

Semua anggota tim harus bisa melihat Papan Skor dan 
memperhatikan perubahannya dari saat ke saat, hari ke hari, 
atau minggu ke minggu. Mereka harus membahas hal itu 
sepanjang waktu. Mereka tidak pernah boleh benar-benar 
mengalihkan perhatian dari hal itu. Papan Skor yang menggugah 
memiliki efek yang sama dengan mencatat skor pada 
olah raga jalanan. Secara tiba-tiba, tempo berubah. Orang 
bekerja lebih cepat; pembicaraan berubah; orang beradaptasi 
dengan cepat terhadap masalah-masalah baru. Dan Anda 
mencapai tujuan dengan lebih teliti dan cepat. 

— 425 — 


THE 8TH HABIT 


GAMBAR 14.5 

Disiplin 3: Terjemahkan Tujuan Skala Besar Menjadi 
Tindakan-tindakan Spesifik 

Membuat tujuan atau strategi baru hanyalah satu bagian. Yang tak 
kalah pentingnya adalah benar-benar mengubah tujuan tersebut 
menjadi tindakan, memecah-mecahnya menjadi perilaku baru dan 
aktivitas pada semua tingkatan, termasuk lini depan. Ada perbedaan 
yang amat besar antara strategi yang dinyatakan dengan strategi 
yang sebenarnya. Strategi yang dinyatakan adalah apa yang di-
komunikasikan; strategi yang sebenarnya adalah apa yang dilakukan 
orang-orang setiap hari. Untuk mencapai tujuan yang belum pernah 
Anda capai sebelumnya, Anda perlu melakukan hal-hal yang belum 
pernah Anda lakukan sebelumnya. Sekalipun para pemimpin 
mungkin mengetahui apa sebenarnya tujuan tersebut, belum tentu 
orang-orang di lini depan, di mana tindakan yang sebenarnya ber-
langsung, mengetahui apa yang harus dilakukan. Tujuan tidak akan 
pernah bisa dicapai sampai setiap orang di dalam tim mengetahui 

— 426 — 

Kebiasaan Ke-8 dan Titik Gemilang 

dengan tepat apa yang seharusnya mereka lakukan terhadap tujuan 
tersebut. Pada akhirnya, lini depanlah yang menghasilkan pendapatan 
bagi perusahaan. Mereka adalah para pekerja pengetahuan yang 
kreatif. Sekaii lagi perlu diingat bahwa kepemimpinan adalah sebuah 
pilihan, bukan posisi; hal itu bisa disebarkan ke mana saja, pada 
semua tingkatan organisasi. Juga ingatlah bahwa Anda tidak bisa 
menuntut seseorang untuk mempertanggungjawabkan hasil jika 
Anda menentukan cara untuk mencapainya. Bila itu Anda lakukan, 
Andalah yang bertanggung jawab atas hasil yang dicapai; dan pada 
saat yang sama peraturan menggantikan pertimbangan manusia, 
kreativitas, dan tanggung jawab. 

Untuk mempraktikkan disiplin ini, tim Anda harus menjadi 
kreatif, harus mengidentifikasi perilaku-perilaku baru dan lebih baik 
yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi, kemudian mener-
jemahkannya menjadi tugas-tugas mingguan dan harian pada semua 
tingkatan organisasi. Inilah memberdayakan pada tingkat yang paling 
canggih. 

Disiplin 4: Saling Menjaga Akuntabilitas, Sepanjang Waktu 

Dalam tim-tim yang paling efektif, para anggota melakukan per-
temuan secara teratur—bulanan, mingguan atau bahkan harian— 
untuk membicarakan komitmen-komitmen mereka, membahas 
Papan Skor, memecahkan masalah, dan memutuskan cara untuk 
saling mendukung. Jika setiap anggota tim tidak bisa saling menjaga 
akuntabilitas anggota lain—sepanjang waktu—proses ini akan mati 
saat tiba di tempat tujuan. Walikota Rudolph Giuliani, yang secara 
luas mendapatkan pujian atas kebangkitan kembali New York City, 
melakukan "rapat pagi" secara teratur dengan stafnya. Maksudnya 
adalah untuk membahas kemajuan setiap tujuan penting setiap hari. 
Jika pertemuan dilakukan dengan selisih waktu lebih panjang dari-
pada satu minggu sekaii tim bisa menyimpang jauh dari jalurnya 
dan kehilangan fokus. 

— 427 — 


THE 8TH HABIT 

Sebuah tim yang memberdayakan din sendiri akan berfokus dan 
melakukan fokus ulang berdasarkan rapat-rapat yang digelar untuk 
menegakkan akuntabilitas seperti itu. Rapat-rapat semacam itu tidak 
seperti rapat staf biasa, di mana orang-orang berbicara mengenai 
tetek bengek dan tak sabar menunggu selesainya rapat agar mereka 
bisa kembali mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya. Tujuan dari 
sesi akuntabilitas yang efektif adalah untuk memajukan pencapaian 
tujuan-tujuan utama. 

Tiga praktik kunci berikut adalah karakteristik dari sesi 
akuntabilitas yang efektif: 

• Pelaporan Diagnosis Singkat (Triage Reporting) 

• Menemukan Alternatif Ketiga 

• Melempangkan Jalan 

Pelaporan Diagnosis Singkat (Triage): Di unit gawat darurat 
di rumah sakit, Anda mungkin akan sering melihat sebuah pem-
beritahuan besar yang kira-kira berbunyi seperti ini: PASIEN AKAN 
DIRAWAT BERDASARKAN URUTAN KEGAWATAN, BUKAN 
URUTAN KEDATANGAN. Staf medis akan melakukan sebuah 
proses yang disebut diagnosis singkat (triage), di mana para korban 
akan diurutkan dan dirawat berdasarkan seberapa parah kondisi 
mereka. Inilah sebabnya mengapa lengan Anda yang patah harus 
menunggu saat para dokter selesai merawat pasien yang mengalami 
cedera otak, sekalipun Anda tiba lebih dulu. 

Dalam pelaporan diagnosis singkat, setiap orang melaporkan 
secara singkat beberapa masalah vital, dan menyingkirkan masalah 
yang kurang penting untuk saat lain. Mereka berfokus pada hasil 
penting, masalah utama, dan prioritas tingkat tinggi. Ini tidak berarti 
bahwa hanya masalah yang "mendesak" yang dibahas. Hanya masalah 
yang "penting" yang dibahas, walaupun sebagian dari masalah 
tersebut tidak "mendesak." Tabel 7 membandingkan rapat staf biasa 
dengan sebuah sesi akuntabilitas yang efektif: 

— 428 — 

Kebiasaan Ke-8 dan Titik Gemilang 

SESI AKUNTABILITAS EFEKTIF RAPAT STAF BIASA 
(PELAPORAN DIAGNOSIS SINGKAT) 

Laporan singkat mengenai masalah-
masalah penting 

"Putaran Maut" mengelilingi ruangan di 
mana orang terpaksa harus berbicara 
dan semua orang yang Iain melakukan 
penilaian 

Meninjau papan skor 

Tanpa pengukuran kemajuan 

Tindak lanjut 

Tanpa tindak lanjut 

Akuntabilitas bersama 

Hanya manajor yang bisa meminta 
akuntabilitas orang-orang 

Semua orang melaporkan berbagai 
kesulitan dan kegagalan secara terbuka 

Orang-orang menyembunyikan berbagai 
kesulitan dan kegagalan mereka 

Merayakan keberhasilan 

Hanya berfokus pada masalah 



TABEL 7 

Menemukan Alternatif Ketiga: Dalam sesi akuntabilitas yang 
efektif, ada fokus yang amat tajam terhadap cara untuk mencapai 
tujuan-tujuan utama. Prinsipnya di sini adalah bahwa sebuah tujuan 
baru yang belum pernah kita capai sebelumnya akan menuntut kita 
untuk melakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. 
Ini berarti bahwa kita akan terus-menerus mencari peri-
laku baru dan lebih baik yang akan membawa kita mencapai tujuan 
tersebut. Inilah sebabnya mengapa kita harus menemukan "Alternatif 
Ketiga"—arah-arah tindakan yang lebih baik daripada cara saya 
atau cara Anda, dan merupakan hasil dari pemikiran terbaik kita. 
Ingatlah sekali lagi bahwa kita akan menghasilkan sinergi dengan 
menghormati keanekaragaman atau perbedaan—yakni perbedaan-
perbedaan individu dalam konteks kesatuan dalam misi, nilai-nilai, 
visi dan tujuan yang benar-benar penting. 

Dalam sesi semacam ini Anda akan melihat banyak sekali terjadi 
proses curah gagasan (brainstorming); disediakan waktu untuk dialog 
kreatif. Tabel 8 membandingkan sebuah rapat staf biasa dengan 
sebuah sesi akuntabilitas yang efektif: 

— 429 — 


THE 8TH HABIT 


TABEL 8 

Melempangkan Jalan: Dalam amat banyak hal, kepemimpinan 
yang efektif terdiri dari melempangkan atau melancarkan jalan 
dengan menyingkirkan hambatan dan menyelaraskan tujuan maupun 
sistem sehingga orang lain bisa mencapai tujuan mereka. Di dalam 
sebuah proses "kesepakatan menang-menang" yang sejati, manajer 
sepakat untuk melempangkan jalan, untuk melakukan hal yang 
memang hanya dia yang bisa melakukannya, untuk memungkinkan 
para karyawan mencapai tujuan mereka. Tentu saja, bukan hanya 
manajer yang melempangkan jalan bagi orang lain. Ini adalah tugas 
semua orang. 

Dengan demikian, di dalam sesi akuntabilitas yang efektif, Anda 
akan mendengar orang-orang bertanya, "Bagaimana saya bisa melempangkan 
jalan Anda?" atau "Saya mengalami kesulitan dengan masalah 
ini dan memerlukan bantuan," atau "Apa yang bisa kami lakukan 
bagi Anda untuk membantu Anda menyelesaikan hal itu?" Tabel 9 
membandingkan antara rapat staf yang biasa dengan sebuah sesi 
akuntabilitas yang efektif: 


TABEL 9 
Ini adalah penyelarasan dengan cara paling canggih. 

— 430 

Kebiasaan Ke-8 dan Titik Gemilang 

MELEMBAGAKAN PELAKSANAAN 

Seperti yang bisa Anda lihat, 4 Disiplin mewakili sebuah metodologi 
untuk mengambil sesuatu yang biasanya dianggap sebagai sebuah 
faktor variabel yang hanya dilakukan oleh sedikit orang yang ber-
kinerja tinggi—yaitu pelaksanaan yang konsisten—dan mengubah-
nya menjadi sesuatu yang mudah diprediksi, mudah diajarkan, dan 
mudah disebarkan. Kami telah belajar dari penelitian dan pengalaman 
bahwa jika keempat disiplin ini dipraktikkan oleh tim, unit, atau 
organisasi, mereka akan menunjukkan kemampuan yang lebih besar 
untuk melaksanakan prioritas-prioritas utama, lagi dan lagi.* Pelaksanaan 
kemudian menjadi terlembagakan dan bukan sekadar keber-
untungan atau tercapai karena pengaruh beberapa pemimpin penting. 
Lebih jauh lagi, kunci untuk melembagakan sebuah budaya pelaksanaan 
adalah dengan secara teratur mengukurnya. 

KECERDASAN PELAKSANAAN (XQ) 

Berbagai organisasi memerlukan cara baru untuk menyatakan dan 
mengukur kemampuan kolektif mereka dalam "fokus dan pelaksanaan." 
Kami menyebutnya sebagai xQ—"Execution Quotient" atau 
"Kecerdasan Pelaksanaan." Sebagaimana tes IQ mengungkapkan 
kesenjangan dalam kemampuan para siswa untuk mengikuti pelajaran 
di sekolah, suatu evaluasi xQ mengukur "kesenjangan pelaksanaan", 
yaitu kesenjangan antara penetapan tujuan dan upaya untuk 
mencapainya. Skor xQ adalah sebuah indikator penanda masa depan 
dari kemampuan sebuah organisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya 
yang terpenting. Tak perlu menunggu indikator-indikator masa lalu 
untuk memberi tahu apakah Anda telah berhasil atau tidak. Dengan 
menanyakan kepada para pekerja dua puluh tujuh pertanyaan yang 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai bagaimana cara melembagakan 4 
Disiplin Pelaksanaan dalam tim atau organisasi Anda, lihatlah Lampiran 5: Meng-
implementasikan 4 Disiplin Pelaksanaan. 

— 431 — 


THE 8TH HABIT 

telah disusun dengan saksama, dan hanya memerlukan sekitar lima 
belas menit untuk menjawabnya, Anda bisa mendapatkan indikator 
penanda masa depan tersebut. 

Bisakah Anda membayangkan betapa kuat pengaruhnya bila Anda 
melakukan sebuah pengujian xQ dari level akar rumput sampai ke 
tingkat paling atas, setiap tiga hingga enam bulan? Pengujian itu 
akan memberikan gambaran yang akurat mengenai derajat fokus 
dan pelaksanaan dalam organisasi. Hal itu bisa dilaksanakan secara 
formal dan informal. Dalam kenyataannya, semakin matang budaya-
nya, semakin sempit perbedaan antara pengumpulan informasi formal 
dan informal. Lalu berdasarkan Kuesioner xQ, dorongan budaya 
dari akar rumput bisa diberikan untuk menyelaraskan tujuan 
antardepartemen dan divisi sehingga prioritas-prioritas penting, 
strategis, dan amat menentukan, akan bisa terus-menerus 
mendapatkan fokus dan dilaksanakan. Hal ini akan mendorong model 
Era Pekerja Pengetahuan ke Era Kebijaksanaan. 

DIHARAPKAN ANDA MULAI melihat bahwa Kebiasaan ke-8— 
Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk Mene-
mukan Suara Mereka—adalah cara lain untuk mengatakan, "Guna-
kan model Pekerja Pengetahuan yang memberdayakan, yaitu model 
pribadi utuh. Terapkan 7 Kebiasaan (keagungan pribadi), 4 Peran 

Untuk ringkasan yang lebih terperinci mengenai hasil-hasil penelitian Harris 
Interactive terhadap 23-000 pegawai, manajer, dan eksekutif yang mengisi 
Kuesioner xQ, lihatlah Lampiran 6: Hasil-hasil xQ. 

Jika Anda tertarik untuk mengisi Kuesioner xQ secara gratis untuk 
melakukan penilaian pribadi terhadap kemampuan tim dan organisasi Anda berfokus 
dan mencapai prioritas-prioritas utama, silakan mengunjungi www.The8thHabit.com/ 
offers. Anda akan diberi petunjuk mengenai cara mengisi kuesioner tersebut. 
Setelah menyelesaikan pengisian, Anda akan mendapat sebuah Laporan xQ yang 
meringkas penilaian Anda dan membandingkannya dengan skor rata-rata 
gabungan dari ribuan responden. Informasi lebih lanjut akan diberikan mengenai 
cara agar Anda bisa mengukur seluruh tim atau organisasi Anda. 

— 432 — 

Kebiasaan Ke-8 dan Titik Gemilang 

Kepemimpinan (keagungan kepemimpinan) dan 6 prinsip atau 
pendorong pelaksanaan (keagungan organisasi) pada model tersebut." 
Kita sekarang berpindah ke puncak dari Kebiasaan ke-8: 
Menggunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang 
Lain, yang akan kita bicarakan pada bab 15. 

TANYA & JAWAB 

T: Apa perbedaan antara apa yang secara tradisional Anda 
ajarkan sebagai 5 unsur kesepakatan menang-menang yang 
baik dengan 4 Disiplin Pelaksanaan? 

J: Pada tingkat prinsip dasar tidak ada perbedaan. Perbedaannya 
hanya terletak pada semantik (bagaimana kata-kata dipakai dan 
didefinisikan), dan dalam konteks keseluruhan di mana 4 Disiplin 
ditempatkan. Mari saya jelaskan lebih lanjut. Lima unsur dari 
sebuah kesepakatan menang-menang yang baik adalah: 

1. Hasil yang diinginkan 

2. Pedoman 

3. Sumber daya 

4. Akuntabilitas 

5. Konsekuensi 

Hasil yang diinginkan dan Pedoman pada dasarnya diwujudkan 
dalam dua disiplin pelaksanaan yang pertama, yaitu menetapkan 
Tujuan yang Benar-benar Penting dan sebuah Papan Skor yang 
menggugah. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, hasil akhir 
dan cara mencapainya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. 
Karena itu, pencapaian dari hasil yang diinginkan dan pencapaian 
dari tujuan yang benar-benar penting bisa saling terkait jika 
dilaksanakan dengan cara-cara yang kita dasarkan pada prinsip. 

— 433 — 


THE 8TH HABIT 

Elemen ketiga dari kesepakatan menang-menang, sumber daya, 
secara implisit ada dalam disiplin pelaksanaan ketiga, yaitu mener-
jemahkan tujuan-tujuan skala besar menjadi tindakan-tindakan 
spesifik. Elemen keempat dan kelima dari sebuah kesepakatan 
kinerja menang-menang—akuntabilitas dan konsekuensi—secara 
eksplisit terdapat di dalam disiplin keempat: Saling menjaga akuntabilitas, 
sepanjang waktu. Karena konsekuensi adalah hasil 
alamiah dari akuntabilitas yang diberikan, secara tersirat keduanya 
saling terkait pula. 

Keunggulan dari pendekatan 4 Disiplin untuk pelaksanaan 
dan pemberdayaan tim adalah bahwa hal itu muncul dari pene-
litian berdasarkan riset terhadap kesenjangan pelaksanaan, konteks 
yang lebih luas mengenai bagaimana model Era Industri men-
ciptakan kesenjangan tersebut, dan bagaimana Era Pekerja Penge-
tahuan bisa menutupnya. 

— 434 — 

BAB 15 

MENGGUNAKAN SUARA KITA 
DENGAN BIJAKSANA UNTUK 
MELAYANI ORANG LAIN 

Saya bukan lagi pria muda yang penuh energi dan vitalitas. Saya suka 
melakukan meditasi dan berdoa. Saya menikmati duduk di kursi goyang, 
menelan obat-obat resep dokter, mendengarkan musik lembut, dan 
merenungkan berbagai hal di alam semesta. Tetapi aktivitas tersebut tidak 
memberikan tantangan dan tidak menyumbang apa pun. Saya ingin berdiri 
dan melakukan sesuatu. Saya ingin menghadapi tiap hari dengan 
menyelesaikan sesuatu dan mencapai tujuan. Saya ingin menggunakan setiap 
jam ketika saya terjaga untuk menguatkan orang, untuk meringankan 
mereka yang memikul beban berat, untuk membangun iman dan kekuatan 
kesaksian. Kehadiran orang-orang yang luar biasa benar-benar 
membangkitkan semangat saya. Tatapan cinta di mata merekalah yang 
memberikan saya energi.1 

GORDON B. HINCKLEY USIA SEMBILAN PULUH DUA 

Aku tertidur dan mimpi bahwa hidup ini adalah kesenangan. 
Aku terbangun dan melihat bahwa hidup ini adalah pengabdian. 
Aku bertindak, dan lihatlah, pengabdian memang menyenangkan. 

RABINDRANATH TAGORE 

Saya percaya bahwa memberikan layanan yang bermanfaat adalah tugas 
bersama umat manusia dan bahwa hanya dalam apt pengorbanan yang 
menyucikan, kesia-siaan dan egoisme dibakar habis, dan keagungan jiwa 
manusia dibebaskan.2 

JOHN D. ROCKEFELLER, JR. 

— 435 — 


THE 8TH HABIT 

DORONGAN DARI DALAM DIRI UNTUK 1) Menemukan 
Suara Anda, dan 2) Mengilhami Orang Lain Untuk 
Menemukan Suara Mereka mendapat bahan bakar dari 
satu tujuan yang menjangkau segalanya, yaitu melayani berbagai 
kebutuhan manusia. Melayani kebutuhan manusia juga merupakan 
cara terbaik untuk mencapai keduanya: yaitu "menemukan suara 
kita" dan "mengilhami orang lain untuk menemukan suara mereka". 
Kalau kita tidak mengulurkan tangan dan memenuhi kebutuhan-
kebutuhan sesama kita, kita sama sekali tidak akan tumbuh dan 
mengembangkan kebebasan untuk memilih yang seharusnya bisa 
kita lakukan. Kita secara pribadi akan tumbuh lebih jauh jika kita 
memberikan diri kita bagi orang lain. Hubungan kita akan 
meningkat dan semakin mendalam bila secara bersama-sama kita 
mencoba untuk melayani keluarga kita, keluarga lain, organisasi, 
komunitas, atau suatu kebutuhan manusia lainnya. 

Pada awalnya, sebagai seorang pelajar, saya hanya menginginkan 
kebebasan bagi diri saya sendiri, kebebasan yang bersifat sementara, 
yakni untuk bisa keluar rumah di malam hari, membaca apa yang 
saya inginkan, dan pergi ke tempat yang saya pilih. Selanjutnya 
sebagai seorang pria muda di Johannesburg, saya amat merindukan 
kebebasan-kebebasan dasar dan terhormat untuk mencapai potensi 
diri saya, bekerja dengan jujur, menikah, dan membesarkan keluarga; 
pendek kata, kebebasan untuk menjalani kehidupan yang 
sesuai hukum tanpa dihalangi. Tetapi, saya perlahan-lahan melihat 
bahwa bukan hanya saya yang tidak bebas, tetapi saudara-saudara 
lelaki dan perempuan saya pun ternyata tidak bebas... inilah saat 
ketika rasa lapar untuk mendapatkan kebebasan saya sendiri 
berubah menjadi rasa lapar yang lebih besar untuk kebebasan 
saudara-saudara saya. 

Hasrat untuk mendapatkan kebebasan saudara-saudara saya agar 

mereka bisa menjalani kehidupan mereka dengan terhormat dan 
penuh penghargaan diri itulah yang menggerakkan kehidupan saya. 

— 436 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

Itulah yang mengubah seorang pria muda yang penakut menjadi 
seseorang yang tegar, yang mendorong seorang pengacara yang patuh 
hukum menjadi seorang "kriminal", yang mengubah seorang suami 
yang mencintai keluarganya menjadi seorang lelaki gelandangan... 
Bukan bahwa saya lebih bermoral atau bersedia berkorban lebih 
daripada orang lain, tetapi saya menemukan bahwa saya sama 
sekali tak bisa menikmati kebebasan yang buruk dan terbatas yang 
saya dapatkan saat saya mengetahui bahwa saudara-saudara saya 

tidak bebas.5 

NELSON MANDELA 

Organisasi dibentuk untuk melayani kebutuhan-kebutuhan 
manusia. Tidak ada alasan lain untuk keberadaannya. Robert 
Greenleaf menulis sebuah esei yang indah, "The Institution As Servant," 
yang mengaplikasikan konsep pelayanan dalam konteks 
organisasi. 

Melayani adalah ongkos sewa yang harus kita bayar untuk tinggal 

di dunia kita.4 

NATHAN ELDON TANNER 

Willis Harmon, salah satu pendiri World Business Academy, 
mengungkapkan pendapatnya mengenai institusi bisnis dengan kata-
kata berikut ini: 

Bisnis telah menjadi institusi yang paling berkuasa di planet ini. 
Institusi yang dominan di masyarakat harus mengambil tanggung 
jawab terhadap masyarakat tersebut secara keseluruhan, tetapi bisnis 
tidak memiliki tradisi semacam itu. Ini adalah sebuah peran baru, 
yang belum dipahami atau diterima dengan baik. Ada asumsi yang 
sejak awal dikaitkan dengan kapitalisme dan usaha bebas yakni 

— 437 — 


THE 8TH HABIT 

bahwa tindakan dari banyak unit usaha individu, yang memberikan 
respons terhadap kekuatan-kekuatan pasar dan dipandu oleh "tangan 
tak tampak" Adam Smith, pada akhirnya akan memberikan hasil-
hasil yang diinginkan. Tetapi pada dasawarsa terakhir dari abad ke-
20, tampak jelas bahwa "tangan tak tampak" itu ternyata tidak 
bekerja dengan baik. Tangan itu tergantung pada makna dan nilai-
nilai yang mendasari segala hal, tetapi semua itu sekarang sudah 
tidak ada lagi. Jadi bisnis harus mengambil sebuah tradisi yang 
belum pernah dilakukannya sepanjang sejarah kapitalisme: yaitu 
berbagi tanggung jawab terhadap keseluruhan masyarakat. Setiap 
keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang diambil, harus dinilai 
dengan mengingat tanggung jawab tersebut. 

ERA KEBIJAKSANAAN 

Saya yakin bahwa milenium ini akan menjadi Era Kebijaksanaan. 
Era ini akan datang baik melalui kekuatan keadaan yang memaksa 
orang agar menjadi rendah had, atau melalui kekuatan hati nurani— 
atau mungkin dari keduanya. 

Ingatlah Suara Lima Era Peradaban. Teknologi untuk Era 
Pemburu-Pengumpul disimbolkan dengan busur dan anak panah; 
Era Pertanian, dengan peralatan pertanian; Era Industri, dengan 
pabrik; Era Informasi/Pekerja Pengetahuan, dengan manusia; Era 
Kebijaksanaan, dengan kompas, yang menandai kemampuan kita 
untuk memilih arah dan tujuan kita serta mematuhi hukum-hukum 
alam atau prinsip-prinsip ("utara yang sesungguhnya") yang tidak 
pernah berubah dan bersifat universal, abadi, dan pasti terbukti. 

Ingatlah bahwa dengan setiap perubahan infrastruktur, lebih dari 
90 persen orang pada akhirnya kehilangan pekerjaan. Saya percaya 
bahwa hal ini sekarang terjadi saat kita berpindah dari Era Industri 
ke Era Informasi/Pekerja Pengetahuan. Orang-orang kehilangan 
pekerjaan mereka atau secara bertahap dipaksa berubah oleh 

— 438 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

tuntutan-tuntutan baru dari pekerjaan mereka yang baru. Saya secara 
pribadi meyakini bahwa saat ini lebih dari 20 persen angkatan kerja 
sedang dalam proses menjadi usang, dan dalam beberapa tahun 
mendatang 20 persen lagi akan ikut menjadi usang kecuali jika 
mereka memperbarui komitmen mereka dan mengubah diri mereka. 
Era Informasi ini berubah dengan amat cepat menjadi Era Pekerja 
Pengetahuan sehingga kita perlu terus-menerus menanamkan in-
vestasi dalam pendidikan dan pelatihan diri kita sendiri agar bisa 
terus mengikuti perkembangan. Banyak dari pembelajaran ini akan 
dilakukan melalui pengalaman keras secara langsung di lapangan, 
tetapi orang yang mengamati apa yang terjadi dan memiliki disiplin 
akan secara sistematis melanjutkan pendidikan mereka sampai 
mereka mendapatkan pola pikir baru dan perangkat keahlian baru 
yang diperlukan untuk mengantisipasi dan mengakomodasi realitas 
baru di era yang baru ini. Diharapkan, era ini akan secara perlahan-
lahan berubah menjadi Era Kebijaksanaan, di mana informasi dan 
pengetahuan disatukan dengan tujuan dan prinsip. 

DI MANAKAH KEBIJAKSANAAN ITU? 

Kita tahu bahwa informasi bukanlah kebijaksanaan. Kita juga tahu 
bahwa pengetahuan bukanlah kebijaksanaan. 

Bertahun-tahun yang lalu, saat mengajar di universitas dan men-
jalani program doktor saya, saya mengunjungi seorang teman, yang 
juga merupakan dosen senior saya. Saya mengatakan kepadanya, 
"Aku ingin menyusun disertasi dengan topik motivasi dan kepe-
mimpinan—sebuah dokumen filosofis, bukan sekadar penelitian 
empiris." 

Dia memberi saya nasihat yang pada dasarnya seperti ini, 
"Stephen, kamu belum punya pengetahuan yang cukup, bahkan 
untuk mulai menanyakan pertanyaan yang tepat." Dengan kata 
lain, pengetahuan saya memang sudah mencapai tingkat tertentu, 
tetapi pengetahuan itu harus dinaikkan jauh melampaui tingkat 

— 439 — 


THE 8TH HABIT 

saat itu jika saya ingin membahas jenis-jenis pertanyaan yang harus 
saya hadapi. Ini adalah pengalaman yang menimbulkan trauma 
emosional yang amat dalam bagi saya, karena hati dan pikiran saya 
telah benar-benar siap untuk mengambil pendekatan filosofis dan 
bukan pendekatan ilmiah yang pada akhirnya memang saya ambil. 
Saya yakin bahwa kombinasi dari pendidikan filsafat informal yang 
telah saya dapatkan selama kuliah sarjana dan pascasarjana di bidang 
bisnis sudah memadai. Saya tidak menyadari sampai bertahun-tahun 
berikutnya bahwa dia sepenuhnya benar. Itu adalah pengalaman 
yang membuat saya harus merendahkan hati saya. 

Pelajaran mengenai kerendahan hati tersebut adalah ibu dari 
banyak pembelajaran dan wawasan yang amat berharga yang muncul 
di tahun-tahun selanjutnya. Pada akhirnya saya belajar bahwa semakin 
banyak yang Anda ketahui, semakin tahu Anda bahwa Anda tidak tahu. 
Coba lihat Gambar 15.1. Pada gambar itu ada sebuah lingkaran, 
yang mewakili pengetahuan Anda. Ketidaktahuan Anda terletak di 
luar lingkaran tersebut. 

"Pendidikan adalah penemuan secara bertahap 
atas ketidaktahuan kita" - WILL DURANT 


GAMBAR 15.1 

— 440 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 


GAMBAR 15.2 

Saat pengetahuan Anda meningkat, apa yang terjadi dengan 
ketidaktahuan Anda? Hal itu juga jelas menjadi lebih besar, atau 
paling tidak kesadaran Anda mengenai ketidaktahuan Anda menjadi 
lebih besar (lihat Gambar 15.2). Jadi, semakin banyak yang 
Anda ketahui, semakin besar kesadaran Anda bahwa Anda tidak 
tahu. Bagaimana jika Anda berusaha untuk mencapai tujuan yang 
lebih besar daripada pengetahuan yang Anda miliki—lebih besar 
daripada zona nyaman Anda? Hal ini akan menciptakan kerendahan 
hati yang tulus dan hasrat untuk mencari bantuan dari orang lain, 
melalui kemitraan atau tim. Keberhasilan bekerja dengan orang lain 
akan membuat pengetahuan dan kemampuan seseorang menjadi 
produktif dan menimbulkan kebutuhan untuk membentuk sebuah 
tim yang saling melengkapi, yang terdiri dari orang-orang yang 
memiliki pengetahuan dan kemampuan yang bisa menutup dan 
membuat ketidaktahuan dan kelemahan salah satu individu di dalam-
nya menjadi tidak relevan. Seharusnya itulah yang terjadi. 

— 441 — 


THE 8TH HABIT 

Kesadaran ini seharusnya meningkatkan komitmen kita terhadap 
pembelajaran terus-menerus dengan mentor, khususnya dalam topik-
topik yang penting seperti pertumbuhan pribadi, hubungan, dan 
kepemimpinan. Saya yakin bahwa bila informasi dan pengetahuan 
dikawinkan dengan tujuan-tujuan yang berharga dan bermakna serta 
dengan prinsip, Anda akan mendapatkan kebijaksanaan. 

Cara lain untuk menyatakannya adalah: kebijaksanaan adalah 
anak dari integritas—yakni integritas terhadap prinsip. Dan integritas 
adalah anak dari kerendahan hati dan keberanian. Dalam 
kenyataannya, Anda bisa berkata bahwa kerendahan hati adalah ibu 
dari segala kebaikan, karena kerendahan hati mengakui bahwa ada 
hukum-hukum alam atau prinsip-prinsip yang mengatur alam se-
mesta. Hukum-hukum itulah yang berkuasa. Bukan kita. Kesom-
bongan mengajarkan bahwa kita yang berkuasa. Kerendahan hati 
mengajarkan kepada kita untuk memahami dan hidup berdasarkan 
prinsip, karena pada dasarnya hal itulah yang menjadi penentu 
konsekuensi dari tindakan kita. Jika kerendahan hati adalah ibunya, 
keberanian adalah ayah dari kebijaksanaan, yang akan membutuhkan 
keberanian yang amat besar untuk benar-benar menjalani kehidupan 
berdasarkan prinsip, bahkan ketika untuk itu kita harus berlawanan 
dengan adat istiadat, norma-norma, dan nilai-nilai sosial. 

— 442 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

Keberanian bukan berarti tiadanya rasa takut, melainkan adanya 
penilaian bahwa ada hal yang lebih penting daripada rasa takut. 

AMBROSE REDMOON 

Gambar 15.3 memvisualisasikan ketiga generasi tersebut-
perhatikan juga lawannya dalam tiga generasi. 

GAMBAR 15.3 

Anda bisa melihat bahwa integritas memiliki dua anak— 
kebijaksanaan dan mentalitas berkelimpahan. Kebijaksanaan datang 
pada orang-orang yang mendidik dan mematuhi hati nurani mereka. 
Mentalitas berkelimpahan akan tumbuh karena integritas akan 

— 443 — 


Dalam beberapa segi, pengetahuan akan menciut saat kebijaksanaan 

tumbuh, karena perincian akan ditelan oleh prinsip-prinsip. 

Pengetahuan mengenai perincian, yang merupakan hal penting, akan 

dicari pada saat dibutuhkan dalam setiap kegiatan kehidupan. 

Kebiasaan untuk secara aktif memanfaatkan prinsip-prinsip yang 

dipahami dengan baik itulah satu-satunya hal yang dimiliki oleb 

kebijaksanaan .5 

ALFRED NORTH WHITEHEAD 


THE 8TH HABIT 

menimbulkan benih rasa aman dari dalam diri. Jika seseorang tidak 
tergantung pada penilaian dari luar dan perbandingan dengan 
orang lain untuk menetapkan nilai dirinya, dia bisa benar-benar 
bahagia melihat keberhasilan orang lain. Tetapi mereka yang identitas 
dirinya didasarkan pada perbandingan dengan orang lain sama sekali 
tidak bisa bahagia jika orang lain berhasil, karena mereka amat 
dipengaruhi oleh mentalitas berkekurangan. Kebijaksanaan dan 
mentalitas berkelimpahan menghasilkan jenis-jenis paradigma yang 
dibicarakan dalam buku ini—paradigma yang membawa orang untuk 
memercayai orang lain, memperkuat nilai diri dan potensi mereka, 
dan berpikir dalam pola pikir yang membebaskan dan bukan 
mengontrol. Kombinasi antara kebijaksanaan dan mentalitas 
berkelimpahan semacam itu menghargai kekuatan dan kemampuan 
untuk memilih. Kombinasi tersebut juga menghargai fakta bahwa 
sumber motivasi adalah dari dalam diri, dan dengan demikian orang 
yang memiliki kombinasi tersebut tidak akan mencoba untuk 
mengelola, mengendalikan, atau memotivasi orang lain. Para 
pemimpin semacam itu akan berusaha mengilhami dan bukan 
menuntut. Mereka mengontrol barang, dan memimpin (mem-
berdayakan) manusia. Mereka tidak berpikir dengan pola pikir 
permainan kalah-menang (zero-sum); mereka berpikir dengan pola 
pikir yang selalu mencari Alternatif Ketiga—jalan tengah yang lebih 
tinggi. Mereka dipenuhi rasa syukur, rasa menghargai, dan hormat 
terhadap semua manusia. Mereka melihat kehidupan sebagai sumber 
yang tak ada habisnya—khususnya dalam hal peluang pertumbuhan 
terus-menerus bagi manusia. 

KEWIBAWAAN MORAL DAN PEMIMPIN PELAYAN 

Anda masih belum cukup banyak berbuat (sesuatu), dan tak akan 
pernah cukup sepanjang masih mungkin bahwa Anda memiliki 
sesuatu yang berharga untuk disumbangkan.6 

DAG HAMMARSKJOLD 

— 444 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

Kebijaksanaan adalah penggunaan pengetahuan secara berman-
faat. Kebijaksanaan adalah informasi dan pengetahuan yang di-
padukan dengan tujuan-tujuan bermakna dan prinsip-prinsip yang 
lebih tinggi. Kebijaksanaan mengajar kita untuk menghargai semua 
orang, untuk merayakan perbedaan yang ada pada mereka, untuk 
mengikuti pedoman etis yang satu ini: melayani itu berarti melampaui 
diri sendiri. Kewibawaan moral adalah keagungan primer (kekuatan 
karakter); kekuasaan formal adalah keagungan sekunder (posisi, ke-
kayaan, bakat, reputasi, popularitas). 

Menarik bahwa ada paradoks dalam kewibawaan/kewenangan 
moral. Kamus mendefinisikan wewenang dengan istilah-istilah yang 
berkaitan dengan perintah, kontrol, kekuasaan, pengaturan, supre-
masi, dominasi, kekuatan, daya. Tetapi lawan katanya adalah ke-
patuhan, dikuasai, kelemahan, pengikut. Kewibawaan moral adalah 
pengaruh yang kita miliki melalui prinsip-prinsip berikut. Dominasi 
moral dicapai melalui pelayanan dan kontribusi. Kekuasaan dan 
supremasi moral tumbuh dari kerendahan hati, dan karena itu mereka 

— 445 — 

Belakangan ini saya sering menengok kembali masa lalu saya, dan 
apa yang paling menohok saya adalah bahwa hal-hal yang dulu 
tampak amat berarti dan menarik sekarang tampak amat sia-sia 
dan tak bermakna. Sebagai contoh, keberhasilan dalam berbagai 
bentuk samarannya; terkenal dan banyak dipuji; kesenangan dan 
kenikmatan sewaktu mendapatkan uang atau merayu wanita, atau 

melakukan perjalanan, pergi ke berbagai penjuru dunia dan 
mondar-mandir seperti Setan, menjelaskan dan menikmati apa pun 
yang ditawarkan oleh Pasar Kesenangan Hampa. Saat memandang 

balik, semua tindakan pemuasan diri sendiri ini tampak seperti 
fantasi murni, yang oleh Pascal disebut sebagai "terpuruk menjilat 

tanah."7 

MALCOLM MUGGERIDGE 


THE 8TH HABIT 

yang paling agung adalah pelayan bagi semua orang. Kewibawaan 
moral atau keagungan primer dicapai melalui pengorbanan. Robert 
K. Greenleaf, peletak dasar gerakan kepemimpinan pelayanan 
modern, menyatakannya sebagai berikut: 

Sebuah prinsip moral baru sedang tumbuh. Prinsip yang menyatakan 
bahwa satu-satunya kekuasaan yang berhak mendapatkan kesetiaan 
adalah kekuasaan yang diberikan secara bebas dan dengan penuh 
kesadaran oleh mereka yang dipimpin kepada pemimpin sebagai 
respons terhadap, dan proporsional dengan, sikap pelayanan yang 
tampak jelas pada pemimpin tersebut. Mereka yang memilih untuk 
mengikuti prinsip ini tidak akan begitu saja menerima kekuasaan 
lembaga-lembaga yang telah ada. Dengan bebas mereka hanya 
akan memberikan respons kepada orang-orang yang mereka pilih 
sebagai pemimpin karena orang-orang itu telah terbukti dan di-
percaya sebagai pelayan. Dengan meluasnya penyebaran prinsip ini 
di masa depan, satu-satunya jenis lembaga yang bisa bertahan adalah 
lembaga-lembaga yang dipimpin dengan cara melayani.8 

Secara umum, pengalaman saya menunjukkan bahwa orang-
orang puncak dari berbagai organisasi yang benar-benar hebat adalah 
para pemimpin pelayan. Mereka amat rendah hati, amat hormat, 
amat terbuka, amat bersedia belajar, amat menghargai, penuh 
perhatian, dan amat peduli. Jim Collins, salah satu pengarang buku 
yang amat berpengaruh, Built to Last dan pengarang dari buku 
yang lebih baru, Good to Great, melakukan sebuah proyek penelitian 
lima tahun dengan dasar pertanyaan, "Apa yang mengorbitkan sebuah 
organisasi dari sekadar baik menjadi benar-benar hebat?" Ke-
simpulannya yang amat mendalam seharusnya akan mengubah cara 
pikir kita mengenai kepemimpinan. Berikut ini apa yang diung-
kapkannya mengenai "Kepemimpinan Tingkat 5": 

— 446 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

Para eksekutif yang paling besar kekuatan transformasinya memiliki 
campuran paradoks antara kerendahan hati pribadi dan tekad 
profesional. Mereka lamban sekaligus agresif. Pemalu sekaligus tak 
kenal takut. Mereka amat langka—dan tak bisa dihentikan... trans-
fbrmasi dari baik menjadi hebat tidak akan terjadi jika tidak dipimpin 
oleh pemimpin tingkat lima. Tidak akan terjadi.9 

GAMBAR 15.410 

Apabila orang yang memiliki kekuasaan formal atau kekuasaan 
jabatan (keagungan sekunder) menolak untuk menggunakan 
kekuasaan dan kekuatan tersebut kecuali sebagai langkah terakhir, 
maka kekuasaan moral mereka akan meningkat karena sudah jelas 
bahwa mereka menahan ego maupun kekuasaan jabatan mereka, 
dan lebih menggunakan pemikiran, persuasi, kebaikan, empati, dan, 
pada dasarnya, kelayakan untuk dipercaya. Dalam buku Leading 
Beyond the Watts, Jim Collins meletakkan prinsip ini dalam konteks 
lingkungan organisasi yang lebih luas: 

— 447 — 



THE 8TH HABIT 

— 448 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

formal (seperti Mandela, bapak Afrika Selatan yang baru), tetapi 
tidak selalu (seperti Gandhi, bapak dari India yang baru). 

Anda juga akan menemukan bahwa, hampir selalu, mereka yang 
memiliki kekuasaan formal dan menggunakannya dengan cara-cara 
yang berprinsip akan mengalami pelipatgandaan pengaruh secara 
eksponensial (seperti George Washington, bapak Amerika Serikat). 

Mengapa kewibawaan moral bisa meningkatkan efektivitas 
kewenangan dan kekuasaan formal secara eksponensial? Orang-
orang yang tergantung amat peka terhadap nuansa terhalus dari 
pengaruh orang, kesabaran, kebaikan, kelembutan, empati, dan 
persuasinya. Kekuatan karakter semacam itu akan mengaktifkan 
hati nurani orang lain dan mengundang identifikasi diri secara 
emosional dengan pemimpin dan tujuan atau prinsip yang 
diperjuangkannya. Lalu saat kekuasaan formal atau kekuatan jabatan 
juga dipergunakan, orang mengikuti untuk alasan yang benar, sebagai 
hasil dari komitmen sejati mereka, dan bukan dari rasa takut. Ini 
adalah bentuk lain dari Alternatif Ketiga. 


GAMBAR 15.5 

— 449 — 

Pertama, para eksekutif harus mendefinisikan apa yang ada di da-
lam dan di luar organisasi dengan mengacu pada nilai-nilai dan 
tujuan inti, bukan berdasarkan batas-batas tradisional. Yang kedua, 
para eksekutif harus membangun mekanisme pengaitan diri dan 
komitmen yang berakar pada kebebasan memilih, dan bukan 
bergantung pada sistem pemaksaan dan kontrol. Yang ketiga, para 
eksekutif harus menerima kenyataan bahwa pelaksanaan kepemim-
pinan sejati berbanding terbalik dengan penggunaan kekuasaan. 
Keempat, para eksekutif harus menerima kenyataan bahwa tembok-
tembok tradisional sedang runtuh dan kecenderungan ini akan terjadi 
semakin cepat.11 

Tentu saja ada saat-saat kekacauan, kebingungan, dan situasi 
genting di mana organisasi berfokus pada upaya untuk bisa bertahan 
hidup. Pada saat itu, mungkin dibutuhkan penggunaan tangan besi 
dari kekuasaan formal agar semua masuk ke jalurnya masing-masing, 
untuk mencapai tingkat keteraturan dan stabilitas atau visi yang 
baru. Sekalipun demikian, pada umumnya dapat dikatakan bahwa 
kalau sejak awal kekuasaan formal sudah digunakan, kekuasaan moral 
mereka justru akan semakin menipis. Sekali lagi, ingatlah bahwa 
bila Anda meminjam kekuatan yang muncul dari posisi, Anda membangun 
kelemahan di tiga tempat sekaligus, yaitu pada diri sendiri, 
karena Anda tidak mengembangkan kewibawaan moral; pada diri 
orang lain, karena mereka menjadi kodependen akibat penggunaan 
kekuasaan formal Anda itu; dan dalam kualitas hubungan, karena 
keterbukaan dan kepercayaan yang sejati tidak pernah berkembang. 

Cara paling pasti untuk mengungkapkan karakter seseorang 
bukanlah melalui kesulitan tetapi dengan memberinya kekuasaan. 

ABRAHAM LINCOLN 

Pada umumnya Anda akan menemukan bahwa mereka yang 
memiliki kewibawaan moral pada akhirnya akan diberi kekuasaan 


THE 8TH HABIT 

Ini adalah kunci yang sebenarnya untuk menjadi orangtua, yang 
mungkin merupakan "suara" tanggung jawab tertinggi kita dalam 
kehidupan, yaitu menggabungkan standar-standar tinggi dan nilai-
nilai yang kuat dan disiplin yang konsisten dengan kasih sayang 
tanpa syarat, empati yang mendalam dan keceriaan, dalam jumlah 
besar. Inilah sebabnya mengapa ujian yang paling berat sebagai 
orangtua—dan kunci untuk membangun sebuah budaya keluarga 
yang sehat dan menumbuhkan—adalah bagaimana kita memper-
lakukan mereka yang paling berat menguji diri kita. 

Selain itu, dalam masa-masa ekonomi yang sulit dan penuh 
masalah, ada kecenderungan alamiah untuk mundur kembali ke 
model perintah dan kontrol Era Industri, karena orang takut ke-
hilangan keamanan ekonomi mereka. Model lama dirasa lebih aman. 
Orang juga memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih tergantung 
dan memberikan respons terhadap gaya perintah dan kontrol. Tetapi 
kita berada di masa di mana model pekerja pengetahuan memiliki 
pengaruh dan kekuasaan yang terbesar, karena di masa-masa sulit 
semacam inilah kita harus bisa menghasilkan lebih banyak dengan 
sumber daya yang lebih sedikit. 

Kita akan mampu menghasilkan lebih banyak dengan sumber 
daya yang lebih sedikit bila kita membebaskan potensi manusia di 
seluruh bagian organisasi, dan bukannya jatuh kembali ke dalam 
perangkap tradisional di mana orang-orang di puncak membuat 
semua keputusan penting dan memperlakukan orang lain hanya 
sebagai tukang putar obeng. Pendekatan semacam ini sama sekali 
tidak bisa bekerja di masa-masa modern yang berat ini. 

Secara singkat, dalam kondisi ekonomi yang buruk, kita mungkin 
akan kembali ke teori keledai, wortel dan cambuk untuk motivasi 
manusia, karena hal itu memang pernah berhasil. Sekalipun dalam 
jangka pendek hal itu mungkin bisa menyelamatkan organisasi, 
dalam jangka panjang hasilnya tak akan optimal. 

Perhatikan perbandingan antara Kepemimpinan sebagai sebuah 
Jabatan (Kekuasaan Formal) dan Kepemimpinan sebagai Pilihan 
(Kewibawaan Moral) pada Tabel 10. 

— 450 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

KEPEMIMPINAN SEBAGAI... 

JABATAN (Kekuasaan Formal) 

PILIHAN (Kewibawaan Moral) 

Kekuatan menentukan kebenaran 

Kebenaran menentukan kekuatan 

Loyalitas di atas integritas 

Integritas adalah loyalitas 

Untuk bisa berjalan bersama, tunjukkan 
kepatuhan 

Doktrin penolakan sepenuh hati 

"Salah" adalah kalau tertangkap 

"Salah" adalah melakukan hal yang salah 

Orang-orang puncak tidak meyakininya 

Ethos, Pathos, Logos 

Orang-orang di puncak tidak menjalan 
kannya dalam kehidupan mereka sendiri 

Jadilah contoh atau panutan, bukan 
pengritik 

Citra adalah segalanya 

"Benar-benar menjadi... dan bukan 
sekadar terlihat..." 

"Tak ada yang memberi tahu saya" 

Tanyakan; buat rekomendasi 

Saya melakukan apa yang Anda katakan; 
tidak berhasil. Lalu bagaimana? 

"Saya bermaksud untuk...'' 

Yang ada hanya sekian 

Ada cukup banyak dan masih banyak 
sisanya 



TABEL 10 

Mari kita perhatikan contoh praktis mengenai bagaimana berbagai 
komunitas dan individu—sebagian tanpa kekuasaan formal, sebagian 
hanya dengan kewibawaan moral, dan sebagian lagi dengan 
kewibawaan moral sekaligus kekuasaan formal, termasuk seorang 
pemimpin militer hebat dan yang lain merupakan pemimpin dunia 
dan pemimpin negara—menjalankan "suara" kebijaksanaan mereka 
dalam melayani kebutuhan-kebutuhan manusia. 

SISTEM KEAMANAN MASYARAKAT 

Di Amerika Serikat dan tempat lain di berbagai penjuru dunia, 
banyak komunitas telah bisa mengurangi tingkat kriminalitas sampai 
60 persen melalui masyarakat madani (civil society)—Alternatif Ketiga. 

— 451 — 


THE 8TH HABIT 

Alternatif pertama adalah menugaskan polisi untuk menegakkan 
hukum. Alternatif kedua adalah menurunkan standar perilaku dan 
menjalani hidup dengan "membiarkan ikatan-ikatan moral 
masyarakat melemah." Alternatif Ketiganya adalah menggunakan 
kewibawaan moral dalam memberanikan dan memberdayakan para 
warga (masyarakat madani) untuk mengambil bagian secara aktif 
dalam pencegahan kejahatan dan dalam mencari maupun 
memperkarakan para penjahat. Siapa yang bisa memberikan 
kepemimpinan semacam ini? Petugas polisi yang berpatroli. 

Namun, jika para petugas itu bukan "orang-orang baik yang 
meyakinkan" (seperti yang dikatakan oleh Sheriff Baca dari L.A. 
County saat menggambarkan kriteria perekrutan untuk anggota 
polisi), bagaimana mungkin para tetangga, ayah, ibu, guru, dan 
warga negara biasa lainnya bermitra dengan polisi dalam pencegahan 
kejahatan dan dalam pengidentifikasian penjahat? Bagaimana Anda 
bisa menegakkan norma-norma dan hukum sosial tak tertulis di 
kawasan-kawasan kumuh agar mereka sama sekali tidak memberikan 
toleransi terhadap pelanggaran hukum (termasuk menyeberang jalan 
seenaknya) jika mereka tidak memiliki keterkaitan emosi di had 
mereka dengan para polisi berpangkat terendah yang bisa dipercaya? 
Ingatlah wawasan cemerlang dari sosiolog Emile Durkheim: "Jika 
aturan tidak tertulis sudah mencukupi, hukum tidak diperlukan; 
jika aturan tak tertulis tidak mencukupi, hukum tidak bisa 
ditegakkan." 

Seorang rekan kerja saya yang secara penuh waktu memberikan 
pelatihan di bidang penegakan hukum sering bertanya kepada para 
peserta pelatihannya. Mereka umumnya terdiri dari para pemimpin 
formal (sheriff, kapten, letnan), "Siapa pemimpin yang sebenarnya 
dalam sistem keamanan masyarakat?" Dari situ tampak jelas bahwa 
pemimpin yang sebenarnya adalah para petugas polisi patroli. Me-
rekalah orang-orang yang terlibat dan membangun hubungan ke-
percayaan dengan keluarga-keluarga untuk mencegah kejahatan dan 
"memberi bocoran informasi"—yang sering menimbulkan risiko besar 
bagi keluarga-keluarga itu sendiri—di lingkungan pemukiman yang 

— 452 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

penuh dengan geng, penjual, dan pemakai narkoba, dan sering terjadi 
kekerasan. Dalam situasi semacam itu, kekuasaan formal tidak bisa 
bekerja. Penggunaan kekuasaan formal justru akan kontraproduktif 
dan menimbulkan polarisasi lebih jauh dalam budaya di sana. Hanya 
kewibawaan moral yang bisa menghasilkan norma-norma pencegahan 
dan identifikasi kejahatan. Seperti kisah perumpamaan mengenai 
gembala, mereka harus mengenai domba-domba yang mereka 
gembalakan, dan sebaliknya, domba-domba mereka juga harus 
mengenai gembalanya. Itulah komunikasi sejati. Para penggembala 
memberikan perhatian amat besar sehingga mereka bersedia me-
nyerahkan hidup mereka untuk melindungi domba. Itulah mengapa 
mereka berjalan di depan dan domba-domba itu mengikuti. Para 
penggembala yang disewa bisa saja mengaku memberikan perhatian, 
tetapi sebenarnya mereka hanya ada di sana karena "ada sesuatu 
bagi mereka" (upah mereka) dan tak mempedulikan domba pada 
saat "serigala" muncul. Inilah sebabnya orang-orang sewaan harus 
berlindung di balik wortel dan cambuk. 

Para pemimpin formal sebenarnya adalah manajer, atau lebih 
baik jika dikatakan, pemimpin pelayan. Mereka bisa membantu 
menggunakan COMSTAT atau teknologi komputer lainnya untuk 
mengidentifikasi masalah yang bisa muncul, sehingga para pemimpin 
yang sesungguhnya—yaitu para petugas kepolisian yang berpatroli— 
bisa mencegahnya pada tahap yang paling awal. 

Sungguh sebuah konsep yang amat hebat! Ini adalah bantahan 
yang amat jelas terhadap mereka yang berpikir bahwa jabatan 
menunjukkan kepemimpinan! Model baru ini melihat para petugas 
polisi yang memiliki kewibawaan moral sebagai para pemimpin yang 
sebenarnya, dan mereka yang berpangkat lebih tinggi sebagai para 
manajer dari sistem yang diselaraskan, pemimpin pelayan bagi mereka 
yang berada di bawah. Bukankah ini adalah sebuah pergeseran 
paradigma, khususnya di sebuah bidang yang secara tradisional amat 
otoritarian, hierarkis, dan berdasarkan komando dan kontrol? 

— 453 — 


THE 8TH HABIT 

Mist dasarvpolisi adalab untuk MENCEGAH kejahatan dan 

penyimpangan. Masyarakat adalah polisi dan point adalah 

masyarakat, dan keduanya memiliki tanggung jawab yang sama 

untuk keselamatan masyarakat.12 

SIR ROBERT PEEL, BAPAK KEPOLISIAN MODERN 

Sistem keamanan masyarakat ini amat tepat menggambarkan 
apa yang selalu terjadi di setiap bidang perilaku manusia: Orang -
orang yang berada di baris terdepan, di lapangan, harus berusaha 
untuk bisa memengaruhi para pelanggan mereka, klien atau siapa 
pun. Merekalah pihak yang sebenarnya harus menjalankan kepemim-
pinan dengan membangun hubungan yang penuh kepercayaan dan 
menjadi pemecah masalah yang kreatif. 

JOSHUA LAWRENCE CHAMBERLAIN 

Dalam catatan sejarah militer Amerika tidak ada kisah mengenai 
orang dengan kewibawaan moral yang lebih inspiratif daripada kisah 
pahlawan Perang Saudara Joshua Lawrence Chamberlain, komandan 
Kesatuan Sukarelawan Maine ke-20 untuk Union. Chamberlain 
adalah seorang dosen di Bowdoin College. la mendapatkan cuti 
sabatikal dari pekerjaannya untuk menjawab panggilan Abraham 
Lincoln bahwa masih diperlukan banyak sukarelawan bagi tentara 
Union. Dia adalah jenis orang yang memiliki karakter dan keyakinan 
moral. Suratnya kepada Gubernur Maine diterima, dan Chamberlain 
dipanggil untuk turut bertugas. Sekalipun hanya tahu sedikit 
mengenai urusan ketentaraan, dia dengan cepat dipromosikan 
menaiki jenjang-jenjang pangkat. 

Chamberlain mungkin paling terkenal karena keberanian dan 
kepemimpinannya di Little Round Top pada Pertempuran 
Gettysburg. la mendapat perintah untuk mempertahankan ujung 

— 454 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

kiri garis depan Union, dan harus menghalangi pengepungan oleh 
tentara Konfederasi. Dia dan pasukannya mempertahankan garis 
tersebut, sampai pasukan tersebut kehabisan amunisi. Dia tidak 
mau menyerah, dan memerintahkan resimen itu untuk "memasang 
bayonet." Dalam kata-kata Chamberlain sendiri: 

Pada saat yang amat genting itu, saya memerintahkan untuk memasang 
bayonet. Kata-kata itu saja sudah cukup. Kata itu menjalar 
seperti api sepanjang garis depan, dari orang ke orang, dan sambil 
berteriak, mereka menerjang ke arah musuh, yang sekarang berjarak 
tidak sampai 30 meter. Efeknya mengejutkan. Banyak dari tentara 
garis depan musuh yang melemparkan senjata mereka dan menyerah. 
Seorang perwira menembakkan pistolnya ke arah kepala saya dengan 
satu tangan, dan mengayunkan pedangnya dengan tangan yang 
lain. Kami menahan mereka dengan tangan kanan kami yang 
memegang senapan dengan bayonet, dan mengayunkan pedang 
dengan tangan kiri kami, kami membuat sebuah "putaran ke kanan," 
sebelum akhirnya garis musuh terputus dan jatuh, bertempur dari 
pohon ke pohon, banyak yang berhasil kami tangkap, sampai kami 
berhasil menyapu lembah tersebut dan membersihkan garis depan 
untuk hampir seluruh brigade kami.13 

Banyak orang yang menganggap bahwa kemenangan karena 
keberanian tekad di Little Round Top inilah yang menjadi penentu 
Pertempuran Gettysburg dan Perang Saudara. Chamberlain mendapat 
kehormatan untuk menerima senjata dari unit Konfederasi pertama 
yang menyerah di Appomattox. Pada akhir peperangan dia dipromosikan 
menjadi mayor jenderal dan selanjutnya mendapat 
Bintang Kehormatan Kongres karena yang dilakukannya di Little 
Round Top. 

Bertahun-tahun kemudian, sebagai penghargaan pada segala yang 
telah dilakukannya, kawan-kawan dan mantan rekan-rekan satu 
pasukannya memberinya hadiah berupa sebuah patung kuda jantan 
dari batu berwarna abu-abu berbintik-bintik putih. Dengan rendah 

- 455 -


THE 8TH HABIT 

hati dan tidak mementingkan diri sendiri, dengan anggun dia 
menerima hadiah tersebut, lalu menambahkan, "Tidak ada pengor-
banan atau pelayanan dan saya yang menuntut imbalan lain, di luar 
apa yang diberikan oleh hati nurani kepada setiap manusia yang 
menjalankan tugasnya."14 

PRESIDEN KIM DAE-JUNG 

Saya mendapatkan kehormatan untuk mengajar Presiden Kim dari 
Korea Selatan dan beberapa penasihatnya di Gedung Biru di Seoul, 
Korea. Ketika sesi itu hampir berakhir, Presiden Kim bertanya, "Dr. 
Covey, apakah Anda benar-benar meyakini hal-hal yang Anda 
ajarkan?" Saya tercengang mendengarkan pertanyaan ini dan 
merenungkannya. Setelah berhenti sejenak saya mengatakan, "Ya, 
saya yakin." Lalu dia bertanya, "Bagaimana Anda tahu bahwa Anda 
yakin?" Saya menjawab, "Saya mencoba untuk menjalani apa yang 
saya ajarkan ini dalam kehidupan saya. Saya tahu saya masih banyak 
kekurangannya, dan sering tidak konsisten, tetapi saya selalu kembali 
untuk menjalankan prinsip-prinsip itu. Saya meyakininya, terilhami 
olehnya, dan saya terus kembali menjalankan prinsip-prinsip itu." 

Dia menjawab, "Hal itu masih belum cukup baik bagi saya." 
Saya menjawab, "Saya lebih baik mendengarkan Anda." Dia bertanya, 
"Apakah Anda siap untuk mati demi membela hal itu?" Saya 
mengatakan, "Saya merasa bahwa Anda ingin mengatakan sesuatu 
kepada saya." Dia memang sedang mencoba untuk mengatakan 
sesuatu kepada saya. Dia melanjutkan dengan kisahnya mengenai 
bagaimana ia bertahun-tahun mendapat kekangan hukum, 
diasingkan, dipenjarakan, dan tentang beberapa upaya pembunuhan, 
termasuk dimasukkan ke dalam karung yang diisi dengan batu, 
dilemparkan ke Laut China, dan diselamatkan oleh helikopter CIA. 
Dia menceritakan kepada saya tekanan yang dibebankan kepadanya 
untuk bekerja sama dengan rezim militer di utara. Dia bahkan 

— 456 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

pernah ditawari jabatan presiden tetapi dia menolaknya, karena 
mengetahui bahwa pada akhirnya dia hanya akan menjadi boneka 
dari kediktatoran. Mereka mengancam untuk membunuhnya jika 
tidak bersedia mematuhi mereka. Dia berkata, "Kalau begitu bunuh 
saja saya, karena jika Anda membunuh saya, saya hanya akan mati 
satu kali, tetapi jika saya bekerja sama dengan Anda, saya akan 
mati 100 kali setiap hari sampai akhir hidup saya." 

Dia menceritakan kepada saya kisah kesetiaan dan dukungan 
dari keluarganya dalam ujian panjang yang menyiksanya. Dia juga 
bercerita mengenai imannya sebagai orang yang baru memeluk 
agama Kristen dan keyakinannya yang mendalam pada manusia 
maupun kekuatan yang luar biasa dari demokrasi. Dia mengomu-
nikasikan keyakinannya mengenai nilai dan potensi yang ada di 
dalam diri setiap manusia, dan keyakinannya akan hak untuk meng-
ekspresikan diri. Dia memberikan kepada saya sebuah buku yang 
amat pribadi, berisi surat-surat yang dia tulis kepada orang-orang 
yang dicintainya saat dia dipenjara, berisi keyakinan dan komit-
mennya yang mendalam. 

Saya sekarang memahaminya. Setiap pria memberikan hidupnya 

pada apa yang diyakininya. Setiap wanita memberikan hidupnya 

pada apa yang diyakininya. Kadang-kadang orang hanya meyakini 

sedikit hal atau tidak meyakini apa pun, sehingga mereka hanya 

memberikan sedikit atau tidak memberikan apa pun. . 15 

JOANNE D'ARC 

KEWIBAWAAN MORAL SEBAGAI EKOSISTEM 

Saya pernah bekerja dengan presiden sebuah negara Dunia Ketiga 
yang banyak mengalami korupsi, kekerasan, pemberontakan, dan 
peperangan yang terus berjalan selama bertahun-tahun. Presiden 

— 457 — 

Soya sekarang memahaminya. Setiap pria memberikan hidupnya 

pada apa yang diyakininya. Setiap wanita memberikan hidupnya 

pada apa yang diyakininya. Kadang-kadang orang hanya meyakini 

sedikit hal atau tidak meyakini apa pun, sebingga mereka hanya 

memberikan sedikit atau tidak memberikan apa pun. . 15 

JOANNE D'ARC 


THE 8TH HABIT 

tersebut adalah orang yang memiliki keberanian yang hebat. Dia 
dengan berani menyuarakan pentingnya aturan hukum dan 
konstitusi, dan tak mau kompromi dengan para teroris dan organisasi 
teroris. Dia menjadi semakin dipercaya dan amat populer. Saya 
bertanya kepadanya apa warisan yang ingin dia tinggalkan sehingga 
pekerjaannya bisa berjalan terus dan terlembagakan. Saat kami 
berbicara, menjadi semakin jelas bagi dirinya bahwa kewibawaan 
moral pribadi tidak cukup. Dia bisa melihat perlunya kewibawaan 
moral visioner dan kewibawaan moral institusi sehingga rakyatnya 
bisa menerima visinya untuk menciptakan kedamaian melalui 
penegakan hukum dan kemakmuran melalui komunikasi Alternatif 
Ketiga/sinergis, dan bahwa prinsip-prinsip yang mendasarinya harus 
dicangkokkan ke dalam struktur dan sistem pemerintahan. Lalu 
secara perlahan-lahan, sebuah masyarakat madani bisa berkembang 
dengan kewibawaan moral budaya—di mana norma-norma dan 
aturan tak tertulis pada masyarakat bisa menopang aturan-aturan 
hukum, mendorong munculnya pemikiran bahwa masyarakat harus 
ikut mencegah kejahatan, dan ikut bertanggung jawab atas keamanan 
masyarakat, bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan dan 
pendidikan masyarakat umum. Dia bisa merasakan bagaimana model 
yang mendasari Kebiasaan Ke-8, yaitu "Menemukan Suara Anda 
dan Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka", 
menggambarkan keempat bentuk kewibawaan moral ini. 

Kewibawaan moral budaya selalu berkembang secara amat lambat, 
seperti yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat. 
Sekalipun demikian, amat berguna untuk melihat seperti apa 
ekosistem dari keempat jenis kewibawaan moral tersebut—bagaimana 
semua itu saling berkaitan dan saling tergantung, seperti 
sebuah ekosistem fisik. Esensi dari kebijaksanaan adalah melihat 
keterkaitan dari segala hal. 

— 458 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

GANDHI 

Mahatma Gandhi adalah fenomena yang luar biasa. Cara mudah 
untuk mempelajari kehidupannya adalah melalui film Gandhi. Dalam 
film tersebut, Anda akan melihat seseorang yang memiliki kelemahan 
dan kebanggaan diri, tetapi sekaligus juga seseorang yang 
menggunakan anugerah sejak lahir yang diberikan kepadanya untuk 
mengembangkan sikap rendah hati, keberanian, integritas, disiplin, 
dan visi. Anda akan melihat seseorang yang menundukkan kecerdasan 
otaknya di bawah arahan hati nurani, sehingga kecerdasan otaknya 
ia tundukkan pada kecerdasan spiritualnya. Anda akan melihat 
seseorang yang merasa harus mendapatkan hubungan yang penuh 
kepercayaan dengan istrinya sebelum dia bisa mengembangkan 
kemerdekaan, kekuatan, dan kewibawaan moral untuk membawa 
kerumunan besar rakyat India yang marah menuju Alternatif Ketiga 
yang lebih tinggi, sehingga mencapai titik di mana mereka bersedia 
menyerahkan hidup mereka demi tujuan yang mereka yakini 
bersama. Anda akan melihat seseorang yang hidupnya menggambarkan 
kekuatan kebijaksanaan Yunani kuno, "Kenali dirimu, kendalikan 
dirimu, berikan dirimu." 

Gandhi adalah sebuah contoh yang amat indah dari seseorang 
yang mengembangkan kewibawaan moral yang luar biasa melalui 
visi, disiplin, dan gairah yang dipandu oleh hati nurani—dan dunia 
menjadi tempat yang berbeda karena dirinya. India, negara terbesar 
kedua di dunia, dengan lebih dari satu milyar manusia, menjadi 
negara demokrasi merdeka karena dirinya. Bukankah amat luar biasa 
bahwa dia tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan dan tak 
memiliki kekuasaan formal? Dia sendiri mengatakan bahwa orang 
biasa mana pun yang menggunakan kekuatan yang dimilikinya bisa 
melakukan hal yang sama. 

Saat Anda menyaksikan film Gandhi, yang memenangkan 
Academy Award untuk Film Terbaik pada tahun 1982, pelajari 
nuansa kata-kata dan ekspresi wajah, mengenai inisiatif dan reaksinya, 
mengenai pengembangan aturan tak tertulis, norma-norma, nilai-

— 459 — 


THE 8TH HABIT 

nilai, tujuan, dan visi. Ini adalah film yang layak ditonton dengan 
orang-orang yang Anda cintai dan rekan-rekan kerja Anda. 

ANUGERAH SEJAK LAHIR, PENGARUH BUDAYA, 
DAN KEBIJAKSANAAN 

Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain Untuk 
Menemukan Suara Mereka mengungkapkan bagaimana, sedikit demi 
sedikit, dengan memanfaatkan anugerah bawaan yang kita miliki 
sejak lahir, kita bisa memperkenalkan sebuah budaya baru, yang 
dengan menggunakan metafora komputer bisa kita sebut sebagai 
perangkat lunak. Komputer sehebat apa pun tak bisa beroperasi 
tanpa perangkat lunak. Individu, organisasi, dan masyarakat juga 
tidak bisa beroperasi di luar aturan-aturan budaya tak tertulis, norma-
norma, dan keyakinan mereka—kecuali jika Anda adalah Muhammad 
Yunus (lihat Bab 1), yang visinya mengenai manusia, disiplinnya, 
dan semangatnya dikuatkan dan diarahkan oleh hati nuraninya, 
sehingga pada akhirnya perangkat lunak yang lama bisa tergantikan. 
Berkat orang seperti Muhammad Yunus itu, bukan hanya orang per 
orang saja yang berubah, tetapi paradigma yang kaku dan 
mengekang, yang selama ini hidup di lingkungan keluarga, lembaga, 
dan masyarakat juga berubah. Cerita mengenai Muhammad Yunus 
itu merupakan gambaran yang indah mengenai bagaimana kita bisa 
mengatasi prasangka atau penghakiman tanpa dasar. Anda bisa 
melihat bagaimana kerendahan hati Yunus, dan keberaniannya 
membuahkan integritasnya, dan pada gilirannya juga membuahkan 
kebijaksanaan dan mentalitas berkelimpahannya. 

Anda juga bisa melakukan hal yang sama. Anda bisa membuat 
"Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk 
Menemukan Suara Mereka" sebagai sebuah kebiasaan yang akan 
membentuk PENGETAHUAN, SIKAP, dan KEAHLIAN. Anda 
tinggal mendengarkan hati nurani Anda, yang merupakan sumber 
kebijaksanaan Anda sendiri, dan memerhatikan bagaimana Anda 
bisa melihat pengaruh budaya atau perangkat lunak yang cacat 

— 460 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

pada berbagai tingkatan kebutuhan manusia yang dijelaskan di bawah 
ini. Masing-masing muncul dalam bentuk sebuah dilema. 

Pada tingkat pribadi, tidakkah Anda akan sepakat bahwa manusia 
menginginkan kedamaian pikiran dan hubungan yang baik, tetapi tidakkah 
Anda akan juga sepakat bahwa manusia ingin mempertahankan 
kebiasaan-kebiasaan dan gaya hidup mereka? Apa yang akan dikatakan 
oleh hati nurani yang telah dipenuhi dengan kebijaksanaan? Tidakkah 
Anda akan setuju bahwa seseorang, dengan salah satu cara, perlu 
memenangkan sebuah kemenangan pribadi dengan mengorbankan 
apa yang dia inginkan untuk tujuan yang lebih tinggi dan lebih 
penting, demi sesuatu yang benar? 

Ambillah dilema pada tingkat hubungan. Tidakkah Anda akan 
setuju bahwa hubungan dibangun atas dasar kepercayaan? Tidakkah 
Anda juga setuju bahwa sebagian individu lebih banyak berpikir mengenai 
"aku"—keinginanku, kebutuhanku, hak-hakku? Apa yang akan 
dikatakan oleh kebijaksanaan? Tidakkah kebijaksanaan akan membuat 
kita berfokus pada prinsip-prinsip pembangun kepercayaan dan 
kesediaan untuk mengorbankan "aku" demi "kita"? 

Mari melihat dua dilema pada tingkat organisasional. Tidakkah 
sudah biasa bahwa manajemen menginginkan hasil lebih banyak dengan 
sumber daya lebih sedikit, yakni produktivitas lebih besar dengan biaya 
lebih rendah, dan bahwa karyawan menginginkan untuk mendapatkan 
lebih banyak dengan memberikan lebih sedikit waktu dan upaya? Tidakkah 
ini sebuah fenomena yang sudah umum? Apa yang akan dikatakan 
oleh kebijaksanaan? Bagaimana kalau kita mengembangkan misi 
bersama dan dengan semangat menang-menang bersepakat untuk 
meraih kinerja Alternatif Ketiga, dengan mengorbankan pendekatan 
yang menekankan kontrol atau merendahkan orang lain, dan lebih 
menekankan pemberdayaan, sehingga pihak manajemen dan karyawan 
sama-sama bisa membebaskan potensi manusiawinya dan 
menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya lebih sedikit? 

Ambillah dilema organisasional yang amat sering ditemui— 
pikirkan dengan hati-hati mengenai hal ini—tidakkah bisnis 

— 461 — 


THE 8TH HABIT 

dijalankan oleh aturan-aturan ekonomi di pasar? Tetapi pikirkan juga 
mengenai hal ini—tidakkah organisasi dijalankan oleh aturan-aturan 
budaya di tempat kerja? Dengan kata lain, ada dua himpunan aturan 
yang berbeda yang bekerja—aturan-aturan ekonomi dan budaya. 
Apa yang dikatakan oleh kebijaksanaan? Bagaimana jika Anda bisa 
membawa pasar ke dalam budaya di tempat kerja sehingga setiap 
orang dan tim, dengan menggunakan kriteria yang berprinsip, akan 
memiliki akses terhadap informasi 360-derajat dan/atau Papan Skor 
yang seimbang? Tidakkah informasi ini, bila digabungkan dengan 
imbalan ekstrinsik sekaligus intrinsik, akan menciptakan sebuah 
rangsangan alamiah bagi mereka untuk sepenuhnya berfokus pada 
kebutuhan manusia di pasar dan kebutuhan semua pemegang 
kepentingan? 

Anda bahkan dapat menerapkan kebijaksanaan ini pada masyarakat 
untuk menghadapi dilema fundamentalnya. Secara singkat, tidakkah 
Anda setuju bahwa masyarakat berjalan sesuai dengan nilai-nilai sosialnya 
yang dominan? Tetapi juga, tidakkah Anda sepakat bahwa masyarakat 
harm hidup dengan konsekwensi dari tindakan-tindakan yang melanggar 
hukum alam dan prinsip? Bagaimana jika Anda bisa menyelaraskan 
nilai-nilai sosial, aturan-aturan tak tertulis, dan hukum-hukum 
dengan prinsip-prinsip dan mengorbankan kepentingan-kepentingan 
khusus demi kesejahteraan bersama? 

Bisakah Anda melihat bagaimana konteks yang lebih besar dari 
kebijaksanaan dalam melayani kebutuhan manusia bisa memecahkan 
dilema-dilema semacam ini? Bisakah Anda melihat juga mengapa 
pengorbanan menjadi sesuatu yang harus dilakukan? Pengorbanan 
berarti berhenti melakukan sesuatu yang baik untuk melakukan 
sesuatu yang lebih baik lagi, sehingga bila visi Anda untuk mencapai 
suatu memang kuat, Anda tidak akan menyebutnya sebagai 
pengorbanan, sekalipun seorang pengamat dari luar akan me-
nyatakannya demikian. Jenis pengorbanan yang jelas menyentuh 
hati seperti itulah yang menjadi inti dari kewibawaan moral. 

— 462 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

PEMECAHAN MASALAH MELALUI SEBUAH MODEL 
BERPUSATKAN PADA PRINSIP 

Telah saya katakan di awal buku ini bahwa jika Paradigma Pribadi 
Utuh dari kodrat manusia memang akurat, hal itu mestinya akan 
memberikan sebuah kemampuan yang hebat bagi Anda untuk 
menjelaskan, memprediksi, dan mendiagnosis masalah-masalah 
terbesar di dalam organisasi Anda. Saya bersungguh-sungguh. Saya 
benar-benar yakin bahwa model pribadi utuh yang sederhana, dan 
proses pengembangan yang sederhana itu adalah kesederhanaan yang 
didapat setelah melewati kerumitan. 

Selama bertahun-tahun saya telah bertanya kepada ratusan ribu 
orang di seluruh dunia untuk mengidentifikasi satu tantangan pribadi 
mereka yang terbesar—tantangan yang membuat mereka tetap 
terjaga pada malam hari. Lalu saya bertanya kepada orang-orang itu 
untuk mengidentifikasi satu masalah profesional atau organisasional 
yang terbesar. Berikut adalah ringkasan dari jawaban yang paling 
sering diberikan (perhatikan kemiripannya dengan rasa sakit dan 
tantangan yang disebutkan pada bagian awal buku ini): 

TANTANGAN PRIBADI 

TANTANGAN PROFESIONAL/ORGANISASIONAL 

1. Finansial, uang 

1. 

Beban kerja, tenggat waktu—tidak mampu 
mencapai sasaran 

2. Keseimbangan hidup, tidak cukup 
waktu 

2. 

Waktu dan sumber daya tidak memadai 

3. Kesehatan 

3. 

Bertahan secara finansial 

4. Hubungan—pasangan, anak, 
teman 

4. 

Rendahnya kepercayaan 

5. Membesarkan dan mendisiplinkan 
anak-anak 

5. 

Kegagalan pemberdayaan 

6. Keraguan diri 

6. 

Perubahan dan ketidakpastian 

7. Ketidakpastian, perubahan 

7. 

Terus mengikuti perkembangan teknologi 

8. Kurangnya keahlian atau 
pendidikan 

8. 

Rasa bingung —kurangnya visi dan nilai-nilai 
bersama 

9. Kekurangan makna 

9. 

Kepuasan kerja—tidak menikmati pekerjaan 

10. Tidak adanya kedamaian 

10 

Kurangnya integritas pada diri atasan/manajemen 
puncak 



TABEL 11 

— 463 — 


THE 8TH HABIT 

Sekali lagi, saya yakin bahwa Anda bisa mengambil tantangan 
pribadi atau organisasi mana pun dan dengan kerangka prinsip yang 
di dalam buku ini dibentuk ke dalam tiga model keagungan, Anda 
akan mengetahui bagaimana cara memecahkan masalah itu. Coba 
ambil tantangan mana pun yang Anda hadapi, dan pikirkan 
mengenai apa yang bisa Anda lakukan melalui visi, disiplin, gairah, 
hati nurani, dan 7 Kebiasaan secara pribadi, dengan menjadi panutan, 
merintis jalan, menyelaraskan, dan memberdayakan sebagai seorang 
pemimpin, dan dengan menunjukkan kejelasan visi, komitmen, 
penerjemahan, sinergi, dan upaya yang membuat orang lain lebih mampu 
serta akuntabilitas dalam konteks misi, visi, dan nilai-nilai di dalam 
sebuah organisasi. Seperti hubungan ekologis antara keempat dimensi 
kewibawaan moral, Anda akan menemukan sebuah ekologi dan 
urutan yang mendalam antara model-model keagungan dan berbagai 
unsurnya di dalam memecahkan tantangan-tantangan Anda. Lihat 
lagi model fokus dan pelaksanaan yang berprinsip yang ditunjukkan 
pada Gambar 15.6. 


GAMBAR 15.6 

— 464 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

Anda mungkin juga tertarik untuk melihat seberapa praktis 
kerangka kerja buku ini dengan melihat ke Lampiran 7 mengenai 
Kisah Max dan memerankan diri sebagai bilah kemudi kecil. 
Lampiran 7 menunjukkan bagaimana Max dan Pak Harold bisa 
menggunakan lensa pemecahan masalah dari 4 Peran Kepemimpinan 
untuk mentransformasikan cara kerja mereka dan memecahkan 
tantangan-tantangan terberat mereka. 

Pertimbangkan lebih jauh lagi kekuatan menyeluruh dari model 
pribadi utuh (tubuh, pikiran, hati, dan jiwa). Paradigma pribadi 
utuh itu berurusan dengan keempat kecerdasan—IQ, EQ, PQ, dan 
SQ. Hal itu mewakili empat motivasi/kebutuhan—untuk hidup, 
mencintai, belajar, meninggalkan warisan. Hal itu mewakili empat 
atribut kepemimpinan pribadi—visi, disiplin, gairah, dipandu oleh 
hati nurani. Pada akhirnya, hal itu mewakili keempat atribut secara 
lebih luas pada organisasi (termasuk keluarga) dalam bentuk empat 
peran—menjadi panutan, merintis jalan, menyelaraskan, dan 
memberdayakan (lihat Gambar 15.7). 


GAMBAR 15.7 

Menemukan Suara Anda adalah sebuah konsep sinergis yang 
menegaskan bahwa suatu kesatuan utuh lebih besar daripada jumlah 
dari tiap-tiap bagiannya, sehingga jika Anda menghargai, 

— 465 — 


THE 8TH HABIT 

mengembangkan, mengintegrasikan, dan menyeimbangkan keempat 
bagian dan kodrat Anda tersebut, Anda akan berada di jalur yang 
mewujudkan potensi Anda sepenuhnya dan mencapai pemenuhan 
yang bertahan lama. 

Bukalah hati Anda. Ambillah pendekatan pribadi utuh—tubuh, 
pikiran, hati, dan jiwa—dan lihatlah betapa hebatnya ungkapan 
"bukalah hati Anda" itu. Secara fisik, jagalah pembuluh darah Anda 
agar tetap bersih dengan mengatur pola makan dan olahraga yang 
benar, sehingga jantung Anda kuat dan sehat. Bukalah hati Anda 
secara emosional sehingga Anda bersedia melibatkan orang lain dalam 
masalah yang Anda hadapi dan mencari solusi bersama-sama, dan 
mendengarkan secara mendalam untuk memahami. Bukalah hati 
Anda secara mental sehingga Anda secara terus-menerus belajar, 
melihat manusia sebagai pribadi utuh, dan membebaskan diri Anda 
dari pemikiran "serba pintas", sehingga kepemimpinan benar-benar 
menjadi pilihan Anda. Bukalah hati Anda secara spiritual sehingga 
kehidupan Anda didasari oleh kebijaksanaan yang lebih tinggi, oleh 
hati nurani ilahi yang menjunjung tinggi etika yang mengajarkan 
untuk "mencari diri dengan cara merendahkan diri melalui pelayanan 
terhadap orang lain"—mencapai kebaikan dengan melakukan ke-
baikan dengan sebaik-baiknya. 

Gabungkan semua kecerdasan Anda dan bulatkan tekad, dan 
bekerjalah dengan semangat Winston Churchill: "Bagi setiap manusia 
akan tiba saat-saat istimewa di dalam kehidupannya ketika secara 
metaforis dia ditepuk di bahu dan diberi tawaran untuk melakukan 
sesuatu yang istimewa, yang amat unik baginya, dan sesuai benar 
dengan bakat-bakatnya. Betapa tragisnya jika pada saat itu dia tidak 
siap atau tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk pekerjaan 
yang akan merupakan saat-saat terbaiknya itu." 

— 466 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

KESIMPULAN 

Buku ini pada dasarnya mencoba untuk mengajarkan satu paradigma 
dasar: bahwa manusia adalah manusia utuh—tubuh, pikiran, hati, 
dan jiwa. Saat seseorang menjalankan proses Kebiasaan ke-8 secara 
berurutan, yaitu "menemukan suaranya sendiri", lalu membuat pilihan 
untuk memperluas pengaruhnya dengan "mengilhami orang lain 
untuk menemukan suara mereka", dia meningkatkan kebebasan 
dan kemampuan memilihnya untuk memecahkan tantangan-tan-
tangan terbesarnya dan melayani berbagai kebutuhan manusia. Dia 
juga belajar bagaimana kepemimpinan pada akhirnya merupakan sebuah 
pilihan^ bukan jabatan, sehingga kepemimpinan, seni yang me-
mampukan orang lain itu, bisa tersebar secara meluas di dalam 
organisasi dan masyarakat, dan dengan demikian kita memimpin 
(memberdayakan) manusia, sementara kita mengelola atau mengon-
trol barang-barang. 

Menyangkut paradigma manusia, kita telah belajar bahwa dari 
dirinya sendiri setiap manusia amat berharga, dan dianugerahi dengan 
potensi maupun kapasitas yang luar biasa dan hampir tak terbatas. 
Kita telah belajar bahwa jalur untuk memperbesar kapasitas tersebut 
adalah dengan memanfaatkan sebaik mungkin anugerah dan bakat-
bakat kita itu. Lalu, hampir seperti bunga yang bermekaran di 
musim semi, anugerah dan bakat-bakat yang lain akan diberikan 
atau terbuka bagi kita, dan kapasitas "yang telah terpasang" pada 
keempat bagian kodrat kita akan mendapatkan pembebasan sehingga 
kita bisa menjalani sebuah kehidupan yang seimbang, terintegrasi 
dan memiliki daya pengaruh. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi. 
Jika kita mengabaikan anugerah dan bakat-bakat kita, seperti otot 
yang tidak dipakai, semuanya akan mengerut atau menyusut dan 
lenyap. 

Kita juga telah belajar bahwa budaya tempat kita hidup dan 
bekerja telah "memrogram" kita agar menjadi biasa-biasa saja. Seperti 
perangkat lunak, budaya kita mengkondisikan kita untuk mencapai 
kinerja jauh di bawah potensi kita yang sebenarnya. Kalau kita 

— 467 — 


THE 8TH HABIT 

tidak memperlakukan manusia sebagai pribadi utuh, sama saja kita 
memperlakukannya sebagai barang, dengan mencoba mengontrol 
dan mengelolanya. Paradigma Era Industri yang mengandalkan 
kontrol dan komando membuat orang percaya bahwa sumber 
kekayaan yang terbesar terletak pada modal dan peralatan, bukan 
pada manusia. Kita juga telah belajar bahwa kita memiliki 
kemampuan untuk memrogram ulang perangkat lunak tersebut, 
dan kekuatan ini akan mengilhami kita untuk memimpin (mem-
berdayakan) manusia, yang memiliki kekuatan untuk memilih, dan 
mengelola barang, yang tak bisa memilih. 

Paradigma proses perkembangan kita menjawab pertanyaan-
pertanyaan "bagaimana" dan "kapan", dan mengajarkan pada kita 
untuk terlebih dahulu mengalahkan diri kita dengan menge-
sampingkan apa yang kita inginkan sekarang untuk mendahulukan 
apa yang kita inginkan nanti. Prosesnya akan semakin menarik karena 
proses itu akan semakin hebat dalam memperluas pilihan dan 
kapasitas kita. Jika kita mengikuti prinsip-prinsip (yang disimbolkan 
dengan sebuah kompas yang selalu menunjuk ke arah utara), kita 
secara perlahan-lahan akan mengembangkan kewibawaan moral. 
Orang lain akan memercayai kita, dan jika kita benar-benar meng-
hargai mereka, melihat nilai diri dan potensi mereka, dan melibatkan 
mereka, kita bisa sampai pada tahap memiliki visi bersama. Jika 
melalui kewibawaan moral kita (keagungan primer), kita raen-
dapatkan kekuasaan formal atau jabatan (keagungan sekunder), kita 
bisa secara bersama-sama melembagakan prinsip-prinsip ini, sehingga 
tubuh dan jiwa akan bisa terus-menerus dipelihara. Akibatnya, kita 
akan memiliki kebebasan dan kemampuan yang luar biasa untuk 
memperluas dan memperbesar darma bakti kita. Secara singkat, 
kepemimpinan yang mengilhami orang agar dengan sukarela mengikuti 
kita hanya akan muncul jika kita meletakkan pelayanan di atas 
kepentingan diri kita. 

— 468 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

Organisasi, baik swasta maupun pemerintahan, belajar bahwa 
mereka hanya akan bisa bertahan secara berkelanjutan jika mereka 
melayani kebutuhan-kebutuhan manusia. Sekali lagi, prinsipnya 
adalah pelayanan melampaui diri sendiri. Itulah unsur pembentuk 
kesuksesan yang sesungguhnya. Ini bukan mengenai "apa bagian 
saya," tetapi mengenai "apa yang bisa saya sumbangkan?" 

Saya mencari Tuhan dan tak bisa menemukan-Nya. 

Saya mencari jiwa saya dan jiwa saya menghindari saya, 

Saya mencari saudara saya untuk melayani kebutuhannya, 

Dan saya menemukan ketiganya—Tuhan saya, jiwa saya, dan 

saudara. 

BEBERAPA RATA AKHIR 

Bagi Anda, para pembaca, sekali lagi saya ingin menegaskan nilai 
dan potensi yang ada pada diri Anda. Dengan tulus saya berharap 
prinsip-prinsip di dalam buku ini telah saya komunikasikan dengan 
cukup jelas, sehingga Anda tidak hanya bisa melihat nilai dan potensi 
di dalam diri Anda, tetapi juga dapat Menemukan Suara Anda dan 
dapat menjalani kehidupan yang agung dengan mengilhami banyak 
orang, organisasi, dan masyarakat untuk menemukan suara mereka. 

Bahkan jika Anda tinggal di sebuah lingkungan yang mengerikan, 
dalam kondisi semacam itu Anda akan bisa menemukan panggilan 
Anda untuk memilih respons Anda. Itulah saatnya "kehidupan 
memanggil kita" untuk melayani kebutuhan orang-orang di sekeliling 
kita. Dalam melakukan hal inilah kita menemukan "suara" sejati 
kita dalam kehidupan. Haddon Klingberg, Jr., penulis biografi Viktor 
dan Elly Frankl, When Life Calls Out to Us (satu dari dua proyek yang 

— 469 — 

Saya mencari Tuhan dan tak bisa menemukan-Nya. 

Saya mencari jiwa saya dan jiwa saya menghindari saya, 

Saya mencari saudara saya untuk melayani kebutuhannya, 

Dan saya menemukan ketiganya—Tuhan saya, jiwa saya, dan 

saudara. 

ANONIM 


THE 8TH HABIT 

dikerjakannya sebelum meninggal dunia), mengartikulasikan tema 
sentral dari kehidupan Frankl ini sebagai berikut: 

Bagi Frankl, karena spiritualitas dalam esensinya adalah transendensi 
diri, spiritualitas akan membawa kebebasan manusia. Kebebasan di 
sini lebih merupakan kebebasan untuk daripada kebebasan dari. 
Kita tidak bebas dari kodrat biologis kita, baik itu dorongan naluriah, 
warisan genetik, atau kemampuan maupun ketidakmampuan dari 
otak dan tubuh kita. Kita juga tidak bebas dari pengaruh sosial, 
perkembangan, dan lingkungan. Tetapi kita bebas untuk mengambil 
pendirian terhadap itu semua, bahkan untuk melawannya. Kita 
bebas untuk melakukan apa yang kita inginkan dengan kartu-
kartu yang telah kita dapatkan, untuk memilih respons apa yang 
akan kita buat terhadap kejadian-kejadian yang menentukan nasib 
kita, untuk menentukan tujuan atau orang yang akan menerima 
pengabdian kita. 

Dan kebebasan untuk ini membawa sebuah kewajiban untuk. 
Masing-masing dari kita memiliki tanggung jawab terhadap sesuatu, 
kepada seseorang. Dengan mempergunakan kebebasan untuk ber-
tindak yang kita miliki secara bertanggung jawab di dunia ini, kita 
akan menemukan makna dalam hidup kita. Baru saat keinginan 
kita untuk mencari makna ini mengalami frustrasi, kita bertekad 
mencari kesenangan pribadi (Freud), atau mencari keberhasilan 
finansial dan sosial (Adler). 

Saat seseorang melaksanakan kebebasan dan tanggung jawab 
spiritualnya, akan ada berbagai hasil: kedamaian pikiran, hati nurani 
yang baik, dan kepuasan. Hal ini akan timbul secara alamiah—bisa 
dikatakan sebagai hasil sampingan. Tetapi usaha untuk mengejar 
itu semua secara langsung akan membuat pencapaiannya justru 
tidak mungkin atau peluangnya justru tertutup. Upaya keras untuk 
menemukan kedamaian pikiran justru membuat seseorang tegang. 
Berkonsentrasi untuk meraih hati nurani yang baik mungkin justru 
akan membuat kita munafik atau merasa bersalah—atau keduanya 
sekaligus. Menjadikan kesehatan sebagai tujuan utama mungkin 

— 470 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

akan menyebabkan hipokondria, yaitu suatu kelainan jiwa di mana 
seseorang begitu takut terhadap kemungkinan dirinya kena penyakit 
tertentu. Bagi Frankl, itu semua bukanlah tujuan akhir yang perlu 
diraih demi tujuan itu sendiri. Baginya, hal itu akan mengikuti 
secara alamiah bagi orang yang hidup demi sesuatu yang lain, 
sesuatu yang lebih besar.16 

Dengan keyakinan saya yang paling mendalam, saya ingin 
meneguhkan Anda dengan kata-kata Jenderal Joshua Lawrence 
Chamberlain: 

Inspirasi mengenai sebuah tujuan mulia yang melibatkan ke-
pentingan banyak orang memungkinkan seseorang untuk melakukan 
hal-hal yang tidak mereka impikan bisa mereka lakukan 
sebelumnya, dan tidak bisa mereka lakukan sendiri. Kesadaran akan 
kebersamaan, secara vital, dengan sesuatu yang lebih besar daripada 
individualitas, dan kesadaran bahwa kita merupakan bagian dari 
sebuah kepribadian yang jangkauannya dalam dimensi waktu dan 
tempat sama sekali tak kita ketahui, akan memperbesar hati kita 
hingga mencapai batas-batas ideal jiwa, dan membangun karakter 
yang tertinggi.17 

KAKEK SAYA, Stephen L Richards, adalah salah seorang mentor 
yang paling berpengaruh bagi saya. Cinta, penghormatan, dan 
kekaguman saya terhadapnya tidak ada batasnya. Kehidupannya 
sepenuhnya diserahkan untuk melayani orang lain. Mereka yang 
mengenalnya menganggapnya sebagai salah seorang yang paling 
bijaksana yang pernah mereka kenal. Saya menutup buku ini dengan 
rasa syukur atas semboyan hidup yang dia bagikan kepada saya: 

Kehidupan adalah misi dan bukan sebuah karier, dan tujuan dari 
semua pendidikan maupun pengetahuan kita adalah agar kita bisa 
lebih baik mewakili Dia dan melayani misi kehidupan itu dalam 
nama-Nya dan menuju tujuan-tujuan-Nya. 

— 471 — 


THE 8TH HABIT 

TANYA & JAWAB 

T: Mengapa pengorbanan amat penting bagi kewibawaan moral? 

J: Pengorbanan berarti melepaskan sesuatu yang baik demi mencapai 
sesuatu yang lebih baik lagi. Hal itu juga berarti naik ke tingkat 
yang lebih tinggi. Jika seseorang memiliki sebuah visi yang 
melampaui dirinya sendiri, yang berfokus pada sebuah tujuan 
atau proyek penting dan dirinya terkait secara emosional ter-
hadapnya, jalur yang paling sedikit hambatannya adalah 
meletakkan pelayanan melampaui diri sendiri. Bagi orang tersebut, 
hal itu bukanlah pengorbanan. Bagi seorang pengamat di luar, 
hal itu mungkin tampak seperti sebuah pengorbanan karena dia 
melepaskan sejumlah hal yang baik, yang dirasakannya saat ini. 
Kebahagiaan pada dasarnya adalah hasil sampingan dari kesediaan 
kita untuk mengalahkan apa yang kita inginkan saat ini dan 
mendahulukan apa yang kita inginkan nanti. Pengorbanan justru 
merupakan jalur yang paling sedikit hambatannya bagi orang 
yang secara mendalam terkait secara spiritual maupun emosional 
terhadap sebuah tujuan mulia atau panggilan atau pelayanan 
terhadap orang lain. Baginya jalur itu sama sekali bukan jalur 
yang paling banyak hambatannya. Melayani melampaui diri 
sendiri adalah prinsip etis dari semua agama besar dan semua 
falsafah maupun psikologi yang bisa bertahan dalam jangka 
panjang. Albert Schweitzer mengatakan, "Saya tidak tahu seperti 
apa takdir Anda nantinya, tetapi ada satu hal yang saya tahu: di 
antara Anda yang akan benar-benar bahagia adalah mereka yang 
mencari dan menemukan cara untuk melayani." 

T: Dahulu, istilah yang populer adalah TQM (Total Quality Management) 
dan kualitas; kemudian berubah menjadi pem-

— 472 — 

Mempergunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain 

berdayaan; dan istilah yang populer sekarang adalah inovasi. 
Apa yang akan populer besok? 
J: Saya kira istilah yang akan populer besok adalah kebijaksanaan. 
Jika Anda tidak memiliki prinsip-prinsip pada inti hati dan jiwa 
seseorang maupun di dalam berbagai hubungan dan budaya 
organisasi, Anda tidak akan bisa membangun kepercayaan yang 
tinggi. Dan tanpa kepercayaan yang tinggi, Anda tidak akan 
bisa melakukan pemberdayaan. Jika peraturan mengambil alih 
penilaian manusia, Anda tidak bisa memupuk iklim inovasi dan 
kreativitas. Anda justru hanya akan memupuk budaya menjilat. 
Tanpa kepercayaan tinggi dan struktur yang selaras serta sistem 
yang didasarkan pada paradigma berkelimpahan, Anda tidak bisa 
melakukan TQM atau kualitas. Sebagai sebuah kebutuhan, Era 
Kebijaksanaan, dalam pandangan saya, akan mengikuti Era 
Informasi, di mana esensi kepemimpinan adalah menjadi 
pemimpin pelayan. 

T: Saya menyukai konsep organisasi yang berprinsip. Apakah 
hal itu mungkin dilakukan untuk masyarakat? 

J: Sudah pasti. Jika Anda bisa mengumpulkan cukup banyak orang 
yang peduli, yang merupakan pemimpin-pemimpin alamiah 
maupun formal di dalam bidang pendidikan, bisnis, pemerintahan 
dan profesi lain, dan bahkan orang-orang tanpa kekuasaan formal 
yang memiliki kewibawaan moral yang besar maupun minat 
yang kuat, dan Anda melibatkan mereka dalam proses untuk 
mengajarkan 7 Kebiasaan dan empat peran kepada para organisasi 
dan keluarga di seluruh komunitas, akan tampak hasil yang amat 
luar biasa yang muncul dari situ. Kami telah melakukan hal ini 
di banyak sekali komunitas di seluruh penjuru dunia. 

— 473 — 


DUA PULUH PERTANYAAN 
YANG PALING SERING DIAJUKAN 

Tl: Saya merasa hampir mustahil bisa mengubah kebiasaan 
saya. Apakah ini realistik? Apakah saya unik? 

J: Anda tidak sendirian. Biarkan saya jelaskan kenapa. Mungkin 
Anda ingat, atau telah menyaksikan video atau film mengenai 
penerbangan Apollo 11 ke bulan. Dulu, siapa pun di antara 
kita pasti terpaku menyaksikan hal itu. Kita hampir tak percaya 
bahwa ada manusia yang bisa menginjakkan kakinya dan 
berjalan di bulan. 

Tahukah Anda sebagian besar tenaga dan energi untuk 
melakukan perjalanan ke bulan itu dihabiskan di mana? Apakah 
selama menempuh empat ratusan kilo meter menuju bulan? 
Atau saat kembali ke bumi? Saat mengitari bulan? Me-
misahkan diri dan menyatu kembali dengan modul yang me-
reka pakai untuk mencapai bulan? Lepas landas untuk me-
ninggalkan bulan? 

Bukan, bukan semua itu! Bahkan bukan gabungan dari 
semua itu. Yang benar adalah: saat lepas landas meninggalkan 
bumi. Sebagian besar energi digunakan dalam beberapa menit 
pertama saat roketnya lepas landas meninggalkan bumi—dalam 
beberapa kilometer pertama dari perjalanan ke luar ang-
kasa itu. Ya, energi yang digunakan untuk itu jauh lebih besar 

— 474 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

daripada yang digunakan untuk menempuh ratusan ribu kilometer 
saat menuju dan meninggalkan bulan, dalam beberapa 
hari. 

Daya tarik gravitasi terhadap wahana angkasa luar itu saat 
menempuh beberapa kilometer ketika lepas landas meninggalkan 
bumi begitu besar. Diperlukan tenaga luar biasa untuk 
mengatasi daya tarik gravitasi dan hambatan atmosfer untuk 
akhirnya bisa mengorbit. Tetapi, begitu mereka berhasil 
melewati saat-saat kritis itu, hampir tak diperlukan tenaga 
sama sekali untuk melakukan semua hal lainnya. Ketika salah 
seorang astronot ditanya berapa banyak tenaga yang diperlukan 
untuk memisahkan modul yang akan dipakai untuk berjalan 
di bulan dengan modul komandonya agar dia bisa menginjakkan 
kakinya di bulan dan bisa melakukan penelitiannya 

di sana, jawabnya adalah "Lebih kecil daripada napas seorang bayi." 

Perjalanan ke bulan ini merupakan perumpamaan yang 
baik untuk menggambarkan upaya kita untuk meninggalkan 
kebiasaan lama dan menciptakan kebiasaan baru. Gravitasi 
bumi bisa disamakan dengan kebiasaan yang sudah mengakar, 
suatu kecenderungan yang sudah terprogram sebagai akibat 
dari kekhasan gen, lingkungan, orangtua dan figur lain yang 
penting bagi kita. Atmosfer bumi bisa disamakan dengan 
budaya masyarakat dan organisasi kita. Semua itu merupakan 
kekuatan yang besar, dan kita harus memiliki kekuatan ke-
hendak di dalam diri kita yang lebih besar daripada kedua 
kekuatan itu, agar kita bisa lepas dari pengaruhnya. 

Diperlukan kekuatan luar biasa untuk itu, tetapi begitu 
kita melepaskan diri dari pengaruhnya, kita akan terkagum-
kagum dengan kebebasan yang tiba-tiba kita rasakan. Ketika 
sedang lepas landas meninggalkan bumi, astronot hanya memiliki 
sedikit kekuatan dan kebebasan. Yang bisa mereka 
lakukan adalah menjalankan program yang sudah dicanangkan, 
tetapi begitu mereka berhasil melepaskan diri dari gravitasi 

— 475 — 


THE 8TH HABIT 

dan hambatan yang ada di sekitar mereka, serta merta mereka 
mengalami kebebasan yang luar biasa. Mereka juga memiliki 
banyak pilihan dan alternatif. 

Bila Anda beranjak untuk memulai perjalanan Anda guna 
Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk 
Menemukan Suara Mereka, Anda akan mengembangkan ke-
kuatan yang muncul dari kebiasaan baru untuk tumbuh dan 
berubah di dunia modern yang sarat dengan tantangan, kom-
pleksitas dan kesempatan ini. 

T2: Dalam arti tertentu saya bersemangat dan tergelitik oleh 
apa yang Anda ajarkan. Di lain pihak, saya juga bertanya-
tanya apakah saya dapat mewujudkan hal itu. 

J: Itu amat jujur, tetapi saya mengusulkan agar Anda lebih dahulu 
mengajukan dua pertanyaan lain, sebelum berurusan dengan 
pertanyaan mengenai kompetensi itu. Yang pertama adalah, 
apakah aku harus? Ini adalah pertanyaan yang berkaitan dengan 
nilai. Yang kedua adalah, apakah aku menginginkannya? Ini 
adalah pertanyaan mengenai motivasi dan berurusan dengan 
suara maupun gairah Anda yang unik. Bila Anda bisa men-
jawab YA atas dua pertanyaan tersebut, baru kemudian lihat 
pertanyaan Anda tadi, apakah aku bisa? Ini adalah pertanyaan 
mengenai kompetensi. Pertanyaan mengenai kompetensi ini 
berurusan dengan upaya untuk memperoleh pendidikan dan 
pelatihan yang diperlukan untuk itu. Jangan mencampuraduk-
kan tiga pertanyaan tersebut. Jangan mencoba menjawab pertanyaan 
mengenai nilai dengan jawaban yang berkaitan dengan 
pelatihan yang diperlukan; atau pertanyaan mengenai motivasi 
dengan jawaban mengenai nilai; atau pertanyaan mengenai 
kompetensi dengan jawaban yang berkaitan dengan motivasi. 
Pikirkan dengan jelas dan cermat mengenai ketiga pertanyaan 
tersebut: Apakah aku bisa? Apakah aku mau atau ingin me-
lakukannya? Apakah aku harus melakukannya? Biarkan 

— 476 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

ketiganya jelas terpisah, tidak campur aduk, agar Anda dapat 
menemukan titik awal untuk mulai. 

T3: Kenapa kepemimpinan menjadi topik yang banyak 
dibicarakan dewasa ini? 

J: Perekonomian kita saat ini terutama didasarkan pada kerja 
pengetahuan. Itu berarti bahwa kekayaan tidak lagi terletak 
pada uang dan benda melainkan pada manusia, yang me-
rupakan modal sosial dan modal intelektual. Pada kenyata-
annya, investasi keuangan terbesar kita terletak pada para 
pekerja pengetahuan ini. Potensi sumbangan kerja pengetahuan 
tidak lagi merupakan deret hitung, melainkan deret ukur, 
dan modal intelektual maupun modal sosial jenis ini merupakan 
kunci pendongkrak dan optimalisasi bentuk investasi yang 
lain. Lagi pula, gaya manajemen Zaman Industri dan sistem 
yang mengangap "manusia sebagai biaya" kini sudah semakin 
ketinggalan zaman, dan tak berfungsi lagi, karena kekuatan 
persaingan yang ada di pasar. Selain itu juga ada kesadaran 
yang semakin luas bahwa dimensi manusiawi, khususnya 
tingkat kepercayaan, merupakan akar dari semua masalah. 
Apa yang dulu dianggap sebagai unsur yang kurang me-
nentukan dalam organisasi kini semakin disadari sebagai 
sesuatu yang paling menentukan, dan semua orang mulai 
menyadari hal itu. Itulah sebabnya, kenapa kepemimpinan 
merupakan seni yang tertinggi di antara segala seni. Kepemimpinan 
adalah seni yang membuat orang lebih mampu. 

T4: Bagi saya, semuanya itu kedengaran terlalu idealistik dan 
moralistik. Dengan kondisi apa adanya sekarang ini, saya 
ragu apakah hal itu merupakan sesuatu yang memang 
mungkin dilakukan. 

— 477 — 


THE 8TH HABIT 

J: Pertanyaan lebih dalam yang harus Anda ajukan adalah: 
Apakah memang ada ruang antara rangsangan dan tanggapan? 
Dengan kata lain: Apakah kita memang memiliki kemampuan 
untuk memilih, seperti apa pun lingkungan di mana kita 
berada? Bila Anda dengan jujur dapat mengatakan YA 
terhadap pertanyaan itu, Anda akan melihat bahwa idealisme 
yang Anda sebutkan tadi sesungguh merupakan realisme. 
Kalaupun Anda misalnya tidak melihat keajaiban listrik yang 
ada saat ini, Anda toh bergantung padanya dan tahu bahwa 
itu sungguh riil. Sebelum listrik ditemukan, segala benda 
elektronik yang kita temui sekarang ini jelas tampak idealistik. 
Bila Anda mengatakan bahwa hal itu terlalu moralistik, secara 
tak langsung itu mengandaikan adanya konsep mengenai benar 
dan salah. Dalam inti terdalam hati Anda, Anda tahu bahwa 
ada perbedaan antara benar dan salah, dan bila Anda memilih 
yang benar, ada sekian banyak akibat yang akan muncul, 
yang jelas berbeda bila Anda mengikuti hal yang salah. Itulah 
alasan kenapa gagasan-gagasan ini memang idealistik dan 
moralistik, tetapi pada saat yang sama juga realistik. 

T5: Anda bilang bahwa kewenangan moral budaya merupakan 
bentuk kewenangan moral yang paling maju; apa maksud 
Anda? 

J: Ambil misalnya Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. 
Dokumen itu dengan jelas menggambarkan kewenangan moral 
yang visioner. Sementara itu Konstitusi AS berusaha 
melembagakan nilai bahwa "semua manusia diciptakan sama 
sederajat" dan bahwa manusia "dianugerahi oleh Sang Pencipta 
dengan hak-hak azasi tertentu, yang di antaranya adalah Hak 
untuk Hidup, Kebebasan, dan hak untuk Mengupayakan 
Kebahagiaan." 

Konstitusi itu selaras dengan visi dan sistem nilai yang 
termuat dalam Deklarasi Kemerdekaan. Deklarasi itu 

— 478 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

menyatakan "semua manusia", tetapi para wanita selama ber-
abad-abad tidak memiliki hak untuk memilih; banyak di antara 
penggagas Deklarasi itu juga memelihara budak; lebih dari 
delapan puluh tahun Proklamasi Emansipasi diperjuangkan; 
dan bahkan sampai kini masih ada prasangka rasial. Kewenangan 
moral budaya selalu berkembang lebih lambat dari-
pada kewenangan moral institusi atau kewenangan moral 
visioner, tetapi pada akhirnya kewenangan moral budaya itu 
merupakan kunci perkembangan masyarakat yang harmonis. 
Kuncinya tidak terletak pada pemerintah, yang mewakili ke-
kuatan atau hukum; juga bukan pada organisasi bisnis swasta 
atau bahkan orang perorangan, yang mewakili kebebasan. 
Kuncinya terletak pada orang-orang atau grup yang memeluk 
nilai-nilai bersama, yang sungguh-sungguh terkait dengan hati 
dan pikiran mereka. Inilah asumsi dasar yang ada di balik 
pemikiran Adam Smith, pengarang The Wealth of Nations. 
Sebelum menulis buku klasik itu, dia telah menulis buku 
berjudul The Theory of Moral Sentiments. Buku ini mendasari 
pandangan-pandangannya yang dituangkan dalam karya-
karyanya belakangan, termasuk The Wealth of Nations. Buku 
itu didasarkan pada gagasan bahwa keutamaan dan maksud 
baik merupakan pondasi bagi sistem ekonomi yang bercirikan 
kebebasan berusaha maupun bagi sistem politik yang menga-
nut demokrasi perwakilan. Dia menyatakan bahwa pasar bebas 
dan demokrasi tidak akan bertahan bila nilai-nilai individu 
rusak. 

T6: Anda bilang bahwa salah satu masalah dasar kita adalah 
bahwa kita masih menggunakan model Zaman Industi 
dan menerapkannya di Zaman Pekerja Pengetahuan, tetapi 
bukankah kita ini masih merupakan negara industri? Di 
mana-mana kita melihat adanya industri. 

— 479 — 


THE 8TH HABIT 

Itu benar, tetapi hakikat dari pekerjaan yang dilakukan untuk 
menciptakan nilai tambah di dalam bebagai industri semakin 
banyak dikerjakan oleh para pekerja pengetahuan, bukan oleh 
para pekerja manual. Jadi, kita tidak sedang bicara mengenai 
tidak pentingnya industri, tetapi mengenai penggunaan para-
digma kepemimpinan yang berbeda di dalam industri. Pada 
kenyataannya, paradigma ini bisa dilacak sampai era pertanian. 
Di luar kota-kota, pertanian ada di mana-mana. Mereka me-
nambahkan nilai yang semakin meningkat melalui kekuatan 
Zaman Industri dan Informasi. Di sini kita bicara lebih mengenai 
kerangka pikir daripada lingkungan fisik. 

Bagaimana budaya otoriter menciptakan ko-dependensi. 

Coba pikirkan hal ini. Bila Anda memiliki pemimpin otoriter 
yang suka mengontrol, apa yang dilakukan oleh para pengi-
kutnya? Kebanyakan akan menuruti perintahnya secara pasif. 
Mereka akan menunggu sampai diperintah, dan melakukan 
apa yang diperintahkan. Perilaku mereka akan menguatkan 
persepsi pemimpin otoriter tadi untuk meneruskan model 
komando dan kontrolnya, yang pada gilirannya akan mem-
benarkan sikap pasif para pengikutnya. Dengan kata lain, 
persepsinya itu akan menjadi semacam ramalan yang kemudian 
memang terbukti benar. Proses itu akan memperlemah ke-
mampuan dan kecerdasan orang-orangnya. Gaya kepemim-
pinannya akan membuat orang-orangnya tidak bisa berbuat 
sesuai dengan kapasitas maksimum mereka. Kemampuan-
kemampuan mereka dengan demikian kurang dimanfaatkan. 
Gaya kepemimpinan seperti itu mengubah manusia sekadar 
benda yang harus dikontrol dan dikelola. Siklus ko-dependensi 
itu pada akhirnya menyuburkan budaya menjilat, penuh intrik 
politik, di mana kebenaran ditentukan oleh loyalitas dan ke-
sesuaian dengan kemauan pemimpin, dan kesalahan baru di-
anggap kesalahan kalau tertangkap basah. 

— 480 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sertng Diajukan 

Dinamika proses itu juga menyuburkan sebentuk ke-
sepakatan yang merusak, di mana orang bilang ya, padahal 
sebenarnya yang mereka maksudkan adalah tidak. Di lingkungan 
seperti itu konflik yang sehat dihindari, tetapi pada 
saat yang sama tumbuh subur sentimen, kebencian, ke-
marahan, sikap munafik (manis dan taat di muka, menohok 
di belakang), tingkat kepercayaan rendah, mutu rendah, kinerja 
buruk. Perasaan-perasaan yang tak terungkap itu pada kenyataannya 
tidak mati, dan nanti akan muncul dalam bentuknya 
yang lebih aneh. 

Selanutnya, pemimpin otoriter tadi akan menjalankan tang-
gung jawabnya dengan berfokus pada efisiensi, yang berarti 
bahwa dia akan menerapkan metode, proses, dan langkah-
langkah sedemikian sehingga aturan akan lebih penting daripada 
penilaian manusia. Semuanya itu akan memperkuat kepemimpinan 
sebagai suatu posisi, dan bukan pilihan; dan itu 
akan menjadi unsur pembentuk budaya. Pelan-pelan Anda 
akan melihat kebenaran ucapan Lord Acton bahwa "kekuasa-
an itu korup, dan kekuasaan yang mutlak juga akan korup 
mutlak-mutlakan." Semua orang kemudian akan memikirkan 
kepentingan sendiri, dan mengorbankan integritas mereka 
demi menyenangkan bos. 

Masalahnya, dalam ekonomi baru, budaya ko-dependensi 
yang terlembagakan hanya dapat bertahan kalau pasar tidak 
kritis dan mudah memaafkan. la bisa bertahan melalui subsidi 
semu atau teror. Tradisinya bisa bertahan hanya kalau para 
pesaingnya juga bersifat ko-dependen. 

Siklus itu dapat dipatahkan oleh satu orang yang melihat 
kepemimpinan sebagai pilihan, yang bersedia memperluas 
Lingkup Pengaruh dengan memerankan diri sebagai bilah ke-
mudi kecil, yang mengandalkan realitas yang berkembang di 
pasar yang penuh persaingan, untuk menghentikan proses 
pembobrokan yang sedang dialami oleh organisasinya. Kepemimpinan 
seperti itu akan mewujudkan kewenangan moral, 

— 481 — 


THE 8TH HABIT 

yang akan muncul kalau kita memilih untuk hidup berdasarkan 
prinsip, yang hampir selalu mengandaikan sebentuk pengor-
banan. Tetapi, dalam ekonomi pasar bebas, kepemimpinan 
seperti itu akan dengan sendirinya menduduki posisi puncak 
karena kepemimpinan seperti itulah yang akan terbukti ber-
jalan. Dia akan menghasilkan banyak, dengan biaya yang 
lebih sedikit. 

T8: Bagaimana semua ini dapat diterapkan pada keadaan 
ekonomi yang sedang buruk, atau dalam keadaan ekonomi 
yang bagus, tetapi industrinya sedang merosot? 

J: Dalam keadaan seperti itu, semuanya justru lebih berlaku 
lagi, karena sumber daya terbesar kita sebenarnya adalah 
kemampuan kreatif orang-orang, yang bisa menciptakan solusi 
Alternatif Ketiga pada saat yang buruk. Memang, dalam 
keadaan buruk seperti itu, secara alamiah orang cenderung 
untuk kembali ke model hubungan yang mengandaikan 
komando-dan-kontrol yang menjadi ciri zaman industri, yang 
dalam jangka panjang tidak akan mampu bertahan. Dalam 
suatu keadaan krisis, dan untuk jangka pendek, di mana semua 
terfokus pada upaya untuk bertahan hidup, pendekatan otoriter 
barangkali perlu dan amat efektif. Seperti dikatakan oleh 
Eisenhower, "Tak perlu bicara demokrasi kepada orang yang 
tersesat di depan sarang serigala." Kendati demikian, pada 
akhirnya kita memerlukan keterlibatan semua orang secara 
mendalam agar perubahan penting yang dilakukan bisa bertahan. 
Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang memiliki 
kewenangan moral yang benar-benar dipercaya. 

T9: Bagaimana mengaitkan 7 Kebiasaan dengan 4 Peran 
Kepemimpinan? Kami telah menginvestasikan banyak 
uang dan waktu untuk pelatihan 7 Kebiasaan. 

— 482 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

J: Ingatlah bahwa 7 Kebiasaan itu didasarkan pada prinsip-
prinsip. 7 Kebiasaan itu adalah prinsip-prinsip karakter yang 
membentuk siapa dan apa Anda sebenarnya, sedangkan 4 
Peran adalah apa yang Anda lakukan untuk menjalankan kepemimpinan 
dan memengaruhi organisasi Anda. Bila Anda 
menempatkan 7 Kebiasaan pada konteks 4 Peran Kepemimpinan, 
7 Kebiasaan itu merupakan peran sebagai Panutan. 
Prinsip-prinsip yang mendasari 7 Kebiasaan tersebut bagaikan 
sumur yang dalam, atau saluran air yang memasok air ke 
sumur-sumur lain, yang dalam hal ini misalnya adalah TQM 
(Total Quality Management, Manajemen Kualitas Total), 
pemberdayaan dan pembentukan tim, inovasi, dll. 

T10: Skandal korporasi sering kali membuat semua bisnis "salah 
karena asosiasi". Masalah karakter menjadi sorotan tajam. 
Bagaimana Anda mengembangkan karakter pribadi dan 
karakter budaya; bagaimana cara menghindari masalah-
masalah seperti itu? 

J: Saya dulu punya kesempatan untuk menangani akibat-akibat 
yang timbul dari keadaan buruk yang dialami oleh Three 
Mile Island, kekacauan di Rodney King dan Exxon Valdez, 
dan pada dasarnya saya temukan bahwa semua kekacauan itu 
merupakan manifestasi akut dari suatu gejala kultural yang 
mendalam. Kekacauan itu hanya merupakan puncak gunung 
es dari suatu masalah di mana orang-orang melakukan hal-hal 
yang tidak benar, menutup-nutupi ketidak beresan, mencabik-
cabik sesuatu yang baik, mengabaikan hal-hal yang buruk, 
lalu tertangkap, dan meledak karena pemberitaan di media. 

Saya kira hal seperti itu merupakan pelajaran berharga 
bagi semua organisasi. Coba tengok dan renungkan kembali, 
apa yang paling penting bagi Anda—visi dan sistem nilai 
Anda. Kaji ulang semua prosedur dan praktik, struktur dan 
sistem, untuk memastikan apakah semua itu telah melembaga-

— 483 — 


THE 8TH HABIT 

kan visi dan nilai-nilai tersebut. Umpan balik harus mencer-
minkan penilaian jujur dari para penasihat, pemasok, pelang-
gan, dan semua pihak yang berkepentingan dan memberi 
nilai di situ. Tak perlu Anda menutup-nutupi masalah dan 
membela diri, karena hal itu hanya akan jadi bumerang bagi 
Anda. Loyalitas tidak boleh dinilai lebih tinggi daripada 
integritas; pada kenyataannya, integritas itulah loyalitas. Anda 
ingin dokter Anda mengatakan hal yang sebenarnya, walau 
Anda tidak akan suka mendengarnya. Anda mengharapkan 
seorang dokter setia sepenuhnya pada profesinya, sebagai 
bentuk kesetiaan tertingginya kepada Anda. Demikian pula 
dengan organisasi Anda. Pandang diri Anda sebagai profesional 
yang loyalitas tertingginya terarah pada prinsip-prinsip profesional 
dan moral, dan bukan pada institusi Anda. Itulah 
cara yang paling jelas untuk menjadi loyal kepada institusi 
Anda. 

Cara terbaik untuk mengembangkan karakter di sebuah 
organisasi bukan dengan membuat daftar yang harus diikuti, 
yang akan dipakai oleh setiap orang untuk menilai orang lain, 
tetapi dengan membuat orang-orang bertanggung jawab atas 
hasil-hasil, yang diukur dengan Papan Skor Berimbang 
(Ballanced Scoreboard), yang menuntut pengembangan karakter 
pada level yang lebih tinggi. Dengan cara itu Anda 
tidak menghakimi karakter seseorang; Anda hanya memberi 
mereka tanggung jawab yang menuntut pertumbuhan 
karakter. 

T11: Setelah merampingkan organisasi, bagaimana cara mem-
pertahankan budaya positif yang ditandai dengan tingkat 
kepercayaan tinggi? 

J: Anda tahu kenapa setelah perampingan organisasi biasanya 
budaya organisasi tersebut memburuk? Karena prinsip-
prinsipnya tidak ditaati; orang-orang tidak dilibatkan, tidak 

— 484 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

mendapat informasi yang memadai, dan tidak tahu arah 
organisasi maupun apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mereka 
tidak memahami kriteria yang akan dipakai sebagai lan-
dasan untuk mengambil keputusan. Mungkin mereka tidak 
tahu menahu mengenai segi-segi ekonomi dari industri mereka, 
atau ekonomi pada umumnya, atau bahkan tidak banyak tahu 
mengenai perusahaan mereka. 

Secara pribadi saya telah menyaksikan banyak organisasi 
yang berhasil melewati saat-saat sulit, yang menuntut kepu-
tusan-keputusan berat, tetapi dapat mengelolanya dengan cara-
cara yang berprinsip. Melalui komunikasi yang transparan 
dan terbuka, dan keterlibatan maupun partisipasi yang sung-
guh-sungguh dan jujur, serta dengan menaati nilai-nilai yang 
berlandaskan pada prinsip-prinsip, disertai dengan kerelaan 
berkorban, orang-orang yang kena dampak negatif maupun 
keluarga mereka tahu bahwa organisasi terpaksa mengambil 
keputusan yang berat demi mereka juga. Dengan cara seperti 
itu, reputasi organisasi di masyarakat malah meningkat. 

T12: Kami sering melakukan pelatihan pengembangan 
kepemimpinan, baik secara formal maupun informal, di 
luar kantor, atau sesi khusus, dan sering pula mengundang 
narasumber dari luar. Semua itu membantu, meningkat-
kan semangat dan memberi inspirasi, tetapi dalam be-
berapa hari saja, semua kembali seperti semula... bisnis 
seperti biasa. Apa rekomendasi Anda? 

J: Mengetahui tetapi tidak melakukan berarti tidak mengetahui. 
Anda bisa terinspirasi dan menjadi bergairah untuk sementara 
oleh suatu pengetahuan atau keahlian tertentu yang Anda 
anggap penting, tetapi kalau Anda tidak menerapkannya, 
sesungguhnya Anda tidak mengetahuinya. Bila struktur dan 
sistem organisasi Anda tidak memberi rangsangan untuk menerapkannya, 
Anda tidak akan menerapkan pengetahuan atau 

— 485 — 


THE 8TH HABIT 

keahlian itu dan karena itu tidak akan mengetahuinya. Akhir-
nya, pengalaman seperti itu hanya akan membebani dan me-
numbuhkan sikap sinis. Berbagai upaya perubahan dan 
himbauan manajemen hanya akan seperti kembang gula harum 
manis, manis sementara di lidah, tapi segera lenyap. Kuncinya 
adalah mengambil materi pembelajaran kepemimpinan itu, 
mengajarkannya, mendiskusikannya, dan mencoba melem-
bagakannya dengan cara memasukkan prinsip-prinsip dasarnya 
dalam proses kerja harian dan dalam sistem kompensasi bagi 
para anggota organisasi. Dengan cara itu, kepemimpinan itu 
akan benar-benar mewarnai praktik sehari-hari. 

T13: Bagaimana kalau pendekatan itu tidak jalan? 

J: Bila orang-orang tidak mau menerapkannya, pendekatan itu 
memang tidak akan jalan. Tak ada cara yang gampang. 
Dibutuhkan komitmen, kesabaran, dan persistensi, terutama 
kalau kita mau mengubah pola pikir dan perangkat keahlian 
kita. Alat-alat yang terkait dengan perubahan pola pikir dan 
perangkat keahlian itu tentu akan amat membantu, tetapi 
pada akhirnya hal itu tergantung pada komitmen orang-orang-
nya untuk melakukannya. 

T14: Apa cara terbaik untuk mengawali perubahan itu, bila 
kita mengandaikan bahwa kita sudah membatinkan hal 
itu dalam diri kita? 

J: Bila Anda menyetir mobil, dan kaki Anda menginjak rem, 
apa cara tercepat untuk bergerak maju—menginjaknya, atau 
melepaskan rem itu? Jelas, kita harus melepaskan rem itu. 
Mirip dengan itu, dalam budaya organisasi pun terdapat ke-
kuatan yang mendorong dan kekuatan yang menghambat. 
Kekuatan yang mendorong biasanya adalah berbagai realitas 

— 486 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

ekonomi yang logis sifatnya, yang dalam gambaran mobil 
tadi bisa disamakan dengan menginjak pedal gas. Kekuatan 
penghambatnya adalah hal-hal yang terkait dengan budaya 
dan emosi, dan bisa disamakan dengan rem. Melalui Alternatif 
Ketiga dan komunikasi yang bersifat sinergis, kekuatan 
penghambat bisa diubah menjadi kekuatan pendorong. Dengan 
cara itu, Anda tidak hanya melangkah maju, tetapi dari segi 
budaya pun juga akan terus terdukung dan terpelihara, karena 
keterlibatan dan komitmen orang-orang di dalamnya. Teori 
Kirk Lewin mengenai medan kekuatan diandaikan dalam 
jawaban ini. 

T15: Apakah materi yang Anda ajarkan ini merupakan barang 
baru? Saya telah mendengar gagasan seperti ini sejak saya 
masih muda. Saya melihatnya terjadi di mana-mana dalam 
sejarah kita. 

J: Benar. Pada kenyataannya, kalau saya meneruskan gagasan 
penting yang Anda kemukakan tadi, konstitusi yang ber-
pusatkan pada prinsip-prinsip dan pasar bebaslah yang 
membebaskan potensi manusiawi masyarakat Amerika Serikat, 
di mana 4,5 persen penduduk dunia menghasilkan hampir 
sepertiga barang-barang yang diproduksi di dunia. Kekuatan 
paradigma dan prinsip-prinsip ini benar-benar membuahkan 
hasil yang luar biasa. Ingat, prinsip itu bersifat universal dan 
abadi. Dan prinsip-prinsip yang benar-benar penting mungkin 
paling baik dipelajari dan dipahami oleh para petani, karena 
mereka begitu dekat dengan alam, dengan hukum alam dan 
prinsip-prinsip. Mereka tahu, di pertanian kita tidak bisa ber-
buat seperti dalam institusi sosial seperti sekolah. Di sekolah, 
orang terbiasa dengan "sistem kebut semalam", semuanya 
dijejalkan secara cepat untuk meraih hasil cepat; dan hal itu 
tidak berlaku di pertanian, di mana Anda harus menyiapkan 
lahannya, menanam bibitnya, menunggu, menyiangi, 

— 487 — 


THE 8TH HABIT 

menyirami dan memetik panen di kemudian hari. Atletik level 
tinggi yang penuh kompetisi juga merupakan metafor yang 
bagus, karena di sini pun tidak berlaku sistem kebut sehari. 
Untuk bisa ikut bertanding, kita harus membayar harganya 
dulu. 

Hal-hal yang sudah diketahui oleh banyak orang belum 
tentu juga banyak dilakukan. Itulah sebabnya kita perlu me-
lakukan pembaruan diri, menegaskan lagi komitmen kita, 
membereskan etika watak dan kepemimpinan kita agar terus 
berpusatkan pada prinsip. 

T16: Apakah materi pengajaran Anda ini berdasarkan riset? 

J: Bila yang Anda maksud adalah riset empiris seperti yang 
dilakukan oleh seorang ilmuwan di laboratorium, jawabnya: 
tidak. Tapi, bila yang Anda maksud adalah analisis historis, 
kajian literatur, dan penyimpulan dari sekian banyak interaksi 
dan pengamatan selama berinteraksi dengan berbagai 
organisasi dan orang-orang, jawabnya: ya! 

T17: Organisasi mana yang bisa menjadi model dari berbagai 
gagasan yang Anda ajarkan ini? 

J: Anda akan menemukannya di setiap bidang usaha manusia. 
Ada banyak di sekitar Anda: organisasi seperti A.B. Comb 
School dan kapal selam USS Santa Fe adalah contohnya. 
Kriterianya adalah, sejauh mana suatu tempat kerja mengalami 
suatu proses pemberdayaan? Seberapa jauh orang-orangnya 
berfokus pada prioritas-prioritas tertinggi organisasi dan 
melakukan prioritas tertinggi itu? Perusahaan-perusahaan yang 
dikaji, yang kemudian dimuat dalam buku Jim Collins, Good 
to Great, adalah perusahaan yang amat diberdayakan oleh para 
pemimpin yang rendah hati dan penuh tekad maupun ke-

— 488 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

tetapan hati. Tentu saja, pemberdayaan bukan satu-satunya 
jawaban. Kebanyakan organisasi puncak telah bergerak atau 
sedang bergerak maju, yang tercerminkan dalam papan skor 
mereka. Upaya untuk menyelaraskan operasi dengan strategi, 
dan dengan pasar, menuntut kemampuan penilaian dan per-
timbangan yang besar. Banyak organisasi yang semula amat 
berhasil kini merosot. Kita perlu cermat dalam menarik dan 
mengembangkan orang-orang terbaik kita, dengan cara me-
negakkan etika kepemimpinan dalam budaya organisasi. Kita 
juga harus mengembangkan kewenangan moral pribadi, ke-
wenangan moral visioner, dan kewenangan moral istitusional, 
agar kita terus dapat maju di jalan menuju keagungan. 

T18: Apakah materi ini pada dasarnya bisa disebut religius? 

J: Prinsip-prinsip tersebut jelas memiliki dasar moral dan spiritual, 
tetapi tidak khusus terkait dengan agama tertentu. Secara 
pribadi saya telah mengajarkan prinsip-prinsip tersebut di 
seluruh pelosok dunia, dalam konteks keagamaan yang amat 
beragam, dan untuk itu saya mengutip kitab suci mereka 
masing-masing. Prinsip-prinsip tersebut benar-benar universal 
dan abadi. Dulu saya heran sekali, tetapi kini tidak lagi, 
ketika saya melihat apa yang terjadi kalau kita melibatkan 
orang-orang di pelosok dunia mana pun, dan dari level mana 
pun dalam organisasi, dalam pengembangan sistem nilai 
mereka. Bila ada semangat keterbukaan dan sinergi, dan bila 
orang-orangnya benar-benar mendapat informasi yang men-
cukupi, ternyata nilai-nilai pilihan mereka pada dasarnya sama. 
Kata-kata yang dipakai memang berbeda; berbagai praktik 
yang mencerminkan nilai-nilai tersebut juga berbeda, tetapi 
makna terdalamnya selalu berurusan dengan empat dimensi 
yang kita bicarakan sepanjang buku ini—fisik/ekonomi, 
hubungan/sosial, pengembangan mental/bakat, dan spiritual, 
yang berkaitan dengan makna dan integritas. Bila Anda ingin 

— 489 — 


THE 8TH HABIT 

merasakan pengalaman yang menarik, coba pelajari pernyataan 
misi beberapa organisasi yang telah menghasilkan pernyataan 
misi mereka dengan melibatkan semua pihak yang ber-
kepentingan. Kata-kata yang digunakan memang berbeda, 
tetapi sesungguhnya semua rumusan itu bicara mengenai hal 
yang sama, kendati belum tentu juga rumusan itu benar-
benar dijalankan. 

T19: Saya jadi kecil hati, sekaligus juga tak sabar. Apakah sudah 
terlalu terlambat bagi saya untuk berubah? 

J: Pertanyaan yang hebat. Kita benar-benar tahu sekarang bahwa 
masalah utama kenapa orang meragukan keabsahan gagasan-
gagasan ini tidak terletak pada gagasan itu sendiri. Gagasan 
itu diterima sebagai sesuatu yang masuk akal oleh siapa pun. 
Masalahnya adalah bahwa mereka ragu terhadap diri mereka 
sendiri. Saya anjurkan, mulailah pelan-pelan, dan setahap demi 
setahap, dengan membuat janji pada diri sendiri dan me-
nepatinya. Biarlah nurani Anda menjadi pemandu Anda 
mengenai janji apa yang harus dibuat. Bila Anda sudah 
membuat janji, betapa sepele pun janji itu, tepatilah. Sedikit 
demi sedikit rasa hormat Anda terhadap diri sendiri akan 
membesar, lebih besar dari dorongan suasana hati Anda. 
Kontrol dan penguasaan diri Anda juga akan semakin membesar, 
demikian juga rasa aman dan kompetensi Anda. Dengan 
demikian, Anda akan bisa membuat janji yang lebih besar, 
dan mampu menepatinya. Dengan begitu Anda akan me-
masuki wilayah baru, berani meninggalkan zona kenyamanan 
Anda, dan lebih berani lagi berprakarsa. Ingatlah kisah mengenai 
bambu China. Ada spesies tertentu bambu China, yang 
bila Anda tanam, sepertinya Anda tidak melihat perkembangan 
apa pun selama kurang lebih empat tahun. Yang Anda lihat 
mungkin hanya satu tunas muda, mencuat di atas tanah. Anda 

— 490 — 

Dua Puluh Pertanyaan Yang Paling Sering Diajukan 

menggemburkan tanahnya, menyiangi, menyiram, memupuk, 
dan melakukan segala hal yang harus dilakukan untuk me-
melihara tunas bambu itu, tetapi Anda tak melihat perubahan 
apa pun. Tapi, pada tahun kelima, bambu China itu segera 
tumbuh tinggi, mencapai dua puluh lima meter. Pada tahap 
awal, perkembangannya terjadi di dalam tanah, yaitu pada 
akar-akarnya. Begitu akar-akarnya sudah kuat dan menyebar, 
tiba-tiba batang-batang dan daunnya pun tumbuh, meng-
herankan orang yang mengira bahwa tak terjadi apa-apa pada 
tunas kecil tadi. Itulah alasan, kenapa perkembangan watak 
pada tataran pribadi selalu mendahului proses penciptaan ke-
percayaan yang terjadi pada hubungan antarpribadi, dan ke-
percayaan pada tataran hubungan antarpribadi ini pada gi-
lirannya juga mendahului penciptaan budaya organisasi yang 
positif dan sehat, yang mampu mencapai prioritas-prioritas 
tertingginya. Tak ada kata terlambat di sini. Hidup adalah 
sebuah misi, bukan sebuah karier. 

T20: Bagaimana Anda tahu bahwa hal-hal yang Anda ajarkan 
itu memang jalan? 

J: Anda akan mengetahuinya, bila Anda benar-benar melakukan-
nya. Mengetahui tetapi tidak melakukan itu sama saja dengan 
tidak mengetahui. Bukti-bukti lain yang menguatkan bisa 
ditemukan secara amat praktis dari hasil-hasil yang dinikmati 
oleh orang-orang yang Anda layani—para klien, pemilik, 
karyawan, warga masyarakat sekitar, dan pelanggan—juga 
dari informasi yang bagus mengenai seluruh tim pemasok dan 
budaya organisasi Anda sendiri. Pada akhirnya, saya lebih 
percaya pada pertimbangan dan perenungan yang melibatkan 
nurani, dikombinasikan dengan pengamatan dan pengukuran, 
daripada cuma melalui pengamatan dan pengukuran, tetapi 
tidak melibatkan nurani. Saya menemukan bahwa kebanyakan 

— 491 — 


THE 8TH HABIT 

orang tahu banyak hal yang harus dilakukan, dan hal-hal 
yang seharusnya tidak mereka lakukan. Kalau saja mereka 
bertindak berdasarkan hal-hal yang mereka ketahui itu, segala 
pertanyaan lain cuma tinggal sebagai pertanyaan yang sifatnya 
akademis, penting untuk latihan berpikir, tetapi sesungguhnya 
tidak penting untuk hidup. Pada akhirnya, pertanyaan-
pertanyaan itu juga akan terjawab, bukan hanya dari upaya 
untuk mempelajari jawabannya, tetapi juga dari upaya untuk 
mendapatkan jawaban dari pengalaman pribadi. 

— 492 — 

LAMPIRAN 


Lampiran 1 

MENGEMBANGKAN 4 KECERDASAN/ 
KEMAMPUAN: PETUNJUK PRAKTIS 

MENGEMBANGKAN KECERDASAN FISIK-PQ 

Marilah kita memulai dari Kecerdasan Fisik/Physical Intelligence (PQ), 
karena tubuh kita adalah alat bagi pikiran, hati, dan jiwa kita. 
Apabila jiwa kita bisa menundukkan tubuh—yakni membuat selera 
dan nafsu kita tunduk terhadap nurani kita—kita akan menjadi 
tuan bagi diri kita. Orang yang hidupnya hanya ditentukan oleh 
selera dan nafsu, bukan oleh nurani, tidak akan bisa men-
darmabaktikan diri mereka. Ruang antara stimulus dan respons yang 
mereka miliki menjadi sempit. Mereka sebenarnya kehilangan 
kebebasan pribadi, walau mengira bahwa mereka masih tetap bebas. 
Tubuh adalah pelayan yang baik, tetapi merupakan tuan yang buruk. 

— 495 — 

Kini riset telah membuktikan dengan jelas bahwa ketidakmampuan 

seseorang untuk mengatur dirinya sendiri secara efisien akan 

menimbulkan penuaan dini, penurunan kecerdasan mental, dan 

bahkan menutup akses terbadap kecerdasan yang telab ada pada 

diri kita. Yang sebaliknya juga berlaku: bila secara internal 

semakin padu, sistem fisiologis seseorang akan semakin efisien dan 

dia akan semakin kreatif, adaptif, dan luwes.1 

DOC CHILDRE DAN BRUCE CRYER 


Lampiran 1 

Cara orang Yunani merumuskan penguasaan diri sendiri dalam 
hidup—"kenali dirimu, kendalikan dirimu, berikan dirimu"— 
merupakan urutan yang luar biasa. Saya berpendapat ada tiga cara 
fundamental untuk mengembangkan kecerdasan fisik kita. Pertama, 
nutrisi/gizi yang bijaksana; kedua, olahraga yang seimbang dan teratur; 
ketiga, istirahat yang cukup, relaksasi, manajemen stres, dan pola pikir 
pencegaban. 


GAMBAR A 1.1 

Tiga cara ini telah dimengerti secara luas dan diterima oleh sebagi-
an besar orang di dunia yang beradab. Cara-cara ini sebenarnya 
telah diketahui secara umum. Tetapi sesuatu yang banyak diketahui 
secara umum belum tentu banyak dipraktikkan. Hanya sedikit 
orang yang mempraktikkan ketiganya sekaligus. 

Jim Loehr dan Tony Schwartz menekankan dalam buku mereka, 
The Power of Full Engagement, bahwa kunci mencapai kinerja tinggi 
dan pembaruan diri adalah mengelola energi, bukan mengelola 
waktu. Walau amat menghargai manajemen waktu, mereka berpendapat 
bahwa kriteria tertinggi yang perlu dipakai dalam mengelola 
waktu Anda adalah bagaimana Anda mengelola energi Anda. 
Dengan mempelajari alam dan hukum alam yang mengatur ke-

— 496 — 

Lampiran 1 

hidupan kemanusiaan, mereka menekankan pentingnya menghargai 
siklus antara aktivitas/kerja dan istirahat/pembaruan. Mereka meng-
gunakan pendekatan pribadi utuh: tubuh, pikiran, hati, dan jiwa. 
Mereka berfokus pada pentingnya kebiasaan, yang mereka sebut 
sebagai ritual, untuk meningkatkan energi dan kemampuan kita 
untuk memberikan hasil yang diinginkan. 

Nutrisi yang Bijaksana 

Sebagian besar dari kita tahu apa yang seharusnya kita makan dan 
yang seharusnya tidak kita makan. Kuncinya adalah keseimbangan. 
Saya bukan pakar gizi, tetapi seperti banyak orang lain pula, saya 
telah mendapat pendidikan untuk mengetahui bahwa tubuh dan 
sistem-sistem di dalamnya, termasuk sistem kekebalan tubuh, akan 
mendapatkan kekuatannya yang terbaik jika kita makan lebih banyak 
gandum-ganduman/padi-padian bulir utuh (whole grain, salah satu 
contohnya adalah beras merah), sayur-sayuran, buah-buahan, dan 
protein rendah lemak. Jika kita makan daging (lebih baik secara 
tidak berlebihan), haruslah yang rendah lemak. Penelitian juga me-
nunjukkan manfaat makan ikan secara teratur. Berbagai jenis 
makanan, antara lain makanan-makanan cepat saji/fast food, makanan 
hasil produksi pabrik, dan kembang gula, harusnya kita hindari 
atau amat jarang kita makan, karena banyak mengandung lemak 
jenuh dan gula. Tetapi sekali lagi ingatlah, kuncinya adalah keseimbangan 
dan melakukan secara tidak berlebihan. Belajarlah untuk 
tidak terlalu mudah menuruti nafsu dan makan berlebihan. Dengan 
kata lain, belajarlah untuk berhenti makan pada saat yang tepat— 
saat Anda merasa cukup kenyang dan sebelum perut Anda terasa 
terlalu penuh. Minumlah banyak air—enam hingga sepuluh gelas 
per hari. Minum air akan mengoptimalkan fungsi-fungsi tubuh, dan 
memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya kita untuk mem-
pertahankan kebugaran fisik dan berat badan yang sehat melalui 
pengaturan pola makan (diet) serta olahraga secara teratur. 

— 497 — 


Lampiran 1 

Kini saya juga memahami kebijaksanaan dan pengaruh positif 
yang timbul dari praktik berpuasa secara teratur. Tidak makan se-
lama jangka waktu tertentu bisa memberikan saat istirahat bagi 
seluruh proses pencernaan dan memperlancar proses pembersihan. 
Dari pengalaman saya sendiri, manfaat utamanya ternyata tidak 
saya rasakan dari sisi fisik, tetapi lebih pada manfaat mental dan 
spiritual. Prinsip puasa diajarkan pada hampir semua agama besar 
di dunia sebagai cara untuk mengembangkan tingkat penguasaan 
dan pengendalian diri yang lebih tinggi, maupun untuk mendapatkan 
kesadaran yang lebih mendalam mengenai betapa amat tergantung-
nya diri kita sebenarnya. 

Saya amat yakin bahwa jika Anda mengendalikan selera makan 
dengan tepat, kemampuan Anda untuk mengendalikan nafsu dan 
memurnikan hasrat-hasrat Anda akan meningkat. Pengendalian diri 
akan memberikan suatu perasaan rendah hati yang sejati dan me-
mungkinkan Anda mendapatkan perspektif lebih besar mengenai 
apa yang benar-benar penting dalam kehidupan. 

Saya juga telah mengalami akibat-akibat negatif dari makan ber-
lebihan, diet secara berlebihan, dan makan makanan "sampah" tanpa 
berpikir akibatnya. 

Godaan yang terbesar terhadap diri saya datang saat merasa letih 
dalam perjalanan yang saya lakukan, dan sesampainya di hotel saya 
memesan layanan kamar. Saya menemukan bahwa apabila saya tidak 
bijaksana dan menuruti keinginan saya, hal itu akan memengaruhi 
pikiran dan jiwa saya, bahkan juga kualitas tidur saya. Pelatih American 
Football legendaris, Vince Lombardi, biasa mengatakan, Ke-
letihan membuat kita semua jadi pengecut." Hal ini benar-benar 
terbukti dalam kejadian yang saya alami, karena pada saat saya 
merasa amat letih, saya cenderung menuruti keinginan yang tidak 
semestinya, dan hal itu benar-benar memengaruhi pikiran dan jiwa 
saya selama satu atau dua hari. Jika Anda membuat tubuh Anda 
tunduk terhadap pikiran dan jiwa Anda, kedamaian dan keyakinan 
diri yang mengalir dan disiplin dan penguasaan diri semacam itu 
akan luar biasa hebatnya. Dan bagi diri saya sendiri, saat saya merasa-

— 498 — 

Lampiran 1 

kan rasa perih karena lapar yang sesungguhnya bukan disebabkan 
oleh lapar yang sebenarnya, tetapi rasa lapar yang timbul sebagai 
hasil dari proses penyembuhan dari kecanduan gula, saya mengatakan 
pada diri saya sendiri: "Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada 
bertubuh ramping." Saya juga melakukan visualisasi positif bahwa 
rasa perih karena lapar tersebut sedang melahap cadangan-cadangan 
lemak dalam tubuh saya. Jika kita menundukkan selera dan meng-
unggulkan gizi, secara perlahan-lahan kita akan mendidik ulang 
syaraf-syaraf perasa di lidah untuk memenuhi keinginan triliunan 
sel yang menjerit-jerit agar mendapatkan gizi yang baik dan tepat. 

Tetapi ini semua adalah urusan pribadi masing-masing, dan setiap 
orang harus memutuskan seperti apa gizi yang bijaksana bagi dirinya. 
Saya yakin bahwa hampir semua orang bisa mendapat manfaat yang 
amat besar dengan mencapai kemenangan pribadi atas tubuh. Ke-
menangan semacam itu juga akan memengaruhi kita untuk meng-
hasilkan kemenangan publik dalam hubungan-hubungan kita dengan 
orang lain dan mengarahkan kembali diri kita ke arah hidup yang 
penuh pelayanan dan kontribusi. 

Olahraga yang Konsisten dan Seimbang 

Olahraga teratur untuk menjaga jantung, kekuatan, dan kelenturan, 
akan secara signifikan meningkatkan kualitas hidup dan jangka waktu 
harapan hidup. Sekali lagi, kuncinya adalah keseimbangan. Dewasa 
ini gaya hidup kita semakin lama semakin banyak duduk dan tidak 
aktif. Sebenarnya ada amat banyak cara untuk melakukan olah raga 
secara teratur. Mulailah dengan hal-hal kecil, dengan cara-cara yang 
bisa Anda lakukan secara teratur. Lakukan sesuatu setiap hari, atau 
paling tidak tiga hingga lima kali seminggu. Pilihlah sesuatu yang 
bisa Anda nikmati dan pas dengan kebutuhan dan kondisi Anda. 
Konsultasikan dengan dokter Anda. Variasikan jenis-jenis olahraga 
yang Anda lakukan sehingga Anda bisa memperkuat berbagai bagian 
tubuh dan menghindari terjadinya kebosanan atau latihan berlebihan 
pada satu bagian tubuh saja. Bila Anda suka berjalan, jika mungkin 

— 499 — 


Lampiran 1 

berjalanlah dengan cepat. Bisa juga Anda berlari, berenang, berkebun, 
atau bersepeda. Banyak orang yang memanfaatkan alat-alat di pusat 
kebugaran yang dirancang untuk latihan aerobik/kardiovaskular, 
seperti mesin latihan ban berjalan (treadmill), sepeda stasioner, mesin 
latihan naik tangga (stair climber), mesin latihan eliptikal (elliptical 
machines), mesin latihan mendayung, dll. 

Angkat berat dan latihan kekuatan otot lain juga terbukti me-
nunjukkan manfaat yang amat besar bagi orang-orang di semua 
usia, termasuk meningkatkan kekuatan, postur, energi, memper-
lambat dan menghentikan proses pengeroposan tulang, dan meningkatkan 
kemampuan tubuh untuk membakar kalori. 

Saya tidak bisa mengatakan dengan cukup baik mengenai betapa 
banyak manfaat yang telah saya alami dari olah raga yang konsisten 
dan seimbang. Bagi saya, manfaat yang terbesar adalah pada sisi 
mental dan spiritual, dan bukan hanya fisik, sekalipun saya amat 
kagum oleh banyaknya manfaat fisik yang diperoleh dari olahraga 
secara teratur. Latihan aerobik, yakni berolahraga dengan meng-
gunakan otot-otot besar pada kaki untuk memperkuat jantung dan 
sistem peredaran darah yang akan memungkinkan kita untuk bisa 
memproses oksigen dengan cara yang paling efisien, selalu merupakan 
fondasi dasar bagi program latihan saya. 

Latihan aerobik yang lebih saya sukai adalah berlari. Tetapi karena 
lutut saya mengalami cedera dalam berbagai aktivitas olahraga, se-
karang saya hanya bisa menggunakan sepeda stasioner. Namun saya 
menemukan bahwa pada saat saya sedang berlatih di atas sepeda 
tersebut saya bisa melakukan hal-hal lain. Saya bisa berbicara dengan 
orang lain melalui telepon dan menjalankan bisnis sekalipun nafas 
saya tersengal-sengal. Saya bisa menonton televisi, baik acara pen-
didikan maupun acara hiburan. Saya bisa melakukan percakapan 
yang berarti dengan istri atau anak-anak atau teman-teman yang 
berlatih bersama saya. Kami saling memberi semangat satu sama 
lain atau berbagi gagasan mengenai latihan yang memberi hasil 
yang baik dan yang tidak memberi hasil. 

— 500 — 

Lampiran 1 

Saya juga mendapatkan keyakinan yang kuat mengenai penting-
nya latihan otot dan latihan kelenturan. Pernah suatu ketika seorang 
pelatih melihat saya sedang berlatih angkat berat pada perangkat 
bench press. Dia mengatakan pada saya untuk terus mengulang melakukan 
angkatan sampai batas kemampuan saya, lalu menambah 
satu angkatan lagi. Saya bertanya alasannya, dan dia berkata bahwa 
manfaat terbesar dari latihan tersebut akan datang pada ujung-
ujung akhir dari latihan, yakni saat serabut-serabut otot merasa 
letih dan seperti tercerai-berai (rasa nyeri), dan dalam waktu sekitar 
empat puluh delapan jam serabut-serabut itu akan diperbarui kembali 
dan diperkuat. Pengalaman ini merupakan sebuah pembelajaran yang 
amat menarik bagi saya, karena sebenarnya saya sudah ingin berhenti 
saat saya merasa lelah dan sakit. Tetapi dia berdiri di dekat saya dan 
mengatakan, "saya akan memegang batangnya begitu Anda sudah 
tidak sanggup mengangkatnya lebih jauh." Pengalaman ini juga 
memberi perumpamaan yang hebat untuk tiga dimensi kehidupan 
yang lain. Saat kita melangkah maju hingga ujung batas-batas kemampuan, 
kemampuan kita untuk melakukan sesuatu akan me-
ningkat. Emerson mengatakannya begini: "Hal-hal yang terus-
menerus kita lakukan akan menjadi semakin mudah, bukan karena 
sifat hal itu yang berubah, tetapi karena kemampuan kita untuk 
melakukannya telah meningkat." 

Saya punya komitmen untuk latihan aerobik lima hingga enam 
kali dalam seminggu, latihan otot tiga kali seminggu, dan peregangan 
dan/atau yoga untuk kelenturan enam kali seminggu. Saya juga 
merasakan manfaat dari pilates (suatu metode latihan olahraga 
yang dikembangkan oleh Joseph Pilates, yang dia sebut sebagai The 
Art of Contrology, yang menganjurkan pemanfaatan pikiran untuk 
mengontrol otot) untuk memperkuat tubuh dengan kekuatan 
pikiran. Setiap orang harus memelajari kondisinya masing-masing 
dan menentukan tindakan apa yang paling bijaksana bagi dirinya. 
Tetapi sekali lagi, saya yakin bahwa olahraga akan meningkatkan 
kontrol diri dan penguasaan diri, yang selanjutnya akan memperbaiki 

— 501 — 


Lampiran 1 

totalitas kehidupan kita dan benar-benar memperluas ruang antara 
stimulus dan respon. 

Saat mengajar di universitas, saya mendorong para mahasiswa 
untuk menetapkan sasaran pribadi yang ingin mereka capai untuk 
semester tersebut. Sebagian besar dari para mahasiswa memilih ber-
olahraga secara teratur dan makan secara benar sebagai salah satu 
sasaran mereka. Saya menyebut penetapan sasaran ini sebagai pem-
buatan "kesepakatan menang-menang" dengan para mahasiswa, dan 
setelah tujuan tersebut disepakati, mereka bertanggung jawab 
terhadap hasilnya. Mereka juga diharapkan untuk berbagi wawasan 
dan pembelajaran yang mereka peroleh dari pengalaman yang mereka 
dapatkan saat berusaha mencapai tujuan dan mengevaluasi diri 
mereka sendiri berdasarkan sasaran yang telah mereka pilih. Karena 
evaluasi ini menjadi penentu yang signifikan untuk nilai mata kuliah 
tersebut, mereka mendapatkan motivasi eksternal sekaligus internal. 
Sebagian siswa tidak ingin menetapkan tujuan yang bersifat 
fisik, dan hal itu memang boleh-boleh saja. Mereka akan menetapkan 
dan bertanggung jawab atas sasaran-sasaran lain yang mereka rasa 
perlu mereka capai. 

Manfaat yang dirasakan oleh mereka yang berusaha mengatasi 
kecanduan gula atau makanan "sampah" cepat saji dan yang berlatih 
olah raga minimum tiga puluh menit paling tidak tiga kali sehari 
benar-benar di luar bayangan Anda. Menumbuhkan kebiasaan-ke-
biasaan baru dan mematahkan kebiasaan-kebiasaan lama memberikan 
pengaruh luar biasa besarnya sehingga memengaruhi hubungan 
mereka dengan semua orang. Kebiasaan-kebiasaan baru itu memengaruhi 
energi, ketajaman mental, pembelajaran, dan perasaan 
penguasaan diri mereka. Pada akhir semester, mereka yang tidak 
memilih sasaran-sasaran fisik menyesal karena merasa seharusnya 
mereka memilih sasaran semacam itu saat mendengar kisah-kisah 
keberhasilan dari mereka yang memilih dan mencapai sasaran-sasaran 
pengendalian fisik mereka. 

Coba renungkan sejenak. Ada 168 jam dalam setiap minggu 
bagi kita semua. Jika Anda mengasah gergaji secara fisik melalui 

— 502 — 

Lampiran 1 

latihan olahraga yang teratur dan seimbang sekalipun hanya dua 
atau tiga jam per minggu, Anda akan merasakan dampak yang 
positif dari latihan dua atau tiga jam tersebut pada 166 jam lainnya, 
termasuk pada kualitas tidur Anda. Anda akan mulai bisa melihat 
timbulnya efek berlipat ganda dan daya yang luar biasa besarnya 
dengan mengendalikan hidup Anda semacam ini. 

Istirahat yang Tepat, Relaksasi, Manajemen Stres, 
dan Pola Pikir Pencegahan 

Dr. Hans Selye, seorang pelopor besar dan pemimpin dalam bidang 
stres, menunjukkan bahwa ada dua jenis stres: distress dan eustress. 
Distress muncul karena kita membenci pekerjaan kita, mengeluhkan 
berbagai tekanan kehidupan, dan merasa bahwa kita adalah korban 
tak berdaya. Eustress datang dari dorongan/tekanan positif yang 
timbul karena adanya jarak antara kondisi kita saat ini dan tujuan 
yang ingin kita capai—sasaran, proyek atau penyebab lain yang 
bermakna, yang benar-benar menggerakkan kita dan mendulang 
bakat-bakat dan gairah kita; atau dengan kata lain, suara kita. 
Melalui penelitian empiris yang saksama, Dr. Selye memperlihatkan 
bahwa eustress menopang sistem kekebalan tubuh, meningkatkan 
jangka harapan hidup dan kenikmatan dalam hidup. Singkat kata, 
kita seharusnya tidak menghindari stres jika hal itu merupakan jenis 
stres yang tepat, yakni eustress, karena hal itu akan memperkuat kita 
dan meningkatkan kapasitas kita. Tentu saja, itu semua tetap harus 
diseimbangkan dan diselaraskan dengan istirahat dan relaksasi yang 
tepat, yakni apa yang disebut sebagai "manajemen stres," atau lebih 
tepat lagi, "manajemen eustress." Selye menjelaskan bahwa kaum 
wanita rata-rata hidup tujuh tahun lebih lama daripada laki-laki 
karena sebab-sebab psikologis/spiritual, bukan karena alasan fisiologis. 
"Pekerjaan seorang perempuan tidak pernah selesai." 

Berbagai lingkup profesional kesehatan telah luas menerima bahwa 
minimal dua pertiga dari semua penyakit yang diderita orang, 

— 503 — 


Lampiran 1 

sebenarnya disebabkan oleh pilihan gaya hidup yang diambil oleh 
orang-orang itu sendiri. Pilihan-pilihan ini berkaitan dengan nutrisi, 
merokok, kurangnya istirahat dan relaksasi, mencoba memaksa tubuh 
melakukan yang berlebihan, dan perlakuan-perlakuan tidak wajar 
lainnya terhadap tubuh. Banyak orang yang mengaitkan berbagai 
penyakit dengan faktor-faktor genetik, tetapi seperti yang telah 
kami jelaskan sebelumnya, selalu ada ruang antara stimulus dan 
respons, dan jika kita menyadari ruang ini dan menyadari 
kemampuan kita untuk membuat pilihan berdasarkan prinsip, belum 
tentu kita akan menderita penyakit sekalipun sudah terpola secara 
genetik pada diri kita. Bahkan sebagian besar kanker bisa 
disembuhkan jika terdeteksi pada tahap stadium satu atau dua 
sebelum menjadi agresif. 

Pengobatan Barat modern terutama berfokus pada perawatan 
dan bukan pada pencegahan. Perawatan itu sendiri umumnya dalam 
dua bentuk yakni dengan obat-obatan kimia atau dengan pem-
bedahan. Saya ingin melihat paradigma medis yang lebih luas dan 
lebih mendalam dengan dilengkapi oleh terapi-terapi alternatif yang 
telah terbukti keberhasilannya. 

Amat penting bagi kita untuk melakukan pemeriksaan kesehatan 
secara teratur, paling tidak satu tahun sekali, sehingga berbagai 
kecenderungan atau gejala-gejala penyakit bisa diatasi dengan 
berbagai pilihan yang bijaksana. Saya sendiri memiliki seorang dokter 
untuk perawatan dan dokter untuk pencegahan dan saya amat meng-
hargai keduanya. Saya belajar bahwa prinsip yang paling mendasar 
adalah bahwa kita harus mengambil tanggung jawab atas kesehatan 
kita sendiri. Kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan, turut 
terlibat secara mendalam untuk memahami apa yang sebenarnya 
terjadi dan apa yang harus dilakukan, memelajari, meminta pendapat 
kedua, dan melihat bentuk-bentuk terapi alternatif, daripada sekadar 
menyerahkan tanggung jawab kesehatan dan kesejahteraan kita pada 
orang atau profesi tertentu. 

— 504 — 

Lampiran 1 

Mengabaikan Perkembangan dan Kesehatan Tubuh 

Apa yang akan terjadi terhadap ketiga dimensi yang lain jika tubuh 
diabaikan? Kita akan kehilangan banyak hal, bukan hanya kesehatan 
kita tetapi secara mental kita juga akan kehilangan fokus, kreativitas, 
daya tahan, kegigihan, keberanian, kemampuan untuk belajar, serta 
ingatan kita. Dan sebaliknya, jika kita berlatih, beristirahat dan 
makan secara benar, kita bisa mempertahankan fokus mental dan 
kegigihan kita, maupun rasa haus kita untuk terus belajar. 

Apa yang terjadi pada kecerdasan emosional kita, terhadap hati 
kita, apabila kita mengabaikan tubuh kita, saat kita hanya menjadi 
budak dari selera dan nafsu kita? Kesabaran, cinta, pengertian, 
empati, kemampuan untuk mendengarkan dan welas asih akan ikut 
tertundukkan pula. Semua hal itu hanya akan menjadi omongan 
hampa tanpa daging dan darah yang membentuknya. 

Saya telah mengalami sendiri bahwa jika saya membuat komitmen 
atau berjanji pada diri saya sendiri untuk melakukan diet atau 
olahraga (atau apa pun juga), tetapi tidak memenuhinya, saya menjadi 
kurang peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Saya 
akan merasa tersinggung dan marah terhadap diri saya sendiri, dan 
saya merasa integritas saya terkikis. Baru setelah saya kembali, membuat 
komitmen ulang, menetapkan pikiran saya, dan kemudian 
memenuhi janji saya, saya bisa mengendalikan diri saya sendiri dan 
secara tulus berempati pada orang lain. 

Seseorang yang menyerah terhadap godaan setelah lima menit tidak 

akan tahu apa sebenarnya yang akan terjadi jika dia menahan 

godaan itu selama satu jam. Inilah sebabnya orang-orang yang 

perilakunya buruk hanya mengetahui sedikit sekali mengenai 

keburukan. Mereka telah menjalani kehidupan yang terkungkung 

karena selalu menyerah terhadap godaan.2 

C.S. LEWIS 

— 505 — 


Lampiran 1 

Apa yang akan terjadi dengan jiwa kita, dengan kedamaian pikiran 
kita? Keinginan kita untuk melayani, berkontribusi, kemauan kita 
untuk berkorban, untuk menundukkan diri kita sendiri terhadap 
tujuan yang lebih baik akan terpengaruh; nurani kita menjadi tum-
pul, menyerah terhadap hampir segala godaan. Hilangnya integritas 
pribadi, sekecil apa pun, membuat kita menjadi lebih berorientasi 
pada diri sendiri, lebih egois. Dan, saya menemukan bahwa saat 
saya menetapkan pikiran saya untuk hidup berdasarkan prinsip dan 
dengan nurani, tekad saya untuk melayani dan berkontribusi dengan 
cara-cara yang bermakna akan tumbuh kembali. 

Penguasaan diri secara fisik dan pengembangan fisik adalah sesuatu 
yang amat mendasar, juga amat konkret yakni kita bisa mengambil 
tindakan secara langsung terhadapnya. Kita memiliki akses yang 
lebih dekat dengannya; kita bisa mengendalikannya secara langsung. 
Saat kita menguasai selera-selera tubuh kita dan memperkuat 
kecerdasan selera-selera kita itu, kita akan mulai bisa melihat semakin 
besarnya ruang yang kita miliki antara stimulus dan respons, dan 
sekaligus mengalami peningkatan mental, emosional, maupun spiritual. 


Saya menemukan bahwa sebagian besar orang mengakui bahwa 
mereka melenceng dari jalur pada saat-saat tertentu. Tetapi jika 
mereka secara tulus bersedia mendengarkan umpan balik dari tubuh, 
pikiran, hati, dan jiwa dan membuat perubahan-perubahan yang 
diperlukan, mereka bisa kembali ke jalur mereka. Persis seperti 
perjalanan sebuah pesawat terbang. Sebenarnya penerbangan yang 
dilakukan oleh pesawat udara hampir sepanjang waktunya melenceng 
dari jalur yang telah ditetapkan, tetapi karena pilot secara terus-
menerus menerima umpan balik dari berbagai instrumen pengukuran 
untuk membantunya kembali ke jalur penerbangan yang tepat, 
hampir semua pesawat tiba pada tujuan yang telah ditetapkan oleh 
rencana penerbangan yang telah disusun. 

Jika seseorang bersedia mendengarkan nuraninya, nurani itu akan 
mengarahkannya dalam ketiga bidang ini. Dan semakin jauh dia 
mendengarkannya, semakin kuat nurani tersebut, jadi dia akan bisa 

— 506 — 

Lampiran 1 

bergerak lebih leluasa dan lebih jauh lagi dalam mendarmabaktikan 
hidupnya. Dengan makan secara tepat, berlatih olahraga, beristirahat 
dan relaksasi, kita akan meningkatkan kapasitas kita dan memperkuat 
sistem kekebalan tubuh kita maupun kemampuannya untuk 
memperbaiki diri; dan lebih penting lagi, kita bisa membebaskan 
ketiga kecerdasan yang lain yang terkandung di dalam pikiran, hati 
dan jiwa. 

MENGEMBANGKAN KECERDASAN MENTAL—IQ 

Saya rasa ada tiga jalan untuk mengembangkan IQ atau kapasitas 
mental: Pertama, pembelajaran dan pendidikan yang sistematis dan 
berdisiplin, termasuk belajar hal-hal baru di luar bidang yang telah 
kita ketahui; kedua, menumbuhkan kesadaran diri sehingga kita bisa 
sadar terhadap asumsi-asumsi kita sendiri dan berpikir "di luar kotak" 
dan di luar zona kenyamanan; ketiga, belajar dengan cara mengajar 
dan melakukannya. 


GAMBAR A 1.2 

— 507 — 


Lampiran 1 

Pembelajaran dan Pendidikan Terus-Menerus, 
Sistematis dan Disiplin 

Orang yang melakukan komitmen untuk melakukan pembelajaran, 
pertumbuhan, dan perbaikan diri secara terus-menerus akan menjadi 
orang yang memiliki kemampuan untuk berubah, beradaptasi, me-
nyesuaikan diri dengan perubahan kenyataan kehidupan, dan secara 
fundamental akan memiliki kemampuan untuk memberikan hasil 
di segala bidang kehidupan. Satu-satunya sumber keamanan ekonomi 
kita terletak pada kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan 
manusia. Jadi sebenarnya, semakin buruk kondisi yang timbul, 
semakin jelas adanya kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi. 
Sumber rasa aman ekonomi kita bukan terletak pada perusahaan/ 
organisasi/instansi tempat kita bekerja atau pada profesi kita, karena 
bisa saja ada lompatan teknologi yang membuat itu semua menjadi 
tidak berfungsi lagi. Tetapi jika kita memiliki pikiran yang kuat, 
aktif, waspada, tumbuh, dan selalu belajar, kita akan mampu "me-
lompat dengan mantap." Anggapan bahwa IQ tidak bisa berubah 
sudah lama terbukti tidak benar. Apabila pikiran semakin banyak 
digunakan, semakin kuatlah ia; apabila pikiran semakin responsif 
terhadap nurani, semakin bijaksanalah ia. 

Saya berkeyakinan kuat bahwa seharusnya kita mengurangi 
sebanyak mungkin waktu untuk nonton TV dan memanfaatkannya 
untuk membaca—membaca secara luas, mendalam, di luar bidang-
bidang yang telah kita ketahui dan di luar bidang pekerjaan kita. 
Sebagai contoh, di antara majalah yang saya baca, saya juga membaca 
Scientific American, The Economist, Psychology Today, Harvard Business 
Review, Fortune, dan Business Week. Istri saya selalu mendorong untuk 
lebih banyak lagi membaca buku-buku fiksi, biografi, dan otobiografi, 
yang merupakan minat baca utamanya. Saya rasa nasihatnya 
bijaksana. Saya juga dikirimi banyak buku dengan tujuan meminta 
kutipan dukungan, dan saya telah belajar cara membaca secara 
konseptual dengan memelajari daftar isi dan gaya si penulis untuk 
menemukan di mana gagasan-gagasan utama diungkapkan. Dengan 

— 508 — 

Lampiran 1 

cara ini saya bisa menangkap esensi banyak buku dalam waktu satu 
hari saja. 

Gaya belajar lain yang menarik dan membantu adalah dengan 
membagi presentasi yang Anda dengarkan atau buku yang Anda 
baca ke dalam empat bidang: pertama, tujuan; kedua, pendapat utama; 
ketiga, validasi atau bukti-bukti; dan keempat, aplikasi atau contoh-
contoh penggunaan dan kisah. Saya menemukan bahwa dengan 
melatih pikiran Anda agar berpikir dengan cara ini saat Anda 
mendengarkan atau membaca, daya tangkap Anda untuk memahami 
bahan tersebut akan menjadi amat baik dan akurat, hampir setingkat 
dengan pemahaman yang Anda miliki apabila Anda telah meng-
habiskan waktu yang jauh lebih banyak untuk memelajari bidang/ 
bahan tersebut. 

Pada dasarnya, setiap orang harus memutuskan sendiri cara bagi 
dirinya agar bisa terus-menerus mempertahankan pendidikan dan 
pembelajarannya. Dalam Era Pekerja Pengetahuan dewasa ini, hal 
itu amat vital. Kita harus menilai secara seksama untuk apa saja 
pemakaian waktu kita dan seberapa banyak waktu yang kita sia-
siakan, dan kemudian membentuk disiplin mental yang amat kuat 
untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Anda akan mendapat imbalan 
yang amat besar dari buku-buku yang Anda baca. Banyak orang 
yang mengatakan bahwa mereka amat sibuk, mereka tidak punya 
banyak waktu untuk membaca dan bahkan waktu untuk ber-
cengkerama dengan anak-anak mereka. Bagaimanapun juga sudah 
ada amat banyak bukti bahwa orang menghabiskan hampir setengah 
dari waktu mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. 
Tetapi semakin kuat disiplin seseorang dalam berfokus pada hal-hal 
yang penting dan semakin besar keyakinan yang membara di dalam 
hatinya, maka akan menjadi amat mudah untuk mengatakan "Tidak" 
dengan tersenyum bahagia dan ceria terhadap segala gangguan yang 
sudah pasti akan datang. 

— 509 — 


Lampiran 1 

Menumbuhkan Kesadaran Diri (Menyadari Asumsi-
Asumsi Kita Sendiri Secara Ekplisit) 

Kesadaran diri membutuhkan keempat jenis kecerdasan secara me-
nyeluruh dan merupakan anugerah yang hanya ada pada manusia. 
Kesadaran ini pada dasarnya merupakan istilah lain bagi ruang antara 
stimulus dan respons—ruang di mana Anda bisa berhenti dulu 
sejenak lalu membuat sebuah pilihan atau keputusan. 

Menumbuhkan kesadaran diri dengan mencoba untuk memahami 
dan menyadari asumsi, teori, dan paradigma kita yang mendasar 
secara eksplisit, sudah pasti merupakan salah satu aktivitas yang 
memberikan efek pelipatgandaan terbesar yang bisa kita lakukan. 
Kita secara otomatis selalu membuat asumsi, dan asumsi-asumsi itu 
bersifat amat implisit (kita tidak menyadari bahwa kita membuat 
asumsi-asumsi tersebut). Dengan menyadari secara eksplisit asumsi-
asumsi yang kita buat secara bawah sadar, kita bisa membuat lompat-
an kuantum yang luar biasa besarnya. Kita bisa belajar untuk berpikir 
di luar kotak. 

Mari saya bed sebuah contoh untuk menggambarkannya. Contoh 
ini disebut Percobaan 9 Titik. Kalaupun Anda pernah melakukan 
percobaan ini sebelumnya, saya mendorong Anda untuk melaku-
kannya lagi sekarang untuk memperkuat pengetahuan mengenai 
pentingnya menyadari secara eksplisit asumsi-asumsi kita dan berpikir 
di luar kotak. 

Dengan menggunakan sembilan titik di bawah ini dan tanpa 
mengangkat pena atau pensil Anda dari kertas, gambarlah empat 
garis lurus yang terus tersambung tanpa putus dan melewati kesem-
bilan titik tersebut (lihat Gambar A1.3). 

— 510 — 

Lampiran 1 

GAMBAR Al.3 

Mengalami kesulitan? Jika ya, coba lagi, tetapi kali ini, berpikirlah 
di luar kotak. Anda mungkin telah mengasumsikan bahwa garis-
garis yang Anda buat harus tetap berada di dalam kotak. (Dari 
sinilah muncul ungkapan "berpikir di luar kotak.") Perhatikan apa 
yang Anda lakukan sekarang. Anda berpikir mengenai pemikiran 
Anda. Tidak ada binatang yang bisa melakukan hal itu. Itulah sebab-
nya tidak ada binatang yang bisa mencipta ulang dirinya sendiri. 
Anda dan saya bisa. Mengapa? Kita bisa menguji asumsi-asumsi 
kita sendiri. Sekarang cobalah lagi. 

MARI KITA LIHAT apa yang terjadi pada saat Anda berpikir di 
luar kotak. Lihat. Tariklah garis pertama sampai keluar kotak (lihat 
Gambar A1.4). Kemudian garis kedua, ketiga, dan keempat (lihat 
Gambar A1.5). 

— 511 — 

GAMBAR A 1.4 



Lampiran 1 


GAMBAR A1.5 

Sekarang saya beri Anda tantangan lain. Gambarlah satu garis 
lurus melewati seluruh titik tersebut. Sekarang coba periksa pikiran 
Anda. Apa asumsi Anda? Satu garis lurus melalui kesembilan titik 
tersebut seluruhnya. Anda tidak bisa mengatur ulang susunan titik-
titik tersebut. Garis tersebut harus melewati sembilan titik yang 
sama. Apa asumsi Anda? 

Lebar dari garisnya (lihat Gambar A1.6 pada halaman 515). 

Kesadaran diri melibatkan keempat jenis kecerdasan dan meru-
pakan sebuah anugerah unik yang hanya ada pada manusia. Kesadaran 
ini pada dasarnya merupakan istilah lain bagi ruang antara 
stimulus dan respons—ruang di mana Anda bisa berhenti dulu 
sejenak dan kemudian membuat sebuah pilihan atau keputusan. 

Saya ingin memberi saran mengenai beberapa cara lain untuk 
memupuk kesadaran diri. Putri saya, Colleen, memiliki jurnal/catatan 
harian yang amat banyak, mungkin sampai tujuh puluh macam. 
Semua diisi dengan pikiran-pikirannya yang ditulis hanya untuk 
dibacanya sendiri. Menulis jurnal memungkinkannya untuk menjadi 
pengamat dari segala keterlibatannya dalam kehidupan, maupun 
untuk membuat pilihan-pilihan berdasarkan pengamatan-penga-
matan tersebut. Dia telah mengembangkan kapasitas untuk mencipta 
ulang dirinya sendiri dalam waktu hampir seketika, karena kesadaran 
dirinya telah berkembang menjadi amat mendalam dan kuat. Saya 
telah melihat dia membuat keputusan-keputusan yang penting di-
dasarkan pada petunjuk dari nurani, atau kecerdasan spiritual, me-

— 512 — 

Lampiran 1 

nundukkan IQ maupun EQ, dan kemudian menemukan bahwa 
ketiganya bisa berjalan bersama secara harmonis. 

Berdisiplin untuk menuliskan pikiran-pikiran kita sendiri adalah 
hal yang amat menuntut dan melelahkan, tetapi berdaya pengaruh 
yang besar dan menimbulkan kejelasan bagi kita. Sebuah kegagalan 
yang dipelajari aspek-aspeknya bisa diubah menjadi keberhasilan. 
Jadi pada dasarnya, sebenarnya tidak perlu ada kegagalan, yang ada 
hanya pembelajaran dari pengalaman yang dimanfaatkan dengan 
baik dalam kehidupan. 

Cara lain untuk membangun kesadaran diri dan orang lain dan 
untuk menyadari asumsi-asumsi kita secara eksplisit adalah dengan 
meminta umpan balik dari orang lain. Kita semua memiliki titik-
titik buta (blind spots). Sebagian dari titik-titik buta itu benar-benar 
bisa melumpuhkan efektivitas kita. Tetapi jika kita mengembangkan 
kebiasaan, baik secara informal maupun formal, untuk meminta 
umpan balik dari orang lain—orang yang kita kasihi dan yang 
bekerja atau hidup bersama kita—kita akan mempercepat laju per-
tumbuhan dan perkembangan diri kita. Kebiasaan ini akan mirip 
dengan melakukan riset pasar dan membandingkan diri (benchmarking) 
dengan mereka yang unggul di tingkat dunia, dan bukan 
sekadar dengan pesaing-pesaing lokal atau regional. Proses semacam 
ini sering memberikan informasi mengenai titik-titik buta yang juga 
tidak dapat dilihat oleh orang lain. 

Banyak orang, termasuk diri saya, melihat doa, meditasi, dan 
kontemplasi sebagai jalan untuk memahami pengarahan dari nurani 
dan untuk melihat kehidupan sebagai sebuah misi, sebuah tanggung 
jawab dan peluang untuk berkontribusi. Doa juga bisa memberikan 
kekuatan dan keberanian untuk melangkah mundur, mengakui ke-
salahan kepada orang lain, minta maaf, memperbarui komitmen, 
dan kemudian kembali ke jalur untuk maju. 

— 513 — 


Lampiran 1 

Belajar dengan Mengajarkan dan Melakukan 

Lihat kembali bab 3. Pada dasarnya, hampir setiap orang mengakui 
bahwa kita akan mengalami pembelajaran yang terbaik pada saat: 
pertama, kita mengajari orang lain, dan kedua, jika pembelajaran 
yang kita lakukan menyatu dengan diri kita dengan cara menjalan-
kannya dalam kehidupan kita. Mengetahui tapi tidak melakukannya 
sebenarnya sama saja dengan tidak mengetahui. Belajar tapi tidak 
menjalankannya sama saja dengan tidak belajar. Dengan kata lain, 
memahami sesuatu tetapi tidak menerapkannya sebenarnya sama 
dengan tidak memahaminya. Hanya dengan melakukan atau menerapkannya, 
pengetahuan dan pemahaman tersebut bisa menyatu 
dan terinternalisasi pada diri kita. 

Mengabaikan Perkembangan Pikiran 

Kita hidup di dalam sebuah dunia yang semakin hari menjadi semakin 
luar biasa rumit dengan perkembangannya yang begitu cepat. Pasar 
dan teknologi mengalami globalisasi. Ada jenis terorisme baru yang 
bisa menimbulkan konsekuensi amat berbahaya di seluruh penjuru 
dunia, yang menciptakan rasa takut di hati sebagian besar umat 
manusia. Seluruh masyarakat mengalami kebingungan berkenaan 
dengan nilai-nilai dan kehilangan pegangan. Keluarga-keluarga me-
rasakan tekanan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Alat 
kita untuk mengatasi tantangan-tantangan ini adalah pikiran kita. 
Jika pikiran diabaikan, tubuh akan menderita. Ada yang mengatakan, 
Jika Anda berpikir bahwa pendidikan itu mahal, cobalah hidup 
dengan kebodohan." Dalam kehidupan ada suatu kepastian yaitu 
tumbuh atau mati. Masa hidup dari berbagai profesi saat ini hanya 
beberapa tahun. Jika kita melemparkan tanggung jawab pengem-
bangan mental diri kita kepada organisasi tempat kita bekerja, 
semakin lama kita akan menjadi semakin tergantung dan mungkin 
akan menjadi profesional yang usang. Kejadian ini akan mengurangi 
kemampuan kita untuk berusaha dan memberikan hasil; kita bisa 

— 514 — 

Lampiran 1 

kehilangan pekerjaan kita. Tubuh akan mengalami kerusakan lebih 
cepat; kita akan mati lebih dini. 

Bagaimana dampak pada hati, pada hubungan kita dengan 
orang lain, jika kita mengabaikan pikiran dan tidak mengembang-
kannya secara terus-menerus? Semakin lama kita akan semakin di-
kendalikan oleh kebodohan dan sikap masa bodoh kita, prasangka 
kita, kebiasaan kita untuk membuat stereotip dan labelisasi. Ini 
akan bisa membawa pada pemikiran yang amat sempit, bahkan 
mengarah pada narsisme dan paranoia; pandangan kita mengenai 
kehidupan menjadi rabun, sempit, dan hanya berfokus pada diri 
sendiri. 

Bagaimana dampak terhadap jiwa jika kita berhenti belajar? 
Pertama-tama nurani menjadi kehilangan kepekaannya, kemudian 
menjadi tumpul, dan akhirnya membisu, karena tugas nurani adalah 
terus-menerus mengingatkan kita agar belajar dan tumbuh. Kita 
kehilangan visi kehidupan dan perjuangan untuk menemukan suara 
kita, yang keduanya merupakan sumber utama bagi semangat hidup 
kita. Kita akan merasa bahwa literatur kebijaksanaan adalah hal 
yang membosankan dan tidak memberikan ilham, bahkan tidak 
relevan. 



GAMBAR A 1.6 

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL—EQ 

Ada dua hal yang menarik saat Anda mempelajari literatur mengenai 
kecerdasan emosional dengan saksama. Pertama, betapa luasnya 
pengaruh EQ terhadap efektivitas jangka panjang Anda. Kedua, 

— 515 — 


GAMBAR A 1.6 

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL—EQ 

Ada dua hal yang menarik saat Anda mempelajari literatur mengenai 
kecerdasan emosional dengan saksama. Pertama, betapa luasnya 
pengaruh EQ terhadap efektivitas jangka panjang Anda. Kedua, 


Lampiran 1 

EQ bisa dikembangkan. Namun, hal lain yang menarik adalah relatif 
sedikit yang telah ditulis mengenai bagaimana cara mengembang-
kannya. 


GAMBAR A 1.7 

Lima komponen utama kecerdasan emosional yang telah umum 
diterima adalah: pertama, kesadaran-diri, yakni kemampuan untuk 
merefleksikan kehidupan diri sendiri, menumbuhkan pengetahuan 
mengenai diri sendiri, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk 
memperbaiki diri, serta untuk mengatasi kelemahan; kedua, motivasi 
pribadi, yakni yang berkaitan dengan apa yang menjadi pemicu 
semangat seseorang—visi, nilai-nilai, tujuan, harapan, hasrat, dan 
gairah yang menjadi prioritas-prioritas mereka; ketiga, pengaturan 
diri, atau kemampuan untuk mengelola diri sendiri agar mampu 
mencapai visi dan nilai-nilai pribadi; keempat, empati, kemampuan 
untuk memahami cara orang lain melihat dan merasakan berbagai 
hal; dan kelima, kemampuan sosial dan komunikasi, yakni yang berkaitan 
dengan bagaimana cara mengatasi perbedaan, memecahkan masalah, 
menghasilkan solusi-solusi kreatif, dan berinteraksi secara optimal 
untuk mengejar tujuan-tujuan bersama. 

— 516 — 

Lampiran 1 

Saya memiliki keyakinan yang mendalam bahwa cara terbaik 
dan sistematis untuk mengembangkan lima dimensi EQ ini adalah 
melalui 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Seperti yang 
telah saya jelaskan di Bab 8, ruang yang tersedia di dalam buku ini 
tidak cukup untuk mengulas kebiasaan-kebiasaan ini sedemikian 
rupa sehingga benar-benar dirasakan dampaknya. Kendati demikian, 
pada Gambar A 1.8 Anda akan bisa melihat prinsip-prinsip yang 
mendasari atau esensi dari masing-masing kebiasaan dalam 7 Kebiasaan. 
Jika mau, Anda juga bisa melihat ulang ringkasan singkat dari 7 
Kebiasaan di Bab 8. 


GAMBAR A 1.8 

— 517 — 


Lampiran 1 

Mengembangkan 4 Dimensi EQ melalui 7 Kebiasaan 

Mari kita lihat lima elemen kecerdasan emosional yang dikaitkan 
dengan 7 Kebiasaan ini: 


GAMBAR A 1.9 

Kesadaran-Diri 

Sebuah kesadaran mengenai diri sendiri, mengenai kebebasan dan ke-
kuatan kita untuk memilih, adalah inti dari Kebiasaan 1: Menjadi 
Proaktif. Dengan kata lain, Anda menyadari bahwa Anda memiliki 
ruang atau jarak antara stimulus dan respons. Anda sadar mengenai 
warisan genetis dan biologis Anda, pendidikan yang Anda terima 

— 518 — 

Lampiran 1 

saat dibesarkan, dan tekanan-tekanan lingkungan di sekitar Anda, 
tetapi tidak seperti binatang, Anda bisa membuat pilihan-pilihan 
bijaksana menyangkut hal-hal itu. Anda merasakan bahwa Anda 
bisa menjadi pengatur kreatif di dalam kehidupan Anda sendiri. 
Pilihan ini adalah keputusan Anda yang paling mendasar. 

Motivasi Diri 

Motivasi diri adalah dasar dari pilihan-pilihan tersebut. Di sini Anda 
menetapkan apa prioritas, tujuan, dan nilai tertinggi Anda. Pada 
dasarnya inilah inti dari Kebiasaan 2: Memulai Dengan Tujuan Akhir. 
Keputusan untuk menentukan arah kehidupan Anda sendiri adalah 
keputusan utama/primer Anda. 

Mengatur Diri Sendiri 

Mengatur diri adalah cara lain untuk mengekspresikan Kebiasaan 3: 
Mendahulukan Yang Utama dan Kebiasaan7: Mengasah Gergaji. 
Dengan kata lain, setelah Anda menetapkan apa saja yang menjadi 
prioritas Anda, kemudian Anda menjalani hidup berdasarkan 
prioritas-prioritas Anda tersebut. Inilah kebiasaan untuk menum-
buhkan integritas diri, penguasaan diri, dan melakukan apa yang 
telah diniatkan. Dengan kata lain, inilah kebiasaan untuk hidup atas 
dasar nilai-nilai Anda, dan secara terus-menerus memperbarui diri 
Anda sendiri. Strategi pelaksanaan dan keputusan taktis ini me-
rupakan keputusan sekunder Anda. 

Empati 

Empati adalah bagian yang pertama dari Kebiasaan 5: Berusaha 
Memahami Dahulu, Kemudian Berusaha Dipahami. Di sini kita 
belajar untuk melewati batas-batas yang dibentuk oleh masa lalu 
kita dan memasuki pikiran maupun perasaan orang lain. Di sini 

— 519 — 


Lampiran 1 

kita berusaha untuk menjadi amat peka secara sosial dan sadar 
mengenai situasi yang terjadi sebelum mencoba untuk berusaha 
dipahami, memengaruhi orang lain, dan membuat keputusan atau 
penilaian. 

Kemampuan Komunikasi Sosial 

Kombinasi dari Kebiasaan 4, 5, dan 6 mewakili kemampuan-kemam-
puan komunikasi sosial. Anda berpikir dengan dasar manfaat/keuntung-
an bersama dan saling menghormati (Kebiasaan 4: Berpikir Menang-
Menang), Anda berusaha untuk mencapai pemahaman bersama 
(Kebiasaan 5: Berusaha Memahami Dahulu, Kemudian Berusaha 
Dipahami) dengan tujuan untuk mencapai kerja sama kreatif 
(Kebiasaan 6: Bersinergi). 

Saya mengakui sekali lagi bahwa keterkaitan antara 7 Kebiasaan 
dan pengembangan lima dimensi kecerdasan emosional ini saya susun 
hanya secara ringkas. Jika Anda memiliki minat yang serius dalam 
mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) yang lebih besar, saya 
amat menganjurkan agar Anda melakukan pembelajaran yang 
mendalam dan menjalani upaya untuk menjalankan prinsip-prinsip 
yang terdapat dalam 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Saya 
melakukan hal ini bukan dengan keinginan untuk mempromosikan 
karya saya, tetapi lebih pada keyakinan pada daya kekuatan dari 
prinsip-prinsip universal, abadi, dan sudah pasti terbukti yang 
terdapat di dalam kebiasaan-kebiasaan tersebut. Prinsip-prinsip itu 
bukan milik saya, karena hal itu merupakan milik dari semua umat 
manusia, dan selalu ada di setiap bangsa, masyarakat, agama, atau 
komunitas yang berkembang, dan memiliki tradisi yang panjang. 

Mengabaikan Kecerdasan Emosional 

Dalam bukunya, Doc Childre dan Bruce Cryer menggambarkan 
dampak yang dialami tubuh karena mengabaikan kecerdasan 

— 520 — 

Lampiran 1 

emosional. "Kapasitas intelijensi menjadi menipis saat terjadi frus-
trasi, kecemasan, atau kegalauan di dalam diri. Kondisi emosional 
semacam itu menimbulkan ketidakselarasan dalam sistem kelistrikan 
dalam tubuh kita maupun kekacauan irama detak jantung, serta 
menipiskan efisiensi neurologis. Inilah dasar mengapa orang-orang 
yang cerdas sekalipun masih melakukan berbagai kebodohan. Jika 
setiap hari Anda memprioritaskan upaya untuk mencapai keutuhan 
dan harmoni di dalam diri, Anda akan menghemat waktu dan energi." 
Mereka juga menjelaskan, "Sistem kekebalan tubuh kita akan menjadi 
lemah jika tindakan kita berlawanan dengan nilai-nilai dan nurani 
kita yang lebih dalam, dan akan tumbuh menjadi semakin kuat, 
jika kita merasakan dan mengungkapkan kasih sayang atau perhatian 
yang sepenuh hati. Organisasi HeartMath secara ilmiah bahkan bisa 
menunjukkan keterkaitan ini, baik pada tingkat daya tahan tubuh 
pribadi—misalnya Anda jatuh sakit setelah mengalami perdebatan 
berat dan penting atau setelah mendengar bahwa sebuah prakarsa 
besar yang telah Anda kerjakan selama berbulan-bulan tiba-tiba 
dibatalkan—dan bahkan juga pada tingkat organisasi, dengan apa 
yang mereka sebut sebagai "virus emosional yang menghisap sema-
ngat, vitalitas, dan moral organisasi."3 

Jika kita mengabaikan pengembangan kecerdasan emosional kita 
dengan tidak menjalankan disiplin diri untuk berusaha mencapai 
kemenangan pribadi yang selanjutnya akan membawa kemenangan 
publik, kita akan mengalami trauma-trauma emosional, stres, dan 
emosi-emosi yang negatif dan merusak seperti marah, iri hati, keta-
makan, kecemburuan, dan rasa bersalah yang irasional. Jika suatu 
hubungan Anda dengan orang-orang terdekat (hubungan inti) mengalami 
tekanan, putus, atau dikhianati, akibatnya akan berdampak 
terhadap tubuh dan memperlemah sistem imunitas/kekebalan tubuh. 
Selanjutnya bisa terjadi sakit kepala dan berbagai jenis penyakit 
psikosomatis. Pikiran mereka sering tertekan, tidak fokus dan galau, 
dan mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir secara abstrak, 
saksama, analitis, dan kreatif. Jiwa juga menjadi tertekan dan lemah. 
Orang sering merasa tidak berdaya, tidak punya harapan, menjadi 

— 521 — 


Lampiran 1 

Saya berpendapat bahwa tiga cara untuk mengembangkan ke-
cerdasan spiritual adalah: pertama, integritas—menyatu dengan nilai-
nilai, keyakinan, dan nurani tertinggi seseorang, dan membentuk 
hubungan dengan Yang Maha Tak Terbatas; kedua, makna—memiliki 
keinginan untuk memberikan kontribusi terhadap orang lain dan 
pada tujuan-tujuan yang bermakna; dan ketiga, suara—menyelaras-
kan pekerjaan kita dengan bakat atau anugerah unik kita, dan 
panggilan diri kita. 

Integritas—Membuat dan Memenuhi Janji 

Cara terbaik untuk mengembangkan integritas adalah mulai dari 
hal-hal kecil, dengan membuat dan memenuhi janji. Buatlah janji 
yang tampaknya begitu kecil dan tidak penting bagi orang lain, 
tetapi bagi Anda merupakan sebuah upaya yang tulus—berlatih 
olahraga selama sepuluh menit, tidak makan hidangan pencuci 

— 522 — 

Lampiran 1 

mulut, mengurangi waktu nonton televisi selama satu jam setiap 
hari dan menggantinya dengan membaca satu bab dari sebuah buku 
bermutu, mengungkapkan rasa terima kasih melalui sebuah surat 
kepada seseorang, mengungkapkan rasa terima kasih secara langsung, 
berdoa setiap hari, meminta maaf, atau membaca literatur suci selama 
sepuluh menit setiap hari. 

Intinya adalah jika Anda membuat janji dan memenuhinya, ke-
mampuan Anda untuk membuat dan memenuhi janji yang lebih 
besar akan semakin meningkat. Lakukanlah terus hal ini, dan dalam 
waktu singkat kehormatan diri Anda akan menjadi lebih kuat dari-
pada suasana hati Anda. Integritas pribadi Anda akan berkembang 
dan ini berarti Anda memiliki keutuhan diri yang akan menjadi 
sumber kekuatan dahsyat bagi Anda. Proses ini sejatinya adalah 
menyalakan api kecil sampai akhirnya menjadi api yang besar di 
dalam diri. 

Integritas—Mendidik dan Mematuhi Nurani Anda 

Mungkin cara yang paling menggugah untuk mengembangkan ke-
cerdasan spiritual adalah dengan mendidik dan mematuhi nurani 
Anda. Madame de Stael menyatakannya demikian: "Suara dari Nurani 
amatlah lembut sehingga amat mudah terabaikan, tetapi juga amat 
jelas sehingga tidak mungkin untuk disalahartikan." Saat Anda mulai 
memelajari literatur kebijaksanaan yang telah mengakar dalam 
budaya Anda sendiri, atau saat Anda memelajari kehidupan orang-
orang yang telah menimbulkan inspirasi dan menjadi teladan untuk 
mengangkat kehidupan Anda, Anda akan merasakan suara nurani 
memandu dan mengarahkan Anda; namun suara itu tetaplah suara 
yang amat lembut. Dan apa yang dikatakan oleh C.S. Lewis akan 
terjadi: "Semakin banyak Anda mematuhi nurani Anda, semakin 
besar tuntutan nurani kepada Anda." Namun sebenarnya nurani 
bukan saja membuat tuntutan kepada Anda, tetapi juga memperbesar 
kemampuan, kecerdasan, dan kontribusi Anda. Bakat-bakat Anda 

— 523 — 

Tujuan tertinggi pendidikan adalah untuk menyaksikan manusia 

menjadi utuh, baik dalam segi kompetensi maupun nurani. 

Pendidikan yang menciptakan kekuatan kompetensi tanpa 

menciptakan arahan yang selaras untuk memandu penggunaan 

kekuatan tersebut adalah pendidikan yang buruk. Lebih jauh lagi, 

kompetensi pada akhirnya akan hancur tanpa adanya hati nurani, 

JOHN SLOAN DICKEY 

korban, dan kadang-kadang amat putus asa sehingga mereka me-
nunjukkan tanda-tanda kecenderungan untuk bunuh diri. Inilah 
sebabnya amat penting untuk terus-menerus memupuk hubungan 
dengan orang lain dan diri kita sendiri. 

MENGEMBANGKAN KECERDASAN SPIRITUAL-SQ 


Lampiran 1 

akan berlipat ganda jika Anda dengan bijaksana menggunakan apa 
yang telah diberikan kepada Anda. 

Menemukan Makna dan Suara Anda 

Subyek ini merupakan gagasan utama dalam buku ini dan ber-
hubungan dengan segala hal yang lain. Tetapi ada satu cara seder-
hana untuk menemukan suara seseorang, seperti yang telah dijelaskan 
sebelumnya, yakni cukup dengan menanyakan pertanyaan "Apa yang 
dituntut oleh situasi hidup saya saat ini; apa yang seharusnya saya 
lakukan dalam tanggung jawab saya, tugas-tugas saya saat ini; 
langkah bijaksana apa yang perlu diambil?" Jika kita hidup dengan 
menjalani jawaban-jawaban yang diberikan oleh nurani, ruang yang 
kita miliki antara stimulus dan respons menjadi semakin besar dan 
nurani akan bersuara semakin jelas. 

Tujuan hidupku adalah menyatukan 

Kesenanganku dengan kewajibanku 

Seperti dua mata membuat satu pandangan 

Hanya jika cinta dan kebutuhan adalah satu 

Dan pekerjaan menjadi permainan 

Maka keinginan akan benar-benar terlaksana 

Bagi Surga dan masa depan.4 

ROBERT FROST 

Saat lain yang amat signifikan untuk menemukan suara atau 
panggilan Anda adalah pada saat Anda memilih karier, pekerjaan 
atau sebuah tujuan mulia yang akan Anda kejar. Ingatlah untuk 
menanyakan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang mewakili keempat kecerdasan—tubuh, pikiran, hati, dan jiwa. Apa yang saya lakukan dengan senang hati dan bisa saya lakukan dengan baik? Haruskah saya melakukannya? Bisakah saya menghidupi diri saya 

— 524 — 

Lampiran 1 

dengan melakukan hal itu? Bisakah saya belajar untuk menjadi 
semakin baik dalam melakukan hal itu? Apakah saya bersedia untuk 
membayar harga yang diperlukan untuk belajar? Jim Collins, dalam 
bukunya yang menggugah, Good to Great, mendorong orang-orang 
maupun berbagai organisasi untuk menanyakan pertanyaan "Dalam 
hal apa saya bisa menjadi yang terbaik di dunia?" Saya tahu paling 
tidak satu jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini berlaku bagi 
semua di antara kita yang merupakan orangtua. Jika kita telah 
menetapkan pikiran kita, kita akan bisa menjadi yang terbaik di 
dunia untuk membesarkan anak-anak kita sendiri. Tak ada orang 
lain yang peduli sebesar kasih sayang kita. 

Seratus tabun dari sekarang, tidak akan ada artinya jenis mobil 

apa yang saya kendarai, jenis rumah yang saya tinggali, berapa 

banyak uang yang saya punya di rekening bank saya ataupun seperti 

apa baju yang saya pakai. Tetapi dunia mungkin akan bisa 

menjadi sedikit lebih baik karena saya berperan penting dalam 

kehidupan seorang anak. 

ANONIM 

Mengabaikan, Menafikan, atau Mengkhianati 
Kecerdasan Spiritual Kita 

Apa yang terjadi terhadap tubuh jika kita melanggar nurani dan 
integritas kita? Anda sering bisa melihatnya pada raut muka seseorang, 
atau di mata mereka. Biasanya mereka mengabaikan tubuh 
mereka; mereka akan mengalami keletihan atau mungkin bahkan 
sudah mengalaminya. Pikiran mereka umumnya akan penuh dengan 
dalih-dalih rasionalisasi yang sebenarnya hanya mengatakan berbagai 
kebohongan untuk membuat agar sesuatu tampak masuk akal. 
Mereka merasa bersalah. Rasa salah ini sebenarnya merupakan suatu 

525 

Tujuan hidupku adalah menyatukan 

Kesenanganku dengan kewajibanku 

Seperti dua mata membuat satu pandangan 

Hanya jika cinta dan kebutuhan adalah satu 

Dan pekerjaan menjadi permainan 

Maka keinginan akan benar-benar terlaksana 

Bagi Surga dan masa depan.4 

ROBERT FROST 

Seratus tahun dari sekarang, tidak akan ada artinya jenis mobil 

apa yang saya kendarai, jenis rumah yang saya tinggali, berapa 

banyak uang yang saya punya di rekening bank saya ataupun seperti 

apa baju yang saya pakai. Tetapi dunia mungkin akan bisa 

menjadi sedikit lebih baik karena saya berperan penting dalam 

kehidupan seorang anak. 

ANONIM 


Lampiran 1 

emosi yang amat sehat jika memang terjadi pelanggaran pada in-
tegritas dan nurani, dan berdasarkan itu kita diingatkan untuk me-
ngubah sesuatu, tetapi dalih-dalih kita akan berusaha menutupi 
rasa salah itu, dan energi kita tergerogoti karenanya. Mereka tidak 
punya rasa damai dalam diri. Kemampuan mereka untuk menilai 
jadi cacat. University of California di Berkeley meringkaskan salah 
satu hasil penelitian mereka dalam sebuah terbitan berkala dengan 
ungkapan berikut: "Mencapai kebaikan dengan melakukan 
kebaikan." 

Apa yang terjadi terhadap hati? Orang-orang tersebut akan ke-
hilangan kontrol terhadap emosi mereka, kemampuan mereka untuk 
memahami orang lain, untuk berempati dengan orang lain. Kemampuan 
mereka untuk memiliki welas asih (compassion) dan cinta 
kasih kepada orang lain akan mengalami penurunan yang amat 
tajam. 

— 526 — 

Lampiran 2 

TINJAUAN LITERATUR TENTANG 
TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN 

Secara umum ada lima pendekatan tentang teori kepemimpinan 
yang muncul pada abad kedua puluh. Pendekatan ini meliputi: 
sifat, perilaku, kekuasaan/pengaruh, situasional dan integratif. 
Teori-teori kepemimpinan 'manusia agung', yang mendominasi pem-
bahasan kepemimpinan sebelum tahun 1900, menjadi pendahulu 
munculnya teori-teori kepemimpinan yang menekankan sifat-sifat 
pemimpin. Untuk melengkapi pandangan tersebut, para ahli teori 
mulai memberikan perhatian yang lebih besar pada faktor-faktor 
situasional dan lingkungan. Selanjutnya, dikembangkan pula teori-
teori integrasi antara manusia dan situasi, psikoanalisis, pencapaian 
peran, perubahan, tujuan dan berbagai kebetulan yang menyebabkan 
orang bisa menjadi pemimpin. Teori-teori kepemimpinan yang ber-
kembang sejak 1970 didasarkan pada salah satu teori fundamental 

ini. 

— 527 — 

Pada saat seseorang menjadi lebih baik, dia akan memahami dengan 
semakin jelas kejahatan yang masih terdapat di dalam dirinya.Jika 

seseorang menjadi lebih buruk, dia semakin tidak memahami 
keburukan yang ada di dalam dirinya. Seseorang yang agak buruk 

tahu bahwa dia tidak terlalu baik; seseorang yang amat buruk 

berpikir bahwa dia baik-baik saja. Ini hanya pemikiran logis saja. 

Anda memahami tidur saat Anda bangun, bukan pada saat 

Anda tidur. Anda bisa melihat kesalahan saat mengerjakan soal 

aritmatika jika pikiran Anda bekerja dengan tepat; sementara pada 

saat melakukannya Anda tidak bisa melihatnya. Qrang-orang yang 

baik tahu mengenai kebaikan maupun keburukan; orang-orang yang 

buruk tidak mengetahui keduanya.5 

C.S. LEWIS 


Lampiran 2 

— 528 — 

Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 


— 529 — 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 



Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 

530 

Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 


Integratif: 

— 531 — 



Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 

532 — 

Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 


— 533 — 



Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 

— 534 

Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 

— 535 



Lampiran 2 

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN: TINJAUAN LITERATUR 


— 536 — 

Lampiran 2 

Referensi yang Dibaca 

Bass, B.M. Bass and Stogdill's Handbook of Leadership: Theory, Research, 
and Managerial Applications, edisi ke-3- London: Collier Macmillan, 
1990. 

Bennis, W.G. An Invented Life: Reflections on Leadership and Change. 
Reading, Mass.: Addison-Wesley, 1993. 

Buckingham, M., and D.O. Clifton. Discover Your Strengths. New 
York: Free Press, 2001. 

Buckingham, M., and C. Coffman. First, Break All the Rules: What 
the World's Greatest Managers Do Differently. New York: Simon & 
Schuster, 1999. 

Collins, J.C. Good to Great: Why Some Companies Make the Leap... and 
Others Don't. New York: HarperCollins Publishers, 2001. 

Fairholm, G. W Capturing the Heart of Leadership: Spirituality and 
Community in the New American Workplace. Westport, Conn.: Praeger, 
1997. 

Fairholm, G.W Perspectives on Leadership: From the Science of Manage 
ment to Its Spiritual Heart. Westport, Conn.: Quorum Books, 1998. 

Gardner, H. Leading Minds: An Anatomy of Leadership. New York: 
BasicBooks, 1995. 

Gardner, J.W On Leadership. New York: Collier Macmillan, 1990. 
Jaques, E., and S.D. Clement. Executive Leadership: A Practical Guide 
to Managing Complexity. Arlington, Va.: Cason Hall, 1991. 

Kouzes, J.M., and B.Z. Posner. The Leadership Challenge: How to 
Keep Getting Extraordinary Things Done in Organizations. San Fran 
cisco: Jossey-Bass, 1995. 

Renesch, J., ed. Leadership in a New Era: Visionary Approaches to the 
Biggest Crisis of Our Time. San Francisco: New Leaders Press, 1994. 

Senge, P.M. The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning 
Organization. New York: Currency Doubleday, 1990. 

— 537 — 


Lampiran 2 

Ulrich, D., J. Zenger, and N. Smallwood. Results-Based Leadership: 
How Leaders Build the Business and Improve the Bottom Line. Boston 
Harvard Business School Press, 1999-

Vaill, PB. Managing as a Performing Art: New Ideas for a World of 
Chaotic Change. San Francisco: Jossey-Bass, 1989. 

Wheatley, M J. Leadership and the New Science: Learning about Organi 
zation from an Orderly Universe. San Francisco: Berrett-Koehler, 
1992. 

Wren, J.T. Leader's Companion: Insights on Leadership through the Ages. 
New York: The Free Press, 1995. 

Yuki, G. Leadership in Organizations, 4th ed. Upper Saddle River, 
N.J.: Prentice-Hall, 1998. 

— 538 — 

Lampiran 3 

PENDAPAT-PENDAPAT MENGENAI 

KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN 

Penulis dan Referensi Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 

Warren Bennis 

Bennis, W. G. (1994). "Leading 
Change: The Leader as the Chief 
Transformation Officer." Dalam J. 
Renesch (Ed.), Leadership in a 
New Era: Visionary Approaches to 
the Biggest Crisis of Our Time (hal. 
102-110). San Francisco: New 
Leader Press. 

"Manajemen mengusahakan agar orang melakukan 
apa yang perlu dilakukan. Kepemimpinan mengusahakan 
agar orang memiliki keinginan untuk melakukan 
apa yang perlu dilakukan. Manajer mendorong. 
Pemimpin menarik. Manajer memberi perintah. 
Pemimpin berkomunikasi." 

Bennis, W. G. (1993). An invented 
Life: Reflections on Leadership and 
Change. Reading, MA: Addison-
Wesley. 

"Pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang 
benar; manajer adalah orang yang melakukan dengan 
cara yang benar." 

Carter-Scott, C (1994). "The Differences 
Between Management 
and Leadership." Manage, 10 + . 

"Pemimpin menaklukkan konteks—kondisi sekitar 
yang tak dapat diduga, turbulen, membingungkan 
dan kadang-kadang tampak berkonspirasi melawan 
kita dan sudah pasti akan mencekik kita jika kita 
biarkan begitu saja—sedangkan manajer menyerah 
terhadap hal itu. Manajer mengelola; pemimpin ber-
inovasi. Manajer adalah salinan; pemimpin adalah 
benda aslinya. Manajer mempertahankan; pemimpin 
mengembangkan. Manajer berfokus pada sistem dan 
struktur; pemimpin berfokus pada manusia. Manajer 
bergantung pada kontrol; pemimpin mengilhami ter-
bentuknya kepercayaan. Manajer memiliki jangkauan 
pandang yang pendek; pemimpin memiliki perspektif 
jarak jauh. Manajer menanyakan bagaimana dan 
kapan; pemimpin bertanya apa dan mengapa. Manajer 
memusatkan pandangannya pada hasil masa lalu; 
pemimpin memusatkan pandangannya pada cakra-
wala masa depan. Manajer meniru; pemimpin men-
ciptakan. Manajer menerima kondisi yang ada; pemimpin 
menantang kondisi itu. Manajer adalah ser-
dadu klasik yang baik; pemimpin adalah dirinya 
sendiri. Manajer melakukan berbagai hal dengan cara 
yang benar; pemimpin melakukan berbagai hal yang 
benar." 



— 539 — 


Lampiran 3 


— 540 — 

Lampiran 3 

541 — 



Lampiran 3 

Penulis dan Referensi Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 

James M. Burns 

Burns, J. M. (1978). Leadership. 
New York: Harper and Row. 

Transaksional (manajemen) lawan Transformasional 
(kepemimpinan) 

Kepemimpinan transaksional: kepemimpinan sema-
cam ini terjadi jika seseorang membuat inisiatif untuk 
melakukan hubungan dengan orang lain, dengan tu-
juan untuk melakukan pertukaran nilai antara ber-
bagai benda. Kepemimpinan transformasional: kepemimpinan 
semacam ini terjadi jika satu orang atau 
lebih berhubungan dengan orang-orang lain dengan 
cara tertentu sehingga pemimpin dan pengikut saling 
mengangkat masing-masing ke tingkat motivasi dan 
moralitas yang lebih tinggi. Tujuan mereka, yang 
pada awalnya mungkin terpisah sekalipun berkaitan, 
seperti dalam kepemimpinan transaksional, pada 
akhirnya akan menyatu. 

Peter Drucker 

Dalam Galagan, P. A. (1998). Peter 
Drucker: Training & Development, 
52, 22-27. 

"Ujian sebenarnya bagi seorang pemimpin bukanlah 
apa yang dicapainya. Melainkan apa yang terjadi 
saat mereka sudah tidak lagi memimpin. Proses 
suksesi itulah yang menjadi ujian. Jika perusahaan 
mengalami kolaps pada saat para pemimpin yang 
hebat dan karismatik meninggalkannya, apa yang 
mereka lakukan sebenarnya bukanlah kepemimpinan. 
Dengan amat terus terang harus dikatakan bahwa 
mereka hanya melakukan penipuan. 

"... Saya selalu menekankan bahwa kepemimpinan 
adalah tanggung jawab. Kepemimpinan adalah 
akuntabilitas. Kepemimpinan adalah mengambil 
tindakan ... 

"...Gagasan yang memisahkan antara manajemen 
dan kepemimpinan adalah omong kosong— sama 
omong kosongnya dengan memisahkan manajemen 
dari kewirausahaan, Keduanya adalah bagian dan 
potongan dari pekerjaan yang sama. Keduanya 
memang berbeda, tetapi perbedaannya hanya seperti 
tangan kanan dan tangan kiri atau hidung dan mulut. 
Keduanya merupakan bagian dari tubuh yang sama." 

Richard Pascale 

Dalam Johnson, M. (1996). 
"Taking the Lid Off Leadership." 
Management Review, 59-61. 

"Manajemen adalah pelaksanaan kewenangan dan 
pengaruh untuk mencapai tingkat kinerja yang setara 
dengan tingkat yang sebelumnya pernah dicapai... 
Kepemimpinan adalah mewujudkan apa yang tidak 
akan terwujud dengan cara lain ... [dan akan] selalu 
diikuti dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan pada 
ujung-ujung terjauh dari apa yang dianggap bisa 
diterima." 

George Weathersby 

Weathersby, G. B. (1999). 
"Leadership versus Management." 
Management Review, 88, 5 + . 

"Manajemen adalah pengalokasian sumber daya yang 
terbatas untuk mencapai sasaran organisasi, me-
netapkan prioritas, merancang pekerjaan dan strategi 
pencapaian hasil-hasil. Yang paling penting, 
manajemen berkaitan dengan pengendalian. Kepemimpinan, 
di sisi lain, berfokus pada penciptaan 
visi bersama. Ini berarti memotivasi orang untuk 
berkontribusi terhadap visi tersebut dan mendorong 
mereka untuk menyelaraskan kepentingan pribadi 
mereka dengan kepentingan organisasi. Ini berarti 
melakukan persuasi, bukan memberi perintah." 



— 542 — 

Lampiran 3 

Penulis dan Referensi Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 

John Mariotti 

Mariotti, J. (1998). "Leadership 
Matters." industry Week, 247, 
70 + . 

"Orang-orang yang 'dikelola' dengan baik mungkin 
akan kehilangan kecenderungan untuk memberikan 
daya upaya yang diperlukan untuk mencapai keber-
hasilan —kecuali jika mereka memiliki pemimpin-
pemimpin yang baik. Para pemimpin yang hebat 
bisa menghasilkan hasil-hasil yang luar biasa dari 
orang-orang biasa. Manajer-manajer yang hebat 
hanya akan mendapatkan hasil yang direncanakan 
dengan baik dan kadang-kadang terlaksana dengan 
baik, tetapi jarang mendapatkan keberhasilan besar 
yang muncul dari semangat dan komitmen antusias 
yang diinspirasikan oleh kepemimpinan sejati. 
Pemimpin adalah arsitek. Manajer adalah pem-
bangun. Keduanya diperlukan, tetapi tanpa adanya 
arsitek, tidak ada hal yang spesial untuk dibangun." 

Rosabeth Moss Kanter 

Kanter, R. M. (1989). "The New 
Managerial Work." Harvard Business 
Review, 85 +. 

"Dasar-dasar usang dari kewenangan manajerial telah 
keropos, dan perangkat-perangkat kepemimpinan 
baru mulai mengambil tempat mereka. Para manajer 
yang kekuasaannya didapatkan dari hierarki dan 
sudah terbiasa dengan kontrol pribadi yang terbatas, 
sedang belajar untuk mengubah perspektif mereka 
dan memperlebar cakrawala mereka. Pekerjaan 
manajerial yang baru dilakukan dengan memandang 
ke luar wilayah tanggung jawab yang telah 
didefinisikan. Tujuannya adalah untuk meraba 
peluang-peluang dan membentuk tim-tim proyek 
yang disusun dari setiap kelompok yang relevan 
untuk menangani proyek tersebut. Hal ini 
memerlukan komunikasi dan kolaborasi antarfungsi, 
antardivisi, dan antarperusahaan yang aktivitas dan 
sumber dayanya saling bertemu. Dengan demikian, 
pangkat, jabatan atau kedudukan resmi akan menjadi 
faktor yang semakin kurang penting dalam 
keberhasilan pekerjaan manajerial yang baru, 
sedangkan pengetahuan, keahlian, dan kepekaan 
untuk menggerakkan orang-orang dan memotivasi 
mereka agar melakukan yang terbaik akan 
memainkan peranan yang semakin penting." 

Tom Peters 

Peters, T. (1994). Thriving on 
Chaos. New York: Alfred A. 
Knopf. 

Peters menarik kesimpulan dari konsepsi Bennis serta 
Kouzes dan Posner mengenai kepemimpinan seperti 
yang diringkas sebelum ini. Peters yakin bahwa 
"Mengembangkan sebuah visi, dan lebih penting 
lagi, berusaha mencapainya secara gigih, adalah 
elemen yang esensial dari kepemimpinan... Visi 
memiliki tempat yang sama pentingnya dengan 
kehormatan dalam dunia penyelia atau manajer 
madya." 



— 543 — 


Lampiran 3 

Dengan mengerjakan proyek ini, saya diingatkan kembali bahwa 
kita akan bisa memahami dengan lebih baik jika kita bisa melihat 
hal yang kontras. Coba lihat sebuah ringkasan mengenai perbedaan 
antara kepemimpinan dan manajemen (Gambar A3.1): 


GAMBAR A3.1 

— 544 — 

Lampiran 4 

BIAYA TINGGI AKIBAT RENDAHNYA 
TINGKAT KEPERCAYAAN 

Mahan Khalsa, penulis, konsultan sekaligus rekan kerja saya, 
telah menyusun salah satu cara yang paling membuka 
hati agar tim eksekutif korporasi mau berubah. Jika Anda 
ingin agar organisasi Anda cukup rendah hati sehingga perubahan 
bisa dimulai dan terus dijalankan, orang-orang Anda harus merasakan 
beban dari kondisi yang ada. Anda bisa mempergunakan serangkaian 
pertanyaan untuk menciptakan beban kondisi itu untuk menyiapkan 
pikiran orang agar mau melakukan perubahan. 

Proses ini dilakukan dengan menanyakan dua jenis pertanyaan 
yang membawa ke inti permasalahan: 1) pertanyaan-pertanyaan bukti 
(bagaimana, apa, di mana, yang mana, siapa, dan kapan ... secara 
spesifik) yang menyediakan fakta-fakta mengenai sebuah situasi, 
bahkan jika fakta itu bukanlah fakta yang utama, dan 2) pertanyaan-
pertanyaan dampak yang membawa ke inti permasalahan—salah satu 
pertanyaan yang paling kuat dari pertanyaan semacam itu adalah 
"Lalu apa yang terjadi?" 

Berikut ini adalah percakapan hipotesis antara Anda dan seorang 
rekan kerja, manajer atau eksekutif, sebagai contoh mengenai cara 
mempergunakan alat diagnostik ini untuk mengetahui biaya tinggi 
akibat rendahnya tingkat kepercayaan. Proses ini bisa dipergunakan 
oleh orang dari level apa pun yang memiliki akses terhadap informasi 
yang dibutuhkan: 

— 545 — 


Lampiran 4 

Rekan kerja: "Orang-orang kita tidak saling mempercayai." 

Pada tahap ini, Anda bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan 
bukti seperti, "Secara spesifik, orang-orang yang mana yang tidak 
saling mempercayai? Kapan kejadian tidak saling mempercayai itu 
benar-benar tampak? Dari mana Anda tahu bahwa tingkat kepercaya-
an rendah?" Selanjutnya, jika Anda ingin menemukan dampak dari 
rendahnya tingkat kepercayaan di dalam organisasi, Anda harus 
menanyakan pertanyaan dampak. 

Anda: "Dan jika orang tidak saling mempercayai, lalu apa 

yang terjadi?" 

Rekan kerja: "Orang-orang tidak akan saling berbagi informasi." 

Sekali lagi, Anda bisa menanyakan pertanyaan bukti lebih banyak 
seperti, "Secara spesifik, orang-orang yang mana yang tidak mau 
berbagi informasi? Informasi apa yang tidak mereka bagi? Bagaimana 
Anda tahu mereka tidak berbagi informasi?" Sampai titik tertentu, 
mungkin Anda akan siap untuk turun satu tingkat lagi mendekati 
dampak, dan Anda bertanya: 

Anda: "Dan jika orang tidak saling berbagi informasi, lalu 

apa yang terjadi?" 

Rekan kerja: "Proyek-proyek dan aktivitas-aktivitas mereka tidak 
selaras dengan tujuan-tujuan bisnis perusahaan." 

Sekali lagi, Anda bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan bukti 
seperti, "Secara spesifik, dalam sasaran-sasaran apa mereka tidak 
selaras? Proyek-proyek dan aktivitas-aktivitas apa saja? Apa yang 
membuat Anda tahu bahwa hal itu tidak selaras?" Lalu Anda menanyakan 
pertanyaan dampak selanjutnya. 

— 546 — 

Lampiran 4 

Anda: "Dan jika orang tidak selaras dengan sasaran-sasaran 

bisnis perusahaan, lalu apa yang terjadi?" 

Rekan kerja: "Hal itu menyebabkan meningkatnya biaya pengem-
bangan produk baru." 

Sekarang, rekan kerja Anda telah memberi Anda sesuatu yang 
benar-benar bisa diukur berkaitan dengan rendahnya tingkat kepercayaan: 
meningkatnya biaya pengembangan produk baru. Jika Anda 
melihat atau mendengar sebuah pendapat yang bisa diukur, Anda 
lalu menanyakan lima pertanyaan emas: 

1. Bagaimana Anda mengukurnya? 

2. Bagaimana kondisinya saat ini? 

3. Bagaimana kondisi yang Anda inginkan? 

4. Berapa besar nilai perbedaannya? 

5. Perhitungan jangka panjangnya bagaimana (jangka waktu 
manajemen yang sesuai)? 

Jadi saat rekan kerja Anda mengatakan, "Hal itu meningkatkan 
biaya pengembangan produk baru" Anda bisa mengajukan lima 
pertanyaan emas tersebut. 

Anda: "Bagaimana kamu mengukur biaya pengembangan 

produk baru?" 

Rekan kerja: "Biaya proyek yang dikeluarkan untuk setiap produk 
baru yang diluncurkan." 

Anda: "Berapa jumlahnya saat ini?" 

Rekan kerja: "$500,000" 

— 547 — 


Lampiran 4 
Anda: "Menurutmu, pantasnya berapa besarnya?' 

Rekan kerja: "Mestinya cuma sekitar $350.000." 

Anda: 

"Jadi selisihnya $150.000. Berapa banyak produk 
baru per tahun yang kamu hasilkan?" 

Rekan kerja: "Dua puluh." 

Sekarang Anda tinggal menghitung bersama rekan kerja atau 
tim Anda. 

Anda: 

"Berarti $150.000 per produk baru dikalikan dengan 
20 produk baru ... secara kasar berarti sekitar 3 juta 
dolar per tahun. Jadi pemborosannya akan sebesar 
itu?" 

Rekan kerja: "Sebenarnya mungkin jumlah itu malah terlalu kecil.' 

Anda: 

"Jadi dengan menganggap bahwa biaya-biaya tidak 
berubah, selama tiga tahun ke depan kita harus 
menghadapi masalah senilai sembilan juta dolar?" 

Rekan kerja: "Saya rasa begitu. 

Dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan dampak, Anda akan 
menemukan bahwa dari satu dimensi saja, "kepercayaan rendah", 
akan timbul beban biaya terhadap perusahaan sebesar sembilan juta 
dolar selama tiga tahun mendatang. Anda mungkin perlu melakukan 
pekerjaan tambahan untuk memastikan angka tersebut, tetapi paling 
tidak Anda sudah memiliki titik awal yang bisa diukur untuk 
dicari, dan pencarian Anda akan terfokus pada sesuatu yang spesifik. 
Jika rekan kerja Anda bisa melihat masalah ini dalam bentuk biaya 

— 548 — 

Lampiran 4 

yang memiliki jumlah uang tertentu, mereka akan menyadari bahwa 
perubahan memang merupakan hal yang amat diperlukan. 

Perhatikan bahwa Anda harus menanyakan campuran antara pertanyaan-
pertanyaan bukti dan pertanyaan-pertanyaan dampak sampai 
proses tanya jawab tersebut sampai ke inti dari permasalahan, dan 
baru kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan emas. Sepanjang 
proses tersebut, orang lain atau tim bertindak sebagai pihak yang 
sanggup berpikir sendiri. Anda hanya bertindak sebagai pemandu, 
mentor. Dalam kenyataannya, Anda memberikan pembelajaran 
dengan menjadi mentor tanpa menimbulkan ancaman terhadap 
rekan-rekan kerja Anda, karena mereka tetap menjadi inti kekuatan. 
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah himpunan pertanyaan yang 
memiliki pengaruh kuat dan mampu menembus sangat dalam, dan 
memungkinkan orang untuk secara obyektif sampai pada biaya-
biaya pribadi dan organisasi, berkaitan dengan tantangan organisasi 
yang merupakan keprihatinan mendalam bagi Anda. 

Yang paling signifikan, proses ini tidak hanya akan membentuk 
sebuah budaya keterbukaan di dalam tim dan organisasi Anda, tetapi 
juga akan memperkuat ikatan kepercayaan di antara Anda. 

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.franklincovey.com/ 
letsgetreal. 

— 549 — 


Lampiran 5 

MENERAPKAN 4 DISIPLIN 
PELAKSANAAN 

4Disiplin Pelaksanaan adalah sesi kerja satu hingga tiga hari bagi 
semua orang di dalam sebuah organisasi. Sesi-sesi kerja ini bisa 
dijalankan dengan peserta dari tim kepemimpinan senior, tim operasi-
onal, manajer, atau kontributor individual. Sesi-sesi ini difasilitasi 
oleh konsultan FranklinCovey. Klien juga bisa mendapatkan lisensi 
dan sertifikat untuk memimpin diskusi-diskusi ini sendiri. Dalam 
sesi-sesi kerja ini, para peserta dipandu melalui sebuah proses untuk 
melakukan klarifikasi tujuan-tujuan mereka yang paling penting, 
menentukan pengukuran-pengukuran dan Papan Skor untuk tujuan-
tujuan tersebut, memecahkan tujuan-tujuan ke dalam berbagai akti-
vitas dan perilaku baru, dan mempelajari sebuah proses akuntabilitas 
untuk mempertahankan komitmen terhadap pencapaian tujuan. 
Kami membantu organisasi untuk menjalankan strategi dan dengan 
cepat menyebarkan tujuan-tujuan berjenjang ke seluruh organisasi, 
menciptakan pemahaman yang lebih besar terhadap tujuan-tujuan 
penting dan strategi sekaligus membentuk komitmen yang lebih 
kuat terhadapnya. Kami telah membantu organisasi dari segala ben-
tuk dan ukuran untuk mengimplementasikan metodologi ini, ter-
masuk organisasi-organisasi dalam kelompok Fortune 100. Untuk 
informasi lebih lanjut mengenai 4 Disiplin Pelaksanaan, silakan meng-
hubungi 021-572-0761, fax. 021-572-0762 atau menghubungi situs 
web kami pada www.dunamis.co.id. 

— 550 — 

Lampiran 6 
HASIL-HASIL XQ 

SURVEI xQ mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai 
tujuan-tujuan terpenting. Evaluasi xQ mengukur "kesenjangan 
pelaksanaan", yaitu jurang antara tujuan yang ditetapkan dan tin-
dakan untuk mencapainya. Istilah "xQ" adalah singkatan dari 
"execution quotient" atau "ukuran kemampuan pelaksanaan." 

Setelah melakukan survei terhadap sekitar 2,5 juta orang mengenai 
efektivitas para manajer mereka, dan bekerja sama dengan 
Harris Interactive (penyusun Harris Poll), FranklinCovey telah me-
ngembangkan sebuah metode untuk mengukur kemampuan pelaksanaan 
sebuah organisasi. 

Hasil-hasil dari penelitian xQ amat mencengangkan dan memu-
singkan; ternyata memang ada jurang yang menganga lebar dalam 
pelaksanaan tujuan, seperti yang diungkapkan oleh angka-angka 
persentase berikut: 

— 551 — 


Lampiran 6 

Masalah Pelaksanaan 

Person yang Setuju 

FOKUS ORGANISASI: Apakah semua karyawan berfokus pada 
tujuan-tujuan organisasi? 

22% 

KUALITAS SASARAN TIM: Apakah tim-tim kerja memiliki 
sasaran-sasaran yang jelas dan terukur? 

9% 

PERENCANAAN TIM: Apakah tim-tim kerja melakukan 
perencanaan bersama untuk mencapai sasaran mereka? 

16% 

KOMUNIKASI TIM: Apakah tim-tim kerja memiliki pemahaman 
bersama dan dialog yang kreatif? 

17% 

KEPERCAYAAN TIM: Apakah tim-tim kerja berfungsi dalam 
sebuah lingkungan kerja yang aman, "menang-menang"? 

15% 

PEMBERDAYAAN TIM: Apakah tim-tim kerja memiliki sumber 
daya yang memadai dan kebebasan untuk melakukan 
pekerjaan mereka? 

15% 

AKUNTABILITAS TIM: Apakah para anggota tim saling 
meminta akuntabilitas untuk komitmen mereka? 

10% 

PENGUKURAN TIM-KUALITAS: Apakah pengukuran-
pengukuran keberhasilan dipantau secara akurat dan terbuka? 

10% 

SASARAN-SASARAN KERJA INDIVIDU: Apakah para anggota 
tim memiliki sasaran pekerjaan yang jelas, terukur dan 
didasarkan pada tenggat waktu yang jelas? 

22% 

KETERLIBATAN INDIVIDUAL: Apakah para anggota tim 
memiliki motivasi yang tinggi? Apakah mereka merasa 
dihargai? 

22% 

PERENCANAAN INDIVIDUAL: Apakah para anggota tim 
secara sistematis melakukan penjadwalan terhadap prioritas-
prioritas mereka? 

8% 

INISIATIF INDIVIDUAL: Apakah para anggota tim mengambil 
inisiatif individual dan tanggung jawab terhadap hasil-hasilnya? 

13% 

ARAH ORGANISASI: Apakah strategi dan tujuan-tujuan 
organisasional dipahami secara tepat oleh setiap orang? 

23% 

KERJA SAMA ORGANISASI: Apakah antartim bekerja lintas 
fungsi dengan mulus? 

13% 

KELAYAKAN DIPERCAYA ORGANISASI: Apakah organisasi 
menghormati berbagai nilai dan komitmennya? 

20% 



— 552 — 

Lampiran 6 

Masalah Pelaksanaan 

Person yang Setuju 

PERBAIKAN KINERJA ORGANISASI: Apakah ada pendekatan 
yang konsisten, sistematis? 

13% 

KOMITMEN INDIVIDUAL: Apakah orang-orang di dalam 
organisasi memiliki komitmen untuk mencapai tujuan-tujuan 
organisasi? 

39% merasa amat setuju 
atau setuju 

DUKUNGAN ORGANISASI: Apakah manajemen puncak secara 
aktif mendukung sasaran-sasaran tim kerja? 

45% menyatakan setuju 
atau sangat setuju 

FOKUS TIM: Apakah kelompok kerja Anda sepenuhnya dan 
secara tekun berfokus pada tujuan-tujuannya yang terpenting? 

14% 

ALOKASI WAKTU INDIVIDUAL: Berapa banyak waktu yang 
benar-benar dipergunakan oleh orang-orang di dalam 
organisasi untuk mengerjakan tujuan-tujuan terpenting? 

60% 



TABEL 14 

— 553 — 


Lampiran 6 
Temuan-temuan Penting dari Penelitian xQ FranklinCovey 

Temuan Penting Cara Pengukuran 

Hanya sekitar sepertiga menyatakan bahwa 
mereka memiliki pemahaman yang jelas 
mengenai tujuan yang hendak dicapai oleh 
perusahaan. 

Hanya sekitar 1 dari 6 yang secara tekun 
berfokus pada tujuan-tujuan yang paling 
penting. 

Apakah para pemimpin mengomunikasikan 
tujuan-tujuan terpenting mereka? 

Apakah para pekerja melihat arah dan 
hubungan yang jelas antara tugas-tugas 
mereka dan tujuan-tujuan perusahaan? 
Sekitar 1 dari 5 berpikir demikian. 

Apakah orang-orang sepenuhnya memiliki 
semangat dan berkomitmen untuk mencapai 
tujuan-tujuan perusahaan mereka? Sekitar 
1 dari 10 berpikir demikian. 

Hanya 1 dari 3 yang memiliki sasaran-
sasaran kerja yang didefinisikan dengan 
jelas. 

Para pekerja menghabiskan 1 jam dari setiap 
4 jam untuk pekerjaan-pekerjaan yang 
mendesak tetapi tidak relevan. 

Para pekerja menghabiskan 1 jam dari setiap 
5 jam untuk berurusan dengan politik dan 
birokrasi. 

Hanya sekitar setengah dari jumlah pekerja 
yang disurvei merasa bahwa pekerjaan 
mereka memungkinkan mereka untuk 
memberikan semua yang bisa mereka 
berikan. 

Hanya 3 dari 5 orang yang merasa bahwa 
mereka bisa mengekspresikan diri mereka 
secara terbuka dalam pekerjaan. 

37% memilih pilihan "Saya dengan jelas 
memahami dasar-dasar dari arah strategis 
organisasi saya." 

14% memilih pilihan "Kami secara tekun 
terus berfokus pada tujuan-tujuan kami yang 
terpenting." 

44% menyatakan bahwa organisasi mereka 
telah mengomunikasikan dengan jelas 
tujuan-tujuan mereka yang terpenting. 

22% rnelaporkan bahwa mereka melihat 
arah dan hubungan yang jelas antara 
sasaran-sasaran mereka dan tujuan-tujuan 
organisasi. 

9% memilih pilihan "Amat bersemangat dan 
berkomitmen." 

33% rnelaporkan memiliki sasaran-sasaran 
kerja dalam bentuk "tertulis." 

Para responden memperkirakan bahwa 23% 
waktu mereka dihabiskan untuk aktivitas-
aktivitas yang memiliki sedikit relevansi 
dengan tujuan-tujuan penting tetapi 
menuntut diberikannya perhatian pada saat 
itu juga. 

Para responden memperkirakan bahwa 
sekitar 17% dari waktu mereka dihabiskan 
pada aktivitas-aktivitas yang kontraproduktif 
seperti berurusan dengan birokrasi internal, 
saling bertengkar sendiri, menutup-nutupi 
permasalahan, dll. 

48% setuju dengan pernyataan ini: Mayo-
ritas orang di dalam organisasi saya memiliki 
jauh lebih banyak bakat, kemampuan, 
kecerdasan, dan kreativitas daripada yang 
dibutuhkan atau bahkan diizinkan dalam 
pekerjaan mereka sekarang ini. 

58% setuju dengan pernyataan ini: Saya 
merasa aman untuk mengungkapkan 
pendapat saya secara terbuka tanpa takut 
adanya pembalasan/hukuman. 

— 554 — 

Lampiran 6 

Temuan Penting 

Sekitar 2 dari 5 orang menyatakan bahwa 
mereka bekerja di dalam atmosfer yang 
"menang-menang." 

Kurang dari setengah yang bertemu dengan 
manajer mereka paling tidak satu bulan 
sekali untuk meninjau kemajuan terhadap 
sasaran-sasaran kerja mereka. 

Hanya setengah jumlah orang yang disurvei 
yang diminta akuntabilitasnya terhadap 
anggaran mereka. 

Beban kerja yang berlebihan, kurangnya 
sumber daya pendukung, dan prioritas kerja 
yang tidak jelas adalah tiga hambatan 
terbesar untuk pelaksanaan. 

Sekitar 3 dari 5 orang tidak mempercayai 
bahwa perusahaan mereka akan memegang 
komitmen terhadap para karyawannya. 

Tim-tim bekerja secara tidak berhubungan 
satu sama lain; hanya terjadi amat sedikit 
kerja sama aktif lintas fungsi. 

Hanya sekitar sepertiga yang menyatakan 
bahwa mereka memiliki pengukuran yang 
jelas mengenai keberhasilan mereka 
mencapai tujuan. 

TABEL 

Cara Pengukuran 

43% setuju bahwa "kami memegang prinsip 
yang menyatakan 'keberhasilan saya adalah 
keberhasilan Anda juga.'" 

48% menyatakan demikian. 

50% setuju atau amat setuju dengan 
pernyataan ini: Kami diminta untuk 
bertanggung jawab agar selalu dalam batas-
batas anggaran. 

Saat ditanya mengenai 3 hambatan terbesar 
untuk pelaksanaan, 31% memilih "beban 
kerja yang berlebihan," 30% memilih 
"kurangnya sumber daya pendukung," dan 
27% memilih "prioritas kerja yang tidak 
jelas atau berubah-ubah." 

43% menyatakan bahwa perusahaan 
tempat mereka bekerja "secara konsisten 
menghormati komitmen terhadap orang-
orangnya." 

Saat ditanya mengenai tim-tim lain dalam 
organisasi, 28% setuju dengan pernyataan: 
Kami secara aktif saling membantu untuk 
mencapai tujuan kami masing-masing. 

35% setuju dengan pernyataan: Pengukuran 
sudah jelas. 

15 

— 555 — 


Lampiran 6 

Jika Anda tertarik untuk menjalani sendiri Survei xQ untuk mela-
kukan penilaian terhadap kemampuan diri, tim dan organisasi Anda 
untuk berfokus dan melaksanakan prioritas-prioritas utamanya secara pri-
badi, kunjungi www.The8thHabit.com/offers. Ikuti saja petunjuk-
petunjuk yang diberikan. Anda akan bisa melakukan survei tersebut 
tanpa dikenakan biaya. Setelah menyelesaikan survei tersebut, Anda 
akan menerima sebuah Laporan xQ yang meringkas nilai Anda dan 
membandingkannya dengan sebuah skor rata-rata gabungan dari 
ribuan organisasi yang telah diukur. Informasi lebih lanjut akan 
diberikan mengenai bagaimana Anda bisa mengukur tim atau organisasi 
secara keseluruhan. 

— 556 — 

Lampiran 7 
KISAH MAX 

SEKARANG MARI KITA LIHAT bagaimana kerangka kerja kepemim-
pinan praktis dalam buku ini bisa diaplikasikan terhadap 
kasus Max dengan cara berpikir seperti pemimpin yang 
akan memerankan diri sebagai bilah kemudi kecil. 

APA SEBENARNYA yang bisa dilakukan oleh Max? Bosnya, Pak 
Harold, adalah orang yang gila kontrol. Dia memiliki mentalitas 
berkekurangan, takut kepada atasannya, dan tidak mengetahui cara 
untuk mengubah sesuatu kecuali dengan mempergunakan model 
"bos yang berkuasa" dari Era Industri. Dia melakukan itu dengan 
mengontrol, mengatur dan memberikan motivasi dengan gaya 
"wortel-dan-cambuk." 

Semangat Max patah. Dia frustrasi dan tak berdaya. Dia bisa 
terus saja menjadi kodependen. Itu adalah alternatif pertama. Dia 
bisa melawan atau bahkan mengumpulkan orang-orang lain untuk 
melawan, atau dia bisa keluar dari pekerjaannya. Ini adalah alternatif 
kedua. Atau dia bisa dengan bijaksana menjalankan inisiatif di dalam 
lingkaran pengaruhnya sendiri. Ini adalah Alternatif Ketiga. 

— 557 — 


Lampiran 7 

Salah satu pendekatan Alternatif Ketiga adalah dengan memper-
gunakan pendekatan bilah kemudi kecil dengan menerapkan ethos-
pathos-logos dengan Pak Harold (memberikan rekomendasi—tingkat 
inisiatif yang keempat). Tadinya, Max hanya mempergunakan logos 
(pikiran/logika) dalam memberikan rekomendasinya dan melakukan-
nya pada saat yang paling tidak tepat, yaitu pada saat Pak Harold 
baru saja ditegur keras oleh atasannya karena pelanggaran pedoman 
perusahaan, sekalipun pedoman itu di mata Max merupakan hal 
yang amat keliru. Secara singkat, Max melakukan sesuatu yang 
berada jauh di luar Lingkaran Pengaruhnya, sehingga pesan yang 
disampaikannya sama sekali tidak bisa ditangkap oleh Pak Harold, 
walaupun dia memang melakukan tindakan proaktif untuk "me-
nyelamatkan" seorang pelanggan. Hal ini benar-benar mematahkan 
semangat Max, dan siklus kodependensi reaktif melaju dengan lebih 
kencang. 

Lingkaran pengaruhnya menjadi semakin kecil (Lihat Gambar 
A7.1). 


GAMBAR A7.1 

Lalu bagaimana Max bisa menjalankan ethos-pathos-logos? Men-
jalankan ethos berarti bahwa ia secara proaktif dan sepenuh hati 
menjalankan pekerjaannya dengan amat baik dan membantu orang 

— 558 — 

Lampiran 7 

lain dengan cara apa pun yang mungkin dilakukan. Harus diakui 
bahwa dia terpasung oleh pedoman layanan pelanggan yang justru 
tak bersahabat dengan pelanggan, tetapi dia bisa berusaha untuk 
menghasilkan bisnis secara positif dan kreatif. Dia tidak berbicara 
buruk mengenai Pak Harold. Dia akan melakukan yang terbaik 
yang bisa dilakukan di dalam kondisi yang ada dan berperan menjadi 
sumber daya untuk membantu orang-orang lain—di dalam Lingkaran 
Pengaruhnya dan di luar pekerjaannya. Dia tidak mengkritik, dia 
melengkapi. 

Lalu dia bisa meminta pertemuan lagi dengan Pak Harold, dan 
kali ini dia mendengarkan, benar-benar mendengarkan, dan mau 
dipengaruhi oleh apa yang dia pahami. Contohnya, mungkin Pak 
Harold sudah pernah mengalami masalah dengan orang-orang muda 
yang kreatif dan tidak berpengalaman yang "memberikan janji ber-
lebihan namun tidak mampu memenuhinya", sehingga menimbulkan 
masalah bagi perusahaan—sebuah kesulitan yang akhirnya dibeban-
kan kepada Pak Harold. Untuk mencegah adanya orang-orang lain 
yang melakukan hal-hal bodoh seperti itu, dia menetapkan aturan-
aturan yang tidak fleksibel, yang mengatur setiap orang sampai hal 
yang sekecil-kecilnya, dan akibatnya, seluruh budaya di unit tersebut 
menjadi tidak berdaya. 

Setelah Pak Harold merasa dipahami, banyak dari energi negatif 
dan defensif akan menguap. Anda tidak bisa bertengkar dengan 
seseorang yang dengan tulus berusaha untuk memahami Anda. Ini 
adalah buah dari pathos, atau penyelarasan emosional. Setelah dengan 
akurat mengungkapkan kembali keprihatinan-keprihatinan dan 
keberatan-keberatan Pak Harold, Max kemudian bisa mempergunakan 
logos—mungkin dengan menyarankan sebuah program percon-
tohan percobaan dengan cukup satu orang pelaksana (Max) yang 
dijalankan selama tiga bulan, dengan kesempatan untuk melakukan 
hal-hal baru yang kreatif untuk mendapatkan pelanggan-pelanggan 
baru dan menjual lebih banyak kepada pelanggan-pelanggan yang 
telah ada. Karena telah merasa dipahami dan telah meningkat ke-
percayaannya kepada Max karena sikapnya yang kooperatif serta 

— 559 — 


Lampiran 7 

ketekunannya (ethos) dan empati (pathos), Pak Harold bersedia untuk 
menjalankan gagasan proyek percontohan (logos), yang hanya menim-
bulkan sedikit dampak buruk namun memberikan potensi dampak 
baik yang amat besar. 

Misalnya, Max berhasil menaikkan penjualannya sebesar 25 persen 
dalam waktu tiga bulan. Dia kembali ke Pak Harold dan menyaran-
kan agar program percontohan tersebut dilanjutkan dan menambah 
tiga orang tenaga penjual lain yang diyakini Max sanggup menjalani 
program baru tersebut. Pak Harold setuju. Mereka kemudian juga 
berhasil meningkatkan pemasukan sebesar 25 persen. Kemudian, 
keempat tenaga penjual tersebut datang ke Pak Harold, dengan 
memberikan saran mengenai sebuah program pelatihan bagi semua 
tenaga penjual dengan kriteria sertifikasi yang ketat sehingga akan 
bisa menyaring bibit-bibit terbaik dan mencegah adanya orang yang 
melanggar aturan dan menimbulkan dampak buruk bagi perusahaan. 
Pak Harold setuju, karena bersemangat melihat hasil penjualan baru 
yang cukup besar. 

Secara singkat, melalui proses ethos-pathos-logos (membuat reko-
mendasi—tingkat inisiatif keempat), Max menjadi pemimpin bagi 
bosnya dan menjadi sumber pengaruh yang kuat bagi keseluruhan 
perusahaan. 

Harus diakui, skenario ini adalah fiktif, dan masalah Pak Harold 
mungkin sepenuhnya bukan seperti yang dikisahkan. Sekalipun demi-
kian, Max bisa memberikan respon lain sesuai dengan masalah apa 
yang dihadapi Pak Harold dan meningkatkan hasil yang diperoleh 
serta pengaruhnya dengan cara yang berbeda. 

Intinya, Max menemukan suara untuk pekerjaannya melalui visi, 
disiplin dan gairah yang dipandu oleh nurani. 

Saya juga telah belajar bahwa sebagian besar dari "bos yang 
buruk" biasanya adalah bagian dari budaya kodependen dan hanya 
meniru perilaku yang mereka lihat ditimpakan pada mereka. Siklus 
ini bisa diputuskan oleh satu orang yang menjadi kekuatan kreatif 
bagi kehidupannya sendiri. 

— 560 — 

Lampiran 7 

Sekarang mari kita pikirkan apa yang terjadi jika Pak Harold 
mengalami pencerahan, sementara Max sudah telanjur menjadi sese-
orang yang kodependen. Alternatif pertama adalah dengan "tetap 
pada jalur semula"—tetap dengan menekan, memotivasi, meng-
ancam, mengajak bersahabat, mengundang ke pesta, memuji—atau 
singkatnya, memperlakukannya dengan memberi wortel-dan-cambuk 
(model Era Industri). 

Alternatif kedua adalah untuk "menyerah," membiarkan Max 
untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Akibatnya, akan 
bisa terjadi konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan. Pak 
Harold bisa mendapatkan peringatan atau dipecat oleh atasannya, 
karena tidak menjalankan tugasnya mengawasi anak buahnya, dan 
menunjukkan kepemimpinan yang lemah. Lebih jauh lagi, pende-
katan ini bisa menimbulkan adanya "bola-bola liar" yang berusaha 
untuk memberikan janji-janji sepihak dan tidak realistis hanya untuk 
memenuhi target penjualan mereka. 

Alternatif Ketiga adalah dengan sepenuhnya mengakui kesalah-
annya dalam menghukum kreativitas Max untuk menyelamatkan 
hubungan dengan seorang pelanggan, dan dengan tulus meminta 
maaf akan hal itu. Max, yang masih bersikap kodependen, mungkin 
tidak percaya terhadap pendekatan "lunak" ini dan terus melakukan 
"sesuai yang diinginkan perusahaan." Pak Harold perlu berbagi 
dengan Max secara tulus mengenai apa sebenarnya yang telah diala-
minya atau dihadapinya, lalu mengatakan dengan penuh ketulusan 
dan secara spesifik, "Maaf Max, kamu menjadi korban karena saya 
melemparkan rasa frustrasi saya terhadap apa yang harus saya hadapi 
kepadamu. Kamu telah melakukan hal yang hebat dengan melakukan 
kerja tambahan tanpa diminta dengan melayani pelanggan tersebut. 
Tetapi di sisi lain, saya mendapat tekanan untuk memberikan 
hasil lebih banyak, dengan memakai sumber daya lebih sedikit. 
Saya juga cemas jangan-jangan akan muncul lagi 'bola-bola liar' 
yang melakukan hal-hal bodoh dan membuat saya mengalami 
masalah lebih banyak. Akibatnya, saya tidak tahu cara mengatasinya 
selain dengan membuat peraturan-peraturan yang ketat. Tetapi, Max, 

— 561 — 


Lampiran 7 

dengan kamu ternyata saya memang salah. Pada saat itu saya tidak 
tahu cara yang lebih baik. Sekarang saya telah punya waktu untuk 
berhenti sejenak dan merenungkannya kembali dan ingin benar-
benar mempelajari saranmu. Saya berharap bahwa kita bisa melaku-
kan sesuatu yang tidak akan menimbulkan malapetaka yang lain. 
Bisakah kamu membantu saya untuk memahami lebih jauh mengenai 
pandanganmu?" 

Kedalaman dari ketulusan dan kesungguhan yang diberikan oleh 
Pak Harold mungkin akan mendorong Max untuk juga lebih tulus. 
Komunikasi yang sejati—secara horizontal dan bukan vertikal— 
antara dua manusia yang sama-sama berkutat menghadapi masalah 
yang sama, mungkin bisa membawa mereka ke Alternatif Ketiga 
yang sinergis seperti yang dijelaskan sebelumnya saat kita melihat 
pada pertanyaan—'Apa yang secara realistis bisa dilakukan oleh 
Max?' 

Dalam kedua kejadian tersebut, perhatikan urutan prosesnya, 
pendekatan dari dalam keluar, dan dasar-dasar pribadi utuh yang 
ada di situ. Perhatikan perpindahan dari tingkat pribadi ke tingkat 
hubungan yang tulus dan saling mempercayai, yang akhirnya mem-
bentuk sebuah pengaturan organisasional (program percontohan, yang 
terus berkembang saat kepercayaan dan kelayakan dipercaya sudah 
tumbuh). 

Ini benar-benar merupakan sebuah solusi Alternatif Ketiga yang 
pada awalnya tak dibayangkan oleh siapa pun. Solusi ini tumbuh 
dari komunikasi kreatif dan akan menimbulkan ikatan mendalam 
pada hubungan. Selain itu, hal ini juga akan menciptakan sebuah 
"sistem kekebalan organisasi" yang bisa menangani masalah-masalah 
sulit atau yang tiba-tiba muncul secara mendadak, di masa men-
datang. 

Sekali lagi, saya sepenuhnya sadar bahwa ini hanyalah skenario 
susunan saya dan bisa saja semua hal justru bergerak ke arah yang 
sepenuhnya berlawanan. Tetapi saya tidak sedang mencoba untuk 
mengajari Anda mengenai praktik-praktik (cara-cara atau hal-hal yang 

— 562 — 

Lampiran 7 

perlu dilakukan), tetapi mengenai prinsip-prinsip—yakni prinsip-
prinsip yang berlaku secara universal yang menjadi dasar dari berbagai 
macam praktik dalam bentuk apa pun. Saya hanya mempergunakan 
Kisah Max sebagai sebuah gambaran dari praktik yang mungkin 
bisa dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip fundamental tersebut. 

Sekarang marilah mundur sedikit dan berteori. Pertama, lihatlah 
pada Max dalam skenario pertama. Dalam proses di mana Max 
menjadi pemimpin dari Pak Harold ini, perhatikan keempat peran 
yang dijalankannya. Keempat peran ini pasti akan dilakukan dalam 
skenario apa pun yang berjalan. Pertama-tama, panutan. Max berusaha 
menjadi panutan dalam hal inisiatif dan membentuk ethos. Dia menjadi 
panutan empati dengan menjalankan pathos dan keberanian 
dalam mencapai logos. Saat kedua pihak berinteraksi secara sungguh-
sungguh, komunikasi yang sinergis berlangsung dan mendapatkan 
Alternatif Ketiga, alternatif yang jauh lebih baik daripada pendekatan 
menang-kalah ala komando dan kontrol yang selama ini dijalankan 
oleh Pak Harold dan amat jauh lebih baik daripada jika Max hanya 
melakukan pekerjannya sesuai aturan dan "menjilat." 

Sekali lagi, esensi dari menjadi panutan, baik sebagai individu 
atau tim, bisa ditemukan dalam 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat 
Efektif. 

Peran kedua—perintis—diwakili oleh program percontohan 
menang-menang yang membuat Max maupun Pak Harold bisa ber-
sepakat, yakni mendapatkan pemasukan yang lebih besar bagi per-
usahaan, melalui layanan pelanggan yang memberikan upaya ekstra 
secara kreatif, dengan panduan dari nilai-nilai yang jujur dan penilaian 
yang baik. Memberikan panutan kelayakan dipercaya dan komunikasi 
yang tulus akan bisa memberikan kepercayaan yang diperlukan untuk 
melakukan perintisan jalan. Dengan demikian, suara Max akan 
berbaur dengan suara organisasi dalam program percontohan ini. 

Peran ketiga—penyelaras—terjadi saat Pak Harold secara resmi 
menyetujui program percontohan perintisan, pertama dengan Max, 
kemudian dengan tiga orang lain, lalu dengan seluruh renaga penjual. 

— 563 — 


Lampiran 7 

Penyelarasan berarti menyusun struktur, sistem dan proses yang 
diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam 
perintisan jalan di dalam pedoman yang telah disepakati. Suara-
suara yang saling berbaur ini akan semakin dipupuk dan diperkuat. 

Tiga peran ini—panutan, perintis dan penyelaras—memungkin-
kan terjadinya. pemberdayaan sehingga pada awalnya Max, dan selan-
jutnya orang-orang lain, bisa mempergunakan kemampuan penilaian 
mereka maupun kreativitas yang telah mereka latih untuk melakukan 
apa pun yang diperlukan untuk mendapatkan dan mempertahankan 
pelanggan sesuai dengan pedoman-pedoman yang telah disepakati. 
Dengan cara ini, aturan-aturan tidak lagi menghalangi kemampuan 
penilaian. Anda tidak bisa meminta seseorang untuk bertanggung 
jawab pada hasil jika Anda menetapkan cara yang harus mereka 
pakai dan menetapkan aturan-aturan ketat pada mereka. Pem-
berdayaan memungkinkan terjadinya otonomi terarah sehingga suara 
masing-masing orang dihargai dan diekspresikan. 

Sekarang mari melihat pada skenario kedua di mana Pak Harold 
tercerahkan dan menjadi seorang pekerja pengetahuan. Dia men-
jalankan keempat peran kepemimpinan yang sama—dengan memilih 
Alternatif Ketiga daripada tetap menjalankan apa yang selama ini 
dijalankan atau menyerah pada tuntutan. 

Hal ini dimulai dari dalam dengan peran panutan. Pak Harold 
secara tulus mengakui kesalahannya dan mengawali sebuah 
komunikasi yang sinergis. Saat kepercayaan terbangun dan menjadi 
"lebih nyata," solusi perintis bisa dibentuk (program percontohan 
terbatas). Kewenangan formal Pak Harold bergabung dengan kewi-
bawaan moralnya yang telah berkembang, dan dia meresmikan atau 
melembagakan program percontohan satu orang ini. Penyelarasan ini 
membuat hal tersebut sebagai sesuatu yang sah di dalam budaya ini 
dan memungkinkan Max untuk memiliki otonomi dan mempergunakan 
kreativitas maupun fleksibilitasnya untuk mencari peluang-
peluang baru. Dengan kata lain, ini adalah peran pemberdaya. 

Saat segala hal berjalan dengan baik {menjadi panutan bagi sebuah 
tim yang saling melengkapi), orang-orang lain akan terlibat untuk 

— 564 — 

Lampiran 7 

memasuki jalur yang baru (perintisan jalan), ditumbuhkan oleh 
struktur, sistem dan proses yang selaras yang pada akhirnya memungkinkan 
semua orang yang telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan 
pemberdayaan. 

— 565 — 


Lampiran 8 

PENDEKATAN FRANKLINCOVEY 

KINERJA UNGGUL SECARA BERKELANJUTAN... merupakan hal yang 
amat berat untuk dicapai dalam bisnis bagi sebagian besar 
organisasi. Sudah pasti bahwa hampir semua orang bisa 
memberikan hasil yang hebat untuk satu atau dua kuartal. Tetapi 
tantangan yang sebenarnya adalah menciptakan sebuah budaya 
organisasi yang bisa memberikan hasil yang konsisten dari tahun ke 
tahun. 

Yang luar biasa, ternyata hanya sedikit organisasi yang bisa me-
lakukannya. Coba lihat statistik dari terbitan-terbitan bisnis ter-
kemuka berikut ini: 

• Profit from the Core: hanya 111 dari 1.854 perusahaan (13 persen) 
yang sanggup menghasilkan pertumbuhan yang menguntungkan 
secara terus-menerus dalam masa 10 tahun. 

• Good to Great: hanya 126 dari 1.435 perusahaan (9 persen) yang 
selama satu dasawarsa atau lebih sanggup memberikan kinerja 
yang lebih unggul daripada rata-rata peningkatan indeks bursa 
saham. Lebih jauh lagi, hanya 11 dari 1.435 perusahaan itu 
(kurang dari 1 persen) yang memenuhi kriteria penelitian itu 
dalam hal kinerja unggul secara berkelanjutan. 

• Creative Destruction: hanya 160 dari 1.008 perusahaan (16 persen) 
yang diteliti selama jangka waktu tiga puluh tahun yang masih 
tetap berdiri. 

— 566 — 

Lampiran 8 

• Stall Points: Hanya 5 persen dari perusahaan Fortune 50 yang 
berhasil mempertahankan tingkat pertumbuhan mereka. 

Memberikan kinerja yang unggul sambil membangun kemam-
puan untuk melakukannya lagi dan terus melakukannya adalah defi-
nisi yang tepat bagi sebuah organisasi yang hebat. Namun sebagian 
besar organisasi dan para pemimpinnya gagal untuk mencapai hal 
ini. Akar dari kegagalan mereka terletak pada pendekatan yang 
mereka pakai. 

KISAH ANGSA BERTELUR EMAS 

Suatu hari, seorang petani miskin menemukan sebuah telur emas 
yang berkilauan di kandang angsa peliharaannya. Pada awalnya, 
dia berpikir bahwa hal itu mungkin hanya tipuan, tetapi setelah 
berpikir ulang, dia memutuskan untuk membawa telur itu ke pasar 
dan mencoba mencari tahu berapa harganya. 

Petani itu tak bisa mempercayai keberuntungan yang didapat-
kannya. Telur tersebut benar-benar terbuat dari emas murni! Dia 
menjadi semakin bersemangat pada hari berikutnya saat angsa tersebut 
mengeluarkan sebuah telur emas lagi. Dari hari ke hari, dia 
bangun tidur dan buru-buru pergi ke kandang angsanya dan menemukan 
telur emas lagi. Dalam waktu singkat, dia menjadi luar 
biasa kaya. 

Tetapi sayangnya, saat dia kaya, dia menjadi serakah dan tidak 
sabar. Dia tidak sanggup lagi untuk menunggu dari hari ke hari 
untuk mendapatkan telur-telur emas tersebut. Akhirnya petani tersebut 
memutuskan untuk membunuh angsa itu dan mengambil 
telur-telur emas yang ada di perutnya sekaligus. Tetapi saat dia 
membelah perut angsanya, dia menemukan bahwa perut itu kosong. 
Tidak ada telur emas—dan sekarang juga tidak ada cara untuk 
mendapatkan telur emas itu lagi. Petani itu telah menghancurkan 
satu-satunya cara yang bisa menghasilkan telur-telur emas tersebut. 

— 567 — 


Lampiran 8 

Dalam fabel ini ada sebuah prinsip penting untuk kinerja organi-
sasi. Kinerja unggul yang bisa bertahan terus-menerus adalah hasil 
dari dua hal: apa yang dihasilkan (telur-telur emas) dan kemampuan 
untuk menghasilkannya (angsa). 

Jika organisasi hanya berfokus untuk menghasilkan telur-telur 
emas (mencapai hasil-hasil yang dituntut hari ini) dan mengabaikan 
angsa (membangun kapabilitas untuk mencapai hasil-hasil di masa 
mendatang), dalam waktu singkat mereka akan kehilangan aset 
yang menghasilkan telur-telur emas tersebut. Di sisi lain, jika organisasi 
hanya memperhatikan angsa tanpa tujuan untuk menghasilkan 
telur-telur emas, dalam waktu singkat mereka tidak akan punya 
apa-apa untuk memberi makan angsa tersebut. Kuncinya terletak 
pada keseimbangan. 

Mungkin organisasi Anda tampak seperti ini: 

Saat dihadapkan dengan tekanan untuk memberikan hasil, kami 
memberikan segala yang diperlukan. Kami menciptakan sebuah 
program untuk menggerakkan pasukan dan mendorong setiap 
orang untuk mencapai sasaran yang mendesak tersebut. Pada saat 
tertentu sasarannya mungkin adalah target penjualan. Krisis yang 
lain mungkin adalah target pengurangan biaya. Di waktu yang 
lain mungkin hal lainnya lagi. Kami terus-menerus bersikap reaktif, 
bergerak tanpa henti dari satu "sasaran kritis" atau "inisiatif darurat" 
ke kondisi lainnya yang serupa. Masalahnya adalah kami selalu 
kurang berinvestasi pada manusia, proses atau peralatan yang kami 
perlukan untuk benar-benar meningkatkan bisnis kami. Sebagai 
hasilnya, kami tidak pernah bisa mencapai ritme kinerja yang 
konsisten. 

Atau organisasi Anda tampak seperti ini: 

Kami berinvestasi amat besar pada manusia dan budaya selama 
bertahun-tahun. Dasar pemikiran yang kami pakai adalah bahwa 
orang-orang yang hebat dan berbakat, dengan sistem-sistem dan 

— 568 — 

Lampiran 8 

teknologi terbaik, secara otomatis akan menghasilkan kinerja unggul 
yang berkelanjutan. Perusahaan kami merupakan tempat yang amat 
menyenangkan untuk bekerja, tetapi kemudian masa-masa sulit 
harus kami hadapi. Kami menemukan bahwa kami tidak benar-
benar memiliki kemampuan untuk menghadapi kompetisi yang 
sengit dan kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan. Kami 
dipaksa untuk memotong semua investasi yang telah biasa dinikmati 
oleh orang-orang selama masa-masa keemasan kami. Orang-orang 
di dalam perusahaan menjadi kehilangan kepercayaan, semangat 
merosot drastis dan banyak orang terbaik kami meninggalkan perusahaan. 


FranklinCovey telah mempelajari sendiri pelajaran ini dengan 
cara yang menyakitkan, karena kami sendiri juga telah mengabaikan 
keseimbangan antara produksi dan kemampuan produksi ini di masa 
lalu. Karena itu pelajaran ini telah menjadi sebuah pembelajaran 
"yang dialami secara langsung" dan pendekatan kami memiliki dasar 
keyakinan yang lebih kuat, lebih dari sekadar landasan teori. 

Di FranklinCovey, kami melakukan pendekatan terhadap keingin-
an untuk mencapai kinerja unggul terus menerus dari kedua sisi. 
Kami membantu berbagai organisasi untuk berfokus dan menghasilkan 
hasil-hasil yang diharapkan. Kami juga membantu mereka 
untuk meningkatkan kemampuan para pemimpin dan kontributor 
individual sehingga bisa memberikan kinerja yang prima. 

Di dalam kedua sisi ini (Mencapai Hasil dan Membangun 
Kapabilitas), FranklinCovey bekerja dengan klien dalam tiga jenis 
"tugas yang harus diselesaikan." Ketiganya mewakili tiga bidang 
inti keagungan yang terdapat dalam Kebiasaan ke-8: keagungan 
organisasi, keagungan kepemimpinan dan keagungan pribadi. 

— 569 — 


Lampiran 8 

Mencapai Hasil 

Tugas 1. Melaksanakan Prioritas Prioritas Panting. Kami membantu para klien untuk mencapai 
hastl-hasil yang telah ditetapkan, seperti meningkatkan penjualan, mengimplementasikan 
inisiatif-inisiatif organisasi atau meningkatkan kualitas, dengan meningkatkan komitmen 
dan kejelasan terhadap prioritas-prioritas utama, serta membangun proses-proses pelaksanaan 
untuk mencapai prioritas-prioritas ini. Hal ini akan membangun keagungan organisasi. 

Membangun Kapabilitas 

Tugas 2. Pengembangan Kepemimpinan dan Manajemen. Kami membantu para klien untuk 
membangun kepemimpinan yang bertahan lama berdasar karakter, membangun tim dan 
kemampuan untuk mencapai hastl-hasil yang unggul. Hal ini akan membangun keagungan 
kepemimpinan. 

Tugas 3. Efektivitas Individu. Kami membantu organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, 
keahlian dan kinerja pribadi dari angkatan kerja mereka, untuk mencapai hasil-hasil yang 
lebih besar sebagai individu dan tim. Hal ini akan membangun keagungan pribadi. 


GAMBAR A8.1 

— 570 — 

Lampiran 8 

Pikirkan sejenak mengenai bagaimana cara Anda membangun 
sebuah tim olahraga yang harus bertanding di dalam kompetisi 
yang sengit. Dengan memberikan investasi pada kualitas dan pem-
bentukan atlet, tim Anda akan semakin meningkat permainannya. 
Pemain-pemain yang lebih berkualitas akan membangun tim yang 
lebih baik. Pada saat yang sama, sebagus apa pun pemain-pemain-
nya secara individual, tim tersebut hanya akan menang jika mereka 
bisa bekerja bersama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan 
secara terus-menerus "melaksanakan permainan" dengan penuh ke-
sempurnaan. 

Apa yang Anda inginkan adalah para pemain yang hebat dan 
pelaksanaan yang hebat. Sebuah tim yang sanggup memberikan 
kinerja secara konsisten dari musim ke musim. Ini adalah inti dari 
pendekatan FranklinCovey: menerjemahkan kapabilitas organisasi 
menjadi hasil-hasil spesifik secara berkelanjutan, yang akan meng-
hasilkan sebuah organisasi yang unggul. 

— 571 — 

Dapatkan koleksi ebook lain yang tak kalah serunya hanya di:
http://jowo.jw.lt
