PIDATO SEORANG DEMONSTRAN (Karya Mansur Samin) Mereka telah tembak teman kita ketika mendobrak sekretariat negara sekarang jelas bagi saudara sampai mana kebenaran hukum di Indonesia Ketika kesukaran tambah menjadi para menteri sibuk ke luar negeri tapi korupsi tetap meraja sebab percaya keadaan berubah rakyat diam saja Ketika produksi negara kosong para pemimpin asyik ngomong tapi harga-harga terus menanjak sebab percaya diatasi dengan mupakat rakyat diam saja Di masa gestok rakyat dibunuh para menteri saling menuduh kaum penjilat mulai beraksi maka fitnah makin berjangkit toh rakyat masih terus diam saja PERNYATAAN (Karya Mansur Samin) Sebab terlalu lama meminta tangan terkulai bagai dikoyak sebab terlalu lama pasrah pada derita kesetiaan diinjak Demi amanat dan beban rakyat kami nyatakan ke seluruh dunia telah bangkit di tanah air sebuah aksi perlawanan terhadap kepalsuan dan kebohongan yang bersarang dalam kekuasaan orang-orang pemimpin gadungan Maka ini pagi dengan resmi kamu mulai aksi demonstrasi Pernyataan ini disahkan di Jakarta kami Mahasiswa Indonesia Mereka diupah oleh jerih orang tua kita tapi tak tahu cara terima kasih, bahkan memfitnah Kita dituduh mendongkel wibawa kepala negara apakah kita masih terus diam saja? AGUSTUS Oleh : Mansur Samin Berdirilah hening dalam kehampaan malam jiwa siapa yang patut dikenang hitung dari mula kerna letak kejadian indah adalah hadirnya upcara duka membangun kepercayaan teguh Apakah mereka dengan kita bicara menghitung hari-hari silam kehilangan rupa atas rumah-rumah di lingkaran gelap atas anak-anak di ketiadaan harap dari dulu terduga selalu Berdrilah hening dalam kehampaan malam ucapkan lunak kesanggupan yang bimbang jangan tangisi, jangan hindari kenyataan ini kerna fajar pagi akan membuka langit letihnya menyediakan tanya untuk kita saling tidak bicara Di mendung gerimis Agustus ini simpanlah risalah lama melantung kedalaman tentang hari-hari gemilang yang akan datang tentang akhir-akhir hutang yang tiada pegangan heningkan di sini, jangan dengan separo hati ! Berdirilah hening dalam kehampaan malam melupakan cedera kehilangan rupa tegakkan pula suatu bentuk baru di hatimu mengorak jauh suatu pandangan kudus di pilumu diam bergalau kita pun semua tahu untuk apa mengenang itu. Mimbar Indonesia, Th XIV, No. 50 1960 Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air NOVEMBER Oleh : Mansur Samin Seperti pelancong larut dari perjalanan jauh dibebani semua hasrat bermakna mimpi kami hadir di November ini membawa rahasia keharusan untuk ditanya dekatlah kemari ke denyut kehidupan ini dengar, dari kerinduan tanah air kami mulai di tepi harapan sepanjang malam pertanyaan makin tumpul dalam diri adakah kepercayaan melahirkan pegangan sedang pasar, gudang , kantor dan pabean telah lam aluput tangkapan karena berlaku hukum kediam-diaman Bukan tidak percaya kami bertanya sebab kami cinta apa yang kami yakini jangan biarkan kami sendiri mengadu pada arti November ini bukankah bertahun semua tarohan siap merana untuk kemenangan yang sama kita percaya Seperti penanggung rindu kami datang kesampingmu minta disingkap tabir rahasia itu tuan-tuanlah pengemudi tanah air sari kehidupan hasrat mencari datanglah ke dapur kami ke baringan anak-anak kami gelap dan terang jelaskan o, para budiman dasar Kemerdekaan ! Bagaimana pula mendiamkan ini kenyataan kerna sarat oleh goda cobaan meri tegakan kesini ke November ini bersaksi jasa dan nyawa-nyawa yang pergi untuk kelanjutan nilai hari datang ini kepercayaan jangan tangguhkan tapi lajukan sebab nilai kenangan Indonesia berakhir pada arti dan jiwa Gelora, No 19, Th III 19 Maret 1962 Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air BUKU HARIAN PRAJURIT Oleh : Mansur Samin 1. malam tengadah di atas kaca akan sepi bermukim asing di sini napas sisi jendela, jeriji besi-besi tua menghisap angin dingin atas kekerdilan hati Mengapa palu itu tak segera memutus apah mereka tahu aku bukan pembunuh hukum dunia mengnal noda untuk kira-kira dada bunda hanya kenal sorga atau neraka Malam tengadah di atas kaca jauh dari hati melebur hari-hari pergi kalung mentega, lonceng gereja dan layap mata diliput batin ini antara hidup dan mati kalaupun sesal tinggal dendam berbeda harap dengan permintaan 2. Demi hukum keadilan, haii anak lajang ! tabir dosa kekal adalah garis penyelesaian memberatimu saksi tangan, titik bukti tebal adakah misal satu-satunya kau kenal ? Begitu hati, wahai hati yang takut mati sampaikan salam dunia dan diri sepi kuyup mata, ruang dahaga dan doa setiap bunda tiada mengharapkan dosa Demi hukum keadilan haii anak lajang ! kami bawakan pelita melewati jalan-jalan sesal kitab suci, sumpah murni dan tangis hati akan memberkahi segi-segi yang bakal lahir Dalam pemeriksaan dan misal kelanjutan lenyap nilai jawab di tubuh jatuh terlentang 3. Dari hati yang tersirat, pengadilan yang terhormat ! aku bukan pembunuh Tuhan pun tahu hidup ini bermain pada kira-kira dan sia-sia dosa kita mencari bukti dalam misal Jika salamku hilang ke tengah dunia kasih pada hari-hari silam belum berakhir dengan dosaku dan kemelut tahun yang berduka tinggal garis henti, semua kata hilang arti Konfrontasi No. 32, 1959 Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air