He Jing Kun Lun Wang Du Lu Bab I Para murid tukang selingkuh dan penggoda wanita, rasakan ganjaran; Rasa penyesalan akibat membunuh, gerakkan hati welas asih sang pendekar tua. Kabupaten Zhenba di Selatan Shanxi sebenarnya adalah sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan. Pemandangan alamnya tak jauh berbeda dengan Chuanbei, hanya saja budayanya jauh lebih tertinggal, bahkan agak bernuansa barbar. Pada masa Dinasti Qing, keadaan saat itu kacau. Bandit banyak merajalela di padang rumput dan setiap saat siap menyerang para saudagar yang lewat di sana. Orang-orang jadi sulit melakukan perjalanan. Jika tidak kuasai ilmu bela diri orang yang akan bepergian harus menyewa jasa pengawalan. Jika tidak, tak mungkin bisa melakukan perjalanan dengan selamat. Wajarlah bila pada saat itu bisnis jasa pengawalan menjadi sangat marak. Jumlah orang yang belajar bela diri semakin bertambah banyak. Di luar kota Zhenba terdapat seorang guru ilmu kuntau, Bao Zhenfei. Orang-orang menjulukinya Bao Kun Lun karena ia memang jagoan menggunakan sebilah golok Kun Lun. Golok itu bentuknya tak berbeda dengan golok biasa lainnya. Hanya saja sangat berat. Sementara jurus goloknya justru berbeda daripada yang lain. Sewaktu muda dia pernah masuk ketentaraan dan bertempur sebagai prajurit. Di usia paruh baya dia jalankan bisnis jasa pengawalan. Ia bahkan pernah mendirikan beberapa kantor ekspedisi pengawalan di Shannan, Chuanbei. Kebanyakan pengawal yang terkenal di biro pengawalan adalah anak keturunannya. Kemudian saat berumur 60 tahun, setelah merasa dirinya cukup mengumpulkan kekayaan, pengelolaan biro pengawalan diserahkan pada anak dan murid-muridnya. Dia pun kembali ke rumah untuk menikmati kekayaannya. Saat ini Bao Zhenfei sudah berumur 64 tahun. Jenggotnya juga sudah berwarna putih, tubuhnya tambah subur, semakin hari semakin bertambah gemuk. Badannya kelewat tambun, sepertinya mudah terkena stroke. Tapi dia toh masih melatih kungfunya. Setiap pagi dia melatih jurus goloknya, juta kuntau. Sore hari dia pasti berputar beberapa keliling dengan menunggang kudanya. Desa yang dia tinggali ini dinamakan “Desa Keluarga Bao”. Tepat di depan dusunnya terdapat hamparan gunung hijau. Di sebelah timur terdapat sebuah sungai kecil. Di sebelah barat terdapat bukit belukar. Sementara di sebelah utaranya adalah kota Zhenba. Pemandangannya indah sekali bagai di Jiangnan. Namun begitu kelihatan seperti suasana di daerah yang baru selesai dibangun. Walaupun Bao Zhenfei adalah orang yang paling ternama di kampung itu, namun kediamannya tidaklah besar. Di rumahnya juga tidak akan pembantu atau tukang, sedang yang mengerjakan semua pekerjaan untuknya adalah para murid dan pengikutnya. Murid Bao Zhenfei seluruhnya ada lebih dari 30 orang, kebanyakan tinggal menyebar di berbagai tempat. Sekarang orang yang mengikutinya hanya 6 orang. Keenam orang ini, termasuk putera keduanya, membantunya mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah seperti bercocok tanap, memanen, memelihara babi, memberi makan kuda, dan lain-lain, sehingga dia tak perlu menyewa jasa orang luar. Orang yang belajar kungfu darinyapun tak perlu memberi hadiah imbalan apapun, hanya setiap hari harus berlatih; lima tahun kemudian pasti akan berhasil mempelajari bela diri. Namun demikian Bao Zhenfei menerapkan peraturan yang sangat ketat pada para muridnya. Ada enam larangan yang harus dipatuhi: Satu tak boleh membunuh orang yang tak bersalah, kedua tak boleh suka bersenang-senang dan berzina dengan wanita cantik, ketiga tidak boleh mencuri harta milik orang lain, keempat tidak boleh menyakiti janda dan anak yatim piatu, kelima tidak boleh mencoreng martabat dan kehormatan guru, keenam tidak boleh melanggar aturan dan moral. Dari keenam aturan itu yang paling ketat adalah aturan tak boleh berzina. Itu karena Bao Zhenfei percaya pada pepatah yang mengatakan “Berzina adalah kejahatan yang paling utama”. Dia sudah malang melintang di Kangouw selama lebih 40 tahun, setidaknya pernah membunuh 20-30 orang, semuanya adalah pria dan wanita yang suka berzina, namun tak ada satupun orang yang tak berdosa. Murid tertuanya Chang Zhigao langsung dipaksa untuk mengutungi sebelah tangannya ketika hubungannya dengan pengamen wanita diketahui olehnya. Mata kiri murid ke-4 nya, Jiang Zhiyao, dicukil karena ketahuan menggoda seorang perempuan ketika sedang menonton sandiwara. Murid ke 23nya, Hu Zhikai juga ketahuan punya hubungan gelap dengan Nyonya Meng. Bao menyuruh orang mengirim sepucuk surat, di atas sepucuk surat itu tak tertulis apapun, hanya ada tanda tangan Bao laoquanshi (Si Guru Kuntau Tua Bao). Hu Zhikai paham gurunya kapan saja akan menghabisi nyawanya, sehingga dia lalu menghabisi nyawanya sendiri dengan gantung diri. Si Kuntau Tua begitu keras pada murid-muridnya sehingga semua muridnya bersikap sopan. Setiap kali keluar rumah mereka akan menundukkan kepala, begitu juga saat kembali ke rumah. Jika di jalan bertemu dengan wanita, mereka bahkan tak berani melirik sekalipun, persis seperti murid filsafat. Hari ini cuaca di musim semi di bulan dua sangat nyaman, pohon Liu di sekitar pedusunan itu telah menghijau. Rumput pun telah mulai bertunas, gandum juga telah tumbuh sepanjang setengah ruas jari. Kicauan burung terdengar begitu nyaring; Kuda justru bagai keedanan, meringkik siang dan malam, seolah sedang mencari pasangannya. Bao Zhenfei bangun pagi-pagi buta, di timur tengah memancarkan warna keunguan. Namun pintu tempat tinggal putra keduanya Bao Zhilin masih belum terbuka. Si Kuntau Tua Bao jadi kesal melihatnya. Putra keduanya baru saja menikah selama dua bulan, namun isteri barunya itu telah membuat putranya yang gagah perkasa terbius. Sudah sesiang ini ia belum juga bangun, apakah ia akan mencampakkan begitu saja kungfu yang telah dipelajarinya selama 3-4 tahun? Si Kuntau Tua Bao berpikir dengan kesal begitu, lalu batu-batuk dengan keras agar didengar oleh putranya di dalam kamar. Saat dia berjalan ke lapangan terbuka di depan pintu, tampaklah 6 orang muridnya sedang melatih tinju, tendangan serta golok dan toya. Laoquanshi[1] berjalan mendekat sambil berpunggung tangan, ke depan murid ke-27, Chen Zhijun. Chen Zhijun sedang memperagakan “Tinju Tongbei”. Ia sudah memperagakan sampai gerakan terakhir yang disebut “Dua Sayap Mengepak”. Bao laoquanshi menggoyangkan tangannya dan berkata: “Salah!” Perlahan dia sendiri mempraktekkan jurus itu, kedua tangannya bergoyang, sepasang kakinya menggesek-gesek tanah, melakukan kuda-kuda, kedua tinjunya berposisi datar di depan dada: mula-mula tangan kanannya mengibas datar bagaikan sayap, kemduian ditarik kembali ke dada, barulah giliran tangan kiri. Baru berlatih dua kali, napasnya sudah terengah-engah, dia lalu berdiri di samping dan menyuruh Chen Zhijun berlatih lagi. He Jing Kun Lun (2) Chen Zhijun berlatih lagi 4-5 kali sesuai petunjuk gurunya, barulah Bao laoquanshi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memutarkan tubuhnya melihat ke murid ke 14, Lu Zhizhong dan murid ke 25 Qin Zhibao yang sedang beradu laga dengan golok. Lu Zhizhong adalah murid kebanggaan Guru Bao, jurus goloknya sangat indah, tapi jurus golok Qin Zhibao justru payah. Guru Bao tak sampai 5 menit menilai permainan mereka, namun Qin Zhibao sudah membuat 6-7 kesalahan. Semakin diperhatikan suhunya, gerakannya semakin kacau. Guru Bao saking kesalnya langsung beraksi. “Trang!” Golok di tangan Qin Zhibao langsung jatuh ke tanah. Wajah Qin Zhibao merah padam, tangn kanannya sakit bukan kepalang hingga tak bisa memegang, dijulurkannya tangan kiri untuk memungut golok dari atas tanah dan diberikan kepada gurunya. Tanpa melihat lagi, guru Bao langsung beradu golok dengan Lu Zhizhong. Tampaklah cahaya golok menari berkelebat. Walaupun tubuh guru Bao kurang lincah, tapi gerakan goloknya sama sekali tak menampakkan titik kelemahan. Setelah lebih 20 jurus Lu Zhizhong takut gurunya kehabisan tenaga, lalu menarik goloknya dan melompat ke samping. Guru Bao melemparkan golok pada Qin Zhibao sambil berkata: “Dengan jurus golok seperti tadi itu, kau pasti akan celaka jika bertemu orang seperti Sun Lai di Kangouw!” Qin Zhibao menundukkan kepalanya, malu dan tak berani berkata sepatahpun. Guru Bao beranjak pergi, kali ini dia ingin melihat permainan sepasang kait kembar oleh murid ke 21, Ma Zhixian. Pada saat itulah putra keduanya, yang menyebut dirinya sendiri sebagai “Kun Lun Kecil”, keluar dari pintu kamarnya. Guru Bao makin kesal melihat tampang putranya yang pucat pasi dan tak bersemangat itu. Tanpa sudi menengok lagi, dia langsung mengajari Ma Zhixian cara menggunakan kait kembar. Bao Zhilin juga berlatih serangkaian kuntau di lapangan, setelah itu dia berdiri di samping untuk istirahat. Guru Bao tak mempedulikannya, lalu melihat permainan pedang mestika yang dilakukan Jiang Zhisheng. Jiang Zhisheng adalah murid ke-30nya. Walaupun belum genap 3 tahun berguru, namun teknik beladirinya sudah melampaui semua saudara seperguruannya. Setelah menari-narikan serangkaian jurus pedang, dia mengambil golok dari rak senjata, lalu mempraktekkan dua jurus golok. Tubuhnya bergerak ringan, goloknya menebas cepat. Tak hanya jumlah gerakannya yang sempurna, postur gerakannya pun sangatlah indah. Guru Bao tanpa sadar mengangguk-anggukkan kepala melihatnya. Pada saat yang sama hatinya merasa iri. Diam-diam dia berpikir. “Seandainya aku punya akan seperti itu, bukankah akan membuat namaku makin cemerlang? 14 Jurus Rahasia Golok Kun Lun-ku tak perlu diwariskan pada orang lain.” Dilihatnya baju kemeja dan celana panjang berwarna hijau yang dikenakan Jiang Zhisheng, lengan bajunya berhiaskan pinggiran berwarna putih. Rambutnya yang hitam dikepang panjang hingga bisa dililitkan di leher 3 kali. Wajah oval panjang putih itu dihiasi sepasang mata bening beralis tebal yang membuatnya tampak seperti seorang gadis belia yang cantik. Guru Bao jadi merasa tak suka ketika menatap wajah itu. sambil berpunggung tangan ia membalikan badan lalu berjalan ke depan putra keduanya. Bao Zhilin sengaja mengepalkan tinjunya dua kali, lalu melompat hingga setinggi 1 chi, esolah ingin mempraktekkan cara melompat ke atap rumah. Hal ini membuat Guru Bao marah sampaikan ia kepingin meminjam golok dari tangan Jiang Zhisheng dan mencincang putranya sendiri. Tapi tiba-tiba saja kejadian yang terjadi 30 tahun lalu terbayang di kepalanya sehingga dia tanpa sadar mengesah. Buru-buru dia berbalikmelihat murid ke 20, Liu Zhiyuan yang sedang menggunakan tombak lalu kembali masuk ke dalam gerbang. Semua muridnya yang berada di luar merasa lega melihat gurunya masuk ke dalam. Liu Zhiyuan membuang goloknya, lalu melepaskan seekor kuda yang diikat di pohon Hui dan segera berkuda ke arah selatan. Jiang Zhisheng meletakkan golok ke rak senjata, lalu mengobrol dengan Chen Zhijun yang baru selesai latihan. Bao Zhilin segera menarik Ma Zhixian yang sedang menebas-nebaskan kait seraya berkata sambil tertawa: “Hey!” “Coba kulihat ikat pinggangmu itu, pasti istrimu yang sulamkan untukmu ya?” Ma Zhixian tertawa dan berkata: “Istriku mana mungkin punya keahlian menyulam sebaik itu? Ini hasil sulaman saudara misan istriku.” Bao Zhilin lalu memuji dan berkata: “Wah! Bagus sekali. Sulaman yang halus sekali!” Ma Zhixian lalu memonyongkan bibirnya menunjuk ke arah Jiang Zhisheng, dan berkata lirih pada Bao Zhilin: “Saudara misan istriku adalah istrinya Jiang Zhisheng.” Bao Zhilin berkata: “Ah! Rupanya kalian berhubungan keluarga!” Qin Zhibao yang berada di sampingnya berkata dengan wajah yang masih merah padam. “Guru keluar lagi.” Begitu kata-kata ini terucap, semua orang langsung berhenti mengobrol dan tertawa, ada yang duduk istirahat di tanah, ada yang masih berlatih pedang dan kuntau. Bao Zhilin melihat ayahnya keluar lagi dari dalam gerbang. Sebelah tangan membawa kantung berisi tembakau, sedang tangan lainnya menggandeng cucu perempuannya yang berumur 10 tahun. Anak perempuan itu mondar mandir di depan pintu, sambil menyenandungkan lagu-lagu pegunungan. Sambil menyanyi ia berlari-lari dengan riangnya. Sesekali matanya yang bening itu berputar-putar menatap kakeknya. Tiba-tiba Guru Bao menghentikan langkahnya dan berseru: “Zhizhong!”. Lu Zhizhong buru-buru meletakkan goloknya dan menghampiri. Di hadapan gurunya dia bertanya dengan penuh hormat: “Guru, ada perintah apa?” Guru Bao berkata: “Aku ingin besok kau pergi ke Hanzhong untuk menengok abangmu. Tempo hari kakak ke-6 mu datang, katanya luka di kakinya kembali kambuh, entah sekarang sudah sembuh atau belum?” Lu Zhizong menanggukkan kepala tanda setuju lalu berkata: “Kalau begitu besok aku akan pergi! Kurasa luka di kaki abang tidaklah parah.” Guru Bao menganggukkan kepala dan berkata:” Baik, sebentar lagi kuberi kau biaya perjalanan. Pergilah besok pagi!” Selesai berkata begitu, dia kembali berjalan mondar mandir di lapangan. Cucu perempuan yang digandengnya memiringkan kepala lalu tertawa pada Jiang Zhisheng, karena Jiang Zhisheng sehari-harinya suka mengajak dia bermain-main. Tak lama kemudian Guru Bao kembali mengajak cucu perempuannya masuk ke dalam. Para murid semuanya membereskan senjata, bahkan rak penyimpan senjata juga dibawa masuk ke dalam. Chen Zhijun dan Ma Zhixian menyapu halaman, Liu Zhiyuan memberi makan kuda. Jiang Zhisheng mencari dua tugas yang ringan dan langsung pulang ke rumah setelah selesai mengerjakannya. Bao Zhilin berjongkok di tanah sebentar, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Lu Zhizhong ingin ke tempat gurunya untuk meminta bekal perjalanan. Bangunan di utara yang ditinggali Bao laoquanshi adalah tiga buah kamar yang sangat indah. Saat itu Bao laoquanshi sedang makan pagi satu meja dengan cucu perempuannya, ditemani oleh istri putra pertamanya. Putra tertua Bao laoquanshi bernama Bao Zhiyun, sekarang sudah berumur 40 tahun lebih. Isterinya bermarga Fang, mereka telah menikah selama 4 tahun, namun baru memiliki seorang anak perempuan. Nama panggilan selagi bayi (nama susu) adalah A Luan. Dialah cucu perempuan yang paling disayangi Guru Bao. Bao Zhiyun membuka biro ekspedisi pengawalan Kun Lun di Hanzhong. Bisnisnya sangat maju. Hanya saja 3 tahun lalu, Bao Zhiyun mengawal barang sampai ke Jalan Qinling, lalu bertemu dengan Hu Li perampok uang di pegunungan yang ingin merampok kereta barang yang dikawalnya. Ketika itu Bao Zhiyun membawa 2 orang pengawal. Mereka bertiga bertarung melawan Hu Li seorang diri; tapi kemudian mereka bertiga semua dilukai oleh pemanah suruhan Hu Li, kereta barangnya juga dirampas. Bao Zhiyun harus mengganti kerugian sebenar lebih seribu tael perak. Walaupun luka di kakinya telah diobati, namun setiap kali terkena udara dingin, pasti akan kambuh sakitnya. Beberapa hari lalu, ada orang yang datang dari Hanzhong untuk mengirim surat pada guru Bao. Dalam surat itu dikatakan luka Bao Zhiyun kembali kumat, sampaikan tidak bisa turun dari ranjang. Oleh karena itulah Bao laobiaotou[2] mengutus Lu Zhizhong menengoknya. Ketika itu Bao laobiaotou memberi Lu Zhizhong beberapa tael perak sebagai biaya perjalanan. Nyonya Fang mengambil Yunnan Baiyao, obat khusus untuk obati luka untuk diberikan Lu Zhizhong pada suaminya. A Luan si nona kecil menarik tangan Lu Zhizhong dan berkata: “Paman Lu, tolong bawa orang-orangan ini untuk mainan ayahku.” LU Zhizhong menerima benda itu dan melihartnya. Ternyata itu boneka kain yang dibuat sendiri oleh si nona kecil lengkap dengan mata dan hidung yang dilukis dengan tinta hitam. Lu Zhizhong tertawa. Bao laoquanshi yang berada di samping berkata pada cucunya: “Luka ayahmu sedang kambuh, sakitnya bukan kepalang, mana dia punya waktu melihat mainanmu ini!” A Luan toh memaksa Lu Zhizhong utnuk membawanya. Wajah Bao laoquanshi tampak kelam, menampakkan hawa membunuh, dia lalu berkata pada Lu Zhizhong: “Coba kau suruh mereka cari tahu, di mana perampok Hu Li itu sekarang berada? Kelak aku ingin balas dendam! Selain itu tempo hari kudengar kelakuan Yuan Zhiyi tidak beres. Kasih tahu dia supaya hati-hati sedikit. Siapa tahu setiap saat aku akan datang ke Hanzhong!” Lu Zhizhong berulangkali menyanggupi, lalu membawa pergi boneka kain dan uang itu bersamanya. Rumah Lu Zhizhong terletak di kota. Di rumah hanya ada istri dan dua anak perempuannya, boleh dibilang miskin sekali. Hanya berbekal ilmu bela dirinya dia bisa bekerja sebagai pengawal. Sayang Bao laoquanshi menganggapnya bisa dipercaya dalam megnerjakan urusan, sehingga memintanya tinggal di rumah. Hal ini kemudian menghambat masa depannya. Dia setiap saat berpikir, tak bisa terus menerus bekerja di biro pengawalan dan terus bergantung pada saudara seperguruannya. Dia harus mengembangkan diri di luar. Ketika itu sambil menghitung biaya perjalanan dia menuju ke tempat penyewaan kereta kuda di kabupaten, dan memesan kereta yang menunju ke Hanzhong. Setelah itu ia pulang ke rumah, lalu menceritakan urusan kepergiannya ke Hanzhong pada istrinya sekalian menyuruh istrinya menebus barang yang digadaikan di pegadaian. Baru saja akan keluar dari pintu rumah, tiba-tiba seseorang masuk dari luar. Ternyata yang datang adalah saudara seperguruannya, Jiang Zhisheng. Dia buru-buru berkata: “Adik seperguruan, kau ingin mengantar kepergianku ya? Aku baru berangkat besok!” Wajah putih bersih Jiang Zhisheng tampak tersenyum, lalu berkata: “Aku tahu abang baru berangkat besok, aku datang untuk minta tolong dibawakan sesuatu.” Lu Zhizhong mempersilahkan Jiang Zhisheng masuk ked alam rumah. Jiang Zhisheng lalu memberi salam hormat pada Nyonya Lu. Lu Zhizhong berkata: “Shidi[3], duduklah, kau ingin dibawakan apa?” Jiang Zhisheng tertawa dan berkata: “Bukan sesuatu yang penting.” Setelah itu dia mengeluarkan beberapa tael perak dan sebuah catatan. Di atas kertas itu tertulis: “Tolong belikan kain satin warna merah sebanyak 10 chi,[4] 4 kotak kecil bedak gongfen, 12 potong pewarna bibir dan pipi, aneka warna kain katun.” Sambil menyerahkan uang pada Lu Zhizhong, Jiang Zhisheng berkata: “Shige[5], tolong diatur, jika uangnya cukup, maka belilah yang banyak, tapi jika kurang, beli sedikit saja. Tapi bedak dan gincu jangan sampai tidak dibeli, karena buatan daerah ini tidak bagus. Cap Yuxiangzhai paling terkenal di Hanzhong.” Lu Zhizhong melihat catatan itu lalu tak dapat menahan diri mengernyitkan alisnya dan berkata: “Adik, kau harus jujur sedikit, apa kau tak tahu? Guru paling membenci hal ini!” Jiang Zhisheng buru-buru menggoyangkan tangannya dan berkata: “Abang jangan curiga, aku sama sekali tak berbuat ngawur di luar. Ini semua pesanan adik iparmu.” Lu Zhizhong tertawa dingin dan berkata: “Aku sudah kenal adik iparku, dia sudah punya dua orang anak, memangnya dia masih suka berdandan dengan gincu seperti ini?” Jiang Zhisheng berkata serius: “Abang, kalau kau tak percaya, datang saja ke rumahku dan tanya padanya!” Lu Zhizhong mengambil kertas dan uang perak, berkata sambil menggoyangkan tangannya: “Sudahlah, pokoknya akan aku belikan! Tapi kunasehatkan kau harus jujur sedikit, karena orang muda setampan kau paling mudah tergoda wanita cantik. Saudara seperguruan kita masing-masing punya ambisi. Jika ada sesuatu mereka pasti laporkan pada guru. Setiap kali mendengar muridnya berbuat tidak senonoh, guru langsung menganggapnya sebagai musuh. Dia tak bisa memakluminya barang sedikit pun!” Jiang Zhisheng mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali dan berkata: “Aku tahu, abang tenangs aja. Aku tinggal satu dusun dengan guru, memangnya aku tak tahu tabiat aneh orang tua itu? Apalagi aku punya anak dan istri. Tahun ini aku hampir berumur 30 tahun, mana bisa berbuat ngawur di luaran?” Jiang Zhisheng berkata begitu sambil tertawa lalu berpamitan. He Jing Kun Lun (3) Ketika keluar dari pintu, hatinya merasa sangat tidak nyaman, dia berpikir: “Jelas-jelas itu bedak pesanan istriku, Lu Zhizhong malah mencurigai aku punya selingkuhan di luar! Kalaupun aku memang berselingkuh, memangnya siapa yang bisa atur? Jangankan guru, ayahku sekalipun tak akan bisa mengaturku! Aku belajar kungfu darinya, bukannya ingin menjadi biksu, atau orang kasim?” Dia berjalan dengan geram, sampai di perempatan jalan. Tiba-tiba dia mendengar ada suara orang berseru nyaring: “Jiang daye! Jiang daye!” Saat menoleh ternyata itu Zhu San yang sedang menarik keledai. Zhu San adalah orang di desa mereka. Di rumahnya ia memelihara seekor keledai kecil yang bermulut merah jambu, bermata putih dan berperut gendut. Dengan keledai kecil inilah ia mencari sesuap nasi. Orang-orang memanggilnya “Si Keledai Zhu”. Sambil menarik keledainya diapun berkata: “Jiang daye[6], kenapa hari ini begitu santai main-main ke kota? Kenapa tak belajar kungfu pada Guru Bao?” Jiang Zhishing berkata: “Tentu saja, mana mungkin tidak melakukannya? Siapa suruh aku mengangkat guru yang suka cari penyakit?” Si Keledai Zhu memonyongkan mulutnya, tertawa dan berkata: “Anda sendiri yang cari penyakit, mengangkat guru yang seperti itu, kenapa tidak bekerja pada keluarga kaya saja! Daye adalah seorang yang terpelajar, mana bisa dapatkan bagian bila bergaul dengan mereka!” Jiang Zhisheng makin kesal, dia lalu bertanya: “Kau sedang apa? Apa sedang tunggu pelanggan di sini?” Zhu San berkata: “Tidak, aku pergi ke timur untuk menjemput orang. Janda Lu Er yang tinggal di sebelah timur, tahun lalu mencarikan istri untuk putranya. Menantunya adalah puteri Si Pincang Gong dari Dusun keluarga Gong. Aih! Tahun ini umurnya baru 18 tahun, orangnya cantik sekali. Tapi belum sampai 10 hari menikah, suaminya sudah pergi belajar di Padepokan Guang’an, meninggalkan istri yang yang masih muda, kesepian sendiri di rumah. Tambah lagi menantu dan mertua ternyata tak saling cocok. Janda Lu Er itu galak sekali! Menantunya tak tahan banting, sehingga sering pulang ke ruma ibunya. Tanggal 17 kemarin baru aku jemput, hari ini belum lagi tanggal 20, sudah harus aku antarkan lagi ke sana. Begitu pulang ke rumahnya paling sedikit dia tinggal selama setengah bulan.” Jiang Zhisheng tertawa, lalu berkata: “Kalau kau terus menjemput dan mengantar seperti ini, lama kelamaan istri orang bisa kau rebut.” Zhu San memiringkan mulutnya dan berkata: “Mana mungkin mau dengan orang sebodoh aku? Kalaupun aku mau merebutnya, belum tentu perempuan itu mau ikut denganku. Jika wajahku setampan daye, baru bisa!” Jiang Zhisheng tertawa-tawa dan berkata: “Cepatlah kau jemput dia! Jangan sampai nyonya muda itu cemas menunggu.” Selesai berkata dia membalikkan diri dan pergi. Zhu San menggeret keledainya, mengejar di belakagn, lalu berkata: “Jiang daye!” Jiang Zhisheng menghentikan langkah. Ditolehkannya kepala lalu bertanya: ”Ada apa?” Si Keledai Zhu San berkata mengiba-iba: “Dua hari lagi, pinjami aku uang!” Jiang Zhizheng membelalakkan matanya berkata: “Usahamu begitu maju, kenapa mau pinjam uang dariku?” Zhu San tertawa sambil berkata: “Aih! Memangnya tuan belum tahu masalah di rumahku? Ayahku yang sudah berumur 80 tahun lebih dan ibuku yang berumur 70 tahun lebih itu semuanya menggantungkan hidupa pada keledaiku ini. Sepanjang hari aku hanay dapat beberapa puluh Wen, hanya cukup untuk makan. Sekarang udara sudah menghangat, tapi aku masih memakai baju katun compang campingku ini. Jiang daye, dua hari lagi pinjami aku beberapa renceng uang, untuk membeli pakaianku!” Jiang Zhisheng berkata: “Lihat saja dua hari lagi deh!” Ditolehkannya kepala seraya pergi. Setelah melewati beberapa gang kecil, akhirnya sampai di sebuah rumah teman lama seperguruannya. Nama teman seperguruan ini adalah Fan Dianqing. Dahulu pernah menuntut ilmu bersama Jiang Zhisheng. Jiang Zhisheng bahkan tak lulus ujian untuk dapatkan gelar Xiucai, sedangkan temannya ini musim gugur tahun lalu lulus ujian. Jiang Zhisheng datang ke sini karena ingin mengunjungi ibunda Fan, tapi tak disangka hanya bertemu pembantunya. Katanya tuan mudanya sudah ditugaskan ke Henan untuk menjadi bupati. Setelah itu ia menjemput ibunya untuk menikmati kehidupan bersamanya. Hati Jiang Zhisheng makin dipenuhi penyesalan, diam-diam dia berpikir rupanya dirinya telah salah menempuh jalan. Dua tahun lebih ini, jika aku tak belajar beladiri dari Guru Bao, sekarang mungkin sudah jadi pejabat terpilih dan menjadi bupati. Jika diteruskan paling-paling aku hanya bisa bekerja di sebuah biro pengawalan dan malang melintang di Kangouw. Oleh karena itulah akuingin berhenti berguru pada Guru Bao. Aku akan membuang jauh-jauh golok dan pedangnya, lalu menghabiskan waktu untuk belajar giat di akademi Hanlin. Tiga sampai lima tahun kemudian, aku akan berhasil dan dapat nama, bukankah itu sangat membanggakan? Jiang Zhisheng meninggalkan rumah keluarga Fan sambil berjalan dan merenung. Tanpa sadar dia sudah keluar dari gerbang kota, menelusuri jalan ke arah selatan, ingin pulang ke rumahnya. Belum sampai setengah li, tiba-tiba dia mendengar lagi-lagi seruan Zhu San: “Jiang daye!” Jiang Zhisheng buru-buru menoleh, (dia menoleh cepat sekali!) tampaklah Zhu San sedang menggandeng keledainya. Di punggung keledainya adalah menantu keluarga Lu yang mau pulang ke rumah orang tuanya. Menantu keluarga Lu memang cantik sekali. Dia mengenakan blus sutera merah dengan celana berwarna hijau. Sepatu merahnya dihiasi sulaman bunga, kepalanya ditutupi sebuah saputangan sutera berwarna hijau. Walaupun rambutnya tak nampak, namun bisa dilihat keindahannya. Wajah bulat telurnya yang montok dipulas dengan bedak yang harum, bibirnya tampak merah seperti buah cherry yang baru masak. Soal penampilan luarnya, ia tak bisa dibilang sebagai seorang wanita yang sangat cantik sempurna, tapi Jiang Zhisheng segera saja terpesona. Biasanya pada saat ia berjumpa wanita di jalan, ia akan sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi hari ini tidak demikian. Ketika kepalanya ditolehkan seolah kepalanya menoleh kembali ke arah semula, membuat sepasang matanya menatap lurus ke arah wanita muda ini. Nyonya muda itu sedikit pun tak merasa malu, matanya menatap Jiang Zhisheng beberapa kali. Saat itu Zhu San menarik keledainya mendekat sambil menggoyang-goyangkan cemdetinya. Sambil tertawa ia berkata: “Jiang daye, kau belum makan pagi bukan?” Jiang Zhisheng berkata: “Aku sudah makan pagi sebelum masuk ke dalam kota.” Zhu San berkata: “Nyonya Jiang sangat gesit, seorang diri merawat 2 anak, tapi juga merawat suaminya dengan baik, makanannya pun terurus.” Jiang Zhisheng tertawa-tawa, tak berkata apapun, lalu kembali melirik nyonya muda itu sekilas. Zhu San berkata lagi: “Istri yang baik sepadan dengan suami yang baik. Jiang daye, seorang laki-laki yang pandai sastra dan bela diri, berwajah tampan dan bersifat baik, serta mengurus keluarga dengan baik, barangkali hanya ada satu dalam seribu. Pantas saja Nyonya Jiang gembira sepanjang hari!” Hati Jiang Zhisheng merasa sangat bangga mendengar kata-kata ini, matanya kembali menatap menantu keluarga Lu. Mulutnya berkata: “Dia gembira, aku justru tak merasa gembira.” Selesai berkata seperti itu, dia memutarkan tubuhnya lalu berjalan bertiga dan mengobrol iseng bersama Zhu San. Baru berjalan beberapa langkah, nyonya muda di atas keledai menolehkan kepalanya lalu berkata sambil mengangkat alis dan tersenyum: “Andakah Jiang daye dari dusun timur?” Jiang Zhisheng terpana, pada saat yang sama perhatiannya makin tersedot. Belum sempat menjawab, Zhu San yang berada di belakangnya menjawab: “Ini bukan Jiang daye dari dusun timur, tapi Jiang daye dari Dusun Keluarga Bao.” Nyonya muda tertawa sambil angguk-anggukkan kepala. Jiang Zhisheng buru-buru mendekat dan berkata: “Nyonya Lu, aku tak kenal keluarga mertuamu, tapi aku kenal keluarga ibumu.” “Yang kakinya sakit itu…” Nyonya muda tak menunggu dia selesai bicara, dia lalu tersenyum genit dan berkata: “Itu adalah ayahku.” Jiang Zhishen berkata: “Dulu ketika dia membuka kedai madat di kota, aku sering datang duduk-duduk di kedainya.” Nyonya muda menutupi mulutnya dengan sapu tangan merah lalu berkata: “Kau salah! Itu Si Pincang Li dari desa kami. Ayahku tidak sepincang dia!” Sambil bicara seperti itu ia menundukkan kepalanya tak bisa menahan tawa, sambil mencuri pandang pada Jiang Zhisheng. Jiang Zhisheng salah menebak, sehingga wajahnya agak merah. Zhu San malah berkata: “Pokoknya kita semua sekitar 30 li di desa kita punya hubungan yang sangat dekat!” Sambil tertawa Nyonya muda Lu berkata: “Memang benar, setiap kali sebut nama Jiang daye, ayahku pasti tahu!” “Jiang daye, jika punya waktu, datanglah ke rumah kami. Rumah kami ada di selatan gunung, di rumah kami ada pohon persik, bunga persik sudah mulai merah merekah.” Jiang Zhisheng buru-buru tertawa dan berkata: “Baik, baik, dalam satu dua hari ini aku akan datang menengok ayahmu!” Mengobrol sambil berjalan, tanpa terasa Dusun Keluarga Bao sudah tampak di depan mata. Jiang Zhisheng menghentikan langkahnya, nyonya muda kembali kembali tersenyum kenes sesaat, lalu berlalu pergi dengan menunggang keledainya. Zhu San masih tetap menoleh ke arah Jiang Zhisheng dari belakang keledainya sambil meledek. Jiang Zhisheng sementara itu berdiri terbengong-bengong, matanya menatap nyonya muda berbaju merah di atas keledai yang berjalan semakin lama semakin jauh, ke padang rumput tak bertepi itu. Jiang Zhisheng tiba-tiba teringat selarik puisi yang bisa menggambarkan pemandangan di depan matanya yakti: “Ada setitik merah di hamparan kehijauan.” Dia terbengong-bengong lama sekali, barulah dia perlahan berjalan ke dalam dusun. Kepergian ke kota kali ini sepertinya membuat ia kehilangan sesuatu, jiwanya bagai dirundung kebingungan, seolah bahkan tak menyadari kalau dirinya telah berada di depan pintu rumahnya. Kemudian, entah bagaimana ia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Baru berjalan dua langkah, tiba-tiba dia melihat cahaya putih berkelebat. Difokuskannya pandangan, ternyata putranya Jiang Xiaohe. Tahun ini umurnya baru 12 tahun. Namun dia sedang menari-narikan golok baja milik ayahnya di halaman rumah mereka. Jiang Zhisheng buru-buru menghalanginya dan berkata: “Hey! Hey! Tidak bisa! Tidak bisa! Itu golok yang sudah rusak, hati-hati bisa melukaimu. Jika kau suka bermain pedang, biar besok kuambilkan pedang bamboo.” Sepasang tangan kecil Jiang Xiaohe memegang golok, membantah: “Aku tak mau golok bambu, aku mau golok sungguhan! Aku mau lakukan pekerjaan yang bebas, aku mau melawan gurumu, tak seorangpun bisa mengalahkanku!” Jiang Zhisheng tertawa-tawa. Saat itu istrinya yang bermarga Huang membopong anaknya yang baru genap sebulan, Xiaolu, keluar dari dalam rumah, seraya buru-buru berkata: “Cepat beri dia pelajaran, dia naik bangku untuk ambil golokmu waktu aku sedang menyusui, kalau jatuh, dia bisa mati!” Jiang Zhisheng buru-buru merebut golok dari tangan anaknya. Dicobanya untuk mencoba membujuk. Setelah bersusah payah akhirnya dia terpaksa mengambil toya dari dalam rumah untuk membujuk Xiaohe mengembalikan golok itu. Xiaohe melompat berseru sembarangan sambil mengayunkan toya itu di halaman. Jiang Zhisheng mengikuti istrinya masuk ke dalam rumah. Nyonya Huang bertanya: “Kau pergi ke kota temui Abang Lu, apa kau bertemu dia? Apa sudah minta tolong dibelikan barangnya?” Jiang Zhisheng hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah tak bersemangat bicara dengan istrinya. Biasanya istrinya tampak cantik di matanya. Tapi hari ini tdiak demikian. Ada wanita cantik lain yang menduduki hatinya. Dia merasa jiwanya bagai ikut pergi menjauh bersama wanita berbaju merah itu. [1] Pak Tua Guru Kuntau [2] pengawal tua;bodyguard tua [3] Adik seperguruan [4] 1 chi = 0.3 meter [5] abang seperguruan [6] Tuan besar