Serial Pedang Kayu Harum (12)-Episode 1 Pendekar Kelana ebook oleh: http://jowo.jw.lt Pegunungan itu jelas memperlihatkan sentuhan musim kering yang berkepanjangan. Pohon-pohon kehilangan banyak daunnya, bahkan ada di antara pohon-pohon yang gundul. Cabang dan rantingnya mencuat kering ke sana sini. Sebatang pohon besar nampak menyendiri di antara pohon-pohon yang layu. Pohon ini nampak masih hijau segar. Mungkin karena akar-akarnya sudah mencari air jauh di bawah permukaan tanah yang kering kerontang itu. Sawah dan ladang terpaksa dibiarkan menganggur setelah dicangkuli, nampak terbuka dan dengan sabar menanti datangnya air hujan. Kalau angin berhembus kuat, nampak debu mengepul di permukaan tanah. Matahari bersinar teriknya, dan sedikit gumpalan-gumpalan awan putih tidak menjanjikan hujan yang di nanti-nanti itu. Anak-anak sungai tidak ada airnya dan dasarnya yang masih agak basah itu dipenuhi rumput-rumput. Beberapa ekor kerbau yang ramping kurus mencoba untuk makan rumput yang tumbuh di tengah anak sungai. Seorang laki-laki setengah tua yang sama kurusnya meniru usaha kerbau-kerbau itu, mencabuti rumput hijau. Untuk dimakan! Daripada mati kelaparan, terutama bagi anaknya yang masih kecil di rumah, diambilnyalah apa saja yang masih hijau dan masih hidup, untuk dimasak dan dimakan! Jauh di atas, beberapa ekor burung beterbangan. Mereka itu lebih beruntung karena dengan sayap mereka, mereka mampu terbang jauh untuk mencari makanan. Banyak serangga keluar dari sarang mereka di bawah tanah untuk mencari makanan yang amat kurang bagi mereka dan serangga-serangga ini menjadi makanan burung. Musim kering yang panjang, mengeringkan segala yang berada di atas permukaan bumi, menjadi masa yang sengsara bagi para petani dusun. Dusun Ki-ceng di kaki pegunungan itu dilanda malapetaka musim kering yang panjang. Banyak penduduk yang mati karena kelaparan. Satu-satunya sumber air yang berada di dusun itu masih mengeluarkan air, akan tetapi hanya sepersepuluh dari biasanya. Air yang mengucur kecil inilah yang setiap hari dibuat rebutan penduduk dusun. Hanya sekedar untuk minum. Tubuh yang kurus kering dengan pakaian compang-camping itu kulitnya kelihatan kering dan dimakan kutu penyakit gatal. Perut anak-anak membesar walaupun kaki tangannya mengecil, tanda dari busung lapar. Memang ada beberapa orang kaya di dusun itu, yang menjadi tuan-tuan tanah. Namun mereka sama sekali tidak memperdulikan keadaan rakyat di sekitar mereka. Mereka menutup pintu gudang yang penuh beras dan gandum itu rapat-rapat. Kalaupun ada yang mau menolong, tentu ada pamrihnya. Yang memiliki anak gadis cantik dan bersih, ditolong dengan menyerahkan gadisnya kepada si hartawan untuk di tukar dengan beberapa karung gandum atau beras. Keluarga Si Cun termasuk satu di antara para keluarga miskin itu. Si Cun sudah berusia limapuluh tahun dan isterinya beberapa tahun lebih muda daripada dia. Keluarga ini mempunyai tiga orang anak, yang pertama seorang anak perempuan dan yang dua orang lagi anak laki-laki. Anak perempuan itu bernama Si Kiok Hwa, anak kedua bernama Si Leng dan yang ketiga bernama Si Kong, karena sudah tidak dapat lagi memperoleh makanan, maka ketika Hartawan Lui yang tertarik kepada kecantikan Kiok Hwa menurunkan bantuan, Si Cun terpaksa menyerahkan Kiok Hwa untuk menjadi selir hartawan itu, menukarnya dengan lima karung beras. Sungguh patut dikasihani nasib Kiok Hwa yang baru berusia enambelas tahun itu. Ia dipaksa menyerahkan dirinya kepada Hartawan Lui yang usianya hampir tujuhpuluh tahun itu. Akan tetapi ia menerima nasib. Kalau ia tidak mau, berarti ia sekeluarga akan mati kelaparan. Lima karung beras itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Dan tak mungkin mengharapkan uluran tangan dari Kiok Hwa. Anak perempuan itu seakan-akan telah mati bagi keluarga Si, karena dilarang keluar, apalagi memberikan apa-apa kepada keluarganya. Pada suatu hari, Si Leng, anak yang kedua itu, tidak pulang kerumah. Tentu saja ayah ibunya dan Si Kong yang baru berusia sepuluh tahun menjadi bingung dan mencari kemana-mana. Akhirnya beberapa orang tetangga datang menggotong Si Leng yang berusia empatbelas tahun itu dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi. Menurut cerita para tetangga, Si Leng hendak mencuri di rumah Hartawan Lui, naik kepagar tembok dan ketahuan penjaga yang mengejarnya dan membacoknya dengan golok sehingga anak itu tewas! Si Cun sekeluarga menangis dan meratapi kematian anak mereka. Mereka tahu benar bahwa Si Leng pergi kesana bukan untuk mencuri, melainkan untuk menemui kakak perempuannya dan minta bantuan. Untuk masuk melalui pintu depan tentu tidak mungkin dan akan diusir para tukang pukul. Maka dia naik ke pagar tembok dengan harapan bertemu dengan encinya di bagian belakang gedung itu. Akan tetapi nasibnya buruk dan dia ketahuan tukang pukul, dituduh mencuri dan dibunuhnya! Si Cun tidak berdaya. Mau melapor kemana? Yang berwajib di dusun itu adalah Lurah Ciu. Dan lurah ini tentu akan menyalahkan Si Leng yang dituduh mencuri dan memarahi Si Cun yang dikatakan tidak dapat mendidik anaknya. Kiok Hwa yang berada di gedung Hartawan Lui itupun mendengar tentang adiknya yang terbunuh karena meloncati pagar tembok, akan tetapi iapun hanya dapat menangisi kematian adiknya itu, tak dapat berbuat apa-apa. Dalam keadaan terhimpit itu, Si Cun terpaksa menggadaikan sawahnya kepada Hartawan Boan, seorang hartawan lain di dusun Ki-ceng. Dia memperoleh hanya sepuluh tael perak dan hutangnya itu dibebani bunga yang tinggi, sepuluh prosen sebulan. Tanah itu menjadi milik hartawan Boan sampai Si Cun dapat mengembalikan utangnya berikut bunganya. Uang sepuluh tael perak itu dibelikan beras, akan tetapi keluarga yang hanya tinggal tiga orang ini setiap hari harus makan bubur yang banyak airnya, itupun dibagi-bagi di antara tiga orang itu. Ketika hujan mulai turun, uang itupun habis. Untuk mengembalikan uang yang sudah menjadi dua puluh tael itu tentu saja Si Cun tidak sanggup. Dan karena tanahnya dikuasai hartawan Boan, terpaksa Si Cun bekerja kepada tuan tanah sebagai buruh tani! Dia mulai mencangkul tanah miliknya sendiri menjadi buruh tani. Curahan keringatnya untuk menyuburkan hasil sawah itu hasilnya bukan untuk dia, melainkan untuk tuan tanah Boan dan dia hanya kebagian sepersepuluh bagian. Hanya bisa pas saja untuk makan setiap harinya, dan tidak ada sisa untuk ditabung sebagai pembayar utang. Dengan sendirinya, hutang itu makin menumpuk, tertimbun bunganya sehingga setahun kemudian, hutang sudah menjadi berlipat ganda! Si Cun kehilangan anak gadisnya, kehilangan anak kedua, dan kehilangan sawahnya pula! Setiap malam Si Cun dan isterinya merenungi nasib mereka dan air mata Nyonya Si Cun sampai habis terkuras karena setiap malam menangis. Mereka bertiga bekerja di sawah dari pagi sampai petang. Bahkan Si Kong yang baru berusia sepuluh tahun itupun membantu mencangkul di sawah. Kehidupan manusia di dunia ini teramat janggal, teramat tidak adil. Si kaya memiliki makanan, pakaian dan rumah yang berlebihan. Sedangkan si miskin yang tinggal di sebelah rumahnya, demikian melaratnya sehingga untuk makan saja tidak cukup! Malaskah si miskin itu? Sama sekali tidak. Bahkan mereka bekerja keras siang malam untuk sekedar bertahan hidup. Menyedihkan memang. Apalagi melihat si kaya membeli barang-barang mewah yang tidak perlu. Padahal, uang yang dihamburkan itu dapat menghidupi banyak keluarga miskin. Lebih menyedihkan lagi kalau banyak sekali uang dihamburkan untuk membeli senjata untuk mempertahankan diri. Padahal, uang untuk membeli senjata itu akan menghidupkan suatu bangsa yang sedang dilanda kemiskinan. Alangkah baiknya kalau dalam kehidupan ini manusia saling menolong, bangsa saling menolong sehingga tidak akan terjadi permusuhan. Alangkah indahnya kalau sinar kasih menyelimuti kehidupan kita, bukan permusuhan, dendam dan kebencian! Musim kering telah lewat. Sawah ladang nampak hijau segar. Lautan daun padi nampak menghijau dan kalau angin bertiup daun-daun itu seperti menari-nari, merayakan musim panen yang segera tiba. Akan tetapi semua yang serba indah itu bagaikan ejekan bagi keluarga Si. Sewaktu mereka bertiga menj?ga sawah yang mulai berbuah, mereka merenungi nasib mereka, seakan tenggelam dalam lautan menghijau itu. Dengan bekerja keras tak mengenal lelah, Si Cun dan isterinya akhirnya dapat juga memetik hasilnya. Biarpun hanya memperoleh sepuluh bagian, namun karena hasil sawahnya banyak sekali, mereka dapat menjual hasil itu dan mengembalikan hutang kepada Hartawan Boan sebanyak duapuluh lima tael. Sawah itu kembali kepada mereka! Hidup mereka tetap miskin, sisa hasil sawah yang dijual dapat menahan mereka dari ancaman kelaparan, akan tetapi mereka harus berhemat. Makan dikurangi, pakaianpun tidak membeli melainkan memakai satu-satunya pakaian yang melekat di badan! Kalau sedang mencuci pakaian, mereka hanya menggunakan selimut butut untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang. Pengalaman pahit membuat seseorang menjadi kebal dan pengalaman itu tidak terasa pahit lagi. Makan sedikit bubur dengan garam tidak mendatangkan kesedihan bagi orang yang sudah terbiasa dengan makanan itu. Kehidupan yang keras dan sulit tertanam dalam-dalam di jiwa Si Kong sehingga anak ini dapat mandiri dalam usianya yang baru sepuluh tahun. Dia menjadi seorang anak yang tabah dan tidak cengeng. Dia seolah lupa lagi untuk menangis karena di waktu kecilnya sudah terlalu banyak menangis. Tubuhnya pun menjadi kokoh kuat, tulang-tulang mengeras dan daya tahannya luar biasa. Dia mampu mencangkul sehari penuh tanpa istirahat dan hanya makan semangkok bubur encer! Kemalangan bagi seorang manusia kadang datang secara bertubi-tubi. Baru saja keadaan keluarga Si sedikit membaik, tanahnya sudah kembali kepada mereka, timbul wabah penyakit di dusun Ki-ceng. Di antara orang-orang yang terkena penyakit ini, termasuk Si Cun dan isterinya! Karena keadaan, maka penghidupan mereka tidak dapat disebut bersih. Dan inilah yang membuat mereka kejangkitan wabah penyakit itu. Dan dalam waktu sepekan saja, Si Cun dan isterinya berturut-turut meninggal dunia! Dunia rasanya kiamat bagi Si Kong yang baru berusia sepuluh tahun itu! Bagi Si Kong dan mungkin kebanyakan orang, peristiwa itu dianggap keterlaluan seolah Tuhan tidak adil! Tentu karena manusia hanya melihat segi lahiriahnya saja! Tuhan Maha Adil! Hanya jalan yang di tempuh Tuhan untuk menentukan sesuatu itu rahasia besar bagi kita, tidak terjangkau oleh akal pikiran kita. Bagi kita hanya ada satu sikap. Yaitu, berikhtiar sekuat dan sebaik mungkin, akan tetapi menerima kenyataan dan keadaan dengan pasrah dan menguatkan iman kita bahwa apa yang Tuhan kehendaki semua terjadilah! Dan semua itu terjadi dengan benar dan adil. Mengapa terjadi begini atau mengapa terjadi begitu, berada di luar kekuasaan kita. Hukum Karma tidak akan pernah menyimpang seujung rambutpun. Dan kita harus menerimanya penuh kepasrahan, ikhlas dan dengan iman yang kuat akan kekuasaan, kebesaran dan kebenaran Tuhan! Atas nasihat para tetangga, Si Kong terpaksa menjual sawah dan rumah gubuknya, untuk membiayai pemakaman ayah ibunya. Dia menggunakan uang penjualan sawah dan rumah itu membeli peti mati dan semua keperluan sembahyang, kemudian dilayat oleh para tetangga, ayah ibunya dikuburkan secara sederhana. Semua tetangga yang melayat sudah meninggalkan tanah kuburan itu, akan tetapi Si Kong tidak mau pergi. Beberapa tetangga mencoba untuk membujuknya, akan tetapi Si Kong berkeras tidak mau pergi sehingga akhirnya orang meninggalkannya di depan sepasang makam itu. Si Kong mendekam berlutut di depan kuburan ayah ibunya sambil menangis. Suaranya sampai habis dipakai menangis sejak kemarin. Dia merasa berduka dan nelangsa sekali. Kini dia hidup seorang diri, yatim piatu. Satu-satunya saudaranya hanyalah Si Kiok Hwa, namun encinya itu telah “dipenjara” dalam gedung Hartawan Lui, tidak dapat dijumpainya. Bahkan mungkin encinya itu tidak tahu akan kematian orang tuanya. Si Kong terus mendekam dengan menyentuh tanah. Perut lapar, seluruh tubuh lemah lunglai, tidak dirasakan lagi. Kalau mungkin dia tidak akan bangkit lagi selamanya, ingin berada di situ bersama makam ayah bundanya yang tercinta. Akhirnya, tubuhnya yang tidak kuat dan diapun tergolek pingsan. *** Hujan turun malam itu. Malam gelap pekat, hanya kadang-kadang ada cahaya kilat menerangi permukaan bumi, meninggalkan bayang-bayang raksasa pohon yang menyeramkan. Tanah kuburan itu menjadi tempat yang mengerikan! Karena tubuhnya disiram air hujan, Si Kong siuman dari pingsannya. Tubuhnya terasa lemas dan begitu siuman, dia teringat kepada ayah ibunya. “Ayah……..! Ibu……..! Bawalah aku……., aku ikut………!” dia menangis dan berteriak-teriak. Kalau ada orang mendengarkan suara itu di tengah malam hujan di pekuburan, tentu mengira suara iblis. Setelah menangis dan berteriak-teriak sampai suaranya habis, Si Kong lalu bangkit. Dia memandang ke arah dua gundukan tanah itu dan baru sadar sepenuhnya apa yang telah terjadi. Ayah ibunya telah mati, telah dikubur dan tidak mungkin membawanya. Dia harus pulang, akan tetapi pulang kemana? Rumahnya telah dijual, uangnya untuk biaya penguburan. Sisanya hanya tinggal beberapa keping saja di saku bajunya yang basah kuyup. Dia menggigil dan menatap dua makam itu. “Ayah….. ibu…….. bagaimana dengan aku ini……?” kembali dia menubruk makam itu dan menangis sambil memeluk dan rebah menelungkup di atas makam ibunya. Dia pingsan lagi! Mengenang masa lampau, takut menghadapi masa depan, menimbulkan duka. Apabila kita sedang berduka, duka itu semakin menghebat kalau kita bandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain, karena kita selalu tengadah dan melihat mereka yang berada di atas kita. Kalau kita melihat ke atas, yang nampak hanyalah orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya dari pada kita, lebih kaya, lebih senang dan sebagainya, pendeknya serba lebih dari pada kita. Akan tetapi sekali kita menunduk, melihat ke bawah, ternyata masih banyak sekali orang yang lebih rendah dari pada kita, lebih miskin, lebih sengsara dan barulah kita menyadari bahwa keadaan kita masih lebih baik daripada keadaan banyak orang! Sekali ini, air hujan yang menyiram tubuhnya tidak mampu menggugah Si Kong dari pingsannya. Dia pingsan terus sampai pagi, sampai matahari pagi sudah mulai menghidupkan segala sesuatu, mengusir kabut dan kegelapan. Seorang kakek yang pakaiannya penuh tambalan memasuki kuburan itu. Usianya sudah enampuluhan tahun, tangan kanan membawa tongkat bambu dan tangan kirinya menjinjing sebuah keranjang berisi beberapa macam daun dan akar-akaran. Kakek berusia enampuluhan tahun itu rambutnya sudah berwarna dua, hitam dan putih sehingga dari jauh kepalanya nampak kelabu. Namun wajahnya yang lebar itu masih nampak muda tanpa keriput, bahkan kedua pipinya kemerahan tanda sehat dan mulutnya tak pernah berhenti tersenyum. Matanya juga bersinar-sinar sehingga wajah itu selalu nampak berseri. Matanya mencari kanan kiri, dan agaknya dia mencari tumbuh-tumbuhan, sementara mulutnya perlahan menyanyikan sajak. “bacoklah air dengan pedang dan air akan mengalir terus, benamkan duka dalam arak dan kedukaan makin bertambah, dalam hidup ini, harapan harapan kita terpenuhi, kelak, dengan rambut terurai lepas, kita akan pergi” “anda bertanya mengapa aku memilih tinggal di pegunungan. aku tersenyum tanpa jawab, hatiku dalam kedalaman, bunga persik pergi air mengalir, terdapat Langit dan Bumi di luar dunia manusia.” Sajak itu adalah tulisan pujangga Li Pai (701-762) ratusan tahun yang lalu, dinyanyikan oleh kakek itu dengan suaranya yang dalam. Dan Si Kong masih pingsan atau tertidur itu bermimpi. Dia merasa duduk di dekat perapian yang dibuat di dalam rumah, dirangkul ibunya. Detak jantung ibunya terasa olehnya, menimbulkan suasana akrab dan hangat. Telinganya mendengar suara ayahnya yang agak parau dan dalam, dan suara itu mendatangkan rasa damai dan tenteram di hatinya. Alangkah senangnya duduk di dekat api dalam rangkulan ibunya dan mendengar suara ayahnya. Memang perutnya masih terasa lapar. Makan semangkok bubur malam itu belum memuaskan perutnya. Akan tetapi suasana yang akrab dan tenteram itu amat menyenangkan. “Heiii, nak, matahari sudah naik tinggi dan engkau masih enak-enak tidur di sini?” Dia mendengar teguran ayahnya. Ayahnya memang tidak senang kalau melihat dia malas-malasan. Kemudian pundaknya diguncang dan suara ayahnya terdengar lagi. “Hayo bangun! Engkau bisa sakit tidur di sini!” Eh, mengapa ayahnya berkata demikian? Dan suara itu, memang dalam akan tetapi tidak parau. Bukan suara ayahnya! Si Kong bangkit dari tidurnya. Sinar matahari tepat menerobos celah-celah daun menimpa matanya. Dia melindungi matanya dengan punggung tangan, menggosok-gosoknya untuk mengusir sisa kantuk, lalu menurunkan kedua tangannya. Terbelalak dia memandang kepada kakek yang tadi menyuruhnya bangun. Sama sekali bukan ayahnya, melainkan seorang kakek. Kakek itu asing pula, bukan penghuni dusun Ki-ceng. Seluruh penduduk dusun Ki-ceng dikenalnya, akan tetapi kakek ini tidak dikenal. Rasa lapar mengerogoti perutnya, akan tetapi ditahannya. “Engkau siapakah, kek?” tanyanya. “Ha-ha-ha-ha, sepatutnya aku bertanya engkau ini siapa dan apa kerjamu di sini? Engkau tertidur di atas makam dan seluruh pakaianmu basah. Lihat mukamu membiru tanda kedinginan. Cepat kau kunyah ini dan telan, jangan pedulikan pedas dan pahitnya!” Dia menyodorkan sejari jahe yang diambilnya dari keranjang obatnya. Si Kong tidak membantah. Dia memang seorang anak yang penurut dan mudah memahami kehendak orang lain. Dia segera tahu bahwa kakek ini hendak menolongnya, maka diapun menerima jahe itu dan dimakannya. Panas dan getir bukan main rasanya, akan tetapi terus ditelan saja. Ada rasa hangat di perutnya. Rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan dia tidak lagi merasa kedinginan. “Nah, sekarang engkau harus memberitahu kepadaku, mengapa engkau berada di sini, siapa namamu dan di mana pula rumahmu?” Karena kedua kakinya agak gemetar dipakai berdiri, Si Kong duduk di atas batu di dekat makam ayah ibunya. “Namaku Si Kong dan ini adalah makam ayah dan ibuku yang baru dimakamkan kemarin sore.” “Kemarin sore dimakamkan dan engkau semalam suntuk berada disini, kehujanan dan kedinginan?” kakek itu bertanya dengan suara mengandung keheranan dan juga kekaguman. Anak ini berbakti dan pemberani. Sukar dicari anak yang berani tinggal semalam di kuburan, apalagi malam tadi gelap dan dingin banyak mengandung kilat. “Mereka adalah orang tuaku, kakek, dan aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi.” Teringat akan ini, kembali Si Kong mengeluarkan air mata. “Rumah kami sudah kujual untuk membeli peti mati. Aku tidak punya rumah lagi, sebatang kara di dunia ini.” Melihat anak itu mulai menangis dan mengguguk, kakek itu meloncat dan tertawa-tawa. Suara tawanya berbaur dengan suara tangis Si Kong sehingga terdengar aneh sekali. Bahkan Si Kong yang sedang menangis itu menghentikan tangisnya memandang kakek itu. “Kek, apa yang kau tertawakan?” “Anak yang baik, apa yang kau tangisi?” “Aku menangisi kematian ayah ibuku.” kata Si Kong penasaran. “Ha-ha, benarkah itu? Bagaimana mungkin engkau tangisi orang tuamu kalau engkau tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang? Yang jelas, mereka terhindar dari kemiskinan, terhindar dari sakit. Itukah yang kau tangisi? Ataukah engkau menangisi dirimu sendiri karena merasa ditinggalkan orang-orang yang kausayangi, karena merasa hidup seorang diri dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi, tidak memiliki apa-apa lagi? Itukah yang kautangisi?” Si Kong tertegun dan sadar. “Memang begituah, kek, aku menangisi diriku sendiri, merasa kasihan kepada diriku sendiri. Salahkah itu?” “Ha-ha, tidak salah melainkan tidak tepat. Manusia harus berusaha mengatasi kesulitannya, bukan hanya ditangisi.” “Dan engkau sendiri mengapa tertawa-tawa, kek? Apa engkau menertawakan aku yang sedang berduka? Alangkah kejamnya engkau.” “Ha-ha-ha, aku tertawa karena melihat kelucuan. Betapa manusia diombang-ambingkan antara tawa dan tangis, antara suka dan duka. Baru terlahir sudah menangis, masih belum puaskah? Menangis dan menangis lagi. Seorang bocah seperti engkau ini tidak pantas menangis, pantasnya tertawa seperti aku, mentertawakan dunia mentertawakan manusia dengan segala kepalsuannya! Sudahlah, berkabung semalam suntuk sudah cukup baik. Kulihat engkau kedinginan dan kelaparan. Dinginmu sudah kuusir jahe tadi, akan tetapi kalau kubiarkan saja perutmu kosong, engkau dapat mudah diserang penyakit. Ini aku mempunyai beberapa potong buah pisang. Nah makanlah dan habiskan!” Dia mengambil lima potong buah pisang dari keranjangnya. Si Kong terheran-heran. Darimana kakek itu dapat memiliki buah pisang? Di daerah itu sama sekali tidak ada pohon pisang. Bahkan Si Kong baru melihat saja, belum pernah makan. Akan tetapi dia tidak menolak. Diterimanya buah pisang itu, dikupasnya kulitnya dan dimakannya dengan lahap. Sejak kemarin pagi, perutnya tidak dimasuki apa-apa. “Sekarang, telanlah ini untuk menguatkan badanmu.” Kakek itu kembali mengambil sebutil pel dari bungkusan dalam keranjangnya. Pel itu berwarna merah dan tanpa ragu-ragi lagi Si Kong menelannya. “Aku mendengar bahwa dusun Ki-ceng diserang wabah penyakit. Apakah orang tuamu juga terserang penyakit itu?” “Agaknya begitulah, kek. Tubuh mereka panas sekali dan dalam waktu dua hari saja, mereka meninggal dunia seperti orang-orang lain di dusun ini yang lebih dulu terserang.” “Engkau sebatang kara? Tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa?” “Benar, kek.” “Kalau begitu, maukah engkau ikut dan membantuku? Akan tetapi ingat, keadaanku tidak banyak bedanya denganmu, aku juga tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa. Maukah engkau menjadi muridku?” “Menjadi murid? Belajar apakah, kek?” “Ha-ha, belajar apa? Mengobati orang, membaca huruf, dan juga mengemis!” “Aku suka belajar mengobati orang dan membaca huruf, akan tetapi aku tidak mau belajar mengemis, kek.” “Mengemis adalah perbuatan yang penting untuk mencegah kita menjadi pencuri. Kalau kita dapat bekerja mencari nafkah, itu baik sekali. Akan tetapi kalau tidak bisa, lalu apa yang kaumakan? Tidak makan berarti mati, maka daripada mencuri lebih baik mengemis, menggerakkan hati manusia untuk sekedar memberi semangkok nasi.” Si Kong tidak berpikir lama. Jelaslah bahwa kakek ini berhati baik, dia dapat belajar mengobati dan membaca huruf. Soal mengemis, bagaimana nanti sajalah. Dia dapat bekerja apa saja. “Bagaimana? Engkau suka menjadi muridku?” Si Kong menjawab. “Suka sekali!” dan dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek pengemis tua itu dan menyebut “suhu”! “Bagus! Nah, mulai detik ini engkau harus menurut semua kata-kataku. Siapa namamu tadi? Si Kong? Dan kenallah nama gurumu. Orang-orang yang usil mulut menyebutku Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat). Lihat, mereka mengangkatku menjadi Yok-sian (Dewa Obat) akan tetapi memakiku sebagai Lo-kai (Pengemis Tua). Akan tetapi aku sudah terbiasa dengan nama itu sehingga aku sudah lupa namaku sendiri, ha-ha-ha!” “Suhu, kita akan kemana sekarang?” “Di Ki-ceng sini sedang berjangkit wabah yang menular. Orang tuamu sendiri menjadi korban. Kita harus menolong mereka yang sakit dan menjaga mereka yang belum ketularan. Hayo, antarkan aku ke rumah kepala dusun.” Si Kong menjadi penunjuk jalan. Sementara itu, matahari mulai memuntahkan sinarnya yang panas sehingga pakaian Si Kong yang tadinya basah kuyup karena semalam diguyur air hujan, kini mulai mengering. Mereka disambut oleh kepala dusun sendiri yang mengenal Si Kong. “Si Kong, ada apakah engkau minta menghadapku dan siapakah kakek ini?” “Lo-ya, kakek ini adalah guru saya berjuluk Yok-sian Lo-kai dan dia datang untuk mengobati mereka yang sakit terkena wabah.” “Ah, kebetulan sekali. Anakku juga terserang dan baru malam tadi badannya panas sekali.” Kata kepala dusun. “Boleh aku memeriksanya dan mengobatinya?” Tanya Yok-sian Lo-kai. “Tentu saja. Mari, silakan masuk.” Kepala dusun yang sedang gelisah itu mempersilakan mereka masuk. Kakek itu masih memegang tongkat bambunya, akan tetapi kini keranjang terisi rempa-rempa itu dibawakan Si Kong. Anak sakit itu berusia sepuluh tahunan, sebaya dengan Si Kong. Ketika Yok-sian Lo-kai memasuki kamar itu, anak itu dalam keadaan tidak sadar dan tubuhnya panas sekali. Yok-sian Lo-kai memeriksa denyut nadinya, membuka matanya dan mulutnya, lalu mengangguk-angguk. “Penyakit ini memang mudah menular, terbawa oleh lalat. Akan tetapi keadaannya masih dini, belum parah dan mudah-mudahan dia dapat disembuhkan.” Kakek itu lalu menotok dengan jarinya di beberapa bagian tubuh anak itu. Anak itu kini siuman dan mengerang kepanasan. Kakek itu mengambil sedikit akar dan berkata kepada Si Kong. “Si Kong, masak akar ini dengan semangkok air, sampai mendidih dan sisakan setengah mangkok, bawa kesini.” Isteri lurah yang juga berada di kamar itu lalu menggapai Si Kong. “Mari kusediakan alatnya untuk memasak obat.” Mereka ke dapur dan kakek itu tetap menggunakan jari-jari tangannya untuk menekan sana-sini. Setelah obat itu selesai dimasak, Si Kong membawanya kepada gurunya. Setelah obat itu agak dingin Yok-sian Lo-kai lalu menyuruh anak yang sakit itu minum obat itu sampai habis. Setelah itu dia menyuruh anak itu tidur kembali. Sungguh manjur sekali obat itu karena panas tubuh anak itu segera menurun. Tentu saja kepala dusun dan keluarganya merasa girang dan berterima kasih sekali. “Kalian carilah ilalang dan akar ini sebanyaknya. Masak dan beri minum kepada mereka yang sakit. Tentu dapat menolong nyawa mereka. Dan yang belum terkena penyakit ini harus berhati-hati. Jangan sekali-kali membiarkan lalat hinggap pada makanan. Semua makanan harus ditutup rapat. Jangan minum air mentah, melainkan air itu harus dimasak sampai mendidih. Keluarkan alas tempat tidur dan selimut, jemur sampai kering benar. Jagalah kebersihan dan wabah ini akan lenyap dengan sendirinya.” demikian Yok-sian Lo-kai berkata kepada kepala dusun. Sang kepala dusun segera memanggil semua penduduk dan kepada mereka dia meneruskan pesan Yok-sian. Beramai-ramai penduduk yang sanak keluarganya sakit mencari daun ilalang dan akar itu, lalu mengobati mereka yang sakit. Kepala dusun lalu menjamu Yok-sian Lo-kai dan Si Kong. Tanpa sungkan lagi Yok-sian lalu makan minum dengan lahapnya. Juga Si Kong yang sejak kemarin belum makan, kini makan dengan lahapnya. Setelah itu, Yok-sian lalu berkata kepada kepala dusun. “Sekarang harap lo-ya suka memanggil semua orang yang kaya agar berkumpul disini. Saya ingin bicara hal penting pada mereka.” Permintaan ini pun dilaksanakan oleh kepala dusun. Tak lama kemudian belasan orang tuan tanah yang kaya raya berkumpul ditempat itu, tidak ketinggalan disertai pengawal-pengawal atau tukang pukul. “Aku ingin bicara, harap kalian dengarkan baik-baik. Kalian adalah warga-warga dusun Ki-ceng ini, berarti senasib sependeritaan dengan warga lain yang kurang mampu. Mulai sekarang, harap kalian suka mengubah sikap terhadap warga yang miskin. Jangan lagi memeras mereka, akan tetapi bantulah mereka apabila musim paceklik tiba. Jangan memberi hutang dengan bunga tinggi, dan jangan merampas sawah ladang mereka. Kalau kalian masih berani melakukan penindasan, mungkin dusun ini akan terkutuk dan datang lagi wabah penyakit yang lebih hebat pula. Dan penyakit itu tidak takut kepada harta kalian.” Belasan orang hartawan itu menjadi gempar, dan jelas kelihatan bahwa mereka tidak menyetujui hal ini. Melihat ini Yok-sian Lo-kai lalu berkata lantang kepada kepala dusun. “Lo-ya sebagai kepala dusun di sini harus bersikap keras terhadap para hartawan yang membangkang. Mereka yang tidak mau membantu warga yang melarat harus dipaksa.” “Akan tetapi, in-kong (tuan penolong), semua itu adalah milik mereka sendiri dan kami tidak dapat memaksa. Bahkan mereka mempunyai pengawal-pengawal yang siap menghajar siapa yang berani menentang mereka.” Mendengar ini, Yok-sian Lo-kai berkata lagi kepada para hartawan itu. “Kalian dengar itu? Agaknya kalian hendak memaksakan kehendak dengan mengandalkan anjing-anjing pengawal kalian! Sekarang aku yang memerintahkan kalian menurut aturan itu, membantu para warga yang miskin, memberi pinjaman tanpa bunga. Siapa yang berani menentang perintah itu?” Para tukang pukul itu serentak maju. Tidak kurang dari tiga puluh orang tukang pukul yang bertubuh tinggi besar melangkah maju. “Siapa yang berani memaksa majikan kami, akan berhadapan dengan kami!” kata seorang diantara mereka. “Apalagi engkau hanya seorang jembel tua, bagaimana berani bicara seperti itu kepada majikan kami? Apakah engkau sudah bosan hidup?” “Ha-ha-ha, dengarlah!” kata Yok-sian Lo-kai sambil menudingkan tongkatnya kepada para tukang pukul itu. “Ajing-anjing peliharaan para hartawan itu memang pandai menggonggong, akan tetapi mereka tidak pandai menggigit.” Para hartawan yang tidak rela untuk menolong warga yang miskin menjadi marah dan mereka memberi isyarat kepada para tukang pukul mereka untuk bertindak. Tukang pukul yang tadi bicara berada paling depan. Agaknya dia hendak mempertontonkan kehebatannya, maka dengan ganas dia sudah menyerang Yok-sian Lo-kai dengan kepalan tangannya yang sebesar kepala orang itu! “Wuuutt…….!” dengan hanya miringkan tubuh menggerakkan kepalanya Yok-sian Lo-kai sudah membuat pukulan itu mengenai tempat kosong saja dan dengan secepat kilat tongkatnya menotok, tepat mengenai lutut kanan kiri tukang pukul itu. Mendadak, tanpa dapat dihindarkan lagi, tukang pukul itu jatuh berlutut di depan Yok-sian Lo-kai. “Ha-ha-ha, engkau minta ampun? Baik, baik, kuampuni kau!” kata Yok-sian Lo-kai. Penduduk yang berdatangan menonton peristiwa itu menahan tawa karena geli. Memang dipandang sepintas lalu, tukang pukul itu kelihatan seperti berlutut minta ampun kepada si pengemis tua. Melihat ini, para tukang pukul lainnya menjadi marah. Tiga orang meloncat dan menyerang, akan tetapi dengan gerakan tongkat tga kali, tiga orang itupun terpelanting roboh terkena sambaran tongkat bambu! Kini mengertilah para tukang pukul bahwa kakek yang pandai mengobati itu, juga pandai bersilat. Karena mereka berjumlah banyak, mereka tidak takut dan kini mereka mencabut senjata pedang dan golok menyerbu. Terdengar suara tawa pengemis tua itu dan tubuhnya sudah melayang ke atas. Ketika turun, tongkatnya diputar dan banyak pengeroyok roboh berpelantingan. Sisanya menyerbu semakin nekat, akan tetapi mereka inipun roboh satu demi satu sehingga tidak ada seorangpun yang tidak roboh. Gerakan Yok-sian Lo-kai itu demikian cepat sehingga tidak dapat diikuti dengan pandangan mata. Yang nampak hanya gulungan sinar kuning dan tahu-tahu para tukang pukul itu sudah roboh berpelantingan. “Bagaimana, cu-wi wangwe (hartawan sekalian), maukah kalian memenuhi permintaanku tadi? Membantu warga miskin, jangan memungut bunga, jangan mengambil sawah ladang mereka, dan bayarlah buruh tani dengan selayaknya sehingga mereka mampu hidup dengan layak pula.” Seperti dikomando saja, para hartawan itu mengangguk dan menyatakan setuju. “Ingat, kalau lain kali aku lewat di Ki-ceng ini dan kalian masih melakukan pemerasan terhadap warga dusun yang miskin, aku Yok-sian Lo-kai tidak akan mau mengampuni kalian lagi. Nah, pulanglah ke rumah masing-masing dan laksanakanlah perintahku. Bubarkan para tukang pukul karena kalau kalian bersikap baik terhadap warga tani yang miskin, kalian tidak perlu khawatir akan harta kalian. Penduduk akan berterima kasih kepada kalian dan akan menjaga harta milik kalian.” Orang-orang kaya itu pun pergi dengan muka ditundukkan. Di antara mereka yang rela, terdapat mereka yang tidak rela, akan tetapi mereka takut akan ancaman pengemis tua yang sakti itu. Sementara itu, ketika dia melihat Yok-sian Lo-kai dikeroyok para tukang pukul, Si Kong merasa khawatir sekali. Akan tetapi ketika terjadi hal yang tidak disangka-sangkanya, betapa pengemis tua itu menghajar tiga puluh orang tukang pukul, di dalam hatinya Si Kong bersorak. Dan dia mengambil keputusan dalam hatinya bahwa selain belajar ilmu pengobatan dan membaca huruf, diapun akan minta supaya diajari ilmu bela diri! Setelah semua orang bubaran, Yok-sian Lo-kai segera berpamit kepada kepala dusun, kepala dusun itu tergopoh-gopoh mengambil uang dan hendak memberi sumbangan kepada pengemis tua itu. Akan tetapi Yok-sian Lo-kai tidak mau menerimanya dan berkata, “Aku memang seorang pengemis dan kalau terpaksa aku suka mengemis makanan. Akan tetapi untuk pengobatanku, aku tidak sudi menerima upah.” Dia lalu menggandeng tangan Si Kong dan menarik anak ini pergi dari situ. Orang-orang hanya memandang heran dan mengikuti murid dan guru itu pergi. Bunyi tongkat bambu itu bertuk-tuk di sepanjang jalan. Baru setelah bayangan pengemis itu menghilang di sebuah tikungan, mereka ramai membicarakan sepak terjang pengemis tua itu. Dan semenjak hari itu, tidak ada lagi penyakit yang berjangkit di dusun itu. Juga kehidupan para warga dusun yang miskin kini mendingan keadaannya karena uluran tangan para hartawan. Paksaan dan siksaan yang dilakukan para tukang pukul juga tidak ada lagi. Mulai saat meninggalkan dusun Ki-ceng, Si Kong menjadi murid Yok-sian Lo-kai. Yok-sian adalah seorang perantau yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Kalau bertemu dengan kota atau dusun yang cocok dan menyenangkan hatinya, dia dapat tinggal di situ sampai sebulan lamanya. Akan tetapi banyak dusun dan kota yang dilewatinya begitu saja. Dan di sepanjang jalan, dia selalu mengumpulkan rempa-rempa yang dianggapnya berguna. Tangannya selalu terjulur untuk menolong dan mengobati orang sakit. Untuk makan mereka, kadang mereka mendapatkan binatang buruan di hutan, atau mendapatkan buah-buahan di dalam hutan. Sering pula Si Kong bekerja di rumah makan atau rumah penginapan untuk mendapatkan uang sekedar pembeli makan untuk dia dan gurunya. Akan tetapi kalau Yok-sian Lo-kai tidak tinggal lama di suatu tempat, mereka mengemis makanan dari rumah-rumah. Cara mengemis Yok-sian Lo-kai berbeda dengan pengemis lain. Dia dan Si Kong mendatangi rumah orang, dan menyatakan terus terang bahwa mereka minta diberi makanan. Kalau diberi uang, Yok-sian tidak menerimanya, melainkan pindah ke rumah lain. Si Kong tidak sesabar itu, akan tetapi kalau ada gurunya, diapun tunduk kepada kebiasaan gurunya itu. “Kalau perutmu tidak lapar, mengapa mengemis makanan? Kalau tidak haus mengapa mengemis minuman? Kalau tidak butuh pengganti pakaian, mengapa mengemis pakaian? Kita harus tidak melanggar pantangan itu. Mengemis uang dapat membuat kita menjadi malas.” demikianlah pendirian Yok-sian Lo-kai. Di waktu senggang, kakek itu mulai mengajarkan ilmu pengobatan kepada muridnya. Tidak saja Si Kong harus menghafal nama rempa-rempa dan kegunaannya, juga dia di ajar cara meneliti keadaan orang dari denyut nadinya. Melihat gejala-gejala penyakit dari lidah dan mata orang yang sakit. Bahkan kalau ada orang sakit membutuhkan pengobatan, dia menyuruh muridnya untuk mengobatinya dan dia hanya meneliti kalau-kalau muridnya salah memberi obat. Juga Si Kong diberi pelajaran tentang jalan darah manusia, titik-titik mana yang harus dipijat atau ditotok. Memang Si Kong memiliki kecerdasan sehingga dia dapat menerima dan menghafalkan semua pelajaran itu. Di samping pelajaran pengobatan Si Kong mulai pula diajar ilmu membaca dan menulis. Dan ternyata Si Kong cepat sekali memperoleh kemajuan dalam ilmu ini. Baru setahun dia ikut merantau bersama Yok-sian Lo-kai, dia sudah pandai membaca dan menulis. Tentu saja gurunya merasa girang sekali melihat kemajuan muridnya. Lalu dia mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada muridnya. Si Kong merasa gembira sekali dan dia berlatih dengan tekun sekali. Karena sejak masih kecil sekali Si Kong telah terbiasa menggunakan tenaga kasar, maka tubuhnya lebih kuat dari pada anak biasa. Bahkan kemajuannya dalam ilmu silat mengalahkan kemajuannya dalam ilmu sastra. Gurunya maklum bahwa anak ini memang bertulang baik dan berbakat sekali, maka diapun mengajarkan ilmu tongkatnya yang terkenal sekali di seluruh dunia kang-ouw, yaitu Ta-kaw Sin-tung (Tongkat Sakti Pemukul Anjing). Ilmu tongkat ini hanya terdiri tigabelas jurus pokok, akan tetapi perkembangannya dapat menjadi ratusan, tergantung dari bakat yang menguasai ilmu itu. Karena itu, selama tiga tahun berlatih, barulah Si Kong dapat menguasai Ta-kaw Sin-tung, dan semenjak dia berlatih ilmu tongkat itu, dia kinipun memiliki sebatang tongkat bambu yang selain dipakai untuk berlatih silat, juga dipergunakan untuk memikul keranjang rempa-rempa milik gurunya. *** Pada suatu pagi yang cerah. Matahari masih agak kekuningan di langit timur, akan tetapi sinarnya sudah menyengat hangat. Pohon-pohon dan segala tumbuh-tumbuhan nampaknya seperti hidup baru setelah semalam suntuk mereka diselimuti kegelapan yang penuh rahasia itu. Di jalan yang menuju kota Souw-ciu suasananya masih sunyi. Jalan itu memang hanya jalan yang menghubungkan kota Souw-ciu dengan dusun-dusun, maka nampak sunyi. Saat yang sunyi itu dibuyarkan oleh dua orang yang berjalan berdampingan. Mereka adalah Yok-sian Lo-kai dan Si Kong. Anak itu kini telah menjadi seorang pemuda remaja berusia limabelas tahun. Akan tetapi dia nampak lebih daripada usianya, mungkin hal ini dikarenakan dia ditempa oleh keadaan, banyak menghadapi kesukaran dan kesengsaraan. Tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya jantan dan gagah, walaupun pakaiannya yang nampak bersih itu sudah penuh dengan tambalan, seperti pakaian yang dipakai Yok-sian Lo-kai. Agaknya pagi yang cerah itu membangkitkan kegembiraan di hati Yok-sian. Dia memandang ke atas lalu menyanyikan sebuah sajak. “Daripada menguasai sampai sepenuhnya lebih baik berhenti pada saatnya. Menempa untuk mencapai tajamnya ketajaman itu takkan bertahan lama. Ruangan penuh dengan emas dan batu permata tidak mungkin dapat dijaga. Angkuh karena mewah dan mulia dengan sendirinya membawa bencana. Tugas selesai, nama menyusul, diri mundur demikianlah jalan yang ditempuh langit.” “Wah sajak suhu sekali ini membuat aku bingung dan tidak mengerti apa artinya. Maukah suhu menjelaskan kepadaku?” “Apa yang tidak jelas? Sajak itu sendiri sudah menjelaskan artinya. Dinasihatkan di situ agar kita tidak menuruti kehendak nafsu yang ingin memiliki sepenuhnya, menguasai sepenuhnya, yang akhirnya tak pernah puas dan tergelincir oleh tindakan sendiri. Lebih baik berhenti pada saatnya atau mengenal batas. Segala sesuatu yang dipaksakan untuk diperolehnya, yang diperoleh itu tidak akan bertahan lama, akan membosankan. Harta kekayaan yang berlebihan hanya akan menimbulkan iri hati dan mendatangkan maling untuk mencurinya. Kalau orang menjadi angkuh karena kemewahan dan kemuliaan, harta benda atau kedudukan tinggi, hal itu akhirnya akan mendatangkan bencana pada diri sendiri. Kalau merasa sudah menyelesaikan tugas dengan baik, tentu namanya menjadi harum dan dia boleh mengundurkan diri untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Jalan itulah yang ditempuh oleh Langit dan Bumi, yang bersikap selaras dengan kehendak Tuhan.” “Aduh, demikian dalamnya ini sajak itu, suhu. Siapakah pembuat sajak itu?” “Sajak itu termuat dalam kitab Tao-tek-keng, merupakan ujar-ujar peninggalan Sang Bijaksana Lo Cu. Kelak kalau ada kesempatan, engkau harus menghafalkan dan memahami seluruh sajak Tao-tek-keng itu.” Mereka kini memasuki kota Souw-ciu dari arah barat. Kota itu cukup ramai dan dikelilingi bukit sehingga pemandangannya indah dan hawanya juga sejuk. Gembira rasa hati Si Kong ketika dia memasuki kota, melihat banyak toko, rumah makan dan penginapan. “Suhu, aku dapat mencari pekerjaan di kota ini!” katanya. “Banyak sekali toko besar, rumah makan dan penginapan.” “Hemm, kita lihat saja nanti. Belum tentu aku suka tinggal lama ditempat ini. Mari kita melihat ke sana, agaknya di sana itu ada pasar yang ramai.” Mereka berjalan terus dan tiba-tiba perhatian mereka tertarik oleh sedikit keributan yang terjadi di depan sebuah rumah makan. Seorang pengemis berpakaian compang-camping hitam sedang ribut mulut dengan seorang pengemis yang pakaiannya tambal-tambalan berkembang. “Tidak usah banyak cakap! Engkau dan rombonganmu tidak kami perbolehkan untuk mengemis di kota ini, kecuali kalau kalian menjadi anggauta kami!” Kata si pengemis baju berkembang. “Kalian selalu mengganggu kami! Kami sudah mempunyai perkumpulan sendiri. Kami tidak sudi menjadi anggauta perkumpulan kalian dan sudah sejak dahulu kami bekerja di sini. Kalian tidak berhak melarang.” “Eh, berani membantah, ya? Engkau sudah bosan hidup rupanya!” Dan si pengemis baju berkembang itu segera menyerang pengemis baju hitam. Terjadi perkelahian saling pukul dan saling tendang. Tak lama kemudiang datang lima orang pengemis baju berkembang, juga lima orang pengemis baju hitam dan terjadilah perkelahian di antara mereka. Orang-orang segera datang menonton perkelahian antara pengemis itu. Sejak tadi Yok-sian Lo-kai berhenti melangkah dan menonton perkelahian. Melihat betapa perkelahian telah menjadi keroyokan, dia berkata kepada Si Kong, “Orang-orang itu tidak tahu diri. Pekerjaan mengemis saja diperebutkan! Si Kong, coba kau pergunakan tongkatmu untuk melerai mereka. Kalau mereka nekat berkelahi, hajar mereka semua dengan gebukan tongkatmu!” Selama ini belum pernah Si Kong berkelahi. Biarpun dia sudah menguasai Tongkat Sakti penggebuk anjing dengan baik, akan tetapi belum pernah dia pergunakan untuk bertanding. Kehidupan mereka sebagai pengemis itu tentu saja tidak pernah menarik perhatian para perampok atau penjahat sehingga dia dan gurunya tak pernah diganggu orang. Kini, gurunya menghendaki agar dia melerai duabelas orang yang sedang berkelahi dan merobohkan mereka semua kalau mereka tidak berhenti berkelahi. Akan tetapi dia tidak membantah. Diturunkannya keranjang rempa-rempa dari pikulannya dan dengan senjata tongkat bambu di tangan dia menghampiri mereka yang sudah saling pukul itu. “Heii, kawan-kawan! Berhentilah berkelahi! Tidak baik antara kita sendiri berkelahi. Hayo, berhenti!” Akan tetapi melihat bahwa yang melerai itu adalah seorang pemuda pengemis pula, bukan anggauta pengemis baju hitam dan juga bukan anggauta pengemis baju berkembang, para pengemis itu tidak peduli, bahkan mereka berbalik menyerang Si Kong! Baik yang baju hitam maupun yang baju berkembang kini menyerang Si Kong! Si Kong cepat mengelak dan memutar tongkat bambunya. Baginya, gerakan para pengemis itu terlampau lamban, dan mudah saja untuk dirobohkan. Akan tetapi hati Si Kong tidak tega untuk menyakiti mereka. Oleh karena itu, tongkatnya bergerak hanya untuk menjegal atau mendorong sehingga berturut-turut duabelas orang pengemis itu terpelanting ke kanan kiri! Para pengemis itu terkejut. Mereka yang berbaju berkembang bangkit dan seorang di antara merka menudingkan telunjuknya kepada Si Kong sambil berkata, “Awas akan pembalasan kami!” Dia lalu memberi isarat kepada kawan-kawannya untuk pergi dari situ. Sementara itu, enam orang pengemis baju hitam tidak pergi, melainkan memandang kepada Si Kong dan Yok-sian Lo-kai. Mereka mengerti bahwa pemuda itu hanya melerai, buktinya diantara mereka tidak ada yang terluka. Tiba-tiba seorang di antara mereka melihat keranjang rempa-rempa di dekat Yok-sian Lo-kai, dan dia segera memberi hormat dan bertanya, “Bukankah locianpwe ini yang berjuluk Yok-sian Lo-kai?” “Ha-ha-ha, sialan itu nama! Di mana-mana ada saja yang mengetahuinya. Benar, aku Yok-sian Lo-kai. Dan kaian ini apa-apaan, di antara sesama pengemis saling hantam! Memalukan sekali!” Kini enam orang itu menjatuhkan diri berlutut di depan Yok-sian Lo-kai dan seorang diantara mereka berkata, “Kami mohon bantuan locianpwe!” “Apa? Kalian menyuruh aku ikut campur dalam perkelahian antara pengemis? Nanti dulu! Aku bukan orang yang suka memusuhi sesama pengemis, darimana pun pengemis itu berasal.” “Bukan itu, locianpwe. Melainkan kami mohon pertolongan agar locianpwe suka mengobati ketua kami yang terluka parah.” “Hemmm, kenapa dia terluka parah? Apakah karena dia berkelahi pula dengan pengemis lain?” “Locianpwe akan mendengarnya sendiri nanti. Tadipun kami tidak bermaksud memusuhi pengemis baju berkembang, melainkan mereka yang melarang kami mengemis, kecuali kalau kami mau menjadi anggauta mereka. Kami mohon locianpwe sudi menolong kami…….” “Hemmm, membikin repot saja. Hayo Si Kong, kita ikuti mereka.” Enam orang pengemis itu kelihatan gembira sekali dan mereka lalu menjadi penunjuk jalan, diikuti oleh Yok-sian Lo-kai dan Si Kong. Orang-orang yang tadi menonton juga bubaran dan mereka membicarakan dan memuji pemuda yang dengan tongkat bambunya membuat duabelas orang yang berkelahi itu menjadi kocar-kacir. Enam orang itu ternyata keluar dari kota dan menuju ke selatan. Di luar kota ini terdapat sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi dan agaknya kuil ini menjadi tempat tinggal perkumpulan pengemis Baju Hitam. Ketika mereka tiba di situ, terlihat belasan orang pengemis baju hitam sedang duduk di beranda kuil. Melihat enam orang rekan mereka datang bersama dua orang pengemis asing, mereka semua bangkit berdiri dan menyambut. “Bagaimana dengan pangcu (ketua)?” tanya seorang dari enam orang pengemis yang baru datang itu. “Wah, makin payah. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya panas sekali.” Kata seorang di antara mereka yang tadi duduk diberanda. “Locianpwe, silakan masuk. Pangcu kami berada di kamar dalam.” Yok-sian Lo-kai mengangguk dan bersama Si Kong dia mengikuti pengemis itu memasuki kuil. Ternyata kuil yang sudah tua itu cukup besar dan mereka diajak masuk ke dalam sebuah kamar. Di dalam kamar ada beberapa orang pengemis baju hitam menjaga sang ketua yang sedang sakit. Melihat keadaan yang gawat dari ketua itu, tanpa diminta lagi Yok-sian segera menghampirinya, memegang pergelangan tangan si sakit untuk merasakan denyut nadinya. “Hemm, dia keracunan!” katanya. “Dia terluka pukulan didadanya,” kata seorang pengemis. “Coba, buka bajunya, perlihatkan luka itu.” kata Yok-sian. Baju pengemis yang sakit itu dibuka dan nampaklah gambar lima jari tangan atau cap telapak tangan pada dada itu. Yok-sian memeriksa luka atau bekas pukulan tangan itu, merabanya dan berkata, “Kalian semua boleh keluar. Biarkan aku dan muridku mengobatinya.” Mendengar ucapan ini, para pengemis baju hitam lalu keluar dari dalam kamar. Yok-sian menoleh kepada muridnya dan berkata, “Ini kesempatan baik bagimu untuk menguji kepandaianmu dalam ilmu pengobatan. Hayo, kau periksa keadaannya dan katakan bagaimana pendapatmu dan cara mengobatinya.” Si Kong yang sudah bertahun-tahun mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya, segera menghampiri si sakit. Diperiksanya nadinya, dirabanya dadanya dan didengarnya detak jantungnya. Kemudian dia berkata penuh keyakinan kepada gurunya. “Dia menderita pukulan beracun, suhu. Tangan lawannya itu tentu mengandung sinkang panas. Pengobatannya adalah dengan tusuk jarum atau totokan jari ke arah Ci-kiong-hiat, Koan-goan-hiat dan Thian-ti-hiat. Totokan-totokan untuk mengalirkan darah ke arah luka juga perlu dilakukakan. Sementara itu, dia harus diberi minum obat pembersih darah dan obat menurunkan panas. Kalau itu masih kurang, boleh menyalurkan sinkang untuk membantu hawa murni di tubuhnya yang keluar dari tantian. Demikianlah, suhu, dan mudah-mudahan apa yang teecu kemukakan itu benar.” “Ha-ha-ha, bagus! Memang itu cara pengobatan yang baik sekali. Sekarang lakukanlah totokan-totokan itu.” kata Yok-sian Lo-kai. Si Kong memandang kepada tubuh yang bagian atasnya telanjang itu dan sambil mengerahkan tenaganya mulailah dia menotok jalan-jalan darah yang disebutkannya tadi. Dia sampai berkeringat ketika selesai melakukan totokan terakhir di sekitar dada yang terluka. Hatinya girang karena dia melihat betapa tanda telapak tangan menghitam itu sudah mulai pudar. “Sekarang minggirlah dan masak obat pembersih darah dan obat menurunkan panas di luar. Aku akan menyalurkan sin-kang kepadanya.” Si Kong merasa girang bahwa cara dia mengobati ketua Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) tadi ternyata benar. Dia lalu keluar membawa keranjang rempa-rempa dan minta kepada para pengemis untuk disediakan perapian untuk memasak obat. Setelah selesai memasak obat dan membawa dua mangkok kecil ke dalam kamar, dia melihat suhunya menempelkan telapak tangan kirinya ke dada ketua perkumpulan pengemis itu sambil pejamkan mata. Tahulah dia bahwa gurunya sedang mengerahkan tenaga sakti ke dada orang sakit itu untuk mengusir sisa hawa kotor yang terkandung dalam pukulan tangan beracun itu. Dia sendiri sudah mempelajari dan menghimpun tenaga sinkang yang lumayan, akan tetapi untuk mengusir hawa kotor itu tenaga saktinya belum kuat. Oleh karena itu suhunya yang melakukannya. Setelah Yok-sian Lo-kai menyalurkan hawa sakti dari telapak tangannya, perlahan-lahan kakek yang sakit itupun mulai menggerakkan biji matanya. Lalu dia membuka matanya dan mencoba untuk bangkit. Yok-sian membantunya bangkit duduk, dan dia minta dua mangkok yang dibawa masuk Si Kong. “Minumlah dua mangkok obat ini dan engkau akan sembuh seperti sediakala.” Kai-pangcu (ketua perkumpulan pengemis) itu tidak membantah dan minum dua mangkok obat itu. Tenaga kakek itu kini pulih dan wajahnya kemerahan, dadanya sudah tidak ada lagi tanda-tanda menghitam. Dia memandang kepada Yok-sian Lo-kai, lalu kepada Si Kong dan dia lalu turun dari pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Yok-sian. “Atas pertolongan locianpwe Yok-sian Lo-kai, saya menghaturkan terima kasih.” Yok-sian Lo-kai tertawa sambil memandang kepada muridnya. “Ha-ha-ha-ha! Lihat, Si Kong, betapa tidak enaknya menjadi orang terkenal. Di mana-mana ada saja orang mengenalnya, padahal orang itu tidak pernah berjumpa dengannya.” Setelah berkata demikian, dia menggunakan tongkatnya, dimasukkan ke bawah lengan ketua itu dan sekali bergerak, ketua itu dipaksa berdiri. “Jangan keterlaluan, aku bukan raja kenapa mesti berlutut? Dan bagaimana engkau bisa tahu siapa diriku?” Dengan sikap hormat, membungkuk Hek I Kaipangcu itu lalu berkata, “Mudah saja. Melihat pakaian locianpwe jelas pakaian seorang pengemis, dan melihat betapa locianpwe dapat menyembuhkan dan memulihkan kesehatan saya, jelas bahwa locianpwe seorang ahli pengobatan luar biasa yang berilmu tinggi. Siapa lagi pengemis yang pandai ilmu pengobatan selain Yok-sian Lo-kai?” “Dan siapakah engkau? Mengapa engkau sampai terluka oleh pukulan keji itu?” Ketua itu menghela napas panjang. “Saya adalah ketua perkumpulan Pengemis Baju Hitam, semenjak dahulu kami selalu mengambil jalan benar, mengemis kepada orang-orang yang dermawan dan tidak pernah melakukan kejahatan dalam bentuk apapun. Akan tetapi pada suatu hari muncul pengemis-pengemis yang memakai baju berkembang, dan mereka melarang kami mengemis di tempat ini. Kami boleh mengemis kalau menjadi anggauta perkumpulan mereka. Akan tetapi melihat cara mereka mengemis tiada bedanya dengan merampok, mengemis dengan paksa kami tidak sudi bergabung. Lalu pada suatu hari, sepekan yang lalu, ketuanya datang dan menantangku. Aku terluka oleh pukulannya yang keji.” Yok-sian Lo-kai mengerutkan alisnya. Biarpun dia tidak aktif dalam dunia mengemis, dia sudah mendengar keadaan para perkumpulan pengemis dimana-mana. “Akan tetapi sepanjang pendengaranku, Hwa I Kaipang (Perkumpulan Pengemus Baju Kembang) adalah kaipang yang bersih, dipimpin oleh ketuanya yang baik pula.” Hek I Kaipangcu menghela napas panjang. “Dahulu saya pun menganggap demikian. Nama saya adalah Lu Tung San, dan saya mengenal baik ketua Hwa I Kaipang. Akan tetapi yang muncul dan mengaku sebagai ketua Hwa I Kaipang sama sekali bukan ketua yang saya kenal, melainkan seorang yang masih muda dan entah bagaimana, dia bisa menjadi ketua Hwa I Kaipang dan membawa perkumpulan pengemis itu ke jalan sesat.” “Dan di mana adanya ketua yang dulu?” “Tidak seorangpun yang mengetahui nasibnya dan di mana dia berada.” “Wah, gawat kalau begitu. Pangcu, mari antar kami ke sarang Hwa I Kaipang. Urusan ini terpaksa kami harus campur tangan karena akan mencemar nama baik para pengemis. Kalau dibiarkan saja tentu sukar membedakan antara pengemis dan perampok.” “Baik, akan saya antar sekarang juga. Dan perlukah anak buah Hek I Kaipang ikut? Siapa tahu mereka akan melakukan pengeroyokan.” “Tidak perlu. Yang ingin kami temui adalah ketuanya. Perkumpulan pengemis adalah perkumpulan orang-orang yang taat kepada pimpinan. Kalau ketuanya sudah dapat kita bereskan, tentu anak buahnya akan menaati kita.” Lu Tung San, ketua Hek I Kaipang, ternyata sudah sembuh sama sekali. Karena selama sepekan ini dia hampir dikatakan tidak bisa makan, maka para anggautanya telah mempersiapkan makan minum untuk ketua mereka. Lu Tung San mengajak Yok-sian dan Si Kong untuk makan bersama. Dan ternyata makanan itu cukup lumayan, bahkan cukup mewah bagi para pengemis. Setelah makan Lu Tung San berangkat bersama Yok-sian Lo-kai dan Si Kong yang tidak lupa memikul keranjang rempa-rempa milik gurunya. Sarang Hwa I Kaipang juga berada di luar kota, akan tetapi bukan merupakan rumah tua bekas kuil seperti yang ditempati Hek I Kaipang. Di luar kota, di lereng sebuah bukit, berdiri sebuah rumah besar dari tembok dan itulah sarang Hwa I Kaipang. Ketika mereka mendaki bukit itu, beberapa anggauta Hwa I Kaipang melihat mereka. Mereka mengenal Lu Tung San dan cepat mereka berlari ke sarang mereka untuk memberitahukan kunjungan Lu Tung San yang pernah dirobohkan ketua mereka yang baru itu. Tepat seperti yang dikatakan Yok-sian, tadinya Hwa I Kaipang juga merupakan sebuah perkumpulan pengemis yang sederhana dan baik, tidak pernah mereka itu melakukan pemerasan atau kejahatan lain. Baru beberapa bulan yang lalu, pada suatu hari datang seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun ke sarang Hwa I Kaipang. Laki-laki itu bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Ketika ketua Hwa I Kaipang yang usianya sudah enampuluh tahun keluar menemui tamu itu, dengan terang-terangan orang yang mengaku bernama Ouwyang Kwi itu mengatakan bahwa dia hendak mengambil alih pimpinan Hwa I Kaipang! Tentu saja Hwa I Kai-pangcu menjadi marah dan terjadi perkelahian. Akan tetapi ternyata orang itu lihai bukan main. Biarpun dia dikeroyok oleh belasan orang yang merupakan pimpinan dan pembantunya, dia merobohkan mereka semua, bahkan menawan ketuanya. Melihat kelihaian si muka hitam itu, semua pengemis menyatakan takluk dan tunduk dan semenjak hari itu, Ouwyang Kwi menjadi ketua Hwa I Kaipang. Bahkan dia memindahkan sarang Hwa I Kaipang ke lereng bukit itu, dimana berdiri sebuah rumah tembok yang besar. Dan mulailah terjadi perubahan besar dari para anggauta Hwa I Kaipang. Karena anjuran pemimpin baru mereka, para pengemis itu berani melakukan pemerasan terhadap penduduk kota Su-couw, dusun-dusun dan kota-kota di sekitar wilayah itu. Sejak Ouwyang Kwi menjadi ketua, kehidupan para pengemis baju kembang berubah menjadi mewah. Pakaian mereka yang berkembang-kembang itu bersih dan masih baru karena mereka mendapatkannya dari toko-toko yang tidak berani menentang permintaan mereka. Kalau permintaan mereka ditolak, mereka lalu mengamuk dan tidak ada orang yang berani melawan. Memang tadinya ada orang-orang yang merasa dirinya kuat dan pandai silat, menentang kaum pengemis Baju Kembang, akan tetapi mereka semua satu demi satu dirobohkan oleh ketua Hwa I Kaipang yang bermuka hitam itu. Demikianlah keadaan Hwa I Kaipang. Ouwyang Kwi tadinya adalah seorang perampok tunggal. Akan tetapi agaknya dia merasa jemu dengan pekerjaan merampok seorang diri saja. Maka diapun mengambil alih kedudukan ketau Hwa I Kaipang dan dia selain memperoleh kedudukan ketua, juga mendapatkan anak buah yang siap melakukan semua perintahnya. Dia merasa seolah menjadi seorang raja! Pakaiannya juga berkembang-kembang, namun pakaian itu mewah, sama sekali bukan pakaian seorang pengemis yang biasanya compang-camping dan penuh tambalan. Dalam waktu beberapa bulan saja semua anak buah Hwa I Kaipang telah berubah. Memang demikianlah keadaannya dengan kita manusia. Mengajar orang-orang agar supaya menjadi baik budi amatlah sukarnya. Akan tetapi ajarilah orang-orang itu untuk berbudi buruk dan memperoleh kesenangan, maka sebentar saja semua orang akan suka dan menurut. Ketika Lu tung San, Yok-sian dan Si Kong memasuki perkampungan Hwa I Kaipang, mereka disambut oleh Ouwyang Kwi sendiri yang muncul bersama seorang kakek berpakaian mewah. Kakek ini bukan orang biasa. Dia adalah seorang datuk besar dunia kang-ouw dan juga majikan Pulau Tembaga di Lautan Timur. Datuk sesat inilah guru Ouwyang Kwi yang datang berkunjung kepada muridnya yang kini telah menjadi ketua Hwa I Kaipang itu. Kedatangannya di sambut oleh Ouwyang Kwi dengan mengadakan pesta makan minum secara mewah. Ketika Ouwyang Kwi menerima laporan dari anak buahnya bahwa Lu Tung San datang bersama seorang kakek dan seorang pemuda yang pada siang hari tadi menghajar enam orang anggautanya, menjadi marah sekali. “Bagus dia sudah mengantarkan sendiri nyawanya. Sekarang ini aku tidak akan membiarkan dia pergi hidup-hidup!” kata Ouwyang Kwi. Gurunya merasa heran sekali melihat muridnya marah-marah. “Ada apakah Ouwyang Kwi? Siapa yang datang dan membuatmu marah?” Datuk ini merasa bangga bahwa muridnya telah menjadi ketua sebuah perkumpulan pengemis yang berpengaruh. Dia sendiri adalah seorang datuk yang besar pengruhnya di Lautan Timur. Para bajak laut semua tunduk kepadanya dan membayar “upeti” kepadanya sebagai hadiah karena mereka diperkenankan membajak di perairan itu. Datuk ini dikenal di dunia kang-ouw sebagai Tung-hai Liong-ong (Raja Naga Lautan Timur). Julukan Raja Naga ini mungkin karena orang melihat dia bersenjata sebatang tongkat kepala naga yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Tongkat kepala naga ini menjadi andalan dan senjatanya yang ampuh. Ketika Tung-hai Liong-ong melihat Yok-sian Lo-kai, dia tercengang sejenak dan memandang tajam. Demikian pula dengan Yok-sian Lo-kai. Sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan datuk besar itu di tempat ini. “Hemm, kiranya Yok-sian Lo-kai yang datang!” kata Tung-hai Liong-ong. “Ha-ha-ha, kiranya majikan Pulau Tembaga berada di sini pula! Tidak mengherankan kalau terjadi keributan!” kata Yok-sian sambil tertawa. Dua orang yang sama-sama amat terkenal di dunia kangouw ini memang pernah saling bertemu walaupun di antara mereka belum pernah terjadi pertikaian. Sementara itu, ketika melihat Lu Tung San, Ouwyang Kwi berkata mengejek. “Hek I Kaipang, agaknya ada orang yang mengobatimu sampai sembuh. Apakah engkau belum jera dan ingin merasakan pukulanku lagi?” “Ouwyang Kwi, aku datang mengantarkan locianpwe Yok-sian Lo-kai yang ingin bicara denganmu karena sepak terjang anak buahmu yang sewenang-wenang.” “Aha, kiranya engkau memanggil bala bantuan? Aku tidak takut menghadapi jagoanmu!” Ouwyang Kwi mengejek. Ouwyang Kwi adalah murid Tung-hai Liong-ong dan dia baru saja masuk ke dalam dunia kangouw setelah selama beberapa beberapa tahun menjadi perampok tunggal. Oleh karena itu dia belum mengenal nama Yok-sian Lo-kai dan sama sekali tidak gentar menghadapi nama julukan itu. “Jadi mereka inikah yang memukul enam orang anak buahku? Jembel tua dan pengemis muda ini?” Dia menudingkan telunjuknya ke arah Yok-sian dan Si Kong. “Ha-ha-ha, betapa sombongnya! Aku sudah mengenal semua ketua perkumpulan para pengemis di empat penjuru. Mereka semua rata-rata baik. Maka ketika melihat enam orang pengemis Baju Kembang melarang Pengemis Baju Hitam untuk mengemis, aku menjadi tertarik dan ingin menyelidiki. Aku pernah mendengar bahwa perkumpulan Pengemis Baju Kembang adalah perkumpulan yang bersih, dipimpin oleh ketuanya yang baik pula. Akan tetapi, kenapa sekarang menjadi tersesat? Aku mendengar bahwa engkau orang she Ouwyang mengambil alih ketua yang lama?” “Jembel tua, orang di luar Hwa I Kaipang tidak berhak mengurus urusan yang menyangkut Hwa I Kaipang. Sekarang yang menjadi ketua Hwa I Kaipang adalah aku, Ouwyang Kwi. Sebaiknya engkau tidak lancang mencampuri urusan kami, atau kami akan menggunakan kekerasan mengusirmu!” “Ha-ha-ha-ha! Engkau bukan lawanku,Ouwyang Kwi. Kalau engkau mampu mengalahkan tongkat muridku ini, barulah engkau pantas melawan aku. Si Kong, bersiaplah untuk menandingi ketua palsu yang sombong ini.” Si Kong juga merasa marah mendengar ucapan ketua berpakaian kembang-kembang yang sombong itu, maka mendengar ucapan suhunya, dia lalu menurunkan keranjang rempa-rempa dan melintangkan tongkat bambunya di depan dadanya. “Aku sudah siap, orang sombong!” katanya kepada Ouwyang Kwi. Ouwyang Kwi sudah mendengar laporan anak buahnya bahwa pemuda yang masih remaja itulah yang merobohkan mereka. Akan tetapi tentu saja dia tidak merasa gentar. Dia sudah banyak pengalaman dalam perkelahian selama bertahun-tahun, mana mungkin dia kalah oleh seorang bocah yang usianya paling banyak lima belas tahun ini? “Baik, akan kubunuh dulu bocah ini, baru kemudian engkau jembel tua dan ketua Hek I Kaipang ini!” bentaknya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah mencabut sebatang golok dari punggungnya dan langsung menyerang Si Kong yang memegang tongkat bambu. Akan tetapi Si Kong sudah siap siaga dan dengan mudahnya dia mengelak dan secepat kilat tongkatnya sudah menotok ke tiga bagian jalan darah di kedua pundak dan dada lawannya. “Eh…..!” Ouwyang Kwi terkejut sekali dan cepat memutar goloknya kedepan tubuhnya untuk melindungi diri dari totokan-totokan yang cepat dan tak terduga itu. Kalau Si Kong bertanding untuk merobohkan lawan saja, sebaliknya Ouwyang Kwi bertanding untuk membunuh lawannya. Dia seorang ahli bermain golok yang lihai, akan tetapi sekali ini dia sudah kewalahan dan sebentar saja dia sudah terdesak hebat! Dia hanya mampu menangkis dan memutar goloknya saja tanpa dapat membalas. “Jangan pakai golok, gunakan Tok-ciang (Tangan Beracun)!” tiba-tiba dia mendengar suara gurunya. Orang lain tidak dapat mendengar seruan itu karena Tung-hai Liong-ong “mengirim” suaranya melalui khikang yang kuat sehingga seolah dia berbisik dekat telinga muridnya. Mendengar ini, Ouwyang Kwi melempar goloknya dan dia menggerak-gerakkan kedua tangannya yang perlahan-lahan berubah menghitam! Yang terkejut melihat perubahan ini adalah Yok-sian Lo-kai. Dia pun tidak mendengar bisikan itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa Majikan Pulau Tembaga itu yang agaknya memberi nasihat kepada muridnya. Dia tahu bahwa Si Kong tidak bermaksud membunuh lawan, maka tongkatnya hanya mencoba untuk menotok jalan darah yang tidak membahayakan nyawa lawan. Dan karena kini Ouwyang Kwi bertangan kosong, dia dapat menangkis tongkat bambu dengan tangannya dan sekaligus mencoba untuk merampas tongkat. Juga sambaran tangan itu mengandung hawa beracun yang berbahaya. Diam-diam Yok-sian mengerahkan khikangnya dan berbisik yang hanya terdengar oleh muridnya. “Pukul Kaki Seratus Anjing”. Ini adalah nama jurus dari ilmu silat Tongkat Sakti Pemukul Anjing itu. Ketika Si Kong mendengar bisikan gurunya itu, cepat dia mengubah caranya bersilat dan tubuhnya bergerak rendah dan tongkatnya secara bertubi-tubi menyerang ke arah kedua kaki lawan. Karena yang diserangnya bagian lutut dan pergelangan kaki, maka kalau mengenai sasaran, tentu lawan akan jatuh berlutut, Kembali Ouwyang Kwi terdesak oleh serangan Si Kong. Dia berloncat-loncatan dan tidak mampu balas menyerang. Kembali telinganya mendengar bisikan gurunya. “Garuda menyerang segerombolan kelinci!” Ini merupakan jurus yang dilakukan dengan loncatan ke atas kemudian dari atas mencengkeram ke arah kepala lawan. Dan begitu dia meloncat tinggi di udara, dengan sendirinya serangan Si Kong juga macet, dan berbalik dia yang diserang oleh kedua tangan yang membentuk cakar itu. Si Kong terpaksa mengelak ke sana sini, karena kalau dia menangkis, ada bahayanya tongkat itu terpegang lawan dan kalau hal ini terjadi, tongkatnya dapat terampas atau setidaknya dihancurkan oleh cengkeraman tangan beracun itu! Tiba-tiba dia yang sedang terdesak itu mendengar bisikan gurunya, “Ular Senduk Menyerang Garuda!” Si Kong menjadi girang sekali dan cepat dia menggerakkan tongkatnya yang meluncur seperti seekor ular yang menyerang musuh yang datangnya dari atas. Dengan jurus ini maka kembali Si Kong dapat mendesak lawan. Yang diserang oleh luncuran tongkatnya adalah kedua mata dan leher lawan, serangan yang cukup berbahaya kalau mengenai sasaran. Demikianlah, dua orang itu saling serang dan sesungguhnya yang bertanding adalah guru-guru mereka yang membisikkan jurus-jurus melalui mereka. Ketika mendapat kesempatan, Si Kong menggetarkan ujung tongkatnya dan dengan pengerahan sinkangnya, dia menusuk ke arah uluhati lawan. Melihat ini, Ouwyang Kwi menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan sinkang pula. “Tuk…..!” Ujung tongkat bertemu telapak tangan dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah. Ternyata dalam hal tenaga sinkang, mereka seimbang dan hal ini amat mengejutkan hati Ouwyang Kwi. Tadipun kalau tidak mendapatkan bisikan-bisikan gurunya, dia sudah terdesak beberapa kali oleh pemuda remaja itu! Kini tahulah dia mengapa anak buahnya yang enam orang jumlahnya tidak mampu melawan pemuda ini. Baik Yok-sian Lo-kai maupun Tung-hai Liong-ong merasa khawatir kalau pertandingan antara murid-murid mereka dilanjutkan. “Hemm, Jembel Tua, murid kita sudah cukup bertanding. Bagaimana kalau guru mereka, tua sama tua, maju menguji ilmu kepandaian?” “Ha-ha-ha, Naga Tua, kalau dilanjutkan pun muridmu akan kalah. Kau menantang aku? Ha-ha-ha, memang sudah lama aku ingin sekali mengetahui sampai di mana kelihaian Tung-hai Liong-ong dari Pulau Tembaga yang namanya tersohor itu!” “Jembel Tua, kalau kita menggunakan senjata, orang-orang akan menganggap aku tidak adil karena senjataku lebih berat dan lebih besar dari pada tongkat bambumu. Karena itu, aku tantang engkau untuk bertanding dengan tangan kosong!” Berkata demikian Tung-hai Liong-ong menancapkan tongkat kepala naga itu ke tanah. Tongkat itu menancap di tanah sampai hampir setengahnya dan ini menunjukkan betapa kuat tenaga sinkang datuk itu. Yok-sian tertawa. Dia maklum bahwa lawannya tentu gentar menghadapi ilmu tongkatnya Ta-kaw Sin-tung maka sengaja menantang pertandingan tangan kosong. Tentu mengandalkan Tok-ciang (Tangan Beracun) yang hebat. Akan tetapi dia hanya tertawa dan tidak menolak tantangan itu. “Ha-ha-ha, sesukamulah, Naga Tua. Bersenjata baik, bertangan kosong juga baik! Nah, aku sudah siap, mulailah!” Kakek pengemis itu berdiri santai saja, tidak memasang kuda-kuda seperti orang yang hendak bertanding. Melihat sikap lawannya, Tung-hai Liong-ong segera mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tubuhnya bergerak ke depan menyerang dengan dahsyat bagaikan angin topan! “Hyaaaat……….!!” Kedua lengan Tung-hai Liong-ong menyambar dari kanan kiri. “Heiiiittt……..!” Yok-sian mengelak dengan tubuh condong ke belakang sehingga serangan pertama Liong-ong (Raja Naga) itu luput dan segera kakinya mencuat untuk membalas serangan lawan dengan sebuah tendangan kilat. “Wuuuutt………. dukk!” Liong-ong sudah menangkis tendangan Yok-sian dan balas memukul. Terjadilah pertandingan yang berjalan amat cepat sehingga yang nampak hanya bayangan dua orang kakek itu yang menyambar-nyambar seperti dua ekor ayam jantan berlaga. Diam-diam Si Kong memperhatikan dan dia melihat bahwa dalam hal ginkang atau meringankan tubuh gurunya masih menang setingkat. Akan tetapi Liong-ong memiliki ilmu pukulan yang hebat sekali. Dari kedua tangannya itu menyambar hawa pukulan yang panas. Tahulah dia bahwa Liong-ong memiliki kedua tangan yang sudah mengandung hawa beracun amat jahatnya dan kini dia mengerti mengapa Liong-ong mengajak gurunya bertanding dengan tangan kosong. Tentu karena dia mengandalkan ilmunya itu untuk mengalahkan Yok-sian. Setelah lewat seratus jurus, dua orang kakek mengubah gerakan mereka, kini tidak cepat lagi seperti tadi, melainkan dengan gerakan lambat, namun setiap gerakan mengandung hawa sakti yang menyambar-nyambar, terasa oleh mereka yang menonton. Kedua orang sakti itu kini mengerahkan tenaga sinkang untuk saling serang. Pukulan mereka dilakukan dengan jari tangan terbuka dan dari telapak tangan mereka itulah menyambar hawa pukulan yang dahsyat bukan main. Dengan khawatir Si Kong melihat betapa kedua tangan Liong-ong menghitam sampai kesikunya. Itulah tandanya bahwa Liong-ong telah mempergunakan Tok-ciang (Tangan Beracun) yang amat berbahaya. “Heeeiiiiiittt………!” Liong-ong berseru dan tangan kirinya mendorong ke depan, sementara tangan kanannya diangkat tinggi di atas kepalanya. Ada hawa menghitam menyambar dan ketika Yok-sian mengelak, sebatang pohon kena dihantam tangan Liong-ong. Pohon itu tumbang dan di bagian yang terpukul menjadi hitam seperti terbakar. “Hyaaatt………!” Yok-sian yang sudah mengelak itu kini merendahkan tubuh dan dengan menekuk kedua lututnya dan kedua tangannya mendorong ke depan. Akan tetapi Tung-hai Liong-ong agaknya hendak mengadu tenaga karena dia pun melakukan gerakan yang sama dan mendorongkan kedua tangannya. “Wuuuuuuutttt……….. plak…………!” Dua pasang tangan itu bertemu di udara dan telapak tangan mereka saling melekat. Kini kedua orang kakek itu seperti dua orang anak-anak bermain dorong-dorongan! Nampak sekali mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong lawan. Dari kepala Liong-ong mengepul uap hitam dan dari kepala Yok-sian mengepul uap putih. Si Kong memandang dengan hati khawatir sekali. Dia tahu betul bahwa gurunya sedang bertanding mati-matian, mengerahkan seluruh tenaga. Kalau gurunya kalah kuat dan dapat terdorong, tentu akan menderita luka dalam yang hebat! Untuk membantu juga tidak mungkin, bahkan berbahaya karena dia dapat terserang oleh dua tenaga singkang yang sedang saling dorong itu. Ouwyang kwi juga mengerti keadaan gurunya. Dia nampak bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, hanya membanting-banting kakinya dengan kesal. Wajah Liong-ong menjadi tegang dan kemerahan, sedangkan wajah yok-sian masih tersenyum seperti biasa. “Hyaaaaaaaaaaaattt!!” Dua orang kakek itu mengeluarkan teriakan melengking dan akibatnya, tubuh Tung-hai Liong-ong terdorong mundur sampai lima langkah dan hampir saja dia terjatuh, akan tetapi ditahannya, lalu dia muntahkan darah segar dari mulutnya! Tubuh Yok-sian hanya bergoyang-goyang akan tetapi kedua kakinya tidak melangkah, hanya mukanya yang menjadi agak pucat. Tung-hai Liong-ong menoleh kepada Ouwyang Kwi sambil mengusap darah dari bibirnya dan berkata dengan suara parau. “Hayo kita pergi! Untuk apa memperebutkan kedudukan ketua pengemis busuk?” Dengan kedua tangan dia mencabut tongkatnya yang tadi tertancap di atas tanah dan pergilah Tung-hai Liong-ong setelah dia memandang kepada Yok-sian. “Lain kali aku menang!” Dia melangkah pergi. Ouwyang Kwi nampak bingung. Akan tetapi diapun tahu bahwa dia sudah kalah, maka tanpa banyak cakap lagi diapun mengikuti langkah gurunya. Lu Tung San kini melangkah maju dan menghadapi anak buah Hwa I Kaipang dan berteriak lantang. “Kami akan memaafkan kalian kalau kalian mencari di mana adanya ketua kalian yang lama, Tang Sin Pangcu.” Seorang anggauta Hwa I Kaipang berlari ke dalam dan tak lama kemudian dia menuntun seorang kakek yang nampak lemah. Dia itu bukan lain adalah Tang Sin, ketua Hwa I Kaipang yang dikalahkan oleh Ouwyang Kwi dan ditahan di kamar tahanan belakang gedung! Yok-sian sendiri kini duduk bersila dan mengatur pernapasannya. Dari sudut mulutnya nampak darah. Kiranya dia pun terluka parah, hanya tidak kelihatan seperti halnya Tung-hai Liong-ong. Si Kong berlutut di sisi gurunya. “Suhu terluka……?” tanyanya lirih. Yok-sian mengangguk, membuka mata memandang kepada Tang Sin yang sudah menjatuhkan diri berlutut di depannya. Yok-sian berkata kepada muridnya. “Si Kong, kau cepat periksa dia dan obati sampai sembuh.” Si Kong memenuhi permintaan gurunya. Dia memeriksa tubuh Tang Sin yang lemah. Ternyata Tang Sin juga terluka oleh pukulan beracun seperti halnya Lu Tung San. Maka cepat dia menotok dan menekan beberapa jalan darah di tubuhnya dan memasakkan obat dengan bantuan para pengemis baju berkembang dan memberikan obat itu kepada Tang Sin. “Si Kong, mari kita pergi dari sini!” kata Yok-sian kepada muridnya sambil bangkit berdiri. Wajahnya masih pucat akan tetapi dia tetap penuh senyum. “Kami menghaturkan terima kasih kepada locianpwe Yok-sian Lo-kai!” kata Lu Tung San. “Sudahlah, di antara kita mana ada budi dan terima kasih? Semua yang kita lakukan adalah kewajiban kita. Dan engkau, Hek I Kai-pangcu, engkau pun mempunyai kewajiban. Bantulah ketua Hwa I Kaipang untuk menyadarkan para anggautanya yang dibawa menyeleweng oleh Ouwyang Kwi. Bantu dia membawa anak buahnya ke jalan lurus kembali. Sekarang, biarkan kami pergi melanjutkan perjalanan kami.” Tang Sin dan Lu Tung San yang berterima kasih itu mencoba untuk mencegah kepergian kakek itu, akan tetapi sia-sia belaka. Mereka hanya dapat mengantar sampai di luar gedung dan membiarkan Yok-sian Lo-kai dan Si Kong pergi dari situ. “Kita mencari tempat yang sunyi. Aku…….. ingin beristirahat.” kata Yok-sian. Si Kong membawanya keluar kota Souw-ciu dan melihat ada sebatang pohon besar di sebelah kanan jalan, Si Kong mengajak gurunya ke sana dan Yok-sian duduk bersila di bawah pohon. “Suhu, biarkan teecu (murid) memeriksa keadaan suhu.” “Aku sudah tahu keadaanku. Aku terserang hawa beracun dari Naga Tua itu. Terluka parah sekali. Aku tidak akan mampu lagi mengerahkan tenaga sinkang sampai lama.” “Suhu, apakah tidak ada obatnya untuk mengobati luka suhu?” Yok-sian menggeleng kepala. “Salahku sendiri. Kalau aku mengaku kalah dan tidak menahan, tentu tidak akan terluka sampai seperti ini. Diapun terluka, sama parahnya dengan aku. Dia dan aku kini menjadi orang-orang tua tanpa daya dan untuk memulihkan keadaanku, aku harus menghimpun tenaga dari hawa murni, entah selama berapa tahun lagi.” Tentu saja Si Kong merasa prihatin sekali. “Suhu, biarlah teecu berusaha untuk membantu suhu mengusir mengusir hawa beracun itu.” Katanya dan diapun lalu bersila di belakang tubuh suhunya dan menempelkan kedua tangannya di punggung Yok-sian sambil mengerahkan tenaga saktinya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika terasa olehnya ada hawa yang amat panas menyerangnya dan membuatnya terpelanting. “Jangan kaulakukan itu, percuma saja, bahkan engkau bisa terluka. Tenaga dalamku menjadi kacau dan keracunan. Aku membutuhkan waktu lama untuk memurnikannya kembali.” kata Yok-sian Lo-kai. Si Kong merasa sedih melihat keadaan gurunya. Dia mengusulkan kepada gurunya untuk bermalam di sebuah penginapan dan dia sendiri ingin bekerja mencari uang untuk membayar sewa kamar. Akan tetapi gurunya tidak setuju. “Pengemis-pengemis menginap di rumah penginapan? Kita hanya akan diejek dan diusir. Sudahlah, aku tidak membutuhkan tempat yang baik, hanya membutuhkan tempat yang sunyi.” Akhirnya Si Kong menemukan sebuah kuil tua yang kosong, beberapa li jauhnya dari kota Souw-ciu. Dia mengajak suhunya untuk tinggal di kuil itu. Dan setiap pagi dia pergi ke kota Souw-ciu pulangnya membawa makanan dan juga obat penguat badan untuk gurunya. Dia bekerja apa saja untuk mendapatkan uang guna keperluan itu. Setelah tiga bulan tinggal di kuil itu dan setiap hari dia bekerja sebagai buruh kasar, pada suatu siang ketika dia kembali ke kuil tua, gurunya sudah tidak ada di tempat itu! Si Kong menjadi bingung dan khawatir, akan tetapi dia menemukan coret-coretan di dinding sebelah dalam. Itu adalah tulisan Yok-sian Lo-kai yang dilakukan dengan ujung tongkatnya. Si Kong, Aku terpaksa meninggalkanmu. Aku tidak ingin melihat engkau bersusah payah untuk mengurus diriku. Aku hanya membutuhkan istirahat selama beberapa tahun. Engkau merantaulah seorang diri dan pergunakanlah apa yang kaupelajari dariku untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Selamat tinggal. Si Kong menjadi lemas. Seperti orang kebingungan dia lari keluar dan mencari ke sana-sini, untuk mengejar suhunya. Akan tetapi usahanya itu gagal dan akhirnya dia kembali ke kuil menjatuhkan dirinya duduk di lantai yang biasa diduduki gurunya dan termenung. Dia merasa nelangsa, merasa kesepian. Setelah hidup bersama Yok-sian Lo-kai selama lima tahun, orang tua itu sudah melekat di hatinya, menjadi satu-satunya orang yang dekat dengannya. Kini, tiba-tiba saja gurunya pergi karena tidak ingin menyusahkannya! Bagaimana hatinya tidak akan merasa sedih. Padahal, dengan senang hati dia ingin merawat suhunya sebagai pembalas budi. Akan tetapi orang tua itu tidak mau dan meninggalkannya. Selama ini dia merasa hidupnya bahagia. Biarpun harus hidup sebagai seorang pengemis, namun dia tidak pernah merasa susah. Kemanapun dia merasa berbahagia karena gurunya selalu tersenyum dan tertawa katanya menertawakan dunia dan manusianya yang serba palsu dan lucu. Si Kong merasa kesepian dan ditinggalkan kebahagiaan. Rasanya berat harus hidup seorang diri, seolah kehilangan pegangan. Kemana dia harus pergi? Ketika bersama gurunya tak pernah dia tanya hal ini. Seolah dengan sendirinya dia harus pergi kemana gurunya pergi dan gurunya itupun tidak pernah mempunyai rencana harus pergi kemana. Dia teringat akan kata-kata gurunya. Manusia mencari kebahagiaan ke mana-mana dan dengan segala cara, namun tidak pernah dapat menemukan kebahagiaan itu. Menurut gurunya, kebahagiaan tidak bisa ditemukan kalau dicari. Kebahagiaan adalah suatu keadaan batin yang tidak diganggu oleh gejolaknya nafsu. Selama nafsu masih bergejolak dalam batin, tidak mungkin manusia dapat berbahagia, karena dia akan terbentur dengan halangan-halangan dalam mengejar kesenangan seperti yang dikehendaki oleh nafsu. Dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin menemukan kebahagiaan? Kalau keadaan yang tidak berbahagia itu tidak ada lagi, manusia tidak lagi membutuhkan kebahagiaan. Kenapa? Karena dia sudah bahagia! Kebahagiaan itu sudah ada selalu dalam diri manusia sendiri, namun terselubung oleh bermacam persoalan dan kesukaran yang menjadi akibat dari menuruti nafsu diri. Seperti orang yang mencari kesehatan. Bagaimana mungkin akan dapat mengalami kesehatan kalau tubuhnya sedang sakit? Daripada mencari kesehatan yang tak mungkin dia temukan, lebih baik meneliti dirinya sendiri yang sakit, mengusahakan agar penyakit itu lenyap. Kalau dirinya sudah tidak dihinggapi penyakit lagi, apakah dia butuh mencari kesehatan? Tidak perlu lagi karena dia sudah sehat! Manusia biasanya tidak dapat menikmati kesehatan kalau dia sehat. Baru merindukan kesehatan kalau dia sakit. Demikian pula manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan kalau dia berbahagia. Baru merindukan kebahagiaan dikala dia sedang tidak berbahagia. Hidup itu sendiri adalah indah, hidup itu sendiri adalah bahagia. Mengapa repot-repot mencari kebahagiaan dengan segala cara? Setelah merenungkan kembali apa yang pernah dia dengar dari Yok-sian Lo-kai, Si Kong merasa terhibur. Kalau dia merasa kehilangan dan kesepian, itu sama saja dengan mengundang ketidak-bahagiaan dalam hatinya. Kata gurunya hidup haruslah berani mandiri, tidak boleh terikat atau tergantung kepada apa dan siapapun juga. Hidup adalah miliknya sendiri, akan diisi apapun terserah kepada dirinya sendiri. Dia bangkit berdiri, merasa lega dan merasa kuat. Aku memang sudah semestinya hidup sendiri. Demikian pikirnya. Aku sudah yatim piatu dan tidak memiliki apa-apa. Aku akan merantau, seperti yang dilakukan suhu. Aku harus berani dan menempuh kehidupan ini dengan tabah dan gembira. Aku harus menjadi seoang kelana, pergi kemana saja menurutkan arah kakinya melangkah. Terbang bebas lepas di udara seperti seekor burung. Kata gurunya, burung yang kecil-kecil dan penakut terbang berkelompok dan tidak berani menyendiri. Akan tetapi burung rajawali berani terbang melayang dengan lepas bebas seorang diri saja, menghadapi kehidupan ini seorang diri tanpa rasa takut. “Aku akan berkelana! Terima kasih atas segala petunjuk dan bimbinganmu suhu!” katanya keras-keras, lalu dia keluar dari kuil itu mulai dengan pengembaraannya. *** Setelah berkelana seorang diri Si Kong meninggalkan pula kebiasaannya memakai pakaian seperti pengemis, yaitu tambal-tambalan. Dengan tubuhnya yang kuat dan tenaganya yang besar, mudah baginya mencari pekerjaan kasar yang menghasilkan sedikit uang dan mulailah dia membeli pakaian yang sederhana namun tidak ada tambalannya. Dia berkelana dari kota ke kota, dari dusun ke dusun, dan berhenti beberapa bulan lamanya untuk bekerja. Setelah mendapatkan uang, dia berkelana lagi. Pada suatu pagi, dia berjalan dengan santai mendaki sebuah bukit kecil. Dia baru saja meninggalkan kota Pu-han di mana dia tinggal sebulan lamanya untuk bekerja. Kini dia melanjutkan kelananya dengan mengantungi uang hasil pekerjaannya. Hatinya terasa ringan, segala yang nampak kelihatannya indah. Matahari belum naik tinggi, sinarnya masih kemerahan. Pemandangan di bukit kecil itu pada pagi hari amatlah indahnya. Burung-burung berkicau, siap meninggalkan sarangnya di mana dia melewatkan malam gelap. Para petani sepagi itu sudah menuju ke sawah ladangnya membawa cangkul. Semua nampak indah berseri dan seperti itulah seyogyanya kehidupan ini. Namun sayang, batin selalu mudah terguncang sehingga menimbulkan perasaan tidak bahagia. Si Kong mendaki makin tinggi dan di dekat puncak bukit sudah tidak ada lagi sawah ladang, melainkan padang rumput dan hutan di sana-sini. Tiba-tiba dia mendengar suara orang menyanyikan sajak. Jantungnya berdebar. Gurunya, Yok-sian Lo-kai yang biasa bernyanyi seperti itu! Akan tetapi suaranya agak lain. Dia mempercepat langkahnya dan dapat menyusul seseorang yang berjalan sambil menyanyikan sajak. “Sebelum timbul girang dan marah sebelum terasa senang dan susah batin berada dalam keadaan bimbang. Apa bila perasaan itu timbul namun dapat mengendalikan batin berada dalam keadaan keselarasan. Keseimbangan dasar termulia di dunia dan keselarasan adalah alan utama di dunia” Si Kong segera mengenal kata-kata itu. Dia sudah banyak mempelajari ayat-ayat dari kitab-kitab agama dari Yok-sian. Maka diapun mengenal syair yang dinyanyikan itu, ialah sebagian daripada isi kitab Tiong Yong. Karena suara orang itu terdengar lantang gembira, dia terbawa gembira dan seperti tanpa disadari diapun menyambung nyanyian itu dengan suaranya yang lantang. “Apabila Keseimbangan dan Keselarasan dilaksakan dengan sempurna, maka keberesan abadi meliputi langit dan bumi, dan segala mahluk dan benda terpelihara dengan baik.” Mendengar ini, orang itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Dia seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti pohon kekeringan, namun wajahnya tampan dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik. Orang itu membelalakkan matanya dan nampak keheranan setelah melihat bahwa orang yang menyambung sajaknya itu hanyalah seorang pemuda remaja! Dia berhenti melangkah dan menanti sampai Si Kong datang dekat. “Engkau hafal akan ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong?” tanya orang itu, masih keheranan. “Engkau tentu seorang anak yang terpelajar!” Si Kong tersenyum dan memberi hormat. “Paman, saya tidak pernah bersekolah atau belajar, saya hanya menirukan apa yang pernah di katakan suhu.” “Siapa suhumu?” Dengan bangga Si Kong menjawab, “Suhu adalah Yok-sian Lo-kai.” “Ah, dia? Pantas engkau hafal ayat-ayat Tiong Yong. Akan tetapi apakah engkau mengerti akan artinya ayat-ayat itu?” “Justru artinya yang membingungkan aku, paman. Suhu tidak pernah menjelaskan dan hanya mengatakan bahwa kelak aku akan mengerti sendiri.” “Mengerti sendiri memang dapat, akan tetapi ada kemungkinan pengertian itu menyeleweng dari arti yang sebenarnya. Nah, dengarlah baik-baik anak muda. Batin manusia seperti yang telah ada padanya sejak lahir memiliki Watak Aseli yang sifatnya tenteram, lurus dan seimbang. Akan tetapi apabila batin diguncangkan oleh perasaan seperti suka dan duka, senang dan marah, maka keseimbangannya dapat menjadi goyah dan miring dan kalau demikian halnya, maka dia akan meninggalkan Tao atau Jalan Kebenaran atau Hukum Alam. Akan tetapi manusia disertai pula oleh nafsu-nafsu daya rendah yang saling berebut untuk menguasainya, maka tidak dapat dielakkan lagi berbagai macam guncangan itu akan menerjangnya dalam kehidupan, seperti sebuah biduk tak terbebas dari guncangan ombak. Akan tetapi kalau dia sedang diguncang nafsu, namun dapat mengendalikan perasaan itu, maka akan terciptalah keselarasan. Sudah manusiawi kalau mendapatkan sesuatu yang tidak enak, manusia berduka, apabila melihat kejadian yang tidak adil, dia marah, akan tetapi kalau semua itu dapat dia kendalikan, maka segalanya akan selaras dan dia tidak akan tenggelam ke dalam perasaan itu dan pertimbangannya akan tetap tegak dan berimbang. Demikian pula kalau menghadapi sesuatu yang mendatangkan perasaan suka dan girang, dia tidak akan mabuk dan menjadi bangga, angkuh, serakah dan selanjutnya. Demikianlah, maka seperti yang kau nyanyikan tadi, apabila Keseimbangan dan Keselarasan dapat dilaksanakan dengan sempurna, maka langit dan bumi akan menjadi beres dan tenteram, dan kehidupan di dunia akan penuh kebahagiaan.” Si Kong memandang kagum. Jelas bahwa orang ini seorang sastrawan, atau setidaknya seorang yang terpelajar tinggi. Dia segera memberi hormat dan berkata, “Paman, terima kasih atas penerangan semua itu. Kalau begitu, dalam kitab Tiong Yong terdapat pelajaran tentang kehidupan yang amat mendalam.” “Dalam kitab suci, tentu saja tersimpan pelajaran yang amat mendalam. Hanya persoalannya, kalau hanya dipelajari dan tidak dilaksanakan, maka pelajaran itu menjadi benda yang tidak ada gunanya sama sekali.” Si Kong menghela napas panjang. “Tepat sekali, paman. Akan tetapi mengapa di dunia ini terdapat lebih banyak kejahatan daripada kebaikan, terdapat demikian banyaknya orang jahat padahal di dunia ini terdapat pelajaran agama yang demikian indah dan mendalam?” “Ha-ha-ha-ha!” Sastrwan itu terbahak, mengingatkan Si Kong akan gurunya yang mempunyai kebiasaan tertawa lepas. “Mudah sekali menjawabnya. Karena manusia disertai nafsu-nafsu daya rendahnya yang selalu ingin menguasainya. Nafsu-nafsu daya rendah sudah menguasai manusia lahir batin, lebih kuat karena memang manusia itu lemah sehingga manusia menjadi budak dari nafsunya. Bahkan pikirannya sudah dikuasai nafsu sehingga biarpun dia tahu bahwa melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, pikiran yang sudah dikuasai nafsu itu selalu mencoba untuk membelanya dan membenarkan tindakannya yang menyimpang dari kebenaran itu. Maka orang bijaksana jaman dahulu selalu mengingatkan manusia agar berhati-hati menghadapi musuh dalam selimut, yaitu nafsu-nafsunya sendiri.” “Wah, paman. Sungguh jelas apa yang paman terangkan itu! Terima kasih paman.” “Dan engkau juga seorang anak yang aneh. Masih remaja akan tetapi sudah tertarik akan soal-soal kehidupan.” “Tentu saja, paman. Bukankah saya inipun manusia hidup yang harus tahu akan kehidupan, bukan?” “Ha-ha-ha, engkau juga cerdik Siapakah namamu orang muda?” “Nama saya Si Kong, paman.” “Si Kong? Nama yang bagus, engkau harus berhati-hati kalau mempunyai nama yang bagus, karena engkau harus menyesuaikan perbuatanmu dengan namamu itu! Kau tidak ingin tahu namaku?” “Tentu saja, paman. Paman tentu seorang yang terkenal sekali di dunia.” “Ha-ha-ha, orang-orang menyebut aku Kwa Siucai (Pelajar Kwa) dan ada pula yang menyebutku Penyair Gila! Orang-orang itu membenciku karena aku suka berterus terang menyatakan watak-watak mereka yang buruk. Aku seorang peramal, heh-heh!” “Saya tidak suka diramal nasib saya, paman.” “Kenapa?” “Tahu lebih dulu akan nasib diri mendatangkan banyak kerugian. Kalau nasibnya baik akan membuat dia sombong dan tekebur, sebaliknya kalau mengetahui nasibnya buruk akan membuat dia putus asa dan murung. Tidak, saya lebih baik tidak mengetahui dan menanti saja apa yang akan datang menimpa diri kita.” “Ha-ha-ha, cocok sekali! Aku sendiripun tidak suka meramalkan nasib sendiri. Tapi orang-orang bodoh itu ingin sekali menjenguk masa depan mereka. Dan aku hidup bebas dari rasa takut. He, Si Kong, banyak sikap yang sama di antara kita, dan melihat bentuk tubuhmu, aku tidak akan merasa heran kalau engkau lihai dalam ilmu silat. Bukankah gurumu Yok-sian Lo-kai yang lihai?” “Saya hanya mempelajari beberapa macam pukulan dengan tongkat ini, paman.” “Ah, engkau tentu sudah pandai mainkan Ta-kaw Sin-tung!” Si Kong tertegun. Orang ini memang aneh. Ternyata pandai pula menebak ilmu silat yang dia pelajari dari Yok-sian Lo-kai. “Bagaimana paman dapat mengetahuinya?” “Engkau masih muda, sebetulnya tidak membutuhkan tongkat, akan tetapi engkau selalu membawa tongkat bambu. Apalagi kalau tidak pandai Ta-kaw Sin-tung, Tongkat Sakti Pemukul Anjing yang tersohor itu?” “Ah, saya hanya bisa sedikit saja, paman.” “Ada nasihat yang dikatakan orang-orang di dunia kangouw bahwa semakin orang merendahkan diri, makin lihailah dia! Sudah lama sekali aku mendengar tentang Tongkat Sakti Pemukul Anjing yang kabarnya telah mengalahkan banyak anjing dan srigala di dunia kangouw. Sekarang aku bertemu denganmu, ingin sekali aku merasakan bagaimana lihainya ilmu tongkat itu.” “Ah, paman hanya main-main saja. Aku tidak akan mau menggunakan tongkat ini untuk memukul paman. Tongkat ini kubawa hanya untuk memukul anjing-anjing dan srigala.” “Nah, anggap saja aku ini anjing atau srigala!” “Tidak, paman adalah seorang yang baik hati. Aku tidak ingin berkelahi dengan paman.” “Aku hanya ingin mencoba kelihaian tongkatmu, bukan mengajakmu berkelahi. Sekarang begini saja. Aku akan menyerangmu dan kau lawanlah dengan Ta-kaw Sin-tung. Awas, aku mulai!” Setelah berkata demikian, Kwa Siucai atau Penyair Gila itu sudah menerjang ke depan dan tangannya menghantam ke arah dada Si Kong. Pemuda ini terkejut bukan main ketika dari tangannya yang menghantam itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat! Kiranya Penyair Gila ini memiliki tenaga sin-kang yang amat hebat. Diapun cepat mengelak sambil memutar tongkatnya. Begitu serangan pertamanya luput, Kwa Siucai sudah menyusul dengan serangan kedua yang lebih cepat dan lebih kuat. Kini terpaksa untuk membela diri Si Kong mainkan Ta-kaw Sin-tung, menangkis, memutar tongkat melindungi dirinya dan balas menyerang. Dalam ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung, balas menyerang merupakan gaya melindungi diri yang paling tepat. Kalau orang diserang anjing, dia harus membalas dengan serangan, bukan hanya mengelak saja, demikian inti ilmu tongkat itu. Kwa Siucai tertawa terbahak karena girang melihat betapa pemuda itu mainkan ilmu tongkat yang ingin sekali dilihatnya itu. Dan setelah Si Kong menyerangnya secara bertubi, barulah dia menjadi repot melayaninya. Memang ilmu tongkat itu aneh bukan main. Yang dipukul kepala akan tetapi tahu-tahu ujungnya yang lain menotok ke arah kaki. Kalau yang dipukul bagian tubuh yang kanan, ujungnya yang lain menyerang tubuh kiri! Anjing-anjing memang akan menjadi bingung dan terkena pukulan kalau diserang seperti itu! Si Kong tidak ingin melukai Kwa Siucai, maka tongkatnya hanya mendesak saja dan tidak pernah dia memukul dengan sungguh-sungguh walaupun kedua ujung tongkatnya menyerang silih berganti dan tidak memberi peluang kepada lawan untuk membalas menyerang. “Bagus, Si Kong. Bagus sekali! Akan tetapi sekarang berhati-hatilah engkau!” Tiba-tiba saja tubuh Kwa Siucai yang diserangnya itu lenyap! Dari hawa pukulannya yang datang dari belakang tahulah dia bahwa lawannya telah berada di belakangnya. Dia membalik dan memutar tongkatnya untuk menyerang, akan tetapi hanya kelihatan berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu Kwa Siucai sudah lenyap pula. Tiba-tiba orang itu sudah berada di sebelah kananya. Kini Si Kong yang menjadi repot. Dia harus terus menangkis pukulan yang datangnya dari semua penjuru seolah tubuh Kwa Siucai berubah menjadi puluhan banyaknya! Tahulah dia dengan hati kagum dan kaget bahwa Kwa Siucai sebenarnya seorang sakti yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai sempurna sehingga dia seperti pandai menghilang saja! Karena terus diserang dari berbagai penjuru dan sama sekali dia tidak dapat balas menyerang, Si Kong sampai mandi keringat menjaga diri dari serangan yang tiba-tiba datangnya itu. Akan tetapi, mendadak setelah Si Kong kehilangan lagi bayangan Kwa Siucai, tahu-tahu tongkatnya terpegang ujungnya dari belakang. Dia mempertahankan tongkatnya sehingga tidak dapat dirampas, akan tetapi dia pun tidak dapat menggerakkan lagi tongkatnya! “Ha-ha-ha, memang bukan kosong saja berita tentang kehebatan Ta-kaw Sin-tung! Aku kagum sekali, Si Kong!” Si Kong adalah seorang pemuda remaja yang cerdik bukan main. Dari pengalamannya bertanding tadi, tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang sakti yang memiliki ilmu silat tinggi. Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan Penyair Gila itu. “Locianpwe telah membuka mata saya untuk melihat ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sekali. Mohon petunjuk, locianpwe!” “Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali, Si Kong. Tadi ketika bertemu pertama kali melihat engkau dapat menghafal ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong, aku sudah tertarik sekali padamu. Sekarang melihat engkau mainkan Ta-kaw Sin-tung, aku lebih kagum lagi. Agaknya kita memang berjodoh, Si Kong. Bagaimana kalau engkau menjadi muridku?” Memang inilah yang dikehendaki Si Kong. Maka, tanpa banyak cakap lagi dia sudah memberi hormat sambil berlutut dan berkata, “Teecu (murid) akan menaati semua perintah suhu!” Kwa Siucai menjadi girang sekali. “Bagus! Nah, bangkitlah dan perhatikan semua petunjukku. Kejarlah aku!” Dan tiba-tiba saja tubuh Kwa Siucai sudah melesat seperti anak panah terlepas dari busurnya, sebentar saja sudah jauh. Melihat ini, Si Kong menjadi gembira dan dia pun melompat dan mengejar. Akan tetapi betapapun dia mengerahkan tenaga untuk berlari secepatnya, tetap saja dia tidak mampu mengejar, padahal Kwa Siucai kelihatan melangkah dengan santai saja. Dipandang sepintas lalu, seolah kedua kaki Penyair Gila itu tidak menyentuh tanah! Napas Si Kong hampir putus ketika mereka tiba di puncak bukit karena dia mengerahkan seluruh tenaganya sejak tadi. Tahu-tahu Kwa Siucai sudah menanti di puncak bukit dan tertawa melihat dia terengah-engah. “Duduklah bersila!” perintahnya. Si Kong menaati dan duduk bersila di depan suhunya yang juga sudah duduk bersila di atas tanah berumput. “Bernapaslah dengan perut tarik napas sepanjang dan sekuat mungkin, tarik terus lalu keluarkan ke dalam tan-tian dan tahan sejenak, lalu keluarkan dari mulut dengan mengeluarkan suara begini!” Kwa Siucai memberi contoh kepada Si Kong dan pada saat itu juga dia sudah mulai dilatih untuk menghimpun udara bersih dan memperkuat pernapasannya. Si Kong berlatih dengan penuh kesungguhan sehingga gurunya menjadi semakin suka. Pada hari-hari berikutnya dia mulai melatih ginkang (ilmu meringankan tubuh) kepada Si Kong. Perlahan-lahan dia mengajarkan ilmu meringankan tubuh yang disebut Liok-te Hui-teng (Lari Terbang Di atas Tanah) dan ilmu silat yang mengandalkan ginkang dan disebut ilmu silat Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang). Tentu saja untuk mempelajari kedua ilmu ini, membutuhkan waktu lama, terutama untuk latihan pernapasan, akan tetapi Si Kong dengan tekunnya mengikuti semua petunjuk Kwa Siucai. Dalam kehidupannya bersama guru barunya ini, Si Kong mendapatkan kenyataan bahwa Penyair Gila itu bahkan lebih miskin dibanding Yok-sian Lo-kai. Yok-sian setidaknya diterima orang dengan senang hati dan tangan terbuka karena Dewa Obat ini datang untuk mengobati orang sehingga dia dan guru pertamanya itu dimana-mana disambut orang dengan hidangan dan kehormatan. Dan kalau dia mau, dengan kepandaiannya mengobati orang, dia akan bisa mendapatkan uang. Akan tetapi Penyair Gila ini tidak dapat menjual sajak-sajaknya yang aneh, apalagi ramalannya yang menelanjangi orang-orang sehingga membuat banyak orang merasa tidak suka kepadanya! Dan terdapat perbedaan yang besar antara watak Kwa Siucai ini dengan Yok-sian. Yok-sian biarpun miskin namun menjaga nama dan kehormatan dirinya, tidak suka mencuri bahkan tidak pernah menjual kepandaiannya mengobati orang. Daripada mencuri dia lebih baik mengemis! Akan tetapi ternyata tidak demikian dengan Kwa Siucai. “Orang-orang kaya yang tidak pernah mau memperdulikan nasib sesama manusia yang menderita karena kemiskinannya, adalah orang-orang yang tidak berbudi,” demikian antara lain Kwa Siucai berkata. “Orang-orang kaya itu sudah mendapatkan kemurahan dari Thian, maka sudah sepatutnya kalau dia menjadi seorang dermawan pula. Seorang hartawan harus menjadi seorang dermawan, maka barulah cocok. Kalau dia kikir, maka orang seperti itu pantas kalau dikurangi sebagian hartanya.” Yang dimaksudkan oleh Kwa Siucai dengan dikurangi sebagian hartanya itu adalah dicuri, kemudian uang hasil curian itu dia bagikan kepada orang-orang miskin. Kwa Siucai menjadi seorang maling budiman! Dan Si Kong yang menjadi muridnya diharuskan melakukan perbuatan yang sama. Si Kong mempertimbangkan alasan Kwa Siucai itu, dan akhirnya diapun tidak keberatan untuk mencuri uang dari para hartawan untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin. Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kemiskinan dan dapat merasakan penderitaan orang miskin. Maka setelah mendapat pelajaran dari Kwa Siucai, dia merasakan betapa bahagianya orang-orang miskin yang diberinya uang hasil curian itu. Akan tetapi semua ini dikerjakan oleh Kwa Siucai secara diam-diam. Dia mencuri tanpa meninggalkan bekas dan memberikan uang kepada orang-orang miskin tanpa mereka ketahui siapa pemberinya. Hartawan-hartawan pemeras rakyat itu tahu-tahu kehilangan sebagian hartanya, dan orang-orang miskin itu tahu-tahu menemukan uang didalam rumahnya tanpa mengetahui siapa yang memberi mereka. Kalau guru dan murid ini mendengar adanya seorang hartawan yang dermawan, mereka sama sekali tidak mengganggu hartawan itu. Akan tetapi hartawan yang pelit dan suka memeras rakyat jelata, tidak pernah diampuni. Dan di antara yang mereka curi itu, hanya sedikit saja yang mereka pergunakan untuk keperluan sendiri. Hanya untuk membeli makan dan minum, juga pengganti pakaian sekadarnya. Semua dihabiskan untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin! Setelah belajar selama setahun dengan tekun sambil merantau bersama Kwa Siucai, Si Kong telah menguasai dua ilmu yang diajarkan oleh Kwa Siucai, yaitu ilmu meringankan tubuh Liok-te Hui-teng dan ilmu silat Yan-cu Hui-kun. Dia kini tinggal mematangkan saja ilmu-ilmu itu dengan latihan yang tekun. Pada suatu hari Kwa Siucai berkata kepada Si Kong. “Si Kong, engkau sudah menguasai dua ilmu yang kuajarkan kepadamu. Dalam waktu setahun engkau sudah dapat menguasainya, hal itu luar biasa sekali. Bakatmu amat besar dan engkau memiliki ketekunan yang teguh. Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk berpisah!” Si Kong terkejut sekali. “Akan tetapi kenapa, suhu? Kenapa kita harus berpisah? Teecu masih membutuhkan bimbingan suhu dalam segala hal!” Kwa Siucai tersenyum dan menggerakkan tangannya. “Engkau telah menguasai Ta-kaw Sin-tung. Kalau kau gabungkan ilmu tongkatmu itu dengan Yan-cu Hui-kun, maka engkau sudah menjadi orang yang sukar di tandingi. Aku ingin kembali ke kampungku, jauh di selatan, Si Kong, dan kita pun tidak mungkin berkumpul terus. Aku dapat mengurus diriku sendiri seperti juga engkau dapat mengurus dirimu sendiri. Ada pertemuan tentu ada perpisahan, Si Kong.” Si Kong menjatuhkan dirinya berlutut. “Suhu, perkenankan teecu ikut dengan suhu untuk membalas semua kebaikan suhu.” “Aih, sudahlah, tidak ada budi dan tidak ada pembalasan. Selama ini engkau menjadi murid yang baik, itu sudah cukup menyenangkan hatiku. Selamat tinggal, Si Kong!” “Suhu……!” Akan tetapi Si Kong melihat bayang berkelebat dan suhunya sudah tidak berada di depannya lagi. Dia tetap berlutut lalu berkata lantang. “Terima kasih atas semua kebaikan suhu kepada teecu!” Dia memberi hormat beberapa kali baru bangkit berdiri dan kembali dia merasakan kekosongan di hatinya seperti ketika dulu ditinggalkan Yok-sian Lo-kai. Dia merasa kesepian dan sendiri, bagaikan seekor burung di udara, tidak tahu harus pergi kemana dan harus berbuat apa! Dia menghela napas. Inilah kelemahannya selama ini. Dia terlalu menggantungkan dirinya kepada orang lain! Maka, begitu ditinggalkan, dia merasa kesepian dan nelangsa. Tidak! Dia harus berani hidup sendiri! Dia mengepal tinjunya. Dia sama sekali tidak boleh lemah seperti ini. Kedua orang gurunya itu telah memberi banyak pelajaran tentang hidup kepadanya. Sekaranglah saatnya untuk memasuki kehidupan seorang diri dan menghadapi apa saja yang menimpa dirinya seorang diri. Dia bukan anak kecil lagi. Usianya sudah enambelas tahun! Dia harus berani dan harus mampu mandiri. Si Kong seperti mendapat semangat baru. Dengan cepat dia menuruni bukit itu. Dari atas bukit itu tadi dia melihat samar-samar genteng rumah orang di bukit depan. Tentu disana ada penghuninya, maka diapun kini menuruni bukit lalu mendaki bukit di depan. Hari telah menjelang sore dan dia ingin mencari tempat bermalam di dusun yang berada di lereng bukit itu. Setelah tiba dilereng itu, dia melihat sebuah perkampungan yang dikelilingi tembok yang cukup tinggi. Akan tetapi agaknya itu bukan merupakan sebuah dusun karena di pintu gerbangnya yang besar terjaga oleh lima orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah keren. “Hei, orang muda! Siapa engkau dan hendak kemana?” tanya seorang diantara para penjaga itu ketika melihat Si Kong hendak memasuki pintu gerbang. Lima orang itu menghadang di pintu gerbang dan sikap mereka galak. “Maaf, aku hanya ingin memasuki dusun ini untuk mencari tempat menginap malam ini,” kata Si Kong dengan sikap tenang. Lima orang itu saling pandang lalu tertawa bergelak. Si penanya tadi yang agaknya menjadi pimpinan membentak, “Bocah lancang! Ini bukan dusun, akan tetapi tempat tinggal majikan kami, Tong Lo-ya (Tuan besar Tong). Orang dari luar sama sekali tidak boleh masuk!” “Ah…….” kata Si Kong kecewa, akan tetapi dia mendapat pikiran baik dan segera berkata, “Kebetulan kalau begitu. Aku ingin menghadap majikan kalian untuk mohon diberi pekerjaan.” Memang dalam hatinya Si Kong sudah mengambil keputusan untuk tidak mengemis seperti Yok-sian dan tidak mencuri seperti Kwa Siucai. Kedua kebiasaan ini dianggapnya tidak baik. Dia ingin bekerja untuk mendapatkan uang guna biaya hidupnya. “Hemm, tidak demikian mudah untuk menghadap majikan kami! Dan bocah macam engkau ini dapat bekerja apakah?” Menghadapi sikap yang angkuh dan kasar ini, Si Kong masih bersabar hati. “Aku dapat melakukan apa saja yang kalian dapat lakukan.” Pemimpin para penjaga itu mengerutkan alisnya. “Kau dapat melakukan apa saja yang kami dapat lakukan? Huh, kalahkan dulu kami kalau engkau ingin diberi kesempatan menghadap Lo-ya!” dia menantang untuk menakut-nakuti pemuda remaja itu, sedangkan empat orang kawannya tertawa-tawa. Pemuda itu pasti pergi ketakutan, pikir mereka. Akan tetapi Si Kong kini merasa penasaran. “Kalau itu yang kalian kehendaki, aku siap melawan kalian berlima!” “Bocah gila! Melawan aku seorang saja jangan harap kau dapat menang, apalagi melawan kami berlima!” teriak seorang di antara mereka yang matanya agak juling. “Boleh coba-coba!” kata Si Kong yang menganggap sikap mereka ini keterlaluan. Dia sudah menancapkan tongkatnya ke atas tanah karena tidak memerlukan senjata itu untuk melawan lima orang sombong itu. Si juling makin marah. “Bocah gila, rasakan pukulanku ini!” Dia menyerang dengan jotosan ke arah muka Si Kong. Akan tetapi dengan amat mudahnya Si Kong mengangkat tangan menangkap lengan yang menyambar ke arahnya itu dan sekali menggeser kakinya dia telah menekuk lengan itu ke belakang tubuh si juling, lalu mendorong ke depan. Si juling terdorong ke depan dan jatuh menelungkup! Bukan main marahnya si mata juling. Dia meloncat bangun dan sudah menyambar sebatang tombak yang disandarkan pada gardu penjagaan, lalu menyerang Si Kong dengan tusukan-tusukan tombak. Si Kong sudah melihat bahwa kepandaian lawannya itu biasa saja, maka dia masih tidak menggunakan tongkatnya melainkan mengelak ke kanan kiri. Dan setelah mendapat kesempatan, kakinya menendang tangan lawan. Tombak itu terlepas dan terlempar sampai jauh. Melihat ini, empat orang penjaga yang lain lalu turun tangan mengeroyok Si Kong dengan menggunakan golok dan tombak. Si mata juling juga tidak menjadi jera. Melihat teman-temannya membantu, diapun segera mengambil tombaknya yang terlempar tadi dan ikut pula mengeroyok! Si Kong masih menghadapi pengeroyokan lima orang itu dengan tangan kosong saja. Gerakannya yang gesit sekali membuat lima orang itu bingung, bahkan kadang senjata mereka saling bertemu sendiri. Pemuda itu seperti berubah menjadi bayangan yang tidak dapat disentuh senjata mereka. Si Kong sengaja tidak mau mencari permusuhan, maka diapun hanya mengelak saja dan berloncatan ke sana sini tanpa membalas. Tiba-tiba nampak seorang pemuda meloncat keluar dari sebelah dalam pintu gapura dan dia membentak, “Hentikan perkelahian!” Lima orang itu segera menghentikan pengeroyokan mereka sehingga Si Kong merasa lega. Dia melihat seorang pemuda yang perawakannya sedang dan berwajah tampan, berusia kurang lebih delapanbelas tahun telah berdiri disitu dengan gagahnya. “Ada apa ribut-ribut ini?” bentak si pemuda kepada lima orang penjaga. Pemimpin para penjaga segera menghadap pemuda itu dengan sikap hormat. “Maafkan kami, Kongcu. Bocah ini hendak lancang menghadap Tong Loya. Tentu saja kami melarangnya dan timbul perkelahian.” Pemuda ini mengerutkan alisnya dan matanya memandang ke arah Si Kong. Pandangan matanya menunjukkan kemarahan dan dia memandang rendah kepada Si Kong, seorang pemuda yang pakaiannya sederhana seperti orang dusun. “Siapa engkau yang begitu lancang hendak menghadap ayahku?” tanyanya dan nadanya menunjukkan bahwa dia tidak senang mendengar laporan para penjaga. Si Kong segera memberi hormat, karena dia maklum bahwa pemuda yang disebut kongcu ini tentulah putera majikan Tong itu. “Maafkan saya, kongcu. Nama saya Si Kong dan saya hanya mohon menghadap Loya untuk minta pekerjaan.” Pemilik atau majikan tempat itu yang disebut Tong-Loya oleh para penjaga itu bernama Tong Li Koan, seorang kaya berusia lima puluh tahun yang juga terkenal memiliki kepandaian ilmu silat tinggi. Pemuda itu adalah puteranya yang bernama Tong Kim Hok, berusia delapanbelas tahun. Pemuda ini juga mempelajari ilmu silat dari ayahnya dan wataknya agak angkuh dan tinggi hati, sadar sepenuhnya bahwa sebagai kongcu (tuan muda) dia adalah majikan kecil Bukit Bangau itu dan menganggap dirinya sudah memiliki ilmu silat yang dapat dibanggakan. Kini melihat ada seorang pemuda lain berani melawan pengeroyokan lima orang penjaga, dia merasa penasaran sekali. “Minta pekerjaan? Engkau bisa apakah?” tanyanya dengan nada tinggi. “Pekerjaan apapun yang diberikan kepada saya, akan saya lakukan, kongcu. Pekerjaan kasarpun tidak saya tolak!” “Pekerjaan kasar? Engkau merasa kuat?” “Tentu saja saya merasa kuat melakukannya, kongcu.” “Hemm, hendak kulihat sampai di mana kekuatanmu. Aku yang akan mengujimu apakah engkau pantas bekerja untuk kami. Coba lawanlah aku. Jaga seranganku ini. Hyaaaaaaatt………..!” Si Kong terkejut sekali. Tak disangkanya akan mendapat sambutan seperti itu dari tuan muda ini. Akan tetapi diapun melihat bahwa serangan pemuda itu tidak seperti gerakan para penjaga yang hanya mengandalkan tenaga kasar. Serangan pemuda ini mengandung tenaga dalam dan dilakukan cukup cepat. Namun tidak terlalu cepat baginya dan dengan mudah dia sudah mengelak. Serangannya yang luput membuat Tong Kim Hok menjadi semakin penasaran dan marah. Dia merasa malu kepada para penjaga itu kalau dia tidak mampu merobohkan Si Kong. Maka diapun menyerang lagi lebih cepat dan kuat. Si Kong menjadi bingung. Tentu saja dia mampu melawan pemuda yang ilmu silatnya masih mentah itu. Akan tetapi dia tidak berani mengalahkan pemuda itu, karena pemuda itu tentu akan marah dan kalau sudah begitu, tidak mungkin dia diterima bekerja di situ. Maka diapun mengalah, setelah mengelak dari enam tujuh serangan dengan mengelak, dia mulai menangkis tanpa mengerahkan tenaganya sehingga setiap kali menangkis dia terhuyung kebelakang. “Bukk….!” Sebuah tendangan dari Tong Kim Hok mengenai lambungnya, membuat Si Kong terhuyung-huyung. Tentu saja dia sudah menjaga lambungnya yang dibiarkannya terkena tendangan itu dengan sinkang sehingga dia tidak sampai terluka. Akan tetapi ternyata Tong Kim Hok masih belum puas dengan sebuah tendangan yang mengenai lambung Si Kong. Dia bahkan merasa penasaran sekali karena Si Kong tidak sampai roboh dan dia menyerang lagi kalang-kabut. Beberapa kali Si Kong membiarkan tubuhnya kena hantaman yang membuatnya terhuyung. “Sudah cukup, kongcu. Saya mengaku kalah!” katanya berulang-ulang, akan tetapi Tong Kim Hok tetap saja menyerangnya terus. Para penjaga menjadi girang melihat Si Kong dihajar. Mereka tertawa-tawa dan ada yang berkata memberi semangat kepada Tong Kim Hok. “Hajar terus, kongcu! Pukul terus!” Biarpun dia tidak sampai terluka, akan tetapi karena membiarkan tubuhnya mendapat pukulan-pukulan, bibir kiri Si Kong berdarah dan pipi kanannya menjadi membiru bekas pukulan. Pada saat itu, seekor kuda datang berlari dan sesosok bayangan orang meloncat dari atas punggung kuda itu. “Cukup, koko (kakak)! Mengapa engkau memukul orang?” terdengar seruan dan di antara Si Kong dan Tong Kim Hok sudah berdiri menghadang seorang gadis remaja berusia kurang dari enambelas tahun. Gadis ini cantik manis, dengan rambut dikuncir dua dan diikat pita merah, dibiarkan tergantung di kedua pundaknya. “Moi-moi (adik), engkau minggirlah, biar aku menghajar bocah lancang ini!” kata Tong Kim Hok yang lehernya sudah bersimbah peluh dan napasnya agak memburu karena tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghajar Si Kong. “Nanti dulu, koko. Kenapa engkau hendak menghajar orang? Apa kesalahannya?” “Bocah itu minta bertemu dengan ayah, katanya mencari pekerjaan. Maka aku mengujinya karena dia tadi melawan lima orang penjaga kita. Nah, minggirlah, aku ingin menghajarnya sampai dia tahu rasa!” Gadis itu bernama Tong Kim Lan berusia hampir enambelas tahun dan adik dari Tong Kim Hok. Ia memang seorang gadis lincah dan berbakat sekali dalam ilmu silat sehingga dibandingkan dengan Tong Kim Hok, ia lebih maju, terutama sekali lebih cepat sekali gerakannya dan dalam hal ilmu pedang, iapun melebih kakaknya. Ia menoleh dan memandang kepada Si Kong yang berdiri dengan muka ditundukkan. Melihat bibir Si Kong berdarah dan pipinya lebam, ia merasa kasihan. Seorang bocah dusun minta pekerjaan malah dihajar! “Apa salahnya minta pekerjaan? Kalau tidak ada pekerjaan, tolak saja, tidak perlu dipukuli. Dan pula, aku mendengar sendiri dari ayah bahwa dia membutuhkan tenaga seorang pembantu untuk menggembala kerbau kita. Eh, sobat siapa namamu dan apakah engkau mau diberi pekerjaan menggembala segerombolan kerbau?” “Nama saya Si Kong, nona. Saya akan senang sekali kalau diberi pekerjaan dan rasanya saya sanggup untuk menggembala kerbau.” jawab Si Kong dan dalam hatinya dia memuji gadis ini yang sikapnya berbeda jauh sekali dibandingkan kakaknya yang angkuh. Gadis ini ramah dan lincah. “Kalau ada seekor saja kerbaunya yang hilang, engkau harus menggantinya!” bentak Tong Kim Hok, suaranya masih marah. “Aih, koko. Siapa sih yang berani mencuri kerbau kita? Mari kau ikut aku, Si Kong, kita menghadap ayah.” “Terima kasih, nona.” Si Kong mengikuti gadis itu yang memasuki pintu gerbang dan menghampiri sebuah gedung yang berdiri dengan megahnya di tengah perkampungan itu. Di kanan-kiri dan belakang gedung besar itu berdiri banyak pondok, agaknya menjadi tempat tinggal para pekerja di situ. Tong Li Koan memang seorang kaya raya yang menjadi majikan Bukit Bangau. Dia menggunakan banyak pekerja dan mengerjakan sawah ladangnya di bukit itu juga memperkerjakan sejumlah belasan tukang pukul untuk menjaga perkampungan. “Ayah…….!” Kim Lan berteriak ketika memasuki rumah dan menyuruh Si Kong menanti di serambi depan. Tak lama kemudian gadis itu sudah muncul kembali bersama seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun, berpakaian mewah dan tangan kirinya memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjangnya setengah meter dan ketika dihisap mengeluarkan bau tembakau yang harum. “Inikah orangnya?” tanya Tong Li Koan kepada puterinya. Dia amat menyayangi puterinya yang jauh lebih pandai dan cerdik dibandingkan puteranya. “Ya, ayah. Namanya Si Kong dan dia mau menjadi penggembala kerbau kita.” Si Kong sudah mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan kepada Tong-Loya. “Saya bersedia untuk bekerja apa saja, Loya,” katanya hormat. Tong Li Koan memandang ke arah mulut dan pipi Si Kong lalu mengerutkan alisnya dan menuding dengan huncwenya ke arah muka Si Kong. “Kenapa mukamu itu? Seperti orang habis berkelahi!” katanya. Si Kong merasa tidak enak sekali untuk memberitahu bahwa dia dipukuli putera majikan itu, maka dia hanya menggumam, “Tidak apa-apa, Loya.” “Dia dipukuli koko, Ayah. Koko hendak mengujinya sebelum dia bekerja.” “Ah, Kim Hok terlalu ringan tangan…” kata hartawan itu. “Saya yang bersalah, Loya,” kata Si Kong cepat-cepat. “Saya telah berani lancang hendak menghadap loya untuk minta pekerjaan.” “Sudahlah, engkau kuterima sebagai penggembala kerbau. Setiap hari, pagi-pagi sekali engkau engkau harus menggembalakan kerbau-kerbau kami yang berjumlah tigapuluh ekor itu ke padang rumput, memelihara dan menjaga mereka baik-baik.” Tong Li Koan bertepuk tangan dan seorang pembantu datang berlari kepadanya. Hartawan itu memerintahkan kepada pembantu itu untuk memberi sebuah kamar bagi Si Kong dan memberi petunjuk akan pekerjaannya menggembala kerbau. “Beri dia kamar di pondok dekat kandang kerbau di belakang. Dan engkau, Si Kong, bekerjalah baik-baik dan engkau akan memperoleh upah yang lumayan serta makan dan pakaian yang secukupnya.” Si Kong merasa girang sekali. “Terima kasih, lo-ya dan siocia (nona).” Lalu dia pergi mengikuti pembantu itu yang membawanya menuju ke kandang kerbau untuk memperlihatkan kerbau-kerbau yang harus dirawatnya, juga menunjukkan sebuah kamar di pondok dekat kandang kerbau di mana dia boleh memakai sebagai tempat tinggalnya. Demikinalah, dengan hati gembira Si Kong menerima pekerjaan baru itu. Kekosongan hidupnya sudah terisi. Dia mempunyai pekerjaan! Dia merasa beruntung sekali bahwa pada hari kepergian gurunya yang kedua, yaitu Kwa Siucai, langsung dia mendapatkan pekerjaan sebagai penggembala kerbau. *** Sebulan lewat tanpa terasa sejak Si Kong bekerja di Bukit Bangau. Benar saja seperti telah dijanjikan Tong Li Koan, dia menerima upah yang lumayan, setiap hari makan sekenyangnya dan diberi pakaian sehingga dia dapat berganti pakaian setiap hari. Pekerjaan menggembala kerbau itu cukup menyenangkan. Kerbau-kerbau itu adalah hewan ternak yang sudah diatur, penurut dan mudah dijaga, tidak liar lari ke sana-sini. Setelah matahari naik tinggi, dia menggembala kerbaunya kembali ke kandang. Kelebihan waktunya dia pergunakan untuk menyabit rumput sebagai penambah makanan hewan itu. Sore hari dan malamnya dia boleh beristirahat di dalam pondok dekat kandang kerbau itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa diam-dian Tong Kim Hok mendendam kepadanya. Pemuda ini telah dimarahi ayahnya karena memukuli Si Kong. Dia tahu bahwa tentu adiknya yang mengadu, akan tetapi kemarahannya dia timpakan kepada Si Kong. Selain menggembala tigapuluh ekor kerbau, Si Kong juga diberi tugas mengurus lima ekor kuda yang menjadi kuda tunggangan keluarga Tong. Memberi makan dan menggosok badan kuda sampi bersih. Pada suatu siang, setelah dia pulang menggembala kerbau, makan dan hendak berangkat menyabit rumput untuk kerbau-kerbaunya dan lima ekor kuda, mendadak muncul Kim Lan di depan pondoknya. Si Kong menyambutnya dengan hormat. “Apakah nona membutuhkan kuda untuk ditunggangi hari ini?” tanyanya. Sudah seringkali dia bertemu dengan gadis manis ini karena Kim Lan memang suka sekali menunggang kuda dan seringkali datang sendiri ke kandang untuk mengambil kudanya. “Tidak, Si Kong. Aku hanya ingin bertanya bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Apakah engkau sudah cocok dan suka tinggal di sini bekerja untuk kami?” “Cocok dan senang sekali, nona. Nona dan Tong-loya amat baik kepada saya.” Gadis itu tersenyum dan menatap tajam wajah Si Kong yang gagah. Ia mengerutkan alisnya dan bertanya. “Si Kong, engkau berasal dari manakah dan mengapa bisa sampai ke sini, minta pekerjaan kepada ayahku? Di mana orang tua dan keluargamu?” Si Kong tersenyum sedih dan menjawab. “Saya berasal dari jauh, nona, dari sebuah dusun yang disebut Ki-ceng. Akan tetapi saya sudah yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga, tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini, sebatang kara. Saya seorang kelana dan ketika lewat di sini, saya tertarik dan ingin mencari pekerjaan tetap. Untung nona menolong saya dan menghadapkan kepada Loya sehingga saya mendapatkan pekerjaan di sini. Terima kasih, nona.” Tiba-tiba dari arah kandang kerbau muncul Tong Kim Hok. Pemuda itu kelihatan marah sekali dan berkata kepada Si Kong, “Hei, Si Kong! Bagaimana engkau bekerja ini? Kalau engkau lalai seperti ini, lama-kelamaan kerbau-kerbau kami akan mati semua!” Si Kong terkejut dan memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak heran. “Apa yang kongcu maksudkan? Saya tidak pernah lalai menjaga kerbau-kerbau itu!” “Enak saja kau bicara! Seekor di antara mereka mengalami luka parah pada kakinya dan kau bilang kau menjaga dengan baik?” “Koko, apa artinya ini?” tanya Tong Kim Lan. “Moi-moi, engkau tidak perlu bersikap manis kepadanya! Kau lihat sendiri, ada kerbau yang terluka dan dia pura-pura tidak tahu! Mari lihat sendiri!” Kim Hok berjalan ke arah kandang, diikuti oleh Kim Lan dan Si Kong yang merasa heran akan tetapi juga khawatir. Setelah tiba di kandang, Kim Hok menuding ke arah seekor kerbau yang mendekam di sudut. “Lihat itu! Kakinya luka berdarah. Dia bahkan tidak kuat berdiri!” Si Kong terkejut sekali dan cepat memasuki kandang, membantu kerbau yang mendekam itu agar berdiri. Dan nampak olehnya betapa sebuah kaki depan kerbau itu terluka parah! “Tapi ini…….. ini aneh sekali! Tadi ketika saya menggiring mereka masuk kandang, tidak ada yang terluka kakinya!” “Apa yang aneh? Kerbau-kerbau ini setiap hari engkau yang mengurusnya. Kini ada yang terluka kakinya, karena engkau takut dimarahi ayah, engkau pura-pura bodoh dan tidak tahu! Bagus sekali, ya?” “Si Kong, apakah yang terjadi dengan kerbau ini? Nampaknya seperti terluka oleh bacokan senjata tajam!” kata Kim Lan, mendekati Si Kong dan kerbaunya. “Saya tidak tahu, nona. Ketika tadi saya menggiring semua kerbau memasuki kandang, belum ada yang terluka. Agaknya ada orang sengaja melukai kerbau ini sewaktu saya sedang makan.” “Apa? Kau berani menuduh aku melukai kerbau ini? Jangan kurang ajar, Si Kong!’ bentak Kim Hok marah dan dia sudah menghampiri Si Kong dengan sikap hendak menyerang. Akan tetapi Kim Lan menghadangnya. “Tahan, koko. Si Kong tidak menuduh siapa-siapa, hanya mengatakan bahwa agaknya ada orang melukai kerbau ini sewaktu dia sedang makan, tidak menuduhmu!” Pada saat itu terdengan suara orang tertawa, tawa seorang wanita terkekeh-kekeh. Kim Hok dan Kim Lan terkejut dan menengok, demikian pula Si Kong memandang ke kanan, ke arah datangnya suara tawa. Kiranya di situ telah berdiri seorang wanita yang usianya sekitar empatpuluh tahun, akan tetapi ia masih kelihatan cantik dengan pakaiannya yang mewah. Di punggungnya tergantung sebatang pedang dan tangan kirinya memegang sebatang kebutan berbulu merah. “Hi-hi-hik-heh-heh! Kalau tidak ada yang membacok dengan pedang, mana mungkin kaki kerbau bisa terluka? Si Huncwe Maut serakah dan curang, agaknya menurun kepada puteranya! Heh-heh!” Mendengar ini Kim Hok menjadi merah mukanya dan dia meloncat ke depan wanita itu. Huncwe Maut adalah nama julukan ayahnya di dunia kang-ouw, maka jelas bahwa wanita itu tadi maksudkan dia sebagai putera Huncwe Maut. “Siapakah engkau? Berani sekali berlancang mulut!” bentak Kim Hok marah. “Hi-hik, orang muda, engkau masih remaja akan tetapi sudah banyak akal dan licik. Coba cabut pedangmu, di situ pasti masih ada bekas darah kaki kerbau itu!” “Perempuan lancang! Engkau datang melanggar wilayah kami, hayo cepat pergi sebelum aku terpaksa menggunakan kekerasan!” “Heh-heh-heh-hi-hik! Persis seperti ayahnya, berani angkuh dan cerdik! Akan tetapi engkau tidak tahu siapa yang engkau hadapi, anak muda. Lebih baik lekas panggil ayahmu ke sini untuk bertemu denganku!” Watak Kim Hok memang angkuh dan dia merasa kuat sendiri. Tentu saja dia memandang rendah kepada wanita setengah tua itu. Orang perempuan itu berani tidak memandang kepada ayahnya! “Engkau layak dipukul!” katanya dan cepat dia sudah menerjang ke depan dan memukul ke arah muka wanita itu. Wanita itu hanya mengelak sedikit dan begitu tangannya bergerak, tubuh Kim Hok telah terlempar ke belakang dan terbanting jatuh! Kim Hok marah sekali. Dia tidak menjadi jera, bahkan dia kini mencabut pedangnya dan menyerang wanita itu dengan tusukan pedangnya ke arah dada. Akan tetapi wanita itu menggerakkan tangan kirinya, bulu kebutannya membelit pedang dan sekali bergerak, ia sudah menendang Kim Hok hingga kedua kalinya tubuh pemuda itu terpental dan pedangnya telah terampas. Sambil mendengus penuh ejekan wanita itu menggerakkan kebutannya dan pedang itu meluncur dan menancap di atas tanah dekat kaki Kim Hok! Seorang pembantu melihat perkelahian itu dan dia cepat lari masuk ke gedung untuk memberitahu kepada majikannya. Sementara itu, Kim Hok sudah mencabut lagi pedangnya dari tanah dan seperti kerbau gila mengamuk dan menyerang wanita itu, lupa bahwa sudah dua kali dia dirobohkan. Melihat kakaknya dua kali dirobohkan wanita itu, Kim Lan mencabut pedangnya dan hendak membantu, akan tetapi Si Kong berkata kepadanya, “Nona, wanita itu bukan lawanmu! Ia terlalu lihai bagimu!” Kim Lan tidak jadi menyerang dan hanya memandang ketika kakaknya itu kembali sudah menyerang secara bertubi-tubi. Akan tetapi wanita itu dengan mudahnya mengelak ke sana-sini, sambil mengeluarkan suara tawanya yang mengejek seperti mempermainkan seorang anak. “Anak nakal, engkau masih juga belum mau mengaku kalah?” wanita itu tiba-tiba menggerakkan hudtimnya ke depan dan seketika tubuh Kim Hok menjadi kaku dan tidak mampu bergerak lagi karena jalan darahnya sudah tertotok. “Hi-hi-hik, kau anak nakal yang bandel!” Wanita itu menggunakan tangannya untuk mengelus dan mencubit dagu Kim Hok dengan gaya yang genit sekali kemudian tangannya itu mendorong dada Kim Hok dan untuk ketiga kalinya Kim Hok terjengkang roboh! Sekali ini dia roboh dekat kaki Si Kong yang segera membungkuk dan menolongnya. “Kongcu, engkau tidak apa-apa?” katanya diam-diam menotok punggung pemuda itu sehingga tubuh Kim Hok yang tadinya kaku dapat bergerak kembali. “Huh! Jangan pegang-pegang aku!” bentak Kim Hok sambil meronta, dan dia sudah memegang pedangnya kuat-kuat untuk menyerang lahi. Akan tetapi sebelum Kim Hok menyerang lagi, terdengar bentakan ayahnya, “Kim Hok, jangan lancang!” Mendengar bentakan ayahnya, Kim Hok berhenti meyerang dan mundur. Tong Li Koan kini berdiri berhadapan dengan wanita itu. Setelah memandang dengan mata tajam penuh selidik sambil mengisap huncwenya, Tong Li Koan melepaskan huncwe cari mulut dan berkata sambil tersenyum. “Hemm, kalau tidak salah sangka, agaknya aku berhadapan dengan Ang-bi Mo-li (Iblis Perempuan Cantik Merah)” Tentu julukannya ini dihubungkan dengan bulu kebutannya yang berwarna merah. Wanita itu tertawa dan nampak giginya yang rapi berderet rapi. “Kiranya yang berjuluk Huncwe Maut, selain kaya raya juga berpemandangan tajam! Tong Wan-gwe (Hartawan Tong), aku memang Ang-bi Mo-li! Puteramu ini curang angkuh dan pemberani. Tidak kecewa menjadi putera Huncwe Maut, hanya sayang ilmu silatnya rendah saja sehingga aku menjadi ragu apakah ilmu kepandaianmu juga sebesar namamu!” Tong Li Koan maklum bahwa Iblis Betina ini sengaja hendak mencari perkara, maka diapun mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat lalu berkata, “Anakku masih muda dan lancang, harap engkau suka memaafkannya. Setelah engkau lewat disini, mari silakan singgah di rumah kami agar lebih leluasa kami menyambutmu sebagai tamu.” Tong Li Koan sengaja bersikap lunak karena dia tidak ingin bermusuhan dengan wanita yang namanya terkenal di dunia persilatan sebagai tokoh yang lihai sekali. Mendengar ini, Ang-bi Mo-li tertawa terkekeh-kekeh. “Heh-heh-heh-hi-hik! Tong wan-gwe aku berada di daerah ini bukan sebagai tamu dan juga engkau bukan sebagai tuan rumah di sini. Dahulu, lama sebelum engkau datang, tanah ini sudah menjadi wilayahku dan aku tinggal di sebelah timur bukit. Sekarang, aku mendengar bahwa engkau menguasai seluruh bukit. Ini tidak adil! Karena aku berminat untuk tinggal di sini lagi, kita bagi rata saja. Bagian timur bukit menjadi milikku, dan engkau menguasai bagian barat ini.” Tong Li Koan mengerutkan alisnya, mengisap huncwenya dan mengepulkan asapnya dari hidung. Kemudian dia berkata, suaranya lantang. “Usulmu itu tidak mungkin dilaksanakan, Mo-li! Sebelum aku datang, seluruh daerah bukit ini masih merupakan hutan dan rawa liar. Aku yang membangunnya sehingga kini menjadi tanah sawah ladang yang subur dan digarap oleh orang-orangku. Mana bisa aku yang mencangkul dan menanam, sekarang engkau ingin memetik hasilnya begitu saja?” “Aku yang datang lebih dulu, orang she Tong! Kalau engkau berkukuh hendak menguasai bukit ini seluruhnya, engkau harus dapat mengalahkan dan mengusir aku dari sini. Sebaliknya kalau engkau kalah olehku, engkaulah dan seluruh keluargamu harus pergi meninggalkan tempat ini!” Mendengar ini, Tong Li Koan menjadi marah. Bahkan kedua orang anaknya juga menjadi marah. “Ayah, kita hajar saja orang kurang ajar ini!” kata Kim Lan sambil mencabut pedangnya. “Kim Lan, dan engkau Kim Hok, jangan ikut campur. Dia bukan lawan kalian!” kata Tong Li Koan dan dia maju menghampiri Ang-bi Mo-li lalu berkata, “Mo-li, kalau kedatanganmu ini hendak menantang aku, aku tidak dapat menolaknya. Jangan dikira bahwa aku takut menghadapimu! Silakan!” Dia lalu memasang kuda-kuda dan memegang huncwenya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mencabut pedangnya. Melihat ini, Ang-bi Mo-li tertawa terkekeh-kekeh, lalu tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu ia telah mencabut pedangnya dari punggung dengan amat cepatnya. “Orang she Tong! Engkau memilih mati dari pada menyerahkan bagian timur bukit ini?” ejeknya. “Akan kupertaruhkan nyawaku untuk bukit ini!” jawab Tong Li Koan dengan tegas. “Bagus, lihat seranganku!” Ang-bi Mo-li tanpa rikuh lagi sudah mulai menyerang. Pedangnya berkelebat di susul berkelebatnya hud-tim (kebutan) di tangan kirinya. Entah mana yang lebih berbahaya, pedangnya atau kebutannya karena keduanya menyambar dengan dahsyat dan mengirim serangan maut. “Trang-traang…….!” Si Huncwe Maut menangkis dengan pedang dan huncwenya, lalu balas menyerang dengan hebatnya pula. Ang-bi Mo-li juga dapat menghindarkan diri dari serangan Huncwe Maut. Terjadilah perkelahian yang amat menegangkan antara kedua orang yang namanya sudah terkenal di dunia persilatan itu. Kalau kebutan itu berbahaya sekali karena dapat menjadi kaku untuk menusuk atau menotok lalu menjadi lemas untuk melilit senjata lawan, huncwe itu tidak kalah berbahayanya. Dengan gerakan tertentu Tong Li Koan dapat membuat huncwe itu memercikan api ke arah wajah lawan, lalu menotok jalan darah dengan ujungnya. Berkali-kali kedua pedang bertemu dan berpijarlah bunga-bunga api yang menyilaukan mata. Kim Hok dan Kim Lan yang menonton pertandingan itu merasa tegang sekali. Mereka tidak tahu apakah ayah mereka akan menang atau kalah dalam pertandingan itu dan untuk membantu mereka tidak berani. Ilmu kepandaian mereka masih jauh untuk dapat membantu. Akan tetapi Si Kong yang juga menonton pertandingan itu mengerutkan alisnya. Dengan tingkat kepandaiannya dia dapat mengikuti pertandingan itu dengan baik dan dia melihat betapa tingkat kepandaian wanita itu masih lebih tinggi dari pada kepandaian majikannya. Majikannya akan kalah, hal ini sudah dapat diduganya melihat jalannya pertandingan. Dugaan Si Kong memang benar. Biarpun dalam hal tenaga dalam kedua orang yang bertanding itu memiliki kekuatan seimbang, namun dalam hal kecepatan gerakan, Tong Li Koan atau si Huncwe Maut masih kalah sehingga kini perlahan-lahan wanita itu mendesaknya dengan sambaran kebutan dan pedangnya. Baru setelah Tong Li Koan terdesak dan mundur terus, kedua orang anaknya mengetahui bahwa ayah mereka terdesak dan hampir kalah. Rasa takut terhadap wanita itu hilang karena melihat ayah mereka terancam bahaya maut, maka dua orang anak itu meloncat ke depan dan menggunakan pedang mereka untuk menyerang Ang-bi Mo-li! Akan tetapi kebutan Ang-bi Mo-li menyambar. Kim Hok dan Kim Lan terlempar ke belakang dan bergulingan. Pada saat itu, pedang Tong Li Koan menusuk ke arah dada Ang-bi Mo-li. Wanita itu dengan cepatnya mengelak, kebutannya menyambar dan membelit pergelangan tangan Tong Li Koan yang memegang pedang. Ketika Tong Li Koan mengayun huncwenya, dia kalah dulu karena pedang wanita itu telah mengenai ujung pundaknya. Dia berteriak dan meloncat ke belakang, pedangnya terampas dan pundaknya berdarah. Kim Hok dan Kim Lan melompat dekat ayah mereka. “Ayah, engkau tidak apa-apa?” tanya Kim Hok. “Ayah, pundakmu berdarah.” Kata Kim Lan. Tong Li Koan menghela napas panjang. “Aku telah kalah…..” katanya dengan nada sedih. “Heh-heh-heh-hi-hik, engkau cukup jantan untuk mengaku kalah. Aku memberi waktu dua hari kepada kalian semua untuk meninggalkan bukit ini!” kata Ang-bi Mo-li. “Nanti dulu……!” terdengar bentakan dan semua orang menengok memandang kepada Si Kong yang datang menghampiri karena pemuda inilah yang membentak tadi. “Ang-bi Mo-li, enak saja kau bicara! Majikanku telah mengalah, hal itu sudah sepatutnya karena engkau seorang wanita. Akan tetapi engkau tidak tahu diri, hendak merampas hak milik orang lain begitu saja. Masih ada aku di sini yang mempertahankannya dan kuharap engkaulah yang segera pergi dan jangan mengganggu majikanku!” “Si Kong….!” Kim Lan berlari mendekati. “Apa kau sudah gila? Ia…. Ia akan membunuhmu!” Si Kong tersenyum. Hatinya senang karena anak perempuan majikannya ini mengkhawatirkan dirinya. Kim Lan selama ini bersikap ramah dan baik sekali kepadanya. “Terima kasih, nona. Sebaiknya nona kembali kepada loya, biar aku hadapi iblis betina itu!” Kim Lan berlari kembali kepada ayahnya. “Ayah…….!” ia hendak minta ayahnya mencegah wanita itu membunuh Si Kong yang berani mati membela keluarganya. Akan tetapi ayahnya menggeleng kepala dan memandang kepada Si Kong dengan sinar mata heran dan kagum. Dengan langkah lebar dan tenang Si Kong kini menghampiri Ang-bi Mo-li. Sejenak iblis betina inipun tertegun dan heran melihat seorang pemuda remaja berani berkata dan bersikap seperti itu kepadanya. Apa lagi pemuda remaja itu menyebut Tong Li Koan sebagai majikannya. Pemuda ini tentu hanya seorang pembantu! “Kau….. kau siapa?” tanyanya, alisnya berkerut dan pedangnya menuding ke arah muka Si Kong. “Namaku Si Kong dan aku menjadi penggembala kerbau di sini.” Ang-bi Mo-li sudah menguasai keheranannya dan kini ia tertawa terkekeh-kekeh. “Penggembala kerbau? Hah-hah-heh-heh-heh-heh, Tong Li Koan, tidak malukah engkau dibela oleh penggembala kerbaumu? Suruh dia mundur, karena dia berani menentangku berarti dia akan mati di tanganku!” Tong Li Koan menghela napas panjang. Tentu saja dia merasa malu kalau penggembala itu sampai mengorbankan nyawa untuknya. “Si Kong, mundurlah. Aku tidak ingin melihat engkau mati untukku.” “Lo-ya, harap jangan khawatir. Aku tidak akan mati oleh wanita ini. Ang-bi Mo-li, kalau engkau tidak berani melawan aku, bilang saja terus terang, tidak perlu bicara dengan majikanku!” “Bocah setan! Engkau tadi telah dikhianati kongcumu dan sekarang engkau bahkan hendak membela ayahnya? Kongcumu yang melukai kerbaumu, aku melihatnya sendiri.” “Cukup! Urusan kami tidak ada sangkut pautnya denganmu, Ang-bi Mo-li!” Kini Ang-bi Mo-li benar-benar marah. Tentu saja ia tidak takut kepada Si Kong, hanya merasa malu kalau harus bertanding melawan seorang pemuda remaja penggembala kerbau! “Bocah gila! Kalau engkau sudah bosan hidup, majulah. Akan tetapi sekali kau maju, engkau pasti akan mampus!” “Dan aku tidak akan membunuhmu, Ang-bi Mo-li! Aku tidak akan sekejam itu.” Ang-bi Mo-li menyarungkan pedangnya di punggung dan memegang kebutannya dengan tangan kanan. Tanpa pedang, bahkan tanpa kebutan sekalipun ia akan mampu membunuh pemuda remaja itu. “Ang-bi Mo-li, kalau engkau menurunkan tangan keji membunuh seoang pemuda remaja, engkau akan menjadi bahan ejekan orang sedunia kangouw!” kata Tong Li Koan dalam usahanya untuk menghindarkan Si Kong dari kematian. “Heh-heh-heh, aku tidak sebodoh itu, Tong Li Koan. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan membuat kedua kakinya lumpuh selama hidupnya, heh-heh!” Sementara itu, melihat betapa lihainya wanita itu mempergunakan kebutannya sebagai senjata, Si Kong tidak berani main-main dan dia sudah menyambar sebuah tongkat bambu yang biasa dia pergunakan untuk memikul keranjang rumput. “Ang-bi Mo-li, aku sudak siap, tidak perlu terlalu banyak bicara lagi!” katanya sambil menghadapi wanita itu dengan tongkat di tangan. “Heh-heh, kau sudah siap untuk menjadi lumpuh seumur hidupmu? Nah, sambutlah serangan ini!” Ang-bi Mo-li seudah menggerakkan kebutannya dengan cepat sekali. “Wuuuttt……!” Ang-bi Mo-li terkejut melihat betapa pemuda itu dengan mudah dan lincahnya mengelak dengan loncatan ke kiri, dan tiba-tiba saja tongkatnya di tangan sudah terayun dan mengancam pinggul kirinya. Tentu saja wanita ini tidak mau pinggul kirinya digebuk tongkat. Ia mengayun kebutannya untuk menangkis dengan membuat kebutan itu menjadi kaku dengan maksud untuk membentur tongkat itu agar terlepas dari pegangan si penggembala kerbau. “Takkk….!” Kembali Ang-bi Mo-li terkejut bukan main karena ketika kebutannya menangkis tongkat, tangannya tergetar hebat karena tongkat itu ternyata mengandung tenaga yang sangat kuat! Dan ia hampir terpekik kaget karena begitu tertangkis tongkat itu sudah membalik dan kini menghantam ke arah pundaknya! Ia menggunakan kelincahannya untuk mengelak, namun nyaris pundaknya terkena hantaman tongkat. Dari rasa kaget, wanita itu menjadi marah bukan main. Hampir ia tidak dapat percaya bahwa pemuda tanggung itu dapat memiliki tenaga demikian kuat dan kecepatan gerakan tongkat yang luar biasa. “Bocah setan, mampuslah!” Ia berseru dengan marah dan menggerakkan kebutannya untuk menyerang lebih cepat dan kuat lagi. Kini ia tidak perduli lagi apakah serangannya akan membunuh lawan ini. Kebutan itu menengang dan menusuk ke arah leher Si Kong. Akan tetapi kembali Si Kong menggerakkan tongkatnya yang menggetar ujungnya untuk menangkis. “Plakk!” Ketika kebutan bertemu tongkat, Ang-bi Mo-li mengubah tenaganya dan dan kebutan itu menjadi lemas dan membelit tongkat itu. Ia ingin merampas tongkat itu sebelum menghajar pemiliknya. Akan tetapi untuk yang kesekian kalinya ia terkejut. Kebutannya sama sekali tidak mampu merampas tongkat. Biarpun ia menarik dengan tenaga dalam yang kuat, tongkat itu tidak bergeming bahkan kini tongkat itu membalik dan ujungnya yang lain menyodok perutnya! “Ihh…..!” Ang-bi Mo-li berseru dan melepaskan libatan kebutannya sambil meloncat ke belakang. Si Kong kini mendesak maju dan mainkan ilmu silat tongkat Ta-kaw Sin-tung. Tongkatnya seolah berubah menjadi banyak dan ujung-ujung tongkat dengan gencarnya menghujankan gebukan kepada lawannya, Ang-bi Mo-li terkejut bukan main melihat gerakan tongkat itu, gerakan ilmu tongkat yang mengingatkan ia akan seorang tokoh besar dunia persilatan. Kembali ia memutar kebutannya untuk melindungi dirinya sambil berloncatan ke belakang. “Tahan dulu!” serunya setelah ia mendapatkan kesempatan. Mendengar seruan itu, Si kong menahan tongkatnya, memegang tongkat itu melintang di depan dadanya. “Apa hubunganmu dengan Yok-sian Lo-kai?” tanya Ang-bi Mo-li. “Beliau adalah guruku!” kata Si Kong yang kembali mulai menyerang sambil berseru, “Lihat seranganku!” Ang-bi Mo-li cepat mencabut pedangnya karena hanya menggunakan kebutan saja ia merasa kewalahan. Sementara itu, Tong Li Koan, Kim Hok dan Kim Lan memandang dengan bengong. Sedikitpun tidak pernah mereka sangka bahwa Si Kong selihai itu! Terutama sekali Kim Hok. Wajahnya menjadi pucat dan matanya terbelalak memandang kepada Si Kong, seolah-oelah tidak percaya kepada penglihatannya sendiri. Si Kong yang pernah dihajarnya! Tanpa dapat melawannya! Kini dapat menandingi Ang-bi Mo-li yang demikian lihainya! Sedangkan Kim Lan ternganga, terkagum-kagum. Ang-bi Mo-li kini menyerang dengan pedang dan kebutannya. Serangannya cepat dan dahsyat sekali. Wanita itu kini tidak berani memandang rendah setelah mendengar bahwa pemuda remaja ini murid Yok-sian Lo-kai. Dengan sepasang senjatanya yang lihai, ia merasa sanggup menghadapi ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung. Akan tetapi tiba-tiba ia terkejut sekali. Ia telah kehilangan lawannya yang tahu-tahu telah berada di belakangnya. Demikian cepatnya gerakan Si Kong sehingga ia sendiri menjadi bingung. Pemuda itu seolah dapat menghilang. Ternyata pemuda itu telah menggabung ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung dengan ilmu meringankan tubuh Liok-te Hui-teng sehingga tubuhnya seperti pandai menghilang dan gerakan tongkatnya semakin cepat sehingga seolah tongkat itu mempunyai berpuluh ujung yang menyerang dari segala penjuru. “Takk….. tranggg………!” Kebutan dan pedang itu terpental ketika bertemu dengan tongkat. Kecepatan gerakan pemuda itu membuat Ang-bi Mo-li teringat kepada Penyair Gila yang terkenal memiliki ginkang yang sukar ditandingi. Ia menggunakan kesempatan ketika ia melompat mundur untuk bertanya. “Apa hubunganmu dengan Kwa Siucai?” “Beliau adalah guruku!” jawab Si Kong pula dengan terus terang tanpa menghentikan desakannya. Ang-bi Mo-li terkejut bukan main mendengar pengakuan itu. Pantas pemuda ini lihai bukan main, kiranya murid Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai! Dengan repot ia menggerakkan kebutan dan pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan ujung tongkat yang gerakannya amat cepat dan sukar diikuti pandang mata itu. Namun, betapapun cepat ia memutar kedua senjatanya untuk melindungi tubuhnya, tetap saja ujung tongkat itu menotok pundaknya, membuat lengannya seperti lumpuh dan ia terhuyung ke belakang, memegang pundak kanannya dengan tangan kiri yang masih memegang kebutan. Wajahnya berubah pucat, lalu kemerahan. Ia merasa malu bukan main karena jelas ia telah kalah. Ia harus mengakui ini dan menerimanya, karena kalau dilanjutkan, mungkin ia akan menderita luka yang lebih hebat. Pemuda itu terlalu cepat baginya, ilmu tongkatnya terlalu aneh dan sulit ditandingi. “Si Kong, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi lain kali aku akan menebus kekalahan ini!” katanya untuk menutupi rasa malunya dan tanpa berkata apa-apa lagi tubuhnya melompat jauh dan ia sudah melarikan diri secepatnya dari tempat yang membuatnya malu itu. Sejenak suasana menjadi sunyi karena keluarga Tong masih tertegun saking heran dan kagumnya. Kemudian meledaklah kegembiraan Kim Lan yang lari menghampiri Si Kong. “Si Kong, engkau hebat sekali!’ kata gadis itu dengan penuh kekaguman. Juga Tong Li Koan menghampiri pemuda itu dengan wajah gembira dan kagum. Pemuda yang menjadi penggembala kerbaunya ini telah menyelamatkannya! Kalau tidak ada Si Kong, dia tentu terpaksa harus meninggalkan tempat itu bersama seluruh keluarganya dan menyerahkan bukit itu kepada Ang-bi Mo-li! “Si Kong, kenapa engkau tidak pernah memberitahukan kepadaku bahwa engkau memiliki kepandaian yang tinggi?” kata Tong Li Koan dengan nada menegur. Kalau Tong Li Koan dan Tong Kim Lan menghampiri Si Kong dengan wajah berseri gembira dan penuh kagum, Tong Kim Hok masih berdiri di tempatnya yang tadi tanpa menggerakkan kakinya dan mukanya menjadi pucat. Dia merasa malu bukan main! Si kong sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Bukit Bangau. Tong Kim Hok sudah jelas tidak suka kepadanya. Untuk apa dia bekerja terus di situ kalau putera majikannya tidak suka kepadanya? “Maaf, Lo-ya. Saya pamit karena hendak pergi dari sini.” Tong Li Koan terbelalak. “Pergi dari sini? Hendak ke mana dan mengapa pergi?” Si Kong tersenyum. “Hendak melanjutkan pergi berkelana. Sudah terlalu lama saya tinggal di sini. Terima kasih kepada Lo-ya dan Siocia, selama ini telah bersikap baik sekali kepadaku.” “Si Kong, jangan pergi dan jangan sebut aku nona. Panggil saja namaku. Aku ingin bersahabat denganmu, ingin belajar silat darimu.” Kata Kim Lan. “Benar, Si Kong. Mulai sekarang engkau tidak usah menggembala kerbau, bantu saja mengawasi para pekerja di ladang.” kata Tong Li Koan. “Engkau tidak usah pergi dari sini.” “Maaf, Loya dan Siocia. Saya harus pergi berkelana untuk meluaskan pengalamanku.” Pada saat itu Kim Hok berlari menghampirinya. Dengan muka kemerahan dia berkata. “Ayah, akulah yang bersalah mengganggunya. Si Kong, kau maafkanlah aku dan jangan pergi dari sini.” Si Kong tersenyum dan menepuk-nepuk pundak pemuda yang lebih tua darinya itu. “Sudahlah, kongcu. Kesalahan apapun yang dilakukan seseorang, kalau dia sudah insaf dan menyesali kesalahannya, hal itu baik sekali. Saya senang melihat kongcu menyadari kesalahannya.” Biarpun tiga orang itu membujuknya agar jangan pergi, tetap saja Si Kong mengambil buntalan pakaiannya, lalu mengangkat kedua tangan depan dada, berkata, “Loya, harap jangan khawatir. Ang-bi Mo-li tentu tidak berani datang lagi. Kini kemarahannya tertumpah kepadaku, kalau ia hendak membalas tentu mencari saya bukan mencari Loya. Selamat tinggal Loya, Siocia dan Kongcu.” Tiga orang itu tidak sempat lagi menahan karena setelah berkata demikian, sekali berkelebat Si Kong yang menggunakan ginkangnya itu telah lenyap dari depan mereka. Tong Li Koan menghela napas panjang. “Luar biasa sekali anak itu. Semuda itu telah memiliki ilmu kepandaian hebat, bahkan menjadi murid Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai! Dan dia tidak malu untuk bekerja menjadi penggembala kerbau! Luar biasa! Kim Hok, engkau patut mencontoh dia sudah pandai masih rendah hati sedemikian rupa.” “Ini semua kesalahan koko!” Kim Lan merengek. “Karena perbuatan koko, Si Kong menjadi tersinggung dan meninggalkan kita! Koko telah menuduhnya menggembala kerbau tidak benar sehingga kaki seekor kerbaunya terluka, padahal, menurut Moli tadi, yang melukai kaki kerbau itu adalah koko sendiri!” Tong Li Koan mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh selidik kepada puteranya. “Benarkah itu, Kim Hok?” “Ampun, ayah. Saya memang bersalah, dan tadipun saya sudah minta maaf kepada Si Kong,” kata Kim Hok. “Akan tetapi kenapa engkau melakukan fitnah begitu kepada Si Kong?” “Tadinya hati saya masih jengkel kepadanya, ayah, karena dia pernah melawan para penjaga.” “Jangan ulangi lagi perbuatan semacam itu, Kim Hok. Engkau sama sekali tidak boleh tinggi hati dan angkuh dan sama sekali tidak boleh memandang rendah orang lain. Ah, kalau saja sikapmu seperti Si Kong, alangkah akan bahagianya hatiku.” “Ampun, Ayah. Saya sudah sadar sekarang dan saya akan mencontoh Si Kong, saya akan belajar dengan tekun dan tidak akan memandang rendah orang lain.” “Begitu baru kakakku!” kata Kim Lan girang. Tong Li Koan mengajak dua orang anaknya masuk kedalam, diam-diam berterima kasih sekali kepada Si Kong karena berkat anak pengelana itu keluarganya terbebas dari ancaman Ang-bi Mo-li dan lebih dari itu, puteranya telah menyadari kesalahannya dan akan berusaha mencontoh sikap Si Kong yang rendah hati. *** Dalam perantauannya, pada suatu pagi yang cerah Si Kong mendaki sebuah bukit yang penuh dengan hutan pohon-pohon besar yang oleh penduduk di bukit-bukit lain di sebut Bukit Iblis. Justeru mendengar sebutan Bukit Iblis inilah yang membuat hati Si Kong tertarik sehingga pagi itu dia mendaki Bukit Iblis, sebuah di antara bukit-bukit di pegunungan Thian-san yang amat luas dan penuh perbukitan itu. “Kenapa bukit itu disebut Bukit Iblis?” tanya kepada pemilik rumah di dusun pegunungan di mana dia numpang menginap. “Entahlah, akan tetapi tidak ada seorangpun berani naik ke bukit yang kabarnya dihuni oleh iblis-iblis yang mengerikan. Kabarnya, dahulu setiap kali ada orang berani mendaki bukit itu, tidak kembali lagi ke bawah dan lenyap begitu saja.” Si Kong sudah mendapat pendidikan cukup dari Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai. Dia seorang pemberani dan tidak percaya akan tahyul, maka mendengar keterangan itu, timbul keinginan hatinya untuk menyelidik keadaan Bukit Iblis itu. Setelah tiba di lereng teratas, Si Kong tersenyum sendiri. Penduduk dusun yang tahyul itu, pikirnya. Di situ tidak apa-apa kecuali pemandangan yang indah sekali di pagi hari yang cerah itu! Apalagi iblis! Tidak nampak bayangannya sekalipun. Akan tetapi tiba-tiba Si Kong menahan langkahnya. Dia mendengar bunyi langkah orang di belakangnya! Dia cepat menengok dan tidak melihat siapa-siapa. Dia melangkah maju lagi dan kembali terdengar langkah dua orang, langkah yang terdengar lembut sekali. Kalau dia tidak mengetahui kekuatan pendengarannya dan menahan napas, dia tidak akan dapat mendengar langkah itu. Tepat di belakangnya! Cepat sekali dia menoleh ke belakang akan tetapi kembali dia kecelik. Tidak nampak seorangpun di belakangnya! Dia mulai bergidik ngeri. Benarkah ada iblis di tempat ini? Siang hari ada iblis berkeliaran? Ataukah manusia- manusia yang mengeluarkan bunyi langkah itu? Kalau manusia tentu ilmunya meringankan tubuh sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Dia mendaki terus ke puncak. Ternyata puncak bukit itu datar dan merupakan padang rumput yang cukup luas. Ketika dia tiba di atas, dia melihat belasan orang laki-laki yang bertubuh kekar sedang berkumpul, duduk mengelilingi batu besar di mana duduk seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun. Dari sikap dan lagaknya, mudah diketahui bahwa laki-laki raksasa itu tentulah menjadi pemimpin belasan orang itu. Dia menyelinap di balik semak-semak dan mengintai. Kiranya mereka itu orang-orang biasa yang bertubuh kekar kuat dan bersikap kasar. Dan bukan iblis-iblis! Raksasa yang duduk di atas batu besar itu mengembangkan kedua lengannya dan berkata dengan suara lantang. “Saudara-saudaraku, bagaimana kalian berpendapat tentang bukit ini kalau menjadi sarang kita yang baru? Ha-ha-ha, tempat ini sunyi tak pernah didatangi orang yang takut karena nama bukit ini Bukit Iblis. Ha-ha-ha, sekarang benar-benar menjadi Bukit Iblis dan iblisnya adalah kita.” Belasan orang ikut tertawa sehingga suara tawa mereka riuh rendah memenuhi permukaan bukit itu. Kalau ada orang mendengarnya, tentu akan mengira bahwa iblislah yang tertawa itu. “Tempat ini baik sekali, twako! Kami merasa cocok untuk tinggal di sini. Di hutan-hutan bawah itu terdapat banyak kayu besar dan bambu, mudah bagi kita untuk membuat bangunan-bangunan untuk kita tinggal.” Pada saat itu terdengar suara orang terkekeh-kekeh saling sahutan. Dari suara tawa yang berbeda-beda itu dapat diketahui bahwa yang tertawa itu lebih dari satu orang. Kemudian nampak tiga sosok bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri tiga orang yang menyeramkan. Yang seorang tinggi kurus seperti tiang bambu, kepalanya juga panjang kecil sehingga nampak aneh sekali. Orang kedua pendek gendut dan segalanya yang ada pada orang ini bundar belaka, jauh sekali bedanya dengan orang pertama yang serba kecil panjang. Orang ketiga bertubuh katai seperti kanak-kanak, akan tetapi mukanya menunjukkan bahwa dia sudah tua, sedikitnya lima puluh tahun usianya dan lebih muda sedikit saja dari dua orang terdahulu. Tiga orang ini muncul sambil tertawa-tawa. “Ha-ha-he-heh-heh!” Orang pertama yang tinggi kurus berkata sambil tertawa-tawa. “Segerombolan setan kecil berani mengganggu daerah kami, sungguh sudah bosan hidup!’ “Jangan, Sam-kwi (Setan ke Tiga), jangan bunuh. Mereka perlu untuk menjadi pelayan-pelayan kita. Kita bikin tempat kita ini menjadi istana dengan belasan orang pelayannya, heh-heh!” “Benar apa yang dikatakan Thai-kwi (Setan Tertua), Sam-kwi. Akupun sudah bosan setiap hari mencari makanan sendiri!” Mendengar ucapan tiga orang itu, si raksasa yang memimpin limabelas orang anak buahnya itu terbelalak. “Apakah kalian yang berjuluk Liok-te Sam-kwi (Tiga Iblis Bumi)?’ Kakek yang gendut bundar tertawa. “Ha-ha-ha, setan cilik ini cerdik juga, sudah dapat menduga siapa adanya kita. Setan-setan cilik, setelah kalian ketahui siapa kami, hayo lekas berlutut dan berjanji untuk menjadi pelayan-pelayan kami yang patuh!” Raksasa yang berdiri di atas batu besar itu bangkit berdiri, tubuhnya yang tinggi besar penuh otot mengembang itu menyeramkan dan dia berkata dengan lantang. “Liok-te Sam-kwi, orang lain boleh merasa takut kepada kalian bertiga. Akan tetapi kami tidak takut kepada kalian. Kalau kalian tidak cepat pergi dari sini, kami enambelas orang pasti akan menyingkirkan kalian dengan paksa.” Thai-kwi yang bertubuh pendek gendut itu tertawa mendengar ucapan ini. “Ji-kwi dan Sam-kwi, kalian mendengar bualan itu? Mari kita hajar mereka agar mengenal siapa kita, akan tetapi jangan dibunuh, kita membutuhkan tenaga mereka untuk melayani kita!” Kepala gerombolan itu meloncat turun dari atas batu besar, mencabut sebatang golok besar dari punggungnya dan memberi aba-aba kepada para anak buahnya, “Serbu……! Bunuh mereka………!” Lima belas orang anak buahnya juga sudah mencabut golok masing-masing dan dengan ganas mereka menyerang tiga orang aneh itu. Si Kong dalam persembunyainnya melihat betapa tiga orang itu kelihatan tenang saja, akan tetapi setelah serangan keroyokan itu dilakukan, mereka bergerak cepat mengelak dan membalas dengan tamparan dan tendangan mereka itu. Hebat sekali memang gerakan mereka itu. Mereka tidak memegang senjata akan tetapi gerakan mereka demikian cepat sehingga sukar diikuti dengan mata, tahu-tahu para pengeroyok itu berpelantingan terkena sambaran tangan atau kaki mereka. Golok-golok beterbangan terlepas dari tangan mereka dan dalam waktu pendek saja enambelas orang itu sudah roboh semua! Diam-diam Si Kong memandang dengan kagum. Di antara tiga orang itu dia melihat si pendek gendut yang paling lihai. Akan tetapi yang di herankan di antara tiga orang ini walaupun memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, masih belum mampu melangkah seperti yang didengarnya ketika mendaki bukit ini tadi. Langkah-langkah orang di belakangnya akan tetapi begitu dia menengok, tidak nampak orangnya! Agaknya ginkang tiga orang ini belum setinggi yang dia dengar langkahnya tadi. Betapapun juga, harus diakui bahwa tiga orang itu lihai sekali. Dikeroyok enambelas orang yang rata-rata memiliki tenaga besar, begitu mudahnya bagi tiga orang itu untuk merobohkan mereka semua. Raksasa itu agaknya terkena tendangan yang paling parah karena dia tidak dapat segera bangun, hanya mengaduh-aduh sambil memegang dadanya yang tertendang oleh kaki si pendek gendut. “Ha-ha-ha-ha!” Tiga orang itu kini tertawa-tawa. “Apakah kalian sudah mengenal kami?” Si pendek gendut yang menjadi ornag pertama dari Tiga Iblis itu menghampiri pimpinan belasan orang itu. Raksasa itu maklum bahwa dia dan teman-temannya tidak akan menang melawan tiga Datuk Iblis itu, maka diapun terpaksa mengakui kekalahannya daripada dibunuh. “Kami telah kalah dan meyerah atas pimpinan sam-wi.” “Bagus! Mulai sekarang kalian enambelas orang menjadi anak buah kami, siapa berani membangkang akan kami bunuh!” kata pula si pendek gendut dengan girang. Si Kong menyaksikan semua ini dan dia tidak ingin mencampuri. Itu adalah urusan orang-orang kang-ouw yang sesat saling berebut kekuasaan di Bukit Iblis itu. Tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya dan dia tidak ingin mencampuri. Biarlah kalau tiga orang Iblis ini menguasai bukit ini dan mengambil belasan orang itu sebagai anak buah mereka. Akan tetapi selagi dia hendak pergi menyingkir dari tempat itu agar jangan terlibat, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang yang membuat dia terkejut dan terpaksa Si Kong tidak jadi pergi, tetap mendekam di balik semak-semak untuk melihat apa yang akan terjadi. Suara melengking tinggi itu bukan saja nyaring, akan tetapi juga mengandung getaran yang membuat semua orang yang mendengarnya merasa jantung mereka terguncang hebat. Belasan orang yang tadi kena hajar dan belum pulih benar, mendengar lengkingan ini menjadi panik dan mereka roboh kembali karena tidak dapat menahan guncangan jantung mereka. Adapun tiga orang Datuk Iblis itu juga nampak terkejut dan mereka memejamkan mata, mengerahkan sinkang untuk melindungi jantung mereka dan menolak pengaruh yang hebat dari lengkingan panjang itu. Si Kong sendiri menahan napas dan mengerahkan sinkang untuk melindungi jantungnya. Belum habis suara melengking itu, disusul suara gerengan yang juga amat hebat. Gerengan ini seperti gerengan harimau yang mengguncangkan jantung. Dua suara yang sama kuat getarannya ini seperti saling sahutan, dan akhirnya dua suara ini berhenti dan entah dari mana datangnya, di atas batu besar yang tadi diduduki raksasa pemimpin gerombolan itu telah berdiri dua orang kakek. Yang seorang berusia sedikitnya enampuluh tahun, kepalanya besar sekali, sungguh menyolok karena berbeda dengan tubuhnya yang kecil. Kedua telinganya juga lebar bukan seperti telinga manusia biasa, kepalanya botak dan dia mengenakan baju serba putih, tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu berbentuk ular dan panjangnya sampai kepundaknya. Orang kedua juga aneh. Kepalanya penuh rambut yang tebal dan panjang sampai ke punggung, mukanya juga penuh rambut seperti muka monyet, kedua lengannya panjang sekali sampai melebihi lututnya ketika bergantung di kanan kirinya. Tangan kanannya memegang sebatang pecut seperti yang biasa dipegang oleh para penggembala ternak. Pakaiannya serba hitam. Si Kong terkejut sekali melihat mereka. Dia sendiri tidak tahu kapan mereka itu datang, tahu-tahu telah berada di atas batu itu. Sekarang tahulah dia siapa yang tadi terdengar langkahnya akan tetapi tidak nampak orangnya. Tentu kedua orang kakek aneh ini. Mereka memiliki ginkang yang sukar di ukur tingginya. Dia sendiri yang sudah mahir ilmu Liok-te Hui-teng yang membuat dia dapat bergerak seperti terbang cepatnya, sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan dua orang kakek ini. Liok-te Sam-kwi (Tiga Setan Bumi) itu juga terkejut melihat munculnya dua orang aneh ini. Mereka bertiga adalah tokoh-tokoh dunia sesat yang terkenal namun belum pernah mereka bertemu dengan dua orang ini. Dan melihat kemunculan mereka, tiga orang itu teringat akan dua nama yang amat ditakuti para tokoh persilatan. Dua nama yang hanya dikenal nama akan tetapi jarang ada orang bertemu dengan dua orang ini. Thai-kwi, orang pertama dari Liok-te Sam-kwi yang pendek gendut, segera memberi hormat dari tempat di mana dia berdiri. Dia mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan dan dengan suaranya yang besar dia berkata, “Kalau kami tidak salah duga, ji-wi tentu yang dijuluki Ji Ok (Dua Yang Jahat). Kalau benar demikian, kami bertiga Liok-te Sam-kwi menghaturkan hormat kami kepada ji-wi lo-cian-pwe!” Dengan menyebut ji-wi lo-cian-pwe, Thai-kwi telah merendahkan diri dan ini menandakan bahwa dia jerih menghadapi kedua orang aneh itu. Melihat sikap Thai-kwi yang merendahkan diri, kakek yang kepalanya besar tertawa, suara tawanya menggelegar dan membuat seluruh puncak bukit itu tergetar. “Hoa-ha-ha-ha, bagaimana pendapatmu, Ji Ok (Jahat Ke Dua)? Kita berdua berjuluk Thao-mo-ong (Raja Iblis Tertua) dan Ji-mo-ong (Raja Iblis ke Dua) dan sekarang muncul mereka yang mengaku Liok-te sam-kwi dan hendak menguasai Bukit Iblis ini? Apa yang harus kita lakukan terhadap Siauw-kwi (Iblis Cilik) ini?” “Toa-ok, kenapa pusing-pusing memikirkan hal itu? Bunuh saja mereka agar tidak menjadi saingan dan penghalang bagi kita!” kata kakek seperti monyet yang berpakaian serba hitam itu. “Ha-ha-ha-ha! Engkau benar sekali, Ji Ok. Nah, kalian bertiga sudah mendengar sendiri. Liok-te Sam-kwi, kami tidak ingin mengotorkan tangan untuk membunuh kalian. Nah, sekarang cepat kalian bertiga membunuh diri di depan kami!” Liok-te Sam-kwi terkejut bukan main. Ini sudah keterlaluan sekali. Mereka diminta membunuh diri agar tidak menjadi saingan dan tidak menghalangi mereka berdua. Ini namanya terlalu memandang rendah kepada mereka! Orang ketiga dari Liok-te Sam-kwi yang bertubuh katai seperti kanak-kanak ternyata seorang cerdik. Dia hendak menggunakan tenaga enambelas orang gerombolan yang baru saja menyerah kepada mereka. Dia meloncat ke depan pimpinan gerombolan itu dan berkata, “Kami perintahkan kalian semua untuk mengeroyok dua orang kakek itu!” Enambelas orang itu tidak berani membangkang. Mereka sudah mencabut golok mereka dan mengepung dua orang kakek itu, sedangkan Liok-te Sam-kwi sendiri juga sudah bersiap-siap. Si Kong menonton dari tempat persembunyiannya dengan panuh perhatian. Jantungnya berdebar tegang karena dia tahu bahwa sekarang akan terjadi pertandingan yang hebat. Tiga orang Liok-te Sam-kwi itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, akan tetapi kedua orang kakek Toa Ok dan Ji Ok ini agaknya memiliki ilmu yang lebih hebat lagi. Karena dapat menduga bahwa mereka menghadapi lawan yang berat, Liok-te Sam-kwi mengeluarkan senjata masing-masing. Orang pertama yang gendut bundar itu mengeluarkan sebuah rantai baja yang ujungnya dipasangi kaitan dari pinggangnya di mana rantai itu tadinya dilibatkan. Orang kedua yang tinggi kurus itu mencabut sebatang pedang dari punggungnya dan orang ketiga yang katai mencabut sepasang golok kecil dari punggungnya pula. Bersama enambelas orang gerombolan yang sudah menjadi anak buah mereka itu, mereka kini mengepung batu besar di mana Toa Ok dan Ji Ok berdiri. Dua orang Raja Iblis ini tersenyum-senyum saja dengan tenangnya, seolah dua orang dewasa menghadapi pengeroyokan anak-anak kecil saja. Tiba-tiba, seperti sudah bersepakat lebih dulu, Toa Ok si kepala besar meloncat turun dari atas batu, ke arah kiri sedangkan Ji Ok Si Muka Monyet itu meloncat turun ke arah kanan sehingga mereka terpisah menjadi dua. Para pengeroyoknya juga terbagi menjadi dua. Si gendut dan si katai bersama delapan orang anak buah sudah mengepung Toa Ok. Sedangkan si tinggi kurus bersama delapan orang anak buah yang lain mengepung Ji Ok. “Hyaaatt……!” Si gendut sudah memulai dengan serangannya. Cambuk rantainya menyambar dan menjadi sinar putih menghantam ke arah leher Toa Ok. Gerakan ini disusul pula oleh si katai yang menggerakkan sepasang goloknya. Demikian pula delapan orang anak buah mereka sudah menggerakkan golok masing-masing untuk mengeroyok. Toa Ok tertawa bergelak dan tahu-tahu tubuhnya melonat ke atas dengan kecepatan kilat. Sambil meloncat dia menggerakkan tongkat ularnya ke bawah dan sekali tongkat itu menyambar, robohlah empat orang anak buah gerombolan itu dengan kepala pecah! Ji Ok juga dikepung rapat oleh si tinggi kurus dan delapan orang anak buahnya. Si tingi kurus itu menggerakkan pedangnya dan menyerang dengan cepat sekali, diikuti oleh delapan orang anak buah yang menggerakkan golok mereka. Akan tetapi Ji Ok memandang rendah mereka. Pecutnya meledak-ledak dan nampak seperti kepulan asap ketika pecut itu meledak-ledak. Tubuhnya sendiri berkelebat lenyap dari kepungan sembilan orang itu dan ketika pecutnya berhenti meledak, sudah ada empat orang pengeroyok terkapar dengan leher hampir putus! Gerakan pecutnya sedemikian lihainya sehingga pecut itu menjadi tajam seperti pedang. Liok-te Sam-kwi mengeroyok dan berusaha mati-matian untuk merobohkan Toa Ok dan Ji Ok, akan tetapi mereka itu kalah cepat dan kalah kuat tenaganya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, begitu tongkat ular berhenti menyambar dan pecut berhenti meledak, semua pengeroyok itu, Liok-te Sam-kwi bersama enambelas orang anak buah mereka, telah roboh dan tewas semua! Dua orang kakek itu meloncat lagi ke atas batu besar dan keduanya tertawa terkekeh saking gembiranya telah dapat membunuh sekian banyaknya orang dalam waktu singkat. Si Kong bergidik. Sungguh tepat mereka disebut Toa Ok dan Ji Ok, Si Jahat Pertama dan Si Jahat Kedua dengan julukan Thai-mo-ong dan Ji-mo-ong! Tanpa sebab yang jelas mereka membunuhi belasan orang begitu saja. Karena tidak dapat menahan lagi menonton pertunjukan yang kejam itu, Si Kong membuat gerakan hendak pergi dari tempat persembunyiannya. Dia lupa betapa lihainya dua orang Raja Iblis itu. Baru saja beberapa langkah dia maju, tiba-tiba Ji Ok sudah berseru dengan suaranya yang tinggi kecil. “Siapa itu? Berhenti atau kamu mati!” Si Kong terkejut dan baru teringat bahwa sedikit gerakan saja tentu akan diketahui oleh mereka yang amat lihai. Dia berhenti melangkah dan membalikan tubuh. Kini dia sudah berdiri di balik semak dan dapat nampak oleh dua Raja Iblis itu dari pinggang ke atas. Melihat betapa orang itu hanya seorang pemuda remaja yang membawa buntalan pakaian di ujung pikulan bambunya, dua orang kakek itu mendengus marah. “Engkau melihat apa?” bentak Ji Ok pula. Karena masih muak menyaksikan pembunuhan atau pembantaian keji itu, seperti dengan sendirinya Si Kong menjawab, “Saya melihat pembantaian di luar perikemanusiaan!” Dua orang kakek itu tertegun, lalu tertawa bergelak. Ji Ok menggerakkan pecutnya ke bawah. Pecut itu meledak dan menyambar ke bawah, ujungnya sudah melibat sebatang golok milik anak buah gerombolan dan sekali menggerakkan pecutnya, golok itu sudah terbang dan menancap di depan kaki Si Kong. “Pungut pedang itu dan gorok lehermu sendiri!” Ji Ok membentak pula. Panas hati Si Kong. Dia tahu bahwa dua orang kakek itu lihai sekali, akan tetapi dia tidak takut. Apalagi disuruh membunuh diri sendiri. Mana mungkin dia dapat menaati perintah yang keji itu? Dia membungkuk perlahan memungut golok itu. Akan tetapi dia tidak menggorok batang leher sendiri melainkan menggunakan jari tangan menekuk golok itu. “Pletakkk!” Golok itu patah menjadi dua dan dilempar ke atas tanah oleh Si Kong. Melihat ini, Ji Ok menjadi marah sekali. Gerakan Si Kong mematahkan golok itu dianggapnya sebagai tantangan kepadanya! Dia ditantang oleh anak kemarin sore, seorang pemuda remaja! Akan tetapi Ji Ok masih merasa segan untuk bermusuhan dengan seorang bocah remaja. Hal itu dianggapnya memalukan sekali. Merendahkan kedudukannya sebagai datuk besar. Dengan kemarahan yang ditahan-tahan dia menendang ujung batu besar itu. Ujungnya pecah dan pecahan batu sebesar kepala itu meluncur dan menyambar ke arah kepala Si Kong! Akan tetapi dengan tenang saja Si Kong menarik kepalanya ke belakang segingga sambaran batu itu luput. Melihat ini, Ji Ok merasa semakin penasaran! Pecutnya kini menyambar-nyambar ke bawah, membelit golok-golok yang berada di bawah dan menyambitkan golok-golok itu ke arah Si Kong. Golok-golok itu beterbangan menyambar, akan tetapi dengan sigap dan mudahnya Si Kong mengelak dan semua golok yang disambitkan dengan pecut itu tidak ada sebuahpun yang mengenai dirinya. Tidak kurang dari sembilan buah golok yang menyambar ke arah tubuhnya dan semua dapat di elakkan. Sekarang Ji Ok merasa heran juga. Sambitannya tadi cepat dan kuat sekali. Akan tetapi bocah itu dapat mengelak dengan amat mudahnya. “Ha-ha, Ji Ok. Engkau sekali ini dipermainkan seorang bocah cilik!” “Jangan mentertawakan aku, Toa Ok! Kulihat anak ini bukan anak sembarangan, kalau tidak mana mungkin dia dapat mengelak dari semua golok itu?” “Hemm, kalau dia sampai lolos dan menceritakan di dunia kangouw betapa dia sudah mampu menghindarkan diri dari seranganmu, bukankah kita akan menjadi buah tertawaan orang sedunia? Sekarang, selagi tidak ada orang lain melihatnya, mari kita berlumba, siapa antara kita yang lebih dulu dapat membunuhnya!” “Baik!” Kata Ji Ok dan mereka berdua sudah melayang dari atas batu itu ke arah Si Kong. Anak ini sudah tahu akan niat mereka. Biarpun dia tahu bahwa kedua orang kakek itu bukanlah lawannya, namun dia tidak putus asa. Selagi masih hidup, dia harus mempertahankan hidupnya. Dia sudah menurunkan buntalan pakaiannya dan memegang pikulan bambunya sebagai tongkat. Begitu menyambar, kedua orang kakek itu sudah menggerakan senjata sebelum kaki mereka turun ke tanah. Tongkat ular di tangan Toa Ok berlumba cepat dengan pecut di tangan Ji Ok. “Wuuuuutttt…….!” Si Kong maklum betapa besar bahayanya penyerangan itu. Dia lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya Liok-te Hui-teng dan berkelebat dengan cepatnya mengelak dari sambaran kedua senjata itu. “Wuuuutt….. tarrr…….!” Tongkat dan pecut itu menyambar ganas akan tetapi tidak mengenai sasarannya. Kedua orang datuk itu terkejut dan heran bukan main. Mereka berdua menyerang dengan berbareng dan anak itu dapat menghindarkan diri! Ini saja sudah merupakan hal yang luar biasa sekali. Tokoh-tokoh kang-ouw jarang ada yang mampu menghindarkan diri kalau mereka menyerang seperti tadi dan bocah itu mempergunakan gin-kang yang amat hebat sehingga dapat bergerak lebih cepat dari pada sambaran senjata mereka! Toa Ok mengeluarkan suara gerengan aneh saking penasaran dan marahnya dan dia sudah menyerang dengan tongkatnya yang ditusukkan ke arah dada Si Kong dengan penuh keyakinan bahwa Si Kong pasti akan tewas sekali ini. Si Kong melihat gerakan tongkat dan dia pun mengerakkan tongkat bambunya untuk menangkis sambil menggetarkan ujung tongkat bambunya. “Tukkk…….!” Dua batang tongkat bertemu dengan kuatnya dan Si Kong membuat tongkatnya terpental dan diapun ikut meloncat sehingga serangan Toa Ok gagal lagi. Melihat ini, Ji Ok juga menyerang dengan pecutnya yang dibuat menjadui lemas. Pecut itu menyambar ke arah leher Si Kong, kalau mengenai sasaran akan membelit leher dan sekali sentak dengan tenaga sin-kang, leher bocah itu tentu akan putus! Akan tetapi kembali tongkat ditangan Si Kong menangkis dan ketika ujung cambuk hendak membelit tongkat bambu, Si Kong telah lebih dahulu mengirim tendangan kakinya ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang cambuk. Ji Ok melihat betapa tendangan itu kuat sekali. Dia tidak ingin pergelangan tangannya tertendang, maka terpaksa dia menarik kembali cambuknya, tidak jadi melibat tongkat. Kini kedua orang datuk itu marah sekali, akan tetapi mereka juga merasa malu kalau harus mengeroyok seorang pemuda remaja dengan menggunakan senjata mereka! “Ji Ok, kita bunuh anak ini dengan tangan kosong saja!” kata Toa Ok dengan muka berubah merah karena merasa malu. “Baik!” kata Ji Ok yang segera menyimpan sabuknya, diikatkan dipinggangnya sedangkan Toa Ok menancapkan tongkatnya di tanah. Kini mereka menghampiri Si Kong dengan tangan kosong. Akan tetapi jangan dikira dengan tangan kosong itu mereka menjadi kurang berbahaya. Kedua orang datuk ini telah memiliki tenaga dalam yang luar biasa kuatnya. Toa Ok yang berkepala besar itu memiliki sinkang yang berhawa panas dan yang dapat menghanguskan tubuh lawan dengan pukulannya. Sebaliknya Ji Ok memiliki sinkang berhawa dingin. Dengan pukulan tangannya, dia mampu membuat lawan roboh dan tewas dengan darah membeku! Si Kong bukan tidak maklum akan kesaktian dua orang kakek itu. Juga dia mengerti bahwa dua orang datuk besar ini merasa marah dan malu sehingga berniat untuk membunuhnya. “Ji-wi lo-cianpwe mengapa berkeras hendak membunuhku? Apa kesalahanku terhadap ji-wi (anda berdua)?” Si Kong bertanya, suaranya nyaring, sama sekali tidak ada tanda-tanda takut padanya. “Bocah setan, engkau harus mampus di tanganku!” Ji Ok membentak. “Kalau tidak ingin mati di tangan kami, bunuhlah dirimu sendiri dengan tongkatmu!” kata Toa Ok yang masih merasa malu kalau harus membunuh lawan yang melihat usianya pantas menjadi cucunya itu. “Aku tidak bersalah, aku tidak ingin mati di tangan siapapun!” kata Si Kong, siap dengan tongkatnya. “Heeeiiiitt…..!” Ji Ok sudah menyerang dengan tangan kirinya yang membentuk cakar harimau. Akan tetapi Si Kong mengelak dengan cepat dan ujung tongkatnya sudah menyerang ke arah siku tangan yang menyerangnya itu. Ji Ok terkejut dan menarik tangan kirinya, kini tangan kanan menyambar dengan sebuah tamparan ke arah muka Si Kong. Si Kong mengelak ke belakang akan tetapi secara tidak terduga, sambil mengelak itu tongkatnya menyambar ke bawah. “Takk!!” Tongkatnya mengenai kaki Ji Ok. Kalau bukan Ji Ok yang terkena hantaman tongkat itu, tentu sudah terpelanting jatuh. Akan tetapi Ji Ok tidak bergeming, hanya matanya terbelalak, “Tung-hwat (ilmu tongkat) yang hebat!” Sementara itu, Toa Ok juga sudah menyerang dengan tamparan tangan kanan di susul tamparan tangan kiri. Tamparan kedua tangannya ini menggunakan sinkang sehingga dapat menyerang orang dari jarak jauh. Akan tetapi Si Kong sudah melayang ke atas dan melewati kepala Toa Ok. Ketika turun tongkatnya sudah menghantam ke belakang tubuh lawannya. “Bukk!” Pinggul Toa Ok kena dihantam tongkat. Tongkat itu terpental, akan tetapi Toa Ok sudah menjadi merah sekali mukanya karena dalam segebrakan saja dia sudah terkena pukulan tongkat walaupun pukulan pada pinggulnya itu tidak ada artinya baginya. Dia hanya merasa heran dan terkejut, dan teringatlah dia akan akan ilmu tongkat yang terkenal paling ampuh di dunia persilatan. “Ta-kaw Sin-tung…….!” Teriaknya dan kembali mereka menghadapi Si Kong. Kini mereka menyerang dengan berbareng. Si Kong menjadi terdesak hebat dan terpaksa dia harus menggunakan Yan-cu Hui-kun yang membuat tubuhnya menjadi seperti seekor burung walet gesitnya, mengelak ke sana sini sambil berloncatan dan kadang menangkis dengan tongkatnya. Setelah lewat belasan jurus, sebuah pukulan jarak jauh dari Toa Ok menyerempet pundaknya dan diapun terpelanting dan merasa tubuhnya panas sekali, Ji Ok dan Toa Ok maju menyerang lagi dari kanan kiri, menggunakan pukulan jarak jauh dengan tenaga sakti keluar dari telapak tangan mereka. Si Kong sudah tidak dapat menghindar lagi. Akan tetapi, biarpun maut mengancam dirinya, anak ini sama sekali tidak takut dan dia hanya menanti datangnya pukulan dengan mata terbelalak keberanian. “Siancai……!” pada saat itu terdengar seruan orang dan nampak bayangan orang berkelebat. Tahu-tahu disitu telah berdiri seorang kakek dekat Si Kong dan kakek ini menentang keduan tangannya ke kanan kiri untuk menyambut pukulan Toa Ok dan Ji Ok yang ditujukan kepada Si Kong. “Plak-plakk!” Kakek itu menerima kedua tangan dari kanan kiri. Dia dapat merasakan betapa telapak tangan Toa Ok mengandung hawa panas dan telapak tangan Ji Ok mengandung hawa dingin. Akan tetapi kakek itu dengan tenangnya menyambut tangan mereka. Toa Ok dan Ji Ok terkejut sekali ketika merasa betapa telapak tangan mereka bertemu dengan telapak tangan yang lembut dan hangat. Akan tetapi Toa Ok dan Ji Ok adalah dua orang datuk sesat yang tidak memperdulikan nasib orang lain. Mereka dapat membunuh orang tanpa berkedip mata. Kini melihat seorang kakek menolong Si Kong dan kakek itu terhimpit di tengah-tengah antara mereka, kedua orang datuk ini tidak menarik kembali tangan mereka, bahkan sebaliknya mereka mengerahkan tenaga sinkang untuk membunuh kakek yang menghalangi niat mereka membunuh Si Kong itu. Mereka menggunakan tangan mereka itu untuk mendorong dengan pengerahan tenaga. Akan tetapi mereka terkejut bukan main. Ketika mendorong dengan tenaga sakti yang mengandung hawa panas, Toa Ok merasa betapa ada hawa dingin menyambut dorongannya. Sebaliknya Ji Ok yang mendorong dengan hawa sinkang dingin, merasa betapa ada hawa panas menyambut dari telapak tangan kakek itu. Mereka berdua terengah-engah karena sambutan hawa sin-kang dari tangan kakek itu amat kuat. Mereka merasa penasaran sekali dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong kembali. “Haiiiiiitt…….!” Ji Ok berseru nyaring. “Hyaaaaaatttt…….!” Toa Ol juga membentak sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Akan tetapi dua orang kakek itu merasa betapa makin kuat mereka mendorong, semakin kuat pula hawa sakti menyambut dan mereka tidak kuat bertahan, lalu keduanya terjengkang roboh. Toa Ok merasa tubuhnya di serang hawa dingin, sebaliknya Ji Ok merasa tubuhnya di serang hawa panas. Mereka tidak tahu bahwa kakek itu sebetulnya hanya menyalurkan saja hawa pukulan mereka itu melalui kedua tangannya dan membuat dua tenaga yang berlawanan itu bertemu dan saling serang sendiri. Ini merupakan ilmu menyimpan dan menyalurkan hawa sakti dari luar, sebuah ilmu yang teramat tinggi dan jarang ada orang mampu melakukannya. Dengan penyaluran itu, Toa Ok tertangkis oleh tenaga Ji Ok sebaliknya Ji Ok tertangkis oleh tenaga Ji ok yang mengakibatkan keduanya roboh terluka! Kedua orang datuk itu bukanlah orang-orang bodoh yang nekat. Mereka maklum bahwa mereka telah terluka dalam dan kalah. Mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang luar biasa saktinya. Sejenak mereka bangkit dan duduk bersila untuk mengatur pernapasan mengambil hawa murni untuk melindungi jantng mereka. Kemudian keduanya bangkit berdiri. Ada sedikit darah kelihatan di ujung bibir mereka. “Siapakah engkau yang telah berani mencampuri urusan kami?” tanya Toa Ok dengan suara mengandung penasaran sekali. “Siancai…….!” Kakek itu berseru sambil tersenyum. “Kiranya yang berjuluk Toa Ok dan Ji Ok bahkan lebih kejam daripada namanya! Aku yang bertapa di Pulau Teratai Merah belum pernah bertemu dengan orang yang sekejam kalian berdua!” Berkata demikian kakek itu memandang ke arah mayat-mayat yang malang melintang di tempat itu, lalu kepada Si Kong yang sudah bangkit berdiri. Dua orang datuk ini terkejut bukan main mendengar bahwa kakek ini adalah pertapa di Pulau Teratai Merah. Mereka sudah pernah mendengar tentang seorang pertapa yang sakti sekali, seorang yang puluhan tahun yang lalu namanya terkenal dan di takuti oleh seluruh tokoh kang-ouw, terutama kaum sesat amat takut mendengar nama itu. Puluhan tahun yang lalu di dunia kang-ouw muncul seorang pendekar yang demikian gigih memberantas kaum sesat tanpa ampun sehingga dia dijuluki orang Pendekas Sadis! Pendekar Sadis inilah yang kemudian setelah tua mengundurkan diri dan bertapa di Pulau Teratai Merah di Laut Selatan. Dan kini, tanpa di sangka sama sekali, pertapa itu agaknya meninggalkan Pulau Teratai Merah dan kebetulan bertemu dengan Toa Ok dan Ji Ok, sepasang Raja Iblis yang merupakan orang-orang paling kejam di antara semua tokoh sesat. “Pendekar Sadis……..!” Toa Ok dan Ji Ok berseru dengan suara berbareng kemudian tanpa berkata apa-apa lagi kedua orang itu melompat jauh dan pergi dari situ dengan hati jerih! Kakek itu memang benar Pendekas Sadis yang bernama Ceng Thian Sin. Akan tetapi dia kini telah menjadi seorang kakek tua renta yang usianya sudah mencapai hampir seratus tahun! Belasan tahun yang lalu kakek ini tinggal di Pulau Teratai Merah bersama isterinya yang juga merupakan seorang pendekar wanita yang sukar di cari tandingannya. Ketika isterinya yang bernama Toan Kim Hong dan yang pernah menjadi datuk selatan dengan julukan Lam Sin itu meninggal dunia dalam usia delapanpuluh tahun lebih, kakek Ceng Thian Sin hidup seorang diri di pulau itu sebagai seorang pertapa. Dia sama sekali tidak mencampuri urusan dunia, bahkan lama sebelum itu, dia sudah hidup berdua dengan isterinya hidup dengan tenteram penuh kedamaian di pulau itu. Si Kong terheran-heran melihat kakek tua renta itu. Dia memandang pernuh perhatian. Seorang kakek yang jangkung kurus, rambut jenggot dan kumisnya sudah putih semua akan tetapi wajahnya masih nampak sehat kemerahan seperti orang muda. Alisnya yang tebal juga sudah putih semua dan pakaiannya amat sederhana namun bersih, dari kain kuning dan putih. Dia tadi melihat betapa kakek itu menahan kedua tangan Toa Ok dan Ji Ok, kemudian melihat kedua orang datuk sesat itu roboh terjengkan seperti ditolak tenaga yang kuat sekali. Melihat itu saja maklumlah Si Kong bahwa yang menyelamatkan nyawanya adalah seorang kakek yang amat sakti. Dia tidak ragu lagi untuk menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu dan memberi hormat berulang kali. “Saya Si Kong yang bodoh merasa bersyukur sekali bahwa lo-cian-pwe telah menyelamatkan nyawa saya dari tangan maut Toa Ok dan Ji Ok. Kalau tidak ada lo-cian-pwe tentulah sekarang saya telah menjadi mayat. Banyak terima kasih saya haturkan kepada lo-cian-pwe.” Kakek itu mengelus jenggot putihnya yang panjang. “Siancai……! Kau tahu apa tentang tolong menolong, hutang dan balas budi, hutang atau balas dendam?” Kemudian Ceng Thian Sin berdongak kelangit dan mulutnya membaca sajak! “Begitu semua orang mengenal keindahan dengan sendirinya muncul kejelekan, Begitu semua orang tahu apa itu kebaikan mereka pun tahu apa itu kejahatan….. Karena itu ada dan tiada saling melahirkan sukar dan mudah saling melengkapi panjang dan pendek saling mewujudkan tinggi atau rendah saling bersandar bunyi dan suara saling mengimbangi dahulu dan kemudian saling menyusul……” Mendengar ini, saking tertariknya karena dia mengenal sajak itu, ketika kakek itu berhenti sebentar untuk menarik napas, Si Kong sudah melanjutkan sajak itu. “Itulah sebabnya orang sudi bekerja tanpa bertindak mengejar tanpa berkata. Maka segala benda berkembang tanpa dia mendorongnya tunbuh tanpa dia mau memilikinya berbuat tanpa dia menjadi sandarannya. walaupun berjasa dia tidak menuntut, justeru karena tidak menuntut, maka tidak akan musna.” “Siancai………..! engkau hafal akan ujar-ujar dalam kitab To-tek-keng! Bagus seklai, akan tetapi mengertikah engkau akan inti sari pelajaran dalam ujar-ujar kuno itu?” “Maafkan saya, locianpwe. Kalau tidak salah, ujar-ujar itu mengajarkan kepada orang untuk melakukan segala sesuatu tanpa pamrih untuk keuntungan atau kesenangan diri pribadi karena perbuatan apapun yang berpamrih untuk diri sendiri, maka perbuatan itu tidaklah timbul dari hati sanubari yang bersih, melainkan dipakai sebagai alat untuk mencapai kesenangan diri sendiri. Benarkah demikian, lo-cianpwe?” “Ha-ha-ha, engkau seorang bocah yang cerdik dan pemberani. Kulihat bahkan engkau tadi berani melawan Toa Ok dan Ji Ok dengan ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung! Dan gerakanmu demikian gesit. Tentu engkau pernah mempelajari Liok-te Hui-teng dan Yan-cu Hui-kun!” Si Kong merasa kagum dan tunduk sekali. Dia memberi hormat lagi sambil berlutut. “Apa yang lo-cian-pwe katakan semuanya benar. Saya yang bodoh mohon petunjuk lo-cian-pwe.” “Aku pernah mendengar bahwa ilmu tongkat yang menjadi ilmu tertinggi dari para pengemis, dimiliki oleh Lok-sian Lo-kai, yaitu ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung. Sedangkan Liok-te Hui-teng dan Yan-cu Hui-kun dikuasai oleh si penyair gila Kwa Siucai. Apa hubunganmu dengan kedua orang itu?” “Mereka beruda adalah guru-guru saya, lo-cian-pwe.” Kata Si Kong yang menjadi lebih kagum lagi. Kakek tua renta ini agaknya mengetahui segalanya. “Pantas engkau mengenal To-tek-keng.” Kakek itu kembali melayangkan pandang pandang matanya kepada sembilanbelas buah mayat yang malang melintang di tempat itu. “Siapa yang membunuh mereka?” tanyanya. “Dua orang kakek tadi, lo-cian-pwe.” “Ceritakan dari semula semua yang terjadi disini.” “Secara kebetulan saya mendaki bukit ini karena mendengar dari orang-orang dusun di lain bukit bahwa bukit ini di beri nama Bukit Iblis. Saya merasa tertarik mengapa bukit ini disebut demikian karena saya sendiri tidak percaya adanya iblis.” “Siancai……..! Jangan bilang tidak percaya karena sesungguhnya iblis itu ada. Hanya keadaannya tidak terlihat mata, dan pekerjaan iblis itu menggoda manusia. Dua orang tadi melakukan kekejaman seperti itu, kau kira karena apa? Karena iblis yang masuk ke dalam batin mereka. Lanjutkan ceritamu.” “Mula-mula saya melihat enambelas orang itu berkumpul disini dan pimpinan mereka menyatakan bahwa sekarang mereka akan mempergunakan bukit ini sebagai sarang mereka. Lalu muncul tiga orang yang menyebut diri mereka Liok-te Sam-kwi. Tiga orang itu mengalahkan enambelas orang ini dan memaksa mereka menjadi anak buah Liok-te Sam-kwi. Kemudia muncul Toa Ok dan Ji Ok tadi yang membunuh mereka semua, setelah menyuruh mereka semua membunuh diri dan mereka tidak mau lalu terjadi pertempuran. Ketika saya hendak pergi dari sini, dua orang datuk itu melihat saya dan mereka menyerang saya seperti yang locianpwe lihat tadi.” “Siancai………! Bunuh membunuh, bunuh membunuh sejak dahulu sampai sekarang. Orang-orang sesat di dunia kang-ouw rupanya tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali saling bunuh dan saling merebutkan kekuasaan. Dan sekarang hendak pergi ke mana, Si Kong?” “Saya….. pertama-tama saya harus menguburkan semua jenazah ini baik-baik, lo-cian-pwe. Setelah itu baru saya akan meninggalkan tempat ini, melanjutkan perjalanan saya.” Kakek itu mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya dan memandang pemuda itu dengan penuh perhatian. Sinar kagum terpancar dari pandang matanya. “Melanjutkan perjalanan kemana?” “Entah kemana, lo-cian-pwe. Kemana saja hati dan kaki ini membawa saya. Saya seorang yatim piatu, sebatang kara, dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Saya berkelana seperti seekor burung di angkasa, sendirian saja.” Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis yang kini telah menjadi seorang pertapa tua renta itu menjadi semakin kagum. Dia sendirianpun hidup menyendiri. Setelah isterinya meninggal dunia belasan tahun yang lalu, dia hidup seorang diri di Pulau Teratai Merah, bahkan tanpa pembantu. Dia dan isterinya hanya seorang anak perempuan bernama Ceng Sui Cin yang kini sudah berusia enampuluh tahun lebih. Ceng Sui Cin bhidup bersama suaminya yang bernama Cia Hui Song yang sekarang tinggal bersama puteri mereka menjadi ketua dari Cin-ling-pai. Biarpun puterinya dan cucunya mendesaknya untuk tinggal bersama mereka di Cin-ling-pai, dia selalu menolak. Dia ingin hidup menyendiri sebagai seorang pertapa dan hanya kadang-kadang saja, puterinya, mantunya atau cucunya datang menjenguknya di pulau Teratai Merah. Setelah tidak pernah muncul di dunia kang-ouw, kakek ini memperkenalkan diri dan disebut sebagai Ceng Lo-jin (ornag tua Ceng). Si Kong segera menggunakan golok yang banyak bertebaran di tempat itu untuk menggali sembilan belas lubang kuburan. Pekerjaan berat itu dilakukan tanpa kenal lelah dan setelah matahari tenggelam di langit barat, barulah dia selesai mengubur semua jenazah itu. Sejak Si Kong bekerja, Cenglojin hanya menonton saja, kemudian dia malah bersila di atas batu besar dan memejamkan matanya. Setelah selesai, dia hendak meninggalkan tempat itu, akan tetapi melihat kakek tua renta itu masih duduk bersila dan memejamkan matanya seperti orang tidur, dia merasa tidak tega meninggalkannya. Kakek itu sudah tua sekali, kasihan kalau ditiggalkan seorang diri saja di Puncak bukit itu, padahal malam hampir tiba. Karena tidak tega pergi meninggalkan kakek itu seornag diri saja, apalagi pergi tanpa pamit, Si Kong menunda kepergiannya. Dia lalu mengumulkan kayu dan daun kering, lalu membuat api unggun di dekat batu besar untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin yang mulai datang mengganggu. Dia sendiri lalu merebahkan diri di atas daun-daun kering di dekat batu besar dan mencoba untuk melepaskan lelah. Pikirannya tidak pernah dapat lepas dari kakek yang duduk bersila di atas batu besar itu. Kakek itupun seperti dia, agaknya hidup sebatang kara. Bagi dia, seorang pemuda, tidaklah terasa berat benar. Untuk mencari makan, dia dapat bekerja dimana saja. akan tetapi kakek tua renta itu? Biarpun dia memiliki kesaktian hebat, mana mungkin kakek itu bekerja untuk mencari nafkah? Dia semakin merasa kasihan kepadanya. Apalagi kakek itu baru saja telah menyelamatkan nyawanya. Diapun harus berbuat sesuatu untuk kakek itu. Setidaknya malam ini dia akan menjaga agar kakek itu tidak terganggu dalam samadhinya. Di jaganya api unggun itu agar tidak padam. Diapun mengaso dan mencoba tidur, walaupun hanya sebentar-sebentar karena dia harus bangun untuk menambahkan kayu bakar pada api unggunnya. Ketika dia teringat kepada gundukan-gundukan tanah di dekat situ, mau tidak mau bulu tengkuknya meremang. Tadi, dia sama sekali tidak ingat kepada mayat-mayat yang dikubur itu. Kini, setelah teringat, timbullah rasa ngeri dan takut! Jelaslah bahwa rasa takut itu tidak datang tanpa diundang. Yang mengundang adalah ingatan yang mengingat-ingan dan membayangkan yang tidak-tidak, membayangkan hal-hal yang menyeramkan. Ingatan mengada-ada, mengingat-ingat dan membayangkan kalau saja mayat-mayat itu bangun kembali. Kalau saja roh-roh yang mati menjadi penasaran dan mengamuk. Kalau saja, kalau saja………. demikianlah pikiran mengingat-ingat dan membayang-bayangkan sesuatu sehingga rasa takut datang menyelinap dalam batin. Si Kong pernah mendengar wejangan Penyair Gila tentang timbulnya rasa takut itu, dan sekarang dia merasakannya sendiri. Setelah dia jelas betul darimana timbulnya rasa takut yang membuat bulu tengkuknya berdiri. Dia “memasuki” rasa takutnya itu dan menjenguk di balik rasa takut itu. Dan diapun merasa geli terhadap ulahnya sendiri dan rasa takut itupun menghilang. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali kakek itu telah sadar dari samadhinya, atau tidurnya sambil duduk bersila. Melihat kakek itu bangkit berdiri, Si Kong segera meloncat bangun pula. “Siancai…..!” kata kakek itu tersenyum. “Engkau masih berada disini, Si Kong? Bukankah kau katakan bahwa engkau hendak melanjutkan perantauanmu?” “Maaf, lo-cian-pwe, saya belum dapat pergi karena melihat lo-cian-pwe sedang bersamadhi. Saya tidak mungki pergi meninggalkan lo-cian-pwe begitu saja tanpa pamit.” Ceng Lojin menghela napas panjang. “Dasar jodoh, dasar jodoh! Thian (Tuhan) yang menentukan, manusia hanya dapat berusaha sekuat dan sebaik mungkin.” Kata kakek itu perlahan seperti kepada dirinya sendiri. “Si Kong, bagaimana pendapatmu jika aku mengambilmu sebagai murid?” Pertanyaan seperti ini sama sekali tidak pernah di sangka oleh Si Kong, bahkan dia tidak pernah dapat mengharapkan kakek seperti ini mau menjadi gurunya. Maka, begitu mendengar kata-kata itu, langsung dia menjatuhkan diri berlutut di bawah batu besar itu dan wajahnya berseri gembira ketika dia menjawab. “Lo-cian-pwe, tidak ada kegembiraan yang melebih apa yang saya dengar dari lo-cian-pwe. Kalau lo-cian-pwe sudi mengambil saya sebagai murid, saya merasa mendapat anugerah besar dari Tuhan dan saya hanya dapat berjanji akan menaati semua perintah dan petunjuk lo-cian-pwe.” “Baiklah, mulai sekarang engkau menjadi muridku dan harus menaati semua perintahku.” kata kakek tua renta itu. Dengan hati girang bukan main Si Kong lalu menjatuhkan dirinya berlutut lagi dan memberi hormat delapan kali kepada kakek itu dan menyebut “Suhu!” “Teecu akan mempersiapkan sarapan pagi untuk suhu.” kata pemuda itu. Ceng Lojin tersenyum. “Sarapan apa yang hendak kau berikan kepadaku?” “Teecu dapat berburu burung, ayam alas atau kelinci di hutan lereng itu.” Ceng Lojin menggoyang tangannya, “Tidak usah, aku sudah lama tidak lagi menyentuh makanan dari binatang, akt hanya makan tumbuh-tumbuhan sajah dan aku sudah membawa bekal roti kering. Engkau juga boleh makan bersamaku. Aku hanya membutuhkan air jernih, kau boleh mencarikan itu untukku.” Si Kong membuka buntalannya. Dia memang selalu membawa sebuah panci untuk keperluan mencari air jernih atau memasak makanan. Dengan panci di tangan dia lalu berlari cepat sekali ke sebuah hutan di lereng. Tak lama kemudian dia sudah kembali membawa sepanci air jernih yang ditemukan dari sebuah sumber air. Ceng Lojin mengeluarkan beberapa potong roti kering dari buntalannya dan guru dan murid itu lalu makan makanan sederhana itu dengan nikmat. “Suhu, maafkan kelancangan teecu (murid). Teecu pernah mempelajari dari kitab-kitab suci bahwa makanan bernyawa itu tidak baik bagi batin kita, bahkan menurut ilmu pelajaran pengobatan juga juga makanan bernyawa itu tidak baik bagi kesehatan tubuh. Teecu dapat mengerti mengapa suhu sebagai seorang pertapa pantang makanan bernyawa, akan tetapi yang ingin teecu tanyakan, suhu, apakah kita dapat terbebas dari makan binatang bernyawa? Menurut suhu Lok-sian Lo-kai, dalam setiap cawan air jernih bisa terdapat ratusan atau bahkan ribuan binatang-binatang kecil yang tidak dapat nampak oleh mata biasa. Demikian pula dalam tumbuh-tumbuhan seperti daun-daun untuk sayur dan juga buah-buahan, besar kemungkinan mengandung binatang-binatang kecil sehingga tak dapat dihindarkan lagi, kita terpaksa makan binatang-binatanag bernyawa, mau atau tidak.” Ceng Lojin mengangguk-angguk. “Benar sekali keterangan Lo-kai Lo-jin itu. Bahkan dalam setiap tarikan napas, ada beberapa banyak binatang-binatang kecil ikut masuk ke dalam tubuh kita. Akan tetapi hal itu kita lakukan tanpa disengaja, dan tidak dapat di hindarkan. Berbeda dengan kalau kita makan daging binatang dan menikmati kelezatannya. Yang namanya membunuh, apapun alasannya, tetap saja merupakan pembunuhan dan pembunuhan di dukung oleh kekejaman.” “Maaf, suhu. Bukan sekali-kali teecu membantah, akan tetapi teecu memajukan pertanyaan-pertanyaan ini karena ingin tahu dan ingin mengerti benar. Apakah dengan pendapat bahwa membunuh untuk makan itu jahat dan kejam, maka binatang pemakan daging seperti harimau, singa, buaya dan lain binatang buas juga jahat?” “Sama sekali tidak, Si Kong. Binatang buas itu memang membunuh, akan tetapi membunuh untuk makan karena dia tidak dapat makan yang lain. Hariamu dan lain-lain binatang buas itu tidak dapat makan daun, dan kalau tidak ada binatang buruan lain mereka akan mati kelaparan. Mereka memang ditakdirkan untuk itu. Akan tetapi manusia tidak dapat disamakan dengan binatang buas. Manusia dapat hidup tanpa makan daging binatang. Jadi, orang-orang yang pantang makan daging binatang itu hanya berusaha agar mereka tidak terlalu diperngaruhi oleh nafsu binatang yang tentu ikut masuk bersama dengan daging yang di makannya. Akan tetapi ini bukanlah menjadi jaminan bahwa orang yang berpantang makan daging adalah orang-orang baik, dan mereka yang makan daging adalah orang-orang yang jahat. Seperti kukatakan tadi, pantang makan daging hanya suatu cara untuk mengurangi pengaruh nafsu binatang. Karena itu, biarpun engkau sudah menjadi muridku, aku tidak akan melarang engkau makan daging.” “Ah, tidak suhu. Seorang murid haruslah menjadikan gurunya sebagai tauladan. Kalau suhu tidak makan daging, teecu juga tidak ikut makan daging, karena teecu hendak merasakan sendiri bagaimana rasa dan akibatnya kalau berpantang makan daging.” Setelah selesai makan roti kering dan minum air jernih, Si Kong mengikuti gurunya turun bukit. Gurunya nampaknya hanya melangkah biasas saja, akan tetapi tubuh suhunya seolah tidak berjalan, melainkan melayang. Kedua kakinya seolah tidak menyentuh tanah. Dia harus mengerahkan ilmu Liok-te hui-teng untuk dapat mengimbangi kecepatan langkah gurunya. Ceng Lijin mengajak Si Kong pergi ke selatan dansetelah tiba di pantai Laut Selatan lalu menyeberang ke sebuah pulau kecil yang tanahnya subur. Pulau itu mempunyai beberapa buah danau dan di atas danau itu tumbuh banyak bunga teratai merah. Karena itulah maka pulau itu disebut Pulau Teratai Merah yang menjadi tempat tinggal Ceng Lojin. Di tengah pulau terdapat sebuah pondok kayu yang cukup besar dan kokoh kuat. Ceng Lojin yang usianya sudah mendekati seratus tahun itu dahulu ketika masih muda, terkenal dengan julukan Pendekar Sadis karena dia amat membenci golongan sesat. Kalau bertemu dengan penjahat, dia tidak akan memberi ampun sehingga semua penjahat di dunia kang-ouw gentar kalau menengar namanya yang menjadi algojonya para penjahat. Ilmu kepandaian kakek ini amat tinggi dan sukar di cari lawan yang dapat mengimbangi tingkat kepandaiannya. Dia menguasai banyak ilmu silat tinggi yang aneh-aneh. Diantaranya semua ilmu silat itu, terdapat ilmu silat Pat-hong-sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin), Pek-in-ciang(Tangan Awan putih), Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit Bumi), Thai-kek Sin-kun (Silat Sakti Pokok Terbesar), San-in Kun-hwat (Ilmu Silat Awan Gunung). Akan tetapi diantara yang paling hebat di antara semua ilmu silat tinggi itu adalah Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Naga Mendekam) yang terdiri hanya dari delapan jurus dan ilmu tenaga sakti yang disebut Thi-khi-i-beng, semacam ilmu sakti yang mengerikan karena dengan ilmu itu, dia dapat menyedot tenaga sakti lawan kedalam dirinya sehingga menambah kekuatannya sendiri dan membuat lawan menjadi lemas karena tubuhnya kosong dari tenaga dalam yang disedot habis! Thi-khi-i-beng ini merupakan ilmu rahasia dari para ketua Cin-ling-pai, akan tetapi pada waktu itu, tidak ada orang lain lagi kecuali Ceng Lojin yang menguasainya. Tidak sembarang orang dapat menguasai Thi-khi-i-beng. Bahkan puterinya sendiri yang bernama Ceng Sui Cin tidak dapat menguasai ilmu itu. Tentu saja amat besar keberuntungan Si Kong dapat diambil murid oleh Ceng Lojin. Hal ini adalah karena begitu bertemu dengan Si Kong, Ceng Lojin segera mengetahui bahwa pemuda remaja itu memiliki tulang yang baik dan bakat yang besar, pula memiliki kecerdikan dan keberanian. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa Si Kong juga pandai membaca sajak dai ujar-ujar kitab suci, hatinya semakin tertarik lagi. Inilah anak yang boleh dia harapkan untuk mempergunakan ilmu-ilmunya sebaik mungkin, untuk kebaikan manusia dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena tahu bahwa muridnya telah memiliki ilmu silat dasar yang cukup tinggi, tentu saja Ceng Lojin tidak mengajarkan semua ilmu yang dia kuasai. Dia hanya mengajarkan ilmu silat sakti Hok-liong Sin-ciang yang hanya delapan jurus, akan tetapi yang delapan jurus itu dapat dikembangkan sendiri menjadi puluhan jurus. Setiap jurus merupakan gerakan dasar yang amat sulit sehingga untuk menguasai delapan jurus Hok-liong Sin-ciang itu Si Kong harus menggunakan waktu dua tahun berlatih dengan tekun, barulah dia dapat menguasai ilmu Hok-liong Sin-ciang itu dan dapat mengembangkannya menjadi banyak jurus. Setelah Si Kong menguasai ilmu silat yang amat sukar ini dan usianya sudah delapan belas tahun barulah Ceng Lojin mengajarkan ilmu yang lebih sulit lagi, yaitu ilmu tenaga sakti Thi-khi-i-beng! Untuk dapat menghimpun tenaga sakti yang langka ini, Si Kong harus bersamadhi dengan bermacam-macam cara. Bahkan selama berbulan-bulan dia harus bersamadhi dengan berjungkir balik agar dia menguasai benar tenaga sakti yang berada ditubuhnya dan dapat menggunakan sesuai dengan kebutuhannya. Dia dapat membuat tenaga sakti dalam tubuh itu menjadi hawa panas, hawa dingin, menjadi tenaga keras atau lunak. Selama Si Kong berada di Pulau Teratai Merah, pulau itu hanya baru menerima tamu bebrapa kali saja. Yang pertama datang adalah puteri dan mantu Ceng Lojin, yaitu pendekar Cia Hui Song yang sudah berusia tujuhpuluh tahun, dan puteri Ceng Lojin yang bernama Ceng Sui Cin dan telah berusia enampuluh lima tahun. Dua kali suami isteri ini datang menjenguk Ceng Lojin dan setiap kali datang mereka membujuk Ceng Lojin untuk ikut dengan mereka ke Cin-ling-san. Dimana kakek itu dapat tinggal bersama keluarganya. “Tidak, aku tidak ingin pindah dari sini. Ibumu meninggal dan dimakamkan disini, akupun ingin dimakamkan disini kalau saat terakhirku tiba. Dan jangan khawatir, disini ada Si Kong yang merupakan murid yang amat berbakti.” demikian kakek itu menolak dengan halus. Ceng Sui Cin dan suaminya merasa kagum sekali kepada Si Kong. Ia tidak merasa iri melihat Si Kong yang dilatih Hok-liong Sin-cang bahkan Thi-khi-i-beng yang ia sendiri tidak mempelajarinya karena bakatnya masih kurang. “Sute Si Kong.” kata Ceng Sui Cin pada kunjungannya yang terakhir ketika Si Kong sudah berusia sembilan belas tahun, “engkau beruntung sekali mendapatkan kepercayaan ayahku sehingga diambil murid dan mewarisi ilmu-ilmu rahasia dari Cinling-pai. Akan tetapi disamping keberuntungan itu, berarti engkau bertanggung jawab berat sekali. Kelak engkau harus dapat mempergunakan semua ilmu itu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dan sekali-kali tidak boleh kaupergunakan untuk maksud jahat dan menguntungkan diri sendiri saja. ingat, kalau engkau melakukan penyelewengan itu, kami seluruh anggauta besar Cin-ling-pai akan menghadapimu dan minta pertanggungjawab darimu.” “Saya mengerti benar akan apa yang suci maksudkan. Saya hanya seorang manusia biasa, suci, maka saya tidak berani tekebur dan menjanjikan sesuatu yang kelak tidak akan dapat saya penuhi. Saya hanya berdoa kepada Tuhan semoga Tuhan akan selalu membimbing saya ke arah jalan yang benar!” Ucapan ini bahkan lebih melegakan hati Ceng Sui Cin dari pada kalau pemuda itu mengucapkan janji yang muluk-muluk. Ia suka akan kerendahan hati pemuda ini. Sayang bahwa pemuda sebaik dan sebesar in bakatnya bukan keluarga besar Cin-ling-pai. Selain suami isteri itu yang berkunjung dua kali selama Si Kong berada di Pulau Teratai Merah, juga cucu Ceng Lojin, yaitu Cia Kui Hong yang berusia empatpuluh tujuh tahun dan menjadi ketua Cin-ling-pai datang berkunjung bersama suaminya yang bernama Tang Hay. Sebagai puteri Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin, tentu saja Cia Kui Hong juga merupakan seorang wanita sakti maka ia diangkat menjadi ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi suaminya yang bernama Tang Hay itu bahkan lebih lihai daripada ia. Cia Kui Hong ini pernah digembleng pula di Pulau Teratai Merah oleh kakek dan neneknya, bahkan telah mewarisi ilmu pedang pasangan Hok-mo Siang-kim (Sepasang Pedang Pembunuh Iblis) dari neneknya. Akan tetapi Cia Kui Hong inipun dianggap kurang berbakat untuk mewarisi Hok-liong Sin-cian dan Thi-khi-i-beng. Adapun suaminya, Tang Hay adalah seorang pendekar sakti yang bukan saja memiliki ilmu yang lebih tinggi dari isterinya, akan tetapi diapun mahir ilmu sihir! Seperti juga nenek Ceng Sui Cin, Cia Kui Hong sengaja menemui Si Kong berdua saja ketika Si Kong bekerja di ladang kecil di mana dia menanam sayur-sayuran untuk dia dan gurunya. Dan seperti juga ibunya, Cia Kui Hong berkata kepada Si Kong, “Si Kong, engkau telah memperoleh kepercayaan kong-kong dan diberi pelajaran ilmu silat tinggi. aku ingin memperingatkanmu agar kelak engkau menggunakan ilmu-ilmu itu untuk membela kebenaran dan keadilan, jangan sekali-kali engkau menggunakan untuk kejahatan, karena dengan demikian, engkau akan mencemarkan nama baik Cin-ling-pai dan kami semua akan menghadapimu sebagai musuh!” Si Kong tersenyum. Betapa miripnya nyonya ini dengan ibunya! Ibu dan anak sudah memperingatkannya dengan keras. “Harap pangcu tidak khawatir. Saya sudah berjanji di depan suci Ceng Sui Cin bahwa saya akan menaati semua pesan dan perintah suhu. Semoga Tuhan akan selalu membimbing saya ke dalam jalan kebenaran.” Ketua Cin-ling-pai dan suaminya itu hanya tinggal tiga hari di Pulau Teratai Merah, lalu mereka pulang karena merekapun tidak berhasil membujuk kakek Ceng Lojin untuk ikut dengan mereka tinggal di Cin-ling-san. Diam-diam Si Kong merasa ngeri juga. Dia telah mempelajari ilmu-ilmu yang menjadi pusaka dari keluarga besar para ketua Cin-ling-pai dan dia tahu bahwa mereka itu bukan omong kosong saja dengan peringatan mereka. Akan tetapi hatinya tidak merasa khawatir karena sedikitpun tidak ada niat dihatinya untuk berbuat jahat atau seenaknya sendiri saja mengandalkan semua ilmunya. Disamping ilmu silat, diapun mendapat banyak wejangan dan pelajaran tentang kehidupan dari Yok-sian Lo-kai, Kwa Siucai dan Ceng Lojin sendiri. Waktu berlalu amat cepatnya bagaikan anak panah terlepas dari gendewanya. Tanpa terasa, dua tahun lagi telah lewat semenjak kunjungan ketua Cin-ling-pai Cia Kui Hong bersama suaminya itu. Kini Si Kong telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia duapuluh tahun. Diapun telah menguasai Thi-khi-i-beng. Ceng Lojin juga bertambah tua, kini usianya sudah seratus tahun lebih. Tubuhnya semakin kurus akan tetapi masih tegak dan tidak bongkok. Pandang matanya masih tajam dan juga pendengarannya masih baik. Pada suatu pagi, kakek itu menghampiri Si Kong yang sedang memikul air dari sumber air itu. “Berhentilah bekerja sebentar. Aku ingin menguji apakah engkau benar-benar telah menguasai Thi-khi-i-beng secara benar.” Si Kong cepat menurunkan pikulannya dan menghampiri kakek itu. “Teecu siap melaksanakan perintah suhu!” katanya dengan suaranya yang selalu bernada gembira dan tegas. “Si Kong, bagian paling sukar dari Thi-khi-i-beng adalah menghentikan tenaga menyedot tenaga sinkang dari luar. Kalau hal itu belum dapat kaulakukan dengan sempurna, engkau dapat membunuh orang tanpa disengaja dan secara mudah karena tenaga sinkang orang itu akan membanjir ke dalam tubuhmu. Jangan sekali-kali mencoba untuk mempergunakan Thi-khi-i-beng kalau engkau belum mampu mengendalikan tenagamu dengan sempurna. Karena itu, sekarang aku akan mengujimu. Aku akan mencengkeram pundakmu. Salurkan Thi-khi-i-beng itu kepundak yang dicengkeram dan tenaga dalamku akan tersedot olehmu melalui pundak yang kucengkeram. Kalau sudah begitu, cobalah engkau cepat-cepat menarik kembali tenagamu agar sinkang dariku tidak tersedot terus.” “Baik, suhu. Akan teecu coba sebaik mungkin!” “Lihat serangan.” Kakek berseru dan secepat kilat, tahu-tahu tangan kirinya sudah mencengkeram pundak kanan Si Kong. Begitu merasa pundaknya dicengkeram, Si Kong segera mengerahkan Thi-khi-i-beng dan tangan kakek itu menempel pada pundaknya, dan ada tenaga sedotan yang besar sekali menyedot tenaga sinkang kakek itu melalui pundak Si Kong. Setelah merasa betapa ada hawa panas memasuki tubuhnya, tahulah Si Kong bahwa ilmunya telah bekerja dengan baik. Dia lalu mengerahkan tenaga untuk menarik kembali tenaga sedotan itu sambil menggerakkan pundaknya sehingga terlepas dari tempelan tangan Ceng Lojin. Ceng Lojin sendiri terhuyung ke belakang dan melihat ini Si Kong cepat menghampirinya. “Suhu baik-baik saja?” Ceng Lojin tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Tidak apa-apa akan tetapi hatiku senang sekali. Engkau telah mampu mengendalikan Thi-khi-i-beng! Itu baik sekali, Si Kong, karena kalau tidak, engkau akan membunuh banyak orang dengan tenaga sedotan Thi-khi-i-beng yang tidak dapat kau hentikan.” Melihat kakek itu agak terengah dan mukanya agak pucat, Si Kong cepat memegang nadi tangan gurunya untuk memeriksa keadaannya. Diaoun terkejut! “Jantung suhu terguncang dan lemah sekali! Suhu harus beristirahat……..!” Kembali Ceng Lojin tersenyum. “Beginilah kalau badan sudah dimakan umur. Tiada yang kekal di dunia ini, juga kekuatan badan. Oleh karena itu selagi badan kuat, engkau harus dapat mempergunakannya demi keadilan dan kebenaran Si Kong. Kalau kelak engkau sudah setua aku, engkaupun akan kehilangan kekuatanmu dan kalau sudah jompo, apa yang dapat kau lakukan?” “Akan tetapi suhu, kesehatan suhu terancam. Suhu tidak boleh mengerahkan tenaga dan harus beristirahat. Saya akan membuatkan obat untuk memperkuat daya tahan tubuh suhu!” Ceng Lojin menggeleng kepala. “Tidak, Si Kong. Pengobatan manusiapun ada batasnya. Badan yang tua tidak dapat dipulihkan kembali. Mengingat keadaanku ini, patut kunasihatkan kepadamu, tengoklah ke atas! Tengoklah keatas dan engkau akan melihat betapa banyaknya orang yang lebih pandai, lebih kaya dan lebih segala-galanya dari pada engkau dan engkau boleh berkata pada dirimu sendiri: enyahlah keangkuhan dan kesombongan! Jangan lupa untuk menengok kebawah! Tengoklah ke bawah dan engkau akan melihat betapa banyaknya orang yang lebih bodoh, lebih miskin dan lebih menderita daripada engkau dan engkau boleh berkata pada dirimu sendiri: pergilah keputus-asaan dan kerendah-dirian! Dengan menengok ke atas dan ke bawah itu, engkau akan selalu merasa bersyukur atas segala karunia Tuhan kepadamu, engkau akan selalu rendah hati dan tidak rendah diri. Engkau akan menjadi seorang manusia yang jauh lebih gagah perkasa kalau engkau mampu menguasai nafsu-nafsu sendiri dari pada kalau engkau mengalahkan seratus orang lawan!” “Teecu akan menyimpan dalam hati dan akan selalu ingat semua nasihat suhu.” Tiba-tiba Si Kong melompat berdiri dan memandang ke arah selatan. Tempat tinggal mereka berada di daratan paling tinggi di pulau itu dan dari situ orang dapat melihat ke empat penjuru yang lebih rendah. Pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara orang dari arah selatan maka dia memandang ke sana penuh perhatian. “Ada orang-orang datang mengunjungi kita.” terengar Ceng Lojin berkata. Ini membuktikan bahwa pendengaran kakek itu masih amat tajam. Si Kong melihat bayangan tujuh orang datang dari pantai pulau dan kini mereka berlari cepat bukan main menuju ke arah tempat dia berdiri, Si Kong dapat melihat jelas betapa cepatnya tujuh orang itu berlari, menunjukkan bahwa mereka tentu bukan orang sembarangan. “Benar suhu, ada tujuh orang datang berkunjung dan mereka menggunakan ilmu berlari cepat tinggi. Mereka tentu orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, suhu.” “Siapapun adanya mereka, mari kita sambut mereka di depan pondok. Setiap orang yang datang berkunjung ke pulau ini adalah tamu yang harus kita hormati, Si Kong.” “Baik, suhu.” Mereka lalu berjalan menuju ke depan pondok dan berdiri dengan sikap tenang menanti datangnya tujuh orang itu. Benar seperti yang dikatakan Si Kong, sebentar saja tujuh orang itu sudah tiba di depan mereka. Pemuda itu terkejut ketika mengenal dua orang diantara mereka, seorang yang kepalanya besar dan botak berpakaian putih dan seorang yang rambutnya panjang sampai kepinggang dan mukanya berambut seperti muka monyet. Mereka itu bukan lain adalah Toa Ok atau Thai-mo-ong dan dan Ji Ok atau Ji-mo-ong, dua orang yang disebut Si Jahat Nomor Satu dan Si Jahat Nomor Dua. Si Kong melihat lima orang yang lain. Mereka adalah lima orang kakek yang usianya sekitar enampuluhan tahun dengan rambut dipotong pendek dan pakaian mereka seperti jubah pendeta. “Ha-ha-ha, kiranya Pendekar Sadis masih hidup dan berada di pulau pertapaannya ini! Dan si bocah setan juga berada disini. Bagus, kami dapat membalas kekalahan kami tempo hari kepada kalian!” kata Toa Ok sambil tertawa-tawa dan menggerakkan tongkat ularnya. “Sekali ini engkau tidak dapat lolos dari tanganku, Pendekar Sadis!” kata Ji Ok sambil mencabut pecutnya. “Pendekar Sadis sudah tidak ada, yang ada ini adalah Ceng Lojin.” kata Ceng Lojin, lalu menghadapi lima orang yang menemani Toa Ok dan Ji Ok itu. “Toa Ok dan Ji Ok agaknya belum jera setelah kekalahannya di Bukit Iblis dahulu, akan tetapi ng-wi (anda berlima) ini siapakah dan ada keperluan apa dengan kami?” “Kami berlima di kenal dengan sebutan Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa Tanpa Tanding) datang dari barat dan kami sahabat Thai-mo-ng dan Ji-mo-ong. Telah puluhan tahunkami mendengar betapa Pendekar Sadis amat sewenang-wenang dan kejam terhadap orang-orang kang-ouw. Akan tetapi karena kami mendengar bahwa Pendekar Sadis sudah mengundurkan diri dan bertapa di Pulau Teratai Merah, tadinya kami juga sudah melupakan dan membiarkan dia bertapa menyesali kekejaman-kekejamannya yang dahulu dia lakukan. Akan tetapi, kami bertemu dengan Thai-mo-ong dan Ji-mo-ong dan mendengar bahwa Pendekar Sadis kembali mencampuri dunia kang-ouw bahkan telah mengalahkan Thai-mo-ong dan Ji-mo-ong, juga melukai mereka. Karena itu, kami berlima mengambil keputusan untuk ikut dengan mereka mengunjungi Pulau Teratai Merah untuk membalaskan roh-roh penasaran dari banyak tokoh kang-ouw yang telah tewas di tangan Pendekar Sadis.” “Siancai……..! Jadi kalian bertujuh ini sengaja datang kesini untuk membunuhku?” “Kami datang kesini untuk menantangmu, Ceng Lojin!” kata Toa Ok. “Mengeroyok? Tujuh lawan satu? Kalian pengecut curang!” kata Si Kong dengan marah. Pemuda itu tahu benar keadaan suhunya yang sedang lemah setelah tadi menguji Thu-khi-i-beng dengannya. Jantungnya berdetak lemah dan suhunya harus beristirahat, sama sekali tidak boleh mengerahkan tenaga sinkang untuk berkelahi, apalagi tujuh lawan satu! “Si Kong, jangan mencampuri. Ini adalah urusan pribadiku!” Ceng Lojin berseru kepada muridnya dengan sikap gagah dan tenang sekali. Kemudian bertanya kepada Toa Ok, “Kalian bertujuh menantangku untuk mengeroyokku?” “Ha-ha-ha, aku pernah mendengar bahwa dalam menghadapi lawan, Pendekar Sadis tidak pernah menanyakan dikeroyok atau tidak. memang kami bertujuh hendak maju bersama melawanmu, akan tetapi kalau engkau takut, kami memberi pengampunan dan memperbolehkan engkau membunuh dirimu di depan kami!” Si Kong marah sekali mendengar ini. “Aturan apa itu? Memberi pengampunan dengan jalan menyuruh orang membunuh diri!” “Hemm, seumur hidupku belum pernah aku menolak tantangan dari siapapun juga. Nah, kalian boleh maju bersama!” kata Ceng Lojin dan dia berdiri dengan sikap penuh wibawa, sedikitpun tidak terdapat bayangan rasa takut pada wajah dan sikapnya. “Tidak tahu malu! Mengeroyok seorang yang sudah tua dan tidak bersenjata dengan tujuh orang dan kesemuanya bersenjata!” teriak lagi Si Kong yang tidak dapat menahan kemarahannya. Merah juga wajah tujuh orang itu. Mereka adalah datuk-datuk besar yang terkenal di dunia kang-ouw. Lima orang yang menyebut diri mereka Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa Tanpa Tanding) itu adalah bekas pendeta-pendeta Lama jubah hitam yang terusir keluar dari negara mereka karena telah melakukan penyelewengan. Mereka lari ke timur dan sebentar sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw karena kepandaian mereka yang tingi. Mereka adalah kenalan Toa Ok dan Ji Ok, maka dengan senang hati mereka membantu dua orang sahabat ini menghadapi Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah. Ucapan pemuda ini memang menampar harga diri mereka. “Pendekar Sadis, mengingat bahwa engkau sudah tua renta, maka kami akan menghadapimu tanpa senjata. Lihat, kutinggalkan tongkatku disini!” kata Toa Ok sambil menancapkan tongkatnya ke atas tanah. Ji Ok menyimpan kembali pecutnya yang dilingkarkan di pinggang menjadi sabuk. Melihat ini, Bu-tek Ngo-sian yang membawa pedang di punggung masing-masing juga tidak mencabut senjata mereka. “Bagus! Kiranya kalian masih memiliki sifat jantan. Nah, mulailah dengan usahamu untuk membunuh orangtua seperti aku!” kata Ceng Lojin. Si Kong tadi sengaja mengejek begitu untuk menolong suhunya. Kalau mereka menggunakan senjata, gurunya terpaksa harus menggunakan kecepatan dan tenaga sinkang danhal ini amat berbahaya bagi keselamatan suhunya yang sedang lemah. Akan tetapi kalau mereka tidak bersenjata, dia mengharapkan suhunya akan mampu mengalahkan mereka dengan Thi-khi-i-beng. Ceng Lojin memaklumi akal muridnya ini dan diapun tersenyum. Dia mengerti bahwa kondidi tubuhnya tidak memungkinkan dia untuk bertahan dalam pertandingan yang lama. Dia harus mampu mengalahkan tujuh orang lawannya secepat mungkin atau dia akan tewas ditangan mereka. Akan tetapi bagaimana mungkin dia dapata mengalahkan mereka yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi sebagai datuk persilatan itu? Tidak lain hanya dnegan Thi-khi-i-beng! Akan tetapi kalau dia membiarkan tenaga sinkang ketujuh orang itu membanjiri dalam dirinya, tubuhnya yang sudah lemah itupun tidak akan kuat bertahan. Diam-diam Ceng Lojin yang sudah banyak sekali pengalamannya bertanding ini mencari akal agar dapat menangkan pertandingan dalam waktu secepat mungkin dengan menggunakan tenaga sedikit mungkin. Toa Ok dan Ji Ok memelopori mengeroyok itu. Mereka maju bersama dan menyerang dengan pukulan mereka yang cepat dan kuat. Toa Ok mencengkeram ke arah pundak kiri Ceng Lojin, sedangkan Ji Ok menghantamkan tangan kanannya dengan jari terbuka ke arah perutnya. Ceng Lojin tidak berani mengerahkan tenaga sinkang untuk menangkis, melainkan mengerahkan Thi-khi-i-beng untuk menerima dua macam serangan ini. Dengan sedikit miringkan tubuhnya, dia menerima cengkeraman di pundaknya itu dan pukulan Ji Ok bukan menghantam perut, akan tetapi mengenai lambungnya. “Plak!plak!” Tangan kanan Toa Ok yang mencengkeram pundak bertemu dengan pundak yang lunak, demikian pula tangan kanan Ji Ok yang menghantam lambung. Mereka berdua terkejut sekali, akan tetapi ketika mereka hendak menarik kembali tangan mereka, tangan itu sudah melekat pada pundak dan lambung Ceng Lojin. Sebelum hilang rasa kaget mereka, kedua orang datuk itu menjadi terkejut bukan main ketika merasa betapa tenaga sinkang mereka melalui tangan yang melekat di tubuh orang tua itu membobot keluar seperti disedot oleh tenaga yang tidak dapat mereka lawan! Mereka cepat berusaha mencegah, akan tetapi mereka tidak mampu menahan tenaga sinkang yang membanjir keluar itu. Selagi mereka terkejut dan menarik-narik tangan mereka, saat itu dipergunakan oleh Ceng Lojin untuk memukul mereka dengan ilmu silat Hok-liong Sin-ciang. “Dess…….! Dess….!” Toa Ok dan Ji Ok terpental ke belakang dan terhuyung-huyung. Mereka tahu bahwa mereka telah terluka dalam. Pada saat itu, lima orang Bu-tek Ngo-sian sudah berloncatan ke depan dan menerkam Ceng Lojin dengan serangan tangan mereka. Ilmu kepandaian kelima orang bekas Lama ini setingkat dengan ilmu kepandaian Toa Ok dan Ji Ok, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ketika mereka berlima maju untuk menyerang dengan pukulan mereka yang ampuh dan mengandung tenaga sinkang kuat! Akan tetapi alangkkah terkejut rasa hati mereka ketika semua pukulan mereka itu tidak dielakkan maupun ditangkis oleh kakek tua renta itu, melainkan diterima begitu saja dan mereka merasakan tubuh yang lunak menerima pukulan mereka. Kekagetan hati mereka bertambah ketika mereka merasakan tangan mereka melekat di tubuh kakek itu dan tenaga sinkang mereka membanjir keluar dari tubuh mereka melalui tangan yang menempel pada tubuh itu! Mereka menarik-narik tangan mereka sambil mengerahkan sinkang, akan tetapi makin kuat mereka mengerahkan sinkang, makin kuat pula tangan itu menempel pada tubuh Ceng Lojin dan semakin besar tenaga sinkang mereka membanjir keluar! Sementara itu Ceng Lojin tidak tinggal diam. Melihat mereka semua sedang kebingungan, dia mainkan Hok-liong Sin-cing, memukul lima orang itu sehingga mereka semua terpental satu-satu dan terhuyung-huyung! Ceng Lojin berdiri tegak dan penuh wibawa memandang kepada tujuh orang lawannya yang sudah diberi satu kali pukulan dan yang kini mencoba untuk bangkit berdiri. Pukulan yang hanya satu kali itu telah membuat mereka terluka dalam. Kini mereka bertujuh memandang kepada Ceng Lojin dengan mata terbelalak, jelas nampak keraguan dan ketakutan membayang pada wajah mereka. Melihat betapa gurunya dalam keadaan sedang lemah itu mampu merobohkan tujuh orang pengeroyoknya dalam segebrakan saja, Si Kong merasa kagum dan bangga, akan tetapi juga merasa khawatir sekali. Suhunya telah menggunakan Thi-khi-i-beng,hal itu tidak mengapa karena penggunaan ilmu ini tidak perlu mengerahkan tenaga sinkang, akan tetapi ketika suhunya memukul roboh tujuh orang itu dengan ilmu Hok-liong Sin-ciang, jelas bahwa suhunya telah mengerahkan tenaga sinkangnya dan hal ini amat berbahaya bagi jantung suhunya yang sudah amat lemah itu. Melihat tujuh orang itu sudah bangkit kembali, Si Kong khawatir kalau-kalu mereka menggunakan senjata untuk mengeroyok suhunya lagi, maka diapun menyambar sebatang tongkat bambu dan dengan gerakan yang cepat bagaikankilat dia sudah meloncat ke dapn tujuh orang itu. Dia melintangkan tongkatnya di depan dada dan membentak dengan pengerahan khikang sehingga suaranya terdengar mengguntur penuh wibawa. “Suhu sudah mengampuni kalian dan tidak menggunakan pukulan maut, apakah kalian masih juga belum jera dan minta mati?’ Tujuh orang itu memang tadi sudah terkejut sekali menyaksikan kelihaian Pendekar Sadis yang kini telah menjadi kakek tua renta itu. Mereka sudah merasa jerih menghadapi kakek ini. Kini, melihat gerakan Si Kong yang demikian tangkas dan kokoh kuat, sedikit keberanian mereka untuk tetap menyerang dengan senjata menjadi buyar dan Toa Ok berseru, “Mari kita pergi!” Tujuh orang itu melarikan diri dengan agak terhuyung karena mereka semua menderita luka dalam. Si Kong memandang sampai bayangan mereka lenyap ke dalam sebuah perahu yang tadi mereka daratkan dan dia memutar tubuhnya dengan cepat ketika mendengar suara rintihan suhunya. Begitu dia memutar tubuh, dia melihat suhunya terhuyung dan cepat dia meloncat dan menahan tubuh suhunya yang sudah terguling roboh. Di lain saat kakek itu sudah jatuh pingsan dalam rangkulan Si Kong. Si Kong cepat memondong tubuh suhunya. Betapa riangannya tubuh suhunya dan baru Si Kong teringat bahwa suhunya sudah amat tua dan tubuhnya kurus sekali. Dengan hati terharu dan khawatir dia merebahkan suhunya di atas pembaringan dan cepat melakukan pemeriksaan. Ternyata detak jantung suhunya itu lemah sekali, bahkan hampir berhenti! Si Kong terkejut dan memeriksa pernapasan suhunya. Juga amat lemah dan terengah-engah. Hampir Si Kong menangis. Dengan pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, tahulah dia bahwa keadaan gurunya gawat sekali dan tidak mungkin tertolong lagi. Suhunya telah menggunakan seluruh sisa daya tahannya untuk mengerahkan sinkang dan kini telah kehabisan tenaga sama sekali. Suhunya tidak mengalami luka dalam, akan tetapi karena keadaan tubuhnya yang tua itu lemah sekali, maka penggunaan tenaga sinkang itu menghabiskan daya tahannya. Si Kong lalu menggunakan kedua telapak tangannya ditempelkan kedada gurunya dan mengerahkan sinkangnya untuk membantu suhunya agar jantungnya dapat bekerja kembali. Hawa hangat yang mengalir keluar dari kedua telapak tangannya, memasuki tubuh tua itu dan tak lama kemudian suhunya membuka matanya, memandang kepada Si Kong dan tersenyum! “Suhu…….!” kata Si Kong, terharu melihat betapa dalam keadaan seperti itu suhunya masih dapat tersenyum sedemikian cerahnya! “Si Kong……. aku……. telah kalah………” katanya lirih, suaranya sukar sekali keluar dari kerongkongannya. “Tidak, suhu! Suhu telah berhasil mengusir tujuh iblis itu dari sini!” kata Si Kong menghibur suhunya. “He-he…… mengahadapi tujuh iblis kecil itu……. aku tidak pernah kalah……., akan tetapi aku harus menyerah kalah….. terhadap usiaku…….” “Suhu, teecu akan merawat dan mengobati suhu sekuat dan semampu teecu.” Kakek itu menggeleng kepalanya. “Akan sia-sia saja, Si Kong…… dan engkau juga sudah tahu akan hal itu…….. ilmu perngobatanmu juga tidak berdaya melawan serangan usia tua….! Kematian adalah hal yang wajar, merupakan kelanjutan daripada kehidupan….. maka tidak perlu disesalkan…..” Pada saat itu, Si Kong mendengar gerakan di luar pondok. Cepat sekali tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat keluar karena dia khawatir kalau-kalau para musuh itu datang lagi. Akan tetapi begitu tiba di luar pondok, dia terbelalak dan jangtungnya berdebar tegang dan bingung. Sama sekali bukan para iblis tadi yang datang, melainkan seorang gadis yang jelita dan manis sekali. Gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun, kulit mukanya putih kemerahan tanpa bedak dan yanci (pemerah kulit), tubuhnya langsing sekali, pinggangnya kecil, dada dan pinggulnya membusung. Pakaiannya serba merah muda dan di punggungnya terdapat sepasang pedang. Si Kong menatap wajah itu. manis sekali dengan dahinya yang dihias anak-anak rambut yang gemulai, alis yang kecil panjang hitam seperti dilukis. Sepasang matanya begitu tajam bersinar-sinar seperti bintang kejora. Hidungnya kecil mancung, serasi sekali dengan mulutnya yang tersenyum mengejek dengan bibir yang merah basah. Dagunya runcing membuat muka itu berbentuk bulat telur. Karena tidak mengira sama sekali, bahwa dia akan berhadapan dengan seorang gadis yang demikian cantik jelitanya, Si Kong sampai tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itupun terkejut ketika melihatnya berkelebat secepat itu, akan tetapi ia segera berkata, “Ah, engkau tentu yang bernama Si Kong, murid dari kakek buyut itu!” Si Kong juga terkejut. Gadis ini menyebut suhunya kakek buyut! Dia sudah mengenal cucu gurunya, wanita perkasa yang menjadi ketua Cin-ling-pai itu bersama suaminya yang gagah perkasa. Gadis ini tentu puteri mereka. “Nona….. siapakah……?” tanyanya dengan ragu. Pada saat itu terdengar suara pria yang nyaring bergema, “Hui Lan, apakah engkau sudah bertemu dengan kakek buyutmu?” Baru saja suaranya terhenti, orang sudah muncul di situ. Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih bersama seorang wanita berusia empatpuluh delapan tahun. Melihat mereka, Si Kong segera memberi hormat. Biarpun dia murid kakek mereka, akan tetapi karena usianya jauh lebih muda, dia menyebut paman dan bibi kepada mereka. Hal inipun sudah diseteujui oleh gurunya agar tidak menempatkan Si Kong dalam kedudukan yang terlalu tinggi. “Si Kong, bagaimana dengan kong-kong? Di mana dia?” tanya Cia Kui Hong kepada pemuda itu. “Paman dan bibi, suhu berada dalam keadaan yang gawat. Silakan ji-wi (anda berdua) masuk. Suhu berada di dalam kamarnya.” Mendengar ini, Tang Hay dan Cia Kui Hong terkejut dan cepat mereka masuk, diikuti oleh puteri mereka Tang Hui Lan. Si Kong mengikuti dari belakang. “Kong-kong…..!” Cia Kui Hong berseru dan cepat berlututdi dekat pembaringan. “Kong-kong, bagaimana keadaanmu?” Tang Hay juga berlutut. Suami isteri ini memeriksa denyut nadi tangan kakek itu dan mereka terkejut bukan main. Denyut itu sebentar terasa sebentar tidak. kakek mereka dalam keadaan yang gawat sekali, bahkan dalam sekarat! Kakek itu yang tadinya telah memejamkan kedua matanya, mendengar suara mereka dan membuka kembali kedua matanya. Dia memandang kepada cucu, cucu mantu, lalu cucu buyutnya. Senyumnya mengembang lagi di mulutnya. “Beruntung sekali….. kalian datang……. Hampir terlambat…..” “Kakek kenapa?” tanya Kui Hong dengan gugup, lalu berkata kepada suaminya, “Cepat keluarkan batu giok mustika itu untuk mengobati kakek!” Tang Hay mengeluarkan sebuah batu giok yang tadinya disimpan di dalam saku bajunya, “Si Kong, minta air minum……., cepat!” Si Kong tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya, akan tetapi dia tidak membantah dan cepat menuangkan semangkuk air teh dan menyerahkannya kepada Tang Hay. Pendekar ini lalu memasukkan batu gioknya ke dalam air teh, dibantu oleh isterinya, memberikan obat itu untuk di minum Ceng Lojin. Kakek itu meminumnya sedikit, lalu berkata lemah, “Tidak ada gunanya……. lagi…… tidak ada obat….. bagi penyakit usia lanjut…. kalau dapat di obati…… tentu Si Kong……. telah menyembuhkanku……..” Baru Tang Hay dan Cia Kui Hong teringat bahwa Si kong pernah mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai. Kui Hong segera bertanya kepada Si Kong, “Bagaimana keadaannya?” “Keadaannya gawat, tidak dapat diobati lagi. Jantungnya sudah terlalu lemah dan paru-parunya juga tidak bekerja dengan baik, sudah terlalu lemah. Saya sudah berbuat semampu saya, akan tetapi tidak dapat menolongnya, bibi. Di saat dalam keadaan lemah sekali, suhu telah mengeluarkan sisa tenaganya untuk memukul tujuh iblis itu, dan inilah yang menghabiskan tenaganya dan membuat semakin lemah.” “Tujuh iblis? Apa yang terjadi? Siapa mereka itu?” tanya Kui Hong dengan cepat dan penasaran. “Tanpa diduga-duga mereka datang, Toa Ok dan Ji Ok. Ji Ok dan mereka berlima yang menyebut diri Bu-tek Ngo-sian. Mereka mengeroyok suhu.” “Kenapa engkau tidak membantu suhu?” tanya Tang Hay dengan suara mengandung teguran. Si Kong menghela napas panjang. “Suhu terlalu gagah, terlalu jantan untuk mengelak dari tantangan mereka. Suhu tidak membolehkan saya turun tangan dan suhu menghadapi mereka sendiri. Suhu berhasil memukul mereka satu demi satu dan mereka melarikan diri, akan tetapi suhu telah menggunakan seluruh sisa tenaganya. Saya tidak berani membantah perintah suhu……” “Akan tetapi kalau engkau sudah mengetahui keadaan kong-kong lemah, seharusnya engkau mencegah dia menghadapi keroyokan lawan!” Kui Hong berkata dengan nada marah. Wanita ini belum kehilangan watak kerasnya. Apa lagi ia memang ada sedikit perasaan iri terhadap Si Kong yang mewarisi ilmu kong-kongnya. “Sudahlah…..” terdengar Ceng Lojin berkata. “Aku puas…. dapat mengusir mereka…… aku akan menyesal kalau…… Si Kong membantuku…. aku girang dapat mati…… sebagai orang gagah….. bukan musuh yang membunuhku……. melainkan usia tua…… jangan marahi Si Kong….. dia anak baik……. Kui Hong cucuku….. aku sudah pesan kepada Si Kong….. untuk mengubur aku…. dekat makam nenekmu….” Kakek itu terengah, mengambil napas panjang beberapa kali lalu terkulai, mati. “Kong-kong….” Cia Kui Hong menubruk kakeknya yang sudah tak bernyawa lagi itu sambil menangis. Tang Hay menepuk lembut pundak isterinya. “Kong-kong sudah wafat, tidak ada gunanya ditangisi lagi.” Si Kong merasa dunia seperti kiamat. Ceng Lojin merupakan satu-satunya orang di dunia yang mengasihinya dan sudah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya, juga pengganti dua orang gurunya yang sudah meninggalkannya. Selama empat tahun dia hidup berdua dengan kakek itu di Pulau Teratai Merah dan kini kakek itu juga meninggalkan dirinya, untuk selamanya. Akan tetapi, di depan keluarga itu, dia menahan untuk tidak menangis. Tangisnya hanya di dalam dada, dan dia menggigit sendiri bibirnya yang bawah sehingga berdarah dan lecet. Dia hanya berlutut dan memberi hormat ke arah jenazah suhunya sambil menangis menguguk di dalam hatinya. Lehernya seprti tercekik rasanya dan matanya terasa panas karena menahan runtuhnya air matanya. Pemakaman jenazah Ceng Lojin dilakukan dengan sederhana sekali karena tidak tersedianya alat-alat sembahyang dan perkabungan. Si Kong menggali lubang kuburan di samping makam isteri Ceng Lojin, dibantu oleh Tang Hay. Sebuah peti mati sederhana dibuat sendiri oleh Si Kong, dari kayu pohon di pulau itu. kemudian jenazah di kubur dengan dihadiri hanya oleh empat orang itu. kembali Kui Hong menangis sedih. Kakeknya adalah seorang pendekar besar yang namanya dihormati oleh semua tokoh dunia persilatan, akan tetapi kakeknya meninggal dan dikubur tanpa dihadiri banyak keluarga dan handai taulan. Padahal kalau kakeknya itu meninggal dunia di kota atau bahkan di dusun yang tidak terpencil seperti di Pulau Teratai Merah, ia yakin kematiannya tentu akan dilayat oleh banyak sekali orang, termasuk ketua dari perguruan besar di empat penjuru. Keluarga Ceng Lojin jauh hari sudah menyadari akan hal ini, akan tetapi semua usaha mereka untuk membujuk Ceng Lojin agar mau pindah dan tinggal bersama mereka di daratan besar, percuma saja karena Ceng Lojin berkukuh untuk tinggal di pulau itu sampai hari akhir dan ingin dimakamkan di dekat makam isterinya. Setelah penguburan selesai, Si Kong tidak mau meninggalkan kuburan suhunya. Tang Hay dan Cia Kui Hong membujuknya, akan tetapi dia tetap tidak mau pergi dari depan makam suhunya dimana dia berlutut. “Gurumu sudah meninggal dunia dengan tenang, tidak perlu disesalkan dan disedihi lagi, Si kong.” kata Tang Hay. “Maaf, paman. Saya masih ingin merawat kuburan ini, dan belum dapat meninggalkannya. Saya persilakan paman dan bibi dan adik ini untuk kembali dulu keruamh. Disana terdapat bahan-bahan sayuran dan juga beras untuk dimasak, kalau paman sekalian menghendaki makan.” Kata Si Kong berkeras. Terpaksa Tang Hay, Cia Kui Hong dan Tang Hui Lan meninggalkan pemuda itu untuk kembali kepondok. Akan tetapi sampai sore pemuda itu belum juga kembali. “Anak itu amat mencinta kong-kong.” kata Kui Hong. Suaminya mengangguk. “Aku tahu bahwa di dalam hatinya dia amat kehilangan dan berduka, akan tetapi semua itu disimpannya dalam hati saja. Anak yang kuat hati.” “Ibu, sejak pagi dia berada di makam, tidak makan tidak minum, tentu dia kelaparan.” Kata Hui Lan. Kui Hong merasa kasihan juga. Akan tetapi ia merasa tidak enak kalau sebagai seorang tua ia harus mengirimkan makanan untuk pemuda itu. “Kau saja, Lan Lan. Bawa nasi dan sayuran serta minumnya, antarkan kepadanya. Cepat sebelum hari menjadi gelap. Kalau dapat, ajak dia pulang kesini.” “Baik, ibu.” Kata Hui Lan yang biasa di panggil Lan Lan oleh ayah ibunya. Gadis ini segera mengambil makanan dan minuman ke dalam mangkok dan guci, memasukkannya ke dalam keranjang dan berangkatlah ia ke makam yang berada di bagian pulau itu yang agak membukit. Ketika tiba di makam, ia melihat Si Kong masih berlutut di depan makam dan ia mendengar pemuda itu bicara seorang diri sambil berlutut. “Budi suhu setinggi langit sedalam lautan, selama ini suhu begitu baik kepada teecu, akan tetapi sedikitpun teecu belum dapat membalas budi suhu. Apa yang harus teecu lakukan untuk membalas budi kebaikan suhu?’ katanya dengan isak tertahan. Demikin dalam Si Kong tenggelam dalam lautan duka sehingga dia tidak mendengar kedatangan Hui Lan, padahal pendengarannya sudah peka dan tajam sekali. “Kalau hendak membalas budi kong-kong, engkau harus makan minum agar tidak jatuh sakit.” kata gadis itu. Si Kong menengok dan melihat Hui Lan, dia berkata, “Ah, kiranya engkau, nona.” “Aku bukan nona, namaku Hui Lan, biasa di panggil Lan Lan.” gadis itu mencela. “Maafkan aku, nona Hui Lan….” “Engkau adalah murid kong-couw, pantasnya aku menyebut sukong (kakek guru) kepadamu dan engkau menyebut namaku begitu saja. Akan tetapi karena engkau masih muda, tidak pantas menjadi sukong (kakek guru), maka biarlah aku memanggil namamu begitu saja. Dan engkau jangan menyebut nona Hui Lan kepadaku. Apa kata orang nanti kalau aku membiarkan kakek-guruku sendiri menyebut nona kepadaku? Sebut saja namaku atau aku tidak akan mau menjawab sama sekali.” Si Kong menghela napas. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini. Selama ini dia belum pernah bergaul dengan seorang gadis, apalagi yang begini lincah dan pandai bicara seperti gadis ini. “Baiklah, Hui Lan. Kalau aku boleh bertanya, kenapa engkau berada disini? Hari sudah hampir gelap, kembalilah kerumah, nanti orangtuamu mencarimu dengan khawatir.” “Ihh! Kaukira aku ini anak kecil yang masih di asuh oleh orang tuaku? Aku sudah pandai menjaga diri, orang tuaku tidak akan mengkhawatirkan diriku. Pula, aku kesini karena disuruh oleh ibuku.” “Disuruh oleh bibi? Disuruh apakah, nona… eh, Hui Lan?” “Disuruh mengantarkan makanan dan minuman untukmu. Nah, inilah makanan dan minumannya. Cepat kaumakan dan minum agar tidak kelaparan.” “Akan tetapi aku tidak lapar maupun haus!” “Bohong! Bagaimana mungkin tidak lapar dan haus kalau sejak pagi engkau belum makan dan minum? Hayolah makan dan minum, sudah susah-susah ibu memasak untukmu dan aku mengantarkannya kesini untukmu.” Si Kong menjadi tidak enak hatinya kalau terus menolak. Dia lalu minum seteguk dari guci, akan tetapi ketika hendak makan, lehernya seperti dicekik rasanya. Dia mendorong makanan itu jauh-jauh dan berkata, “Hui Lan, aku benar-benar tidak sanggup makan. Suhu baru saja meninggal dunia, bagaimana aku dapat makan?” Melihat wajah yang penuuh duka itu Hui Lan merasa kasihan juga. “Sudahlah kalau engkau tidak mau makan, akupun tidak akan membawanya kembali. Biar disini saja, kalau engkau sudah merasa lapar, boleh kau makan. Akan tetapi, Si Kong. kenapa engkau tenggelam dalam kedukaan yang berlarut-larut? Apakah arwah kong-couw (kakek buyut) akan senang kalau melihat engkau menyiksa diri begini di depan makamnya?” “Bagaimana aku tidak akan berduka Hui Lan? Suhu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangku dan kusayangi. Setelah dia meninggal dunia, aku kehilangan segala-galanya sebatang kara aku di dunia ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa.” Si Kong menunduk agar tidak nampak kesedihan yang membayang di wajahnya. Hui Lan merasa tersentuh hatinya dan dia merasa kasihan. “Engkau memang seorang murid yang baik, Si Kong. Pantas saja kong-couw merasa amat sayang kepadamu, dan menurut ibuku, kong-couw mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya kepadamu.” “Ah, ilmu kepandaian suhu tidak ada batasnya. Bagaimana mungkin aku dapat mempelajari semua?” “Akan tetapi menurut ibu, engkau telah mewarisi ilmu-ilmu yang paling tinggi. kita sealiran, dan biarpun engkau ini termasuk kakek guruku, sekali-kali aku ingin mengajakmu berlatih silat. Sayang engkau masih tenggelam ke dalam duka, kalau tidak, sekarang juga aku ingin mencoba ilmumu.” Si Kong yang tadinya sudah berdiri, kembali menjatuhkan diri berlutut di depan makam. “Hui Lan, kasihanilah aku. Tinggalkan aku sendiri di depan makam suhuku yang tercinta.” “Hemm, baiklah. Akan tetapi kalau engkau benar-benar mencintai kong-couw, seharusnya engkau mencari tujuh iblis itu.” “Akan tetapi mereka tidak membunuh suhu. Mereka bahkan sudah dikalahkan oleh suhu.” “Kematian kong-couw adalah karena bertempur dengan mereka. Itu artinya mereka yang menyebabkan kematian kong-couw. Kalau engkau tidak berani menuntut balas, akulah yang kelak akan mencar mereka dan membalas kematian kong-couw!” Si Kong terkejut sekali, “Hui Lan. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Apalahi kalau mereka maju semua, amat berbahaya dan sukar ditandingi.” “Kau takut? Hemm, aku tidak! Kami keluarga Cin-ling-pai tidak pernah merasa takut menghadapi penjahat yang bagaimana lihai sekalipun!” setelah berkata demikian, Hui Lan meloncat dan meninggalkan Si Kong seorang diri. Dia termenung. Semua kata-kata gadis itu terngiang dalam telinganya. Dan karena pikirannya dipenuhi ucapan-ucapan Hui Lan, dia tidak merasa bahwa saat seperti itu semua duka lenyap dan tidak terasa lagi olehnya! Duka disebabkan oleh ulah pikiran. Pikiran mengunyah-ngunyah semua kenangan seperti mengunyah makanan pahit. Makin dikunyah makin terasa pahitnya. Akan tetapi yang amat mengkhawatirkan pikirannya adalah ucapan Hui Lan bahwa gadis itu hendak mencari tujuh orang iblis itu untuk membalas dendam. Gadis itu tentu akan celaka kalau bertemu dengan mereka. Setelah tiga hari tiga malam berpuasa, pada hari keempat Tang Hay dan Cia Kui Hong sendiri mencari Si Kong di makam. Mereka berdua membujuk dan menasihati dan barulah Si Kong mau makan dan minum sekedarnya. “Kami bertiga akan pulang ke Cin-ling-san,” kata Tang Hay. “Apakah engkau akan ikut kami?” Si Kong menggeleng kepala. “Terima kasih, paman. Saya tidak akan pergi meninggalkan pulau ini sebelum seratus hari.” “Hemm, mengapa begitu?” “Saya tidak tega kepada suhu. Saya akan merawat makamnya dan setelah seratus hari baru saya akan meninggalkan tempatini.” “Kemana engkau hendak pergi?” tanya Cia Kui Hong. “Tidak tahu, bibi. Mungkin kembali ke dusun. Di sana masih ada seorang enciku yang telah menikah. Atau saya akan merantau kemana saja, bagaimana nanti sajalah.” “Engkau akan berkelana?” tanya Tang Hay, teringat akan dirinya sendiri ketika masih muda dan suka berkelana. Si Kong mengangguk. “Terserah kepadamulah. Akan tetapi jangan engkau lupa, Si Kong, bahwa setelah engkau menerima ilmu-ilmu dari kakek, berarti engkau mempunyai tanggung jawab besar dan tugas yang berat. Engkau harus menjadi seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan, dan memperjuangkan kebenaran dan keadilan menggunakan ilmu itu. Pekerjaan seorang pendekar banyak resikonya, Si Kong, karena dunia kang-ouw terdapat banyak penjahat yang selain ilmunya lihai, juga amat licik dan curang penuh tipu daya. Engkau harus berhati-hati sekali.” “Saya akan selalu ingat nasihat paman. Dan saya mohon paman dan bibi suka menasihati adik Hui Lan.” “Kenapa ia?” tanya Kui Hong sambil menoleh kepada puterinya. Gadis ini mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada Si Kong. “Ia pernah mengatakan kepada saya bahwa ia hendak mencari tujuh iblis yang datang ke pulau ini. Saya merasa khawatir sekali, paman, karena tujuh orang iblis itu amat lihai dan saya khawatir kalau-kalau adik Hui Lan celaka di tangan mereka.” ”Hui Lan, bernarkah engkau hendak mencari tujuh orang iblis itu? Jangan lancang, Lan Lan. Kau kira mudah melawan mereka? Sedangkan kakek buyutny sendiri sampai menderita ketika bertanding melawan mereka.” tegur Tang Hay kepada puterinya. “Ayah, Si Kong tidak berani mencari mereka untuk menuntut balas atas kematian kong-couw, maka akulah yang berani!” jawab gadis itu. “Jangan sembarangan engkau, Lan Lan. Berundinglah dulu dengan kami kalau engkau hendak mencari mereka!” kata Cia Kui Hong dan Lan Lan hanya cemberut saja. Pada hari itu juga, Tang Hay dan anak isterinya meninggalkan Pulau Teratai Merah, meninggalkan Si Kong yang masih menjaga makam suhunya. Si Kong benar-benar menjaga tempat itu sampai seratus hari. Dia hanya mencari makanan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar lagi. Setelah seratus hari, barulah dia berkemas, membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan Pulau teratai Merah dengan sebuah perahu kecil. Wajahnya nampak agak kurus karena selama seratus hari itu dia kurang makan. Akan tetapi hatinya kini sudah tenang dan dapat menerima keadaan yang menimpa dirinya. Dia mulai dengan niatnya berkelana di dunia bebas, mencari pengalaman hidup. Tidak ada uang sekepingpun di sakunya. Yang dibawanya hanyalah beberapa potong pakaian, sebuah tongkat bambu dan perahu kasar serta dayung perahunya. *** Kota Sui-yangmerupakan kota yang cukup besar dan ramai karena letaknya yang dekat dengan sungai Yang-ce-kiang. Perdagangan di kota itu ramai dilakukan orang melalui pelabuhan di kota itu. banyak pula pedagang yang datang maupun singgah di Sui-yang sehingga kota itu mempunyai banyak rumah penginapan dan rumah makan yang besar-besar. Satu diantara rumah makan yang besar adalah rumah makan Hok-lai, sebuah rumah makan yang dapat menampung lebih dari seratus tamu. Dan dibagian belakang rumah ini terdapat bangunan dengan loteng yang dipergunakan sebagai rumah penginapan pula. Untuk rumah makan dan rumah penginapan sebesar itu tentu saja diperlukan tenaga pelayan yang banyak jumlahnya. Siang itu rumah makan dan penginapan Hok-lai telah sibuk sekali, terutama dirumah makan. Yang makan di sini bukan saja tamu-tamu sendiri, akan tetapi juga banyak tamu dari luar yang tidak menginap di situ dan penduduk Sui-yang sendiri karena rumah makan Sui-yang terkenal dengan masakannya yang lezat. Para pelayan rumah makan itu sangat sibuk melayani para tamu yang memenuhi tempat itu. Suasana menjadi ramai sekali. Para tamu saling bercakap sendiri dan bahkan ada orang yang berteriak memanggil pelayan. Seorang pelayan yang bertubuh kecil dengan gesitnya melayani para tamu dan ketika dia membawa sebuah baki yang terisi beberapa macam masakan, tanpa disengaja gerakannya menyenggol pundak seorang tamu. Air kuwah panas memercik dari mangkok di atas bakinya dan kuwah itu mengenai sepatu tamu yang di tabraknya. Tamu itu menjadi marah sekali, apalagi ketika teman-teman semejanya, mereka semua berempat, mentertawakannya. Ketika pelayan itu kembali dai mengantarkan masakan dan lewat di dekat meja itu, tiba-tiba saja leher bajunya sudah dicengkeram oleh tamu itu. “Jahanam, kau taruh dimana matamu? Enak saja menabrak orang dan menyiram sepatuku dengan kuah panas!” Pelayan itu masih ingat akan peristiwa tadi, maka dengan cepat dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dadanya. “Harap kongcu mengampuni saya. Saya tidak sengaja…..” “Plak-plak-plak Tiga kali muka pelayan itu di gampar oleh pemuda itu. Gamparannya sangat keras sehingga pipi pelayan itu menjadi merah membiru dan membengkak. “Ampun, kongcu…..!” pelayan itu merintih dan meraba kedua pipinya. “Hayo cepat bersihkan sepatu ini!” bentak si pemuda. Pelayan itu membungkuk dan menggunakan kain lapnya untuk membersihkan sepatu yang tadi terkena kuah panas. “Pergunakan bajumu itu! Hayo cepat, yang bersih!” Pelayan itu menurut karena takut di pukul lagi. Pengurus rumah makan segera datang dan dia mintakan maaf untuk pegawainya. Pemuda itu dengan sombong lalu menendang si pelayan sehingga terjengkang. Pelayan itu cepat merangkak bangun dan meninggalkan pemuda yang sudah mereda kemarahannya itu. Tiga orang temannya kembali menggodanya sabil tertawa-tawa. Para tamu yang menjadi penduduk Sui-yang mengenal empat orang pemuda ini yang memang merupakan orang-orang yang suka mencari perkara dan suka mempergunakan kekerasan kepada orang lain. Karena itu, ketika terjadi pemukulan terhadap si pelayan, tidak ada orang yang berani melerai. Pemuda-pemuda kasar itu suka main keroyokan dan mereka memiliki ilmu silat yang lihai. Seorang di antara para pelayan ituada seorang yang masih muda, bertubuh tinggi tegap dan bersikap sederhana. Pelayan ini merupakan pelayan baru. Baru seminggu dia bekerja di situ sebagai pelayan. Ketika terjadi pemukulan terhadap pelayan bertubuh kecil kurus itu, pelayan ini memandang dan sinae matanya berkilat. Akan tetapi dia masih menahan diri, apalagi melihat bahwa pengurus rumah makan telah turun tangan memintakan maaf sehingga urusan itu dapat selesai. Pelayan baru ini adalah bukan lain adalah Si Kong! dalam perantauannya, dia mengambil keputusan untuk kembali ke dusun tempat tinggal mendiang orang tuanya. Dia ingin sekali bertemu dengan Si Kiok Hwa encinya yang menjadi selir hartawan Lui di dusun Ki-ceng. Dia dapat menduga bahwa encinya kini tentu telah menjadi janda. Ketika dia pergi meninggalkan dusunnya, sepuluh tahun yang lalu encinya itu menikah dengan Hartawan Lui yang berusia tujuh puluh tahun. Dalam perjalanan menuju ke dusun Ki-ceng, ketika tiba di Sui-yant, Si Kong singgah dan mencari pekerjaan di kota besar ini. Dia tidak ingin berkunjung dan bertemu dengan encinya tanpa sekepingpun uang disakunya. Dia ingin bekerja sebulan dua bulan, mengumpulkan uang gajinya dan baru dia akan mengunjungi encinya. Ketika melihat seorang rekannya dipukuli tamu, Si Kong merasa penasaran sekali. Akan tetapi dia teringat akan pesan mendiang gurunya agar tidak sembarangan mencari permusuhan dan memperlihatkan kepandaian. Dia harus bersikap sebagao seorang yang lemah dan bodoh, dan selalu bersikap rendah hati. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya dengan susah payah selama bertahun-tahun itu bukan untuk dipamerkan, juga bukan untk mencari permusuhan. Tiba-tiba Si Kong melihat dua orang tamu baru memasuki rumah makan itu. Karena dia sedang kosong tidak melayani tamu lain, dia segera menyongsong kedatangan kedua orang itu. Mereka adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Dari dandanan mereka dapat diketahui bahwa pemuda dan gadis ini tentulah orang-orang kang-ouw. Gadis itu membawa pedang di punggungnya, dan dipinggang pemuda itu terselip dua buah pedang pendek. Langkah mereka tegap dan biarpun pakaian mereka cukup bersih, namun sikap mereka sederhana dan gadis itupun bukan seorang pesolek. Akan tetapi Si Kong harus mengakui bahwa gadis itu cantik sekali. Rambutnya di gelung ke atas dan diikat dengan pita merah. Anak rambut yang melingkar-lingkar menghias dahi dan pelipisnya. Matanya bersinar tajam, hidungnya mancung dan mulutnya yang kecil mengembangkan senyuman yang membuat majahnya nampak manis dan ramah. Pemuda itupun seorang pemuda yang gagah. Mereka merupakan pasangan yang serasi. “Selamat siang, siocia (nona) dan kongcu (tuan muda)!” Kata Si Kong membungkuk hormat. “Ji-wi (kalian) hendak makan?” “Masih adakah meja kosong?” tanya pemuda itu sambil melayangkan pandang matanya di ruangan yang penuh tamu itu. “Masih, kongcu. Silakan ikut saya.” Kata Si Kong yang tahu benr mana meja yang sudah kosong. Dia melangkah mendahului dan membawa mereka ke meja kosong yang bersebelahan dengan meja di mana empat orang pemuda berandalan tadi duduk. “Meja ini kosong, kongcu. Silakan duduk.” Si Kong menggunakan kain lapnya untuk membersihkanmeja itu dari sisa-sisa percikan kuah. Pemuda dan gadis itu lalu duduk berhadapan, dan kebetulan saja gadis itu duduknya menghadap ke arah meja sebelah di mana empat orang pemuda berandalan itu duduk. “Kongcu dan siocia hendak memesan apakah?” tanya Si Kong. “Nanti dulu, apakah di sini juga menyediakan kamar tamu?” tanya pula pemuda itu. “Ah, ada, kongcu. Memang Hok-lai ini merupakan rumah makan merangkap rumah penginapan.” “Kalau begitu siapkan dua kamar yang berdampingan untuk kami.” “Baik, kongcu.” “Dan untuk makan kami, sediakan nasi dan beberapa macam sayur, dan ayam panggang. Minumannya beri air teh dan juga anggur yang baik.” “Baik, kongcu.” Tiba-tiba dari meja empat prang pemuda itu terdengar suara, “Aih, nona cantik seperti dewi!” Gadis itu mengangkat mukanya dan matanya bersinar marah. Si Kong memutar tubuhnya dan melihat bahwa empat orang pemuda berandalan itu mengedip-ngedipkan mata dengan sikap kurang ajar sekali kepada gadis itu. Pemuda itupun mendengar ucapan itu. Dia menoleh dan berbisik kepada gadis itu, “Sumoi, kau duduk di sini.” berkata demikian dia bangkit berdiri dan bertukar tempat dengan gadis itu. Mendengar sebutan itu, tahulah Si Kong bahwa mereka itu kakak beradik seperguruan. Dia lalu pergi memenuhi pesanan mereka dan ketika dia pergi, dia sempat mendengar pula ocehan pemuda-pemuda berandalan itu. “Dari belakang ia tampak lebih menarik. Lihat pinggulnya dan pinggangnya! Aduh, moleknya!” “Hemm, mereka itu benar-benar keterlaluan, selalu mencari gara-gara,” pikir Si Kong. Akan tetapi gadis yang baru berusia tujuhbelas tahun itu dan suhengnya pura-pura tidak mendengar dan tidak mengacuhkan mereka. Ketika Si Kong mengantar hidangan yang di pesan, dia mendengar betapa pemuda itu lebih kurang ajar lagi. Mereka bangkit berdiri dan berkata kepada Si Kong, “Hei, pelayan. Taruh pesanan itu di meja kami!” Si Kong masih bersikap sabar. “Akan tetapi, hidangan ini adalah pesanan kongcu dan nona ini.” “Tidak, nona itu akan menemani kami makan di meja ini! Bukankah begitu, manis?” Si Kong tidak perduli dan mengantar hidangan itu di atas meja kakak beradik seperguruan itu. “Kalau begitu, kami berempat yang akan pindah kemejamu, ya nona?” kata pula seorang dari mereka, dan mereka semua sudah bangkit berdiri. “Jangan jual mahal, nona. Kami adalah kongcu-kongcu yang mempunyai banyak uang di kota ini!” kata pula orang kedua dan kini mereka menghampiri meja gadis itu. Suheng gadis itu menjadi marah. Dia bangkit berdiri dan kedua tangannya menekan meja. “Sebetulnya apa maksud kalian mengganggu kami?” “Siapa mengganggu? Kami berempat amat suka dan menghormati sumoimu ini dan hendak menjamunya untuk menghormatinya. Apakah itu mengganggu namanya? Kalau engkau tidak suka, engkau boleh makan sendiri, akan tetapi sumoimu ini suka menerima penghormatan kami. Bukankah begitu, nona manis?” Suheng itu menjadi marah sekali dan dia menggebrak meja dengan kedua tangannya. Pada saat itu Si Kong juga menekan meja itu dengan tangan kirinya. Tiba-tiba saja empat batang sumpit yang berada di atas meja itu menyambar ke arah empat orang pemuda itu dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya. “Aduh…..!” “Ahh….!” “Aduhhh….!” Empat orang pemuda itu berteriak-teriak kesakitan karena tubuh mereka terluka oleh empat batang sumpit itu. Seorang terluka pundaknya, seorang pula terkena pahanya, yang lain terkena sumpit itu di pangkal lengan dan seorang lagi bahkan tertusuk daun telinganya! Selain berteriak kesakitan, empat orang pemuda itu juga memandang sang suheng dengan mata terbelalak, kemudian mereka berempat berlari keluar meninggalkan meja mereka tanpa membayar harga makanan dan minuman. Si Kong berkata kepada suheng dan sumoi itu. “Kongcu dan siocia kini dapat makan dengan tenang. Ah, kemana sumpit-sumpit tadi? Biar saya mengambil yang baru untuk ji-wi.” Diapun tergesa-gesa mengambil sumpit baru dua pasang dan menyerahkan kepada kakak beradik seperguruan itu. Pemuda itu bernama Thio Bun Can, berusia duapuluh tahun, seorang pemuda putera seorang penduduk di kota Sin-keng yang tidak begitu jauh letaknya dari Sui-yang, hanya limapuluh li jauhnya. Gadis itu bernama Gu Mei Cin, berusia tujuhbelas tahun, puteri Gu Kauwsu (Guru silat Gu) yang menjadi murid dari Thio Bun Can. Mereka berdua dalam perjalanan untuk menyelidiki gangguan penjahat terhadap pengiriman barang-barang berharga yang di kawal oleh paman gadis itu yang menjadi piauwsu (pengawal barang kiriman). Satu peti barang kawalan dapat dirampas penjahat dalam perkelahian membela barang-barang kiriman yang menjadi tanggung-jawabnya sang paman itu menderita luka-luka. Mendengar ini, Mei Cin membela pamannya, mengajak suhengnya untuk melakukan penyelidikan. Itulah yang membawa mereka datang ke kota Su-yang, karena peristiwa perampokan itu terjadi dalam perjalanan antara Sin-keng dan Sui-yang. Akan tetapi, sampai ke kota Sui-yang mereka belum mendapatkan keterangan dan mereka bermaksud untuk melakukan penyelidikan ke kota Sui-yang. Setelah empat orang pemuda berandalan itu pergi, Thio Bun Can dan Gu Mei Cin saling pandang dengan penuh keheranan. Saking terkejut dan heran mereka, kedua orang kakak beradik seperguruan ini sampai tidak sempat memperhatikan ketika Si Kong mengambilkan dua pasang sumpit yang baru untuk mereka. Setelah Si Kong meninggalkan mereka, barulah Bun Can berbisik kepada sumoinya. “Sumoi, apakah yang telah terjadi?” Mei Cin juga memandang bingung. “Aku sendiri juga tidak mengerti, suheng. Akan tetapi yang jelas, ada seorang sakti yang telah membantu kita.” “Akan tetapi bagaimana caranya? Bagaimana sumpit-sumpit itu dapat beterbangan dari atas meja kita?” bisik lagi pemuda itu. Mei Cin menggerakkan pundaknya. “Kalau ada orang menggunakan sumpit untuk menyambit sebagai senjata rahasia, hal itu tidak mengherankan. Akan tetapi tanpa menyentuh dapat membuat sumpit-sumpit itu beterbangan dan dengan tepat mengenai empat orang berandalan tadi, sungguh seperti ilmu sihir saja.” “Hemm, masuk akal juga pendapatmu. Mungkin ada orang sakti ahli sihir yang telah membantu kita, sumoi. Akan tetapi sejak sekarang, kita harus berhati-hati karena siapa tahu orang-orang berandalan itu masih tidak mau menerima kekalahan mereka.” Setelah selesai makan, kedua orang itu memanggil Si Kong yang tadi melayani mereka, membayar harga makanan minuman kepada kasir dan minta diantar oleh Si Kong ke kamar mereka yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka mendapatkan dua buah kamar yang berdampingan di loteng. Setelah mendapatkan kamar masing-masing, Bun Can berkata kepada Mei Cin, “Sumoi, kurasa sebaiknya kalau kita tinggal saja dipenginapan ini dan siang tidak keluar. Hal ini adalah untuk mencegah terjadinya keributan kalau-kalau para berandalan tadi hendak mencegat kita.” “Hemm. Kalau mereka berani menghadang, akupun tidak takut, suheng!” kata Mei Cin dengan penasaran. “Mereka itu adalah orang-orang yang patut dihajar keras!” “Apakah engkau lupa akan tugas utama kita, sumoi? Tugas kita adalah menyelidiki gerombolan yang telah mengganggu Gu Piauwsu (Pengawal Gu), pamanmu itu. Jangan tugas kita sampai terganggu oleh segala macam keributan dengan berandalan itu. Malam nanti saja kita keluar melakukan penyelidikan.” “Kemana kita akan melakukan penyelidikan?” “Kemana saja. Ketempat-tempat ramai, tempat perjudian dan kalau perlu ke tempat pelesiran yang biasa di datangi para penjahat. Siapa tahu kalau kita akan mendapat kabar dari tempat-tempat itu.” “Baik, suheng.” Percakapan antara mereka itu diam-diam terdengar oleh Si Kong. Pemuda ini memang masih mengkhawatirkan kedua orang itu. Siapa tahu pemuda-pemuda berandalan itu akan mendatangkan bala bantuan dan akan tetap mengganggu si gadis. Mendengar percakapan itu, diam-diam Si Kong merasa heran. Apakah yang mereka sedang selidiki? Dia sudah mengambil keputusan untuk mengamati mereka dan membantu mereka kalau-kalau mereka terancam bahaya. *** Malam itu Si Kong tidakbertugas. Setelah bekerja di bagian rumah makan sejak pagi sampai sore, malam itu Si Kong bebas tugas. Hal ini kebetulan sekali baginya karena dia sudah mengambil keputusan untuk mengamati kakak beradik seperguruan itu. Maka, ketika kedua orang itu meninggalkan rumah penginapan dengan pakaian ringkas, diapun membayangi mereka dari jauh. Dia melihat kakak beradik itu berkunjung ke tempat-tempat pelesir dan bahkan memasuki rumah perjudian, akan tetapi sampai banyak tempat mereka kunjungi, tidak terjadi sesuatu atas diri mereka. Akhirnya kakak beradik itu kembali kerumah penginapan dan selagi Si Kong membayangi dari jauh, dia melihat ada sesosok bayangan berkelebat. Ada orang lain yang agaknya juga membayangi kedua orang itu dan orang ini mengenakan pakaian serba hitam. Ketika kakak beradik itu tiba di rumah penginapan, bayangan itupun menghilang. Akan tetapi Si Kong merasa penasaran. Tidak mungkin orang yang membayangi mereka tadi hanya ingin membayangi saja seperti yang dia lakukan. Pasti ada kemauannya dan mungkin kemauan itu akan dilaksanakan malam ini. Karena itu, Si Kong tetap waspada. Dia tidak memasuki kamarnya melainkan bersembunyi di luar sambil mengintai ke arah kamar kakak beradik di loteng itu. Akhirnya, jauh lewat tengah malam, setelah kamar itu lama memadamkan lilin, sesosok bayangan berkelebat dengan gesitnya menuju ke kamar loteng itu. Dan bayangan itu berhenti di jendela kamar gadis itu! Dengan hati-hati Si Kong mendekati. Dengan mempergunakan ilmu Liok-te Hui-teng, tubuhnya meloncat ke atas tanpa sedikitpun suara dan tahu-tahu dia telah berada di atas genteng kamar gadis itu. Dia membuka genteng dan menyambit ke dalam kamar dengan pecahan kecil genteng. Usahanya berhasil. Mei Cin sadar dari tidurnya dan gadis ini cepat bangkit berdiri dan pada saat itu ia melihat ada asap di tiupkan masuk dari jendela kamarnya, Mei Cin maklum bahwa ada orang jahat di luar kamarnya. Ia segera menyambar pedangnya yang diletakkan di atas meja dekat buntalan pakaiannya dan sambil menahan napas agar tidak menyedot asap yang mulai memasuki kamar dari jendela itu, ia membuka pintu dan meloncat keluar. Orang berpakaian serba hitam itu ternyata menutupi wajahnya dengan kain hitam pula. Dia terkejut melihat gadis itu tahu-tahu telah muncul di luar kamar dan Mei Cin juga tidak membuang waktu lagi. “Jahanam!” bentaknya dan ia sudah menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi si topeng hitam itu ternyata memiliki gerakan yang gesit. Ia mengelak, menggulingkan tubuhnya dan setelah dia bangkit berdiri, dia telah memegang sebatang golok yang tadinya diselipkan di punggungnya. “Traaang……!” penjahat itu kini menangkis ketika Mei Cin menusukkan pedangnya lagi dan begitu golok bertemu pedang, Mei Cin terkejut sekali karena pedangnya terpental. Orang itu ternyata memiliki tenaga yang kuat sekali. “Suheng, bangun! Ada penjahat!” Mei Cin berseru dan terus ia menyerang. Terjadi perkelahian yang sengit, akan tetapi segera gadis itu terdesak ketika penjahat itu balas menyerang. Ternyata bahwa bukan saja tenaganya besar juga ilmu goloknya ganas sekali. Thio Bun Can terbangun oleh teriakan sumoinya dan suara gaduh perklehian. Dia keluar membawa dua pedang pendeknya dan melihat sumoinya sedang bertanding dengan seorang yang memakai topeng kain hitam yang lihai sekali gerakan goloknya, tanpa banyak cakap lagi diapun terjun ke dalam pertempuran mengeroyok. Akan tetapi si topeng hitam itu ternyata tidak terdesak oleh pengeroyokan itu, bahkan kedua orang kakak beradik itu yang dalam keadaan terdesak! Tiba-tiba penjahat itu berteriak kaget dan goloknya terlepas dari tangannya. Ada suatu benda menyambar dan mengenai siku kanannya yang membuat lengannya lumpuh sehingga goloknya terlepas. Setelah mengeluarkan teriakan ini penjahat itu lalu melompat jauh ke atas genteng rumah di sebelah. Kakak beradik itu tidak berani mengejar karena selain gin-kang orang itu lihai sekali, juga mereka tahu bahwa ilmu kepandaian orang itu masih berada di atas tingkat mereka. Kamar-kamar yang berdekatan mulai membuka pintu dan para tamu yang bermalam disitu bertanya-tanya. Bun Can dan Mei Cin segera menyimpan senjata mereka dan Bun Can berkata kepada para tamu dan para pelayan yang datang berlarian, “Ada pencuri hendak memasuki kamar, akan tetapi kami telah berhasil mengusirnya. Dia melarikan diri meninggalkan golok itu.” Setelah semua orang bubaran dan mengunci pintu kamar mereka masing-masing dengan hati merasa khawatir kalau-kalau mereka juga akan didatangi pencuri, kakak beradik itu lalu bercakap-cakap. “Heran sekali, mengapa dia melepaskan golok dan melarikan diri?” kata Bun Can. Mei Cin mengerutkan alisnya. “Tidak salah lagi. Tentu ada orang yang diam-diam membantu kita, seperti yang terjadi siang tadi. Tidak mungkin penjahat itu melepaskan senjata dan melarikan diri tanpa sebab. Bahkan tadipun ketika aku sedang tidur, ada yang membangunkan aku dari tidur sehingga aku dapat melihat usaha penjahat itu meniupkan asap ke dalam kamarku. Mari kita periksa, suheng.” Mereka memasuki kamar gadis itu dan setelah memeriksa dan mencari, akhirnya mereka menemukan pecahan genteng yang berada di atas tempat tidur. Mei Cin mengambil pecahan genteng itu dan berkata, “Inilah agaknya yang membangunkan aku. Tentu disambitkan dan mengenai kakiku karena aku merasa seperti ada yang menepuk kakiku. Pasti ini merupakan pekerjaan orang yang selalu membantu kita itu, suheng.” “Siapa orangnya, jelas dia bermaksud baik dan kita harus berterima kasih kepadanya, sumoi. Penjahat tadi lihai sekali. Kalau dia datang kembali dan membawa kawannya, tentu kita akan celaka.” “Akan tetapi, mengapa dia hendak menyerang kita?” “Ya, hal itu juga aneh sekali. Ada dua kemungkinan, sumoi. Pertama, dia seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang siang tadi melihatmu dan menjadi tertarik untuk mengganggumu, atau mungkin juga ada hubungan dengan penyelidikan yang kita lakukan. Lebih baik kita pulang dan melaporkannya kepada suhu, minta pendapatnya. Kalau penjahat tadi ada hubungannya dengan penyelidikan kita, berarti dia itu seorang di antara para penjahat itu bersarang di kota ini. Sebaiknya kalau suhu sendiri yang memutuskan tindakan apa selanjutnya akan diambil.” “Kurasa engkau benar, suheng. Masih untung kita mempunyai seorang tuan penolong yang tidak mau di kenal, kalau tidak, tentu kita sudah celaka.” “Betapapun juga, malam ini sampai besok pagi kita harus waspada.” Kedua orang kakak beradik itu lalu berpisah, ke kamar masing-masing. Si Kong yakin bahwa penjahat tadi tidak akan berani kembali setelah di hajarnya dengan pecahan genteng sehingga goloknua terpental dan dia melarikan diri. Dia merasa puas sudah dapat membantu kakak beradik itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika Si Kong melewati kedua pintu kamar itu, dia di panggil oleh Thio Bun Can. “Sobat, tolong bertihau pengurus rumah penginapan bahwa pagi ini juga kami akan berangkat. Kami hendak membayar sewa kamar.” Si Kong memandang kepada gadis yang sudah siap menggendong buntalan pakaian dan pedangnya. Dia merasa kagum. Biarpun semalam telah terjadi ancaman bahaya dan agaknya gadis itu tidak tidur lagi, namun gadis itu nampak segar dan cantik, bahkan sikapnya demikian tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang mengancam keselamatannya. Dia lalu melayani kakak beradik itu dan setelah membayar uang sewa kamar, keduanya lalu berangkat dan pergi meninggalkan kota Sui-yang. Setelah pemuda dan gadis itu pergi, Si Kong membersihkan bekas kamar mereka dan dia merasa kesepian, kehilangan! Dia merasa heran sendiri mengapa dia begitu kagum dan tertarik kepada gadis itu yang sama sekali tidak di kenalnya. Si Kong memang rajin sekali. Pagi-pagi sekali dia bekerja di bagian rumah penginapan dan setelah rumah makan dibuka, dia membantu rumah makan sampai malam. Majikan pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai merasa suka sekali dengan pekerjaan pemuda yang rajin itu maka dalam waktu beberapa hari saja Si Kong sudah diangkatnya menjadi mandor atau pengawas para pekerja yang lain! Hal ini tentu saja menimbulkan perasaan iri dalam hati banyak pelayan yang sudah bekerja lebih lama di tempat itu. Ketika siang itu dia bekerja di rumah makan, terjadilah hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Rumah penginapan itu kehilangan beberapa gambar dan pot bunga yang berharga mahal. Tadinya benda-benda itu di pasang di ruang tamu, akan tetapi tiba-tiba lenyap. Ketika majikan rumah penginapan itu tidak melihat benda-benda hiasan itu, dia menjadi marah dan memanggil para pelayan rumah penginapan. Semua pelayan menjadi ribut dan mencari-cari dan akhirnya orang menemukan benda-benda berharga itu didalam kamar Si Kong tersembunyi dibawah kolong tempat tidurnya! Tentu saja majikan itu menjadi marah. Si Kong dipanggil dan ditanyai. Biarpun Si Kong tidak mengaku mencuri dan mengatakan tidak tahu bagaimana benda-benda itu dapat berada di kolong tempat tidurnya, akan tetapi karena bukti sudah menyatakan bahwa barang-barang yang hilang berada di tempat tidurnya, maka majikan itu tidak mendengarkan semua bantahannya dan Si Kong diusir hri itu juga. Upahnya selama beberapa pekan dibayar. Si Kong maklum bahwa dia difitnah. Akan tetapi dia tidak merasa perlu untuk menyelidiki hal itu. Memang dia pun tidak ingin bekerja selamanya di tempat itu. setelah dikeluarkan dari pekerjaannya, Si Kong lalu membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan rumah penginapan itu, bahkan meninggalkan kota Sui-yang, tiga hari setelah Bun Can dan Mei Cin meninggalkan kota itu. Gu Mei Cin dan suhengnya, Thio Bun Can, setelah meninggalkan kota Sui-yang langsung saja pulang ke kota Sin-keng yang jaraknya kurang lebih limapuluh li dari kota Sui-yang. Dalam perjalanan itu mereka tidak menemukan halangan sesuatu dan tibalah mereka di kota Sin-keng. Ayah Gu Mei Cin yang bernama Gu Kiat atau dikenal dengan sebutan Gu Kauwsu (Guru Silat Gu) adalah seorang guru silat dikota itu yang terkenal. Muridnya cukup banyak dan putera-putera para pejabat dan hartawan di kota itu banyak yang menjadi muridnya. Di antara semua muridnya, yang paling dekat dengan Mei Cin, juga yang menjadi murid tauladan adalah Thio Bun Can. Diam-diam pemuda ini jatuh hati kepada sumoinya dan Gu Kauwsu juga menyetujui niat pemuda ini karena Bun Can memang seorang murid yang baik. Itulah sebabnya ketika Gu Kauwsu mendengar akan malapetaka yang menimpa adiknya, Gu Piauwsu yang dilukai perampok dan barangnya ada yang terampas, dia mengijinkan puterinya pergi bersama Thio Bun Can untuk melakukan penyelidikan. Dia menganggap bahwa kepandaian silat puterinya sudah memadai dan juga Thio Bun Can dapat menjadi pengawal yang dapat dipercaya. Ketika puteri dan muridnya datang, Gu Kauwsu segera menyongsong mereka dengan penuh harapan dan bicara dengan mereka di dalam kamarnya. “Bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian? Kuharap ada hasil yang baik.” Kata Gu Kauwsu. “Wah, penyelidikan kami belum menghasilkan sesuatu, bahkan sebaliknya kami hampir mendapat celaka di tangan orang jahat, ayah.” kata Mei Cin. “Apa yang terjadi?” “Suheng, kauceritakan kepada ayah.” Mei Cin minta suhengnya untuk bercerita. Bun Can lalu menceritakan tentang pertemuan mereka dengan pemuda-pemuda berandalan di rumah makan Hok-lai dan tentang bantuan seorang sakti yang tidak memperlihatkan diri. “Apa? Sumpit-sumpit di atas meja beterbangan sendiri menyerang empat orang pemuda yang kurang ajar itu? Seperti sihir saja!” kata Gu Kauwsu. “Itulah, suhu. Teecu juga menganggap itu sihir, dan rupanya ada seorang sakti menggunakan sihirnya untuk membantu kami. Setelah orang-orang berandalan itu terusir pergi, kami tinggal di rumah penginapan sampai malam. Barulah pada malam harinya kami berdua berkunjung ke tempat-tempat yang sekiranya didatangi para penjahat untuk mencari keterangan. Kami datangi rumah-rumah judi, akan tetapi usaha kami sia-sia saja. kami tidak mendengar apa-apa yang penting tentang perampokan itu.” “Akan tetapi pada malam hari itu terjadi hal yang aneh, ayah. Aku hampir saja celaka dalam peristiwa itu.” kata Mei Cin. “Apa yang terjadi?” tanya Gu Kauwsu sambil memandang puterinya dengan alis berkerut. “Lewat tengah malam selagi aku tidur pulas, tiba-tiba aku dibangunkan oleh sesuatu yang rasanya seperti ada yang menepuk kakiku. Ketika aku sadar dan terbangun, aku melihat ada asap yang memasuki kamarku lewat jendela. Aku menjadi curiga dan cepat aku keluar dari pintu dan melihat bahwa di luar jendelaku terdapat seorang yang berpakaian hitam dan bertopeng hitam pula, sedang meniupkan asap ke kamar itu. Tentu saja aku menjadi marah dan aku menyerangnya. Akan tetapi orang itu tangguh sekali dengan permainan goloknya. Bahkan ketika suheng terbangun dan membantuku, kami berdua tidak mampu mendesaknya, bahkan terancam oleh gerakan goloknya. Mendadak, terjadi pula keanehan. Entah mengapa, penjahat itu berteriak, goloknya terlepas dari tangannya dan dia meloncat dengan cepat sekali melarikan diri.” “Hemm, agaknya kalian di bantu oleh orang secara diam-diam!” kata Gu Kauwsu. “Agaknya memang begitu, ayah. Karena, setelah kami memeriksa dalam kamarku, aku menemukan sepotong pecahan genteng yang agaknya dipergunakan orang untuk membangunkan kau ketika penjahat itu melepaskan asap ke dalam kamar. Asap itu tentu asap pembius!” “Akan tetapi, mengapa engkau yang didatangi penjahat itu?” tanya Gu Kauwsu. “Kami berpendapat bahwa ada dua kemungkinan untuk itu, suhu. Pertama, mungkin saja penjahat itu seorang jai-hwa-cat yang mempunyai niat buruk terhadap sumoi. Dan kemungkinan kedua, perbuatannya itu ada hubungannya dengan penyelidikan kami, dan kalau begitu, dia tentu ada hubungannya dengan perampokan yang kami selidiki itu.” “Maka kami putuskan untuk pulang dan melaporkannya kepadamu, ayah. Penjahat itu lihai sekali, kalau dia kembali bersama teman-temannya, tantu kami celaka.” Gu Kauwsu meraba jenggotnya dan mengangguk-angguk. “Tidak salah lagi! Penjahat itu tentu ada hubungannya dengan yang merampok pamanmu! Menurut pamanmu, yang mengalahkan dan melukai pamanmu juga seorang yang pandai mempergunakan golok, orangnya tinggi besar dan bermuka hitam seperti yang kalian telah dengar sendiri. Bagaimana bentuk tubuh orang yang berto[eng itu?” “Tubuhnya juga tinggi besar, ayah. Akan tetapi sayang, mukanya tertutup topeng dan penerangan di luar kamar itu hanya kecil dan remang-remang. Aku tidak dapat melihat apakah separuh mukanya bagian atas yang tertutup itu hitam atau tidak.” “Aku sendiri yang akan pergi melakukan penyelidikan ke Sui-yang!” kata Gu Kauwsu dengan nada suara penuh penasaran. Tiba-tiba dari luar jendela nampak sebuah benda menyambar cepat ke arah muka Gu Kauwsu. Guru silat itu menggerakkan tangannya menangkap dan ternyata benda itu adalah sebuah pisau yang tajam dan runcing, yang menusuk sepotong kertas. “Jahanam!” Gu Kauwsu cepat melompat keluar dari jendela, diikuti puteri dan muridnya, akan tetapi diluar tidak terdapat siapapun. Pelempar pisau itu tekah pergi jauh. Terpaksa mereka kembali kedalam dan Gu Kauwsu membaca tulisan di atas kertas itu. “Kalau hendak mencari perampas barang kiriman, pergilah ke Puncak BukitAyam.” “Jahanam!” kembali Gu Kauwsu memaki. “Dia telah menantangku!” Mei Cin dan Bun Can juga ikut membaca tulisan pada kertas itu dan mereka berdua juga menjadi marah. “Sekarang jelas, ayah. Pelempar pisau tadi tentu juga penjahat bertopeng itu, dan mungkin dialah yang telah merampas barang kiriman yang dikawal paman. Dia pula yang melukai paman dengan goloknya.” “Tidak salah lagi. Tentu dia! Dan dia menantangku untuk datang ke Bukit Ayam? Bagus!” “Apa yang hendak ayah lakukan sekarang?” tanya Mei Cin. “Apa lagi? Datang ke Bukit Ayam tentu saja. Bukit itu dekat saja dari sini dan sebelum gelap aku sudah akan tiba dipuncaknya.” “Ayah tidak boleh pergi sendiri. Aku ikut untuk membantu, ayah.” “Benar, suhu. Teecu juga ikut untuk membantu. Kalau perlu teecu akan memanggil murid-murid suhu yang lain dan kita beramai datang ke sana.” Gu Kauwsu menggeleng kepala. “Jangan kaitkan para murid lain. Pula, kalau kita banyak orang datnag ke sana, penjahat itu tentu tidak akan muncul. Kita bertiga saja kesana, akan tetapi kalian harus mempersiapkan diri baik-baik dan berlaku hati-hati.” Gu Kauwsu bersama puterinya dan muridnya cepat berkemas, disaksikan oleh isterinya. Setelah mempersiapkan diri, membawa senjata pedang masing-masing, Gu Kauwsu tidak lupa membawa sekantung senjata rahasia paku, mereka lalu meninggalkan rumah dan keluar dari kota Sin-keng melalui pintu gapura sebelah selatan. Begitu keluar dari pintu gerbang, sudah nampak bukit yang di maskudkan. Dari jauh bukit itu memang kelihatan seperti kepala seekor ayam, karena itu maka bukit itu di sebut Bukit Ayam. Dengan cepat, mempergunakan ilmu lari cepat, akan tetapi dengan sikap hati-hati, tiga orang ini mendaki Bukit Ayam dan sebentar saja mereka telah tiba di puncak bukit itu. Matahari telah mulai condong ke barat, namun masih terang. Puncak bukit itu datar dan merupakan padang rumput terbuka, dikelilingi hutan yang berada di lereng bukit. Akan tetapi di situ sunyi saja, tidak nampak bayangan seorang pun. Gu Kauwsu lalu mengerahkan khikangnya dan berteriak. Suaranya bergema di empat penjuru. “Heii, perampok laknat. Keluarlah kalau memang engkau laki-laki!” Segera terdengar suara tawa bergema di seluruh puncak dan tak lama kemudian nampak bayangan dua orang berlari naik ke pundak, datang dari hutan sebelah kiri. Gu Kauwsu memberi isyarat kepada puteri dan muridnya agar waspada. Mei Cin dan Bun Can segera mencabut pedang masing-masing dan berdiri dalam keadaan siap siaga. Karena dua bayangan orang itu menggunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja mereka sudah tiba di depan tiga orang itu. gu Kauwsu dan dua orang itu memandang penuh perhatian. Dua orang itu berdiri sambil tertawa-tawa dengan lagak sombong. Yang seorang adalah laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan tubuhnya tinggi besar, mukanya hitam garang menyeramkan. Orang kedua adalah seorang kakek berusia enampuluh tahun lebih, tubuhnya sedang saja dia memegang sebatang tongkat berkepala naga. Kakek inilah yang tertawa tadi, dan sekarangpun dia masih menyeringai dengan sikap memandang rendah. “Apakah kalian berdua yang mengirim surat mengundang kami kepuncak Bukit Ayam ini?” Gu Kauwsu bertanya denga suara tegas. Yang muda dan bermuka hitam itu mejawab. “Benar, akulah yang mengirim surat itu!” “Apakah ini berarti bahwa engkau yang telah merampas barang kiriman yang di kawal oleh Gi Piauwsu dan yang telah melukainya?” “Ha-ha, benar aku yang melakukannya!” jawab laki-laki bermuka hitam itu. “Sobat, aku melihat engkau bukan seorang perampok biasa, bukan pula kepala gerombolan perampok. Kenapa engkau mengganggu pekerjaan Gu-piauwsu? Aku nasihatkan engkau untuk mengembalikan barang kiriman itu kepadaku atau terpaksa aku harus menggunakan kekerasan.” Kata Gu Kauwsu dan suaranya bernada mengancam. Si muka hitam itu menoleh kepada kakek bertongkat kepala naga. “Suhu, bagaimana pendapat suhu?” “Serahkan saja guru silat ini kepadaku dan kau hadapi dua orang muda itu!” kata kakek itu dengan sikap tenang sekali dan dengan sekali lompatan kecil dia sudah menghadapi Gu Kauwsu, lalu berkata, “Kalau engkau masih sayang nyawamu, lebih baik engkau tidak mencampuri urusan ini. Bawang sudah terampas bagaimana mungkin dikembalikan?” Gu Kauwsu menjadi marah. “Bun Can, Mei Cin, berhati-hatilah menghadapi si muka hitam itu!” Setelah berkata demikian dia mencabut pedangnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sudah mengambil segenggam paku yang merupakan senjata rahasianya yang ampuh. “Orang tua sesat, engkau membela muridmu yang melakukan perampokan! Katakan siapa namamu, jangan mati tanpa nama!” bentak Gu Kauwsu. “Ha-ha-ha, engkau guru silat kampungan, tidak mengenal siapa aku? Aku adalah majikan Pulau Tembaga, di kenal dunia kangouw sebagai Tung-hai Liong-ong!” Mendengar nama ini, maya Gu Kauwsu terbelalak dan dia terkejut bukan main. Nama yang disebut kakek itu adalah nama seorang datuk besar disepanjang pantai timur! “Tung-hai Liong-ong? Dia adalah seorang datuk besar pantai timur! Tidak mungkin dia begitu rendah untuk membela muridnya yang menjadi perampok!” “Ha-ha, kami memungut sumbangan dari mereka yang berharta, bukan merampok. Engkau guru silat kampungan tidak perlu tahu. Nah, pergilah!” tongkat kepala naga itu menyambar dahsyat. Gu Kauwsu yang pernah mendengar akan kelihaian datuk itu cepat melompat ke belakang untuk menghindar. Biarpun dia tahu lawannya amat pandai, untuk membela adiknya dia tidak merasa takut. “Makanlah senjata rahasiaku ini!” teriaknya dan tangan kirinya bergerak, belasan batang paku telah menyambar ke arah tubuh kakek itu. Akan tetapi kakek itu hanya mengibaskan tangannya dan paku-paku itu, baik yang terkena kebutan tangan maupun yang mengenai tubuh kakek itu, runtuh kebawah. Agaknya kakek itu kebal dan kulitnya tidak dapat tertembus paku! Dia tidak merasa gentar dan cepat menyerang maju dengan pedangnya. Hebat juga gerakan guru silat itu sehingga Tung-hai Liong-ong tidak berani menyambut pedang itu dengan tangannya, melainkan menggerakkan tongkatnya untuk menangkis. “Trang-trang….!” Pedang itu hampir terlepas dari tangan Gu Kauwsu. Akan tetapi guru silat itu tidak mundur bahkan menyerang lagi dengan lebih dahsyat. Sementara itu, si tinggi besar bermuka hitam menghampiri Bun Can dan Mei Cin. Dia menyeringai sambil memandang kepada Mei Cin. “Ha-ha-ha, di Sui-yang engkau terlepas dari tanganku dan sekarang engkau datang menyerahkan diri kepadaku. Bagus sekali, nona!” Mendengar ini, tahulah Mei Cin bahwa orang ini yang mendatangi kamarnya di malam hari itu. Ia menjadi marah sekali dan mengelebatkan pedangnya. “Jahanam busuk, perampok rendah, bersiaplah untuk mampus di tanganku!” Tanpa banyak cakap lagi Mei Cin sudah menerjang dengan pedangnya. Si muka hitam itu bukan lain adalah Ouwyang Kwi. Murid dari Tung-hai Ling-ong. Seperti telah kita ketahui, dia pernah merampas kedudukan ketua Hwa I Kaipang dalam usahanya mengumpulkan uang dan kekuasaan. Akan tetapi usahanya itu gagal dengan munculnya Si Kong bersama gurunya Yok-sian Lo-kai beberapa tahun yang lalu. Setelah melarikan diri bersama suhunya yang sama-sama terluka dalam ketika bertempur dengan Yok-sian Lo-kai, Ouwyang Kwi mempunyai cara lain untuk mengumpulkan banyak uang yang agaknya di dukung oleh gurunya, yaitu dengan menjadi perampok tunggal. Bukan sembarang perampok, melainkan perampok yang hanya bergerak seorang diri akan tetapi hanya merampok barang-barang yang berharga mahal saja. baru-baru ini dia berhasil merampok barang berharga yang di kawal Gu Piauwsu. Dan kebetulan sekali gurunya datang berkunjung, sehingga setelah dia tahu bahwa dia dicari dan diselidiki oleh Gu Kauwsu, dia minta bantuan gurunya untuk menghadapi guru silat yang lihai itu. Begitu Mei Cin menyerang, Ouwyang Kwi juga mencabut goloknya dan menangkis. Mei Cin menyerang lebih dahsyat dan dua orang ini sudah bertanding lagi. Meihat ini, maklum bahwa lawan sumoinya amat lihai, Thio Bun Can segera menerjang maju dan membantu sumoinya. Dengan demikian, terulang pertarungan di malam hari itu, Ouwyang Kwi di keroyok oleh kakak beradik seperguruan itu. Akan tetapi, begitu Ouwyang Kwi memainkan golok besarnya yang berat, kakak beradik itu segera terdesak. Bagaimanapun juga, kedua orang muda itu kalah tenaga dan kalah pengalaman bertanding sehingga mereka sibuk menangkis dan melindungi diri saja tanoa mampu membalas serangan Ouwyang Kwi. Sementara itu, pertandingan antara Gu Kauwsu dan Tung-hai Ling-ong juga berjalan tidak seimbang sama sekali. Tingkat ilmu kepandaian datuk itu jauh lebih tinggi daripada tingkat Gu Kauwsu sehingga setelah lewat tigapuluh jurus, Gu Kauwsu sudah terdesak hebat oleh tongkat berkepala naga itu dan dia hanya mampu menangkis sambil mundur. Gu Kauwsu sambil mundur tidak mengkhawatirkan diri sendiri, akan tetapi dia memikirkan keselamatan puterinya. Mau tidak mau perhatiannya terpecah, sebagian untuk memperhatikan keadaan puterinya. Dia menjadi gelisah sekali melihat puteri dan muridnya juga terdesak hebat oleh Ouwyang Kwi. “Mei Cin, Bun Can, lari…..!” Dia berteriak, akan tetapi perhatiannya yang terpecah itu mendatangkan bencana. Tangan kiri Tung-hai Ling-ong menyambar dan tepat tangan itu dengan jari-jari tangan terbuka menghantam dadanya. “Dukkk….!” Tubuh Gu Kauwsu terjengkang dan robohlah dia untuk tidak bangkit lagi. Dia telah terkena pukulan Tok-ciang dari datuk itu, pukulan yang tidak kalah ampuhnya dengan pukulan tongkatnya. Gu Kauwsu roboh dengan tanda telapak jari tangan hitam di dadanya. Tok-ciang (Tangan Beracun) adalah semacam ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun yang berbahaya sekali. Gu Kauwsu tepat terpukul dadanya sehingga jantungnya terguncang oleh hawa beracun dan diapun tewas seketika. Dalam perlawannya dibantu suhengnya terhadap Ouwyang Kwi, Mei Cin juga memperhatikan ayahnya. Agaknya Ouwyang Kwi tidak terlalu mendesaknya, melainkan lebih mendesak Thio Bun Can. Maka ketika ayahnya roboh, Mei Cin dapat melihatnya dai iapun menjerit. “Ayah….!” Tanpa perdulikan lagi suhengnya, Mei Cin melompat ke dekat ayahnya dan berlutut. Ketika dilihatnya ayahnya sudah tewas, iapun amat berduka dan marah. Dengan mengangkat pedangnya, ia menyerang Tung-hai Ling-ong. “Kau…. kau….. membunuh ayahku….!” bentaknya sambil menangis dan menyerang. “Suhu, jangan bunuh gadis itu. Aku sayang padanya!” Ouwyang Kwi berseru kepada gurunya dan diapun memperhebat serangannya kepada Thio Bun Can. Kasihan pemuda ini. Tadi mengeroyok bersama sumoinya saja dia tidak mampu menang, apalagi sekarang harus menghadapi lawan sendiri. Pedangnya berkali-kali terpental dan pada suatu kesempatan selagi pemuda itu terhuyung karena pertemuan senjata itu, dengan gerakan cepat Ouwyang Kwi mengelebatkan goloknya dan robohlah Thio Bun Can mandi darahnya sendiri. Lehernya nyaris putus oleh babatan golok. Ouwyang Kwi tidak perdulikan lagi kepada korbannya dan dia sudah meloncat untuk melihat keadaan Mei Cin. Alangkah girangnya melihat Mei Cin sudah menggeletak roboh oleh totokan jari tangan gurunya. “Mari kita pergi, suhu!” kata Ouwyang Kwi sambil memondong tubuh Mei Cin yang sudah tidak dapat bergerak itu. Mereka lari ke kiri memasuki hutan. Tak lama kemudian, sesosok bayangan orang mendaki bukit itu. orang ini bukan lain adalah Si Kong. Secara kebetulan saja dia lewat di lereng bukit itu dan melihat keadaan bukit itu, hatinya tertarik untuk mendaki puncaknya. Setelah tiba di lereng paling atas, dia mendengar gerakan orang berkelahi di puncak. Si Kong mempercepat larinya dan tibalah dia dipuncak. Akan tetapi di puncak itu telah sepi tidak terdengar apa-apa lagi. Dan hatinya terkejut bukan main melihat dua tubuh menggeletak di tempat itu. cepat dia menghampiri. Pertama dia menghampiri tubuh Gu Kauwsu dan setelah menyentuh nadi dan dadanya, dia menghela napas. Orang itu tidak dapat di tolong lagi, pikirnya. Sudah tewas! Dia lalu menghampiri tubuh Thio Bun Can dan melihat pemuda ini masih dapat menggerakkan tangannya. Dan ketika memeriksa, Si Kong terkejut mengenalnya sebagai pemuda yang bermalam di rumah penginapan beberapa malam yang lalu. Pemuda itu bermalam bersama sumoinya! Dan kemana sekarang sumoinya? Dia cepat menotok jalan darah untuk menghentikan darah yang mengalir keluar dari luka di leher. Diapun melihat adanya sebatang pedang lain di situ dan dan mengkhawatirkan kalau-kalau sumoi pemuda itu juga telah menjadi korban pembunuhan. Dia mengguncang pundak pemuda itu dan mengurut tengah keningnya. Pemuda itu kini dapat membuka dan mengedip-ngedipkan matanya yang sudah layu. “Dimana sumoimu? Dimana? Tunjukkan!” kata Si Kong. Bun Can dalam keadaan sekarat itu masih dapat mengerti dan dia mengangkat tangannya, menuding ke arah kiri lalu terkulai dan mati. Isarat itu sudah cukup bagi Si Kong. dia segera melompat ke arah kiri dan lari memasuki hutan di lereng itu. Dia harus bergerak cepat selagi hutanitu masih belum gelap. Dengan penuh kewaspadaan dia menyusup-nyusp di hutan itu dan akhirnya usahanya berhasil ketika mendengar isak tangis seorang wanita! Dia bergerak cepat sekali ke arah suara itu dan melihat gadis yang dicarinya itu rebah di atas rumput, tidak mampu bergerak dan hanya dapat menangis! Dan didekatnya berlutut seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam. Melihat laki-laki bermuka hitam itu, teringatlah Si Kong akan peristiwa empat tahun yang lalu. Dia segera mengenal Ouwyang Kwi sebagai orang yang telah merampas kedudukan ketua Hwa I Kaipang! Bahkan di waktu itu, dalam usia sekitar lima belas atau enambelas tahun, dia pernah bertanding melawan Ouwyang Kwi ini. Dia tahu betapa jahatnya Ouwyang Kwi dan gurunya yang merupakan datuk timur berjuluk Tung-hai Liong-ong itu, maka diapun tahu bahwa gadis itu tentu terancam bahaya besar. Diapun mengenal gadis yang rebah telentang sambil menangis itu sebagai gadis yang pernah bermalam di rumah penginapan Hok-lai. “Nona manis, jangan menangis. Percuma saja engkau menangis dan tida ada gunanya enkau menolak kehendakku. Ditolak atau tidak, tetap engkau akan menjadi milikku! Maka lebih baik engkau menyerah dengan suka rela daripada aku harus menggunakan paksaan .” Setelah berkata demikian, sambil menyeringai seperti seekor srigala menghampiri korbannya, dia mendekatkan dirinya kepada gadis itu dan tangan kanannya perlahan-lahan meraih ke arah dada. “Wuuuutt……! Plakk!” Ouwyang Kwi terkejut dan mengaduh. Tangannya terasa nyeri dan ketika dilihatnya, ternyata tangannya lecet berdarah karena di sambar sepotong batu yang runcing. Dia meloncat bangkit berdiri sabil memutar tubuh dan melihat seorang pemuda telah berdiri di hadapannya dengan mata yang mencorong seperti mata seekor naga. Tahulah Ouwyang Kwi bahwa tentu pemuda itu yang tadi menyambitnya dengan batu ke tangannya, maka tentu saja dia menjadi marah bukan main. “Keparat, engkaukah yang menyerangku dengan batu tadi?” bentaknya. Si Kong mengerutkan alisnya, diam-diam diapun marah sekali melihat perbuatan Ouwyang Kwi tadi. “Ouwyang Kwi, ternyata engkau masih juga belum jera dan selalu melakukan perbuatan jahat dan terkutuk!” Ouwyang Kwi terkejut. Pemuda itu telah mengenal namanya! “Siapakah engkau yang begitu lancang berani mencampuri urusanku?” “Ouwyang Kwi, lupakah engkau kepadaku? Empat lima tahun yang lalu, engkau dan gurumu Tung-hai Liong-ong pernah bertemu dengan aku dan guruku Yok-sian lo-kai di Souw-ciu.” Ouwyang Kwi terkejut dan sekarang diapun teringat kepada pemuda itu. Lima tahun yang lalu pemuda itu masih merupakan seorang pemuda remaja akan tetapi sudah sedemikian lihainya sehingga dapat menandinginya. Bahkan gurunya, Tung-hai Liong-ong terluka dalam parah sekali oleh Yok-sian Lo-kai dan untuk menyembuhkan luka itu, gurunya harus mengobati dirinya selama tiga tahun! Akan tetapi dia tidak takut. Selama lima tahun ini, dia sudah memperdalam ilmu silatnya dan juga suhunya berada tidak jauh dari tempat itu. Pemuda ini hanya datang seorang diri dan dia dapat mengandalkan gurunya kalau sampai dia kalah dari pemuda itu. Cepat dia mencabut goloknya dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Si Kong. “Kiranya engkau bocah setan itu dan lagi-lagi engkau telah berani mencampuri urusan pribadiku. Akan tetapi sekali ini jangan harap engkau akan mampu meloloskan diri dari golokku ini!” Setelah berkata demikian, tanpa banyak cakap lagi Ouwyang Kwi meloncat dan menerjang dengan golok besarnya. Si Kong sudah siap. Dia menjatuhkan buntalan pakaiannya ke atas tanah dan menggunakan pikulan bambunya untuk senjata tongkat. “Trang-trangg….!” Dua tangkisan itu membuat golok terpental dan hampir terlepas dari tangan Ouwyang Kwi. Hal ini membuat si muka hitam terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa pemuda itu juga sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga dalam hal tenaga sinkang dia kalah jauh! “Suhu……., tolong………!” Ouwyang Kwi berteriak tanpa malu lagi ketika dia menerjang maju kembali dengan serangan yang lebih dahsyat. Si Kong teringat betapa Ouwyang Kwi telah membunuh dua orang yang mayatnya masih menggeletak di luar hutan di puncak itu, dan teringat bahwa setelah lewat empat lima tahun orang itu tidak berubah menjadi baik bahkan menjadi semakin jahat. Maka dia mempercepat gerakan tongkatnya. Gerakan tongkat Si Kong sekarang jauh sekali bedanya kalau dibandingkan gerakannya empat tahun yang lalu. Dia telah di gembleng Kwa Siucai, kemudia bahkan mendapat bimbingan dari Pendekar Sadis Ceng Lojin, sehingga dibandingkan empat tahun yang lalu, tingkat kepandaiannya sudah maju jauh sekali. Begitu dia mempercepat gerakan tongkatnya, tongkat itu dapat menyusup di antara gulungan sinar golok, bergetar menotok pergelangan tangan lalu meluncur ke arah tenggorokan Ouwyang Kwi. Ouwyang Kwi berteriak ketika tiba-tiba lengannya menjadi lumpuh dan goloknya terlepas dari pegangan, dan teriakannya terhenti ketika ujung tongkat bambu itu menotok tenggorokannya. Diapun roboh dan tidak mampu bergerak kembali karena totokan pada jalan darah dekat tenggorokannya itu telah menewaskannya! “Wuuutt…….. wirr……!” Si Kong mengelak dengan cepat ketika tongkat kepala naga itu menyambar ke arah kepalanya dengan amat kuat dan dahsyatnya. “Jahanam, berani engkau membunuh muridku?” teriak Tung-hai Liong-ong ketika melihat muridnya menggeletak dan tewas. Dia terbelalak memandang kepada gadis yang masih telentang, lalu kepada Si Kong yang masih memegang tongkatnya dengan sikap tenang. “Siapa engkau?” “Tung-hai Liong-ong, engkau dan muridmu Ouwyang Kwi ternyata masih juga belum menghentikan perbuatan jahat kalian. Agaknya engkau belum jera ketika lima tahun yang lalu guruku Yok-sian Lo-kai memukulmu!” Tung-hai Liong-ong teringat. “Ah, jadi engkau murid Yok-sian Lo-kai? Bagus, aku memang sedang mencarinya untuk membalas kekalahanku dahulu dan sekarang engkau berani membunuh muridku? Engkau harus mati di tanganku!” kembali Tung-hai Liong-ong menyerang dengan tongkatnya yang berkepala naga. Tongkat itu berat sekali dan ketika menyambar, ada hawa pukulan dahsyat sekali menerpa muka Si Kong. Akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak merasa gentar. Tubuhnya dengan amat ringannya sudah mengelak dari serangan beruntun sambung menyambung sampai lima kali itu. Tung-hai Liong-ong merasa penasaran sekali. Lima kali berturut-turut tongkatnya menyambar-nyambar ke arah bagian tubuh yang berbahaya, namun dengan mudahnya pemuda itu mengelak dan pukulannya tidak ada yang mengenai sasaran. Dan sebelum dia melanjutkan serangannya, kini pemuda itu telah membalas dan ujung tongkat bambu itu tergetar menjadi belasan banyaknya yang menyerang ke arah tigabelas jalan darah terpenting di tubuhnya! “Haiiiittt…….!” Tung-hai Liong-ong membentak nyaring sambil memutar tongkatnya, menangkis tongkat bambu yang ujungnya tergetar menjadi banyak itu. “Tuk-tuk-tunggg….!” Tigakali tongkat bambu bertemu dengan tongkat kepala naga dan Tung-hai Liong-ong terkejut bukan main karena getaran tongkat bambu itu menjalar melalui tongkatnya dan menggetarkan tangannya yang memegang tongkat itu. Sebelum hilang kagetnya, tongkat bambu itu sudah menotok ke arah pergelangan tangannya. Totokan ini datangnya cepat bukan main. Tung-hai Liong-ong menarik tangan kanan yang memegang tongkat dan menggantikan dengan tangan kirinya untuk membebaskan tangan kanannya dari totokan. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ujung tongkat itu seperti ular saja sudah merayap naik dan kini menotok pergelangan tangan kirinya! Terpaksa datuk itu melepaskan tangan kirinya, akan tetapi dia menghunjamkan tongkat itu ke arah Si Kong sebelum melepaskannya. Tongkat itu menyambar dahsyat ke arah Si Kong, akan tetapi pemuda itu menggunakan tangan kirinya untuk menangkap tongkat itu lalu dia menancapkan tongkat kepala naga itu ke atas tanah. Lawannya sekarang telah kehilangan senjata ampuhnya. “Keparat, kau kira dapat terlepas dari tanganku?” bentak Tung-hai Liong-ong dan kini dia menerjang dengan kedua tangan kosong. Akan tetapi tangannya bahkan lebih berbahaya dari tongkatnya karena kedua tangan itu mengandung ilmu Tok-ciang (Tangan Beracun) yang dapat membuat tubuh lawan menjadi hangus kalau terkena pukulannya. Si Kong melepaskan tongkat bambunya dan menghadapi serangan dengan tangan kosong lawan dengan tangan kosong pula. Lawannya adalah seorang datuk yang kenamaan, maka dia tidak dapat membunuhnya begitu saja. Melihat tangan yang berubah menghitam itu menyambar ke arah kepalanya dengan cengkeraman mengerikan, Si Kong mengelak dan ketika tangan kiri kakek itu menghantam ke arah dada, dia menangkis. Tangan kiri lawan itu terpental, akan tetapi dengan cepat telah mencengkeram ke arah pundaknya, Si Kong mengerahkan Thi-ki-i-beng ketika melihat cengkeraman ke arah pundaknya itu. Tangan kiri Tung-hai Liong-ong yang penuh hawa beracun itu bertemu dengan pundak dan kakek itu berteriak kaget. Tenaganya amblas tersedot oleh pundak itu. Akan tetapi hanya sebentar. Karena kaget dia menjadi lengah dan kesempatan itu dipergunakan oleh Si Kong untuk melancarkan pukulan Hok-liong Sin-cang. Pukulan tangan kanan Si kong itu cepat dan mengandung getaran bergelombang, tidak dapat di elakkan lagi oleh kakek itu. Tung-hai Liong-ong coba menangkis dengan tangan kanannya. “Desss…..!” Biarpun dia sudah dapat menangkis pukulan itu, akan tetapi pukulan itu mengandung tenaga yang demikian kuatnya sehingga tubuh kakek itu terpental dan terjengkang ke belakang! Tung-hai Liong-ong terkejut bukan main. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda itu sehebat itu kepandaiannya. Dia tahu bahwa kini tingkat kepandaian pemuda itu bahkan sudah melewati tinggi kepandaian Yok-sian Lo=kai! Maklum bahwa kalau dilanjutkan dia tidak akan menang, dia bangkit berdiri dan berkata, “Lain kali akan kubalas kekalahan ini!” Setelah berkata demikian, cepat dia menyambar mayat muridnya, mencabut tongkat naganya dan pergilah dia dengan langkah agak terhuyung. Ternyata kakek itu telah menderita luka dalam tubuhnya. Si Kong menghela napas panjang dan tidak melakukan pengejaran. Dia memberi kesempatan lagi kepada datuk itu untuk mengubah jalan hidupnya, kembali ke jalan benar dan berjanji kepada diri sendiri bahwa kalau lain kali dia bertemu dengan datuk itu dan melihat bahwa Tung-hai Liong-ong masih saja melakukan kejahatan, maka dia akan membasminya. Kini perhatian Si Kong beralih kepada gadis itu. cepat dia meloncat mendekati dan sekali tangannya bergerak, gadis itu telah dapat bergerak, gadis itu bangkit berdiri memandang kepada Si Kong dengan kedua mata masih basah. “Terima kasih atas pertolongan In-kong (tuan penolong),” katanya dengan terharu, membayangkan bahwa kalau tidak ada orang ini, entah bagaimana jadinya dengan dirinya. Akan tetapi ketika memandang wajah Si Kong, Mei Cein teringat dan ia terbelalak, “Kau…. kau…. pelayan itu……!” Si Kong membungkuk dan berkata, “Nona telah terlepas dari mara bahaya sekarang.” “Kau…. kalau begitu, ….. penolong di rumah makan itu, dan di kamar penginapan itu, tentu engkau pula orangnya!” “Sudahlah, nona. Hal itu tidak perlu dibicarakan lagi.” Mei Cin teringat kepada ayahnya dan suhengnya dan tiba-tiba ia menangis. “Ayah…. suheng…. mereka telah terbunuh. In-kong, tolonglah aku, jangan kepalang menolongku…. bantulah aku mengurus jenazah ayah dan suhengku yang mati di sana.” Ia menunjuk ke depan lalu berlari keluar dari hutan itu, mendaki puncak. Tadinya Si Kong hendak meninggalkan gadis itu, akan tetapi ketika dia teringat akan dua jenazah itu, diapun merasa kasihan dan segera mengikuti gadis itu mendaki puncak. Setibanya di puncak, Mei Cin menubruk mayat ayahnya dan menangis tersedu-sedu. Si Kong menghela napas dan duduk di atas batu, membiarkan gadis itu menangis karena dalam kedukaan yang mendalam, hanya tangis itu yang akan mampu meringankan himpitan pada hatinya. Dia teringat akan orang tuanya sendiri yang sudah tiada. Hidup begini banyak penderitaan, pikirnya. Akan tetapi bagaimanapun juga, setiap orang harus mampu memikul derita hidupnya sendiri, dengan hati yang kuat karena memang sudah ditakdirkan hidup mengalami semua itu. Setelah gadis itu agak mereda, dia turun dari atas batu dan menghampiri Mei Cin. “Nona, sudah cukup, tidak ada gunanya ditangisi lagi. Sekarang yang lebih penting mengurus jenazah ayah dan suhengmu. Akan di kemanakan dua jenazah ini?’ Gadis itupun bangkit berdiri. Mukanya basah air mata dan agak pucat. “Saya akan membawa mereka pulang. Kami tinggal di kota Sin-keng di bawah bukit ini.” Si Kong memandang kepada dua jenazah itu. Bagaimana mengangkut mereka? Dia tentu kuat membawa mereka, memanggul di kedua pundaknya atau menjinjingnya dengan kedua tangannya, akan tetapi hal itu amat tidak pantas dan kasihan kepada dua jenazah itu kalau hanya dipanggul begitu saja. “Aku akan mencari bambu, nona. Kau tunggu sebentar di sini.” katanya dan diapun berkelebat lenyap dari depan gadis itu, memasuki hutan dan tak lama kemudian dia sudah membawa beberapa batang bambu. Diikatnya bambu-bambu itu menjadi sebuah usungan besar dan dia merebahkan dua jenazah itu berjajar di atas usungan. “Kita terpaksa mengusung dua jenazah ini, nona, dan membawanya pulang.” “Terima kasih, in-kong. Tidak tahu harus bagaimana aku membalas budimu.” “Sudahlah, jangan bicarakan tentang budi. Mari kita gotong bersama usungan ini.” Mereka berdua lalu menggotong usungan itu. Mei Cin berjalan di depan sebagai penunjuk jalan sambil memegang ujung kedua bambu usungan sedangkan Si Kong mengangkat di bagian belakang. Akan tetapi diam-diam pemuda ini mengerahkan tenaganya agar usungan itu tidak terasa terlalu berat bagi Mei Cin. Demikianlah, bersama dengan turunnya matahari ke barat, Mei Cin yang berjalan sambil menangis perlahan, bersama Si Kong, mengusung dua jenazah itu ke kota Sin-keng. Mereka memasuki kota setelah hari menjadi gelap dan banyak orang terkejut melihat pemuda dan gadis itu mengusung mayat Gu Kauwsu dan Thi Bun Can. Segera berdatangan para murid Gu Kauwsu dan mereka membantu mengusung jenazah itu ke rumah keluarga mereka. Nyonya Gu menyambut dengan jerit tangis memilukan. Para tetangga segera berdatangan melayat dan sebentar saja sudah tersiar berita di seluruh kota bahwa Gu Kauwsu telah tewas terbunuh oleh penjahat. Setelah ratap tangis yang memenuhi rumah mendiang Gu Kauwsu itu agak reda, Mei Cin lalu menceritakan kepada ibunya tentang kematian ayah dan suhengnya. “Kalau saja tidak muncul dewa penolong….. ehh, dimana in-kong?” tanyanya sambil mencari-cari dengan pandang matanya di antara para tamu yang datang melayat. Akan tetapi, gadis itu tidak melihat bayangan Si Kong yang diam-diam sudah pergi karena merasa bahwa tugasnya menolong gadis itu telah selesai. “In-kong siapa?” tanya ibunya. “Pemuda yang tadi bersama aku menggotong jenazah ayah dan suheng. Dia tadi masih berdiri di sini!” Tidak ada seorangpun melihat pemuda itu dan Mei Cin lalu menceritakan semua pengalamannya. “sayang dia telah pergi sehingga tidak sempat aku menghaturkan terima kasih.” kata ibu Mei Cin. Semua orang yang berada disitu juga menyayangkan hal itu karena mendengar cerita Mei Cin, para murid guru silat Gu itu juga menjadi kagum sekali. Sedikitpun mereka tidak pernah menyangka bahwa pemuda yang berpakaian sederhana itu ternyata adalah seorang pendekar sakti seperti diceritakan Mei Cin. Mei Cin sendiri juga merasa kehilangan. Dara ini merasa kagum sekali kepada Si Kong. Ia tertarik bahwa pendekar sakti itu sedemikian rendah hati sehingga mau bekerja sebagai pelayan rumah penginapan dan rumah makan. Ia merasa sayang sekali belum berkenalan dengan pemuda itu, bahkan namanyapun tidak diketahuinya. *** Kota Ci-bun merupakan sebuah kota yang ramai. Kota ini tidak begitu jauh dari kota raja. Namun di kota itu terdapat banyak pengemis. Hal ini tidak mengherankan karena pada waktu negara sedang di landa musim kering yang berkepanjangan sehingga semua barang sukar di dapatkan dan mahal harganya, termasuk bahan pangan yang amat dibutuhkan manusia. Banyak rakyat kecil menderita kelaparan sehingga banyak diantara mereka menjadi pengemis. Juga keadaan kekurangan bahan makanan ini banya mendorong orang yang tidak kuat batinnya untuk melakukan kejahatan, seperti mencuri, merampok dan lain-lain. Si Kong melihat benar kesengsaraan rakyat kecil, terutama yang hidup dipedusunan karena dia melakukan perantauan, melalui dusun-dusun dan kota-kota. Dia melihat betapa kehidupan manusia lebih banyak menderita daripada bahagia. Dan dia melihat pula kepalsuan manusia. Mereka yang berada di atas yang memiliki kedudukan dan wewenang, seolah tidak perduli akan kesengsaraan rakyat itu. Juga para hartawan rapat-rapat menutup pintu gapura rumah mereka, seolah takut kalau-kalau harta benda mereka akan diambil orang, secara sembunyi atau terang-terangan. Mereka mempergunakan anjing-anjing besar untuk menjaga rumah, dan mengumpulkan banyak tukang pukul untuk melindungi harta mereka. Si Kong melihat semua ini dan batinnya bergolak. Mengapa begitu banyak ketidak-adilan terjadi di dunia ini? Mengapa para pejabat tidak berusaha untuk menolong rakyatnya yang menderita? Kenapa para hartawan segan mengulurkan tangan, mengurangi sedikit harta mereka untuk menolong mereka yang kelaparan? Diapun melihat betapa banyaknya jembel-jembel baru berkeliaran di jalan-jalan besar di kota Ci-bun ketika dia memasuki kota itu sambil memanggul buntalan pakaiannya di ujung tongkat bambu. Melihat keadaan mereka, Si Kong merasa terharu, akan tetapi dia juga merasa bersyukur atas kemurahan Tuhan kepadanya. Dibandingkan mereka yang berkeliaran di jalan-jalan itu, nasibnya sendiri terhitung baik! Benarlah kata orang bijaksana jaman dahulu bahwa kalau kita sedang ditimpa kesengsaraan dalam kehidupan ini, sebaiknya kita menundukkan kepala dan memandang ke bawah. Di sana masih terdapat banyak sekali orang yang keadaannya lebih payah dari pada keadaan kita! Si Kong merasa heran ketika melihat orang berbondong-bondong menuju satu jurusan. Mereka itu adalah para pengemis dan orang-orang miskin yang dapat dia ketahui dari pakaian mereka yang lusuh dan muka mereka yang kurus. Mereka membawa tempat untuk membawa sesuatu, ada yang membawa kertas, kain-kain yang lusuh, panci dan tempat-tempat lain. Melihat ini, Si Kong menjadi tertarik. Tentu ada terjadi sesuatu disana yang menarik semua orang itu berkunjung kesana. Ketika tiba di ujung timur kota itu, tahulah dia apa yang menarik semua orang itu pergi ke situ. Ternyata di depan gedung seorang hartawan terdapat beberapa orang pelayan sedang membagi-bagi beras dari karung. Beberapa karung yang masih penuh sudah ditumpuk disitu dan orang-orang yang ingin mendapatkan pembagian beras itu berdiri antri berderet-deret. Mereka terdiri dari bermacam-macam orang. Ada yang pria atau wanita, kakek dan nenek, juga ada anak-anak kecil ikut antri. Si Kong berdiri bengong dan kagum. Kenyataan yang di lihatnya itu membantah bahwa semua hartawan terlalu pelit dan tidak mau menolong mereka yang kelaparan. Buktinya hartawan pemilik gedung itu sedang membagi-bagi beras kepada mereka yang membutuhkannya! Karena terharu dan tertarik tanpa disadarinya dia terdesak banyak orang itu sehingga dia melangkah maju dan masuk ke dalam antrian. Dia baru menyadari setelah melihat bahwa di belakangnya telah banyak orang antri. Diapun berdiri dalam antrian untuk mendapatkan beras! Biarlah, katanya kepada diri sendiri. Dia memang ingin melihat orang membagi-bagikan beras itu dan hatinya ikut gembira. Ingin dia melihat siapa hartawan itu dan menyampaikan terima kasihnya. Seorang hartawan yang juga dermawan dan budiman! Mendadak terjadi keributan dan antrian itu menjadi kacau ketika muncul seorang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hitam yang melangkah maju paling depan. Tentu saja mereka yang berdiri di depan merasa penasaran dan tidak mengijinkan si tinggi besar menyerobot antrian. “Harus antri dibelakang!” kata orang terdepan. “Kami juga antri sejak pagi.” Akan tetapi orang tinggi besar berpakaian serba hitam itu menjadi marah dan dua kali tangannya bergerak memukul. Dua orang terdepan terpelanting roboh oleh pukulan itu. Semua orang menjadi gentar dan si tinggi besar itu tanpa memperdulikan siapapun sudah berdiri paling depan. Akan tetapi dia tidak membawa tempat untuk menerima pemberian beras. “Mana tempat menerima beras?” tanya petugas yang membagi-bagi beras, dengan alis berkerut dan pandang mata marah karena diapun melihat betapa si tinggi besar itu memukul dua orang untuk menyerobot antrian. “Tempat beras apa? Aku minta sekarung dan akan kupanggul sendiri. Berikan sekarung beras!” kata si tinggi besar dengan suara galak. Tentu saja para petugas yang terdiri dari empat orang itu tidak dapat menyetujui permintaan ini. Sekarung beras! Beras sebanyak itu kalau dibagi-bagi cukup untuk duapuluh orang! “Tidak bisa kami memberikan sekarung beras kepada seorang saja. Kami hanya membagi-bagi rata, lima kati untuk setiap orang, tidak kurang dan tidak lebih!” “Akan tetapi aku menghendaki sekarung!” kata pula si tinggi besar kukuh. “Majikan kalian The Wan-gwe (Hartawan The) mempunyai beras bergudang-gudang. Apa artinya kalau aku hanya minta sekarung?’ Si tinggi besar itu lalu melangkah maju menghampiri tempat beras dalam karung ditumpuk. Dengan tangan kirinya dia mengangkat sekarung beras yang beratnya seratus kati itu! “Heii….! Kembalikan beras itu!” teriak empat orang petugas sambil menghampiri ketika melihat si tinggi besar hendak melangkah pergi. Akan tetapi, empat kali tangan kanan orang itu menampar dan empat orang petugas itu berpelantingan! Setelah merobohkan empat orang petugas itu, sibaju hitam dengan lagak sombong memperlihatkan tenaganya. Dia melempar-lemparkan sekarung beras itu ke atas dan memainkan benda yang cukup berat itu bagaikan sebuah bola saja. Dia lalu menyambut kembali sekarung beras itu dengan tangan kirinya, lalu memandang ke arah semua orang yang sedang antri dan kini menjadi ketakutan itu. “Hayo, siapa lagi yang hendak melarang aku mengambil beras itu? Majulah untuk menerima hajaranku!” Para pekerja itu sudah melapor ke dalam dan kini mucul Hartawa The dari pintu depan. Dia seorang laki-laki berusia enampuluh tahun dan dari sikapnya yang lemah lembut, wajahnya yang penuh senyum ramah dan pandang matanya yang lembut, dapat diketahui bahwa dia seorang yang baik hati. Melihat lagak si baju hitam itu, dengan lembut dia berkata kepada para pembantunya, “Biarkan dia pergi membawa sekarung beras itu.” Si baju hitam mendengar ucapan itu dan diapun menoleh. “Ha-ha kalian dengar sendiri itu? Hartawan The tidak keberatan aku membawa sekarung beras ini, bahkan kalau aku setiap saat membutuhkan tentu akan boleh datang mengambil lagi beberapa karung!” Setelah berkata demikian, sambil tertawa-tawa si baju hitam itu melangkah pergi dari situ. Si Kong tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Orang itu telah bertindak dan bersikap keterlaluan, dan orang seperti itu yang suka memaksakan kehendak sendiri merupakan bahaya bagi umum. Dia melangkah keluar dari antrian dan menghadang si baju hitam. “Perlahan dulu, sobat. Engkau lupa bahwa sekarung beras itu disediakan untuk orang banyak, bukan untuk memenuhi keserakahanmu. Hayo cepat kembalikan sekarung beras itu pada tempatnya dan kalau membutuhkan beras, harus berdiri di belakang antrian untuk mendapatkan lima kati beras!” Si baju hitam itu membelalakkan matanya, seolah tidak percaya bahwa ada seorang, masih amat muda lagi, berani mengeluarkan ucapan seperti itu kepadanya. Agaknya pemuda itu sudah bosan hidup! Dengan mata melotot dia membentak, “Apa? Kau ingin aku mengembalikan beras ini? Nah, sambutlah!” Dia lalu melontarkan sekarung beras yang berat itu kepada Si Kong dengan pengerahan tenaga. Sekarung beras itu meluncur ke arah Si Kong, dan seandainya bukan Si Kong yang menerimanya, tentu akan roboh terjengkang tertimpa beras sekarung! Akan tetapi, dengan mudah Si Kong menerima beras itu dan sekali tangannya bergerak, sekarung beras itu telah melayang danjatuh di atas tumpukan beras, kembali di tempatnya semula. “Jahanam keparat kau! Mampuslah!” si baju hitam berteriak sambil menerjang ke arah Si Kong, menubruknya seperti seekor harimau menerkam kambing. Si Kong dengan tenang menggeser kakinya kesamping dan begitu tubuh tinggi besar itu lewat, dia menggerakkan kakinya kedepan dan tanpa dapat dihindarkan lagi, si baju hitam itu terperosok ke depan dan jatuh menelungkup! Terdengar suara “Ngekk!” ketika dia terbanting. Semua orang yang sedang antri beras tersenyum gembira melihat betapa si baju hitam itu dirobohkan pemuda yang berpakaian sederhana ini. Akan tetapi si baju hitam cepat merangkak bangun dan meloncat berdiri. Hidungnya berdarah dan dia kelihatan marah bukan main. “Setan! Berani kau melawanku?” Kembali dia menyerang dan sekali ini dia tidak menyerang secara sembarangan saja, melainkan menggunakan ilmu silat. Tangan kanannya melayang ke arah kepala Si Kong, tangan kirinya menyusul menusuk ke arah perut pemuda itu dengan jari-jari tangan terbuka. “Duk-duk!’ kedua tangan itu tertangkis oleh Si Kong. Akan tetapi si baju hitam itu memang tidak tahu diri. Biarpun tangkisan tangan pemuda itu membuat kedua lengannya terasa panas dan nyeri sekali, dia tidak menjadi jera dan kini kaki kanannya menendang dengan pengerahan tenaga sekuatnya. Kaki itu menyambar ke arah perut Si Kong dan merupakan serangan yang amat berbahaya. Namun dengan tenang Si Kong menanti sampai kaki itu dekat dengan perutnya, kemudian tiba-tiba saja dia menarik dirinya ke belakang sambil melangkahkan kaki. Ketika kaki kanan si baju hitam itu menyambar lewat, secepat kilat Si Kong menggunakan tangan kiri menangkap tumit kaki itu dan mendorongnya ke atas lalu kedepan. Tubuh si baju hitam itu terlempar dan kembali terbanting, akan tetapi sekali ini dia terbanting telentang. “Ngekkk…..!” Si baju hitam meringis kesakitan. Tulang belakangnya seperti patah-patah rasanya ketika pinggulnya terbanting ke atas tanah. Sekali ini para penonton tertawa dengan hati senang. Si Kong menghampiri si baju hitam yang sudah bangkit duduk dengan muka meringis. “Masih belum jera dan hendak melanjutkan perkelahian? Silakan bangkit berdiri, aku sudah siap!” Si baju hitam yang masih merasa nyeri bagian belakang tubuhnya itu bengkit berdiri, memandang dengan mata melotot kepada Si Kong lalu berkata, “Kau tunggu saja pembalasanku!’ Setelah berkata demikian diapun pergi dengan terhuyung-huyung sambil kedua tangannya menekan pinggulnya. Hartawan The yang menyaksikan semua itu, menghampiri Si Kong dan berkata, “Orang muda, terima kasih atas bantuanmu mengusir orang jahat itu. Akan tetapi, bagaimana kalau dia kembali dengan kawan-kawannya?” “Harap lo-ya (tuan besar) tidak khawatir. Kalau diperbolehkan, saya ingin membantu lo-ya dalam pembagian beras kepada rakyat kecil yang miskin ini.” “Engkau hendak bekerja membantu kami? Tentu saja boleh dan kebetulan sekali. Kami angkat engkau menjadi pengawas dan pengatur pembagian beras yang kami lakukan setiap hari, dari pagi sampai sore.” “Terima kasih banyak, lo-ya.” “Siapakah namamu, anak muda?” “Nama saya Si Kong, lo-ya.” Hartawan itu berkata kepada empat orang pembantunya yang tadi dirobohkan si baju hitam, “Mulai sekarang, Si Kong ini menjadi pengawas dan pengatur pekerjaan kalian.” Empat orang petugas itu menyambut dengan gembira karena mereka merasa ada yang melindungi kalau-kalau si perusuh tadi kembali membawa teman-temannya. Hartawan The lalu masuk ke dalam rumah kembali dan Si Kong segera mengatur antrian itu agar jangan menjadi kacau. Empat orang petugas itu senang karena biarpun di angkat menjadi pengawas dan pengatur, ternyata Si Kong juga membantu mereka membagi beras, bahkan mengangkat beras dalam karung yang belum dibuka. Sementara itu, Hartawan The memasuki rumahnya dan merasa bersukur bahwa peristiwa kerusuhan telah berlalu, akan tetapi diapun merasa khawatir kalau-kalau para perusuh datang lagi. Dia kembali keruangan tamu di mana tadi dia bercakap-cakap dengan seorang gadis cantik berusia delapan belas tahun. Bersama isterinya, dia tadi bercakap-cakap disitu ketika dia dilapori oleh pembantunya akan keributan yang terjadi diluar. Gadis itu bernama Tan Kiok Nio, datang dari kota Sia-lin. Ibu gadis itu adalah adik Hartawan The Kun. Begitu datang di sambut Hartawan The dan isterinya, Kiok Nio menangis sedih dalam rangkulan isteri The-wan-gwe. Dengan heran dan khawatir, Hartawan The Kun dan isterinya bertanya mengapa gadis itu menangis. Setelah tangisnya reda, Kiok Nio lalu menceritakan malapetaka yang menimpa keluarganya. Ayah Kiok Nio bernama Tan Tiong Bu, seorang pendekar besar yang namanya terkenal di dunia kang-ouw. Keluarga Tan ini tinggal di kota Sia-lin, sebelah selatan kota raja. Tan-taihiap, sebutan Tan tiong Bu memiliki sebuah rumah besar dan diapun memiliki sawah ladang yang luas sehingga kehidupan keluarganya cukup mampu biarpun tak dapat dibilang kaya raya. Di waktu mudanya, Tan Tiong Bu pernah menjadi murid di biara Siauw-lim-pai, kemudian pernah pula menjadi murid Bu-tong-pai. Dia terus memperdalam ilmu-ilmunya sehingga akhirnya dia dapat menggabungkan semua ilmu itu dan merangkai ilmu pedang yang hebat. Ilmu pedang ini hanya dinamakan ilmu pedang keluarga Tan. Diwaktu mudanya dia malang melintang di dunia kang-ouw, mengalahkan banyak tokoh sesat dan sebagai pendekar dia selalu menegakkan kebenaran dan keadilan. Setelah dia menikah dengan seorang gadis yang menjadi adik Hartawan The, dan mempunyai seorang anak perempuan, Tiong Bu mengurangi petualangannya. Akan tetapi namanya tersohor dan dia disegani orang-orang kang-ouw. Kemudia muncul berita angin bahwa pedang Pek-lui-kiam berada di tangan Tan-taihiap ini. Pedang itu semenjak lama telah menjadi perebutan di antara orang-orang kang-ouw dan sudah terjadi banyak perkelahian dan pembunuhan untuk memperebutkannya. Akhir-akhir ini tersiar berita yang mengejutkan, yaitu matinya beberapa tokoh kang-ouw yang diketahui mencoba untuk mendapatkan Pek-lui-kiam. Mereka itu mati dalam keadaan mengerikan, dengan kepala putus terlepas dari lehernya. Padahal yang tewas itu adalah orang-orang terkenal di dunia persilatan, baik dari golongan bersih maupun dari golongan sesat. Maka peristiwa itu amat menggemparkan dunia persilatan. Banyak orang menduga bahwa Tan Tiong Bu yang menjadi pelaku pembunuhan itu karena ada berita bahwa pedang Pek-lui-kiam berada di tangannya. Tan Tiong Bu sendiri tidak mengacuhkan berita itu. Dia tidak merasa membunuh. Adapun tentang pedang Pek-lui-kiam memang berada padanya, sebagai pemilik yang sah. Pada suatu hari, hawa udara amat panasnya. Musim kering yang berkepanjangan mendatangkan hawa yang panas. Terlalu lama bumi di panggang sinar matahari, tidak pernah mendapat siraman air hujan. Karena merasa panas, Tan Tiong Bu dan isterinya duduk di beranda depan yang terbuka agar mendapatkan angin. Puteri mereka sedang tidak berada di rumah. Gadis itu memang sudah biasa pergi keluar rumah dan orang tuanya tidak merasa khawatir. Sebagai anak tunggal, biarpun ia seorang wanita, akan tetapi ia telah mewarisi ilmu-ilmu silat dari ayahnya, bahkan telah mahir memainkan ilmu pedang keluarga Tan. Karena itu kepergian Kiok Nio dari rumah tidak pernah di khawatirkan orang tuanya. Tiba-tiba dari pintu pagar diluar masuklah seorang kakek berusia sekitar enampuluh tahun. Tan Tiong Bu mengerutkan alisnya dan memandang penuh perhatian kepada orang yang kini melangkah tenang memasuki halaman depan itu. Dia seorang yang menggelung rambutnya ke atas dan mengikat rambut itu dengan pita merah! Dan pakaiannya seperti pakaian pertapa atau pendeta, dengan jubah longgar berlengan lebar. Akan tetapi yang terasa aneh, jubah itu berwarna merah! Dipunggungnya tergantung sebatang pedang dan tangan kirinya memegang sebuah kipas yang gagangnya terbuat daripada baja. Melihat pakaian serba merah itu Tan Tiong Bu terkejut. Biarpun belum pernah bertemu, akan tetapi dia sudah mendengar akan adanya seorang datuk di barat yang berjuluk Ang I Sianjin (Manusia Dewa Berbaju Merah). Menurut keterangan yang diperolehnya, Ang I Sianjin adalah seorang datuk yang berilmu tinggi, akan tetapi menggunakan ilmunya di jalan yang sesat dan suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Tentu saja mengingat keadaan kakek itu, Tan Tiong Bu merasa tidak senang kedatangan datuk sesat itu. Akan tetapi sebagai tuan rumah, mau tidak mau dia harus menyambut kedatangan tamu. Maka Tan Tiong Bu bangkit berdiri dan menyambut ke depan sambil mengangkat kedua tangan di depan dada sambil berkata, “Selamat datang sobat. Engkau siapakah dan ada keperluan apa datang berkunjung?’ Kakek tinggi kurus itu tersenyum, senyumnya mengandung ejekan. Dia tertawa terkekeh sebelum menjawab, “Heh-heh-heh! Apakah aku berhadapan dengan pendekar besar Tan Tiong Bu?” “Benar sekali. Dan kalau tidak salah, yang datang berkunjung ini adalah Ang I Sianjin, benarkah?” “Heh-he-he-heh! Ternyata matamu tajam sekali. Sudah lama aku mendengar akan kehebatan ilmu silat keluarga Tan.” “Lalu apa maksud kunjungan ini, Sianjin?” “Aku ingin bertanding denganmu!” “Aih, Sianjin. Mengapa kita harus bertanding kalau diantara kita tidak ada urusan apapun?” “Hemm, jadi engkau tidak berani menerima tantanganku?” “Tidak ada alasan bagiku untuk bertanding denganmu, Sianjin. Mari silakan duduk dan kita membicarakan hal lain saja sebagai sahabat. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga.” “Heh-he-he-heh! Bagus sekali kalau begitu. Engkau mau menerimaku sebagai sahabat, tentu tidak keberatan kalau memberi pinjam Pek-lui–kiam kepadaku!” Tan Tiong Bu terkejut sekali. Memang ada berita angin bahwa para tokoh dunia persilatan menginginkan pedang pusakanya, yaitu Pek-lui-kiam. Karena ada beritu itu, dia menyembunyikan pedang pusaka itu di dalam kamarnya dan tidak pernah membawanya keluar rumah. Sekarang, sudah terjadi hal yang dikhawatirkan, yaitu para tokoh kang-ouw tentu akan mendatanginya dan berusaha merebut Pek-lui-kiam. “Tidak ada pedang Pek-lui-kiam padaku.” kata Tan Tiong Bu tegas. “Hemm, kalau begitu engkau tidak ingin menjadi sahabtku? Cabutlah pedangmu, hari ini aku ingin sekali mencoba kepandaian keluarga Tan. Pilih salah satu. Serahkan Pek-lui-kiam padaku dan aku pergi, atau engkau harus melawan pedangku!” Tan Tiong Bu adalah seorang pendekar besar. Tentu saja ditantang dan didesak seperti itu, dia menjadi marah. Kalau dia berbohong mengatakan bahwa Pek-lui-kiam tidak ada padanya, hal itu dilakukan untuk menghindarkan perkelahian dan permusuhan, bukan karena takut. Dia menoleh kepada isterinya, “Ambilkan pedangku yang tergantung di dinding kamar itu.” Isterinya pergi ke dalam tanpa mengucapkan sesuatu karena wanita ini sudah maklum bahwa suaminya adalah seorang pendekar besar dan sewaktu-waktu seorang pendekar tentu akan ditantang orang untuk bertanding. Akan tetapi, wanita itu merasa jantungnya berdebar karena tegang dan gelisah. Setelah isterinya kembali membawa pedangnya, dia lalu menghadapi Ang I Sianjin dan berkata dengan lantang, “Ang I Sianjin, diantara kita tidak ada permusuhan. Karena engkau memaksa dan menantang, terpaksa aku melayanimu!” Dia mencabut pedangnya yang berkilauan saking tajamnya, dan menyerahkan sarung kepada isterinya. Ang I Sianjin tadinya memandang dengan wajah berseri ketika isteri Tan Tiong Bu menyerahkan pedang kepada suaminya. Dia mengira bahwa pendekar itu akan mempergunakan Pek-lui-kiam. Akan tetapi ketika pedang itu di cabut, dia merasa kecewa. Pedang di tangan lawannya itu memang pedang baik, akan tetapi sama sekali bukan Pek-lui-kiam. “Engkau tidak mau menyerahkan Pek-lui-kiam, jangan katakan aku kejam kalau aku akan membunuhmu dan merampas Pek-lui-kiam!” kata Ang I Sianjin sambil mencabut pula peangnya dengan tangan kanan. Setelah berseru lantang diapun mulai dengan serangannya yang dhasyat. “Tranggg….!” Tan Tiong Bu menangkis dan dia merasakan getaran hebat dan hawa panas menyerang seluruh lengannya. Tahulah dia bahwa lawannya itu lihai bukan main. Karena itu dia segera mainkan ilmu pedang keluarga Tan yang telah terkenal di dunia persilatan itu. Ang I Sianjin terkejut dan kagum ketika hampir saja perutnya terkena tusukan lawan. Dia meloncat kebelakang dan karena diapun tahu bahwa lawannya merupakan lawan yang lihai, dia lalu memutar pedangnya dan juga mainkan kipasnya dengan tangan kiri. Ternyata permainan pedang dan kipas itu serasi sekali, dapat saling bantu dan saling menutupi lowongan kalau sedang menyerang. Kini Tan Tiong Bu yang terkejut. Biasanya, kalau lawan menyerang tentu akan membuka pertahanan untuk balas diserang. Akan tetapi setelah lawanya mainkan kipas dan pedang, ketika lawan menyerang sama sekali tidak ada bagia tubuh yang terbuka pertahanannya. Kalau pedang yang menyerang, kipas yang bertahan, sebaliknya kalau kipas baja itu dipakai menyerang, pedang yang bertahan. Dengan demikian, Tan Tiong Bu tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk membalas serangan lawan. Setelah pertandingan yang seru berlangsung limapuluh jurus, pundak kiri Tan Tiong Bu terkena tusukan gagang kipas baja sehingga dia terhuyung dan pundaknya berdarah. Melihat lawannya terhuyung, Ang I Sianjin tertawa dan menubruk ke depan dengan pedangnya. “Tranggg…!” Pedangnya tertangkis dari samping dan ternyata yang menangkis pedang itu adalah isteri Tan Tiong Bu. Untuk menyelamatkan suaminya, nyonya itu dengan nekat menggunakan pedang yang tadinya di bawa pula dari dalam untuk menangkis. Padahal, dalam ilmu silat pengetahuannya masih rendah. Ang I Sianjin marah dan kipasnya bergerak ke arah nyonya itu. Ujung kipas itu dengan tepat menusuk leher dan sambil mengeluh isteri Tan Tiong Bu roboh terpelanting. Melihat ini, Tan Tiong Bu terkejut dan marah sekali. Dia meloncat ke depan dan menyerang lawan sekuat tenaga tanpa memperdulikan pundak kirinya yang terasa nyeri. Akan tetapi karena hatinya gelisah mengingat keadaan isterinya, permainan pedangnya pun kurang tetap dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ang I Sianjin untuk menghunjamkan serangan pedang dan kipasnya. Tan Tiong Bu beruaha membela diri, akan tetapi dia kalah cepat, ketika pedangnya terpental karena bertemu kipas, tahu-tahu pedang Ang I Sianjin telah menembus dadanya. Darah muncrat dan tubuh Tan Tiong Bu bergling. Akan tetapi pendekar ini masih dapat mengarahkan kejatuhan tubuhnya dekat isterinya. Dia masih dapat memeriksa keadaan isterinya dan ketika melihat bahwa isterinya telah tewas, dia menudingkan telunjuknya yang berlepotan darah isterinya kepada Ang I Sianjin dan berkata, “Kau… iblis….. terkutuk….!” Tubuh Tan Tiong Bu terkulai dan diapun menghembuskan napas terakhir. Ang I Sianjin tidak memperdulikan lagi suami isteri yang sudah mati itu. Dia meloncat ke dalam rumah dan mulai melakukan penggeledahan untuk mencari Pek-lui-kiam. Ketika bertemu dua orang pembantu rumah tangga itu, seorang pria dan seorang wanita, tanpa berkata apapun tangannya bergerak dan kedua orang pembantu itu tewas dengan kepala retak! Ang I Sianjin menggeledah kamar Tan Tiong Bu dan akhirnya dia dapat menemukan pedang pusaka itu yang tersimpan di dalam almari pakaian pendekar itu. Dia mencabut pedang itu. sinar kilat menyilaukan mata ketika pedang dicabut. Kakek itu tertawa-tawa gembira. “Heh-he-he-heh! Inilah Pek-lui-kiam! Kini terjatuh ketanganku! Aku akan menjadi jagoan tanpa tanding dengan pedang ini, heh-heh-heh!” Dia menyarungkan kembali pedang itu, menyelipkannya diikat pinggangnya kemudian dia berlari keluar dengan cepat sekali. Ketika seorang tetangga datang untuk suatu keperluan ke rumah keluarga Tan, dia terkejut sekali melihat Tan Tiong Bu dan isterinya menggeletak di halaman dekat beranda dalam keadaan tak bernyawa lagi dan tubuhnya mandi darah. Tetangga ini keluar sambil berteriak-teriak minta tolong. Para tetangga lain datang berlarian dan mereka semua merasa terkejut dan ngeri. Apalagi ketika mereka menemukan mayat dua orang pembantu rumah tangga keluarga Tan. Para tetangga lalu merawat empat jenazah itu. Menjelang sore, Tan Kiok Nio pulang ke rumahnya. Gadis itu terkejut dan heran melihat banyaknya orang dirumahnya. Ia berlari cepat memasuki halaman rumahnya dan tertegun melihat empat buah peti mati berjajar di beranda. Wajahnya menjadi pucat, jantungnya berdebar-debar dan iapun meloncat menghampiri peti mati. Ketika melihat peti mati yang masih belum di tutup itu dan menjenguk ke dalamnya, gadis itu menjerit-jerit. Ia lari dari satu peti ke peti yang lain. “Ayah….! Ibu…..! Kalian kenapa…. kenapa…..?” Gadis itu lunglai dan roboh pingsan. Para wanita tetangga yang berada di situ ikut menangis dan beramai-ramai mereka mengangkat gadis yang pingsan itu ke kamarnya. Setelah sadar dari pingsannya, Kiok Nio bangkit dan cepat berlari keluar. Bukan, bukan mimpi! Di beranda itu terdapat empat buah peti mati berisi mayat-mayat ayahnya, ibunya, dan dua orang pembantunya. Iapun menubruk peti ibunya dan menangis tersedu-sedu sambil memanggili ibunya, kemudian menubruk peti ayahnya dan sambil menangis, memanggili nama ayahnya. Para tetangga membiarkan gadis itu melampiaskan dukanya melalui air mata. Setelah tangisnya mereda, barulah para wanita tetangga menghiburnya. “Mereka sudah meninggal dunia, walau ditangisi juga tidak ada gunanya, nona. Sekarang sebaiknya kita mengurus jenaza-jenazah itu.” Kiok Nio dapat menekan perasaan dukanya, lalu bertanya, “Apa yang telah terjadi? Mengapa ayah ibu mati? Siapa yang membunuhnya?” “Tidak ada yang tahu, nona. Hanya kebetulan saja seorang tetangga ketika lewat melihat seorang kakek berjubah merah, tinggi kurus dan mukanya pucat keluar dari halaman rumah ini. Tetangga itu mempunyai urusan dengan ayahmu maka dia masuk ke halaman dan melihat ayah ibumu sudah menggeletak di halaman dalam keadaan tidak bernyawa. Kami semua memasuki rumahmu dan melihat dua orang pembantumu juga sudah tewas pula.” “Kakek tinggi kurus berjubah merah? Siapa dia?” Kiok Nio bangkit berdiri dan mengepal kedua tinjunya. “Siapa dia?” “Nona, sayalah yang melihat kakek itu, akan tetapi saya tidak mengenalnya. Akan tetapi dia mudah di kenal. Jubahnya itu yang aneh, mirip jubah pendeta akan tetapi berwarna merah dan rambutnya yang di gelung ke atas juga diikat pita merah.” Kata tetangga yang melihat kakek itu dan yang pertama kali menemukan mayat Tan Tiong Bu dan isterinya. “Siapapun adanya orang itu, pasti akan kucari dan kubalas dendam ini!” Kiok Nio lalu berlari keluar dengan gerakan cepat dan ia mencari-cari kakek itu diseluruh pelosok kota. Para tetangga tidak berani melarangnya dan hanya menunggu peti-peti mati itu. Akhirnya Kiok Nio pulang dengan wajah lesu. Ia tidak berhasil menemukan musuh besarnya. Setelah jenazah ayah ibunya dimakamkan, Kiok Nio tidak betah tinggal seorang diri di dalam rumah itu dan sebulan kemudian, ia pergi meninggalkan rumahnya dan pergi ke kota Ci-bun untuk mengunjungi pamannya, yaitu Hartawan The Kun. Di depan paman dan bibinya ia menangis menceritakan tentang kematian ayah ibunya. Tentu saja The Kun menjadi terkejut bukan main. “Kau tinggallah bersama kami disini, Kiok Nio. Engkau sudah yatim-piatu, anggaplah kami sebagai orang tua sendiri. Kebetulan kami juga tidak mempunyai anak.” Karena paman dan bibinya amat ramah dan Kiok Nio tahu bahwa pamannya itu adalah seorang hartawan yang budiman dan dermawan, maka ia suka tinggal disitu. *** Demikianlah riwayat gadis cantik manis yang tinggal di rumah Hartawan The Kun dan mari kita kembali keluar gedung untuk melihat apa yang terjadi di tempat pembagian beras itu. si Kong bekerja dengan rajin sehingga menyenangkan empat orang lainnya. Akan tetapi, seperti yang dikhawatirkan semua orang, mendadak datang lima orang yang kesemuanya berpakaian hitam dan kelihatan sikap mereka yang kasar dan tubuh mereka yang kokoh kuat. Di antara lima orang itu terdapat si baju hitam yang tadi hendak merampas beras sekarung dan dapat di usir oleh Si Kong. “Di mana pemuda jahanam yang tadi berani memukul aku?” teriak si baju hitam itu. Sebelum Si Kong melangkah maju, terdengar bentakan halus. “Bangsat pengacau, kalian datang untuk mencari penyakit!” Semua orang terkejut dan menengok. Ternyata Kiok Nio sudah berdiri disitu. Gadis ini tadi mendengar cerita pamannya tentang si baju hitam yang memaksa hendak mengambil sekarung beras akan tetapi pengacau itu dapat diusir seorang pemuda yang kini diterimanya sebagai pembantu bekerja membagi-bagi beras. Gadis itu merasa menyesal mengapa ia tadi tidak ikut keluar sehingga dapat menghajar sendiri pengacau itu. Kini, mendengar ribut-ribut di luar ia cepat meloncat keluar dan melihat lima orang itu, ia lalu membentak mereka. Si baju hitam dan empat orang kawannya mendengar bentakan itu lalu menoleh. Kiranya yang membentak mereka adalah seorang gadis cantik. Meliha Kiok Nio, si baju hitam lau maju menghampiri, diikuti emoat orang temannya. “Nona manis,” kata si baju hitam sambil menudingkan telunjuknya. “Jangan engkau mencampuri urusan kami, atau aku akan menangkapmu untuk kujadikan isteriku!” Empat orang kawannya juga menyeringai menjemukan. “Jahanam busuk, kalau engkau dan teman-temanmu ini datang untuk mengacau, aku sendiri yang akan memberi hajaran kepada kalian!” Pada saat itu, dari dalam rumah muncul Hartawan The Kun. Melihat keponakannya berhadapan dengan lima orang laki-laki yang menyeramkan, diapun cepat berkata, “Kiok Nio, jangan berkelahi!” lalu kepada si baju hitam dia berkata, “Kalau kalian menginginkan beras ambillah akan tetapi harap jangan bikin kacau disini.” Si Kong sejak tadi terheran-heran melihat seorang gadis cantik berani menantang lima orang berandal itu. Melihat pedang di punggung gadis itu, dia tahu bahwa gadis itu tentu seorang yang pandai ilmu silat. Ketika Hartawan The Kun muncul dan menegur gadis yang di panggil Kiok Nio itu, Si Kong mengira bahwa gadis itu puteri Hartawan The. Dia lalu menghampiri dan berkata kepada si baju hitam. “Sobat, engkau berani datang lagi membawa teman-temanmu. Majulah, aku tidak takut kepada kalian.” “Tidak!” Gadis itu berkata cepat. “Aku yang akan menghajar lima orang ini kalau mereka tidak cepat pergi dari sini. Paman The, jangan khawatir, aku dapat menandingi mereka. Hayo, anjing baju hitam, aku tantang kalian. Kalau kalian tidak berani, cepat kalian pergi dari sini dan jangan menganggu ketenteraman.” Si baju hitam tentu saja menjadi marah mendengar dirinya disebut anjing hitam oleh seorang gadis. Itu merupakan penghinaan besar, apalagi diucapkan di depan banyak orang yang sedang antri beras. “Gadis kurang ajar, berani engkau menghina kami!” Dan setelah bekata demikian, dia menerjang maju dengan gerakan cepat sambil mengembangkan kedua lengannya seolah hendak menerkam Kiok Nio. Akan tetapi dengan gesitnya Kiok Nio mengelak kesamping sehingga terkaman itu luput. Empat orang kawan si baju hitam melihat kawannya sudah mulai bergerak, tidak tinggal diam. Mereka semua ingin sekali dapat membekuk dan memeluk gadis cantik itu, maka tanpa diperintah lagi mereka sudah mengepung Kiok Nio dengan sikap yang kasar menakutkan. Melihat dia dikepung lima orang laki-laki tinggi besar itu, Kiok Nio sama sekali tidak gentar. Akan tetapi ia tidak mau beradu tangan dan lengan dengan mereka, maka sekali tangan kanannya bergerak ke punggung, ia telah mencabut sebatang pedang dan melintangkan pedang itu di depan dada! Melihat ini si baju hitam dan kawan-kawannya juga mencabut senjata mereka berupa golok yang besar dan tajam. “Kawan-kawan, hati-hati jangan lukai nona manis ini. Sayang kalau kulitnya yang halus itu ada yang lecet, ha-ha-ha!” Kawan-kawannya juga tertawa mendengar ucapan ini. Ucapan si baju hitam itu membuat Kiok Nio menjadi marah sekali. “Lihat serangan!” bentaknya dan pedangnya udah berkelebat ke depan menyerang si baju hitam. Orang ini terkejut bukan main. Serangan sedemikian cepatnya sehingga hampir saja dia terkena tusukan pada dadanya. Dia menggerakkan goloknya menangkis sambil melompat mundur dan kini empat orang kawannya maju dengan golok mereka, menyerang Kiok Nio dari empat jurusan. Akan tetapi Kiok Nio memutar pedangnya dan terdengar suara nyaring berdenting empat kali. Selanjutnya gadis itu memainkan ilmu pedang keluarga Tan dan lima orang lawannya menjadi terkejut dan mata mereka silau. Pedang di tangan Kiok Nio berubah menjadi segulungan sinar yang terang dan menyambar-nyambar ke arah tubuh mereka! Lima orang itu kini hanya mampu membela diri dengan tangkisa-tangkisan dan berlompatan ke sana sini untuk menghindarkan sinar pedang yang makin lama semakin cepat itu. Si Kong yang tadinya merasa khawatir dan siap-siap membantu atau menolong kalau gadis itu terancam bahaya,kini sebaliknya menjadi kagum bukan main. Gadis itu memiliki ilmu pedang yang dahsyat dan tahulah dia bahwa gadis itu tidak akan kalah dikeroyok lima orang itu. Dugaan Si Kong memang tepat. Setelah lewat belasan jurus, pedang di tangan Kiok Nio telah mengurung lima orang itu dan orang yang pertama roboh terpelanting adalah si baju hitam. Pedang Kiok Nio melukai pangkal lengan kanannya sehingga dia terpaksa melepaskan goloknya da roboh, memegangi lengan kanan yang terluka itu sambil mengaduh-aduh. Pedang itu berkelebatan terus dan berturut-turut empat orang pengeroyok yang lain juga roboh. Ada yang terluka pundaknya, ada yang robek pahanya dan orang ke lima roboh oleh tendangan kaki Kiok Nio yang tepat mengenai perut, membuat orang itu perutnya mulas! Tepuk sorak terdengar ketika mereka yang antri beras itu melihat lima orang itu dapat dirobohkan oleh gadis itu. si Kong juga ikut bertepuk tangan memuji dengan hati lega karena selain gadis itu dapat menang, akan tetapi terutama sekali gadis itu tidak membunuh orang. Dengan ilmu pedang seperti itu, kalau gadis itu hendak membunuh para pengeroyoknya, hal itu dapat dilakukan dengan mudah. Akan tetapi gadis itu hanya membuat mereka luka ringan saja. hal inilah yangmengagumkan hati Si Kong. Setelah hari menjadi sore dan pekerjaan membagi-bagi beras itu selesai The-wan-gwe memanggil Si Kong. Si Kong segera memasuki ruangan depan dan disitu telah duduk The Kun, isterinya dan Tan Kiok Nio. Si Kong memberi hormat kepada mereka. “Inilah pemuda yang bernama Si Kong itu yang telah mengusir pengacau.” The Kun memperkenalkan kepada isteri dan keponakannya. Kemudia berkata kepada Si Kong, “Si Kong, ini adalah isteriku dan itu adalah keponakanku bernama Tan Kiok Nio.” Kembali Si Kong memberi hormat. “Duduklah, Si Kong. Kami memanggilmu untuk diajak berunding.” Si Kong mengambil tempat duduk. “Urusan apakah yang hendak dirundingkan, lo-ya?” “Sebelumnya kami ingin mengtehui engkau berasal dari mana, dan siapa gurumu?” “Saya dulu ketika masih kecil tinggal di Ki-ceng, akan tetapi sejak saya berusia sepuluh tahun saya berkelana seorang diri karena orang tua saya sudah meninggal dunia. Saya selalu merantau dan dalam perantauan itu saya belajar silat dari beberapa orang guru. Ketika tadi saya melihat di kota ini ada seorang dermawan membagi-bagi beras, hati saya tertarik dan beruntung saya dapat membantu lo-ya.” “Dan kami berterima kasih sekali kepadamu, Si Kong. Keponakanku ini kebetulan datang sehingga ia dapat mengusir lima orang pengacau tadi.” “Siocia memiliki ilmu yang sangat tinggi, sungguh mengagumkan sekali.” kata Si kong dengan sejujurnya karena dia memang melihat betapa hebatnya ilmu pedang gadis itu. “Keponakanku ini adalah puteri seorang pendekar besar yang namanya terkenal di dunia persilatan, bernama Tan Tiong Bu, tentu saja ia memiliki ilmu yang tinggi warisan dari ayahnya.” “Ah, paman harap jangan memuji terlalu tinggi. Di dunia ini terdapat banyak sekali orang sakti, bahkan mendiang ayah juga dikalahkan dan di bunuh orang yang tentu lebih pandai.” kata Kiok Nio merendah. Hartawan The menghela napas panjang. “Betapa banyaknya orang jahat di dunia ini. Seperti para pengacau tadi, mereka adalah orang-orang yang amat jahat. Entah mengapa mereka memusuhi aku. Si Kong, engkau sudah banyak merantau di dunia kang-ouw, mungkin engkau mengenal mereka itu siapa dan dari perkumpulan apa?” Si Kong menggeleng kepalanya. “Maaf, lo-ya. Saya baru saja hari ini memasuki kota Ci-bun. Saya sama sekalitidak mengenal mereka.” Kiok Nio yang ikut mencurahkan perhatian kepada percakapan itu berkata, “Mereka berpakaian serba hitam semua, tentu mereka itu anggauta sebuah perkumpulan. Dan melihat pakaian dan penam[ilan mereka, mereka itu tentu anggauta-anggauta perkumpulan perampok atau perkumpulan pengemis yang sesat.” Hartawan The menepuk pahanya. “Perkumpulan pengemis? Ah, sekarang aku teringat! Di Ci-bun ini memang terdapat sebuah perkumpulan pengemis berbaju hitam, yaitu Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Apakah mereka itu dari perkumpulan itu? Akan tetapi biasanya para anggauta perkumpulan itu tidak pernah ada yang membikin kacau, apalagi berbuat jahat. Kalau melihat pakaian mereka, memang besar sekali kemungkinan mereka itu orang-orang Hek I Kaipang.” “Hemm, dimanakah sarang perkumpulan itu, lo-ya?” “Bagaimana kami bisa mengetahui tempat tinggal mereka? Akan tetapi biasanya ada saja pengemis baju hitam yang berkeliaran di kota ini. Kalau engkau bertanya kepada mereka, tentu mereka akan dapat memberi keterangan.” “Kalau begitu, besok pagi saya mohon pamit, lo-ya.” Kiok Nio memandang penuh perhatian. Pemuda itu menurut cerita pamannya telah mengalahkan si baju hitam. Akan tetapi hal itu belum menjadi jaminan bahwa dia memiliki ilmu silat tinggi yang akan mampu menghadapi pengeroyokan anggauta Hek I Kaipang! “Apa maksudmu hendak mencari sarang Hek I kaipang!” tanyanya dengan hati tertarik. “Saya hendak bicara dengan ketuanya, melaporkan perbuatan anak buahnya yang jahat dan minta kepadanya agar selanjutnya jangan mengganggu usaha kemanusiaan lo-ya yang membagi-bagi beras.” “Engkau berani?” “Kenapa tidak, siocia. Saya kesana dengan maksud baik. Saya tidak ingin bermusuhan dengan siapa juga.” “Kalau ketuanya tidak mendengar omongamu dan engkau dikeroyok, bagaimana?” “Saya kira tidak demikian, siocia. Akan tetapi kalau terjadi seperti yang nona katakan itu, yah, bagaimana nanti sajalah!” Kiok Nio mendapatkan ingatan mengenai urusannya sendiri. “Si Kong, engkau adalah seorang yang suka berkelana tentu pengetahuanmu tentang dunia kang-ouw kebih luas daripada aku. Oleh karena itu, aku minta pertolongan kepadamu, entah engkau mau menyanggupi atau tidak.” “Katakanlah, siocia. Kalau memang aku dapat melakukannya, tentu akan kusanggupi.” “Begini, aku mempunyai musuh besar, yaitu orang yang telah membunuh ayah ibuku. Akan tetapi aku belum pernah melihat orangnya, tidak tahu namanya. Hanya ada keterangan bahwa pembunuh itu mengenakan pakaian serba merah usianga enampuluh tahun kurang lebih, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat. Nah, kalau engkau dapat mengetahui siapa orang itu, siapa namanya dan dimana tempat tinggalnya, aku minta agar engkau suka memberi kabar padaku disini. Maukah engkau membantuku, Si Kong?” Si Kong mengangguk dan menjawab dengan sungguh-sungguh. “Akan saya buka lebar-lebar mata dan telinga saya untuk mencari tahu tentang kakek itu, nona. Mudah-mudahan saja ada yang tahu siapa kakek dengan gambaran seperti yang nona ceritakan tadi.” “Ada satu keterangan tambahan, Si Kong. Orang itu telah merampas sebatang pedang milik ayah. Pedang itu disebut Pek-lui-kiam, pedang yang mengeluarkan sinar kilat.” “Keterangan itu penting sekali, nona. Kalau tidak dapat dikenal orangnya, mungkin dapat dikenal pedangnya. Saya akan berusaha mencarinya, nona.” “Terima kasih, engkau baik sekali, Si Kong. Dan untuk bekal perjalananmu, terimalah benda-benda ini dan juallah.” Gadis itu menyerahkan sapasang gelang emasnya. Si Kong menolak dengan halus. “Nona, apa yang saya lakukan adalah suatu kewajiban bagi saya, dan saya tidak membutuhkan imbalan.” “Tidak, Si Kong. Simpanlah ini. Kalau engkau sampai kehabisan bekal di perjalanan, dapat kaupergunakan gelang-gelang ini. Kalau engkau tidak mau menerimanya, aku akan selalu merasa gelisah dan menyesal, dan tidak mempunyai harapan akan dapat menemukan musuh besarku. Terimalah! Ini bukan imbalan jasa, melainkan untuk biaya perjalanan.” “Kiok Nio benar, Si Kong. Terimalah sepasang gelang itu agar hatinya tenteram.” Kata Hartawan The Kun. Karena di desak oleh mereka, akhirnya Si Kong mau juga menerima sepasang gelang emas bertabur permata itu. Malam itu dia bermalam di dalam sebuah kamar tamu dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah berpamit lalu pergi meninggalkan rumah The Kun dan berjalan keliling kota. Tak lama kemudian, bertemulah dia dengan yang dicari-carinya. Dua orang pengemis yang mengenakan pakaian berwarna hitam sedang mengemis di depan sebuah pasar. Dua orang pengemis ini sama sekali tidak kelihatan menyeramkan seperti lima orang perusuh yang kemarin mengacau di depan rumah Hartawan The. Si Kong memperhatikan mereka berdua. Pakaian mereka memang serba hitam seperti pakaian para pengacau kemarin akan tetapi mereka mengemis seperti pengemis biasa, bukan menggunakan kekerasan dan menerima apa dan berapa saja pemberian orang. Si Kong sengaja lewat di depan mereka, akan tetapi mereka itu sama sekali tidak mengenalnya dan hanya menodongkan tangan minta sumbangan. Si Kong mengambil empat keping uang dan memberi mereka masing-masing dua keping. Melihat ada orang memberi mereka masing-masing dua keping, dua orang pengemis itu membungkuk-bungkuk mengucapkan terima kasih. “Sekarang aku minta tolong kepada kalian.” kata Si Kong. “Dimanakah tempat tinggal ketua Hek I Kaipang?” Mendengar ini, mata dua orang pengemis itu menatap wajah Si Kong penuh perhatian dan setelah bertemu pandang, baru Si Kong menduga bahwa dua orang pengemis yang kelihatan lemah ini tentu memiliki ilmu silat yang lumayan. “Kongcu, ada keperluan apakah kongcu menanyakan Hek I Kaipang?” “Aku hanya ingin bertemu dengan pangcu kalian. Kalau pembicaraan kami cocok, aku ingin menyumbang.” kata Si Kong. Mata yang tadinya mencorong penuh selidik itu menjadi lembut kembali dan seorang di antara dua orang pengemis itu tersenyum. “Kalau kongcu keluar dari pintu gerbang kota sebelah timur, dalam jarak kurang lebih lima mil, kongcu akan melihat sebuah bangunan kuil yang sudah tidak dipergunakan lagi. Disanalah tempat tinggal kami.” “Terima kasih,” kata Si Kong dengan gembira. “Sekarang juga aku akan pergi kesana.” Dia lalu melangkah cepat ke pintu gerbang timur dan keluar dari pintu gerbang itu. Ternyata sebelah timur kota itu merupakan persawahan yang tidak ada bangunan rumahnya, tidak ada orang kecuali mereka yang bekerja di sawah ladang. Dia berjalan menuju ke timur, melalui jalan yang tanahnya pecah-pecah karena musim kering panjang. Dari jauh kelihatan sebuah hutan di depan, dan sungguh menyenangkan melihat kehijauan hutan itu setelah hati merasa sedih melihat tanah yang kekeringan. Karena jalan itu sepi orang, Si Kong lalu mempergunakan ilmu Liok-te Hui-teng sehingga tubuhnya seolah melayang atau terbang saja saking cepatnya dia berlari. Tak lama kemudian dia memasuki hutan itu dan di dalam hutan terdapat sebuah kuil kuno yang besar namun sudah tidak berfungsi menjadi kuil tempat bersembahyang lagi. Ketika Si Kong tiba di depan kuil, di pekarangan kuil itu dia melihat beberapa orang berpakaian hitam sedang bekerja. Ada yang menyapu halaman, ada yang memelihara tanaman bunga, adapula yang membersihkan pintu dan jendela-jendela. Kiranya kuil yang tua dan sudah tidak digunakan lagi itu kini terpelihara oleh anak buah Hek I Kaipang. Kuil itu nampak tua akan tetapi bersih. Si Kong memasuki halaman itu dan segera ada tiga orang pengemis berpakaian hitam menghadangnya. “Kongcu, disini bukan tempat umum, melainkan tempat tinggal kami. Ada keperluan apa kongcu masuk ke sini?” tanya seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus. Pengemis ini masih memegang sapu bergagang panjang. Adapun dua orang temannya yang tadi bekerja memelihara pohon bunga, berdiri dengan sikap waspada sambil membawa golok yang tadi mereka pergunakan untuk membabat tumbuh-tumbuhan yang liar. Si Kong segera menjawab dengan tulus, “Kedatanganku ini untuk bertemu dengan ketua Hek I Koipang.” Tiga orang itu kelihatan terkejut lalu memandang dengan sinar mata penuh kecurigaan. “Orang muda, ada keperluan apa engkau hendak bertemu dengan pangcu (ketua) kami?” “Kalian tidak perlu tahu. Bawa saja aku menghadap pangcu kalian dan aku akan bicara dengannya.” “Hemm, tidak mudah untuk bertemu dengan pangcu kami, orang muda. Ada syaratnya untuk di anggap patut bertemu dengan beliau.” kata pula pengemis jangkung kurus itu. “Ada syaratnya? Dan apakah syarat itu?” tanya Si Kong penasaran. Masa hendak bertemu dengan ketua pengemis saja ada syaratnya? Betapa angkuhnya para pengemis ini. “Syaratnya ada dua. Pertama, harus diberitahukan dulu kepada kami apa keperluanmu dan mencari kami akan melapor kepada pangcu apakah beliau mau bertemu dengan engkau atau tidak.” “Dan syarat ke dua?” “Syarat kedua berlaku untuk mereka yang tidak memenuhi syarat pertama, yaitu kalau hendak masuk kuil, harus melangkahi tubuh kami bertiga!” Ini sebuah tantangan! Biarpun sikap mereka tidak sekasar dan sesombong si baju hitam dan empat orang kawannya yang mengacau di depan rumah Hartawan The, tiga orang ini jelas memandang rendah orang lain dan menantangnya. Hatinya makin merasa tidak suka kepada Hek I Kaipang. “Bagus, aku menghendaki syarat ke dua!” kata Si Kong. Si tinggi kurus melintangkan sapunya yang bergagang panjang sedangkan dua orang temannya memegang golok. Mereka kelihatan tegang dan sudah bersiap-siap untuk mengeroyok. “Majulah kalau engkau berani melawan kami bertiga, kami sudah siap!” kata si tinggi kurus. Si Kong lalu menerjang maju, menampar ke arah pengemis kurus itu. Si pengemis kurus menggerakkan gagang sapunya, memainkan sapu itu seperti orang bersilat pakai tongkat, menangkis tamparan Si kong sambil mengerahkan tenaga. “Krakk!” tongkat sapu itu patah menjadi dua potong! Dua orang pengemis lain sudah membantu dengan menyerang Si Kong, menggunakan golok mereka, dari kanan kiri. Namun dengan amat mudahnya Si Kong mengelak ke belakang dan ketika kedua batang golok itu menyambar luput, Si Kong sudah menggerakkan jari tangannya menotok dan kedua orang itu roboh tanpa dapat bangkit kembali karena tubuh mereka sudah tertotok lemas. Si tinggi kurus marah sekali dan dia menggunakan tongkatnya yang sudah patah menjadi dua potong itu untuk menyerang Si Kong. Akan tetapi, Si Kong menangkis dua potong tongkat itu dengan kedua tangannya dan kembali tongkat itu patah! Sebelum pengemis itu mampu menyerang lagi, Si Kong sudah menotoknya pula dan si tinggi kurus itu juga roboh tak dapat bangkit kembali. Masih ada dua orang pengemis yang bekerja di halaman itu. Melihat tiga orangnya di robohkan pemuda itu, mereka menjadi marah. Seorang dari mereka berlari masuk ke dalam kuil, sedangkan orang kedua berlari menghampiri Si Kong dan menyerang, menggunakan tongkatnya. Si Kong tidak mau membuang banyak waktu lagi. Dia menangkap tongkat itu dan menotok roboh pengemis keempat. “Nah, aku telah memenuhi syarat ke dua, dapat melangkahi tubuh kalian. Tentu sekarang aku diperkenankan masuk.” Setelah berkata demikian dia melangkahi tubuh mereka. Pada saat itu, dari dalam kuil muncul dua orang. Yang seorang adalah adalah seorang kakek berpakaian serba hitam yang usianya sudah ada enampuluh tahun, namun tubuhnya masuh nampak sehat dan kokoh. Muka pengemis ini bundar, dengan sepasang mata yang mencorong menandakan bahwa dia memliki tenaga sinkang yang kuat. “Siapa berani membikin ribut disini?” bentaknya dan dia memandang kepada Si Kong, lalu kepada tubuh empat orang pengemis yang menggeletak diatas tanah tanpa dapat bergerak. Adapun orang kedua adalah seorang gadis yang cantik dan gagah sekali, dengan sebatang pedang terselip di punggung. Pengemis tua itu lalu meloncat kedepan tubuh empat orang pengemis tertotok itu. Tongkatnya bergerak cepat menotok mereka berempat dan seketika empat orang itu mampu bergerak kembali. Mereka bangkit dan berdiri, muka mereka merah karena telah di kalahkan oleh pemuda itu. “Orang muda, siapakah engkau? Engkau berani datang dan menyerang empat orang anggauta kami, merobohkan mereka dengan totokan. Apa maksud perbuatanmu ini dan apa kehendakmu?” Si Kong mengamati orang tua itu. Tubuhnya masih tegap dan nampak kuat. Sebatang tongkat hitam setinggi pundak berada di tangannya. Tentu orang ini memiliki ilmu tongkat yang lihai, pikirnya. “Engkau ketua Hek I Kaipang?” tanya Si Kong, suaranya tegas. “Benar, akulah Hek I Kaipangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Baju Hitam).” “Aku bernama Si Kong dan aku datang untuk menegurmu. Sebagai ketua Kaipang, engkau harus mendirik anggautamu dengan baik-baik. Mengemis makanan dan uang memang perbuatan tak tahu malu dan menjadi tanda kemalasan. Akan tetapi mengemis dengan cara merampok merupakan kejahatan yang tak dapat diampuni lagi!” “Pemuda sombong! Engkau datang mengacau di sini, sebaliknya engkau menuduh orang lain yang bukan-bukan. Engkaulah yang sombong dan jahat!” “Hemm, dengarkan dulu omonganku….” “Tidak perlu banyak bicara. Engkau kalahkan dulu tongkatku ini, baru kita bicara. Engkau telah merobohkan empat orang anggauta kami, itu sudah lebih dari cukup. Merobohkan anggauta kami di tempat kami sendiri merupakan penghinaan bagi ketuanya. Nah, bersiaplah engkau!” Kakek itu memutar-mutar tongkatnya dan terasa ada angin yang kuat menyambar. Diam-diam Si Kong kagum akan tetapi juga membangkitkan nafsunya untuk mencoba dan menandingi kakek ahli ilmu tongkat itu. Melihat tempat itu dikepung banyak pengemis baju hitam dan banyak di antara mereka yang memegang tongkat, Si Kong lalu meloncat ke samping dan sebelum pemilik tongkat itu tahu apa yang terjadi, tongkat bambunya sudah berpindah ke tangan Si Kong. “Pangcu, aku datang untuk bicara, akan tetapi aku disambut dengan tongkat. Jangan dikira bahwa aku takut menghadapi tongkatmu. Mari kita bermain tongkat sebentar. Hendak kulihat sampai dimana kelihaian tongkatmu!” Si Kong melintangkan tongkat bambunya di depan dada. Sebaliknya, ketua Hek I Kaipang itu menjadi semakin penasaran. Pemuda itu berani menyambut tantangannya dengan bersenjatakan sebatang tongkat bambu! Padahal, tongkat di tangannya adalah sebatang tongkat yang terbuat dari pada baja pilihan sehingga tongkatnya itu berani menyambut senjata pusaka yang bagaimanapun ampuhnya. Sementara itu, gadis cantik gagah yang keluar bersama ketua Hek I Kaipang itu hanya menontong dengan sikap tenang sekali. Gadis ini bukan gadis biasa, melainkan seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Ia adalah puteri dan anak tunggal dari pendekar besar Pek Han Siong yang diwaktu kecilnya dijuluki Sin-tong (Anak Sakti) karena bertulang dan berbakat baik sekali. Pek Han Siong ini menguasai banyak macam ilmu silat, diantaranya ilmu silat Pek-sim-pang (Tongkat Hati Murni), Kwan Im Kiamsut (Ilmu Pedang Dewi Kwan Im) yang dapat dimainkan dengan tangan kosong pula, disebut Kwan Im Sin-kun dan masih banyak lagi. Dan lebih dari pada itu, diapun menguasai ilmu sihir! Adapun isterinya juga bukan orang sembarangan. Ibu gadis itu bernama Siangkoan Bi Lian yang pernah mendapat julukan Tiat-sim Sian-li (Dewa Berhati Besi). Diantara ilmu-ilmu silat yang dikuasainya, terdapat ilmu Kim-ke Sin-kun (Ilmu Silat Ayam Emas) dan juga Kwan Im Sin-kun. Gadis itu adalah puteri mereka, anak tunggal yang bernama Pek Bwe Hwa, berusia delapan belas tahun. Wajahnya berbentuk bulat telur seperti wajah ibunya, hidungnya kecil mancung, bibirnya merah membasah, dagunya yang runcing itu membayangkan kekerasan hati, tubuhnya ramping padat dan rambutnya digelung sederhana di atas kepala, diikat dengan pita merah. Pedang yang berada di punggungnya itu adalah pedang pusaka Kwan Im-kiam (Pedang Dewi Kwan Im) yang diterimanya dari ayahnya. Sebagai puteri tunggal sepasang pendekar sakti itu, tidak mengherankan kalau Bwe Hwa mewarisi ilmu-ilmu dari ayah ibunya. Bahkan ia pernah di beri petunjuk dan dilatih oleh ayahnya dalam ilmu sihir! Bwe Hwa sedang berkunjung kepada Ketua Hek I Kaipang dalam usahanya ikut mencari dan memperebutkan Pek-lui-kiamyang menghebokan dunia kang-ouw itu. Pek Han Siong dan isterinya yang mendengar tentang pedang pusaka yang kabarnya dipakai berebutan oleh para tokoh dan datuk persilatan, sengaja menyuruh puteri mereka untuk ikut pula berlumba menemukan dan merampas pedang itu. Mereka yakin bahwa puteri mereka pasti mampu melindungi diri sendiri dengan semua ilmunya. Mereka menghendaki agar puteri mereka memperoleh pengalaman di dunia kang-ouw, seperti mereka dulu ketika masih muda. Kini Pek Han Siong sudah berusia limapuluh satu tahun dan isterinya empatpuluh sembilan tahun. Mereka juga memberitahu nama dari para tokoh sesat dan juga tokoh-tokoh yang bersih. Demikianlah sedikit keterangan mengenai Pek Bwe Hwa dan kedua orang tuanya yang kini bertempat tinggal di kota Tung-ciu, disebalh timur kota raja. Ketika itu Pek Bwe Hwa sedang menjadi tamu ketua Hek I Kaipang karena dari orang tuanya dara ini mendapat tahu bahwa ketua Hek I Kaipang merupakan kenalan ayahnya dan boleh dipercaya. Bwe Hwa berkunjung untuk mencari keterangan perihal Pek-lui-kiam kepada ketua itu. Dan selagi mereka bercakap-cakap di dalam, datang anggauta Hek I Kaipang yang melaporkan tentang kedatangan Si Kong yang bertanding dengan para anggauta perkumpulan itu di halaman depan. Hek I Kaipangcu menjadi marah mendengar laporan itu dan diapun bergegas keluar sambil membawa tongkatnya. Bwe Hwa tertarik dan ikut keluar. Akan tetapi gadis ini tidak mau mencampuri urusan Souw Kian atau Souw-pangcu (Ketua Souw) ketua Hek I Kaipang itu. Ia mendengar dari ayahnya bahwa Souw Pangcu adalah seorang yang memiliki ilmu tongkat yang lihai, maka iapun tidak perlu membantu. Akan tetapi melihat Si Kong, hatinya menjadi tertarik. Pemuda itu tidak kelihatan seperti seorang penjahat dan begitu pemberani sehingga berani menyambut tantangan Souw Pangcu yang bersenjatakan tongkat baja itu hanya dengan senjata tongkat bambu. Hati gadis ini menjadi kagum dan tertarik sekali. Akan tetapi ia melangkah maju mendekat agar dapat mencegah kalau sekirana Souw Pangcu terancam bahaya maut. Souw Pangcu adalah seorang gagah. Melihat pemuda itu hanya bersenjatakan sebatang tongkat bambu, diapun enggan menggunakan tongkat bajanya. Yang dilawannya adalah seorang yang masih muda belia, kalaupun dia menang dalam pertandingan itu, kemenangannya tidak adil dan dia merasa malu. Maka, diapun menggapai seorang anggauta perkumpulannya yang memegang tongkat bambu. Anggauta itu mendekat dan Souw Pangcu menukar tongkat bajanya dengan tongkat bambu. “Nah, sekarang senjata kita berimbang. Bersiaplah dan seranglah aku, orang muda.” “Aku hanya tamu dan engkau tuan rumah, pangcu. Silakan maju lebih dulu, aku sudah siap!” “Bagus, lihat seranganku!” bentak ketua itu dan mulailah dia memutar tongkat dan segera tongkatnya itu berubah seperti payung putih yang menerjang ke arah Si Kong. Di dalam hatinya sudah timbul keraguan apakah ketua perkumpulan ini seorang jahat karena sikapnya yang demikian gagah. Jelas bahwa ketua ini tidak ingin menang sendiri. Maka diapun menyambut dan dalam hatinya dia mengambil keputusan untuk tidak membunuh atau melukai berat lawannya. Asal dapat mengalahkan saja sudah cukup. Apalagi maksud kunjungannya bukan untuk berkelahi, melainkan untuk membujuk ketua ini agar suka melarang para anggautanya melakukan kejahatan. “Trak-tuk-tuk…!” Tiga kali tongkat berbenturan dan Souw Pangcu menjadi kaget setengah mati. Pertemuan tongkat yang terakhir itu membuatnya terhuyung ke belakang! Ini tidak mungkin, pikirnya. Dia tadi merasa betapa kedua tangannya tergetar ketika menangkis pukulan pertama dan kedua, akan tetapi pada pertemuan tongkat yang ketiga kalinya dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk membikin hancur tongkat lawan. Akan tetapi akibatnya, bukan tongkat lawan yang hancur, melainkan tubuhnya yang terdorong kebelakang sampai dia terhuyung-huyung. Akan tetapi hal ini membuat Souw Kian menjadi penasaran sekali. Kembali dia menerjang dengan teriakan nyaring, memainkan ilmu silat Hek-liong-tung-hwat (Ilmu Tongkat Naga Hitam). Tongkatnya berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung seperti seekor naga mengamuk. Akan tetapi, semua serangannya dapat dihindarkan oleh Si Kong dengan elakan maupun tangkisan dan setiap kali pemuda itu membalas, sang ketua menjadi repot menyelamatkan diri. Bwe Hwa melihat ini semua dan ia semakin kagum saja. Ilmu tongkat pemuda itu aneh sekali dan perubahannya tak dapat disangka lawan. Setelah lewat tiga puluhjurus, Si Kong lalu menyerang dengan hebatnya, mengurung tubuh lawan dari segala jurusan dengan tongkatnya yang bergerak amat cepatnya. Souw Kian terkejut dan main mundur terus, akan tetapi tongkat lawan yang tadi menyerang tubuh bagian atas, tiba-tiba meluncur ke bawah dan sekali congkel, tongkat itu masuk di antara kedua kaki Souw Kian dan begitu tongkat di tarik kesamping, tak dapat dihindarkan lagi tubuh Souw Kian terjatuh menelungkup karena kedua kakinya terangkat ke atas! Dia jatuh menelungkup seolah-olah orang minta ampun. “Bangkitlah, pangcu, tidak perlu memberi penghormatan secara berlebihan!” kata Si Kong yang hendak melucu. Akan tetapi ucapannya ini membuat Bwe Hwa memandang kepadanya dengan mata mencorong. Iapun meloncat kedepan dan sekali tarik pundak Souw Kian, ketua itu tertarik ke atas dan dapat berdiri. “Mengasolah, Souw Pangcu. Biar aku yang menghadapi pengacau ini!” Souw Kian terpaksa harus mengakui kekalahannya. Dia mengundurkan diri dengan muka merah dan berulang-ulang menghela napas panjang. Akan tetapi dia kini mengharapkan gadis tamunya itu akan mampu menghajar pemuda itu. Dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu memiliki ilmu silat yang amat tinggi, mempelajarinya dari kedua orang tuanya yang menjadi pendekar sakti. Diapun kini menonton dari pinggiran. Bwe Hwa menghadapi Si Kong dengan senyum dingin dan matanya mencorong. Gadis ini menganggap Si Kong sebagai seorang pengacau. Ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Si Kong dan berkata dengan suaranya yang lembut akan tetapi penuh wibawa. Karena menganggap pemuda itu sudah membuat malu kepada Souw Pangcu, iapun hendak membalas membikin malu pemuda pengacau itu. “Si Kong engkau merangkaklah!” Di dalam suara itu terkandung kekuatan sihir yang seolah hendak memaksa Si Kong berlutut dan merangkak. Si Kong terkejut bukan main ketika merasa jantungnya tergetar dan ada dorongan dari hatinya sendiri untuk menjatuhkan diri dan berlutut. Akan tetapi dia teringat akan peringatan Ceng Lojin bahwa di dunia kang-ouw, terdapat orang-orang yang memiliki keahlian sihir. Kalau menghadapi lawan seperti ini dan ada dorongan hebat dari batinnya untuk menurut apa yang di katakan oleh lawan seperti itu, dia harus cepat mengerahkan sinkangnya yang akan dapat menolak pengaruh sihir. Maka, begitu batinnya mendorongnya untuk berlutut dan merangkak, dia mengerahkan sinkangnya untuk melawan dorongan ini. Kini berbalik Pwk Bwe Hwa yang terbelalak heran. Pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan sihirnya! Maklumlah ia bahwa pemuda itu telah memiliki sinkang yang amat kuat sehingga mampu menahan kekuatan sihirnya. Melihat kenyataan ini, ia menghentikan kekuatan sihirnya dan mencabut pedang dari punggungnya. “Singg…!” ketika pedang itu dicabut nampak sinar berkilauan dan gadis itu sudah melintangkan pedang di depan dadanya. “Pengacau sombong, lihat pedangku!” bentaknya dan Pek Bwe Hwa segera menyerang dengan dahsyatnya. Pedangnya lenyap bentuknya dan berubah menjadi gulungan sinar terang yang panjang dan tiba-tiba sinar itu mencuat ke arah Si Kong. “Tranggg….!” Pedang di tangan Bwe Hwa tergetar hebat di gadis itu bertambah heran dan juga terkejut. Pemuda yang memegang tongkat bambu ini memiliki tenaga sinkang yang bukan main kuatnya. Akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan melanjutkan serangannya secara bertubi-tubi. Ia menggunakan pedang Kwan-im-kian untuk memainkan Kwan im Kiam-sut yang amat lihai. Si Kong terkejut bukan main. Ilmu pedang gadis itu memang hebat sekali dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah. Timbul kekaguman dalam hatinya. Gadis itu masih muda, paling banyak delapanbelas tahun usianya, akan tetapi sudah memiliki ilmu pedang yang demikian dahsyatnya. Karena maklum bahwa ilmu pedang gadis itu berbahaya bukan main, Si Kong lalu mainkan Ta-kaw Sin-tung dan mengerahkan khikangnya sehingga gerakannya cepat bukan main, lebih cepat daripada gerakan Bwe Hwa! Kedua orang muda itu bertanding dengan seru, saling serang dan saling desak. Akan tetapi tentu saja Si Kong tidak mempunyai niat untuk melukai atau membunuh lawannya. Dia ingin mengalahkan tanpa melukai, kalau dapat merampas pedang yang hebat itu. Akan tetapi justeru ini membuat dia sukar sekali untuk mendapatkan kemenangan. Merampas pedang itu amatklah sulit dan pertandingan antara mereka sudah berlangsung lebih dari limapuluh jurus, masih belum ada yang kalah. Mulailiah Si Kong merasa khawatir. Agaknya tidak mungkin baginya untuk dapat merampas pedang gadis itu. Kalau dia mau, tentu saja dia dapat merobohkan lawan dengan melukainya, akan tetapi karena dia tidak menghendaki hal ini terjadi, dia mengalami kesulitan sendiri. Tiba-tiba teringatlah dia akan ilmu Thi-ki-i-beng. Hanya ilmu ini saja yang memungkinkan dia mengalahkan lawan tanpa melukainya. Ketika pedang itu menyambar lagi ke arah lehernya Si Kong menangkis dan menggunakan tenaga sinkangnya untuk membuat pedang itu menempel pada tongkatnya dan tidak dapat ditarik kembali. Bwe Hwa terkejut dan mengerahkan sinkangnya untuk menarik kembali pedangnya yang sudah melekat pada tongkat. Akan tetapi pada saat itu sesuai dengan rencananya, Si kong sudah mengerahkan Thi-ki-i-beng sehingga ketika gadis itu mengerahkan sinkang, tenaga gadis itu tersedot melalui pedang dan tongkat. Bwe Hwa terkejut bukan main! Dari ayah ibunya dia mendengar bahwa di dunia kang-ouw terdapat sebuah ilmu yang luar biasa, yang dinamakan Thi-ki-i-beng. Akan tetapi yang menguasai ilmu itu di dunia persilatan mungkin hanya seorang, yaitu Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis yang tinggal di Pulau Teratai Merah di lautan selatan. Karena tidak ingin tenaga sinkangnya disedot sehingga ia kehabisan tenaga, terpaksa Bwe Hwa melepaskan pedangnya dan meloncat jauh ke belakang! Biarpun andaikata ia tidak melepaskan pedang, tetap saja ia tidak akan terancam bahaya karena Si Kong segera menyimpan kembali tenaga Thi-ki-i-beng. Diapun tidak ingin menyedot habis tenaga sinkang gadis itu dan hanya ingin membuatnya terkejut sehingga dia dapat merampas pedang itu. Si Kong mengambil pedang uang menempel pada tongkatnya, lalu menghampiri Bwe Hwa danmenyodorkan pedang itu kepada pemiliknya. Wajah Bwe Hwa menjadi merah, akan tetapi ia merasa penasaran sekali da bertanya, “Engkau menggunakan Thi-ki-i-beng! Dari mana engkau dapat menguasai ilmu itu? Apa hubunganmu dengan kakek Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah?” Ia menerima pedangnya. Si Kong makin kagum. Gadis ini masih muda, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan agaknya memiliki pengetahuan luas sehingga dapat mengenal Thi-ki-i-beng dan gurunya, Ceng Thian Sin. “Penglihatanmu tajam sekali, nona. Kakek Ceng Thian Sin adalah guruku.” “Tidak mungkin!” Gadis itu membentak. “Kakek Ceng Thian Sin adalah seorang pendekar sakti yang namanya terkenal. Sejak muda ia menentang kejahatan dan menghukum para penjahat. Bagaimana sekarang muridnya menjadi penjahat?” “Nona!” kata Si Kong penasaran. “Aku bukan penjahat!” “Hemm, kau datang ke sini dan mengacaukan kehidupan para pengemis yang tenteram, engkau mengandalkan ilmumu untuk membikin rusuh, apakah itu tidak jahat namanya?” Diam-daim Si Kong terkejut. Jelas bahwa gadis itu bukan orang jahat, akan tetapi mengapa ia berada di sarang Hek I Kaipang yang jahat? “Nona, aku datang kesini bahkan untuk menentang kejahatan. Aku ingin menegur ketua Hek I Kaipang yang membiarkan anak buahnya melakukan kejahatan!” “Souw-pangcu biarpun menjadi ketua para pengemis adalah seorang gagah perkasa yang selalu membela kedailan dan kebenaran. Bagaimana engkau dapat menuduhnya memiliki anak buah yang jahat? Itu hanya fitnah belaka!” Souw Kian kini maju menghadapi Si Kong. “Agaknya terjadi kesalah-pahaman di antara kita, Si-taihiap. Kalau Si-taihiap hendak menegakkan kebenaran dengan menentang kejahatan, maka jelaslah bahwa disini terjadi kesalah-pahaman. Aku berani menanggung jawab bahwa di antara anggauta kamu tidak ada yang menjadi penjahat.” Si Kong menjadi ragu-ragu mendengar ucapan ketua Hek I Kaipang itu. “Akupun bukan bertindak secara ngawur, pangcu. Aku sendiri yang menghadapi para penjahat itu. mereka berpakaian hitam-hitam seperti anggautamu.”