Dia menyentakkan tangannya dengan ketakutan. Besinya menyeringai, membelit sendiri dari bentuk gulungan dan lilitan abstrak menjadi sebentuk wajah menakutkan, yang berbicara dalam suara berdentang dan bergema. "Nyatakan tujuanmu!" "Kami dapat Potter!" Greyback meraung senang. "Kami menangkap Harry Potter!" Gerbangnya terbuka. "Ayo!" kata Greyback pada orang-orangnya, dan para tahanan diseret melewati gerbang ke arah jalan, diantara pagar tanaman tinggi yang meredam langkah mereka. Harry melihat sosok putih bagai hantu di atasnya, dan menyadari itu adalah merak albino. Dia tersandung dan diseret oleh Greyback; sekarang dia berjalan terhuyung-huyung sepanjang tepi jalan, terikat dengan punggung saling berhadapan dengan tahanan lainnya. Menutup matanya yang bengkak, dia mengizinkan rasa sakit di bekas lukanya menguasai dia sesaat, ingin tahu apa yang sedang Voldemort lakukan, apakah dia sudah tahu kalau Harry tertangkap... Sosok kurus itu bergerak di bawah selimut tipisnya dan berguling ke arahnya, matanya tebuka di wajah yang seperti tengkorak... Pria lemah itu berdiri, matanya yang amat cekung menatap pasti ke arahnya, ke arah Voldemort, dan kemudian dia tersenyum. Sebagian besar giginya sudah hilang... "Jadi, kau sudah datang. Kukira kau akan... suatu hari. Tapi perjalananmu sia-sia. Aku tak pernah memilikinya." "Kau bohong!" Saat kemarahan Voldemort berdenyut dalam dirinya, bekas luka Harry seakan-akan mau pecah saking sakitnya, dan dia merenggut pikirannya kembali ke tubuhnya sendiri, bertarung untuk tetap sadar saat para tahanan didorong ke atas batu kerikil. Cahaya menerangi mereka semua. "Apa ini?" ujar sebuah suara dingin wanita. "Kami di sini untuk bertemu Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut!" teriak Greyback parau. "Siapa kau?" "Kau kenal aku!" terdengar kejengkelan dalam suara mausia serigalanya. "Fenrir Greyback! Kami menangkap Harry Potter!" Greyback menangkap Harry dan menyeretnya agar menghadap cahaya, memaksa tahanan lain ikut terseret juga. "Aku ta'u dia bengkak, Ma'am, tapi ini dia!" teriak Scabior. "Kalau Anda melihat lebih dekat, Anda bisa lihat bekas lukanya. Dan ini, lihat perempuan ini? Darah Lumpur yang diketahui bepergian dengan Harry Potter, Ma'am. Tidak ragu lagi, ini dia, dan kita dapat tongkatnya juga! Ini, Ma'am –" Melalui kelopak matanya yang bengkak Harry melihat Narcissa Malfoy meneliti dengan cermat. Scabior menyodorkan tongkat blackthorn padanya. Dia menaikkan alisnya. "Bawa mereka masuk," katanya. Harry dan yang lain didorong dan ditendang menaiki tangga batu lebar memasuki aula yang dindingnya penuh lukisan. "Ikuti aku,"kata Narcissa, memimpin jalan melewati aula. "Anakku, Draco, ada di rumah untuk liburan Paskah. Kalau itu Harry Potter, dia akan tahu." Ruang tamu terlihat menyilaukan setelah kegelapan di luar; bahkan dengan matanya yang hampir tertutup Harry bisa melihat ruangan dengan cukup jelas. Sebuah tempat lilin dari kristal tergantung di langit-langit, dan lebih banyak lagi lukisan tergantung di dinding berwarna ungu gelap. Dua sosok bangkit dari kursi di depan perapian marmer penuh hiasan dan ornamen saat para tahanan didorong ke ruangan oleh para Penjambret. "Apa ini?" Sebuah suara yang sangat dikenal Harry, suara Lucius Malfoy yang terdengar dipanjangpanjangkan terdengar di telinga Harry. Dia panik sekarang. Dia bisa melihat tak ada jalan keluar, dan lebih mudah, saat ketakutannya meluap, untuk menutup pikiran Voldemort, meski bekas lukanya masih terasa terbakar. "Mereka bilang mereka mendapat Potter," ujar suara dingin Narcissa. "Draco, kemari." Harry tidak berani menatap langsung Draco, tapi melihatnya sekilas; sosok langsing yang lebih tinggi dari sebelumnya, bangun dari kursi berlengan, wajahnya pucat dan tersamarkan dibawah rambut pirang keperakannya. Greyback mendorong para tahanan untuk berbalik lagi agar Harry berada tepat dibawah tempat lilin. "Well, nak?" kata si manusia serigala parau. Harry menghadap ke sebuah cermin di seberang perapian, benda berkilau besar dengan bingkai berbelit rumit. Melalui celah di matanya dia melihat bayangan dirinya sendiri untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Grimmauld Place. Wajahnya besar, bersinar, dan kemerahan, setiap bagiannya berubah gara-gara mantera Hermione. Rambut hitamnya mencapai bahu dan ada bayangan gelap di bawah rahangnya. Kalau saja dia tidak tahu siapa yang berdiri di sana, dia akan heran siapa yang memakai kacamatanya. Dia memutuskan untuk tidak berbicara, dia yakin suaranya akan dikenali; meski dia masih menghindari kontak mata dengan Draco saat dia tiba. "Well, Draco?" kata Lucius Malfoy. Dia terdengar sangat tertarik. "Apa itu dia? Apa itu Harry Potter?" "Aku tidak –Aku tidak yakin," kata Draco. Dia menjaga jarak dengan Greyback dan terlihat sama takutnya seperti Harry takut melihatnya. "Tapi lihat baik-baik, lihat! Ayo mendekat!" Harry tidak pernah mendengar Lucius setertarik ini. "Draco, kalau kita orang yang menyerahkan Harry Potter pada Pangeran Kegelapan, semua akan dimaaf—" "Sekarang, kita tak akan lupa siapa yang sebenarnya menangkap dia, Mr. Malfoy?" kata Greyback mengancam. "Tentu tidak, tentu tidak!" kata Lucius tidak sabar. Dia mendekati Harry, sangat dekat sehingga Harry bisa melihat wajah bertampang lesu, pucat dengan detail yang tajam meski melalui matanya yang bengkak. Dengan wajah bengkaknya yang seperti topeng, Harry merasa seperti dia mengintip lewat jeruji sel. "Apa yang kau lakukan padanya?" Lucius bertanya pada Greyback. "Bagaimana dia bisa jadi begitu?" "Bukan kami." "Kelihatannya seperti Kutukan Sengat bagiku," kata Lucius. Mata abu-abunya menusuri kening Harry. "Ada sesuatu di sana," bisiknya. "Bisa jadi bekas luka, tertarik ketat... Draco, kemari, lihat baik-baik! Bagaimana menurutmu?" Harry melihat wajah Draco terangkat dekat sekarang, tepat disamping ayahnya. Mereka benar-benar mirip, kecuali sementara ayahnya memandang Harry dengan ketertarikan, ekspresi Draco terlihat sangat enggan, bahkan seperti takut. "Aku tidak tahu," katanya, dan dia berjalan menjauh menuju perapian dimana Ibunya berdiri memperhatikan. "Sebaiknya kita yakin, Lucius," Narcissa memanggil suaminya dalam suaranya yang dingin dan jelas. "Benar-benar yakin bahwa itu Potter, sebelum kita memanggil Pangeran Kegelapan... Mereka bilang ini miliknya" –dia meneliti tongkat blackthorn itu– "tapi ini tidak menyerupai deskripsi Ollivander...Kalau kita salah, kalau kita memanggil Pangeran Kegelapan kesini tidak untuk apapun... Ingat apa yang dia lakukan pada Rowle dan Dolohov?" "Bagaimana dengan Darah Lumpurnya, kalau begitu?" geram Greyback. Harry hampir terlempar saat para Penjambret mendorong para tahanan lagi, sehingga cahaya menerangi Hermione sekarang. "Tunggu," kata Narcissa tajam. "Ya – ya, dia ada di Madam Malkin's dengan Potter! Aku melihat fotonya di Prophet! Lihat, Draco, bukankah ini si Granger itu?" "Aku...mungkin...yeah." "Dan lagi, itu si Weasley!" teriak Lucius, meluncur mengelilingi tahanan yang diikat untuk menghadap Ron. "Itu mereka, teman-teman Potter –Draco, lihat dia, bukankah itu anak Arthur Weasley, siapa namanya –?" "Yeah," ujar Draco lagi, punggungnya menghadap para tahanan. "Bisa jadi." Pintu ruang tamu terbuka di belakang Harry. Seorang wanita berkata, dan suaranya menaikkan rasa takut Harry. "Apa ini? Apa yang terjadi, Cissy?" Bellatrix Lestrange berjalan perlahan di sekitar para tahanan, dan berhenti di sebelah kanan Harry, menatap Hermione melalui matanya yang berpelupuk tebal. "Tapi tentu saja," katanya pelan, "Ini cewek Darah Lumpur itu? Ini Grander?" "Ya, ya, ini Granger!" jerit Lucius, "Dan disampingnya, kami kira, Potter! Potter dan teman-temannya, akhirnya tertangkap!" "Potter?" Bellatrix tertawa terbahak-bahak, dan dia mundur, agar bisa melihat Harry lebih jelas. "Apa kau yakin? Kalau begitu, Pangeran Kegelapan harus diberi tahu segera!" Dia menarik lengan baju kirinya: Harry melihat Tanda Kegelapan dibakarkan di lengannya, dan tahu dia akan menyentuhnya, untuk memanggil Master yang dipujanya- "Aku baru saja mau memanggil dia!" kata Lucius, dan tangannya langsung mendekati pergelangan tangan Bellatrix, mencegah dia menyentuh Tanda Kegelapan-nya. "Aku akan memanggilnya, Bella. Potter sudah dibawa ke rumahku, dan dia disini dibawah kekuasaanku –" "Kekuasaanmu!" dia menyeringai, dalam usahanya merenggut tangannya dari genggaman Lucius. "Kau kehilangan kekuasaanmu saat kau kehilangan tongkatmu, Lucius! Beraninya kau! Lepaskan tanganmu!" "Tak ada urusannya denganmu, kau tidak menangkap anak itu –" "Mohon maaf, Mr. Malfoy," sela Greyback. "Tapi kami yang menangkap Potter, dan kami yang akan mengklaim emasnya –" "Emas!" Bellatrix tertawa, masih berusaha melepaskan diri dari saudara iparnya, tangannya yang bebas meraba-raba sakunya mencari tongkatnya. "Ambil emasmu, pemakan bangkai kotor, apa urusanku dengan emas? Aku hanya mencari penghormatan darinya – untuk –" Dia berhenti berontak, matanya yang gelap menatap sesuatu yang Hary tak bisa lihat. Kegirangan karena Bellatrix menyerah, Lucius melempar tangannya dan menggulung lengan bajunya sendiri – "BERHENTI!" jerit Bellatrix, "Jangan sentuh, kita semua akan musnah kalau Pangeran Kegelapan datang sekarang!" Lucius membeku, jari telunjuknya melayang di tas Tanda Kegelapan miliknya. Bellatrix meluncur keluar dari penglihatan Harry yang terbatas. "Apa itu?" dia mendengar Bellatrix berkata. "Pedang," geram seorang Penjambret tak-terlihat. "Berikan padaku." "Itu bukan milikmu, Nona, ini punyaku, kupikir aku menemukannya." Terdengar benturan dan kilatan cahaya merah; Harry tahu si Penjambret telah dipingsankan. Terdengar raungan kemarahan dari kelompoknya: Scabior menarik tongkatnya. "Kaupikir apa yang kau lakukan, perempuan?" "Stupefy!" dia berteriak, "Stupefy!" Mereka bukan tandingan Bellatrix, meski mereka berempat melawan dia sendiri: Dia penyihir wanita, setahu Harry, dengan kemampuan luar biasa dan tanpa nurani. Mereka jatuh di tempat mereka berdiri, semua kecuali Greyback, yang telah didorong ke posisi berlutut, lengannya tertarik. Diluar sudut matanya Harry melihat Bellatrix mengangkat manusia serigala itu, pedang Gryffindor tergenggam erat di tangannya, wajahnya memucat. "Dari mana kau mendapat pedang ini?" dia berbisik pada Greyback saat dia menarik tongkat Greyback dari benggaman tangannya yang longgar. "Beraninya kau?" dia menantang, mulutnya satu-satunya yang bisa dia gerakkan saat dia didorong untuk memandang Bellatrix. Dia menunjukan gigi-gigi tajamnya. "Bebaskan aku, perempuan!" "Dari mana kau mendapat pedang ini?" ulangnya, melambai-lambaikan pedangnya di wajah Greyback, "Snape mengirim ini ke lemari besiku di Gringotts!" "Itu dari tenda mereka," kata Greyback. "Bebaskan aku, kataku!" Dia mengayunkan tongkatnya, dan si manusia serigala meloncat di kakinya, tapi terlihat terlalu waspada untuk mendekati Bellatrix. Dia bersembunyi di belakang kursi berlengan, kukunya yang kotor melengkung menggenggam bagian belakangnya. "Draco, pindahkan sampah itu keluar," kata Bellatrix, menunjuk pria yang tak sadarkan diri. "Kalau belum punya keberanian untuk menyelesaikan dia, tinggalkan di halaman untukku." "Jangan berani-berani bicara pada Draco seperti –" kata Narcissa marah, tapi Bellatrix berteriak. "Diam! Situasinya lebih genting dari yang bisa kau bayangkan, Cissy! Kita punya masalah yang sangat serius!" Dia berdiri, sedikit terengah-engah, melihat ke arah pedang, memeriksa pangkalnya. Kemudian dia berbalik, menghadap para tahanan yang terdiam. "Kalau dia benar-benar Potter, jangan sakiti," dia bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. "Pangeran Kegelapan ingin melenyapkan Potter sendiri... Tapi kalau dia menemukan... Aku harus... Aku harus tahu..." Dia berbalik mengadap adiknya lagi. "Para tahanan harus ditempatkan di gudang bawah tanah sementara aku memikirkan apa yang harus dilakukan!" "Ini rumahku, Bella, jangan beri perintah di –" "Lakukan! Kau tak tahu bahaya yang sedang kita hadapi!" jerit Bellatrix. Dia terlihat ketakutan, marah; aliran kecil api menyembur dari tongkatnya dan membakar karpet, membentuk sebuah lubang. Narcissa tertegun sesaat, kemudian memandang si manusia serigala. "Bawa tahanan ini ke gudang bawah tanah, Greyack." "Tunggu!," kata Bellatrix tajam. "Semua kecuali... kecuali si Darah Lumpur." Greyback mengeluarkan dengkuran senang. "Tidak!" teriak Ron. "Kau bisa menahanku, tahan aku!" Bellatrix memukul wajahnya: suara pukulannya menggema di seluruh ruangan. "Kalau dia mati saat ditanyai, kau yang berikutnya," katanya. "Darah pengkhianat adalah yang berikutnya setelah Darah Lumpur di bukuku. Bawa mereka turun, Greyback, dan pastikan mereka aman, tapi jangan lakukan apapun pada mereka –belum." Dia melemparkan tongkat Greyback kembali, lalu mengeluarkan pisau perak pendek dari balik jubahnya. Dia membebaskan Hermione dari tahanan lain, dan menyeret rambutnya ke tengah ruangan, sementara Greyback mendorong sisa tahanan lainnya berjalan menyeret kaki mereka menyebrangi ruangan ke pintu lain, masuk ke gang gelap, tongkatnya teracung di depannya, mengeluarkan kekuatan besar yang tak terlihat. "Kira-kira dia bakal membiarkanku menggigit sedikit gadis itu saat dia selesai dengannya?" Greyback bersenandung saat mendorong mereka sepanjang koridor. "Kubilang aku bakal dapet satu atau dua gigitan, bagaimana, jahe?" Harry bisa merasakan Ron gemetar. Mereka didorong menuruni tangga curam, masih diikat dengan punggung berhadapan dan dalam bahaya tergelincir dan mematahkan leher mereka kapan saja. Di bawah terdapat pintu berat. Greyback membuka kuncinya dengan ketukan tongkatnya, dan mendorong mereka masuk ke ruangan lembab dan berbau apak dan meninggalkan mereka dalam kegelapan total. Gema suara pintu gudang yang dibanting masih terdengar saat terdengar suara jeritan mengerikan tepat dari atas mereka. "HERMIONE!" Ron melenguh, dan dia mulai menggeliat dan berusaha membebaskan diri dari tali yang mengikat mereka bersama, membuat Harry menggeliat. "HERMIONE!" "Diamlah!" kata Harry. "Diam. Ron, kita harus mencari jalan –" "HERMIONE! HERMIONE!" "Kita perlu rencana, berhenti berteriak – kita perlu melepaskan diri dari tali ini –" "Harry?" terdengar bisikan dari kegelapan. "Ron? Apa itu kau?" Ron berhenti berteriak. Terdengar suara gerakan mendekati mereka, dan Harry melihat sebuah bayangan mendekat. "Harry? Ron?" "Luna?" "Ya, ini aku! Oh, tidak, aku tak mau kau tertangkap!" "Luna, bisa kau bantu kami melepaskan tali ini?" kata Harry. "Oh ya, kuharap bisa... Ada paku tua yang kami gunakan kalau kami perlu merusak sesuatu... Tunggu sebentar..." Hermione menjerit lagi dari atas, dan mereka bisa mendengar Bellatrix menjerit juga, tapi kata-katanya tak terdengar, karena Ron berteriak lagi, "HERMIONE! HERMIONE!" "Mr. Ollivander?" Harry bisa mendengar Luna berkata. "Mr. Ollivander, Anda punya pakunya? Kalau Anda bisa bergerak edikit...Kurasa pakunya di sebelah tempat air." Dia kembali sedetik kemudian. "Kau harus diam," katanya. Harry bisa merasakan dia menggali serabut-serabut talinya untuk membuka simpulnya. Dari atas mereka mendengar suara Bellatrix. "Aku tanya kau sekali lagi! Dimana kau dapat pedang ini? Di mana?" "Kami menemukannya –kami menemukannya –KUMOHON!" Hermione menjerit lagi; Ron berjuang lebih keras lagi, dan paku karatan itu tergelincir ke pergelangan tangan Harry. "Ron, tolong, diamlah!" Luna berbisik. "Aku tak bisa melihat apa yang sedang kulakukan –" "Sakuku!" kata Ron, "Di sakuku, ada Deluminator, dan penuh cahaya!" Beberapa detik berikutnya, terdengar suara ceklikan, dan bola cahaya yang diserap Deluminator dari lampu di tenda terbang ke gudang: Tak bisa kembali ke sumbernya, bola cahaya tu hanya tergantung di sana, seperti matahari kecil, membanjiri ruang bawah tanah itu dengan cahaya. Harry melihat Luna, matanya memandang wajahnya yang putih, dan sosok tak bergerak Mr. Ollivander si pembuat tongkat, bergelung di lantai di sudut. Menjulurkan lehernya ke sekeliling, dia melihat tahanan lainnya: Dean dan Griphook si goblin, yang terlihat baru sadar, tetap berdiri karena tali yang mengikatnya ke manusia. "Oh, itu jauh lebih baik, thanks, Ron," kata Luna, dan dia mulai memaku tali mereka lagi. "Halo, Dean." Dari atas terdengar suara Bellatrix. "Kau bohong, Darah Lumpur kotor, dan aku tahu itu! Kau sudah masuk ke lemari besiku di Gringotts! Katakan yang sebenarnya, katakan yang sebenarnya!" Terdengar teriakan mengerikan lainnya – "HERMIONE!" "Apa lagi yang kau ambil? Apa lagi yang kau punya? Beri tahu aku yang sebenarnya, atau, aku bersumpah, aku akan mengulitimu dengan pisau ini!" "Ini!" Harry merasakan talinya jatuh dan memutar, menggosok pergelangan tangannya, melihat Ron berlari mengelilingi gudang, melihat ke langit-langit rendah, mencari-cari pintu jebakan. Dean, wajahnya penuh memar dan berdarah, mengucapkan "terima kasih" pada Luna dan berdiri di sana, gemetaran, sementara Griphook terjatuh ke lantai gudang, terlihat terhuyung-huyung dan tak terbiasa, bilur-bilur terlihat di wajahnya yang kehitaman. Ron sekarang mencoba ber-Dissapparate tanpa tongkat. "Tak ada jalan keluar, Ron," kata Luna, menonton usahanya yang tidak berhasil. "Gudang ini benar-benar tahan-kabur. Aku mencobanya, dulu. Mr. Ollivander sudah lama di sini, dia sudah mencoba segalanya." Hermione menjerit lagi: Suaranya menerpa Harry seperti sakit badannya. Baru saja sadar dari rasa sakit hebat yang menusuk di bekas lukanya, dia juga mulai berlarian berkeliling ruangan, meraba dindingnya untuk sesuatu yang hampir dia tidak sadari apa, mengetahui dalam hatinya kalau itu sia-sia. "Apa lagi yang kau ambil, apa lagi? JAWAB AKU! CRUCIO!" Jeritan Hermione bergema di dinding di atas, Ron setengah terisak saat dia memukul dinding dengan kepalan tangannya, dan Harry dalam keputusasaannya mengeluarkan dompet dari Hagrid dari lehernya dan meraba-raba ke dalamnya: Dia menarik keluar Snitch Dumbledore dan mengguncangnya, mengharap sesuatu yang dia tidak tahu apa – tak ada yang terjadi – dia melambaikan patahan tongkat phoenixnya, tapi tongkatnya tidak bernyawa –pecahan kaca jatuh dan berkilau di lantai, dan dia melihat kilatan biru terang – Mata Dumbledore menatapnya dari dalam cermin. "Tolong kami!" dia berteriak pada cermin itu dalam keputusasaan. "Kami di gudang bawah tanah Kediaman Malfoy, tolong kami!" Mata itu mengedip dan hilang. Harry bahkan tidak yakin itu benar-benar terjadi. Dia memiringkan pecahan kacanya dalam berbagai cara, dan melihat tak ada apapun yang terpantul di situ kecuali dinding dan langit-langit penjara mereka, dan di atas Hermione menjerit lebih buruk dari sebelumnya, dan di sebelahnya Ron melenguh, "HERMIONE! HERMIONE!" "Bagaimana kau masuk ke lemari besiku?" mereka mendengar Bellatrix menjerit. "Apa goblin kecil kotor di gudang itu yang membantumu?" "Kami baru bertemu dia malam ini!" Hermione terisak. "Kami tak pernah masuk ke lemari besimu...Ini bukan pedang yang asli! Ini hanya tiruan, hanya tiruan!" "Tiruan?" Bellatrix bercicit. "Oh, cerita yang bagus!" "Tapi kita bisa menemukannya dengan mudah!" terdengar suara Lucius. "Draco, ambil goblin itu, dia bisa memberitahu kita pedang ini asli atau bukan!" Harry bergerak cepat menyebrangi gudang ke tempat di mana Griphook membungkuk di lantai. "Griphook," dia berbisik ke telinga runcing si goblin, "kau harus memberi tahu mereka kalau pedangnya palsu, mereka tak boleh tahu itu yang asli, Griphook, kumohon –" Dia bisa mendengar langkah kaki teredam seseorang di gudang; saat berikutnya, suara gemetaran Draco berbicara dari balik pintu. "Mundur. Berbaris di dekat tembok belakang. Jangan coba-coba lakukan apapun, atau aku akan membunuh kalian!" Mereka berdiri seolah mereka masih diikat; saat kunci diputar, Ron menjentikkan Deluminator dan cahanyanya tersapu kembali ke kantungnya, mengembalikan kegelapan gudang. Pintu terbuka; Malfoy melangkah masuk, tongkatnya teracung di depannya, pucat dan penuh tekad. Dia mengangkat goblin kecil itu di lengannya dan keluar lagi, menyeret Griphook dengannya. Pintu dibanting menutup dan di saat yang sama suara krak keras terdengar menggema di dalam gudang. Ron menjentikkan Deluminator. Tiga bola cahaya terbang lagi ke udara dari sakunya, memperlihatkan Dobby, si peri rumah, yang baru saja ber-Apparate ke tengahtengah mereka. "DOB -!" Harry memukul Ron di lengannya untuk menghentikan dia berteriak, dan Ron terlihat ketakutan karena kesalahannya. Langkah kaki terdengar di langit-langit: Draco membawa Griphook ke Bellatrix. Mata Dobby yang sangat besar dan seperti bola tenis melebar; Dia gemetar dari ujung kakinya ke ujung telinganya. Dia kembali ke rumah tuannya yang lama, dan terlihat jelas kalau dia membeku ketakutan. "Harry Potter," dia mencicit dengan suara gemetar yang palng kecil, "Dobby telah datang untuk menyelamatkan Harry Potter." "Tapi bagaimana kau –" Jeritan mengerikan menenggelamkan kata-kata Harry:Hermione disiksa lagi. Dia langsung ke tujuan. "Kau bisa ber-Dissapparate keluar gudang ini?" dia menanyai Dobby, yang mengangguk, telinganya mengepak. "Dan kau bisa membawa manusia bersamamu?" Dobby mengangguk lagi. "Baiklah, Dobby, aku ingin kau memegang Luna, Dean, dan Mr. Ollivander, dan membawa mereka – membawa mereka ke –" "Tempat Bill dan Fleur," kata Ron, "Shell Cottage di luar Tinworth!" Peri rumah itu mengangguk untuk yang ketiga kalinya. "Dan kemudian kembali lagi," kata Harry. "Bisa kau lakukan, Dobby?" "Tentu saja, Harry Potter," bisik peri rumah kecil itu. Dia berjalan tergesa menuju Mr. Ollivander, yang kelihatannya baru sadar. Dia mengambil salah satu lengan si pembuat tongkat dengan tangannya, dan mengulurkan yang lain pada Luna dan Dean, tak ada diantara mereka yang bergerak. "Harry, kami ingin membantumu!" Luna berbisik. "Kami tak bisa meninggalkanmu di sini," kata Dean. "Pergi, kalian berdua! Kami akan menemui kalian di tempat Bill dan Fleur." Saat Harry berbicara, bekas lukanya terbakar lebih buruk dari sebelumnya, dan untuk beberapa saat dia melihat ke bawah, yang terlihat bukan si pembuat tongkat, tapi pria lain yang setua dan sekurus dia, tapi tertawa menghina. "Bunuh aku, kalau begitu. Voldemort, aku menyambut kematian! Tapi kematianku tidak akan membawamu pada apa yang kau cari... Terlalu banyak yang tidak kau mengerti..." Dia merasakan kemarahan Voldemort, tapi saat Hermione menjerit lagi dia juga berteriak, kembali ke gudang dan ketakutan dengan kehadirannya sendiri. "Pergi!" Harry memohon pada Luna dan Dean. "Pergi! Kami akan mengikuti, sekarang pergi!" Mereka mengenggam jari si peri rumah. Terdengar suara crack yang lain, lalu Dobby, Luna, Dean, dan Ollivander menghilang. "Apa itu?" teriak Lucius dari atas kepala mereka. "apa kau mendengar itu? Apa suara di gudang itu?" Harry dan Ron saling pandang. "Draco –tidak, panggil Wormtail! Suruh dia pergi dan periksa!" Langkah kaki terdengar bersilangan menyebrangi ruangan, dan kemudian sunyi. Harry tahu orang-orang di ruang tamu mendengarkan suara lain dari gudang. "Kita harus mencoba menangani dia," dia berbisik pada Ron. Mereka tidak punya pilihan: Saat siapapun yang memasuki ruangan dan melihat ketidakhadiran tiga tahanan, mereka kalah. "Biarkan cahayanya menyala," tambah Harry, dan saat mereka mendengar seseorang melangkah mendekat di luar pintu, mereka mundur ke tembok di sisi yang lain. "Mundur," terdengar suara Wormtail. "Mundur dari pintu. Aku masuk." Pintu mengayun terbuka. Untuk sedetik Woemtail memandang ke ruangan yang kosong, dibutakan oleh cahaya dari tiga miniatur matahari yang melayang di udara. Kemudian Harry dan Ron menampakkan diri mereka di depannya. Ron menarik tangan Wormtail yang menggenggam tongkat dan mendorongnya ke atas. Harry menutup tangannya ke mulutnya, membungkam suaranya. Mereka berjuang dalam diam: tongkat Wormtail memancarkan cahaya; tangan peraknya menutup di sekeliling tenggorokan Harry. "Ada apa, Wormtail?" panggil Lucius dari atas. "Tak ada!" Ron berteriak kembali, cukup mirip dengan suara Wormtail yang mencicit. "Semua baik-baik saja!" Harry hampir tidak bisa bernapas. "Kau mau membunuhku?" Harry sesak napas, berusaha melepaskan diri dari jari-jari metal itu. "Setelah aku menyelamatkan nyawamu? Kau berhutang padaku, Wormtail!" Jari-jari perak itu mengendur. Harry tidak menyangkanya: dia menarik dirinya bebas, terpesona, tangannya tetap menutup mulut Wormtail. Dia melihat matanya yang kecil dan berair seperti tikus melebar karena ketakutan dan terkejut: Dia terlihat sama terkejutnya seperti Harry atas apa yang tangannya lakukan, pada saat kebaikan yang terkhianati, dan dia terus berjuang lebih keras, seperti ingin memperbaiki saat-saat kelemahannya. "Dan kami akan ambil ini," bisik Ron, menarik tongkat Wormtail dari tangannya yang lain. Tanpa tongkat, tidak berdaya, pupil Pettigrew membesar karena ketakutan. Matanya teralih dari wajah Harry ke sesuatu yang lain. Jari peraknya sendiri bergerak menuju tenggorokannya tanpa bsa dicegah. "Tidak –" Tanpa berhenti untuk berfikir, Harry mencoba menarik tangan itu, tapi tak bisa menghentikannya. Alat perak yang Voldemort berikan pada pelayannya yang paling penakut telah berbalik melawan pemiliknya yang tak berguna dan terlucuti; Pettigrew mendapat balasan untuk keragu-raguannya, saat menyedihkannya; dia dicekik di depan mata mereka. "Tidak!" Ron telah melepaskan Wormtail juga, dan bersama-sama Harry dia mencoba menarik jari-jari metal itu dari sekeliling tenggorokan Wormtail, tapi tak berguna. Pettigrew berubah jadi biru. "Relashio!" ujar Ron, mengarahkan tongkatnya ke tangan perak, tapi tak terjadi apa-apa; Pettigrew terjatuh di lututnya, dan pada saat yang sdama, Hermione meneriakkan teriakan mengerikan dari atas kepala mereka. Mata Wormtail berputar di wajahnya yang ungu; dia memberikan puntiran terakhir, dan hening. Harry dan Ron saling berpandangan, kemudian meninggalkan tubuh Wormtail di lantai di belakang mereka, berlari menaiki tangga dan kembali ke gang gelap yang menuju ke ruang tamu. Mereka bergerak pelan-pelan dengan sangat hati-hati sampai mereka mencapai pintu ruang tamu, yang terbuka sedikit. Sekarang mereka bisa melihat dengan jelas. Bellatrix melihat Griphook, yang memegang pedang Gryffindor di tangannya yang berjari panjang. Hermione terbaring di kaki Bellatrix. Dia terlihat kacau. "Well?" kata Bellatrix pada Griphook. "Apa ini pedang yang asli?" Harry menunggu, menahan napasnya, berjuang melawan rasa sakit dari bekas lukanya. "Bukan," kata Griphook. "Ini palsu." "Kau yakin?" kata Bellatrix terengah. "Benar-benar yakin?" "Ya," kata si goblin. Kelegaan terlihat di wajahnya, semua ketegangan hilang. "Bagus," katanya, dan dengan jentikan santai tongkatnya dia menorehkan goresan dalam lain ke wajah si goblin, dan dia menjerit terjatuh di kaki Bellatrix. Dia menendang goblin itu ke tepi. "Dan sekarang," dia berkata dalam suara yang meledak dengan kemenangan, "kita panggil Pangeran Kegelapan!" Dan dia mendorong lengan bajunya dan menyentuhkan jari telunjuknya ke Tanda Kegelapan. Saat itu, bekas luka Harry terasa seperti akan terbuka lagi. Keadaan sekitarnya yang sebenarnya hilang. Dia adalah Voldemort, dan penyihir kurus di depannya tertawa memperlihatkan giginya yang ompong padanya; dia marah sekali pada panggilan yang dia rasakan –dia sudah memperingatkan mereka, dia sudah memberitahu mereka jangan memanggilnya kecuali untuk Potter. Kalau mereka salah... "Bunuh aku, kalau begitu!" tuntut si pria tua. "Kau tak akan menang, kau tak bisa menang! Tongkat itu tak akan, tak akan pernah jadi milikmu –" Dan kemarahan Voldemort pecah: Secercah sahaya hijau memenuhi ruang tahanan, dan tubuh tua yang lemah itu terangkat dari tempat tidurnya yang keras, dan kemudian terjatuh lagi, tanpa kehidupan, dan Voldemort kembali ke jendela, kemarahannya hampir tak bisa terkontrol... Mereka akan menderita dalam pembalasannya kalau mereka tidak punya alasan yang bagus untuk memanggilnya... "Dan kurasa," kata Bellatrix, "Kita bisa melenyapkan Darah Lumpur ini. Greyback, ambil kalau kau mau dia." "TIDAAAAAK!" Ron menghambur ke ruang tamu; Bellatrix melihat sekeliling, terkejut; dia mengarahkan tongkatnya ke wajah Ron – "Expelliarmus!" dia meraung, mengarahkan tongkat Wormtail ke arah Bellatrix, dan tongkatnya terbang di udara dan ditangkap oleh Harry, yang berlari setelah Ron. Lucius, Narcissa, Draco dan Greyback bergerak maju; Harry berteriak, "Stupefy!" dan Lucius Malfoy terjatuh tak sadarkan diri. Kilatan cahaya meluncur dari tongkat Draco, Narcissa dan Greyback; Harry melemparkan dirinya ke lantai, berguling di belakang sofa untuk menghindari mereka. "BERHENTI ATAU DIA MATI!" Terengah-engah, Harry mengintip dari ujung sofa. Bellatrix mengangkat Hermione, yang terlihat tidak sadar, dan memegang pisau perak pendeknya ke tenggorokan Hermione. "Jatuhkan tongkat kalian," dia berbisik. "Jatuhkan, atau kita akan lihat tepatnya seberapa kotor darahnya!" Ron berdiri kaku, memegang tongkat Wormtail. Harry berdiri, masih mengenggam tongkat Bellatrix. "Kubilang jatuhkan!" dia berteriak, menekan pisaunya ke tenggorokan Hermione: Harry melihat beberapa tetes darah muncul di sana. "Baiklah!" serunya, dan dia menjatuhkan tongkat Bellatrix ke lantai di dekat kakinya, Ron melakukan hal yang sama dengan tongkat Wormtail. Keduanya mengangkat tangan di atas bahu. "Bagus!" liriknya. "Draco, ambil tongkatnya! Pangeran Kegelapan akan datang, Harry Potter! Kematianmu sudah dekat!" Harry tahu; bekas lukanya seperti terbakar oleh rasa sakit, dan dia bisa merasakan Voldemort terbang di langit dari tempat yang jauh, melewati laut yang gelap dan berbadai, dan akan cukup dekat untuk ber-Apparate ke tempat mereka, dan Harry melihat tak ada jalan keluar. "Sekarang," kata Bellatrix lembut, saat Draco kembali padanya membawa tongkat. "Cissy, kurasa kita harus mengikat pahlawan kecil ini lagi, sementara Greyback mengurus Nona Darah Lumpur. Aku yakin Pangeran Kegelapan tak akan iri padamu karena mendapatkan gadis itu, Greyback, setelah apa yang kau lakukan malam ini." Pada kata-kata terakhir terdengar suara berat yang aneh dari atas. Semuanya melihat ke atas tepat pada waktunya untuk melihat tempat lilin kristal itu bergetar; kemudian, dengan suara derak dan bunyi gemerincing tak menyenangkan, mulai jatuh. Bellatrix berdiri tepat di bawahnya; menjatuhkan Hermione, dia melemparkan dirinya ke samping dengan jeritan. Tempat lilin itu manimpa lantai dalam ledakan kristal dan rantai, jatuh di atas Hermione dan si goblin, yang masih memegang pedang Gryffindor. Pecahan kristal yang berkilauan terbang ke segala arah; Draco terkena, tangannya menutupi wajahnya yang berdarah. Saat Ron berlari untuk menarik Hermione keluar dari kekacauan, Harry mengambil kesempatan: dia melompati kursi berlengan dan merebut tiga tongkat tersebut dari pegangan Draco, mengacungkan semuanya ke arah Greyback, dan berteriak, "Stupefy!" Manusia serigala itu terangkat kakinya oleh mantra triple, terbang ke langit-langit dan manghantam lantai. Saat Narcissa menarik Draco keluar dari kekacauan lebih jauh, Bellatrix melompat, rambutnya melayang saat dia melambaikan pisau peraknya; tapi Narcissa telah mengacungkan tongkatnya ke arah pintu. "Dobby!" dia menjerit dan bahkan Bellatrix membeku. "Kau! Kau menjatuhkan tempat lilinnya -?" Peri rumah kecil itu berderap masuk ke dalam ruangan, tangannya yang gemetar menunjuk Nyonya lamanya. "Kau tak boleh melukai Harry Potter," dia mencicit. "Bunuh dia, Cissy!" jerit Bellatrix, tapi terdengar suara derak keras lain, dan tongkat Narcissa juga terbang dan mendarat di sisi lain ruangan. "Kau monyet kecil kotor!" jerit Bellatrix. "Beraninya kau mengambil tongkat seorang penyihir, beraninya kau pada tuamnu?" "Dobby tak punya tuan!" cicit si peri. "Dobby peri rumah bebas, dan Dobby datang untuk menyelamatkan Harry Potter dan teman-temannya!" Bekas luka Harry membuatnya buta dengan rasa sakit. Samar-samar dia tahu mereka punya waktu, beberapa detik sebelum Voldemort datang. "Ron, tangkap –dan PERGI!" dia berteriak, melemparkan salah satu tongkat ke arahnya; kemudian dia menunduk untuk menarik Griphook keluar dari bawah tempat lilin. Mengangkat goblin yang merintih, yang masih menggenggam pedang, di satu pundak, Harry mengangkat tangan Dobby dan berputar ke titik Disapparate. Saat dia menuju ke kegelapan di luar dia menangkap kilasan terakhir dari pemandangan di ruang tamu pada sosok Narcissa dan Draco yang pucat dan membeku, kilasan merah yang merupakan rambut Ron, dan kilasan biru dari sesuatu yang perak yang terbang, saat pisau Bellatrix terbang melintasi ruangan di tempat dia telah menghilang – Tempat Bill dan Fleur...Shell Cottage...Tempat Bill dan Fleur... Dia menghilang ke suatu tempat yang tidak dikenal; yang bisa dia lakukan hanyalah mengulang nama tempat tujuannya dan berharap itu cukup untuk membawanya ke sana. Rasa sakit di dahinya menusuknya, dan berat si goblin membebaninya,; dia bisa merasakan bagian tajam dari pedang Gryffindor membentur punggungnya: tangan Dobby tersentak di tangannya; dia penasaran apakah Dobby sedang mencoba untuk mengambil alih tanggung jawab, menarik mereka ke tempat yang tepat, dan mencoba, dengan tekanan pada jari-jarinya, memberi tanda bahwa mereka baik-baik saja... Dan kemudian mereka membentur tanah keras dan mencium udara asin. Harry jatuh di lututnya, melepaskan tangan Dobby, dan mencoba menurunkan Griphook dengan lembut ke tanah. "Kau tak apa-apa?" katanya karena goblin itu terlihat kacau, tetapi Griphook hanya merengek. Harry mengerdip ke sekeliling dalam kegelapan. Di sana terlihat sesuatu seperti sebuah cottage tak jauh dibawah langit berbintang, dan dia pikir dia melihat gerakan di dalamnya. "Dobby, apa ini Shell Cottage?" dia berbisik, menggenggam dua tongkat yang dia bawa dari tempat Malfoy, siap bertarung jika diperlukan. "Apa kita datang ke tempat yang tepat? Dobby?" Dia melihat ke sekeliling. Peri rumah itu berdiri satu kaki darinya. "DOBBY!" Peri rumah itu bergoyang pelan, bintang-bintang terpantul di matanya yang lebar dan bersinar. Bersama-sama, dia dan Harry melihat ke pangkal perak dari pisau yang menonjol keluar dari dada Dobby yang bergerak naik turun. "Dobby –tidak –TOLONG!" Harry melenguh ke arah cottage, ke orang-orang yang bergerak di dalam. "TOLONG!" Dia tidak tahu atau tidak peduli apakah mereka penyihir atau Muggle, kawan atau lawan; semua yang dia pedulikan hanyalah noda gelap yang tersebar di bagian depan Dobby, bahwa dia menjulurkan tangannya ke arah Harry dengan tatapan memohon. Harry menangkapnya dan membaringkannya di tepi jalan di rumput yang dingin. "Dobby, tidak, jangan mati, jangan mati –" Mata si peri rumah menemukan matanya, dan bibirnya bergetar dengan usahanya membentuk kata-kata. "Harry... Potter..." Dan kemudian diringi gemetar kecil Dobby terdiam, dan matanya tak lebih dari bola kaca besar, bersinar karena cahaya bintang yang tak bisa mereka lihat. Bab 24 The Wandmaker Pembuat Tongkat Rasanya seperti tenggelam ke dalam mimpi buruk lama; dalam sekejap, Harry seperti berlutut lagi di samping tubuh Dumbledore di kaki menara tertinggi Howarts, tapi kenyataannya dia sedang memAndang tubuh kurus yang ada di atas rumput, tertusuk oleh pisau perak Bellatrix. Suara Harry masih menyebut, ”Dobby… Dobby…” meskipun dia tahu bahwa peri itu telah pergi ke tempat dimana ia tak dapat memanggilnya kembali. Setelah beberapa menit atau sekitar itu, dia sadar bahwa dia, akhirnya, telah datang ke tempat yang benar, ketika Bill dan Fleur, Dean dan Luna, berkumpul di sekitarnya ketika dia berlutut di samping peri itu. “Hermione.” Akhirnya dia berkata, “Dimana dia?” “Ron telah membawanya ke dalam.” Kata Bill, “Dia akan baik-baik saja.” Harry melihat ke belakang pada Dobby lagi. Dia menggenggamkan tangannya dan mencabut pisau tajam itu dari tubuh Dobby, kemudian melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Dobby dengannya seperti selimut. Laut menghantam karang disuatu tempat yang dekat; Harry mendengarkannya sementara yang lain berbicara mendiskusikan masalah yang tidak dapat diperhatikannya, membuat keputusan, Dean membawa Griphook yang terluka ke dalam rumah, Fleur mengikuti mereka; sekarang Bill mengerti apa yang dia katakan, ketika dia melakukannya, dia memAndang kebawah pada tubuh kecil itu, dan lukanya menjadi sakit dan serasa terbakar, dan di salah satu bagian pikirannya, seperti memAndang dari ujung teleskop yang salah, dia melihat Voldemort menghukum mereka yang tinggal di rumah Keluarga Malfoy. Kemarahannya sangat mengerikan dan belakangan Harry bersyukur pada Dobby yang kelihatannya menyebabkannya, sehingga itu menjadi sebuah badai yang jauh dan menggapai Harry dari seberang laut, lautan yang sunyi. “Aku ingin melakukannya sendiri,” adalah kata pertama yang diucapkan Harry ketika dia benar-benar sadar, “tidak dengan sihir, apakah kau punya sekop?” dan tak lama kemudian dia mulai bekerja, sendirian, menggali kubur di tempat yang ditunjukkan Bill di pinggir kebun, diantara semak. Dia menggali dengan sedikit kemarahan, melampiaskannya pada kerja moral, membanggakan nonsihir di dalamnya, pada tiap tetes keringatnya dan tiap lepuh merasakan duka cita bagi peri yang telah menyelamatkan nyawa mereka. Bekas lukanya terasa terbakar, tapi dia menguasai sakitnya, dia merasakannya, masih belum jauh darinya. Dia akhirnya belajar bagaimana mengendalikannya, belajar menutup pikirannya dari Voldemort, sesuatu Dumbledore inginkan ia pelajari dari Snape. Hanya karena Voldemort tidak mampu menguasai Harry ketika Harry dipenuhi duka untuk Sirius, sehingga dia berpikir bahwa Voldemort tidak mampu menguasai pikirannya sekarang ketika dia berduka atas Dobby. Duka cita kelihatannya membuat Voldemort kalah… yang menurut Dumbledore, tentunya, bisa dikatakan sebagai cinta. Dalam penggalian Harry, dalam dan lebih dalam lagi ke tanah yang dingin dan keras, menumpahkan duka citanya dalam keringat, mengabaikan sakit di bekas lukanya. Dikegelapan, dengan kesunyian setelah suara napasnya dan deburan laut yang tetap menemaninya, sesuatu yang terjadi di rumah Malfoy teringat lagi, sesuatu yang dia dengar kembali lagi padanya, dan pengertian terbentuk di kegelapan. Irama tetap dari gerakan tangannya beriringan dengan pikirannya, Hallows… Horcrux… Hallows… Horcrux… tak lama kemudian terbakar dalam keanehan itu, obsesi yang panjang. Rasa kehilangan dan ketakutan menyedotnya, dia merasa bahwa dia tersentak bangun lagi. Lebih dalam dan lebih dalam lagi Harry menggali kedalam makam, dan dia tahu dimana Voldemort sebelumnya malam ini, dan siapa yang telah dibunuhnya di sel paling atas Numengard, dan sebabnya… Dan dia memikirkan Wormtail, meski karena dorongan tak sadar sebuah belas kasihan… Dumbledore telah meramalkannya… berapa banyak lagi yang dia tahu? Harry kehilangan ukuran waktu, yang dia tahu hanya kegelapan telah merebak semakin gelap ketika Dean dan Ron datang menenaminya lagi. “Bagaimana Hermione?” “Lebih baik” kata Ron, “Fleur sedang menjaganya.” Harry telah mempersiapkan alasan jika mereka menanyakan mengapa dia tidak membuat makam yang lebih baik dengan sihir, tapi dia tidak membutuhkannya. Mereka berdua meloncat kedalam lubang yang Harry buat dengan sekop dan mereka bekerja bersama dalam diam hingga lubang itu kelihatannya sudah cukup dalam. Harry menyelimuti peri itu lebih rapi dengan jaketnya, Ron duduk di pinggiran lubang dan melepaskan sepatu dan kaus kakinya yang lalu dipakaikannya di kaki telanjang si peri, Dean memberikan topi wol, yang Harry pakaikan dengan hati-hati diatas kepala Dobby, menutupi telinga kalelawarnya. “Kita seharusnya menutup matanya.” Harry tidak mendengar yang lain datang dalam kegelapan. Bill memakai jubah perjalanannya, Fleur memakai sebuah celemek lebar berwarna putih; dari sakunya muncul sebuah ujung botol, yang Harry kenali sebagai Skele-Gro. Hermione terbungkus gaun panjang pinjaman, dengan wajah pucat, dan berdiri sedikit goyah diatas kakinya; Ron meletakkan sebelah tangannya, merangkulnya ketika dia mendekati Ron. Luna, yang memakai salah satu mantel Fleur, membungkuk dan meletakkan jemarinya dengan perlahan di atas kelopak mata Dobby, menutupnya di atas tatapan kosong. “Begitulah,” katanya lembut, “sekarang dia dapat tertidur”. Harry meletakkan Dobby ke dalam makam, mengatur kaki kecilnya sehingga dia kelihatannya seperti beristirahat, lalu memanjat keluar dan memandang untuk terakhir kalinya kepada tubuh kecil itu. Harry berusaha tidak kecewa ketika mengingat acara pemakaman Dumbledore, baris demi baris kursi emas, dan mentri sihir di deretan paling depan, pidato tentang penghargaan kepada Dumbledore, makam marmer putih yang indah. Dia merasa Dobby layak mendapatkan acara pemakaman yang lebih baik dari ini, tapi kenyataannya di sini terbaring peri itu dalam sebuah lubang kasar dalam tanah diantara semak. “Kupikir kita harus mengucapkan sesuatu,” Luna mulai bicara, “aku yang pertama, boleh?” Dan ketika semua orang melihat padanya, dia memAndang jasad peri di dasar lubang itu. “Terima kasih banyak, Dobby, karena telah menyelamatkan kami dari penjara itu. Sangat tidak adil kau meninggal karena kau sangat berani dan baik. Aku akan selalu mengingat apa yang kau lakukan untuk kami. Kuharap kau bahagia sekarang.” Dia berpaling dan menatap dengan penuh harap kepada Ron, yang membasahi tenggorokannya dan berbicara dalam suara yang kecil, “Yeah… terima kasih, Dobby.” “Terima kasih,” gumam Dean. Harry melanjutkan, “Selamat tinggal, Dobby.” dia mengatakannya dengan susah payah, tapi Luna telah mengatakan semuanya untuk Dobby. Bill mengangkat tongkatnya, dan gundukan tanah disamping makam terangkat ke udara dan menutup perlahan diatasnya, sebuah tanah merah yang kecil. Mereka menggumamkan kata-kata yang tidak dapat didengar Harry; dia merasakan tepukan halus pada punggungnya, dan mereka semua berbalik untuk berjalan ke pondok lagi, meninggalkan Harry sendirian di samping si peri. Dia melihat berkeliling: ada beberapa batu lebar berwarna putih, dihaluskan oleh laut, menandai batas untuk tempat tumbuh bunga. Dia mengambil satu yang terlebar dan meletakkannya, seperti bantal, di atas tempat dimana kepala Dobby beristirahat sekarang. Kemudian dia mengambil tongkat yang ada di sakunya. Ada dua tongkat. Dia telah lupa; sepertinya dia telah menyambar tongkat-tongkat itu dari tangan seseorang. Dia memilih tongkat yang lebih pendek, yang terasa akrab di tangannya. Ketika Harry berdiri lagi, di batu itu tertulis: DISINI TERBARING DOBBY, PERI YANG BEBAS Dia memandang hasil pekerjaan tangannya beberapa saat; lalu berjalan pergi, bekas lukanya masih berdenyut sedikit, dan pikirannya dipenuhi suatu pikiran yang didapatkannya ketika di makam tadi, rencana yang menjadi tajam di kegelapan tadi, rencana yang sangat menarik dan sekaligus menakutkan. Yang lain sedang duduk di ruang duduk ketika dia masuk ke dalam ruang depan yang kecil, perhatian mereka terpusat pada Bill, yang sedang berbicara. Ruangan itu berwarna cerah, indah, dengan api kecil dari kayu api yang terbakar riang di perapian. Harry tidak mau menjatuhkan lumpur di atas karpet, sehingga dia berdiri di pintu masuk, ikut mendengarkan. “…Beruntung Ginny sedang liburan. Jika dia sedang berada di Hogwarts, mereka dapat menangkapnya sebelum kita berhasil membawanya. Sekarang kita tahu dia aman juga.” Dia memandang berkeliling dan melihat Harry berdiri disana. “Aku telah memindahkan mereka semua dari the Burrow,” dia menjelaskan. “Memindahkan mereka ke rumah bibi Muriel.” Para pelahap maut sekarang tahu Ron ada bersamamu, mereka bermaksud membatasi gerak keluarga… Jangan minta maaf,” dia menambahkan pada ekspresi Harry. “ini hanya masalah waktu, Dad telah mengatakannya berbulan-bulan yang lalu. Kami adalah keluarga berdarah pengkhianat paling besar yang pernah ada.” "Bagaimana melindungi mereka?” tanya Harry. “Mantra Fidelius.” Kata Bill. “Dad Penjaga Rahasianya. Dan kami melakukannya untuk pondok ini juga; aku adalah Penjaga Rahasia di sini. Tak ada seorang pun diantara kami yang bisa pergi bekerja, tapi hal ini adalah yang terpenting untuk saat ini. Begitu Ollivander dan Griphook sudak cukup sehat, kami akan memindahkannya juga ke rumah Muriel. Tak ada cukup kamar di sini, tapi di rumah Muriel ada banyak. Kaki Griphook sedang diperbaiki. Fleur memberinya Skele-Gro… kita mungkin dapat memindahkan mereka sekitar satu jam lagi atau…” “Tidak,” kata Harry dan Bill berpaling padanya. ”Aku membutuhkan mereka berdua di sini. Aku ingin berbicara dengan mereka. Ini penting.” Dia mendengar kekuasaan dalam suaranya, suara yang meyakinkan, suara dari rencana yang telah datang padanya ketika dia menggali makam Dobby. Wajah mereka semua yang melihatnya penuh tanda tanya. “Aku ingin membersihkan diri,” Harry berkata pada Bill sambil melihat pada tangannya yang masih ditutupi oleh lumpur dan darah Dobby. “Kemudian aku ingin bertemu mereka, langsung.” Dia berjalan ke dalam dapur yang kecil, ke sebuah baskom di bawah jendela yang berpemandangan laut. Fajar sedang merekah di cakrawala, berwarna merah jambu dan emas, ketika dia mencuci, dia memeriksa lagi rangkaian pikiran yang telah datang padanya dalam kegelapan di kebun tadi… Dobby mungkin tidak akan pernah dapat memberitahu mereka siapa yang telah mengirimkannya ke penjara itu, tapi Harry tahu apa yang telah dilihatnya. Sebuah kilatan mata berwarna biru telah melihatnya dari pecahan cermin, dan kemudian bantuan datang. Bantuan akan selalu diberikan di Hogwarts untuk mereka yang membutuhkannya. Harry mengeringkan tangannya, tertarik pada keindahan pemandangan di luar jendela dan pada gumaman yang lain di ruang duduk. Dia melihat pada laut di luar sana dan merasa dekat, fajar ini, lebih dekat di hatinya lebih dari kapan pun. Dan bekas lukanya masih tetap berdenyut, dan dia tahu Voldemort ada di sana juga. Harry sudah mengerti dan belum mengerti pada saat bersamaan. Perasaannya mengatakan suatu hal, tapi otaknya mengatakan lain. Dumbledore dalam pikiran Harry tersenyum, meneliti Harry di atas jari-jarinya, yang menelengkup seperti sedang berdoa… Kau memberi Ron Deluminator… Kau memahaminya… Kau memberinya jalan untuk kembali… Dan kau juga mengerti Wormtail… Kau tahu ada sedikit penyesalan di sana, di suatu tempat… Dan jika kau memahami mereka… Apa yang kau pahami tentangku, Dumbledore? Apa ini berarti aku hanya boleh tahu dan bukannya untuk mencari? Apakah kau tahu betapa sulit merasakannya? Apakah itu sebabnya kau membuat ini menjadi sulit? Sehingga aku perlu waktu untuk mengerjakannya? Harry berdiri diam, melihat pemandangan, mengamati tempat dimana sinar keemasan matahari yang cerah terbit di cakrawala. Kemudian dia melihat ke bawah pada tangannya yang sudah bersih dan sedikit terkejut melihat pakaian yang ia genggam. Dia meletakkannya dan kembali ke ruang depan, dan ketika dia melakukannya, dia merasakan bekas lukanya berdenyut marah, dan kemudian kilatan melewati pikirannya, cepat seperti bayangan capung di atas air, sebuah bentuk bangunan yang dia kenal dengan baik. Bill dan Fleur berdiri di kaki tangga. “Aku ingin bebicara dengan Griphook dan Ollivander.” kata Harry. “Tidak,” kata Fleur. “kau ‘arus menunggu, ‘Arry. Mereka berdua sangat kelela’an…” “Aku minta maaf,” dia berbicara dengan tenang, ”tapi aku tidak dapat menunggu. Aku perlu berbicara dengan mereka sekarang, sendirian… dan terpisah. Ini penting.” “Harry, apa yang terjadi?” tanya Bill. “Kau datang kemari dengan seorang peri rumah yang mati dan goblin yang setengah sadar, Hermione seperti telah kena siksa, dan Ron menolak untuk memberitahuku apapun…” “Kami tidak dapat memberitahumu apa yang kami lakukan,” kata Harry datar. “Kau di Orde, Bill. Kau tahu Dumbledore memberikan kami sebuah tugas. Kami tidak seharusnya memberitahu orang lain tentang ini.” Fleur mengeluarkan suara tidak sabar, tapi Bill tidak melihat padanya; dia memandang Harry. Wajahnya yang terluka yang dipenuhi bekas luka dalam sulit untuk dibaca. Akhirnya, Bill berkata, “Baiklah, siapa yang ingin kau ajak bicara lebih dahulu?” Harry bimbang. Dia tahu apa yang menggantung dalam keputusannya. Tak banyak waktu yang tersisa; sekarang adalah waktunya untuk memutuskan: Horcrux atau Hallows? “Griphook,” Harry berkata. “Aku akan berbicara dengan Griphook lebih dahulu.” Jantungnya bedegup kencang seakan dia telah berlari kencang dan telah menyelesaikan rintangan yang besar. “Ke atas sini, kalau begitu.” Kata Bill, memimpin jalan. Harry telah melangkah ke atas beberapa langkah sebelum dia berhenti dan melihat ke belakang. “Aku membutuhkan kalian berdua,” dia memanggil Ron dan Hermione, yang telah menyelinap, setengah tersembunyi di pintu ruang duduk. Mereka bergerak ke dalam cahaya, melihat dengan sedikit aneh. “Bagaimana keadaanmu?” Harry bertanya pada Hermione. “Kau luar biasa bisa bertahan dengan cerita itu ketika dia menyakitimu seperti itu…” Hermione tersenyum lemah ketika Ron meremas sebelah lengannya. “Apa yang kita lakukan sekarang, Harry?” Ron bertanya. “Kau akan tahu, ayo” Harry, Ron dan Hermione mengikuti Bill naik ke tangga keatas ruangan yang sempit. Ada tiga pintu disana. “Di dalam sini.” Kata Bill, membuka pintu ruang kamarnya dan Fleur, ruangan itu mempunyai pemandangan laut, yang sekarang dipenuhi warna keemasan sinar matahari. Harry bergerak ke jendela, membalik punggungnya ke pemandangan luar biasa itu, dan menunggu, lengannya terlipat, bekas lukanya berdenyut. Hermione duduk di kursi disamping meja rias, Ron duduk di lengan kursinya. Bill datang lagi, menggendong seorang goblin kecil, yang diletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur. Griphook mengucapkan terima kasih, dan Bill pergi, menutup pintu di depan mereka. “Aku minta maaf mengganggu istirahatmu,” kata Harry. “Bagaimana keadaan kakimu?” “Sakit,” jawab si goblin. “tapi membaik.” Dia masih memegang pedang Gryffindor, dan kelihatan aneh, setengah galak, setengah licik. Harry memperhatikan kulitnya yang pucat, jari-jarinya yang kurus panjang, mata hitamnya. Fleur telah melepas sepatunya; telapak kakinya yang panjang kotor. Dia sedikit lebih besar daripada peri rumah, tapi tidak terlalu. Kepala bulatnya sedikit lebih besar dari kepala manusia. “Mungkin kau tidak ingat…” Harry memulai. “—bahwa aku adalah goblin yang menuntunmu ke ruang penyimpananmu, pada saat pertama kalinya kau mengunjungi Gringotts?” kata Griphook. “Aku ingat, Harry Potter. Bahkan diantara para goblin, kau sangat terkenal.” Harry dan goblin itu saling bertatapan, saling menilai. Bekas luka Harry masih berdenyut. Dia ingin menyelesaikan pembicaraan ini dengan cepat, dan pada saat bersamaan merasa takut telah melakukan kesalahan. Sementara dia memutuskan cara terbaik untuk menyampaikan permintaannya, goblin itu memecah kesunyian. “Kau menguburkan peri itu,” dia berkata, kedengaran seperti tanpa belas kasihan yang tidak terduga. “Ya,” kata Harry. Griphook memandangnya lewat sudut matanya yang hitam. “Kau penyihir yang tidak biasa, Harry Potter.” “Dibagian mana?” kata Harry, menggosok bekas lukanya “Kau menggali sebuah makam.” “Jadi?” Griphook tidak menjawab. Harry berpikir bahwa goblin itu mencemoohnya karena berbuat seperti muggle, tapi itu bukan masalah apakah Griphook menyetujui makam Dobby atau tidak. Dia mempersiapkan dirinya untuk menyerang. “Griphook, aku ingin bertanya…” “Kau juga menyelamatkan goblin.” “Apa?” “Kau membawaku kemari. Menyelamatkanku.” “Well, kurasa kau tidak menyesal?” kata Harry sedikit tidak sabar. “Tidak, Harry Potter,” kata Griphook, dan dengan satu jari dia memilin janggut kecil di dagunya, “tapi kau penyihir yang sangat aneh.” “Baiklah.” kata Harry. “Well, aku membutuhkan beberapa pertolongan, Griphook, dan kau dapat memberikannya.” Goblin itu tidak memperlihatkan ketertarikan, tetapi masih melanjutkan memandang Harry seakan dia belum pernah melihat sesuatu sepertinya. “Aku ingin menerobos ke dalam ruang penyimpanan Gringgots.” Harry tidak bermaksud mengatakannya begitu buruk; kata-kata yang terucap darinya ketika rasa sakit terasa di bekas lukanya dan dia melihat, lagi, bentuk bangunan Hogwarts. Dia menutup pikirannya. Dia butuh kesepakatan dengan Griphook terlebih dahulu. Ron dan Hermione memandang Harry seperti dia sudah gila. “Harry—” kata Hermione, tapi dia dipotong oleh Griphook. “Menerobos ke ruang penyimpanan Gringotts?” ulang si goblin, mengernyit sedikit ketika dia berubah posisi di atas tempat tidur. “Itu tidak mungkin.” “Tidak, itu tidak benar,” Ron menentangnya, “itu sudah pernah dilakukan.” “Yeah,” kata Harry, “pada hari yang sama ketika aku bertemu denganmu, Griphook. Saat ulang tahunku, tujuh tahun yang lalu.” “Ruang penyimpanan yang kalian maksud sudah dikosongkan pada hari itu juga.” timpal si goblin, dan Harry mengerti bahwa meskipun Griphook telah meninggalkan Gringotts, dia tertahan pada rencana untuk melanggar pertahanannya. “pengamanan ruang itu minimal.” “Well, ruang penyimpanan yang kami inginkan tidak kosong, dan aku rasa pengamanannya akan sangat kuat,” kata Harry. “Ruang itu milik keluarga Lestrange.” Dia melihat Ron dan Hermione saling berpandangan, keheranan, tapi ada banyak waktu untuk menjelaskan setelah Griphook telah memberikan jawabannya. “Kau tidak memiliki kesempatan,” kata Griphook datar. “Tak ada kemungkinan sama sekali. Jika kau mencari dibawah lantai kami, harta yang tak berhak kaumiliki…" “Pencuri, kau telah diperingatkan, waspadalah… yeah, aku tahu, aku ingat,” kata Harry. “Tapi aku bukan mencoba mengambil harta apapun untukku, aku tidak bermaksud mendapatkan keuntungan pribadi. Dapatkah kau mempercayainya?” Goblin itu memandang condong ke Harry, dan bekas luka sambaran kilat di dahi Harry berdenyut, tapi dia mengacuhkannya, menolak untuk merasakan sakitnya atau undangannya. “Jika ada penyihir yang dapat aku percaya bahwa mereka tidak mencari keuntungan pribadi,” akhirnya Griphook berkata, “itu adalah kau, Harry Potter. Para goblin dan peri belum pernah mendapatkan perlindungan dan penghormatan seperti yang kau tunjukkan malam ini. Tidak dari para pembawa-tongkat.” “Pembawa-tongkat.” Ulang Harry: istilah itu kedengaran aneh di telinganya ketika bekas lukanya berdenyut, ketika Voldemort melayangkan pikirannya ke utara, dan ketika Harry merencanakan pertanyaan untuk Ollivanders di pintu selanjutnya. “Kesepakatan untuk mempunyai sebuah tongkat sihir,” kata si goblin dengan pelan, “telah dibuat lama sebelumnya diantara para penyihir dan goblin.” “Well, para goblin dapat melakukan sihir tanpa tongkat sihir,” kata Ron. “Bukan itu masalahnya! Para penyihir menolak untuk berbagi rahasia pembuatan tongkat dengan mahluk sihir lainnya, mereka mengira kami bermaksud untuk memperkuat kekuatan kami!” “Well, para goblin juga tidak mau membagikan rahasia mereka,” kata Ron, “Kau tidak mau memberitahu kami bagaimana membuat pedang-pedang dan pakaian perang seperti yang kalian lakukan. Para goblin tahu bagaimana bekerja dengan logam dengan cara yang para penyihir tidak…” “Itu tidak masalah,” kata Harry, memperhatikan perubahan warna Griphook. “Ini bukan tentang para penyihir lawan para goblin atau jenis mahluk sihir lainnya…” Griphook tertawa tidak menyenangkan. “Tapi ini memang benar, ini masalah sebenarnya! Ketika Penguasa Kegelapan menjadi lebih kuat, ras kalian berada lebih tinggi di atas kami! Gingotts tunduk di bawah peraturan penyihir, peri rumah dijadikan budak, dan siapa diantara para pembawa-tongkat yang keberatan?” “Kami!” kata Hermoine. Dia telah duduk tegak, matanya bersinar. “Kami keberatan! Dan aku diburu seperti setiap goblin dan peri rumah, Griphook! Aku adalah Darah Lumpur!” “Jangan sebut dirimu…” Ron bergumam. “Kenapa tidak?” kata Hermione. “Darah Lumpur, dan aku bangga karenanya! Aku tidak memiliki posisi yang lebih tinggi dari pada kau sekarang, Griphook! Aku yang mereka pilih untuk disiksa, di rumah Malfoy!” Sementara dia berbicara, dia mendorong ke samping gaun di lehernya kesamping untuk menunjukkan goresan kecil yang telah dibuat Bellatrix, bekas luka di atas tenggorokannya. “Apakah kau tahu bahwa Harry lah yang membebaskan Dobby?” dia bertanya. “Apakah kau tahu kami memperjuangkan kebebasan peri selama bertahun-tahun?”(Ron bergerak tidak nyaman di lengan kursi Hermione) “Kau tidak ingin Kau-Tahu-Siapa menghalangi apa yang kami lakukan, Griphook!” Goblin itu memandang Hermione dengan pandangan aneh yang sama seperti yang diberikannya pada Harry. “Apa yang kau cari di ruang penyimpanan keluarga Lestrange?” dia tiba-tiba bertanya. “Pedang yang ada di ruang penyimpanan itu palsu. Ini yang asli.” Dia melihat mereka satu per satu. “Aku rasa kau telah mengetahui ini. Kau memintaku berbohong pada waktu di sana.” “Tapi pedang yang palsu itu bukan satu-satunya benda yang ada di sana, kan?” tanya Harry. “Mungkin kau pernah melihat benda lain di sana?” Jantungnya berdetak lebih cepat dari pada kapanpun. Dia melipatgandakan keinginannya untuk mengacuhkan denyutan di bekas lukanya. Goblin itu memilin lagi janggut di dagunya. “Itu melanggar peraturan kami jika berbicara rahasia Gringotts pada yang lain. Kami adalah penjaga harta-harta berharga. Kami mempunyai tugas untuk memelihara benda yang ada pada kami, yang mana seringkali, dibuat oleh jari-jari kami.” Goblin itu memandang pedang, dan mata hitamnya berpaling dari Harry ke Hermione ke Ron lalu kembali memandang pedang lagi. “Sangat muda,” akhirnya dia berkata, “untuk bertarung dengan keras.” “Maukah kau menolong kami?” kata Harry. “Kami tidak memiliki harapan menerobos tanpa bantuan goblin. Kau satu-satunya kesempatan kami.” “Aku akan… memikirkannya.” Kata Griphook dengan lambat. “Tapi…” Ron mulai marah; Hermione menyodok rusuknya. “Terima kasih.” kata Harry. Goblin itu menundukkan kepalanya dengan penghormatan, kemudian memegang kaki pendeknya. “Kurasa,” dia berkata, mengatur dirinya dengan sok di atas tempat tidur Bill dan Fleur, “Skele-Gro telah selesai bekerja. Akhirnya aku dapat tidur. Maafkan aku…” “Yeah, tentu saja,” kata Harry, tapi sebelum meninggalkan ruangan dia membungkuk ke depan dan mengambil pedang Gryfinddor dari samping goblin itu. Griphook tidak keberatan, tapi Harry mengira dia melihat kemarahan di mata goblin itu ketika dia menutup pintu di depannya. “Iblis kecil,” bisik Ron. “Dia menikmati telah menggantung keadaan kita.” “Harry,” bisik Hermione, mendorong mereka berdua jauh dari pintu, ke tengah ruangan yang masih gelap, “apakah kau berpikir sama dengan yang aku pikirkan? Kau mengira ada sebuah Horcrux di dalam ruang penyimpanan Lestrange?” “Ya,” kata Harry. “Bellatrix ketakutan ketika dia mengira kita pernah berada di sana, dia seperti bukan dirinya. Mengapa? Apa yang dia kira kita cari, apa lagi yang dia pikir mungkin kita ambil? Sesuatu yang dia tidak ingin Kau-Tahu-Siapa mengetahuinya.” “Tapi kukira kita mencari di tempat dimana Kau-Tahu-Siapa pernah tinggal, tempat dimana dia melakukan sesuatu yang penting?” kata Ron, terlihat heran. “Apakah dia pernah berada dalam ruang penyimpanan Lestrange?” “Aku tidak tahu apakah dia pernah berada di dalam Gringotts,” kata Harry. “Dia tidak pernah mempunyai emas di sana ketika dia masih muda, karena tak ada yang memberinya. Dia mungkin pernah melihat bank itu dari luar, kupikir, pada saat pertama kali dia pergi ke Diagon Alley.” Bekas luka Harry berdenyut, tapi dia mengacuhkannya; dia ingin Ron dan Hermione untuk mengerti tentang Gringotts sebelum mereka berbicara pada Ollivander. “Kurasa dia bisa mencari seseorang yang mempunyai kunci ke sebuah ruang penyimpanan Gringotts. Aku rasa dia telah melihat bangunan itu sebagai salah satu simbol yang dimiliki oleh Dunia Sihir. Dan jangan lupa, dia mempercayai Bellatrix dan suaminya. Mereka adalah abdinya yang paling setia sebelum dia jatuh, dan mereka yang mencoba mencarinya setelah dia menghilang. Dia mengatakan itu pada saat dia kembali, aku mendengarnya.” Harry menggosok bekas lukanya. “Aku tidak berpikir dia memberitahu Bellatrix bahwa benda itu sebuah horcrux. Dia tidak pernah memberitahu Lucius kebenaran tentang buku harian. Kemungkinan dia memberitahunya itu adalah sebuah harta berharga dan memintanya untuk menyimpannya di ruang penyimpananya. Tempat teraman di dunia untuk menyembunyikan sesuatu… kecuali Hogwarts.” Ketika Harry selesai bicara, Ron menganggukkan kepala. “Kau sangat mengerti dia.” “Sedikit tentangnya,” kata Harry. “Sedikit… Aku hanya berharap aku memahami Dumbledore sama banyaknya. Tapi kita lihat saja. Ayo… sekarang Ollivander.” Ron dan Hermione terlihat cemas tapi sangat tertarik ketika mereka mengikutinya melintasi lantai kecil itu dan mengetuk pintu yang ada di seberang kamar Bill dan Fleur. Suara “Silahkan masuk!” lemah terdengar menjawab. Pembuat tongkat itu berbaring di atas salah satu tempat tidur kembar yang paling jauh dari jendela. Dia telah berada di penjara lebih dari satu tahun, dan disiksa, Harry tahu, dalam lebih dari satu kesempatan. Dia terlihat memprihatinkan, tulang di wajah kurusnya terlihat tajam di bawah kulitnya yang pucat kekuningan. Mata abu-abunya yang besar terlihat menonjol di kelopak mata berkantung. Tangan yang terbaring di atas selimut itu menyerupai tulang. Harry duduk diatas tempat tidur kosong, disamping Ron dan Hermione. Matahari yang sedang terbit tidak terlihat dari sini. Ruangan ini menghadap bagian atas kebun karang dan makam yang masih basah. “Mr. Ollivander, saya minta maaf telah mengganggu Anda,” Harry berkata. “Anakku sayang,” Suara Ollivander terdengar bergetar. “Kau menyelamatkan kami, aku pikir kami akan mati di tempat itu, aku tidak pernah bisa berterima kasih… tak pernah bisa cukup berterima kasih….” Bekas luka Harry berdenyut. Dia tahu, dia dapat memastikan, bahwa hanya ada sedikit waktu tersisa yang bisa digunakan untuk melawan Voldemort mendapatkan keinginannya, atau paling tidak mencoba menggagalkannya. Dia merasakan sedikit kepanikan… sebelumnya dia telah membuat keputusan ketika dia memilih untuk berbicara dengan Griphook terlebih dahulu. Berpura-pura tenang seperti yang tidak dia rasakan, dia merogoh ke dalam kantong di lehernya dan mengeluarkan potongan tongkatnya yang terbelah dua. “Mr. Ollivander, Saya butuh sedikit bantuan.” “Katakan saja. Katakan saja.” Kata pembuat tongkat itu dengan lemah. “Dapatkah Anda memperbaiki ini? Apakah mungkin?” Ollivander mengadahkan tangan, dan Harry meletakkan tongkat yang nyaris terputus itu di telapak tangannya. “Kayu holly dan bulu phoenix,” kata Ollivander dalam suaranya yang gemetar. “sebelas inci, bagus dan fleksibel.” “Ya.” Kata Harry. “Dapatkah Anda…?” “Tidak,” bisik Ollivander. “Aku menyesal, sangat menyesal. Tapi sebuah tongkat yang telah menderita kerusakan seperti ini tidak dapat diperbaiki oleh kemampuan yang aku miliki.” Harry telah mencoba bertahan mendengarnya, tapi itu terbang hilang. Dia mengambil tongkat yang hampir terbelah dua itu dan meletakkannya di katong disekeliling lehernya. Ollivander memandang tempat di mana tongkat yang rusak itu menghilang, dan tidak memalingkan wajah sampai Harry mengambil dari sakunya dua tongkat yang dia bawa dari rumah Malfoy. “Dapatkah Anda mengenali ini?” Harry bertanya. Pembuat tongkat itu mengambil tongkat yang pertama dan memegangnya dekat mata pudarnya, memutarnya diantara jarinya yang kurus kering, memperhatikan bayangannya. “Kayu kenari dan pembuluh jantung naga,” katanya. “dua puluh tiga-per-empat inci, keras hati. Tongkat ini milik Bellatrix Lestrange.” “Dan yang satu ini?” Ollivander melakukan pengujian yang sama. “Hawthorn dan rambut unicorn. Tepat sepuluh inci. Elastis. Ini tongkat milik Draco Malfoy.” “Miliknya?” ulang Harry. “Masih miliknyakah?” “Mungkin tidak, jika kau mengambilnya.” “… aku melakukannya.” “… kalau begitu ini milikmu. Tentu saja, manusia sering melakukannya. Seringkali tergantung pada tongkatnya. Pada umumnya, bagaimanapun, jika sebuah tongkat telah dimenangkan, kepemilikannya akan berubah.” Ada kesunyian di ruangan itu, kecuali desiran di laut. “Anda berbicara seolah tongkat memiliki perasaan,” kata Harry. “ Sepertinya mereka dapat berpikir sendiri.” “Tongkat yang memilih penyihir,” kata Ollivander. “inilah hal yang sudah lama kami percayai sebagai orang yang mempelajari pembuatan tongkat.” “Mesikupun begitu, masihkah seseorang dapat menggunakan tongkat yang tidak memilih mereka?” kata Harry. “Oh ya, kau dan setiap penyihir lainnya dapat menyalurkan sihir melalui benda apapun. Meskipun demikian, hasil terbaik pasti selalu datang keterikatan terkuat antara penyihir dan tongkat sihir. Hubungan ini rumit. Sebuah pertunjukan awal dan kemudian saling mencari pengalaman, penyihir belajar dari tongkatnya, dan tongkatnya belajar dari penyihirnya.” Lautan menyembur ke depan dan ke belakang: seperti suara gumaman. “Saya mengambil ini dari Draco Malfoy dalam pertempuran,” kata Harry. “Dapatkah saya menggunakannya dengan aman?” “Aku rasa demikian. Berdasarkan Hukum Kepemilikan Tongkat Sihir, tongkat sihir hasil pertempuran biasanya akan membelokkan kemauannya pada penguasa barunya.” “Jadi bisakah saya menggunakan yang satu ini?” kata Ron, menarik tongkat Wormtail dari dalam sakunya dan menyerahkannya pada Ollivander. “Kastanye dan pembuluh jantung naga. Sembilan setengah inci. Rapuh. Aku diperintahkan membuat tongkat ini dengan cepat setelah diculik, untuk Peter Pettigrew. Ya, jika kau memenangkannya, tongkat ini lebih suka melakukan kehendakmu, dan melakukannya dengan baik, dari pada tongkat yang lain.” “Dan kejadian ini juga berlaku untuk semua tongkat sihir, kan?” tanya Harry. “Kurasa demikian,” jawab Ollivander, matanya yang menonjol terpaku pada wajah Harry. “Kau menanyakan pertanyaan yang dalam, Mr Potter. Pembuatan Tongkat itu salah satu cabang ilmu sihir yang misterius dan rumit.” “Jadi, apakah tidak perlu membunuh pemilik tongkat sihir yang sebelumnya untuk mengambil kepemilikan sebuah tongkat sihir?” tanya Harry. Ollivander menelan ludah. “Perlu? Tidak, aku seharusnya tidak mengatakan perlu untuk membunuh.” “Saya kira ada sebuah legenda,” kata Harry, dan seketika jantungnya berdegup kencang, rasa sakit dibekas lukanya semakin menjadi; dia menjadi yakin bahwa Voldemort telah memutuskan menjalankan rencananya. “Legenda tentang sebuah tongkat sihir… atau tongkat-tongkat sihir… yang diturunkan dari tangan ke tangan melalui pembunuhan.” Ollivander menjadi pucat. Berlawanan dengan bantalnya yang berwarna salju, dia berwarna kelabu, dan matanya membesar, merah darah, dan menonjol dengan apa yang kelihatannya seperti rasa takut. “Hanya satu tongkat, kurasa,” dia berbisik. “Dan Kau-Tahu-Siapa tertarik padanya, bukan?” tanya Harry. “Aku… bagaimana?” kata Ollivander parau, dan dia memandang Ron dan Hermione dengan pandangan minta tolong. “Bagaimana kau tahu tentang ini?” “Dia meminta Anda untuk memberitahunya bagaimana hubungan antara tongkat sihir kami,” kata Harry. Ollivander terlihat ketakutan. “Dia menyiksaku, kau harus mengerti! Kutukan Cruciatus, Aku… aku tidak punya pilihan lain selain memberitahunya apa yang kutahu, apa yang kuperkirakan!” “Saya mengerti.” Kata Harry. “Anda memberitahunya tentang inti kembar? Anda mengatakan dia hanya perlu meminjam tongkat sihir penyihir lain?” Ollivander ketakutan, membatu, dengan banyaknya hal yang diketahui Harry. Dia mengangguk perlahan. “Tapi itu tidak berhasil.” Harry melanjutkan. “Tongkat saya tetap menghancurkan tongkat pinjaman itu. Apakah Anda tahu mengapa itu terjadi?” Ollivander menggelengkan kepalanya kepalanya dengan perlahan seperti dia mengangguk tadi. “Aku…tidak pernah mendengar sesuatu yang seperti itu. Tongkatmu melakukan sesuatu yang unik malam itu. Hubungan inti yang kembar sangat jarang terjadi, aku belum mengerti bagaimana tongkat sihirmu dapat menghancurkan tongkat pinjaman itu…” “Kita berbicara tentang tongkat yang lain, tongkat yang berpindah tangan dengan pembunuhan. Ketika Kau-Tahu-Siapa menyadari tongkat saya telah melakukan suatu yang aneh, dia kembali dan menanyakan tentang tongkat yang lain, kan?” “Bagaimana kau tahu tentang ini?” Harry tidak menjawab. “Ya, dia bertanya,” bisik Ollivander. “Dia ingin tahu semua yang dapat kukatakan tentang tongkat sihir yang sering disebut sebagai Tongkat Kematian, Tongkat Sihir Nasib, atau Tongkat Elder.” Harry memandang ke samping pada Hermione. Dia terlihat sangat keheranan. “Penguasa kegelapan,” kata Ollivander dalam suara bisikan dan ketakutan, “selalu puas dengan tongkat yang aku buatkan untuknya…Cemara dan bulu phoenix, tiga belas setengah inci… sampai akhirnya dia mengetahui tentang hubungan inti kembar. Sekarang dia mencari yang lain, tongkat sihir yang lebih kuat, untuk mengalahkan tongkat sihirmu.” “Tapi dia akan segera tahu, jika dia belum mengetahuinya, bahwa tongkat saya yang rusak tidak dapat diperbaiki,” kata Harry pelan. “Tidak!” kata Hermione, terdengar ketakutan. “Dia tidak dapat mengetahuinya, Harry, bagaimana bisa…” “Priori Incantatem,” kata Harry. “kita meninggalkan tongkat sihirmu dan tongkat sihir blackthorn di rumah Malfoy, Hermione. Jika mereka menguji tongkat itu dengan baik, membuat tongkat-tongkat itu menunjukkan kembali mantra terakhir yang dilontarkan, mereka akan melihat tongkatmu merusak tongkatku, mereka akan melihat bahwa kau berusaha dan gagal untuk memperbaikinya, dan mereka akan sadar bahwa aku telah menggunakan tongkat blackthorn sejak itu.” Sedikit warna yang telah timbul sejak kedatangan mereka telah menghilang dari wajah Hermione. Ron memberikan Harry tatapan mencela, dan berkata, “Mari kita tidak usah menghawatirkan itu sekarang…” Tetapi Mr. Ollivander menyela. “Penguasa kegelapan tidak hanya mencari Tongkat Elder untuk kehancuranmu, Mr. Potter. Dia berkeinginan untuk memilikinya karena dia percaya tongkat itu membuatnya sangat kebal.” “Dan mungkinkah itu?” “Pemilik Tongkat Elder pasti takut diserang,” kata Ollivander, “tapi rencana Penguasa Kegelapan untuk memiliki Tongkat kematian adalah, kalau boleh kukatakan…hebat.” Harry tiba-tiba ingat betapa tidak yakinnya dia, ketika mereka bertemu pertama kali, berapa besar dia menyukai Ollivander. Bahkan sekarang, setelah mendapat siksaan dan ditahan oleh Voldemort, rencana Penyihir Hitam yang ingin memiliki tongkat ini kelihatannya mempesonakannya sama besarnya dengan penolakannya terhadap Voldemort. “Anda… Anda benar-benar berpikir tongkat ini ada, kalau begitu, Mr. Ollivander?” tanya Hermione. “Oh ya,” kata Ollivander. “Ya, sangat mungkin sekali untuk menjejaki tongkat itu berdasarkan sejarah. Ada celah, tentu saja, dan panjang, saat tongkat itu menghilang dari penglihatan, hilang sementara atau disembunyikan; tapi tongkat itu masih ada. Tongkat itu memiliki karakteristik yang dikenal oleh siapa saja yang telah mempelajari pengenalan pembuatan tongkat sihir. Ada catatan tertulis, beberapa samar-samar, yang aku dan pembuat tongkat lainnya buat menjadi urusan yang dipelajari. Mereka mempunyai lingkaran tertulis” “Jadi Anda… Anda tidak berpikir ini hanya cerita dongeng atau mitos?” Hermione berkata penuh harap. “Tidak,” kata Ollivander. “Mekipun aku tidak tahu tongkat itu beralih dengan pembunuhan. Sejarah tongkat itu berdarah, tapi itu mungkin merupakan nasib wajar bagi tongkat yang nyata sangat diinginkan, dan menimbulkan minat para penyihir. Kekuatannya yang luas, berbahaya di tangan yang salah, dan sebuah benda yang luar biasa mengagumkan bagi kami semua yang mempelajari kekuatan tongkat sihir.” “Mr. Ollivander,” kata Harry, “Anda memberi tahu Kau-Tahu-Siapa bahwa Gregorovitch memiliki Tongkat Elder, kan?” Ollivander menjadi, jika mungkin, lebih pucat. Dia terlihat seperti hantu ketika dia menelan ludah. “Tapi bagaimana… bagaimana kau…?” “Tidak peduli bagaimana saya mengetahuinya,” kata Harry, menutup matanya sebentar ketika bekas lukanya serasa terbakar dan dia melihat, untuk beberapa saat, sebuah penglihatan jalan utama Hogsmeade, masih gelap, karena tempat itu berada lebih di utara. “Anda memberitahu Kau-Tahu-Siapa bahwa Gregorovitch mempunyai tongkat itu?” “Itu hanya sebuah rumor,” bisik Ollivander. “Sebuah rumor, bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum kau lahir, aku yakin Gregorovitch yang memulainya. Kau dapat melihat betapa bagusnya itu untuk bisnis; bahwa dia mempelajari dan menduplikasi kualitas Tongkat Elder.” “Ya, saya menyadarinya,” kata Harry. Dia berdiri “Mr. Ollivander, satu hal lagi, dan kami akan membiarkan Anda beristirahat. Apa yang Anda ketahui tentang Benda Suci sang Maut—Deathly Hallows?” “Benda… benda apa?” tanya sang pembuat tongkat, terlihat benar-benar keheranan. “Benda Suci sang Maut.” “Aku takut aku tidak mengetahui apa yang kau bicarakan. Apakah ini masih sesuatu yang berkaitan dengan tongkat sihir?” Harry memandang wajah kurus itu dan percaya bahwa Ollivander tidak berdusta. Dia tidak mengetahui tentang Benda Suci itu. “Terima kasih,” kata Harry, “Terima kasih banyak, kami meninggalkan Anda agar dapat beristirahat sekarang.” Ollivander terlihat terpukul. “Dia menyiksaku!” dia terengah. “Kutukan Cruciatus… kau tidak mengerti…” “Saya mengerti,” kata Harry, “Saya sangat mengerti, saya mohon beristirahatlah. Terima kasih telah menjelaskan semua ini kepada kami.” Harry memimpin Ron dan Hermione menuruni tangga. Harry melihat sekilas Bill, Fleur, Luna, dan Dean duduk di depan meja di dapur, cangkir teh di depan mereka. Mereka melihat Harry ketika dia muncul di ambang pintu, tapi dia mengangguk pelan pada mereka dan melanjutkan berjalan ke kebun. Ron dan Hermione di belakangnya. Gundukan tanah merah yang menutupi Dobby terhampar di depan, dan Harry berjalan ke arahnya, ketika sakit di kepalanya menjadi lebih terasa. Dibutuhkan usaha yang kuat sekarang untuk menutup penglihatan yang didorong mereka padanya, tapi dia tahu bahwa usahanya hanya dapat bertahan sebentar. Dia bisa segera berhasil, karena dia perlu mengetahui apakah teorinya benar. dia hanya perlu membuat satu usaha kecil, sehingga dia dapat menjelaskannya kepada Ron dan Hermione. “Gregorovitch mempunyai Tongkat Elder pada masa lalu,” dia berkata, “Aku melihat Kau-Tahu-Siapa mencoba menemuinya. Ketika dia bertemu dengan Gregorovitch, Kau- Tahu-Siapa menemukan bahwa dia sudah tidak memilikinya: tongkat itu telah dicuri darinya oleh Grindelwald. Bagaimana Grindelwald mengetahui bahwa Gregorovicth memilikinya, aku tidak tahu… tapi jika Gregorovitch cukup bodoh dengan menyebarkan rumor, ini tidak jadi terlalu sulit.” Voldemort telah berada di gerbang Hogwarts: Harry dapat melihatnya berdiri di sana, dan melihat juga lampu berkelip saat subuh, dekat dan semakin dekat. “Dan Grindelwald menggunakan Tongkat Tertua untuk menjadi kuat. Dan dia ada di puncak kekuasaannya, ketika Dumbledore menyadari hanya dia yang dapat menghentikannya, dia berduel dengan Grindelwald dan mengalahkannya, dan mengambil Tongkat Elder.” “Dumbeldore memiliki Tongkat Elder?” kata Ron. “Tapi dimana tongkat itu sekarang?” “Di Hogwarts,” kata Harry, berusaha bertahan dengan mereka di kebun di atas puncak karang. “Kalau begitu, ayo!” kata Ron segera. “Harry, ayo pergi dan mendapatkannya sebelum dia!” “Sangat terlambat untuk itu,” kata Harry. Dia tidak dapat menolong dirinya sendiri, tapi memegang kepalanya, berusaha membantunya bertahan. “Dia tahu dimana tongkat itu, dia ada di sana sekarang.” “Harry!” Ron berkata putus asa. “Berapa lama kau tahu soal ini… mengapa kau membuang-buang waktu? Mengapa kau berbicara dengan Griphook duluan? Kita bisa kehilangan—kita masih bisa pergi—” “Tidak,” kata Harry, dan dia berlutut di rumput. “Hermione benar. Dumbledore tidak menginginkan aku memilikinya. Dia tidak ingin aku mengambilnya. Dia ingin aku memusnahkan Horcrux.” “Itu tongkat sihir yang tak terkalahkan, Harry.” Ratap Ron. “Aku tidak seharusnya… aku seharusnya menghancurkan Horcrux…” Dan sekarang semuanya dingin dan gelap: matahari telah terlihat jelas di cakrawala ketika memandang melewati Snape, naik dari tanah ke danau. “Aku akan menemuimu di kastil segera,” dia berkata dengan suaranya yang tinggi dan dingin. “tinggalkan aku sekarang.” Snape membungkuk dan berjalan pergi, jubah hitamnya melambai di belakangnya. Harry berjalan perlahan, menunggu sosok Snape menghilang. Tidak perlu didepan Snape, atau orang lain, untuk melihatnya kemana dia pergi. Tapi tidak ada cahaya di jendela-jendela kastil, dan dia dapat meyakinkan dirinya…dan beberapa saat dia melontarkan Mantra Ilusi di atasnya yang menyembunyikan tubuhnya bahkan dari matanya sendiri. Dan dia berjalan terus, mengelilingi pinggir danau, memandang bentuk kastilnya tercinta, kerajaannya yang pertama, warisannya… Dan itu dia, di samping danau, tercermin di air kelam. Makam marmer putih, tinta kotor yang tidak perlu diatas pemandangan yang akrab. Dia merasa berjalan dengan cepat yang dikendalikan oleh euphoria, yang terasa memabukkan dari keinginan dalam menghancurkan. Dia mengangkat tongkat cemaranya yang lama: betapa menyedihkannya bahwa ini menjadi pekerjaan hebat terakhir tongkat sihirnya. Makam itu bergeser terbuka dari kepala ke bagian kaki. Sosok terselubung itu masih sekurus ketika dia masuh hidup. Dia mengangkat tongkatnya lagi. Selubung itu terbuka. Wajah itu tembus cahaya, pucat, seperti tenggelam, tapi hampir awet sempurna. Mereka meninggalkan kacamata di atas hidung bengkoknya: dia tertawa mengejek. Tangan Dumbledore terlipat diatas dadanya, dan di sana tongkat itu terbaring, tergenggam diantaranya, terkubur bersamanya. Apakah orang tua bodoh ini mengira marmer dan kematian dapat melindungi tongkat sihir itu? Apakah dia berpikir bahwa Penguasa Kegelapan akan takut mengganggu makamnya? Tangan yang seperti laba-laba itu menjangkau dan menarik tongkat sihir dari genggaman Dumbledore, dan ketika dia mengambilnya, semburan bunga api memancar dari ujungnya, berkelip di atas jasad pemiliknya yang lama, akhirnya siap untuk melayani tuannya yang baru. Chapter Dua Puluh Lima Shell Cottage* Pondok Kerang Pondok Bill dan Fleur berdiri sendiri di atas jurang yang menghadap ke laut, pada dindingnya melekat kerang dan air kapur. Tempat yang sunyi dan indah. Kemanapun Harry pergi, ke pondok kecil atau tamannya, dia dapat mendengar serapan dan aliran air laut, seperti nafas beberapa raksasa yang tidur. Ia menghabiskan waktunya sepanjang minggu membuat alasan untuk melarikan diri dari pondok yang ramai itu, berharap supaya bisa memandang ketinggian langit terbuka, laut, merasakan dingin dan angin asin di wajahnya. Besarnya keputusan untuk tidak bersaing dengan Voldemort memperebutkan tongkat yang membuatnya khawatir. Sebelumnya Harry tidak dapat mengingat kenapa ia memilih untuk tidak bertindak. Dia dipenuhi keraguan, keraguan bahwa Ron tidak dapat membantunya sewaktu mereka membahasnya. “Bagaimana jika Dumbledore menginginkan kita untuk mencari tahu tentang simbol itu daripada mendapatkan tongkat?” “Bagaimana jika ketika mencari tahu simbol tersebut maka berarti membuat dirimu layak untuk mendapatkan Hallows?" “Harry, jika itu memang benar Tongkat Elder, bagaimana seharusnya cara kita membunuh Kau-Tahu- Siapa.” Harry tidak mempunyai jawabannya: Ada beberapa saat ketika dia bertanya-tanya apakah itu telah menjadi sebuah kegilaan karena tidak mencoba untuk mencegah Voldemort yang membongkar kuburan Dumbledore. Dia bahkan tidak bisa menjelaskannya secara memuaskan, mengapa dia telah memutuskan untuk menolaknya: Setiap kali dia berusaha untuk menyusun kembali alasan-alasan dalam dirinya yang sudah membuat keputusan itu, alasan itu terdengar lemah baginya. Hal aneh yang terjadi adalah bahwa dukungan Hermione hanya membuat Harry merasa bingung seperti keraguan Ron. Sekarang, menolak untuk menerima bahwa Tongkat Elder sebenarnya nyata, Hermione beranggapan bahwa itu adalah benda jahat, dan bahwa cara Voldemort telah memilikinya tidaklah perlu dipikirkan. "Kau tidak akan pernah melakukan itu, Harry," Hermione mengatakannya berkali-kali. "Kau tidak dapat merusak makam Dumbledore." Tetapi ide dari jenazah Dumbledore, menggetarkan Harry, melebihi kemungkinan bahwa dia mungkin telah salah mengerti dari tujuan hidup Dumbledore. Dia merasa bahwa dia masih meraba-raba; dia telah memilih jalurnya tetapi tetap melihat ke belakang, berpikir jikalau dia salah membaca tanda, jikalau dia seharusnya tidak mengambil jalan yang lain. Dari waktu ke waktu, kemarahan pada Dumbledore merasukinya lagi, kekuatan gelombang menghempas melawan karang terjal di bawah pondok, kemarahan bahwa Dumbledore tidak menjelaskannya sebelum ia meninggal. "Tetapi apakah dia meninggal?" kata Ron, tiga hari setelah mereka tiba di pondok. Harry sedang menatap keluar dinding di luar yang memisahkan kebun pondok dari jurang ketika Ron dan Hermione telah menemukannya; Harry berharap mereka tidak menemukannya, berharap tidak bergabung di perdebatan mereka. “Ya, dia meninggal. Ron, Tolong jangan memulainya lagi!” “Lihat faktanya, Hermione.” Kata Ron, berbicara di seberang Harry yang melanjutkan memandang langit. “Pemecahan dari kijang. Pedang. Mata yang Harry lihat di cermin ...." “Harry mengaku dia mungkin membayangkan mata itu! Benarkan, Harry?” “Aku mungin melakukannya,” kata Harry tanpa melihat Hermione. “Tetapi kau tidak berpikir melakukannya, kan?” tanya Ron. “Tidak,” kata Harry “Itu dia!” sambung Ron, sebelum Hermione dapat mengelaknya.” Jika itu bukan Dumbledore, coba jelaskan bagaimana Dobby tahu kita berada di bawah tanah, Hermione?” “Aku tidak bisa – tapi dapatkah kau jelaskan bagaimana Dumbledore mengirim Dobby kepada kita jika dia terbaring di kuburan Hogwarts?” “Aku tidak tahu, itu bisa saja hantunya!” “Dumbledore tidak akan kembali menjadi hantu,” kata Harry. Ada beberapa hal kecil tentang Dumbledore yang ia yakini sekarang, tetapi dia tahu lebih banyak. “Dia telah pergi.” ”Apa yang kau maksud, 'telah pergi’?” Tanya Ron, tetapi sebelum Harry dapat mengatakan sesuatu, ada suara dibelakangnya, “’Arry?” Fleur telah keluar dari pondok, rambut perak panjangnya berkibar dihembus angin. “’Arry, Grip’ook ingin berbicara denganmu. Dia b’rada di kamar tidur terkecil, dia berkata dia tidak ingin ada yang men’engar.” Ketidaksukaannya karena Goblin menyuruhnya untuk mengirimkan pesan terlihat jelas; dia terlihat jengkel saat berbalik ke dalam pondok. Griphook telah menunggu mereka, seperti yang Fleur katakan, di kamar terkecil dari tiga kamar yang ada di pondok, tempat dimana Hermione dan Luna menginap semalam. Dia telah menggambar warna merah tirai katun, langit berawan yang terang yang memberikan kesan kamar dengan cahaya yang berapi-api di pondok peristirahatan yang berangin. ”Aku telah memutuskan, Harry Potter,” kata goblin, yang duduk menyilangkan kakinya di kursi pendek, berdendang pada kakinya dengan menggunakan jarinya. “Meskipun goblin Gringotts akan menyadari penyelundupan, aku telah memutuskan untuk membantumu ...” “Itu bagus!” kata Harry, sentakan kelegaan menyelimutinya. ”Griphook, terima kasih, kami sangat ...” “... dengan imbalan,” goblin berkata dengan tegas, “sebagai bayaran.” Terdorong ke belakang, Harry ragu-ragu. “Berapa banyak yang kau inginkan? Aku punya emas.” “Bukan emas,” kata Griphook. “Aku punya emas.” Mata hitamnya berbinar; tidak ada warna putih di matanya. “Aku menginginkan pedang. Pedang Godric Griffindor.” Semangat Harry menurun. “Kau tidak bisa memilikinya,” kata Harry. “Maaf.” “Lalu,” kata gobblin lembut, “kita punya masalah.” “Kami bisa memberimu sesuatu yang lain,” kata Ron tak sabar. “ Aku bertaruh keluarga Lestange mempunyai banyak barang-barang, kau dapat mengambilnya ketika kita masuk ke dalam lemari besi.” Ron telah mengatakan hal yang salah. Griphook menjadi marah. “Aku bukan pencuri, nak! Aku tidak mencoba memperoleh harta yang bukan hakku!” “Pedang itu milik kami –“ “Tidak,” kata goblin. “Kami Gryffindor, dan itu dulu kepunyaan Godric Gryffindor –“ “Dan sebelumnya, kepunyaan siapa?” tuntut goblin yang duduk tegak. “Bukan siapa-siapa,” kata Ron. “ Itu dibuat untuknya, kan?” “Tidak!” teriak goblin, dipenuhi dengan kemarahan, jari panjangnya menunjuk Ron. “Kearoganan penyihir lagi! Pedang itu dulu milik Ragnuk, diambil oleh Godric Gryffindor! Itu adalah harta yang hilang, karya besar goblin! Itu kepunyaan goblin. Pedang adalah harga dari bayaranku, ambil atau tinggalkan!” Griphook menatap mereka. Harry melirik yang lain, kemudian berkata, “Kami perlu mendiskusikan ini, Griphook, jika boleh. Bisakah kau memberi kami beberapa menit?” Goblin mengangguk, terlihat masam. Di ruang duduk lantai dasar yang kosong, Harry berjalan menuju perapian, mengerutkan alis, mencoba untuk berpikir apa yang harus dilakukan. Di sampingnya, Ron berkata, “Dia bercanda. Kita tidak bisa membiarkan dia mendapatkan pedang itu.” “Apakah itu benar?” Harry bertanya kepada Hermione. “Apakah pedang itu dicuri Gryffindor?” “Aku tidak tahu,” dia berkata tanpa harapan. “Sejarah sihir sering menghindari apa yang penyihir lakukan kepada ras sihir lainnya, tetapi tidak ada catatan yang aku tahu yang mengatakan Gryffindor mencuri pedang.” “Itu akan terdapat di cerita goblin,” kata Ron, “tentang bagaimana penyihir selalu mencoba mengambil kepunyaan mereka. Aku mengira kita harus memikirkan keberuntungan kita, dia belum meminta salah satu tongkat kita.” “Goblin mempunyai alasan bagus untuk tidak menyukai penyihir, Ron.” Kata Hermione. “Dahulu mereka telah diperlakukan kasar.” “Goblin tidak seperti kelinci kecil yang lembut, kan?” kata Ron. “Mereka telah membunuh banyak dari kita. Mereka bermain kotor juga.” “Tetapi berdebat dengan Griphook tentang siapa ras yang paling curang dan kasar tidaklah membuat ia menolong kita, kan?” Ada kesunyian ketika mereka mencoba memikirkan jalan keluar tentang masalah ini. Harry melihat keluar jendela, pada kuburan Dobby. Luna sedang menata bunga lavender laut di guci kesukaran di samping batu kubur. “Oke,” kata Ron, dan Harry berbalik kepadanya, “Bagaimana bila? Kita beritahu Griphook kita memerlukan pedang hingga kita masuk ke dalam lemari besi dan dia dapat memilikinya. Ada yang pedang palsu, kan? Kita tukar dan memberinya yang palsu.” “Ron, dia lebih tahu perbedaannya dari pada kita!” kata Hermione. “Hanya dia yang menyadari bila tertukar!” “Yeah, tapi kita bisa kabur sebelum dia menyadarinya …” Ron takut akan pandangan Hermione padanya. “Itu,” kata Hermione pelan, “adalah perbuatan hina. Meminta pertolongannya, kemudian memperdayanya? Dan kau ingin tahu kenapa goblin tidak menyukai penyihir, Ron?” Telinga Ron berubah merah. “Baiklah, baiklah! Hanya hal itu yang dapat kupikirkan! Lalu, apa solusimu?” “Kita perlu menawarkan sesuatu yang lain, sesuatu yang berharga.” “Hebat, aku akan pergi dan mendapatkan salah satu pedang buatan goblin kepunyaan leluhur kita dan kau bisa membungkusnya.” Kesunyian menyelimuti mereka lagi. Harry yakin bahwa goblin tidak menginginkan hal yang lain melainkan pedang itu, jika mereka mendapatkan suatu yang berharga untuk ditawarkan. Namun, pedang mereka sangat diperlukan untuk menghancurkan horcrux horcrux. Harry menutup matanya sekejap dan mendengar deburan ombak. Ide bahwa Gryffindor mungkin mencuri pedang tak menyenangkannya: dia selalu bangga menjadi Gryffindor, Gryffindor telah membela kelahiran Muggle, penyihir yang berselisih dengan pecinta darah murni, Slytherin …. “Mungkin dia berbohong,” Harry berkata, membuka matanya kembali. “Griphook. Mungkin Gryffindor tidak mengambil pedang itu. Bagaimana kita tahu versi sejarah goblin, kan?” “Apakah itu membuat perbedaan?” Tanya Hermione. “Merubah perasaanku tentang ini,” kata Harry. Dia mengambil napas panjang. “Kita akan memberitahu dia dapat memiliki padang setelah dia menolong kita masuk ke dalam lemari besi -- tapi kita akan berhati-hati, menghindari dalam memberitahu hal yang sebenarnya kapan dia dapat memilikinya.” Ron perlahan menyeringai. Namun, Hermione terlihat waspada. “Harry, kita tidak bisa ….” “Dia dapat memilikinya,” Harry meneruskan, “setelah kita menggunakannya untuk semua Horcrux. Aku akan pastikan ia mendapatkannya. Aku akan menyimpan katakataku.” “Tapi itu bisa bertahun-tahun!” kata Hermione. “Aku tahu, tapi dia tidak memerlukannya. Aku tidak akan berbohong … sungguh.” Mata Harry dan Hermione bertemu dengan campuran menantang dan malu. Dia ingat kata-kata yang terukir di pintu gerbang menuju Nurmengard : UNTUK YANG TERBAIK. Dia menyingkirkan idenya. Apa pilihan yang mereka punya? “Aku tidak menyukainya,” kata Hermione. “Aku juga,” Harry menambahkan. “Yah, Aku kira ini jenius, “ kata Ron yang berdiri kembali. “Mari beritahu dia.” Kembali di kamar terkecil, Harry membuat penawaran dan dengan hati-hati mengatakannya seperti tidak memberikan sesuatu yang pasti tentang kapan saat perpindahan pedang. Hermione mengerutkan dahi ke lantai ketika Harry berbicara; Harry terganggu karenanya, khawatir bila Hermione mungkin akan menghancurkannya. Namun, Griphook hanya menatap Harry. “Aku memegang kata-katamu, Harry Potter, bahwa kau akan memberikan aku pedang Gryffindor jika aku menolongmu?” “Ya,” kata Harry. “Lalu jabat tangan,” kata goblin mengeluarkan tangannya. Harry menerimanya dan menjabat tangan. Dia bertanya-tanya apakah mata hitam itu melihat kekhawatiran dirinya. Lalu Griphook melepaskan tangan Harry, dan berkata, ”Jadi. Kita mulai!” Seperti rencana menyelundup ke Kementrian dimulai lagi. Mereka mengatur untuk bekerja di ruangan kecil agar aman seperti keinginan Griphook dengan cahaya redup. “Aku hanya sekali mengunjungi lemari besi Lestrange,” Griphook memberitahu mereka, “Pada peristiwa aku diberitahu tentang tempat yang di dalamnya terdapat pedang palsu. Tempat itu adalah salah satu kamar paling kuno. Keluarga penyihir tertua menyimpan harta mereka di level terdalam, tempat dimana lemari besi terbesar dengan perlindungan terbaik....” Mereka seperti dikurung di lemari yang mirip kamar selama berjam-jam. Perlahan-lahan hari-hari berganti menjadi minggu-minggu. Ada masalah yang datang silih berganti, seperti ketika persediaan ramuan Polyjuice mereka yang cepat kosong. “Hanya cukup satu yang tersisa untuk salah satu dari kita,” kata Hermione, memiringkan mud kental yang seperti ramuan pada cahaya lampu. “Itu sudah cukup,” kata Harry yang memeriksa tangan Griphook yang menggambar peta jalan di level terdalam. Penghuni shell cottage pasti dapat menyadari ada sesuatu yang terjadi, walaupun Harry sering merasa mata Bill mengamati mereka bertiga ketika di meja makan. Semakin lama mereka menghabiskan waktu bersama-sama, Harry menyadari bahwa dia tidak begitu menyukai goblin. Griphook tidak disangka-sangka haus akan darah, tertawa pada ide yang menyakiti makhluk lain dan terlihat suka pada kemungkinan bahwa mereka mungkin harus menyakiti penyihir lain untuk sampai ke lemari besi keluarga Lestrange. Harry bisa tahu bahwa kebenciannya dipunyai yang sama dengan Ron dan Hermione, tetapi mereka tidak membicarakannya. Mereka membutuhkan Griphook. Goblin enggan makan bersama mereka. Sesudah kakinya sembuh, dia terus meminta nampan makanan dibawa ke kamarnya, seperti Ollivander yang tak bergerak-ringkih, sampai Bill (mengikuti ledakan marah dari Fleur) bermaksud ke atas mengatakan kepadanya bahwa kebiasaan itu tidak bisa berlanjut. Sesudah itu, Griphook bergabung dengan mereka di meja makan yang penuh-sesak, meskipun dia menolak untuk makan makanan yang sama, benar-benar, malahan, ingin benjolan daging mentah, akar, dan berbagai jamur. Harry merasa bertanggung jawab: itu ialah, bagaimanapun juga, dia yang sudah bersikeras bahwa goblin itu harus tinggal di Shell Cottage agar dia dapat bertanya; kesalahannya bahwa semua anggota keluarga Weasley harus bersembunyi, dan bahwa Bill, Fred, George, dan Mr Weasley tidak dapat bekerja kembali. “Maafkan aku,” katanya kepada Fleur, di suatu April sore ketika dia membantu Fleur menyiapkan makan malam. "Aku tidak pernah bermaksud kau mesti menangani pekerjaan ini." Dia baru saja telah menyusun beberapa pisau untuk bekerja, menyumbing bistik untuk Griphook dan Bill yang lebih memilih daging yang masih berdarah sejak ia diserang oleh Greyback. Ketika pisau diiris di sebelahnya, ucapannya yang agak cepat-marah melunak. “’Arry, kau menyelamatkan hidup adikku, Aku tidak melupakannya.” Ini bukan kejadian yang sebenarnya, tetapi Harry memutuskan untuk tidak mengingatkannya bahwa sebenarnya Gabrielle tidak pernah berada dalam situasi yang berbahaya. "Bagaimanapun juga," Fleur melanjutkan, melambaikan tongkatnya ke pot saus di atas kompor yang mulai bergelegak sekarang, "Mr. Ollivander pergi ke tempat Muriel, itu akan memudahkan. Ze goblin," dia memberengut sedikit ketika mengatakannya, "bisa pindah ke bawah dan kau, Ron, dan Dean bisa mengambil kamar itu." “Kami tidak berkeberatan tidur di ruang tamu, “ kata Harry yang tahu bahwa Griphook akan berpikir sangat rendah karena tidur di sofa; membuat Griphook senang adalah salah satu rencana mereka. “Jangan menghawatirkan kami.” Dan ketika Fleur mencoba untuk protes, “Kami akan jauh darimu juga, Ron, Hermione, dan aku. Kami tidak akan tinggal lama-lama disini.” “Tapi, apa maksudmu? dia berkata, mengerutkan dahi pada Harry, melambaikan tongkatnya ke casserole dish* yang menggantung di udara. “Tentu saja kau akan tetap disini, kalian aman di sini!” Dia terlihat seperti Mrs. Weasley ketika mengatakannya, dan Harry merasa senang seketika itu pintu dibelakannya terbuka. Luna dan Dean masuk, rambut mereka basah kuyup akibat hujan diluar dan tangan mereka dipenuhi oleh driftwood*. "... dan telinga sedikit kecil," Luna sedang berkata, "sedikit seperti kuda nil, Ayah mengatakan bahwa hanya warna ungu dan berbulu. Dan jika kau ingin memanggil mereka, kau harus bersenandung; mereka menyukai musik waltz, tidak terlalu cepat ...." Terlihat gelisah, Dean mengangkat bahu pada Harry ketika ia lewat, mengikuti Luna ke dalam yang gabungan ruang makan dan ruang duduk dimana Ron dan Hermione sedang meletakkan meja makan malam. Mengambil kesempatan agar lepas dari pertanyaan Fleur, Harry merebut dua kendi sari buah semacam labu dan mengikuti mereka. "... dan jika kamu pernah datang ke rumah kami, aku akan menunjukkan kau sebuah tanduk, Ayah menulis padaku tentang tanduk itu tetapi aku belum pernah melihatnya, sebab Pelahap Maut mengambilku dari Hogwarts Express dan aku tidak pernah tiba di rumah untuk Natal," Luna sedang berkata, ketika dia dan Dean menyalakan kembali api. "Luna, kami sudah memberitahumu," Hermione memanggilnya. " Tanduk itu meledak. Itu berasal dari Erumpent, bukan Tanduk-Kisut Snorkack ..." "Tidak, itu sudah pasti tanduk Snorkack." kata Luna dengan jelas, " Ayah membertitahuku. Kau tahu, tanduk itu mungkin akan berubah bentuk sekarang, mereka memerbaiki diri mereka sendiri." Hermione terkejut dengan apa yang ia dengar dan melanjutkan berbaring ketika Bill muncul, diikuti Mr. Ollivander yang menuruni tangga. Pembuat tongkat itu masih terlihat lemah dan bersandar pada lengan Bill yang membantunya mengangkat kopor besar. “Aku akan merindukanmu, Mr. Ollivander,” kata Luna menghampiri lelaki tua itu. "Dan kau, sayangku," kata Ollivander menepuk bahu Fleur. “Kau adalah rasa nyaman yang tak dapat dilukiskan untukku dari tempat yang mengerikan itu." "Kalau begitu, au revoir*, Mr. Ollivander," kata Fleur yang mencium kedua pipinya. "Dan Aku ingin tahu apakah kau dapat membantuku mengirimkan paket untuk bibi Bill, bibi Muriel? Aku tidak pernah mengganti tiara." "Itu adalah suatu kehormatan," kata Ollivander sambil membungkuk, "hal yang paling terakhir yang aku dapat lakukan untuk membalas keramah-tamahanmu." Fleur mnegeluarkan beludru usang dari peti, yang dia buka untuk diperlihatkan kepada pembuat tongkat itu. Ada sebuah tiara bercahaya dan berkelip pada cahaya lampu yang bergantung rendah. "Batu-Bulan dan Intan," Griphook berkata, yang telah berjalan menyamping pelan-pelan ke dalam ruang tanpa Harry menyadarinya. "Kupikir, dibuat oleh goblin?" "Dan dibayar oleh penyihir," Bill berkata dengan tenang dan goblin memberikan tatapan, keduanya diam-diam saling menantang. Angin kuat berhembus melawan jendela pondok ketika Bill dan Ollivander akan pergi malam itu. Sisa dari mereka berjejal di sekeliling meja; siku ke siku dan dengan ruang yang cukup untuk bergerak, saat mereka mulai untuk makan. Suara arang api patah dan meletup di samping mereka. Harry menyadari Fleur hanya memainkan makanannya, dia mengerling ke jendela setiap beberapa menit, bagaimanapun, Bill kembali sebelum mereka telah menyelesaikan course* pertama mereka, rambut panjang Bill kusut oleh angin. "Semuanya baik," ia berkata pada Fleur. "Ollivander telah diurus, Mum dan Dad memberi salam. Ginny mengirimkan kau semua cintanya, Fred dan George sedang mengemudikan Muriel keatas, mereka masih menjalankan bisnis pengiriman pesan burung hantu di kamar tersembunyi. mempunyai tiaranya kembali telah membuatnya ceria, meskipun. Dia berkata dia pikir kita telah telah mencurinya." "Ah, dia eez charmant*, bibimu," Fleur berkata dengan marah, melambaikan tongkatnya dan mengakibatkan plat yang kotor naik dan membentuk suatu tumpukan di udara. Dia menangkapnya dan berbaris ke luar dari ruang itu. "Ayahku membuat suatu tiara," Luna yang mulai buka mulut, "yeah, sebenarnya lebih bisa disebut sebagai mahkota." Ron menangkap mata Harry dan menyeringai, Harry tahu bahwa ia sedang mengingat hiasan kepala yang lucu dan menggelikan, yang mereka lihat saat mereka mengunjungi Xenophilius. "Ya, dia mencoba untuk membuat ulang diadem Ravenclaw yang hilang. Dia berpikir, dia mengidentifikasi elemen-elemen pentingnya sekarang. Dengan menambahkan sayap billywig sangat membuat perbedaan ..." Ada suara bantingan pintu di pintu depan. Kepala semua orang memutar ke arah itu. Terlihat tegang, Fleur datang sambil berlari dari dapur, Bill melompati makanannya dan tongkatnya langsung diarahkan ke pintu, Harry, Ron, dan Hermione melakukan yang sama. Dengan diam Griphook menyelipkan ke bawah meja, tak terlihat lagi. "Siapa itu?" Bill teriak. "Ini Aku, Remus John Lupin!" teriak suara itu melawan suara angin yang menderu. Harry merasakan ketegangan, apa yang terjadi? "Aku adalah manusia-serigala, menikah dengan Nymphadora Tonks, dan kau, penjaga rahasia dari shell cottage, memberitahuku alamat dan memintaku datang bila keadaan darurat!" Lupin keluar dari ambang pintu. Ia pucat pasi, terbungkus dengan jubah bepergian, rambutnya yang beruban tersapu angin. Dia berdiri tegak, melihat-lihat ruangan itu, memastikan siapa yang ada di sana, kemudian berteriak dengan suara keras, "anak lakilaki! Kami menamainya Ted, setelah bapak Dora!" Hermione menjerit. "Apa --? Tonks -- Tonks telah mempunyai bayi?" "Ya, ya, dia sudah melahirkan!" teriak Lupin. Semua orang di meja menangis bahagia, bernafas lega: Hermione Dan Fleur kedua-duanya memekik, "Selamat!" dan Ron berkata, "Blimey, seorang bayi!" seperti dia tidak pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. "Ya -- ya -- laki-laki," sahut Lupin lagi yang terlihat ling-lung oleh kebahagaiaannya. Dia melangkah mengelilingi meja dan memeluk Harry, pemandangan di ruang bawah tanah di Grimmauld Place seperti tidak pernah terjadi. “Kau akan menjadi ayah angkat?” “A..ku?” Harry terbata-bata. “Kau, iya, tentu saja…Dora sangat setuju, tidak ada yang lebih baik …” "Aku -- yeah -- blimey --" Harry merasa diliputi keheranan dan kegembiraan, sekarang Bill sedang terburu-buru mengambil anggur, dan Fleur sedang membujuk Lupin agar bergabung dengan mereka untuk minum. “Aku tidak bisa berlama-lama, Aku harus kembali,” kata Lupin ... Dia terlihat lebih muda dari yang pernah Harry lihat. ”Terima Kasih, terima kasih, Bill” Bill telah mengisi piala mereka, mereka paham dan mengangkat piala dengan tinggi untuk bersulang. “Untuk Teddy Remus Lupin,” kata Lupin. ”penyihir hebat yang telah lahir!" "S’perti apa dia?" selidik Fleur. "Aku pikir ia mirip Dora, tetapi Dora pikir ia mirip aku. Tidak banyak mempunyai rambut. Rambutnya terlihat hitam ketika ia telah dilahirkan, tetapi aku bersumpah rambutnya berubah jingga sejak satu jam yang lalu. Mungkin pirang saat aku kembali. Andromeda berkata rambut Tonks mulai berubah warna sehari ia telah dilahirkan." Ia meminum pialanya. "Oh, ayolah tambah lagi, hanya satu lagi," ia menambahkan dengan keras ketika Bill mengisi lagi. Angin menghembuskan pondok kecil dan api yang bagaikan melompat-lompat dan membuat suara retakan, dan Bill segera membuka botol anggur lain. Berita Lupin yang nampak telah membuat mereka keluar dari diri mereka sendiri, dipindahkan sebentar dari keadaan mereka yang sedang terkepung: Kabar kehidupan baru sangat menggembirakan. Hanya goblin yang nampak tidak disentuh oleh atmosfer yang tiba-tiba berubah menjadi suatu perayaan, dan sesaat kemudian ia menyelinap kembali ke dalam kamar tidur dan sekarang sendirian. Harry berpikir hanya ia satu-satunya yang sadar akan hal ini, sampai ia melihat mata Bill mengikuti goblin yang naik tangga. "Tidak... tidak... Aku harus segera kembali," akhirnya Lupin berkata, menolak piala lain yang berisi anggur. Dia berdiri dan menarik jubah bepergiannya menutupi dirinya. "Selamat tinggal, selamat tinggal... Aku akan mencoba membawa beberapa foto di hari lain... Mereka akan sangat senang mengetahui bahwa Aku menemui kalian.... " Ia mengikat jubahnya dan mengucap selamat tinggal dengan memeluk para perempuan dan berjabat tangan dengan laki-laki, kemudian kembali ke dalam malam yang liar. “Ayah angkat, Harry!” kata Bill ketika mereka berjalan menuju dapur bersama-sama, membantu membersihkan meja. “Suatu kehormatan! Selamat!" Ketika Harry membereskan piala yang kosong yang ia bawa, Bill menarik pintu di belakang hingga menutup, mencegah pembicaraan terdengar oleh yang lain yang masih terus merayakannya bahkan setelah Lupin pergi. “Sebenarnya aku ingin bicara secara pribadi, Harry. Tidak mudah mempunyai kesempatan saat pondok ini penuh dengan orang.” Bill ragu-ragu. “Harry, kau merencanakan sesuatu dengan Griphook.” Itu adalah sebuah pernyataan buka pertanyaan dan Harry tidak bersusah payah untuk menyangkalnya. Dia hanya menatap Bill, menunggu. “Aku tahu goblin,” kata Bill. “ Aku telah bekerja untuk Gringrots setelah lulus dari Hogwarts. Selama bisa berteman antara penyihir dan goblin, Aku mempunyai teman goblin – atau, setidaknya goblin yang aku kenal dekat, dan suka.” Sekali lagi Bill raguragu. “Harry, apakah yang kau inginkan dari Griphook dan apa kau menjanjikan sesuatu kepadanya sebagai imbalan?” “Aku tidak dapat memberitahumu,” kata Harry. “Maaf, Bill.” Pintu dapur terbuka di sebelah mereka; Fleur mencoba membawa banyak piala kosong. “Tunggu,” Bill memberitahunya. “ Sebentar saja.” Fleur keluar dan Bill menutup pintu lagi. “Lalu Aku harus mengatakan ini,” Bill melanjutkan. “ Jika kau melakukan berbagai penawaran dengan Griphook, dan biasanya sekali jika penawaran itu termasuk harta, kau harus sangat berhati-hati. Pendapat Goblin terhadap kepunyaan, pembayaran, dan pengembalian tidaklah sama dengan manusia. ” Harry merasakan sesuatu yang sedikit menggeliatkan ketidaknyamanan, seolah-olah ada ular kecil yang bergerak di dalam dirinya. "Apa maksudmu?" Harry bertanya. "Kita membicarakan tentang keturunan yang berbeda," Bill berkata. "Perjanjian antara penyihir dan goblin telah dihawatirkan selama berabad-abad... tetapi kau akan tahu semuanya dari Sejarah Sihir. Telah terdapat kesalahpahaman di kedua sisi, aku tidak pernah akan menganggap bahwa penyihir tidak bersalah. Bagaimanapun, ada suatu kepercayaan antar beberapa goblin, dan mereka yang ada di Gringotts barangkali paling cenderung akan itu, penyihir itu tidak bisa dipercaya dalam berbagai hal seperti emas dan harta benda, bahwa penyihir tidak punya rasa hormat untuk kepemilikan goblin." ”Aku menghormati--" Harry memulai, tetapi Bill menggelengkan kepalanya. “Kau tidak paham, Harry, tidak seorangpun dapat mengerti jika tidak hidup bersama goblin. Bagi goblin, hal yang paling benar dan pemilik dari semua benda adalah pembuatnya, bukan pembeli. Benda buatan goblin adalah, di mata goblin, menjadi hak milik mereka." "Tapi itu sudah dibeli ..." "-- kemudian mereka akan menganggap itu disewakan kepada seseorang yang telah membayar dengan uang. Bagaimanapun, mereka punya kesukaran besar dengan ide atas benda buatan goblin yang pindah dari penyihir ke penyihir. Kau lihat wajah Griphook ketika tiara yang lewat di bawah matanya. Ia menentang. Aku percaya ia berpikir, seperti sesamanya yang sengit, bahwa tiara itu seharusnya telah dikembalikan kepada goblin ketika pembeli yang asli meninggal. Mereka menganggap kebiasaan kita memelihara benda buatan goblin, sesuatu yang dilewati dari mereka dari penyihir ke penyihir tanpa pembayaran lebih lanjut, sedikit lebih banyak seperti pencuri." Harry mempunyai suatu perasaan tidak menyenangkan sekarang, ia heran apakah Bill mengira lebih dari apa yang ia perkirakan. “Semua yang kukatakan,” kata Bill, memegang gagang pintu di belakangnya yang menuju ke ruang duduk, "Berhati-hatilah atas apa yang kau janjikan kepada goblin, Harry. Tidak akan lebih berbahaya menerobos Gringotts bila dibandingkan dengan mengingkari janji pada goblin." “Baiklah,” kata Harry ketika Bill membuka pintu, “Yeah. Terima Kasih. Aku akan mengingatnya.” Dia mengikuti Bill kembali ke yang lainnya dengan pikiran cemas yang datang kepadanya, tidak ragu-ragu dia telah mabuk. Harry nampak ditetapkan pada posisi yang sama sebagai ayah angkat yang nekat untuk Teddy Lupin sama seperti ketika Sirius Black kepadanya. * au revoir dalam bahasa Indonesia berarti sampai jumpa. * driftwood * charmant dalam bahasa Indonesia berarti punya daya tarik Chapter 26 Gringotts Rencana telah disusun, persiapan sudah lengkap; di kamar tidur yang paling kecil, sehelai rambut panjang dan kasar (dicabut dari sweater yang Hermione kenakan saat di Kediaman Malfoy) bergulung dalam botol kaca kecil di rak atas perapian. “Dan kau akan memakai tongkat aslinya,” kata Harry, mengangguk ke arah tongkat walnut, “jadi menurutku kau akan sangat meyakinkan.” Hermione tampak ketakutan seolah tongkat itu akan menyengat atau menggigit ketika dia mengambilnya. “Aku benci benda itu,” katanya pelan. “Aku benar-benar membencinya. Rasanya serba salah, tidak berfungsi dengan baik untukku…seperti ada sedikit bagian dari dirinya.” Mau tak mau Harry mengingat bagaimana dulu Hermione mengabaikan keengganannya terhadap tongkat blackthorn, ngotot kalau cuma khayalan Harry sajalah tongkat itu tidak berfungsi sebaik miliknya sendiri, menasehatinya untuk terus berlatih. Harry memilih untuk tidak membalas Hermione dengan nasehatnya sendiri, bagaimanapun, malam sebelum serangan mereka ke Gringotts bukanlah waktu yang tepat untuk berseberangan dengannya. “Tapi itu mungkin bisa membantumu mendalami karakter,” kata Ron, “pikirkan apa yang telah dilakukan tongkat itu!” “Justru itu maksudku!” kata Hermione. “Ini tongkat yang menyiksa ayah dan ibu Neville, dan siapa yang tahu ada berapa banyak lagi? Ini tongkat yang membunuh Sirius!” Harry tidak memikirkan itu sebelumnya: dia memandang tongkat itu dan diliputi keinginan kuat untuk mematahkan, memotongnya dengan pedang Gryffindor, yang bersandar di dinding sampingnya. “Aku rindu tongkatku,” ujar Hermione sedih. “Kuharap Tuan Ollivander akan membuatkan satu untukku juga.“ Tuan Ollivander telah mengirimkan satu tongkat baru untuk Luna pagi itu. Sekarang dia sedang berada di padang rumput belakang, menguji kemampuan tongkat itu di bawah sinar matahari sore. Dean, yang kehilangan tongkatnya di tangan para Perampas, memandang dengan muram. Harry memandang tongkat Hawthorn yang sebelumnya milik Draco Malfoy. Dia terkejut, tapi senang mengetahui bahwa tongkat itu berfungsi dengan baik untuknya, setidaknya sebaik tongkat Hermione. Mengingat kata-kata Ollivander tentang rahasia cara kerja tongkat, Harry merasa tahu apa masalah Hermione: Dia tidak memenangkan kesetiaan tongkat walnut dari Bellatrix pribadi. Pintu kamar terbuka dan Griphook masuk. Secara refleks, Harry meraih pangkal pedang dan menariknya mendekat, tapi segera menyesali tindakannya. Dia menyadari bahwa sang Goblin memperhatikan. Berusaha menutupi situasi yang tidak enak, dia berkata, “Kami baru saja memeriksa persiapan terakhir, Griphook. Kami sudah bilang Bill dan Fleur bahwa kita pergi besok dan kami juga berpesan bahwa mereka tak perlu bangun untuk melihat kita berangkat.” Mereka telah menegaskan poin ini, karena Hermione harus menjadi Bellatrix sebelum mereka pergi, dan semakin sedikit Bill dan Fleur tahu apa yang akan mereka lakukan, semakin baik. Mereka juga sudah menjelaskan bahwa kemungkinan besar mereka tidak akan kembali. Setelah kehilangan tenda tua Perkins pada malam para Perampas menangkap mereka, Bill telah meminjamkan tenda yang lain. Tenda itu sekarang terbungkus dalam tas manikmanik, yang, membuat Harry terkesan, telah diamankan Hermione dari para Perampas dengan gagasan sederhana yaitu menjejalkannya di bagian bawah kaos kakinya. Walaupun dia akan merindukan Bill, Fleur, Luna dan Dean, belum lagi kenyamanan rumah yang mereka nikmati selama beberapa minggu terakhir, Harry telah menunggununggu saat untuk keluar dari keterbatasan di Pondok Kerang. Dia sudah capek terusmenerus berusaha memastikan bahwa mereka tidak dicuri-dengar, capek terkurung dalam kamar yang kecil dan gelap itu. Yang terpenting, dia ingin sekali terbebas dari Griphook. Akan tetapi, tepatnya bagaimana dan kapan mereka bakal terpisah dari sang Goblin tanpa menyerahkan pedang Gryffindor merupakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab Harry. Tak mungkin memutuskan bagaimana cara mereka akan melakukannya, karena sang Goblin jarang sekali meninggalkan Harry, Ron dan Hermione bertiga saja lebih dari 5 menit: “Dia bisa memberi pelajaran pada ibuku,” keluh Ron, ketika jari-jari panjang sang Goblin terus-menerus muncul di daun pintu. Dengan peringatan Bill dalam otaknya, mau tak mau Harry mencurigai bahwa Griphook waspada terhadap kemungkinan adanya tipuan. Hermione sungguh-sungguh tidak menyetujui rencana pengkhianatan sehingga Harry menyerah dalam usaha meminta pendapatnya tentang cara terbaik bagaimana melakukan itu: Ron, menggunakan kesempatan bebas-Griphook yang jarang-jarang, memberi usul yang tidak lebih baik dari sekedar, “Kita cuma harus membawanya kabur, teman.” Harry sulit tidur malam itu. Berbaring lebih awal, Harry memikirkan apa yang dulu ia rasakan pada malam sebelum mereka menyusup ke Kementerian Sihir, dan teringat suatu tekad yang kuat, bahkan hampir-hampir perasaan gembira. Sekarang dia merasakan guncangan keraguan yang menggelisahkan dan mengganggu: dia tidak bisa membuang rasa takut bahwa semuanya akan kacau. Dia terus-menerus meyakinkan diri bawa rencana mereka sudah bagus, bahwa Griphook tahu apa yang mereka hadapi, bahwa mereka sudah mempersiapkan diri dengan baik menghadapi segala kesulitan yang mungkin terjadi, tapi dia masih juga merasa resah. Sesekali dia mendengar Ron bergerak, dan dia yakin Ron pun masih terjaga, tetapi mereka berbagi ruang keluarga dengan Dean, jadi Harry tidak berkata apa-apa. Sangat melegakan ketika tiba jam 6 pagi dan mereka bisa keluar dari kantong tidur, berpakaian dalam kondisi setengah-gelap lalu berjalan pelan menuju kebun, dimana seharusnya mereka bertemu Hermione dan Griphook. Fajar terasa dingin, tapi agak berangin mengingat ini bulan Mei. Harry mendongak menatap bintang-bintang yang berkilau pucat di langit gelap dan mendengar gemuruh ombak menyapu sisi-sisi tebing. Dia akan merindukan suara-suara itu. Tunas-tunas hijau kecil tumbuh dengan cepat menembus tanah merah di makam Dobby sekarang, dalam setahun gundukan tanah itu akan dipenuhi bunga-bunga. Batu putih dengan ukiran nama peri rumah itu mulai luntur dimakan cuaca. Dia menyadari bahwa mereka tidak mungkin mengistirahatkan Dobby di tempat yang lebih indah dari itu, tapi Harry merasa pedih memikirkan akan meninggalkannya di sana. Memandang makam, dia masih bertanya-tanya bagaimana si peri rumah tahu harus pergi kemana untuk menyelamatkannya. Tanpa sadar jarinya bergerak menyentuh kantong yang tergantung di lehernya, menyeluruh hingga dia bisa merasakan pecahan kaca yang tidak rata dimana ia merasa yakin telah melihat mata Dumbledore. Kemudian dia berputar ketika mendengar suara pintu dibuka. Bellatrix Lestrange berjalan melintasi padang rumput ke arah mereka, ditemani oleh Griphook. Sambil berjalan, dia melipat tas manik-manik kecil dan memasukkan ke saku bagian dalam jubah tua yang mereka ambil dari Grimmauld Place. Meskipun Harry tahu pasti kalau itu Hermione, dia tidak bisa menahan getaran kebencian. Bellatrix lebih tinggi daripada Harry, rambut hitam panjang berombak dipunggungnya, kelopak matanya yang berat tampak menghina ketika memandangnya, tapi lalu ia bicara, dan dia mendengar Hermione melalui suara Bellatrix yang dalam. “Rasanya menjijikkan, lebih parah dari akar Gurdy! Oke, Ron, kemarilah jadi aku bisa me....“ “Baik, tapi ingat, aku tak suka jenggot yang terlalu panjang.“ “Oh, demi Tuhan, ini bukan tentang tampil keren!“ “Bukan begitu, itu menghalangi jalanku! Tapi aku suka hidungku lebih kecil, cobalah seperti yang terakhir kau lakukan dulu.“ Hermione menghela nafas dan mulai bekerja, bergumam seiring nafasnya sembari mengubah beberapa aspek dari penampilan Ron. Dia telah menjadi seseorang yang benar-benar palsu, dan mereka mempercayakan aura kedengkian Bellatrix untuk melindunginya, sementara Harry dan Griphook tersembunyi dibawah jubah gaib. “Sudah,“ kata Hermione, “bagaimana penampilannya, Harry?“ Jelas tak mungkin mengenali Ron dibalik penyamarannya, hanya karena Harry benarbenar mengenalnya dengan baik sajalah ia bisa membedakan. Rambut Ron sekarang panjang dan berombak, jenggot dan kumisnya coklat lebat, wajahnya bersih tanpa bintikbintik, hidungnya kecil dan lebar, alis matanya tebal. “Well, dia bukan tipeku, tapi dia akan berhasil,“ kata Harry. “Bisakah kita pergi?“ Mereka bertiga memandang sekilas ke arah Pondok Kerang, gelap dan sunyi di bawah bintang yang memudar, lalu memutar tubuh dan mulai berjalan menuju lokasi, di balik dinding garis batas, dimana mantra Fidelius berhenti bekerja, dan mereka bisa berdisapparate. Setelah melewati gerbang, Griphook berkata. “Aku bisa naik sekarang, Harry Potter, kurasa?“ Harry berlutut dan sang Goblin memanjat punggungnya, tangannya bertaut di depan kerongkongan Harry. Dia tidak berat, tapi Harry tidak suka perasaannya terhadap si Goblin dan kekuatan mengejutkan eratnya pegangannya. Hermione menarik jubah gaib dari tas manik-maniknya dan menutupi keduanya. “Sempurna,“ katanya, berlutut untuk memeriksa kaki Harry, “Aku tidak bisa melihat apaapa. Ayo pergi!“ Harry berputar di tempat, dengan Griphook di atas bahunya, sekuat mungkin berkonsentrasi ke Leaky Cauldron, penginapan yang merupakan pintu masuk ke Diagon Alley. Si Goblin berpegangan lebih erat ketika mereka bergerak memasuki kegelapan yang menekan, dan beberapa detik kemudan kaki Harry menapaki trotoar kemudian saat ia membuka matanya tampaklah jalan Charing Cross. Para muggle lewat dengan tergesagesa, dengan ekspresi setengah hati pagi hari, tanpa menyadari keberadaan penginapan kecil itu. Bar Leaky Cauldron nyaris kosong. Tom, pemilik penginapan yang bungkuk dan ompong, sedang mengelap gelas-gelas dibalik meja bar, sepasang penyihir bergumam mengobrol di pojok yang jauh sambil memandang sekilas pada Hermione kemudian menjauhkan diri kedalam kegelapan. “Madam Lestrange,” Tom bergumam, dan ketika Hermione berhenti sejenak dia menundukkan kepala dengan patuh. ”Selamat pagi,“ kata Hermione, dan ketika Harry bergerak cepat, masih menggendong Griphook di bawah jubah gaib, dia melihat Tom terkejut. ”Terlalu sopan,“ Harry berbisik di telinga Hermione ketika mereka melangkah keluar dari penginapan menuju halaman belakang yang kecil. ”Kau harus memperlakukan orang seolah mereka sampah.“ “Oke, oke!“ Hermione mengangkat tongkat Bellatrix dan mengetuk batu bata tertentu di dinding depan mereka. Batu bata langsung berputar: Tampak lubang di tengah-tengahnya, yang semakin melebar, akhirnya membentuk gerbang lengkung menuju jalan Cornblock sempit yang merupakan Diagon Alley. Masih sunyi, belum waktunya toko-toko buka, dan hampir tidak ada orang berbelanja. Jalan cornblock berliku-liku itu telah banyak berubah sekarang dari tempat berisik yang dikenal Harry bertahun-tahun yang lalu sebelum ia masuk Hogwarts. Lebih banyak lagi toko ditutup daripada sebelumnya, meski beberapa toko baru yang beraliran sihir hitam bermunculan sejak kunjungan terakhirnya. Wajah Harry sendiri memandangnya dari poster yang tertempel di kaca-kaca, semuanya dengan tulisan YANG TIDAK DIINGINKAN NOMOR SATU. Beberapa orang berpakaian compang-camping duduk meringkuk di depan pintu. Dia mendengar mereka mengemis kepada orang lewat, memohon uang emas, berusaha meyakinkan bahwa mereka benar-benar penyihir. Tampak pula seorang laki-laki dengan pembalut penuh darah yang menutupi matanya. Ketika mereka mulai melangkah menuju jalan cornblock, pengemis-pengemis itu memandang sekilas ke arah Hermione. Sepertinya mereka segera menghilang satu persatu, menutupi wajah dengan kerudung, dan kabur secepat mungkin. Hermione mengikuti mereka dengan pandangan mata yang aneh, hingga laki-laki dengan pembalut penuh darah tiba-tiba menghalangi jalannya. “Anak-anakku,“ dia berteriak sambil menunjuk Hermione. Suaranya pecah, bernada tinggi, kedengaran bingung. “Dimana anak-anakku?” Apa yang dia lakukan pada mereka? Kau tahu, kau tahu!” “Aku—aku benar-benar—,“ Hermione tergagap. Laki-laki itu sekonyong-konyong maju mendekatinya, dan berusaha mencekik lehernya. Lalu, bersamaan dengan suara keras dan semburan cahaya merah dia terlempar ke belakang, jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Ron berdiri disana, tongkatnya masih teracung dan ekspresi tegang terlihat dibalik jenggotnya. Wajah-wajah muncul di balik kaca-kaca di sepanjang sisi jalan, sementara sekelompok kecil orang lewat yang kelihatannya-orang-kaya saling bertaut jubah dan mulai menderap langkah pelan, ingin sekali meninggalkan lokasi. Kunjungan mereka ke Diagon Alley kemungkinan tidak pernah lebih menarik perhatian daripada ini, sesaat Harry bertanya-tanya apakah sekarang sebaiknya pergi dan mencoba memikirkan rencana lain. Tetapi sebelum mereka bisa bergerak atau saling berkonsultasi, terdengar teriakan dari belakang. “Kenapa, Madam Lestrange?“ Harry berputar dan Griphook mengeratkan pegangannya di leher Harry. Seorang penyihir tinggi dan kurus dengan rambut abu-abu lebat dan hidung mancung yang tajam berjalan dengan langkah panjang kearah mereka. “Itu Travers,“ desis si Goblin di telinga Harry, tapi saat itu Harry tidak bisa berpikir siapa Travers itu. Hermione sudah menegakkan diri dan berkata dengan sikap menghina yang sebaik mungkin: “Dan apa maumu?” Travers berhenti berjalan, merasa terhina. “Dia Pelahap Maut juga!” desah Griphook, dan Harry berjalan menyamping perlahan untuk menyampaikan informasi itu ke telinga Hermione. “Aku hanya mencoba menyapa,” kata Travers dingin, “tapi kalau kehadiranku tidak diharapkan….” Harry mengenali suaranya sekarang: Travers adalah salah satu Pelahap Maut yang muncul dirumah Xenophilius. “Tidak, tidak apa-apa, Travers,” kata Hermione segera, berusaha menutupi kesalahannya. “Apa kabar?” “Well, kuakui aku terkejut melihatmu pergi keluar, Bellatrix.” “Oya? Kenapa?” tanya Hermione. “Well,” Travers berdehem, “kudengar Penghuni Kediaman Malfoy dikurung dirumah itu, setelah – ah….pelarian itu.” Harry berharap Hermione tidak gugup. Jika berita ini benar, dan Bellatrix seharusnya tidak muncul di hadapan publik…. “Pangeran Kegelapan memaafkan orang yang setia melayaninya di masa lalu,” kata Hermione meniru sikap menghina Bellatrix secara luar biasa. “Mungkin reputasimu tidak sebaik aku di matanya, Travers.” Walaupun Pelahap Maut itu tampak tersinggung, dia juga tampak tidak terlalu curiga. Dia memandang sekilas saja pada laki-laki yang baru saja dipingsankan Ron. “Apa yang menyinggungmu?” “Bukan apa-apa, takkan terjadi lagi,” kata Hermione dingin. “Orang-orang tanpa tongkat memang bisa jadi masalah,” kata Travers. “Jika mereka hanya mengemis aku tidak keberatan, tapi salah satu dari mereka benar-benar memintaku untuk membela perkaranya di Kementerian minggu lalu. “Aku penyihir Tuan, aku penyihir, ijinkanlah aku membuktikan kepada anda!” katanya sambil bercicit menirukan. “Seolah-olah aku akan memberinya tongkatku —tapi tongkat siapa,“ tanya Travers ingin tahu, “yang kau pakai sekarang Bellatrix? Kudengar punyamu sudah--” “Ini tongkatku,” kata Hermione dingin, memegang tongkat Bellatrix. “Entah gosip apa yang kaudengar, Travers, tapi sepertinya kau salah informasi.” Travers kelihatan kaget mendengarnya, dan dia menoleh menghadap Ron. “Siapa temanmu? Aku tidak mengenalnya.” “Ini Dragomir Despard,” kata Hermione; mereka telah memutuskan bahwa tokoh fiksi dari luar negeri adalah penyamaran yang paling aman untuk Ron. “Dia hanya bisa sedikit Bahasa Inggris, tapi dia menaruh simpati pada tujuan Pangeran Kegelapan. Dia berkunjung kemari dari Transilvania untuk melihat rezim baru kita.” ”Benarkah? Apa kabar Dragomir?“ ”’’Abar baik,“ kata Ron, menjabat tangannya. Travers mengulurkan dua jari dan menjabat tangan Ron seakan takut mengotori dirinya sendiri. “Jadi apa yang membawamu dan teman –ah- yang bersimpati ke Diagon Alley sepagi ini?” Tanya Travers. “Aku perlu ke Gringotts,” kata Hermione. “Kebetulan, aku juga,” ujar Travers. “Emas, emas yang kotor! Kita tidak bisa hidup tanpanya, kuakui aku menyesalkan keharusan bergaul dengan rekan berjari panjang kita.” Harry merasa genggaman tangan Griphook mengencang sejenak di lehernya. “Silakan,” Travers mengisyaratkan Hermione untuk berjalan duluan. Hermione tak punya pilihan selain berjalan bersamanya dan menyusuri jalan berbatu yang berliku-liku menuju gedung Gringotts yang seputih salju berdiri menjulang diantara toko-toko kecil. Ron mengiringi di sampingnya, lalu Harry dan Griphook mengikuti. Seorang Pelahap Maut yang waspada adalah hal terakhir yang mereka butuhkan, dan yang paling parah adalah, dengan Travers berada di tempat yang ia yakini sebagai sisi Bellatrix, tak ada kesempatan bagi Harry untuk berkomunikasi dengan Hermione atau Ron. Dengan segera mereka sampai di kaki tangga pualam menuju pintu perunggu besar. Sebagaimana yang telah diperingatkan Griphook, goblin-goblin berseragam yang biasanya mengapit pintu masuk telah digantikan oleh 2 penyihir, memegang batang logam emas yang panjang dan kurus. “Ah, Detektor Kejujuran,” tunjuk Travers dibuat-buat, “Sangat kejam—tapi efektif!” Dan dia melangkah naik tangga, mengangguk kepada kedua penyihir di sebelah kanan dan kiri, yang mengangkat batang emas dan menggerakkannya keatas dan bawah memeriksa seluruh tubuh Travers. Detektor itu –Harry tahu- mendeteksi mantra dan barang-barang tersembunyi. Menyadari waktunya hanya beberapa detik, Harry mengarahkan tongkat Draco bergantian kearah kedua penjaga da bergumam “Confundo” dua kali. Tanpa disadari oleh Travers, yang memandang pintu perunggu di aula dalam, kedua penjaga tersentak ketika mantra mengenai mereka. Rambut hitam panjang Hermine berombak di punggungnya ketika ia menaiki tangga. “Sebentar, Madam!” kata si penjaga, mengangkat Detektor. “Tapi kau baru saja melakukannya!“ kata Hermione dalam suara memerintah dan arogan milik Bellatrix. Travers memandang sekeliling, alisnya terangkat. Si penjaga bingung. Dia memandang Detektor emas kurus itu lalu memandang rekannya, yang berkata dengan suara agak linglung. “Yeah, kau sudah memeriksa mereka, Marius.” Hermione kembali berjalan, Ron di sampingnya, Harry dan Griphook yang tidak tampak, berlari di belakangnya, Harry memandang sekilas ke belakang saat mereka melalui ambang pintu. Kedua penyihir sedang menggosok-gosok kepalanya. Dua goblin berdiri di depan pintu dalam, yang terbuat dari perak dan membawa tulisan peringatan tentang hukuman mengerikan bagi calon pencuri. Harry melihatnya, dan tibatiba ingatan setajam-pisau muncul di kepalanya: Berdiri tepat di titik ini pada hari dia berusia 11 tahun, ulang tahun terhebat dalam hidupnya, dan Hagrid berdiri di sampingnya berujar, “Seperti kataku, m’reka gila klo’ coba m’rampoknya.” Gringotts tampaknya tempat yang aneh hari itu, tempat penyimpanan sihir berisi segunung emas yang tak pernah ia tahu telah dimilikinya, dan tak pernah sekejap pun dia bermimpi akan kembali untuk mencuri…. Tapi dalam hitungan detik mereka sudah berdiri di aula bank berlantai pualam yang sangat luas itu. Meja kasir panjang dijaga oleh seorang Goblin yang duduk diatas kursi tak berlengan yang sedang melayani pelanggan pertama hari itu. Hermione, Ron dan Travers menghadapi goblin tua yang sedang memeriksa sebuah koin emas tebal melalui sebuah kacamata. Hermione membiarkan Travers untuk melangkah lebih dulu dengan alasan yang dibuat-buat, yaitu menjelaskan bagian-bagian ruangan kepada Ron. Goblin itu melontarkan koin yang dipegangnya ke samping, berkata tidak kepada siapasiapa, “Leprechaun,” dan lalu menyambut Travers, yang memberikan sebuah kunci emas kecil, diperiksa, kemudian dikembalikan lagi padanya. Hermione melangkah ke depan. “Madam Lestrange!” kata sang Goblin, jelas sekali terkejut. “Astaga! Apa—apa yang bisa saya bantu hari ini?“ “Aku ingin memasuki lemari besiku,” kata Hermione. Sang Goblin tua tampak sedikit terlonjak. Harry memandang sekilas sekeliling. Tak hanya Travers yang tidak bergerak, mengawasi, tapi beberapa goblin yang lain pun mengangkat kepala dari pekerjaannya, memandang Hermione. “Anda punya….identitas?” tanya sang goblin. “Identitas? Aku—aku belum pernah dimintai identitas sebelumnya!” kata Hermione. “Mereka tahu!” bisik Griphook di telinga Harry, “Mereka pasti telah diperingatkan akan kemungkinan adanya penipu!” “Tongkat anda akan membuktikannya, Madam,” ucap si goblin. Ia mengangkat tangan yang gemetar, dan tiba-tiba dalam diri Harry muncul kesadaran yang mengkuatirkan, ia menduga bahwa para goblin Gringotts pastilah telah diperingatkan bahwa tongkat Bellatrix telah dicuri. “Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu!” bisik Griphook di telinga Harry. “Kutukan Imperius!” Harry mengangkat tongkat hawthorn dari dalam jubah, mengarahkan ke goblin tua, dan berbisik, untuk yang pertama kali dalam hidupnya, “Imperio!” Sebuah sensasi aneh menjalari lengan Harry, perasaan pedih, kehangatan yang sepertinya mengalir dari pikirannya, turun ke otot dan pembuluh darah, menghubungkannya ke tongkat dan kutukan yang baru saja dilancarkannya. Goblin itu mengambil tongkat Bellatrix, memeriksanya dari dekat, lalu berkata, “Ah, anda telah membuat tongkat baru, Madam Lestrange!” “Apa?” ujar Hermione. “Tidak, tidak, itu milikku—“ “Tongkat baru?” tanya Travers, mendekat ke meja lagi; para goblin di sekitarnya masih mengawasi. “Tapi bagaimana kau melakukannya? Siapa pembuat tongkat yang kau pakai?” Harry bertindak tanpa berpikir. Mengarahkan tongkat ke Travers, ia bergumam, “Imperio!” sekali lagi. “Oya, aku mengerti,” kata Travers, memandang tongkat Bellatrix, “Ya, sangat tampan, dan berfungsi dengan baik? Aku selalu berpikir tongkat membutuhkan sedikit latihan, bukan begitu?” Hermione tampak benar-benar bingung, tapi mengingat kemungkinan bantuan dari Harry, dia menerima saja perubahan peristiwa yang ganjil itu tanpa berkomentar. Goblin di belakang meja menepuk tangan dan goblin yang lebih muda datang mendekat. “Aku perlu Logam Gerincing*,“ ia berkata pada si goblin muda, yang bergerak cepat dan kembali lagi sesaat kemudian membawa tas kulit yang tampaknya penuh logam-logam gemerincing dan memberikannya pada sang senior. ”Bagus, bagus! Jadi, jika anda berkenan mengikuti saya, Madam Lestrange,“ kata goblin tua, melompat turun dari kursi tak berlengan dan menghilang dari pandangan, ”Saya akan mengantar anda ke lemari besi.“ Dia muncul di ujung meja, berjalan dengan riang kearah mereka, isi tas kulit masih gemerincing. Travers masih berdiri dengan mulut ternganga lebar. Ron memperhatikan fenomena ganjil ini dan memandang Travers dengan bingung. “Tunggu—Bogrod!“ Goblin yang lain datang tergesa-gesa menuju meja. “Kita punya instruksi,“ katanya sambil menghormat kearah Hermione. “Maafkan saya, Madam, tapi ada perintah khusus berkaitan dengan lemari besi keluarga Lestrange.“ Dia segera berbisik ke telinga Bogrod, tapi si goblin di bawah kutukan imperius itu menggeleng. “Aku mengerti instruksi itu, tapi Madam Lestrange perlu ke lemari besinya...keluarga yang amat tua...klien lama...sebelah sini, silakan...“ Dan, masih gemerincing, dia bergegas menuju salah satu pintu di aula. Harry memandang Travers lagi, yang masih terpaku di tempat, kelihatan bengong yang tidak wajar, dan mengambil keputusan. Dengan sentilan tongkatnya ia membuat Travers bergerak bersama mereka, berjalan dengan taat di belakang, sesampai mereka di pintu dan memasuki jalan berbatu kasar dibaliknya, yang diterangi obor menyala. “Kita dalam masalah, mereka curiga,“ kata Harry ketika pintu berdebam di belakangnya dan ia menarik jubah gaib. Griphook melompat dari bahunya: baik Travers maupun Bogrod tak menunjukkan keterkejutan pada pemunculan Harry Potter di tengah-tengah mereka secara tiba-tiba. “Mereka dibawah kutukan Imperius,“ dia menambahkan, sebagai respon atas kebingungan Hermione dan Ron terhadap Travers dan Bogrod, yang keduanya berdiri dengan hampa. “Aku tak tahu apakah telah melakukannya dengan cukup kuat, aku tak yakin...“ Dan ingatan lain tiba-tiba muncul di kepalanya, Bellatrix Lestrange yang asli berteriak kepadanya saat pertama kali ia mencoba menggunakan Kutukan-Tak-Termaafkan: “Kau harus benar-benar menginginkannya, Potter!“ “Apa yang harus kita lakukan?“ tanya Ron. ”Haruskah kita keluar sekarang, selagi masih mungkin?“ “Kalau bisa,“ kata Hermione, menoleh ke belakang kearah pintu menuju aula utama, dimana tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. “Kita sudah sejauh ini, menurutku kita teruskan,“ usul Harry. “Bagus!“ ujar Griphook. “Jadi kita perlu Bogrod untuk mengendalikan kereta; aku tidak lagi mempunyai otoritas itu, tapi takkan ada tempat untuk penyihir.“ Harry mengarahkan tongkat pada Travers.“ “Imperio!“ Penyihir itu berputar dan mulai melangkah cepat sepanjang jalan gelap. “Apa yang kau perintahkan padanya?” ”Bersembunyi,” kata Harry lalu mengarahkan tongkatnya pada Bogrod, yang bersiul untuk memanggil kereta kecil yang datang menggelinding sepanjang jalur di depan mereka, muncul dari kegelapan. Harry yakin telah mendengar teriakan di aula utama belakang mereka ketika mereka semua memanjat dengan susah payah ke dalam kereta, Bogrod di depan Griphook, sementara Harry, Ron dan Hermione berjejal di belakang. Dengan satu sentakan kereta mulai berjalan, semakin menambah kecepatan: Mereka melewati Travers dengan cepat, yang menggeliat menjejalkan diri kedalam retakan di dinding, lalu kereta mulai berputar dan berbelok menuju jalan-jalan labirin, terusmenerus miring ke bawah. Harry tak bisa mendengar apapun selain bunyi derak kereta yang melaju di atas jalur: Rambutnya melambai di belakangnya ketika mereka berbelok dengan tiba-tiba melewati stalagtit, semakin jauh kedalam bumi, tapi dia masih juga terus-menerus mencuri pandang ke belakang. Mereka mungkin telah meninggalkan jejak besar di belakang, semakin dia memikirkannya, semakin konyol rasanya penyamaran Hermione sebagai Bellatrix, membawa-bawa tongkatnya, ketika para Pelahap Maut tahu siapa yang mencurinya— Mereka masuk lebih dalam daripada yang Harry pernah masuki; mereka melewati tikungan tajam dengan cepat, dan melihat di depan mereka, dalam hitungan detik, air terjun deras menghujani jalur kereta. Harry mendengar Griphook berteriak, “Tidak!” tapi kereta tidak berhenti. Mereka terus bergerak dengan kecepatan tinggi memasukinya. Air memenuhi mata dan mulut Harry: Dia tidak bisa melihat maupun bernafas. Lalu, dengan goncangan tak karuan, kereta itu terbalik dan mereka semua terlempar keluar. Harry mendengar kereta menabrak dinding dan hancur berkeping-keping, mendengar Hermione meneriakkan sesuatu, dan merasakan dirinya sendiri meluncur kembali ke tanah, seakan tak berbobot, mendarat di lantai berbatu tanpa rasa sakit. “M—Mantra Pemantul**,” Hermione berbicara dengan gagap, Ron menariknya hingga berdiri, tapi dengan ngeri Harry menyadari bahwa ia bukan lagi Bellatrix; sebagai gantinya muncul Hermione dengan jubah terlalu besar, basah kuyup dan benar-benar telah menjadi dirinya sendiri; Ron sudah berambut merah dan tanpa jenggot lagi. Mereka menyadarinya ketika saling memandang, merasakan wajah mereka sendiri. “Penghambat Pencuri***!” seru Griphook, berdiri dengan susah payah dan memandang kembali air bah diatas rel kereta, yang, Harry sadari sekarang, ternyata tidak sekedar air. “Itu membersihkan semua mantra dan sihir tersembunyi! Mereka tahu ada penyusup di Gringotts, mereka telah memulai pertahanan melawan kita!” Harry melihat Hermione sedang memeriksa tas manik-maniknya, dan ia sendiri segera memasukkan tangan ke dalam jaket untuk memastikan ia tak kehilangan jubah gaib. Lalu ia menoleh dan melihat Bogrod menggoyang-goyang kepalanya: Penghambat Pencuri tampaknya telah mengangkat kutukan imperius dari dirinya. “Kita butuh dia,” kata Griphook, “kita tidak bisa masuk lemari besi tanpa goblin Gringotts. Dan kita perlu Logam Gerincing.” “Imperio!” Harry memantrai lagi; suaranya bergema di jalan berbatu dan merasakan lagi sensasi keras yang mengalir dari pikirannya ke tongkat. Bogrod patuh lagi pada kemauannya, ekspresi bingungnya berubah menjadi sikap acuh tak acuh yang sopan, Ron segera mengambilkan tas kulit berisi benda-benda logam. “Harry, kurasa aku mendengar orang datang,” kata Hermione dan dia mengarahkan tongkat Bellatrix pada air terjun dan berteriak, “Protego!”. Mereka melihat Mantra Pelindung membelah aliran air sihir itu saat mengguyur jalan. “Ide yang bagus,” kata Harry, “Tunjukkan jalannya, Griphook!” “Bagaimana caranya kita keluar lagi?” tanya Ron saat mereka bergegas berjalan kaki ke dalam kegelapan mengikuti Griphook, Bogrod terengah-engah di belakang mereka seperti anjing tua. “Kita pikirkan nanti saja kalau sudah saatnya,” kata Harry. Dia mencoba mendengarkan: Ia merasa mendengar sesuatu bergerincing dan bergerak dekat di sekitar mereka. “Griphook, apa masih jauh?” “Tak jauh, Harry Potter, tak jauh….” Mereka berbelok di pojok dan melihat sesuatu yang sebenarnya Harry sudah bersiap diri, tapi masih juga mereka mendadak berhenti. Seekor naga raksasa terikat rantai ke lantai di tanah depan mereka, menghalangi jalan masuk menuju empat atau lima lemari besi terdalam di tempat itu. Sisik makhluk itu berubah pucat dan pecah-pecah selama pengurungan yang begitu lama di bawah tanah, matanya memucat merah jambu; kedua kaki belakangnya dipasangi semacam manset berat yang dihubungkan rantai dengan pasak sangat besar yang terpancang jauh ke dalam lantai berbatu. Sayapnya yang besar, terlipat di dekat tubuhnya, akan memenuhi ruangan jika ia merentangkannya, dan ketika ia menolehkan kepalanya ke arah mereka, ia berkoar dengan suara ribut yang membuat batu-batu bergetar, lalu ia membuka mulut, dan menyemburkan api yang membuat mereka semua berlari kembali ke jalan naik. “Ia setengah buta,” kata Griphook terengah-engah, “tapi itu justru membuatnya lebih buas. Bagaimanapun kita diharuskan mengendalikannya. Ia telah mengetahui apa yang menantinya ketika Logam Gerincing datang. Berikan padaku Logamnya.“ Ron memberikan tas kepada Griphook, dan goblin itu mengambil beberapa alat-alat logam kecil yang jika digerakkan menimbulkan suara gemerincing yang panjang seperti miniatur palu pada landasan besi tempa. Griphook membagi-bagikannya, Bogrod menerimanya dengan patuh. “Kalian tahu apa yang harus dilakukan,“ Griphook berkata pada Harry, Ron dan Hermione. “Mungkin akan terasa sakit ketika mendengar suaranya, tapi ia akan mundur dan Bogrod harus meletakkan tangannya pada pintu lemari besi.“ Mereka bergerak maju di sekitar tikungan lagi, menggoyangkan kunci-kunci dan suaranya bergema di dinding berbatu, semakin besar sampai-sampai isi tengkorak Harry seperti ikut bergetar bersama ruangan. Naga itu meraung lagi, lalu mundur. Harry bisa melihatnya gemetar, dan saat mereka mendekat dia melihat bekas luka karena sayatan yang jelek di wajah naga itu dan menduga ia pasti diajar untuk takut pada pedang panas ketika mendengar suara Logam Gerincing. “Suruh dia menekan tangannya pada pintu,“ Griphook mengingatkan Harry, yang segera mengarahkan tongkatnya lagi pada Bogrod. Goblin tua itu menurut, menekan telapak tangannya pada pintu kayu, dan pintu lemari besi meleleh menampilkan ruangan seperti gua yang penuh berjejalan koin-koin emas dan piala-piala, baju besi perak, kulit makhluk-makhluk aneh –beberapa dengan duri-duri panjang, lainnya dengan sayap-sayap rontok—ramuan dalam botol berkilau dan sebuah tengkorak yang masih memakai mahkota. “Cepat, cari!“ kata Harry saat mereka bergegas masuk ke dalamnya. Dia telah menggambarkan bentuk Piala Hufflepuff kepada Ron dan Hermione, tapi jika itu yang lain, Horcrux tak diketahui yang terdapat di ruangan ini, ia tak tahu seperti apa bentuknya. Bagaimanapun Harry hampir tak punya waktu untuk memandang sekeliling, sebelum suara bising menutup dari belakang mereka: Pintu telah muncul kembali, mengunci mereka di dalam lemari besi dan mereka terjebak dalam kegelapan total. “Jangan kuatir, Bogrod akan mengeluarkan kita!“ kata Griphook ketika Ron berteriak terkejut. “Nyalakan tongkat kalian, bisa kan? Dan cepatlah, waktu kita hanya sedikit!“ “Lumos!“ Harry menyinari sekitar lemari besi dengan tongkatnya yang menyala. Cahayanya menerpa perhiasan yang berkilau; dia melihat pedang Gryffindor palsu tergeletak diatas rak tinggi diantara rantai yang campur aduk. Ron dan Hermione juga menyalakan tongkat mereka, dan sekarang sedang memeriksa tumpukan benda-benda di sekitar mereka. “Harry, apakah ini --? Aahh!“ Hermione menjerit kesakitan, Harry langsung mengarahkan tongkat kepadanya dan melihat piala permata berguling dari pegangannya. Tapi saat piala itu jatuh, ia membelah, berubah menjadi hujan piala, sehingga sedetik kemudan, dengan bunyi gemerincing yang berisik, lantai tertutup piala-piala identik di semua penjuru, yang asli tak mungkin dibedakan lagi. “Piala itu membakarku!“ rintih Hermione, mengibas-ngibaskan tangan yang melepuh. “Mereka pasti menambahkan Kutukan Penumbuh dan Pembakar****,“ kata Griphook. “Semua yang kau sentuh akan terbakar dan menjadi banyak, tapi tiruannya tidak berharga—jika kalian meneruskan memegang harta, kalian akhirnya akan hancur menuju kematian karena tertimbun emas yang terus bertambah.“ “Oke, jangan menyentuh apapun!“ kata Harry putus asa, tapi bahkan saat ia mengatakannya, Ron tak sengaja menyentuh salah satu piala dengan kakinya, dan duapuluh piala lagi muncul ketika Ron melompat di tempat, sebagian sepatunya terbakar karena bersentuhan dengan logam panas. “Tetap disitu, jangan bergerak!“ kata Hermione sambil mencengkeram Ron. “Cukup lihat saja sekeliling!“ kata Harry. “Ingat piala itu kecil dan emas, ada lambang terukir di atasnya, dua pegangan –lihat juga barangkali kalian menemukan lambang Ravenclaw di suatu tempat, elang—.“ Mereka mengarahkan tongkat ke setiap sudut dan celah, berputar di tempat dengan hatihati. Sangat tidak mungkin tidak menyentuh apapun: Harry menambahkan segunung galleon palsu bersama piala-piala, dan sekarang sulit sekali mendapatkan tempat untuk kaki mereka, dan emas berkilau menyala karena panas, sehingga lemari besi itu terasa seperti tungku. Nyala tongkat Harry melewati pelindung dan helm buatan-goblin tergeletak dirak yang tergantung di langit-langit; ia mengangkat sinar semakin tinggi, hingga akhirnya ia menemukan sebuah benda yang membuat jantungnya berdegup kencang dan tangannya berkeringat. “Itu dia, di atas sana!“ Ron dan Hermioe mengarahkan tongkat mereka kesana juga, sehingga piala emas kecil itu berkilau diterpa sinar-tiga-penjuru: piala yang merupakan milik Helga Hufflepuff, yang berpindah menjadi milik Hebzibah Smith, dari siapa Tom Riddle telah mencurinya. ”Dan bagaimana kita bisa naik ke sana tanpa menyentuh apapun?” tanya Ron. “Accio piala!” raung Hermione, yang karena putus asa telah melupakan kata-kata Griphook saat sesi perencanaan. “Tak ada gunanya, tak ada gunanya!” teriak Griphook. “Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Harry, memandang dengan marah kepada si Goblin, “Jika kau ingin pedang itu, Griphook, kau harus membantu kami lebih dari – tunggu! Bisakah aku memegang benda dengan pedang itu? Hermione, berikan pedangnya!“ Hermione meraba ke dalam jubahnya, menarik keluar tas manik-manik, menggeledah sebentar, lalu memindahkan pedang berkilau. Harry menangkap pangkal pedang yang berwarna merah tua itu dan menyentuhkan ujung mata pedangnya ke sebuah botol besar perak di dekatnya, yang ternyata tidak bertambah banyak. “Kalau aku bisa menusukkan pedang melalui pegangan piala –tapi bagaimana aku bisa naik kesana?“ Rak tempat piala itu bertengger sangat jauh dari jangkauan mereka, bahkan juga Ron, yang tubuhnya paling tinggi. Panas dari harta karun sihir itu semakin membumbung ke angkasa. Keringat membanjiri wajah dan punggung Harry saat dia berusaha memikirkan cara untuk naik menuju piala; lalu dia mendengar sang naga meraung di sisi lain pintu lemari besi, dan suara gemerincing terdengar semakin keras. Mereka benar-benar terjebak sekarang: Tak ada jalan lain kecuali lewat pintu, dan sekelompok goblin tampaknya semakin mendekat di balik pintu. Harry memandang Ron dan Hermione dan terlihat ekspresi ngeri di wajah keduanya. “Hermione,“ panggil Harry, ketika suara gemerincing semakin dekat. “Aku harus naik kesana, kita harus membebaskan diri dari ini—“ Hermione mengangkat tongkatnya, mengarahkannya pada Harry dan berbisik, “Levicorpus.” Tergantung terbalik di pergelangan kakinya, Harry terangkat ke udara, menabrak setelan baju besi dan tiruannya menyembur keluar seprti tubuh-tubuh putih panas, berjejalan mengisi ruangan. Dengan teriakan kesakitan, Ron, Hermione dan kedua goblin terdorong kesamping mengenai benda-benda lain, yang juga mulai berduplikasi. Setengah terkubur dalam gunungan arus harta yang panas memerah, mereka berjuang dan berteriak, Harry menusukkan pedang melalui pegangan piala Hufflepuff, mengaitkannya ke mata pedang. “Impervius!” jerit Hermione berusaha melindungi dirinya, Ron dan kedua goblin dari logam yang membara. Lalu jeritan yang sangat mengerikan membuat Harry memandang ke bawah: Ron dan Hermione tenggelam sebatas pinggang, berjuang mencegah Bogrod agar tidak terkubur dalam gunungan harta, tapi Griphook sudah tidak kelihatan; hanya sedikit ujung jari panjangnya yang terlihat. Harry menangkap jari Griphook dan menariknya. Goblin yang melepuh itu muncul sedikit demi sedikit, melolong. “Liberatocorpus!” teriak Harry, dan dengan dentuman keras ia dan Griphook mendarat di permukaan harta yang terus membengkak, lalu pedang Gryffindor lepas dari tangan Harry. “Ambil itu!” Harry berteriak, melawan rasa sakit di kulitnya karena panas logam, ketika Griphook memanjat ke bahunya lagi, berusaha menghindar dari benda-benda panas kemerahan yang terus-menerus bertambah. “Dimana pedangnya? Ada pialanya!” Suara gemerincing di balik pintu semkin memekakkan telinga –sudah terlambat--. “Disana!” Griphooklah yang melihatnya dan dia jugalah yang sekonyong-konyong bergerak cepat, dengan segera Harry menyadari bahwa goblin itu tak pernah mengharapkan mereka memegang janjinya. Satu tangan berpegang kuat pada segenggam rambut Harry, untuk memastikan dia tidak jatuh ke dalam lautan emas membara, Griphook menangkap gagang pedang dan mengayunkannya tinggi di atas jangkauan Harry. Piala emas kecil, yang pegangannya ditusuk mata pedang itu, terlempar ke udara. Goblin itu duduk mengangkangi Harry, Harry menukik dan menangkap piala, dan walaupun ia bisa merasakannya membakar dagingnya, ia tak mau melepaskan, bahkan ketika tak terhitung banyaknya piala Hufflepuff menyembur dari genggamannya, membanjirinya ketika pintu masuk lemari besi terbuka lagi dan ia merasakan dirinya terlincir tak terkendali diatas longsoran emas dan perak menyala-menyala yang terus membengkak dan mendorong dia, Ron dan Hermione keluar ruangan. Hampir tak menyadari rasa sakit yang membakar tubuhnya, dan masih bergerak bersama duplikat harta yang terus membengkak, Harry memasukkan piala ke dalam sakunya, meraih-raih untuk mendapatkan kembali pedang Gryffindor, tapi Griphook telah menghilang. Meluncur dari bahu Harry saat ia masih sempat, Griphook berlari untuk berlindung diantara goblin yang mengelilinginya, mengayunkan pedang dan berteriak, “Pencuri! Pencur! Tolong! Pencuri!” Dia menghilang di tengah kerumunan yang mendekat, yang semuanya memegang pisau belati dan yang langsung bersedia menerimanya tanpa bertanya-tanya. Tergelincir di logam panas, Harry berusaha untuk berdiri dan menyadari bahwa satusatunya jalan keluar adalah melewati mereka. “Stupefy!” ia berteriak, Ron dan Hermione bergabung: kilatan cahaya merah berkelebatan diantara kerumunan goblin, beberapa tumbang tapi lainnya bertahan, dan Harry melihat beberapa penyihir berjaga di sekitar tikungan. Sang naga yang terikat meraung, dan api menyembur ke arah goblin; para penyihir melarikan diri, menunduk, kembali menuju jalan masuk, dan sebuah inspirasi, atau kegilaan, muncul di kepala Harry. Mengarahkan tongkatnya pada manset tebal yang mengikat makhluk itu ke lantai, dia berteriak, “Relashio!” Manset itu pecah dengan suara keras. “Sebelah sini!” teriak Harry, dan masih melancarkan Mantra Pemingsan ke arah goblin yang mendekat, dia berlari ke arah naga buta. “Harry –Harry—apa yang kau lakukan?” jerit Hermione. “Naik sini, ayo, cepat—“ Naga itu tak menyadari kebebasannya: Kaki Harry merasakan lekukan kaki belakang naga dan dia memanjat ke punggungnya. Sisiknya sekeras baja; makhluk itu bahkan seperti tidak merasakan kehadirannya. Harry merentangkan lengan; Hermione menaikkan tubuhnya ke atas; Ron memanjat di belakangnya, dan sedetik kemudian sang naga menyadari ia tak lagi terikat. Dengan satu raungan dia berdiri di kaki belakangnya: Harry menekan lututnya, berpegangan seerat mungkin pada sisik yang menonjol ketika sayap-sayapnya membuka, menyapu ke samping goblin-goblin yang menjerit-jerit, bagaikan bowling, dan membumbung tinggi ke udara. Harry, Ron dan Hermione, menunduk di punggungya, bergesekan dengan langit-langit ketika makhluk itu meluncur ke arah jalan yang terbuka, sementara goblin-goblin yang mengejar melempari pisau belati yang hanya memantul di sisi-sisi tubuhnya. “Kita takkan pernah bisa keluar, ini terlalu besar!” jerit Hermione, tapi sang naga membuka mulutnya dan menyemburkan api lagi, meledakkan terowongan, yang lantai dan langit-langitnya retak dan ambruk. Dengan sedikit kekuatan, naga itu mencakarcakar dan berusaha mencari jalan keluar. Mata Harry terpejam karena panas dan debu: Telinganya pekak oleh bunyi pecahan batu dan raungan naga, dia hanya bisa berpegangan pada punggung makhluk itu, berharap bisa melepaskan diri pada saat yang tepat, lalu ia mendengar Hermione berteriak, “Defodio!” Dia sedang berusaha membantu sang naga memperbesar jalan keluar, menjebol langitlangit saat makhluk itu berjuang naik menuju udara segar, jauh dari goblin yang berteriak-teriak dan gemerincing: Harry dan Ron menirunya, meledakkan langit-langit dengan lebih banyak mantra pencungkil. Mereka melewati danau bawah tanah, dan akhirnya makhluk besar yang merangkak dan menggeram itu tampaknya merasakan kebebasan dan ruang gerak, dan di belakang mereka jalan yang tadi dilalui penuh dengan sampah, ekor berduri, reruntuhan batu, pecahan stalagtit raksasa, dan suara gemerincing goblin tampak semakin menjauh, sementara di depan, api sang naga memastikan gerak mereka selanjutnya lancar— Dan akhirnya, kombinasi antara usaha mantra-mantra mereka dan kekuatan brutal sang naga, mereka telah meledakkan jalan keluar menuju aula pualam. Goblin dan penyihir menjerit-jerit dan berlarian mencari perlindungan, dan akhirnya sang naga mempunyai ruang untuk merentangkan sayapnya: Mengangkat kepala bertanduk ke arah udara dingin luar yang bisa dirasakannya melalui jalan masuk, ia melambung, dan dengan Harry, Ron dan Hermione masih berpegangan di punggungnya, makhluk itu mendobrak jalan melalui pintu logam, meninggalkannya terkait dan tergantung di engselnya, ketika ia terbang terhuyung-huyung melewati Diagon Alley dan melambung tinggi ke angkasa. -=-=-=-=--=-=-=-=-= * Clankers**Chusioning Charm ***The Thief’s Downfall ****Germino and Flagrante Curses Chapter 27 The Final Hiding Place Tempat Persembunyian Terakhir Tak ada cara untuk mengendalikan sang naga; naga itu tak dapat melihat kemana ia pergi, dan Harry tahu bahwa jika naga itu berbelok dengan tajam atau berputar di udara, maka tidak mungkin bagi mereka untuk berpegangan ke punggungnya yang lebar. Meskipun demikian, saat mereka terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, London terbentang di bawah mereka seperti peta berwarna abu-abu dan hijau, perasaan gembira Harry yang meluap adalah suatu bentuk syukur atas sebuah pelarian yang nampak tidak mungkin. Ia membungkukkan badannya di atas leher naga itu, berpegang erat pada sisik-sisik metalik, dan angin sepoi-sepoi yang sejuk terasa menenangkan di kulitnya yang terbakar dan melepuh, sayap naga itu berkepak di udara seperti putaran kincir angin. Di belakangnya, apakah karena takut atau gembira Harry tidak tahu, namun Ron tak henti-hentinya menyerukan sumpah-serapah sekuat yang ia bisa, dan Hermione kelihatan menangis tersedu-sedu. Setelah lima menit atau lebih, Harry kehilangan sebagian rasa takut bahwa naga itu akan melemparkan mereka dari punggungnya, karena naga itu kelihatannya tidak bermaksud apapun kecuali pergi sejauh mungkin dari penjara bawah tanah; walaupun begitu pertanyaan tentang bagaimana dan kapan mereka akan turun masih terasa agak menakutkan. Harry tidak tahu berapa lama seekor naga dapat terbang tanpa mendarat, atau bagaimana naga ini, yang nyaris tak dapat melihat, dapat menemukan tempat yang baik untuk mendarat. Ia melihat keadaan sekitar terus-menerus, dan membayangkan bahwa ia dapat merasakan tempat ia duduk menusuknya. Berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum Voldemort mengetahui bahwa mereka telah menerobos masuk ke brankas penyimpanan* milik Lestrange? Seberapa cepat para goblin dari Gringgots melaporkannya kepada Bellatrix? Seberapa cepat mereka menyadari apa yang telah diambil? Lalu, kapan mereka akan menyadari bahwa piala emas telah hilang? Voldemort akan tahu, pada akhirnya, bahwa mereka sedang berburu Horcrux. Sang naga sepertinya menginginkan udara yang lebih sejuk dan segar. Ia terbang terusmenerus, hingga mereka terbang melalui gumpalan awan yang dingin, dan Harry tak bisa lagi melihat titik-titik kecil beraneka warna yang sebenarnya adalah mobil yang keluarmasuk ibu kota di bawah mereka. Mereka terus terbang, di atas daerah pedesaan yang tampak seperti sebidang kain penuh tambalan berwarna hijau dan coklat, melintasi jalanjalan dan sungai-sungai yang meliuk-liuk melalui pemandangan seperti potonganpotongan pita, baik yang pudar maupun mengkilap. “Menurutmu, apa yang dicarinya?” Ron berteriak saat mereka terbang lebih jauh dan lebih jauh lagi ke utara. “Entahlah,” Harry berteriak kembali kepada Ron. Tangannya terasa kebas karena dingin, tetapi ia tak berani untuk mencoba melepaskan genggamannya. Harry membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka melintasi garis pantai di bawah mereka, jika sang naga menuju ke laut lepas. Belum lagi dengan keadaan naga itu yang kelaparan dan kehausan. Kapan, Harry bertanya-tanya dalam hati, makhluk ini terakhir kali makan? Tentu saja ia akan membutuhkan makanan tak lama lagi? Dan bagaimana jika, pada suatu saat, ia menyadari bahwa ada tiga orang manusia yang dapat dimakan sedang duduk di punggungnya? Matahari mulai tergelincir di langit, yang berubah warna menjadi nila; dan naga itu masih terbang, kota besar dan kecil di bawah mereka melintas cepat, sejenak tampak dan sejenak tak terlihat lagi, bayangan naga yang sangat besar itu meluncur di atas bumi bagaikan awan hitam raksasa. Semua bagian tubuh Harry terasa sakit karena usahanya untuk berpegangan pada punggung naga itu. “Apakah ini hanya perasaanku,” teriak Ron setelah beberapa saat dalam kesunyian, “atau kita memang kehilangan ketinggian?” Harry menoleh ke bawah dan melihat pegunungan dan danau yang hijau, sedikit berwarna tembaga saat matahari terbenam. Pemandangannya kelihatan lebih besar dan jelas ketika ia melihatnya melalui bagian samping tubuh sang naga, dan Harry membayangkan apakah sang naga telah meramalkan adanya air segar dengan kilasankilasan pantulan cahaya matahari. Naga itu terbang lebih rendah dan lebih rendah lagi, berputar-putar membentuk lingkaran yang sangat besar, semakin mendekat ke atas permukaan sebuah danau kecil. “Menurutku kita harus melompat begitu naga ini terbang cukup rendah!” Harry berkata pada yang lain, “Langsung ke dalam air sebelum ia menyadari kita di sini!” Mereka menyetujuinya, Hermione sedikit pucat, sekarang Harry dapat melihat perut bagian bawah naga yang lebar dan berwarna kuning berdesir di atas permukaan air. “SEKARANG!” Ia merayap di atas punggung naga dan terjun ke danau dengan kaki terlebih dahulu; dengan jarak yang ternyata lebih jauh daripada yang ia perkirakan dan ia menghantam air dengan sangat keras, jatuh bagaikan sebuah batu ke dalam dunia yang sangat dingin, hijau, dan dipenuhi alang-alang. Ia berenang ke arah permukaan dan muncul, terengahengah, untuk melihat riak membulat yang sangat besar, di tempat Ron dan Hermione jatuh. Naga itu kelihatannya tidak menyadari apapun, ia telah pergi sejauh lima puluh kaki, menukik rendah di atas danau untuk mengambil air dengan moncongnya yang berluka. Ketika Ron dan Hermione muncul, gemetar dan terengah-engah, dari kedalaman danau, naga itu terbang lagi, sayapnya mengepak sangat keras, dan akhirnya mendarat di tepi danau yang jauh. Harry, Ron, dan Hermione berenang menuju ke pantai yang berlawanan dengan sang naga. Danaunya tak nampak dalam. Tidak berapa lama kemudian mereka tidak lagi berenang, akan tetapi lebih mirip bergumul dengan alang-alang dan lumpur, namun pada akhirnya mereka berhasil naik ke rumput yang licin dengan keadaan basah kuyup dan kelelahan. Hermione jatuh, batuk-batuk dan ketakutan. Meskipun Harry dapat berbaring dan tidur dengan gembira, ia berdiri terhuyung-huyung di atas kakinya, mengeluarkan tongkat, dan mulai memasang mantra pelindung seperti biasa di sekitar mereka. Ketika ia telah selesai, ia bergabung dengan yang lain. Itu adalah kali pertama Harry melihat wajah kedua temannya sejak mereka melarikan diri dari brankas penyimpanan* Gringgots. Wajah mereka berdua merah terbakar di mana-mana, dan pakaiannya terbakar pula di beberapa tempat. Mereka bergerenyit kesakitan ketika mereka mengoleskan sari dittany ke atas luka-luka mereka yang banyak. Hermione memberikan botol sari dittany tersebut kepada Harry, lalu ia mengambil tiga botol jus labu yang dibawanya dari Pondok Kerang dan jubah yang bersih, dan kering untuk mereka bertiga. Mereka berganti jubah, kemudian meneguk habis jus labu itu. "Yah, berita baiknya," kata Ron akhirnya, yang sedang duduk sambil melihat kulit di tangannya tumbuh kembali,"kita mendapatkan Horcrux itu. Berita buruknya -" "-- tidak ada pedang," potong Harry dengan gigi bergeretak, sambil meneteskan sari dittany melalui lubang bekas terbakar pada celana jeansnya ke atas luka bakar yang besar di bawahnya. "Tidak ada pedang," ulang Ron. "Pengkhianat kecil tukang tipu itu..." Harry menarik Horcrux itu keluar dari saku jaketnya yang basah, yang baru ia lepas dan tergeletak di atas rumput di depan mereka. Benda itu berkilau ditimpa cahaya matahari, dan menarik perhatian mereka sembari mereka meneguk botol-botol jus labu mereka. "Setidaknya kita tak bisa memakainya kali ini, benda itu pasti akan kelihatan aneh jika bergantung di leher kita," kata Ron, seraya menyeka mulut dengan punggung tangannya. Hermione melihat ke seberang danau, ke tepi yang jauh dari mereka di mana naga itu masih minum. “Apakah kau memikirkan apa yang akan terjadi pada naga itu nanti?” ia bertanya, “Apakah ia akan baik-baik saja?’ “Kau mulai kedengaran seperti Hagrid,” kata Ron, “Ia seekor naga, Hermione, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Kau seharusnya lebih mengkhawatirkan tentang kita.” “Apa maksudmu?” “Yah, aku tak tahu bagaimana menjelaskan hal ini padamu,” kata Ron “Tapi kurasa mereka mungkin sudah tahu kalau kita mengacau di Gringgots.” Mereka bertiga mulai tertawa, dan begitu mulai, sulit untuk berhenti. Tulang rusuk Harry terasa sakit, ia merasa pusing karena kelaparan, namun ia kembali berbaring di rumput, di bawah langit yang mulai kemerahan dan terus tertawa hingga kerongkongannya terasa kering. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?' kata Hermione akhirnya, berusaha untuk kembali serius. "Ia akan tahu kan? Kau-Tahu-Siapa akan mengetahui bahwa kita tahu mengenai Horcrux-Horcrux nya!" “Mungkin mereka akan terlalu takut untuk mengatakan padanya!” kata Ron penuh harap, “Mungkin mereka akan menutup-nutupi --” Langit, bau air danau, dan suara Ron, lenyap. Sakit membelah kepala Harry seperti sebuah tebasan pedang. Ia sedang berdiri di dalam ruangan bercahaya temaram, dan dikelilingi oleh penyihir-penyihir yang membentuk setengah lingkaran, dan di lantai tepat di kakinya sedang berlutut seorang makhluk kecil, yang sedang gemetar. "Apa kau bilang tadi?" Suaranya tinggi dan dingin, namun amarah dan rasa takut membara dalam dirinya. Satu-satunya hal yang ditakutinya - tapi ini tidak mungkin benar, ia tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi... Goblin itu gemetaran, tidak berani menatap mata yang merah di atasnya. “Katakan lagi!” bisik Voldemort. “Katakan lagi!” “T-Tuanku,”goblin itu tergagap, matanya yang hitam terbelalak ketakutan, “T-Tuanku… Kami m-mencoba untuk me-menghentikan mereka… Pa-para penyamar itu, Tuanku… menerobos – menerobos masuk ke dalam – ke dalam brankas penyimpanan milik Lestrange…” “Penyamar? Penyamar apa? Aku kira Gringgots mempunyai cara membongkar penyamaran dan penipuan? Siapa mereka?” “Mereka adalah… mereka adalah… b-bocah P-Potter dan k-kedua orang temannya…” “Dan apa yang mereka ambil?” katanya, suaranya meninggi, ia ketakutan luar biasa, “Katakan padaku! Apa yang telah mereka ambil?” “Sebuah.. Sebuah p-piala emas k-kecil T-Tuanku…” Teriakan amarah dan pengkhianatan meninggalkan raganya bak diteriakkan bukan olehnya. Ia telah dibuat gila, dan kebingungan, itu tidak mungkin benar, itu tidak mungkin, tak ada yang tahu mengenai hal ini. Bagaimana mungkin anak itu mengetahui rahasianya? Tongkat Elder terayun membelah udara dan mengeluarkan sinar hijau yang melintasi ruangan; goblin yang berlutut itu mati tergelimpang; para penyihir yang menyaksikan dari depannya menyebar, ketakutan. Bellatrix dan Lucius Malfoy melemparkan goblin yang berada di belakang mereka dalam usaha mereka menuju pintu, berulang-ulang kali tongkatnya teracung, dan semua goblin yang tersisa dibunuh karena membawa berita tentang hilangnya piala emas itu - Sendirian di tengah-tengah mayat para goblin itu ia menghentak-hentakkan kakinya, dan bayangan-bayangan tersebut menghampirinya: harta bendanya, pelindungnya, jangkarnya menuju keabadian - buku harian itu telah hancur dan piala itu telah dicuri. Bagaimana jika, bagaimana jika, anak itu tahu tentang yang lainnya? Tahukah ia, sudahkah ia bertindak, apakah ia telah menemukan Horcrux lainnya? Apakah Dumbledore dalang dari semua ini? Dumbledore yang selalu mencurigainya; Dumbledore, yang telah mati karena perintahnya; Dumbledore, yang tongkatnya menjadi miliknya sekarang, yang juga menjangkaunya dari balik kematian, melalui anak itu, anak itu -. Akan tetapi jika anak itu benar-benar telah menghancurkan salah satu dari Horcruxnya, pastinya ia, Lord Voldemort, akan mengetahuinya, akan merasakannya? Ia, penyihir terhebat di dunia; ia, penyihir terkuat; ia, pembunuh Dumbledore dan banyak orangorang tak dikenal dan tak berharga lainnya. Bagaimana mungkin Lord Voldemort tidak tahu, jika ia, ia sendiri, penyihir yang paling penting dan berharga, telah diserang, dirusakkan? Memang benar, ia tidak merasakan apa-apa pada saat buku harian itu dihancurkan, tetapi ia berpikir itu karena saat itu ia tidak mempunyai tubuh untuk merasakan, tidak lebih dari hantu... Tidak, pasti, yang lainnya aman… Horcrux yang lain pasti masih utuh... Tetapi ia harus tahu, ia harus memastikannya... Ia melangkah meninggalkan ruangan, menendang mayat goblin ketika ia melewatinya, dan bayangan-bayangan yang samar melintas di otaknya yang terasa mendidih: danau, pondok, dan Hogwarts - Sebuah pikiran yang menenangkan amarahnya muncul tiba-tiba. Bagaimana mungkin anak itu mengetahui bahwa ia menyembunyikan cincin di pondok Gaunt? Tak ada seorang pun yang tahu kalau ia punya hubungan dengan keluarga Gaunt, ia telah menyembunyikan hubungan tersebut, pembunuhan itu tak pernah dilacak sampai pada dirinya. Cincin itu, pasti, masih aman. Dan bagaimana mungkin anak itu, atau orang lain, mengetahui tentang gua itu atau menembus perlindungannya? Pemikiran tentang kalung itu telah dicuri tak terlintas di benaknya… Dan mengenai yang di Hogwarts: Hanya ia yang tahu di mana ia menyimpan Horcrux itu, karena ia lah yang menyusun rahasia tempat itu... Dan masih ada Nagini, yang harus selalu berada di dekatnya mulai saat ini, tak akan disuruh untuk melakukan apa-apa lagi, selalu berada di bawah pengawasannya … Tetapi untuk memastikannya, untuk benar-benar memastikannya, ia harus kembali ke masing-masing tempat persembunyiannya, ia harus menggandakan perlindungan di sekitar Horcrux-Horcrux nya... Suatu pekerjaan yang harus ia lakukan sendiri, seperti saat ia mencari Tongkat Elder... Tapi yang mana yang harus ia kunjungi terlebih dahulu, yang mana yang berada dalam bahaya yang terbesar? Sebuah kekhawatiran lama terlintas di benaknya. Dumbledore mengetahui nama tengahnya... Dumbledore pasti mengetahui hubungannya dengan para anggota keluarga Gaunt itu... Pondok itu mungkin yang paling berpotensi untuk ditemukan oleh mereka, kesanalah ia harus pergi terlebih dahulu... Danau itu, pasti tidak mungkin... meskipun ada sedikit kemungkinan Dumbledore mengetahui beberapa kelakuan buruknya di masa lalu, melalui panti asuhan itu. Dan Hogwarts.. meskipun begitu, ia yakin kalau Horcrux-nya yang disembunyikan di Hogwarts aman; tidak mungkin bagi Potter untuk masuk ke Hogsmeade tanpa ketahuan, jadi biarkanlah yang di Hogwarts. Meskipun demikian, ada baiknya untuk memperingati Snape mengenai kemungkinan anak itu akan mencoba masuk ke kastil. … Untuk mengatakan kepada Snape mengapa anak itu mungkin kembali, tentu adalah ide bodoh; ia telah membuat kesalahan yang sangat fatal dengan mempercayai Bellatrix dan Malfoy. Bukankah kebodohan dan kecerobohan mereka telah membuktikan betapa tidak bijaksananya untuk mempercayakan rahasianya kepada orang lain? Ia akan pergi ke pondok Gaunt terlebih dahulu, dan membawa Nagini bersamanya. Ia tak akan berpisah dari ular itu lagi... dan ia meninggalkan ruangan itu, melalui aula, dan menuju ke kebun yang gelap di mana terdapat air mancur yang sedang memancurkan air; ia memanggil Nagini dengan Parseltongue dan ular itu merayap mengikutinya seperti sebuah bayangan yang panjang… Mata Harry mendadak terbuka saat ia kembali ke dirinya sendiri. Ia sedang berbaring di tepi danau sambil menatap matahari yang sedang terbenam, Ron dan Hermione menatap ke arahnya. Menilai dari wajah khawatir mereka, dan bekas lukanya yang masih sakit, penglihatan yang mendadak ke dalam pikiran Voldemort tadi sepertinya diketahui oleh mereka. Ia bangkit dengan susah payah, gemetar, merasa terkejut karena mendapati pakaian dan kulitnya masih basah, dan melihat piala itu tergeletak di rumput di dekatnya, dan danau, berwarna biru keemasan di saat matahari tenggelam. "Ia tahu." Suaranya sendiri terdengar aneh dan rendah setelah tadi ia mendengar teriakan tinggi milik Voldemort keluar dari mulutnya. "Ia mengetahuinya dan akan segera memeriksa Horcrux lainnya, dan yang terakhir," ia telah berdiri, "ada di Hogwarts. Aku tahu. Aku tahu." "Apa?" Ron menatap heran ke arah Harry; Hermione duduk tegak, kelihatan khawatir. “Tapi apa yang kau lihat tadi? Bagaimana kau tahu?” "Aku melihat ia mengetahui tentang piala itu, Aku - aku berada di dalam kepalanya, Ia" - Harry mengingat tentang pembunuhan itu - "Ia benar-benar marah, dan juga takut, ia tidak mengerti bagaimana kita tahu, dan sekarang ia sedang memeriksa apakah Horcrux lainnya aman, cincin itu terlebih dahulu. Ia mengira kalau yang di Hogwarts adalah yang paling aman, karena ada Snape di sana, dan akan sangat sulit bagi kita untuk bisa masuk ke sana tanpa diketahui orang lain. Aku rasa ia akan memeriksa yang di Hogwarts belakangan, tapi ia masih bisa ke sana dalam beberapa jam – " "Apakah kau melihat di bagian mana dari Hogwarts benda itu berada?" tanya Ron, yang sekarang juga berusaha berdiri. “Tidak, ia berkonsentrasi untuk memberi peringatan kepada Snape, ia tidak memikirkan di mana tepatnya Horcrux itu berada - ” "Tunggu, tunggu!" jerit Hermione ketika Ron menyambar Horcrux itu dan Harry mengambil Jubah Gaib lagi. "Kita tidak bisa pergi begitu saja, kita belum mempunyai rencana, kita harus - " "Kita harus pergi," kata Harry dengan suara keras. Ia sangat ingin tidur di dalam tenda baru mereka, tetapi itu tidak mungkin sekarang, "Dapatkah kau bayangkan apa yang akan ia lakukan ketika ia menyadari bahwa cincin dan liontin itu telah hilang? Bagaimana jika ia memindahkan Horcrux yang berada di Hogwarts karena menganggap tempat itu tidak cukup aman? "Tapi bagaimana cara kita masuk ke sana?" "Kita akan pergi ke Hogsmeade," kata Harry, "dan mencoba melakukan sesuatu ketika kita sudah melihat perlindungan seperti apa yang dilakukan oleh para DE di sekolah. Masuk ke bawah Jubah, Hermione, aku ingin kita tetap bersama sekarang." “Tapi kita tidak benar-benar cukup –“ “Hari sudah gelap,tak akan ada yang dapat melihat kaki kita.” Suara kepakan sayap yang sangat besar menggema dari seberang danau yang gelap. Naga itu sudah puas minum dan kini akan terbang lagi. Mereka berhenti sesaat dari kesibukannya untuk memperhatikan naga itu terbang meninggi, hingga menembus awan yang hitam dan menghilang di balik pegunungan. Lalu Hermione berjalan menuju ke arah kedua orang temannya dan berdiri di tengah-tengah, Harry menarik Jubah Gaib sejauh yang ia bisa, dan mereka pun berputar di titik itu bersama-sama berjalan menuju kegelapan. * kata vault (atau storage vault) umumnya digunakan sebagai kata untuk menunjukkan tempat untuk menyimpan barang berharga dalam jumlah yang besar. Bentuknya bermacam-macam, namun tidak selalu membentuk kubah. Bila ingin melihat bentuk umum dari vault, maka dapat menonton film Ocean’s Eleven, atau membaca komik Donal Bebek (ya, Gudang Uang Paman Gober adalah contoh bagus untuk storage vault). Bab 28 The Missing Mirror Cermin yang Hilang Kaki Harry menyentuh jalan. Ia melihat pemandangan yang menyakitkan, Jalan Utama Hogsmeade yang dikenalnya: bagian depan toko-toko yang gelap, garis bentuk pegunungan yang gelap di belakang desa, belokan jalan di depan yang menuju Hogwarts, cahaya yang tercurah dari jendela Three Broomstick, dan dengan sentakan di jantungnya, diingatnya, dengan ketepatan yang menusuk, bagaimana dia pernah mendarat di sini, nyaris setahun lalu, memapah Dumbledore yang lemah; kesemuanya dalam sedetik, saat mendarat—kemudian, saat ia mengendurkan pegangan pada lengan Ron dan Hermione, hal itu terjadi. Udara terbelah oleh jeritan yang terdengar seperti jeritan Voldemort saat Voldemort menyadari piala sudah dicuri; mengoyak tiap helai syaraf di tubuh Harry, dan ia segera tahu bahwa kemunculan merekalah penyebabnya. Saat Harry memandang kedua temannya di bawah Jubah, pintu Three Broomstick terbuka cepat, selusin Pelahap Maut berjubah dan bertudung menghambur ke jalan, tongkat mereka teracung. Harry menangkap pergelangan tangan Ron saat ia mengangkat tongkat. Terlalu banyak untuk bisa di-Pingsankan; bahkan mencobanya berarti memberitahu dengan sukarela pada para Pelahap Maut di mana mereka berada. Salah satu Pelahap Maut mengayunkan tongkat dan jeritan itu berhenti, masih menggema di pegunugan yang jauh. "Accio Jubah!" raung salah satu Pelahap Maut. Harry menahan lipatannya, tapi Jubah itu tak bergerak: Mantra Panggil tak mempan. "Kau tidak sedang di bawah selubungmu, kalau begitu , Potter?" teriak Pelahap Maut yang mencoba mantra itu, lalu pada rekannya, "Berpencar. Dia di sini." Enam Pelahap Maut berlari ke arah mereka: Harry, Ron, dan Hermione mundur secepat mereka bisa, ke sisi jalan kecil, dan nyaris terlanggar para Pelahap Maut, luput beberapa inci. Mereka menunggu dalam kegelapan, mendengar-dengar langkah kaki ke sana ke mari, sorot cahaya bersilangan di jalanan dari tongkat para Pelahap Maut yang sedang mencari. "Mari kita pergi saja!" bisik Hermione, "Disapparate sekarang!" "Gagasan yang bagus," sahut Ron, tapi sebelum Harry bisa menjawab, seorang Pelahap Maut berseru, "Kami tahu kau di sini, Potter, dan jangan coba-coba pergi! Kami akan menemukanmu!" "Mereka sudah bersiaga," bisik Harry. "Mereka merancang mantra yang bisa memberitahu kalau kita datang. Kuperhitungkan mereka sudah berbuat sesuatu untuk menjaga kita tetap di sini, memerangkap kita—" "Bagaimana kalau kita pakai Dementor?" seru Pelahap Maut yang lain, "Lepaskan kekang mereka, mereka bisa cepat menemukannya." "Pangeran Kegelapan ingin membunh Potter, tidak oleh orang lain, tapi oleh tangannya ..." "—sesosok Dementor tidak akan membunuhnya. Pangeran Kegelapan menginginkan nyawa Potter, bukan jiwanya. Dia akan lebih mudah dibunuh jika dikecup dulu!" Suara-suara menyetujui terdengar. Rasa takut menyelimuti Harry: untuk mengusir Dementior mereka harus membuat Patronus yang akan segera membuka rahasia mereka ada di mana. "Kita harus mencoba Disapparate, Harry!" bisik Hermione. Saat Hermione masih bicara, Harry sudah mulai merasa dingin yang tak wajar menyelimuti seluruh jalanan. Cahaya disedot dari mulai lingkungan sekeliling hingga ke atas ke bintang-bintang. Dalam kegelapan ia merasa Hermione memegang tangannya dan bersama, mereka berputar. Udara yang mereka perlukan untuk bergerak seakan memadat: mereka tidak dapat ber- Disapparate: para Pelahap Maut sudah merapal mantranya dengan baik. Rasa dingin itu makin lama makin menusuk daging Harry. Ia, Ron, dan Hermione mundur ke sisi jalan kecil, meraba-raba jalan sepanjang tembok, berusaha tidak menimbulkan suara. Lalu dari sudut meluncur tanpa suara, datanglah Dementor, sepuluh atau lebih, dapat terlihat karena Dementor itu lebih padat gelapnya dari lingkungan sekelilingnya, dengan jubah hitam mereka, dengan tangan berkeropeng dan membusuk. Dapatkah mereka merasakan ketakutan di sekitarnya? Harry yakin: mereka seperti datang lebih cepat, napas yang terseret-seret, bergemeretuk, yang ia benci, merasakan keputusasaan di udara, mengepung— Harry mengacungkan tongkatnya: ia tidak mau, tidak akan, menderita kecupan Dementor, apapun yang terjadi setelahnya. Ia memikirkan Ron dan Hermione saat ia berbisik, "Expecto patronum!" Rusa jantan perak meluncur dari tongkatnya dan menyerang: Dementor-Dementor bubar bertemperasan, lalu ada teriakan kemenangan entah dari mana. "Itu dia, di sebelah sana, sebelah sana, aku lihat Patronusnya, seekor rusa jantan!" Para Dementor sudah mundur, bintang-bintang muncul kembali, dan langkah-langkah kaki para Pelahap Maut semakin keras: tapi sebelum Harry yang panik bisa memutuskan apa yang harus dilakukan, ada bunyi gemerincing gerendel pintu dekat-dekat sini, sebuah pintu terbuka di sebelah kiri jalan yang sempit, dan suara yang kasar berkata, "Potter, ke sini, cepat!" Harry menurut tanpa ragu: ketiganya meluncur cepat-cepat melalui pintu terbuka. "Ke atas, tetap pakai Jubah, dan diam!" gumam sesosok tinggi, melewati mereka menuju ke jalanan dan membanting pintu di depannya. Tadinya Harry tidak tahu ia ada di mana, tapi sekarang dia melihat, dengan cahaya remang-remang dari sebuah lilin, tempat yang kotor bertaburan serbuk kayu, bar Hog's Head. Mereka berlari di belakang tempat kasir, melalui pintu kedua menuju tangga kayu yang berderak-derak, mereka naik secepat mereka bisa. Tangga menuju ruang duduk dengan karpet usang dan perapian kecil, di atasnya tergantung sebuah lukisan cat minyak besar, seorang gadis pirang yang memandang ruangan dengan manis tetapi hampa. Teriakan-teriakan terdengar dari jalanan di bawah. Masih menggunakan Jubah Gaib, mereka bergerak diam-diam ke jendela dan memandang ke bawah. Penyelamat mereka, yang Harry kenal sebagai pemilik bar Hog's Head, merupakan satu-satunya orang yang tidak memakai tudung. "Terus kenapa?" teriaknya pada salah satu wajah yang bertudung. "Terus kenapa? Kau mengirim Dementor ke jalanku, aku mengirim Patronus balik! Mereka nggak ada dekatdekat sini, sudah kubilang aku nggak dekat-dekat mereka!" "Itu bukan Patronusmu!" sahut seorang Pelahap Maut, "Itu seekor rusa jantan, itu milik Potter!" "Rusa jantan!" raung pemilik bar, dan ia mencabut tongkat, "Rusa jantan! Kau bodoh— expecto patronum!" Sesuatu yang besar dan bertanduk muncul dari tongkat: kepala di bawah ia keluar menuju Jalan Utama dan menghilang dari pandangan. "Itu bukan yang kulihat—" sahut Pelahap Maut itu, walau tak begitu yakin. "Jam malam dilanggar, kau dengar suara," satu dari temannya berkata pada pemilik bar itu. "Seseorang ada di luar, di jalan melanggar peraturan—" "Kalau aku mau mengeluarkan kucingku, aku akan, peduli apa dengan jam malam?" "Kau yang menjadikan Mantra Caterwauling berbunyi?" "Emangnya kenapa? Mau mengirimku ke Azkaban? Membunuhku karena aku mengeluarkan hidungku di depan pintuku sendiri? Lakukan saja kalau kau mau! Asal, demi kepentinganmu sendiri, kau belum memencet Tanda Kegelapan kecilmu dan memanggil dia. Dia tidak akan suka dipanggil ke sini gara-gara aku dan kucing tuaku, kan?" "Jangan mengkhawatirkan kami," sahut salah satau Pelahap Maut, "khawatirkan dirimu sendiri saja, melanggar jam malam!" "Dan ke mana kalian akan bertransaksi Ramuan dan Racun kalau pubku ditutup? Bagaimana dengan usaha sampinganmu?" "Kau mengancam—" "Mulutku tertutup, itu makanya kau bertransaksi lewatku, iya kan?" "Aku masih yakin kalau itu Patronus rusa jantan!" seru Pelahap Maut yang pertama. "Rusa jantan?" raung pemilik bar, "Itu kambing, tolol!" "Ya sudah, kita salah," sahut Pelahap Maut kedua, "melanggar jam malam lagi dan kami tidak akan bermurah hati!" Para Pelahap Maut berjalan kembali ke Jalan Utama. Hermione mengerang lega, keluar dari Jubah dan terhenyak di kursi reyot. Harry menarik tirai hingga tertutup rapat, lalu menarik Jubah dari dirinya sendiri dan Ron. Mereka bisa mendengar pemilik bar di bawah, menggembok pintu bar, lalu menaiki tangga. Perhatian Harry terpecah pada sesuatu di rak di atas perapian: sebuah cermin kecil segiempat ditopang di atasnya, tepat di bawah lukisan gadis itu. Pemilik bar itu memasuki kamar. "Kalian benar-benar bodoh sekali," ucapnya kasar, menatap mereka satu persatu, "Apa yang kalian pikirkan, datang kemari?" "Terima kasih," sahut Harry, "terima kasih kami tak akan cukup. Kau menyelamatkan hidup kami." Pemilik bar itu menggerutu. Harry mendekatinya, menatap wajahnya, mencoba mengamati lewat rambutnya yang panjang, berserabut, kasar beruban dan janggutnya. Ia memakai kacamata. Di balik lensanya yang kotor, matanya menusuk, biru cemerlang. "Jadi matamu yang kulihat di cermin?" Hening di kamar itu. Harry dan pemilik bar itu saling berpandangan. "Kau mengirim Dobby?" Pemilik bar itu mengangguk dan mencari-cari si peri rumah. "Kukira, ia bersamamu. Di mana kau tinggalkan dia?" "Dia sudah mati," sahut Harry, "Bellatrix Lestrange membunuhnya." Wajah pemilik bar itu tidak menunjukkan perasaan. Setelah beberapa saat ia berkata, "Aku turut berduka. Aku suka peri rumah itu." Ia memalingkan diri, menyalakan lampu dengan jentikan tongkatnya, tidak menatap satupun di antara mereka. "Kau Aberforth," sahut Harry pada punggung orang itu. Ia tidak mengiyakan atau menyangkal, tapi membungkuk menyalakan api. "Bagaimana kau dapat ini?" tanya Harry, berjalan menyeberangi kamar menuju cermin Sirius, pasangan dari cermin yang telah ia pecahkan nyaris dua tahun lalu. "Beli dari Dung sekitar tahun lalu," sahut Aberforth, "Albus kasih tahu itu apa. Terus mencoba mengamatimu." Ron menahan napas. "Rusa betina perak itu!" katanya bergairah. "Itu kau juga?" "Apa yang kaubicarakan?" tanya Aberforth. "Seseorang mengirimkan Patronus rusa betina pada kami!" "Otak macam begitu, kau bisa jadi Pelahap Maut, nak. Kan sudah kubuktikan bahwa Patronusku kambing?" "Oh," sahut Ron, "Yeah ... well, aku lapar!" Ia menambahkan memberi alasan, karena perutnya berkeruyuk keras. "Aku punya makanan," sahut Aberforth, dan menyelinap keluar dari kamar, muncul lagi beberapa saat kemudian dengan sebongkah besar roti, keju, dan sekendi mead, disimpannya di meja kecil di depan perapian. Mereka makan dengan rakus, dan untuk sementara suasana hening kecuali suara gemeretak api, dentingan piala dan suara mengunyah. "Sekarang," saht Aberforth, saat mereka sudah kenyang, Harry dan Ron duduk merosot mengantuk di kursi mereka. "Kita harus memikirkan jalan terbaik untuk mengeluarkan kalian dari sini. Tidak bisa malam-malam, kau tahu apa yang terjadi bila kalian bergerak di luar saat gelap: Mantra Caterwauling terpasang, mereka akan langsung menyergapmu seperti Bowtruckles pada telur-telur Doxy. Kukira aku tidak akan bisa lagi pura-pura rusa jantan adalah kambing, untuk kedua kalinya. Tunggu sampai terang, jam malam dicabut, pakai lagi Jubah kalian dan pergilah dengan jalan kaki. Keluar dari Hogsmeade, naik ke pegunungan, dan kalian bisa ber-Disapparate dari sana. Mungkin ketemu Hagrid. Dia sembunyi di gua dengan Grawp sejak mereka mencoba menangkapnya. "Kami tidak akan pergi," sahut Harry, "Kami harus masuk ke Hogwarts." "Jangan bodoh, nak," sahut Aberforth. "Kami harus," sahut Harry. "Yang harus kalian lakukan," sahut Aberforth, duduk maju, "adalah menjauh dari sini sejauh yang kalian bisa." "Kau tak mengerti. Tak ada waktu lagi. Kami harus masuk ke kastil. Dumbledore— maksudku, kakakmu—menginginkan kami—" Cahaya api membuat lensa buram kacamata Aberforth sejenak tak tembus pandang, putih cemerlang, dan Harry ingat mata buta laba-laba raksasa, Aragog. "Kakakku Albus menginginkan banyak hal," sahut Aberforth, "dan orang biasanya terluka saat dia menjalankan rencana besarnya. Kau pergilah menjauh, Potter, ke luar negeri kalau bisa. Lupakan kakakku dan rencana besarnya. Dia sudah pergi, tak ada satupun yang bisa melakukannya, dan kau tak berhutang apapun padanya." "Kau tak mengerti," sahut Harry. "Oh, aku tidak mengerti?" sahut Aberforth tenang. "Kau mengira aku tidak mengerti kakakku sendiri? Kau kira kau lebih tahu tentang Albus daripadaku?" "Aku tak bermaksud begitu," sahut Harry, otaknya terasa melempem karena lelah dan kekenyangan makanan dan anggur. "Dia ... dia meninggalkan pekerjaan untukku." "Yang benar?" sahut Aberforth. "Pekerjaan yang bagus, kuharap? Menyenangkan? Mudah? Macam yang bisa dikerjakan oleh penyihir anak tak berpengalaman tanpa memaksakan diri?" Ron tertawa suram, Hermione terlihat tegang. "Aku—tidak mudah, tidak," sahut Harry. "Tapi aku harus—" "'Harus'? Kenapa 'harus'? Dia kan sudah mati, ya kan?" sahut Aberforth kasar. "Biarkan saja, nak, kalau tidak kau akan menyusulnya! Selamatkan dirimu!: "Aku tidak bisa." "Kenapa tidak?" "Aku—" Harry merasa kewalahan; ia tidak bisa menjelaskan, jadi terpaksa dia menyerang, "Tapi kau juga berjuang, kau anggota Orde Phoenix—" "Dulunya," sahut Aberforth. "Orde Phoenix sudah tamat. Kau-Tahu-Siapa menang, sudah berlalu, dan siapapun yang berpura-pura bahwa dia berbeda, dia sedang mempermainkan dirinya sendiri. Tak akan pernah aman kalau kau di sini, Potter, dia menginginkanmu sekali. Jadi, pergilah ke luar negeri, bersembunyi, selamatkanlah dirimu. Paling baik kalau sekalian bawa keduanya," ia menyentakkan jempolnya pada Ron dan Hermione. "Mereka ada dalam bahaya selama berada denganmu, setiap orang tahu mereka bekerja sama denganmu." "Aku tak bisa pergi," sahut Harry. "Aku ada kerjaan—" "Berikan saja pada orang lain!" "Aku tak bisa. Harus aku yang melakukannya. Dumbledore menjelaskannya padaku—" "Oh, benarkah? Dan apakah dia menjelaskan semuanya, apakah dia jujur padamu?" Harry ingin menjawab 'ya' dengan segenap hatinya, tapi bagaimanapun kata yang sederhana itu tidak keluar dari bibirnya. Aberforth seperti tahu apa yang dipikirkannya. "Aku tahu siapa kakakku, Potter. Ia belajar berahasia sedari kecil. Rahasia dan dusta, begitulah kami tumbuh, dan Albus ... dia memang sepantasnya." Mata lelaki tua itu mengembara ke lukisan gadis di rak di atas perapian. Lukisan itu, sekarang Harry mengamati baik-baik, adalah satu-satunya lukisan dalam ruangan. Tak ada foto Albus Dumbledore, juga siapapun. "Mr Dumbledore," sahut Hermione agak takut-takut. "Apakah itu saudari Anda? Ariana?" "Ya," sahut Aberforth pendek. "Habis baca Rita Skeeter, ya, Nona?" Meski hanya disinari oleh cahaya kemerahan dari perapian, nampak jelas bahwa Hermione merona wajahnya. "Elphias Doge menyebutnya pada kami," sahut Harry mencoba membela Hermione. "Bodoh tua itu," gumam Aberforth, meneguk meadnya. "Dia berpikir apapun yang keluar dari mulut Albus pasti yang bagus-bagus. Well, kebanyakan orang juga begitu, kalian bertiga termasuk, sepertinya." Harry terdiam. Dia tidak mau mengeluarkan keraguan dan kebimbangan mengenai Dumbledore yang telah menjadi teka-teki baginya selama berbulan-bulan ini. Ia sudah membuat pilihan saat menggali kuburan Dobby, dia sudah memutuskan untuk melanjutkan sepanjang jalan yang berliku dan berbahaya yang sudah ditunjukkan oleh Albus Dumbledore baginya, untuk menerima bahwa ia tidak diberitahu semua yang ingin ketahui, tapi sederhana: hanya percaya. Dia tidak punya keinginan untuk ragu lagi, dia tidak ingin mendengar apa-apa yang bisa membelokkannya dari tujuan. Ia bertemu dengan pandangan Aberforth yang mirip sekali dengan pandangan kakaknya: mata biru cemerlang yang memberi kesan yang sama bahwa mata itu sedang mengawasi setajam sinar-X, dan Harry mengira bahwa Aberforth tahu apa yang ia pikirkan,dan memandangnya rendah karenanya. "Profesor Dumbledore memperhatikan Harry, sangat memperhatikan," sahut Hermione dalam suara rendah. "Apa benar?" sahut Aberforth. "Lucunya, banyak orang yang kakakku sangat perhatikan, berakhir dengan keadaan yang lebih buruk dibandingkan kalau dia tidak ikut campur." "Apa maksud Anda?" tanya Hermione menahan napas. "Tidak usah peduli," sahut Aberforth. "Tapi itu hal yang serius untuk dibicarakan," sahut Hermione. "Apa Anda—apa Anda berbicara tentang saudari Anda?" Aberforth memandanginya; bibirnya bergerak seperti mengunyah kata-kata yang ia tak jadi ucapkan. Lalu ia tiba-tiba berbicara. "Waktu saudariku baru enam tahun, ia diserang, dirancang oleh tiga anak laki-laki Muggle. Mereka pernah melihat saudariku melakukan sihir, memata-matainya lewat pagar tanaman taman belakang; dia masih anak kecil, dia tidak bisa mengendalikannya, tak ada penyihir yang bisa mengendalikan sihir seusianya. Kukira apa yang anak-anak Muggle itu lihat, membuat mereka takut. Mereka memaksakan kehendak mereka sampai ke pagar tanaman, dan saat saudariku tak bisa menunjukkan muslihatnya, mereka jadi keterlaluan, mencoba menghentikan anak aneh itu." Mata Hermione terlihat besar di cahaya api, Ron terlihat agak muak. Aberforth berdiri, jangkung seperti Albus, tiba-tiba jadi mengerikan dalam kemarahan dan rasa nyeri. "Itu menghancurkannya, apa yang mereka lakukan: saudariku tidak pernah pulih lagi. Dia tidak mau menggunakan sihir, tapi dia tidak dapat menghalaunya; masuk ke dalam batinnya dan membuatnya gila, meledak keluar saat ia tak bisa mengendalikannya, saat itu ia aneh dan berbahaya. Tapi sebetulnya dia itu manis, ketakutan, dan tak berbahaya." "Dan ayahku mencari para bajingan yang berbuat ini," sahut Aberforth, "dan menyerang mereka. Ayahku ditahan di Azkaban karenanya. Ayah tak pernah bilang mengapa ia melakukannya, karena kalau Kementrian tahu jadi apa sekarang Ariana, dia akan dikunci di St Mungo untuk selamanya. Mereka melihatnya sebagai ancaman serius bagi Undang- Undang Kerahasiaan Sihir Internasional, jika tidak seimbang seperti dia, dengan sihir meledak keluar darinya setiap saat, saat ia tidak menahannya lebih lama." "Kami harus menjaganya agar dia aman dan tenang. Kami pindah rumah, pura-pura dia sakit, ibu kami menjaganya, mencoba membuat dia tenang dan bahagia." "Dia sangat menyukaiku," sahut Aberforth, saat ia mengatakannya, sosok seorang pelajar yang kotor membayang dari janggutnya yang kusut. "Bukan Albus, dia selalu ada di kamar saat di rumah, membaca buku-bukunya, menghitung penghargaanpenghargaannya, berkorespondensi dengan 'nama-nama yang paling terkemuka di dunia sihir saat ini'," Aberforth menyeringai, "dia tidak mau diusik soal saudarinya. Ariana paling menyukaiku. Aku bisa membuatnya makan kalau dia tak mau makan kalau disuruh oleh ibu, aku bisa menenangkannya saat ia sedang mengamuk, dan saat ia sedang tenang biasanya ia membantuku memberi makan kambing-kambingku." "Lalu, saat ia berusia empat belas ... lihat, aku sedang tidak di rumah," sahut Aberforth. "Kalau aku ada di rumah, aku akan bisa menenangkannya. Dia mengamuk, dan ibuku tidak semuda dulu, dan ... itu kecelakaan. Ariana tidak bisa mengendalikannya. Tapi ibuku terbunuh." Harry merasa ada campuran yang mengerikan antara rasa kasihan dan jijik; dia tak mau mendengar lagi, tapi Aberforth terus berbicara dan Harry bertanya-tanya kapan terakhir ia bicara tentang hal ini; atau sebenarnya, pernahkah Aberforth membicarakan hal ini. "Dan hal ini membatalkan perjalanan Albus keliling dunia bersama Doge kecil. Mereka berdua pulang saat pemakaman ibu, Doge lalu pergi lagi sendirian dan Albus ditetapkan sebagai kepala keluarga. Ha!" Aberforth meludah ke perapian. "Aku akan bisa merawat Ariana, sudah kubilang, aku tidak peduli soal sekolah, aku akan tinggal di rumah dan melakukannya. Albus bilang aku harus menyelesaikan pendidikan dan dia yang akan mengambil alih tugas ibu. Penurunan untuk Mr Brilliant, tak ada penghargaan untuk mengurus adik yang setengah gila, mencegahnya meledakkan rumah tiap dua hari sekali. Tapi untuk beberapa minggu semua baik-baik saja … sampai dia datang." Dan sekarang raut yang benar-benar berbahaya merayap di wajah Aberforth. "Grindelwald. Akhirnya kakakku punya mitra setara untuk berbicara, seseorang yang cemerlang dan berbakat seperti dia dulu. Merawat Ariana merupakan suatu kemunduran, sementara mereka merencanakan semua rancangan untuk tata kepenyihiran baru, dan mencari Hallows dan entah apalagi yang menarik perhatian mereka. Rencana besar untuk keuntungan seluruh masyarakat sihir, dan jika ada seorang gadis muda diabaikan, memangnya kenapa, kan Albus sedang bekerja untuk the greater good?" Tapi beberapa minggu sesudahnya, kukira cukup sudah. Sudah waktunya aku kembali ke Hogwarts, jadi kukatakan pada mereka, keduanya, berhadap-hadapan, seperti aku dan kau sekarang," dan Aberforth memandang Harry, dan diperlukan sedikit imajinasi untuk melihatnya sebagai remaja kurus tapi kuat, dan marah, berhadapan dengan kakak lakilakinya. "Kubilang, kau menyerah saja, sekarang. Kau tak bisa membuatnya berpindah pindah, dia tidak dalam kondisi baik, kau takkan bisa membawanya denganmu ke manapun yang kau rencanakan, saat kau berpidato mencoba menyiapkan seorang pengikut. Dia tak menyukainya," sahut Aberforth, dan matanya terhalang sejenak oleh cahaya perapian di lensa kacamatanya: bersinar putih dan buta lagi. "Grindelwald sana sekali tidak menyukainya. Ia marah. Dia bilang padaku bahwa aku hanya anak kecil bodoh, mencoba menghalangi jalannya dan kakak laki-lakiku yang brillian … tidakkah aku mengerti, saudariku yang malang tidak harus disembunyikan jika mereka sudah mengubah dunia, menuntun para penyihir keluar dari persembunyian dan mengajarkan pada para Muggle di mana sebenarnya tempat mereka?" "Lalu terjadilah adu pendapat … aku mencabut tongkatku, ia mencabut tongkatnya, dan aku terkena Kutukan Cruciatus yang dirapal oleh teman baik kakakku—dan Albus mencoba menghentikannya, kami bertiga berduel, cahaya berkilatan dan ledakan membuat Ariana siaga, dia tidak bisa menahannya—" Warna lenyap dari wajah Aberforth seperti dia telah menderita luka yang mematikan. "—dan kukira Ariana mau melerai, tapi dia tidak benar-benar tahu apa yang sedang ia lakukan, dan aku tidak tahu siapa di antara kami yang melakukannya, bisa siapa saja— dan Ariana tewas." Suaranya berhenti di kata terakhir, dan dia jatuh di kursi terdekat. Wajah Hermione basah oleh air mata dan Ron nyaris sama pucatnya dengan Aberfoth. Harry tak merasakan apaapa kecuali kejijikan: ia berharap ia tidak harus mendengar ini, berharap bisa mencuci benaknya. "Aku sangat … sangat menyesal," Hermione berbisik. "Pergi," sahut Aberforth. "Pergi selamanya." Ia menyeka hidungnya dengan manset lengan bajunya dan berdeham. "Tentu saja Grindelwald lari ketakutan. Dia sudah punya catatan jelek di negaranya, dan ia tidak mau Ariana dimasukkan ke dalam catatannya. Dan Albus bebas, iya kan? Bebas dari beban saudarinya, bebas untuk menjadi penyihir terhebat se—" "Dia tak pernah bisa bebas," sahut Harry. "Maaf?" sela Aberforth. "Tak pernah," sahut Harry. "Malam kakakmu meninggal, ia meminum ramuan yang membuatnya kehilangan pikiran. Ia mulai berteriak, memohon pada seseorang yang tak ada di sana. 'Jangan sakiti mereka, please ... sakiti aku saja'" Ron dan Hermione menatap Harry. Harry tak pernah menceritakan secara rinci tentang apa yang terjadi di pulau di danau: peristiwa yang terjadi setelah ia dan Dumbledore kembali ke Hogwarts sudah menutupi kesemuanya. "Ia kira ia kembali ke masa di mana ia bersamamu dan Grindelwald, aku tahu itu," sahut Harry mengenang Dumbledore merengek, memohon. "Ia kira ia sedang menyaksikan Grindelwald menyakitimu dan Ariana … itu siksaan untuknya. Kalau kau melihat dia saat itu, kau tak akan mengatakan bahwa ia sudah bebas." Aberforth seolah tersesat dalam renungan atas tangannya yang berburik-burik. Setelah jeda yang panjang, ia berkata, "Bagaimana kau bisa yakin, Potter, bahwa kakakku tidak lebih tertarik pada the greater good daripada dirimu? Bagaimana kau yakin kau tidak mudah dibuang, seperti adik kecilku?" Sepotong es menurih jantung Harry. "Aku tak percaya. Dumbledore mencintai Harry," sahut Hermione. "Kenapa dia tidak menyuruh Harry untuk bersembunyi, kalau begitu?" sergah Aberforth balik. "Kenapa dia tidak bilang pada Harry, pedulikan dirimu sendiri, begini caranya untuk selamat?" "Karena," sahut Harry, sebelum Hermione sempat menjawab, "kadang-kadang kau harus berpikir lebih jauh dari keselamatanmu sendiri! Kadang kau harus berpikir tentang the greater good! Ini perang!" "Kau baru tujuh belas tahun, nak!" "Aku sudah akil balig, dan aku akan terus berjuang walau kau sudah menyerah!" "Siapa bilang aku menyerah?" "'Orde Phoenix sudah tamat,'" Harry mengulang, "'Kau-Tahu-Siapa menang, sudah berlalu, dan siapapun yang berpura-pura bahwa dia berbeda, dia sedang mempermainkan dirinya sendiri.'" "Aku tidak bilang aku menyukainya, tapi itu kenyataan!" "Tidak, itu bukan kenyataan,' sahut Harry. "Kakakmu tahu bagaimana cara melenyapkan Kau-Tahu-Siapa dan dia menurunkan pengetahuannya padaku. Aku akan terus berusaha sampai aku berhasil—atau aku mati. Jangan kira aku tak tahu bagaimana akhirnya semua ini. Aku sudah tahu bertahun-tahun." Harry menunggu Aberforth mencemooh atau mendebat, tetapi dia tidak melakukannya. Dia hanya mengerutkan dahi. "Kami perlu masuk ke Hogwarts," sahut harry lagi. "Kalau kau tak bisa menolong kami, kami akan menunggu terang, meninggalkanmu dengan damai dan mencoba mencari jalan masuk sendiri. Kalau kau bisa menolong kami—well, sekarang akan jadi waktu yang bagus untuk mengatakannya." Aberforth tetap diam di kursinya, memandang Harry dengan mata yang luarbiasa mirip dengan kakaknya. Akhirnya ia berdeham, berdiri, berjalan memutar meja kecil dan mendekati lukisan Ariana. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan," sahutnya. Ariana tersenyum, berbalik dan berjalan menjauh, tidak seperti biasanya orang dalam lukisan, keluar dari sisi bingkai, yang ini berjalan sepanjang apa yang nampak seperti terowongan panjang yang dilukiskan di belakangnya. Mereka mengamati sosok langsingnya mundur sampai akhirnya lenyap di telan kegelapan. "Er—apa—" Ron mulai. "Hanya ada satu jalan masuk," sahut Aberforth. "Kau harus tahu mereka menjaga semua jalan masuk rahasia yang lama di kedua ujungnya, Dementor di seluruh tembok perbatasan, berpatroli teratur di dalam sekolah menurut sumberku. Tempat ini belum pernah dijaga ketat begini. Bagaimana kau bisa mengharapkan bisa berbuat sesuatu sekali kau di dalam, dengan Snape berkuasa dan Carrow bersaudara sebagai wakil-wakilnya ... well, itu yang kau cari kan? Kau bilang kau sudah bersiap untuk mati." "Tapi apa ..." sahut Hermione, keningnya berkerut pada lukisan Ariana. Sebuah titik putih kecil muncul kembali di ujung lukisan terowongan, dan sekarang Ariana berjalan kembali ke arah mereka, makin lama makin besar. Tapi ada seseorang bersamanya sekarang, seseorang yang lebih tinggi dari Ariana, berjalan terpincangpincang nampak bergairah. Rambutnya lebih panjang dari apa yang biasa Harry lihat: dia nampak sudah menderita beberapa luka di wajah, pakaiannya robek. Makin lama makin besar dua sosok itu, hingga hanya kepala dan bahu mereka yang mengisi lukisan itu. Lalu kesemuanya berayun di dinding seperti pintu kecil, dan jalan masuk ke terowongan yang nyata terbukalah. Keluar dari situ, rambut panjang, wajah penuh luka, jubahnya sobek, memanjatlah Neville Longbottom yang nyata, meraung girang, melompat turun dari rak di atas perapian dan berteriak, "Aku tahu kau akan datang! Aku tahu, Harry!" Chapter 29 Lost Diadem Diadem yang Hilang [Note: sama dengan bab 30, tadinya diadem akan diterjemahkan menjadi mahkota, meski bentuknya berbeda, tapi ternyata diadem juga ada dalam bahasa Indonesia, ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia – penerjemah] “Neville—apa yang—bagaimana?” Tapi Neville juga melihat Ron dan Hermione, memeluk mereka juga dengan teriakan kegembiraan. Makin lama Harry mengamati Neville, makin jelek kelihatannya: satu mata bengkak, kuning dan ungu, ada tanda tercungkil di wajahnya, keadaannya tak terurus mengisyaratkan bahwa dia selama ini hidup keras. Tapi roman mukanya bersinar-sinar dengan kebahagiaan saat ia melepas Hermione, dan berkata lagi, ”Aku tahu kau akan datang! Aku terus bilang pada Seamus, ini hanyalah masalah waktu!” ”Neville, apa yang terjadi padamu?” ”Apa? Ini?” Neville mengabaikan luka-lukanya dengan satu goyangan kepala. ”Ini bukan apa-apa. Seamus lebih buruk. Kau lihat saja nanti. Kita pergi sekarang? Oh,” ia menoleh pada Aberforth, ”Ab, mungkin akan ada beberapa orang lagi yang akan datang.” ”Beberapa lagi?” ulang Aberforth tak senang. “Apa maksudmu, beberapa lagi, Longbottom? Ada jam malam dan Mantra Caterwauling diterapkan di seluruh desa!” “Aku tahu, makanya mereka akan ber-Apparate langsung ke dalam bar,” sahut Neville. “Langsung kirim saja mereka ke jalan tembus kalau mereka sudah di sini, ya? Makasih banyak!” Neville memegang tangan Hermione dan membantunya memanjat rak di atas tungku masuk ke terowongan; Ron mengikuti, lalu Neville. Harry berkata pada Aberforth. “Aku tak tahu bagaimana berterimakasih padamu. Kau menyelamatkan kami, dua kali.” ”Jaga mereka, kalau begitu.” sahut Aberforth keras, ”Aku mungkin tidak bisa menyelamatkan mereka untuk ketiga kalinya.” Harry merangkak naik ke rak di atas tungku dan menuju lubang di belakang lukisan Ariana. Ada undakan batu yang halus di sisi sebelah sana, sepertinya jalan tembus itu sudah ada selama bertahun-tahun. Lampu kuningan tergantung di dinding, lantai berbau tanah, licin dan halus; saat mereka berjalan bayangan mereka bergetar, membesar, sepanjang dinding. “Sudah berapa lama ini ada di sini?” Ron bertanya saat mereka mulai berjalan. ”Tidak ada di Peta Perompak, kan Harry? Kukira hanya ada tujuh jalan tembus di dalam dan di luar sekolah?” ”Mereka menyegel semuanya sebelum sekolah mulai,” sahut Neville, ”tidak mungkin bisa melewatinya sekarang, dengan berbagai kutukan di pintu masuknya, para Pelahap Maut dan para Dementor menunggu di pintu keluarnya.” Ia berjalan mundur, bercahaya matanya melihat mereka. ”Tak usah meributkan soal itu ... apakah betul? Kalian menerobos Gringotts? Melarikan diri pakai naga? Di mana-mana tiap orang membicarakan itu. Terry Boot dipukuli Carrow karena meneriakkan itu di Aula Besar saat makan.” ”Yeah, itu memang betul,” sahut Harry. Neville tertawa gembira. “Apa yang kalian lakukan dengan naga itu?” ”Melepaskannya ke alam bebas,” sahut Ron, ”Hermione ingin memeliharanya—” ”Jangan melebih-lebihkan, Ron—” ”Tapi apa yang sedang kalian lakukan? Orang-orang bilang kalian sedang dalam pelarian, Harry, tapi kukira tidak. Aku pikir kalian punya tujuan.” ”Kau benar,” sahut Harry, ”tapi ceritakan dulu tentang Hogwarts, Neville, kami belum mendengar apa-apa.” “Hogwarts … well, Hogwarts sudah tidak seperti dulu lagi,” sahut Neville, senyum lenyap dari wajahnya. “Kalian tahu tentang Carrow bersaudara?” “Dua Pelahap Maut yang mengajar di sini?” ”Lebih dari mengajar,” ujar Neville, ”Tugas mereka mengawasi disiplin. Mereka suka memberi hukuman, Carrow bersaudara ini.” ”Seperti Umbridge?” ”Nah, mereka membuat Umbridge kelihatan jinak. Guru-guru lain seharusnya melaporkan kami pada Carrow bersaudara kalau kami berbuat salah. Tentu saja mereka tidak melakukannya jika mereka bisa menghindarinya. Kau bisa bilang para guru membenci mereka sama seperti kami.” ”Amycus, orang itu, dia mengajar apa yang biasanya disebut Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, kecuali bahwa sekarang menjadi Ilmu Hitam saja. Kami harus berlatih Kutukan Cruciatus pada orang-orang yang mendapat detensi—” “Apa?” Suara Harry, Ron, dan Hermione berbarengan bergema di jalan tembus itu. “Yeah,” sahut Neville, “Itulah makanya aku dapat ini,” ia menunjuk pada bekas luka yang dalam di pipi. “Aku menolak melakukannya. Tapi sebagian orang suka: Crabbe dan Goyle suka sekali. Untuk pertama kalinya mereka bisa berada di posisi atas, kupikir.” ”Alecto, saudarinya, mengajar Telaah Muggle, yang wajib untuk semua. Kami harus mendengar penjelasannya bahwa Muggle itu seperti binatang, bodoh dan kotor, dan bagaimana Muggle menjadikan para penyihir terpaksa bersembunyi karena Muggle berbuat keji pada mereka, dan bagaimana hukum alam disusun ulang. Aku dapat ini,” ia menunjukkan luka lain di wajahnya, ”karena aku menanyakan seberapa banyak ia dan saudaranya punya darah Muggle.” ”Blimey, Neville,” sahut Ron, ”ada waktu dan tempat di mana orang mesti pintar-pintar ngomong.” ”Kau tidak mendengarnya.” sahut Neville, ”Kau juga tak akan tahan. Masalahnya, kalau ada yang berdiri menentang mereka, berarti memberi harapan bagi semua. Aku perhatikan itu waktu dulu kau melakukannya, Harry!” ”Tapi mereka memperlakukanmu seperti asahan pisau,” sahut Ron, mengernyit saat mereka melewati lampu dan luka-luka Neville terlihat jelas. Neville mengangkat bahu. ”Nggak masalah. Mereka tidak mau terlalu banyak menumpahkan Darah Murni, jadi mereka menyiksa kami sedikit bila sedang kesal tapi mereka tidak ingin membunuh kami.” Harry tidak tahu mana yang lebih buruk, hal-hal yang Neville katakan atau nada kebenaran yang ia katakan. ”Satu-satunya yang benar-benar dalam bahaya ialah bila kau punya teman atau saudara yang menyulitkan. Mereka mengambilmu sebagai sandera. Xeno Lovegood tua ngomong macam-macam di The Quibbler, jadi mereka menangkap Luna di kereta saat pulang Natal. ”Neville, dia baik-baik saja, kami bertemu dengannya—” “Yeah, aku tahu, dia berhasil mengirimkan pesan padaku.” Dari sakunya ia mengeluarkan koin emas, dan Harry mengenalinya sebagai Galleon palsu yang dipakai Laskar Dumbledore untuk saling berkirim pesan. ”Ini keren,” sahut Neville, wajahnya berseri-seri pada Hermione, ”Carrow bersaudara tidak pernah berhasil membongkar bagaimana cara kami berkomunikasi, itu membuat mereka marah. Kami biasa menyelinap di malam hari, menulis grafiti di dinding: Laskar Dumbledore, Masih Membuka Lowongan, hal-hal seperti itu. Snape membenci itu.” ”Kau biasa?” sahut Harry, memperhatikan bentuk lampau dalam ucapan Neville. ”Well, lama-lama makin sulit,” sahut Neville, ”Kami kehilangan Luna, dan Ginny juga tidak kembali sesudah Paskah, biasanya kami bertiga menjadi semacam pimpinan. Carrow bersaudara nampaknya tahu aku ada di belakang banyak hal, jadi mereka mulai keras padaku, lalu Michael Corner ketangkap basah sedang membebaskan anak kelas satu yang mereka rantai, jadi mereka menyiksanya cukup berat. Itu membuat orang-orang takut.” ”Yang betul,” gumam Ron saat jalan tembus mulai menanjak. ”Yeah, well, aku tak dapat meminta orang lain untuk menjalani apa yang dilakukan Michael, jadi kami menghentikan kelakuan-kelakuan semacam itu. Tapi kami masih berjuang, melakukan hal-hal bawah tanah, sampai beberapa minggu lalu. Saat mereka memutuskan bahwa hanya ada satu hal untuk menghentikanku, kurasa, dan mereka akan menangkap Nenek.” ”Mereka apa?” sahut Harry, Ron, dan Hermione berbarengan. “Yeah,” sahut Neville, sedikit terengah-engah sekarang karena jalan tembusnya menanjak curam, “Well, kau bisa melihat apa yang mereka pikirkan. Biasanya bekerja baik, culik anak agar keluarganya berkelakuan baik, cuma soal waktu agar mereka melakukan yang sebaliknya. Masalahnya,” ia berbalik menghadap mereka, dan Harry heran melihat Neville nyengir, “mereka salah kira tentang Nenek. Penyihir wanita tua kecil hidup sendiri, mereka pikir tak usah kirim orang yang cukup kuat. Hasilnya,” Neville tertawa, “Dawlish masih di St Mungo, dan Nenek dalam pelarian. Dia mengirimiku surat,” ia menepukkan tangan di saku dada jubahnya, “bilang bangga padaku, bahwa aku benar-benar putra orangtuaku, dan agar aku terus berjuang.” “Keren,” sahut Ron. “Yeah,” Neville bahagia, “Satu hal, saat mereka menyadari mereka tidak punya sandera untukku, mereka memutuskan Hogwarts bisa terus tanpaku. Aku tidak tahu apakah mereka merencanakan untuk membunuhku atau mengirimku ke Azkaban, yang manapun, tapi aku tahu ini waktunya untuk menghilang.” ”Tapi,” Ron terlihat bingung, ”bukankah kita langsung tembus ke Hogwarts?” “Tentu,” sahut Neville. “Kau akan lihat. Kita di sini.” Mereka membelok dan di depan mereka akhir dari jalan tembus itu. Seperangkat undakan menuju pintu persis seperti yang tersembunyi di belakang lukisan Ariana. Neville mendorong pintunya dan memanjat naik. Saat Harry mengikuti, ia mendengar Neville berseru pada orang-orang yang tak terlihat: “Lihat ini siapa! Sudah kubilang, kan?” Saat Harry muncul di ruangan di balik jalan tembus, terdengar jeritan dan pekikan : ”HARRY!” ”Itu Potter, itu POTTER!” ”Ron!” ”Hermione!” Harry dibuat bingung dengan gantungan-gantungan berwarna-warni, lampu, dan banyaknya wajah. Saat berikutnya ia, Ron, dan Hermione diterjang, dipeluk, dipukulpukul punggungnya, rambut diacak-acak, tangan dijabat oleh nampaknya lebih dari 20 orang: seperti baru habis memenangkan final Quidditch saja. “OK, OK, tenang,” seru Neville, dan saat kerumunan itu mundur, Harry bisa melihat sekelilingnya. Ia tak mengenali ruangan ini sama sekali. Besar, dan interiornya seperti rumah pohon yang mewah atau kabin kapal raksasa. Tempat tidur gantung warna-warni diikatkan dari langit-langit dan dari balkon yang mengitari dinding berpanel kayu gelap tanpa jendela, yang ditutupi hiasan gantung berwarna cerah, Harry melihat singa emas Gryffindor berhias merah, luak hitam Hufflepuff dihias kuning, elang perunggu Ravenclaw dalam warna biru. Silver dan hijau Slytherin satu-satunya yang tidak ada. Ada rak-rak buku yang penuh sesak, beberapa sapu terbang disandarkan di dinding, dan di sudut sebuah radio besar tanpa kabel berbingkai kayu. ”Di mana kita?” ”Kamar Kebutuhan, tentu saja,” sahut Neville. ”Melebihi apa yang kita harapkan, kan? Carrow bersaudara mengejarku, aku tahu hanya punya satu kesempatan: aku berhasil mencapai pintunya, dan seperti ini yang kutemukan. Well, tak seperti ini waktu aku datang, jauh lebih kecil, hanya satu tempat tidur gantung dan hanya ada gantungan Gryffindor. Tapi jadi makin besar saat lebih banyak anak Laskar Dumbledore tiba.” “Dan Carrow bersaudara tidak bisa masuk?” tanya Harry mencari adanya pintu. “Tidak,” sahut Seamus, yang tidak Harry kenali hingga dia bicara; wajah Seamus lebam dan bengkak, “Persembunyian yang baik, selama kita tinggal di sini, mereka tidak dapat menemukan kita, pintunya tidak membuka. Terserah Neville. Ia benar-benar mendapatkan Kamar ini. Kau harus meminta tepat apa yang kaubutuhkan—seperti ‘aku tak mau pendukung Carrow bisa masuk’—dan kamar ini akan melakukannya. Asal kau yakin menutup semua kesempatan! Neville memang orangnya!” “Terus terang, sebenarnya,” sahut Neville rendah hati, “Aku sudah sehari setengah di sini, benar-benar lapar, dan berharap mendapat sesuatu untuk dimakan, dan saat itulah jalan tembus ke Hog’s Head membuka. Aku menyusurinya, dan bertemu dengan Aberforth. Ia menyediakan makanan untuk kami, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh Kamar.” ”Yeah, well, makanan adalah satu dari lima pengecualian terhadap Hukum Gamp tentang Asas Transfigurasi,” sahut Ron, menyebabkan semua heran. ”Jadi kami bersembunyi di sini sudah hampir dua minggu,” sahut Seamus, ”dan Kamar membuat lebih banyak tempat tidur gantung tiap saat kami memerlukan, dan bahkan memunculkan sebuah kamar mandi yang bagus saat para gadis juga datang—” ”—dan berpikir bahwa mereka suka membersihkan diri, ya,” sahut Lavender Brown, yang tak terperhatikan oleh Harry hingga saat itu. Sekarang dia melihat ke sekeliling, ia mengenali banyak wajah, kedua kembar Patil ada, seperti juga Terry Boot, Ernie Macmillan, Anthony Goldstein, dan Michael Corner. ”Ceritakan apa yang terjadi dengan dirimu,” sahut Ernie, ”banyak sekali kabar burung, kami mencoba mengikuti berita tentangmu di Potterwatch,” ia menunjuk pada radio tanpa kabel, ”Kau tak menerobos ke Gringotts?” ”Mereka memang menerobos!” sahut Neville, ”Dan cerita naga itu benar juga!” Tepuk tangan dan beberapa teriakan: Ron menerima hormat dengan membungkukkan badan. ”Apa yang kau cari?” Seamus ingin tahu. Sebelum siapapun bisa menjawab pertanyaan itu, Harry merasa nyeri yang menghanguskan, yang mengerikan, pada bekas lukanya. Saat ia menoleh tergesa pada wajah-wajah yang ingin tahu, Kamar Kebutuhan menghilang, dan ia berdiri di dalam sebuah gubuk batu yang sudah hancur, lantai yang lapuk terbuka di kakinya, sebuah kotak emas baru digali, terbuka kosong di dekat lubang, dan teriakan kemarahan Voldemort bergema di dalam kepalanya. Dengan susah payah Harry menarik diri dari pikiran Voldemort, kembali ke tempat di mana ia berdiri, terhuyung-huyung di Kamar Kebutuhan, keringat bercucuran dan Ron menahannya. ”Kau baik-baik saja, Harry?” Neville sedang bertanya, ”Mau duduk? Kukira kau lelah, apakah—“ “Tidak,” sahut Harry. Ia menatap Ron dan Hermione, mencoba memberitahu tanpa kata pada mereka bahwa Voldemort baru saja mengetahui salah satu Horcruxnya sudah hancur. Waktu berjalan cepat: jika Voldemort memilih untuk mengunjungi Hogwarts sekarang, maka mereka akan kehilangan kesempatan. “Kita harus berjalan terus,” kata Harry dan raut wajah Ron serta Hermione mengatakan bahwa mereka mengerti. ”Apa yang akan kita lakukan, Harry?” tanya Seamus, ”apa rencanamu?” ”Rencana?” ulang Harry. Ia mengerahkan semua kemampuannya untuk menghalangi dirinya tergoda lagi ke dalam kemarahan Voldemort, bekas lukanya masih membara. ”Ada sesuatu yang harus kami—Ron, Hermione, dan aku—perlu kerjakan, dan setelah itu kami keluar dari sini.” Tak ada tawa atau pekikan lagi, Neville nampak bingung. ”Apa yang kau maksud ’keluar dari sini’?” ”Kami tidak kembali untuk tinggal,” sahut Harry, mengusap bekas lukanya, mencoba mengurangi nyerinya, ”Ada sesuatu yang penting yang harus kami lakukan—” ”Apa itu?” ”Aku—aku tak bisa bilang.” Gumam-gumam keheranan, alis Neville berkerut. ”Kenapa tidak bisa bilang pada kami? Sesuatu untuk melawan Kau-Tahu-Siapa, kan?” ”Well, ya—” ”Kalau begitu, kami akan menolongmu.” Anggota Laskar Dumbledore yang lain menganggukkan kepala, beberapa antusias, beberapa lagi serius. Beberapa dari mereka bangkit dari kursinya untuk menunjukkan keinginan mereka bertindak saat itu juga. ”Kau tidak mengerti,” Harry nampak sudah mengatakannya berkali-kali dalam beberapa jam terakhir ini. ”Kami—kami tidak bisa bilang. Kami harus mengerjakannya—sendiri.” ”Kenapa?” tanya Neville. ”Karena ...” dalam keputusasaan untuk mencari Horcrus yang hilang, atau paling tidak bisa atau tidak mendiskusikannya dengan Ron dan Hermione bagaimana mereka bisa memulai pencarian, Harry menemui kesulitan untuk mengumpulkan pikirannya. Bekas lukanya masih terbakar. ”Dumbledore meninggalkan pekerjaan untuk kami bertiga,” sahutnya hati-hati, ”dan kami seharusnya mengatakan—maksudku, ia menginginkan kami untuk melakukannya, hanya kami bertiga.” ”Kami Laskar-nya,” sahut Neville, ”Laskar Dumbledore. Kami selalu bersama, kami selalu melawan walau saat kalian bertiga sedang tak ada—” ”Kami bukan sedang piknik, sobat,” sahut Ron. ”Aku tidak bilang begitu, tapi aku tidak melihat alasan mengapa kalian tidak bisa mempercayai kami. Tiap orang di Kamar Kebutuhan ini berjuang, dan mereka ada di sini karena Carrow bersaudara mengejar mereka semua. Semua di sini sudah terbukti setia pada Dumbledore—setia padamu.” ”Begini,” Harry mulai, tanpa tahu apa yang akan ia katakan, tetapi itu tak jadi soal, pintu terowongan membuka di belakangnya. ”Kami dapat pesanmu, Neville! Hello kalian bertiga, kupikir kalian pasti ada di sini!” Luna dan Dean. Seamus meraung gembira dan lari memeluk sobat baiknya itu. “Hai, semuanya!” sahut Luna gembira, “Oh, senangnya bisa kembali!” ”Luna,” Harry merasa teralihkan, ”apa yang sedang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa—?” ”Aku beritahu dia,” sahut Neville, mengacungkan Galleon palsunya, ”Aku janji padanya dan Ginny, kalau kau muncul mereka akan kuberitahu. Kami semua berpikir jika kau kembali, itu artinya revolusi. Bahwa kita akan menyingkirkan Snape dan Carrow bersaudara.” ”Tentu saja artinya memang demikian,” sahut Luna berseri-seri. ”Iya, kan, Harry? Kita berjuang mengeluarkan mereka dari Hogwarts?” ”Dengar,” sahut Harry, mulai panik, ”Maaf, tapi bukan untuk itu kami kembali. Ada yang harus kami kerjakan, lalu—” ”Kau akan meninggalkan kami dalam situasi seperti ini?” tuntut Michael Corner. ”Bukan!” sahut Ron, ”Apa yang kami kerjakan akan menguntungkan bagi semua orang, itu berkaitan dengan menyingkirkan Kau-Tahu-Siapa—” ”Kalau begitu, biarkan kami menolong!” sahut Neville marah, ”Kami ingin menjadi bagian!” Ada suara lagi di belakang, dan Harry menoleh. Jantungnya nampaknya akan berhenti: Ginny sedang memanjat lubang di dinding, disusul Fred, George, dan Lee Jordan. Ginny tersenyum berseri-seri pada Harry: Harry sudah lupa atau tak pernah benar-benar menghargai, betapa cantiknya dia, tapi dia senang sekali bertemu Ginny. “Aberforth mulai sedikit nampak seperti tikus,” sahut Fred mengangkat tangannya membalas beberapa teriakan menyambutnya, “dia tidak bisa tidur katanya, dan barnya berubah nenjadi stasiun kereta api!” Mulut Harry terbuka. Tepat di belakang Lee Jordan, datang pacar lama Harry, Cho Chang. Dia tersenyum pada Harry. “Aku dapat pesan,” sahutnya mengangkat Galleonnya, dan dia terus berjalan untuk duduk di samping Michael Corner. “Jadi, apa rencananya, Harry?” tanya George. “Tidak ada rencana,” sahut Harry, masih bingung dengan kemunculan tiba-tiba orangorang ini, belum bisa mengerti saat bekas lukanya masih membakar dengan ganas. “Biarkan saja berjalan sendiri, kan? Kesukaanku!” sahut Fred. ”Kau harus menghentikan ini!” sahut Harry pada Neville. ”Kenapa kau memanggil mereka? Kau gila—” ”Kita akan bertempur, kan?” sahut Dean, mengacungkan Galleon palsunya, ”Pesannya berbunyi Harry kembali, dan kita akan bertempur. Walau aku harus mendapat tongkat dulu—” ”Kau belum dapat tongkat—” Seamus mulai. Ron tiba-tiba berbalik pada Harry. “Kenapa mereka tidak bisa menolong?” ”Apa?” ”Mereka bisa menolong.” Ia menurunkan suaranya sehingga tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya kecuali Hermione, yang berdiri di antara mereka. ”Kita tidak tahu Horcrux itu ada di mana. Kita harus mencarinya cepat. Kita tidak usah bilang kalau itu Horcrux.” Harry memandang Ron lalu Hermione yang bergumam, ”Kupikir Ron benar. Kita bahkan tidak tahu apa yang kita cari, kita memerlukan mereka.” Dan saat Harry nampak tidak yakin, ”Kau tidak harus mengerjakan semua sendirian, Harry.” Harry berpikir cepat, bekas lukanya masih berdenyut, kepalanya seperti mau pecah lagi. Dumbledore sudah memperingatkan agar dia jangan mengatakan pada siapapun kecuali Ron dan Hermione. Rahasia dan dusta, begitulah kami tumbuh, dan Albus ... dia memang sepantasnya ... Apakah dia sudah berubah menjadi Dumbledore, menyimpan semua rahasia di dadanya, takut mempercayai orang lain? Tetapi Dumbledore percaya pada Snape, dan kemana akhirnya? Dibunuh di atas menara tertinggi ... ”Baiklah,” ujarnya pelan pada kedua temannya, ”OK,” serunya ke seluruh Kamar, dan semua suara berhenti: Fred dan George yang sedang menertawakan suatu lelucon langsung terdiam, dan semua waspada, bergairah. ”Ada sesuatu yang harus kami temukan,” sahut Harry, ”Sesuatu—sesuatu yang akan membantu kita menyingkirkan Kau-Tahu-Siapa. Ada di sini di Hogwarts, tapi kami tak tahu di mana. Mungkin kepunyaan Ravenclaw. Apakah ada yang pernah mendengar benda semacam itu? Misalnya, apa ada yang pernah melihat sesuatu dengan elang Ravenclaw padanya?” Ia menatap berharap pada sekelompok kecil Ravenclaw, pada Padma, Michael, Terry, dan Cho, tapi Luna yang menjawab, bertengger di lengan kursi Ginny. “Well, ada diademnya yang hilang. Aku pernah bilang tentangnya, inget kan, Harry? Diadem Ravenclaw yang hilang? Daddy sedang berusaha menirunya.” “Yeah, tapi diadem yang hilang itu,” sahut Michael Corner memutar matanya, “sudah hilang, Luna. Itu masalahnya.” “Kapan hilangnya?” tanya Harry. “Kata mereka sih berabad-abad lalu,” sahut Cho, dan jantung Harry terbenam. “Profesor Flitwick bilang, diadem itu lenyap bersamaan dengan Ravenclaw sendiri. Orang-orang sudah mencari, tapi,” Cho memandang rekan-rekan Ravenclawnya mencari dukungan, “tak seorangpun yang pernah menemukan bahkan jejaknya, benar kan?” Teman-temannya menggeleng. “Sori, diadem itu apa?” tanya Ron. ”Semacam mahkota,” sahut Terry Boot, ”Ravenclaw seharusnya memiliki benda sihir, meningkatkan kebijaksanaan si pemakai.” ”Ya, pipa Wrackspurt Daddy—” Tapi Harry memotong percakapan Luna. “Dan tak ada dari kalian yang pernah melihat sesuatu yang mirip dengan itu?” Anak-anak Ravenclaw itu menggeleng lagi. Harry memandang Ron dan Hermione, kekecewaannya tercermin pada wajah mereka juga. Sebuah benda, yang sudah hilang sedemikian lama, dan jelas-jelas tanpa jejak, nampaknya bukan kandidat yang baik untuk Horcrux yang tersembunyi di kastil … sebelum dia berhasil merumuskan pertanyaan baru, Cho berbicara lagi. “Kalau kau mau lihat seperti apa diadem itu, aku bisa membawamu ke Ruang Rekreasi kami dan memperlihatkannya padamu, Harry? Patung Ravenclaw memakainya.” Bekas luka Harry membara lagi: untuk sesaat Kamar Kebutuhan lenyap di hadapannya, sebagai gantinya ia melihat dunia gelap terbentang di bawahnya, ia merasa ular besar melilit di pundaknya. Voldemort sedang terbang lagi, entah ke danau bawah tanah atau ke sini, ia tidak tahu: ke manapun waktu yang tersisa sangat sedikit. “Ia sudah bergerak lagi,” kata Harry pelan pada Ron dan Hermione. Ia memandang Cho lalu pada yang lain. “Dengar, mungkin aku tidak banyak memberikan petunjuk, tapi aku akan pergi dan melihat patung itu, paling tidak melihat diadem itu seperti apa. Tunggu di sini dan jaga diri kalian baik-baik.” Cho sudah hendak berdiri, tapi Ginny menyahut galak, “Tidak, mending Luna yang pergi dengan Harry, iya kan, Luna?” “Ooh, iya, aku mau,” sahut Luna gembira, dan Cho duduk lagi, agak kecewa. “Bagaimana kami keluar?” tanya Harry pada Neville. ”Sebelah sini.” Ia memimpin Harry dan Luna ke sebuah sudut, di mana sebuah lemari kecil membuka ke sebuah tangga. ”Keluarnya berbeda-beda setiap hari, jadi mereka tidak dapat menemukan Kamar ini,” ujarnya. ”Masalahnya, kita juga tak tahu keluarnya di mana. Hati-hati Harry, mereka berpatroli di koridor malam-malam.” ”Tidak masalah,” sahut Harry, ”Sampai ketemu lagi.” Ia dan Luna bergegas ke tangga, panjang, diterangi obor, dan membelok di tempat-tempat yang tak terduga. Akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang nampak seperti dinding padat. “Ke bawah sini,” sahut Harry pada Luna, mengeluarkan Jubah Gaib dan mengerudungkannya ke atas mereka berdua. Ia mendorong dinding sedikit. Dindingnya meleleh saat disentuh dan mereka menyelinap keluar: Harry melirik ke belakang dan melihat dindingnya menutup kembali seketika. Mereka berdiri di koridor yang gelap: Harry menarik Luna mundur ke kegelapan bayangan, meraba-raba kantong di sekeliling lehernya dan mengeluarkan Peta Perompak. Dipegangnya dekat hidung, ia mencari titik dengan namanya dan nama Luna. ”Kita di lantai lima,” bisiknya, mengamati Filch bergerak menjauh dari mereka, satu koridor ke depan. ”Ayo, ke sini.” Mereka mengendap-endap. Harry sudah sering berkeliling kastil di malam hari, namun jantungnya belum pernah berdetak sekencang ini, belum pernah sebegitu bergantungnya ia pada jalan yang aman di tempat ini. Melewati tempat bercahaya bulan di lantai, melewati perangkat baju besi yang helmnya berderak saat langkah kaki mereka berbunyi halus, melewati sudut di mana siapa yang bisa tahu ada siapa bersembunyi, Harry dan Luna berjalan, sesekali memeriksa Peta Perompak manakala cahaya memungkinkannya, dua kali berhenti untuk membiarkan [seorang, sebuah, selembar, sehelai?] hantu lewat sehingga mereka tidak menarik perhatian. Ia berjaga-jaga jangan sampai ada halangan tiap saat: ketakutan terbesarnya adalah Peeves, ia menajamkan telinganya dalam tiap langkah agar bisa mendengar setiap tanda jika si pembuka rahasia itu mendekat. ”Ke sini, Harry,” Luna berbisik, menarik lengan baju Harry ke arah tangga melingkar. Mereka naik di lingkaran yang sempit dan memusingkan; Harry belum pernah ke sini sebelumnya. Akhirnya mereka mencapai sebuah pintu. Tak ada pegangan pintu, tak ada lubang kunci: tak ada apa-apa hanya pintu polos dari kayu tua dan pengetuk pintu perunggu berbentuk elang. Luna mengulurkan tangannya yang pucat, kelihatannya menakutkan melayang di tengah udara, tak terhubung dengan lengan atau tubuh. Ia mengetuk sekali, dalam keheningan kedengarannya seperti ledakan meriam. Paruh elang membuka, tapi alih-alih suara burung, malah suara lembut bagai musik berujar, ”Mana yang duluan, phoenix atau nyala api?” ”Hm ... kau pikir apa, Harry?” sahut Luna, nampak bijak. ”Apa? Bukannya ada kata kuncinya?” ”Oh, tidak, kau harus menjawab pertanyaan,” sahut Luna. ”Bagaimana kalau salah?” ”Well, kau harus menunggu seseorang menjawab dengan benar,” ujar Luna, ”dengan demikian kita jadi belajar.” ”Yeah ... masalahnya, kita tidak bisa menunggu orang lain, Luna.” ”Aku tahu apa maksudmu,” sahut Luna serius, ”Baiklah, kurasa jawabannya adalah sebuah lingkaran tak berawal.” ”Cukup beralasan,” sahut suara itu, dan pintu berayun membuka. Ruang Rekreasi Ravenclaw yang ditinggalkan itu adalah sebuah ruangan yang luas, bundar, lebih sejuk daripada yang pernah Harry rasakan di Hogwarts. Jendela melengkung yang anggun di dinding, digantungi sutra biru dan perunggu; di siang hari para Ravenclaw punya pemandangan yang indah dengan gunung-gunung yang melingkar. Langit-langit berbentuk kubah dilukisi bintang-bintang, serasi dengan karpet biru tengah malam. Ada meja-meja, kursi, rak-rak buku dan di relung berseberangan dengan pintu berdiri sebuah patung tinggi dari marmer putih. Harry mengenal Rowena Ravenclaw dari patung sedada yang ia lihat di rumah Luna. Patung itu berdiri di samping pintu ke, ia perkirakan, ke kamar-kamar asrama di atas. Ia melangkah mendekati wanita marmer itu, nampak dia memandang balik padanya dengan pandangan aneh. Setengah senyum pada wajahnya, cantik tapi sedikit menakutkan. Sebuah lingkaran yang kelihatannya lembut dibuat tiruannya dari marmer di atas kepalanya. Mirip tiara yang dipakai Fleur di hari pernikahannya. Ada kata-kata kecil dipahatkan di situ. Harry melangkah keluar dari kerudungan Jubah, menaiki standar patung Ravenclaw itu untuk membacanya. Bijak melampaui ukuran adalah kekayaan terbesar manusia ”Yang akan membuatmu cukup miskin, dungu!” sebuah suara berkotek. Harry berbalik cepat, terpeleset dari standar patung dan mendarat di lantai. Sosok berbahu miring, Alecto Carrow, berdiri di hadapannya, dan saat Harry mengangkat tongkatnya, Alecto menekankan jari telunjuknya yang pendek gemuk pada tanda tengkorak dan ular di lengannya. Chapter 30 The Sacking of Severus Snape PEMECATAN SEVERUS SNAPE Saat jari Alecto menyentuh Tanda, bekas luka Harry terasa terbakar liar, ruang berbintang tiba-tiba lenyap dari pandangan, dan Harry berdiri di atas puncak potongan batu di bawah sebuah karang, ombak laut bergulung di sekitarnya, dan kemenangan di hatinya—mereka mendapatkan anak itu. Sebuah letusan keras membawa Harry kembali ke tempat ia berdiri: bingung, ia mengangkat tongkatnya, tapi penyihir di hadapannya segera terjatuh ke depan, ia menabrak lantai sedemikian keras sampai-sampai kaca-kaca di rak buku bergemerincing. “Aku belum pernah Memingsankan orang kecuali dalam pelajaran LD kita,” sahut Luna, terdengar agak tertarik. “Lebih berisik dari yang kuduga.” Sudah barang tentu, langit-langit mulai bergetar. Langkah kaki bergegas, bergema, terdengar lebih keras di balik pintu menuju asrama; mantra Luna membangunkan para murid Ravenclaw yang tidur di lantai atas. “Luna, kau di mana? Aku harus masuk ke bawah Jubah!” Kaki Luna muncul entah dari mana; Harry bergegas berdiri ke sebelahnya dan Luna membiarkan Jubah jatuh kembali mengerudungi mereka berdua saat pintu terbuka dan sebarisan Ravenclaw, semua dalam pakaian tidur, membanjiri Ruang Rekreasi. Ada yang menahan napas, ada yang menjerit, terkejut saat melihat Alecto tergeletak tak sadarkan diri. Pelan-pelan, takut-takut mereka mengelilingi Alecto, seperti seekor binatang buas yang bisa bangun kapan saja dan menyerang mereka. Lalu seorang anak kelas satu, kecil tapi pemberani maju mendekati Alecto, menusuk punggung Alecto dengan jari kakinya. ”Kukira dia sudah mati!” teriak anak itu kegirangan. ”Oh, lihat,” bisik Luna gembira, saat para Ravenclaw mengerumuni Alecto, ”mereka senang!” ”Yeah ... hebat ...” Harry menutup matanya, dan saat bekas lukanya berdenyut-denyut ia memilih untuk terbenam lagi ke dalam pikiran Voldemort ... Voldemort sedang bergerak sepanjang terowongan ke dalam gua pertama ... Voldemort telah memilih untuk meyakinkan dulu bahwa leontin itu masih ada sebelum datang ke mari ... tapi itu tidak akan lama ... Terdengar ketukan di pintu Ruang Rekreasi dan tiap murid Ravenclaw membeku. Dari sisi yang lain Harry mendengar suara halus seperti nyanyian, yang dikeluarkan oleh elang pengetuk pintu: ”Ke manakah perginya barang-barang yang menghilang?” ”Ga tau, ’napa? Diam!” geram suara kasar yang Harry kenal sebagai Amycus, saudara laki-laki Carrow, ”Alecto? Alecto? Kau disitu? Kau sudah menangkapnya? Buka pintunya!” Para Ravenclaw berbisik-bisik sesama mereka, ketakutan. Lalu tanpa peringatan, serangkaian ledakan keras datang, seakan seseorang sedang menembaki pintu. ”ALECTO!. Kalau dia datang, dan kita belum menangkap Potter—kau mau bernasib sama seperti Malfoy? JAWAB!” Amycus berteriak, mengguncang pintu sekuat ia bisa, tapi tetap saja tak terbuka. Anak-anak Ravenclaw mundur, karena takut sampai ada yang melarikan diri lewat tangga ke ruang tidur. Saat Harry sedang mempertimbangkan apakah ia sebaiknya membuka pintu saja dan Memingsankan Amycus sebelum Pelahap Maut itu dapat melakukan hal lain, ternyata sedetik kemudian sebuah suara yang paling dikenalnya terdengar dari balik pintu. ”Boleh kutahu apa yang sedang Anda lakukan, Profesor Carrow?” “Mencoba—melewati—pintu—terkutuk ini!” teriak Amycus. ”Pergi dan cari Flitwick! Suruh dia buka ini, sekarang!” “Tapi bukankah saudarimu di dalam?” ujar Profesor McGonagall, “bukankah Profesor Flitwick mengijinkannya masuk tadi, atas permintaanmu yang mendesak? Mungkin dia bisa membukakan pintu untukmu? Sehingga kau tidak perlu membangunkan setengah kastil.” “Dia tidak menjawab, kau sapu tua! Kau yang buka kalau begitu! Lakukan, sekarang! “Tentu saja, bila kau menginginkannya,” sahut Profesor McGonagall sangat dingin. Ia mengetuk dengan santun, dan suara beralun itu bertanya lagi, “Ke manakah perginya barang-barang yang hilang?” “Ke ketiadaan, atau dengan kata lain, keseluruhan,” jawab Profesor McGonagall. ”Pengungkapan dengan susunan yang baik,” balas elang pengetuk pintu itu, dan pintu itu mengayun membuka. Anak-anak Ravenclaw yang masih tersisa, segera lari ke tangga begitu Amycus menyerbu masuk dari ambang pintu, mengacungkan tongkatnya. Badannya bungkuk seperti saudarinya, Amycus punya wajah pucat gemuk dan mata yang kecil, mata yang langsung menatap pada Alecto, yang tergeletak tak bergerak. Ia berteriak marah sekaligus ketakutan. ”Apa yang mereka lakukan, binatang kecil?” Amycus berteriak. ”Akan ku-Crucio mereka sampai mereka mengatakan siapa yang melakukannya—dan apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Kegelapan?” ia memekik, berdiri dekat saudarinya, memukul keningnya sendiri dengan tinjunya. ”Kita tidak menangkap anak itu, mereka sudah menyiksa dan membunuh Alecto!” “Dia hanya Dipingsankan,” sahut Profesor McGonagall tak sabar, membungkuk memeriksa Alecto. “Dia akan baik-baik saja.” “Dia tidak akan baik-baik saja!” teriak Amycus. “Tidak setelah Pangeran Kegelapan menghubunginya. Ia disuruh mencari dia, aku rasa Tanda-ku terbakar dan dia kira kami menangkap Potter!” ”Menangkap Potter?” tanya Profesor McGonagall tajam, ”apa maksudmu ’menangkap Potter’?” ”Pangeran Kegelapan mengatakan pada kami bahwa Potter akan mencoba memasuki Menara Ravenclaw, dan meminta kami mengirim kabar padanya bila kami menangkapnya!” ”Untuk apa Harry Potter memasuki Menara Ravenclaw? Potter adalah anggota asramaku!” Di bawah rasa tak percaya dan amarah, Harry merasa ada sejumput kebanggaan pada suara Profesor McGonagall, dan rasa sayang pada Minerva McGonagall memancar dari dalam diri Harry. ”Kami diberi tahu dia mungkin masuk ke sini!” sahut Carrow, ”’ga tau, kan?” Profesor McGonagall berdiri dan mata manik-maniknya menyapu ruangan. Dua kali mata itu melalui tempat Harry dan Luna berdiri. ”Kita bisa menyalahkan anak-anak,” sahut Amycus, wajah-babinya tiba-tiba bersinar. ”Yeah, itu yang akan kita lakukan. Kita akan bilang Alecto diserang oleh anak-anak, anak-anak ini,” ia memandang langit-langit berbintang di atas asrama, ”dan kita bilang mereka memaksa Alecto untuk menekan Tanda, dan karena itulah Pangeran Kegelapan mendapat tanda peringatan palsu ... Pangeran Kegelapan dapat menghukum mereka. Beberapa anak, apa bedanya?” ”Hanya perbedaan antara kebenaran dan dusta, keberanian dan kepengecutan,” sahut Profesor McGonagall yang sudah berubah pucat, ”suatu perbedaan, singkatnya, yang tidak bisa dihargai olehmu dan saudarimu. Tapi biarkan aku menjelaskannya, sangat jelas. Kau tidak akan menerapkan tindakanmu yang bodoh pada siswa-siswa di Hogwarts. Aku tidak akan mengijinkannya.” ”Apa kau bilang?” Amycus maju mendekati Profesor McGonagall, wajahnya hanya beberapa inci dari Profesor McGonagall. Profesor McGonagall menolak mundur, memandang rendah pada Amycus seakan dia itu sesuatu yang menjijikkan yang ditemukan di toilet. ”Bukan masalah apa yang kau ijinkan, Minerva McGonagall. Waktumu sudah habis. Kami sekarang yang bertugas di sini, kau mendukung kami, atau kau harus membayarnya.” Dan Amycus meludahinya. Harry membuka Jubahnya, mengangkat tongkatnya dan berucap, “Kau seharusnya tidak boleh melakukan itu.” Saat Amycus berputar menoleh, Harry berseru “Crucio!” Pelahap Maut itu terangkat kakinya, menggeliat nyeri di udara seperti orang tenggelam, menggelepar, melolong kesakitan, dan dengan suara kaca pecah ia terlempar ke depan rak buku, dan jatuh pingsan di lantai. “Aku paham maksud Bellatrix sekarang,” sahut Harry, darah menggelegak di benaknya, “kau harus benar-benar berniat untuk itu.” “Potter!” bisik Profesor McGonagall menenangkan jantungnya, “Potter—kau disini! Apa—? Bagaimana—?” ia berjuang menguasai diri, ”Potter, itu bodoh!” ”Ia meludahi Anda,” sahut Harry. ”Potter, aku—kau sangat—sangat gagah berani—tapi tidakkah kau sadari—?” ”Ya, aku sadar.” Harry meyakinkan Profesor McGonagall. Kepanikan Profesor McGonagall membuat Harry percaya diri. “Profesor McGonagall, Voldemort sedang dalam perjalanan ke sini.” “Oh, apakah sekarang kita boleh menyebut namanya?” tanya Luna dengan wajah tertarik, melepaskan Jubah Gaib. Kemunculan kedua murid yang hilang ini nampaknya membuat Profesor McGonagall kewalahan, terhuyung mundur, jatuh di kursi terdekat, mencengkeram leher baju tidur kotak-kotaknya. “Kukira tak ada bedanya kita memanggil dia apa,” Harry berkata pada Luna, “dia sudah tahu aku ada di mana.” Bagian yang jauh dari benak Harry, bagian yang terhubung dengan bekas luka yang membara, marah, ia dapat melihat Voldemort berperahu cepat di danau gelap, dengan perahu hijau remang-remang ... ia sudah nyaris mencapai pulau di mana baskom batu itu berada ... ”Kau harus pergi Potter,” bisik Profesor McGonagall, ”Sekarang, Potter, secepat kau bisa!” ”Aku tidak bisa,” sahut Harry. ”Ada yang harus kulakukan. Profesor, tahukah Anda di mana beradanya diadem Ravenclaw?” “D-diadem Ravenclaw? Tentu saja tidak—bukankah itu sudah berabad-abad hilang?” Profesor McGonagall duduk tegak, “Potter, ini gila, benar-benar gila, untuk memasuki kastil ini—“ “Saya harus,” sahut Harry, “Profesor, ada sesuatu yang tersembunyi di sini yang harus saya temukan, dan mungkin diadem itu—kalau saja saya dapat berbicara dengan Profesor Flitwick—“ Ada suara gerakan, kaca berdenting: Amycus sadar. Sebelum Harry atau Amycus bertindak, Profesor McGonagall berdiri, mengarahkan tongkatnya pada Pelahap Maut yang terhuyung-huyung itu dan berucap: Imperio. Amycus berdiri, berjalan ke arah saudarinya, memungut tongkat Alecto, berjalan dengan kaki terseret dengan patuh ia menuju Profesor McGonagall, dan menyerahkan tongkat Alecto beserta tongkatnya sendiri. Lalu ia berbaring di sisi Alecto. Profesor McGonagall mengayunkan tongkatnya lagi, seutas tali keperakan mengilap muncul dari udara, menyusup melingkari kedua Carrow, mengikat mereka berdua erat-erat. “Potter,” sahut Profesor McGonagall, menoleh pada Harry lagi, sangat mengacuhkan penderitaan kedua Carrow, “jika Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut benar-benar tahu kau ada di sini—“ Saat profesor McGonagall menucapkan ini, kemurkaan yang meyerang fisiknya melanda Harry, seakan menyalakan api di bekas lukanya, dan dalam sedetik ia sudah memandang pada baskom itu, yang Ramuannya sudah habis, sudah tak ada leontin emas tergeletak di sana—” “Potter, kau baik-baik saja?” sahut sebuah suara, dan Harry kembali: dia sedang mencengkeram bahu Luna untuk menyeimbangkan dirinya. “Waktu berjalan terus, Voldemort semakin mendekat. Profesor, saya bertindak atas perintah Dumbledore, saya harus menemukan apa yang ia inginkan untuk saya temukan. Tapi kita harus mengeluarkan para siswa dulu saat saya mencari—Voldemort menginginkan saya, tapi ia tidak akan peduli membunuh lebih banyak atau lebih sedikit, tidak sekarang—” Tidak sekarang setelah ia tahu aku menghancurkan Horcruxesnya, Harry menyelesaikan kalimat di dalam kepalanya. ”Kau bertindak atas perintah Dumbledore?” Profesor McGonagall mengulangi, dengan tatapan keheranan. Ia membenahi diri. “Kita akan mengamankan sekolah ini dari Dia Yang Namanya Tidak Boleh Disebut saat kau mencari benda—benda ini.” “Mungkinkah?” “Kukira ya,” sahut Profesor McGonagall datar dan kering, “kami guru-guru punya sihir yang cukup baik, kau tahu. Aku yakin kita bisa menahan dia untuk beberapa lama bila kami mengerahkan segala daya upaya. Tentu saja sesuatu harus dilakukan pada Profesor Snape—” ”Biarkan saya—” ”—dan jika Hogwarts memang akan memasuki keadaan siaga, dengan Pangeran Kegelapan di pintu gerbang, tentu saja harus diupayakan sebanyak mungkin orang yang tak bersalah, tak terlibat. Dengan Jaringan Floo diawasi dan tak mungkin menggunakan Apparate di daerah ini—” “Ada caranya,” sahut Harry cepat, dan ia menjelaskan jalan masuk yang mengarah ke Hog’s Head. “Potter, kita bicara tentang ratusan siswa—“ “Saya tahu, Profesor, tapi jika Voldemort dan para Pelahap Maut berkonsentrasi pada tapal batas sekolah, mereka tidak akan tertarik pada siapapun yang ber-DisApparate dari Hog’s Head. “Boleh juga,” Profesor McGonagall setuju. Ia menunjukkan tongkatnya pada kedua Carrow, dan jaring perak jatuh di atas tubuh mereka yang terikat, menyimpul sendiri dan menggantung kedua bersaudara itu di udara, terayun-ayun di bawah langit-langit biru dan keemasan, seperti dua binatang yang jelek dan besar. “Ayo, kita harus memperingatkan Kepala–Kepala Asrama yang lain. Kalian lebih baik memakai Jubah itu lagi.” Ia berjalan gagah menuju pintu, sambil mengangkat tongkatnya. Dari ujung tongkatnya muncul tiga ekor kucing perak dengan tanda seperti kacamata di sekeliling mata mereka. Para Patronus itu berlari mendahului, mengilap, mengisi tangga spiral dengan cahaya keperakan, saat Profesor McGonagall, Harry, dan Luna bergegas turun. Sepanjang koridor para Patronus itu berlomba, dan satu demi satu meninggalkan mereka, gaun tidur kotak-kotak Profesor McGonagall menyapu lantai, Harry dan Luna berlari di belakangnya di bawah naungan Jubah. Mereka sudah menuruni dua lantai saat terdengar langkah sepasang kaki pelan. Harry yang bekas lukanya masih menusuk-nusuk, mendengarnya duluan, ia merasa dalam kantong jubahnya ada Peta Perompak, tapi sebelum ia mengeluarkannya, McGonagall nampaknya sudah waspada juga. Ia berhenti, mengangkat tongkatnya siap berduel, dan berkata, ”Siapa itu?” ”Ini aku,” sahut sebuah suara rendah. Dari belakang seperangkat baju besi melangkahlah Severus Snape. Kebencian menggelora begitu Harry melihatnya; ia sudah lupa rincian penampilan Snape dengan kejahatannya, lupa bagaimana rambutnya yang hitam dan berminyak tergantung seperti tirai membingkai wajahnya yang kurus, bagaimana mata hitamnya punya tatapan yang dingin mematikan. Snape tidak memakai baju tidur tapi mengenakan jubah hitamnya yang biasa, dan dia juga sedang memegang tongkatnya siap bertempur. ”Di mana Carrow bersaudara?” tanyanya tenang. “Kurasa berada di tempat yang kau suruh, Severus,” sahut Profesor McGonagall. Snape melangkah mendekat dan matanya melihat berganti-ganti antara pada Profesor McGonagall dan ke udara di sekitarnya, sepertinya ia bisa tahu bahwa Harry ada di situ. Harry mengangkat tongkatnya juga, siap menyerang. “Aku mendapat kesan,” sahut Snape, “bahwa Alecto berhasil menemukan seorang penyelundup.” “Benarkah?” tanya Profesor McGonagall, “Dan apakah yang membuatmu mempunyai kesan demikian?” Snape membuat gerakan kecil pada tangan kirinya, di mana Tanda Kegelapan diterakan. ”Oh, tapi itu wajar,” sahut Profesor McGonagall, ”Kalian para Pelahap Maut punya sarana komunikasi sendiri, aku lupa.” Snape pura-pura tak mendengar. Matanya masih memeriksa udara di sekitar Profesor McGonagall, dan Snape bergerak mendekat perlahan seperti tak memerhatikan apa yang sedang dia lakukan. “Aku tak tahu malam ini giliranmu mengawasi koridor, Minerva.” ”Kau keberatan?” ”Aku heran apa yang bisa membuatmu keluar kamar selarut ini?” ”Kukira aku mendengar keributan,” sahut Profesor McGonagall. ”Benarkah? Tapi semua seperti tenang.” Snape memandang mata Profesor McGonagall. “Apakah kau melihat Harry Potter, Minerva? Karena kalau kau melihat, aku terpaksa—“ * Profesor McGonagall bergerak lebih cepat dari apa yang bisa Harry percayai: tongkatnya megiris udara dan untuk sedetik Harry mengira Snape telah rubuh, tak sadar, tapi dengan kecepatan Mantra Pelindungnya, justru McGonagall yang kehilangan keseimbangan. McGonagall mengarahkannya tongkatnya pada sebuah obor di dinding dan obor itu melayang dari standarnya; Harry, nyaris merapal kutukan pada Snape, terpaksa menarik Luna agar tidak terkena nyala api, yang kemudian menjadi cincin api yang memenuhi koridor dan terbang seperti laso menuju Snape. Sekarang bukan lagi api, tapi ular hitam dan besar yang diledakkan McGonagall menjadi asap, lalu berubah bentuk dan mengeras dalam hitungan detik menjadi sekumpulan belati yang mengejar; Snape menghindarinya dengan menarik baju besi ke hadapannya, dengan suara logam berbenturan, belati itu terbenam satu demi satu di bagian dada— “Minerva!” seru suara mencicit, dan di belakangnya, masih melindungi Luna dari mantra terbang, Harry melihat Profesor Flitwick dan Profesor Sprout berlari menyusuri koridor mendekati mereka masih memakai pakaian tidur, dengan Profesor Slughorn terengahengah di belakangnya. “Tidak!” Flitwick memekik, mengangkat tongkatnya, “Kau tidak boleh membunuh lagi di Hogwarts!” Mantra Flitwick membentur baju besi yang digunakan Snape untuk perlindungan; dengan suara berisik baju besi itu hidup. Snape berjuang melepaskan diri dari tangan besi yang meremukkan, dan mengirimnya terbang kembali pada penyerangnya; Harry dan Luna harus menunduk ke samping untuk menghindarinya, dan tangan besi itu terhempas ke dinding dan hancur. Saat Harry melihat lagi, Snape sudah benar-benar melarikan diri, McGonagall, Flitwick, dan Sprout segera mengejarnya; Snape meluncur lewat pintu kelas dan sesaat kemudian Harry mendengar McGonagall berteriak: “Pengecut! PENGECUT!” “Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?” tanya Luna. Harry menariknya agar berdiri dan mereka berlomba sepanjang koridor, menyeret Jubah di belakang mereka, menuju kelas kosong di mana Profesor McGonagall, Flitwick, dan Sprout berdiri di dekat jendela pecah. ”Ia melompat,” sahut Profesor McGonagall, saat Harry dan Luna lari memasuki ruangan. ”Anda pikir dia mati?” Harry berlari ke jendela, mengacuhkan teriakan kaget Flitwick dan Sprout atas kemunculan Harry yang tiba-tiba.. “Tidak, dia tidak mati,” sahut McGonagall pahit, “Tidak seperti Dumbledore, dia masih memegang tongkat … dan dia nampaknya mempelajari kiat-kiat dari gurunya.” Dengan perasaan ngeri, Harry melihat dari kejauhan bentuk seperti kelelawar besar terbang melalui kegelapan menuju tembok perbatasan. Suara kaki yang berat dan napas terengah-engah terdengar di belakang mereka: Slughorn baru saja menyusul. “Harry!” ia terengah-engah, mengurut dadanya yang besar di bawah piama sutra hijau zamrud. “Anakku … kejutan … Minerva, tolong jelaskan … Severus … apa …?” “Kepala Sekolah kita mengambil jalan pintas,” sahut Profesor McGonagall, menunjuk lubang sebesar-Snape di jendela. “Profesor!” Harry berteriak, kedua tangan di keningnya. Ia dapat melihat danau yang penuh-Inferi, meluncur di bawahnya, ia merasa perahu hijau remang-remang membentur pantai bawah tanah, Voldemort melompat dari perahu dengan niat membunuh di hatinya … “Profesor, kita harus membuat barikade di sekolah, ia datang sekarang!” “Baiklah. Dia Yang Namanya Tidak Boleh Disebut datang,” Profesor McGonagall berkata pada guru-guru lain. Sprout dan Flitwick menahan napas; Slughorn mengerang pelan. “Ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh Potter di kastil ini, atas perintah Dumbledore. Kita harus melindungi tempat ini sebisa kita, saat Potter mengerjakan apa yang harus dikerjakan.” ”Kau sadar tentu saja, bahwa tidak ada yang bisa kita kerjakan untuk mencegah Kau Tahu Siapa masuk selamanya?” cicit Flitwick. ”Tapi kita bisa menahannya,” sahut Sprout. ”Terima kasih, Pomona,” sahut Profesor McGonagall, dan di antara keduanya terjalin kesepahaman yang kuat. ”Aku menyarankan kita membangun perlindungan dasar di sekitar tempat ini, mengumpulkan siswa-siswa dan berkumpul di Aula Besar. Sebagian besar tentu saja harus dievakuasi, walau jika ada yang sudah cukup umur ingin tinggal dan bertempur, kukira mereka harus diberi kesempatan.” ”Setuju,” sahut Profesor Sprout, sudah bergegas menuju pintu. “Aku akan bertemu lagi dengan kalian di Aula Besar dalam 20 menit dengan anggota asramaku.” Dan selagi ia berjalan keluar tak terlihat lagi, mereka masih bisa mendengar ia menggumam. ”Tentakula. Jerat Setan. Dan Kacang Snargaluffs ... ya aku ingin melihat Pelahap Maut bertempur dengan mereka.” ”Aku bisa mulai dari sini,” sahut Flitwick, dan walau ia tak bisa melihat keluar jendela pecah itu, ia menunjukkan tongkatnya dan menggumamkan mantra yang sangat rumit. Harry mendengar suara gemuruh yang aneh, seperti Flitwick sudah melepaskan kekuatan angin pada tanah. ”Profesor,” sahut Harry, mendekati ahli Mantra yang badannya kecil ini, ”Profesor, maaf menyela, tapi ini penting. Apakah Anda tahu di manakah diadem Ravenclaw?” ”... Protego horribilis—diadem Ravenclaw?” cicit Flitwick, “sedikit tambahan kebijakan tak pernah keliru, Potter, tapi kukira tidak akan banyak berguna dalam keadaan ini!” “Saya hanya bermaksud—tahukah Anda di mana? Pernahkah Anda melihatnya?” “Melihatnya? Tak ada orang yang masih hidup yang mengingatnya. Sudah lama hilang, nak!” Harry merasa campuran antara kekecewaan dan panik. Jadi, apa dong Horcruxnya? ”Kami akan bertemu denganmu dan anak-anak Ravenclaw-mu di Aula Besar, Filius!” sahut Profesor McGonagall, memberi isyarat pada Harry dan Luna untuk mengikutinya. Mereka baru saja mencapai pintu saat Slughorn berbicara tak keruan. ”Kubilang,” ia menghembuskan napas, pucat dan berkeringat, kumis anjing lautnya menggigil, ”Apa yang mau dilakukan? Aku tak yakin ini bijak, Minerva. Dia pasti mencari jalan masuk, kau tahu, dan siapapun yang mencoba melambatkannya, akan berada dalam bahaya yang menyedihkan.” ”Aku mengharapkan kau dan para Slytherin di Aula Besar dalam 20 menit juga,” sahut Profesor McGonagall, ”kalau kau ingin pergi dengan siswa-siswa, kami tak akan menghentikanmu. Tapi kalau kau mencoba untuk menyabotase pertahanan kami, atau mengangkat senjata melawan kami dalam kastil ini, maka, Horace, kita akan duel sampai mati.” ”Minerva!” Horace terperanjat. ”Waktunya tiba untuk Asrama Slytherin untuk memutuskan di mana kesetiaannya berada,” sela Profesor McGonagall. ”Pergi dan bangunkan siswa-siswamu, Horace!” Harry tak berdiam diri menyaksikan Slughorn merepet: ia dan Luna bergegas mengejar Profesor McGonagall, yang sudah bersiaga di tengah koridor dan mengangkat tongkatnya. ”Piertotum—oh, ya ampun, Filch, tidak sekarang—” Penjaga sekolah yang sudah berumur itu baru saja datang terpincang-pincang, berseru, “Anak-anak bangun! Anak-anak di koridor!” “Mereka memang harus bangun, bodoh!” seru McGonagall, ‘sekarang pergi dan lakukan sesuatu yang berguna! Cari Peeves!” “P-Peeves?” gagap Filch, seperti dia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. ‘Ya, Peeves, bodoh, Peeves! Bukankah kau selalu mengeluh tentangnya selama seperempat abad? Cari dan jemput dia sekarang juga!” Filch jelas-jelas mengira McGonagall sudah kehilangan akal, tapi pergi juga dengan langkah terpincang-pincang, bahu membungkuk, komat-kamit. ”Dan sekarang—piertetum locomotor!” teriak Profesor McGonagall. Sepanjang koridor patung-patung dan baju besi melompat keluar dari tempatnya, dan dari suara yang bergema dari lantai-lantai di atas dan di bawah, Harry tahu bahwa temanteman sesama patung dan baju besi di seluruh kastil melakukan hal yang sama. “Hogwarts terancam!” seru Profesor McGonagall, “Mereka yang di perbatasan, lindungi kami, lakukan tugas kalian untuk sekolah kita!” Berkelontangan dan berteriak, pasukan patung bergerak melampaui Harry; sebagian dari mereka berukuran kecil sebagian lagi berukuran besar. Ada juga binatang-binatang dan baju besi yang berkelontangan menghunus pedang mereka beserta bola-bola berpaku berantai. “Sekarang, Potter,” sahut McGonagall, “ kau dan Miss Lovegood lebih baik kembali pada teman-temanmu dan bawa mereka ke Aula Besar—aku akan membangunkan para Gryffindor yang lain.” Mereka berpisah di puncak tangga berikutnya: Harry dan Luna berlari menuju pintu masuk Kamar Kebutuhan. Saat mereka berlari, mereka bertemu kerumunan siswa, sebagian besar memakai jubah bepergian di atas piama mereka, diarahkan ke Aula Besar oleh guru-guru dan para prefek. “Itu Harry Potter!” “Harry Potter!” “Itu dia, aku bersumpah, aku barusan lihat dia!” Tapi Harry tak menoleh-noleh lagi, akhirnya mereka sampai di pintu Kamar Kebutuhan. Harry menyelinap di dinding yang sudah dimantrai, yang membuka mengijinkan mereka masuk, dia dan Luna menuruni tangga dengan cepat. ’Ap—” Saat ruangan terlihat jelas, Harry terpeleset beberapa anak tangga saking terkejutnya. Ruangan itu penuh sesak dibandingkan saat mereka pergi tadi. Kingsley dan Lupin memandang mereka, seperti juga Oliver Wood, Katie Bell, Angelina Johnson, dan Alicia Spinnet, Bill dan Fleur, Mr dan Mrs Weasley. “Harry, apa yang terjadi?” tanya Lupin di kaki tangga. ”Voldemort sedang dalam perjalanan ke mari, guru-guru sedang membuat pertahanan di sekolah—Snape melarikan diri—apa yang sedang kalian lakukan? Bagaimana kalian tahu?” ”Kami mengirim pesan pada seluruh Laskar Dumbledore,” Fred menjelaskan, ”kau tak bisa mengharapkan bahwa mereka akan senang ketinggalan sesuatu yang seru, Harry, dan para LD memberi tahu Orde Phoenix, dan begitulah... menggelinding membesar seperti bola salju.” ”Sekarang apa yang duluan, Harry?” tanya George, ”apa yang terjadi?” “Guru-guru sedang mengevakuasi anak-anak yang lebih muda, dan semua orang berkumpul di Aula Besar agar mudah mengorganisirnya,” sahut Harry, “kita akan bertempur.” Suara gemuruh membahana melanda kaki tangga, Harry terpepet ke dinding saat mereka berlari melewatinya, campuran anggota Orde Phoenix, Laskar Dumbledore, tim Quidditch lama Harry, semua dengan tongkat teracung siaga, menuju ke bagian utama kastil. “Ayo, Luna!” Dean memanggil saat ia melewatinya, mengulurkan tangannya yang kosong, Luna menyambutnya dan berdua berpegang tangan menaiki tangga. Kerumunan itu menyusut, tinggal sedikit sisanya di Kamar Kebutuhan, dan Harry bergabung. Mrs Weasley sedang beradu pendapat dengan Ginny dikelilingi Lupin, Fred, George, Bill dan Fleur. “Kau masih di bawah umur!” Mrs Weasley berseru pada anak perempuannya saat Harry mendekat. “Aku tidak akan mengijinkanmu. Anak laki-laki boleh, tapi kau harus pulang!” ”Aku tidak mau!” Rambut Ginny bertemperasan saat ia menarik lengannya dari cengkeraman ibunya. ”Aku anggota LD—” ”—kelompok anak belasan tahun—” ”Kelompok anak belasan tahun yang akan menghadapi dia, di mana tak ada orang lain yang berani!” sahut Fred. ”Dia baru enambelas tahun,” jerit Mrs Weasley, ”Dia belum cukup umur! Apa yang kalian berdua pikirkan, membawanya dengan kalian—“ Fred dan George nampak agak malu dengan diri mereka sendiri. “Mum benar, Ginny,” sahut Bill lembut, “Kau belum boleh. Setiap yang belum cukup umur harus pergi, itu baru benar.” “Aku tak bisa pulang!” Ginny berseru, air mata kemarahan berkilat di matanya, “Seluruh keluargaku di sini, aku tak bisa menunggu sendiri, dan tak tahu apa-apa, dan—“ Matanya bertemu dengan mata Harry untuk pertama kali. Ia menatap Harry, memohon, tapi Harry menggelengkan kepalanya, dan Ginny memalingkan wajahnya, pedih. “Baiklah,” sahutnya, menatap jalan ke terowongan kembali ke Hog’s Head. “Selamat tinggal kalau begitu, dan—“ Ada suara keributan, lalu suara gedebuk keras; seseorang merangkak keluar dari terowongan, kehilangan keseimbangan sedikit dan terjatuh. Ia berpegangan di kursi terdekat lalu berdiri, melihat sekeliling lewat kacamata bingkai tanduk yang miring dan berkata, “Apa aku terlambat? Sudah mulai? Aku baru tahu, jadi aku—aku—“ Percy merepet lalu berhenti. Jelas-jelas dia tak berharap akan bertemu dengan keluarganya sebanyak ini. Mereka terdiam heran untuk waktu yang lama, dipecahkan oleh Fleur menoleh pada Lupin dan berkata, yang kelihatan sekali bermaksud untuk memecahkan ketegangan, “Jadi—b’gimana zee kecheel Teddy?” Lupin mengejapkan mata pada Fleur, bingung. Keheningan di antara Weasley nampaknya membeku seperti es. ”Aku—oh ya—dia baik!” Lupin berkata keras-keras, ”Ya, Tonks bersamanya—di rumah ibunya.” Percy dan Weasley lainnya masih saling pandang, membeku. “Ini, aku punya potretnya!” Lupin berseru, mengeluarkan selembar foto dari balik jaketnya dan memperlihatkannya pada Fleur dan Harry, yang melihat seorang bayi kecil dengan seberkas rambut tosca terang melambaikan tinjunya yang gemuk pada kamera. “Aku bodoh!” Percy meraung, begitu kerasnya hingga Lupin nyaris menjatuhkan fotonya. “Aku tolol, aku brengsek sombong, aku—aku—“ “Pecinta-Kementrian, penolak-keluarga, pandir haus-kekuasaan,” sahut Fred. Percy menelan ludah. ”Ya, memang!” ”Well, kau takkan bisa ngomong lebih baik lagi dari itu,” sahut Fred, mengulurkan tangan pada Percy. Mrs Weasley bercucuran airmata. Ia berlari mendekat, mendorong Fred ke sisi dan menarik Percy ke dalam pelukan yang mencekik, sementara Percy menepuk-nepuk punggung ibunya, matanya tertuju pada ayahnya. “Maafkan aku, Dad,” sahut Percy. Mr Weasley mengerjap cepat, kemudian dia juga bergegas memeluk anaknya. “Apa yang membuatmu sadar, Perce?” George mengusut. “Sudah timbul agak lama,” sahut Percy, menghapus air matanya di bawah kacamata dengan ujung jubah bepergiannya. “Tapi aku harus mencari jalan keluar, dan itu tidak mudah, di Kementrian mereka memenjarakan pengkhianat setiap saat. Aku berhasil menghubungi Aberforth dan dia memberi peringatan padaku sepuluh menit lalu bahwa Hogwarts akan bertempur, jadi inilah aku.” ”Well, kami memang membutuhkan para prefek untuk memimpin pada saat seperti sekarang,” sahut George sambil menirukan gaya Percy yang paling angkuh, ”Sekarang ayo kita naik dan bertempur, kalau tidak nanti kita tidak kebagian Pelahap Maut.” ”Jadi kau kakak iparku sekarang?” sahut Percy, berjabat tangan dengan Fleur saat mereka bergegas menuju tangga bersama Bill, Fred dan George. “Ginny!” hardik Mrs Weasley. Ginny sudah mencoba, diselubungi perdamaian, untuk menyelinap naik tangga juga. “Molly, bagaimana kalau begini,” sahut Lupin, “Kenapa Ginny tidak tinggal di sini saja, sehingga paling tidak dia ada di tempat kejadian dan tahu apa yang terjadi, tapi dia tak terlibat dalam pertempuran?” “Aku—“ “Gagasan yang bagus,” sahut Mr Weasley teguh, “Ginny, kau tinggal di kamar ini, kau dengar?” Ginny nampaknya tak begitu menyukai gagasan itu, tapi di bawah tatapan mata ayahnya yang tidak biasanya, keras, ia mengangguk. Mr dan Mrs Weasley beserta Lupin menuju tangga juga. “Ron mana?” tanya Harry, “Hermione mana?” “Mereka pasti sudah naik ke Aula Besar,” Mr Weasley berkata lewat bahunya. “Aku tidak melihat mereka melewatiku,” sahut Harry. ”Mereka tadi ngomong sesuatu tentang kamar mandi,” sahut Ginny, ”tak lama setelah kau pergi.” ”Kamar mandi?” Harry menyeberangi Kamar menuju sebuah pintu yang terbuka di bagian awal Kamar Kebutuhan dan memeriksa kamar mandi yang ada di sana. Kosong. ”Kau yakin mereka bilang kamar—” Tapi kemudian bekas lukanya terbakar, Kamar Kebutuhan menghilang: ia sedang memeriksa gerbang yang tinggi, terbuat dari besi tempa, dengan babi-bersayap di tiang di tiap sisi, memeriksa tanah yang gelap menuju ke kastil terang benderang. Nagini melingkar di bahunya. Ia sudah kerasukan perasaan dingin dan kejam yang melebihi pembunuhan. Beberapa pesan Ambu : *[Reff, pernahkah membayangkan adegan ini? Severus, mungkinkah sedang membaca pikiran Minerva? Tapi katanya kalau Legilimens pasti kerasa sakit ^^. Trus, kalau Severus dibiarkan menyelesaikan kalimatnya, kalimat seperti apa yang mau dikatakan? Lalu, kalau dia dibiarkan bicara, dan karena sesuatu hal dia bisa bertemu dengan Harry saat ini, apa yang mau dilakukan? Bilang apa? Apakah Harry akan percaya kalau Severus bilang seperti yang disuruh Dumbledore? Apakah Severus akan bicara langsung, ataukah pakai metode tertentu, Legilimens misalnya? Hehe, if dan if, dan if...] Catatan editor: Btw, ada yang mau ngasih saran judul dari Chapter 30 ini? Mungkin ada yang lebih cocok daripada 'Pemecatan Severus Snape'? Chapter 31 The Battle of Hogwarts PERTEMPURAN HOGWARTS Langit-langit sihiran di Aula Besar terlihat gelap dan bertabur bintang, dibawahnya empat meja asrama berjajar dikelilingi siswa-siswi yang berkerumun tak beraturan, beberapa mengenakan jubah bepergian, yang lain memakai baju rumah. Disana-sini terlihat kilauan seputih mutiara hantu-hantu sekolah. Setiap mata, hidup dan mati, tertuju pada Prof. McGonagall, yang berbicara dari podium di depan aula. Disampingnya berdiri guru-guru yang tersisa, termasuk sang centaurus, Firenze, dan para anggota Orde Phoenix yang datang untuk bertempur. “Evakuasi akan dipandu oleh Mr. Filch dan Madam Pomfrey. Prefek, jika kuberi komando, atur asrama kalian dan pimpin dengan rapi seperti biasa menuju titik evakuasi.” Banyak diantara siswa yang terlihat ketakutan. Tiba-tiba, ketika Harry menyusuri dinding, mencari Ron dan Hermione di meja Gryffindor, ErnieMcMillan berdiri diatas meja Hufflepuff dan berteriak; “Bagaimana jika kami ingin tinggal dan bertarung?” Terdengar gemuruh tepuk tangan. “Jika usiamu cukup, kau boleh tinggal,” ucap Prof. McGonagall. “Bagaimana dengan barang-barang kami?” tanya seorang gadis di meja Ravenclaw. “Kopor dan burung hantu kami?” “Kita tidak punya waktu untuk untuk mengumpulkan barang-barang,” kata Prof. McGonagall. “Yang terpenting adalah mengeluarkan kalian dari sini dengan selamat.” “Dimana Prof. Snape?” teriak seorang gadis di meja Slytherin. “Dia sedang -menggunakan bahasa umum- bersembunyi di kolong tempat tidur,” jawab Prof. McGonagall yang disambut sorak-sorai dari anggota asrama Gryffindor, Hufflepuff dan Ravenclaw. Harry bergerak di aula sepanjang meja Gryffidor, masih mencari Ron dan Hermione. Ketika dia lewat, wajah-wajah menoleh memandangnya, dan suara bisik-bisik memecah perhatiannya. “Kami telah membuat perlindungan di sekitar kastil,” Prof. McGonagall berkata, ”tapi sepertinya tidak bisa bertahan lama kecuali kita memperkuatnya. Oleh karena itu, aku meminta kalian, untuk bergerak cepat dan tenang, dan lakukan seperti prefek kalian—“ Tetapi kata terakhirnya tenggelam ketika suara lain bergema di seluruh aula. Suara yang tinggi, dingin dan jelas. Tak diketahui darimana asalnya. Tampaknya keluar dari dinding itu sendiri. Seperti monster yang pernah dikuasainya, suara itu mungkin telah berada disana selama berabad-abad. “Aku tahu kalian bersiap untuk bertempur.” Terdengar jeritan diantara siswa-siswa, beberapa diantaranya saling mencengkeram, mencari-cari sumber suara dalam kengerian. “Usaha kalian sia-sia, kalian tidak bisa melawanku. Aku tidak ingin membunuh kalian. Aku sangat menghormati guru-guru Hogwarts. Aku tidak ingin menumpahkan darah sihir.” Aula sunyi senyap sekarang, kesunyian yang menantang gendang telinga, yang terlalu berat untuk disangga oleh dinding. “Berikan Harry Potter padaku,” kata suara Voldemort, “dan mereka tak akan disakiti. Berikan Harry Potter padaku, dan aku akan meninggalkan sekolah tanpa menyentuhnya. Berikan Harry Potter padaku dan kalian akan diberi penghargaan.” “Kalian mempunyai waktu hingga tengah malam.” Kesunyian kembali menelan mereka. Setiap kepala menoleh, setiap mata tampaknya berusaha mencari Harry, membuat Harry membeku dalam ribuan tatapan mata. Lalu sesosok tubuh bangkit dari meja Slytherin dan Harry mengenali Pansy Parkinson ketika ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menjerit, “Tapi ia disini! Potter disini! Tangkap dia!” Sebelum Harry bisa berkata-kata, tampak terbentuk gerakan besar-besaran. Anak –anak Gryffindor di depannya berdiri dan menghadang, bukan Harry, tetapi anak-anak Slytherin. Kemudian anak-anak Hufflepuff berdiri, dan hampir bersamaan, anak-anak Ravenclaw, mereka semua membelakangi Harry, semuanya malah menghadap Pansy, dan Harry, yang terpesona dan gembira, melihat tongkat muncul dimana-mana, ditarik dari dalam jubah dan lengan baju. “Terima kasih, Nona Parkinson,” kata Prof. McGonagall dengan suara tercekat. “Kau boleh meninggalkan aula duluan bersama Mr. Filch, jika anggota asramamu sanggup mengikuti.” Harry mendengar derit suara bangku-bangku dan mendengar suara anak-anak Slyhterin di sisi lain aula mulai berjalan keluar. “Ravenclaw, selanjutnya!” perintah Prof. McGonagall. Perlahan keempat meja mulai kosong. Meja Slytherin telah kosong, tetapi beberapa anak Ravenclaw yang lebih tua tetap duduk sementara teman-temannya berderet keluar; bahkan lebih banyak lagi anak Hufflepuff yang tetap tinggal, dan separuh Gryffindor tetap di tempatnya, mengharuskan Prof. McGonagall turun dari podium guru untuk memandu siswa di bawah umur untuk mengikuti yang lain. “Tidak boleh, Creevey, ayo! Kau juga Peakes!” Harry bergegas menuju keluarga Weasley, yang semuanya duduk di meja Gryffindor. “Dimana Ron dan Hermione?” “Kau belum menemukan—?“ Mr. Weasley terlihat cemas. Tapi kalimatnya terhenti ketika Kingsley menaiki podium untuk berbicara kepada semua yang tetap tinggal di aula. “Kita hanya punya waktu setengah jam hingga tengah malam, jadi kita harus bergerak cepat. Rencana pertempuran telah disetujui antara guru-guru Hogwarts dengan Orde Phoenix. Prof. Flitwick, Sprout dan Mc. Gonagall akan memimpin kelompok-kelompok pejuang naik ke tiga menara tertinggi –Ravenclaw, Astronomi dan Gryffindor— yang sudut pandangnya paling bagus, posisi yang sempurna untuk melancarkan mantra. Sementara Remus” –dia menunjuk Lupin— “Arthur” menunjuk Mr. Weasley yang duduk di meja Gryffindor—“ dan aku, akan memimpin kelompok di bawah. Kita perlu seseorang untuk mengorganisir pertahanan di pintu-pintu masuk atau jalan tembus menuju sekolah—“ “Kedengarannya seperti pekerjaan untuk kita,” kata Fred, menunjuk dirinya dan George, dan Kingsley mengangguk setuju. “Baiklah, para pemimpin kesini dan kita akan memencar pasukan!” “Potter,” ujar Prof. McGonagall, bergegas mendekatinya, ketika siswa-siswa memenuhi podium, menempatkan diri, dan menerima perintah, “Bukankah kau seharusnya mencari sesuatu?” “Apa? Oh” ucap Harry, “Oh, yeah!” Dia hampir melupakan Horcrux, hampir lupa bahwa pertempuran akan digelar supaya dia bisa mencarinya: Ketiadaan Ron dan Hermione yang tidak jelas sementara telah membuang pikiran lain dari kepalanya. “Pergilah Potter, ayo!” “Benar—yeah—“ Dia merasakan berpasang-pasang mata memandang ketika ia berlari keluar lagi dari aula besar menuju aula depan yang penuh sesak dengan siswa-siswa yang dievakuasi. Ia membiarkan dirinya terbawa rombongan mereka menuju tangga pualam, tapi sampai diatas ia bergegas menyusuri koridor yang sunyi. Rasa takut dan panik membuatnya sulit berpikir. Ia berusaha menenangkan diri, berkonsentrasi untuk menemukan Horcrux, tapi pikirannya simpang siur, kalut dan bingung seperti lebah yang terjebak diantara kaca. Tanpa Ron dan Hermione yang membantunya, tampaknya ia kesulitan menyusun rencana. Dia melambat di tengah koridor, duduk di alas sebuah patung retak dan mengambil Peta Perompak dari kantong yang tergantung di lehernya. Tidak terlihat nama Ron dan Hermione dimanapun, walaupun padatnya titik yang sekarang menuju ke Kamar Kebutuhan, pikirnya, mungkin saja menyembunyikan mereka. Dia meletakkan peta, menutup wajah dengan tangannya, terpejam, dan mencoba untuk konsentrasi. Voldemort mengira aku pergi ke menara Ravenclaw. Itu dia, petunjuk jelas dari mana harus memulai. Voldemort telah menempatkan Alecto Carrow di ruang rekreasi Ravenclaw, dan pasti hanya ada satu penjelasan; Voldemort kuatir Harry sudah tahu Horcruxnya berhubungan dengan asrama itu. Tapi tampaknya satu-satunya benda yang dihubungkan dengan asrama itu oleh semua orang hanyalah diadem yang hilang… dan bagaimana mungkin Horcruxnya adalah diadem itu? Apa mungkin Voldemort, anak Slytherin, bisa menemukan diadem yang tidak diketahui oleh bergenerasi anggota Ravenclaw? Siapa yang bisa memberitahunya dimana harus mencari, ketika tidak ada orang yang pernah melihatnya yang masih hidup? Yang masih hidup…. Mata Harry terbuka kembali di sela-sela jarinya. Dia melompat bangun dari alas patung dan bergegas berbalik arah kembali ke jalan yang telah ia lalui, mengejar harapan satusatunya. Suara ratusan orang yang bergerak kearah Kamar Kebutuhan terdengar semakin jelas ketika ia kembali ke tangga pualam. Para Prefek meneriakkan instruksi, berusaha menjaga para siswa tetap di jalur asramanya, semakin banyak dorongan dan teriakan; Harry melihat Zacharias Smith meluncur cepat menuju antrian depan; disana-sini terdengar isak tangis siswa-siswa yang lebih muda, sementara yang lebih tua saling memanggil teman dan saudara dengan putus asa. Harry menangkap kilau sosok seputih mutiara melayang melewati pintu masuk aula dan berteriak sekeras mungkin di tengah keramaian. “Nick! NICK! Aku harus bicara denganmu!” Dia menerobos kerumunan siswa, hingga sampai di dasar tangga, dimana Nick si Kepala-Nyaris-Putus, hantu Gryffidor, berdiri menunggunya. “Harry! Anakku!” Nick berusaha meraih tangan Harry; membuat Harry merasa seperti masuk ke dalam air es. “Nick, kau harus membantuku. Siapa hantu menara Ravenclaw?” Nick si Kepala-Nyaris-Putus kelihatan terkejut dan sedikit tersinggung. “Grey Lady, tentu saja; tapi jika layanan hantu yang kau perlukan—“ “Itu pasti dia—kau tahu dimana dia?” “Coba kulihat…” Kepala Nick bergoyang diatas rimpelnya ketika ia berputar kesana kemari, mengintip dari balik kepala siswa-siswa yang berkerumun. “Itu dia disana, Harry. Wanita muda yang berambut panjang.” Harry melihat kearah yang ditunjuk jari Nick yang transparan, dan menemukan hantu tinggi yang menyadari bahwa Harry sedang memandangnya, ia mengangkat alis, dan melayang melalui dinding yang padat. “Hei—tunggu—kembali!” Ia mau berhenti, melayang beberapa inci dari lantai. Menurut Harry ia cantik, dengan rambut panjang sepinggang dan jubah panjang menyentuh lantai, tapi ia juga terlihat angkuh dan berbangga diri. Semakin dekat, Harry segera mengenalinya sebagai hantu yang sering berpapasan dengannya di koridor, tapi ia tak pernah bicara dengannya. “Kau Grey Lady?” Ia mengangguk tapi tak bicara. “Hantu menara Ravenclaw?” “Itu benar.” Nadanya tak meyakinkan. “Tolonglah, aku butuh bantuan. Tolong katakan padaku semua yang kau ketahui tentang diadem yang hilang.” Senyum dingin terbentuk di bibirnya. “Sayangnya,” ujarnya, berputar menjauh, “aku tidak bisa membantumu.” “TUNGGU!” Dia tidak bermaksud berteriak, tapi kepanikan dan kemarahan menguasainya. Harry melirik jamnya sekilas ketika Grey Lady melayang di depannya. Seperempat jam lagi tengah malam. “Ini penting,” ia berkata keras. “Jika diadem itu di Hogwarts, kita harus segera menemukannya.” “Kau bukan siswa pertama yang mendambakan diadem itu,” katanya menghina. “Bergenerasi siswa telah mendesakku—“ “Ini bukan tentang mendapatkan nama baik!” Harry berteriak padanya, “ini tentang Voldemort –mengalahkan Voldemort—atau kau tidak tertarik?” Bukannya merona, pipinya yang transparan berubah menjadi buram dan suaranya memanas ketika ia menjawab, “Tentu saja aku—betapa beraninya kau mengatakan—“ “Kalau begitu, bantulah aku!” Dia mulai tidak tenang. “Itu—itu bukan pertanyaan yang—“ dia menjawab gagap, “diadem ibuku—“ “Ibumu?” Dia kelihatan marah pada dirinya sendiri. “Ketika aku masih hidup,” katanya kaku, “aku Helena Ravenclaw.” “Kau putrinya? Tapi, kau pasti mengetahui apa yang terjadi pada diadem itu.” “Diadem itu melimpahkan kearifan,” katanya berusaha menguasai diri, “aku ragu benda itu bisa memerbesar kesempatanmu mengalahkan penyihir yang menamai dirinya sendiri Lord—“ “Sudah kubilang aku tidak tertarik memakainya!” kata Harry bersikeras; “Tak ada waktu untuk menjelaskan—tapi kalau kau peduli dengan Hogwarts, kalau kau ingin melihat Voldemort berakhir, kau harus memberitahuku semua yang kau tahu tentang diadem itu!” Dia masih membisu, melayang di udara, memandang Harry dan rasa putus asa melanda Harry. Tentu saja, jika ia tahu sesuatu, ia tentu sudah mengatakannya pada Flitwick atau Dumbledore, yang pasti sudah pernah menanyakan hal yang sama. Dia menggelengkan kepala dan berpaling ketika berbicara dengan suara pelan. “Aku mencuri diadem itu dari ibuku.” “Kau—kau apa?” “Aku mencuri diadem itu,” ulang Helena Ravenclaw dalam bisikan. “Aku mencoba membuat diriku lebih pintar, lebih penting daripada ibuku. Aku kabur dengan diadem itu.” Harry tidak tahu bagaimana dia berhasil mendapatkan kepercayaannya dan tidak bertanya, ia hanya mendengarkan, baik-baik, ketika Helena melanjutkan. “Ibuku, mereka bilang, tak pernah mengakui bahwa diademnya hilang, melainkan berpura-pura masih memilikinya. Beliau menyembunyikan kenyataan tentang hilangnya diadem itu, juga pengkhianatanku yang menyakitkan, bahkan dari para pendiri Hogwarts yang lain.” “Kemudian ibuku sakit—sakit parah. Walaupun aku berkhianat, beliau mati-matian berusaha menemuiku sekali lagi. Beliau mengirim orang yang sangat mencintaiku, walaupun aku menolak rayuannya, untuk menemukanku. Beliau tahu bahwa laki-laki itu tidak akan berhenti hingga berhasil.” Harry menunggu. Wanita itu menghela nafas dan menoleh kebelakang. “Dia melacakku hingga ke hutan tempatku bersembunyi. Ketika aku menolak untuk pulang bersamanya, ia menjadi kejam. Baron memang selalu gampang naik darah. Berang karena penolakanku, cemburu pada kebebasanku, ia lalu menusukku.” “Baron? Maksudmu—“ “Baron Berdarah,ya,” ujar Grey Lady, dan dia menyibakkan jubahnya untuk memperlihatkan satu luka gelap di dada putihnya. “Ketika dia menyadari apa yang telah dilakukannya, dia sangat menyesal. Dia mengambil senjata yang telah membunuhku, dan menggunakannya untuk bunuh diri. Selama berabad-abad kemudian ia mengenakan rantainya sebagai bukti penyesalannya…. jika dia bisa,” ia menambahkan dengan sengit. “Dan—dan diademnya?” “Masih berada di tempat aku menyembunyikannya ketika kudengar Baron memasuki hutan mendekatiku. Tersimpan di dalam lubang pohon.” “Lubang pohon?” ulang Harry. “Pohon apa? Dimana tempatnya?” “Hutan di Albania. Tempat sunyi yang menurutku cukup jauh dari jangkauan ibuku.” “Albania,” ulang Harry. Secara menakjubkan, kebingungan berubah menjadi pengertian, dan sekarang ia memahami kenapa wanita itu berterus terang padanya tentang hal yang tak mau ia jelaskan pada Dumbledore dan Flitwick. “Kau pernah menceritakan hal ini pada seseorang, ya kan? Siswa lain?” Ia memejamkan mata dan mengangguk. “Aku… tak tahu… ia menyanjungku. Tampaknya ia… memahami… bersimpati.” Ya, pikir Harry. Tom Riddle pasti memahami keinginan Helena Ravenclaw untuk memiliki benda luar biasa yang sebenarnya bukan haknya. “Well, kau bukan orang pertama yang terpedaya oleh Riddle,” Harry bergumam. “Dia bisa sangat menarik jika dia mau.” Jadi Voldemort telah berhasil memancing informasi tentang lokasi diadem yang hilang dari Grey Lady. Ia telah berkelana ke hutan yang jauh dan mengambil diadem kembali dari tempat persembunyiannya, mungkin segera setelah ia meninggalkan Hogwarts, bahkan sebelum ia mulai bekerja di Borgin and Burkes. Dan bukankah hutan terpencil Albania itu tampaknya merupakan tempat berlindung yang bagus ketika, lama sesudahnya, Voldemort memerlukan tempat untuk menyembunyikan diri, tidak terganggu, selama 10 tahun? Tapi diadem itu, setelah menjadi Horcruxnya yang berharga, tidak ditinggalkan di pohon rendah itu… Tidak, diadem itu telah dikembalikan secara diam-diam, ke rumah yang sebenarnya, dan Voldemort pasti telah meletakkannya disana— “—malam dia melamar pekerjaan!” kata Harry, menghentikan penalarannya. “Maaf?” “Dia menyembunyikan diadem di kastil, di malam ia melamar pekerjaan sebagai guru kepada Dumbledore!” ujar Harry. Berteriak membuatnya lebih memahami semuanya. “Dia pasti telah menyembunyikan diadem itu dalam perjalanannya menuju, atau setelah dari, kantor Dumbledore! Lumayan juga usahanya melamar pekerjaan—jadi dia juga punya kesempatan mengecek pedang Gryffindor—terima kasih banyak!” Harry meninggalkannya melayang di udara, tampak benar-benar bingung. Sambil berbelok di ujung kembali ke aula depan, ia mengecek jam. Lima menit sebelum tengah malam, dan walaupun ia tahu apa Horcrux terakhir, ia masih belum menemukan dimana tempatnya… Bergenerasi siswa gagal menemukan diadem itu; menandakan tempatnya bukan di menara Ravenclaw—tapi bila bukan disana, dimana? Tempat bersembunyi apa yang Tom Riddle temukan di dalam kastil Hogwarts, yang; dia yakin akan menyimpan rahasia selamanya? Bingung dengan spekulasi tanpa harapan, Harry berbelok di pojok, tapi baru berjalan beberapa langkah di koridor baru, tiba-tiba jendela di sebelah kirinya pecah memekakkan telinga, hancur berkeping-keping. Ketika ia melompat kesamping, sesosok tubuh ukuran raksasa melayang masuk jendela dan menabrak dinding di seberangnya. Sesuatu yang besar dan berbulu berdiri, merengek, melepaskan diri dari sang pendatang dan melemparkan dirinya kepada Harry. “Hagrid!” Harry berteriak, melepaskan diri dari perhatian yang berlebihan dari Fang si anjing pemburu babi hutan, ketika seseorang seukuran beruang berusaha berdiri dengan susah payah. “Apa yang--?” “Harry, kau d’sini! Kau d’sini!” Hagrid membungkuk, menghadiahi Harry dengan pelukan sekilas yang meremukkan tulang iga, lalu berlari menuju jendela yang pecah. “Anak pintar, Grawpy!” dia berteriak di jendela yang berlubang. “Kutemui kau sebentar lagi, itu baru anak baik!” Di belakang Hagrid, melalui kegelapan malam, Harry melihat kilatan cahaya di kejauhan dan mendengar jerit ratapan yang aneh. Dia melihat jamnya: Ini tengah malam, pertempuran dimulai. “Ya ampun, Harry,” kata Hagrid dengan nafas terengah-engah, ”ini dia, kan? Waktunya bertarung?” “Hagrid, kau dari mana?” “Dengar Kau-Tahu-Siapa dari gua kami,” kata Hagrid tegar, “suara terbawa, kan? ‘Kalian punya waktu sampai tengah malam ‘tuk serahkan Potter.’ Tau kau pasti disini, tau ini pasti terjadi. Menunduk, Fang. Jadi kami kesini ‘tuk bergabung, aku dan Grawpy dan Fang. Mendobrak jalan lewat perbatasan dekat hutan, Grawpy bawa kami, Fang dan aku. Bilang dia ‘tuk turunkan aku di kastil, jadi dia lemparkanku lewat jendela, semoga dia diberkati. Tidak terlalu tepat sih, tapi – dimana Ron dan Hermione?” “Itu,” ujar Harry, “pertanyaan yang bagus. Ayo.” Mereka bergegas menyusuri koridor, Fang menjulurkan lidah mengiringi mereka. Harry bisa mendengar gerakan dimana-mana melalui koridor: langkah kaki berlarian, teriakan; melalui jendela ia bisa melihat kilatan cahaya di tanah yang gelap. “Kemana kita?” Hagrid terengah-engah, berdebam di belakang Harry, menciptakan gempa di permukaan lantai. “Aku belum tahu pasti,” ucap Harry, menoleh kesana-kemari, “tapi Ron dan Hermione pasti di suatu tempat di sekitar sini…” Korban pertama pertempuran sudah berserakan tepat di lorong depan mereka: dua gargoyle batu yang biasanya menjaga pintu masuk ruangan staf telah hancur lebur karena mantra yang masuk melalui jendela pecah di sisi yang lain. Sisa-sisanya bergoyang lemah di lantai, dan ketika Harry melompati salah satu kepala yang sudah tak berbentuk, gargoyle itu merintih lemah, “Oh, jangan pedulikan aku… aku akan tetap disini dan hancur…” Wajah batunya yang jelek tiba-tiba mengingatkan Harry pada patung dada pualam Rowena Ravenclaw di rumah Xenophilius, mengenakan hiasan kepala gila itu –dan kemudian pada patung di menara Ravenclaw, dengan diadem batu diatas rambut putih keritingnya…. Dan ketika ia sampai di ujung lorong, ingatan akan patung batu ketiga tiba-tiba muncul di pikirannya; penyihir tua jelek, yang kepalanya Harry pasangi wig dan topi tua. Rasa terkejut meliputi Harry, seperti terkena panasnya Wiski Api, sampai membuatnya hampir tersandung. Dia tahu, akhirnya, dimana Horcrux telah menunggunya….. Tom Riddle, yang tidak mempercayai siapapun dan bergerak sendirian, mungkin cukup sombong untuk mengira bahwa ia, dan hanya ia, telah menjelajahi misteri terdalam Kastil Hogwarts. Tentu saja, Dumbledore dan Flitwick, tipe murid demikian, tidak pernah menginjakkan kaki di tempat semacam itu, tapi dia, Harry, telah berkeliaran sepanjang hidupnya di sekolah dan menguasai jalur-jalur rahasia. Paling tidak, ini wilayah rahasia yang sama-sama diketahuinya dan Voldemort, yang Dumbledore tak pernah menemukan-. Ia disadarkan oleh Prof. Sprout yang bergerak cepat diikuti Neville dan setengah lusin yang lain, semuanya mengenakan pelindung telinga dan membawa sesuatu seperti tumbuhan besar dalam pot. “Mandrake!” Neville berteriak kepada Harry seraya berlari, “untuk dilemparkan kepada mereka lewat dinding—mereka tak akan suka ini!” Harry sekarang mengerti harus pergi kemana. Ia mempercepat langkah, dengan Hagrid dan Fang berlari kencang mengiringinya. Mereka melewati lukisan demi lukisan, dan sosok-sosok dalam lukisan ikut berlari bersama mereka, penyihir pria dan wanita dalam balutan kerah berenda dan celana panjang, baju besi dan jubah, saling menjejalkan diri ke dalam kanvas rekannya, meneriakkan berita dari bagian lain kastil. Ketika mereka sampai di ujung koridor, seluruh kastil bergetar, dan Harry tahu, ketika sebuah vas raksasa terbang dengan kekuatan yang bisa meledakkan, bahwa itu disihir dengan parah, tak mungkin dari para guru atau anggota Orde. “Tak apa, Fang—tak apa!” teriak Hagrid, tapi anjing pemburu babi hutan besar itu telah kabur secepat potongan kayu Cina melayang seperti granat, dan Hagrid mengikuti anjing yang ketakutan itu dengan langkah besarnya meninggalkan Harry sendirian. Ia maju perlahan melalui jalan yang bergetar, dengan tongkat siap, dan sepanjang satu koridor lukisan ksatria kecil, Sir Cadrigan, berlari dari lukisan ke lukisan di sebelahnya, baju besinya berkelontangan, meneriakkan semangat, kuda poni gemuknya berjalan mengikutinya dengan santai. “Pembual dan bajingan, anjing dan bangsat, usir mereka, Harry Potter, hadapi mereka!” Harry berbelok di pojok dan bertemu Fred bersama sejumlah siswa, termasuk Lee Jordan dan Hannah Abbot, berdiri disamping alas kosong yang lain, yang mana patungnya telah menutup jalan rahasia. Tongkat mereka turun dan mereka sedang mendengarkan lubang yang tertutup. “Malam yang indah untuk melakukan ini!” Fred berteriak, ketika kastil bergoyang lagi, dan Harry melesat dengan perasaan takut dan bahagia yang bercampur aduk. Sepanjang koridor selanjutnya ia berlari cepat, burung-burung hantu dimana-mana, Mrs. Norris berdesis dan berusaha mengusir mereka dengan cakarnya, pasti untuk mengembalikan mereka ke tempatnya… “Potter!” Aberforth Dumbledore berdiri menutupi koridor selanjutnya, tongkatnya tergenggam siap. “Ratusan anak melewat pub-ku , Potter!” “Aku tahu, kami mengevakuasi,” kata Harry, “Voldemort—“ “—menyerang karena belum mendapatkanmu, yeah—“ ujar Aberforth, “Aku tidak tuli, seluruh Hogsmeade mendengarnya. Dan tak pernah terpikir oleh kalian untuk menahan sedikit anak Slytherin sebagai sandera? Anak-anak Pelahap Maut yang kalian selamatkan. Bukankah lebih cerdik bila mereka tetap disini?” “Itu tak akan menghalangi Voldemort,” ucap Harry, “dan kakak anda tidak akan pernah melakukannya.” Aberforth menggerutu dan pergi kearah berlawanan. Kakak anda tidak akan pernah melakukannya…. Ya, itu memang benar, pikir Harry ketika ia mulai berlari lagi: Dumbledore, yang begitu lama mempertahankan Snape, tidak akan pernah menyandera siswa… Dan ketika ia sampai di pojok terakhir, dengan campuran teriakan antara lega dan marah ia melihat mereka: Ron dan Hermione; keduanya dengan lengan penuh benda kuning yang besar, melengkung dan kotor, Ron dengan sapu terbang di bawah lengannya. “Dari mana saja kalian?” Harry berteriak. “Kamar Rahasia,” jawab Ron. “Kamar—apa?” ujar Harry, tertegun. “Itu ide Ron, semuanya ide Ron,” kata Hermione terengah-engah. “Bukankah itu brilian? Disanalah kami, setelah kita pergi, dan aku bilang Ron, walaupun kita menemukan yang satu lagi, bagaimana kita akan menghancurkannya? Kita masih belum bisa menghancurkan piala! Dan lalu dia ingat! Basilisk!” “Apa yang--?” “Sesuatu untuk menghancurkan Horcrux,” kata Ron tenang. Mata Harry terpaku pada benda di lengan Ron dan Hermione: gigi taring besar melengkung: terpotong, sekarang dia mengenali, berasal dari tengkorak basilisk mati. “Bagaimana kalian bisa masuk kedalam?” tanya Harry, mengalihkan pandangan dari gigi taring ke Ron. “Kau harus berbicara Parseltongue!” “Dia bisa,” bisik Hermione. “Tunjukkan Ron!” Ron membuat suara berdesis yang aneh. “Itu yang kau lakukan ketika membuka liontin,” Ron menjelaskan pada Harry dengan agak menyesal. “Tapi aku harus mencoba beberapa kali sampai menemukan yang benar,” katanya merendah, “akhirnya kami sampai di dalam.” “Dia luar biasa!” kata Hermione. “Luar biasa!” “Jadi…” Harry berusaha melanjutkan. “Jadi…?” “Jadi satu Horcrux sudah beres,” ujar Ron, dan dari dalam jaketnya ia menarik sisa-sisa piala Hufflepuff yang terkoyak. “Hermione menusuknya. Untunglah dia berhasil. Dia sama sekali tidak menikmatinya.” “Jenius!” Harry berteriak. “Itu bukan apa-apa,” ucap Ron, walaupun dia kelihatan puas dengan dirinya. “Jadi, bagaimana denganmu?” Bersamaan dengan itu, ledakan terdengar diatas: mereka bertiga melihat keatas ketika debu berjatuhan dari langit-langit dan mendengar teriakan di kejauhan. “Aku tahu seperti apa diademnya dan aku tahu tempatnya,” kata Harry dengan cepat. “Dia menyembunyikannya di tempat aku menyimpan buku Ramuan lamaku, dimana semua orang menyimpan barang-barang sejak berabad-abad. Dia menyangka hanya dia yang tahu. Ayo.” Ketika dinding bergetar lagi, Harry memimpin kedua rekannya kembali melewati pintu masuk yang tersembunyi dan menuruni tangga menuju Kamar Kebutuhan. Ruangan itu hanya berisi tiga orang wanita: Ginny, Tonks dan penyihir tua yang mengenakan topi yang dimakan ngengat, yang segera dikenali Harry sebagai nenek Neville. “Ah, Potter,” dia berkata renyah, seakan-akan dia memang menunggu Harry, “kau bisa menceritakan apa yang terjadi.” “Semua baik-baik saja?” tanya Ginny dan Tonks bersamaan. “Setahu kami begitu,” jawab Harry. “Apa masih ada orang di jalan menuju Hog’s Head?” Dia tahu ruangan tidak akan bertransformasi jika masih ada orang di dalamnya. “Aku yang terakhir,” kata Mrs. Longbottom, “Aku menyegelnya. Kurasa tidak baik meninggalkannya terbuka ketika Aberforth tidak di pub-nya. Kau melihat cucuku?” “Dia bertarung,” ucap Harry. “Sudah selayaknya,” kata wanita tua itu bangga. “Permisi, aku harus pergi dan mendampinginya.” Dengan kecepatan yang mengejutkan dia pergi dengan langkah berderap di lantai batu. Harry memandang Tonks. “Kukira kau seharusnya bersama Teddy di rumah ibumu?” “Aku tak tahan jika tidak tahu—,“ Tonks tampak menderita. ”Ibuku akan merawatnya— kau melihat Remus?” “Dia berencana memimpin sekelompok pejuang menuju ke dasar—“ Tanpa berkata-kata, Tonks melesat pergi. “Ginny, ujar Harry, “maaf, tapi kami perlu kau keluar juga. Sebentar saja. Lalu kau bisa masuk lagi.” Ginny tampak senang meninggalkan tempat perlindungannya. “Nanti kau bisa masuk lagi!” Harry berteriak ketika Ginny berlari menyusul Tonks. “Kau harus masuk lagi!” “Tunggu sebentar!” kata Ron tajam. “Kita lupa seseorang!” “Siapa?” tanya Hermione. “Para peri rumah, mereka di dapur kan?” “Maksudmu kita minta mereka bertarung?” tanya Harry. “Tidak,” kata Ron serius. “Maksudku kita harus menyuruh mereka keluar. Kita tidak mengharapkan Dobby-Dobby yang lain, kan? Kita tidak bisa meminta mereka mati untuk kita—“ Taring basilisk di lengan Hermione jatuh berkelontangan. Berlari kearah Ron, kedua lengannya memeluk leher Ron dan ia mencium Ron penuh di mulutnya. Ron membuang taring dan sapu terbang yang dipegangnya, menyambut dengan penuh antusias dan mengangkat tubuh Hermione dari lantai. “Apa harus sekarang?” Harry bertanya lemah, dan ketika tak ada yang terjadi kecuali Ron dan Hermione berpelukan semakin erat dan berayun di tempat, dia berteriak, “Oi! Ada perang!” Ron dan Hermione berpisah, masih saling mengalungkan lengan. “Aku tahu, teman,” kata Ron, yang terlihat seperti kepalanya baru saja terhantam Bludger, “sekarang atau tidak sama sekali, ya kan?” “Tidak masalah, tapi bagaimana dengan Horcruxnya?” Harry berteriak. “Apa kalian bisa me—menundanya sampai kita dapat diademnya?” “Yeah—benar—maaf,” kata Ron. Dia dan Hermione memungut kembali taring-taring yang jatuh, keduanya dengan wajah merona merah jambu. Jelas sekali, ketika mereka bertiga melangkah ke koridor atas, bahwa dalam waktu yang mereka habiskan di Kamar Kebutuhan, suasana di kastil telah bertambah buruk: dinding dan langit-langit bergetar lebih hebat dari sebelumnya; debu memenuhi udara, dan dari jendela terdekat, Harry melihat kilatan cahaya hijau dan merah sangat dekat di kaki kastil sehingga dia tahu para Pelahap Maut pastilah sudah sangat dekat dengan pintu masuk. Menengok ke bawah, Harry melihat Grawp si Raksasa lewat meliuk-liuk, mengayunkan sesuatu yang tampak seperti gargoyle batu yang lepas dari atap dan dia meraung tak senang. “Mari kita berharap semoga dia menginjak beberapa dari mereka,” ucap Ron ketika lebih banyak jeritan bergema dari bawah. “Asal bukan pihak kita,” terdengar satu suara: Harry menoleh dan melihat Ginny dan Tonks, keduanya dengan tongkat terarah ke sasaran melalui jendela sebelah, yang sudah kehilangan beberapa kacanya. Bahkan saat Harry memandang, Ginny bisa menembakkan mantra dengan sangat baik kearah kerumunan petarung dibawah. “Gadis pintar!” koar seseorang yang berlari menembus debu kearah mereka, dan Harry melihat Aberforth lagi, rambut abu-abunya melambai ketika ia lewat sambil memimpin sekelompok siswa. “Tampaknya mereka mungkin menembus menara utara, mereka juga membawa raksasa.” “Anda lihat Remus?” Tonks bertanya kepadanya. “DIa melawan Dolohov,” teriak Aberforth, “belum lihat lagi.” “Tonks,” panggil Ginny. “Tonks, aku yakin dia baik-baik saja—“ Tapi Tonks sudah berlari ke dalam debu menyusul Aberforth. Ginny berputar, tak berdaya, menuju Harry, Ron dan Hermione. “Mereka akan baik-baik saja,” kata Harry, walaupun sadar kedengarannya hampa. “Ginny, kami akan segera kembali, menjauhlah, jaga diri—ayo!” kata Harry sambil mengajak Ron dan Hermione, dan mereka berlari kembali menuju hamparan dinding yang dibaliknya Kamar Kebutuhan menunggu permintaan selanjutnya. Aku perlu tempat untuk menyembunyikan segalanya. Harry memohon di dalam kepalanya dan pintu terbentuk setelah hilir mudik yang ketiga kali. Kehebohan pertempuran tak terdengar lagi saat mereka memasuki ambang pintu dan menutupnya: Sunyi. Mereka berada di tempat seluas katedral dengan pemandangan sebuah kota, dindingnya yang tinggi terdiri dari berbagai benda yang disembunyikan oleh ratusan siswa yang sudah lama lulus. “Dan dia menyangka tak seorangpun bisa masuk?” ucap Ron, suaranya bergema dalam kesunyian. “Dikiranya hanya dia satu-satunya,” kata Harry. “Sayang baginya aku harus menyembunyikan benda di masaku….kesini,” tambahnya. “Kurasa dibawah sini…” mereka berjalan cepat melalui gang-gang yang berdampingan. Harry bisa mendengar langkah-langkah kaki lain bergema melalui tumpukan tinggi benda-benda tak berguna: botol, topi, peti kayu, kursi, buku, senjata, sapu, kelelawar….. “Suatu tempat di sekitar sini,” Harry bergumam sendiri, ”suatu tempat….suatu tempat…” Dia masuk semakin jauh ke dalam labirin, mencari benda yang dikenalnya dari perjalanan pertamanya masuk ke ruang itu. Nafasnya terdengar keras di telinga, dan dirinya terasa menggigil. Dan itu dia, tepat di depannya, lemari besar melepu, tempat dia menyimpan buku Ramuan tuanya, dan diatasnya, patung batu penyihir tua jelek yang sudah gompal memakai wig tua berdebu dan sesuatu yang tampak seperti tiara kuno tak berwarna. Dia baru saja menjulurkan tangan, walaupun tinggal beberapa langkah, ketika suara di belakangnya berkata, “Tahan, Potter.” Dia berhenti dan berputar. Crabbe dan Goyle berdiri di belakangnya, berdampingan, tongkat mengacung pada Harry. Melalui celah diantara kedua wajah mencemooh itu dia melihat Draco Malfoy. “Itu tongkatku yang kau pegang, Potter,” kata Malfoy, mengacungkan tongkatnya sendiri melalui celah diantara Crabbe dan Goyle. “Bukan lagi,” kata Harry terengah-engah, mempererat pegangannya di tongkat Hawthorn. “Pemenang, pemegang, Malfoy.” “Siapa yang meminjamimu tongkat?” “Ibuku,” jawab Draco. Harry tertawa, walaupun tak ada yang lucu. Dia tidak bisa mendengar Ron dan Hermione lagi. Telinga mereka mungkin kehilangan kepekaan, sibuk mencari diadem. “Jadi kenapa kalian bertiga tidak bersama Voldemort?” tanya Harry. “Kami akan mendapat penghargaan,” ucap Crabbe. Diluar dugaan, suaranya sangat lembut untuk orang sebesar dia: Harry belum pernah mendengar dia bicara sebelumnya. Crabbe bicara seperti seorang anak kecil yang dijanjikan sekantung besar permen. “Kami kembali, Potter. Kami memutuskan tidak pergi. Memutuskan untuk membawamu kepadanya.” “Rencana yang bagus,” kata Harry pura-pura kagum. Rasanya tidak percaya sudah sedekat ini, dan dihalangi oleh Malfoy, Crabbe dan Goyle. Dia mulai menepi, perlahan mundur ke belakang menuju tempat Horcrux berada, yang miring diatas patung dada. Jika dia bisa mengambilnya sebelum keributan pecah…. “Jadi bagaimana kalian bisa masuk kesini?” dia bertaya, mencoba mengalihkan perhatian. “Aku berada di Ruang Benda Tersembunyi sepanjang tahun lalu,” kata Malfoy, suaranya lemah. “Aku tahu bagaimana masuk kesini.” “Kami bersembunyi di koridor luar,” gerutu Goyle. “Kami bisa melakukan Mantra Menghilang sekarang! Dan lalu, “ wajahnya menyeringai,” kau berputar tepat di depan kami dan berkata kau mencari sebuah die-dum! Apa itu die-dum?" “Harry?” suara Ron tiba-tiba bergema dari dinding di sisi kanan Harry. “Apa kau bicara dengan seseorang?” Dalam gerakan cepat, Crabbe mengarahkan tongkatnya pada gunung 50 kaki yang terdiri dari mebel tua, kopor rusak, buku lama dan jubah serta bermacam sampah tak jelas, dan berteriak, “Descendo!” Dinding mulai bergetar, lalu tiga tingkat teratas mulai ambruk ke gang di dekat Ron berdiri. “Ron!” Harry berteriak, ketika dari suatu tempat yang tak kelihatan terdengar teriakan Hermione, dan Harry mendengar begitu banyak benda jatuh ke lantai di sisi lain dinding yang rapuh: Dia mengarahkan tongkatnya ke benteng itu, berteriak, “Finite!” dan akhirnya dinding tegak kembali. “Jangan!” teriak Malfoy, memegangi lengan Crabbe untuk mencegahnya mengulangi mantra, “jika kau menghancurkan ruangan kau mungkin mengubur diadem itu!” “Lalu kenapa?” kata Crabbe,melepaskan diri. ”Potter-lah yang diinginkan Pangeran Kegelapan, siapa peduli tentang die-dum?” “Potter masuk kesini untuk mendapatkannya,” kata Malfoy, jengkel dan tidak sabar pada pikiran lambat rekannya, “jadi itu artinya—“ “’Itu artinya’?” Crabbe menghadap Malfoy dengan kemarahan tak tertahan. “Siapa peduli apa yang kau pikir? Aku tidak menerima perintahmu lagi, Draco. Kau dan ayahmu sudah berakhir.” “Harry?” teriak Ron lagi, dari sisi lain tumpukan sampah. “Ada apa?” “Harry?” Crabbe menirukan. “Ada apa—tidak, Potter! Crucio!” Harry menyerbu tiara; kutukan Crabbe luput tapi mengenai patung batu, yang terlempar ke udara; diadem membumbung tinggi ke atas dan jatuh hilang dari pandangan di tumpukan benda-benda dimana patung dada itu terjatuh. “BERHENTI!” Malfoy berteriak pada Crabbe, suaranya bergema di ruang besar itu. “Pangeran Kegelapan menginginkannya hidup-hidup—“ “Jadi? Aku tidak membunuhnya, kan?” teriak Crabbe, melepaskan diri dari lengan Malfoy yang menahannya. “Tapi jika aku bisa, pasti aku bisa, Pangeran Kegelapan akan membunuhnya juga kan, apa beda--?” Kilatan cahaya merah tua melewati Harry beberapa inci: Hermione lari lewat pojok di belakang Harry dan menembakkan Mantra Pemingsan kearah kepala Crabbe. Mantra itu luput hanya karena Malfoy mendorongnya menjauh. “Itu si Darah-Lumpur! Avada Kedavra!” Harry melihat Hermione menukik kesamping, dan kemarahannya karena Crabbe berniat membunuh telah membuat pikirannya yang lain tersapu. Dia menembakkan Mantra Pemingsan pada Crabbe, yang segera berpindah, menyebabkan tongkat Malfoy terlepas; tongkat itu berputar hilang dari pandangan diantara gunung mebel rusak dan tulang belulang. “Jangan bunuh dia! JANGAN BUNUH DIA!!” Malfoy berteriak pada Crabbe dan Goyle, yang keduanya menyerang Harry: Sedetik keraguan merekalah yang dibutuhkan Harry. “Expelliarmus!” Tongkat Goyle terlempar dari tangannya dan menghilang di tumpukan benda disampingnya; Goyle dengan bodoh melompat kesana, mencoba meraihnya; Malfoy melompat menjauh dari jangkauan Mantra Pemingsan Hermione, dan Ron, muncul tibatiba di ujung dinding, menembakkan Kutukan-Ikat-Tubuh-Sempurna kepada Crabbe, yang nyaris kena. Crabbe berputar dan menjerit, ”Avada Kedavra!” lagi. Ron melompat kesamping untuk menghindari kilatan cahaya hijau. Malfoy yang tanpa-tongkat berlindung dibalik lemari tiga kaki ketika Hermione menyerang mereka, muncul sambil menembak Goyle dengan Mantra Pemingsan. “Disini di suatu tempat!” Harry berteriak padanya, menunjukk tumpukan sampah dimana tiara tua itu jatuh. “Coba cari sementara aku pergi dan membantu R—“ “HARRY!” dia menjerit. Suara ribut yang membahana dan bergelombang di belakangnya membuatnya waspada. Dia menoleh dan melihat Ron dan Crabbe berlari secepat mungkin menuju gang di depan mereka. “Suka panas, kan?” gerung Crabbe sambil berlari. Tapi tampakya ia kehilangan kendali . Kobaran api dengan ukuran yang tidak normal mengejar mereka, menjilat sisi tumpukan sampah, yang langsung ambruk berjelaga. “Aguamenti!” jerit Harry, tapi tembakan air yang keluar dari ujung tongkatnya menguap di udara. “LARI!” Malfoy menyambar Goyle yang pingsan dan menariknya; Crabbe mendahului mereka semua, sekarang terlihat ketakutan; Harry, Ron dan Hermione mengejar di belakangnya, dan api juga mengejar mereka. Itu bukan api yang normal; Crabbe telah menggunakan kutukan yang Harry belum pernah tahu. Ketika mereka berbelok di pojok, api mengejar mereka seolah-olah hidup, mempunyai perasaan, berusaha membunuh mereka. Sekarang api bertambah besar, membentuk makhluk buruk rupa raksasa yang panas: ular, chimaera[1], dan naga berkobar, mereda dan berkobar lagi, dan benda-benda simpanan berabad-abad yang menjadi makanan mereka, terlempar ke udara dan masuk ke mulut bertaring, yang menjulang tinggi ditopang kaki bercakar, sebelum menjadi santapan api neraka itu. Malfoy, Crabbed dan Goyle telah menghilang dari pandangan: Harry, Ron dan Hermione diam terpaku; monster api itu melingkupi mereka, dekat dan semakin dekat, cakar, tanduk dan ekornya mengibas-ngibas dan panasnya terasa padat seperti dinding di sekitar mereka. “Apa yang bisa kita lakukan?” jerit Hermione mengatasi suara raungan api yang memekakkan telinga. “Kita harus bagaimana?” “Ini!” Harry menyambar sepasang sapu terbang yang tampak berat dari gundukan sampah terdekat dan melemparkan satu lepada Ron, yang menarik Hermione agar naik di belakangnya. Harry mengayunkan kakinya di sapu kedua dan, dengan hentakan kuat ke tanah, mereka membumbung tinggi ke udara, luput sejengkal dari paruh bertanduk monster membara yang hampir menggigit mereka. Asap dan panas semakin bertambah besar: di bawah mereka kobaran api kutukan telah melahap barang-barang yang diselundupkan bergenerasi siswa, hasil dari ratusan eksperimen gagal, tak terhitung banyaknya rahasia orang-orang yang mencari perlindungan di ruang tersebut. Harry tidak bisa melihat tanda-tanda Malfoy, Crabbe dan Goyle dimana-mana. Dia menukik rendah sebatas yang berani ia hadapi dari monster api yang mengancam itu, berusaha menemukan mereka, tapi tak ada apapun selain api: sungguh cara yang mengerikan untuk mati…..dia tak pernah menginginkan ini…. “Harry, ayo keluar, ayo keluar!” teriak Ron, walaupun mustahil untuk melihat dimana letak pintunya karena asap begitu tebal. Dan lalu Harry mendengar jeritan lemah dan memilukan dari tengah-tengah kekacauan yang mengerikan dan gemuruh api yang menjilat-jilat itu. “Itu—terlalu—berbahaya!” teriak Ron, tapi Harry tetap berputar di udara. Kacamatanya membantu memberikan sedikit perlindungan dari asap tebal, dia menyapu badai api di bawah, mencari tanda-tanda kehidupan, lengan atau wajah yang belum gosong seperti kayu bakar. Dan dia melihat mereka: Malfoy merangkul Goyle yang tidak sadar, mereka berdua bertengger pada menara rapuh yang terdiri dari bangku-bangku hangus, dan Harry menukik. Malfoy melihat kedatangannya dan mengangkat satu tangan, tapi bahkan ketika Harry menyambar lengannya pun ia langsung tahu bahwa itu tak banyak gunanya. Goyle terlalu berat dan tangan Malfoy, berkeringat, tergelincir lepas dari Harry— ”JIKA KITA MATI KARENA MEREKA, AKU AKAN MEMBUNUHMU, HARRY!“ raung Ron, dan, ketika bara chimaera bergerak menuju mereka, dia dan Hermione menyeret Goyle keatas sapu mereka dan membumbung tinggi, berputar dan bergerak naik turun di udara sekali lagi ketika Malfoy memanjat dengan susah payah ke belakang Harry. “Pintunya, cepat ke pintu!“ jerit Malfoy di telinga Harry, dan Harry melesat, mengikuti Ron, Hermione dan Goyle melewati asap hitam bergelombang, bernafas dengan susah payah: dan disekitar mereka beberapa benda tersisa yang belum terbakar oleh api yang menjilat-jilat, terlempar ke udara ketika makhluk hasil api kutukan itu mengejar mereka bagaikan sebuah perayaan besar: piala-piala dan perisai, sebuah kalung berkilat-kilat, dan sebuah tiara tua yang luntur warnanya— “Apa yang kau lakukan, apa yang kau lakukan, pintunya disana!“ jerit Malfoy, tapi Harry membelok tiba-tiba, menikung dan menukik. Diadem itu tampaknya bergerak dengan lambat, berputar dan berkilat ketika jatuh mendekati rongga mulut ular yang menganga, dan ia mendapatkannya, menangkapnya di pergelangan tangan – Harry menikung lagi ketika tiba-tiba ular itu mengarah kepadanya dengan cepat; dia membumbung keatas dan melesat menuju tempat dimana -dia berdoa- pintu terbuka; Ron, Hermione dan Goyle tak tampak; Malfoy menjerit-jerit dan memegangi Harry eraterat sampai sakit rasanya. Lalu, menembus asap, Harry melihat bentuk bujursangkar di dinding dan mengarahkan sapu kesana, dan sekejap kemudian udara bersih mengisi kerongkongan dan dinding koridor muncul di hadapannya. Malfoy turun dari sapu dan menunduk, terengah-engah, batuk-batuk, mengeluarkan suara dari kerongkongan seperti mau muntah. Harry berputar dan menegakkan diri: PIntu Kamar Kebutuhan telah menghilang, Ron dan Hermione duduk di lantai terengah-engah disamping Goyle, yang masih tak sadar juga. “C-Crabbe,” kata Malfoy tersedak ketika sudah bisa bicara lagi. “C-Crabbe…” “Dia mati,” kata Ron tajam. Semua terdiam, hanya terdengar suara nafas terengah-engah dan batuk-batuk. Lalu beberapa dentuman besar menggetarkan kastil, dan iring-iringan sosok-sosok transparan berkuda lewat dengan kencang, kepala-kepala mereka menjerit dengan darah menetes di bawah lengan. Harry berdiri sempoyongan ketika Perburuan-Tanpa-Kepala telah lewat, dan memandang sekeliling: Pertempuran masih berlangsung. Dia bisa mendengar jeritan lebih banyak dibandingkan hantu-hantu tadi. Dia merasa panik. “Dimana Ginny?” tanyanya. “Tadi dia disini. Seharusnya dia kembali ke Kamar Kebutuhan.” “Ya ampun, apa menurutmu kamar itu masih bisa digunakan setelah kebakaran tadi?” tanya Ron, dia juga berdiri, menggosok dadanya dan menoleh kanan-kiri. “Apa kita harus berpencar dan melihat--?” “Tidak,” ujar Hermione, ikut berdiri. Malfoy dan Goyle masih merosot lemas di lantai koridor, tak satupun yang memegang tongkat. “Tetap bersama-sama. Menurutku kita pergi—Harry, apa itu ditanganmu?” “Apa? Oh yeah—“ Dia menarik diadem dari pergelangan tangan dan mengangkatnya. Masih panas, menghitam karena jelaga, tapi ketika dia melihat lebih dekat dia baru mengerti tulisan yang terukir diatasnya; KEPINTARAN TAK TERHINGGA ADALAH HARTA MANUSIA YANG PALING BERHARGA. Substansi seperti darah, gelap dan lengket, tampak keluar dari diadem. Tiba-tiba Harry merasa benda itu bergetar dengan kasar, lalu terbelah di tangannya, dan ketika itu terjadi, rasanya ia mendengar teriakan kesakitan yang sangat dingin dan samar-samar, bergema bukan dari dasar kastil, melainkan dari benda yang baru saja pecah di tangannya. “Itu pasti Fiendfyre!” kata Hermione, menatap pecahan diadem. “Apa?” “Fiendfyre—api kutukan—salah satu substansi yang dapat menghancurkan Horcrux, tapi aku tak akan pernah berani menggunakannya—sangat berbahaya—bagaimana Crabbe bisa tahu cara--?” “Pasti belajar dari Carrow bersaudara,” gerutu Harry. “Sayang dia tidak memperhatikan ketika mereka menjelaskan bagaimana menghentikannya,” ucap Ron, yang rambutnya, seperti Hermione, hangus, dan wajahnya hitam penuh jelaga. “Jika dia tidak mencoba membunuh kita semua, aku akan menyesal dia mati.” “Tapi mengertikah kalian?” bisik Hermione, “ini artinya, jika kita bisa mendekati ularnya—“ Tapi ia berhenti ketika teriakan-teriakan dan suara keras pertarungan memenuhi koridor. Harry memandang sekeliling dan jantungnya hampir melorot: Pelahap Maut telah berhasil masuk Hogwarts. Fred dan Percy muncul, keduanya melawan orang-orang bertopeng dan bertudung. Harry, Ron dan Hermione berlari kearah mereka untuk membantu: Kilatan cahaya meluncur dimana-mana, dan orang yang bertarung dengan Percy mundur, cepat: kemudian tudungnya terbuka dan mereka melihat dahi lebar dan rambut kaku. “Halo, Pak Menteri!” teriak Percy, menembakkan mantra sederhana langsung kepada Thicknesse, yang langsung menjatuhkan tongkat dan merobek bagian depan jubahnya, tampak sangat tidak senang. “Apa sudah kubilang aku mengundurkan diri?” “Kau bercanda, Perce!“ teriak Fred ketika Pelahap Maut yang dilawannya pingsan karena kekuatan tiga mantra pemingsan sekaligus. Thicknesse jatuh ke lantai dengan paku-paku kecil muncul di sekujur tubuhnya; dia tampak berubah menjadi sesuatu yang mirip landak laut. Fred memandang Percy dengan perasaan senang. ”Kau benar-benar bercanda, Perce....kurasa sudah lama kami tidak mendengarmu bercanda sejak....“ Langit meledak. Mereka sedang berkumpul bersama-sama, Harry, Ron, Hermione, Fred dan Percy, dua Pelahap Maut di kaki mereka, satu pingsan, satunya ber-transfigurasi; dan dalam sekejap mata -ketika bahaya tampak sedikit terkendali- dunia seperti terpisah, Harry merasa dirinya melayang di udara, dan yang bisa dilakukannya hanyalah memegang erat-erat tongkat kayu kurus senjata satu-satunya, dan melindungi kepala dengan lengannya: Dia mendengar jeritan dan teriakan rekan-rekannya tanpa berharap mengetahui apa yang terjadi pada mereka— Dan kemudian dunia terbagi menjadi rasa sakit dan kegelapan. Harry separuh terkubur dalam reruntuhan koridor yang diserang dengan brutal. Udara dingin menandakan bahwa sisi kastil telah hancur dan rasa panas di pipinya menunjukkan dia banyak mengeluarkan darah. Lalu dia mendengar tangisan yang mengiris hatinya, ekspresi penderitaan yang tidak mungkin disebabkan oleh api maupun kutukan, dan dia berdiri, sempoyongan, lebih takut daripada yang telah dirasakannya hari itu, lebih takut, mungkin daripada yang pernah dirasakan seumur hidupnya.... Dan Hermione berusaha berdiri di reruntuhan, dan tiga lelaki berambut merah berkumpul di tanah dimana dinding hancur berkeping-keping. Harry meraih tangan Hermione ketika mereka berjalan terhuyung-huyung dan tersandung batu serta kayu. "Tidak—tidak—tidak!“ seseorang menjerit. “Tidak—Fred—tidak!” Dan Percy mengguncang-guncang tubuh saudaranya, Ron berlutut disampingnya, dan mata Fred terbuka dengan hampa, bayangan tawa terakhir masih terukir di wajahnya. [1] chimaera = monster berkepala singa, bertubuh kambing dan berekor ular yang dapat menghembuskan api (legenda Yunani) Editor's note: -Mengikuti chapter sebelumnya yang menggunakan istilah diadem, bukannya mahkota, jadi saya mengganti tiap kata mahkota di chapter ini. - Grey Lady, diterjemahkan secara harfiah jadi Wanita Kelabu. Kedengerannya aneh, jadi tetep dalam English.. Lagipula Lady disini maksudnya gelar. -Er~ ada yang tau Stunning Spell di buku jadi apa? Saya lupa nih... -Credit to Aretha Luthien yang sudah membenarkan Kecerdasan Yang Luar Biasa Adalah Harta Karun Terbesar Manusia menjadi Kepintaran Tak Terhingga Adalah Harta Manusia Yang Paling Berharga yang telah dilihat berdasarkan buku kelima Chapter 32 The Elder Wand [Tongkat Elder] [tidak diterjemahkan, menunggu keputusan dari bab-bab sebelumnya bagaimana menerjemahkan The Elder Wand] Dunia sudah berakhir, jadi kenapa pertempuran tidak berhenti, kastil jadi terdiam dalam kengerian, dan para pejuang meletakkan senjatanya? Benak Harry terjun bebas, berputar tanpa kendali, tak mampu menangkap hal yang tak mungkin, karena Fred Weasley tak mungkin mati, bukti-bukti yang diberikan oleh semua indranya pasti berbohong-- Lalu sesosok tubuh jatuh melewati lubang ledakan di sisi sekolah, dan kutukan-kutukan berhamburan menuju mereka dari kegelapan, mengenai dinding di belakang kepalakepala mereka. “Tiarap!” seru Harry, saat makin lama kutukan semakin banyak menghujani mereka melewati malam: ia dan Ron menangkap Hermione lalu menariknya bertiarap di lantai, tapi Percy berbaring menutupi Fred, melindunginya dari bahaya, dan saat Harry berteriak, ”Percy, ayo, kita harus bergerak!” ia malah menggelengkan kepala. “Percy!” Harry melihat bekas airmata membelah debu yang menutupi wajah Ron saat ia meraih bahu kakak laki-lakinya, dan menariknya, tapi Percy bergeming. “Percy, kau tidak dapat melakukan apapun untuknya. Kita akan—“ Hermione berteriak, dan Harry menoleh, tak perlu bertanya kenapa. Laba-laba yang besar sekali seukuran mobil kecil mencoba memanjat lubang besar di dinding: salah satu keturunan Aragog telah bergabung dalam pertempuran. Ron dan Harry berseru bersamaan: mantra mereka bertabrakan dan monster itu dihajar mundur, kaki-kakinya menyentak-nyentak mengerikan dan menghilang dalam kegelapan. “Dia membawa teman!” Harry memberitahu yang lain, memandang sepintas tepi kastil melalui lubang di dinding yang diledakkan oleh kutukan-kutukan: lebih banyak laba-laba raksasa memanjat sisi bangunan, lepas dari Hutan Terlarang ke mana para Pelahap Maut pasti telah meranjah. Harry menembakkan Mantra Pembius pada mereka, monster pemimpinnya jatuh terguling menimpa rekannya. Jadi mereka merangkak menuruni bangunan kembali dan lenyap. Lalu lebih banyak kutukan bertebaran di atas kepala Harry, sangat dekat ia rasakan kekuatan mereka meniup rambutnya. ”Ayo bergerak, SEKARANG!” Mendorong Hermione maju bersama Ron, Harry membungkuk meraih jenazah Fred dari ketiaknya. Percy, menyadari apa yang sedang Harry coba lakukan, tak lagi menempel pada jenazah, dan membantu; bersama, membungkuk rendah menghindari kutukan melayang-layang dari tanah, mereka menyeret jenazah Fred. “Di sini,” sahut Harry, dan mereka menempatkannya di sebuah ceruk yang tadinya tempat seperangkat baju besi. Harry tak mampu memandang jenazah Fred lebih lama lagi, dan setelah yakin bahwa jenazahnya disembunyikan dengan baik, ia mengejar Ron dan Hermione. Malfoy dan Goyle sudah menghilang, tapi di ujung koridor, yang sekarang penuh debu dan puing-puing, kaca sudah lenyap dari jendela, ia banyak melihat banyak orang berlari ke sana ke mari, kawan atau lawan ia tak tahu. Membelok di sudut, Percy meraung bagai banteng, ”ROOKWOOD!” dan berlari secepat ia bisa ke arah seorang jangkung yang sedang mengejar sepasang siswa. ”Harry, sini!” Hermione berteriak. Hermione sedang menarik Ron di belakang sebuah hiasan gantung. Mereka kelihatan seperti orang yang sedang bergulat, dan untuk sedetik yang gila, Harry mengira mereka berpelukan lagi; lalu dia melihat bahwa Hermione mencoba menahan Ron, menghentikannya berlari mengikuti Percy. “Dengarkan aku—DENGAR, RON!” “Aku ingin menolong—aku ingin membunuh para Pelahap Maut—“ Wajahnya berubah, coreng-moreng debu dan asap, dan ia terguncang oleh kemarahan dan kedukaan. “Ron, hanya kita yang bisa menghentikan semua ini. Tolong—Ron—kita harus mencari ular itu, kita harus membunuh ular itu!” sahut Hermione. Tapi Harry tahu apa yang dirasakan Ron; mencari Horcrux tidak memenuhi hasrat untuk membalas dendam; ia juga ingin bertempur, ingin menghukum mereka, orang-orang yang membunuh Fred, dan dia ingin mencari anggota keluarga Weasley yang lain, dan di atas segalanya, ingin yakin bahwa Ginny tidak—tapi dia tidak mengijinkan gagasan itu terbentuk di benaknya. “Kita akan bertempur,” sahut Hermione. “Kita harus mencapai ular itu! Tapi kita tidak boleh kehilangan pandangan, akan apa yang harus kita l-lakukan! Hanya kita yang bisa menghentikan ini!” Hermione sedang menangis juga, ia mengusap wajahnya dengan lengan bajunya yang sobek dan hangus, sambil bicara, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, masih memegang Ron erat-erat, dia menoleh pada Harry. ”Kau perlu menemukan di mana Voldemort, karena ularnya ada bersamanya, kan? Lakukan, Harry—lihat dia!” Mengapa hal itu tadinya begitu mudah? Karena bekas lukanya membara berjam-jam, ingin memperlihatkan padanya pikiran-pikiran Voldemort? Ia menutup matanya atas perintah Hermione, dan seketika itu juga jeritan-jeritan dan ledakan-ledakan dan suarasuara peperangan terdengar sangat jauh, ia berdiri jauh, jauh sekali dari mereka ... Ia berdiri di tengah ruangan yang sunyi tapi anehnya ia merasa kenal, dengan kertas dinding yang mengelupas, semua jendela menutup kecuali satu. Suara-suara penyerangan di kastil terdengar sayup-sayup dan jauh. Satu-satunya jendela yang terbuka memperlihatkan cahaya kejauhan di mana kastil itu berdiri, tapi di dalam ruangan gelap kecuali sebuah lampu minyak. Ia memutar-mutar tongkatnya di antara jemarinya, mengamatinya, pikirannya ada pada ruangan di dalam kastil, ruang rahasia yang hanya dia saja yang mengetahuinya, ruangan --seperti Kamar Rahasia— yang memerlukan kecerdasan, kecerdikan dan rasa ingin tahu untuk bisa menemukannya…dia yakin anak itu tidak dapat menemukan diadem tersebut. walau boneka Dumbledore itu sudah berjalan lebih jauh dari apa yang ia perkirakan ... terlalu jauh. ”Tuanku,” sahut sebuah suara, putus asa dan tak berdaya. Ia menoleh: Lucius Malfoy duduk di sudut paling gelap, compang-camping, masih ada bekas-bekas hukuman yang ia terima setelah pelarian terakhir anak itu. Satu matanya tertutup dan bengkak. ”Tuanku ... Tolong ... anak saya ...” ”Kalau anakmu mati, Lucius, itu bukan salahku. Ia tidak datang bergabung seperti para Slytherin yang lain. Mungkin dia memutuskan untuk berteman dengan Harry Potter?” “Tidak—tidak pernah,” bisik Malfoy. “Kau harus berharap ia tidak akan pernah.” “Apakah—apakah kau tak takut, Tuanku, bahwa Potter bisa saja mati di tangan orang lain selain tanganmu?” tanya Malfoy, suaranya terguncang. “Tidakkah lebih baik … ampuni hamba … lebih bijaksana untuk menghentikan perang ini, masuk ke kastil dan mencarinya s-sendiri?” “Jangan berpura-pura, Lucius. Kau yang ingin agar perang ini berhenti supaya kau bisa tahu apa yang terjadi dengan anakmu. Dan aku tidak perlu mencari Potter. Sebelum malam berlalu, Potter yang akan mencariku.” Voldemort menurunkan pandangan sekali lagi pada tongkat di jemarinya. Tongkat ini menyusahkannya .. dan hal-hal yang menyusahkan Lord Voldemort harus dibereskan. ”Pergi dan jemput Snape.” ”Snape, T-Tuanku?” ”Snape. Sekarang. Aku perlu dia. Ada satu—pelayanan—yang kuperlukan darinya. Pergi.” Ketakutan, sedikit tersandung dalam kegelapan, Lucius meninggalkan ruangan. Voldemort terus berdiri, memutar-mutar tongkat di jemarinya, memandanginya. ”Ini satu-satunya jalan. Nagini,” bisiknya, melihat sekeliling, di sana ada seekor ular besar, gemuk tertahan di tengah-tengah udara, bergulung anggun dalam tempat yang telah ia buat, dimantrai, dilindungi, antara kandang dan tangki, berkilat dan transparan. Dengan napas tertahan, Harry menarik diri dan membuka matanya: saat yang bersamaan telinganya diserbu suara jeritan, tangisan, bantingan dan ledakan peperangan. ”Dia ada di Shrieking Shack. Ularnya bersamanya, ular itu dilindungi oleh pelindung sihir di sekelilingnya. Dia baru saja mengirim Lucius Malfoy untuk mencari Snape.” ”Voldemort duduk di Shrieking Shack?” sahut Hermione, seperti terhina, ”Dia tidak—dia bahkan tidak bertempur?” “Ia pikir tidak perlu bertempur,” sahut Harry, “Ia kira aku yang akan mendatanginya.” “Tapi kenapa?” “Dia tahu aku mencari Horcruxes—dia menjaga Nagini dekatnya—jelas aku harus pergi padanya agar bisa mendekati ular itu—“ “Baik,” sahut Ron sambil menegakkan bahunya, “Jadi kau tak bisa pergi, itu yang dia inginkan, yang dia harapkan. Kau tinggal di sini, jaga Hermione, aku akan pergi dan mendapatkannya—” Harry memotong Ron. ”Kalian berdua tinggal di sini. Aku pergi di bawah Jubah dan akan kembali segera setelah aku—” ”Tidak,” sahut Hermione, ”lebih masuk akal kalau aku memakai Jubah dan—” ”Jangan coba-coba memikirkannya,” geram Ron pada Hermione. Sebelum Hermione bisa lebih jauh dari, ”Ron, aku sama mampunya dengan—” hiasan gantung di atas tangga di mana mereka berdiri, disobek terbuka. ”POTTER!” Dua Pelahap Maut bertopeng berdiri di sana, tapi sebelum mereka mengacungkan tongkat, Hermione berteriak, “Glisseo!” Anak-anak tangga di bawah kaki mereka jadi rata seperti seluncuran. Hermione, Harry, dan Ron meluncur ke bawah, tidak dapat mengendalikan kecepatannya tapi sedemikian cepat sehingga Mantra Bius para Pelahap Maut meleset di atas kepala mereka. Mereka terus meluncur melalui hiasan gantung yang tersembunyi di dasar tangga, berputar di lantai, menubruk dinding. ”Duro!” jerit Hermione, menunjukkan tongkatnya pada hiasan gantung itu, dan terdengar dua derakan yang menyakitkan dan keras saat hiasan itu berubah menjadi batu dan kedua Pelahap Maut yang mengejar mereka terbentur di sana. ”Minggir!” seru Ron, dan dia, Hermione, dan Harry merapatkan diri di sebuah pintu di saat sekawanan meja berderap riuh rendah melewati mereka, digembalakan oleh Profesor McGonagall yang sedang berlari cepat. Dia nampaknya tidak memperhatikan mereka bertiga: rambutnya acak-acakan, ada bekas luka di pipi. Saat ia membelok di tikungan, mereka mendengar ia berteriak, ”CHARGE!” “Harry, pakai Jubah,” sahut Hermione, “Jangan pedulikan kami—“ Tapi dia melemparkannya agar menutupi mereka bertiga: cukup besar untuk mereka bertiga, dia ragu apakah ada orang yang bisa melihat kaki-kaki mereka melalui debu yang menutupi udara, batu-batu yang terus berjatuhan, kilatan-kilatan mantra. Mereka berlari turun di tangga berikutnya, menemkan koridor penuh dengan para petarung. Lukisan di kedua sisi penuh dengan sosok-sosok, meneriakkan saran-saran dan dukungan, di mana para Pelahap Maut bertopeng atau tidak bertarung dengan para siswa dan guru. Dean sudah memperoleh tongkat, dia sedang bertarung dengan Dolohov, Parvati dengan Travers. Harry, Ron, dan Hermione mengacungkan tongkat saat itu juga, siap-siap menyerang, tapi para petarung sedang mengayunkan dan melontarkan manta sedemikian rupa sehingga besar kemungkinan melukai salah satu dari pihak mereka sendiri kalau mereka merapal mantra. Bahkan saat mereka berdiri terpaku, mencari kesempatan untuk bertindak, terdengar suara keras, wheeeeeeeeeeee, dan saat Harry melihat ke atas ia menemukan Peeves membubung ke udara menjatuhkan polong kacang Snargaluff pada para Pelahap Maut, kepala-kepala mereka tiba-tiba ditelan umbi-umbian hijau menggeliat-geliut sepeti cacing-cacing gemuk. “Argh!” Sekepalan umbi mengenai Jubah di kepala Ron, akar hijau berlendir tergantung di udara saat Ron mencoba melepaskannya. “Seseorang tak terlihat di sana!” teriak seorang Pelahap Maut menunjuk. Dean menjadikan seorang Pelahap Maut yang teralih perhatiannya, menjatuhkannya dengan Mantra Pembius: Dolohov mencoba membalas dendam dan Parvati menembakkan Mantra Ikat Tubuh padanya. “AYO!” Harry berteriak, dan dia, Ron, dan Hermione bersama di bawah Jubah lebih rapat lagi, kepala dirundukkan di antara para petarung, terpeleset sedikit di kolam cairan Snargaluff, menuju ke tangga marmer ke Pintu Masuk. “Aku Draco Malfoy. Aku Draco,aku di pihakmu!” Draco sedang di atas, memohon pada seorang Pelahap Maut bertopeng. Harry meMingsankan Pelahap Maut itu saat mereka lewat: Malfoy mencari-cari, sambil berseriseri, mencari penolongnya, dan Ron meninjunya dari bawah Jubah. Malfoy terjengkang menindih Pelahap Maut yang tadi, mulutnya berdarah, benar-benar melongo. “Dan itu kali kedua kami menyelamatkan hidupmu malam ini, dasar bajingan bermuka dua!” Ron berteriak. Lebih banyak lagi yang sedang bertempur di mana-mana, di tangga dan di Pintu Masuk, Pelahap Maut di mana-mana yang Harry lihat: Yaxley dekat pintu depan bertarung dengan Flitwick, seorang Pelahap Maut bertopeng berduel dengan Kingsley tepat di sisi mereka. Siswa-siswa berlarian ke segala arah, beberapa membawa atau menyeret teman yang luka. Harry mengarahkan Mantra Pembius pada Pelahap Maut bertopeng, luput tapi nyaris kena Neville, yang muncul entah dari mana dan melepas sepemelukan Venomous Tentacula yang berjungkir balik dengan gembira di sekitar Pelahap Maut terdekat dan mulai menggulungnya. Harry, Ron, dan Hermione berjalan cepat ke arah tangga pualam: pecahan kaca di kiri mereka, jam pasir Slytherin yang menandai poin asrama, batu jamrudnya berceceran di mana-mana, sehingga orang terpeleset dan berjalan terhuyung-huyung saat mereka berlari di situ. Dua sosok jatuh dari balkon di atas saat mereka sampai ke atas dan Harry melihat samar-samar seekor binatang berkaki empat berlari cepat melintas Aula untuk menancapkan giginya pada yang jatuh. ”TIDAK!” jerit Hermione dan dengan ledakan yang menulikan dari tongkatnya, Fenrir Greyback terlempar ke belakang dari tubuh Lavender Brown yang gerakannya sudah lemah. Fenrir menabrak sandaran tangga marmer dan sedang berjuang untuk berdiri kembali. Lalu dengan kilasan cahaya putih dan suara berderak, sebuah bola kristal jatuh dari atas kepalanya, dia jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi. “Aku masih punya lagi,” jerit Profesor Trelawney dari atas pegangan tangga. “Lebih banyak untuk siapapun yang mau! Sini—“ Dengan gerakan seperti servis tenis, ia mengeluarkan bola kristal yang besarnya luar biasa dari dalam tasnya, mengayunkan tongkatnya di udara dan menyebabkan bola itu meluncur melintas aula dan pecah kena jendela. Pada saat yang sama, pintu depan dari kayu yang berat tiba-tiba terbuka dan lebih banyak lagi laba-laba raksasa memaksa masuk ke Pintu Masuk. Teriakan ngeri memecah udara: yang sedang bertempur pun bertemperasan. Pelahap Maut maupun penghuni Hogwarts sama saja, dan kilasan sinar merah dan hijau beterbangan di tengah-tengah monster-monster yang datang, mengerikan, lebih mengerikan dari apa yang ada. “Bagaimana kita bisa keluar?” pekik Ron di antara jeritan-jeritan, tapi sebelum Harry atau Hermione menjawab, mereka terpaksa menepi: Hagrid telah datang dari tangga menenteng payung pink berbunga. “Jangan sakiti mereka, jangan sakiti mereka!” ia berteriak. ”HAGRID, JANGAN!” Harry lupa segalanya: ia berlari secepat ia bisa keluar dari Jubah, lari membungkuk untuk menghindari Kutukan-kutukan yang membuat Aula terang benderang. ”HAGRID, KEMBALI!” Tapi Harry bahkan belum setengah jalan saat ia melihatnya terjadi: Hagrid lenyap di antara para laba-laba, yang berlari ke sana kemari, dengan gerakan mengerumuni, labalaba itu mundur di bawah serangan gencar mantra, Hagrid terkubur di tengahnya. ”HAGRID!” Harry mendengar seseorang memanggil namanya, tak tahu kawan atau lawan dia tak peduli: ia berlari secepat ia bisa di tanah gelap dan laba-laba itu pergi dengan mangsanya, dan ia tidak bisa melihat Hagrid sama sekali. ”HAGRID!” Harry mengira dia bisa menciptakan tangan besar dari tengah kerumunan laba-laba; tapi saat ia mengejar mereka, langkahnya terhenti dengan adanya kaki yang besar terayun dari kegelapan membuat bumi tempat ia berdiri bergetar. Harry melihat ke atas: seorang raksasa berdiri di hadapannya, tinggi duapuluh kaki, kepalanya tersembunyi di balik bayangan, tak ada selain bahwa dia seperti pohon, rambut disinari cahaya dari pintu kastil. Dengan satu gerakan brutal, raksasa itu menghunjamkan tinju pada jendela di atas Harry, dan pecahan kaca menghujani Harry, memaksanya mundur dengan lindungan pintu. ”Oh—” jerit Hermione, saat dia dan Ron mencapai Harry dan memandang ke atas ke raksasa yang sedang mencoba menangkap orang dari jendela di atas. ”JANGAN!” Ron berteriak, menangkap tangan Hermione yang sudah mengacungkan tongkatnya. “Pingsankan dia dan dia akan menghancurkan setengah kastil—“ “HAGGER?” Grawp datang dengan tiba-tiba dari sudut kastil; baru sekarang Harry menyadari bahwa Grawp memang raksasa berukuran mini. Monster yang besar sekali itu sedang mencoba menghancurkan orang-orang di lantai atas, melihat sekeliling dan menggeram. Undakan batu bergetar saat raksasa itu menghentakkan kaki pada sebangsanya yang lebih kecil dan mulut miring Grawp terbuka, memperlihatkan gigi sebesar setengah batu bata dan kuning, lalu mereka saling menyerang dengan kebuasan singa. “LARI!” raung Harry; malam itu dipenuhi oleh teriakan-teriakan dan pukulan-pukulan mengerikan saat kedua raksasa itu bergulat, Harry menangkap tangan Hermione dan melangkahi undakan, Ron mengikuti. Harry tak kehilangan harapan untuk menemukan dan menyelamatkan Hagrid; dia lari begitu cepatnya hingga mereka sudah setengah jalan ke Hutan sebelum mereka sadar. Udara di sekitarnya membeku: Harry tercekat dan dadanya memadat. Bentuk-bentuk bergerak dalam kegelapan, sosok-sosok berputar hitam pekat, bergerak dalam gelombang besar menuju kastil, wajahnya bertudung, napasnya gemeretak … Ron dan Hermione mendekat ke sampingnya saat suara pertempuran di belakang tiba-tiba terhenti, mati, karena keheningan hanya bisa diawa oleh Dementor, turun di malam hari ... ”Ayo, Harry!” sahut suara Hermione, dari suatu tempat yang rasanya jauh sekali. ”Patronus, Harry, ayo!” Ia mengangkat tangannya, tapi rasa keputusasaan menyebar dalam dirinya: Fred sudah pergi, Hagrid pasti sekarat atau bahkan sudah mati: berapa banyak lagi yang terbaring mati yang dia belum tahu: ia merasa nyawanya seperti sudah setengah meninggalkan tubuhnya ... ”HARRY, AYO!” pekik Hermione. Seratus Dementor mendekat, meluncur menuju mereka, menghisap jalan keputusasaan Harry, seperti janji untuk berpesta ... Ia melihat anjing terrier perak milik Ron meluncur ke udara, bekelip lemah dan berlalu: ia melihat berang-berang kepunyaan Hermione berputar di udara dan menghilang, dan tongkatnya sendiri bergetar di tangannya, nyaris ia menyambut pelupaan yang sedang datang, janji akan ketiadaan, tak ada rasa … Lalu seekor kelinci perak, seekor babi hutan, dan seekor rubah melayang melampaui kepala Harry, Ron, dan Hermione: Dementor-dementor itu mundur sebelum makhlukmakhluk itu mendekat. Tiga orang datang dari kegelapan, berdiri di samping mereka, tongkat mereka terulur, terus merapal Patronus mereka: Luna, Ernie, dan Seamus. ”Iya, betul,” sahut Luna memberi semangat, seperti saat mereka ada di Kamar Kebutuhan dan ini hanyalah latihan mantra untuk Laskar Dumbledore, ”Itu betul, Harry ... ayo, pikirkan sesuatu yang membahagiakan ...” ”Sesuatu yang membahagiakan?” sahutnya, suaranya tercekat. ”Kami masih di sini,” ia berbisik, ”kami masih bertempur. Ayo ...” Lalu ada percikan api perak, lalu cahaya berkelap-kelip, lalu dengan usaha yang teramat keras yang pernah dilakukan Harry, seekor rusa jantan meluncur keluar dari ujung tongkat Harry. Rusa jantan itu maju miring, dan sekarang para Dementor benar-benar tercerai berai, segera saja malam menjadi sejuk kembali, tapi suara-suara pertempuran memekakkan telinga. ”Tak cukup rasa terima kasih,” sahut Ron masih gemetar, menoleh pada Luna, Ernie, dan Seamus, ”Kalian menyelamatkan—” Dengan raungan dan getar seperti gempa bumi, satu raksasa lain datang keluar dari kegelapan dari arah Hutan menjinjing pentungan yang tingginya melebihi siapapun. ”LARI!” Harry berteriak lagi, tapi yang lain tka perlu diingatkan: mereka bertemperasan, dan tak terlalu cepat karena kaki lebar makhluk itu jatuh berdebam tepat di mana tadi mereka berdiri. Harry menoleh, Ron dan Hermione mengikutinya, tapi ketiga yang lain telah menghilang kembali ke kancah pertempuran. ”Ayo keluar dari sini!” teriak Ron, saat raksasa itu mengayunkan pentungannya lagi, dan bunyinya bergema memintasi malam, melintasi tanah di mana kilasan-kilasan merah dan hijau menerangi kegelapan. “Dedalu Perkasa!” sahut Harry. ”Ayo!” Ia membentenginya tinggi-tinggi, menyimpannya di ruangan kecil yang tak dapat ia lihat sekarang: pikiran tentang Fred dan Hagrid, dan ketakutannya akan orang-orang yang ia cintai yng ada di dalam dan luar kastil, semua harus menunggu, karena mereka harus berlari, harus mencapai ular itu, dan Voldemort karena itu seperti kata Hermione, satusatunya jalan untuk mengakhirinya ... Ia berlari, setengah percaya bahwa ia bisa meninggalkan kematian sendiri, mengacuhkan kilasan cahaya dalam kegelapan di sekeliling, dan suara danau yang berombak bagai laut, dan Hutan Terlarang berbunyi keriat-keriut walau malam itu tak berangin, melalui tanah yang nampaknya bangkit dan memberontak, ia lari lebih cepat dari yang pernah ia lakukan dalam hidupnya, dan dialah yang pertama melihat pohon besar itu, Dedalu yang melindungi rahasia di akarnya dengan dahan-dahannya yang bagai cambuk. Terengah-engah Harry berlari lebih pelan, menyusuri dahan-dahan Dedalu yang mengayukan pukulan, memandang tajam lewat kegelapan melalui cabang-cabangnya yang tebal, mencoba melihat tonjolan pada pohon tua yang akan melumpuhkannya. Ron dan Hermione berhasil mengejarnya, Hermione benar-benar kehabisan napas, dia tak bisa bicara. “Bagai—bagaimana kita masuk?” sahut Ron terengah-engah, “Aku bisa—melihatnya— kalau kita harus—Crookshanks lagi—” “Crookshanks?” cuit Hermione, membungkuk mencengkeram dadanya. “Apa kau penyihir, atau apa?” ”Oh—betul—yeah—” Ron melihat sekeliling, lalu mengarahkan tongkatnya pada ranting di tanah dan berkata, ”Winggardium Leviosa!”. Ranting itu melayang dari tanah, berputar di udara seperti diputarkan oleh angin, lalu meluncur tepat pada batang di mana dahan-dahan Dedalu memukul. Ranting itu menusuk dekat akar, dan saat itu juga pohon yang menggeliat itu terdiam. ”Sempurna,” sahut Hermione. ”Tunggu.” Untuk sedetik, saat dentuman dan ledakan pertempuran mengisi udara, Harry ragu. Voldemort menginginkan dia melakukannya, ingin ia datang ... apakah dia menuntun Ron dan Hermione ke dalam perangkap? Tapi kenyataan nampaknya menutupi segalanya, kejam dan perih: satu-satunya jalan untuk maju adalah membunuh ular itu, dan ular itu berada di mana Voldemort ada, dan Voldemort ada di ujung terowongan ... ”Harry, kami datang, ayo masuk,” sahut Ron, mendorongnya maju. Harry turun ke jalan masuk tersembunyi di akar pohon. Lebih sesak dari waktu terakhir mereka masuk ke situ. Terowongan itu berlangit-langit rendah: empat tahun yang lalu mereka harus meringkuk untuk maju, sekarang terpaksa merangkak. Harry masuk pertama, tongkatnya bercahaya, ia bersiaga akan adanya rintangan setiap saat, tapi tak ada. Mereka bergerak dalam kesunyian, pandangan Harry terpancang pada cahaya di ujung tongkat yang digenggamnya. Akhirnya terowongan sampai pada tanjakan dan Harry melihat cahaya keperakan di depan. Hermione menyentuh pergelangan kakinya. ”Jubah,” Hermione berbisik, ”Pakai Jubahnya!” Harry meraba-raba di punggungnya, dan Hermione menjejalkan buntalan kain licin itu ke tangan Harry yang kosong. Dengan kesulitan, ia mengerudungkan pad adirinya, bergumam ‘Nox’ memadamkan cahaya tongkatnya, dan meratakan Jubah di tangan dan di lututnya sesunyi mungkin, semua indranya tegang, bersiaga tiap saat bisa ketahuan, bersiaga mendengar suara dingin dan jernih, bersiaga melihat kilasan cahaya hijau. Lalu ia mendengar suara yang datang dari ruangan yang tepat di hadapan mereka, hanya dihalangi oleh, nampaknya bukaan terowongan di ujung terowongan telah dihalangi oleh sesuatu yang seperti peti mati. Nyaris tak berani bernapas, Harry maju ke bukaan dan mengintip ke celah kecil di antara peti dan dinding. Ruangan itu remang-remang, tapi dia bisa melihat Nagini, bergelung seperti ular bawah air, aman dalam kurungannya yang sudah dimantrai, terapung tanpa penopang di tengah udara. Ia bisa melihat tepi meja dan sebuah tangan putih berjari panjang memainkan tongkat. Lalu Snape bicara, dan jantung Harry nyaris terlepas: Snape hanya beberapa inci jauhnya dari tempat ia meringkuk bersembunyi. ”...Tuanku, perlawanan mereka buruk—” ”—dan sama saja tanpamu,” sahut Voldemort, dengan suaranya yang tinggi dan jernih. ”Penyihir dengan ketrampilan sepertimu, Severus, kupikir kau tak akan membuat banyak perubahan. Kita hampir tiba ... hampir.” ”Biarkan aku menemukan anak itu. Biarkan aku membawa Potter. Aku tahu aku bisa menemukannya, Tuanku. Please.” Snape berjalan melewati celah, dan Harry begerak mundur sedikit, menjaga matanya tetap pada Nagini, bertanya-tanya apakah ada mantra yang bisa menembus perlindungan ular itu, tapi dia tak dapat memikirkannya. Satu percobaan saja gagal, sama saja dengan dia membuka rahasia di mana ia berada. Voldemort berdiri, Harry dapat melihatnya sekarang, melihat matanya yang merah, wajahnya yang rata seperti ular, kepucatannya yang bersinar di ruangan setengah gelap. ”Aku ada masalah, Severus,” sahut Voldemort pelan. ”Tuanku?” sahut Snape. Voldemort mengangkat Elder Wand, memegangnya dengan lembut, mirip sekali dengan tongkat konduktor. “Mengapa tongkat ini tidak bisa berfungsi untukku, Severus?” Dalam kesunyian Harry membayangkan ia bisa mendengar ular itu mendesis pelan saat ia bergelung, atau apakah itu suara keluhan Voldemort yang berdesis? ”Tu-Tuanku?” tanya Snape hampa. ”Aku tak mengerti. Anda—Anda telah menampilkan sihir yang istimewa dengan tongkat itu.” ”Tidak,” sahut Voldemort. ”Aku hanya menampilkan sihir yang biasa. Aku memang istimewa, tetapi tongkat ini ... tidak. Tongkat ini tidak menampilkan keistimewaan yang dijanjikan.Aku tidak merasakan perbedaan antara tongkat ini dengan tingkat yang kudapat dari Ollivander.” Nada suara Voldemort seperti merenung, tenang, tapi bekas luka Harry mulai berdenyut, nyeri sedang dibangun di keningnya dan dia bisa merasakan Voldemort mengendalikan kemarahan di dalamnya. ”Tak ada perbedaan,” sahut Voldemort lagi. Snape tidak bicara. Harry tidak dapat melihat wajahnya: ia ingin tahu apakah Snape bisa mengendus adanya bahaya, dan mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menenangkan tuannya. Voldemort mulai bergerak sekeliling ruangan. Harry kehilangan pandangan selama beberapa detik saat Voldemort berputar, berbicara dengan suara yang terukur, saat nyeri dan kemarahan memuncak di kepala Harry. “Aku sudah berpikir lama dan keras, Severus, ... tahukah kau kenapa aku memanggilmu kembali dari pertempuran?” Dan untuk sesaat Harry bisa melihat sosok Severus: matanya terpancang pada ular yang sedang bergelung di kandang bermantra. “Tidak, Tuanku, tapi kumohon ijinkan aku kembali. Biarkan aku menemukan Potter.” ”Kau kedengaran seperti Lucius. Tak ada di antara kalian yang mengerti Potter sepertiku. Dia tidak usah dicari. Potter yang akan datang padaku. Aku tahu kelemahannya, kau tahu, satu kesalahannya yang besar. Ia akan benci melihat orang lain gugur di sekitarnya, tahu bahwa itu terjadi untuknya. Ia akan menghentikannya dengan segala cara. Ia akan datang.” ”Tapi, Tuanku, dia bisa saja tak sengaja terbunuh oleh orang lain selain dirimu—” ”Perintahku untuk para Pelahap Maut sudah jelas. Tangkap Potter. Bunuh temannyamakin banyak makin baik—tapi jangan bunuh dia.” “Tapi aku berbicara tentangmu, Severus, bukan Harry Potter. Kau sangat berharga untukku. Sangat berharga.” “Tuanku tahu aku hanya ingin melayanimu. Tapi—biarkan aku pergi dan mencari anak itu, Tuanku. Biarkan kubawa dia padamu. Aku tahu aku bisa—” ”Sudah kukatakan, tidak!” sahut Voldemort dan Harry melihat kilatan merah pada matanya saat ia menoleh lagi, dan kibasan jubahnya seperti ular merayap, dan ia merasaka ketidaksabaran Voldemort di bekas lukanya yang membara. ”Perhatianku pada saat ini Severus, adalah apa yang akan terjadi jika aku bertemu dengan anak itu.” ”Tuanku, kukira tak akan ada pertanyaan, tentulah—” ”—tapi memang ada pertanyaan, Severus. Memang ada.” Voldemort berhenti, dan Harry dapat melihatnya lagi saat dia menyelipkan Elder Wand di antara jari-jarinya yang putih, memandang Snape. “Mengapa kedua tongkat yang kugunakan gagal saat aku arahkan pada Harry Potter?” ”Aku—aku tak bisa menjawabnya, Tuanku.” ”Tak dapatkah?” Tikaman kemarahan terasa seperti sebuah paku ditancapkan ke kepala Harry: ia memaksakan kepalan tinjunya ke dalam mulut agar ia tidak berteriak kesakitan. Ia menutup matanya, dan tiba-tiba ia menjadi Voldemort, melihat wajah Snape yang pucat. ”Tongkatku yang dari kayu yew itu melakukan apapun yang kuminta, Severus, kecuali membunuh Harry Potter. Dua kali ia gagal. Ollivander mengatakan padaku di bawah siksaan tentang dua inti tongkat. Aku diminta menggunakan tongkat orang lain. Aku melakukannya, tetapi tongkat Lucius malah hancur waktu bertemu Potter.” ”Aku—aku tak punya penjelasannya, Tuanku.” Snape tidak sedang melihat pada Voldemort sekarang. Matanya yang gelap masih terpancang pada ular yang melingkar dalam sangkar pelindungnya. “Aku mencari tongkat ketiga, Severus. The Elder Wand, Tongkat Takdir, Tongkat Kematian. Aku mengambilnya dari tuannya terdahulu. Aku mengambilnya dari kuburan Albus Dumbledore.” Dan sekarang Snape memandang Voldemort, dan wajah Snape nampak seperti topeng kematian [Death Mask—topeng kematian, adalah cetakan yang dibuat dari plester/gips/semen diambil dari wajah orang mati. Bukan seutuhnya istilah Inggris karena ini juga digunakan di Paris untuk mencatat wajah orang tak dikenal yang tenggelam di sungai Seine. Dengan demikian, wajah Snape diibaratkan seperti topeng kematian, sangat pucat/putih dan tak ada gerakan—persis seperti topeng kematian. Diambil dari HP Lexicon] Wajahnya putih pualam dan kaku, sehingga saat dia bicara, suatu kejutan melihat ada orang hidup di balik mata yang kosong itu. “Tuanku—biarkan aku mencari anak itu—“ ”Semalaman ini, saat aku berada di tepi kemenangan, aku duduk di sini,” sahut Voldemort, suaranya hanya lebih keras dari bisikan, ”berpikir, berpikir, kenapa Elder Wand menolak apa yang harus dia lakukan, menolak melakukan seperti kata legenda, ia harus mau melakukan apa yang diinginkan oleh pemilik yang berhak ... dan kupikir aku tahu apa jawabannya.” Snape tak menjawab. ”Mungkin kau sudah tahu jawabannya? Kau pandai, Severus. Kau sudah menjadi pelayan yang baik dan setia, dan aku menyesali apa yang harus terjadi.” ”Tuanku—” ”Elder Wand tidak dapat melayaniku dengan baik, Severus, karena aku bukan tuannya yang sejati. Elder Wand adalah milik penyihir yang membunuh pemiliknya yang terakhir. Kau pembunuh Albus Dumbledore. Selagi kau masih hidup, Severus, Elder Wand tak bisa sepenuhnya menjadi kepunyaanku.” “Tuanku!” protes Snape, mengangkat tongkatnya. “Tentu tidak bisa dengan cara lain,” sahut Voldemort. “Aku harus menguasai tongkat itu, Severus. Kuasai tongkat, dan aku akan menguasai Potter akhirnya.” Dan Voldemort membelah udara dengan Elder Wand. Tongkat itu seperti tidak melakukan apa-apa pada Snape yang untuk sedetik berpikir dia telah mendapat pengampunan: tapi kemudian tujuan Voldemort menjadi jelas. Kandang ular itu berputar di udara dan sebelum Snape bisa berbuat apapun selain berteriak, ular itu sudah melingkarinya, kepala dan bahu, dan Voldemort berbicara dalam Parseltongue. “Bunuh.” Jeritannya mengerikan. Harry melihat wajah Snape kehilangan sedikit warna yang tersisa, wajahnya memutih saat mata hitamnya melebar saat taring ular itu menghunjam lehernya, saat ia gagal mendorong kandang bermantra itu, saat lututnya menyerah, dan ia jatuh ke lantai. “Aku menyesalinya,” sahut Voldemort dingin. Ia pergi; tak ada rasa sedih padanya, tak ada penyesalan. Ini sudah waktunya meninggalkan gubuk dan mengambil alih, dengan tongkat yang sekarang akan mengerjakan apapun yang dimintanya. Ia mengacungkannya pada kandang yang berisi ular, mengarah ke atas, melepaskan Snape yang jatuh menyamping di lantai, darah mengalir dari luka di lehernya. Voldemort berayun keluar dari ruangan tanpa memandang ke belakang lagi, dan ular besarnya melayang di belakangnya dalam perlindungannya. Kembali ke terowongan dan kembali ke pikirannya sendiri, Harry membuka matanya: ia berdarah, menggigit buku jarinya sedemikian agar ia tak berteriak. Sekarang ia melihat celah antara peti dan tembok, mengamati kaki dengan sepatu boot hitam gemetar di lantai. ”Harry,” Hermione berbisik di belakangnya, tapi Harry sudah mengacungkan tongkatnya pada peti yang menghalangi pandangan. Peti itu terangkat satu inci dan bergerak ke samping tanpa suara. Sediam mungkin ia menyelinap ke dalam ruangan. Ia tak tahu mengapa ia melakuan hal ini, mengapa ia mendekati orang yang sedang sekarat ini: ia tidak tahu apa yang ia rasa saat melihat wajah putih Snape, dan jemari yang mencoba menghentikan luak berdarah di lehernya. Harry melepaskan Jubah Gaib dan melihat ke bawah, melihat pada orang yang ia benci, orang yang mata hitamnya melebar menemukan Harry saat ia berusaha bicara. Harry membungkuk di atasnya: dan Snape menangkap bagian depan jubahnya dan menariknya mendekat. Sebuah suara serak berdeguk mengerikan keluar dari kerongkongan Snape. ”Ambil ... itu ... Ambil ... itu.” Sesuatu yang lebih dari darah merembes keluar dari Snape. Biru keperakan, bukan gas bukan cairan, memancar dari mulutnya, dari telinganya, dari matanya, dan Harry tahu itu apa, tapi Harry tidak tahu apa yang harus ia lakukan— Sebuah tabung tercipta dari udara, dijejalkan pada tangan gemetar Harry oleh Hermione. Harry menampung bahan keperakan itu ke dalam tabung dengan tongkatnya. Saat tabung itu penuh, dan Snape terlihat seakan tak ada darah tersisa lagi padanya, cengkeramannya pada jubah Harry mengendur. ”Pandang ... aku,” ia berbisik. Mata yang hijau beradu dengan yang hitam, tapi setelah sedetik sesuatu di kedalaman dari pasangan yang gelap nampaknya lenyap: meninggalkannya kaku, hampa dan kosong. Tangan yang memegang Harry bergedebuk di lantai, dan Snape tak bergerak lagi. Chapter 33 Prince’s Tale Kisah Pangeran Harry tetap berlutut di samping Snape, hanya menatapnya, hingga sebuah suara melengking dingin berbicara sangat dekat pada mereka, sampai-sampai Harry terlonjak berdiri, mencengkeram tabungnya erat-erat, mengira Voldemort telah kembali ke ruangan itu. Suara Voldemort bergaung dari dinding, dari lantai, dan Harry menyadari bahwa dia berbicara pada Hogwarts dan daerah sekitarnya, agar penduduk Hogsmeade dan semua yang masih bertempur di kastil akan mendengarnya sejelas bila ia berdiri di samping mereka, napasnya di belakang leher, mengembuskan kematian. “Kalian telah bertempur,” sahut suara melengking dingin itu, “dengan gagah berani. Lord Voldemort paham caranya menghargai keberanian.” “Tapi kalian menderita kekalahan yang besar. Kalau kalian bertahan, tetap menolakku, kalian akan mati semuanya, satu persatu. Aku tak menginginkan ini terjadi. Setiap tetes darah sihir yang tertumpah adalah suatu kehilangan, suatu penghamburan.” “Lord Voldemort bermurah hati. Aku perintahkan pasukanku untuk mundur sekarang juga.” “Kalian punya waktu satu jam. Perlakukan yang mati secara bermartabat. Rawatlah lukalukamu.” Aku berbicara sekarang, Harry Potter, langsung padamu. Kau mengijinkan temantemanmu mati untukmu, daripada menghadapiku sendiri. Aku akan menunggumu selama satu jam di Hutan Terlarang. Jika di akhir masa itu kau tidak datang padaku, tidak menyerahkan dirimu, maka pertempuran akan dimulai lagi. Saat itu aku sendiri akan terjun di kancah pertempuran, Harry Potter, dan aku akan menemukanmu, dan aku akan menghukum tiap laki-laki, perempuan, maupun anak kecil yang mencoba menyembunyikanmu dalam waktu satu jam. Satu jam.” Baik Ron maupun Hermione menggelengkan kepala dengan keras, menatap Harry. ”Jangan dengarkan dia,” sahut Ron. ”Kau akan baik-baik saja,” ujar Hermione. ”Mari—mari kita kembali ke kastil, jika ia kembali ke Hutan Terlarang kita harus memikirkan rencana baru—” Ia memandang sekilas pada jenazah Snape, lalu buru-buru kembali ke terowongan. Ron mengikutinya. Harry melipat Jubah Gaibnya lalu menatap Snape. Dia tak tahu apa yang harus dia rasakan, kecuali keterkejutannya atas bagaimana Snape dibunuh, dan alasan mengapa itu terjadi. Mereka merangkak kembali melalui terowongan, tidak ada satupun yang berbicara, dan Harry ingin tahu apakah Ron dan Hermione masih bisa mendengar suara Voldemort berdering-dering di kepala mereka, seperti dirinya. Kau mengijinkan teman-temanmu mati untukmu, daripada menghadapiku sendiri. Aku akan menunggumu selama satu jam di Hutan Terlarang ... satu jam ... Gumpalan-gumpalan kecil mengotori halaman berumput di depan kastil. Mungkin hanya kira-kira sejam atau sekitarnya menjelang fajar, tapi keadaannya gelap gulita. Ketiganya bergegas melintasi pijakan batu. Sebelah bakiak, seukuran perahu kecil tergeletak di depan mereka. Tak ada tanda-tanda Grawp ataupun penyerangnya. Kastil itu sunyi secara tak wajar. Tidak ada cahaya atau sinar, tak ada letusan, jeritan atau teriakan. Ubin besar di Pintu Masuk telantar ternoda darah. Batu-batu jamrud masih berserakan di lantai bersama potongan marmer dan pecahan kayu. Sebagian pegangan tangga luluh lantak. ”Ke mana semua orang?” bisik Hermione. Ron memimpin jalan ke Aula Besar. Harry berhenti di pintu. Meja asrama lenyap dan ruangan penuh sesak. Mereka yang selamat berdiri berkelompok, tangan-tangan mereka saling berangkulan. Mereka yang terluka dirawat dipanggung yang didirikan Madam Pomfrey dan sekelompok sukarelawan. Firenze ada di antara yang terluka, panggulnya mengucurkan darah, gemetar di mana ia dibaringkan, tak mampu berdiri. Mereka yang tewas dibaringkan berjajar di tengah aula. Harry tidak bisa melihat jenazah Fred karena dikelilingi keluarganya. George berlutut dekat kepalanya, Mrs Weasley melintang di dada Fred, badannya berguncang, Mr Weasley mengusap rambut Mrs Weasley, air matanya mengalir menuruni pipinya. Tanpa bicara pada Harry, Ron dan Hermione menjauh. Harry melihat Hermione mendekati Ginny yang wajahnya bengkak, dan memeluknya. Ron bergabung dengan Bill dan Fleur, Percy mengalungkan lengannya di pundak Ron. Saat Ginny dan Hermione bergerak mendekati keluarga, Harry bisa melihat dengan jelas jenazah yang terbaring dekat Fred: Remus dan Tonks, pucat dan diam, nampak damai seperti yang sedang tidur di bawah langit-langit yang disihir gelap. Aula Besar terasa lebih kecil, mengerut, saat Harry berbalik membelakangi pintu. Ia tidak bernapas. Dia tidak tahan melihat jenazah lain, agar bisa melihat siapa lagi yang mati untuknya. Ia tidak bisa bergabung dengan keluarga Weasley, tidak bisa menatap mereka, seandainya saja ia sudah menyerahkan diri, Fred tidak akan mati… Ia berbalik dan lari di tangga marmer. Lupin, Tonks … keinginannya agar iatidak bisa merasakan … ia berharap bisa merenggut jantungnya, bagian-bagian dalam tubuhnya, semua yang menjerit di dalam dirinya … Kastil itu benar-benar kosong, bahkan para hantu nampaknya bergabung berkabung di Aula Besar. Harry berlari tanpa berhenti, menggenggam erat tabung yang berisi pikiran terakhir Snape, ia tidak melambat hingga ia mencapai gargoyle batu penjaga kantor Kepala Sekolah. “Kata kunci?” “Dumbledore!” sahut Harry tanpa berpikir, karena Dumbledore-lah yang ingin ia temui, dan ia terkejut ketika gargoyle itu minggir, memperlihatkan tangga spiral di belakangnya … Ketika Harry menghambur masuk ke kantor bundar, ia menemukan perubahan. Lukisanlukisan yang tergantung di dinding kosong. Tidak satupun Kepala Sekolah tinggal untuk bertemu dengannya: semua, nampaknya, semua pergi, lewat lukisan-lukisan yang berjajar di kastil, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas apa yag terjadi. Harry memandang tanpa harapan pada bingkai yang ditinggalkan Dumbledore, digantungkan tepat di belakan kursi Kepala Sekolah, lalu Harry membelakanginya. Pensieve disimpan di lemari seperti biasanya. Harry mengangkatnya ke atas meja dan menuangkan memori Snape ke dalam baskom lebar dengan huruf rune di sekitarnya. Keluar dari kepala seseorang mungkin melegakan ... bahkan apa yang ditinggalkan oleh Snape mungkin tidak lebih buruk dari pikirannya sendiri. Memori-memori itu berputar, putih keperakan dan aneh, tanpa ragu, dengan rasa nekat, berharap ini akan menenangkan kepedihan yang menyiksa, Harry terjun. Ia jatuh seketika di cahaya mentari, dan kakinya menemukan landasan yang hangat. Waktu ia meluruskan diri, nampak bahwa ia berada di taman bermain yang nyaris telantar. Sebuah cerobong besar mendominasi pemandangan. Dua gadis kecil berayunayun, dan seorang anak laki-laki kurus mengamati mereka dari belakang semak. Rambut hitamnya terlalu panjang dan bajunya tak sepadan sehingga kelihatan seperti disengaja: jeans yang terlalu pendek, mantel yang terlalu besar dan bulukan, nampaknya kepunyaan orang dewasa, dan sebuah kemeja pelapis yang aneh. Harry bergerak mendekati si anak laki-laki. Snape terlihat berumur 9 atau 10 tahun, tidak lebih, pucat, kecil, kurus. Ada kerakusan yang tidak dapat disembunyikan di wajahnya yang kurus saat ia mengamati gadis yang lebih muda berayun lebih tinggi dan lebih tinggi lagi dari saudaranya. ”Lily, jangan!” jerit yang lebih tua. Tapi gadis itu membiarkan ayunan berayun hingga ke titik lebih tinggi dan melayang ke udara, secara harafiah benar-benar terbang, melempar diri ke arah langit dengan tawa lepas, dan bukannya jatuh di aspal malah dia meluncur seperti pemain trapeze, tetap di udara terlalu lama, mendarat sangat halus. ”Mummy bilang jangan!” Petunia menghentikan ayunannya dengan menarik tumit sandalnya di tanah, membuat suara berderit, melompat, tangan di pinggul. ”Mummy bilang kau tidak diijinkan begitu, Lily!” “Tapi aku nggak apa-apa,” sahut Lily masih terkekeh, “Tuney, lihat ini. Lihat apa yang bisa kulakukan.” Petunia memandang berkeliling. Taman bermain itu sudah ditinggalkan orang, kecuali mereka berdua, dan walau gadis-gadis itu tidak tahu, Snape. Lily memungut bunga jatuh di dekat semak-semak di mana Snape bersembunyi. Petunia maju, jelas terbagi antara rasa ingin tahu dan ketidaksetujuan. Lily menunggu hingga Petunia cukup dekat untuk melihat dengan jelas, lalu membuka telapak tangannya. Bunga diletakkan di situ, kelopaknya membuka dan menutup seperti tiram yang aneh. ”Hentikan!” jerit Petunia. ”Takkan melukaimu,” sahut Lily, tapi ia menggenggam kembang itu dan melemparnya kembali ke tanah. ”Itu tidak benar,” sahut Petunia, tapi matanya mengikuti kembang itu, ”bagaimana kau melakukannya?” ”Sudah jelas, kan?” Snape tidak dapat menahan diri dan melompat keluar dari semaksemak. Petunia mengkerut dan berlari kembali ke ayunan, tapi Lily, walaupun terlihat bingung, tetap di tempat. Snape nampak menyesal telah mengagetkan mereka dengan kemunculannya. Ada semburat warna muncul di pipi pucat itu saat ia memandang Lily. “Apanya yang jelas?” tanya Lily. Snape kelihatan gugup. Sambil memandang Petunia dari kejauhan, ia menurunkan suaranya, “Aku tahu kau ini apa.” ”Apa maksudmu?” ”Kau ... kau seorang penyihir,” bisik Snape. Lily nampak terhina. ”Bukan begitu caranya berbicara dengan orang lain.” Ia berbalik dengan angkuh dan berjalan menuju saudarinya. “Bukan!” sahut Snape. Wajahnya merah padam sekarang, dan Harry heran kenapa ia tidak membuka mantelnya yang menggelikan itu, kecuali kalau dia tidak mau memperlihatkan baju pelaspis di baliknya. Ia mengejar gadis itu, kelihatan seperti kelelawar, seperti Snape yang lebih tua. Kedua bersaudara itu mempertimbangkannya, sama-sama tak setuju, berpegangan pada tiang ayunan, seakan itu tempat yang aman. “Kau adalah,” sahut Snape pada Lily, “kau adalah penyihir. Aku telah mengamatimu sejak lama. Tapi tak ada yang salah dengan itu. Ibuku penyihir, dan aku juga penyihir.” Tawa Petunia seperti air dingin. ”Penyihir!” ia menjerit, keberaniannya kembali sekarang saat ia pulih dari keterkejutannya akan kemunculan Snape tadi yang tidak diharapkan. ”Aku tahu siapa kau. Kau anak si Snape itu ya? Mereka tinggal di Spinner’s End dekat sungai,” sahutnya pada Lily, dan jelas pada suaranya bahwa ia menilai rendah para penduduk di Spinner’s End. ”Kenapa kau memata-matai kami?” ”Aku tidak memata-matai,” sahut Snape memanas, tidak nyaman dan rambut kotor di terangnya cahaya matahari. ”Buat apa memata-matai,” katanya tajam, ”kau hanya seorang Muggle.” Walau Petunia jelas-jelas tidak mengerti arti kata itu tapi dia tidak bisa salah mengartikan nada suara Snape. ”Lily, ayo kita pergi!” katanya melengking. Lily mematuhi saudaranya seketika, menatap Snape saat ia pergi. Ia berdiri mematung mengamati saat mereka berjalan melintasi gerbang taman bermain, dan Harry, satu-satunya yang tertinggal untuk memantau mereka, mengenali kekecewaan Snape, dan paham bahwa Snape sudah lama merencanakan saat ini tapi tidak berjalan baik... Pemandangan itu mengabur, dan sebelum Harry menyadari, terbentuk lagi yang baru di sekitarnya. Ia sekarang ada di sebuah rumpun semak-semak. Ia bisa melihat sungai yang disinari matahari, gemerlapan alirannya. Bayangan yang ditimbulkan oleh pepohonan menciptakan naungan teduh dan hijau. Dua anak duduk bersila berhadapan di tanah. Snape sudah membuka mantelnya, baju lapisannya terlihat, tidak begitu aneh terlihat di cahaya redup. ”—dan Kementrian bisa menghukummu jika kau melakukan sihir di luar sekolah, kau akan mendapat surat.” ”Tapi aku sudah melakukannya!” ”Kita tidak apa-apa, kita belum dapat tongkat. Mereka masih membiarkanmu jika kau masih anak-anak dan kau belum bisa mengendalikannya. Tapi sekalinya kau sudah berusia 11,” dia mengangguk memberi kesan penting, ”dan mereka mulai melatihmu, kau harus hati-hati.” Ada sedikit keheningan. Lily memungut ranting yang gugur dan memutarnya di udara, dan Harry tahu bahwa Lily sedang membayangkan akan ada percikan api keluar dari ranting itu. Ia mejatuhkan ranting, bersandar pada anak laki-laki itu dan berkata, ”Ini benar nyata kan? Bukan lelucon? Petunia bilang kau bohong. Petunia bilang tak ada yang namanya Hogwarts. Bener nggak?” ”Itu benar, untuk kita,” sahut Snape. ”Bukan untuk dia. Tapi kita akan menerima surat, kau dan aku.” ”Sungguh?” bisik Lily. ”Tentu saja,” ujar Snape, dan meski dengan potongan rambut yang aneh, pakaian yang ganjil, anehnya dia menampilkan sosok yang mengesankan di depan Lily, penuh keyakinan. ”Dan benar-benar akan datang dengan burung hantu?” Lily berbisik. “Biasanya,” sahut Snape, “tapi kau kelahiran Muggle, jadi seseorang dari sekolah akan datang dan menjelaskan pada orangtuamu.” ”Apakah ada bedanya, menjadi kelahiran Muggle?” Snape ragu. Mata hitamnya menyimpan keinginan dalam kesuraman, bergerak-gerak di wajah yang pucat memandang rambut merah gelap itu. ”Tidak,” sahutnya, ”tidak ada perbedaan.” ”Baguslah,” sahut Lily menjadi tenang. Jelas bahwa ia tadinya cemas. ”Kau memiliki kemampuan sihir yang hebat sekali,” sahut Snape. ”Aku melihatnya. Setiap waktu aku mengamatimu...” Suaranya melemah, Lily tidak sedang mendengar, berbaring menelentang di tanah beralaskan daun-daun, sedang memandangi kanopi daun di atas. Snape memandangi sama rakusnya seperti dulu ia memandangi Lily di taman bermain. ”Bagaimana keadaan rumahmu?” Lily bertanya. Sejumput kerutan muncul di antara kedua mata Snape. ”Baik.” katanya. ”Mereka tidak bertengkar lagi?” ”Oh, mereka masih bertengkar,” ujar Snape. Ia meraih segenggam daun dan menyobek- nyobeknya, kelihatan ia tak sadar akan apa yang sedang lakukan. ”Tapi tak akan lama, dan aku akan pergi” ”Ayahmu tidak suka sihir?” ”Dia tidak suka apapun.” ”Severus?” Sesudut senyum terpilin di mulit Snape saat Lily menyebut namanya. ”Yeah?” ”Ceritakan lagi soal Dementor.” ”Kenapa kau ingin tahu mengenai Dementor?” ”Kalau aku menggunakan sihir di luar sekolah—” ”Mereka tidak akan mengirimmu pada Dementor untuk pelanggaran seperti itu! Dementor itu untuk orang-orang yang melakukan hal-hal yang benar-benar jahat. Mereka menjaga penjara sihir, Azkaban. Kau tidak akan berakhir di Azkaban, kau terlalu—“ Wajahnya langsung memerah dan ia mengoyak-ngoyak daun lagi. Ada suara gemerisik di belakang Harry membuatnya menoleh, Petunia bersembunyi di belakang pohon, salah menginjak. “Tuney!” sahut Lily terkejut namun ada nada menyambut dalam suaranya. Tapi Snape langsung melompat berdiri. “Siapa yang memata-matai sekarang?” ia berteriak, “apa yang kau inginkan?” Petunia tidak bisa bernapas, ia tertangkap basah. Harry bisa melihat ia berjuang untuk tidak mengatakan apa yang menyakitkan jika diungkapkan. ”Apa uang kau pakai sebenarnya?” sahut Petunia, menunjuk pada dada Snape, ”blus ibumu?” Ada suara gemeretak, sebuah dahan pohon di atas kepala Petunia runtuh. Lily berteriak; dahan itu mengenai bahu Petunia, dia mungur dan menghambur penuh air mata. ”Tuney!” Tapi Petunia sudah lari. Lily memberondong Snape. “Apakah kau yang berbuat?” “Bukan!” Snape terlihat menantang tapi juga pada saat yang sama ketakutan. ”Kau yang melakukannya,” Lily mundur, ”Kau melakukannya. Kau menyakitinya!” ”Bukan—aku tak melakukanya!” Tapi dusta itu tidak meyakinkan Lily; setelah satu pandangan marah, ia lari dari rumpun pohon itu mengejar saudarinya. Snape terlihat menyedihkan dan bingung ... Adegan berubah lagi, Harry melihat ke sekeliling; dia ada di Peron 9 ¾, dan Snape berdiri di sampingnya, sedikit membungkuk, di samping seorang wanita yang kurus, berwajah pucat, nampak masam, yang sepertinya mencerminkan diri Snape. Snape sedang mencermati sebuah keluarga dengan empat anggotanya tidak terlalu jauh darinya. Dua gadis berdiri agak jauh dari orangtuanya. Lily seperti sedang memohon pada saudarinya. Harry mendekat agar bisa mendengar. “…Maaf, Tuney, aku menyesal. Dengar—“ ia menangkap tangan saudarinya dan memegangnya erat-erat walau Petunia mencoba untuk melepasnya. “Mungkin setibanya aku di sana, tidak, dengar Tuney! Mungkin setibanya aku di sana, aku bisa pergi ke Profesor Dumbledore dan membujuknya untuk berubah pikiran!” “Aku tidak—ingin—pergi,” sahut Petunia, dan dia menarik tangannya dari pegangan saudarinya, ”Kau ingin aku pergi ke kastil bodoh itu dan belajar jadi—jadi—” Mata pucatnya menelusuri peron, pada kucing-kucing yang mengeong di tangan pemiliknya, pada burung hantu yang mengibaskan sayap dan ber-uhu sesama mereka di sangkar, pada pada siswa sebagian sudah memakai jubah hitam panjang, memuat koperkoper mereka di kereta api uap merah atau saling bertukar salam dengan teriakan kegembiraan setelah berpisah selama satu musim panas. “—kau pikir aku ingin jadi orang—orang sinting?” Mata Lily penuh dengan air mata tatkala Petunia berhasil menarik tangannya. ”Aku bukan orang sinting,” ujar Lily, ”kau mengatakan hal-hal yang mengerikan!” ”Itulah tempat yang kau tuju,” nampaknya Petunia menikmati betul ucapannya. ”Sekolah khusus untuk orang sinting. Kau dan pemuda Snape ... orang aneh, itulah kalian berdua. Bagus kalau kalian dipisahkan dari orang normal. Untuk keselamatan kami.” Lily memandang orangtuanya yang sedang sepenuh hati menikmati pemandangan di peron. Dan dia melihat saudaranya lagi dan suaranya rendah dan kasar. “Kau tidak memandang sebagai sekolah untuk orang sinting waktu kau menulis untuk Kepala Sekolah dan memohon padanya untuk menyertakanmu.” Wajah Petunia memerah. “Memohon? Aku tidak memohon!” “Aku melihat jawaban Dumbledore. Ia sangat baik.” Kau tidak boleh membaca—“ bisik Petunia. “Itu barang pribadiku—bagaimana kau--?” Lily membuka rahasianya sendiri dengan setengah memandang ke tempat Snape berdiri, di dekatnya. Petunia menahan napas. “Anak itu menemukannya! Kau dan anak itu mengendap-endap di kamarku!” ”Tidak—tidak mengendap-endap—“ sekarang Lily yang membela diri. “Severus melihat amplop itu dan dia tidak percaya bahwa seorang Muggle bisa menghubungi Hogwarts, itu saja. Dia bilang pasti ada penyihir menyamar bekerja di kantor pos untuk menangani—“ ”Jelas-jelas penyihir ikut campur di mana-mana,” sahut Petunia, wajahnya pucat seperti baru dibilas. ”Orang Sinting!” dia meludah pada saudaranya, menggelepakkan badannya karena marah, ia kembali pada orangtuanya. Adegan berganti lagi. Snape tergesa-gesa menyusuri koridor Hogwarts Express saat kereta itu menyusuri pinggir kota. Ia sudah berganti pakaian dengan jubah sekolah, mungkin mempergunakan kesempatan pertama untuk menyingkirkan baju Mugglenya yang mengerikan. Akhirnya ia berhenti di luar sebuah kompartemen di mana sekumpulan anaklaki-laki sedang ribut berbicara. Meringkuk di sudut kursi dekat jendela ternyata adalah Lily, wajahnya ditekankan pada jendela kaca. Snape menggeser pintu kompartemen dan duduk di seberang Lily. Lily memandang Snape sekilas lalu memandang ke jendela lagi. Dia baru saja menangis. “Aku tak ingin bicara denganmu,” katanya dalam suara tertahan. “Kenapa?” “Tuney m—membenciku. Karena kita melihat surat dari Dumbledore itu!” “Memangnya kenapa?” Lily melontarkan pandangan tak suka. ”Karena dia saudaraku!” ”Dia hanya seorang—” Snape cepat menghentikan ucapannya; Lily terlalu sibuk mencoba mengelap matanya tanpa terlihat, tidak mendengarkan ucapannya. ”Tapi kita pergi!” sahut Snape, tak dapat menahan kegembiraan dalam suaranya. ”Inilah dia, kita menuju Hogwarts!” Lily mengangguk, mengelap matanya, tapi dia setengah tersenyum. “Kau lebih baik berada di Slytherin!” sahut Snape, membesarkan hati agar Lily gembira sedikit. “Slytherin?” Salah satu anak yang berbagi kompartemen, yang dari tadi mengacuhkan Lily maupun Snape, memperhatikan kata itu, dan Harry yang dari tadi memperhatikan Lily dan Snape, melihat ayahnya: langsing, rambut hitam seperti Snape tetapi terlihat jelas bahwa ia berasal dari keluarga berada, diperhatikan bahkan dikagumi, hal-hal yang tidak ditemukan pada diri Snape. “Siapa yang mau di Slytherin? Kalau aku ditempatkan di Slytherin, aku akan pergi, bagaimana denganmu?” James bertanya pada anak laki-laki yang duduk di seberangnya. Dengan satu sentakan Harry menyadari bahwa itu Sirius. Sirius tidak tersenyum. ”Seluruh keluargaku di Slytherin.” katanya. ”Blimey,” sahut James, ”dan kukira kau baik-baik saja.” Sirius menyeringai. ”Mungkin aku akan memecahkan tradisi. Kalau begitu, kau mau ke mana?” James menarik pedang yang hanya ada dalam bayangan. “’Gryffindor, dimana tempat berkumpulnya pemberani’. Seperti ayahku.” Snape membuat bunyi yang meremehkan. James menoleh padanya. “Kau keberatan?” “Tidak,” sahut Snape walau seringai sekilasnya mengemukakan sebaliknya, “jika kau merasa lebih baik punya otot daripada punya otak—“ “Kalau begitu kau sendiri mau ke mana, sedangkan kau tak memiliki keduanya?” Sirius menyela. James tertawa terbahak-bahak. Lily bangkit, terlihat marah dan menatap James hingga Sirius dengan perasaan tak suka. ”Ayo, Severus, kita cari kompartemen lain!” ”Ooooooo...” James dan Sirius menirukan suara tinggi Lily; James berusaha menjegal kaki Snape saat ia lewat. ”Sampai jumpa, Snivellus!” sebuah suara terdengar, saat pintu kompartemen dibanting. Dan adegan berganti lagi. Harry berdiri tepat di belakang Snape saat mereka menghadapi meja asrama yang diterangi ribuan lilin, barisan yang penuh wajah-wajah penuh perhatian. Kemudian Profesor McGonagall berkata, ”Evans, Lily!” Harry menyaksikan ibunya berjalan ke depan dengan kaki gemetar dan duduk di bangku reyot itu. Profesor McGonagall menjatuhkan Topi Seleksi ke atas kepala Lily, dan tak lebih dari sedetik sesudah Topi Seleksi menyentuh rambut merah tua itu, Topi berteriak, Gryffindor! Harry mendengar Snape mengerang. Lily melepaskan Topi, mengembalikannya pada Profesor McGonagall, kemudian bergegas bergabung dengan para Gryffindor, saat ia memandang balik pada Snape, ada senyum sedih di wajahnya. Harry melihat Sirius menggerakkan bangku agar ada ruangan untuk Lily. Lily melihat Sirius lama sekali, nampak mengenalinya waktu di kereta, melipat lengannya dan tidak menoleh lagi padanya. Pemanggilan diteruskan. Harry menyaksikan Lupin, Pettigrew, dan ayahnya bergabung dengan Lily dan Sirius di meja Gryffindor. Akhirnya, saat hanya tinggal selusin siswa yang tersisa untuk diseleksi, Profesor McGonagall memanggil Snape. Harry berjalan bersamanya ke kursi, menyaksikan ia menempatkan Topi di atas kepalanya. Slytherin!, teriak Topi Seleksi. Dan Severus Snape bergerak ke ujung lain di Aula, jauh dari Lily, di mana para Slytherin menyambutnya, di mana Lucius Malfoy, dengan lencana Prefek berkilauan di dadanya, menepuk punggung Snape saat Snape duduk di sampingnya. Dan adegan berganti... Lily dan Snape berjalan melintasi halaman kastil, jelas sedang bertengkar. Harry bergegas mengejar mereka, untuk mendengar lebih jelas. Saat ia mencapai mereka, ia sadar bahwa mereka sudah jauh lebih tinggi sekarang, nampaknya mereka sudah melewati beberapa tahun setelah Topi Seleksi. ”...meski kita seharusnya berteman?” Snape berkata, ”Teman baik?” ”Kita berteman, Sev, tapi aku tidak suka beberapa temanmu. Maafkan aku, tapi aku benci Avery dan Mulciber. Mulciber! Apa yang kau lihat dari mereka, Sev? Dia penjilat. Apakah kau tahu apa yang dia lakukan pada Mary Macdonald kemarin dulu?” Lily mencapai pilar dan bersandar di sana, menatap wajah pucat dan kurus itu. “Itu bukan apa-apa,” ujar Snape, “itu cuma lelucon, cuma itu—” ”Itu Sihir Hitam, dan kalau kau pikir itu lucu—” ”Lalu bagaimana dengan apa yang dilakukan Potter dan sobat-sobatnya?” tuntut Snape, wajahnya memerah lagi saat ia mengatakannya, sepertinya tidak dapat menahan kemarahan. ”Memangnya ada apa dengan Potter?” tanya Lily. “Mereka menyelinap di malam hari. Ada seusatu yang aneh dengan Lupin. Ke mana dia selalu pergi?” ”Dia sakit,” ucap Lily, ”mereka bilang dia sakit.” ”Tiap bulan saat purnama?” tanya Snape. ”Aku tahu teorimu,” ujar Lily, dan dia terdengar dingin, ”Kau terobsesi dengan mereka kan? Kenapa kau begitu perhatian dengan apa yang mereka lakukan di malam hari?” ”Aku hanya mencoba menunjukkan padamu, mereka tidak semenakjubkan seperti orangorang pikir.” Kesungguhan pandangan mata Snape membuat Lily tersipu. ”Walaupun begitu, mereka tidak menggunakan Sihir Hitam,” Lily menurunkan suaranya. ”Dan kau benar-benar tidak bisa berterima kasih. Aku dengar apa yang terjadi malam kemarin. Kau menyelinap ke terowongan di bawah Dedalu Perkasa dan James Potter menolongmu dari apapun yang terjadi di bawah sana—” Seluruh wajah Snape berubah dan bicaranya bergetar, ”Menyelamatkan? Menyelamatkan? Kau kira dia sedang bermain peran sebagai pahlawan? Dia sedang menyelamatkan diri dan sobat-sobatnya juga. Kau tidak akan—aku tidak akan membiarkanmu—“ “Membiarkanku? Membiarkanku?” Lily memicingkan mata hijaunya yang terang. Snape mundur seketika. “Aku tidak bermaksud—Aku hanya tidak ingin kau memperolok—dia naksir kau, James Potter naksir kau!” kata-kata itu seperti meluncur keluar dari Snape di luar keinginannya. “Dan dia tidak … Tiap orang mengira … Pahlawan Quidditch—“ kebencian dan ketidaksukaan Snape membuat ia bicara tidak jelas, dan alis Lily semakin naik di keningnya. “Aku tahu James Potter hanyalah seseorang yang sombong,” kata Lily memotong ucapan Snape. “Aku tidak perlu diberitahu olehmu. Tapi gagasan Mulciber dan Avery tentang humor itu jahat. Jahat, Sev. Aku tidak paham bagaimana kau bisa berteman dengan mereka.” Harry ragu apakah Snape mendengarkan kritik Lily tentang Mulciber dan Avery. Saat Lily menghina James Potter, seluruh tubuh Snape menjadi tenang, rileks, dan saat mereka berjalan menjauh terasa ada kekuatan baru di setiap langkah Snape. Adegan berubah lagi. Harry mengamati lagi, saat Snape meninggalkan Aula Besar setelah mengerjakan OWLnya untuk Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Mengamati saat Snape berjalan menjauhi kastil, melamun menyimpang dari jalan, tidak hati-hati, mendekati tempat di bawah pohon beech di mana James, Sirius, Lupin, dan Pettigrew duduk bersama. Tapi Harry menjaga jarak saat ini, karena dia tahu apa yang terjadi setelah James mengangkat Severus ke udara dan mengejeknya; ia tahu apa yag dilakukan dan dikatakan, dan samasekali tidak menyenangkan untuk mendengarnya lagi. Dari jauh ia mendengar Snape berteriak pada Lily dalam penghinaannya dan kemarahannya, kata yang tak termaafkan: Darah Lumpur. Adegan berganti … “Maafkan aku.” “Aku tak tertarik.” “Aku menyesal.” “Percuma bicara.” Saat itu malam. Lily mengenakan baju tidur, berdiri dengan tangan terlipat di depan lukisan Nyonya Gemuk di jalan masuk Menara Gryffindor. “Aku hanya datang karena Mary bilang kau mau menginap di sini.” ”Memang. Aku tak pernah bermaksud memanggilmu Darah Lumpur, itu hanya—” ”Keceplosan?” Tak ada rasa kasihan pada suara Lily. ”Sudah terlambat. Aku sudah bertahun-tahun mengarang alasan untuk semua tindakanmu. Tak satupun temanku bisa paham kenapa aku bisa bicara padamu. Kau dan teman-teman Pelahap Mautmu yang berharga –kau lihat, kau bahkan tidak menyangkalnya. Kau bahkan tidak menyangkal bahwa itu adalah tujuanmu. Kau tak bisa menunggu untuk bergabung dengan Kau-Tahu- Siapa, bukan?” Snape membuka mulut, tapi menutupnya lagi tanpa bersuara. ”Aku tak dapat berpura-pura lagi. Kau memilih jalanmu, aku memilih jalanku.” ”Tidak –dengar, aku tak bermaksud—” “—memanggilku Darah Lumpur? Tapi kau memanggil semua yang kelahirannya sama denganku Darah Lumpur, Severus. Kenapa aku mesti dibedakan?” Snape berusaha untuk berbicara, tapi dengan pandangan menghina Lily membuang muka, dan memanjat kembali lubang lukisan … Koridor mengabur dan adegan yang ini agak sulit tersusun. Harry seperti terbang melalui bentuk dan warna yang berubah-ubah hingga sekitarnya padat kembali, dan ia berdiri di atas bukit, sedih dan dingin dalam kegelapan, angin bertiup melalui cabang-cabang pohon yang tinggal sedikit daunnya. Snape dewasa terengah. Menoleh pada suatu tempat, tongkatnya dicengkeram erat-erat, menunggu seseorang atau sesuatu … Ketakutannya menular pada Harry, walau Harry tahu ia tidak mungkin dicelakai, dan ia memandang jauh, berpikir apakah yang sedang ditunggu Snape … Kemudian seberkas cahaya putih membutakan melayang di udara; Harry mengira petir, tetapi Snape jatuh berlutut dan tongkatnya terlempar dari tangannya. “Jangan bunuh saya!” “Aku tidak berniat demikian.” Suara Dumbledore ber-Apparate ditenggelamkan oleh suara angin di cabang-cabang pohon. Dumbledore berdiri di depan Snape dengan jubah melambai-lambai dan wajahnay diterangi cahaya dari tongkatnya. “Jadi apa, Severus? Pesan macam apa yang Lord Voldemort punya untukku?” “Tidak –tidak ada pesan—saya datang atas keinginan sendiri!” Snape meremas tangannya; dia terlihat sedikit gila, dengan rambut hitam terurai di sekitarnya. “Saya—saya datang dengan peringatan—bukan, sebuah permintaan—kumohon—“ Dumbledore menjentikan tongkatnya. Walau daun-daun dan cabang-cabang masih beterbangan di udara malam di sekitar mereka, tempat di mana ia dan Snape berada terasa sunyi. “Permintaan apa yang bisa kupenuhi dari seorang Pelahap Maut?” ”Ra—ramalan, ... perkiraan ... Trelawney ...” ”Ah, ya,” sahut Dumbledore, ”seberapa banyak yang kau sampaikan pada Lord Voldemort?” ”Semua—semua yang saya dengar!” sahut Snape. “Karena itulah—untuk alasan itu—ia mengira itu berarti Lily Evans!” ”Ramalan itu tidak mengacu pada seorang wanita,” sahut Dumbledore, ”isinya mengenai anak laki-laki yang lahir di akhir Juli—” ”Anda tahu apa yang saya maksud! Pangeran Kegelapan mengira itu adalah anak Lily, ia akan memburu Lily—membunuhnya—” ”Kalau Lily memang berarti begitu banyak bagimu,” sahut Dumbledore, “tentu saja Lord Voldemort akan mengampuninya? Tidakkah kau bisa meminta untuk mengasihani ibunya, sebagai ganti anaknya?” ”Saya—saya sudah meminta padanya—” ”Kau membuatku jijik,” sahut Dumbledore, dan Harry belum pernah mendengar suara Dumbledore begitu merendahkan. Snape terlihat sedikit menyusut. “Kau tidak peduli akan kematian suami dan anaknya? Mereka boleh mati, asal kau mendapat apa yang kau inginkan?” Snape tidak berbicara, hanya memandang Dumbledore. “Kalau begitu, sembunyikan mereka,” sahutnya parau, “Selamatkan dia—mereka— Kumohon.” ”Dan apa yang kau berikan padaku sebagai imbalan, Severus?” ”Sebagai—sebagai imbalan?” Snape terperangah pada Dumbledore, dan Harry mengharap Snape akan protes, tetapi setelah saat yang lama ia menyahut, ”Segalanya.” Puncak bukit itu tersamar, dan Harry berdiri di kantor Dumbledore, dan sesuatu berbunyi seperti binatang terluka. Snape merosot di kursinya, dan Dumbledore berdiri di depannya, nampak suram. Sesaat Snape mengangkat wajahnya, ia nampak seperti orang yang sudah hidup beratus tahun dalam penderitaan sejak meninggalkan puncak bukit itu. “Saya kira … Anda akan … menjamin dia … selamat.” ”Dia dan James menyimpan kepercayaan pada orang yang salah,” sahut Dumbledore, ”Hampir seperti dirimu, Severus. Bukankah kau berharap Lord Voldemort akan mengampuninya?” Napas Snape terdengar pendek. “Anak laki-lakinya selamat,” ujar Dumbledore. Dengan sentakan kecil di kepalanya, Snape terlihat membunuh lalat yang menjengkelkan. ”Putra Lily hidup. Ia punya mata Lily, persis mata Lily. Kau ingat bentuk dan warna mata Lily Evans, kan?” ”JANGAN!” lenguh Snape, ”Pergi ... Meninggal...” ”Apakah ini penyesalan, Severus?” ”Saya harap ... Saya harap saya mati ...” “Lalu apa gunanya untuk orang lain?” sahut Dumbledore dingin, ”Kalau kau mencintai Lily Evans, kalau kau benar-benar mencintainya, jalan untukmu terbuka lebar.” Snape nampak melalui perih yang samar-samar, dan arti kata-kata Dumbledore terlihat lama sekali sampai kepadanya. ”Apa—apa maksud Anda?” ”Kau tahu bagaimana dan mengapa Lily meninggal. Pastikan kematian itu tidak sia-sia. Bantulah aku melindungi anak Lily.” ”Dia tidak perlu perlindungan. Pangeran Kegelapan sudah pergi—” ”—Pangeran Kegelapan akan kembali, dan pada saat itu Harry Potter akan berada dalam bahaya besar.” Ada sunyi yang lama, dan perlahan Snape bisa mengendalikan diri lagi, menguasai napasnya lagi. Akhirnya ia berucap, ”Baiklah. Baiklah. Tapi jangan pernah—jangan ceritakan, Dumbledore! Ini hanya di antara kita saja! Bersumpahlah! Saya tidak bisa menanggung ... khususnya anak Potter ... Saya ingin Anda berjanji!” “Janjiku, Severus, bahwa aku tidak pernah akan memperlihatkan sisi terbaikmu?” Dumbledore mengeluh, menatap wajah garang Snape yang diliputi kesedihan yang mendalam. “Kalau kau bersikeras …” Kantor Kepala Sekolah memudar tapi langsung terbentuk kembali. Snape sedang berjalan mondar-mandir di depan Dumbledore. “—biasa saja, sombong seperti ayahnya, kecenderungan untuk melanggar peraturan, suka melihat dirinya terkenal, mencari perhatian, tidak sopan—“ “Kau melihat apa yang ingin kau lihat, Severus,” sahut Dumbledore tanpa mengangkat matanya dari Transfigurasi Terkini*. ”Guru lain melaporkan bahwa anak itu rendah hati, cukup disenangi, dan berbakat. Kurasa dia cukup menarik.” Dumbledore membalik lembaran bacaannya dan berkata tanpa mengangkat matanya, “Tolong perhatikan Quirrell, ya?” Seputaran warna dan semuanya gelap, Snape dan Dumbledore berdiri agak jauh di Pintu Masuk, saat orang terakhir dari Pesta Dansa Natal melintasi mereka untuk pergi tidur. “Jadi?” gumam Dumbledore. “Tanda Kegelapan Karkaroff menjadi lebih gelap juga. Dia panik, dia takut pembalasan; Anda tahu sejauh mana ia membantu Kementerian setelah kejatuhan Pangeran Kegelapan.” Snape melihat ke samping melalui sosok hidung bengkok Dumbledore. ”Karkaroff berniat untuk melarikan diri jika Tanda itu terbakar.” ”Apakah demikian?” sahut Dumbledore lembut, saat Fleur Delacour dan Roger Davis lewat terkikik-kikik bangkit dari tanah. ”Apakah kau tergoda untuk bergabung dengannya?” ”Tidak,” sahut Snape, matanya tertuju pada sosok Fleur dan Roger yang makin mengecil. ”Saya bukan pengecut.” ”Bukan,” Dumbledore setuju, ”Kau jauh lebih berani daripada Igor Karkaroff. Kau tahu, kadang aku merasa kita Menyeleksi terlalu cepat ...” Dumbledore berjalan menjauh, meninggalkan Snape yang terlihat mematung. Dan sekarang Harry berdiri di Kantor Kepala Sekolah lagi. Saatnya malam dan Dumbledore merosot di kursinya yang seperti singgasana di balik meja, nyata-nyata setengah sadar. Tangan kanannya terjuntai di sisinya, menghitam dan terbakar. Snape sedang menggumamkan mantra, menujukan tongkatnya pada pergelangan tangan Dumbledore, saat yang sama tangan kirinya menuangkan piala berisi ramuan kental keemasan ke dalam tenggorokan Dumbledore. Setelah beberapa saat, kelopak mata Dumbledore bergetar dan membuka. ”Mengapa,” sahut Snape tanpa basa-basi, ”mengapa Anda mengenakan cincin itu? Di dalamnya terkandung Kutukan, pasti Anda mengetahuinya. Mengapa bahkan Anda menyentuhnya?” Cincin Marvolo Gaunt tersimpan di meja dekat Dumbledore. Cincin itu retak; pedang Gryffindor terletak di sebelahnya. Dumbledore meringis. “Aku … bodoh. Aku tergoda …” “Tergoda oleh apa?” Dumbledore tak menjawab. “Suatu keajaiban Anda berhasil kembali kesini,” Snape terdengar geram, “Cincin itu mengandung Kutukan dari kekuatan yang luarbiasa, kita hanya bisa berharap kita bisa menahannya; saya sudah memerangkap kutukan itu di satu tangan untuk sementara.” Dumbledore mengangkat tangan yang menhitam dan sudah tak berguna lagi, memperhatikannya dengan ekspresi seperti seseorang yang sedang diperlihatkan barang ajaib yang menarik. “Kau bekerja sangat baik, Severus. Berapa lama kau kira aku bisa bertahan?” Nada suara Dumbledore sangat biasa, sebiasa seperti kalau dia sedang bertanya ramalan cuaca. Snape ragu, kemudian berucap, ”Saya tidak bisa mengatakannya. Mungkin setahun. Tidak ada yang bisa menghentikan mantra itu untuk selamanya. Mantra itu pasti akan menyebar, ini termasuk Kutukan yang menguat setiap saat.” Dumbledore tersenyum. Kabar bahwa ia hanya punya kurang dari satu tahun untuk hidup nampaknya hanya sedikit atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali padanya. ”Aku beruntung, sangat beruntung, bahwa aku punya kau, Severus.” ”Kalau saja Anda memanggil saya lebih cepat, saya mungkin bisa berbuat lebih baik lagi, memberikan Anda lebih banyak waktu,” sahut Snape geram. Ia melihat pada cincin yang retak dan pedang. ”Apakah Anda pikir merusak cincin bisa mematahkan Kutukan?” ”Sesuatu seperti itulah ... aku lupa daratan, tak ada keraguan ...” sahut Dumbledore. Dengan susah payah ia menegakkan diri di kursi. ”Yah, sebenarnya ini membuat masalah-masalah lebih terlihat mudah.” Snape terlihat benar-benar kebingungan. Dumbledore tersenyum. “Aku mengacu pada rencana Lord Voldemort yang berputar di sekitarku. Rencananya ialah membuat putra Malfoy yang malang itu membunuhku.” Smape duduk di kursi yang sering Harry duduki, di seberang meja Dumbledore. Harry dapat mengatakan bahwa Snape ingin mengatakan lebih banyak lagi tentang tangan Dumbledore yang terkena Kutukan, tapi Dumbledore menolak untuk membahasnya lebih lanjut, dengan sopan. Sambil memberengut, Snape menyahut, “Pangeran Kegelapan tidak mengharapkan Draco berhasil. Ini semua hukuman untuk kegagalan Lucius. Siksaan yang pelan untuk orangtua Draco, saat mereka menyaksikan Draco gagal dan mendapat ganjarannya.” ”Singkatnya, anak itu sudah mendapat vonis mati, aku yakin,” sahut Dumbledore. Sekarang, aku mengira, pengganti untuk melakukan pekerjaan itu, sekali Draco gagal, adalah kau sendiri?” Hening sejenak. ”Saya kira ya, itu memang rencana Pangeran Kegelapan.” ”Lord Voldemort memperkirakan dalam jangka pendek ia tidak memerlukan mata-mata lagi di Hogwarts?” ”Ia percaya sekolah ini akan berada dalam genggamannya, ya betul.” ”Dan jika sekolah ini benar-benar jatuh ke dalam genggamannya,” sahut Dumbledore, dalam suara rendah, ”aku dapat jaminan bahwa kau akan berusaha sekuatmu untuk melindungi para siswa di Hogwarts?” Snape mengangguk kaku. ”Bagus. Sekarang. Prioritas pertama, temukan apa yang sedang dituju oleh Draco. Seorang ABG yang sedang ketakutan merupakan bahaya untuk orang lain juga bagi dirinya sendiri. Tawarkan padanya pertolongan dan bimbingan, ia harus menerimanya, ia suka padamu—” ”—sekarang berkurang sejak ayahnya tidak disukai. Draco menyalahkan saya, ia mengira saya telah merampas posisi Lucius.” ”Walau demikian, cobalah terus. Aku lebih memperhatikan korban-korban kejadian akan rencana yang akan dilakukan oleh anak itu, daripada diriku sendiri. Akhirnya, tentu saja, hanya ada satu hal yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan dia dari kemurkaan Lord Voldemort.” Snape menaikkan alisnya dan nada suaranya sengit saat ia bertanya, ”Anda bermaksud membiarkannya membunuh Anda?” ”Tentu saja tidak. Kau yang harus membunuhku.” Hening yang panjang, terpecahkan hanya dengan suara klik yang aneh. Fawkes si phoenix sedang menggerogoti tulang belulang. “Anda ingin saya mengerjakannya sekarang?” tanya Snape, suaranya penuh ironi, “Atau Anda ingin beberapa saat untuk merancang tulisan di batu nisan?” “Oh, belum saatnya,” Dumbledore tersenyum, “Aku berani mengatakan bahwa waktu untuk itu akan datang dengan sendirinya. Dengan adanya kejadian malam ini,” ia menunjukkan tangannya yang layu, “kita bisa yakin itu akan terjadi dalam waktu setahun.” “Kalau Anda tidak berkeberatan mati,” sahut Snape kasar, “mengapa tidak membiarkan Draco yang melakukannya?” “Jiwanya belum rusak,” sahut Dumbledore, “aku tak mau merenggutnya.” “Dan jiwa saya, Dumbledore? Jiwa saya?” “Kau sendiri tahu apakah ini akan mengganggu jiwamu atau tidak, untuk menolong seorang tua menghindari nyeri dan malu,” sahut Dumbledore, “aku meminta pertolongan, pertolongan yang besar darimu, Severus, karena kematian datang padaku sama pastinya Chudley Cannons akan berada di peringkat terakhir pada liga tahun ini. Aku mengaku aku memilih jalan keluar yang cepat dan tidak nyeri dari masalah yang berlarut-larut dan kusut ini, misalnya, Greyback terlibat—kudengar Voldemort merekrutnya? Atau Bellatrix tercinta, yang suka bermain-main dengan korbannya sebelum ia ‘memakannya’.” Nada suaranya lembut tapi mata birunya menusuk Snape sebagaimana kedua mata itu sering menusuk mata Harry, sebagaimana jiwa yang sedang mereka diskusikan bisa terlihat oleh mereka. Akhirnya Snape mengangguk lagi, kaku. Dumbledore nampak puas. “Terimakasih , Severus.” Kantor menghilang, dan sekarang Snape dan Dumbledore berjalan bersama di halaman kastil yang sunyi sejak senjakala. “Apa yang Anda lakukan dengan Potter, pada tiap malam Anda bersamanya?” Snape bertanya kasar. Dumbledore terlihat lelah. “Kenapa? Kau tak mencoba menambah detensinya, kan, Severus? Anak itu kelihatannya sebentar lagi akan menghabiskan waktunya untuk detensi.” ”Dia sudah mulai seperti ayahnya lagi.” ”Penampilannya, mungkin. Tetapi di dalamnya, ia lebih mirip ibunya. Aku menghabiskan waktu dengan Harry karena aku perlu berdiskusi dengannya, informasi yang harus kuberikan padanya sebelum terlambat.” ”Informasi,” ulang Snape, ”Anda mempercayai dia ... Anda tidak mempercayai saya.” “Ini bukan soal mempercayai. Aku punya, seperti yang kau tahu, waktu yang terbatas. Penting untuk memberi cukup informasi untuknya, agar ia bisa melakukan apa yang harus ia lakukan.” ”Dan mengapa saya tidak boleh mendapat informasi yang sama?” ”Aku memilih untuk tidak menyimpan semua informasi dalam satu keranjang, khususnya bukan keranjang yang dekat dengan tangan Voldemort.” ”Yang saya lakukan atas perintah Anda.” ”Dan kau melakukannya dengan sangat baik. Jangan mengira aku menganggap remeh bahaya yang terus menerus kau hadapi, Severus. Untuk memberikan Voldemort informasi yang sepertinya berharga, di sisi lain menyembunyikan intinya, adalah pekerjaan yang tidak akan kuberikan pada siapapun kecuali kau.” ”Dan Anda lebih percaya pada anak yang tidak mampu Occlumency, yang sihirnya biasabiasa saja, dan punya hubungan langsung dengan pikiran Pangeran Kegelapan!” ”Voldemort takut akan hubungan itu,” sahut Dumbledore, ”Belum begitu lama berselang, ia dapat mencicipi bagaimana sebenarnya berbagi pikiran Harry itu rasanya bagi dia. Sakit yang tak terperi seperti yang tak pernah ia rasakan. Ia tidak akan mencoba untuk menguasai pikiran Harry lagi, aku yakin. Tidak dengan cara itu.” ”Saya tidak mengerti.” “Jiwa Lord Voldemort tidak bisa menahan hubungan dekat dengan jiwa seperti Harry. Seperti lidah dengan baja beku, seperti daging dalam api …” “Jiwa? Kita bicara tentang pikiran!” ”Dalam kasus Harry dan Voldemort, bicara tentang yang satu berarti bicara tentang yang lainnya.” Dumbledore memandang berkeliling untuk yakin mereka sendiri. Mereka dekat ke Hutan Terlarang, tapi tak ada tanda-tanda siapapun dekat sana. ”Setelah kau membunuhku, Severus—” ”Anda menolak untuk mengatakan semuanya, tapi Anda mengharapkan saya melakukan hal kecil itu,” Snape geram, dan kemarahan yang sesungguhnya memancar dari wajah kurus itu; ”Anda menganggap segala hal sudah pasti, Dumbledore! Mungkin saya akan berubah pikiran!” ”Kau sudah berjanji, Severus. Dan saat kita bicara tentang pekerjaan di mana kau berhutang padaku, aku kira kau setuju untuk mengamati lebih dekat teman muda Slytherin kita?” Snape terlihat marah, memberontak. Dumbledore mengeluh. “Datanglah ke kantorku nanti malam, Severus, jam sebelas, dan kau tak akan mengeluh lagi bahwa aku tak percaya padamu…” Mereka kembali ke kantor Dumbledore, jendela nampak gelap, dan Fawkes bertengger diam, saat Snape duduk tenang, saat Dumbledore berjalan mengelilinginya, berbicara. “Harry tak boleh tahu, tidak sampai saat terakhir, tidak sampai jika sudah diperlukan, jika tidak, bagaimana dia dapat kekuatan untuk melakukan apa yang harus dilakukan?” “Tapi apa yang harus dilakukannya?” ”Itu akan menjadi persoalan antara aku dan dia. Sekarang, dengarkan baik-baik, Severus. Akan datang saatnya—setelah kematianku—jangan membantah, jangan menyela. Akan datang saatnya Lord Voldemort terlihat takut akan hidup ularnya.” ”Nagini?” Snape keheranan. ”Betul sekali. Jika datang saatnya Lord Voldemort berhenti mengirim Nagini untuk melakukan apa yang diperintahkan, melainkan menjaga Nagini di sebelahnya, pakai perlindungan sihir, maka kurasa sudah aman untuk memberitahu Harry.” ”Beritahu apa?” Dumbledore menarik napas panjang dan menutup matanya. ”Beritahu padanya bahwa pada malam di mana Lord Voldemort mencoba membunuhnya, saat Lily menjadikan nyawanya sebagai pelindung, Kutukan Pembunuh-nya memantul kembali pada Lord Voldemort, dan satu pecahan jiwa Voldemort terlepas dari keseluruhan, menempel pada satu-satunya jiwa yang masih hidup di gedung yang runtuh itu. Sebagian dari Lord Voldemort hidup di dalam Harry. Itulah yang membuatnya bisa bahasa ular, dan ada hubungannya dengan pikiran Lord Voldemort, yang tak pernah bisa dimengertinya. Dan dengan pecahan jiwa itu, tidak disadari oleh Voldemort, tetap menempel pada, dan dilindungi oleh Harry, Lord Voldemort tak bisa mati. ”Jadi anak itu ... anak itu harus mati?” tanya Snape perlahan. ”Dan Voldemort sendiri yang melakukannya, Severus. Itu penting.” Senyap yang panjang lagi. Kemudian Snape menyahut, “Saya kira … selama ini … kita melindungi anak itu untuk Lily. Untuk Lily.” “Kita melindunginya karena penting untuk mengajarinya, membesarkan dia, membiarkan dia mencoba kekuatannya,” sahut Dumbledore, matanya masih terpejam rapat. Sementara itu, hubungan antara Voldemort dan Harry tumbuh semakin kuat, pertumbuhan yang seperti benalu; kadang aku mengira Harry sendiri akan mencurigainya. Kalau aku mengenalinya, ia akan mengatur hal-hal sedemikian rupa sehingga saat ia bertemu dengan kematian, itu berarti akhir dari Voldemort yang sebenar-benarnya.” Dumbledore membuka matanya. Snape nampak terkejut. “Anda membiarkannya hidup agar ia bisa mati pada saat yang tepat?” ”Jangan terkejut, Severus. Berapa banyak laki-laki dan perempuan yang kau amati kematiannya?” ”Akhir-akhir ini hanya mereka yang tidak bisa saya selamatkan,” sahut Snape. Ia beranjak berdiri. ”Anda memperalat saya.” ”Maksudnya?” ”Saya memata-matai untuk Anda, berbohong untuk Anda, menempatkan diri saya dalam bahaya kematian untuk Anda. Semuanya ditujukan untuk menjaga keselamatan putra Lily. Sekarang Anda mengatakan pada saya, Anda membesarkannya seperti babi siap untuk disembelih—” ”Menyentuh sekali, Severus,” sahut Dumbledore serius. ”Apakah kau sekarang sudah punya rasa peduli pada anak itu?” ”Pada anak itu?” teriak Snape, ”Expecto patronum!” Dari ujung tongkatnya keluar rusa betina perak, rusa itu mendarat di lantai kantor, melambung sekali melintasi kantor dan meluncur ke luar dari jendela. Dumbloedore mengamati rusa itu melayang pergi, dan saat cahaya keperakannya mulai lenyap, Dumbledore menoleh pada Snape, matanya basah. “Selama ini?” “Selalu,” sahut Snape. Dan adegan berganti. Sekarang Harry melihat Snape sedang berbicara pada lukisan Dumbledore di belakang meja. “Kau akan memberikan tanggal pasti keberangkatan Harry dari rumah paman dan bibinya pada Voldemort,” sahut Dumbledore. “Tidak melakukannya berarti membangkitkan kecurigaan karena Voldemort percaya kau selalu punya informasi bagus. Tapi kau harus menanamkan gagasan umpan pengalih perhatian—yang kukira bisa menjamin keselamatan Harry. Coba memantrai Mundungus dengan Confundus. Dan Severus, jika kau terpaksa untuk mengambil bagian dalam pengejaran, berperanlah dengan meyakinkan ... Aku mengandalkanmu untuk tetap dalam hitungan Voldemort selama mungkin, agar Hogwarts tidak jatuh ke tangan Carrows ...” Sekarang Snape berhadapan dengan Mundungus di rumah minum yang tidak dikenal, wajah Mundungus terlihat kosong, Snape mengerutkan kening berkonsentrasi. ”Kau akan mengusulkan pada Orde Phoenix,” Snape bergumam, ”bahwa mereka akan menggunakan umpan pengalih perhatian. Ramuan Polijus. Potter kembar. Itu satusatunya yang mungkin berhasil. Kau akan melupakan bahwa aku yang mengusulkan itu. Kau akan mengajukannya sebagai gagasanmu sendiri. Paham?” ”Aku paham,” gumam Mundungus, matanya tak fokus ... Sekarang Harry terbang di sisi Snape di atas sapu di malam gelap yang bersih; dia disertai para Pelahap Maut bertudung, di depan ada Lupin dan seorang Harry yang sebenarnya adalah George ... seorang Pelahap Maut maju mendahului Snape dan mengangkat tongkatnya, menunjuk langsung pada punggung Lupin –” ”Sectumsempra!” teriak Snape. Tapi mantra yang dimaksud pada tangan bertomgkat dari Pelahap Maut itu meleset dan mengenai George—” Selanjutnya Snape sedang berlutut di kamar lama Sirius. Air mata berlinang dari hidungnya yang bengkok saat ia membaca surat lama dari Lily. Halaman kedua surat itu hanya berisi beberapa kata: kok bisa sih berteman dengan Gellert Grindelwald. Kukira dia sudah gila! Penuh cinta, Lily Snape mengambil halaman yang bertandatangan Lily, dan cintanya, diselipkan ke dalam jubahnya. Ia merobek foto yang sedang dipegangnya, ia menyimpan bagian Lily sedang tertawa, dan menjatuhkan bagian James dan Harry, jatuh di bawah lemari. Dan sekarang Snape berdiri lagi di ruang baca Kepala Sekolah, saat Phineas Nigellus bergegas datang dalam lukisannya. “Kepala Sekolah! Mereka sedang berkemah di Hutan Dean. Darah Lumpur itu—” ”Jangan gunakan kata itu!” ”—baiklah, gadis Granger itu menyebut nama tempat itu saat ia membuka tasnya dan aku mendengarnya!” ”Bagus. Bagus sekali!” teriak Dumbledore dari belakang kursi Kepala Sekolah. Sekarang, Severus, pedangnya! Jangan lupa bahwa pedang itu hanya bisa diambil dalam kondisi memerlukan, dan dengan keberanian—dan dia tidak boleh tahu kau yang memberinya! Jika Voldemort membaca pikiran Harry dan melihat kau bergerak untuknya—“ “Saya tahu,” sahut Snape kaku. Ia mendekati lukisan Dumbledore dan menarik sisinya. Lukisan itu mengayun maju, memperlihatkan rongga tersembunyi di belakangnya, dari situ Snape mengambil Pedang Gryffindor. ”Dan Anda masih belum akan memberitahu saya mengapa sebegitu penting untuk memberi Potter sebuah pedang?” sahut Snape sembari mengayunkan mantel bepergian di atas jubahnya. ”Kurasa tidak,” sahut lukisan Dumbledore. ”Ia tahu apa yang harus dilakukan. Dan Severus, berhati-hatilah, mereka tidak akan berbaik hati pada kemunculanmu setelah peristiwa George Weasley—” Snape menuju pintu. ”Tidak usah khawatir, Dumbledore,” sahutnya dingin, ”saya punya rencana...” Dan Snape meninggalkan ruangan. Harry bangkit, keluar dari Pensieve, sesaat kemudian ia tergeletak di lantai berkarpet di ruangan yang sama; Snape mungkin baru saja menutup pintu.