cantik sekali. Dengan senyum tenang Suma Ceng bertanya. “Siapakah kau dan apa kehendakmu datang secara begini?” Lin Lin meraba gagang pedang, se­jenak ia menentang pandang mata wanita itu sehingga dua pasang mata yang sama jeli dan sama tajam itu saling tatap penuh selidik. Kemudian Lin Lin ber­tanya, suaranya lantang. “Apakah kau yang bernama Suma Ceng?” Suma Ceng mengerutkan keningnya. Sebagai seorang nyonya yang selalu men­junjung tinggi nama suaminya, segera ia menjawab, “Aku adalah Nyonya Pangeran Kiang dan siapakah kau?” *** “Tapi dulu sebelum menikah bernama Suma Ceng?” Lin Lin mendesak lagi. Terpaksa Suma Ceng mengangguk. “Betul, dahulu aku bernama Suma Ceng, dan kau mau apakah tanya-tanya nama kecil orang lain?” “Srettt!” Pedang Besi Kuning sudah berada di tangan Lin Lin.  “Mau membunuh engkau!” bentak Lin Lin dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning yang menyambar ke arah leher Suma Ceng. Gerakan ini demikian cepat dan tidak terduga sehingga nyonya muda itu biarpun pandai silat tak sempat untuk menyelamatkan diri lagi, hanya berdiri terkesima dengan mata terbuka lebar. Pedang Besi Kuning menyambar ganas! “Tranggggg!” Lin Lin terpental ke belakang berputar-putar sampai lima kali putaran baru ia dapat menghentikan ka­kinya ketika pedangnya bertemu dengan sesuatu yang amat hebat tenaganya, membuat pedangnya itu terpental dam membawa pula dirinya berputaran. Ia kaget dan marah sekali, namun tidak gentar karena ia memang sudah siap untuk bertempur mati-matian dalam usa­hanya membunuh wanita yang dibencinya. Cepat ia meloncat dan membalikkan tubuh, siap dengan pedang di depan dada. Tapi mendadak tubuhnya gemetar, wajah­nya pucat dan tangan yang memegang pedang menggigil. Kiranya yang menang­kis pedangnya, yang kini berdiri tegak di depan Suma Ceng, dengan suling di ta­ngan, yang memandangnya dengan kening berkerut dan mata sayu, adalah.... Suling Emas! “Lin Lin, terlalu sekali engkau.... hendak membunuh orang yang tidak ber­salah apa-apa?” Suling Emas menegur sambil menggeleng-geleng kepalanya, wajahnya yang tampan itu kelihatan sedih sekali. Teguran ini meledakkan gunung berapi kemarahan yang mendesak di hati Lin Lin. Tiba-tiba saja air matanya keluar bercucuran dan ia menudingkan pedangnya ke arah Suling Emas. “Kau....! Kau....! Kau yang telah menghinaku.... kini membela dia....! Ah, aku benci padamu! Benci....!” Sambil terisak menangis Lin Lin meloncat dan lari pergi secepatnya. “Lin Lin, tunggu....!” Suling Emas mengejar. Di taman itu tinggal Suma Ceng yang berdiri terlongong, sedangkan anak-anaknya ketakutan dan dua orang pelayan sibuk menghibur mereka dengan muka pucat karena takut pula. “Mari kita masuk, dan jangan cerita­kan kepada siapapun juga tentang peris­tiwa tadi,” akhirnya Suma Ceng berkata, kemudian ketika berada di dalam kamarnya, tak tertahankan lagi nyonya ini menjatuhkari diri di atas pembaringan dan menelungkup sambil menangis. “Lin Lin, tunggu....!” Suling Emas berteriak dan mempercepat pengejaran­nya. Lin Lin seperti orang gila, berlari cepat sekali karena ia mengerahkan ilmu lari berdasarkan tenaga yang ia peroleh dari latihan ilmunya yang baru di bawah petunjuk Empek Gan. Betapapun juga, latihannya yang masih belum masak itu tidak memungkinkan ia dapat melarikan diri daripada pengejaran Suling Emas. Akhirnya, jauh di luar kota raja, ia da­pat disusul oleh Suling Eruas yang mendahuluinya dan membalik, menghadang di tengah jalan. “Lin-moi, berhenti sebentar, mari kita bicara baik-baik....” Dengan air mata membasahi pipinya, Lin Lin melintangkan pedangnya di depan dada dan matanya yang tajam menatap wajah pendekar itu sambil berkata ketus, “Bicara apa lagi? Kau sudah puas meng­hinaku dua kali! Kau menyusul aku apa­kah hendak menghina lagi dan melihat aku mampus?” air matanya makin deras bercucuran. Dengan suara sedih Suling Emas berkata, “Lin Lin.... Lin-moi, mengapa kau berkata demikian? Tidak sekali-kali aku berani menghinamu. Ah, Lin Lin, tidak tahukah kau betapa hancur hatiku meng­hadapi semua ini? Kau agaknya tahu sekarang, bahwa.... bahwa aku adalah kakakmu sendiri. Tidak saja aku jauh lebih tua darimu, tapi juga aku.... aku adalah kakakmu, Lin Lin. Aku tidak menghina....” “Cukup!” Lin Lin membentak di an­tara isak tangisnya, “Katakanlah bahwa kau memandang aku sebagai seorang gadis yang tak tahu malu, seorang gadis yang rendah! Kau bukan kakakku, ini kau pun tahu jelas. Aku seorang puteri Khi­tan, aku hanya anak pungut ayahmu, aku bukan she Kam! Kita bukan sedarah da­daging, bukan seketurunan. Tentang usia.... sudahlah, tentu saja kau mengang­gap aku seorang gadis tak berharga! Kau.... kau mencinta Suma Ceng yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Ah, mengapa kau tidak bunuh saja aku?” Kembali Lin Lin menangis. Suling Emas menarik napas panjang. “Kau betul. Memang aku pernah men­cintanya, mencintanya sebelum ia me­nikah dengan Pangeran Kiang. Namun kami tidak beruntung, dan dia sudah bahagia di samping suaminya, aku.... aku sudah melupakan perhubungan kami yang lalu. Karena inilah Lin-moi.... karena aku merasa bahwa aku sudah pernah mencinta orang lain, ditambah lagi kenyataan bahwa kau sejak kecil menjadi puteri ayahku, diperkuat dengan kenyata­an bahwa aku jauh lebih tua daripadamu, bagaimanapun juga.... tak mungkin aku mau merusak hidupmu. Kau masih muda, jelita, dan perkasa, lagi pula kau Puteri Khitan. Banyak di dunia ini pria yang jauh melebihi aku segala-galanya, menantimu....” “Cukup! Kau hendak menambah luka di hatiku? Kau sengaja menghancurkan hatiku yang sudah sakit ini? Alangkah kejamnya kau! Alangkah bencinya aku kepadamu!” Lin Lin menggerakkan pe­dangnya dengan ancaman hendak me­nusukkan senjata ini di dada Suling Emas. “Bagus begitu.... kau tusuklah dada ini! Lebih baik begitu, Lin-moi. Untuk apa aku hidup lebih lama lagi kalau hi­dupku hanya mendatangkan sengsara bagi banyak orang?” Suling Emas berhenti sejenak, meramkan matanya membayangkan wajah Suma Ceng, juga wajah Tan Lian yang menjadi korban asmara, ke­mudian ia membuka lagi matanya. “Sudah kupenuhi kewajibanku mewakili ibu meng­hadapi Thian-te Liok-koai, sudah kupenuhi kewajibanku bertemu dengan adik-adikku seperti pesan ayah. Kautusuklah dadaku!” Karena Lin Lin memegang pedangnya dengan gerakan menusuk, maka ketika Suling Emas menubruk ke depan, tak dapat dicegah lagi pedangnya menusuk dada Suling Emas. Lin Lin terkejut dan membuang muka sambil menutupinya dengan tangan kiri. Tangannya yang me­megang pedang gemetar sehingga pedang itu menyeleweng, menggores kulit dada kemudian ujung pedang menancap di pundak kanan Suling Emas! Ketika merasa betapa pedangnya me­nusuk daging, Lin Lin menjerit kecil dan menarik pedangnya, berdiri terbelalak dengan muka pucat. Suling Emas masih berdiri, mulutnya tersenyum sedih, darah mengucur keluar membasahi bajunya. “Mengapa kepalang tanggung, adikku? Tusuklah lagi, yang tepat.... ini dadaku, aku rela mati untuk membebaskanmu dari derita....” Makin besar mata Lin Lin terbelalak, kemudian ia menjerit lagi dan terisak lari meninggalkan tempat itu. Suling Emas terhuyung-huyung kemudian roboh pingsan. *** “Berhenti! Menyerahlah untuk menjadi tawanan kami!” terdengar bentakan keras dan belasan orang berloncatan keluar dari balik pohon dan segera mereka me­ngurung Lin Lin yang berdiri tenang. Sekali pandang tahulah Lin Lin bahwa ia dikurung oleh para perajurit Khitan, bah­kan di antaranya ada yang ia kenal se­bagai perwira-perwira yang pernah ikut rombongan ke Nan-cao menghadiri pe­rayaan Beng-kauw. Dan di belakang be­lasan orang ini muncul pula rombongan yang merupakan pasukan berjumlah lima puluh orang lebih, lengkap dengan senjata tajam. Sikap mereka rata-rata galak dan tangkas, dan memang suku bangsa Khitan terkenal sebagai orang-orang yang berjiwa gagah perkasa, sudah biasa akan kesulitan hidup yang membuat mereka kuat lahir batin. Namun menghadapi pengurungan ba­nyak orang itu Lin Lin tidak menjadi gentar. Di dalam hatinya timbul perasaan bahwa mereka ini adalah orang-orangnya, bukan musuh. Maka sambil berdiri tegak dan bertolak pinggang ia menghardik. “Kalian ini mau apa? Mengapa hendak menawan aku? Tidak tahukah siapa aku? Aku adalah Puteri Yalina, puteri mah­kota yang berhak akan mahkota Kerajaan Khitan!” Sikapnya yang agung dan kata-katanya yang mantap ini meragukan para perajurit. Akan tetapi seorang komandan ber­kata keras, biarpun kata-katanya tidak kasar. “Kami hanya menerima perintah dari Lo-ciangkun, bahwa apabila Nona muncul di wilayah ini, kami harus me­nawan Nona.” Lin Lin tahu siapa yang dimaksudkan dengan Lo-ciangkun (panglima tua) itu. Ia tersenyum mengejek. “Hemmm, siapa takut iblis Hek-giam-lo? Kalian ini bangsa Khitan yang terkenal gagah perkasa, yang sejak dahulu setia kepada nenek moyangku, menjadi abdi-abdi setia dari kakekku, raja besar Kulukan, mengapa sekarang bersikap pengecut, tunduk ke­pada perintah seorang iblis seperti Hek-giam-lo?” “Kami bukan pengecut!” bantah komandan itu dengan muka merah. “Akan tetapi kami harus tunduk terhadap perintah Lo-ciangkun yang menjadi keper­cayaan sri baginda. Kalau kami tidak melakukan perintah, tentu kami dihukum mati. Sudah banyak contohnya pembang­kang yang dihukum mati secara mengeri­kan. Oleh karena itu selain kami takut dihukum, juga kami sayangkan kalau sampai Nona menerima hukuman dari Lo-ciangkun.” “Hemmm, siapa takut? Kalian tahu betapa kejamnya iblis Hek-giam-lo, kejam dan menjadi tokoh penjahat di dunia yang hanya menodai nama besar Khitan! Apakah dahulu kakekku, raja besar Ku­lukan sekejam itu? Baru sekarang, se­telah paman tiriku Kubakan menjadi raja dan dibantu Hek-giam-lo, terjadi ke­kejaman-kekejaman. Hek-giam-lo adalah pengkhianat. Dahulu juga seorang panglima kakekku, akan tetapi karena berdosa kepada mendiang ibuku, maka mukanya menjadi seperti iblis, dan dia membantu paman tiriku yang tidak berhak akan kedudukan raja. Lihat, kalau aku yang me­warisi mahkota yang menjadi hakku, aku tidak akan berlaku kejam. Kalian sudah menghinaku, hendak menawanku, akan tetapi aku tidak akan membunuh kalian.” Mau tidak mau komandan itu ter­senyum. “Nona, Lo-ciangkun mengandalkan kepandaiannya yang setinggi langit. Nona hendak mengandalkan apa untuk melakukan kekejaman?” “Eh, kau memandang rendah? Keparat! Lihat baik-baik!” Dengan kecepatan kilat Lin Lin menggerakkan tubuhnya, melaku­kan jurus sakti memukul dan menendang ke depan. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan.... enam orang Khitan berikut komandan tadi berjungkir-balik dan jatuh tumpang tindih, tanpa mereka ketahui mengapa mereka dapat jatuh bangun seperti itu! “Nah, kaukira aku tidak dapat menyiksa kalian dan membunuh kalian se­cara kejam kalau kukehendaki? Akan tetapi biarpun kalian keterlaluan, aku tetap memaafkan kalian karena kalian adalah bangsaku dan orang-orangku. Ba­ngunlah!” Enam orang itu meringis-ringis dan bangun, akan tetapi kesetiakawanan me­reka membuat pasukan itu bergerak dan merapatkan pengepungan. Melihat enam orang kawan mereka dirobohkan Lin Lin, mereka yang tidak mendengar kata-kata Lin Lin tadi kini maju mendesak dan siap untuk mengeroyok gadis itu dalam kepungan itu. Melihat ini Lin Lin mem­bentak. “Mundur kalian! Benar-benarkah kalian ini akan melupakan darah nenek moyang­ku dan membantu pengkhianat? Belum cukupkah bukti tadi bahwa aku cukup kuat akan tetapi tidak mau membunuh kalian yang kusayang sebagai rakyatku? Awas, kalau memang kalian ini hanya terdiri dari orang-orang yang hanya tun­duk kalau diperlakukan kejam, jangan salahkan aku terpaksa menggunakan ke­kerasan!” Akan tetapi orang-orang Khitan itu tidak mengenal takut. Mereka mendesak makin dekat dan sikap mereka meng­ancam. Tiba-tiba mata mereka menjadi silau oleh sinar kuning terang yang ber­gulung-gulung ketika Lin Lin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkannya dengan cepat di atas kepalanya. “Mundur! Kalian tidak melihat ini? Pedang pusaka Besi Kuning, pedang men­diang ibuku Puteri Tayami, siapa berani melawan ini? Hayo maju, siapa maju akan kupenggal kepalanya!” Semua orang Khitan mengenal belaka pedang ini. Mereka yang masih muda dan belum pernah menyaksikan pedang ini, setidaknya pernah mendengar dongeng bermacam-macam tentang pedang ini yang katanya dahulu adalah pemberian raja dewa kepada nenek moyang Raja Khitan. Mereka serentak mundur dan muka mereka menjadi pucat. “Kalian tahu, hanya pedang pusaka inilah yang menjadi tanda. Siapa meme­gangnya dialah yang patut menjadi raja di Khitan. Dahulu pedang ini terlepas dari tangan Kubakan, terampas oleh Kaisar Sung. Raja macam apa dia itu se­hingga melepaskan pusaka kerajaan? Dia tidak patut menjadi raja dan dia hanya­lah anak dari selir kakek Kulukan. Ibu­kulah puteri mahkota, dan karena aku anaknya, maka akulah keturunan langsung dari kakek Kulukan, dan aku, Puteri Yalina, yang berhak memakai mahkota Kerajaan Khitan. Hayo, siapa berdiri di fihakku dan siapa berani menentangku?” Sambil berkata Lin Lin mengacungkan pedangnya ke atas, berdiri tegak dan sikapnya gagah dan agung. Anehnya biar­pun belum banyak ia mempelajari bahasa Khitan ketika ia ditawan Hek-giam-lo, namun kini dia dapat bicara dengan lan­car dalam bahasa itu. Memang panggilan darah agaknya yang membuat ia merasa tidak asing dengan suku bangsa dan bahasa Khitan. Apalagi ia adalah keturunan dari orang-orang yang berdarah Kerajaan Khitan. Pada saat orang-orang Khitan itu ragu-ragu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini, tiba-tiba di bagian kiri orang-orang itu bergerak minggir, memberi jalan kepada rombongan yang datang. Di antara mereka ada yang berkata dengan suara membayangkan kelegaan hati. “Bagus, Pek-bin-ciangkun tiba! Hanya dialah yang dapat memberi keputusan, kita ini perajurit biasa yang tunduk pe­rintah!” Lin Lin cepat menengok dan ia melihat bahwa yang datang betul adalah Panglima Khitan yang terkenal itu, yang dahulu mewakili Kerajaan Khitan ketika datang pada pesta Beng-kauw. Panglima yang berwajah putih ini datang bersama belasan orang perwira pembantunya dan mereka semua memandang ke arah Lin Lin dengan pandang mata penuh selidik dan wajah keren. Namun Lin Lin tidak menjadi gentar dan ia cepat menghadapi Pek-bin-ciangkun dengan sikap agung dan gagah. Sengaja ia tidak mengucapkan kata-kata seakan-akan sikap seorang puteri yang menerima laporan dari pang­limanya! Pek-bin-ciangkun tentu saja mengenal siapa Lin Lin dan panglima ini sudah pula mendengar tentang asal-usul gadis ini. Maka ia bersikap hormat sungguhpun ia tidak merendahkan diri. Tadi ia sudah menerima laporan lengkap, bahkan ucap­an Lin Lin yang terakhir tadi didengarnya pula. Hal ini mengejutkan hatinya. Terang bahwa gadis keturunan langsung dari raja lama ini menuntut haknya dan kalau gadis ini berhasil menghasut, pasti akan terjadi perang saudara! “Nona, kami sudah mendengar semua laporan dan mendengar pula ucapan Nona yang amat berbahaya. Ketahuilah, Nona. Kami hanya menjalankan tugas kami, taat kepada perintah raja besar kami. Lebih baik Nona menurut saja kami bawa menghadap raja dan percuma membujuk kami yang semenjak dahulu merupakan perajurit-perajurit setia sampai mati terhadap junjungan kami.” Ucapan yang bersemangat dan gagah ini berhasil menggugah semangat para perajurit dan meng­hilangkan keraguan mereka. Lin Lin melihat hal ini menjadi ge­mas. Dengan sinar mata tajam ia me­nentang wajah Pek-bin-ciangkun dan ber­kata lantang. “Pek-bin-ciangkun! Melihat usiamu yang sudah lanjut, tentu kau dahulu pernah mengenal ibuku. Tahukah kau siapa mendiang ibuku?” Sambil menunduk hormat panglima itu menjawab. “Ibunda Nona yang mulia ada­lah mendiang Puteri Mahkota Tayami yang gagah perkasa.” “Dan kau tentu tahu pula siapakah kakekku, ayah dari ibuku?” Kembali panglima itu membungkuk lebih hormat lagi, “Beliau adalah men­diang raja terbesar kami yang amat mu­lia, yaitu mendiang Kulukan yang besar!” “Hemmm, agaknya ingatanmu masih baik. Dan kau tahu, rajamu yang seka­rang itu, Raja Kubakan, dia itu terhitung apa dengan aku....?” “Dengan Nona, beliau terhitung paman tiri, karena sri baginda adalah putera mendiang Maha Raja Kulukan dari se­orang selir.” “Hemmm, paman tiri, namun masih ada hubungan darah, masih sama-sama keturunan kakek Raja Kulukan, sungguh­pun ibuku puteri permaisuri dan dia ha­nya putera selir. Akan retapi tahukah kalian semua apa maksud hati paman tiriku itu hendak menangkapku? Aku hendak dipaksanya menjadi isterinya! Bukankah amat gila ini? Tidakkah jelas menunjukkan betapa bejat moral Kuba­kan yang kini menjadi raja kalian, raja yang tak berhak?” “Kami tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain, apalagi urusan pribadi raja kami yang kami junjung tinggi,” bantah Pek-bin-ciangkun sambil mengerutkan keningnya. “Bagus!” Lin Lin berseru marah sambil melintangkan pedangnya. “Kau juga tidak memandang pedang pusaka ini?” Pek-bin-ciangkun menghela napas panjang. “Tentu saja, kami menaruh hor­mat kepada pedang pusaka yang sudah banyak berjasa terhadap bangsa kita itu. Akan tetapi, sebagai kepala pasukan pengawal raja, kami harus mentaati pe­rintah yang diberikan atasan kami, yaitu yang terhormat Lo-ciangkun. Menyerahlah Nona, kami akan memperlakukanmu de­ngan hormat dan baik.” Lin Lin mengedikkan kepalanya, matanya bersinar-sinar marah. “Kalau kalian tunduk dan menjadi kaki tangan Hek-giam-lo si iblis jahanam, biarlah sekarang mengeroyok dan membunuhku. Aku tidak takut!” “Ah, Nona Muda. Sesungguhnya kami bukan tidak tahu bahwa kau adalah tuan puteri, keturunan langsung dari Yang Mulia Kulukan. Kami merasa sayang dan segan untuk memusuhimu. Akan tetapi apakah daya seorang anak perempuan muda seperti kau ini? Apakah artinya melawan dengan kekerasan? Siapa tidak tahu bahwa Lo-ciangkun memiliki kesakti­an yang tak terlawan? Kuharap saja kau dapat menyadari hal ini dan mari ikut kami menghadap raja. Mungkin hubungan darah kekeluargaan akan menyelamatkan dirimu.” “Aku tidak takut terhadap Hek-giam-lo si iblis! Aku tidak takut kepada si muka buruk Bayisan itu, seorang perwira yang berani menghina mendiang ibuku. Suruh dia datang, biar kami mengadu nyawa di sini!” teriaknya nekat. “Bayisan....? Apa maksudmu, Nona?” tanya Pek-bin-ciangkun dengan sua­ra kaget. “Siapa lagi kalau bukan Hek-giam-lo? Dia adalah Bayisan, apakah kalian masih pura-pura tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan, dahulu perwira kakek Raja Kulukan yang berani menghina ibuku?” “Aaahhh....!” Jelas sekali kelihatan Pek-bin-ciangkun kaget bukan main, wa­jahnya yang putih itu mendadak menjadi merah dan matanya terbelalak tak percaya. Bukan panglima ini saja yang ter­kejut, juga semua perwira yang mengi­ringkannya kelihatan kaget dan para perajurit juga ribut mendengar ucapan Lin Lin itu. Suasana menjadi gaduh ka­rena mereka kini saling bicara sendiri dan keadaan baru tenang kembali setelah Pek-bin-ciangkun membentak, menyuruh mereka diam. Kemudian panglima ini menghadapi Lin Lin dan bertanya. “Nona, semenjak kecil Nona terpisah dari lingkungan kami, bagaimana Nona bisa mengatakan bahwa lo-ciangkun adalah.... Bayisan?” Panglima yang sudah banyak pengalaman ini tidak mau per­caya begitu saja. Sebaliknya, menyaksikan sikap mereka yang kaget dan mendengar pertanyaan Pek-bin-ciangkun yang demikian sungguh-sungguh, diam-diam Lin Lin menjadi heran tak mengerti. Mengapa mereka semua tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan seperti yang ia dengar dari iblis itu sendiri, dan mengapa pula hal itu membuat mereka kaget? Tentu ada rahasia yang hebat, yang ia tidak ketahui. Dengan hati berdebar penuh harapan Lin Lin bergantung kepada ke­sempatan ini, lalu ia bercerita dengan suara sungguh-sungguh.  “Pek-bin-ciangkun, memang tadinya aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ketika aku menjadi tawanan Hek-giam-lo dan kutanya mengapa dia begitu mem­benciku, dia membuka kedok iblisnya, memperlihatkan muka yang lebih buruk mengerikan daripada kedoknya sendiri, muka yang rusak sama sekali. Hanya sebentar dia memperlihatkan mukanya yang rusak sambil mengaku bahwa nama­nya Bayisan, dan bahwa di waktu muda­nya dahulu ia jatuh cinta kepada ibuku, akan tetapi ibu menolaknya. Menurut cerita dia, ibu malah menyiram mukanya dengan racun yang membuat mukanya menjadi terbakar dan rusak. Akan tetapi aku dapat menduga bahwa tentu ia ber­maksud hendak kurang ajar terhadap ibu, maka ibuku melakukan hal itu kepada­nya.” Kembali suasana menjadi gaduh. Dan akhirnya Pek-bin-ciangkun berkata, suara­nya berubah lunak dan panggilannya juga berubah, “Tuan Puteri Yalina, kami mo­hon maaf atas kekasaran kami tadi dan mulai saat ini, hamba dan sekalian anak buah hamba berdiri di belakang Paduka untuk menggempur pengkhianat Bayisan beserta raja paman tiri Paduka yang ternyata telah menipu kami semua, mem­pergunakan pengkhianat untuk membunuh ayah sendiri dan merampas tahta keraja­an.” Setelah berkata demikian, Pek-bin-ciangkun menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin. Para perwira lainnya juga ikut berlutut, sedangkan para perajurit sambil berteriak, “Hidup Tuan Puteri Yalina. Puteri Mahkota Khitan!” Sejenak Lin Lin berdiri tegak. Pedang Besi Kuning di tangan kanan, tangan kiri bertolak pingang, kepala dikedikkan, dada dibusungkan dan matanya menyambar-nyambar ke kanan kiri penuh wibawa. Kemudian ia berkata lantang, “Harap kalian suka berdiri. Syukurlah bahwa kalian dapat memilih fihak yang benar untuk bersama menghancurkan fihak yang salah. Aku minta Pek-bin-ciangkun suka mengumpulkan para perwira untuk meng­atur siasat bersamaku.” Pek-bin-ciangkun bangkit berdiri, di­turut oleh semua anak buahnya yang ternyata berjumlah seratus orang lebih. Kini mereka berkumpul dan berdiri di sekeliling tempat itu dengan harapan baru. Sudah terlalu lama mereka bekerja di bawah tekanan yang menakutkan dari Hek-giam-lo yang mempunyai kekuasaan tertinggi, agaknya malah lebih tinggi daripada raja sendiri. Pek-bin-ciangkun mengajak perwira yang semua ada enam belas orang untuk mengadakan perunding­an dengan Lin Lin di bawah pohon-pohon yang rindang daunnya, setelah ia mem­perkenankan para anak buahnya untuk beristirahat sambil berjaga-jaga. “Ciangkun, terus terang saja, aku tidak tahu mengapa setelah Ciangkun dan semua saudara mendengar bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan, Ciangkun lalu tiba-tiba menyatakan mendukung aku? Ada rahasia apakah di balik semua ini?” Pek-bin-ciangkun menarik napas panjang. “Tuan Puteri tidak tahu, memang sepantasnya tidak tahu karena hal itu terjadi sewaktu Paduka masih amat kecil dan ibu Paduka belum meninggal dunia. Bayisan dahulunya adalah seorang Panglima Khitan yang terkenal gagah perkasa. Seperti telah ia akui di depan Paduka, dia tergila-gila kepada Puteri Mahkota Tayami, tetapi ditolaknya dan seperti kenyataannya, ibunda Paduka telah me­nikah dengan seorang perwita rendahan yang gagah perkasa. Nah, agaknya ia menaruh dendam, apalagi karena Maha Raja Kulukan sendiri tidak menyetujui niatnya mengawini Puteri Tayami. Diam-diam ia lalu melakukan pengkhianatan dan pada suatu malam, Sri Baginda Ku­lukan meninggal dunia dalam kamarnya. Oleh puteranya, Sri Baginda Kubakan yang sekarang, ketika itu masih seorang pangeran, dikabarkan bahwa sri baginda tua meninggal karena penyakit. Akan tetapi hamba dan para perwira yang tahu akan ilmu silat tinggi, mengerti bahwa meninggalnya sri baginda karena pukulan jarak jauh yang beracun. Kami sudah menduga bahwa hal itu tentu dilakukan oleh Bayisan, akan tetapi ketika kami mencarinya, ia telah lenyap tak mening­gaikan jejak. Kiranya pada malam hari itu juga ia berani mati hendak meng­ganggu Puteri Tayami sehingga disiram racun pada mukanya. Karena itulah kami sekalian mengira bahwa dia pergi takkan kembali lagi, karena malu dan takut akan pembalasan kami.” Lin Lin mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa tidak sabar ketika panglima itu berhenti sebentar untuk mengingat-ingat peristiwa yang telah puluhan tahun terjadi itu (baca ceritaSuling Emas). “Sementara itu, bangsa kita selalu mengadakan perang dengan Kerajaan Hou-han, dan yang menjadi calon ratu bukan lain adalah Puteri Mahkota Tayami. Akan tetapi, ibunda Paduka tewas di medan pertempuran secara aneh karena anak panah yang membunuhnya kami kenal sebagai anak panah yang biasa dipergunakan oleh Bayisan yang meng­hilang! Dan beberapa tahun kemudian, setelah paman tiri Paduka, Kubakan men­jadi raja, muncullah Hek-giam-lo yang kami sebut lo-ciangkun, menjadi panglima tertinggi yang amat berkuasa. Karena dia sakti, dan raja amat percaya kepadanya, maka kami tidak berani bertanya-tanya siapa adanya Hek-giam-lo. Siapa kira, dia adalah Bayisan yang berkhianat!” Pek-bin-ciangkun tampak marah sekali. Akan tetapi lebih hebat adalah ke­marahan Lin Lin. Kiranya Hek-giam-lo adalah pembunuh ibunya! Makin besarlah hasrat hatinya hendak membasmi Hek-giam-lo dan merampas tahta Kerajaan Khitan, “Hemmm, bagus sekali! Kalau begitu mari kita serbu kerajaan dan bu­nuh Hek-giam-lo si pengkhianat!” “Sabarlah, Tuan Puteri. Hek-giam-lo amat sakti. Bagaimana kita mampu melawannya?” “Jangan takut, percayalah kepadaku. Aku mampu menandinginya, dan andai­kata aku kalah dan tewas, berarti aku sudah berjasa, mati untuk bangsaku da­lam usaha membasmi pengkhianat!” jawab Lin Lin dengan gagah. Pada saat itu terdengar suara terom­pet dan gaduh. Ternyata muncul serom­bongan pasukan yang dipimpin oleh seorang pemuda yang bermuka putih, pe­muda yang tampan dan gagah sekali. Begitu dekat, pemuda yang membawa golok besar ini dari atas kudanya berseru, “Hei, kaum pemberontak. Menyerah­lah kalian sebelum aku terpaksa meng­gunakan kekerasan atas nama sri baginda!” Semua orang terkejut, lebih-lebih Pek-bin-ciangkun yang melihat bahwa pemuda itu bukan lain adalah Kayabu, puteranya dan juga anak tunggalnya. Ka­yabu ini juga memakai nama bangsa Han, dan ia memilih nama Liao yang kelak menjadi nama Kerajaan Khitan. Liao Kayabu ini seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, gagah perkasa dan tampan, ahli main golok dan anak panah, semenjak muda digembleng ayahnya, malah dalam perantauannya ia belajar ilmu silat tinggi dari para pertapa di sepanjang pegunungan utara. “Kayabu, apa artinya ini? Tak tahu­kah kau bahwa ayahmu berada di sini?” bentak Pek-bin-ciangkun dengan suara lantang. Pemuda gagah itu sejenak memandang ayahnya, kemudian ia melompat turun dari atas kudanya, berlari menghampiri Pek-bin-ciangkun dan menjatuhkan diri berlutut. “Ayah, sebagai anakmu, aku menghormat dan menjunjung tinggi pada­mu. Sebagai anakmu, aku harap hendak­nya Ayah suka sadar dan insyaf, bahwa Ayah telah terseret oleh bujukan orang untuk turun berkhianat. Ayah, semenjak kecil aku mendapat didikan Ayah yang terutama menekankan agar supaya aku menjadi seorang gagah yang selalu men­cinta bangsa dan setia kepada rajanya. Pelajaran Ayah ini sudah berakar di da­lam hatiku. Untuk membela bangsaku dan bersetia kepada bangsaku, aku siap me­nerima kematian, siap mengorbankan apa pun juga. Akan tetapi, hari ini aku men­dengar laporan bahwa Ayah berkumpul dengan orang-orang yang hendak mem­berontak, yang berarti mengkhianati bang­sa dan raja. Ayah, sekali lagi, sebagai puteramu, aku mohon Ayah suka sadar dan menarik diri keluar dari persekutuan jahat ini!” Muka Pek-bin-ciangkun sebentar pucat sebentar merah, sedangkan Lin Lin me­mandang dengan hati tegang. “Kayabu, kau tidak mengerti. Ayahmu tetap seorang yang selalu setia terhadap bangsa dan kerajaan. Ketahuilah bahwa gerakan yang akan diadakan oleh ayahmu adalah justeru gerakan membasmi peng­khianat yang semenjak puluhan tahun merajalela dan baru sekarang diketahui dan akan diberantas. Ketahuilah, bahwa lo-ciangkun sebetulnya adalah si peng­khianat Bayisan, dan sri baginda yang sekarang ini malah mempergunakan tenaganya. Karena itu, tak dapat diragukan lagi bahwa kematian sri baginda tua maupun Puteri Tayami adalah hasil peng­khianatannya yang dibantu oleh Bayisan.” Para perajurit dalam pasukan yang baru datang, menjadi gaduh mendengar ini, pasukan tak dapat diatur lagi dan mereka saling bicara sendiri dengan ra­mai. Liao Kayabu bangkit berdiri dan suaranya nyaring mengatasi suara gaduh lainnya. “Pek-bin-ciangkun! Aku sekarang bicara sebagai seorang hamba Kerajaan Khitan yang setia! Aku tidak tahu dan tidak ambil peduli akan dongeng tentang pengkhianatan jaman dahulu, akan tetapi kenyataannya sekarang, au bekerja sebagai panglima di dalam Kerajaan Khi­tan, karena itu aku harus setia kepada raja dan bangsa. Siapapun juga yang mempunyai niat memberontak, dia adalah musuhku. Pemberontakan berarti pengkhianatan, baik terhadap raja maupun terhadap bangsa, karena itu, sudah men­jadi kewajibanku untuk membasminya dengan taruhan nyawa!” Dengan golok melintang di depan dada, Kayabu berdiri tegak menentang pandang mata ayahnya dan juga Lin Lin. Gadis ini diam-diam kagum sekali. Pe­muda ini benar-benar gagah perkasa, pikirnya, dan kesetiaannya terhadap Ku­bakan bukanlah kesetiaan karena dorong­an perasaan pribadi, bukan pula dengan pamrih mencari kemuliaan duniawi, me­lainkan kesetiaan yang jujur dan bersih dari seorang panglima yang gagah per­kasa terhadap negara dan bangsanya. Akan tetapi, Pek-bin-ciangkun marah sekali. “Anak durhaka! Kau hendak melawan ayahmu sendiri?” Orang tua ini sudah melangkah maju dan mencabut pedangnya yang panjang. “Sejak kau kecil aku men­didik dan membangunmu, biarlah seka­rang aku sendiri yang membasmimu!” “Ciangkun, tahan dulu!” tiba-tiba Lin Lin berseru dan sekali tubuhnya berkele­bat ia sudah melewati Panglima Muka Putih ini dan berkata, “Puteramu ini seorang panglima sejati yang gagah, ha­rus dihadapi dengan kegagahan pula. Biarlah aku yang menghadapinya. Setuju­kah kau?” Pek-bin-ciangkun mengerutkan kening­nya, akan tetapi karena ia menganggap Lin Lin sebagai junjungan baru calon ratu di Khitan, tentu saja ia merasa tidak enak kalau membantah. Ia menun­duk dan menjawab, “Terserah kepada kebijaksanaan Tuan Puteri. Akan tetapi harap Paduka berhati-hati karena bocah ini kepandaiannya cukup tinggi sehingga hamba sendiri pun belum tentu dapat mengalahkannya.” Biarpun dalam ucapan ini Pek-bin-ciangkun memberi peringatan agar jun­jungannya berhati-hati, namun mengan­dung pula kebanggaan seorang ayah terhadap puteranya. Lin Lin mengangguk, tersenyum manis. “Aku mengerti.” Kemudian ia membalik­kan tubuhnya menghadapi Kayabu yang masih berdiri tegak dengan sikap menan­tang. “Kayabu, kau seorang panglima yang dipercaya dan setia kepada Sri Baginda Kubakan agaknya. Apakah ini berarti bahwa kau adalah kaki tangan Hek-giam-lo si iblis busuk?” “Aku seorang perajurit, seorang ksa­tria, tidak ada sangkut-pautnya dengan lo-ciangkun, melainkan mengabdi kepada negara dan bangsa!” “Bagus! Karena kalau kau kaki tangan Hek-giam-lo, biarpun dengan hati me­nyesal karena kau putera Pek-bin-ciang­kun, tentu kau akan kubunuh. Ketahuilah, aku adalah Puteri Mahkota Yalina, dan sri baginda yang sekarang adalah paman tiriku yang merampas tahta kerajaan dengan cara yang curang dan jahat. Akan tetapi kau tentu tidak peduli akan hal itu semua. Sekarang, sebagai musuh, melihat ayahmu berada di fihakku, apakah kau tidak mau menakluk?” “Aku seorang perajurit sejati. Sebelum kalah atau mati takkan menakluk!” Lin Lin tersenyum. “Hemmm, bagaimana seandainya aku mengalahkan kau dan golokmu itu?” Pemuda itu nampak terkejut, lalu menggelengkan kepala. “Tak mungkin!” Lalu ia menyambung. “Di antura kalian semua, kiranya hanya ayahku yang akan mampu menandingi aku. Nona, lebih baik kau pergilah jauh-jauh dari Khitan dan hentikan semua niat memberontak ini agar ayahku jangan terseret-seret.” “Haiii.... Kayabu, kau benar-benar memandang rendah kepadaku! Majulah, kutanggung paling lama tiga belas jurus aku akan mampu mengalahkan kau!” Terbelalak mata Kayabu dan ributlah semua perajurit mendengar ini. Kayabu terkenal sebagai seorang ahli golok yang pandai. Biarpun kepandaiannya tidak sehebat Hek-giam-lo, namun ia terhitung Panglima Khitan yang pilihan dan mengalahkan panglima ini dalam waktu tiga belas jurus sama sukarnya dengan merobohkan sebuah gunung agaknya. Diam-diam Pek-bin-ciangkun sendiri me­ngerutkan keningnya. Ia bersimpati ke­pada Puteri Yalina dan mau membantu karena ingin pula menumpas Bayisan yang menjadi Hek-giam-lo serta mengakhiri pengkhianatan Kubakan. Akan te­tapi kalau yang ia bela adalah seorang puteri muda yang begini sombong, yang bersumbar akan mengalahkan puteranya dalam waktu tiga belas jurus, benar-benar keterlaluan dan kelak gadis ini tentu akan menjadi seorang ratu yang sembrono sekali. Melihat puteranya sambil tersenyum-senyum melangkah maju menghadapi Lin Lin dengan sikap hendak bersungguh-sung­guh, panglima tua ini berseru, “Kayabu, jangan kurang ajar kau terhadap Sang Puteri Yalina!” “Aku ditantang, dan memang musuh­nya. Mengapa kurang ajar? Sudah se­mestinya musuh saling menantang dan siapa kalah harus tunduk. Nona, agaknya kaulah yang mengepalai pemberontakan ini, dan kau pula yang mempengaruhi ayahku dan teman-teman untuk mem­berontak. Setelah sekarang menantangku, hendak merobohkan aku dalam waktu tiga belas jurus, marilah kita membuat janji. Kalau betul kau mampu mengalah­kan aku dalam waktu tiga belas jurus, aku akan menyerah tanpa syarat! Akan tetapi, bagaimana kalau dalam waktu itu kau tidak mampu mengalahkan aku?” “Kalau aku tidak manipu, akulah yang akan menyerah tanpa syarat dan akan menghentikan niatku membasmi Hek-giam-lo dam Kubakan!” “Tuan Puteri....!” Pek-bin-ciangkun berseru kaget, Hebat janji yang keluar dari mulut Lin Lin itu, karena sekali berjanji, kalau betul tidak mampu me­ngalahkan Kayabu dalam tiga belas jurus, akan hancurlah semua cita-cita tadi. “Kayabu mundur kau! Kalau kau lanjutkan, aku takkan mengakuimu sebagai anak lagi!” Saking khawatirnya, Pek-bin-ciangkun berkata demikian. “Ciangkun, biarkanlah. Pula, kalau kau dan teman-teman yang lain tidak menyaksikan kepandaianku, mana kalian bisa percaya atas bimbinganku?” “Tidak, Tuan Puteri. Biarlah hamba yang menghadapi anak hamba yang dur­haka ini! Kalau dia kalah, akan hamba bunuh, dan kalau hamba yang kalah, hamba rela mati dalam tangan anak kandung yang durhaka, Kayabu, hayo lawan bapakmu sendiri!” Pek-bin-ciangkun sudah meloncat ke depan akan tetapi tiba-tiba, entah bagaimana, tubuhnya itu mundur sendiri seakan-akan ada tenaga tak tampak yang menariknya dari bela­kang. Ia menoleh dan melihat Lin Lin tersenyum. Kiranya gadis itu yang tadi menariknya dengan penggunaan tenaga jarak jauh yang amat hebat! “Ciangkun, tak tahukah kau bahwa majuku ini karena aku sayang kalau kali­an ayah dan anak saling gempur? Anak­mu seorang gagah perkasa, tidak semesti­nya dimusnahkan. Minggirlah!” Mendengar kata-kata ini dan melihat bukti betapa lihainya Lin Lin yang men­demonstrasikan tenaga saktinya tadi, terpaksa Pek-bin-ciangkun mengundurkan diri dan menonton dari samping dengan hati cemas. “Kayabu, kau majulah dan hitunglah jurus-jurus yang kupergunakan. Awas seranganku!” Lin Lin merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya dalam tiga belas jurus. Tentu saja yang ia maksud­kan dengan tiga belas jurus itu adalah jurus-jurus sakti yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong! Kalau ia mengandalkan ilmu silat biasa, tentu saja tiga belas jurus merupakan waktu yang terlampau sedikit untuk mengalahkan seorang panglima muda yang kelihatannya begitu gagah perkasa. Namun, ia amat percaya akan keampuhan tiga belas jurus sakti pening­gaian Pat-jiu Sin-ong, maka ia sengaja menantang untuk memperlihatkan kelihai­annya sehingga para pengikutnya akan percaya kepadanya. Apalagi kalau diingat bahwa dia tadi sudah menyatakan sanggup menghancurkan Hek-giam-lo si iblis sakti, kalau ia tidak mendemonstrasikan kepandaian yang sakti, tentu mereka itu takkan mau percaya. “Aku sudah siap!” jawab Kayabu de­ngan suara lantang. Pemuda ini merasa penasaran dan juga marah. Kalau saja ia tidak menghadapi pemberontakan yang serius dan yang harus diberantasnya de­ngan segera, tentu ia tidak sudi meneri­ma tantangan yang amat menghina ini. Dia, Liao Kayabu, seorang jagoan besar di Khitan, hanya di “hargai” semahal tiga belas jurus saja oleh seorang gadis muda jelita? Benar-benar penghinaan yang amat hebat! Kali ini baginya juga merupakan ujian. Ia harus memperlihatkan kepandai­annya terhadap gadis yang amat cantik jelita ini, yang agaknya adalah puteri keponakan sri baginda sendiri yang baru muncul sekarang. Bukankah kalau ia sang­gup bertahan sampai tiga belas jurus, pemberontakan itu sekaligus dapat dipadamkan tanpa pertumpahan darah lagi? Ia harus dapat bertahan, tidak saja bertahan sampai tiga belas jurus, bahkan ia harus berbalik dapat menangkap gadis cantik ini. “Awas serangan pertama....! Lin Lin berseru sambil menggerakkan Pedang Besi Kuning yang berubah menjadi gulungan sinar keemasan. Hampir saja Kayabu tertawa menyaksikan serangan ju­rus pertama itu. Itu sama sekali bukan merupakan serangan, mengapa dimasuk­kan sebagai jurus serangan? Ia melihat gadis itu menggerakkan pedang ke depan dada dan tangan kiri merangkap tangan kanan merupakan sembah di depan dada, kemudian kedua lengan dikembangkan ke atas kepala dengan pedang dibalik masuk ke belakang lengan kanan, seperti ge­rakan orang yang menengadah dan me­mohon berkah dari Thian Yang Maha Kuasa. Inikah jurus serangan? Akan te­tapi sesunggqhnyalah, inilah jurus per­tama atau jurus pembukaan dari tiga belas jurus ilmu sakti yang oleh Lin Lin disebut Co-sha Sin-kun. Tiba-tiba Kayabu berseru keras dan terkejut bukan main. Cepat-cepat ia mengubah kedudukan kakinya dan memasang kuda-kuda yang amat kuat ka­rena dari arah Lin Lin datang hawa pu­kulan yang seperti angin gunung bertiup perlahan. Bukan merupakan serangan langsung, akan tetapi karena hawa pu­kulan atau angin ini timbul hanya karena gadis itu menggerakkan lengan ke atas, benar-benar mengejutkan sekali. Baru bergerak seperti itu saja sudah mengan­dung hawa pukulan yang terasa dalam jarak tiga meter, apalagi kalau dipergu­nakan untuk memukul! Kayabu sama se­kali tidak tahu bahwa jurus pertama ini memang bukan jurus serangan, melainkan jurus untuk mengumpulkan hawa murni dan mengerahkan sin-kang! “Jurus ke dua....!” kembali Lin Lin berseru dan kembali Kayabu menjadi geli karena jurus ke dua ini dimainkan dengan amat lambat sehingga Pedang Besi Kuning itu jelas sekali bergerak menusuk ke arah pundak kirinya. Kayabu biarpun merasa geli menyaksikan jurus-jurus yang lucu dan tidak ada bahayanya sama se­kali ini, tidak mau memandang rendah. Dia seorang pemuda yang cukup hati-hati dan banyak pengalamannya dalam pertandingan, maka menghadapi tusukan lambat ke arah pundaknya ini ia cepat menggerakkan golok besarnya. Tentu saja mudah baginya untuk mengelak. Akan tetapi menurut pengalamannya, biasanya serangan yang lambat itu hanyalah me­rupakan pancingan dan serangan sesungguhnya baru akan datang setelah yang diserang mengelak. Inilah sebabnya se­ngaja Kayabu tidak mau mengelak, me­lainkan ia menggerakkan goloknya untuk menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena ia berniat mengakhiri pertempuran tak seimbang ini dengan memukul runtuh pedang gadis itu. “Cringgg....!” Kayabu mengeluh dan meloncat ke belakang. Sabetan goloknya tadi keras sekali, akan tetapi ia merasa betapa telapak tangannya seperti dibeset kulit­nya oleh gagang goloknya sendiri. Kira­nya dengan sin-kang yang mujijat, gadis itu telah membuat Pedang Besi Kuning yang ditusukkan dengan lambat itu ter­getar amat kuat dan halus sehingga tidak tampak. Maka begitu golok lawan mem­bentur pedangnya, getaran kuat ini men­jalar melalui golok dan sampai ke ga­gang, membuat telapak tangan lawan menjadi panas dan sakit-sakit. Makin keras Kayabu menangkis, makin keras pula telapak tangannya terkena getaran. Pemuda Khitan itu cepat mengatur keseimbangan tubuhnya dan siap-siap meng­hadapi serangan selanjutnya. Kini ia ti­dak berani memandang ringan sama se­kali, bahkan timbul rasa ngeri dan khawatir di hatinya. “Awas jurus ke tiga....!” Lin Lin berseru dan pandang mata Kayabu ber­kunang-kunang karena tiba-tiba gadis itu lenyap sama sekali, terbungkus oleh gu­lungan sinar pedang kuning yang men­datangkan angin berpusing-pusing. Gadis itu seakan-akan telah berubah menjadi angin puyuh yang berputar-putar makin mendekatinya! Kayabu tidak tahu bahwa Lin Lin telah mengeluarkan jurus yang amat hebat dari ilmu sakti Cap-sha Sin-kun, yaitu jurus yang disebut Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Keluarkan Kilat). Karena tidak tahu harus bagaimana meng­hadapi gulungan sinar kuning yang ber­pusing itu, Kayabu lalu mengeluarkan seruan keras goloknya berkelebat mem­bacok ke depan. “Wesss.... wesss....!” Aneh sekali, sinar goloknya membabat gulungan sinar, seakan-akan membabat bayangan saja, tidak mengenai apa-apa. Dan tiba-tiba dari dalam gulungan sinar kuning itu menyambar ujung Pedang Besi Kuning seakan-akan kilat cepatnya. “Aiiihhhhh!” Kayabu menjerit dan goloknya terlepas karena kulit tangannya tergores pedang dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, lutut kakinya terkena to­tokan ujung sepatu Lin Lin dan tak ter­tahankan lagi ia roboh tertelungkup! Pek-bin-ciangkun dan para perwira lainnya memandang dengan bengong. Kejadian itu bagi mereka teramat aneh. Para perajurit yang merasa simpati ke­pada Lin Lin bersorak gemuruh, sedang­kan Kayabu bangkit berdiri dengan muka merah. “Bagaimana, Kayabu? Sudah puaskah kau ataukah kau hendak melanjutkan percobaanmu?” “Aku bukanlah seorang yang buta dan nekat. Aku tahu bahwa kepandaian Nona amat tinggi dan aku bukan lawan Nona. Setelah aku kalah, silakan Nona gerakkan pedang itu membunuhku!” “Tidak, Kayabu. Aku tidak akan membunuhmu, malah aku minta sukalah kau membantuku menumbangkan kedudukan paman tiriku yang dibantu oleh iblis Hek-giam-lo untuk melepaskan bangsa kita daripada penindasan si lalim.” Sepasang mata pemuda itu seakan-akan mengeluarkan kilat. “Aku adalah seorang perajurit sejati, bagiku tidak ada pilihan lain, mati dalam perjuangan atau menang. Tak perlu kau membujukku, setelah kalah, mati bukan apa-apa bagi­ku!” Sambil berkata demikian, pemuda ini menggerakkan goloknya ke arah lehernya sendiri. “Kayabu....!” Pek-bin-ciangkun memekik penuh kekhawatiran. Sebagai se­orang pendekar gagah, ia tidak khawatir atau ngeri melihat putera tunggalnya menghadapi maut, akan tetapi ia benar-benar akan merasa hancur hatinya kalau puteranya itu tewas membunuh diri, suatu perbuatan yang dianggap pengecut dan rendah. Sama sekali ia tidak menyangka puteranya akan melakukan perbuatan itu sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Pek-bin-ciangkun untuk mencegahnya. Akan tetapi, sinar kuning menyambar dari tangan Lin Lin, terdengar suara keras dan golok di tangan Kayabu patah-patah dan terlempar sampai jauh. Pe­muda itu mencelat mundur dengan muka pucat. Pek-bin-ciangkun melangkah maju dan melayangkan tangannya menampar pipi puteranya dua kali sehingga pipi itu men­jadi merah dan dari ujung bibirnya keluar sedikit darah. “Huh, anak durhaka! Apakah kau hen­dak meninggalkan aib pada ayahmu de­ngan cara pengecut? Membunuh diri? Ihhh, Kayabu, sampai hatikah kau me­lakukan hal itu di depan ayahmu?” Suara orang tua ini menjadi serak dan dari matanya yang melotot lebar itu keluar beberapa butir air mata. Kayabu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki ayahnya. “Ayah, ampunkan anakmu yang lupa dan gila karena ke­kecewaan. Bukan hanya kecewa karena anak tidak dapat memenuhi tugas sebagaimana mestinya, melainkan terutama melihat ayah sebagai junjungan dan pujaan­ku ternyata hendak menjadi pengkhianat dan membantu pemberontak. Ayah, di manakah kegagahan kita dan bagaimana kita kelak dapat mempertanggungjawab­kannya di depan nenek moyang kita?” Pek-bin-ciangkun memegang pundak anaknya dan ditariknya berdiri. Mereka berhadapan muka, ayah dan anak yang sama tingginya ini, saling bertentang pandang sampai beberapa lama, kemudian si ayah berkata, “Kau keliru, yang kau­tuduhkan itu sesungguhnya kebalikan daripada kenyataan. Sekarang ini ayahmu bukan berdiri di fihak pemberontak atau pengkhianat, bahkan sebaliknya daripada itu. Ketahuilah, Kayabu, yang selama ini kita bela, sesungguhnya adalah fihak pengkhianat. Kita terpaksa membela pengkhianat karena dia yang berhak te­lah melenyapkan diri. Dan sekarang, Tuan Puteri Mahkota Yalina yang berhak akan tahta kerajaan, telah muncul kem­bali. Aku dahulu adalah panglima dari kakeknya, kemudian ibunya, setelah kedudukan terampas oleh paman tirinya dan dia sendiri lenyap, terpaksa aku mem­bantu pengkhianat. Sekarang tiba waktu­nya untuk membasmi para pengkhianat.” Selanjutnya panglima tua itu mencerita­kan puteranya tentang semua peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu, juga tentang Hek-giam-lo yang sesungguh­nya adalah Bayisan, panglima pengkhianat yang melarikan diri (baca ceritaSuling Emas). Terbukalah mata Kayabu. Mulai ia dapat melihat siapa sesungguhnya gadis cantik jelita yang berpakaian seperti gadis Han, yang memiliki kesaktian yang luar biasa itu. Tahulah ia sekarang meng­apa Panglima Khitan yang paling dipercaya oleh raja, yang merupakan orang terkuat dan boleh dibilang paiing ber­kuasa di Khitan, dijadikan pembantu oleh raja padahal orang itu terkenal sebagai seorang iblis yang jahat. Hek-giam-lo berlaku sewenang-wenang dan kejam ter­hadap bangsanya sendiri, akan tetapi maklum betapa saktinya Hek-giam-lo, dia tak dapat berbuat sesuatu selain mengadu kepada ayahnya yang hanya meng­geleng kepala, bahkan melarangnya menentang Hek-giam-lo yang sakti dan ja­hat. Pemuda yang dapat berpikir panjang ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin sambil berkata, “Maafkan hamba yang tidak mau melihat kenyataan dan telah bersikap tidak pantas terhadap Tuan Puteri....” “Awasss....!” Tiba-tiba kaki Lin Lin menendang pundak Kayabu, membuat pemuda itu terlempar bergulingan sampai enam meter lebih jauhnya. Semua orang kaget sekali, terutama Kayabu sendiri dan juga Pek-bin-ciangkun. Mereka ter­kejut dan kecewa, mengira bahwa Lin Lin tiada bedanya dengan Hek-giam-lo, yang berwatak ganas dan kejam, tak dapat memberi ampun kepada orang lain. Akan tetapi, keraguan dan kekecewaan ini segera lenyap terganti kekaguman dan kegirangan ketika Lin Lin membungkuk dan memungut tiga batang benda hitam yang menancap di atas tanah, tepat di mana tadi Kayabu berlutut. Ternyata itu adalah tiga buah pisau hitam yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ tanpa terlihat orang lain, kecuali Lin Lin tentu saja, yang telah berhasil menyela­matkan Kayabu. “Kebetulan sekali, belum dicari sudah datang! Hek-giam-lo iblis busuk, keluarlah terima binasa!” teriak Lin Lin sam­bil melompat ke kiri dengan pedang di tangan dan tangan kirinya bergerak me­nyambitkan tiga batang pisau hitam tadi ke semak-semak. Akan tetapi tiga batang pisau itu lenyap ke dalam semak-semak tanpa mendatangkan akibat apa-apa. Hek-giam-lo memang hebat. Baru saja ia menyambitkan pisau-pisaunya dari semak-semak itu untuk membunuh Kayabu, tahu-tahu ia sudah lenyap dari situ dan tiba-tiba keadaan sebelah kanan menjadi ribut. Ketika Lin Lin meloncat ke bagian ini, wajahnya menjadi merah saking ma­rahnya karena tanpa ada yang tahu apa yang menjadi sebab, dua belas orang perajurit telah menggeletak mati dengan muka hitam seluruhnya, tanda terkena racun yang amat jahat! “Keparat Hek-giam-lo! Pengecut kau! Hayo keluar dan bertanding seribu jurus melawanku!” Akan tetapi terpaksa Lin Lin cepat memutar pedangnya ketika telinganya menangkap desir angin senjata rahasia dari arah belakang. Terdengar bunyi “ting-ting-ting” ketika pedangnya berhasil me­nyampok pergi belasan batang jarum hitam, akan tetapi kembali ada enam orang perajurit terjungkal roboh dan mati seketika! Lin Lin makin marah. Gadis ini ber­kelebatan ke sana ke mari untuk mencari tempat persembunyian musuhnya, namun Hek-giam-lo benar-benar jahat dan licin. Agaknya iblis ini sengaja hendak mem­permainkan Lin Lin dan para pengikut­nya. Berturut-turut roboh para perajurit dan sebagian daripada para perwira. Setiap kali roboh tentu enam orang dan dalam waktu beberapa menit saja sudah tiga puluh enam orang roboh binasa dalam keadaan mengerikan! “Berpencar....! Masing-masing berlindung....!” Kayabu berteriak nyaring dan bersama ayahnya yang banyak pengalaman dalam pertempuran, pemuda ini mengatur sisa orang-orangnya. Dalam sekejap mata saja para perajurit yang tadinya kebingungan dan kacau-balau kehilangan pimpinan itu, berserabutan dan lenyap dari pandangan mata, berlindung dan bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak. Tinggai Lin Lin seorang diri yang masih tinggal berdiri tegak di situ sambil memaki-maki dan menantang-nantang. Tiba-tiba dari arah depan terdengar deru angin senjata rahasia dan cepat gadis ini memutar pedangnya. Hujan senjata rahasia berupa pisau-pisau dan jarum-jarum beracun itu dengan gencar menyambar datang, namun semua dapat ditangkis oleh gulungan sinar kuning yang merupakan benteng sinar yang melindungi tubuh Lin Lin. Sambil menangkis, Lin Lin memaki-maki. “Hek-giam-lo iblis jahanam! Hayo keluarlah kau kalau memang laki-laki! Inilah anak tunggal Puteri Tayami. Aku Puteri Mahkota Yalina, hayo kaulawanlah kalau memang gagah. Jangan main sembunyi dan melepas senjata rahasia seperti seorang pengecut rendah!” Akan tetapi tidak pernah ada jawaban dan hujan senjata rahasia pun berhenti. Tiba-tiba kesunyian itu terpecah oleh lengking tinggi dan kagetlah Lin Lin karena pendengarannya yang tajam me­nangkap suara angin pukulan. Desir angin pukulan seperti itu hanya dapat terde­ngar kalau ada tokoh-tokoh sakti meng­adu kepandaian. Cepat gadis ini melom­pat dari tempat itu menuju ke arah su­ara. Benar saja dugaannya, tak jauh dari situ, terhalang oleh pohon-pohon rindang, tampak tiga orang tengah bertanding hebat. Dan Lin Lin kaget bukan main ketika mengenal mereka. Yang sedang bertanding hebat itu bukan lain adalah Hek-giam-lo yang dikeroyok oleh dua orang, Gan-lopek dan Lie Bok Liong! Hek-giam-lo memang hebat sekali. Sebetulnya iblis ini masih belum sembuh dari lukanya yang hebat ketika ia ber­tanding menghadapi Suling Emas di pun­cak Thai-san. Luka akibat pukulan Suling Emas yang bagi lain orang tentu akan mengakibatkan maut itu, bagi Hek-giam-lo hanya mendatangkan luka sebelah dalam yang amat hebat dan membutuh­kan pengobatan dan istirahat lama. Na­mun, keadaannya yang terluka hebat ini tidak mengurangi keganasannya sehingga ketika ia mendengar tentang maksud pemberontakan orang-orang Khitan yang di­pimpin oleh Lin Lin, iblis ini segera keluar dan turun tangan, berhasil dengan jarum-jarum hitamnya membunuh sampai tiga puluh enam orang banyaknya. Bahkan ketika dia menghujankan sen­jata rahasia kepada Lin Lin dan tiba-tiba muncul Gan-lopek dan Lie Bok Liong yang menyerangnya, iblis ini masih sang­gup untuk melakukan perlawanan yang hebat. Gan-lopek tokoh kang-ouw kawak­an yang selalu bergembira dan lucu itu, sebagaimana diceritakan di bagian depan, berpisah dari Lin Lin ketika mereka tiba di pucak Thai-san karena Lin Lin mem­bantu Suling Emas dan bertemu dengan saudara-saudaranya. Merasa bahwa dia adalah “orang luar”, kakek ini menjauh­kan diri. Akan tetapi kemudian ia berjumpa dengan muridnya, Lie Bok Liong, dan alangkah kecewa dan menyesal hati­nya ketika melihat muridnya yang ter­kasih itu menderita batin. Apalagi ketika ia mendengar pengakuan Lie Bok Liong tentang penolakan kasih sayang Lin Lin, kakek ini tidak mau mengerti. “Ah, tak mungkin!” bantahnya. “Lin Lin suka kepadamu, ini aku tahu benar!” “Suka tidak sama dengan cinta, Su­hu....” “Apa bedanya? Dari suka menjadi cinta. Hayo, mana dia? Mana gadis liar itu?” “Teecu (murid) khawatir bahwa dia sudah berangkat ke Khitan, Lin-moi me­miliki hasrat besar untuk menuntut kem­bali haknya atas mahkota Kerajaan Khi­tan.” “Wah-wah, bocah lancang dia! Mana dia mampu menghadapi Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan seorang diri? Dia bisa celaka. Hayo, Bok Liong, kita harus menyusulnya.” Demikianlah, guru dan murid ini mun­cul di Khitan. Kebetulan sekali pada hari itu mereka menyaksikan Hek-giam-lo secara pengecut menyerang Lin Lin dari tempat sembunyi dengan senjata-senjata rahasia. Tanpa banyak cakap lagi Gan-lopek lalu menerjang iblis itu dengan senjatanya yang istimewa, yaitu Hek-pek-mou-pit (Pensil Bulu Hitam dan Pu­tih). Terjadilah pertandingan hebat dan mati-matian antara dua orang sakti. Hek-giam-lo memang menderita luka dalam, namun ketika menyambut terjang­an Gan-lopek, gerakannya masih hebat, senjatanya yang mengerikan, sabit tajam panjang itu, menyambar-nyambar seperti seekor naga siluman mengamuk di ang­kasa raya. Menyaksikan kehebatan iblis ini, Bok Liong tidak mau tinggal diam, lalu mencabut Gwat-kong-kiam dan menyerbu dengan hebat. Karena maklum akan keganasan dan kelihaian si iblis hitam, apalagi karena ia maklum pula akan isi hati Bok Liong yang tidak mau ketinggalan dalam usaha membantu dan menolong Lin Lin, maka Gan-lopek tidak melarangnya melakukan pengeroyokan terhadap Hek-giam-lo. Melihat Bok Liong, Lin Lin merasa tertusuk hatinya. Terharu sekali ia melihat pemuda ini, yang pernah secara terus terang menyatakan cinta kasihnya kepadanya, dan dengan tegas ia menolak­nya. Entah berapa kali sudah pemuda gagah perkasa ini menolongnya, membelanya, membantunya tanpa menghirau­kan keselamatannya sendiri. Betapa mulia­nya hati pemuda ini, betapa gagahnya sehingga tidak takut-takut menghadapi Hek-giam-lo dan anak buahnya untuk menolongnya, sungguhpun pemuda itu cukup maklum bahwa kepandaiannya ti­dak akan mampu dipakai menghadapi Hek-giam-lo. Cinta kasih murni yang amat mengharukan hatinya. Dan kini pemuda itu muncul lagi, membelanya lagi, malah bersama gurunya. Lin Lin berdiri terbelalak kagum. Tak tahu ia bagaimana ia harus berbuat. Ia maklum bahwa Gan-lopek adalah seorang tokoh sakti dan kini menghadapi Hek-giam-lo dengan bantuan muridnya sendiri. Apakah ia harus pula bantu mengeroyok? Pengalamannya selama merantau dan bergalang-gulung dengan para tokoh kang-ouw yang sakti mendatangkan pengertian bahwa membantu seorang tokoh sakti bertanding dapat diartikan menghinanya! Pertandingan itu hebat sekali. Hek-giam-lo agaknya mengerahkan seluruh tenaganya, terbukti dari bunyi lengking yang panjang bersambung-sambung dari kerongkongannya, sedangkan senjata sabitnya menyambar-nyambar cepat sekali dan mengeluarkan angin bercuitan. Akan tetapi permainan sepasang pena bulu di tangan Gan-lopek amat kokoh kuat dan tenang, sungguhpun sinar senjata sabit yang gilang-gemilang itu seakan-akan mengurung dan menyelimutinya, bahkan menekannya. Bok Liong juga mainkan pedangnya dengan sekuat tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Mengagumkan sekali betapa guru dan murid ini dapat main bersama. Gerakan mereka begitu mirip dan biarpun senjata mereka berbeda, namun kerja sama mereka amat baik, isi mengisi, bantu-membantu. Hek-giam-lo memang amat sakti. Andaikata ia tidak menderita luka dalam, apalagi kalau Bok Liong tidak membantu, agaknya Gan-lopek sendiri tak dapat bertahan melawannya. Kini, keadaannya yang terluka dan ditambah pengeroyokan Bok Liong yang sudah memiliki kepandai­an tinggi, membuat pertandingan itu menjadi seimbang, malah boleh dikata Hek-giam-lo banyak tertekan sungguhpun sabitnya kelihatan garang dan amat berbahaya. Melihat ini, Lin Lin menjadi tidak sabar. Ia ingin terjun ke dalam gelang­gang pertandingan, ingin ia dengan ta­ngannya sendiri membunuh iblis yang dahulu pernah membunuh kakeknya, meng­hina ibunya dan mencemarkan nama baik bangsa Khitan. Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan disusul sorakan keras. “Basmi pemberontak! Hancurkan pem­berontak!” Dari arah utara muncullah banyak sekali pasukan Khitan dengan senjata di tangan menyerbu. “Pasukan siaaaaappp! Dengan darah dan jiwa kita bela Puteri Yalina, keturunan langsung Raja Besar Kulukan! Basmi pengkhianat Bayisan dan Kubakan!” demikian terdengar teriakan-teriakan keluar dari mulut Kayabu dan ayahnya, Pek-bin-ciangkun yang sudah mempersiap­kan pasukannya pula. Terjadilah perang tanding hebat antara mereka. Melihat ini, Lin Lin tidak jadi membantu Gan-lopek, melainkan ia sendiri memimpin para pendukungnya menghadapi penyerbu­an tentara pengawal kerajaan. Hebat sepak terjang gadis ini. Tubuhnya lenyap terbungkus sinar kuning emas dan ke manapun juga sinar ini menyambar, ter­dengar teriakan-teriakan dan senjata terlempar dari tangan disusul robohnya tentara musuh yang terluka tangan atau kakinya. Akan tetapi tak seorang pun yang tewas di tangan Lin Lin, karena gadis ini merasa tidak tega membunuhi tentara bangsanya sendiri. Jumlah pasukan pengawal yang ber­pihak Hek-giam-lo sebetulnya lebih besar. Maklum karena memang tadinya semua pasukan Khitan merupakan anak buah Hek-giam-lo, suka atau pun tidak. Akan tetapi ketika pasukan itu melihat bahwa “pemberontak” itu dipimpin oleh Pek-bin-ciangkun dan Kayabu, dua orang to­koh yang mereka hormati, mereka menjadi ragu-ragu. Tak seorang pun diantara mereka yang suka kepada Hek-giam-lo, kecuali beberapa orang perwira dan pa­sukan yang memang dipergunakan oleh Hek-giam-lo dan yang mengenyam pula hasil kejahatan dan kekejaman iblis ini. Oleh karena itu, timbullah kekacauan yang hebat ketika sebagian dari tentara ini membalik dan malah membantu ge­rakan Pek-bin-ciangkun. Lebih-lebih se­telah mereka menyaksikan sepak terjang Lin Lin yang mereka dengar adalah Pu­teri Mahkota Yalina yang sejak kecil lenyap dan disangka mati. Sepak terjang Lin Lin yang hebat itu selain mendatang­kan rasa gentar juga mendatangkan rasa kagum dan suka karena ternyata bahwa tak seorang pun yang roboh di bawah tangan gadis ini tewas. Melihat keadaan berbalik untuk ke­untungan fihaknya, Lin Lin segera ter­ingat kepada Hek-giam-lo yang masih bertanding melawan pengeroyokan Gan-lopek dan Bok Liong. Hampir gadis ini menjerit ketika memandang ke arah per­tempuran itu. Terjadi perubahan hebat dan pertandingan itu kini menjadi per­gulatan mati-matian. Kiranya dengan gerakan yang hebat bukan main Hek-giam-lo yang cerdik itu telah mendesak Bok Liong, berniat merobohkan dulu lawan yang lebih lemah ini agar ia dapat memusatkan kepandaian dan tenaganya untuk mengalahkan Gan-lopek. *** Pada saat Bok Liong menangkis sebuah sambaran maut sabit, pedang pemuda yang bersinar kuning itu bertemu sabit dan.... terus menempel lekat tak dapat ditarik kembali. Bok Liong merasa tiba-tiba lengannya panas dan kejang. Terpaksa ia hendak melepaskan gagang pedangnya, namun alangkah kagetnya ketika ia mendapatkan kenyataan bahwa hal ini pun tidak mungkin. Telapak tangannya seakan-akan sudah lekat pula dengan gagang pedangnya, seakan-akan gagang pedang itu sudah “berakar” ke dalam tangannya. Rasa panas dan sakit makin menghebat sehingga pemuda itu mengeluh. Melihat ini, Gan-lopek kaget sekali. Ia maklum bahwa iblis hitam itu lihai bukan main, memiliki hawa sakti yang telah dilatih dengan racun sehingga setiap serangannya kalau mengenai sasaran merupakan tangan maut. Ia maklum bah­wa muridnya terancam bahaya maut dan terlambat sedikit saja usaha pertolongan, tentu takkan tertolong lagi. Oleh karena itu, sejenak ia melupakan Hek-giam-lo dan cepat ia memindahkan mouw-pit putih ke tangan kanan, tangan kirinya yang kosong memegang pangkal lengan muridnya sambil mengerahkan sin-kang untuk melawan penyaluran hawa serangan Hek-giam-lo, sedangkan tangan kanan yang memegang sepasang pena bulu itu ia hantamkan ke arah sabit. “Cringgggg.... Plakkk....!” Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik saja. Dengan bantuan tenaga sin-kang suhunya, Bok Liong berhasil melepaskan gagang pedangnya dan terlepas dari bahaya maut. Adapun hantaman sepasang pena bulu itu tepat mengenai sabit, demikian hebatnya sehingga baik sepasang pena bulu maupun senjata sabit itu patah-patah. Akan te­tapi agaknya Hek-giam-lo yang cerdik menggunakan saat yang tepat itu untuk menggerakkan tangan kirinya, mengerahkan tenaga yang mengandung penuh Hek-­in-tok (Racun Uap Hitam) memukul pung­gung Gan-lopek dengan telapak tangan. Pada saat tepukan itu mengenai punggung, dari dalam lengan bajunya yang kiri melayang sebatang hui-to (pisau ter­bang) yang menancap sampai ke gagang­nya di punggung Gan-lopek pula! Gan-lopek kelihatan terkejut, ter­huyung dan memandang Hek-giam-lo, lalu tertawa bergelak dan roboh terguling! “Iblis keparat!” Lin Lin menerjang maju, menyesal mengapa tidak sejak tadi ia turun tangan. Adapun Bok Liong yang menyaksikan gurunya roboh, cepat memungut pedangnya dan menerjang lagi dengan nekat. Biarpun ia telah berhasil merobohkan Gan-lopek, Hek-giam-lo harus menebus­nya dengan mahal. Ia menderita luka dalam yang hebat, kini ia harus menge­rahkan tenaga sin-kang dari dalam tubuh­nya yang membutuhkan pengerahan se­kuatnya, maka luka di dalam dadanya menjadi menghebat, membuat ia merasa darah naik ke dalam kerongkongannya dan tak tertahankan lagi ia muntah darah. Pada saat itu, Lin Lin datang menerjangnya. Karena Hek-giam-lo sudah bertangan kosong, cepat ia menggerakkan lengan kiri. Belasan batang hui-to atau pisau terbang menyambar ke depan, sebagian besar ke arah Lin Lin dan beberapa buah ke arah Bok Liong. Namun semua dapat dipukul runtuh oleh kedua orang muda itu. Sinar kuning bergulung-gulung me­nyambarnya. Hek-giam-lo yang sudah lemah dan berkunang-kunang matanya itu mengangkat lengan kanan menangkis. “Crakkk!” Putuslah lengan itu dan darah menyembur dari pangkal lengan yang putus. Lin Lin mendesak terus. Kembali Hek-giam-lo menangkis dengan tangan kiri, dan sekali lagi putuslah le­ngan kirinya. Ia mendengus-dengus aneh, akan tetapi tak seorang pun tahu apa yang ia ucapkan karena pada saat itu gulungan sinar pedang kuning emas sudah membabatnya dan robohlah Hek-giam-­lo dengan dua tusukan di dadanya dan sebuah babatan pada lehernya membuat leher itu hampir putus pula! Para perajurit yang dipimpin Pek-bin-ciangkun bersorak gembira. Adapun para perajurit yang menjadi anak buah Hek-giam-lo menjadi kecil hati dan me­lawan sambil mundur. Saat itulah diper­gunakan Pek-bin-ciangkun untuk berseru lantang. “Orang-orang gagah bangsa Khitan, dengarlah baik-baik! Yang mampus itu, Hek-giam-lo si iblis kejam adalah peng­khianat yang puluhan tahun kita benci dan kita cari-cari, kita sangka sudah binasa. Dia adalah Bayisan! Bersama Kubakan, dia membunuh sri baginda tua Kulukan dan merampas kedudukan se­bagai raja. Kalau kalian membelanya berarti kalian membela pengkhianat bang­sa. Sudah semestinya kita membantu Puteri Mahkota Yalina untuk menumbang­kan kekuasaan jahat membangun Keraja­an Khitan yang kuat dan besar, seperti dahulu!” Ucapan yang nyaring ini ternyata besar sekali pengaruhnya. Banyak di an­tara para pasukan itu yang segera membuang senjata dan menggabungkan diri. Memang ada yang masih setia kepada Raja Kubakan, namun kekuatan mereka tidak ada artinya lagi dan pertempuran dilanjutkan dalam keadaan berat sebelah. Lin Lin untuk sejenak tidak mem­pedulikan semua itu. Bersama Bok Liong ia berlutut di dekat tubuh Gan-lopek yang sudah payah. Muka kakek ini per­lahan-lahan sudah berubah kehitaman, akan tetapi kakek sakti ini masih dapat tersenyum-senyum. Bok Liong pendekar muda yang gagah itu kali ini tak dapat menahan diri me­nangisi gurunya karena ia maklum bahwa tak mungkin suhunya tertolong lagi. De­ngan lengan kiri menyangga leher suhu­nya, ia hanya dapat berbisik-bisik me­nyebut nama suhunya dengan putus harapan. “Eh, mengapa knu menangis, muridku? Apa kaukira kelak kau sendiri takkan mati juga? Kalau kau menangisi orang mati, berarti kau menangisi dirimu sen­diri. Eh, Lin Lin bocah nakal! Kau benar-­benar tidak percuma hidup, sudah banyak menimbulkan geger. Sebelum aku mati, kau bilanglah dulu secara jujur, apakah kau suka dan sayang kepada muridku Bok Liong ini?” Lin Lin juga berlinang air mata. Mendengar pertanyaan ini, tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Tentu saja aku sayang dan suka kepada Liong-twako!” “Ha-ha-ha! Nah, apa kataku, Bok Liong? Dia suka padamu!” Gan-lopek ter­batuk-batuk karena ketika tertawa tadi dadanya terasa sesak sekali, kemudian ia menggigit bibir menahan rasa nyeri yang secara mendadak terasa di seluruh tubuh­nya. Tadi ia dapat menahan rasa nyeri karena ia mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi setelah bicara, ia lupa akan ini dan serentak pengaruh racun membuat ia kesakitan. “Tapi.... tapi....” Bok Liong kebingungan, sebagian karena kata-kata itu, sebagian pula karena melihat keadaan suhunya. “Heh....” Gan-lopek menghela napas. “Kau masih penasaran? Lin.... Lin.... jawab lagi...., apakah.... apakah kau.... suka menjadi.... isteri muridku ini....?” Gan-lopek tak dapat bicara dengan baik lagi, sudah tersendat-sendat dan sukar. Bukan main kagetnya hati Lin Lin mendengar pertanyaan ini. Tak disangka­nya sama sekali bahwa kakek ini akan bertanya tentang perjodohan. Tentu Bok Liong sudah bercerita kepada gurunya tentang penolakannya. Sebetulnya ia me­rasa tidak tega terhadap Gan-lopek yang sudah mendekati kematiannya ini, tidak tega mengecewakan hatinya. Akan tetapi, tidak mungkin ia dapat berbohong dalam menjawab tentang perjodohan, apalagi Bok Liong sendiri berada di situ. Pemuda itu menundukkan mukanya yang pucat seperti orang terdakwa menanti dijatuh­kannya keputusan hukuman. Ia harus berterus terang sehingga urusan yang tidak menyenangkan ini segera selesai. “Tidak, Empek Gan, aku tidak suka menjadi isterinya karena kuanggap Liong-­twako seperti kakakku sendiri.” Bok Liong tidak heran mendengar ini, akan tetapi sepasang mata Gan-lopek yang tadinya sudah meram itu mendadak terbuka lagi dan memandang dengan melotot lebar. “Apa....? Kau.... kau tidak mau....? Kau nakal.... sebelum aku mati.... hayo bilang laki-laki mana yang kauharapkan menjadi suamimu....?” Sambil menundukkan mukanya Lin Lin menjawab, perlahan akan tetapi cukup jelas untuk Gan-lopek, bahkan merupakan halilintar menyambar ke dalam telinga Bok Liong, “Suling Emas....!” “Suhu.... Suhu....!” Bok Liong tiba-tiba memeluk gurunya yang sudah putus napasnya dengan mata masih terbelalak lebar. Lin Lin menahan isaknya, hatinya terharu dan penuh iba. Akan tetapi apa­kah yang dapat ia lakukan? “Liong-twako, dia sudah meninggal, biar kusuruh atur pemakamannya....” katanya perlahan. Akan tetapi Bok Liong menggeleng-geleng kepala, membungkuk dan memon­dong jenazah gurunya, bangkit berdiri, memandang sejenak kepada Lin Lin de­ngan air mata bercucuran, kemudian ia membalikkan tubuh dan melangkah pergi. Gadis itu pun memandang dengan air mata berlinang akan tetapi ia menguat­kan hati dan tidak menahan karena mak­lum bahwa inilah yang terbaik. Ia merasa kasihan sekali kepada Bok Liong dan berjanji dalam hatinya bahwa selamanya ia akan menganggap Bok Liong sebagai kakaknya sendiri. Ia hanya mengharapkan mudah-mudahan kelak akan tiba saat dan kesempatan baginya untuk membalas budi kebaikan Bok Liong terhadap dirinya. Sementara itu pertempuran sudah selesai. Sebagian besar pasukan istana menyerah dan takluk, sebagian pula me­larikan diri. Lin Lin segera mengumpul­kan pasukannya, kemudian memerintahkan kepada Pek-bin-ciangkun untuk melakukan penyerbuan ke istana. “Kalau Paman tiriku mau menyerah dengan baik-baik, jangan ganggu dia. Aku akan memberi kesempatan kepadanya untuk memilih, pergi dari Khitan atau menjadi seorang tahanan selamanya de­ngan perlakuan baik. Akan tetapi kalau dia melawan, kita gempur!” Dengan sorak gemuruh pasukan pen­dukung Lin Lin berangkat menuju istana dan di sepanjang jalan, pasukan ini ber­tambah besar jumlahnya karena pasukan lain yang mendengar tentang pemberon­takan ini dan tentang tewasnya Hek-­giam-lo yang ternyata adalah pengkhianat Bayisan, ikut bergabung. Apalagi pasukan di bawah perwira-perwira tua yang mengenal Bayisan, tentu saja ber­simpati kepada Puteri Yalina, anak dari Puteri Tayami yang mereka kagumi. Tidak ada perlawanan berarti di sepanjang jalan. Baru setelah pasukan tiba di depan istana, dari halaman istana para pasukan pengawal mengadakan perlawanan. Segera terjadi pertempuran hebat, namun tidak lama pula jalannya pertem­puran karena hanya beberapa orang saja fihak musuh yang melakukan perlawanan sungguh-sungguh, yaitu mereka yang ma­sin terhitung keluarga raja sendiri. Ada­pun para perwira lain juga hanya se­tengah hati saja melakukan perlawanan. Tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan dan barisan depan menjadi kacau. Barisan tengah mendesak ke bela­kang dan kelihatan beberapa orang perajurit dengan muka pucat melarikan diri. “Ada setan....!” terdengar teriakan. “Iblis sendiri membantu sri baginda, kita cela­ka!” disusul teriakan lain. Lin Lin kaget sekali. Selagi ia hendak berlari ke depan, tiba-tiba ia terhenti dan terbelalak memandang ke depan, Kayabu datang sambil memondong tubuh ayahnya. Pek-bin-ciangkun telah terluka hebat sekali. Dari mata, hidung, mulut, telinga keluar darah segar! “Ahhh, siapa melukainya?” teriak Lin Lin terkejut. “Tuan Puteri, kita terjebak!” kata Kayabu gelisah. “Sri baginda mendatang­kan bala bantuan dua orang iblis yang luar biasa sekali kepandaiannya. Dari jauh mereka memukul-mukul dan barisan kita kocar-kacir. Ayah sendiri terkena pukulan jarak jauh dan beginilah akibat­nya.” Dengan pedang di tangan Lin Lin berseru keras dan tubuhnya sudah berkelebat lenyap karena secepat kilat ia sudah berlari ke depan. Ia melihat baris­annya sudah mundur ketakutan sehingga halaman istana itu kosong kembali, ke­cuali barisan pengawal yang berjaga di kiri, sedangkan di tengah terbuka tidak terjaga. Ketika Lin Lin berlari dekat, ia melihat bahwa di bagian tengah ini ber­diri dua orang kakek. Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika mengenal mereka. Bukan lain mereka ini adalah Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, dua orang kakek sakti yang belum lama ini juga telah mendatangkan geger di puncak Thai-san! Lin Lin adalah seorang gadis yang tidak mengenal takut. Ia tahu betul bah­wa dua orang kakek itu adalah orang-­orang sakti yang sukar dikalahkan. Di puncak Thai-san, hanya setelah Bu Kek Siansu muncul saja dua orang kakek ini dapat diusir. Akan tetapi, mengingat betapa dua orang kakek ini hampir saja menewaskan Suling Emas, ia menjadi marah dan memandang penuh kebencian. “Kailan iblis tua bangka!” bentaknya sambil menudingkan pedang. “Mau apa kalian muncul di Khitan? Apakah kau sudah menjadi kaki tangan paman tiriku si pengkhianat?” Lam-kek Sian-ong si muka merah tertawa. “Ha-ha-ha, kita bertemu lagi dengan si gadis liar yang berilmu aneh, Pek-bin Twako (Kakak Muka Putih)!” “Hemmm, menyebalkan sekali, Ang-­bin-siauwte (Adik Muka Merah), bereskan saja bocah itu!” “Ha-ha-hah, jangan, Twako. Sayang! Lihat, alangkah cantik dan agungnya. Siapa kira, dia berdarah Raja Khitan! Kalau kita menjadi sepasang raja di sini, dan dia menjadi pelayan kita, bukankah hebat?” Lin Lin tak dapat menahan kemarah­annya lagi. “Kalian ini dua iblis tua bang­ka bermulut kotor, lekas pergi dari sini sebelum pedangku bicara dan sebelum kukerahkan barisanku untuk membasmi kalian!” Akan tetapi baru saja Lin Lin ber­henti bicara, dari dalam istana berlari-lari keluar pengawal raja sendiri sambil membawa senjata dan langsung mereka ini menerjang dua orang kakek itu sambil berteriak-teriak. “Pembunuh raja! Kepung...., tangkap....!” Dua orang kakek itu saling pandang, lalu tertawa dan sekali mereka menggerakkan kedua le­ngan, para pengawal raja itu terlempar dan roboh tak dapat bangun lagi. Bagaikan nyamuk menyerbu api, para pengawal itu roboh bergelimpangan dan tumpang-­tindih. Dua orang kakek itu dengan sikap acuh tak acuh merobohkan mereka dan dengan kaki, mereka itu menendangi mayat-mayat itu ke arah halaman depan. Lin Lin terkejut dan heran. Tadinya ia menyangka bahwa paman tirinya mempergunaken dua orang kakek sakti ini. Siapa kira, paman tirinya malah agaknya sudah terbunuh oleh mereka. Jelas se­karang bahwa mereka ini hendak meram­pas kedudukan raja di Khitan! Kemarah­annya meluap di hati Lin Lin dan dengan gerakan cepat ia nekat menyerbu ke depan sambil berteriak, “Iblis-iblis busuk, mampuslah!” Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya yang berpusing dengan jurus Soan-hong-ci-thian itu tahu-tahu tertahan oleh dorongan tenaga sakti dari Lam-kek Sian-ong yang menggerakkan kedua tangannya ke depan dada, kemudian kakek itu membuat ge­rakan memutar dengan kedua lengannya dan tubuh Lin Lin ikut pula terputar-putar seperti kitiran angin! Gadis yang kurang pengalaman itu ternyata ter­lambat melihat sehingga ia membiarkan dirinya “terlibat” hawa pukulan yang luar biasa itu. “Ang-bin-siauwte, mengapa main-main dengan dia? Habiskan saja agar lekas beres!” Si Muka Putih mencela. “Ha-ha-ha, tidak, Twako. Aku sayang kepadanya!” “Apa....? Setua kau ini masih....” “Ah, tidak, Twako. Jangan salah sang­ka. Aku hanya suka melihat dia ini, pa­tut menjadi muridku, murid kita. Begitu garang, begitu galak dan tabah!” “Kau takkan menurunkan kepandaian kepada orang lain. Biar kuhabiskan dia!” bentak si muka putih dan ketika tangannya bergerak, sinar putih seperti perak yang berhawa dingin sekali menyambar ke arah tubuh Lin Lin yang masih berputar-putar di bawah pengaruh kekuatan tangan si muka merah. “Dua iblis tua bangka mengeroyok gadis remaja, sungguh tak tahu malu!” tiba-tiba terdengar bentakan keras. “Lin-moi, jangan takut, aku datang membantumu!” terdengar suara lain. Kiranya yang muncul adalah empat orang, yaitu Kauw Bian Cinjin, Suling Emas, Bu Sin, dan Liu Hwee! Begitu tiba, Suling Emas cepat menyambar de­ngan sulingnya menangkis sinar perak yang mengancam nyawa Lin Lin. Ter­dengar suara keras dan sinar perak itu runtuh ke bawah, ternyata itu adalah sebutir batu putih yang dingin. Sementara itu, Kauw Bian Cinjin sudah memutar pecutnya yang menyambar sambil menge­luarkan suara keras mengancam kepala Lam-kek Sian-ong! “Bagus, bagus! Makin banyak lawan tangguh, makin menggembirakan!” Lam-­kek Sian-ong si muka merah tertawa­-tawa dan terpaksa ia melepaskan Lin Lin yang cepat menggerakkan Pedang Besi Kuning membantu Kauw Bian Cinjin men­desak kakek sakti itu. Liu Hwee juga tidak mau tinggal diam. Cepat ia me­mutar senjatanya berupa joan-pian ber­ujung bola baja, mengeroyok Lam-kek Sian-ong setelah memesan kepada tu­nangannya Bu Sin, agar tidak ikut me­ngeroyok kakek sakti itu karena terlam­pau berbahaya mengingat bahwa tingkat kepandaian Bu Sin masih belum tinggi benar. Sementara itu, Suling Emas sudah menghantam melawan kakek muka putih, Pak-kek Sian-ong. Pertempuran yang sunyi, tidak bersuara, namun hebat bukan main. Kakek muka putih ini telah me­megang sebatang pedang yang putih pula, berkilauan dan mengeluarkan hawa dingin. Namun suling di tangan Suling Emas bergulung-gulung seperti naga kuning emas bermain di angkasa, sedikit pun tidak mau mengalah terhadap gulungan sinar putih. Memang Suling Emas men­dongkol sekali kepada kedua orang kakek ini, teringat ketika ia dipermainkan, dikeroyok dua dan hampir saja ia binasa. Kini terbuka kesempatan baginya untuk mengadu satu lawan satu, maka ia mengerahkan segenap tenaganya dan main­kan ilmu silatnya yang paling aneh dan hebat, yaitu gabungan dari tiga macam ilmu silat sakti, yaitu Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa), Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Laut­an) dua macam ilmu yang ia warisi dari gurunya, yaitu Kim-mo Taisu, dan di­gabung dengan ilmu sakti yang ia warisi dari Bu Kek Siansu, yaitu Hong-in-bun-hoat (Ilmu Silat Huruf Angin dan Awan). Dengan permainan gabungan yang luar biasa ini, biarpun Pak-kek Sian-su me­rupakan tokoh yang sukar dicari banding­annya pada jaman itu, namun ia menjadi sibuk juga dan akhirnya hanya dapat mempertahankan diri dengan jurus-jurus sakti yang dikerahkan untuk menyelamat­kan diri saja. Kakek muka merah, Lam-kek Sian-­ong menghadapi pengeroyokan yang berat, yaitu Lin Lin, Liu Hwee, dan Kauw Bian Cinjin. Dua orang tokoh Beng-kauw ini memang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, apalagi Kauw Bian Cinjin. Akan tetapi tingkat mereka berdua sesungguhnya masih kalah kalau dibanding­kan dengan Lam-kek San-ong yang me­mang betul-betul sakti itu, dengan dasar tenaga Yang-kang, sehingga setiap pukulan­nya membawa hawa yang amat panas. Namun, kedua orang tokoh ini menjadi kaget dan terheran-heran bahwa masuknya Lin Lin yang mainkan pedang Besi Kuning itu seakan-akan menjadi pelengkap daripada kekurangan atau kekalahan mereka ter­hadap Lam-kek Sian-ong. Mereka terkejut mengenal dasar gerakan Lin Lin yang sama dengan ilmu silat Beng-kauw, bah­kan gerakan pedang itu demikian hebat­nya sehingga mereka berdua, biarpun bersenjatkan dua macam senjata, se­akan-akan terseret dan terpengaruh oleh gerakan pedang Lin Lin dan membuat mereka terpaksa bergerak menurut gu­lungan sinar pedang itu yang seolah-olah “memimpin” mereka. Tentu saja mereka menjadi heran dan juga girang, akan tetapi Lam-kek Sian-ong yang menjadi kaget setengah mati! Seperti halnya Pak-­kek Sian-ong yang terdesek oleh Suling Emas, ia sendiri pun terdesak oleh pengeroyokan tiga orang itu dan hanya mampu menangkis saja! Lewat seratus jurus, dua orang kakek sakti itu maklum bahwa tiada harapan lagi bagi mereka, apalagi kalau diingat bahwa di situ terdapat ratusan orang perajurit yang sudah siap untuk melakukan pengeroyokan begitu menerima komando. Lin Lin memang sengaja tidak mau me­ngerahkan pasukan karena maklum bahwa biarpun hal ini akan mendatangkan ke­menangan, namun perajurit-perajurit itu tentu banyak yang akan menjadi korban. Tiba-tiba kedua orang kakek itu dengan berbareng mengeluarkan bentakan keras sekali, bentakan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga khi-kang. Be­berapa orang perajurit terjungkal, bahkan yang terlalu dekat roboh tak dapat bang­kit lagi! Suling Emas mengeluarkan bunyi melengking tinggi dan memperhebat de­sakannya, akan tetapi Kauw Bian Cinjin tampak terhuyung mundur karena Lam­-kek Sian-ong sengaja melakukan pukulan hebat yang khusus ia tujukan kepada kakek Beng-kauw ini. Melihat Kauw Bian Cinjin terhuyung, Lin Lin menerjang dengan jurus ampuh dari ilmu Cap-sha-­sin-kun, pedangnya tertangkis pedang merah di tangan Lam-kek Sian-ong, namun masih dapat menyerempet pundak kakek itu. “Twako, mari pergi....!” Lam-kek Sin-ong berseru, tubuhnya melesat den sekaligus ia menerjang Suling Emas yang mendesak saudaranya. Tentu saja Suling Emas maklum betapa bahayanya dikero­yok dua orang kakek ini. Baru seorang Pak-kek Sian-ong saja ia hanya mampu mendesak belum mampu mengalahkan, apalagi kalau Lam-kek Sian-ong datang mengeroyok. Terpaksa ia melompat mun­dur sambil memutar sulingnya. Kesem­paten baik ini dipergunakan oleh kedua orang kakek sakti untuk berkelebat pergi dari tempat itu. Dalam kemarahannya, Lin Lin yang tidak kenal takut itu meloncat pula melakukan pengejaran. Akan tetapi tiba­-tiba ia berhenti, tangannya ada yang memegang. Ketika ia cepat menoleh, kira­nya yang memegang pergelangan tangganya adalah Suling Emas! “Lin-moi, jangan mengejar mereka, berbahaya sekali. Biarlah aku membentumu....” Lin Lin mengibaskan tangannya terlepas dari pegangan Suling Emas. Mata­nya terbelalak penuh kemarahan karena munculnya pendekar ini mengingatkan ia akan segala pengalamannya yang pahit dan mematahkan hatinya, terutama sekali ketika Suling Emas membela Suma Ceng. Tak tertahankan lagi tangan kirinya bergerak menampar pipi kanan Suling Emas yang tidak mengelak dan hanya meman­dang dengan mata sedih. “Plakkk!” Ta­ngan kiri Lin Lin meninggalkan tapak tangan kemerahan pada pipi Suling Emas. “Lin Lin! Gila engkau?” Bu Sin membentak marah sambil lari menghampiri. “Pergi....! Pergi....!” Lin Lin berteriak-teriak sambil melarikan diri air matanya mulai bercucuran membasahi pipinya. “Lin Lin, tunggu....!” Bu Sin mengejar, sedangkan Suling Emas setelah berdiri dengan muka pucat dan seperti kehilang­an semangat, akhirnya ikut pula mengejar di belakang Bu Sin. Lin Lin berlari secepatnya ke arah utara, tidak peduli betapa daerah ini makin sukar dilalui, merupakan padang rumput yang makin lama makin jarang pohonnya, hanya rumput-rumput belaka dan di sana ­sini mulai tertutup pasir. Karena tempat ini terbuka, mulailah terasa angin bertiup keras dari arah depan, menyesakkan na­pas. Namun Lin Lin tidak merasakan ini semua dan berlari terus mendaki bagian yang menanjak. Ah, mengapa dia datang? Mengapa aku mesti berjumpa kembali dengan dia? Aku benci dia! Ah, aku benci dia....! Keluhnya sambil menangis, karena betapa ia mengeraskan hati memaksa diri mengaku benci, perasaannya tahu bahwa ia membohongi dirinya sen­diri. Ia mencinta Suling Emas, demikian mencintanya sehingga ia menjadi benci karena Suling Emas tidak membalas cinta kasihnya! “Lin-moi, tunggu!” Kembali Bu Sin berteriak keras dengan napas terengah-engah karena ia harus mengerahkan se­luruh kepandaiannya untuk dapat menge­jar Lin Lin yang lari seperti terbang, apalagi angin mulai mengamuk di padang rumput itu, membawa terbang butiran-­butiran pasir, “Lin-moi, mari kita bicara! Inilah Kakak Bu Song yang kita cari­-cari! Berhentilah dulu!” Mendengar ini, makin deras air mata Lin Lin mengucur di sepanjang pipinya, dan makin cepat pula kedua kakinya ber­lari menjauhi dua orang itu. Bukan kakak­ku, pikirnya sedih, bukan karena aku adiknya. Apa artinya adik angkat, lain ibu lain ayah? Aku orang lain. Hanya karena dia.... dia mencintai wanita yang sudah punya suami dan anak-anak! Ah, alangkah benciku! Sementara itu, Suling Emas sudah memegang lengan Bu Sin dari belakang. “Sin-te (Adik Sin), kau kembalilah. Biar­kan aku membereskan urusan ini. Percayalah kepadaku!” Karena memang merasa tidak sanggup menyusul Lin Lin dan juga merasa ragu apakah ia akan dapat mengatasi watak adik angkatnya yang kukoai (luar biasa) itu, Bu Sin berhenti dan tidak mengejar lagi. Suling Emas lalu mengerahkan kepandaiannya dan bagaikan terbang ia lari mengejar, mendaki jalan tanjakan. Angin makin hebat bertiup, merontokkan daun-­daun beberapa batang pohon yang sudah setengah gundul. Rumput tebal yang tinggi bergerak-gerak menyabet kaki seperti lecutan cambuk. Akhirnya Suling Emas dapat menyusul Lin Lin di puncak bukit itu, puncak yang gundul tidak ada pohonnya sama sekali sehingga angin bertiup kencang membuat mereka sukar bernapas, membuat pakaian mereka berkibar-kibar. “Lin Lin, untuk terakhir kali, mari kita bicara. Kalau kemudian kau masih penasaran kau boleh bunuh aku di sini juga!” Suling Emas menangkap lengan Lin Lin dan tidak mau melepaskannya lagi. Gadis itu membalikkan tubuh, tangan­nya meraba gagang pedang, mukanya penuh air mata. Sejenak mereka bertemu pandang, kemudian dengan terisak Lin Lin merangkul pinggang dan membenamkan mukanya di dada Suling Emas! Pen­dekar ini menahan napas, berdongak sambil meramkan mata. Tak terasa lagi pendekar sakti yang berhati baja ini menitikkan dua butir air mata. Baju di bagian dada Suling Emas sudah basah oleh air mata Lin Lin dan rambut gadis itu tertiup angin melambai-­lambai dan menyapu-nyapu muka pen­dekar itu. Suling Emas memeluk pundak­nya dan membelai rambutnya. “Lin Lin, dengarlah baik-baik. Tiada guna kita lanjutkan semua ini. Kau tahu bahwa tidak mungkin kita berjodoh....” Lin Lin mengangkat mukanya yang basah. “Kenapa tidak mungkin....? Kita.... kita saling mencinta. Katakanlah bahwa kau tidak mencintaku! Katakanlah! Kalau kau tidak mencintaiku, baru aku menerima nasib, akan tahu diri....!” Suling Emas menggeleng-geleng ke­palanya. Tentu saja mudah bagi mulutnya untuk mengatakan hal ini, akan tetapi kalau ia katakan bahwa ia tidak men­cinta Lin Lin maka itu berarti bahwa ia membohong, membohongi Lin Lin dan membohongi diri sendiri! “Lin-moi, kau tahu bahwa aku pun mencintamu, adikku. Aku mencintaimu walaupun cinta kasihku ini tidak ada harganya. Sudah terlampau banyak aku menimbulkah peristiwa duka oleh cintaku. Cinta kasihku bernoda da­rah, Lin-moi. Aku tidak mau menyeretmu ke dalam kutukan ini, karena.... karena besarnya cintaku kepadamu. Aku tahu bahwa kau tidak peduli tentang usia, dan aku tahu bahwa cintamu kepadaku murni. Namun.... betapapun besar aku mencintamu, aku tetap tak dapat menerimanya, adikku. Dunia kong-ouw memusuhiku, hidupku selalu terancam bahaya, dan mereka semua sudah tahu bahwa kau adalah Kam Lin, adik angkat­ku. Mana mungkin kakak mengawini adik angkat sendiri? Alangkah akan hinanya nama kita, nama keluarga kita. Kau akan sengsara lahir batin kalau menjadi jodoh­ku. Selain itu, kau pun harus ingat. Kau seorang puteri mahkota, bahkan kau calon ratu Khitan. Kau harus ingat akan tugas suci ini, ingat akan bangsamu. Jauh lebih mulia bagi seorang manusia untuk berbakti kepada bangsanya dari­pada menuruti nafsu hatinya.” Biarpun angin menderu keras, namun karena Suling Emas mempergunakan khikang dalam suaranya, Lin Lin dapat mendengar jelas. Ia makin terharu. Semua kata-kata itu menikam ulu hatinya dan mau tak mau ia harus mengakui kebenarannya. Matanya serasa terbuka oleh kata-kata itu, mata hati yang selama ini seperti buta oleh cinta. Akan tetapi, teringat akan Suma Ceng ia masih meragu. “Apakah.... apakah semua itu bukan hanya kaugunakan untuk menghiburku? Apakah tidak tepat kalau kau.... tak dapat menerima persembahan hatiku karena kau sudah mencinta orang lain, mencintai Suma Ceng?” Suling Emas memegang dagu gadis itu, diangkatnya mukanya agar menentang mukanya sendiri. “Kaupandanglah mataku, Lin-moi. Adakah mataku mem­bayangkan kebohongan? Memang, dahulu aku pernah mencintai Suma Ceng, akan tetapi cinta itu tercabut akarnya meninggalkan luka di hati setelah ia me­nikah dengan orang lain. Banyak sudah hatiku terluka karena cinta gagal, dan aku tidak mau mengorbankan dirimu hanya untuk mengobati hatiku. Aku.... aku amat mencintamu, adikku, karena itulah, aku rela berkorban patah hati sekali lagi dan kali ini yang paling pa­rah. Dengarlah, aku bersumpah takkan menikah dengan gadis lain, aku ingin mengikuti jejak mendiang suhu Kim-mo Taisu dan jejak locianpwe Bu Kek Siansu. Aku hanya memujikan semoga engkau mendapatkan seorang jodoh yang baik, adikku.” “Ah.... Suling Emas.... aku mencintamu aku tidak akan menikah dengan orang lain aku bersump....” Tiba-tiba Suling Emas menutup bibir yang akan bersumpah itu dengan tangan­nya, kemudian ia tersenyum dan men­cium dahi Lin Lin dengan mesra dan penuh kasih sayang. “Tak perlu bersum­pah, adikku. Dan aku percaya akan cintamu seperti engkau percaya pula akan cintaku. Biarlah perasaan kita ini menjadi rahasia kita dan membahagiakan kita bahwa betapapun juga, kita saling men­cinta. Nah, keringkanlah air matamu, adikku, dan bersiaplah engkau memimpin bangsamu. Lihat, mereka datang men­jemputmu.” Sekali lagi Suling Emas mencium gadis itu lalu melepaskan pelukannya. Lin Lin terisak dan menengok. Betul saja, dari bawah tampak rombongan pasukan Khitan yang dipimpin oleh Kayabu. Me­reka itu berkuda, kelihatan keren dan garang. Tampak pula Kauw Bian Cinjin, Liu Hwee dan Bu Sin di antara rombong­an ini. Lin Lin merasa bangga hatinya dan diam-diam ia menghapus air mata­nya, lalu bergandengan tangan dengan Suling Emas menuruni puncak bukit. Ke­tika mereka saling lirik, keduanya ter­senyum dan di dalam kerling mata mere­ka terbayang haru dan bahagia. Kayabu segera meloncat turun dari kudanya, diikuti semua pasukan dan me­reka memberi hormat dengan membungkuk di depan Lin Lin. “Hamba melapor bahwa pasukan kita berhasil menang dan menduduki Istana. Kini para panglima menanti Paduka untuk menerima perintah selanjutnya.” Lin Lin mengangguk dengan sikap agung, lalu meloncat ke atas kuda yang sengaja dibawa untuknya. Suling Emas juga mendapatkan seekor kuda. Beramai-­ramai mereka menuruni bukit itu. Lin Lin di depan bersama Suling Emas, Bu Sin dan Liu Hwee. Kauw Bian Cinjin agak di belakang. Di tengah perjalanan, Lin Lin bercakap-cakap dengan Bu Sin tentang Sian Eng. Ternyata, Sian Eng menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tak seorang pun tahu ke mana perginya gadis itu yang sudah berubah menjadi seorang yang aneh. Pengangkatan Puteri Yalina sebagai Ratu Khitan dilakukan dengan suasana meriah sekali. Suling Emas, Bu Sin, Liu Hwee, dan Kam Bian Cinjin merupakan tamu-tamu agung yang menghadiri pera­yaan ini. Ratu Yalina mengangkat Kaya­bu sebagai panglima tertinggi, menggantikan kedudukan Pek-bin-ciangkun yang tewas dalam pertempuran. Atas petunjuk Kayabu, Yalina mengangkat pula banyak panglima-panglima Khitan, diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian ma­sing-masing. Sekali lagi, Khitan menjadi bangsa yang kuat di bawah pimpinan seorang ratu yang bijaksana dan men­cinta bangsanya, terlepas dari kekejaman dan kelaliman seorang raja murka seperti Kubakan yang ternyata tewas oleh Pak-­kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Setelah upacara pengangkatan selesai, para tamu agung minta diri. Kauw Bian Cinjin mendapatkan kembali tongkat Beng-kauw. Tentang isi tongkat, yaitu rahasia peninggalan Pat-jiu Sin-ong, tidak disebut-sebut. Rahasia ini hanya diketahui oleh Lin Lin dan Suling Emas belaka, karena catatan-catatan itu sudah ter­lanjur dimusnahkan Lin Lin. Dengan menahan keharuan hatinya, Lin Lin mengantar keberangkatan para tamu agung itu. Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Suling Emas, tak terasa lagi bulu matanya men­jadi basah oleh air mata. Akan tetapi bibirnya tersenyum membayangkan kebahagiaan akan rahasia yang tersimpan di dalam hatinya dan hati Suling Emas, bahwa mereka saling mencinta dengan kasih sayang yang murni, dengan pengor­banan. Lin Lin yang kini menjadi Ratu Ya­lina dengan pakaian indah dan Pedang Besi Kuning menghias pinggangnya, ber­diri mengantar tamunya sampai derap kaki kuda mereka tak terdengar lagi setelah lama bayangan mereka tak tam­pak. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan dengan bangga melihat pasukannya berdiri siap di depannya, siap menanti setiap perintahnya. Ia berjanji akan me­mimpin bangsanya ke arah kemuliaan dan kebesaran. Demikianlah, kisah CINTA BERNODA DARAH ini berakhir sampai di sini de­ngan catatan bahwa di antara tiga saudara yang turun dari Cin-ling-san, hanya Kam Bu Sin seoranglah yang berhasil dalam perjodohannya. Beberapa bulan kemudian, Kam Bu Sin melangsungkan pernikahannya dengan Liu Hwee puteri ketua Beng-kauw, dilakukan dengan upacara yang amat meriah. Hanya sayangnya bagi Bu Sin, di antara saudaranya, hanya Suling Emas saja yang menghadiri perayaan itu. Sian Eng tetap tak pernah muncul, sedangkan Lin Lin yang sibuk dengan tugasnya yang baru, hanya mengi­rim barang-barang berharga sebagai sum­bangan. Setelah Bu Sin menikah, Suling Emas juga melenyapkan diri dari dunia ramai. Hanya kadang-kadang saja ia muncul di Nan-cao, akan tetapi sebentar saja lalu pergi lagi tanpa ada yang tahu ke mana perginya dan di mana tempat tinggalnya yang tetap. Apakah hanya berakhir sampai di sini saja riwayat tokoh-tokoh seperti Lin Lin, Suling Emas, dan Sian Eng? Berakhir dengan menyedihkan karena mereka gagal dalam asmara dan menderita? Pembaca budiman, selama manusia ini masih berada di atas tanah, belum masuk ke da­lam tanah, takkan pernah peristiwa berhenti mengejarnya. Cerita mengenai diri manusia, selama manusia itu masih hidup, takkan pernah habis dan barulah riwayat manusia benar-benar tamat kalau dia sudah masuk ke dalam tanah. Oleh kare­na itu, riwayat tentang diri Suling Emas, tentang diri Lin Lin, tentang Sian Eng dan juga Lie Bok Liong, sekali waktu akan dapat anda nikmati pula apabila pengarangnya telah siap dengan rangkaian cerita lain yang merupakan sambungan daripada cerita CINTA BERNODA DA­RAH. Tunggulah saatnya, dan anda pasti akan berjumpa pula dengen mereka dan.... dalam keadaan yang lebih menyenangkan! Mengapa Suling Emas menjadi nekat merusak kebahagiaannya sendiri, padahal kebahagiaan itu sudah berada di depan mata, sudah menggapainya dalam bentuk cinta kasih timbal balik dengan Lin Lin? Mengapa ia menolak uluran tangan ke­bahagiaan cinta kasih? Hal ini akan ter­jawab apabila anda membaca cerita SU­LING EMAS, di mana anda akan menjum­pai Suling Emas atau Kam Bu Song semenjak kecilnya, menjumpai pula pengalaman-pengalaman hebat dengan asmara berliku-liku dari ibunya, yaitu Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang cantik jelita, gagah perkasa dan genit. Anda akan bertemu dengan tokoh-tokoh hebat seperti guru Suling Emas yang berjuluk Kim-mo Tai­su, bertemu dengan ayah Suling Emas yang tampan perkasa, Jenderal Kam Si Ek yang menjadi perebutan antara gadis-­gadis cantik dengan tokoh-tokoh kang-­ouw yang terlibat urusan ruwet dengan Tok-siauw-kui sehingga terjadi permusuhan yang akhirnya menimpa diri Suling Emas. Dalam cerita SULING EMAS ini akan diceritakan pula tentang masa muda­nya Hek-giam-lo, It-gan Kai-ong, Tok­-sim Lo-tong, Toat-beng Koai-jin, Siang-mou Sin-ni, dan Cui-beng-kui, pendeknya keenam Thian-te Liok-koai akan muncul di masa mudanya! Akhirnya, anda akan menikmati kisah asmara antara Suling Emas dengan cinta pertamanya, kemudian dengan Suma-Ceng. Tak ketinggalan kisah menarik dari ibu Lin Lin, yaitu Puteri Tayami. Demikianlah, semoga cerita CINTA BERNODA DARAH berhasil dalam menghidangkan cerita hiburan sehat bagi para pembaca budiman. Sampai jumpa di lain cerita! T A M A T Solo, awal Oktober 1968